seyakasamira

Ohhmazing Zhangjiajie (China), 7D6N

43 posts in this topic

Fiuhhh setelah berbulan-bulan lamanya mencari teman trip ke  Zhangjiajie di berbagai forum termasuk forum jalan2 ini, dan tidak ada satu orangpun yang cucok jadwalnya dengan saya, ternyata susah juga ya mengajak orang ke tempat yang kurang mainstream ini (tsahhh) :bingung . Dannn tak dinyana tak disangka sahabat saya, Prita, teman satu kampus pada jaman jahiliah dahulu, yang akhirnya menemani saya berpetualang ke negeri China ini :terharu . Dan petualangan kami berdua ciwi2 cilik ini, memutuskan untuk pergi ala flashpacker tanpa menggunakan jasa travel maupun tourguide, yang mana kami berdua pun tidak ada yang bisa berbahasa mandarin ataupun membaca tulisan mandarin. :backpacking Xixiixixi..

 

Oia sebagian banyak referensi travelling mengenai Zhangjiajie, kami lihat dari traveler bernama Tim&Glo (http://youtu.be/jUlOFxOrkPg)

 

dan juga saya banyak sekali bertanya pada @ko Acong salah satu member di forum jalan2.com ini. Well, ko acong terima kasih banyak atas semua info dan saran2nya  :kesengsem  ..

 

DAY 1. Guangzhou  (12 Maret 2015)

Kami menggunakan pesawat TIGERAIR menuju Guangzhou dan memutuskan ke Zhangjiajie via darat (kereta api) dari sana. Kami sampai di Guangzhou dini hari (02.00pagi) dan  karena fasilitas metro (MRT) hanya beroperasi hingga jam 22.00 maka kami harus menggunakan taxi untuk ke Hotel.  Siang harinya kami sempat ke Shamian Island (kota tempo doeloe versi Guangzhou), dan malamnya harinya kami pergi menggunakan Night Train menuju Zhangjiajie. Ticket kereta api telah kami beli sebelumnya melalui situs www.ctrip.com. Dikarenakan perjalanan malam hari selama +/- 13-15jam maka saya membeli seat khusus hardsleeper yaitu kereta dengan fasilitas tempat tidur berupa bunkbed tingkat 3. Harga seat ditentukan dari pilihan tempat tidur yang kita inginkan apakah mau softsleeper atau hardsleeper, atau hardseat biasa. Harga juga dibedakan apakah mau mengambil bunkbed yang di paling bawah –tengah-atau atas.

 

Cost :

·         Taxi  :  80 RMB (dari Baiyun Airport Guangzhou  menuju Hotel di daerah Yuexiu District), Namun apabila malas mengantri taxi, banyak sekali yang menyewakan taxi gelap dengan biaya +/- 200 RMB.

·         Breakfast (noodle soup, kaki lima depan hotel ) : 10 RMB

·         Hotel Sotel Inn : 27 USD/night

·         Snack (streetfood semacam sate fishball, sate cumi, dll) : 10-15 RMB (dpt 3 tusuk)

·         Ticket MRT dr Hotel ke Shamian Island : 2 RMB

·         Shamian Island : Free

·         Ticket MRT dr Hotel ke Guangzhou Railway Station : 4 RMB.

·         Dinner Mc.D : +/- 20 RMB (Paket Burger +French Fries+Soda)

·         Ticket kereta Guangzhou-Zhangjiajie : 317,5 RMB (hardsleeper-low)

 

Shamian Island : post-25134-0-46704500-1432518085_thumb.j

Bunkbed Hardsleeper :post-25134-0-17206800-1432518097_thumb.j

 

DAY 2. Zhangjiajie (Wullingyuan) 13 Mar 2015.

 

Kami tiba di stasiun kereta Zhangjiajie pukul 8.30 pagi hari. Dan sesampainya disana yang dicari adalah breakfast hahaha. Untungnya disamping stasiun ada Mc.D dan supermarket. Jadi selain makan kami juga bisa berbelanja air mineral dan snack lainnya. Tidak hanya di Guangzhou, di Kota Zhangjiajie ini masyarakatnya pun sulit berbicara maupun membaca tulisan selain pinyin/mandarin. Jadi, sangatlah pe-er bagi kami bagaimana caranya menanyakan bus mana yang menuju daerah Wullingyuan tempat taman nasional Zhangjiajie berada. Wullingyuan ini jauhnya +/- 35-40 km dari kota Zhangjiajie (tempat stasiun kereta berada). Kami berencana menggunakan bus menuju kesana. Tempat terminal bus ada disamping Staisun Kereta, tepatnya di samping Mc.D. Jadi hemat tenaga deh narik2 koper setelah harus menjinjing koper ketika turun dari stasiun kereta api yang tidak ada eskalatornya (apalgi lift) :bingung ..

Akhirnya kami pun berhasil masuk di minibus nomor 19 yang menuju Wullingyuan. Thanks God minibusnya ada angka latinnya “19â€, saya sudah was2 saja, jgn2 angkanya menggunakan tulisan mandarin lagi. Xixixi…

 

Kami menginap di Hostel bernama : Wullingyuan Zhongtian Youh Hostel. Perjalanan menuju Wulingyuan +/- 30 menit dan lucunya kenek disini naik dan turun ditempat2 tertentu (bukan di terminal bus). Dan keneknya itu kebanyakan cewe kece yang modis dandanannya yg kita sendiri ga nyangka kalau dia itu kenek. Hehe.. selama perjalanan masuk ke daerah Wullingyuan kami disuguhi pemandangan tebing2 di kiri dan kanan yang spektakuler indah dan megahnya. Dan ketika sampai kami diturunkan di tempat di pinggir jalan yang katanya itu terminal bus wullingyuan. Namun tempatnya sangat tidak mirip terminal karena lagi ada renovasi bangunan disitu, dan tidak ada kumpulan bus2 layaknya di terminal. Jadi pe-er kembali bagi kami bagaimana caranya dari terminal menuju hostel. Karena berdasarkan info dr internet yang kami baca kami harus menaiki bus no.2 untuk sampai ke hostel. Namun tidak satupun ada bus disana hahahha..

 

Tapi kami tidak bête, karenaaaa ternyata kota kecil (desa sih sebenernya) yg namanya Wullingyuan itu indah bingits, jika kita berputar di tempat melihat kiri kanan depan belakang itu latar belakangnya dikelilingi sama kumpulan gunung, tebing, bukit yang berlapis2 dan apalah itu namanya. :kesengsem 

So, karna ga ada kendaraan bus lain, jadilah kami menyetop taxi untuk di drop sampai hostel. Jaraknya hanya 2 km ternyata dan 5 menit lgsg cuss sampai hostel. Hostelnya cukup OK dengan interior kayu dilobbynya dan Kevin sebagai pengelola disana sangat ramah dan helpful menjelaskan ini dan itunya mengenai taman nasional Zhangjiajie. Kami mendapat ruangan di lt.2 (1 lantai di atas lobby) dan menggunakan tangga naiknya (yaiyalah namanya juga hostel). Yang menarik di dinding2 tembok tangga penuh dengan coret2an tulisan turis2 dari berbagai macam Negara. Kebanyakan tulisan alay semacam “Sammy was Here (plus gambar bendera negaranya†wekekke..ada juga yang menggambar dan menulis suka duka di hostel ini. Kamar dan kamar mandinya cukup bersih.

 

Karena sampai disana jam 11an maka kami langsung mandi dan cuss menuju Taman Nasional Zhangjaijie. Kami harus mengejar waktu kesana karena Taman Nasional tsb tutup jam 18.00. Jarak dari hostel ke pintu masuk Taman nasional hanya +/-2 km. Naik taxi Cuma 5 menit. Thanks God cuaca disana sedang cerah2nya YEAYYY For Us. meski suhu masih dingin (menurut saya) yah +/- 15’C (karena resiko pergi di bulan Maret adalah cuaca peralihan dari winter menuju summer sehingga kabut/hujan mendominasi ). Sesampainya disana kami lgsg membeli tiket  terusan 3 hari dan registrasinya selain tiket plus juga harus scan jari untuk bisa masuk kesana.

 

Spot 1. Yuanjiajie Scenic Area: Fields and Gardens in the Air, Natural Bridge under Heaven.

Di Taman Nasional Zhangjiajie ada berpuluh2 spot wisata (lebih dari 20 spot kayanya) yang bisa dikunjungi, tidak cukup hny 3 hari, karena tidak akan bisa mengelilingi semuanya. Namun untuk menghemat waktu, tujuan awal adalah spot dimana menjadi inspirasinya film Avatar James Cameron dibuat, yaitu Hallelujah Mountain yang ada di district Yuanjiajie Scenic Area. Cara menuju kesana ada beberapa cara, menggunakan lift atau cable car, namun karena cable carnya sedang under maintenance saya tidak punya pilihan lain. Perjalanan menuju pintu masuk ke Bailong Lift menggunakan shuttle bus, selama 10 menit, dannn kami disuguhi pemandangan2 indah, danau berwarna turquoise yang dikelilingi oleh gunung dan bukit dan tebing disekitarnya.  Beruntung banget di hari 1 ini cerah cuacanya jadi feel ambience di zhangjiajie ini terasa bgt.

 

 Anyway,  Bailong lift adalah lift tertinggi kedua di dunia yang tingginya 1,070 feet (330 m), namun untuk sampai ke atas mencapai waktu 3 menit saja. Dari awal kami sudah diingatkan untuk naik lift dan cable car itu harus rela mengantri ber jam-jam lamanya. Dikarenakan kami pergi di saat low season maka, kami “Cuma†mengantri selama 15 menit saja, kabarnya apabila peak season bisa mengantri selama 2 jam hehehe.. Lift ini di design transparan di dindingnya, jadi kita bisa melihat pemandangan luar dari bawah basement hingga saat2 lift naik ke atas dan disuguhi cantiknya zhangjiajie.

Keluar dari lift kami harus sambung shuttle bus lagi menuju yuanjiajie scenic area. Dan ketika sampai disana, kami bingung bagaimana cara ke Spot Hallelujah Mountain. Papan petunjuk arahnya hampir semua bertuliskan huruf pinyin, dan hanya ada 1 papan di awal pintu masuk yang ada tulisan huruf latinnya. Namun itu pun tidak ada spot yang bertulisakan hallelujah mountain. Whattt :terharu â€¦hiks hiks hiks.. Namun akhirnya kita trekking/berjalan mengikuti  kebanyakan turis disitu hendak kemana. Namun spot2 yang kita temui pun tak kalah cantiknya. Spot tebing2 runcing menjulang dan terkesan menggantung. Ada spot yang dinamakan Fields n Garden in the Air karena spot itu terlihat seperti jembatan yang menggantung antara satu tebing dengan tebing lain. Setelah puas berfoto kami trekking kemana kaki kita melangkah saja, syukur2 bisa ketemu yang namanya spot Hallujah Mountain. Namun lagi2 karena mengejar jam tutup jam 18.00, maka kami memutuskan menjelajah besok hari saja.

 

Cost:

·         Breakfast Mc.d : 20 RMB

·         Minibus Zhangjiajie-Wulingyuan : 12,5 RMB

·         Taxi (terminal Wulingyuan-Hostel) : 10 RMB (Nego, tidak pake argo)

·         Hostel : Wullingyuan Zhongtian Youh Hostel : 69 RMB/Orang/Malam (via www.hostelbookers.com)

·         Taxi (Hostel-Pintu Masuk Taman Nasional) :10 RMB (Nego, tidak pake argo)

·         Tiket Taman Nasional 3 Hari :248 RMB

·         Bailong Lift : 72 RMB/ 1 kali naik

·         Pulang ke hostel : by feet (free) 

·         Dinner (resto depan hostel) : 20 RMB

 

Bailong Lift : post-25134-0-41621800-1432518321_thumb.j

Prita : post-25134-0-89967400-1432518092_thumb.j

Natural Bridge : post-25134-0-90166700-1432518103_thumb.j

Yuanjiajie Scenic Area : post-25134-0-87035300-1432518107_thumb.j,

 

DAY 3. Tianmen Mountain (tianmen glass skywalk, tianmenshan ghost valley plank)

Hari ini hujan dari pagi dan niatnya mau balik ke Yuanjiajie buat nyari Hallelujah mountain pun batal.  So krn ramalan di web acchuweather  cuaca mulai membaik jam 11.00an, maka kita berniat untuk ke Taman Nasional Tianmen Mountain saja. Untuk menuju tempat ini harus start dari kota Zhangjiajie, which is kita harus naik bus meninggalkan kota Wulingyuan dan naik cable car dari pusat kota Zhangjiajie menuju Tianmen Mountain. So, sesampai di stasiun cable carnya mengantrilah kita +/- 20 menit.

 

Perjalanan cable car dari pusat kota menuju puncak gunung memakan waktu 30 menit.  Cuaca masih gerimis dan pemandangan sepanjang di cable car hanya kabut putih2 yang kurang kece kalau difoto.  Sesampai disana ternyata masih kabut dan angin sangat, yah ada lah kira2 suhu 5’C. Namun demi mengejar waktu, nekatlah kita menembus cuaca yang dingin sangat. Kita berencana langsung ke Glass Skywalk. Udah ga sabar pengen foto di glass skywalk alias jalan yang dibuat berlantaikan kaca ( transparan ) dipinggir tebing. Jadi kita bisa berjalan sambil menikmati ketinggian gunung ini dengan melihat pemandangan dibawah kaki kita. Ngeri2 sedap kann.. Namun, Karena hambatan bahasa dan minimnya tulisan latin di penunjuk arah, maka nyasar lah kita ke spot ini. Kalau dipikir2 kita jadi harus mengelilingi gunung Tianmen ini baru bisa sampai spot ini. Tapi gpp disepanjang perjalanan banyak tempat kece buat berfoto ala2 winter. Karena cuaca berkabut dan peralihan dari winter maka ambience waktu trekking adalah kabut2 putih creepy yang kalau difoto mirip2 jalan di lembah berhantu deh. Tapi ternyata memang ada spot namanya tianmenshan ghost valley plank. Dan hampir 2 jam kita trekking,mampir di grand Buddha temple, ghost plank road,dll dan barulah sampai di Glass sky walk.

 

Di spot ini kita diharuskan mengalaskan sepatu kita dengan cover sepatu dari kain yg telah disediakan. Fungsinya adalah supaya sepatu kita tidak mengotori jalanan berkaca itu. Ndilalah, udah siap2 kaki gemeteran karena bayangin bisa melihat ketinggian dibawah kaki kita. Ehkann cuaca berkabut ya, walhasil yang kita lihat hanya putih saja dan berasa ada di atas awan..antara YEAY dan NAYY hihihi.. YEAY karena ga perlu takut lama2 foto disitu, NAYY karena sepertinya lbh cantik kalo ketinggian gunungnya terlihat hahaha.. gimana sih labil deh eike. Oia, sayang sekali akses menuju Tianmen Cave (lobang ‘surga’ ditengah tebing dengan mendaki 999 anak tangga) tutup pada hari itu karena cuaca kurang bersahabat.

Cost :

·         Breakfast (pop mie) : 3 RMB

·         Minibus (Wulingyuan-Zhangjiajie) : 12,5 RMB

·         Ticket Taman Nasional Tianmen Mountain : 258 RMB (Diskon menjadi 225 RMB krn periode low season)

·         Masuk area Glass Skywalk : 10 RMB

·         Lunch :20 RMB (makanan yg dijual di dalam tempat wisata relative lebih mahal )

 

Cable car :post-25134-0-14625200-1432518889_thumb.j

plank road :post-25134-0-45380900-1432518828_thumb.j

ghost valley :post-25134-0-72752700-1432518920_thumb.j,post-25134-0-79686300-1432519021_thumb.j

hanging bridge :post-25134-0-11293500-1432519123_thumb.j

glass skywalk :post-25134-0-07487600-1432518950_thumb.j

 

DAY 4 : Tianzi Mountain, Yuanjiajie Scenic Area (Ten Mile Gallery,Hallelujah Mountain)

Karena penasaran belum ketemu spot Hallelujah Mountain, maka balik lagilah kami masuk ke Taman Nasional Zhangjiajie. Karena lift mengantri sangat, maka kita berhenti dahulu di spot Ten Mile Galery. Di spot ini harusnya cantik ya dengan background the famous pilar Three Sister. Maksudnya adalah 3 tebing kembar yang menjulang. Namun, karena cuaca berkabut maka setelah capek2 trekking kesana kecewa tebingnya tak terlihat di foto. Setelah dari sana kita pasrah mengantri Lift selama 1 jam untuk ke Tianzi Mountain. Untuk menuju Tianzi Mountain, selain menggunakan lift ke daerah Yuanjiajie Scenic area harus disambung lagi menaiki shuttlebus berwarna coklat yang memakan waktu +/- 1 jam. Dengan kondisi jalanan yang berkelok dan berkecepatan kencang bagai naik wahana di dufan, saran bagi yg suka mabok mobil maka minumlah obat anti mabuk diperjalanan 1 jam  ini. Karena, perjalanan kami kurang beruntung dapat 1 bus yang ada 2 penumpangnya mabuk darat. Maka di perjalanan ada backsound “hoek2†yg tak kunjung henti. Sampai akhirnya 2 penumpang (beserta keluarganya) diturunkan oleh sang supir di tengah2 perjalanan. Thanks God..Hehehe..teganya ya si supir, cuman tiap beberapa menit selalu ada shuttle bus yang lewat kok jadi mereka tidak terlantar begitu saja di pinggir jalan. :ngeledek .

Di spot Tianzi Mountain yang mana di atas puncak gunung ternyata bertengger resto Mc.D yg luas bgt (penting banget buat gw yg ga tahan dingin, jadi bisa numpang makan dan menghangatkan badan disini, sementara si Prita sibuk hunting foto di luar). Sudah beranjak sore turunlah kita menuju Yuanjiajie lagi mencari Hallelujah. Dann..setelah trekking selama 30 menit ketemulah spot yang dimaksut. Sebenernya pemandangannya bagus banget dan spot “tebing menggantung†inspirasinya James Cameron juga amazing bgt, cuman karena cuaca ga terlalu cerah dan sedikit foggy jadinya hanya bisa dinikmati oleh mata telanjang secara langsung. Maklum kameranya cuman mengandalkan kamera HP bukan Dslr, maka hasil foto pemandangannya jadi tidak sebagus jika melihat langsung.

Cost :

·         Transport by feet dari hostel menuju taman nasional : free

·         Snack Sosis (di dalam Taman Nasional Zhangjiajie ) : 20 RMB

·         Lunch dan Dinner: mc.D

·         Bailong lift : 72 RMB (sekali jalan)

 

Oia, Tianzi mountainnya ga ke foto karena cuaca berkabut

Tianzi funeral : post-25134-0-46324500-1432519349_thumb.j

Mc.D area di Tianzi : post-25134-0-92925700-1432519365_thumb.j

The famous hanging Cliff di area Hallelujah Mountain : post-25134-0-43190000-1432519425_thumb.j

Spot Hallelujah Mountain : post-25134-0-05438300-1432519459_thumb.j

Jalan trekking di yuanjiajie scenic area : post-25134-0-16718500-1432519504_thumb.j.

 

DAY 5 : Yellow Dragon Cave, Baofeng Lake

Pagi2 kami sudah berangkat menuju Yellow Dragon Cave. Tempatnya masih satu kawasan di desa Wulingyuan, cuman agak jauh dari Hostel kami menginap. Yah kalo naik taksi sekitar 15 menit deh..Di kawasan tempat wisata Yellow Dragon Cave ini punya pemandangan yang cantik banget. Ada danau buatan dengan angsa yang lagi berenang plus taman bunga yang luas bgt berwarna kuning dan pink, serta pohon2 menjulur, dan tentu saja itu semua dikelilingi background gunung dan bukit berlapis2. Saking cantiknya pemandangan disini, jadi pengen foto maju mundur cantik plus pose mau bobok ala syahrini (lebay sangat..). Oia, di awal masuk parkiran ada bangunan yang didesign cantik bgt dengan atapnya yang unik. Bukan terbuat dari genteng, namun atap miring dibuat semacam lapangan rumput macam tempat main golf gitu.. keren yah..

Untuk masuk dan mengelilingi gua ini harus didampingi oleh tour guide yang disediakan dari sana. Jadi kita harus menunggu rombongan sebanyak 10 orang untuk bisa memulai masuk. Yellow dragon cave ini adalah gua yang banyak berisikan stalaktit dan stalagmite. Tempat ini dikelola dengan baik sekali. Rute gua dibikin sedemikian rupa sehingga kita harus berjalan melihat seluruh isi gua ini dengan cara trekking naik dan treeking turun menggunakan anak tangga yang banyaknya minta ampun ga abis-abis..tolong.. (Huhuhu.. Exit, mana exit huhuhu..dan tidak ada tulisan exit hingga mendekati rute akhir, damnn..) Tata pencahayaannya pun mengagumkan (yah mirip lampu disko warna warni, ehehe kidding..) Disini kita juga ada spot dimana harus menyusuri sungai dengan menaiki kapal kecil yg mirip2 kapal di istana boneka dufan hihihi..Karena luas banget, maka kita menghabiskan waktu 1,5 jam untuk mengelilingi gua. Ga tahan lama2 berada di ruangan gelap,bawah dan tertutup, dan begitu kita melangkah keluar terbayarkan dengan pemandangan cantik untuk berfoto maju mundur cantik.

Dari Yellow dragon cave kita naik taxi menuju Baofeng Geological Park.  Sebenernya tempat ini sangat dekat dengan hostel tempat kita menginap. Hanya 1 km saja, dan bisa jalan kaki menuju sana. Spot wisatanya pun ada banyak, namun yang kita tuju adalah Baofeng Lakenya saja untuk menghemat waktu. Untuk menuju Lake, harus trekking menyusuri jalan sejauh 500 meter dan trekking naik tangga sejauh 500 meter juga. Cukup melelahkan bagi gw yang baru aja dihajar naik turun tangga di yellow dragon cave. Fiuhh… Cuman yang namanya capek itu benar2 terbayarkan kalau udah sampai di spot yang kita tuju dengan pemandangan yang kece pula. Disini kita menyusuri danau dengan cara menaiki kapal selama 15-20 menit dan dipandu oleh guide local (tentunya berbahasa mandarin). Atraksi selama menyusuri danau juga menarik. Selain dijelaskan mengenai sejarah penamaan beberapa spot di area Danau, tiba2 ditengah2 danau ada dibangun beberapa rumah yang ketika kita melewatinya, kita disambut dan disuguhi nyanyian dari si orang yang tinggal di rumah tersebut. Lucu juga ya. Sore menjelang malam, kita berangkat menuju Zhangjiajie Railway Station menuju Kota Guangzhou, dengan menaiki Night train agar bisa menghemat waktu dan biaya menginap.

Cost :

·         Taxi (hostel-Yellow Dragon Cave) : 30 RMB

·         Tiket masuk Yellow dragon cave : 96 RMB

·         Taxi (Yellow Dragon Cave-Baofeng Geological Park ) : 30 RMB

·         Tiket masuk Baofeng Park : 95 RMB

·         Minibus (Wulingyuan-kota Zhangjiajie) : 12,5 RMB

·         Tiket Kereta Zhangjiajie-Guangzhou : 317,5 RMB (Hardsleeper-low)

 

View di entrance Yellow dragon cave : post-25134-0-94683800-1432519712_thumb.j; post-25134-0-07121600-1432519876_thumb.j; post-25134-0-85673100-1432519898_thumb.j

Yellow dragon cave : post-25134-0-26705300-1432519960_thumb.j

Baofeng Lake : post-25134-0-97131400-1432520013_thumb.j;post-25134-0-66154100-1432520629_thumb.j

Baofeng Geological Park : post-25134-0-34127400-1432520032_thumb.j

 

DAY 6 : Guangzhou (last day)

Sesampai di hotel langsung rebahan dan Itinerary seharian hanya ke : district elektronik untuk mencari kamera xiaomi yi action (go pro killer) dan tidak ketemu fiuhhh..dan belanja oleh2 dan baju ke pusat fashion shangxiajiu district.

Cost :

·         Hotel Sotel Inn : 27 USD/night

·         MRT ke tempat belanja : 2-3 RMB

·         Snack : bakpau isi : 1,5 RMB/piece

·         Lunch di foodcourt mall : +/- 13 RMB

·         Dinner fastfood samping hotel : 20 RMB

 

DAY 7 : Guangzhou Baiyun Airport menuju Jakarta

 

Suka duka selama di China MainLand yang sayang untuk tidak diceritakan :

1.     Bahasa. Tidak seperti di Hongkong yangmana penduduknya sudah familiar dengan bahasa inggris, di kota besar seperti Guangzhou pun tidak semua petugas public bisa berbahasa inggris, atau bisa membaca huruf latin. Signage atau papan penunjuk arah pun kebanyakan masih menggunakan huruf mandarin. Jadi, apabila ingin menanyakan sesuatu kepada orang disana haruslah siap2 menggunakan aplikasi google translate yang ada dihandphone, ataupun kita harus mencetak dikertas Nama tempat yg akan kita tuju (dengan huruf latin) plus disertai huruf Pinyin/Mandarin. Yahh, just incase mereka tidak bisa membaca huruf latin. Kebayang di kota besar seperti Guangzhou saja minim tulisan latin, apalagi di Zhangjiajie yang merupakan pedesaan (cry).

2.     Sanitasi. Buat orang2 yang rempong dengan urusan toilet (termasuk saya sendiri), hal ini jadi momok yang penting sekali. Bukan hal yang asing lagi kalau kita mendengar toilet2 umum di China itu joroknya minta ampun. Entah mengapa toilet disana tidak hanya bau pesing, namun masyarakat sana kok tidak hobi menyiram/men-flush hasil pembuangan yang mereka lakukan sendiri (fiuhh). Jadi selalu siap sedia lah yang namanya tissue kering, atau tissue basah. Atau tips yang saya sering lakukan ketika kebelet pipis ketika sedang berada di luar hotel adalah masukilah  mall dan pergunakan toilet di mall lantai2 atas. Kenapa jangan dilantai bawah, karena ada beberapa mall yang basement nya nyambung dengan stasiun metro (MRT). Jadi, otomatis toilet orang2 setelah keluar dari MRT lebih sering dipergunakan. Namun jangan juga menggunakan toilet di lantai yang ada foodcourtnya, karena sama padatnya. Atau masuklah hotel2 yang terlihat berbintang 4 atau lebih, karena dijamin toiletnya lumayan bersih. Namun jangan memasuki hotel2 bintang 2 atau bintang dibawahnya karena saya tidak yakin hotel disana menyediakan toilet umum di lobbynya. Nah, horror bagi saya adalah harus ke toilet di dalam kereta api 12 jam, atau di tempat2 wisata, ga kebayang itu joroknya masyainanggg…Yah itu lah tips dari pengalaman2 pribadi saya sebagai miss rempong.hehhehe..

3.     Meludah. Meludah menjadi habit bagi masyarakat disini terutama bagi bapak2. Di hampir setiap kami berjalan kaki pasti ada aja yang melakukan aksi perludahan. Lucunya adalah, mereka selalu mengambil ancang2 sebelum meludah. Dimulai dari tarikan panjang nada yang bersuara “hoeeeekkkk..†yang disusul dengan bunyi “cuuuuhhhhh..†diakhir meludah. Dan meludahnya tidak pakai menepi segala, mereka membuang reak/dahak bisa dimana saja, mau dijalanan samping tempat ia berdiri, mau di lemparkan ludahnya ke ujung manapun, bahkan di dalam lorong kereta juga mereka tidak peduli. Saya dan Prita sudah sedikit maklum dan terlatih menghadapi ini. Disaat kami mendengar ada suara ancang2 perludahan, kami langsung ngibrit entah kemana, asalkan jangan sampai terkena serangan ludah dari si empunya. Hiiii….

Mohon maaf bukan maksud menyinggung habit/culture budaya sana, saya cuman mau sharing saja dan kasih info untuk persiapan teman2 apabila ingin pergi ke China. Namun dibalik semua itu, saya tetap dan masih mau menjelajah tempat2 cantik di China dan saya akui disana top bgt untuk urusan wisata alamnya, tidak kalah dengan Indonsia.. dan Zhangjiajie ini termasuk one of the place u should visit before u die.

post-25134-0-01391600-1432518733_thumb.j

post-25134-0-13589800-1432519935_thumb.j

Share this post


Link to post
Share on other sites

Hebat bgt sih, gak bisa bhs mandarin tapi berani kemari :rate

Kalau boleh tau tiket pswt nya total PP kurang lebih berapa Rupiah ya?

Saya juga minat kemari, tapi mo pake travel agent aja deh stlh baca ini.. :P

Share this post


Link to post
Share on other sites

bagus2 tempatnya, mudah2an bisa kesana juga someday :)

nice FR dan memang budaya orang China kaya begitu, mudah2an 10 taon lagi generasi muda-nya yg jadi senior udah ngga begitu haha semoga lebih civilized dari bapak2 tua :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

thank you :rolleyes:

berarti total keseluruhan kurang lebih hampir 9juta ya.

 

Betul..itu sebnernya cost gede ada di tiket masuk tempat wisata dan atraksimya. kalo nyusun itinerarynya fokus di 1 taman nasional aja sih ga terlalu makan budget besar. :oke    

Share this post


Link to post
Share on other sites

Ahay ko Acong terlambat Berita sangat lengkap ini Kren deh FR nya  Padahal (tapi udah beli tiket jauh hari) tambah 4 Jt Sambung ke Jiuzhaigou Huang loong Valey By Fliht  Zhang jia jie Chengdu jIu Zhai Huangloong Lengkap deh Destinasi Impian Versi Unesco Pulang Via chengdu Indonesia sealamat dan sukses Rasanya Jarang 2 cewe Backpacker Ketempat Asing dengan bahasa Asing Dan penduduknyapun Asing Kebayang sensasinya Acung 2 Jempol Deh @seyakasamira Dan rekan 

Hen Li Hay

Share this post


Link to post
Share on other sites

Lagi nyari data dan temen juga buat ke sana, seneng ketemu posting ini di Milist yg aku ikutin juga. seru banget tpi aku prefer Mei mungkin yah dimana kabutnya berkurang, walau kabut juga menambah suasana sperti negeri Avatar. bunkbed sleeper trainnya keren, belum kesampaian naek sleeper train. Rencana klo ke China pengen sekalian Zhangjiajie, Xian dan Beijing...Klo mau ke China lgi info2 yahh..

Edited by Anita Dwi Mulyati

Share this post


Link to post
Share on other sites

Lagi nyari data dan temen juga buat ke sana, seneng ketemu posting ini di Milist yg aku ikutin juga. seru banget tpi aku prefer Mei mungkin yah dimana kabutnya berkurang, walau kabut juga menambah suasana sperti negeri Avatar. bunkbed sleeper trainnya keren, belum kesampaian naek sleeper train. Rencana klo ke China pengen sekalian Zhangjiajie, Xian dan Beijing...Klo mau ke China lgi info2 yahh..

ya mba @Anita Dwi Mulyati silahkan tanya2 mba @seyakasamira dan @ko Acong yang pernah kesini :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

halo semua, salken
saya member baru disini
setelah search di gugel tentang backpack ke zhangjiajie yang sangat minim info, akhirnya ketemu disini :)

saya mai tanya, apa aman untuk solo backpacker wanita ke sana sendirian tanpa bisa menguasai bahasa mandarin.

satu lagi amankah bermalam di changsha airport?

soalnya flight saya nyampe hampir jam 12 malam.

terimakasih

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

@kupriter

  Aman Istirahat Di Changsha Airport Tersediajuga Air Panas Buat seduh Kopi/ Mie Cup  Bus Airport  Pertama Menuju Setasiun Bus Selatan Barat Changsha Jam 8 pagi 50 menit Di STasiun Bus Changsa Selatan/Barat  Tinggal beli tiket Tujuan Zhangjiajie 140 RMB-/+  Durasi 4 s/d 5 jam Perjalanan untuk tidak bisa berbahasa mandarin Sebaiknya Bawa Print Alamat Hotel Versi Mandarin 

Share this post


Link to post
Share on other sites
39 minutes ago, ko Acong said:

@kupriter

  Aman Istirahat Di Changsha Airport Tersediajuga Air Panas Buat seduh Kopi/ Mie Cup  Bus Airport  Pertama Menuju Setasiun Bus Selatan Barat Changsha Jam 8 pagi 50 menit Di STasiun Bus Changsa Selatan/Barat  Tinggal beli tiket Tujuan Zhangjiajie 140 RMB-/+  Durasi 4 s/d 5 jam Perjalanan untuk tidak bisa berbahasa mandarin Sebaiknya Bawa Print Alamat Hotel Versi Mandarin 

cc: @kupriter

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

  • Similar Content

    • By Daniyah Isa
      Assalamualaikum 
      Salam kenal,
      Panggil saya, Nia
      Ini adalah pertama kalinya saya pergi ke LN dg mengurus semua keperluan sendiri. Biasanya, sdh terima beres dari kantor, karena memang ada urusan. Nah, destinasi yg saya pilih tdk jauh tp harus berkesan ! Melaka. Kota yg ditempuh dlm waktu 2 jam dari KLIA2. 
      Gimana caranya saya bisa sampai ke sana ? Inih dia, detailnya ;
      1. JKT-KLIA2
      Pesan tiket pesawat yg everyone can fly dari situs resmi. Lama waktu sekitar 2 jam, berangkat 10:10am sampai KLIA2 13:15pm.
      Di KLIA2, ikuti saja petunjuk arah yang ada, sambil ikuti arus kemana orang-orang pergi. Nanti, ada eskalator naik, lalu ada eskalator turun langsung ke tmpt imigrasi. Setelah keluar dari imigrasi, saya temukan mall dg counter-counter barang branded. Semacam Grand Indonesia, kalau di Jakarta.
      Buat yg terburu-buru sampai ke KL dg cepat, mgkn ada urusan meeting or apa, bisa lurus terus ke pintu keluar. Di samping pintu keluar ada loket pembelian tiket KL Ekspres, seharga 55RM dg waktu tempuh 33menit ke stasiun KL SENTRAL. Dari KL Sentral, bisa pilih kemana saja tujuan teman-teman yg mau dicapai. Ibarat di Jakarta nih, KL Sentral tuh Manggarai. 
      Tujuan wisata saya, dan teman saya adalah Melaka. Belajar dari blog dan bbrp artikel, butuh kendaraan bus utk sampai ke sana. Hanya bus saja, tdk ada kereta atau MRT yg menuju ke sana. Saya pun, turun lagi ke lantai G dg eskalator. Jangan takut kesasar ! Banyak petugas keamanan yg berjaga.
      Sampai di lantai paling dasar, ada sederet loket yang menjual tiket bus, taxi, sewa kereta (mobil). Langsung saja, membeli tiket bus Transnasional tujuan Melaka Sentral, seharga 24.10RM. Di tiket sudah tertera nomor tempat duduk, gate tempat menunggu. Wah, pokoknya tertib dan teratur! Meskipun busnya lebih bagusan DAMRI sih bagi saya, hehehe.
      2. Melaka dan Wisatanya 
      Selama 2 jam perjalanan dari KLIA2, sambil bengong-bengong liat pemandangan (apa bener gue di Malaysia? Ini mirip ke Ciawi yah ? Heheheh) yang membedakan tuh, sepanjang jalan lancar jaya. Mgkn supir bus kapalan nginjek gas, hehehe. Duh bahagia deh kalau Jakarta jalanannya kaya gini terus. Sampai tibalah saya di Melaka Sentral, ibaratnya Terminal Kp. Rambutan gituh. 
      Waduh, sepi banget ! Macam ga ada kehidupan. Bingung juga kan, mau ke hotel gimana ? Boro-boro kuota buat pesan taksi online, sinyal ajah ga dapat.
      Yaa, saya tanya ke petugas kebersihan, dan memang bus Panorama 17 tujuan Bangunan Merah, agak lama. Bukan karena macet yaa, ini karena jalanan di Melaka tuh Sehala (satu arah) jadi dia berputar dulu.
      Sejam menunggu, datanglah bus Panorama 17. Disinilah pengalaman dimulai, banyak yg Negor dan tanya "Indonesia ya ? Indonesianya mana ?" Agak bingung sih, ditanya begitu. Biasanya ditanya "Jawanya mana ?" Padahal sih, sama saja hehehe. 
      Saya menginap di hotel Hallmark Crown, 3H2M, seharga 147RM include Breakfest, free wifi. Wilayahnya dekat dengan mall Dataran Pahlawan, jalan kaki 10 menit lah. Jadi turun saja di Dataran Pahlawan, ongkos busnya 2RM saja. Hotelnya comfie banget ! Disetiap sudut ada galon. Jadi bisa refil sepuasnya, ditambah kulkasnya menyala dg sempurna. Wah, recomend deh!
      Saran utk teman-teman yg mau pesan hotel di Melaka, pesan di daerah sekitar Dataran Pahlawan (rate murah), Bangunan Merah, dan Jonker Street. Tiga tempat itu, sudah dekat banget kemana-mana. Jadi bisa jalan-jalan santai, foto-foto, interaksi sama penduduk lokal. Yg penting, rajin jalan kaki yaa, hehehe.
      Hari pertama saya mengunjungi Bangunan Merah, jalan kaki dari Hotel 15 menit. Melewati mall-mall Besar, dan rupanya ada carnaval becak hias, mobil hias dan barongsai. Jadi nggak berasa jauh dan capeknya.
      Di Melaka, ada yang saya lihat di maps Google itu jauh, ternyata dekatan. Menara Taming Sari, Bangunan Merah, Jonker Street dan River Cruise. Yang jauh, cuma Masjid Selat Melaka. Masjid Selat Melaka memang harus menggunakan taksi online, karena jaraknya terpisah dengan daratan Melaka kota dan masuk ke kompleks perumahan. 
      3.Kuliner dan Oleh-oleh Melaka
      Sempat bingung mau makan apa di Melaka. Hari pertama saya sampai di Melaka, sudah malam dan banyak yg tutup. Masa iyah sih, jauh-jauh ke Melaka, makanya McD? Nggak ada nasi lagi. Akhirnya mampir ke 7Eleven (horeee, Nemu 'sevel !) Beli nasi lemak instant dan mie instan. Lupa berapa harganya, tapi cukup menahan lapar. Serius deh, sebenarnya nggak lapar-lapar banget ! Cuma karena nggak mau masuk angin ajah.
      Terakhir perut diisi sama sandwich Subway yg beli di KLIA2. Hufh, gara-gara ngincer destinasi wisata jadinya lupa makan. 
      Hari kedua, masih hunting foto disekitar Bangunan Merah, Taming Sari, River Cruise. Cerah banget langit di Melaka, dan udaranya juga segar nggak ada polusi (kapan Jakarta begini ? Mungkin ga yah ?). Di samping Bangunan Merah, ada tangga menuju bukit. Diatasnya bangunan reruntuhan yang menghadap lautan lepas. Keren banget !!! Duduk-duduk saja sambil lihat pemandangan. 
      Oh Iyah, untuk beli oleh-oleh seperti gantungan kunci, kaos tulisan Melaka, tas Melaka, tempatnya di Medan Samudera. Tenang, ga jauh kok ! Ga perlu nyebrang. Dari Bangunan Merah, ambil sisi kanan dan lurus terus sampai lihat bangunan kapal pesiar. Nah di sana, yang paling murah ! Kaos dapat 10RM, gantungan kunci dapat 8RM, 6 gantungan kunci. Meski di Bangunan Merah juga ada lapak yang menjual, lebih baik beli di Medan Samudera, karena harganya lebih terjangkau. 
      Selain beli oleh-oleh, di tempat ini ada warteg Melayu loh ! Syukurlah, ada warteg juga. Awalnya sempat underestimate gitu. Makanannya mirip makanan warteg, dan ga lebih menarik dari warteg Jakarta. Karena Nggak enak sama Ibu penjualnya, yg tiba-tiba udah nyendokin nasi, mau ga mau dibeli. 
      Yaa sayur tumis kacang panjang dan ayam goreng jadi menu makan siang. Pas dimakan, enak ! Ini karena efek capek mungkin yaa. Minum air mineral, biar nggak makin haus. Tadinya sih mau makan nasi Briyani dan teh tarik, tapi dia hanya jual di hari Minggu. Seporsi makanan warteg Melayu cuma 6RM. Waah, amazing ! akhirnya bisa menghemat, heheheh.
      Lepas makan, lanjut belanja-belanja di sekitar Medan Samudera. Biasa, buat yang dirumah, mau dibeliin kaos dan gantungan kunci utk disebar, hehehe. Jalan lagi ke Bangunan Merah, baru ketemu kedai es cendol. Katanya sih, es cendol di Melaka itu khas banget. Yaudah, saya beli yang es cendol kacang merah. Rasanya ??? Waah, enak banget !!! Pass buat saya yang ga terlalu suka manis. Kuah santannya gurih, cendolnya segar dan kacang merahnya manis. 
      Wah, okeh banget lah ! Rencana kalau ngidam, maunya ngidam es cendol Melaka. Hahahah
      Menjelang sore, saya bersiap menuju Mesjid Selat Melaka. Menikmati sunset sambil menunggu waktu magrib. Magrib di Malaysia, setengah tujuh. Tapi langitnya seperti setengah enam, Jakarta. Waktu di Malaysia tuh cepat banget ! Mungkin ini planet Merkurius, satu menit tiga puluh detik. Semua terasa cepat.
      Saya dan teman-teman menuju Masjid Selat Melaka menggunakan taksi online. Sampai di sana, waah indah banget ! Lebih indah dari foto-foto Google. Garis cakrawala sudah menyapa di langit. Air laut biru bersih tanpa sampah. Saya berdiri di halaman belakang Masjid menatap langit sore. Diterpa angin laut, dan ada beberapa wisatawan lain berlalu-lalang. Sayang, lagi nggak sholat Magrib di sini. 
      Akhirnya cuma nunggu teman yang sholat Maghrib, sambil jaga sendal hahaha.
      Malam terakhir di Melaka, saya menuju rumah makan Eeji Ban Chicken, penjual makanan khas Melaka. Ada Rice Balls, Asam Pedas, Nasi Lemak, harganya pun terjangkau. Berkesan makan ditempat ini, karena rumah makan Eeji Ban recomend dari supir taksi online. 
      4. Check Out Melaka
      Hari terakhir di Melaka, saya merasa sedih banget ninggalin tempat ini. Padahal rumah ini kampung orang, negeri orang, huhuhu. Nggak mau repot karena tas udah beranak, jadinya saya dan teman-teman naik taksi online ke Melaka Sentral.
      Di Malaysia pada umumnya, jarang ada sirik-sirikan or persaingan. Contohnya di terminal Sentral Melaka. Tadinya mau naik bus Delima,  bus terkenal dikalangan blogger yg pernah kesana. Tapi sama kenek Delima, disuruh ke bus satunya lagi yg kurang eksis. But its OK ! Yg ptg sampai, heheheh.
      Dua jam perjalanan menuju terminal bus TBS (Terminal Bersepadu Selatan), amazing !!! Terminal Bus rasa Bandara Terminal 3. Bersih, tertib, rapi. Dibawahnya, ada stasiun menuju KL Sentral. 
      5. Sehari di Kuala Lumpur 
      Berhubung pesawat tengah malam, jadi siang masih bisa jalan-jalan sebentar di Kuala Lumpur. Hunting foto di KLCC, Dataran Merdeka dan jalan-jalan ke Mall *lagi. 
      Dari Terminal TBS, naik KL transit ke stasiun KL SENTRAL seharga 6.5RM. Dari KL SENTRAL, bisa ke Batu Caves, KLCC, Mesjid Jamek, KLIA2. Ada peta seperti peta yang ada di halte Transjakarta, di sana juga ada petugas yang membantu dan menanyakan "Can i help you ?" So, tak perlu takut tersesat. 
      Stamina udah low, meski cuma naik turun kendaraan umum tp cukup bikin lemas. Selain makan, kita juga butuh vitamin, kalau capek lebih baik istirahat.
      Di KL SENTRAL, ada loker penitipan dg kunci sensor wajah. Jadi kita ga perlu deh tengteng tas beranak kesana kemari. Harganya 20RM utk loker kecil dan 30RM utk loker besar. Sangat disarankan berpergian sama teman, biar segala biaya bisa ditanggung bersama. Tapi milih juga yaa, teman yang gimana buat diajak jalan jauh. Apalagi, ke LN yg jalan kakinya jauh-jauh.
      Baiklah, itu pengalaman pertama saya traveling ke Melaka, Malaysia. Saya sangat suka tempat itu, lebih indah dari yg saya bayangkan. Terutama yg hobi fotografi, ini banyak spot-spot bagus di Melaka. 
      Oh Iyah, makasih banyak buat Mba Vira. Mgkn dia jarang aktif di forum ini. Saya pun juga newbie. Ketemu jalan2.com karena random ajah, hehehe. Lagi bosen, drpd stalking sang EX atau baca berita hoaks, iseng-iseng cari soal Melaka. Tiba-tiba muncul situs ini, dan saya kenalan sama Mba Vira. Nggak ada sedikitpun curiga bakal gimana nnt disana, tinggal jalan ajah. Hehehe
      Nah buat teman-teman, semoga tulisan saya membantu dan jadi referensi kalau kalian mau ke sana. Ingat, No need bilang, barang ini murah atau mahal. Soalnya beda "Peradaban".
       








       
    • By seyakasamira
      Lalala-yeyeye..Setelah menunggu selama 7 Bulan lamanya, akhirnya nemu juga 5 orang korban lain (*eh?!) yang bersedia nge-trip bareng ke sini..uwowww jd terharu sayaa..  so, langsung saja..
      Day 1.
      Kita berangkat hari Jumat tgl 26 Sept'14, naik pesawat TriganaAir dari Jakarta menuju PangkalanBun. Sesampainya disana langsung dijemput oleh Tour Guide kami (Pak Andreas dari Yobel Tour), dan kita dicarterin taxi untuk menuju pelabuhan Kumai dengan jarak tempuh yg lumayan singkat yaitu 30 menit saja..Da..engingjrennggg... langsung terkesima dengan kapal yang akan kita kendarai selama 3 hari 2 malam mendatang..huhuhu..ga nyangka kapalnya oke banget,bersih dan ga se-prihatin yg saya bayangkan (mulai norak).
       
      Jadi awak kapal terdiri dari 1 orang kapten kapal, 1 orang crew kapal, 1 orang juru masak, dan Pak Andreas sbg Tour Leadernya. Kapal yg populer dinamakan kapal kelotok (karena bunyinya klotok..klotok..klotok) ini cukup luas buat kami ber 6 plus 4 orang awak kapal. Ada 2 dek, dek bawah itu untuk aktivitas awak kapal (buat nahkodanya, tempat menyimpan kasur2 tamu, tempat masak, dll). Dek atas disediakan untuk tamu. Fasilitasnya juga Ok bgt, kamar mandi pakai shower dan ada closet duduk, disediakan meja makan, ada balkon dengan 2 kursi leyeh2 untuk berjemur (what?berjemur??udah ky areng ginih -____- ! ) Oiya, jangan sedih..kita dapat 3x makan dan 2x snack dalam 1 hari. dan masakannya sungguhlah berlimpah dan super yummy..





       
      Di hari pertama ini kita langsung menuju Tanjung Harapan untuk lihat feeding time nya orangutan. Trekking masuk hutan sekitar 1 km dan sesampai di tempat feeding cuaca mulai mendung dan turunlah hujan. Eh, ternyata disana sudah menunggu beberapa rombongan tourist yg mau lihat proses feeding time ini. Dan dikarenakan wisata tanjung puting ini lebih populer atau diminati tourist luar, maka pemandangan disini adalah bule bule semua   . Disini kita menunggu ?-/+ 30 menit hingga orangutan yg masih ngumpet pada mau turun dari atas pohon menghampiri "panggung" yg berisi pisang2. Beruntung kita bisa melihat orangutan yg muncul dikarenakan kalau hujan biasanya mereka prefer leyeh2 di atas pohon (macam manusia yg kalo hujan lebih senang nedekem di rumah). Uwoww, beda lho rasanya ngelihat orangutan di ragunan/taman safari dengan orangutan disini. Kalo disini ada perasaan degdegan kalo mereka melintas dengan tubuh besarnya itu. Dikarenakan orangutan liar belum terbiasa disentuh oleh manusia (tdk sperti kbon binatang di jakarta), maka juga ada anjuran jangan sembarangan memberi makan orangutan, jangan berdiri diantara orangutan jantan dan betina, jangan bersuara terlalu keras/ribut yg akan mengganggu ketenangan orangutan dan beberapa rambu2 lainnya.







       
      Diperjalanan pulang, ketika melintasi sungai sekonyer kita bisa melihat sekawanan bekantan di kiri dan kanan pepohonan, kalau beruntung bisa melihat buaya pula. Dan saya beruntung melihat buaya dengan mata merahnya sedang mengincar mangsa.
      Malam harinya kita ber candle light dinner dengan lauk ikan nila bakar, tumis kangkung, tempe goreng, uhmm apa lagi ya lupa hehehe dan ditutup dengan dessert potongan buah mangga. Bener2 beruntung dapet chef yg jago masak.  Setelah kenyang, kapal menuju tempat dimana kita bisa melihat kunang2 dimana-mana..woww ga bisa dilukiskan dengan kata2 kita lihat pemandangan sejuta bintang dan kunang2 yg seprti pohon natal di kiri kanan kita..(sayang ga bisa ke photo). suasana malam hari disana sangat sunyi dan syahdu. Hanya ada suara jangkrik dan serangga2 lain yg bersahut2an dan Anyway kita tidur disediakan kasur beserta kelambu..Thanks God we had a marvellous momment and unforgettable experiences.
       
      Day2.
      Yang biasanya pagi2 di jakarta dibangunin sama kokok ayam, eh jangan sedihh disini kita subuh2 dibangunin sama suara bekantan jejeritan yg sedang bersendagurau..woww so sweet bgt ga sih dibangunin suara monyet.. hehehe..Setelah sarapan nasi goreng ikan asin yang banyaknya naujubilah (tapi abis dan kenyang) dan ngeteh2 cantik, maka berangkatlah kita menuju Pondok Tanggui dan dilanjutkan ke Camp Leakey. Di Pondok Tanggui trekkingnya seru, byk spot2 lucu buat foto2, nemu tumbuhan kantong semar, rayap, akar liana, dll tapi sayang setelah menunggu selama 1 jam, orangutannya ga ada yang mau turun di tempat feeding. Mungkin karena masih pagi dan byk bgt wisatawan yg berkunjung kesana jadi mereka malu-malu mau gitu kali ye..







       
      Perjalanan dilanjutkan ke Camp Leakey, pusat rehabilitasinya orangutan. Perjalanan lumayan jauh sekitar 8 km, namun pemandangannya mulai berubah, pohon2 lebih rindang, kiri kanan bisa lihat burung kingfisher, lihat buaya dan biawak berenang, pokoknya settingannya mirip film annaconda deh ngeri-ngeri sedap gitu heheheh.. dan air sungai berubah menjadi lebih jernih dan berwarna hitam. Warna hitam dikarenakan dasar tanahnya gambut namun bening sekali. Sampai bisa ngaca dan hasil fotonya mengagumkan bgt,krn pohon2 yg terpantul di air seperti ada reflection effectnya.  Begitu menginjakkan kaki disini, kita disambut oleh kedatangan Siswi, orangutan betina dewasa yang dari kecil sudah diasuh disini. Dikarenakan hujan, dia mulai ngumpet2 nyari tempat berlindung dan menutupi kepalanya dengan mencabut2 dahan2 yg ditumbuhi banyak daun. Uwoww lutunaaa.. Perjalanan ternyata masih panjang. Pak Andreas mengarahkan untuk ambil jalur masuk hutan sambil lihat2 tumbuhan endemik yang ada di hutan sini,jadi sekitar 1,5 km untuk sampai ke tempat feedingnya orang utan. Beruntung bisa lihat beberapa orangutan,uwa-uwak,squirel yg ke "atas panggung" buat ambil makanan. Yang menyenangkan lihat proses feeding ini adalah, kita jadi tahu gimana cara manggil orangutan supaya turun, gimana liat proses mereka bergelayutan dari pohon ke pohon, gimana cara mereka mengupas pisang dan memasukkan ke mulut, gimana cara ibu orangutan memberi makan anaknya, gimana mimik muka/ekspresi mereka mengendap2 atau mencuri makan lalu kabur, dan banyak lagi tingkah laku kocak lainnya. Adapula kedatangan babihutan yang ikut meramaikan suasana. Setelah sekitar 2 jam muncullah orangutan yg kita tunggu2 yaitu Tom, the king of Camp Leakey. Ya, si Tom ini penguasanya. Selayaknya raja, binatang lain akan mundur atau menyingkir ketika rajanya datang dan membiarkan si raja menghabiskan makanan yg disediakan. Jika ada orangutan dewasa disekitar sana yang dirasa mengancam kedudukannya, serta merta akan terjadi baku hantam disana. Hampir saja kami melihat proses baku hantam itu, yaitu ketika Ponorogo (salah satu orangutan dewasa ) terbirit2 dikejar oleh Tom karena lebih dahulu mengambil jatah makanannya. Namun sayang tidak terkejar dan Tom kembali duduk di singgasanannya sambil minum susu. Ya, makanan yg disediakan oleh Ranger hutan (petugas yg memberi makan orangutan) itu biasanya adalah pisang, tebu, dan susu dancow. wow. hehehe..Perjalanan trekking pulang, kita dihampiri juga oleh orangutan remaja bernama Gajah Mada. Serem ya namanya, tapi ternyata unyu2 gitu penampilannya hihihi..

      siswi

      the team
      Tom
      Gajah Mada
       
      Day 3.
      The Last Day, pagi2 seperti biasa kita dibangunkan oleh sekawanan bekantan, namun kali ini pemandangannya bekantan lagi pada lompat-lompat main air, ceritanya mau nyebrang pohon melintasi sungai, cuman ada aja jatoh2nya di sungai.. LUCU BGT, tapi ga sempet kefoto saking terseponanya. Oia, karena kita malam itu kapal berlabuh di pinggir rawa2 masih dekat Camp Leakey, maka paginya pun kita juga dibangunkan oleh kikikan burung kingfisher, iya kikikkan bukan kicauan karena ternyata suaranya macam kuntilanak yg lagi ngikik. hiiiii...
      Sepanjang perjalanan pulang ke pelabuhan kumai, puas2in berjemur (literally berjemur, panas sih untung byk angin dan hewan kece) demiii menikmati pemandangan yang sebentar lagi akan kami tinggalkan huhuhu..
      Jam 12 siang kami sampai di bandara pangkalan bun dan belum siap move on untuk menghadapi hiruk pikukknya jakarta
       
    • By silvia_win
      Penang, Hatyai family trip Jun 2018
      Liburan sekolah kali ini sebenarnya agak malas jalan2 berhubung dollar lagi mahal...
      Iseng browsing tiket, ketemu tiket air asia jakarta penang pp 500 rb (promo big poin) ada 3 seats (3 tiket jakarta penang pp seharga 1.5 jt), hmm lumayan lah,  lalu beli 2 tiket lagi sekitar 3 juta (sudah termasuk 1 bagasi 20 kg pp) . Kami sekeluarga berangkat ber5 dari jakarta + papa mama yang berangkat dari medan.
       
       
       
       
      Day 1 Jakarta-Penang
      Sampai di Penang booking airport taxi dari airport ke Hong Ping Hotel. (400 rb quad room)
      Setelah check in naik taxi ke mall di sekat hotel untuk lunch, di daerah komtar ada berapa mall, tapi umumnya mallnya tidak besar.
      Setelah makan siang pulang ke hotel untuk istirahat, lalu dengan petunjuk peta dari hotel saya berkeliling di objek wisata street art yang letaknya tidak jauh dari hotel. Street art berada pada jalanan kecil/ gang berupa gambar mural di dinding rumah warga yang kebanyakan adalah bangunan tua. Sepanjang jalan banyak toko2 souvenir, makanan, sewa sepeda, rumah makan, juga banyak rombongan turis. Selain gambar mural juga terdapat gambar art dari besi yang dijadikan nama jalan dengan gambar menarik. Saya menelusuri jalanan dengan mural art yang berujung ke dermaga kuno di chew jetty, dermaga yg sudah ada sejak pertengahan abad ke 19, ada beberapa jetty di sana yg masing2 mewakili marga warga yg tinggal di sana yang datang dari China. Jetty di sana dari kayu dan rumahnya adalah rumah panggung dari kayu.
      Malamnya kami makan di street food di depan hotel. Di depan hotel ada banyak street food yg buka dari sore hingga larut malam.
       
       
       
       
      Day 2 Penang tour.
      Hari ini sewa mobil untuk jalan2 di penang (rm 45/jam untuk yg 7 seats, sewa di travel dekat hotel, sebelumnya tanya di hotel katanya adanya yg 10 seats rm 60/jam), kami berangkat siang, karena paginya mama mau mcu ke rumah sakit.
      Siang saat berangkat turun hujan, supir rent car mulai promo toko souvenir, berhubung hujan saya iyain saja, mampir ke toko coklat, kopi, teh dll, yang harganya mahal... tentu saja tidak beli apa2, hanya cicip cicip saja, emang enak sih sebanding dengan harganya.
      Stop 1 : Sleeping Buddha temple, vihara ini letaknya di tengah kota.
      Stop2 : Kek Lok Si temple, vihara yang terletak di daerah perbukitan, kami di drop di bagian atas, di sini  ada tempat pemujaan dan terdapat patung besar dewi Kuan Yin, dari sini juga bisa dilihat pemandangan kota penang. Setelah menikmati pemandangan, kami naik sky lift (@rm2) untuk turun ke pertengahan kompleks bangunan vihara yang terdapat objek wisata pagoda sepuluh ribu Buddha. Dari sini naik sky lift lagi turun ke parkir bawah.
      Stop 3 : Batu Ferringhi, supir mengusulkan kita ke bukit bendera yang tidak jauh dari kek lok si, tapi saya tidak berminat, sebelumnya di kek lok si sudah cukup lama  melihat pemandangan kota dari atas bukit, memang objek wisata di bukit bendera mungkin akan berbeda dengan kek lok si, tapi berhubung tidak banyak waktu saya lebih memilih pergi melihat pantai. Batu Ferringhi letaknya cukup jauh dari Kek Lok Si, perjalanan satu jam lebih, kami sampai di sana menjelang sun set, main bentar di pantai dan menikmati sun set, saya merasa pantainya biasa2 saja, pasirnya terasa agak kasar.
       
      Day 3 Penang-Hatyai
      Hari ini kami berangkat ke hatyai,  kami memesan tiket van penang hatyai pp di hotel @rm70 (dijemput di hotel penang dan didrop di hotel di hatyai). Berangkat jam 9 pagi, berhubung kami pertama dijemput, tentunya kami memilih tempat yang nyaman sesuai selera masing2. Seatnya cukup lapang dan nyaman, tidak lama kemudian perjalanan kami melewati jembatan pulau penang, jembatan yang panjangnya 13.5 km merupakan land mark penang yang pemandangannya sangat indah. Jalan dari penang ke hatyai cukup mulus, sebelum sampai di imigrasi perbatasan malaysia, supir berhenti di satu pos untuk mengisi formulir, kami perlu membayar formulir @rm2, lalu perjalanan dilanjutkan ke imigrasi malaysia keluar lalu masuk ke imigrasi thailand, dari perbatasan thailand ke kota hatyai, kami singgah di kantor travel, untuk di data mau di drop di hotel apa, di sini saya menganti jadwal kepulangan kami, di mana 2 di antara kami ingin pulang besok sore. (staff travelnya tidak masalah ganti waktu dia mencatat perubahan jadwal di catatannya). Kami lalu di drop di hotel (Siam Hotel harga 300 ribu untuk kamar ber2). Hotel ini cukup besar dan punya banyak kamar. Kami mendapat kamar di tingkat 13, pemandangan dari kamar cukup indah dengan pemandangan gunung dan kota hatyai).
      Setelah check up keluar cari makan siang, jalan kaki ke lee garden plaza hotel di mana di sini byk toko, mall, pasar dll, mall di sini tidaklah besar, kami masuk ke mall ke food court cari makan dan ke supermarket lihat2. Makanan di mall harganya sekitar 50-60 bath, makanan thailand sangat sesuai dengan selera. Setelah makan ke supermarket belanja bumbu tom yam dll, saat bayar saya menanyakan kasir di mana ada money changer, seorang pengunjung berbaik hati mengantarkan kami ke money changer yang ada di dekat sana, money changernya cukup ramai dan di sampingnya ada travel, kebetulan lagi mau cari car rental, lalu saya rent car 10 seats seharga 2000 bath (+wajib asuransi 30 bath/orang), sebenarnya kami ber7, ada yang 7 seats seharga 1700 bath, tapi saya request yg chinese speaking driver, katanya supir yang 10 seats bisa, yg 7 seats ngga bisa.
      Setelahnya saya kembali ke hotel untuk isitirahat, sorenya kami keluar untuk dinner ke lee garden plaza hotel lantai 33 buffet resto. Harga makan buffet di sini tidak mahal, dewasa @169 bath, lansia@119bath, anak kecil @69 bath. Makanannya cukup banyak dan enak + aneka kue, buah, minum, es krim. Juga pemandangan yang indah dari lantai 33 membuat kami betah lama di sini. Dari pemandangan langit terang, sun set ke langit gelap dengan lampu di bangunan kota hatyai, sungguh merupakan dinner yang berkesan bagi saya.
      Selesai dinner kami mengitari sekeliling lee garden hotel plaza yang banyak terdapat toko2, kuliner, dll. Kulinernya cukup mengiurkan tapi perut sudah kenyang cuma lihat2 dan berpikir besok baru coba.
       
       
       
       
      Day 4 Hatyai Tour
      Berhubung tidak ada sarapan di hotel, pagi saya keluar mencari sarapan, ternyata di dekat hotel ada pasar pagi, pasarnya cukup besar dan ada aneka sarapan, pemandangan menarik di pasar ada bhikkhu2 melakukan pindapata (mengumpulkan sumbangan makanan dll). Rombongan bhikkhunya cukup banyak ada juga yang usia muda juga rombongan bhikkhuni, umat yang memberikan makanan juga cukup banyak, baik penjual maupun pengunjung pasar. Saya sangat tertarik untuk mengitar lama di pasar, banyak kue2 dan barang jualan lain yang memikat, tapi berhubung waktu tidak banyak, saya membeli aneka sarapan dan buah leci, lalu pulang ke hotel membagikan sarapan dan makan sarapan. Kue2 dan sarapan yang dibeli sangat enak, makanan thailand emang cocok di lidah dan harganya pun cukup murah. Lalu bersiap2 turun ke lobi menunggu car rental yang dipesan kemarin.
      Ternyata yang datang mobil 7 seats dengan driver yang hanya bisa berbahasa thailand, saya tel tanya ke travelnya katanya yg 10 seats lagi tidak available, ya sudahlah...
      Saatnya saya memakai keahlian bahasa isyarat... : ) , pertama saya minta supirnya berhenti di 7-11, mau beli air minum, saya malas beli di pasar tadi bawanya berat, lalu dia tanya kami mau ke mana, saya jawab wat (temple).
      Stop 1 : Sleeping Buddha temple : wat ini mempunyai satu patung buddha tidur di dalamnya. Setelah melihat2 saya duduk2 di kedai minum kelapa, supir mengeluarkan selembar brosur dengan foto2 tempat wisata dan menanyakan mau pergi ke mana, saya pun memilih beberapa tempat wisata yang kelihatannya besar. Berhubung mau kembali ke hotel sekitar jam 2 sebenarnya kami juga tidak berencana pergi ke banyak tempat.
      Stop 2 : Pantai samila (mermaid statue) : pantai ini terdapat patung putri duyung yang merupakan ikonnya, walau cuaca panas di sini terdapat kursi2 dan tempat teduh di bawah perpohonan di sepanjang pantai, pantainya bersih dan pasirnya halus.  Saya betah duduk agak lama dan berjalan di pasir di pantai.
      Stop 3 : 4 face Buddha (kalau tidak salah) : berhubung jalan ke sananya naik tangga, kami malas pergi, hanya singgah bentar.
      Stop 4 : Standing Buddha temple (Phraj Buddha Mongkol Maharaj) : vihara di atas bukit dengan patung besar Buddha berdiri. Di sini bisa melihat pemandangan dari atas bukit, di samping vihara ada halte cable car dan coffee shop, kami duduk2 ngopi dan melihat pemandangan kota.
      Stop 5 : Kuan Yin temple : vihara dewi kuan yin ini letaknya tidak jauh di bawah standing buddha temple, terdapat patung dewi kuan yin warna putih
      Berhubung waktu sudah siang, kami bersiap pulang ke hatyai.
      Diperjalanan ada melewati yang jual durian, saya tanya ke supir berapa harga durian di sana, katanya harganya 400 bath, cukup mahal juga harganya.
      (saya tertarik belajar bahasa thailand, sebelum pergi saya sempat belajar sedikit bahasa thai di youtube, tapi cuma bisa mencerna sedikit tentang angka dan greeting, lumayan juga bisa di pakai di pasar) 
      Ternyata perjalanan pulang ke hatyai cuma sekitar setengah jam, kami meminta supir mengantar kami makan siang, minta di antar makan tom yam kung, dia mengantarkan kami ke sebuah resto untuk makan siang, yang mana makanannya enak dan tidak mahal, yang paling berkesan tentu saja tong yam nya, juga ada lauk dari daging kelapa yang ditumis, yummy... (kalau teringat makanan thailand sering ingin balik ke thailand)
      Setelah makan siang kami kembali ke hotel, papa mama bersiap2 mau pulang ke penang duluan, berhubung mau wisata rumah sakit di penang katanya.
      Saya berjalan kaki ke travel tempat saya pesan sewa mobil, minta refund selisih harga mobil, lalu kembali ke hotel duduk2 di lobby temani ortu tunggu jemputan travel untuk kembali ke penang. Di Siam Hotel tempat kami tinggal, internetnya hanya ada di lobby, tidak ada di kamar.
       
       
       
      Saya ingat saat ini saya membaca sebuah berita ttg tim sepak bola remaja thailand yang hilang yang mana sampai saya pulangpun belum ditemukan, dan akhirnya mereka berhasil keluar dengan selamat. Sekalian saya post di sini sebuah dokumentasi ttg thai cave rescue sebagai note saya.
        https://www.youtube.com/watch?v=x_kiX0uUDNI
       
      Ada beberapa tuk-tuk (songthaew) yang stand by di hotel dan menawarin untuk mengantar jalan2, lagi malas jalan jauh, sore shopping ke mall dan toko sekitar hotel (lee garden plaza hotel) .
      Day 5 Hatyai-Penang
       Pagi mampir ke pasar pagi lagi, membeli sarapan, juga membeli pete kupas buat di bawa pulang.
      Lalu perjalanan hatyai kembali ke penang.
      Sampai di penang istirahat di hotel, sorenya jalan2 di sekitar hotel ke mural art street, chew jetty melihat sunset di sini lalu makan di food court di seberang chew jetty, food courtnya besar dan banyak makanannya.
      Day 6 Penang-Jakarta
      Pagi berangkat dari hotel ke airport, booking airport transfer dari hotel seharga rm 70 untuk mobil 10 seats. Supirnya membagikan kartu nama dan menawarkan car rental bisa dibooking untuk ke hatyai katanya, saya tanya harganya katanya tergantung hotelnya. Saya tanya harga kalau keliling penang, katanya rm30/jam... lumayanlah buat next time...
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       




    • By Hanzo Urang Ciwidey
      Izin Admin buat FR lagi meskipun ya ini perjalanan ane 3 bulan yang lalu 
       
      Berawal dari salah satu ajakan dari Hima kampus untuk menjadi petunjuk arah jalan-jalan one day trip menyelusuri cianjur selatan selama 1 hari full maka pada awal tahun 2015 ane sepakat berangkat bareng hima kampus untuk menelusuri cianjur selatan memakai motor dengan jarak yang di tempuh sekitar 200km pulang pergi.
       
      Berangkat : ciwidey-parigi-pantai jayanti-rancabuaya

       
      pulang : rancabuaya - cisewu - pangalengan - ciwidey

       
      07:00
       
      pagi2 ane langsung siap2 nyiapin motor untuk menunggu teman-teman Hima dari Bandung yang berangkat jam 5 shubuh dari sana "untuk menanggulangi macet di karenakan liburan tahun baru area ciwidey dan sekitarnya pasti macet parah".
       
      Ciwidey di pagi hari

       

       
      teman2 dari kampus sudah pada dateng

       
      Setengah jam kemudian setelah dari Hima kampus sampai di meet point dan mengecek persiapan kita dari bensin dan perlengkapan lainya kita pun berangkat, jarak yang dilalui memang termasuk unik awal-awal kita memasuki dataran tinggi melewati Perkebunan teh rancabali sampai ke perbatasan Kabupaten Bandung dan Cianjur lalu di lanjut melalui hutan-hutan kecil dan lembah2 yang di kelilingi oleh banyak air terjun sehingga kerap jalan yang kita lalui ini suka disebut jalan seribu air terjun.
       
      Armada + peralatan tempur   

       
      Kebun Teh Rancabali

       

       

       
      Pondok Datar  "pemandanganya lebih keren dari tebing keraton"   

       

       

       

       
      tugu perbatasan Kab Bandung dan Kab Cianjur "selamat datang ke jalur 1000 air terjun

       
      Air terjun dimana-mana     
       

       

       

       
      Curug Ceret "air terjun yang persis di pinggir jalan"   

       

       
       
       
      mungkin karena teman2 ane yang dari Hima kampus belum terbiasa perjalanan jauh maka kita pun beristirahat dahulu di salah satu warung baso di pinggir jalan sambil mengisi energi karena setelah jalur 1000 air terjun abis perjalanan berlanjut ke turunan hingga sampai pantai jayanti.
      Istirahat dlu bray 



       
      Perjalanan di lanjut banyak turunan bray

       
       
       
      Jam 11 pas akhirnya kita sampai juga di Cidaun kampung pesisir di cianjur selatan yang lebih terkenal dengan pantai Jayanti cuman sayang peran dari pemerintah sepertinya belum optimal sehingga fasilitas di pantai ini bisa disebut kurang memadai.
       
      Pantai Jayanti

       

       

       

       
       
       
      hanya 1 jam setengah kita di pantai jayanti ini karena tujuan utama ke rancabuaya maka perjalanan pun dilanjutan dengan menyulusuri pantai kita menuju rancabuaya , jalan yang lurus dengan disisi kanan jalan adalah pantai di sepanjang jalan menemani kita dengan jarak tempuh dari pantai jayanti ke rancabuaya selama 30 menit dan kita juga harus melintasi kabupaten cianjur karena rancabuaya masuk ke Kabupaten Garut
       

       

       

       
      Sampai juga di rancabuaya

       

       

       

       
      tidak terasa waktu sudah menunjukan sore hari.... supaya tidak kemalaman di jalan maka dengan berat hari kita pun harus berangkat pulang kali ini untuk pulang kita tidak mengambil jalan yang sama tapi jalan ke arah cisewu jam 4 kita sudah packing sudah siap2 sudah pulang.
       
      Perjalanan pulang

       

       
      Perbatasan Kab Garut - Kab Bandung "pangalengan"

       
      Kabut bray

       
      dan akhirnya setelah kurang lebih 9 jam berkendara (tidak termasuk berhenti dan main di lokasi) ane pun sampai kembali ke rumah pada jam 8 malam pengalaman yang tidak terlupakan karena dengan motor ane yang kapasitas tangki cuman 2 liter dan harus beberapa kali isi bensin tapi liburan di awal tahun 2015 sangat puas.
       
      kapan2 kalau ada yang mau one day trip lagi ane siap nemenin 
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       








    • By Mulyati Asih
      Sayup-sayup terdengar teriakan dari bangku depan mini bus yang kami tumpangi.
       
      “Sudah sampai jangan lupa ongkosnya sepuluh ribu ya,” suara mas Budi membangunkan tidur saya.
       
      Perjalanan satu jam dari Gombong ke desa Candirenggo sengaja saya manfaatkan untuk tidur, maklumlah di perjalanan sebelumnya dari Jakarta tidur saya sangat terbatas. Hujan rintik menyambut kedatangan kami ketika kaki kiri melangkah turun dari bus. Sejenak saya melihat ke sekeliling dan melirik jam tangan waktu menunjukkan pukul 06.45 pagi, kemudian berlari kecil menyusul rombongan menuju home stay.
       
      Caving atau susur goa akan dimulai pukul sepuluh, tidak hanya rombongan kami dalam kegiatan ini ada juga rombongan Patrapala (Pertamina Pecinta Alam) Cilacap. Sambil menunggu rombongan Patrapala kami duduk di teras home stay, masih cukup waktu untuk kami beristirahat dan santai. Hujan belum juga berhenti, pandangan saya tertuju pada sebuah bukit ditutupi rimbunan pohon yang kemudian baru saya ketahui di sanalah lokasi Goa Petruk. Goa Petruk dan Goa Liyah sendiri masuk dalam Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS) kabupaten Kebumen Jawa Tengah.
       
      Persiapan
       
      Ini adalah kali pertama saya, Elvi, Patricia, Louis, Mas Indar dan Apri mengikuti caving Goa Petruk dan Goa Liyah, sedangkan mas Budi justru sudah berkali-kali dan mas Budi lah yang mengajak kami sampai ke tempat ini. Masing-masing dari kami mengambil perlengkapan caving dan kini wearpack, boots sudah kami kenakan,helmet dan headlamp pun sudah menempel di kepala kami. Tidak ketinggalan kamera anti air siap mengabadikan perjalanan kami, caving diperkirakan akan berakhir pukul lima sore jadi makanan ringan dan minuman wajib dibawa dan siap memenuhi dry bag kami. Sebelum caving dimulai  mas Yos pemandu kami yang pernah bekerja sebagai crew Jejak Petualang salah satu program televisi swasta mengajak kami untuk berdoa dan menyampaikan beberapa etika yang harus dipegang teguh oleh para penelusur goa.
       
      “Baiklah sebelum caving dimulai ada etika-etika yang tidak boleh dilanggar yaitu jangan mengambil apapun kecuali foto, jangan membunuh apapun kecuali waktu dan jangan meninggalkan apapun kecuali jejak,” etika-etika yang disampaikan mas Yos sudah tidak asing lagi di telinga saya, karena etika-etika tersebut sudah menjadi motto bersama para pecinta alam.
       
      Dalam memandu kami mas Yos dibantu oleh seorang dari Mapala Trabas yang bertugas membawa perlengkapan keselamatan caving antara lain tali, tali webbing,seat harness, carabiner dan lain-lain. Semuanya sudah siap dan berjalanlah kami menuju pintu masuk Objek Wisata Goa Petruk, 21 orang dari rombongan Patrapala berjalan di depan kami.
       
      Caving Goa Petruk
       
      Di depan pintu masuk Objek Wisata Goa Petruk berdiri terbentang peta wisata Goa Petruk lengkap dengan keterangan aliran sendang (mata air), aliran sungai dan objek batu-batuan. Dari pintu masuk kami harus berjalan mengikuti tangga buatan, rindangnya pepohonan di kiri dan di kanan jalan menjadikan perjalanan terasa sejuk. Di kiri jalan terlihat air terjun kecil mengalir ke dasar jurang, di sepanjang jalan juga terdapat tempat-tempat istirahat. Lima belas menit yang melelahkan akhirnya sampai juga kami di mulut Goa Petruk.
       

      Mulut Gua Petruk
      Cahaya surya di mulut goa perlahan pudar sejauh langkah kaki kami menyusuri lorong-lorong goa. Goa  horizontal sedalam 644 meter yang secara administratif terletak di Dukuh Mandayana, Desa Candirenggo, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen Jawa Tengah ini masih sangat alami, tak ada penerangan sama sekali di dalamnya. Goa yang menyimpan banyak ornamen-ornamen berupa stalagtit,
       
      stalagmit dan flowstone yang akan terus dijaga kealamiannya. Penamaan Goa Petruk itu sendiri diambil dari nama tokoh pewayangan Petruk, konon di goa ini terdapat batu yang menyerupai hidung mancung tokoh wayang Petruk tapi karena ulah Belanda yang melakukan penambangan phosfat sehingga batu yang menyerupai hidung mancung Petruk itu patah dan sekarang sudah tidak terlihat lagi.
       
        Masuk sedikit ke dalam menelisik kegelapan kami disambut stalagtit Tirai Pintu, seolah menjadi pembatas antara dunia gelap dan dunia luar yang bercahaya. Di sini mas Yos mengajak kami untuk meresapi kegelapan, mematikan semua sumber cahaya yang kami bawa. Dalam gelap kami mensyukuri atas nikmat penglihatan dan panca indera mata yang Allah SWT berikan. Berjalan terus ke dalam melewati aliran sungai setinggi kurang lebih sepuluh sentimeter, di kanannya terdapat jalan yang sengaja ditutup oleh pagar besi. Awalnya saya mengira pagar besi itu sengaja dipasang untuk pegangan kita saat melewati aliran sungai tapi ternyata pagar besi itu sengaja untuk menutup jalan menuju lorong aliran sungai. Dalam sorotan headlamp saya terus mencari keindahan disetiap sudut goa, tak jauh dari saya berdiri ada papan bertuliskan cat merah dengan tulisan Sendang Katak. Diantara cekungan batu yang bertingkat-tingkat terdapat genangan mata air, konon dulu di tempat itu banyak kataknya sehingga dinamakan Sendang Katak.
       
      Semakin jauh berjalan, tak hanya suara gemericik aliran sungai ataupun tetesan air yang terdengar tapi bau pesing kotoran kelelawarpun mulai tercium. Di dinding goa anak-anak kelelawar bergelantungan dan beterbangan, saya berjalan cepat melewatinya. Di depan terlihat dua batu putih tinggi mencolok dalam sorotan lampu petromaks namanya batu Lukar Busono , di tengah-tengahnya dari atas mengalir air yang konon bagi yang mempercayainya air tersebut dapat membuat awet muda ataupun dapat menyembuhkan penyakit. Saat kami melewatinya ada empat orang duduk di depan batu Lukar Busono ditemani pemandu yang membawa petromaks, entahlah apa yang mereka lakukan.
       
      Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri lorong lebih dalam lebih masuk ke dalam perut bumi, aneka stalagtit, stalagmit dan flowstone mengisi setiap ruang goa. Mereka sambung menyambung tak berjedah menghiasi setiap sudut goa. Ada Flowstone Otak bentuknya bulat putih mirip sekali dengan otak, Flowstone Usus bentuknyapun eksotis sangat mirip dengan usus. Bergerak ke depan dan kami menemukan Flowstone Air Mancur. 

      Flowston otak
       
      Flowstone pada awalnya terbentuk melalui lapisan yang encer secara perlahan-lahan di dasar atau lantai gua, kemudian lapisan yang tipis tadi menebal melalui tetesan air yang membawah mineral penyusun (kalsit serta mineral karbonat lainnya) hingga menebal dan membentuk ornamen-ornamen seperti Flowstone Otak, Flowstone Usus dan Flowstone Air Mancur tadi. Sayapun harus berjalan hati-hati karena banyak stalagmit yang tumbuh di lantai goa, pertumbuhannyapun masih pendek sehingga saya tidak ingin sampai menginjaknya.
       
      Perjalanan tidak sampai di sini berikutnya kami harus berjalan melewati genangan air dari aliran sungai bawah tanah dengan ketinggian kurang dari lima puluh sentimeter. Berpegangan pada dinding goa kami harus menyeberanginya dengan hati-hati, berjalan sedikit merunduk karena atap goa yang dipenuhi stalagtit bisa mengenai kepala kita.

      Menyeberangi aliran sungai bawah laut
       
      Berjalan terus dan saya melewati papan bertuliskan Jangan Menyentuh Batu Payudara, stalagtit-stalagtit yang kami lewati maaf bentuknya mirip payudara. Sebenarnya tidak hanya Batu Payudara yang tidak boleh disentuh, semua stalagtit, stalagmit dan flowstone yang ada di dalam goa memang tidak boleh kita sentuh karena tangan kita yang didominasi oleh zat asam akan menghambat pertumbuhan stalagtit, stalagmit ataupun flowstone.  Butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk stalagtit, stalagmit dan flowstone tersebut tumbuh, menyentuhnya sama artinya kita menghancurkan karya indah Tuhan. Selanjutnya kami harus melewati dan menaiki celah lubang kecil untuk menuju ke tingkatan goa berikutnya, rasanya lega karena sudah tidak melewati genangan air lagi sudah bisa menghirup udara yang tidak pengap lagi. Ternyata saya keliru di depan jalan yang harus kami lewati adalah berjalan miring dan merunduk diapit antara dinding-dinding goa, celah diantara dinding-dindingnya pun sangat sempit sehingga kami harus antri untuk melewatinya.
       

      Batu Lonceng
      Tak terlihat lagi adanya stalagtit, stalagmit ataupun flowstone yang cantik, hanya ada dinding-dinding goa dengan batuan besar seolah-olah menghalangi langkah kami. Terus berjalan beriringan langkah kaki kami berikutnya menyusuri dinding goa di bawahnya ada aliran sungai mengalir.
       
      Sampai akhirnya kami menemukan genangan air atau aliran sungai yang cukup besar, di atasnya stalagtit-stalagtit menghiasi atap goa dan di sini kami harus berjalan jongkok  dengan ketinggian air kurang lebih lima puluh sentimeter. Stalagtit- stalagtit yang menggantung di atap goa bentuknya cantik-cantik dengan tetesan air menghiasi pada ujung-ujungnya dan berkilau bila tersorot lampu. Berjalan terus di ujung aliran air ini terdapat stalagtit berbentuk lonceng dengan kucuran air mengalir di pinggir-pinggirnya mirip seperti shower  dan kami cukup lama di sini untuk antri berfoto.
         
      Aliran sungai sudah kami lewati, di depan berikutnya kami harus berjalan merangkak melewati celah dinding dengan ketinggian kurang dari satu meter dan panjang kurang dari dua meter, beruntunglah medan yang ditempuh tak terlalu panjang. Pemandangan stalagtit dan stalagmit putih besar laksana pilar-pilar penyangga gedung bertingkat terbentang menyambut kami, dengan hati-hati kami melewati diantara celah-celahnya.

      Masuk dari mulut Gua Petruk dan keluar di mulut Gua Jemblongan
       
      Sorotan cahaya kini dapat kami tangkap dari kejauhan itu artinya mulut goa sudah ada di depan kami, puas berfoto-foto dalam sorotan cahaya surya berikutnya kami harus melewati atau menaiki batu-batuan besar menuju mulut Goa Jemblongan. Tak sabar rasanya ingin menghirup udara luar dan hembusan angin dari pepohonan di sekeliling mulut goa. Akhirnya bisa bernapas lega setelah satu setengah jam lamanya menyusuri lorong-lorong Goa Petruk dengan suguhan keindahan aneka stalagtit, stalagmit dan flowstone.
       
      Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Goa Liyah kami istirahat dulu di atas mulut Goa Jemblongan, meluruskan kaki sambil menikmati bekal makanan dan minuman yang kami bawa. Ramai terdengar obrolan dan candaan dari rombongan Patrapala, semuanya masih bersemangat melanjutkan perjalanan menuju Goa Liyah.
       
      Caving Goa Liyah
       
      Jarak tempuh kurang lebih satu jam dari mulut Goa Jemblongan ke Goa Liyah harus kami tempuh melewati semak belukar. Sampailah kami pada rumah penduduk dan ternyata jumlahnya hanya kurang lebih lima rumah. Beristirahat sejenak di teras salah satu rumah penduduk, di rumah yang lain pintu rumah mereka terbuka dan mereka menyediakan air minum untuk kami. Bahkan salah satu dari penduduk mempersilahkan kami memetik buah salak yang tumbuh di pekarangan rumah mereka. Dari rumah penduduk saya berjalan mengikuti sebagian rombongan belok ke kiri, rombongan yang lainnya berteriak karena kami salah jalan.
       
      “Heeey mau ke mana?” rombongan lain menegur kami yang salah jalan.
       
      Sadar bahwa kami salah jalan kemudian balik arah mengikuti langkah rombongan lainnya. Saat mencari jalan diantara rumah penduduk lagi-lagi rombongan di depan kami juga salah jalan, teriakan seorang ibu menyadarkan kami dan diikuti gelak tawa bahwa mereka pun salah jalan. Berikutnya jalanan lurus diantara semak-semak, sambil terus berjalan saya masih memikirkan rumah penduduk tadi sempat heran juga di tengah-tengah perkebunan bahkan seperti hutan jauh dari desa ada juga rumah penduduk, Patricia pun sempat kahwatir kalau anak-anak mereka sakit mereka harus jauh pergi ke desa untuk berobat.
       
      “Itu kalau malam ada anak mereka sakit gimana ya?” ujar Patricia penuh kahwatir dan tanda tanya.
       
      “Anak-anak mereka sekolahnya di mana ya?” tambah saya penasaran.
       
      Pertanyaan yang sama-sama tidak bisa kami jawab dan hanya menerka-nerka jawabannya. Di kiri jalan  terlihat bukit kars dengan batuan putih terlihat jelas, mungkin di sana ada goa tebak saya dalam hati. Terus berjalan di depan terlihat jalan setapak yang bisa dilalui motor dan mobil.

      Istirahat sebelum treking menuju mulut Gua Liyah
       
      Sambil menunggu rombongan yang tertinggal kami istirahat duduk di bawah pohon jati, kemudian melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak sejauh kurang lebih lima puluh meter. Di kanan jalan di antara semak-semak di sanalah mulut Goa Liyah. Dari jalan memang tak terlihat sama sekali mulut goa karena terhalang oleh semak-semak, lagi-lagi pertanyaan yang dilontarkan Patricia tidak bisa saya jawab.
       
      “Siapa sih yang pertama kali menemukan ada goa di tempat ini?” tanya Patricia kagum.
       
      Tak seperti Goa Petruk dengan mulut goanya yang terbuka lebar, mulut  Goa Liyah justru sangat kecil dan kami harus antri  untuk masuk. Berjalan terus masuk lebih ke dalam kami harus melewati celah kecil berjalan miring dalam himpitan diantara dinding-dinding goa dan batu-batuan besar.

      Mulut Gua Liyah 1
       
      Terus berjalan tak ada stalagtit, stalagmit ataupun flowstone berbentuk menyerupai simbol-simbol dalam kehidupan yang kami temui, hanya ada batu-batu besar seakan menghalangi langkah kami. Batu pualam berkilau indah menempel di dinding-dinding goa, ruang goanya pun besar tak terkesan pengap. Kami harus berjalan hati-hati karena masih banyak lubang-lubang sisa penambangan phosfat yang dibiarkan terbuka begitu saja. 
       
      Jalanan yang becek dan berlumpur semakin memperlambat langkah kami, jika tak hati-hati bisa terjerembab dan jatuh ke lumpur. Itulah yang saya alami, kaki kanan saya sulit untuk melangkah karena lengket dan pekatnya lumpur yang menempel di boots dan ketika saya berusaha mengangkat kaki kiri justru badan saya tak seimbang, untunglah dengan sigap kedua tangan saya tempelkan ke lantai goa untuk menahan badan supaya tak jatuh ke lumpur. Penuh hati-hati saya berusaha menyusul rombongan.
       
      Biasanya rombongan Patrapala berjalan sangat cepat tapi di depan terlihat semuanya berhenti, penasaran juga kenapa jadi macet di jalan. Sambil mencondongkan badan saya berusaha mencari tahu ada apa di depan dan ternyata semua harus antri untuk melewati lubang kecil dan berjalan tiarap seperti cicak, hanya cara itu yang bisa dilakukan untuk bisa melewatinya.

      Melewati celah kecil
       
      Tiba giliran saya untuk melewatinya, sambil merebahkan badan dengan posisi telungkup penuh hati-hati saya menggerakkan tangan dan badan. Tak lama kemudian kepala sudah dapat saya tengadahkan, ternyata panjangnya tak mencapai dua meter. Struktur Goa Liyah memang sangat berbeda dengan Goa Petruk, stalagtit-stalagtit menggantung bentuknya besar-besar, batu-batuan besar menjadikan dinding goa seperti lorong antara gedung-gedung bertingkat di perkotaan. Rasa takjub begitu kami melewatinya dan sayang kalau tak berfoto di sana dan mengabadikannya dalam jepretan lensa, ternyata kami sudah tertinggal jauh dari rombongan Patrapala  Pertamina Cilacap dan mas Yos menghampiri kami takut kalau kami tertinggal jauh dan tak tau jalan.
       
      “Ayo kalian sudah tertinggal jauh dari rombongan Pertamina, Budi mana?” ucap mas Yos melihat kami yang hanya diam berdiri dan tak melihat mas Budi diantara kami.
       
      “Sebentar mas masih ada dua orang tertinggal dibelakang, mas Budi lagi menyusul yang di belakang,” jawab salah satu dari kami.
       
      Setelah dipastikan jumlah rombongan kami lengkap tujuh orang bergegas kami menyusul rombongan Patrapala Pertamina Cilacap yang sudah berjalan jauh. Saat kami menemukannya, mereka sedang duduk-duduk dan ternyata antri untuk menuruni tebing. Caving Goa Liyah memang lebih menantang dibandingkan Goa Petruk, di sini diperlukan peralatan keselamatan caving serta pemandu yang berpengalaman. Sebagian dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap sudah ada di bawah dan kini giliran perempuan yang didahulukan untuk menuruninya. Saya pun beranjak dari duduk saya dan antri di barisan perempuan.
       
      “Perempuan-perempuan duluan yang turun,” teriak salah satu dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap.
       
      Sambil antri saya memperhatikan cara menuruni tebing itu, dan kini giliran saya yang harus turun. Ada tiga tingkatan tebing yang harus saya lalui, dengan serius saya mendengarkan arahan dari Instruktur supaya saya tak celaka dan bisa melaluinya dengan baik.

      Rapelling di dalam Gua Liyah
      ''Pegang tali webbingnya Mba trus turun sambil ulur talinya,” jelas salah satu instruktur dari Patrapala Pertamina Cilacap.
       
       
       
      Dengan kencang saya menggenggam tali webbing kemudian mengulurnya sambil turun, di sini saya sempat panik ketika melewati bagian tali webbing yang licin sedangkan saya tidak memakai sarung tangan, tapi tali webbing tetap saya genggam kencang. Suara-suara Instruktur terus mengarahkan gerak saya.
       
      “Liat terus ke bawah dan kaki cari injakan, ya terus turun jangan lepas talinya,” teriak Instruktur mengarahkan gerak saya.
       
      Kaki saya akhirnya bisa menyentuh lantai, satu tingkatan sudah saya lalui dengan ketingginan kurang lebih tiga meter dan sudah ada satu Instruktur yang berjaga di sini siap membantu dan mengarahkan untuk langkah berikutnya.
       
      “Turun terus jangan lepas talinya, pandangan terus ke bawah liat injakan,” jelas Instruktur.
       
      Dengan hati-hati saya menuruni tebing dengan tali webbing tetap saya genggam dan kaki terus mencari injakan, sampai akhirnya kaki ini bisa menyentuh lantai dan tali webbing sudah bisa saya lepaskan. Kemudian petugas yang lain menyuruh saya berjalan ke arah tebing berikutnya yang harus saya turuni tapi kali ini tanpa tali webbing karena tingginya hanya kurang lebih satu setengah meter. Di bawahnya sudah ada petugas yang siap membantu saya.
       
      “Duduk dulu Mba, kaki kanan injak yang ini dan pegang tangan saya,” jelas petugas siap membantu saya.
       

      Menuruni bebatuan
       
        Ikuti apa yang diarahkan petugas tersebut kemudian saya duduk, kaki kanan  berusaha menyentuh cekungan dinding dan menginjaknya untuk kemudian sambil dibantu petugas saya melompat untuk menyentuh lantai. Sebagian dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap yang telah berhasil menuruni tebing siap melanjutkan perjalanan, saya memilih duduk sambil menunggu rombongan yang masih di atas.
       
      Tak sampai di sini, medan yang harus kami lalui berikutnya juga tak kalah menantang dan memacu adrenalin. Berjalan menyusuri dinding-dinding goa di bawahnya ada jurang terbentang, untuk bisa sampai ke bawah kami harus melewati batu-batuan yang ada di pinggir dinding goa.

      Rapelling
       
      Turun dan harus menuruni tebing lagi, saya tak bisa melihat kedalamannya dan kini kami telah berada di dalam perut bumi. Mas Yos dan beberapa Instruktur dari Patrapala Pertamina Cilacap sedang mempersiapkan peralatan keselamatan caving, beberapa orang terlihat sedang memakai seat harness dan siap untuk turun. Seperti sebelumnya perempuan-perempuan didahulukan untuk turun dan kami harus memakai seat harness dan kaos tangan terlebih dahulu. Dua orang dari Patrapala Pertamina Cilacap membantu saya memakai  seat harness,  saya  sempat gugup ini lebih sulit dari menuruni tebing sebelumnya. Bismillah memberanikan diri maju ke depan dan siap turun dan kini seat harness sudah dikaitkan ke tali. Saya simak baik-baik setiap arahan dari para Instruktur sambil berusaha tenang.
       
      “Tangan kiri pegang tali ini Mba,  posisinya selalu di depan badan dan tangan kanan pegang tali tapi posisinya di samping badan. Sekarang badannya direbahkan ke belakang posisinya seperti tidur,” beberapa Instruktur mengajari saya cara turun.
       
      Saya ikuti apa yang dikatakan para Instruktur, dan tetap ikuti arahan berikutnya.
       
      “Ya sekarang turun pelan-pelan pandangan lihat ke bawah, ulur talinya posisi tangan kanan tetap di samping dan posisi badan tetap rebah,” ucap Instruktur berkutnya.
       
      Pelan-pelan kaki kanan saya turunkan, kedua tangan berusaha mengulur tali dengan posisi badan tetap rebah. Selanjutnya kaki saya mencari pijakan ke kanan, ternyata cara ini salah dan Instruktur yang di bawah teriak memberikan arahan.
       
      “Mba, kakinya tetap lurus dan tangan kanannya ke belakang,” teriakan suara dari Instruktur di bawah.
       
      Sadar apa yang saya lakukan adalah salah cepat-cepat saya perbaiki dengan mengikuti arahan dari Instruktur tadi. 
       

      Rapelling
      Ternyata sangat mudah dan saya berhasil menuruni tebing yang tingginya kurang lebih enam meter tadi sampai ke lantai dasar. Satu persatu dari kami terutama para perempuan  telah melewatinya. Salah satu dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap meminta kami melanjutkan perjalanan, di depan mulut goa sudah dekat. Tak perlu menunggu rombongan yang masih ada di atas, lagi pula hari sudah sore.
       
      “Ada yang tahu jalan? kalau ada ajak yang lainnya pulang duluan,” ucap salah satu dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap.
       
      Saya pun bangkit dari duduk  kemudian mengikuti langkah rombongan menuju mulut goa. Jalan yang  kami lewati sangat licin, becek dan berlumpur. Dari kejauhan dalam kegelapan ada batu putih mencolok berkilau, Particia menunjuknya penuh kagum.
       
      “Lihat itu batunya putih berkilau,” tunjuk Patricia.
       
      Sepanjang jalan menuju mulut goa kami menemukan batu-batuan putih menempel di dinding berkilau bila terkena sorotan lampu, namanya batu kristal. 

      Batu kristal
       
      Sebenarnya di akhir caving masih ada satu tempat lagi yang akan kami kunjungi yaitu air terjun dalam goa. Berhubung kami harus segera pulang maka jalan menuju air terjun tersebut kami lewati begitu saja dan belok ke kiri menuju mulut goa. Suasana masih terang ketika kami sampai di mulut goa, mulut goanya sangat sempit dengan pintu teralis besi terbuka. Kurang lebih empat jam lamanya kami menyusuri Goa Liyah, mulai dari  berjalan di lumpur, berjalan tiarap melewati lubang kecil, berjalan miring diantara himpitan dinding-dinding goa sampai harus menuruni tebing yang curam. 
       
      Anda tertarik untuk mencobanya? temukan keindahan aneka stalagtit, stalagmit dan flowstone serta rasakan sensasi petualangannya. (Mulyati Asih)
       
      Terima kasih
    • By ko Acong
      Terima Kasih Thien Qung telah menjaga kami semua sehingga dalam kedaan Sehat Semua. Yuk kita lanjut napak tilas Jalur Sutra sesi 2. Setelah kami menikmati keindahan Crescent Lake terutama adanya oase alami di Gurun Gobi, waktunya kami diantar ke stasiun Dun Huang untuk pindah kabupaten yang jaraknya kurang lebih 800 km, memakai kereta sleeper train.
      Kami sepakat pakai tidur lunak, sekamar 4 tidur susun. Untuk antisipasi kebiasaan yang kurang bersahabat bagi kita, bila tidur keras 1 row isi 6 tempat tidur dan tidak berpintu. Nah, kami pakai tidur lunak, diperjalanan kami pun jadi tidur dengan nyaman,  tak terasa alarm alam membangunkan kami. Lalu kami siap2 ke restroom. 1 jam kemudian sampailah kami di stasiun Turpan.

      Ternyata kami sudah mulai memasuki daerah istimewa Tiongkok. Lalu hal pertama yang kami hadapi adalah petugas imigrasi, dengan wajah yang khas dan penuh curiga kepada kami. Oh ya, penduduk Turpan sudah berbeda jauh wajahnya,  yang mana tidak oriental lagi. Beres urusan imigrasi, kami pun mencari sarapan, dengan berbagai menu yang lumayan bersahabat dengan lidah kita dan halal.
      Setelah keluar imigrasi, nah disini lah kami mulai dikerubuti oleh para driver dengan memegang gambar-gambar destinasi wisata, sementara kami abaikan dulu, ngudud dulu, cari sasaran driver yang sreg dengan kita. Setelah terpilih, kami panggil driver tersebut ke pinggiran, dan terjadilah tawar menawar. Sambil saya tunjuk saya mau ke destinasi wisata yang ada di brochure tersebut, satu paket 5 destinasi dengan harga 300 RMB (kalau tidak salah). Kami sewa 3 mobil, jadi per kepala kena charge 90 RMB, durasi tour 8 jam dengan jarak kurang lebih 180 km sampai kami diantar ke hotel. Oh ya, jarak stasiun ke downtown kurang lebih 40 km, dan bila memakai antaran taksi 120 RMB, jadi kami mending pilih langsung sekalian tour. Semua komunikasi kami mempergunakan google translate yang ada suaranya, jadi lebih mudah berkomunikasi dengan driver.
      Pertama, kami diantar ke hotel dulu untuk check in dan bersih-bersih karena cuaca Turpan sangat panas, namun dingin sekali anginnya.
      Kedua, kami tadinya mau ke benteng gurun center kota, Bazeli Ten Thousand Buddha Monastery, namun hanya ditunjukan dan lewat karena waktu tidak mencukupi.
      Ketiga, kami diantar ke gunung api (Flaming Mountain) dan itupun hanya dilewati karena kami masih belum move on.
      Keempat, kami diantar ke gurun pasir Turkistan Shansan Countri, nah disinilah kami baru move on, karena tantangan pemandangan di depan seperti layaknya paris dakar rally. Kami ber-10 memakai kendaraan gurun pasir langsung menuju puncak gurun pasir, ternyata kami hanya diantar sampai tengah dengan harga 250 RMB per mobil.
      Setelah sampai kami main di tengah puncak, mulailah modus mereka keluar, maukah kalian kami antar ke puncak teratas gurun pasir dengan harga 400 RMB/mobil. Tentu kami semua menolak. Tapi, khusus kendaraan yang dipake saya, saya nego sampai dapat harga 200 RMB.
      Kami diantar ke basecamp, nah disini lah tantangan adrenalin kami diuji ternyata kita turun dari puncak itu langsung melompat lurus ke bawah
      bagai mobil meluncur lurus jatuh ke dasar jurang, mungkin lebih menantang dibanding naik jet coster. Setelah sampai khusus kendaraan yang dipake saya langsung naik ke puncak teratas gurun pasir. Disinilah pemandangan yang paling aduhai. Kami semua dalam keadaan bersuka ria, mulai tuh keluar semangat kita.

      Kelima, kami diantar ke musem Gaochang, begitu buka pintu mobil kami semua terkejut karena sinar matahari sangat menyengat, tapi tetap kami berfoto dulu sebentar dan tidak sanggup melanjutkan menuju gedungnya.

      Setelah sampai mobil saya tanya destinasi apa ini sebenarnya, para driver menjelaskan bahwa disinilah tempatnya suhu Gaocheng. Dalam misi menuju barat hampir menyerah dalam melaksanakan misinya dan terlihat table temperature menunjukan 41 derajat celcius berarti kalau di air setengah mateng. Wah kata driver coba tadi kalau berhenti di gunung api lebih lengkap ini ceritanya, semangat kita jadi on fire lagi.
      Lalu kita minta datang ke gunung api yang tadi sudah kita lewati, ternyata setelah turun bener-bener ini daerah panasnya bagaikan kita dengan dapur pemanggangan. Banyak relief yang menggambarkan Sun Go Kong yang menuju langit untuk meminjam kipas sakti para dewa dan Flaming Mountain yang sedang membara sekali kipas langsung hilang apinya.
      Keenam, kota Turpan sepanjang kami lihat dari kereta api tadi mungkin juga ratusan kilometer hanya terlihat gurun pasir tak terbatas. Ternyata kota Turpan adalah salah satu yang penghasil anggur dan buah-buahan serta perternakan terbesar untuk Tiongkok mainland.
      Kami semua heran, dimana datangnya kehidupan kalau tanpa air dan semua terjawab di museum Turpan Karez Underground Water System, harga tiket masuk 40 RMB. Yang dengan hanya melihat teorinya pun sudah menjawab keheranan saya, si Bocah Tua Nakal kan pinter.

      Dan jawaban keheranan saya makin terjelaskan pada esok harinya di Heavenly Lake. Tur akan dilanjut ke Grand Bazarnya Turpan, namun teman 2 orang terserang Dehidrasi. Ibarat kataa kalau mau manggang roti dikota turpan tak perlu pake oven cukup ditempel didinding disinari matahari bisa mateng tuh.

      Kami semua ingin buru-buru masuk Hotel dan Mandi. Namun setelah segar, sebagian teman-teman kabur juga tuh menikmati barbeque dan sop kambing nan lezat. Pastinya gak lupa cuci mata lah, secara disini orang-orangnya cantik dan garanteng Uhuuuiiii Prikitiwww.
      Malam terus berlalu walau jam 22.00 masih terang benderang, tapi kami harus segera tidur, mengingat esok hari harus pindah kota lagi dengan jarak tempuh 180 km menuju Heavently Lake.
      Heavently lake adalah danau raksasa dipuncak gunung diketinggian 2200 Mpdl, yang mana sejauh perjalanan kami hanya disuguhi gurun pasir nan gersang sejak dari Turpan. Namun ketika sudah sampai puncaknya dan kami tembus tunnel Kaki Gunung Himalaya, baru pemandangan berubah drastis. Sepanjang mata dimanjakan oleh pohon-pohon nan indah dan udara yang tiba-tiba bisa berubah drastis menjadi dingin menusuk tulang. Danau Thian Shan benar-benar danau yang sangat indah.

      Setelah puas didanau kami turun gunung sejauh 602 km lagi menuju Hotel. Namun ada trouble, kita berganti Hotel dan malam sudah tiba kami semua tidur.
      Nah keesokan harinya teman-teman sudah tidak tahan untuk kabur menuju Grand Bazarnya Urumgi, secara Urumgi adalah kota modern dan wisata budaya dan juga surga kuliner, sangat perlu diekplor dengan agak santai.
      Sore telah tiba kami semua akan mengakhiri napak tilah Silk Road “Middle” ini dan akan dilanjut bonus trip petualangan ektra cepat menuju Asalamuaikum Beijing. Di tunggu yah Field Reportnya
      Mohon Maaf, pasti bacanya capek kepanjangan cerita namun itu lah ceritanya apa adanya.