Sign in to follow this  
vie asano

Liburan Keluarga 3 Hari 3 Malam Di Singapura

25 posts in this topic

Singapore atau Singapura mungkin punya luas wilayah yang imut-imut jika dibandingkan dengan luas mayoritas negara di Asia Tenggara. Tapi negara yang satu ini termasuk salah satu yang cukup seksi menggoda bagi wisatawan Indonesia untuk datang mengunjunginya. Nggak heran jika wisatawan Indonesia dikabarkan sebagai salah satu pasar terbesar bagi dunia pariwisata Singapura.

 

Saya dan hubby termasuk salah satu wisatawan yang mupeng untuk mengunjungi Singapura. Sebetulnya kami bukannya baru pertama kali pergi ke negeri Merlion ini karena saya pernah berkunjung ke Singapura tahun 1996 (busyet dah, itu berapa puluh tahun yang lalu yah?) dan hubby pada tahun 2013 kemarin. Namun karena satu dan lain hal rencana berkunjung ke Singapura selalu tertunda hingga kami berkesempatan memasukkan negara ini untuk menutup itinerary wisata liburan ke Jepang. Untuk menutup rangkaian field report yang telah saya tulis sebelumnya (baca disini: ), berikut ini review aktifitas yang kami lakukan selama liburan keluarga ke Singapura selama 3 hari 3 malam.

 

Note:

Pada ?p=192022 saya sudah menceritakan tentang perjalanan dari Kansai International Airport (KIX) menuju Kuala Lumpur pada tanggal 30 April 2015. Untuk mempersingkat tulisan, pengalaman sewaktu di Kuala Lumpur dan Changi International Airport (Singapore) akan saya lewati. Saya akan mulai cerita di Singapore dari hari kedua di Singapore, yaitu tanggal 1 Mei 2015.

 

Day 9

Bugis Street – Merlion Park – Bugis Junction

Jumat, 1 Mei 2015

 

Semalam kami tiba di Singapore kurang lebih pukul 11 malam waktu setempat, dan tiba di hotel kurang lebih pukul 23.30. Jadi nggak heran jika pagi ini kami semua terkapar berat. Kecapekan. Oya, di Singapore ini kami menginap di Fragrance Hotel di daerah Bugis. Insya Allah mudah-mudahan ada kesempatan untuk me-review hotel ini (dan hotel lain yang kami inapi selama trip ini).

 

Beruntung hotel kami berada tepat di sebelah convenience store 7 Eleven, jadi kami nggak harus jauh-jauh ngesot untuk cari sarapan (dan ujung-ujungnya malah bikin kami males gerak dari hotel). Alhasil kami baru ngesot keluar hotel selepas tengah hari. Itinerary hari ini pun sengaja disusun longgar supaya bebas ber-improvisasi.

 

Rute 1:

Bugis Street

Jarak tempuh dari hotel: 10-15 menit jalan kaki

 

Berkaca dari pengalaman gagal beli oleh-oleh yang dinginkan saat berwisata di Jepang, kali ini kami memprioritaskan untuk beli oleh-oleh dulu sebelum pergi jalan-jalan. Pilihan untuk belanja oleh-oleh jatuh pada Bugis Street yang lokasinya nggak begitu jauh dari hotel.

 

11401128_10207001950986856_6418373289153

Bugis Street, via dok.pribadi/2015.

 

11350614_10207001951066858_7822259820034

Bugis Street, via dok.pribadi/2015.

 

11377343_10207001947266763_9012666323557

Kalau nggak salah ini di persimpangan antara Bugis Street dan Albert Road, via dok.pribadi/2015. Mohon koreksi kalau saya salah.

 

Bugis Street ini merupakan sebuah shopping arcade yang terkenal sebagai salah satu tempat terbaik untuk belanja oleh-oleh murah di Singapore. Rumor tersebut ternyata nggak bohong karena tempat ini memang bertabur aneka gerai yang menawarkan aneka barang dengan harga kompetitif. Malah, sangat kompetitif. Saya ingin memberikan sedikit gambaran harga beberapa barang yang sempat saya survey untuk dijadikan oleh-oleh:

 

Sebuah dompet wanite dibandrol mulai harga SGD 10 untuk 3-4 buah. Namun saya juga sempat menemukan toko yang menjual SGD 10 untuk 5 buah dompet. Yaps, banyak barang di Bugis Street ini dijual dengan sistem paketan (tidak dijual satuan).

Tas wanita yang bisa dilipat dibandrol mulai harga SGD 10 untuk 3-4 buah. Tapi saya menemukan sebuah kios di dekat persimpangan Albert Street yang menjual tas sejenis dengan harga USD 10 untuk 5 buah. Tas yang sama dijual dengan harga yang jauh lebih mahal di Vivo City.

Minuman seperti jus dan air mineral harganya mulai dari USD 1.

Untuk coklat, harganya sangat bervariasi. Kami membeli coklat Merlion dengan harga USD 12 untuk 4 box untuk oleh-oleh, dan beberapa coklat lainnya yang dibandrol dengan harga USD 10 untuk 4-5 item.

Es krim potong ala Singapore harganya USD 1. Varian rasanya beragam. Yang saya coba di foto ini adalah rasa durian.

 

11406779_10207001948226787_3566295435630

Es potong Singapore, via dok.pribadi/2015.

 

[Tips: Saat kami berkunjung ke tempat ini cuaca sedang panas terik, dan suhu semakin panas di dalam Bugis Street karena banyaknya orang yang berada di area ini. Si sulung dan si kecil jadi rewel karena kegerahan dan merasa nggak nyaman berdesakan dengan orang banyak. Saran saya, traveller yang membawa bayi maupun anak-anak sebaiknya datang pada momen-momen dimana Bugis Street ini nggak terlalu ramai oleh pengunjung, misalnya saja pada pagi hari di hari kerja.]

 

Kami selesai keliling-keliling Bugis Street kurang lebih pukul 14.00. Karena sudah terlalu siang, kami makan siang di resto yang lokasinya dekat dengan pintu Bugis Street, yaitu Noodles Star.

 

Noodles Star

Lokasi: Victoria Street, tepatnya di dekat pintu masuk ke Bugis Street

Kisaran harga: mulai dari kisaran SGD 5-6 untuk menu utama

Total biaya makan (untuk 2 dewasa, 1 anak, 1 bayi): SGD 40

 

Resto ini kebetulan saja kami pilih karena kelihatan memiliki menu non-babi. Namun setelah masuk, kami baru ngeh kalau harga menu di resto ini sebetulnya diluar budget yang kami anggarkan. Semula kami menganggarkan USD 5-8 untuk sekali makan dan minum. Pada kenyataannya, total biaya makan dan minum kami untuk siang ini mencapai USD 40, which is mean lumayan menguras budget juga yah. Hiks..

 

Btw, seperti ini penampakan menu yang kami pesan. Nggak semua sempat di foto karena sebagian langsung diserbu begitu makanan datang. Maklum, sudah lapar berat sih, hehe..

 

11406999_10207001951906879_1377711915479

Fried Rice with Roasted Meat and Prawn Paste, via dok.pribadi/2015. Menurut saya harga nasi goreng-nya sih lumayan enak. Isiannya juga banyak. Porsinya juga cukup banyak (untuk ukuran saya).

 

11351153_10207001952066883_3647419797176

Steamed Rice with Sea Bream in Teriyaki Sauce, via dok.pribadi/2015.

 

[Tips: Bagi family traveller sekaligus budget traveller yang ingin mencoba menu di resto ini, saya sarankan untuk memesan menu yang bisa disantap beramai-ramai supaya lebih hemat. Tapi jika memang betul-betul sedang berhemat, sebaiknya cari resto lain yang harganya lebih miring.]

 

Rute 2:

Merlion Park

Akses: via Stasiun Raffles Place

 

Dari tempat makan, kami langsung menuju ke stasiun terdekat untuk naik MRT ke Merlion Park. Stasiun Bugis ini lokasinya dekat sekali dengan Bugis Street dan bersebelahan dengan shopping center Bugis Junction. Untuk dapat pergi ke Merlion Park, kami harus naik MRT East-West Line dari Stasiun Bugis dan turun di Stasiun Raffles Place.

 

Oya, bagi yang belum pernah naik MRT di Singapore, MRT (alias Mass Rapid Transit) disini konsepnya sama dengan kereta dan subway di Jepang, yaitu menggunakan warna untuk membedakan jalur (atau line) untuk masing-masing rute. Penumpang harus membeli tiket sebelum naik ke MRT, atau jika mau mudah, penumpang dapat membeli kartu EZ Link dan mengisinya sejumlah nominal tertentu (minimal SGD 10). Kartu tersebut prinsipnya sama seperti IC card di Jepang (contohnya Suica, Passmo, Icoca, Haruka, dsb), dimana kita harus men-tap 1x sebelum naik kereta dan men-tap 1x saat keluar dari stasiun. Ngomong-ngomong, kami nggak beli kartu EZ Link karena seorang teman berbaik hati meminjamkan kartu-kartunya dengan catatan kami harus mengisi sendiri saldo di kartu tersebut.

 

11403272_10207001946906754_5087744099716

Peta MRT Singapore, via dok.pribadi/2015.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Katanya, untuk mencapai Merlion Park, kami harus keluar dari Exit H di Stasiun Raffles Place. Namun setelah kami keluar di Exit H, kami nggak menemukan ada informasi menuju ke Merlion Park. Karena sebelumnya nggak riset lebih dulu tentang posisi dan lokasi dari Merlion Park (yaps, kami mengulang kembali kesalahan sewaktu gagal mencari Shinsaibashi Suji di Osaka), alhasil kami muter-muter dulu beberapa blok. Inilah beberapa foto yang sempat kami abadikan sewaktu nyasar.

 

11209581_10207002228793801_6111111743078

Informasi pintu keluar di Stasiun Raffles Place, via dok.pribadi/2015.

 

11253738_10207002318076033_2371657165066

Nyasar jalan-jalan menikmati suasana Singapore, via dok.pribadi/2015.

 

10384059_10207002319836077_4572131313791

Masih dalam rangka nyasar jalan-jalan, via dok.pribadi/2015.

 

Setelah kurang lebih 30-40 menit jalan kaki (yang berasa seperti 2x lipat karena dikombinasikan dengan rasa frustasi akibat harus jalan kaki dalam cuaca yang terik), kami mulai menemukan titk terang dimana posisi Merlion Park tersebut. Ternyata, kami salah ambil jalan karena kami malah menyusuri arah menjauhi Merlion Park (dan kami nggak bisa ngecek posisi via Google Maps karena nggak nyewa modem Wi-Fi). Namun segala kegaharan dan rasa frustasi akhirnya lenyap setelah kami melihat bangunan Marina Bay Sands dari kejauhan yang memang keren punya.

 

11406419_10207002329076308_3962388142105

Marina Bay Sands, via dok.pribadi/2015.

 

11390094_10207002329036307_5078598741605

Nggak tahan untuk nggak share street furniture unik yang bisa ditemukan di dekat Fullerton Plaza, via dok.pribadi/2015.

 

11391532_10207002330956355_7559057026638

Marina Bay Sands dilihat dari dekat Fullerton Pavillion, via dok.pribadi/2015.

 

Setelah puas jeprat-jepret Marina Bay Sands dari kejauhan, kami pun ngesot ke Merlion Park. Namun godaan untuk mampir ke kafe yang ada dibawah jembatan jauh lebih besar dibanding langsung mampir ke Merlion. Maklum, saat itu sudah pukul 16.00 dan perut sudah melilit minta diisi cemilan. Pilihan kami pun jatuh pada sebuah kafe bernama Toast Junction.

 

Toast Junction

Lokasi: tepat dibawah jembatan Fullerton Road

Kisaran harga: *lupa* (ada alasannya kenapa saya lupa)

 

Waktu melihat kafe ini, suasananya terlihat begitu menggoda. Kami pun langsung beranjak ke kasir untuk memesan makanan dan minuman. Namun sayangnya kasir (pria) yang melayani kami pada waktu itu nggak ramah kurang memberikan gestur positif. Dia kelihatan nggak sabar waktu menunggu kami membaca menu (maklum, ini pertama kalinya kami kesini) dan penjelasannya pun terkesan buru-buru. Berhubung saya juga sedang dalam mode capek, lapar, dan gahar; rasa bete makin berlipat. Saya pun memesan menu secara asal (pokoknya biar cepat beres), sampai-sampai nggak memperhatikan soal harga.  

 

Penampakan suasana kafe dan menu yang kami pesan seperti ini:

 

11407159_10207002342756650_4986549794214

Bagian bawah jembatan yang ramai oleh pengunjung, via dok.pribadi/2015.

 

11402670_10207002346436742_8494868632338

Toast Junction, via dok.pribadi/2015.

 

11406963_10207011243459162_4925936688136

Meja tempat kami makan, via dok.pribadi/2015. Sistem pemesanannya melalui kasir. Untuk minuman yang ready stock, bisa langsung ambil sendiri di kulkas. Sedangkan untuk makanan, kita akan mendapat pager yang akan berbunyi jika makanan kita telah selesai dibuat dan harus diambil sendiri di counter.

 

11406896_10207002346236737_4310251504136

(Kiri) kalau nggak salah namanya Mie Laksa, dan (kanan) French Toast with butter and kaya jam, via dok.pribadi/2015.

 

Gimana soal rasanya? Komentar saya cuma: “hmmmm…..â€. Masih masuk dalam kategori “bisa dimakan†sih, jadi saya pilih untuk no comment saja. Yang pasti sih mie-nya nggak habis. Kalau untuk minumannya, saya juga no comment. Habis pesan minumnya random sih (supaya cepat saja), jadi soal rasa dan harganya pun nggak ada yang nampol dalam ingatan. Apa saya akan balik lagi kesana jika ada kesempatan untuk ke Singapore lagi? Entahlah, hehe..

 

Beres makan, kami pun jalan-jalan ke Merlion Park, dan kemudian singgah sejenak di sebuah butik yang menjual aneka fashion dan souvenir ala Singapore (lokasinya masih di bawah jembatan).

 

10425361_10207002342716649_3237786647490

Merlion Park, via dok.pribadi/2015. Pengunjung hari itu padat sekali.

 

11401174_10207011246219231_8714005711515

Si sulung coba-coba meniru pose Merlion, via dok.pribadi/2015.

 

Dari Merlion Park, kami kembali ke Stasiun Raffles Place untuk naik MRT kembali ke Stasiun Bugis. Kali ini kami nggak pake acara nyasar-nyasar dulu, walau tetap saja perjalanan memakan waktu 15-20 menit karena kami banyak berhenti untuk foto-foto.

 

Rute 3:

Bugis Junction

Alamat: 200 Victoria Street Singapore 188021

Akses: via Stasiun Bugis atau 10-15 menit jalan kaki dari hotel kami di Bugis Street

 

Kami tiba di Stasiun Bugis kira-kira pukul 18.00. Setelah tiba disana, kami baru tahu jika stasiun tersebut ternyata terkoneksi dengan Bugis Junction. Berhubung kami harus belanja beberapa keperluan harian dan keperluan bayi, kami pun tanya-tanya pada petugas di Stasiun Bugis dimana bisa membeli keperluan bayi seperti popok sekali pakai. Petugas tersebut merekomendasikan sebuah pusat perbelanjaan yang jaraknya agak jauh. Karena sudah males untuk jalan-jalan lagi, kami nekat main saja ke Bugis Junction walau nggak yakin jika kami bisa menemukan supermarket yang menjual popok sekali pakai.

 

11350578_10207001952826902_5918860279885

Bugis Junction, via dok.pribadi/2015.

 

Nggak disangka, ternyata di Bugis Junction ada lho tempat seperti supermarket. Namanya memang mengesankan seperti nama toko buah (saya lupa nama persisnya, namun kalau nggak salah ada unsur “Fresh†di namanya). Ternyata supermarket tersebut nggak hanya menjual produk segar saja, karena disana juga ada banyak produk harian dan juga perlengkapan untuk bayi. Jadi, jika ada family traveller yang menginap di sekitar Bugis dan mencari supermarket yang menjual keperluan bayi, bisa main-main ke Bugis Junction.

 

Berhubung hari semakin malam, kami pun sekaligus mencari makan di Bugis Junction. Ternyata di Bugis Junction juga ada Yoshinoya. Kami pun iseng-iseng mampir kesana untuk membeli makan malam (take away). Ternyata walau sama-sama Yoshinoya, tetap saja ada ciri khas dari Yoshinoya di Singapore dengan Yoshinoya di Osaka dan Jakarta. Saat kami berkunjung ke tempat ini, Yoshinoya di Bugis Junction ini tengah mengadakan promo harga khusus untuk pelajar. Ada beberapa menu yang nggak pernah saya lihat sebelumnya di Yoshinoya Jakarta dan Osaka, walau menu klasik seperti Beef Bowl Original masih tetap tersedia. Oya, harga menu di Yoshinoya ini kalau nggak salah kira-kira mulai dari USD 5 untuk menu utama, yang berarti harganya cukup ramah untuk anggaran kami.

 

Dari Bugis Junction ini kami langsung kembali ke hotel untuk menyantap makan malam yang sudah kami beli dari Yoshinoya.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 10

Vivocity – Sentosa Island – Bugis Junction (lagi)

Sabtu, 2 Mei 2015

 

Bagi yang sudah pernah baca field report saya bagian pertama dan kedua, pasti sudah sering membaca jika kami nyaris selalu bangun kesiangan. Namun hari ini istimewa, karena kami ada janji dengan seorang teman di Vivocity. Jadi walau mood masih ingin leyeh-leyeh di atas kasur, khusus hari ini kami sengaja bangun lebih pagi supaya nggak terlambat pergi ke Vivocity.

 

Rute 1:

Vivocity

Alamat: 1 HarbourFront Walk, Singapore 098585

Akses: via Stasiun HarbourFront (NorthEast Line atau Circle Line)

Jam operasional: 10.00-22.00

 

Bisa dibilang saya buta banget soal Singapore. Pertama kali pergi ke negerinya Merlion ini pada tahun 1996, dan belum pernah menapakkan kaki lagi di Singapore sejak saat itu. Karenanya, waktu ada rencana ketemuan di Vivocity, saya sempat bertanya-tanya. Vivocity itu apaan sih? Nama sebuah kompleks perumahan, taman bermain, atau apa?

 

Setelah dijelaskan oleh hubby, saya baru ngeh jika Vivocity merupakan nama sebuah shopping center yang konon adalah yang terbesar di Singapore. Untuk mencapai shopping center ini, dari Stasiun Bugis kami harus naik Earth West Line dan turun di Stasiun Outram Park, dilanjutkan dengan naik North East Line hingga mentok di Stasiun Harbour Front yang terkoneksi dengan Vivocity. Berhubung saya nggak sempat foto-foto tampak bangunan dari luar, seperti inilah penampakan Vivocity (foto diambil dari wikimedia commons).

 

11391332_10207018105110699_5311522322889

Vivocity, via Terence Ong/wikimedia commons 

 

11401226_10207018105430707_6606013324139

Suasana di dalam Vivocity, via Terence Ong/wikimedia commons 

 

Toast Box

Lokasi: Vivocity lantai 3

Kisaran harga: mulai dari SGD 4 (untuk makanan) dan SGD 1.5 (untuk minuman)

 

Begitu tiba di Vivocity, kami langsung menuju ke tempat janjian, yaitu Toast Box. Toast Box di Vivocity ini ada di 2 lokasi, yaitu di lantai B2 dan di lantai 3. Toast Box yang kami kunjungi kali ini ada di lantai 3, dan lokasinya bersebelahan dengan taman outdoor. Kami sempat ngemil-ngemil sedikit di Toast Box ini. Suasana Toast Box kurang lebih seperti ini:

 

11402711_10207011467144754_6662420838879

Toast Box di Vivocity, via dok.pribadi/2015.

 

Toast Box ini memiliki spesialisasi aneka menu roti panggang. Ada roti panggang dengan selai coklat, kacang, dan lain-lain. Tapi ada juga menu non-roti, seperti mie. Sistem pemesanan di tempat ini adalah: pembeli langsung pesan dan bayar makanan di kasir. Kemudian pembeli akan mendapat alat seperti pager yang akan berbunyi jika menu yang dipesan sudah siap dan bisa di ambil di counter.

 

[Tips: Seperti yang sudah saya singgung di atas, lokasi Toast Box ini dekat dengan taman outdoor yang ada di lantai 3. Jika bawa anak-anak, taman ini asyik banget untuk dijelajahi bersama keluarga, khususnya anak-anak, karena di taman ini terdapat tempat untuk main air yang pastinya akan disukai oleh anak-anak. Sayangnya kemarin kami nggak sempat menjelajah area ini karena saat itu agak gerimis.  Oya, di Vivocity ini juga ada wahana permainan outdoor lho. Intinya, jika ada family traveller yang tengah mencari tempat untuk dikunjungi di Singapore bersama keluarga, kalian dapat mempertimbangkan untuk mampir ke Vivocity.]

 

11406719_10207020708095772_3541962430621

Rooftop garden di Vivocity, via sengkang/wikimedia common 

 

Rute 2:

Sentosa Island

 

Selesai dari Toast Box, kami melanjutkan rencana untuk mengunjungi Sentosa Island. Hubby ingin mengajak si sulung untuk main Skyline Luge Sentosa a.k.a Luge (nanti akan saya jelaskan dibawah), jadi kami pun mulai mengantri untuk naik monorail ke Sentosa Island. Monorail ini bisa di akses dari lantai 3 Vivocity, dan nggak begitu jauh dari Toast Box. Jadi kami pun langsung ikut antri untuk naik monorail (kami baru tahu jika monorail ini namanya Sentosa Express). Harga tiketnya SGD 4 untuk sekali naik, dan penumpang bebas untuk naik dan turun di stasiun manapun yang mereka inginkan tanpa harus bayar lagi, selama penumpang nggak kembali lagi ke Stasiun Sentosa di Vivocity. Secara keseluruhan, ada 4 stasiun yang dilalui oleh monorail ini: Stasiun Sentosa, Stasiun Waterfront, Stasiun Imbiah, dan Stasiun Beach.

 

Berhubung rencana utama kami adalah naik Luge, maka kami pun naik monorail dan turun di Stasiun Beach. Dari stasiun ini kami tinggal jalan sedikit untuk mencapai Luge. Oya, Luge ini merupakan sebuah wahana permainan yang bentuknya berupa track menuruni bukit. Pengunjung harus naik dulu ke atas bukit dengan menggunakan kereta gantung, dan kemudian menuruni bukit menggunakan alat seluncur dan memanfaatkan gravitasi melalui track yang berkelok-kelok. Penampakan Luge seperti ini:

 

11391445_10207011376902498_8589092969159

Jalan menuju Luge dari Stasiun Beach, via dok.pribadi/2015.

 

11406495_10207011481265107_4895742331220

Luge, via dok.pribadi/2015.

 

11401251_10207011482465137_2202250521160

Informasi umum tentang Luge, via dok.pribadi/2015.

 

11402940_10207011480865097_3598769558009

Kereta gantung yang akan membawa pengunjung ke bagian atas, via dok.pribadi/2015.

 

11629_10207011479665067_2918225472843772

Track Luge, via dok.pribadi/2015.

 

Sebelum bisa naik Luge, pengunjung harus membeli dulu tiket di counter tiket. Untuk dapat naik Luge, pengunjung harus berusia minimal 6 tahun dan memiliki tinggi minimum 110 cm. Karenanya hanya hubby dan si sulung saja yang mencoba wahana ini, sementara saya bertugas jaga si bungsu. Oya, harga tiket Luge ini adalah SGD 17/orang (untuk naik luge dan kereta gantung), dan harganya akan lebih murah jika membeli beberapa tiket sekaligus. Sedangkan jika ingin naik 1 luge berdua dengan anak-anak (tandem), pengunjung cukup menambah SGD 3 saja (jadi totalnya SGD 20 untuk sekali naik Luge dan kereta gantung).

 

11412375_10207011482705143_3742944607023

Tiket Luge dan kereta gantung, via dok.pribadi/2015. Tiket yang kami beli ini untuk naik 1 Luge bersama anak-anak.

 

[Tips: Skyride Luge Sentosa ini menjual tiket untuk individu (1 orang/Luge) dan tiket tandem (1 dewasa+1 anak/Luge). Jika kawan traveller ada yang membawa anak-anak namun ingin naik Luge sendiri-sendiri, jelaskan hal tersebut saat membeli tiket di counter tiket. Kemarin sebetulnya hubby dan si sulung ingin naik Luge sendiri-sendiri, namun ternyata pihak kasir salah mengerti maksud kami dan akhirnya malah memberikan tiket tandem yang akhirnya cukup membuat hubby dan si sulung manyun selama beberapa waktu.]

 

Sesampainya di atas, pengunjung akan mendapat tutorial cara mengendarai Luge dari petugas, termasuk cara mengendalikan Luge sekiranya ada masalah saat menuruni bukit. Pengunjung juga akan dilengkapi dengan helm untuk melindungi kepala. Saya rasa saya harus menunggu 30-45 menit (sepertinya lebih) sejak hubby dan si sulung naik kereta gantung sebelum bisa melihat mereka menuruni bukit menggunakan Luge. Dan berikut inilah penampakan saat naik Luge.

 

11351209_10207011377622516_3449114501715

Hubby dan si sulung lagi having fun, via dok.pribadi/2015.

 

11391401_10207011485465212_2693782209861

Suasana menjelang belokan terakhir, via dok.pribadi/2015.

 

[Tips: Jika ingin naik Luge, perhatikan baik-baik instruksi dan tutorial yang diberikan oleh petugas yah, khususnya jika membawa anak-anak. Selama saya menunggu hubby dan si sulung menuruni bukit, saya sempat melihat seorang anak kira-kira usia pelajar SD terlalu kencang saat menuruni bukit dan Luge-nya nyaris lompat keluar track ke arah rumput. Untungnya Luge-nya nggak sampai lompat sepenuhnya dan si anak bisa kembali lagi ke track-nya berkat instruksi dari ayahnya yang naik Luge dibelakangnya. Tambahan lainnya, di dekat counter tiket ada sebuah kedai yang menjual aneka minuman dan snack. Jika teman-teman nggak naik Luge dan mencari tempat untuk menunggu teman/anggota keluarga lainnya yang lagi naik Luge, kalian bisa membeli snack maupun minuman ringan untuk dinikmati di area makan outdoor yang letaknya berdekatan dengan track Luge. Foto-foto di atas saya ambil dari area makan tersebut.]

Share this post


Link to post
Share on other sites

Acara naik Luge selesai kira-kira pukul 12.30. Kami pun segera mencari tempat untuk makan siang. Setelah sempat hampir nyangkut di sebuah kafe, akhirnya kami memutuskan untuk mampir ke McDonald’s saja. Yah, sebetulnya saya punya prinsip untuk menghindari restoran fast food (khususnya yang gerainya sudah ada di Indonesia) saat berwisata ke luar negeri. Apa gunanya jauh-jauh ke luar negeri kalau ujung-ujungnya makan di tempat yang bisa ditemukan di Indonesia? Namun prinsip tersebut terpaksa dilanggar karena kami ‘terkagum-kagum’ melihat harga menu di kafe yang sebelumnya kami datangi. Apa boleh buat, demi menjaga anggaran wisata supaya tetap dalam budget (ciehh, apaan sih?),

 

Menurut saya, McDonald’s di Singapore ini nggak jauh beda dengan McDonald’s di Malaysia, namun beda dengan McDonald’s di Indonesia. Di McD ini kalian bisa melihat berbagai pilihan paket ayam goreng dan nugget, namun jangan harap akan menemukan nasi putih. Untuk pilihan menu minumannya sih standar, mulai dari minuman soda hingga air mineral. Seperti inilah penampakan menu yang kami pesan siang itu.

 

11401579_10207011484745194_1787217949975

Menu makan siang untuk ber-4, via dok.pribadi/2015.

 

11390204_10207011485705218_7712441841027

Detail bon pembayaran, via dok.pribadi/2015. Nggak sampai SGD 15 untuk makan siang ber-4. Hemat kan?

 

Rute 3:

Universal Studio Singapore

Akses: via Stasiun Waterfront (jika menggunakan monorail)

 

Selesai makan, kami kembali lagi ke stasiun monorail. Bukan untuk balik ke Vivocity, tapi untuk turun di Stasiun Waterfront. Tujuan kami adalah mengunjungi Universal Studio Singapore, yang memang bisa di akses melalui Stasiun Waterfront.

 

Sampai disini mungkin kedengarannya keren ya? Padahal tujuan utama kami ke Universal Studio ini bukan untuk menjajal masuk ke atraksi apapun, maupun untuk wisata kuliner. Tapiiiii… cuma untuk foto-foto doang, hahaha. Karenanya, begitu kami menjejakkan kaki di Stasiun Waterfront, yang pertama kami lakukan adalah mencari bola dunia yang menjadi logo Universal Studio. Dan seperti inilah penampakan lambang Universal Studio tersebut.

 

11392961_10207011375942474_1016669974057

Universal Studio Singapore, via dok.pribadi/2015. Waktu itu agak sulit untuk mendapat foto yang betul-betul bagus karena pengunjung di sekitar logo Universal ini lagi cukup banyak.

 

Sejak awal, tujuan kami pergi ke Universal Studio ini ya memang hanya untuk jalan-jalan dan cuci mata secara gratisan (pelit.com alias irit). Karenanya, hubby sempat men-survey beberapa aktifitas gratisan yang mungkin bisa dilakukan disana bersama si kecil. Hasilnya, kami menemukan jika di kawasan Universal Studio Singapore ada sebuah plaza air mancur kecil yang boleh dijadikan tempat main gratis bagi anak-anak (dan orang dewasa, kalau nggak malu ya.. hehe..). Itulah sebabnya saya sengaja berbekal baju ganti untuk si kecil yang pastinya akan senang kalau diajak berbasah ria. Dan untungnya, saat kami tiba di kawasan Universal Studio Singapore ini cuaca sedang puanas pol. Si sulung yang sudah mengeluh kegerahan pun mendadak bersemangat saat kami ijinkan untuk main air di plaza air mancur tersebut.

 

11391381_10207011486625241_4515762996721

Kolam air mancur di Universal Studio Singapore, via dok.pribadi/2015.

 

11227638_10207011488145279_8719706423845

Si sulung (baju hijau) lagi asyik main air bersama beberapa anak lain, via dok.pribadi/2015.

 

Sebetulnya plaza air mancur ini nggak seberapa besar. Tapi karena air mancurnya keluar berganti-ganti dari beberapa titik, kolam ini cukup membuat anak-anak kegirangan. Mereka berganti-ganti menebak tempat keluar air selanjutnya, dan ada juga beberapa anak yang sengaja menutup lubang air supaya air nggak menyembur keluar. Pokoknya, bagi yang ingin mencari hiburan gratis di area Universal Studio Singapore untuk anak-anak, ajak saja mereka main air di plaza ini.

 

[Tips: Berencana untuk main air? Jangan lupa siapkan baju ganti ya. Dan jangan lupa mengawasi anak-anak saat bermain di area ini. Plaza air mancur ini lumayan licin, dan saya sempat melihat sendiri ada beberapa anak yang jatuh terpeleset gara-gara terlalu heboh main di tempat ini. Sedangkan jika anak-anak sudah cukup besar untuk menjaga diri, orang tua bisa menunggu di taman yang lokasinya nggak jauh dari plaza air mancur sambil mengawasi dari jauh.]

 

Kami selesai main-main di kawasan Universal Studio ini kira-kira pukul 15.00. Setelah si sulung ganti baju dengan baju kering, kami pun segera kembali ke Stasiun Waterfront untuk naik monorail menuju ke Vivocity. Sesampainya di Vivocity, kami pun segera keliling-keliling untuk meneruskan agenda mencari oleh-oleh. Pilihan pun jatuh pada toko coklat (sayangnya saya lupa nama tokonya) yang kami temukan saat dalam perjalanan menuju ke Stasiun MRT HarbourFront yang terkoneksi dengan basement Vivocity. Toko coklat ini cukup besar dan punya banyak stok coklat dengan varian rasa yang unik-unik. Menariknya, saat itu banyak coklat dengan kemasan menarik yang diobral dengan harga lumayan miring. Kalau nggak salah total belanjaan kami di tempat ini nggak sampai SGD 30 untuk beberapa box coklat dengan kemasan yang menarik untuk dijadikan oleh-oleh.

 

Rute 4:

Bugis Junction - Hotel

 

Sepertinya Bugis Junction menjadi shopping center favorit kami selama di Singapore. Bukan karena tempat ini sedemikian unik dan ciamik sehingga bikin kami jatuh cinta, tapi karena Bugis Junction ini terkoneksi dengan Stasiun MRT Bugis yang merupakan stasiun terdekat dengan hotel kami. Jadi nggak heran jika setiap kali kami baru bepergian, kami selalu menyempatkan diri untuk jalan-jalan sejenak di Bugis Junction ini, khususnya jika menjelang waktu makan.

 

Begitu juga dengan hari ini. Sepulang dari Vivocity lagi-lagi kami mampir ke Bugis Junction. Bukan untuk nongkrong, tapi untuk nyari makan malam. Jika pada hari sebelumnya kami makan di Yoshinoya, maka kali ini kami memilih restoran yang punya citarasa lebih khas. Berhubung bon pembelian makan di Bugis Junction ini hilang karena terselip, nggak banyak yang bisa saya ceritakan. Yang pasti saya ingat kalau salah satu menu yang kami pesan adalah Mie Laksa (take away) dan kalau nggak salah harga per-porsinya antara SGD 5-7. Menurut saya rasa mie-nya sih lumayan, dan nggak mengembang walau dimakan di hotel (yang membutuhkan waktu kira-kira 10-15 menit jalan kaki dari Bugis Junction). Kalau ada yang pernah makan mie seperti ini di Bugis Junction, please tolong info nama resto-nya yah. Penampakan menu dan kemasan take away-nya sih seperti ini:

 

11351184_10207011488265282_6935042794578

Mie yang dibeli di Bugis Junction, via dok.pribadi/2015.

 

***

 

Day 11

Changi Airport (Singapore) – Bandara International Soekarno-Hatta (Jakarta/Indonesia)

Minggu, 3 Mei 2015

 

Hari ini kami check out pagi-pagi, kurang lebih pukul 06.30. Proses check out di hotel ini pun lumayan lancar dan cepat. Kami pun dibantu untuk memesan taksi menuju ke bandara, tentunya dengan tambahan biaya reservasi diluar ongkos taksi yang sebenarnya.

 

Kurang lebih kami tiba di Changi pukul 07.15 waktu setempat, dan itu berarti kami datang kepagian. Rencananya kami flight pukul 11.00, dan itu berarti kami baru bisa check-in kira-kira pukul 9 atau 10. Apa boleh buat, kami pun jalan-jalan dulu di Changi Airport.

 

Semula saya pikir kami hanya akan duduk manis mainan gadget sambil menunggu waktu check-in. Tapi ini Changi gitu loh. Bandara yang satu ini memang layak disebut sebagai bandara terbaik di dunia karena disini banyak terdapat fasilitas pendukung yang pastinya nggak akan bikin pengunjung mati gaya. Saya sudah cukup kaget saat melihat ada taman yang sangat asri di Terminal 2. Eh ternyata di dekat taman ini ada fasilitas menarik untuk anak-anak, yaitu Woodblock Rubbing Station. Di tempat ini anak-anak bisa mengambil kertas dan krayon/pensil warna yang digunakan untuk mencetak aneka gambar yang terdapat di berbagai papan kayu. Sayangnya file foto-foto selama di Changi ini entah ada di handphone mana, jadi maaf saya belum bisa share foto aktifitas disini. Padahal area taman dan sekitarnya ini lumayan seru lho. Si sulung dan si bungsu senang sekali menjelajah area taman dan kemudian ikut coret-coret di area Woodblock Rubbing Station.

 

Nggak banyak lagi yang kami lakukan di Changi selain sarapan di Coffee Bean sambil menunggu waktu check-in. Proses check-in dan imigrasi pun berjalan cukup lancar, kecuali pada saat ketika petugas meminta saya membuang sebotol vitamin (yang sebetulnya isinya nggak sampai 50 ml) atau meminumnya saat itu juga. Saya memilih opsi membuang botol tersebut, karena siapa sih yang mau menghabiskan vitamin segitu banyak dalam sekali tenggak? Masalah kedua muncul saat koper hubby ternyata nggak lolos bagasi kabin walau beratnya masih jauh dari batas maksimum (dan lolos bagasi kabin di KIX dan KLIA) sehingga koper mendadak harus ditempatkan di bagasi. Untungnya penempatan koper di bagasi tersebut free of charge, dan koper pun tiba dengan selamat di Jakarta. Perjalanan pulang menggunakan Tiger Airways pun tergolong lancar, kecuali pada momen-momen dimana turbulance terasa banget dan pada satu waktu sempat membuat pesawat terasa seperti dihempas (yang sukses membuat penumpang satu pesawat menjerit secara berjamaah).

 

Saya akan melanjutkan tentang resume itinerary dan juga kesan-kesan wisata di Jepang dan Singapore pada postingan selanjutnya yang insya Allah akan menutup rangkaian field report liburan kali ini. Ditunggu saja yah :) 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Resume liburan keluarga ke Kyoto, Nara, Osaka, dan Singapore tanggal 23 April – 3 Mei 2015. Untuk review lebih lengkap tentang trip-nya, silahkan baca disini:

 

>> isinya tentang tahap persiapan dan wisata di Kyoto.

>> isinya tentang wisata di Nara dan Osaka.

>> isinya tentang wisata di Singapore (penutup wisata ke Jepang)

 

Tahap persiapan:

- Biaya tiket pesawat: IDR 22,648,500 (untuk 2 dewasa, 1 anak, 1 bayi).

Rinciannya:

Jakarta – Kuala Lumpur (KUL), via Air Asia: IDR2,347,000 (untuk 2 dewasa, 1 anak, 1 bayi).

Kuala Lumpur – Osaka/Kansai International Airport (KIX), via Air Asia: (2 dewasa x 514 MYR) + (1 anak x 514 MYR) + (1 bayi x 125 MYR) + biaya lain-lain = 1,961.00 MYR (atau IDR 6,863,500 untuk kurs 1 MYR = IDR 3,500)

Osaka/Kansai International Airport (KIX) – Kuala Lumpur (KUL), via Air Asia: (2 dewasa x 744 MYR) + (1 anak x 744 MYR) + (1 bayi x 125 MYR) + biaya lain-lain = 2,996.00 MYR (belum termasuk biaya makan sebesar 62 MYR, sehingga totalnya jadi MYR 3,068), atau kurang lebih 10,738,000 untuk kurs 1 MYR = IDR 3,500.

Kuala Lumpur (KUL) – Changi, via Tiger Air: IDR 800,000

Changi – Jakarta (CKG), via Tiger Air: IDR 1,900,000

 

- Biaya hotel (rincian harga menyusul):

 

23 – 26 April (Kyoto) : Kyoto Dai-ni Tower Hotel

27 – 30 April (Osaka) : MyStays Otemae Hotel

30 April – 2 Mei (Singapore) : Fragrance Bugis Hotel

 

Rincian Itinerary:

Perlu diketahui jika biaya pengeluaran harian hanya estimasi saja. Pada kenyataannya, biaya yang dikeluarkan lebih besar karena ada beberapa pengeluaran yang tidak tercatat.

 

[KYOTO]

Day 1: Kamis, 23 April 2015

- Kansai International Airport (KIX)

- Stasiun Kyoto dan sekitarnya

Estimasi pengeluaran hari ini (diluar biaya ngemil):

[sewa modem] JPY 7,360 (untuk 9 hari)

[Transportasi KIX-Kyoto dan di sekitaran Kyoto] JPY 4,370

[Makan] JPY 1,560 + JPY 1,540

 

Day 2: Jumat, 24 April 2015

- Arashiyama Bamboo Forest

- Sagano Romantic Train

- Explore Umahori

- Kinkakuji Temple

Estimasi pengeluaran untuk hari ini:

[Transportasi] JPY 600 (kereta dari Stasiun Kyoto ke Stasiun Sagaarashiyama) + JPY 600 (kereta dari Stasiun Umahori ke Stasiun Emmachi) + JPY 580 (bus) + JPY 580 (bus)

[Makan] JPY 460 (jajan di Arashiyama) + JPY 1500 (jajan di Kinkakuji) + JPY 2430 (makan malam)

[biaya tiket masuk] JPY 800 (tiket Kinkakuji)

 

Day 3: Sabtu, 25 April 2015

- Fushimi Inari Taisha

- Kiyomizudera Temple

- Higashiyama Area

- Matsuyama Park

- Gion

Estimasi pengeluaran untuk hari ini:

[Transportasi] JPY 350 (kereta dari Stasiun Kyoto ke Stasiun Inari) + JPY 530 (kereta dari Stasiun Fushimi-inari ke Stasiun Kiyomizu-gojo) + JPY 1420 (taksi)

[Makan] JPY 1200 (jajan di Fushimi Inari) + JPY 380 + JPY 1200 (makan di Kiyomizudera) + JPY 620 + JPY 1500 (makan malam)

[biaya tiket] JPY 600 (tiket Kiyomizudera)

 

Day 4: Minggu, 26 April 2015

- Toei Eigamura

- Kyoto Station

- Kyoto Tower

Estimasi pengeluaran hari ini:

[Transportasi] JPY 500 (kereta dari Stasiun Kyoto ke Stasiun Uzumasa) + JPY 500 (kereta dari Stasiun Uzumasa ke Stasiun Kyoto)

[Makan] JPY 2300 (makan di Toei Eigamura) + JPY 1200 (makan siang)

[biaya tiket masuk] JPY 5500 (tiket ke Toei Eigamura) + JPY 600 (tiket diskon ke Kyoto Tower)

[Lain-lain] JPY 1100 (beli foto di Kyoto Tower) + JPY 2400 (beli souvenir)

 

[NARA]

Day 5: Senin, 27 April 2015

- Nara Parks

- Kofukuji Temple

- Osaka

Estimasi pengeluaran hari ini:

[Transportasi] JPY 2080 (kereta dari Kyoto ke Nara) + JPY 1330 (kereta dari Nara ke Osaka)

[Makan] JPY 440 (makan siang) + JPY 800 (afternoon tea) + JPY 1200 (makan malam)

[biaya tiket masuk] JPY 1300 (tiket ke Todaiji)

[Lain-lain] JPY 700 (sewa locker) + JPY 450 (senbei rusa) + JPY 1400 (souvenir)

 

[OSAKA]

Day 6: Selasa, 28 April 2015

- Osaka Aquarium Kaiyukan

- Tempozan Harbor Village

- Tempozan Giant Ferris Wheel

Estimasi pengeluaran hari ini:

[Transportasi] JPY 700 (tiket kereta dari Stasiun Tanimachi 4-chome ke Stasiun Osakako) +

[Makan] JPY 1540 (makan siang)

[biaya tiket masuk] JPY 5200 (tiket Kaiyukan) + JPY 2400 (tiket Tempozan Giant Ferris Wheel)

[Lain-lain] JPY 2600 (oleh-oleh)

 

Day 7: Rabu, 29 April 2015

- Shinsaibashi

- Amerikamura

- Dotonbori

- Namba Parks

Estimasi pengeluaran hari ini:

[Transportasi] JPY 450 (kereta dari Stasiun Tanimachi 4-chome ke Stasiun Shinsaibashi) + JPY 600 (kereta dari Stasiun Namba ke Stasiun Tanimachi 4-chome)

[Makan] JPY 700 (ngemil di Amerikamura) + JPY 808 + JPY 960 (makan siang)

 

[OSAKA-SINGAPORE]

Day 8: Kamis, 30 April 2015

- Kansai International Airport (KIX)

- Kuala Lumpur International Airport (KLIA) di Malaysia

- Changi International Airport di Singapore

Estimasi pengeluaran hari ini:

[Transportasi] JPY 3430 (kereta dari Stasiun Tanimachi 4-chome ke KIX) + SGD 16 (taksi dari Changi ke hotel)

 

[sINGAPORE]

Mulai dari sini saya nggak akan membahas mengenai estimasi pengeluaran karena catatan untuk Singapore ini masih tercecer.

 

Day 9: Jumat, 1 Mei 2015

- Bugis Street

- Merlion Park

- Bugis Junction

 

Day 10: Sabtu, 2 Mei 2015

- Vivocity

- Sentosa Island

- Universal Studio Singapore

- Bugis Junction

 

***

 

Penutup

Setelah mengunjungi Kyoto, Nara, Osaka, dan Singapore bersama anak-anak dan bayi, ada beberapa hal yang bisa saya simpulkan:

 

KYOTO. Kami sekeluarga suka banget dengan Kyoto. Disini jangan harap dapat menemukan bangunan pencakar langit dan kotanya juga nggak terlalu besar, namun justru suasana yang seperti itu yang malah bikin kangen. Dan kalian nggak akan kesulitan menemukan orang yang mau mencoba berbahasa Inggris sebagai bukti jika kota ini sangat welcome dengan turis asing.

OSAKA. Satu hal yang paling saya ingat dari Osaka adalah keramahan penduduknya. Mereka nggak segan-segan membantu orang yang kelihatan kesulitan. Contohnya, saat saya tengah kesulitan mengangkat koper menaiki tangga, ada saja yang menawarkan bantuan untuk mengangkat sampai ke atas. Sama seperti Kyoto, di Osaka ini juga banyak yang nggak alergi dengan bahasa Inggris. Cukup kontra dengan situasi yang pernah saya temui di Tokyo beberapa tahun silam.

NARA. Suasana di Nara ini mirip-mirip dengan Kyoto. Cukup bikin kangen dan penasaran karena kemarin hanya singgah sebentar saja di Nara. Mudah-mudahan ada kesempatan untuk mengunjungi Nara lagi di lain waktu.

SINGAPORE. Kesan pertama saya tentang Singapura adalah….. hawanya panas bangetttttt! Mungkin karena kami baru dari Jepang yang pada waktu itu suhunya sedang sejuk-dingin, jadinya suhu di Singapore ini terasa luar biasa panasnya. Itulah sebabnya pada waktu itu kami nggak terlalu meng-eksplor Singapore karena baru keluar sebentar saja kami sudah banjir keringat.

 

Sekian ulasan dan resume dari saya. Mohon maaf kalau kepanjangan, dan semoga bermanfaat ya!

Share this post


Link to post
Share on other sites

@vie asano

ok udah di bikin topic sendiri ya sep2

Memang itu agak membingungkan kadang untuk ke Merlion Park turunya di Raffles Place tapi jalan masih agak jauh mending ikutin google maps aja :D
btw ini berapa hari ya ?

Share this post


Link to post
Share on other sites

UPDATED

 

wah udah lama kgk makan es potong nih, btw unik tuh bangku yg di dekat Fullerton Plaza :D nice share :salut

 

Bangku yang ini lebih unik lagi mas, tapi kemarin lupa untuk di upload :P 

 

11425236_10207011233458912_4893244990982

 

@vie asano

ok udah di bikin topic sendiri ya sep2

Memang itu agak membingungkan kadang untuk ke Merlion Park turunya di Raffles Place tapi jalan masih agak jauh mending ikutin google maps aja :D
btw ini berapa hari ya ?

 

Masalahnya kemarin ga bisa akses internet, jadi lebih banyak mengandalkan feeling (yang ternyata salah banget, hahaha)

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By Dantik
      Hari 1, 05 Mei 2018 : Athena
      Hari 2, 06 Mei 2018 : Roma Day 1
      Hari 3, 07 Mei 2018 : Venice
      Hari 4, 08 Mei 2018 : Roma Day 2
      Hari 5, 09 Mei 2018 : Roma Day 3
      Hari 6, 10 Mei 2018
      Setelah bermalam di Athena karena penerbangan kami ke Santorini transit di Athena beberapa jam, tibalah kami di Santorini. Perjalanan hanya sekitar 50 menit dari Athena ke Santorini.
      Setelah tiba di Santorini kami dijemput oleh staff penginapan kami, karena kami meminta extra layanan penjemputan. Kami menginap di Antonia Apartments, penginapan ini menyediakan layanan antar-jemput bandara dengan harga yang wajar yaitu 5 euro sekali jalan/orang. Mereka juga menawarkan paket one day tour dll.
      Antonia Apartments menurut kami penginapan yang recomended karena pelayanan yang memuaskan, bersih, nyaman dan yang terpenting adalah lokasi yang strategis. Dari sini tidaklah susah jika kita ingin mencari makan atau ke Terminal Bus Fira karena berada di tengah-tengah pusat Fira.

      Itinerary hari pertama kami di Santorini adalah berjalan kaki dari Fira ke Firostefani. Sebelumnya kami pergi ke Kamari Beach menggunakan bus umum dari Terminal Bus Fira. Rencana kami ingin menyewa kendaraan bermotor disini, sayang tidak bisa karena tidak mempunyai SIM Internasional maka tidak ada pilihan selain menggunakan Bus.

       
      1. Kamari Beach

      Kamari Beach adalah pantai dengan pasir hitam, dibalik tebing yang tinggi itu terdapat Perisa Beach yang juga berpasir hitam.
      Setelah dari Kamari Beach kami kembali lagi ke Terminal Bus Fira, kemudian kami mulai berjalan kaki menuju Firostefani.
      2. Hypapante Cathedral

      Walking tour di Santorini bisa menjadi pilihan yang bagus jika kalian tidak menyewa kendaraan bermotor, atau yang hanya ingin menikmati Santorini dengan berjalan di sepanjang kaldera sambil melihat pemandangan laut. Tetapi medannya yang menanjak & menurun cukup menguras tenaga, pastikan kita selalu membawa minum. Tempat pertama yang kami lewati adalah Hypapante Cathedral.
      3. Donkey trail & walkway entrance/exit

      Bagi yang ingin hiking bisa mencoba donkey trail & walkway entrance/exit yaitu 588 anak tangga dengan zig-zag trails.
      4. Catholic Church

      Catholic Church yang berada di tepat sebelah cable car.
      5. Firostefani

      Firostefani adalah salah satu gereja yang paling banyak difoto dari Santorini.
      Inilah itinerary kami hari pertama di Santorini. 
    • By Awen
      Menjejakkan kaki di kaki Pengunungan Himalaya (Annapurna Base Camp 4130)
      “NAMASTE” Nepal 13-26 Jun 2018 
      Ini bukanlah mimpi tapi kenyataan buat seorang yang bukan pendaki dan bukan trekker. Bulan Juni bukanlah waktu terbaik untuk trekking karena sudah masuk di musim hujan. karena kami adalah kuli dan untuk cuti panjang sangat susah akhirnya memutuskan di Libur Lebaran  yang pastinya harga tiket lebih mahal. Jauh hari sudah cari tiket semua di otakatik mana yang kasih promo dan termurah, sebenarnya paling murah naik Malindo tapi karena ingin terbang di waktu hari masih terang akhirnya memutuskan menggunakan AA dan sampai beli kursi dekat jendela demi keinginan melihat jajaran Himalaya dari langit apa daya ternyata yang ada kabut.
       Rencana awal Routenya : Phokara ke Hille by Jeep -  baru start trekking menuju ke Poon hill lanjut ke ABC. di tengah jalan kami memutuskan ke ABC saja dan sisa hari akan kami gunakan keliling  kota  Phokara dan Khatmandu.
      13 Jun : Jakarta - Kualalumpur
      14 Jun : Kualalumpur – Khatmandu
       tiba di airport langsung menuju mesin  VOA, sangat mudah dan ada juga petugas yang memandu, kalau mau tukar uang jangan di dalam bandara karena ada biaya potongan atau tukar sedikit saja nanti kekurangannnya bisa tukar di tamel. Selesai Imigrasi langsung keluar cari taxi  menuju NTB (Nepal Tourism Board) urus ACAP dan TIMS selesai semua dari NTB jalan kaki sampai Thamel itung-itung  latihan, dan ternyata kota ini berdebu bangat,  mencari tempat makan jadi rada susah. sampai di hostel check in langsung keluar cari Pole dan liat2 sekitar Thamel.
      15 Jun : Khatmandu ke Phokara,
      naik bus brangkatnya jam 7 pagi,  mangkalnya di Jl.Kantipath  Persis di depan Yellow Pagoda Hotel, busnya banyak tinggal milih mau naik yg mana, tiba Phokara sekitar pukul 15:00, dari terminal bus jaki lagi menuju Hotel Diplomat check in dan ngobrol-ngobrol dengan pemiliknya atas saran bapaknya  kami merobah Route yang awal nya ke Poonhill menjadi Ke ABC Dan kami memesan Jeep di Hotel sampai ke Kimche dan diingatknan pagi  jam 6:00  sudah harus siap.
      16 Jun : Pagi Jam 6:00 Jeep sudah nongol depan hotel
      Perjalanan di mulai dari jalan lurus, lama2 meliuk-liuk  Sopir Jeep nya  baik awalnya kita ke Kimche tapi disaranin sama Pak Sopirnya sampai ke  Ke pemberhentian terakhir Jeep itu di MOTKIU dekat new bridge. Berhenti dulu di Birethanti TIMS Check Post & ACAP Check Post, lapor diri sah di catat tanggal masuknya  dan benar benar serius menanganinya. Ajung jempol. lanjut lagi naik Jeep kurang lebih 1,5 jam an dengan jalanan yang cukup menantang, ngeri ngeri sedap kata orang Medan Sopir disini wajib ahli dan lihai,  melebihi supir medan :-) . Tiba di MOTKIU @ 10:00 disini jeep banyak mangkal yang menunggu trekker yg sudah turun dan menuju ke Phokara, auranya makin semangat  ranselnya mulai Di gendong saking semangatnya 10kg kagak berasa wkwkwkwk.  target hari ini sampai Chomrong  ternyata lewat sampai Sinuwa.  Tangga-tangga yang mematikan itu terlewati sudah di temani hujan.
       Trekking berawal dari sini:       Motkiu - New Bridge - Jhinu - Chomrong - Sinuwa -------> Nginap
      17 Jun : Sinuwa – Bamboo - Dovan - Himalaya --------> Nginap
      Tiba di Himalaya di sambut hujan deras juga, pesan makan bersih2,   Naik ketempat tidur ritual pakai alat2 anti dingin dan minyak, conterpain Hari masih sore udah    sembunyi di bawah selimut. Makin malam mulai terasa keanehan, Kami tidak bisa memejamkan mata, adanya jadi stress sendiri, jadinya ngobrol dan Mencoba mengingat perjalanan satu hari ini ternyata kami waktu makan siang di Bambo. Minum black tea 1 pot bisa jadi mungkin karena itu atau gejala AMS yg hinggap.      
      18 Jun : Himalaya - Deurali - MBC -------> Nginap
      Untuk mengurangi beban barang2  yg tidak diperlukan ke atas kami titipkan di penginapan,  Deurali setengah perjalanan saya mulai mengalami mual, mencoba mengatur nafas dan  Mengalihkan rasa sakitnya dengan menghitung langkah 1, 2 , 3,…. Sampai akhirnya   Lihat tulisan MBC dan disini saya mengeluarkan air mata, bahagia liat plang tapi mualnya mulai nga karuan, mau mencapai plang itu liat ke atas masih banyak tangganya, teman jalan ku dah di atas sambil teriak nyemangati,  mulai menapaki tangganya tanpa liat kiri dan kanan akhirnya nyampe, sesat rasa sakit hilang karena rasa bahagia campur aduk hahaha, Sebenarnya masih cukup waktu untuk lanjut ke ABC tapi dengan pertimbangan rasa mual dan nafsu makan yg sudah mulai ngaco dan cuaca mulai mendung kami putuskan nginap di MBC. Sore hari pas jam makan pada teriak liat ada Sunset semua kabur ke luar pada cari kamera dari sini keliatan bias sinarnya hanya di ujung saja dan di rekam di otak. Yang stay di ABC pasti melihat dan menikmati keindahannya secara sempurna.
      19 Jun : MBC - ABC - MBC -  Deurali - Himalaya -----> Nginap
       Jam 3 pagi sudah bangun sarapan Sop Garlic dan Ginger tea untuk stamina Atas saran dari quide nya opung doli dan opung boru dari Korea, dan menolong kami penunjuk jalan awal di pagi subuh menuju ABC kurang lebih 2 jam an Pagi yang dingin  rasanya jari ku dah beku lupa bawa sarung tangan mmm rasakanlah jariku menderita. Akhirnya Liat Papan “Namaste Annapurna Base Camp 4130” –  teriak bahagia kegirangan dan berhasillllllll, Beberapa jam jalan keliling dan menikmati area Annapurna Base Camp baru turun lagi  ke MBC dengan  mual  nga hilang, akhirnya mabok…..Tiba di MBC rapi2 dan makan siang terus melanjutkan perjalanan  Rencana target sampai Dovan tapi akhirnya nginap Himalaya. Disini kami ramai karena bareng turun dengan teman teman  sebangsa dan setanah air  Indonesia yang ktemu di atas sambil ngobrol dengan cerita seru dan kocak kami semua  nginap di Himalaya
      20 Jun : Himalaya - Dovan - Bamboo - Chomrong ----------> nginap
      Setiap pagi selalu semangat energi masih penuh turunnya pengen lari-lari, Beban berkurang karena kita sewa porter 1 hari sampai Chomrong jadi jalannya lebih cepat          
      21 Jun : Chomrong - Jhinu - New Bridge - Motkiu - Phokara.
      Horeee jeepnya dah kliatan kita salaman semua dah sampai di Motkiu hahaha, makan siang lanjut naik jeep dan Lapor diri bahwa kita sudah keluar. Perjalanan trekking usai dengan bahagia dan selamat. Selama di perjalanan. Banyak ktemu orang dari berbagai  negara yg naik dan turun walaupun musim hujan, yg semuanya setiap berpapasan selalu saling sapa "Namaste" dan menyemangati.
      * Jadi berapa  lama kah waktu di butuhkan ke ABC ?
         Tergantung kecepatam jalan, stamina, cuaca,
      * kami 6 hari naik dan turun, sebelum sore dah berhenti karena takut kabut dan hujan
      Persiapannnya:
       -  Asuransi sangat penting buat jaga2 halhal yg tidak diinginkan.
          Kemarin disana ada dari Indonesia kena AMS tingkat serius dijemput Heli di Deurali untungnya pake asuransi klo nga? Sipastikan mihillll
       -  Obat-obatan, P3K minyak telon, kayu putih, conterpain, sun protection
       - Jacket anti dingin, anti hujan, anti badai sampai ber layer
       - Sepatu trekking, kaos kaki, sarung tangan, kupluk, buff, masker, Pole, Senter
       - Baju gunakan yg ringan gampang kering, kalau nga mau belang2  dan kulit gosong pakailah lengan panjang
      - HP, camera, klo nga nampang ntar dibilang hoax hehehe
      - makanan ringan mengganjal perut menambah energi, permen,
         Biayanya :
      - VOA usd 25 untuk 15 hari
      - TIMS 2000 / ACAP dah naik Jadi 2300
      - Bus Khatmandu - Phokara 700 / Phokara - Khatmandu 600
      - Jeep 2000 Return
      - Biaya makan dan penginapan  semakin naik semakin mahal , Lewat chomrong semua berbayar air panas buat mandi, wifi, air minum,  Yg berhubungan dengan charger an      Tidak menjual air mineral yg sdh dikemas, jadi bawa lah botol minum   di atas bisa diisi 1 ltr sekitar 100-110, airnya sejuk dan nikmat. Biaya makan dan nginap  selama 6         hari : 15,030 untuk 2 orang  Klo nginap di ABC akan lebih mahal lagi dan disana tidak  diperkenankan  untuk charger Hp, Camera, powerbank dll
      - Biaya porter kemarin dari Himalaya ke Chomrong Ransel 2000 / untuk 2 orang
      22 - 26  Juni kami keliling Phokara, Bhaktapur dan Khatmandu
       
       
       
       

       


       
                         
       
       
        
    • By Ahook_
      Tanggal 9 Juni 2018.
      Trip Canada dimulai dari penerbangan Jakarta - Singapore, kemudian lanjut ke Xiamen dan berakhir di Vancouver. Bisa baca juga, butuh visa transit Cina jika lewat Xiamen. Perjalanan yang melelahkan. Belum lagi, setelah landed di Vancouver, harus ngemper semalam dulu di bandara untuk melanjutkan penerbangan ke Calgary besok paginya. Karena tujuan utama dari awal perjalanan ini adalah Waterton, terus harus melakukan perjalanan darat sekitar 3 jam. Jika ditotal, 48 jam deh, aku baru benar- benar tiba di tujuan.
      Oh ya, jika mau tukar uang Canada Dollar, lebih baik tukar dari Indonesia. Atau bayar pakai kartu kredit saja. Jangan pernah tukar di airport, rate macam leher kerasa digorok.

       
      Sekitar 2 minggu pertama di Canada, kami sewa mobil untuk mengitari Alberta sampai British Columbia. Kami itu bertiga, salah satunya, skydworld, satunya lagi, Henny. Pakai jasa rental mobil Avis. Ada GPS dalam mobil, jadi gampang banget mau kemana- mana. Hasil dari GPS selama pemakaian, akurat kok.  Overall sih okey. Setir di Canada itu gampang- gamapang susah sih. Setirnya ada disebelah kiri, dan aku pertama kalinya setir mobil dengan posisi setir sebelah kiri. Awalnya sih gugup dan gagok. Lama - kelamaan juga jadi biasa. Pastikan saja, mobil selalu berada dijalur sebelah kanan. Total harga sewa mobil sekitar 8 juta, sudah termasuk GPS dan asuransi. Sedangkan sepanjang perjalanan, bensin habis sekitar 3 juta.

      Setelah proses administrasi beres dan mobil sudah ditangan, kami langsung berangkat ke Waterton. Sepanjang perjalanan, menurutku agak menoton. Lansung saja, aku bandingkan dengan New Zealand, rasanya jauh lebih indah dan bagus, terutama dibagian Selatan New Zealand. Baru kerasa alamnya ketika sekitar 1 jam sebelum sampai Waterton. 
      Waterton.
      Begitu checked in, hal pertama yang dilakukan adalah tidur dan tidur sepuasnya. Tidur sampai besok pagi. Belum lagi, harus adaptasi perbedaan waktu antara Canada dengan Indonesia. Lelah. Fisik sempat drop tidak karuan selama 3 hari. Kecapekan. 

      Waterton itu termasuk National Park. Jadi berbayar. Kemaren itu kami bayar 31,2 CND untuk 2 orang dan 2 hari. Ada baiknya beli annual pass, karena bisa dipakai di seluruh National Park yang ada di Canada. Informasi ini kami peroleh dari Chris, seorang teman yang baik nan cantik, tapi setelah berada di Calgary. Kan, ketemunya sama Chris baru di Calgary.

      Waterton Lake view.
      Selama di Waterton, ya aku main- main disekitaran saja. Menikmati sungai di belakang hotel, menikmati air terjun mini, paling jauh, ya ke perbatasan US. Dan yang paling okey adalah main ke Prince of Wales Hotel. Viewnya langsung ke Lake Waterton, view-nya dapat banget. Sayangnya, tidak berkesempatan bermalam disana. Mahal, sudah pasti. Hahahahaha... Yang jadi highlight di Waterton, anginnya kencang banget. Terutama saat di Prince Of Wales Hotel, berdiri saja, macam bisa diseret angin. Ini serius. Dan otomatis, dingin.

      Prince Of Wales Hotel.
      Kami menginap 2 malam di Bayshore Inn. Tidak ada sarapan gratis. Free wifi. Hotelnya cukup okey. Kamarnya lega dengan ranjang gede. Punya tv yang tidak pernah di-nyalain. Kamar mandi ada bathtub dan shower, pasti, ada air panas. Bersih. Pemandangan menyenangkan dari pintu belakang kamar, langsung sungai gitu. Arusnya deras banget, harusnya sih airnya dingin. Ada pemanas ruangan. Tidak menyediakan air minum botol, tidak seperti kebanyakan hotel di Asia. Jadi, semua hotel yang di Canada, harusnya seperti begini aturan mainnya.
      Sepanjang perjalanan di Canada, ( sepertinya ) aku tidak pernah beli air minum, kecuali juice dalam kemasan kotak. Minum, dari air kran loh. Yang buat aneh adalah housekeeping-nya, masak ya, bersihkan kamar setengah hati. Ranjang satunya diberesin, hasilnya 95 persen kelar. Satunya lagi, sama sekali tidak diberesin. Ada beberapa gelas plastik bekas pakai di atas meja juga tidak dibuang. Oneng juga si mbak- mbaknya. Asumsinya, mungkin tidak tempel beberapa Canada Dollar diatas tempat tidur kali ya. Parah! Hotel ini ada tempat parkir ya dan bebas parkir.

      Belakang kamar hotel.
      Kalau bingung mau main ke mana selama di Waterton, tinggal ke receptionist saja. Hahaha.. Aku pikir sih, 3 hari full adalah paling banyak. Tapi entahlah, kalau kamu suka, bisa saja stay lebih lama. Eittss, sebagai negara yang identik dengan beruang. Jadi saat berkeliaran di Waterton, harus waspada, bisa saja kamu ketemu beruang. Baca petunjuknya di penginapan kamu, trik menghadapi beruang itu gimana, ini serius.

      Sekitaran hotel.
      Kalau kamu suka camping, menurut Chris, jika tidak salah dengar, Waterton juga tempat orang- orang camping sih. Cuma, ada temannya, yang pegangin tendanya semalaman karena anginnya super kencang. Lah iya lah, wong aku tidur didalam kamar saja, suara gemuruh angin diluaran sana sudah macam lagi perang. 

      Air terjun.

      Border US- CANADA.
      Transit satu malam di Calgary. 
      Sebelum langsung ke Banff, kami menginap satu malam dulu di Calgary. Kami nginap di Nuvo Suites. Okey, penginapan ini termasuk salah satu yang terbaik sepanjang trip Canada. Terletak di tengah kota, sebenarnya, kalau tanpa mobil-pun mau kemana- mana juga bisa. Ada transportasi umum. 
      Soal Nuvo Suites, memang best. Lihat saja di foto. Bisa muat 4 orang. Ada dapur dalam kamar, jadinya kamu bisa masak- masak. Apalagi seberang, sudah ada grocery. Free wifi, free sarapan yang lumayan. Dapat slot parkir gratis, tapi di blok yang berbeda. Tidak terlalu jauh sih. Jalan kaki bisa sampai juga. Kamar mandi shower ada air panas. 

      Calgary view.
      Di Calgary, diajak Chris jalan- jalan. Main ke Factory outlet untuk menghabiskan isi dompet, terus makan eskrim di Village Ice Cream. Kata Chris, eskrim ini wajib loh, karena lokal banget. Dan benar saja, pas ke sana, ramai. Kemudian ke spot keren untuk lebih kota Calgary dari atas, aduh lupa namanya, cari di google lagi, kok gak muncul nama tempatnya. Tempatnya sih asik, pemandangan, tempat foto- foto-lah. Dan malam itu berakhir dengan makan bersama di salah satu restoran rekomendasi dari Chris juga. Intinya ya, si Chris, soal kuliner memang juara. 
      Memang, tidak banyak tempat yang didatangi selama di Calgary, sebagaimana sebuah kota. Keesokan harinya, setelah checked out, sudah bersiap menuju ke Banff. Nah tungguin postingan selanjutnya ya tentang Banff. 
      With Love,
      @ranselahok
      www.ranselahok.com
      ---Semoga semua mahluk hidup berbahagia---
    • By Cayadi Budidarma
      DAY 4 TOYAMA - KYOTO
      Hari ini bangun agak siang , karena habis cape hari sebelumnya pulang sampai hotel jam 11 malam .
      Begitu bangun , siap-siap semua barang , dan langsung check out dari hotel. Langsung menuju TOYAMA station yang letaknya tidak jauh dari hotel kami menginap.
      Tiket shinkansen sudah ditangan , karena sudah reservasi dari malam sebelumnya , dan lagi-lagi saya harus reservasi ulang karena kami tiba di station 1 jam lebih awal dari schedule tiket. Dan memang di perbolehkan , jadi tanpa banyak basa-basi atau omelan dari pihak penjaga tiket counter , langsung kami menuju peron shinkansen yang menuju ke KYOTO.
       
       
      Seperti biasa , sesampainya di Kyoto Station , langsung saya buka google maps untuk mencari hotel yang sudah kami booking sebelumnya di agoda. Yaitu Hotel DAIWA ROYNET HOTEL KYOTO HACHIJOGUCHI selama 3 malam . Letaknya tak jauh ( 8 menit an jalan kaki ) dari exit Hachijoguchi Kyoto Station yang sangat besar. Ada banyak exit di KYOTO station ini , jadi sebelum mencari hotel sebaiknya cari tahu dulu exit mana yang terdekat dari hotel kalian.
      Seperti biasa titip koper , dan kami dapat kabar baik bahwa kamar kami di upgrade ke yang lebih besar...horeeee...thanks Daiwa Roynet Hachijoguchi !
      Hari pertama di kyoto , saya langsung menuju Kiyomizudera dengan naik bus nomor 101 dari depan Kyoto Station ( central exit ) , dan turun di GOJOZAKA. Semua perjalanan bus saya memakai pasmo card. Masuk dari pintu tengah , ketika turun lalu tap pasmo dan keluar dari depan . Dari GOJOZAKA bus stop , kami berjalan kaki mendaki ke kuil Kiyomizudera. Kami ambil jalur kiri untuk mendaki .
      Kuil Kiyomizudera berada paling atas , dan kita harus bayar tiket masuk untuk masuk ke dalamnya. Sayang kuil ini sedang dalam restorasi , jadi tertutup oleh kain dari luar. Jadi tidak terlalu amazing bagi saya penampakan luar dari kuil Kiyomizudera ini .

      Beberapa saat dari sana , kami turun berjalan sambil menikmati toko-toko di sepanjang perjalanan dan mencoba street food yang banyak dijajakan .
      Setelah dari kuil Kiyomizudera , kami berjalan kaki menuju GION , dan sampai GION sekitar jam 1730 . Masih terang . Di Japan jam 19 pun masih terang loh .... mulai gelap sekitar 1930 . Dan saat mulai agak gelap baru tampak beberapa GEISHA / MAIKO keluar berjalan cepat masuk / keluar dari salah satu tempat makan di sekitar GION.

       
      Bagi saya GION tidak banyak hal menarik untuk dilihat , hanya saat-saat pada saat GEISHA / MAIKO saja menampakan diri , para touris terlihat heboh mengabadikan mereka, walau mereka tampaknya tidak perduli dan berjalan sangatcepat untuk menghindari para paparazi :) termasuk saya .
      Sepulangnya dari GION , kami berjalan kaki menuju GION Shirakawa untuk sekedar menghabiskan malam dan menikmati malam di KYOTO , dan kami cukup puas melihat aliran sungai yang indah dan bersih di daerah yang dipenuhi restoran-restoran ini. Dan setelahnya , kami berjalan kaki ke station subway terdekat dan kembali ke KYOTO station ( hotel )

       
       
      DAY 5  ARASHIYAMA ( KYOTO ) & PHILOSOPHER'S WALK
      Perjalanan hari ini ke Arashiyama . Naik kereta JR SAGANO , berhenti di SAGA ARASHIYAMA station. Exit station langsung belok kanan ke arah Togetsu bridge.
      Disebelah Saga Arashiyama ada Saga Torokko Station untuk naik SAGANO SCENIC RAILWAY. Saya memutuskan untuk langsung dulu ke Togetsu bridge. Berjalan melewati perumahan2 serta toko-toko , dan juga sempat melihat ada OWL cafe di lt2 salah satu gedung pertokoan .

       
      Tak lama sekitar 20 menitan kami sampai di togetsu bridge dan berfoto-foto dari pinggir sungai dan jembatan.Menurut saya Arashiyama ini sangat indah di sekitar togetsu bridge ini, sehingga saya dan keluarga agak lama menghabiskan waktu untuk sekedar duduk-duduk sambil menikmati cemilan2 dan udara sejuk di sana.

      Setelah puas nongkrong dan berfoto , kami lanjutkan menyeberangi jembatan togetsu dan langsung ke kanan untuk mendaki Iwatayama Monkey Forest dengan membeli tiket naik.
      Hiking sampai dengan tempat monyet tidak begitu susah, sekitar 20 menit jalan santai kita bisa sampai ke puncaknya . Disana kita bisa menikmati pemandangan Kyoto dari atas serta memberi makan monyet-monyet dari dalam rumah yang sudah disediakan dengan membeli pakan monyet di sana.

       
      Puas bermain di monkey forest sekitar 1 jam lebih kami kembali turun , dan sesampainya di bawah , pinggir sungai dekat togetsu bridge saya melihat ada yang menawarkan Hozugawa river cruise . Lalu saya putuskan untuk membeli tiket nya ...bagus menurut saya view nya jadi saya pikir ya sudah lah..sudah kepalang ke Arashiyama nikmati saja sebisa mungkin
      River cruise yang kami naik ini hanya sekitar 30 menit sd 1 jam , dan hanya menyusuri sungai yang tenang arusnya  dan berputar kembali ke tempat semula kita naik. Beda dengan River cruise yang jika kita naik dari Kameoka loh ya...Kalau dari Kameoka saya lihat lebih ekstrem dan menyusuri arus yang lumayan deras ( mirip-mirip arung jeram ) dan perjalanan sekitar 2 jam .
      Ini lebih seru keliataannya untuk teman-teman yang berjiwa adventure sebenarnya , namun karena saya beserta anak-anak kecil saya putuskan untuk naik yang arus nya tenang saja.
      Untuk harga tiketnya tentunya juga berbeda jauh antara keduanya.
      Di tengah perjalanan juga ada sebuah perahu yang menawarkan cemilan untuk kita yang sedang di dalam perahu..cukup unik.
      Pemandangan sekitar sungai juga cukup indah.
       
       

      Nah, sesudah kami turun perahu , kami lanjut ke arah hutan bambu yang sering kita lihat di FR di sini . Banyak turis di hutan bambu ini dibandingkan dengan spot lainnya . Menurut saya sih hutan bambu ini ya biasa saja ..namun karena begitu ngetop nya maka kami singgah juga hehehe.

       
      Jauh lebih bagus pemandangan sungai sekitar togetsu bridge dan river cruise.
       
      Lalu sekedar lewat sambil berjalan balik ke arah Saga Arashiyama station , kami pun akhirnya masuk ke Saga Torokko station, dan mencoba pula naik Sagano Scenic Railway.
      Menurut saya juga loh ya....view dari sagano train ini juga kalah dibandingkan sekitar sungai togetsu bridge, karena kereta begitu cepat berjalan dan keluar masuk terowongan . Jadi feel untuk menikmati nya belum sampai ON sudah masuk terowongan lagi. Itu aja kami dapat tempat di gerbong yang terbuka . FYI tempat duduk di gerbong terbuka ini terbatas ( hanya 1 gerbong ). Jika kita berada di gerbong tertutup akan lebih tidak enak lagi untuk menikmati pemandangan di luar .
      Mungkin jika kita pergi saat autumn atau sakura , sagano scenic railway ini akan terasa beda ( lebih bagus ) , namun jika saat summer seperti saya , harga tiket tidak sebanding dengan kepuasannya . Mending nongkrong di pinggir sungai togetsu bridge !
      Setelah sekitar 20 menit sampai di Kameoka Torokko Station.

       
      Keluar Kameoka Torokko station kita harus berjalan kaki menuju Umahori Station sekitar 15 menit. Ikuti saja penunjuk arah yang diberikan.
      Nah di sini pemandangan agak lumayan, dan berjalan kaki dari Kameoka ke Umahori JR station juga merupakan kenikmatan tersendiri ...

       
      Dari Umahori station ini kami langsung menuju Philosopher's walk. Start awal dari Nanenji Temple menyusuri full Philisopher path ke arah Ginkakuji temple agak jauh ternyata . Sekitar 1 jam rasanya jalan santai . Jalanan ini tidak begitu besar , menyusuri kali kecil ,dan di sekitarnya kiri kanan adalah komplek perumahan mewah orang Kyoto. Rumah nya besar-besar dengan taman bernuansa jepang dan beberapa mobil mewah seperti jaguar terparkir .
      Kami start sekitar jam 17 lewat dan sampai di ujung jalan ( GINKAKUJI sudah tutup saat itu ) sekitar jam 1830. Puas berjalan , kami mencari JR station terdekat dan ternyata sangat jauh
      Kami sudah mencoba ingin naik bus untuk kembali ke Kyoto station namun jadwal bus tercantum terakhir sekitar jam 1830 kalau tidak salah ..jadi sambil jalan santai dan menikmati pemandangan , kami berjalan melewati Kyoto University dan akhir nya menemukan JR station untuk kembali ke Kyoto station.


       

       
    • By Ahook_
      Tanggal 28 Oktober 2016
       
      Akhirnya, sampai juga di Brunei Darussalam. Iya Brunei, tidak salah.. Memang, ada beberapa teman yang sempat bingung, ketika tahu aku mau ke Brunei. Ngapain? Hehh… ngapain ya? Aku sendiri tidak paham. Hahaha… Ya datang sajalah, aku yakin pasti ada yang dilihat, apapun itu. Sudah aku bilang, traveling itu bukanlah tentang tujuannya, tetapi lebih ke prosesnya. 
       
      Tapi, hanya 1 sih, penasaran. Serius, karena penasaran. Brunei, negara kecil nan kaya raya itu, bagaimana sih isi dalamnya? Apakah sampai jalan raya juga terbuat dari emas? #inilebaybanget. Begitulah adanya, selain ingin memperjuangkan mimpi keliling ASEAN. Terwujud sudah… 

      Jalan utama di Bandar Seri Begawan.
      Okey, trip Brunei termasuk trip yang minim persiapan. Baru mulai mencari informasi 2 hari sebelum berangkat dari Jakarta. Parahnya, tidak terlalu ada review yang mengulas Brunei dan isinya. Adapun, lebih banyak mengulas tempat yang wajib dikunjungi.
       
      Tentang transportasi umum, ya memang, seperti yang aku baca dari travelblogger yang sudah menapakkan jejak kakinya ke sini dulu. Hampir semua memaparkan, transportasi Brunei masih kurang. Lebih baik datang ber-group sehingga bisa sharing cost untuk urusan tranportasi buat sewa mobil biar lebih mudah mau kemana- mana. 
       
      Transportasi umum di Brunei cuma ada bus, taxi sapu dan taxi. Selama trip di Brunei, aku mengandalkan bus. Sekali naik bayar 1 dollar, terserah, mau bayar pakai Dollar Brunei atau Dollar Singapore. ( Tidak tahu kenapa, mereka menerima Dollar Singapore, katanya sih, rate-nya sama). 
       
      Kuantitas bus di Brunei, jumlahnya sedikit, mungkin disesuaikan dengan jumlah penduduk yang ada. Untuk mendapatkan bus, kamu butuh energi besar dan kesabaran penuh dalam menunggu bus lewat. Kalau dari review-an, mereka sih, bilang, bisa menunggu 1 jam –an, tuh bus baru nongol. Karena murah, ya mau tidak mau, harus menunggu. Tidak ada pilihan. Kecuali kamu punya kerabat, atau naik taxi yang harganya selangit. 
       
      Dan aku, termasuk yang cukup beruntung. Tidak perlu mengunggu terlalu untuk sebuah bus. Dari airport, aku menghabiskan waktu 10 menit saja. Okey, kamu keluar dari pintu utama, kemudian jalan terus sampai diperbatasan trotoar, lalu belok kiri. Jalan sampai ke ujung, nah disana ada plang bertuliskan tempat tunggu bus. 
       
      Bayar 1 Dollar, kamu akan diantarkan ke Bandar Seri Begawan, pusat kotanya. Lama perjalanan sekitar 30 menit-an. Entah karena jumlah penduduk yang sedikit atau apa, sepanjang perjalanan, sepi banget. Mobil yang lalu lalang juga tidak banyak. Motor, malah tidak kelihatan sama sekali. Bus berhenti di setiap halte. Hampir setiap halte, tidak ada penumpang. 
       

      Bus 1 Dollar...
      Model bus-nya tidak mencerminkan kekayaan yang dimiliki Brunei. Hahaha… Parah sih tidak, ya cuma standart saja. Tempat duduknya yang alakadar. Informasi yang aku himpun, #jiaahhh… yang memakai bus di Brunei adalah pendatang, mereka yang datang merantau meninggalkan keluarga dikampung. Sedangkan, orang lokal Brunei, kesehariannya ya pakai mobil pribadi. Tidak heran. Bahkan setiap anggota keluarga, masing- masing punya mobilnya tersendiri. Begitupun, tidak macet. 
       
      Selama di Brunei, aku naik bus kemana- mana. Sekali lagi, tidak seperti yang dialami traveler lainnya, aku tidak perlu menunggu bus sampai berjam. Paling lama ya itu, 10 menitan. Pokoknya setiap kali naik, bayar 1 Dollar, kecuali aku ke Hotel Empire, bayar 2 Dollar. 

      Dalam bus...
      Setiap bus itu punya jalurnya. Tidak perlu khawatir, kalau lupa bus nomor berapa ke tujuan kamu, tinggal tanya saja sama petugas yang ada diterminal. Atau, biasanya, kan dari tempat penginapan ada informasinya juga. 
       
      Dari sekian kali aku naik bus, hanya sekali saja, supir dan kondekturnya pendatang dari Malaysia. Sisanya, orang Indonesia. Jadi, pendatang jumlahnya lumayan. Dan kebanyakan kerjanya ya sebagai supir dan kondektur bus, kerja di restoran ataupun tempat jualan lainnya. 

      Terminal Bus Bandar..
      Aku tidak punya pengalaman naik taxi sapu. Tapi jangan sesekali naik taxi deh. Mahal banget. Dan itu terjadi sama aku. Nyesek banget. Ternyata ada Car Free Day di Brunei. Di kasih tahu, kalau Sulthan hari ini dijadwalkan ikut CFD disekitaran Bandar. Alhasil, semua jalan di blok. Aku tidak bisa ke airport pagi- pagi. Tidak ada bus yang operasional. Mati gak loe? Tidak ada pilihan lain, terpaksa pakai banget naik taxi. Ada argo sih, tapi supir taxinya menawarkan 20 Dollars untuk sekali jalan. Buset gak tu. Pakai bus hanya 1 Dollar loh. Tawarlah, kemudian sepakat 15  Dollars. Sakit banget ketika mau bayar. Ya ampun, itu sudah biaya makan dan naik bus kemana – mana buat seharian, dan itupun sudah bisa makan enak loh. Parah..  

      Bus stop di Gadong..
      Oh ya, semua terminal bus ada di Bandar, sebutan untuk Bandar Seri Begawan. Semua bus akan bermuara ke situ, kalau kamu pergi dari objek wisata ke objek lainnya, ada kemungkinan, kamu harus kembali ke terminal Bandar kemudian pindah bus lainnya. 
       
      Tungguin postingan tentang Brunei-nya ya....!!!
       
      With Love,
       
      @ranselahok
      www.ranselahok.com
      ---semoga semua mahluk hidup berbahagia---
    • By Tarmizi Arl
      Hi...
      Buat kamu yang mau nyari alternatif wisata di Kuala Lumpur, kamu bisa pilih wisata ke Colmar Tropicale yang ada di kawasan Berjaya Hill.
      Colmar Tropicale ini adalah hotel/resort di Berjaya Hill, tapi buat kamu yang tidak menginap juga bisa berwisata sehari disana.
      Konsep Colmar Tropicale ini ialah miniatur dari pedesaan Colmar yang ada di Perancis, jadi kamu bisa merasakan sensasi berfoto ala-ala di  Perancis.
      .
      Nah untuk ke sana, kamu harus membeli tiket di Berjaya Times Square Mall, KL tepatnya di Lantai 8. Lokasinya berada di tempat spa, jadi kamu harus teliti mencari. Tapi didepannya ada kok tulisan Colmar Tropcale.

      Lokasi Membeli Tiket di Lantai 8 Berjaya Times Square Mall

      Jadwal buka
       
      Tarif tiketnya sebesar 60 RM untuk dewasa dan 55 RM untuk anak-anak. Tiket ini ialah untuk shuttle Bus PP dan tiket masuk di sana. Jadwal keberangkatannya dari Berjaya Times Square Mall ialahjam 9:30, 12:00, 18:00, dan 20:30. Sedangkan jadwal pulang dari Colmar ialah jam 08:00,10:45, 16:00, dan 19:30. Tapi perlu diingat karena memakai bus kecil yang berkapasitas hanya 10 orang, jadi lebih baik membeli tiket minimal 1 hari sebelumnya. Apalagi jika hari libur, tiket bahkan bisa habis 2 hari sebelum. Selain itu perhatikan juga jam buka lokasi yang menjual tiketnya ya seperti di foto.

      Tiket
      Lokasi keberangkatan Bus ialah di dekat lobby Berjaya Hotel

      Lokasi Shuttle Bus di Berjaya Times Square Hotel
       

      Shuttle Bus
       
      Perjalanan ke Colmar Tropicale hanya sekitar 1 jam. Perjalanan akan menempuh jalanan berkelok-kelok dan menanjak, jadi lebih baik makan dahulu agar tidak pusing.
      .
      Dan inilah dia suasana di Colmar Tropicale...

      .



      View dari atas menara

       
      Kalau lapar, bisa makan di resto2 yang ada disana, tarifnya masih oke sekitar 20-50 RM untuk makan berat.

      .
      Beli oleh-oleh juga bisa karena ada souvenir shop

       
      Selain itu, tiket tadi juga sudah termasuk untuk ke Taman Jepang. Lokasinya cukup jauh, jadi harus naik mobil wisata ini yang berangkat di jam-jam tertentu.


       
       

    • By Kaywina Suraja
      Hi.
      Salam kenal untuk teman-teman di Jalan2.com. Ini post pertama saya di Jalan2.com dan mohon feedbacknya terkait dengan post-an agar saya dapat menceritakan pengalaman traveling saya kepada teman-teman semua dengan lebih baik. Boleh dilihat juga blog saya meskipun baru 1 post di http://vakaytion-essential.blogspot.com/.
      ---------------------------------------------------------------------------------------------------
      Belitung?? Yes. 
      Bulan Mei 2017, saya pergi ke Pulau Belitung for weekend getaway. Meskipun saya pergi ke Belitung sudah cukup lama di tahun 2017, saya akan tetap share tentang keindahan pulau ini. 
      Saya sudah cukup lama (dari tahun 2013) ingin pergi ke Belitung, tetapi baru tahun 2017 saya berkesempatan untuk pergi dan explore Belitung.
      So, I checked one of my travel bucket lists.
      Mengapa Belitung menjadi salah satu my travel bucket list? Banyak orang yang mengatakan bahwa di Belitung hanya berisi pantai dan tidak ada mall seperti di Jakarta. Yes! Itu benar sekali di Belitung hanya ada pantai saja dan let me tell you that having a vacation in Belitung is totally worth it! Apalagi kita sebagai orang yang tinggal di ibukota Indonesia, Jakarta dan kota - kota besar lainnya di Indonesia.
      First time landing in Belitung Island, pemandangannya sangat berbeda dengan Bandara Soekarno-Hatta. Hamparan gunung dan pohon - pohon menyambut saya pertama kali saat landing di Bandara H.A.S Hannadjoeddin. Udaranya pun masih sejuk, tidak ada polusi, dan langitnya juga masih berwarna biru cerah serta dikelilingi oleh awan putih. Bener - bener scenery yang tidak akan didapatkan di Jakarta. 
      Sebagai orang yang baru pertama kali ke Pulau Belitung, Belitung Island is so beautiful.
      Selama 3 hari di Belitung, saya stunned dengan keindahan alamnya. 
      Pantai - pantai di Belitung yang masih bersih dengan pemandangan laut yang biru dan dihiasi dengan langit biru dan awan putih. Keindahan bawah laut di sekitar Pulau Lengkuas masih benar-benar terjaga dan sangat indah untuk dilihat. This makes Belitung Island become one of top diving spots in Indonesia. Batu - batu tinggi dan besar yang berada di Pantai Laskar Pelangi membuat pantai tersebut menjadi sangat indah. Dan hal yang paling berkesan adalah ketika menikmati sunset di pantai ini dengan pemandangan laut lepas dan berada di atas batu yang besar. You will never get this moment in Jakarta. 
      How do I get there?
      Berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta menuju Bandara H.A.S Hannadjoeddin, Tanjung Pandan. Perjalanan dari Jakarta ke Tanjung Pandan memakan waktu sekitar 45 menit. Setiap hari ada penerbangan yang menuju ke Tanjung Pandan dari pagi hari sampai sore hari dengan maskapai dosmetik. Sebaiknya mengambil penerbangan pagi hari untuk ke Belitung dan sore hari untuk balik ke tempat asal. 
      Selama di Belitung, lebih baik menyewa mobil atau mengambil local tour di sana karena sedikitnya transportasi umum. Tempat wisata di Belitung juga berjauhan sehingga membutuhkan mobil untuk pergi ke sana.
      Where do I stay?
      Selama 2 malam di Belitung, saya menginap di 2 hotel yang berbeda. Hari pertama, saya keliling daerah Belitung Timur dan menginap di Guest Hotel Belitung Timur. Hari kedua, saya pindah ke daerah Belitung Barat. Di Belitung Barat, saya menginap di Puncak Hotel.
      Dari sisi harga, hotel yang sangat inapkan di Belitung murah dan affordable. Dari sisi kenyamanan dan kebersihan, hotel ini OK untuk diinapi. 
      How much does it cost?
      Berlibur di Belitung menghabiskan uang sekitar Rp 2.500.000,- dan sudah termasuk tiket pesawat, hotel, dan makan (sarapan, lunch, dan dinner), tetapi tergantung dengan tanggal keberangkatan.
      I suggest you to take the local tour if you want to go there.
       
      Additional
      3 hari adalah waktu yang cukup untuk berlibur dan menghabiskan waktu di Belitung. Kalian sudah banyak mengunjungi tempat wisata dan tempat - tempat yang bagus di Belitung.
      Berikut adalah itinerary selama di Belitung 3 hari 2 malam.
      Day 1 
      - Kota Gantung Belitung Timur 
      - Replika Sekolah Laskar Pelangi 
      - Museum Kata Andrea Hirata 
      - Kampoeng & Rumah Ahok 
      - Klenteng Dewi Kwan Im 
      - Pantai Burung Mandi
      Day 2 
      - Pantai Tanjung Kelayang 
      - Island hopping (Pulau Burung, Pulau Pasir, Pulau Lengkuas (snorkeling spot), Pulau Kepayang, Pulau Batu Berlayar (lihat bintang laut))
      - Pantai Laskar Pelangi/Tanjung Tinggi
      Day 3 
      - Bukit Berahu 
      - Danau Kaolin

      Replika Sekolah Laskar Pelangi
      Tempat yang pertama dikunjungi di Belitung adalah Replika Sekolah Laskar Pelangi. Lokasi replika sekolah ini berada di Belitung Timur yang berarti membutuhkan waktu sekitar 2 jam dari airport menuju tempat ini. Sekolah ini memang bukan tempat syuting dari film Laskar Pelangi, tapi bolehlah untuk dikunjungi apalagi sudah jauh-jauh pergi ke Belitung.

      Museum Kata Andrea Hirata
      Next, tempat yang tidak jauh dari Replika Sekolah Laskar Pelangi adalah Museum Kata Andrea Hirata. Dari Sekolah Replika Laskar Pelangi hanya berjarak beberapa kilometer saja. If you are a big fan of Laskar Pelangi & Andrea Hirata, you should go to this museum. Karena saya bukan penggemar dari film Laskar Pelangi dan Andrea Hirata, saya tidak masuk ke dalam so I can't give the review for this. Dilihat dari depannya saja, tempat ini OK untuk dikunjungi.

      Burung Mandi Beach
      Pantai Burung Mandi terletak di Belitung Timur dan suasana di pantai ini benar-benar sepi. Untuk menambah foto dan mempercantik feed instagram, kalian dapat sepuasnya berfoto-foto di tempat ini. Pantai ini juga cocok bagi kalian yang menyukai ketenangan karena pantai ini benar-benar sepi.

      Tanjung Kelayang Beach (heading to islands)
      Untuk hopping island, starting pointnya adalah Pantai Tanjung Kelayang. Dari pantai ini, saya memulai perjalanan untuk melihat keindahan pulau - pulau kecil di Belitung. For your information, perahu yang digunakan untuk hopping island adalah seperti yang ada pada foto di atas dan harga sewa perahu bervariatif. Pantai ini juga menyediakan jasa penyewaaan alat - alat snorkeling bagi kalian yang ingin snorkeling. Sebaiknya island hopping dilakukan dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore.

      *view from boat* Lengkuas Island
       
      Salah satu pulau yang terkenal di Belitung adalah Pulau Lengkuas yang identik dengan mercusuar. Saat pergi ke Pulau ini, mercusuarnya tidak dapat dikunjungi sehingga tidak bisa melihat pemandangan dari atas. Di pulau ini, kalian bisa foto - foto di depan mercusuar atau di batu - batu sebelum kalian bersnokeling di sekitar Pulau Lengkuas.

      *view from Lengkuas Island*

      Lengkuas Island

      Add caption

      Laskar Pelangi Beach / Tanjung Tinggi Beach
      Yups! Di sini tempatnya untuk kalian berfoto-foto di batu tinggi seperti di film Laskar Pelangi. Pasti banyak yang penasaran di mana dapat foto dengan batu tinggi di Belitung, jawabannya adalah di pantai Laskar Pelangi. Pantai ini adalah tempat syuting film Laskar Pelangi. Banyak hal yang bisa kalian lakukan di sini seperti menikmati sunset di atas batu tinggi, foto-foto di antara batu tinggi, bermain canoe, atau berenang di laut karena lautnya sangat tenang.
      Menikmati sunset di atas batu tinggi dengan laut yang tenang dan langit yang indah adalah momen yang unforgettable dan ga bisa didapatkan di Jakarta. You should go here and enjoy the sunset.

      *enjoying the scenery before sunset*

      *enjoying sunset at Laskar Pelangi Beach*

      Kaolin Lake
      Last but not least, destinasi terakhir yang gua kunjungi di Belitung adalah Danau Kaolin. Danau ini terbentuk akibat dari penambangan timah. Pemandangan ini dapat dilihat dari atas pesawat saat mau mendarat di Belitung.
      Kalau kalian ingin pergi liburan singkat dengan budget yang low, you can choose Belitung as your destination. It's totally worth it to get lost in Belitung Island. 
      Note: Photos were taken with Iphone 5s and edited with VSCO cam. 
      Please kindly subscribe my blog: http://vakaytion-essential.blogspot.com/ and follow my instagram: kaywinas for the updates.