Sign in to follow this  
vie asano

Liburan Keluarga 3 Hari 3 Malam Di Singapura

25 posts in this topic

Singapore atau Singapura mungkin punya luas wilayah yang imut-imut jika dibandingkan dengan luas mayoritas negara di Asia Tenggara. Tapi negara yang satu ini termasuk salah satu yang cukup seksi menggoda bagi wisatawan Indonesia untuk datang mengunjunginya. Nggak heran jika wisatawan Indonesia dikabarkan sebagai salah satu pasar terbesar bagi dunia pariwisata Singapura.

 

Saya dan hubby termasuk salah satu wisatawan yang mupeng untuk mengunjungi Singapura. Sebetulnya kami bukannya baru pertama kali pergi ke negeri Merlion ini karena saya pernah berkunjung ke Singapura tahun 1996 (busyet dah, itu berapa puluh tahun yang lalu yah?) dan hubby pada tahun 2013 kemarin. Namun karena satu dan lain hal rencana berkunjung ke Singapura selalu tertunda hingga kami berkesempatan memasukkan negara ini untuk menutup itinerary wisata liburan ke Jepang. Untuk menutup rangkaian field report yang telah saya tulis sebelumnya (baca disini: ), berikut ini review aktifitas yang kami lakukan selama liburan keluarga ke Singapura selama 3 hari 3 malam.

 

Note:

Pada ?p=192022 saya sudah menceritakan tentang perjalanan dari Kansai International Airport (KIX) menuju Kuala Lumpur pada tanggal 30 April 2015. Untuk mempersingkat tulisan, pengalaman sewaktu di Kuala Lumpur dan Changi International Airport (Singapore) akan saya lewati. Saya akan mulai cerita di Singapore dari hari kedua di Singapore, yaitu tanggal 1 Mei 2015.

 

Day 9

Bugis Street – Merlion Park – Bugis Junction

Jumat, 1 Mei 2015

 

Semalam kami tiba di Singapore kurang lebih pukul 11 malam waktu setempat, dan tiba di hotel kurang lebih pukul 23.30. Jadi nggak heran jika pagi ini kami semua terkapar berat. Kecapekan. Oya, di Singapore ini kami menginap di Fragrance Hotel di daerah Bugis. Insya Allah mudah-mudahan ada kesempatan untuk me-review hotel ini (dan hotel lain yang kami inapi selama trip ini).

 

Beruntung hotel kami berada tepat di sebelah convenience store 7 Eleven, jadi kami nggak harus jauh-jauh ngesot untuk cari sarapan (dan ujung-ujungnya malah bikin kami males gerak dari hotel). Alhasil kami baru ngesot keluar hotel selepas tengah hari. Itinerary hari ini pun sengaja disusun longgar supaya bebas ber-improvisasi.

 

Rute 1:

Bugis Street

Jarak tempuh dari hotel: 10-15 menit jalan kaki

 

Berkaca dari pengalaman gagal beli oleh-oleh yang dinginkan saat berwisata di Jepang, kali ini kami memprioritaskan untuk beli oleh-oleh dulu sebelum pergi jalan-jalan. Pilihan untuk belanja oleh-oleh jatuh pada Bugis Street yang lokasinya nggak begitu jauh dari hotel.

 

11401128_10207001950986856_6418373289153

Bugis Street, via dok.pribadi/2015.

 

11350614_10207001951066858_7822259820034

Bugis Street, via dok.pribadi/2015.

 

11377343_10207001947266763_9012666323557

Kalau nggak salah ini di persimpangan antara Bugis Street dan Albert Road, via dok.pribadi/2015. Mohon koreksi kalau saya salah.

 

Bugis Street ini merupakan sebuah shopping arcade yang terkenal sebagai salah satu tempat terbaik untuk belanja oleh-oleh murah di Singapore. Rumor tersebut ternyata nggak bohong karena tempat ini memang bertabur aneka gerai yang menawarkan aneka barang dengan harga kompetitif. Malah, sangat kompetitif. Saya ingin memberikan sedikit gambaran harga beberapa barang yang sempat saya survey untuk dijadikan oleh-oleh:

 

Sebuah dompet wanite dibandrol mulai harga SGD 10 untuk 3-4 buah. Namun saya juga sempat menemukan toko yang menjual SGD 10 untuk 5 buah dompet. Yaps, banyak barang di Bugis Street ini dijual dengan sistem paketan (tidak dijual satuan).

Tas wanita yang bisa dilipat dibandrol mulai harga SGD 10 untuk 3-4 buah. Tapi saya menemukan sebuah kios di dekat persimpangan Albert Street yang menjual tas sejenis dengan harga USD 10 untuk 5 buah. Tas yang sama dijual dengan harga yang jauh lebih mahal di Vivo City.

Minuman seperti jus dan air mineral harganya mulai dari USD 1.

Untuk coklat, harganya sangat bervariasi. Kami membeli coklat Merlion dengan harga USD 12 untuk 4 box untuk oleh-oleh, dan beberapa coklat lainnya yang dibandrol dengan harga USD 10 untuk 4-5 item.

Es krim potong ala Singapore harganya USD 1. Varian rasanya beragam. Yang saya coba di foto ini adalah rasa durian.

 

11406779_10207001948226787_3566295435630

Es potong Singapore, via dok.pribadi/2015.

 

[Tips: Saat kami berkunjung ke tempat ini cuaca sedang panas terik, dan suhu semakin panas di dalam Bugis Street karena banyaknya orang yang berada di area ini. Si sulung dan si kecil jadi rewel karena kegerahan dan merasa nggak nyaman berdesakan dengan orang banyak. Saran saya, traveller yang membawa bayi maupun anak-anak sebaiknya datang pada momen-momen dimana Bugis Street ini nggak terlalu ramai oleh pengunjung, misalnya saja pada pagi hari di hari kerja.]

 

Kami selesai keliling-keliling Bugis Street kurang lebih pukul 14.00. Karena sudah terlalu siang, kami makan siang di resto yang lokasinya dekat dengan pintu Bugis Street, yaitu Noodles Star.

 

Noodles Star

Lokasi: Victoria Street, tepatnya di dekat pintu masuk ke Bugis Street

Kisaran harga: mulai dari kisaran SGD 5-6 untuk menu utama

Total biaya makan (untuk 2 dewasa, 1 anak, 1 bayi): SGD 40

 

Resto ini kebetulan saja kami pilih karena kelihatan memiliki menu non-babi. Namun setelah masuk, kami baru ngeh kalau harga menu di resto ini sebetulnya diluar budget yang kami anggarkan. Semula kami menganggarkan USD 5-8 untuk sekali makan dan minum. Pada kenyataannya, total biaya makan dan minum kami untuk siang ini mencapai USD 40, which is mean lumayan menguras budget juga yah. Hiks..

 

Btw, seperti ini penampakan menu yang kami pesan. Nggak semua sempat di foto karena sebagian langsung diserbu begitu makanan datang. Maklum, sudah lapar berat sih, hehe..

 

11406999_10207001951906879_1377711915479

Fried Rice with Roasted Meat and Prawn Paste, via dok.pribadi/2015. Menurut saya harga nasi goreng-nya sih lumayan enak. Isiannya juga banyak. Porsinya juga cukup banyak (untuk ukuran saya).

 

11351153_10207001952066883_3647419797176

Steamed Rice with Sea Bream in Teriyaki Sauce, via dok.pribadi/2015.

 

[Tips: Bagi family traveller sekaligus budget traveller yang ingin mencoba menu di resto ini, saya sarankan untuk memesan menu yang bisa disantap beramai-ramai supaya lebih hemat. Tapi jika memang betul-betul sedang berhemat, sebaiknya cari resto lain yang harganya lebih miring.]

 

Rute 2:

Merlion Park

Akses: via Stasiun Raffles Place

 

Dari tempat makan, kami langsung menuju ke stasiun terdekat untuk naik MRT ke Merlion Park. Stasiun Bugis ini lokasinya dekat sekali dengan Bugis Street dan bersebelahan dengan shopping center Bugis Junction. Untuk dapat pergi ke Merlion Park, kami harus naik MRT East-West Line dari Stasiun Bugis dan turun di Stasiun Raffles Place.

 

Oya, bagi yang belum pernah naik MRT di Singapore, MRT (alias Mass Rapid Transit) disini konsepnya sama dengan kereta dan subway di Jepang, yaitu menggunakan warna untuk membedakan jalur (atau line) untuk masing-masing rute. Penumpang harus membeli tiket sebelum naik ke MRT, atau jika mau mudah, penumpang dapat membeli kartu EZ Link dan mengisinya sejumlah nominal tertentu (minimal SGD 10). Kartu tersebut prinsipnya sama seperti IC card di Jepang (contohnya Suica, Passmo, Icoca, Haruka, dsb), dimana kita harus men-tap 1x sebelum naik kereta dan men-tap 1x saat keluar dari stasiun. Ngomong-ngomong, kami nggak beli kartu EZ Link karena seorang teman berbaik hati meminjamkan kartu-kartunya dengan catatan kami harus mengisi sendiri saldo di kartu tersebut.

 

11403272_10207001946906754_5087744099716

Peta MRT Singapore, via dok.pribadi/2015.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Katanya, untuk mencapai Merlion Park, kami harus keluar dari Exit H di Stasiun Raffles Place. Namun setelah kami keluar di Exit H, kami nggak menemukan ada informasi menuju ke Merlion Park. Karena sebelumnya nggak riset lebih dulu tentang posisi dan lokasi dari Merlion Park (yaps, kami mengulang kembali kesalahan sewaktu gagal mencari Shinsaibashi Suji di Osaka), alhasil kami muter-muter dulu beberapa blok. Inilah beberapa foto yang sempat kami abadikan sewaktu nyasar.

 

11209581_10207002228793801_6111111743078

Informasi pintu keluar di Stasiun Raffles Place, via dok.pribadi/2015.

 

11253738_10207002318076033_2371657165066

Nyasar jalan-jalan menikmati suasana Singapore, via dok.pribadi/2015.

 

10384059_10207002319836077_4572131313791

Masih dalam rangka nyasar jalan-jalan, via dok.pribadi/2015.

 

Setelah kurang lebih 30-40 menit jalan kaki (yang berasa seperti 2x lipat karena dikombinasikan dengan rasa frustasi akibat harus jalan kaki dalam cuaca yang terik), kami mulai menemukan titk terang dimana posisi Merlion Park tersebut. Ternyata, kami salah ambil jalan karena kami malah menyusuri arah menjauhi Merlion Park (dan kami nggak bisa ngecek posisi via Google Maps karena nggak nyewa modem Wi-Fi). Namun segala kegaharan dan rasa frustasi akhirnya lenyap setelah kami melihat bangunan Marina Bay Sands dari kejauhan yang memang keren punya.

 

11406419_10207002329076308_3962388142105

Marina Bay Sands, via dok.pribadi/2015.

 

11390094_10207002329036307_5078598741605

Nggak tahan untuk nggak share street furniture unik yang bisa ditemukan di dekat Fullerton Plaza, via dok.pribadi/2015.

 

11391532_10207002330956355_7559057026638

Marina Bay Sands dilihat dari dekat Fullerton Pavillion, via dok.pribadi/2015.

 

Setelah puas jeprat-jepret Marina Bay Sands dari kejauhan, kami pun ngesot ke Merlion Park. Namun godaan untuk mampir ke kafe yang ada dibawah jembatan jauh lebih besar dibanding langsung mampir ke Merlion. Maklum, saat itu sudah pukul 16.00 dan perut sudah melilit minta diisi cemilan. Pilihan kami pun jatuh pada sebuah kafe bernama Toast Junction.

 

Toast Junction

Lokasi: tepat dibawah jembatan Fullerton Road

Kisaran harga: *lupa* (ada alasannya kenapa saya lupa)

 

Waktu melihat kafe ini, suasananya terlihat begitu menggoda. Kami pun langsung beranjak ke kasir untuk memesan makanan dan minuman. Namun sayangnya kasir (pria) yang melayani kami pada waktu itu nggak ramah kurang memberikan gestur positif. Dia kelihatan nggak sabar waktu menunggu kami membaca menu (maklum, ini pertama kalinya kami kesini) dan penjelasannya pun terkesan buru-buru. Berhubung saya juga sedang dalam mode capek, lapar, dan gahar; rasa bete makin berlipat. Saya pun memesan menu secara asal (pokoknya biar cepat beres), sampai-sampai nggak memperhatikan soal harga.  

 

Penampakan suasana kafe dan menu yang kami pesan seperti ini:

 

11407159_10207002342756650_4986549794214

Bagian bawah jembatan yang ramai oleh pengunjung, via dok.pribadi/2015.

 

11402670_10207002346436742_8494868632338

Toast Junction, via dok.pribadi/2015.

 

11406963_10207011243459162_4925936688136

Meja tempat kami makan, via dok.pribadi/2015. Sistem pemesanannya melalui kasir. Untuk minuman yang ready stock, bisa langsung ambil sendiri di kulkas. Sedangkan untuk makanan, kita akan mendapat pager yang akan berbunyi jika makanan kita telah selesai dibuat dan harus diambil sendiri di counter.

 

11406896_10207002346236737_4310251504136

(Kiri) kalau nggak salah namanya Mie Laksa, dan (kanan) French Toast with butter and kaya jam, via dok.pribadi/2015.

 

Gimana soal rasanya? Komentar saya cuma: “hmmmm…..â€. Masih masuk dalam kategori “bisa dimakan†sih, jadi saya pilih untuk no comment saja. Yang pasti sih mie-nya nggak habis. Kalau untuk minumannya, saya juga no comment. Habis pesan minumnya random sih (supaya cepat saja), jadi soal rasa dan harganya pun nggak ada yang nampol dalam ingatan. Apa saya akan balik lagi kesana jika ada kesempatan untuk ke Singapore lagi? Entahlah, hehe..

 

Beres makan, kami pun jalan-jalan ke Merlion Park, dan kemudian singgah sejenak di sebuah butik yang menjual aneka fashion dan souvenir ala Singapore (lokasinya masih di bawah jembatan).

 

10425361_10207002342716649_3237786647490

Merlion Park, via dok.pribadi/2015. Pengunjung hari itu padat sekali.

 

11401174_10207011246219231_8714005711515

Si sulung coba-coba meniru pose Merlion, via dok.pribadi/2015.

 

Dari Merlion Park, kami kembali ke Stasiun Raffles Place untuk naik MRT kembali ke Stasiun Bugis. Kali ini kami nggak pake acara nyasar-nyasar dulu, walau tetap saja perjalanan memakan waktu 15-20 menit karena kami banyak berhenti untuk foto-foto.

 

Rute 3:

Bugis Junction

Alamat: 200 Victoria Street Singapore 188021

Akses: via Stasiun Bugis atau 10-15 menit jalan kaki dari hotel kami di Bugis Street

 

Kami tiba di Stasiun Bugis kira-kira pukul 18.00. Setelah tiba disana, kami baru tahu jika stasiun tersebut ternyata terkoneksi dengan Bugis Junction. Berhubung kami harus belanja beberapa keperluan harian dan keperluan bayi, kami pun tanya-tanya pada petugas di Stasiun Bugis dimana bisa membeli keperluan bayi seperti popok sekali pakai. Petugas tersebut merekomendasikan sebuah pusat perbelanjaan yang jaraknya agak jauh. Karena sudah males untuk jalan-jalan lagi, kami nekat main saja ke Bugis Junction walau nggak yakin jika kami bisa menemukan supermarket yang menjual popok sekali pakai.

 

11350578_10207001952826902_5918860279885

Bugis Junction, via dok.pribadi/2015.

 

Nggak disangka, ternyata di Bugis Junction ada lho tempat seperti supermarket. Namanya memang mengesankan seperti nama toko buah (saya lupa nama persisnya, namun kalau nggak salah ada unsur “Fresh†di namanya). Ternyata supermarket tersebut nggak hanya menjual produk segar saja, karena disana juga ada banyak produk harian dan juga perlengkapan untuk bayi. Jadi, jika ada family traveller yang menginap di sekitar Bugis dan mencari supermarket yang menjual keperluan bayi, bisa main-main ke Bugis Junction.

 

Berhubung hari semakin malam, kami pun sekaligus mencari makan di Bugis Junction. Ternyata di Bugis Junction juga ada Yoshinoya. Kami pun iseng-iseng mampir kesana untuk membeli makan malam (take away). Ternyata walau sama-sama Yoshinoya, tetap saja ada ciri khas dari Yoshinoya di Singapore dengan Yoshinoya di Osaka dan Jakarta. Saat kami berkunjung ke tempat ini, Yoshinoya di Bugis Junction ini tengah mengadakan promo harga khusus untuk pelajar. Ada beberapa menu yang nggak pernah saya lihat sebelumnya di Yoshinoya Jakarta dan Osaka, walau menu klasik seperti Beef Bowl Original masih tetap tersedia. Oya, harga menu di Yoshinoya ini kalau nggak salah kira-kira mulai dari USD 5 untuk menu utama, yang berarti harganya cukup ramah untuk anggaran kami.

 

Dari Bugis Junction ini kami langsung kembali ke hotel untuk menyantap makan malam yang sudah kami beli dari Yoshinoya.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 10

Vivocity – Sentosa Island – Bugis Junction (lagi)

Sabtu, 2 Mei 2015

 

Bagi yang sudah pernah baca field report saya bagian pertama dan kedua, pasti sudah sering membaca jika kami nyaris selalu bangun kesiangan. Namun hari ini istimewa, karena kami ada janji dengan seorang teman di Vivocity. Jadi walau mood masih ingin leyeh-leyeh di atas kasur, khusus hari ini kami sengaja bangun lebih pagi supaya nggak terlambat pergi ke Vivocity.

 

Rute 1:

Vivocity

Alamat: 1 HarbourFront Walk, Singapore 098585

Akses: via Stasiun HarbourFront (NorthEast Line atau Circle Line)

Jam operasional: 10.00-22.00

 

Bisa dibilang saya buta banget soal Singapore. Pertama kali pergi ke negerinya Merlion ini pada tahun 1996, dan belum pernah menapakkan kaki lagi di Singapore sejak saat itu. Karenanya, waktu ada rencana ketemuan di Vivocity, saya sempat bertanya-tanya. Vivocity itu apaan sih? Nama sebuah kompleks perumahan, taman bermain, atau apa?

 

Setelah dijelaskan oleh hubby, saya baru ngeh jika Vivocity merupakan nama sebuah shopping center yang konon adalah yang terbesar di Singapore. Untuk mencapai shopping center ini, dari Stasiun Bugis kami harus naik Earth West Line dan turun di Stasiun Outram Park, dilanjutkan dengan naik North East Line hingga mentok di Stasiun Harbour Front yang terkoneksi dengan Vivocity. Berhubung saya nggak sempat foto-foto tampak bangunan dari luar, seperti inilah penampakan Vivocity (foto diambil dari wikimedia commons).

 

11391332_10207018105110699_5311522322889

Vivocity, via Terence Ong/wikimedia commons 

 

11401226_10207018105430707_6606013324139

Suasana di dalam Vivocity, via Terence Ong/wikimedia commons 

 

Toast Box

Lokasi: Vivocity lantai 3

Kisaran harga: mulai dari SGD 4 (untuk makanan) dan SGD 1.5 (untuk minuman)

 

Begitu tiba di Vivocity, kami langsung menuju ke tempat janjian, yaitu Toast Box. Toast Box di Vivocity ini ada di 2 lokasi, yaitu di lantai B2 dan di lantai 3. Toast Box yang kami kunjungi kali ini ada di lantai 3, dan lokasinya bersebelahan dengan taman outdoor. Kami sempat ngemil-ngemil sedikit di Toast Box ini. Suasana Toast Box kurang lebih seperti ini:

 

11402711_10207011467144754_6662420838879

Toast Box di Vivocity, via dok.pribadi/2015.

 

Toast Box ini memiliki spesialisasi aneka menu roti panggang. Ada roti panggang dengan selai coklat, kacang, dan lain-lain. Tapi ada juga menu non-roti, seperti mie. Sistem pemesanan di tempat ini adalah: pembeli langsung pesan dan bayar makanan di kasir. Kemudian pembeli akan mendapat alat seperti pager yang akan berbunyi jika menu yang dipesan sudah siap dan bisa di ambil di counter.

 

[Tips: Seperti yang sudah saya singgung di atas, lokasi Toast Box ini dekat dengan taman outdoor yang ada di lantai 3. Jika bawa anak-anak, taman ini asyik banget untuk dijelajahi bersama keluarga, khususnya anak-anak, karena di taman ini terdapat tempat untuk main air yang pastinya akan disukai oleh anak-anak. Sayangnya kemarin kami nggak sempat menjelajah area ini karena saat itu agak gerimis.  Oya, di Vivocity ini juga ada wahana permainan outdoor lho. Intinya, jika ada family traveller yang tengah mencari tempat untuk dikunjungi di Singapore bersama keluarga, kalian dapat mempertimbangkan untuk mampir ke Vivocity.]

 

11406719_10207020708095772_3541962430621

Rooftop garden di Vivocity, via sengkang/wikimedia common 

 

Rute 2:

Sentosa Island

 

Selesai dari Toast Box, kami melanjutkan rencana untuk mengunjungi Sentosa Island. Hubby ingin mengajak si sulung untuk main Skyline Luge Sentosa a.k.a Luge (nanti akan saya jelaskan dibawah), jadi kami pun mulai mengantri untuk naik monorail ke Sentosa Island. Monorail ini bisa di akses dari lantai 3 Vivocity, dan nggak begitu jauh dari Toast Box. Jadi kami pun langsung ikut antri untuk naik monorail (kami baru tahu jika monorail ini namanya Sentosa Express). Harga tiketnya SGD 4 untuk sekali naik, dan penumpang bebas untuk naik dan turun di stasiun manapun yang mereka inginkan tanpa harus bayar lagi, selama penumpang nggak kembali lagi ke Stasiun Sentosa di Vivocity. Secara keseluruhan, ada 4 stasiun yang dilalui oleh monorail ini: Stasiun Sentosa, Stasiun Waterfront, Stasiun Imbiah, dan Stasiun Beach.

 

Berhubung rencana utama kami adalah naik Luge, maka kami pun naik monorail dan turun di Stasiun Beach. Dari stasiun ini kami tinggal jalan sedikit untuk mencapai Luge. Oya, Luge ini merupakan sebuah wahana permainan yang bentuknya berupa track menuruni bukit. Pengunjung harus naik dulu ke atas bukit dengan menggunakan kereta gantung, dan kemudian menuruni bukit menggunakan alat seluncur dan memanfaatkan gravitasi melalui track yang berkelok-kelok. Penampakan Luge seperti ini:

 

11391445_10207011376902498_8589092969159

Jalan menuju Luge dari Stasiun Beach, via dok.pribadi/2015.

 

11406495_10207011481265107_4895742331220

Luge, via dok.pribadi/2015.

 

11401251_10207011482465137_2202250521160

Informasi umum tentang Luge, via dok.pribadi/2015.

 

11402940_10207011480865097_3598769558009

Kereta gantung yang akan membawa pengunjung ke bagian atas, via dok.pribadi/2015.

 

11629_10207011479665067_2918225472843772

Track Luge, via dok.pribadi/2015.

 

Sebelum bisa naik Luge, pengunjung harus membeli dulu tiket di counter tiket. Untuk dapat naik Luge, pengunjung harus berusia minimal 6 tahun dan memiliki tinggi minimum 110 cm. Karenanya hanya hubby dan si sulung saja yang mencoba wahana ini, sementara saya bertugas jaga si bungsu. Oya, harga tiket Luge ini adalah SGD 17/orang (untuk naik luge dan kereta gantung), dan harganya akan lebih murah jika membeli beberapa tiket sekaligus. Sedangkan jika ingin naik 1 luge berdua dengan anak-anak (tandem), pengunjung cukup menambah SGD 3 saja (jadi totalnya SGD 20 untuk sekali naik Luge dan kereta gantung).

 

11412375_10207011482705143_3742944607023

Tiket Luge dan kereta gantung, via dok.pribadi/2015. Tiket yang kami beli ini untuk naik 1 Luge bersama anak-anak.

 

[Tips: Skyride Luge Sentosa ini menjual tiket untuk individu (1 orang/Luge) dan tiket tandem (1 dewasa+1 anak/Luge). Jika kawan traveller ada yang membawa anak-anak namun ingin naik Luge sendiri-sendiri, jelaskan hal tersebut saat membeli tiket di counter tiket. Kemarin sebetulnya hubby dan si sulung ingin naik Luge sendiri-sendiri, namun ternyata pihak kasir salah mengerti maksud kami dan akhirnya malah memberikan tiket tandem yang akhirnya cukup membuat hubby dan si sulung manyun selama beberapa waktu.]

 

Sesampainya di atas, pengunjung akan mendapat tutorial cara mengendarai Luge dari petugas, termasuk cara mengendalikan Luge sekiranya ada masalah saat menuruni bukit. Pengunjung juga akan dilengkapi dengan helm untuk melindungi kepala. Saya rasa saya harus menunggu 30-45 menit (sepertinya lebih) sejak hubby dan si sulung naik kereta gantung sebelum bisa melihat mereka menuruni bukit menggunakan Luge. Dan berikut inilah penampakan saat naik Luge.

 

11351209_10207011377622516_3449114501715

Hubby dan si sulung lagi having fun, via dok.pribadi/2015.

 

11391401_10207011485465212_2693782209861

Suasana menjelang belokan terakhir, via dok.pribadi/2015.

 

[Tips: Jika ingin naik Luge, perhatikan baik-baik instruksi dan tutorial yang diberikan oleh petugas yah, khususnya jika membawa anak-anak. Selama saya menunggu hubby dan si sulung menuruni bukit, saya sempat melihat seorang anak kira-kira usia pelajar SD terlalu kencang saat menuruni bukit dan Luge-nya nyaris lompat keluar track ke arah rumput. Untungnya Luge-nya nggak sampai lompat sepenuhnya dan si anak bisa kembali lagi ke track-nya berkat instruksi dari ayahnya yang naik Luge dibelakangnya. Tambahan lainnya, di dekat counter tiket ada sebuah kedai yang menjual aneka minuman dan snack. Jika teman-teman nggak naik Luge dan mencari tempat untuk menunggu teman/anggota keluarga lainnya yang lagi naik Luge, kalian bisa membeli snack maupun minuman ringan untuk dinikmati di area makan outdoor yang letaknya berdekatan dengan track Luge. Foto-foto di atas saya ambil dari area makan tersebut.]

Share this post


Link to post
Share on other sites

Acara naik Luge selesai kira-kira pukul 12.30. Kami pun segera mencari tempat untuk makan siang. Setelah sempat hampir nyangkut di sebuah kafe, akhirnya kami memutuskan untuk mampir ke McDonald’s saja. Yah, sebetulnya saya punya prinsip untuk menghindari restoran fast food (khususnya yang gerainya sudah ada di Indonesia) saat berwisata ke luar negeri. Apa gunanya jauh-jauh ke luar negeri kalau ujung-ujungnya makan di tempat yang bisa ditemukan di Indonesia? Namun prinsip tersebut terpaksa dilanggar karena kami ‘terkagum-kagum’ melihat harga menu di kafe yang sebelumnya kami datangi. Apa boleh buat, demi menjaga anggaran wisata supaya tetap dalam budget (ciehh, apaan sih?),

 

Menurut saya, McDonald’s di Singapore ini nggak jauh beda dengan McDonald’s di Malaysia, namun beda dengan McDonald’s di Indonesia. Di McD ini kalian bisa melihat berbagai pilihan paket ayam goreng dan nugget, namun jangan harap akan menemukan nasi putih. Untuk pilihan menu minumannya sih standar, mulai dari minuman soda hingga air mineral. Seperti inilah penampakan menu yang kami pesan siang itu.

 

11401579_10207011484745194_1787217949975

Menu makan siang untuk ber-4, via dok.pribadi/2015.

 

11390204_10207011485705218_7712441841027

Detail bon pembayaran, via dok.pribadi/2015. Nggak sampai SGD 15 untuk makan siang ber-4. Hemat kan?

 

Rute 3:

Universal Studio Singapore

Akses: via Stasiun Waterfront (jika menggunakan monorail)

 

Selesai makan, kami kembali lagi ke stasiun monorail. Bukan untuk balik ke Vivocity, tapi untuk turun di Stasiun Waterfront. Tujuan kami adalah mengunjungi Universal Studio Singapore, yang memang bisa di akses melalui Stasiun Waterfront.

 

Sampai disini mungkin kedengarannya keren ya? Padahal tujuan utama kami ke Universal Studio ini bukan untuk menjajal masuk ke atraksi apapun, maupun untuk wisata kuliner. Tapiiiii… cuma untuk foto-foto doang, hahaha. Karenanya, begitu kami menjejakkan kaki di Stasiun Waterfront, yang pertama kami lakukan adalah mencari bola dunia yang menjadi logo Universal Studio. Dan seperti inilah penampakan lambang Universal Studio tersebut.

 

11392961_10207011375942474_1016669974057

Universal Studio Singapore, via dok.pribadi/2015. Waktu itu agak sulit untuk mendapat foto yang betul-betul bagus karena pengunjung di sekitar logo Universal ini lagi cukup banyak.

 

Sejak awal, tujuan kami pergi ke Universal Studio ini ya memang hanya untuk jalan-jalan dan cuci mata secara gratisan (pelit.com alias irit). Karenanya, hubby sempat men-survey beberapa aktifitas gratisan yang mungkin bisa dilakukan disana bersama si kecil. Hasilnya, kami menemukan jika di kawasan Universal Studio Singapore ada sebuah plaza air mancur kecil yang boleh dijadikan tempat main gratis bagi anak-anak (dan orang dewasa, kalau nggak malu ya.. hehe..). Itulah sebabnya saya sengaja berbekal baju ganti untuk si kecil yang pastinya akan senang kalau diajak berbasah ria. Dan untungnya, saat kami tiba di kawasan Universal Studio Singapore ini cuaca sedang puanas pol. Si sulung yang sudah mengeluh kegerahan pun mendadak bersemangat saat kami ijinkan untuk main air di plaza air mancur tersebut.

 

11391381_10207011486625241_4515762996721

Kolam air mancur di Universal Studio Singapore, via dok.pribadi/2015.

 

11227638_10207011488145279_8719706423845

Si sulung (baju hijau) lagi asyik main air bersama beberapa anak lain, via dok.pribadi/2015.

 

Sebetulnya plaza air mancur ini nggak seberapa besar. Tapi karena air mancurnya keluar berganti-ganti dari beberapa titik, kolam ini cukup membuat anak-anak kegirangan. Mereka berganti-ganti menebak tempat keluar air selanjutnya, dan ada juga beberapa anak yang sengaja menutup lubang air supaya air nggak menyembur keluar. Pokoknya, bagi yang ingin mencari hiburan gratis di area Universal Studio Singapore untuk anak-anak, ajak saja mereka main air di plaza ini.

 

[Tips: Berencana untuk main air? Jangan lupa siapkan baju ganti ya. Dan jangan lupa mengawasi anak-anak saat bermain di area ini. Plaza air mancur ini lumayan licin, dan saya sempat melihat sendiri ada beberapa anak yang jatuh terpeleset gara-gara terlalu heboh main di tempat ini. Sedangkan jika anak-anak sudah cukup besar untuk menjaga diri, orang tua bisa menunggu di taman yang lokasinya nggak jauh dari plaza air mancur sambil mengawasi dari jauh.]

 

Kami selesai main-main di kawasan Universal Studio ini kira-kira pukul 15.00. Setelah si sulung ganti baju dengan baju kering, kami pun segera kembali ke Stasiun Waterfront untuk naik monorail menuju ke Vivocity. Sesampainya di Vivocity, kami pun segera keliling-keliling untuk meneruskan agenda mencari oleh-oleh. Pilihan pun jatuh pada toko coklat (sayangnya saya lupa nama tokonya) yang kami temukan saat dalam perjalanan menuju ke Stasiun MRT HarbourFront yang terkoneksi dengan basement Vivocity. Toko coklat ini cukup besar dan punya banyak stok coklat dengan varian rasa yang unik-unik. Menariknya, saat itu banyak coklat dengan kemasan menarik yang diobral dengan harga lumayan miring. Kalau nggak salah total belanjaan kami di tempat ini nggak sampai SGD 30 untuk beberapa box coklat dengan kemasan yang menarik untuk dijadikan oleh-oleh.

 

Rute 4:

Bugis Junction - Hotel

 

Sepertinya Bugis Junction menjadi shopping center favorit kami selama di Singapore. Bukan karena tempat ini sedemikian unik dan ciamik sehingga bikin kami jatuh cinta, tapi karena Bugis Junction ini terkoneksi dengan Stasiun MRT Bugis yang merupakan stasiun terdekat dengan hotel kami. Jadi nggak heran jika setiap kali kami baru bepergian, kami selalu menyempatkan diri untuk jalan-jalan sejenak di Bugis Junction ini, khususnya jika menjelang waktu makan.

 

Begitu juga dengan hari ini. Sepulang dari Vivocity lagi-lagi kami mampir ke Bugis Junction. Bukan untuk nongkrong, tapi untuk nyari makan malam. Jika pada hari sebelumnya kami makan di Yoshinoya, maka kali ini kami memilih restoran yang punya citarasa lebih khas. Berhubung bon pembelian makan di Bugis Junction ini hilang karena terselip, nggak banyak yang bisa saya ceritakan. Yang pasti saya ingat kalau salah satu menu yang kami pesan adalah Mie Laksa (take away) dan kalau nggak salah harga per-porsinya antara SGD 5-7. Menurut saya rasa mie-nya sih lumayan, dan nggak mengembang walau dimakan di hotel (yang membutuhkan waktu kira-kira 10-15 menit jalan kaki dari Bugis Junction). Kalau ada yang pernah makan mie seperti ini di Bugis Junction, please tolong info nama resto-nya yah. Penampakan menu dan kemasan take away-nya sih seperti ini:

 

11351184_10207011488265282_6935042794578

Mie yang dibeli di Bugis Junction, via dok.pribadi/2015.

 

***

 

Day 11

Changi Airport (Singapore) – Bandara International Soekarno-Hatta (Jakarta/Indonesia)

Minggu, 3 Mei 2015

 

Hari ini kami check out pagi-pagi, kurang lebih pukul 06.30. Proses check out di hotel ini pun lumayan lancar dan cepat. Kami pun dibantu untuk memesan taksi menuju ke bandara, tentunya dengan tambahan biaya reservasi diluar ongkos taksi yang sebenarnya.

 

Kurang lebih kami tiba di Changi pukul 07.15 waktu setempat, dan itu berarti kami datang kepagian. Rencananya kami flight pukul 11.00, dan itu berarti kami baru bisa check-in kira-kira pukul 9 atau 10. Apa boleh buat, kami pun jalan-jalan dulu di Changi Airport.

 

Semula saya pikir kami hanya akan duduk manis mainan gadget sambil menunggu waktu check-in. Tapi ini Changi gitu loh. Bandara yang satu ini memang layak disebut sebagai bandara terbaik di dunia karena disini banyak terdapat fasilitas pendukung yang pastinya nggak akan bikin pengunjung mati gaya. Saya sudah cukup kaget saat melihat ada taman yang sangat asri di Terminal 2. Eh ternyata di dekat taman ini ada fasilitas menarik untuk anak-anak, yaitu Woodblock Rubbing Station. Di tempat ini anak-anak bisa mengambil kertas dan krayon/pensil warna yang digunakan untuk mencetak aneka gambar yang terdapat di berbagai papan kayu. Sayangnya file foto-foto selama di Changi ini entah ada di handphone mana, jadi maaf saya belum bisa share foto aktifitas disini. Padahal area taman dan sekitarnya ini lumayan seru lho. Si sulung dan si bungsu senang sekali menjelajah area taman dan kemudian ikut coret-coret di area Woodblock Rubbing Station.

 

Nggak banyak lagi yang kami lakukan di Changi selain sarapan di Coffee Bean sambil menunggu waktu check-in. Proses check-in dan imigrasi pun berjalan cukup lancar, kecuali pada saat ketika petugas meminta saya membuang sebotol vitamin (yang sebetulnya isinya nggak sampai 50 ml) atau meminumnya saat itu juga. Saya memilih opsi membuang botol tersebut, karena siapa sih yang mau menghabiskan vitamin segitu banyak dalam sekali tenggak? Masalah kedua muncul saat koper hubby ternyata nggak lolos bagasi kabin walau beratnya masih jauh dari batas maksimum (dan lolos bagasi kabin di KIX dan KLIA) sehingga koper mendadak harus ditempatkan di bagasi. Untungnya penempatan koper di bagasi tersebut free of charge, dan koper pun tiba dengan selamat di Jakarta. Perjalanan pulang menggunakan Tiger Airways pun tergolong lancar, kecuali pada momen-momen dimana turbulance terasa banget dan pada satu waktu sempat membuat pesawat terasa seperti dihempas (yang sukses membuat penumpang satu pesawat menjerit secara berjamaah).

 

Saya akan melanjutkan tentang resume itinerary dan juga kesan-kesan wisata di Jepang dan Singapore pada postingan selanjutnya yang insya Allah akan menutup rangkaian field report liburan kali ini. Ditunggu saja yah :) 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Resume liburan keluarga ke Kyoto, Nara, Osaka, dan Singapore tanggal 23 April – 3 Mei 2015. Untuk review lebih lengkap tentang trip-nya, silahkan baca disini:

 

>> isinya tentang tahap persiapan dan wisata di Kyoto.

>> isinya tentang wisata di Nara dan Osaka.

>> isinya tentang wisata di Singapore (penutup wisata ke Jepang)

 

Tahap persiapan:

- Biaya tiket pesawat: IDR 22,648,500 (untuk 2 dewasa, 1 anak, 1 bayi).

Rinciannya:

Jakarta – Kuala Lumpur (KUL), via Air Asia: IDR2,347,000 (untuk 2 dewasa, 1 anak, 1 bayi).

Kuala Lumpur – Osaka/Kansai International Airport (KIX), via Air Asia: (2 dewasa x 514 MYR) + (1 anak x 514 MYR) + (1 bayi x 125 MYR) + biaya lain-lain = 1,961.00 MYR (atau IDR 6,863,500 untuk kurs 1 MYR = IDR 3,500)

Osaka/Kansai International Airport (KIX) – Kuala Lumpur (KUL), via Air Asia: (2 dewasa x 744 MYR) + (1 anak x 744 MYR) + (1 bayi x 125 MYR) + biaya lain-lain = 2,996.00 MYR (belum termasuk biaya makan sebesar 62 MYR, sehingga totalnya jadi MYR 3,068), atau kurang lebih 10,738,000 untuk kurs 1 MYR = IDR 3,500.

Kuala Lumpur (KUL) – Changi, via Tiger Air: IDR 800,000

Changi – Jakarta (CKG), via Tiger Air: IDR 1,900,000

 

- Biaya hotel (rincian harga menyusul):

 

23 – 26 April (Kyoto) : Kyoto Dai-ni Tower Hotel

27 – 30 April (Osaka) : MyStays Otemae Hotel

30 April – 2 Mei (Singapore) : Fragrance Bugis Hotel

 

Rincian Itinerary:

Perlu diketahui jika biaya pengeluaran harian hanya estimasi saja. Pada kenyataannya, biaya yang dikeluarkan lebih besar karena ada beberapa pengeluaran yang tidak tercatat.

 

[KYOTO]

Day 1: Kamis, 23 April 2015

- Kansai International Airport (KIX)

- Stasiun Kyoto dan sekitarnya

Estimasi pengeluaran hari ini (diluar biaya ngemil):

[sewa modem] JPY 7,360 (untuk 9 hari)

[Transportasi KIX-Kyoto dan di sekitaran Kyoto] JPY 4,370

[Makan] JPY 1,560 + JPY 1,540

 

Day 2: Jumat, 24 April 2015

- Arashiyama Bamboo Forest

- Sagano Romantic Train

- Explore Umahori

- Kinkakuji Temple

Estimasi pengeluaran untuk hari ini:

[Transportasi] JPY 600 (kereta dari Stasiun Kyoto ke Stasiun Sagaarashiyama) + JPY 600 (kereta dari Stasiun Umahori ke Stasiun Emmachi) + JPY 580 (bus) + JPY 580 (bus)

[Makan] JPY 460 (jajan di Arashiyama) + JPY 1500 (jajan di Kinkakuji) + JPY 2430 (makan malam)

[biaya tiket masuk] JPY 800 (tiket Kinkakuji)

 

Day 3: Sabtu, 25 April 2015

- Fushimi Inari Taisha

- Kiyomizudera Temple

- Higashiyama Area

- Matsuyama Park

- Gion

Estimasi pengeluaran untuk hari ini:

[Transportasi] JPY 350 (kereta dari Stasiun Kyoto ke Stasiun Inari) + JPY 530 (kereta dari Stasiun Fushimi-inari ke Stasiun Kiyomizu-gojo) + JPY 1420 (taksi)

[Makan] JPY 1200 (jajan di Fushimi Inari) + JPY 380 + JPY 1200 (makan di Kiyomizudera) + JPY 620 + JPY 1500 (makan malam)

[biaya tiket] JPY 600 (tiket Kiyomizudera)

 

Day 4: Minggu, 26 April 2015

- Toei Eigamura

- Kyoto Station

- Kyoto Tower

Estimasi pengeluaran hari ini:

[Transportasi] JPY 500 (kereta dari Stasiun Kyoto ke Stasiun Uzumasa) + JPY 500 (kereta dari Stasiun Uzumasa ke Stasiun Kyoto)

[Makan] JPY 2300 (makan di Toei Eigamura) + JPY 1200 (makan siang)

[biaya tiket masuk] JPY 5500 (tiket ke Toei Eigamura) + JPY 600 (tiket diskon ke Kyoto Tower)

[Lain-lain] JPY 1100 (beli foto di Kyoto Tower) + JPY 2400 (beli souvenir)

 

[NARA]

Day 5: Senin, 27 April 2015

- Nara Parks

- Kofukuji Temple

- Osaka

Estimasi pengeluaran hari ini:

[Transportasi] JPY 2080 (kereta dari Kyoto ke Nara) + JPY 1330 (kereta dari Nara ke Osaka)

[Makan] JPY 440 (makan siang) + JPY 800 (afternoon tea) + JPY 1200 (makan malam)

[biaya tiket masuk] JPY 1300 (tiket ke Todaiji)

[Lain-lain] JPY 700 (sewa locker) + JPY 450 (senbei rusa) + JPY 1400 (souvenir)

 

[OSAKA]

Day 6: Selasa, 28 April 2015

- Osaka Aquarium Kaiyukan

- Tempozan Harbor Village

- Tempozan Giant Ferris Wheel

Estimasi pengeluaran hari ini:

[Transportasi] JPY 700 (tiket kereta dari Stasiun Tanimachi 4-chome ke Stasiun Osakako) +

[Makan] JPY 1540 (makan siang)

[biaya tiket masuk] JPY 5200 (tiket Kaiyukan) + JPY 2400 (tiket Tempozan Giant Ferris Wheel)

[Lain-lain] JPY 2600 (oleh-oleh)

 

Day 7: Rabu, 29 April 2015

- Shinsaibashi

- Amerikamura

- Dotonbori

- Namba Parks

Estimasi pengeluaran hari ini:

[Transportasi] JPY 450 (kereta dari Stasiun Tanimachi 4-chome ke Stasiun Shinsaibashi) + JPY 600 (kereta dari Stasiun Namba ke Stasiun Tanimachi 4-chome)

[Makan] JPY 700 (ngemil di Amerikamura) + JPY 808 + JPY 960 (makan siang)

 

[OSAKA-SINGAPORE]

Day 8: Kamis, 30 April 2015

- Kansai International Airport (KIX)

- Kuala Lumpur International Airport (KLIA) di Malaysia

- Changi International Airport di Singapore

Estimasi pengeluaran hari ini:

[Transportasi] JPY 3430 (kereta dari Stasiun Tanimachi 4-chome ke KIX) + SGD 16 (taksi dari Changi ke hotel)

 

[sINGAPORE]

Mulai dari sini saya nggak akan membahas mengenai estimasi pengeluaran karena catatan untuk Singapore ini masih tercecer.

 

Day 9: Jumat, 1 Mei 2015

- Bugis Street

- Merlion Park

- Bugis Junction

 

Day 10: Sabtu, 2 Mei 2015

- Vivocity

- Sentosa Island

- Universal Studio Singapore

- Bugis Junction

 

***

 

Penutup

Setelah mengunjungi Kyoto, Nara, Osaka, dan Singapore bersama anak-anak dan bayi, ada beberapa hal yang bisa saya simpulkan:

 

KYOTO. Kami sekeluarga suka banget dengan Kyoto. Disini jangan harap dapat menemukan bangunan pencakar langit dan kotanya juga nggak terlalu besar, namun justru suasana yang seperti itu yang malah bikin kangen. Dan kalian nggak akan kesulitan menemukan orang yang mau mencoba berbahasa Inggris sebagai bukti jika kota ini sangat welcome dengan turis asing.

OSAKA. Satu hal yang paling saya ingat dari Osaka adalah keramahan penduduknya. Mereka nggak segan-segan membantu orang yang kelihatan kesulitan. Contohnya, saat saya tengah kesulitan mengangkat koper menaiki tangga, ada saja yang menawarkan bantuan untuk mengangkat sampai ke atas. Sama seperti Kyoto, di Osaka ini juga banyak yang nggak alergi dengan bahasa Inggris. Cukup kontra dengan situasi yang pernah saya temui di Tokyo beberapa tahun silam.

NARA. Suasana di Nara ini mirip-mirip dengan Kyoto. Cukup bikin kangen dan penasaran karena kemarin hanya singgah sebentar saja di Nara. Mudah-mudahan ada kesempatan untuk mengunjungi Nara lagi di lain waktu.

SINGAPORE. Kesan pertama saya tentang Singapura adalah….. hawanya panas bangetttttt! Mungkin karena kami baru dari Jepang yang pada waktu itu suhunya sedang sejuk-dingin, jadinya suhu di Singapore ini terasa luar biasa panasnya. Itulah sebabnya pada waktu itu kami nggak terlalu meng-eksplor Singapore karena baru keluar sebentar saja kami sudah banjir keringat.

 

Sekian ulasan dan resume dari saya. Mohon maaf kalau kepanjangan, dan semoga bermanfaat ya!

Share this post


Link to post
Share on other sites

@vie asano

ok udah di bikin topic sendiri ya sep2

Memang itu agak membingungkan kadang untuk ke Merlion Park turunya di Raffles Place tapi jalan masih agak jauh mending ikutin google maps aja :D
btw ini berapa hari ya ?

Share this post


Link to post
Share on other sites

UPDATED

 

wah udah lama kgk makan es potong nih, btw unik tuh bangku yg di dekat Fullerton Plaza :D nice share :salut

 

Bangku yang ini lebih unik lagi mas, tapi kemarin lupa untuk di upload :P 

 

11425236_10207011233458912_4893244990982

 

@vie asano

ok udah di bikin topic sendiri ya sep2

Memang itu agak membingungkan kadang untuk ke Merlion Park turunya di Raffles Place tapi jalan masih agak jauh mending ikutin google maps aja :D
btw ini berapa hari ya ?

 

Masalahnya kemarin ga bisa akses internet, jadi lebih banyak mengandalkan feeling (yang ternyata salah banget, hahaha)

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By Daniel0705
      Day 1 ( xian-tianshui)
      Perjalan di mulai dari Fuzhou, ibu kota provinsi Fujian dengan menumpang pesawat xiamen air menuju ke kota Xi’an dengan waktu tempuh sekitar 2 jam 40 menit. Sekitar pukul 10.40 saya tiba di bandara Xianyang, Xi’an. Saya lalu bergegas ke bagian depan bandara untuk membeli tiket bus yang akan mengantar saya ke stasiun Xi’an karena hari ini juga saya harus meneruskan perjalanan saya ke kota Tianshui di provinsi Gansu.  Setelah membeli tiket bus, saya lalu antre untuk naik bus yang akan membawa saya ke stasiun xi'an. Perjalanan dari badara Xianyang ke stasiun Xi’an memakan waktu kurang lebih 1 jam perjalan dengan catatan tidak ada kemacetan. Pukul 12 saya sampai di stasiun Xi’an. Kereta yang akan memebawa saya ke Tianshui sendiri pukul 13.00.  Waktu tempuh Xi’an- Tianshui sendiri kurang lebih 4 jam dengan menggunakan kereta biasa. Pukul 17.00 saya sampai di stasiun Tianshui. Setelah itu saya langsung check in dan meninggalkan barang bawaan saya di penginapan. Kebetulan penginapan saya cukup dekat stasiun, berjalan kaki tidak sampai 5 menit. Awalnya saya berencana makan malam disekitar stasiun, tapi saya merasa sayang kalau sudah sampai ke Tianshui tapi tidak jalan-jalan menikmati suasana malam di Tianshui. Menumpang bus no 6 dari depan stasiun saya melanjutkan perjalan ke pusat kota Tianshui. Jarak pusat kota Tianshui dengan stasiun kurang lebih 1 jam perjalan. 
      Pusat kota Tianshui sendiri cukup ramai. Setelah makan malam, saya melanjutkan jalan2 tanpa arah. Di pinggir jalan saya melihat kerumunan orang yang sedang melihat pertunjukan wayang khas Tiongkok, dalam bahasa mandari disebut 影戏 yingxi. Lumayan dapat tontonan gratis. Dari situ saya baru menyadari kalau ternyata lusanya ada event besar di kota Tianshui, yaitu pemujaan kepada dewa Fuxi. Tidak hanya seluruh provinsi yang ada di Tiongkok mengirim wakilnya untuk datang ke Tianshui untuk mengikuti pemujaan kepada dewa Fuxi, bahkan ada perwakilan dari Hongkong, Makao dan Taiwan.
      Setelah menonton pertunjukan wayang, saya menuju ke kuil Fuxi, ternyata disana sedang di adakan latihan untuk event besar tersebut. Saya yang awalnya Cuma 2 hari 1 malam ditianshui, memutuskan untuk menambah waktu satu malam. Rencana awal di tianshui 2 hari satu malam, lalu di lanzhou juga 2 hari 1 malam. Akhirnya diputuskan di tianshui 3 hari 2 malam, dan di lanzhou hanya 5-6 jam.
       
       
       

      Tugu Kota Tianshui di depan stasiun

      pusat kota Tianshui

      kuil Fuxi
       

      Persiapan acara untuk penghormatan ke pada dewa Fuxi ( lapangan didepan kuil Fuxi)

      (影戏 yingxi: wayang Tiongkok)
       

      Day 2 Tianshui
       
      Pukul 7 saya memulai perjalan saya untuk mengunjungi 麦积山石窟 maijishan shiku (Mt Maiji Caves).Bus yang akan membawa saya ke maijishan shiku  berada di depan stasiun Tianshui. Jadi alasan utama saya untuk menginap di dekat stasiun adalah mempermudah perjalan ke maijishan shiku ini. Dengan jarak tempuh sekitar 1-1,5 jam akhirnya saya  tiba di maijishan shiku. Dari loket tiket sampai ke lokasi harus berjalan kaki kurang lebih 1-2km, namun jika enggan berjalan kaki bisa juga naik bus dengan membayar sekitar 15 rmb pp. Setelah kurang lebih 2 jam di maijishan shiku, saya melanjutkan perjalan ke 仙人崖xianrenya. Waktu tempuh dari maijishan shiku sampai  xianrenya kurang lebih 1 jam perjalan.  Setelah itu kembali ke kota tianshui.
       
      maijishan shiku
       

       



       
       
      xianrenya

       
       
       Day 3
      Saya hanya setengah hari di Tianshui, karena saya harus tiba di Lanzhou sebelum pukul 10 malam untuk melanjutkan perjalan ke kota Jiayuguan. kereta dari tianshui ke lanzhou berangkat pukul 13.07 dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Pagi- pagi sekali saya bergegas ke kota tianshui, perayaan penghormatan kepada dewa Fuxi sendiri di pusatkan di pelataran kuli Fuxi , namun, saya gak kecewa karena acaranya tertutup untuk umum, saya hanya bisa menyaksikannya lewat layar besar di jalanan. Jalanan utama menuju Kuil Fuxi di tutup sepanjang kurang lebih 1 km. Rasa kecewa saya sedikit terobati karena bisa menyaksikan panggung rakyat di sekitar kuil Fuxi. Setelah selesai melihat panggung rakyat, saya makan siang dan melanjutkan perjalanan ke stasiun tianshui untuk keberangkatan ke Lanzhou. Tiba di lanzhou sekitar 17,30. saya hanya punya waktu 3 jam di Lanzhou. setelah menitipkan barang bawaan di stasiun saya langsung menuju ke Patung Ibu dan anak yang menjadi icon kota Lanzhou dan berada di tepian sungai Kuning ( 黄河 ), lalu lanjut ke pusat jajanan di tengah kota. Setelah makan malam kembali ke stasiun Lanzhou untuk melanjutkan perjalanan ke ke kota Jiayuguan.

      Dewa Fuxi yang ada di Kuil Fuxi, Tianshui( sumber baidu)
      *saya tidak masuk ke dalam kuilnya
       
      Foto2 di Lanzhou





       
      Day 4 Lanzhou -  jia yu guan
      Dari lazhou saya menlanjutkan ke jia yu guan untuk melihat sisa peninggalan kota tua jia yu guan di sini .  KOta jiayuguan ini sepi sekali, bus kota juga cukup jarang ditemukan. Sebenarnya ada bebrapa destinasi wisata di sini, namun hanya  tembok cina jiayuguan yang bisa ditempuh dengan bus umum.Untuk ke sana bisa naik bus no 4 atau 6, dan destinasi ini ada di paling ujung.  harga tiket masuknya sekitar 120 RMB. karena areanya luas kita bisa sewa sepeda untuk keliling2 disana, bisa juga naik unta.
       
       





       
      Day 5 zhangye 
       Gunung pelangi....






       
      Day 6 - 7 Dunhuang
      Mogao Caves


       
       
      Crescent Lake




    • By itsmeu
      Haloooooo~
      Long time no see banget ga aktif di grup ini karena di tahun 2017 aku vakum backpackeran dan jalan-jalan krn satu dan lain hal,pokoknya real life di 2017 bener2 ga memungkinkan keadaanya hiks. Sampai di toel-toel kakak @deffadi thread ditanya kabarnya... btw aku baik kakk :))
      mau liat forum jalan2 takut sedih dan ngiler liat field report temen-temen semua
      Tapi tapi tapiii 2018 ini aku akan berpetualang lagiii dan baru sempet mau share field report aku.
      Jadi di awal tahun aku berencana buat refresh dr tahun kemarin, kemana aja deh yang deket yang terjangkau juga biayanya akhirnya aku dan teman-teman memutuskan untuk ke Malaka, salah 1 kota yang dilindungi oleh UNESCO dan tentunya ke Kuala Lumpur juga.
      Ok start.
      Tanggal perjalanan: 19 – 21 Januari 2018. Jumlah orang: 4 orang
      Tiket pesawat: AA PP Rp. 669300
      Stay di: Condo Merci Summer Suites Studio. 1 malam : RM 143.1 ~ Rp 481.000 / 4 (org) = Rp 120250/orang
       
      19/01 Kita sampe di KLIA2 itu jam 14.15, begitu sampe kita langsung beli simcard HOTLINK. Note: Aku sampe cuman berdua, 2 temenku lagi nyusul sorenya dan bakal ketemuan di hotel aja
      Simcard hotlink: RM 30. Dapet pulsa RM 13 dan kuota 3 gb, nahh tipsnya kita harus donlot aplikasi Hotlink RED di playstore. Nah di bagian internetnya, jangan lupa klik CLAIM. Disana kita bisa claim paket social dan chat (kalau ga salah inget). Nah sebagai anak yg suka instastoryan dan tau kuota IG itu gede maka pilihan jatuh di paket social. Wa sama line mah ga gitu makan kuota dan udah punya kuota 3Gb kan tadi, cukuplah.
      Abis itu proses imigrasi berjalan dengan lancar, kita turun ke Lt. 1 buat beli tiket bus KLIA2-KL Sentral.
      Tiket bus KLIA2-KL Sentral Aeorobus RM 9 jam 15.00
      Abis itu cari makan dulu. Makan murah banyak di KLIA2 ada di... yes.. NZCurry dong, tau dari forum sini juga. NZ Curry ada di lantai 1 ya, deket loket bus-bus ke KL. Krn brangkatnya jam 15.00 kita take away aja, udah sore banget soalnya.
      Nasi briyani, telor dadar, ais teh tarik RM 11 kalau pake sayur + RM 1

      Jam 15.00 kita masuk bus, jalan tol lenggang dan hujan sedikit deras. Mendung. Wah rencana ke Genting kayaknya ga bisa terlaksana nih, soalnya perkiraan kita sampe KL sentral pasti jam 16.30an,nanti baru berangkat jam 17.00 walah,, sampe genting udah gelap mau liat apaa? Lagian masih dalam renovasi juga kan untuk pembuatan themepark 20th century fox itu. Yaudah pending besok.
      16.45 Sampe KL Sentral, jalan ke ujung arah sevel, naik 1 lantai trus ke pojok kiri, cari counter Go-Genting. Bener pemberangkatan selanjutnya jam 17.00 , bener prakiraan kita jd kita pending besok pagi aja,lagian genting bukan tujuan utama kita kok.
      Jadi kita lanjutin check in hotel dulu, dari KL Sentral, naik LRT ke arah Dan wangi. Turun di Stasiun Dan Wangi. (LRT RM 2)
      Dari LRT Dan wangi, jalan lurus aja lewatin KL Tower sampe ke daerah bukit nanas. Sampe di condo kita, wah condo ini rekomen bangeeeeeet, bersih, lengkap, murah dan terrace viewnya adalah KL Tower yang cantik banget kalau malam hari.
       

      Sampe kamar istirahat bentar sambil makan nasi briyani yang tadi dibeli, duhh emang enak bgt nasi briyani di malaysia, ga tau beli nasi briyani yang rasanya pas gini klo di jakarta di mana? Hmm
      Lanjut, langit udah mulai mendung tapi ga hujan, jam udah pukul 18.00,kita cus langsung ke central market. Ini cuman 1 stasiun dari stasiun dan wangi.
      Jam 18.30 Oiya karena kita udah pernah ke KL sebelumnya jadi di central market ini udah ga buta buta amat hahaha, langsung ke toko oleh-oleh makanan yg penjualnya orang surabaya.

      aku beli teh tarik chekhub RM 15 isi 30, milo cube RM 10 isi 20 dan kuruku ikan (ini ciki enak lohh) RM 10
      Selesai belanja, jalan jalan bentar ke kasturi walk mau mampir ke sevel (kangen sevel yang udah tutup di indo haha), beli es krim milo (yg waktu itu blom masuk indo juga). Abis makan es krim sekitar jam 19.30 kita cus ke stadium negara.

      Btw kita ga ada schedule di itin malam ini karena ga jadi ke genting, so... karena kita berdua itu kpoper (lol) dan pas di bus ke kl sentral kaget kalau hari ini itu dedek2 gemes Wannaone konser di stasium negara (omg omg, kirain besoknya) so jadilah kita mau stalking hahha
      Dari stasiun central market naik monorail ke hangtuah (harusnya), kita malah turun setelah hangtuah dan itu stadium merdeka tempat orang main bola haha jadi balik lagi 1 stasiun ke hangtuah. Rugi deh RM 2 haha.
      20.30 Sampe hangtuah, kita tinggal nyebrang jalan kaki ke stadium negara, wuaaaa rame seperti biasanyalah konser kpop. Kocak, dadakan gini..pingin stalking sampe nungguin dedek2 wannaone keluar, biasanya jam 22.00 konser palingan udah kelar. Tapiiii ini jam 22.00 baru mulai waiiit what? Ternyata karena di dalam ricuh dan banyak yg pingsan, konser ditunda 1 jaman, jam 22.00 baru mulai kelar jam 23.00 dong, yaudah deh berhubung kita ga ngefans-ngefans banget akhirnya kita berencana balik ke hotel aja buat istirahat, besok perjalanan masih panjang. Cuman kalau itu idol lain yg kita ngefansnin pasti sih dijabanin buat nunggu wkkwkw
      Hasil stalking dadakan

      23.00 sampe hotel dan sudah ada 2 teman kita yang baru sampe hotel jam 21.00 karena kesasar naik LRT (lol), menikmati pemandangan KL Tower akhirnya tertidur. Walaupun tidurnya juga diatas jam 01.00 yang penting tidur.
      End of the day 1
      20/01 jam 05.30 udah bangun semua, yg sholat udah selesai, yang mandi juga udah siap. Tapi ga tau kenapa keluar hotel itu jam 06.15 ya... hemm. Sarapan beli nasi uduk di depan jalan hotel, ini yang jual juga orang indo jadi dapet porsinya banyak banget. Kita mau menuju KL Sentral nih.
      06.00 KL sentral, cek loket genting lagi, jam 07.00 baru buka trus pikir2 lagi ke genting ga yah?? (emang udah pada ga niat ke genting sih ini orang-orang), akhirnya ga jadi hahah.
      Oiya sebelumnya kita titip tas dulu di kl sentral, depan loket genting ada loker gitu. Loker canggih dah, perlu face scan buat buka kuncinya. Kita sewa box yang gede buat 4 tas.

      Locker box besar 40 RM-sekali buka
       06.30 Kita langsung naik MRT ke Batu Cave.
      07.30 Sampe batu cave, wuahh lagi rame banget, ternyata lagi hari suci budha apa gitu namanya. Foto foto, sambil nungguin temen yang naik tangganya yg panjang itu buat liat kuil, ak jalan-jalan sama temen yang ga naik, ada kuil hanoman, dewi sinta dll. Mau beli manisan-manisan india tapi takut ga doyan, nyobain kue ternyata ga doyan jadinya ga beli

      Jam 08.30 kita balik ke KL Sentral trus naik MRT ke terminal TBS.
      -continue-
       
       
       
       
       
       
       
    • By Tarmizi Arl
      Haiiii... udah lama gak nulis :)
      .
      Mau sharing pengalaman terbang ke Manila bulan lalu...
      Berbekal tiket promo dari Air Asia 900rb PP Jakarta-Manila, tanpa pikir panjang gue langsung pesen untuk perjalanan 19-22 Februari kemarin.
      Manila mungkin belum begitu jadi favorit banyak orang, tapi gue sendiri memang dari 3 tahun lalu tertarik dengan Filipina termasuk Manila, sejak lihat foto-foto beberapa bangunan bergaya eropa yang ada disana. Apalagi tahun lalu lagi tren drama tv Filipina, eh makin semangat deh buat kesana. Ntah kenapa suka aja ama budaya, bahasa, dan orang-orangnya.
       
      Hari 1
      Jadwal keberangkatan senin tanggal 19 Febuari jam 11 siang dan sampai Manila jam 4 sore waktu Manila (Waktu Manila lebih satu jam dari Indonesia). Sesampainya disana, seperti biasa ditanya-tanya di Imigrasi terutama tinggal dimana. Agak alot karena kami baru pesan untuk 1 malam, sedangkan 2 malam selanjutnya emang belum pesen karena mau lihat kondisi.
      Bandara Manila bernama Ninoy Aquino. Bandaranya gak begitu besar tapi pada saat sampai, kita akan disambut deretan pameran kebudayaan di Filipina.

      Pameran budaya di terminal kedatangan Bandara Ninoy Aquino Manila
       

      Area kedatangan bandara

      Loket Taksi bandara
       
      Tujuan pertama kami langsung ke Mall of Asia terlebih dahulu. Kok Mall? Iya, karena berdasar info, Mall of Asia (MOA) ini sempet jadi Mall terbesar di asia, dan berhadapan langsung dengan laut gitu dan ada alun-alun untuk bersantai dengan banyak wahana.
      Untuk keluar bandara, kami pilih naik Taksi. Dari pintu keluar kedatangan, belok kanan. Lurus aja sampai lihat tanda antrian Taksi. Nah disana kamu tinggal duduk dan antri sampai giliran kamu naik. Perjalanan dari bandara ke MOA sekitar 30 menit dengan argo hanya sekitar 150 Peso (Rp45.000). Oh ya, Mata uang Filipina itu Peso ( 1 Peso = Rp300 ;  maret 2018 ) Tapi gue sendiri kemarin tuker banyak duitnya justru di Bandara Soetta, harganya jadi lebih mahal 1 peso = Rp350. Padahal pas nukerin duit di Bogor, ya Cuma Rp 300 itu. Lumayan loh 50..hahaha...
      .
      Singkat cerita tibalah kami di MOA. Ternyata di samping MOA ini ada juga SM Arena, satu Hall besar tempat biasanya konser-konser internasional berlangsung.
      Seperti halnya mall besar, MOA memang sangat semarak. Dan memang gede sih kayaknya. Kebetulan udah rada malem dan belum makan, jadilah kami pilih nyari makan dulu. Gue udah ada tujuan yaitu Jollibee. Francise kyk KFC gitu tapi asli Filipina. Jollibee ini terkenal banget di Filipina, gak bakal susah cari Jollibee di Filipina terutama Manila.
       





      Ternyata gak salah kalo jadi favorit. Menunya beragam dan dari yang gue coba di hari pertama itu memang enak. Gue lupa namanya apa, tapi gue pesen nasi + kayak steak beef gitu. Bumbunya asin manis. Meskipun gak pake sambel, tapi masih cocok di lidah kok.. Apalagi kalo ada sambel sih.. pasti lebih wow. Untuk ayam nya sendiri memang biasa aja. Kalau disuruh pilih, gue masih suka ayam KFC ama AW lah. Tapi menu lain? Jollibee juara. Sekali lagi, beragam ! jadi gak bosen. Dari 3 hari di Manila, 6 kali makan berat, 5 kali nya makan di Jollibee. Ya, selain emang mau nyoba banyak menu juga karena MURAH PARAH. Satu paket nya itu  rata-rata cuma sekitar 70-100 peso. Berarti Cuma 20-30 ribuan doang. Gimana gak kalap?
      .
      Lanjut ! abis makan, mampir dikit ke SM By the Bay yang berada tepat di depan MOA. Disana memang cukup ramai dan banyak wahana rekreasi termasuk bianglala. Tapi karena masih hari pertama, kami santai-santai aja dulu disana.
      Gak lama, langsung cari taksi buat ke penginapan. Kami pilih penginapan di daerah Malate, namanya Wanderers Guest house. Pesen di Traveloka Cuma 190ribuan rupiah/malam. Jaraknya gak begitu jauh juga dari MOA, sekitar 30 menit udah sampai. Tarif taksi yang kami bayar juga cuma 120 Peso (36ribu).

      Untungnya lokasinya sangat strategis, rame, gemerlap, banyak toko dan minimarket. Jadi gak bakal susah kalau malem mau keman-mana. Untuk penginapannya sendiri karena ini Backpacker Hostel, jadi ya sebagaimana harga. Kamar mandi pun sharing. Tapi untuk sekedar tidur, masih oke kok. Apalagi ada cafe juga diatasnya, pemandangannya langsung gedung-gedung tinggi, jadi justru kelihatan menarik.

      Pemandangan dari cafe di Wanderers guesthouse
       
      Hari 2
       
      Kami memulai perjalanan menuju Intramuros. WAJIB ! . ini destinasi wajib liburan ke Manila. Intramuros itu kayak kota tuanya Manila. Intra (didalam) Muros (Benteng). Ya, karena memang kota tua nya dikelilingi oleh benteng.
      Awalnya kami jalan kaki berbekal Google Map. Trus naik Jeepney (angkotnya filipina) dan turun di Rizal Park. Sebelum ke Intramuros, kami akhirnya terpincut dulu buat menikmati kawasan Rizal park. Awalnya gue pikir Cuma ada monumen doang, ternyata disini jadi kawasan taman kayak Monas gitu. Jadilah lumayan lama disana.
       

      Kawasan Rizal Park

      Rizal Monument
       
      Selesai foto-foto, barulah jalan lagi ke arah Intramuros. Di jalan ada becak nawarin jasa. Disana namanya Padyak. Dia nawarin jasa keliling Intramuros sekaligus jadi guidenya. Tarifnya 300 Peso. Semua wilayah bakal didatangi katanya. Tapi gue pikir buat keliling sendiri aja biar puas foto-fotonya. Tapi karena pengen juga nyobain naik Padyak, akhirnya kami naik buat diantar sampai ke Gereja di Intramurosnya aja. Tawar-tawar, dia kasih harga 80 Peso (24ribu). Akhirnya kita naik Padyak, dan ternyata memang cukup jauh sih kalau jalan kaki.

      Sampai di Gerbang Intramuros. Masuk sedikit langsung disambut bangunan megah khas arsitektur Eropa. Itu adalah Manila Cathedral. Karena bagus dan fotoable, jadilah gue lama foto-foto di sana. Menariknya, wisatawan juga boleh masuk gratis. Yang Kristiani bisa juga ikut ibadah yang rutin diadakan tiap jam, sedangkan yang tidak bisa melihat-lihat dari belakang.
       

      -
      Disambung nanti ya J
       
       
    • By Gulali56
      Sambungan dari post : http://forum.jalan2.com/topic/15045-fr-shanghai-hangzhou-beijing-part-1/
       
       
      Day-5 –Beijing: Zoo Market & Wangfujing
       
      Kereta kami tiba di Beijing South Railway Stn sekitar jam 9pagi.Temperatur di Beijing itu 10derajat lebih rendah dari di Shanghai alias 2 derajat Celcius.  Di Stasiun Beijing South ini pilihan restaurantnya cukup banyak, beberapa malah sama dengan stasiun di Shanghai. Tapi kalau pagi rata-rata hanya menyediakan menu bubur atau mie.

       
      Setelah sarapan, kami segera melanjutkan perjalanan menggunakan subway yang connected railway stn menuju  ke hotel kami. Subway di Beijing tiketnya hanya CNY 2 jauh-dekat. Maka dari itu kalau saya perhatikan, dibeberapa stasiun mesin tiketnya banyak yang out of service dan menggunakan loket untuk pembelian tiket,mungkin karena gak terlalu ribet. Tinggal kasi tau mau beli berapa banyak. Kalau gak bisa mandarin tinggal tunjukin jari saja mau berapa.
       
      Hotel kami ini terletak tak jauh dari exit Dongsi Stn. Petunjuk di Agoda sih bilangnya Cuma exit C. Ubek-ubek di review nya gak ketemu belok kiri kanannya. Tapi akhirnya setelah nyasar kanan kiri akhirnya berhasil juga check in di hotel 161 yang lagi-lagi di “upgrade†(review hotel di http://forum.jalan2.com/blog/287/entry-840-review-161-hotel-beijing/ ).

      Cek di accuweather.com perkiraan besok range nya 0 derajat sampai dengan -7 derajat. Mateng. Maka kami pun deviasi shopping aja cari jaket dan sweater buat besok. #alesan.com
       
      Berdasarkan browse di blog blog, kami pun ke DongWuYuan Fuzhuang ShiChang  atau Zoo Market. Hasil baca di blog-blog, Zoo market ini tempat grosiran,kalau di Indo setara Pasar Pagi Mangga Dua lah.  Dari pasar ini lah kononnya sumber barang-barang yang dijual di Silk Market, Wangfujing dll. Dengan kata lain, lebih murmer dan gak perlu nawar pake urat. Tapi bukan untuk turis alias gak bakalan deh ketemu kaos-kaos “I Love Beijing†, magnet dan souvenir lainnya. Dan jangan harap mereka bisa bahasa inggris.
       
      Kami naik subway turun di Xizhimen Stn (Line 2/4/13) keluar di exit D. Dari exit langsung ambil kanan, nah pertokoan gedung-gedung grosiran ini ada dibelakang exit D. Zoo market ini ada beberapa yang terkenal, yang paling murah katanya Julong Foreign Trade Market (èšé¾™å¤–贸市场) .Berhubung hari itu hari minggu kami pun memilih Shiji Tianle (世纪天ä¹) yang lebih mahalan sedikit tapi lebih sepian.

       
      Toko disini itu buka dari jam 6pagi sampai dengan jam 4.30 sore saja. Rata-rata harga disini memang murah. Puffed vest tanpa lengan yang kalau di Zara yang labelnya made in China Rp 499,000 disini start on CNY 50 atau Rp 100ribu saja! Saya hampirrr mo beli (lagi) warna biru, secara saya punya tuh si Zara asli itu warna merahnya beli diJakarta. Karena sudah murah, barang-barang disini susah ditawar. Saya beli outer tebel banget dan bermotif ala Zara dari harga CNY138 Cuma bisa ditawar jadi CNY 135.hahaha. Tetep sih saya tau di Zara harganya diatas 800ribuan.
       
      Oiya disini memang tanpa merk ya,asli merk China.Gak ada sok-sok-an merk apaan. Kalau yang murah-murah saya lihat ada di lantai 1 nya. Sebagai perbandingan yang pernah liat winter jacket made in China yang semurah2nya di ITC  seharga Rp 300-400ribu semua disini harganya CNY 50-80. Maap gak ada foto,secara kami fokus belanja. Jaket yang lebih fashionable  adanya di lantai 2 dan 3 tapi harganya lebih mahalan yaitu sekitar CNY 250-650. Balik ke hotel tentengan udah banyak ajaaa.
       
      Karena gak mau terlalu capek untuk besok Great Wall, kami memutuskan ke Wangfujing cari makan. Karena sotoy dan termakan kata-kata orang lokal yang bilang ini deket dari hotel bahkan menurut subway juga cuma beda 1 stop-an doank,kami pun jalan kaki diantara kencangnya angin malam di suhu -2 derajat Celcius ini ternyata sejauh 2-3km dari hotel.Pokoknya gak sampai-sampai deh.Jujur mendingan naik subway.

       
      Wangfujing ini terkenal dengan deretan upscale mall nya,dan tempat pasar malam jualan gorengan laba-laba, kalajengking,dll. Saya sih gak nyobain, malah beli dimsum seharga CNY 15 dapat 8 biji, padahal di Shanghai aja dapet 15pcs deh tuh. Dan karena dingin gila,ya angetnya cuma semenit tuh makanan. Herannya kita masih beli mie goreng yang langsung dingin kurang dari 2 menit seharga CNY 30. Dan sup daging CNY 50!! Padahal Ajisen Ramen aja cuma CNY 35. Salah kita juga sih gak tanya harga dulu langsung pesen aja.


       
      Saking keselnya kita masuk ke mall terdekat entah namanya 4PM atau APM ngangetin diri dan makan shabu-shabu yang seporsi berdua Cuma CNY 44 aja kenyang, hangat,nyaman! Later on baru tau Xiabu Xiabu yang kita makan ini memang terkenal ,dan cabangnya ada dimana-mana,salah 1 nya 20meteran dari hotel kita pun ada.Hahaha..
      Sebenarnya Wangfujing ini ada subway stn nya tapi sejauh mata memandang tidak ada lambang subway.Jadinya jalan kaki lagi balik ke hotel .
       
       
      Day-6 –Beijing : Great Wall
       
      Great wall itu ada beberapa section, salah 1 section yang mudah dicapai adalah Badaling. Berdasarkan yang kami baca, Badaling itu bagian dari Great Wall yang paling banyak fotonya di majalah-majalah karena sisi great wall yang katanya bagus dari segi pemandangan dan komplit dengan sisi militer. Entah apa maksudnya. Yang pasti untuk ke Badaling ada 2 cara, naik kereta khusus dari Beijing North Railway Station yang berada  500mtr dari exit Xizhimen Stn exit A dengan kode kereta S2 ataupun naik bis 877 dari Deshengmen Bus Station yang terletak 500mtr dari Jishuitan Stn Exit A.
       
      Berhubung kalau naik kereta interval nya 2 jam sekali (07.26/09.33/11.08,dst) kami yang baru keluar kamar jam 9 akhirnya memutuskan naik bis  877 saja.
       
      Seperti biasa keluar dari Jishuitan Stn Exit A. Kita tercengang dengan petunjuk kalau ke Deshengmen itu ke arah timur.Nah nengok ke langit timurnya gak ke kiri-kiri amat.Halah. Terus teman saya yang bisa mandarin tapi buta arah/peta itu pun belok kanan.Hahahaha.. Untungnya di ujung kanan ada semacam tourist information ,dengan keterangan mau ke Badaling naik bus 877 ke arah kiri plus panahnya segede gaban. Tetep aja liat ada petugasnya, kita masih tanya lagi. Dibilang ya memang ke arah kiri aja ikutin jalan,jangan nyebrang-nyebrang sampai keliatan Deshengmen Arrow tower.

       
      Kalau mengikuti jalan memang ada papan petunjuknya walau tetap gak ada perkiraan jauhnya seberapa meter.Dan ternyata yang namanya Deshengmen Arrow tower itu ya bangunan China yang gede gitu kayak benteng, ih mana tau ya kirain namanya menara ya ramping lah bentuknya.

       
      Jadi persis di samping gedung itu ada sekumpulan bis-bis putih ijo dengan plang plang halte stop-an berikut nomer bis nya. Halte 877 itu terletak dibaris ke-2 sebelah kiri. Katanya sih disekeliling bakal ada agen-agen yang bakal misleading ngaku-ngaku bis 877.Hari itu gak ada tuh. Untuk mengenali bis ini selain ciri warna putih ijo, layar elektronik tulisan 877 dikaca depan ,didalam bis itu ada mesin tap nya bagi yang punya Transportation Smart Card harga one way nya cuma 4.8yuan.Sedangkan cash nya 12yuan/one way. Disana juga ada bis 919 dan 880 ke Badaling juga katanya sih direct ke cable car stasiun. Tapi berhubung petunjuk dari tadi cuma nunjukin 877 ,kita pun naik 877.

       
      Tiket bis dibeli di dalam bisnya, akan ada 2 petugas wanita yang akan memberikan tiket bis setelah kita bayar. Perjalanan memakan waktu sejam dengan 1 guide di bis memberi sejarah singkat dan pemberitahuan dengan bahasa mandarin tentang Great Wall. Salah 2 yang teman saya translate kesaya,dia mengingatkan untuk tidak berlama-lama mendaki Great Wall di cuaca saat ini, karena suhu sangat dingin (hari itu dikabarkan -7), bahkan katanya dulu sempat turun salju karena dinginnya) dan bis terakhir dari Badaling yaitu jam 16.30 selebihnya akan sangat mahal menyewa kendaraan kembali ke kota. Jujur sempet jiper juga.
       
      Setiba di parkiran Great Wall,anginnya beneran bikin gila. Rasanya tidak minat turun dari bis yang menggunakan penghangat itu.Akhirnya kami lari-lari menantang angin ke deretan toko untuk membeli masker muka seharga 10yuan.Bah, di Indo kayaknya cuma 15ribu perak dan tebal pula kainnya. Yang saya heran disini gak ada yang jual ski mask gitu ya? Penutup muka yang cuma keliatan matanya aja itu yang suka dipake maling-maling, padahal dengan kencangnya angin pasti enak banget tuh ketutup semua pori kulit. Haha..tapi ya gak kece ya foto-foto ya.Disini adanya dijual topi bulu yang nutup kuping warna ijo army ala militer china yang lagi perang pas winter.Entah harganya berapa gak minat juga.
       

      Setelah sarapan overpriced di resto parkiran seharga 45yuan dan tempel penghangat disekujur badan dan telapak tangan, kami melanjutkan ke entrance Badaling, yang ternyata masih berjalan menanjak dari parkiran bus.Belum entrance aja udah ngos-ngosan dan beku kedinginan.
       
      Harga tiket Badaling Great Wall adalah 40yuan. Setelah masuk di dalam langsung ada keterangan ke kiri dan kanan, kami bingung mau kemana akhirnya milih sisi kanan.Karena lebih ramean. Pemandangan memang bagus bangettt dari sini, nanjaknya belum seberapa, tapi kami dengan bodohnya tetap berfoto tanpa keliatan muka begini.
       



       
      Later on kata kakak saya yang beberapa tahun lalu kemari, dia bilang dia cuma foto-foto di tower 1 terus pulang. Tapi kami dengan bloonnya foto kayak begini sampai tower 4.Justru tower 4 itu kalau buat berfoto kurang oke karena kelok temboknya kurang keliatan. Ruginya penderitaan menanjak dengan kemiringan 70derajat dari tower 2 ke 4.Sampai sekarang sepet liat hasil foto-fotonya.

      Dari tower 4 kami melihat ada tulisan sliding car.One way 80yuan, two way 100yuan. Jiahh..Padahal dari parkiran bis kita ada lihat nih loket sliding car.Tau gini dari awal naik sliding car aja shortcut ke tower 4.

       
      Sliding car ini muncul di Zoo apalah itu yang sebelahan sama parkiran bis persis.Ditotal-total kami mendaki ternyata Cuma 2 jam. Ketauan banget kurang olahraga.
       
      Sepulang dari great Wall teman saya insist balik ke hotel ganti celana.Padahal waktu mepet. Rencana kami mau pergi ke Temple of Heaven di Tiantandongmen Stn exit A. Bener aja sampai Temple of Heaven sudah jam 4.30 sudah tidak boleh masuk lagi.Dan memang di winter , jam segini memang sudah gelap banget.Daripada sia-sia kami mencoba ke plaza terdekat dari situ sekalian menghangatkan diri.
       
      Entah namanya apa, tapi didalamnya mengingatkan saya seperti toko di ITC tapi harga bule.Alias powerbank 8000mah harganya 120yuan.Kalau saya lihat sih rata-rata overpriced,cuman memang disini rata-rata bisa bahasa inggris walau tidak lancar-lancar amat.Lantai 2 nya jualan tas KW yang lebih overpriced lagi. Michael Kors dibandrol 1000yuan. Dari jauh saja udah keliatan kualitas KW nya.Kelihatannya ditempat ini berlaku hukum ngotot nawar. Berhubung duit udah habis di Zoo market dan gak bisa nawar kami lanjut balik ke hotel untuk belanja di Wu mart di exit B Dongsi Stn lalu lanjut makan Xiabu Xiabu favorite kami.
       
      Day-7 –Beijing : Tiananmen Square-Forbidden City-Summer Palace-National Stadium
       
      Karena hari ini hari terakhir,jadwal kami padat banget. Pagi-pagi setelah sarapan didekat hotel, kami segera ke subway exit Tiananmen East Stn. Baru mau keluar sudah langsung diperiksa ID/Passport ,karena keluar exit ini memang sudah pelataran Tiananmen. Dari exit ke kiri sudah kelihatan National Museum dan antrian panjang di Tiananmen Square seberang National Museum.Entah kenapa kami skip masuk ke Tiananmen Square yang lapangannya sudah ¾ penuh turis itu. Cuma foto-foto dari sebrang, lalu kami langsung menyebrang kearah Forbidden City yang jam 8.45pagi masih terlihat sepian pintu masuknya.Ternyata pas masuk gerbang memang sudah crowded. Setelah membayar tiket 40yuan. Kami langsung sibuk berfoto-foto dipeninggalan dinasti Ming ini.




       
      Karena dasar dikejar waktu, jam 11 kami entah kenapa sudah keluar dari Forbidden city dan entah kenapa sotoy bukannya jalan kaki balik ke Tiananmen Stn yang dari pintu keluar petunjuknya  1.8km tapi malah menuju panah ke Wangfujing Stn 1.2km yang memang beda 1 stn dari petanya.Padahal sebenarnya di komplek ini masih banyak lho yang belum dieksplor.
       
      Dan seperti biasa, yang tadinya papan petunjuk terlihat banyak tiba-tiba bbrp puluh meter kemudian hilang semua petunjuk ke subwaynya. Dan taunya setelah berjalan seabad lamanya kami malah bertemu Dongsi Stn line 6 stasiun tempat hotel kami. Gubrakkk..entah brp kilometer kami telah berjalan.Yang pasti kaki udah engklek.Karena sudah hari terakhir kami langsung lanjut ke Summer Palace.
      Summer palace ini terletak di jalur subway line 4 bisa keluar di Beigongmen Stn ataupun Xiyuan Stn. Karena memang letaknya cukup jauh, kami turun di Xiyuan yang 1 stasiun lebih cepat saking bosennya di subway.Dari exit C2, sebelah kiri kami malah ada plang Yoshinoya, liat kiri kanan gak jelas palacenya dimana,peta juga gak jelas nulis apaan, akhirnya kami makan dulu di area Starry Street.

      Starry street ini semacam komplek restaurant ,dari Burger king, Yoshinoya, Ajisen Ramen , dll. Setelah makan siang di Ajisen ramen kami dikasi tau arah ke Summer Palace. Ternyata dari exit C2, belok kiri ikutin jalan di Starry Street itu terus nanti ada plang Summer Palace, baru nyebrang, terus ikutin jalan karena sebenarnya tembok nya itu kayaknya sudah area Palace.

       
      Setelah jalan kaki gak sampai-sampai yang kurang meyakinkan, kami akhirnya ketemu pintu masuknya. Di komplek pintu masuk banyak guide guide nawarin jasa.Bah tadi pas kami nyasar-nyasar kemana aja situuu.. Biasanya sih paling gampang kita tepatnya saya yang ngusirin dengan alasan “only speak English†eh malah nemu 1 guide lancar banget inggrisnya yang bilang di guide resmi sambil nunjukin name tag.
       
      Dia nawarin,kalau beli di dia, tiket terusan yang di loket dijual 50yuan/org bisa dibeli 40yuan. Dasar cewe ya, kita minat donk, tapi kok lucu, petugas di sekitaran loket itu seperti pengen tau kita bicara apa dengan si guide ini dan si guide ini juga tampak kucing-kucingan dengan si petugas. Tapi mungkin karena si guide ngoceh panjang lebar pake bahasa inggris, si petugas jadi tidak bisa menangkap basah.Diantara ocehan yang tadinya berkesan hemat, kok malah mentok-mentok bayar 180yuan berdua. Pokoknya aneh deh. Karena terlalu janggal dan juga kita bokek dan si guide sempet kabur karena diusir petugas tadi, akhirnya kami langsung ke loket. Eng ing eng kasi selembar 100yuan malah dikembaliin 60yuan alias tiket masuk cuma 20yuan/orang.Padahal kami pikir mau beli tiket terusan.
       

       
      Karena bingung dan mau hemat juga ya sudahlah kami langsung masuk saja.Temen saya bilang salah 1 petugas sempat bilang,kalau guide-guide itu ngerjain turis saja kerjaannya. Jujur sampai sekarang kita masih gak ngerti itu scam apaan.

      Ternyata di dalam cukup sepi,tepatnya kita gak tau itu apaan. Haha. Kayak bangunan palace kecil diForbidden city. Malah banyakan guide ketimbang pengunjung. Ternyata pas ngikutin arah panah ke balik temboknya, ada danau guedeee nya minta ampun. Air danaunya sudah membeku menjadi es, dengan pepohonan yang sudah meranggas, tapi somehow tetap cantik banget. Gak kebayang kalau datang pas autumn atau summer cantiknya seperti apa.
       




       
      Summer palace basically pelipur lara kami karena dulu cuma numpang lewat di West Lake Hangzhou. Setelah hampir 2 jam rasanya kami belum sampai ½ nya, setelah hampir 5km berjalan kaki (lebay) kami ketemu pintu masuk/keluar .Kelihatannya kami tadi masuk dari East Gate nah sekarang semestinya keluar di North Gate. Kayaknya lho. Tapi ya gak tau juga, karena semestinya kalo memang benar ini North gate semestinya dekat dengan pintu subway Beigongmen. Somehow nanya kakek-kakek yang fit banget jalan sorenya, dia nunjuk arah yang kita jalanin saja, intinya dari gate apalah itu kita nyebrang jalan,ikutin jalan di tembok yang saya curiga sebenarnya arah balik menuju Xiyuan stasiun. Kecurigaan saya terbukti setelah melewati 1 lampu merah dan belok kiri, langsung keliatan Starry street tempat kami makan tadi.Arghhhh….tau gini mending jalan balik lewat dalam aja lebih cantik pemandangannya.
       
      Diantara ketergesaan kami, sudah jam 4kurang, kami masih maksain ke Temple of Heaven lagi. Dannn karena jauhnya lokasi Summer Palace, sampai Temple of Heaven pas jam 4.25, hahaha.. gagal maninggg.. Akhirnya mencoba ke National Stadium yang kalau malam lampunya cantik.Dasar nasib, naik subway turun di Olympic Sport Center Stn, pintu keluar ke National Stadium yang exit B1 dan B2 ditutup karena ada perbaikan jalan. Tapi dengan super sotoynya padahal petugas nya bilang naik aja 1 stasiun lagi, kita malah keluar di D daaaann mencoba berjalan kaki ke National Stadium.
       

       
      Ternyata dari exit ini ada highway yang tak mungkin disebrangin saking besarnya dan ramenya traffic nya.Lebih sotoynya lagi kami tetap berusaha mencari exit B dari luar. Dan akhirnya kami pun berjalan kaki berkilo meter jauhnya dijalan yang sepi mengitari Olympic sport centre , yang kami curiga lebih besar dari Gelora Bung Karno, padahal saya aja dari pintu 1 Senayan ke JHCC naik ojeg 15ribu. Selain jauh jalan ini pun sepi sehingga kami mulai berpikir apakah kami akan diculik disudut-sudut gelap nan sepi ini dan diambil organ vitalnya. Well at least we’re not that young and fit to be a donor. Derita banget deh.Mau balik arah,nanggung, akhirnya kami terus saja jalan. Diantara penderitaan 1 ½jam jalan kaki gak penting ini, kami liat alat alat olahraga diluaran seperti angkat beban,dll, dan nampaknya ada orang lagi olahraga di alat itu di winter ini. Sadis.Anyway gak ada foto karena tangan sudah beku.
      Akhirnya kami sampai juga di exit kami semula, langsung balik karena kaki sudah kram dan gemeteran    dan makan di dekat hotel untuk setelah itu packing karena flight kami jam 7 pagi.Selesai juga petualangan kami di China.


    • By Daniel0705
      Huangshan/gunung huang/gunung kuning di provinsi anhui,merupakan salah satu gunung tercantik di china. Jika sudah mendaki gunung huang anda tidak perlu lagi mendaki ke gunung lain di china.
       
      Untuk mencapai anhui bisa ditempuh dengan jalur darat mengunakan kereta api dari berbagai kota besar di china seperti beijing, shanghai,dll, berhenti distasiun huang shan, atau mengunakan pesawat terbang.
       
      Gunung huangshan merupakan destinasi utama untuk orang lokal, hindari bepergian disaat libur maupun akhir pekan karena akan sangat padat. Fasilitas jalan untuk mendaki gunung huang ini sangat baik, jangan bayangkan mendaki gunung di china seperti gunung diindo, fasilitasnya disini jauh berbeda.
       
      Tidak perlu membawa tenda untuk bermalam karena banyak penginapan disini, tentu dengan harga yg cukup mahal, kurang lebih 200rmb permalam. Lalu jika anda tidak mau cape , bisa naik turun gunung dengan gondola dengan tarif sekitar 80rmb sekali jalan.

    • By Daniel0705
      Perjalanan solo backpacker 4D3N
      Zhang jia jie terletak di provinsi hunan. Dari changsha, ibu kota provinsi hunan ke kota zhang jia jie bisa ditempuh dengan jalur darat mengunakan bus maupun kereta, dan jalur udara mengunakan pesawat terbang. Saya sendiri start dari fuzhou mengunakan pesawat sampai ke changsha lalu lanjut penerbangan ke zhang jia jie. Jika buka masa liburan seperti bulan april ini, tiket pesawat dari changsha ke zhang jia jie pp hanya 504 rmb. Pesawat yg dipakai dari changsha ke zhang jia jie adalah pesawat kecil, mungkin hanya memuat 50puluhan orang. Saran saya untuk solo backpacker adalah minimal bisa bercakap2 hal2 sederhana dalam bahasa mandarin. Saya hanya bercakap2 dalam bahasa inggris dengan petugas hostel dan lainnya harus memakai bahasa mandarin. Lalu transportasi umum dizhang jia jie juga kurang baik, karena disetiap pemberhentian bus, tidak diberi tahu sudah sampai halte mana, jadi anda harus bisa kira2 atau minimal bisa baca nama jalan disana.
      Pengeluran
      tiket taman nasional zhang jia jie 3hari 248rmb
      百龙天梯 lift outdoor sktr 78rmb
      cable car di tn zhang jia jie sktr 70rmb
      kereta listrik di tn zhang jia jie pp 50rmb
      Tiket tian men shan sekitar 258rmb
      Berikut saya bagikan foto2 saya di zhang jia jie...















    • By Titi Setianingsih
      Hay sahabat2 tercinta, para JJ’er apa kabar ? Sebenarnya apa siy yang jadi tujuan kita jalan2 ? Pasti bukan karena mau saingan kan ? Terus terang sejak masuk komunitas jalan2 saya jadi makin sering jalan2, tentu saja karena banyak informasi tentang tempat2 wisata di Indonesia dan Luar Negeri yang diposting para membernya jadi keinginan untuk berkunjung ke tempat itu makin menggebu. Nah sejak tahu bahwa postingan temen2 sangat bermanfaat / bisa dijadikan referensi jalan2 bagi pembaca, akhirnya saya punya keinginan lain, salah satunya kepengin posting hal2 baru yang bisa dijadikan referensi juga oleh orang lain. Hal2 baru bukan berarti tempat wisata baru, tapi bisa juga itinerary ke suatu tempat. Kebetulan saya beberapa kali dapat japri dari temen2, perihal itinerary ini, jadi kalau dia mau jalan di hari libur selalu nanya ke saya, pingin kearah Bandung sama anak2 cocoknya kemana ya ? Ada juga yang mau ke Bogor sehari bisanya kemana saja ya ? Bahkan ada yang nanya destinasi di luar Pulau Jawa, tentu saja saya hanya bisa jawab kota2 yang sudah pernah disinggahi saja. So, dengan hobby menulis ini, semoga bisa bermanfaat bagi teman2 travellers.
      Nah ide gila kali ini adalah kepengin jalan2 ke 3 propinsi di libur wiken bisa gak ya ? Jarak antar kota tentu saja sangat menentukan bisa / tidaknya. Pikir2, kalau untuk seputar Jawa masih bisa lah, dan melihat request temen2 banyak yang kepengin ke arah Jogya akhirnya saya buatlah itinerary ke 3 propinsi di tanggal 19-21 Januari 2018 dengan destinasi sekitar Solo, Pacitan dan Jogyakarta.
      HARI PERTAMA, 19 JANUARI 2018. 

      Hari pertama kami berpetualang didalam Kereta Api Brantas, dari Stasiun Senen jam 17.00 menuju Stasiun Solo Jebres jam 02.47, tiketnya murah meriah hanya Rp. 84.000 sudah sampai Solo. Kalau ada yang murah kenapa beli yang mahal to ?
      Alhamdulillah selama di kereta tidak ada kendala, berangkatnya tepat waktu sampainya juga tepat waktu, alhamdulillah. Sepanjang jalan masih disempatkan bercanda meski kereta full seat, tapi begitulah, Ibu2 kalau sudah ngumpul gak bisa diam.

       
      HARI KEDUA, 20 JANUARI 2018.
      1.       Sarapan Gudeg Ceker

      Ini kali yang kedua saya sarapan disini, gudeg ceker Bu Kasno yang berlokasi di Mertoyudan / dekat gereja Kristen Jawa di Jl Monginsidi, atau dekat SMA Negeri I Surakarta. Yang khas dari gudeg Bu Kasno adalah lauknya / daging ayamnya dari ayam kampung. Beraneka macam lauk bisa dipesan mulai dari daging yang di suwir2, kepala ayam dan ceker ayam, jeroan (ati rempelo)  juga telor ayamnya. Sedang asesories lainnya ada gudeg nangka, sayur kerecek, tahu tempe bacem dan  sambal. Kalau saya yang terbayang cekernya, dan jika belum sempat makan ceker di TKP maka bisa dibungkus. Beberapa teman sempat kaget karena ternyata 1 porsi ceker yang isi 10 buah harganya Rp. 40.000,-. Cekernya siy enak tapi ketika ingat harganya jadi ter-kaget2. Xixixixi
      Sehabis sarapan singgah di Masjid Karanganyar Solo untuk Shalat Subuh dan bersih2 badan serta ganti baju.
      2.       Curug Jumog

      Lokasi curug ada di desa Berjo, Kec Ngargoyoso Kab Karanganyar Jawa Tengah. Kalau bicara Karanganyar pasti banyak yang familier karena disitulah tempatnya wisata2 yang manarik mulai dari wisata alam dan wisata sejarah, yaitu banyak ditemukannya curug/air terjun beaneka dari yang sudah termashur seperti Tawangmangu juga sampai yang belum terkenal seperti Jumog ini. Tapi sekarang Curug Jumog sudah menjadi incaran para wisatawan dan menjadi pilihan wisatawan juga karena begitu sampai ke parkiran mobil tinggal jalan beberapa menit sudah sampai ke curug, jadi tidak perlu capai2 untuk mendapatkan spot yang cantik ini.

      Sepanjang jalan menuju curug juga disuguhi pemadangan yang indah, kali kali tempat mengalirnya air yang jatuh dari Curug Jumog. Begitu sampai ke atas, wow, emejing banged, tumpahan airnya lebar / bercabang 2 kemudian air yang turun ke kali juga menyerupai curug kecil, jadi kalau dari jauh curugnya terlihat bertingkat.
      Airnya jernih dan bersih jadi sangat cocok untuk ber-mandi2 disini, jika yang tidak mau bermain air maka bisa memakai mantel karena cipratan airnya cukup deras dan bisa membuat baju kita masah walau kita tanpa mendekati pusat pancuran air.

      Salah satu teman yang maniac banged sama air terjun langsung nyemplung dan membasahi rambutnya, walau sebenernya air pagi itu sangat dingin karena kami sampainya paling pagi, loketpun belum buka sebenernya.

      Ketika dirasa sudah puas mandi2, kami lanjutkan perjalanan menuju Pacitan, waktu tempuh Solo-Pacitan diperkirakan 4 jam.
      3.       Soto batok

      Suasana pagi itu agak mendung, gerimispun datang, tapi kami tetap menjalankan rencananya. Walau hujan tetap cuzz menuju Pacitan. Teman2 berkesempatan istirahat / tidur karena waktunya yang lumayan lama di perjalanan.
      Kurang lebih jam 9 kami meninggalkan Curug Jumog, ke Pacitan via Sukoharjo. Sepanjang jalan disuguhi pemandangan alam persawahan yang menghijau, asri sekali, hampir2 tergoda hati ini untuk turun dan berfoto, tapi ketika ingat tujuan masih jauh maka hati menjadi tak tergoda sedikitpun. Tapi menjadi  tergoda lagi ketika didepan mata kami ada sebuah warung yang bertuliskan Soto Batok, penasaran dong dengan namanya.  Lokasi tepatnya di Jl Karanganyar Km 2 Jumowono Sukarasa, masih di Sukoharjo ini. Tapi biasa kalau urusan perut gak bisa ditunda, jadilah kami serbu kuliner yang namanya unik ini.

      Dan memang tempatnya yang unik ternyata, sebuah mangkok yang terbuat dari batok kelapa. Kalau sotonya berkuah bening, dengan daging ayam di suwir2 dengan asesories beraneka sate seperti sate usus, sate telor puyuh, goreng2an dan kerupuk. Layaknya Soto Solo ada tambahan toge rebusnya. Harganya lumayan murah, per mangkok Rp. 6.000,- dan goreng2annya Rp. 500,- ber bijinya.
      Sudah hilang rasa penasarannya ketika sudah selesai makan Soto Batok. Memang pintar pemilik Soto Batok dalam menjaring pembeli, keunikan namanya yang punya nilai jual.

       
      4.       Goa Gong
      Secara administratif, Gua Gong berada di Dusun Pule, Desa Bomo, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Gua ini berjarak sekitar 37 km dari pusat kota Pacitan ke arah barat (arah Wonogiri). Jadi kalau kami yang masuk ke Pacitan via Solo maka Kota Pacitan belum terlewati. Jalanan menuju Goa Gong berkelok-kelok dan naik turun, tapi jalanan sudah halus di aspal jadi nyaman.
      Mobil wisatawan mempunyai tempat parkir khusus, dan menuju goa disediakan ojek wisata dengan sewa Rp. 5.000,- tapi jika pulang / kembali ke tempat parkir tidak boleh naik ojek.

      Tiket masuk wisata seharga Rp. 15.000,- untuk orang dewasa dan Rp. 5.000,- untuk anak2,  kemudian jika hendak menyewa senter juga Rp. 5.000,- per buah, ada juga jasa guidenya sebesar Rp. 30.000,-
      Tidak seperti kebanyakan goa, di Goa Gong banyak terdapat sumber airnya atau dalam Bahasa Jawa disebut sendang. Namanya ber-macam2 sesuai dengan manfaatnya (menurut keyakinan masyarakat setempat, siapa saja yang meminum air sendang akan memperoleh manfaat masing2 sesuai nama sendang itu, ada yang awet muda juga ada yang mendapatkan kemuliaan hidup). Tapi ini mythos ya, jadi kita tidak wajib melakukannya.
      Memasuki seluruh ruangan goa bisa menghabiskan waktu sekitar 2 jam, apalagi Ibu2 yang maunya disetiap sudutnya maunya berfoto, bisa lebih 2 jam. Itulah sebabnya dari awal emmasuki gua diingatkan tentang waktunya ini, jangan sampai rencana selanjutnya menjadi kacau balau.

       
      5.      Sungai Maron
      Ketika saya menghubungi basecamp Sungai Maron via telepon, operatornya bilang bahwa waktu yang tepat untuk caving Sungai Maron itu pagi hari, supaya airnya masih jernih sehingga viewnya bagus, juga agar terhindar dari hujan yang biasanya turunnya di sore hari.
      Tapi kata driver, berhubung lokasinya satu arah dengan Goa Gong alangkah baiknya untuk dicoba, itulah sebabnya maka ketika didalam goa diusahakan disiplin waktu.
      Dan memang dekat jarak antara Goa Gong dan Sungai Maron, kurang lebih 45 menit sampai ke Sungai Maron setelah menempuh jalanan yang menanjak extreme, kami sempat berdoa jangan sampai mesin mobil mati ketika pas menanjak itu. Deg2an sudah pasti, tapi alhamdulillah Driver kami luar biasa.
      Lokasi Sungai Maron ada di desa Darsono, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, memang benar, ketika kami dating sore2 air sungai berwarna cokelat, nampaknya sisa banjir Pacitan masih terlihat dengan adanya lumpur2 di ranting2 pohon disepanjang sungai. Bisa dibayangkan banjir Pacitan lumayan tinggi, dan banyak rumah2 warga yang dekat sungai pada kemasukan air bah.
      Kami sewa 3 perahu, masing2 perahu isi 4 penumpang dan 1 pengemudi / pemilik perahu. Sewa per perahu Rp. 100.000,- PP kurang lebih menyusuri sungai dalam waktu 45 menit hingga menuju Pantai Ngiroboyo. Jika akan bersandar di pantai untuk ber-foto2 maka nambah biaya tiket Rp. 5.000,- per orangnya.
      Tiada detik tanpa berfoto, karena hanya itulah bukti dari jalan2 kami. Cuaca lagi kurang bersahabat gaees, mendung bergelayut di langit, ngeri jika tiba2 hujan sementara kami masih dipinggir pantai dan harus pulang menyusuri sungai,,,ah pasti akan sangat mencekam. Kamipun buru2 pulang, dan alhamdulillah, gerimis mengundang, kamipun cepat2 masuk mobil untuk kemudian cuzz meninggalkan desa Darsono.
      6.      Pantai Klayar

      Pantai klayar ini berada di desa Kalak, Kecamatan Donorejo, Kab Pacitan. Sebenernya kami berencana mau kejar sunset disini, krn kalau lihat foto2 sunset Pantai Klayar cukup bagus, tapi apa daya karena cuaca mendung jadi gak kebagian sunset. Masih gerimis kecil ketika sampai sini, tapi teman2 masih sempat guling2an di pasir, mungkin gemas lihat pasirnya yang putih kecoklatan.
      Ditawari bonceng motor beroda 3 untuk menuju air mancur di tengah laut juga tidak berani, karena dalam kondisi gerimis dan gelap karena mendung suasana di lokasi sangat sepi. (Takut dibawa lari xixixixi).
      Padahal air mancur di antara batu2 karang merupakan keunikan alam tersendiri, saying moment itu dilewatkan begitu saja, semoga lain waktu bisa kesini lagi, yang penting kali ini terpuaskan dengan hanya ber-main2 air dan pasir pantai.
      Gerimis itupun akhirnya berubah menjadi hujan, pelan2 kami menuju hotel tempat kami menginap yang lokasinya dekat kota, ternyata tempatnya lumayan jauh kalau mau menuju kota. Sempat juga kami melintasi perkebunan, sepi, ditambah lagi karena ternyata seluruh Pacitan sedang mati lampu. Gelap gulita menemani perjalanan kami, driver dengan sabarnya berkendara dan sepertinya dengan lapang dada menghadapi suasana malam yang mencekam ini.
      Begitu sampai di hotel apa daya, mati listrik membuat segala yang kami angan2kan menjadi buyar seketika, gelap dan tanpa air menyala di kamar mandi merupakan sesuatu yang menyiksa, kamipun akhirnya meninggalkan hotel untuk kemudian bali menuju Jogya.
      Keputusan inipun dirundingkan dengan alot, karena hotel sudah kami bayar, dan uang tidak kembali. Di malam itupun (sambil makan malam), kami hunting homestay via traveloka dan dapat homestay disekitar Pekuncen Jogyakarta. Dalam gerimis kami mencari lokasi homestay yang ternyata tidak mudah. Lagi2 driver yang baik itu masih terlihat legowo mengantar kami dan menemani kami hingga dini hari.
      HARI KETIGA, 21 JANUARI 2018.

      1.       Soto Kadipiro

      Pagi ini kami ada di Propinsi DI Jogyakarta, apa yang terlintas di otak kita ketika bangun tidur dan tiba2 ada di Jogya ? Yang per-tama2 terpikir adalah kuliner, itulah sebabnya maka kami memutuskan untuk sarapan di Soto Kadipiro. Bayangan ayam kampung dan jeroannya yang menggoda. Dengan suasana pagi yang masih gerimis, pastilah akan pas jika sarapannya panas2 gini. Cuzz lah kami ke Soto Kadipiro yang ada di Jl Wates No 33 Jogyakarta. Sudah beberapa kali kami kesini tapi gak ada bosan2nya, enak, legit dan mengeyangkan tentunya.  
      2.       Persawahan Songgo Langit
      Selesai sarapan kami menuju Desa Dlingo yaitu mengejar spot foto yang lagi kekinian yaitu sebuah  persawahan. Lokasinya ada di Songgolangit Sukarame Dlingo Mangunan, termasuk wisata baru karena pas kami kesini masih gratis tapi boleh isi kotak seikhlasnya untuk tujuan pengembangan, yang mbangun mahasiswa KKN. Terdapat persewaan caping bagi yang mau berfoto ala2 petani. Ketika kami sampai sini, situasi sawah lagi cantik2nya, daunnya menghijau bak permadani jadi pas banged buat selfie. Gerimis kecil tak menghalangi kami untuk tetap menuju lokasi, toh tempat berfotonya gak becek karena kita bediri di atas jembatan bamboo yang sengaja dibangun di atas persawahan dengan bentuk LOVE. Cukup istagramable kalau mau pinjam istilah anak muda. Dan ternyata pagi2 juga sudah banyak yang dating di lokasi ini. Gak akan bosan2 memandangi hamparan hijau yang cantek ini, jika belum Lelah ingin rasanya berbaring di jembatan bambu sambil memandang matahari….(lebay ya ?)

      3.       Kebun Buah Mangunan

      Masih di desa Mangunan / berdekatan dengan lokasi persawahan terdapat Kebun Buah Mangunan, awal dibangun memang merupakan Kebuh Buah, banyak terdapat jenis buah2an yang ditanam, namun belakangan banyak sekali spot2 gardu pandang yang dibangun dikarenakan area ini mempunyai keindahan tersendiri ketika sunrise dan sunset. Iya..kita bisa menikmati keduanya di lokasi yang sama. Paduan antara pegunungan, awan, pepohonan, sungai dan kabut di pagi hari sangat memanjakan para wisatawan. Itulah sebabnya akhirnya tempat ini dijuluki Negeri Di atas Awan, meski ketinggiannya hanya 200 mdpl.
      Banyak sekali spot foto disini, silahkan pilih se-puasnya. Kalau kami karena hari ini juga harus kembali ke Jakarta, maka tidak bisa lama2 disini, setelah puas foto2 dan makan siang mie2an (karena tdk ada menu maski yg nendang) kamipun melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Lempuyangan sekalian mencari makan siang di sekitar stasiun.
      Puas rasanya hanya 2 hari bisa berkeliling di 3 propinsi, dan badan ini terasa Lelah. Walau bagi kami merupakan trip yang dipaksakan tapi kami puas bisa melaluinya dengan sukses. Ya dipaksakan, 3 propinsi loh, jarang2 kan ? Kalau teman2 ada yang pingin ikutin itinerary ini silahkan, total cost hanya sekita Rp. 700.000an sudah termasuk tiket kereta api PP dari Jakarta Jogya, sewa mobil Hi Ace, tiket wisata, homestay, makan masing2. Cukup efisien kan ?
       
      Terima kasih untuk yang sudah meramaikan acara kita kali ini, Salam Jalan2 Indonesia !