Sign in to follow this  
vie asano

Liburan Keluarga 3 Hari 3 Malam Di Singapura

25 posts in this topic

Singapore atau Singapura mungkin punya luas wilayah yang imut-imut jika dibandingkan dengan luas mayoritas negara di Asia Tenggara. Tapi negara yang satu ini termasuk salah satu yang cukup seksi menggoda bagi wisatawan Indonesia untuk datang mengunjunginya. Nggak heran jika wisatawan Indonesia dikabarkan sebagai salah satu pasar terbesar bagi dunia pariwisata Singapura.

 

Saya dan hubby termasuk salah satu wisatawan yang mupeng untuk mengunjungi Singapura. Sebetulnya kami bukannya baru pertama kali pergi ke negeri Merlion ini karena saya pernah berkunjung ke Singapura tahun 1996 (busyet dah, itu berapa puluh tahun yang lalu yah?) dan hubby pada tahun 2013 kemarin. Namun karena satu dan lain hal rencana berkunjung ke Singapura selalu tertunda hingga kami berkesempatan memasukkan negara ini untuk menutup itinerary wisata liburan ke Jepang. Untuk menutup rangkaian field report yang telah saya tulis sebelumnya (baca disini: ), berikut ini review aktifitas yang kami lakukan selama liburan keluarga ke Singapura selama 3 hari 3 malam.

 

Note:

Pada ?p=192022 saya sudah menceritakan tentang perjalanan dari Kansai International Airport (KIX) menuju Kuala Lumpur pada tanggal 30 April 2015. Untuk mempersingkat tulisan, pengalaman sewaktu di Kuala Lumpur dan Changi International Airport (Singapore) akan saya lewati. Saya akan mulai cerita di Singapore dari hari kedua di Singapore, yaitu tanggal 1 Mei 2015.

 

Day 9

Bugis Street – Merlion Park – Bugis Junction

Jumat, 1 Mei 2015

 

Semalam kami tiba di Singapore kurang lebih pukul 11 malam waktu setempat, dan tiba di hotel kurang lebih pukul 23.30. Jadi nggak heran jika pagi ini kami semua terkapar berat. Kecapekan. Oya, di Singapore ini kami menginap di Fragrance Hotel di daerah Bugis. Insya Allah mudah-mudahan ada kesempatan untuk me-review hotel ini (dan hotel lain yang kami inapi selama trip ini).

 

Beruntung hotel kami berada tepat di sebelah convenience store 7 Eleven, jadi kami nggak harus jauh-jauh ngesot untuk cari sarapan (dan ujung-ujungnya malah bikin kami males gerak dari hotel). Alhasil kami baru ngesot keluar hotel selepas tengah hari. Itinerary hari ini pun sengaja disusun longgar supaya bebas ber-improvisasi.

 

Rute 1:

Bugis Street

Jarak tempuh dari hotel: 10-15 menit jalan kaki

 

Berkaca dari pengalaman gagal beli oleh-oleh yang dinginkan saat berwisata di Jepang, kali ini kami memprioritaskan untuk beli oleh-oleh dulu sebelum pergi jalan-jalan. Pilihan untuk belanja oleh-oleh jatuh pada Bugis Street yang lokasinya nggak begitu jauh dari hotel.

 

11401128_10207001950986856_6418373289153

Bugis Street, via dok.pribadi/2015.

 

11350614_10207001951066858_7822259820034

Bugis Street, via dok.pribadi/2015.

 

11377343_10207001947266763_9012666323557

Kalau nggak salah ini di persimpangan antara Bugis Street dan Albert Road, via dok.pribadi/2015. Mohon koreksi kalau saya salah.

 

Bugis Street ini merupakan sebuah shopping arcade yang terkenal sebagai salah satu tempat terbaik untuk belanja oleh-oleh murah di Singapore. Rumor tersebut ternyata nggak bohong karena tempat ini memang bertabur aneka gerai yang menawarkan aneka barang dengan harga kompetitif. Malah, sangat kompetitif. Saya ingin memberikan sedikit gambaran harga beberapa barang yang sempat saya survey untuk dijadikan oleh-oleh:

 

Sebuah dompet wanite dibandrol mulai harga SGD 10 untuk 3-4 buah. Namun saya juga sempat menemukan toko yang menjual SGD 10 untuk 5 buah dompet. Yaps, banyak barang di Bugis Street ini dijual dengan sistem paketan (tidak dijual satuan).

Tas wanita yang bisa dilipat dibandrol mulai harga SGD 10 untuk 3-4 buah. Tapi saya menemukan sebuah kios di dekat persimpangan Albert Street yang menjual tas sejenis dengan harga USD 10 untuk 5 buah. Tas yang sama dijual dengan harga yang jauh lebih mahal di Vivo City.

Minuman seperti jus dan air mineral harganya mulai dari USD 1.

Untuk coklat, harganya sangat bervariasi. Kami membeli coklat Merlion dengan harga USD 12 untuk 4 box untuk oleh-oleh, dan beberapa coklat lainnya yang dibandrol dengan harga USD 10 untuk 4-5 item.

Es krim potong ala Singapore harganya USD 1. Varian rasanya beragam. Yang saya coba di foto ini adalah rasa durian.

 

11406779_10207001948226787_3566295435630

Es potong Singapore, via dok.pribadi/2015.

 

[Tips: Saat kami berkunjung ke tempat ini cuaca sedang panas terik, dan suhu semakin panas di dalam Bugis Street karena banyaknya orang yang berada di area ini. Si sulung dan si kecil jadi rewel karena kegerahan dan merasa nggak nyaman berdesakan dengan orang banyak. Saran saya, traveller yang membawa bayi maupun anak-anak sebaiknya datang pada momen-momen dimana Bugis Street ini nggak terlalu ramai oleh pengunjung, misalnya saja pada pagi hari di hari kerja.]

 

Kami selesai keliling-keliling Bugis Street kurang lebih pukul 14.00. Karena sudah terlalu siang, kami makan siang di resto yang lokasinya dekat dengan pintu Bugis Street, yaitu Noodles Star.

 

Noodles Star

Lokasi: Victoria Street, tepatnya di dekat pintu masuk ke Bugis Street

Kisaran harga: mulai dari kisaran SGD 5-6 untuk menu utama

Total biaya makan (untuk 2 dewasa, 1 anak, 1 bayi): SGD 40

 

Resto ini kebetulan saja kami pilih karena kelihatan memiliki menu non-babi. Namun setelah masuk, kami baru ngeh kalau harga menu di resto ini sebetulnya diluar budget yang kami anggarkan. Semula kami menganggarkan USD 5-8 untuk sekali makan dan minum. Pada kenyataannya, total biaya makan dan minum kami untuk siang ini mencapai USD 40, which is mean lumayan menguras budget juga yah. Hiks..

 

Btw, seperti ini penampakan menu yang kami pesan. Nggak semua sempat di foto karena sebagian langsung diserbu begitu makanan datang. Maklum, sudah lapar berat sih, hehe..

 

11406999_10207001951906879_1377711915479

Fried Rice with Roasted Meat and Prawn Paste, via dok.pribadi/2015. Menurut saya harga nasi goreng-nya sih lumayan enak. Isiannya juga banyak. Porsinya juga cukup banyak (untuk ukuran saya).

 

11351153_10207001952066883_3647419797176

Steamed Rice with Sea Bream in Teriyaki Sauce, via dok.pribadi/2015.

 

[Tips: Bagi family traveller sekaligus budget traveller yang ingin mencoba menu di resto ini, saya sarankan untuk memesan menu yang bisa disantap beramai-ramai supaya lebih hemat. Tapi jika memang betul-betul sedang berhemat, sebaiknya cari resto lain yang harganya lebih miring.]

 

Rute 2:

Merlion Park

Akses: via Stasiun Raffles Place

 

Dari tempat makan, kami langsung menuju ke stasiun terdekat untuk naik MRT ke Merlion Park. Stasiun Bugis ini lokasinya dekat sekali dengan Bugis Street dan bersebelahan dengan shopping center Bugis Junction. Untuk dapat pergi ke Merlion Park, kami harus naik MRT East-West Line dari Stasiun Bugis dan turun di Stasiun Raffles Place.

 

Oya, bagi yang belum pernah naik MRT di Singapore, MRT (alias Mass Rapid Transit) disini konsepnya sama dengan kereta dan subway di Jepang, yaitu menggunakan warna untuk membedakan jalur (atau line) untuk masing-masing rute. Penumpang harus membeli tiket sebelum naik ke MRT, atau jika mau mudah, penumpang dapat membeli kartu EZ Link dan mengisinya sejumlah nominal tertentu (minimal SGD 10). Kartu tersebut prinsipnya sama seperti IC card di Jepang (contohnya Suica, Passmo, Icoca, Haruka, dsb), dimana kita harus men-tap 1x sebelum naik kereta dan men-tap 1x saat keluar dari stasiun. Ngomong-ngomong, kami nggak beli kartu EZ Link karena seorang teman berbaik hati meminjamkan kartu-kartunya dengan catatan kami harus mengisi sendiri saldo di kartu tersebut.

 

11403272_10207001946906754_5087744099716

Peta MRT Singapore, via dok.pribadi/2015.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Katanya, untuk mencapai Merlion Park, kami harus keluar dari Exit H di Stasiun Raffles Place. Namun setelah kami keluar di Exit H, kami nggak menemukan ada informasi menuju ke Merlion Park. Karena sebelumnya nggak riset lebih dulu tentang posisi dan lokasi dari Merlion Park (yaps, kami mengulang kembali kesalahan sewaktu gagal mencari Shinsaibashi Suji di Osaka), alhasil kami muter-muter dulu beberapa blok. Inilah beberapa foto yang sempat kami abadikan sewaktu nyasar.

 

11209581_10207002228793801_6111111743078

Informasi pintu keluar di Stasiun Raffles Place, via dok.pribadi/2015.

 

11253738_10207002318076033_2371657165066

Nyasar jalan-jalan menikmati suasana Singapore, via dok.pribadi/2015.

 

10384059_10207002319836077_4572131313791

Masih dalam rangka nyasar jalan-jalan, via dok.pribadi/2015.

 

Setelah kurang lebih 30-40 menit jalan kaki (yang berasa seperti 2x lipat karena dikombinasikan dengan rasa frustasi akibat harus jalan kaki dalam cuaca yang terik), kami mulai menemukan titk terang dimana posisi Merlion Park tersebut. Ternyata, kami salah ambil jalan karena kami malah menyusuri arah menjauhi Merlion Park (dan kami nggak bisa ngecek posisi via Google Maps karena nggak nyewa modem Wi-Fi). Namun segala kegaharan dan rasa frustasi akhirnya lenyap setelah kami melihat bangunan Marina Bay Sands dari kejauhan yang memang keren punya.

 

11406419_10207002329076308_3962388142105

Marina Bay Sands, via dok.pribadi/2015.

 

11390094_10207002329036307_5078598741605

Nggak tahan untuk nggak share street furniture unik yang bisa ditemukan di dekat Fullerton Plaza, via dok.pribadi/2015.

 

11391532_10207002330956355_7559057026638

Marina Bay Sands dilihat dari dekat Fullerton Pavillion, via dok.pribadi/2015.

 

Setelah puas jeprat-jepret Marina Bay Sands dari kejauhan, kami pun ngesot ke Merlion Park. Namun godaan untuk mampir ke kafe yang ada dibawah jembatan jauh lebih besar dibanding langsung mampir ke Merlion. Maklum, saat itu sudah pukul 16.00 dan perut sudah melilit minta diisi cemilan. Pilihan kami pun jatuh pada sebuah kafe bernama Toast Junction.

 

Toast Junction

Lokasi: tepat dibawah jembatan Fullerton Road

Kisaran harga: *lupa* (ada alasannya kenapa saya lupa)

 

Waktu melihat kafe ini, suasananya terlihat begitu menggoda. Kami pun langsung beranjak ke kasir untuk memesan makanan dan minuman. Namun sayangnya kasir (pria) yang melayani kami pada waktu itu nggak ramah kurang memberikan gestur positif. Dia kelihatan nggak sabar waktu menunggu kami membaca menu (maklum, ini pertama kalinya kami kesini) dan penjelasannya pun terkesan buru-buru. Berhubung saya juga sedang dalam mode capek, lapar, dan gahar; rasa bete makin berlipat. Saya pun memesan menu secara asal (pokoknya biar cepat beres), sampai-sampai nggak memperhatikan soal harga.  

 

Penampakan suasana kafe dan menu yang kami pesan seperti ini:

 

11407159_10207002342756650_4986549794214

Bagian bawah jembatan yang ramai oleh pengunjung, via dok.pribadi/2015.

 

11402670_10207002346436742_8494868632338

Toast Junction, via dok.pribadi/2015.

 

11406963_10207011243459162_4925936688136

Meja tempat kami makan, via dok.pribadi/2015. Sistem pemesanannya melalui kasir. Untuk minuman yang ready stock, bisa langsung ambil sendiri di kulkas. Sedangkan untuk makanan, kita akan mendapat pager yang akan berbunyi jika makanan kita telah selesai dibuat dan harus diambil sendiri di counter.

 

11406896_10207002346236737_4310251504136

(Kiri) kalau nggak salah namanya Mie Laksa, dan (kanan) French Toast with butter and kaya jam, via dok.pribadi/2015.

 

Gimana soal rasanya? Komentar saya cuma: “hmmmm…..â€. Masih masuk dalam kategori “bisa dimakan†sih, jadi saya pilih untuk no comment saja. Yang pasti sih mie-nya nggak habis. Kalau untuk minumannya, saya juga no comment. Habis pesan minumnya random sih (supaya cepat saja), jadi soal rasa dan harganya pun nggak ada yang nampol dalam ingatan. Apa saya akan balik lagi kesana jika ada kesempatan untuk ke Singapore lagi? Entahlah, hehe..

 

Beres makan, kami pun jalan-jalan ke Merlion Park, dan kemudian singgah sejenak di sebuah butik yang menjual aneka fashion dan souvenir ala Singapore (lokasinya masih di bawah jembatan).

 

10425361_10207002342716649_3237786647490

Merlion Park, via dok.pribadi/2015. Pengunjung hari itu padat sekali.

 

11401174_10207011246219231_8714005711515

Si sulung coba-coba meniru pose Merlion, via dok.pribadi/2015.

 

Dari Merlion Park, kami kembali ke Stasiun Raffles Place untuk naik MRT kembali ke Stasiun Bugis. Kali ini kami nggak pake acara nyasar-nyasar dulu, walau tetap saja perjalanan memakan waktu 15-20 menit karena kami banyak berhenti untuk foto-foto.

 

Rute 3:

Bugis Junction

Alamat: 200 Victoria Street Singapore 188021

Akses: via Stasiun Bugis atau 10-15 menit jalan kaki dari hotel kami di Bugis Street

 

Kami tiba di Stasiun Bugis kira-kira pukul 18.00. Setelah tiba disana, kami baru tahu jika stasiun tersebut ternyata terkoneksi dengan Bugis Junction. Berhubung kami harus belanja beberapa keperluan harian dan keperluan bayi, kami pun tanya-tanya pada petugas di Stasiun Bugis dimana bisa membeli keperluan bayi seperti popok sekali pakai. Petugas tersebut merekomendasikan sebuah pusat perbelanjaan yang jaraknya agak jauh. Karena sudah males untuk jalan-jalan lagi, kami nekat main saja ke Bugis Junction walau nggak yakin jika kami bisa menemukan supermarket yang menjual popok sekali pakai.

 

11350578_10207001952826902_5918860279885

Bugis Junction, via dok.pribadi/2015.

 

Nggak disangka, ternyata di Bugis Junction ada lho tempat seperti supermarket. Namanya memang mengesankan seperti nama toko buah (saya lupa nama persisnya, namun kalau nggak salah ada unsur “Fresh†di namanya). Ternyata supermarket tersebut nggak hanya menjual produk segar saja, karena disana juga ada banyak produk harian dan juga perlengkapan untuk bayi. Jadi, jika ada family traveller yang menginap di sekitar Bugis dan mencari supermarket yang menjual keperluan bayi, bisa main-main ke Bugis Junction.

 

Berhubung hari semakin malam, kami pun sekaligus mencari makan di Bugis Junction. Ternyata di Bugis Junction juga ada Yoshinoya. Kami pun iseng-iseng mampir kesana untuk membeli makan malam (take away). Ternyata walau sama-sama Yoshinoya, tetap saja ada ciri khas dari Yoshinoya di Singapore dengan Yoshinoya di Osaka dan Jakarta. Saat kami berkunjung ke tempat ini, Yoshinoya di Bugis Junction ini tengah mengadakan promo harga khusus untuk pelajar. Ada beberapa menu yang nggak pernah saya lihat sebelumnya di Yoshinoya Jakarta dan Osaka, walau menu klasik seperti Beef Bowl Original masih tetap tersedia. Oya, harga menu di Yoshinoya ini kalau nggak salah kira-kira mulai dari USD 5 untuk menu utama, yang berarti harganya cukup ramah untuk anggaran kami.

 

Dari Bugis Junction ini kami langsung kembali ke hotel untuk menyantap makan malam yang sudah kami beli dari Yoshinoya.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 10

Vivocity – Sentosa Island – Bugis Junction (lagi)

Sabtu, 2 Mei 2015

 

Bagi yang sudah pernah baca field report saya bagian pertama dan kedua, pasti sudah sering membaca jika kami nyaris selalu bangun kesiangan. Namun hari ini istimewa, karena kami ada janji dengan seorang teman di Vivocity. Jadi walau mood masih ingin leyeh-leyeh di atas kasur, khusus hari ini kami sengaja bangun lebih pagi supaya nggak terlambat pergi ke Vivocity.

 

Rute 1:

Vivocity

Alamat: 1 HarbourFront Walk, Singapore 098585

Akses: via Stasiun HarbourFront (NorthEast Line atau Circle Line)

Jam operasional: 10.00-22.00

 

Bisa dibilang saya buta banget soal Singapore. Pertama kali pergi ke negerinya Merlion ini pada tahun 1996, dan belum pernah menapakkan kaki lagi di Singapore sejak saat itu. Karenanya, waktu ada rencana ketemuan di Vivocity, saya sempat bertanya-tanya. Vivocity itu apaan sih? Nama sebuah kompleks perumahan, taman bermain, atau apa?

 

Setelah dijelaskan oleh hubby, saya baru ngeh jika Vivocity merupakan nama sebuah shopping center yang konon adalah yang terbesar di Singapore. Untuk mencapai shopping center ini, dari Stasiun Bugis kami harus naik Earth West Line dan turun di Stasiun Outram Park, dilanjutkan dengan naik North East Line hingga mentok di Stasiun Harbour Front yang terkoneksi dengan Vivocity. Berhubung saya nggak sempat foto-foto tampak bangunan dari luar, seperti inilah penampakan Vivocity (foto diambil dari wikimedia commons).

 

11391332_10207018105110699_5311522322889

Vivocity, via Terence Ong/wikimedia commons 

 

11401226_10207018105430707_6606013324139

Suasana di dalam Vivocity, via Terence Ong/wikimedia commons 

 

Toast Box

Lokasi: Vivocity lantai 3

Kisaran harga: mulai dari SGD 4 (untuk makanan) dan SGD 1.5 (untuk minuman)

 

Begitu tiba di Vivocity, kami langsung menuju ke tempat janjian, yaitu Toast Box. Toast Box di Vivocity ini ada di 2 lokasi, yaitu di lantai B2 dan di lantai 3. Toast Box yang kami kunjungi kali ini ada di lantai 3, dan lokasinya bersebelahan dengan taman outdoor. Kami sempat ngemil-ngemil sedikit di Toast Box ini. Suasana Toast Box kurang lebih seperti ini:

 

11402711_10207011467144754_6662420838879

Toast Box di Vivocity, via dok.pribadi/2015.

 

Toast Box ini memiliki spesialisasi aneka menu roti panggang. Ada roti panggang dengan selai coklat, kacang, dan lain-lain. Tapi ada juga menu non-roti, seperti mie. Sistem pemesanan di tempat ini adalah: pembeli langsung pesan dan bayar makanan di kasir. Kemudian pembeli akan mendapat alat seperti pager yang akan berbunyi jika menu yang dipesan sudah siap dan bisa di ambil di counter.

 

[Tips: Seperti yang sudah saya singgung di atas, lokasi Toast Box ini dekat dengan taman outdoor yang ada di lantai 3. Jika bawa anak-anak, taman ini asyik banget untuk dijelajahi bersama keluarga, khususnya anak-anak, karena di taman ini terdapat tempat untuk main air yang pastinya akan disukai oleh anak-anak. Sayangnya kemarin kami nggak sempat menjelajah area ini karena saat itu agak gerimis.  Oya, di Vivocity ini juga ada wahana permainan outdoor lho. Intinya, jika ada family traveller yang tengah mencari tempat untuk dikunjungi di Singapore bersama keluarga, kalian dapat mempertimbangkan untuk mampir ke Vivocity.]

 

11406719_10207020708095772_3541962430621

Rooftop garden di Vivocity, via sengkang/wikimedia common 

 

Rute 2:

Sentosa Island

 

Selesai dari Toast Box, kami melanjutkan rencana untuk mengunjungi Sentosa Island. Hubby ingin mengajak si sulung untuk main Skyline Luge Sentosa a.k.a Luge (nanti akan saya jelaskan dibawah), jadi kami pun mulai mengantri untuk naik monorail ke Sentosa Island. Monorail ini bisa di akses dari lantai 3 Vivocity, dan nggak begitu jauh dari Toast Box. Jadi kami pun langsung ikut antri untuk naik monorail (kami baru tahu jika monorail ini namanya Sentosa Express). Harga tiketnya SGD 4 untuk sekali naik, dan penumpang bebas untuk naik dan turun di stasiun manapun yang mereka inginkan tanpa harus bayar lagi, selama penumpang nggak kembali lagi ke Stasiun Sentosa di Vivocity. Secara keseluruhan, ada 4 stasiun yang dilalui oleh monorail ini: Stasiun Sentosa, Stasiun Waterfront, Stasiun Imbiah, dan Stasiun Beach.

 

Berhubung rencana utama kami adalah naik Luge, maka kami pun naik monorail dan turun di Stasiun Beach. Dari stasiun ini kami tinggal jalan sedikit untuk mencapai Luge. Oya, Luge ini merupakan sebuah wahana permainan yang bentuknya berupa track menuruni bukit. Pengunjung harus naik dulu ke atas bukit dengan menggunakan kereta gantung, dan kemudian menuruni bukit menggunakan alat seluncur dan memanfaatkan gravitasi melalui track yang berkelok-kelok. Penampakan Luge seperti ini:

 

11391445_10207011376902498_8589092969159

Jalan menuju Luge dari Stasiun Beach, via dok.pribadi/2015.

 

11406495_10207011481265107_4895742331220

Luge, via dok.pribadi/2015.

 

11401251_10207011482465137_2202250521160

Informasi umum tentang Luge, via dok.pribadi/2015.

 

11402940_10207011480865097_3598769558009

Kereta gantung yang akan membawa pengunjung ke bagian atas, via dok.pribadi/2015.

 

11629_10207011479665067_2918225472843772

Track Luge, via dok.pribadi/2015.

 

Sebelum bisa naik Luge, pengunjung harus membeli dulu tiket di counter tiket. Untuk dapat naik Luge, pengunjung harus berusia minimal 6 tahun dan memiliki tinggi minimum 110 cm. Karenanya hanya hubby dan si sulung saja yang mencoba wahana ini, sementara saya bertugas jaga si bungsu. Oya, harga tiket Luge ini adalah SGD 17/orang (untuk naik luge dan kereta gantung), dan harganya akan lebih murah jika membeli beberapa tiket sekaligus. Sedangkan jika ingin naik 1 luge berdua dengan anak-anak (tandem), pengunjung cukup menambah SGD 3 saja (jadi totalnya SGD 20 untuk sekali naik Luge dan kereta gantung).

 

11412375_10207011482705143_3742944607023

Tiket Luge dan kereta gantung, via dok.pribadi/2015. Tiket yang kami beli ini untuk naik 1 Luge bersama anak-anak.

 

[Tips: Skyride Luge Sentosa ini menjual tiket untuk individu (1 orang/Luge) dan tiket tandem (1 dewasa+1 anak/Luge). Jika kawan traveller ada yang membawa anak-anak namun ingin naik Luge sendiri-sendiri, jelaskan hal tersebut saat membeli tiket di counter tiket. Kemarin sebetulnya hubby dan si sulung ingin naik Luge sendiri-sendiri, namun ternyata pihak kasir salah mengerti maksud kami dan akhirnya malah memberikan tiket tandem yang akhirnya cukup membuat hubby dan si sulung manyun selama beberapa waktu.]

 

Sesampainya di atas, pengunjung akan mendapat tutorial cara mengendarai Luge dari petugas, termasuk cara mengendalikan Luge sekiranya ada masalah saat menuruni bukit. Pengunjung juga akan dilengkapi dengan helm untuk melindungi kepala. Saya rasa saya harus menunggu 30-45 menit (sepertinya lebih) sejak hubby dan si sulung naik kereta gantung sebelum bisa melihat mereka menuruni bukit menggunakan Luge. Dan berikut inilah penampakan saat naik Luge.

 

11351209_10207011377622516_3449114501715

Hubby dan si sulung lagi having fun, via dok.pribadi/2015.

 

11391401_10207011485465212_2693782209861

Suasana menjelang belokan terakhir, via dok.pribadi/2015.

 

[Tips: Jika ingin naik Luge, perhatikan baik-baik instruksi dan tutorial yang diberikan oleh petugas yah, khususnya jika membawa anak-anak. Selama saya menunggu hubby dan si sulung menuruni bukit, saya sempat melihat seorang anak kira-kira usia pelajar SD terlalu kencang saat menuruni bukit dan Luge-nya nyaris lompat keluar track ke arah rumput. Untungnya Luge-nya nggak sampai lompat sepenuhnya dan si anak bisa kembali lagi ke track-nya berkat instruksi dari ayahnya yang naik Luge dibelakangnya. Tambahan lainnya, di dekat counter tiket ada sebuah kedai yang menjual aneka minuman dan snack. Jika teman-teman nggak naik Luge dan mencari tempat untuk menunggu teman/anggota keluarga lainnya yang lagi naik Luge, kalian bisa membeli snack maupun minuman ringan untuk dinikmati di area makan outdoor yang letaknya berdekatan dengan track Luge. Foto-foto di atas saya ambil dari area makan tersebut.]

Share this post


Link to post
Share on other sites

Acara naik Luge selesai kira-kira pukul 12.30. Kami pun segera mencari tempat untuk makan siang. Setelah sempat hampir nyangkut di sebuah kafe, akhirnya kami memutuskan untuk mampir ke McDonald’s saja. Yah, sebetulnya saya punya prinsip untuk menghindari restoran fast food (khususnya yang gerainya sudah ada di Indonesia) saat berwisata ke luar negeri. Apa gunanya jauh-jauh ke luar negeri kalau ujung-ujungnya makan di tempat yang bisa ditemukan di Indonesia? Namun prinsip tersebut terpaksa dilanggar karena kami ‘terkagum-kagum’ melihat harga menu di kafe yang sebelumnya kami datangi. Apa boleh buat, demi menjaga anggaran wisata supaya tetap dalam budget (ciehh, apaan sih?),

 

Menurut saya, McDonald’s di Singapore ini nggak jauh beda dengan McDonald’s di Malaysia, namun beda dengan McDonald’s di Indonesia. Di McD ini kalian bisa melihat berbagai pilihan paket ayam goreng dan nugget, namun jangan harap akan menemukan nasi putih. Untuk pilihan menu minumannya sih standar, mulai dari minuman soda hingga air mineral. Seperti inilah penampakan menu yang kami pesan siang itu.

 

11401579_10207011484745194_1787217949975

Menu makan siang untuk ber-4, via dok.pribadi/2015.

 

11390204_10207011485705218_7712441841027

Detail bon pembayaran, via dok.pribadi/2015. Nggak sampai SGD 15 untuk makan siang ber-4. Hemat kan?

 

Rute 3:

Universal Studio Singapore

Akses: via Stasiun Waterfront (jika menggunakan monorail)

 

Selesai makan, kami kembali lagi ke stasiun monorail. Bukan untuk balik ke Vivocity, tapi untuk turun di Stasiun Waterfront. Tujuan kami adalah mengunjungi Universal Studio Singapore, yang memang bisa di akses melalui Stasiun Waterfront.

 

Sampai disini mungkin kedengarannya keren ya? Padahal tujuan utama kami ke Universal Studio ini bukan untuk menjajal masuk ke atraksi apapun, maupun untuk wisata kuliner. Tapiiiii… cuma untuk foto-foto doang, hahaha. Karenanya, begitu kami menjejakkan kaki di Stasiun Waterfront, yang pertama kami lakukan adalah mencari bola dunia yang menjadi logo Universal Studio. Dan seperti inilah penampakan lambang Universal Studio tersebut.

 

11392961_10207011375942474_1016669974057

Universal Studio Singapore, via dok.pribadi/2015. Waktu itu agak sulit untuk mendapat foto yang betul-betul bagus karena pengunjung di sekitar logo Universal ini lagi cukup banyak.

 

Sejak awal, tujuan kami pergi ke Universal Studio ini ya memang hanya untuk jalan-jalan dan cuci mata secara gratisan (pelit.com alias irit). Karenanya, hubby sempat men-survey beberapa aktifitas gratisan yang mungkin bisa dilakukan disana bersama si kecil. Hasilnya, kami menemukan jika di kawasan Universal Studio Singapore ada sebuah plaza air mancur kecil yang boleh dijadikan tempat main gratis bagi anak-anak (dan orang dewasa, kalau nggak malu ya.. hehe..). Itulah sebabnya saya sengaja berbekal baju ganti untuk si kecil yang pastinya akan senang kalau diajak berbasah ria. Dan untungnya, saat kami tiba di kawasan Universal Studio Singapore ini cuaca sedang puanas pol. Si sulung yang sudah mengeluh kegerahan pun mendadak bersemangat saat kami ijinkan untuk main air di plaza air mancur tersebut.

 

11391381_10207011486625241_4515762996721

Kolam air mancur di Universal Studio Singapore, via dok.pribadi/2015.

 

11227638_10207011488145279_8719706423845

Si sulung (baju hijau) lagi asyik main air bersama beberapa anak lain, via dok.pribadi/2015.

 

Sebetulnya plaza air mancur ini nggak seberapa besar. Tapi karena air mancurnya keluar berganti-ganti dari beberapa titik, kolam ini cukup membuat anak-anak kegirangan. Mereka berganti-ganti menebak tempat keluar air selanjutnya, dan ada juga beberapa anak yang sengaja menutup lubang air supaya air nggak menyembur keluar. Pokoknya, bagi yang ingin mencari hiburan gratis di area Universal Studio Singapore untuk anak-anak, ajak saja mereka main air di plaza ini.

 

[Tips: Berencana untuk main air? Jangan lupa siapkan baju ganti ya. Dan jangan lupa mengawasi anak-anak saat bermain di area ini. Plaza air mancur ini lumayan licin, dan saya sempat melihat sendiri ada beberapa anak yang jatuh terpeleset gara-gara terlalu heboh main di tempat ini. Sedangkan jika anak-anak sudah cukup besar untuk menjaga diri, orang tua bisa menunggu di taman yang lokasinya nggak jauh dari plaza air mancur sambil mengawasi dari jauh.]

 

Kami selesai main-main di kawasan Universal Studio ini kira-kira pukul 15.00. Setelah si sulung ganti baju dengan baju kering, kami pun segera kembali ke Stasiun Waterfront untuk naik monorail menuju ke Vivocity. Sesampainya di Vivocity, kami pun segera keliling-keliling untuk meneruskan agenda mencari oleh-oleh. Pilihan pun jatuh pada toko coklat (sayangnya saya lupa nama tokonya) yang kami temukan saat dalam perjalanan menuju ke Stasiun MRT HarbourFront yang terkoneksi dengan basement Vivocity. Toko coklat ini cukup besar dan punya banyak stok coklat dengan varian rasa yang unik-unik. Menariknya, saat itu banyak coklat dengan kemasan menarik yang diobral dengan harga lumayan miring. Kalau nggak salah total belanjaan kami di tempat ini nggak sampai SGD 30 untuk beberapa box coklat dengan kemasan yang menarik untuk dijadikan oleh-oleh.

 

Rute 4:

Bugis Junction - Hotel

 

Sepertinya Bugis Junction menjadi shopping center favorit kami selama di Singapore. Bukan karena tempat ini sedemikian unik dan ciamik sehingga bikin kami jatuh cinta, tapi karena Bugis Junction ini terkoneksi dengan Stasiun MRT Bugis yang merupakan stasiun terdekat dengan hotel kami. Jadi nggak heran jika setiap kali kami baru bepergian, kami selalu menyempatkan diri untuk jalan-jalan sejenak di Bugis Junction ini, khususnya jika menjelang waktu makan.

 

Begitu juga dengan hari ini. Sepulang dari Vivocity lagi-lagi kami mampir ke Bugis Junction. Bukan untuk nongkrong, tapi untuk nyari makan malam. Jika pada hari sebelumnya kami makan di Yoshinoya, maka kali ini kami memilih restoran yang punya citarasa lebih khas. Berhubung bon pembelian makan di Bugis Junction ini hilang karena terselip, nggak banyak yang bisa saya ceritakan. Yang pasti saya ingat kalau salah satu menu yang kami pesan adalah Mie Laksa (take away) dan kalau nggak salah harga per-porsinya antara SGD 5-7. Menurut saya rasa mie-nya sih lumayan, dan nggak mengembang walau dimakan di hotel (yang membutuhkan waktu kira-kira 10-15 menit jalan kaki dari Bugis Junction). Kalau ada yang pernah makan mie seperti ini di Bugis Junction, please tolong info nama resto-nya yah. Penampakan menu dan kemasan take away-nya sih seperti ini:

 

11351184_10207011488265282_6935042794578

Mie yang dibeli di Bugis Junction, via dok.pribadi/2015.

 

***

 

Day 11

Changi Airport (Singapore) – Bandara International Soekarno-Hatta (Jakarta/Indonesia)

Minggu, 3 Mei 2015

 

Hari ini kami check out pagi-pagi, kurang lebih pukul 06.30. Proses check out di hotel ini pun lumayan lancar dan cepat. Kami pun dibantu untuk memesan taksi menuju ke bandara, tentunya dengan tambahan biaya reservasi diluar ongkos taksi yang sebenarnya.

 

Kurang lebih kami tiba di Changi pukul 07.15 waktu setempat, dan itu berarti kami datang kepagian. Rencananya kami flight pukul 11.00, dan itu berarti kami baru bisa check-in kira-kira pukul 9 atau 10. Apa boleh buat, kami pun jalan-jalan dulu di Changi Airport.

 

Semula saya pikir kami hanya akan duduk manis mainan gadget sambil menunggu waktu check-in. Tapi ini Changi gitu loh. Bandara yang satu ini memang layak disebut sebagai bandara terbaik di dunia karena disini banyak terdapat fasilitas pendukung yang pastinya nggak akan bikin pengunjung mati gaya. Saya sudah cukup kaget saat melihat ada taman yang sangat asri di Terminal 2. Eh ternyata di dekat taman ini ada fasilitas menarik untuk anak-anak, yaitu Woodblock Rubbing Station. Di tempat ini anak-anak bisa mengambil kertas dan krayon/pensil warna yang digunakan untuk mencetak aneka gambar yang terdapat di berbagai papan kayu. Sayangnya file foto-foto selama di Changi ini entah ada di handphone mana, jadi maaf saya belum bisa share foto aktifitas disini. Padahal area taman dan sekitarnya ini lumayan seru lho. Si sulung dan si bungsu senang sekali menjelajah area taman dan kemudian ikut coret-coret di area Woodblock Rubbing Station.

 

Nggak banyak lagi yang kami lakukan di Changi selain sarapan di Coffee Bean sambil menunggu waktu check-in. Proses check-in dan imigrasi pun berjalan cukup lancar, kecuali pada saat ketika petugas meminta saya membuang sebotol vitamin (yang sebetulnya isinya nggak sampai 50 ml) atau meminumnya saat itu juga. Saya memilih opsi membuang botol tersebut, karena siapa sih yang mau menghabiskan vitamin segitu banyak dalam sekali tenggak? Masalah kedua muncul saat koper hubby ternyata nggak lolos bagasi kabin walau beratnya masih jauh dari batas maksimum (dan lolos bagasi kabin di KIX dan KLIA) sehingga koper mendadak harus ditempatkan di bagasi. Untungnya penempatan koper di bagasi tersebut free of charge, dan koper pun tiba dengan selamat di Jakarta. Perjalanan pulang menggunakan Tiger Airways pun tergolong lancar, kecuali pada momen-momen dimana turbulance terasa banget dan pada satu waktu sempat membuat pesawat terasa seperti dihempas (yang sukses membuat penumpang satu pesawat menjerit secara berjamaah).

 

Saya akan melanjutkan tentang resume itinerary dan juga kesan-kesan wisata di Jepang dan Singapore pada postingan selanjutnya yang insya Allah akan menutup rangkaian field report liburan kali ini. Ditunggu saja yah :) 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Resume liburan keluarga ke Kyoto, Nara, Osaka, dan Singapore tanggal 23 April – 3 Mei 2015. Untuk review lebih lengkap tentang trip-nya, silahkan baca disini:

 

>> isinya tentang tahap persiapan dan wisata di Kyoto.

>> isinya tentang wisata di Nara dan Osaka.

>> isinya tentang wisata di Singapore (penutup wisata ke Jepang)

 

Tahap persiapan:

- Biaya tiket pesawat: IDR 22,648,500 (untuk 2 dewasa, 1 anak, 1 bayi).

Rinciannya:

Jakarta – Kuala Lumpur (KUL), via Air Asia: IDR2,347,000 (untuk 2 dewasa, 1 anak, 1 bayi).

Kuala Lumpur – Osaka/Kansai International Airport (KIX), via Air Asia: (2 dewasa x 514 MYR) + (1 anak x 514 MYR) + (1 bayi x 125 MYR) + biaya lain-lain = 1,961.00 MYR (atau IDR 6,863,500 untuk kurs 1 MYR = IDR 3,500)

Osaka/Kansai International Airport (KIX) – Kuala Lumpur (KUL), via Air Asia: (2 dewasa x 744 MYR) + (1 anak x 744 MYR) + (1 bayi x 125 MYR) + biaya lain-lain = 2,996.00 MYR (belum termasuk biaya makan sebesar 62 MYR, sehingga totalnya jadi MYR 3,068), atau kurang lebih 10,738,000 untuk kurs 1 MYR = IDR 3,500.

Kuala Lumpur (KUL) – Changi, via Tiger Air: IDR 800,000

Changi – Jakarta (CKG), via Tiger Air: IDR 1,900,000

 

- Biaya hotel (rincian harga menyusul):

 

23 – 26 April (Kyoto) : Kyoto Dai-ni Tower Hotel

27 – 30 April (Osaka) : MyStays Otemae Hotel

30 April – 2 Mei (Singapore) : Fragrance Bugis Hotel

 

Rincian Itinerary:

Perlu diketahui jika biaya pengeluaran harian hanya estimasi saja. Pada kenyataannya, biaya yang dikeluarkan lebih besar karena ada beberapa pengeluaran yang tidak tercatat.

 

[KYOTO]

Day 1: Kamis, 23 April 2015

- Kansai International Airport (KIX)

- Stasiun Kyoto dan sekitarnya

Estimasi pengeluaran hari ini (diluar biaya ngemil):

[sewa modem] JPY 7,360 (untuk 9 hari)

[Transportasi KIX-Kyoto dan di sekitaran Kyoto] JPY 4,370

[Makan] JPY 1,560 + JPY 1,540

 

Day 2: Jumat, 24 April 2015

- Arashiyama Bamboo Forest

- Sagano Romantic Train

- Explore Umahori

- Kinkakuji Temple

Estimasi pengeluaran untuk hari ini:

[Transportasi] JPY 600 (kereta dari Stasiun Kyoto ke Stasiun Sagaarashiyama) + JPY 600 (kereta dari Stasiun Umahori ke Stasiun Emmachi) + JPY 580 (bus) + JPY 580 (bus)

[Makan] JPY 460 (jajan di Arashiyama) + JPY 1500 (jajan di Kinkakuji) + JPY 2430 (makan malam)

[biaya tiket masuk] JPY 800 (tiket Kinkakuji)

 

Day 3: Sabtu, 25 April 2015

- Fushimi Inari Taisha

- Kiyomizudera Temple

- Higashiyama Area

- Matsuyama Park

- Gion

Estimasi pengeluaran untuk hari ini:

[Transportasi] JPY 350 (kereta dari Stasiun Kyoto ke Stasiun Inari) + JPY 530 (kereta dari Stasiun Fushimi-inari ke Stasiun Kiyomizu-gojo) + JPY 1420 (taksi)

[Makan] JPY 1200 (jajan di Fushimi Inari) + JPY 380 + JPY 1200 (makan di Kiyomizudera) + JPY 620 + JPY 1500 (makan malam)

[biaya tiket] JPY 600 (tiket Kiyomizudera)

 

Day 4: Minggu, 26 April 2015

- Toei Eigamura

- Kyoto Station

- Kyoto Tower

Estimasi pengeluaran hari ini:

[Transportasi] JPY 500 (kereta dari Stasiun Kyoto ke Stasiun Uzumasa) + JPY 500 (kereta dari Stasiun Uzumasa ke Stasiun Kyoto)

[Makan] JPY 2300 (makan di Toei Eigamura) + JPY 1200 (makan siang)

[biaya tiket masuk] JPY 5500 (tiket ke Toei Eigamura) + JPY 600 (tiket diskon ke Kyoto Tower)

[Lain-lain] JPY 1100 (beli foto di Kyoto Tower) + JPY 2400 (beli souvenir)

 

[NARA]

Day 5: Senin, 27 April 2015

- Nara Parks

- Kofukuji Temple

- Osaka

Estimasi pengeluaran hari ini:

[Transportasi] JPY 2080 (kereta dari Kyoto ke Nara) + JPY 1330 (kereta dari Nara ke Osaka)

[Makan] JPY 440 (makan siang) + JPY 800 (afternoon tea) + JPY 1200 (makan malam)

[biaya tiket masuk] JPY 1300 (tiket ke Todaiji)

[Lain-lain] JPY 700 (sewa locker) + JPY 450 (senbei rusa) + JPY 1400 (souvenir)

 

[OSAKA]

Day 6: Selasa, 28 April 2015

- Osaka Aquarium Kaiyukan

- Tempozan Harbor Village

- Tempozan Giant Ferris Wheel

Estimasi pengeluaran hari ini:

[Transportasi] JPY 700 (tiket kereta dari Stasiun Tanimachi 4-chome ke Stasiun Osakako) +

[Makan] JPY 1540 (makan siang)

[biaya tiket masuk] JPY 5200 (tiket Kaiyukan) + JPY 2400 (tiket Tempozan Giant Ferris Wheel)

[Lain-lain] JPY 2600 (oleh-oleh)

 

Day 7: Rabu, 29 April 2015

- Shinsaibashi

- Amerikamura

- Dotonbori

- Namba Parks

Estimasi pengeluaran hari ini:

[Transportasi] JPY 450 (kereta dari Stasiun Tanimachi 4-chome ke Stasiun Shinsaibashi) + JPY 600 (kereta dari Stasiun Namba ke Stasiun Tanimachi 4-chome)

[Makan] JPY 700 (ngemil di Amerikamura) + JPY 808 + JPY 960 (makan siang)

 

[OSAKA-SINGAPORE]

Day 8: Kamis, 30 April 2015

- Kansai International Airport (KIX)

- Kuala Lumpur International Airport (KLIA) di Malaysia

- Changi International Airport di Singapore

Estimasi pengeluaran hari ini:

[Transportasi] JPY 3430 (kereta dari Stasiun Tanimachi 4-chome ke KIX) + SGD 16 (taksi dari Changi ke hotel)

 

[sINGAPORE]

Mulai dari sini saya nggak akan membahas mengenai estimasi pengeluaran karena catatan untuk Singapore ini masih tercecer.

 

Day 9: Jumat, 1 Mei 2015

- Bugis Street

- Merlion Park

- Bugis Junction

 

Day 10: Sabtu, 2 Mei 2015

- Vivocity

- Sentosa Island

- Universal Studio Singapore

- Bugis Junction

 

***

 

Penutup

Setelah mengunjungi Kyoto, Nara, Osaka, dan Singapore bersama anak-anak dan bayi, ada beberapa hal yang bisa saya simpulkan:

 

KYOTO. Kami sekeluarga suka banget dengan Kyoto. Disini jangan harap dapat menemukan bangunan pencakar langit dan kotanya juga nggak terlalu besar, namun justru suasana yang seperti itu yang malah bikin kangen. Dan kalian nggak akan kesulitan menemukan orang yang mau mencoba berbahasa Inggris sebagai bukti jika kota ini sangat welcome dengan turis asing.

OSAKA. Satu hal yang paling saya ingat dari Osaka adalah keramahan penduduknya. Mereka nggak segan-segan membantu orang yang kelihatan kesulitan. Contohnya, saat saya tengah kesulitan mengangkat koper menaiki tangga, ada saja yang menawarkan bantuan untuk mengangkat sampai ke atas. Sama seperti Kyoto, di Osaka ini juga banyak yang nggak alergi dengan bahasa Inggris. Cukup kontra dengan situasi yang pernah saya temui di Tokyo beberapa tahun silam.

NARA. Suasana di Nara ini mirip-mirip dengan Kyoto. Cukup bikin kangen dan penasaran karena kemarin hanya singgah sebentar saja di Nara. Mudah-mudahan ada kesempatan untuk mengunjungi Nara lagi di lain waktu.

SINGAPORE. Kesan pertama saya tentang Singapura adalah….. hawanya panas bangetttttt! Mungkin karena kami baru dari Jepang yang pada waktu itu suhunya sedang sejuk-dingin, jadinya suhu di Singapore ini terasa luar biasa panasnya. Itulah sebabnya pada waktu itu kami nggak terlalu meng-eksplor Singapore karena baru keluar sebentar saja kami sudah banjir keringat.

 

Sekian ulasan dan resume dari saya. Mohon maaf kalau kepanjangan, dan semoga bermanfaat ya!

Share this post


Link to post
Share on other sites

@vie asano

ok udah di bikin topic sendiri ya sep2

Memang itu agak membingungkan kadang untuk ke Merlion Park turunya di Raffles Place tapi jalan masih agak jauh mending ikutin google maps aja :D
btw ini berapa hari ya ?

Share this post


Link to post
Share on other sites

UPDATED

 

wah udah lama kgk makan es potong nih, btw unik tuh bangku yg di dekat Fullerton Plaza :D nice share :salut

 

Bangku yang ini lebih unik lagi mas, tapi kemarin lupa untuk di upload :P 

 

11425236_10207011233458912_4893244990982

 

@vie asano

ok udah di bikin topic sendiri ya sep2

Memang itu agak membingungkan kadang untuk ke Merlion Park turunya di Raffles Place tapi jalan masih agak jauh mending ikutin google maps aja :D
btw ini berapa hari ya ?

 

Masalahnya kemarin ga bisa akses internet, jadi lebih banyak mengandalkan feeling (yang ternyata salah banget, hahaha)

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By Yones deliyandra
      Mengunjungi mahkota bumi ini! Himalaya!
      Annapurna Base Camp 4.130 mdpl Amazing Landscape to ABC Aku selalu bermimpi dan membayangkan untuk bisa datang melihat agungnya pegunungan ini, membayangkan setiap langkah melalui jalan-jalan setapak naik dan turun gunung, menyinggahi setiap desa-desa kuno, menyelami mistisnya Himalaya dan bersatu bersama kesunyian alam.
      Selama ini itu semua ada dibayanganku, setiap kali membaca buku-buku tentang perjalanan orang-orang dalam mencari tujuannya masing-masing ke tempat ini selalu membuatku merinding dan penasaran. Mereka selalu menggambarkan betapa indahnya jalur pendakian ini, betapa indahnya suara deru angina malam ketika udara dingin dan salju menghantam, betapa indahknya melihat gunung-gunung tertinggi dunia yang berselimut salju putih. Dan 23 April 2017 aku benar-benar melakukan perjalanan ini. Perjalanan yang semula hanya sebuah mimpi dan impian. Perjalanan yang rata-rata bagi kebanyakan orang di Indonesia, adalah perjalanan yang beresiko dan sedikit nekat, atau malah terlalu nekat. Kadang aku masih tidak percaya kalau akan melakukan ini. Tapi ya disinilah aku sekarang, aku telah melakukannya. Pada tulisan pertama ini, aku akan menjelaskan secara ringkas tentang perjalanan ini beserta intinerary perjalanan ini. Untuk cerita seru lainnya selama perjalanan ini, akan aku jelaskan di tulisan berikutnya. Annapurna Base Camp 4.130 mdpl Annapurna Base Camp (ABC) 4.130 mdpl adalah salah satu jalur treking yang sangat populer bagi kebanyakan turis yang datang untuk menikmati keindahan Himalaya Nepal. Annapurna Base Camp sering menjadi tujuan para turis, selain banyak lagi jalur treking lainnya seperti Everest Base Camp (EBC), Annapurna Sircuit dan masih banyak lainnya. Annapurna Base Camp ini bisa ditempuh dalam 7-8 hari perjalanan naik dan turun, dan bisa ditempuh  secara independen yaitu tanpa menggunakan jasa tour travel ataupun guide. Aku dan temanku melakukan perjalanan treking ini secara independen ini, tanpa tour, guide dan porter. Tour adalah pihak yang menjual paket treking ini, biasanya lengkap dengan guide dan porter. Guide adalah pemandu atau penunjuk arah selama treking ini, guide bisa didapat bersamaan dengan tour atau bisa di sewa secara independen. Porter adalah pihak yang menjual jasanya untuk membawakan semua barang-barang kita selama treking. Biaya untuk guide dan porter berbeda-beda, tergantung negosiasi yang kita lakukan. Nah, berikut ringkasan perjalanan kami selama 15 hari di Nepal, termasuk treking mandiri ke Annapurna Base Camp.
        Day 1,  23 April 2017 Jakarta - Kathmandu Berangkat dari Jakarta dengan maskapai Malindo Air, kebetulan kami dapat harga promo 2.8 juta Rupiah untuk Pulang-Pergi Jakarta-Kathmandu, murah kan… hehe   Namaste Nepal dan VISA Setelah delay sekitar 2 jam, akhirnya pesawat kami berangkat dan sampai di Kathmandu pukul 11 malam. Sesampai di bandara Kathmandu kami lansung mengurus Visa, imigrasi dan bagasi. Beruntung kami sudah melakukan registrasi untuk Visa ini secara online di web imigrasi Nepal (https://www.nepalimmigration.gov.np/). Jadi kami hanya membawa kertas printout bukti kita sudah apply online, langsung melakukan pembayaran sebesar $25 USD tanpa lagi mengisi form. Setelah dapat bukti bayar, langsung ke imigrasi gate untuk mendapatkan striker Visa, dan Namaste.... Welcome to Nepal, have a nice trip, ucap petugas imigrasinya. Visa Nepal     Menuju Thamel Dari bandara menuju daerah Thamel kami menggunakan taxi dengan ongkos 500RN, harus nego dulu ya, karena biasanya mereka menawarkan sampai 800RN   Penginapan di Thamel. Karena kami sampai di Kathmandu sudah tengah malam, jadi penginapan di Thamel sudah pada tutup. Setelah menggedor salah satu pintu hostel, dapatlah kami kamar yg lumayan nyaman dengan membayar 1000Rn. Hotel Sun Way Inn di Thamel Kathmandu Day 2,  24 April 2017 Menuju Pokhara Treking Annapurna Base Camp ini di mulai di kota Pokhara, itu sekitar 8 jam perjalanan dengan bus dari Kathmandu. Kami naik bus tourist dari Thamel dengan ongkos 700Rn, bus berada di sepanjang jalan Kantipath, dan semua bus akan berangkat jam 7 pagi. Tidak masalah kita beli tiket lansung di tempat, karena kami beli tiket lansung di tempat. Tourist Bus   Interior Tourist Bus Permit ACAP dan TIMS Ini adalah izin yang wajib dimiliki oleh setiap treker, kedua Permit ini bisa di urus di Kathmandu atau Pokhara, kebetulan kami mengurusnya di Pokhara yaitu di Pokhara Tourist Service Center. Kantornya tidak jauh dari terminal bus dekat dengan kantor polisi. Jika bingung, bisa tanyakan dengan supir taxi, dan mereka akan lansung mengantarkan kita ke kantor ini.   Jenis Permit Biaya Syarat TIMS 2000 Rn Foto copy passport dan pas photo 2 lembar ACAP 2000 Rn Foto copy passport dan pas photo 2 lembar     Pokhara Tourist Service Center   Pokhara Tourist Service Center TIMS & ACAP permit for treking advice     Menginap di Pokhara Malam ini sebelum treking esok hari, kami istirahat dan menginap di daerah Lakeside. Disini juga kami memilah barang bawaan yang akan dibawa. Barang-barang yang tidak diperlukan, kami titipkan di hotel. Ini sangat penting, karena treking mandiri tanpa guide or porter itu, artinya kita akan membawa barang kita sendiri selama pendakian, jadi jangan sampai ini menyusahkan diri sendiri. Bawalah barang seminim mungkin dan cukup untung mendukung selama pendakian.   Day 3 - 9,  25 April 2017 – 1 May 2017 7 days Treking to Annapurna Base Camp Annapurna Base Camp Treking Map Tanggal Jalur Treking Day 1. 25 April 2017 Nayapul – Kimmrong Day 2. 26 April 2017 Kimmrong – Chommrong Day 3. 27 April 2017 Chommrong – Himalaya Day 4. 28 April 2017 Himalaya – MBC Day 5. 29 April 2017 MBC – ABC – Deurali Day 6. 30 April 2017 Deurali – Chommrong Day 7. 1 May 2017 Chommrong – Siwai   Untuk lama treking ini sebenarnya tergantung kecepatan trek yaa, jadi bisa saja lebih cepat atau lebih lama. Itu adalah trek yang kami yang lalui menyesuikan dengan kondisi dan semangat per harinya, jadi ada yang lumayan jauh, tapi ada juga yang tidak begitu jauh. Treking day 1. Nayapul – Kimmrong Dari Pokhara ke Nayapul bisa menggunakan taxi, lama perjalanan sekitar 1,5 jam dengan ongkos 1600Rn (tergantung nego yaa). Dari Nayapul ke Gandruk, info dari teman bisa menggunakan local bus atau jeeb/taxi. Rencana kami menggunakan bus, tapi karena jadwal nya tidak tentu, akhirnya kami memutuskan untuk naik jeep. Sebenarnya treking sudah bisa dimulai dari sini, tapi demi menghemat waktu dan energy, kami memilih untuk menggunakan jeep. Lama menggunakan jeep dari Nayapul ke Gandruk 1,5 jam dengan hasil tawar menawar ongkos 1300RN untuk 2 orang. 
      Disini nanti akan ada pengecekan untuk permit yang sudah kita buat.  TIMS Check Post   ACAP Check Post Dari Grandruk kami mulai treking, lumayan cape hari pertama ini, dan kami memutuskan untuk menginap di penginapan pertama di daerah Kimmrong     Treking day 2. Kimmrong – Chommrong Kimmrong menuju Chommrong jalurnya terlihat seperti jalur trekking Gunung-gunung di Indonesia, hutan-hutan dan jalan yang naik turun bukit. Tapi view nya indah banget. Hari ke dua ini bagiku sangat melelahkan walaupun sebenarnya kami bisa lebih jauh lagi, tapi karena kondisi fisik yang sudah tidak memungkinkan, akhirnya kami menginap di tempat ini Chommrong.     Treking day 3. Chommrong – Himalaya
      Chommrong sudah cukup dingin, bahkan sore hari sudah turun hujan es disini. Pemandangan dari lodge kami sangat indah dan kereeen. Pegunungan Himalaya bersalju tampak luar biasa dari jendela kaca jendela kamar. Di Chommrong kami meninggalkan beberapa barang lagi, karena menurutku ransel carrier kami makin berat ajaaa. Chomrong ke Himalaya dengan jalur yang terus naik dan sudah sering hujan, jas hujan sangaat membantu.
        Treking day 4. Himalaya – MBC Dingin bangeeet. Jalur ini sudah berhadapan dengan jurang-jurang salju curam membuat kita harus extra hati-hati. Jalur sedikit landai dan naik lagi dan terus naik. Berjalan berdampingan dengan sungai deras dan gunung bersalju menbuat aku diam seribu bahasa, hanya ada pandangan takjub, suara nafas terengah-engah dan deru sungai, sesekali suara burung gagak.    

            Treking day 5. MBC – ABC – Deurali Amazing Landscape to ABC Today is big day. Hari ini aku akan sampai di peraduan mu Annapurna Base Camp. Setelah sarapan yang cukup kami bergegas untuk segera naik menuju ABC. Jalur ini benar-benar jalur terindah dan luar biasa bagi ku, seakan tak percaya aku disini sekarang. Begitu dekat dikelilingi gunung-gunung Himalaya putih bersalju, langit biru yang benar-benar bersih dilengkapi dengan cahaya matahari pagi yang menghangatkan tubuh. Allahuakbar, tak ada yang seindah ini. Terus naik perlahan, bertemu teman-teman sependakian yang bergerak turun, sementara kami terus naik naik. Semangat dari mereka terus menyemangati ku.   Aku sampai… ya aku sampai… impian aku sudah menjadi nyataa.. Berdiri disini.  Annapurna Base Camp 4.130 mdpl   Annapurna Mountain  
      Setelah puas di ABC kami mulai berjalan turun, target 2 desa di bawah untuk menginap malam ini. Cuaca di atas  jam 11 sudah mulai tidak bagus, hujan badai menemani perjalanan turun kami.   Treking day 6. Deurali – Chommrong Deurali – Himalaya – Dovan – Bamboo – Sinuwa – Chommrong. Hari ini benar-benar menguras energi bagi ku. Di Chommrong kami menginap di lodge yang sama dengan waktu kami naik. Treking day 7. Chommrong – siwai Chommrong – Jhinu – New Bridge – Kymi – Siwai. Siwai – Phokara bisa menggunakan jeep atau local bus.   Day 10, 2 May 2017 Phokara. Setelah pendakian beberapa hari, hari ini kami habiskan untuk istirahat dan membersihkan barang-barang selama pendakian.   Day 11, 3 May 2017 Phokara, disini kita menghabiskan waktu untuk jalan-jalan explore Phokara   Day 12, 4 May 2017 Phokara - Kathmandu   Day 13, 5 May 2017 Explore Kathmandu   Day 14, 6 May 2017 Explore Kathmandu   Day 15, 7 May 2017 Kathmandu - Jakarta

      Begitulah penjelasanku secara ringkas tentang perjalanan ini beserta intinerary perjalanan ini. Untuk cerita seru lainnya selama perjalanan ini, akan aku jelaskan di tulisan berikutnya ya.

      Bersambung...
      Silakan berkunjung di blog aku juga https://yonesfd.blogspot.co.id/2017/11/nepal-dream-come-true.html hehehehe
    • By devi admaja
      Tak terasa sudah waktunya kantor kami outing lagi , awalnya saya selaku koordinator mengajukan untuk ke luar kota Lampung dan bermaksud ke Bogor , setelah cari info kanan kiri pimpinan setuju , apa daya budget ga masuk , akhirnya kami kongkow dan beberapa dari kami (termasuk saya) belum pernah ke dufan akhirnya saya maju lagi dan setelah pjg lebar pimpinan setuju , dan budget-pun setelah dihitung bisa direalisasikan , saatnya pengajuan ke kantor pusat kami , dan setelah perjuangan , revisi , revisi & negosiasi alot dgn kepala bagian saya di pusat berhasil & begitu sampai di meja direksi , proposal saya kandas seperti kapal karam . dikarenakan dateline proposal 1 minggu lagi maka saya harus gerak cepat memutuskan mau kemana , cari info kesana kemari resort yang punya vendor outbound di Lampung , pada awalnya saya tertarik dengan Suak Sumatra , salah 1 resort baru , saya hubgi marketing officer-nya , dikarenakan jumlah ruangan yg terbatas , harga yg masih lumayan mahal (1,4jt per org per malam) dan tidak adanya vendor team building (kami harus bawa sendiri dari luar) , maka ga jadi ke Suak. Okey hari makin mepet akhirnya saya hubgi Grand Elty (LAGI) , kami sudah bekerjasama selama 3 thn berturut2 ini dan kalo cuma di seputaran resort-nya saja mungkin bisa bosan yah hahahaha. Dan dikarenakan pimpinan saya berjiwa petualang , beliau tanya kalo mw sebrang pulau bisa tdk , dan pihak BISA. Ada 2 pilihan , ke sebuku dengan durasi perjalanan 1,5jam or liat2 Gunung Anak Krakatu durasi 3jam (cuma LIAT2 doang , karena sekarang sudah tdk boleh di explore lagi , iyalah lama2 hancur diinjak2 terus). Okey setelah nego menego harga akhirnya disepakati kami akan outbound ke sebuku & snorkling disana. 
       
      Hari H-pun tiba (28102017) berangkat dari Bd.Lampung jam 7 teng teng menuju elty perjalanan 1,5jam. Sampai di elty kami drop barang2 kami. Jam 9 pagi kami berangkat menuju sebuku , perjalanan 1,5jam naik kapal. Beginilah penampakan kapalnya. 
      Kami menyew2 kapal , kapasitas kapal katanya 30 org , jumlah kami 38 org , terus terang saya juga mabok naik kapal ini , memang saat meeting dgn pihak elty sudah diberitahukan bahwa akan naik wooden  boat , tapi dlm benak saya bukan wooden boat begini hahaha , banyak teman2 yg akhirnya muntah dalam perjalanan (kondisi cuaca cerah , tapi memang ombak & angin agak besar) , saya-pun ikutan mabok jg walopun tdk sampai muntah , saya hanya kentut melulu hahahahaaa. . . selaku panitia mesti keliatan tegar gt
      Voilla...akhirnya hampir sampai...berikut penampakannya : 

       

      Berhubung mayoritas saya  mengambil view-nya pakai video maka saya  screenshot saja yah. 
      Tampak pasir putih membentang , memang pulau tak berpenghuniii, untung bawa makanan byk banget kuatir ga bisa balik karena ombak (maklum emak2 jd kuatirnya byk)  

       

      Yuk...bongkaran

       
      Namanya pulau tak berpenghuni , jangan harap ketemu cowo2 ganteng or cewe2 cantik , ketemu nenek2 aja uda syukur huehehehe... Oiya awalnya dikasi tau kalo ga ada toilet , wah mikirnya nti kencing dimana , katanya langsung aja nonkrong di laut (wah langsung mikir pantesan air laut asin) wahahahaa... Tapiii..rupanya ada kok toilet daruratnya , dan dibutuhkan usaha dlm ngambil airnya , kita mesti NIMBA dari sumur , untung aja dulu pernah belajar nimba hehehhee... Ini penampakan muka toiletnya (rumahnya yah bukan kapalnya)

      Oiya suasana-nya makin sore makin serem , uda gt air laut makin naik , dan ada beberapa temen bilang kok ada bau bangkai gt (saya tdk merasakan bau sih) , oh mungkin empu-nya pulau sudah tidak berkenan kami lama2 disitu , ya sudah akhirnya kami putuskan untuk lanjut ke spot untuk snorkling , perjalanan cuma 10 menit karena kapal cuma berbelok aja , mayoritas dari kami tdk snorkling (termasuk  saya)

      Okey setelah snorkling , kita balik lagi ke dermaga grand elty , perjalanan pulang seperti biasa lebih baik dari perjalanan pergi , yang mabok sudah tidak gitu mabok lagi , oiya beberapa dari kami dapat kelapa dugan dari penduduk asli sana (makasih yah pak :) ) , daging kelapa dugannya tuebel banget tapi lembut (sumpe nyesel ga bawa sendok pamungkas hhuhuhu). Balik k elty uda sore , dan sejauh mata memandang kami berada di laut lepas 

      Sesampai di elty kita check-in hotel 


      Dan setelah sampai kami semua istirahat untuk acara kebersamaan kami di malam hari :) 
      Sekian cerita ke pulau sebuku , bagi saya selama tinggal di Lampung semua pulau yang disebrangi pemandangannya kurleb sama , dengan hamparan pasir putih yang panjang , pepohonan hijau , terumbu karang dan air jernih berwarna hijau biru. . . Tuhan menciptakan alam dan seisinya begitu indah sampai keindahannya tiada habisnya , dari pulau 1 ke pulau yg lain. Sampai jumpa di cerita berikutnya. Thanks 
    • By siskawul
      Khao Yai, daerah ini merupakan distrik di Thailand yang belum ramai dikunjungi oleh wisatawan yang datang ke Thailand. Objek wisata terkenal yang ada di sini antara lain Khao Yai National Park, Primo Piazza, Palio Village, Chocolate Factory, Sunflower field, dan kafe-kafe lucu dengan design design yang instagrammable yuhu.
      Kali ini saya tidak membahas objek-objek wisata tersebut, tetapi hanya yang kemarin sempat saya kunjungi pada liburan singkat di Thailand ala kere hore. 
      Yuk capcus. 
      How to get there
      1.    Langkah pertama, kalian harus bangun dari tidur cantik kalian. Pastikan kalian bangun dan siap2 lebih pagi dari biasanya, apalagi yang berniat just one day trip seperti kami kemarin. Kemarin, kami sudah bangun pagi, siap2 lebih pagi, tapi ada tragedi pencarian kunci hostel yang nyelip dulu saat mau keluar kamar. Yihuhu banget. Ditambah juga sulitnya mencari taksi yang akan membawa kami ke mochit bus station. 
      2.    Langkah kedua, pergilah ke Mochit bus station atau yang lebih dikenal dengan Mochit 2. Kalian bisa pergi dengan BTS ke Mochit dan dilanjut naik bis. Entah bis nomor berapa kemarin sempet searching tapi karena kami tidak memakai alternatif itu jadi lupa *maaf. Berhubung kami berlima dan setelah dihitung2 harga naik BTS nyambung sama saja dengan naik taksi atau grab (lebih disarankan naik taksi meter saja, karena berdasarkan pengamatan harga, lebih murah pakai taksi meter dari pada naik grab. Oiya, taksinya nyetop di jalan aja, tapi pake meter atau argo ya).
      3.    Langkah ketiga, belilah tiket bus jurusan Pak Chong. Tiket bisa dibeli di loket bis nomor (nah yang ini berdasarkan blog walking saya, ada yg bilang ke loket 68, ada jg yang bilang loket 48). Kemarin kami mengikuti ke loket 68. Tapi loketnya tutup dan loket 69 buka dan tertulis Pak chong juga di situ. Walhasil, belilah kami tiket di situ dengan harga 150 Baht per orang. 
      4.    Langkah keempat, menujulah ke gate bis sesuai arahan penjual tiket. Kemarin kami si di gate (gate atau Line ya) 70. Masuk bis, dan menunggu sampai bis berjalan ke Pak Chong.
      Oiya, kemarin kami menunggu lamaaaa banget buat bus jalan. Kami masuk bis jam 09.00. Dan bus baru jalan jam 10.45. What a banget. Sampe laper laper deh. Penjual tiketnya bilang perjalanan dua jam. Tetapi kenyataannya, perjalanan 3 jam lebih. Huowww. Lusuh deh kami. Kayaknya kami salah ambil bis deh. Kayaknya si, kayaknya ya, jadi bus yang lewat ke Pak Chong itu ada banyak penyedia gitu, nah yang kami beli itu bukan yang terbaik. Tapi yasudahlah kami sampai juga kok ke Pak Chong. Selama perjalanan, ada berhenti-berhentinya. Bisa buat pip*s atau nyari makanan. Kami si udah males. 
      5.    Langkah kelima, setelah disampaikan di Pak Chong, bingung deh kami. Kemudian muncullah Ibu Noch yang baik hati banget mengarahkan kami bagaimana how to get to Primo Piazza impian kami.
      Jadi seturunnya kami di Pak Chong (jadi dia bukan terminal, hanya semacam terminal bayangan di mana bis-bis kadang menurunkan penumpang di situ). Bilang aja si sama supir atau kernetnya kalau kalian mau ke Khao Yai. 
      Oiya, kemarin kami blind banget turunnya di Pak Chong sebelah mana. Bilang ke kernet sama supir buat diturunkan di Pak Chong, pake Google Translate atau pake Bahasa Inggris, merekanya jawabnya pake bahasa Thailand. Kami geleng2 dan desperate. Tapi akhirnya diturunkan di tempat yang benar juga si. 
      Lanjut ke Ibu Noch, jadi dari terminal Pak Chong, alternatif transport ke Khao Yai adalah dengan sewa motor seharga 300 baht/motor/24 jam atau dengan sewa mobil seharga 2500 Baht (kata blog). Kemudian Ibu Noch menawarkan kami untuk naik Songthaew dengan harga 1500 Baht untuk dua tempat tujuan. Dengan pertimbangan waktu saat itu sudah menginjak sore, dan kami berlima, sewa motor butuh 3 motor jadi 900 Baht ditambah bensin 100 Baht per motor. Jatuhnya sama saja harganya. Ditambah pula kami bakal butuh waktu buat baca maps. Iya kalau ketemu dan akurat. Finally kami ambil tawaran dari Ibu Noch. Jug ijag ijug, ternyata lumayan jauh lho menuju ke Primo Piazza. Kami bersyukur ambil tawaran Ibu Noch. Jadi bisa ngobrol-ngobrol cantik kan di dalem songthaew sambil lihatin jalanan Khao Yai yang alus dan gede beut. 
      Ngomong ngomong Ibu Noch, beliau baik banget dan yang asoy bisa bahasa Inggris. Hamdalah. Jadi sesampainya di Pak Chong, kami nanya toilet, diarahkan di mana toilet, kami nanya tempat sholat, dijawab gak ada tempat sholat (emang gak ada si). Terus kami diberikan waktu buat belanja2 di sevel dulu sebelum meluncur ke Primo dan Palio. Seselesainya dari trip, kami juga dicarikan dan ditungguin sampai kami dapat bis ke Bangkok. Dan oh, kami dapat tiket bis ke Bangkok just 120 Baht. Yaiyuy, kami rugi 30 Baht deh. Dan setelah kami dapet bus dan mau naik bis, ibu Noch gak minta komisi atau bayaran apapun dong. Saya dan temen2 sempet pandang-pandangan. Beneran nih masih ada orang baik di tempat wisata apalagi di luar negeri begini? Beliau cuma minta dipromoin ke teman-teman yang mau ke Khao Yai. That's why saya bikin postingan ini. 
      Setelah say goodbye dan thank you sama Ibu Noch, kembalilah kami ke Bangkok dengan bahagia namun lelah. Oiya ini nomor HP Ibu Noch bisa diminta via DM ya.
      Dan, ini sekilas pandang objek-objek di Khao Yai yang kami datangi.
      Primo Piazza
      Tiket masuk: 200 Baht 
      Isinya: komplek perumahan ala Eropa gitu deh. Sebelum ke Eropa beneran, bisa lah buat pemanasan di Primo Piazza ini. Cekrek cekrek yang banyak ya, udah bayar mahal sist. Feel fotografer kalian harus lebih jeli biar bisa menangkap ke-chic-an tiap sudut Primo Piazza. 
      Di samping komplek ala Eropa, kalian bisa beri makan kambing (kambing? Iya, kambing sama kayak yang ada di kampung saya). Ada juga alpaca si. Yang seolah olah berada di Australia. Tapi pas kemarin ke sana, cuma ada sedikit alpacanya. Itu pun pada menjauh dan gak bisa kami kasih makan. 
      Palio Village
      Tiket masuk: free
      Isinya: toko-toko yang jual barang apa saja dengan konsep pertokoan layaknya Eropa (duh, kenapa lagi lagi Eropa si). Harganya mahal mahal si. Enggak cocok buat traveler kere hore macam kami. Jadi di situ kami cuma lihat lihat sebentar dan pulang. 
      Sekian catatan flashpacker kami ke Khao Yai. Kalau saya si suka sama daerahnya. Dingin, adem, banyak makanan di night marketnya (kelihatan pas kami jalan tapi kami gak brenti), dan penginepannya yang kami lihat pas perjalanan ke Primo konsepnya unik-unik. Next time kalau ke sana lagi mau nginep ahhh. InsyaaAllah 
      Semoga membantu buat teman-teman yang mau ke sana ya.
      Kap kun Kha, Kap kun Khrap










    • By Daniyah Isa
      Assalamualaikum 
      Salam kenal,
      Panggil saya, Nia
      Ini adalah pertama kalinya saya pergi ke LN dg mengurus semua keperluan sendiri. Biasanya, sdh terima beres dari kantor, karena memang ada urusan. Nah, destinasi yg saya pilih tdk jauh tp harus berkesan ! Melaka. Kota yg ditempuh dlm waktu 2 jam dari KLIA2. 
      Gimana caranya saya bisa sampai ke sana ? Inih dia, detailnya ;
      1. JKT-KLIA2
      Pesan tiket pesawat yg everyone can fly dari situs resmi. Lama waktu sekitar 2 jam, berangkat 10:10am sampai KLIA2 13:15pm.
      Di KLIA2, ikuti saja petunjuk arah yang ada, sambil ikuti arus kemana orang-orang pergi. Nanti, ada eskalator naik, lalu ada eskalator turun langsung ke tmpt imigrasi. Setelah keluar dari imigrasi, saya temukan mall dg counter-counter barang branded. Semacam Grand Indonesia, kalau di Jakarta.
      Buat yg terburu-buru sampai ke KL dg cepat, mgkn ada urusan meeting or apa, bisa lurus terus ke pintu keluar. Di samping pintu keluar ada loket pembelian tiket KL Ekspres, seharga 55RM dg waktu tempuh 33menit ke stasiun KL SENTRAL. Dari KL Sentral, bisa pilih kemana saja tujuan teman-teman yg mau dicapai. Ibarat di Jakarta nih, KL Sentral tuh Manggarai. 
      Tujuan wisata saya, dan teman saya adalah Melaka. Belajar dari blog dan bbrp artikel, butuh kendaraan bus utk sampai ke sana. Hanya bus saja, tdk ada kereta atau MRT yg menuju ke sana. Saya pun, turun lagi ke lantai G dg eskalator. Jangan takut kesasar ! Banyak petugas keamanan yg berjaga.
      Sampai di lantai paling dasar, ada sederet loket yang menjual tiket bus, taxi, sewa kereta (mobil). Langsung saja, membeli tiket bus Transnasional tujuan Melaka Sentral, seharga 24.10RM. Di tiket sudah tertera nomor tempat duduk, gate tempat menunggu. Wah, pokoknya tertib dan teratur! Meskipun busnya lebih bagusan DAMRI sih bagi saya, hehehe.
      2. Melaka dan Wisatanya 
      Selama 2 jam perjalanan dari KLIA2, sambil bengong-bengong liat pemandangan (apa bener gue di Malaysia? Ini mirip ke Ciawi yah ? Heheheh) yang membedakan tuh, sepanjang jalan lancar jaya. Mgkn supir bus kapalan nginjek gas, hehehe. Duh bahagia deh kalau Jakarta jalanannya kaya gini terus. Sampai tibalah saya di Melaka Sentral, ibaratnya Terminal Kp. Rambutan gituh. 
      Waduh, sepi banget ! Macam ga ada kehidupan. Bingung juga kan, mau ke hotel gimana ? Boro-boro kuota buat pesan taksi online, sinyal ajah ga dapat.
      Yaa, saya tanya ke petugas kebersihan, dan memang bus Panorama 17 tujuan Bangunan Merah, agak lama. Bukan karena macet yaa, ini karena jalanan di Melaka tuh Sehala (satu arah) jadi dia berputar dulu.
      Sejam menunggu, datanglah bus Panorama 17. Disinilah pengalaman dimulai, banyak yg Negor dan tanya "Indonesia ya ? Indonesianya mana ?" Agak bingung sih, ditanya begitu. Biasanya ditanya "Jawanya mana ?" Padahal sih, sama saja hehehe. 
      Saya menginap di hotel Hallmark Crown, 3H2M, seharga 147RM include Breakfest, free wifi. Wilayahnya dekat dengan mall Dataran Pahlawan, jalan kaki 10 menit lah. Jadi turun saja di Dataran Pahlawan, ongkos busnya 2RM saja. Hotelnya comfie banget ! Disetiap sudut ada galon. Jadi bisa refil sepuasnya, ditambah kulkasnya menyala dg sempurna. Wah, recomend deh!
      Saran utk teman-teman yg mau pesan hotel di Melaka, pesan di daerah sekitar Dataran Pahlawan (rate murah), Bangunan Merah, dan Jonker Street. Tiga tempat itu, sudah dekat banget kemana-mana. Jadi bisa jalan-jalan santai, foto-foto, interaksi sama penduduk lokal. Yg penting, rajin jalan kaki yaa, hehehe.
      Hari pertama saya mengunjungi Bangunan Merah, jalan kaki dari Hotel 15 menit. Melewati mall-mall Besar, dan rupanya ada carnaval becak hias, mobil hias dan barongsai. Jadi nggak berasa jauh dan capeknya.
      Di Melaka, ada yang saya lihat di maps Google itu jauh, ternyata dekatan. Menara Taming Sari, Bangunan Merah, Jonker Street dan River Cruise. Yang jauh, cuma Masjid Selat Melaka. Masjid Selat Melaka memang harus menggunakan taksi online, karena jaraknya terpisah dengan daratan Melaka kota dan masuk ke kompleks perumahan. 
      3.Kuliner dan Oleh-oleh Melaka
      Sempat bingung mau makan apa di Melaka. Hari pertama saya sampai di Melaka, sudah malam dan banyak yg tutup. Masa iyah sih, jauh-jauh ke Melaka, makanya McD? Nggak ada nasi lagi. Akhirnya mampir ke 7Eleven (horeee, Nemu 'sevel !) Beli nasi lemak instant dan mie instan. Lupa berapa harganya, tapi cukup menahan lapar. Serius deh, sebenarnya nggak lapar-lapar banget ! Cuma karena nggak mau masuk angin ajah.
      Terakhir perut diisi sama sandwich Subway yg beli di KLIA2. Hufh, gara-gara ngincer destinasi wisata jadinya lupa makan. 
      Hari kedua, masih hunting foto disekitar Bangunan Merah, Taming Sari, River Cruise. Cerah banget langit di Melaka, dan udaranya juga segar nggak ada polusi (kapan Jakarta begini ? Mungkin ga yah ?). Di samping Bangunan Merah, ada tangga menuju bukit. Diatasnya bangunan reruntuhan yang menghadap lautan lepas. Keren banget !!! Duduk-duduk saja sambil lihat pemandangan. 
      Oh Iyah, untuk beli oleh-oleh seperti gantungan kunci, kaos tulisan Melaka, tas Melaka, tempatnya di Medan Samudera. Tenang, ga jauh kok ! Ga perlu nyebrang. Dari Bangunan Merah, ambil sisi kanan dan lurus terus sampai lihat bangunan kapal pesiar. Nah di sana, yang paling murah ! Kaos dapat 10RM, gantungan kunci dapat 8RM, 6 gantungan kunci. Meski di Bangunan Merah juga ada lapak yang menjual, lebih baik beli di Medan Samudera, karena harganya lebih terjangkau. 
      Selain beli oleh-oleh, di tempat ini ada warteg Melayu loh ! Syukurlah, ada warteg juga. Awalnya sempat underestimate gitu. Makanannya mirip makanan warteg, dan ga lebih menarik dari warteg Jakarta. Karena Nggak enak sama Ibu penjualnya, yg tiba-tiba udah nyendokin nasi, mau ga mau dibeli. 
      Yaa sayur tumis kacang panjang dan ayam goreng jadi menu makan siang. Pas dimakan, enak ! Ini karena efek capek mungkin yaa. Minum air mineral, biar nggak makin haus. Tadinya sih mau makan nasi Briyani dan teh tarik, tapi dia hanya jual di hari Minggu. Seporsi makanan warteg Melayu cuma 6RM. Waah, amazing ! akhirnya bisa menghemat, heheheh.
      Lepas makan, lanjut belanja-belanja di sekitar Medan Samudera. Biasa, buat yang dirumah, mau dibeliin kaos dan gantungan kunci utk disebar, hehehe. Jalan lagi ke Bangunan Merah, baru ketemu kedai es cendol. Katanya sih, es cendol di Melaka itu khas banget. Yaudah, saya beli yang es cendol kacang merah. Rasanya ??? Waah, enak banget !!! Pass buat saya yang ga terlalu suka manis. Kuah santannya gurih, cendolnya segar dan kacang merahnya manis. 
      Wah, okeh banget lah ! Rencana kalau ngidam, maunya ngidam es cendol Melaka. Hahahah
      Menjelang sore, saya bersiap menuju Mesjid Selat Melaka. Menikmati sunset sambil menunggu waktu magrib. Magrib di Malaysia, setengah tujuh. Tapi langitnya seperti setengah enam, Jakarta. Waktu di Malaysia tuh cepat banget ! Mungkin ini planet Merkurius, satu menit tiga puluh detik. Semua terasa cepat.
      Saya dan teman-teman menuju Masjid Selat Melaka menggunakan taksi online. Sampai di sana, waah indah banget ! Lebih indah dari foto-foto Google. Garis cakrawala sudah menyapa di langit. Air laut biru bersih tanpa sampah. Saya berdiri di halaman belakang Masjid menatap langit sore. Diterpa angin laut, dan ada beberapa wisatawan lain berlalu-lalang. Sayang, lagi nggak sholat Magrib di sini. 
      Akhirnya cuma nunggu teman yang sholat Maghrib, sambil jaga sendal hahaha.
      Malam terakhir di Melaka, saya menuju rumah makan Eeji Ban Chicken, penjual makanan khas Melaka. Ada Rice Balls, Asam Pedas, Nasi Lemak, harganya pun terjangkau. Berkesan makan ditempat ini, karena rumah makan Eeji Ban recomend dari supir taksi online. 
      4. Check Out Melaka
      Hari terakhir di Melaka, saya merasa sedih banget ninggalin tempat ini. Padahal rumah ini kampung orang, negeri orang, huhuhu. Nggak mau repot karena tas udah beranak, jadinya saya dan teman-teman naik taksi online ke Melaka Sentral.
      Di Malaysia pada umumnya, jarang ada sirik-sirikan or persaingan. Contohnya di terminal Sentral Melaka. Tadinya mau naik bus Delima,  bus terkenal dikalangan blogger yg pernah kesana. Tapi sama kenek Delima, disuruh ke bus satunya lagi yg kurang eksis. But its OK ! Yg ptg sampai, heheheh.
      Dua jam perjalanan menuju terminal bus TBS (Terminal Bersepadu Selatan), amazing !!! Terminal Bus rasa Bandara Terminal 3. Bersih, tertib, rapi. Dibawahnya, ada stasiun menuju KL Sentral. 
      5. Sehari di Kuala Lumpur 
      Berhubung pesawat tengah malam, jadi siang masih bisa jalan-jalan sebentar di Kuala Lumpur. Hunting foto di KLCC, Dataran Merdeka dan jalan-jalan ke Mall *lagi. 
      Dari Terminal TBS, naik KL transit ke stasiun KL SENTRAL seharga 6.5RM. Dari KL SENTRAL, bisa ke Batu Caves, KLCC, Mesjid Jamek, KLIA2. Ada peta seperti peta yang ada di halte Transjakarta, di sana juga ada petugas yang membantu dan menanyakan "Can i help you ?" So, tak perlu takut tersesat. 
      Stamina udah low, meski cuma naik turun kendaraan umum tp cukup bikin lemas. Selain makan, kita juga butuh vitamin, kalau capek lebih baik istirahat.
      Di KL SENTRAL, ada loker penitipan dg kunci sensor wajah. Jadi kita ga perlu deh tengteng tas beranak kesana kemari. Harganya 20RM utk loker kecil dan 30RM utk loker besar. Sangat disarankan berpergian sama teman, biar segala biaya bisa ditanggung bersama. Tapi milih juga yaa, teman yang gimana buat diajak jalan jauh. Apalagi, ke LN yg jalan kakinya jauh-jauh.
      Baiklah, itu pengalaman pertama saya traveling ke Melaka, Malaysia. Saya sangat suka tempat itu, lebih indah dari yg saya bayangkan. Terutama yg hobi fotografi, ini banyak spot-spot bagus di Melaka. 
      Oh Iyah, makasih banyak buat Mba Vira. Mgkn dia jarang aktif di forum ini. Saya pun juga newbie. Ketemu jalan2.com karena random ajah, hehehe. Lagi bosen, drpd stalking sang EX atau baca berita hoaks, iseng-iseng cari soal Melaka. Tiba-tiba muncul situs ini, dan saya kenalan sama Mba Vira. Nggak ada sedikitpun curiga bakal gimana nnt disana, tinggal jalan ajah. Hehehe
      Nah buat teman-teman, semoga tulisan saya membantu dan jadi referensi kalau kalian mau ke sana. Ingat, No need bilang, barang ini murah atau mahal. Soalnya beda "Peradaban".
       









    • By Dantik
      Sepenggal percakapan antara saya dan teman saya:
      Teman: “Lah trus d amsterdam mo k mana aja? Biasa k keukenhof, volendam & zaanse schaans.”
      Saya: “Itu udh loe sebutin ”
      Teman: “Tp cm 2 hr d amsterdam?”
      Saya: “Haha... emg knp klo 2hr? Ga cukup ya?”
       
      Satu hari di Amsterdam dapat apa saja? Banyak... iya, banyak. Kecuali pas winter yah! 
      Kami tiba di Amsterdam pukul 11 malam. Naik Flixbus dari Bruxelles (Gare du Nord) ke Amsterdam Sloterdijk. Penginapan kami sebenarnya tidak terlalu jauh dari Stasiun Sloterdijk, karena salah jalan jadinya terasa jauh. Untung aja sempat ketemu orang Indonesia jg dsna, jd bisa di antar menuju ke jalan ke penginapan. Kami menginap di WOW Hostel Amsterdam. Sampe hostel langsung tepar.
       
      Pagi2 kami langsung check out, tapi barang kami titipkan di hostel. Saatnya petualangan dimulai!
       

       
      Pertama2 kami menuju Keukenhof dari statiun Sloterdijk, kami membeli Amsterdam & Region Travel Ticket seharga 1 day € 18,50.
       


       
      Dari Sloterdijk naik train ke Schiphol Airport/Plaza. Dari Schipol Airport naik Bus 858 (Arriva) turun di Keukenhof.
       





       
      Dari Keukenhof kemudian ke Volendam naik Bus 858 (Arriva) turun di Schiphol Airport. Dari Schipol Airport naik train ke Zaandijk Zaanse Schans. Dari situ jalan kaki sekitar 1km sudah sampe di Volendam.
       

       
      Dari Volendam kemudian ke Zaanse Schans naik train lagi turun di Central Station. Kemudian naik Bus 391 turun di Zaanse Schans.
       

       
      Setelah dari Zaanse Schans kemudian kembali ke Amsterdam utk city tour. Naik Bus 391 lagi turun di Central Station. Dari Central Station kita mulai city tour.
       

       
      Kemudian kami kembali ke hostel untuk mengambil barang dan lanjut ke  Stasiun Sloterdijk untuk destinasi berikutnya.
       
      Seperti itulah itinerary kami untuk one day tour Amsterdam, semoga bermanfaat.

    • By kyosash
      Hello Jalan2ners 
      Sudah lama saya tidak post di forum ini, kali ini saya mau berbagi cerita trip ke Jepang musim panas ini.
      Sebenarnya tahun ini saya tidak ada rencana berangkat, berhubung saya berhasil mendapatkan tiket konser festival musik, mau tidak mau saya harus berangkat 
      jadi tujuan utama trip kali ini untuk memenuhi salah satu impian saya selama ini yaitu nonton festival music & fireworks (kembang api) secara langsung. \
      jadi tidak terlalu menfokuskan ke spot - spot wisata.
       
      ok dech, tanpa basi basi saya akan memulai cerita tripnya.
       
      dikarenakan saya mendapatkan kabar berhasil membeli tiket konser sekitar 1 bulan sebelum hari H, jadi saya cukup kelabakan mencari tiket pesawat + tempat penginapan & dll.
      setelah 1 minggu cari2 tiket murah, akhirnya dapat juga walaupun tidak semurah harga promo tapi gpp dech. 
      kali saya menggunakan jasa ANA untuk kedua kalinya (PP Rp. 5 jt-an).
       
      23 - 25 Agustus (Jakarta → Narita Airport → Mitaka + Yamanashi)
      Perjalanan dimulai dari Jakarta. pesawat pada subuh hari yang ingin saya tumpangi delay sekitar 30 menit-an. 
      sekitar 7 jam 45 menit perjalanan, begitu landing lagi2 delay sekitar 20 menit.
      setelah tiba di bagian Imigrasi, saya melihat perubahan, yaitu adanya mesin untuk scan (input) mata dan sidik jari, di tengah antrian sebelum ke bagian cek paspor. 
      kemudian saya tanya kepetugasnya, sejak kapan ada mesin ini, karena tahun lalu saya ke sini belum ada mesin seperti ini, lalu petugasnya menjawabnya semenjak April/Mei ini.
      walau antrian panjang otomatis dengan adanya mesin ditengah2 antrian ini sangat mempercepat proses pemeriksaan.
      waktu proses pemeriksaan sempat ditanya2 dan juga sempat dibongkar koper untuk diperiksa isinya. yang dimana selama ini saya tidak pernah mengalami hal ini waktu ke Jepang.
      saya merasakan makin ketatnya pemeriksaan belakangan ini, mungkin karena reputasi Orang Indonesia yang semakin memburuk.
       
      setelah beres saya langsung bergegas ke tempat penginapan yang telah saya booking sebelumnya melalui Airbnb.
       
      Narita International Terminal 2 → Asakusabashi (Keisei) ¥1100 → Mitaka  (JR Chuo Line) ¥390 → Tempat Nginap
       
      waktu pertukaran kereta di Asakusabashi saya sempat kehilangan tiket, kalau sengaja beli lagi lumayan sekitar 1100 yen, lalu saya mencoba menggunakan bahasa Inggris gagap ke petugasnya, akhirnya diperbolehkan lewat, "thanks pak petugas !!! "
      begitu tiba di Stasiun di Mitaka, saya langsung menuju ke tempat penginapan, baru jalan sekitar 5 menit baju udah basah kuyup,  suhu panasnya sih sama seperti sama Jakarta tapi tingkat kelembaban-nya beda banget.
      alhasil begitu sampai penginapan langsung mandi dech, lalu ngobrol bentar dengan tuan rumah.
       
      Plan untuk besok cuma ketemu teman saya pada siang hari untuk ambil Tiket konser, jadi paginya masih sisa banyak waktu, saya memutuskan untuk coba mengunjungi dokter gigi di dekat2 rumah.
      berhubung tempat temu janji cuma sekitar 20 menit jalan kaki dari tempat penginapan, jadi selama perjalanan saya menemui 4 dokter gigi, tapi tutup semua, jangan2 Hari Kamis (hari liburnya dokter gigi), tapi setelah sampai dekat tempat temu janji, saya melihat ada dokter gigi yang buka, lalu saya coba tanya2, alhasil lumayan mahal juga kalau tanpa asuransi, dan juga butuh beberapa kali datang sesuai dengan perawatan lubang-nya.
      setelah selesai bertanya2 dengan staff dokter gigi, saya langsung menuju ke tempat temu janji. yaitu kedai Iseya Yakitori (satay jepang) yang cukup terkenal diarea itu, karena sudah ada antrian walau belum buka. untuk websitenya bisa lihat disini > Iseya Yakitori
      disini teman saya memesan berbagai macam menu.
        
       
      setelah selesai berbincang-bincang dan menyerahkan tiket konser ke saya. dan teman saya segera balik ke Machida, dan dikarenakan saya masih mempunyai luang waktu, jadi memutuskan untuk ke mampir ke Shibuya yang dimana satu jalur dengan arah pulang teman saya.
       
      waktu jalan ke stasiun Kichijoji, teman saya menyempatkan untuk membeli Katsu (Sapi) + Korokke (pergedel jepang) di "Steak House Satou" , yang cukup terkenal enak di area Kichijoji ini.

       
      Kichijoji (Keio Inokashira Line) ¥200 → Shibuya
      ditengah perjalanan kereta saya berpamitan dengan teman saya karena mesti pindah jalur,  lalu setelah sampai ke Shibuya Station

      kemudian saya langsung mencari tempat makan yg saya hampiri 2 tahun lalu yaitu "Okinawa Soba", dikarenakan saya masih cukup kenyang tapi kangen akan rasanya, jadi saya hanya memesan sayuran-nya saja yaitu Goya Chanpuru seharga 580 Yen


       
      setelah itu keliling sebentar area Shibuya lalu kemudian pulang balik ke penginapan,  karena besok paginya harus bangun pagi2 untuk ke tempat konsernya.

       
      Shibuya (JR Yamanote Line) → Shinjuku (JR Chuo Line) ¥220 → Mitaka (Tempat Penginapan)
      begitu balik, mandi lalu mempersiapkan keperluan untuk esok harinya , besok pagi mesti bangun sekitar jam 4.30 .
       
      Besok paginya sekitar jam 5-an,  saya jalan menuju ke Station Mitaka sekitar 20 menit akhirnya sampai juga. kemudian langsung menuju ke Shinjuku Station tempat bus berangkat ke tempat konser.
       
      Mitaka (JR Chuo Line) ¥220→ Shinjuku (Official Bus Tour) ¥2800 → Yamanashi (Yamanakako Exchange Plaza Kirara)
      karena frekuensi Bus dari Shinjuku ke Yamanashi sedikit, jadi sebelumnya saya booking tiket ke pihak/staff yang berkaitan dengan event konsernya.
      Tiba di Shinjuku station sekitar jam 5.45 , lalu menuju ke tempat busnya, walau masih pagi tapi sudah banyak orang yang mengantri untuk naik ke bus.
      sekitar 40 menit mengantri, akhirnya naik juga ke Bus, perjalanan normal dari Shinjuku ke Yamanashi sekitar 2,5 jam tapi waktu di area Yamanashinya cukup macet alhasil sekitar 3.5 jam baru sampai tempat tujuan. 

      (akhirnya bisa berjumpa juga dengan Gunung Fuji, tanpa sengaja dicari  )

      Acara Festival music ini berlangsung selama 3 hari, tapi saya hanya ikut 1 hari saja yaitu 10rb Yen. 
      Ada 4 Panggung dan disini juga bisa naik Balon udara, main Canoe, atau main air di pinggir Danau sekitar untuk detailnya bisa lihat langsung ke sini Sweet Love Shower Site 

      walau masih pagi, tapi sudah banyak pengunjung, awalnya saya perkirakan sekitar 12rb orang, ternyata saya salah .. totalnya melebih 120rb orang ternyata. 

      waktu masuk menerima map (schedule) + wristband (yang akan dicek setiap kali pindah panggung, jadi pastikan jangan hilang ^^)

        


      karena selama perjalanan dari Tokyo belum makan, jadinya saya langsung berburu makanan begitu sampai, saya mencoba Yakiniku Kare 1000 Yen, rasanya lumayan enak.


       
      Karena Masih agak pagi , pengunjung belum benar2 padat, saya memutuskan untuk explore area ini.
        
        
       
      walau padat pengunjung tapi tetap bisa jaga kebersihan begitu juga Toiletnya cukup bersih 
        
       
      Sekitar jam 11 cuaca makin panas, waktu nonton desakan-an di dekat panggung berasa cepat cape dan karena dempet2an suhu makin terasa panas (mungkin sekitar 40°C kali ^^)
      kebetulan band (Coldrain) yang saya ingin tonton manggung jam 12.00, jadi mutung dech  
      dan alhasil bawaan-nya cari minum, tanpa terasa menghabiskan 2000 - 3000 yen untuk minum saja 
       
       
       
      makin siang, makin berasa panas dan padatnya pengunjung.

      walau baru 2 jam-an disini rasanya energi udah habis, bawaan-nya ingin pulang aja, tapi berhubung saya udah beli tiket bus pulang ke Tokyo, dan paling awal sekitar jam 19.45 malam berangkatnya, mau kagak mau harus menunggu sekitar 7 jam-an lagi.
       
      demi menambah energi, saya mencari makan + minum. lalu saya membeli Sasebo Burger,  ukuran-nya 2.5 kali lebih besar dari burger biasa, begitu juga isinya yang banyak.
       
      sambil makan, sambil lihat live (band) dari kejauhan.
        
      tidur-tiduran di taman waktu band kagak manggung ^ ^

      setelah segar kembali, kemudian aktif lagi dech jingkrak2, dorong2-an 
      walau panas, cape, tapi benar-benar puas ikut festival ini, rasanya ingin lagi berpatisipasi kalau ada kesempatan  
       
      NOTE : disini dokumentasi music sangat dilarang, jadi jangan kaget waktu ngerekam tiba2 staff muncul didepan anda
       
      untuk preview (gambaran) mengenai festival music ini bisa lihat disini 
       
       
      Yamanashi (Yamanakako Exchange Plaza Kirara) (Official Bus Tour) ¥2800 → Shinjuku (JR Chuo Line) ¥220 → Mitaka (Local Bus) ¥220 →Tempat Penginapan
      Sekitar jam 19.15 malam saya langsung menuju ke Tempat Bus, dan menunggu antrian, sekitar 25 menit menunggu akhirnya bisa naik ke dalam Bus, kemudian langsung menuju ke Shinjuku.
      kali perjalanan sekitar 2.5 jam, karena tidak terlalu macet. 
      setiba di Shinjuku saya langsung menuju ke Mitaka, dan karena sudah lelah saya memilih naik Bus untuk ke tempat penginapan, kemudian mandi dan segera beres2 dan siap barang. karena besok pagi2 mesti ke Haneda untuk ke Kochi.
       
       
      Untuk Lanjutan-nya bisa lihat disini 
      26 - 30 Agustus (Kochi, Nakamura + Sukumo)
      30 Agustus - 1 September (Matsuyama, Dogo Onsen + Bansuiso)
      1 - 4 September (Kure, Onomichi, <Mukoujima & Innoshima Island> + Tomonoura)
      4 - 6 September (Kurashiki + Naoshima)
       
      Simak juga perjalanan saya lain-nya 
       
    • By Reyvel Bramasta
      jadi saya mahasiswa di salah satu univ di bandung , ingin tanya jika memimpin grup study tour ,urus imigrasinya bagaimana ya? ada tips tidak ya? durasi biasanya berapa lama ya? , di airport bagaimana
      , terima kasih