Sign in to follow this  
vie asano

Liburan Keluarga 3 Hari 3 Malam Di Singapura

25 posts in this topic

Singapore atau Singapura mungkin punya luas wilayah yang imut-imut jika dibandingkan dengan luas mayoritas negara di Asia Tenggara. Tapi negara yang satu ini termasuk salah satu yang cukup seksi menggoda bagi wisatawan Indonesia untuk datang mengunjunginya. Nggak heran jika wisatawan Indonesia dikabarkan sebagai salah satu pasar terbesar bagi dunia pariwisata Singapura.

 

Saya dan hubby termasuk salah satu wisatawan yang mupeng untuk mengunjungi Singapura. Sebetulnya kami bukannya baru pertama kali pergi ke negeri Merlion ini karena saya pernah berkunjung ke Singapura tahun 1996 (busyet dah, itu berapa puluh tahun yang lalu yah?) dan hubby pada tahun 2013 kemarin. Namun karena satu dan lain hal rencana berkunjung ke Singapura selalu tertunda hingga kami berkesempatan memasukkan negara ini untuk menutup itinerary wisata liburan ke Jepang. Untuk menutup rangkaian field report yang telah saya tulis sebelumnya (baca disini: ), berikut ini review aktifitas yang kami lakukan selama liburan keluarga ke Singapura selama 3 hari 3 malam.

 

Note:

Pada ?p=192022 saya sudah menceritakan tentang perjalanan dari Kansai International Airport (KIX) menuju Kuala Lumpur pada tanggal 30 April 2015. Untuk mempersingkat tulisan, pengalaman sewaktu di Kuala Lumpur dan Changi International Airport (Singapore) akan saya lewati. Saya akan mulai cerita di Singapore dari hari kedua di Singapore, yaitu tanggal 1 Mei 2015.

 

Day 9

Bugis Street – Merlion Park – Bugis Junction

Jumat, 1 Mei 2015

 

Semalam kami tiba di Singapore kurang lebih pukul 11 malam waktu setempat, dan tiba di hotel kurang lebih pukul 23.30. Jadi nggak heran jika pagi ini kami semua terkapar berat. Kecapekan. Oya, di Singapore ini kami menginap di Fragrance Hotel di daerah Bugis. Insya Allah mudah-mudahan ada kesempatan untuk me-review hotel ini (dan hotel lain yang kami inapi selama trip ini).

 

Beruntung hotel kami berada tepat di sebelah convenience store 7 Eleven, jadi kami nggak harus jauh-jauh ngesot untuk cari sarapan (dan ujung-ujungnya malah bikin kami males gerak dari hotel). Alhasil kami baru ngesot keluar hotel selepas tengah hari. Itinerary hari ini pun sengaja disusun longgar supaya bebas ber-improvisasi.

 

Rute 1:

Bugis Street

Jarak tempuh dari hotel: 10-15 menit jalan kaki

 

Berkaca dari pengalaman gagal beli oleh-oleh yang dinginkan saat berwisata di Jepang, kali ini kami memprioritaskan untuk beli oleh-oleh dulu sebelum pergi jalan-jalan. Pilihan untuk belanja oleh-oleh jatuh pada Bugis Street yang lokasinya nggak begitu jauh dari hotel.

 

11401128_10207001950986856_6418373289153

Bugis Street, via dok.pribadi/2015.

 

11350614_10207001951066858_7822259820034

Bugis Street, via dok.pribadi/2015.

 

11377343_10207001947266763_9012666323557

Kalau nggak salah ini di persimpangan antara Bugis Street dan Albert Road, via dok.pribadi/2015. Mohon koreksi kalau saya salah.

 

Bugis Street ini merupakan sebuah shopping arcade yang terkenal sebagai salah satu tempat terbaik untuk belanja oleh-oleh murah di Singapore. Rumor tersebut ternyata nggak bohong karena tempat ini memang bertabur aneka gerai yang menawarkan aneka barang dengan harga kompetitif. Malah, sangat kompetitif. Saya ingin memberikan sedikit gambaran harga beberapa barang yang sempat saya survey untuk dijadikan oleh-oleh:

 

Sebuah dompet wanite dibandrol mulai harga SGD 10 untuk 3-4 buah. Namun saya juga sempat menemukan toko yang menjual SGD 10 untuk 5 buah dompet. Yaps, banyak barang di Bugis Street ini dijual dengan sistem paketan (tidak dijual satuan).

Tas wanita yang bisa dilipat dibandrol mulai harga SGD 10 untuk 3-4 buah. Tapi saya menemukan sebuah kios di dekat persimpangan Albert Street yang menjual tas sejenis dengan harga USD 10 untuk 5 buah. Tas yang sama dijual dengan harga yang jauh lebih mahal di Vivo City.

Minuman seperti jus dan air mineral harganya mulai dari USD 1.

Untuk coklat, harganya sangat bervariasi. Kami membeli coklat Merlion dengan harga USD 12 untuk 4 box untuk oleh-oleh, dan beberapa coklat lainnya yang dibandrol dengan harga USD 10 untuk 4-5 item.

Es krim potong ala Singapore harganya USD 1. Varian rasanya beragam. Yang saya coba di foto ini adalah rasa durian.

 

11406779_10207001948226787_3566295435630

Es potong Singapore, via dok.pribadi/2015.

 

[Tips: Saat kami berkunjung ke tempat ini cuaca sedang panas terik, dan suhu semakin panas di dalam Bugis Street karena banyaknya orang yang berada di area ini. Si sulung dan si kecil jadi rewel karena kegerahan dan merasa nggak nyaman berdesakan dengan orang banyak. Saran saya, traveller yang membawa bayi maupun anak-anak sebaiknya datang pada momen-momen dimana Bugis Street ini nggak terlalu ramai oleh pengunjung, misalnya saja pada pagi hari di hari kerja.]

 

Kami selesai keliling-keliling Bugis Street kurang lebih pukul 14.00. Karena sudah terlalu siang, kami makan siang di resto yang lokasinya dekat dengan pintu Bugis Street, yaitu Noodles Star.

 

Noodles Star

Lokasi: Victoria Street, tepatnya di dekat pintu masuk ke Bugis Street

Kisaran harga: mulai dari kisaran SGD 5-6 untuk menu utama

Total biaya makan (untuk 2 dewasa, 1 anak, 1 bayi): SGD 40

 

Resto ini kebetulan saja kami pilih karena kelihatan memiliki menu non-babi. Namun setelah masuk, kami baru ngeh kalau harga menu di resto ini sebetulnya diluar budget yang kami anggarkan. Semula kami menganggarkan USD 5-8 untuk sekali makan dan minum. Pada kenyataannya, total biaya makan dan minum kami untuk siang ini mencapai USD 40, which is mean lumayan menguras budget juga yah. Hiks..

 

Btw, seperti ini penampakan menu yang kami pesan. Nggak semua sempat di foto karena sebagian langsung diserbu begitu makanan datang. Maklum, sudah lapar berat sih, hehe..

 

11406999_10207001951906879_1377711915479

Fried Rice with Roasted Meat and Prawn Paste, via dok.pribadi/2015. Menurut saya harga nasi goreng-nya sih lumayan enak. Isiannya juga banyak. Porsinya juga cukup banyak (untuk ukuran saya).

 

11351153_10207001952066883_3647419797176

Steamed Rice with Sea Bream in Teriyaki Sauce, via dok.pribadi/2015.

 

[Tips: Bagi family traveller sekaligus budget traveller yang ingin mencoba menu di resto ini, saya sarankan untuk memesan menu yang bisa disantap beramai-ramai supaya lebih hemat. Tapi jika memang betul-betul sedang berhemat, sebaiknya cari resto lain yang harganya lebih miring.]

 

Rute 2:

Merlion Park

Akses: via Stasiun Raffles Place

 

Dari tempat makan, kami langsung menuju ke stasiun terdekat untuk naik MRT ke Merlion Park. Stasiun Bugis ini lokasinya dekat sekali dengan Bugis Street dan bersebelahan dengan shopping center Bugis Junction. Untuk dapat pergi ke Merlion Park, kami harus naik MRT East-West Line dari Stasiun Bugis dan turun di Stasiun Raffles Place.

 

Oya, bagi yang belum pernah naik MRT di Singapore, MRT (alias Mass Rapid Transit) disini konsepnya sama dengan kereta dan subway di Jepang, yaitu menggunakan warna untuk membedakan jalur (atau line) untuk masing-masing rute. Penumpang harus membeli tiket sebelum naik ke MRT, atau jika mau mudah, penumpang dapat membeli kartu EZ Link dan mengisinya sejumlah nominal tertentu (minimal SGD 10). Kartu tersebut prinsipnya sama seperti IC card di Jepang (contohnya Suica, Passmo, Icoca, Haruka, dsb), dimana kita harus men-tap 1x sebelum naik kereta dan men-tap 1x saat keluar dari stasiun. Ngomong-ngomong, kami nggak beli kartu EZ Link karena seorang teman berbaik hati meminjamkan kartu-kartunya dengan catatan kami harus mengisi sendiri saldo di kartu tersebut.

 

11403272_10207001946906754_5087744099716

Peta MRT Singapore, via dok.pribadi/2015.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Katanya, untuk mencapai Merlion Park, kami harus keluar dari Exit H di Stasiun Raffles Place. Namun setelah kami keluar di Exit H, kami nggak menemukan ada informasi menuju ke Merlion Park. Karena sebelumnya nggak riset lebih dulu tentang posisi dan lokasi dari Merlion Park (yaps, kami mengulang kembali kesalahan sewaktu gagal mencari Shinsaibashi Suji di Osaka), alhasil kami muter-muter dulu beberapa blok. Inilah beberapa foto yang sempat kami abadikan sewaktu nyasar.

 

11209581_10207002228793801_6111111743078

Informasi pintu keluar di Stasiun Raffles Place, via dok.pribadi/2015.

 

11253738_10207002318076033_2371657165066

Nyasar jalan-jalan menikmati suasana Singapore, via dok.pribadi/2015.

 

10384059_10207002319836077_4572131313791

Masih dalam rangka nyasar jalan-jalan, via dok.pribadi/2015.

 

Setelah kurang lebih 30-40 menit jalan kaki (yang berasa seperti 2x lipat karena dikombinasikan dengan rasa frustasi akibat harus jalan kaki dalam cuaca yang terik), kami mulai menemukan titk terang dimana posisi Merlion Park tersebut. Ternyata, kami salah ambil jalan karena kami malah menyusuri arah menjauhi Merlion Park (dan kami nggak bisa ngecek posisi via Google Maps karena nggak nyewa modem Wi-Fi). Namun segala kegaharan dan rasa frustasi akhirnya lenyap setelah kami melihat bangunan Marina Bay Sands dari kejauhan yang memang keren punya.

 

11406419_10207002329076308_3962388142105

Marina Bay Sands, via dok.pribadi/2015.

 

11390094_10207002329036307_5078598741605

Nggak tahan untuk nggak share street furniture unik yang bisa ditemukan di dekat Fullerton Plaza, via dok.pribadi/2015.

 

11391532_10207002330956355_7559057026638

Marina Bay Sands dilihat dari dekat Fullerton Pavillion, via dok.pribadi/2015.

 

Setelah puas jeprat-jepret Marina Bay Sands dari kejauhan, kami pun ngesot ke Merlion Park. Namun godaan untuk mampir ke kafe yang ada dibawah jembatan jauh lebih besar dibanding langsung mampir ke Merlion. Maklum, saat itu sudah pukul 16.00 dan perut sudah melilit minta diisi cemilan. Pilihan kami pun jatuh pada sebuah kafe bernama Toast Junction.

 

Toast Junction

Lokasi: tepat dibawah jembatan Fullerton Road

Kisaran harga: *lupa* (ada alasannya kenapa saya lupa)

 

Waktu melihat kafe ini, suasananya terlihat begitu menggoda. Kami pun langsung beranjak ke kasir untuk memesan makanan dan minuman. Namun sayangnya kasir (pria) yang melayani kami pada waktu itu nggak ramah kurang memberikan gestur positif. Dia kelihatan nggak sabar waktu menunggu kami membaca menu (maklum, ini pertama kalinya kami kesini) dan penjelasannya pun terkesan buru-buru. Berhubung saya juga sedang dalam mode capek, lapar, dan gahar; rasa bete makin berlipat. Saya pun memesan menu secara asal (pokoknya biar cepat beres), sampai-sampai nggak memperhatikan soal harga.  

 

Penampakan suasana kafe dan menu yang kami pesan seperti ini:

 

11407159_10207002342756650_4986549794214

Bagian bawah jembatan yang ramai oleh pengunjung, via dok.pribadi/2015.

 

11402670_10207002346436742_8494868632338

Toast Junction, via dok.pribadi/2015.

 

11406963_10207011243459162_4925936688136

Meja tempat kami makan, via dok.pribadi/2015. Sistem pemesanannya melalui kasir. Untuk minuman yang ready stock, bisa langsung ambil sendiri di kulkas. Sedangkan untuk makanan, kita akan mendapat pager yang akan berbunyi jika makanan kita telah selesai dibuat dan harus diambil sendiri di counter.

 

11406896_10207002346236737_4310251504136

(Kiri) kalau nggak salah namanya Mie Laksa, dan (kanan) French Toast with butter and kaya jam, via dok.pribadi/2015.

 

Gimana soal rasanya? Komentar saya cuma: “hmmmm…..â€. Masih masuk dalam kategori “bisa dimakan†sih, jadi saya pilih untuk no comment saja. Yang pasti sih mie-nya nggak habis. Kalau untuk minumannya, saya juga no comment. Habis pesan minumnya random sih (supaya cepat saja), jadi soal rasa dan harganya pun nggak ada yang nampol dalam ingatan. Apa saya akan balik lagi kesana jika ada kesempatan untuk ke Singapore lagi? Entahlah, hehe..

 

Beres makan, kami pun jalan-jalan ke Merlion Park, dan kemudian singgah sejenak di sebuah butik yang menjual aneka fashion dan souvenir ala Singapore (lokasinya masih di bawah jembatan).

 

10425361_10207002342716649_3237786647490

Merlion Park, via dok.pribadi/2015. Pengunjung hari itu padat sekali.

 

11401174_10207011246219231_8714005711515

Si sulung coba-coba meniru pose Merlion, via dok.pribadi/2015.

 

Dari Merlion Park, kami kembali ke Stasiun Raffles Place untuk naik MRT kembali ke Stasiun Bugis. Kali ini kami nggak pake acara nyasar-nyasar dulu, walau tetap saja perjalanan memakan waktu 15-20 menit karena kami banyak berhenti untuk foto-foto.

 

Rute 3:

Bugis Junction

Alamat: 200 Victoria Street Singapore 188021

Akses: via Stasiun Bugis atau 10-15 menit jalan kaki dari hotel kami di Bugis Street

 

Kami tiba di Stasiun Bugis kira-kira pukul 18.00. Setelah tiba disana, kami baru tahu jika stasiun tersebut ternyata terkoneksi dengan Bugis Junction. Berhubung kami harus belanja beberapa keperluan harian dan keperluan bayi, kami pun tanya-tanya pada petugas di Stasiun Bugis dimana bisa membeli keperluan bayi seperti popok sekali pakai. Petugas tersebut merekomendasikan sebuah pusat perbelanjaan yang jaraknya agak jauh. Karena sudah males untuk jalan-jalan lagi, kami nekat main saja ke Bugis Junction walau nggak yakin jika kami bisa menemukan supermarket yang menjual popok sekali pakai.

 

11350578_10207001952826902_5918860279885

Bugis Junction, via dok.pribadi/2015.

 

Nggak disangka, ternyata di Bugis Junction ada lho tempat seperti supermarket. Namanya memang mengesankan seperti nama toko buah (saya lupa nama persisnya, namun kalau nggak salah ada unsur “Fresh†di namanya). Ternyata supermarket tersebut nggak hanya menjual produk segar saja, karena disana juga ada banyak produk harian dan juga perlengkapan untuk bayi. Jadi, jika ada family traveller yang menginap di sekitar Bugis dan mencari supermarket yang menjual keperluan bayi, bisa main-main ke Bugis Junction.

 

Berhubung hari semakin malam, kami pun sekaligus mencari makan di Bugis Junction. Ternyata di Bugis Junction juga ada Yoshinoya. Kami pun iseng-iseng mampir kesana untuk membeli makan malam (take away). Ternyata walau sama-sama Yoshinoya, tetap saja ada ciri khas dari Yoshinoya di Singapore dengan Yoshinoya di Osaka dan Jakarta. Saat kami berkunjung ke tempat ini, Yoshinoya di Bugis Junction ini tengah mengadakan promo harga khusus untuk pelajar. Ada beberapa menu yang nggak pernah saya lihat sebelumnya di Yoshinoya Jakarta dan Osaka, walau menu klasik seperti Beef Bowl Original masih tetap tersedia. Oya, harga menu di Yoshinoya ini kalau nggak salah kira-kira mulai dari USD 5 untuk menu utama, yang berarti harganya cukup ramah untuk anggaran kami.

 

Dari Bugis Junction ini kami langsung kembali ke hotel untuk menyantap makan malam yang sudah kami beli dari Yoshinoya.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 10

Vivocity – Sentosa Island – Bugis Junction (lagi)

Sabtu, 2 Mei 2015

 

Bagi yang sudah pernah baca field report saya bagian pertama dan kedua, pasti sudah sering membaca jika kami nyaris selalu bangun kesiangan. Namun hari ini istimewa, karena kami ada janji dengan seorang teman di Vivocity. Jadi walau mood masih ingin leyeh-leyeh di atas kasur, khusus hari ini kami sengaja bangun lebih pagi supaya nggak terlambat pergi ke Vivocity.

 

Rute 1:

Vivocity

Alamat: 1 HarbourFront Walk, Singapore 098585

Akses: via Stasiun HarbourFront (NorthEast Line atau Circle Line)

Jam operasional: 10.00-22.00

 

Bisa dibilang saya buta banget soal Singapore. Pertama kali pergi ke negerinya Merlion ini pada tahun 1996, dan belum pernah menapakkan kaki lagi di Singapore sejak saat itu. Karenanya, waktu ada rencana ketemuan di Vivocity, saya sempat bertanya-tanya. Vivocity itu apaan sih? Nama sebuah kompleks perumahan, taman bermain, atau apa?

 

Setelah dijelaskan oleh hubby, saya baru ngeh jika Vivocity merupakan nama sebuah shopping center yang konon adalah yang terbesar di Singapore. Untuk mencapai shopping center ini, dari Stasiun Bugis kami harus naik Earth West Line dan turun di Stasiun Outram Park, dilanjutkan dengan naik North East Line hingga mentok di Stasiun Harbour Front yang terkoneksi dengan Vivocity. Berhubung saya nggak sempat foto-foto tampak bangunan dari luar, seperti inilah penampakan Vivocity (foto diambil dari wikimedia commons).

 

11391332_10207018105110699_5311522322889

Vivocity, via Terence Ong/wikimedia commons 

 

11401226_10207018105430707_6606013324139

Suasana di dalam Vivocity, via Terence Ong/wikimedia commons 

 

Toast Box

Lokasi: Vivocity lantai 3

Kisaran harga: mulai dari SGD 4 (untuk makanan) dan SGD 1.5 (untuk minuman)

 

Begitu tiba di Vivocity, kami langsung menuju ke tempat janjian, yaitu Toast Box. Toast Box di Vivocity ini ada di 2 lokasi, yaitu di lantai B2 dan di lantai 3. Toast Box yang kami kunjungi kali ini ada di lantai 3, dan lokasinya bersebelahan dengan taman outdoor. Kami sempat ngemil-ngemil sedikit di Toast Box ini. Suasana Toast Box kurang lebih seperti ini:

 

11402711_10207011467144754_6662420838879

Toast Box di Vivocity, via dok.pribadi/2015.

 

Toast Box ini memiliki spesialisasi aneka menu roti panggang. Ada roti panggang dengan selai coklat, kacang, dan lain-lain. Tapi ada juga menu non-roti, seperti mie. Sistem pemesanan di tempat ini adalah: pembeli langsung pesan dan bayar makanan di kasir. Kemudian pembeli akan mendapat alat seperti pager yang akan berbunyi jika menu yang dipesan sudah siap dan bisa di ambil di counter.

 

[Tips: Seperti yang sudah saya singgung di atas, lokasi Toast Box ini dekat dengan taman outdoor yang ada di lantai 3. Jika bawa anak-anak, taman ini asyik banget untuk dijelajahi bersama keluarga, khususnya anak-anak, karena di taman ini terdapat tempat untuk main air yang pastinya akan disukai oleh anak-anak. Sayangnya kemarin kami nggak sempat menjelajah area ini karena saat itu agak gerimis.  Oya, di Vivocity ini juga ada wahana permainan outdoor lho. Intinya, jika ada family traveller yang tengah mencari tempat untuk dikunjungi di Singapore bersama keluarga, kalian dapat mempertimbangkan untuk mampir ke Vivocity.]

 

11406719_10207020708095772_3541962430621

Rooftop garden di Vivocity, via sengkang/wikimedia common 

 

Rute 2:

Sentosa Island

 

Selesai dari Toast Box, kami melanjutkan rencana untuk mengunjungi Sentosa Island. Hubby ingin mengajak si sulung untuk main Skyline Luge Sentosa a.k.a Luge (nanti akan saya jelaskan dibawah), jadi kami pun mulai mengantri untuk naik monorail ke Sentosa Island. Monorail ini bisa di akses dari lantai 3 Vivocity, dan nggak begitu jauh dari Toast Box. Jadi kami pun langsung ikut antri untuk naik monorail (kami baru tahu jika monorail ini namanya Sentosa Express). Harga tiketnya SGD 4 untuk sekali naik, dan penumpang bebas untuk naik dan turun di stasiun manapun yang mereka inginkan tanpa harus bayar lagi, selama penumpang nggak kembali lagi ke Stasiun Sentosa di Vivocity. Secara keseluruhan, ada 4 stasiun yang dilalui oleh monorail ini: Stasiun Sentosa, Stasiun Waterfront, Stasiun Imbiah, dan Stasiun Beach.

 

Berhubung rencana utama kami adalah naik Luge, maka kami pun naik monorail dan turun di Stasiun Beach. Dari stasiun ini kami tinggal jalan sedikit untuk mencapai Luge. Oya, Luge ini merupakan sebuah wahana permainan yang bentuknya berupa track menuruni bukit. Pengunjung harus naik dulu ke atas bukit dengan menggunakan kereta gantung, dan kemudian menuruni bukit menggunakan alat seluncur dan memanfaatkan gravitasi melalui track yang berkelok-kelok. Penampakan Luge seperti ini:

 

11391445_10207011376902498_8589092969159

Jalan menuju Luge dari Stasiun Beach, via dok.pribadi/2015.

 

11406495_10207011481265107_4895742331220

Luge, via dok.pribadi/2015.

 

11401251_10207011482465137_2202250521160

Informasi umum tentang Luge, via dok.pribadi/2015.

 

11402940_10207011480865097_3598769558009

Kereta gantung yang akan membawa pengunjung ke bagian atas, via dok.pribadi/2015.

 

11629_10207011479665067_2918225472843772

Track Luge, via dok.pribadi/2015.

 

Sebelum bisa naik Luge, pengunjung harus membeli dulu tiket di counter tiket. Untuk dapat naik Luge, pengunjung harus berusia minimal 6 tahun dan memiliki tinggi minimum 110 cm. Karenanya hanya hubby dan si sulung saja yang mencoba wahana ini, sementara saya bertugas jaga si bungsu. Oya, harga tiket Luge ini adalah SGD 17/orang (untuk naik luge dan kereta gantung), dan harganya akan lebih murah jika membeli beberapa tiket sekaligus. Sedangkan jika ingin naik 1 luge berdua dengan anak-anak (tandem), pengunjung cukup menambah SGD 3 saja (jadi totalnya SGD 20 untuk sekali naik Luge dan kereta gantung).

 

11412375_10207011482705143_3742944607023

Tiket Luge dan kereta gantung, via dok.pribadi/2015. Tiket yang kami beli ini untuk naik 1 Luge bersama anak-anak.

 

[Tips: Skyride Luge Sentosa ini menjual tiket untuk individu (1 orang/Luge) dan tiket tandem (1 dewasa+1 anak/Luge). Jika kawan traveller ada yang membawa anak-anak namun ingin naik Luge sendiri-sendiri, jelaskan hal tersebut saat membeli tiket di counter tiket. Kemarin sebetulnya hubby dan si sulung ingin naik Luge sendiri-sendiri, namun ternyata pihak kasir salah mengerti maksud kami dan akhirnya malah memberikan tiket tandem yang akhirnya cukup membuat hubby dan si sulung manyun selama beberapa waktu.]

 

Sesampainya di atas, pengunjung akan mendapat tutorial cara mengendarai Luge dari petugas, termasuk cara mengendalikan Luge sekiranya ada masalah saat menuruni bukit. Pengunjung juga akan dilengkapi dengan helm untuk melindungi kepala. Saya rasa saya harus menunggu 30-45 menit (sepertinya lebih) sejak hubby dan si sulung naik kereta gantung sebelum bisa melihat mereka menuruni bukit menggunakan Luge. Dan berikut inilah penampakan saat naik Luge.

 

11351209_10207011377622516_3449114501715

Hubby dan si sulung lagi having fun, via dok.pribadi/2015.

 

11391401_10207011485465212_2693782209861

Suasana menjelang belokan terakhir, via dok.pribadi/2015.

 

[Tips: Jika ingin naik Luge, perhatikan baik-baik instruksi dan tutorial yang diberikan oleh petugas yah, khususnya jika membawa anak-anak. Selama saya menunggu hubby dan si sulung menuruni bukit, saya sempat melihat seorang anak kira-kira usia pelajar SD terlalu kencang saat menuruni bukit dan Luge-nya nyaris lompat keluar track ke arah rumput. Untungnya Luge-nya nggak sampai lompat sepenuhnya dan si anak bisa kembali lagi ke track-nya berkat instruksi dari ayahnya yang naik Luge dibelakangnya. Tambahan lainnya, di dekat counter tiket ada sebuah kedai yang menjual aneka minuman dan snack. Jika teman-teman nggak naik Luge dan mencari tempat untuk menunggu teman/anggota keluarga lainnya yang lagi naik Luge, kalian bisa membeli snack maupun minuman ringan untuk dinikmati di area makan outdoor yang letaknya berdekatan dengan track Luge. Foto-foto di atas saya ambil dari area makan tersebut.]

Share this post


Link to post
Share on other sites

Acara naik Luge selesai kira-kira pukul 12.30. Kami pun segera mencari tempat untuk makan siang. Setelah sempat hampir nyangkut di sebuah kafe, akhirnya kami memutuskan untuk mampir ke McDonald’s saja. Yah, sebetulnya saya punya prinsip untuk menghindari restoran fast food (khususnya yang gerainya sudah ada di Indonesia) saat berwisata ke luar negeri. Apa gunanya jauh-jauh ke luar negeri kalau ujung-ujungnya makan di tempat yang bisa ditemukan di Indonesia? Namun prinsip tersebut terpaksa dilanggar karena kami ‘terkagum-kagum’ melihat harga menu di kafe yang sebelumnya kami datangi. Apa boleh buat, demi menjaga anggaran wisata supaya tetap dalam budget (ciehh, apaan sih?),

 

Menurut saya, McDonald’s di Singapore ini nggak jauh beda dengan McDonald’s di Malaysia, namun beda dengan McDonald’s di Indonesia. Di McD ini kalian bisa melihat berbagai pilihan paket ayam goreng dan nugget, namun jangan harap akan menemukan nasi putih. Untuk pilihan menu minumannya sih standar, mulai dari minuman soda hingga air mineral. Seperti inilah penampakan menu yang kami pesan siang itu.

 

11401579_10207011484745194_1787217949975

Menu makan siang untuk ber-4, via dok.pribadi/2015.

 

11390204_10207011485705218_7712441841027

Detail bon pembayaran, via dok.pribadi/2015. Nggak sampai SGD 15 untuk makan siang ber-4. Hemat kan?

 

Rute 3:

Universal Studio Singapore

Akses: via Stasiun Waterfront (jika menggunakan monorail)

 

Selesai makan, kami kembali lagi ke stasiun monorail. Bukan untuk balik ke Vivocity, tapi untuk turun di Stasiun Waterfront. Tujuan kami adalah mengunjungi Universal Studio Singapore, yang memang bisa di akses melalui Stasiun Waterfront.

 

Sampai disini mungkin kedengarannya keren ya? Padahal tujuan utama kami ke Universal Studio ini bukan untuk menjajal masuk ke atraksi apapun, maupun untuk wisata kuliner. Tapiiiii… cuma untuk foto-foto doang, hahaha. Karenanya, begitu kami menjejakkan kaki di Stasiun Waterfront, yang pertama kami lakukan adalah mencari bola dunia yang menjadi logo Universal Studio. Dan seperti inilah penampakan lambang Universal Studio tersebut.

 

11392961_10207011375942474_1016669974057

Universal Studio Singapore, via dok.pribadi/2015. Waktu itu agak sulit untuk mendapat foto yang betul-betul bagus karena pengunjung di sekitar logo Universal ini lagi cukup banyak.

 

Sejak awal, tujuan kami pergi ke Universal Studio ini ya memang hanya untuk jalan-jalan dan cuci mata secara gratisan (pelit.com alias irit). Karenanya, hubby sempat men-survey beberapa aktifitas gratisan yang mungkin bisa dilakukan disana bersama si kecil. Hasilnya, kami menemukan jika di kawasan Universal Studio Singapore ada sebuah plaza air mancur kecil yang boleh dijadikan tempat main gratis bagi anak-anak (dan orang dewasa, kalau nggak malu ya.. hehe..). Itulah sebabnya saya sengaja berbekal baju ganti untuk si kecil yang pastinya akan senang kalau diajak berbasah ria. Dan untungnya, saat kami tiba di kawasan Universal Studio Singapore ini cuaca sedang puanas pol. Si sulung yang sudah mengeluh kegerahan pun mendadak bersemangat saat kami ijinkan untuk main air di plaza air mancur tersebut.

 

11391381_10207011486625241_4515762996721

Kolam air mancur di Universal Studio Singapore, via dok.pribadi/2015.

 

11227638_10207011488145279_8719706423845

Si sulung (baju hijau) lagi asyik main air bersama beberapa anak lain, via dok.pribadi/2015.

 

Sebetulnya plaza air mancur ini nggak seberapa besar. Tapi karena air mancurnya keluar berganti-ganti dari beberapa titik, kolam ini cukup membuat anak-anak kegirangan. Mereka berganti-ganti menebak tempat keluar air selanjutnya, dan ada juga beberapa anak yang sengaja menutup lubang air supaya air nggak menyembur keluar. Pokoknya, bagi yang ingin mencari hiburan gratis di area Universal Studio Singapore untuk anak-anak, ajak saja mereka main air di plaza ini.

 

[Tips: Berencana untuk main air? Jangan lupa siapkan baju ganti ya. Dan jangan lupa mengawasi anak-anak saat bermain di area ini. Plaza air mancur ini lumayan licin, dan saya sempat melihat sendiri ada beberapa anak yang jatuh terpeleset gara-gara terlalu heboh main di tempat ini. Sedangkan jika anak-anak sudah cukup besar untuk menjaga diri, orang tua bisa menunggu di taman yang lokasinya nggak jauh dari plaza air mancur sambil mengawasi dari jauh.]

 

Kami selesai main-main di kawasan Universal Studio ini kira-kira pukul 15.00. Setelah si sulung ganti baju dengan baju kering, kami pun segera kembali ke Stasiun Waterfront untuk naik monorail menuju ke Vivocity. Sesampainya di Vivocity, kami pun segera keliling-keliling untuk meneruskan agenda mencari oleh-oleh. Pilihan pun jatuh pada toko coklat (sayangnya saya lupa nama tokonya) yang kami temukan saat dalam perjalanan menuju ke Stasiun MRT HarbourFront yang terkoneksi dengan basement Vivocity. Toko coklat ini cukup besar dan punya banyak stok coklat dengan varian rasa yang unik-unik. Menariknya, saat itu banyak coklat dengan kemasan menarik yang diobral dengan harga lumayan miring. Kalau nggak salah total belanjaan kami di tempat ini nggak sampai SGD 30 untuk beberapa box coklat dengan kemasan yang menarik untuk dijadikan oleh-oleh.

 

Rute 4:

Bugis Junction - Hotel

 

Sepertinya Bugis Junction menjadi shopping center favorit kami selama di Singapore. Bukan karena tempat ini sedemikian unik dan ciamik sehingga bikin kami jatuh cinta, tapi karena Bugis Junction ini terkoneksi dengan Stasiun MRT Bugis yang merupakan stasiun terdekat dengan hotel kami. Jadi nggak heran jika setiap kali kami baru bepergian, kami selalu menyempatkan diri untuk jalan-jalan sejenak di Bugis Junction ini, khususnya jika menjelang waktu makan.

 

Begitu juga dengan hari ini. Sepulang dari Vivocity lagi-lagi kami mampir ke Bugis Junction. Bukan untuk nongkrong, tapi untuk nyari makan malam. Jika pada hari sebelumnya kami makan di Yoshinoya, maka kali ini kami memilih restoran yang punya citarasa lebih khas. Berhubung bon pembelian makan di Bugis Junction ini hilang karena terselip, nggak banyak yang bisa saya ceritakan. Yang pasti saya ingat kalau salah satu menu yang kami pesan adalah Mie Laksa (take away) dan kalau nggak salah harga per-porsinya antara SGD 5-7. Menurut saya rasa mie-nya sih lumayan, dan nggak mengembang walau dimakan di hotel (yang membutuhkan waktu kira-kira 10-15 menit jalan kaki dari Bugis Junction). Kalau ada yang pernah makan mie seperti ini di Bugis Junction, please tolong info nama resto-nya yah. Penampakan menu dan kemasan take away-nya sih seperti ini:

 

11351184_10207011488265282_6935042794578

Mie yang dibeli di Bugis Junction, via dok.pribadi/2015.

 

***

 

Day 11

Changi Airport (Singapore) – Bandara International Soekarno-Hatta (Jakarta/Indonesia)

Minggu, 3 Mei 2015

 

Hari ini kami check out pagi-pagi, kurang lebih pukul 06.30. Proses check out di hotel ini pun lumayan lancar dan cepat. Kami pun dibantu untuk memesan taksi menuju ke bandara, tentunya dengan tambahan biaya reservasi diluar ongkos taksi yang sebenarnya.

 

Kurang lebih kami tiba di Changi pukul 07.15 waktu setempat, dan itu berarti kami datang kepagian. Rencananya kami flight pukul 11.00, dan itu berarti kami baru bisa check-in kira-kira pukul 9 atau 10. Apa boleh buat, kami pun jalan-jalan dulu di Changi Airport.

 

Semula saya pikir kami hanya akan duduk manis mainan gadget sambil menunggu waktu check-in. Tapi ini Changi gitu loh. Bandara yang satu ini memang layak disebut sebagai bandara terbaik di dunia karena disini banyak terdapat fasilitas pendukung yang pastinya nggak akan bikin pengunjung mati gaya. Saya sudah cukup kaget saat melihat ada taman yang sangat asri di Terminal 2. Eh ternyata di dekat taman ini ada fasilitas menarik untuk anak-anak, yaitu Woodblock Rubbing Station. Di tempat ini anak-anak bisa mengambil kertas dan krayon/pensil warna yang digunakan untuk mencetak aneka gambar yang terdapat di berbagai papan kayu. Sayangnya file foto-foto selama di Changi ini entah ada di handphone mana, jadi maaf saya belum bisa share foto aktifitas disini. Padahal area taman dan sekitarnya ini lumayan seru lho. Si sulung dan si bungsu senang sekali menjelajah area taman dan kemudian ikut coret-coret di area Woodblock Rubbing Station.

 

Nggak banyak lagi yang kami lakukan di Changi selain sarapan di Coffee Bean sambil menunggu waktu check-in. Proses check-in dan imigrasi pun berjalan cukup lancar, kecuali pada saat ketika petugas meminta saya membuang sebotol vitamin (yang sebetulnya isinya nggak sampai 50 ml) atau meminumnya saat itu juga. Saya memilih opsi membuang botol tersebut, karena siapa sih yang mau menghabiskan vitamin segitu banyak dalam sekali tenggak? Masalah kedua muncul saat koper hubby ternyata nggak lolos bagasi kabin walau beratnya masih jauh dari batas maksimum (dan lolos bagasi kabin di KIX dan KLIA) sehingga koper mendadak harus ditempatkan di bagasi. Untungnya penempatan koper di bagasi tersebut free of charge, dan koper pun tiba dengan selamat di Jakarta. Perjalanan pulang menggunakan Tiger Airways pun tergolong lancar, kecuali pada momen-momen dimana turbulance terasa banget dan pada satu waktu sempat membuat pesawat terasa seperti dihempas (yang sukses membuat penumpang satu pesawat menjerit secara berjamaah).

 

Saya akan melanjutkan tentang resume itinerary dan juga kesan-kesan wisata di Jepang dan Singapore pada postingan selanjutnya yang insya Allah akan menutup rangkaian field report liburan kali ini. Ditunggu saja yah :) 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Resume liburan keluarga ke Kyoto, Nara, Osaka, dan Singapore tanggal 23 April – 3 Mei 2015. Untuk review lebih lengkap tentang trip-nya, silahkan baca disini:

 

>> isinya tentang tahap persiapan dan wisata di Kyoto.

>> isinya tentang wisata di Nara dan Osaka.

>> isinya tentang wisata di Singapore (penutup wisata ke Jepang)

 

Tahap persiapan:

- Biaya tiket pesawat: IDR 22,648,500 (untuk 2 dewasa, 1 anak, 1 bayi).

Rinciannya:

Jakarta – Kuala Lumpur (KUL), via Air Asia: IDR2,347,000 (untuk 2 dewasa, 1 anak, 1 bayi).

Kuala Lumpur – Osaka/Kansai International Airport (KIX), via Air Asia: (2 dewasa x 514 MYR) + (1 anak x 514 MYR) + (1 bayi x 125 MYR) + biaya lain-lain = 1,961.00 MYR (atau IDR 6,863,500 untuk kurs 1 MYR = IDR 3,500)

Osaka/Kansai International Airport (KIX) – Kuala Lumpur (KUL), via Air Asia: (2 dewasa x 744 MYR) + (1 anak x 744 MYR) + (1 bayi x 125 MYR) + biaya lain-lain = 2,996.00 MYR (belum termasuk biaya makan sebesar 62 MYR, sehingga totalnya jadi MYR 3,068), atau kurang lebih 10,738,000 untuk kurs 1 MYR = IDR 3,500.

Kuala Lumpur (KUL) – Changi, via Tiger Air: IDR 800,000

Changi – Jakarta (CKG), via Tiger Air: IDR 1,900,000

 

- Biaya hotel (rincian harga menyusul):

 

23 – 26 April (Kyoto) : Kyoto Dai-ni Tower Hotel

27 – 30 April (Osaka) : MyStays Otemae Hotel

30 April – 2 Mei (Singapore) : Fragrance Bugis Hotel

 

Rincian Itinerary:

Perlu diketahui jika biaya pengeluaran harian hanya estimasi saja. Pada kenyataannya, biaya yang dikeluarkan lebih besar karena ada beberapa pengeluaran yang tidak tercatat.

 

[KYOTO]

Day 1: Kamis, 23 April 2015

- Kansai International Airport (KIX)

- Stasiun Kyoto dan sekitarnya

Estimasi pengeluaran hari ini (diluar biaya ngemil):

[sewa modem] JPY 7,360 (untuk 9 hari)

[Transportasi KIX-Kyoto dan di sekitaran Kyoto] JPY 4,370

[Makan] JPY 1,560 + JPY 1,540

 

Day 2: Jumat, 24 April 2015

- Arashiyama Bamboo Forest

- Sagano Romantic Train

- Explore Umahori

- Kinkakuji Temple

Estimasi pengeluaran untuk hari ini:

[Transportasi] JPY 600 (kereta dari Stasiun Kyoto ke Stasiun Sagaarashiyama) + JPY 600 (kereta dari Stasiun Umahori ke Stasiun Emmachi) + JPY 580 (bus) + JPY 580 (bus)

[Makan] JPY 460 (jajan di Arashiyama) + JPY 1500 (jajan di Kinkakuji) + JPY 2430 (makan malam)

[biaya tiket masuk] JPY 800 (tiket Kinkakuji)

 

Day 3: Sabtu, 25 April 2015

- Fushimi Inari Taisha

- Kiyomizudera Temple

- Higashiyama Area

- Matsuyama Park

- Gion

Estimasi pengeluaran untuk hari ini:

[Transportasi] JPY 350 (kereta dari Stasiun Kyoto ke Stasiun Inari) + JPY 530 (kereta dari Stasiun Fushimi-inari ke Stasiun Kiyomizu-gojo) + JPY 1420 (taksi)

[Makan] JPY 1200 (jajan di Fushimi Inari) + JPY 380 + JPY 1200 (makan di Kiyomizudera) + JPY 620 + JPY 1500 (makan malam)

[biaya tiket] JPY 600 (tiket Kiyomizudera)

 

Day 4: Minggu, 26 April 2015

- Toei Eigamura

- Kyoto Station

- Kyoto Tower

Estimasi pengeluaran hari ini:

[Transportasi] JPY 500 (kereta dari Stasiun Kyoto ke Stasiun Uzumasa) + JPY 500 (kereta dari Stasiun Uzumasa ke Stasiun Kyoto)

[Makan] JPY 2300 (makan di Toei Eigamura) + JPY 1200 (makan siang)

[biaya tiket masuk] JPY 5500 (tiket ke Toei Eigamura) + JPY 600 (tiket diskon ke Kyoto Tower)

[Lain-lain] JPY 1100 (beli foto di Kyoto Tower) + JPY 2400 (beli souvenir)

 

[NARA]

Day 5: Senin, 27 April 2015

- Nara Parks

- Kofukuji Temple

- Osaka

Estimasi pengeluaran hari ini:

[Transportasi] JPY 2080 (kereta dari Kyoto ke Nara) + JPY 1330 (kereta dari Nara ke Osaka)

[Makan] JPY 440 (makan siang) + JPY 800 (afternoon tea) + JPY 1200 (makan malam)

[biaya tiket masuk] JPY 1300 (tiket ke Todaiji)

[Lain-lain] JPY 700 (sewa locker) + JPY 450 (senbei rusa) + JPY 1400 (souvenir)

 

[OSAKA]

Day 6: Selasa, 28 April 2015

- Osaka Aquarium Kaiyukan

- Tempozan Harbor Village

- Tempozan Giant Ferris Wheel

Estimasi pengeluaran hari ini:

[Transportasi] JPY 700 (tiket kereta dari Stasiun Tanimachi 4-chome ke Stasiun Osakako) +

[Makan] JPY 1540 (makan siang)

[biaya tiket masuk] JPY 5200 (tiket Kaiyukan) + JPY 2400 (tiket Tempozan Giant Ferris Wheel)

[Lain-lain] JPY 2600 (oleh-oleh)

 

Day 7: Rabu, 29 April 2015

- Shinsaibashi

- Amerikamura

- Dotonbori

- Namba Parks

Estimasi pengeluaran hari ini:

[Transportasi] JPY 450 (kereta dari Stasiun Tanimachi 4-chome ke Stasiun Shinsaibashi) + JPY 600 (kereta dari Stasiun Namba ke Stasiun Tanimachi 4-chome)

[Makan] JPY 700 (ngemil di Amerikamura) + JPY 808 + JPY 960 (makan siang)

 

[OSAKA-SINGAPORE]

Day 8: Kamis, 30 April 2015

- Kansai International Airport (KIX)

- Kuala Lumpur International Airport (KLIA) di Malaysia

- Changi International Airport di Singapore

Estimasi pengeluaran hari ini:

[Transportasi] JPY 3430 (kereta dari Stasiun Tanimachi 4-chome ke KIX) + SGD 16 (taksi dari Changi ke hotel)

 

[sINGAPORE]

Mulai dari sini saya nggak akan membahas mengenai estimasi pengeluaran karena catatan untuk Singapore ini masih tercecer.

 

Day 9: Jumat, 1 Mei 2015

- Bugis Street

- Merlion Park

- Bugis Junction

 

Day 10: Sabtu, 2 Mei 2015

- Vivocity

- Sentosa Island

- Universal Studio Singapore

- Bugis Junction

 

***

 

Penutup

Setelah mengunjungi Kyoto, Nara, Osaka, dan Singapore bersama anak-anak dan bayi, ada beberapa hal yang bisa saya simpulkan:

 

KYOTO. Kami sekeluarga suka banget dengan Kyoto. Disini jangan harap dapat menemukan bangunan pencakar langit dan kotanya juga nggak terlalu besar, namun justru suasana yang seperti itu yang malah bikin kangen. Dan kalian nggak akan kesulitan menemukan orang yang mau mencoba berbahasa Inggris sebagai bukti jika kota ini sangat welcome dengan turis asing.

OSAKA. Satu hal yang paling saya ingat dari Osaka adalah keramahan penduduknya. Mereka nggak segan-segan membantu orang yang kelihatan kesulitan. Contohnya, saat saya tengah kesulitan mengangkat koper menaiki tangga, ada saja yang menawarkan bantuan untuk mengangkat sampai ke atas. Sama seperti Kyoto, di Osaka ini juga banyak yang nggak alergi dengan bahasa Inggris. Cukup kontra dengan situasi yang pernah saya temui di Tokyo beberapa tahun silam.

NARA. Suasana di Nara ini mirip-mirip dengan Kyoto. Cukup bikin kangen dan penasaran karena kemarin hanya singgah sebentar saja di Nara. Mudah-mudahan ada kesempatan untuk mengunjungi Nara lagi di lain waktu.

SINGAPORE. Kesan pertama saya tentang Singapura adalah….. hawanya panas bangetttttt! Mungkin karena kami baru dari Jepang yang pada waktu itu suhunya sedang sejuk-dingin, jadinya suhu di Singapore ini terasa luar biasa panasnya. Itulah sebabnya pada waktu itu kami nggak terlalu meng-eksplor Singapore karena baru keluar sebentar saja kami sudah banjir keringat.

 

Sekian ulasan dan resume dari saya. Mohon maaf kalau kepanjangan, dan semoga bermanfaat ya!

Share this post


Link to post
Share on other sites

@vie asano

ok udah di bikin topic sendiri ya sep2

Memang itu agak membingungkan kadang untuk ke Merlion Park turunya di Raffles Place tapi jalan masih agak jauh mending ikutin google maps aja :D
btw ini berapa hari ya ?

Share this post


Link to post
Share on other sites

UPDATED

 

wah udah lama kgk makan es potong nih, btw unik tuh bangku yg di dekat Fullerton Plaza :D nice share :salut

 

Bangku yang ini lebih unik lagi mas, tapi kemarin lupa untuk di upload :P 

 

11425236_10207011233458912_4893244990982

 

@vie asano

ok udah di bikin topic sendiri ya sep2

Memang itu agak membingungkan kadang untuk ke Merlion Park turunya di Raffles Place tapi jalan masih agak jauh mending ikutin google maps aja :D
btw ini berapa hari ya ?

 

Masalahnya kemarin ga bisa akses internet, jadi lebih banyak mengandalkan feeling (yang ternyata salah banget, hahaha)

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By rianifitria
      Berikut adalah kelanjutan perjalanan dari p1 Beijing menuju ke Xi'An dan Shanghai....
       
      Hari 6 : Xi'An
      Hari pertama di Xi’An kami pergi ke Xi'An National Museum atau Shaanxi History Museum. Naik metro ke Xiaozhai – Line 2 atau 3. Tiket masuknya RMB 30.
       Sejarahnya Xi’An lumayan menarik. Karena kota ini adalah satu2nya kota yg dengan suksesnya selamat dari berbagai era dan perang lumayan utuh; dan sejarahnya mereka emang panjang banget. Oleh sebab itu kota ini terkenal sebagai kota pelajar; Karena memang banyak universitas2 kelas kakap di sini (dan bukan hanya di jaman ini saja).
      Mulai dari jaman purba, dan menjadi ibukota untuk berbagai dinasti yg peninggalan sejarahnya lumayan tercatat rapih dan lengkap. Kota ini juga kota awal mulanya komunitas Muslim di China; yg diawali dari perdagangan Jalur Sutra. Museumnya masuknya gratis!

      Dari Museum, kami pergi ke The Big Wild Goose Pagoda (Dayan Pagoda) – Metro Line 3 stasiun Dayanta. Ini adalah pagoda-nya biksu Tong Sam Chong (Kera Sakti/Sun Go Kong)! Beliau termasuk biksu terkemuka yg telah membuat catatan sejarah yg luar biasa detail mengenai masa tersebut selama perjalanan Beliau ke India. Bahkan catatan beliau telah dipergunakan untuk merekayasa sejarah agama Buddha di India.
      Dari sini kami berjalan menuju ke Muslim Quarter. Keluar dari stasiun Zhonglou – mentro line 2- dari pintu B dan jalan menuju ke Bell Tower dan belok ke kanan.
      Muslim Quarter ini adalah jalan yg penuh toko2 makanan Halal dan juga tradisional/khas-nya orang Muslim di Xi’An. Mulai dari kurma yg sebesar kepalan tangan sampai kacang cabe (cabenya hebat banget) dan kue persik yg khas, semuanya ada disepanjang jalan ini.
      Yg menarik adalah The Great Mosque yg berada di balik jalan ini. The Great Mosque adalah Masjid pertama dan tertua di China. Dibangun oleh Raja China dan diberikan kepada kaum pedagang dari Timur Tengah yg menetap di Xi’An sebagai ‘duta’ Jalur Sutra. Bangunannya persis dengan klenteng, tapi di dalam ruang utama Masjidnya dindingnya penuh ukiran Al-Qur’an. Tiketnya RMB 25
       
      Hari 7 - Xi'An
      Hari ini kami pergi pagi2 banget ke Emperor Qinshihuang's Mausoleum Site Museum. Atau lebih dikenal sebagai The Terracotta Warrior Museum.
      Tempatnya lumayan di luar kota, karena konon sejarahnya raja ini dikubur di satu bukit dengan 35 ruangan. Di kuburan utamanya petinya Beliau terbaring diatas ‘danau’ yg terbuat dari air raksa dan kubah-nya dihiasi dengan permata dan dibikin semirip langit malam. Yg ditemui baru 14 ruangan, yg digali baru 7, dan yg bisa ditunjukkan masa (karena isinya lumayan utuh) hanya 3.
      Untuk kesini kami pergi ke stasiun Wulukou dan berjalan ke arah stasiun kereta (Railway Station). Kamu pergi ke perhentian bus jalur 5, persis di depan China Post dan naik bus 306. Harga tiketnya RMB 7 dan perjalanan kira2 1,5 jam. Karcis masuknya RMB 150, ngantrinya panjang, tapi ada keterangan Bahasa Inggris.
      Melihat skalanya satu ruangan yg baru 1/3-nya digali saja sudah terpana. Tidak heran kalau kuburannya 1 bukit sendiri. Di bagian belakang (yg belum digali), bisa dilihat sekumpulan orang berusaha keras merakit puing2 patung2 terakota tersebut, ada beberapa patung dalam berbagai tahap rekayasa juga.
      Keluar dari Museum Terakota, kami harus melewati daerah souvenir yg sudah seperti kota kecil. Tapi saya rasa souvenir yg khasnya bias didapat di dalam gedung Museum. Kami sempat beli persik (karena lagi musim) dan rasanya enak, renyah dan manis.
      Dari Museum Terakota kami kembali ke pusat kota dan pergi ke Xi'an City Wall – South gate. Kami naik metro line 2 ke Yongningmen dan karcis masuknya RMB 54.

      Xi'an City Wall adalah satu2nya ‘pagar’ atau ‘benteng’ kota yg masih utuh di China. Dan kami bias jalan diatasnya mengelilingi kota, dan bahkan bisa bersepeda diatas benteng ini. Di South Gate malam hari ada biasanya ada pergelaran dan kalau gak salah harga tiketnya RMB 600an, jadi kami tidak nonton.
      Malamnya kami pergi ke mall2 disekitar hotel.
       
      Hari 8  : Shanghai
      Pagi hari kami terbang ke Shanghai dan sampai pada sore hari.
      Malamnya kami pergi melihat Nanjing Road Pedestrian Street, naik subway ke People’s Square (line 1, 2 dan 8). Tempat shopping dan barang2nya mahal2, dan masih gak keliatan barang2 kw.  Kami juga naik tram dari ujung ke ujung Nanjing Road, harganya RMB 5.

       
      Hari 9 : Shanghai
      Hari ini kami berangkat ke Shanghai Museum yg terletak diantara Dashijia (Subway line 8) dan People’s Square (Line 1,2,8).
      Shanghai Museum jadi terasa ‘biasa’ karena kami sudah pergi ke Beijing National Museum yg megah dan Xi’An Museum yg bersejarah. Tapi koleksinya Shanghai Museum juga lumayan banyak dan menarik, terutama lantai lukisan China-nya. Tiket masuknya gratis, tapi untuk koleksi ‘special’ harus mengantri dari pintu lain.
      Dari sini make pergi ke The Bund untuk naik Huangpu River Cruise. Perjalanan dimulai dari Shiliupu Wharf yg berada di belakang Yu Yuan Garden. Jalannya dari stasiun Yu Yuan Garden (line 10) lumayan juga. Harga tiketnya 120 yuan dan perjalanan total sekitar 50 menit.
      Kami naik kapal naik-turun sungai HuangPu untuk melihat kedua sisi Shanghai, dimana satu sisi memiliki bangunan2 tua dan sisi satunya penuh pencakar langit.
      Dari sini kami pergi ke Yu Yuan Garden, tiket-nya RMB 40. Yu Yuan Garden adalah taman bikinan yg penuh dengan berbagai dekorasi yg saya rasa lebih untuk menarik turis. Yg menarik adalah penataan tamannya sehingga taman tersebut terasa lebih besar dan lebih panjang dari ukuran aslinya.  
      Yu Yuan Garden itu dikelilingi oleh toko2 berjualan souvenir, cheong-sam dan makanan. Kalau malam, lampu2 pertokoannya menyala dengan indah.

       
      Hari 10 : Shanghai
      Kami berangkat jam 6 pagi menuju Disneyland Shanghai memakai subway Line 11 – stasiun Disney.
      Antriannya luar biasa panjangnya; baik untuk X-ray barang bawaan, kemudian untuk masuk Disney (total waktu antri 3 jam), juga di setiap wahana. Selama satu hari kami hanya dapat naik 2 wahana karena terlalu lama mengantrinya.
      Setelah mengantri selama itu dengan cuaca panas sekali dan orang2 yg saling menyela antrian hanya untuk naik wahana 10 menit, kami jadi malas mengantri lagi dan akhirnya hanya duduk2 saja. Merasa agak rugi juga membayar RMB499 buat masuk Disneyland untuk duduk2.
      Nah pulangnya yg jadi masalah. Karena menurut website, subway bakalan buka sampe jam 23.00 lewat.  Tapi ternyata saat kamu ke Subway jam 10an malem, sudah tutup subwaynya. Tidak ada bus juga karena bus terakhir jam 9an, taxi juga tidak ada sama sekali.
      Untungnya di China banyak sejenis grab/uber driver. Di Beijing biasanya mobil2nya akan memasang tanda di kaca depan. Di Xi’an maupun Shanghai kami tidak melihat tanda2 tersebut, tetapi ada yg menawarkan jasa mengantar kami pulang. Dan harganya kurang lebih sama dengan naik taksi dari Disneyland balik ke Hotel.
       

       
      Hari 10 : Shanghai
      Paginya kami pergi ke Qibao Ancient Town. Bagian Shanghai yg masih memiliki rumah2 tua (hampir mirip Hutong di Beijing, tapi jauh lebih kecil dan sempit.
      Qibao adalah bagian dari Shanghai tua yg dilestarikan oleh pemerintah karena sejarah daerah ini berawal dari dinasti Song sekitar 1000 tahun lalu.
      Kami naik subway Line 9 ke stasiun Qibao. Untuk jalan2 saja di Qibao gratis, tapi untuk atraksi2 harus bayar sendiri2.
      Kami kemudian berangkat ke Airport. Sayangnya karena cuaca buruk (badai), semua penerbangan hari itu dibatalkan dan kami harus cari penginapan sendiri (tidak dibantu pihak maskapai maupun bandara).
       
      Hari 11: Shanghai
      Akhirnya dapat penerbangan ke Jakarta langsung dari Garuda!
       
      Sekian laporan perjalan saya ke Beijing - Xi'An - Shanghai.
       
      Dari perjalanan saya tersebut ada beberapa tips:
      - Download peta google map China, atau screenshots peta2 karena sampai di China google gak bisa dipake. 
      - Masukan foto2 dari nama tempat2 dan alamat2 tempat2 wisata yang Anda akan datangi, juga nama hotel dan alamat hotel (English dan Chinese) ke HP. Ini akan mempermudah cari jalan maupun bila perlu naik taksi/grab/uber
      - Selama perjalanan yg saya lihat semua tempatnya bersih, sampah jarang, orang2nya gak ada yg berniat menipu dan malah baik2 banget begitu mereka sadar bahwa kami semua turis kesasar, harga2 juga gak dinaikin gila2an. Emang yg pas ngantri di Disneyland agak mengerikan banget, tapi selain itu semuanya aman tentram dan disiplin. 
       - Barang2 kw gak keliatan sama sekali, sedihnya...
      - Kalau bias naik kereta dari antar kota. Keretanya cepat dan tepat waktu, sementara penerbangan antar kotanya selalu delay (mungkin karena pas kami disana cuaca emang jelek banget). Waktu-nya kira2 sama, harga lebih murah dan banyak pemandangan.
      - Xi'An beneran surga oleh2 Halal, terutama di Muslim Quarter.
      - Selalu sedia uang kecil untuk beli karcis bus/subway/metro.
       - Kalau terdampar di airport tanpa hotel, tanya petugas yg berjaga di konter maskapai dan sekitarnya apakah mereka tahu penginapan murah. Biasanya mereka punya kenalan/tahu ada losmen murah yg bukan hotel resmi airport.
      - Jangan khawatir soal Bahasa, di 3 kota ini bus dan subway/metro petunjuknya bilingual (Inggris dan Mandarin).
       
      Apa lagi ya? Nanti kalo inget saya tambahin... kalau teman2 ada yg mau penjelasan lebih panjang lagi bilang aja, saya akan coba sebisanya untuk membantu.

    • By rianifitria
      Tahun lalu saya dan keluarga pergi ke China selama 10 hari - Beijing, Xi'An dan Shanghai. Berikut ini kesan2 perjalanan saya, saya harap ini bias berguna biarpun telat banget.
       
      Hari 1: Jakarta - Beijing
      Penerbangan Jakarta ke Beijing - Transit di HK (Mendarat di HK - 15.00, berangkat lagi jam 20.00). Mendarat di Beijing jam 12.55 pagi hari kedua.
       
      Hari 2:  Beijing
      Berencana mencari mainan2 dan aksesoris2 palsu gitu, jadi berangkatlah kami ke Hongqiao Pearl's Market, shopping mall yg isinya macem2 dekat Temple of Heaven.
      Kami naik subway, harganya lumayan murah antara RMB 3-6 per orang per perjalanan. Mesin tiketnya ada Bahasa Inggrisnya, jadi gak perlu google translate tulisan2 China.  Papan penunjuk arahnya juga bilingual, jadi gak repot nyari platform maupun pintu keluarnya. Dan sebelum masuk ke platform biasanya ada X-ray buat barang2 bawaan.
      Keluar di  stasiun Tiantan Dongmen – subway Line 5. Dari situ jalan ke Hongqiao Pearl's Market melewati sekitar 2-3 gedung. Ada tulisannya Inggris besar2, jadi gampang taunya. Di Hongqiao Pearl's Market, setiap lantai memiliki ke-khas-an masing2. Misalnya mainan di lt. 3, baju di lt.4 dll. Ada juga food court di basement. Harga makanannya juga lumayan ok, sekitar RMB 15-18 per porsi. Oh ya, jangan lupa tawar menawar kalau belanja disini.
      Setelah belanja dan makan, kami jalan lagi menuju National Museum of China di Tian'anmen Square. Naik subway Line 2 ke stasiun Qianmen.

      Nah disini baru mulai seru, soalnya banyak banget polisinya. Setiap pintu keluar ada penjaganya, tiap belokan ada penjaganya, naik turun tangga ada penjaganya berdiri. Keluar dari subway kami berjalan mengarah ke Forbidden City, dan kira2 50 m dari pintu keluar, ada X-ray dan pengecekan ID/passport. Jalan lagi, dan 50 m sebelom pintu samping National Museum ada lagi x-ray dan pengecekan ID.
      Masuk ke National Museumnya gratis. Di tempat ‘karcis’ mereka bakalan minta ID (sim, passport, ktp) dan ngasih 1 tiket per ID. Dari tempat karcis ngantri masuk. Adalagi X-ray plus body scanner. Setelah lewat baru deh bias masuk ke lobby National Museum.
      National Museumnya GEDE BANGET. Ada 4 lantai dan basement dan 28 ruangan pameran. Setiap ruangannya memiliki tema yg berbeda, misalnya 1 ruangan isinya kaligrafi, 1 ruangan isinya mengenai uang, 1 ruangan isinya keramik dsb. Di luar tiap ruangan ada kounter souvenir yg khas buat ruangan tsb, kalau ruangannya mengenai jade, maka yg dijual adalah suvenir2 jade. Dan hampir di tiap sayap ada mesin souvenir koin (souvenir paling murah). Di lt 1 banyak kounter souvenir yg jual hampir semua barang, jadi kalau misalnya nyesel tadi gak beli souvenir di lt 3, bias cari di lit 1.
      Mereka tutup jam 16.30 pas. Jam 16.00 kira2 para penjaganya sudah mulai mengusir orang2. Dan jam 16.30 pas, bakalan ada upacara pembubaran petugas2 museum yg lumayan militer (biarpun orang2nya gak ada yg militer). Sehabis itu penjaganya beneran bakalan ngusir semua orang dengan paksa, bahkan yg duduk2 di beranda depan museum. Boro2 foto2 di depan museum.
      Dari Museum ini kami jalan ke Qian Men Street buat makan malam. Tadinya kami mau nyari Peking Duck dari Quanjude, tapi antrinya panjang. Jadi kami pindah ke restoran kecil di jalan samping. Makanannya enak dan harganya juga lumayan, misalnya sepiring RMB30 gitu, tapi bias share 1-2 hidangan buat berempat gitu.
       
      Hari 3: Beijing
      Hari ketiga dimulai dengan HUJAN DERAS. Dan sepanjang hari HUJAN.
      Kami berangkat lagi ke Tiananmen Square untuk pergi ke Forbidden City. Naik subway line 2 – stasiun Qianmen. Harga tiket masuknya RMB 60/orang.
      Turisnya yg masuk, local maupun internasional banyaknya minta ampun. Mulai dari masuk gerbang (belom beli tiket) aja udah antri, dan penuh sesak dgn orang2 berpayung dan berjas-hujan. Seperti biasa, banyak X-ray (keluar masuk mrt, mendekati Forbidden City, gerbang masuk, gerbang tiket).
      Forbidden City itu BESAR dan LUAS luar biasa. Masalahnya semua orang berusaha berteduh di koridor2 yg ada atapnya. Jadi serasa orang2 se DKI berjubel di pintu2 dan koridor2, dan gak ada yg mau bergerak Karena mereka gak mau basah, jadi ya nutupin jalan dan pintu dan kami gak ada yg bias keluar masuk. Bener2 gak enjoy abis.
      Setelah sukses keluar dari Forbidden City kami cari makan (masih deket sama Qian Men Street).
      Dari dari sana kami menuju Temple of Heaven; Subway line 5 – Tiantan Dongmen. Nah Temple of Heaven ini terbagi 2 bagian. 1 yg taman untuk umum, kalau gak salah RMB 15 buat masuk. Disini ada pagoda2 gazebo dan warga setempat bersantai. Yg satu bagian lagi, Temple of Heaven-nya, perlu karcis terusan yg harganya RMB 35. Sayangnya yg terkenang cuma besar, basah dan licin.
       
      Dari sini kami naik subway ke Wangfujing Pedestrian Street yg katanya tempat belanja (masih nyari barang2 kw) melalui subway Line 1 stasiun Wangfujing. Hampir semua barang disini sudah harga supermarket besar dan barang2 bermerk, jadi lumayan mahal juga, dan masih belom nemu tuh barang2 kw.
       
      Hari 4 : Beijing
      Pagi hari dimulai dengan berjalan ke Bird Nest Stadium. Kami lihat2 saja dari jauh, memakai Subway Line 8 atau 15 stasiun Olympic Park.
      Dari sana kami pergi ke stasiun Dongzhimen dari Subway line 2 atau 13 untuk naik bus 916快 (ekspress) menuju The Great Wall of China, Mutianyu section. Harga busnya 12 yuan. Keluar dari platform di Dongzhimen, cari penunjuk arah ke Bus Transfer Hall dan cari bus 916快.
      Perjalanannya lumayan jauh, sekitar 2jam gitu. Sampai sana tiket masuknya RMB 45, tiket naik kereta gantung ke atas RMB 120, tiket shuttle bus ke kaki Great Wall RMB 15.
      Dan tembok besar China itu emang bener2 LUAR BIASA. Gak salah kalau masuk 7 Wonders of the World. 

      Dari jauh kelihatannya kecil dan rata, tapi begitu diatasnya ternyata lebar banget, saya rasa biar kereta kuda bias lewat diatasnya. Dan gak rata sama sekali tapi naik turun-nya sekitar 3 lantai dan ini belom naik menaranya.
      Di tiap beberapa meter bakalan ada menara benteng. Ternyata jarak antara 2 menara itu sepanjangan 2x jarak anak panah terbang. Jadi bila ada orang memanjat tembok persis diantara 2 menara, maka orang tersebut bias dipanah dari 2 sisi.
      Dan kalau berdiri diatas tembok tersebut emang bener bias melihat pemandangan sampai jauh kemana2.
      Kalau cuma ada 1 tempat di Beijing yg bias dikunjungi, saya rekomendasikan banget The Great Wall of China. Yg lain2nya gak terlalu penting setelah melihat tembok besar ini. Semua kesusahan dan kesialan2 beberapa hari lalu sebanding dengan pesona tembok China dan gak nyesel saya datang kesini.
       
      Hari 5 : Beijing
      Hari ini kami akan naik rickshaw untuk Hutong District Tour. Ini dimulai dari Hutong Tour meeting point di dekat stasiun Beihai North – subway line 6; melewati ‘daerah tua’ dan sampai ke stasiun Shichahai -Subeway line 8 dimana ada Bell and Drum Tower. Harganya sekitar RMB 80 per orang. Lumayan menarik juga bisa melihat rumah2 tua dan kesannya persis sama kaya di drama cina kuno gitu.
      Bell dan Drum Towers adalah alun2 pada jaman dahulu dan juga berfungsi sebagai penanda waktu. Jadi mereka akan berbunyi diawal dan diakhir hari. Naik keatasnya lumayan berat, tangga-nya curam dan tinggi. Satu menaranya RMB 20, kalau beli 2 sekaligus RMB 30.

      Dari sana kami pergi ke Summer Palace, di stasiun Beigongmen – subway Line 4. Kami makan mie di luar gerbangnya, rasa mie-nya khas gitu. Tarif masuknya RMB 30. Di dalam ada beberapa tempat yg bias dimasukin (seperti klenteng dll) tapi harus bayar lagi.
      Summer Palace itu taman yg dibangun disekitar danau. Banyak warga setempat yg pergi piknik disana. Kami pulangnya naik perahu untuk menyebrang balik ke pintu masuk, RMB 10.
      Malamnya kami akan terbang ke Xi’An.
       
      Disambung di p2 Xi'an dan Shanghai...
    • By anna22

      23/8/2017

      Pagi ini sekitar jam 7, kami bertiga (sedangkan teman saya 1 lagi menuju Bangkok) akan menempuh perjalanan jauh menuju Siem Reap menggunakan bus ( harga 26 USD/person menggunakan Mekong Express). Busnya nyaman dengan komposisi tempat duduk 2-2. Kami diberikan 1 botol kecil air mineral dan 1 kotak kecil berisi 2 snack, roti dan keripik. Perjalanan terbilang lancar tanpa macet. Sekitar jam 10sampai di border vietnam-kamboja (Moc Bai/Bavet Border), cek imigrasi dan membayar 1 USD/person. Setelah itu bus sempat berhenti sekitar 15-20 menit di restoran besar. Kami pun akhirnya sempat makan nasi + ikan goreng+tumis sayur (80.000 vnd/person) karena mikirnya gak tau akan sempet makan dimana lagi. Ternyata ini keputusan tepat!!! Sekitar jam 1 siang, bus sampai di terminal bus Phnom Penh untuk berganti bus. Kami sempat ke toilet dulu. Kalau mau jajan disini sudah menggunakan usd untuk pembayaran. *tapi toiletnya gratis kok. Bus berangkat sekitar jam 2 menuju Siem Reap. 

      Ternyata bus kali ini kurang nyaman dibandingkan yg sebelumnya, dari mulai tidur, bangun, ngobrol, tidur lagi, kok kayaknya belum sampai2. Pada akhirnya sekitar jam 8 malam, kami pun sampai di Siem Reap (fiuuuh akhirnya…). Di kantor bus ini, kami akan dijemput. Penginapan yang kami booking sudah termasuk layanan tuk-tuk untuk menjemput kami. Harga 2 malam untuk 2 kamar double bed adalah 39 usd (tanpa breakfast). Di email sebelumnya, kami dipindahkan ke hostel berbentuk dorm yang ada di pusat kota. Kami sih ok2 aja krn sudah ada pemberitahuan sebelumnya. Urusan pembayaran termasuk memesan tuk2 untuk Angkor Wat Tour juga kami lakukan di hostel tersebut. Bahkan pada akhirnya kami memesan sleeper bus siem reap-bangkok untuk malam hari esok. Harga Bus + tuk2 (71 usd/ 3 person, lupa rinciannya berapa2) Ternyataaaaa…kami tetap menginap di penginapan yang dipesan sebelumnya, yang sekitar 5 menit berkendara (untungnya masih diantar gratis). Penginapan ini berada di kompleks warga (yang cukup sepi kalau malam) jadi bentuknya semacam villa 2 tingkat. 2 kamar yang dipesan ternyata tidak berdekatan. Satu di lantai bawah, sedangkan yg 1 di lantai atas. Berhubung hp saya tidak bisa wifi (krn rusak), jadi saya meminta untuk 1 kamar berdua agar mudah berkomunikasi dan kami memilih di bawah, yang merupakan keputusan tepat (hohohoho). 

      Malam itu kami tidur cepat karena jam 4 pagi sudah akan dijemput tuktuk menuju angkor wat (niatnya mau lihat sunrise yang gatot hahaha). Benar saja, pintu kamar pun diketuk jam 4 pagi, si abang Saron (driver tuk2) sudah menunggu kami. Perjalanan menuju Angkor Wat itu seru sekali, karena berpuluh2 tuk2 menembus gelapnya jalan (entah kenapa jalan menuju kesana gelap sekali krn minim cahaya lampu). Sekitar 15 menit sampailah kami di loket untuk membeli tiket harian seharga 37 USD/person (muahaaaal hiks). Menariknya saat membeli tiket, kita akan difoto (wajahnya aja) yang nanti akan ter-print di tiket masuk (jangan sampai hilang yaaah krn akan diperiksa sewaktu2 di beberapa Wat). 

      Masih jam 5 dan gelap, tapiii sudah banyak wisatawan yang menunggu kemunculan matahari di balik komplek utama Angkor Wat. Sayangnya pagi itu cukup berawan sehingga kurang ok untuk dilihat. Menutup kekecewaan dan kelaparan (yaaa kami laparrr krn kmrn belum sempat makan malam), akhirnya kami memutuskan untuk makan di lingkup tempat makan terbuka yang ada di samping. Beberapa anak kecil dan orang dewasa bolak-balik menawarkan menu ke beberapa wisatawan. Salah satu yang tertarik adalah kami. Saya makan nasi goreng +ikan goreng +teh manis hangat, teman saya nasi goreng daging dan mie goreng. Per orang kena 5 USD. Mahal sih tapiii porsinya banyak dan rasanya cukup enak (mirip masakan wartegg indo), sehingga dapat bertahan sampai sore hehe. 


      Setelah tenaga terisi, kami pun masuk ke kompleks utama Angkor Wat yang terkenal itu. Kompleks ini luas banget yaaa sampai2 kami bingung hahaha…sekitar 2 jam foto2 dan keluyuran. Pada dasarnya kami banyak istirahat, ketemu tempat teduh dikit lgsg deh duduk2 sekitar 15 menit. Semakin siang semakin panas dan gerah sekali.  Setelah itu kami diantarkan Abang Saron ke beberapa tempat seperti Bayon, Ta Phrom (tempat syutingnya Tomb Rider itu lhoo),  dll…banyak deh pokoknya. Disana banyak menjual kelapa muda yang enak dan menyegarkan sekali. Harganya 1 USD. Lumayan untuk menyegarkan badan. Sekitar jam 2 kami mulai lelah dan ‘bosan’ akhirnya kami meminta Saron untuk mengantarkan ke penginapan. Rasanya cuaca panas membuat kami cepat lelah. Sebenarnya ia menawarkan kami untuk ke pasar terapung, tapi ya karena sudah lelah dan ternyata pasar itu cukup jauh, kami pun menyerah pada ademnya kamar penginapan hahahaha.










      Benar saja, begitu sampai kami lgsg tertidur (perasaan tidur siang mulu ya trip ini). Sorenya kami menuju Old market untuk cari oleh2 dan juga ke Siem Riep Night Market untuk lihat2 suasana kota. Untuk makan malam, kami memutuskan makan masakan india habis sekitar 14.75 USD dengan menu yang besar dan banyak. 

      Malam itu adalah malam terakhir di Siem Reap, karena setelahnya jam 1 malam kami akan menuju Bangkok menggunakan Sleeper Bus. 


      Yaaa sekian FR edisi Siem Reap Kamboja. Silahkan komen dan tanya2 yaa kalau ada yg kurang jelas…happy reading!!

      NB : yang saya suka dari Siem Reap adalah orang2 lokalnya yang ramah. Mulai dari mba2 resepsionis hotel, driver tuk2 yang mengantar jemput di hotel, Saron si driver tuk2 angkor wat sampai penjual makanan mau menjawab pertanyaan kami dan senang bercanda. Walaupun kadang ada batasan bahasa tentunya :)

      Side Story : Saat menunggu jemputan tuk2 menuju kantor bus siem reap, teman saya yang sendirian di kamar atas bergabung di kamar bawah. Kemudian, dia mulai menyalakan tv sambil bertanya kepada kami “kalian tvnya berfungsi baik ga sih?” Karena kami belum mencoba, ya kami bilang gak tau. Terus dia berkata lagi “oooh kayaknya bener nih tvnya”. Saya mulai menangkap suasana ga enak dan bertanya “hmmm emang kenapa ka?”. Dia pun berkata “Nanti deh ceritanya kalau udah sampai Bangkok, jangan disini”. Kami pun menurut. Ketika menunggu antrian imigrasi masuk Thailand, saya kembali bertanya. Akhirnya dia pun mulai bercerita. Waktu malam pertama saat mandi, pintu kamar mandinya mendadak tidak bisa dibuka dari dalam. Dia pun sudah berusaha berkali-kali mencoba membuka, tapi nihil. Akhirnya dia memutuskan diam sejenak dan pasrah aja. Gak lama kemudian, ia coba lagi beberapa saat, akhirnya terbuka (hiiiii). Supaya tidak sepi, ia pun menyalakan televisi sebelum tidur. Saatnya terlelap, ia mematikan tv, eh gak lama kemudian tvnya nyala lagi dengan sendirinya. ya dia matiin lagi dong tapi kemudian nyala lagi daaaan berkali-kali sampai temen gw itu ngomong “udah dong gw mau tidur niiih” akhirnya tv itu mati tanpa nyala2 lagi. Untungnya temen gw orangnya berani, cobaaa kalo gw yg ada di posisi dia, udah pindah kamar kali hahaha :)))

    • By Muhammad Kurniawan
      Halo Jalan2-ers, akhirnya selesai juga trip saya di Jepang bersama dengan istri dan 2 balita (4.5 dan 3 tahun). Ini field trip ke-2 saya, semoga bermanfaat bagi kita sama2, terutama buat yg akan pertama kali pergi ke Jepang. Terimakasih ya buat semua teman2 senior Jalan2-ers yang sudah bantu kasih masukan dan memberi tips2-nya @kyosash @HarrisWang @vie asano @Vara Deliasani @deffa. Berikut field trip dari saya:
      Persiapan
      Biasanya sih kalo mau berangkat dengan anak2 kecil persiapannya lebih ribet daripada berangkat sendiri atau trip-nya sama teman2. Persiapan memang adalah menurut saya step yg paling penting. Kelancaran dan kenyamanan trip kita ya tergantung dari apa yg sudah kita persiapkan. Hal2 yang kami persiapkan sebelumberangkat adalah:
      Itinerary yang jelas, dengan mengumpulkan kota2 apa yg akan dikunjungi dan objek2 wisata apa saja lengkap dengan rencana rincian biaya Tiket pesawat Penginapan selama di Jepang Admission ticket; beberapa tempat wisata yg pasti bakalan antri untuk beli tiket adalah tempat2 wisata yg besar seperti disneyland dan Universal studio, jadi lebih baik sudah membeli tiket secara online dari Indonesia. jadi tinggal masuk saja saat sudah sampai di lokasi JR Pass ataupun Pass2 lain jika diperlukan; tetapi saya tidak menggunakan Pass selama di Jepang, karena setelah saya hitung2 dengan kebutuhan transportasi saya masih lebih hemat tanpa membeli JR Pass ataupun Pass yang lain Converter colokan listrik; karena di Jepang berbeda bentuk colokannya dengan di Indonesia. Jadi perlu disiapkan converter-nya Multi USB charger; berguna sebagai station USB jadi bisa digunakan untuk charging hingga 6 hp dan ipad sekaligus SIM Card selama di Jepang; beberapa sumber belum bisa membantu saya dengan detail mengenai SIM card data yg dapat digunakan di Jepang. tetapi setelah saya browsing lebih lanjut ternyata sekarang Jepang sudah menyiapkan SIM Card pre-paid untuk tourist mancanegara yang mudah untuk didapatkan. https://www.econnectjapan.com/ disini menjual berbagai produk Docomo yang bisa kita pesan sesuai dengan kapasitas/ quota yg kita inginkan. Waktu lalu saya membeli paket yg 5GB, dan sekarang masih sisa 4GB. Rugi banget, karena saya juga sudah disediakan portable wi-fi dari semua tempat saya menginap. Jadi teman2 bisa memesan sesuai dengan rencana kebutuhan selama di jepang. SIM Card-nya bisa dikirim kemana saja kita mau, kantor pos terdekat. Waktu itu supaya mudah, saya minta dikirim ke Kantor pos di Haneda Airport, tetapi kantor pos-nya ada di Terminal Domestic, jadi harus naik bus bandara dari International Terminal ke Domestic Terminal buat ambil SIM Card-nya di Kantor Pos bandara Haneda. Tapi mudah saja kok, tinggal tanya mana bus yg ke domestic terminal. Dan masa berlaku SIM Card ini adalah 30 hari semenjak di-aktifkan. Baby Stroller; untuk baby stroller saya memutuskan untuk menggunakan stroller tandem dengan jenis umbrella pushchair. Karena stroller jenis ini tidak perlu lepas pasang untuk tandemnya dan melipatnya relatif mudah. Untuk sewa stroller ini saya dapat di Toys Rent Kingdom, karena hanya disini saja akhirnya saya dapat yang tandem pushchair. lebih mudahnya untuk mencari sewa stroller bisa search saja di Instagram #stroller #babystroller #tandem dan sebagainya. Obat2-an, susu, vitamin, pampers dan baju hangat sesuai suhu disana Aplikasi Navitime for Japan Travel; sangat penting selain google map, pemakaiannya juga bisa dikombinasikan untuk melihat jalur dan jadwal angkutan umum selama di Jepang Vacuum Plastic Bag; ini yang penting jika kita membawa banyak pakaian. plastic ini bisa kita pompa bersama dengan barang2 didalamnya, sehingga menjadi sangat compact, mirip seperti bandeng presto. jadi space di dalam  tas taupun koper bisa sangat dimaksimalkan.  
      DAY-1
      Tiba di HANEDA jam 8:30, imigrasi dan muter2 di HANEDA termasuk mengambil DOCOMO SIM Card di Kantor Pos bandara HANEDA. Ingat posisinya ada di Domestic Terminal, jadi bukan di gedung kedatangan international. Saya sampai lama muter2 di bandara karena saya pikir ada di gedung yang sama. Sekalian saja beli PASMO Card atau ICOCA Card di ticket vanding machine menuju kearah station kereta.
      "sekarang di bandara2 international manapun sudah banyak yang menyediakan jasa free buggy car untuk mengantar- antar penumpang termasuk di KLIA Malaysia maupun di Terminal 3 Soekarno-Hatta. Bedanya di Haneda ini driver buggy car-nya berusaha keras menawarkan kami untuk naik buggy car, karena melihat kami bersama 2 anak kecil. Ini lah keramahan orang Jepang yang kami rasakan pertama kali dan menyambut kami di Jepang"
      Tiba di apartment di Asakusa jam 13:30 dan check in.
      Kegiatan hari pertama tidak banyak, karena masih jet lag. Kami sempat pergi ke Shinjuku Station untuk beli Hakone Free Pass, tapi ga dapet karena masih jet lag, lapar dan shock banget sudah sore jam orang2 pada pulang kerja, rame banget Shinjuku Sta. . Intinya kalo mau beli Hakone Free Pass cari di Station yang ada Odakyu Line, dan tanyakan saja Odakyu Hakone Pass.
      Akhirnya malam pertama kami berakhir di Shinjuku Gyoen Ramen Ouka, mencari makanan halal dan khas Jepang. Pelajaran yang kami petik disini adalah: kalo beli makanan di Jepang, terutama pertama kali, lebih baik pesannya sedikit2 dulu. Misal pergi ber-3, ya pesan saja 2 porsi dulu. Harga di rumah makan ini relative mahal, tapi ternyata porsinya luar biasa banget. di menu cuma gambar ramen, tetapi ternyata seperti paketan lengkap, ada nasinya ada sate dagingnya dan ada telornya. dan datangnya pun tidak sekalian semua, tapi datang satu2. Saat itu saya pesan 2 ramen untuk dewasa dan 2 paket untuk anak2 dengan total harga JPY 5,200.- dan kami tidak habis padahal dalam kondisi lapar, walaupun dibungkus bawa pulang juga bisa sih.. ini benar2 pelajaran di hari pertama he he hee...






      DAY-2
      Hari ke-2 kami hanya menghabiskan hari di Disneyland Park. Tiket Disneyland sudah kami kantongi dari Indonesia dengan memesan Online, cuma yang saya lupa adalah menanyakan di entrance gate untuk fasilitas Fast Pass. Karena setahu saya kita bisa memanfaatkan fasilitas fast pass, atau tanpa antri untuk maksimal 3 permainan/ atraksi. Jadi yang ke Disneyland jangan sampai lupa menanyakan bagaimana cara make fast pass-nya. Karena Disneyland itu sepertinya di jepang tidak pernah sepi. dan semua wahana pasti bakalan antri.
      Hal yang paling berkesan di Disneyland Jepang adalah kita akan menyaksikan orang2 Jepang itu datang dengan serba serbi cosplay. Mereka sangat totalitas sekali kalo datang ke Tempat wisata permainan seperti Disneyland maupun Universal Studio. Bahkan awalnya kami sempat bingung ini pengunjung atau petugas di Disneyland??? ha ha haa.. mungkin hal ini tidak akan kita dapati di Disneyland ataupun Universal Studio manapun selain di jepang. Kereeeennn...
      Dari Disneyland kami mampir ke Tokyo Big Sight, sebenernya ga sengaja. Cuma karena prayer room terdekat ada disana, jadi kami mampirlah ke Tokyo Big Sight, dan ternyata bangunannya keren. Kemudian kami lanjutkan jalan2 malam di sekitar Odaiba dan makan malam di Surabaya yang ada di lantai 4 Aqua City Odaiba. Dan bisa makan gado2 & nasi goreng 











      DAY-3
      Di hari ke-3 kami kurang beruntung karena hujan dari pagi sampe malam. Kami nekat keluar ke Shibuya untuk foto dengan patung Hachiko dan niat ke Akihabara dan Tokyo Tower. Namun karena anak2 harus kehujanan dan kedinginan, jadi kami putuskan untuk kembali pulang ke apartment di Asakusa sambil mampir makan di KFC dan beli kebab di Saray Kebab di Asakusa.
      Malam harinya saya jalan sendiri untuk explore Tokyo Sky Tree dan Solamachi Mall. Niat naik keatas Tokyo Sky Tree, namun view diatas tertutup oleh kabut tebal dan tidak bisa melihat apa- apa. Akhirnya naik tokyo sky tree juga saya batalkan. Alhasil saya menikmati malam sambil berjalan kaki hujan2 dari Sky Tree menuju apartment.






      DAY-4
      Hari ke-4 kami cukup cerah di pagi hari, dengan ramalan cuaca berawan dan hujan tipis. Mengingat ramalan cuaca di Jepang cukup akurat, jadi kami sedia payung sambil berjalan. Ternyata benar saja, di sore harinya perjalanan kami ditemani hujan lagi. Untungnya kami berhasil menyelesaikan jalan2 sampai sekitar jam 7 malam. Hari ke-4 perjalanan kami disekitar Ueno Park, Ameyoko Shoping Street, dan keliling Asakusa menggunakan Jin Rikisha.



















      DAY-5
      Hari ke-5 kami berangkat menuju Gotemba dengan jalur kereta subway dan JR dari Asakusa - Shimbashi - Kozu - Gotemba. Sampai di Gotemba berjalan kaki sekitar 1 km dengan menggeret semua barang bawaan sampai check in di Hotel Mars Garden Wood Gotemba. Karena kami sampai di Gotemba sudah cukup sore, jadi kami hanya mengunjungi Gotemba Premiium Outlet sampai jam 6 sore. Tambahan saja, bagi yang muslim di Gotemba Premium Outlet sekarang sudah tersedia prayer room, ini saya tau setelah di lokasi, karena saya browsing2 awalnya saya tidak menemukan prayer room.
      DAY-6
      Hari ke-6 kami habiskan waktu mengelilingi Mt. Hakone dan malamnya pergi ke Kogen Toki No Sumika, dimana timing kami kesini pas banget. Karena Kogen Toki No Sumika baru digelar 29 Oct 2016 dan akan berakhir di bulan Feb 2017. Kedua objek wisata ini sangat keren, selain suasana alamnya yang sangat indah, udaranya yang sejuk, moda transportasinya juga sangat layak untuk dicoba. Beruntungnya kami hari ini sangat cerah, padahal di hari kedatangan kami Gotemba diselimuti kabut dan dingin. Dan keesokan harinya Gotemba disiram hujan. Pada saat hari sangat cerah, semua bisa dilihat dengan indah, termasuk Mt. Fuji, sugooiiii...
      Jalur yang kami tempuh adalah dari halte bus tomei-Gotemba interchange (bus umum) - Togendai Sta. (keliling2 dengan sightseeing cruise PP, kemudian menggunakan Ropeway) - Sounzan Sta. (Cable Car) - Gora Sta. (berjalan2 ke Gora Park, dan kembali ke Gotemba dengan bus umum) - Tomei Gotemba Int.
      Tambahan; untuk mencapai ke Kogen Toki No Sumika harus menggunakan bus khusus No Sumika, bukan menggunakan bus angkutan umum. Dan biayanya juga gratis, jadi harus menanyakan atau mencari informasi jalur dan jadwal-nya tersendiri.






























      DAY-7
      Hari ke-7 hanya pindah kota dari Gotemba ke Osaka. Route-nya dari Gotemba Sta. - Mishima (Hikari Shinkansen) - Shin-Osaka. Kalo di rencana pengennya sih ke Kids Plaza Osaka, tapi mempertimbangkan kondisi anak2 dan hari sudah sore jadi kami gunakan waktu untuk istirahat saja di apartment. 
      DAY-8
      Hari ke-8 kami gunakan untuk jalan2 ke Kyoto mengunjungi Arashiyama Bamboo Forest, Sagano Romantic train, Kiyomizu Dera dan Fushimi Inari taisha. Hanya menggunakan bus dalam kota 1x saja saat menuju Kiyomizu Dera. Dengan kondisi seperti kami dengan membawa baby stroller dan 2 balita, sangat lebih memudahkan menggunakan sarana transportasi kereta. Karena kalo didalam bus, bakalan rame dan space-nya sedikit. Pencapaian luar biasa saya adalah mendorong baby stroller lengkap dengan 2 anak sampai ke puncak jalan, halaman Kiyomizu Dera, buat yg sudah tau jalannya kesana menanjak sepanjang 1.2 km,... 
      Untuk naik Sagano Romantic Train, bisa naik dari Saga Torokko Sta. yg posisinya ada disamping Saga-Arashiyama Sta. Didalam Saga-Torokko Sta. ada maket miniatur kota dan kereta2 di Jepang yang bisa kita gerakkan dengan memasukkan uang coin JPY 100.
      Menginap di sekitar Shin-Osaka sangat memudahkan untuk berpindah2 tempat. Karena Shin-Osaka Sta. adalah merupakan station besar yang banyak jalur keretanya, termasuk ke Kyoto juga hanya 25 menit. Tapi ramenya station juga minta ampun.






















      DAY-9
      Hari ke-9 kami habiskan dengan mengelilingi area Ten Shiba, Tennoji Zoo, Osaka Castle dan Mendekati Umeda Sky Building. Padahal target saya adalah menaiki Umeda Sky Building ke puncak, tetapi apadaya lagi2 harus gagal karena kondisi yang sudah sore dan anak2 sudah pada kelaparan. Pokoknya semua target menaiki gedung dan tower gagal semua, he he he.. 
      Tetapi untuk anak2 suka sekali pergi ke Tennoji Zoo ini. Karena binatangnya lengkap, termasuk African Satwa-nya. Kereen..
















      DAY-10
      Hari ke-10 kami habiskan hanya dengan jalan2 hanya di sekitar Osaka Aquarium Kaiyukan dan Tempozan Ferris Wheel. Maklum keinginan untuk naik keatas tower2 dan gedung tinggi hanya terobati dengan bianglala raksasa ini... Aquarium kaiyukan ini sangat keren dan binatangnya lengkap sekali sampai satwa2 laut dalam.. di hari ke-10 ini kami juga pindah apartment dari area Shin-Osaka ke dekat Fuku Sta. Apartment terakhir yang kami tinggali ini apartment yang paling luas dan paling keren kami tinggali dengan rate harga paling murah.. 


















      DAY-11
      Hari ke-11 seharian kami habiskan waktu untuk jalan2 dan belanja di Shinsaibashisuji dan Dotonburi. Yah tidak lupa berfoto dengan Glico sign spot sejuta manusia,  untuk tempat makan halal di sekitar Shinsaibashi dan Dotonburi cukup banyak pilihan. Begitu juga prayer room.






      DAY-12
      Hari ke-12 persiapan pulang, dan kami habiskan waktu sampai sore di KIX Kansai Airport. Untuk tourist muslim jangan khawatir, sudah ada brosur Kansai Airport khusus muslim. Ada posisi prayer room dan tempat2 makan halal maupun yg free pork and free alcohol.

      Ternyata :
      Jalan2 ke Jepang tidak susah; tidak perlu takut nyasar. Lengkapi saja dengan aplikasi google map dan Navi Time for Japan Travel. Orang2 Jepang sangat ramah dan sopan luar biasa, mereka terbiasa mengucapkan permisi dan maaf. Jadi ga enak kalo salah2 sikap, hi hihi.. Saking ramahnya mereka, kami beberapa kali selalu ditawari bantuan membawa barang. Mungkin saking kelihatan rempongnya kami, ha ha ha.. jawab saja "daijoubu" Apa yg saya pelajari di Jepang adalah jangan memberi tips kepada orang jepang. Dan itu pernah saya saksikan langsung dimana seorang tourist pernah berusaha memberi tips kepada jin rikisha (becak Jepang) dan ybs menolak mati2-an. Saat kami di Hotel-pun kami tidak memberikan tips, dan disana tidak ada porter. Jangan ragu untuk bertanya dengan orang Jepang, mereka pasti akan berusaha mati2-an untuk membantu. Sebaiknya tanyakan saja apa yg benar2 kita perlu tanyakan -Tamat-  
       

    • By Vara Deliasani
      Universal Studio Japan (USJ)

       
      Universal Studi Japan (USJ) merupakan tujuan utama gw dalam perjalanan ke Jepang kali ini,, karena gw emang doyan banget baca Harry Potter. Baca loh yaaaa.. bukan nonton, bahkan 1 pun filmnya ga ada yang gw tonton sampe selesai. abisnya kalo setelah baca buku lalu nonton film suka jadi bete karena ga sesuai dengan apa yang gw imajinasikan. So.. daripada kecewa mendingan gw ga nonton filmnya. hahaha
      Oke balik lagi ke cerita kunjungan ke USJ. Sebenernya pengennya ke USJ pada saat hari kerja biar ga terlalu rame.. tapi apa boleh buat jadwal ga memungkinkan.. Gw kesana tanggal 4 Desember 2016, pas banget jatuhnya di hari minggu. Udah kebayang pasti penuh. Jadilah diniatin sampe USJ harus pagi banget dan begitu pager dibuka mau langsung lari menuju ke area Harry Potter (sebelom keramean). Karena planningnya gitu jadinya gw harus beli tiket USJ dari pas masih di Jakarta. Berhubung yang paling deket rumah itu JTB akhirnya diputusin buat beli di JTB.
      Tiketnya cuma selembar gitu. Open date dan berlaku selama 1 tahun. Walaupun jangka waktunya 1 tahun tapi cuma bisa dipakai untuk 1 kali kunjungan. Pada saat pembelian tiket dijelasin kalo tiket ini cuma buat sekali masuk, jadi kalo udah keluar gabisa masuk lagi. Beda banget sama Universal Studio Singapore yang keluar masuk sampe pusing.
       


      Tiket USJ dari JTB
       
      Dari Osaka Hana Hostel menuju USJ harus sekali ganti kereta. Dari Shinsaibashi station menuju ke Osaka Station, lalu ganti ke JR line dan turun di Universal City. Untuk pembayaran transportasi ga di cover yaa sama day pass yang dapet dari paketan Yokoso Pass, kenapa? karena perjalanan ke USJ harus menggunkan JR line. Jadi gw beli ICOCA buat bayar transportasi sekalian nanti selama di Tokyo.
       

      ICOCA Card
       
      Hari yang di nanti akhirnya tiba!!!  Lalu seperti biasa... gw dan kebodohan gw kembali menjadi perusak rencana. Kali ini gw salah setting alarm. AAAAAAAKKKKKKKK!!! Niatnya bangun pagi banget trus jam 8an udah harus sampe di USJ. Tapi kenyataannya jam 8 BARU BANGUN. HAHAHAHAHA. Telaaattt deeehhhh.. Blom lagi pake salah liat peta dan salah stasiun. hahahaha. Jadinya jam 9.30 baru sampe USJ. Udah pengen nangis kebayang pasti bakalan penuh. 
      Turun dari kereta, gw jalannya udah lesu gitu, kehilangan semangat. hahahaha. Tapi begitu liat gerbang USJ waaahh ternyata ga terlalu rame. Belom serame cendol.. Waaaaahhhhh... gw langsung semangat lari ke dalem.
      Btw kita ber 2 ga sempet sarapan jadinya ngebungkus onigiri, tadinya udah takut tas diperiksa trus onigirinya dibuang.. tapi ternyata pas nyampe gate ga diperiksa. Yeeeeeiiiii... tapi sayang cuma bawa 4 biji. Tau gitu kan bawa 15 bijiiiii, sekalian buat bekel makan siang sampe malem. hahahaha. Padahal lumayan kaaaaann bisa irit... maklum lah rencananya seharian disana dan makanan disana mahal.

      Pintu Utama USJ
       

      Map USJ
       
      Oke sampe didalam langsung panik lari ke arah kanan, buru-buru jalan ke arah Harry Potter. Sampe di depan area gw pikir bakalan dibatesin gitu masuknya. Harus pake ngambil tiket yang ada waktu masuknya gitu. tapi ternyataaaaaa.... aaaaaahhhh ga pake tiket. Yeeeeiiiiiii!!! kayanya sih karena masih pagi jadi belom terlalu rame. Masuk area Harry Potter, ga pake liat kiri kanan langsung menuju Hogwarts buat ngantri main Harry Potter and the Forbidden Journey. Antrinya udah 100 menit. Dan ga ada single ride. Ya udahlah yaaaaa... terima aja. Masuk ke antrian sambil makan bekel onigiri.
      Ga berasa udah nyampe giliran.. semangat banget langsung naik dengan cengengesan. Ternyata cuma bentar banget ride-nya.. cuma kedip-kedip udah kelar aja gitu. Gw sama laki gw begitu selesai cuma liat2an trus langsung ketawa meringis.. udaaaahhh??? gitu doaaaanggg???? hahahahhaha. Ngantri 100 menit, mainnya cuma 5 menit. Udah gitu ga ada single ride.. mungkin karena itungannya sepi kali yaaa jadi ga dibuka single ridenya. Atau mungkin memang ga ada? Ntahlah... tapi saran gw emang pertama masuk harus kesini dulu. Karena ride ini emang yang paling rame.
      Beres dari situ kita putusin muter-muter area Harry Potter dulu baru setelah itu geser ke area Jaws.
      Di dalam are ini ada 2 ride utama, selain Harry Potter and the Forbidden Journey ada Flight of The Hippogriff. Laki gw males ngantrinya.. gw juga ikutan males. Masih kebayang pegel ngantri. Jadilah kita muter-muter sambil foto-foto aja. 
       


       
       



      Sebelum keluar kita sempetin mampir ke Wand Magic, kebetulan antrinya cuma 15 menit aja,. Disini bakalan ketemu Ollivander, nanti kita semua disuruh masuk ke ruangan lalu Ollivander bakalan milih satu orang buat nyoba dan milih wand yang pali sesuai. Ntah kenapa tiba-tiba GW YANG KEPILIH!!!! OEEEMMMMJIIIIHHH!!! Majulah gw, disuruh nyobain beberapa tongkat. Ujung2nya "dapet" tongkat yang cocok.. trus disuruh pegang dan keluar ruangan.. gw udah GR aja kaaannn.. Gw pikir beneran dikasih. Lumayaaannn kaaaaannn.. Ternayat begitu diluar ruang disuruh beli aja cuuuiiii. OGAAAAAHHH. hahahaa. Males banget.. mendingan duitnya buat makan. (Iyaaaa gw pelit. hahaha).
      Oke udah puas muter-muter disini akhirnya kita putusin buat pindah ke area lain. Kalo diliat di peta USJ kita muternya berlawanan dengan jarum jam.. Jadi tujuan berikutnya adalah area Amity Village. Di area ini ride utamanya cuma Jaws. Liat antrian 60 menitan gitu. Cek antrian single ride wah cuma 5 menit. Jadi diputusin buat ambil antrian single ride aja. Ga barengan gpp orang tujuannya emang mau mainya kaaann.. Ga pake lama2 ngantri langsung deh naik ke perahu. Seru sih yaaaaa.. tapi sayang bahasa Jepang. Ya ga paham laaah gw mba2nya cerita apa. Tapi overall oke lah. Seru juga, apalagi ledak2annya gitu. Cuma sayang gw ga kebagian basah2an. hahaha (yang lain berharap ga kena basah gw malah pengennya basah2an). Ya abis ga seru kaaaannn kalo ga basah,,, ga ada ceritanya.
      Ga sempet foto siang-siang karena pengen ngejer show di waterworld yang udah mau mulai. Jadi foto "ikan"nya pas malem deh.

       
      Beres dari area Amity Village pindah ke Waterworld. Seru sih yaa.. cuma lagi-lagi gw ga paham mas mbak nya cerita apa. Ya kaliiiii dia kira semua bisa bahasa Jepang. Jadilah cuma duduk sambil celingak celinguk. Tapi actionnya oke lah. Gw mau sih nonton lagi. Cuma lebih oke kalo pake bahasa inggris. Shownya sendiri sekitar 15-20 menit kalo ga salah.

      Salah Satu Sudut di Waterworld
       
      Beres nonton atraksi di Waterworld kita langsung pindah ke area Jurrasic Park. Tadinya sih laki gw mau naik The Flying Dinosaur, tapi begitu liat cuma digantung gitu trus pake muter-muter langsung dia mundur teratur. hahaha. Kalo gw sih emang udah niat ga bakalan mau naik. Makin berumur makin ga kuat main beginian. Tanda-tanda ke jompo-an.

      Akhirnya selama di area ini kita cuma ngetawain yang naik roller coaster sambil makan onogiri. Abis itu langsung main Jurrasic Park - The Ride. Ceritanya naik perahu trus keliling area Jurrasic Park, trus nanti ada tanjakan trus meluncur turun gitu. Udah gitu doang. Kita ber2 emang cupu. hahaha. Tapi lagi2 gw ga basah. Kecewaaaaaaaaa.......
      Setelah itu  pindah area lagi.. Kali ini giliran area San Francisco. Di area ini ada 2 ride, yaitu Back to The Future dan Backdraft. Sayangnya back to the futurenya lagi di renovasi. Ngoookkkk. Jadi cuma main Backdraft aja. Backdraft ini kalo di Universal Studio Singapore kaya Lights Camera Action. Kta dibawa ke area yang di set kaya tempat syuting Backdraft. Lagi2 bahasa Jepang,, tapi untung gw udah pernah nonton filmnya, jadi yaa lumayan ngerti lah ya. Antrinya juga ga lama cuma sekitar 40 menitan.

      Dari situ pindah lagi ke area New York.. disini ada Spiderman dan Terminator. Buat Spiderman kita pake single ride lagi.. cuma ngantri 30 menit aja. Ridenya mirip kaya Transformer  di Universal Singapore. Kalo terminator kombinasi 3D dan Live Show. Keren.. tapi gw paham ceritanya. hahaha.

      Disini juga harusnya ada Space Fantasy tapiiii tapiii tapiiii.. ditutup buat acara Cool Japan. KECEWAAAAAAAAAHHHHHHH. Padahal ini dan Back to The Future merupakan mainan yang paling gw tunggu2. 
      Didepannya Back to The Future aditutup pake kayu-kayu dilukis gambar Minions gitu.. jadilah buat menghibur diri kita foto-foto disini aja.

       
      Lalu mendadak ujan aja doooonggg. UJAAAAAAANNNNNNNN 
      Dari situ lanjut ke area Hollywood, disini ada Hollywood Dream - The ride tapi kan ujan.. jadi tutup deeeh... Gw emang ga bakalan naik tapiii tapiii tapiii kan ga asik ajaaaaaaa...

      Kalo kata @syahrulsiregar gw semacam gadis pengundang hujan (Gadis yaaaa.. gadis..). Karena ujan emang suka ngikutin gw. Bahkan nanti sampe ngikut gw ke Takayama pas gw janjian sama om alul. Karena ujan ya udah deh kita main yang ga penting-penting yang di indoor sambil muter-muter sambil foto-foto. Semua parade juga di cancel. Syeeeddddddiiiiiiiiihhh...
      Kita keasikan main sampe lupa makan. Padahal udah jam 7 malem. Padahal cuma baru diganjel makan onigiri 2 biji/orang. Mendadak laper... akhirnya kita putusin udaha aaah.. Pulang ke Hotel. Lagian besok pagi-pagi udah harus jalan ke Shirakawago.
      Kesimpulan : Seru sih yaaa main kesini. Boleh lah dicoba. Kalo antrian panjang manfaatin aja single ride, lumayan bisa menghemat waktu dan tenaga. Toh dateng kesana niatnya main kan.. jadi ga barengan gpp lah yaaa. Perlu beli express pass? hhhmmm... kalo ada duit lebih sih gpp, tapi mending adteng terus liat kondisi dulu aja. kalo emang antriannya udah ga ketolong banget, bahkan dengan single ride, ya boleh lah beli express pass.
      Dadaaaaaaaahhhh USJ... Sampe ketemu laaaagiiiiiii..... Gw bakalan balik lagi khusus buat main Back to The Future dan Space Fantasy dan nonton Parade. 

       
       
      Link Terkait:
      Winter Wonderlust : Japan (December 2016) : Persiapan Winter Wonderlust : Japan (December 2016) : Part 1/Osaka Winter Wonderlust : Japan (December 2016) : Part 2/Universal Studio Winter Wonderlust : Japan (December 2016) : Part 3/Kyoto Winter Wonderlust : Japan (December 2016) : Part 4/Shirakawago Winter Wonderlust : Japan (December 2016) : Part 5/Shin-Hotaka Winter Wonderlust : Japan (December 2016) : Part 6/Takayama Winter Wonderlust : Japan (December 2016) : Part 7/Tokyo Review Hotel/Hostel : Osaka Hana Hostel Review Hotel/Hostel : Guesthouse Sanjyotakakura Hibiki Kyoto Review Hotel/Hostel :K's House Takayama Oasis Review Takayama Hokuriku Pass (JR East Pass) Review Kyoto Sightseeing Two-day Pass Discount Ticket (Yokoso Pass) Kansai Airport - Namba Station Osaka Panduan Bis di Kyoto Discount Ticket (Haruka+ICOCA) Kansai Airport - Shin-Osaka Alternatif Transportasi : Osaka - Kyoto - Kanazawa - Shirakawago - Takayama - Tokyo
    • By anna22

      18/8/2017  Flight Malam Jkt-KL. Karena kami menggunakan Lion Air, mendarat di KLIA 1, padahal besoknya kami ada flight dengan AA dari KLIA 2. Beruntungnya ada shuttle bus gratis antara KLIA 1 ke KLIA 2 yang beroperasi 24 jam. Begitu sampai di KLIA 2, kami mencari tempat untuk mengisi baterai HP sambil selonjoran.    19/8/20  Flight pagi jam 6 kami sudah check in jam 4 dan melewati imigrasi lalu menuju gate yang tertera di boarding pass. Saya dan salah satu teman yang muslim juga menuju musholla untuk melaksanakan solat Subuh sekitar jam 5. Ternyata kami baru sadar ada perbedaan waktu sehingga waktu solat Subuh baru sekitar jam 6. Tepat ketika adzan subuh berkumandang, salah satu teman menyusul dan mengatakan bahwa kami harus pindah gate. Kami pun buru-buru solat dan langsung berusaha berlari karena waktu boarding tinggal 10 menit lagi. Sedangkan kepindahan gate itu dari ujung ke ujung (paraaaah jauhnya). Gara-gara inilah, salah satu teman kami yang memang dari awal keberangkatan sedang tidak enak badan, mendadak drop begitu sampai Hanoi. Beruntungnya kami sampai tepat waktu di gate sehingga masih bisa naik pesawat walaupun ngos2an...   Sampai Hanoi Airport sekitar jam 9 (tidak ada perbedaan waktu dengan Indonesia). Begitu sampai, kami membagi tugas, ada yang membeli simcard (12 usd/7 hr utk paket data internet saja) dan mengambil uang di atm (ya, kami memang tidak menukar rupiah ke vnd di Indonesia, biaya tarik tunai sekitar 20rb rupiah). Sebelumnya saya sudah membaca kalau ada express bus dan public bus dari airport ke pusat kota. Tapi begitu kami tanya ke pusat informasi (yang anehnya, tidak ada satupun pusat informasi resmi, artinya pusat informasi yang tersebar di arrival hall adalah kepunyaan tour&travel, taxi/car rental, dan perusahaan simcard), mereka malah nawarin naik taxi. Karena kami ingin ngirit apalagi baru di awal-awal perjalanan, kami pun mencoba browsing lagi.  Ada bus no. 7 dan 17 dengan biaya 5000 vnd (sekitar Rp. 3000). Bus ini akan berhenti di setiap halte sehingga dipastikan memakan waktu lebih lama. Nah dari pintu keluar Kedatangan, kamu jalan ke arah kiri paling ujung nanti akan ketemu semacam terminal bus umum.    Pilihan lainnya adalah Express Bus 86 dengan biaya 30.000 vnd (sekitar Rp. 15.000). Dinamakan express bus dan lebih mahal karena hanya berhenti di beberapa halte di pusat kota Hanoi. Nah kalau penginapan kamu di sekitar Old Quarter, bisa pilih bus ini. Begitu keluar pintu kedatangan, ke arah kiri juga kemudian nyebrang dan ketika kamu berjalan, kamu akan ditawarkan untuk naik taxi, bilang saja dengan sopan kalau kamu mau naik bus 86. Mereka dengan senang hati akan menunjukkan kamu ke arah petugasnya. Bayarnya pas di bus aja, nanti kondekturnya akan nanya mau berhenti di halte apa. Sebelum berhenti, dia bakal ngasih tau kamu untuk segera siap-siap turun. Ternyata salah satu teman, sebut aja M, kondisi tubuhnya makin drop dan memutuskan untuk mencari klinik atau rumah sakit. Ceritanya cukup panjang, yang intinya adalah sore dan malam ini kami berputar-putar mencari klinik, rumah sakit, dan apotek. Untungnya ada Grab di Hanoi sehingga memudahkan mobilisasi kami. Terus bagaimana komunikasinya secara hampir sebagian besar driver kurang bisa berbahasa inggris? Kami selalu menyebutkan posisi melalui pesan dan menghafal jenis mobil serta plat nomornya. Kadang jika driver mengirim pesan dengan bahasa vietnam, kami menggunakan google translate untuk mengartikan dan membuat balasan (hahahaha). Ada kejadian lucu, salah satu teman saya sering disangka orang lokal karena penampilannya yang mirip, jadilah suka diajak ngobrol bahasa vietnam. Dan alhasil temen saya cuman bengong sambil bilang “I’m not vietnamnese”.
      Hari pun sudah menjelang malam dan kami lapar. Karena saya punya pantangan dalam makan dan beruntungnya saya punya teman yang pengertian, kami memutuskan mencari vegan restaurant terdekat. Ketemulah Loving Hut (ini sepertinya ada di mana-mana deh) yang menyediakan makanan khas vietnam dengan menu vegan. Dengan 3 jenis lauk dengan 4 nasi dan 4 minuman hanya habis skeitar 200.000 vnd (atau Rp. 100.000). Kenyang parah tapi ngerasa sehat (ya iyalah vegan food).   Setelah dari RS dan mengantarkan teman kami yang sakit ke GH untuk istirahat, sekitar jam 9 malam, kami bertiga memutuskan keluar menuju Old Quarter karena hari itu adalah malam minggu sehingga kawasan pinggir Hoan Kiem Lake ditutup untuk kendaraan (car free day). Niatnya mau mencoba egg coffee yang terkenal di Hanoi tapi cafe yang kami incar sudah tutup sehingga kami jalan kaki sambil melihat aktivitas warga lokal di malam minggu. Begitu sampai Old Quarter, kami menemukan sebuah cafe yang masih buka dan ada menu egg coffee. Penasaran kami memesan 1 cup (77.000 vnd inc.tax), sampai si pelayan bingung karena kami hanya memesan 1 cup kecil untuk bertiga.
      Karena sudah jam 11 malam, dan besok pagi ada halong bay tour, kami memutuskan kembali ke GH. Oiya kami memesan 1 day Halong Bay Tour dengan harga 42 USD/orang melalui staf GH saat kedatangan. Teman kami yang sakit memutuskan tidak jadi ikut karena dalam masa recovery. Karena pemberitahuannya mendadak, biaya hanya dikembalikan setengahnya.    20/8/2017 Tepat jam 7.30 pagi, guide datang menjempat kami di GH. Ada sekitar 21 peserta hari itu dari berbagai negara. Ternyata kami bertemu 4 kakak beradik asal Aceh. Perjalanan menuju Halong Bay cukup panjang sekitar 4 jam dengan berhenti 1 kali di tempat penjualan souvenir. Tenang aja toiletnya gratis dan cukup bersih kok dan kalian tidak diharuskan membeli souvenirnya. Sekitar jam 12 siang kami sampai pelabuhan. Sebelumnya di bus, guide kami membagi peserta ke beberapa meja di kapal. Kami kebagian meja 3 bareng sepasang turis asal Italia (yang ramah dan baik). Begitu duduk di kapal, awal kapal langsung menyuguhkan makan siang (kebanyakan seafood dan sayuran). Nah untuk minum tidak disediakan alias beli kalau gak bawa. Kapal pun berlayar sambil kami menikmati makan siang. Rasanya pun lumayan cocoklah dan porsinya banyak. Itinerary 1 day tour ini adalah menuju Surprise Cave dan Ti Top Island.    Untuk bisa mengikuti rangkaian kegiatan tour ini diperlukan stamina yang baik dan cukup minum karena harus menaiki anak tangga yang cukup banyak. Kami saja sampai kekurangan minum dan membeli disana (walaupun lebih mahal sih). Selain itu juga panas banget. Saya yg kurang cocok dgn cuaca panas bbrp kali harus berhenti saat menaiki tangga  ke puncak Ti top island. Bahkan setelah 3/4 perjalanan, saya menyerah dan memilih duduk istirahat. Sedangkan 2 teman saya lanjut. Setelah merasa cukup pulih, saya pun lanjut naik ke atas krn mikir2 sayang juga kalo ga sampai atas. 

       
       
      Kembali ke pelabuhan sekitar jam 5 sore dan sampai lagi di Hanoi jam 9 malam. Hari itu kami merasa lelah sekali sehingga tidak sanggup utk jalan2 malam lagi. Mana besoknya harus siap-siap ke airport untuk flight ke Ho Chi Minh.    21/8/2017 Penerbangan Hanoi-Ho chi minh dengan Jetstar jam 10 pagi. Kami sempat sarapan dulu. Seperti biasa pakai grabcar menuju airport. Baru kali ini di airport (domestic) kami harus melepas alas kaki saat pemeriksaan masuk ruang tunggu. Saya kira hanya khusus bagi warga asing tapi ternyata warga lokal pun membuka alas kakinya walau hanya menggunakan sendal jepit...   Sampailah di Ho chi minh airport jam 12 siang. Lgsg pesan uber menuju penginapan. Kali ini kami pesan Supe Homestay yg harganya 650rb/2 malam 4 bed dorm room. Kalau melihay review dan photo, hostel ini cukup bagus. Tapi ternyata kami kecewa karena kenyataannya berbeda. Begitu sampai, kami terkejut ketika staf mengatakan bahwa kamar penuh. Nah lhooo??? Tapi ternyata Supe ini punya cabang lain yg jaraknya 5 menit berkendara. Kenapa ga dikasih tau di awal..kan bisa email ato bgmn gitu ya..yg kedua begitu kami sampai, kayaknya ini penginapan jadi gudang barang2 jualan krn begitu banyak barang berserakan di lobi. Kamarnya pun berdebu seperti sudah tidak ditinggali lama. Kamar mandinya pun kurang bersih. Kecewa deh pokoknya.    Oke cukup curhatnya. Setelah check in, kami keluar mencari makan siang. Kami cari yg dekat bisa jalan kaki, cek2 di google, ketemulah resto india halal di daerah Bui Vien. Setelah makan dan kenyang, kami menuju Konsulat Indonesia. Wah ada apa yaa? Ternyata teman saya yg sakit itu belum puas dgn dokter di rs hanoi, jadi dia ingin meminta saran dan rujukan dari pihak konsulat yg mungkin lebih paham dgn kota ho chi minh. Yaaa jadi lagi2 hari ini dihabiskan dengan pencarian klinik dan rs. Beruntungnya ada Klinik international yg menerima turis dan berbahasa inggris di dekat konsulat. Setelah menunggu, periksa, tebus obat, sekitar jam 6 sore.    Hasil konsultasi dgn dokter, teman saya memutuskan utk lgsg ke bangkok (kebetulan ada temannya disana) tanpa ikut kami ke siem reap agar cepat pulih. Malam itu kami pun lgsg berembuk memesan tiket2 yg belum terbeli. Kami pun memutuskan utk ke cafe sekalian mencicip kopi vietnam. Cari2 di google yg reviewnya oke yaitu Bang Khuang Cafe. Dan ini adalah keputusan yg tepat, selain menu kopinya bervariasi, tempatnya juga nyaman dan cantik. Urusan memesan tiket bus ho chi minch-siem reap, tiket sleeper train bangkok-penang, dan tiket pesawat Ho Chi Minh-bangkok pun beres. Sedangkan utk tiket bus siem reap-bangkok rencananya akan kami pesan on the spot.    22/8/2017 Hari ini kami hanya keliling kota saja. Awalnya ingin ke cu chi tunnel tapi krn kondisi teman saya yg masih sakit, rasanya tidak mungkin pergi jauh2. Pertama kami ke Ben Tanh Market utk cari oleh2 dan brunch (krn disini banyak jual makanan). Setelah kenyang dan beli bbrp oleh2, kami menuju kantor pos, gereja, museum dan taman yg bisa dikelilingi dgn berjalan kaki. Karena lelah, kami kembali ke penginapan utk istirahat (yaa lagi2 kami tidur siang hahaha) kemudian malamnya keluar lagi utk cari makan. Ada 1 makanan yg khas vietnam tapi saya mau cari yg halal. Eh ketemulah Pho Muslim. Rasanya enak dan agak beda dengan pho yg pernah saya coba di jakarta. Rempah2 dan kaldu dagingnya lebih berasa plus terdapat potongan bakso homemade (hasil nanya2 yg punya). Warung Pho ini baru buka sore menjelang malam ya...
        Yaaaa sekian cerita edisi vietnam dari rangkaian 12 hari trip negara Asean. Masih ada 3 negara lagi...enjoy and happy reading!!!
    • By Riohandoko21
      Hello Travelers,
      Saya ingin Cerita Pengalaman Saya, Istri dan Anak Saya.  Saat Ke SUMBA.
      Saya dan Istri janjian untuk bertemu di Bali.
      Saya berangkat dari timika ke Bali, Istri dan anak saya berangkat dari  Palembang ke Bali.
      Niat awalnya sehari kita mau Main ke Bali Marine Park. Tapi apa daya Flight istri saya dari Palembang to Jakarta Delay, Alhasil dia ketinggalan pesawat dari Jakarta ke Bali. Maskapai Plat Merah (Bukan Singa Merah). Jadilah dia tiba di bali Keesokan hari nya.
      Karena capek Istri saya gak kuat mau jalan-jalan ke bali marine Park (Next Time Kita bakal Kesini).
       
      Hari Pertama
      Tanggal 29 Juli 2017
      Terbang Ke Tambolaka dgn Wings Air
      Dijemput oleh Driver Lokal Asli Sumba (Kita Hanya Sewa Mobil Plus Driver)
      Tempat Pertama yang di Kunjungi - Kampung Ratenggaro , Lihat Sunset di Pantai Pero
      Kita menginap 2 Malam di Hotel Sinar Tambolaka
       
      Tanggal 30 Juli 2017
      Ke rumah Budaya Sumba - disini Ada semacam Homestay juga. Kita bisa menginap di sini. Mungkin saya dan Istri mau juga menginap disini jika kami belum bayar di Sinar Tambolaka.
      Setelah beranjak dari Rumah Budaya Sumba, Tujuan Selanjutnya adalah Pantai Mandorak .  
      Tujuan selanjutnya pada hari yang sama adalah Danau Weekuri
      Danau Weekuri - Danau Air laut sehingga air nya asin. Danau ini terbentuk karena ada batu karang di tepi lautnya. Yang saya ingat saat ke danau ini adalah saya hamper jatuh terpeleset saat di tangga mau turun ke danau dan saat itu saya menggendong anak saya.
      Perjalanan hari ini kami tutup dengan melihat sunset di Pantai Bawana dan Tanjung Mareeha.
      Sunset di Tanjung Mareeha membuat saya takjub akan keindahan alam sumba. Tidak salah jika istri saya membawa saya liburan kesini. Tempat nya Luar biasa.
      Tapi hati-hati yaa disini sumba barat kadang banyak warga yang suka minta uang.
       
       
      Tanggal 31 Juli 2017
      Tujuan pertama hari itu adalaha waikelo Sawah, Semacam irigasi untuk sawah. Pemandangan nya adalah hamparan sawah dengan padi yang menghijau.
       
      bergerak dari waikelo sawah tujuan selanjutnya adalah Air Terjun Lapopu. Air tejun ini adalah air terjun yang pertama anak saya lihat. Ekspresi nya bahagia sekali.
       
      Kita pun melanjutkan perjalanan ke sumba timur.
       
      Tanggal 1 Agustus 2017
      kita melanjutkan perjalanan ke waingapu.
      Tempat yang kita singgahi adalah bukit pasola, pantai watu bella dan pantai kerewei
       
      Tanggal 2 Agustus 2017
      Kampung Praijing
      Kampung Tarung - Beberapa bulan lalu kabarnya kampong ini terbakar
      Melihat pekerja melakukan pemotongan batu untuk rumah tinggal. Kalau di kota-kota di jawa dan sumatera biasa rumah dibuat dengan batu bata namun disumba rumah dibuat dengan batu alam.
      Bukit Warinding ya, daerah ini semua perbukitan sepanjang mata kita memandang.
       
      Saat di Waingapu kami menginap di Hotel Surya. hotel terbaik selama kami menginap di sumba
      Tanggal 3 Agustus 2017
      Air Terjun Tanggedu - Perjalanan ke lokasi ini cukup jauh namun pemandangan selama diperjalanan sangatlah indah. Air terjun ini berada diantara perbukitan.
      Setelah dari sini kami pun pulang
       
      Tanggal 4 Agustus 2017
      Kami bergerak setelah sholat jum'at. kami menuju pantai walakiri
       
      Tanggal 5 Agustus 2017
      Saat nya mencari oleh-oleh dan berfoto di bukit persaudaraan.
       
      Selama di Sumba banyak tempat yang terlewatkan dan tidak sempat dikunjungi. Di sumba ini terdapat banyak pantai yang bagus yang belum sempat kami kunjungi dan banyak air terjun yang tidak sempat kami kunjungi. serta ada lokasi kincir angina tempat tenaga listrik dengan kincir angin.