Hartono Hasian

Wisata Seru Ke Yogyakarta Selama 7 Hari

69 posts in this topic

https://hartono238.wordpress.com/2015/06/06/yogyakarta-wisata-tgl-28-mei-2015-sampai-03-juni-2015-ke-yogyakarta-1-keberangkatan/

 

Hari ini, tgl 28 Mei 2015 pagi pagi sekali sudah bangun, siap siap mau ke bandara , karena hari ini akan memulai perjalanan ke Yogyakarta sebanyak 7 hari 6 malam

 

walaupun berangkat buat wisata bersama, tapi ternyata saya dan teman saya pakai pesawat berbeda, semua terjadi karena ketidak telitian saya waktu membeli tiket pesawat, beda 2 jam jadinya, untung teman tersebut mengerti :)

 

walau pesawat saya jam 12.30,tapi jam 09,30 saya sudah di bandara, sedangkan teman saya pesawat jam 10..30 hehehhe

karena pesawat saya sriwijaya, jadi saya check in di terminal 1 B, maksud hati mau nongkrong di lounge , seperti biasa, untuk hemat sarapan dan makan siang :), tapi ternyata lounge di 1 B sedang renovasi, akhirnya saya pindah ke lounge di 1 C

 

perjalanan pesawat terbang dari Jakarta cukup lancar dan on time, sehingga pesawat saya sampai di Yogyakarta jam 13.45

sesuai dengan kesepakatan dengan teman saya, kami akan ketemu di penginapan Asahi home stay yang terletak di jl Godean Km 7,5

yulianto.jpg?w=300&h=169

ini kartu namanya

 

sesampai di Asahi home stay, ternyata tempatnya enak sekali, bersih, siklus udara bagus, ada air dispenser dan teh, gratis :), letak homestaynya dilantai 2, sedangkan lantai 1 untuk usaha dan tempat tinggal pemilik, sebelah homestay adalah supermarket, dan disekeliling homestay mudah sekali cari makanan

asahi-rent-car-jogja-homestay-yulianto_6

ini kamar 1 bed dengan 2 extra bed

Share this post


Link to post
Share on other sites

selesai mandi, kami meninggalkan homestay dengan motor untuk ke tujuan pertama, yaitu Wihara Buddha prabha yang terletak di Jl. Brigjen Katamso No.3, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55121, Wihara ini adalah wihara yang penuh kenangan bagi teman saya (Hansen), karena selama dia menjadi mahasiswa di kota Yogyakarta, dia merupakan aktivis di wihara ini

saat sampai di wihara ini, sewaktu turun dari motor,  ngak sengaja , ujung celana saya tersangkut standard motor, sehingga terjatuh dan celana bagian bawah robek, berkuranglah karma buruk ku hari ini :)

 

saat sampai di Wihara tersebut, ternyata masih banyak yang mengenal sdr Hansen, hal itu terlihat dari banyaknya sapaan yang dia terima , dan betapa akrabnya mereka berbicara

 

Memasuki Wihara Buddha Prabha, kita akan melihat altar altar Buddha :

sam_0918.jpg?w=300&h=200

altar lainnya

 

sam_0917.jpg?w=300&h=200

Altar utama Buddha Prabha

 

selesai dari Buddha Prabha, kami segera menuju ke Raminten di kota baru, karena sudah janji dengan rekan rekan jalan2.com Yogyakarta untuk ketemu disana

 

sampai di Raminten sekitar jam 18.00  , kondisi sudah ramai, tapi masih dapat tempat duduk yang rasanya itu tempat terakhir yang masih kosong, karena setelah kami, antrian langsung sangat panjang

 

Akhirnya satu persatu teman datang, ada Kania, Nony, Lusy, Junie, Muslimin, bu guru Diah dan Hanung, ini beberapa foto kami

dscn0482.jpg?w=300&h=225

akhirnya tercapai minum dawet jumbo, semua karena @deffa dan @nony yang pamer minuman ini sebelumnya

 

img_5684.jpg?w=300&h=200

ini lah yg kumpul di raminten kota baru

 

dscn0479.jpg?w=300&h=225

namanya sih “kotekaâ€, isinya rasanya ada ayam cincang, tahu , dll :) , enak sih

 

sebelum kami pulang untuk istirahat, karena besok hari nya akan menelusuri pantai gunung kidul, kami sempat foto didepan raminten, untung ada bapak yang baik hati menawarkan diri untuk foto kami, sehingga semua bisa lengkap fotonya, ini fotonya

img_5728.jpg?w=300&h=200

pulang ah, sudah ngantuk, sampai ketemu untuk wisata hari kedua ……………….. (bersambung)

Share this post


Link to post
Share on other sites

hari ini , tanggal 29 Mei 2015, hari kedua kami di Yogyakarta, pagi pagi sekali , kami berangkat dengan mobil dan supir , cari sarapan dulu, tadinya binggung antara bakmi atau soto ayam, karena pertimbangan waktu, maka diputuskan lah sarapan soto ayam dulu :),

 

Selesai sarapan soto ayam, kami berangkat ke Ambarukmo Plaza yang dikenal dengan Amplaz, Nony, Kania, Juni dan Lusy sudah menunggu disana, setelah menjemput mereka, kami ber enam segera berangkat ke daerah gunung kidul.

Perjalanan dari Yogyakarta menuju deretan pantai di gunung kidul awalnya sangat mulus dengan melewati pantai-pantai yang indah sekali, termasuk juga pantai  Indrayani yang lumayan indah, pertimbangan lewatin dulu pantai indrayani karena pikir mulai dari yang jauh dulu, nanti pulang baru mampir.

 

Ternyata kelancaran tersebut mulai terkena kendala, karena salah satu peserta sudah mulai pusing mual,  tuduhan dia tidak sarapan langsung dilakukan, ternyata yang bersangkutan mengaku dia ada sarapan, tetapi perjalanan tetap harus berlanjut, karena sudah hampir sampai. untuk memasukki deretan pantai di gunung kidul,

 

Kita akan di punggut biaya Rp.20 ribu perorang untuk gugusan pantai di gunung kidul tersebut (di tiket masuk. Disana tertulis Pantai Baron, Kukup, Sepanjang, Drini, Krakal, Sundak, Pulangsawal dan Pok Tunggal.), pantai pertama yang kami kunjungi adalah pantai Pok Tunggal, pantai ini sangat indah, pada saat kami datang , masih sepi,, sehingga dengan bebasnya kami bisa berfoto foto, tapi ada 2 teman yang malas malasan ikut turun kebawah, salah satu karena pusing, duduk dimobil, satu lagi kayaknya karena ngak berani turun atau takut air, heheheheh

20150529_105930.jpg?w=300 indah pantainya khan ? :)
 

saya menyukai pantai ini, karena bisa jalan kaki ke tengah, airnya jernih, lautnya dangkal, cuma sebetis, tapi kalau sudah sampai agak ke tengah, langsung dalam sekali, jadi harus hati hati

 

dscn0490.jpg?w=300 air nya jernih

airnya di pantai ini sangat jernih, seperti foto diatas, sangat jernih khan ? :)

 

 

img_5766.jpg?w=300 leganya dunia, segarnya udara, semangatnya cowok ini :)

Dengan baju dola doli dari jalan2.com, saya ber narsis ria dipantai :)

 

 

img_5796.jpg?w=300 foto bersama, eh , kok cuma 4 orang ? mestinya ada 6, ternyata ada 1 lagi teler di mobil, dan satu lagi lagi pegang kamera:)
 

semangat ber narsis ria dari para peserta, terutama yang bawa kamera mahal mahal :)

sam_0941.jpg?w=300 selfie berlima dipantai Pok Tunggal, tapi , masih kurang 1 orang :)

ternyata 1 orang yg kurang, lagi pusing di mobil, ditawarkan makan tidak mau, ditawarkan obat , tidak mau , antar pulang, tidak mungkin, mau suruh naik taxi pulang, tidak mungkin, apalagi berenang :)

 

 

 

dscn0498.jpg?w=300 ini dia, lagi pusing , duduk saja di mobil:)

,

 

untuk foto foto, salah satu kamera yang digunakan adalah ini , bukan iklan loh :)

20150529_150142.jpg?w=300 salah satu kamera yang memfoto kami, keren kamera nya:)

 

 

 

setelah dari pantai Pok Tunggal, kami menuju ke pantai seruni, perjalanan lewat jalan yang sangat sempit, dan agak menanjak, mobil yang kurang mantap, jangan kesini lah :) ini foto kami di pantai seruni

20150529_114810.jpg?w=300 pantai seruni
 
 
dscn0483.jpg?w=300 pemandangan pantai seruni

setelah dari pantai seruni, sebenarnya ada rencana mau mampir foto sebentar di pantai indrayani, tapi melihat kondisi teman kita yg mabok, dan waktu yang makin siang, sehingga kami meneruskan perjalanan, mencari makanan, kami naik mobil  sambil cari makan, rencana mau makan nasi merah,

 

 

tapi oleh supir kami diantar makan disatu tempat yang katanya ada nasi merah, tapi ternyata tidak ada nasi merahnya, ya, sudah kesorean, mau gimana lagi, ini tempatnya

img_5921.jpg?w=300 tempat kami makan ayam goreng

setelah dipaksa paksa, akhirnya teman kita mau minum juice, setelah minum juice , dia langsung jauh lebih segar, bandel juga, coba kalau dari awal mau makan , pasti lebih segar, ahhahaha setelah makan, akhirnya kami menuju ke arah Ratu Boko...................

Share this post


Link to post
Share on other sites

Dengan semangat baru setelah makan siang, terutama temanku yang setelah minum juice sudah segar bugar, kami melanjutkan perjalanan ke Kraton Ratu Boko, tapi karena waktu masih terlalu jauh dari sunset, kami putuskan untuk mampir terlebih dahulu ke candi ijo yang dekatnya berdekatan dengan Kraton Ratu boko.

 

Sebelum kami sampai di candi ijo, kami sempat melewati satu tebing, katanya sih tebing breksi, tapi kami tidak mampir, karena bagi kami itu biasa biasa saja, mungkin lain kali kalau ada waktu kami akan mampir lagi, apalagi di candi ijo dan kraton ratu boko yang tentunya belum bosan di kunjungi

 

Setelah sampai candi ijo, teman kami yang mabok sebelumnya kelihatan masih belum PD untuk turun, sambil  menunggu untuk naik keatas candi ijo, kami iseng ambil banner Asahi homestay yang ada di mobil, dan fotolah kami dengan aksi foto model yang keren :), ini fotonya :

img_5926.jpg?w=300&h=200

gaya jadi bintang iklan :)

 

setelah di rayu untuk turun, akhirnya si “mabok†turun juga untuk sama sama menuju candi ijo :)

dscn0503.jpg?w=300&h=225

ini lah candi hijau

 

ternyata yang tadinya mabok, malah yang paling semangat foto foto di candi ijo, maklum, mungkin sebagai balas dendam karena waktu dipantai hanya tidur dimobil, makanya, “anak anak†kalau dinasehatin ikutin, habis makan obat dan minum juice langsung segar bugar kan , ini buktinya :)

img_6011.jpg?w=200&h=300

langsung cerah khan :), berkat juice:)

 

Pemandangan di candi ijo memang indah, sayang sekali, masih banyak batu candi yang belum disusun, jika selesai disusun, akan jauh lebih indah, biaya masuk kesini adalah bebas, isi buku tamu, dana seikhlasnya

img_5997.jpg?w=300&h=200

ini pemandangan candi yang masih belum disusun

 

pemandangan yang tidak kalah dengan lokasi lainnya, ini buktinya

sam_1006.jpg?w=300&h=200

indah khan ?

 

karena hari sudah makin sore, untuk mengejar sunset di ratu boko, maka kami putuskan kembali perjalanan kami ke ratu boko.

harga tiket pintu masuk ratu boko adalah Rp.25.000,- , untuk tempat wisata seindah kraton ratu boko, tentunya harga segitu masih layak lah

 

sesampainya di Ratu boko, semua makin semangat dan makin gila, berbagai pose berfoto makin liar, hehehehhehe, yang sepanjang perjalanan di pantai loyo, malah makin mengila, tapi kalau mau foto,secara lengkap, liat di facebook ku ya :)

20150529_171044.jpg?w=300&h=169

formasi lengkap, yg habis ngejus ternyata sudah segar bugar, mantap:)

 

dari atas melihat pemandangan yang luar biasa, pengejar sunset juga sangat banyak, padahal ini bukan hari libur loh :)

sam_1028.jpg?w=300&h=200

indah khan :)

 

belum lagi pintu gerbang disaat sunset, ini lah spot utama orang melakukan pemotretan :

sam_1046.jpg?w=300&h=200

keren khan :)

 

memang sangat banyak pengejar sunset disini, banyak wisata yang bicara non bahasa indonesia, rasanya wisatawan asing, :)

sam_1061.jpg?w=300&h=200

mantap

 

Berikut adalah harga tiket nya , termasuk paket :

tiket-boro-pram-domestik.png?w=300&h=212

harga tiket untuk diketahui

 

setelah dari kraton Ratu boko, kami berencana pulang ke kota yogyakarta, eh, ketemu 2 remaja sedang menunggu jemputan yang belum datang, mereka mau nebeng mobil kami, karena zaman sekarang banyak penipuan, takut juga, akhirnya kami kasih tumpangan dengan syarat mereka mau di foto, jadi ada bukti bahwa mereka nebeng dari Ratu boko :)

dscn0550.jpg?w=300&h=225

ini lah 2 gadis yang ngak dijemput jemput :), colek @deffa, mereka kuliah di bandung loh :)

 

 

akhirnya kami jalan pulang, mengantar gadis gadis untuk ambil motor, sehingga di mobil hanya tersisa 3 orang, saya, hansen dan nony  ditambah 2 gadis yang nebeng,

 

supir menurunkan kami bertiga di samping istana yang dekat malioboro, dari sana kami berpisah dengan 2 gadis yang nebeng tersebut, sedangkan kami bertiga ke hamzah , rencana awal mau minum dulu di Raminten yang ada diatasnya, tapi karena lagi ada acara, tidak menerima tamu umum, maka kami keliling di dalam toko, kalau cewek emang selalu beda, Nony langsung belanja belanja, hahahahaahha,

 

setelah nony selesai belanja, kami sama sama jalan kaki ke alun alun, rencana akan kumpul di bakmie pak pele

sampai di lokasi sudah ada beberapa yang lagi menunggu, pas sudah pesan makanan, lagi ngobrol, surprise juga dengan kedatangan Andry dengan motor kerennya :), dan Hanung yang datang saat kita sudah mau bubar , hhehehehe,  akhirnya kumpulah semua :

img_6125.jpg?w=300&h=200

formasi lengkap yang kumpul di bakmi pele

 

bakmi pele yang katanya enak, di mulutku biasa saja, cuma karena potongan ayamnya besar besar, jadi kerasa juga, selain itu kami juga pesan minuman di warung samping tempat duduk kami, yang tidak tahan adalah pengamen, buaaaaanyak nya :),

sam_1104.jpg?w=300&h=200

dari kurus ke gendut, dan dari gendut ke kurus semua ada:), ooops itu yang main Ipad, lagi nonton apa tuh:)

 

 

Selesai makan, perut sudah kenyang, yang lain pulang naik motor masing masing, kami pulang naik taxi :), pulang tidur untuk siapkan tenaga keesokan harinya akan ke kulon progo……………………..

Share this post


Link to post
Share on other sites
 

Hari ini tanggal 30 Mei 2015, kami bangun agak siangan, karena sudah 2 hari di geber :), hari ini kami menyewa mobil dan supir lagi, karena ada kesalah fahaman, sehingga supir kirain kami ngak pakai hari ini, jadi supir keburu janji dengan orang lain, untung pemilik mobil sangat baik, dia sampai naik motor pergi jemput supir, yang kira kira 1 jam an perjalanan dari lokasi penginapan, sedangkan rencana supir yang akan mengantar ditempat lain, diganti dengan teman si supir :)

 

berangkat lah kami ke kulon progo dari Godean, perjalanan dari Godean ke kulon Progo jauh lebih dekat dibanding dari pusat kota

 

perjalanan kesini melewati jalan gunung/bukit yang berkelok kelok, mungkin orang tidak terbiasa akan mabok, setelah perjalanan sekitar 1 jam an, sampailah kami di daerah kalibiru, kulon progo

 

jalan untuk sampai ke lokasi pemotretan sangat terjal, dan bukan tangga, karena tidak berhati hati, saya jalan menaik, sehingga otot paha sebelah kanan tertarik,  jika dipakai berjalan, terutama naik tangga, sangat sakit, untuk yang lain, lebih baik hati hati, tidak usah buru buru

 

saat mau masuk kedalam, ditarik Rp.5.000,- perorang, setelah sampai di dalam, udara sangat segar, dan pemandangan sangat indah, sebenarnya tidak perlu naik keatas pohon untuk foto, pemandangan sudah bagus, tapi namanya lagi heboh, ya, kita beli tiket untuk naik

 

tempat wisata ini di kelola oleh himpunan tani , menurut cerita petugas disana, dulu mereka itu bertani menanam disana, jadi mendapat hasil dari hasil tani, tapi sejak hutan tersebut dijadikan hutan lindung, mereka sudah tidak bisa mengambil hasilnya lagi, berdasarkan hasil pertemuan sesama mereka, diputuskan kelola tempat wisata tersebut, supaya mereka dapat penghasilan, LUAR BIASA pemikiran mereka, jika lebih banyak diantara kita sekreatif mereka, tentunya akan bagus sekali

 

awalnya kami foto foto saja disekitar tempat wisata tersebut, fotonya seperti ini

dscn0561.jpg?w=300&h=225

indah :)

 

sam_1130.jpg?w=300&h=200

cukup keren khan, ngak perlu ke atas pohon :)

 

sam_1129.jpg?w=300&h=200

keren khan tanpa perlu naik keatas :)

 

setelah foto ini, kami ke tempat buat naik ke pohon, setiap orang harus bayar Rp.10.000,- , kami berdua mendaftar, tapi harus tunggu 1,5 jam, karena tiap orang diatas adalah 3 menit , dan ditambah naik dan turun kira kira 2 menit, jadi total adalah 5 menit, sedangkan kami harus menunggu 15 orang :),sehari hanya maksimal 120 orang yang bisa naik keatas pohon, selain itu jika terjadi hujan, untuk naik keatas pohon tidak bisa, karena ditutup untuk menghindari kecelakaan

 

akhirnya kami putuskan makan indomie dulu, karena dari pagi belum makan, hehehehhe

 

setelah makan, kami masih menunggu beberapa orang , supaya tiba giliran naik keatas, dengan otot kaki yang ketarik , saya memaksakan diri naik keatas, pemaksaan ini dilakukan karena @nony dari kjji, beberapa waktu lalu, dia memamerkan foto foto diatas sini, jadilah kita memaksakan diri foto ke atas, ternyata hasilnya tidak kalah sama modelnya si nony:)

 

karena saya agak takut ketinggian, jadi sy foto tidak bisa sama dengan si nony yang duduk dipinggir , cukup pose ini saja, tapi keren khan:)

img_6101.jpg?w=300&h=200

tapi memang jauh lebih keren foto dari atas sih, apalagi model nya :)

 

untuk foto, bisa dilakukan sendiri, tapi bisa juga pakai petugas disana dengan kamera mereka, 1 copy softcopy dikenakan biaya Rp.5.000,- minimal 3 foto

 

setelah selesai pemotretan, kami binggung mau kemana lagi, atas saran dari supir, kami meluncurlah ke suroloyo, karena katanya dari sana bisa lihat pemandangan yang indah, malah bisa melihat borobudur, PENASARAN banget, hehehe

 

supir mengantar kami sampai ke Suroloyo, dengan menaiki jalan yang terjal dan sempit, sampailah kami di Suroloyo

 

untuk naik sampai ke puncak suroloyo, kami perlu menaiki tangga yang konon berjumlah 286 tangga, untuk mengurangi capek dan melatih konsentrasi, saya menghitung tangga tangga tersebut menuju keatas, ternyata jumlah nya 253 buah :)

 

ini dia foto fotonya :

dscn0564.jpg?w=300&h=225

pemandangan yang sangat indah dari puncak suroloyo, walaupun ada kabut, tapi tetap indah

 

sam_1148.jpg?w=300&h=200

naik naik, kepuncak gunung :), dengan tercapek capek memaksakan naik keatas, dengan otot kaki yang sakit tetap memaksakan diri :)

 

sam_1149.jpg?w=300&h=200

pemandangan yang sangat indah diatas

 

sam_1168.jpg?w=300&h=200

pemandangan bagaikan sebuah lukisan yang sangat besar

 

sam_1177.jpg?w=200&h=300

saat nya turun, sudah puas diatas:)

 

saat turun, saya menghitung lagi jumlah tangga, tetap 253 tangga, ntah siapa yang benar, hehehe

 

setelah puas di puncak suroloyo, saat nya pulang :),tetapi sebelum sampai ke yogyakarta, perut meminta untuk diisi, mampirlah kami makan dulu ke Mang Engking, tempatnya enak, cuaca segar, perut yang sudah lapar tambah lapar :)

dscn0569.jpg?w=300&h=225

pemandangan tempat makan mang engking

 

dscn0571.jpg?w=300&h=225

meja tempat kami makan di mang engking :)

 

sehabis makan, kami pulang ke penginapan, mandi dulu, karena malam hari , rencana akan ke kaliurang , minum teh poci, selesai mandi, kami berangkat lagi jemput gadis gadis, kali ini si boss hansen jadi supir :)

 

tujuan adalah menjemput 4 orang, sedangkan 2 orang lagi naik motor :)

 

awalnya kami nyasar, karena ketempat yang lama, padahal tempatnya sudah pindah, ini peta tempat baru dan lama

img-20150530-wa019.jpg?w=225&h=300

peta lokasi

 

img_6138.jpg?w=300&h=200

ini lah minuman di lokasi nya

 

img_6139.jpg?w=300&h=200

ternyata ada yg sambil minum teh poci, sekalian belajar soal kamera, antara guru dan murid:)

 

img_6192.jpg?w=300&h=200

inilah anggota lengkap yg nge teh poci

 

sehabis nge teh poci, karena sudah malam, kami bersepakat untuk pulang, karena ke esokan hari nya kami akan melakukan perjalanan panjang, ke mendut, borobudur dan semarang

 

foto yang tercecer :

post-34252-0-59199700-1433834720_thumb.j

Share this post


Link to post
Share on other sites

Hari ini , masuk lah hari terakhir dibulan Mei 2015, tanggal 31 Mei 2015, tujuan hari ini adalah perjalanan yang sangat jauh :)

 

hari ini dilakukan perjalanan rohani, rencana awal ke 2 candi dan 1 wihara, berdoa dan berharap semoga puteri Handi Ruslim dan puteri Aldi Tjong segera dapat disembuhkan sehingga puteri puteri mereka dapat segera sehat kembali

 

Pagi pagi kami menjemput gadis-gadis di jalan Kaliurang, Hari ini hanya ada 3 gadis yang ikut serta, sehingga total dalam 1 mobil adalah 6 orang (termasuk supir),  tujuan pertama hari ini adalah menuju candi  Mendut, sesampainya di candi mendut, saya masuk ke wihara Mendut untuk berdoa dan ber namaskara, sedangkan teman teman yang bukan Buddhist, dengan semangat dan kegembiraan masing masing segera mengeluarkan kameranya untuk melakukan pemotretan pemandangan pemandangan yang indah  di sekitar wihara dan candi

 

Saat di wihara,ternyata ada bhante Pannavaro, beliau sedang mempersiapkan untuk terbang ke Jakarta dalam rangkaian waisak yang hari waisaknya jatuh pada tanggal 2 Juni 2015, saya cuma sempat namo buddhaya saja sama beliau:)

 

Saat masuk ke Wihara mendut untuk melakukan namaskara dan berdoa, teman ku sempat melakukan pemotretan aktivitas tersebut, bagus juga fotonya, terima kasih :)

img_6219.jpg?w=300&h=200

saat keluar dari Wihara mendut menuju ke candi mendut, para aktivis atau mungkin pekerja sedang mempersiapkan altar untuk acara waisak yang jatuh pada tanggal 2 Juni 2015, seperti biasa pada tahun tahun sebelumnya, kegiatan upacara waisak biasanya dimulai dari candi mendut, terus melakukan prosesi kirab dari candi mendut, melewati candi pawon sehingga sampai di candi borobudur

 

Biasanya penduduk sekitar akan menonton acara kirab tersebut , karena hanya setahun sekali, sangat disayangkan jika dilewati, sungguh indah dalam kebersamaan jika melihat semua pihak ikut meramaikan acara tersebut, cuma tahun ini saya ikut waisak di candi sewu, kebaktian waisak saya setiap tahun umumnya di tempat yang berbeda beda, tahun kemarin saya mengikuti waisak di wihara Ekayana Arama di daerah tanjung duren Jakarta

 

img_6236.jpg?w=300&h=200

altar di candi mendut dalam rangka waisak

 

karena tidak ada kepentingan lain di dalam candi mendut, kami cukup foto dari luar,hehehehe, soalnya sayang harga tiketnya, dan lagi pula di buru waktu untuk ke borobudur, bandungan dan semarang.

img_6237.jpg?w=300&h=200

candi mendut:)

 

setelah dari candi mendut, kami semua menuju ke candi borobudur, sesampai di candi borobudur, 3 gadis ternyata tidak mau ikut masuk ke candi borobudur, hanya saya dan hansen berdua masuk ke borobudur, Tujuan kami berdua untuk naik ke puncak borobudur melakukan pradaksina sebanyak 7 kali, tadinya cuma berencana sebanyak 3 kali, tapi ntah kenapa, pas lagi pradaksina diteruskan sampai 7 kali.

 

Pengunjung candi borobudur pada hari ini luar biasa banyaknya, padat sekali, dan sangat banyak pengunjung melakukan pemotretan di stupa induk candi borobudur, walaupun sudah diusir usir keamanan, mereka tetap bandel naik keatas, mungkin perlu dilakukan sistim denda untuk yang bandel, sayang sekali kalau sampai hal itu merusak

 

Walau ramai pengunjung, kami diberikan kelancaran, sehingga pradaksina dapat dilakukan dengan lancar dan sempurna, bagi yang belum mengerti apa itu pradaksina, pradaksina adalah Ritual mengelilingi searah jarum jam pada satu obyek suci baik itu berupa candi, stupa, rupang Buddha atau lainnya sambil berdoa dan merenungkan sifat sifat luhur dari Buddha.

 

setelah selesai pradaksina, kami turun untuk segera melanjutkan perjalanan, ternyata baru kami sadari, gadis gadis yang tidak ikut masuk ke borobudur  lagi hunting belanjaan di sekitar candi, hehehehhe, pantas pas kami telepon, mereka jawab kok cepat amat , :), setelah dijemput gadis gadis dan supir dipintu keluar candi kami segera melanjutkan perjalanan.

dscn0572.jpg?w=300&h=225

candi borobudur

Share this post


Link to post
Share on other sites

selepas dari candi borobudur , kami menuju ke bandungan ,

 

pada saat itu terasa perut sudah meminta untuk diisi
cacing cacing sudah mulai bernyanyi nyanyi
muka sudah mulai tidak berseri
karena sarapan pagi hanya sepotong roti

 

Setelah cari sana cari sini
mampirlah kami dirumah makan matahari
pertama yang saya tanya adalah Halalkah masakan disini
pelayan memberi jawaban pasti halal tidak ada yang perlu di kwatiri

 

akhirnya kami putuskan makan disini
memesan lauk bersama nasi
memesan minuman tanpa kopi
Dengan muka berseri seri

 

ini lah rumah makan yang kami mampir, tempat makannya lumayan enak, variasinya lumayan, cuaca dingin, letaknya di bandungan :)

img_6247.jpg?w=300 ini lokasi kami makan siang di bandungan

setelah habis makan, kami lanjutkan perjalanan melewati pemadangan pemandangan persawahan yang menurut saya sangat indah, penuh kehijauan dan kesegaran, seperti ini

img_6277.jpg?w=300 persawahan yang sangat indah

sehabis makan, dan setelah saya ganti baju , karena baju basah kuyup akibat keringatan, hehehe, kami mampir lebih dahulu ke lawang sewu, yang katanya kalau malam hari seram,

 

tapi para cewek penasaran, mau foto foto disana, apalagi kata nony dia belum pernah ke semarang, cocok lah, kalau saya duduk saja dimobil, karena kaki masih sakit akibat urat ketarik sehari sebelumnya :) Inilah salah satu sudut di Lawang sewu, tapi saya tidak tahu , kerena mereka tidak foto di tugu :)

sam_1362.jpg?w=300 lawang sewu

sehabis lawang sewu, setelah para gadis foto foto, kami segera  berangkat ke wihara sam po kong

 

Setiba di Sampokong, saat masuk pintu gerbang, teman muslim Nony dan Lusy tertarik dengan mushola disana,

 

tadinya mereka tidak tahu bahwa didalam kompleks wihara ada Mushola, mereka segera ke mobil mengambil mukena untuk sholat disana.

 

Bagi saya, mushola di wihara atau klenteng sudah tidak mengherankan, banyak sekali wihara dan klenteng menyediakan tempat untuk sholat, baik untuk pengunjung maupun karyawan setempat.

 

Wihara atau klenteng yang saya tahu ada mushola yang cukup layak , malah lebih layak dari sebagian tempat perbelanjaan yang ada dikota kota besar, adalah Wihara Avalokitesvara pamekasan,wihara mendut di sebelah candi mendut, atau paling tidak ada mushola disekitar wihara/klenteng, jadi saran saya, jika mau sholat, tanyalah pada penjaga atau pegawai di wihara/klenteng, biasanya mereka tahu:)

 

setelah Nony dan Lusy selesai sholat, saya dan hansen masuk ke bagian sembayang untuk bersembayang, sedangkan yang lain foto foto di lapangan sampokong baik ke bangunan untuk sembayang, maupun bangunan di lapangan yang cukup luas.

dscn0573.jpg?w=300 sam po kong

Cerita tentang sampokong : saya pernah dengar cerita versi seorang pemandu wisata, bahwa zaman dulu, kapal perdagangan dari tiongkok merapat di semarang, pada saat itu kapal tersebut di kapteni oleh Zheng He yang beragama Islam, karena pada waktu itu, daerah sana masih sangat kosong, sedangkan air laut tidak cocok untuk wudhu, maka Zheng he berdoa semoga dia mendapat air tawar untuk Wudhu, di galilah pasir dipantai itu, maka keluarlah pancuran air tawar, maka sumur air tawar itu saat ini yang suka diambil orang buat kesehatan atau awet muda,

 

cuma masih ada versi lain, bahwa sebenarnya Zheng He tidak pernah mendarat di Semarang, tapi semua itu tak penting lah, yang penting adalah sifat toleransi warga klenteng sampokong dengan warga agama lain :)

sam_1237.jpg?w=300 formasi lengkap ke sampokong

setelah setelah selesai sembayang, kami ber narsis ria berlima di lapangan depan sampokong, karena haus, kami beli minuman dingin, foto foto dilanjutkan,jadi kesannya malah kami sedang foto iklan produk minuman tersebut , hehehheh

 

Dari sampokong, kami menuju ke wihara mahavira di marina Semarang, tadinya rekan bertiga yang non Buddhist bersama supir akan langsung ke pantai marina sambil menunggu kami selesai sembayang, tapi karena melihat patung patung di lapangan yang sangat bagus, mereka menunggu kami di lapangan wihara sambil berfoto ria. Saya dan hansen masuk untuk sembayang, sedangkan yang lain foto foto di lapangan

 

, ini dia fotonya.

sam_1293.jpg?w=300 wihara mahavira semarang

sehabis foto foto di wihara, kami putuskan tetap ke pantai marina, siapa tahu ada spot bagus yang bagus, tiket masuk pantai marina adalah Rp.5.000,- perorang, ternyata didalam spot orang pacaran lebih keren daripada foto lautnya, hahahhaha, akhirnya saya duduk dimobil menunggu 3 gadis dan 1 pria (ngak sebut jaka, karena sudah beristeri:) ) berfoto ke pantai, ini salah satu fotonya

sam_1337.jpg?w=300 sunset di pantai marina semarang :)

setelah puas di pantai marina, karena sudah menuju malam, kami putuskan untuk mampir makan malam di Cimory bawen di Semarang, jauh jauh ke Semarang , akhirnya makan di Cimory , padahal seumur umur di jakarta, ngak pernah mampir ke cimory , walaupun katanya Cimory puncak itu keren sekali :),

dscn0581.jpg?w=300 ruangan di cimory

setelah kenyang makan di cimory, kami siap siap mau pulang, tapi para gadis segera pasang aksi foto foto dulu di lapangan cimory, sedangkan hansen segera belanja susu, hehehhehee , bye perjalanan hari ini, setelah antar para gadis pulang, kamipun pun pulang ke penginapan untuk tidur lah:), lanjut ke esok harinya:)

Share this post


Link to post
Share on other sites

Awalnya rencana ke Jawa Timur bersama rombongan dari luar negeri, tapi saat gempa nepal, mereka kebetulan lagi wisata di nepal, sehingga mereka mau langsung pulang ke negaranya, membatalkan melanjutkan wisata ke beberapa negara asia tenggara termasuk Indonesia

 

Kesempatan kosong tersebut dimanfaatkan sebaik-baiknya, saat teman saya yang bernama Hansen mengajak untuk berkunjung ke Yogyakarta,

 

tujuan utama adalah untuk ikut waisak di candi sewu, bagi saya , ini akan menjadi waisak ke tiga kali di candi tersebut, dulu sempat ikut waisak di candi tersebut saat waisak pertama kali dan kedua kali di laksanakan di candi tersebut

 

Sedangkan bagi hansen selain untuk ikut waisak di candi sewu, juga bermaksud membantu panitia seandainya dibutuhkan,

niat yang sangat mulia bagi seorang yang sudah cukup mapan dalam bisnisnya sebagai kontraktor yang telah memiliki seorang isteri dan seorang anak.

 

Ternyata kedatangan Hansen memang dibutuhkan untuk membantu transportasi, tidak sia sia beliau punya niat baik, niat baik selalu dikabulkan

 

setelah jalan jalan di kota yogyakarta dan jawa tengah mulai tanggal 28 Mei 2015 sampai dengan 31 Mei 2015, maka hari ini tgl 1 juni 2015, mulailah kami konsentrasi untuk acara waisak di candi sewu…………………………………..

 

pagi-pagi saya diajak hansen untuk makan mie di dekat malioboro sana, namanya bakmie pathuk di pasar pathuk, karena kami datang sudah kesiangan, yang jual dipasar Pathuk sudah tutup, maka kami berangkat ke rumahnya yg juga menjual bakmie tersebut, disini keberuntungan berpihak kepada kami, saat kami sampai rumah bakmi pathuk hujan turun dengan deras, setelah kami selesai makan, hujan langsung berhenti :)

 

Bakmie phatuk saat dimakan biasa saja, tapi setelah makan, rasa nikmatnya baru kerasa, selain tidak merasa ada lapisan minyak tersisa dimulut, juga tidak terasa kehausan seperti umumnya bakmie yang pakai wetsin (micin) kebanyakan:)

img_20150601_103855.jpg?w=300&h=300

ini bakmie nya

 

setelah selesai makan, hujan pun telah berhenti, kami segera berangkat  ke pasar Progo, karena katanya pusat beli uleg an itu ada disana, ternyata setelah dicari sana sini, tidak didapat barang yang cocok :), akhirnya ngak jadi beli:)

 

karena hari santai, sebelum berangkat ke candi sewu, kami keliling dulu lorong lorong kenangan si Hansen saat jadi mahasiswa di Yogyakarta, beberapa diantaranya saya dulu sempat kesini, banyak sekali yang sudah jadi gedung baru atau jadi ruang usaha, tetapi banyak juga yang tetap seperti semula, diantaranya ex kontrakan Hansen yang masih ada tempelan sticker Majelis Buddhayana Indonesia , yang ditempel  saat acara Sejuta Pelita Sejuta Harapan tahun 2005,

 

saat itu acara Sejuta Pelita Sejuta Harapan diadakan di candi borobudur pada tanggal 23 Juli 2005 (sudah hampir 10 tahun), pada acara tersebut, Hansen merupakan salah seorang panitia, dan rapat-rapat koordinasi sempat beberapa kali dilaksanakan di kontrakan tersebut.

 

Setelah keliling, akhirnya nyangkut di rumah makan mbo wig, walaupun barusan makan bakmie, tapi rasanya sayang sekali kalau ini terlewatkan, sudah sampai disini :), saya makan ayam goreng dan tahu goreng, enak juga makanannya, murah , meriah, mantap (3M)

img_20150601_123300.jpg?w=300&h=300

ini warung tempat kami makan

 

Setelah selesai makan, kami masih berkeliling sebentar daerah sekitar , temanku ini banyak kenangan di sini, tapi entah kenangan apa, saya ngak tanya :) setelah keliling, meluncurlah kami ke candi sewu.......................

Share this post


Link to post
Share on other sites

Setelah perut kenyang sehabis makan di mbo Wig, kami lanjutkan perjalanan ke candi sewu.

 

Sesampainya di candi sewu, rekan ku Hansen langsung menuju tenda panitia, disana dia berbicara dengan Bhante , tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

 

Disaat Hansen bicara dengan Bhante dan panitia, saya keliling kompleks candi sambil melihat lihat seandainya ada sesuatu yang menarik, spot pertama saya adalah candi ini :)

 

dscn0593.jpg?w=300&h=225

candi sewu

 

oh ya, bagi anda yang tidak tahu di tentang candi sewu, candi sewu terletak 800 meter dari candi Prambanan, candi sewu merupakan candi Buddha terbesar kedua setelah candi borobudur, dalam peta wisata, candi sewu di tempatkan 1 wisata candi prambanan, di sekitar candi sewu, selain candi prambanan juga ada candi lumbung, candi bubrah, candi gana, candi kulon dan candi Lor

 

dscn0708.jpg?w=300&h=225

candi Lumbung

 

dalam berkeliling candi, saya melihat para sukarelawan sibuk mempersiapkan untuk acara waisak keesokan harinya, bukan hanya relawan umat biasa, para Bhiksu (rohaniawan) juga terlihat sibuk membantu dalam persiapan tersebut

dscn0595.jpg?w=300&h=225

para sukarelawan dan Bhiksu sedang menurunkan barang barang ke tenda

 

Tak lama kemudian datanglah mobil kacang garuda , ternyata mobil tersebut mengantar sumbangan produk Garuda Food untuk panitia, dalam hati berpikir, kenapa produknya ngak langsung dibagi ke saya saja,hehehehehheheh , mauuuuunyaaaaaa :), kwkwkkw

dscn0598.jpg?w=300&h=225

sumbangan produk dari garuda food:)

 

Setelah itu, ternyata ada pejabat departemen agama meninjau lokasi candi sewu, beliau beliau itu ternyata juga kenal cukup dekat dengan teman saya Hansen, dalam hati saya berpikir “hebat benar boss iniâ€, karena selama ini saya tahu orangnya biasa saja , low profile, ternyata pergaulan sangat luas.

img_20150601_150855.jpg?w=300&h=169

pejabat departemen agama sedang berdialog dengan bhiksu dan rekan hansen

 

Waktu sedang keliling candi, masuklah telepon dari Hansen, besok subuh dia tidak bisa ikut ke Jumprit, karena dia harus bantu panitia, terutama untuk transportasi , termasuk menjemput pejabat Majelis Buddhayana Indonesia dari Jakarta.

 

Segera saya ketemu Hansen, untuk memastikan acara besok, dikasih tahu saya tetap ikut ke Jumprit, karena sudah janji dengan bhante (Bhiksu) , dan tempat sudah disediakan.

 

bagi anda yang tidak tahu apa itu jumprit , ini penjelasannya  : Jumprit adalah sebuah sumber mata air di Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggun, Jawa Tengah.  Jumprit juga merupakan tempat pengambilan air suci / air berkah untuk upacara Waisak baik yang diadakan di Borobudur maupun di candi Sewu. Setiap tahun, para pemeluk agama Buddha dari berbagai tempat dan negara datang ke Jumprit untuk mengambil air suci.

 

Sedangkan untuk mobil penjemputan pejabat dari bandara dikwatirkan tidak cukup, maka Hansen angkat telepon, tidak tahu menelepon siapa, disinilah kehebatan teman saya ini, segera didapatlah mobil dan supir untuk membantu, salut saya, tanpa banyak bicara, tanpa banyak membanggakan diri, ternyata bisa berbuat banyak, jaringan luas pula.

 

setelah diperkirakan semua sudah beres, kami cari hotel disekitar candi, tujuan cari hotel adalah supaya besok malam tidak perlu balik ke pusat kota yogyakarta, karena acara kebaktian waisak akan berakhir sekitar jam 23 an.

 

hotel yang pertama kami incar adalah hotel candi view, ternyata hotel tersebut sudah penuh, maka hotel kedua kami mengincar hotel Srikandi, didapat kamar twin, saat kami akan membayar, si petugas menolak, dengan alasan, besok pas datang saja baru bayar, dengan rasa senang kami meninggalkan posisi hotel menuju candi Plaosan

 

kami cuma sebentar di candi Plaosan karena hujan lebat, cuma teduh sebentar, dan tidak masuk kedalam, karena pikir jalan becek dan berair, mungkin lain waktu masih sempat kesini

img_20150601_160549.jpg?w=300&h=169

candi plaosan

 

setelah candi Plaosan, kami ngebut pula, kembali ke kota Yogyakarta, mau kumpul sama teman teman KJJI Yogyakarta dari jalan2.com , yang belum join, bisa join di facebook group komunitas jalan jalan indonesia atau di web jalan2.com , kalau mau forum buka jalan2.com/forum………

Share this post


Link to post
Share on other sites

https://hartono238.wordpress.com/2015/06/12/yogyakarta-wisata-tgl-28-mei-2015-sampai-03-juni-2015-ke-yogyakarta-10-dagadu-the-legend/?preview=true&preview_id=337&preview_nonce=ca759458ad

 

 

Setelah dari candi plaosan, dengan jalan yang agak basah karena habis hujan, dengan udara yang jauh lebih segar, dengan cuaca yang sudah mulai gelap, kami berdua naik motor menuju pusat kota, dengan perhitungan kalau agak macet, walau naik motor, sampai di lokasi seharusnya waktu pas dengan kedatangan yang lain.

 

Ternyata jalanan sangat lancar, rasanya beda dengan Jakarta, kalau habis hujan macet total, disini ternyata habis hujan malah lancar habis, hehehehhehe

 

Karena terlalu cepat sampai ke kota Yogya sambil menunggu yang lain kumpul, kami mampir dulu ke Dagadu , belanja kaos, rasanya saat ini sudah tidak seramai zaman dulu :), bisnis ini memang naik dan turun, atau karena habis hujan orang malas keluar

img_20150609_075412.jpg?w=300&h=169

ini belanjaan dari Dagadu

 

Hasil ngobrol ngobrol dengan penjaganya, ternyata para pegawai adalah mahasiswa mahasiswi yang kerja part time, enak juga kali ya, kalau kuliah di Yogyakarta

 

Setelah belanja, kami tanya dulu lokasi the Legend , menurut satpam Dagadu, Legend itu adalahnya cuma di sebelah, untung sebelumnya sudah dikasih tahu posisi nya di kota baru, kalau ngak, tunggu disana menunggu tanpa arah :)

 

Dengan udara yang dingin sehabis hujan, berangkatlah kami ke Legend di kota baru,

 

sesampai dilokasi , karena ada 2 Legend yang bersebelahan, kami sempat kebinggungan legend yang mana yang dimaksud, pertama kali masuk ke legend coffee, tetapi karena hampir semua yang berkunjung disana merokok, sehingga menimbulkan bau tidak enak, maka kami pindah ke Legend premium. Di Legend Premium ternyata ada ruangan no smoking, sehingga ruangan sangat segar, toiletnya pun bersih , harga makanan masuk akal, sistim pembayaran sama dengan di Raminten, setiap diantar makanan, langsung dibayar:)

sam_1445.jpg?w=300&h=200

foto bersama di Legend Premium (masih kurang 1 orang yang memfoto), hehehe

 

sam_1434.jpg?w=200&h=300

selfie dulu sama yang tidak masuk ke foto bersama, biar lengkap yang temani makan :)

 

waktu sudah malam, besok pagi pagi jam 2 subuh harus bangun, karena jam 3 subuh harus berangkat ke candi sewu untuk mengejar waktu ke Jumprit, bersambung ke hari selanjutnya……

Share this post


Link to post
Share on other sites

Hari ini , tanggal 02 Juni 2015, merupakan hari raya waisak , tentunya semua umat Buddha akan sibuk ke Wihara , candi, Cetya atau tempat kebaktian umat Buddha lainnya.

 

sebenarnya gaung waisak sudah dimulai dari 2 minggu sebelum hari waisak , mall mall yang biasa nya sepi dari acara waisak, semakin kesini, semakin banyak yang bikin acara untuk menyambut waisak, seperti "Vesakh goes to Mall" , "Vesakh in the mall" dan lain lain, saya tidak tahu kenapa pengelola mall harus pakai bahasa Inggeris, toh bisa pakai "waisak ke Mall" atau "Waisak di Mall" , keren juga khan , hehehhe

img_20150526_083557.jpg?w=300 panggung waisak disalah satu mall , acara diadakan sebelum hari waisak

Tapi bangga juga, mall mall sudah mulai memberi tempat dan meramaikan waisak, baik sebelum hari waisak, maupun setelah waisak masih ada mall mall yang membuat acara di mall

20150608-keindahan-waisak-bergema-di-mal acara waisak dimall , acara diadakan setelah hari waisak

Pagi pagi sekali, jam 02 subuh, saya sudah bangun, bersiap-siap berangkat ke candi sewu, mengejar waktu untuk ikut ke Jumprit mengambil air suci, barang-barang sudah siap, barang akan dipindahkan ke hotel dekat candi sewu, yaitu hotel srikandi yang sudah kita booking ,

 

Jam 03 subuh, berkat kebaikan pemilik Asahi Homestay, kami diantar pakai mobilnya ke candi sewu, udara pagi yang masih segar, membuat otak jadi segar, mata jadi ngak ngantuk tapi kesegaran pagi menghilang segera, gara gara pas sampai di hotel Srikandi>

 

Di telepon ke handphone yang diberikan, orangnya keluar, tapi dibilang kamar yang kami pesan sudah digunakan orang lain, gubraaaaaak, jeleknya management hotel, terus kami disarankan untuk ke hotel Srikandi yang satu lagi, karena hotel srikandi disana ada beberapa pas ke hotel srikandi satunya lagi, di ketok ngak ada yang buka, di telepon ngak ada yang angkat, perasaan kesal pagi pagi subuh ,

 

akhirnya telepon kembali ke nomor handphone tadi di srikandi pertama yang kami datangi , tapi handphone nya sudah tidak diangkat.

 

Karena berpacu dengan waktu, akhirnya buru buru kami ke hotel Galuh yang posisi agak jauh dari candi sewu, karena mengejar waktu untuk ikut ke jumprit jam 5, takut terlambat, untung hotel Galuh masih ada kamar ekonomi yang 4 ranjang, padahal kami cuma berdua, tapi apa boleh buat, terpaksa di ok in, ngak ada waktu buat cari. Terima kasih untuk pemilik Asahi homestay Yogyakarta sudah bersusah payah mengantarin kami cari hotel , walau subuh subuh, untung kami ngak jadi naik taxi, kalau naik taxi, pasti masalah besar :), taxi biasa khan sampai lokasi turunkan penumpang dan pergi:) Setelah bayar kamar di hotel galuh, kami segera minta diantar oleh pemilik Asahi homestay yang masih menunggu kami ke candi sewu, jam sudah menunjukkan 4 lewat 15 :), oh ya, hotel galuh ini ke candi sewu sekitar 2 km, karena tidak ada jalan tembus, jadi harus jalan memutar, jika ada jalan tembus, mungkin cuma 200 meter:) lanjut ke candi sewu dan jumprit :).......................................

Share this post


Link to post
Share on other sites

Akhirnya jam 04.30 kurang kami sampai di candi sewu, ternyata yang mau ke jumprit sudah berangkat, padahal disuruh kumpul jam 05.00, langsung boss hansen telepon bhiksu yang mau ikut kesana, ternyata mereka hanya sekitar 100 meter dari hotel, buru buru saya diantar panitia pakai motor ke lokasi.

 

saya dapat pemberitahuan bahwa mereka berangkat pagi pagi, karena takut macet, untuk mengejar acara sore di candi lumbung dan candi sewu, masuk akal sih.

 

Dimobil hanya ada saya, supir, dan seorang bhiksu, ternyata kelompok lain berangkat pakai mobil masing masing.setelah melalui perjalanan selama hampir 3 jam, sampailah kita di daerah mata air jumprit

img_20150602_065006.jpg?w=300 pintu gerbang mata air jumprit

sampai di lokasi, para bhiksu terlebih dahulu sarapan pagi yang tadi waktu berangkat belum sempat sarapan pagi, sambil menunggu jam 09.00 untuk acara pengambilan air suci di mata air jumprit

 

tepat jam 09.00 , upacara pengambilan air suci jumprit dimulai, pertama sekali pembacaan paritta, dilanjutkan dengan pemasangan lilin, dupa dan bunga

dscn0613.jpg?w=300 suasana upacara sebelum pengambilan air suci waisak

selesai kebaktian, para bhiksu mengambil air suci dengan kendi kendi, total ada 7 buah yang diambil oleh 7 orang

dscn0623.jpg?w=300 para Bhiksu (anggota sangha) sedang mengambil air suci di jumprit

setelah selesai acara pengambilan air suci, para Bhiksu / anggota sangha berkumpul melakukan kenduri dengan nasi tumpeng, sedangkan sebagian umat mandi di air pancuran tersebut (orang lagi mandi ngak di foto, takut di tuntut:) )

dscn0629.jpg?w=300 para anggota sangha (bhiksu) sedang melakukan kenduri dengan tumpeng , walau agama dari luar, tapi tidak lupa budaya daerah, yaitu budaya jawa dimana lokasi jumprit berada:)

Selesai pembacaan paritta dalam kenduri, para anggota sangha makan bersama dengan umat

dscn0632.jpg?w=300 makan bersama setelah kenduri

Setelah selesai makan bersama, kami pun balik membawa air suci untuk di semayamkan bersama sama api mrapen di candi Lumbung, nanti dari candi Lumbung bersama sama api mrapeng, nasi tumpeng, polowijo dan lain lain diarak dalam prosesi ke candi sewu

 

sesampainya di candi sewu, ternyata altar di candi lumbung sudah siap, ada tumpeng, ada polowijo, api abadi dari mrapen juga sudah siap

dscn0644.jpg?w=225 polowijo yang akan ikut prosesi :), foto lainnya lihat di facebook ku ya, hartono hasian facebook ku:)

setelah lihat lihat sebentar, saya balik ke hotel untuk mandi dan istirahat sebentar, karena mengejar waktu prosesi dari candi lumbung ke candi sewu

 

Nah, disini terjadi masalah, waktu kembali ke hotel, dikasih kupon buat snack dan minuman, dari lobby disuruh ke ruang makan  buat sarapan, dari sana di suruh ke bromo, dari bromo disuruh ke gazebo, dari gazebo suruh balik lagi ke ruang makan tersebut, akhirnya kami tinggal saja ngak jadi makan snack, agak mengecewakan.

 

maksud hati mau ngaso dulu, karena bangun jam 02 subuh tidak jadi dilaksanakan, akhirnya balik lagi ke candi, hari ini saya sama hansen tidak makan bareng, karena Hansen hari ini Vegetarian :)

lanjut ke prosesi waisak ...........................

Share this post


Link to post
Share on other sites

Dengan mata segar, dan dengan pakaian yang sudah diganti, bergeraklah kami kembali ke candi sewu

 

sampai di candi sewu ternyata umat sudah ramai sekali, pengurus Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Pusat dan pengurus Sangha Agung Indonesia (Sagin) Pusat juga sudah sampai lokasi, MBI dan Sagin adalah Keluarga Buddhayana Indonesia.

Pelaksana Waisak di candi Sewu adalah Keluarga Buddhayana Indonesia Jawa Tengah dan Yogyakarta, dan di koordinasi sepenuhnya oleh Sangha Agung Indonesia Jawa Tengah dan Yogyakarta

 

Dilapangan terlihat satah satu pengurus MBI Pusat sedang berbicara dengan MBI daerah, sambil bicara soal kartu anggota, indahnya kebersamaan dan jiwa melayani,

dscn0646.jpg?w=300 indahnya kebersamaan

Setelah itu, kami melihat para anggota sangha sedang melakukan foto bersama di altar utama , Ketua MBI Pusat ikut berfoto bersama , indahnya kebersamaan

dscn0656.jpg?w=300 foto bersama pengurus MBI Pusat dengan anggota sangha

kamudian melihat altar di candi sewu yang sudah siap untuk kebaktian waisak

dscn0661.jpg?w=300 altar utama di candi sewu

setelah itu, terdengar pengumuman , agar semua termasuk umat diminta bergeser ke candi Lumbung, karena acara prosesi akan segera dimulai

 

Candi Lumbung ini masih satu kompleks dengan candi prambanan dan candi sewu, jaraknya hanya sekitar 1 km dari candi sewu.

setelah berkumpul semua , acara prosesi waisak dari candi Lumbung ke candi sewu pun dimulai

 

Urutan 1 adalah Barongsai dan Liong, istilahnya Liong Samsi dari Vihara Metta Buddha , Sumbing, Wonosobo

dscn0680.jpg?w=225 barongsai dan liong,

seselanjutnya Marching Band dari Mahasiswa/i STIAB Smaratungga

dscn0682.jpg?w=300

 

selanjutnya bendera merah putih dan bendera Buddhist

dscn0683.jpg?w=225

 

selanjutnya barisan bhineka tunggal ika

dscn0684.jpg?w=300

 

selanjutnya barisan dupa , api, bunga, air dan manisan

dscn0685.jpg?w=300

 

selanjutnya para rohaniawan (bhiksu)

dscn0689.jpg?w=300

 

selanjutnya pengurus MBI

dscn0691.jpg?w=300

 

dibarisan selanjutnya adalah 3 anak yg penuh semangat dari sekber PMVBI

dscn0692.jpg?w=300

 

terus barisan pembawa tumpeng dan polowijo

dscn0693.jpg?w=300

 

barisan pembawa lampu abadi

dscn0696.jpg?w=300

 

para umat

dscn0699.jpg?w=300

 

Drumb band dari SMP Smaratungga

dscn0700.jpg?w=300

 

dan barisan pakaian tradisional

dscn0707.jpg?w=300

 

setelah selesai ikut prosesi waisak dari candi lumbung ke candi sewu, maka saatnya istirahat sebentar sambil menunggu kebaktian waisak :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

Setelah istirahat sebentar,sebagian beristirahat di tenda tenda yang sudah disediakan, sambil menunggu, saya ambil foto foto yang menurut saya cukup menarik

 

wah, perokok berat beraksi :) dscn0709.jpg?w=300

 

sungguh tidak berbudaya, merokok ditempat yang akan digunakan untuk acara keagamaan, tapi :

 

apa boleh buat
tai kambing bulat bulat
dimakan jadi obat
disimpan jadi jimat

 

kita kalau tegor, bisa bisa ribut kali disana, kwkwkwkw

 

ada juga satgas KBI yang membantu tertibnya acara di tempat acara :

 

dscn0673.jpg?w=150 satgas KBI

 

candi sewu dimalam hari , dengan di terangi cahaya, bagaikan candi yang terbuat dari emas

dscn0717.jpg?w=300

img_20150602_180106.jpg?w=300

 

Setelah puas melakukan foto memfoto, akhirnya acara kebaktian pun di mulai , umat yang hadir diperkirakan sebanyak 7,500 orang

img_20150602_184418.jpg?w=300

 

kebaktian dimulai dengan pembacaan paritta (theravada) , Sutra (mahayana) dan Mantra (Tantrayana) , bagi yang belum tahu, di agama Buddha juga ada aliran aliran , di Indonesia ada 3 aliran besar, yaitu Theravada, Mahayana dan Tantrayana, keluarga buddhayana Indonesia (KBI) dimana ke tiga aliran itu berkumpul dalam 1 kesatuan, walau dengan budaya dan cara berbeda, tapi tetap dalam kebersamaan, indah nya kebersamaan

 

Setelah itu dilanjutkan dengan penyalaan pelita oleh Sangha (Bhiksu)

 

Selesai kebaktian waisak, acara dilanjutkan dengan dharmasanti waisak

 

Dharmasanti waisak dihadiri oleh Sekretaris Ditjen Bimas Buddha Caliadi SH,MH, di dampingi Pembimas Buddha DIY Wisnu Widiyanto MM , Sangha Agung Indonesia Mahathera Nyana Suryanadi,DPP Majelis Budhayana Indonesia Drs.Piandi dan badan otonom WBI, Sekber PMVBI,tokoh agama Islam,Kristen,Khatolik , Hindu,kong hu cu, taoisme dan agama kepercayaan.

img_20150602_191715.jpg?w=300

 

Acara keseluruhan sangat sukses baik dari kwantitas yang hadir maupun kwalitas acaranya, sayang sekali, karena bangun jam 2 subuh , sehingga mata sudah tidak bisa bersahabat, sehingga saya meninggalkan tempat acara pulang ke hotel untuk tidur, tanpa mengikuti acara Pradaksina mengelilingi candi sewu dan detik detik waisak.

 

Keesokan harinya, bangun agak siang, mandi, sarapan pagi, dan siap siap ke bandara dengan mobil sewaan dari hotel, disini terjadi sedikit masalah, tadinya sudah pesan mobil sama hotel, terus dibatalkan karena panitia telepon beberapa kali mau antar ke bandara, akhirnya pesan lagi ke hotel , karenall panitia kelabakan mengantar tamu , jadi kita mengalah

 

sesampai di bandara, kami hampir salah naik pesawat, sama sama air asia, tapi cuma beda 1 jam, sebelum naik pesawat, buru buru sadar, akhirnya masuk lagi ke lounge

 

Setelah waktunya mau naik pesawat, memang jodoh karma lagi baik, ketemu Ketua Umum Majelis Buddhayana Indonesia di lounge, tapi cuma sempat say hello, karena mereka baru sampai,sedangkan kita mau naik pesawat

 

Bye bye Yogyakarta, Bye bye 7 hari 6 malam yang seru, sampai ketemu di moment yang akan datang :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

  • Similar Content

    • By Daniyah Isa
      Assalamualaikum 
      Salam kenal,
      Panggil saya, Nia
      Ini adalah pertama kalinya saya pergi ke LN dg mengurus semua keperluan sendiri. Biasanya, sdh terima beres dari kantor, karena memang ada urusan. Nah, destinasi yg saya pilih tdk jauh tp harus berkesan ! Melaka. Kota yg ditempuh dlm waktu 2 jam dari KLIA2. 
      Gimana caranya saya bisa sampai ke sana ? Inih dia, detailnya ;
      1. JKT-KLIA2
      Pesan tiket pesawat yg everyone can fly dari situs resmi. Lama waktu sekitar 2 jam, berangkat 10:10am sampai KLIA2 13:15pm.
      Di KLIA2, ikuti saja petunjuk arah yang ada, sambil ikuti arus kemana orang-orang pergi. Nanti, ada eskalator naik, lalu ada eskalator turun langsung ke tmpt imigrasi. Setelah keluar dari imigrasi, saya temukan mall dg counter-counter barang branded. Semacam Grand Indonesia, kalau di Jakarta.
      Buat yg terburu-buru sampai ke KL dg cepat, mgkn ada urusan meeting or apa, bisa lurus terus ke pintu keluar. Di samping pintu keluar ada loket pembelian tiket KL Ekspres, seharga 55RM dg waktu tempuh 33menit ke stasiun KL SENTRAL. Dari KL Sentral, bisa pilih kemana saja tujuan teman-teman yg mau dicapai. Ibarat di Jakarta nih, KL Sentral tuh Manggarai. 
      Tujuan wisata saya, dan teman saya adalah Melaka. Belajar dari blog dan bbrp artikel, butuh kendaraan bus utk sampai ke sana. Hanya bus saja, tdk ada kereta atau MRT yg menuju ke sana. Saya pun, turun lagi ke lantai G dg eskalator. Jangan takut kesasar ! Banyak petugas keamanan yg berjaga.
      Sampai di lantai paling dasar, ada sederet loket yang menjual tiket bus, taxi, sewa kereta (mobil). Langsung saja, membeli tiket bus Transnasional tujuan Melaka Sentral, seharga 24.10RM. Di tiket sudah tertera nomor tempat duduk, gate tempat menunggu. Wah, pokoknya tertib dan teratur! Meskipun busnya lebih bagusan DAMRI sih bagi saya, hehehe.
      2. Melaka dan Wisatanya 
      Selama 2 jam perjalanan dari KLIA2, sambil bengong-bengong liat pemandangan (apa bener gue di Malaysia? Ini mirip ke Ciawi yah ? Heheheh) yang membedakan tuh, sepanjang jalan lancar jaya. Mgkn supir bus kapalan nginjek gas, hehehe. Duh bahagia deh kalau Jakarta jalanannya kaya gini terus. Sampai tibalah saya di Melaka Sentral, ibaratnya Terminal Kp. Rambutan gituh. 
      Waduh, sepi banget ! Macam ga ada kehidupan. Bingung juga kan, mau ke hotel gimana ? Boro-boro kuota buat pesan taksi online, sinyal ajah ga dapat.
      Yaa, saya tanya ke petugas kebersihan, dan memang bus Panorama 17 tujuan Bangunan Merah, agak lama. Bukan karena macet yaa, ini karena jalanan di Melaka tuh Sehala (satu arah) jadi dia berputar dulu.
      Sejam menunggu, datanglah bus Panorama 17. Disinilah pengalaman dimulai, banyak yg Negor dan tanya "Indonesia ya ? Indonesianya mana ?" Agak bingung sih, ditanya begitu. Biasanya ditanya "Jawanya mana ?" Padahal sih, sama saja hehehe. 
      Saya menginap di hotel Hallmark Crown, 3H2M, seharga 147RM include Breakfest, free wifi. Wilayahnya dekat dengan mall Dataran Pahlawan, jalan kaki 10 menit lah. Jadi turun saja di Dataran Pahlawan, ongkos busnya 2RM saja. Hotelnya comfie banget ! Disetiap sudut ada galon. Jadi bisa refil sepuasnya, ditambah kulkasnya menyala dg sempurna. Wah, recomend deh!
      Saran utk teman-teman yg mau pesan hotel di Melaka, pesan di daerah sekitar Dataran Pahlawan (rate murah), Bangunan Merah, dan Jonker Street. Tiga tempat itu, sudah dekat banget kemana-mana. Jadi bisa jalan-jalan santai, foto-foto, interaksi sama penduduk lokal. Yg penting, rajin jalan kaki yaa, hehehe.
      Hari pertama saya mengunjungi Bangunan Merah, jalan kaki dari Hotel 15 menit. Melewati mall-mall Besar, dan rupanya ada carnaval becak hias, mobil hias dan barongsai. Jadi nggak berasa jauh dan capeknya.
      Di Melaka, ada yang saya lihat di maps Google itu jauh, ternyata dekatan. Menara Taming Sari, Bangunan Merah, Jonker Street dan River Cruise. Yang jauh, cuma Masjid Selat Melaka. Masjid Selat Melaka memang harus menggunakan taksi online, karena jaraknya terpisah dengan daratan Melaka kota dan masuk ke kompleks perumahan. 
      3.Kuliner dan Oleh-oleh Melaka
      Sempat bingung mau makan apa di Melaka. Hari pertama saya sampai di Melaka, sudah malam dan banyak yg tutup. Masa iyah sih, jauh-jauh ke Melaka, makanya McD? Nggak ada nasi lagi. Akhirnya mampir ke 7Eleven (horeee, Nemu 'sevel !) Beli nasi lemak instant dan mie instan. Lupa berapa harganya, tapi cukup menahan lapar. Serius deh, sebenarnya nggak lapar-lapar banget ! Cuma karena nggak mau masuk angin ajah.
      Terakhir perut diisi sama sandwich Subway yg beli di KLIA2. Hufh, gara-gara ngincer destinasi wisata jadinya lupa makan. 
      Hari kedua, masih hunting foto disekitar Bangunan Merah, Taming Sari, River Cruise. Cerah banget langit di Melaka, dan udaranya juga segar nggak ada polusi (kapan Jakarta begini ? Mungkin ga yah ?). Di samping Bangunan Merah, ada tangga menuju bukit. Diatasnya bangunan reruntuhan yang menghadap lautan lepas. Keren banget !!! Duduk-duduk saja sambil lihat pemandangan. 
      Oh Iyah, untuk beli oleh-oleh seperti gantungan kunci, kaos tulisan Melaka, tas Melaka, tempatnya di Medan Samudera. Tenang, ga jauh kok ! Ga perlu nyebrang. Dari Bangunan Merah, ambil sisi kanan dan lurus terus sampai lihat bangunan kapal pesiar. Nah di sana, yang paling murah ! Kaos dapat 10RM, gantungan kunci dapat 8RM, 6 gantungan kunci. Meski di Bangunan Merah juga ada lapak yang menjual, lebih baik beli di Medan Samudera, karena harganya lebih terjangkau. 
      Selain beli oleh-oleh, di tempat ini ada warteg Melayu loh ! Syukurlah, ada warteg juga. Awalnya sempat underestimate gitu. Makanannya mirip makanan warteg, dan ga lebih menarik dari warteg Jakarta. Karena Nggak enak sama Ibu penjualnya, yg tiba-tiba udah nyendokin nasi, mau ga mau dibeli. 
      Yaa sayur tumis kacang panjang dan ayam goreng jadi menu makan siang. Pas dimakan, enak ! Ini karena efek capek mungkin yaa. Minum air mineral, biar nggak makin haus. Tadinya sih mau makan nasi Briyani dan teh tarik, tapi dia hanya jual di hari Minggu. Seporsi makanan warteg Melayu cuma 6RM. Waah, amazing ! akhirnya bisa menghemat, heheheh.
      Lepas makan, lanjut belanja-belanja di sekitar Medan Samudera. Biasa, buat yang dirumah, mau dibeliin kaos dan gantungan kunci utk disebar, hehehe. Jalan lagi ke Bangunan Merah, baru ketemu kedai es cendol. Katanya sih, es cendol di Melaka itu khas banget. Yaudah, saya beli yang es cendol kacang merah. Rasanya ??? Waah, enak banget !!! Pass buat saya yang ga terlalu suka manis. Kuah santannya gurih, cendolnya segar dan kacang merahnya manis. 
      Wah, okeh banget lah ! Rencana kalau ngidam, maunya ngidam es cendol Melaka. Hahahah
      Menjelang sore, saya bersiap menuju Mesjid Selat Melaka. Menikmati sunset sambil menunggu waktu magrib. Magrib di Malaysia, setengah tujuh. Tapi langitnya seperti setengah enam, Jakarta. Waktu di Malaysia tuh cepat banget ! Mungkin ini planet Merkurius, satu menit tiga puluh detik. Semua terasa cepat.
      Saya dan teman-teman menuju Masjid Selat Melaka menggunakan taksi online. Sampai di sana, waah indah banget ! Lebih indah dari foto-foto Google. Garis cakrawala sudah menyapa di langit. Air laut biru bersih tanpa sampah. Saya berdiri di halaman belakang Masjid menatap langit sore. Diterpa angin laut, dan ada beberapa wisatawan lain berlalu-lalang. Sayang, lagi nggak sholat Magrib di sini. 
      Akhirnya cuma nunggu teman yang sholat Maghrib, sambil jaga sendal hahaha.
      Malam terakhir di Melaka, saya menuju rumah makan Eeji Ban Chicken, penjual makanan khas Melaka. Ada Rice Balls, Asam Pedas, Nasi Lemak, harganya pun terjangkau. Berkesan makan ditempat ini, karena rumah makan Eeji Ban recomend dari supir taksi online. 
      4. Check Out Melaka
      Hari terakhir di Melaka, saya merasa sedih banget ninggalin tempat ini. Padahal rumah ini kampung orang, negeri orang, huhuhu. Nggak mau repot karena tas udah beranak, jadinya saya dan teman-teman naik taksi online ke Melaka Sentral.
      Di Malaysia pada umumnya, jarang ada sirik-sirikan or persaingan. Contohnya di terminal Sentral Melaka. Tadinya mau naik bus Delima,  bus terkenal dikalangan blogger yg pernah kesana. Tapi sama kenek Delima, disuruh ke bus satunya lagi yg kurang eksis. But its OK ! Yg ptg sampai, heheheh.
      Dua jam perjalanan menuju terminal bus TBS (Terminal Bersepadu Selatan), amazing !!! Terminal Bus rasa Bandara Terminal 3. Bersih, tertib, rapi. Dibawahnya, ada stasiun menuju KL Sentral. 
      5. Sehari di Kuala Lumpur 
      Berhubung pesawat tengah malam, jadi siang masih bisa jalan-jalan sebentar di Kuala Lumpur. Hunting foto di KLCC, Dataran Merdeka dan jalan-jalan ke Mall *lagi. 
      Dari Terminal TBS, naik KL transit ke stasiun KL SENTRAL seharga 6.5RM. Dari KL SENTRAL, bisa ke Batu Caves, KLCC, Mesjid Jamek, KLIA2. Ada peta seperti peta yang ada di halte Transjakarta, di sana juga ada petugas yang membantu dan menanyakan "Can i help you ?" So, tak perlu takut tersesat. 
      Stamina udah low, meski cuma naik turun kendaraan umum tp cukup bikin lemas. Selain makan, kita juga butuh vitamin, kalau capek lebih baik istirahat.
      Di KL SENTRAL, ada loker penitipan dg kunci sensor wajah. Jadi kita ga perlu deh tengteng tas beranak kesana kemari. Harganya 20RM utk loker kecil dan 30RM utk loker besar. Sangat disarankan berpergian sama teman, biar segala biaya bisa ditanggung bersama. Tapi milih juga yaa, teman yang gimana buat diajak jalan jauh. Apalagi, ke LN yg jalan kakinya jauh-jauh.
      Baiklah, itu pengalaman pertama saya traveling ke Melaka, Malaysia. Saya sangat suka tempat itu, lebih indah dari yg saya bayangkan. Terutama yg hobi fotografi, ini banyak spot-spot bagus di Melaka. 
      Oh Iyah, makasih banyak buat Mba Vira. Mgkn dia jarang aktif di forum ini. Saya pun juga newbie. Ketemu jalan2.com karena random ajah, hehehe. Lagi bosen, drpd stalking sang EX atau baca berita hoaks, iseng-iseng cari soal Melaka. Tiba-tiba muncul situs ini, dan saya kenalan sama Mba Vira. Nggak ada sedikitpun curiga bakal gimana nnt disana, tinggal jalan ajah. Hehehe
      Nah buat teman-teman, semoga tulisan saya membantu dan jadi referensi kalau kalian mau ke sana. Ingat, No need bilang, barang ini murah atau mahal. Soalnya beda "Peradaban".
       








       
    • By seyakasamira
      Lalala-yeyeye..Setelah menunggu selama 7 Bulan lamanya, akhirnya nemu juga 5 orang korban lain (*eh?!) yang bersedia nge-trip bareng ke sini..uwowww jd terharu sayaa..  so, langsung saja..
      Day 1.
      Kita berangkat hari Jumat tgl 26 Sept'14, naik pesawat TriganaAir dari Jakarta menuju PangkalanBun. Sesampainya disana langsung dijemput oleh Tour Guide kami (Pak Andreas dari Yobel Tour), dan kita dicarterin taxi untuk menuju pelabuhan Kumai dengan jarak tempuh yg lumayan singkat yaitu 30 menit saja..Da..engingjrennggg... langsung terkesima dengan kapal yang akan kita kendarai selama 3 hari 2 malam mendatang..huhuhu..ga nyangka kapalnya oke banget,bersih dan ga se-prihatin yg saya bayangkan (mulai norak).
       
      Jadi awak kapal terdiri dari 1 orang kapten kapal, 1 orang crew kapal, 1 orang juru masak, dan Pak Andreas sbg Tour Leadernya. Kapal yg populer dinamakan kapal kelotok (karena bunyinya klotok..klotok..klotok) ini cukup luas buat kami ber 6 plus 4 orang awak kapal. Ada 2 dek, dek bawah itu untuk aktivitas awak kapal (buat nahkodanya, tempat menyimpan kasur2 tamu, tempat masak, dll). Dek atas disediakan untuk tamu. Fasilitasnya juga Ok bgt, kamar mandi pakai shower dan ada closet duduk, disediakan meja makan, ada balkon dengan 2 kursi leyeh2 untuk berjemur (what?berjemur??udah ky areng ginih -____- ! ) Oiya, jangan sedih..kita dapat 3x makan dan 2x snack dalam 1 hari. dan masakannya sungguhlah berlimpah dan super yummy..





       
      Di hari pertama ini kita langsung menuju Tanjung Harapan untuk lihat feeding time nya orangutan. Trekking masuk hutan sekitar 1 km dan sesampai di tempat feeding cuaca mulai mendung dan turunlah hujan. Eh, ternyata disana sudah menunggu beberapa rombongan tourist yg mau lihat proses feeding time ini. Dan dikarenakan wisata tanjung puting ini lebih populer atau diminati tourist luar, maka pemandangan disini adalah bule bule semua   . Disini kita menunggu ?-/+ 30 menit hingga orangutan yg masih ngumpet pada mau turun dari atas pohon menghampiri "panggung" yg berisi pisang2. Beruntung kita bisa melihat orangutan yg muncul dikarenakan kalau hujan biasanya mereka prefer leyeh2 di atas pohon (macam manusia yg kalo hujan lebih senang nedekem di rumah). Uwoww, beda lho rasanya ngelihat orangutan di ragunan/taman safari dengan orangutan disini. Kalo disini ada perasaan degdegan kalo mereka melintas dengan tubuh besarnya itu. Dikarenakan orangutan liar belum terbiasa disentuh oleh manusia (tdk sperti kbon binatang di jakarta), maka juga ada anjuran jangan sembarangan memberi makan orangutan, jangan berdiri diantara orangutan jantan dan betina, jangan bersuara terlalu keras/ribut yg akan mengganggu ketenangan orangutan dan beberapa rambu2 lainnya.







       
      Diperjalanan pulang, ketika melintasi sungai sekonyer kita bisa melihat sekawanan bekantan di kiri dan kanan pepohonan, kalau beruntung bisa melihat buaya pula. Dan saya beruntung melihat buaya dengan mata merahnya sedang mengincar mangsa.
      Malam harinya kita ber candle light dinner dengan lauk ikan nila bakar, tumis kangkung, tempe goreng, uhmm apa lagi ya lupa hehehe dan ditutup dengan dessert potongan buah mangga. Bener2 beruntung dapet chef yg jago masak.  Setelah kenyang, kapal menuju tempat dimana kita bisa melihat kunang2 dimana-mana..woww ga bisa dilukiskan dengan kata2 kita lihat pemandangan sejuta bintang dan kunang2 yg seprti pohon natal di kiri kanan kita..(sayang ga bisa ke photo). suasana malam hari disana sangat sunyi dan syahdu. Hanya ada suara jangkrik dan serangga2 lain yg bersahut2an dan Anyway kita tidur disediakan kasur beserta kelambu..Thanks God we had a marvellous momment and unforgettable experiences.
       
      Day2.
      Yang biasanya pagi2 di jakarta dibangunin sama kokok ayam, eh jangan sedihh disini kita subuh2 dibangunin sama suara bekantan jejeritan yg sedang bersendagurau..woww so sweet bgt ga sih dibangunin suara monyet.. hehehe..Setelah sarapan nasi goreng ikan asin yang banyaknya naujubilah (tapi abis dan kenyang) dan ngeteh2 cantik, maka berangkatlah kita menuju Pondok Tanggui dan dilanjutkan ke Camp Leakey. Di Pondok Tanggui trekkingnya seru, byk spot2 lucu buat foto2, nemu tumbuhan kantong semar, rayap, akar liana, dll tapi sayang setelah menunggu selama 1 jam, orangutannya ga ada yang mau turun di tempat feeding. Mungkin karena masih pagi dan byk bgt wisatawan yg berkunjung kesana jadi mereka malu-malu mau gitu kali ye..







       
      Perjalanan dilanjutkan ke Camp Leakey, pusat rehabilitasinya orangutan. Perjalanan lumayan jauh sekitar 8 km, namun pemandangannya mulai berubah, pohon2 lebih rindang, kiri kanan bisa lihat burung kingfisher, lihat buaya dan biawak berenang, pokoknya settingannya mirip film annaconda deh ngeri-ngeri sedap gitu heheheh.. dan air sungai berubah menjadi lebih jernih dan berwarna hitam. Warna hitam dikarenakan dasar tanahnya gambut namun bening sekali. Sampai bisa ngaca dan hasil fotonya mengagumkan bgt,krn pohon2 yg terpantul di air seperti ada reflection effectnya.  Begitu menginjakkan kaki disini, kita disambut oleh kedatangan Siswi, orangutan betina dewasa yang dari kecil sudah diasuh disini. Dikarenakan hujan, dia mulai ngumpet2 nyari tempat berlindung dan menutupi kepalanya dengan mencabut2 dahan2 yg ditumbuhi banyak daun. Uwoww lutunaaa.. Perjalanan ternyata masih panjang. Pak Andreas mengarahkan untuk ambil jalur masuk hutan sambil lihat2 tumbuhan endemik yang ada di hutan sini,jadi sekitar 1,5 km untuk sampai ke tempat feedingnya orang utan. Beruntung bisa lihat beberapa orangutan,uwa-uwak,squirel yg ke "atas panggung" buat ambil makanan. Yang menyenangkan lihat proses feeding ini adalah, kita jadi tahu gimana cara manggil orangutan supaya turun, gimana liat proses mereka bergelayutan dari pohon ke pohon, gimana cara mereka mengupas pisang dan memasukkan ke mulut, gimana cara ibu orangutan memberi makan anaknya, gimana mimik muka/ekspresi mereka mengendap2 atau mencuri makan lalu kabur, dan banyak lagi tingkah laku kocak lainnya. Adapula kedatangan babihutan yang ikut meramaikan suasana. Setelah sekitar 2 jam muncullah orangutan yg kita tunggu2 yaitu Tom, the king of Camp Leakey. Ya, si Tom ini penguasanya. Selayaknya raja, binatang lain akan mundur atau menyingkir ketika rajanya datang dan membiarkan si raja menghabiskan makanan yg disediakan. Jika ada orangutan dewasa disekitar sana yang dirasa mengancam kedudukannya, serta merta akan terjadi baku hantam disana. Hampir saja kami melihat proses baku hantam itu, yaitu ketika Ponorogo (salah satu orangutan dewasa ) terbirit2 dikejar oleh Tom karena lebih dahulu mengambil jatah makanannya. Namun sayang tidak terkejar dan Tom kembali duduk di singgasanannya sambil minum susu. Ya, makanan yg disediakan oleh Ranger hutan (petugas yg memberi makan orangutan) itu biasanya adalah pisang, tebu, dan susu dancow. wow. hehehe..Perjalanan trekking pulang, kita dihampiri juga oleh orangutan remaja bernama Gajah Mada. Serem ya namanya, tapi ternyata unyu2 gitu penampilannya hihihi..

      siswi

      the team
      Tom
      Gajah Mada
       
      Day 3.
      The Last Day, pagi2 seperti biasa kita dibangunkan oleh sekawanan bekantan, namun kali ini pemandangannya bekantan lagi pada lompat-lompat main air, ceritanya mau nyebrang pohon melintasi sungai, cuman ada aja jatoh2nya di sungai.. LUCU BGT, tapi ga sempet kefoto saking terseponanya. Oia, karena kita malam itu kapal berlabuh di pinggir rawa2 masih dekat Camp Leakey, maka paginya pun kita juga dibangunkan oleh kikikan burung kingfisher, iya kikikkan bukan kicauan karena ternyata suaranya macam kuntilanak yg lagi ngikik. hiiiii...
      Sepanjang perjalanan pulang ke pelabuhan kumai, puas2in berjemur (literally berjemur, panas sih untung byk angin dan hewan kece) demiii menikmati pemandangan yang sebentar lagi akan kami tinggalkan huhuhu..
      Jam 12 siang kami sampai di bandara pangkalan bun dan belum siap move on untuk menghadapi hiruk pikukknya jakarta
       
    • By silvia_win
      Penang, Hatyai family trip Jun 2018
      Liburan sekolah kali ini sebenarnya agak malas jalan2 berhubung dollar lagi mahal...
      Iseng browsing tiket, ketemu tiket air asia jakarta penang pp 500 rb (promo big poin) ada 3 seats (3 tiket jakarta penang pp seharga 1.5 jt), hmm lumayan lah,  lalu beli 2 tiket lagi sekitar 3 juta (sudah termasuk 1 bagasi 20 kg pp) . Kami sekeluarga berangkat ber5 dari jakarta + papa mama yang berangkat dari medan.
       
       
       
       
      Day 1 Jakarta-Penang
      Sampai di Penang booking airport taxi dari airport ke Hong Ping Hotel. (400 rb quad room)
      Setelah check in naik taxi ke mall di sekat hotel untuk lunch, di daerah komtar ada berapa mall, tapi umumnya mallnya tidak besar.
      Setelah makan siang pulang ke hotel untuk istirahat, lalu dengan petunjuk peta dari hotel saya berkeliling di objek wisata street art yang letaknya tidak jauh dari hotel. Street art berada pada jalanan kecil/ gang berupa gambar mural di dinding rumah warga yang kebanyakan adalah bangunan tua. Sepanjang jalan banyak toko2 souvenir, makanan, sewa sepeda, rumah makan, juga banyak rombongan turis. Selain gambar mural juga terdapat gambar art dari besi yang dijadikan nama jalan dengan gambar menarik. Saya menelusuri jalanan dengan mural art yang berujung ke dermaga kuno di chew jetty, dermaga yg sudah ada sejak pertengahan abad ke 19, ada beberapa jetty di sana yg masing2 mewakili marga warga yg tinggal di sana yang datang dari China. Jetty di sana dari kayu dan rumahnya adalah rumah panggung dari kayu.
      Malamnya kami makan di street food di depan hotel. Di depan hotel ada banyak street food yg buka dari sore hingga larut malam.
       
       
       
       
      Day 2 Penang tour.
      Hari ini sewa mobil untuk jalan2 di penang (rm 45/jam untuk yg 7 seats, sewa di travel dekat hotel, sebelumnya tanya di hotel katanya adanya yg 10 seats rm 60/jam), kami berangkat siang, karena paginya mama mau mcu ke rumah sakit.
      Siang saat berangkat turun hujan, supir rent car mulai promo toko souvenir, berhubung hujan saya iyain saja, mampir ke toko coklat, kopi, teh dll, yang harganya mahal... tentu saja tidak beli apa2, hanya cicip cicip saja, emang enak sih sebanding dengan harganya.
      Stop 1 : Sleeping Buddha temple, vihara ini letaknya di tengah kota.
      Stop2 : Kek Lok Si temple, vihara yang terletak di daerah perbukitan, kami di drop di bagian atas, di sini  ada tempat pemujaan dan terdapat patung besar dewi Kuan Yin, dari sini juga bisa dilihat pemandangan kota penang. Setelah menikmati pemandangan, kami naik sky lift (@rm2) untuk turun ke pertengahan kompleks bangunan vihara yang terdapat objek wisata pagoda sepuluh ribu Buddha. Dari sini naik sky lift lagi turun ke parkir bawah.
      Stop 3 : Batu Ferringhi, supir mengusulkan kita ke bukit bendera yang tidak jauh dari kek lok si, tapi saya tidak berminat, sebelumnya di kek lok si sudah cukup lama  melihat pemandangan kota dari atas bukit, memang objek wisata di bukit bendera mungkin akan berbeda dengan kek lok si, tapi berhubung tidak banyak waktu saya lebih memilih pergi melihat pantai. Batu Ferringhi letaknya cukup jauh dari Kek Lok Si, perjalanan satu jam lebih, kami sampai di sana menjelang sun set, main bentar di pantai dan menikmati sun set, saya merasa pantainya biasa2 saja, pasirnya terasa agak kasar.
       
      Day 3 Penang-Hatyai
      Hari ini kami berangkat ke hatyai,  kami memesan tiket van penang hatyai pp di hotel @rm70 (dijemput di hotel penang dan didrop di hotel di hatyai). Berangkat jam 9 pagi, berhubung kami pertama dijemput, tentunya kami memilih tempat yang nyaman sesuai selera masing2. Seatnya cukup lapang dan nyaman, tidak lama kemudian perjalanan kami melewati jembatan pulau penang, jembatan yang panjangnya 13.5 km merupakan land mark penang yang pemandangannya sangat indah. Jalan dari penang ke hatyai cukup mulus, sebelum sampai di imigrasi perbatasan malaysia, supir berhenti di satu pos untuk mengisi formulir, kami perlu membayar formulir @rm2, lalu perjalanan dilanjutkan ke imigrasi malaysia keluar lalu masuk ke imigrasi thailand, dari perbatasan thailand ke kota hatyai, kami singgah di kantor travel, untuk di data mau di drop di hotel apa, di sini saya menganti jadwal kepulangan kami, di mana 2 di antara kami ingin pulang besok sore. (staff travelnya tidak masalah ganti waktu dia mencatat perubahan jadwal di catatannya). Kami lalu di drop di hotel (Siam Hotel harga 300 ribu untuk kamar ber2). Hotel ini cukup besar dan punya banyak kamar. Kami mendapat kamar di tingkat 13, pemandangan dari kamar cukup indah dengan pemandangan gunung dan kota hatyai).
      Setelah check up keluar cari makan siang, jalan kaki ke lee garden plaza hotel di mana di sini byk toko, mall, pasar dll, mall di sini tidaklah besar, kami masuk ke mall ke food court cari makan dan ke supermarket lihat2. Makanan di mall harganya sekitar 50-60 bath, makanan thailand sangat sesuai dengan selera. Setelah makan ke supermarket belanja bumbu tom yam dll, saat bayar saya menanyakan kasir di mana ada money changer, seorang pengunjung berbaik hati mengantarkan kami ke money changer yang ada di dekat sana, money changernya cukup ramai dan di sampingnya ada travel, kebetulan lagi mau cari car rental, lalu saya rent car 10 seats seharga 2000 bath (+wajib asuransi 30 bath/orang), sebenarnya kami ber7, ada yang 7 seats seharga 1700 bath, tapi saya request yg chinese speaking driver, katanya supir yang 10 seats bisa, yg 7 seats ngga bisa.
      Setelahnya saya kembali ke hotel untuk isitirahat, sorenya kami keluar untuk dinner ke lee garden plaza hotel lantai 33 buffet resto. Harga makan buffet di sini tidak mahal, dewasa @169 bath, lansia@119bath, anak kecil @69 bath. Makanannya cukup banyak dan enak + aneka kue, buah, minum, es krim. Juga pemandangan yang indah dari lantai 33 membuat kami betah lama di sini. Dari pemandangan langit terang, sun set ke langit gelap dengan lampu di bangunan kota hatyai, sungguh merupakan dinner yang berkesan bagi saya.
      Selesai dinner kami mengitari sekeliling lee garden hotel plaza yang banyak terdapat toko2, kuliner, dll. Kulinernya cukup mengiurkan tapi perut sudah kenyang cuma lihat2 dan berpikir besok baru coba.
       
       
       
       
      Day 4 Hatyai Tour
      Berhubung tidak ada sarapan di hotel, pagi saya keluar mencari sarapan, ternyata di dekat hotel ada pasar pagi, pasarnya cukup besar dan ada aneka sarapan, pemandangan menarik di pasar ada bhikkhu2 melakukan pindapata (mengumpulkan sumbangan makanan dll). Rombongan bhikkhunya cukup banyak ada juga yang usia muda juga rombongan bhikkhuni, umat yang memberikan makanan juga cukup banyak, baik penjual maupun pengunjung pasar. Saya sangat tertarik untuk mengitar lama di pasar, banyak kue2 dan barang jualan lain yang memikat, tapi berhubung waktu tidak banyak, saya membeli aneka sarapan dan buah leci, lalu pulang ke hotel membagikan sarapan dan makan sarapan. Kue2 dan sarapan yang dibeli sangat enak, makanan thailand emang cocok di lidah dan harganya pun cukup murah. Lalu bersiap2 turun ke lobi menunggu car rental yang dipesan kemarin.
      Ternyata yang datang mobil 7 seats dengan driver yang hanya bisa berbahasa thailand, saya tel tanya ke travelnya katanya yg 10 seats lagi tidak available, ya sudahlah...
      Saatnya saya memakai keahlian bahasa isyarat... : ) , pertama saya minta supirnya berhenti di 7-11, mau beli air minum, saya malas beli di pasar tadi bawanya berat, lalu dia tanya kami mau ke mana, saya jawab wat (temple).
      Stop 1 : Sleeping Buddha temple : wat ini mempunyai satu patung buddha tidur di dalamnya. Setelah melihat2 saya duduk2 di kedai minum kelapa, supir mengeluarkan selembar brosur dengan foto2 tempat wisata dan menanyakan mau pergi ke mana, saya pun memilih beberapa tempat wisata yang kelihatannya besar. Berhubung mau kembali ke hotel sekitar jam 2 sebenarnya kami juga tidak berencana pergi ke banyak tempat.
      Stop 2 : Pantai samila (mermaid statue) : pantai ini terdapat patung putri duyung yang merupakan ikonnya, walau cuaca panas di sini terdapat kursi2 dan tempat teduh di bawah perpohonan di sepanjang pantai, pantainya bersih dan pasirnya halus.  Saya betah duduk agak lama dan berjalan di pasir di pantai.
      Stop 3 : 4 face Buddha (kalau tidak salah) : berhubung jalan ke sananya naik tangga, kami malas pergi, hanya singgah bentar.
      Stop 4 : Standing Buddha temple (Phraj Buddha Mongkol Maharaj) : vihara di atas bukit dengan patung besar Buddha berdiri. Di sini bisa melihat pemandangan dari atas bukit, di samping vihara ada halte cable car dan coffee shop, kami duduk2 ngopi dan melihat pemandangan kota.
      Stop 5 : Kuan Yin temple : vihara dewi kuan yin ini letaknya tidak jauh di bawah standing buddha temple, terdapat patung dewi kuan yin warna putih
      Berhubung waktu sudah siang, kami bersiap pulang ke hatyai.
      Diperjalanan ada melewati yang jual durian, saya tanya ke supir berapa harga durian di sana, katanya harganya 400 bath, cukup mahal juga harganya.
      (saya tertarik belajar bahasa thailand, sebelum pergi saya sempat belajar sedikit bahasa thai di youtube, tapi cuma bisa mencerna sedikit tentang angka dan greeting, lumayan juga bisa di pakai di pasar) 
      Ternyata perjalanan pulang ke hatyai cuma sekitar setengah jam, kami meminta supir mengantar kami makan siang, minta di antar makan tom yam kung, dia mengantarkan kami ke sebuah resto untuk makan siang, yang mana makanannya enak dan tidak mahal, yang paling berkesan tentu saja tong yam nya, juga ada lauk dari daging kelapa yang ditumis, yummy... (kalau teringat makanan thailand sering ingin balik ke thailand)
      Setelah makan siang kami kembali ke hotel, papa mama bersiap2 mau pulang ke penang duluan, berhubung mau wisata rumah sakit di penang katanya.
      Saya berjalan kaki ke travel tempat saya pesan sewa mobil, minta refund selisih harga mobil, lalu kembali ke hotel duduk2 di lobby temani ortu tunggu jemputan travel untuk kembali ke penang. Di Siam Hotel tempat kami tinggal, internetnya hanya ada di lobby, tidak ada di kamar.
       
       
       
      Saya ingat saat ini saya membaca sebuah berita ttg tim sepak bola remaja thailand yang hilang yang mana sampai saya pulangpun belum ditemukan, dan akhirnya mereka berhasil keluar dengan selamat. Sekalian saya post di sini sebuah dokumentasi ttg thai cave rescue sebagai note saya.
        https://www.youtube.com/watch?v=x_kiX0uUDNI
       
      Ada beberapa tuk-tuk (songthaew) yang stand by di hotel dan menawarin untuk mengantar jalan2, lagi malas jalan jauh, sore shopping ke mall dan toko sekitar hotel (lee garden plaza hotel) .
      Day 5 Hatyai-Penang
       Pagi mampir ke pasar pagi lagi, membeli sarapan, juga membeli pete kupas buat di bawa pulang.
      Lalu perjalanan hatyai kembali ke penang.
      Sampai di penang istirahat di hotel, sorenya jalan2 di sekitar hotel ke mural art street, chew jetty melihat sunset di sini lalu makan di food court di seberang chew jetty, food courtnya besar dan banyak makanannya.
      Day 6 Penang-Jakarta
      Pagi berangkat dari hotel ke airport, booking airport transfer dari hotel seharga rm 70 untuk mobil 10 seats. Supirnya membagikan kartu nama dan menawarkan car rental bisa dibooking untuk ke hatyai katanya, saya tanya harganya katanya tergantung hotelnya. Saya tanya harga kalau keliling penang, katanya rm30/jam... lumayanlah buat next time...
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       




    • By Hanzo Urang Ciwidey
      Izin Admin buat FR lagi meskipun ya ini perjalanan ane 3 bulan yang lalu 
       
      Berawal dari salah satu ajakan dari Hima kampus untuk menjadi petunjuk arah jalan-jalan one day trip menyelusuri cianjur selatan selama 1 hari full maka pada awal tahun 2015 ane sepakat berangkat bareng hima kampus untuk menelusuri cianjur selatan memakai motor dengan jarak yang di tempuh sekitar 200km pulang pergi.
       
      Berangkat : ciwidey-parigi-pantai jayanti-rancabuaya

       
      pulang : rancabuaya - cisewu - pangalengan - ciwidey

       
      07:00
       
      pagi2 ane langsung siap2 nyiapin motor untuk menunggu teman-teman Hima dari Bandung yang berangkat jam 5 shubuh dari sana "untuk menanggulangi macet di karenakan liburan tahun baru area ciwidey dan sekitarnya pasti macet parah".
       
      Ciwidey di pagi hari

       

       
      teman2 dari kampus sudah pada dateng

       
      Setengah jam kemudian setelah dari Hima kampus sampai di meet point dan mengecek persiapan kita dari bensin dan perlengkapan lainya kita pun berangkat, jarak yang dilalui memang termasuk unik awal-awal kita memasuki dataran tinggi melewati Perkebunan teh rancabali sampai ke perbatasan Kabupaten Bandung dan Cianjur lalu di lanjut melalui hutan-hutan kecil dan lembah2 yang di kelilingi oleh banyak air terjun sehingga kerap jalan yang kita lalui ini suka disebut jalan seribu air terjun.
       
      Armada + peralatan tempur   

       
      Kebun Teh Rancabali

       

       

       
      Pondok Datar  "pemandanganya lebih keren dari tebing keraton"   

       

       

       

       
      tugu perbatasan Kab Bandung dan Kab Cianjur "selamat datang ke jalur 1000 air terjun

       
      Air terjun dimana-mana     
       

       

       

       
      Curug Ceret "air terjun yang persis di pinggir jalan"   

       

       
       
       
      mungkin karena teman2 ane yang dari Hima kampus belum terbiasa perjalanan jauh maka kita pun beristirahat dahulu di salah satu warung baso di pinggir jalan sambil mengisi energi karena setelah jalur 1000 air terjun abis perjalanan berlanjut ke turunan hingga sampai pantai jayanti.
      Istirahat dlu bray 



       
      Perjalanan di lanjut banyak turunan bray

       
       
       
      Jam 11 pas akhirnya kita sampai juga di Cidaun kampung pesisir di cianjur selatan yang lebih terkenal dengan pantai Jayanti cuman sayang peran dari pemerintah sepertinya belum optimal sehingga fasilitas di pantai ini bisa disebut kurang memadai.
       
      Pantai Jayanti

       

       

       

       
       
       
      hanya 1 jam setengah kita di pantai jayanti ini karena tujuan utama ke rancabuaya maka perjalanan pun dilanjutan dengan menyulusuri pantai kita menuju rancabuaya , jalan yang lurus dengan disisi kanan jalan adalah pantai di sepanjang jalan menemani kita dengan jarak tempuh dari pantai jayanti ke rancabuaya selama 30 menit dan kita juga harus melintasi kabupaten cianjur karena rancabuaya masuk ke Kabupaten Garut
       

       

       

       
      Sampai juga di rancabuaya

       

       

       

       
      tidak terasa waktu sudah menunjukan sore hari.... supaya tidak kemalaman di jalan maka dengan berat hari kita pun harus berangkat pulang kali ini untuk pulang kita tidak mengambil jalan yang sama tapi jalan ke arah cisewu jam 4 kita sudah packing sudah siap2 sudah pulang.
       
      Perjalanan pulang

       

       
      Perbatasan Kab Garut - Kab Bandung "pangalengan"

       
      Kabut bray

       
      dan akhirnya setelah kurang lebih 9 jam berkendara (tidak termasuk berhenti dan main di lokasi) ane pun sampai kembali ke rumah pada jam 8 malam pengalaman yang tidak terlupakan karena dengan motor ane yang kapasitas tangki cuman 2 liter dan harus beberapa kali isi bensin tapi liburan di awal tahun 2015 sangat puas.
       
      kapan2 kalau ada yang mau one day trip lagi ane siap nemenin 
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       








    • By Mulyati Asih
      Sayup-sayup terdengar teriakan dari bangku depan mini bus yang kami tumpangi.
       
      “Sudah sampai jangan lupa ongkosnya sepuluh ribu ya,” suara mas Budi membangunkan tidur saya.
       
      Perjalanan satu jam dari Gombong ke desa Candirenggo sengaja saya manfaatkan untuk tidur, maklumlah di perjalanan sebelumnya dari Jakarta tidur saya sangat terbatas. Hujan rintik menyambut kedatangan kami ketika kaki kiri melangkah turun dari bus. Sejenak saya melihat ke sekeliling dan melirik jam tangan waktu menunjukkan pukul 06.45 pagi, kemudian berlari kecil menyusul rombongan menuju home stay.
       
      Caving atau susur goa akan dimulai pukul sepuluh, tidak hanya rombongan kami dalam kegiatan ini ada juga rombongan Patrapala (Pertamina Pecinta Alam) Cilacap. Sambil menunggu rombongan Patrapala kami duduk di teras home stay, masih cukup waktu untuk kami beristirahat dan santai. Hujan belum juga berhenti, pandangan saya tertuju pada sebuah bukit ditutupi rimbunan pohon yang kemudian baru saya ketahui di sanalah lokasi Goa Petruk. Goa Petruk dan Goa Liyah sendiri masuk dalam Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS) kabupaten Kebumen Jawa Tengah.
       
      Persiapan
       
      Ini adalah kali pertama saya, Elvi, Patricia, Louis, Mas Indar dan Apri mengikuti caving Goa Petruk dan Goa Liyah, sedangkan mas Budi justru sudah berkali-kali dan mas Budi lah yang mengajak kami sampai ke tempat ini. Masing-masing dari kami mengambil perlengkapan caving dan kini wearpack, boots sudah kami kenakan,helmet dan headlamp pun sudah menempel di kepala kami. Tidak ketinggalan kamera anti air siap mengabadikan perjalanan kami, caving diperkirakan akan berakhir pukul lima sore jadi makanan ringan dan minuman wajib dibawa dan siap memenuhi dry bag kami. Sebelum caving dimulai  mas Yos pemandu kami yang pernah bekerja sebagai crew Jejak Petualang salah satu program televisi swasta mengajak kami untuk berdoa dan menyampaikan beberapa etika yang harus dipegang teguh oleh para penelusur goa.
       
      “Baiklah sebelum caving dimulai ada etika-etika yang tidak boleh dilanggar yaitu jangan mengambil apapun kecuali foto, jangan membunuh apapun kecuali waktu dan jangan meninggalkan apapun kecuali jejak,” etika-etika yang disampaikan mas Yos sudah tidak asing lagi di telinga saya, karena etika-etika tersebut sudah menjadi motto bersama para pecinta alam.
       
      Dalam memandu kami mas Yos dibantu oleh seorang dari Mapala Trabas yang bertugas membawa perlengkapan keselamatan caving antara lain tali, tali webbing,seat harness, carabiner dan lain-lain. Semuanya sudah siap dan berjalanlah kami menuju pintu masuk Objek Wisata Goa Petruk, 21 orang dari rombongan Patrapala berjalan di depan kami.
       
      Caving Goa Petruk
       
      Di depan pintu masuk Objek Wisata Goa Petruk berdiri terbentang peta wisata Goa Petruk lengkap dengan keterangan aliran sendang (mata air), aliran sungai dan objek batu-batuan. Dari pintu masuk kami harus berjalan mengikuti tangga buatan, rindangnya pepohonan di kiri dan di kanan jalan menjadikan perjalanan terasa sejuk. Di kiri jalan terlihat air terjun kecil mengalir ke dasar jurang, di sepanjang jalan juga terdapat tempat-tempat istirahat. Lima belas menit yang melelahkan akhirnya sampai juga kami di mulut Goa Petruk.
       

      Mulut Gua Petruk
      Cahaya surya di mulut goa perlahan pudar sejauh langkah kaki kami menyusuri lorong-lorong goa. Goa  horizontal sedalam 644 meter yang secara administratif terletak di Dukuh Mandayana, Desa Candirenggo, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen Jawa Tengah ini masih sangat alami, tak ada penerangan sama sekali di dalamnya. Goa yang menyimpan banyak ornamen-ornamen berupa stalagtit,
       
      stalagmit dan flowstone yang akan terus dijaga kealamiannya. Penamaan Goa Petruk itu sendiri diambil dari nama tokoh pewayangan Petruk, konon di goa ini terdapat batu yang menyerupai hidung mancung tokoh wayang Petruk tapi karena ulah Belanda yang melakukan penambangan phosfat sehingga batu yang menyerupai hidung mancung Petruk itu patah dan sekarang sudah tidak terlihat lagi.
       
        Masuk sedikit ke dalam menelisik kegelapan kami disambut stalagtit Tirai Pintu, seolah menjadi pembatas antara dunia gelap dan dunia luar yang bercahaya. Di sini mas Yos mengajak kami untuk meresapi kegelapan, mematikan semua sumber cahaya yang kami bawa. Dalam gelap kami mensyukuri atas nikmat penglihatan dan panca indera mata yang Allah SWT berikan. Berjalan terus ke dalam melewati aliran sungai setinggi kurang lebih sepuluh sentimeter, di kanannya terdapat jalan yang sengaja ditutup oleh pagar besi. Awalnya saya mengira pagar besi itu sengaja dipasang untuk pegangan kita saat melewati aliran sungai tapi ternyata pagar besi itu sengaja untuk menutup jalan menuju lorong aliran sungai. Dalam sorotan headlamp saya terus mencari keindahan disetiap sudut goa, tak jauh dari saya berdiri ada papan bertuliskan cat merah dengan tulisan Sendang Katak. Diantara cekungan batu yang bertingkat-tingkat terdapat genangan mata air, konon dulu di tempat itu banyak kataknya sehingga dinamakan Sendang Katak.
       
      Semakin jauh berjalan, tak hanya suara gemericik aliran sungai ataupun tetesan air yang terdengar tapi bau pesing kotoran kelelawarpun mulai tercium. Di dinding goa anak-anak kelelawar bergelantungan dan beterbangan, saya berjalan cepat melewatinya. Di depan terlihat dua batu putih tinggi mencolok dalam sorotan lampu petromaks namanya batu Lukar Busono , di tengah-tengahnya dari atas mengalir air yang konon bagi yang mempercayainya air tersebut dapat membuat awet muda ataupun dapat menyembuhkan penyakit. Saat kami melewatinya ada empat orang duduk di depan batu Lukar Busono ditemani pemandu yang membawa petromaks, entahlah apa yang mereka lakukan.
       
      Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri lorong lebih dalam lebih masuk ke dalam perut bumi, aneka stalagtit, stalagmit dan flowstone mengisi setiap ruang goa. Mereka sambung menyambung tak berjedah menghiasi setiap sudut goa. Ada Flowstone Otak bentuknya bulat putih mirip sekali dengan otak, Flowstone Usus bentuknyapun eksotis sangat mirip dengan usus. Bergerak ke depan dan kami menemukan Flowstone Air Mancur. 

      Flowston otak
       
      Flowstone pada awalnya terbentuk melalui lapisan yang encer secara perlahan-lahan di dasar atau lantai gua, kemudian lapisan yang tipis tadi menebal melalui tetesan air yang membawah mineral penyusun (kalsit serta mineral karbonat lainnya) hingga menebal dan membentuk ornamen-ornamen seperti Flowstone Otak, Flowstone Usus dan Flowstone Air Mancur tadi. Sayapun harus berjalan hati-hati karena banyak stalagmit yang tumbuh di lantai goa, pertumbuhannyapun masih pendek sehingga saya tidak ingin sampai menginjaknya.
       
      Perjalanan tidak sampai di sini berikutnya kami harus berjalan melewati genangan air dari aliran sungai bawah tanah dengan ketinggian kurang dari lima puluh sentimeter. Berpegangan pada dinding goa kami harus menyeberanginya dengan hati-hati, berjalan sedikit merunduk karena atap goa yang dipenuhi stalagtit bisa mengenai kepala kita.

      Menyeberangi aliran sungai bawah laut
       
      Berjalan terus dan saya melewati papan bertuliskan Jangan Menyentuh Batu Payudara, stalagtit-stalagtit yang kami lewati maaf bentuknya mirip payudara. Sebenarnya tidak hanya Batu Payudara yang tidak boleh disentuh, semua stalagtit, stalagmit dan flowstone yang ada di dalam goa memang tidak boleh kita sentuh karena tangan kita yang didominasi oleh zat asam akan menghambat pertumbuhan stalagtit, stalagmit ataupun flowstone.  Butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk stalagtit, stalagmit dan flowstone tersebut tumbuh, menyentuhnya sama artinya kita menghancurkan karya indah Tuhan. Selanjutnya kami harus melewati dan menaiki celah lubang kecil untuk menuju ke tingkatan goa berikutnya, rasanya lega karena sudah tidak melewati genangan air lagi sudah bisa menghirup udara yang tidak pengap lagi. Ternyata saya keliru di depan jalan yang harus kami lewati adalah berjalan miring dan merunduk diapit antara dinding-dinding goa, celah diantara dinding-dindingnya pun sangat sempit sehingga kami harus antri untuk melewatinya.
       

      Batu Lonceng
      Tak terlihat lagi adanya stalagtit, stalagmit ataupun flowstone yang cantik, hanya ada dinding-dinding goa dengan batuan besar seolah-olah menghalangi langkah kami. Terus berjalan beriringan langkah kaki kami berikutnya menyusuri dinding goa di bawahnya ada aliran sungai mengalir.
       
      Sampai akhirnya kami menemukan genangan air atau aliran sungai yang cukup besar, di atasnya stalagtit-stalagtit menghiasi atap goa dan di sini kami harus berjalan jongkok  dengan ketinggian air kurang lebih lima puluh sentimeter. Stalagtit- stalagtit yang menggantung di atap goa bentuknya cantik-cantik dengan tetesan air menghiasi pada ujung-ujungnya dan berkilau bila tersorot lampu. Berjalan terus di ujung aliran air ini terdapat stalagtit berbentuk lonceng dengan kucuran air mengalir di pinggir-pinggirnya mirip seperti shower  dan kami cukup lama di sini untuk antri berfoto.
         
      Aliran sungai sudah kami lewati, di depan berikutnya kami harus berjalan merangkak melewati celah dinding dengan ketinggian kurang dari satu meter dan panjang kurang dari dua meter, beruntunglah medan yang ditempuh tak terlalu panjang. Pemandangan stalagtit dan stalagmit putih besar laksana pilar-pilar penyangga gedung bertingkat terbentang menyambut kami, dengan hati-hati kami melewati diantara celah-celahnya.

      Masuk dari mulut Gua Petruk dan keluar di mulut Gua Jemblongan
       
      Sorotan cahaya kini dapat kami tangkap dari kejauhan itu artinya mulut goa sudah ada di depan kami, puas berfoto-foto dalam sorotan cahaya surya berikutnya kami harus melewati atau menaiki batu-batuan besar menuju mulut Goa Jemblongan. Tak sabar rasanya ingin menghirup udara luar dan hembusan angin dari pepohonan di sekeliling mulut goa. Akhirnya bisa bernapas lega setelah satu setengah jam lamanya menyusuri lorong-lorong Goa Petruk dengan suguhan keindahan aneka stalagtit, stalagmit dan flowstone.
       
      Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Goa Liyah kami istirahat dulu di atas mulut Goa Jemblongan, meluruskan kaki sambil menikmati bekal makanan dan minuman yang kami bawa. Ramai terdengar obrolan dan candaan dari rombongan Patrapala, semuanya masih bersemangat melanjutkan perjalanan menuju Goa Liyah.
       
      Caving Goa Liyah
       
      Jarak tempuh kurang lebih satu jam dari mulut Goa Jemblongan ke Goa Liyah harus kami tempuh melewati semak belukar. Sampailah kami pada rumah penduduk dan ternyata jumlahnya hanya kurang lebih lima rumah. Beristirahat sejenak di teras salah satu rumah penduduk, di rumah yang lain pintu rumah mereka terbuka dan mereka menyediakan air minum untuk kami. Bahkan salah satu dari penduduk mempersilahkan kami memetik buah salak yang tumbuh di pekarangan rumah mereka. Dari rumah penduduk saya berjalan mengikuti sebagian rombongan belok ke kiri, rombongan yang lainnya berteriak karena kami salah jalan.
       
      “Heeey mau ke mana?” rombongan lain menegur kami yang salah jalan.
       
      Sadar bahwa kami salah jalan kemudian balik arah mengikuti langkah rombongan lainnya. Saat mencari jalan diantara rumah penduduk lagi-lagi rombongan di depan kami juga salah jalan, teriakan seorang ibu menyadarkan kami dan diikuti gelak tawa bahwa mereka pun salah jalan. Berikutnya jalanan lurus diantara semak-semak, sambil terus berjalan saya masih memikirkan rumah penduduk tadi sempat heran juga di tengah-tengah perkebunan bahkan seperti hutan jauh dari desa ada juga rumah penduduk, Patricia pun sempat kahwatir kalau anak-anak mereka sakit mereka harus jauh pergi ke desa untuk berobat.
       
      “Itu kalau malam ada anak mereka sakit gimana ya?” ujar Patricia penuh kahwatir dan tanda tanya.
       
      “Anak-anak mereka sekolahnya di mana ya?” tambah saya penasaran.
       
      Pertanyaan yang sama-sama tidak bisa kami jawab dan hanya menerka-nerka jawabannya. Di kiri jalan  terlihat bukit kars dengan batuan putih terlihat jelas, mungkin di sana ada goa tebak saya dalam hati. Terus berjalan di depan terlihat jalan setapak yang bisa dilalui motor dan mobil.

      Istirahat sebelum treking menuju mulut Gua Liyah
       
      Sambil menunggu rombongan yang tertinggal kami istirahat duduk di bawah pohon jati, kemudian melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak sejauh kurang lebih lima puluh meter. Di kanan jalan di antara semak-semak di sanalah mulut Goa Liyah. Dari jalan memang tak terlihat sama sekali mulut goa karena terhalang oleh semak-semak, lagi-lagi pertanyaan yang dilontarkan Patricia tidak bisa saya jawab.
       
      “Siapa sih yang pertama kali menemukan ada goa di tempat ini?” tanya Patricia kagum.
       
      Tak seperti Goa Petruk dengan mulut goanya yang terbuka lebar, mulut  Goa Liyah justru sangat kecil dan kami harus antri  untuk masuk. Berjalan terus masuk lebih ke dalam kami harus melewati celah kecil berjalan miring dalam himpitan diantara dinding-dinding goa dan batu-batuan besar.

      Mulut Gua Liyah 1
       
      Terus berjalan tak ada stalagtit, stalagmit ataupun flowstone berbentuk menyerupai simbol-simbol dalam kehidupan yang kami temui, hanya ada batu-batu besar seakan menghalangi langkah kami. Batu pualam berkilau indah menempel di dinding-dinding goa, ruang goanya pun besar tak terkesan pengap. Kami harus berjalan hati-hati karena masih banyak lubang-lubang sisa penambangan phosfat yang dibiarkan terbuka begitu saja. 
       
      Jalanan yang becek dan berlumpur semakin memperlambat langkah kami, jika tak hati-hati bisa terjerembab dan jatuh ke lumpur. Itulah yang saya alami, kaki kanan saya sulit untuk melangkah karena lengket dan pekatnya lumpur yang menempel di boots dan ketika saya berusaha mengangkat kaki kiri justru badan saya tak seimbang, untunglah dengan sigap kedua tangan saya tempelkan ke lantai goa untuk menahan badan supaya tak jatuh ke lumpur. Penuh hati-hati saya berusaha menyusul rombongan.
       
      Biasanya rombongan Patrapala berjalan sangat cepat tapi di depan terlihat semuanya berhenti, penasaran juga kenapa jadi macet di jalan. Sambil mencondongkan badan saya berusaha mencari tahu ada apa di depan dan ternyata semua harus antri untuk melewati lubang kecil dan berjalan tiarap seperti cicak, hanya cara itu yang bisa dilakukan untuk bisa melewatinya.

      Melewati celah kecil
       
      Tiba giliran saya untuk melewatinya, sambil merebahkan badan dengan posisi telungkup penuh hati-hati saya menggerakkan tangan dan badan. Tak lama kemudian kepala sudah dapat saya tengadahkan, ternyata panjangnya tak mencapai dua meter. Struktur Goa Liyah memang sangat berbeda dengan Goa Petruk, stalagtit-stalagtit menggantung bentuknya besar-besar, batu-batuan besar menjadikan dinding goa seperti lorong antara gedung-gedung bertingkat di perkotaan. Rasa takjub begitu kami melewatinya dan sayang kalau tak berfoto di sana dan mengabadikannya dalam jepretan lensa, ternyata kami sudah tertinggal jauh dari rombongan Patrapala  Pertamina Cilacap dan mas Yos menghampiri kami takut kalau kami tertinggal jauh dan tak tau jalan.
       
      “Ayo kalian sudah tertinggal jauh dari rombongan Pertamina, Budi mana?” ucap mas Yos melihat kami yang hanya diam berdiri dan tak melihat mas Budi diantara kami.
       
      “Sebentar mas masih ada dua orang tertinggal dibelakang, mas Budi lagi menyusul yang di belakang,” jawab salah satu dari kami.
       
      Setelah dipastikan jumlah rombongan kami lengkap tujuh orang bergegas kami menyusul rombongan Patrapala Pertamina Cilacap yang sudah berjalan jauh. Saat kami menemukannya, mereka sedang duduk-duduk dan ternyata antri untuk menuruni tebing. Caving Goa Liyah memang lebih menantang dibandingkan Goa Petruk, di sini diperlukan peralatan keselamatan caving serta pemandu yang berpengalaman. Sebagian dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap sudah ada di bawah dan kini giliran perempuan yang didahulukan untuk menuruninya. Saya pun beranjak dari duduk saya dan antri di barisan perempuan.
       
      “Perempuan-perempuan duluan yang turun,” teriak salah satu dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap.
       
      Sambil antri saya memperhatikan cara menuruni tebing itu, dan kini giliran saya yang harus turun. Ada tiga tingkatan tebing yang harus saya lalui, dengan serius saya mendengarkan arahan dari Instruktur supaya saya tak celaka dan bisa melaluinya dengan baik.

      Rapelling di dalam Gua Liyah
      ''Pegang tali webbingnya Mba trus turun sambil ulur talinya,” jelas salah satu instruktur dari Patrapala Pertamina Cilacap.
       
       
       
      Dengan kencang saya menggenggam tali webbing kemudian mengulurnya sambil turun, di sini saya sempat panik ketika melewati bagian tali webbing yang licin sedangkan saya tidak memakai sarung tangan, tapi tali webbing tetap saya genggam kencang. Suara-suara Instruktur terus mengarahkan gerak saya.
       
      “Liat terus ke bawah dan kaki cari injakan, ya terus turun jangan lepas talinya,” teriak Instruktur mengarahkan gerak saya.
       
      Kaki saya akhirnya bisa menyentuh lantai, satu tingkatan sudah saya lalui dengan ketingginan kurang lebih tiga meter dan sudah ada satu Instruktur yang berjaga di sini siap membantu dan mengarahkan untuk langkah berikutnya.
       
      “Turun terus jangan lepas talinya, pandangan terus ke bawah liat injakan,” jelas Instruktur.
       
      Dengan hati-hati saya menuruni tebing dengan tali webbing tetap saya genggam dan kaki terus mencari injakan, sampai akhirnya kaki ini bisa menyentuh lantai dan tali webbing sudah bisa saya lepaskan. Kemudian petugas yang lain menyuruh saya berjalan ke arah tebing berikutnya yang harus saya turuni tapi kali ini tanpa tali webbing karena tingginya hanya kurang lebih satu setengah meter. Di bawahnya sudah ada petugas yang siap membantu saya.
       
      “Duduk dulu Mba, kaki kanan injak yang ini dan pegang tangan saya,” jelas petugas siap membantu saya.
       

      Menuruni bebatuan
       
        Ikuti apa yang diarahkan petugas tersebut kemudian saya duduk, kaki kanan  berusaha menyentuh cekungan dinding dan menginjaknya untuk kemudian sambil dibantu petugas saya melompat untuk menyentuh lantai. Sebagian dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap yang telah berhasil menuruni tebing siap melanjutkan perjalanan, saya memilih duduk sambil menunggu rombongan yang masih di atas.
       
      Tak sampai di sini, medan yang harus kami lalui berikutnya juga tak kalah menantang dan memacu adrenalin. Berjalan menyusuri dinding-dinding goa di bawahnya ada jurang terbentang, untuk bisa sampai ke bawah kami harus melewati batu-batuan yang ada di pinggir dinding goa.

      Rapelling
       
      Turun dan harus menuruni tebing lagi, saya tak bisa melihat kedalamannya dan kini kami telah berada di dalam perut bumi. Mas Yos dan beberapa Instruktur dari Patrapala Pertamina Cilacap sedang mempersiapkan peralatan keselamatan caving, beberapa orang terlihat sedang memakai seat harness dan siap untuk turun. Seperti sebelumnya perempuan-perempuan didahulukan untuk turun dan kami harus memakai seat harness dan kaos tangan terlebih dahulu. Dua orang dari Patrapala Pertamina Cilacap membantu saya memakai  seat harness,  saya  sempat gugup ini lebih sulit dari menuruni tebing sebelumnya. Bismillah memberanikan diri maju ke depan dan siap turun dan kini seat harness sudah dikaitkan ke tali. Saya simak baik-baik setiap arahan dari para Instruktur sambil berusaha tenang.
       
      “Tangan kiri pegang tali ini Mba,  posisinya selalu di depan badan dan tangan kanan pegang tali tapi posisinya di samping badan. Sekarang badannya direbahkan ke belakang posisinya seperti tidur,” beberapa Instruktur mengajari saya cara turun.
       
      Saya ikuti apa yang dikatakan para Instruktur, dan tetap ikuti arahan berikutnya.
       
      “Ya sekarang turun pelan-pelan pandangan lihat ke bawah, ulur talinya posisi tangan kanan tetap di samping dan posisi badan tetap rebah,” ucap Instruktur berkutnya.
       
      Pelan-pelan kaki kanan saya turunkan, kedua tangan berusaha mengulur tali dengan posisi badan tetap rebah. Selanjutnya kaki saya mencari pijakan ke kanan, ternyata cara ini salah dan Instruktur yang di bawah teriak memberikan arahan.
       
      “Mba, kakinya tetap lurus dan tangan kanannya ke belakang,” teriakan suara dari Instruktur di bawah.
       
      Sadar apa yang saya lakukan adalah salah cepat-cepat saya perbaiki dengan mengikuti arahan dari Instruktur tadi. 
       

      Rapelling
      Ternyata sangat mudah dan saya berhasil menuruni tebing yang tingginya kurang lebih enam meter tadi sampai ke lantai dasar. Satu persatu dari kami terutama para perempuan  telah melewatinya. Salah satu dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap meminta kami melanjutkan perjalanan, di depan mulut goa sudah dekat. Tak perlu menunggu rombongan yang masih ada di atas, lagi pula hari sudah sore.
       
      “Ada yang tahu jalan? kalau ada ajak yang lainnya pulang duluan,” ucap salah satu dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap.
       
      Saya pun bangkit dari duduk  kemudian mengikuti langkah rombongan menuju mulut goa. Jalan yang  kami lewati sangat licin, becek dan berlumpur. Dari kejauhan dalam kegelapan ada batu putih mencolok berkilau, Particia menunjuknya penuh kagum.
       
      “Lihat itu batunya putih berkilau,” tunjuk Patricia.
       
      Sepanjang jalan menuju mulut goa kami menemukan batu-batuan putih menempel di dinding berkilau bila terkena sorotan lampu, namanya batu kristal. 

      Batu kristal
       
      Sebenarnya di akhir caving masih ada satu tempat lagi yang akan kami kunjungi yaitu air terjun dalam goa. Berhubung kami harus segera pulang maka jalan menuju air terjun tersebut kami lewati begitu saja dan belok ke kiri menuju mulut goa. Suasana masih terang ketika kami sampai di mulut goa, mulut goanya sangat sempit dengan pintu teralis besi terbuka. Kurang lebih empat jam lamanya kami menyusuri Goa Liyah, mulai dari  berjalan di lumpur, berjalan tiarap melewati lubang kecil, berjalan miring diantara himpitan dinding-dinding goa sampai harus menuruni tebing yang curam. 
       
      Anda tertarik untuk mencobanya? temukan keindahan aneka stalagtit, stalagmit dan flowstone serta rasakan sensasi petualangannya. (Mulyati Asih)
       
      Terima kasih
    • By ko Acong
      Terima Kasih Thien Qung telah menjaga kami semua sehingga dalam kedaan Sehat Semua. Yuk kita lanjut napak tilas Jalur Sutra sesi 2. Setelah kami menikmati keindahan Crescent Lake terutama adanya oase alami di Gurun Gobi, waktunya kami diantar ke stasiun Dun Huang untuk pindah kabupaten yang jaraknya kurang lebih 800 km, memakai kereta sleeper train.
      Kami sepakat pakai tidur lunak, sekamar 4 tidur susun. Untuk antisipasi kebiasaan yang kurang bersahabat bagi kita, bila tidur keras 1 row isi 6 tempat tidur dan tidak berpintu. Nah, kami pakai tidur lunak, diperjalanan kami pun jadi tidur dengan nyaman,  tak terasa alarm alam membangunkan kami. Lalu kami siap2 ke restroom. 1 jam kemudian sampailah kami di stasiun Turpan.

      Ternyata kami sudah mulai memasuki daerah istimewa Tiongkok. Lalu hal pertama yang kami hadapi adalah petugas imigrasi, dengan wajah yang khas dan penuh curiga kepada kami. Oh ya, penduduk Turpan sudah berbeda jauh wajahnya,  yang mana tidak oriental lagi. Beres urusan imigrasi, kami pun mencari sarapan, dengan berbagai menu yang lumayan bersahabat dengan lidah kita dan halal.
      Setelah keluar imigrasi, nah disini lah kami mulai dikerubuti oleh para driver dengan memegang gambar-gambar destinasi wisata, sementara kami abaikan dulu, ngudud dulu, cari sasaran driver yang sreg dengan kita. Setelah terpilih, kami panggil driver tersebut ke pinggiran, dan terjadilah tawar menawar. Sambil saya tunjuk saya mau ke destinasi wisata yang ada di brochure tersebut, satu paket 5 destinasi dengan harga 300 RMB (kalau tidak salah). Kami sewa 3 mobil, jadi per kepala kena charge 90 RMB, durasi tour 8 jam dengan jarak kurang lebih 180 km sampai kami diantar ke hotel. Oh ya, jarak stasiun ke downtown kurang lebih 40 km, dan bila memakai antaran taksi 120 RMB, jadi kami mending pilih langsung sekalian tour. Semua komunikasi kami mempergunakan google translate yang ada suaranya, jadi lebih mudah berkomunikasi dengan driver.
      Pertama, kami diantar ke hotel dulu untuk check in dan bersih-bersih karena cuaca Turpan sangat panas, namun dingin sekali anginnya.
      Kedua, kami tadinya mau ke benteng gurun center kota, Bazeli Ten Thousand Buddha Monastery, namun hanya ditunjukan dan lewat karena waktu tidak mencukupi.
      Ketiga, kami diantar ke gunung api (Flaming Mountain) dan itupun hanya dilewati karena kami masih belum move on.
      Keempat, kami diantar ke gurun pasir Turkistan Shansan Countri, nah disinilah kami baru move on, karena tantangan pemandangan di depan seperti layaknya paris dakar rally. Kami ber-10 memakai kendaraan gurun pasir langsung menuju puncak gurun pasir, ternyata kami hanya diantar sampai tengah dengan harga 250 RMB per mobil.
      Setelah sampai kami main di tengah puncak, mulailah modus mereka keluar, maukah kalian kami antar ke puncak teratas gurun pasir dengan harga 400 RMB/mobil. Tentu kami semua menolak. Tapi, khusus kendaraan yang dipake saya, saya nego sampai dapat harga 200 RMB.
      Kami diantar ke basecamp, nah disini lah tantangan adrenalin kami diuji ternyata kita turun dari puncak itu langsung melompat lurus ke bawah
      bagai mobil meluncur lurus jatuh ke dasar jurang, mungkin lebih menantang dibanding naik jet coster. Setelah sampai khusus kendaraan yang dipake saya langsung naik ke puncak teratas gurun pasir. Disinilah pemandangan yang paling aduhai. Kami semua dalam keadaan bersuka ria, mulai tuh keluar semangat kita.

      Kelima, kami diantar ke musem Gaochang, begitu buka pintu mobil kami semua terkejut karena sinar matahari sangat menyengat, tapi tetap kami berfoto dulu sebentar dan tidak sanggup melanjutkan menuju gedungnya.

      Setelah sampai mobil saya tanya destinasi apa ini sebenarnya, para driver menjelaskan bahwa disinilah tempatnya suhu Gaocheng. Dalam misi menuju barat hampir menyerah dalam melaksanakan misinya dan terlihat table temperature menunjukan 41 derajat celcius berarti kalau di air setengah mateng. Wah kata driver coba tadi kalau berhenti di gunung api lebih lengkap ini ceritanya, semangat kita jadi on fire lagi.
      Lalu kita minta datang ke gunung api yang tadi sudah kita lewati, ternyata setelah turun bener-bener ini daerah panasnya bagaikan kita dengan dapur pemanggangan. Banyak relief yang menggambarkan Sun Go Kong yang menuju langit untuk meminjam kipas sakti para dewa dan Flaming Mountain yang sedang membara sekali kipas langsung hilang apinya.
      Keenam, kota Turpan sepanjang kami lihat dari kereta api tadi mungkin juga ratusan kilometer hanya terlihat gurun pasir tak terbatas. Ternyata kota Turpan adalah salah satu yang penghasil anggur dan buah-buahan serta perternakan terbesar untuk Tiongkok mainland.
      Kami semua heran, dimana datangnya kehidupan kalau tanpa air dan semua terjawab di museum Turpan Karez Underground Water System, harga tiket masuk 40 RMB. Yang dengan hanya melihat teorinya pun sudah menjawab keheranan saya, si Bocah Tua Nakal kan pinter.

      Dan jawaban keheranan saya makin terjelaskan pada esok harinya di Heavenly Lake. Tur akan dilanjut ke Grand Bazarnya Turpan, namun teman 2 orang terserang Dehidrasi. Ibarat kataa kalau mau manggang roti dikota turpan tak perlu pake oven cukup ditempel didinding disinari matahari bisa mateng tuh.

      Kami semua ingin buru-buru masuk Hotel dan Mandi. Namun setelah segar, sebagian teman-teman kabur juga tuh menikmati barbeque dan sop kambing nan lezat. Pastinya gak lupa cuci mata lah, secara disini orang-orangnya cantik dan garanteng Uhuuuiiii Prikitiwww.
      Malam terus berlalu walau jam 22.00 masih terang benderang, tapi kami harus segera tidur, mengingat esok hari harus pindah kota lagi dengan jarak tempuh 180 km menuju Heavently Lake.
      Heavently lake adalah danau raksasa dipuncak gunung diketinggian 2200 Mpdl, yang mana sejauh perjalanan kami hanya disuguhi gurun pasir nan gersang sejak dari Turpan. Namun ketika sudah sampai puncaknya dan kami tembus tunnel Kaki Gunung Himalaya, baru pemandangan berubah drastis. Sepanjang mata dimanjakan oleh pohon-pohon nan indah dan udara yang tiba-tiba bisa berubah drastis menjadi dingin menusuk tulang. Danau Thian Shan benar-benar danau yang sangat indah.

      Setelah puas didanau kami turun gunung sejauh 602 km lagi menuju Hotel. Namun ada trouble, kita berganti Hotel dan malam sudah tiba kami semua tidur.
      Nah keesokan harinya teman-teman sudah tidak tahan untuk kabur menuju Grand Bazarnya Urumgi, secara Urumgi adalah kota modern dan wisata budaya dan juga surga kuliner, sangat perlu diekplor dengan agak santai.
      Sore telah tiba kami semua akan mengakhiri napak tilah Silk Road “Middle” ini dan akan dilanjut bonus trip petualangan ektra cepat menuju Asalamuaikum Beijing. Di tunggu yah Field Reportnya
      Mohon Maaf, pasti bacanya capek kepanjangan cerita namun itu lah ceritanya apa adanya.
       






































    • By siti uko
      Hallo…
      Siti Uko disini, mau sharing keseruan kita kemarin, bersama temen2 KJJI di rafting Cisadane "Al- Nassr Rafting", dua hari sebelum puasa tepatnya tgl 04 juni 2016. HTM 200rb/0rg sudah termasuk wellcome drink, makan siang lengkap dgn minuman dingin dan kelapa muda, asuransi perjalanan dan dokumentasi 2 buah memori card, satu buat HP satu lagi buat laptop. Cukup ramah dikantong kaaan.. hehe..
      Letaknya ada di jln.raya sukabumi KM 16, sebelum pasar caringin sebelah kiri.
      Dr jakarta, keluar tol jagorawi kira2 ditempuh 10 menit perjalanan klo ga macet. Klo naik angkot nomor 02 jurusan Cicurug, ongkosnya 4000 rupiah.
      Semoga bermanfaat buat info liburan habis lebaran yak.. selamat menunaikan ibadah puasa besok.
      Salam KJJI..

      pasukan KJJI sudah siiiiiiaaaaaap...lengkap dengan baju pelampung, helm, dan dayung. sebenernya ada tiga orang diantara kami yg takut arung jeram termasuk saya sendiri, hehe.. tapi setelah dibujuk2 akhirnya mereka mau juga turun ke sungai cisadane, dengan hati yg deg2an tentunya.
       

      Ketinggiannya mencapai 3 meter sodaraaaah, dan itu yg bikin sahabat saya meni, bu rina teriak2 kaya orang kesurupanan... ahahaha.. ampun dah!
       

      Ven ven....spt nya cuma dia doang yang exited dengan arung jeram, lihat aja gaya tangannya udah bak sang juara memenangkan pertandingan dengan wajahnya yg sumringah, sementara yang lain masih dengan muka mengkerut merengut masih takuuuuuuut.. LOL

      hahaa.. spt nya mba meni sudah mulai jatuh cinta dgn arung jeram.....lihat expresinya, girang banget dah ahh..
       

      huuaaaaaaaa..,,, jantung serasa mau copot,, tapi seeerruuuuuuu!!
       

      dan akhirnya saya dan bu rina tertawa bahagia, pdhal sebelumnya sangatttt takut arung jeram... takut air...wkwkwk
       

      pemandangan disekitar camp rafting, indah sejuk dan adeeeeem... nyeeesss
       

      tempat makan siang setelah berafting ria, ada gazebo unik yang terbuat dr bambu, didepannya terdapat kolam ikan yang sangat luas, menambah asri pemandangan disekitar camp rafting
       

      terakhir.... inilah sajian makan siang dengan menu yang sangat menarik dan komplit, terdiri dari nasi putih, irisan ketimun dan tomat segar, tempe goreng, ayam goreng kampung yang ditaburi sambel peedas yg super maknyus, es teh manis, dan yang special adalah buah kelapa muda....,,, segeeeeeeerrrrr
      see you on the next trip....,,, Hollaaaaa!