• 0
Sign in to follow this  
Gone WronQ

Full Moon In Yadnya Kasada Bromo 2015

Question

post-13954-0-38097500-1433729572_thumb.jpost-13954-0-38097500-1433729572_thumb.j

Hari Raya Yadnya Kasada adalah sebuah hari upacara sesembahan berupa persembahan sesajen kepada Sang Hyang Widhi. Setiap bulan Kasada hari-14 dalam penanggalan Jawa Kuno diadakan upacara sesembahan atau sesajen untuk Sang Hyang Widhi dan para leluhur. Kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun diadakan upacara Kasada di Poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo.
Sebagai pemeluk agama Hindu, Suku Tengger tidak seperti pemeluk agama Hindu pada umumnya, memiliki candi-candi sebagai tempat peribadatan, namun bila melakukan peribadatan bertempat di punden, danyang dan poten. Khusus Tahun ini Kasada berlangsung pada 31 Juli -  1 Agustus 2015

Adapun ritual yang dilaksanakan saat perayaan Yadnya Kasada antara lain pengambilan air suci dari mata air Widodaren, persembahyangan umat Hindu, pemberkatan sesajen yang akan dilarung, pengangkatan dukun baru (pemimpin upacara agama umat Hindu), dan pelarungan sesajen menuju kawah Gunung Bromo.

img_20120314151644_4f6053ec2bc56.jpg?w=6

masyarakat Tengger ke puncak Bromo pada malam hari (indonesiadiscovery.net)

Pada saat upacara ini berlangsung masyarakat Suku Tengger berkumpul dengan membawa hasil bumi, ternak peliharaan dan ayam sebagai sesaji yang disimpan dalam tempat yang bernama ongkek. Pada saat sudah mencapai di kawah gunung Bromo, seluruh sesaji tersebut dilemparkan ke tempat tersebut. Adapun upacara ini merupakan jalan ujian bagi pulun mulenen atau dukun baru untuk disahkan sebagai dukun, jika dukun baru keliru dalam melaksanakan proses upacara Kasada maka dukun tersebut gagal menjadi dukun.

Upacara Kasada sebagai peringatan pengorbanan Raden Kusuma merupakan penghormatan kepada Raden Kusuma yang rela berkorban untuk keselamatan masyarakat tengger. Dalam legenda upacara Kasada di Gunung Bromo terdapat mahkluk halus yang tidak memiliki nama yang digambarkan sebagai asal-usul dari kerajaan Majapahit sebelum keturunan kerajaan Hindu-Budha di Jawa.  Ada perjanjian antara roh Dewa Kusuma dengan masyarakat Tengger yang harus memberi sesajian setiap tanggal 14 bulan Kasada.

Dalam upacara Kasada masyarakat Tengger terdapat beberapa tahapan upacara yang harus dilaksanakan agar upacara Kasada berlangsung dengan khidmat yaitu Puja purkawa, Manggala upacara, Ngulat umat, Tri sandiya, Muspa, Pembagian bija, Diksa widhi, Penyerahan sesaji di kawah Bromo.
img_20120314151634_4f6053e285077.jpg?w=6

Iring-iringan sesaji (travelingguideinfo.com)

Proses berjalannya upacara Kasada dimulai pada Sadya kala puja dan berakhir sampai Surya puja dimana seluruh masyarakat Tengger menuju Gunung Bromo untuk menyampaikan korban. Upacara Kasada dimulai dengan pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasan sendratari Rara Anteng Jaka Seger di panggung terbuka Desa Ngadisari. Tepat pada pukul 24.00 diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan masyarakat di lautan pasir Gunung Bromo. Bagi masyarakat Tengger, dukun merupakan pemimpin dalam bidang keagamaan yang biasanya memimpin upacara-upacara ritual perkawinan dll. Pada saat ini sebelum dukun dilantik, para dukun harus lulus ujian dengan cara menghafal dan membacakan mantra-mantra. Jumlah manteranya tidak sedikit dan lafalnya sama sekali tidak mudah!. 

photo+2%284%29.JPG

Dukun yang terpilih lalu memimpin rombongan suku Tengger naik ke puncak Gunung Bromo, 2.392 mdpl. Mereka membawa sesaji dalam jumlah banyak, berupa hasil pertanian, buah-buahan, juga hewan ternak. Sesaji inilah yang menjadi persembahan untuk arwah para nenek moyang. Sesaji itu lalu dilempar ke dalam kawah sebagai pengantar harapan akan hidup yang lebih makmur.sesajen yg dilempar pada kemudian Akan menjadi rebutan warga sekitar

 

photo+1%283%29.JPG
suasana bibir Gn.Bromo Orang2 siap menangkap sesajen 

photo+4%281%29.JPG

suasana penangkapan sesajen

- ASAL – MULA TENGGER

Oleh Sulistiyo Fitri Ninsih

Sejarah Tengger dimulai kurang lebih tahun 1.115 M atau tahun 1.037 Caka pada masa pemerintahan Kerajaan Kediri yang diperintah oleh Raja Erlangga. Pada waktu itu hiduplah seorang resi yang bernama Resi Musti Kundawa, seorang resi yang mempunyai kesaktian tinggi karena mempunyai sebuah pusaka bernama Kiai Gliyeng. Setelah diangkat menjadi senopati, Musti Kundawa berganti nama menjadi Resi Kandang Dewa. Resi Kandang dewa mempunyai empat orang anak yaitu Joko Lanang, Dewi Amisani, Joko Seger, dan Dani Saka. Dari keempat putranya, Joko Seger-lah yang mewarisi ilmu dan pusaka Kiai Gliyeng dari sang ayah sehingga menjadi pendekar pilih tanding.

Pada masa Kerajaan Kediri terdapat sebuah kadipaten yaitu Kadipaten Wengker (daerah Ponorogo) yang dipimpin oleh Adipati Surogoto. Adipati Surogoto mempunyai seorang putri cantik yang bernama Dewi Ratna Wulan. Sayang, Dewi Ratna menderita penyakit yang tidak kunjung sembuh dari kecil hingga dewasa. Berbagai upaya dilakukan oleh ayahanda, namun tidak ada seorang pun yang bisa menyembuhkan putrinya. Adipati Surogoto pun merasa sedih, begitupula seluruh rakyat Kadipaten Wengker. Akhirnya Adipati Surogoto mengadakan sanyembara untuk menyembuhkan putrinya. Berita tersebut terdengar sampai ke seluruh wilayah Kediri.

Joko Seger turut mendengar berita tersebut.ia memutuskan untuk mengikuti sayembara tersebut. Joko Seger langsung mendapat adipati kemudian pergi menuju alun – alun untuk bersemedi sambil menancapkan pusaka Kiai Gliyeng. Dalam semedinya Joko seger mendapt petunjuk bahwa Dewi Ratna Wulan dapat sembuh  apabila diberi ramuan yang terbuat dari buah delima. Nama Dewi Ratna jug perlu diganti sesuai dengan sakitnya. Setelah semedi Joko seger kembali ke Kadipaten dan melaksanakan petunjuk yang telah diperolehnya. Dewi Ratna Wulan pun sembuh setelah meminum ramuan dari Joko Seger dan kemudian namanya diganti dengan nama Loro Anteng.

Melihat anaknya sembuh Adipati Surogoto merasa sangat bahagia, begitu pula warga Kadipaten Wengker. Adipati akhirnya menepati janjinya untuk mengawinkan anaknya dengan Joko Senger. Sang Adipati melaksanakan upacara selamatan Kuno yaitu Tasyukuran untuk kebahagiaan Joko Seger dan Loro Anteng.

Sampai saat ini tradisi upacara kuno masih tetap dilaksanakan oleh masyarakat Tengger. Menjelang pernikahan Joko Seger dan Dewi Loro Anteng diadakan upacara Tawang Walagara atau Tawang Walagara atau Tawang Padang yaitu persembahan dari kedua belah pihak. Dari rombongan Kediri diiringi prajurit dan penari sodor yang dibawakan oleh 12 orang putra putrid masing – masing membawa sebatang bamboo diisi berbagai macam palawija dan ujungnya dengan serabut kelapa.

Sedangkan di tempat penganten putri disediakan berbagai sesajen antara lain takir janur (pupus daun kelapa), gayung batok (batok kelapa) pengaron (alat masak yang terbuat dari tanah liat) dan segala peralatan perkawinan dengan berbagai macam peralatan dan sesajen. Adapun tari sodor yang dilakukan oleh pihak pengantin pria dinamakan sodoran, selanjutnya untuk mempererat tali persaudaraan antara dua keluarga maka Joko seger dan Roro antengbeserta kerabat diharuskan saling mengunjungi satu sama lainnya yang sekarang disebut dengan Dederek.

Setelah itu, Joko Seger dan Roro anteng sebagai pasangan pengantin baru diharuskan melakukan upacara Nyadran (pergi ke makam keluarga yang telah meninggal dunia untuk meminta doa restu). Setelah dilakukan uacara Tawang Walagara, Dederek dan Nyadran ditutupi dengan upacara bawaha (penutup). Maka Joko Seger dan Roro Anteng menjadi pasangan suami istri yang sah dan siap mengarungi rumah tangganya sendiri.

Setelah mengarungi bahtera rumah tangga sebagai pasangan suami istri tidak luput dari permasalahan hidup dan cubaan. Salah satunya adalah belum mendapat keturunan. Setelah satu tahun lamanya mereka belum menndapat keturunan, sampai akhirnya mereka sepakat untuk melakukan semedi di Sanggar Pamujan. Dalam semediannya,mereka mendapat beberapa petunjuk yang isinya bahwa mereka telah membuat satu kesalahan yang menyebabkan mereka tidak di karuniai anak. Untuk menebus kesalahan mereka harus mengadakan upacara Selamatan Sepasar pada bulan Mengestin, mengadakan sadulur papat kelima badan dan mengadakan sesuci serta melaksanakan tolak brata selama 40 hari 40 malam (dari petunjuk inilah semua upacara yang dilaksanakan oleh Joko Seger dan Roro Anteng menjadi awal dari pelaksanaan upacara adat pujan Kapat sampai megeng dukun pada bulan kapitu dimana para dukun mengadakan tolak brata untuk penyucian diri dan mengasah japa mantranya sampai pujan).

Dalam melakukan tolak brata Joko Seger dan Roro Anteng diberikan petunjuk apabila ingin mendapat keturunan mereka harus bersedi di gunung yang diselimuti kabut di daerah Oro – oro Ombo yang kemudian olrh Joko seger dinamakan Kawasan Gunung Bromo. Setelah turun dari semedinya mereka segera mengadakan persiapan untuk mengadakan perjalanan menuju ke aeah timur, sampailah mereka ke hutan belantara. Karena keadaan yang sudah malam mereka menginap di hutan tersebut, mereka berteduh di bawah pohon yang rindang. Tiba – tiba seekor singa dan seekor kera menyerang mereka. Dengan kemampuan pusaka Kyai Gliyeng kedua hewan tersebut menjadi jinak dan daerah itu di beri nama Ludaya.

Perjalanan mereka diteruskan dan mereka dihadang seekor macan yang galak. Terjadilah pertarungan Joko Seger dan macan tersebut sampai akhirnya Joko Seger dapat mengalahkan macan itu dan oleh Joko Seger daerah itu dinamakan Gembong (nama Gembong adalah asal usul Pasuruan berasal dari nama macan gembong). Perjalanan kemudian diteruskan ke arah timur, di dukuh Grati mereka kemudian meneruskan perjalanan sampailah di suatu tempat. Mereka berdua mencium bau tidak sedap kemudian daerah tersebut dinamakan Banger (dalam bahasa jawa berarti tidak sedap). Banger iniah cikal bakal daerah Probolinggo.

Setelah itu mereka meneruskan perjalanan.di tengah perjalanan mereka  melihat gunung sangat tinggi. Letusannya sampai terdengar ke seluruh daerah, gunung itulah yang dinamakan gunung Songgolangit atau puncak Pesangit (Gunung Semeru, gunung tertinggi di Jawa). Setelah satu bulan perjalanan sampailah pada bulan Pandrawan. Joko Seger dan Roro Anteng berjalan naik dan sampailah di hutan belantara. Mereka merasa heran dengan keberadaan pohon pisang itu dan menamakan pohon pisang itu dengan sebutan tuwuhan dan daerah tersebut dinamakan Jurang Pengantin.

Kemudian mereka berjalan naik dan melihat hutan yang ditumbuhi oleh pohon kecil seperti tembakau, daerah itu dinamakan Pomahan Bako. Mereka sampai di atas puncak bukit pada tengah malam. Mereka melihat keramaian orang yang membawa obor. Akan tetapi,setelah didekati, ternyata hanyalah batu – batu di atas air yang memantulkan sinar bulan sehingga terlihat seperti banyak orang membawa obor.  Daerah tersebut dinamakan Watu Kutho (batu kota).

Pada tengah malam mereka melihat daerah Oro – Oro Ombo mereka segera mempersiapkan diri untuk bersemedi. Dari perjalanan yang sangat panjang dan banyak menemui kendala dan rintangan sampailah Joko Seger dan Roro Anteng di Oro– oro ombo. Sebagaimana bunyi wangsit, mereka pun melakukan semedi. Persemedian mereka tidak sia – sia mereka berdua mendengar suara gaib yang berasal dan gunung di Oro – oro ombo. Bahwa mereka telah lulus ujian dan melakukan lelaku dalam rangka memohon diberi keturunan. Oleh karena itu, mereka dikaruhi anak sebanyak 25 orang dalam waktu 44 tahun. Namun, ada syarat yang harus dipenuhi oleh keduanya. Mereka harus merelakan anak yang terakhir untuk tinggal di gunung Bromo. Setelah mendapat petunjuk dan Betara Bromo mereka kembali ke Kadipaten Wengker.

Setelah kurun waktu 16 tahun Joko Seger dan Roro Anteng dikaruniai 9 anak yang di beri nama Joko Ringgit, Dewi Sinta Wiji, Joko Klinting, Hadi Kawit,  Dewi Jasingjihah, I Chal, Joko Linggapati, Cokroaminoto, dan Tunggul Wulung. Pada saat melahirkan anak yang kesembilan, tiba- tiba terjadi hujan yang sangat lebat, awan gelap dan petir yang menyambar. Melihat kejadian itu Joko Seger segera bersemedi memohon petunjuk dari sang maha kuasa.

Dalam semedinya Joko Seger mendapat petunjuk bahwa ia telah melakukan kesalahan selama 16 tahun karena ia dan keluarganya tidak pernah berkunjung ke gunung Bromo. Untuk menebus kesalahannya, Joko Seger harus melaksanakan Numi Purwodan melakukan tuwah ongkek ke kawah Gunung Bromo.

Setelah kurang lebih 20 tahun usia Joko Ringgit (anak pertama), mereka dikaruniai 6 orang anak yang bernama Joko Penojati, Joko Bagus Wads, Joko Banu Rekso, Pranoto, Praniti, dan Tunggul Ametung. Pada saat melahirkan anak ke-15 terjadi keanehan. Bayi yang dikandung Roro Anteng tidak bisa keluar selama 3 hari. Melihat keganjilan ini Joko Seger kembali mengadakan semedi untuk  mendapatkan petunjuk yang maha agung. Dalam semedinya Joko Seger didatangi Batara Narada yang memberikan petunjuk agar Joko Seger menepati janjinya yaitu dengan menyuruh anak-anaknya yang sudah besar untuk bertapa di kawasan Lereng Gunung Bromo. Kemudian Joko Seger melaksanakan titah sang Batara agar anak-anaknya bertapa di Gunung Bromo. Joko Ringgit bertapa di Gunung Lawu dan Gunung Ringgit, Dewi Sinta Wiji bertapa di Gunung Sewu, Telaga Cakra, Gunung Mindangan, Joko Klinting bertapa di Gunung Puncak Tengking, Hadi Kawit bertapa di Telaga Gunung Sumber Semanik mencari manik- manikin, Dewi Jasing Jihan bertapa di midangan Gunung Kursi, I Chal hilang dalam kandungan dan telah bersemayam di Banyuated Jurang Penganten, Joko Linggopati bertapa di Linggobuana Gunung Lingga, Cakroaminoto bertapa di Indrakila Gunung Gendera, Tunggul Wulung bertapa dipintu masuk Gunung Bromo dan Joko Penojati pesan kepada anak-anaknya lahirlah bayi dalam kandungan Roro Anteng.

Dalam masa sekitar 32 tahun, Dewi Roro Anteng melahirkan anak lagi yang ke – 16 sampai yang ke – 23 yaitu Raden Mesigit, Puspo, Angin, Hadi Jengkat, Hadiningrat, dan Hadi Kesuma. Sesuai dengan perjanjian waktu bersemedi di Oro – Oro Ombo, anak yang ke – 25 dibawa terbang oleh api yang membara ke gunung Bromo.

Dengan kejadian itu, Joko Seger memberikan pesan kepada anak-anaknya,  inilah takdir yang harus diterima dengan memintakan kepada keturunannya untuk mengunjungi saudaranya yang bungsu ke Gunung Bromo setiap bulan Asi dengan membawa sesajen dan bekal makanan dan hasil bumi untuk diberikan kepada Kesuma  yang berada di Gunung Bromo. Peristiwa itu kemudian dijadikan cikal bakal upacara adat Kasodo. Dalam pesannya kepada anak-anaknya, Joko Seger memberi tugas kepada Setyowati dan Satuhu untuk menjaga adiknya Kesuma yang berada diGunung Bromo, Setyowati dan Setuhu disuruh berdiam di Banyu Pakis. Anak Joko Seger lainnya dilereng Gunung Bromo. Setelah kembalinya Joko Seger dan Roro Anteng di Kadipaten Wengker. Setyowati dan Setuhu menetap dikawasan Gunung Bromo tepatnya di Banyu Pikis. Pada masa itu, sudah ada kelompok – kelompok mesyarakat yang mendiami kawasan Bromo yang lebih dikenal dengan Pedukuhan. Selanjutnya Setyowati dan Setuhu dikenal juga dengan sebutan Kaki Emoh dan Nini Emoh.

Pada waktu Joko Seger dan Roro Anteng melakukan perjalanan dalam rangka semedi didaerah Oro-Oro Ombo tersebut mereka membuat tetenger (semacam catatan perjalanan beserta perlengkapan serta mantra-mantra selam mereka melakukan Ritual semedi) yang dimasukkan kedalam jodog dan ditanam disekitar daerah Oro-oro Ombo yang berisikan Jimat Idontong (kisah perjalanan Joko Seger dan Roro Anteng) dan mantra – mantranya dikenal dengan Purwa Bumi (dipakai oleh dukun Tengger pada upacara adat)

Pada waktu kerajaan Majapahit diperintah oleh raja Prabu Wijaya, dikawasan Bromo sudah bermunculan pedukuhan-pedukuhan yang dipimpin oleh Setyowati (Nini Emoh ) dan Setuhu (Kaki Emoh ) dan juga keturunan putra Joko Seger lainnya. Diantara nama pedukuhan-pedukuhan itu adalah Wonongkor ( sekarang Wonotere ) dipimpin oleh Dop Ledok, Jetak dipimpin oleh Savinoto, Ngadisari dipimpin oleh Ki Dero dan Pucung Gede (sekarang Wonokerso) dipimpin oleh Kek Rebek, pedukuhan Palu Ombo dipimpin oleh Sarijoyo dan Dadung Pring dan pedukuhan Jemplang dipimpin oleh Kek Sedek. Sementara sebagai pusatnya adalah kawasan gunung Bromo yang dipimpin oleh Dadap Putih.

Dalam memerintah kerajaan Majapahit, raja Prabu Wijaya menginginkan kerajaannya kuat dan mampu melebarkan kekuasaan dengan cara menguasai kerajaan – kerajaan yang ada dipulau Jawa atau diluar pulau Jawa. Raja Prabu Wijaya melakukan semedi, dalam semedinya dia mendapat wangsit agar dia mengambil pusaka jimat kiontong yang terdapat di Oro-oro Ombo. Dia pun berangkat kedaerah Oro-oro Ombountuk mencari jimat Kiontong , namun usahanya sia-sia karena tidak berhasil membawa pulang jimat kiontong.

Mengetahui daerah oro-oro ombo dijelajahi Prabu Wijaya, Ki Dadap Putih sebagai penguasa Oro-Oro Ombo tidak tinggal diam. Ki Dadap mengumpulkan saudara-saudaranya untuk mencari jimat kiontong tersebut sebagai peninggalan Joko seger dan Roro Anteng. Usaha pencarian jhodog wasiat yang berisi jimat kiontong tidak semudah yang dibayangkan. Namun, dengan usaha dan upaya mereka akhirnya menemukan tempat dimana jimat kiontong diletakkan dengan berbagai petunjuk. Kemudian mereka berusaha untuk mengangkat jhodog itu, tetapi jhodog masih tidak bergeser sedikitpun.

Akhirnya, mereka bertukar posisi dan ternyata jhodog dapat diangkat. Kemudian kedua Jhodog tersebut dibawa oleh masing-masing tim. Ki Dadap Putih mewasiatkan kepada Ki Sari Jaya untuk menyimpan jhodog wasiat tersebut di wilayah dan diberi nama Brang Kulon sedangkan Ki Sari Noto membawa kedaerahnya yang disebut Brang Wetan. Pada waktu usaha melakukan pencarian jimat kiontong yang ditandai dengan matinya obor sampai tiga kali itulah Ki Dadap Putih mengatakan bahwa itu adalah tetenger/tenger (tanda). Dari kata tenger inilah kemudian lahir nama Tengger.

  

 

Edited by Gone WronQ

Share this post


Link to post
Share on other sites

14 answers to this question

  • 0

iya mohon maaf mas @deffa sebenernya agak ragu...hehehe maklum g pernah bikin bginian...sering nya standing alone...

ntar saya perbaiki content detailnya.... sekaligus dengan itin nya...

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this