baihaki1985

Bingung Menghabiskan Waktu Malam Hari Di Beijing? Ini Tempat-Tempat Yang Bisa Dikunjungi

5 posts in this topic

Beijing menjadi destinasi wisata utama yang bisa dikunjungi selama berada di negara Cina. Tak hanya dikenal sebagai ibukota negara, Beijing juga menyimpan banyak destinasi wisata yang menarik. Dan tak bakal cukup waktu satu hari kalau ingin menjelajahi tempat-tempat menarik yang ada di Beijing. 
 
Salah satu cara untuk bisa memuaskan diri pada saat berada di Beijing adalah memanfaatkan waktu sebanyak mungkin. Tak terkecuali adalah pada saat malam hari. Ditambah lagi, di Beijing juga terdapat beberapa lokasi yang justru akan sangat menarik kalau dikunjungi pada malam hari. Berikut ini adalah daftar tempat-tempat menarik tersebut. 
 
Donghuamen Night Market
 
Lokasi yang pertama tentu tak lain adalah Donghuamen Night Market yang berlokasi di ujung utara Wangfujing yang ada di Distrik Dongcheng, Beijing. Tempat ini terkenal sebagai lokasi untuk berburu kuliner ekstrem. Bagi yang punya nyali, mungkin bisa mencoba beberapa jajanan pinggir jalan yang ada di tempat ini. 
 
IMG_3619.jpg
Kepompong ulat sutra kering (kredit:worldwanderings.)
 
Lalu seberapa ekstrem sih makanan yang dijual di tempat ini? Kalau di Indonesia kita dapat dengan mudah menemukan berbagai olahan belalang, maka di tempat ini variasinya akan lebih banyak. Para penjual makanan di Doanghuamen Night Market ini menawarkan berbagai makanan yang berbahan utama dari berbagai macam serangga. 
 
Img214667259.jpg
Suasana di Donghuamen night market (kredit: Visitbeijing)
 
Sebut saja kalajengking, lipan, jangkrik ataupun kepompong ulat sutra. Semua jenis serangga tersebut disajikan sebagai makanan di tempat ini. Dan kalau ingin makanan lain, ada pula olahan berbagai macam hewan laut yang ekstrem. Seperti di antaranya adalah bintang laut, kuda laut dan lain-lain. Kebanyakan makanan yang ada di tempat ini dijual dalam kondisi kering dan tentunya siap makan. 
 
Kalau penasaran dengan harganya, tidak terlalu mahal juga sih. Satu tusuk sate kalajengking dijual dengan harga sebesar 15 RMB. Sementara untuk sate kepompong ulat sutra dijual sebesar 15 RMB per tusuk. Harga sate lipan sedikit lebih mahal, yakni 30 RMB per tusuk. Dan kalau ingin sate kuda laut, harganya 50 RMB per tusuk. 
 
Bird's Nest aka Stadion Nasional Beijing
 
Stadion yang satu ini menjadi landmark baru di kota Beijing sejak pelaksanaan Olimpiade pada tahun 2008 lalu. Sejatinya, stadion ini dibuka untuk umum pada siang hari. Namun kalaupun ingin melakukan kunjungan ke tempat ini pada malam hari, juga mempunyai daya tarik tersendiri. 
 
1024px-Beijing_national_stadium.jpgStadion Nasional Beijing di malam hari (kredit: Wikipedia)
 
Namun karena pada malam hari stadion sudah tutup, tentunya wisatawan tak bisa mengeksplore bagian dalam bangunan. Sebagai gantinya, traveler bisa menikmati keindahan bangunan ini dari luar. Terlebih pada malam hari, bangunan menyala terang dengan lampu warna oranyenya. 
 
1024px-%E5%9B%BD%E5%AE%B6%E6%B8%B8%E6%B3Water Cube di malam hari (kredit: Wikipedia)
 
Selain itu, tak jauh dari bangunan Stadion Nasional Beijing juga bisa dijumpai landmark lainnya kota Beijing. Landmark yang dimaksud adalah Water Cube atau National Aquatics Center. Seperti halnya Bird's Nest, Water Cube ini juga dibangun dalam rangka pelaksanaan Olimpiade 2008, tepatnya untuk pelaksanaan berbagai olahraga air. Selain itu, saat ini bangunan Water Cube juga menyimpan berbagai jenis arena wahana air seperti Tornado Rides, Ride House, Lazy River dan lain-lain. 
 
Seperti Bird's Nest, kunjungan ke Water Cube ini juga sebenarnya hanya dilakukan pada siang hari. Sedangkan pada malam hari, wisatawan tak bisa menengok ke bagian dalam gedung. Sebagai gantinya, pada malam hari bangunan Water Cube ini akan terlihat sangat fantastis. Terlihat seperti sebuah boks besar yang memancarkan warna biru. 
 
Chang’An Avenue
 
Lokasi berikutnya yang bisa dikunjungi pada saat ingin menikmati kota Beijing di malam hari adalah Chang’An Avenue. Jalanan yang satu ini disebut sebagai jalan raya paling panjang serta paling lebar di dunia. Tak hanya itu, Chang’An Avenue juga dikenal sebagai Jalan Raya Pertama di Cina. 
 
Pada malam hari, pemandangan di jalan ini pun sangat menarik. Tak lain karena di sekelilingnya merupakan tempat-tempat wisata utama yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan yang berkunjung ke Beijing. Tengok saja, di tengah-tengah Chang'an Avenue, pada bagian selatan terdapat Tiananmen Square. Sementara di bagian utaranya berdiri Tiananmen Tower. 
 
Shichahai
 
Nama tempat ini secara literal mempunyai arti Danau Sepuluh Kuil. Dulu, di sekitar tempat ini memang terdapat sepuluh kuil di sekeliling tiga danau. Tiga danau yang dimaksud adalah Houhai, Qianhai serta Xihai. Sementara itu kini tinggal beberapa kuil yang tersisa di area ini, di antaranya adalah  Guangji Temple, Huitong Temple, Huoshen Temple, Guangfu Guan dan lain-lain. 
 
shichahai%20houhai%20lake%20(1).jpg
Shichahai di malam hari (kredit: accesschinatravel)
 
Shichahai ini memang merupakan salah satu area bersejarah yang ada di kota Beijing. Tempat ini pun banyak dikunjungi oleh para wisatawan baik pada malam hari ataupun siang hari. Terlebih pada saat malam hari, area ini akan dibanjiri dengan berbagai lampu warna-warni yang mempercantik pemandangan. 
 
Di area Shichahai ini juga terdapat berbagai tempat yang bisa dijadikan hang out. Terdapat banyak bar serta restoran yang berada di pinggir danau. Sembari menyantap makanan, suasana di tempat ini pun bakal sangat menyenangkan. Terlebih kalau bersama pasangan, no offense buat yang jomblo yak :D, bakal terasa romantis. 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now


  • Similar Content

    • By rianifitria
      Tahun lalu saya dan keluarga pergi ke China selama 10 hari - Beijing, Xi'An dan Shanghai. Berikut ini kesan2 perjalanan saya, saya harap ini bias berguna biarpun telat banget.
       
      Hari 1: Jakarta - Beijing
      Penerbangan Jakarta ke Beijing - Transit di HK (Mendarat di HK - 15.00, berangkat lagi jam 20.00). Mendarat di Beijing jam 12.55 pagi hari kedua.
       
      Hari 2:  Beijing
      Berencana mencari mainan2 dan aksesoris2 palsu gitu, jadi berangkatlah kami ke Hongqiao Pearl's Market, shopping mall yg isinya macem2 dekat Temple of Heaven.
      Kami naik subway, harganya lumayan murah antara RMB 3-6 per orang per perjalanan. Mesin tiketnya ada Bahasa Inggrisnya, jadi gak perlu google translate tulisan2 China.  Papan penunjuk arahnya juga bilingual, jadi gak repot nyari platform maupun pintu keluarnya. Dan sebelum masuk ke platform biasanya ada X-ray buat barang2 bawaan.
      Keluar di  stasiun Tiantan Dongmen – subway Line 5. Dari situ jalan ke Hongqiao Pearl's Market melewati sekitar 2-3 gedung. Ada tulisannya Inggris besar2, jadi gampang taunya. Di Hongqiao Pearl's Market, setiap lantai memiliki ke-khas-an masing2. Misalnya mainan di lt. 3, baju di lt.4 dll. Ada juga food court di basement. Harga makanannya juga lumayan ok, sekitar RMB 15-18 per porsi. Oh ya, jangan lupa tawar menawar kalau belanja disini.
      Setelah belanja dan makan, kami jalan lagi menuju National Museum of China di Tian'anmen Square. Naik subway Line 2 ke stasiun Qianmen.

      Nah disini baru mulai seru, soalnya banyak banget polisinya. Setiap pintu keluar ada penjaganya, tiap belokan ada penjaganya, naik turun tangga ada penjaganya berdiri. Keluar dari subway kami berjalan mengarah ke Forbidden City, dan kira2 50 m dari pintu keluar, ada X-ray dan pengecekan ID/passport. Jalan lagi, dan 50 m sebelom pintu samping National Museum ada lagi x-ray dan pengecekan ID.
      Masuk ke National Museumnya gratis. Di tempat ‘karcis’ mereka bakalan minta ID (sim, passport, ktp) dan ngasih 1 tiket per ID. Dari tempat karcis ngantri masuk. Adalagi X-ray plus body scanner. Setelah lewat baru deh bias masuk ke lobby National Museum.
      National Museumnya GEDE BANGET. Ada 4 lantai dan basement dan 28 ruangan pameran. Setiap ruangannya memiliki tema yg berbeda, misalnya 1 ruangan isinya kaligrafi, 1 ruangan isinya mengenai uang, 1 ruangan isinya keramik dsb. Di luar tiap ruangan ada kounter souvenir yg khas buat ruangan tsb, kalau ruangannya mengenai jade, maka yg dijual adalah suvenir2 jade. Dan hampir di tiap sayap ada mesin souvenir koin (souvenir paling murah). Di lt 1 banyak kounter souvenir yg jual hampir semua barang, jadi kalau misalnya nyesel tadi gak beli souvenir di lt 3, bias cari di lit 1.
      Mereka tutup jam 16.30 pas. Jam 16.00 kira2 para penjaganya sudah mulai mengusir orang2. Dan jam 16.30 pas, bakalan ada upacara pembubaran petugas2 museum yg lumayan militer (biarpun orang2nya gak ada yg militer). Sehabis itu penjaganya beneran bakalan ngusir semua orang dengan paksa, bahkan yg duduk2 di beranda depan museum. Boro2 foto2 di depan museum.
      Dari Museum ini kami jalan ke Qian Men Street buat makan malam. Tadinya kami mau nyari Peking Duck dari Quanjude, tapi antrinya panjang. Jadi kami pindah ke restoran kecil di jalan samping. Makanannya enak dan harganya juga lumayan, misalnya sepiring RMB30 gitu, tapi bias share 1-2 hidangan buat berempat gitu.
       
      Hari 3: Beijing
      Hari ketiga dimulai dengan HUJAN DERAS. Dan sepanjang hari HUJAN.
      Kami berangkat lagi ke Tiananmen Square untuk pergi ke Forbidden City. Naik subway line 2 – stasiun Qianmen. Harga tiket masuknya RMB 60/orang.
      Turisnya yg masuk, local maupun internasional banyaknya minta ampun. Mulai dari masuk gerbang (belom beli tiket) aja udah antri, dan penuh sesak dgn orang2 berpayung dan berjas-hujan. Seperti biasa, banyak X-ray (keluar masuk mrt, mendekati Forbidden City, gerbang masuk, gerbang tiket).
      Forbidden City itu BESAR dan LUAS luar biasa. Masalahnya semua orang berusaha berteduh di koridor2 yg ada atapnya. Jadi serasa orang2 se DKI berjubel di pintu2 dan koridor2, dan gak ada yg mau bergerak Karena mereka gak mau basah, jadi ya nutupin jalan dan pintu dan kami gak ada yg bias keluar masuk. Bener2 gak enjoy abis.
      Setelah sukses keluar dari Forbidden City kami cari makan (masih deket sama Qian Men Street).
      Dari dari sana kami menuju Temple of Heaven; Subway line 5 – Tiantan Dongmen. Nah Temple of Heaven ini terbagi 2 bagian. 1 yg taman untuk umum, kalau gak salah RMB 15 buat masuk. Disini ada pagoda2 gazebo dan warga setempat bersantai. Yg satu bagian lagi, Temple of Heaven-nya, perlu karcis terusan yg harganya RMB 35. Sayangnya yg terkenang cuma besar, basah dan licin.
       
      Dari sini kami naik subway ke Wangfujing Pedestrian Street yg katanya tempat belanja (masih nyari barang2 kw) melalui subway Line 1 stasiun Wangfujing. Hampir semua barang disini sudah harga supermarket besar dan barang2 bermerk, jadi lumayan mahal juga, dan masih belom nemu tuh barang2 kw.
       
      Hari 4 : Beijing
      Pagi hari dimulai dengan berjalan ke Bird Nest Stadium. Kami lihat2 saja dari jauh, memakai Subway Line 8 atau 15 stasiun Olympic Park.
      Dari sana kami pergi ke stasiun Dongzhimen dari Subway line 2 atau 13 untuk naik bus 916快 (ekspress) menuju The Great Wall of China, Mutianyu section. Harga busnya 12 yuan. Keluar dari platform di Dongzhimen, cari penunjuk arah ke Bus Transfer Hall dan cari bus 916快.
      Perjalanannya lumayan jauh, sekitar 2jam gitu. Sampai sana tiket masuknya RMB 45, tiket naik kereta gantung ke atas RMB 120, tiket shuttle bus ke kaki Great Wall RMB 15.
      Dan tembok besar China itu emang bener2 LUAR BIASA. Gak salah kalau masuk 7 Wonders of the World. 

      Dari jauh kelihatannya kecil dan rata, tapi begitu diatasnya ternyata lebar banget, saya rasa biar kereta kuda bias lewat diatasnya. Dan gak rata sama sekali tapi naik turun-nya sekitar 3 lantai dan ini belom naik menaranya.
      Di tiap beberapa meter bakalan ada menara benteng. Ternyata jarak antara 2 menara itu sepanjangan 2x jarak anak panah terbang. Jadi bila ada orang memanjat tembok persis diantara 2 menara, maka orang tersebut bias dipanah dari 2 sisi.
      Dan kalau berdiri diatas tembok tersebut emang bener bias melihat pemandangan sampai jauh kemana2.
      Kalau cuma ada 1 tempat di Beijing yg bias dikunjungi, saya rekomendasikan banget The Great Wall of China. Yg lain2nya gak terlalu penting setelah melihat tembok besar ini. Semua kesusahan dan kesialan2 beberapa hari lalu sebanding dengan pesona tembok China dan gak nyesel saya datang kesini.
       
      Hari 5 : Beijing
      Hari ini kami akan naik rickshaw untuk Hutong District Tour. Ini dimulai dari Hutong Tour meeting point di dekat stasiun Beihai North – subway line 6; melewati ‘daerah tua’ dan sampai ke stasiun Shichahai -Subeway line 8 dimana ada Bell and Drum Tower. Harganya sekitar RMB 80 per orang. Lumayan menarik juga bisa melihat rumah2 tua dan kesannya persis sama kaya di drama cina kuno gitu.
      Bell dan Drum Towers adalah alun2 pada jaman dahulu dan juga berfungsi sebagai penanda waktu. Jadi mereka akan berbunyi diawal dan diakhir hari. Naik keatasnya lumayan berat, tangga-nya curam dan tinggi. Satu menaranya RMB 20, kalau beli 2 sekaligus RMB 30.

      Dari sana kami pergi ke Summer Palace, di stasiun Beigongmen – subway Line 4. Kami makan mie di luar gerbangnya, rasa mie-nya khas gitu. Tarif masuknya RMB 30. Di dalam ada beberapa tempat yg bias dimasukin (seperti klenteng dll) tapi harus bayar lagi.
      Summer Palace itu taman yg dibangun disekitar danau. Banyak warga setempat yg pergi piknik disana. Kami pulangnya naik perahu untuk menyebrang balik ke pintu masuk, RMB 10.
      Malamnya kami akan terbang ke Xi’An.
       
      Disambung di p2 Xi'an dan Shanghai...
    • By Luxia
      Sudah lama pingin share pengalaman menginap di Hotel Kapok, Beijing, baru kali ini kesampaian. hehehe... 
      KAPOK... kalau di-Bahasa Indonesia-kan artinya Jera... seperti komen Deffa, "moga2 betah yach menginap disana, semoga tidak sesuai sama namanya, bikin kapok".
      Tapi kalo menurut aku KAPOK yang dimaksud di sini, bukan itu. Tadinya aku juga bingung koq milih nama jelek amat ya... Pas sudah sampai disana baru ngeh... Kapok yg dimaksud disini adalah Kapuk, kalo didaerah asalku (Sumatera) artinya kapas yang sifatnya lebih padat dan biasanya digunakan untuk mengisi kasur dan bantal, biasanya orang-orang tua senang menggunakannya karena lebih padat, jadi untuk tidur lebih nyaman katanya.
      Hotel Kapok (木棉花酒店 = mu mianhua jiudian) artinya hotel kapuk yang mungkin lebih ingin menggambarkan hotel yang nyaman untuk tidur. Aku mencoba hotel ini pada Maret 2016 yang lalu bersama keluarga. Bisa ketemu hotel ini idenya dapat dari forum jalan2.com ini juga, dari postingan @baihaki1985 (thank you ya). Penasaran dengan lokasi dan namanya, akhirnya dibooking deh. 

      *Sumber : Google
      Bentuk bangunannya kalau siang hari tidak ada yang spesial, malah terkesan sedikit unik ke arah aneh. Bangunan yang serba kaca ini terlindungi oleh rangka-rangka besi yang kokoh. Mungkin untuk antisipasi jika terjadi huru-hara... Letaknya di pinggir jalan persis berderetan dengan pintu masuknya "Forbidden City", cukup dengan berjalan kaki 5 menit saja, dari hotel juga sudah kelihatan gerbangnya. 10 menit jalan kaki ke East Tiananmen Subway dan gerbang Tiananmen Square, 15 menit jalan kaki ke National Centre for the Performing Arts (NCPA). Dekat dengan "wangfujing street" yang merupakan banyak menjual oleh-oleh seperti souvenir, makanan, snacks khas Beijing. Kalau dari Bandara "Beijing Capital International " bisa charter taksi. Waktu kami kesana karena bawa orang tua dan kursi roda, jadi pesan taksinya yang seukuran Innova jadi kena biayanya RMB 280.
       

      *Sumber : Google
      Kami waktu itu booking "Fashion Room" (tipe kamar standard di hotel Kapok ini), yang menarik dari hotel ini bukan hanya lokasinya ternyata, tapi juga pelayanannya... Ketika kami tiba di hotel ini jam tangan baru menunjukkan waktu 09.30 waktu setempat, yang tentunya, sesuai dengan peraturan dari kebanyakan hotel dimanapun seharusnya kami tidak bisa check-in, waktu check-in adalah pukul 2 siang, kecuali hotel dalam keadaan sepi pengunjung, mungkin bisa request "early check-in". Pada waktu itu hotel Kapok sedang ramai pengunjung karena ternyata tidak hanya tamu dari Asia saja peminatnya tetapi juga beberapa tamu dari manca negara juga menginap di Hotel Kapok ini. Rupanya termasuk salah satu hotel yang cukup favorit di area Wangfujing. Front Desk hotel ini ramah dan baik sekali, saya lupa namanya siapa, beliau menjelaskan bahwa hotel dalam keadaan penuh dan kami datangnya kepagian, sehingga kamar untuk kami belum tersedia, tetapi ada 1 kamar yang baru check-out, apakah kami bersedia menunggu 20-25 menit karena kamar tersebut baru saja dikembalikan oleh tamu dan belum selesai dibersihkan. Kamar tersebut tipenya lebih tinggi, jadi kita diberikan Free Upgrade, yang akan diberikan kepada kami sebagai gantinya mengingat memang kami sudah me-request early check-in jauh-jauh hari sebelumnya. Kami pun setuju untuk menunggu, kami dipersilahkan untuk menunggu disebuah ruang kecil yang cukup manis designnya (tapi gak semanis gula lah ya). Sembari menunggu kami disuguhi air hangat karena memang udara di luar hotel sangat dingin (+/- 5 derajat celcius) dan berangin.

      *Sumber : Google
      Setelah menunggu kurang lebih 35 menit di ruang tunggu kami pun di antar langsung oleh front desk tersebut ke kamar. Setibanya di kamar, Ternyata yang disebut upgrade itu hanya akal-akalannya front desk saja yah... tetap kami dapat nya kamar yang kami pesan yaitu "Fashion Room". Tapi so far, kamarnya bagus, bersih, nyaman, terus hotelnya juga tidak berisik. desainnya juga cukup unik dan menarik. Sesuai dengan namanya, kamar ini di-design sedemikian rupa sehingga terkesan modern. Tipe-tipe kamarnya memang tidak biasa, mereka menciptakan nama-nama yang cukup menarik untuk tipe kamar seperti "Fashion Room", "Courtyard Room", "Fashion Suite Room" dan "Kapok Suite Room". Yang lebih menarik lagi kamar mandinya terdiri dari kaca-kaca bening dan transparant yang hanya bisa ditutupi dengan tirai kain saja tanpa ada kunci dipintu kacanya. 

      Kebetulan kamar kami ini letaknya pas di tengah gedung, dekat dengan lift tamu dan void bangunan yang juga dibatasi dengan kaca bening transparan sehingga kita bisa melihat aktifitas yang ada di garden lantai Lobby hotel. 

      Dari koridor kamar kita bisa say hello dengan tetangga sebelah kanan dan bawah kamar karena penyekatnya terdiri dari kaca-kaca bening dan transparan. Tetapi bisa juga kalau kita tidak mau keliatan oleh tetangga kamar, kita tutupi dengan tirai yang telah disediakan.

      Untuk fasilitas kamar, ada mini bar yang tentunya tidak gratis ya selain teh, kopi, gula & creamer yang standard. kulkas, tivi, perlengkapan mandi, dll. Ada 2 jenis sandal yang tersedia di dalam kamar, yaitu 2 pasang di kamar mandi (terbuat dari anyaman bambu ringan tetapi jangan dibawa pulang ya karena mesti bayar), 2 pasang di kamar tidur (gratis).

      Kali ini kami tidak mengambil paket kamar + breakfast karena memang ingin mencoba sarapan di sekitar hotel yang menurut referensi yang dibaca banyak sekali yg menjual makanan baik snack-snack maupun resto-resto. Jadi aku tidak bisa review rasa makanan di hotel ini ya. Yang pasti jangan khawatir, disamping hotel, sekitar 4-5 ruko dari hotel sudah ada minimarket yang buka 24 jam yang tidak hanya menyediakan barang2 dan makanan biasanya tetapi juga ada bakpao, yogurt, dll, dan harganya pun tidak mahal. Standard Seven-Eleven lah ya.
      Berikut tampilan "Fashion Room" hotel Kapok di Beijing ini.

      *Koridor dalam Kamar 

      *Bisa mengintip ke koridor kamar sebelah dan bawah dari dalam kamar
                                              

      Semoga bermanfaat...!!
    • By petrus.sitepu
      Tanggal 22 April 2016, hari ini penerbangan saya Beijing dengan menggunakan air asia dengan transit di Kuala Lumpur. Penerbangan ke Beijing dari Jakarta ditempuh selama 8-9 Jam.
      Tiba di Beijing jam 01.15am waktu Beijing tanggal 23 April 2016. Seperti biasa saya menunggu bandara hingga pagi untuk menuju kota Beijing dengan menggunakan transport umum. Jangan kuatir banyak juga penumpang yang menunggu di bandara hingga pagi, anda bisa menunggu di terminal kedatangan Bandara Internasional Beijing.
      Di terminal kedatangan masih ada beberapa toko yang masih buka seperti convenience store. Di terminal ini juga ada fasilitas air panas yang bisa anda manfaatkan secara cuma cuma, sebaiknya sebelum berangkat membawa persedian pop mie ataupun teh dan kopi.

      Apabila anda membutuhkan simcard, di bandara ketika anda sedang mengambil bagasi ada stand yang menjual simcard dan juga dapat membantu untuk mengkoneksikan internet, harganya tergantung seberapa bisa kuota internet yang anda inginkan. Sim card ini sangat membantu sekali ketika anda traveling di China. Perlu anda perhatiakan ada beberapa website yang tidak bisa dibuka di China. Apabila anda membutuhkan maps online anda bisa menggunakan apple maps.

      Tranportasi menuju kota ada beberapa jenis seperti bus dan kereta (subway), Untuk subway pertama kali beroperasi pada pukul 06.30am dan lokasinya ada dilantai B2 dari terminal kedatanga. Disarankan untuk traveling menggunakan kartu tranportasi umum (public card/yikatong) yang bisa dibeli di stasiun subway Beijing International Airport. Harga public card gratis tapi diharusnya membuat deposit 20 Yuan dan bisa melakukan top up dengan kelipatan 10 yuan.

      Daerah yang saya pilih untuk menginap pertama kali yaitu daerah di sekitar Forbiden City, yaitu Days Inn Forbiden City, yang perlu diketahui mengenai kebijakan hotel di Beijing bahwa mereka menerapkan sistem deposit dan pembayaran yang ada telah lakukan melalui online akan dikembali ke kartu kredit anda dan akan dipotong dari deposit dengan rate yang sesuai dengan hari itu. Jadi jangan kaget apabila nanti rate hotel yang ada sudah reservasi akan lebih mahal karena mereka akan mengikuti rate pada hari itu.
      Tujuan pertama saya adalah daerah Tiananmen Square, Forbiden City, dan Jingsan Park, dam Houhai, beberapa tempat in terdapat dalam satu kawasan yang bisa menghabiskan 1 hari anda apabila anda mengelilinginya. Rute disarankan adalah Tiananmen Square, Forbiden City, Jingshan Park, dan kemudian istirahat di Houhai.
      Gate Utama Forbiden City, spot untuk menikmati Tiananmen Square Di Tiananmen Square, ada akan hanya melihat lapangan terbuka yang menjadi saksi sejarah negara china. Spot yang disarankan untuk melihat Tiananmen Square dari atas pintu utama Forbiden City dengan anda membayar 35 yuan, catatan ketika anda naik ke pintu utama ini ada diwajibkan menitipkan tas ditempat yang sudah disediakan dengan membayar 10-20 yuan tergantung besar tas.
      Setelah anda menikmati pemandangan Tianamen Square, ada menuju Forbiden City. Disini ada akan melihat kemegahan istana yang menurut saya sudah hilang kemerlapnya. Kemegahan tempat ini hanya bisa saya nikmati hanyalah luasnya istana yang masih terjaga. Ketika anda masuk ketempat ini cobalah masuk kedalam bagian rumah dan anda akan menikmati bagaimana keadaan jalan kecil di kota beijing (hutong) jaman dahulu.
      Forbiden City dan Penjaga Jalan saja terus menuju utara dari Forbiden City anda akan menemukan pintu exit, tapi coba menyebrang jalan raya dari pintu exit forbiden city anda akan menemukan Jingshan Park. Jingshan Park adalah sebuah taman yang rindang untuk anda beristirahat, selain tempat istirahat bila anda nail terus ke atas anda akan dapat melihat forbiden city dari ketinggian dan ini patut anda coba. Harga tiket masuk untuk ke Jingshan Park sebesar 20 yuan.
      Jingsan Park Tiananmen Square sudah, Forbiden City sudah, dan Jingshan Park juga sudah, tetapi jangan anda lupa untuk ke Houhai yang berada di sebelah timur dan Forbiden City. dari forbiden city anda itu jalan jalan luar kearah kanan terus sekitar 2km anda akan menemukan Houhai, tapi jangan kuatir sepanjang jalan menuju Houhai anda ada temukan penjualan makan kecil dan minuma berupa yogurt yang patut dicoba selain itu anda juga akan menemukan penjual permen gula gula yang menjadi ciri khas dari china. Houhai sebenarnya sangat baik dinikmati pada malam hari karen lampu yang menyala membuat tempat ini menjadi romatis. Houhai juga baik dinikmati pada sore hari karena terasa nyaman karena disepanjang jalan ditumbuhi pohon kapas yang rindang. 
      Jingshan Park dari atas melihat Forbiden City
      Pada malam hari di hari pertama di Beijing saya menghabiskan di Wangfujing, apabila anda pernah dengan kalau china adalah negara yang suka meniru dan menjual barang KW tapi tidak di Wangfujing Street. Disini anda akan menemukan barang barang ber-merk dan asli, apakah ada yang membeli? Ada, tidak percaya silakan buktikan sendiri. Wangfujing semakin cantik pada malah hari, oleh karena itu cocok dinikmati pada malam hari. Apabila anda jalan terus menuju utara Wangfujing Street anda akan menemukan gereja katedral St Joseph. Pada malam hari di gereja ini anda akan melihat orang khususnya orang tua yang menari untuk melepas penat dari keseharian.
      Ibu saya di Wangfujing Street  
      Gereja katedral St Joseph Hari pertama yang penat, pada hari kedua berencana ke The Great Wall dan Ming Tombs di Beijing.
      Selamat traveling.
      silakan lihat blog saya https://petrussitepucerita.wordpress.com/
    • By HarrisWang
      Hallo,
      Hari I setelah mendarat di Beijing Capital Airport (PEKING), kami langsung menuju hostel dimana kami akan menginap. Sebenarnya ini adalah pengalaman pertama saya menginap di hostel, biasanya selalu di hotel berbintang sekian sekian hahahaha...
      Tapi karena hostel ini menyediakan one day trip ke Great Wall Of China dengan harga paling murah RMB 280 include lunch, maka ga pakai pikir panjang langsung mutusin untuk nginap di hostel ini.
      Dari Bandara ke Hostel (Dongcheng District), kami menggunakan taksi dengan biaya sekitar RMB 60 kurang lebih. Perjalanan cukup gampang, karena kami punya petunjuk cara menuju hotel dalam bahasa Mandarin yang saya dapatkan dari hotel, 1 jam setelah bookingan terkonfirmasi. Yang inti dari informasinya adalah: Saya mau ke hostel ini, antarkan saya ke alamat ini. Kira kira seperti itu, dan print outnya yang dilengkapi dengan peta petunjuk jalan, tinggal diserahkan saja ke driver taksi nya. Selain itu, mami saya memang dasar nya bisa berbahasa lokal (walaupun terdapat perbedaaan dialek) namun sedikit banyak masih bisa paham berkomunikasi dengan orang lokal.
      Setibanya di hostel, kami langsung check IN (saya sudah sempat janjian lewat email bahwa saya akan early check IN pada hari itu) dan benar saja, kami disambut dengan sangat ramah oleh petugas hotelnya. Awalnya saya berkomunikasi dengan Bahasa Inggris, tapi pada akhirnya lebih cepat dengan berbahasa Mandarin yang di ucapkan oleh mami saya hahahaha...
      Kami langsung menyimpan luggage kami di kamar yang disediakan (mixed dorm 6 bed) pas kami masuk, ada 1 orang yang masih sedang tidur tamu di kamar tersebut. Mau tidak mau kami harus beres beres dengan perlahan lahan, supaya tidak mengganggu istirahat penghuni kamar lainnya. 
      Selesai beres beres, kami langsung ke lobby dan ternyata kami sudah ditunggu untuk melanjutkan perjalanan ke Great Wall. Dari hostel tempat kami berada, ada 4 orang termasuk kami yang akan ikut tour tersebut. 2 orang lainnya berkebangsaan Jerman, dan pada akhirnya kami cukup dekat dengan mereka.
      Dengan menggunakan mobil minibus, total semua tamu ada sekitar 15 orang, (cuma kami yang orang Asia, kecuali driver dan guide) dan memakan waktu perjalanan sekitar 1,5 - 2 jam, kami tiba di Great Wall Of China Di section Mutianyu. FYI, ada 1 jalur wisata lainnya ke Great Wall yang sangat populer, yaitu Badaling. Tapi kami lebih memilih Mutianyu, karena dengar dengar lebih sepi dan lebih bersahabat untuk orang tua, khususnya mami saya. Begitu turun dari bus, matahari panas menyambut namun dengan angin yang sangat dingin sepanjang hari. FYI, suhu di Beijing pada saat itu antara 9 - 20 Celcius. Dan kami dikumpulkan oleh tour guide kami, memberikan penjelasan sedikit sedikit, kemudian dipesankan bahwa jam 1.30 PM semua harus sudah turun lagi dan berkumpul di restoran kaca untuk menikmati makan siang bersama. Jadi total diberikan waktu 3 jam untuk mengexplore tembok raksasa ini.
      Khusus di Mutianyu, ada fasilitas untuk menuju puncaknya dengan menggunakan cable car, dengan harga RMB 80 untuk sekali jalan atau RMB 100 untuk naik dan turun. Kami memilih untuk membeli tiket naik dan turun sekaligus, dengan membayar RMB 100 per orang. Ada juga pilihan lainnya yaitu dengan berjalan kaki (hiking) menuju titik great wall yang menjadi tujuan wisata, dengan jarak tempuh berjalan kaki sekitar 45 menit, sedangkan dengan cable car hanya 5 menit saja. Untuk pilihan turun juga ada fasilitas tobogan, yaitu semacam seluncuran dari atas sampai ke bawah, lupa harganya berapa, dan kami tidak menaikinya, karena rasa rasanya agak serem hahahaha
      Setelah mendapatkan tiket naik cable car, kami langsung menuju terminal cable car nya, antriannya lumayan, sekitar 50-60 orang. Enaknya adalah, naik cable car nya tidak dipaksakan harus penuh. Kalau rombongan anda cuma ber 2, ya boleh saja naik cuma ber 2, atau sendiri juga boleh. Tidak dipaksakan harus penuh 4-6 orang.

      (Antri naik cable car)

      (Papasan dengan cable car lainnya)
      Pemandangan sepanjang naik cable car cukup menggetarkan hati *hallah, lumayan tinggi dan goncangannya juga lumayan ngagetin (pas perindahan antar titik/tiang pancang cable carnya). Dan setengah perjalanan, tampak sudah liuk liuk tembok raksasanya yang seperti ular bila dilihat dari kejauhan. Sekitar 5 menit, tiba di terminal kedatangan (namanya gitu kali ya), kami langsung berjalan kaki kembali untuk menjangkau temboknya, dan DANGGGGGGGG!!! Langsung takjub! Entah bagaimana caranya tembok ini dibangun pada masa itu, dari titik 14 dimana kami berdiri, ujung satu dan ujung lainnya belum kelihatan, saking panjangnya tembok raksasa ini.

      (Takjub :D)
      Saya dan mami saya langsung jalan jalan, foto foto dan berjalan menyusuri kemegahan si tembok yang sudah berusi tidak muda lagi ini.
      Mengingat saya berdua dengan orang tua, jadi kami hanya mengexplore sekitar titik 13-15 saja, ngga pergi sampai jauh jauh. Bahkan kami tidak melihat 1 orang pun dari rombongan kami yang ada di sekitar kami. Ternyata pas cerita setelah turun, mereka ada yang sampai ke titip pos 22 dan 23 dan sebagainya. Kagum sama bule bule yang bersemangat itu hahahaha...

      (Jangan lupa foto foto :P)

      (Jangan lupa foto foto :P)
      Puas foto foto dan jalan sana jalan sini, kami memutuskan untuk turun dan menuju tempat makan siang yang sudah di janjikan. Tidak lupa untuk membeli beberapa souvenir yang dijajakan sepanjang perjalanan kami turun (lebih tepatnya kaos yang bertuliskan Great Wall dsb), dengan bahasa Mandarinnya, si mami berhasil memborong 6 kaos hanya dengan harga sekitar RMB 20 per potongnya, yang saya dengar diawal harganya sekitar 50 atau 60.
      Makanan yang disediakan cukup enak, dan beragam, total ada 10 jenis lauk dan sayuran yang disediakan.
      Perjalanannya cukup menyenangkan dan terbilang murah, mengingat beberapa teman dari Couchsurfing juga cukup kaget pas saya bilang kalau saya dapat harga RMB 280. Di benak mereka, harga one day tour seharusnya adalah RMB 500-an.
      Tour ini sangat recomended, ditambah dengan pelayanannya yang sangat ramah dan memuaskan.
      Masih pengen balik kesana lagi tentunya, Kapan? Entahlah! LOL
      Salam jalan jalan!
    • By HarrisWang
      Hallo,
      Perjalanan ke China di Bulan October kemarin, kami menyempatkan untuk mampir ke area extreme culinary sekitaran Wangfujing Street, Beijing.
      Lokasinya kami jangkau dengan berjalan kaki sekitar 30 menit dari hostel dimana kami menginap, tidak membosankan, karena sepanjang perjalanan berderet berbagai macam toko yang menjajakan makanan maupun pakaian ber merk ternama.
      Lokasi street food yang buka setiap hari (hanya sore sampai malam saja) ini, sebenarnya bukan di jalan utama Wangfujing Street nya, tapi di jalan melintang yang melintasi jalan utama Wangfujing street. FYI, Wangfujing street termasuk area yang cukup modern, sepanjang jalan semua deretan mall, hotel dan toko toko yang ada di meriahkan dengan lampu lampu, sehingga dimalam hari menjadi sangat semarak dan tidak salah area ini menjadi area pedestrian yang cukup ramai di Beijing.
      Lokasi hotel kami ternyata berada di posisi ujung Wangfujing street sisi yang lain, sedangkan lokasi kuliner food street nya mendekati ujung lainnya. Jadilah kami berjalan kaki sejauh itu tadi. Sempat bertanya ke beberapa orang, termasuk seorang pelajar wanita dari Taiwan. Dari awal saya sudah tahu kalau dia memberikan arah yang salah (karena saya masih menggunakan google maps), setidaknya saya masih paham kemana harus perginya. Tapi mami saya bermaksud menanyakan dia, untuk memastikan, dan dia berkeras untuk menunjukan arah yang salah. Karena sedikit tidak nyambung, kami menanyakan kembali ke sopir taksi yang sedang berhenti, dimana lokasi food street yang ingin kami tuju. Dan si sopir taksi menjelaskan sesuai dengan yang saya utarakan sebelumnya. Jadilah si cewe pelajar tadi meminta maaf dan memberikan pengakuan kalau dia adalah orang Taiwan yang sedang kuliah di Beijing dan sebenarnya belum hafal benar jalanan disana. (Bilang dong mba hahahaha). Tips: Minimal bertanya dengan 2 orang atau lebih tentang petunjuk suatu arah, karena bisa saja 1 orang memberikan penjelasan dengan sangat percaya diri, padahal ujung ujungnya ternyata dia adalah pendatang yang belum terlalu paham lokasi tersebut.
      Sepanjang jalan kami asik melihat lihat dan sekali sekali mampir ke toko yang ada, dan alhasil, belum sampai ke tujuan, sudah memboyong barang belanjaan 1 kantong penuh LOL.
      Tiba lah kami di lokasi tersebut, dan langsung di ramekan oleh teriakan teriakan para penjaja makanan tersebut.
      Berbagai jenis makanan ada dijual disini, dari yang masih masuk akal, sampai dengan yang sangat extreme buat saya misalnya ular africa, kelabang, lipan dsb.
      Logat orang orang penjual makanan tersebut memang terlihat berbeda, dan menurut mami saya itu adalah logat dari orang orang Tibet atau Gobi atau apalah itu.
      Saking bermacam macamnya makanan yang dijual, yang akhirnya kami bisa makan adalah makanan sejenis kebab dan makanan haram lainnya LOL.
       










    • By baihaki1985
      Di Cina, Islam bukanlah sebuah agama yang asing. Penyebaran agama Islam dilakukan di negeri Cina mulai pada sekitar abad 10 Masehi. Dan sejak itu, perkembangan agama Islam di Cina secara umum pun mengalami peningkatan. Terlebih lagi di kota Beijing yang sejak dahulu memang menjadi kota yang penting di negara Cina. 
      Sebagai salah satu kota penting Cina, di Beijing pun terdapat cukup banyak masjid. Jadi, bagi para traveler muslim yang ingin berkunjung ke kota Beijing pun bakal sangat mudah untuk memperoleh fasilitas untuk beribadah. Nah, ini daftar masjid yang ada di kota Beijing. 
      Masjid Niujie
      Di Beijing, Masjid Niujie merupakan masjid tertua dan terbesar yang ada. Masjid ini dibangun pada tahun 996 Masehi pada masa pemerintahan Dinasti Liao. Bangunan masjid ini pun mengalami perluasan pada masa pemerintahan Kaisar Kangxi dari Dinasti Qing. Total masjid ini mencakup wilayah seluas 10 ribu meter persegi.

      Bagian dalam Masjid Niujie di Beijing (kredit: Flickr)
      Tak hanya usianya yang sudah tua. Bangunan masjid ini pun terbilang sangat unik. Dari luar, bangunan ini mempunyai desain arsitektur tradisional Cina. Sementara di bagian dalamnya, terdapat kombinasi kaligrafi tulisan arab dengan desain Cina. Ruang utama dari bangunan ini pun cukup luas, mencapai luas 600 meter persegi dan bisa menampung sebanyak 1000 jamaah. 
      Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, bangunan masjid Niujie ini sudah tak lagi asli seperti pada awal pembangunannya. Terdapat beberapa kali renovasi yang sudah dilakukan. Bahkan negara Republik Rakyat Tiongkok sendiri melakukan renovasi terhadap masjid ini sebanyak tiga kali, masing-masing pada tahun 1955, 1979 dan terakhir 1996. 
      Tak hanya sebagai pusat ibadah dan pengembangan agama Islam di Beijing, Masjid Niujie ini juga merupakan objek wisata yang menarik di kota Beijing. Tempat ini juga kerap dijadikan lokasi kunjungan ketika ada delegasi dari negara muslim. Wisatawan lokal ataupun asing pun juga kerap menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke sini. 
      Masjid Dongsi
      Dibandingkan dengan Masjid Niujie, ukuran dari Masjid Dongsi ini jauh lebih kecil. Selain itu desainnya pun jauh lebih sederhana. Bangunan masjid ini hanya mempunyai dua pintu gerbang, satu menara masjid, sebuah ruang ibadah serta sebuah perpustakaan. Bangunan ini sendiri dibangun dengan desain gaya Dinasti Ming. 

      Masjid Dongsi (kredit: Panoramio/Chunchunchun)
      Masjid Nandouya
      Masjid berikutnya yang bisa dikunjungi selama di kota Beijing adalah Masjid Nandouya. masjid ini berlokasi di alamat No. 4, Douban Hutong, Distrik Dongcheng. Masjid ini pun usianya sudah cukup tua, dibangun pada masa Dinasti Yuan yang memerintah Cina dari tahun 1279 hingga 1644 Masehi. Namun bangunan ini telah direlokasi berjarak sekitar 100 meter dari lokasi aslinya.

      Masjid Nandouya (kredit: chinatouradvisors)
      Tentu saja karena proses relokasi tersebut, bentuk bangunan Masjid Nandouya ini pun berbeda dengan desain bangunan aslinya. Bangunan ini dibangun dengan menggunakan bahan yang modern namun tetap menggunakan desain arsitektur tradisional Cina. Bangunan masjid ini pun bisa menampung hingga 200 jamaah.  
      Masjid Madian
      Sesuai dengan namanya, Masjid Madian ini berlokasi di Madian Street di Distrik Haidian. Masjid ini pun mempunyai usia yang cukup tua, dibangun pada masa pemerintahan Kaisar Kanxi dari Dinasti Qing. Masjid ini pun mampu menampung sebanyak 500 jamaah. 
      Masjid Dewai
      Di kota Beijing, Masjid Dewai ini juga dikenal dengan nama Masjid Beijing Fayuan. Bangunan ini dibangun pada akhir masa pemerintahan Dinasti Ming. Kondisi dari masjid ini pun sangat bagus, terlebih pemerintah Cina mengalokasikan dana sebesar 10 juta RMB untuk proses renovasi bangunan masjid pada tahun 2003. 
      Saat ini, Masjid Dewai ini memiliki luas mencapai 4000 meter persegi, hampir tiga kali lipat lebih besar dibandingkan ukuran bangunan aslinya. Bangunan ini pun mempunyai desain yang memadukan antara aresitektur tradisional khas Cina dengan arsitektur Arab. 
      Masjid Beijing Dongzhimen
      Masjid yang satu ini dibangun untuk pertama kali  pada masa pemerintahan Dinasti Yuan (1271-1368 Masehi). Namun bangunan masjid tersebut direkonstruksi pada akhir masa pemerintahan Dinasti Qing (1644-1911 Masehi). 
      Masjid Haidian
      Masjid yang satu ini juga mempunyai usia tua, dibangun pertama kali pada akhir pemerintahan Dinasti Ming. Masjid ini mempunyai kebun sayuran di bagian utara dan sebuah area pemakaman di sebelah baratnya. 
      Masjid Huashi
      Masjid Huashi ini dibangun pertama kali pada tahun 1415 pada masa pemerintahan Kaisar Yongle dari Dinasti Ming. Masjid yang mempunyai ruang ibadah terbesar di Beijing ini berlokasi di Huashi Street di Distrik Dongcheng. Selain ruang ibadah, terdapat pula beberapa ruangan lain di masjid ini, yakni Stele Pavilion, Jingu Hall, Xunyue Platform dan beberapa tempat tidur. 
      Masjid Jinshifang Street
      Masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Pushou ini merupakan salah satu dari empat masjid utama yang ada di Beijing. Dibangun pertama kali pada tahun 1429 Masehi, bangunan masjid ini mengalami proses rekonstruksi dan renovasi beberapa kali. 

      Masjid Jinshifang Street (kredit: chinatouradvisors)
      Termasuk di antaranya adalah renovasi pada tahun 1982 di area seluas 1373 meter persgi. Bangunan ini mempunyai desain bergaya Ming. Sebanyak 11 ribu jamaah pun beraktivitas di masjid ini. Selain itu, kantor Xicheng Muslim Association juga berada di masjid yang beralamat di No.63 Jinshifang Street, Distrik Xicheng ini. 
      Masjid Beijing Changying
      Masjid Changying ini dibangun pada awalnya pada masa Dinasti Ming di sebuah desa bernama Changying. Namun bangunan tersebut direkonstruksi pada masa pemerintahan Dinasti QIng. Sempat menjadi masjid terbesar di pinggiran kota Beijing. 
      Dalam beberapa tahun terakhir, bangunan masjid ini juga mengalami beberapa kali renovasi. Termasuk di antaranya adalah proses renovasi ruangan khusus untuk jamaah perempuan. Jadi traveler perempuan bisa beribadah dengan nyaman di masjid yang berlokasi di Changying Minzu Village di Distrik Chaoyang ini. 
    • By baihaki1985
      Sebagai pusat pemerintahan dari negara Cina, Bejing menjadi tempat yang sangat menarik bagi wisatawan. Berbagai aktivitas wisata pun bisa dilakukan di kota ini. Terlebih kalau ingin wisata kuliner. Variasi makanan dan tempat makan yang unik dan aneh dapat dijumpai di sini. 
      Secara khusus, Beijing mempunyai beberapa restoran yang menawarkan suasana tak biasa. Hal ini pun memberikan daya tarik tersendiri, di mana konsumen tak hanya bisa menikmati makanan enak, tapi juga merasakan pengalaman makan yang unik di situ. 
      House of Poo Poo
      Restoran tematik yang satu ini tidak ubahnya seperti Modern Toilet yang dikenal sebagai salah satu restoran aneh di kota Taipei, Taiwan. Dan House of Poo Poo ini juga merupakan sebuah restoran dengan tema toilet. Bisa dipahami dengan mudah berkat kata poo poo bukan?  Dan tempat ini pun mempunyai suasana yang tak jauh berbeda dengan Modern Toilet di Taipei. Bisa dibilang 11 12 lah. 

      Sajian dessert di House of Poo Poo (kredit: skkap)
      Grandma’s Rabbit Head Restaurant
      Doyan banget dengan kuliner yang berbahan utama kepala hewan? Mungkin sajian berupa kepala sapi atau kambing sudah sangat biasa ya. Begitu pula dengan sajian kepala ayam ataupun bebek. Namun bagaimana dengan kepala kelinci? Nah makanan seperti inilah yang bisa dijumpai di restoran bernama Grandma's Rabbit Head Restaurant di kota Beijing. 

      Sajian kepala kelinci (kredit: Tripadvisor)
      Kuliner kepala kelinci ini diolah dengan bumbu-bumbu pedas ala Sichuan. Selain itu, penampilan dari makanan ini pun bakal sedikit mengintimasi. Bagaimana tidak, kepala kelinci disajikan secara utuh di piring. Dan menurut informasinya sih, enak lho ternyata kuliner kepala kelinci di tempat ini. 
      Restoran ini beralamat di 48 East Third Ring Road (south of Shuangjing Subway Exit C), Chaoyang District. Mereka pun menawarkan sajian makanannya dari pukul 10 pagi hingga tengah malam. Mengenai harga dari kepala kelinci di restoran ini juga terbilang cukup murah, yakni sebesar 8 RMB per kepala. 
      Guolizhuang
      Nah ini benar-benar sebuah restoran yang sangat aneh. Guilizhuang merupakan sebuah restoran yang mempunyai spesialisasi dalam menawarkan menu makanan berbahan utama 'torpedo'. Nah kalau Indonesia kan 'torpedo' biasanya dibuat bakso, lain halnya dengan di Gualizhuang ini. Variasi torpedonya pun beragam dan bahkan nama menu di restoran ini pun sangat menarik. 

      Sajian di Restoran Gualizhuang (kredit: Getty Images)
      Beberapa menu berbahan utama di Gualizhuang antara lain The Essence of the Golden Buddha," "Phoenix Rising," "Jasmine Flowers with 1,000 Layers", "Look for the Treasure in the Desert Sand"" atau "Dragon in the Flame of Desire". Torpedo yang digunakan bisa torpedo kuda, sapi, keledai, anjing, rusa, kambing atau bahkan torpedo ular. 
      Selain sajian torpedo, restoran Gualizhuang ini juga menyediakan menu kuliner lain yang cukup ekstrem. Di antaranya adalah kepala rusa hingga janin domba. Mendengar bahan utamanya, kayaknya tak semua orang bakal punya kesiapan untuk menikmati kuliner di tempat ini. 
      Kiev Restaurant
      Di kota Beijing, tentunya mayoritas orang-orang di sana adalah orang-orang Cina. Namun ada pula sebuah restoran di mana kita akan dilayani oleh orang-orang dari Eropa Timur. Bahkan mereka pun menggunakan atribut militer yang lengkap. Tempat tersebut bernama Kiev Restaurant. 

      Restoran Kiev (kredit: beijinglandscapes)
      Restoran yang satu ini cukup unik, memberikan pengalaman makan seperti di sebuah barak militer. Tak hanya dilengkapi dengan para prajurit yang bertugas melayani konsumen, di sini juga menyediakan menu makanan ala Rusia. Sebagai tambahan, juga terdapat menu makanan Cina. 
      Namun para pelayan di tempat ini bukanlah orang-orang dari Ukraina atau Rusia. Para pelayan di restoran ini kebanyakan adalah orang-orang Cina yang menggunakan atribut militer Ukraina. Sementara itu ada pula pertunjukan opera yang dilakukan oleh orang-orang Eropa Timur, tentunya berpakaian militer lengkap pula. Cukup unik bukan?
      Hongse Jingdian Restaurant
      Lain lagi dengan suasana di Hongse Jingdian Restaurant. Restoran yang satu ini menyediakan suasana tempat makan yang tak kalah unik jika dibandingkan dengan Kiev Restaurant. Hongse Jingdian Restaurant menawarkan suasana ala revolusi Cina. Bahkan di sini pun terpampang jelas foto dari Mao Zedong yang dikenal sebagai bapak revolusi negara Cina. 

      Hongse Jidian Restaurant (kredit: Vidachifa)