Sign in to follow this  
theobrian

[INFO] Travel WB Trans, Karawang-UKI Jakarta

8 posts in this topic

Dari jalan Tuparev Karawang naik angkot 01. Turun di perempatan ByPass (deket Suzuki). Dekat situ ada mobil travel WB Trans. Biaya per 15 Juni 2015 sebesar Rp 18.000
Dari pengalaman, saya berangkat jam 14.50an, sampe UKI Jakarta jam 16.30an. Jadi sekitar 1 sampai 2 jam perjalanan

 

sumber

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By JasmineK
      Hi,
      I've read lots of guides on exploring Sydney general, like this one: What, Where And How To Visit Sydney: The Things You Might Not Know. But then I'm also wondering if there're other ways to explore Sydney. What kind of places should I visit? I don't have a long time - 2-3 days, a week max. Where do you think I should go, and what do you think I should eat?
    • By twindry
      yosshhh!!!  
      berhubung saya ke jakarta pengen kopdar sama teman2 yang ngak ada rencana kemanapun sewaktu lebaran nanti. adapun lokasi dan harinya sbb
      Hari / tanggal kopdar : Minggu, 25 Juni 2017
      jam / meeting point : 19:00 / Grand Indonesia (sementara meeting di GI dulu. nanti akan di tentukan kita nongkrong dimana  )
      CP : twindry WA 0812-5120-6106
       
      cc @min0ru @Yos yang udah pasti join
      @HarrisWang lu jadi ikut ngak?  
      @kyosash di jakarta juga toh? siapa lagi ya? @Vara Deliasani @Ikamarizka @mone dijakart bukan ya mereka?  @Sahat mari join wakakak. kalo @Hartono Hasian udah ngak bisa ikut  wakakakak
      @deffa ijin post ya mod
    • By Shah Rafilzan
      Hallo salam kenal, Nama saya Shah Rafilzan, bisa dipanggil Rafil.
      Saya berasal dari Kota Bandung, hobby saya memang traveling. Saya baru mulai membuat vlog, bisa langsung cek di youtube channel saya. https://www.youtube.com/channel/UC1ASnsi9TYd3N6VC_AWQeAg
      Barang kali ada yang berminat untuk bikin vlog bareng ?
    • By Luxia
      Hi JJ-ers… Dah lama tak jumpa… Apa kabar semua?
      Aku kali ini ingin bercerita mengenai pengalaman berwisata di kota Jakarta dengan Bus Wisata 2 tingkat yang baru direlease oleh pemerintah DKI Jakarta pada tahun 2015 yang lalu. Jadi, keinginan ini sebenarnya udah terpendam sekian lama tapi selalu ragu tuk merealisasikannya. Rasa Penasaranlah yang mendominasi keinginan ini, seperti apa yah kira2 rasanya naik bis wisata 2 tingkat keliling kota jakarta ini. Selama ini kan taunya adanya di luar negeri doank… Hop On Hop Off… Keinginan menjadi semakin kuat setelah peresmian RPTRA Kalijodo. Dan akhirnya aku realisasikan bareng sama beberapa teman ex Gatnas Lombok IX. Selain melepas kangen juga merealisasikan rasa penasaran ini. Bagaimana caranya dan mesti naik dari mana baru nyaman dan bisa pilih tempat duduk yang nyaman? Yuk.. keliling bareng kami…
      Bus Wisata Jakarta ini terbagi menjadi 5 tema/rute, yaitu :
      1.     Sejarah Jakarta (History of Jakarta)
      2.     Jakarta Baru (Jakarta Modern)
      3.     Pencakar Langit Jakarta (Skyscrapers)
      4.     Kesenian & Kuliner (Art & Culinary)
      5.     RPTRA Kalijodo
      Berikut rute lengkapnya :
       
       
      Untuk rute bertemakan Sejarah Jakarta, Jakarta Baru, Pencakar Langit Jakarta dan RPTRA Kalijodo, Bus Wisata Gratis Jakarta beroperasi mulai jam 09.00 hingga 17.00 WIB (Senin – Sabtu) dan jam 12.00 hingga 19.00 WIB (Minggu).
      Untuk rute bertemakan kesenian & kuliner, Bus Wisata Gratis Jakarta beroperasi mulai jam 17.00 hingga 23.00 WIB dan hanya beroperasi pada hari Sabtu dan Minggu saja.
      GRATIS LHOO...!!! 
      Bagi teman-teman yang hendak memulai perjalanan Wisata dengan Bus Gratis ini dari Balai Kota bisa menggunakan beberapa alternative kendaraan umum menuju kesana antara lain :
      1.  Busway
      ada beberapa alternatif, antara lain yaitu : 
      -       Dari Harmoni: ambil yang ke arah Blok M, turun di halte Monas, lalu tunggu Busway yang ke arah Pulo Gadung dan turun di Halte Balai Kota.
      -       Dari Harmoni: bisa langsung tunggu busway yang ke arah Pulo Gadung, turun di Halte Balai Kota.
      -       Dari Blok M: ambil yang ke arah Kota, turun di halte Monas lalu nyambung ke arah Pulo Gadung dan turun di Halte Balai Kota.
      2.  Kereta Api (Commuter Line),
      Jurusan yang paling dekat adalah Stasiun Tanah Abang. Keluar dari Gate Out ke kanan         menuju jalan raya lalu belok kiri ke arah lampu merah… langsung aja naik ojek. Tarif ojek online dari Tanah Abang ke Balai Kota hanya Rp 10.000 – Rp 15.000 saja, tergantung armada apa yg akan dipilh.
      3.  Bis Umum,
      bisa naik yang jurusannya ke Monas, lalu turun di Monas.
       
      Dari halte Balai Kota kita berjalan mundur, akan terlihat plang IRTI (Ikatan Restoran dan Taman Indonesia) tepatnya di lapangan parkir IRTI (Jl. Medan Merdeka Selatan, Gambir). Nah di depan IRTI ada bus-bus wisata yang sedang menunggu penumpangnya. 
      Setelah sekian bulan tidak bertemu, kangen-kangenan, ceng-cengan, akhirnya kami tetapkan hati untuk berkumpul kembali di hari Sabtu yang cerah itu. Kami ber-10 (Aku, Ibu @Titi Setianingsih, Ghea @Gayatri, Ibu Rina (FB Rina Dwi Cahyani) + Putri Sulungnya, Mak @menie + Anak Bungsunya, FB Netty Neh, Cici @eka wibisono dan Mba @Onya Deisi) berkumpul pada jam 10.00 WIB di IRTI .


      Penampakan Bus Wisata tema : Sejarah Jakarta
      Tunggu punya tunggu, belum nemu Bus Wisata yang menuju kea rah Juanda seperti rencana awal kami, akhirnya daripada buang-buang waktu, diputuskanlah naik Bus Wisata apa aja yang masih kosong. Jadilah, pilihan pertama jatuh pada Jurusan RPTRA Kalijodo. Kamipun naik Bus dan bergegas menuju ke tingkat 2. Ternyata pada hari itu ada 2 group lainnya yang sedikit mencolok seragamnya selain kami, group berbaju merah dan biru.


      Bus Wisata ini Bersih, Aman (meskipun tetap waspada ya) dan Nyaman. Ber-AC, 2 tingkat, serta supirnya membawa bisnya tidak dengan istilah “mo kejar omset” alias bus berjalan cukup baik dan tidak ngebut, statis gasnya, sehingga tidak ada tuh cerita rem mendadak atau klackson2an seperti layaknya bus-bus lainnya di Jakarta.
      Ketika berada di dalam Bus Wisata Gratis Jakarta ini harap diperhatikan beberapa aturannya ya, seperti :
      -       Dilarang mengkonsumsi makanan dan minuman di dalam Bus Wisata
      -       Dilarang berdiri selama perjalanan keliling Jakarta
      -       Tidak ada istilah penumpang berdiri di dalam Bus Wisata
      -       Bagi penumpang yang terlebih dahulu datangnya silahkan langsung menuju ke tingkat 2 dan diisi penuh, sedangkan bagian bawah diprioritaskan bagi penumpang Lansia, Hamil dan            Disable.
      -       Bagi yang bawa anak kecil sebisa mungkin anaknya dipangku agar kursi nya bisa digunakan penumpang yang lainnya.
      -       Satu lagi tambahan dari aku, bagi orang tua yang membawa anak2 mohon dapat menasihati anak-anaknya apabila duduk di tingkat 2 agar duduk dengan manis. Ini pengalaman kami          kemarin, ada anak sekitar umur 6-7 tahun yang kesal dengan orang tuanya, lalu menghentak-hentakkan kakinya di lantai Bus tersebut sehingga mengganggu penumpang yang                  berada di bawah, setelah diperingatkan oleh kondektur Bus Wisata dengan Microphone (karena kondekturnya duduk di lantai 1 dekat supir), tetap saja si anak berulah dan orang                tuanyapun tidak bisa melarangnya sampai ada salah satu anggota kami yang ikutan menegur barulah orang tuanya malu dan mengingatkan anaknya. JANGAN YA..CH!!

      Bus Wisata tema RPTRA Kalijodo

      Mungkin bagi teman-teman yang sudah pernah naik Bus Wisata ini mengeluh ramai tidak bisa dapat duduk di tingkat atas, aku kasih kisi-kisinya sedikit ya. Kalau mau dapat tempat duduk nyaman dan masih banyak pilihan maka cari lah lokasi naik Busnya yang tepat, contohnya :
      1.     Kalau mau ke RPTRA Kalijodo, naiknya harus dari halte Monas (depan pagar IRTI). Bus ini hanya menurunkan penumpang di halte Kalijodo dan Monas saja. Tetapi bisa menerima penumpang (jika tempat duduknya masih tersisa) di tiap titik pemberhentian yang telah ditandai. Jika dari RPTRA Kalijodo hendak ke tempat lainnya, kita mesti kembali dulu ke Monas untuk kemudian naik Bus Wisata jurusan yang dimaksud.
      2.     Kalau mau ke Kota Tua / Batavia, Museum Bank Indonesia, Museum Fatahilah, Sunda Kelapa, Toko Merah, Museum Kapal, disarankan untuk naik dari halte Juanda / Istiqlal, karena disitu Bus Wisata tersebut masih kosong tempat duduknya.
      Karena tema tulisanku kali ini adalah Bagaimana caranya berwisata di Jakarta dengan Bus Wisata, maka saya singkat saja ya mengenai rute kami.
      Rute pertama adalah RPTRA Kalijodo, kurang lebih jam 10.30 WIB kami naik dari halte di depan IRTI lalu turun di RPTRA Kalijodo, perjalanan kami tempuh kurang lebih 15-30 menit saja karena Bus Wisata ini melewati jalur Tol Semanggi lalu turun di pintu tol Jelambar, sehingga cukup mempersingkat banyak waktu mengingat daerah yang dilalui dari mulai Semanggi, Slipi, Grogol dan Latumenten itu macet meskipun hari Sabtu ya.
      Setiba di RPTRA Kalijodo kami singgah untuk foto-foto sebentar karena cuaca cukup panas kamipun tidak berlama-lama di Kalijodo dan belum keliling sampai ke lokasi Skateboard. Kurang lebih 30 menit di Kalijodo, berhubung hari sudah siang, matahari sudah di atas kepala yang artinya sudah jam 12 lewat sekian dan perut kami sudah protes minta diisi, maka kamipun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami menuju Juanda, hendak kemana kita?? KULINERAAANNN….. 



          
      Rombonganpun naik Bus Wisata yang tadi untuk menuju ke Monas (kebetulan kami masih dapat Bus Wisata yang sama dengan waktu kami kesini), karena memang Bus Wisata yang 1 ini tidak melayani rute lain kecuali Monas & RPTRA Kalijodo saja, jadi kita mesti balik dulu ke Balai kota, repot sih memang.. tapi yah,, sesuai kan dengan temanya, keliling Jakarta.. ya sudah lah, kembali lah kita ke Monas.


      Setibanya di halte depan IRTI, kami pun bimbang, karena Bus yang ke Juanda masih lama, akhirnya kami putuskan untuk ber-umum-ria saja ke Juanda, karena jaraknya juga gak jauh dari Monas (hanya sekitar 2.4 KM saja). Kami pun mem”belah diri” menjadi 2 grup, 1 naik bajaj dan 1 lagi naik taksi. Tarif Bajaj Rp 20.000/way (syukur kalau bisa nawar dan dapat harga Rp 15.000/way) dan Taksi Rp 16.000/way (kondisi jalan lancar).
      Setibanya di area Jl.Veteran 1 No. 10, Gambir, langsung menuju ke toko Ragusa Es Italia. Rombonganpun bergegas mencari tempat duduk didalam toko es krim Ragusa… daaan… PENUH. Seperti sudah kami duga sebelumnya karena memang favorit banget. Ya ok deh, kami pun cek toko sebelah, menu di toko sebelah ada sate ayam, asinan juhi, mie juhi, gado-gado, otak-otak dan minuman. Harga makanannya per-porsi rata-rata Rp 20.000,- saja, sedangkan minumannya berkisar antara Rp 5.000,-/botol s/d Rp 7.000,-/botol saja. Jadi lah kami duduk memesan makanan ditoko ini dan beli "takeaway" es krim Ragusanya.
      Ragusa Es Italia adalah Produk es Italia yang telah berdiri sejak tahun 1932 dan menggunakan bahan dasar susu sapi segar sehingga menghasilkan es krim dengan tekstur yang lembut, tidak terlalu manis dan tidak menggunakan bahan pengawet. Toko es krim Italia ini hanya menjual tujuh rasa dasar es krim yang meliputi coklat, vanila, mocca, stroberi, nougat, durian, dan rum raisin dan beberapa kombinasi es krim lainnya. Pilihan menu favorit di Ragusa ini adalah Banana Split, Spaghetti, Cassata Cisiliana dan Tutti Frutti, harga menu favoritnyapun hanya Rp 35.000,-/porsi dan cukup banyak juga kalau untuk dikonsumsi sendirian.
             
      Berikut Menu es krim yang tersedia di Ragusa:
           
      by Google
      Berikut penampakan aslinya:
           
      Banana Split                                                                                                                    Spaghetti Ice Cream
           
       
      Tutti Frutti
      Selesai makan, kamipun melanjutkan perjalanan menuju Kota Tua/Batavia, sebelum meninggalkan lokasi, kami foto-foto dulu, sekalian perpisahan dengan Mak Menie, yang harus pulang lebih dahulu karena masih ada urusan lain. Selesai foto-foto kamipun menuju ke halte Bus Wisata, dari toko belok kiri, Jl. Veteran 1, jalan kearah luar gang belok ke kanan. Di sini ada 3 rute Bus Wisata yang berhenti mengambil penumpang, yaitu Jakarta Modern, Pencakar Langit Jakarta dan Sejarah Jakarta. Khusus untuk Sejarah Jakarta, antriannya adalah diatas trotoar, posisinya paling kanan. Jangan salah jalur ya, kalo salah jalur bisa diteriakin kondektur Bus untuk antri lagi dari belakang lho.

      Bus Wisata Pencakar Langit Jakarta
      Lama kami menunggu di halte, sempat bertanya-tanya kenapa busnya belum juga berjalan kearah kami, busnya berhenti sekitar 10 meter dari halte. Para petugas Bus mulai dari driver sampai dengan kondektur sibuk, hilir mudik, keluar masuk bus. Ada apa ya?? Oooo.. Ternyata Busnya sedang disapu dan di Pel dulu, mungkin ada penumpang sebelumnya yang sedikit kurang disiplin makan dan minum hingga menjatuhkan sesuatu yang membuat kotor Busnya…. Jadi ingat yach… Jangan abaikan larangannya. Kasian petugas-petugasnya.

      Menunggu sekitar 10-15 menitan, akhirnya bus wisatanya menghampiri kami dan penumpang mulai berjalan ke dalam bus dan bergerak menuju ke tingkat atas. Buspun jalan menuju Kota Tua dengan melewati Jalan Gajah Mada.
      Tiba di depan Museum Bank Indonesia, jam tangan menunjukan waktu sudah pukul 15.55 WIB, sudah tidak bisa masuk ke Museum Bank Indonesia lagi karena tutupnya jam 16.00 WIB, pintu pagarpun sudah ditutup rapat-rapat. Baik lah, berarti langsung saja menuju Wisata Kota Tua.
           
      Di Kota Tua, kita bisa menemukan Museum Fatahillah, Café-café yang di-design sedemikian rupa sehingga terkesan tua, meskipun menu dan merk restorannya adalah restoran masa kini, seperti Bangi Kopitiam dan lainnya. Ada Indomaretnya juga di samping Café Batavia. Pemandangan mulai menarik karena pintu bangunan masih terkesan kuno, disekitarnyapun banyak berdiri Patung-patungan Pahlawan dan Super Hero Tempo Dulu seperti Imam Bonjol, Gatot Kaca, Tentara Kompeni, Noni Belanda (yang tampangnya jauh dari orang Belanda…. Hehehe); pelukis, souvenir-souvenir, dan lainnya.


          
           
      Ada sepeda Ontel juga disana, dulu waktu tahun 2013, Saya pernah bawa tamu ke sini, sewa sepeda ontelnya untuk keliling ke Pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Kapal, Pasar Ikan dan Toko Merah, harga sewanya Rp 30.000,- /unit. Tapi sepertinya sekarang Sepeda Ontelnya sudah tidak boleh keluar dari kawasan Kota Tua deh. Tapi menariknya sepeda-sepeda itu sekarang dicat berwarna warni dan masih dapat disewakan untuk pengunjung Kota Tua dan hanya boleh berkeliling didalam saja. Sayang sekali memang, padahal kalau masih boleh berkeliling ke Pelabuhan dan lain2 jadi bisa mengenal obyek-obyek wisata yang lainnya disekitar Kota Tua. Tapi.. ya sudah lah… Kami cukup puas juga dengan pemandangan yang ada disini.

      Setelah Capek foto-foto di Kota Tua, jam sudah menunjukkan pukul 17.05, lalu kamipun beranjak keluar dari Kota Tua dan berencana ngopi-ngopi cantik dulu sebelum bubar. Tujuan kami adalah Kopi “Lau Hue” (pernah dibahas oleh Ci Eka Wibisono) tahun lalu. Sebelum Ngopi ternyata Ibu-Ibu sudah lapar perutnya dan akhirnya nongkrong dulu dipinggir jalan didepan Museum Bank Indonesia mencoba jajanan berat pake bakulan di depan gedung Museum Bank Indonesia. Ada Gado-gado, ada Kwetiau, Mie Goreng, Bihun Goreng, lengkap dengan gorengan bakwan serta sambal kacangnya.. Rame lah pokoknya itu bakul. Yang pasti semua happy meskipun rasanya so so banget banget sih katanyaaa…. (karena aku sendiri tidak mencoba).
           
      Setelah nye”nack” jajanan berat itu tadi, kami lanjutkan perjalanan menuju ke Petak 9, Glodok area dengan berjalan kaki (jaraknya kurang lebih 1,2 KM). Kebayang kan bagaimana perjuangan kami hari itu… huff… berjalan kaki kurang lebih 15-20 menit, akhirnya tiba lah di tujuan yaitu kedai “Lau Hue”. Disini kami memesan Liang Teh (Rp 9.000,-), Es Kopi (Rp 12.000,-/gelas), gorengan pisang (Rp 3.500,-/pc), Talas (Rp 6.000,-/pc) dan tapenya (Rp 3.000,-/pc). Dah kecapean jadi gak napsu makan yang berat lagi (atau Ibu-Ibu kita udah kekenyangan ya… hahaha.. kagak tau juga). Yang pasti di Kedai ini ada jual Mi kuah, bihun kuah, kwetiau dan lain-lain khas Bangka.

      Ok… Tiba lah saatnya kami harus berpisah di halte Busway Glodok. Sebagian ke Kelapa Gading, Mangga Besar, ke Gajah Mada, dan sisanya kami balik lagi ke Balai Kota dengan menumpang Busway dengan tujuan akhir Monas, Foto-foto lagi sebelum berpisah.
          
      kami minta diturunkan didepan Balaikota. Kami pun menyempatkan diri untuk masuk ke halaman Balaikota dan berfoto ria dengan background Karangan Bunga yang banyak itu... Pertemuan ini singkat memang tetapi cukup berkesan karena memang sudah pada kangen sih…
      Akhir kata, bagi teman-teman yang di luar sana, baik Jakarta maupun luar kota, jangan ragu, silahkan mencoba berkeliling Jakarta dengan Bus Wisata Jakarta Ini. Mumpung masih Gratis. Kalau udah lewat dari bulan Oktober 2017, gak tau lagi deh. Dijamin nyaman dan memuaskan.
      Selamat Mencoba dan Semoga Bermanfaat..!!
    • By Eko Carbon Prasetyo
      Gaes……
      Sesuai janji saya kemarin,cerita serial blog akan saya lanjutkan seusai makan…
      Makannya tadi saya makan dulu sebelum nulis cerita ini.
      OK Lanjut…….
      Akhirnya saya bersama teman-teman jatengmotoblog memilih berangkat naik kereta api dan pastinya kelas yang kami pilih adalah kelas yang paling murah.
      Keputusan ini kami ambil guna melihat standarisasi perkereta apian Indonesia untuk kelas tukang piknik yang se spesies dengan kami.
      Packing udah,Makan udah,Pamit ama mertua juga udah.Jadi ga ada alasan lain lagi buat ga berangkat di event Taklukkan Batasan-nya Si Suzuki.
      Bermodal uang secukupnya,saya dan mase satuaspal berangkat dari stasiun Purwosari.
      Karena kereta berangkat jam 18.00 maka sebagai travelbloger dan travelvloger yang baik budi,saya sampai di stasiun jam 15.00 dengan diantar istri saya ( kayaknya ada yang sala sama penjadwalan agenda saya ) hehehe…
      Tapi membuang waktu 3 jam cuma buat nunggu kereta tiba bukan pilihan yang tepat.Tak lama kemudian sebuah ide cemerlang bin briliant muncul di kepala saya.
      Demi tegaknya sang saka merah putih di langit bumi pertiwi dalam kepakan sayap sang garuda,saya atas nama travelvloger yang belum ternama memutuskan untuk….
      Ga ngapa-ngapain…
      Tas beratnya sekitar 15 Kg ditambah helm yang saya pegang di tangan kanan saya,bikin males nyeberang ke Supermarket depan stasiun untuk nyari diskonan.
      Iya,beneran,saya cuma duduk sambil ngliatin orang-orang pada seliweran.
      Ada yang setengah lari gegara keretanya udah mau berangkat

      Ada yang rokok’an sambil memikirkan masa depan perekonomian Indonesia

      Ada juga yang lagi membersihkan sisa-sisa jejak kehidupan yang tertinggal dari masa lalu.

      Ada yang lagi menjaga kelangsungan hidup dengan suap-suapan….

      Enter a caption
      Ini kalau saja saya punya jam nya Mbah Sugiono (Artis Film Jepang) yang kalo diputer waktunya bisa jadi lambat,cepet atau berhenti yang sering dia pakai buat menyayangi sesama manusia itu,udah tak cepetin jamnya.
      Jam 17.00 istri saya memutuskan untuk pulang,dan mase satuaspal belum juga dateng.
      Mau ngerokok juga udah males,lidah saya udah ga bisa ngerasain nikmatnya tembakau..
      Ditengah-tengah kebingungan saya,saya mencoba untuk tetap berada dalam kesadaran penuh dengan melakukan kegiatan yang saya kira akan merubah jalan hidup saya.
      Akhirnya saya putuskan untuk….
       
      Selfie…    
      Dan hal ini ga merubah jalan hidup saya….
      Nunggu….
      Nunggu….
      Nunggu….
      Nunggu….
      Sampai jam 17.30 mase satuaspal baru dateng dan langsung ngajak Check in ke dalam stasiun.
      Setelah njelimet check in gegara nama kami mirip dan saya lupa booking pakai KTP atau SIM.
      Kami pun masuk dengan seizin yang kuasa (saat itu,ibu-ibu yang jaga counter check in lah yang berkuasa)
      Pukul 18.00 kereta tiba dan kami pun masuk dengan riang gembira…
      Mau makan dulu,dilanjut nanti abis makan ya gaes…..
      Chao….


      Sumber
    • By Jhonykumincir
      Satu kesenian milik Indonesia yang memakai bahan dasar kulit dan ukiran kayu ialah wayang kulit. Kesenian yang satu ini memang digandrungi oleh penggemarnya serta para wisatawan manca negara karena unik dan sarat akan makna. Tidak hanya di negaranya, wayang kulit juga dikenal oleh luar. Wayang kulit adalah perwujudan akan hiburan yang sederhana dan kental akan budaya. Ada banyak macam rupa dari wayang kulit milik Indonesia seperti wayang kulit di Jawa. Dipimpin oleh seorang Dalang, setiap pertunjukan wayang mengangkat cerita-cerita pewayangan dengan mengangkat lakon-lakon di mana memiliki sifat dan karakter yang berbeda sehingga tercipta cerita yang penuh dengan nilai moral.j
      Apa saja macam rupa wayang kulit yang dimiliki oleh Indonesia khususnya dari tanah Jawa? Wayang kulit yang pertama yang sering ditampilkan adalah Wayang Purwa. Wayang ini adalah wayang kulit dengan ukiran yang menggambarkan lakon-lakon. Cerita yang sering diangkat dalam pagelaran wayang ini adalah cerita Ramayana dan Mahabarata. Ada banyak bagian dari Wayang Purwa di antaranya Wayang Kaper, Wayang Kidang Kenanan, Wayang Pedalangan, Wayang Ageng, dan lain-lain. Berikutnya yang kedua adakah Wayang Madya, Wayang ini berasal dari Surakarta dan mengangkat cerita lakon Yudayono dan Jayalengkara. Wayang yang ketiga adalah Wayang Klithik yang bercerita tentang kehidupan pada masa kerajaan Majapahit serta Pajajaran.
      Macam rupa wayang kulit selanjutnya adalah Wayang Beber. Wayang jenis ini memiliki perbedaan yang cukup berbeda karena wayang ini merupakan wayang yang digambarkan melalui media kain putih. Wayang kulit Indonesia yang kelima adalah Wayang Gedog. Bila Wayang Purwa menceritakan kisah Ramayana dan Mahabarata, Wayang Madya menceritakan Yudayono dan Jayalengkara, Wayang Gedog mengangkat cerita tentang raja-raja Jenggala. Terakhir, adalah Wayang Golek. Mungkin Anda tidak asing mendengar macam rupa wayang yang satu ini karena sering disebut oleh orang-orang. Wayang Golek adalah wayang yang memakai media boneka sebagai lakon-lakon dalam membangun cerita. Sebenarnya masih ada banyak lagi macam wayang kulit yang dimiliki oleh Indonesia.
      Namun pada dasarnya adalah wayang yang merupakan perkembangan dari Wayang Purwa. Pembawaan pertunjukan wayang di setiap daerah berbeda. Biasanya terdapat pengiring lagu seperti tembang dengan musik gamelan juga sinden atau penyanyi khusus. Kini pertunjukan wayang kulit tidak lagi mudah untuk ditemui. Wayang kulit menjadi kekayaan yang patut dilestarikan. Ingin mengetahui seputar wayang kulit lebih lengkap serta informasi seputar pariwisata seni dan budaya Indonesia lainnya? Kunjungi situs Indonesia Travel yang merupakan situs pariwisata resmi milik Kementerian Pariwisata Indonesia. Selain aneka destinasi wisata, Anda juga bisa mendapatkan banyak rekomendasi mengenai biro perjalanan, tempat makan, tempat menginap, hingga tempat membeli oleh-oleh di seluruh daerah di Indonesia. Semoga artikel mengenai wayang kulit Indonesia di atas bermanfaat.