chime

Dunia kerja di AS

39 posts in this topic

Di Amerika serikat menerapkan sistem kerja 40 jam dalam seminggu dan klu diharuskan kerja lembur maka akan dapat uang lembur, untuk jatah cutinya dapat 15 hari dalam setahun, jika jatah cuti masih tersisa maka dapat digunakan utk tahun berikutnya.

Keunikkannya disana banyak karyawan dan atasan mempunyai hubungan yg dekat maka tidak dianjurkan memanggil dengan sebutan sir atau bos, lebih baik memanggil nama depannya saja, karena disana panggilan tersebut diperuntukkan utk customer service atau petugas polisi.

Setiap perusahaan memiliki acara khusus seperti pesta natal dan harus diikuti karyawannya, karena acara ini dianggap penting dgn tujuan utk menjalin relasi antar devisi.

Di AS nga ada yg namanya terlambat dengan alasan kemacetan lalu lintas, karena walaupun ramai penggunanya taat peraturan, mending nyari alasan lain tapi klu keseringan jg bs kena peringatan. :angry:

Share this post


Link to post
Share on other sites

iya betul sekali....

waktu dulu saya lagi liburan ke bali, ketemu apa para bule juga tuh.

mereka biar bisa liburan lama, selain nabung financial, juga yang bekerja nabung jatah cuti biar bisa liburan dengan panjang....

Share this post


Link to post
Share on other sites

Iya lho, dunia kerja di sana emang profesional banget. Emang berangkatnya bukan dari kultur feodal kaya di sini. Maklum kultur tersebut emang warisan dari sistem masyarakat Indonesia tempo dulu, jaman Kerajaan2 yang dilanjutkan oleh Belanda di masa penjajahan.

Hebatnya di US tuh tidak ada batasan pekerja yang dilihat dari umur dan status, kalo di Indonesia usia di atas 40 pasti susah nyari kerja, di sana yang dilihat kualitas seseorang, jadi ijazah tuh hanya pendukung, tapi ngga tau jg sih apakah ini berifat nasional ato hanya di beberapa negara bagian saja...

Share this post


Link to post
Share on other sites

enak banget tuh jatah cutinya bisa ditumpuk.. jadi kalau saya kerja 2 taun ga cuti-cuti, nanti di tahun ke 3 saya ambil cuti langsung 1 1/2 bulan gitu? beghhh enak bener wkwkw.. tp ya ga bs cm liat enaknya sich, tetep perlu skill yg tinggi baru bs kerja.

Share this post


Link to post
Share on other sites

wahh, udah tersistem dengan baik ya???

itu untuk semuanya yaa?? baik istilahnya pegawai negeri dan swasta menerapkan seperti itu???

di indonesia gmn ya? ada standarisasi umum gak yaaa??

soalnya biasanya perusahaan swasta di Indo banyak yang sewenang2 terhadap jam kerja, jam lstirahat dan jatah cuti serta over time nya :(

Share this post


Link to post
Share on other sites

wahh, udah tersistem dengan baik ya???

itu untuk semuanya yaa?? baik istilahnya pegawai negeri dan swasta menerapkan seperti itu???

di indonesia gmn ya? ada standarisasi umum gak yaaa??

soalnya biasanya perusahaan swasta di Indo banyak yang sewenang2 terhadap jam kerja, jam lstirahat dan jatah cuti serta over time nya :(

ya klu secara sistem sich di AS pasti lbh okelah, klu utk antara pegawai negeri ama swasta sich kurang tau cm secara garis besarnya seperti yg diatas, klu di Indo sendiri sebenernya ada standarisasi umumnya hanya semua tergantung dr perusahaan masing2 kadang ada yg transparan juga ya klu di Indo bs dibilang tergantung hoki kitalah soalnya walaupun ada standarisasinya nga semua perusahaan menerapkannya tinggal kita yg msh mau ngikutin ato nga?, klu nga ya paling nyari yg lain :P

Share this post


Link to post
Share on other sites
via    5

buat kita yang biasa nyantai dan terlambat,ngak kepake kali yah.hehehe

ya bener tuch... ntar datang pagi bkn langsung kerja nyari sarapan dulu, trus klu udh kerja jam istirahat tidur dulu jalan2 dulu ngemil dulu, ngobrol dulu kpn beresnya tuch kerjaan....

Share this post


Link to post
Share on other sites

di indonesia juga sama sich sebener'y jadwal kerja 40 jam seminggu, tapi ada aja perusahaan yang gag mau rugi dan menerapkan jam kerja lebih dari 40 jam tanpa di hitung lembur. Tapi alhamdulillah di tempat kerja saya walaupun kelebihan kerja 1 jam tetap dapat upah lembur.

hehehehe...

Share this post


Link to post
Share on other sites

iya mereka lebih menilai pegawai berdasarkan performance, tidak diskriminasi umur, gender, ras. tapi kalau orang amrik yang kerja di negara asia spt jepang/ korea/ cina juga mereka kerepotan beradaptasi dan sering dianggap tidak sopan

Share this post


Link to post
Share on other sites

Orang bule jarang lembur. Kerjaan belum selesai pun dilanjutin besok nya.   Untuk urusan lembur, Jepang yang nomor 1. Pulang tengah malam, mampir kafe buat minum sake dulu,  jam 6 pagi sudah di kantor lagi.  Heran gimana tidur nya itu

Share this post


Link to post
Share on other sites

kemarin dapet tawaran kerja, jam kerja dari jam 8 sampe jam 5 sore, senin-sabtu, kl kerjaan lom beres ga boleh pulang, jadi bisa lebih dari jam 5 sore, and ga diberlakukan lembur, plus tgl merah ga libur.... ga pake lama lgsg dah gw tolak, ajegile, hari gini kerja masih ky kerja rodi jaman belanda huft  :bingung

kapan yach perusahaan indo bisa lebih memperhatikan karyawan kaya di US?? 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now


  • Similar Content

    • By deffa
      Hola Deffa Here !!!
       
      Kebiasaan, kayaknya udah jadi makanan sehari-hari ya, udah mirip dengan makan-minum-tidur gak bisa lepas dari pribadi masing-masing. Apalagi ditambah ketika lagi jalan2 atau wisata, kebiasaan ini kadang keluar sendiri.
       
      Beberapa kebiasaan itu bagus, contoh tidak membuang sampah sembarangan, budaya antri dll. Tapi ada juga kebiasaan yang jelek seperti kurang sopan santun, budaya ngaret, dll.
       
      Namun ada yang unik, kebiasaan yang kita nilai bagus di daerah atau lingkungan kita, belum tentu itu dinilai baik di lingkungan atau negara lain loh. Makan dengan tangan (tanpa sendok) di negara asia tenggara mungkin itu hal yang biasa karena adat Melayu masih kental. Tapi tidak demikian dengan negara lain seperti Asia Timur atau bahkan Eropa, bisa dinilai kurang sopan.
       
      Kontak Mata, kalau hal ini memang harus hati-hati karena tiap kontak mata itu bisa membahasakan suatu gerak tubuh yang berbeda, bisa ofensif ataupun difensif. Sering nya terjadi permasalahan karena Kontak Mata antar individu yang salah tafsir.
       
      Maka dari itu berikut beberapa etika yang harus di pahami ketika di negara lain
       


    • By pleasejackys
      Kebiasaan Buruk Turis yang Paling Tidak Disukai
       
      Ketika menjadi turis di tempat asing, seringkali kita menemui warga lokal yang ramah.Nampaknya, mereka merasa senang dan bangga melihat ada orang dari jauh untuk melihat dan menikmati suasana di lingkungannya. Perasaan positif inilah yang membuat mereka terdorong untuk bersikap baik kepada kita sang turis. Harapannya, kita akan merasa betah dan senang telah berkunjung.
       

      Warga Lokal Menyapa Turis
      (Sumber: Flickr. Credit: Aaron Concannon)
       
      Akan tetapi, hal tersebut tak selalu berlaku.Terkadang, ada warga lokal yang justru merasa sebal dengan kedatangan para turis.Keberadaan turis di lingkungan mereka kadang justru dianggap menggangu dan menyebalkan.Bukan tanpa alasan mereka dapat merasa seperti ini. Umumnya, hal ini terjadi ketika sang turis memiliki kebiasaan atau tingkah laku yang buruk. Beberapa kebiasaan buruk bisa membuat kita tidak disukai bukan hanya oleh warga lokal saja, namun juga oleh para turis lain. Akibatnya, tidak ada orang yang akan bersikap ramah dengan kita.
       
      Terkadang kita memiliki sifat atau kebiasaan yang menyebalkan tanpa kita menyadarinya.Padahal, memelihara kebiasaan seperti itu bisa jadi sangat merugikan kita, apalagi saat kita sedang berwisata ke tempat yang asing dan jauh. Untuk itu, mari kita simak bersama beberapa kebiasaan buruk yang seringdimiliki oleh para turis supaya kita bisa menghindarkan diri dari kebiasaan tersebut.
       
       
      1. Merusak Lingkungan
       
      Suatu obyek wisata dapat dibilang menarik jika memiliki keindahan dan keunikan tersendiri.Para turis rela menempuh jarak yang begitu jauh ke suatu tempat hanya agar dapat menikmati keindahan dan keunikan tersebut.Agar obyek tersebut bisa tetap menarik, maka keindahannya harus dijaga dan dirawat dengan baik.Sayangnya, banyak turis yang terkesan menyepelekan hal tersebut dengan melakukan berbagai tindakan tidak bertanggung jawab yang dapat merusak atau mencemari obyek tersebut.
       
      Tindakan yang umum dilakukan turis Indonesia adalah corat-coret. Banyak turis Indonesia yang suka membawa spidol atau pilox saat mengunjungi suatu tempat wisata. Nantinya di sana mereka akan mencoretkan nama mereka di dinding atau batu sebagai tanda bahwa mereka pernah berkunjung ke sana. Padahal jika setiap pengunjung melakukan hal seperti ini, dapat dibayangkan betapa keindahan suatu obyek menjadi tercemar karena dipenuhi coretan di sana-sini.Selain corat coret, tindakan merusak lain yang umum dilakukan antara lain membuang sampah sembarangan, buang air sembarangan, merusak fasilitas umum, dan lain sebagainya.
       

      Indahnya Pantai Rusak Akibat Coretan
      (Sumber: Flickr. Credit: sundafreak)
       
      Hal-hal semacam itu bukan saja merugikan, namun juga memalukan.Sungguh sangat disayangkan jika keindahan sebuah tempat harus terhalang oleh coretan spidol di batu karang.Jangan sampai kita jadi turis yang memiliki kebiasaan buruk seperti ini.Sebagai traveler yang bertanggung jawab, hendaknya kita sadar bahwa menjaga kebersihan, keindahan, dan kerapian selalu penting untuk dilakukan di setiap tempat.
       
       
      2. Tidak Mengikuti Norma Lokal
       
      Berkunjung ke tempat yang bukan tempat kita berarti kita adalah tamu di sana. Maka, sudah sewajarnya jika kita mengikuti aturan yang ada di tempat tersebut. Logikanya, jangan datang ke suatu tempat jika kamu tidak suka dengan apa yang berlaku di sana karena tidak ada yang memaksamu datang ke sana. Hal itulah yang kadang dilupakan oleh sebagian traveler.
       
      Kebiasaan yang kita miliki mungkin memang hal yang wajar di tempat asal kita.Namun, hal tersebut bisa jadi hal yang tidak baik di tempat yang kita datangi.Bersikap seolah kita berada di tempat asal kita dengan tidak mematuhi aturan yang ada akan membuat kita terkesan seperti tidak menghargai norma setempat. Hal itu akan membuat kita terkesan sok dan tidak sopan. Orang-orang mungkin tahu bahwa apa yang kita lakukan tersebut dapat dibilang wajar di tempat asal kita. Namun, mereka tetap akan merasa kesal dan tidak dihargai. Akibatnya, mereka pun akan berbalik tidak menghargai kita juga.
       

      Turis Mabuk-Mabukan di Tempat Umum
      (Sumber: Flickr. Credit: Alex Serge)
       
      Sebagai contoh, menggunakan bikini saat di pantai bisa jadi hal yang sangat lumrah bagi kita yang tinggal di Bali.Namun, saat berkunjung ke daerah Aceh, jangan pernah menggunakan bikini tak peduli sepanas apapun cuacanya. Di sana, norma berpakaian termasuk hal yang sangat serius.Contoh lain misalnya saat kita datang ke India. Di negara tersebut, sapi bisa berkeliaran bebas di jalan raya dan tidak ada orang yang mengusirnya.Ini karena budaya mereka mempercayai bahwa sapi adalah binatang yang suci.Mengusir sapi adalah hal yang sangat buruk untuk dilakukan.Sebagai orang bukan India, kita tentu merasa sapi adalah binatang yang biasa saja.Akan tetapi, bukan berarti kita bisa seenaknya mengusir sapi di jalan untuk melancarkan jalan kita.
       
      Saat akan berkunjung ke suatu daerah, sebaiknya kita mencari tahu terlebih dahulu tentang budaya sosial yang ada di sana. Pastikan kita tahu apa yang baik dan apa yang buruk untuk dilakukan. Mungkin tanpa sengaja kita akan melakukan sesuatu yang melanggar norma di sana. Begitu menyadari hal tersebut, segeralah meminta maaf dan menjelaskan bahwa kita bukan bermaksud tidak sopan.
       
       
      3. Mengambil Gambar Seenaknya
       
      Banyak hal menarik yang bisa akan kita lihat setiap kali berkunjung ke tempat yang baru. Bahkan sebenarnya memang inilah yang kita harapkan saat memutuskan untuk travelling.Maka wajar saja jika hal tersebut membuat kita ingin mengambil gambarnya dan menyimpannya sebagai kenang-kenangan.Akan tetapi, perlu kita ingat bahwa memotret pun ada etikanya.
       
      Mintalah ijin setiap kali ingin mengambil foto seseorang.Jika orang tersebut merasa keberatan, hargailah privasi mereka dengan tidak memaksakan diri mengambil foto secara diam-diam. Apabila yang ingin kita potret merupakan sebuah tempat atau benda, mintalah ijin kepada pemiliknya.Warga lokal yang sedang melakukan hal normal dalam keseharian atau tradisinya memang menarik untuk diabadikan dalam sebuah foto.Namun, jangan sampai mereka merasa terganggu akibat kita mengambil foto mereka.
       

      Jangan Mengambil Gambar Seenaknya
      (Sumber: Flickr. Credit: Made Yudistira)
       
      Kasus mengambil gambar seenaknya ini pernah cukup menghebohkan pariwisata Indonesia ketika para tokoh Buddha merayakan Hari Raya Waisak di Candi Borobudur. Perayaan Waisak yang unik rupanya menarik minat dan rasa penasaran yang sangat besar dari para turis. Dengan penuh semangat, para turis dari dalam dan luar negeri bergerak mendekat dan mengambil gambar para biksu saat mereka sedang khusyuk bertapa dan memanjatkan doa pada Para Dewa. Bahkan, beberapa turis memotret dengan blitz yang menyilaukan dan suara yang cukup terdengar. Aksi ini tentu sangat mengganggu proses peribadatan umat Hindu ini.
       
       
      4. Menyalahkan Penduduk Lokal yang Tidak Berbahasa Inggris di Negara Non-Berbahasa Inggris
       
      Bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang resmi.Ini berarti dalam forum-forum internasional yang bersifat resmi, sudah sewajarnya semua orang menggunakan bahasa Inggris.Umumnya para traveler menguasai bahasa Inggris dengan baik dengan harapan mereka dapat berkomunikasi dengan lancar kemanapun mereka pergi berkunjung.Nyatanya hal ini memang sangat bermanfaat dalam memudahkan komunikasi.
       
      Namun perlu kita ketahui, kemampuan berbahasa Inggris bukanlah hal yang wajib dimiliki oleh setiap orang dari seluruh negara.Seperti Indonesia, banyak negara yang tidak mewajibkan warganya untuk menguasai apalagi menerapkan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Ini berarti, seberapapun kita ahli dalam berbahasa Inggris, komunikasi kita tetap akan terhambat ketika kita berhadapan dengan penduduk lokal yang tidak berbahasa Inggris.
       

      I Speak English
      (Sumber: Flickr. Credit: jmaral)
       
      Pada dasarnya, hal itu adalah hal yang wajar.Namun sayangnya, masih banyak turis yang gagal memahami hal tersebut.Ada turis yang merasa sebal ketika sulit berkomunikasi dengan penduduk lokal gara-gara penduduk tersebut tidak paham bahasa Inggris.Dipikirnya, semua orang seharusnya belajar berbahasa Inggris, terutama pada daerah-daerah yang banyak dikunjungi wisatawan.
       
      Saat berkunjung ke suatu negara yang bahasa resminya bukan bahasa Inggris, justru kitalah yang seharusnya mempelajari beberapa kalimat sederhana dalam bahasa lokal.Memang agak sulit, namun setidaknya hal itu menunjukkan kita menghargai bahasa mereka.Jika kita kebetulan bertemu dengan warga lokal yang mahir berbahasa Inggris, anggaplah hal tersebut sebagai suatu keberuntungan.
       
       
      5. Egois dalam Group Tour
       
      Ikut serta dalam sebuah group tour memang menarik untuk dilakukan sesekali bahkan bagi seorang solo traveler sekalipun. Dalam group tour, kita bisa mengunjungi banyak tempat menarik dalam sebuah kota sembari mendapat informasi yang lengkap dari sang pemandu. Selain itu, kita juga berkesempatan bertemu dengan traveler lain yang mungkin bisa kita jadikan teman baru. Group tour biasanya cenderung murah sehingga kita bisa jalan-jalan dengan lebih hemat.
       
      Masalahnya, kadang ada turis yang seolah tidak menyadari bahwa dia bukanlah satu-satunya turis dalam tour tersebut. Dalam sebuah group tour, turis ini bersikap seolah sang pemandu wisata adalah pemandu pribadinya. Turis seperti ini suka melontarkan banyak pertanyaan dan berbicara panjang lebar kepada sang pemandu wisata sampai turis lain dalam group tersebut tidak berkesempatan untuk berbicara. Terkadang, obyek bahasannya pun tidak berkaitan dengan kegiatan yang tengah dilakukan saat itu.Ada lagi turis yang seolah menganggap bus tour adalah mobil pribadinya.Turis semacam ini suka berjalan-jalan sendirian ketika rombongan sampai di sebuat obyek wisata, namun kembali ke bus terlambat.Akibatnya, rombongan tersebut harus menunggunya.
       

      Banyak Orang dalam Sebuah Group Tour
      (Sumber: Flickr. Credit: Mid Atlantic Center)
       
      Masih banyak lagi sikap egois yang sering dilakukan turis dalam sebuah rombongan group tour.Biasanya, yang seperti ini adalah solo traveler karena mereka terlalu terbiasa bergerak sendiri. Mereka umumnya kurang peka terhadap kenyamanan orang lain saat berwisata. Apalagi jika obyeknya sangat menarik, solo traveler tentu akan mudah terlarut dan terlena dengan suasana sampai lupa akan rombongannya.
       
       
      6. Mengkritisi Isu yang Ada di Tempat yang Dikunjunginya
       
      Kemajuan teknologi, informasi, dan komunikasi telah memudahkan kita untuk mengetahui hal apa saja yang sedang terjadi di berbagai tempat di dunia. Sebagai seorang traveler, mungkin kita sudah terbiasa untuk mencari berita di berbagai media untuk mengetahui isu apa saja yang sedang hangat di suatu tempat yang akan kita kunjungi.
       
      Beberapa isu atau berita tersebut kadang bisa sangat heboh dan menjadi perbincangan banyak orang di mana-mana. Bahkan kita pun bisa saja memiliki pendapat sendiri terhadap isu tersebut atau bahkan senang memperdebatkan hal tersebut dengan orang lain. Namun, perlu kita sadari bersama bahwa memperdebatkan hal tersebut dengan warga lokal bukanlah hal yang bijak dilakukan saat kita sedang berkunjung sebagai turis.
       
      Hindari mengkritisi sebuah isu terhadap suatu daerah saat kita datang mengunjunginya.Kita bisa saja merasa bahwa pendapat kita benar dan kita tahu segala hal yang terjadi karena rajin mengikuti beritanya di media.Akan tetapi, ingatlah bahwa warga lokal tentunya tahu jauh lebih banyak dari kita.Mereka bahkan merasakan atau mengalaminya langsung.Belum lagi berita yang ada di media belum tentu mencakup semua fakta. Kita pun bisa saja salah menginterpretasikan apa yang diberitakan.
       

      Jangan Terlibat dalam Perdebatan Mengenai Isu Lokal
      (Sumber: Flickr. Credit: The US National Archives)
       
      Mengemukakan pendapat memang hak setiap orang.Namun perlu kita ingat juga bahwa menjaga etika juga merupakan hal yang penting.Jika kita memiliki komentar buruk terhadap sebuah isu, sebaiknya kita simpan sendiri saja dalam hati daripada membuat warga tersinggung.Terlepas dari pendapat kita benar atau salah, sebaiknya kita tidak mencari pertentangan dengan masyarakat lokal agar tidak terlibat ke dalam masalah yang lebih serius.
       
       
      7. Menyombongkan Tempat Asal dan Membandingkannya dengan Tempat yang Dikunjungi
       
      Keadaan di tempat yang dikunjungi tentu akan berbeda dengan keadaan di tempat kita berasal. Ketika menemukan suatu perbedaan itu, seringkali kita membandingkannya antara tempat asal dan tempat tersebut.Terkadang, tempat yang kita kunjungi memiliki keadaan yang lebih baik dalam suatu hal, begitu pula sebaliknya.Bagi kita, perbedaan tersebut mungkin terasa menarik untuk dipikirkan.Namun ketahuilah bahwa itu bukanlah hal yang baik untuk diperbincangkan dengan warga lokal, apalagi jika kita merasa bahwa keadaannya lebih baik di tempat kita berasal.
       

      Perbedaan bukan untuk Dibandingkan
      (Sumber: Flickr. Credit: Luke Domy)
       
      Mengkritisi tempat yang kita kunjungi terhadap warga lokal dan membanding-bandingkannya dengan tempat asal kita akan membuat mereka tersinggung. Apalagi jika kita menceritakan tentang tempat asal kita dengan nada yang sombong. Itu akan membuat mereka berpikir, “Untuk apa kau datang kesini jika tempat asalmu lebih baik? Pulang saja sana!â€.
       
      Tempat apapun yang kita kunjungi, rasanya tetap tidak ada yang sebaik rumah sendiri.Itulah yang seringkali dirasakan oleh para traveler. Rasa bangga akan tanah tempat tinggal sendiri memanglah sesuatu yang baik. Namun, bukan berarti kita harus menjelek-jelekan tempat lain. Terkadang, kita memang harus menyimpan pendapat kita dalam pikiran kita sendiri agar tidak membuat orang lain merasa tidak nyaman.
       
      Bahkan sebaliknya pun jika tempat yang kita kunjungi memiliki suatu keadaan yang lebih baik dari tempat asal kita, tetap sebaiknya kita tidak usah membanding-bandingkannya. Karena, hal itu akan membuat orang merasa tidak nyaman dan mengesankan bahwa kita tidak suka dengan tempat kita berasal. Perbedaan yang ada sebaiknya disikapi dengan santai. Lagipula, bukankah salah satu tujuan travelling adalah menemukan kondisi yang berbeda dari tempat kita berasal?Untuk itu, lebih baik kita fokus untuk menikmati suasana yang ada dan tidak perlu mencari mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk.
       
       
      Berkelana di tempat yang asing sebagai seorang turis memanglah suatu petualangan yang menyenangkan. Apalagi jika kita bisa bertemu dan berinteraksi dengan penduduk lokal yang ramah maupun sesama turis lain yang menyenangkan.
    • By 3131802
      temen2, sharing nih tanda2 kita harus keluar dari pekerjaan kita:
       
      Mulai membenci pergi ke kantor, kalau anda mulai merasa pergi ke kantor itu hal yang sangat anda benci, tandanya anda mulai nggak betah. Anda selalu merasa khawatir apa yang akan terjadi di pekerjaan anda hari ini dan sebagainya. Bekerja tidak dengan hati, anda membenci pekerjaan anda. Mengerjakannya dengan terpaksa dan selalu mengeluh Selalu Berselisihpaham dengan bos, jika ini selalu terjadi, sebaiknya anda mengambil keputusan Hubungan dengan rekan kerja tidak baik, rekan kerja adalah partner anda, Kalau selalu tak sejalan, lebih baik anda pikirkan lagi Anda tidak dihargai, anda harus bisa menghargai diri anda sendiri. Jika memang sudah merasa pekerjaan yang anda lakukan tidak sesuai dengan apa yang anda dapatkan lebih baik anda mencari yang lain Makan gaji buta, Jangan dikira makan gaji buta enak, kalau kerjaan di kantor yang anda lakukan tidak sesuai dengan pekerjaan pokok anda, seperti hanya main-main saja, lebih baik ditinggalkan Mulai cari-cari yang baru, kalau sudah ada keinginan keluar, anda biasanya akan car-cari yang baru. Nah, ini udah tanda-tanda nih...  
       
    • By secret admirer
      Nggak tau ya apa saya salah masuk kamar atau nggak

      mie kayaknya emang udah jadi salah satu kuliner deh.. soalnya, emang mie bisa dijadiin apa aja dan pastinya banyak dicari.. nah, saya punya kebiasaan nih. Sering banget ke pusat belanja yg dicari mie dengan rasa baru. Merk buat saya ga fanatik, yang penting rasa.

      Mulai dari yang ayam bawang (mnrt saya ini rasa paling simple alias hambar ) ampe yang baru kayak yg lg ngetrend skrg, yaitu mie cabe ijo

      terus suka juga beli2 aneka rasa ramen gt.. hmmm kata temen saya, makan mie ga boleh lbh dari 4 kali dalam sminggu apalagi kalo makannya 4 hari berturut2,., ok ga bagus, paling ga intensitas dikurangi, tapi nyobain aneka rasanya jalan terussss
    • By Luwaks
      Kadang untuk Pria atau wanita sering karena sibuk lupa melakukan ritual kecantikan.
      Berikut adalah beberapa yang harus dihindari ketika dilakukan di kantor.seperti dilansir All Women Stalk.

      1. Makeup di Kantor.
      Hindari terlalu sering berdandan di tempat kerja kecuali dilakukan karena keadaan darurat dan sembunyi-sembunyi

      2. Parfum menyengat
      Memakai sedikit itu ok, tapi kalau terlalu banyak akan mengganggu banyak orang

      3. memainkan kuku atau rambut
      gerakan tubuh ini dapat membuat seseorang dianggap sedang bosan, tidak percaya diri, dan gugup. Untuk mengatasinya, ikatlah rambut dan warnai kuku supaya Anda tidak ingin memainkan ataupun menggigitinya.

      4. Make Up Berlebihan
      tampil dengan make up yang terlalu dramatis di tempat kerja menunjukkan bahwa Anda tidak profesional dan tidak dewasa. Terkecuali Anda bekerja di tempat yang mengizinkan atau mewajibkan make up tebal, tampillah 'aman' dengan make up yang simpel dan natural.

      5. nail art berlebihan
      hindarilah kuku panjang ataupun nail art yang berlebihan karena dapat memperlambat pekerjaan.

      6. Terlihat berantakan
      Pergi ke tempat kerja dengan penampilan berantakan seperti rambut yang tidak disisir maupun belum mandi membuat kolega kerja tidak nyaman berada di dekat Anda.

      7. Tatanan Rambut berlebihan
      Tampil di tempat kerja dengan tatanan rambut layaknya ke pesta tidaklah baik dan terlalu berlebihan.

      8. Salon berjalan
      Ritual kecantikan seperti mencabut alis, memencet jerawat, ataupun mengecat kuku sebaiknya tidak dilakukan di tempat kerja.
      karena dapat mengganggu orang lain dan terlihat tidak professional.
    • By Lyn
      Orang jepang emang unik dan soal jepang emang gak ada habisnya, beberapa hal ini adalah kebiasaan atau hal-hal yang sangat unik di jepang.

      1. Masyarakat jepang gak suka angka 4 sama 9. Karena angka 4 itu shi yang artinya sama kayak 'mati' sedangjkan angka sembilan itu 'ku' yang sama bunyinya kayak kata 'kurushi' yang artinya sengsara

      2. Kebanyakan orang jepang suka sama angka 8

      3. Kalau musim panas sinetron atau acara-acara TV rata-rata yang berbau horor

      4. Drama detektif jepang biasanya di akhirnya ada bunyi sirene baru muncul sama sebelum adegan berantem biasanya penjahatnya yang jelasin rahasia kejahatan nya dulu.

      5. Kalau memperkenalkan diri, orang jepang jarang pakai salam kayak selamat pagi.. siang.. sore.. dll. Karena terdengar aneh di telinga mereka, katanya kayak pembawa berita. Kalau mereka biasa langsung kenalin nama dll.

      6. Nama orang jepang selalu pakai nama keluarga

      7. Tanda tangan orang jepang adalah nama mereka dalam huruf kanji

      8. Acara TV di jepang rata-rata acara masak memasak

      9. Fotocopy di sana selalu self service

      10. Kalau naik taksi yang bukain dan tutupin pintu harus supir, penumpang gak boleh buka sendiri.

      11. Di jepang tanda tangan gak begitu berlaku yang banyak berlaku itu adalah cap yang di kategorikan lagi sesuai kepentingannya masing-masing

      12. Naik sepeda gak boleh boncengan kecuali bonceng anak-anak. Yang bonceng harus lebih dari 16 tahun dan yang dibonceng harus kurang dari 1 tahun itu juga cuma boleh satu orang. Kalau gak denda maksimal 20 rb yen
    • By chime
      Etos di china tinggi banget, biasanya jam kerja masuk jam 8 pagi pulang jam 5 sore dan istirahat satu jam tapi biasanya karyawan dichina hanya mengambil waktu istirahat rata2 cm 10 menit doank trus lsg kerja lagi, bahkan mereka bersedia utk kerja lembur padahal nga semua perusahaan memberikan uang lembur, bahkan weekend pun mereka gunakan utk kerja paruh waktu.

      Saking semangatnya warga china jarang banget yg ambil cuti, hanya sekitar 65 persen doank yg ngambil jatah cuti.

      Ada hal yg patut dicontoh yaitu warga china pantang banget boros, kebanyakkan pengeluaran bulanan mereka hanya separuh dari penghasilan yg didpt, jadi sisanya langsung disimpan utk kebutuhan lain waktu.

      Dan dikantor warga china jarang banget ngomong karena mereka konsentrasi banget ama pekerjaan, jadi jangan harap bs diajak ngerumpi khususnya waktu jam kerja. :o