Sign in to follow this  
ameryudha

kalau mau pergi ke jepang, apa sih yang harus diketahui ? simple but important

12 posts in this topic

Buat agan nih yang mau pergi ke jepang , ada beberapa info yang harus agan tau

1. Agan harus liat musim nya, nanti agan pergi pengen ketemu salju taunya agan ketemunya suhu 42 C gan. Musim di jepang itu sama kaya di Eropa, jadi agan bisa tenang pergi kesana( semua Jepang kena salju ko, terus Hokaido sepanjang tahun salju semua, dan ini cocok banget buat yang pengen main ski( agak mahal sih kalo kesana). Oh iya, kalo sekarang-sekarang agan pengen ke Jepang, sering ada badai gan( yah September-Oktober , abis itu salju deh))

2. Orang jepang itu have bad English accent , kalo agan ga mau kesulitan coba pelajari beberapa kalimat seperti “ ohaiyoâ€. Nah kalo agan nanya sama orang jepang dengan diawali percakapan basa Inggris, kemungkinan tu orang jepang ga mau ngomong( banyak orang jepang ga bisa b.inggris gan). Tapi yang perlu agan tau, ntah kenapa orang jepang itu kalo mau nolong orang pasti diniatin banget( kalo agan nanyain jalan, mereka berusaha nolongin walaupun mereka ga ngerti agan mau kemana)

3. Kalo budget nya terbatas, agan nginap di hostel aja. Gan , harga hotel disana mahal loh, agan harus tau kalo harga per malam di hostel kalo di konversi bisa Rp.600.000, kalo bintang paling murah itu Rp. 1jt.

4. Biar aman, agan ajukan visa 2 bulan sebelumnya. Di Indonesia butuh penjamin, paling gampang kalo agan punya keluarga disana. Tapi agan bisa Tanya langsung ke kantor kedubes jepang soal persyaratan visa ini. Jepang itu agak susah gan, tapi ga sesusah kalo mau ke amrik, pokonya ga bisa mepet. Ke Prancis sama ke Jepang lebih susah ke Jepang gan visanya.

Segitu dulu infonya ya gan. Gpp ya gan? Nanti saya lanjutin lagi gan, ngantuk abisnya takut salah ngasih info hehe.

Share this post


Link to post
Share on other sites

nice info niiiiiii :D

wlpun belum ada niatan mau kesana, paling ke kota yang ada patung Hachi aja :)

1. bener niihh, jangan sampai salah musim nii

2. mau g mau harus belajar bahasa jepang niiiiii bagi yang mau kesana, wlpun cm sedikit

3. Nginep di salah satu rumah orang disana aja mungkin juga bisa jadi alternatiff ya :D

4. iyaaaa niiihhh, bisa d sharing lebih jelas lagi bung, ttg visa ke sana ^_^

Share this post


Link to post
Share on other sites

infonya sangat baik sekali. saya pikir cuma amerika aja yang paling susah dapet visa. saya pernah ngurus visa ke amerika buat adik saya. pusing banget deh. harus beberapa kali bolak balik ke embassy. seharusnya ada visa on arrival.

Share this post


Link to post
Share on other sites

wah bagus ya infonya, kalau boleh saya tambah nih ya?

1. buat yang muslim, mencari makanan yang halal agak sulit. walaupun misalnya kita makan seafood, bukan berarti gak ada unsur non halalnya. untuk ini saya sarankan survey dulu atau bisa juga memesan makanan halal melalui internet.

2. sebaiknya ke jepang dengan tujuan ikut short course karna biasanya biayanya jauh lebih murah dan lebih cepat di acc

selebihnya aku idem sama TS.. top!

Share this post


Link to post
Share on other sites

waw nice info semua neh di atas....jadi paling gmpang sbnernya ikut tur aja ya hehehe :P

kalo ikut tur ga enaknya ga bisa kemana2 kecuali yg udah dipaketin kan?

tapi enaknya terarah dan lebih aman,,,hehhe

anyway.. nice inpo nih.. musim dingin di sana bisa-bisa kaget nih kalo yg ga biasa kena musim dingin kayak kita..

oya, perlu lah belajar dikit2 bhs. jepang kalo diniatin dari jauh2 hari.. ;)

Share this post


Link to post
Share on other sites

1. buat yang muslim, mencari makanan yang halal agak sulit. walaupun misalnya kita makan seafood, bukan berarti gak ada unsur non halalnya. untuk ini saya sarankan survey dulu atau bisa juga memesan makanan halal melalui internet.

Kata temen yang tinggal di sana, emang susah ya cari makanan halal di Jepang. Jadi kalo dia lagi mo jalan-jalan ke tempat-tempat wisatanya misalnya, biasanya bawa makanan masakan sendiri gitu.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Sy juga punya info sekitar jepang nih. Kalo mau mampir ke harajuku atau ke tempat yg banyak cosplayernya, jgn suka minta foto sembarangan. Biasa para cosplayernya itu abis foto masang harga loh

Share this post


Link to post
Share on other sites

wah nice info bangetttt... untung dulu pas SMA aku ada pelajaran bhs jepang. walopun masih gak bisa sih.. tapi mungkin sedikit2 kata sapaan selamat pagi, siang sore malem aku bisaaa hehehehehe dan ucapan terimakasih ehehehe

ohaiyo gozaimasu

:P

Share this post


Link to post
Share on other sites

rasanya musti belajar culture mereka juga dikit2, soalnya mereka sopan bgt & cukup pemalu ya masyarakat nya. yg pasti harus bisa bersikap sesuai tata krama mereka :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

rasanya musti belajar culture mereka juga dikit2, soalnya mereka sopan bgt & cukup pemalu ya masyarakat nya. yg pasti harus bisa bersikap sesuai tata krama mereka :)

betul mas dimana2 klo kita masuk ke suatu sosial yg pertama kita harus ikut membaur dengan kehidupan sosial mereka juga ya :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By vie asano
      Apa moda transportasi paling murah di Jepang?
      Wisatawan asing yang belum pernah pergi ke Jepang pun mungkin sudah tahu jika jawabannya adalah kereta api. Tak hanya murah, kereta api juga menjadi moda transportasi paling praktis karena jaringannya telah menjangkau berbagai sudut kota dan menghubungkan berbagai kota di seluruh Jepang. Tak heran jika kereta api menjadi moda yang paling banyak digunakan baik oleh warga Jepang dan juga wisatawan asing.
      Bicara tentang kereta api di Jepang, selalu ada banyak hal yang bisa dibahas. Mulai dari hal-hal teknis seperti jalurnya yang rumit (konon jaringan kereta api di Tokyo termasuk yang terumit di dunia), cara pembelian tiket, dan banyak lagi. Biasanya, wisatawan yang baru pertama pergi ke Jepang yang paling banyak mencari informasi seputar hal-hal teknis. Maklum, perbedaan sistem pastilah akan membuat wisatawan asing sedikit bingung dan mungkin juga terkena culture shock melihat bagaimana kereta api menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan orang Jepang. Namun diluar hal-hal teknis tersebut, sebetulnya ada hal lain yang tak kalah penting untuk diketahui oleh pengguna kereta api, yaitu etika dalam berkereta api.
      (1) Kereta di Jepang [foto: Tiseb], (2) Tipikal interior kereta di Jepang [foto: Hitachiota]
      Seberapa penting sih mengetahui etika berkereta api di Jepang? Penting banget. Saking pentingnya, beberapa common sense pun seringkali ditempel dalam bentuk poster himbauan yang mudah ditemukan di berbagai sudut stasiun maupun di dalam kereta. Wajar saja, mengingat kereta api merupakan moda transportasi favorit, masalah kenyamanan bersama merupakan hal yang tak bisa ditawar lagi. Lalu apa yang akan di dapat jika melanggar aturan maupun etika tersebut? Memang sih di Jepang tak ada sanksi maupun denda yang akan dikenakan. Paling-paling Anda akan dipelototi maupun ditegur oleh penumpang lainnya. Namun jika ingin sama-sama nyaman dalam menggunakan kereta api, tak ada salahnya kan mengetahui apa sih yang boleh dan tak boleh dilakukan di kereta api di Jepang?
      (3)(4) Contoh poster himbauan [foto: Tenaciousme]
      Bagi traveller yang ingin tahu tentang etika berkereta api di Jepang, berikut sebagian etika yang diambil dari berbagai poster di stasiun maupun kereta. Sebagian besar sebetulnya termasuk common sense yang juga berlaku di Indonesia. Bagi yang ingin mengetahui hal-hal teknis seputar kereta api, sebagian bisa dibaca disini ya.. (1) (2) (3)
      Umum
      -Ini aturan paling dasar yang wajib dipatuhi oleh semua pengguna moda transportasi masal baik di Jepang maupun di Indonesia: antrilah sebelum masuk ke dalam kereta api. Konsep antri di stasiun kereta Jepang terbilang baik karena memiliki garis antrian yang jelas. Nekat menyerobot? Siap-siap di tegur oleh penumpang lain ya!
      -Dahulukan kenyamanan bersama. Jangan melakukan hal-hal yang dapat mengganggu orang lain (baik di dalam kereta maupun di area stasiun), seperti makan makanan yang beraroma menyengat, bergerombol di area pintu kereta dan menghalangi penumpang lain, mengayunkan payung seperti bermain golf, maupun tidur bersandar di bahu orang lain.
      -Jika membawa anak-anak, pastikan anak Anda tidak melakukan aktifitas yang mengganggu orang lain seperti: berisik, menangis, menaikkan kaki ke kursi, menyalakan mainan yang berbunyi kencang, tidak membiarkan anaknya berkeliaran dalam kereta, dan sebagainya.
      -Jangan berdandan dalam kereta. Maksud dari berdandan disini bukan sekedar memakai bedak dan menggunakan lipstik, tapi berdandan lengkap mulai dai menggunakan foundation hingga blush on (biasanya dilakukan oleh gadis-gadis muda yang terlambat bangun). Hindari juga aktifitas yang mungkin mengganggu orang lain, seperti membersihkan cat kuku dengan cairan pembersih.
      -Jangan membuang sampah sembarangan di dalam kereta.
      -Dilarang merokok selama perjalanan.
      -Sakit batuk atau pilek? Gunakan masker agar virus tak menyebar pada orang lain.
      -Jangan menerobos kereta yang akan berangkat (biasanya dilakukan oleh karyawan yang terlambat mengejar kereta pagi).
      (5) Antrian sebelum naik kereta [foto: ShunEndoPhotos], (6) Tidur di bahu penumpang lain [foto: MShades]
      Seputar penggunaan alat elektronik dan masalah suara
      -Jangan menerima maupun mengangkat telepon di dalam kereta. Browsing maupun membuka email masih dimaklumi.
      -Sebaiknya ubah telepon ke silent mode sebelum masuk ke dalam kereta. Lebih baik lagi jika dimatikan, karena khawatir akan mengganggu penumpang lain yang mungkin saja menggunakan alat pacu jantung.
      -Boleh-boleh saja menggunakan earphone dan mendengarkan musik dalam kereta. Namun pastikan suara musik tidak bocor atau siap-siap diomeli pengguna kereta lainnya. Yaa, minimal dipelototi atau sekedar ditegur.
      -Jangan bicara dengan suara terlalu keras. Jika hendak mengobrol, lakukan dengan suara sepelan mungkin.
      Suasana di dalam kereta api yang relatif tenang 
      Tentang tempat duduk
      -Kereta di Jepang biasanya memiliki 2 jenis tempat duduk: tempat duduk biasa dan priority seat. Priority seat ditujukan untuk orang-orang berikut ini: ibu hamil, orang yang membawa anak kecil, penyandang cacat, orang sakit, dan orang tua. Jadi jangan duduk di priority seat kecuali terpaksa, dan dahulukan tempat duduk untuk mereka yang membutuhkan sekalipun tidak duduk di priority seat.
      -Di kereta, jangan membuka kaki terlalu lebar karena bisa mengganggu kenyamanan pengguna lainnya.
      -Duduklah di tempat duduk yang telah disediakan. Jangan duduk di lantai. Himbauan ini muncul karena banyaknya anak muda yang sengaja santai duduk di lantai kereta.
      -Jika bermaksud membaca koran dalam kereta, jangan membuka koran terlalu lebar.
      -Jangan menghabiskan area kursi penumpang untuk tidur. Biasanya ini dilakukan oleh penumpang yang pulang terlalu larut, atau bahkan sedang mabuk.
      Priority seat [foto: Ffg]
      Masalah barang bawaan
      -Jika membawa barang bawaan, letakkan di atas rak yang tersedia sekalipun Anda berdiri sepanjang perjalanan. Dengan meletakkan barang bawaan di rak, akan tersedia tempat yang lebih luas untuk pengunjung lain.
      -Seandainya barang terlalu besar untuk dinaikkan ke rak, setidaknya usahakan agar posisi barang bawaan tidak menghalangi pergerakan orang lain (terutama ke arah pintu keluar).
      Tak sulit kan mengingat do dan don't dalam berkereta api di Jepang? Gunakan saja insting Anda. Selama tidak melakukan hal-hal yang berpotensi mengganggu orang lain, biasanya semuanya akan baik-baik saja. Oya, sebetulnya masih ada lagi etika lainnya, yaitu jangan menggoda maupun memandangi orang lain terlalu lama. Dan bagi penumpang pria, hati-hati dengan tangan Anda. Jangan sampai menyentuh apalagi memegang bagian tubuh penumpang lain (khususnya wanita). Salah-salah Anda akan dianggap melakukan chikan, atau pelecehan seksual. Bagi traveller wanita yang merasa dilecehkan, Anda bisa berteriak chikan untuk menarik perhatian orang lain, atau mengadukannya pada petugas. Bisa juga menghindari chikan dengan naik gerbong khusus wanita yang hanya berlaku pada jam tertentu.
      Gerbong khusus wanita [foto: Chris_eden]
    • By Gulali56

      Sudah banyak memang yang menulis bahwa apply visa China itu gampang . Tetapi yang namanya sudah beli tiket pesawat pulang pergi , apply visa selalu membuat saya was was.
      Ini kali kedua saya apply visa, setelah sebelumnya apply visa Taiwan 2 tahun yang lalu. Yang bikin kuatir mungkin karena salah satunya adalah saya baru memperpanjang paspor pertengahan tahun ini.So far dengan paspor yang baru cuma ada cap Negara Singapura 2x dan Malaysia 1x.
      Untuk apply visa China sekarang tidak lagi di kedutaan RRC melainkan agen khusus yang ditunjuk yaitu di Chinese Visa Application Service Center di The East Mega Kuningan. Padahal Kedutaan RRC cuma 3 menit jalan kaki dari kantor saya. Sedangkan ke The East itu justru 10menitan.
      Pertama-tama saya mendownload form di https://www.visaforchina.org/ sebenarnya bisa sekalian isi online terus tinggal print tapi karena teman saya tidak ada internet akhirnya saya download saja dan isi manual tulisan tangan.
      Pertanyaannya tidak terlalu ribet, mungkin yang agak ‘tricky’ karena ada kolom itinerary tapi cuma dikasi jatah 5baris. Akhirnya saya tulis tanggal saya sampai di Beijing dan tanggal keluar dari Beijing.Haha.. asli culun. Maksud saya toh memang mau menyertakan itinerary di lembar terpisah.Ternyata pas di loket, dikembaliin tuh lembar itinerary yang di ketik bagus-bagus.Yang culun di aplikasi justru tak masalah.
      Jadi yang dibutuhkan untuk apply visa China itu adalah sbb:
      Form aplikasi yang sudah diisi lengkap dan di ttd. Oiya pake ukuran kertas A4 ya print nya. Foto 4x4.5cm latar belakang putih 1 lembar. Kalau saya ambil foto di Mal Ambassador lt.1,15-20menit saja harga Rp 40,000.Cukup bilang foto buat visa China ya.Orgnya sudah biasa bgt ngelayanin pembuatan foto buat visa jadi gak pake tanya ukuran foto.Iyalah daerah kuningan gudangnya kedutaan dan agen pembuat visa. Paspor asli dgn masa berlaku lbh dari 6bln dari tgl keberangkatan. Copy paspor, copy KTP Copy Ticket pesawat Copy booking hotel Saya datang jam 11.30 langsung diarahkan naik tangga ke lantai 2 pas di depan pintu masuk The East. Di lantai 2 ketemu satpam,ditanya mau ambil jalur regular atau express.Berhubung santai ya kita pakai jasa regular. Dikasi nomer urut.Baru duduk 2 menit sudah dipanggil nomer saya, karena memang saat itu kosong banget disana.
      Di loket langsung dicek kelengkapan dokumen, ternyata temen saya lupa copy passport nya untung mba petugasnya baik. Diterima
      aja tanpa embel-embel harus bayar fotocopy lagi. Langsung dikasi form pengambilan visa

      Saya submit aplikasi di hari selasa, visa bisa diambil di hari jumatnya. Yang paling oke lagi. Bayar nya pas visa jadi dan bisa pakai credit card.
      Akhirnya berhasil juga dapat visa China, padahal pas ambil pas sampai sana jam 4kurang 2menit.hehehe..
      Cuman lagi mikir aja. Betapa enaknya itu agen service visa yang di kasi hak exclusive itu. Harga single entry (reguler) yang Rp 300,000 jadi Rp 540,000. Ckckck..Kaya banget tuh agen.
      The East Building, Unit 6, 2nd Floor,
      Jl, DR. Ide Anak Agung Gde Agung Kav.E 3.2
      no.1 South Jakarta 12950, Indonesia.
      Office Hours:
      Monday – Friday
      Application Submission: 9:00AM to 3:00PM
      Payment and Passport Collection: 9:00AM-4:00PM
      The Center is closed on Saturdays, Sundays and Indonesian public holidays.
      Biaya Visa + Processing Fee
      Single Entry:
      Reguler(4hari) : 300,000 + 240,000
      Express (3hari): 300,000 + 200,000(extra fee) + 400,000
      Urgent (2hari): 300,000 + 300,000(extra fee) + 500,000
      Nah kebayang deh jadi berapa total biaya untuk entry dibawah ini.
      Double entry : Rp 450,000
      Multiple entry /6bulan : Rp 600,000
      Multiple entry/1thn: Rp 900,000

    • By vie asano
      Jepang boleh saja dikenal sebagai salah satu negara dengan jaringan kereta api dan subway terumit di dunia. Kereta dan subway pun menjadi moda transportasi andalan bagi penduduk Jepang dan juga wisatawan yang berwisata ke Jepang. Namun perlu diketahui juga jika bus pun memegang peranan penting dalam moda transportasi di Jepang. Bus menjangkau tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh kereta dan subway, dan bahkan untuk beberapa kota yang tak terlalu besar seperti Kyoto, bus menjadi moda transportasi utama mengalahkan kereta dan subway. Jadi nggak ada salahnya bagi wisatawan untuk mengenal sedikit tentang moda transportasi bus di Jepang.
      Bus di Jepang, foto:
      thanhnientudo Sebagai Gambaran Awal, Inilah Macam Bus di Jepang
      Secara mudah, bus di Jepang dapat dibedakan dalam kategori berikut ini: bus dalam kota, highway bus (atau bus jalan tol), dan bus wisata. Bus dalam kota, atau bus lokal, merupakan bus yang bergerak di dalam kota saja. Bus ini menjadi moda transportasi kedua di kota besar seperti Tokyo, namun menjadi moda transportasi utama di kota kecil dan menengah. Highway bus merupakan bus yang bergerak di jalan tol dan fungsinya sebagai alat transportasi untuk berpindah kota dari satu kota ke kota lainnya. Sedangkan bus wisata merupakan jenis bus yang dioperasikan dengan tujuan untuk wisata dan bukan untuk digunakan sehari-hari. Yang termasuk dalam jenis bus wisata ini seperti shuttle bus dan sightseeing bus.
      Sightseeing bus di Tokyo, foto:
      wikimedia commons Khusus untuk tulisan ini, saya akan membahas lebih lanjut tentang bus lokal. Untuk highway bus maupun jenis bus lainnya akan saya ulas terpisah.
      Mengapa Wisatawan Asing Perlu Mengetahui Seluk Beluk Bus di Jepang?
      Di Jepang, tidaklah sulit jika ingin menggunakan kereta dan subway sekalipun kalian tidak menguasai bahasa Jepang. Seiring dengan semakin tingginya perhatian akan sektor wisata, saat ini kalian bisa dengan mudah menemukan berbagai petunjuk arah maupun informasi dalam bahasa Inggris di berbagai stasiun dan kereta di Jepang.
      Namun itu tidak berlaku untuk bus. Setidaknya, hingga saat ini mayoritas bus di Jepang masih minim dari sentuhan bahasa Inggris. Umumnya informasi masih disajikan dalam bahasa Jepang, pun dengan supir bus yang tidak mengerti bahasa Inggris. Itulah mengapa naik bus di Jepang bisa cukup mengintimidasi bagi wisatawan asing, khususnya jika kalian pergi ke kota-kota dimana bus menjadi moda transportasi utama.
      Beginilah Caranya Naik Bus di Jepang
      Sekalipun bus di Jepang terasa mengintimidasi, bukan berarti kalian nggak bisa menaklukkan hal tersebut. Berikut ini beberapa tips umum yang bisa dicoba saat naik bus di Jepang.
      1. Naiklah bus dari halte bus. Untuk masuk ke dalam bus, umumnya menggunakan pintu belakang maupun pintu tengah, dan turun lewat pintu depan. Kecuali jika bus hanya memiliki satu pintu, maka masuklah dari pintu tersebut.
      Tambahan: timetable bus bisa dilihat di halte bus.
      Naik bus dari pintu tengah atau belakang, foto:
      weshare 2. Saat baru masuk, kalian akan menemukan mesin kecil yang akan mengeluarkan tiket. Ambil tiketnya dan perhatikan nomor yang tertera di tiket tersebut. Gunanya nomor itu adalah untuk menentukan biaya perjalanan yang harus dibayar (yang akan semakin bertambah seiring dengan bertambahnya jarak tempuh, kecuali jika bus yang dinaiki menggunakan flat rate). Sedangkan jika kalian menggunakan kartu IC seperti Suica atau Passmo, jangan lupa men-scan kartu saat akan masuk ke dalam bus.
      3. Di dekat supir bus biasanya akan ada monitor yang menunjukkan angka-angka. Untuk mengetahui biaya yang harus kalian bayarkan, cari nomor yang sesuai dengan nomor tiket dan lihat harga yang tertera disebelahnya. Untuk bus dengan tiket flat rate, mungkin saja display ini tidak tersedia.
      Foto:
      reviewmylife 4. Saat mendekati halte tujuan, tekan tombol yang terdapat di dinding maupun tiang di dekat tempat duduk. Tombol tersebut berfungsi untuk memberitahu supir bus jika kalian akan turun di pemberhentian berikutnya.
      Tips: hapalkan dengan benar halte bus tujuan, jika perlu catat namanya, karena mungkin saja informasi yang tersedia hanya menggunakan bahasa Jepang.
      Tombol untuk berhenti di tiang bus, foto:
      closertojapan 5. Saat akan turun, bayarkan biaya perjalanan dengan memasukkan sejumlah uang ke dalam kotak di dekat supir. Bayar dengan uang pas ya! Jika nggak punya uang kecil, kalian bisa menukarkan uang tersebut di mesin penukar uang yang juga terletak di dekat supir. Jangan lupa masukkan juga tiket yang diambil saat masuk ke dalam bus.
      Catatan tambahan: untuk bus yang menggunakan flat rate, ada kemungkinan biaya harus dibayarkan di awal saat naik ke dalam bus.
      Berapa Sih Biaya Untuk Naik Bus di Jepang?
      Harga tiket bus berbeda-beda untuk setiap kota. Sebelumnya, ketahui dulu jenis harga yang berlaku dalam sebuah bus. Ada bus yang menerapkan harga berdasarkan zona, yaitu tarif bertambah seiring dengan bertambahnya jarak tembuh; dan ada juga yang menerapkan regular charge/flat charge. Untuk tarif berdasarkan zona, harganya bisa mulai dari 100-200 yen untuk dewasa, dan diskon 50% untuk anak-anak. Sedangkan untuk tarif flat rate, bisa mulai dari 200 yen-an.
      Cara Untuk Mengetahui Bus yang Harus Dinaiki
      Sama seperti kereta dan subway, bus di Jepang juga bergerak berdasarkan rute/jalur tertentu. Biasanya jalur tersebut diwakili oleh angka maupun warna yang bisa dilihat di peta rute bus. Untuk mencari tahu bus mana yang harus dinaiki, cari tahu halte bus mana yang terdekat dengan tempat tujuan dan bus mana yang berhenti di halte tersebut. Kalian mungkin saja harus pindah jaur beberapa kali sebelum bisa mencapai halte yang dituju.
      Sebagai contoh, inilah rute bus di Kyoto. Silahkan diklik untuk melihat langsung jalur bus di kota Kyoto. Misalnya saja jika ingin pergi ke Gion, kalian harus naik bus no 12, 46, 100, 201, 202, 203, 206, atau 207 yang berhenti di halte bus Gion. Jika kalian berangkat dari depan Stasiun Kyoto (yang dilalui oleh bus no 4, 5, 9, 17, 26, 28, 50, 100, 101, 205, 206), maka kalian bisa naik bus nomor 100 maupun nomor 206. Silahkan coba melihat sendiri obyek wisata favorit kalian dan halte bus terdekat, sambil menerka-nerka bus mana yang seharusnya diambil untuk bisa sampai ke halte bus yang diinginkan.
      Semoga bermanfaat!
    • By vie asano
      Di era internet seperti sekarang ini, rasanya ada yang kurang jika nggak terhubung ke internet. Begitu juga saat berwisata ke negara lain. Rasanya akan ada yang kurang jika tak terhubung ke internet untuk sekedar mengecek Facebook, men-twit sesuatu, maupun sekedar berbagi foto wisata di Instagram. Itulah mengapa masalah internet termasuk salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan oleh wisatawan modern pada masa kini.
       
      Wisatawan yang akan bepergian ke Jepang juga kerap menanyakan hal yang sama. Jepang memang dikenal sebagai salah satu negara termaju di dunia. Namun bagaimana dengan masalah internet? Apakah wisatawan dapat dengan mudah terhubung dengan internet selama di Jepang? Apakah jaringan internet sudah meng-cover seluruh Jepang? Dan apakah ada syarat khusus untuk mengakses internet bagi wisatawan asing yang tengah berada di Jepang? Mari simak ulasan tentang internet di Jepang berikut ini.
       
      Sulitkah bagi wisatawan untuk terhubung dengan internet di Jepang?
      Ada beberapa fakta menarik seputar internet di Jepang. Pertama, negara Jepang dikenal sebagai negara yang 80% penduduknya telah terhubung dengan internet. Itu menjadikan Jepang sebagai negara dengan populasi pengguna internet terbesar ke-4 di dunia dan menjadi salah satu negara dengan tingkat penetrasi internet tertinggi di dunia. Pertanyaannya adalah, dengan perkembangan jaringan internet yang sudah sangat luas tersebut, apakah itu berarti wisatawan asing cukup mudah untuk terhubung dengan internet selama berada di Jepang?
       
      Jawabannya adalah ya dan tidak. Ya, karena dewasa ini jaringan internet sudah mudah ditemukan di berbagai hotel, penginapan, maupun hotspot lainnya. Tidak, karena ada beberapa jaringan internet yang mensyaratkan wisatawan untuk mendaftar terlebih dulu dan memasukkan data-data pribadi seperti nomor passport. Beberapa jenis akomodasi yang populer bagi wisatawan asing, seperti hostel dan dormitory, terkadang malah sama sekali tidak menyediakan jaringan internet bagi para tamunya.
       
      Dimana tempat yang mudah untuk mengakses internet bagi wisatawan asing?
      Ada beberapa tempat dimana wisatawan asing sekalipun bisa mengakses internet dengan relatif mudah.
       
      1. Di tempat menginap
      Saat ini, kebanyakan hotel di Jepang (terutama hotel baru) telah menawarkan fasilitas internet gratis bagi para tamunya, baik berupa kabel LAN maupun koneksi wireless. Namun perlu diketahui juga jika nggak semua hotel menyediakan internet gratis. Ada beberapa hotel yang men-charge biaya internet pada tamunya, jadi sebaiknya kalian memastikan dulu status fasilitas internet di hotel pilihan kalian.
       
      Untuk akomodasi tipe lainnya, seperti ryokan dan hostel, nggak semuanya menyediakan fasilitas internet. Jika pun ada, biasanya hanya ada di area publik seperti lobi. Semakin sebuah akomodasi tersebut jauh dari pusat kota dan makin dekat ke daerah terpencil seperti onsen resort dan ski resort, maka koneksi internet yang terdapat di tempat tersebut pun semakin terbatas (bahkan mungkin sama sekali nggak ada).
       

      Ryokan, salah satu jenis penginapan tradisional yang belum tentu menyediakan koneksi internet, via hightouch-japan 
       
      2. Internet Cafe dan manga kissa  
      Internet cafe alias warnet (warung internet) dan manga kissa (alias manga cafe) merupakan salah satu tempat favorit bagi wisatawan yang ingin mengakses internet selama berada di Jepang. Bahkan bagi beberapa budget traveller, internet cafe dan manga kissa juga menjadi tempat favorit untuk menginap. Selain akan mendapat fasilitas internet berkecepatan tinggi, rata-rata warnet dan manga kissa menyediakan fasilitas air minum gratis, toilet dan kamar mandi, dan bilik yang cukup nyaman untuk tidur sekedarnya, dengan biaya yang jauh lebih terjangkau dibanding menginap di kapsul hotel maupun hostel.
       

      Contoh ruangan di salah satu warnet Jepang. Cukup nyaman untuk dijadikan tempat menginap, via hirstart 
       
      3. Internet kiosk
      Jika warnet dan manga kissa menawarkan koneksi internet dan tempat potensial untuk menginap, maka kios internet ini bentuknya berupa komputer yang dioperasikan dengan koin agar bisa digunakan, termasuk untuk mengakses internet. Biasanya kios internet ini ditempatkan di area publik seperti stasiun besar, bandara, maupun perpustakaan, walau sekarang jumlahnya sudah semakin berkurang.
       
      4. Wi-Fi
      Ini mungkin salah satu koneksi internet yang jadi favorit banyak wisatawan. Model koneksinya ada yang berupa wifi hotspot maupun private wifi. Masalahnya, aneka wifi tersebut nggak seluruhnya gratis. Ada juga wifi berbayar, maupun gratis dengan syarat (seperti harus mendaftar dulu untuk mendapatkan kode tertentu). Berikut beberapa tempat yang biasanya menyediakan koneksi wifi gratis di berbagai kota di Jepang:
      a. Bandara besar seperti Narita Airport dan Haneda Airport, Kansai Airport di Osaka, Fukuoka Airport, New Chitose Airport di Sapporo, dan banyak lagi. Koneksi wifi di tempat-tempat tersebut biasanya membutuhkan registrasi terlebih dulu.
       

      Layanan internet gratis di Bandara Narita, via plok@flickr 
       
      b. Stasiun kereta dan subway besar. Di kota-kota besar seperti Tokyo dan Stasiun JR di kota besar lainnya biasanya sudah menyediakan wifi gratis.
      c. Convenience store alias konbini. Beberapa jaringan konbini besar seperti 7-Eleven telah menyediakan fasilitas wifi gratis. Biasanya kalian harus melakukan registrasi dulu sebelum bisa terkoneksi dengan jaringan tersebut.
      d. Aneka pusat informasi turis. Berbagai pusat informasi turis, terutama yang besar, umumnya menyediakan koneksi internet gratis bagi wisatawan (wifi maupun LAN).
      e. Aneka restoran, cafe, dan coffee shop. Salah satu coffee shop yang jaringannya tersebar di seluruh Jepang seperti Starbuck juga menyediakan fasilitas wifi, biasanya dengan registrasi lebih dulu.
       

      Free Wifi di Starbuck Jepang, via antyweb 
       
      f. Halte bus dan pusat aktifitas lainnya. Jalanan di Ginza menyediakan wifi gratis yang bisa di akses tanpa harus mendaftar terlebih dulu. Berbagai bangunan di distrik Marunouchi di Tokyo, aneka toko dan hotel di sekitar Gunung Fuji, beberapa obyek wisata di Osaka, dan banyak lagi.
       

      Peta Ginza, via fletz 
    • By deffa

      Foto: Sensoji Temple (Ari Saputra/detikTravel)
      Jakarta - Jepang saat ini makin ramah untuk turis Muslim. Sejumlah fasilitas dan imbauan untuk turis Muslim telah disiapkan.

      Dijelaskan Manager Japan National Tourism Organization, Kristiana Susanti, Rabu (4/4/2018), pemerintah Jepang telah memperbanyak destinasi ramah Muslim. Tak hanya itu, kemudahan lainnya adalah papan-papan penunjuk yang sekarang sudah banyak menggunakan huruf latin.

      "Tak seperti dulu, di mana-mana sekarang sudah menggunakan Bahasa Indonesia atau bertuliskan latin. Jangan anggap tidak ramah wisatawan, karena jika ada turis yang terlihat kesulitan maka warga lokal dengan ramah akan mengantar langsung turis ke lokasi tujuan," kata Kristiana.

      Itu kemudahan yang akan didapat turis jika ke Jepang. Ada pula kemudahan turis Muslim yang sudah disiapkan Pemerintah Jepang dan ini menjadi hal atau perhatian yang sangat serius.

      "Sekarang ini ada penambahan fasilitas-fasilitas Muslim di Bandara Narita. Di hotel sudah dianjurkan untuk menambahkan arah kiblat, sudah banyak restoran yang berlabel halal dan cukup tanya ke penjualnya apakah halal atau tidak," urai Kristiana.

      "Jadi, untuk traveler muslim sekaran sangat friendly dan cukup banyak berkembang di berbagai tempat di Jepang," imbuh dia.
      Narita Airport Jepang mulai berbenah bagi traveler muslim. Ada sejumlah musala di sana, pertama di Terminal 1 yang ada di sebelum paspor kontrol lantai 5, 5F dan sesudah kontrol paspor di lantai 2, 2F Gate 28.

      Musala di Terminal 2 ada di sebelum kontrol paspor lantai 1, 1F. Sesudah kontrol paspor ada di lantai 1, 1F, Gate 70.

      Musala di Terminal 3 yang ada di sebelum kontrol paspor lantai 2, 2F. Setelah kontrol paspor ada di lantai 3, 3F, Gate 151.

      Semua musala ini dibuka dari pukul 06.00-23.00 waktu setempat. Adapun restoran berlabel halal di Narita Airport ada di setiap terminal.

      Restoran halal pertama di Terminal 1 bernama Kineya Mugimaru. Ada di lantai 5 sebelum kontrol paspor, buka dari pukul 07.30-20.30. Restoran halal kedua di Terminal 2 bernama Tentei. Ada di lantai 4 sebelum kontrol paspor dan buka dari pukul 07.30-20.30.

      Restoran halal ketiga di Terminal 3 bernama La Toque. Ada di lantai 4 sebelum kontrol paspor dan buka dari pukul 07.30-20.00.
      SUMBER
       
    • By Angela Regina Shinta
      Hallo, saya newbie di sini. 
      Transit di Hong Kong dan keluar bandara apakah perlu visa sekarang? Terima kasih
    • By vie asano
      Beberapa waktu lalu, di newsfeed Facebook saya cukup ramai dengan artikel ini. Menurut saya, artikel tersebut sangat keren karena bertujuan untuk membuka wawasan mengapa kita nggak seharusnya minta oleh-oleh dari mereka yang akan pergi berwisata; sesuatu yang sangat lazim terjadi dalam budaya kita. Sebetulnya, sejak membaca tulisan tersebut saya kepingin banget menulis tips sejenis namun untuk versi dan sudut pandang yang berbeda, namun baru kali ini ada kesempatan untuk mewujudkan tulisan tersebut. Yang ingin saya bagikan adalah bagaimana caranya menghindari agar tidak dimintai oleh-oleh saat kita berwisata.
       
      Pergi jalan-jalan, itu menyenangkan. Bersenang-senang di tempat wisata, itu lebih menyenangkan lagi. Mungkin yang dapat sedikit mengganggu mood hepi-hepi saat berwisata adalah adanya rengekan permintaan oleh-oleh dari teman, saudara, maupun kerabat lainnya. Memang sih nggak ada salahnya kita memberikan buah tangan untuk berbagi kegembiraan pasca traveling. Tapi kalau yang minta oleh-oleh jumlahnya satu kampung, wah bisa-bisa anggaran wisata habis untuk oleh-oleh saja. Apalagi kalau ada yang titip macam-macam dan akhirnya bikin bagasi overload. Ujung-ujungnya, lagi-lagi anggaran wisata pun terkuras. Sedih kan?
       
      Nah, bagi yang ingin menghindari dititipi oleh-oleh saat jalan-jalan, simak beberapa tips berikut ini. Secara garis besar, saya bagi tips ini dalam 2 versi: versi halus dan versi hardcore. Mari mulai dari versi halus lebih dulu.
       
      1. Nggak Tega Nolak Kalau Dimintai Oleh-Oleh? Pergi Diam-Diam Saja!
       

      Jangan bilang-bilang kalau mau pergi wisata, via gofeminin 
       
      Kadang kita nggak tega untuk menolak saat dititipi oleh-oleh dari teman maupun kerabat. Mau bilang secara langsung, takut menyinggung perasaan orang lain maupun dianggap sombong. Jika kalian mengalami dilema seperti itu, solusi pertama yang bisa dicoba adalah: jangan bilang-bilang kalau mau pergi wisata, dan berangkatlah secara diam-diam. Teorinya, makin sedikit yang tahu kalian akan pergi wisata, maka makin kecil kemungkinan akan ditodong untuk memberikan oleh-oleh. Betul?
       
      2.  Hentikan Sementara Waktu Aktifitas Eksis di Media Sosial.
       

      Eksis di medsos, via wikimedia commons 
       
      Di era internet sekarang ini, rasanya nggak gaul kalau kita nggak check-in saat tengah berada di suatu tempat. Minimal, share foto-foto waktu traveling itu wajib hukumnya sebagai bukti absensi di sebuah lokasi wisata. Namun, ingat juga resiko dari eksis di medsos. Semakin banyak teman yang tahu, jangan bingung kalau tiba-tiba banyak yang nitip oleh-oleh ya. Upload foto di medsos bisa dilakukan saat kita pulang wisata kok, jadi untuk sementara tahan dulu keinginan untuk narsis dan eksis.
       
      3. Berhenti Menggunakan Telepon, Cek Email, dan Media Sosial
       
      Salah satu inti dari perjalanan wisata adalah untuk mengenal tempat baru dan menikmatinya semaksimal mungkin. Jika kalian terus menerus terhubung dengan telepon dan internet, jangan bingung jika kalian nggak bisa fokus dengan acara liburan dan malah disibukkan dengan meladeni permintaan oleh-oleh dari teman maupun kerabat. Bukan berarti kalian nggak boleh membawa handphone maupun terhubung dengan internet ya, hanya saja batasi intensitasnya seminimal mungkin.
       
      4. Negosiasi Itu Penting, Termasuk Negosiasi Soal Oleh-Oleh.
       
      Bagaimana jika teman terlanjur tahu kalian akan pergi berwisata? Jika kalian nggak cukup tega untuk betul-betul bilang say no to oleh-oleh padahal budget wisata terbatas, coba deh negosiasi dengan teman tersebut. Misalnya, kalian bersedia mencarikan barang yang diinginkan asalkan teman tersebut mau menitipkan sejumlah uang untuk membeli barang itu. Ingat, tetaplah jangan memaksakan diri ya! Jika waktu dan kondisi nggak memungkinkan, mau nggak mau kalian harus tega menolak permintaan tersebut. Namun, biasanya sih banyak yang langsung mundur teratur jika dimintai untuk menitipkan uang pembelian oleh-oleh, hehe.
       
      5. Berhenti Menanyakan Mau Oleh-Oleh Apa?
       
      Kadang, permintaan oleh-oleh yang nggak masuk akal dan jumlahnya berjibun disebabkan oleh blunder diri kita sendiri, yang biasanya diawali dari pertanyaan mau oleh-oleh apa kalau [isi dengan nama kalian] pergi ke [isi dengan nama tempat]? Jadi, salah satu tips untuk menghindari dititipi oleh-oleh adalah, dengan berhenti mengatakan kalimat tersebut.
       
      Dan ini versi hardcore-nya. Maksud dari hardcore ini adalah menolak dengan tegas maupun menyampaikan keberatan jika dititipi oleh-oleh, dan bukannya menghindar secara diam-diam seperti pada versi lunak.
       
      1.  Biasa Ngomong Blak-Blakan? Bisa Dong Bilang Tidak Untuk Permintaan Oleh-Oleh yang Nggak Masuk Akal.
       

      Say “no†untuk oleh-oleh yang aneh-aneh!, via flightsandfrustration 
       
      Kadang ada saja permintaan oleh-oleh yang membuat kita pusing untuk mencarinya. Bagi mereka yang nggak enak untuk menolak, bisa jadi akan mati-matian berusaha mencarikan oleh-oleh yang diinginkan oleh teman tersebut. Namun sebetulnya masalah bisa selesai jika kalian tegas menolak permintaan oleh-oleh yang nggak wajar. Asal dilakukan dengan bahasa yang tepat, nggak perlu khawatir akan menyinggung perasaan mereka kok.
       
      2. Kadang, Membatasi Jenis Oleh-Oleh yang Akan dibeli Jadi Solusi Enak Untuk Semua.
       

      Souvenir murah, via stuckattheairport 
       
      Untuk menghindari habisnya anggaran wisata untuk pembelian oleh-oleh dan juga untuk menghindari habisnya waktu untuk mencari request oleh-oleh, coba deh tegaskan jenis oleh-oleh apa yang HANYA akan kalian beli. Misalnya saja, kartu pos maupun gantungan kunci. Dengan menegaskan pilihan oleh-oleh yang akan kalian beli, kalian akan terhindar dari kewajiban menjadi tas untuk si anu, kaos untuk si itu, kue untuk si dia, dan lain sebagainya; yang akan membuat koper menggelembung dan overload. Jadi, teman maupun kerabat tetap akan mendapat oleh-oleh, hanya saja kalian yang menentukan sendiri jenis oleh-oleh tersebut.
       
      3. Last but Not Least, Tegas Sama Kuota Maksimum itu Hukumnya Wajib!
       

      Souvenir imut dari Jepang, via grrrltraveler 
       
      Maksud dari kuota maksimum disini adalah, batasi berapa batas maksimal oleh-oleh yang akan dibeli untuk si A dan si B, baik dari segi kuantitas maupun harga. Dan batasi juga kuota maksimum anggaran wisata untuk membeli oleh-oleh. Trik ini bertujuan untuk mengendalikan anggaran pengeluaran oleh-oleh, dan juga membatasi jumlah oleh-oleh yang akan dibeli. Setiap kali ada yang nitip oleh-oleh, jelaskan dulu masalah kuota maksimum ini sehingga mereka bisa memahami jika kita menolak permintaan oleh-oleh dari mereka.
       
      Kunci dari menyiasati kewajiban untuk memberikan oleh-oleh saat traveling adalah ketegasan, dan juga perasaan tega. Kalian mungkin juga akan menghadapi pandangan sinis dan anggapan jika kalian sombong maupun pelit karena nggak mau membelikan oleh-oleh. Karenanya, sebisa mungkin tetap gunakan bahasa yang enak dan mudah dipahami saat menjelaskan dengan baik tentang kondisi anggaran wisata maupun padatnya itinerary sehingga terpaksa menolak permintaan oleh-oleh.