• 0
Riska Susi Purwatiningrum

Negeri di Atas Awan, Dataran Tinggi DIENG 16-18 Oktober 2015 [RP 560.000,-]

Question

:melambai:foto2

Dieng Plateau berada pada ketinggian 2093 mdpl, terletak di antara dua kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Pemandangannya sangat indah dan sejak dulu sudah menjadi pusat perkembangan kebudayaan di Indonesia. Keindahan alam Dieng Plateau menjadi anugerah yang tak ternilai harganya, sebagai tempat bersemayam para Dewa Smile

INCLUDE
1. Homestay +Hot Water
2. Tranport AC (driver, bbm, tol & parkir, tips driver)
3. Makan 3x (breakfast, lunch, dinner)
4, Mie Ongklok
5. Tiket Telaga Warna
6. Tiket Dieng Theater
7. Tiket Bukit Sikunir
8. Tiket Kawah Sikidang
9. Tiket Candi Arjuna
10. Pemandu Wisata di Dieng
11. Tour Leader

ITINERARY
Hari 1
19.00: Meeting Point di Dunkin Donut Plaza Semanggi
19.30 – 8.00: Jakarta – Dieng
Hari 2
#Check in homestay & Makan siang
#Explore Komplek Candi Arjuna, Telaga Warna & Goa-goa, Nonton Bareng di Dieng Theater, Kawah Sikidan
#Makan malam
#Sharing Cerita
Hari 3
4.00 – 9.00: Trekking & Sunrise di Bukit Sikunir, Sarapan, Check out homestay
10.30 – 12.00: Hunting oleh-oleh & Wisata Kuliner Mie Ongklok khas Wonosobo
12.00 – 23.00: Wonosobo – Jakarta

"Itinerary sewaktu-waktu dapat berubah sesuai dengan kondisi di lapangan"

DISCOUNT
1. Ajak temen se-genk kamu ber 5, DISCOUNT 10% untuk 1 orang!
2. Ajak temen se-genk kamu ber 10, DISCOUNT 30% untuk 1 orang!
4. Ajak temen se-genk kamu ber 15, FREE untuk 1 orang!

Payment :
01. DP (Booking Seat) Rp 260,000 s/d 31 Agustus 2015
02. Pelunasan Rp 300,000 s/d 9 Oktober 2015
03. Yang sudah DP terlebih dahulu otomatis menjadi peserta
04. Jika ingin pembayaran full diperbolehkan

Term & Condition :
01. Trip ini bersifat terbuka untuk umum (Open Trip)
02. Tidak ada sistem booking via telp/sms/wasap/bbm. Kecuali sudah melakukan pembayaran DP
03. Konfirmasi pembayaran dikirim via email kakilangit [dot] adv [at] gmail [dot] com atau via wasap/bbm
04. Jika terjadi pembatalan, DP yang sudah masuk tidak dapat dikembalikan tetapi bisa mencari pengganti peserta
05. DILARANG KERAS MEMBAWA OBAT-OBATAN TERLARANG, MINUMAN KERAS, SENJATA TAJAM
06. Update nama peserta akan dicantumkan di forum sebagai list peserta yang sudah resmi masuk

Barang – barang yang WAJIB di bawa selama trip:
01. Obat obatan pribadi
02. Pakaian ganti
03. Sunblock
04. Kamera pocket atau DSLR (jika ada)
05. Tongsis (wajib buat narsis)
06. JAKET TEBAL (WAJIB)
07. Kaos Kaki + Sarung Tangan
08. Perlengkapan mandi
09. Topi/payung/rain coat

Contacts :
Telp/sms : 089666331232
Wasap : 085716899375
BBM : 79C46DFC
Instagram : kakilangit_adv >>> follow us
Twitter : @kala_adv >>> follow us
Kakilangit Adventure
"Your Trusted Adventure Partner"

Edited by Riska Susi Purwatiningrum

Share this post


Link to post
Share on other sites

2 answers to this question

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now


  • Similar Content

    • By Canaya Tour Service
      Open Trip Festival Budaya Dieng 2017
      Yuk join Festival Dieng Culture, disini kamu bisa mengikuti beragam pertunjukkan keren seperti Jazz atas awan, menerbangkan lampion, pesta kembang api hingga melihat proses cukur rambut anak gimbal. Gak hanya itu, kamu juga bakal disuguhi berbagai pemandangan alam yang ciamik, seperti Kawah Sikidang, Batu Ratapan Angin, Telaga Warna! Kapan lagi bisa melihat sunrise tercantik di Telaga Dringo, yang katanya mirip banget seperti Ranu Kumbolo. 
      PROMO TRIP
      Daftar ber-5, diskon IDR 100.000 untuk 1 grup Daftar ber-10, diskon IDR 250.000 untuk 1 grup Daftar ber-15, diskon IDR 450.000 untuk 1 grup  
      BIAYA TRIP
      Meeting Point Jakarta : IDR 1.250.000 Meeting Point Purwokerto atau Wonosobo : IDR 1.000.000  
      ITINERARY
      3 Agustus 2017 : Pasar Senen - Purwokerto
      Seluruh peserta berkumpul di Stasiun Pasar Senen Pk 21.00 untuk registrasi dan briefing.  Berangkat bersama-sama menuju Purwokerto.
       
      DAY 1
      4 Agustus 2017 : Purwokerto - Dieng (B/L/D)
      Tiba dini hari di Purwokerto. Bagi peserta yang meeting point Purwokerto, berkumpul Pk 04.00 WIB. Perjalanan dilanjutkan dengan elf (Non AC) menuju Dieng.  Sarapan mie ongklok di Wonosobo, next stop : Gardu Pandang Tieng.
      Setibanya di Dieng, pembagian homestay dan makan siang. Setelah itu siang harinya kita akan beraktivitas di Batu Ratapan Angin, Telaga Warna Pengilon, dan Dieng Theater. Malam harinya mengikuti pertunjukkan jazz atas awan.
       
      DAY 2
      5 Agustus 2017 : Dieng Culture Festival (B/L/D)
      Sunrise Telaga Dringo. Menikmati matahari terbit di danau atas awan yang terkenal dengan mini Ranu Kumbolo. Kembali ke homestay untuk sarapan. Setelah itu jalan santai keliling desa, melihat parade seni budaya dan minum purwaceng bersama.
      Explore Kawah Sikidang dan Candi Arjuna. Malam hari pesta kembang api dan lampion terbang.
       
      DAY 3
      6 Agustus : Dieng - Jakarta (B/L)
      Pagi harinya kita akan trekking menuju Bukit Scooter untuk melihat sunrise. Setelah itu kembali ke homestay untuk sarapan.
      Menyaksikan puncak acara nya yaitu kirab budaya dan ruwatan anak gimbal di Komplek Candi Arjuna. Kemudian check out homestay, untuk persiapan pulang. Perjalanan ke Purwokerto.
      Tiba di Purwokerto, peserta drop off di stasiun dan pulang bersama menuju Jakarta. Trip berakhir.
       
      FASILITAS TERMASUK
      Akomodasi homestay di Dieng selama 2 malam (1 room 4-5 pax) Tiket Kereta Api Jakarta - Purwokerto PP (bagi yang meeting point di Jakarta) Land transport Purwokerto - Dieng Pickup transport Dieng - Telaga Dringo Retribusi dan biaya parkir Tiket VIP Dieng Festival, dengan fasilitas : T-shirt, ID Card, kain batik, purwaceng, bakar jagung, lampion, kembang api, dan ruwatan anak gimbal. Makan (B: Breakfast, L: Lunch, D: Dinner) sebanyak 8 kali Tour Leader Dokumentasi foto Tiket masuk tempat wisata  
      TIDAK TERMASUK
      Tips untuk tour guide dan driver Biaya untuk pengeluaran pribadi  
      INFO DAN PENDAFTARAN
      Whatsapp : 0812-1221-0647
      email : canayatour@gmail.com
       
      Follow us on
      Facebook : Canaya Tour Service
      Twitter : @canayatour
      Instagram : @canayatour
    • By elizatore
      Daripada pusing mikirin urusan dunia yang gak kelar-kelar, dimana-mana ada demo dan ribut-ribut yang gak jelas ujungnya, mending refreshing dulu biar gak tegang terus-terusan. Temp[at wisata kali ini adalah tempat favorit di Jawa Tengah yang sudah terkenal sampai manca negara. Yuk langsung saja berkenalan Daftar riwayat hidup dari Dieng pesona alam Indonesia.
      Wisata Dieng adalah kawasan dataran tinggi dengan wilayah vulkanik yang masih aktif di Jawa Tengah. Sebenarnya Dieng masuk dalam dua wilayah yaitu Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Kawasan Dieng ini berada di sebelah barat kompleks Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.
      Dataran Dieng memiliki Ketinggian rata-rata sekitar 2.000 m diatas permukaan air laut. Dengan suhu berkisar antara 12-20 °C untuk siang hari dan 6—10 °C pada malam hari. Saat musim kemarau, suhu udara di Dieng bisa mencapai 0 °C pada pagi hari hingga  memunculkan embun beku. Embun beku tersebut oleh penduduk setempat menyebutnya bun upas yang berarti embun racun, karena embun tersebut dapat menyebabkan kerusakan terhadap tanaman pertanian.
      Sedangkan secara administrasi, kawasan Dieng adalah sebuah wilayah dari Ds. Dieng Kulon, Kec. Batur, Kab. Banjarnegara. Dan Ds. Dieng (Dieng Wetan), Kec. Kejajar, Kab. Wonosobo. Wilayah ini adalah salah satu wilayah yang paling terpencil di Jawa Tengah.
      Kawasan wisata Dieng Wonosobo – Banjarnegara terkenal dengan wisata alamnya. Hal ini tak lepas dari pengaruh vulkaniknya yang masih aktif. Berikut adalah beberapa destinasi wisata Dieng Wonosobo – Banjarnegara:
      Objek Wisata Dieng Wonosobo-Banjarnegara
      Wisata Dieng Wonosobo-Banjarnegara
      Kawasan wisata Dieng merupakan kawasan wisata unggulan yang ada di Jawa Tengah, hal ini karena kawasan wisata Dieng tak hanya terdapat satu atau dua objek wisata saja, melainkan ada belasan objek wisata yang sangat layak untuk dikunjungi berada dalam satu lingkup atau kawasan.
      Maka tak heran jika tempat ini selalu ramai, baik oleh wisatawan lokal maupun asing. Untuk berkunjung ke kawasan wisata ini juga tidak terlalu banyak menguras kantong, harga tiket yang ditawarkan sangat terjangkau dan sesuai dengan keuangan masyarakat Indonesia. Anda tertarik? Silahkan untuk berkunjung.
      Wisata Dieng Telaga Warna
      Wisata Dieng Wonosobo-Banjarnegara via www.youtube.com
      Telaga warna adalah salah destinasi wisata yang direkomendasikan oleh pengelola kawasan wisata Dieng. Telaga ini memiliki air yang sering berubah warna, hal ini disebabkan karena air Telaganya mengandung sulfur sehingga saat sinar matahari menyorotinya airnya menjadi berubah warna, sebab itu juga lah telaga ini dinamakan Telaga Warna.
      Di Area sekitar Telaga Warna ini ada objek wisata lainnya, yaitu objek wisata Bukit Sidengkeng, Goa Semar, Goa Pengantin, Goa Sumur Eyang Kumalasari, Goa Jaran, Telaga Pengilon. Sehingga sangat memungkinkan setelah berkunjung ke Telaga Warna untuk sekalian berkunjung ke wisata di sekitarnya.
      Waktu yang paling tepat untuk mengunjungi Telaga Warna adalah pagi hari-siang hari sebelum kabut datang untuk menyelimutinya di sore hari.
    • By Titi Setianingsih
      Selamat siang JJ’er…jangan heran kalau judulnya drama satu babak ya ? Wah pokoknya lain dari pada yang lain deh kisahnya, ada air mata, ada kegalauan dan ada keharuan yang luar biasa.
      Bermula ketika mommy2 lansia pada kepengin naik gunung, apa daya ? Para bodyguard juga lama jawabnya ketika dimintai pendapatnya, beneran nih moms mau naik gunung ? Kami siy siap aja ngawal mommy2 perkasa, tapi kudu yakin dan semangat kalau bisa sampai atas, kami para bodyguard siap jadi sweaper di belakang.
      “Saya mau poto sambil pegang bendera merah putih di summit,,,!”
      “Saya juga mau poto sambil pegang tulisan ‘I’am here Mt. Prau 2.565 mdpl’…”
      “Saya penasaran sama golden sunrisenya”
       



      Duh masing2 pada mau ndapetin dreamnya. So, deal, berangkaaaattttt…! Gak nyangka, setelah di list ngumpul sampai angka 38 orang. Sempat kaget juga awalnya, karena setelah telpon2an ke EO di Dieng ternyata kebutuhan naik gunung itu banyak sekali, dan untuk semua itu kita musti sewa.
      Kurang lebih satu bulan barangkali persiapannya, dari mulai bikin kaos seragam, ngumpulin dana dan sewa alat2 yang sesuai kebutuhan tidak semudah yang dibayangkan.
      Dari sini jadi ketahuan letak perbedaannya antara ikut open trip dengan ngrancang sendiri kebutuhan tripnya. Kalau ngrancang sendiri belum tentu benar dalam memperkirakan jumlah kebutuhan, yang kebagian hitung2annya ini yang pusing 7 keliling.
      Okelaahhhh,,,itu masalah teknis ya ? Yang penting happy2nya sudah terlaksana dengan sukses, dan happy ending. Soal drama satu babak begini cerita lengkapnya :
      Day 1, tanggal 16 September 2016
      Oh yaaa, dari 38 orang yang terdaftar akhirnya pada rontok dan sisa 31 orang, ini juga permasalahannya, jadi untuk teman2 yang sering ngoordinir jalan2, ada tips nih, pastikan jumlah peserta fix diterima sebelum memutuskan untuk rental mobil. Karena bagaimanapun kita kan juga kepengin dipercaya orang lain, jadi walaupun sudah rental mobil sesuai kebutuhan awal, walaupun akhirnya ada peserta yang batal, kita gak mungkin akan membatalkan salah satu armadanya.
      Saking banyaknya peserta, rombongan akhirnya terbagi menjadi 2 kloter :
      -          Kloter pertama pakai KA Serayu Jurusan Senen – Purwokerto via Bandung, berangkat jam 21.00 sampai Purwokerto jam 07.33
      -          Kloter kedua pakai KA Progo Jurusan Senen – Kediri via Cirebon, berangkat jam 22.30 sampai Purwokerto jam 03.30.
      Sebelum berpisah dengan kloter 1, kami ngumpul dulu di ruang tunggu dan makan bakso terlebih dulu. (Salah satu member RM ada yang usaha resto macem2 makanan, jadi sempatkan masak bakso terlebih dahulu untuk kami).
       


      Memang jalur utara lebih pendek jaraknya sehingga lebih duluan sampai. Dan yang lewat Selatan secara kebetulan kok kena musibah longsong, jadi penumpang di turunkan di Stasiun Kiara Condong Bandung. Teman2 kami pilih turun dan rental mobil menuju Purwokerto, penumpang lain ada yang menunggu pembersihan di lokasi longsor jadi tetap berada di kereta itu.
      Akibat musibah tersebut, maka kloter pertama bakal lebih lambat nyampai di Purwokertonya, akhirnya diputuskan untuk meeting point di Wonosobo saja. Daripada kloter 2 yang sudah sampai di Purwokerto duluan bengong2 maka saya telpon sopir mobil elf untuk njemput lebih pagi, supaya kami bisa manfaatkan waktunya di Purwokerto.
      Day 2, tanggal 17 September 2016
      Tepat jam 03.30 kloter 2 sampai di Stasiun Purwokerto, seperti biasanya, biarpun masih dini hari dan belum mandi, kamipun sempatkan untuk mengabadikan kedatangan kami di stasiun. Kemudian, sambil menunggu siang, kami singgah di warung Koko Kumis yang jualan berbagai minuman hangat dan gorengan, special mendoan, sebagai makanan khas Purwokerto.
      Warung Koko Kumis letaknya di depan Stasiun Purwokerto, jadi kami tinggal jalan kaki saja untuk menuju kemari. Kebetulan suasana masih dingin karena sehabis hujan, terlihat dari jalanannya yang masih basah, maka menyantap mendoan panas2 sangat cucok sekali. Tidak sampai mengeluarkan kocek Rp. 10.000 sudah kenyang.
      Tak berapa lama mobil elf kami datang, kemudian untuk bekal ke Wonosobo nanti, kami mampir ke Pasar Manis Purwokerto untuk beli cemilan2 buat bekal di Perjalanan. Sesudah dari Pasar Manis kami lanjutkan untuk mandi2 dirumah teman yang rumahnya tidak jauh dari stasiun. Segar sekali rasanya sempat mandi, beda dengan teman2 di Kloter 1, mereka gak sempat mandi dan akan langsung ke Wonosobo via Banyumas.
      Tiba2 beberapa peserta kepengin nyicipin Soto Sokaraja, makanan khas juga di daerah Purwokerto, kamipun akomodir keinginan mereka dengan singgah di Soto Sokaraja yang ada di Jl Sawangan, cabang dari Soto Lama Sokaraja. Dan surprise, malah kami ketemu dengan rombongan PMI Purwokerto yang di kawal oleh Bapak Wakil Bupati Banyumas dr Budhi Setiawan. Mendadak Komunitas Jalan2 Indonesia langsung ngetop, dan beberapa dari mereka pingin bergabung dengan KJJI. Bravo Mimin n Momod KJJI,,,,,,!!

      Sesudah sarapan siap meluncur ke Wonosobo, bismillah,,,semoga perjalanan lancar. Kami lewat Sokaraja, karena jalanan lebih mulus dan jadi lebih pendek jarak tempuhnya, jalan pintas tersebut bernama Jembatan LinggaMas, jadi tidak lewat dalam kota Purbalingga tapi dari Sokaraja memintas lewat Desa Petir lalu tembus Banjarnegara.  Di Banjarnegara ada 2 orang yang kami jemput.
      Di Gerbang Kawasan Dieng Plateau kami berhenti, berharap bisa menunggu Kloter 1 yang sudah sampai Banjarnegara, tapi ternyata lama ditunggu tidak muncul2 juga, akhirnya kami lanjutkan perjalanan menuju Pusat Informasi Pariwisata Dieng, karena disana sudah menunggu teman kami yang dari Solo. Begitulah, teman dari berbagai daerah berkumpul jadi satu dibawah bendera KJJI.



      Begitu sampai kami makan siang terlebih dahulu di RM Edelweis yang ada di depan basecamp, sambil menunggu Kloter 1 yang belum sampai. Sesudah makan, mulai mempersiapkan alat2 yang bakal dipakai buat pendakian, diantaranya matras, sleeping bag, trackpole, headlamp, blanket, tenda, kompor, nesting, gas. Beberapa teman ada yang punya peralatan sendiri, sehingga yang sewa hanya beberapa buah saja disesuaikan dengan kebutuhan.
      Kurang lebih jam 17.30 kami start menuju basecamp 1 untuk registrasi, HTM ke G Prau Rp. 10.000 per orang. Untuk pengamanan pendakian, peserta kami bagi menjadi 4 pleton, masing2 pleton dikoordinatori oleh 1 orang teman laki2 yang sekaligus berfungsi sebagai sweaper. Satu pleton terdiri dari 8-9 peserta. Yel2 kebersamaan dan kekompakanpun kami kumandangkan,,,,,,RM yessssss,,,!!


      Sesudah registrasi mulailah perjalanan menuju G Prau, pertama-tama melewati perkampungan penduduk kemudian masuk ke area perkebunan sayur2an dan berubah menjadi jalan setapak. Gerimis rintik2pun menemani perjalanan kami, sehingga kamipun membuka tas perlengkapan untuk kemudian menggunakan jas hujan.  

      Pleton yang telah kami buat akhirnya berantakan, karena kecepatan berjalan dan ketahanan fisik masing2 anggota ber-beda2, jadi yang berjalan lebih cepat akhirnya mendahului yang lambat. Kalau sudah begini bisa ditebak, sayalah yang paling belakang sampai.
      Disinilah dimulainya drama itu. Karena saya sering singgah2, akhirnya ketinggalan rombongan, saya putuskan agar yang lain jalan duluan saja, biarkan saya sendiri yang penting ada 1 sweaper dan 1 porter yang menemani. Jadi kami bertiga berjalan di paling belakang, lama2 rombongan didepanpun sudah tidak kelihatan, saking sudah jauhnya di depan.
      Dari pos 1 dan pos 2 signal handphone masih bisa nyambung, sehingga saya masih bisa memantau sampai dimana rombongan yang ada di depan. Kurang lebih jam 19.00 bertepatan dengan adzan shalat Isya, saya seperti sudah tidak kuat rasanya, mata kantuk, perut mual2 dan leher terasa sakit, sementara gerimis masih menemani kami bertiga. Dalam kondisi seperti ini saya paksakan untuk jalan terus, karena saran porter kami agar berhenti di jalanan yang agak landai supaya bisa tidur2an sekalian memijit saya.
      Dan benar, sebelum area “Akar Cinta” saya berhenti, duduk di rumput2 yang lahannya landai, untuk kemudian dipijit oleh Pak Urip (porter kami) sambil di baluri minyak kayu putih. Seketika itu juga saya bersendawa, tapi menurut sweaper kami, Mas Firman, saya kelihatan pucat, dan memang sempat muntah2. Akhirnya Pak Urip mengusulkan untuk buka tenda di tempat itu, diapun telepon ke basecamp 1 untuk minta diantar peralatan buka tenda sekaligus makan malamnya. Sebelum mereka datang, saya sudah tertidur di rumput2an beralaskan jas hujan dan berselimutkan sarung pak Urip. Begitu tenda sudah berdiri, sayapun terbangun dan pindah ke dalam tenda. Pak Urip dan mas Firman duduk2 di pintu tenda sambil masak air panas untuk menghangatkan kaki saya.
      Selebihnya saya tidak tahu, tapi saya masih sempat melihat mereka berdua makan nasi goreng yang   dibawa porter dan minum kopi. Dan ketika saya terbangun, ternyata sudah jam 2 pagi, saya putuskan untuk tetap naik, gak tega rasanya membiarkan teman2 di atas. Apalagi anak saya juga ikut dengan rombongan depan, tapi saya percaya pasti teman2 care dengan anak saya.
      Kami menunggu pak Urip beres2 tenda dan alat2 lainnya, sehingga kurang lebih jam 3 kami baru mulai jalan. Rasa mual2 masih terasa di perut saya, sehingga di pagi hari itu saya sempat muntah2 2x. Jamu tolak angin sempat saya minum dan coki2 untuk menambah kekuatan.

      Singkat cerita, dengan ter-tatih2 kami bertiga sampai juga ke Summit di 2,565 mdpl. Di situ juga saya menyaksikan sunrise yang luar biasa bagusnya, tapi mungkin masih kurang bagus dibanding yang dilihat teman2 saya di camp, karena porter buka tenda tepat di depan Gunung Sindoro Sumbing sehingga kalau mereka buka tenda sudah langsung bisa menyaksikan Sang Bagaskara muncul perlahan untuk kemudian memancarkan sinar kemilau jingganya.    



       
      Day 3, tanggal 18 September 2016


       
      Tetap bersyukur, dan terima kasih tak terhingga special untuk Mas Firman dan Pak Urip yang dengan sabar menunggu dan mensupport saya tak henti2.

       
      “ayoooo bundaaaaa,,,sedikit lagiiiii,,!”
      “nanjak sekali lagi bunda,,,,,mau istirahat dulu apa lanjut ??”

      Kalau jawaban saya “lanjuuut” mereka Nampak senang sekali, pertanda saya kuat dan lagi semangat. Ini yang orang2 sering bilang, bawalah teman seperjalanan yang care, karena pasti saat pendakian semua butuh kerja sama dan kekompakan, kalau banyak yang egois apa jadinya ?


       

      Ketika sudah di summit, suasana malah sepi, karena orang2 kebanyakan buka tenda di bukit yang ada dibawahnya, dengan pertimbangan kalau di summit lebih dingin dan lebih terbuka jadi angin akan lebih kencang. Jadi kami lanjutkan perjalanan lagi kearah turun, melewati Bukit Teletabbies yang indah. Bunga2 sudah mulai bermekaran, padangnya luas bisa buat ber-lari2an.




      Pak Urip mendahului kami, dengan alasan hendak kasih tahu teman2 kalau saya sebentar lagi sampai. Dan secara kebetulan, ternyata mereka sudah ber-siap2 hendak turun, menurut mereka mana mungkin saya ikut naik karena sudah siang ?



      Dan benar saja, begitu saya sampai di tenda2 tempat mereka ngecamp, langsung pada melongok dari dalam tenda dan berhamburan keluar, kecuali yang sedang masak2, merekapun tercengang, benarkan ini saya ????



      Teman2 pada happy dan menyambut saya dengan euphoria yang luar baisa, hiruk pikuk mommy2 RM mengusik sekelompok tenda2 anak muda disebelahnya, sehingga merekapun nyeletuk “Golden Memories niihhhh,,,!”



      Hhhhhmmmmm,,,masing2 pamer foto cantik mereka, dan saya tidak punya dooong ?? Tapi sisa waktu ini kami habiskan untuk foto2 bareng sesuka hati. Bahagianya jika melihat mommy2 lagi pada heboh,,,mengalahkan anak2 muda. Dan beberapa anak2 muda yang ikut di trip ini juga nampak happy, mereka cepat berbaur dan sangat membantu kami yang udah lansia.


      Daaan, opo tumon ? Baru sebentar foto2, komandan pleton sudah berteriak untuk mengajak turun ? Olala,,porterpun sibuk mengemasi tenda2 dan alat2 masak yang masih berserakan, sementara saya masih menyempatkan untuk sarapan mie rebus terlebih dahulu, takut nanti masuk angin lagi, dan minum teh manis panas buat nambah energy.


       






      Sambil sarapan, salah satu teman bercerita kejadian semalam, diantara mommy2 yang sudah duluan sampai ternyata ada yang sakit, ada yang kedinginan, ada yang kelaparan, ada yang gak kebagian tenda dikarenakan belum ketemu kelompoknya saja siy. Iya, termasuk pembagian teman tenda juga sudah kami buat sebelumnya, tapi mungkin karena panic sehingga lupa siapa teman setendanya, dan setiap membuka tabir tenda kok sudah penuh ? Dimana tenda saya ? (Itu sedikit kegaduhan yang terjadi, tapi segera teratasi, lagi2 karena teman2 pada care satu sama lain).

      Sebagai koordinator saya merasa bersalah, disaat mereka kesusahan saya tidak ada, dan ini akan menjadi mis kalau seandainya saya tidak jelaskan sedang dimana keberadaan saya ketika mereka mengalami ketidak nyamanan itu ? Ternyata saya mengalami hal yang sama, inilah sebuah pembelajaran, keterbukaan sangat diperlukan dalam sebuah team. Dan masing2 dari kami telah berhasil menguasai diri sendiri, maklum namanya juga mommy2, pastilah sudah bisa bersikap lebih dewasa dan tidak kekanak-kanakan.

      Olrait, selesai sarapan kami turun lagi,,,,,terima kasih Mt Prau, di punggungmu kami berdiri, mengibarkan bendera merah putih kebanggaan kami. Di punggungmu pula kami telah menyaksikan pemandangan alam yang luar biasa indahnya, Mt Sindoro, Mt Sumbing, Mt Merapi, Mt Merbabu, Mt Slamet,,,dan apalagi ya ? Puncak2 mereka bermunculan di tengah2 awan yang berarak putih bagai kapas,,,,Subhanallah,,,tiada kata yang pas untuk melukiskan keindahan itu, hanya mata dan hati kami yang berdecak kagum atas semua ini. Alam telah mengajarkan kami untuk bersyukur dan rendah hati,,,,,


       






      Perjalanan turun kami putuskan dengan rombongan tetap ketika berangkat, Mas Firman dkk, anak2 muda yang penuh perhatian sama Mommynya.


       



      Sebentar2 istirahat, dan sebentar2 muntah,,,,3x muntah dalam perjalanan turun kali ini. Rombongan lain yang sempat menunggu kami antri menuruni jalan setapak, saya persilahkan duluan. Biarlah kami belakangan, dan hampir di setiap pos kami istirahat lama.


      Di Pos 2 porter yang membawa kompor berhenti menunggu kami, rupanya rombongan anak muda dari grup lain menginfokan kalau saya muntah2, sehingga butuh teh manis panas untuk tambah energy.   Begitulah, entah siapa mereka tetapi perhatiannya luar biasa, anak gunung memang oke, sudah terbukti sikap sosialnya luar biasa.


       

      Dan setelah dari Pos 2 kami belok kekiri untuk mengambi jalan lain, melewati jalur Dieng. Disini pemandangannya lebih indah dan jalannya lebih landai ketika turun. Dan jangan dilupakan, sampah yang ada bawalah turun, jangan kotori tempat ini dengan sampah2 kita.





      Kurang lebih jam 15 urusan administrasi selesai, kami termasuk rombongan terakhir yang meninggalkan basecamp. Dua mobil lainnya sudah berangkat duluan, karena ada yang lebih awal jam keberangkatan keretanya.

      Di grup whatsapp mereka kirim2 foto, ada yang singgah ke Dawet Ayu khas Banjarnegara, ada yang singgah ke Soto Sokaraja. Semuanya happy,,,,,,dan kebahagiaan itu masih tersisa disini, di dada ini.  


       
      Salam Jalan2 Indonesia,,,!!
      Kontributor :
      Farah Haifa
      Anisa Rahmadi
      Titik HS
      Yulie Pram
       
       
    • By Fath17
      OPEN TRIP
      EXPLORE DIENG PLATEAU & GOLDEN SUNRISE Mt. PRAU 
      Mepo : Lamongan •||• 26 – 28 Agustus 2016 IDR only 450.000
      Tujuan Wisata :
      -    Telaga Warna
      -    Kawah Sikidang
      -    Candi Arjuna
      -    Hotel 1000 Bintang Mt. Prau
      -    Golden sunrise Mt. Prau
      -    Mie Ongklok khas Dieng
      FASILITAS :
      -     Transport full AC Lamongan-Dieng (PP)
      -     Welcome drink + snack
      -     Makan 4x (include mie ongklok)
      -     Tenda per Team (1 tenda 4-5 orang)
      -     Peralatan masak (Kompor, nesting,dll)
      -     Tiket masuk wisata
      -    Guide & Porter
      -     CD Dokumentasi Perjalanan
      -     Stiker / souvenir
      -    Jodoh jika Beruntung
       
      EXCLUDE
      - makan yg tidak include dan oleh-oleh pribadi.
      - peralatan camping pribadi (senter,matrass dan sleeping bag, jaket, dll)
      - Logistik selama mendaki (sharing : tim kami membawa beberapa keperluan logistik untuk berbagi bersama, teman-teman diharapkan juga membawa makanan, snack, dan lain-lain untuk kita berbagi bersama, karena kebersamaan itu indah hehe)
       
      Rundown / Ittinerary :
      Hari 1 
      19.00 meeting Point di Lamongan
      20.00 Perjalanan menuju Dieng
      Hari 2 
      07.00 Tiba di Dieng
      07.00-09.00 Istirahat & Sarapan (included)
      09.00-12.00 Explore Telaga warna, Kawah Sikidang & Candi Arjuna
      12.00-13.30 Ishoma & prepare Hiking
      13.30-17.00 Pendakian puncak Prau
      17.00-18.00 pasang tenda & hunting sunset
      18.00-20.00 starlight dinner at top of Prau
      20.00-24.00 keakraban, enjoying starlights, leisure time
      Hari 3 
      00.00-04.00 istrahat
      04.30-06.00 Sholat & hunting golden sunrise
      06.00-07.00 hunting foto keliling puncak prau
      07.00-09.00 sarapan + packing
      09.00-11.00 Perjalanan turun Prau
      11.00-12.00 Ishoma, bersih2 dan prepare pulang
      12.00-24.00 Perjalanan kembali ke Lamongan
      Meeting Point  :
      Plaza  Lamongan / Ndapur
      Note : 
      > Ittinerary dapat berubah sesuai kondisi di lapangan.
      > Kuota Peserta Berbatas
       
      SYARAT & KETENTUAN :
      -  Seat DP Rp 300.000/ Pax paling lambat H-6
      - Cancel diatas tanggal H-6 DP hangus atau mencari pengganti
      - Pelunasan sisa pembayaran saat Hari H di Meeting Point
      More info :
      Mr. A (Aam)
      IG : @aam_jmadventour
      Pin : D0626312
      SMS/WA 085731563466
      PHONE : 082210899919
      Mr. B (Bagong)
      Pin : 2B5391E9
      SMS/PHONE : 083831900872
      "Private Trip, Outbond & Game, Jogja & Bandung Tour City call for best price Package"
      Let's get the best trip moments with us


    • By Rawoniste

      Samping candi Arjuna 
      Komplek candi Arjuna
      Kawah sikidang
      Kawah Sikidang
      Bukit ratapan angin untuk melihat telaga warna lebih jelas
      Sambungan
      Telaga Cebong
      Telaga cebong di lihat Dari bukit sikunir
      Gardu pandang sikunir 
      Selfie seeker di bukit sikunir
      Melihat golden sunrise bisa dimana2 
      INI dia golden sunrise yg di tunggu2 itu.
      Semua gambar diatas hanya diambil melalui kamera HP.
       

      Telaga Warna Dan telaga pangilon di lihat Dari bukti ratapan angin.
       
      Mau share selama berkunjung baru2 ini ke dieng. 
      Yang pasti saya puas banget liburan ke Dieng ini.
      Berangkat Dr bandung naik KA bisnis tujuan yogja PP 335K
      Dr jogja jam 6 dijemput travel BPG ticket 70k sampe terminal mendolo wonosobo. Ada kejadian tdk nyaman ketika naik travel ini, karena saya baru pertama x baik travel yg ada fasilitas antara jemput ke lokasi. Kirain langsung berangkat Tampa jemput2an orng lain (pengalaman naik cipaganti travel yg kumpul di lokasi semua ya) kirain Seperti ini. Alhasil yg harusnya di tempuh 3 jam, ini malah jd 6jam perjalanan gara2 jemput2an. Tau gini mending baik bis saja. Secara lebih murah. Gak nyalahin travels nya sih emng Seperti itu Service nya. Cuma kesal saja sama kebodohan sendiri Hahaha.
      Sampe mendola jam 12an lebih, sama sopir dicariin bis  jurusan dieng. Rada deg2an meskipun siang hari tp itu terminal sepi bgt. Padahal hari sabtu . hmm bis nya kosong melompong supirnya jg lg ngorok. Mulai gelisah deh bakalan nyampe jam berapa. Eh waktu datang itu hujan pula. Jd hanya pasrah saja duduk sendiri an.
      Tuhan mahal adil, tiba2 ada bis penuh lewat , entah knp kok masuk dulu terminal. Mulai lah saya turun dan nanya ke sopirnya. Horeee.... Ahirnya boleh naik bus tsb yg super penuh. Ternyata itu rombongan anak2 yg mau naik gunung prau . Terimakasih Tuhan.
      Menjelang deket lokasi, sopir nya bilang tdk bisa nganterin sampe dieng, karena Mobil akan belok ke patek Banteng tempat pendakian tsb. Tentunya gw ngalah sih tau diri. Sopir nya ngasi duit 2000 untuk lanjut ke dieng. Alhamdulilah jg di belakang ada bus lain. Jd langsung deh nyampe dieng. Iya onkos bus tsb 20k, padahal yg saya tau 12k normalnya. Pulangnya malah 15ribu. Ada tip dr guide saya, bahwa kalo baik bus tsb kasi uang pas saja. 12k ato 15k. Soalnya suka di kerja in kernet kalo bayar pake Yang gede. 
      Nyampe di dieng jam 2 lebih. Hanya 1 jam normal perjalanan. Karena lumayan nunggu di terminal tsb cukuplama.
      Disambut hujan waktu datang ke dieng, bikin BT jg. Tp lagi2 Tuhan cukup baik. Jam 3an hujan udah reda. 
      Saya nginep di homestay bu djono. 150k udah kamar mandi di dalam,TV. Kamarnya meskipun sederhana tp cukup bersih dan tdk tercium bau2 aneh. Cuma kamar mandinya saja kagak kurang terawat. Tp yg nunggu home stay super ramah. Pake acara ngenalin diri sendiri pula. 
      Ada pengalaman menarik nyari home stay ini.berkali2 googling di php in mulu , keknya calo deh. Lama jawabanya.Dan tentunya dia ngasih range harga 250 sampe 350 untuk kamar mandi di dalam padahal bu jdono termasuk di listnya. Sedikit usaha dapet kontak yg punya nya Dan cukup bayar 300k untuk 2 malam.
      Setelah Mandi (kebiasaan mau dimanapun kalo datang pasti mandi), makan di restonya bu djono tsb . 
      Jam 4 baru melangkah ke candi Arjuna. Gak ada yg jaga ticket, jadi masuk saja. Puas poto2 ,lanjut ke Candi lain yg deketan Dan ke musium kaliasa, sayang udah tutup. Pulang deh.
      Sehabis magrib nyari mi ongkok. Di perjalanan ada yg nanya2 nawarin jasa. Waktu nanya di bujono sewa motor 100k. Mas yg ini 150k di guide in dia kemana pun . deal. Deh Dan di jemput jam 4 subuh sama mas arifin. 
      Tentunya Sikunir dong yg jd tujusn utama. Rame bgt dan amazing bgt waktu sunrise tsb. Gak salah di sebut golden sunrise tsb, karena yg di sinari cahaya pagi ini apapun jd ke emasan. Jgn buru2 turun dulu coba lihat orng2 lain yg bergerombol di bukit lain, Dan anda akan melihat telaga cebongan yg indah dari atas bukit apalagi waktu sebagian bukit udah kena sinar matahari. Sepertinya tdk byk orng yg tau terlalu sibuk dgn golden sunset . tp saya termasuk yg betuntung , penasaran dgn sebagian orng yg bergerombol di tempat lain.
      Selanjutnya lihat telaga cebongan, bukit ratapan angin,telaga warns,telaga pangilon,desa sembungan,dieng plateau theatre, lanjut ke sikidang. Dr sana di tawarin mau ke candi Arjuna ato dieng 2 ? Pilih dieng 2 saja ... Mulai lihat sumur jalatunda (5000), kawah sineri (gratis) waktu nanya kawah candradimuka mas arifin bilang jelek jalannya.(Dan hasil googling pun demikian) , telaga dringo ? Ya itu tadi sekonplek dgn candradimuka. Sebenarnya tdk ada bagus2nya di dieng 2 INI.lupakan saja tdk rugi jg kalo tdk datang ke sini. Di perjalanan pulang di tawarin telaga merdada. Jelek pula yg ini . 
      Silahkan adunyali di bukit ratapan angin dgn naik jembatan tali Seperti outbound2 begitu. Seperti nya baru di buat Karena saya tdk pernah dapat photo mengenai ini. Selfie di atas bisa maksimal dgn pemandangan bawahnys telagawarna Dan pangilon itu. Saya sih gak ada nyali Hahaha
      Gak kerasa sudah jam 2an , saya minta pulang saja udah cape Dan kepanasan. 
      Tadinya pengen ke bukti sumurup yg ada savana nya tsb. 
      Abis Mandi, masaalloh. Muka saya merah Hahaha. Terlalu asik di tempat terbuka. Hahahaha.
      Harga tiket masuk rata2 rp.5000 sampe rp.10000ribu.bahkan bisa gratis kalo tdk ada yg jaga. Tdk ada gerbang tutup bukanya kecuali musium kalisa dan DPT
      Hari ke2 sudah bangun pagi2, cus ke Candi Arjuna lg. Seperti udah saya duga tdk ada yg jaga, dan saya sendirian yg berkunjung kesana. Katanya bagus view nya kalo lg sunrise. Malah saya lebih terpukau dgn pemandangan di sebelah candi tsb, ada "savanna" mini yg sangat kontras Seperti rumput kering,tapi sebagian lg hijau yg Segar. Apalagi waktu terkenal sinar matahari pagi  dgn kabut di bawah dan dgn latar belakang cemara dan bukit2 makin photogenic saja.. Gak perlu aba2 langsung cekrek2 bertubi2. Sayang tdk bawa tongsis jd pasrah saja nyelipin HP di pohon buat ambil pic narsis. Selang beberapa menit mulai berdatangan orng lain.Dan tentunya mereka jg ada yg penasaran dgn rumput kering ini. Cekrek
      Selama mengitari kawasan dieng ini,saya byk melihat sebagian rumput yg mengering tapi yg lainnya hijau seger  membentuk pola2 .knp bisa begitu ?
      habis Dr sana menuju musium kaliasa, tp lagi2 masih tutup .yahhh... Jam 7 sih datangnya. 
      Ahirnya lanjut saja ke bukit sumurup dgn padang savanna yg luas , tadinya rada ngeri Karena sepi Dan saya sendiri an. Tapi setelah menunggu sebentar di jalan masuk, ada jg beberapa orng yg kesana. Horeee.... Padang savana ini relatif baru . Dan saya pun pulang ke homestay untuk siap2 pulang.
      Gak kerasa hampir jam 10an, gimana pulang ? 
      Sebelum udah tanya sana sini mengenai angkutan, tp rata2 pilihan sama saja dgn travel mengenai durasi nyampe jogja nya. Ahirnya tlp lg travel yg kemaren BPG tsb, kalo mau leluasa ambil yg jam 10, gak mungkin lah di dieng saja hampir jam 10. Ahirnya ngambil yg jam 14 Dari wonosobo karena tdk ada jam selain itu , Dan Seperti biasa tdk mau ngasih garansi tempat waktu ngejar KA pulang. Tapi otak saya jalan dgn pengalaman 7 jam Dr jogja ke dieng. Tentunya cukup bahkan pas2an . tp yg punya bilang kalo Dr wonosobo tdk byk jemput2an dulu. Sedikit lega. 
      Sesuai kesepakatan saya di jemput jam 2 di prajuritan (Seperti nya ini tempat ideal Dan banyak yg tau buat jemput2an) beruntung ada Rumah makan soto disana , saya pun minta ijin nunggu travel sambil makan tentunya. Oalah baru di jemput hampir jam 3. Udah pasrah saja deh gak mau ngomel ato apapun. Nikmati saja sambil main HP. Dan saya cuma ngomong ke driver ngejar KA jam 7. Padahal aslinya jam 8. Kaloupun telat, saya nikmati saja nginep semalam di jogja lg Hahaha.
      Betul jg cukup 3 jam itu perjalanan , bahkan 2,5jam deh bisa jg. 3 jam itu sambil nganter penunpang lain tp kebetulan byk satu jalur tdk mencar sana sini . nyampe stat tugu jam 6an deh. Legaaaa. Ada 1 yg bikin BT, ni ada abg cewe bau kencur yg duduk sebelah BB hadeuh.... Bikin saya tersiksa. Saya hampir tdk bisa memandang lurus kedepan. Karena kecium baunya, muka nempel saja ke kaca samping.mau oles minyak angin susah ngambil di bagasi. 
      Dan saya pun sampe dgn selamat ke bdg lagi dgn hati bahagia Hahaha.
       
      Saya sedikit rewel dgn trasportasi ini karena waktu yg terbatas saja. Mungkin bisa jadi pertimbangan bagi yg punya waktu terbatas untuk lebih bijak milih trasportasi. 
      Kalo rame2 star jogja mending carter Mobil sampe dieng. Kalo patokan dalam kota 12jam itu all in one kena 450k. Luar kota nambah 
      Kalo start Dr jogja jam 6 ,jam 10an udah sampe dieng bisa langsung main , besoknya ke sikunir Dan sekitar nya. Cukup nginep 1 malam saja buat jelajahi semua wisata dieng. Jam 12 bisa langsung cabut pulang
      Malam tdk ada aktifitas apa2 di dieng, mending tidur saja biar badan fit .
      Kuliner sangat minim, tdk byk pilihan standard ayam Goren,soto,nasgor saja. Paling mie onklok itu saja. Jd dompet aman kalo soal makanan.
      Suhu udara yg kedeksi di hp kisaran 10°c kalo malam dan 15° c sampe 18°c kalo siang. Dingin kan ?ah saya udah terbiasa dgn tempat dingin. Jalan2 meskipun pagi ato malam Tampa jaket , kecuali waktu ke sikunir subuh2 itu. Tp warga setempat tdk lupa pake kupluk dan jaket.
      Siang2 panas tp tdk bisa disamakan dgn panas siang hari di dataran rendah. Yup meskipun panas2an anti kucel deh , gak byk keluar keringat.pindah tempat jg langsung dingin lagi.
      Wajib bawa pelembab baik muka,bibir,badan. Kulit gampang dehidrasi. Bibir saya sampe kering hampir ngelotok .kulit badan begitu haus , saya bawa oil purpose use dibanding  bawa lotion. Nyerep sempurna Dan cepat banget di kulit. Jauh bgt kalo pake di bdg , kliatan herang Dan lama nyerapnya. Hahahaha
      Jgn khawatir meskipun pergi sedirian, bawa peta, lihat byk petunjuk ke berbagai lokasi Dan tentunya udah ada jalan permanen untuk dilalui. Wisata dieng hanya seputaran itu kalo mulai dr sikunir , lanjut yg deket2 sana nyampenya ke candi Arjuna jg jadi satu lingkaran jalan utama.
      Karena traveling sendiri mau gak mau saya jg berinteraksi dgn penduduk setempat mulai yg jualan makanan,guide,yg punya homestay dll. Byk cerita menarik dan mistiknya.
      1.begitu bangga dgn punya anak rambut gimbal, meskipun Muslim si IBU dgn bangga punya anak keturunan dewa. Si IBU sendiri memahahi dan saya rasa adapertentangan batin mengenai agama Dan keturunan dewanya INI , saya tdk bisa mengorek lebih jauh takut ada yg tdk berkenan. Jadi takjub saja. Sorot mata anak gimbal itu beda serasa ada kekuatan mistis Dan warnanya pun menyerupai bola mata orng bule. Penduduk lokal tdk berani tatapan langsung .Dan kata IBU jg dewa yg diatas itu selalu memperhatikan anak2 tsb.
      2.fenomena gas beracun. Penduduk lokal dgn gampang nya bilang pasrah saja, udah ketentuannya mati Seperti itu. Gak perlu di ributin segala. Waktu saya Tanya (sekarang katanya sudah ada serine yg bisa mendeteksi keberadaan gas beracun tsb) tp lagi2 di IBU bilang , ah diem saja udah takdirnya harus mati Seperti ITU. Waktu itu saya Tanya APA tdk langsung pergi menjauh .tp jawabannya Seperti itu. 
      3.kalo pengen di kabulin musti mandi di air (duh lupa lg deh ), berkunjung ke gua semar kalo bisa lihat keris  bakalan sukses. DLL cerita ini di aminin sama penduduk lokal . JD menurut gw meskipun hampir semua warga dieng adalah Muslim, tp masih kuat Dan kecampur tradisi Dan kepercayasn setempatnya.
      4. Kapan dieng bisa terkenal ? Kira2 4 ato 5 tahun yg lalu, hmmm saya langsung curiga gara2 Instagram Dan medsos deh. Para guide lokal bahkan dadakan ini rata2 tau jg bahwa dieng sudah mendunia , dieng dataran tertinggi setelah Tibet,losmen bu djono yg pertama dan rekomendasi Dr Biro traveler dll. Banyak warga asing sbg tourist disana, yg menonjol yg bule 
      5.knp dieng tidak ada hotel berbintang ,cafe Dan franchises fastfood misalnya ? Kearipan lokal yg melarang ada hotel ,cafe di bangun di dieng. Biarlah dieng Seperti apaadanya Tampa explorasi besar2an yg bisa mengubah culture budaya setempat. Dan saya setuju bgt. Biar beda saja dgn tempat wisata lain..jadi dieng tetap saja Seperti pedesaan.sedikit kesusahan tapi disana seninya. Bank hanya ada BRI Dan BPD daerah nya. 
      6.dieng tdk ada esek2 !!
      7.yg saya temui baik di bis,perjalanan,bahkan warung2 hampir tdk melihat anak2 muda lokal baik CE ato co , kemana mereka ? Yg saya temui bapak2 Dan ibu2 saja 
      8.dieng tidak ada hewan2 apalagi yg buas,ular pun tidak ada ! Paling semut dan serangga. Anjing pun tdk ada Seperti nya. 
      9.tumbuhan endemik udah pada tau kan carica Dan purwaceng. Saya nyoba yg fresh nya ternyata gak enak tuh carica . 
      10. Ntar kalo ingat lg. Sambil upload potonya 
    • By Hasdevi Agrippina Dradjat
      Dataran tinggi Dieng merupakan salah satu destinasi wisata favorit para wisatawan. Nah, dataran tinggi Dieng sendiri merupakan kawasan vulkanik aktif yang terletak di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo.
      Kawasan wisata ini berada kurang lebih sekitar 30 kilometer dari pusat kota Wonosobo. Dataran tinggi Dieng berada di sebelah barat Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
      Nah, apakah kamu penasaran dan ingin segera menjelajahi Dieng dan sekitarnya? Kali ini, kita akan membahasnya dalam menyambangi Dieng di Wonosobo dan sekitarnya berikut ini. Yuk, simak pembahasannya.
       
      Sekilas tentang Dieng


      Dieng via Tempat Wisata Daerah
       
      Menurut sejarah, dataran tinggi Dieng merupakan tempat para dewa dan dewi tinggal. Nama Dieng sendiri diambil dari bahasa Kawi: “di” yang artinya tempat atau gunung dan “Hyang” yang artinya dewa. Sehingga, secara bahasa Dieng berarti gunung tempat dewa dan dewi bersemayam.
      Sedangkan sejarah lain ada yang mengatakan jika nama Dieng berasal dari bahasa Sunda “di hyang”, karena diperkirakan pada abad ke-7 Masehi daerah ini berada dalam wilayah politik kerajaan Galuh.
      Nah, selain terkenal karena keindahan wisata alamnya yang cantik, kawasan ini juga terkenal karena terdapat banyak candi hindu di sini. Tempat ini juga termasuk kental dengan spiritual karena terdapat candi-candi kuno bercorak Hindu dengan arsitektur yang unik.
      Dataran tinggi Dieng ini berada pada ketinggian 2.093 mdpl. Selain itu, Dieng ini juga memiliki suhu udara yang sejuk lengkap dengan kabut saat matahari tidak muncul. Untuk masalah suhu, suhu di kawasan ini berkisar antara 15 hingga 20 derajat celcius sehingga cukup sejuk.
       
      Perjalanan Menuju ke Wonosobo


      Terminal Mendolo, Wonosobo via Rhaggil Duniaku
       
      Nah, salah satu alternative perjalanan dari Jakarta menuju Wonosobo yang dapat kamu tempuh adalah dengan menggunakan bus. Setelah sampai di Wonosobo, kamu akan langsung tiba di terminal Mendolo.
      Lama waktu perjalanan yang akan kamu tempuh adalah sekitar 12 jam. Jika ingin menghemat agar lebih terjangkau, kamu dapat memilih perjalanan malam hari agar tiba keesokan harinya di Wonosobo. Kamu bisa memilih bus AC dengan toilet dan juga makan.
      Selanjutnya, kamu dapat menaiki angkutan umum dari Mendolo ke terminal bus Dieng. Baru dari sana kamu dapat menaiki microbus menuju Dieng.
      Harga bus bervariasi mulai dari Rp.85.000 (ekonomi), Rp.110.000 (VIP), Rp.180.000 (executive). Biaya menaiki angkutan umum adalah sekitar Rp 4.000, sementara biaya untuk menaiki microbus adalah sekitar 10.000.


      Alternatif menaiki bus yaitu kereta via Seratus Negara
       
      Selain menaiki bus, kamu juga memiliki alternative moda transportasi lainnya untuk mencapai Dieng. Kamu dapat menaiki kereta. Kamu dapat mencoba untuk menaiki kereta ekonomi Progo dengan harga tiket 100.000 yang biasanya berangkat pukul 10 malam dari Stasiun Pasar Senen.
      Selain kereta ekonomi, kamu bisa juga memilih untuk menaiki kereta bisnis atau eksekutif dengan harga tiket sekitar 200.000 hingga 300.000. Perjalanan dengan kereta api ini akan memakan waktu sekitar 4 hingga 5 jam.
      Setibanya di Wonosobo, kamu dapat menaiki bus dengan rute Purwokerto-Wonosobo dengan biaya sekitar 20.000. Perjalanan akan ditempuh dengan waktu sekitar 2 jam.
      Selanjutnya, kamu dapat menaiki angkutan umum dari Mendolo ke terminal bus Dieng. Baru dari sana kamu dapat menaiki microbus menuju Dieng. Biaya menaiki angkutan umum adalah sekitar Rp 4.000, sementara biaya untuk menaiki microbus adalah sekitar 10.000.
       
      Memilih Penginapan Selama Berada di Dieng


      Penginapan di Dieng via Sikunir Dieng
       
      Setelah memilih moda transportasi terbaik untuk menuju Dieng, selanjutnya kamu dapat memilih penginapan selama berada di Dieng. Sebagai tujuan wisata yang tidak pernah sepi pengunjung, terdapat banyak homestay pula di sekitar kawasan ini yang tentu saja dapat kamu jadikan sebagai pilihan.
      Harga homestay dikelola oleh warga lokal dan sangat bervariasi. Untuk range harga sendiri berkisar antara 100 ribu hingga 250 ribu per malam dan dapat tergantung dengan fasilitas yang tersedia dan juga kenyamanannya.
      Nah, jika kamu pergi dalam rombongan yang besar, sebaiknya kamu memilih untuk menyewa rumah. Biaya yang akan kamu keluarkan jika kamu ingin menyewa satu homestay adalah sekitar 600 hingga 800 ribu per malam.
      Jika kamu pergi dalam jumlah yang besar, misalnya 10, biaya tersebut tentu dapat dibagi 10 sehingga satu orang membayar sekitar 60 hingga 80 ribu. Nah, sebagai tips sebaiknya kamu memastikan agar penginapan yang kamu sewa memiliki fasilitas air hangat sebab kondisi cuaca di Dieng sangat dingin.
       
      Kuliner di Dieng


      Kuliner di Dieng via Kompasiana
       
      Nah, setelah memilih penginapan selama berada di Dieng, selanjutnya kamu dapat memilih kuliner. Salah satu kuliner yang wajib kamu coba adalah kuliner khas Wonosobo yaitu mie ongklok.
      Mie ongklok merupakan mie dengan campuran kol disiram kuah dan juga ditambahkan dengan sate sapi. Untuk range harga makanan di sini adalah sekitar 10.000 hingga 15.000.
      Namun, kebanyakan restoran atau warung makan tidak menyediakan daftar harga. Agar kamu tidak terkena “getok” pastikan kamu bertanya terlebih dahulu mengenai harga makanan yang kamu pesan.
      Untuk masalah rasa, kamu tidak perlu khawatir. Wisatawan yang datang ke Dieng bukan hanya wisatawan lokal tetapi banyak juga wisatawan mancanegara. Sehingga, tentunya rasanya pun sudah disesuaikan agar menjadi semakin nikmat.
      Selain menikmati mie ongklok, kamu juga dapat menikmati nasi rames yang banyak tersedia di depan restoran atau warung makan. Range harga nasi rames adalah dimulai dari 2.500 (sudah mendapatkan sayur). Kamu dapat memilih sendiri jenis makanan apa yang akan kamu pilih.
       
      Melihat Sunrise di Bukit Sikunir


      Bukit Sikunir via bukitsikunirdieng
       
      Untuk mengawali perjalanan wisatamu selama berada di Dieng, ini dia salah satu objek wisatanya yang wajib kamu sambangi. Objek wisata ini adalah Bukit Sikunir dimana kamu dapat menikmati sunrise yang cantik dan indah.
      Ya, dari bukit ini kamu dapat mengabadikan keindahan matahari terbit dari sudut yang paling indah. Jika Jawa Timur memiliki Bromo sebagai spot terbaik untuk melihat sunrise, maka Jawa Tengah memiliki Bukit Sikunir yang satu ini.
      Keindahan Bukit Sikunir memang sudah sangat populer. Bahkan, karena keindahannya, banyak orang menamakan bukit ini dengan sebutan “Golden Sunrise”.
      Bukit Sikunir berada pada ketinggian 2.200 mdpl. Warna sinar matahari yang kekuningan seperti kunir membuat masyarakat setempat menamainya sikunir. Kunir adalah bahasa Jawa dari kunyit.
      Harga tiket masuk yang harus kamu bayar jika kamu ingin memasuki kawasan Bukit Sikunir ini adalah sekitar 5.000. Nah, jika kamu ingin melihat indahnya matahari terbit di Bukit Sikunir ini, maka sangat disarankan kamu untuk bangun sejak pukul 3 pagi.
      Selanjutnya, kamu dapat menyewa mobil atau ojek yang akan mengantarkanmu untuk mencapai kaki bukit Sikunir. Selanjutnya, kamu dapat melanjutkan perjalananmu dengan trekking menuju ke Bukit Sikunir.
       
      Menyambangi Telaga Menjer


      Telaga Menjer via Goresanlensa
       
      Setelah menyambangi Bukit Sikunir, kamu dapat melanjutkan perjalananmu dengan menyambangi Telaga Menjer yang satu ini. Keindahan alam yang ditawarkan oleh Telaga Menjer ini sangat cantik sehingga mampu membuat siapa saja terkesan.
      Ketika menyambangi telaga ini, kamu dapat melihat panorama alam yang indah berupa bukit-bukit hijau yang ditengahnya terdapat telaga. Keindahan alam ini menjadikan Telaga Menjer sebagai salah satu tempat yang paling sering disambangi oleh wisatawan.
      Biaya masuk yang harus kamu keluarkan jika kamu ingin memasuki Telaga Menjer ini adalah sekitar 3.000 rupiah. Sementara itu, jika kamu ingin mencoba sensasi menaiki perahu motor dan berkeliling telaga, biaya yang kamu keluarkan adalah sekitar 10.000 hingga 25.000.
       
      Melihat Telaga Warna Lebih Dekat


      Telaga Warna via Diengadventure
       
      Selanjutnya, inilah dia destinasi wisata di Dieng yang dapat kamu jadikan sebagai referensi. Destinasi wisata yang satu ini adalah Telaga Warna.
      Telaga Warna adalah salah satu objek wisata yang paling terkenal di Dieng. Telaga ini menjadi populer karena konon warna airnya dapat berubah-ubah kadang biru, hijau, kuning dan bahkan warna pelangi.
      Perubahan warna telaga ini konon terjadi karena kandungan sulfur yang sangat tinggi sehingga jika terkena sinar matahari, warnanya pun dapat berubah-ubah. Sementara menurut legenda warga sekitar, warna yang berubah-ubah itu terjadi karena pada zaman dahulu kala terdapat cincin milik seorang bangsawan yang jatuh ke dalam telaga ini.
      Dominasi warna dari telaga ini adalah hijau, biru laut dan putih kekuningan. Jika ingin melihat keindahan warna dari telaga, kamu dapat mendaki ke puncak bukit yang mengelilingi telaga tersebut.
      Nah, selain melihat warna yang cantik di telaga warna ini, kamu juga dapat menikmati pemandangan berupa pepohonan yang menjulang tinggi di sekitar telaga. Dengan demikian, kamu akan merasa nyaman karena suasana teduh dan membuatmu betah berlama-lama berada di sini.
       
      Menyambangi Candi Arjuna


      Candi Arjuna via Pegipegi
       
      Penasaran dan masih ingin menyambangi berbagai destinasi wisata menarik lainnya di sekitaran Dieng? Kali ini kamu dapat mencoba untuk menyambangi Candi Arjuna karena candi ini merupakan satu bukti bahwa Dieng juga memiliki magnet wisata berupa candi berarsitektur unik.
      Di sekitar Dieng, terdapat banyak candi agama Hindu yang masih eksis dan berdiri tegak hingga saat ini. Hal ini merupakan satu bukti napak tilas mengenai penyebaran agama pertama di Indonesia.
      Nah, salah satu candi yang masih eksis hingga saat ini adalah Candi Arjuna. Keberadaan candi ini sebagai objek wisata sukses membuat banyak pengunjung dan wisatawan baik lokal maupun mancanegara memilih datang dan berkunjung ke sini.
      Bagi kamu yang menyukai wisata sejarah, kamu dapat mencoba untuk menyambangi candi yang satu ini. Biaya masuk yang dikenakan jika kamu ingin memasuki candi ini adalah sekitar 5.000.
       
      Menyambangi Desa Sembungan


      Desa Sembungan via Ensiklopediindonesia
       
      Masih bersemangat ingin mengeksplor Dieng? Kali ini, jangan lupa untuk jejalkan kakimu di kawasan Desa Sembungan. Desa ini merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa. Jadi, jika kamu ingin menjajaki desa tertinggi di Pulau Jawa namun malas untuk mendaki gunung, jangan lupa untuk menyambangi Desa Sembungan yang satu ini.
      Desa ini berada di 2.306 meter di atas permukaan laut. Dan karena letaknya di Dataran Tinggi Dieng, praktis membuat desa ini juga menjadi salah satu desa yang tinggi—bahkan merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa.
      Bagi kamu yang tertarik ingin menyambangi desa yang satu ini, jangan lupa bekali diri dengan menggunakan jaket sebab suhu di desa ini tergolong sangat dingin. Dalam sepanjang perjalanan menuju Desa Sembungan kamu akan menemui penduduk asli Dieng yang menahan dingin dengan cara mengenakan sarung menutupi wajah dan badan mereka.
       
      Mengunjungi Kawah Sikidang


      Menyambangi Kawah Sikidang via Coretanpetualang
       
      Selanjutnya, inilah destinasi wisata di Dieng yang sayang untuk kamu lewatkan. Destinasi wisata ini adalah Kawah Sikidang.
      Kawah Sikidang merupakan salah satu kawah yang dijadikan sebagai andalan wisata di Dieng. Kawah ini berlokasi di bagian Dieng timur. Pemandangan di sekitar Kawah Sikidang ini juga tergolong sangat indah. Kamu dapat melihat perpaduan hamparan bukit hijau dan tanah kapur di sekitar kawah.
      Diberi nama Sikidang karena kolam magma di kawah ini sering berpindah-pindah seperti Kidang (bahasa Jawa untuk hewan Kijang). Gejolak magma di kawah ini juga cukup tinggi, antara setengah hingga satu meter.
      Nah, di Kawah Sikidang ini kamu dapat berfoto dengan pemandangan latar belakang berupa kepulan asap dari kawah dan putihnya pemandangan di sekeliling.
      Walaupun terlihat sangat eksotis, tetapi kamu tidak disarankan berada berlama-lama di Kawah Sikidang ini demi kesehatan pernapasanmu. Untuk menyambangi kawah Sikidang ini, biaya yang harus kamu keluarkan adalah sekitar 4.000 rupiah.
       
      Mengunjungi Dieng Plateau Theater


      Mengunjungi Dieng Plateau Theater via Indahnesia
       
      Selanjutnya, inilah dia destinasi wisata lainnya di kawasan Dieng yang tentu saja sayang untuk kamu lewatkan. Destinasi wisata yang satu ini adalah Dieng Plateau Theater.
      Nah, jika kamu ingin mengetahui lebih dalam tentang sejarah Dieng dalam bentuk film, kamu dapat mencoba untuk menyambangi tempat ini. Di sini akan diputarkan film mengenai sejarah Dieng dan juga berbagai hal seputar Dieng ini.
      Ketika menyambangi Dieng, jangan lupa untuk menyambangi teater yang satu ini dan menonton film mengenai Dieng. Biaya yang harus kamu keluarkan jika kamu memasuki teater ini adalah sekitar 5.000.
       
      Menyambangi Gardu Pandang Tieng


      Mengunjungi Gardu Pandang Tieng via Mutiakarima
       
      Kawasan Dieng memang terkenal dengan ketinggiannya. Nah, untuk melengkapi perjalanan wisatamu selama berada di Dieng, pastikan kamu tidak melewatkan kesempatan untuk menyambangi Gardu Pandang Tieng yang satu ini.
      Di tempat ini kamu dapat merasakan sensasi bagaimana rasanya berada sangat dekat dengan awan dan bahkan dapat merengkuhnya. Berfoto di sisi gumpalan awan seperti gula-gula kapas adalah kegiatan yang wajib kamu lakukan ketika kamu memiliki kesempatan untuk menyambangi tempat ini.
      Ya, kamu akan mendapatkan sebuah foto yang sangat ciamik. Dari sini, kamu juga dapat melihat Gunung Sindoro secara lebih dekat. Selain itu, kamu juga dapat menyaksikan kota Dieng seperti miniature kota dalam maket yang akan menjadi pelengkap keindahan memandang Dieng dari ketinggian.
      Sementara itu, tidak ada biaya yang dikenakan jika kamu ingin menyambangi tempat ini alias gratis. Untuk itu, jangan sampai lewatkan kesempatan untuk menyambangi tempat ini ketika kamu memiliki kesempatan untuk menyambangi kawasan Dieng.
       
      Nah, itulah dia penjelasan mengenai menyambangi Dieng. Dieng memang terkenal dengan pesona wisatanya yang tentu saja sangat sayang untuk kamu lewatkan.
      Happy traveling!