• 0
nakamurame

Visa to visit italy dan transit di Schipol

Question

Halo agan2 jalan2ers sekalian. Mohon bantuannya, secara masih newbie nih. Saya akan pergi ke Milan, italia selama seminggu buat acara workshop gitu. Berhubung cari tiket yang paling murah, saya pake flight KLM dan transit di belanda. itinerary nya Surabaya-Jakarta-Amsterdam-Milan. SUB-CGK pake Garuda, CGK-AMS pake KLM, AMS-MIL pake Alitalia. Transit di Schipol selama 6 jam. Karena mumpung waktu transitnya cukup lama dan pertama kali transit belanda, jadi pengennya sekalian keluar bandara buat sight-seeing belanda gitu. Nah, bingungnya, kira2 boleh gak ya pake Schengen apply di embassy netherland aja gitu, mempertimbangkan lebih gampang apply nya karena ada konsulat nya di sby, tapi cuma mampir transit doang disana, trus stay seminggu nya di milan. Trus misal pake visa italy, bisa ngga sih di belanda jalan2 keluar airport dulu gitu?

Mohon bantuannya ya para expert jalan2ers ^^ Thanks for the help in advance :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

10 answers to this question

  • 0

@nakamurame

halo mas bro welcome di forum jalan2

untuk visa schengen bikin di kedutaan belanda bisa kok 

karena inti nya Visa Schengen kan untuk hampir semua negara di Uni-Eropa kecuali Inggris

apalagi kamu transit di Belanda dulu :)

Share this post


Link to post
Share on other sites
  • 0

Oke, terima kasih infonya. Tapi nanti kan ditanyai tuh pas bikin visanya. Nah, perlu bikin bukti booking hotel sm flight lagi ngga ya buat mempermudah pas proses bikin visa? Takutnya kalo ketauan stay terlama di milan malah ngga di approve lagi. gimana?

Share this post


Link to post
Share on other sites
  • 0

Ikut jawab ya,

 

pas bikin Itinerarynya, dibuat paling lama di belanda aja dan booking ticketnya pakai yang PP dari Belanda (jgn pakai tiket asli yg belanda nya cuman transit karena pasti ditolak apply dari kedubes belanda), ini kasusnya mirip sama saya nih.

Tp saya lebih keder kalau pas transit keluar itu applynya single entry or multi entry jenis visa schengennya.

 

Share this post


Link to post
Share on other sites
  • 0
23 minutes ago, Baroness said:

Ikut jawab ya,

 

pas bikin Itinerarynya, dibuat paling lama di belanda aja dan booking ticketnya pakai yang PP dari Belanda (jgn pakai tiket asli yg belanda nya cuman transit karena pasti ditolak apply dari kedubes belanda), ini kasusnya mirip sama saya nih.

Tp saya lebih keder kalau pas transit keluar itu applynya single entry or multi entry jenis visa schengennya.

 

nah info bagus neh buat @nakamurame

Share this post


Link to post
Share on other sites
  • 0

Kita berencana berangkat awal mei, doain yah visanya granted. Btw jerman-austria itu ada group saver 70% utk kereta antar negara/kota jika jumlah grup traveler >= 6.

Barangkali ada yang minat join bs message aja (serious only), nyari travelmates 2 org lg buat dptin group saver. Rute saya central dan east europe (Jerman Austria Hungary Czech Poland).

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now


  • Similar Content

    • By Dantik
      Hari 1, 05 Mei 2018 : Athena
      Hari 2, 06 Mei 2018 : Roma Day 1
      Hari 3, 07 Mei 2018 : Venice
      Hari 4, 08 Mei 2018 : Roma Day 2
      Hari 5, 09 Mei 2018
      Hari ini adalah hari terakhir kami di Roma setelah 2 hari di sini. Setelah semalam kami merasakan kehujanan di Roma, tidak sama dengan cuaca hari ini yang cerah. Pagi ini kami berkemas dan langsung check out dari penginapan.
      1. Piazza della Repubblica
      Piazza della Repubblica tidak begitu jauh dari Termini. Berjalanlah ke utara disana kita akan melihat gereja Santa Maria degli Angeli.


      2. Piazza Barberini
      Dari Piazza della Repubblica kami berjalan lagi ke Piazza Barberini.

      Rencana mau ke Villa Borghese dulu sebelum ke Piazza di Spagna. Ternyata lumayan jauh juga kalo jalan kaki dan jalanannya pun menanjak, jadi sesudah sampai Porta Pinciana kami balik lagi.

      3. Piazza di Spagna
      Semalam kami sempat kesini juga pas hujan, sepi sama sekali ga serame kayak di Trevi Fountain meskipun hujan. Tetapi siang ini ternyata lebih rame dibanding di Trevi Fountain. Lihat saja wisatawan yg datang kesini udah kayak semut saking ramenya.


      Kemudian dari Piazza di Spagna kami berjalan lagi ke Piazza Venezia melewati Trevi Fountain.

      Setelah sampai di Piazza Venezia rencana kami ingin masuk ke Capitoline Museums, tetapi kami berubah pikiran untuk beli oleh-oleh karena nanti malam kami sudah kembali lagi ke Athena untuk melanjutkan perjalanan ke Santorini. Mungkin next time jika kami kembali ke Roma lagi akan kami sempatkan untuk mengunjungi Vatican Museums, Colosseum dan Capitoline Museums.


      Seperti pertama kali datang kami menggunakan Metro A turun di Cinecitta, kemudian naik bus 520 kembali ke Ciampino Airport.

      Goodbye Roma!
    • By vie asano
      Bagi yang sering mampir ke blog saya yang sederhana ini mungkin bisa melihat, bahwa mayoritas tulisan saya bercerita tentang negara Jepang. Vie Asano's Lounge ini awalnya memang didedikasikan untuk sharing berbagai informasi tentang Jepang, khususnya pariwisata dan tips penting lainnya. Baru beberapa minggu yang lalu saya sempat selingkuh sejenak ke Belanda dan Jerman karena faktor Anne Frank (baca disini: Anne Frank House dan Sepenggal Cerita tentang Holocaust, dan Anne Frank Zentrum: Saat Anne Frank Kembali “pulang†ke Jerman). Dari sana saya terpikir seru juga kayaknya jika sesekali sharing info tentang keindahan dan keunikan negara lain, yang akan saya mulai dari negeri Belanda. Kebetulan di Jalan2.com belum ada artikel tentang Belanda, jadi sekalian saya ingin menceritakan keindahan negara yang punya hubungan historis dengan Indonesia ini.
      Why Belanda? Kok melipirnya jauh bener dari Jepang ke Belanda?
      Diluar fakta sejarah bahwa Belanda dan Jepang merupakan 2 negara yang dulu sempat mampir agak lama di Indonesia, saya punya ketertarikan tersendiri terhadap negara kincir angin ini. Beberapa tahun lalu salah seorang adik saya (si nomer 3) pernah dapat beasiswa ke negerinya VOC itu. Pasca menyelesaikan studinya, selain membawa gelar kesarjanaan, adik saya sekaligus membawa bonus lain untuk saya: calon adik ipar asli Belanda. Setelah tahun kemarin status calon adik ipar resmi berubah menjadi adik ipar, kini adik saya pun ikut suaminya kembali ke Belanda dengan misi baru: memberikan budenya (=saya) ponakan blasteran JaNda (Jawa-Belanda). Aamiin!
      Dari sejak masih berstatus mahasiswa di Belanda, lalu bekerja di sana, hingga kini resmi menetap di Belanda, adik saya sering mendongengkan tentang berbagai tempat menarik yang ada di Belanda dan Eropa. Saya yang sebelumnya hanya pernah dengar Amsterdam dan Den Haag, lama-lama kenal juga dengan kota lainnya. Salah satunya adalah Assen; kota tempat adik saya dan suaminya menetap. Jadi kali ini saya ingin mendongengkan tentang Assen pada Jalan2ers lainnya.
      Sejarah singkat Assen
      Menurut pepatah klasik, tak kenal maka tak sayang. Tak sayang maka takkan jatuh cinta. Sebelum kenalan lebih lanjut tentang kota Assen, mari kenalan dulu dengan sejarahnya. Sejarah Assen dimulai sejak para biarawati pindah dari Coevorden untuk mendirikan biara di dataran yang lebih tinggi, kurang lebih 750 tahunan yang lalu. Biara tersebut lalu didirikan di area yang dikenal dengan nama Witten. Singkat cerita, area di sekitar Witten tersebut kemudian ikut berkembang dan akhirnya resmi menjadi kota Assen pada tahun 1809. Assen pun lalu menjadi ibu kota dari provinsi Drenthe, salah satu provinsi di Belanda.
      Yang menarik dari Assen
      Pertanyaan ini selalu saya lontarkan pada adik saya setiap kali kami membahas tentang kehidupan di Belanda: apa serunya sih Assen?. Biasanya, adik saya lalu akan mengilustrasikan Assen sebagai kota kecil yang menyenangkan. Sebagian besar penduduknya saling kenal satu sama lain. Setiap kabar berita sekecil apapun akan langsung tersebar, termasuk kabar pernikahan adik saya yang notabene dilangsungkan di Indonesia.
      Selain faktor masyarakatnya yang ramah, Assen menarik untuk dikunjungi. Suasananya layaknya kota tua yang tenang dan damai, dan relatif sepi jika dibandingkan dengan kota besar seperti Groningen. Jalur pejalan kakinya bagus, dan beberapa jalur sepedanya dirancang berkualitas tinggi sehingga sangat nyaman untuk dilalui. Jadi jika ingin mencari suasana lain yang nyaman dimana waktu terasa berjalan lebih lambat, berkunjunglah ke Assen. Itu promosi singkat yang seringkali saya dengar dari duta baru kota Assen.
      Foto 01 (a-d):
      Bangunan-bangunan di Assen [foto: Gouwenaar/wikimedia, Lfblaauw/wikimedia, Ronn/wikimedia, Ronn/wikimedia]
      Tempat favorit untuk dikunjungi di Assen
      Walau merupakan sebuah kota kecil, di Assen ada juga beberapa tempat wisata yang menarik. Salah satu yang paling terkenal adalah TT Circuit Assen yang merupakan salah satu sirkuit balapan paling terkenal di dunia. TT Circuit itu berada di dalam TT Complex, dan terdapat juga TT Hall di dalam kompleks itu.
      Foto 02 (a-d):
      TT Circuit Assen [foto: Algont/wikimedia, Michiel Jeljis/wikimedia, distillated/wikimedia, Dirk Kempen/wikimedia]
      Assen juga memiliki beberapa taman yang menarik. Salah satu yang paling direkomendasikan jika berkunjung sambil membawa anak-anak adalah Verkeerspark Assen. Taman ini kurang lebih seperti Taman Lalu Lintas di Bandung, yaitu dirancang menjadi sebuah traffic park. Bedanya, di taman ini (dan konon menjadi satu-satunya taman di dunia) anak-anak bisa mendapatkan surat ijin mengemudi. Jangan kaget, surat ijin mengemudi tersebut hanya untuk berkendara di dalam taman saja kok.
      Foto 03 (a-c.):
      Verkeerspark [foto: Jeroen Loeffen/wikimedia, Moisturizing Tranquilizers/flickr, Mouisturizing Tranquilizers/flickr]
      Drents Museum menjadi tempat wisata utama lainnya yang wajib dikunjungi di Assen. Disini terdapat bermacam hal yang berkaitan dengan sejarah provinsi Drenthe, provinsi tempat Assen berada, seperti artifak jaman pra-sejarah, dan juga bermacam benda seni yang berasal dari berbagai penjuru Eropa. Salah satu atraksi utamanya adalah proyek rekonstruksi bog body, yaitu mayat manusia yang secara alami menjadi mumi karena terendam lumpur.
      Foto 04 (a-d):
      Drents Museum [foto: FaceMePLS/flickr, FaceMePLS/flickr, mjk23/flickr, mjk23/flickr]
      Sebetulnya, masih ada beberapa tempat wisata lainnya seperti Assen Bos dan centrum. Alternatif lainnya, mengingat kota ini termasuk kota kecil, Assen dapat dijelajahi dalam waktu singkat. Sekedar berjalan-jalan sambil menikmati suasana ala kota tua, maupun melihat-lihat berbagai bangunan monumental yang ada di Assen, bisa menjadi alternatif wisata yang menyenangkan.
      Foto 05 (a-d):
      Beberapa rumah di Assen [foto: Ronn/wikimedia]
      Cara menuju ke Assen
      Kota Assen terletak di bagian utara provinsi Drenthe. Jaraknya tak begitu jauh dari provinsi di sekitarnya, seperti Groningen dan Friesland. Assen bisa di akses dengan menggunakan kendaraan pribadi melalui berbagai jalan yang menghubungkan Assen dengan kota sekitarnya seperti Groningen, Zwolle, Veendam, Rolde, dan Smilde; maupun menggunakan transportasi umum seperti kereta api dan bus. Assen menjadi titik pertemuan bagi sejumlah rute bus regional, yang lalu terhubung dengan jaringan bus dalam kota. Intinya, cukup mudah untuk mengakses kota Assen. Jadi jika ada kesempatan untuk berwisata ke negeri Belanda, silahkan sekaligus mampir ke Assen.
      ***
      * Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
    • By Dantik
      Hari 1, 5 Mei 2018 : Athena
      Hari 2, 6 Mei 2018
      Pagi ini kami berangkat dari Athena menuju Roma menggunakan Ryan Air. Perjalanan selama 2 jam berjalan tepat waktu. Ryan Air adalah budget airlines yang cukup ketat dalam masalah kabin bagasi. Hanya diperbolehkan satu tas jinjing atau backpack yang muat dibawah kursi jika tidak membeli kabin bagasi.
      Mendarat di bandara Roma Ciampino, ada 3 pilihan transportasi dari bandara menuju kota. Pertama menggunakan taksi tarif flat 30 euro. Kedua menggunakan airport shuttle bus tarif 5-6 euro. Dan yang terakhir menggunakan bus + metro tarif 1.50 euro.
      Kami menggunakan pilihan ketiga yaitu dari Ciampino Airport menggunakan bus 520 turun di Cinecitta. Kemudian naik Metro A turun di Termini Station. Metrebus tiket 24 jam harga 7 euro.

       
      1.Santa Maria Maggiore
      Dari Termini Station kami mulai mengeksplore kota Roma. Pertama kami menuju Santa Maria Maggiore, sudah mulai terlihat antrian masuk gereja pada saat itu.


      2.San Giovanni
      Kemudian kami pergi ke San Giovanni menggunakan Metro A dari Vittorio Emanuele Station turun di San Giovanni Station.

      3.Colosseo
      Dari San Giovani kami pergi ke Colosseo menggunakan Tram 3. Di sini terlihat banyak sekali wisatawan, terlihat juga antrian yang panjang. Banyak orang yang menawarkan jasa Skip The Line untuk masuk ke Colosseum. Ada 3 objek wisatawan yang bisa kita lihat di sini. Pertama Coloseum itu sendiri, kedua Arch of Constantine, dan yang ketiga Roman Forum.

      4.Piramide
      Dari Coloseum kami pergi ke Piramide menggunakan Tram 3 yang sama turun di Porta S. Paolo. Mungkin ga banyak orang yang tau kalau di Roma itu ada Piramida juga.

      5.Circo Massimo
      Dari Piramide kami kembali ke Circo Massimo menggunakan Tram 3 arah balik turun di Aventino. Circo Massimo ini adalah lahan luas yang dulunya dipakai untuk arena sirkus seperti pacuan kuda dll. Kemarin saya lihat di sini kalau sore banyak juga yang jogging. Sebelah Circo Massimo adalah Palatine Hill.

      6.Bocca della Verita
      Dari Circo Massimo kami mulai berjalan menuju Bocca della Verita. Ternyata banyak orang mengantri untuk berfoto di Bocca della Verita. Bocca della Verita nama lainnya adalah Mouth of Truth. Konon katanya jika kita memasukan tangan kita ke dalam mulut batu kuno ini dan ketahuan berbohong, maka batu ini akan menggigit tangan kita sampai putus. Sayang, kami tidak sempat mengambil foto batu itu karena antrian yang panjang.

      7.Isola Tiberina
      Dari Bocca della Verita kami berjalan lagi menuju Isola Tiberina. Isola Tiberina adalah sebuah pulau kecil di tengah sungai Tiber. Di pulau ini ada gereja San Bartolomeo dan juga taman untuk duduk-duduk di pinggir sungai.


      8.Palazzo Farnese
      Setelah makan es krim di sini kami naik Bus 280 ke Palazzo Farnese.

      9.Campo dè Fiori
      Dari Palazzo Farnese ini kami berjalan ke Campo dè Fiori. Di sini banyak sekali orang berjualan, mungkin seperti pasar kaget kali yah.

      10.Capitoline Museums & Piazza Venezia
      Lalu kami berjalan lagi ke Capitoline Museums & Piazza Venezia melalui jalan Botteghe Oscure. Ini adalah tempat terakhir yang kami kunjungi sebelum kami berangkat ke Terminal Bus Tiburtina untuk melanjutkan perjalanan kami ke Venice dengan bus malam.

       
      Itulah itinerary hari pertama kami di Roma. Kami menggunakan Metrebus tiket 24 jam harga 7 euro untuk semua transportasi kami dalam satu hari.
      Dari Terminal Bus Tiburtina kami menggunakan Bus Center ke Venice harga tiket 21 euro.
      Hari 3, 7 Mei 2018 : Venice
    • By Ahook_
      Tanggal 18 April 2018.
      Drama penggantian paspor baru benar- benar berakhir begitu dikasih senyum manis sama petugas imigrasi Belanda. Hati langsung plong. Kenapa? Permasalahannya dimulai dari paspor yang masa berlakunya baru akan habis 2 tahun lagi, tapi halaman kosongnya sisa 1. Kemudian, tahun ini, berancana ke Cina lagi, daripada visa ditolak, karena tidak ada halaman untuk tempelan kertas visa, akupun memutuskan untuk perpanjang paspor saja. Hitung- hitung, aku sekalian tambah nama keluarga, yang mana, selama ini, paspor yang ada, cuma single name. 
      Okey, buat kamu punya single name dipaspor seperti aku, apalagi yang namanya umum dan banyak orang punya nama yang sama, harusnya punya pengalaman bagaimana harus menghadapi bawelnya petugas imigrasi dari beberapa negara. Jika tidak pernah, syukurlah.. Kalau pernah, berarti kamu akan mengerti. 
      Tidak menakutkan sih. Bukan juga sampai ditahan seperti apa. Mereka cuma memastikan nama kamu doang sesuai dengan data diri kamu. Pasalnya, banyaknya nama yang sama, mungkin buat mereka kesulitan, yang mana ya yang kamu? Atau dengan alasan lainnya, seperti kena random check, ketatnya imigrasi dan sebagainya. 
      Yang pasti, karena memang berencana mau perpanjang paspor. Aku mengambil kesempatan ini untuk menambah nama keluargaku. Aku tidak mengurusnya sendiri. Aku pakai jasa travel agent. Cukup mahal. Sama seperti paspor sebelumnya, paspor baru ini aku applied yang epassport. Dengan kondisi,  belum pernah ada penambahan nama keluarga di halaman endorsment. 
      Jadi, yang pertama dikerjakan adalah, daftarkan dulu nama keluarga dihalaman endorsment. Proses ini, katanya memakan waktu sekitar 3 hari. Setelah BAP kelar atau dihalaman endorsment sudah tertera nama kamu beserta nama keluarga kamu, selanjutnya, baru bisa proses pengajuan pembuatan paspor. Karena aku mau, dipaspor baru, halaman depan sudah langsung tercetak nama keluargaku. Jika tidak demikian, aku harus menunggu sampai kamu mengganti paspor baru lagi, nama keluarga baru bisa muncul dihalaman depan. 
      Maksudnya begini, nama di paspor yang masih berlaku Andy. Ingin menambahkan nama keluarga Lau. Jadi Andy Lau. Harus buat BAP dihalaman endorsment terlebih dahulu. Dihalaman 4 tersebut akan tertulis Andy Lau, sedangkan dihalaman depan, tetap Andy. Saat penggantian paspor, Andy Lau akan secara otomatis dipindahkan ke halaman depan.  Jika tidak urus halaman endorsment, maka, saat pengurusan perpanjangan paspor, Andy Lau cuma muncul di halaman 4 dan baru akan muncul di halaman depan, saat penggantian paspor berikutnya lagi. 
      Proses pengurusan paspor, aku butuh 20 hari. Dari urus BAP halaman 4, tunggu jadwal foto sampai paspor diterima. Itupun drama yang tidak terhindarkan saat proses pengambilan foto. Petugas imigrasinya bilang paspor aku tetap 1 suku kata saja seperti paspor lama. Baru bisa pindahkan nama dengan nama keluarga di paspor berikutnya. Aku ngotot dong, aku kan sudah buat BAP, halaman endorsment sudah jelas, sudah tertera ada nama keluarga. Bolak- balik keluar masuk kantor. Aku tetap ngotot dan sampai akhirnya, aku pulang. Kalau tidak, masa aku nginap? 
      Sampai pada akhirnya, setelah 20 hari paspor ditangan juga.
      Tapi drama selanjutnya dimulai, dengan paspor baru, yang sudah ada nama keluarga, berarti wajib merubah tiket- tiket yang sudah dibeli sebelumnya pakai paspor lama. Airasia, gampang banget, mau langsung ke kantornya, email atau via call center, urusan beres. Aku sih langsung ke kantornya, seketika itu, tiket- tiketku, berubah sesuai dengan identitas di paspor baru tanpa ada pertanyaan, tanpa biaya.

      Luxemburg City, negara mungil yang kece banget.
      Pernah beli tiket via Expedia. Haduh, yang ini, minta ampun, berminggu- minggu. Dari email yang tidak ada responnya sama sekali, telepon ke kantornya, di oper ke maskapai terkait. Dari maskapai minta harus urus ke Expedia, karena penggantian nama, penambahan nama harus ke tempat kamu beli tiketnya.  Email lagi, telepon lagi. Berkali- kali sampai akhirnya, ada email masuk, setelah sekian lama menunggunya. 
      Katanya dalam email itu, aku diminta tunggu, mereka akan konfirmasi dulu ke pihak maskapai, apakah bisa penambahan nama atau tidak? Oh ya, saat aku email ke pihak Expedia, aku lampirkan  paspor lama, paspor baru dan halaman endorsment. Proses menunggu keputusan ini saja butuh 2 minggu. Memang, setelah ada responded dari pihak Expedia, aku akui, pelayanan mereka bagus.
      Setiap 2 hari sekali telepon, kalaupun tidak, mereka email, hanya untuk memberitahu kalau masih menunggu kabar dari pihak maskapai. Dan entah sudah berapa banyak biaya pulsa yang aku habiskan, hahahaha.. jelas, aku tidak tunggu diam saja, aku telepon balik ke kantornya yang ternyata berpusat di Amerika sana, terus di email, minta telepon ke pihak kantor cabang di Malaysia. Mungkin, kasus ini ditangani langsung dari kantor pusat, pihak Malaysia cuma hah, heh, tambah kesel. Terus telepon balik lagi ke kantor pusat, email lagi. Hati ini sungguh, lelah. 
      Keputusannya, tiketku bisa diganti sesuai dengan permintaan karena penambahan nama keluarga. Ada biaya perubahan nama di tiket, dengan kode booking yang tetap sama. Katanya, ini adalah aturan pihak maskapai. Pihak Expedia tidak menarik satu sen pun. Ya sudahlah... Yang penting, satu urusan kelar.

      Bisa bersantai tenang sarapan di salah satu sudut kota Brussels, Belgium.
      Terkait VISA....
      Erhmmm...buat jantungan. Visa yang ditangan yang masih berlaku adalah Australia dan Schengen. Terus bagaimana? Okey... tarik nafas... hembuskan pelan- pelan... Setiap urusan, dikerjakan, pasti beres. Ikutin saja aturannya. 
      Untuk Visa Australia, seorang teman, sebut saja namanya Cindy, punya pengalaman yang hampir sama. Kalau dia, ganti paspor baru, nama tetap sama, tapi nomor paspor berbeda. Jadi, untuk Visa Australia, wajib lapor ke mereka. Begitu aturan tertulis yang aku baca. Berbekal arahan dari Cindy, terus petunjuk dari website resminya. Aku isi form permohonan perubahan/ penambahan nama keluarga di Visa. Aku sih pakai download, kemudian tulis tangan. Isi saja sesuai dengan petunjuknya. Gampang banget. Lengkapi dengan data- data yang diminta, upload terus email. Aku sendiri, kurang dari 24 jam ( hitungan aku ), sudah dapat email balasan beserta Visa perubahan sesuai dengan data baru yang aku submit. Bisa klik link disini untuk permintaan perubahan nama.
      Untuk Visa Schengen, aku dag- dig-dugnya entah sudah seperti apa. Hahaha.. Tanya pengalaman teman- teman yang sudah bolak- balik Eropa, macam pulang kampung saja, dia bilang tidak akan ada masalah. Tidak perlu apply visa baru. Tidak perlu lapor. Visanya masih berlaku kok, yang penting, masa berlaku visa yang ada masih ada. 
      Okey, begini, Visa Schengen yang masih berlaku dan tertempel di paspor lama adalah single name dengan nomor paspor lama. Sedangkan, paspor baru, sudah ada nama keluarga, yang mana, di Visa Schengen tidak ada nama keluarga. Ini yang buat aku jantungan. 
      Kenapa repot? Ya, tunggu saja, masa berlakunya habis. Buat baru... Pasalnya, lagi ingin keliling Eropa selagi Visa Schengen masih valid. Sayang dong. 
      Sangking repotnya, aku datangi kantor Kedutaan Perancis. Mereka bilang, tidak ada masalah. Kamu boleh saja traveling ke Eropa. Tapi, ini versi Perancis, karena setiap negara punya kebijakan masing- masing. Ada baiknya kamu tanya ke negara yang mau kamu datangi. Begitu kalimat tambahannya. Kan buat bingung kan ya. Dia bilang, asal bawa paspor baru dan paspor lama yang ada Visa Schengen-nya. 
      Kemudian pindah ke Kedutaan Belanda. Aku tidak tahu aturannya, ternyata harus buat janji dulu. Aku pulang tanpa hasil apapun.

      Grand Palace, Brussels, Belgium.
      Daripada repot, aku email Kedutaan Belanda, Italia, Hungaria dan Jerman. Sistem kerja yang sangat cepat. Malah, aku langsung ditelepon dari Jerman. Petugasnya bilang, harusnya tidak akan ada masalah. Asal bawa kedua paspor. Tapi, nah ini-nih.. ada tapinya, terkadang kita tidak tahu, oknum di lapangan. Mungkin saja, kamu bisa tidak diizinkan masuk. Kalau kamu tetap mau, silahkan saja. 
      Sedangkan yang dari Belanda dan Italy membalas emailku dengan kalimat yang buat hati senang. Aku bisa keliling Eropa dengan menggunakan kedua paspor itu. Itulah, kenapa aku terbang ke Eropa, memilih masuk dari Belanda dan keluar dari Italy. Aku sudah ada jaminan dari email itu. Aku print out buktinya dong. Hahahaha...
      Aku juga baca review dan pembahasan dari para traveler yang terangkum di google. Baca dari forum yang ada dengan kasus yang hampir sama. Mereka, rata- rata bilang, tidak ada masalah. Ini adalah hal yang wajar. Karena, bagaimana seorang perempuang kemudian menikah terus pakai nama keluarga suaminya. Dan berbagai contoh kasus lainnya. 
      Walaupun begitu, benar adanya kata pihak Jerman, bisa saja oknum di lapangan, mungkin kurang peka terhadap kasus beginian. Akhirnya jadi bermasalahan.

      Sudut kota Brussels, Belgium.
      Dan akupun, deg- deg- an saat antri imigrasi saat mendarat di Belanda 3 jam lalu. Semakin mendekat ke meja petugas, deg- deg- an makin kencang. Aku bawa print-an , bukti email tadi, tiket pulang, siapkan jawaban yang mungkin ditanya.
      TERUS......
      Ketika tiba giliranku... 
      Aku cuma ditanya, mau ngapain disini? Berapa hari? Sendiri? Total berapa lama di Eropa? Sudah.. itu saja. Dengan senyum manis, dia stempel pasporku, ceklek... yihaa... Kekhawatiranku yang berlebihan itu langsung sirna.... Plong... 
      Sekarang, duduk manis di Starbucks bandara Schipol, sambil menahan kantuk, aku buat artikel ini. Setelah terbang dari Kuala Lumpur dan ngemper semalaman di Dubai. Akupun, benar- benar plong...
      Karena itu, soal dokumen, surat- surat, akte- akte, persiapkanlah dengan baik, untuk segala kemungkinan. Sehingga tidak perlu repot- repot konfirmasi sana- sini. Buat pusing, khawatir, deg- deg-an. Dari awal, sebisa mungkin, tidak ada perubahan apapun. Kita, yang sudah terlanjur dari orangtua kita, ya sudah. Tapi untuk anak- anakmu, persiapkan dengan baik. Karena kita tidak pernah apa yang akan terjadi

      Frankfurt, Germany.
      Ya intinya, khawatir berlebihan saja sih...  Lagian, ada kan sudah data biometrik untuk Visa Schengen.   Karena beginilah hidup, kadang kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Kan tidak lucu, sudah mendarat di Belanda, terus tidak masuk karena masalah nama paspor berbeda dengan Visa yang ada, terus dipulangkan. Lebih baik pastikan dulu, kalau memang tidak bisa, ya lebih baik tidak berangkat. Capek, naik pesawatnya...
       
      Artikel ini di publish di Frankfurt, Germany. 
      With Love,
       
      @ranselahok
      www.ranselahok.com
      ---Semoga semua mahluk hidup berbahagia---
       
       
       
       
       
    • By Gulali56

      Sudah banyak memang yang menulis bahwa apply visa China itu gampang . Tetapi yang namanya sudah beli tiket pesawat pulang pergi , apply visa selalu membuat saya was was.
      Ini kali kedua saya apply visa, setelah sebelumnya apply visa Taiwan 2 tahun yang lalu. Yang bikin kuatir mungkin karena salah satunya adalah saya baru memperpanjang paspor pertengahan tahun ini.So far dengan paspor yang baru cuma ada cap Negara Singapura 2x dan Malaysia 1x.
      Untuk apply visa China sekarang tidak lagi di kedutaan RRC melainkan agen khusus yang ditunjuk yaitu di Chinese Visa Application Service Center di The East Mega Kuningan. Padahal Kedutaan RRC cuma 3 menit jalan kaki dari kantor saya. Sedangkan ke The East itu justru 10menitan.
      Pertama-tama saya mendownload form di https://www.visaforchina.org/ sebenarnya bisa sekalian isi online terus tinggal print tapi karena teman saya tidak ada internet akhirnya saya download saja dan isi manual tulisan tangan.
      Pertanyaannya tidak terlalu ribet, mungkin yang agak ‘tricky’ karena ada kolom itinerary tapi cuma dikasi jatah 5baris. Akhirnya saya tulis tanggal saya sampai di Beijing dan tanggal keluar dari Beijing.Haha.. asli culun. Maksud saya toh memang mau menyertakan itinerary di lembar terpisah.Ternyata pas di loket, dikembaliin tuh lembar itinerary yang di ketik bagus-bagus.Yang culun di aplikasi justru tak masalah.
      Jadi yang dibutuhkan untuk apply visa China itu adalah sbb:
      Form aplikasi yang sudah diisi lengkap dan di ttd. Oiya pake ukuran kertas A4 ya print nya. Foto 4x4.5cm latar belakang putih 1 lembar. Kalau saya ambil foto di Mal Ambassador lt.1,15-20menit saja harga Rp 40,000.Cukup bilang foto buat visa China ya.Orgnya sudah biasa bgt ngelayanin pembuatan foto buat visa jadi gak pake tanya ukuran foto.Iyalah daerah kuningan gudangnya kedutaan dan agen pembuat visa. Paspor asli dgn masa berlaku lbh dari 6bln dari tgl keberangkatan. Copy paspor, copy KTP Copy Ticket pesawat Copy booking hotel Saya datang jam 11.30 langsung diarahkan naik tangga ke lantai 2 pas di depan pintu masuk The East. Di lantai 2 ketemu satpam,ditanya mau ambil jalur regular atau express.Berhubung santai ya kita pakai jasa regular. Dikasi nomer urut.Baru duduk 2 menit sudah dipanggil nomer saya, karena memang saat itu kosong banget disana.
      Di loket langsung dicek kelengkapan dokumen, ternyata temen saya lupa copy passport nya untung mba petugasnya baik. Diterima
      aja tanpa embel-embel harus bayar fotocopy lagi. Langsung dikasi form pengambilan visa

      Saya submit aplikasi di hari selasa, visa bisa diambil di hari jumatnya. Yang paling oke lagi. Bayar nya pas visa jadi dan bisa pakai credit card.
      Akhirnya berhasil juga dapat visa China, padahal pas ambil pas sampai sana jam 4kurang 2menit.hehehe..
      Cuman lagi mikir aja. Betapa enaknya itu agen service visa yang di kasi hak exclusive itu. Harga single entry (reguler) yang Rp 300,000 jadi Rp 540,000. Ckckck..Kaya banget tuh agen.
      The East Building, Unit 6, 2nd Floor,
      Jl, DR. Ide Anak Agung Gde Agung Kav.E 3.2
      no.1 South Jakarta 12950, Indonesia.
      Office Hours:
      Monday – Friday
      Application Submission: 9:00AM to 3:00PM
      Payment and Passport Collection: 9:00AM-4:00PM
      The Center is closed on Saturdays, Sundays and Indonesian public holidays.
      Biaya Visa + Processing Fee
      Single Entry:
      Reguler(4hari) : 300,000 + 240,000
      Express (3hari): 300,000 + 200,000(extra fee) + 400,000
      Urgent (2hari): 300,000 + 300,000(extra fee) + 500,000
      Nah kebayang deh jadi berapa total biaya untuk entry dibawah ini.
      Double entry : Rp 450,000
      Multiple entry /6bulan : Rp 600,000
      Multiple entry/1thn: Rp 900,000

    • By Angela Regina Shinta
      Hallo, saya newbie di sini. 
      Transit di Hong Kong dan keluar bandara apakah perlu visa sekarang? Terima kasih
    • By val_3373
      Hi Jalan2ers
       
      Kali ini ingin membagikan sedikit pengalaman sewaktu jalan2 ke Eropa bulan July 2017 kemaren, kalau dibuat dalam 1 FR puanjang banget deh hahahahaha karena aku pergi selama 21 hari..... Jadi kali ini aku ingin membagikan pengalaman saat ke Itali. Saat bicara tentang Itali, yang muncul pasti Roma, Venezia(Venice), Milan, Pisa tapi kali ini aku ngga akan membahas kota2 tersebut walaupun aku juga pergi ke sana. Aku ingin membagikan pengalamabn pada saat berkunjung ke Cinque Terre. Ada yang sudah pernah mendengar nama Cinque terre?
      Cinque Terrre adalah 5 desa yang berada di Itali Utara yang sangat indah yaitu Riomaggiore, Manarola. Corniglia ,Vernazza dan Monterosso. Sebenernya untuk ke Cinque Terre bisa dengan menggunakan kereta api melalui kota La Spezia, dikarenakan kami sudah menyewa mobil dari Roma untuk 5 hari selama di Itali jadi kami memtuskan untuk ke Cinque Terre dengan bawa mobill sendiri. Sangat tidakdisarankan untuk membawa monil sendiri karena jalanan yang sempit, terjal dan penh jurang. saat kami pergi saja kabut turun sangat cepat sehigga jarang pandang sangat terbatas, hampir tidak bisa melihat jalan sama sekali sedangkan samping kiri/kana adalah jurang yang terjal, huft lumayan spot jantung juga hahahahahaa. Selain itu spae parkir juga terbatas di tiap desa dan kita harus berjalan cukup jauh dari tempat parkiran ke tengah desanya. Jika naik kereta api bisa langsung sampai di tengah desa.
      Dikarenakan cuaca yang tidak mendukung, maka kami hanya bisa pergi ke 3 desa saja yaitu Monterosso, Vernazza dan Riomaggiore. Perlu stamina yang cukup baik untuk ke sini karena kita akan trekking naik turun  melewatin bangunan/rumah yang berwarna warni di sini.
       
      Monterosso adalah desa pertama yang kamikunjungi, daerahnya landai sehingga tidak terlalu menguras energi untuk ke sini. Lami hanya mengeluarkan uang sebesar Euro 15 untuk biaya parkir selama 2 jam di sini.

       
      2. Vernazza
      Perjalanan dari Monterosso ke Vrnazza dengan menggunakan mobil sekitar 30 menit dikarenakan jalanan yang sempit dan terjal serta kabut sudah mulai turun dan sangat pekat karena cuaca hujan gerimis saat itu.
      dari tempat parkir mobil, kita harus berjalan kaki selama 15 memit dengan jalanan yang menurun tajam... hahahaha perginya enak karena menurun pulangnya lumayan menanjak. Desa ini lumayan naik turun tidak seperti monterosso yang landai, sehingga lumayan menguras energi sehingga kami memutuskan untuk menikmatin makan siang di sini yaitu Pizza... hahahahhaa . Setelah kenyak, kami meneruskan perjalanan ke desa selanjutnya....

      3. Riomaggiore
      Dari Vernazza ke Riomaggiore memakan waktu sekitar 45 menit, kabut semakin tebal dan sudah mulai gelap sehingga kami sangat berhati2. Riomaggori lebih besar dibandingkan dengan 2 desa yang sebelumnya dan tersedia gedung untuk parkir mobil. desa ini sangat terjal sehingga trekkingnya lumayan menguras tenaga, naik turun melalui lorong2 sempit rumah2 warna warni

       
      dikarenakan cuaca yang tidak mendukung karena kabut di jalanan semakin tebal, maka kami memutuskan hanya berkunjung ke 3 desa saja.. jadi ada alasan untuk kembali berkunjung ke Cinque Terre... hehehehehee
      Salam jalan2...