Sign in to follow this  
rony guntur siahaan

palu

5 posts in this topic

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By Rukly Nyak Itam Abu
      Kalo jalan-jalan kesulawesi jangan lupa main kepalu banyak tujuan wisata menarik, salah satunya Togean, Pusat laut,  kawasan megalit, Goa Kasaloang dll cek my blog papahiu.blogspot.com 
    • By Alfa Dolfin
      Musim hujan seperti sekarang ini tidak sedikit penumpang yang merasa tidak nyaman saatt mendarat di bandara, yang terkamsuk kecil, seper5ti Bandara Mutiara Palu, Sulawesi Tengah. Fasilitasnya jangan di bandingkan bandara Soekarno Hatta. Repot khan begitu mendarat eee hujan...lalu kudu basah-basahan dong dari pesawat ke gedung terminal...atau serga lariiiiiiii.....tuk menghindar basah-basahan. 
      Tentu tidak terjadi di bandara ini. Meski sarana terbatas, pengelola punya akakl tuk memberikan service kepada penumpang.... sepertyi foto ini....
       

      masing-masing penumpang di berikan pinjaman payung. luput sudah dari basah-basahan. 
      Hanya saja pertanyaan iseng, itu baru satu pesawat yang landing, lah kalau 2 atau 3 secara bersamaan dan pas hujan butuh ratusan payung nich...
      cheers
    • By Luxia
      Hai JJ-ers… Apa kabarnya semua??
      Aku ingin berbagi sedikit pengalaman berkunjung ke Kota Palu.
      Kebetulan tugas dari kantor kali ini adalah mengunjungi Kota Palu. Senangnyaaa hati ini karena memang belum pernah menginjakkan kaki sebelumnya di Kota ini. Tapi sedikit ngeri-ngeri sedap juga nih karena di Palu kita belum punya kantor cabang, aku belum punya kenalan juga disini. Sambil melangkahkan kaki ke dalam pesawat sambil berdoa lah yah… hehehe…
      Saat pertama menginjakkan kaki di tanah Palu pada hari selasa malam tgl 24 November 2015, di Bandara Mutiara, masih belum terbayang bagaimana keadaan kota ini. Pemandangan sekitarnya gelap karena memang pesawatku tiba di Kota Palu pada pukul 22.10 WITA. Segelap pengetahuan ku mengenai kota ini. Menurut informasi yang diperoleh dari tetangga yang duduk disebelahku didalam pesawat, Bapak Ivan, Kota Palu itu kecil, malahan lebih kecil daripada kota Makassar (sok tau gitu si Bapak ini, padahal pas ditanya, “dah berapa kali ke Makassar Pak?” jawabannya “belum pernah”, hah,, nanya ke sumber yang salah ternyata… hahaha). Menurut Pak Ivan lagi Kota Palu adalah kota kecil yang aman, jarang hujan, masih sepi, tidak pernah macet dan dekat dengan pantai serta dikelilingi oleh bukit. Mengenai makanan Pak Ivan, karena beliau asli orang Poso (salah satu kabupaten di Sulawesi Tengah), makanan Palu yang paling enak itu masakannya yang pedas… ya tentunya sumbernya dari sambalnya itu…. Mmm…. Masuk list… Yuk kita coba buktikan…!!!
      Kota Palu merupakan Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah yang berbatasan dengan Kabupaten Donggala  di sebelah Barat, Kabupaten Sigi-Biromaru di sebelah Selatan dan Utara, Kabupaten Parigi-Moutong di sebelah Timur dan Selat Makassar disebelah Barat dan Utara. Kota Palu merupakan kota 5 dimesi yang terdiri dari lembah, lautan, sungai, pegunungan dan teluk. Penduduk kota Palu sampai dengan saat ini belum mencapai 500.000 jiwa dengan luas wilayah 395,06 km2. Perkembangan penduduknya hanya sekitar 0,78% saja per tahunnya. So kebayangkan sepinya kota ini. Aktifitas di kota ini rata2 sampai dengan jam 10 malam, tetapi untuk di hari kerja (weekdays) sekitar jam 7 malam juga jalanan sudah rada sepi.
      Nama kota Palu berasal dari kata Topalu’e yang artinya tanah yang terangkat karena daerah ini awalnya lautan, karena terjadi gempa dan pergeseran lempeng (palu koro) sehingga daerah yang tadinya lautan tersebut terangkat dan membentuk daratan lembah yang sekarang menjadi Kota Palu.
      Penduduk yang menetap di kota ini berasal dari berbagai suku bangsa seperti Bugis, Toraja dan Mandar yang berasal dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Gorontalo, Manado, Jawa, Arab, Tionghoa dan Kaili (yang merupakan suku asli dan terbesar di Sulawesi Tengah).
      Kota Palu, meskipun sering diasosiasikan dengan kekerasan dan konflik, bentrokan antar warga yang sempat diberitakan di TV tetapi tidak mempengaruhi aktivitas masyarakat. Kegiatan warga tetap berjalan seperti biasa dan keadaan masih tetap aman terkendali.
      Hari Pertama adalah hari pertama aku berada di Kota Palu, begitu membuka jendela kamar barulah aku sadar, ternyata Kota Palu itu indah yah. Tatap kiri tatap kanan tetap saja pemandangannya adalah bukit-bukit dan lembah yang aku tak tahu apa saja namanya, mungkin juga ada diantaranya anak-anak gunung bahkan ketika aku memandang jauh ke depan, nun jauh disana kelihatan teluk Pantai Talise.

      Ditengah-tengah kota, saat kita berjalanpun, kita masih bisa melihat pegunungan dan perbukitan disekililing kita. Sungguh indah… ditambah lagi cuaca pada hari ini yang kebetulan sedang bersahabat denganku yaitu hanya 23 derajat celcius saja, sedikit ber’matahari’ tapi berangin juga, dengan pemandangan sekitarnya sepi, sedikit mobil, sedikit motor, sedikit polusi, sedikit asal knalpot. Sungguh indah andaikan Jakarta juga bisa seperti ini. Kemana-mana tidak perlu khawatir terlambat karena macet, tidak khawatir batuk-batuk akibat asap knalpotnya yang membumbung dimana-mana. Tapi jangan senang dulu, soalnya kalo cuaca sedang maximal, temperature bisa menembus angka 39 derajat celcius lho. Wew… mantap kan buat yang mo ngitemin badan disini… hehehe
      Tujuanku pada hari ini adalah ke daerah Jl. Sultan Hasanuddin dengan disekelilingnya terdapat bangunan-bangunan yang sedikit tua tak bertingkat tinggi. Paling tinggi 2 s/d. 2,5 lantai saja. Di tengah-tengah persimpangan jalan, ada sebuah “sign” yang oleh masyarakat setempat disebut ‘TUGU’.

      Apabila ingin berbelanja baju bisa mengunjungi area kompleks pertokoan Hasanuddin yang namanya sudah dicopot (entah kenapa dicopot), didalamnya terdapat toko matahari, fuji film, toko boneka, toko pulsa, dll. 

      Tapi jangan pernah berharap akan menemukan toko oleh-oleh khas Palu disekitar sini. Hari pertama ini dihabiskan dengan memenuhi kewajiban tugas “negara” dulu. Jadi belum sempat explore lebih jauh. Paling jauh ke Jl. Pattimura saja (jalan kaki sekitar 7-10 menit dari Jl. S.Hasanuddin), untuk mencari toko ATK.
      Malam harinya aku hanya explore disekitar hotel saja yaitu Jl.Moh.Hatta. Kebetulan hotelku berseberangan dengan Taman Gelanggang Olahraga (Taman GOR / TMG).

      Menurut Pak Ivan, dibelakang TMG ada sederetan warung makanan kaki lima yang menjual masakan bakar-bakaran seperti Ikan bakar, ayam bakar, sate ; ada juga menu bakso.

      Jarak warung-warung tersebut hanya sekitar 200 meter saja dari hotel atau jalan kaki sekitar 2-3 menit saja. Menurut Abang yang biasa menjaga parkiran disana, dari sekitar 7-8 buah warung yang ada, yang paling sering dikunjungi dan selalu ramai pengunjung hanya ada 2 yaitu warung tenda “Ayam Bakar Pedas TMG“ dan Bakso “Idola Taman GOR”. Jadilah menu malam hari ini adalah Ikan Bandeng dan Ayam Bakar TMG yang berbumbu pedassss….pooollll…

      Hari Kedua, seperti biasa, bangun tidur, buka jendela, lalu menikmati pemandangan sekitar hotel terlebih dahulu… tetap saja tidak mengurangi rasa kagumku pada keindahan pemandangan Kota Palu meskipun matahari mulai sedikit “galak” hari ini, 28 derajat celcius. Siang hari aku berencana mencari oleh-oleh khas Palu dan mengunjungi Pantai. Herannya disini, setiap kali bertanya dengan warga sekitar, kebanyakan orang-orang kebingungan menjawabnya. Selalu mengambil jawaban yang simple yaitu “kurang tahu yah”. Kalo tidak selalu diawali dengan mengerutkan dahinya sembari berpikir keras. Mungkin bahasa Indonesiaku yang terlalu canggih atau memang mereka kurang paham bahasa Indonesia, entah lah. Yang pasti sedikit capek setiap kali bertanya disini.
      Akhirnya aku peroleh informasi sedikit dari porter hotel tempat aku menginap. Sembari aku berjalan akupun singgah terlebih dahulu untuk makan siang disebuah restoran yang terletak di gang ke-2 di samping kanannya hotel yaitu Ayam Penyet “RIA”, sebuah restaurant yang berpusat di Batam tetapi sudah merambah sampai ke Singapore, Hongkong, dll. Menu-menunya standard Jawa yaitu gado-gado, iga penyet, ayam penyet, telor penyet (isinya 2 butir telur bulat digoreng, 1 tahu, 1 tempe, dibalur dengan sambal terasi), aneka soto, nasi uduk, nasi goreng kampung, aneka juice, dll. Dari sekian menu, tetap saja sambalnya yang paling enak. Mang gak salah Pak Ivan. Meskipun warung dan restoran menu Jawa, sambalnya tetap lah yang khas Palu, pedasss pooolllll…. Yummy!!
      Karena dihari itu aku sedang vegetarian, mau pesan nasi uduk sudah habis, mau pesan nasi goreng kampung tidak bisa karena sudah dimasak terlebih dahulu dengan bumbu terasi (jadi pas dipesan oleh tamu tinggal dipanasi sebentar lalu disajikan), akhirnya kuputuskan untuk memesan nasi putih, telor penyet (sambalnya diganti dengan sambal original saja yg mereka sebut sambal soto, whatever-lah yang penting bukan terasi) dan juice sirsak saja. Untuk 3 menu simple ini saya dikenakan charge Rp 32.000,- saja
      Kemudian setelah makan siang aku lanjutkan perjalanan menuju kearah belakang hotel untuk mencari toko oleh-oleh khas Palu. Menurut porter hotel bahwa di sekitar area belakang hotel Santika ada 1 toko oleh-oleh namanya toko “Diana” di Jl. Masjid Raya. Sembari memandangi situasi sekitarnya, tak terasa 25 menit lamanya aku berjalan kaki mengikuti petunjuk sang porter hotel tetapi toko oleh-oleh tersebut tak kutemui juga. Karena arahku mulai menuju ke Pantai maka…baiklah…lupakan dulu oleh-oleh Palu. Tujuan selanjutnya adalah Pantai Talise yang terletak di Anjungan Nusantara, sekitar 3 km dari tempat aku berpijak saat ini, sekalian melihat icon nya Kota Palu yaitu Patung Kuda dan Jembatan Palu IV yang cukup terkenal itu.
      Bermodalkan dari keterangan porter hotel tadi dan bertanya-tanya lagi ke salah seorang Customer Service Transmart di Palu (saya lupa namanya) -yang super duper ramah dan sabar dalam menjelaskan arah tujuan saya ini-, akupun berjalan menuju arah yang ditunjuk si “Mas Daeng” tersebut…. Dijelaskan bahwa patokannya dari Transmart à seberang jalan lalu ambil ke arah kanan yaitu Jl.Sam Ratulangi, jalan terus saja sampai menemukan 2x lampu merah simpang 4 (ada plang petunjuknya)

      lalu belok kiri masuk ke Jl. Raden Saleh lalu jalan kaki sekitar 200 meter barulah kita sampai di Patung Kuda dan Anjugan Nusantara, kalau hendak ke Jembatan Palu IV kita belok ke kiri  memasuki Jl. Raja Moili lalu Jl. Macan barulah kita bisa melihat langsung jembatannya. Jarak dari Anjungan Nusantara ke Jembatan Palu IV sekitar 1 s/d 1,5 km lah kira-kira. Oke deh Kakak….

      Berjalan sekitar 30-40 menit aku mulai memasuki area pemerintahan yaitu Jl. Sam Ratulangi. Nah di daerah inilah baru terlihat sedikit kesibukan Kota Palu. Banyak angkot yang berseliweran, di sebelah kanan saya ada Kantor Gubernur, di sebelah kiri saya ada Kantor Bank Indonesia, jalan sekitar 100 meter dari Bank Indonesia ada 1 toko yang menjual souvenir pahatan kayu hitam, khas Kota Palu, kemudian beberapa Bank dan rumah penduduk serta toko-toko kecil. Ada beberapa rumah yang baru dibangun. Susunan batu batanya rapiii sekali, beda banget dengan pembangunan rumah-rumah di Jakarta. Belum terlihat Indomaret atau alfamart dan sejenisnya sampai disini. Rata-rata terlihatnya toko-toko kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari. Disinilah baru saya temui slogan Kota Palu : SGC yaitu Save, Green and Clean.

      Memang cukup  bersih sih, jarang ada sampah dijalanan maupun trotoar, kalau aman, so far sih still so good, Green…mmm… rasanya gak terlalu… tapi yah karena pemandangannya adalah gunung dan lembah ya ok lah sebutan Green masih make sence lah yah.
      Berjalan kaki sekitar kurang lebih 1 jam lamanya ditengah terik matahari dengan cuaca sekitar 28 derajat celcius tidak membuat niatku pupus untuk menemukan Jembatan Palu IV yang ada disekitaran Pantai. Aku putuskan tidak naik angkot ataupun taksi untuk menikmati pemandangan sekitarnya. Memasuki Jl.Raden Saleh sekitar 500 meter terlihat pemandangan samar2 Patung Kuda yang dimaksud didepanku, sebelah kiri toko buah-buahan, sebelah kanan Hotel Palu Golden.

      Akhirnya sampai lah pada tujuanku yaitu Pantai Talise dengan Patung Kuda didepannya Anjungan Nusantara dan Jembatan Palu IV sebagai pemandangannya.

      Pantai Talise tidak jauh berbeda dengan Pantai Losari yang ada di Kota Makassar yaitu terletak dipinggiran jalan raya perkotaan. Suasana disekitarnya hanya ramai pengendara saja tetapi sepi pengunjung karena memang waktu masih menunjukan pukul 15.00 WITA.

      Air pantainya sedikit cokelat, mungkin karena dangkal yah. Makin ke tengah sekitar 500 meter kelihatan perubahan warnanya yaitu hijau, berarti sudah mulai melewati perbatasan antara pantai dengan laut lepas, air hijau itu sekitar 100 meteran baru kelihatan warna birunya… nah artinya itu sudah lautan lepas tuh… (lucu juga ngebatin sendirian).
      Dari Anjungan Nusantara bila kita tengok ke sebelah kiri, kita bisa melihat samar-samar Jembatan khas Kota Palu yaitu “Jembatan Palu IV”, jaraknya sekitar 500 meter s/d 1 km dari anjungan.

      Yang cukup menakjubkan adalah background Jembatan tersebut… pemandangan bukit-bukit, lembah-lembah yang berlapis-lapis. Indahnyaaa…

      Deburan ombak dan angin lautnya yang kencang cukup menghibur hati walaupun jujur sedikit kecewa karena pantai yang ada dibayanganku berbeda…. Hehehe… gak pa pa lah… yang penting aku udah memenuhi rasa penasaranku.

      Aku putuskan untuk tidak berlama-lama dipantai ini mengingat aku sendirian dan jalanannya yang sepi serta panas terik mulai membakar kulitku. Sebenarnya pantainya akan kelihatan cantik dimalam hari kali yah, itu menurut warga Palu, karena disekitar sana banyak lampu-lampu jalan dan lampu-lampu dari Café-Café pinggiran pantai. Hanya saja aku tidak berani jalan sendirian disekitar pantai dengan café-café tersebut, takut di’tawar’ hehehe… (jadi teringat pesan Pak Ivan). Tapi jangan khawatir, kalo digangguin sih tidak sejauh kitanya berpakaian sopan dan rapi.
      Baliknya dari Pantai menuju ke Jl. Sam Ratulangi aku putuskan menyetop taksi yang lewat. Sungguh beruntung hari ini ada taksi yang lewat dan dalam keadaan available mengingat sangat jarang ada taksi yang wara wiri tanpa penumpang selama 3 hari aku disini. Rata-rata taksi beroperasi by call. Jadilah aku sekalian mampir ke toko oleh-oleh “Diana”. Tokonya cukup sederhana dan pilihan oleh-olehnya pun tidak banyak. Rata-rata oleh-olehnya sama dengan yang di Makassar atau Jawa Barat, yaitu kacang disco dan keripik-keripik, cukup simple. Akhirnya aku hanya membeli beberapa oleh-oleh khas Palu yaitu Bawang Goreng, Dompu Pisang (Pisang Sale dibalut kacang yang ditumbuk kasar) dan sambal ROA saja.

      Hari ke-3 adalah hari terakhir aku di Kota Palu. Setelah sarapan pagi aku bergegas berangkat ke Bandara Mutiara. By taksi hanya 15-20 menit saja karena memang perjalanannya cukup lancar dan cuaca cerah setelah semalam sedikit gerimis. Temperatur menunjukan angka 30 derajat celcius dengan matahari lumayan terik. Kota Palu nan indah. Tetap saja tak bosan-bosannya mata ini memandang pemandangan disekitar yang bak di”lukis”. Sesampainya di Bandara, sepiii… kepagiannn… bandaranya mungil tapi rapi dan teratur.

      Mungkin karena masih baru jadi masih ada beberapa toko yang di renovasi. Bukit, lembah dan gunung turut menemani perjalanan aku mulai dari naik taksi di hotel hingga pesawatku lepas landas, semuanya tak lepas dari pemandangan alamnya yang khas pegunungan dan perbukitan.
      Belum banyak yang bisa aku ceritakan mengenai kota Palu ini karena memang waktu berkunjungku hanya 2 hari saja. Entah kapan aku bisa kembali lagi ke kota ini, kota kecil yang ramah lingkungan meskipun sedikit panas udaranya, bahkan bila sedang kemarau bisa mencapai hingga 39 derajat celcius. Huff.. kebayang kan panasnya… Kota kecil yang sarat dengan pemandangan alamnya. Goodbye Kota Palu… Jangan rindukan daku yah…
      Sedikit informasi tambahan seputar Palu:
      Transportasi di Kota Palu:
      1.    Angkutan Kota (Angkot), bertarif tetap, jauh-dekat Rp 5.000,-/orang, khusus untuk pelajar Rp 4.000,-/orang. Semua angkot akan mengangkut kita, semua rute mereka lewati berdasarkan permintaan dari semua penumpang… Yang unik kalau naik angkot di Kota Palu ini yaitu tidak ada nomor tujuannya, tidak ada juga angkot-angkot dengan tujuan yang spesifik. Jadi apabila naik angkot di Kota Palu, amat sangat disarankan untuk menyetop atau memilih angkot yang masih kosong,,, lho… kenapa? Karena aturan main angkot disini adalah siapa yang naik duluan dialah “pemenang” rutenya. Contohnya let say kita hendak ke Jl.Kartini kemudian penumpang ke 3 hendak ke Jl. Diponegoro yang rutenya lebih jauh (tergantung dari arah mana kita naik), maka angkotnya akan mengantar kita terlebih dahulu kemudian penumpang ke-2 atau kesekian yang kebetulan rutenya sama barulah yang terakhir penumpang ke-3. Jadi apabila kita adalah penumpang pertama maka penumpang-penumpang selanjutnya harus mengikuti rute kita dan jika kita bukan yang pertama maka silahkan menunggu sampai rute pertama dan sekitarnya selesai barulah penumpang lainnya diantar sesuai rute mereka masing-masing. Jangan heran juga apabila melihat ada angkot yang keluar dari gan-gang kecil. Itu pastinya habis nganterin penumpangnya. Dan apabila rutenya jauh dari penumpang-penumpang yang sebelumnya maka bersiap-siaplah untuk keliling-keliling kota terlebih dahulu karena sopir angkot akan mengantar anda diurutan yang terakhir. Bingung kan?? Sama… hehehe… So bagi yang butuh cepat, naik Angkot tidak recommended lah yah.
      2.    Ojek (ojeg), ojek di Kota Palu sama dengan kota-kota lainnya. Artinya pandai-pandai lah bernegosiasi dan lebih disarankan untuk mengetahui jarak tujuannya terlebih dahulu barulan memutuskan untuk naik ojek.
      3.    Taksi ‘Argo’, salah satu armada yang cukup nyaman ditengah kota yang panas, ber-AC dan tentunya lebih aman lah yah bagi kita-kita, khususnya wisatawan yang baru pertama kali menginjakan kakinya di kota ini. Ada 2 jenis taksi argo sementara ini yang beroperasi seputaran Kota Palu, yaitu taksi Utama (perusahaan taksi pertama di Kota Palu) no. telp.nya 0451-456789 dan MMU taksi (perusahaan taksi yang baru satu tahunan berdiri dan beroperasi di Kota Palu) no. telp.nya 0811-4510455. Tarif dasar taksi ini adalah Rp 5.000, argo berjalan normal (mungkin karena kota Palu sepi sehingga serasa argo berjalan sangat lambat, karena kemana-mana serasa dekat jaraknya). Tarif minimum by call adalah Rp 20.000,- untuk taksi MMU (taksi rekanan dengan hotel tempat saya menginap yaitu Hotel Santika) untuk perjalanan dalam kota dan Rp 50.000 sampai ke Bandara Mutiara. Semua taksi selain taksi bandara dilarang untuk mengambil penumpang dari dalam bandara dan peraturan ini amat sangat dipatuhi oleh sopir-sopir taksi di Kota Palu.
      4.    Taksi Bandara, armada yang dapat kita pilih untuk mengantar kita keluar dari dalam bandara ke tempat tujuan kita mengingat tidak ada satupun kendaraan sewa maupun taksi yang boleh memasuki area bandara kecuali mobil pribadi. Setiap sopir taksi bandara dilengkapi dengan name tag.So cukup aman bagi wisatawan. Mobil yang disediakan beraneka ragam, bisa berupa sejenis Xenia, Avanza, Ayla atau Agliya. Tarif sekali jalan ke Jl. Moh.Hatta yaitu Hotel Santika adalah Rp 85.000,- (untuk Avanza) dan bisa Rp Rp 100.000,- (untuk mobil baru seperti Ayla dan Agliya), tapi tergantung rute kita juga sih. Letak counternya adalah di sebelah kiri pintu keluar gedung Bandara Mutiara. Pintu keluar Bandara Mutiara sendiri terletak persis diseberangnya tempat pengambilan bagasi.
      Makanan khas Palu adalah
      1.    Sup ‘Kaledo’ yaitu sup kaki sapi / lembu Donggala yang dimasak hingga empuk dan disajikan beserta tulang-tulangnya. Kuahnya bening dengan rasa bumbu yang kuat yang berasal dari racikan asam jawa, cabe rawit dan garam.
      2.    Uta Kelo / Sayur Kelor yaitu sayur yang berbahan dasar daun kelor dengan kuah santan, rasanya gurih dengan racikan Palola Ngura (terong muda), Loka Ngura (Pisang Muda), Pusu (Jantung pisang), Kasubi (Singkong), dan Lamale (Ebi).
      3.    Duo Sale / Teri Goreng yang berbahan dasar Teri, rasanya asin, gurih dan pedas. Duo terbuat dari teri yang dimasak bersama irisan bawang khas palu.
      4.    Palu Mara
      5.    Bau Ngau
       
      Obyek Wisata di Kota Palu selain Pantai Talise dan Jembatan Palu IV, antara lain :
      ·         Danau Sibili: terletak di Kecamatan Tawaeli, Kota Palu. Danau Sibili terkenal sebagai tempat wisata mancing dengan berbagai varietas ikan seperti mas, bawal, mujair, gabus, dll. Bagi tamu-tamu yang hendak menikmati keindahan danau bisa berkeliling dengan perahu traditionalnya.
      ·         Banua Mbaso (Sou Raja): Souraja yang artinya rumah besar, merupakan rumah traditional tempat tinggal para bangsawan yang hidup di pantai atau di kota yang terbuat dari kayu ulin dan kayu bayam dengan atas segitiga.
      ·         Pantai Tanjung Karang: terletak di Teluk Palu yang berjarak sekitar 30-40 menit dari kota.
      ·         Pulau Pasoso: terkenal sebagai Pulau Penyu Hijau karena keberadaan habitat hewan unik ini. Pulau Pasoso terletak di Kecamatan Balaesang, Kab.Donggala. Periode favorit untuk melihat penyu bertelur di Pulau ini adalah pada bulan September dan November.
      ·         Jembatan Gantung: merupakan jembatan penghubung 2 kelurahan di Kecamatan Tatanga dan Kecamatan Palu Selatan yang terpisah oleh Sungai Palu.
      ·         Masjid ‘Apung’ Argam ban Al Rahman: Terletak di Palu Barat yang memiliki luas 121 meter persegi dan mampu menampung sebanyak 150 orang. Masjid ini berlantai 1 dengan 4 menara di ke-4 sudutnya. Masjid ini posisinya menjorok 30 meter ke laut yang seakan-akan mengapun. Panorama bentang pegunungan dan Teluk Palu menambah keindahan bagi para jamaah maupun wisatawan yang ingin menikmati wisata religi di Kota Palu.
      ·        Kawasan Wisata Religi Sis Al Jufrie: terletak di Palu Barat, dengan objek wisata belanja dan wisata Religi. Wisata perbelanjaan yang ada disini adalah Pertokoan Palu Plaza yang menyajikan macam-macam kuliner, pakaian dan oleh-oleh. Sedangkan Objek wisata Religi yang ada di depan pertokoan Palu Plaza yaitu Yayasan Al Khairaat Pusat yang merupakan Organisasi Islam Terbesar di Indonesia Timur. Disana terdapat makam Idrus Bin Salim Al Jufrie (SIS AL JUFRIE) pendiri Al Khairaat, Masjid Al Khairaat, Masjid nurul Khairaat, dan Masjid Nur Sa’adah dan Beberapa sekolah berbasisi islam.
      ·         Museum Sulawesi Tengah: terletak di Palu Barat, salah satu yang menarik di museum ini adalah batu megalith berbentu manusia yang dibuat oleh nenek moyang suku kaili yang berasal dari Lembah Napu yang hamper mirip dengan batu megalith berbentuk manusia di Palu Paskah, Samudera Pasifik.
      ·         Taman Ria: tempat wisatawan memburu Sunset dengan ditemani oleh Jagung Bakar, pisang gepe dan saraba.
    • By Luxia
      Kalo di Kota Bandung ada Ikan Bakar Pedas “Setan”, di Kota Palu ada Ayam Bakar Pedas “Mampus”.
      Memperkenalkan salah satu menu Jawa Tengah yang ternyata cukup terkenal juga di Kota Palu, Ibu Kota provinsi Sulawesi Tengah. Bahkan kalau di area sekitar Jl.Moh.Hatta lebih terkenal dibandingkan dengan Kaledo (makanan khas Kota Palu). Tempat makannya berupa Warung bertenda dipinggiran jalan dibelakang Taman Gelanggang Olahraga (Taman GOR / TMG). Kalau dari Jl.Moh.Hatta (tepatnya depan Hotel Santika) jalan terus ke arah samping kanannya Taman GOR lalu sampai di pertigaan belok ke kiri, jalan 150 meter dari pertigaan. Namanya Warung Tenda “Ayam Bakar Pedas TMG”.

      Mungkin malam ini merupakan malam keberuntungan saya atau memang karena malam ini bukan weekend sehingga pengunjung di Warung Tenda ini tidak terlalu ramai, entah lah. Kalau menurut Bapak Ivan, seorang kenalan didalam pesawat dalam perjalanan dari Jakarta menuju ke Palu yang mereferensikan Warung ini, menyebutkan bahwa pada saat beliau hendak makan diwarung tersebut ramai sekali dan mesti antri. Yang pasti malam ini hanya ada beberapa motor saja yang terparkir didepan Warung Tenda, pengunjung yang makan ditempat tidak lebih dari 10 orang dan yang bungkus hanya 3-4 orang saja. Padahal jam tangan saya baru menunjukan pukul 18.50 WIB. Menurut info, warung-warung tersebut mulai berjualan jam 6 sore sampai malam (malamnya jam berapa saya lupa tanya hehehe… maaf ya…)

      Disini menu pilihannya adalah
      1.    Ayam Bakar Pedas / tidak pedas dengan harga Rp 15.000/potong
      2.    Ikan Bandeng Bakar dengan harga Rp 16.000/paket (isi paket adalah Nasi, Ikan Bakar, sup sapi bening)
      3.    Sate daging sapi dengan harga Rp 2.500 /tusuk
      4.    Sate daging ayam dengan harga Rp 2.000 /tusuk
      5.    Nasi seharga Rp 5.000,- /piring
      6.    Teh tawar hangat dengan harga Rp 5.000,- /gelas
      Karena yang direferensikan adalah Ikan Bakar Bandeng maka sayapun memesan Ikan Bakar tetapi pas melihat Ayam bakarnya… mmm… sepertinya ok juga untuk dicoba… Jadilah Ayam Bakar dibungkus juga. Kalau menurut Bapak Ivan, di Palu itu khasnya ya Pedas, jadi apapun makanannya, sambalnya yang paling utama. Yuk… kita buktikan.
      Ikan Bandeng Bakar disajikan 1 paket dengan nasi dan sup bening dari godokan tulang sapi, sedikit bergajih (lemak sapi) dan so’un serta ditaburi potongan daun seledri. Rasa sup nya sepert kuah Baso, sedikit asin dan tidak terlalu gurih tetapi rasanya enak, segar karena disajikan panas-panas.

      Ikan Bandengnya disajikan dengan dibakar dan setelah kering dibaluri dengan sambal manis pedas. Tingkat kepedasannya kalau diberi nilai dengan angka maka ada di peringkat 7 dengan angka 10 sebagai tingkat maksimal yang artinya pedas “setan” maksimal dan mules dah urusannya. Sebagai pelengkap Ikan Bakar adalah bumbu kacang yang diberi sedikit acar (potongan tomat dan cabe rawit) dan 3 potongan mentimun. Uniknya diantara 3 mentimun tersebut, ada 1 yang dibiarkan berbaur dengan bumbu kacang, sisanya diletakan disamping.

      Rasa bumbu kacangnya akan menjadi luar biasa apabila dicampur dengan sambal merah yang disediakan terpisah di meja serta ditetesi beberapa tetes kecap manis… maknyoosssss rasanya…

      Ayam Bakar disini disediakan dalam 2 rasa. 1 original berbumbu khas Solo yang katanya (karena saya tidak pesan, jd hny tau infonya dari yg menjual saja) tidak manis rasanya. 1 lagi Pedas. Bumbu pedasnya sama dengan yang dibalur di Ikan Bandeng Bakar tadi. Dan lagi-lagi dilengkapi dengan bumbu kacang, acar tomat dan 3 potongan mentimun (1 ditenggelamkan di bumbu kacang sisanya disamping).


      Rasa Ayam Bakarnya berbeda dengan rasa ikan bandeng bakarnya meskipun sambalnya dari sumber yang sama. Yang membedakan adalah racikan bumbu bakar untuk ayam. Jangan dilihat penampakannya yang memang terkesan kurang meyakinkan. Biarkan lidah kita yang berbicara. 
      Untuk ukuran ikan bandeng tidak terlalu besar, sekitar 3-4 ons, cukup lah buat pencinta ikan 1 orang 1 ekor, bagi yg bukan pencinta ikan ya bisa buat ber-2. Nah untuk ukuran ayamnya yang amazing… ketebalan dagingnya… wow… Kentucky aja kalah… Puas lah pokoknya.
      Dan disekitaran area GOR ini makanan yang cukup terkenal ya Ikan bandeng bakar, ayam bakar pedas di warung Tenda TMG ini, meskipun bukan merupakan makanan khas kota Palu yaitu Kaledo (dari tulang sapi). Malahan di daerah sini, seputaran Hotel Santika & Taman GOR (jl.Moh.Hatta), belum saya temukan warung or resto yang menjual Kaledo, yg ada malah Coto Makassar. Kalau menurut tukang parkir di Taman GOR ini, “silahkan dicoba Ikan bakarnya Bu… jangan salahkan saya kalau Ibu jadi ketagihan pingin kesini terus…” (emang bener sih…) SELAMAT MENCOBA!!