Jump to content
Forum Jalan2.com - Silahkan Berbagi & Bertanya Tentang Tujuan Wisata Anda
  • agoda-hemat.png

  1. Jalan2

    Jalan2

  2. kyosash

    kyosash

  • Similar Content

    • By Rama Dheni
      Possible kah tidur dibandara? Atau cari hotel.
      In case cari hotel. Perlu kah permohonan visa on arrival online sebelum kedatangan atau langsung dibandara?
    • By vie asano
      Saya sempat membaca di salah satu thread di forum Jalan2 yang membahas tentang Maldives. Kalau nggak salah, ada yang bertanya apa Maldives bisa dijelajahi ala backpacker nggak? Kurang lebih seperti itu pertanyaannya.
      Pertanyaan tersebut membuat saya sedikit berpikir. Mungkinkah Maldives dijelajahi ala backpacker? Untuk Jepang, Belanda, dan mayoritas negara lainnya, backpacking sudah sangat lazim dilakukan karena kondisi geografisnya mendukung untuk dijelajahi dengan cara hemat. Pilihan akomodasi dan transportasinya pun beragam mulai dari kelas sudra hingga kelas dewa. Namun Maldives? Hmm.. Image resort lepas pantai dengan pemandangan lautan berwarna tosca plus pasir putihnya yang berkilauan, kok kayaknya terlalu mewah untuk dijelajahi oleh backpacker yang identik dengan kata hemat, ya? Belum lagi kondisi geografis Maldives yang terdiri dari kepulauan, dan moda transportasi penghubung antar pulau bukannya jalan raya, melainkan seaplane dan kapal feri. Wah, bisa nggak tuh Maldives dijelajahi dengan cara backpacking? Jangan-jangan biaya transportasinya bikin kantong jebol.
      Ternyata, Maldives bisa kok dijelajahi ala backpacker. Minimal ala budget traveller deh. Tentunya backpacking ke Maldives pastinya tetap sedikit lebih mahal dibanding backpacking ke negara lain. Lho, kok gitu? Salah satu alasan utamanya sudah saya singgung di atas, yaitu perlu biaya transportasi ekstra jika ingin pindah-pindah dari satu pulau ke pulau lain (kecuali jika mau berenang antar pulau ya, hehe). Nah, bagi backpacker dan budget traveller yang berminat untuk berkunjung ke Maldives, berikut beberapa tips yang wajib diketahui.
      Waktu berkunjung
      - Sebetulnya, Maldives selalu disinari oleh matahari sepanjang tahun. Namun banyak yang berpendapat waktu paling tepat untuk berkunjung ke Maldives antara bulan Desember-April. Pada masa-masa tersebut, hujan mendadak termasuk jarang turun sehingga lebih lama disinari oleh matahari.
      - Perhatikan gejolak politik di Maldives saat ini berkunjung ke sana. Maldives termasuk negara yang rawan demonstrasi, terlebih saat mendekati momen-momen politik.
      Visa dan mata uang
      - Maldives bisa dikunjungi kapan saja karena negara ini menerapkan sistem visa on arrival dengan masa tinggal maksimal 30 hari.
      - Mata uang Maldives adalah Maldivian Rufiyaa (MRF) dengan pecahan 500, 100, 50, 20, 10, dan 5. 1 Rufiyaa = 100 Laari, dan 1 USD kira-kira setara dengan 15,42 Rufiyaa. Jadi 1 Rufiyaa itu berapa Rupiah? Hitung sendiri yah.
      - Saat berkunjung ke Maldives, sebaiknya siapkan uang dalam bentuk USD karena mayoritas hotel menerima pembayaran dalam USD. Sebagian saja yang ditukarkan dengan Rufiyaa dan Laari, karena untuk membayar transportasidan belanja di toko-toko kecil harus menggunakan mata uang lokal.
      Akomodasi
      - Lupakan cottage lepas pantai jika ingin wisata ala backpacker! Menginap di cottage maupun resort (apalagi resort ekslusif) setidaknya memiliki 3 konsekuensi yang tak bersahabat bagi backpacker, yaitu harga yang mahal (bisa lebih dari USD 600*/malam), biaya tambahan untuk mengakses ke resort (karena konsepnya satu resort untuk satu pulau), dan biaya makan yang ekstra pula (karena semua makanan harus dibeli di resort dan di sekitar resort pastinya nggak ada warung kaki lima, apalagi mini market).
      - Sebagai gantinya, pertimbangkan untuk menginap di hotel biasa, lodging house, maupun guest house. Jika pergi bersama rombongan, bisa juga mencari penduduk yang menyewakan rumahnya sehingga biaya sewa bisa ditanggung bersama. Dewasa ini makin banyak penginapan murah di Maldives, jadi jangan berhenti mencari alternatif akomodasi hingga mendapat yang betul-betul sesuai budget.
      - Jika tak ingin jauh-jauh dari pusat Maldives (terutama bagi partygoers), akomodasi di Hulhumale maupun Male bisa jadi pilihan. Selain karena memiliki beberapa opsi penginapan murah, dari kedua pulau tersebut cukup mudah untuk mengakses pulau lainnya karena banyaknya jam keberangkatan feri.
      - Seandainya tetep ngebet menginap di resort, selain harus pandai-pandai memilih budget resort, salah satu opsi untuk meminimalkan pengeluaran adalah dengan memesan “room only†alias nggak pakai makan. Konsekuensinya, kalau nggak mau puasa, ya harus berbekal makanan instan (ngenes banget nggak sih?).
      Transportasi
      - Sudah tahu kan jika moda transportasi penghubung antar pulau adalah pesawat domestik, seaplane, dan kapal fery? Jadi salah satu tips untuk menghemat biaya transportasi adalah dengan mempertimbangkan masak-masak itinerary wisata. Tentukan aktifitas wisata yang ingin dilakukan (misalnya: diving, snorkling, dan sebagainya) dan pilih lokasi yang saling berdekatan sehingga nggak perlu terlalu sering berpindah tempat.
      - Ini beberapa contoh tarif moda transportasi di Maldives:
      a. tarif taksi di Male dan Hulhumale ±MRF 25* (fixed rate).
      b. bus umum di Hulhumale ±MRF 3*.
      c. fery dari Male International Airport ke Male ±MRF 25-30*.
      d. fery dari Male ke Hulhumale ±MRF 5,5*.
      e. Untuk seaplane tarifnya bisa bervariasi tergantung destinasi tujuan di Maldives. Namun rata-rata bisa mencapai USD 350-500*/orang.
      - Untuk melihat jadwal keberangkatan kapal feri, bisa lihat disini.
      - Sedangkan untuk transportasi termurah menuju ke Maldives, selain harus rajin-rajin mencari tiket promo, sebaiknya pilih maskapai penerbangan murah seperti Tiger Airways. Sri Lanka Airlanes juga bisa jadi opsi menarik karena menyediakan jalur penerbangan dari Jakarta ke Maldives (via Srilangka).
      Tips lainnya
      - Saya sudah menjelaskan disini jika Maldives adalah negara Islam yang cukup ketat. Jadi sebaiknya jangan memakai pakaian yang terlalu terbuka saat berjalan-jalan di area publik dan jangan mengenakan bikini saat berjemur di pantai publik.
      - Di Maldives, sistem elektrik-nya 240 AC dan tipe colokan yang digunakan British Type.
      - Untuk berjaga-jaga, ketahui jam kerja pemerintah setempat yaitu mulai pukul 08.00-15.00 (Minggu-Kamis), dan jam kerja bank mulai pukul 09.00-15.00 (Minggu-Kamis). Nomor emergensi darurat adalah 119 (terhubung dengan kepolisian, ambulan, pemadam kebakaran).
      - Jika ngebet banget ingin menikmati pantai namun budget tak mencukupi untuk menginap di resort, siasati dengan menginap di penginapan yang lebih murah dan mengunjungi pantai maupun menjelajah pulau lain di siang hari.
      - Berencana liburan sambil membawa anak-anak? Berhubung di Maldives nggak ada Disneyland, pertimbangkan untuk memilih resort/hotel yang memiliki kids club. Pastinya perlu budget ekstra untuk itu, namun lumayan untuk menghindari rengekan si kecil saat bosan dengan aktifitas outdoor.
      - Tips terakhir ini bagi yang berniat untuk wisata ke Maldives sambil mencari pahala. Di Maldives banyak sekali lowongan untuk menjadi relawan dengan aktifitas beragam, mulai dari menyelamatkan kura-kura, menjadi guru, dan banyak lagi. Anda memang harus membayar sejumlah uang untuk dapat mengikuti program ini (bervariasi antara USD 1600*-1800*), namun sebagai gantinya para relawan akan mendapat akomodasi selama sebulan penuh (termasuk makan 3x sehari) dan menjalani berbagai pelatihan. Lumayan kan, bisa puas menikmati Maldives dengan biaya yang cukup terjangkau. Untuk detailnya, bisa lihat disini.
      Semoga bermanfaat.
    • By TravellingAddict
      Jika ada yang bilang i love u Ho Chi Minh City adalah kota seribu motor, jujur saya jawab iya pemandangan banyaknya pengendara motor saat peak hour terlihat jelas saat saya baru sampai Ho Chi Minh City, uniknya pengendara di Ho Chi Minh City masih menggunakan helm batok yang dimana di Indonesia helm tersebut sudah dilarang. Mungkin beda negara beda kebijakan, selain itu semerawutnya kabel listrik yang menggulung tidak karuan di tiang listrik melengkapi Ho Chi Minh City.   Meskipun begitu Ho Chi Minh City punya banyak tempat wisata sejarah yang layak kalian kunjungi, Oh iya buat yang masih belum tau kalo Vietnam ini termasuk negara yang bebas visa dengan maksimal stay 30 hari, untuk mata uangnya sendiri negara ini menggunkan daun VND atau Vietnam Dong. Untuk pilihan transportasi dari bandara Tan So Nhat dapat menggunakan bus atau taxi. Sedikit info sebaiknya jika menggunakan taxi pilihlah taxi dari Vinasun / Mailih, untuk estimasi sekitar 30 menit argonya sekitar 160.000 VND. Nah berikut adalah beberapa refrensi tempat wisata di Ho Chi Minh City, diantaranya :
      1. Ho Chi Minh City Hall
        Terletak di ujung Nguyen Hue Street, tempat pertama yang saya kunjungi adalah Ho Chi Minh City Hall. Bangunan yang awalnya bernama Hotel de Ville Saigon ini dibangun pada tahun 1902-1908 pada masa penjajahan Prancis. sedikit informasi sebaiknya kalian mengunjungi City Hall pada malam hari karena saat malam hari lampu-lampu pada bagian luar gedung dinyalakan dan efek dari iluminiasi cahaya tersebut sangat menarik perhatian. Sayangnya kita tidak dapat masuk kedalam City Hall karena tempat ini tidak terbuka untuk public, jadi hanya bisa menikmati bagian luar City Hall saja.       2. Cu Chi Tunnels     Cu Chi Tunnels merupakan terowongan bawah tanah di Ho Chi Minh City, yang berlokasi di Cu Chi District. Waktu yang ditempuh untuk sampai ke Cu Chi Tunnels sekitar 1 jam dengan menggunakan Bus. Cu Chi Tunnels / terowongan ini  memiliki panjang sekitar 121 km, dulunya digunakan sebagai tempat persembunyian para tentara Viet Kong saat perang berlangsung. Tapi saat ini Cu Chi Tunnels telah dijadikan war memorial park sekaligus dijadikan tempat wisata. Awalnya saya gak yakin bisa masuk ke terowongan sekecil itu tapi ternyata bisa. hehehe..   3. War Remnant Museum
          Tempat berikutnya adalah War Remnant Museum dari namanya aja udah ketauan kalo tempat ini adalah Tempat Makan Museum. Kalo kalian kapan terkakhir ke Museum?? kalo saya sendiri terakhir ke Museum waktu kelas 7 atau smp. Akhirnya setelah sekian juta cahaya saya mengunjungi Museum lagi. War Remnant Museum ini berisikan berbagai peninggalan perang Indo - China 1yang sat itu Vietnam berhadapan dengan kolonial Prancis, barang-barang yang dipamerkan War Remnant Museum antara lain perlengkapan perang Amerika ( jet, helicopter, dan tank), dokumentasi kekejaman dan penyiksaan selama perang. agak ngeri sih tapi penasaran. War Remnant Museum buka setiap hari dari jam 07.30-17.00 berlokasi di 28 Vo Van Tanh Street, District 3.   4. Reunification Palace
          Reunification Palace atau Independence Palace adalah sebuah banguan yang dulunya digunakan sebagai istana kepresidenan Vietnam selatan pada saat sebelum bersatu. Ciri khas istana kepresidenan pada umumnya hamparan rumput hijau yang luas di depan Reunification Palace ini tertata sangat rapi dan bersih. Reunification Palace dibangun pada tahun 1962-1966 oleh arsitek bernama Ngo Viet Thu dengan  gaya arsitektur memadukan gaya modern dan tradisional Vietnam. Tempat ini terletak di 135 Nam Ky Khoi Nghia Street.   5. Saigon Central Post Office
        Terakhir adalah Saigon Central Post Office bangunan peninggalan sejarah yang dibangun pada akhir abad ke-19 terletak berdekatan dengan Cathedral Notre-Dame Basilica. Oh iya bangunan Saigon Central Post Office ini dibangun oleh Gustave Eiffel, yang juga merupakan arsitek terkenal perancang Menara Eiffel di Paris, Perancis. Amazing bukan?? sampai saat ini Saigon Central Post Office masih beroperasi sebagai kantor pos.    Happy Traveling, Salam www.travellingaddict.com
    • By anna22
      18/8/2017  Flight Malam Jkt-KL. Karena kami menggunakan Lion Air, mendarat di KLIA 1, padahal besoknya kami ada flight dengan AA dari KLIA 2. Beruntungnya ada shuttle bus gratis antara KLIA 1 ke KLIA 2 yang beroperasi 24 jam. Begitu sampai di KLIA 2, kami mencari tempat untuk mengisi baterai HP sambil selonjoran.    19/8/20  Flight pagi jam 6 kami sudah check in jam 4 dan melewati imigrasi lalu menuju gate yang tertera di boarding pass. Saya dan salah satu teman yang muslim juga menuju musholla untuk melaksanakan solat Subuh sekitar jam 5. Ternyata kami baru sadar ada perbedaan waktu sehingga waktu solat Subuh baru sekitar jam 6. Tepat ketika adzan subuh berkumandang, salah satu teman menyusul dan mengatakan bahwa kami harus pindah gate. Kami pun buru-buru solat dan langsung berusaha berlari karena waktu boarding tinggal 10 menit lagi. Sedangkan kepindahan gate itu dari ujung ke ujung (paraaaah jauhnya). Gara-gara inilah, salah satu teman kami yang memang dari awal keberangkatan sedang tidak enak badan, mendadak drop begitu sampai Hanoi. Beruntungnya kami sampai tepat waktu di gate sehingga masih bisa naik pesawat walaupun ngos2an...   Sampai Hanoi Airport sekitar jam 9 (tidak ada perbedaan waktu dengan Indonesia). Begitu sampai, kami membagi tugas, ada yang membeli simcard (12 usd/7 hr utk paket data internet saja) dan mengambil uang di atm (ya, kami memang tidak menukar rupiah ke vnd di Indonesia, biaya tarik tunai sekitar 20rb rupiah). Sebelumnya saya sudah membaca kalau ada express bus dan public bus dari airport ke pusat kota. Tapi begitu kami tanya ke pusat informasi (yang anehnya, tidak ada satupun pusat informasi resmi, artinya pusat informasi yang tersebar di arrival hall adalah kepunyaan tour&travel, taxi/car rental, dan perusahaan simcard), mereka malah nawarin naik taxi. Karena kami ingin ngirit apalagi baru di awal-awal perjalanan, kami pun mencoba browsing lagi.  Ada bus no. 7 dan 17 dengan biaya 5000 vnd (sekitar Rp. 3000). Bus ini akan berhenti di setiap halte sehingga dipastikan memakan waktu lebih lama. Nah dari pintu keluar Kedatangan, kamu jalan ke arah kiri paling ujung nanti akan ketemu semacam terminal bus umum.    Pilihan lainnya adalah Express Bus 86 dengan biaya 30.000 vnd (sekitar Rp. 15.000). Dinamakan express bus dan lebih mahal karena hanya berhenti di beberapa halte di pusat kota Hanoi. Nah kalau penginapan kamu di sekitar Old Quarter, bisa pilih bus ini. Begitu keluar pintu kedatangan, ke arah kiri juga kemudian nyebrang dan ketika kamu berjalan, kamu akan ditawarkan untuk naik taxi, bilang saja dengan sopan kalau kamu mau naik bus 86. Mereka dengan senang hati akan menunjukkan kamu ke arah petugasnya. Bayarnya pas di bus aja, nanti kondekturnya akan nanya mau berhenti di halte apa. Sebelum berhenti, dia bakal ngasih tau kamu untuk segera siap-siap turun. Ternyata salah satu teman, sebut aja M, kondisi tubuhnya makin drop dan memutuskan untuk mencari klinik atau rumah sakit. Ceritanya cukup panjang, yang intinya adalah sore dan malam ini kami berputar-putar mencari klinik, rumah sakit, dan apotek. Untungnya ada Grab di Hanoi sehingga memudahkan mobilisasi kami. Terus bagaimana komunikasinya secara hampir sebagian besar driver kurang bisa berbahasa inggris? Kami selalu menyebutkan posisi melalui pesan dan menghafal jenis mobil serta plat nomornya. Kadang jika driver mengirim pesan dengan bahasa vietnam, kami menggunakan google translate untuk mengartikan dan membuat balasan (hahahaha). Ada kejadian lucu, salah satu teman saya sering disangka orang lokal karena penampilannya yang mirip, jadilah suka diajak ngobrol bahasa vietnam. Dan alhasil temen saya cuman bengong sambil bilang “I’m not vietnamnese”.
      Hari pun sudah menjelang malam dan kami lapar. Karena saya punya pantangan dalam makan dan beruntungnya saya punya teman yang pengertian, kami memutuskan mencari vegan restaurant terdekat. Ketemulah Loving Hut (ini sepertinya ada di mana-mana deh) yang menyediakan makanan khas vietnam dengan menu vegan. Dengan 3 jenis lauk dengan 4 nasi dan 4 minuman hanya habis skeitar 200.000 vnd (atau Rp. 100.000). Kenyang parah tapi ngerasa sehat (ya iyalah vegan food).   Setelah dari RS dan mengantarkan teman kami yang sakit ke GH untuk istirahat, sekitar jam 9 malam, kami bertiga memutuskan keluar menuju Old Quarter karena hari itu adalah malam minggu sehingga kawasan pinggir Hoan Kiem Lake ditutup untuk kendaraan (car free day). Niatnya mau mencoba egg coffee yang terkenal di Hanoi tapi cafe yang kami incar sudah tutup sehingga kami jalan kaki sambil melihat aktivitas warga lokal di malam minggu. Begitu sampai Old Quarter, kami menemukan sebuah cafe yang masih buka dan ada menu egg coffee. Penasaran kami memesan 1 cup (77.000 vnd inc.tax), sampai si pelayan bingung karena kami hanya memesan 1 cup kecil untuk bertiga.
      Karena sudah jam 11 malam, dan besok pagi ada halong bay tour, kami memutuskan kembali ke GH. Oiya kami memesan 1 day Halong Bay Tour dengan harga 42 USD/orang melalui staf GH saat kedatangan. Teman kami yang sakit memutuskan tidak jadi ikut karena dalam masa recovery. Karena pemberitahuannya mendadak, biaya hanya dikembalikan setengahnya.    20/8/2017 Tepat jam 7.30 pagi, guide datang menjempat kami di GH. Ada sekitar 21 peserta hari itu dari berbagai negara. Ternyata kami bertemu 4 kakak beradik asal Aceh. Perjalanan menuju Halong Bay cukup panjang sekitar 4 jam dengan berhenti 1 kali di tempat penjualan souvenir. Tenang aja toiletnya gratis dan cukup bersih kok dan kalian tidak diharuskan membeli souvenirnya. Sekitar jam 12 siang kami sampai pelabuhan. Sebelumnya di bus, guide kami membagi peserta ke beberapa meja di kapal. Kami kebagian meja 3 bareng sepasang turis asal Italia (yang ramah dan baik). Begitu duduk di kapal, awal kapal langsung menyuguhkan makan siang (kebanyakan seafood dan sayuran). Nah untuk minum tidak disediakan alias beli kalau gak bawa. Kapal pun berlayar sambil kami menikmati makan siang. Rasanya pun lumayan cocoklah dan porsinya banyak. Itinerary 1 day tour ini adalah menuju Surprise Cave dan Ti Top Island.    Untuk bisa mengikuti rangkaian kegiatan tour ini diperlukan stamina yang baik dan cukup minum karena harus menaiki anak tangga yang cukup banyak. Kami saja sampai kekurangan minum dan membeli disana (walaupun lebih mahal sih). Selain itu juga panas banget. Saya yg kurang cocok dgn cuaca panas bbrp kali harus berhenti saat menaiki tangga  ke puncak Ti top island. Bahkan setelah 3/4 perjalanan, saya menyerah dan memilih duduk istirahat. Sedangkan 2 teman saya lanjut. Setelah merasa cukup pulih, saya pun lanjut naik ke atas krn mikir2 sayang juga kalo ga sampai atas. 

       
       
      Kembali ke pelabuhan sekitar jam 5 sore dan sampai lagi di Hanoi jam 9 malam. Hari itu kami merasa lelah sekali sehingga tidak sanggup utk jalan2 malam lagi. Mana besoknya harus siap-siap ke airport untuk flight ke Ho Chi Minh.    21/8/2017 Penerbangan Hanoi-Ho chi minh dengan Jetstar jam 10 pagi. Kami sempat sarapan dulu. Seperti biasa pakai grabcar menuju airport. Baru kali ini di airport (domestic) kami harus melepas alas kaki saat pemeriksaan masuk ruang tunggu. Saya kira hanya khusus bagi warga asing tapi ternyata warga lokal pun membuka alas kakinya walau hanya menggunakan sendal jepit...   Sampailah di Ho chi minh airport jam 12 siang. Lgsg pesan uber menuju penginapan. Kali ini kami pesan Supe Homestay yg harganya 650rb/2 malam 4 bed dorm room. Kalau melihay review dan photo, hostel ini cukup bagus. Tapi ternyata kami kecewa karena kenyataannya berbeda. Begitu sampai, kami terkejut ketika staf mengatakan bahwa kamar penuh. Nah lhooo??? Tapi ternyata Supe ini punya cabang lain yg jaraknya 5 menit berkendara. Kenapa ga dikasih tau di awal..kan bisa email ato bgmn gitu ya..yg kedua begitu kami sampai, kayaknya ini penginapan jadi gudang barang2 jualan krn begitu banyak barang berserakan di lobi. Kamarnya pun berdebu seperti sudah tidak ditinggali lama. Kamar mandinya pun kurang bersih. Kecewa deh pokoknya.    Oke cukup curhatnya. Setelah check in, kami keluar mencari makan siang. Kami cari yg dekat bisa jalan kaki, cek2 di google, ketemulah resto india halal di daerah Bui Vien. Setelah makan dan kenyang, kami menuju Konsulat Indonesia. Wah ada apa yaa? Ternyata teman saya yg sakit itu belum puas dgn dokter di rs hanoi, jadi dia ingin meminta saran dan rujukan dari pihak konsulat yg mungkin lebih paham dgn kota ho chi minh. Yaaa jadi lagi2 hari ini dihabiskan dengan pencarian klinik dan rs. Beruntungnya ada Klinik international yg menerima turis dan berbahasa inggris di dekat konsulat. Setelah menunggu, periksa, tebus obat, sekitar jam 6 sore.    Hasil konsultasi dgn dokter, teman saya memutuskan utk lgsg ke bangkok (kebetulan ada temannya disana) tanpa ikut kami ke siem reap agar cepat pulih. Malam itu kami pun lgsg berembuk memesan tiket2 yg belum terbeli. Kami pun memutuskan utk ke cafe sekalian mencicip kopi vietnam. Cari2 di google yg reviewnya oke yaitu Bang Khuang Cafe. Dan ini adalah keputusan yg tepat, selain menu kopinya bervariasi, tempatnya juga nyaman dan cantik. Urusan memesan tiket bus ho chi minch-siem reap, tiket sleeper train bangkok-penang, dan tiket pesawat Ho Chi Minh-bangkok pun beres. Sedangkan utk tiket bus siem reap-bangkok rencananya akan kami pesan on the spot.    22/8/2017 Hari ini kami hanya keliling kota saja. Awalnya ingin ke cu chi tunnel tapi krn kondisi teman saya yg masih sakit, rasanya tidak mungkin pergi jauh2. Pertama kami ke Ben Tanh Market utk cari oleh2 dan brunch (krn disini banyak jual makanan). Setelah kenyang dan beli bbrp oleh2, kami menuju kantor pos, gereja, museum dan taman yg bisa dikelilingi dgn berjalan kaki. Karena lelah, kami kembali ke penginapan utk istirahat (yaa lagi2 kami tidur siang hahaha) kemudian malamnya keluar lagi utk cari makan. Ada 1 makanan yg khas vietnam tapi saya mau cari yg halal. Eh ketemulah Pho Muslim. Rasanya enak dan agak beda dengan pho yg pernah saya coba di jakarta. Rempah2 dan kaldu dagingnya lebih berasa plus terdapat potongan bakso homemade (hasil nanya2 yg punya). Warung Pho ini baru buka sore menjelang malam ya...
        Yaaaa sekian cerita edisi vietnam dari rangkaian 12 hari trip negara Asean. Masih ada 3 negara lagi...enjoy and happy reading!!!
    • By Nicole Sacha
      Vietnam adalah salah satu destinasi yang tidak pernah masuk ke dalam bucketlist saya, singkat cerita, pada waktu itu dikomporin sama teman satu Genk's. Salah duanya adalah si @bebem & si @indah uthe dan walaupun agak telat, akhirnya saya putuskan untuk membeli tiket ke Vietnam, tepatnya Ho Chi Minh, dengan transit PP KL.
      Huehehe, kitamah anaknya irit, jarang beli tiket direct kalo perjalanannya ga lebih dari 5 jam eim.

      Perjalanan Menyusuri Mekong River
       
      Untuk harga, pada waktu itu kebetulan lumayan murah, mengingat harga tiket yang fluktuatif tiap tahunnya.
      Mungkin ada yang bertanya tanya, apasih yang menarik dari sungai Mekong?
      Well, berikut cerita perjalanan saya ke Mekong.
      Mekong adalah salah satu sungai utama di dunia selain Nil, Amazon, Yangtze dan masih ada beberapa Sungai lain yang tersebar di seluruh dunia. Untuk mencapai Mekong, waktu itu saya ikut One Day Tour yang ditawarkan oleh petugas Hostel tempat saya menginap di Ho Chi Minh. Starting dari Hostel, kami dijemput menggunakan ELF, diantar sampai Terminal 23/9 Park untuk berganti kendaraan dengan Bus Tour yang lebih besar ukurannya dan tentu saja bergabung dengan turis-turis lainnya (Yuhuuu, berasa Turis banget emang kalo di negeri orang, haha)
       
      Setelah berganti kendaraan, meluncurlah kami ke Mekong, sepanjang perjalanan, kami disuguhkan dengan pemandangan jalan di Vietnam yang mengingatkan saya ketika menempuh perjalanan ke Dermaga Ketapang - Pahawang dari Bandar Lampung. Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 Jam, sampailah kami di Dermaga Mekong. Disini kami naik kapal kayu untuk menyusuri Mekong menuju Desa masyarakat untuk melihat pembuatan Coconut Candy, Madu Lebah hasil Desa Setempat, dan menikmati suguhan musik khas Vietnam.

      Cruising Mekong River

      Madu Limau
       

      Proses Pembuatan Coconut Candy Khas Mekong
      Setelah menikmati Madu Limau & melihat proses pembuatan Coconut Candy, kami disuguhkan cemilan sambil menikmati alunan musik tradisional Vietnam yang dimainkan oleh bapak-bapak yang sudah lumayan berumur, informasi dari Tour Guide, dulunya mereka adalah bekas tentara Vietnam yang ikut berjuang melawan penjajah.
       

      Sajian Musik Tradisional
       

      Suguhan dari Masyarakat
       
      Warga desa disini beberapa ada yang bisa bahasa melayu juga lho, mungkin karena masih satu rumpun ya.
      Habis santai-santai, tour berlanjut dengan menyusuri pedesaan menuju sungai kecil yang sudah disediakan perahu - perahu kecil untuk membawa kita kembali ke kapal. Satu perahu bisa diisi 3-4 orang dan dikemudikan oleh wanita - wanita paruh baya yang sangat strong, yaiyalah, ngedayung perahu yang isinya 4 orang bok.
       

      Si Ibu Strong
      Sepanjang sungai diapit oleh pepohonan yang membentuk lorong, pemandangan tersebut membuat kita sedikit menghiraukan air sungai yang warnanya cokelat banget, mirip sama air sungai di Jakarta.
      Faktanya, sungai Mekong adalah Golden Triangle yang merupakan perbatasan dari Thailand, Laos dan Myanmar. Mekong adalah sumber air yang harus dilindungi karena Kehidupan sekitar 60 juta warga ASEAN khususnya yang berada di Laos, Thailand, Kamboja dan Vietnam bergantung padanya. Berita lebih lengkap bisa dibaca disini https://www.antaranews.com/berita/655204/asean-harus-lindungi-sumber-air-sungai-mekong
       
      Sedikit catatan kalau mau ke Mekong :
      - Disarankan untuk ikut One Day Tour, setiap penginapan (hostel, losmen, hotel) biasanya sudah bekerja sama dengan Travel, selain lebih hemat, bisa menghemat waktu juga.
      - Pakai baju yang nyaman (karena udara disana lembab)
      - Bawa lotion anti nyamuk

      Mekong dari Lensa Gopro Hero 4
      Sekian postingan saya tentang pengalaman menyusuri Mekong. Semoga bermanfaat.

      XOXO
      ANS
       
       
      (PS : Semua foto adalah dokumentasi pribadi milik penulis)
       
       
    • By thissa
      Hello everyone,
       
      I am newbie in this forum. I am very challenged to have Sumatra road trip, ada yang punya minat yang sama kah?
      gw nggak bisa nyetir tapi nanti kompensasinya gw patungan sedikit lebih di bensin gpp. 
       
      So please message me if you have the same interest my email : thissayonap@gmail.com
       
    • By twindry
      Yosh!!! setelah kehilangan ide mau nulis apa lagi, akhirnya dapat wangsit juga mau nulis apa. berbekal pertanyaan2 teman sekantor saya yang akan berangkat ke jepang, maka muncullah ide untuk nulis "Do and Dont. Hal-hal yang perlu diperhatikan selama di jepang". disini saya akan menjelaskan beberapa peraturan tidak tertulis yang berlaku di jepang. semoga postingan ini bisa membantu teman2 yang akan ke jepang untuk pertama kalinya ya.
       
      1. Dilarang makan / minum selama menggunakan transportasi umum
       

      source : mbah gugel
      jepang terkenal akan kebersihan lingkungannya. jangankan makan / minum, ngomong bisik2 aja sebenarnya tidak boleh selama kita berada di transportasi umum semisal subway, kereta, atopun bus.
       
      2. Ngomongnya bisik2 aja ya
       

      ssst jaga ketenangan gan
      saya juga kurang tau kenapa orang jepang semuanya diam ketika berada di dalam transportasi umum. ada yg dengerin lagu di hp pake headset, ada yang baca komik, ada yang maen game (tapi silent), dll. bahkan bus pariwisata yang saya tumpangi ke kawaguchiko aja ngak boleh ngomong kuat2. padahal bus nya untuk hepi2 loh kan. bahaha. yang jelas kalo teman2 mau ngomong di dalam bus ato subway, bisik2 aja ngomongnya. biar ngak diliatin ama seisi penumpang ato di tegur ama supir bus (kayak saya). bahkan telepon seluler pun harus di silentkan ya kalo di transportasi umum. jangankan hp bunyi, permen jatoh aja kedengaran sampai ke ujung gerbong. bahahah. tahan malu aja kalo tiba2 hp bunyi pas di dalam subway. biasa.... panggilan bisnis (jualan ke tante2) bahahah.
       
      3. No Tip
       

      source : mbah gugel
      bagi teman2 yg suka kasi salam tempel alias ngasi tip, kalo udah di jepang ngak perlu lagi ya. karena kalo ngasi tip adanya malah di teriakin ama yang dikasi. kirain uang teman2 ketinggalan.
       
      4. Habis makan beresin sendiri
       

      tuh di sediain kain pel di atas meja. buat lap muka juga oke karena sueger kainnya bahaha
      nah ini yang masih agak kurang di budaya kita. padahal bagus loh budaya ini. di jepang sehabis makan di rumah makannya, konsumen sendiri lah yang beresin meja nya. mulai dari beresin remah2an makanan yang berceceran di meja, sampai nge lap meja yang udah dipake. jadi jangan heran kalo misalnya kita lupa beresin meja dan di teriakin ama penjaga tokonya. kan malu bahaha kecuali #thepowerofsetianovXXXX bahahaha (no offense)
       
      5. Nyebrang liat kode ya
       

      begitu lampu ijo yang nyebrang kayak gini. awas kebawa arus
      bagi teman2 yang ngak peka kode2an, kalo di jepang agak peka dikit ya. meskipun bukan cuman di jepang sih. rata2 di luar negeri kita ngak bisa nyebrang sembarangan. harus di zebra cross dan ada kode ato tanda tertentu. kalo di jepang lampu warna ijo dan ada tanda bunyi dari tiang lampunya berarti kita boleh nyebrang. jangan coba2 nyebrang sewaktu lampunya merah. karena bisa tiba2 ada kendaraan yang belok ndak ngak liat kita. kecuali di jalan kecil dan jalanan agak sepi. itupun nyebrangnya kudu liat kanan kiri juga ya. daaaan tenang aja. di sini ngak ada yang kasi lampu sen kanan belok kiri. ato yang kasi lampu sen tapi ngak belok2
       
      6. Slrrrrrpp slrrrp sllrrrrrp
       

      croooott *eeh* sslllrrrrppp enaaaak
      kalo makan mie di jepang, suaranya di keluarin ngak apa2 kok. itu artinya mie yang sedang kita sedot itu rasanya mantap. mau makan ala son goku ato pun naruto ngak apa2 kecuali di rumah makan padang di indo ya. hahah malu di liatin
       
      7. Dilarang lemot

      jangan tiru kami ya karena telat naek bus nya (simak kisahnya di postingan sebelumnya)
      transportasi di jepang terkenal akan ketepatan waktunya. jadi, bagi yang suka ber leha2 harap di kurangin sedikit. karena pasti itin bakal kacau balau kalau ketinggalan kereta ato bus. masih mending frekuensi kereta ato bus nya cuman beberapa menit sekali. lah kalo sejam sekali? pesai nunggunye kalau kata orang pontianak
       
      8. ikutin arus orang di eskalator

      kanto = tokyo, yokohama, dan sekitarnya. kansai = kyoto, osaka, hiroshima, dan sekitarnya (source : mbah gugel)
      kalo ketemu eskalator di bandara, stasiun, mall, ato tempat2 umum lainnya, ikutin arus orang2 yang ada. jangan sembarangan berdiri. rata2 di jepang kita harus berdiri di sebelah kiri kalo pake eskalator. jalur kanan khusus untuk pengguna lain yang sedang terburu2. ada beberapa daerah di jepang yang berdiri di kanan dan ada pula yang di kiri. jadi ikutin arus aja ya. kecuali kalo emang lagi buru2. lari aja di sepanjang jalur kanan. ngak bakal ada yang halangin. kayak cerita perjalanan ke kawaguchiko saya kemarin.
       
      9. alat makan bukan untuk mainan
       

      source : mbah gugel
      jangan mengetuk2an alat makan ke meja ataupun piring ato mangkok
       
      10. jangan merusak alam

      pungut yang udah gugur aja ya
      kalo ke jepang pas musim semi ato gugur, bunga sakura atopun momiji nya yang masih nempel di pohon jangan di petik ya. yang boleh di ambil cuman kelopak sakura ato pun daun momiji yang sudah rontok dan jatuh ke tanah. boleh foto2 di dekat pohonnya tapi jangan di apa2in ya. pernah saya dengar kabar kalo ada turis yang sampe manjat ke atas pohon sakuranya demi dapet foto syantik *tepok jidat* untungnya bukan turis dari indonesia
       
      11. dilarang merokok sembarangan
       

      source : mbah gugel
      nah ini terapi yang baik bagi teman2 yang merokok. kalo ke jepang saya yakin rokoknya pasti agak dikurangin. karena di jepang tidak boleh merokok sembarangan. sudah di sediakan area khusus di beberapa spot khusus untuk perokok. bentuk nya kayak halte bus dan bagusnya lagi asapnya ngak sampai mengganggu pejalan kaki lain. bahkan puntung rokok pun ngak keliatan di jalan. jangankan puntungnya, abu rokok aja ngak jatuh2 ke aspal jalan. mungkin skalian di telan kali ya abu sama puntungnya. biar kayak2 limbad gitu. bahahah. padahal letaknya ada di trotoar pejalan kaki juga loh
       
      12. ijin dulu gan
       

      cari aja cosplayer di harajuku. pas weekend biasanya banyak yang nongkrong di sana
      kalo ketemu cosplayer ato orang yang berpakaian nyentrik, jangan langsung di foto ya. minta ijin dulu. kalopun ngak ngerti bahasanya, setidaknya bahasa tarzan alias bahasa tubuh adalah bahasa yang paling baik. kecuali kalo maiko atopun geisha ya. mereka memang ngak mau di foto. jadi harus ada trick2 nya.
       
      hmm. saya rasa segitu aja kira2 kode etik ato peraturan tidak tertulis yang berlaku pada umumnya di jepang. masih banyak kayaknya peraturan2 yang lain. intinya sih jangan aneh2 aja. cukup jadi turis biasanya. alay boleh tapi jangan over. tau batas juga ya. mumpung di tempat asing yang ngak seorangpun mengenal kita, alay dikit ngak apa lah ya. namanya juga liburan. hehehe. sekian aja tulisannya. kalo ada yang kurang ato salah2 CMIIW ya. see ya *melambai*
×
×
  • Create New...