Reiko Shiwatari

Solo Travel to Seoul-Hiroshima-Osaka-Kyoto-Kawaguchiko-Tokyo September 2015 (10D/9N) Part 2/3

48 posts in this topic

Hallo, ini saya kembali lagi dengan part 2 FR saya :melambai

@deffa         @Nightrain    

@kyosash    @Jalan2

 

Selasa, 8 September 2015

Saya bangun pagi sekitar jam 5:30 lalu siap2 & beresin koper to next destination, Osaka. Seperti yang saya baca di review ryokan ini, di receptionist suka gak ada orang, jadi kalau orang mau check out harus tunggu dulu agak lama sampai orangnya datang. Saya pun turun ke bawah & ternyata benar! Gak ada orang! Itu juga sudah jam 7 lewat. Tapi untungnya gak lama orangnya datang & saya langsung check out. Kekurangan ryokan ini mereka gak terlalu bisa bahasa Inggris :( hiks... 

Ini saya foto kamar saya, lumayanlah Japanese Style Room dengan private bathroom. Ini juga ada foto beberapa makanan yang saya sempat beli kemarin & lupa saya post di part 1, hehehe...  

12087529_10153323762698842_2121632865_n.

Ini foto beberapa minuman & kue yang saya beli di Hiroshima kemarin. Kue nya enak gak terlalu manis,  Ice Green Tea Latte nya kurang manis & Milk Tea bergambar Attack On Titan lumayan enak. 

12080804_10153325288958842_716289150_n.t

Setelah check out saya pun langsung ke Hiroshima Station & kembali reservasi Shinkansen ke Osaka. Setelah saya sampai di Osaka, ternyata cuaca kurang mendukung. Langit sudah mendung & mulai gerimis. Sayapun beli payung di 7-Eleven. Karena cuaca begini & saya sudah kesel sama koper yang sudah mulai rusak, saya pun menaruh koper saya di locker di Osaka Station. Jadi dari  Shin-Osaka Station saya transfer ke Osaka Station & saya langsung ke locker sebelum melanjutkan perjalanan. Saya sudah prepare cuma bawaa ransel yang isinya baju ganti & perlengkapan mandi, payung, serta barang2  elektronik (kamera, hp, tablet). Jadi pas waktu check in di hotel nanti saya gak perlu ambil koper di locker, ambilnya besok pas mau ke Kyoto, jadi gak repot bawa2 koper & cari2 hotel ditambah hujan2an. Memang nambah biaya sih, sekitar 700 Yen/hari, setelah jam 2 pagi sudah terhitung 2 hari, jadi mau gak mau saya bayar 2 hari. 

Saya sempat bingung mau kemana dulu, akhirnya saya putuskan mau ke Osaka Castle. Sayapun beli kartu ICOCA. Gak ngerti gimana belinya, akhirnya minta tolong petugasnya. Setelah sampai di Stasiun (lupa namanya)  GPS sudah menunjukkan letak Osaka Castle yang cuma berjarak 5 menit dari stasiun. Ternyata saya salah input alamat :( Osaka Castle-nya ternyata nama hotel bukan nama tempat wisatanya, hiks.. Akhirnya saya dapat alamatnya & ternyata cukup jauh juga, sekitar 15 menit jalan kaki ditambah hujan gerimis. Pas saya sudah lihat temboknya, WOW! Akhirnya sudah dekat, tapi ternyata masih jauh di dalam. 

Singkat cerita, saya pun tiba di depan Osaka Castle & saya terpana melihatnya. Ramai, banyak pengunjung, banyak yang jual makanan juga. Rasa capek pun hilang jadinya. Saya lalu beli tiket & masuk ke dalam, di mulai dari lantai paling atas (pakai lift). Di sini juga ada untuk mencoba baju samurai & kimono/yukata, tapi harus bayar 300 Yen, ya sayapun coba juga walau di Hiroshima Castle sudah coba (karena lebih keren & lengkap di sini) :P 

Lalu setelah keluar dari castle, saya membeli beberapa oleh2 & mencoba makanan yang ada di sana. Setelah itu kira2 jam 1:30 kembali ke stasiun & pergi ke Tempozan Market Place. 
Tempozan Market Place ini semacam tempat belanja & ada beberapa permainan seperti ferris wheel & juga ada aquarium. Saya berada di situ kira2 cuma 1 jam saja. Saya sudah lapar & gak terlalu tertarik sama makanan yang ada di sana. Sambil duduk saya browsing internet untuk cari tempat makan yang lumayan terkenal atau khas Osaka hehehe...

12067110_10153325330573842_1458382804_n.
Lalu akhirnya saya putuskan saya pergi ke Universal Studio! :D Memang ada rencana mau ke sana juga, tapi ragu2 karena saya gak akan beli tiket. Tapi karena katanya ada Takoyaki Museum jadi saya berminat ke sana. Jarak dari Tempozan itu sekitar 30 menit dengan kereta & cuaca masih gerimis & semakin deras :(
Sayapun tiba di USJ. Saya melihat ada restaurant sushi (mungkin ini yang saya baca dari FR forum ini) yang ada conveyor belt & murah meriah. Tidak diragukan lagi, memang super murah! 1 piring di mulai dari 100 Yen & paling mahal sekitar 300an saja. Sushinya juga enak, fresh! :makan


Setelah makan sushi saya pun menelusuri City Walk & berfoto2 di sana (fotonya hujan2an pakai payung). :foto2Sebelum kembali ke stasiun saya mampir dulu membeli bakpao yang 'katanya' terkenal di Osaka. Setelah itu saya ke Takoyaki Museum yang sebenarnya adalah tujuan utama saya ke sini. Saya pikir ini seperti museum, ternyata cuma semacam food court yang menjual takoyaki. Semua serba takoyaki, dari yang original sampai bermacam2 rasa/saus. Sebenarnya saya sudah kenyang, tapi karena sudah berada di sini ya saya makan lagi, mencicipi takoyaki. Saya beli di tempat yang paling banyak antriannya. Yang membuat saya kaget adalah cara memesannya itu di mesin. Jadi kita masukkan uang lalu kita pilih mau yang mana. Setelah kita pilih nanti receiptnya keluar & saat sudah berada di depan (orang yang buat takoyaki) kita kasih receipt itu  & mereka langsung membuat sesuai yang kita order di mesin tadi. Saya pilih paket 12 takoyaki (sok2an beli banyak padahal gak habis) plus soup & minuman. Takoyakinya ada 3 macam, ada yang gak pakai saus, saus special & mayonaise. Untuk rasa ya lumayanlah, yang original itu unik juga rasanya hehehe.

12086879_10153322207028842_1313351477_n.12083676_10153325288563842_1654185479_n.


Setelah minta box untuk di bawa pulang saya pun kembali ke stasiun & langsung pergi ke hotel untuk check in. Hotel kali ini adalah Capsule Hotel di daerah Namba. Uniknya hotel ini kita harus check in setelah jam 5 sore karena sebelum itu mereka tutup. Kalau kita nginap lebih dari 1 malam, maka kita harus check out dulu paginya (sebelum jam 10) lalu jam 5 check in lagi. Terus barang2 kita gimana? Ya itu dia, harus dibawa keluar!!! 


Saya tiba di hotel sekitar jam 7 malam. Lobby hotel sudah penuh dengan koper2 besar. Capsule hotel ini bisa untuk pria & wanita. Yang pria berada di lantai berapa & wanita di lantai lain & mereka gak boleh pergi ke lantai itu! Dilarang makan/minum di dalam kamar (di lantai tempat kita tidur, lantai kamar mandi). Kalau mau makan/minum harus di lobby, ada beberapa bangku & meja yang disediakan & ada vending machine untuk beli minuman. Sepatu harus ditaro di dalam loker di lantai bawah (di lobby). Mereka kasih 2 kunci, 1 kunci loker sepatu & 1 kunci loker buat barang2 karena sebenarnya gak boleh bawa tas ke dalam kamar (tapi ada juga yang bawa & taro di depan kamar). Setelah melihat kamar saya yang begitu mungil ini & taro barang2 di loker saya melanjutkan perjalanan hehehe... 

12081449_10153325288558842_492369100_n.t
Hotel ini gak jauh dari Glicoman Bridge. Kira2 5 menit jalan kaki. Kondisi cuaca juga masih hujan walau gak begitu deras. Saya pun memakai jas hujan yang sempat saya beli di 7-eleven karena malas bawa payung. Dan inti dari perjalanan di Namba ini adalah belanja! Beli oleh2 yang 'katanya' khas Osaka. Saya pun membeli beberapa macam snacks (teryata enak2!).
Ternyata setelah berbelanja, saya lapar. Saya pun kembali bertanya pada Mbah Google, restaurant mana yang enak & terkenal & khas di daerah sini. Lalu setelah memilih-milih, saya pun mencoba Kushikatsu! Yaitu berupa gorengan yang ditusuk seperti sate & dicelup ke dalam saus. Yang menjadi ciri khas dari kushikatsu ini adalah cara makan & peraturannya. Dalam 1 meja panjang (seperti meja bar) hanya ada beberapa mangkok saus celup. Nah, gak perduli berapa orang yang makan & kenal atau gak, kita harus sharing saat mau mencelupkan si kushikatsu tersebut. Hiiiy, gimana kalau sudah digigit?? Bekas orang lain kan :( 
Maka dari itu, ada peraturannya disini (di tulis di menu) setiap kushikatsu yang akan dicelup ke dalam saus, tidak boleh digigit/di makan dulu. Jadi kalau habis dicelup terus kita gigit/makan gak boleh di celup lagi. Kalau masih mau sausnya, sausnya di ambil & taro di piring kita (keliatan gampang kan) tapi gak pakai sendok. Saat memesan kushikatsu, kita juga dikasih sayur kol yang dipotong lebar2 dengan tujuan supaya bisa menyendok si saus tersebut. Aneh tapi nyata, begitulah peraturan disini, tapi untuk makan disini saja antrinya puaanjaaaaaang bgt, untung saya sendiri jadi langsung hehehe...
Setelah kenyang & membawa beberapa kanton belanjaan saya pun kembali ke hotel, itu juga sudah hampir jam 10 malam.

12077384_10153322205518842_289440839_n.t12071716_10153322205323842_1072552255_n.

 

Rabu, 9 September 2015


Saya kembali lagi bangun pagi  sekitar jam 6, lalu mulai siap2 beresin tas & mengatur barang karena sudah penuh dengan snakcs :D 
Lalu sekitar jam 7:30 pagi saya check out & menuju ke Shitennoji. Sebenarnya ada tempat yang pengen bgt saya kunjungin, yaitu Open Air Museum, itu semacam museum traditional farm-nya Jepang. Tapi karena jarak dari stasiun ke museum itu harus jalan kaki lagi sekitar 15 menit (pp jadi 30 menit) & cuaca juga masih hujan, jadinya batal hiks...  :( 
Ternyata di Shitennoji itu kurang menarik, sepi pula, cuma ada beberapa orang yang sepertinya sebelum mereka berangkat kerja mereka berdoa dulu di situ. Salut juga sih, masih ada beberapa orang yang seperti itu padahal hujan juga tapi masih menyempatkan diri untuk datang & berdoa. 
Setelah dari Shitennoji saya pun kembali ke Osaka Station untuk ambil koper di lokcer. Untuk membuka locker tersebut (karena saya sudah terhitung 2 hari & kemarin baru bayar 1 hari) saya harus masukkan lagi 700 Yen lalu kuncinya baru bisa terbuka. Lalu saya langsung beresin ransel & pindahin snacks2 ke dalam koper jadi lebih ringan ranselnya. 
Singkat bgt rasanya, kurang bgt waktunya tapi saya sudah harus ke Kyoto (sesuai itinerary yang saya buat). Masih ada beberapa tempat yang belum saya explore di Osaka. Tapi ya sudahlah, setidaknya saya sudah cukup puas & senang selama berada di Osaka. 

12080849_10153322205028842_778360352_n.t12084219_10153325288568842_1468818255_n.

Saya tiba di Kyoto kira2 jam 11:30. Seperti di Osaka Station, saya pun langsung mencari locker lagi untuk taro koper :D (pisahin baju ganti lagi, bawa ransel, bawa payung, dll). Memang sebenarnya boros juga kalau setiap pindah kota harus sewa locker lagi, tapi kali ini keputusan ini adalah keputusan yang benar2 baik karena sesuatu yang gak terduga terjadi (nanti saya cerita di bawah). 

Cuaca lumayan bagus, ada matahari walau sudah mulai gerimis2 kecil. Tapi saya langsung berlanjut ke Bamboo Grove. Saya sudah terbayang2 mau naik scenic train tapi pas sampai di Saga-Arashiyama Station ternyata Saga Torokko Station itu tutup sepertinya setiap hari Rabu memang tutup, hiks...:terharu
Jadi saya berjalan kaki menuju Bamboo Groves, karena banyak turis yang ke sana juga saya ikutin mereka dari belakang hehehe... Ternyata gak begitu jauh, 5-7 menit saja sudah bisa melihat bambu2 tersebut. Saya pun menelusuri jalan yang kecil itu. Di sana ada beberapa kuil tapi saya gak mampir ke semua kuil itu karena harus bayar lagi & saya masih harus ke tempat lain setelah ini, jadi saya cuma mampir Nonomi Ya (kalau gak salah). Setelah itu saya kembali ke Saga-Arashiyama. Saya sempat salah jalan, di panah jalan ada stasiun juga gak jauh dari Nonomi Ya, saya lewat situ ternyata itu stasiun untuk scenic train, ya tutup kan. Saya pikir bisa balik ke Saga-Arashiyama dari situ, ternyata gak bisa jadi saya balik lagi ke jalan yang tadi (karena takut nyasar & udah capek, panas juga ternyata). Sebelum ke Saga-Arashiyama saya mampir dulu ke cafe, minum green tea latte &  ber-AC ria hehehe...:tersipu 
Saya pun lanjut ke Fushimi Inari. Salah satu hal yang saya suka di Fushimi Inari adalah, cari tempatna gampang! Keluar dari stasiun sudah kelihatan jadi gak usah using2 cari jalan. Karena saya belum makan dari pagi, saya duduk dulu di pinggiran & makan bakpao yang saya beli dari Osaka. Bakpaonya sudah dingin tapi untung masih enak, saya beli 2 tapi saya makan 1 saja & setelah itu langsung menuju torii2 yang sudah menanti saya :P 

12071312_10153325314383842_1833228733_n.12067837_10153325314373842_1173290673_n.
Cukup rame, tapi semakin ke dalam, semakin jauh, ya agak sepi juga. Tadinya saya mau muterin semua yang ada di peta, tapi gak jadi karena takut kejauhan. Saya berada di sini hampir 2 jam, karena sekalian bersantai & menunggu check in hotel jam 3. Lalu sekitar jam 4 saya pun menuju hotel. Hotel kali ini berada di dekat Gion, sengaja saya mencari daerah sini, jadi kalau malam tinggal jalan kaki ke Gion & hotel ini adalah ryokan. Saya sempat keputar2 cari ryokannya, ya entah saya gak bisa baca GPS nya atau memang GPS nya yang error, depan jadi belakang, kiri jadi kanan. Kira2 30 menit lah saya keputar2, saya sampai di ryokan jam 5. Di sinilah terjadi hal yang tidak terduga...:geram


Check in jam 3, saya datang jam 5, & alamat yang benar. Saya mencoba membuka pintu masuk, tapi gak kebuka juga. Saya coba pintu yang satunya gak kebuka juga. Saya ketok2, saya teriak2 "Sumimasen!!!" gak ada jawaban. Saya bingung, ini ryokan gimana sih, orangnya kemana, lagi keluar atau memang sudah gak menyewakan kamar lagi??! Ada tulisan dalam bahasa Inggirs, tapi itu adalah cara kita membuka pintu (harus digeser) saya sudah coba geser tapi memang di kunci. Saya bingung, saya cuma bisa email CS  booking.com karena saya booking dari situ. Di depan ryokan ada sebuah bar kecil seperti rumah biasa, saya pun masuk & bertanya tentang ryokan itu. Berhubung bahasa Jepang saya terbatas & pemilik bar itu juga gak bisa bahasa Inggris jadi yaaa, nyambung gak nyambung. :tercengang
Maksud ibu pemilik bar adalah kenapa saya gak coba telp, nah maksud saya HP saya ini gak bisa buat telp. Ibu itu pun mencoba telp seseorang (yang saya pikir bisa bahasa Inggris & bakal ngomong sama saya) ternyata bukan! Ibu itu cuma tanya apakah saya sudah reservasi, gubrak! Saya bilang sudah, lalu kita ke ryokan itu & mencoba ketok2 & membuka pintu tapi  masih gak ada jawaban. Setelah it kembali lagi ke bar, saya menunggu kira2 1 jam, tapi masih juga gak ada yang bukain. Mungkin ibu itu kasihan sama saya, saya dikasih minum & snacks secara gratis!! 
Lalu saya pun langsung berpikir cari cara gimana ini, saya pun kembali bertanya pada Mbah Google. Banyak hotel di sana, tapi saya gak tau harganya, takut beda sama yang ada di internet. Akhirnya saya lihat ada Capsule Hotel lagi yang gak jauh dari situ & harga murah & only 1 left! Saya pun pamit & berterima kasih kepada ibu itu hiks... jadi terharu saya :terpesona
Untunglah saya gak bawa koper, saya gak bisa bayangin saya udah capek2 bawa koper & keputar2 & endingnya gak dibukain pintu, sedih banget. Saya cuma bilang di email saya mau refund saja, karena saya sudah ke sana tapi tutup & sampai beberapa hari belum ada jawaban juga (tapi endingnya memang balik uangnya). 
Sayapun tiba di Capsule Hotel. Saya kaget, karena saya gak reservasi jadi harganya 2x lipat!! Saya bilang, tadi saya lihat harganya cuma segini.., terus mereka bilang saya reservasi online dulu sekarang & kalau sudah ada confirm ke email baru saya check in. Kira2 10 menit setelah reservasi online saya pun sudah bisa check in, huuff, lega rasanya, gak di PHP-in lagi sama hotel hehehe... Sayang bgt saya sudah buang2 waktu 1 jam lebih. 

12067866_10153322204518842_179334268_n.t
Lalu sekitar jam 6:30 saya menuju ke Kyoto International Manga Museum. Tapi sesampainya saya di sana ternyata sudah tutup, gagal lagi gagal lagi... Saya langsung mampir ke cafe & minum Milk Tea lalu langsung menuju ke Gion dengan berjalan kaki selama 30 menit lebih (karena mampir2 dulu beli oleh2 lagi & beli Bubble Tea lagi). 
Saya menelurusi sepanjang jalan di Gion Disctric, cukup rame, ya sebenarnya cuma begitu2 saja sih, gak lihat Geisha nya juga, ke kuilnya juga sudah gelap. Saya pun kembali ke hotel & kali ini agak nyasar juga karena bingung sendiri sama GPS, batre HP juga sudah mau habis, Power Bank juga sudah mati, jadi saya berharap bisa sampai hotel sebelum benar2 mati HP nya, sudah mau nyerah mau naik taksi saja tapi akhirnya sampai juga.

12071356_10153325314388842_1240177859_n.12077078_10153325314378842_1036193597_n.

 

Kamis, 10 September 2015


Seperti Capsule Hotel yang sebelumnya, gak boleh makan & minum di lantai kamar kita, & harus check out sebelum jam 10, saya pun makan sisa bakpao di lobby. Kali ini saya turun ke lobby lebih pagi, sekitar 5:30 karena saya mau ke Kiyomizudera & kalau bisa ke Kinkakuji, Ginkakuji, Imperial Palace juga (tapi kenyataannya gak jadi). 
Jam 6 saya mulai menunggu bus di halte. Kalau jalan kaki itu 20-30 menit, naik bus ya lebih cepat, tapi untuk sampai di kuilnya tetap harus jalan kaki juga. Jadi saya beli tiket bus untuk 1 hari seharga 500 Yen, saya turun di halte dekat Kiyomizudera. Masih pagi, saya sudah capek, karena jalanannya menanjak semua. Tapi daripada gak kemana2 gak ada yang jadi & ini sudah di depan mata, saya pantang menyerang, saya jalan terus. 
Setibanya di depan gerbang, sudah ada larangan dilarang makan, minum & merokok. Saya bawa air minum & ditegur oleh petugas, boleh bawa tapi jangan minum di dalam katanya. Sepi bgt di sana, tempatnya luas & memang belum jam buka sepertinya. Saya mulai mutar2 keliling tempat itu, sempat agak bingung koq beda sama yang di foto yang saya lihat di internet, koq cuma begini saja. Saya lihat sepertinya sedang ada perbaikan, saya pun memutar balik & pergi menuju tangga naik ke Love Stone. Ya, di sini ada batu cinta, konon katanya kalau kita bisa berjalan dari batu A ke batu B dengan mata tertutup & jalan lurus intinya kisah cinta kita bagus, lancar & akan dikabulkan (kalau gak salah begitu) saya coba jalan eh untung saya langsung buka mata, ternyata di depan saya sudah tangga yang tadi saya lewati, untung gak jatuh :D Itu artinya apa ya, apa kisah cinta saya gak bagus ya hehehe :P (artinya saya selamat gak jatuh dari tangga).

12083654_10153322204328842_156449777_n.t
Lalu saya pun kembali ke tempat yang sepertinya sedang diperbaiki tadi, untung seribu untung, ternyata kalau saya jalan terus ke sebelah kiri, itu ternyata pintu masuk ke Main Hall nya & memang harus beli tiket. Saya pun beli tiket & ada beberapa orang juga yang baru datang & membeli. Setelah saya melewati Main Hall, saya bisa melihat pemandangan kota Kyoto, bagus bgt!! Saya lanjut berjalan mengikuti arah panah, dan ternyata... inilah yang saya cari... 

12064431_10153322204093842_714255196_n.t
Bagus bagus baguussss bgt! :rateGak nyesal saya capek2 jalan ke sini. Ini yang paling berksesan selama di Kyoto. Karena sudah dapat yang bagus sepert ini, saya gak jadi ke Kinkakuji, Ginkakuji dll, saya menikmati tempat ini dulu. Saya turun ke bawah & melihat Main Hall nya dari bawah, benar2 beda bgt sama kuil2 yang saya kunjungin sebelumnya. 
Setelah puas berada di sana, sekitar jam 8 saya kembali ke hotel untuk beresin barang & check out karena waktu sudah mepet. Saya ingin ke Kyoto Station sepagi mungkin untuk mengejar kereta ke Gotemba. 


Singkat cerita saya sampai di Kyoto Station jam 9:30 pagi, saya mencari money changer dulu & membeli oleh2 lagi. Setelah itu saya reservasi kursi untuk ke Gotemba, saya ambil yang jam 11, jadi saya ada waktu untuk beresin koper lagi. Karena sepertinya ini bakalan ribet, perjalanan menuju Gotemba itu hampir sekitar 3 jam karena saya harus transfer di Atami & Numazu. 
Saya tiba di Gotemba Station sekitar jam 2, seperti biasa, cari locker lagi, tapi kali ini bukan ide yang bagus karena ternyata hotelnya dekat bgt, tinggal jalan lurus saja tapi ya sudah terlanjur & lockernya juga lebih murah, cuma 600 Yen. Setelah itu saya pun berjalan ke hotel, check in di mulai dari jam 3 tapi saya sampai lebih awal & untungnya dibolehkan untuk langsung check in & masuk ke kamar. 


Menurut saya, saya buang2 waktu selama di Gotemba. Karena saya melakukan kesalahan, yaitu, saya gak membaca dengan benar tentang Fuji-Hakone Pass. Saya pikir orang2 di sana pada tahu, ternyata gak. Mereka malah tanya saya mau kemana, Hakone & Fuji itu beda arah. Di itinerary yang saya susun, sebenarnya hari ini itu ke Hakone & besok ke Fuji/Kawaguciko. Tapi karena sempat hujan juga & gak ada Ticket Pass rencana itu batal.
Akhirnya saya cuma ke Gotemba Outlet untuk beli koper & makan karena saya sudah pusing & capek. Saya pun mulai bertanya2 lagi di Forum ini & akhirnya saya tahu bahwa beli Pass nya itu dari Shinjuku (kalau gak salah). 

12092600_10153322203728842_2015556546_n.

Saya sempat bertanya di bagian informasi Outlet, kalau saya mau ke Hakone/Fuji itu gimana & naik apa. Mereka bilang Naik bus, tapi karena saya gak ada Ticket Pass, jadi saya harus bayar kalau turun naik bus. Lebih mahal juga apalagi kalau mau naik cruise di Lake Ashi & Ropeway di Owakudani (tapi lagi ditutup juga karena vulkanik sedang tinggi & jadi bahan pertimbangan saya gak jadi ke Hakone). Kalau bus ke Kawaguchiko itu juga ada, tapi karena sudah sore, untuk bus kembali ke Gotemba itu yang paling terakhir sekitar jam 8 & saat it sudah sekitar jam 4, perjalanan saja sudah 1 jam. Daripada buang2 uang & buang2 waktu jauh2 juga & cuma sebentar ya gak jadi saya. Setelah dari Outlet balik ke hotel & menyusun rencana buat besok. Saya sudah tepar di hotel, sekitar jam 9 saya pun langsung tidur karena besok benar2 harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Sekian FR Part 2 saya, maaf lebih panjang dari yang Part 1, tapi begitulah yang saya alami & saya rasakan :) Thanks sudah membaca FR ini! Bersambung ke Part 3 :D:melambai

 

 


 

 

12077139_10153323762678842_1859511193_n.jpg

Edited by Reiko Shiwatari
update, add link

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Reiko Shiwatari

wah seru juga perjalanan osaka dan kyoto terasa ngebut dengan waktu yang mepet ya heheheh

saya juga ada rencana ke USJ mau cobain Harry Potter tiket masuk nya berapa ya ?

oh iya soal Hakone-Fuji Pass itu waktu itu pernah di bahas kan ya mungkin kamu kurang baca ya, karena memang beda dan ada 2 jenis tiket untuk Hakone dan Fuji, tapi ya keliling Hakone gak ?

Share this post


Link to post
Share on other sites

Yup! Masih Hari Rabu disini 

betul bgt itu!! Pertama x juga & sendiri, unforgettable deh pokoknya 

tapi blum puas bgt. Enak ya Mas @deffa mau ke Jepang lg. dari sini jauh sih:(  

klo kesana lagi saya mau ke Tokyo yg agak lama karena mmg belum puas. Seminggu di Tokyo mungkin baru puas. Terus harus belajar bahasanya lagi biar lebih nyambung :P 

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa 

lumayan tuh 5 hari Udah bisa keliling2 :D 

kemarin ini di Tokyo Cuma 3 hari jadi kurang

iya yg penting dibawa enjoy aja sih. Saya sebenarnya pengen coba karaoke di Tokyo tapi berhubung gak bisa baca kanji jadi gak jadi makanya jd pengen belajar bahasanya lagi paling gak dikit2 bisa baca :D 

pengen bgt karaoke lagu2 anime hehehe itu belum kesampaian kemarin 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Iya kalau cuaca juga gak dukung repot memang mas @deffa 

untung yg gempa kemarin ini gak apa2 tenyata lumayan besar jg skalanya 

waktu ke Akihabara kemarin gak masuk ke AKB48 cafe soalnya kirain cuma seputar idol2nya gitu, gak terlalu ngefans saya 

waktu di Maid Cafe juga biasa aja :( begitu2 doang & mahal juga 

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Reiko Shiwatari

thanks for tagging tapi usulan saja sebaiknya part 1,2,3 dilanjut di satu thread jadi next gampang untuk baca dari pertama dan ga berceceran :D

btw, kenapa bisa ada kejadian sudah pesen ryokan dan ngga ada orang ya ? apa waktu itu pesen langsung ke web atau lewat booking.com atau agoda ? hm biasanya Japanese cukup detail soal gini2an, aneh juga bisa kena apes sekali

 

anyway, great FR dan ditunggu yg ketiga ya

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Reiko Shiwatari

Ini bacanya aja udh keliatan banget capeknya.. hahaha..:D

Tapi tetep gak bikin kapok ya ke Jepang malah ngangenin dan susah move on.

btw.. gimana caranya sih nge post foto hasil collage tapi hasil upload nya besar besar gt? saya kok kalo upload hasilnya sll kecil

Share this post


Link to post
Share on other sites

mohon maaf, sorry, gomenasai...

saya baru buka account jalan2.com hari ini T___T

maaf ada keterlambatan dalam membalas semua comment & FR Part3. 

 

@Nightrain bikin 1 thread itu gimana ya? iya ini berceceran banget. 

booked melalui booking.com, udah beberapa x make sure jam check in bener ga, tapi memang gak dibukain pintu T___T 

 

@Gulali56, capek buanget! tapi gak bakalan kapok, pengen lagi sih iya hehe, jadi tau nanti apa yg harus lebih dipersiapkan lagi & harus lebih seru lagi :senyum

saya pake instamag buat gabungin foto2nya.

 

@Herlina.Kesuma 

@kyosash  @deffa 

ke USJ nya gak main, udah sore juga & hujan ditambah gak bakal cukup waktunya, jadi cuma mampir buat makan sushi & ke Takoyaki Museum doang :tersipu

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now


  • Similar Content

    • By vie asano

      Saya sudah berbagi sedikit info tentang panduan belanja di Seoul pada tulisan Seoul Shopping Guide: Belanja Dimana?. Untuk melengkapi tulisan tersebut, kali ini saya ingin sharing tips apa saja yang perlu diperhatikan agar momen belanja di Seoul terasa lebih afdol. Tips-tips tersebut saya ringkas dalam beberapa point, kurang lebih berikut isi tips-nya:
      Seputar tempat belanja
      Pada tulisan Seoul Shopping Guide: Belanja Dimana?, di bagian penjelasan tentang Dongdaemun Market, saya menulis jika Dongdaemun Market sebagai pusatnya fashion Korea yang sesungguhnya. Beragam trend fashion terkini awalnya dari Dongdaemun Market, namun bukan berarti disinilah tempat termurah untuk berbelanja fashion. Kenapa? Karena di Seoul, barang yang sama bisa dijual dengan harga yang berbeda tergantung lokasi penjualannya. Kaos seharga puluhan ribu won di daerah Apgujeong Rodeo Street bisa saja dijual seharga ribuan won di area sekitar kampus (seperti Hongdae dan Shinchon), dan bisa lebih murah lagi jika dijual di lapak temporer (berupa kios maupun truk). Dari sini ada beberapa tips yang bisa saya bagikan:
      -Jangan langsung membeli barang pertama yang dilihat, apalagi jika distrik tersebut termasuk kawasan mahal. Usahakan untuk membandingkan dulu dengan barang sejenis di toko yang ada di distrik lainnya.
      -Bagi budget traveller, disarankan untuk memilih toko yang ada di distrik level mahasiswa seperti Sinchon dan Hongdae. Banyak lho toko di sekitar kampus yang menjual barang dengan harga miring karena ketatnya persaingan antar toko.
      -Toko di pasar tradisional biasanya bisa lebih murah lagi. Namun konsekuensinya, dibutuhkan skill menawar yang cukup lihat, dan sayangnya nggak semua pedagang pasar tradisional menguasai bahasa Inggris.
      -Alternatif lainnya, belanjalah di sekitar subway (baik di luar stasiun subway maupun di subway underground shopping mall) karena harganya bisa jauh lebih murah dibanding aneka jenis tempat belanja lainnya.
      -Walau saya sebut Dongdaemun Market belum tentu memberikan harga termurah, nggak ada salahnya mencoba membandingkan 2-3 toko di Dongdaemun sebelum memutuskan untuk membeli sebuah barang karena biasanya harga termurah di area ini tetap saja lebih murah dibanding distrik mahal seperti Gangnam. Tips lainnya, belanja di toko kecil maupun lapak-lapak di Dongdaemun biasanya jauh lebih murah dibanding belanja di toko besar di Dongdaemun.
      Seputar waktu belanja
      Punya rencana untuk melakukan wisata belanja di Seoul? Berikut beberapa bocoran momen terbaik untuk belanja dan mendapatkan harga terbaik:
      -Salah satu waktu terbaik untuk belanja adalah pada akhir musim, atau biasanya di bulan Januari, April, Juli, Oktober, dan Desember (untuk department store). Memang sih Anda akan ketinggalan mode terkini di musim tersebut, namun disisi lain, pada akhir musim biasanya berbagai pusat perbelanjaan besar biasanya menggelar diskon khusus untuk menghabiskan stok barang.
      -Siapa sih yang nggak suka diskon? Bagi wisatawan yang ingin mengincar diskon belanja, periode diskon terpanjang biasanya terjadi sebelum dan sesudah Lunar New Year dan Chuseok. Sedangkan untuk kosmetik, biasanya ada diskon besar di akhir tahun.
      -Jakarta boleh punya Jakarta Great Sale. Seoul pun memiliki 2 event diskon besar-besaran, yaitu Seoul Summer Sale dan Korea Grand Sale (di musim dingin). Yang hobi berburu diskonan, jangan lewatkan kedua event diskon tersebut yah.
      Seputar tips menawar
      -Nggak menguasai bahasa Korea namun ingin mencoba tawar menawar? Biasanya sih bahasa Inggris dasar sudah cukup kok, jadi jangan terlalu takut untuk belanja di lapak tradisional yah.
      -Jika membeli di lapak pinggir jalan (seperti mobile kiosk maupun pedagang tenda), selalu usahakan untuk menawar jauh dibawah harga yang ditawarkan baru naikkan penawaran sedikit demi sedikit (misalnya bisa mulai dengan menawar setengah harga jual). Soalnya jika selisihnya tak begitu banyak, biasanya pedagang akan langsung mengiyakan padahal Anda masih bisa menawar lebih jauh lagi.
      -Sulit untuk tawar menawar? Setidaknya mintalah barang gratisan sebagai bonus. Misalnya, jika membeli 3-4 gantungan kunci, mintalah 1 untuk bonus. Atau jika membeli beberapa potong baju, minta 1 baju secara cuma-cuma, dan seterusnya. Jika pemilik toko/lapak tidak mau memberikan barang gratisan, lebih baik bersikap seolah akan pindah toko saja.
      -Tips lain bagi yang ingin berbelanja di lapak non-toko atau belanja di toko kecil. Jika Anda gagal menawar harga, pindahlah ke lapak sebelah dan sebutkan harga terakhir di toko saingan (untuk barang yang sama). Biasanya toko yang baru dimasuki akan memberikan penawaran khusus untuk Anda.
      Seputar harga dan metode pembayaran
      -Untuk metode pembayaran tak jauh beda dengan di Indonesia. Pedagang lapak kecil biasanya hanya menerima cash, sementara vendor besar menerima pembayaran menggunakan berbagai kartu kredit.
      -Jika ada keperluan dengan bank (misalnya ingin menukar uang), ingatlah selalu jam operasional biasanya antara pukul 09.30-16.30 Senin-Jumat.
      -Untuk wisatawan asing, di Seoul ada lho kebijakan Tax Refund yang berlaku di beberapa toko tertentu. Kapan-kapan akan saya bahas beserta ulasan tentang freepass khusus untuk wisatawan yang hobi shopping.
      Seputar ukuran baju
      Sudah jadi rahasia umum jika fashion menjadi barang favorit untuk diburu saat belanja ke Seoul. Berikut beberapa tips untuk membantu Anda memilih baju yang tepat:
      -Jika memang sudah berniat akan belanja baju, sebelum pergi ke Korea Selatan, ketahui dulu ukuran baju Anda dalam ukuran Korea. Biasanya ukuran ditampilkan centimeter, kecuali untuk ukuran pinggang ditampilkan dalam inchi.
      -Beda lagi dengan ukuran sepatu. Biasanya ukuran sepatu ditampilkan dalam milimeter. Jadi agar lebih pasti, sebaiknya usahakan mencoba dulu setiap barang fashion yang akan dibeli.
      -Biasanya, orang asing susah menemukan ukuran baju yang tepat di Korea Selatan (terutama untuk bigsize, karena ukuran baju Korea kecil-kecil). Bagi yang kesulitan dengan ukuran ala Korea, cobalah berbelanja di daerah Itaewon yang sangat dikenal sebagai distrik multikultural.
      ***
      Kurang lebih demikian beberapa tips yang bisa saya bagikan. Jika ada yang mau menambahkan, boleh banget. Oya, saya juga pernah berbagi info seputar shopping guide di Jepang, monggo dibaca-baca juga (lihat disini: Japan Shopping Guide: Tokyo Area, Japan Shopping Guide: Kyoto Area, Khusus Shopaholic, Panduan Dasar Wisata Belanja di Jepang)
    • By Diny Puspa Dewi
      hallo hallo 
      aku lagi cari temen nih buat ke korea tahun depan tepatnya pas libur lebaran berarti sekitar tanggal 1 juni s/d 8 juni 2019, plan stay nya memang 1 minggu
      aku belum beli tiket pesawat atau apapun karena bener2 cari temen yang bisa bareng2 dari berangkat sampe pulang trus diskusiin semuanya brg2 biar enak ><
      pengalaman taun kmrn nekat berangkat sendiri jadi ngebego sendirian di perjalanan huhu
      but thanks to jalan2.com aku dpt tmn ngebolang pas diseoul 
      so kalau ada yang minat dan emg punya plan sama kaya aku boleh hubungin aku di WA 085314754967
      thank you
      ps: emang sih masih lama plannya tapi biar persiapannya lebih mateng aja jadi dr sekarang carinya hehe
    • By Sari Suwito
      Kalau tidak salah ini kali ketiga saya mengunjungi Hatyai (pertama kali ke Hatyai tahun 2012 lalu yang kedua tahun 2013 hanya singgah sebentar sepulang dari Phuket). Di dua kali kunjungan sebelumnya saya belum sempat mengunjungi obyek wisatanya. Makanya kali ini sepulang dari Brunei Darussalam dan Kota Kinabalu, saya lanjut ke Hatyai selama dua hari. Hari pertama sampai sudah tengah hari jadi cuma istirahat di hotel dan keluar untuk makan siang dan malam saja. Hari kedua baru deh mau jalan-jalan half day tour Hatyai dan Songkhla.
      Untuk menuju obyek wisata di Hatyai dan Songkhla kita bisa menggunakan songthaew. Bagi yang pernah berkunjung ke Thailand pasti tidak asing dengan kendaran ini, sejenis pickup yang dimodifikasi dengan kursi panjang berhadapan. Untuk songthaew wisata terdapat gambar-gambar obyek wisata di bagian body mobilnya. Jadi ketika kita akan memesan kita tinggal tunjuk aja mau ke destinasi yang mana aja. Waktu itu saya naik songthaew dari depan Lee Garden Plaza, setelah nego dengan drivernya akhirnya dapat harga THB 600/orang.  
      Destinasi pertama adalah Samila Beach di Songkhla. Menempuh perjalanan sekitar 53 menit kalau lihat di google sih jaraknya sekitar 33,6 km. Dalam perjalanan menuju Songkhla saya perhatikan sedang berlangsung pembangunan jalan raya dan flyover di tepi kota Hatyai. Rupanya sejak terakhir kali saya ke Hatyai beberapa tahun lalu sekarang Hatyai sudah berbenah. Bahkan untuk imigrasi di perbatasan Malaysia - Hatyai pun sudah berubah lebih bagus. Dulu hanya seperti melewati pagar besi saja.

      Sekitar jam setengah sembilan sampailah saya di destinasi pertama di Samila Beach. Pantai dengan hamparan pasir putih dan deretan pohon cemara di pinggirnya. Di pantai ini terdapat patung putri duyung yang sedang duduk di atas batu di tepi pantai. Pagi itu tidak terlalu ramai jadi saya langsung aja deh berfoto dengan icon Golden mermaid. 

      Setelah itu saya berjalan ke arah taman yang berada di pinggir pantai. Disini terdapat patung kucing besar dan tikus. Cerita tentang patung tikus dan kucing ini bisa dibaca di batu prasasti di samping patung.

       
      Oh ya disini juga ada fasilitas kuda tunggang. Bagi yang ingin mencoba menunggang kuda, bisa menyewa kuda, harga kalau ga salah ingat THB 50/100 gitu dech.
      Di pantai ini juga terdapat kedai souvenier dan makanan/minuman. Bisa mampir sebentar untuk membeli minuman dingin dan cenderamata. Waktu itu sih saya beli air minum dan magnet kulkas. 
      Selanjutkan kami menuju destinasi berikutnya yaitu patung naga. Jaraknya tidak begitu jauh dari pantai samila, sekitar 15 menitan kali ya. Dalam perjalanan menuju lokasi saya sempat melihat ada seperti patung badan naga gitu deh. Entah apa maksudnya...mungkin ini nyambung ke kepala naga gitu ya. 


      Nah akhirnya sampailah saya di lokasi patung kepala naga. Kalau di batu prasasti sih ditulisnya The Great Serpent "Nag". Setting patungnya mirip seperti patung merlion di Singapura gitu. Dari dalam mulut naga keluar air mancur yang menyembur ke arah air laut. 

      Berdasarkan tulisan di batu prasasti ternyata patung naga ini di desain dibagi menjadi tiga bagian, bagian kepala naga sebagai simbol kecerdasan dan kebijaksanaan warga terdapat di Laem Son Orn, Suan Song Tale. Bagian perut naga simbol kekayaan kota terletak di Lan Chom Doaw, Sabua Laem Samila. Sedangkan bagian ekornya simbol karisma dan kekuatan masyarakatnya terdapat di area Samila Beach, Chalatad Road.
      Dalam perjalanan pulang dari lokasi patung kepala naga saya mampir ke Songkhla aquarium. Lokasi berada di antara patung naga dan pantai Samila. Harga tiket untuk orang asing, THB 200 untuk anak dan THB 300 untuk dewasa.

       
      Memasuki ruangan aquarium masih sepi, ya mungkin karena masih pagi banget bahkan sebagian lampu pun belum dihidupkan. Di bagian depan terdapat keterangan ekosistem di Thailand selatan, lalu di dinding terdapat entah replika atau asli ikan yang diawetkan gitu, antara lain leopard shark, spotted guitarfish, udang berukuran besar dan ikan pari. 
       
       
      Akuarium ini dibagi menjadi beberapa zona, antara lain zona A Freshwater fish, zona B Brackish fish, C marine fish dan terdapat satu tangki besar yang berisi aneka ikan (seperti di Sea World Ancol gitu dech). Kita bisa berjalan di bawah akuarium besar ini. Di jam-jam tertentu kita bisa nonton pertunjukan The Unseen Show.


      Dari Songkhla aquarium kami kembali ke Hatyai, nah dalam perjalanan kami singgah di beberapa spot wisata di kota Songkhla.
       
      Songkhla city wall 
      Saat ini hanya tersisa tembok sepanjang 114 meter, tinggi 5.5 meter dengan ketebalan 4 meter. Sebagian besar bata dan batu dinding pun sudah digunakan untuk paving jalanan kota Songkhla. 

       
      Di seberang Songkhla city wall ini terdapat Songkhla National Museum. Bangunan museum bergaya Chinese dengan dominasi warna putih dan merah. Sayangnya saat saya kesana museumnya sedang tutup. Jadi saya cuma berfoto-foto di depannya saja. Di bagian depan museum terdapat koleksi beberapa meriam tua, jangkar dan tiang kapal kali ya.

      Sebetulnya saya sempat googling kalau di Songkhla old town tedapat street art sejenis mural art gitu dech. Lalu sewaktu di pantai Samila saya sempat bilang ke driver songthaew (sambil nunjukin gambar dari google) untuk diantar ke lokasi street art di old town Songkhla. Drivernya bilang iya bisa nanti kita mampir dalam perjalanan menuju Hatyai. Tapi begitu pulang dari Songkhla city wall koq mobilnya jalan terus  tau-tau sudah masuk jalan besar arah Hatyai. Gagal deh foto-foto di mural artnya
      Dalam cuaca panas terik songthaew menuju ke arah Hatyai Municipal Park. Hatyai municipal Park ini lokasinya sekitar 5 km di pinggiran kota Hatyai. Areanya luas banget berada di perbukitan gitu. Selain lokasi wisata juga merupakan tempat ibadah para pemeluk agama Budha. 
      Saya tidak sempat main di lokasi taman-tamannya, jadi kami langsung menuju ke bagian paling atas bukit, ke kuil Four Faces Budha. 
       
      Four Faces Budha Temple (San Phra Phrom)
      Begitu memasuki area ini dekat tempat parkir songthaew terdapat dua patung gajah berwarna emas di kiri dan kanan jalan. 

      Naik sedikit ke bagian atas, terdapat patung gajah berkepala tiga disampingnya terdapat tangga dengan deretan lonceng besar di kiri kanannya.

       
      Memasuki area kuil, di bagian luar kuil four faces Budha terdapat banyak banget patung gajah berwarna emas. Di dalam kuil inilah terdapat patung four faces Budha, beberapa pemeluk agama Budha menyempatkan diri beribadah, bahkan disini terdapat para penari dan musik yang mengiringi selama ibadah. 


      Di pelataran kuil terdapat patung dewa, tempat pembakaran kertas-kertas perlengkapan ibadah gitu dech (saya ga tau apa itu namanya), lalu ada juga penjual burung-burung kecil. Sepertinya burung-burung kecil ini dibeli untuk kemudian didoakan dan kemudian dilepaskan sebagai rangkaian ibadah. 
      Oh ya disini terdapat stasiun cable car juga. Cable car ini menghubungkan antara kuil four faces Budha dengan kuil standing Budha. Bagi yang pengen nyoba bisa naik, tapi kalau saya sih kan sudah nyewa songthaew sih ga perlu lah, sayang duitnya. hahaha...
       

      Dari four faces Budha saya naik songthaew menuju ke kuil standing Budha. Nah sebelum sampai di Standing Budha Temple kami melewati bangunan Hatyai Planetarium. 

       
      Standing Budha Temple (Phra Budha Mongkol Maharaj) 
      Songthaew parkir di bagian depan kuil, lalu saya jalan kaki menuju ke bangunan kuil. Nah di samping kuil ini terdapat stasiun cable car yang terusan dari kuil Four Faces Budha tadi. 
      Saya kemudian menuju ke halaman depan kuil, di area bagian tengah kuil terdapat patung Budha berdiri berwarna emas dengan ketinggian sekitar 20 meter. Berat patung ini sekitar 200 ton. 

       
      Dari depan kuil ini kita bisa memandangi kota Hatyai, bahkan kita bisa melihat masjid besar Songkhla di sebelah kanan. 

      Di depan kuil Standing Budha ini terdapat tangga turun menuju ke area Laughing Budha dan Patung Dewi Kuan Yin. Lumayan capek juga menuruni tangga lalu disambung jalan kaki di jalanan pavingblock gitu deh saya nggah ngeh, tapi karena menuruni bukit jadi jalan agak melingkar jadi saya pun ambil jalan pintas dengan menuruni tanah yang lumayan licin sambil pegangan pepohonan.  

       
       
      Fat Laughing Budha
      Di sebelah kanan terdapat kuil pemujaan, lalu di bagian kiri terdapat patung Dewa dan diorama bergambar naga. Nah pas di ujung jalan terdapat patung Fat Laughing Budha. 

       
      Berjalan agak ke depan akan tampak mulut naga raksasa yang sekaligus berfungsi sebagai jalan untuk menuju ke area Bodhisattva Kuan Yin.  

       
      Di area ini terdapat beberapa patung disekitar bangungan utama. Sedangkan patung Dewi Kuan Yin berdiri di atas bangunan utama. Patung Dewi Kuan Yin berwarna putih menjulang setinggi 20 meter. Di sekeliling patung terdapat patung kecil-kecil berwarna putih juga. 

      Setelah merasa cukup melihat-lihat saya kembali menuju kuil Standing Budha, dan kali ini harus menaiki anak tangga yang lumayan menguras tenaga. Entah berapa kali saya berhenti karena kelelahan.  Ini efek karena penasaran dan ga baca review tentang lokasi tujuan.
      Tips: untuk lebih hemat tenaga tidak perlu menuruni/naik tangga yang di depan Standing Budha, kita bisa naik kendaraan sewaan kita untuk menuju ke area Patung Dewi Kuan Yin.  Jadi setelah foto-foto di sekeliling Standing Budha, kita kembali ke kendaraan kemudian kendaraan akan menuruni bukit menuju area patung Dewi Kuan Yin. Hemat tenaga dech. 
      Dari area Dewi Kuan Yin, kami menuju kota Hatyai. Siang itu udara lumayan panas membuat tenggorokan ikutan berasa kering dan haus. Sampai di kota Hatyai saya minta diturunkan di dekat Clock Tower. 

       
      Ini dia Songthaew yang membawa kami half day tour Hatyai + Songkhla.

       
      Di dekat Clock Tower ini terdapat pasar dan saya pun sekalian mampir untuk makan siang.
      Tadaaa menu makan siangnya....yummyyyy

       

       
      Setelah selesai makan baru deh saya berkeliling di pasar sambil beli oleh-oleh kemudian naik tuktuk untuk pulang ke hotel. Sekitar jam 3 sore saya check out dari hotel kemudian menuju ke agen bus yang tak jauh dari hotel untuk menuju ke Kuala Lumpur.
       
    • By Sari Suwito
      Kota Kinabalu atau biasa disebut KK dulunya dikenal dengan nama Jesselton. Maka tak heran jika pelabuhan tempat kami mendarat dari Labuan bernama Jesselton Point. Jesselton diambil dari nama gubernur dari Inggris yang pernah berkuasa disini yaitu Sir Charles Jessel. Oh ya, sewakatu kapal sudah mendekati pelabuhan dari dari atas kapal sudah tampak pemandangan yang menggugah selera, yaitu deretan tempat makan sea food di tepi laut. Hmmmm...jadi lapar.
      Meninggalkan pelabuhan Jesselton Point, bus berjalan melalui jalan yang berada di tepi pantai dimana sedang berlangsung pembangunan entah resort/mall. Tak lama kemudian kami memasuki wilayah Kota Kinabalu mulai tampak kemacetan di sepanjang jalan menuju ke hotel Winner, tempat kami menginap di daerah Jalan Pasar Baru – Kampung Air.  Di bawah ini view dari hotel tempat saya menginap.

       
      Setelah check ini dan beberes, sekitar jam 7 malam kami keluar untuk makan malam di Pasar Malam Sinsuran.  
       

       
      Pasar malam Sinsuran ini dekat dari penginapan kami jadi cukup berjalan kaki saja. Suasana pasar malam Sinsuran lumayan ramai pengunjung apalagi di jam makan malam seperti ini. Kedai makan lumayan berjubel. Aneka makanan bisa kita temukan disini, seperti: nasi campur, sea food, ayam panggang, ikan panggang, aneka camilan dan aneka minuman. Di Kota Kinabalu merasa sedikit lega karena makanan lumayan lebih murah dibandingkan di Brunei Darussalam.  Beli cendol di Brunei Darussalam harganya $1, di Kota Kinabalu cendol harganya RM 1. Kalo di kurs rupiah harga cendol di Brunei 3x lipat harga cendol di Kota Kinabalu. Hahaha...

      Salah satu gerai tempat kami makan malam

       
      Sudah selesai makan, tapi masih lapar mata, jadi jajan chicken wing dulu deh.

      Bagi yang mau shopping di sepanjang perjalanan dari Pasar Malam Sinsuran menuju hotel tempat kami menginap juga ada pasar malam yang menjual pakaian, aksesories dll.
                                                                                                   
      Hari kedua
      Setelah sarapan pagi kami pun berangkat menuju obyek wisata di kawasan luar Kota Kinabalu. Sekitar 1,5 jam perjalanan melintasi jalan yang menanjak, sampailah kami di Pekan Nabalu, Kota Belud. Ini merupakan salah satu spot untuk melihat gunung Kinabalu. Tapi sayang sekali sewaktu kami sampai lokasi ternyata gunung Kinabalu tertutup kabut yang lumayan tebal. Belum rejeki dech…

       

      Seperti obyek wisata pada umumnya, disini terdapat banyak gerai yang menjual aneka camilan, buah-buahan dan cenderamata. 
      Setelah menunggu beberapa saat ternyata kabutnya tak kunjung hilang. Jadi kami pun memilih untuk  melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya.
       
      Fish Spa di Sungai Moroli
      Tagal Sungai Moroli, Kampung Luanti Baru, Ranau ini merupakan pemenang  Malaysia River Care Award 2006. Tagal dalam Bahasa  Kadazan Dusun berarti “dilarang memancing” di aliran sungai Moroli. Sungai sepanjang 54 km ini dihuni oleh banyak ikan yang ukurannya lumayan besar. Untuk menjaga ekosistem sungai, maka penduduk dilarang memancing, menjala ataupun menangkap ikan sepanjang tahun. Hanya di bulan Mei penduduk diberi kesempatan untuk mengambil ikan dari sungai Moroli. 
       

       
      Di lokasi ini kita bisa fish spa langsung masuk ke dalam aliran sungai. Tetapi sayangnya saat itu air sungai sedang keruh karena tadi malam hujan. Untuk keselamatan pengunjung, aliran sungai dikasih pita pembatas agar pengunjung tetap berada di tepian sungai.
      Sebelum masuk ke aliran sungai kita bisa membeli pakan ikan terlebih dahulu. Jadi nanti begitu masuk ke dalam air sungai kita bisa taburkan pakan ikan di dekat kaki kita, maka ikan akan bergerombol di sekitar kaki. Nah disaat itu ikan juga akan mematuk kaki…hiiii geliii….
       

      Satu hal yang perlu diperhatikan adalah kita dilarang memegang ikan ataupun mengangkat ikan keluar dari air. 
      Sudah cukup ber-fish spa? Saatnya istirahat dengan menikmati camilan cempedak goreng,pisang goreng ataupun aneka durian yang di jual di kedai bagian depan fish spa. Harga durian mulai dari RM 6/kg.

      Dari Tagal, Kampung Luanti Baru kami melanjutkan perjalanan menuju Dataran Sayur Kundasang.

      Dataran Sayur Kundasang
      Kundasang adalah sebuah kota di distrik Ranau, Sabah. Kawasan ini dihuni oleh suku dusun asli yang merupakan salah satu kelompok penduduk asli Sabah. Daerah ini meliputi daerah pegunungan dan lembah dengan panorama yang indah. Selain itu Kundasang juga merupakan penghasil sayuran dan buah-buahan. Kita bisa membeli hasil pertanian warga Kundasang di Dataran Sayur Kundasang. Dataran sayur Kundasang ini kalau di Indonesia mirip lah seperti pasar buah dan sayur Brastagi. 

       

      Dataran sayur Kundasang terletak di pertigaan jalan, menempati area yang lumayan luas. Disini terdapat ratusan gerai yang menjual aneka sayuran dan buah-buahan. Jadi jangan heran kalau kita bakalan lapar mata ketika melihat aneka buah-buahan disini. Saya pun membeli aneka buah potong dan durian mini yang dalamnya berwarna kuning agak orens gitu.
       

      Di pertigaan jalan dan jalan lingkar yang tak jauh dari dataran sayur Kundasang terdapat dua icon sawi putih dan kol bulat sebagai symbol daerah ini merupakan daerah penghasil sayuran. Mirip di Brastagi juga sih ini. Hehehe…
       

      Sebetulanya di daerah Mesilau, Kundasang  juga terdapat Desa Dairy Farm (peternakan sapi perah), tapi kami saat itu tidak berkunjung kesana. 
      Dari Dataran Sayur Kundasang kami langsung kembali menuju Kota Kinabalu dan ternyata sepanjang perjalanan menuruni pegunungan Kinabalu cuaca hujan lebat. Kami akhirnya sampai di Kota Kinabalu sudah menjelang malam. 
       
      Hari ketiga
      Setelah sarapan pagi, merupakan waktunya free and easy. Saya berjalan-jalan di Sunday morning market lorong Pasar Baru yang berada di belakang hotel Winner, isinya ya para pelapak yang berjualan pakaian bekas / baru dan aneka aksesories. Dari sini saya berjalan menuju daerah Pasar Besar Kinabalu, saya masuk ke mall yang berlokasi di seberang Pasar Besar Kinabalu, karena masih pagi jadi belum banyak kedai yang buka, disini saya pun hanya melihat-lihat ke salah satu kedai yang menjual produk aksesories mutiara laut. Harganya lumayan mahal sih, jadi saya pun cuma melihat-lihat saja. 
      Keluar dari mall ini saya berjalan menuju ke food court Pasar Besar Kota Kinabalu, food court terletak di lantai 2. Pasar ini merupakan pasar basah (seperti pasar inpres gitu kalau di Indonesia) menjual aneka sayuran dan kebutuhan sehari-hari. Dan di bagian belakang pasar ini juga pasar ikan jadi jangan heran kalau disini suasananya ya bau amis ikan. Hehehe… 

      Walaupun begitu saya sempat memesan ABC (air buah campur) semacam es buah gitu deh. Ya ampun satu mangkuk isinya banyak banget, saya sampe ga habis.  

      Dari Pasar Besar Kinabalu kita bisa berjalan ke arah kiri, disini terdapat Philipino Market. Di pasar ini dijual aneka ikan asin, garam dan produk hasil laut lainnya. Walaupun begitu ada yang jual pakaian dan cendera mata juga koq. 
      Dari Philpino Market saya langsung kembali ke hotel untuk bersiap-siap check out.
      Setelah check out dari hotel kami makan siang di salah satu restaurant dalam perjalanan menuju ke Masjid Negeri Sabah untuk sholat Dzuhur. 
       
      Masjid Negeri Sabah
      Masjid ini terletak di Jalan Tunku Abdul Rahman, Sembulan, Kota Kinabalu. Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1970 dan selesai sepenuhnya pada tahun 1975.
      Struktur bangunan masjid ini merupakan perpaduan konsep timur tengah dan modern. Kubahnya yang megah berdesain pola sarang lebah berwarna keemasan menandakan kecemerlangan Islam di negeri Sabah. Di bagian kiri dan kanan terdapat 16 tiang berkubah kecil berwarna emas. Di lilitan setiap tiang ini dihiasi dengan potongan ayat suci Al Quran dengan tinta warna emas. Masjid ini memiliki satu menara setingi 215 kaki yang konsepnya diilhami oleh masjid di Istanbul dan Isfahan, melambangkan ketinggian dan kemuliaan Islam.   

      Masjid Negeri Sabah
      Masjid ini mempunyai serambi yang luas sehingga mampu memuat sekitar lima ribu jamaah. Tempat sholat perempuan terletak di lantai dua, bisa memuat hingga lima ratus jamaah. Masjid ini juga menyediakan ruangan untuk memandikan jenazah (masih jarang kita temui di Indonesia). 
      Masjid Negeri Sabah ini memiliki halaman dan area parkir yang luas, dan ketika saya berkunjung kesana di bagian belakang masjid sedang ada pembangunan (mungkin) sarana pendukung masjid.
      Setelah selesai sholat Dzhuhur di Masjid Negeri Sabah untuk mengisi waktu sebelum menuju Bandara Kota Kinabalu, kami mampir ke Imago. 
       
      IMAGO Shopping Mall
      Imago the mall terletak di  KK Times Square, merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Kota Kinabalu. Disini terdapat outlet produk-produk fashion branded dan restaurant franchise. Makanya tak heran jika banyak warga Brunei Darussalam yang datang ke Kota Kinabalu untuk shopping, khususnya di musim liburan sekolah atau ketika mall-mall mengadakan great sale karena tentu saja harganya lebih murah dibandingkan di Brunei. Disini juga terdapat kedai yang menjual oleh-oleh dan cenderamata. Waktu itu saya membeli magnet kulkas harga RM 4/pcs. Di lantai lower ground juga terdapat foodcourt, harganya lumayan ramah di kantong.

      Ketika saya kesini, sedang ada pertunjukan Kulintangan. Para penari juga mengajak pengunjung untuk memainkan kulintangan. 

       
      Saya menonton sampai pertunjukan selesai, kemudian di akhir pertunjukan ikut berfoto dengan salah satu penarinya.

       
      Sekitar jam empat sore kami meninggalkan imago untuk kemudian menuju ke Bandara Kota Kinabalu. Oh ya, kalau cuaca cerah Gunung Kinabalu bisa terlihat dari bagian depan Bandara lho. 

      Flight saya sebetulnya jam 8 malam, tetapi akhirnya pesawat kena delay sampai jam setengah sebelas malam, sepertinya dikarekan terjadi masalah teknis dengan pesawatnya. Jadi kami tiba di Kuala Lumpur sekitar jam setengah satu pagi.
       
      PS: Sebetulnya masih banyak lagi obyek wisata di Kota Kinabalu, tapi sayang karena keterbatasan waktu jadi belum sempat expolore pulau-pulau cantiknya. Bahkan saya pun belum sempat explore kotanya. Semoga suatu saat nanti ada kesempatan untuk kembali ke Kota Kinabalu.
       
    • By norma sofisa
      Halo apa kabar?
      Sudah lama nih, tidak menulis di Forum Jalan2.com.
      Kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman berkunjung ke Lisbon, Portugal.
      Merasa 'gerah' dengan udara dingin yang melanda Rotterdam pada akhir winter tahun ini, merupakan alasan yang tepat untuk melarikan diri sejenak ke Eropa Selatan. Kali ini pilihan saya jatuh ke Lisbon, satu kota yang cukup populer, ibukota dari negara Portugal.
      Berbekal tiket dari maskapai low cost (non) kesayangan, saya pun mendarat di Lisbon. Sayangnya, hari pertama tidak seindah bayangan. Awan gelap memayungi kota dengan suhu berkisar di angka 7 hingga 15 derajat. Tidak cukup hangat, mengingat Lisbon letaknya dekat dengan sungai yang muaranya mengarah ke Samudera Atlantik. Angin yang berhembus kencang mengharuskan saya untuk tetap berjaket agar badan tetap hangat.
      Saya cukup beruntung, beberapa jam setelah itu udara kian menghangat. Saya dan travelmate pun berjalan menyusuri jalan besar menuju pusat kota. Hotel yang kami tempati cukup dekat letaknya dengan sentral Lisbon. Jika berjalan kaki, kira - kira butuh waktu 10 hingga 15 menit.
      ]
      Sesuai dengan rekomendasi pamflet wisata Lisbon, tujuan pertama saya adalah Castelo S. Jorge, sebuah kastil Moor yang dibangun di puncak bukit São Jorge, yang merupakan salah satu tujuan turis di kota Lisbon (Sumber: Wikipedia). Matahari yang bersinar cerah, menaikkan semangat saya untuk naik menyusuri tangga ke arah kastil.
      Capek?
      Pastinya! Saya cukup kaget dengan anak tangga pertama yang cukup menukik. Tak ingin kalah dengan beberapa nenek di belakang, saya pun mempercepat langkah sambil berharap anak tangga ini segera berakhir.
      Bukit São Jorge merupakan kawasan pemukiman yang padat. Setelah anak tangga tadi, saya menyusuri jalanan dengan rumah - rumah penduduk di kanan dan kirinya. Beberapa hotel dan restoran kecil pun saya jumpai. Satu hal yang menggelitik adalah banyaknya jemuran pakaian yang tergantung di balkon - balkon rumah. Geli juga ketika mendapati beberapa pakaian dalam ikut terpajang disana.

      Pemandangan mengagumkan dari Kastil São Jorge
      Tak butuh lama dan perjuangan berat untuk sampai ke atas bukit. Tangga awal tadi adalah bagian terberat, selanjutnya hanya jalanan yang menanjak hingga pintu masuk kastil.
      Sesampainya di kastil, saya langsung mengantri untuk membeli tiket. Awalnya, antrian terlihat mengular panjang dan sempat membuat malas, namun ternyata ada tiga petugas loket, sehingga waktu antri pun lumayan cepat.
      Masuk ke kastil, hampir seluruh pengunjung langsung menghambur ke arah halaman. Dari titik ini, saya dapat melihat pemandangan kota Lisbon yang cantik dari atas bukit yang mengarah ke Sungai Tagus. Tampak dari jauh, rumah bercat warna - warni dan beberapa titik yang penuh dengan orang.
      Saya menduga bahwa kastil ini dahulu dipakai juga sebagai benteng pertahanan untuk mengawasi pergerakan musuh yang datang dari arah sungai. Di beberapa titik juga ditemukan meriam - meriam tua yang tampak masih kokoh.
      Karena cuaca yang tidak terlalu panas, saya pun naik ke benteng kastil. Tangga naik cukup curam dan licin, membuat saya harus berhati - hati. Ada beberapa bagian jalan yang hanya bisa dilewati satu arah sehingga saya harus berhenti dan memberikan kesempatan pengunjung dari arah berlawanan untuk lewat.
      Pemandangan dari beberapa titik di puncak benteng kastil memang tidak diragukan lagi. Bahkan patung Jesus di seberang sungai pun bisa dilihat semakin jelas. Beberapa bangunan dari bukit sebelah pun tampak lebih dekat.
      Uniknya lagi, kastil ini memelihara beberapa ekor burung merak jantan yang bulunya sangat indah. Mereka sering berlalu lalang di dekat pengunjung. Meskipun begitu, mereka ini tidak dapat dielus atau dipegang dengan mudah. Bahkan, jika mereka sadar sedang difoto langsung deh cepat - cepat kabur. Para pengunjung tentu saja tak mau kalah. Sebelum mendapatkan foto yang bagus, mereka tidak akan menyerah untuk mengejar. Saya pun termasuk di dalamnya. Lucu kalau diingat - ingat lagi.

      Dikarenakan topografi permukaan Lisbon yang cukup bergelombang, sebagai turis kita harus siap untuk berjalan naik turun bukit. Nah, bagi kamu yang memiliki keterbatasan fisik dan tenaga, ada alternatif lain jika tidak ingin berjalan kaki mengunjungi spot - spot wisata di Lisbon, yaitu dengan membayar paket transportasi khusus dengan tram, bus, maupun tuk-tuk yang tarifnya mulai dari 12 Euro hingga 26 Euro. Dengan membayar paket tersebut, kamu bisa dengan bebas menaiki tram klasik tipikal Lisbon, yang warnanya kuning atau merah. Jika kamu memilih paket lengkap pun, kamu bisa dengan bebas menaiki tuk-tuk atau ojek bemo yang juga terafiliasi dengan penyedia jasa transportasi.
      Oh ya, berdasarkan pengalaman, jika ingin pergi suatu tempat ke tempat lain di Lisbon, sebaiknya mengikuti arahan dari Google maps. Satu pengalaman saya, karena merasa tahu jalan, tidak mengikuti Gmaps dan malah berimprovisasi. Alhasil, kami harus naik bukit lagi dan berjalan lebih jauh. Beberapa jalanan di Lisbon memang sedikit rumit, namun sangat menantang nan menarik untuk ditelusuri. Kami menyebutnya treking di tengah kota hehe..
      Lalu gimana sih kuliner dan makanan khas di Lisbon?
      Tunggu di bagian kedua ya..
      Terima kasih dan semoga bermanfaat.
      Tulisan ini bisa dibaca juga di https://wp.me/p7BvKH-6T
    • By Sari Suwito
      Melanjutkan tulisan sebelumnya setelah dua hari di Brunei, kami akan melanjutkan perjalanan ke Kota Kinabalu (Malaysia).
      Pagi-pagi kami sudah bersiap-siap untuk check out hotel kemudian kami menuju ke Terminal Feri Serasa di Muara. Jarak  menuju ke Terminal Feri Serasa sekitar 25 km, ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Oh ya,selain terminal ferry penumpang disini juga terdapat terminal peti kemas, jadi selama perjalanan kita akan sering berpapasan dengan truck container sehingga perjalanan jadi agak lambat.
      Ketika kami sampai terminal feri Serasa karena bus yang kami sewa ukuran besar jadi tidak bisa masuk ke halaman terminal, terpaksa deh kami turun di depan pintu gerbang dan membawa koper masing-masing. 
       

      Karena tidak sempat sarapan di hotel maka kami pun akhirnya sarapan di cafe yang berada di sebelah pintu kedatangan terminal feri Serasa. 
      Note: Kalau mau  naik transportasi umum /bus dari Bandar Seri Begawan bisa naik bus nomer 39 menuju ke Terminal Muara, lalu dari Terminal Muara lanjut naik bus nomer 33 menuju Terminal Feri Serasa. Ongkos bus $1 per trip.
      Sekitar jam 9 kami bersiap untuk masuk ke dalam ferry. Oh ya untuk masuk ke dalam ferry ini kita melewati imigrasi Brunei secara kami akan melakukan perjalanan menuju ke Labuan (Malaysia) yang kemudian dilanjutkan ke Kota Kinabalu. Saat itu imigrasi lengang karena hanya ada satu ferry yang akan berangkat. Setiap penumpang disuruh buka koper untuk dilihat isinya satu persatu, segala tempat kosmetik, underware organizer, handbag, semua diperiksa. Mungkin juga dikarenakan disini tidak ada mesin x-ray. 
      Setelah selesai proses imigrasi kami pun menuju ke dermaga ferry. Kami menaiki Ferry Shuttle Hope untuk menuju Labuan. Awak kapal akan menyambut kita dan menanyakan barang bawaan akan dibawa naik atau ditinggal di bawah saja? Kalau di tinggal dibawah makan petugas akan menempatkan koper kita di bagian ujung kapal dekat pintu turun dari kapal ferry. Setelah menyerahkan koper, saya naik ke lantai dua ferry.

       
      Harga ket ferry Shuttle Hope adalah $15/orang dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 40 menit. Saya memilih duduk di dalam ruangan ber-AC di lantai 2 dan ternyata ACnya dinginnya minta ampun. Oh ya sebelum ferry berlayar, di TV ditayangkan doa naik kapal terlebih dahulu. Mungkin ini sudah menjadi SOP Brunei Ferry ya, biar perjalanannya aman dan lancar.

       
      Begitu ferry sudah berlayar dari atas ferry kita bisa menikmnati angin sepoi-sepoi di geladak atau bisa juga duduk manis di ruang utama sambil nonton film box office yang diputar di TV. Di dalam ferry juga terdapai kedai makanan, kalau lapar bisa beli snack dan minuman. Di kapal ini juga terdapat toilet yang lumayan bersih, di lantai dua bagian belakang kapal.
      Seteleh beberapa saat kapal berlayar kita akan menyaksikan pemandangan begitu banyak kilang minyak di lautan Brunei, gimana negara ini ga kaya ya, itu kilang minyak di laut banyak bangeett. 
      Saya juga melihat beberapa kapal besar yang dilengkapi dengan alat berat atau crane serta helipad. Baru kali ini saya lihat kapal segede itu. Hahaha…
       
       

       
      Sekitar jam 11an, kapal ferry sudah mendekati dermaga Labuan. Dari atas ferry sudah kelihatan deh gedung terminal ferry wilayah persekutuan Labuan. 
       

       
      Setelah turun dari kapal ferry kami langsung menuju ke gedung terminal ferry lalu menuju ke mesin x-ray untuk scan barang bawaan kita kemudian menuju counter imigrasi Malaysia untuk chop paspor. Setelah selesai chop paspor kami berjalan menuju ke rumah makan untuk makan siang. Kami makan di rumah makan yang berada di depan Terminal Feri Antarbangsa Labuan sekitar 300 meter kali kami berjalan di bawah  rintik hujan.

       
      Setelah selesai makan kami segera menuju ke Terminal Feri Antarbangsa Labuan. Terminal ferry Labuan ini lumayan ramai, di bagian depan terdapat banyak stand yang menjual aneka barang dan souvenier. Karena sudah dekat dengan jadwal keberangkatan kapal, jadi kami tak perlu menunggu di boarding room, kami langsung menuju ke kapal yang sudah bersandar di dermaga. 

       
      Kami naik kapal LBN Express Tiga untuk tujuan ke Kota Kinabalu, kapal ini mempunyai dua kelas, yaitu kelas ekonomi dan kelas eksekutif. Untuk kelas eksekutif harga tiket RM 44/orang. Perjalanan menuju Kota Kinabalu memakan waktu sekitar 3,5 jam. Jadi bisa tidur dulu deh di dalam kapal, karena ini kapalnya seperti speed boat jadi kita ga bisa berdiri di geladak kapal, cukup menikmati pemandangan dari balik jendela saja. Tapi kalau kita duduk di kelas ekonomi, ga bisa deh lihat pemandangan luar karena posisi berada di lantai bawah.
      Sekitar jam setengah lima, akhirnya sampailah kami di terminal ferry Jesselton Point. Setelah semua peserta sudah turun dari kapal ferry kami pun segera keluar terminal. Rupanya bus sudah menunggu kami di sebelah kanan pintu keluar Jesselton point, setelah semua peserta naik bus, kami pun berangkat untuk menuju hotel tempat kami menginap di kawasan Lorong Pasar Baru, Kampung Air. 
       

       
      **Sebetulnya bisa juga naik bus dari Bandar Seri Begawan menuju Kota Kinabalu, tetapi jadwal keberangkatannya hanya  satu kali setiap harinya yaitu sekitar jam 8 pagi. Lama perjalanan sekitar 8 jam (kalau ga salah ya).  Kalau ada budget lebih ya paling cepat naik pesawat. Hehehe...
       
       
    • By Sari Suwito
      Hai...haiii..haiiiiii
      Widiiiih lama banget saya ga nongol di forum...
      Ok, baiklah saya akan share FR saya beberapa bulan lalu ketika melawat Brunei Darussalam. Mungkin sudah agak basi kali ya, tapi semoga bermanfaat buat teman2
      .
      Brunei Darusalam adalah sudah masuk dalam wishlist trip saya, tapi baru kesampaian di tahun 2018 ini. Brunei Darussalam merupakan negara ASEAN ke-5 yang saya kunjungi (Indonesia tidak termasuk hitungan ya).  Berhubung saya tinggal di Yogyakarta jadi saya memilih untuk terbang dengan Air Asia ke Brunei melalui Bandara Soekarno Hatta kemudian transit di Kuala Lumpur. Saya tiba di Brunei sekitar jam 8 pagi waktu setempat. Dari airport kami langsung menuju obyek wisata di kota Bandar Seri Begawan.
       

       
      Obyek wisata apa saja yang saya kunjungi selama di Brunei Darussalam? Yuk, simak catatan perjalanan saya selama di Brunei Darussalam.
      Hari Pertama
      1.The Royal Regalia Building 
      The Royal Regalia Museum atau Museum Alat Kebesaran Diraja terletak di Jalan Sultan Omar Ali Saifuddien, Bandar Seri Begawan. Bangunan museum berbentuk kubah besar yang dilengkapi dengan mozaik yang cantik dan bagian dalamnya menggunakan marmer dan karpet yang mewah. Pengunjung diwajibkan menanggalkan sepatu di luar dan hanya diperbolehkan memakai sandal yang sudah disediakan ataupun tanpa alas kaki saja kalau tidak kebagian jatah sandal. Pengunjung diwajibkan meletakkan tas, handphone, kamera dan barang bawaan lainya di loker yang sudah disediakan di bagian depan museum. Setelah itu baru kita diperbolehkan masuk ke ruangan pamer museum. 
       

       
      Museum ini memiliki beberapa galeri, antara lain;
       Royal Regalia Exhibition  Royal Exhibition Hall  Silver Jubilee Exhibition Hall   Jubilee Theatre  Constitutional Exhibition Hall  Royal Lounge  Souvenier / Refreshment Lounge           Memasuki ruangan galeri museum kita bisa melihat foto silsilah keluarga Sultan Brunei, dan di dinding tercantum nama lengkap dan gelar untuk Sultan Hassanal Bolkiah, panjang banget lho. Lalu kita berjalan menuju ke bagian koleksi pribadi Sultan Brunei yang berupa pakaian kebesaran Sultan, perhiasan, cendera mata dari negara sahabat.  
      Selanjutkan kita akan menuju ruang pamer peringatan perayaan 25 tahun pemerintahan Sultan Hassanal Bolkiah. Di ruangan ini terdapat replika kemegahan acara perayaan Silver Jubilee dengan patung manekin tanpa kepala yang menggambarkan pasukan yang mengiringi kereta yang dinaiki Sultan Hassanal Bolkiah dan di sekelilingnya terdapat poster bergambar rakyat yang menonton iringan perayaan 25 taun pemerintahan Sultan.

       
       
      2. Masjid Omar Ali Saifuddien 
      Masjid Omar Ali Saifuddien merupakan masjid kerajaan Kesultanan Brunei yang terletak di Bandar Seri Begawan, tak jauh dari The Royal Regalia Building.  Arsitektur masjid ini memadukan arsitektur Mughal Islam dan Italia, membuat masjid ini menjadi salah satu masjid yang paling mengagumkan di Asia Pasifik. 
       

      Masjid ini memiliki menara marmer dengan kubah emas, dilengkapi dengan taman yang indah dan air mancur. Di samping masjid terdapat replika perahu Mahligai Kerajaan milik Sultan yang memerintah pada abad ke-16. Bangunan ini juga digunakan sebagai panggung Musabaqah Tilawatil Quran pada akhir tahun 1960 hingga awal tahun 1970.
      Di bagian kiri masjid terdapat Perpuspaan main gate 1968, disini juga terdapat taman dan air mancur yang cocok juga untuk berfoto.
       

      Sayang sekali waktu itu kami hanya foto stop di luar masjid dan cuaca yang panas membuat kami tidak bisa berlama-lama karena kami akan melanjutkan untuk makan siang.
      Kami makan siang di restoran yang terletak di kawasan Tarindak D’Seni yang berseberangan dengan Kampong Ayer. Dari restoran  tempat kami makan siang kami bisa melihat pemandangan Kampong Ayer dan Jembatan Raja Isteri Pengiran Anak Hajah Saleha. Jembatan ini disebut juga Jembatan Sungai Kebun. Jembatan ini  menghubungkan Bandar Seri Begawan dan Kampung Sungai Kebun.
       

      Setelah selesai makan siang kami melanjutkan ke destinasi berikutnya yaitu Istana Nurul Iman.
       
      3. Istana Nurul Iman
      Istana Nurul Iman terletak di tepi sungai dengan bukit yang hijau di tepi sungai Brunei, beberapa kilometer selatan Bandar Seri Begawan. Istana Nurul Iman merupakan kediaman resmi Sultan Brunei dan keluarganya serta merupakan pusat pemerintahan Brunei. Istana Nurul Iman merupakan istana terbesar di dunia, memiliki 1.788 ruangan, termasuk 257 kamar mandi. Dan di dalamnya terdapat ballroom yang mampu menampung hingga lima ribu tamu. Di dalam istana ini juga terdapat garasi yang berisi ratusan mobil koleksi Sultan Brunei.  
       

      Istana hanya dibuka untuk umum pada hari Raya Idul Fitri, dimana Sultan akan mengadakan open house selama 3 hari.  Jadi kami hanya bisa photo stop di depan Istana saja.

       
      4. Mercu Dirgahayu 60
      Mercu Dirgahayu 60 (dalam angka arab) berwarna emas ini merupakan monument untuk memperingati hari ulang Sultan Hassanal Bolkiah ke 60 tahun. Mercu Dirgahayu 60 terletak di waterfront Kampung Ayer. 

       
      Tak jauh dari Mercu ini terdapat dermaga taxi air untuk menuju ke Kampong Ayer. Wisatawan pun bisa naik taxi air dari sini untuk berkeliling di Kampong Ayer.
       

       
      Kampong Ayer adalah perkampungan terapung yang merupakan cikal bakal Bandar Seri Begawan.  Kampong Ayer merupakan perkampungan terapung yang terbesar di dunia, luasnya sekitar 10 km persegi, terdiri 42 kampung dan dihuni oleh 20ribu orang penduduk. Kampong Ayer juga memiliki fasilitas yang lengkap seperti: air bersih, listrik, sekolah, masjid, klinik, dan fasilitas lainnya. Bagi penduduk Kampong Ayer yang memiliki mobil, mereka akan memarkir mobil mereka di tepi jalanan seberang Kampong Ayer, kemudian mereka pulang ke rumah menggunakan taxi air.
      Sebetulnya di dekat kawasan Mercu Dirgahayu 60 juga terdapat beberapa perahu yang menawarkan wisata ke kampung ayer, tapi menurut guide  harus hati-hati supaya tidak kena scam. Guide sempat menawarkan siapa yang mau keliling kampung ayer bisa dikoordinasikan.  Tapi kami memutuskan untuk segera menuju hotel supaya bisa istirahat, secara kami sudah lelah setelah perjalanan panjang dan flight di awal pagi.