• agoda-hemat.png

Sign in to follow this  
petrus.sitepu

Tokyo Tower atau Tokyo Skytree

11 posts in this topic

Saat ini siapa yang tidak suka dengan traveling? Traveling menjadi sebuah kegiatan yang wajib dilakukan oleh setiap orang. Luar Negeri maupun Dalam Negeri tergantung pilihan kita.

Jepang, sekarang ini menjadi salah satu negara tujuan wisata khususnya untuk wisatawan dari Indonesia. Saat anda traveling ke Jepang tentunya Tokyo menjadi salah satu kota tujuan awal anda.

20150424_151724

Ikon yang terkenal dari kota Tokyo adalah Tokyo Tower, Kita selalu melihat Tokyo Tower menjadi ikon ketika membicarakan kota Jepang. Tokyo Tower atau dalam bahasa jepang terkenal dengan Nippon Denpatou merupakan pemancar gelombang TV. Tinggi dari Tokyo Tower adalah 333 meter. Dari atas ketinggian Tokyo Tower kita akan dapat melihat pemandangan kota Tokyo baik siang dan malam hari. Tapi saya sangat tertarik melihat Tokyo Tower dari kejauhan pada malam hari karena di Tokyo Towe terdapat banyak lampu sehingga memperlihatkan kecantikannya. Kalau anda ingin ke Tokyo Tower bisa turun di Stasiun Onarimon menggunakan kereta dan jalan sedikit kurang lebih 15 menit akan tiba di Tokyo Tower, saat jalan menuju Tokyo Tower anda akan melewati sebuah kuil yaitu Zojoji Temple. Sebelum ke Tokyo Tower tidak ada salahnya anda mampir ke Zojoji Temple.

20150423_092615

Tokyo Skytree, ini merupakan salah satu tempat yang dikunjungi saat ke Tokyo. Tokyo Skytree konsepnya hampir sama dengan Tokyo Tower, Tokyo Skytree lebih tinggi yaitu 634 Meter oleh karena itu Tokyo Skytree terkenal dengan nama Mu (6), Sa (3) dan Shi (4) -MuSaShi-. Tokyo Skytree ini berada di daerah Asakusa, saya menyarankan apabila ke Tokyo Skytree dengan jalan, karena daerah Asakusa sangat ramah untuk pejalan kaki. Saat anda berada di atas Tokyo Skytree jangan sampai tidak makan Nasi Kare di restoran di bagian atas dari Tokyo Skytree, Kapan lagi kita bisa makan nasi kare diatas ketinggian dengan harga yang masuk akal.

20150423_112429

Jadi lebih baik kemana untuk melihat pemandangan kota Tokyo dari ketinggian, saya menyarankan anda ke dua tempat tersebut yaitu Tokyo Tower (Bagian Selatan) dan Tokyo Skytree, tapi dengan berbeda hari. Keduanya berada di area yang berbeda, dan setiap area terdapat tempat lain yang ada bisa kunjungi juga.

Selamat traveling, lakukan apa yang ada sukai.

20150423_091640   20150423_09105620150423_110258

Share this post


Link to post
Share on other sites

@petrus.sitepu

wah Tokyo Skytree memang keren seh, tapi saya gak pernah masuk kesana

cuma liat dari belakang Guesthouse saya yang kebetulan di ekat Asakusa River nya, dan di area asakusa memang ramaha buat pejalan kaki saya setuju banget itu hehe

btw udah dapat kaos dari jalan2.comlom ya ? kalo belum PM saya alamat dan no telepon nya ya

post-6-0-16623700-1417426918.jpg.0c717ed

Share this post


Link to post
Share on other sites
2 minutes ago, petrus.sitepu said:

@deffa

Tokyo Skytree sama aja dengan tokyp tower tapi lebih modern saja.

area Asakusa memang pilihan menarik untuk tinggal saat di Tokyo.

yup bener saya kemaren stay di asakusa Khaosan Tokyo Original Guesthouse dekat sekali dengan Tokyo Skytree dan Sensoji Temple

belum lagi makanan di sini lumayan murah seh hehe

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By Ahook_
      Tanggal 16 Mei 2018.
      Setelah trip Eropa berakhir di Italy, aku terbang dari Roma ke Kuala Lumpur dengan menumpang Emirates. Maksud hati istirahat 2 malam di Kuala Lumpur untuk menyesuaikan jam biologis yang terpaut 6 jam antara Malaysia dengan negara Eropa yang aku kunjungi. Sombong... Istirahat saja harus di Kuala Lumpur... Bukan begitu brosis, aku punya trip selanjutnya ke Cina tanggal 18 Mei 2018, yang akhirnya aku batalin di jam- jam terakhir. Untungnya, rencana trip 10 hari di China belum ada booking apapun. Walaupun sayang, mau bagaimana lagi, toh harus ada yang diutamakan...
      Nah, selama 2 malam, aku pilih menginap di daerah KL Sentral. Supaya tidak terlalu repot kalau mau bolak- balik KLIA. Dan kali ini, aku pilih POD - The Backpacker`s Home. Letaknya belokan pertama kalau kita turun dari Monorail. Kalau kamu naik bus dari KLIA ataupun naik kereta, ya dekat banget. Kalau yang cari penginapan, yang pertimbangkan masalah jarak dekat, hostel ini boleh-lah. 

      Living Room.
      Eh, hostel ini sekaligus ada cafe-nya. Karena itu, ada live music kalau malam hari. Penyanyinya, ya, penghuni hostel kali, yang punya bakat. Kurang jelas juga sih. Karena, selama 3 malam di sini ( perpanjang 1 malam karena batal ke Cina ), yang nyanyi ya penghuni hostel. Seru sih, bisa request lagu.
      Per malam, aku bayar Rp 100.000,- ya, masih lebih mahal dibanding Flip Bunc, yang letaknya juga disekitaran KL Sentral, tapi masih agak jauh. Free wifi kencang baik di living room maupun di kamar sampai kamar mandi sekalipun. Kebetulan, aku nginap di lantai 4. Eitss, ada lift kok. Lift-nya lega, tidak seperti lift pada umumnya di Hongkong. Oh ya, harga segitu untuk 4 beds mixed dorm ya. Masing- masing dapat loker dan handuk mandi. Dan sudah termasuk sarapan. Aku sendiri tidak pernah bangun pagi, jadi tidak pernah sarapan. Lha, baru bisa tidur jam 5 pagi. Masih belum bisa move on dari Eropa. Jam 5 pagi Malaysia, di Eropa baru jam 11 malam shayyyy...

      Kamar 4 beds..
      Lainnya, bersih. Soalnya nyaman, tergantung masing- masing orang. Kalau aku sih nyaman. Tenang. Kamar mandi juga lega, shower air panas ( airnya tidak terlalu panas ), wc pisah. Memang, untuk kamar isi 4 beds, agak sempit. Kamar sebelah, kamar isi 10 beds, aku lihat sih lega banget.
      Staff-nya ramah dan informatif sih. Ada deposit kunci 20 RM dan dikembalikan saat check out. Sepertinya hostel ini 24 jam. Staff-nya standby terus. Malam terakhir, aku sampai jam 3 pagi, duduk nyantai sambil nge-youtube di living room.

       
      Aku kasih nilai 7,5 ya untuk hostel ini. Mungkin, aku akan kembali lagi ke hostel ini kalau ada main ke KL. Ya, kalau ingin menginap sekitaran KL Sentral sini.
      Tambahan,
      Setelah kali pertama itu aku nginap disini, aku masih beberapa kali balik ke hostel ini jika ada transit di KL. Pasalnya ya itu, karena dekat banget dengan KL Sentral, akses paling cepat ke KLIA. 
      Tapi, terakhir kali, sebelum terbang ke London Oktober 2018 dan Casablanca Desember 2018 lalu, ada kejadian yang kurang menyenangkan buat aku. Parah.
      Ceritanya, yang waktu transit ke London, aku memang booked kamar dorm isi 10 orang. Aku dapat ranjang dekat pintu di kamar lantai 3. Saat sedang tidur sih tidak ada kendala apapun. Setelah checked out pun begitu. Tapi setelah di airport, badanku mulai keluar bintik- bintik merah. Gatal. Dan makin lama, makin banyak dan semakin besar bentolannya. Jadinya, sepanjang penerbangan ke London garuk terus. Dan baru sembuh, setelah 1 minggu di London. Aku cuma kasih minyak oles saja. Dan aku tidak bisa memastikan, sumbernya itu dari hostel ini apa bukan? Karena kan, baru mulai gatal, setelah di airport. Setelah checked out, aku masih ada pergi ke pasar. Asumsiku ya mungkin digigit serangga dari pasar. Aku diam dan tidak komplain. Setelah dari London, aku masih nginap di sini, tapi ranjangnya bagian atas dan dekat jendela, kamar yang sama. 

      Ini yang pertama.. Bentolan sekitar pundak sampai ke lengan.
      Ketika mau transit ke Casablanca Desember 2018 lalu, kali ini sudah confirmed dari ranjangnya yang penuh serangga. 1 jam-an gitu setelah rebahan, badanku terasa gatal- gatal. Aku masih berpikir positif, aku bersihin spreinya sendiri. Tapi, kok semakin gatal ya. Terkejut, ketika melihat bentolannya sudah gede- gede banget. Tidak tahan lagi, langsung protes ke staffnya tengah malam itu juga. Aku minta pindah ranjang. Aku kasih lihat dong bentolan- bentolannya. Ya staffnya, minta maaf ( doang ). 
      Keesokan paginya, ya ampun, bentolannya semakin banyak. Merah kayak delima. Aku kasihkan lihat lagi ke mereka. Dan staffnya bilang, memang sih, sudah saatnya semprot anti serangga. Buset. Oh ya, itu ranjang yang sama dengan ranjang yang aku tempati saat mau ke London sebelumnya, kamar lantai 3, dekat pintu, ranjang bagian bawah.

      Dan terparah adalah ketika mau ke Casablanca. Kaki kiri bengkak, bentolan juga ada di pundak, lengan dan paha. 
      Dan sekarang, nilai yang pernah aku kasih 7,5 sepertinya tinggal 5 sih. Seharusnya, aku tidak mau balik lagi ke hostel ini, jika memang ada transit lagi di KL. Harga dorm isi 10 orang lebih murah, sekitar Rp 80.000 dan sudah termasuk dapat sarapan juga.
      Artikel ini bukan untuk menjelekkan hostel ini. Hanya sekedar bagi pengalaman tidak menyenangkan saja. Karena tidak berlaku untuk semua, karena kebetulan ( juga bisa saja ). Karena itu, mau nginap di hostel manapun, lebih waspada saja. Baca dengan seksama reviews dari yang sudah pernah nginap sebelumnya. Baik dari sisi kebersihan maupun keamanannya. Ini adalah pengalaman aku. 
      Ada baiknya, sebelum rebahan diranjang, bersihkan dulu sejenak. Atau bawa sprei cadangan, kalau perlu...
      Sebetulnya, aku cocok sama hostel ini. Oke- oke saja. Karena memang sesuai harganya lah. Asik, santai dan paling penting karena lokasinya strategis banget. 
      Tapi, pengalaman digigit serangga di hostel ini bukan yang pertama kali dan bukan yang terparah. Next, aku akan bagi pengalaman, bagaimana digigit serangga sampai harus ke 4 dokter baru sembuh. Dan itu gigitannya, aku dapat dari Sydney, Australia. 
      With Love,
       
      @ranselahok
      www.ranselahok.com
      ---Semua mahluk hidup berbahagia---
       
       
       
       
       
       
       
       
    • By Ahook_
      Tanggal 16 Mei 2018.
      Setelah trip Eropa berakhir di Italy, aku terbang dari Roma ke Kuala Lumpur dengan menumpang Emirates. Maksud hati istirahat 2 malam di Kuala Lumpur untuk menyesuaikan jam biologis yang terpaut 6 jam antara Malaysia dengan negara Eropa yang aku kunjungi. Sombong... Istirahat saja harus di Kuala Lumpur... Bukan begitu brosis, aku punya trip selanjutnya ke Cina tanggal 18 Mei 2018, yang akhirnya aku batalin di jam- jam terakhir. Untungnya, rencana trip 10 hari di China belum ada booking apapun. Walaupun sayang, mau bagaimana lagi, toh harus ada yang diutamakan...
      Nah, selama 2 malam, aku pilih menginap di daerah KL Sentral. Supaya tidak terlalu repot kalau mau bolak- balik KLIA. Dan kali ini, aku pilih POD - The Backpacker`s Home. Letaknya belokan pertama kalau kita turun dari Monorail. Kalau kamu naik bus dari KLIA ataupun naik kereta, ya dekat banget. Kalau yang cari penginapan, yang pertimbangkan masalah jarak dekat, hostel ini boleh-lah. 

      Living Room.
      Eh, hostel ini sekaligus ada cafe-nya. Karena itu, ada live music kalau malam hari. Penyanyinya, ya, penghuni hostel kali, yang punya bakat. Kurang jelas juga sih. Karena, selama 3 malam di sini ( perpanjang 1 malam karena batal ke Cina ), yang nyanyi ya penghuni hostel. Seru sih, bisa request lagu.
      Per malam, aku bayar Rp 100.000,- ya, masih lebih mahal dibanding Flip Bunc, yang letaknya juga disekitaran KL Sentral, tapi masih agak jauh. Free wifi kencang baik di living room maupun di kamar sampai kamar mandi sekalipun. Kebetulan, aku nginap di lantai 4. Eitss, ada lift kok. Lift-nya lega, tidak seperti lift pada umumnya di Hongkong. Oh ya, harga segitu untuk 4 beds mixed dorm ya. Masing- masing dapat loker dan handuk mandi. Dan sudah termasuk sarapan. Aku sendiri tidak pernah bangun pagi, jadi tidak pernah sarapan. Lha, baru bisa tidur jam 5 pagi. Masih belum bisa move on dari Eropa. Jam 5 pagi Malaysia, di Eropa baru jam 11 malam shayyyy...

      Kamar 4 beds..
      Lainnya, bersih. Soalnya nyaman, tergantung masing- masing orang. Kalau aku sih nyaman. Tenang. Kamar mandi juga lega, shower air panas ( airnya tidak terlalu panas ), wc pisah. Memang, untuk kamar isi 4 beds, agak sempit. Kamar sebelah, kamar isi 10 beds, aku lihat sih lega banget.
      Staff-nya ramah dan informatif sih. Ada deposit kunci 20 RM dan dikembalikan saat check out. Sepertinya hostel ini 24 jam. Staff-nya standby terus. Malam terakhir, aku sampai jam 3 pagi, duduk nyantai sambil nge-youtube di living room.

       
      Aku kasih nilai 7,5 ya untuk hostel ini. Mungkin, aku akan kembali lagi ke hostel ini kalau ada main ke KL. Ya, kalau ingin menginap sekitaran KL Sentral sini.
      Tambahan,
      Setelah kali pertama itu aku nginap disini, aku masih beberapa kali balik ke hostel ini jika ada transit di KL. Pasalnya ya itu, karena dekat banget dengan KL Sentral, akses paling cepat ke KLIA. 
      Tapi, terakhir kali, sebelum terbang ke London Oktober 2018 dan Casablanca Desember 2018 lalu, ada kejadian yang kurang menyenangkan buat aku. Parah.
      Ceritanya, yang waktu transit ke London, aku memang booked kamar dorm isi 10 orang. Aku dapat ranjang dekat pintu di kamar lantai 3. Saat sedang tidur sih tidak ada kendala apapun. Setelah checked out pun begitu. Tapi setelah di airport, badanku mulai keluar bintik- bintik merah. Gatal. Dan makin lama, makin banyak dan semakin besar bentolannya. Jadinya, sepanjang penerbangan ke London garuk terus. Dan baru sembuh, setelah 1 minggu di London. Aku cuma kasih minyak oles saja. Dan aku tidak bisa memastikan, sumbernya itu dari hostel ini apa bukan? Karena kan, baru mulai gatal, setelah di airport. Setelah checked out, aku masih ada pergi ke pasar. Asumsiku ya mungkin digigit serangga dari pasar. Aku diam dan tidak komplain. Setelah dari London, aku masih nginap di sini, tapi ranjangnya bagian atas dan dekat jendela, kamar yang sama. 

      Ini yang pertama.. Bentolan sekitar pundak sampai ke lengan.
      Ketika mau transit ke Casablanca Desember 2018 lalu, kali ini sudah confirmed dari ranjangnya yang penuh serangga. 1 jam-an gitu setelah rebahan, badanku terasa gatal- gatal. Aku masih berpikir positif, aku bersihin spreinya sendiri. Tapi, kok semakin gatal ya. Terkejut, ketika melihat bentolannya sudah gede- gede banget. Tidak tahan lagi, langsung protes ke staffnya tengah malam itu juga. Aku minta pindah ranjang. Aku kasih lihat dong bentolan- bentolannya. Ya staffnya, minta maaf ( doang ). 
      Keesokan paginya, ya ampun, bentolannya semakin banyak. Merah kayak delima. Aku kasihkan lihat lagi ke mereka. Dan staffnya bilang, memang sih, sudah saatnya semprot anti serangga. Buset. Oh ya, itu ranjang yang sama dengan ranjang yang aku tempati saat mau ke London sebelumnya, kamar lantai 3, dekat pintu, ranjang bagian bawah.

      Dan terparah adalah ketika mau ke Casablanca. Kaki kiri bengkak, bentolan juga ada di pundak, lengan dan paha. 
      Dan sekarang, nilai yang pernah aku kasih 7,5 sepertinya tinggal 5 sih. Seharusnya, aku tidak mau balik lagi ke hostel ini, jika memang ada transit lagi di KL. Harga dorm isi 10 orang lebih murah, sekitar Rp 80.000 dan sudah termasuk dapat sarapan juga.
      Artikel ini bukan untuk menjelekkan hostel ini. Hanya sekedar bagi pengalaman tidak menyenangkan saja. Karena tidak berlaku untuk semua, karena kebetulan ( juga bisa saja ). Karena itu, mau nginap di hostel manapun, lebih waspada saja. Baca dengan seksama reviews dari yang sudah pernah nginap sebelumnya. Baik dari sisi kebersihan maupun keamanannya. Ini adalah pengalaman aku. 
      Ada baiknya, sebelum rebahan diranjang, bersihkan dulu sejenak. Atau bawa sprei cadangan, kalau perlu...
      Sebetulnya, aku cocok sama hostel ini. Oke- oke saja. Karena memang sesuai harganya lah. Asik, santai dan paling penting karena lokasinya strategis banget. 
      Tapi, pengalaman digigit serangga di hostel ini bukan yang pertama kali dan bukan yang terparah. Next, aku akan bagi pengalaman, bagaimana digigit serangga sampai harus ke 4 dokter baru sembuh. Dan itu gigitannya, aku dapat dari Sydney, Australia. 
       
      With Love,
       
      @ranselahok
      www.ranselahok.com
      ---Semua mahluk hidup berbahagia---
       
       
       
       
       
       
       
       
    • By Putra Buana Wira
      Pernah ngelirik satu iklan di Google tentang Airy Rooms, mengklaim bahwa mereka punya banyak promo. Tertarik sih, tapi aku ngga pernah percaya dengan promo-promo online yang too good to be true. Trik marketing kan sama aja. Mereka akan menaikkan harga sebelum akhirnya dipotong dengan “diskon”. Sama juga dengan e-commerce online; belum tentu harga yang diberikan adalah benar-benar harga “promo”.
       
      Suatu hari, aku pernah lagi butuh banget tiket pesawat untuk urusan kerjaan, kira-kira bulan Januari lalu. Sempat panik cari tiket pesawat karena harus ada di venue keesokan harinya dan sudah sore. Karena kantorku pakai sistem reimburse, aku juga harus mikir harga tiketnya karena saat itu adalah tanggal tua. Panik karena tiket pesawat di beberapa platform terkenal sudah hampir habis dan menyisakan tiket yang harganya berjuta-juta. Duh!
       
      Akhirnya melirik ke Airy. Bisa dibilang Airy ini adalah pendatang baru dalam hal per-tiket-an, kan? Sebelumnya, Airy lebih dikenal sebagai penyedia kamar hotel yang murahnya ngga masuk akal, menurutku. Hahahahaha. Jadi ngga pernah pesan di sana, takut zonk.
       
      Anyway, balik ke tiket pesawat. Akhirnya aku melirik ke Airy dan melihat daftar tiket pesawatnya dengan hopeless. Hasilnya? Yaa, bener. Akhirnya benar-benar kecewa.
       
      Kecewa kok ngga dari awal aku melihat list tiket dari Airy! Kan jadinya ngga perlu panik! Harga tiket yang sama, penerbangan yang sama, bisa lebih murah di Airy! Kebetulan lagi, mereka punya promo yang iseng aku coba dan ternyata BERHASIL! Asli, aku girang banget! Logikanya, kalau harga mereka udah lebih rendah dari yang lain, pun dikasih promo jadi lebih murah, berarti mereka diskonnya ngga tipu-tipu! Wah. Salut banget sama Airy!
      Setelah booking dan bayar, tiket pesawatnya agak delay. Kira-kira setengah jam. Lumayan deg-degan tuh. Tapi positive thinking aja, mungkin sistemnya yang lagi heavy load. Setelah setengah jam, e-ticket masuk ke email, langsung ploooong! Kerjaan aman, kantong pun aman. Hehehehe.
      Langsung aja nih penampakannya :

      Sembari tadi menunggu e-ticket, aku sempat browsing-browsing kamar Airy. Kepo juga setelah disodori tiket pesawat murah. Kok banyak review yang bilang kamarnya bagus, memuaskan, dan lain-lain. Sepertinya lumayan nih untuk dicobain. Gimana-gimana, produk utamanya Airy Rooms kan kamar hotelnya ini. Bahkan ada beberapa hotel yang ada kolam renangnya! Bayangin, kamar hotel harga dua ratus ribuan, dapat fasilitas kolam renang! Wagelaseh!
       
      Buat yang lain, ngga usah mengulangi kepanikan yang aku alami kemarin, ya! Rugi waktu dan energi. Mending langsung cek harga di Airy. Udah jaminan paling murah dan banyak promo. Tapi aku tetep kecewa sih, kenapa baru ada sekarang-sekarang ini? Harusnya Airy ada dari dulu doong hiks.. Kan jadi bisa hemat dari dulu. Tapi yasudahlah, yang lalu biarlah berlalu, yang penting adalah melihat ke depan, semoga ke depannya harga Airy masih murah terus dan banyak promonya.
    • By aulia mutiara putri
      Assalamualaikum.
      Siapa tau ada yang minat join umtoh backpacking rencana berangkat insyaAllah awal syawal yaitu 7 juni 2019.
      Perkiraan Rincian Biaya :
      tiket cgk - jeddah : 3,7 jt
      tiket jeddah cgk : 5.5 jt
      Akomodasi (bis, penginapan, makan) + Muthowif : 6-7 juta
       visa 150 - 200 USD
      Vaksin : 350 (ke rs sendiri)
      selama 9 hari,
      harganya bisa lebih murah atau mahal tergantung banyaknya dan harga tiket pesawat.
      kalo mau join boleh email ke auliamutiara.putri@ymail.com nanti dimasukkan ke grup whatsapp.
       
      terimakasih,
      Wassalamualaikum Wr Wb.
    • By Ahook_
      Tanggal 20 April 2018.
      Kemaren itu aku hanya 4 hari di Belgium, terasa singkat banget ya. Dan kalau ditanya, selama 4 hari itu, ngapain saja di Belgium, aku malah bingung mau jawab apa. Karena ya itu, aku mah ngetripnya santai pakai banget. Bukan yang bangun pagi- pagi buat kesana -sini, terus pulangnya malam- malam. Eh, mungkin itu dulu kali ya.. Sekarang, sepertinya bergeser ala yang malas. Hahahaha... Tapi, kalau sesekali sih okey-lah, atau, memang harus, sudah tidak ada pilihan, seperti harus dailytrip atau local tour yang menarik hati, boleh sih.

      Toko- toko seputaran Cathedral.
      Setelah sadar kalau traveling itu kan semacam liburan. Traveling itu kan mau relax, mau menikmati hidup. Lha kalau diburu- buru, bagaimana mau menikmati waktu yang ada? Ini versi aku sih. Tujuan dari traveling kan beda - beda untuk masing- masing orang. Kalau aku sih, sebisa mungkin untuk santai, kalaupun harus grasak- grusuk, ya ayo juga.... 
      Jadi, 4 hari itu di Belgium, 3 hari-nya aku Brussels (bisa baca disini ) dan 1 hari-nya lagi aku jalan- jalan ke Antwerp. Aku naik Flixbuss jam 7 pagi dari North Station bayar 10, 2 Euro untuk pulang pergi ya. Dan pulang dari Antwerp itu jam 8 malam. Lama perjalanan butuh 1 jam untuk sekali jalan. 
      Aku hampir selalu beli online, tiket bus maupun penginapan selama trip aku di Eropa. Aku juga pisahin antara uang yang dibutuhkan keseharian. Jadi, berasa emak- emak setiap kali mau bayar, keluarin dompet kecil punya emak- emak gitu. 

      Central Station.
      Sepanjang perjalanan sih, tidak banyak yang bisa dinikmati. Lagian cuma 1 jam perjalanan saja, belum merem saja sudah sampai. Begitu sampai di Antwerp, penunpang diturunkan di Central Station. Masih terasa paginya di Antwerp. Masih sepi. Cuaca dingin, sejuk tapi tidak buat mengigil, begitupun matahari terik. 
      Seperti biasa, aku tidak punya itinerary buat daily trip di Antwerp. Aku bahkan tidak tahu harus ngapain. Yang aku tahu, aku jalan saja, ikutin kaki melangkah sembari bertanya pada om Google. Kemana kaki ini harus melangkah? Kemudian, ikutin rombongan demi rombongan saja, aku kok merasa, mereka pasti memberikan petunjuk kepada aku, mau ngapain saja. Lah, sudah pasti-lah, kemanapun rombongan itu pergi, sudah pasti, objek wisata yang dituju.
      Dari Central Station, aku berjalan menuju Meir, semacam Orchad rd gitu kalau di Singapore. Sepanjang jalan, kanan kiri butik ternama semua. Lha, ngapin ke sana ? Belanja? Kagak... Numpang lewat doang.. Kan itu akses jalannya, kalau mau ke beberapa objek wisatanya, lewati jalanan bermerk ini. Ya, boleh lah, pas lewat, cara berjalannya lebih sombong dikit, padahal mah, tidak berani ngelirik kanan- kiri. 

      Seputaran Cathedral
      Kalau masih pagi, masih sepi. Toko juga belum banyak yang buka. Orang- orang yang ada juga masih sedikit. Masih tidur kali ya? Wong, pagi- pagi, enakan tidur...Ya nih, kalau bukan untuk daily trip, aku mah tidurnya sampai kadang, teman- teman sekamar sudah pada berhilangan. 
      Maksud hati sih ingin masuk ke museum Rubenshuis, ehh.. pagi itu, masih tutup. Dia bukanya dari jam 10 pagi - jam 5 sore. Mau masuk, bayar ya. Karena aku tidak masuk, aku tidak tahu bagaimana bentukannya di dalam. Untuk sejarahnya, baca saja disini.

      Cathedral of Our Lady.
      Kaki berhenti tepat di depan Cathedral Of Our Lady. Kathedral Bunda Maria ini adalah Katedral Katolik Roma di Antwerp. Walaupun konstruksinya berakhir pada tahun 1521, tapi Kathedral ini tidak pernah selesai. Pada bulan Oktober 1533, gereja ini sempat dilahap oleh api dan sempat diselamatkan oleh  Lancelot II of Ursel. Gereja Gothic ini, pada awalnya, akan dibangun 2 menara bagian depan yang sama tingginya. Tapi ketika berakhirnya pembangunan ini, kedua menara tersebut malah tidak sama tinggi.
      Kemudian, pindah ke Het Steen yang tidak berapa jauh dari area Kathedral. Benteng dari pertengahan abad ke-13 ini berada disamping sungai Scheldt dan merupakan bangunan pertama yang terbuat dari batu.

      Het Steen
      Aku sendiri tidak begitu lama di Het Steen. Aku kemudian jalan sekenanya saja, jalan kaki, ikutin langkah kaki dan seperti biasanya, tidak jelas. Keluar masuk lorong- lorong tidak jelas, hingga ketemu pasar loak yang sedang banting harga. Lalu sok- sok macam bule lokal, duduk dan jemuran di taman gitu. Eh, benaran loh.. Lebih hangat ketika badan kena matahari. Tidak sedingin hati ini. #ciaattt....

      Pasar loak. 
      Hingga waktu makan siang tiba. Saat itu, seingatku, hampir 3 jam, betah duduk santai di salah satu tempat makan dekat Groenplaats. Maklum, ada dinas yang harus diselesaikan. Oh ya, keramaian Antwerp itu disekitaran Groenplaats dan Grote Markt.

      Museum Aan De Stroom.
      Terus, kali ini jalan kaki lebih jauh, ke MAS, Museum aan de Stroom. Yups, jalan kaki sekitar 30 menit. Menurutku sih, museum ini biasa- biasa saja. Ya, karena aku memang tidak masuk ke dalam ruangan museumnya. Aku lihat, yang datang kesini pada umumnya juga begitu. Tidak ada yang beli tiket. Jadi, langsung naik eskalator sampai rooftop untuk menikmati sekeliling kota Antwerp. Kalau betah, yang nongkrong di atas. Kalau tidak, ya turun, terus pulang.

      Okey, overall, menurutku kalau mau jalan- jalan ke Antwerp seharian doang, itu bisa! Bahkan, aku bilang sih, sudah termasuk yang santai. Walaupun begitu, jika ingin bermalam di Antwerp, itu okey juga. Kotanya lebih santai. 
      With Love,
      @ranselahok
      www.ranselahok.com
      ---Semoga semua mahluk hidup berbahagia---
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
    • By braska
      Foto diambil dari Tokyo Tower - (k)
      Hallo semua,
      Tahun ini saya berkesempatan mengunjungi Tokyo beberapa kali. Kebanyakan bersama teman2 (thx untuk teman2 II dan IV) dan beberapa kali dengan partner. Banyak yang bertanya ke saya tentang itinerary selama di Tokyo, jadi saya pikir lebih baik saya buatkan dalam satu Thread yang nantinya tinggal di share URL nya.
      Thread ini akan saya buat dalam beberapa tahap, dan diharapkan sudah bisa selesai sebelum bulan Desember 2018 berakhir.
      Beberapa pokok bahasan yang akan diulas dalam Thread ini antara lain
      I Persiapan
      II Itinerary
      III Kereta di Tokyo
      IV Shopping
      V Tempat Wisata Gratis
      VI Tempat Wisata Berbayar
      VII FAQ
      PERNYATAAN :
      FOTO
      Semua Foto yang tidak ada tanda dalam Thread ini berarti di ambil dari Google dan Screenshot, sedangkan foto yang bertanda merupakan hasil jepretan dari 
      (i) I Edy S
      (a) Adhitya A W
      (k) R CJatmiko
      WEBSITE
      Saya tidak memiliki kepentingan apapun dengan website yang ada dalam thread ini. Moderator dapat menghapus link jika di perlukan
      MUSIM
      Yang di bahas dalam Thread ini hanya untuk keberangkatan pada Musim Dingin di Tokyo dan sekitarnya, anda dapat tetap membaca thread ini dengan melakukan beberapa penyesuaian jika ingin bepergian di Musim lain.
      STYLE
      Khusus Perjalanan ke Tokyo, perjalanan saya bukan perjalanan Backpacker, saya selalu membawa Koper, naik penerbangan Full Service, Tinggal di Hotel, tetapi mencari harga paling murah yang bisa di dapatkan  
       
      I Persiapan
      Saya selalu menikmati Tokyo (sama halnya dengan saya menyukai Bangkok) Kota ini sangat hidup, penuh dengan budaya Jepang yang kental di satu sisi dan teknologi modern di sisi lain. Khusus untuk Musim dingin, saya menyukainya karena
      1. Musim dingin tidak ada di Indonesia, 2. Tidak terlalu berkeringat, 3. Ada banyak foto indah yang bisa di peroleh di musim dingin, 4. Salju, 5. Harga Tiket dan Hotel lebih murah...(ya, bandingkan jika anda pergi ke Jepang untuk melihat Sakura mekar) Jika kalian ingin mencoba musim dingin di Tokyo ayo kita mulai persiapannya.
      1. Passport dan Visa
      Untuk keluar negeri tentu saja kita harus mempunyai Passport dan untuk bisa ke Jepang kita juga harus mempunyai Visa. Ada banyak cara membuat passport yang bisa di temui di Google karena itu saya tidak akan mengulas lebih lanjut. Silakan masuk ke www.google.co.id lalu ketikkan "cara membuat e paspor" dan kalian akan menemukan lebih dari 100.000 tautan.
      Yang ingin saya sampaikan disini adalah BUATLAH E-PASSPORT, jangan membuat Passport biasa. Membuat passport biasa untuk bepergian ke Jepang sangatlah menyusahkan, karena artinya kita harus mengurus Visa. Sedangkan jika menggunakan E Passport kita tinggal mengurus Visa Waiver.
      Berikut saya tunjukkan perbandingannya :

      Dari perbandingan di atas terlihat kan, mempunyai E Passport berarti anda mengurangi keribetan mengurus Visa, jika visa di tolak anda terpaksa harus merelakan tiket pesawat PP dan (mungkin) hotel yang hangus. Sebaliknya jika anda mempunyai E Passport anda tinggal mengurus Visa Waiver terlebih dahulu baru melakukan pemesanan tiket pesawat, hotel, dll sesudah Visa Waiver di kabulkan. Anda juga bisa melewatkan ketakutan yang paling banyak di bicarakan orang saat membuat Visa "HARUS PUNYA DUIT MINIMAL SEKIAN PULUH JUTA", karena penguruan Visa Waiver hanya memerlukan E Passport anda. 
      Peluang untuk mendapatkan Visa Waiver juga sangat besar, jika anda orang baik2 tidak punya catatan kriminal, tidak pernah ditangkap di Jepang, maka saya bisa bilang Anda pasti dapat Visa Waiver.
      Cara mengurus visa waiver Jepang bisa di dapatkan dengan mengetikkan "cara membuat visa waiver jepang" di Google.
       
      2. Tiket
      Saya bukan orang yang anti dengan penerbangan Low Cost, pada dasarnya saya malah lebih sering menggunakan Maskapai Low Cost ketimbang Full Service, tapi mari saya tunjukkan kenapa saya lebih memilih penerbangan Full Service untuk pergi ke Tokyo
      Maskapai Low Cost hampir selalu menggunakan transit flight dari Jakarta ke Tokyo. Efeknya sangat berbahaya, saya sudah 2x mengalami kejadian tidak mengenakkan. Waktu transit biasanya hanya 1,5 - 2 jam. Akibatnya jika penerbangan dari Jakarta delay maka (hampir) dapat dipastikan (walaupun kita tidak ketinggalan pesawat menuju Tokyo) tidak cukup waktu untuk memindahkan bagasi kita. Kejadian paling parah yang saya alami adalah berada di musim dingin tanpa jaket tebal (yang tertinggal di Kuala Lumpur). Saat itu perlu 2 hari untuk bagasi saya sampai di hotel. Alhasil liburan sudah tidak lagi menyenangkan, dan saya harus rela kehilangan suara selama 2 minggu karena terkena radang tenggorokan (kupluk, syal dan semua baju ganti ada dalam koper di bagasi). Sekarang  bagaimana jika waktu transitnya lama, misal 16 jam. Anda mau tidak mau harus mengeluarkan uang lagi untuk membayar hotel di lokasi transit. Tentu saja ada pilihan untuk tidur di bandara. Tapi sebagaimana telah saya tuliskan di atas style perjalanan saya bukan backpacker. Jam kedatangan dan keberangkatan Maskapai Low Cost sering mengakibatkan anda kehilangan 1 hari di Hotel. Begini contohnya : Jika anda Tiba di Tokyo Pukul 23.00 maka sesudah proses imigrasi, pengambilan bagasi, transportasi dll maka kemungkinan anda akan tiba di hotel Pukul 01.00. Waktu Check in hotel biasanya adalah pukul 14.00 sehingga mau tidak mau anda telah kehilangan 1 hari di hotel yang telah anda bayar. Selain itu waktu keberangkatan juga seringkali jadi masalah. Maskapai Low Cost sering berangkat di jam-jam malam seperti 23.50, padahal waktu Check Out hotel Tokyo adalah 11.00 akibatnya ada waktu lebih dari 12 jam luntang lantung tanpa tempat istirahat. Ada biaya tambahan untuk bagasi di penerbangan Low Cost. Biasanya berkisar 400 - 700 ribu tergantung beratnya. Berarti kalau PP bawa bagasi maka ada tambahan biaya sekitar 1 juta dari harga tiket. Penerbangan ke Tokyo memakan waktu lama, direct flight saja bisa lebih dari 7 jam. Lalu di pesawat kita mau ngapain? duduk, diem, merenung dan tidur? jika anda memilih untuk mengisi perut maka ada biaya lagi yang harus di keluarkan untuk pemesanan makanan.  Ok, jadi kita akan memilih penerbangan full service yang menyediakan makanan dan minuman, entertainment flight, jarak antar kursi yang lapang, jam penerbangan yang tepat dengan kebutuhan, free bagasi, dan semua fasilitas lain yang tidak di dapatkan di penerbangan low cost. Mahal dong? Jawabnya TERGANTUNG. 
      Ini contoh penawaran maskapai low cost

      Dan ini tiket yang saya beli 

       
      Saya terbang menggunakan JAL yang masuk dalam daftar 5 Star Airlines. Bagasi 46 kg FREE, Full Service, dengan Jam kedatangan 15.45 dan Jam keberangkatan 17.45. Harga yang saya dapatkan lebih murah daripada maskapai Low Cost.
      Jadi bagaimana caranya? Saya menggunakan SkyScanner (silakan Googling). Dengan SkyScanner kita dapat melihat kapan, maskapai mana, dan website mana yang memberikan tiket paling murah. Tentu saja jika kita membeli dari jauh2 hari kita memiliki lebih banyak pilihan harga yang mungkin dapat berubah. Oh ya, sekali kita melakukan pencarian lewat SkyScanner maka saat membuka email, googling dan menggunakan media sosial iklan yang ditampilkan biasanya adalah iklan harga tiket yang paling murah. Rajin2lah mengecek harga tiket lewat SkyScanner karena FYI, harga tiket JAL biasanya 16juta sekali jalan. Harga 7,3juta PP saya dapatkan menggunakan Fasilitas "Dapatkan Info Harga" yang ada di situs SkyScanner. Fasilitas ini memungkinkan kita mendapatkan harga terbaru dari rute yang kita tuju.
      Sekedar tambahan, Tiket penerbangan dari Jakarta - Paris PP untuk Maret 2019 saya dapatkan dengan harga lebih murah daripada tiket ke Jepang. Lagi2 dengan SkyScanner.
       
      3. Hotel
      Rata-rata hotel di Jepang memiliki kamar yang kecil tapi harga yang "besar". Tokyo pun termasuk. Harga properti di Tokyo yang sangat mahal membuat Tarif Hotel juga tinggi untuk ukuran Indonesia. Walaupun demikian tetap saja jika bersedia susah sedikit masih ada kamar2 kapsul dan dormitory yang berharga di bawah 500ribu permalam. 
      Menyesuaikan style jalan-jalan, saya memberikan beberapa kriteria untuk memilih Hotel di Tokyo.
      Carilah hotel yang dekat dengan stasiun kereta. Kereta adalah transportasi nomor 1 di Tokyo. Dalam kondisi cuaca yang dingin akan lebih baik jika Hotel dekat dengan stasiun kereta sehingga kita tidak perlu berlama2 diluar. Hotel yang dekat dengan stasiun kereta juga memudahkan anda untuk menepati jadwal itinerary. Bawaan anda cenderung banyak, karena musim dingin membuat pakaian yang harus disiapkan berlapis2. Jika mendapatkan kamar hotel yang terlalu kecil maka anda akan kesulitan sendiri dalam meletakkan koper dan barang belanjaan Pastikan hotel anda memiliki sistem penghangat ruangan yang baik dan air panas yang mengalir 24 jam non stop. Saya tidak bisa membayangkan jika di tengah suhu 0 derajat lalu harus mandi pagi dengan air yang tidak terlalu panas karena sistem air panas dipakai beramai-ramai. Akan lebih baik jika Hotel menyediakan sarapan pagi. Buat anda yang terbiasa mengisi perut di pagi hari, tentu akan runyam jika harus jalan dulu mencari sarapan di tengah udara dingin. Hotel di sekitaran Tokyo memang lebih mahal daripada yang mengarah ke luar kota. Tetapi anda akan lebih mudah menentukan jalur tujuan jika berada di dalam kota. Dalam beberapa kesempatan, saya selalu memilih hotel yang sama untuk tempat menginap. Hotel Villa Fontaine Hatchobori. Hotel ini merupakan salah satu hotel dari jaringan Villa Fontaine yang tersebar di seantero Jepang. Saya memilih hotel ini karena semua kriteria yang saya sebutkan di atas dapat diakomodir. Harganya pun menurut saya termasuk murah. Sekitar 1,2 juta permalam, yang kalau di share bersama teman sekitar 600 ribuan permalam (sudah include sarapan), ukuran kamarnya juga sedikit lebih besar dari ukuran kamar di daerah Shinjuku dengan harga yang lebih mahal.
      Hotel ini hanya sekitar 1 menit jalan kaki dari Stasiun Kayabacho (uniknya Hotel Villa Fontaine Kayabacho justru sedikit lebih jauh dari stasiun Kayabacho, jadi jangan sampai salah hotel). Stasiun Kayabacho hanya berjarak 3 stasiun dari Ginza, 2 stasiun dari Otemachi, 3 stasiun dari Akihabara, bahkan hanya 5 stasiun dari Ueno dimana kita bisa melanjutkan perjalanan dengan Shinkansen. Posisinya sangat strategis.

      Suasana luar hotel - (a)

      Lobby - (a)

      Lift - (a)

       
      4. Pakaian
      Tidak bisa dielakkan Pakaian Musim Dingin pasti lebih tebal dan berlapis dibandingkan jika kita ke Jepang di musim panas. Suhu udara di Tokyo sepanjang musim dingin berkisar di angka -2 sampai 7 derajat celcius. Demi kenyamanan anda saya menyarankan untuk menggunakan 3-5 lapis baju. Tentu saja hal ini bergantung dari ketahanan tubuh anda terhadap udara dingin. Berikut list pakaian yang perlu dibawa :
      Kupluk Syal Long John Jaket / Sweater / Vest Mantel / Jaket Salju Celana Panjang (bahan cordoray lebih bagus) / Celana Insulated Sarung tangan Jika ada rencana untuk bermain salju saya sarankan dari awal bawalah celana insulated, celana ini memiliki beberapa lapisan, bagian paling luar memiliki jenis parasut sehingga tidak mudah kemasukan air, dan bagian paling dalam merupakan lapisan yang menghangatkan kaki. Hindari bermain salju dengan celana jeans, karena dapat merembes dan membasahi kaki. Oh ya, harga barang2 di atas sangat bervariasi tetapi ada beberapa lapak di tokopedia yang menjual Perlengkapan musim dingin dengan harga sangat murah tetapi kualitasnya bagus. Sebagai contoh saya mendapatkan mantel dengan harga 400 ribuan dan celana insulated dengan harga 100 ribuan. Nyaman saat di gunakan. Coba saja di searching.

       
      5. Komunikasi
      Sebenarnya Tokyo adalah kota yang ramah Wifi, kira-kira kalau diterjemahkan banyak Free Wifi bertebaran dimana-mana, di dalam bus, di tempat2 wisata, di stasiun kereta, dan pastinya di hotel. Hal ini memudahkan anda untuk berkomunikasi baik via media sosial maupun aplikasi chatting. Fasilitas free wifi ini dapat di peroleh dengan melakukan sign in ke salah satu jaringan wifi yang akan meminta anda untuk mengklik tautan yang di kirimkan ke email anda. Biasanya anda akan mendapat kesempatan 5 menit free yang dapat digunakan untuk membuka email dan mengklik tautan untuk mengkonfirmasi penggunaan free wifi.
      Walaupun demikian saya tidak menyarankan anda untuk bergantung pada fasilitas Free Wifi. Saya tetap menyarankan untuk mempergunakan jaringan komunikasi sendiri. Ada beberapa alternatif yang bisa anda lakukan :
      Beli SIM Card di Jepang  Beli SIM Card dari Indonesia Sewa Paket Wifi Bagi yang berangkat dalam rombongan, saya lebih menganjurkan untuk menyewa paket Wifi. Dalam 1 router biasanya bisa dikoneksikan untuk 6-8 alat. Sehingga jika di share biaya sewanya jadi lebih murah. Contoh untuk router unlimited 4G yang saya sewa dari QL Liner (via Klook.com) saya hanya perlu membayar Rp 115.000 per hari. Alat ini dapat dipergunakan untuk 14 alat sekaligus. Sehingga jika di share biaya ke 7 orang (masing2 mempergunakan 2 alat), 1 orang hanya perlu membayar Rp 16.500 per hari. Harga ini jauh lebih murah daripada membeli SIM Card dari Indonesia atau membeli di Jepang. Tetapi wajib diingat, kelemahan Wifi adalah jika pembawa router terpisah lebih dari 10 meter maka teman2nya yang lain tidak lagi mendapat sinyal. Kemudian jika alat hilang atau rusak ada denda yang lumayan besar sekitar 42.000 yen. Selain itu jangan lupa untuk membawa Power Bank sebab jika router kehabisan batrei maka komunikasi anda juga akan terputus.
       
      Jika anda memilih menggunakan SIM Card maka anda akan terhindar dari keribetan menenteng router kemana2. Selain itu anda tidak perlu harus selalu berada di dekat router untuk melakukan komunikasi. Kapan saja anda ingin menghubungi teman, atau upload instagram dapat dilakukan langsung.
      Untuk SIM card tidak ada salahnya anda melihat2 di website GlobalKomunika, mereka memberikan banyak pilihan paket SIM Card (Paket Data SAJA). Dengan membeli SIM Card langsung dari Indonesia anda bisa langsung mengaktifkan HP Anda saat berada di Bandara Narita / Haneda. Sayangnya ada batasan Quota 4G yang harus anda perhatikan saat memilih menggunakan SIM Card. Untuk SIM Card seharga Rp 195.000 anda bisa mendapatkan Quota 4G sebanyak 3GB untuk waktu 8 hari. Setelah itu jika Quota habis maka kecepatan akan turun menjadi 2G. Jadi jangan terlalu sering melakukan Video Call atau berselancar di Youtube jika anda menggunakan SIM Card. Jika anda memutuskan menggunakan SIM Card harap di baca baik2 petunjuk penggunaannya (sudah disertakan bersama SIM Card), karena tidak semua HP secara otomatis melakukan pengaturan APN.

       
      6. Tiket Wisata
      Kepada siapapun yang ingin ke Jepang saya selalu menyarankan untuk mempersiapkan Itinerary dengan sebaik-baiknya. Sejak awal pastikan tempat-tempat yang ingin anda tuju. Lalu lakukan survey untuk melihat apakah tempat2 tersebut membutuhkan tiket masuk. Kenapa hal ini penting : karena banyak tempat wisata di Tokyo yang memberikan Harga Tiket lebih murah saat pemesanan di lakukan di awal ketimbang saat anda datang dan membeli langsung di loket. Selain itu anda dapat menghemat waktu untuk melewatkan antrian orang2 yang ingin membeli tiket pada waktu bersamaan.
      Beberapa tempat wisata bahkan TIDAK MENJUAL TIKET DI TEMPAT. Jika anda ingin mengunjungi Fujiko F Fujio Museum, atau Ghibli Museum maka anda harus melakukan pemesanan dari sebulan sebelumnya. Karena jika anda langsung datang ke tempat tersebut tanpa memiliki tiket maka bersiaplah untuk kecewa. Anda tidak akan bisa masuk.
      Ada banyak situs yang menjual tiket wisata secara online, saya secara pribadi lebih sering memesan lewat Klook. Silakan lakukan pengecekan apakah Tiket tempat wisata yang ingin anda tuju tersedia di website mereka. Tapi sekali lagi lebih baik anda membeli tiket lewat online karena harga yang di dapat sering lebih murah daripada membeli langsung, sekaligus memastikan rencana liburan anda tidak berantakan karena gagal mendapat tiket.
       
       
    • By Dennis.Rio
      TOKYO 東京.....
      day 3