Sign in to follow this  
nafariza

Yuk Jalan2 ke Maldives dan Venice Sebelum Terlambat

15 posts in this topic

Menyambung thread saya disini mengenai akibat dari global warming, ternyata efek lanjut dari mencairnya salju2 abadi di bumi, termasuk di artik dan antartika adalah naiknya air laut. Kenapa? Karena cairan dari artik dan antartika tersebut akan menambah massa air samudra2 di dunia yang berada di sekitar kutub2 bumi. Sehingga air laut akan naik, dan akan merendam daratan2 yang rendah di pinggiran laut. Contohnya Maldives (alias Maladewa) dan Venice (alias Venezia).

Maldives

Negara terkecil di Asia yang terletak di tengah2 Samudra Hindia ini, merupakan negara dengan luas area terkecil di Asia. Dan ternyata Maldives pun merupakan negara dengan ketinggian terendah di dunia. Bayangkan, daratan tertingginya hanya 1m di atas permukaan laut saja. Bayangkan kalau air laut naik sampe 1.5m, ludes sudah ini negara. Untung saja pemerintahnya berencana untuk membeli tanah/pasir dari negara lain untuk menimbun daratan di sana, sehingga bisa lebih tinggi sedikit, untuk mengantisipasi naiknya air laut.

maldives001.jpg

Sumber Gambar

Venice

Ternyata bukan hanya negara kepulauan yang terancam terencam. Venice yang berada di ujung daratan Eropa pun bisa terancam terendam sebagai efek dari naiknya air laut. Bukan apa2, frekuensi terjadinya banjir di sana semakin bertambah dari tahun ke tahun. Bayangkan, negara yang terkenal keindahannya ini karena banyak bangunan2 kuno Eropa, harus terendam karena mencairnya es di kutub bumi. Kerugian besar bagi kebudayaan dunia tuh.

venice_big.jpg

Sumber Gambar

Ayo jalan2ers, buru2 ke Maldives atau Venice. Harus nyobain romantisnya ngelamar di atas gondola di Venice, baru deh gapapa Venice nya terendam. *eh* ;)

Sumber Tulisan: Jetpac

Share this post


Link to post
Share on other sites

wah maldives itu lebih kecil dari singapore trnyta ya ?

Gambar di atas itu cuma salah satu pulau di Maldives mas. Maldives itu negara kepulauan, terdiri dari sejumlah pulau2 kecil. Tapi emang bener juga sih, kalo Maldives itu lebih kecil dari Singapur. Menurut Wikipedia, luas Maldives itu 298km2, luas Singapur itu 710km2.

Share this post


Link to post
Share on other sites

aduh yaaaaaampuuunnn pengennyaaa kesanaaa :)

pengen di kasih kesempatan bulan madu kesana huhuhu

mupeng banget kalo liat foto2nyaaa :unsure: :unsure:

at least maldives dulu aja sih yg deket m indo hehehe

Ia sayang yah kalau hilang. gara2 global warming nih.

es di kutub pada cair he2

sebelum negaranya kerendam, cepat2lah mbak febe nikah, biar bisa bulan madu di sana hehe. tapi tenang aja mbak, rentang waktu kerendamnya masih panjang, kurang dari 100tahun lagi. masih mungkin lah ya buat ke sana dulu :)

bener mas, kita mesti melakukan aksi nyata nih buat meredam laju global warming. kalo enggak, makin cepat es2 di kutub itu mencair, dan makin cepat tempat2 cantik di dunia yang kerendam. gak mau kan?

Share this post


Link to post
Share on other sites

sebelum negaranya kerendam, cepat2lah mbak febe nikah, biar bisa bulan madu di sana hehe. tapi tenang aja mbak, rentang waktu kerendamnya masih panjang, kurang dari 100tahun lagi. masih mungkin lah ya buat ke sana dulu :)

hehe iya ni. pengen bulan madu kesana... hahahahaha :lol: :lol:

keburu mahal juga lokasi wisatanya hhehehhe.

soalnya kabarnya kan skg harga2 disana masih setaraf lah sama indonesia hehe

Share this post


Link to post
Share on other sites

hehe iya ni. pengen bulan madu kesana... hahahahaha :lol: :lol:

keburu mahal juga lokasi wisatanya hhehehhe.

soalnya kabarnya kan skg harga2 disana masih setaraf lah sama indonesia hehe

wow itu cantik banget pulau nya.. asia ya? saya pikir afrika bagian mana deh maladewa itu..

masa sih mbak harga2 di maladewa sana masih setaraf sama indonesia? seharga bali lombok gitu maksudnya? apa seharga raja ampat? beda banget loh itu taraf-nya hehehe.. seharga bali lombok kan bisa bulan madu berkali2 dibanding seharga raja ampat, langsung tekor :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

harga bali lombok ga bisa dibilang murah loh ha2. ada yang mahal banget.

kayanya sih seharga hotel mahal di bali. yang pasti sama tiket pesawat jatuhnya pasti diatas 10juta.

hehe iya mbak, tapi lebih kejangkau kan daripada harga raja ampat. :)

kalo seharga hotel mahal di bali sih, mahal juga ya berarti. apalagi kalo sampe di atas 10juta, gak bisa dibilang seharga bali lombok tuh hehe.. soalnya saya bisa jauh di bawah itu kalo mau ke bali atopun lombok..

Share this post


Link to post
Share on other sites

wow itu cantik banget pulau nya.. asia ya? saya pikir afrika bagian mana deh maladewa itu..

masa sih mbak harga2 di maladewa sana masih setaraf sama indonesia? seharga bali lombok gitu maksudnya? apa seharga raja ampat? beda banget loh itu taraf-nya hehehe.. seharga bali lombok kan bisa bulan madu berkali2 dibanding seharga raja ampat, langsung tekor :D

iya, masih setaraf bali lah. cuman bukan untuk backpackernya lhooo... soalnya kalo pas di mala dewanya agak sulit backpackeran.... yah mungkin sekitar 7 juta cukup buat transport n hidup seminggu disana.. banyak yg bilang begituuu... cuman aku belum pernah memastikan dengan diriku sendiri :P

Share this post


Link to post
Share on other sites

iya, masih setaraf bali lah. cuman bukan untuk backpackernya lhooo... soalnya kalo pas di mala dewanya agak sulit backpackeran.... yah mungkin sekitar 7 juta cukup buat transport n hidup seminggu disana.. banyak yg bilang begituuu... cuman aku belum pernah memastikan dengan diriku sendiri :P

wihii, setaraf liburan mewah di bali toh maksudnya? :D bumi sama langit lah ya dengan backpacker-an di bali? :D

7 juta seminggu itu berarti sehari 1 juta ya mbak? masih murah sih bener, tapi tapi.. mending beli iphone5 gak siih hehehe..

gak lah, bulan madu di sana, amin. yuk ah, kita pastikan ke sana sendiri

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By vie asano
      Saya sempat membaca di salah satu thread di forum Jalan2 yang membahas tentang Maldives. Kalau nggak salah, ada yang bertanya apa Maldives bisa dijelajahi ala backpacker nggak? Kurang lebih seperti itu pertanyaannya.
      Pertanyaan tersebut membuat saya sedikit berpikir. Mungkinkah Maldives dijelajahi ala backpacker? Untuk Jepang, Belanda, dan mayoritas negara lainnya, backpacking sudah sangat lazim dilakukan karena kondisi geografisnya mendukung untuk dijelajahi dengan cara hemat. Pilihan akomodasi dan transportasinya pun beragam mulai dari kelas sudra hingga kelas dewa. Namun Maldives? Hmm.. Image resort lepas pantai dengan pemandangan lautan berwarna tosca plus pasir putihnya yang berkilauan, kok kayaknya terlalu mewah untuk dijelajahi oleh backpacker yang identik dengan kata hemat, ya? Belum lagi kondisi geografis Maldives yang terdiri dari kepulauan, dan moda transportasi penghubung antar pulau bukannya jalan raya, melainkan seaplane dan kapal feri. Wah, bisa nggak tuh Maldives dijelajahi dengan cara backpacking? Jangan-jangan biaya transportasinya bikin kantong jebol.
      Ternyata, Maldives bisa kok dijelajahi ala backpacker. Minimal ala budget traveller deh. Tentunya backpacking ke Maldives pastinya tetap sedikit lebih mahal dibanding backpacking ke negara lain. Lho, kok gitu? Salah satu alasan utamanya sudah saya singgung di atas, yaitu perlu biaya transportasi ekstra jika ingin pindah-pindah dari satu pulau ke pulau lain (kecuali jika mau berenang antar pulau ya, hehe). Nah, bagi backpacker dan budget traveller yang berminat untuk berkunjung ke Maldives, berikut beberapa tips yang wajib diketahui.
      Waktu berkunjung
      - Sebetulnya, Maldives selalu disinari oleh matahari sepanjang tahun. Namun banyak yang berpendapat waktu paling tepat untuk berkunjung ke Maldives antara bulan Desember-April. Pada masa-masa tersebut, hujan mendadak termasuk jarang turun sehingga lebih lama disinari oleh matahari.
      - Perhatikan gejolak politik di Maldives saat ini berkunjung ke sana. Maldives termasuk negara yang rawan demonstrasi, terlebih saat mendekati momen-momen politik.
      Visa dan mata uang
      - Maldives bisa dikunjungi kapan saja karena negara ini menerapkan sistem visa on arrival dengan masa tinggal maksimal 30 hari.
      - Mata uang Maldives adalah Maldivian Rufiyaa (MRF) dengan pecahan 500, 100, 50, 20, 10, dan 5. 1 Rufiyaa = 100 Laari, dan 1 USD kira-kira setara dengan 15,42 Rufiyaa. Jadi 1 Rufiyaa itu berapa Rupiah? Hitung sendiri yah.
      - Saat berkunjung ke Maldives, sebaiknya siapkan uang dalam bentuk USD karena mayoritas hotel menerima pembayaran dalam USD. Sebagian saja yang ditukarkan dengan Rufiyaa dan Laari, karena untuk membayar transportasidan belanja di toko-toko kecil harus menggunakan mata uang lokal.
      Akomodasi
      - Lupakan cottage lepas pantai jika ingin wisata ala backpacker! Menginap di cottage maupun resort (apalagi resort ekslusif) setidaknya memiliki 3 konsekuensi yang tak bersahabat bagi backpacker, yaitu harga yang mahal (bisa lebih dari USD 600*/malam), biaya tambahan untuk mengakses ke resort (karena konsepnya satu resort untuk satu pulau), dan biaya makan yang ekstra pula (karena semua makanan harus dibeli di resort dan di sekitar resort pastinya nggak ada warung kaki lima, apalagi mini market).
      - Sebagai gantinya, pertimbangkan untuk menginap di hotel biasa, lodging house, maupun guest house. Jika pergi bersama rombongan, bisa juga mencari penduduk yang menyewakan rumahnya sehingga biaya sewa bisa ditanggung bersama. Dewasa ini makin banyak penginapan murah di Maldives, jadi jangan berhenti mencari alternatif akomodasi hingga mendapat yang betul-betul sesuai budget.
      - Jika tak ingin jauh-jauh dari pusat Maldives (terutama bagi partygoers), akomodasi di Hulhumale maupun Male bisa jadi pilihan. Selain karena memiliki beberapa opsi penginapan murah, dari kedua pulau tersebut cukup mudah untuk mengakses pulau lainnya karena banyaknya jam keberangkatan feri.
      - Seandainya tetep ngebet menginap di resort, selain harus pandai-pandai memilih budget resort, salah satu opsi untuk meminimalkan pengeluaran adalah dengan memesan “room only†alias nggak pakai makan. Konsekuensinya, kalau nggak mau puasa, ya harus berbekal makanan instan (ngenes banget nggak sih?).
      Transportasi
      - Sudah tahu kan jika moda transportasi penghubung antar pulau adalah pesawat domestik, seaplane, dan kapal fery? Jadi salah satu tips untuk menghemat biaya transportasi adalah dengan mempertimbangkan masak-masak itinerary wisata. Tentukan aktifitas wisata yang ingin dilakukan (misalnya: diving, snorkling, dan sebagainya) dan pilih lokasi yang saling berdekatan sehingga nggak perlu terlalu sering berpindah tempat.
      - Ini beberapa contoh tarif moda transportasi di Maldives:
      a. tarif taksi di Male dan Hulhumale ±MRF 25* (fixed rate).
      b. bus umum di Hulhumale ±MRF 3*.
      c. fery dari Male International Airport ke Male ±MRF 25-30*.
      d. fery dari Male ke Hulhumale ±MRF 5,5*.
      e. Untuk seaplane tarifnya bisa bervariasi tergantung destinasi tujuan di Maldives. Namun rata-rata bisa mencapai USD 350-500*/orang.
      - Untuk melihat jadwal keberangkatan kapal feri, bisa lihat disini.
      - Sedangkan untuk transportasi termurah menuju ke Maldives, selain harus rajin-rajin mencari tiket promo, sebaiknya pilih maskapai penerbangan murah seperti Tiger Airways. Sri Lanka Airlanes juga bisa jadi opsi menarik karena menyediakan jalur penerbangan dari Jakarta ke Maldives (via Srilangka).
      Tips lainnya
      - Saya sudah menjelaskan disini jika Maldives adalah negara Islam yang cukup ketat. Jadi sebaiknya jangan memakai pakaian yang terlalu terbuka saat berjalan-jalan di area publik dan jangan mengenakan bikini saat berjemur di pantai publik.
      - Di Maldives, sistem elektrik-nya 240 AC dan tipe colokan yang digunakan British Type.
      - Untuk berjaga-jaga, ketahui jam kerja pemerintah setempat yaitu mulai pukul 08.00-15.00 (Minggu-Kamis), dan jam kerja bank mulai pukul 09.00-15.00 (Minggu-Kamis). Nomor emergensi darurat adalah 119 (terhubung dengan kepolisian, ambulan, pemadam kebakaran).
      - Jika ngebet banget ingin menikmati pantai namun budget tak mencukupi untuk menginap di resort, siasati dengan menginap di penginapan yang lebih murah dan mengunjungi pantai maupun menjelajah pulau lain di siang hari.
      - Berencana liburan sambil membawa anak-anak? Berhubung di Maldives nggak ada Disneyland, pertimbangkan untuk memilih resort/hotel yang memiliki kids club. Pastinya perlu budget ekstra untuk itu, namun lumayan untuk menghindari rengekan si kecil saat bosan dengan aktifitas outdoor.
      - Tips terakhir ini bagi yang berniat untuk wisata ke Maldives sambil mencari pahala. Di Maldives banyak sekali lowongan untuk menjadi relawan dengan aktifitas beragam, mulai dari menyelamatkan kura-kura, menjadi guru, dan banyak lagi. Anda memang harus membayar sejumlah uang untuk dapat mengikuti program ini (bervariasi antara USD 1600*-1800*), namun sebagai gantinya para relawan akan mendapat akomodasi selama sebulan penuh (termasuk makan 3x sehari) dan menjalani berbagai pelatihan. Lumayan kan, bisa puas menikmati Maldives dengan biaya yang cukup terjangkau. Untuk detailnya, bisa lihat disini.
      Semoga bermanfaat.
    • By vie asano
      Balik lagi ke Maldivessss! Tapi kali ini saya ingin berbagi info penting bagi yang suka gratisan, khususnya gratisan wisata.
      Saya sudah pernah menulis tentang cara makan dan tinggal gratis selama wisata di Jepang. Salah satunya adalah dengan mengikuti program WWOOF Japan, maupun mengikuti program sejenis lainnya. Sebetulnya, dan sejujur-jujurnya, kedua program tersebut nggak murni gratisan. Untuk dapat mengikuti program-program tersebut, member harus membayar sejumlah biaya pendaftaran yang sebetulnya nggak ada apa-apanya dibanding dengan pengalaman yang akan didapat. Info lebih lengkap sudah saya tulis dalam tulisan terpisah, tinggal klik link-nya saja.
      Trus apa hubungannya dengan Maldives? Nah, di Maldives juga ada beberapa program serupa dengan program makan dan tinggal gratis di Jepang. Tapi sama seperti program WWOOF Japan dan sejenisnya, makan dan tinggal gratis di Maldives pun ada nggak 100% gratis. Lho, jadi yang katanya gratis itu ternyata nggak gratis? Penipuan dong? Tenang. Sabar, boss. Kayaknya, di dunia ini yang benar-benar gratis tanpa syarat dan ketentuan itu cuma udara ya. Jadi jangan berharap ada fasilitas makan dan tinggal gratis yang tanpa syarat dan ketentuan berlaku yah. Untuk lebih jelasnya, stay tune terus aja dengan penjelasan saya.
      Sebetulnya, masalah ini sudah pernah saya singgung sekilas disini. Hayo baca dulu! Intinya, di Maldives ada program penerimaan relawan. Hanya saja di tulisan sebelumnya saya hanya menyinggung sekilas lalu dan hanya menyertakan contoh dari satu sumber saja. Jadi pada kesempatan kali ini saya akan membahas lebih detail mengenai program relawan ke Maldives yang disarikan dari berbagai penyelenggara program untuk gambaran yang lebih akurat.
      Apa itu program relawan ke Maldives?
      Program relawan ke Maldives merupakan sebuah program yang menawarkan kesempatan bagi siapa saja yang tertarik untuk melakukan berbagai kegiatan amal di Maldives. Program ini tak hanya diselenggarakan oleh Volunteer Maldives yang saya tulis sebelumnya. Ada banyak penyelenggara program relawan ke Maldives, dan biasanya penyelenggaranya adalah lembaga non-profit.
      Kenapa harus mempertimbangkan jadi relawan ke Maldives?
      Alasan yang paling klasik (dan sebetulnya wajib jadi alasan utama) tentu saja karena faktor kepedulian. Di Maldives banyak program menarik yang berkaitan dengan konservasi alam dan komunitas yang membutuhkan bantuan dari siapa saja yang punya kepedulian sosial. Namun tentu saja ada nilai plus lainnya jika memilih jadi relawan ke Maldives. Mari saya coba jabarkan satu persatu.
      Pertama, dengan menjadi relawan, kesempatan untuk menikmati Maldives sampai kenyang akan jauh lebih terbuka dibanding berwisata 1-2 malam saja. Biasanya, program untuk relawan berlangsung selama minimal 2 minggu hingga 12 minggu, tergantung paket mana yang akan dipilih. Mantap kan?
      Kedua, sudah tahu kan jika biaya akomodasi di Maldives terbilang mahal? Nah, jika menjadi relawan, masalah akomodasi akan ditanggung oleh penyelenggara program. Lengkap dengan makan dan minumnya lho, 3x sehari. Tentu saja jangan ngarep bisa menginap sepuasnya di resort lepas pantai ya. Biasanya, ada 2 opsi akomodasi dari penyelenggara, yaitu antara menginap di asrama (model sharing bedroom dan bathroom dengan pemisahan gender), maupun menginap di rumah penduduk lokal. Mirip dengan program WWOOF Japan, bukan?
      Ketiga, dengan menjadi relawan, kesempatan untuk mengenali budaya lokal akan sangat terbuka. Apalagi jika Anda termasuk beruntung mendapat akomodasi di rumah penduduk lokal.
      Trus kerjaan relawan tuh apa saja? Jam kerjanya bagaimana?
      Dalam program WWOOF Japan, wisatawan harus melakukan pekerjaan tertentu selama 4-6 jam/hari selama 5-6 hari/minggu sebagai ganti akomodasi yang diberikan oleh host. Program relawan di Maldives juga tak jauh beda. Bedanya, jika pada program WWOOF Japan wisatawan bekerja untuk pihak swasta, dalam program relawan Maldives hasil kerja relawan dinikmati oleh banyak pihak (khususnya penduduk lokal).
      Banyak opsi pekerjaan yang bisa dilakukan. Biasanya pilihan opsi tersebut dilakukan saat proses melakukan pendaftaran. Saya coba membuat list beberapa pekerjaan (yang biasanya disebut dengan program) yang bisa dilakukan oleh relawan asing di Maldives:
      - Mengajar, baik itu sebagai guru pra-sekolah, sebagai asisten pengajar, maupun sebagai pengajar di sekolah. Biasanya yang dibutuhkan adalah pengajar untuk bahasa Inggris, seni, maupun musik. Nggak bisa bahasa Inggris dan nggak punya jiwa seni? Masih banyak alternatif pekerjaan, eh program lainnya.
      - Pengembangan komunitas, dengan jenis pekerjaannya antara lain bercocok tanam, membantu menyelenggarakan berbagai acara, menjadi konselor bagi anak-anak muda, bekerja di bidang pembangunan, maupun menjadi penulis yang mempromosikan kegiatan dalam komunitas tertentu.
      - Olah raga. Biasanya sih sebagai pelatih untuk sebuah tim olah raga, maupun menjadi pengajar untuk olah raga tertentu seperti voli, renang, maupun fitness.
      - Relawan program konservasi, dengan jenis pekerjaannya mulai dari konservasi alam, konservasi laut, menanam coral, hingga konservasi penyu.
      - Relawan medis.
      Itu sebagian pekerjaan yang bisa saya kumpulkan. Untuk durasi kerjanya rata-rata 5 hari/minggu, sehingga relawan punya tetap punya waktu senggang untuk bersenang-senang. Sedangkan untuk jam kerja/harinya bervariasi, tergantung program mana yang dipilih.
      Seputar biaya
      Nah, ini bagian nggak gratisnya. Sebagai relawan, Anda memang tidak dibayar. Namun Anda harus membayar sejumlah biaya pendaftaran untuk bisa mengikuti program ini. Memang sih kesannya seperti Anda harus membeli untuk keluar tenaga (jadi relawan), namun sejatinya uang pendaftaran tersebut akan disalurkan sebagai donasi untuk komunitas setempat, maupun sebagai sumber dana untuk operasional penyelenggara program (yang adalah lembaga non-profit). Relawan pun akan mendapat sejumlah fasilitas dan kemudahan lainnya, seperti mendapat akomodasi, makan dan minum, hingga bebas biaya bepergian antar pulau dengan perahu lokal (jika ingin naik seaplane, bayar sendiri yah). Oya, biaya yang dikeluarkan itu belum termasuk ongkos dari dan menuju Maldives, maupun biaya visa dan asuransi.
      Besaran biayanya bisa sangat bervariasi antara satu penyelenggara dengan lainnya, dan sangat tergantung juga pada jenis pekerjaan yang dipilih plus durasinya. Sebagai contoh, program Volunteer Maldives mematok biaya $1600* untuk aktifitas mengajar, dan $1800* untuk relawan medis dan konservasi, dengan durasi waktu 4 minggu. Biaya tersebut akan bertambah $500* jika durasi waktunya bertambah setiap 2 minggu (6 minggu, 8 minggu, maksimal 12 minggu). Atoll Volunteers memiliki biaya dan sistem yang berbeda lagi. Relawan bisa memilih durasi waktu mulai dari 2 minggu, 3 minggu, 4 minggu, 6 minggu, dan maksimal 12 minggu. Untuk biayanya tergantung pada aktifitas yang dipilih. Misalnya saja, jika ingin menjadi pengajar seni, biayanya mulai dari $770* untuk paket 2 minggu, $1050* untuk 3 minggu, $1400* untuk 4 minggu, dan seterusnya. Sedangkan jika ingin melakukan konservasi laut, biayanya mulai dari $980* untuk 2 minggu, $1350* untuk 3 minggu, $1800* untuk 4 minggu, dan seterusnya. Lain lagi jika ingin menjadi pelatih fitness maupun tenaga medis. Sebagai pelengkap, saya akan melampirkan contoh tarif dari penyelenggara Antipodeans Abroad dan Maldives Whale Shark Research Programme (MWSRP). Silahkan klik link di masing-masing nama untuk info lebih lanjut.
      Penutup
      Kaget lihat biayanya? Jangan dulu shock yah. Sebetulnya biaya-biaya tersebut relatif ekonomis lho jika dibandingkan dengan masa tinggal di Maldives yang minimumnya 2 minggu. Bahkan jauh lebih ekonomis jika dibandingkan dengan menginap selama 1-2 malam di resort ekslusif, maupun wisata 4-5 hari ala backpacking. Lagipula, nggak ada salahnya kan melakukan wisata sambil beramal (atau beramal sambil wisata)? Semoga infonya bermanfaat!

    • By vie asano
      Sebetulnya, sudah cukup lama saya ngebet banget nulis tentang Maldives. Tempat honeymoon paling populer di dunia ini memang sudah lama bikin penasaran, dan rasa penasaran itu semakin bertambah setelah muncul video tentang Meldaifs (tahu kan maksudnya?). Gemes-gemes gimana gitu, kepingin tahu apa saja sih yang ada di negara bulan madu itu. Hanya saja, rencana menulis tentang Maldives terpaksa ditunda dulu selama beberapa waktu. Repot sih kalau disangka black champaign. Jadi lebih baik sabar dulu sampai waktunya tepat. Begitu pikir saya.
      Foto 01 (a-d):
      Maldives, a country with a glance [foto: KingKurt22/wikimedia, B166-er/wikimedia, Bruno de Giusti/wikimedia, Godot13/wikimedia]
      Nah, berhubung kemarin acara coblos mencoblos sudah selesai dan sekarang tinggal pada dag dig dug menunggu hasil perhitungan suara, boleh dong saya mulai bercerita tentang pulau tropis nan cantik ini. Saya lihat sebetulnya Maldives cukup sering dibicarakan di forum Jalan2, khususnya untuk topik diving. Beberapa thread tentang Maldives bisa dilihat disini, disini, dan disini. Untuk panduan singkat tentang Maldives, thread yang cukup lengkap bisa dilihat disini. Namun karena rata-rata masih berfokus pada aspek wisatanya saja, untuk kali ini saya fokus berbagi aneka fakta seru lainnya seputar Maldives yang mungkin saja belum diketahui banyak orang. Biar nggak campur aduk, disini saya tetap menggunakan nama Maldives dibanding Maladewa.
      - Sejarah asli Maldives masih simpang siur karena fakta sejarah dan legenda saling campur aduk. Menurut legenda, penguasa pertama di Maldives berasal dari India, yaitu Sri Soorudasaruna Adeettiya, putra raja Kalinga yang sengaja dibuang ke Maldives (dulunya bernama Dheeva Maari). Sebelum kedatangan sang pangeran ke Maldives, di kepulauan ini sudah ada komunitas lokal yang memuja matahari dan air yang sudah eksis sejak 3000 tahun yang lalu. Dalam perjalanan sejarahnya, negara ini sempat dikuasai oleh negara lain seperti Portugis, Belanda, dan Inggris.
      - Lokasi Maldives terletak di barat daya dari Srilangka. Waktu lokal di Maldives adalah GMT+5, yang berarti lebih lambat 2 jam dari Waktu Indonesia Bagian Barat. Cuaca di Maldives selalu hangat sepanjang tahun dengan temperatur kira-kira 29-32 derajat celcius, sehingga paling cocok berkunjung ke Maldives dengan menggunakan pakaian kasual berbahan kaos. Oya, dari Indonesia ke Maldives kurang lebih membutuhkan waktu 4-5 jam naik pesawat, itu belum termasuk transportasi dari bandara internasional ke pulau tujuan yang diinginkan.
      - Maldives merupakan negara yang menganut sistem presidensial. Negara ini terbagi dalam 7 provinsi dan 21 wilayah administratif. Ibu kota Maldives adalah Male, dan disinilah populasi terbanyak penduduk Maldives berada. Mata uangnya adalah Rufiyaa dan Laaree (1 Rufiya = 100 Laarees). Namun nggak perlu khawatir jika nggak punya Rufiya atau Laaree. US Dollar banyak digunakan, dan beberapa resort menerima pembayaran kartu kredit ternama seperti American Express, Visa, dan sebagainya.
      Foto 02:
      (a & b.) Male, ibukota Maldives [foto: Shahee Ilyas/wikimedia, Giogio Montersino], (c.) Presidential residence di Male [foto: A Robustus/wikimedia], (d.) Male International Airport [foto: DD/wikimedia]
      - Sudah pada tahu kan jika Maldives adalah negara kepulauan? Totalnya, negara ini memiliki 1190 pulau yang tersebar di area seluas 90000 kilometer persegi, sehingga Maldives sekaligus diakui sebagai negara yang wilayahnya paling tersebar satu sama lain. Dari sekian banyak pulau tersebut, hanya 200 yang dihuni. Itu pun hanya 185 pulau yang dihuni secara permanen dengan total populasi 350000 orang. 105 pulau sudah menjadi resort ekslusif, dan 31 area lainnya sudah masuk dalam kategori dilindungi.
      - Lalu bagaimana caranya jika ingin bepergian dari satu pulau ke pulau lainnya? Berhubung disini nggak ada jembatan penghubung antar pulau, ada 3 opsi yang bisa dipilih. Pertama, dengan menggunakan penerbangan domestik. Walau negaranya relatif kecil, Maldives memiliki 4 bandara internasional dan 6 bandara domestik, dengan bandara terbesarnya terletak di Male, yaitu Ibrahim Nasir International Airport. Kedua, dengan menggunakan sea plane. Sayangnya tidak semua pulau memiliki fasilitas ini sehingga alternatif ketiga, yaitu menggunakan perahu, menjadi transportasi andalan lainnya di Maldives.
      Foto 03:
      (a & b.) Sea plane [foto: DD/wikimedia], (c & d.) Perahu [foto: Lauren reich/wikiimedia, DD/wikimedia]
      - Selain diakui sebagai negara dengan luas wilayah yang paling berceceran, Maldives juga memegang rekor lain yaitu sebagai negara dengan ketinggian paling rendah. Daratan Maldives rata-rata hanya setinggi 1,5 - 2,4 meter saja! Jadi nggak heran jika beberapa pulau di Maldives ada yang mulai hilang akibat naiknya air laut.
      - Sekalipun pernah dikuasai oleh berbagai bangsa asing, Maldives adalah negara Islam yang cukup ketat. Saking ketatnya, segala tindakan yang menjurus ke penistaan agama akan cepat mendapat respon, dan mempraktekkan agama lain secara terang-terangan juga dilarang disini. Fakta lainnya, di Maldives minuman beralkohol juga dilarang (kecuali di area resort), begitu juga dengan berjemur sambil topless di pantai.
      - Bahasa nasional dari Maldives adalah Dhivehi, dan penduduk asli Maldives disebut Dravidian. Walau begitu, bahasa Inggris dikenal oleh mayoritas penduduk Maldives, jadi nggak perlu khawatir jika nggak kenal bahasa Dhivehi. Selain bahasa Inggris, bahasa asing lain yang cukup populer disini adalah Jerman, Italia, Jepang, dan Prancis.
      - Biasanya, citra tentang Maldives selalu ditampilkan melalui gambar-gambar resor tepi lautnya. Pariwisata memang menjadi daya tarik utama dari Maldives. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukan selama berwisata ke Maldives:
      1. Bulan madu. Sudah tahu kan jika Maldives populer sebagai negara tujuan bulan madu? Di Maldives memang banyak terdapat resort papan atas dengan pemandangan ciamik ke arah laut lepas maupun pantai berpasir putih. Beberapa resort menawarkan aktifitas tambahan yang pastinya akan membuat suasana bulan madu semakin mantap, seperti makan di tepi pantai, berenang bersama, dan sebagainya. Untuk harga resortnya termasuk bervariasi, tergantung apa ingin menginap di penginapan biasa atau di cottage lepas pantai. Yang pasti sih makin jauh ke laut, maka harga cottage-nya pun makin melambung.
      Foto 04 (a-d):
      Resort di Maldives [foto: Business slayer/wikimedia, huvavenfushi/wikimedia, Bruno de Giusti/wikimedia, B166-er/wikimedia]
      2. Melakukan berbagai olah raga air, seperti menyelam, berselancar, dan sebagainya. Walau Maldives terkenal sebagai salah satu negara terbaik untuk menyelam, beberapa teman dengan bangga menyatakan jika kekayaan alam bawah laut di Indonesia nggak kalah (dan bahkan lebih menarik) dari Maldives. Mungkin yang belum ada di Indonesia adalah restoran bawah air, jadi jika malas menyelam, bisa mempertimbangkan mampir ke resto ini.
      Foto 05:
      (a.) Ithaa Restaurant [foto: Alexey Potov - noblige/wikimedia], (b.) Windsurfing di Maldives [foto: eNil/wikimedia]
      3. Melakukan studi banding. Maldives memiliki banyak sekali pulau menarik yang masih menjunjung tinggi kearifan lokal. Beberapa pulau bahkan terbilang relatif perawan sehingga menantang untuk dijelajahi oleh para pecinta alam. Sebagian pulau lainnya menawarkan aktifitas seru seperti memancing di malam hari. Jadi jangan hanya mentok di resort saja, karena masih banyak pulau lain di Maldives yang bisa dikunjungi.
      Foto 06:
      (a.) Tari tradisional Maldives [foto: Xavier Romero-frias/wikimedia], (b.) Salah satu pulau tak berpenghuni di Maldives [foto: Nizam Ibrahim/wikimedia]
      4. Santai dan menikmati suasana. Pasir putih dan laut biru yang membentang luas selayang mata memandang. Apa lagi yang paling asyik untuk dilakukan selain menikmati suasana? Terlebih karena di Maldives satu pulau diperuntukkan untuk satu resort sehingga tingkat privasi-nya cukup tinggi.
      Foto 07 (a-d):
      Pulau resort di Maldives [foto: Giorgio Montersino/wikimedia, Adrian.benko/wikimedia, Patrick Verdier/wikimedia, MadMedea/wikimedia]
      5. Spa. Tak hanya Bali yang dikenal memiliki berbagai tempat spa kelas dunia. Di Maldives juga terdapat beberapa tempat spa yang menarik juga untuk dicoba.
      6. Menikmati sea plane. Bagi wisatawan yang baru berkunjung ke Maldives, naik sea plane bisa jadi aktifitas wisata tersendiri lho. Terlebih karena dari sea plane wisatawan bisa menikmati uniknya hamparan pulau di Maldives. Mau sambil foto-foto? Boleh juga.
      Demikian sekilas fakta tentang Maldives. Rencananya saya masih akan berbagi beberapa informasi tentang Maldives. Untuk detailnya, tunggu tulisan selanjutnya ya (promosi mode on).
      ***
      * Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username wikimedia.
    • By Dantik
      Hari 1, 5 Mei 2018 : Athena
      Hari 2, 6 Mei 2018 : Roma
      Hari 3, 7 Mei 2018
      Setelah perjalanan selama 6,5 jam dari Roma menuju Venice, akhirnya kami turun di Venezia (Tronchetto) – P.le People Mover Isola Nova. Tronchetto ini adalah tempat Bus and Car parking. Jadi seandainya kita sewa mobil pribadi dari Roma ato daerah lain ke Venice, kita harus parkir di tempat ini. Pengalaman naik Bus Center tidak seenak naik Flix Bus. Menurut kami Flix Bus lebih nyaman dari Bus Center. Dari segi tempat duduk, wifi, charger maupun toilet. Untung pulangnya naik kereta.

      Sebelumnya kami ke WC dulu untuk cuci muka dll karena People Mover baru buka pukul 08.00. People Mover menghubungkan Tronchetto dan Piazzale Roma. Harga tiket untuk sekali jalan 1.50 euro. Setelah People Mover beroperasi, kami adalah orang yang pertama karena di Tronchetto ini belum banyak orang seperti di Piazza Roma.

      1. P.Le Roma
      Tronchetto dan Piazzale Roma adalah satu-satunya tempat di Venice yang dapat diakses oleh mobil, bus dan trem. Di sini juga terdapat Vaporetto Piers yang bisa membawa kita kemana saja menggunakan Vaporetto (bus air). Piazzale Roma termasuk tempat yang tersibuk di Venice.

      Calatrava bridge adalah jembatan pertama yang kami lewati. Jembatan ini adalah salah satu dari 4 jembatan yang melintasi Grand Canal di Venice, yang menghubungkan Stasiun Kota dengan Piazza Roma. Dulu saya pernah nonton di NatGeo bahwa jembatan ini merupakan salah satu kesalahan konstruksi yang fatal karena panel kaca yang licin. Akibatnya pemerintah setempat harus merogoh kocek lagi untuk merenovasi jembatan tersebut.
      2. Basilica Dei Frari
      Dari Piazza Roma kami berjalan melewati Stasiun Santa Lucia menuju jembatan kedua yaitu Scalzi bridge.

      Sepanjang jalan kami melihat orang-orang lokal yang saling menyapa satu sama lain. Setiap gang-gang kecil yang kami lewati belum terlihat toko-toko yang buka hanya beberapa saja yang baru mulai menata barang-barangnya. Banyak juga toko yang menjual pernak-pernik karnaval, kain, hiasan kaca dan lain2. Akhirnya kami sampai di Basilica Dei Frari.

      3. Galleria Dell’Accademia
      Dari Basilica Dei Frari kami berjalan ke Galleria Dell’Accademia melewati Scuola Di S.Rocco dan Ca’Rezznico.

      Setelah sampai di Galleria Dell’Accademia, kami melihat jembatan ke 3 yaitu Accademia bridge sedang di renovasi. Sayang, kami tidak bisa mengambil foto di depan jembatan Accademia.

      4. Santa Maria Della Salute
      Kemudian kami berjalan menuju Santa Maria Della Salute. Dari kejauhan gereja ini sudah terlihat dengan kubah hijau yang besar.


      Ga kebayang klo kami sedang berada di Venice, hihi… macam mimpi aja (sambil saling memandang).

      5. Basilica Di S.Marco
      Dari Santa Maria Della Salute kami menyeberang menggunakan Traghetto. Klo kamu ingin coba naik gondola tapi ga ingin bayar mahal, mungkin naik Traghetto bisa menjadi pilihan. Traghetto adalah kapal penumpang yang melintasi Grand Canal di Venice. Traghetto itu adalah gondola besar tanpa hiasan busur, kursi yang dirajut, dan hiasan mewah lainnya. Mereka didayung oleh dua pendayung: orang yang berdiri di belakang penumpang seperti pendayung gondola tradisional, yang lain lebih dekat ke haluan. Carilah Traghetto Pier terdekat, biaya 2 euro per orang.

      Setelah menyeberang kami menuju Basilica Di S.Marco. Masuk melalui Correr Museum di sini banyak sekali wisatawan, baik yang mengantri untuk masuk ke dalam Basilica Di S.Marco maupun hanya berfoto di Piazza S.Marco.


      6. Ponte Dell’Arsenale
      Sebelum sampe di Ponte Dell’Arsenale kami melewati Chiesa S.Zaccaria, Chiesa Di S.Giovanni In Bragora dan Ca’ Di Dio. Akhirnya kami sampe juga di Ponte Dell’Arsenale setelah berjalan seharian dan tidak tahu sudah seberapa jauh kaki ini melangkah.

       
      7. Chiesa S. Maria Formosa
      Ponte Dell’Arsenale adalah titik terjauh perjalanan kami, kemudian kami kembali ke arah barat yaitu perjalanan pulang ke Stasiun Santa Lucia. Kami berjalan melewati Chiesa Dei Greci, Chiesa Di San Lorenzo.

      Karena kaki sudah keriting ada beberapa yang kami skip diantaranya Chiesa Di S.Giovanni E Paolo dan S.Maria Nova Church.

      8. Ponte di Rialto
      Ponte di Rialto adalah jembatan ke 4 di Venice. Jembatan yang paling terkenal dan pertama kali dibangun menyeberangi Grand Canal. Jembatan ini sudah mengalami renovasi dari bentuk awalnya yang terbuat dari kayu.

      Ponte di Rialto ini adalah last trip kami sebelum kami kembali ke Stasiun Santa Lucia. Dari sini lah kami merasa “Lost in Venice” karena banyak sekali marka jalan menunjuk arah yang sama. Sudah beberapa kali salah jalan, karena wisatawan menyebar ke segala arah membuat kami tidak bisa berpatokan pada arah yang kami tuju. Akhirnya kami menemukan jalan yang sama pada waktu kami berangkat. Dari situ segalanya mudah sampai kami ketemu Scalzi Bridge, lalu Stasiun Santa Lucia.
      Kami menunggu di depan Stasiun Santa Lucia sampai jadwal keberangkatan kereta kami tiba. Kami menggunakan Trenitalia dari Venice S. Lucia ke Rome Termini dengan harga 19.90 euro.

       
    • By evichandrawati
      Hallo saya Evi,
      Saya dan 1 teman saya mau ke Maldives 28 Maret - 1 April. Kita mau cari 1 orang lagi biar cost nya lebih hemat. Berikut itinerary nya
      28 Maret
      Jkt - Male (Kita pake AA, Landing 20:30)
      Transfer ke Maafushi island by Speedboat (jadwalnya jam 22:00, jd penerbangannya ga bs lewat dari ini)
      29 Maret
      Keliling pulau Maafushi, Bikini Beach, sunset.
      30 Maret
      Snorkeling, Sand Bank & Dolphin View
      31 Maret
      Resort day trip. Gak nginep di Resort, tapi tetep bisa poto ala-ala di resort.
      1 April
      Kembali ke kota Male (Ferry). Kalo bosen di kota Male dan dirasa belum gosong, kita bisa nyebrang ke public beach dan foto2 background nya laut + kota Male.
      Penerbangan balik ke Jakarta by AA (jam 9 maleman)
       
      Biaya share cost 4 Juta - 4.2 juta. Bisa cek di open trip nya Maldiveslowbudget(dot)com, cost nya 4.799K belum termasuk RESORT DAY TRIP. Total 6.5 juta - 7 juta. Kalau SC inj mau ditekan bisa, tapi konsekuensinya di waktu dan punggung .. Contohnya D1 tidur di airport.. Transfer ke Maafushi pake Ferry PP (2 jam dan hanya ada jam 10 & jam 3, speedboat 30 menit).
      Rinciannya:
      1. Penginapan 4 malem 1.400.000
      2. Transport (1x speed boat + 1x Ferry) 420.000
      3. Snorkeling package (Lunch, soft Drink, gear) 560,000 - 700,000 (kalo disana banyak barengan bs lebih murah)
      4. Resort day trip (Entrance fee, transfer pp, Lunch Buffet, Unlimited drink non / alcohol) 1.680.000
      Yang gak termasuk
      1. Tiket Pesawat. AA lagi promo penerbangan pagi. Kalo jadwal sama sekitar 3.7 juta
      2. Makan malem
      3. Lunch tgl 29 maret dan tgl 1 April
       
      Yang minat bisa kontak WA saya 081572179990
       

    • By Vara Deliasani
      Venice atau yang biasa disebut Venezia merupakan salah satu kota mainstream kalo jalan ke Eropa. Sebelum berangkat gw galau mau mampir ke venice atau ngga. Karena menurut pendapat temen-temen gw yang udh kesana venice sih overrated. Manalah tiket kereta dari Roma ke Venice juga lumayan mahal. Tapi karena ternyata tiket promo yang available emang harus lewat Venice yaaa udah deh "terpaksa" mampir di venice.
      Sedikit cerita soal Venice... Venice terletak di northeastern Itali, yangvterdiri dari 117 pulau yang dipisahkan oleh kanal-kanal. Sehingga Venice sering disebut sebagai kota air atau kota terapung.
      Dengan kepasrahan tingkat tinggi akhirnya gw berangkat dari Roma ke Venice menggunakan kereta cepat. Gw berangkat dengan ekspektasi yang ala kadarnya. Berpikir bahwa penutupan perjalanan di Eropa kali ini akan antiklimaks.

       
      Sampai di Venice gw ga terlalu "bersemangat" karena mikirnya udah negatif yaaa akhirnya nemu aja semua kekurangan.. yang kanalnya berasa gini doang.. bangunannya bau lembab.. dll. Tapi dipikir udah sampe sini ya udah laah yaa dinikmatin aja.
      Ternyata begitu memasuki "kota" berjalan menyusuri lorong-lorong sempit dan jembatan-jembatan melintasi kanal barulah gw menyadari keindahan Venice. Terlepas dari kekurangannya, Venice punya keunikan sendiri dan daya tarik yang ga dimiliki kota lain. Atmosfirnya pun berbeda... membuat semua pikiran jelek gw menghilang. Yang tadinya bau lembab yg gw anggap menggangu justru menjadi daya tarik tersendiri. Membuat suasana terkesan tua dan magisnya dapat banget.. Aaaahhh susah ngejelasinnya.. mungkin biar foto-foto berikut ini yg ngegambarin betapa indah dan uniknyanya Venice. Yang jelas emang harus nyoba dateng kesini.


       

       
       
      Venice itu kecil banget sih.. 1hari full udah cukup. Kecuali emang mau nyebrang ke pulau Burano dan Murano. Gw cm 1hari 1 malam disini, ga sempet mampir ke Burano dan Murano. Daaannn asliiiii gw nyeseeeelll bangeeeeettt!!! Jadilah gw cuma muter-muter di pulau utama aja. 
      Sampe di Venice dari stasiun atau terminal bisa bisa naik ferry atau taksi air ke St. Mark's Square. Atau kalau mau jalan santai juga bisa kok. Cuma yaaa lumayan jauh juga. Sampai di alun-alun mulai deh jalan kaki ke Bassilica. Lalu menyusuri lorong-lorong kecil, naik turun tangga, menyeberangi kanal-kanal kecil menuju ke rialto bridge. Jalan menyusuri lorong-lorong ke seluruh tempat wisata utama. 




       
      Asli yaa sepanjang jalan itu asiknya dinikmatin sambil makan gelato dan kue-kue khas Venice. Jalan santai, nyasar-nyasar dan nemuin toko-toko lucu. 

      Di tengah jalan jangan lupa naik gondola yaa... ini wajib banget. Emang agak mahal tp gw jamjn ini sepadan banget! Saat naik gondola kita akan diajak mengitari canal-canal kecil yang mengelilingi kota, lalu menuju ke canal grande, dan kembali ke tenpat awal naik. Nyeberang lalu menyusuri sepanjang canal dan mampir buat makan malam.


       
      Makan dipinggir canal sambil nikmatin Venice diwaktu malam.. ini kegiatan wajib!! Tadinya ragu mau mampir karena takut harganya mahal banget. Tapi karena hari terakhir, besoknya balik ke Jakarta, ya udah dinekatin aja.
      Eeh ternyata pas duduk, liat menu harganya ga jauh lah kaya makan di cafe atau resto di Jakarta. Syeeennnaaaaanggg.. jadilah kalap mesen segala jenis makanan. Yang wajib dicoba pasta cumi hitam. Asliii. Enak banget. Sambil nunggu makanan dateng wajib nyobain minum Limoncello, liquer lemon khas itali selatan. Duduk-duduk santai dipinggir canal sambil makan, ngobrol dan nge-wine.. aaahhh.. ini nikmat bangeettt!!!

      Ga berasa udah jam 9 malam. kenyaaangg.. Waktunya jalan kaki balik ke Hotel. Dan ternyata jam 9 malam Venice udah sepi banget. Serem-serem gimana gitu kalo nyasar.. soalnya banyak jalan buntu. Akhirnya jam 10 berhasil sampe di hotel. 
      Aaaaahhh Venice.. sebuah kota yang manis buat menutup perjalanan gw di Eropa.