Sign in to follow this  
praspraspras

agenda selanjutnya : Grindelwald di Swiss

5 posts in this topic

udah ada yang pernah ke Swiss? pernah denger Grindelwald?ini tujuan wisata saya selanjutnya *gak tau selanjutnya itu kapan, yang penting direncanain.

kenapa ngerencanain ke Grindelwald? yang pasti, karena katanya lebih indah dari paris, lebih indah dari barcelona. dari yang saya lihat di foto2 nya juga pendapat saya sih seperti itu. gak percaya?silahkan buka google image, kemudian tulis kata kunci grindelwald. banyak sekali foto pegunungan yang tertutup es yang keluar dari hasil pencarian itu.

Grindelwald adalah barisan pegunungan tertua di Swss bahkan di Eropa malah. letaknya sebelah utara pegunungan alpen. depannya, ditempati oleh rumah rumah yang dibuat dari kayu berwarna coklat. indah layaknya negri dongeng.

menurut beberapa sumber yang pernah datang kesana, grindelwald adalah salah satu tempat tujuan wisata yang paling dicari. eksotisme dan keindahan yang ditawarkan bener bener memuaskan pandangan pengunjungnya.

menurut sumber juga, untuk bisa ke Jungfraujoch atau puncak gunungnya grindelwald tersebut, kita harus naik kereta jurusan internasional dari bandara terdekat yang ada di Zurich. nanti setelah sampai di interlaken, tempatnya grinderwald ini, untuk bisa ke puncaknya harus naik kereta lagi yang jalannya miring menyusuri pinggir gunung itu dengan harga kurang lebih 89 poundsterling pulang pergi.

biar tambah ngiler, ni saya tampilin deh foto fotonya, mana tau ada yang berminat juga kesana, di klik aja ya

post-56-0-98550900-1349085599_thumb.jpgpost-56-0-41886400-1349085600_thumb.jpg

Share this post


Link to post
Share on other sites

kalau mau ke grindelwald - jungfraujoch sering2 cek promo, lumayan sering ada promo paket tiket kereta plus hotel. saya pernah dapet tiket interlaken-jungfraujoch pp plus 1 malam di backpacker villa sonnenhof cuma dengan harga 90CHF aja, padahal tiket interlaken-jungfraujoch pp doang aja ga dapat segitu

http://www.jungfrau.ch/en/tourism/places-to-visit/jungfraujoch-top-of-europe/packages/

Share this post


Link to post
Share on other sites

kalau mau ke grindelwald - jungfraujoch sering2 cek promo, lumayan sering ada promo paket tiket kereta plus hotel. saya pernah dapet tiket interlaken-jungfraujoch pp plus 1 malam di backpacker villa sonnenhof cuma dengan harga 90CHF aja, padahal tiket interlaken-jungfraujoch pp doang aja ga dapat segitu

http://www.jungfrau....urope/packages/

wow, thx banget infonya om, jadi makin tertarik ni dateng ke grindelwald..kalo bisa sekalian info info penting lainnya dong om, apa aja yang harus kita jaga selama ada di swiss..sekalian berbagi pengalaman, please..

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By Nightrain

      suasana di Camp Nou (markas Barcelona)
      Bulan Mei umumnya merupakan waktu yang paling nyaman untuk mengunjungi sebagian besar negara Eropa karena mulai masuk puncak musim semi dengan suhu hangat yang sangat mirip dengan Indonesia. Kali ini kita memutuskan untuk mengunjungi Spanyol dengan tujuan 3 kota besar-nya yaitu Madrid, ibukota yang berada di tengah; Barcelona, kota pinggir laut yang terletak di timur Spanyol; dan Sevilla, yang merupakan ibukota wilayah Andalusia di selatan.
      Kita juga sempat mampir ke negara kecil Andorra yang terjepit antara Spanyol dan Perancis di area pegunungan Pyrenees karena mudah dijangkau dengan bus dari Barcelona. Lokasi Spanyol dan Maroko yang berdekatan juga membuat kita tidak melewatkan kesempatan untuk menginjakkan kaki pertama kali di benua Afrika dan menghabiskan waktu 3 hari melihat negara eksotis ini.
      Day 1 - Puerta del Sol, Madrid (Selasa, 5 Mei 2015)
      Kita tiba di airport Barajas Madrid sekitar pukul 2 siang waktu setempat atau kurang lebih jam 7 malam WIB. Suhu waktu itu masih sekitar 20 derajat dan setelah melalui proses cek imigrasi dan mengambil bagasi, kita menuju ke stand Lebara untuk mengganti SIM card lokal dengan unlimited internet. Biaya internet di Spanyol relatif murah, sebulan berkisar antara €10 - €15. Selain operator Lebara, disarankan untuk menggunakan Vodafone atau Movistar.
      Untuk menuju ke hotel, ada opsi bus dan subway, namun karena kita belum ada gambaran mengenai lokasi sekitar hotel, jadi daripada buang waktu nyasar, kita langsung menuju taxi stand dan di-charge flat rate €30 ke downtown. Tiba di hotel dan selesai check-in, kita langsung menuju stasiun subway untuk menuju lokasi pertama yaitu Puerta del Sol. Ini adalah titik 0 kota Madrid, alun-alun utama dan di sekeliling lokasi ini banyak sekali turis maupun orang lokal yang sering berkumpul. Artis jalanan juga memadati area sekitar patung kuda untuk mencari sesuap nasi, mulai dari penyanyi kwartet, badut dengan kostum lucu, 'patung statis', dan sebagainya.
       
      Puerta del Sol cocok menjadi starting point Anda untuk menjelajahi kota Madrid karena dari sini Anda bisa menjangkau beberapa landmark dengan berjalan kaki, dimulai dari Plaza Mayor, kemudian mampir sebentar ke Mercado de San Miguel dan sekitar 10 menit Anda akan tiba di Royal Palace of Madrid yang juga berhadapan dengan Catedral de la Almudena. Jangan lupa untuk memperhatikan jadwal buka istana apabila Anda ingin masuk ke dalam, tapi kalau hanya sekedar berfoto di luar saja, paling bagus ambil momen menjelang sunset.
         

      Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam namun hari masih terang karena bulan Mei sudah mendekati musim panas dan di Eropa biasanya sunset baru dimulai sekitar jam 8 malam. Siang hari terasa lebih panjang lagi menjelang Juni karena matahari baru terbenam sekitar jam 9.30 malam. Di Spanyol, kebanyakan orang baru mulai makan malam sekitar jam 9 malam namun restoran rata-rata sudah buka dari jam 5 atau 6 sore, jadi untuk menghindari peak hour sebaiknya jam 8 sudah selesai makan.
      Setelah selesai mengisi perut di salah satu resto terdekat, kita pun kembali ke hotel untuk beristirahat.

      Day 2 - Santiago Bernabeu dan Retiro Park, Madrid (Rabu, 6 Mei 2015)
      Tidak lengkap rasanya kalau ke Madrid tanpa mengunjungi markas klub sepakbola Real Madrid. Terlepas Anda suka atau tidak dengan klub ini, atau bahkan bukan penggemar sepakbola, Real Madrid (dan juga rival mereka, Barcelona) sudah menjadi icon penting negara Spanyol dan tergolong mudah untuk menjangkau stadion klub yang sudah berdiri lebih dari 100 tahun lalu ini.

      Lokasinya terletak sekitar 6km arah utara Puerta del Sol dan opsi termurah untuk menuju kesana yaitu lewat subway. Buat yang pengen nonton pertandingan, disarankan untuk beli dulu tiket via ticketmaster H-10 untuk menghindari antrian panjang dan kadang untuk big match, belum tentu tiket masih ada pas hari H, namun buat yang pengen liat stadion aja, sebaiknya datang persis jam 10 pagi supaya belum terlalu banyak turis yang datang.
      Tiket masuk untuk tur stadion sekitar €19 dan durasi tur biasanya sekitar 1 jam. Dengan tiket ini, Anda bisa naik ke lantai atas untuk melihat stadion dari tempat tinggi, kemudian lanjut ke dalam museum Madrid untuk melihat koleksi piala, sejarah dan rekor klub, tim inti beserta jersey-nya, dan berbagai macam pernak-pernik Real Madrid, kemudian Anda juga bisa mendapatkan kesempatan untuk berfoto dan ada petugas yang akan memilih pemain mana yang akan di-crop ke dalam foto tersebut, dan tentu Anda juga bisa mengitari stadion, mencoba duduk di kursi VIP, di bangku cadangan pemain, dan akhirnya membeli berbagai souvenir klub.
       
       
      Selesai dari Santiago Bernabeu, kami mampir ke salah satu restoran di seberang stadion untuk makan siang dan kemudian lanjut menuju pusat kota Madrid yaitu Gran Via. Lokasi Gran Via ini mungkin bisa dikatakan adalah 'Orchard Street'-nya Madrid buat yang familiar dengan kota Singapore. Di jalanan panjang ini berjejer berbagai bangunan tinggi, ada mall, toko, kantor, bahkan kasino. Tentu dengan aristektur bangunan yang juga bervariasi mulai dari klasik hingga modern sehingga nuansa Eropa masih terasa banget. Lokasinya kurang lebih satu blok dari area Malasana tempat hotel kita berada. Area ini bagus juga untuk dijadikan starting point apabila Anda ingin mencari hotel dengan best value, dekat dengan subway, dan cukup banyak restoran di sekitarnya.
       
      Kita menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk berkeliling di sekitar Gran Via dan apabila Anda terus berjalan ke arah timur, Anda akan tiba di Plaza de Cibeles. Di dekat bundaran ini ada Palacio de Cibeles (Cybele Palace) yang sekarang sudah dijadikan City Hall. Lokasi Plaza Cibeles ini juga selalu dijadikan tempat berkumpul fans Real Madrid apabila tim mereka juara dan juga menjadi tempat perayaan tahun baru buat warga kota Madrid. Tidak jauh dari Cibeles, Anda akan tiba di bundaran berikutnya, Puerta de Alcala dan dari lokasi tersebut, Anda akan menemukan pintu masuk ke salah satu taman terbesar Madrid yaitu Retiro Park.
      Buat yang senang art, lokasi taman ini pun tidak jauh dari Prado Museum yang juga merupakan salah satu attraction kota Madrid. Apabila cuaca bersahabat, Anda bisa berjalan santai menuju ke arah danau kecil dan Monument Alfonso XII. Banyak bangku taman berjejer di sana untuk sekedar beristirahat sambil menikmati udara sore dan juga ada beberapa penjual makanan ringan di sekitar situ apabila Anda ingin mencari snack atau minuman ringan. Terlihat banyak warga memadati taman, ada yang bersepeda santai, ada juga yang jogging sore, dan ada juga yang mengitari danau dengan kano.
       
      Waktu kurang lebih pukul 5 sore ketika kita memutuskan untuk kembali ke hotel dulu untuk sekedar rileks dulu. Menjelang jam 7.30, kita berjalan santai menuju restoran Bodega de la Ardosa, salah satu tapas bar di sekitar hotel untuk makan malam. Tiba di sana, baru sekitar 3-4 meja yang terisi karena memang jam restoran terpadat adalah jam 9 malam, apalagi kalau pas weekend dan ada siaran bola. Buat yang belum tahu apa itu tapas, jadi itu adalah sebutan untuk appetizer atau snack khas Spanyol, tersedia baik yang panas (daging/seafood/kentang/dll) maupun dingin (cheese/mixed olives/berbagai macam sayuran/dll). Namun warga Spanyol sering juga menjadikan tapas sebagai main course, bukan sekedar makanan pembuka, karena di satu meja, mereka bisa saja mengorder 6-7 piring tapas untuk 3-4 orang. Mungkin analogi yang agak mirip yaitu seperti sushi di Jepang dimana satu piring bisa terdapat banyak jenis menu untuk di-share.
      Restoran yang kita tuju tersebut merupakan rekomendasi dari resepsionis hotel dan kebetulan mendapatkan skor 4 bintang di tripadvisor. Review restoran di tripadvisor biasanya merupakan opini objektif dari turis berbagai negara sehingga kalau total rating sudah 4 bintang ke-atas, umumnya lumayan atau enak karena pernah juga kita hanya mengandalkan usulan dari salah satu orang lokal dan ternyata hasilnya sangat mengecewakan.
       
      Day 3 - Casa Batllo dan Passeig de Gracia, Barcelona (Kamis, 7 Mei 2015)
      Setelah kelar packing dan check-out, kita bergegas ke stasiun kereta Madrid Atocha dengan menggunakan taxi. Lokasi stasiun tidak jauh dan kurang lebih 15 menit kemudian kita sudah tiba. Tiket kereta cepat AVE dari Madrid menuju Barcelona sudah dipesan dari Indonesia sehingga waktu dan jam sudah fixed. Cara pemesanan tiket tersebut tidak sulit namun untuk menghindari kesalahan, silahkan baca petunjuk 'Buying Renfe Tickets Online' di : http://www.tripadvisor.com/Travel-g187514-c80518/Madrid:Spain:Buying.Renfe.Tickets.Online.html. Untuk harga tiket kereta, ada diskon lumayan apabila Anda booking sekitar 2 bulan sebelum keberangkatan. Kereta pun berangkat sesuai jadwal dan kurang lebih 3 jam kemudian kita sudah tiba di Barcelona. Opsi yang lebih murah bisa menggunakan kereta biasa dengan waktu perjalanan sekitar 6-7 jam dan ada juga yang overnight train untuk menghemat biaya hotel semalam, sekitar 10 jam sampai Barcelona.

      Dari stasiun, kita naik taxi menuju hotel yang ada di Carrer de Mallorca. Sama seperti Madrid, lokasi Mallorca ini cukup dekat dengan jalan protokol, Passeig de Gracia, namun harga penginapan relatif wajar, bahkan tergolong murah. Setelah check-in, kita mampir ke salah satu restoran di dekat hotel untuk makan siang. Impresi pertama cukup baik dan rasanya overall lebih enak dari hampir semua resto di Madrid yang kita coba. Lokasi pertama yang kita tuju adalah Passeig de Gracia karena memang paling dekat dari hotel. Ini adalah 'Gran Via'-nya Barcelona dan buat yang senang shopping, di sinilah surga-nya, mulai dari LV, Prada, Valentino sampai Zara, Mango, dan Puma tersebar di sepanjang jalan. Buat yang tidak senang shopping, jangan khawatir karena banyak juga kafe dan restoran tempat kongkow dan beberapa landmark terkenal seperti Casa Batllo dan La Pedrera.
        
      Untuk masuk ke Casa Batllo, Anda perlu membeli tiket dan dianjurkan untuk membeli tiket secara online karena Anda tidak perlu antri sampai satu jam pada saat mau masuk ke dalam. Bangunan ini adalah hasil karya dari arsitek legendaris Spanyol yaitu Antoni Gaudi. Beliau adalah sosok populer di balik megah-nya bangunan 'Modernista' seperti Sagrada Familia, Casa Mila, dan Casa Batllo tadi. Apabila Anda tertarik untuk mengetahui sejarah penghuni dan ruangan Casa Batllo, di dalam Anda akan dibekali dengan seperangkat alat yaitu tablet dan headphone dan dari lantai atas juga Anda bisa menikmati Passeig de Gracia yang padat dengan turis, warga lokal, maupun kendaraan yang lalu lalang. View bangunan ini juga akan lebih bagus pada saat menjelang malam hari karena lampu-lampu yang dinyalakan akan mempertegas struktur bangunan tersebut yang unik dan indah.
      Tidak terasa kita berjalan hingga pukul 9 malam dan karena di Indo sudah jam 3 pagi, tiba-tiba badan baru berasa lemes dan ngantuk, karena baru hari ketiga dan masih belum adaptasi penuh dengan perubahan jam. Kita pun kembali ke hotel untuk beristirahat.
       
      Day 4 - Palau de la Musica Catalana dan Montserrat (Jumat, 8 Mei 2015)
      Kita mengawali hari ke-empat dengan mengunjungi Palau de la Musica Catalana. Ini adalah tempat konser dengan arsitektur khas Modernista dan merupakan hasil karya Lluís Domènech i Montaner. Tempat ini juga merupakan UNESCO World Heritage Site sejak 1997 dan buat yang senang dengan bangunan unik khas Spanyol, tempat ini layak dikunjungi. Harga tiket masuk kurang lebih sekitar €17 / orang dan kita akan ditemani oleh seorang guide yang dengan senang hati akan menjelaskan mulai dari sejarah tempat ini, konser apa aja, dan cerita-cerita menarik di balik ukiran dan tatanan di dalam gedung tersebut.
       
      Persis di seberang gedung ini ada restoran yang bernama Tosca dan makanannya termasuk enak serta harga relatif wajar. Pelayannya ramah dan cukup fasih berbahasa Inggris, mungkin karena setiap hari banyak turis yang mampir setelah mengunjungi Palau. Salah satu menu andalannya adalah Jamon Iberico atau Iberian Ham, dan sebagian besar berasal dari daging babi yang digarami dan dikeringkan beberapa bulan. Mungkin karena terbiasa makan daging asin ini, banyak variasi makanan Spanyol lainnya malah jadi berasa terlalu asin untuk lidah kita. Untuk yang tidak mengkonsumsi babi, ada baiknya memesan kentang, seafood, dan sayur-sayuran karena selain ham, makanan lain di resto ini juga enak termasuk kentang goreng khas Spanyol.
      Setelah makan, kita menuju Plaza Catalunya, alun-alun utama kota Barcelona yang menjadi meeting point dari daytrip sore itu menuju Montserrat. Tempat wisata ini berasal dari kata 'serrated' karena beberapa puncak gunung yang berdempetan memiliki tinggi yang berbeda sehingga terlihat seperti gergaji dari kejauhan. Di sini terdapat biara Benedictine yang bernama Santa Maria de Montserrat dan seringkali merupakan tempat retreat untuk warga lokal Spanyol. Selain itu, para pecinta alam juga senang mendaki gunung ini dan termasuk populer di kalangan turis.
       
      Area gunung ini bisa dicapai dengan driving sekitar 1 jam dari kota Barcelona. Untuk yang waktunya terbatas, sebaiknya menggunakan local tour untuk ke Montserrat karena perbedaan biaya tidak terlalu banyak dan bisa dilakukan setengah hari saja, namun kalau punya waktu panjang, ada bagusnya berangkat dari pagi hari dan bisa menikmati Montserrat sekitar 3-4 jam sebelum turun dengan menggunakan kombinasi cable car dan kereta. Yang menarik dari Montserrat adalah indahnya pemandangan dari puncak gunung, uniknya gunung yang berwarna merah muda, arsitektur biara yang menawan baik di eksterior maupun interior-nya, serta banyak cerita menarik mengenai Black Madonna dan terbentuknya pegunungan ini. Biaya tur per orang sekitar €45 dengan durasi waktu sekitar 4-5 jam dan tidak menyangka tour guide kita yang asli orang Barcelona ternyata baru balik dari liburan ke Indonesia selama 3 minggu sekitar beberapa bulan sebelumnya.
       
      Tur berakhir sekitar pukul 7 malam namun suasana di Barcelona masih terang benderang karena memang bulan Mei sudah menjelang musim panas. Turis masih memadati area Plaza Catalunya dan kita berjalan santai menuju La Rambla. Ini adalah salah satu jalan terpadat dan mayoritas dijejali oleh turis jadi selalu waspada karena banyak copet beraksi dan rata-rata makanan serta minuman dipatok dengan harga tinggi padahal rasanya di bawah standar. Barang-barang souvenir, mainan, bunga, pernak pernik juga dijual dengan harga tinggi karena La Rambla sudah terkenal sebagai destinasi turis jadi banyak juga grup tour dari berbagai negara yang hanya mampir 1-2 malam di Barcelona pasti dibawa ke sini untuk berbelanja atau makan malam.
       
      Di dekat La Ramblas, ada satu pasar makanan yang juga terkenal yaitu Mercat de Sant Josep de la Boqueria. Berbagai macam jenis makanan mulai dari permen, buah-buahan, sayuran segar, ikan, dan sebagainya dijual di sini, namun karena salah satu destinasi turis juga, dipastikan hari apa pun pasti akan sangat padat dan terus terang tidak terlalu nyaman untuk shopping, namun untuk sekedar menyaksikan keramaian pasar ini sih oke juga. Kita sendiri tidak sampai masuk ke dalam dan memilih untuk makan malam di sekitar situ dan kembali ke hotel untuk beristirahat.
       
      Day 5 - Barri Gotic (Old Town) dan Camp Nou (Sabtu, 9 Mei 2015)
      Kalau di utara Jakarta, ada sepetak lokasi yang dinamakan Kota Tua yang sebagian berdiri bangunan peninggalan Belanda, maka di timur Barcelona pun terdapat satu lokasi yang mirip dan dinamakan Barri Gotic atau juga dikenal dengan Old Town. Mayoritas bangunan ini adalah peninggalan abad pertengahan, dan sebagian kecil malah dari jaman orang Romawi ketika mereka datang menetap di Spanyol. Yang paling terkenal di sini adalah Basilica of La Merce, namun kalau Anda punya banyak waktu untuk menjelajah jalan-jalan sempit Barri Gotic, banyak landmark yang bisa dikunjungi seperti Santa Maria del Pi Basilica, Palau Reial Major, City Hall, Placa Sant Jaume, dan Placa del Rei. Karena disain tempat ini seperti labyrinth, maka siap-siap untuk 'tersesat' namun tidak perlu takut karena selain bisa menggunakan patokan GPS untuk kembali ke jalan utama, banyak juga papan penunjuk jalan untuk mengarahkan kita ke La Ramblas atau pun ke pantai Barceloneta yang terletak tidak jauh dari sini.
       
      Banyak artis jalanan mencoba mengais rejeki di hampir setiap lorong Barri Gotic, mulai dari pemain cello, penyanyi bersuara ala Pavarotti, pengrajin bekas kaleng minuman, sampai badut-badut yang berkeliaran di sekitar Cathedral. Yang terakhir ini kadang yang agak mengganggu karena begitu kita kepengen foto sendiri, mereka suka mendekat untuk ikut berfoto bareng, maksudnya mungkin biar fotonya lucu dan unik, tapi kadang malah ngerusak, belum lagi persisten untuk minta tip dan seringnya mau lebih dari €2. Saran saya, kalau liat yang beginian, mending jauhi dan cari lokasi yang lebih aman, atau kalau masih nekad mendekat, jutekin saja.
      Kita menghabiskan waktu sekitar 4 jam untuk berkeliling santai di area ini dan kembali ke La Ramblas untuk rileks di salah satu resto sambil menunggu jam 4.30 sore. Hari itu kita akan menonton pertandingan antara Barcelona melawan Real Sociedad di Camp Nou, markas dari klub sepakbola Barcelona. Lokasi stadion ini kurang lebih 30 menit dari pusat kota dan pertandingan akan dimulai sekitar jam 6 sore waktu setempat. Di stasiun subway, baru kali ini kita melihat antrian tiket kereta MRT yang sangat panjang karena banyak warga lokal dan turis yang sudah memegang tiket siap menuju stadion. Teriakan yel-yel 'Barca .. Barca .. Barca' mulai menggema dimana-mana dan tidak sedikit yang mengenakan kostum kebanggaan mereka dengan tulisan punggung Messi, Neymar, maupun Suarez.
       
      Kalau Anda ingin menyaksikan pertandingan ini secara langsung, maka sebaiknya jangan lupa untuk membeli tiket via website (seperti ticketmaster) sekitar 10 hari sebelum hari H, karena tiket biasanya baru dijual setelah jadwal pertandingan ditetapkan oleh komite sepakbola mereka. Di stadion biasanya tidak ada ticketbox, kecuali Anda hunting tiket batal dari pemegang tiket musiman. Setiap pertandingan ada rating yang menentukan harga tiket, jadi untuk kali itu, Real Sociedad dianggap tim papan tengah dan harga tiket tidak terlalu mencekik, kurang lebih €130 dari seat yang bisa dibilang cukup pantas. Untuk harga tiket di bawah €80, posisinya terlalu jauh sehingga Anda harus siap binocular, dan kalau seat yang lebih dekat umumnya sudah sold out atau harga bisa €200 lebih. Kalau pertandingan papan atas, seperti El Clasico atau melawan tim tangguh, Atletico Madrid, atau pertandingan Liga Champion, bisa dipastikan harga tiket 2-3x lipat dan itu pun belum tentu masih available.
      Setelah menyiapkan dua tiket masuk, kita berjalan bareng bersama para suporter Barcelona ke dalam stadion dan di dalam, banyak petugas yang hilir mudik untuk membantu penonton menuju ke bangku masing-masing. Rata-rata para petugas bisa bahasa Inggris sedikit dan ramah dalam menghadapi berbagai macam turis yang kebingungan mencari seat mereka, dan biasanya kalau Anda kepengen minta tolong foto, para petugas tidak diijinkan untuk membantu mengambil foto karena itu memang peraturannya. Dari seat kita, terlihat jelas para pemain sudah melakukan pemanasan dan tepat jam 6 sore, pertandingan pun dimulai.

      Setelah ditinggalkan beberapa pemain bintang, Real Sociedad terlihat berbeda dibanding 3-4 tahun silam dan sore itu mereka hanya mampu bermain defensif dan setidaknya di paruh pertama, mereka masih berhasil menahan imbang Barcelona tanpa gol. Namun memasuki babak kedua, trio MSN terus membombardir mereka dan akhirnya Neymar berhasil mencetak gol pertama. Sekitar 5 menit sebelum usai, Pedro yang kini memperkuat Chelsea, melakukan bicycle kick yang indah dan memperlebar keunggulan Barcelona dan sore itu mereka berhasil meraih 3 poin penuh setelah menang 2-0.
      Mungkin banyak yang bertanya-tanya, apakah pantas mengeluarkan uang €130 untuk menonton 2 jam pertandingan bola ? Kalau Anda fans bola, tentu jawabannya sangat pantas karena bisa menyaksikan langsung para pemain bintang idola, namun kalau Anda tidak suka bola atau olahraga, saya tetap beranggapan ini adalah pengalaman yang boleh dicoba setidaknya sekali seumur hidup karena setidaknya Anda bisa merasakan atmosfir pertandingan kelas dunia, melihat stadion dari dalam maupun luar, berada di antara puluhan ribu suporter yang dengan antusias tinggi terus mendukung klub mereka selama 90 menit penuh, dan bisa membagikan cerita ini ke teman ataupun saudara yang sangat menyukai sepakbola.
       
      Day 6 - Andorra (Minggu, 10 Mei 2015)

      Andorra, negara kecil yang tidak memiliki airport dan terjepit antara Spanyol dan Perancis ini, bisa diakses dengan mudah melalui Barcelona. Ada banyak pilihan bus untuk menuju ke sana namun kalau Anda tidak punya agenda untuk melakukan hiking, maka ada bagusnya memilih opsi daytour seperti yang kita ambil, karena selain kita diberikan waktu cukup untuk mengitari pusat kota Andorra de la Vella, kita juga punya kesempatan untuk mampir di salah satu desa kecil, Baga dan juga Mont Louis, Perancis.
      Pagi hari sekitar jam 7 kita sudah hadir di tempat berkumpul dan karena Andorra bukan merupakan destinasi impian yang umum, maka kebetulan yang jadi peserta tur hari itu mayoritas manula yang ikut cruise dari Amerika. Yang menarik dari mereka ini ada sepasang traveler yang sudah berumur 70 tahun lebih yang sudah berkeliling ke lebih dari 100 negara dan fisik mereka masih terlihat segar dan kuat. Lucunya mereka belum pernah menginjak Indonesia, mungkin sedikit terintimidasi dengan berita-berita terorisme, entahlah, namun setelah kita cerita sebagian keindahan Indonesia, mereka tertarik untuk datang apabila ada kesempatan nanti.
       
      Sekitar 1 jam lebih, kita jalan menuju utara dan mampir sebentar di salah satu kafe kecil untuk sarapan singkat, sebelum lanjut menuju Baga. Pemandangan yang indah terbentang di sepanjang perjalanan, terlihat bukit dan lembah yang hijau, ada danau kecil, berbagai macam variasi tanaman dan juga banyak bangunan rumah yang bagus. Desa Baga ini kecil dan sangat sepi, penduduk lokal-nya sedikit, dan kita hanya butuh waktu 15 menit untuk mengitari Baga. Ada satu gereja tua yang sudah lama berdiri dan rupanya ini adalah salah satu attraction kota Baga, selain alun-alun yang dikelilingi oleh beberapa kafe kecil. Seperti kebanyakan tempat di Eropa, bangunan gereja memang sering menjadi objek wisata oleh mayoritas turis karena biasanya masing-masing memiliki eksterior dan interior yang unik dan sering kali berbeda antara satu dan lainnya. Di samping itu, sebagian juga memiliki cerita-cerita sejarah yang menarik.

      Dari Baga, kita meninggalkan Spanyol dan melintasi perbatasan menuju Mont Louis, Perancis. Sekitar pukul 10 pagi waktu setempat kita tiba dan mampir lagi ke satu restoran kecil untuk menikmati croissant khas Perancis. Mont Louis ini bisa dikatakan area administratif kecil, atau dalam istilah pemerintahan Perancis, disebut juga 'commune'. Desa ini dikelilingi oleh dinding tinggi sehingga terlihat seperti benteng kecil dan view di luar gerbang sangat bagus. Kalau Anda sempat mampir kesini, Anda bisa menikmati view yang lebih bagus dari atas bukit yang bisa diakses dari dalam. Jumlah penduduk tidak banyak berbeda dengan Baga dan banyak turis seperti kita hanya mampir sebentar saja.
       
       
      Tujuan berikut dan terakhir adalah Andorra. Negara ini bukan bagian dari Schengen namun untuk masuk tidak diwajibkan Visa, tapi perlu diingat ketika Anda keluar dari Schengen dan akan kembali lagi, pastikan Anda punya akses 'multiple entry'. Walaupun hampir tidak pernah ada yang diperiksa ketika kembali ke Spanyol (atau Perancis), tidak ada salahnya untuk dipersiapkan dari Indonesia.
      Kebanyakan traveler datang ke Andorra untuk hiking dan main ski namun hal tersebut tidak memungkinkan kalau Anda hanya daytrip karena minimal harus nginap semalam agar bisa mulai dari subuh dan kembali pas sunset. Di tambah lagi pada waktu kita kesana, akses jalan menuju ke hiking area masih ditutup karena ada perbaikan jadi waktu hanya bisa dialokasikan untuk explore kota Andorra de la Vella.
       
      Bank, grocery store, restoran, kafe, berbagai macam toko berjejer di jalan utama kota ini. Buat para traveler yang demen shopping biasanya cocok karena negara ini tax-free sehingga harga-harga minuman alkohol, parfum, baju, dan sebagainya kadang kalau dihitung bisa berbeda sampai 15-20% dibanding Spanyol atau Perancis. Banyak warga Spanyol juga sering mampir kesini juga untuk menghabiskan weekend karena relatif sepi sehingga suasana-nya terasa santai dan relaxing untuk keluarga.
       
      Namun, seperti juga di Spanyol, kultur orang sini ngga banyak berbeda dengan Spanyol jadi kalau Anda tiba sekitar pukul 2 siang, sebagian toko malah tutup untuk 'siesta' atau istirahat siang dan mulai buka lagi sekitar jam 5 sore. Tapi tentunya mayoritas restoran dan kafe tetap buka, dan toko-toko yang besar yang paling sering didatangi turis pun buka. Icon kota ini bisa dibilang adalah jam pahatan Salvador Dali yang dinamakan 'The Nobility of Time'. Tidak sulit untuk menemukan jam ini karena ada di Piazza Rotonda. Dari tempat parkir utama bus, kita cukup jalan sekitar 10 menit. Karena tidak terlalu luas, Anda cukup menghabiskan waktu 3 jam untuk berkeliling Andorra de la Vella.
      Dari kota ini, kita akan jalan kembali ke Barcelona namun sebelumnya, kita naik dulu ke salah satu puncak bukit dimana ada satu gereja tua Sant Miquel Engolasters berdiri, dan yang paling menarik dari spot ini adalah view kota Andorra de la Vella yang jelas terhimpit antara dua gunung tinggi. Panorama dari sini sangat indah dan menjadi klimaks dari kunjungan kita ke negara kecil ini.
       
      Dari pengalaman kita mengunjungi Andorra, kalau Anda tidak ada rencana hiking, bisa disimpulkan akan lebih baik mengambil daytour ketimbang pergi sendiri dengan bus karena Anda akan dibawa mampir ke Baga dan Mont Louis namun kalau dari awal Anda ingin untuk mengunjungi ski resort atau naik gunung, tentunya lebih baik menginap semalam atau dua malam disana.
      Day 7 - Park Guell dan Sagrada Familia (Senin, 11 Mei 2015)
      Hari ini agenda kita agak santai karena tujuan kita hanya dua landmark saja yaitu Park Guell dan Sagrada Familia karena sore hari sekitar jam 5 kita sudah harus menuju airport untuk terbang ke Marakkesh, Maroko. Dua tempat ini berdekatan dan dapat dijangkau dengan taxi kurang lebih 15 menit saja dan termasuk dua lokasi favorit para turis karena selain dianggap sebagai bagian dari icon kota Barcelona, juga masuk ke dalam UNESCO World Heritage Site.
       
      Park Guell terletak di Carmel Hill sehingga untuk mencapai tempat ini akan lebih baik menggunakan bus karena halte-nya sangat dekat dengan pintu masuk ketimbang harus naik subway dan 'mendaki bukit' yang menghabiskan stamina. Yang menarik dari Park Guell ini adalah kita bisa menyaksikan keunikan karya Antoni Gaudi yang menggabungkan kreativitas seni dia dengan alam dan lokasi di perbukitan ini juga menyuguhkan pemandangan indah kota Barcelona dari ketinggian.
       
      Untuk masuk ke dalam taman ini, dikenakan biaya kurang lebih €7 dan tiket sebaiknya dibeli online untuk menghindari antrian panjang di pintu masuk. Umumnya, kita cukup menghabiskan waktu 1.5 jam untuk mengelilingi seluruh kompleks ini, termasuk melihat ke dalam dua bangunan utama yang terletak di pintu masuk utama namun ada juga warga lokal yang memanfaatkan taman ini sebagai lokasi piknik keluarga dan bersantai sambil menikmati view kota.
      Lokasi berikut yang kita tuju adalah Sagrada Familia dan kita menggunakan taxi agar lebih nyaman dan cepat. Biaya kurang lebih €10-€13 tergantung traffic dan kalau Anda pergi berdua atau lebih, ada baiknya menggunakan taxi untuk hemat waktu dan tenaga karena nanti akan banyak jalan sekitar Sagrada dan juga untuk turun tangga dari menara.
       
      Seperti layaknya kebanyakan landmark di Spanyol, tentu untuk masuk ke Sagrada Familia harus memiliki tiket dan sangat disarankan untuk beli online dari 2-3 minggu sebelumnya karena kalau mau antri hari H, terkadang Anda bisa menunggu sampai 2 atau 3 jam, bahkan lebih kalau lagi peak season. Sebelum masuk ke Sagrada, kita berjalan ke taman yang ada di seberang gereja untuk bersantai dan berfoto, kemudian mampir ke salah satu resto untuk lunch dulu.
       
      Sekitar jam 2 siang, kita bergegas menuju Sagrada dan antri sebentar (sekitar 15 menit) untuk pemegang tiket online, dan tiba di dalam, kita langsung takjub melihat megahnya disain Gaudi ini. Interior gereja ini dipenuhi dengan jendela tinggi sehingga dikelilingi oleh banyak sinar matahari yang membentuk warna pelangi. Lokasi cukup padat dengan turis, baik yang berdoa maupun sekedar berfoto.
       
      Di Sagrada, ada dua menara tinggi yang dinamakan Passion dan Nativity dan untuk pemegang tiket, Anda diperbolehkan untuk memilih salah satu menara. Di forum, banyak diskusi mengenai tower mana yang lebih baik, namun prinsipnya dua tower ini menawarkan view yang mirip dan dari kedua puncak menara, pengunjung bisa melihat interior dan exterior yang sama, tapi ada juga yang mengatakan lebih baik Passion saja karena sedikit lebih tinggi sehingga view lebih baik dari atas. Kita sendiri memilih Nativity karena kebetulan antrian lift juga tidak terlalu panjang dan kita puas, jadi saran saya, pilih saja antrian yang lebih sepi karena waktu cukup berharga.
      Sagrada Familia ini adalah landmark terakhir yang kita kunjungi di Barcelona dan sore itu kita segera kembali ke hotel untuk melakukan packing terakhir dan taxi sudah siap untuk membawa kita ke bandara untuk meninggalkan Spanyol menuju Maroko.
      Day 8 - Marrakech (Selasa, 12 Mei 2015)
      Kita mendarat di bandara Menara sekitar pukul 8 malam waktu setempat. Suasana di dalam bandara sudah agak lengang dan hampir semua turis mulai memadati money changer untuk menukarkan uang mereka ke dirham. Sangat disarankan untuk membawa EUR atau USD dan ditukar langsung di Maroko karena selisih akan cukup besar kalau Anda membeli dirham di negara lain.
       
      Kota Marrakech ini adalah salah satu pusat pariwisata Maroko, sempat tercantum sebagai destinasi terbaik TripAdvisor tahun 2015 dan mengundang banyak sekali turis Eropa dan Amerika untuk menikmati perbedaan kebudayaan dan kuliner yang ekstrim, namun untuk kita orang Indonesia yang merupakan negara mayoritas beragama Islam, pasti akan merasakan suasana yang sangat familiar dengan Marrakech.
      Perkembangan kota dan negara ini tergolong lambat, ini disebabkan karena ekonomi mereka tidak mampu bertumbuh pesat seperti Indonesia yang ditunjang dengan derasnya investasi asing dan berbagai macam komoditi perdagangan yang melimpah ruah. Terhimpit oleh luasnya gurun pasir membuat mereka juga tidak leluasa mengembangkan agrikultur sehingga turis merupakan sumber devisa utama.
      Secara umum, Marakkesh dikelilingi tembok yang membentengi kota tua (yang juga sering disebut Medina) dan berbatasan dengan lingkungan baru yang kebanyakan dipadati oleh imigran dan investor Perancis (biasa disebut Gueliz). Di dalam Medina, bertebaran hotel-hotel khas Maroko yang dinamakan 'riad' dan sangat disarankan untuk menginap di 'riad' untuk menikmati suguhan interior otentik dan juga mendapatkan berbagai macam informasi penting dari owner maupun helper-nya.
       
      Mayoritas turis yang tidak mempunyai informasi banyak mengenai kota ini biasanya akan kaget ketika pertama kali menginjakkan kaki disini karena selain kesan kumuh terhampar di berbagai sudut kota, mayoritas orang lokal berasa terlalu 'friendly' ketika menghampiri turis baik menawarkan dagangan ataupun layanan mereka. Traveler wanita sebaiknya tidak jalan sendiri untuk menghindari hal yang tidak diinginkan jadi paling baik berdua atau bertiga dan memilih jalan yang ramai, atau ditemani guide lokal yang terpercaya.
      Malam itu, kita langsung beristirahat di riad karena besoknya jam 9 pagi, kita sudah janji untuk bertemu dengan Youssef yang bisa dikontak melalui Tripadvisor (Marrakech Tour Guide - Private Tours).
      Day 9 - Marrakech (Selasa, 12 Mei 2015)
      Setelah sarapan pagi, kita memulai hari dengan bertemu dengan Youssef yang sudah menunggu di ruang tamu riad kita. Sangat disarankan untuk memanfaatkan jasa tour guide lokal ketika Anda pertama kali datang ke Medina karena ada tiga faktor penting yaitu kita bisa mengetahui dan mengenal lebih dalam sejarah dan budaya dari orang lokal serta lingkungan sekitar; kita tidak akan tersesat dalam labirin Medina dan menghemat waktu untuk tahu tempat-tempat penting maupun yang rawan; kita bisa bertanya mengenai tempat makanan favorit orang lokal, kudapan ringan, juga meminta dia untuk membantu menawar barang/souvenir.

      Youssef mengajak kita untuk mencari taksi dan menuju ke Jardin Majorelle. Lokasi taman ini ada di Gueliz sehingga agak jauh dari Medina. Taman yang dimiliki oleh mendiang designer Yves Saint Laurent ini menyimpan berbagai macam koleksi kaktus dan tanaman, tersebar mengelilingi kolam kecil dan bangunan museum suku Berber dengan warna biru cerah. Lokasi ini termasuk salah satu favorit turis dan banyak spot menarik untuk berfoto.
      Setelah puas di sana, kita kembali ke Medina dan mulai berjalan menuju Bahia Palace. Bulan Mei sebenarnya sudah terlalu panas untuk berjalan karena menjelang jam 12 siang, suhu bisa mencapai 42 derajat dan menurut Youssef, waktu terbaik adalah awal Maret ketika suhu berkisar antara 20-25 derajat. Tiba di Bahia, Youssef membawa kita mengunjungi ruangan demi ruangan sambil bercerita mengenai sejarah dari istana ini.
       
      Tujuan berikut adalah melewati Koutobia Mosque dan mampir di Saadian Tombs. Mausoleum ini merupakan tempat peristirahatan keluarga dinasti Saadi yang hidup di abad ke-16 dan kita diperbolehkan untuk mengambil foto di sini. Karena tempat ini tidak terlalu luas, maka biasanya 15-20 menit sudah cukup dan kita mampir ke salah satu restoran untuk makan siang.
      Setelah makan siang, Youssef membawa kita menelusuri labirin Medina dari satu gang ke gang yang lain, dari satu souk ke souk yang lain. Dia mengatakan bahwa semua turis tanpa GPS yang datang ke sini sudah pasti akan tersesat dan banyak yang menghabiskan waktu ber-jam jam untuk bisa balik ke hotel mereka namun untuk mereka yang cuek, pengalaman tersesat ini memang yang di cari.
       
      Kita mending cari aman karena berabe kalau tersesat dan kecopetan sementara masih ada rencana ke Sevilla 4 hari dan kembali lagi ke Madrid. Youssef tinggal tidak terlalu jauh dari Medina dan hampir semua pedagang kenal dia. Ini keuntungan jalan bareng dia karena selain tidak akan ditipu dan diganggu, biasanya buat yang senang belanja barang macam-macam mulai dari souvenir, baju, sepatu Maroko, lampu, dan sebagainya bisa dapat harga terbaik. Kita diajak berputar mengunjungi tempat-tempat esensial di Medina termasuk pengolahan besi dan dapur pembuatan kue sebelum akhirnya kita diantar lagi ke riad untuk beristirahat.
       
      Persis jam 19.30, kita ditunjukkan jalan terdekat menuju Djemma El-Fna. Ini adalah alun-alun utama Medina, tempat yang paling tersohor di Marrakech dimana berbagai macam pedagang berkumpul, tukang makanan dan jajanan, pawang ular, pertunjukan topeng monyet, dan sebagainya. Bukan menjadi hal yang asing buat kita warga Indo yang sering melihat pasar malam, namun buat para bule, melihat 'organized chaos' seperti ini tentu menjadi atraksi yang tidak lazim.
      Untuk mendapatkan view yang maksimal, ada baiknya naik ke salah satu restoran terdekat dan pesan saja satu atau dua minuman ringan yang penting bisa nongkrong di salah satu meja, karena biasanya makanan di tempat 'touristic' seperti ini tidak enak dan mahal. Setelah puas mengambil foto, coba makan di salah satu stall yang ada di bawah. Jangan mengharapkan makanan senikmat di Indo namun perlu dicoba untuk sekedar pengalaman.

      Karena masih belum terlalu familiar sama jalan dan lingkungan sekitar, kita memutuskan untuk kembali ke hotel sekitar jam 9 malam karena jalanan masih relatif ramai sehingga tidak terlalurawan kalau tersesat. Walaupun menurut Youssef, tingkat kriminalitas di Marrakech sangat rendah, tetap lebih baik untuk menjaga kemungkinan terburuk dan hindari hal-hal yang bisa mengundang bahaya.
      Day 10 - Marrakech - Ouarzazate (Rabu, 13 Mei 2015)
      Pagi itu sekitar jam 07.00 kita sudah siap untuk berangkat karena perjalanan menuju Ouarzazate cukup jauh, sekitar 4 jam dari Marakkesh. Kita sudah booking daytrip service ke Ait-Ben-Haddou dari Indonesia melalui Youssef juga dan memang landmark tersebut merupakan salah satu highlight Maroko, selain sand dunes yang tersohor itu di dekat Merzouga. Supir-nya yang bernama Ali sudah tiba di riad dan satu hal yang mengecewakan yaitu Ali tidak bisa berbahasa Inggris dan hanya fasih bahasa Perancis dan Arab saja.
      Jadwal memang sudah ada di tangan dia tapi sayangnya kita tidak bisa ngobrol banyak untuk tanya hal-hal menarik yang kita lihat sepanjang perjalanan, namun karena tidak ada opsi lain, ya sudah kita tetap nekad saja jalan. Ali sendiri orangnya ramah dan terlihat friendly, terbukti dari antusiasme-nya untuk terus mengajak ngobrol dengan bahasa Perancis di selingi dengan 1-2 kata Inggris, namun apa daya, kita cuma bisa ketawa karena ngga ngerti.
      Jalanan menuju luar kota relatif sepi, mungkin karena hari kerja, dan di kiri kanan terlihat agak lengang dengan beberapa rumah ber-cat merah khas bangunan Marrakesh. Dua jam pertama, kita berhenti di salah satu spot dengan view landscape padang rumput berlatar belakang gunung yang bagus. Setelah itu, ada satu spot dengan pemandangan deretan rumah tradisional suku Berber yang di bangun di area perbukitan. Tidak lama kemudian, kita sudah memasuki 'Tizi Tichka Pass' - salah satu jalanan berkelok yang di anggap berbahaya karena tidak ada pembatas jalan dan biasanya di sarankan hanya untuk driver yang sangat berpengalaman.
       
      Separuh jalan, kita berhenti di salah satu puncak bukit untuk menikmati view yang spektakuler. Memang tidak salah apa yang di katakan Patrick, pemilik Riad yang kita tempatin, bahwa landscape menuju Ait Ben Haddou memang salah satu yang terbaik di Maroko dan jangan sampai di lewatkan apabila berkunjung ke Marrakesh. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan hampir 4 jam, kita tiba di kota Ouarzazate. Ada dua lokasi menarik di kota ini, yang pertama yaitu Atlas Film Studio - lokasi syuting yang sering dipakai sutradara Hollywood untuk film-film seperti Kingdom of Heaven, Alexander The Great, Lawrence of Arabia, dan sebagainya.
       
      Yang kedua adalah Taourirt Kasbah, semacam istana tua dengan arsitektur klasik suku Berber. Di tempat ini, sering sekali Anda ditawari jasa guide oleh orang lokal, yang mengesalkan kadang mereka sangat persisten walaupun sudah ditolak, namun apabila kita ingin tahu detail mengenai apa yang terjadi di setiap sudut ruangan ini, guide tersebut sangat membantu. Selain interior yang bagus, view ke luar yang bisa terlihat dari jendela-jendela kecil juga menawan.
       
      Selesai makan siang di restoran yang ada di dekat kasbah, kita pun lanjut menuju Ait Ben Haddou. Landmark ini pun sering di jadikan lokasi syuting film karena bentuk-nya seperti benteng kuno dengan exterior unik dan juga termasuk dalam daftar UNESCO World Heritage Site. Untuk menuju ke situs ini, dari parkiran yang berada di atas bukit, kita harus turun menuju ke bawah melalui anak tangga dan menyeberang sungai dangkal untuk sampai di kasbah. Karena suasana yang sangat terik dan juga kita sudah melihat bagian dalam kasbah Taourirt, kita memutuskan untuk tidak mengeksplorasi Ait Ben Haddou namun hanya berfoto dan menghabiskan waktu di sekitar lokasi saja.
       
      Setelah puas berfoto, kita pun kembali ke parkiran untuk pulang ke Marrakesh. Biasanya, untuk yang punya waktu 2-3 hari ekstra, dari sini bisa lanjut menuju Merzouga dengan waktu tempuh sekitar 5-6 jam dan menginap di sana untuk menikmati pemandangan sand dunes, namun karena kita harus berangkat menuju Sevilla besok hari, maka kita harus melewatkan kesempatan ini. Perjalanan pulang melewati 'Tizi Tichka Pass' menyuguhkan kita pemandangan bagus dari sisi yang berbeda dan pastikan jangan terlelap karena banyak spot menarik untuk diabadikan dengan kamera.
       
      Kita tiba di Marrakesh sekitar jam 8 malam, walaupun langit masih terang namun kita terlalu lelah untuk berkeliling Medina lagi jadi kita putuskan untuk istirahat di riad saja sambil packing santai agar besok pagi masih sempat jalan sebentar sebelum ke airport.
      Day 11 - Marrakech / Sevilla (Kamis, 14 Mei 2015)
      Setelah istirahat cukup, pagi hari sekitar pukul 8 kita sarapan dan kemudian menyempatkan diri untuk berkeliling sebentar di Medina karena masih ada waktu sekitar 3 jam sebelum kita ke airport. Saking ngebet dan 'nafsu' terhadap turis, terkadang untuk sebagian orang, Marrakesh menjadi berasa 'tidak aman' karena di sepanjang jalan, para pedagang maupun yang menawarkan jasa sering kali sangat agresif. Kita sempat ditawarin oleh salah satu pemandu wisata untuk mengantarkan kita ke tannery (atau tempat pengolahan kulit binatang untuk menjadi kulit yang bisa digunakan untuk industri) yang memang menjadi salah satu spot turis namun karena orang lokal tersebut terlihat sangat antusias untuk mengantarkan kita, kita malah memutuskan untuk batal karena selain kita khawatir di bawa ke tempat yang terlalu asing sehingga kita sulit untuk balik ke riad, kita juga khawatir kalau nanti dikerubutin oleh mereka dan dimintain uang (atau lebih apes lagi, dirampok). Di forum Tripadvisor, banyak yang ternyata mengeluh karena jadi korban 'tannery scam', jadi usahakan selalu waspada dan jangan lengah.
      Setelah membeli beberapa souvenir, kita mampir ke restoran Fatima Berbere yang direkomendasi Patrick untuk makan siang. Ternyata restoran ini juga mendapatkan rating yang cukup tinggi di Tripadvisor. Soal rasa, termasuk enak apabila dibandingkan dengan beberapa restoran yang pernah kita coba di Marrakesh, namun tentunya kalah dengan makanan Indonesia. Yang jadi masalah, owner-nya kesulitan berbahasa Inggris jadi kita tidak bisa bertanya banyak ke dia soal makanan dan lainnya. Setelah makan dan balik ke riad, kita pamit ke Patrick yang sudah menjadi friendly host dan segera ke airport untuk terbang menuju Sevilla.
       
      Perjalanan menuju Sevilla hanya memakan waktu sekitar 1.5 jam saja dan kita tiba di ibukota area Andalusia tersebut sekitar pukul 2 siang. Taxi mengantarkan kita ke hotel Monte Carmelo dan setelah check-in dan istirahat sebentar, kita bersiap untuk jalan santai menuju tujuan pertama, Plaza de Espana. Lokasi hotel ini tergolong strategis karena cukup dekat dengan subway dan berada tidak jauh dari sungai Guadalquivir sehingga hanya butuh sekitar 15-20 menit untuk berjalan menuju Plaza Espana.
      Cuaca di pertengahan Mei sudah bisa dibilang panas jadi kalau Anda berjalan kaki sekitar pukul 4 sore, suhu bisa mencapai 30-32 derajat dan walaupun udara kering, sinar matahari yang terik bisa cepat menguras tenaga. Lokasi Plaza Espana ini bersebelahan dengan taman Maria Luisa sehingga cocok banget untuk berjalan santai maupun jogging ringan. Banyak spot foto yang bagus di Plaza Espana dan menurut kita, termasuk salah satu plaza yang sangat bagus dengan berbagai ukiran indah.
       
       
      Sore itu kita menghabiskan waktu di sekitar plaza dan taman dan kemudian berjalan santai balik menuju hotel menyusuri jalan di pinggir sungai. View menjelang sunset di sekitar jembatan sangat indah dan di sepanjang jalan kita ketemu banyak orang yang sekedar olahraga sore maupun menikmati pemandangan sambil mengobrol, street artist yang nongkrong sambil melukis foto wajah, maupun keluarga yang lagi asik menikmati coffee break di kafe.
      Kota Sevilla ini memang sangat friendly untuk pejalan kaki dan dengan tata kota yang rapi dan tergolong bersih, kota ini wajib dikunjungi kalau Anda mempunyai kesempatan untuk berwisata ke Spanyol selatan.
      Day 12 - Sevilla (Jumat, 15 Mei 2015)
      Kita mengawali hari kedua di Sevilla dengan mengunjungi salah satu landmark terbaik kota ini yaitu Royal Alcazar of Seville. Konon banyak yang mengakui bahwa istana ini adalah salah satu yang terbaik di Spanyol dan juga masuk ke dalam daftar UNESCO World Heritage Site. Awalnya dibangun oleh raja Moor (dari Maroko) ketika mereka melakukan invasi ke Spanyol dan berhasil, dan kemudian dipugar oleh bangsa Spanyol ketika mereka berhasil mengusir bangsa Moor. Istana ini sangat bernuansa Arabic namun juga kental dengan influence Eropa sehingga menjadikan Alcazar sebagai satu kompleks bangunan yang unik. Selain film 'Kingdom of Heaven' yang mengambil salah satu pelataran sebagai lokasi syuting, beberapa episode 'Game of Thrones' juga pernah menjadikan Alcazar sebagai setting film tersebut.
       
      Dari Alcazar, kita berjalan sekitar 15 menit menuju lokasi berikutnya yaitu Catedral de Sevilla (Sevilla Cathedral) yang juga merupakan landmark UNESCO. Bangunan gereja di Eropa termasuk bagus dan layak untuk didatangi karena eksterior maupun interior-nya sangat mengagumkan. Detail pengerjaannya patut diacungi jempol dan umumnya kita bisa naik ke salah satu menara untuk menikmati pemandangan kota dari ketinggian.
       
      Setelah puas memotret kota Sevilla dari puncak menara Giralda, kita turun dan mampir ke salah satu restoran di sekitar Barrio Santa Cruz untuk makan siang dan kemudian melanjutkan eksplorasi area kota tua Sevilla. Ada satu landmark unik yaitu Metropol Parasol yang juga dikenal dengan nama Las Setas de la Encarnacion. Bangunan ini berbentuk seperti jamur dan Anda bisa naik ke atas untuk menikmati pemandangan kota Sevilla.
       
       
      Di sekitar lokasi ini juga ada satu jalan panjang yang dipenuhi dengan kafe, restoran, maupun toko, jadi buat yang seneng nongkrong ataupun shopping, cocok juga untuk melepas penat dengan bersantai di sini, sekedar ngopi, ngebir, ataupun menikmati nyanyian artis jalanan. Setiap sudut lorong di sekitar area ini sangat menarik untuk dijelajahi karena banyak toko kecil yang menawarkan souvenir unik, makanan ringan yang membuat kita penasaran untuk mencoba, maupun bangunan-bangunan kuno khas Eropa yang bagus untuk dijadikan latar belakang foto.

      Karena waktu masih menunjukkan pukul 6 sore, kita memutuskan untuk berjalan santai sekitar 30 menit menuju hotel sambil mampir di salah satu restoran fast food untuk makan malam. Di peta terlihat tidak jauh, namun karena kita sudah kehabisan tenaga dari pagi hari, perjalanan balik terasa sangat melelahkan. Setelah tiba di hotel dan selesai mandi, tidak lama pun kita langsung terlelap.
      Day 13 - Jerez de la Frontera (Sabtu, 16 Mei 2015)
      Awalnya pada waktu kita menyusun itinerary di Spanyol, kita tidak tahu mengenai adanya 'Horse Fair' yang setiap tahun diadakan di kota Jerez sampai saya membaca di forum Tripadvisor kalau ada traveller yang setiap tahun pasti menyempatkan waktu untuk menghadiri acara ini. Kebetulan tanggal-nya cocok jadi kita memutuskan untuk tidak melewatkan acara ini dan sekalian penasaran juga ingin melihat seberapa meriah sampai ada yang setiap tahun selalu balik.
         
      Festival ini dikenal juga dengan nama 'Feria de Caballo' dan ternyata menjadi satu festival penting untuk rakyat Spanyol dan biasanya diadakan setiap pertengahan bulan Mei dan berpusat di kota Jerez yang terletak sekitar 90km dari Sevilla. Selama seminggu penuh, rakyat akan berpesta di festival ini dan umumnya hampir seluruh pusat perbelanjaan dan kantor akan tutup, kecuali untuk beberapa minimarket yang biasanya masih buka di siang hari. Umumnya, pengunjung lokal akan mengenakan pakaian tradisional Spanyol dan yang paling terkenal adalah pakaian wanita yang disebut Flamenco dress. Banyak kereta kuda yang dihias dan mereka akan berkeliling mengitari area festival. Nuansa-nya terasa seperti berada di awal abad ke-19 dan di setiap restoran yang juga penuh dengan dekorasi, masyarakat lokal akan bernyanyi dan menari sambil menenggak berbagai macam cocktail.
       
      Sangat mudah apabila Anda ingin mengunjungi Jerez, cukup membeli tiket kereta secara online (sangat disarankan untuk mencegah kehabisan tiket) dan datang saja ke stasiun terdekat di Sevilla sesuai dengan yang tertera di tiket dan perjalanan hanya memakan waktu sekitar 1 jam. Dari stasiun Jerez, Anda bisa berjalan santai menuju lokasi festival sekitar 20-30 menit, namun jangan heran kalau suasana jalan sangat lengang dan banyak toko tutup karena biasanya warga sudah memadati festival dari pagi, bahkan ada yang tidak pulang dari malamnya.
      Bagi yang membawa anak kecil, di seberang lokasi ada theme park dadakan buat anak-anak. Cocok apabila anak-anak sudah bosan dengan parade kuda dan kostum dan ada juga beberapa kafe untuk melepas penat dengan beristirahat dan menghilangkan rasa haus dengan minuman dingin dan segar. Kota Jerez sendiri relatif kecil dan mungkin dalam 1 hari sudah cukup untuk dijelajahi namun buat yang penasaran ingin melihat bagaimana 'Feria de Caballo' di malam hari yang rasanya akan lebih meriah dengan variasi lampu yang berwarna-warni, boleh dipertimbangkan untuk menginap satu malam di sini.
      Kita sendiri merasa sudah puas menghabiskan waktu sekitar 4 jam di sana dan sore hari kita balik lagi ke Sevilla dengan menggunakan kereta terakhir. Apabila Anda kebetulan datang ke Sevilla pada waktu tidak ada festival ini, akan lebih baik tidak ke Jerez namun memilih tujuan daytrip lain seperti Cordoba, Malaga, ataupun Granada karena tidak ada yang menarik dari kota Jerez sehingga magnet utama-nya memang 'Horse Fair' saja.
      Day 14 - Sevilla (Minggu, 17 Mei 2015)
      Jadwal kita di hari terakhir di Sevilla sebetulnya agak longgar makanya kemarin sempat terpikir untuk mengambil satu daytrip dadakan tapi kita khawatir kecapean jadi kita putuskan untuk melihat beberapa tempat yang belum sempat didatangi, terutama di bagian utara kota. Tujuan pertama kita menuju ke kawasan Triana. Lokasi ini tidak begitu jauh dari Alcazar dan merupakan tempat kelahiran tarian Flamenco khas Spanyol. Tadinya kita berpikir mau mencari satu kafe kecil untuk sekedar lunch sambil menonton Flamenco tapi ternyata hari Minggu adalah hari istirahat untuk Spanyol (dan juga Portugal) jadi banyak kafe yang meniadakan pertunjukan.
       
      Sayang juga tapi memang nonton Flamenco bukan prioritas kita, jadi kita cukup mengeksplorasi area sekitar sana dan mampir ke salah satu pasar bersih untuk sekedar melihat kegiatan orang lokal di hari Minggu. Pasar saja termasuk sepi dan ada beberapa restoran kecil yang masih buka namun lebih banyak counter yang tutup. Di dekat pasar tersebut, ada satu toko unik yang menjual pernak pernik dan souvenir berbau Flamenco. Harga cukup tinggi namun kualitas produk memang terlihat sangat bagus.
      Menjelang makan siang, kita memutuskan untuk menuju ke Nervion Plaza. Alasannya karena kita pikir karena mall, pasti banyak toko dan restoran yang buka, di samping itu, lokasinya juga persis di depan Ramon Sanchez-Pizjuan Stadium, kandang klub sepakbola kebanggan kota Sevilla. Tiba disana, kita cukup kaget, ternyata mall saja toko semuanya pada tutup dan restoran pun hanya sebagian yang buka. Jadi memang berbekal pengalaman ini, ada baiknya jadwal hari Minggu diatur untuk daytrip ke luar kota atau nonton bola.
      Setelah makan siang, kita pun bengong karena kebingungan mau kemana lagi soalnya landmark kota banyak yang sudah didatangi. Setelah mengecek tripadvisor dan Google, akhirnya pilihan jatuh ke Basilica de la Macarena. Ini adalah salah satu gereja kecil yang juga cukup tersohor di sana, dan kita juga penasaran untuk melihat area neighbourhood sekitar Macarena ini. Tiba di sana, ternyata gereja baru akan dibuka untuk umum pada pukul 5 sore, jadi kita nongkrong dulu di salah satu kafe kecil untuk menikmati teh dan dessert.

      Interior dari Basilica ini memang termasuk cantik namun area sekeliling gereja ini termasuk 'gersang' jadi kalau waktu Anda terbatas di Sevilla, ada baiknya fokus di Cathedral saja. Sekitar pukul 7 malam, kita kembali ke hotel dan makan di salah satu restoran sekitar situ.
      Day 15 - Madrid (Senin, 18 Mei 2015)
      Berbekal tiket PP Jakarta - Madrid, kita pun harus kembali ke Madrid karena besok di pagi hari, kita sudah harus berangkat ke airport. Kita naik kereta cepat menuju stasiun Madrid dan perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam dengan tiket yang sudah kita pesan dari Jakarta. Pemandangan selama perjalanan tidak begitu bagus karena banyak area yang gersang jadi untuk yang tertarik mengambil opsi lebih murah, boleh dipikirkan kereta malam dengan waktu tempuh sekitar 6-8 jam.
      Tiba di Madrid, kita pun kembali ke hotel Ibis yang merupakan hotel yang kita tempati di 3 hari pertama. Setelah check in, kita menuju ke area Salamanca. Ini adalah kawasan perbelanjaan elite di Madrid. Bertebaran banyak branded stores dan bisa dibilang merupakan surga yang hobi shopping. Selain brand-brand terkenal, di area ini juga banyak toko-toko lokal yang cukup menarik untuk di-browse. Area Salamanca ini berdampingan dengan Retiro Park dan di dekat sini juga ada Plaza de Colon, satu square yang cukup luas dengan fountain yang dibangun sebagai monumen penghormatan kepada Christopher Columbus.
      Menjelang sore, kita memutuskan untuk mengunjungi Principe Pio, salah satu pusat perbelanjaan di Madrid untuk sekedar menghabiskan waktu dan mencari souvenir. Tidak banyak barang unik yang bisa Anda temukan disini namun dengan lokasinya yang tidak jauh dari Palacio Real de Madrid dan Anda bisa menemukan banyak restoran disini, mall kecil ini bisa menjadi alternatif untuk melepas lelah dan menikmati dinner.
      Day 16 - Madrid / Jakarta (Selasa, 19 Mei 2015)
      Setelah check out dari hotel, kita pun menuju ke airport untuk kembali ke Jakarta. Perjalanan 2 minggu ini buat kita sangat berkesan namun kita merasa akan lebih optimal lagi kalau kita bisa menghabiskan 2 hari terakhir di Lisbon, Portugal karena lokasi kota tersebut sebetulnya tidak terlalu jauh dari Sevilla namun sayang tiket yang kita beli adalah PP sehingga kita harus kembali ke Madrid. Selain itu, kita memang kesulitan untuk mengatur jadwal ke Portugal karena penerbangan dari Marrakesh ke Sevilla tidak setiap hari ada.
      Di antara ketiga kota di Spanyol yang kita datangi, Barcelona adalah kota yang terbaik dengan pilihan daytrip yang menarik, juga memungkinkan untuk menjadi lokasi awal Cruise Tour. Sevilla juga wajib dikunjungi walaupun sebetulnya cukup 2 hari saja untuk menikmati kota tersebut dan selebihnya untuk daytrip. Madrid adalah kota bisnis jadi sangat cocok untuk yang doyan shopping, clubbing, nongkrong, layaknya Anda menikmati Jakarta, Hongkong, ataupun Sydney.
      Dari Barcelona, usahakan mampir ke Andorra, karena selain menambah satu negara yang dikunjungi, tempat ini tidak jauh dari Barcelona dan banyak pemandangan yang indah selama perjalanan kesana. Akan lebih baik juga kalau bisa nginap satu malam dan hiking di pagi hari karena salah satu highlight utama Andorra adalah gunung.
      Maroko relatif kuno dan terkesan agak kumuh terutama di kawasan Old City namun tentu menyimpan banyak cerita sejarah, budaya, dan lokasi yang cantik, terutama Sahara desert. Untuk pemegang paspor Indonesia bebas masuk tanpa visa. Jangan dilewatkan kalau Anda punya waktu 3-4 hari karena tidak jauh dari Spanyol dan biaya hidup serta penginapan di sana pun tidak mahal. Selain Marrakesh, Anda juga bisa mengunjungi Casablanca, Fes, Essaouira, dan tentunya Merzouga untuk mencoba pengalaman nginap di padang pasir.
      * * *
       
       
       
    • By Florencia Maria
      Hai saya cari teman untuk berangkat ke Belgia, tiket sekitar 8-10 juta, start dari Jakarta tanggal 7 juli- 15 Agustus (Summer). Belum tau lanjut kemana kemungkinan tidak Polandia, Jerman, Belanda,Perancis& Italy karena baru selesai trip kesana, khusus yang domisili Surabaya bisa urus visa barengan :D.
      kl berminat join bisa email saya yah florenciamaria24@gmail.com. Itinerary menyusul rencana negara setelah explore Belgia adalah Luxembourg, Slovenia, Monaco dan Austria (Liechtenstein) 
       
      Lumayan bisa ke Belgia PP 6.9 silahkan cek tiketnya pakai Thai Airways :)
    • By Gulali56
      Guten Tag!
      Ini lanjutan dari trip 14 hari -6 negara: Belanda-Perancis-Belgia-Jerman-Swiss-Italy.
      Day 1-2 Belanda: http://jalan2.com/forum/topic/22562-fr-amsterdam-zaanse-schans-volendam-marken-20-22-sep-2016/
      Day 3-5 Paris: http://jalan2.com/forum/topic/22578-fr-3-malam-di-kota-paris/
      Day 6 Brussels :http://jalan2.com/forum/topic/22617-satu-malam-di-brussels-25-sep-2016/
      Day 7 – Frankfurt: http://jalan2.com/forum/topic/22627-fr-15-jam-di-frankfurt/
      Day 8 – Oktoberfest di München : http://jalan2.com/forum/topic/22642-merayakan-oktoberfest-di-münchen-27-sep-2016/
      Day 9 – Salzburg :
      Day 10 – Neuschwanstein castle Füssen Jerman : http://jalan2.com/forum/topic/22698-neuschwanstein-schloss-castle-nya-sleeping-beauty-29-sep-16/
      Day 11 – Jumat, 30 Sep 2016
      Hari ini kami menuju kota Zurich di Swiss, lagi2 menggunakan Flixbus.Berangkat jam 9pagi. Dapat di harga € 15/one way/pax (booked 2.5bln sblmnya).
      09.00-12.45 München ZOB (Hackerbrücke) to Zürich HB (Carpark Sihlquai)
      Kali ini hotel kami di Zurich cukup jauh dari stasiun kereta, shg turun dari bis yang dkt dari Zurich HB (main station) kami lanjut naik tram #4 utk turun di halte Helmhaus dkt hotel kami.
      Di Swiss ini kami menggunakan Swiss Travel Pass seharga CHF 210 utk 3hari unlimited travel di seantero Swiss.
      Travel pass ini agak mirip dgn JR Pass nya Jepang, cuman kalo Swiss ini semua moda transportasi (regional train, metro, trams,bus, boat) dicover. Bahkan disc 50% utk cable cars (termasuk ke Mt.Titlis) dan mountain railways. Dan free admission utk  490 museum2 di Swiss.
      TBH, masih tetep mahal sih, Swiss pass ini baru impas/untung kalo dlm sehari kalian pindah2 kota terus. Krn rata2 kota di Eropa itu, tourist spot nya berdekatan. Jadi banyakan jalan kaki dlm kotanya.Hampir 3jt utk 3hari berarti sehari hampir satu juta mnrt saya super overpriced .
      Untuk info lebih lanjut mengenai Swiss Travel Pass silahkan klik: https://www.swiss-pass.ch/swiss-pass/
      Yang pasti naik tram sambil bawa koper gede itu derita, dan dengan bodohnya kita salah ambil pintu masuk tram krn cuma ngeliatin org dpn aja. Ternyata pintu yg rada besar , yg muat koper gede, stroller dll terletak di tengah tram, sedangkan pintu yg kami ambil yg pintu paling belakang yg beranak tangga, dan sempit.Hampir ketinggalan satu org saking susah payahnya angkat 1 koper.
      Di tram ada layar monitor yg menunjukan nama halte tempat tram stop, jadi gak usah pusing ngitungin jml halte. Kalo sudah dkt halte kita (keliatan di layar), cukup tekan bell, biar supirnya ngeh ada penumpang yg mau berhenti. Krn kalau tdk mrk lanjut terus.
      Ditram, ga ada pemeriksaan tiket maupun mesin utk validitas. Lagi2 sistem percaya aja, tp ada warning sih, kalo misal ada random pemeriksaan, apabila ketauan tdk membawa tiket yg valid, akan dikenakan denda sebesar CHF 60.
      Hotel kami di Zurich adalah:
      Hotel California
      Address: Schifflände 18, 1. Zurich Old Town–City Centre, 8001 Zürich
      Rate: CHF 135/mlm utk 3orang.
      Hotelnya imo keliatan kusam, krn mengambil tema, ala2 Amerika tempo dulu yg identic dengan cowboy, dll.



      Dari segi lokasi:  station kereta api terdekat adalah Zürich Stadelhofen Stn (+/- 500mtr). Tram terdekat (+/- 50meter) adalah halte Helmhaus yang dilewati tram nomer: 2,4,10,11,15.
      Kelar process check in dan istirahat sebentar kami mulai jalan kaki seputar Zurich. Gak byk yg bisa dilihat dari Zurich tp overall tetep cantik sih kotanya. Makanya org lebih senang stay di Bern yang lbh byk objek wisatanya.


      Disini teman2 saya tarik tunai di ATM2 yang tersebar disepjg jln. No worries, ada pilihan bhs inggrisnya kok, cuman yg masih misteri buat kami itu pecahannya. Mostly ATM itu bisa mengeluarkan dari pecahan CHF 20-CHF 500. Tp kalo kita masukan angka CHF 100 yang akan keluar ya pecahan CHF 100 aja , bukan pecahan CHF 20 atau CHF 50. Berhubung saya masih byk bekal euro nya, jadi saya putuskan tuker euro ke CHF. Tp ternyata susah nyari money changer nya.
      Bank sih masih buka pas kita kesana, tp saya males coba2 antri. Toh saya baca2 mrk masih terima Euro utk pembelian, cuman hrs siap rugi aja dng nilai tukarnya. Later on, nilai tukar yg mayan agak fair itu kalo belanja di Supermarket, 10 euro dihargai CHF 11. Sedangkan di resto2, mereka menyamaratakan Euro dan CHF. Pdhal CHF itu lbh rendah sedikit dari Euro.


      Kelar muterin Altstadt, kami memutuskan memaximalkan Swiss pass dengan naik ferry di Lake Zurich. Yang dicover Swiss pass adalah durasi ferry 1.5hr. 1.5jam ini mnrt saya udh cukup bgt sih , cenderung kelamaan malah.







      Kelar keliling danau dengan ferry teman2 saya ngajak makan makanan lokal. Saya udh stress aja, krn dari hasil browse saya , resto di Swiss ini muahalnya minta ampun sedangkan teman saya itu penganut paham “experience itu priceless” alias keluar duit gede gak masalah namanya jg nyobain makanan lokal. Main course itu diatas € 25. Akhirnya saya setanin utk beli roti dulu di supermarket di station dengan alasan utk bekal besok pagi sarapan utk ke Titlis.
      Disini saya bayar pake Euro, skalian nuker CHF. Tanya di kasir “Nehmen Sie Euro?” “apakah kamu terima euro?” si mba2 kasirnya jawabnya “Ja, bla bla bla panjang bener”. Yg saya tangkap sih boleh aja, tp nilai tukar nya 10euro setara 11 swiss franc. Dlm hati ya memang itu maksud saya.
      Utk 3hari di Swiss, apalagi menggunakan Swiss pass, bekal CHF 100 cukuplah. Nyaris tak bersisa kalo utk saya. Kalau teman saya tarik tunai CHF 150 jg gak bersisa, tp itu krn dia penganut paham makan mahal gak masalah.
      Krn kasian sama saya, akhirnya kelar belanja buat besok, kami mampir ke Sternen Grill, semacam food stand yg menjual bratwurst yg katanya recommended dan cukup murah di Zurich.
      Sternen Grill,10.30am-11.30pm
      Theaterstraße 22 (Kreis 1).
      Kita beli St. Galler bratwurst CHF 7.5 udh dpt unlimited bread dan saus mustard nya. Buat ukuran swiss ini, oke bgt murahnya kyknya, krn rata2 saus itu berbyr. Buat saya sih mending beli sandwich di supermarket +/- CHF 5-6..

      Bread nya ada 2 jenis, yg satu cocok buat lempar kucing, yang satu kerasnya agak mendingan tp ukurannya agak kecilan (yg ada difoto). Mostly org ambil yg gedean yg kerasnya bgt2. Gigi org Eropa kuat2 kayaknya.
      Dari segi rasa. Bratwurst nya standar. Saya lg mikir hrg segini, dpt 2 bratwurst di Jerman, disediain di piring dan dpt coleslaw.
      Day 12 – Sabtu, 01 Oktober 2016
      Hari ini kami ke mt.Titlis. Tadinya teman2 saya bermaksud ke Lucerne dan Berne,krn mrk merasa sudah pernah ke resort salju di Jepang thn lalu. But last minute, mrk akhirnya pergi juga ke Titlis, krn termakan omongan, ke Swiss tp gak ke Titlis itu sayang bgt.

      Utk ke Titlis dari Zurich harus naik kereta ke Lucerne terus lanjut kereta lagi ke Engelberg. Dan lanjut naik bus #1 ke Titlis.
      Zurich – Luzern itu 45menit naik kereta dgn interval kereta 30menit sekali. Berhubung hari ini weekend kami memutuskan naik kereta pagi agar bisa mendptkan cable car terpagi utk menghindari crowded nya antrian.
      Zurich HB (06.04am) – Luzern HB (06.49am)
      Lanjut Luzern HB (07.10am) – Engelberg (07.53am)
      Interval Lucerne –Engelberg itu 1jam sekali.



      Dari Engelberg kami naik bis #1 dengan interval 15menit. Perjalanan nya gak lebih dari 10menit.



      Sampai cable car station, masih blm operasi cable carnya (start nya 8.30am), tp loketnya sudah buka. Dinginnya sudah menusuk sampai disini. Krn pakai Swiss travel pass kami cukup bayar CHF 44.50 dari harga normal CHF 89.
      Sambil nunggu cable car jalan, kami foto2 dulu di dpn nya.Swiss itu apa2 memang cantik kotanya...





      Mula2 kami naik cable car kecil sampai station Titlis Rotair. Ada 1x pemberhentian diatas, di tmpt halte resort di Titlis, gak usah ikutan turun ya, tp no worries sih kalo turun, biasanya disuruh duduk lagi,,,hahah,, krn salah jalan.


      Stn Titlis Rotair ini ada operatornya dan bisa muat byk org. unlike cable car awal yg max 6org. Rotair ini meng-claim sbg the first gondola yg bisa berputar 360 derajat.IMO biasa aja.. haha.. revolvingnya malah bikin kliyengan, lgpula tanpa berputar kita juga udh sibuk wira wiri kiri kanan ambil foto. Tp mungkin ini krn masih pagi masih kosong (we were basically the first customer arrived).Ngaruh mungkin kalo gondolanya rame. Jadi gak pake rebutan foto semua kebagian view cantik.
      Gedung station di Mt.Titlis ini ada 5lantai,ada restaurant, souvenirs shops, toilet dan glacier cave. Basically gedung ini adalah penyelamat/penghangat, karena berhubung masih pagi, angin di Titlis sangat menusuk. Liat petunjuk suhu sebenarnya ‘hanya’ -1 derajat. Tapi anginnya ini yg gak nahan.



      Tiba di lt.1 kita segera masuk ke glacier cave alias gua es. Gak pake byr. Isi dlm nya, ya lorong es dan lampu2 warna warni.


       
      Yang pasti super licin, dan berhubung kita tamu terpagi, cuma kami bertiga dan satu tamu lagi dan satu tukang bersih2 di gua itu.hahaha..
      Di sini cuma 5-8menitan. Terowongannya pendek dan gak ada apa2.

      Dari situ langsung ke lt.5 utk ke viewing gallery, disini kita mulai ketemu rombongan turis dari China. Kyknya di eropa yg bangun pagi memang hy rombongan asia.hahah..  Mrk sibuk lari2 lebay keluar masuk gedung dan deck viewing, krn kedinginan tp pengen foto cantik. Suer annoying. Macam yg punya gedung.


      Kelar foto2 di deck viewing, kami mencoba menjajal ke lokasi ‘tertinggi’ utk liat view yg lbh oke.




      Dulu ya jujur bayangan liat salju itu empuk2 lucu gimana.hahah apeee seh. Taunya bongkahan es. Jalan susah payah krn licin bukan krn masuk ke salju yg tebal, ngeri bgt kepleset,apalagi jalannya menanjak dan cukup curam.
      Untuk ke titik tertinggi ini, cuma semeter terakhir doank yg ada tali utk bantu pegangan. Disini saya dan temen saya yg 1 memutuskan menyerah gak ikutan naik ice flyer atau lift yg biasa digunakan org2 utk ski. Gak kebayang anginnya. Naik ice flyer ini nambah lagi CHF 12.


      Jadi temen saya yg satu lagi pergi sendirian menyusuri es licin , later on sih saya rada nyesel juga.. krn memang pas dia naik lift itu sudah hampir jam 11 jadi ada matahari dan angin sudah mulai berkurang kencengnya.

      Saya dan temen saya cuma nunggu dia di café di lt.3 sambil minum susu coklat seharga CHF 5 sambil liatin view di café yg hangat… di lantai ini ada studio foto juga.. ada dipajang artis2 seantero dunia, kalo dari indo ada Okan Cornelius (gak penting bgt)..


      agak kurang manis mnrt ukuran lidah saya..

      Turun dari Titlis, kami  segera mengejar kereta ke Lucerne utk makan siang sama temen yg memang tinggal di Swiss krn menikah sama org sini.
      Berhubung ada org Swiss, teman2 saya ngikut rekomen dia aja pas pilih menu. Padahal mahalnya minta ampun, dan later on ajaibnya minta ampun..hahaha saya sih cuman senyum2 aja, krn saya baca menunya udh tau modelnya kyk apa, tp gak ada yg dengerin.


      bir lokal paittt..

      sup nya ada 3 size, berhubung temen saya yg di sini cerewet bgt, dia kecepetan pesen, ambil yg size starter.. itu pun udh mahal

      ini namanya Raclette, makanan khas Swiss. Si bule suaminya temen saya dia makan sendiri. Hrgnya € 33 tp kalo kita sih bagi-4.Udh bikin enek kejunya.
      Basically lembaran keju ini dipanasin di grill khusus, setelah meleleh ,dituangkan keatas potongan kentang, dan acar2an gak penting di piring. Dikenyang2in aja..
      Tp ini pengalaman juga sih. Total bir, soup kecil, 1/4 raclette adalah € 26
      Kelar makan kita puter2 kota Lucerne. Gak byk tempat wisata disini.



      Salah 1 yg populer yg bahkan ‘Princess Syahrini ‘ sempet video-in di instagram nya (gak penting) adlh Kappellbrücke alias jembatan kayu di sungai Reuss. Mnrt saya sih so-so aja..keseringan liat jembatan. Yg pasti ada love lock juga disini seperti kebykn jembatan terkenal di Eropa.Lokasinya dekat Lucerne main station.

      Yg cukup menarik di Lucerne justru adalah Löwendenkmal alias monument singa sekarat yang terpahat di batu.




      Monumen ini mnrt temen kita si org Swiss itu melambangkan pasukan Swiss yg menjadi korban revolusi Perancis jaman Raja Perancis Louis XVI.  Dimana pasukan Swiss kalah jumlah . Scr rakyat Swiss cuma seiprit ya, pake acara bantu2 segala,gmn gak abis2an.

      ferry lagi ferry lagi sebnrnya ini juga di cover sama Swiss Pass tp udh bosen..



      Kita beli souvenir di Lucerne.. nyari magnet yg paling murah seharga € 5 ga ada yg murah di Swiss...
      Karena sudah sore, kita semua akhirnya berpisah di stasiun Lucerne. Temen kita yg org Swiss itu balik ke kotanya di Basel dan kita kembali ke Zurich.
      Sampai Zurich gak pake dinner lagi, masih enek kebanyakan makan keju. Siap2 packing buat besok pagi check out.
      Bersambung di Bernina Express ke Italy ya .
       


    • By widingh
      Sering orang menanyakan, apa syarat2 mengajukan visa Schengen? Berapakah jumlah rekening tabungan yang disyaratkan? Apakah harus booking tiket pesawat, bagaimana kalau visanya ditolak, tiket pesawat akan hangus?
      Dibawah ini adalah syarat dasar untuk mengajukan visa Schengen; sumbernya saya ambilkan dari website Netherland Embassy.
      Bagi WNI untuk memasuki negara Schengen harus mempunyai visa. Visa dapat diurus di Emabssy :
      Negara yang menjadi tujuan awal/kedatangan atau Negara yang paling lama dikunjungi  
      Negara2 yang memberlakukan visa Schengen adalah :
      Belgia   Denmark Jerman Finlandia Perancis Yunani Italia Luxemburg Austria Portugal Belanda Norwegia Spanyol Swedia Islandia Malta Estonia Hongaria  Latvia Lithuania Polandia Slovenia Slowakia Ceko Swiss Liechtenstein Daftar dokumen-dokumen yang diperlukan
      Semua dokumen penunjang harus asli. Anda diharuskan membawa dan membuat foto copy dari semua dokumen asli untuk berkas anda.
      1. Paspor
      Paspor harus berlaku minimal 3 bulan dari saat keluar dari wilayah Schengen
      2. Pas foto
      Pasfoto harus sesuai dengan persyaratan untuk membuat paspor Belanda. Anda dapat membuat foto di area kedutaan yang sesuai dengan persyaratan yang diminta. 
      3. Harga visa
      EUR 60 untuk orang berusia diatas 12 tahun; dibayar dalam rupiah EUR 35 untuk anak-anak berusia antara 6 sampai 12 tahun; dibayar dalam rupiah 4. Formulir permohonan
      Diisi lengkap dan dua kali ditandatangani (pada halaman 2 dan 3).
      5. Asuransi perjalanan
      Asuransi perjalanan harus berlaku untuk seluruh periode perjalanan di wilayah Schengen dengan minimal nilai pertanggungan EUR 30.000,- termasuk pengobatan dan biaya repatriasi. Copy polis harus dilampirkan dalam permohonan, polis asli harus diperlihatkan.
      6. Bukti keuangan
      Jika pemohon visa membiayai sendiri perjalanannya maka maka diwajibkan mempunyai minimal EUR 34 perhari Sponsor di Belanda mempunyai minimum penghasilan dan berlaku 12 bulan kedepan saat permohonan visa diajukan. Lihat link berikut untuk mendapatkan informasi aktual tentang minimum penghasilan:http://.ind.nl/leges/tabel-normbedragen-voldoende-geld.aspx Bukti keuangan dapat dibuktikan dalam bentuk foto copy dari rekening bank/ buku bank 3 bulan terakhir dan/ atau slip gaji 3 bulan terakhir beserta surat keterangan bekerja atau bukti pendaftaran pada Kamar Dagang Belanda  7. Reservasi penerbangan
      Pada reservasi penerbangan harus tertera dengan jelas  tanggal pergi dan pulang, tetapi tidak harus dibayarkan terlebih dahulu. Anda disarankan tidak membayar sebelum visa disetujui. 
      Dokumen-dokumen yang harus dibawa sesuai dengan tujuan
      Turisme
      1.    Bukti pemesanan hotel selama berada diseluruh wilayah Schengen
      2.    Surat keterangan kerja atau bukti pemilikan usaha (S.I.U.P.)
       
      Mengunjungi keluarga atau teman:
      1.    Bila sponsor anda tinggal di Belanda; maka harus dilengkapi dengan undangan yang dilegalisasi oleh kotamadya dimana sponsor anda tinggal. Undangan bisa didapat di kotamadya dimana sponsor anda tinggal;
      2.    Bila sponsor anda tinggal di Belgia; maka harus dilengkapi dengan undangan yang dilegalisasi oleh kotamadya dimana sponsor anda tinggal (yang juga dikenal sebagai lampiran 3bis). Undangan bisa didapat di kotamadya dimana sponsor anda tinggal;
      3.    Bila sponsor anda tinggal di Luxemburg; maka harus dilengkapi dengan undangan yang dilegalisasi oleh kotamadya dimana sponsor anda tinggal dan ditandatangani oleh kantor visa Luxemburg. Undangan bisa didapat di kotamadya dimana sponsor anda tinggal;
      4.    Surat undangan pribadi dari sponsor anda yang menerangkan latar belakang hubungan anda dengan sponsor dan informasi mengenai siapa yang bertanggung jawab atas biaya perjalanan dan biaya selama anda berada disana.
      5.    Bukti keuangan anda dan/ atau sponsor anda; dari orang yang membiayai biaya perjalanan dan biaya selama anda berada disana (copy bank rekening/ buku bank 3 bulan terakhir dan/ atau slip gaji 3 bulan terakhir) 
      6.    Copy paspor dan izin tinggal dari sponsor anda dan suami/  istrinya dan/ atau keluarga yang akan dikunjungi
      7.    Surat keterangan kerja atau bukti pemilikan usaha (S.I.U.P.)
      8.    Bukti pemesanan hotel (bila diperlukan)
      9.    Dokumen-dokumen yang dapat membuktikan hubungan keluarga
       
      Sumber : http://indonesia-in.nlembassy.org/organization/bagian-dalam-kedutaan/konsuler/visa-schengen/visa-kunjungan-singkat/dokumen-yang-dibutuhkan.html
       
       
      Hal-hal penting yang sering ditanyakan; dan pengalaman saya waktu mengurus visa Schengen :
       
      1. Foto 2 lembar ukuran 3,5 X 4,5 CM dengan latar belakang putih, menggunakan baju berkerah. Muka tampak 80%, tidak memakai kacamata. Untuk wanita tidak boleh berkerudung (jilbab), bisa menggunakan tutup kepala yang menutupi rambut tetapi kedua kuping dan jidat harus terlihat.
      2. Jika pemohon visa membiayai sendiri perjalanannya maka maka diwajibkan mempunyai minimal EUR 34 perhari. Sering terjadi kalau minta urus travel agen dimintai syarat tabungan yang mengendap selama 3 bulan sebesar Rp.50 juta. Kalau menurut kedutaan hanya EUR 34 diluar biaya hotel/penginapan. Tingal kalikan sendiri mau berapa hari disana. Contoh 10 hari x EUR 34 = EUR 340. Andaikan EUR 1 = Rp.16.000 maka hanya perlu Rp.5.440.000 di rekening tabungan; tentunya jumlah yang lebih besar akan lebih baik
      3. Bukti pemesanan hotel selama berada diseluruh wilayah Schengen
      4. Hanya diperlukan booking tiket yang belum diissued. Pada reservasi penerbangan harus tertera dengan jelas tanggal pergi dan pulang, tetapi tidak harus dibayarkan terlebih dahulu. Anda disarankan tidak membayar sebelum visa disetujui
      5. Mulai Oktober 2013 diperlukan pengambilan sidik jari/biometric. Meskipun menggunakan jasa agen, kita  perlu datang sendiri ketika mengambil sidik jari/biometric. Pengambilan sidik jari hanya dilakukan sekali; untuk jangka waktu 5 tahun.
      6. Untuk travel insurance ketika mengurus lewat Kedutaan Italy, diminta untuk jangka waktu 1 bulan (selama kita disana/sesuai itinerary). Saya pakai asuransi AXA, biaya premi $50 perorangan dan keluarga $79 (saya berangkat dengan istri jadi beli yang keluarga). Waktu ke Oslo syarat travel insurancenya, pertanggungannya selama kita disana ditambah 15 hari setelah kepulangan di Indonesia; saya pakai asuransi Allianz seharga $38,5.
      7. Untuk Yunani agak susah, surat keterangan dari kantor harus dilegalisir/diketahui Kemenlu RI.
       
       
      Semoga bermanfaat, untuk lebih jelasnya silahkan hubungi embassy masing2 agar lebih akurat.
      Silahkan kalau ada yang mau menambahkan
      Salam Jalan2ers
    • By Vara Deliasani
      Pada saat akan berlibur ke Eropa salah satu kekhawatiran bagi sebagian besar orang adalah masalah budget, terutama hotel. Banyak yang khawatir bahwa hotel yang nyaman dan full private di Eropa akan memakan biaya yang cukup besar. Ini juga yang menjadi concern gw pada saat berlibur ke beberapa negara di Eropa beberapa bulan lalu. Maklumlah gw salah satu traveller "manja" yang males jalan jauh dari hotel ke stasiun atau halte, males kalau harus butuh waktu lama ke tempat wisata, ga bisa sharing kamar mandi dan kamar dengan orang yang ga dikenal, dan berbagai kemanjaan lainnya  (Yaaah gw emang traveller rempong)
      Beruntunglah gw pada saat brwosing menemukan hotel yang sesuai dengan keinginan gw tapi dengan harga murah. Kamar dan kamar mandi privat, lokasi persis di depan stasiun kereta, deket kemana-mana, yang penting HARGANYA MURAH!!!!
      Nama hotelnya MEININGER, logonya gampang banget dikenalin.. Huruf M dengan warna merah dan putih.
       
       
      Usut punya usut ternyata Meininger ini ada di 10 kota di Eropa, antara lain Amsterdam, Berlin, Vienna, Brussels, Frankfurt, London, Munich, Salzburg, Munich dan London. Gw sendiri baru mencoba hotel di 2 kota, yaitu Berlin dan Vienna.
      Di berlin terdapat 4 cabang Meininger, sedangkan di Vienna terdapat 3 cabang. Untuk di berlin gw memilih menginap di Meininger Alexanderplatz, untuk di Vienna di Meininger Hbf (Central Station). Pemilihan cabang gw sesuaikan dengan itinerary yang telah disusun sebelumnya.
       
      1. Meininger Alexanderplatz (Berlin)

      niatnya mau foto tampak depan hotel tapi ternyata banyak model dadakan. hahaa
       
      Meininger Alexanderplatz lokasinya persis di depan U Senefelderplatz (U-Bahn Station). begitu keluar ngeliat ke kanan langsung keliatan hotelnya.. cukup nyeberang 10 langkah udah sampai di lobbi hotel.

      Gw ga sempet foto lobbi hotelnya jadi gw ambil fotonya dari website Meininger. Fotonya emang dari tahun 2008 tapi kondisinya masih persis sama dengan kondisi pada Maret 2016 kemarin. Jadi hotelnya benar-benar terjaga kebersihan dan perawatannya.
      Karena gw jalan ber 4, akhirnya diputuskan untuk ambil Quadruple Room dengan Private Bathroom. Didalam kamar terdapat 2 tempat tidur tingkat, 1 buah meja dan 2 buah kursi, 1 lemari dan kamar mandi yang cukup luas. Peralatan mandi dan hair dryer juga disediakan. (tapi ga tersedia sikat gigi dan odol yaaa)
          



       
      Gw booking sekitar 2 bulan sebelum berangkat. Kebetulan dapat harga yang cukup bersahabat, 60 Euro permalam buat ber 4. atau sekitar Rp 870.000 untuk kamar ber 4. Sehingga kita hanya membayar 218.000/orang. Lumayan bangeeeeeetttt kaaannn!!!!!!

      Harga tersebut di atas belum termasuk sarapan. Kalau mau sarapan di Hotel bisa tapi dikenakan biaya 6.9 Euro/Orang. Pilihan menu sarapan lumayan lengkap dan enak. kita sampe ngebekal buat di jalan. hahaha.
      Butuh ngebekal buat lunch juga bisa... tinggal pesen di hotel seharga $,5 Euro/bungkus. Lumayanlah buat makan siang kalo harus nyambung jalan jauh.

       
      2. Meininger Hbf (Vienna)

      Sama seperti di Berlin, untuk di Vienna gw booking Meininger juga. Kali ini memilih yang deket stasiun utama karena kita sampai di Vienna pagi banget dan langsung pengen menjelajah kota, mengingat besok paginya harus terbang ke Italy.
      Sama seperti di Berlin, Meininger Hbf ini cuma selemparan dari stasiun kereta. Begitu keluar stasiun jalan sekitar 20 langkah udah sampai deh di hotel.


      Gw booking Quadruple Room (karena kita ber4) dengan private bathroom. Bedanya kali ini tempat tidur terdiri dari 4 tempat tidur single (bukan bunk bed).
      Peralatan mandi dan hair dryer juga disediakan. (ga tersedia sikat gigi dan odol yaaa)


      Harga juga sama dengan di Berlin, yaitu 60 Euro semalam untuk ber 4. Sehingga kita hanya membayar 218.000/orang. 
       

      Harga segitu itu dapat private room di lokasi yang strategis banget. Cuma ga termasuk breakfast yaaa.. Kalau mau sarapan di Hotel bisa tapi dikenakan biaya 6.9 Euro/Orang. Ngebekal lunch? Bisa.. pesen di hotel seharga 4.5 Euro/bungkus.
      Gw sih ngerasa puas banget selama nginep di Meininger ini.. dan pastinya kalo ke Eropa lagi bakalan booking di hotel yang sama. Harganya terjangkau tapi fasilitas nyaman dan lokasi strategis.
      Buat yang mau jalan ke Eropa semoga review kali ini bisa membantu memberikan alternatif hotel selama disana. 
       
    • By Hasdevi Agrippina Dradjat
      Athena adalah sebuah ibukota negara Yunani yang memiliki berbagai detinasi wisata cantik yang sayang untuk kamu lewati. Negara yang tengah dilanda krisis ini, masih menjadikan pariwisata sebagai tumpuan ekonominya.
      Negara ini merupakan sebuah negara yang memiliki penduduk sekitar 11 juta jiwa. Ya, pariwisata masih menjadi tumpuan pendapatan negara yang memiliki luas sekitar 131.957 kilometer persegi.
      Pada tahun 2015, 22 juta wisatawan mancanegara datang untuk mengunjungi Yunani, dengan sebagian di antaranya adalah penumpang kapal pesiar.
      Nah, apakah kamu penasaran dan ingin segera mengetahui wisata apa saja yang menjadi andalan Yunani khususnya ibukotanya yaitu Athena? Kali ini, kita akan membahasnya dalam melihat lebih dekat keindahan kota Athena di Yunani.
       
      Sekilas tentang Athena


      Athena via i-berita
       
      Athena adalah ibukota negara Yunani. Kota ini memiliki penduduk sekitar 700.000 jiwa, namun bila dihitung dari kawasan metropolitannya, kota ini memiliki penduduk yang tidak kurang dari 3,5 juta jiwa.
      Athena menjadi pusat dari ekonomi, budaya dan politik Yunani. Athena disebut juga sebagai asal dari pusat peradaban barat karena berbagai pencapaian kebudayaan bangunan yang berasal dari abad ke 4 dan 5 di kota ini.
      Ketika menyambangi Athena, kamu akan dimanjakan dengan bangunan-bangunan tua yang megah dan indah. Hal ini akan membuatmu betah menyambangi kota yang satu ini.
       
      Perjalanan Menuju Athena


      Bandara Internasional Athena via News Gtp
       
      Untuk melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Athena, kamu dapat memilih beberapa maskapai penerbangan. Salah satu maskapai penerbangan yang paling populer adalah Emirates.
      Rata-rata waktu penerbangan yang kamu butuhkan untuk mencapai Athena dari Jakarta adalah sekitar 14 jam 25 menit.
       
      Menyambangi Kawasan Wisata Plaka


      Kawasan Wisata Plaka via Athens Guide
       
      Untuk mengawali perjalanan wisatamu selama berada di Yunani, kamu dapat memulainya dengan menyambangi kawasan wisata Plaka. Plaka sendiri adalah kependekan dari Pliak Athena, yang berarti Kota Tua Athena dalam bahasa Yunani.
      Plaka beralamat tepat di lereng timur Acropolis, Kota Atas Athena. Keunikan lain yang disajikan oleh kawasan wisata Plaka ini adalah kawasan ini termasuk kawasan yang tidak pernah tidur karena hampir 24 jam diramaikan dengan beragam aktivitas restoran tradisional Yunani maupun rumah makan modern.
      Plaka juga merupakan kawasan konservasi. Nah, sebagian besar penduduk kawasan Plaka ini berasal dari turunan Albania atau disebut juga sebagai Arvanite dalam bahasa Yunani.
      Di dalam kawasan ini, kamu juga dapat melihat Museum Acropolis, Museum Kesenian Rakyat Yunani (Museum of Greek Folk Art), Museum Universitas Athena dan sejumlah museum “pribadi” lainnya.
      Di kawasan ini pula kamu dapat menemukan berbagai makanan tradisional Yunani yang tentunya menggugah selera. Salah satu makanan tradisional Yunani yang sayang untuk kamu lewatkan adalah Thanasis Kebab. Selain itu, kamu juga dapat menemukan berbagai souvenir unik khas Yunani di kawasan yang satu ini.
      Kamu juga dapat menemukan berbagai deretan toko pembuat tas dan sepatu. Kawasan Plaka adalah salah satu kawasan yang tepat jika kamu ingin melihat lebih dekat seperti apa kehidupan kota Athena.
       
      Menyambangi Syntagma Square


      Syntagma Square via Boomsbeat
       
      Selanjutnya, inilah dia destinasi wisata di Athena yang tentunya sayang untuk kamu lewatkan. Destinasi wisata ini adalah Syntagma. Salah satu hal yang menyenangkan dan dapat kamu lakukan di Athena adalah berjalan kaki.
      Ya, kamu dapat menelusuri kota dengan cara berjalan kaki. Hal ini dikarenakan jarak dari satu kawasan untuk mencapai kawasan lain adalah tidak terlalu jauh.
      Selain Plaka, kamu dapat mengunjungi Syntagma ini untuk dapat merasakan lebih dekat seperti apa rasanya atmosfir kehidupan lokal kota ini. Kabar baiknya adalah kamu dapat berjalan kaki dari Plaka menuju Syntagma ataupun sebaliknya.
      Sepanjang perjalanan, kamu dapat melihat deretan restoran khas Yunani. Selain itu, kamu juga dapat melihat berbagai deretan toko tas dan sepatu yang terdapat di sepanjang jalanan dari Plaka menuju Syntagma ini.
      Sementara itu, di ujung jalan Monastiraki, kamu dapat melihat sebuah flea market yang menjual berbagai macam produk dengan harga yang miring dan terjangkau. Menyenangkan sekali, bukan?
      Di kawasan ini, biasanya wisatawan berkumpul untuk menikmati kopi, the, wine atau minuman lainnya untuk mengurangi rasa dingin.
      Yunani juga memiliki minuman beralkohol yang khas bernama uozo. Di kawasan ini, biasanya juga disajikan makanan khas Yunani seperti gyros yang mirip dengan kebab isi daging sapi, domba atau ayam.
      Roti pita yang membungkus daging pada gyros terlihat lebih tebal dibandingkan dengan kulit kebab biasa dan disajikan bersama dengan saus dan kentang goreng.
      Selain itu, di kawasan ini kamu juga dapat menikmati souvlaki (sate), spanakopita yang mirip seperti martabak, tzaziki (salad dengan saus yoghurt), moussaka yang mirip lasagna serta kourabiedes (roti almond panggang).
      Syntagma Square juga terkenal sebagai kawasan wisata yang dilengkapi dengan sejumlah hotel, kafe, air mancur dan peninggalan masa lalu yang masih terawat.
      Di sekitar tempat ini, kamu juga dapat melihat gerbang Handrian yang dibangun pada 131. Gerbang ini sendiri dibangun untuk menyambut kedatangan Romawi di Yunani.
       
      Melihat Lebih Dekat Museum Kereta Gratis di Stasiun Syntagma


      Stasiun Kereta Syntagma via Wikimedia
       
      Bagi kamu yang masih penasaran dengan berbagai destinasi wisata di Athena, maka sebaiknya kamu tidak melewatkan destinasi wisata yang satu ini yaitu Stasiun Kereta Syntagma.
      Tempat ini merupakan stasiun untuk jalur metro di kota Athena. Konon, sepanjang pembuatan jalur metro untuk transportasi di Kota Athena, pekerjanya seringkali menemukan berbagai relik sejarah.
      Nah, ketika menemukan berbagai relik sejarah tersebut, penggalian untuk jalur metropun terpaksa dihentikan sementara. Para pekerja kemudian memanggil arkeolog agar dapat menyelamatkan relik sejarah yang ditemukan.
      Alat yang digunakan untuk pembangunan jalur metro pun berubah dari yang awalnya menggunakan alat berat terpaksa berubah menjadi kuas.
      Akhirnya, setelah memakan waktu yang cukup lama, pembangunan jalur metro di kota Athena pun selesai dilakukan. Untuk mengabadikan relik sejarah yang ditemukan sepanjang penggalian, relik sejarah tersebut pun dipajang dan dipamerkan di stasiun metro yang terletak di Syntagma.
      Nah, jika kamu adalah penggemar arkeologi, tidak ada salahnya menyambangi stasiun Syntagma ini untuk melihat lebih dekat seperti apa relik sejarah yang ditemukan di sepanjang penggalian jalur metro untuk kota Athena.
       
      Melihat Lebih Dekat Museum Acropolis


      Menyambangi Museum Acropolis via News Gtp
       
      Menyambangi Paris belum lengkap rasanya jika belum menyambangi Menara Eiffel. Begitupun halnya dengan menyambangi Athena, belum lengkap rasanya jika belum menyambangi Museum Acropolis yang terkenal ini.
      Museum Acropolis adalah sebuah museum yang terletak di Distrik Makriyianni, dekat Plaka. Museum ini adalah sebuah museum yang dibangun pada tahun 2003 tetapi baru dapat diresmikan pada tahun 2009.
      Museum Acropolis ini terletak di sisi tenggara bukit batu Acropolis, tempat Acropolis lama berdiri dengan Parthenon sebagai bangunan utamanya. Museum baru yang didirikan dengan biaya tidak kurang dari 130 juta euro tersebut berdiri tegak di atas reruntuhan bagian kota Athena lama.
      Museum ini memiliki suatu keunikan, yaitu sebagian lantainya terbuat dari kaca. Hal ini membuat pengunjung masih bisa melihat sisa bangunan di bawahnya yang memuat berbagai peninggalan dari masa zaman perunggu yang ditemukan di kawasan sekitar bukit batu Acropolis.
      Pembangunan museum Acropolis yang pertama sendiri dimulai pada tahun 1865. Pada waktu tersebut, museum ini memiliki luas sekitar 800 meter persegi.
      Jika kamu ingin melihat lebih dekat dan memasuki museum ini, biaya yang kamu keluarkan adalah sekitar 5 euro untuk tiket. Di dalam museum ini terdapat koleksi yang berjumlah lebih dari 4.000 buah dan tersimpan di dalam bangunan empat lantai yang tahan gempa tersebut.
      Dari pintu masuk Museum Acropolis ini, kamu akan melihat berbagai benda purbakala yang disajikan dalam lorong The Slopes of The Acropolis (lereng Acropolis) di lantai dasar atau level 0.
      Sementara itu, pada lantai pertama, kamu dapat melihat berbagai koleksi Propylaia (gerbang kompleks Acropolis), kuil Athena-Nike, kuil Erecthei-on, serta berbagai benda yang ditemukan sejak periode abad kelima sebelum masehi dan periode kuno Yunani.
      Pada lantai ketiga, kamu dapat menemukan berbagai artefak yang berkaitan dengan kuil Parthenon. Parthenon sendiri merupakan kuil terbesar dalam kompleks kota kuno Acropolis dan menjadi tempat pemujaan terhadap Dewi Athena.
       
      Menyambangi Acropolis Athena


      Menyambangi Acropolis via Wikimedia
       
      Selanjutnya, tidak lengkap rasanya menyambangi Athena jika kamu belum menyempatkan diri untuk menyambangi Acropolis yang satu ini. Kawasan ini merupakan kota kuno yang terletak di atas bukit batu Acropolis di Athena.
      Kota ini memiliki nama lain Citadel. Acropolis ini merupakan tujuan utama wisatawan mancanegara datang menyambangi Athena. Kawasan ini berjarak sekitar 300 meter dari Museum Acropolis.
      Kompleks bangunan kuno ini memiliki 21 situs bersejarah yang menjadi nilai tambah utama kawasan ini, termasuk Parthenon, yang berdiri di atas lahan datar seluas tiga hektar.
      Namun, sebagian besar situs itu rusak dimakan usia, terkena bencana dan juga terkena bom. Kawasan ini direnovasi sejak tahun 1975 dan renovasi tersebut masih terus berlangsung hingga saat ini.
      Parthenon yang merupakan bangunan terbesar di Acropolis Athena pun masih direnovasi sampai saat ini. Kuil pemujaan terhadap dewi Athena yang bergaya Doria atau Yunani Klasik ini didirikan pada 447 sebelum masehi dan mulai resmi dibuka pada 432 sebelum masehi. Keindahan Parthenon ini terletak pada detail ornamennya.
      Nama Parthenon sendiri diperkirakan berasal dari sosok Athena yang digambarkan tidak pernah menikah, tetap perawan. Dalam bahasa Yunani, disebutjuga dengan Athena Parthenos. Kuil ini digambarkan sebagai lambang keperawanan sehingga seringkali juga dijadikan sebagai gereja yang menghormati Maria, ibu Yesus yang perawan.
      Selain itu, Parthenon juga pernah dijadikan sebagai masjid pada masa Kekaisaran Ottoman sekitar tahun 1460.
      Untuk mengunjungi Acropolis ini, kamu harus berjalan mendaki di lereng bukit yang dipenuhi berbagai tanaman, terutama zaitun. Di bukit batu Acropolis juga terdapat teater Odeon Pericles yang didirikan pada tahun 435 sebelum masehi.
      Gedung ini seringkali disebut juga dengan sebutan Odeon Athena. Gedung ini dihancurkan ketika terjadi perang Mithridatic yang pertama tahun 87-86 sebelum masehi. Padahal, teater seluas 4.000 meter persegi yang kini hanya tinggal berupa puing-puing tersebut tercatat sebagai salah satu situs yang tertua di Yunani.
       
      Menyambangi Pelabuhan Piraeus Athena


      Mengunjungi Pelabuhan Piraeus Athena via Morphis
       
      Kamu masih berminat untuk menjelajahi destinasi wisata lainnya di Athena? Kali ini, kamu dapat mencoba untuk menyambangi Pelabuhan Piraeus yang satu ini.
      Pelabuhan ini merupakan pelabuhan tempat sejumlah kapal pesiar termasuk Riviera yang dimiliki Oceania Cruises bersandar. Pelabuhan Piraeus sendiri berada sekitar 20 kilometer dari Syntagma dan membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk menjangkaunya dengan menggunakan taksi.
      Piraeus merupakan kota tersendiri dan bukan merupakan bagian dari Athena yang awalnya bernama Helipedon. Helipedon sendiri berarti ladang garam.
      Pelabuhan ini merupakan pelabuhan terbesar di Yunani dengan luas yang tidak kurang dari 3.900 hektar. Pada tahun 2014, pelabuhan Piraeus ini dilewati oleh sekitar 39,6 juta orang dan 73,1 muatan kargo.
      Tidak kurang sekitar 47.839 kapal dengan berbagai ukuran bersandar di pelabuhan ini. Pelabuhan ini juga merupakan pintu gerbang utama menuju ke berbagai tujuan wisata di Yunani seperti Santorini, Corfu dan Myonos.
      Piraeus sendiri saat ini sudah menjadi tujuan wisata di Yunani sehingga di kawasan tersebut kamu juga dapat melihat berbagai restoran dan hotel.
       
      Mengunjungi Koukaki


      Mengunjungi Koukaki via Athens Greek
       
      Selanjutnya, inilah dia destinasi wisata lainnya di Athena yang sayang untuk kamu lewatkan. Destinasi wisata ini adalah sebuah kawasan yang bernama Koukaki.
      Di Koukaki kamu dapat melihat banyak wisatawan berkumpul dengan menikmati kopi, the, wine atau minuman lainnya untuk dapat mengurangi rasa dingin.
      Koukaki merupakan sebuah kawasan yang terletak di bagian tenggara kota Athena. Untuk melihat lebih dekat seperti apa kehidupan warga lokal Athena, kamu dapat mencoba untuk menyambangi kawasan Koukaki yang satu ini.
      Bagi kamu yang tidak begitu suka dengan tempat yang touristry seperti Plaka, maka dapat mencoba untuk menginap di sekitar kawasan Koukaki ini. Tempat ini juga sangat sesuai untukmu yang ingin menikmati kota Athena sambil berjalan kaki.
      Bagi kamu yang ingin menyambangi kawasan dengan banyak bar dan juga restoran, maka kamu dapat mencoba menyambangi kawasan Faliron Square yang terletak di Koukaki ini. Faliron Square sendiri termasuk dalam kawasan yang sangat populer di Koukaki ini.
      Karena termasuk kawasan yang tidak begitu touristry, kawasan ini menyajikan suasana yang lebih tenang. Selain itu, kebanyakan wisatawan yang datang menyambangi kawasan ini memiliki tujuan untuk bisnis.
      Karena alasan tersebut, tidak mengherankan jika biaya untuk makan maupun menginap di kawasan Koukaki ini cenderung lebih mahal jika dibandingkan dengan kawasan Plaka.
      Meskipun demikian, dari segi keterjangkauan, kawasan ini adalah sebuah kawasan yang termasuk dalam kawasan yang tidak begitu jauh dari Acropolis. Untuk melengkapi perjalanan wisatamu selama berada di Athena, jangan lupa untuk menyambangi kawasan Koukaki yang satu ini.
       
      Nah, itulah dia pembahasan mengenai Athena, sebuah kota tua di Yunani yang memiliki berbagai objek wisata cantik. Bagi kamu yang menyukai wisata sejarah, tidak ada salahnya meluangkan waktu untuk menyambangi kota ini atau memasukkan Athena dalam daftar destinasi wisata tujuanmu selanjutnya.
      Semoga artikel ini dapat memberikan inspirasi kepadamu terutama jika kamu ingin mengenal lebih dekat kota Athena.
      Happy traveling!
    • By Vara Deliasani

       
      Praha... Hhhmmm.. gw bingung mau mulainya darimana. Soalnya semua di praha emang cantik banget. Kotanya ngangenin. Kalo gw ditanya dari semua kota yang udah pernah di datengin urutan pertama masih tetap Praha!!! Pokoknya harus balik lagi kesana!!!
      Mungkin gw mulai dari basic info soal praha kali yaaa...

       
      Basic Info Soal Praha
      Praha, yang merupakan ibukota Republik Ceko, dinobatkan menjadi salah satu kota tercantik di dunia. Sejak tahun 1992 Praha ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu kota bersejarah. Yang menarik dari Praha ini dalah arsitektur dan pemandangannya yang romantis dan breath-taking. Tempat-tempat wisata di kota ini nyaman dikunjungi dengan berjalan kaki. Gw sendiri selama disana hanya sekali menggunakan transportasi umum, hanya saat menuju prague castle karena jalanannya lumayan nanjak.
      Praha berjarak 350Km dari Berlin dan 330Km dari Vienna. Jadi bisa dimampirin pada saat perjalanan dari Berlin ke Vienna. Praha ke Berlin by bus menempuh perjalanan selama 3,5 Jam, pemandangan yang keren sepanjang jalan membuat perjalanan terasa terlalu singkat. Dari Praha ke Vienna gw mencoba kereta api, perjalanan memakan waktu 4 Jam.
      Sungai The Vltava membelah kota sepanjang 31 Km, memisahkan sisi old town dan new town Praha. 
      Suhu udara rata-rata adalah 9°C, dengan rata suhu musim panas 19°C dan winter -0,9°C, jadi yaaa adem-adem gimana gitu kotanya.
      Banyak yang bilang Praha ga aman. Hhhhmmmm.. gw sih selama disana ngerasa nyaman-nyaman aja. Jalan kaki kesana kemari sendirian pas early morning, masih dikit banget orang-orang dijalanan dan masih agak gelap, tapi ga berasa serem sama sekali. Cuma memang seperti negara-negara Eropa Timur lainnya, katanya sih banyak copet jadi backpack gw gembok sepanjang jalan-jalan muterin kota. Agak ribet sih emang tapi yaaa mendingan jaga-jaga kan yaaa.
      Bahasa yang digunakan adalah bahasa Ceko. Tapi ga usah takut, mayoritas penduduk di Praha fasih berbahasa Inggris.
      Soal fashion jangan ditanya... seriuuussss deeehhh di Praha sampe nenek-nenek aja stylish banget. Dan mukanya asli cantik dan ganteng-ganteng semua. Tante betaaahhh. Hahahaha. Praha juga punya airport yang melayani penerbangan jarak jauh dengan pesawat berbadan besar. Cari makan halal di Praha? Gampang bangeeett. banyak warga turki disini. Kalau makan di resto atau cafe kebiasaan di Praha ngasih tips 10% yaaa.

       
      Transportasi dalam kota
      Transportasi di Praha lengkap banget, bangunan stasiunnya modern dan nyaman banget. Selama di Praha kita bisa milih naik Tram, Subway/Metro, bis dan ferry. Gw sih beli tiket eceran yang berlaku buat 30 menit (seharga CZK 24) atau 90 menit (harga CZK 32), karena gw lebih banyak jalan kaki. Cuma kalo mau nyobain transportasi umum bisa beli day pass untuk 24 Jam seharga CZK 110 atau yang berlaku 72 Jam sehargaCZK 320. Seluruh jenis tiket ini bisa dipake diSELURUH moda transportasi di Praha. Tiket bisa di beli di vending machine di seluruh stasiun. Praktis banget kan.
      Cara penggunaan tiketnya juga gampang banget, setelah beli di mesin tiket akan keluar berupa lembaran kertas kecil. Jangan lupa validasi tiket ini di mesin kuning kecil yang tersedia diseluruh sudut kota. Abis itu bisa langsung dipake naik turun sepuasnya. Tinggal tunjukin tiket kalo diminta (biasanya sih jarang ada yang meriksa), kalau nggak ya cukup simpan aja baik-baik tiket di kantong yaaa.
      Jam operasional metro dari jam 5 pagi sampai 12 malam. Kalo hari libur sampai jam 1 pagi. Jarak antar kereta 3 menit maksimal (rush hour) kalau di jam sepi sekitar 5-7 menitan. Jalur metro di Praha terbagi 3, line A - warna hijau, line B – warna kuning, dan line C – warna merah.
      Mau naik tram? Gampang bangeeeettt... jarak antar halte deket-deket, petunjuknya juga jelas. Tinggal tentuin mau kemana terus cek nomor tram berapa yang lewat ke tujuan kita.
      Petunjuk disetiap halte dan stasiun menyediakan bahasa inggris, jadi amanlah kalo jalan sendirian juga.
      Mau naik taksi? Gampang... tingga cari taksi stand yang berwarna kuning ada lambang jempol dengan tulisan FAIR PLACE. Tapi soal argo gw ga tau yaa.. soalnya ga nyobain naik taksi.

       
       
       
      Ke Praha wajib mampir kemana aja???
      Semua tempat di Praha menurut gw wajib dimampirin. Hahahaha. Abis beneran deh kotanya manis banget... gw sendiri spend waktu 2 hari full di Praha. Kurang ga? Kuraaaaanggggggg...... Semua tempat penting udah di samperin tapi blom puuaaaassss!!!!
      Mampir kemana aja di Praha? Ini daftarnya :
       
      Prague Castle
      Komplek Prague Castle ini gedeeeeeee bangeeeeetttttt... waktu yang pas muterin santai adalah sekitar 3-4 jam. Banyak banget musem dan gedung-gedung keren.
      Didalam lingkungan Prague Castel terdapat beberapa bangunan utama, yaitu : Cathedral of St Vitus, St Wencelas dan St Adalbert, Chapel of Holy Cross, Golden Lane,Royal Summer Palace, Riding School dan Prague Castle Garden.
      Komplek Prague Castle ini buka dari 5 pagi sampai jam 11 malam, tapi kalau mau masuk ke dalam gedung dan bangunan bukanya jam 9 pagi sampai jam 5, kecuali hari minggu buka agak siangan karena ada misa. Masuknya pake tiket ga? Pake tiket. Tiket bisa dibeli di Prague Castle Information Center. Ada banyak jenis tiketnya.

       
       
      Charles Bridge
      Nah kalo ini tempat favorit gw buat berenti sambil ngeliat pelukis dan pemusik jalanan. Jembatan ini merupakan salah satu icon utama di praha. Paling pas kesini jam berapa?? Pagi-pagi buta atau menjelang gelap saat lampu-lampu jembatan baru nyala. Aaaassseeeliiiiiii berasa di eropa jaman dulu.

       
      Old Town Square
      Alun-alun utama di kota praha. Banyak cafe dan resto unk di sepanjang jalan.

       
      Old Town Hall & Astronomical Clock
      Kalo pernah liat kartu pos praha yang ada gambar jamnya, nah disini lokasi aslinya. Tiap 1jam lonceng akan bunyi dan ada boneka yang berjoget. Dateng kesini enaknya kapan?           Pagi-pagiiiiiii bangeeett. Disaat jalanan masih kosong. Kalo kesiangan wuuuiih ramenya luar biasa.
      Mau ikut walking tur gratis? Di sini tempatnya. Cari aja mba atau mas yang bawa payung merah. Kita akan diajak keliling sudut-sudut praha yang bersejarah sambil jalan santai. Memang gratis, tapi jangan lupa kasih tips yaaa.

       
      Powder Gate
      Tower ini biasa dijadiin patokan buat mulai atau mengakhiri jalan2 menyusuri Praha.

       
      Wenceslas Square

       
      Nginep dimana?
      selama disana nginep di CitySpot. Hotel tapi kamarnya berjenis studio. 4 kasur, 1 kamar mandi, dapur, ruang makan dan mesin cuci. Harganya juga asli murah banget. Letaknya dekat dr mana-mana. Bisa jalan kaki ke objek wisata utama. Main station cuma 150 meter dari hotel ini. Pokoknya rekomen banget!!!

      Sekian deh cerita kali ini. Semoga berguna ya...