Sign in to follow this  
Reiko Shiwatari

Solo Travel to Seoul-Hiroshima-Osaka-Kyoto-Kawaguchiko-Tokyo September 2015 (10D/9N) Part 3/3

37 posts in this topic

Akhirnya saya kembali lagi dengan part3 :melambai maaf sudah menunggu lama, semoga masih berminat untuk membaca FR ini hehe.. 

 

Jumat,11 September 2015

Hari ini saya bangun pagi seperti biasa & sudah lebih fresh karena semalam tidur cepat. Hotel kali ini lumayan, ada free breakfast :makan jadi saya pun makan yang banyak supaya kenyang & irit jadi gak usah jajan2 nanti hehe.. makanannya juga enak2 & banyak macamnya untuk ukuran sarapan pagi. 

12464874_10153476040268842_1180490167_o.12465164_10153476040353842_1046483641_o.

Setelah sarapan, saya langsung check out, itu sekitar jam 7:30 pagi. Sebelumnya, saya benar2 pusing mau kemana hari ini, karena kemarin rasanya sudah terbuang 1 ahari begitu2 saja & memang capek bgt terus pusing cari koper. Antara Hakone & Kawaguchiko, hanya 2 pilihan itu tapi pusingnya sudah 7 keliling. Mau ke Hakone naik cruise & cable car tapi saya gak punya tiket terusan pasti bakalan keluar uang banyak & gak bisa ke Kawaguchiko lagi. Kalau saya pilih ke Kawaguchiko pasti gak bakal bisa ke Hakone, ya syukur2 bisa liat Fuji & liat Lake Kawaguchiko , pokoknya pilih salah 1 & korbankan yang satunya. 

Setelah searching2 informasi akrhina saya putuskan ke Kawaguchiko. Lalu saya segera check out & titip koper2 saya di front desk, saya bilang saya akan balik lagi sekitar jam 1 siang (padahal telat). Tadinya sih gak mau nitip, tapi daripada capek bawa2 barang & waktu juga terbatas ya mau gak mau nitip di hotel, kalau di locker lagi kan intinya dibawa juga barangnya (bayar juga). Lalu saya pun langsung ke Gotemba Station dan ternyata saya ditinggal bus....

Tapi tidak apa2, itu bus yang paling pertama, saya akhirnya dapat bus kedua, jam 8:10. Yang lucunya (malu2in sih), di haltenya banyak orang yang nunggu bus, anak2 sekolah semua & ada beberapa orang bule (yg saya pikir turis) saya pikir masa iya anak2 ini mau ke Kawaguchiko juga?? Karena haltenya itu benar ke Kawaguchiko. Terus di halte lain juga ada anak2 sekolah lagi. Sesaat kemudian datang bus, saya tanya sama penjaga tiket, "ini bus yg ke Kawaguchiko ya?" lalu ia jawab: "bukan, nanti yang jam 8:10" oh, jadi anak2 itu menunggu BUS SEKOLAH!!! Gubrak! :bingung untung gak naik, klo gak nanti saya jadinya ke sekolahan & bule yang tadi itu guru mereka atau siapa lah, karena ikut naik bus juga. Udah, saya nunggu lagi. Eh ada lagi yang nunggu, anak sekolah juga & datang lagi busnya, terus saya tanya lagi, "ini busnya ya?" dijawab lagi "bukan, setelah ini baru busnya" saya udah gak sabar. Dan setelah bus ini pegi sekitar jam 8:10 atau 1-2 menit sebelumnya, datanglah bus saya. "ini bus ke Kawaguchiko" orang tiket keluar dari ruangannya & bilang ke saya, saya jadi malu :tersiputernyata klo jadwalnya jam 8:10 ya jam 8:10 gak kecepetan & gak juga kelambatan. Lalu saya pun naik bus & duduk di depan sendiri & menikmati pemandangan sekitar karena perjalanan dari Gotemba ke Kawaguchiko itu 1 jam. 

Saya lihat Fujikyu HighLand, kepingin mampir bentar pulangnya karena ada Evangelion tapi akhirnya gak jadi juga karena takut ribet nanti busnya, karena tiketnya round trip jadi nanti pulangnya dari Kawaguchiko Station lagi. Sesampainya saya di Kawaguchiko saya langsung mencari Sightseeing Bus, untuk keliling2 Kawaguchiko. Saya putuskan gak jadi ke Fujiyama karena masih sekitar 1 jam perjalanan & naik bus sekitar $20 bakal habis dijalan nanti waktunya. Saya beli tiket terusan untuk Sightseeing Bus saja, sebenarnya bisa berlaku 2 hari tapi sayangnya saya cuma 1 hari (gak sampai malah) tadinya saya mau kasih ke orang lain tapi gak jadi, simpan saja buat kenang2an hehe... 

Lalu saya naik bus itu ke Lake Kawaguchiko & naik ropeway (untung ada yang kasih tau dari forum ini). Ternyata banyak juga yang bisa dilihat di Kawaguchiko ini, sayang gak cukup 1 hari, ada beberapa cave, museum, danau, dll. Tapi saya cuma pergi ke beberapa tempat saja karena sorenya harus ke Tokyo. Dan ternyata saya pergi ke tempat yang saya sebenarnya pengen & gak kepengen pergi, yaitu Aokigahara...

12077375_10153323745848842_607341142_n.t12064435_10153323745263842_2054340079_n.12087619_10153323745248842_761430684_n.t

Saya pikir Aokigahara itu masih jauh & dekat sama Fujiyama, tapi ternyata daerah sini juga. Saya pun tranfer bus & menunggu sekitar 30 menit untuk menuju ke sana (Sightseeing Bus nya ada 2 macam dengan jalur yang berbeda). Sebernarnya saya juga gak ke dalam hutannya banget, tapi ya itu sudah Aokigahara memang, saya pergi ke Saiko Bat Cave & Lava Cave (lupa, entah Lava Cave atau Wind Cave karena mereka berdekatan). Ngeri2 sendiri masuk ke dalam cave mana saya sendiri & yang lain minimal 2 orang & gak rame banget. Apalagi ke Saiko Bat Cave, sepi banget saya sepertinya sendirian, karena saya lihat ada orang baru keluar, saya langsung masuk ke dalam & lihat2 cepat2 cari jalan keluar. Rendah, licin, itu kondisinya, untung bawa payung jadi buat support saya jalan di dalam, pas ada rombongan yang baru masuk saya agak lega & langsung keluar. Di luar cave nya itu ya si Aokigahara, pohon2 semua, ngeri... saya langsung kembali ke toko souvenier beli beberapa oleh2 & menunggu bus karena bus nya ada 30 menit sekali & jarak dari cave 1 ke cave lain atau tempat lain lumayan jauh & kalau saya mampir2 lagi saya harus menunggu 30 menit lagi. 

Saya pun naik bus & langsung kembali ke Kawaguchiko Station & naik bus menuju Gotemba. Setibanya di Gotemba sudah hampir jam 3 & saya ambil koper saya di hotel. Perjalanan saya belum berakhir, saya masih harus ke Tokyo. Saya mencari jalan mana yang lebih cepat & dicover JR Pass & kalau bisa mampir ke Odawara & mau ke onsen (tapi gak jadi karena capek & kesorean). Jadi dari Gotemba saya berhenti di Kozu Station (sempat ketinggalan kereta) lalu lanjut ke Tokyo Station lalu ke Ueno. Di Ueno Station inilah saya merasa tersiksa, saya rasanya ingin lempar koper saya :geram karena saya bertemu dengan musuh terbesar saya, yaitu tangga.

Entah kenapa setiap jalan mencari jalur kereta ke Tawaramachi saya harus melalu tangga, ya tangga, bukan escalator bukan juga elevator. Kira2 3x saya harus naik turun tangga. Untung ada orang Jepang yang baik hati & menolong saya membawakan 1 koper saya (sampai ketemu 2x) :tersipulumayanlah hehehe.. Akhirnya saya naik kereta ke Tawaramachi menuju hotel  di Asakusa. Di luar sudah gelap, sudah jam 7 malam. Setelah check in & taro koper saya langsung mencari makan karena sudah kelaperan. Yang saya sayangkan dari hotel ini adalah, hotel ini ternyata tidak terima credit card, padahal waktu booking bisa bayar pakai kartu tapi pas check in harus cash karena beli tiketnya di mesin & tukar dengan kunci kamar. Dan yang anehnya (mungkin ini karena ada capsule hotelnya juga) setiap hari saya harus check in & check out. What??!! Saya booked kamar bukan capsule, memang dapat kamar dengan kamar mandi yang sangat kecil, jadi sudah peraturan disini, saya check in malam ini, besok pagi saya harus check out tapi gak seperti yang saya bayangkan, gak seperti di capsule hotel, barang2 kita tetap berada di kamar. Jadi yang dimaksud check out disini adalah, kalau kita keluar (jalan2 paginya) kita titip kunci & pas sore/malam kita balik ke hotel kita harus bayar lagi untuk malam ini, beli tiket lagi. Kamar masih sama, barang2 juga masih ada, jadi intinya bayar per hari. Karena kehabisan uang cash, saya tarik tunai di ATM Sevel di seberang hotel. Saya pernah baca kalau kita mau tarik uang dari ATM, kita tarik dari ATM Sevel aja, karena gak kena biaya (kena cuma dari bank kita masing2 karena bukan ATM bank kita). Gampang, praktis, gak kena biaya. 

12443473_10153475978648842_428383939_o.t

 

Sabtu, 12 September 2015

Masih pagi, kira2 jam 6 pagi, saya masih tidur di kasur, tiba2 saya merasa kasur & kamar ini goyang. Karena masih setengah sadar, saya pikir ini mimpi atau ada orang lewat di depan kamar atau hotel ini berhantu. Lalu tidak lama kemudian saya bangun & siap2 menuju Tokyo Disneyland & saya menemukan 'jawaban' dari guncangan tadi. Ada peengumuman di dalam kereta saya bahwa kereta jalur mana sedang delay karena GEMPA BUMI. What?! :tercengangya ampun, ternyata itu gempa... lumayan, 5.3 skalanya. Untung saya gak apa2, tapi bertambah juga pengalaman yang tidak terlupakan, "merasakan gempa di Jepang" lol. 

Lalu saya pun tiba di Tokyo Disneyland. Karena terbatasnya waktu (dana juga) saya pun tidak membeli tiket. Saya cuma naik kereta yang mengelilingi area tsb. Jadi naik turun kereta ke Disneyland, Disneysea & Stasiun Maihama. Saya sempat foto2 di dekat gerbang Disney tapi ditegur petugas karena saya bawa tripod, (benar ternyata tripod, monopod itu dilarang disini karena bisa menggangu/membahayakan orang lain). Saya lihat ada beberapa orang yang memakai costume Disney, entah mereka pengunjung yang bercosplay atau mereka kerja disini. 

12449488_10153475978613842_899994279_o.t

Setelah puas berkeliling dengan kereta monorail Disney, saya langsung menuju Yokohama. Saya pergi ke Ramen Museum di Shin-Yokohama. Tempatnya gak beda dengan takoyaki Museum, intinya banyak yang jual macam2 ramen, tapi tempatnya ini 1 gedung & dihias seperti sebuah kota kecil. Untuk masuk, kita harus beli tiket dulu & kalau mau makan ramen ya bayar lagi, pilih ramennya di mesin & beli tiketnya baru duduk. Karena bingung mau makan yang mana saya pilih yang rame. Untuk rasa, bolehlah, karena saya gak tau yang paling enak yang mana, tapi karena lapar ya enak2 saja. Setelah itu saya pergi ke Minamoto Mirai, masih sekitar Yokohama, tapi karena salah turun jadi saya harus jalan kaki cukup jauh & berpanas2 ria. Saya pun mampir ke cafe & minum Melon Soda Float, yummy!! 

12465250_10153475978658842_881844774_o.t12071591_10153323745243842_541150337_n.t

Ada amusement park, ada tempat game, ada shopping center juga & ada event juga, tebak jenis coca cola apa, zero sugar atau yang biasa, kita diberi 1 kaleng coca cola & mata kita ditutup lalu kita minum & tebak coca cola apa itu. Tadinya gak mau ikutan karena takut gak ngerti bahasanya, tapi banyak juga orang asing yang ikut, jadi ikut saja lumayan dapat coca cola gratis:salut

Perjalanan saya berlanjut di Shinjuku, tapi ya begitu2 saja, karena saya juga menargetkan 1 hari harus bisa 3 tempat, jadi cuma sebentar saja. Intinya juga cuma gedung2 tinggi & tempat2 belanja. Jadi saya langsung ke Shibuya. Mau ke Meijijingu Shrine tapi sudah tutup, mau ke Yoyogi juga malas jalan lagi, jadi saya jalan2 di Harajuku, sekitar Omotesando Hill. Karena lagi ada event & malam minggu juga, rame banget, banyak yang menawarkan souvenir2 gratis dari toko2 daerah situ & free gift kalau kita berbelanja. Saya gak beli apa2, tapi saya dapat minuman gratis, ice cream gratis & kipas gratis. 

Karena sudah pusing dengan ramenya Harajuku, saya pun pindah ke Shibuya. Mau foto sama Hachiko & lihat Shibuya Crossing. Masih sama intinya, gedung2 & tempat berbelanja, karena sudah malam & lapar, saya gak jadi belanja jadi langsung cari restaurant. Bingung mau makan dimana, searching2 makanan yang enak tapi bingung sendiri, akhirnya makan sushi di sebuah gang kecil & ternyata... keren!!!!! Gak sia2 antri lama & cari2 tempatnya, ternyata WOW! Saya merasa wong ndeso, bingung2 sendiri gimana caranya, sampai salah tekan. Untuk harga masih terjangkau. Recommended lah! Setelah makan saya kembali ke hotel. 

12067828_10153323745258842_2001850933_n.12458550_10153476056923842_1968900025_o.

 

Minggu, 13 September 2015

Seperti kemarin, saya "check out" lagi dari hotel & kembali lagi ke Shibuya. Untuk yang beragama Kristen, kalau ingin beribadah hari Minggu di gereja di Tokyo, bisa datang ke Tokyo Baptist Chruch di Shibuya, gereja ini berbahasa Inggris, jadi gak cuma orang Jepang saja, ada orang bule juga. Di sana saya lihat beberapa orang Jepang beribadah memakai kimono, bertambah lagi pengalaman saya. 

Lalu, rencana saya hari ini adalah ke Ghibli Museum. Karena JR Pass sudah tidak bisa dipakai & batal ke Kamakura, jadi saya ke Ghibli. Saya salah stasiun, salah sih gak juga, tapi kalau ke Ghibli dari sini ribet & banyak yang gak tau. Jadi saya ke Mitaka Station, karena mereka menyediakan shuttle bus ke Ghibli. Karena kurangnya informasi, saya tidak bisa masuk ke Ghibli. Kali ini bukan karena gak ada waktu atau dana, tapi benar2 gak tau kalau Ghibli itu harus reservasi dulu, gak bisa beli tiket di tempat. Jadi kita harus planning jauh2 hari & beli tiket. Beli tiketnya itu di minimarket, saya langsung pergi ke minimarket dekat situ, saya pikir bisa beli buat besok tapi sudah habis. :terharu sudah jauh2 & butuh perjuangan ke sini tapi gak bisa masuk, ya sudahlah, saya foto2 diluar. Setelah itu saya ke Roppongi. Cukup menarik di Roppongi. Ada event juga, pertandingan basket, tapi yang membuat saya tertarik adalah museum TV Asahi. Tiket gratis & bagus buat foto2. Ada doraemon, Crayon Shinchan & berbagai program2 TV Asahi. Saya pun beli dorayaki disini hehehe...  Dan setelah keluar dari sini saya mencoba crepes, lumayanlah makan sambil melihat yang sedang bermain basket. 

Petualangan saya berlanjut di Odaiba. Aqua City, Joypolis, sampai akhirnya ketemu juga Diver City. Sempat keputar2 juga pas pulangnya. Di sini benar2 fun! Bisa foto bareng Gundam & ada yang fotoin juga hehe.. Saya juga mencoba beberapa macam jajanan, seperti Kentang goreng Calbee yang enak banget & Ikayaki yang (bagi saya) gak enak banget. :( Saya sudah cukup memborong beberapa oleh2 disini, tapi kaki saya & hati saya masih ingin berpetualang di Tokyo Dome. Saya pun langsung ke sana. Agak sedih juga, baru jam 7 tapi sudah sepi, Saya mau ke Jump Shop (tempat Majalah Shounen Jump) tapi sudah tutup, padahal mau foto bareng Naruto & Gintama :( Akhirnya yang ada belanja oleh2 lagi di Don Quijote. Tambah berat bawaan saya, lalu saya balik ke hotel. Petuangalan hari ini berakhir. 

12470858_10153476040118842_592947365_o.t

12083932_10153322207218842_2067319747_n.

Senin, 14 September 2015

Hari ini hari terakhir saya berpetualang. Pesawat saya sih masih tengah malam, tapi pagi2 saya sudah harus check out, masih banyak waktu sebenarnya tapi repot sama koper2 ini. Saya belum menjelajahi Asakusa, belum ke Tokyo Tower juga. Setelah check out saya taro barang di loker di Asakusa Station, lalu saya pergi mencari Kaminarimon. :D Lalu lanjut ke Ginza, foto di Hibiya Park, & berpetualang menuju Tokyo Imperial Palace. Jalannya cukup jauh dari Ginza Station & saya harus balik lagi ke stasiunya juga, tapi karena di Kyoto gak kesampaian jadi saya paksakan ke sini walau capek. Ternyata rame, banyak turis juga, tapi memang cuma bisa dilihat dari jauh, tapi itu sudah membuat saya senang :D

12464986_10153476040063842_1123318497_o.

Lalu setelah perjalanan jauh itu saya makan siang, salah masuk restaurant juga :( maksud hati mau makan semacam sate yakitori eh salah masuk ke tempura restaurant. Porsi memang banyak tapi untuk rasa saya gak begitu suka, makan gak habis & gak semangat. Setelah itu saya ke Akihabara!! Akrhinya ke Akiba juga! Harus! Mutlak! Sebagai seorang otaku saya wajib ke sana walau gak beli apa2 :P Saya ke Maid Cafe. 

Karena Maid Cafe yang terkenal rame & banyak dikunjungin turis itu gak ketemu, saya ketemu seorang Maid di jalan yang sedang membagikan brosur, akhirnya saya ke cafenya Maid itu. Sepi, & letaknya di lantai paling atas. Dan cukup menguras banyak uang. Saya pesan paket dessert (ice cream & minuman soda) plus foto bareng Maid (cuma 1x) & dapat souvenier. Itu sudah lebih dari 2000 Yen :terharu duduknya saja bayar 500 Yen di meja biasa, & di sofa sekitar 1000 Yen. Saya pikir bisa main & ngobrol dengan Maidnya, tapi begitu2 saja. Maidnya datang membawa ice cream & mengajak saya mengikuti gerakannnya (moe moe cute, seperti itulah) setelah itu saya ditinggal begitu saja :( entah karena Maidnya kurang fasih berbahasa Inggris atau memang servicenya cuma itu saja. Saya pergi ke beberapa Maid Cafe di beberapa Anime Convention di USA, lebih menarik & lebih murah dari ini. Lalu setelah itu saya kembali berkeliling Akihabara. 

12458686_10153476036568842_1827419307_o.

Setelah cukup puas di Akihabara saya pergi ke Ikebukuro. Ada suatu tempat yang memang sangat ingin saya kunjungi, yaitu NamjaTown. Sebuah amusement park kecil di dalam mall, tapi cukup menarik bagi saya karena saya ingin mencoba beraneka macam rasa ice cream. Saya mencoba rasa Salt of Okhotsk, Miso Noodle Ice Cream, Indian Curry, Roasted Green Tea, Homemade Ice Cream Rose & Wasabi Ice Cream. Tadinya mau coba yang Vampire (rasa garlic) tapi habis. Untuk 6 macam rasa berbeda & masing2 1 scoop saya menghabiskan 560 Yen. Dan rasanya, sangat unik! Yang paling 'gak banget' adalah Indian Curry. Untuk Miso Noodle, benar2 ada mienya kecil2, untuk Wasabi not bad lah tapi aneh juga (saya juga beli Kitkat Wasabi). Lalu saya juga mencoba Gyoza, ya lumayan enak. 

Setelah berfoto dengan maskot NamjaTown, saya pergi ke J-World, tepat 1 lantai dibawah NamjaTown. Masih amusement park tapi bertemakan anime. Karena sudah malas & capek saya gak jadi ke Tokyo Tower padahal mau ke Museum One Piece, karena disini ada One Piece juga, saya jadi beli tiket unlimited ride, mencoba berbagai macam permainan, dari rumah hantu Naruto, tembak2an One Piece & mencari bola naga dari Dragon Ball :D Benar2 senang banget, sampai lupa waktu, saya harus ambil koper & menuju Haneda.

12465023_10153476036533842_1828529406_o.

Setelah mengambil koper di Asakusa Station, saya menuju ke Haneda. Karena HP sudah low battery & pokcet wifi juga sudah mati, saya bertanya pada sepasang suami istri yang membawa2 koper seperti saya. Dan memang mereka juga mau ke Haneda, jadi saya bareng mereka. Lumayan, koper saya dibawakan oleh sang suami yang adalah orang Amerika & istrinya orang Jepang. Di kereta kita ngobrol2 mereka kaget saya pergi sendiri & bawa2 koper ini. Saya pikir, mereka ini adalah penolong saya (memang menolong saya sih) tapi ternyata masih melakukan kesalahan juga. Kita bertiga salah kereta...:tercengang:terharu

Jalur yang sama, tapi beda kereta. Kereta yang harusnya kita naik adalah langsung menuju Haneda, gak perlu transfer lagi. Tapi kereta ini harus transfer & kita sudah kelewat 1 stasiun. Tapi ya, masih gak apa2, karena saya masih dibantu, dibawain kopernya hehehe.. Lalu kami pun pindah kereta. Setibanya di Haneda, kami naik elevator. Karena di lantai 2 ada yang mau keluar saya pun keluar, ternyata saya salah. Tapi saya lihat ada tempat pengembalian pokcet wifi, jadi saya kembalikan dulu & langsung menuju ke lantai 3. Sayang sekali saya belum pamitan dengan orang tadi. Setelah saya check in koper saya & membeli beberapa oleh2 saya bertemu mereka lagi, mereka tanya kenapa tadi saya keluar di lantai 2, saya jawab dengan agak malu "saya gak tau, tapi saya lihat ada tempat pengembalian pocket wifi jadi saya kesana" :P 

Lalu kami pun berpisah. Saya menuju gate pesawat saya. Masih beberapa jam, saya sudah ngantuk & lapar juga jadi saya makan dulu di food court. Lalu saya pun boarding & setelah di dalam pesawat saya langsung tertidur & bangun2 dapat makan, tidur lagi, & tau2 sudah mau sampai, gak terasa cepat banget.:terbang Setelah trasnsit 1x di San Francisco, saya langsung menuju Philadelphia Airport. Saya pun tiba kembali di rumah dengan selamat :D :dance

12477085_10153476060843842_1517489297_o.

Begitulah pengalaman saya, suka & duka (lebih banyak sukanya sih) selama berpetualang di negeri ginseng & negeri matahari terbit ini. Mohon maaf ada kata2 / kesalahan dalam FR ini & lamanya penyusunan part3 ini. Sampai ketemu di FR lain dengan petualangan2 lain, terima kasih sudah membaca. :D 

 

 

 

12077268_10153323745253842_1141710836_n.jpg

12465504_10153475978628842_1464867850_o.jpg

12470780_10153476040168842_1257445640_o.jpg

Share this post


Link to post
Share on other sites

asli seru @Reiko Shiwatari saya baca lagi dari PArt 1 - 3 hehehe

kamu plan ke Gibli Museum ya, nasib nya mirip saya dulu, cuma beda nya saya mau ke Fujiko Fujio Museum (satu perusahaan seh) pas mau beli tiket nya di Lawson ternyata udah Full untuk hari itu dan hari besok nya jadi emang harus jauh hari. Atau pas tiba di bandara Jepang pertama kali deh heheh

Untuk kereta ke Haneda dari Asakusa juga saya mengalami hal yang sama salah kereta hahaha. Memang ada stasiun yang harus transit dulu. Saya juga kelewatan. Dan akhir nya balik lagi ke stasiun itu dan naik yang ke Haneda :P 

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Reiko Shiwatari wah mantap part 3 nya keluar :D . jepang memang unik ya hehe.. full of culture !! 

studio ghibli saya suka juga anime2 nya. berkelas anime nya , ada meaning hehe

FR nya kita feature di fan page ya :D, biar banyak ngebantu orang hehe

@kyosash juga pernah keliling jepang hehe

@deffa boleh juga di fitur di FP, part 1,2,3 nya .

 

Share this post


Link to post
Share on other sites
1 hour ago, Jalan2 said:

@Reiko Shiwatari wah mantap part 3 nya keluar :D . jepang memang unik ya hehe.. full of culture !! 

studio ghibli saya suka juga anime2 nya. berkelas anime nya , ada meaning hehe

FR nya kita feature di fan page ya :D, biar banyak ngebantu orang hehe

@kyosash juga pernah keliling jepang hehe

@deffa boleh juga di fitur di FP, part 1,2,3 nya .

 

siap min next :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

wah asyik nih sempat mampir ke Ramen Museum, waktu saya kesana agak telat tibanya (Last Order), alhasil cuma lihat tampilan gedung depan doank :D  , btw as always nice share :rate 

 

On 12/31/2015, 9:43:48, Reiko Shiwatari said:

@deffa 

hahaha senasib ya :P namanya juga pertama kali soalnya masih blum pasti hari apa ke Ghiblinya. Fujiko museum itu d daerah mana? 

Saya lupa tag 

@Nightrain @kyosash @Gulali56 

ini part3 semoga masih minat membacanya :D 

kalau Fujiko Museum itu daerah Kawaguchi, ke arah selatan.

btw, untuk Ghibli Museum, saya juga melihat beberapa orang lokal (jepang) kgk tahu bahwa tiketnya mesti reservasi dulu, alhasil jauh2 datang cuma liat tampilan luarnya aja.

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa

yup!! Lain x harus lebih direncanain lagi yg pastinya :D 

@Jalan2

yup!! Pasti masih banyak keunikan lainnya . Semoga nanti bener2 bisa keliling Jepang & nikmatin semua keunikannya! :D  Iya boleh2, senang Klo FR ini bisa mbantu org lain khususnya yg mau solo travel seperti saya hehe

 

@kyosash

sempat bingung juga sm museumnya entah salah info dr google atau salah lokasi soalnya dibilang closed permanently tapi ternyata buka & rame bgt. 

Masih banyak museum2 berbau mie yg mau saya kunjungi tapi kembali lagi waktu & dananya hehe soalnya ternyata dsana lebih banyak transaksi pakai uang cash :( 

ternyata orang lokal juga gak tau ya kirain saya saja malu juga tuh waktu itu udah ikut antri sm org2 eh mereka tnyata sdh punya ticket :P 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Menarik banget cerita'y. Hanya beberapa hari di tokyo bisa explore begitu banyak tempat. Saya cuma bisa keliling sekitaran asakusa aja.

Tapi karena tempat'y bagus jadi betah berlama2 d sana.

Share this post


Link to post
Share on other sites
On 1/19/2016 at 1:24 PM, mone said:

Menarik banget cerita'y. Hanya beberapa hari di tokyo bisa explore begitu banyak tempat. Saya cuma bisa keliling sekitaran asakusa aja.

Tapi karena tempat'y bagus jadi betah berlama2 d sana.

oo mone tipe yang selow jika jalan2 ya nikmati satu tempat bisa berlama2 :D 

Share this post


Link to post
Share on other sites
On 2016. 2. 5. at 9:01 PM, deffa said:

oo mone tipe yang selow jika jalan2 ya nikmati satu tempat bisa berlama2 :D 

yoai mod, ngapaen harus ngejar banyak tempat, nama'y liburan mah enjoy aja. masih ada ntar bisa dateng lagi euy...

Share this post


Link to post
Share on other sites
20 minutes ago, mone said:

yoai mod, ngapaen harus ngejar banyak tempat, nama'y liburan mah enjoy aja. masih ada ntar bisa dateng lagi euy...

ya kalo yang punya cuti dan rekening tanpa limit kayak mone seh enak :ngakak 

Share this post


Link to post
Share on other sites
On 2016. 2. 5. at 9:01 PM, deffa said:

oo mone tipe yang selow jika jalan2 ya nikmati satu tempat bisa berlama2 :D 

akh momod poek berud dahh...

gw aja lagi was was takut gak balik ini duit gw.

 

Share this post


Link to post
Share on other sites
On 17/2/2016 at 6:49 PM, deffa said:

kalo mau yang bagus nitip tamiya dnk :ngakak 

Kan lw bulan depan mau berangkat mod, gak perlu nitip kali. barang bawaan gw berat euy kmren, untung ada si itu jadi bisa d bawain. ahahahahahahahaha...

itu salah satu keuntungan mod yang laen'y lbh banyak kerugian.

Share this post


Link to post
Share on other sites
3 minutes ago, mone said:

Kan lw bulan depan mau berangkat mod, gak perlu nitip kali. barang bawaan gw berat euy kmren, untung ada si itu jadi bisa d bawain. ahahahahahahahaha...

itu salah satu keuntungan mod yang laen'y lbh banyak kerugian.

jadi ada keuntungan nya 1 doank ya hahaha :ngakak 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By vie asano

      Saya sudah berbagi sedikit info tentang panduan belanja di Seoul pada tulisan Seoul Shopping Guide: Belanja Dimana?. Untuk melengkapi tulisan tersebut, kali ini saya ingin sharing tips apa saja yang perlu diperhatikan agar momen belanja di Seoul terasa lebih afdol. Tips-tips tersebut saya ringkas dalam beberapa point, kurang lebih berikut isi tips-nya:
      Seputar tempat belanja
      Pada tulisan Seoul Shopping Guide: Belanja Dimana?, di bagian penjelasan tentang Dongdaemun Market, saya menulis jika Dongdaemun Market sebagai pusatnya fashion Korea yang sesungguhnya. Beragam trend fashion terkini awalnya dari Dongdaemun Market, namun bukan berarti disinilah tempat termurah untuk berbelanja fashion. Kenapa? Karena di Seoul, barang yang sama bisa dijual dengan harga yang berbeda tergantung lokasi penjualannya. Kaos seharga puluhan ribu won di daerah Apgujeong Rodeo Street bisa saja dijual seharga ribuan won di area sekitar kampus (seperti Hongdae dan Shinchon), dan bisa lebih murah lagi jika dijual di lapak temporer (berupa kios maupun truk). Dari sini ada beberapa tips yang bisa saya bagikan:
      -Jangan langsung membeli barang pertama yang dilihat, apalagi jika distrik tersebut termasuk kawasan mahal. Usahakan untuk membandingkan dulu dengan barang sejenis di toko yang ada di distrik lainnya.
      -Bagi budget traveller, disarankan untuk memilih toko yang ada di distrik level mahasiswa seperti Sinchon dan Hongdae. Banyak lho toko di sekitar kampus yang menjual barang dengan harga miring karena ketatnya persaingan antar toko.
      -Toko di pasar tradisional biasanya bisa lebih murah lagi. Namun konsekuensinya, dibutuhkan skill menawar yang cukup lihat, dan sayangnya nggak semua pedagang pasar tradisional menguasai bahasa Inggris.
      -Alternatif lainnya, belanjalah di sekitar subway (baik di luar stasiun subway maupun di subway underground shopping mall) karena harganya bisa jauh lebih murah dibanding aneka jenis tempat belanja lainnya.
      -Walau saya sebut Dongdaemun Market belum tentu memberikan harga termurah, nggak ada salahnya mencoba membandingkan 2-3 toko di Dongdaemun sebelum memutuskan untuk membeli sebuah barang karena biasanya harga termurah di area ini tetap saja lebih murah dibanding distrik mahal seperti Gangnam. Tips lainnya, belanja di toko kecil maupun lapak-lapak di Dongdaemun biasanya jauh lebih murah dibanding belanja di toko besar di Dongdaemun.
      Seputar waktu belanja
      Punya rencana untuk melakukan wisata belanja di Seoul? Berikut beberapa bocoran momen terbaik untuk belanja dan mendapatkan harga terbaik:
      -Salah satu waktu terbaik untuk belanja adalah pada akhir musim, atau biasanya di bulan Januari, April, Juli, Oktober, dan Desember (untuk department store). Memang sih Anda akan ketinggalan mode terkini di musim tersebut, namun disisi lain, pada akhir musim biasanya berbagai pusat perbelanjaan besar biasanya menggelar diskon khusus untuk menghabiskan stok barang.
      -Siapa sih yang nggak suka diskon? Bagi wisatawan yang ingin mengincar diskon belanja, periode diskon terpanjang biasanya terjadi sebelum dan sesudah Lunar New Year dan Chuseok. Sedangkan untuk kosmetik, biasanya ada diskon besar di akhir tahun.
      -Jakarta boleh punya Jakarta Great Sale. Seoul pun memiliki 2 event diskon besar-besaran, yaitu Seoul Summer Sale dan Korea Grand Sale (di musim dingin). Yang hobi berburu diskonan, jangan lewatkan kedua event diskon tersebut yah.
      Seputar tips menawar
      -Nggak menguasai bahasa Korea namun ingin mencoba tawar menawar? Biasanya sih bahasa Inggris dasar sudah cukup kok, jadi jangan terlalu takut untuk belanja di lapak tradisional yah.
      -Jika membeli di lapak pinggir jalan (seperti mobile kiosk maupun pedagang tenda), selalu usahakan untuk menawar jauh dibawah harga yang ditawarkan baru naikkan penawaran sedikit demi sedikit (misalnya bisa mulai dengan menawar setengah harga jual). Soalnya jika selisihnya tak begitu banyak, biasanya pedagang akan langsung mengiyakan padahal Anda masih bisa menawar lebih jauh lagi.
      -Sulit untuk tawar menawar? Setidaknya mintalah barang gratisan sebagai bonus. Misalnya, jika membeli 3-4 gantungan kunci, mintalah 1 untuk bonus. Atau jika membeli beberapa potong baju, minta 1 baju secara cuma-cuma, dan seterusnya. Jika pemilik toko/lapak tidak mau memberikan barang gratisan, lebih baik bersikap seolah akan pindah toko saja.
      -Tips lain bagi yang ingin berbelanja di lapak non-toko atau belanja di toko kecil. Jika Anda gagal menawar harga, pindahlah ke lapak sebelah dan sebutkan harga terakhir di toko saingan (untuk barang yang sama). Biasanya toko yang baru dimasuki akan memberikan penawaran khusus untuk Anda.
      Seputar harga dan metode pembayaran
      -Untuk metode pembayaran tak jauh beda dengan di Indonesia. Pedagang lapak kecil biasanya hanya menerima cash, sementara vendor besar menerima pembayaran menggunakan berbagai kartu kredit.
      -Jika ada keperluan dengan bank (misalnya ingin menukar uang), ingatlah selalu jam operasional biasanya antara pukul 09.30-16.30 Senin-Jumat.
      -Untuk wisatawan asing, di Seoul ada lho kebijakan Tax Refund yang berlaku di beberapa toko tertentu. Kapan-kapan akan saya bahas beserta ulasan tentang freepass khusus untuk wisatawan yang hobi shopping.
      Seputar ukuran baju
      Sudah jadi rahasia umum jika fashion menjadi barang favorit untuk diburu saat belanja ke Seoul. Berikut beberapa tips untuk membantu Anda memilih baju yang tepat:
      -Jika memang sudah berniat akan belanja baju, sebelum pergi ke Korea Selatan, ketahui dulu ukuran baju Anda dalam ukuran Korea. Biasanya ukuran ditampilkan centimeter, kecuali untuk ukuran pinggang ditampilkan dalam inchi.
      -Beda lagi dengan ukuran sepatu. Biasanya ukuran sepatu ditampilkan dalam milimeter. Jadi agar lebih pasti, sebaiknya usahakan mencoba dulu setiap barang fashion yang akan dibeli.
      -Biasanya, orang asing susah menemukan ukuran baju yang tepat di Korea Selatan (terutama untuk bigsize, karena ukuran baju Korea kecil-kecil). Bagi yang kesulitan dengan ukuran ala Korea, cobalah berbelanja di daerah Itaewon yang sangat dikenal sebagai distrik multikultural.
      ***
      Kurang lebih demikian beberapa tips yang bisa saya bagikan. Jika ada yang mau menambahkan, boleh banget. Oya, saya juga pernah berbagi info seputar shopping guide di Jepang, monggo dibaca-baca juga (lihat disini: Japan Shopping Guide: Tokyo Area, Japan Shopping Guide: Kyoto Area, Khusus Shopaholic, Panduan Dasar Wisata Belanja di Jepang)
    • By Diny Puspa Dewi
      hallo hallo 
      aku lagi cari temen nih buat ke korea tahun depan tepatnya pas libur lebaran berarti sekitar tanggal 1 juni s/d 8 juni 2019, plan stay nya memang 1 minggu
      aku belum beli tiket pesawat atau apapun karena bener2 cari temen yang bisa bareng2 dari berangkat sampe pulang trus diskusiin semuanya brg2 biar enak ><
      pengalaman taun kmrn nekat berangkat sendiri jadi ngebego sendirian di perjalanan huhu
      but thanks to jalan2.com aku dpt tmn ngebolang pas diseoul 
      so kalau ada yang minat dan emg punya plan sama kaya aku boleh hubungin aku di WA 085314754967
      thank you
      ps: emang sih masih lama plannya tapi biar persiapannya lebih mateng aja jadi dr sekarang carinya hehe
    • By Sari Suwito
      Kalau tidak salah ini kali ketiga saya mengunjungi Hatyai (pertama kali ke Hatyai tahun 2012 lalu yang kedua tahun 2013 hanya singgah sebentar sepulang dari Phuket). Di dua kali kunjungan sebelumnya saya belum sempat mengunjungi obyek wisatanya. Makanya kali ini sepulang dari Brunei Darussalam dan Kota Kinabalu, saya lanjut ke Hatyai selama dua hari. Hari pertama sampai sudah tengah hari jadi cuma istirahat di hotel dan keluar untuk makan siang dan malam saja. Hari kedua baru deh mau jalan-jalan half day tour Hatyai dan Songkhla.
      Untuk menuju obyek wisata di Hatyai dan Songkhla kita bisa menggunakan songthaew. Bagi yang pernah berkunjung ke Thailand pasti tidak asing dengan kendaran ini, sejenis pickup yang dimodifikasi dengan kursi panjang berhadapan. Untuk songthaew wisata terdapat gambar-gambar obyek wisata di bagian body mobilnya. Jadi ketika kita akan memesan kita tinggal tunjuk aja mau ke destinasi yang mana aja. Waktu itu saya naik songthaew dari depan Lee Garden Plaza, setelah nego dengan drivernya akhirnya dapat harga THB 600/orang.  
      Destinasi pertama adalah Samila Beach di Songkhla. Menempuh perjalanan sekitar 53 menit kalau lihat di google sih jaraknya sekitar 33,6 km. Dalam perjalanan menuju Songkhla saya perhatikan sedang berlangsung pembangunan jalan raya dan flyover di tepi kota Hatyai. Rupanya sejak terakhir kali saya ke Hatyai beberapa tahun lalu sekarang Hatyai sudah berbenah. Bahkan untuk imigrasi di perbatasan Malaysia - Hatyai pun sudah berubah lebih bagus. Dulu hanya seperti melewati pagar besi saja.

      Sekitar jam setengah sembilan sampailah saya di destinasi pertama di Samila Beach. Pantai dengan hamparan pasir putih dan deretan pohon cemara di pinggirnya. Di pantai ini terdapat patung putri duyung yang sedang duduk di atas batu di tepi pantai. Pagi itu tidak terlalu ramai jadi saya langsung aja deh berfoto dengan icon Golden mermaid. 

      Setelah itu saya berjalan ke arah taman yang berada di pinggir pantai. Disini terdapat patung kucing besar dan tikus. Cerita tentang patung tikus dan kucing ini bisa dibaca di batu prasasti di samping patung.

       
      Oh ya disini juga ada fasilitas kuda tunggang. Bagi yang ingin mencoba menunggang kuda, bisa menyewa kuda, harga kalau ga salah ingat THB 50/100 gitu dech.
      Di pantai ini juga terdapat kedai souvenier dan makanan/minuman. Bisa mampir sebentar untuk membeli minuman dingin dan cenderamata. Waktu itu sih saya beli air minum dan magnet kulkas. 
      Selanjutkan kami menuju destinasi berikutnya yaitu patung naga. Jaraknya tidak begitu jauh dari pantai samila, sekitar 15 menitan kali ya. Dalam perjalanan menuju lokasi saya sempat melihat ada seperti patung badan naga gitu deh. Entah apa maksudnya...mungkin ini nyambung ke kepala naga gitu ya. 


      Nah akhirnya sampailah saya di lokasi patung kepala naga. Kalau di batu prasasti sih ditulisnya The Great Serpent "Nag". Setting patungnya mirip seperti patung merlion di Singapura gitu. Dari dalam mulut naga keluar air mancur yang menyembur ke arah air laut. 

      Berdasarkan tulisan di batu prasasti ternyata patung naga ini di desain dibagi menjadi tiga bagian, bagian kepala naga sebagai simbol kecerdasan dan kebijaksanaan warga terdapat di Laem Son Orn, Suan Song Tale. Bagian perut naga simbol kekayaan kota terletak di Lan Chom Doaw, Sabua Laem Samila. Sedangkan bagian ekornya simbol karisma dan kekuatan masyarakatnya terdapat di area Samila Beach, Chalatad Road.
      Dalam perjalanan pulang dari lokasi patung kepala naga saya mampir ke Songkhla aquarium. Lokasi berada di antara patung naga dan pantai Samila. Harga tiket untuk orang asing, THB 200 untuk anak dan THB 300 untuk dewasa.

       
      Memasuki ruangan aquarium masih sepi, ya mungkin karena masih pagi banget bahkan sebagian lampu pun belum dihidupkan. Di bagian depan terdapat keterangan ekosistem di Thailand selatan, lalu di dinding terdapat entah replika atau asli ikan yang diawetkan gitu, antara lain leopard shark, spotted guitarfish, udang berukuran besar dan ikan pari. 
       
       
      Akuarium ini dibagi menjadi beberapa zona, antara lain zona A Freshwater fish, zona B Brackish fish, C marine fish dan terdapat satu tangki besar yang berisi aneka ikan (seperti di Sea World Ancol gitu dech). Kita bisa berjalan di bawah akuarium besar ini. Di jam-jam tertentu kita bisa nonton pertunjukan The Unseen Show.


      Dari Songkhla aquarium kami kembali ke Hatyai, nah dalam perjalanan kami singgah di beberapa spot wisata di kota Songkhla.
       
      Songkhla city wall 
      Saat ini hanya tersisa tembok sepanjang 114 meter, tinggi 5.5 meter dengan ketebalan 4 meter. Sebagian besar bata dan batu dinding pun sudah digunakan untuk paving jalanan kota Songkhla. 

       
      Di seberang Songkhla city wall ini terdapat Songkhla National Museum. Bangunan museum bergaya Chinese dengan dominasi warna putih dan merah. Sayangnya saat saya kesana museumnya sedang tutup. Jadi saya cuma berfoto-foto di depannya saja. Di bagian depan museum terdapat koleksi beberapa meriam tua, jangkar dan tiang kapal kali ya.

      Sebetulnya saya sempat googling kalau di Songkhla old town tedapat street art sejenis mural art gitu dech. Lalu sewaktu di pantai Samila saya sempat bilang ke driver songthaew (sambil nunjukin gambar dari google) untuk diantar ke lokasi street art di old town Songkhla. Drivernya bilang iya bisa nanti kita mampir dalam perjalanan menuju Hatyai. Tapi begitu pulang dari Songkhla city wall koq mobilnya jalan terus  tau-tau sudah masuk jalan besar arah Hatyai. Gagal deh foto-foto di mural artnya
      Dalam cuaca panas terik songthaew menuju ke arah Hatyai Municipal Park. Hatyai municipal Park ini lokasinya sekitar 5 km di pinggiran kota Hatyai. Areanya luas banget berada di perbukitan gitu. Selain lokasi wisata juga merupakan tempat ibadah para pemeluk agama Budha. 
      Saya tidak sempat main di lokasi taman-tamannya, jadi kami langsung menuju ke bagian paling atas bukit, ke kuil Four Faces Budha. 
       
      Four Faces Budha Temple (San Phra Phrom)
      Begitu memasuki area ini dekat tempat parkir songthaew terdapat dua patung gajah berwarna emas di kiri dan kanan jalan. 

      Naik sedikit ke bagian atas, terdapat patung gajah berkepala tiga disampingnya terdapat tangga dengan deretan lonceng besar di kiri kanannya.

       
      Memasuki area kuil, di bagian luar kuil four faces Budha terdapat banyak banget patung gajah berwarna emas. Di dalam kuil inilah terdapat patung four faces Budha, beberapa pemeluk agama Budha menyempatkan diri beribadah, bahkan disini terdapat para penari dan musik yang mengiringi selama ibadah. 


      Di pelataran kuil terdapat patung dewa, tempat pembakaran kertas-kertas perlengkapan ibadah gitu dech (saya ga tau apa itu namanya), lalu ada juga penjual burung-burung kecil. Sepertinya burung-burung kecil ini dibeli untuk kemudian didoakan dan kemudian dilepaskan sebagai rangkaian ibadah. 
      Oh ya disini terdapat stasiun cable car juga. Cable car ini menghubungkan antara kuil four faces Budha dengan kuil standing Budha. Bagi yang pengen nyoba bisa naik, tapi kalau saya sih kan sudah nyewa songthaew sih ga perlu lah, sayang duitnya. hahaha...
       

      Dari four faces Budha saya naik songthaew menuju ke kuil standing Budha. Nah sebelum sampai di Standing Budha Temple kami melewati bangunan Hatyai Planetarium. 

       
      Standing Budha Temple (Phra Budha Mongkol Maharaj) 
      Songthaew parkir di bagian depan kuil, lalu saya jalan kaki menuju ke bangunan kuil. Nah di samping kuil ini terdapat stasiun cable car yang terusan dari kuil Four Faces Budha tadi. 
      Saya kemudian menuju ke halaman depan kuil, di area bagian tengah kuil terdapat patung Budha berdiri berwarna emas dengan ketinggian sekitar 20 meter. Berat patung ini sekitar 200 ton. 

       
      Dari depan kuil ini kita bisa memandangi kota Hatyai, bahkan kita bisa melihat masjid besar Songkhla di sebelah kanan. 

      Di depan kuil Standing Budha ini terdapat tangga turun menuju ke area Laughing Budha dan Patung Dewi Kuan Yin. Lumayan capek juga menuruni tangga lalu disambung jalan kaki di jalanan pavingblock gitu deh saya nggah ngeh, tapi karena menuruni bukit jadi jalan agak melingkar jadi saya pun ambil jalan pintas dengan menuruni tanah yang lumayan licin sambil pegangan pepohonan.  

       
       
      Fat Laughing Budha
      Di sebelah kanan terdapat kuil pemujaan, lalu di bagian kiri terdapat patung Dewa dan diorama bergambar naga. Nah pas di ujung jalan terdapat patung Fat Laughing Budha. 

       
      Berjalan agak ke depan akan tampak mulut naga raksasa yang sekaligus berfungsi sebagai jalan untuk menuju ke area Bodhisattva Kuan Yin.  

       
      Di area ini terdapat beberapa patung disekitar bangungan utama. Sedangkan patung Dewi Kuan Yin berdiri di atas bangunan utama. Patung Dewi Kuan Yin berwarna putih menjulang setinggi 20 meter. Di sekeliling patung terdapat patung kecil-kecil berwarna putih juga. 

      Setelah merasa cukup melihat-lihat saya kembali menuju kuil Standing Budha, dan kali ini harus menaiki anak tangga yang lumayan menguras tenaga. Entah berapa kali saya berhenti karena kelelahan.  Ini efek karena penasaran dan ga baca review tentang lokasi tujuan.
      Tips: untuk lebih hemat tenaga tidak perlu menuruni/naik tangga yang di depan Standing Budha, kita bisa naik kendaraan sewaan kita untuk menuju ke area Patung Dewi Kuan Yin.  Jadi setelah foto-foto di sekeliling Standing Budha, kita kembali ke kendaraan kemudian kendaraan akan menuruni bukit menuju area patung Dewi Kuan Yin. Hemat tenaga dech. 
      Dari area Dewi Kuan Yin, kami menuju kota Hatyai. Siang itu udara lumayan panas membuat tenggorokan ikutan berasa kering dan haus. Sampai di kota Hatyai saya minta diturunkan di dekat Clock Tower. 

       
      Ini dia Songthaew yang membawa kami half day tour Hatyai + Songkhla.

       
      Di dekat Clock Tower ini terdapat pasar dan saya pun sekalian mampir untuk makan siang.
      Tadaaa menu makan siangnya....yummyyyy

       

       
      Setelah selesai makan baru deh saya berkeliling di pasar sambil beli oleh-oleh kemudian naik tuktuk untuk pulang ke hotel. Sekitar jam 3 sore saya check out dari hotel kemudian menuju ke agen bus yang tak jauh dari hotel untuk menuju ke Kuala Lumpur.
       
    • By Sari Suwito
      Kota Kinabalu atau biasa disebut KK dulunya dikenal dengan nama Jesselton. Maka tak heran jika pelabuhan tempat kami mendarat dari Labuan bernama Jesselton Point. Jesselton diambil dari nama gubernur dari Inggris yang pernah berkuasa disini yaitu Sir Charles Jessel. Oh ya, sewakatu kapal sudah mendekati pelabuhan dari dari atas kapal sudah tampak pemandangan yang menggugah selera, yaitu deretan tempat makan sea food di tepi laut. Hmmmm...jadi lapar.
      Meninggalkan pelabuhan Jesselton Point, bus berjalan melalui jalan yang berada di tepi pantai dimana sedang berlangsung pembangunan entah resort/mall. Tak lama kemudian kami memasuki wilayah Kota Kinabalu mulai tampak kemacetan di sepanjang jalan menuju ke hotel Winner, tempat kami menginap di daerah Jalan Pasar Baru – Kampung Air.  Di bawah ini view dari hotel tempat saya menginap.

       
      Setelah check ini dan beberes, sekitar jam 7 malam kami keluar untuk makan malam di Pasar Malam Sinsuran.  
       

       
      Pasar malam Sinsuran ini dekat dari penginapan kami jadi cukup berjalan kaki saja. Suasana pasar malam Sinsuran lumayan ramai pengunjung apalagi di jam makan malam seperti ini. Kedai makan lumayan berjubel. Aneka makanan bisa kita temukan disini, seperti: nasi campur, sea food, ayam panggang, ikan panggang, aneka camilan dan aneka minuman. Di Kota Kinabalu merasa sedikit lega karena makanan lumayan lebih murah dibandingkan di Brunei Darussalam.  Beli cendol di Brunei Darussalam harganya $1, di Kota Kinabalu cendol harganya RM 1. Kalo di kurs rupiah harga cendol di Brunei 3x lipat harga cendol di Kota Kinabalu. Hahaha...

      Salah satu gerai tempat kami makan malam

       
      Sudah selesai makan, tapi masih lapar mata, jadi jajan chicken wing dulu deh.

      Bagi yang mau shopping di sepanjang perjalanan dari Pasar Malam Sinsuran menuju hotel tempat kami menginap juga ada pasar malam yang menjual pakaian, aksesories dll.
                                                                                                   
      Hari kedua
      Setelah sarapan pagi kami pun berangkat menuju obyek wisata di kawasan luar Kota Kinabalu. Sekitar 1,5 jam perjalanan melintasi jalan yang menanjak, sampailah kami di Pekan Nabalu, Kota Belud. Ini merupakan salah satu spot untuk melihat gunung Kinabalu. Tapi sayang sekali sewaktu kami sampai lokasi ternyata gunung Kinabalu tertutup kabut yang lumayan tebal. Belum rejeki dech…

       

      Seperti obyek wisata pada umumnya, disini terdapat banyak gerai yang menjual aneka camilan, buah-buahan dan cenderamata. 
      Setelah menunggu beberapa saat ternyata kabutnya tak kunjung hilang. Jadi kami pun memilih untuk  melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya.
       
      Fish Spa di Sungai Moroli
      Tagal Sungai Moroli, Kampung Luanti Baru, Ranau ini merupakan pemenang  Malaysia River Care Award 2006. Tagal dalam Bahasa  Kadazan Dusun berarti “dilarang memancing” di aliran sungai Moroli. Sungai sepanjang 54 km ini dihuni oleh banyak ikan yang ukurannya lumayan besar. Untuk menjaga ekosistem sungai, maka penduduk dilarang memancing, menjala ataupun menangkap ikan sepanjang tahun. Hanya di bulan Mei penduduk diberi kesempatan untuk mengambil ikan dari sungai Moroli. 
       

       
      Di lokasi ini kita bisa fish spa langsung masuk ke dalam aliran sungai. Tetapi sayangnya saat itu air sungai sedang keruh karena tadi malam hujan. Untuk keselamatan pengunjung, aliran sungai dikasih pita pembatas agar pengunjung tetap berada di tepian sungai.
      Sebelum masuk ke aliran sungai kita bisa membeli pakan ikan terlebih dahulu. Jadi nanti begitu masuk ke dalam air sungai kita bisa taburkan pakan ikan di dekat kaki kita, maka ikan akan bergerombol di sekitar kaki. Nah disaat itu ikan juga akan mematuk kaki…hiiii geliii….
       

      Satu hal yang perlu diperhatikan adalah kita dilarang memegang ikan ataupun mengangkat ikan keluar dari air. 
      Sudah cukup ber-fish spa? Saatnya istirahat dengan menikmati camilan cempedak goreng,pisang goreng ataupun aneka durian yang di jual di kedai bagian depan fish spa. Harga durian mulai dari RM 6/kg.

      Dari Tagal, Kampung Luanti Baru kami melanjutkan perjalanan menuju Dataran Sayur Kundasang.

      Dataran Sayur Kundasang
      Kundasang adalah sebuah kota di distrik Ranau, Sabah. Kawasan ini dihuni oleh suku dusun asli yang merupakan salah satu kelompok penduduk asli Sabah. Daerah ini meliputi daerah pegunungan dan lembah dengan panorama yang indah. Selain itu Kundasang juga merupakan penghasil sayuran dan buah-buahan. Kita bisa membeli hasil pertanian warga Kundasang di Dataran Sayur Kundasang. Dataran sayur Kundasang ini kalau di Indonesia mirip lah seperti pasar buah dan sayur Brastagi. 

       

      Dataran sayur Kundasang terletak di pertigaan jalan, menempati area yang lumayan luas. Disini terdapat ratusan gerai yang menjual aneka sayuran dan buah-buahan. Jadi jangan heran kalau kita bakalan lapar mata ketika melihat aneka buah-buahan disini. Saya pun membeli aneka buah potong dan durian mini yang dalamnya berwarna kuning agak orens gitu.
       

      Di pertigaan jalan dan jalan lingkar yang tak jauh dari dataran sayur Kundasang terdapat dua icon sawi putih dan kol bulat sebagai symbol daerah ini merupakan daerah penghasil sayuran. Mirip di Brastagi juga sih ini. Hehehe…
       

      Sebetulanya di daerah Mesilau, Kundasang  juga terdapat Desa Dairy Farm (peternakan sapi perah), tapi kami saat itu tidak berkunjung kesana. 
      Dari Dataran Sayur Kundasang kami langsung kembali menuju Kota Kinabalu dan ternyata sepanjang perjalanan menuruni pegunungan Kinabalu cuaca hujan lebat. Kami akhirnya sampai di Kota Kinabalu sudah menjelang malam. 
       
      Hari ketiga
      Setelah sarapan pagi, merupakan waktunya free and easy. Saya berjalan-jalan di Sunday morning market lorong Pasar Baru yang berada di belakang hotel Winner, isinya ya para pelapak yang berjualan pakaian bekas / baru dan aneka aksesories. Dari sini saya berjalan menuju daerah Pasar Besar Kinabalu, saya masuk ke mall yang berlokasi di seberang Pasar Besar Kinabalu, karena masih pagi jadi belum banyak kedai yang buka, disini saya pun hanya melihat-lihat ke salah satu kedai yang menjual produk aksesories mutiara laut. Harganya lumayan mahal sih, jadi saya pun cuma melihat-lihat saja. 
      Keluar dari mall ini saya berjalan menuju ke food court Pasar Besar Kota Kinabalu, food court terletak di lantai 2. Pasar ini merupakan pasar basah (seperti pasar inpres gitu kalau di Indonesia) menjual aneka sayuran dan kebutuhan sehari-hari. Dan di bagian belakang pasar ini juga pasar ikan jadi jangan heran kalau disini suasananya ya bau amis ikan. Hehehe… 

      Walaupun begitu saya sempat memesan ABC (air buah campur) semacam es buah gitu deh. Ya ampun satu mangkuk isinya banyak banget, saya sampe ga habis.  

      Dari Pasar Besar Kinabalu kita bisa berjalan ke arah kiri, disini terdapat Philipino Market. Di pasar ini dijual aneka ikan asin, garam dan produk hasil laut lainnya. Walaupun begitu ada yang jual pakaian dan cendera mata juga koq. 
      Dari Philpino Market saya langsung kembali ke hotel untuk bersiap-siap check out.
      Setelah check out dari hotel kami makan siang di salah satu restaurant dalam perjalanan menuju ke Masjid Negeri Sabah untuk sholat Dzuhur. 
       
      Masjid Negeri Sabah
      Masjid ini terletak di Jalan Tunku Abdul Rahman, Sembulan, Kota Kinabalu. Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1970 dan selesai sepenuhnya pada tahun 1975.
      Struktur bangunan masjid ini merupakan perpaduan konsep timur tengah dan modern. Kubahnya yang megah berdesain pola sarang lebah berwarna keemasan menandakan kecemerlangan Islam di negeri Sabah. Di bagian kiri dan kanan terdapat 16 tiang berkubah kecil berwarna emas. Di lilitan setiap tiang ini dihiasi dengan potongan ayat suci Al Quran dengan tinta warna emas. Masjid ini memiliki satu menara setingi 215 kaki yang konsepnya diilhami oleh masjid di Istanbul dan Isfahan, melambangkan ketinggian dan kemuliaan Islam.   

      Masjid Negeri Sabah
      Masjid ini mempunyai serambi yang luas sehingga mampu memuat sekitar lima ribu jamaah. Tempat sholat perempuan terletak di lantai dua, bisa memuat hingga lima ratus jamaah. Masjid ini juga menyediakan ruangan untuk memandikan jenazah (masih jarang kita temui di Indonesia). 
      Masjid Negeri Sabah ini memiliki halaman dan area parkir yang luas, dan ketika saya berkunjung kesana di bagian belakang masjid sedang ada pembangunan (mungkin) sarana pendukung masjid.
      Setelah selesai sholat Dzhuhur di Masjid Negeri Sabah untuk mengisi waktu sebelum menuju Bandara Kota Kinabalu, kami mampir ke Imago. 
       
      IMAGO Shopping Mall
      Imago the mall terletak di  KK Times Square, merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Kota Kinabalu. Disini terdapat outlet produk-produk fashion branded dan restaurant franchise. Makanya tak heran jika banyak warga Brunei Darussalam yang datang ke Kota Kinabalu untuk shopping, khususnya di musim liburan sekolah atau ketika mall-mall mengadakan great sale karena tentu saja harganya lebih murah dibandingkan di Brunei. Disini juga terdapat kedai yang menjual oleh-oleh dan cenderamata. Waktu itu saya membeli magnet kulkas harga RM 4/pcs. Di lantai lower ground juga terdapat foodcourt, harganya lumayan ramah di kantong.

      Ketika saya kesini, sedang ada pertunjukan Kulintangan. Para penari juga mengajak pengunjung untuk memainkan kulintangan. 

       
      Saya menonton sampai pertunjukan selesai, kemudian di akhir pertunjukan ikut berfoto dengan salah satu penarinya.

       
      Sekitar jam empat sore kami meninggalkan imago untuk kemudian menuju ke Bandara Kota Kinabalu. Oh ya, kalau cuaca cerah Gunung Kinabalu bisa terlihat dari bagian depan Bandara lho. 

      Flight saya sebetulnya jam 8 malam, tetapi akhirnya pesawat kena delay sampai jam setengah sebelas malam, sepertinya dikarekan terjadi masalah teknis dengan pesawatnya. Jadi kami tiba di Kuala Lumpur sekitar jam setengah satu pagi.
       
      PS: Sebetulnya masih banyak lagi obyek wisata di Kota Kinabalu, tapi sayang karena keterbatasan waktu jadi belum sempat expolore pulau-pulau cantiknya. Bahkan saya pun belum sempat explore kotanya. Semoga suatu saat nanti ada kesempatan untuk kembali ke Kota Kinabalu.
       
    • By norma sofisa
      Halo apa kabar?
      Sudah lama nih, tidak menulis di Forum Jalan2.com.
      Kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman berkunjung ke Lisbon, Portugal.
      Merasa 'gerah' dengan udara dingin yang melanda Rotterdam pada akhir winter tahun ini, merupakan alasan yang tepat untuk melarikan diri sejenak ke Eropa Selatan. Kali ini pilihan saya jatuh ke Lisbon, satu kota yang cukup populer, ibukota dari negara Portugal.
      Berbekal tiket dari maskapai low cost (non) kesayangan, saya pun mendarat di Lisbon. Sayangnya, hari pertama tidak seindah bayangan. Awan gelap memayungi kota dengan suhu berkisar di angka 7 hingga 15 derajat. Tidak cukup hangat, mengingat Lisbon letaknya dekat dengan sungai yang muaranya mengarah ke Samudera Atlantik. Angin yang berhembus kencang mengharuskan saya untuk tetap berjaket agar badan tetap hangat.
      Saya cukup beruntung, beberapa jam setelah itu udara kian menghangat. Saya dan travelmate pun berjalan menyusuri jalan besar menuju pusat kota. Hotel yang kami tempati cukup dekat letaknya dengan sentral Lisbon. Jika berjalan kaki, kira - kira butuh waktu 10 hingga 15 menit.
      ]
      Sesuai dengan rekomendasi pamflet wisata Lisbon, tujuan pertama saya adalah Castelo S. Jorge, sebuah kastil Moor yang dibangun di puncak bukit São Jorge, yang merupakan salah satu tujuan turis di kota Lisbon (Sumber: Wikipedia). Matahari yang bersinar cerah, menaikkan semangat saya untuk naik menyusuri tangga ke arah kastil.
      Capek?
      Pastinya! Saya cukup kaget dengan anak tangga pertama yang cukup menukik. Tak ingin kalah dengan beberapa nenek di belakang, saya pun mempercepat langkah sambil berharap anak tangga ini segera berakhir.
      Bukit São Jorge merupakan kawasan pemukiman yang padat. Setelah anak tangga tadi, saya menyusuri jalanan dengan rumah - rumah penduduk di kanan dan kirinya. Beberapa hotel dan restoran kecil pun saya jumpai. Satu hal yang menggelitik adalah banyaknya jemuran pakaian yang tergantung di balkon - balkon rumah. Geli juga ketika mendapati beberapa pakaian dalam ikut terpajang disana.

      Pemandangan mengagumkan dari Kastil São Jorge
      Tak butuh lama dan perjuangan berat untuk sampai ke atas bukit. Tangga awal tadi adalah bagian terberat, selanjutnya hanya jalanan yang menanjak hingga pintu masuk kastil.
      Sesampainya di kastil, saya langsung mengantri untuk membeli tiket. Awalnya, antrian terlihat mengular panjang dan sempat membuat malas, namun ternyata ada tiga petugas loket, sehingga waktu antri pun lumayan cepat.
      Masuk ke kastil, hampir seluruh pengunjung langsung menghambur ke arah halaman. Dari titik ini, saya dapat melihat pemandangan kota Lisbon yang cantik dari atas bukit yang mengarah ke Sungai Tagus. Tampak dari jauh, rumah bercat warna - warni dan beberapa titik yang penuh dengan orang.
      Saya menduga bahwa kastil ini dahulu dipakai juga sebagai benteng pertahanan untuk mengawasi pergerakan musuh yang datang dari arah sungai. Di beberapa titik juga ditemukan meriam - meriam tua yang tampak masih kokoh.
      Karena cuaca yang tidak terlalu panas, saya pun naik ke benteng kastil. Tangga naik cukup curam dan licin, membuat saya harus berhati - hati. Ada beberapa bagian jalan yang hanya bisa dilewati satu arah sehingga saya harus berhenti dan memberikan kesempatan pengunjung dari arah berlawanan untuk lewat.
      Pemandangan dari beberapa titik di puncak benteng kastil memang tidak diragukan lagi. Bahkan patung Jesus di seberang sungai pun bisa dilihat semakin jelas. Beberapa bangunan dari bukit sebelah pun tampak lebih dekat.
      Uniknya lagi, kastil ini memelihara beberapa ekor burung merak jantan yang bulunya sangat indah. Mereka sering berlalu lalang di dekat pengunjung. Meskipun begitu, mereka ini tidak dapat dielus atau dipegang dengan mudah. Bahkan, jika mereka sadar sedang difoto langsung deh cepat - cepat kabur. Para pengunjung tentu saja tak mau kalah. Sebelum mendapatkan foto yang bagus, mereka tidak akan menyerah untuk mengejar. Saya pun termasuk di dalamnya. Lucu kalau diingat - ingat lagi.

      Dikarenakan topografi permukaan Lisbon yang cukup bergelombang, sebagai turis kita harus siap untuk berjalan naik turun bukit. Nah, bagi kamu yang memiliki keterbatasan fisik dan tenaga, ada alternatif lain jika tidak ingin berjalan kaki mengunjungi spot - spot wisata di Lisbon, yaitu dengan membayar paket transportasi khusus dengan tram, bus, maupun tuk-tuk yang tarifnya mulai dari 12 Euro hingga 26 Euro. Dengan membayar paket tersebut, kamu bisa dengan bebas menaiki tram klasik tipikal Lisbon, yang warnanya kuning atau merah. Jika kamu memilih paket lengkap pun, kamu bisa dengan bebas menaiki tuk-tuk atau ojek bemo yang juga terafiliasi dengan penyedia jasa transportasi.
      Oh ya, berdasarkan pengalaman, jika ingin pergi suatu tempat ke tempat lain di Lisbon, sebaiknya mengikuti arahan dari Google maps. Satu pengalaman saya, karena merasa tahu jalan, tidak mengikuti Gmaps dan malah berimprovisasi. Alhasil, kami harus naik bukit lagi dan berjalan lebih jauh. Beberapa jalanan di Lisbon memang sedikit rumit, namun sangat menantang nan menarik untuk ditelusuri. Kami menyebutnya treking di tengah kota hehe..
      Lalu gimana sih kuliner dan makanan khas di Lisbon?
      Tunggu di bagian kedua ya..
      Terima kasih dan semoga bermanfaat.
      Tulisan ini bisa dibaca juga di https://wp.me/p7BvKH-6T
    • By Sari Suwito
      Melanjutkan tulisan sebelumnya setelah dua hari di Brunei, kami akan melanjutkan perjalanan ke Kota Kinabalu (Malaysia).
      Pagi-pagi kami sudah bersiap-siap untuk check out hotel kemudian kami menuju ke Terminal Feri Serasa di Muara. Jarak  menuju ke Terminal Feri Serasa sekitar 25 km, ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Oh ya,selain terminal ferry penumpang disini juga terdapat terminal peti kemas, jadi selama perjalanan kita akan sering berpapasan dengan truck container sehingga perjalanan jadi agak lambat.
      Ketika kami sampai terminal feri Serasa karena bus yang kami sewa ukuran besar jadi tidak bisa masuk ke halaman terminal, terpaksa deh kami turun di depan pintu gerbang dan membawa koper masing-masing. 
       

      Karena tidak sempat sarapan di hotel maka kami pun akhirnya sarapan di cafe yang berada di sebelah pintu kedatangan terminal feri Serasa. 
      Note: Kalau mau  naik transportasi umum /bus dari Bandar Seri Begawan bisa naik bus nomer 39 menuju ke Terminal Muara, lalu dari Terminal Muara lanjut naik bus nomer 33 menuju Terminal Feri Serasa. Ongkos bus $1 per trip.
      Sekitar jam 9 kami bersiap untuk masuk ke dalam ferry. Oh ya untuk masuk ke dalam ferry ini kita melewati imigrasi Brunei secara kami akan melakukan perjalanan menuju ke Labuan (Malaysia) yang kemudian dilanjutkan ke Kota Kinabalu. Saat itu imigrasi lengang karena hanya ada satu ferry yang akan berangkat. Setiap penumpang disuruh buka koper untuk dilihat isinya satu persatu, segala tempat kosmetik, underware organizer, handbag, semua diperiksa. Mungkin juga dikarenakan disini tidak ada mesin x-ray. 
      Setelah selesai proses imigrasi kami pun menuju ke dermaga ferry. Kami menaiki Ferry Shuttle Hope untuk menuju Labuan. Awak kapal akan menyambut kita dan menanyakan barang bawaan akan dibawa naik atau ditinggal di bawah saja? Kalau di tinggal dibawah makan petugas akan menempatkan koper kita di bagian ujung kapal dekat pintu turun dari kapal ferry. Setelah menyerahkan koper, saya naik ke lantai dua ferry.

       
      Harga ket ferry Shuttle Hope adalah $15/orang dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 40 menit. Saya memilih duduk di dalam ruangan ber-AC di lantai 2 dan ternyata ACnya dinginnya minta ampun. Oh ya sebelum ferry berlayar, di TV ditayangkan doa naik kapal terlebih dahulu. Mungkin ini sudah menjadi SOP Brunei Ferry ya, biar perjalanannya aman dan lancar.

       
      Begitu ferry sudah berlayar dari atas ferry kita bisa menikmnati angin sepoi-sepoi di geladak atau bisa juga duduk manis di ruang utama sambil nonton film box office yang diputar di TV. Di dalam ferry juga terdapai kedai makanan, kalau lapar bisa beli snack dan minuman. Di kapal ini juga terdapat toilet yang lumayan bersih, di lantai dua bagian belakang kapal.
      Seteleh beberapa saat kapal berlayar kita akan menyaksikan pemandangan begitu banyak kilang minyak di lautan Brunei, gimana negara ini ga kaya ya, itu kilang minyak di laut banyak bangeett. 
      Saya juga melihat beberapa kapal besar yang dilengkapi dengan alat berat atau crane serta helipad. Baru kali ini saya lihat kapal segede itu. Hahaha…
       
       

       
      Sekitar jam 11an, kapal ferry sudah mendekati dermaga Labuan. Dari atas ferry sudah kelihatan deh gedung terminal ferry wilayah persekutuan Labuan. 
       

       
      Setelah turun dari kapal ferry kami langsung menuju ke gedung terminal ferry lalu menuju ke mesin x-ray untuk scan barang bawaan kita kemudian menuju counter imigrasi Malaysia untuk chop paspor. Setelah selesai chop paspor kami berjalan menuju ke rumah makan untuk makan siang. Kami makan di rumah makan yang berada di depan Terminal Feri Antarbangsa Labuan sekitar 300 meter kali kami berjalan di bawah  rintik hujan.

       
      Setelah selesai makan kami segera menuju ke Terminal Feri Antarbangsa Labuan. Terminal ferry Labuan ini lumayan ramai, di bagian depan terdapat banyak stand yang menjual aneka barang dan souvenier. Karena sudah dekat dengan jadwal keberangkatan kapal, jadi kami tak perlu menunggu di boarding room, kami langsung menuju ke kapal yang sudah bersandar di dermaga. 

       
      Kami naik kapal LBN Express Tiga untuk tujuan ke Kota Kinabalu, kapal ini mempunyai dua kelas, yaitu kelas ekonomi dan kelas eksekutif. Untuk kelas eksekutif harga tiket RM 44/orang. Perjalanan menuju Kota Kinabalu memakan waktu sekitar 3,5 jam. Jadi bisa tidur dulu deh di dalam kapal, karena ini kapalnya seperti speed boat jadi kita ga bisa berdiri di geladak kapal, cukup menikmati pemandangan dari balik jendela saja. Tapi kalau kita duduk di kelas ekonomi, ga bisa deh lihat pemandangan luar karena posisi berada di lantai bawah.
      Sekitar jam setengah lima, akhirnya sampailah kami di terminal ferry Jesselton Point. Setelah semua peserta sudah turun dari kapal ferry kami pun segera keluar terminal. Rupanya bus sudah menunggu kami di sebelah kanan pintu keluar Jesselton point, setelah semua peserta naik bus, kami pun berangkat untuk menuju hotel tempat kami menginap di kawasan Lorong Pasar Baru, Kampung Air. 
       

       
      **Sebetulnya bisa juga naik bus dari Bandar Seri Begawan menuju Kota Kinabalu, tetapi jadwal keberangkatannya hanya  satu kali setiap harinya yaitu sekitar jam 8 pagi. Lama perjalanan sekitar 8 jam (kalau ga salah ya).  Kalau ada budget lebih ya paling cepat naik pesawat. Hehehe...
       
       
    • By Sari Suwito
      Hai...haiii..haiiiiii
      Widiiiih lama banget saya ga nongol di forum...
      Ok, baiklah saya akan share FR saya beberapa bulan lalu ketika melawat Brunei Darussalam. Mungkin sudah agak basi kali ya, tapi semoga bermanfaat buat teman2
      .
      Brunei Darusalam adalah sudah masuk dalam wishlist trip saya, tapi baru kesampaian di tahun 2018 ini. Brunei Darussalam merupakan negara ASEAN ke-5 yang saya kunjungi (Indonesia tidak termasuk hitungan ya).  Berhubung saya tinggal di Yogyakarta jadi saya memilih untuk terbang dengan Air Asia ke Brunei melalui Bandara Soekarno Hatta kemudian transit di Kuala Lumpur. Saya tiba di Brunei sekitar jam 8 pagi waktu setempat. Dari airport kami langsung menuju obyek wisata di kota Bandar Seri Begawan.
       

       
      Obyek wisata apa saja yang saya kunjungi selama di Brunei Darussalam? Yuk, simak catatan perjalanan saya selama di Brunei Darussalam.
      Hari Pertama
      1.The Royal Regalia Building 
      The Royal Regalia Museum atau Museum Alat Kebesaran Diraja terletak di Jalan Sultan Omar Ali Saifuddien, Bandar Seri Begawan. Bangunan museum berbentuk kubah besar yang dilengkapi dengan mozaik yang cantik dan bagian dalamnya menggunakan marmer dan karpet yang mewah. Pengunjung diwajibkan menanggalkan sepatu di luar dan hanya diperbolehkan memakai sandal yang sudah disediakan ataupun tanpa alas kaki saja kalau tidak kebagian jatah sandal. Pengunjung diwajibkan meletakkan tas, handphone, kamera dan barang bawaan lainya di loker yang sudah disediakan di bagian depan museum. Setelah itu baru kita diperbolehkan masuk ke ruangan pamer museum. 
       

       
      Museum ini memiliki beberapa galeri, antara lain;
       Royal Regalia Exhibition  Royal Exhibition Hall  Silver Jubilee Exhibition Hall   Jubilee Theatre  Constitutional Exhibition Hall  Royal Lounge  Souvenier / Refreshment Lounge           Memasuki ruangan galeri museum kita bisa melihat foto silsilah keluarga Sultan Brunei, dan di dinding tercantum nama lengkap dan gelar untuk Sultan Hassanal Bolkiah, panjang banget lho. Lalu kita berjalan menuju ke bagian koleksi pribadi Sultan Brunei yang berupa pakaian kebesaran Sultan, perhiasan, cendera mata dari negara sahabat.  
      Selanjutkan kita akan menuju ruang pamer peringatan perayaan 25 tahun pemerintahan Sultan Hassanal Bolkiah. Di ruangan ini terdapat replika kemegahan acara perayaan Silver Jubilee dengan patung manekin tanpa kepala yang menggambarkan pasukan yang mengiringi kereta yang dinaiki Sultan Hassanal Bolkiah dan di sekelilingnya terdapat poster bergambar rakyat yang menonton iringan perayaan 25 taun pemerintahan Sultan.

       
       
      2. Masjid Omar Ali Saifuddien 
      Masjid Omar Ali Saifuddien merupakan masjid kerajaan Kesultanan Brunei yang terletak di Bandar Seri Begawan, tak jauh dari The Royal Regalia Building.  Arsitektur masjid ini memadukan arsitektur Mughal Islam dan Italia, membuat masjid ini menjadi salah satu masjid yang paling mengagumkan di Asia Pasifik. 
       

      Masjid ini memiliki menara marmer dengan kubah emas, dilengkapi dengan taman yang indah dan air mancur. Di samping masjid terdapat replika perahu Mahligai Kerajaan milik Sultan yang memerintah pada abad ke-16. Bangunan ini juga digunakan sebagai panggung Musabaqah Tilawatil Quran pada akhir tahun 1960 hingga awal tahun 1970.
      Di bagian kiri masjid terdapat Perpuspaan main gate 1968, disini juga terdapat taman dan air mancur yang cocok juga untuk berfoto.
       

      Sayang sekali waktu itu kami hanya foto stop di luar masjid dan cuaca yang panas membuat kami tidak bisa berlama-lama karena kami akan melanjutkan untuk makan siang.
      Kami makan siang di restoran yang terletak di kawasan Tarindak D’Seni yang berseberangan dengan Kampong Ayer. Dari restoran  tempat kami makan siang kami bisa melihat pemandangan Kampong Ayer dan Jembatan Raja Isteri Pengiran Anak Hajah Saleha. Jembatan ini disebut juga Jembatan Sungai Kebun. Jembatan ini  menghubungkan Bandar Seri Begawan dan Kampung Sungai Kebun.
       

      Setelah selesai makan siang kami melanjutkan ke destinasi berikutnya yaitu Istana Nurul Iman.
       
      3. Istana Nurul Iman
      Istana Nurul Iman terletak di tepi sungai dengan bukit yang hijau di tepi sungai Brunei, beberapa kilometer selatan Bandar Seri Begawan. Istana Nurul Iman merupakan kediaman resmi Sultan Brunei dan keluarganya serta merupakan pusat pemerintahan Brunei. Istana Nurul Iman merupakan istana terbesar di dunia, memiliki 1.788 ruangan, termasuk 257 kamar mandi. Dan di dalamnya terdapat ballroom yang mampu menampung hingga lima ribu tamu. Di dalam istana ini juga terdapat garasi yang berisi ratusan mobil koleksi Sultan Brunei.  
       

      Istana hanya dibuka untuk umum pada hari Raya Idul Fitri, dimana Sultan akan mengadakan open house selama 3 hari.  Jadi kami hanya bisa photo stop di depan Istana saja.

       
      4. Mercu Dirgahayu 60
      Mercu Dirgahayu 60 (dalam angka arab) berwarna emas ini merupakan monument untuk memperingati hari ulang Sultan Hassanal Bolkiah ke 60 tahun. Mercu Dirgahayu 60 terletak di waterfront Kampung Ayer. 

       
      Tak jauh dari Mercu ini terdapat dermaga taxi air untuk menuju ke Kampong Ayer. Wisatawan pun bisa naik taxi air dari sini untuk berkeliling di Kampong Ayer.
       

       
      Kampong Ayer adalah perkampungan terapung yang merupakan cikal bakal Bandar Seri Begawan.  Kampong Ayer merupakan perkampungan terapung yang terbesar di dunia, luasnya sekitar 10 km persegi, terdiri 42 kampung dan dihuni oleh 20ribu orang penduduk. Kampong Ayer juga memiliki fasilitas yang lengkap seperti: air bersih, listrik, sekolah, masjid, klinik, dan fasilitas lainnya. Bagi penduduk Kampong Ayer yang memiliki mobil, mereka akan memarkir mobil mereka di tepi jalanan seberang Kampong Ayer, kemudian mereka pulang ke rumah menggunakan taxi air.
      Sebetulnya di dekat kawasan Mercu Dirgahayu 60 juga terdapat beberapa perahu yang menawarkan wisata ke kampung ayer, tapi menurut guide  harus hati-hati supaya tidak kena scam. Guide sempat menawarkan siapa yang mau keliling kampung ayer bisa dikoordinasikan.  Tapi kami memutuskan untuk segera menuju hotel supaya bisa istirahat, secara kami sudah lelah setelah perjalanan panjang dan flight di awal pagi.