• agoda-hemat.png

  1. kyosash

    kyosash

  • Similar Content

    • By fariezetta
      Ojek online belakangan ini memang menjadi salah satu sarana yang paling banyak digunakan masyarakat, terutama masyarakat Jakarta. Masih ingat bukan, bulan puasa tahun lalu publik heboh dengan kedatangan gojek yang menawarkan tarif serba goceng. Makin seru ketika Grab ikut meluncurkan ojeknya yang disebut dengan GrabBike.
      Setelah kehebohan dua ojek online itu, kemudian muncul lain-lain yang semakin meramaikan persaingan ojek online. Ada blu-jek, ada lady-jek, dan lain sebagainya. Dan yang terbaru kini ada uber motor yang nggak lain adalah ojek dari Uber.
      Dari sekian banyak ojek online yang berseliweran di jalanan ibukota, saat ini yang paling banyak digunakan memang GoJek dan juga GrabBike. Dua lainnya yang juga cukup banyak adalah Uber Motor dan juga Blu-Jek. Nah, sebenarnya, mana sih yang paling murah dan paling nyaman saat ini?
      Sebagai pelanggan, di bulan puasa ini gue cukup aktif menggunakan tiga ojek online, GrabBike, GoJek, dan juga Uber Motor. Ini plus minusnya menurut pendapat gue pribadi.
      GoJek
      GoJek sebenarnya nggak banyak mengecewakan karena drivernya rata-rata memang cukup ramah. Tarif di bulan puasa ini yang sering gue pakai adalah tarif diskon 25% jika bayar pakai GoPay hehe. Lumayanlah. Untuk jarak sekitar 11 km, harga awal di jam sibuk baik pagi maupun sore hari itu 23 ribu. Diskon 25% jadi sekitar 18 ribu. Dulu, sebelum puasa potongan GoPay 50% malah hehhe.

      Hanya saja, sekarang ini GoJek cukup pilih-pilih ya. Jadi, kalau dia nggak mau kejauhan, dia bakal cari alesan mulai dari titik poin jemputnya jauh atau alasan teknis lainnya. Ga tau bener apa nggak, tapi beberapa kali memang cukup sering dicancel sama abangnya. Ya gpp juga sih, secara mereka dibayar 2000 apa 2500 gt per km-nya. Tapi overall, gue masih pelanggan setia GoRide dan GoFood hehee.
      GrabBike
      Dulu emang gue sering banget pakai GrabBike karena tarifnya lebih murah dan abangnya suka lebih kalem kalau cari alamat karena bener-bener ngandelin GPS. Tapi sekarang udah jarang. Alasannya, karena ga tau kenapa, app GrabBike di gue kok ya lama banget ya padahal dulu cepet aja. Udah di-update masih lama. Dia susah banget munculin lokasi gue di mana.

      Kalau tarif sih 11-12 ama GoJek lah. Cuma kalau jarak deket emang lebih murah Grab. No wonder kalau masih banyak yang pakai Grab ini. But, im grabcar user lho (ntar lagi dibahas soal fasilitas car taxi nya).
      Uber Motor
      Yes, this is my recent favourite ojek sih. Uber emang baru merilis ojek motornya sekitar April lalu kalau nggak salah. Tarifnya sangat bersaing, entah karena masih baru jadi masih tarif promo atau nggak, tapi nggak kenal jam sibuk. Untuk jarak dan waktu yang sama, gue akan dikenakan harga sekitar 12-14 ribu aja.

      Oya, beda emang sama Grab dan GoJek yang tarif flat, uber ini nggak demikian. Dia tergantung km dan waktu tempuhnya. Jadi kalau macet dan muter itu lebih mahal jatuhnya. Pernah gue biasa pulang cuma 5km kurang lebih itu kena harga 5 ribu aja, tapi suatu hari itu macet dan abangnya harus puter balik sekitar 1 km lah, harganya jadi 9 ribu. Tarif Uber yang kayak gini emang jadi kelebihan dan kekurangan di kondisi yang sama.
      Nah, perbedaannya lagi, belum banyak driver Uber yang pakai atribut lengkap. Kalau resminya, mereka seharusnya pakai jaket dan helm hitam dengan tulisan simple, Uber. Tapi selama ini, saya cukup sering naik bareng driver yang tidak bertaribut. Sebagai konsumen, mungkin agak kurang nyaman apalagi kalau helmnya 'maksa' banget kan.
      Nah, enaknya juga, di Uber bisa ketahuan jenis motor drivernya apa. Dan beberapa kali emang suka dapet yang jenis motornya tidak direkomendasikan buat ngojek sih. Oya, drivernya kadang-kadang juga nyentrik gitu. Tapi itu sih nggak bisa dipukul rata.
      Semuanya tetep personal, ada driver yang enak, ada juga yang enggak.
    • By zeekyuryu
      Go-Jek Indonesia belakangan lagi hits banget nih. Teman-teman pasti sudah sering melihat ojek dengan jaket berwarna hijau hitam yang bertuliskan GoJek. Mereka adalah para tukang ojek yang tergabung ke dalam sebuah aplikasi smartphone bernama Go-Jek. Go-jek bukanlah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang transportasi maupun logistik, namun Go-Jek adalah perusahaan aplikasi di smartphone yang berguna untuk membantu masyarakat dalam urusan transportasi. Saya mau coba menulis tentang go-Jek Indonesia sebagai seorang pelanggan. 
       

      Go-Jek Indonesia sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 2011. Namun ia baru populer pada tahun 2015 ini. Sebenarnya saya sudah mendownload aplikasi ini sejak lama, tapi baru belakangan ini saya pakai karena penjelasan teman soal Go-Jek Indonesia (ditambah karena lagi promo ceban menjelang Ramadhan kemarin sih hihi).
       

      Go-Jek Indonesia didirikan oleh anak muda Indonesia bernama Nadiem Makarim yang dulunya adalah managing director dari Zalora Indonesia. Pria kelahira 1984 ini memang sangat berjiwa bisnis. Ia mengenyam sekolah dasar di Indonesia dan SMA di Singapura. Ketika kuliah, ia mengambil magisternya di Harvard University dan kembali lagi ke Indonesia. Dari berbagai sumber, Nadiem ini mengaku memang sekolah di luar negeri, tapi orang tuanya yang mana ayahnya seorang pengacara selalu mengajarkan padanya untuk kembali ke Indonesia dan melakukan apa pun yang bisa berguna bagi banyak orang. 
      Misi sosial yang dibawa Go-Jek Indonesia ini pun akhirnya berhasil membantu banyak orang, bukan hanya pelanggan, tapi juga tukang ojeknya. Nadiem mengawali idenya tentang Go-Jek karena dirinya adalah pengguna ojek. Saat itu ia berpikir sangat sederhana, bagaimana caranya orang bisa dengan mudah naik ojek namun dengan suasana yang nyaman. Ojek sebagai salah satu moda transportasi umum dirasa sangat efektif beroperasi di kota besar seperti Jakarta yang penuh kemacetan ini. Maka keputusannya keluar dari Zalora dan mengelola bisnis barunya sendiri ini pun terwujud. 
      Aplikasi Go-Jek Indonesia merangkul tukang ojek yang saat ini di Jakarta saja sudah ada 5 ribuan tukang ojek yang bergabung. Tukang ojek ini dibekali smartphone, helm, dan jaket. Mereka yang terdaftar di Go-Jek Indonesia punya syarat-syarat tertentu, beberapa di antaranya yang wajib punya SIM yang bisa menjamin bahwa mereka bisa mengemudi. Jadi, para tukang ojek ini sudah profesional dalam urusan mengemudi. Selain di Jakarta, Go Jek saat ini juga sudah berada di beberapa kota besar lain, seperti Bandung, Surabaya dan juga Bali. Wilayah Jakarta sendiri melingkupi daerah sekitarnya, lho seperti Depok, Bekasi, dan juga Tangerang.
      GoJek Indonesia ini bukan hanya bisa menjemput dan mengantar kita lho, tapi juga menyediakan jasa lainnya. GoJek bisa dimintai tolong untuk membeli makanan atau mengantar paket dan dokumen ke mana saja. Bisa juga untuk membeli tiket nonton. Kalau jasa lain selain penjemputan, saya belum pernah coba. Tapi menurut abang Gojek yang saya naiki, mereka akan membayarkan dulu total belanjaan kita baru nanti kita ganti saat sudah kita terima barangnya :)
      Cara menggunakan gojek dan sistem pembayarannya
      Cara menggunakan Gojek ini gampang banget. Kalau ada yang belum tahu, berikut saya coba kasih panduannya ya:
      1. Instal aplikasi Gojek Indonesia dari playstore kamu
      2. Buka aplikasi dan daftarkan diri kamu. masukkan nomor telepon yang benar agar driver Gojek bisa menghubungi kamu saat penjemputan atau jasa lainnya
      3. Langsung pilih jasa yang kamu inginkan, misalnya pilih transport
      4. Masukkan lokasi penjemputan kamu, kamu bisa menambahkan lokasi detail yang mempermudah driver Gojek menjemput kamu
      5. Masukkan lokasi tujuan
      6. Klik Next 
      7. Jika sudah terlihat total harganya, kamu bisa pilih cara bayarnya, ada cash, gojek credit.
      *Cash bayar ditempat
      *Gojek Credit bayar dengan credit yang kita punya di Gojek. Ada kode voucher yang bisa kita dapetin ketika kita mengunduh aplikasi ini. Kode ini bisa dipakai kalau kita ajak orang lain pakai aplikasi Gojek.
      8. Sip tinggal pantau deh jarak driver Gojek dengan kamu. Ada contact yang bisa dihubungi atau biasanya para gojek ini akan menghubungi kita kok. Tunggu dan jalan deh kalau udah sampai si abangnya (eh ada mbak mbak juga kok )
      Sudah beberapa kali menggunakan Go-Jek membuat saya memiliki banyak cerita dari berbagai driver. Cerita-cerita tersebut lucu dan unik. Saya bagi beberapa cerita dari driver tentang Go-Jek itu ya.
      Mengapa ke Gojek
      Banyak alasan mengapa para tukang ojek akhirnya mau bergabung dengan GoJek Indonesia. Dari beberapa driver, alasan terbanyaknya adalah karena mereka merasa bersama Gojek, pendapatan mereka lebih stabil. Ketika belum tergabung dengan Gojek, mereka yang menjemput bola, menawarkan kepada pelanggan jasa mereka. Tapi sejak bergabung di Gojek, mereka bisa menunggu pelanggan yang menghampiri mereka. Yang perlu dilakukan mereka adalah memantau smartphone, melihat orderan dan langsung menjemputnya. Sesimple ini sih. Jadi menurut mereka, banyak waktu yang nggak kebuang untuk nongkrong aja, lebih banyak waktu untuk nariknya. Penghasilan juga jadi lebih stabil :)
      Sebelum jadi Gojek
      Menariknya adalah cerita tentang apa mereka sebelum sebagai seorang driver Gojek. Salah satu driver Gojek yang pernah saya tumpangi bilang kalau dulunya dia salah satu pegawai bank swasta. Dia bergabung dengan Gojek sudah 4 bulanan dan dia mengaku lebih enak. Selain pendapatan yang lebih meningkat, dia bilang lebih bisa atur waktu untuk keluarga. Bukan macem pegawai kantoran yang masuk jam 8 pulang jam 5 setiap hari gitu. Ada orderan memungkinkan diambil, nggak bisa yaudah. Bisa bagi waktu juga buat keluarga. 
       

      Driver lain bilang dia baru bergabung 5 harian lah di Gojek. Dia punya toko baju olahraga di rumahnya. Karena lagi sepi, dia pun ngisi waktu luang sebagai driver Gojek. Ada juga yang pegawai swasta sudah 20 tahunan dan dia lagi ambil cuti jadi sekalian ngojek. Ada yang memang sudah dari dulu ngojek dan mengaku lebih enak pas sudah gabung sama Gojek :) Saya juga pernah naik sama Gojek perempuan. Luar biasa, dia dari dulu ngojek tapi di lingkungan dekatnya dan sekarang keliling Jakarta. Dia bilang karena kemauan sendiri jadi ya nggak masalah. Dijalani dengan suka cita aja jadi capeknya nggak kerasa. Mantep!
      Tidak terikat
      Gojek ini tidak mengikat para drivernya. Mereka bisa dibilang freelance driver karena para gojek masih bisa melakukan hal-hal lain di luar jam operasional Gojek. Misalnya, mereka masih bisa mangkal di lokasi lain seperti tukang ojek lainnya atau masih bisa melakukan hal lainnya. Semua mereka yang atur waktunya. Intinya kan semakin rajin mereka jalan, semakin banyak pendapatannya hehe.


       
      Bagaimana bergabung
      Driver gojek pernah ada yang sharing waktu awal dia bergabung. Dia bilang kalau dulu awal awal ada semacam pelatihan begitu. Diajarin bukan hanya soal sistem dan aplikasinya tapi juga soal bagaimana berkomunikasi dengan pelanggan. Nah ada beberapa jaminan yang diserahkan ke pihak GoJek sebagai syarat bergabung. Misalnya kayak ijazah, BPKB, atau apa lagi saya nggak hafal. Alasan ini juga yang menjadi alasan sejumlah ojek menolak bergabung. Mungkin ribet kali ya kalau harus ditahan. 
      Penghasilan
      Penghasilan yang didapat para driver Gojek diakui cukup bagus kok. Mereka banyak yang bilang tidak dirugikan sama sekali. Bagi hasilnya 20% buat company dan 80% buat para driver. Pernah ada Gojek yang bilang kalau penghasilannya bisa temus 9jutaan per bulan waktu awal-awal Gojek ini nge hits banget. Intinya sih, mereka bilang lumayan lah lebih stabil dan lebih meningkat dibanding dengan cuma mangkal biasa :)