Nightrain

Spain, Andorra, and Morocco - May 2015

56 posts in this topic

0.jpg

suasana di Camp Nou (markas Barcelona)

Bulan Mei umumnya merupakan waktu yang paling nyaman untuk mengunjungi sebagian besar negara Eropa karena mulai masuk puncak musim semi dengan suhu hangat yang sangat mirip dengan Indonesia. Kali ini kita memutuskan untuk mengunjungi Spanyol dengan tujuan 3 kota besar-nya yaitu Madrid, ibukota yang berada di tengah; Barcelona, kota pinggir laut yang terletak di timur Spanyol; dan Sevilla, yang merupakan ibukota wilayah Andalusia di selatan.

Kita juga sempat mampir ke negara kecil Andorra yang terjepit antara Spanyol dan Perancis di area pegunungan Pyrenees karena mudah dijangkau dengan bus dari Barcelona. Lokasi Spanyol dan Maroko yang berdekatan juga membuat kita tidak melewatkan kesempatan untuk menginjakkan kaki pertama kali di benua Afrika dan menghabiskan waktu 3 hari melihat negara eksotis ini.

Day 1 - Puerta del Sol, Madrid (Selasa, 5 Mei 2015)

Kita tiba di airport Barajas Madrid sekitar pukul 2 siang waktu setempat atau kurang lebih jam 7 malam WIB. Suhu waktu itu masih sekitar 20 derajat dan setelah melalui proses cek imigrasi dan mengambil bagasi, kita menuju ke stand Lebara untuk mengganti SIM card lokal dengan unlimited internet. Biaya internet di Spanyol relatif murah, sebulan berkisar antara €10 - €15. Selain operator Lebara, disarankan untuk menggunakan Vodafone atau Movistar.

Untuk menuju ke hotel, ada opsi bus dan subway, namun karena kita belum ada gambaran mengenai lokasi sekitar hotel, jadi daripada buang waktu nyasar, kita langsung menuju taxi stand dan di-charge flat rate €30 ke downtown. Tiba di hotel dan selesai check-in, kita langsung menuju stasiun subway untuk menuju lokasi pertama yaitu Puerta del Sol. Ini adalah titik 0 kota Madrid, alun-alun utama dan di sekeliling lokasi ini banyak sekali turis maupun orang lokal yang sering berkumpul. Artis jalanan juga memadati area sekitar patung kuda untuk mencari sesuap nasi, mulai dari penyanyi kwartet, badut dengan kostum lucu, 'patung statis', dan sebagainya.

8.jpg  7.jpg

Puerta del Sol cocok menjadi starting point Anda untuk menjelajahi kota Madrid karena dari sini Anda bisa menjangkau beberapa landmark dengan berjalan kaki, dimulai dari Plaza Mayor, kemudian mampir sebentar ke Mercado de San Miguel dan sekitar 10 menit Anda akan tiba di Royal Palace of Madrid yang juga berhadapan dengan Catedral de la Almudena. Jangan lupa untuk memperhatikan jadwal buka istana apabila Anda ingin masuk ke dalam, tapi kalau hanya sekedar berfoto di luar saja, paling bagus ambil momen menjelang sunset.

1.jpg  2.jpg 

4.jpg

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam namun hari masih terang karena bulan Mei sudah mendekati musim panas dan di Eropa biasanya sunset baru dimulai sekitar jam 8 malam. Siang hari terasa lebih panjang lagi menjelang Juni karena matahari baru terbenam sekitar jam 9.30 malam. Di Spanyol, kebanyakan orang baru mulai makan malam sekitar jam 9 malam namun restoran rata-rata sudah buka dari jam 5 atau 6 sore, jadi untuk menghindari peak hour sebaiknya jam 8 sudah selesai makan.

Setelah selesai mengisi perut di salah satu resto terdekat, kita pun kembali ke hotel untuk beristirahat.


Day 2 - Santiago Bernabeu dan Retiro Park, Madrid (Rabu, 6 Mei 2015)

Tidak lengkap rasanya kalau ke Madrid tanpa mengunjungi markas klub sepakbola Real Madrid. Terlepas Anda suka atau tidak dengan klub ini, atau bahkan bukan penggemar sepakbola, Real Madrid (dan juga rival mereka, Barcelona) sudah menjadi icon penting negara Spanyol dan tergolong mudah untuk menjangkau stadion klub yang sudah berdiri lebih dari 100 tahun lalu ini.

1.jpg

Lokasinya terletak sekitar 6km arah utara Puerta del Sol dan opsi termurah untuk menuju kesana yaitu lewat subway. Buat yang pengen nonton pertandingan, disarankan untuk beli dulu tiket via ticketmaster H-10 untuk menghindari antrian panjang dan kadang untuk big match, belum tentu tiket masih ada pas hari H, namun buat yang pengen liat stadion aja, sebaiknya datang persis jam 10 pagi supaya belum terlalu banyak turis yang datang.

Tiket masuk untuk tur stadion sekitar €19 dan durasi tur biasanya sekitar 1 jam. Dengan tiket ini, Anda bisa naik ke lantai atas untuk melihat stadion dari tempat tinggi, kemudian lanjut ke dalam museum Madrid untuk melihat koleksi piala, sejarah dan rekor klub, tim inti beserta jersey-nya, dan berbagai macam pernak-pernik Real Madrid, kemudian Anda juga bisa mendapatkan kesempatan untuk berfoto dan ada petugas yang akan memilih pemain mana yang akan di-crop ke dalam foto tersebut, dan tentu Anda juga bisa mengitari stadion, mencoba duduk di kursi VIP, di bangku cadangan pemain, dan akhirnya membeli berbagai souvenir klub.

2.jpg  3.jpg

4.jpg  9.jpg

Selesai dari Santiago Bernabeu, kami mampir ke salah satu restoran di seberang stadion untuk makan siang dan kemudian lanjut menuju pusat kota Madrid yaitu Gran Via. Lokasi Gran Via ini mungkin bisa dikatakan adalah 'Orchard Street'-nya Madrid buat yang familiar dengan kota Singapore. Di jalanan panjang ini berjejer berbagai bangunan tinggi, ada mall, toko, kantor, bahkan kasino. Tentu dengan aristektur bangunan yang juga bervariasi mulai dari klasik hingga modern sehingga nuansa Eropa masih terasa banget. Lokasinya kurang lebih satu blok dari area Malasana tempat hotel kita berada. Area ini bagus juga untuk dijadikan starting point apabila Anda ingin mencari hotel dengan best value, dekat dengan subway, dan cukup banyak restoran di sekitarnya.

11.jpg  12.jpg

Kita menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk berkeliling di sekitar Gran Via dan apabila Anda terus berjalan ke arah timur, Anda akan tiba di Plaza de Cibeles. Di dekat bundaran ini ada Palacio de Cibeles (Cybele Palace) yang sekarang sudah dijadikan City Hall. Lokasi Plaza Cibeles ini juga selalu dijadikan tempat berkumpul fans Real Madrid apabila tim mereka juara dan juga menjadi tempat perayaan tahun baru buat warga kota Madrid. Tidak jauh dari Cibeles, Anda akan tiba di bundaran berikutnya, Puerta de Alcala dan dari lokasi tersebut, Anda akan menemukan pintu masuk ke salah satu taman terbesar Madrid yaitu Retiro Park.

Buat yang senang art, lokasi taman ini pun tidak jauh dari Prado Museum yang juga merupakan salah satu attraction kota Madrid. Apabila cuaca bersahabat, Anda bisa berjalan santai menuju ke arah danau kecil dan Monument Alfonso XII. Banyak bangku taman berjejer di sana untuk sekedar beristirahat sambil menikmati udara sore dan juga ada beberapa penjual makanan ringan di sekitar situ apabila Anda ingin mencari snack atau minuman ringan. Terlihat banyak warga memadati taman, ada yang bersepeda santai, ada juga yang jogging sore, dan ada juga yang mengitari danau dengan kano.

13.jpg  17.jpg

Waktu kurang lebih pukul 5 sore ketika kita memutuskan untuk kembali ke hotel dulu untuk sekedar rileks dulu. Menjelang jam 7.30, kita berjalan santai menuju restoran Bodega de la Ardosa, salah satu tapas bar di sekitar hotel untuk makan malam. Tiba di sana, baru sekitar 3-4 meja yang terisi karena memang jam restoran terpadat adalah jam 9 malam, apalagi kalau pas weekend dan ada siaran bola. Buat yang belum tahu apa itu tapas, jadi itu adalah sebutan untuk appetizer atau snack khas Spanyol, tersedia baik yang panas (daging/seafood/kentang/dll) maupun dingin (cheese/mixed olives/berbagai macam sayuran/dll). Namun warga Spanyol sering juga menjadikan tapas sebagai main course, bukan sekedar makanan pembuka, karena di satu meja, mereka bisa saja mengorder 6-7 piring tapas untuk 3-4 orang. Mungkin analogi yang agak mirip yaitu seperti sushi di Jepang dimana satu piring bisa terdapat banyak jenis menu untuk di-share.

Restoran yang kita tuju tersebut merupakan rekomendasi dari resepsionis hotel dan kebetulan mendapatkan skor 4 bintang di tripadvisor. Review restoran di tripadvisor biasanya merupakan opini objektif dari turis berbagai negara sehingga kalau total rating sudah 4 bintang ke-atas, umumnya lumayan atau enak karena pernah juga kita hanya mengandalkan usulan dari salah satu orang lokal dan ternyata hasilnya sangat mengecewakan.

 

Day 3 - Casa Batllo dan Passeig de Gracia, Barcelona (Kamis, 7 Mei 2015)

Setelah kelar packing dan check-out, kita bergegas ke stasiun kereta Madrid Atocha dengan menggunakan taxi. Lokasi stasiun tidak jauh dan kurang lebih 15 menit kemudian kita sudah tiba. Tiket kereta cepat AVE dari Madrid menuju Barcelona sudah dipesan dari Indonesia sehingga waktu dan jam sudah fixed. Cara pemesanan tiket tersebut tidak sulit namun untuk menghindari kesalahan, silahkan baca petunjuk 'Buying Renfe Tickets Online' di : http://www.tripadvisor.com/Travel-g187514-c80518/Madrid:Spain:Buying.Renfe.Tickets.Online.html. Untuk harga tiket kereta, ada diskon lumayan apabila Anda booking sekitar 2 bulan sebelum keberangkatan. Kereta pun berangkat sesuai jadwal dan kurang lebih 3 jam kemudian kita sudah tiba di Barcelona. Opsi yang lebih murah bisa menggunakan kereta biasa dengan waktu perjalanan sekitar 6-7 jam dan ada juga yang overnight train untuk menghemat biaya hotel semalam, sekitar 10 jam sampai Barcelona.

1.jpg

Dari stasiun, kita naik taxi menuju hotel yang ada di Carrer de Mallorca. Sama seperti Madrid, lokasi Mallorca ini cukup dekat dengan jalan protokol, Passeig de Gracia, namun harga penginapan relatif wajar, bahkan tergolong murah. Setelah check-in, kita mampir ke salah satu restoran di dekat hotel untuk makan siang. Impresi pertama cukup baik dan rasanya overall lebih enak dari hampir semua resto di Madrid yang kita coba. Lokasi pertama yang kita tuju adalah Passeig de Gracia karena memang paling dekat dari hotel. Ini adalah 'Gran Via'-nya Barcelona dan buat yang senang shopping, di sinilah surga-nya, mulai dari LV, Prada, Valentino sampai Zara, Mango, dan Puma tersebar di sepanjang jalan. Buat yang tidak senang shopping, jangan khawatir karena banyak juga kafe dan restoran tempat kongkow dan beberapa landmark terkenal seperti Casa Batllo dan La Pedrera.

2.jpg   3.jpg

Untuk masuk ke Casa Batllo, Anda perlu membeli tiket dan dianjurkan untuk membeli tiket secara online karena Anda tidak perlu antri sampai satu jam pada saat mau masuk ke dalam. Bangunan ini adalah hasil karya dari arsitek legendaris Spanyol yaitu Antoni Gaudi. Beliau adalah sosok populer di balik megah-nya bangunan 'Modernista' seperti Sagrada Familia, Casa Mila, dan Casa Batllo tadi. Apabila Anda tertarik untuk mengetahui sejarah penghuni dan ruangan Casa Batllo, di dalam Anda akan dibekali dengan seperangkat alat yaitu tablet dan headphone dan dari lantai atas juga Anda bisa menikmati Passeig de Gracia yang padat dengan turis, warga lokal, maupun kendaraan yang lalu lalang. View bangunan ini juga akan lebih bagus pada saat menjelang malam hari karena lampu-lampu yang dinyalakan akan mempertegas struktur bangunan tersebut yang unik dan indah.

Tidak terasa kita berjalan hingga pukul 9 malam dan karena di Indo sudah jam 3 pagi, tiba-tiba badan baru berasa lemes dan ngantuk, karena baru hari ketiga dan masih belum adaptasi penuh dengan perubahan jam. Kita pun kembali ke hotel untuk beristirahat.

 

Day 4 - Palau de la Musica Catalana dan Montserrat (Jumat, 8 Mei 2015)

Kita mengawali hari ke-empat dengan mengunjungi Palau de la Musica Catalana. Ini adalah tempat konser dengan arsitektur khas Modernista dan merupakan hasil karya Lluís Domènech i Montaner. Tempat ini juga merupakan UNESCO World Heritage Site sejak 1997 dan buat yang senang dengan bangunan unik khas Spanyol, tempat ini layak dikunjungi. Harga tiket masuk kurang lebih sekitar €17 / orang dan kita akan ditemani oleh seorang guide yang dengan senang hati akan menjelaskan mulai dari sejarah tempat ini, konser apa aja, dan cerita-cerita menarik di balik ukiran dan tatanan di dalam gedung tersebut.

4.jpg 5.jpg

Persis di seberang gedung ini ada restoran yang bernama Tosca dan makanannya termasuk enak serta harga relatif wajar. Pelayannya ramah dan cukup fasih berbahasa Inggris, mungkin karena setiap hari banyak turis yang mampir setelah mengunjungi Palau. Salah satu menu andalannya adalah Jamon Iberico atau Iberian Ham, dan sebagian besar berasal dari daging babi yang digarami dan dikeringkan beberapa bulan. Mungkin karena terbiasa makan daging asin ini, banyak variasi makanan Spanyol lainnya malah jadi berasa terlalu asin untuk lidah kita. Untuk yang tidak mengkonsumsi babi, ada baiknya memesan kentang, seafood, dan sayur-sayuran karena selain ham, makanan lain di resto ini juga enak termasuk kentang goreng khas Spanyol.

Setelah makan, kita menuju Plaza Catalunya, alun-alun utama kota Barcelona yang menjadi meeting point dari daytrip sore itu menuju Montserrat. Tempat wisata ini berasal dari kata 'serrated' karena beberapa puncak gunung yang berdempetan memiliki tinggi yang berbeda sehingga terlihat seperti gergaji dari kejauhan. Di sini terdapat biara Benedictine yang bernama Santa Maria de Montserrat dan seringkali merupakan tempat retreat untuk warga lokal Spanyol. Selain itu, para pecinta alam juga senang mendaki gunung ini dan termasuk populer di kalangan turis.

6.jpg  8.jpg

Area gunung ini bisa dicapai dengan driving sekitar 1 jam dari kota Barcelona. Untuk yang waktunya terbatas, sebaiknya menggunakan local tour untuk ke Montserrat karena perbedaan biaya tidak terlalu banyak dan bisa dilakukan setengah hari saja, namun kalau punya waktu panjang, ada bagusnya berangkat dari pagi hari dan bisa menikmati Montserrat sekitar 3-4 jam sebelum turun dengan menggunakan kombinasi cable car dan kereta. Yang menarik dari Montserrat adalah indahnya pemandangan dari puncak gunung, uniknya gunung yang berwarna merah muda, arsitektur biara yang menawan baik di eksterior maupun interior-nya, serta banyak cerita menarik mengenai Black Madonna dan terbentuknya pegunungan ini. Biaya tur per orang sekitar €45 dengan durasi waktu sekitar 4-5 jam dan tidak menyangka tour guide kita yang asli orang Barcelona ternyata baru balik dari liburan ke Indonesia selama 3 minggu sekitar beberapa bulan sebelumnya.

7.jpg  9.jpg

Tur berakhir sekitar pukul 7 malam namun suasana di Barcelona masih terang benderang karena memang bulan Mei sudah menjelang musim panas. Turis masih memadati area Plaza Catalunya dan kita berjalan santai menuju La Rambla. Ini adalah salah satu jalan terpadat dan mayoritas dijejali oleh turis jadi selalu waspada karena banyak copet beraksi dan rata-rata makanan serta minuman dipatok dengan harga tinggi padahal rasanya di bawah standar. Barang-barang souvenir, mainan, bunga, pernak pernik juga dijual dengan harga tinggi karena La Rambla sudah terkenal sebagai destinasi turis jadi banyak juga grup tour dari berbagai negara yang hanya mampir 1-2 malam di Barcelona pasti dibawa ke sini untuk berbelanja atau makan malam.

10.jpg  11.jpg

Di dekat La Ramblas, ada satu pasar makanan yang juga terkenal yaitu Mercat de Sant Josep de la Boqueria. Berbagai macam jenis makanan mulai dari permen, buah-buahan, sayuran segar, ikan, dan sebagainya dijual di sini, namun karena salah satu destinasi turis juga, dipastikan hari apa pun pasti akan sangat padat dan terus terang tidak terlalu nyaman untuk shopping, namun untuk sekedar menyaksikan keramaian pasar ini sih oke juga. Kita sendiri tidak sampai masuk ke dalam dan memilih untuk makan malam di sekitar situ dan kembali ke hotel untuk beristirahat.

 

Day 5 - Barri Gotic (Old Town) dan Camp Nou (Sabtu, 9 Mei 2015)

Kalau di utara Jakarta, ada sepetak lokasi yang dinamakan Kota Tua yang sebagian berdiri bangunan peninggalan Belanda, maka di timur Barcelona pun terdapat satu lokasi yang mirip dan dinamakan Barri Gotic atau juga dikenal dengan Old Town. Mayoritas bangunan ini adalah peninggalan abad pertengahan, dan sebagian kecil malah dari jaman orang Romawi ketika mereka datang menetap di Spanyol. Yang paling terkenal di sini adalah Basilica of La Merce, namun kalau Anda punya banyak waktu untuk menjelajah jalan-jalan sempit Barri Gotic, banyak landmark yang bisa dikunjungi seperti Santa Maria del Pi Basilica, Palau Reial Major, City Hall, Placa Sant Jaume, dan Placa del Rei. Karena disain tempat ini seperti labyrinth, maka siap-siap untuk 'tersesat' namun tidak perlu takut karena selain bisa menggunakan patokan GPS untuk kembali ke jalan utama, banyak juga papan penunjuk jalan untuk mengarahkan kita ke La Ramblas atau pun ke pantai Barceloneta yang terletak tidak jauh dari sini.

15.jpg  16.jpg

Banyak artis jalanan mencoba mengais rejeki di hampir setiap lorong Barri Gotic, mulai dari pemain cello, penyanyi bersuara ala Pavarotti, pengrajin bekas kaleng minuman, sampai badut-badut yang berkeliaran di sekitar Cathedral. Yang terakhir ini kadang yang agak mengganggu karena begitu kita kepengen foto sendiri, mereka suka mendekat untuk ikut berfoto bareng, maksudnya mungkin biar fotonya lucu dan unik, tapi kadang malah ngerusak, belum lagi persisten untuk minta tip dan seringnya mau lebih dari €2. Saran saya, kalau liat yang beginian, mending jauhi dan cari lokasi yang lebih aman, atau kalau masih nekad mendekat, jutekin saja.

Kita menghabiskan waktu sekitar 4 jam untuk berkeliling santai di area ini dan kembali ke La Ramblas untuk rileks di salah satu resto sambil menunggu jam 4.30 sore. Hari itu kita akan menonton pertandingan antara Barcelona melawan Real Sociedad di Camp Nou, markas dari klub sepakbola Barcelona. Lokasi stadion ini kurang lebih 30 menit dari pusat kota dan pertandingan akan dimulai sekitar jam 6 sore waktu setempat. Di stasiun subway, baru kali ini kita melihat antrian tiket kereta MRT yang sangat panjang karena banyak warga lokal dan turis yang sudah memegang tiket siap menuju stadion. Teriakan yel-yel 'Barca .. Barca .. Barca' mulai menggema dimana-mana dan tidak sedikit yang mengenakan kostum kebanggaan mereka dengan tulisan punggung Messi, Neymar, maupun Suarez.

12.jpg  13.jpg

Kalau Anda ingin menyaksikan pertandingan ini secara langsung, maka sebaiknya jangan lupa untuk membeli tiket via website (seperti ticketmaster) sekitar 10 hari sebelum hari H, karena tiket biasanya baru dijual setelah jadwal pertandingan ditetapkan oleh komite sepakbola mereka. Di stadion biasanya tidak ada ticketbox, kecuali Anda hunting tiket batal dari pemegang tiket musiman. Setiap pertandingan ada rating yang menentukan harga tiket, jadi untuk kali itu, Real Sociedad dianggap tim papan tengah dan harga tiket tidak terlalu mencekik, kurang lebih €130 dari seat yang bisa dibilang cukup pantas. Untuk harga tiket di bawah €80, posisinya terlalu jauh sehingga Anda harus siap binocular, dan kalau seat yang lebih dekat umumnya sudah sold out atau harga bisa €200 lebih. Kalau pertandingan papan atas, seperti El Clasico atau melawan tim tangguh, Atletico Madrid, atau pertandingan Liga Champion, bisa dipastikan harga tiket 2-3x lipat dan itu pun belum tentu masih available.

Setelah menyiapkan dua tiket masuk, kita berjalan bareng bersama para suporter Barcelona ke dalam stadion dan di dalam, banyak petugas yang hilir mudik untuk membantu penonton menuju ke bangku masing-masing. Rata-rata para petugas bisa bahasa Inggris sedikit dan ramah dalam menghadapi berbagai macam turis yang kebingungan mencari seat mereka, dan biasanya kalau Anda kepengen minta tolong foto, para petugas tidak diijinkan untuk membantu mengambil foto karena itu memang peraturannya. Dari seat kita, terlihat jelas para pemain sudah melakukan pemanasan dan tepat jam 6 sore, pertandingan pun dimulai.

14.jpg

Setelah ditinggalkan beberapa pemain bintang, Real Sociedad terlihat berbeda dibanding 3-4 tahun silam dan sore itu mereka hanya mampu bermain defensif dan setidaknya di paruh pertama, mereka masih berhasil menahan imbang Barcelona tanpa gol. Namun memasuki babak kedua, trio MSN terus membombardir mereka dan akhirnya Neymar berhasil mencetak gol pertama. Sekitar 5 menit sebelum usai, Pedro yang kini memperkuat Chelsea, melakukan bicycle kick yang indah dan memperlebar keunggulan Barcelona dan sore itu mereka berhasil meraih 3 poin penuh setelah menang 2-0.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, apakah pantas mengeluarkan uang €130 untuk menonton 2 jam pertandingan bola ? Kalau Anda fans bola, tentu jawabannya sangat pantas karena bisa menyaksikan langsung para pemain bintang idola, namun kalau Anda tidak suka bola atau olahraga, saya tetap beranggapan ini adalah pengalaman yang boleh dicoba setidaknya sekali seumur hidup karena setidaknya Anda bisa merasakan atmosfir pertandingan kelas dunia, melihat stadion dari dalam maupun luar, berada di antara puluhan ribu suporter yang dengan antusias tinggi terus mendukung klub mereka selama 90 menit penuh, dan bisa membagikan cerita ini ke teman ataupun saudara yang sangat menyukai sepakbola.

 

Day 6 - Andorra (Minggu, 10 Mei 2015)

1.jpg

Andorra, negara kecil yang tidak memiliki airport dan terjepit antara Spanyol dan Perancis ini, bisa diakses dengan mudah melalui Barcelona. Ada banyak pilihan bus untuk menuju ke sana namun kalau Anda tidak punya agenda untuk melakukan hiking, maka ada bagusnya memilih opsi daytour seperti yang kita ambil, karena selain kita diberikan waktu cukup untuk mengitari pusat kota Andorra de la Vella, kita juga punya kesempatan untuk mampir di salah satu desa kecil, Baga dan juga Mont Louis, Perancis.

Pagi hari sekitar jam 7 kita sudah hadir di tempat berkumpul dan karena Andorra bukan merupakan destinasi impian yang umum, maka kebetulan yang jadi peserta tur hari itu mayoritas manula yang ikut cruise dari Amerika. Yang menarik dari mereka ini ada sepasang traveler yang sudah berumur 70 tahun lebih yang sudah berkeliling ke lebih dari 100 negara dan fisik mereka masih terlihat segar dan kuat. Lucunya mereka belum pernah menginjak Indonesia, mungkin sedikit terintimidasi dengan berita-berita terorisme, entahlah, namun setelah kita cerita sebagian keindahan Indonesia, mereka tertarik untuk datang apabila ada kesempatan nanti.

3.jpg  7.jpg

Sekitar 1 jam lebih, kita jalan menuju utara dan mampir sebentar di salah satu kafe kecil untuk sarapan singkat, sebelum lanjut menuju Baga. Pemandangan yang indah terbentang di sepanjang perjalanan, terlihat bukit dan lembah yang hijau, ada danau kecil, berbagai macam variasi tanaman dan juga banyak bangunan rumah yang bagus. Desa Baga ini kecil dan sangat sepi, penduduk lokal-nya sedikit, dan kita hanya butuh waktu 15 menit untuk mengitari Baga. Ada satu gereja tua yang sudah lama berdiri dan rupanya ini adalah salah satu attraction kota Baga, selain alun-alun yang dikelilingi oleh beberapa kafe kecil. Seperti kebanyakan tempat di Eropa, bangunan gereja memang sering menjadi objek wisata oleh mayoritas turis karena biasanya masing-masing memiliki eksterior dan interior yang unik dan sering kali berbeda antara satu dan lainnya. Di samping itu, sebagian juga memiliki cerita-cerita sejarah yang menarik.

2.jpg11.jpg

Dari Baga, kita meninggalkan Spanyol dan melintasi perbatasan menuju Mont Louis, Perancis. Sekitar pukul 10 pagi waktu setempat kita tiba dan mampir lagi ke satu restoran kecil untuk menikmati croissant khas Perancis. Mont Louis ini bisa dikatakan area administratif kecil, atau dalam istilah pemerintahan Perancis, disebut juga 'commune'. Desa ini dikelilingi oleh dinding tinggi sehingga terlihat seperti benteng kecil dan view di luar gerbang sangat bagus. Kalau Anda sempat mampir kesini, Anda bisa menikmati view yang lebih bagus dari atas bukit yang bisa diakses dari dalam. Jumlah penduduk tidak banyak berbeda dengan Baga dan banyak turis seperti kita hanya mampir sebentar saja.

13.jpg  17.jpg

21.jpg  23.jpg

Tujuan berikut dan terakhir adalah Andorra. Negara ini bukan bagian dari Schengen namun untuk masuk tidak diwajibkan Visa, tapi perlu diingat ketika Anda keluar dari Schengen dan akan kembali lagi, pastikan Anda punya akses 'multiple entry'. Walaupun hampir tidak pernah ada yang diperiksa ketika kembali ke Spanyol (atau Perancis), tidak ada salahnya untuk dipersiapkan dari Indonesia.

Kebanyakan traveler datang ke Andorra untuk hiking dan main ski namun hal tersebut tidak memungkinkan kalau Anda hanya daytrip karena minimal harus nginap semalam agar bisa mulai dari subuh dan kembali pas sunset. Di tambah lagi pada waktu kita kesana, akses jalan menuju ke hiking area masih ditutup karena ada perbaikan jadi waktu hanya bisa dialokasikan untuk explore kota Andorra de la Vella.

26.jpg  34.jpg

Bank, grocery store, restoran, kafe, berbagai macam toko berjejer di jalan utama kota ini. Buat para traveler yang demen shopping biasanya cocok karena negara ini tax-free sehingga harga-harga minuman alkohol, parfum, baju, dan sebagainya kadang kalau dihitung bisa berbeda sampai 15-20% dibanding Spanyol atau Perancis. Banyak warga Spanyol juga sering mampir kesini juga untuk menghabiskan weekend karena relatif sepi sehingga suasana-nya terasa santai dan relaxing untuk keluarga.

30.jpg  31.jpg

Namun, seperti juga di Spanyol, kultur orang sini ngga banyak berbeda dengan Spanyol jadi kalau Anda tiba sekitar pukul 2 siang, sebagian toko malah tutup untuk 'siesta' atau istirahat siang dan mulai buka lagi sekitar jam 5 sore. Tapi tentunya mayoritas restoran dan kafe tetap buka, dan toko-toko yang besar yang paling sering didatangi turis pun buka. Icon kota ini bisa dibilang adalah jam pahatan Salvador Dali yang dinamakan 'The Nobility of Time'. Tidak sulit untuk menemukan jam ini karena ada di Piazza Rotonda. Dari tempat parkir utama bus, kita cukup jalan sekitar 10 menit. Karena tidak terlalu luas, Anda cukup menghabiskan waktu 3 jam untuk berkeliling Andorra de la Vella.

Dari kota ini, kita akan jalan kembali ke Barcelona namun sebelumnya, kita naik dulu ke salah satu puncak bukit dimana ada satu gereja tua Sant Miquel Engolasters berdiri, dan yang paling menarik dari spot ini adalah view kota Andorra de la Vella yang jelas terhimpit antara dua gunung tinggi. Panorama dari sini sangat indah dan menjadi klimaks dari kunjungan kita ke negara kecil ini.

27.jpg  33.jpg

Dari pengalaman kita mengunjungi Andorra, kalau Anda tidak ada rencana hiking, bisa disimpulkan akan lebih baik mengambil daytour ketimbang pergi sendiri dengan bus karena Anda akan dibawa mampir ke Baga dan Mont Louis namun kalau dari awal Anda ingin untuk mengunjungi ski resort atau naik gunung, tentunya lebih baik menginap semalam atau dua malam disana.

Day 7 - Park Guell dan Sagrada Familia (Senin, 11 Mei 2015)

Hari ini agenda kita agak santai karena tujuan kita hanya dua landmark saja yaitu Park Guell dan Sagrada Familia karena sore hari sekitar jam 5 kita sudah harus menuju airport untuk terbang ke Marakkesh, Maroko. Dua tempat ini berdekatan dan dapat dijangkau dengan taxi kurang lebih 15 menit saja dan termasuk dua lokasi favorit para turis karena selain dianggap sebagai bagian dari icon kota Barcelona, juga masuk ke dalam UNESCO World Heritage Site.

1.jpg  2.jpg

Park Guell terletak di Carmel Hill sehingga untuk mencapai tempat ini akan lebih baik menggunakan bus karena halte-nya sangat dekat dengan pintu masuk ketimbang harus naik subway dan 'mendaki bukit' yang menghabiskan stamina. Yang menarik dari Park Guell ini adalah kita bisa menyaksikan keunikan karya Antoni Gaudi yang menggabungkan kreativitas seni dia dengan alam dan lokasi di perbukitan ini juga menyuguhkan pemandangan indah kota Barcelona dari ketinggian.

3.jpg  5.jpg

Untuk masuk ke dalam taman ini, dikenakan biaya kurang lebih €7 dan tiket sebaiknya dibeli online untuk menghindari antrian panjang di pintu masuk. Umumnya, kita cukup menghabiskan waktu 1.5 jam untuk mengelilingi seluruh kompleks ini, termasuk melihat ke dalam dua bangunan utama yang terletak di pintu masuk utama namun ada juga warga lokal yang memanfaatkan taman ini sebagai lokasi piknik keluarga dan bersantai sambil menikmati view kota.

Lokasi berikut yang kita tuju adalah Sagrada Familia dan kita menggunakan taxi agar lebih nyaman dan cepat. Biaya kurang lebih €10-€13 tergantung traffic dan kalau Anda pergi berdua atau lebih, ada baiknya menggunakan taxi untuk hemat waktu dan tenaga karena nanti akan banyak jalan sekitar Sagrada dan juga untuk turun tangga dari menara.

6.jpg  8.jpg

Seperti layaknya kebanyakan landmark di Spanyol, tentu untuk masuk ke Sagrada Familia harus memiliki tiket dan sangat disarankan untuk beli online dari 2-3 minggu sebelumnya karena kalau mau antri hari H, terkadang Anda bisa menunggu sampai 2 atau 3 jam, bahkan lebih kalau lagi peak season. Sebelum masuk ke Sagrada, kita berjalan ke taman yang ada di seberang gereja untuk bersantai dan berfoto, kemudian mampir ke salah satu resto untuk lunch dulu.

9.jpg  10.jpg

Sekitar jam 2 siang, kita bergegas menuju Sagrada dan antri sebentar (sekitar 15 menit) untuk pemegang tiket online, dan tiba di dalam, kita langsung takjub melihat megahnya disain Gaudi ini. Interior gereja ini dipenuhi dengan jendela tinggi sehingga dikelilingi oleh banyak sinar matahari yang membentuk warna pelangi. Lokasi cukup padat dengan turis, baik yang berdoa maupun sekedar berfoto.

11.jpg  13.jpg

Di Sagrada, ada dua menara tinggi yang dinamakan Passion dan Nativity dan untuk pemegang tiket, Anda diperbolehkan untuk memilih salah satu menara. Di forum, banyak diskusi mengenai tower mana yang lebih baik, namun prinsipnya dua tower ini menawarkan view yang mirip dan dari kedua puncak menara, pengunjung bisa melihat interior dan exterior yang sama, tapi ada juga yang mengatakan lebih baik Passion saja karena sedikit lebih tinggi sehingga view lebih baik dari atas. Kita sendiri memilih Nativity karena kebetulan antrian lift juga tidak terlalu panjang dan kita puas, jadi saran saya, pilih saja antrian yang lebih sepi karena waktu cukup berharga.

Sagrada Familia ini adalah landmark terakhir yang kita kunjungi di Barcelona dan sore itu kita segera kembali ke hotel untuk melakukan packing terakhir dan taxi sudah siap untuk membawa kita ke bandara untuk meninggalkan Spanyol menuju Maroko.

Day 8 - Marrakech (Selasa, 12 Mei 2015)

Kita mendarat di bandara Menara sekitar pukul 8 malam waktu setempat. Suasana di dalam bandara sudah agak lengang dan hampir semua turis mulai memadati money changer untuk menukarkan uang mereka ke dirham. Sangat disarankan untuk membawa EUR atau USD dan ditukar langsung di Maroko karena selisih akan cukup besar kalau Anda membeli dirham di negara lain.

M1.jpg  M2.jpg

Kota Marrakech ini adalah salah satu pusat pariwisata Maroko, sempat tercantum sebagai destinasi terbaik TripAdvisor tahun 2015 dan mengundang banyak sekali turis Eropa dan Amerika untuk menikmati perbedaan kebudayaan dan kuliner yang ekstrim, namun untuk kita orang Indonesia yang merupakan negara mayoritas beragama Islam, pasti akan merasakan suasana yang sangat familiar dengan Marrakech.

Perkembangan kota dan negara ini tergolong lambat, ini disebabkan karena ekonomi mereka tidak mampu bertumbuh pesat seperti Indonesia yang ditunjang dengan derasnya investasi asing dan berbagai macam komoditi perdagangan yang melimpah ruah. Terhimpit oleh luasnya gurun pasir membuat mereka juga tidak leluasa mengembangkan agrikultur sehingga turis merupakan sumber devisa utama.

Secara umum, Marakkesh dikelilingi tembok yang membentengi kota tua (yang juga sering disebut Medina) dan berbatasan dengan lingkungan baru yang kebanyakan dipadati oleh imigran dan investor Perancis (biasa disebut Gueliz). Di dalam Medina, bertebaran hotel-hotel khas Maroko yang dinamakan 'riad' dan sangat disarankan untuk menginap di 'riad' untuk menikmati suguhan interior otentik dan juga mendapatkan berbagai macam informasi penting dari owner maupun helper-nya.

M3.jpg  M4.jpg

Mayoritas turis yang tidak mempunyai informasi banyak mengenai kota ini biasanya akan kaget ketika pertama kali menginjakkan kaki disini karena selain kesan kumuh terhampar di berbagai sudut kota, mayoritas orang lokal berasa terlalu 'friendly' ketika menghampiri turis baik menawarkan dagangan ataupun layanan mereka. Traveler wanita sebaiknya tidak jalan sendiri untuk menghindari hal yang tidak diinginkan jadi paling baik berdua atau bertiga dan memilih jalan yang ramai, atau ditemani guide lokal yang terpercaya.

Malam itu, kita langsung beristirahat di riad karena besoknya jam 9 pagi, kita sudah janji untuk bertemu dengan Youssef yang bisa dikontak melalui Tripadvisor (Marrakech Tour Guide - Private Tours).

Day 9 - Marrakech (Selasa, 12 Mei 2015)

Setelah sarapan pagi, kita memulai hari dengan bertemu dengan Youssef yang sudah menunggu di ruang tamu riad kita. Sangat disarankan untuk memanfaatkan jasa tour guide lokal ketika Anda pertama kali datang ke Medina karena ada tiga faktor penting yaitu kita bisa mengetahui dan mengenal lebih dalam sejarah dan budaya dari orang lokal serta lingkungan sekitar; kita tidak akan tersesat dalam labirin Medina dan menghemat waktu untuk tahu tempat-tempat penting maupun yang rawan; kita bisa bertanya mengenai tempat makanan favorit orang lokal, kudapan ringan, juga meminta dia untuk membantu menawar barang/souvenir.

M5.jpgM6.jpg

Youssef mengajak kita untuk mencari taksi dan menuju ke Jardin Majorelle. Lokasi taman ini ada di Gueliz sehingga agak jauh dari Medina. Taman yang dimiliki oleh mendiang designer Yves Saint Laurent ini menyimpan berbagai macam koleksi kaktus dan tanaman, tersebar mengelilingi kolam kecil dan bangunan museum suku Berber dengan warna biru cerah. Lokasi ini termasuk salah satu favorit turis dan banyak spot menarik untuk berfoto.

Setelah puas di sana, kita kembali ke Medina dan mulai berjalan menuju Bahia Palace. Bulan Mei sebenarnya sudah terlalu panas untuk berjalan karena menjelang jam 12 siang, suhu bisa mencapai 42 derajat dan menurut Youssef, waktu terbaik adalah awal Maret ketika suhu berkisar antara 20-25 derajat. Tiba di Bahia, Youssef membawa kita mengunjungi ruangan demi ruangan sambil bercerita mengenai sejarah dari istana ini.

M7.jpg  M8.jpg

Tujuan berikut adalah melewati Koutobia Mosque dan mampir di Saadian Tombs. Mausoleum ini merupakan tempat peristirahatan keluarga dinasti Saadi yang hidup di abad ke-16 dan kita diperbolehkan untuk mengambil foto di sini. Karena tempat ini tidak terlalu luas, maka biasanya 15-20 menit sudah cukup dan kita mampir ke salah satu restoran untuk makan siang.

Setelah makan siang, Youssef membawa kita menelusuri labirin Medina dari satu gang ke gang yang lain, dari satu souk ke souk yang lain. Dia mengatakan bahwa semua turis tanpa GPS yang datang ke sini sudah pasti akan tersesat dan banyak yang menghabiskan waktu ber-jam jam untuk bisa balik ke hotel mereka namun untuk mereka yang cuek, pengalaman tersesat ini memang yang di cari.

M9.jpg  M10.jpg

Kita mending cari aman karena berabe kalau tersesat dan kecopetan sementara masih ada rencana ke Sevilla 4 hari dan kembali lagi ke Madrid. Youssef tinggal tidak terlalu jauh dari Medina dan hampir semua pedagang kenal dia. Ini keuntungan jalan bareng dia karena selain tidak akan ditipu dan diganggu, biasanya buat yang senang belanja barang macam-macam mulai dari souvenir, baju, sepatu Maroko, lampu, dan sebagainya bisa dapat harga terbaik. Kita diajak berputar mengunjungi tempat-tempat esensial di Medina termasuk pengolahan besi dan dapur pembuatan kue sebelum akhirnya kita diantar lagi ke riad untuk beristirahat.

M11.jpg  M13.jpg

Persis jam 19.30, kita ditunjukkan jalan terdekat menuju Djemma El-Fna. Ini adalah alun-alun utama Medina, tempat yang paling tersohor di Marrakech dimana berbagai macam pedagang berkumpul, tukang makanan dan jajanan, pawang ular, pertunjukan topeng monyet, dan sebagainya. Bukan menjadi hal yang asing buat kita warga Indo yang sering melihat pasar malam, namun buat para bule, melihat 'organized chaos' seperti ini tentu menjadi atraksi yang tidak lazim.

Untuk mendapatkan view yang maksimal, ada baiknya naik ke salah satu restoran terdekat dan pesan saja satu atau dua minuman ringan yang penting bisa nongkrong di salah satu meja, karena biasanya makanan di tempat 'touristic' seperti ini tidak enak dan mahal. Setelah puas mengambil foto, coba makan di salah satu stall yang ada di bawah. Jangan mengharapkan makanan senikmat di Indo namun perlu dicoba untuk sekedar pengalaman.

M12.jpg

Karena masih belum terlalu familiar sama jalan dan lingkungan sekitar, kita memutuskan untuk kembali ke hotel sekitar jam 9 malam karena jalanan masih relatif ramai sehingga tidak terlalurawan kalau tersesat. Walaupun menurut Youssef, tingkat kriminalitas di Marrakech sangat rendah, tetap lebih baik untuk menjaga kemungkinan terburuk dan hindari hal-hal yang bisa mengundang bahaya.

Day 10 - Marrakech - Ouarzazate (Rabu, 13 Mei 2015)

Pagi itu sekitar jam 07.00 kita sudah siap untuk berangkat karena perjalanan menuju Ouarzazate cukup jauh, sekitar 4 jam dari Marakkesh. Kita sudah booking daytrip service ke Ait-Ben-Haddou dari Indonesia melalui Youssef juga dan memang landmark tersebut merupakan salah satu highlight Maroko, selain sand dunes yang tersohor itu di dekat Merzouga. Supir-nya yang bernama Ali sudah tiba di riad dan satu hal yang mengecewakan yaitu Ali tidak bisa berbahasa Inggris dan hanya fasih bahasa Perancis dan Arab saja.

Jadwal memang sudah ada di tangan dia tapi sayangnya kita tidak bisa ngobrol banyak untuk tanya hal-hal menarik yang kita lihat sepanjang perjalanan, namun karena tidak ada opsi lain, ya sudah kita tetap nekad saja jalan. Ali sendiri orangnya ramah dan terlihat friendly, terbukti dari antusiasme-nya untuk terus mengajak ngobrol dengan bahasa Perancis di selingi dengan 1-2 kata Inggris, namun apa daya, kita cuma bisa ketawa karena ngga ngerti.

Jalanan menuju luar kota relatif sepi, mungkin karena hari kerja, dan di kiri kanan terlihat agak lengang dengan beberapa rumah ber-cat merah khas bangunan Marrakesh. Dua jam pertama, kita berhenti di salah satu spot dengan view landscape padang rumput berlatar belakang gunung yang bagus. Setelah itu, ada satu spot dengan pemandangan deretan rumah tradisional suku Berber yang di bangun di area perbukitan. Tidak lama kemudian, kita sudah memasuki 'Tizi Tichka Pass' - salah satu jalanan berkelok yang di anggap berbahaya karena tidak ada pembatas jalan dan biasanya di sarankan hanya untuk driver yang sangat berpengalaman.

M14.jpg  M15.jpg

Separuh jalan, kita berhenti di salah satu puncak bukit untuk menikmati view yang spektakuler. Memang tidak salah apa yang di katakan Patrick, pemilik Riad yang kita tempatin, bahwa landscape menuju Ait Ben Haddou memang salah satu yang terbaik di Maroko dan jangan sampai di lewatkan apabila berkunjung ke Marrakesh. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan hampir 4 jam, kita tiba di kota Ouarzazate. Ada dua lokasi menarik di kota ini, yang pertama yaitu Atlas Film Studio - lokasi syuting yang sering dipakai sutradara Hollywood untuk film-film seperti Kingdom of Heaven, Alexander The Great, Lawrence of Arabia, dan sebagainya.

M16.jpg  M17.jpg

Yang kedua adalah Taourirt Kasbah, semacam istana tua dengan arsitektur klasik suku Berber. Di tempat ini, sering sekali Anda ditawari jasa guide oleh orang lokal, yang mengesalkan kadang mereka sangat persisten walaupun sudah ditolak, namun apabila kita ingin tahu detail mengenai apa yang terjadi di setiap sudut ruangan ini, guide tersebut sangat membantu. Selain interior yang bagus, view ke luar yang bisa terlihat dari jendela-jendela kecil juga menawan.

M18.jpg  M19.jpg

Selesai makan siang di restoran yang ada di dekat kasbah, kita pun lanjut menuju Ait Ben Haddou. Landmark ini pun sering di jadikan lokasi syuting film karena bentuk-nya seperti benteng kuno dengan exterior unik dan juga termasuk dalam daftar UNESCO World Heritage Site. Untuk menuju ke situs ini, dari parkiran yang berada di atas bukit, kita harus turun menuju ke bawah melalui anak tangga dan menyeberang sungai dangkal untuk sampai di kasbah. Karena suasana yang sangat terik dan juga kita sudah melihat bagian dalam kasbah Taourirt, kita memutuskan untuk tidak mengeksplorasi Ait Ben Haddou namun hanya berfoto dan menghabiskan waktu di sekitar lokasi saja.

M20.jpg  M21.jpg

Setelah puas berfoto, kita pun kembali ke parkiran untuk pulang ke Marrakesh. Biasanya, untuk yang punya waktu 2-3 hari ekstra, dari sini bisa lanjut menuju Merzouga dengan waktu tempuh sekitar 5-6 jam dan menginap di sana untuk menikmati pemandangan sand dunes, namun karena kita harus berangkat menuju Sevilla besok hari, maka kita harus melewatkan kesempatan ini. Perjalanan pulang melewati 'Tizi Tichka Pass' menyuguhkan kita pemandangan bagus dari sisi yang berbeda dan pastikan jangan terlelap karena banyak spot menarik untuk diabadikan dengan kamera.

M22.jpg  M23.jpg

Kita tiba di Marrakesh sekitar jam 8 malam, walaupun langit masih terang namun kita terlalu lelah untuk berkeliling Medina lagi jadi kita putuskan untuk istirahat di riad saja sambil packing santai agar besok pagi masih sempat jalan sebentar sebelum ke airport.

Day 11 - Marrakech / Sevilla (Kamis, 14 Mei 2015)

Setelah istirahat cukup, pagi hari sekitar pukul 8 kita sarapan dan kemudian menyempatkan diri untuk berkeliling sebentar di Medina karena masih ada waktu sekitar 3 jam sebelum kita ke airport. Saking ngebet dan 'nafsu' terhadap turis, terkadang untuk sebagian orang, Marrakesh menjadi berasa 'tidak aman' karena di sepanjang jalan, para pedagang maupun yang menawarkan jasa sering kali sangat agresif. Kita sempat ditawarin oleh salah satu pemandu wisata untuk mengantarkan kita ke tannery (atau tempat pengolahan kulit binatang untuk menjadi kulit yang bisa digunakan untuk industri) yang memang menjadi salah satu spot turis namun karena orang lokal tersebut terlihat sangat antusias untuk mengantarkan kita, kita malah memutuskan untuk batal karena selain kita khawatir di bawa ke tempat yang terlalu asing sehingga kita sulit untuk balik ke riad, kita juga khawatir kalau nanti dikerubutin oleh mereka dan dimintain uang (atau lebih apes lagi, dirampok). Di forum Tripadvisor, banyak yang ternyata mengeluh karena jadi korban 'tannery scam', jadi usahakan selalu waspada dan jangan lengah.

Setelah membeli beberapa souvenir, kita mampir ke restoran Fatima Berbere yang direkomendasi Patrick untuk makan siang. Ternyata restoran ini juga mendapatkan rating yang cukup tinggi di Tripadvisor. Soal rasa, termasuk enak apabila dibandingkan dengan beberapa restoran yang pernah kita coba di Marrakesh, namun tentunya kalah dengan makanan Indonesia. Yang jadi masalah, owner-nya kesulitan berbahasa Inggris jadi kita tidak bisa bertanya banyak ke dia soal makanan dan lainnya. Setelah makan dan balik ke riad, kita pamit ke Patrick yang sudah menjadi friendly host dan segera ke airport untuk terbang menuju Sevilla.

S1.jpg  S3.jpg

Perjalanan menuju Sevilla hanya memakan waktu sekitar 1.5 jam saja dan kita tiba di ibukota area Andalusia tersebut sekitar pukul 2 siang. Taxi mengantarkan kita ke hotel Monte Carmelo dan setelah check-in dan istirahat sebentar, kita bersiap untuk jalan santai menuju tujuan pertama, Plaza de Espana. Lokasi hotel ini tergolong strategis karena cukup dekat dengan subway dan berada tidak jauh dari sungai Guadalquivir sehingga hanya butuh sekitar 15-20 menit untuk berjalan menuju Plaza Espana.

Cuaca di pertengahan Mei sudah bisa dibilang panas jadi kalau Anda berjalan kaki sekitar pukul 4 sore, suhu bisa mencapai 30-32 derajat dan walaupun udara kering, sinar matahari yang terik bisa cepat menguras tenaga. Lokasi Plaza Espana ini bersebelahan dengan taman Maria Luisa sehingga cocok banget untuk berjalan santai maupun jogging ringan. Banyak spot foto yang bagus di Plaza Espana dan menurut kita, termasuk salah satu plaza yang sangat bagus dengan berbagai ukiran indah.

S2.jpg 

S4.jpg  S5.jpg

Sore itu kita menghabiskan waktu di sekitar plaza dan taman dan kemudian berjalan santai balik menuju hotel menyusuri jalan di pinggir sungai. View menjelang sunset di sekitar jembatan sangat indah dan di sepanjang jalan kita ketemu banyak orang yang sekedar olahraga sore maupun menikmati pemandangan sambil mengobrol, street artist yang nongkrong sambil melukis foto wajah, maupun keluarga yang lagi asik menikmati coffee break di kafe.
Kota Sevilla ini memang sangat friendly untuk pejalan kaki dan dengan tata kota yang rapi dan tergolong bersih, kota ini wajib dikunjungi kalau Anda mempunyai kesempatan untuk berwisata ke Spanyol selatan.

Day 12 - Sevilla (Jumat, 15 Mei 2015)

Kita mengawali hari kedua di Sevilla dengan mengunjungi salah satu landmark terbaik kota ini yaitu Royal Alcazar of Seville. Konon banyak yang mengakui bahwa istana ini adalah salah satu yang terbaik di Spanyol dan juga masuk ke dalam daftar UNESCO World Heritage Site. Awalnya dibangun oleh raja Moor (dari Maroko) ketika mereka melakukan invasi ke Spanyol dan berhasil, dan kemudian dipugar oleh bangsa Spanyol ketika mereka berhasil mengusir bangsa Moor. Istana ini sangat bernuansa Arabic namun juga kental dengan influence Eropa sehingga menjadikan Alcazar sebagai satu kompleks bangunan yang unik. Selain film 'Kingdom of Heaven' yang mengambil salah satu pelataran sebagai lokasi syuting, beberapa episode 'Game of Thrones' juga pernah menjadikan Alcazar sebagai setting film tersebut.

S6.jpg  S7.jpg

Dari Alcazar, kita berjalan sekitar 15 menit menuju lokasi berikutnya yaitu Catedral de Sevilla (Sevilla Cathedral) yang juga merupakan landmark UNESCO. Bangunan gereja di Eropa termasuk bagus dan layak untuk didatangi karena eksterior maupun interior-nya sangat mengagumkan. Detail pengerjaannya patut diacungi jempol dan umumnya kita bisa naik ke salah satu menara untuk menikmati pemandangan kota dari ketinggian.

S8.jpg  S9.jpg

Setelah puas memotret kota Sevilla dari puncak menara Giralda, kita turun dan mampir ke salah satu restoran di sekitar Barrio Santa Cruz untuk makan siang dan kemudian melanjutkan eksplorasi area kota tua Sevilla. Ada satu landmark unik yaitu Metropol Parasol yang juga dikenal dengan nama Las Setas de la Encarnacion. Bangunan ini berbentuk seperti jamur dan Anda bisa naik ke atas untuk menikmati pemandangan kota Sevilla.

S10.jpg 

S11.jpg  S12.jpg

Di sekitar lokasi ini juga ada satu jalan panjang yang dipenuhi dengan kafe, restoran, maupun toko, jadi buat yang seneng nongkrong ataupun shopping, cocok juga untuk melepas penat dengan bersantai di sini, sekedar ngopi, ngebir, ataupun menikmati nyanyian artis jalanan. Setiap sudut lorong di sekitar area ini sangat menarik untuk dijelajahi karena banyak toko kecil yang menawarkan souvenir unik, makanan ringan yang membuat kita penasaran untuk mencoba, maupun bangunan-bangunan kuno khas Eropa yang bagus untuk dijadikan latar belakang foto.

S13.jpg

Karena waktu masih menunjukkan pukul 6 sore, kita memutuskan untuk berjalan santai sekitar 30 menit menuju hotel sambil mampir di salah satu restoran fast food untuk makan malam. Di peta terlihat tidak jauh, namun karena kita sudah kehabisan tenaga dari pagi hari, perjalanan balik terasa sangat melelahkan. Setelah tiba di hotel dan selesai mandi, tidak lama pun kita langsung terlelap.

Day 13 - Jerez de la Frontera (Sabtu, 16 Mei 2015)

Awalnya pada waktu kita menyusun itinerary di Spanyol, kita tidak tahu mengenai adanya 'Horse Fair' yang setiap tahun diadakan di kota Jerez sampai saya membaca di forum Tripadvisor kalau ada traveller yang setiap tahun pasti menyempatkan waktu untuk menghadiri acara ini. Kebetulan tanggal-nya cocok jadi kita memutuskan untuk tidak melewatkan acara ini dan sekalian penasaran juga ingin melihat seberapa meriah sampai ada yang setiap tahun selalu balik.

S14.jpg  S16.jpg  S17.jpg

Festival ini dikenal juga dengan nama 'Feria de Caballo' dan ternyata menjadi satu festival penting untuk rakyat Spanyol dan biasanya diadakan setiap pertengahan bulan Mei dan berpusat di kota Jerez yang terletak sekitar 90km dari Sevilla. Selama seminggu penuh, rakyat akan berpesta di festival ini dan umumnya hampir seluruh pusat perbelanjaan dan kantor akan tutup, kecuali untuk beberapa minimarket yang biasanya masih buka di siang hari. Umumnya, pengunjung lokal akan mengenakan pakaian tradisional Spanyol dan yang paling terkenal adalah pakaian wanita yang disebut Flamenco dress. Banyak kereta kuda yang dihias dan mereka akan berkeliling mengitari area festival. Nuansa-nya terasa seperti berada di awal abad ke-19 dan di setiap restoran yang juga penuh dengan dekorasi, masyarakat lokal akan bernyanyi dan menari sambil menenggak berbagai macam cocktail.

S15.jpg  S18.jpg

Sangat mudah apabila Anda ingin mengunjungi Jerez, cukup membeli tiket kereta secara online (sangat disarankan untuk mencegah kehabisan tiket) dan datang saja ke stasiun terdekat di Sevilla sesuai dengan yang tertera di tiket dan perjalanan hanya memakan waktu sekitar 1 jam. Dari stasiun Jerez, Anda bisa berjalan santai menuju lokasi festival sekitar 20-30 menit, namun jangan heran kalau suasana jalan sangat lengang dan banyak toko tutup karena biasanya warga sudah memadati festival dari pagi, bahkan ada yang tidak pulang dari malamnya.

Bagi yang membawa anak kecil, di seberang lokasi ada theme park dadakan buat anak-anak. Cocok apabila anak-anak sudah bosan dengan parade kuda dan kostum dan ada juga beberapa kafe untuk melepas penat dengan beristirahat dan menghilangkan rasa haus dengan minuman dingin dan segar. Kota Jerez sendiri relatif kecil dan mungkin dalam 1 hari sudah cukup untuk dijelajahi namun buat yang penasaran ingin melihat bagaimana 'Feria de Caballo' di malam hari yang rasanya akan lebih meriah dengan variasi lampu yang berwarna-warni, boleh dipertimbangkan untuk menginap satu malam di sini.

Kita sendiri merasa sudah puas menghabiskan waktu sekitar 4 jam di sana dan sore hari kita balik lagi ke Sevilla dengan menggunakan kereta terakhir. Apabila Anda kebetulan datang ke Sevilla pada waktu tidak ada festival ini, akan lebih baik tidak ke Jerez namun memilih tujuan daytrip lain seperti Cordoba, Malaga, ataupun Granada karena tidak ada yang menarik dari kota Jerez sehingga magnet utama-nya memang 'Horse Fair' saja.

Day 14 - Sevilla (Minggu, 17 Mei 2015)

Jadwal kita di hari terakhir di Sevilla sebetulnya agak longgar makanya kemarin sempat terpikir untuk mengambil satu daytrip dadakan tapi kita khawatir kecapean jadi kita putuskan untuk melihat beberapa tempat yang belum sempat didatangi, terutama di bagian utara kota. Tujuan pertama kita menuju ke kawasan Triana. Lokasi ini tidak begitu jauh dari Alcazar dan merupakan tempat kelahiran tarian Flamenco khas Spanyol. Tadinya kita berpikir mau mencari satu kafe kecil untuk sekedar lunch sambil menonton Flamenco tapi ternyata hari Minggu adalah hari istirahat untuk Spanyol (dan juga Portugal) jadi banyak kafe yang meniadakan pertunjukan.

S19.jpg  S20.jpg

Sayang juga tapi memang nonton Flamenco bukan prioritas kita, jadi kita cukup mengeksplorasi area sekitar sana dan mampir ke salah satu pasar bersih untuk sekedar melihat kegiatan orang lokal di hari Minggu. Pasar saja termasuk sepi dan ada beberapa restoran kecil yang masih buka namun lebih banyak counter yang tutup. Di dekat pasar tersebut, ada satu toko unik yang menjual pernak pernik dan souvenir berbau Flamenco. Harga cukup tinggi namun kualitas produk memang terlihat sangat bagus.

Menjelang makan siang, kita memutuskan untuk menuju ke Nervion Plaza. Alasannya karena kita pikir karena mall, pasti banyak toko dan restoran yang buka, di samping itu, lokasinya juga persis di depan Ramon Sanchez-Pizjuan Stadium, kandang klub sepakbola kebanggan kota Sevilla. Tiba disana, kita cukup kaget, ternyata mall saja toko semuanya pada tutup dan restoran pun hanya sebagian yang buka. Jadi memang berbekal pengalaman ini, ada baiknya jadwal hari Minggu diatur untuk daytrip ke luar kota atau nonton bola.

Setelah makan siang, kita pun bengong karena kebingungan mau kemana lagi soalnya landmark kota banyak yang sudah didatangi. Setelah mengecek tripadvisor dan Google, akhirnya pilihan jatuh ke Basilica de la Macarena. Ini adalah salah satu gereja kecil yang juga cukup tersohor di sana, dan kita juga penasaran untuk melihat area neighbourhood sekitar Macarena ini. Tiba di sana, ternyata gereja baru akan dibuka untuk umum pada pukul 5 sore, jadi kita nongkrong dulu di salah satu kafe kecil untuk menikmati teh dan dessert.

S21.jpg

Interior dari Basilica ini memang termasuk cantik namun area sekeliling gereja ini termasuk 'gersang' jadi kalau waktu Anda terbatas di Sevilla, ada baiknya fokus di Cathedral saja. Sekitar pukul 7 malam, kita kembali ke hotel dan makan di salah satu restoran sekitar situ.

Day 15 - Madrid (Senin, 18 Mei 2015)

Berbekal tiket PP Jakarta - Madrid, kita pun harus kembali ke Madrid karena besok di pagi hari, kita sudah harus berangkat ke airport. Kita naik kereta cepat menuju stasiun Madrid dan perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam dengan tiket yang sudah kita pesan dari Jakarta. Pemandangan selama perjalanan tidak begitu bagus karena banyak area yang gersang jadi untuk yang tertarik mengambil opsi lebih murah, boleh dipikirkan kereta malam dengan waktu tempuh sekitar 6-8 jam.

Tiba di Madrid, kita pun kembali ke hotel Ibis yang merupakan hotel yang kita tempati di 3 hari pertama. Setelah check in, kita menuju ke area Salamanca. Ini adalah kawasan perbelanjaan elite di Madrid. Bertebaran banyak branded stores dan bisa dibilang merupakan surga yang hobi shopping. Selain brand-brand terkenal, di area ini juga banyak toko-toko lokal yang cukup menarik untuk di-browse. Area Salamanca ini berdampingan dengan Retiro Park dan di dekat sini juga ada Plaza de Colon, satu square yang cukup luas dengan fountain yang dibangun sebagai monumen penghormatan kepada Christopher Columbus.

Menjelang sore, kita memutuskan untuk mengunjungi Principe Pio, salah satu pusat perbelanjaan di Madrid untuk sekedar menghabiskan waktu dan mencari souvenir. Tidak banyak barang unik yang bisa Anda temukan disini namun dengan lokasinya yang tidak jauh dari Palacio Real de Madrid dan Anda bisa menemukan banyak restoran disini, mall kecil ini bisa menjadi alternatif untuk melepas lelah dan menikmati dinner.

Day 16 - Madrid / Jakarta (Selasa, 19 Mei 2015)

Setelah check out dari hotel, kita pun menuju ke airport untuk kembali ke Jakarta. Perjalanan 2 minggu ini buat kita sangat berkesan namun kita merasa akan lebih optimal lagi kalau kita bisa menghabiskan 2 hari terakhir di Lisbon, Portugal karena lokasi kota tersebut sebetulnya tidak terlalu jauh dari Sevilla namun sayang tiket yang kita beli adalah PP sehingga kita harus kembali ke Madrid. Selain itu, kita memang kesulitan untuk mengatur jadwal ke Portugal karena penerbangan dari Marrakesh ke Sevilla tidak setiap hari ada.

Di antara ketiga kota di Spanyol yang kita datangi, Barcelona adalah kota yang terbaik dengan pilihan daytrip yang menarik, juga memungkinkan untuk menjadi lokasi awal Cruise Tour. Sevilla juga wajib dikunjungi walaupun sebetulnya cukup 2 hari saja untuk menikmati kota tersebut dan selebihnya untuk daytrip. Madrid adalah kota bisnis jadi sangat cocok untuk yang doyan shopping, clubbing, nongkrong, layaknya Anda menikmati Jakarta, Hongkong, ataupun Sydney.

Dari Barcelona, usahakan mampir ke Andorra, karena selain menambah satu negara yang dikunjungi, tempat ini tidak jauh dari Barcelona dan banyak pemandangan yang indah selama perjalanan kesana. Akan lebih baik juga kalau bisa nginap satu malam dan hiking di pagi hari karena salah satu highlight utama Andorra adalah gunung.

Maroko relatif kuno dan terkesan agak kumuh terutama di kawasan Old City namun tentu menyimpan banyak cerita sejarah, budaya, dan lokasi yang cantik, terutama Sahara desert. Untuk pemegang paspor Indonesia bebas masuk tanpa visa. Jangan dilewatkan kalau Anda punya waktu 3-4 hari karena tidak jauh dari Spanyol dan biaya hidup serta penginapan di sana pun tidak mahal. Selain Marrakesh, Anda juga bisa mengunjungi Casablanca, Fes, Essaouira, dan tentunya Merzouga untuk mencoba pengalaman nginap di padang pasir.

* * *

 

 

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Jalan2

betul, kalo di Spanyol, bola itu udah seperti agama haha dan setiap weekend, nonton bola di TV maupun di stadion itu udah sangat lumrah. Pernah kita liat di 1 kafe kecil, lagi ada pertandingan bola, isinya 8 orang semuanya hening dan konsentrasi penuh ke TV haha

btw bro, mau tanya, kalo edit first post itu ngga ada limit maksimal length word-nya ya ? jadi sudah ngga perlu dipisah menjadi bbrp post ?

 

@deffa

di setiap stadion besar pasti ada tur-nya dan umumnya tanpa guide cuma di dalam itu sudah diarahkan step2nya, misal yg pertama liat pitch dari atas, kemudian masuk ke ruangan trophy, kemudian ada tempat foto, baru nanti masuk ke lapangan, terus nanti keluar di tempat souvenir, dst, jadi praktis dan terarah, biasanya durasi 1.5 jam, dan usahakan datang pas buka (sktr jam 10 pagi) karena turis masih sedikit. Kalo sudah after lunch, diserbu puluhan bus pasti ribet di dalem haha

iya bangunan2 Eropa itu bagusnya banyak yg klasik dari berapa ratus taon lalu ada tapi di pusat kota juga banyak bangunan modern

 

@kyosash

okay bro, nanti disambung biar komplit ya

@HarrisWang

thanks for reading bro

Share this post


Link to post
Share on other sites
10 hours ago, Nightrain said:

di setiap stadion besar pasti ada tur-nya dan umumnya tanpa guide cuma di dalam itu sudah diarahkan step2nya, misal yg pertama liat pitch dari atas, kemudian masuk ke ruangan trophy, kemudian ada tempat foto, baru nanti masuk ke lapangan, terus nanti keluar di tempat souvenir, dst, jadi praktis dan terarah, biasanya durasi 1.5 jam, dan usahakan datang pas buka (sktr jam 10 pagi) karena turis masih sedikit. Kalo sudah after lunch, diserbu puluhan bus pasti ribet di dalem haha

iya bangunan2 Eropa itu bagusnya banyak yg klasik dari berapa ratus taon lalu ada tapi di pusat kota juga banyak bangunan moder

ooo i see wah menarik sekali saya penyuka sepakbola jadi memang suatu saat mau coba berkunjung ke stadion :D

Share this post


Link to post
Share on other sites
Just now, Nightrain said:

@Jalan2

okay very good bro, jadi kalo mau disambung ceritanya ngga terpisah2 ya kalo misalnya lupa reserve post :D

@deffa

sama bro, semoga terkabul ya, dan mudah2an gw juga nanti bisa nonton sekali di Inggris, sekali di Italy, dan sekali di Jerman :D 

yuhu pengen ke etihad stadium Manchester City :D 

Share this post


Link to post
Share on other sites

yoi bro @deffa waktu itu juga sempet duduk di samping satu fans yg nonton bareng ponakan kecil-nya dan selama pertandingan sepertinya dia ngejelasin pemain2nya siapa aja, dan walopun bahasa Inggris terbata2, dia termasuk ramah ngobrol2 ama kita. Di pojok bawah ada satu petak tempat hardcore fans nabuh genderang udah kaya mo perang, sepanjang pertandingan semangat banget dan atmosfer dalam stadium memang jauh beda dibanding nonton di TV, mirip kaya kita nonton konser langsung, larut bareng suporter tim dan lawan

ini pelan2 lagi cari waktu utk nyambung ceritanya ya :D

Share this post


Link to post
Share on other sites
On 2/24/2016 at 2:30 AM, deffa said:

@Nightrain

iya saya liat foto terakhir nampak nya rapi dan tertib ya penonton disana

kalo nonton di stadio kayak gini enak terus dah :D

Bener banget.... kalo nonton bola di daratan Eropa memang semuanya cenderung lebih tertib.... cocok kalo buat bawa anak2 ama istri.

Tapi kalo di Inggris 180 derajat bedanya... kalo nonton di English Premier League ...... dijamin bising, rame, super aktif, dan adrenalin ON terus dari awal sampe akhir (soalnya agak takut mikirin kira2 nanti supporternya berkelahi ngga ya dengan supporter lawan :D )

@Nightrain

Ditunggu cerita Andorra ama Maroko nya ya !!!

Paling demen kalo liat cerita ama gambar2 kayak gini.

By the way kayaknya ada yg missing nih .... Basilica de la Sagrada Familia.... mudah2an ada di cerita Part 2 nya !!!

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Soul Seeker haha iya EPL top juga ya, mudah2an one day bisa kesampean nonton disana. Okay nanti dilanjut ya pas sempet, kita mampir juga pas Day 7 ke Park Guell dan Sagrada kok, dan cerita Spanyol blom selesai karena after Maroko, kita ke Sevilla 4 hari baru balik ke Madrid dan Jkt

Share this post


Link to post
Share on other sites
23 hours ago, twindry said:

@Nightrain asik yah jalan ke yurop. budgetnya berapa mas bro? :D 

soal budget sangat bergantung sama jenis penginapan, makanan, shopping budget, dan pemilihan metode transportasi, tapi pada umumnya budget orang akan berkisar antara 30-40jt / orang untuk travelling 2 mingguan sudah all-in termasuk shopping souvenir dikit.

Budget ini bisa di-squeeze down sampai 30% kalau memilih penginapan jenis hostel atau misal 1 apartemen sharing berempat dan pemilihan makanan semua yang maksimal 12 euro sekali makan, dan sesekali masak ataupun Indomie :D

Kalau shopping anggap nilai-nya 0, maka transportasi bisa dipertimbangkan untuk night train atau bus untuk pindah kota karena kereta cepat umumnya harga bisa 2-3x lebih mahal

Share this post


Link to post
Share on other sites
25 minutes ago, Nightrain said:

soal budget sangat bergantung sama jenis penginapan, makanan, shopping budget, dan pemilihan metode transportasi, tapi pada umumnya budget orang akan berkisar antara 30-40jt / orang untuk travelling 2 mingguan sudah all-in termasuk shopping souvenir dikit.

Budget ini bisa di-squeeze down sampai 30% kalau memilih penginapan jenis hostel atau misal 1 apartemen sharing berempat dan pemilihan makanan semua yang maksimal 12 euro sekali makan, dan sesekali masak ataupun Indomie :D

Kalau shopping anggap nilai-nya 0, maka transportasi bisa dipertimbangkan untuk night train atau bus untuk pindah kota karena kereta cepat umumnya harga bisa 2-3x lebih mahal

:ngeri 30-40jtan wakakak.. ngeri2 sedap nih :D 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now


  • Similar Content

    • By mariakuntarti
      Hari 1
      Perjalanan dimulai dari jakarta menuju KLIA (kuala lumpur ) naik Malindo air lalu pindah bandara dari KLIA ke KLIA2 untuk Naik Airasia menuju Changsha. Untuk pindah bandara dari KLIA - KLIA2 ada bus gratis yang bisa ditanyakan pada petugas bandara atau bisa juga naik kereta berbayar.
      Sampai di Changsha, karena terjadi delay sudah jam 12 malam lewat, lalu aku naik bus bandara  (Airport bus to Civil Aviation Hotel ) seharga CHY 15.5 / orang karena tujuan utamaku adalah stasiun kereta "Changsha Railway Station" . Dari pemberhentian airport bus Civil Aviation hotel menuju stasiun kereta cukup berjalan kaki saja.
      Rencana awal adalah aku akan menginap semalam di hotel sekitar stasiun tetapi karena pesawat delay dan ada kereta ke Zhangjiajie jam 04:30 pagi maka aku putuskan langsung ke stasiun untuk beli tiket kereta . Loket untuk beli tiket buka 24 jam, jadi setelah beli tiket aku istirahat di dalam ruang tunggu stasiun. Tiket yang aku dapatkan adalah tiket hardseat seharga CHY 83.5/ orang (untuk kelas tempat tidur sudah habis tiketnya)
      Note : siapkan pasport untuk beli tiket kereta, siapkan juga kertas dengan tulisan mandarin nama stasiun yang akan dituju untuk memudahkan pembelian tiket
      Dibawah ini adalah foto stasiun keretanya . Dari pemberhentian airport bus sudah kelihatan, jalan kaki juga dekat.
      satunya lagi adalah foto didalam stasiun kereta ..bagus dan megah.. tahun ini WC distasiun sudah tidak bau lho dan bersih


    • By Dantik
      Hari 1, 05 Mei 2018 : Athena
      Hari 2, 06 Mei 2018 : Roma Day 1
      Hari 3, 07 Mei 2018 : Venice
      Hari 4, 08 Mei 2018 : Roma Day 2
      Hari 5, 09 Mei 2018 : Roma Day 3
      Hari 6, 10 Mei 2018
      Setelah bermalam di Athena karena penerbangan kami ke Santorini transit di Athena beberapa jam, tibalah kami di Santorini. Perjalanan hanya sekitar 50 menit dari Athena ke Santorini.
      Setelah tiba di Santorini kami dijemput oleh staff penginapan kami, karena kami meminta extra layanan penjemputan. Kami menginap di Antonia Apartments, penginapan ini menyediakan layanan antar-jemput bandara dengan harga yang wajar yaitu 5 euro sekali jalan/orang. Mereka juga menawarkan paket one day tour dll.
      Antonia Apartments menurut kami penginapan yang recomended karena pelayanan yang memuaskan, bersih, nyaman dan yang terpenting adalah lokasi yang strategis. Dari sini tidaklah susah jika kita ingin mencari makan atau ke Terminal Bus Fira karena berada di tengah-tengah pusat Fira.

      Itinerary hari pertama kami di Santorini adalah berjalan kaki dari Fira ke Firostefani. Sebelumnya kami pergi ke Kamari Beach menggunakan bus umum dari Terminal Bus Fira. Rencana kami ingin menyewa kendaraan bermotor disini, sayang tidak bisa karena tidak mempunyai SIM Internasional maka tidak ada pilihan selain menggunakan Bus.

       
      1. Kamari Beach

      Kamari Beach adalah pantai dengan pasir hitam, dibalik tebing yang tinggi itu terdapat Perisa Beach yang juga berpasir hitam.
      Setelah dari Kamari Beach kami kembali lagi ke Terminal Bus Fira, kemudian kami mulai berjalan kaki menuju Firostefani.
      2. Hypapante Cathedral

      Walking tour di Santorini bisa menjadi pilihan yang bagus jika kalian tidak menyewa kendaraan bermotor, atau yang hanya ingin menikmati Santorini dengan berjalan di sepanjang kaldera sambil melihat pemandangan laut. Tetapi medannya yang menanjak & menurun cukup menguras tenaga, pastikan kita selalu membawa minum. Tempat pertama yang kami lewati adalah Hypapante Cathedral.
      3. Donkey trail & walkway entrance/exit

      Bagi yang ingin hiking bisa mencoba donkey trail & walkway entrance/exit yaitu 588 anak tangga dengan zig-zag trails.
      4. Catholic Church

      Catholic Church yang berada di tepat sebelah cable car.
      5. Firostefani

      Firostefani adalah salah satu gereja yang paling banyak difoto dari Santorini.
      Inilah itinerary kami hari pertama di Santorini. 
    • By Awen
      Menjejakkan kaki di kaki Pengunungan Himalaya (Annapurna Base Camp 4130)
      “NAMASTE” Nepal 13-26 Jun 2018 
      Ini bukanlah mimpi tapi kenyataan buat seorang yang bukan pendaki dan bukan trekker. Bulan Juni bukanlah waktu terbaik untuk trekking karena sudah masuk di musim hujan. karena kami adalah kuli dan untuk cuti panjang sangat susah akhirnya memutuskan di Libur Lebaran  yang pastinya harga tiket lebih mahal. Jauh hari sudah cari tiket semua di otakatik mana yang kasih promo dan termurah, sebenarnya paling murah naik Malindo tapi karena ingin terbang di waktu hari masih terang akhirnya memutuskan menggunakan AA dan sampai beli kursi dekat jendela demi keinginan melihat jajaran Himalaya dari langit apa daya ternyata yang ada kabut.
       Rencana awal Routenya : Phokara ke Hille by Jeep -  baru start trekking menuju ke Poon hill lanjut ke ABC. di tengah jalan kami memutuskan ke ABC saja dan sisa hari akan kami gunakan keliling  kota  Phokara dan Khatmandu.
      13 Jun : Jakarta - Kualalumpur
      14 Jun : Kualalumpur – Khatmandu
       tiba di airport langsung menuju mesin  VOA, sangat mudah dan ada juga petugas yang memandu, kalau mau tukar uang jangan di dalam bandara karena ada biaya potongan atau tukar sedikit saja nanti kekurangannnya bisa tukar di tamel. Selesai Imigrasi langsung keluar cari taxi  menuju NTB (Nepal Tourism Board) urus ACAP dan TIMS selesai semua dari NTB jalan kaki sampai Thamel itung-itung  latihan, dan ternyata kota ini berdebu bangat,  mencari tempat makan jadi rada susah. sampai di hostel check in langsung keluar cari Pole dan liat2 sekitar Thamel.
      15 Jun : Khatmandu ke Phokara,
      naik bus brangkatnya jam 7 pagi,  mangkalnya di Jl.Kantipath  Persis di depan Yellow Pagoda Hotel, busnya banyak tinggal milih mau naik yg mana, tiba Phokara sekitar pukul 15:00, dari terminal bus jaki lagi menuju Hotel Diplomat check in dan ngobrol-ngobrol dengan pemiliknya atas saran bapaknya  kami merobah Route yang awal nya ke Poonhill menjadi Ke ABC Dan kami memesan Jeep di Hotel sampai ke Kimche dan diingatknan pagi  jam 6:00  sudah harus siap.
      16 Jun : Pagi Jam 6:00 Jeep sudah nongol depan hotel
      Perjalanan di mulai dari jalan lurus, lama2 meliuk-liuk  Sopir Jeep nya  baik awalnya kita ke Kimche tapi disaranin sama Pak Sopirnya sampai ke  Ke pemberhentian terakhir Jeep itu di MOTKIU dekat new bridge. Berhenti dulu di Birethanti TIMS Check Post & ACAP Check Post, lapor diri sah di catat tanggal masuknya  dan benar benar serius menanganinya. Ajung jempol. lanjut lagi naik Jeep kurang lebih 1,5 jam an dengan jalanan yang cukup menantang, ngeri ngeri sedap kata orang Medan Sopir disini wajib ahli dan lihai,  melebihi supir medan :-) . Tiba di MOTKIU @ 10:00 disini jeep banyak mangkal yang menunggu trekker yg sudah turun dan menuju ke Phokara, auranya makin semangat  ranselnya mulai Di gendong saking semangatnya 10kg kagak berasa wkwkwkwk.  target hari ini sampai Chomrong  ternyata lewat sampai Sinuwa.  Tangga-tangga yang mematikan itu terlewati sudah di temani hujan.
       Trekking berawal dari sini:       Motkiu - New Bridge - Jhinu - Chomrong - Sinuwa -------> Nginap
      17 Jun : Sinuwa – Bamboo - Dovan - Himalaya --------> Nginap
      Tiba di Himalaya di sambut hujan deras juga, pesan makan bersih2,   Naik ketempat tidur ritual pakai alat2 anti dingin dan minyak, conterpain Hari masih sore udah    sembunyi di bawah selimut. Makin malam mulai terasa keanehan, Kami tidak bisa memejamkan mata, adanya jadi stress sendiri, jadinya ngobrol dan Mencoba mengingat perjalanan satu hari ini ternyata kami waktu makan siang di Bambo. Minum black tea 1 pot bisa jadi mungkin karena itu atau gejala AMS yg hinggap.      
      18 Jun : Himalaya - Deurali - MBC -------> Nginap
      Untuk mengurangi beban barang2  yg tidak diperlukan ke atas kami titipkan di penginapan,  Deurali setengah perjalanan saya mulai mengalami mual, mencoba mengatur nafas dan  Mengalihkan rasa sakitnya dengan menghitung langkah 1, 2 , 3,…. Sampai akhirnya   Lihat tulisan MBC dan disini saya mengeluarkan air mata, bahagia liat plang tapi mualnya mulai nga karuan, mau mencapai plang itu liat ke atas masih banyak tangganya, teman jalan ku dah di atas sambil teriak nyemangati,  mulai menapaki tangganya tanpa liat kiri dan kanan akhirnya nyampe, sesat rasa sakit hilang karena rasa bahagia campur aduk hahaha, Sebenarnya masih cukup waktu untuk lanjut ke ABC tapi dengan pertimbangan rasa mual dan nafsu makan yg sudah mulai ngaco dan cuaca mulai mendung kami putuskan nginap di MBC. Sore hari pas jam makan pada teriak liat ada Sunset semua kabur ke luar pada cari kamera dari sini keliatan bias sinarnya hanya di ujung saja dan di rekam di otak. Yang stay di ABC pasti melihat dan menikmati keindahannya secara sempurna.
      19 Jun : MBC - ABC - MBC -  Deurali - Himalaya -----> Nginap
       Jam 3 pagi sudah bangun sarapan Sop Garlic dan Ginger tea untuk stamina Atas saran dari quide nya opung doli dan opung boru dari Korea, dan menolong kami penunjuk jalan awal di pagi subuh menuju ABC kurang lebih 2 jam an Pagi yang dingin  rasanya jari ku dah beku lupa bawa sarung tangan mmm rasakanlah jariku menderita. Akhirnya Liat Papan “Namaste Annapurna Base Camp 4130” –  teriak bahagia kegirangan dan berhasillllllll, Beberapa jam jalan keliling dan menikmati area Annapurna Base Camp baru turun lagi  ke MBC dengan  mual  nga hilang, akhirnya mabok…..Tiba di MBC rapi2 dan makan siang terus melanjutkan perjalanan  Rencana target sampai Dovan tapi akhirnya nginap Himalaya. Disini kami ramai karena bareng turun dengan teman teman  sebangsa dan setanah air  Indonesia yang ktemu di atas sambil ngobrol dengan cerita seru dan kocak kami semua  nginap di Himalaya
      20 Jun : Himalaya - Dovan - Bamboo - Chomrong ----------> nginap
      Setiap pagi selalu semangat energi masih penuh turunnya pengen lari-lari, Beban berkurang karena kita sewa porter 1 hari sampai Chomrong jadi jalannya lebih cepat          
      21 Jun : Chomrong - Jhinu - New Bridge - Motkiu - Phokara.
      Horeee jeepnya dah kliatan kita salaman semua dah sampai di Motkiu hahaha, makan siang lanjut naik jeep dan Lapor diri bahwa kita sudah keluar. Perjalanan trekking usai dengan bahagia dan selamat. Selama di perjalanan. Banyak ktemu orang dari berbagai  negara yg naik dan turun walaupun musim hujan, yg semuanya setiap berpapasan selalu saling sapa "Namaste" dan menyemangati.
      * Jadi berapa  lama kah waktu di butuhkan ke ABC ?
         Tergantung kecepatam jalan, stamina, cuaca,
      * kami 6 hari naik dan turun, sebelum sore dah berhenti karena takut kabut dan hujan
      Persiapannnya:
       -  Asuransi sangat penting buat jaga2 halhal yg tidak diinginkan.
          Kemarin disana ada dari Indonesia kena AMS tingkat serius dijemput Heli di Deurali untungnya pake asuransi klo nga? Sipastikan mihillll
       -  Obat-obatan, P3K minyak telon, kayu putih, conterpain, sun protection
       - Jacket anti dingin, anti hujan, anti badai sampai ber layer
       - Sepatu trekking, kaos kaki, sarung tangan, kupluk, buff, masker, Pole, Senter
       - Baju gunakan yg ringan gampang kering, kalau nga mau belang2  dan kulit gosong pakailah lengan panjang
      - HP, camera, klo nga nampang ntar dibilang hoax hehehe
      - makanan ringan mengganjal perut menambah energi, permen,
         Biayanya :
      - VOA usd 25 untuk 15 hari
      - TIMS 2000 / ACAP dah naik Jadi 2300
      - Bus Khatmandu - Phokara 700 / Phokara - Khatmandu 600
      - Jeep 2000 Return
      - Biaya makan dan penginapan  semakin naik semakin mahal , Lewat chomrong semua berbayar air panas buat mandi, wifi, air minum,  Yg berhubungan dengan charger an      Tidak menjual air mineral yg sdh dikemas, jadi bawa lah botol minum   di atas bisa diisi 1 ltr sekitar 100-110, airnya sejuk dan nikmat. Biaya makan dan nginap  selama 6         hari : 15,030 untuk 2 orang  Klo nginap di ABC akan lebih mahal lagi dan disana tidak  diperkenankan  untuk charger Hp, Camera, powerbank dll
      - Biaya porter kemarin dari Himalaya ke Chomrong Ransel 2000 / untuk 2 orang
      22 - 26  Juni kami keliling Phokara, Bhaktapur dan Khatmandu
       
       
       
       

       


       
                         
       
       
        
    • By Ahook_
      Tanggal 9 Juni 2018.
      Trip Canada dimulai dari penerbangan Jakarta - Singapore, kemudian lanjut ke Xiamen dan berakhir di Vancouver. Bisa baca juga, butuh visa transit Cina jika lewat Xiamen. Perjalanan yang melelahkan. Belum lagi, setelah landed di Vancouver, harus ngemper semalam dulu di bandara untuk melanjutkan penerbangan ke Calgary besok paginya. Karena tujuan utama dari awal perjalanan ini adalah Waterton, terus harus melakukan perjalanan darat sekitar 3 jam. Jika ditotal, 48 jam deh, aku baru benar- benar tiba di tujuan.
      Oh ya, jika mau tukar uang Canada Dollar, lebih baik tukar dari Indonesia. Atau bayar pakai kartu kredit saja. Jangan pernah tukar di airport, rate macam leher kerasa digorok.

       
      Sekitar 2 minggu pertama di Canada, kami sewa mobil untuk mengitari Alberta sampai British Columbia. Kami itu bertiga, salah satunya, skydworld, satunya lagi, Henny. Pakai jasa rental mobil Avis. Ada GPS dalam mobil, jadi gampang banget mau kemana- mana. Hasil dari GPS selama pemakaian, akurat kok.  Overall sih okey. Setir di Canada itu gampang- gamapang susah sih. Setirnya ada disebelah kiri, dan aku pertama kalinya setir mobil dengan posisi setir sebelah kiri. Awalnya sih gugup dan gagok. Lama - kelamaan juga jadi biasa. Pastikan saja, mobil selalu berada dijalur sebelah kanan. Total harga sewa mobil sekitar 8 juta, sudah termasuk GPS dan asuransi. Sedangkan sepanjang perjalanan, bensin habis sekitar 3 juta.

      Setelah proses administrasi beres dan mobil sudah ditangan, kami langsung berangkat ke Waterton. Sepanjang perjalanan, menurutku agak menoton. Lansung saja, aku bandingkan dengan New Zealand, rasanya jauh lebih indah dan bagus, terutama dibagian Selatan New Zealand. Baru kerasa alamnya ketika sekitar 1 jam sebelum sampai Waterton. 
      Waterton.
      Begitu checked in, hal pertama yang dilakukan adalah tidur dan tidur sepuasnya. Tidur sampai besok pagi. Belum lagi, harus adaptasi perbedaan waktu antara Canada dengan Indonesia. Lelah. Fisik sempat drop tidak karuan selama 3 hari. Kecapekan. 

      Waterton itu termasuk National Park. Jadi berbayar. Kemaren itu kami bayar 31,2 CND untuk 2 orang dan 2 hari. Ada baiknya beli annual pass, karena bisa dipakai di seluruh National Park yang ada di Canada. Informasi ini kami peroleh dari Chris, seorang teman yang baik nan cantik, tapi setelah berada di Calgary. Kan, ketemunya sama Chris baru di Calgary.

      Waterton Lake view.
      Selama di Waterton, ya aku main- main disekitaran saja. Menikmati sungai di belakang hotel, menikmati air terjun mini, paling jauh, ya ke perbatasan US. Dan yang paling okey adalah main ke Prince of Wales Hotel. Viewnya langsung ke Lake Waterton, view-nya dapat banget. Sayangnya, tidak berkesempatan bermalam disana. Mahal, sudah pasti. Hahahahaha... Yang jadi highlight di Waterton, anginnya kencang banget. Terutama saat di Prince Of Wales Hotel, berdiri saja, macam bisa diseret angin. Ini serius. Dan otomatis, dingin.

      Prince Of Wales Hotel.
      Kami menginap 2 malam di Bayshore Inn. Tidak ada sarapan gratis. Free wifi. Hotelnya cukup okey. Kamarnya lega dengan ranjang gede. Punya tv yang tidak pernah di-nyalain. Kamar mandi ada bathtub dan shower, pasti, ada air panas. Bersih. Pemandangan menyenangkan dari pintu belakang kamar, langsung sungai gitu. Arusnya deras banget, harusnya sih airnya dingin. Ada pemanas ruangan. Tidak menyediakan air minum botol, tidak seperti kebanyakan hotel di Asia. Jadi, semua hotel yang di Canada, harusnya seperti begini aturan mainnya.
      Sepanjang perjalanan di Canada, ( sepertinya ) aku tidak pernah beli air minum, kecuali juice dalam kemasan kotak. Minum, dari air kran loh. Yang buat aneh adalah housekeeping-nya, masak ya, bersihkan kamar setengah hati. Ranjang satunya diberesin, hasilnya 95 persen kelar. Satunya lagi, sama sekali tidak diberesin. Ada beberapa gelas plastik bekas pakai di atas meja juga tidak dibuang. Oneng juga si mbak- mbaknya. Asumsinya, mungkin tidak tempel beberapa Canada Dollar diatas tempat tidur kali ya. Parah! Hotel ini ada tempat parkir ya dan bebas parkir.

      Belakang kamar hotel.
      Kalau bingung mau main ke mana selama di Waterton, tinggal ke receptionist saja. Hahaha.. Aku pikir sih, 3 hari full adalah paling banyak. Tapi entahlah, kalau kamu suka, bisa saja stay lebih lama. Eittss, sebagai negara yang identik dengan beruang. Jadi saat berkeliaran di Waterton, harus waspada, bisa saja kamu ketemu beruang. Baca petunjuknya di penginapan kamu, trik menghadapi beruang itu gimana, ini serius.

      Sekitaran hotel.
      Kalau kamu suka camping, menurut Chris, jika tidak salah dengar, Waterton juga tempat orang- orang camping sih. Cuma, ada temannya, yang pegangin tendanya semalaman karena anginnya super kencang. Lah iya lah, wong aku tidur didalam kamar saja, suara gemuruh angin diluaran sana sudah macam lagi perang. 

      Air terjun.

      Border US- CANADA.
      Transit satu malam di Calgary. 
      Sebelum langsung ke Banff, kami menginap satu malam dulu di Calgary. Kami nginap di Nuvo Suites. Okey, penginapan ini termasuk salah satu yang terbaik sepanjang trip Canada. Terletak di tengah kota, sebenarnya, kalau tanpa mobil-pun mau kemana- mana juga bisa. Ada transportasi umum. 
      Soal Nuvo Suites, memang best. Lihat saja di foto. Bisa muat 4 orang. Ada dapur dalam kamar, jadinya kamu bisa masak- masak. Apalagi seberang, sudah ada grocery. Free wifi, free sarapan yang lumayan. Dapat slot parkir gratis, tapi di blok yang berbeda. Tidak terlalu jauh sih. Jalan kaki bisa sampai juga. Kamar mandi shower ada air panas. 

      Calgary view.
      Di Calgary, diajak Chris jalan- jalan. Main ke Factory outlet untuk menghabiskan isi dompet, terus makan eskrim di Village Ice Cream. Kata Chris, eskrim ini wajib loh, karena lokal banget. Dan benar saja, pas ke sana, ramai. Kemudian ke spot keren untuk lebih kota Calgary dari atas, aduh lupa namanya, cari di google lagi, kok gak muncul nama tempatnya. Tempatnya sih asik, pemandangan, tempat foto- foto-lah. Dan malam itu berakhir dengan makan bersama di salah satu restoran rekomendasi dari Chris juga. Intinya ya, si Chris, soal kuliner memang juara. 
      Memang, tidak banyak tempat yang didatangi selama di Calgary, sebagaimana sebuah kota. Keesokan harinya, setelah checked out, sudah bersiap menuju ke Banff. Nah tungguin postingan selanjutnya ya tentang Banff. 
      With Love,
      @ranselahok
      www.ranselahok.com
      ---Semoga semua mahluk hidup berbahagia---
    • By Cayadi Budidarma
      DAY 4 TOYAMA - KYOTO
      Hari ini bangun agak siang , karena habis cape hari sebelumnya pulang sampai hotel jam 11 malam .
      Begitu bangun , siap-siap semua barang , dan langsung check out dari hotel. Langsung menuju TOYAMA station yang letaknya tidak jauh dari hotel kami menginap.
      Tiket shinkansen sudah ditangan , karena sudah reservasi dari malam sebelumnya , dan lagi-lagi saya harus reservasi ulang karena kami tiba di station 1 jam lebih awal dari schedule tiket. Dan memang di perbolehkan , jadi tanpa banyak basa-basi atau omelan dari pihak penjaga tiket counter , langsung kami menuju peron shinkansen yang menuju ke KYOTO.
       
       
      Seperti biasa , sesampainya di Kyoto Station , langsung saya buka google maps untuk mencari hotel yang sudah kami booking sebelumnya di agoda. Yaitu Hotel DAIWA ROYNET HOTEL KYOTO HACHIJOGUCHI selama 3 malam . Letaknya tak jauh ( 8 menit an jalan kaki ) dari exit Hachijoguchi Kyoto Station yang sangat besar. Ada banyak exit di KYOTO station ini , jadi sebelum mencari hotel sebaiknya cari tahu dulu exit mana yang terdekat dari hotel kalian.
      Seperti biasa titip koper , dan kami dapat kabar baik bahwa kamar kami di upgrade ke yang lebih besar...horeeee...thanks Daiwa Roynet Hachijoguchi !
      Hari pertama di kyoto , saya langsung menuju Kiyomizudera dengan naik bus nomor 101 dari depan Kyoto Station ( central exit ) , dan turun di GOJOZAKA. Semua perjalanan bus saya memakai pasmo card. Masuk dari pintu tengah , ketika turun lalu tap pasmo dan keluar dari depan . Dari GOJOZAKA bus stop , kami berjalan kaki mendaki ke kuil Kiyomizudera. Kami ambil jalur kiri untuk mendaki .
      Kuil Kiyomizudera berada paling atas , dan kita harus bayar tiket masuk untuk masuk ke dalamnya. Sayang kuil ini sedang dalam restorasi , jadi tertutup oleh kain dari luar. Jadi tidak terlalu amazing bagi saya penampakan luar dari kuil Kiyomizudera ini .

      Beberapa saat dari sana , kami turun berjalan sambil menikmati toko-toko di sepanjang perjalanan dan mencoba street food yang banyak dijajakan .
      Setelah dari kuil Kiyomizudera , kami berjalan kaki menuju GION , dan sampai GION sekitar jam 1730 . Masih terang . Di Japan jam 19 pun masih terang loh .... mulai gelap sekitar 1930 . Dan saat mulai agak gelap baru tampak beberapa GEISHA / MAIKO keluar berjalan cepat masuk / keluar dari salah satu tempat makan di sekitar GION.

       
      Bagi saya GION tidak banyak hal menarik untuk dilihat , hanya saat-saat pada saat GEISHA / MAIKO saja menampakan diri , para touris terlihat heboh mengabadikan mereka, walau mereka tampaknya tidak perduli dan berjalan sangatcepat untuk menghindari para paparazi :) termasuk saya .
      Sepulangnya dari GION , kami berjalan kaki menuju GION Shirakawa untuk sekedar menghabiskan malam dan menikmati malam di KYOTO , dan kami cukup puas melihat aliran sungai yang indah dan bersih di daerah yang dipenuhi restoran-restoran ini. Dan setelahnya , kami berjalan kaki ke station subway terdekat dan kembali ke KYOTO station ( hotel )

       
       
      DAY 5  ARASHIYAMA ( KYOTO ) & PHILOSOPHER'S WALK
      Perjalanan hari ini ke Arashiyama . Naik kereta JR SAGANO , berhenti di SAGA ARASHIYAMA station. Exit station langsung belok kanan ke arah Togetsu bridge.
      Disebelah Saga Arashiyama ada Saga Torokko Station untuk naik SAGANO SCENIC RAILWAY. Saya memutuskan untuk langsung dulu ke Togetsu bridge. Berjalan melewati perumahan2 serta toko-toko , dan juga sempat melihat ada OWL cafe di lt2 salah satu gedung pertokoan .

       
      Tak lama sekitar 20 menitan kami sampai di togetsu bridge dan berfoto-foto dari pinggir sungai dan jembatan.Menurut saya Arashiyama ini sangat indah di sekitar togetsu bridge ini, sehingga saya dan keluarga agak lama menghabiskan waktu untuk sekedar duduk-duduk sambil menikmati cemilan2 dan udara sejuk di sana.

      Setelah puas nongkrong dan berfoto , kami lanjutkan menyeberangi jembatan togetsu dan langsung ke kanan untuk mendaki Iwatayama Monkey Forest dengan membeli tiket naik.
      Hiking sampai dengan tempat monyet tidak begitu susah, sekitar 20 menit jalan santai kita bisa sampai ke puncaknya . Disana kita bisa menikmati pemandangan Kyoto dari atas serta memberi makan monyet-monyet dari dalam rumah yang sudah disediakan dengan membeli pakan monyet di sana.

       
      Puas bermain di monkey forest sekitar 1 jam lebih kami kembali turun , dan sesampainya di bawah , pinggir sungai dekat togetsu bridge saya melihat ada yang menawarkan Hozugawa river cruise . Lalu saya putuskan untuk membeli tiket nya ...bagus menurut saya view nya jadi saya pikir ya sudah lah..sudah kepalang ke Arashiyama nikmati saja sebisa mungkin
      River cruise yang kami naik ini hanya sekitar 30 menit sd 1 jam , dan hanya menyusuri sungai yang tenang arusnya  dan berputar kembali ke tempat semula kita naik. Beda dengan River cruise yang jika kita naik dari Kameoka loh ya...Kalau dari Kameoka saya lihat lebih ekstrem dan menyusuri arus yang lumayan deras ( mirip-mirip arung jeram ) dan perjalanan sekitar 2 jam .
      Ini lebih seru keliataannya untuk teman-teman yang berjiwa adventure sebenarnya , namun karena saya beserta anak-anak kecil saya putuskan untuk naik yang arus nya tenang saja.
      Untuk harga tiketnya tentunya juga berbeda jauh antara keduanya.
      Di tengah perjalanan juga ada sebuah perahu yang menawarkan cemilan untuk kita yang sedang di dalam perahu..cukup unik.
      Pemandangan sekitar sungai juga cukup indah.
       
       

      Nah, sesudah kami turun perahu , kami lanjut ke arah hutan bambu yang sering kita lihat di FR di sini . Banyak turis di hutan bambu ini dibandingkan dengan spot lainnya . Menurut saya sih hutan bambu ini ya biasa saja ..namun karena begitu ngetop nya maka kami singgah juga hehehe.

       
      Jauh lebih bagus pemandangan sungai sekitar togetsu bridge dan river cruise.
       
      Lalu sekedar lewat sambil berjalan balik ke arah Saga Arashiyama station , kami pun akhirnya masuk ke Saga Torokko station, dan mencoba pula naik Sagano Scenic Railway.
      Menurut saya juga loh ya....view dari sagano train ini juga kalah dibandingkan sekitar sungai togetsu bridge, karena kereta begitu cepat berjalan dan keluar masuk terowongan . Jadi feel untuk menikmati nya belum sampai ON sudah masuk terowongan lagi. Itu aja kami dapat tempat di gerbong yang terbuka . FYI tempat duduk di gerbong terbuka ini terbatas ( hanya 1 gerbong ). Jika kita berada di gerbong tertutup akan lebih tidak enak lagi untuk menikmati pemandangan di luar .
      Mungkin jika kita pergi saat autumn atau sakura , sagano scenic railway ini akan terasa beda ( lebih bagus ) , namun jika saat summer seperti saya , harga tiket tidak sebanding dengan kepuasannya . Mending nongkrong di pinggir sungai togetsu bridge !
      Setelah sekitar 20 menit sampai di Kameoka Torokko Station.

       
      Keluar Kameoka Torokko station kita harus berjalan kaki menuju Umahori Station sekitar 15 menit. Ikuti saja penunjuk arah yang diberikan.
      Nah di sini pemandangan agak lumayan, dan berjalan kaki dari Kameoka ke Umahori JR station juga merupakan kenikmatan tersendiri ...

       
      Dari Umahori station ini kami langsung menuju Philosopher's walk. Start awal dari Nanenji Temple menyusuri full Philisopher path ke arah Ginkakuji temple agak jauh ternyata . Sekitar 1 jam rasanya jalan santai . Jalanan ini tidak begitu besar , menyusuri kali kecil ,dan di sekitarnya kiri kanan adalah komplek perumahan mewah orang Kyoto. Rumah nya besar-besar dengan taman bernuansa jepang dan beberapa mobil mewah seperti jaguar terparkir .
      Kami start sekitar jam 17 lewat dan sampai di ujung jalan ( GINKAKUJI sudah tutup saat itu ) sekitar jam 1830. Puas berjalan , kami mencari JR station terdekat dan ternyata sangat jauh
      Kami sudah mencoba ingin naik bus untuk kembali ke Kyoto station namun jadwal bus tercantum terakhir sekitar jam 1830 kalau tidak salah ..jadi sambil jalan santai dan menikmati pemandangan , kami berjalan melewati Kyoto University dan akhir nya menemukan JR station untuk kembali ke Kyoto station.


       

       
    • By Ahook_
      Tanggal 28 Oktober 2016
       
      Akhirnya, sampai juga di Brunei Darussalam. Iya Brunei, tidak salah.. Memang, ada beberapa teman yang sempat bingung, ketika tahu aku mau ke Brunei. Ngapain? Hehh… ngapain ya? Aku sendiri tidak paham. Hahaha… Ya datang sajalah, aku yakin pasti ada yang dilihat, apapun itu. Sudah aku bilang, traveling itu bukanlah tentang tujuannya, tetapi lebih ke prosesnya. 
       
      Tapi, hanya 1 sih, penasaran. Serius, karena penasaran. Brunei, negara kecil nan kaya raya itu, bagaimana sih isi dalamnya? Apakah sampai jalan raya juga terbuat dari emas? #inilebaybanget. Begitulah adanya, selain ingin memperjuangkan mimpi keliling ASEAN. Terwujud sudah… 

      Jalan utama di Bandar Seri Begawan.
      Okey, trip Brunei termasuk trip yang minim persiapan. Baru mulai mencari informasi 2 hari sebelum berangkat dari Jakarta. Parahnya, tidak terlalu ada review yang mengulas Brunei dan isinya. Adapun, lebih banyak mengulas tempat yang wajib dikunjungi.
       
      Tentang transportasi umum, ya memang, seperti yang aku baca dari travelblogger yang sudah menapakkan jejak kakinya ke sini dulu. Hampir semua memaparkan, transportasi Brunei masih kurang. Lebih baik datang ber-group sehingga bisa sharing cost untuk urusan tranportasi buat sewa mobil biar lebih mudah mau kemana- mana. 
       
      Transportasi umum di Brunei cuma ada bus, taxi sapu dan taxi. Selama trip di Brunei, aku mengandalkan bus. Sekali naik bayar 1 dollar, terserah, mau bayar pakai Dollar Brunei atau Dollar Singapore. ( Tidak tahu kenapa, mereka menerima Dollar Singapore, katanya sih, rate-nya sama). 
       
      Kuantitas bus di Brunei, jumlahnya sedikit, mungkin disesuaikan dengan jumlah penduduk yang ada. Untuk mendapatkan bus, kamu butuh energi besar dan kesabaran penuh dalam menunggu bus lewat. Kalau dari review-an, mereka sih, bilang, bisa menunggu 1 jam –an, tuh bus baru nongol. Karena murah, ya mau tidak mau, harus menunggu. Tidak ada pilihan. Kecuali kamu punya kerabat, atau naik taxi yang harganya selangit. 
       
      Dan aku, termasuk yang cukup beruntung. Tidak perlu mengunggu terlalu untuk sebuah bus. Dari airport, aku menghabiskan waktu 10 menit saja. Okey, kamu keluar dari pintu utama, kemudian jalan terus sampai diperbatasan trotoar, lalu belok kiri. Jalan sampai ke ujung, nah disana ada plang bertuliskan tempat tunggu bus. 
       
      Bayar 1 Dollar, kamu akan diantarkan ke Bandar Seri Begawan, pusat kotanya. Lama perjalanan sekitar 30 menit-an. Entah karena jumlah penduduk yang sedikit atau apa, sepanjang perjalanan, sepi banget. Mobil yang lalu lalang juga tidak banyak. Motor, malah tidak kelihatan sama sekali. Bus berhenti di setiap halte. Hampir setiap halte, tidak ada penumpang. 
       

      Bus 1 Dollar...
      Model bus-nya tidak mencerminkan kekayaan yang dimiliki Brunei. Hahaha… Parah sih tidak, ya cuma standart saja. Tempat duduknya yang alakadar. Informasi yang aku himpun, #jiaahhh… yang memakai bus di Brunei adalah pendatang, mereka yang datang merantau meninggalkan keluarga dikampung. Sedangkan, orang lokal Brunei, kesehariannya ya pakai mobil pribadi. Tidak heran. Bahkan setiap anggota keluarga, masing- masing punya mobilnya tersendiri. Begitupun, tidak macet. 
       
      Selama di Brunei, aku naik bus kemana- mana. Sekali lagi, tidak seperti yang dialami traveler lainnya, aku tidak perlu menunggu bus sampai berjam. Paling lama ya itu, 10 menitan. Pokoknya setiap kali naik, bayar 1 Dollar, kecuali aku ke Hotel Empire, bayar 2 Dollar. 

      Dalam bus...
      Setiap bus itu punya jalurnya. Tidak perlu khawatir, kalau lupa bus nomor berapa ke tujuan kamu, tinggal tanya saja sama petugas yang ada diterminal. Atau, biasanya, kan dari tempat penginapan ada informasinya juga. 
       
      Dari sekian kali aku naik bus, hanya sekali saja, supir dan kondekturnya pendatang dari Malaysia. Sisanya, orang Indonesia. Jadi, pendatang jumlahnya lumayan. Dan kebanyakan kerjanya ya sebagai supir dan kondektur bus, kerja di restoran ataupun tempat jualan lainnya. 

      Terminal Bus Bandar..
      Aku tidak punya pengalaman naik taxi sapu. Tapi jangan sesekali naik taxi deh. Mahal banget. Dan itu terjadi sama aku. Nyesek banget. Ternyata ada Car Free Day di Brunei. Di kasih tahu, kalau Sulthan hari ini dijadwalkan ikut CFD disekitaran Bandar. Alhasil, semua jalan di blok. Aku tidak bisa ke airport pagi- pagi. Tidak ada bus yang operasional. Mati gak loe? Tidak ada pilihan lain, terpaksa pakai banget naik taxi. Ada argo sih, tapi supir taxinya menawarkan 20 Dollars untuk sekali jalan. Buset gak tu. Pakai bus hanya 1 Dollar loh. Tawarlah, kemudian sepakat 15  Dollars. Sakit banget ketika mau bayar. Ya ampun, itu sudah biaya makan dan naik bus kemana – mana buat seharian, dan itupun sudah bisa makan enak loh. Parah..  

      Bus stop di Gadong..
      Oh ya, semua terminal bus ada di Bandar, sebutan untuk Bandar Seri Begawan. Semua bus akan bermuara ke situ, kalau kamu pergi dari objek wisata ke objek lainnya, ada kemungkinan, kamu harus kembali ke terminal Bandar kemudian pindah bus lainnya. 
       
      Tungguin postingan tentang Brunei-nya ya....!!!
       
      With Love,
       
      @ranselahok
      www.ranselahok.com
      ---semoga semua mahluk hidup berbahagia---
    • By Tarmizi Arl
      Hi...
      Buat kamu yang mau nyari alternatif wisata di Kuala Lumpur, kamu bisa pilih wisata ke Colmar Tropicale yang ada di kawasan Berjaya Hill.
      Colmar Tropicale ini adalah hotel/resort di Berjaya Hill, tapi buat kamu yang tidak menginap juga bisa berwisata sehari disana.
      Konsep Colmar Tropicale ini ialah miniatur dari pedesaan Colmar yang ada di Perancis, jadi kamu bisa merasakan sensasi berfoto ala-ala di  Perancis.
      .
      Nah untuk ke sana, kamu harus membeli tiket di Berjaya Times Square Mall, KL tepatnya di Lantai 8. Lokasinya berada di tempat spa, jadi kamu harus teliti mencari. Tapi didepannya ada kok tulisan Colmar Tropcale.

      Lokasi Membeli Tiket di Lantai 8 Berjaya Times Square Mall

      Jadwal buka
       
      Tarif tiketnya sebesar 60 RM untuk dewasa dan 55 RM untuk anak-anak. Tiket ini ialah untuk shuttle Bus PP dan tiket masuk di sana. Jadwal keberangkatannya dari Berjaya Times Square Mall ialahjam 9:30, 12:00, 18:00, dan 20:30. Sedangkan jadwal pulang dari Colmar ialah jam 08:00,10:45, 16:00, dan 19:30. Tapi perlu diingat karena memakai bus kecil yang berkapasitas hanya 10 orang, jadi lebih baik membeli tiket minimal 1 hari sebelumnya. Apalagi jika hari libur, tiket bahkan bisa habis 2 hari sebelum. Selain itu perhatikan juga jam buka lokasi yang menjual tiketnya ya seperti di foto.

      Tiket
      Lokasi keberangkatan Bus ialah di dekat lobby Berjaya Hotel

      Lokasi Shuttle Bus di Berjaya Times Square Hotel
       

      Shuttle Bus
       
      Perjalanan ke Colmar Tropicale hanya sekitar 1 jam. Perjalanan akan menempuh jalanan berkelok-kelok dan menanjak, jadi lebih baik makan dahulu agar tidak pusing.
      .
      Dan inilah dia suasana di Colmar Tropicale...

      .



      View dari atas menara

       
      Kalau lapar, bisa makan di resto2 yang ada disana, tarifnya masih oke sekitar 20-50 RM untuk makan berat.

      .
      Beli oleh-oleh juga bisa karena ada souvenir shop

       
      Selain itu, tiket tadi juga sudah termasuk untuk ke Taman Jepang. Lokasinya cukup jauh, jadi harus naik mobil wisata ini yang berangkat di jam-jam tertentu.