• agoda-hemat.png

Nightrain

Spain, Andorra, and Morocco - May 2015

56 posts in this topic

0.jpg

suasana di Camp Nou (markas Barcelona)

Bulan Mei umumnya merupakan waktu yang paling nyaman untuk mengunjungi sebagian besar negara Eropa karena mulai masuk puncak musim semi dengan suhu hangat yang sangat mirip dengan Indonesia. Kali ini kita memutuskan untuk mengunjungi Spanyol dengan tujuan 3 kota besar-nya yaitu Madrid, ibukota yang berada di tengah; Barcelona, kota pinggir laut yang terletak di timur Spanyol; dan Sevilla, yang merupakan ibukota wilayah Andalusia di selatan.

Kita juga sempat mampir ke negara kecil Andorra yang terjepit antara Spanyol dan Perancis di area pegunungan Pyrenees karena mudah dijangkau dengan bus dari Barcelona. Lokasi Spanyol dan Maroko yang berdekatan juga membuat kita tidak melewatkan kesempatan untuk menginjakkan kaki pertama kali di benua Afrika dan menghabiskan waktu 3 hari melihat negara eksotis ini.

Day 1 - Puerta del Sol, Madrid (Selasa, 5 Mei 2015)

Kita tiba di airport Barajas Madrid sekitar pukul 2 siang waktu setempat atau kurang lebih jam 7 malam WIB. Suhu waktu itu masih sekitar 20 derajat dan setelah melalui proses cek imigrasi dan mengambil bagasi, kita menuju ke stand Lebara untuk mengganti SIM card lokal dengan unlimited internet. Biaya internet di Spanyol relatif murah, sebulan berkisar antara €10 - €15. Selain operator Lebara, disarankan untuk menggunakan Vodafone atau Movistar.

Untuk menuju ke hotel, ada opsi bus dan subway, namun karena kita belum ada gambaran mengenai lokasi sekitar hotel, jadi daripada buang waktu nyasar, kita langsung menuju taxi stand dan di-charge flat rate €30 ke downtown. Tiba di hotel dan selesai check-in, kita langsung menuju stasiun subway untuk menuju lokasi pertama yaitu Puerta del Sol. Ini adalah titik 0 kota Madrid, alun-alun utama dan di sekeliling lokasi ini banyak sekali turis maupun orang lokal yang sering berkumpul. Artis jalanan juga memadati area sekitar patung kuda untuk mencari sesuap nasi, mulai dari penyanyi kwartet, badut dengan kostum lucu, 'patung statis', dan sebagainya.

8.jpg  7.jpg

Puerta del Sol cocok menjadi starting point Anda untuk menjelajahi kota Madrid karena dari sini Anda bisa menjangkau beberapa landmark dengan berjalan kaki, dimulai dari Plaza Mayor, kemudian mampir sebentar ke Mercado de San Miguel dan sekitar 10 menit Anda akan tiba di Royal Palace of Madrid yang juga berhadapan dengan Catedral de la Almudena. Jangan lupa untuk memperhatikan jadwal buka istana apabila Anda ingin masuk ke dalam, tapi kalau hanya sekedar berfoto di luar saja, paling bagus ambil momen menjelang sunset.

1.jpg  2.jpg 

4.jpg

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam namun hari masih terang karena bulan Mei sudah mendekati musim panas dan di Eropa biasanya sunset baru dimulai sekitar jam 8 malam. Siang hari terasa lebih panjang lagi menjelang Juni karena matahari baru terbenam sekitar jam 9.30 malam. Di Spanyol, kebanyakan orang baru mulai makan malam sekitar jam 9 malam namun restoran rata-rata sudah buka dari jam 5 atau 6 sore, jadi untuk menghindari peak hour sebaiknya jam 8 sudah selesai makan.

Setelah selesai mengisi perut di salah satu resto terdekat, kita pun kembali ke hotel untuk beristirahat.


Day 2 - Santiago Bernabeu dan Retiro Park, Madrid (Rabu, 6 Mei 2015)

Tidak lengkap rasanya kalau ke Madrid tanpa mengunjungi markas klub sepakbola Real Madrid. Terlepas Anda suka atau tidak dengan klub ini, atau bahkan bukan penggemar sepakbola, Real Madrid (dan juga rival mereka, Barcelona) sudah menjadi icon penting negara Spanyol dan tergolong mudah untuk menjangkau stadion klub yang sudah berdiri lebih dari 100 tahun lalu ini.

1.jpg

Lokasinya terletak sekitar 6km arah utara Puerta del Sol dan opsi termurah untuk menuju kesana yaitu lewat subway. Buat yang pengen nonton pertandingan, disarankan untuk beli dulu tiket via ticketmaster H-10 untuk menghindari antrian panjang dan kadang untuk big match, belum tentu tiket masih ada pas hari H, namun buat yang pengen liat stadion aja, sebaiknya datang persis jam 10 pagi supaya belum terlalu banyak turis yang datang.

Tiket masuk untuk tur stadion sekitar €19 dan durasi tur biasanya sekitar 1 jam. Dengan tiket ini, Anda bisa naik ke lantai atas untuk melihat stadion dari tempat tinggi, kemudian lanjut ke dalam museum Madrid untuk melihat koleksi piala, sejarah dan rekor klub, tim inti beserta jersey-nya, dan berbagai macam pernak-pernik Real Madrid, kemudian Anda juga bisa mendapatkan kesempatan untuk berfoto dan ada petugas yang akan memilih pemain mana yang akan di-crop ke dalam foto tersebut, dan tentu Anda juga bisa mengitari stadion, mencoba duduk di kursi VIP, di bangku cadangan pemain, dan akhirnya membeli berbagai souvenir klub.

2.jpg  3.jpg

4.jpg  9.jpg

Selesai dari Santiago Bernabeu, kami mampir ke salah satu restoran di seberang stadion untuk makan siang dan kemudian lanjut menuju pusat kota Madrid yaitu Gran Via. Lokasi Gran Via ini mungkin bisa dikatakan adalah 'Orchard Street'-nya Madrid buat yang familiar dengan kota Singapore. Di jalanan panjang ini berjejer berbagai bangunan tinggi, ada mall, toko, kantor, bahkan kasino. Tentu dengan aristektur bangunan yang juga bervariasi mulai dari klasik hingga modern sehingga nuansa Eropa masih terasa banget. Lokasinya kurang lebih satu blok dari area Malasana tempat hotel kita berada. Area ini bagus juga untuk dijadikan starting point apabila Anda ingin mencari hotel dengan best value, dekat dengan subway, dan cukup banyak restoran di sekitarnya.

11.jpg  12.jpg

Kita menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk berkeliling di sekitar Gran Via dan apabila Anda terus berjalan ke arah timur, Anda akan tiba di Plaza de Cibeles. Di dekat bundaran ini ada Palacio de Cibeles (Cybele Palace) yang sekarang sudah dijadikan City Hall. Lokasi Plaza Cibeles ini juga selalu dijadikan tempat berkumpul fans Real Madrid apabila tim mereka juara dan juga menjadi tempat perayaan tahun baru buat warga kota Madrid. Tidak jauh dari Cibeles, Anda akan tiba di bundaran berikutnya, Puerta de Alcala dan dari lokasi tersebut, Anda akan menemukan pintu masuk ke salah satu taman terbesar Madrid yaitu Retiro Park.

Buat yang senang art, lokasi taman ini pun tidak jauh dari Prado Museum yang juga merupakan salah satu attraction kota Madrid. Apabila cuaca bersahabat, Anda bisa berjalan santai menuju ke arah danau kecil dan Monument Alfonso XII. Banyak bangku taman berjejer di sana untuk sekedar beristirahat sambil menikmati udara sore dan juga ada beberapa penjual makanan ringan di sekitar situ apabila Anda ingin mencari snack atau minuman ringan. Terlihat banyak warga memadati taman, ada yang bersepeda santai, ada juga yang jogging sore, dan ada juga yang mengitari danau dengan kano.

13.jpg  17.jpg

Waktu kurang lebih pukul 5 sore ketika kita memutuskan untuk kembali ke hotel dulu untuk sekedar rileks dulu. Menjelang jam 7.30, kita berjalan santai menuju restoran Bodega de la Ardosa, salah satu tapas bar di sekitar hotel untuk makan malam. Tiba di sana, baru sekitar 3-4 meja yang terisi karena memang jam restoran terpadat adalah jam 9 malam, apalagi kalau pas weekend dan ada siaran bola. Buat yang belum tahu apa itu tapas, jadi itu adalah sebutan untuk appetizer atau snack khas Spanyol, tersedia baik yang panas (daging/seafood/kentang/dll) maupun dingin (cheese/mixed olives/berbagai macam sayuran/dll). Namun warga Spanyol sering juga menjadikan tapas sebagai main course, bukan sekedar makanan pembuka, karena di satu meja, mereka bisa saja mengorder 6-7 piring tapas untuk 3-4 orang. Mungkin analogi yang agak mirip yaitu seperti sushi di Jepang dimana satu piring bisa terdapat banyak jenis menu untuk di-share.

Restoran yang kita tuju tersebut merupakan rekomendasi dari resepsionis hotel dan kebetulan mendapatkan skor 4 bintang di tripadvisor. Review restoran di tripadvisor biasanya merupakan opini objektif dari turis berbagai negara sehingga kalau total rating sudah 4 bintang ke-atas, umumnya lumayan atau enak karena pernah juga kita hanya mengandalkan usulan dari salah satu orang lokal dan ternyata hasilnya sangat mengecewakan.

 

Day 3 - Casa Batllo dan Passeig de Gracia, Barcelona (Kamis, 7 Mei 2015)

Setelah kelar packing dan check-out, kita bergegas ke stasiun kereta Madrid Atocha dengan menggunakan taxi. Lokasi stasiun tidak jauh dan kurang lebih 15 menit kemudian kita sudah tiba. Tiket kereta cepat AVE dari Madrid menuju Barcelona sudah dipesan dari Indonesia sehingga waktu dan jam sudah fixed. Cara pemesanan tiket tersebut tidak sulit namun untuk menghindari kesalahan, silahkan baca petunjuk 'Buying Renfe Tickets Online' di : http://www.tripadvisor.com/Travel-g187514-c80518/Madrid:Spain:Buying.Renfe.Tickets.Online.html. Untuk harga tiket kereta, ada diskon lumayan apabila Anda booking sekitar 2 bulan sebelum keberangkatan. Kereta pun berangkat sesuai jadwal dan kurang lebih 3 jam kemudian kita sudah tiba di Barcelona. Opsi yang lebih murah bisa menggunakan kereta biasa dengan waktu perjalanan sekitar 6-7 jam dan ada juga yang overnight train untuk menghemat biaya hotel semalam, sekitar 10 jam sampai Barcelona.

1.jpg

Dari stasiun, kita naik taxi menuju hotel yang ada di Carrer de Mallorca. Sama seperti Madrid, lokasi Mallorca ini cukup dekat dengan jalan protokol, Passeig de Gracia, namun harga penginapan relatif wajar, bahkan tergolong murah. Setelah check-in, kita mampir ke salah satu restoran di dekat hotel untuk makan siang. Impresi pertama cukup baik dan rasanya overall lebih enak dari hampir semua resto di Madrid yang kita coba. Lokasi pertama yang kita tuju adalah Passeig de Gracia karena memang paling dekat dari hotel. Ini adalah 'Gran Via'-nya Barcelona dan buat yang senang shopping, di sinilah surga-nya, mulai dari LV, Prada, Valentino sampai Zara, Mango, dan Puma tersebar di sepanjang jalan. Buat yang tidak senang shopping, jangan khawatir karena banyak juga kafe dan restoran tempat kongkow dan beberapa landmark terkenal seperti Casa Batllo dan La Pedrera.

2.jpg   3.jpg

Untuk masuk ke Casa Batllo, Anda perlu membeli tiket dan dianjurkan untuk membeli tiket secara online karena Anda tidak perlu antri sampai satu jam pada saat mau masuk ke dalam. Bangunan ini adalah hasil karya dari arsitek legendaris Spanyol yaitu Antoni Gaudi. Beliau adalah sosok populer di balik megah-nya bangunan 'Modernista' seperti Sagrada Familia, Casa Mila, dan Casa Batllo tadi. Apabila Anda tertarik untuk mengetahui sejarah penghuni dan ruangan Casa Batllo, di dalam Anda akan dibekali dengan seperangkat alat yaitu tablet dan headphone dan dari lantai atas juga Anda bisa menikmati Passeig de Gracia yang padat dengan turis, warga lokal, maupun kendaraan yang lalu lalang. View bangunan ini juga akan lebih bagus pada saat menjelang malam hari karena lampu-lampu yang dinyalakan akan mempertegas struktur bangunan tersebut yang unik dan indah.

Tidak terasa kita berjalan hingga pukul 9 malam dan karena di Indo sudah jam 3 pagi, tiba-tiba badan baru berasa lemes dan ngantuk, karena baru hari ketiga dan masih belum adaptasi penuh dengan perubahan jam. Kita pun kembali ke hotel untuk beristirahat.

 

Day 4 - Palau de la Musica Catalana dan Montserrat (Jumat, 8 Mei 2015)

Kita mengawali hari ke-empat dengan mengunjungi Palau de la Musica Catalana. Ini adalah tempat konser dengan arsitektur khas Modernista dan merupakan hasil karya Lluís Domènech i Montaner. Tempat ini juga merupakan UNESCO World Heritage Site sejak 1997 dan buat yang senang dengan bangunan unik khas Spanyol, tempat ini layak dikunjungi. Harga tiket masuk kurang lebih sekitar €17 / orang dan kita akan ditemani oleh seorang guide yang dengan senang hati akan menjelaskan mulai dari sejarah tempat ini, konser apa aja, dan cerita-cerita menarik di balik ukiran dan tatanan di dalam gedung tersebut.

4.jpg 5.jpg

Persis di seberang gedung ini ada restoran yang bernama Tosca dan makanannya termasuk enak serta harga relatif wajar. Pelayannya ramah dan cukup fasih berbahasa Inggris, mungkin karena setiap hari banyak turis yang mampir setelah mengunjungi Palau. Salah satu menu andalannya adalah Jamon Iberico atau Iberian Ham, dan sebagian besar berasal dari daging babi yang digarami dan dikeringkan beberapa bulan. Mungkin karena terbiasa makan daging asin ini, banyak variasi makanan Spanyol lainnya malah jadi berasa terlalu asin untuk lidah kita. Untuk yang tidak mengkonsumsi babi, ada baiknya memesan kentang, seafood, dan sayur-sayuran karena selain ham, makanan lain di resto ini juga enak termasuk kentang goreng khas Spanyol.

Setelah makan, kita menuju Plaza Catalunya, alun-alun utama kota Barcelona yang menjadi meeting point dari daytrip sore itu menuju Montserrat. Tempat wisata ini berasal dari kata 'serrated' karena beberapa puncak gunung yang berdempetan memiliki tinggi yang berbeda sehingga terlihat seperti gergaji dari kejauhan. Di sini terdapat biara Benedictine yang bernama Santa Maria de Montserrat dan seringkali merupakan tempat retreat untuk warga lokal Spanyol. Selain itu, para pecinta alam juga senang mendaki gunung ini dan termasuk populer di kalangan turis.

6.jpg  8.jpg

Area gunung ini bisa dicapai dengan driving sekitar 1 jam dari kota Barcelona. Untuk yang waktunya terbatas, sebaiknya menggunakan local tour untuk ke Montserrat karena perbedaan biaya tidak terlalu banyak dan bisa dilakukan setengah hari saja, namun kalau punya waktu panjang, ada bagusnya berangkat dari pagi hari dan bisa menikmati Montserrat sekitar 3-4 jam sebelum turun dengan menggunakan kombinasi cable car dan kereta. Yang menarik dari Montserrat adalah indahnya pemandangan dari puncak gunung, uniknya gunung yang berwarna merah muda, arsitektur biara yang menawan baik di eksterior maupun interior-nya, serta banyak cerita menarik mengenai Black Madonna dan terbentuknya pegunungan ini. Biaya tur per orang sekitar €45 dengan durasi waktu sekitar 4-5 jam dan tidak menyangka tour guide kita yang asli orang Barcelona ternyata baru balik dari liburan ke Indonesia selama 3 minggu sekitar beberapa bulan sebelumnya.

7.jpg  9.jpg

Tur berakhir sekitar pukul 7 malam namun suasana di Barcelona masih terang benderang karena memang bulan Mei sudah menjelang musim panas. Turis masih memadati area Plaza Catalunya dan kita berjalan santai menuju La Rambla. Ini adalah salah satu jalan terpadat dan mayoritas dijejali oleh turis jadi selalu waspada karena banyak copet beraksi dan rata-rata makanan serta minuman dipatok dengan harga tinggi padahal rasanya di bawah standar. Barang-barang souvenir, mainan, bunga, pernak pernik juga dijual dengan harga tinggi karena La Rambla sudah terkenal sebagai destinasi turis jadi banyak juga grup tour dari berbagai negara yang hanya mampir 1-2 malam di Barcelona pasti dibawa ke sini untuk berbelanja atau makan malam.

10.jpg  11.jpg

Di dekat La Ramblas, ada satu pasar makanan yang juga terkenal yaitu Mercat de Sant Josep de la Boqueria. Berbagai macam jenis makanan mulai dari permen, buah-buahan, sayuran segar, ikan, dan sebagainya dijual di sini, namun karena salah satu destinasi turis juga, dipastikan hari apa pun pasti akan sangat padat dan terus terang tidak terlalu nyaman untuk shopping, namun untuk sekedar menyaksikan keramaian pasar ini sih oke juga. Kita sendiri tidak sampai masuk ke dalam dan memilih untuk makan malam di sekitar situ dan kembali ke hotel untuk beristirahat.

 

Day 5 - Barri Gotic (Old Town) dan Camp Nou (Sabtu, 9 Mei 2015)

Kalau di utara Jakarta, ada sepetak lokasi yang dinamakan Kota Tua yang sebagian berdiri bangunan peninggalan Belanda, maka di timur Barcelona pun terdapat satu lokasi yang mirip dan dinamakan Barri Gotic atau juga dikenal dengan Old Town. Mayoritas bangunan ini adalah peninggalan abad pertengahan, dan sebagian kecil malah dari jaman orang Romawi ketika mereka datang menetap di Spanyol. Yang paling terkenal di sini adalah Basilica of La Merce, namun kalau Anda punya banyak waktu untuk menjelajah jalan-jalan sempit Barri Gotic, banyak landmark yang bisa dikunjungi seperti Santa Maria del Pi Basilica, Palau Reial Major, City Hall, Placa Sant Jaume, dan Placa del Rei. Karena disain tempat ini seperti labyrinth, maka siap-siap untuk 'tersesat' namun tidak perlu takut karena selain bisa menggunakan patokan GPS untuk kembali ke jalan utama, banyak juga papan penunjuk jalan untuk mengarahkan kita ke La Ramblas atau pun ke pantai Barceloneta yang terletak tidak jauh dari sini.

15.jpg  16.jpg

Banyak artis jalanan mencoba mengais rejeki di hampir setiap lorong Barri Gotic, mulai dari pemain cello, penyanyi bersuara ala Pavarotti, pengrajin bekas kaleng minuman, sampai badut-badut yang berkeliaran di sekitar Cathedral. Yang terakhir ini kadang yang agak mengganggu karena begitu kita kepengen foto sendiri, mereka suka mendekat untuk ikut berfoto bareng, maksudnya mungkin biar fotonya lucu dan unik, tapi kadang malah ngerusak, belum lagi persisten untuk minta tip dan seringnya mau lebih dari €2. Saran saya, kalau liat yang beginian, mending jauhi dan cari lokasi yang lebih aman, atau kalau masih nekad mendekat, jutekin saja.

Kita menghabiskan waktu sekitar 4 jam untuk berkeliling santai di area ini dan kembali ke La Ramblas untuk rileks di salah satu resto sambil menunggu jam 4.30 sore. Hari itu kita akan menonton pertandingan antara Barcelona melawan Real Sociedad di Camp Nou, markas dari klub sepakbola Barcelona. Lokasi stadion ini kurang lebih 30 menit dari pusat kota dan pertandingan akan dimulai sekitar jam 6 sore waktu setempat. Di stasiun subway, baru kali ini kita melihat antrian tiket kereta MRT yang sangat panjang karena banyak warga lokal dan turis yang sudah memegang tiket siap menuju stadion. Teriakan yel-yel 'Barca .. Barca .. Barca' mulai menggema dimana-mana dan tidak sedikit yang mengenakan kostum kebanggaan mereka dengan tulisan punggung Messi, Neymar, maupun Suarez.

12.jpg  13.jpg

Kalau Anda ingin menyaksikan pertandingan ini secara langsung, maka sebaiknya jangan lupa untuk membeli tiket via website (seperti ticketmaster) sekitar 10 hari sebelum hari H, karena tiket biasanya baru dijual setelah jadwal pertandingan ditetapkan oleh komite sepakbola mereka. Di stadion biasanya tidak ada ticketbox, kecuali Anda hunting tiket batal dari pemegang tiket musiman. Setiap pertandingan ada rating yang menentukan harga tiket, jadi untuk kali itu, Real Sociedad dianggap tim papan tengah dan harga tiket tidak terlalu mencekik, kurang lebih €130 dari seat yang bisa dibilang cukup pantas. Untuk harga tiket di bawah €80, posisinya terlalu jauh sehingga Anda harus siap binocular, dan kalau seat yang lebih dekat umumnya sudah sold out atau harga bisa €200 lebih. Kalau pertandingan papan atas, seperti El Clasico atau melawan tim tangguh, Atletico Madrid, atau pertandingan Liga Champion, bisa dipastikan harga tiket 2-3x lipat dan itu pun belum tentu masih available.

Setelah menyiapkan dua tiket masuk, kita berjalan bareng bersama para suporter Barcelona ke dalam stadion dan di dalam, banyak petugas yang hilir mudik untuk membantu penonton menuju ke bangku masing-masing. Rata-rata para petugas bisa bahasa Inggris sedikit dan ramah dalam menghadapi berbagai macam turis yang kebingungan mencari seat mereka, dan biasanya kalau Anda kepengen minta tolong foto, para petugas tidak diijinkan untuk membantu mengambil foto karena itu memang peraturannya. Dari seat kita, terlihat jelas para pemain sudah melakukan pemanasan dan tepat jam 6 sore, pertandingan pun dimulai.

14.jpg

Setelah ditinggalkan beberapa pemain bintang, Real Sociedad terlihat berbeda dibanding 3-4 tahun silam dan sore itu mereka hanya mampu bermain defensif dan setidaknya di paruh pertama, mereka masih berhasil menahan imbang Barcelona tanpa gol. Namun memasuki babak kedua, trio MSN terus membombardir mereka dan akhirnya Neymar berhasil mencetak gol pertama. Sekitar 5 menit sebelum usai, Pedro yang kini memperkuat Chelsea, melakukan bicycle kick yang indah dan memperlebar keunggulan Barcelona dan sore itu mereka berhasil meraih 3 poin penuh setelah menang 2-0.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, apakah pantas mengeluarkan uang €130 untuk menonton 2 jam pertandingan bola ? Kalau Anda fans bola, tentu jawabannya sangat pantas karena bisa menyaksikan langsung para pemain bintang idola, namun kalau Anda tidak suka bola atau olahraga, saya tetap beranggapan ini adalah pengalaman yang boleh dicoba setidaknya sekali seumur hidup karena setidaknya Anda bisa merasakan atmosfir pertandingan kelas dunia, melihat stadion dari dalam maupun luar, berada di antara puluhan ribu suporter yang dengan antusias tinggi terus mendukung klub mereka selama 90 menit penuh, dan bisa membagikan cerita ini ke teman ataupun saudara yang sangat menyukai sepakbola.

 

Day 6 - Andorra (Minggu, 10 Mei 2015)

1.jpg

Andorra, negara kecil yang tidak memiliki airport dan terjepit antara Spanyol dan Perancis ini, bisa diakses dengan mudah melalui Barcelona. Ada banyak pilihan bus untuk menuju ke sana namun kalau Anda tidak punya agenda untuk melakukan hiking, maka ada bagusnya memilih opsi daytour seperti yang kita ambil, karena selain kita diberikan waktu cukup untuk mengitari pusat kota Andorra de la Vella, kita juga punya kesempatan untuk mampir di salah satu desa kecil, Baga dan juga Mont Louis, Perancis.

Pagi hari sekitar jam 7 kita sudah hadir di tempat berkumpul dan karena Andorra bukan merupakan destinasi impian yang umum, maka kebetulan yang jadi peserta tur hari itu mayoritas manula yang ikut cruise dari Amerika. Yang menarik dari mereka ini ada sepasang traveler yang sudah berumur 70 tahun lebih yang sudah berkeliling ke lebih dari 100 negara dan fisik mereka masih terlihat segar dan kuat. Lucunya mereka belum pernah menginjak Indonesia, mungkin sedikit terintimidasi dengan berita-berita terorisme, entahlah, namun setelah kita cerita sebagian keindahan Indonesia, mereka tertarik untuk datang apabila ada kesempatan nanti.

3.jpg  7.jpg

Sekitar 1 jam lebih, kita jalan menuju utara dan mampir sebentar di salah satu kafe kecil untuk sarapan singkat, sebelum lanjut menuju Baga. Pemandangan yang indah terbentang di sepanjang perjalanan, terlihat bukit dan lembah yang hijau, ada danau kecil, berbagai macam variasi tanaman dan juga banyak bangunan rumah yang bagus. Desa Baga ini kecil dan sangat sepi, penduduk lokal-nya sedikit, dan kita hanya butuh waktu 15 menit untuk mengitari Baga. Ada satu gereja tua yang sudah lama berdiri dan rupanya ini adalah salah satu attraction kota Baga, selain alun-alun yang dikelilingi oleh beberapa kafe kecil. Seperti kebanyakan tempat di Eropa, bangunan gereja memang sering menjadi objek wisata oleh mayoritas turis karena biasanya masing-masing memiliki eksterior dan interior yang unik dan sering kali berbeda antara satu dan lainnya. Di samping itu, sebagian juga memiliki cerita-cerita sejarah yang menarik.

2.jpg11.jpg

Dari Baga, kita meninggalkan Spanyol dan melintasi perbatasan menuju Mont Louis, Perancis. Sekitar pukul 10 pagi waktu setempat kita tiba dan mampir lagi ke satu restoran kecil untuk menikmati croissant khas Perancis. Mont Louis ini bisa dikatakan area administratif kecil, atau dalam istilah pemerintahan Perancis, disebut juga 'commune'. Desa ini dikelilingi oleh dinding tinggi sehingga terlihat seperti benteng kecil dan view di luar gerbang sangat bagus. Kalau Anda sempat mampir kesini, Anda bisa menikmati view yang lebih bagus dari atas bukit yang bisa diakses dari dalam. Jumlah penduduk tidak banyak berbeda dengan Baga dan banyak turis seperti kita hanya mampir sebentar saja.

13.jpg  17.jpg

21.jpg  23.jpg

Tujuan berikut dan terakhir adalah Andorra. Negara ini bukan bagian dari Schengen namun untuk masuk tidak diwajibkan Visa, tapi perlu diingat ketika Anda keluar dari Schengen dan akan kembali lagi, pastikan Anda punya akses 'multiple entry'. Walaupun hampir tidak pernah ada yang diperiksa ketika kembali ke Spanyol (atau Perancis), tidak ada salahnya untuk dipersiapkan dari Indonesia.

Kebanyakan traveler datang ke Andorra untuk hiking dan main ski namun hal tersebut tidak memungkinkan kalau Anda hanya daytrip karena minimal harus nginap semalam agar bisa mulai dari subuh dan kembali pas sunset. Di tambah lagi pada waktu kita kesana, akses jalan menuju ke hiking area masih ditutup karena ada perbaikan jadi waktu hanya bisa dialokasikan untuk explore kota Andorra de la Vella.

26.jpg  34.jpg

Bank, grocery store, restoran, kafe, berbagai macam toko berjejer di jalan utama kota ini. Buat para traveler yang demen shopping biasanya cocok karena negara ini tax-free sehingga harga-harga minuman alkohol, parfum, baju, dan sebagainya kadang kalau dihitung bisa berbeda sampai 15-20% dibanding Spanyol atau Perancis. Banyak warga Spanyol juga sering mampir kesini juga untuk menghabiskan weekend karena relatif sepi sehingga suasana-nya terasa santai dan relaxing untuk keluarga.

30.jpg  31.jpg

Namun, seperti juga di Spanyol, kultur orang sini ngga banyak berbeda dengan Spanyol jadi kalau Anda tiba sekitar pukul 2 siang, sebagian toko malah tutup untuk 'siesta' atau istirahat siang dan mulai buka lagi sekitar jam 5 sore. Tapi tentunya mayoritas restoran dan kafe tetap buka, dan toko-toko yang besar yang paling sering didatangi turis pun buka. Icon kota ini bisa dibilang adalah jam pahatan Salvador Dali yang dinamakan 'The Nobility of Time'. Tidak sulit untuk menemukan jam ini karena ada di Piazza Rotonda. Dari tempat parkir utama bus, kita cukup jalan sekitar 10 menit. Karena tidak terlalu luas, Anda cukup menghabiskan waktu 3 jam untuk berkeliling Andorra de la Vella.

Dari kota ini, kita akan jalan kembali ke Barcelona namun sebelumnya, kita naik dulu ke salah satu puncak bukit dimana ada satu gereja tua Sant Miquel Engolasters berdiri, dan yang paling menarik dari spot ini adalah view kota Andorra de la Vella yang jelas terhimpit antara dua gunung tinggi. Panorama dari sini sangat indah dan menjadi klimaks dari kunjungan kita ke negara kecil ini.

27.jpg  33.jpg

Dari pengalaman kita mengunjungi Andorra, kalau Anda tidak ada rencana hiking, bisa disimpulkan akan lebih baik mengambil daytour ketimbang pergi sendiri dengan bus karena Anda akan dibawa mampir ke Baga dan Mont Louis namun kalau dari awal Anda ingin untuk mengunjungi ski resort atau naik gunung, tentunya lebih baik menginap semalam atau dua malam disana.

Day 7 - Park Guell dan Sagrada Familia (Senin, 11 Mei 2015)

Hari ini agenda kita agak santai karena tujuan kita hanya dua landmark saja yaitu Park Guell dan Sagrada Familia karena sore hari sekitar jam 5 kita sudah harus menuju airport untuk terbang ke Marakkesh, Maroko. Dua tempat ini berdekatan dan dapat dijangkau dengan taxi kurang lebih 15 menit saja dan termasuk dua lokasi favorit para turis karena selain dianggap sebagai bagian dari icon kota Barcelona, juga masuk ke dalam UNESCO World Heritage Site.

1.jpg  2.jpg

Park Guell terletak di Carmel Hill sehingga untuk mencapai tempat ini akan lebih baik menggunakan bus karena halte-nya sangat dekat dengan pintu masuk ketimbang harus naik subway dan 'mendaki bukit' yang menghabiskan stamina. Yang menarik dari Park Guell ini adalah kita bisa menyaksikan keunikan karya Antoni Gaudi yang menggabungkan kreativitas seni dia dengan alam dan lokasi di perbukitan ini juga menyuguhkan pemandangan indah kota Barcelona dari ketinggian.

3.jpg  5.jpg

Untuk masuk ke dalam taman ini, dikenakan biaya kurang lebih €7 dan tiket sebaiknya dibeli online untuk menghindari antrian panjang di pintu masuk. Umumnya, kita cukup menghabiskan waktu 1.5 jam untuk mengelilingi seluruh kompleks ini, termasuk melihat ke dalam dua bangunan utama yang terletak di pintu masuk utama namun ada juga warga lokal yang memanfaatkan taman ini sebagai lokasi piknik keluarga dan bersantai sambil menikmati view kota.

Lokasi berikut yang kita tuju adalah Sagrada Familia dan kita menggunakan taxi agar lebih nyaman dan cepat. Biaya kurang lebih €10-€13 tergantung traffic dan kalau Anda pergi berdua atau lebih, ada baiknya menggunakan taxi untuk hemat waktu dan tenaga karena nanti akan banyak jalan sekitar Sagrada dan juga untuk turun tangga dari menara.

6.jpg  8.jpg

Seperti layaknya kebanyakan landmark di Spanyol, tentu untuk masuk ke Sagrada Familia harus memiliki tiket dan sangat disarankan untuk beli online dari 2-3 minggu sebelumnya karena kalau mau antri hari H, terkadang Anda bisa menunggu sampai 2 atau 3 jam, bahkan lebih kalau lagi peak season. Sebelum masuk ke Sagrada, kita berjalan ke taman yang ada di seberang gereja untuk bersantai dan berfoto, kemudian mampir ke salah satu resto untuk lunch dulu.

9.jpg  10.jpg

Sekitar jam 2 siang, kita bergegas menuju Sagrada dan antri sebentar (sekitar 15 menit) untuk pemegang tiket online, dan tiba di dalam, kita langsung takjub melihat megahnya disain Gaudi ini. Interior gereja ini dipenuhi dengan jendela tinggi sehingga dikelilingi oleh banyak sinar matahari yang membentuk warna pelangi. Lokasi cukup padat dengan turis, baik yang berdoa maupun sekedar berfoto.

11.jpg  13.jpg

Di Sagrada, ada dua menara tinggi yang dinamakan Passion dan Nativity dan untuk pemegang tiket, Anda diperbolehkan untuk memilih salah satu menara. Di forum, banyak diskusi mengenai tower mana yang lebih baik, namun prinsipnya dua tower ini menawarkan view yang mirip dan dari kedua puncak menara, pengunjung bisa melihat interior dan exterior yang sama, tapi ada juga yang mengatakan lebih baik Passion saja karena sedikit lebih tinggi sehingga view lebih baik dari atas. Kita sendiri memilih Nativity karena kebetulan antrian lift juga tidak terlalu panjang dan kita puas, jadi saran saya, pilih saja antrian yang lebih sepi karena waktu cukup berharga.

Sagrada Familia ini adalah landmark terakhir yang kita kunjungi di Barcelona dan sore itu kita segera kembali ke hotel untuk melakukan packing terakhir dan taxi sudah siap untuk membawa kita ke bandara untuk meninggalkan Spanyol menuju Maroko.

Day 8 - Marrakech (Selasa, 12 Mei 2015)

Kita mendarat di bandara Menara sekitar pukul 8 malam waktu setempat. Suasana di dalam bandara sudah agak lengang dan hampir semua turis mulai memadati money changer untuk menukarkan uang mereka ke dirham. Sangat disarankan untuk membawa EUR atau USD dan ditukar langsung di Maroko karena selisih akan cukup besar kalau Anda membeli dirham di negara lain.

M1.jpg  M2.jpg

Kota Marrakech ini adalah salah satu pusat pariwisata Maroko, sempat tercantum sebagai destinasi terbaik TripAdvisor tahun 2015 dan mengundang banyak sekali turis Eropa dan Amerika untuk menikmati perbedaan kebudayaan dan kuliner yang ekstrim, namun untuk kita orang Indonesia yang merupakan negara mayoritas beragama Islam, pasti akan merasakan suasana yang sangat familiar dengan Marrakech.

Perkembangan kota dan negara ini tergolong lambat, ini disebabkan karena ekonomi mereka tidak mampu bertumbuh pesat seperti Indonesia yang ditunjang dengan derasnya investasi asing dan berbagai macam komoditi perdagangan yang melimpah ruah. Terhimpit oleh luasnya gurun pasir membuat mereka juga tidak leluasa mengembangkan agrikultur sehingga turis merupakan sumber devisa utama.

Secara umum, Marakkesh dikelilingi tembok yang membentengi kota tua (yang juga sering disebut Medina) dan berbatasan dengan lingkungan baru yang kebanyakan dipadati oleh imigran dan investor Perancis (biasa disebut Gueliz). Di dalam Medina, bertebaran hotel-hotel khas Maroko yang dinamakan 'riad' dan sangat disarankan untuk menginap di 'riad' untuk menikmati suguhan interior otentik dan juga mendapatkan berbagai macam informasi penting dari owner maupun helper-nya.

M3.jpg  M4.jpg

Mayoritas turis yang tidak mempunyai informasi banyak mengenai kota ini biasanya akan kaget ketika pertama kali menginjakkan kaki disini karena selain kesan kumuh terhampar di berbagai sudut kota, mayoritas orang lokal berasa terlalu 'friendly' ketika menghampiri turis baik menawarkan dagangan ataupun layanan mereka. Traveler wanita sebaiknya tidak jalan sendiri untuk menghindari hal yang tidak diinginkan jadi paling baik berdua atau bertiga dan memilih jalan yang ramai, atau ditemani guide lokal yang terpercaya.

Malam itu, kita langsung beristirahat di riad karena besoknya jam 9 pagi, kita sudah janji untuk bertemu dengan Youssef yang bisa dikontak melalui Tripadvisor (Marrakech Tour Guide - Private Tours).

Day 9 - Marrakech (Selasa, 12 Mei 2015)

Setelah sarapan pagi, kita memulai hari dengan bertemu dengan Youssef yang sudah menunggu di ruang tamu riad kita. Sangat disarankan untuk memanfaatkan jasa tour guide lokal ketika Anda pertama kali datang ke Medina karena ada tiga faktor penting yaitu kita bisa mengetahui dan mengenal lebih dalam sejarah dan budaya dari orang lokal serta lingkungan sekitar; kita tidak akan tersesat dalam labirin Medina dan menghemat waktu untuk tahu tempat-tempat penting maupun yang rawan; kita bisa bertanya mengenai tempat makanan favorit orang lokal, kudapan ringan, juga meminta dia untuk membantu menawar barang/souvenir.

M5.jpgM6.jpg

Youssef mengajak kita untuk mencari taksi dan menuju ke Jardin Majorelle. Lokasi taman ini ada di Gueliz sehingga agak jauh dari Medina. Taman yang dimiliki oleh mendiang designer Yves Saint Laurent ini menyimpan berbagai macam koleksi kaktus dan tanaman, tersebar mengelilingi kolam kecil dan bangunan museum suku Berber dengan warna biru cerah. Lokasi ini termasuk salah satu favorit turis dan banyak spot menarik untuk berfoto.

Setelah puas di sana, kita kembali ke Medina dan mulai berjalan menuju Bahia Palace. Bulan Mei sebenarnya sudah terlalu panas untuk berjalan karena menjelang jam 12 siang, suhu bisa mencapai 42 derajat dan menurut Youssef, waktu terbaik adalah awal Maret ketika suhu berkisar antara 20-25 derajat. Tiba di Bahia, Youssef membawa kita mengunjungi ruangan demi ruangan sambil bercerita mengenai sejarah dari istana ini.

M7.jpg  M8.jpg

Tujuan berikut adalah melewati Koutobia Mosque dan mampir di Saadian Tombs. Mausoleum ini merupakan tempat peristirahatan keluarga dinasti Saadi yang hidup di abad ke-16 dan kita diperbolehkan untuk mengambil foto di sini. Karena tempat ini tidak terlalu luas, maka biasanya 15-20 menit sudah cukup dan kita mampir ke salah satu restoran untuk makan siang.

Setelah makan siang, Youssef membawa kita menelusuri labirin Medina dari satu gang ke gang yang lain, dari satu souk ke souk yang lain. Dia mengatakan bahwa semua turis tanpa GPS yang datang ke sini sudah pasti akan tersesat dan banyak yang menghabiskan waktu ber-jam jam untuk bisa balik ke hotel mereka namun untuk mereka yang cuek, pengalaman tersesat ini memang yang di cari.

M9.jpg  M10.jpg

Kita mending cari aman karena berabe kalau tersesat dan kecopetan sementara masih ada rencana ke Sevilla 4 hari dan kembali lagi ke Madrid. Youssef tinggal tidak terlalu jauh dari Medina dan hampir semua pedagang kenal dia. Ini keuntungan jalan bareng dia karena selain tidak akan ditipu dan diganggu, biasanya buat yang senang belanja barang macam-macam mulai dari souvenir, baju, sepatu Maroko, lampu, dan sebagainya bisa dapat harga terbaik. Kita diajak berputar mengunjungi tempat-tempat esensial di Medina termasuk pengolahan besi dan dapur pembuatan kue sebelum akhirnya kita diantar lagi ke riad untuk beristirahat.

M11.jpg  M13.jpg

Persis jam 19.30, kita ditunjukkan jalan terdekat menuju Djemma El-Fna. Ini adalah alun-alun utama Medina, tempat yang paling tersohor di Marrakech dimana berbagai macam pedagang berkumpul, tukang makanan dan jajanan, pawang ular, pertunjukan topeng monyet, dan sebagainya. Bukan menjadi hal yang asing buat kita warga Indo yang sering melihat pasar malam, namun buat para bule, melihat 'organized chaos' seperti ini tentu menjadi atraksi yang tidak lazim.

Untuk mendapatkan view yang maksimal, ada baiknya naik ke salah satu restoran terdekat dan pesan saja satu atau dua minuman ringan yang penting bisa nongkrong di salah satu meja, karena biasanya makanan di tempat 'touristic' seperti ini tidak enak dan mahal. Setelah puas mengambil foto, coba makan di salah satu stall yang ada di bawah. Jangan mengharapkan makanan senikmat di Indo namun perlu dicoba untuk sekedar pengalaman.

M12.jpg

Karena masih belum terlalu familiar sama jalan dan lingkungan sekitar, kita memutuskan untuk kembali ke hotel sekitar jam 9 malam karena jalanan masih relatif ramai sehingga tidak terlalurawan kalau tersesat. Walaupun menurut Youssef, tingkat kriminalitas di Marrakech sangat rendah, tetap lebih baik untuk menjaga kemungkinan terburuk dan hindari hal-hal yang bisa mengundang bahaya.

Day 10 - Marrakech - Ouarzazate (Rabu, 13 Mei 2015)

Pagi itu sekitar jam 07.00 kita sudah siap untuk berangkat karena perjalanan menuju Ouarzazate cukup jauh, sekitar 4 jam dari Marakkesh. Kita sudah booking daytrip service ke Ait-Ben-Haddou dari Indonesia melalui Youssef juga dan memang landmark tersebut merupakan salah satu highlight Maroko, selain sand dunes yang tersohor itu di dekat Merzouga. Supir-nya yang bernama Ali sudah tiba di riad dan satu hal yang mengecewakan yaitu Ali tidak bisa berbahasa Inggris dan hanya fasih bahasa Perancis dan Arab saja.

Jadwal memang sudah ada di tangan dia tapi sayangnya kita tidak bisa ngobrol banyak untuk tanya hal-hal menarik yang kita lihat sepanjang perjalanan, namun karena tidak ada opsi lain, ya sudah kita tetap nekad saja jalan. Ali sendiri orangnya ramah dan terlihat friendly, terbukti dari antusiasme-nya untuk terus mengajak ngobrol dengan bahasa Perancis di selingi dengan 1-2 kata Inggris, namun apa daya, kita cuma bisa ketawa karena ngga ngerti.

Jalanan menuju luar kota relatif sepi, mungkin karena hari kerja, dan di kiri kanan terlihat agak lengang dengan beberapa rumah ber-cat merah khas bangunan Marrakesh. Dua jam pertama, kita berhenti di salah satu spot dengan view landscape padang rumput berlatar belakang gunung yang bagus. Setelah itu, ada satu spot dengan pemandangan deretan rumah tradisional suku Berber yang di bangun di area perbukitan. Tidak lama kemudian, kita sudah memasuki 'Tizi Tichka Pass' - salah satu jalanan berkelok yang di anggap berbahaya karena tidak ada pembatas jalan dan biasanya di sarankan hanya untuk driver yang sangat berpengalaman.

M14.jpg  M15.jpg

Separuh jalan, kita berhenti di salah satu puncak bukit untuk menikmati view yang spektakuler. Memang tidak salah apa yang di katakan Patrick, pemilik Riad yang kita tempatin, bahwa landscape menuju Ait Ben Haddou memang salah satu yang terbaik di Maroko dan jangan sampai di lewatkan apabila berkunjung ke Marrakesh. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan hampir 4 jam, kita tiba di kota Ouarzazate. Ada dua lokasi menarik di kota ini, yang pertama yaitu Atlas Film Studio - lokasi syuting yang sering dipakai sutradara Hollywood untuk film-film seperti Kingdom of Heaven, Alexander The Great, Lawrence of Arabia, dan sebagainya.

M16.jpg  M17.jpg

Yang kedua adalah Taourirt Kasbah, semacam istana tua dengan arsitektur klasik suku Berber. Di tempat ini, sering sekali Anda ditawari jasa guide oleh orang lokal, yang mengesalkan kadang mereka sangat persisten walaupun sudah ditolak, namun apabila kita ingin tahu detail mengenai apa yang terjadi di setiap sudut ruangan ini, guide tersebut sangat membantu. Selain interior yang bagus, view ke luar yang bisa terlihat dari jendela-jendela kecil juga menawan.

M18.jpg  M19.jpg

Selesai makan siang di restoran yang ada di dekat kasbah, kita pun lanjut menuju Ait Ben Haddou. Landmark ini pun sering di jadikan lokasi syuting film karena bentuk-nya seperti benteng kuno dengan exterior unik dan juga termasuk dalam daftar UNESCO World Heritage Site. Untuk menuju ke situs ini, dari parkiran yang berada di atas bukit, kita harus turun menuju ke bawah melalui anak tangga dan menyeberang sungai dangkal untuk sampai di kasbah. Karena suasana yang sangat terik dan juga kita sudah melihat bagian dalam kasbah Taourirt, kita memutuskan untuk tidak mengeksplorasi Ait Ben Haddou namun hanya berfoto dan menghabiskan waktu di sekitar lokasi saja.

M20.jpg  M21.jpg

Setelah puas berfoto, kita pun kembali ke parkiran untuk pulang ke Marrakesh. Biasanya, untuk yang punya waktu 2-3 hari ekstra, dari sini bisa lanjut menuju Merzouga dengan waktu tempuh sekitar 5-6 jam dan menginap di sana untuk menikmati pemandangan sand dunes, namun karena kita harus berangkat menuju Sevilla besok hari, maka kita harus melewatkan kesempatan ini. Perjalanan pulang melewati 'Tizi Tichka Pass' menyuguhkan kita pemandangan bagus dari sisi yang berbeda dan pastikan jangan terlelap karena banyak spot menarik untuk diabadikan dengan kamera.

M22.jpg  M23.jpg

Kita tiba di Marrakesh sekitar jam 8 malam, walaupun langit masih terang namun kita terlalu lelah untuk berkeliling Medina lagi jadi kita putuskan untuk istirahat di riad saja sambil packing santai agar besok pagi masih sempat jalan sebentar sebelum ke airport.

Day 11 - Marrakech / Sevilla (Kamis, 14 Mei 2015)

Setelah istirahat cukup, pagi hari sekitar pukul 8 kita sarapan dan kemudian menyempatkan diri untuk berkeliling sebentar di Medina karena masih ada waktu sekitar 3 jam sebelum kita ke airport. Saking ngebet dan 'nafsu' terhadap turis, terkadang untuk sebagian orang, Marrakesh menjadi berasa 'tidak aman' karena di sepanjang jalan, para pedagang maupun yang menawarkan jasa sering kali sangat agresif. Kita sempat ditawarin oleh salah satu pemandu wisata untuk mengantarkan kita ke tannery (atau tempat pengolahan kulit binatang untuk menjadi kulit yang bisa digunakan untuk industri) yang memang menjadi salah satu spot turis namun karena orang lokal tersebut terlihat sangat antusias untuk mengantarkan kita, kita malah memutuskan untuk batal karena selain kita khawatir di bawa ke tempat yang terlalu asing sehingga kita sulit untuk balik ke riad, kita juga khawatir kalau nanti dikerubutin oleh mereka dan dimintain uang (atau lebih apes lagi, dirampok). Di forum Tripadvisor, banyak yang ternyata mengeluh karena jadi korban 'tannery scam', jadi usahakan selalu waspada dan jangan lengah.

Setelah membeli beberapa souvenir, kita mampir ke restoran Fatima Berbere yang direkomendasi Patrick untuk makan siang. Ternyata restoran ini juga mendapatkan rating yang cukup tinggi di Tripadvisor. Soal rasa, termasuk enak apabila dibandingkan dengan beberapa restoran yang pernah kita coba di Marrakesh, namun tentunya kalah dengan makanan Indonesia. Yang jadi masalah, owner-nya kesulitan berbahasa Inggris jadi kita tidak bisa bertanya banyak ke dia soal makanan dan lainnya. Setelah makan dan balik ke riad, kita pamit ke Patrick yang sudah menjadi friendly host dan segera ke airport untuk terbang menuju Sevilla.

S1.jpg  S3.jpg

Perjalanan menuju Sevilla hanya memakan waktu sekitar 1.5 jam saja dan kita tiba di ibukota area Andalusia tersebut sekitar pukul 2 siang. Taxi mengantarkan kita ke hotel Monte Carmelo dan setelah check-in dan istirahat sebentar, kita bersiap untuk jalan santai menuju tujuan pertama, Plaza de Espana. Lokasi hotel ini tergolong strategis karena cukup dekat dengan subway dan berada tidak jauh dari sungai Guadalquivir sehingga hanya butuh sekitar 15-20 menit untuk berjalan menuju Plaza Espana.

Cuaca di pertengahan Mei sudah bisa dibilang panas jadi kalau Anda berjalan kaki sekitar pukul 4 sore, suhu bisa mencapai 30-32 derajat dan walaupun udara kering, sinar matahari yang terik bisa cepat menguras tenaga. Lokasi Plaza Espana ini bersebelahan dengan taman Maria Luisa sehingga cocok banget untuk berjalan santai maupun jogging ringan. Banyak spot foto yang bagus di Plaza Espana dan menurut kita, termasuk salah satu plaza yang sangat bagus dengan berbagai ukiran indah.

S2.jpg 

S4.jpg  S5.jpg

Sore itu kita menghabiskan waktu di sekitar plaza dan taman dan kemudian berjalan santai balik menuju hotel menyusuri jalan di pinggir sungai. View menjelang sunset di sekitar jembatan sangat indah dan di sepanjang jalan kita ketemu banyak orang yang sekedar olahraga sore maupun menikmati pemandangan sambil mengobrol, street artist yang nongkrong sambil melukis foto wajah, maupun keluarga yang lagi asik menikmati coffee break di kafe.
Kota Sevilla ini memang sangat friendly untuk pejalan kaki dan dengan tata kota yang rapi dan tergolong bersih, kota ini wajib dikunjungi kalau Anda mempunyai kesempatan untuk berwisata ke Spanyol selatan.

Day 12 - Sevilla (Jumat, 15 Mei 2015)

Kita mengawali hari kedua di Sevilla dengan mengunjungi salah satu landmark terbaik kota ini yaitu Royal Alcazar of Seville. Konon banyak yang mengakui bahwa istana ini adalah salah satu yang terbaik di Spanyol dan juga masuk ke dalam daftar UNESCO World Heritage Site. Awalnya dibangun oleh raja Moor (dari Maroko) ketika mereka melakukan invasi ke Spanyol dan berhasil, dan kemudian dipugar oleh bangsa Spanyol ketika mereka berhasil mengusir bangsa Moor. Istana ini sangat bernuansa Arabic namun juga kental dengan influence Eropa sehingga menjadikan Alcazar sebagai satu kompleks bangunan yang unik. Selain film 'Kingdom of Heaven' yang mengambil salah satu pelataran sebagai lokasi syuting, beberapa episode 'Game of Thrones' juga pernah menjadikan Alcazar sebagai setting film tersebut.

S6.jpg  S7.jpg

Dari Alcazar, kita berjalan sekitar 15 menit menuju lokasi berikutnya yaitu Catedral de Sevilla (Sevilla Cathedral) yang juga merupakan landmark UNESCO. Bangunan gereja di Eropa termasuk bagus dan layak untuk didatangi karena eksterior maupun interior-nya sangat mengagumkan. Detail pengerjaannya patut diacungi jempol dan umumnya kita bisa naik ke salah satu menara untuk menikmati pemandangan kota dari ketinggian.

S8.jpg  S9.jpg

Setelah puas memotret kota Sevilla dari puncak menara Giralda, kita turun dan mampir ke salah satu restoran di sekitar Barrio Santa Cruz untuk makan siang dan kemudian melanjutkan eksplorasi area kota tua Sevilla. Ada satu landmark unik yaitu Metropol Parasol yang juga dikenal dengan nama Las Setas de la Encarnacion. Bangunan ini berbentuk seperti jamur dan Anda bisa naik ke atas untuk menikmati pemandangan kota Sevilla.

S10.jpg 

S11.jpg  S12.jpg

Di sekitar lokasi ini juga ada satu jalan panjang yang dipenuhi dengan kafe, restoran, maupun toko, jadi buat yang seneng nongkrong ataupun shopping, cocok juga untuk melepas penat dengan bersantai di sini, sekedar ngopi, ngebir, ataupun menikmati nyanyian artis jalanan. Setiap sudut lorong di sekitar area ini sangat menarik untuk dijelajahi karena banyak toko kecil yang menawarkan souvenir unik, makanan ringan yang membuat kita penasaran untuk mencoba, maupun bangunan-bangunan kuno khas Eropa yang bagus untuk dijadikan latar belakang foto.

S13.jpg

Karena waktu masih menunjukkan pukul 6 sore, kita memutuskan untuk berjalan santai sekitar 30 menit menuju hotel sambil mampir di salah satu restoran fast food untuk makan malam. Di peta terlihat tidak jauh, namun karena kita sudah kehabisan tenaga dari pagi hari, perjalanan balik terasa sangat melelahkan. Setelah tiba di hotel dan selesai mandi, tidak lama pun kita langsung terlelap.

Day 13 - Jerez de la Frontera (Sabtu, 16 Mei 2015)

Awalnya pada waktu kita menyusun itinerary di Spanyol, kita tidak tahu mengenai adanya 'Horse Fair' yang setiap tahun diadakan di kota Jerez sampai saya membaca di forum Tripadvisor kalau ada traveller yang setiap tahun pasti menyempatkan waktu untuk menghadiri acara ini. Kebetulan tanggal-nya cocok jadi kita memutuskan untuk tidak melewatkan acara ini dan sekalian penasaran juga ingin melihat seberapa meriah sampai ada yang setiap tahun selalu balik.

S14.jpg  S16.jpg  S17.jpg

Festival ini dikenal juga dengan nama 'Feria de Caballo' dan ternyata menjadi satu festival penting untuk rakyat Spanyol dan biasanya diadakan setiap pertengahan bulan Mei dan berpusat di kota Jerez yang terletak sekitar 90km dari Sevilla. Selama seminggu penuh, rakyat akan berpesta di festival ini dan umumnya hampir seluruh pusat perbelanjaan dan kantor akan tutup, kecuali untuk beberapa minimarket yang biasanya masih buka di siang hari. Umumnya, pengunjung lokal akan mengenakan pakaian tradisional Spanyol dan yang paling terkenal adalah pakaian wanita yang disebut Flamenco dress. Banyak kereta kuda yang dihias dan mereka akan berkeliling mengitari area festival. Nuansa-nya terasa seperti berada di awal abad ke-19 dan di setiap restoran yang juga penuh dengan dekorasi, masyarakat lokal akan bernyanyi dan menari sambil menenggak berbagai macam cocktail.

S15.jpg  S18.jpg

Sangat mudah apabila Anda ingin mengunjungi Jerez, cukup membeli tiket kereta secara online (sangat disarankan untuk mencegah kehabisan tiket) dan datang saja ke stasiun terdekat di Sevilla sesuai dengan yang tertera di tiket dan perjalanan hanya memakan waktu sekitar 1 jam. Dari stasiun Jerez, Anda bisa berjalan santai menuju lokasi festival sekitar 20-30 menit, namun jangan heran kalau suasana jalan sangat lengang dan banyak toko tutup karena biasanya warga sudah memadati festival dari pagi, bahkan ada yang tidak pulang dari malamnya.

Bagi yang membawa anak kecil, di seberang lokasi ada theme park dadakan buat anak-anak. Cocok apabila anak-anak sudah bosan dengan parade kuda dan kostum dan ada juga beberapa kafe untuk melepas penat dengan beristirahat dan menghilangkan rasa haus dengan minuman dingin dan segar. Kota Jerez sendiri relatif kecil dan mungkin dalam 1 hari sudah cukup untuk dijelajahi namun buat yang penasaran ingin melihat bagaimana 'Feria de Caballo' di malam hari yang rasanya akan lebih meriah dengan variasi lampu yang berwarna-warni, boleh dipertimbangkan untuk menginap satu malam di sini.

Kita sendiri merasa sudah puas menghabiskan waktu sekitar 4 jam di sana dan sore hari kita balik lagi ke Sevilla dengan menggunakan kereta terakhir. Apabila Anda kebetulan datang ke Sevilla pada waktu tidak ada festival ini, akan lebih baik tidak ke Jerez namun memilih tujuan daytrip lain seperti Cordoba, Malaga, ataupun Granada karena tidak ada yang menarik dari kota Jerez sehingga magnet utama-nya memang 'Horse Fair' saja.

Day 14 - Sevilla (Minggu, 17 Mei 2015)

Jadwal kita di hari terakhir di Sevilla sebetulnya agak longgar makanya kemarin sempat terpikir untuk mengambil satu daytrip dadakan tapi kita khawatir kecapean jadi kita putuskan untuk melihat beberapa tempat yang belum sempat didatangi, terutama di bagian utara kota. Tujuan pertama kita menuju ke kawasan Triana. Lokasi ini tidak begitu jauh dari Alcazar dan merupakan tempat kelahiran tarian Flamenco khas Spanyol. Tadinya kita berpikir mau mencari satu kafe kecil untuk sekedar lunch sambil menonton Flamenco tapi ternyata hari Minggu adalah hari istirahat untuk Spanyol (dan juga Portugal) jadi banyak kafe yang meniadakan pertunjukan.

S19.jpg  S20.jpg

Sayang juga tapi memang nonton Flamenco bukan prioritas kita, jadi kita cukup mengeksplorasi area sekitar sana dan mampir ke salah satu pasar bersih untuk sekedar melihat kegiatan orang lokal di hari Minggu. Pasar saja termasuk sepi dan ada beberapa restoran kecil yang masih buka namun lebih banyak counter yang tutup. Di dekat pasar tersebut, ada satu toko unik yang menjual pernak pernik dan souvenir berbau Flamenco. Harga cukup tinggi namun kualitas produk memang terlihat sangat bagus.

Menjelang makan siang, kita memutuskan untuk menuju ke Nervion Plaza. Alasannya karena kita pikir karena mall, pasti banyak toko dan restoran yang buka, di samping itu, lokasinya juga persis di depan Ramon Sanchez-Pizjuan Stadium, kandang klub sepakbola kebanggan kota Sevilla. Tiba disana, kita cukup kaget, ternyata mall saja toko semuanya pada tutup dan restoran pun hanya sebagian yang buka. Jadi memang berbekal pengalaman ini, ada baiknya jadwal hari Minggu diatur untuk daytrip ke luar kota atau nonton bola.

Setelah makan siang, kita pun bengong karena kebingungan mau kemana lagi soalnya landmark kota banyak yang sudah didatangi. Setelah mengecek tripadvisor dan Google, akhirnya pilihan jatuh ke Basilica de la Macarena. Ini adalah salah satu gereja kecil yang juga cukup tersohor di sana, dan kita juga penasaran untuk melihat area neighbourhood sekitar Macarena ini. Tiba di sana, ternyata gereja baru akan dibuka untuk umum pada pukul 5 sore, jadi kita nongkrong dulu di salah satu kafe kecil untuk menikmati teh dan dessert.

S21.jpg

Interior dari Basilica ini memang termasuk cantik namun area sekeliling gereja ini termasuk 'gersang' jadi kalau waktu Anda terbatas di Sevilla, ada baiknya fokus di Cathedral saja. Sekitar pukul 7 malam, kita kembali ke hotel dan makan di salah satu restoran sekitar situ.

Day 15 - Madrid (Senin, 18 Mei 2015)

Berbekal tiket PP Jakarta - Madrid, kita pun harus kembali ke Madrid karena besok di pagi hari, kita sudah harus berangkat ke airport. Kita naik kereta cepat menuju stasiun Madrid dan perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam dengan tiket yang sudah kita pesan dari Jakarta. Pemandangan selama perjalanan tidak begitu bagus karena banyak area yang gersang jadi untuk yang tertarik mengambil opsi lebih murah, boleh dipikirkan kereta malam dengan waktu tempuh sekitar 6-8 jam.

Tiba di Madrid, kita pun kembali ke hotel Ibis yang merupakan hotel yang kita tempati di 3 hari pertama. Setelah check in, kita menuju ke area Salamanca. Ini adalah kawasan perbelanjaan elite di Madrid. Bertebaran banyak branded stores dan bisa dibilang merupakan surga yang hobi shopping. Selain brand-brand terkenal, di area ini juga banyak toko-toko lokal yang cukup menarik untuk di-browse. Area Salamanca ini berdampingan dengan Retiro Park dan di dekat sini juga ada Plaza de Colon, satu square yang cukup luas dengan fountain yang dibangun sebagai monumen penghormatan kepada Christopher Columbus.

Menjelang sore, kita memutuskan untuk mengunjungi Principe Pio, salah satu pusat perbelanjaan di Madrid untuk sekedar menghabiskan waktu dan mencari souvenir. Tidak banyak barang unik yang bisa Anda temukan disini namun dengan lokasinya yang tidak jauh dari Palacio Real de Madrid dan Anda bisa menemukan banyak restoran disini, mall kecil ini bisa menjadi alternatif untuk melepas lelah dan menikmati dinner.

Day 16 - Madrid / Jakarta (Selasa, 19 Mei 2015)

Setelah check out dari hotel, kita pun menuju ke airport untuk kembali ke Jakarta. Perjalanan 2 minggu ini buat kita sangat berkesan namun kita merasa akan lebih optimal lagi kalau kita bisa menghabiskan 2 hari terakhir di Lisbon, Portugal karena lokasi kota tersebut sebetulnya tidak terlalu jauh dari Sevilla namun sayang tiket yang kita beli adalah PP sehingga kita harus kembali ke Madrid. Selain itu, kita memang kesulitan untuk mengatur jadwal ke Portugal karena penerbangan dari Marrakesh ke Sevilla tidak setiap hari ada.

Di antara ketiga kota di Spanyol yang kita datangi, Barcelona adalah kota yang terbaik dengan pilihan daytrip yang menarik, juga memungkinkan untuk menjadi lokasi awal Cruise Tour. Sevilla juga wajib dikunjungi walaupun sebetulnya cukup 2 hari saja untuk menikmati kota tersebut dan selebihnya untuk daytrip. Madrid adalah kota bisnis jadi sangat cocok untuk yang doyan shopping, clubbing, nongkrong, layaknya Anda menikmati Jakarta, Hongkong, ataupun Sydney.

Dari Barcelona, usahakan mampir ke Andorra, karena selain menambah satu negara yang dikunjungi, tempat ini tidak jauh dari Barcelona dan banyak pemandangan yang indah selama perjalanan kesana. Akan lebih baik juga kalau bisa nginap satu malam dan hiking di pagi hari karena salah satu highlight utama Andorra adalah gunung.

Maroko relatif kuno dan terkesan agak kumuh terutama di kawasan Old City namun tentu menyimpan banyak cerita sejarah, budaya, dan lokasi yang cantik, terutama Sahara desert. Untuk pemegang paspor Indonesia bebas masuk tanpa visa. Jangan dilewatkan kalau Anda punya waktu 3-4 hari karena tidak jauh dari Spanyol dan biaya hidup serta penginapan di sana pun tidak mahal. Selain Marrakesh, Anda juga bisa mengunjungi Casablanca, Fes, Essaouira, dan tentunya Merzouga untuk mencoba pengalaman nginap di padang pasir.

* * *

 

 

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Jalan2

betul, kalo di Spanyol, bola itu udah seperti agama haha dan setiap weekend, nonton bola di TV maupun di stadion itu udah sangat lumrah. Pernah kita liat di 1 kafe kecil, lagi ada pertandingan bola, isinya 8 orang semuanya hening dan konsentrasi penuh ke TV haha

btw bro, mau tanya, kalo edit first post itu ngga ada limit maksimal length word-nya ya ? jadi sudah ngga perlu dipisah menjadi bbrp post ?

 

@deffa

di setiap stadion besar pasti ada tur-nya dan umumnya tanpa guide cuma di dalam itu sudah diarahkan step2nya, misal yg pertama liat pitch dari atas, kemudian masuk ke ruangan trophy, kemudian ada tempat foto, baru nanti masuk ke lapangan, terus nanti keluar di tempat souvenir, dst, jadi praktis dan terarah, biasanya durasi 1.5 jam, dan usahakan datang pas buka (sktr jam 10 pagi) karena turis masih sedikit. Kalo sudah after lunch, diserbu puluhan bus pasti ribet di dalem haha

iya bangunan2 Eropa itu bagusnya banyak yg klasik dari berapa ratus taon lalu ada tapi di pusat kota juga banyak bangunan modern

 

@kyosash

okay bro, nanti disambung biar komplit ya

@HarrisWang

thanks for reading bro

Share this post


Link to post
Share on other sites
10 hours ago, Nightrain said:

di setiap stadion besar pasti ada tur-nya dan umumnya tanpa guide cuma di dalam itu sudah diarahkan step2nya, misal yg pertama liat pitch dari atas, kemudian masuk ke ruangan trophy, kemudian ada tempat foto, baru nanti masuk ke lapangan, terus nanti keluar di tempat souvenir, dst, jadi praktis dan terarah, biasanya durasi 1.5 jam, dan usahakan datang pas buka (sktr jam 10 pagi) karena turis masih sedikit. Kalo sudah after lunch, diserbu puluhan bus pasti ribet di dalem haha

iya bangunan2 Eropa itu bagusnya banyak yg klasik dari berapa ratus taon lalu ada tapi di pusat kota juga banyak bangunan moder

ooo i see wah menarik sekali saya penyuka sepakbola jadi memang suatu saat mau coba berkunjung ke stadion :D

Share this post


Link to post
Share on other sites
Just now, Nightrain said:

@Jalan2

okay very good bro, jadi kalo mau disambung ceritanya ngga terpisah2 ya kalo misalnya lupa reserve post :D

@deffa

sama bro, semoga terkabul ya, dan mudah2an gw juga nanti bisa nonton sekali di Inggris, sekali di Italy, dan sekali di Jerman :D 

yuhu pengen ke etihad stadium Manchester City :D 

Share this post


Link to post
Share on other sites

yoi bro @deffa waktu itu juga sempet duduk di samping satu fans yg nonton bareng ponakan kecil-nya dan selama pertandingan sepertinya dia ngejelasin pemain2nya siapa aja, dan walopun bahasa Inggris terbata2, dia termasuk ramah ngobrol2 ama kita. Di pojok bawah ada satu petak tempat hardcore fans nabuh genderang udah kaya mo perang, sepanjang pertandingan semangat banget dan atmosfer dalam stadium memang jauh beda dibanding nonton di TV, mirip kaya kita nonton konser langsung, larut bareng suporter tim dan lawan

ini pelan2 lagi cari waktu utk nyambung ceritanya ya :D

Share this post


Link to post
Share on other sites
On 2/24/2016 at 2:30 AM, deffa said:

@Nightrain

iya saya liat foto terakhir nampak nya rapi dan tertib ya penonton disana

kalo nonton di stadio kayak gini enak terus dah :D

Bener banget.... kalo nonton bola di daratan Eropa memang semuanya cenderung lebih tertib.... cocok kalo buat bawa anak2 ama istri.

Tapi kalo di Inggris 180 derajat bedanya... kalo nonton di English Premier League ...... dijamin bising, rame, super aktif, dan adrenalin ON terus dari awal sampe akhir (soalnya agak takut mikirin kira2 nanti supporternya berkelahi ngga ya dengan supporter lawan :D )

@Nightrain

Ditunggu cerita Andorra ama Maroko nya ya !!!

Paling demen kalo liat cerita ama gambar2 kayak gini.

By the way kayaknya ada yg missing nih .... Basilica de la Sagrada Familia.... mudah2an ada di cerita Part 2 nya !!!

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Soul Seeker haha iya EPL top juga ya, mudah2an one day bisa kesampean nonton disana. Okay nanti dilanjut ya pas sempet, kita mampir juga pas Day 7 ke Park Guell dan Sagrada kok, dan cerita Spanyol blom selesai karena after Maroko, kita ke Sevilla 4 hari baru balik ke Madrid dan Jkt

Share this post


Link to post
Share on other sites
23 hours ago, twindry said:

@Nightrain asik yah jalan ke yurop. budgetnya berapa mas bro? :D 

soal budget sangat bergantung sama jenis penginapan, makanan, shopping budget, dan pemilihan metode transportasi, tapi pada umumnya budget orang akan berkisar antara 30-40jt / orang untuk travelling 2 mingguan sudah all-in termasuk shopping souvenir dikit.

Budget ini bisa di-squeeze down sampai 30% kalau memilih penginapan jenis hostel atau misal 1 apartemen sharing berempat dan pemilihan makanan semua yang maksimal 12 euro sekali makan, dan sesekali masak ataupun Indomie :D

Kalau shopping anggap nilai-nya 0, maka transportasi bisa dipertimbangkan untuk night train atau bus untuk pindah kota karena kereta cepat umumnya harga bisa 2-3x lebih mahal

Share this post


Link to post
Share on other sites
25 minutes ago, Nightrain said:

soal budget sangat bergantung sama jenis penginapan, makanan, shopping budget, dan pemilihan metode transportasi, tapi pada umumnya budget orang akan berkisar antara 30-40jt / orang untuk travelling 2 mingguan sudah all-in termasuk shopping souvenir dikit.

Budget ini bisa di-squeeze down sampai 30% kalau memilih penginapan jenis hostel atau misal 1 apartemen sharing berempat dan pemilihan makanan semua yang maksimal 12 euro sekali makan, dan sesekali masak ataupun Indomie :D

Kalau shopping anggap nilai-nya 0, maka transportasi bisa dipertimbangkan untuk night train atau bus untuk pindah kota karena kereta cepat umumnya harga bisa 2-3x lebih mahal

:ngeri 30-40jtan wakakak.. ngeri2 sedap nih :D 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

  • Similar Content

    • By braska
      Foto diambil dari Tokyo Tower - (k)
      Hallo semua,
      Tahun ini saya berkesempatan mengunjungi Tokyo beberapa kali. Kebanyakan bersama teman2 (thx untuk teman2 II dan IV) dan beberapa kali dengan partner. Banyak yang bertanya ke saya tentang itinerary selama di Tokyo, jadi saya pikir lebih baik saya buatkan dalam satu Thread yang nantinya tinggal di share URL nya.
      Thread ini akan saya buat dalam beberapa tahap, dan diharapkan sudah bisa selesai sebelum bulan Desember 2018 berakhir.
      Beberapa pokok bahasan yang akan diulas dalam Thread ini antara lain
      I Persiapan
      II Itinerary
      III Kereta di Tokyo
      IV Shopping
      V Tempat Wisata Gratis
      VI Tempat Wisata Berbayar
      VII FAQ
      PERNYATAAN :
      FOTO
      Semua Foto yang tidak ada tanda dalam Thread ini berarti di ambil dari Google dan Screenshot, sedangkan foto yang bertanda merupakan hasil jepretan dari 
      (i) I Edy S
      (a) Adhitya A W
      (k) R CJatmiko
      WEBSITE
      Saya tidak memiliki kepentingan apapun dengan website yang ada dalam thread ini. Moderator dapat menghapus link jika di perlukan
      MUSIM
      Yang di bahas dalam Thread ini hanya untuk keberangkatan pada Musim Dingin di Tokyo dan sekitarnya, anda dapat tetap membaca thread ini dengan melakukan beberapa penyesuaian jika ingin bepergian di Musim lain.
      STYLE
      Khusus Perjalanan ke Tokyo, perjalanan saya bukan perjalanan Backpacker, saya selalu membawa Koper, naik penerbangan Full Service, Tinggal di Hotel, tetapi mencari harga paling murah yang bisa di dapatkan  
       
      I Persiapan
      Saya selalu menikmati Tokyo (sama halnya dengan saya menyukai Bangkok) Kota ini sangat hidup, penuh dengan budaya Jepang yang kental di satu sisi dan teknologi modern di sisi lain. Khusus untuk Musim dingin, saya menyukainya karena
      1. Musim dingin tidak ada di Indonesia, 2. Tidak terlalu berkeringat, 3. Ada banyak foto indah yang bisa di peroleh di musim dingin, 4. Salju, 5. Harga Tiket dan Hotel lebih murah...(ya, bandingkan jika anda pergi ke Jepang untuk melihat Sakura mekar) Jika kalian ingin mencoba musim dingin di Tokyo ayo kita mulai persiapannya.
      1. Passport dan Visa
      Untuk keluar negeri tentu saja kita harus mempunyai Passport dan untuk bisa ke Jepang kita juga harus mempunyai Visa. Ada banyak cara membuat passport yang bisa di temui di Google karena itu saya tidak akan mengulas lebih lanjut. Silakan masuk ke www.google.co.id lalu ketikkan "cara membuat e paspor" dan kalian akan menemukan lebih dari 100.000 tautan.
      Yang ingin saya sampaikan disini adalah BUATLAH E-PASSPORT, jangan membuat Passport biasa. Membuat passport biasa untuk bepergian ke Jepang sangatlah menyusahkan, karena artinya kita harus mengurus Visa. Sedangkan jika menggunakan E Passport kita tinggal mengurus Visa Waiver.
      Berikut saya tunjukkan perbandingannya :

      Dari perbandingan di atas terlihat kan, mempunyai E Passport berarti anda mengurangi keribetan mengurus Visa, jika visa di tolak anda terpaksa harus merelakan tiket pesawat PP dan (mungkin) hotel yang hangus. Sebaliknya jika anda mempunyai E Passport anda tinggal mengurus Visa Waiver terlebih dahulu baru melakukan pemesanan tiket pesawat, hotel, dll sesudah Visa Waiver di kabulkan. Anda juga bisa melewatkan ketakutan yang paling banyak di bicarakan orang saat membuat Visa "HARUS PUNYA DUIT MINIMAL SEKIAN PULUH JUTA", karena penguruan Visa Waiver hanya memerlukan E Passport anda. 
      Peluang untuk mendapatkan Visa Waiver juga sangat besar, jika anda orang baik2 tidak punya catatan kriminal, tidak pernah ditangkap di Jepang, maka saya bisa bilang Anda pasti dapat Visa Waiver.
      Cara mengurus visa waiver Jepang bisa di dapatkan dengan mengetikkan "cara membuat visa waiver jepang" di Google.
       
      2. Tiket
      Saya bukan orang yang anti dengan penerbangan Low Cost, pada dasarnya saya malah lebih sering menggunakan Maskapai Low Cost ketimbang Full Service, tapi mari saya tunjukkan kenapa saya lebih memilih penerbangan Full Service untuk pergi ke Tokyo
      Maskapai Low Cost hampir selalu menggunakan transit flight dari Jakarta ke Tokyo. Efeknya sangat berbahaya, saya sudah 2x mengalami kejadian tidak mengenakkan. Waktu transit biasanya hanya 1,5 - 2 jam. Akibatnya jika penerbangan dari Jakarta delay maka (hampir) dapat dipastikan (walaupun kita tidak ketinggalan pesawat menuju Tokyo) tidak cukup waktu untuk memindahkan bagasi kita. Kejadian paling parah yang saya alami adalah berada di musim dingin tanpa jaket tebal (yang tertinggal di Kuala Lumpur). Saat itu perlu 2 hari untuk bagasi saya sampai di hotel. Alhasil liburan sudah tidak lagi menyenangkan, dan saya harus rela kehilangan suara selama 2 minggu karena terkena radang tenggorokan (kupluk, syal dan semua baju ganti ada dalam koper di bagasi). Sekarang  bagaimana jika waktu transitnya lama, misal 16 jam. Anda mau tidak mau harus mengeluarkan uang lagi untuk membayar hotel di lokasi transit. Tentu saja ada pilihan untuk tidur di bandara. Tapi sebagaimana telah saya tuliskan di atas style perjalanan saya bukan backpacker. Jam kedatangan dan keberangkatan Maskapai Low Cost sering mengakibatkan anda kehilangan 1 hari di Hotel. Begini contohnya : Jika anda Tiba di Tokyo Pukul 23.00 maka sesudah proses imigrasi, pengambilan bagasi, transportasi dll maka kemungkinan anda akan tiba di hotel Pukul 01.00. Waktu Check in hotel biasanya adalah pukul 14.00 sehingga mau tidak mau anda telah kehilangan 1 hari di hotel yang telah anda bayar. Selain itu waktu keberangkatan juga seringkali jadi masalah. Maskapai Low Cost sering berangkat di jam-jam malam seperti 23.50, padahal waktu Check Out hotel Tokyo adalah 11.00 akibatnya ada waktu lebih dari 12 jam luntang lantung tanpa tempat istirahat. Ada biaya tambahan untuk bagasi di penerbangan Low Cost. Biasanya berkisar 400 - 700 ribu tergantung beratnya. Berarti kalau PP bawa bagasi maka ada tambahan biaya sekitar 1 juta dari harga tiket. Penerbangan ke Tokyo memakan waktu lama, direct flight saja bisa lebih dari 7 jam. Lalu di pesawat kita mau ngapain? duduk, diem, merenung dan tidur? jika anda memilih untuk mengisi perut maka ada biaya lagi yang harus di keluarkan untuk pemesanan makanan.  Ok, jadi kita akan memilih penerbangan full service yang menyediakan makanan dan minuman, entertainment flight, jarak antar kursi yang lapang, jam penerbangan yang tepat dengan kebutuhan, free bagasi, dan semua fasilitas lain yang tidak di dapatkan di penerbangan low cost. Mahal dong? Jawabnya TERGANTUNG. 
      Ini contoh penawaran maskapai low cost

      Dan ini tiket yang saya beli 

       
      Saya terbang menggunakan JAL yang masuk dalam daftar 5 Star Airlines. Bagasi 46 kg FREE, Full Service, dengan Jam kedatangan 15.45 dan Jam keberangkatan 17.45. Harga yang saya dapatkan lebih murah daripada maskapai Low Cost.
      Jadi bagaimana caranya? Saya menggunakan SkyScanner (silakan Googling). Dengan SkyScanner kita dapat melihat kapan, maskapai mana, dan website mana yang memberikan tiket paling murah. Tentu saja jika kita membeli dari jauh2 hari kita memiliki lebih banyak pilihan harga yang mungkin dapat berubah. Oh ya, sekali kita melakukan pencarian lewat SkyScanner maka saat membuka email, googling dan menggunakan media sosial iklan yang ditampilkan biasanya adalah iklan harga tiket yang paling murah. Rajin2lah mengecek harga tiket lewat SkyScanner karena FYI, harga tiket JAL biasanya 16juta sekali jalan. Harga 7,3juta PP saya dapatkan menggunakan Fasilitas "Dapatkan Info Harga" yang ada di situs SkyScanner. Fasilitas ini memungkinkan kita mendapatkan harga terbaru dari rute yang kita tuju.
      Sekedar tambahan, Tiket penerbangan dari Jakarta - Paris PP untuk Maret 2019 saya dapatkan dengan harga lebih murah daripada tiket ke Jepang. Lagi2 dengan SkyScanner.
       
      3. Hotel
      Rata-rata hotel di Jepang memiliki kamar yang kecil tapi harga yang "besar". Tokyo pun termasuk. Harga properti di Tokyo yang sangat mahal membuat Tarif Hotel juga tinggi untuk ukuran Indonesia. Walaupun demikian tetap saja jika bersedia susah sedikit masih ada kamar2 kapsul dan dormitory yang berharga di bawah 500ribu permalam. 
      Menyesuaikan style jalan-jalan, saya memberikan beberapa kriteria untuk memilih Hotel di Tokyo.
      Carilah hotel yang dekat dengan stasiun kereta. Kereta adalah transportasi nomor 1 di Tokyo. Dalam kondisi cuaca yang dingin akan lebih baik jika Hotel dekat dengan stasiun kereta sehingga kita tidak perlu berlama2 diluar. Hotel yang dekat dengan stasiun kereta juga memudahkan anda untuk menepati jadwal itinerary. Bawaan anda cenderung banyak, karena musim dingin membuat pakaian yang harus disiapkan berlapis2. Jika mendapatkan kamar hotel yang terlalu kecil maka anda akan kesulitan sendiri dalam meletakkan koper dan barang belanjaan Pastikan hotel anda memiliki sistem penghangat ruangan yang baik dan air panas yang mengalir 24 jam non stop. Saya tidak bisa membayangkan jika di tengah suhu 0 derajat lalu harus mandi pagi dengan air yang tidak terlalu panas karena sistem air panas dipakai beramai-ramai. Akan lebih baik jika Hotel menyediakan sarapan pagi. Buat anda yang terbiasa mengisi perut di pagi hari, tentu akan runyam jika harus jalan dulu mencari sarapan di tengah udara dingin. Hotel di sekitaran Tokyo memang lebih mahal daripada yang mengarah ke luar kota. Tetapi anda akan lebih mudah menentukan jalur tujuan jika berada di dalam kota. Dalam beberapa kesempatan, saya selalu memilih hotel yang sama untuk tempat menginap. Hotel Villa Fontaine Hatchobori. Hotel ini merupakan salah satu hotel dari jaringan Villa Fontaine yang tersebar di seantero Jepang. Saya memilih hotel ini karena semua kriteria yang saya sebutkan di atas dapat diakomodir. Harganya pun menurut saya termasuk murah. Sekitar 1,2 juta permalam, yang kalau di share bersama teman sekitar 600 ribuan permalam (sudah include sarapan), ukuran kamarnya juga sedikit lebih besar dari ukuran kamar di daerah Shinjuku dengan harga yang lebih mahal.
      Hotel ini hanya sekitar 1 menit jalan kaki dari Stasiun Kayabacho (uniknya Hotel Villa Fontaine Kayabacho justru sedikit lebih jauh dari stasiun Kayabacho, jadi jangan sampai salah hotel). Stasiun Kayabacho hanya berjarak 3 stasiun dari Ginza, 2 stasiun dari Otemachi, 3 stasiun dari Akihabara, bahkan hanya 5 stasiun dari Ueno dimana kita bisa melanjutkan perjalanan dengan Shinkansen. Posisinya sangat strategis.

      Suasana luar hotel - (a)

      Lobby - (a)

      Lift - (a)

       
      4. Pakaian
      Tidak bisa dielakkan Pakaian Musim Dingin pasti lebih tebal dan berlapis dibandingkan jika kita ke Jepang di musim panas. Suhu udara di Tokyo sepanjang musim dingin berkisar di angka -2 sampai 7 derajat celcius. Demi kenyamanan anda saya menyarankan untuk menggunakan 3-5 lapis baju. Tentu saja hal ini bergantung dari ketahanan tubuh anda terhadap udara dingin. Berikut list pakaian yang perlu dibawa :
      Kupluk Syal Long John Jaket / Sweater / Vest Mantel / Jaket Salju Celana Panjang (bahan cordoray lebih bagus) / Celana Insulated Sarung tangan Jika ada rencana untuk bermain salju saya sarankan dari awal bawalah celana insulated, celana ini memiliki beberapa lapisan, bagian paling luar memiliki jenis parasut sehingga tidak mudah kemasukan air, dan bagian paling dalam merupakan lapisan yang menghangatkan kaki. Hindari bermain salju dengan celana jeans, karena dapat merembes dan membasahi kaki. Oh ya, harga barang2 di atas sangat bervariasi tetapi ada beberapa lapak di tokopedia yang menjual Perlengkapan musim dingin dengan harga sangat murah tetapi kualitasnya bagus. Sebagai contoh saya mendapatkan mantel dengan harga 400 ribuan dan celana insulated dengan harga 100 ribuan. Nyaman saat di gunakan. Coba saja di searching.

       
      5. Komunikasi
      Sebenarnya Tokyo adalah kota yang ramah Wifi, kira-kira kalau diterjemahkan banyak Free Wifi bertebaran dimana-mana, di dalam bus, di tempat2 wisata, di stasiun kereta, dan pastinya di hotel. Hal ini memudahkan anda untuk berkomunikasi baik via media sosial maupun aplikasi chatting. Fasilitas free wifi ini dapat di peroleh dengan melakukan sign in ke salah satu jaringan wifi yang akan meminta anda untuk mengklik tautan yang di kirimkan ke email anda. Biasanya anda akan mendapat kesempatan 5 menit free yang dapat digunakan untuk membuka email dan mengklik tautan untuk mengkonfirmasi penggunaan free wifi.
      Walaupun demikian saya tidak menyarankan anda untuk bergantung pada fasilitas Free Wifi. Saya tetap menyarankan untuk mempergunakan jaringan komunikasi sendiri. Ada beberapa alternatif yang bisa anda lakukan :
      Beli SIM Card di Jepang  Beli SIM Card dari Indonesia Sewa Paket Wifi Bagi yang berangkat dalam rombongan, saya lebih menganjurkan untuk menyewa paket Wifi. Dalam 1 router biasanya bisa dikoneksikan untuk 6-8 alat. Sehingga jika di share biaya sewanya jadi lebih murah. Contoh untuk router unlimited 4G yang saya sewa dari QL Liner (via Klook.com) saya hanya perlu membayar Rp 115.000 per hari. Alat ini dapat dipergunakan untuk 14 alat sekaligus. Sehingga jika di share biaya ke 7 orang (masing2 mempergunakan 2 alat), 1 orang hanya perlu membayar Rp 16.500 per hari. Harga ini jauh lebih murah daripada membeli SIM Card dari Indonesia atau membeli di Jepang. Tetapi wajib diingat, kelemahan Wifi adalah jika pembawa router terpisah lebih dari 10 meter maka teman2nya yang lain tidak lagi mendapat sinyal. Kemudian jika alat hilang atau rusak ada denda yang lumayan besar sekitar 42.000 yen. Selain itu jangan lupa untuk membawa Power Bank sebab jika router kehabisan batrei maka komunikasi anda juga akan terputus.
       
      Jika anda memilih menggunakan SIM Card maka anda akan terhindar dari keribetan menenteng router kemana2. Selain itu anda tidak perlu harus selalu berada di dekat router untuk melakukan komunikasi. Kapan saja anda ingin menghubungi teman, atau upload instagram dapat dilakukan langsung.
      Untuk SIM card tidak ada salahnya anda melihat2 di website GlobalKomunika, mereka memberikan banyak pilihan paket SIM Card (Paket Data SAJA). Dengan membeli SIM Card langsung dari Indonesia anda bisa langsung mengaktifkan HP Anda saat berada di Bandara Narita / Haneda. Sayangnya ada batasan Quota 4G yang harus anda perhatikan saat memilih menggunakan SIM Card. Untuk SIM Card seharga Rp 195.000 anda bisa mendapatkan Quota 4G sebanyak 3GB untuk waktu 8 hari. Setelah itu jika Quota habis maka kecepatan akan turun menjadi 2G. Jadi jangan terlalu sering melakukan Video Call atau berselancar di Youtube jika anda menggunakan SIM Card. Jika anda memutuskan menggunakan SIM Card harap di baca baik2 petunjuk penggunaannya (sudah disertakan bersama SIM Card), karena tidak semua HP secara otomatis melakukan pengaturan APN.

       
      6. Tiket Wisata
      Kepada siapapun yang ingin ke Jepang saya selalu menyarankan untuk mempersiapkan Itinerary dengan sebaik-baiknya. Sejak awal pastikan tempat-tempat yang ingin anda tuju. Lalu lakukan survey untuk melihat apakah tempat2 tersebut membutuhkan tiket masuk. Kenapa hal ini penting : karena banyak tempat wisata di Tokyo yang memberikan Harga Tiket lebih murah saat pemesanan di lakukan di awal ketimbang saat anda datang dan membeli langsung di loket. Selain itu anda dapat menghemat waktu untuk melewatkan antrian orang2 yang ingin membeli tiket pada waktu bersamaan.
      Beberapa tempat wisata bahkan TIDAK MENJUAL TIKET DI TEMPAT. Jika anda ingin mengunjungi Fujiko F Fujio Museum, atau Ghibli Museum maka anda harus melakukan pemesanan dari sebulan sebelumnya. Karena jika anda langsung datang ke tempat tersebut tanpa memiliki tiket maka bersiaplah untuk kecewa. Anda tidak akan bisa masuk.
      Ada banyak situs yang menjual tiket wisata secara online, saya secara pribadi lebih sering memesan lewat Klook. Silakan lakukan pengecekan apakah Tiket tempat wisata yang ingin anda tuju tersedia di website mereka. Tapi sekali lagi lebih baik anda membeli tiket lewat online karena harga yang di dapat sering lebih murah daripada membeli langsung, sekaligus memastikan rencana liburan anda tidak berantakan karena gagal mendapat tiket.
       
       
    • By min0ru
      Pagi itu, saya dan keluarga mendarat di Kansai International Airport (Osaka) pukul 08.30 waktu setempat. Ini kali kedua saya mengunjungi negara yang kawaii ini dan kota pertama yang akan saya kunjungi adalah Takayama. Seusai mengambil bagasi, saya bergegas menuju ke JR Office untuk menukarkan JR Pass (Japan Railway Pass). Antrian ternyata cukup panjang mengular dan menghabiskan waktu lebih dari 30 menit sampai akhirnya saya mendapatkan JR Pass.
      Cara Menuju ke Takayama
      Karena saya menggunakan JR Pass, jadinya kami bisa langsung naik ke Shinkansen (kereta cepat). Dari Kansai International Airport (KIX) kami mengarah ke Shin-Osaka Station dahulu baru nyambung kereta lagi ke Nagoya Station sebelum akhirnya menggunakan Hida Train (JR) dan turun di Takayama Station.
      Jalan Sore di Takayama

      Sesampainya di Takayama, saya langsung bergegas menuju hotel karena memang sudah waktunya check-in, lagipula repot rasanya jika harus berjalan-jalan menggeret koper. Kami menginap di J-Hoppers Takayama yang jaraknya hanya 10 menit berjalan kaki dari Takayama Station.
      Saya bertanya kepada resepsionis hostel mengenai apa saja yang bisa dilihat di Takayama ini dan dijawab dengan sangat ramah olehnya. Jadi di Takayama ini ada bagian kota tuanya yang cukup ramai tapi hanya di akhir pekan dan banyak street food. Karena kami datang di hari biasa, jadi kami cukup manyun dan memutuskan untuk eksplorasi saja jalan-jalan di Takayama.
      Sebelumnya kami makan dulu di restoran ramen yang dipilih secara random karena cukup ramai. Rasanya pun cukup enak dan menghangatkan. Saat itu cuaca cukup dingin kalau tidak salah sekitar 5-10°C. Sayang banget karena kalap saya ngga sempet mengabadikan foto makanan maupun restorannya. 
      Berseberangan dengan restoran rame, ada sebuah jembatan kecil  untuk menyeberang sungai dan ada jalanan kecil di sisi sungai tersebut yang cukup cantik untuk berfoto. Jadilah ambil beberapa frame dulu ☺️. Ngga kerasa hari cepet banget gelap, suasana lampu bangunan tua satu persatu mulai menyalah membuat suasana malam itu makin cantik. Kebayang ngga sih bangunan tua yang kebanyakan berbahan kayu dihiasin lampu berwarna kuning atau lampion berwarna merah? 
      Malam itu kami kembali lebih cepat ke hostel, karena ngga banyak lagi tempat yang bisa dilihat dan memang tujuan ke Takayama ini hanya persinggahan untuk menuju ke Shirakawa-Go.
      Keindahan Desa Sejarah Shirakawa-Go (UNESCO's World Heritage Sites).

      Cara yang saya gunakan untuk menuju ke Shirakawa-Go dari Takayama adalah menggunakan tur yang di arrange oleh J-Hoppers Hostel. Kenapa saya memilih tur dari J-Hoppers? Karena harganya lebih murah ¥500 untuk orang yang menginap di J-Hoppers, kan lumayan 4 orang sudah jadi semangkok ramen. 

      Bus melaju dengan santai ke Shirakawa-Go, dalam waktu kurang dari 1 jam kami sudah tiba di situs bersejarah ini. Kami diberikan waktu bebas selama 2 jam di desa ini. Ngga pake lama, saya langsung ngacir turun dari bus dan cari spot buat pepotoan.


      Rumah-rumah di desa ini disebut Gasshō-style atau bebentuk seperti tangan sedang berdoa. Atapnya terbuat dari susunan jerami yang sangat kuat dari berbagai cuaca. Walaupun hanya terbuat dari jerami tetapi pada musim dingin tetap dapat menghangatkan dan sejuk saat musim panas.


      Senangnya saya liat sisaan salju yang masih terhampar luas dan tebal, pengen rasanya tambahin duren sama cendol trus sirup tjampolay~ *eh. 
    • By Dennis.Rio
      TOKYO 東京.....
      day 3
       
       
       
       
       
       
       
    • By Dennis.Rio
      POCKET WIFI di Jepang......
       
       
       
    • By Inder
      Hi guys, Ada yang mau ikut join spring west europe april 2019. Saya rencana ingin jalan jalan ke eropa barat : belanda, prancis, spain, jerman, swiss mgkin kalau cukup bisa nambah italy dan praha di ceko. Mengapa harus bulan april? karena pada bulan ini pas bunga tulip lagi bermekaran di belanda dan suhu di eropa agak sejuk buat jalan jalan. Trip ini murni sharing cost. Penginapan bisa pakai airbnb/hostel tergantung mana yang lebih murah. flight landing di zurich swiss dan balik via zurich.
      Start berangkat 12 april, return 28 april 2019. Saya sdh beli tiket etihad 7,2 juta jkarta zurich pp
      Day 1 zurich tgl 13
      Day 2 milan
      Day 3 dan 4 naik psawta dr milan ke malaga spanyol. Terus explore granada dan cordoba
      Day 5 barcelona
      Day 6 paris
      Day 7-8 belanda
      Day 9 koln
      Day 10 strasborg dan colmar, lanjut praha
      Day 11 praha
      Day 12 praha
      Day 13 interlaken
      Day 14 luzern balik ke zurich
      Day 15 terbang ke tanah air
       
      yang minat bisa japri saya by WAG/LINE 085648698248
      Indra
      best regards.
    • By ko Acong
      Bagi yang bosan di Kuala Lumpur boleh melipir ke Melaka cuma 2 jam perjalanan loh.
      Berapa uang yang saya habiskan selama main ke Malaka? Normalnya tiket pesawat PP 1 jutaan. Yang pasti tiket PP Indonesia-Kuala Lumpur kemarin saya dapat Rp 169.000 saja Malaysia Airlines Business Class (Promo).
      Mari kita hitung pengeluaran saya selama 2 malam 3 hari di Melaka:
      Tiket Bus, via Terminal BTS (Bandar Tasik Selatan) cukup 24 x 2 = 48 RM
      Jika langsung bus PP harganya 70 Rm, perbedaan waktu hanya 1 jam. Kelebihan transit di  BTS setiap 30 menit ada Bus. Kekurangannya, jika ketingalan jadwal bus harus buang waktu selama 3 jam.
      Hotel Saya Pake Hotel Hong https://goo.gl/maps/fhwLNd6fmzp
      yang terkenal buat Backpackers, karena serasa Hotel Keluarga ada di antar jemput di terminal bus dan ketika diantar mereka melepas kita satu persatu, sampai aman di terminal bus dan mengarahkan ke platform yang seharusnya. Terima kasih Ci Amey dan karyawan hotelnya yang bersih. Harga selama 2 malam kisaran Rp 550.000. 
      Tranportasi di Melaka semua ditempuh dengan berjalan kaki. Estimasi makan minum, cukup Rp. 100000 perhari, di tiap menu makanan perhari ada daging nya lumayan wah juga sih.
      Tinggal kita hitung oleh2 jajan yang aneh-aneh dan lainnya, jadi estimasi main di Melaka selama 2 hari:
      Bus 48 Rm = Rp 175.000 Hotel 2 malam = Rp 550.000 Biaya makan minum = Rp. 300000 Jumlah Rp 1.025.000.- sesuai Hitungan awal budget cukup 1 jutaan.
      Hehehe namun belum termasuk Cendol Musang King dan oleh-oleh Durian Jam San Shu Gong yang legenda, Wueeenak lembut banget. Nah bila mau lanjut main di Kuala Lumpur, cuma tinggal nambah hotelnya sekitar Rp 500.000 per malam.
      ____________________________________________________________________________________________________________











    • By Daniyah Isa
      Assalamualaikum 
      Salam kenal,
      Panggil saya, Nia
      Ini adalah pertama kalinya saya pergi ke LN dg mengurus semua keperluan sendiri. Biasanya, sdh terima beres dari kantor, karena memang ada urusan. Nah, destinasi yg saya pilih tdk jauh tp harus berkesan ! Melaka. Kota yg ditempuh dlm waktu 2 jam dari KLIA2. 
      Gimana caranya saya bisa sampai ke sana ? Inih dia, detailnya ;
      1. JKT-KLIA2
      Pesan tiket pesawat yg everyone can fly dari situs resmi. Lama waktu sekitar 2 jam, berangkat 10:10am sampai KLIA2 13:15pm.
      Di KLIA2, ikuti saja petunjuk arah yang ada, sambil ikuti arus kemana orang-orang pergi. Nanti, ada eskalator naik, lalu ada eskalator turun langsung ke tmpt imigrasi. Setelah keluar dari imigrasi, saya temukan mall dg counter-counter barang branded. Semacam Grand Indonesia, kalau di Jakarta.
      Buat yg terburu-buru sampai ke KL dg cepat, mgkn ada urusan meeting or apa, bisa lurus terus ke pintu keluar. Di samping pintu keluar ada loket pembelian tiket KL Ekspres, seharga 55RM dg waktu tempuh 33menit ke stasiun KL SENTRAL. Dari KL Sentral, bisa pilih kemana saja tujuan teman-teman yg mau dicapai. Ibarat di Jakarta nih, KL Sentral tuh Manggarai. 
      Tujuan wisata saya, dan teman saya adalah Melaka. Belajar dari blog dan bbrp artikel, butuh kendaraan bus utk sampai ke sana. Hanya bus saja, tdk ada kereta atau MRT yg menuju ke sana. Saya pun, turun lagi ke lantai G dg eskalator. Jangan takut kesasar ! Banyak petugas keamanan yg berjaga.
      Sampai di lantai paling dasar, ada sederet loket yang menjual tiket bus, taxi, sewa kereta (mobil). Langsung saja, membeli tiket bus Transnasional tujuan Melaka Sentral, seharga 24.10RM. Di tiket sudah tertera nomor tempat duduk, gate tempat menunggu. Wah, pokoknya tertib dan teratur! Meskipun busnya lebih bagusan DAMRI sih bagi saya, hehehe.
      2. Melaka dan Wisatanya 
      Selama 2 jam perjalanan dari KLIA2, sambil bengong-bengong liat pemandangan (apa bener gue di Malaysia? Ini mirip ke Ciawi yah ? Heheheh) yang membedakan tuh, sepanjang jalan lancar jaya. Mgkn supir bus kapalan nginjek gas, hehehe. Duh bahagia deh kalau Jakarta jalanannya kaya gini terus. Sampai tibalah saya di Melaka Sentral, ibaratnya Terminal Kp. Rambutan gituh. 
      Waduh, sepi banget ! Macam ga ada kehidupan. Bingung juga kan, mau ke hotel gimana ? Boro-boro kuota buat pesan taksi online, sinyal ajah ga dapat.
      Yaa, saya tanya ke petugas kebersihan, dan memang bus Panorama 17 tujuan Bangunan Merah, agak lama. Bukan karena macet yaa, ini karena jalanan di Melaka tuh Sehala (satu arah) jadi dia berputar dulu.
      Sejam menunggu, datanglah bus Panorama 17. Disinilah pengalaman dimulai, banyak yg Negor dan tanya "Indonesia ya ? Indonesianya mana ?" Agak bingung sih, ditanya begitu. Biasanya ditanya "Jawanya mana ?" Padahal sih, sama saja hehehe. 
      Saya menginap di hotel Hallmark Crown, 3H2M, seharga 147RM include Breakfest, free wifi. Wilayahnya dekat dengan mall Dataran Pahlawan, jalan kaki 10 menit lah. Jadi turun saja di Dataran Pahlawan, ongkos busnya 2RM saja. Hotelnya comfie banget ! Disetiap sudut ada galon. Jadi bisa refil sepuasnya, ditambah kulkasnya menyala dg sempurna. Wah, recomend deh!
      Saran utk teman-teman yg mau pesan hotel di Melaka, pesan di daerah sekitar Dataran Pahlawan (rate murah), Bangunan Merah, dan Jonker Street. Tiga tempat itu, sudah dekat banget kemana-mana. Jadi bisa jalan-jalan santai, foto-foto, interaksi sama penduduk lokal. Yg penting, rajin jalan kaki yaa, hehehe.
      Hari pertama saya mengunjungi Bangunan Merah, jalan kaki dari Hotel 15 menit. Melewati mall-mall Besar, dan rupanya ada carnaval becak hias, mobil hias dan barongsai. Jadi nggak berasa jauh dan capeknya.
      Di Melaka, ada yang saya lihat di maps Google itu jauh, ternyata dekatan. Menara Taming Sari, Bangunan Merah, Jonker Street dan River Cruise. Yang jauh, cuma Masjid Selat Melaka. Masjid Selat Melaka memang harus menggunakan taksi online, karena jaraknya terpisah dengan daratan Melaka kota dan masuk ke kompleks perumahan. 
      3.Kuliner dan Oleh-oleh Melaka
      Sempat bingung mau makan apa di Melaka. Hari pertama saya sampai di Melaka, sudah malam dan banyak yg tutup. Masa iyah sih, jauh-jauh ke Melaka, makanya McD? Nggak ada nasi lagi. Akhirnya mampir ke 7Eleven (horeee, Nemu 'sevel !) Beli nasi lemak instant dan mie instan. Lupa berapa harganya, tapi cukup menahan lapar. Serius deh, sebenarnya nggak lapar-lapar banget ! Cuma karena nggak mau masuk angin ajah.
      Terakhir perut diisi sama sandwich Subway yg beli di KLIA2. Hufh, gara-gara ngincer destinasi wisata jadinya lupa makan. 
      Hari kedua, masih hunting foto disekitar Bangunan Merah, Taming Sari, River Cruise. Cerah banget langit di Melaka, dan udaranya juga segar nggak ada polusi (kapan Jakarta begini ? Mungkin ga yah ?). Di samping Bangunan Merah, ada tangga menuju bukit. Diatasnya bangunan reruntuhan yang menghadap lautan lepas. Keren banget !!! Duduk-duduk saja sambil lihat pemandangan. 
      Oh Iyah, untuk beli oleh-oleh seperti gantungan kunci, kaos tulisan Melaka, tas Melaka, tempatnya di Medan Samudera. Tenang, ga jauh kok ! Ga perlu nyebrang. Dari Bangunan Merah, ambil sisi kanan dan lurus terus sampai lihat bangunan kapal pesiar. Nah di sana, yang paling murah ! Kaos dapat 10RM, gantungan kunci dapat 8RM, 6 gantungan kunci. Meski di Bangunan Merah juga ada lapak yang menjual, lebih baik beli di Medan Samudera, karena harganya lebih terjangkau. 
      Selain beli oleh-oleh, di tempat ini ada warteg Melayu loh ! Syukurlah, ada warteg juga. Awalnya sempat underestimate gitu. Makanannya mirip makanan warteg, dan ga lebih menarik dari warteg Jakarta. Karena Nggak enak sama Ibu penjualnya, yg tiba-tiba udah nyendokin nasi, mau ga mau dibeli. 
      Yaa sayur tumis kacang panjang dan ayam goreng jadi menu makan siang. Pas dimakan, enak ! Ini karena efek capek mungkin yaa. Minum air mineral, biar nggak makin haus. Tadinya sih mau makan nasi Briyani dan teh tarik, tapi dia hanya jual di hari Minggu. Seporsi makanan warteg Melayu cuma 6RM. Waah, amazing ! akhirnya bisa menghemat, heheheh.
      Lepas makan, lanjut belanja-belanja di sekitar Medan Samudera. Biasa, buat yang dirumah, mau dibeliin kaos dan gantungan kunci utk disebar, hehehe. Jalan lagi ke Bangunan Merah, baru ketemu kedai es cendol. Katanya sih, es cendol di Melaka itu khas banget. Yaudah, saya beli yang es cendol kacang merah. Rasanya ??? Waah, enak banget !!! Pass buat saya yang ga terlalu suka manis. Kuah santannya gurih, cendolnya segar dan kacang merahnya manis. 
      Wah, okeh banget lah ! Rencana kalau ngidam, maunya ngidam es cendol Melaka. Hahahah
      Menjelang sore, saya bersiap menuju Mesjid Selat Melaka. Menikmati sunset sambil menunggu waktu magrib. Magrib di Malaysia, setengah tujuh. Tapi langitnya seperti setengah enam, Jakarta. Waktu di Malaysia tuh cepat banget ! Mungkin ini planet Merkurius, satu menit tiga puluh detik. Semua terasa cepat.
      Saya dan teman-teman menuju Masjid Selat Melaka menggunakan taksi online. Sampai di sana, waah indah banget ! Lebih indah dari foto-foto Google. Garis cakrawala sudah menyapa di langit. Air laut biru bersih tanpa sampah. Saya berdiri di halaman belakang Masjid menatap langit sore. Diterpa angin laut, dan ada beberapa wisatawan lain berlalu-lalang. Sayang, lagi nggak sholat Magrib di sini. 
      Akhirnya cuma nunggu teman yang sholat Maghrib, sambil jaga sendal hahaha.
      Malam terakhir di Melaka, saya menuju rumah makan Eeji Ban Chicken, penjual makanan khas Melaka. Ada Rice Balls, Asam Pedas, Nasi Lemak, harganya pun terjangkau. Berkesan makan ditempat ini, karena rumah makan Eeji Ban recomend dari supir taksi online. 
      4. Check Out Melaka
      Hari terakhir di Melaka, saya merasa sedih banget ninggalin tempat ini. Padahal rumah ini kampung orang, negeri orang, huhuhu. Nggak mau repot karena tas udah beranak, jadinya saya dan teman-teman naik taksi online ke Melaka Sentral.
      Di Malaysia pada umumnya, jarang ada sirik-sirikan or persaingan. Contohnya di terminal Sentral Melaka. Tadinya mau naik bus Delima,  bus terkenal dikalangan blogger yg pernah kesana. Tapi sama kenek Delima, disuruh ke bus satunya lagi yg kurang eksis. But its OK ! Yg ptg sampai, heheheh.
      Dua jam perjalanan menuju terminal bus TBS (Terminal Bersepadu Selatan), amazing !!! Terminal Bus rasa Bandara Terminal 3. Bersih, tertib, rapi. Dibawahnya, ada stasiun menuju KL Sentral. 
      5. Sehari di Kuala Lumpur 
      Berhubung pesawat tengah malam, jadi siang masih bisa jalan-jalan sebentar di Kuala Lumpur. Hunting foto di KLCC, Dataran Merdeka dan jalan-jalan ke Mall *lagi. 
      Dari Terminal TBS, naik KL transit ke stasiun KL SENTRAL seharga 6.5RM. Dari KL SENTRAL, bisa ke Batu Caves, KLCC, Mesjid Jamek, KLIA2. Ada peta seperti peta yang ada di halte Transjakarta, di sana juga ada petugas yang membantu dan menanyakan "Can i help you ?" So, tak perlu takut tersesat. 
      Stamina udah low, meski cuma naik turun kendaraan umum tp cukup bikin lemas. Selain makan, kita juga butuh vitamin, kalau capek lebih baik istirahat.
      Di KL SENTRAL, ada loker penitipan dg kunci sensor wajah. Jadi kita ga perlu deh tengteng tas beranak kesana kemari. Harganya 20RM utk loker kecil dan 30RM utk loker besar. Sangat disarankan berpergian sama teman, biar segala biaya bisa ditanggung bersama. Tapi milih juga yaa, teman yang gimana buat diajak jalan jauh. Apalagi, ke LN yg jalan kakinya jauh-jauh.
      Baiklah, itu pengalaman pertama saya traveling ke Melaka, Malaysia. Saya sangat suka tempat itu, lebih indah dari yg saya bayangkan. Terutama yg hobi fotografi, ini banyak spot-spot bagus di Melaka. 
      Oh Iyah, makasih banyak buat Mba Vira. Mgkn dia jarang aktif di forum ini. Saya pun juga newbie. Ketemu jalan2.com karena random ajah, hehehe. Lagi bosen, drpd stalking sang EX atau baca berita hoaks, iseng-iseng cari soal Melaka. Tiba-tiba muncul situs ini, dan saya kenalan sama Mba Vira. Nggak ada sedikitpun curiga bakal gimana nnt disana, tinggal jalan ajah. Hehehe
      Nah buat teman-teman, semoga tulisan saya membantu dan jadi referensi kalau kalian mau ke sana. Ingat, No need bilang, barang ini murah atau mahal. Soalnya beda "Peradaban".