Sign in to follow this  
nonaJJ

Alasan Kenapa Drama Efsun dan Bahar Bisa Jadi Alternatif Tontonan TV

2 posts in this topic

Belakangan, drama atau serial TV Turki ramai menghias layar kaca Indonesia. Saya termasuk yang jarang nonton TV karena memang tak banyak yang bisa ditonton dan seru. Tapi belakangan, bermula dari ikut-ikutan menonton, eh malah jadi ketagihan. Nggak semua, hanya judul drama berikut ini, Efsun dan Bahar.

O-hayat-benim-That-life-is-mine.jpg

Efsun dan Bahar merupakan judul drama Turki di salah satu TV swasta. Judul aslinya adalah O Hayat Benim yang artinya That Life is Mine. Dari judul aslinya memang menggambarkan secara keseluruhan tentang cerita ini. Secara umum, O Hayat Benim punya kisah drama keluarga atau serial TV yang klise, yakni tertukarnya seorang anak. 

Efsun (Ceren Moray) dan Bahar (Ezgi Asarogklu) adalah kakak beradik sedari kecil, namun bukan saudara kandung. Diketahui Bahar ternyata anak seorang pengusaha kaya bernama Mehmet Emir yang dibuang kakeknya karena hubungannya dengan ibu Bahar yang tidak direstui. Setelah besar, Mehmet menemukan putri kandungnya dan dengan lika liku cerita, Efsun dan ibunya memanipulasi fakta. Efsunlah yang disebut sebagai putri kandung Mehmet dan yang kemudian dibawa ke rumah besar dan menjadi ahli warisnya. Bahar yang tak tahu apa-apa tetap hidup bersama keluarga miskinnya. Berbagai konflik pun tercipta dan membuat setiap episodenya semakin seru. 

Jika diceritakan secara garis besar di atas, memang biasa bukan? Tapi ada beberapa alasan mengapa saya tetap menonton drama ini. Mungkin kamu pun demikian, siapa tahu, drama ini bisa jadi alternatif tontonan TV kamu.

1. Ide biasa tapi banyak konflik seru
Ide utama dari film ini memang banyak dipakai di sinteron lain. Cerita utamanya tentang anak yang ditukar demi mendapatkan keuntungan finansial. Akan tetapi, drama ini bisa menghantarkan cerita utama itu dengan konflik-konflik yang seru. Di sini, ada konflik antara tokoh Bahar dan kakaknya, Efsun. Juga ada konflik antara Bahar dengan ibunya, Nuran. Ada juga dengan pria yang bernama Ates yang ternyata punya misteri masa lalu yang berhubungan dengan keluarga besar Mehmet Emir yang ternyata adalah ayah Bahar. Sekilas saya kayak lagi nonton drama Korea yang selalu punya latar belakang masa lalu yang kelam, traumatis, dan misterius. 

Selain konflik antar tokoh utamanya, para karakter pendukung pun punya konflik yang nggak kalah seru. Tidak hanya seputar urusan keluarga dan romantisme anak muda, tapi juga masalah keuangan, kepercayaan, dan urusan kehidupan sehari-hari. Sejauh 40-an episode yang sudah tayang, semua konflik cukup membuat para penonton penasaran tiap harinya.

2. Alur cepat
Yang menarik lainnya, alur dari drama ini cukup cepat dan tidak membuat penonton bosan karena terlalu banyak dramatisasi yang nggak penting. Satu konflik tidak dibiarkan berlarut-larut sehingga penonton tidak harus menunggu bosan. Porsinya pas. Meskipun ada yang dibiarkan panjang, pasti juga disertakan dengan konflik lain yang berhubungan sehingga penonton merasa tidak jenuh. Misalnya, ketika drama ini menguak misteri masa lalu Ates. Saat ini misterinya sudah hampir selesai namun tentunya masih dibuat menggantung agar bisa disatukan utuh dengan konflik utama pertukaran anak tersebut. Secara keseluruhan, drama ini bisa memainkan minat penonton. Menjaga agar penonton betah dengan ceritanya. Kalaupun mulai menjenuhkan, langsung digiring ke konflik lain yang lebih seru.

3. Nggak cuma romantisme
Drama Efsun dan Bahar ini juga bukan melulu membahas tentang urusan percintaan saja. Drama ini termasuk drama keluarga yang menceritakan hubungan anak dengan orang tuanya, dengan saudara dan keluarga besarnya. Drama juga menceritakan hubungan persahabatan. Buat yang bosan dengan drama percintaan bisa menonton drama ini. Tapi kalau mau yang lebih non romansa lagi, ada beberapa drama Tv lain yang mengangkat jenis action, misterius, tapi entahlah, saya belum mencoba menonton drama asal negeri Masjid Biru ini. 

4. Tokoh dan karakternya unik
Yang bikin saya betah lagi untuk nonton O Hayat Benim ini adalah tokoh dan karakternya yang unik-unik. Bener-bener cukup bikin geleng-geleng. Karakternya nggak terlalu mendramatisir dan memang sepertinya banyak ditemukan di kehidupan keseharian kita. Misalnya, karakter utama di sini adalah Bahar. Dia adalah wanita 20 tahunan yang cantik dan pintar. Tapi jangan bilang dia lembek. Sebagai pemeran utama yang sering disakiti, Bahar ini punya harga diri yang tinggi dan kuat. Dia termasuk gadis tegas yang juga nggak suka diperlakukan tidak adil. Dari pada mewek mulu, Bahar juga banyak melawan dan memberikan aksi yang menegaskan jika dia tidak suka dengan seseorang atau suatu hal. Jadi memang karakter utama yang 'nrimo' aja udah nggak jamannya kali ya. 

Kemudian si Efsun, kakaknya. Dia punya karakter antagonis di sini. Tapi meski jahat, si Efsun ini norak karena nggak berpendidikan kayak Bahar. Jadi, jahatnya tuh ya jahat-jahat norak yang malah bikin geleng-geleng kepala. Meskipun jahat, si Efsun ini tapi sayang sama Bahar karena dari kecil selalu bersama. jadi, ya ceritanya kayak adik kakak yang lagi berantem iri-irian terus aja sih.

Yang lebih saya suka lagi ada karakter Nuran, ibu Efsun dan Bahar dari keluarga miskin. Ini karakter aneh bin ajaib. Dia matre karena emang orang susah, dia bisa ngelakuin hal-hal yang mengerikan, tapi dia juga diceritakan sebagai ibu yang nggak mau anak-anak cewenya jelek dalam pergaulan. Dia juga diceritakan cukup agamis dan menjunjung tinggi moral dan kehormatan. Pokoknya anak-anak cewenya nggak boleh pulang malam, genit ama cowo sembarangan dan lain sebagainya. Tapi di sisi lain, dia juga karakter yang antagonis. Nggak jauh beda sama karakternya Efsun tapi ini versi ibu-ibunnya. Bikin lucu dan bikin seru menurut saya karakter si Nuran ini.

1280x720-xnv.jpg
5. Akting para pemain natural
Penokohan tanpa kualitas akting para pemainnya nggak akan menghasilkan apa pun. Di drama ini, menurut saya, semua karakter baik utama maupun pendukung punya kualitas akting yang keren-keren dan total. Mereka sepertinya sangat mendalami karakter masing-masing sehingga terlihat sangat natural. Semuanya bisa berakting tanpa dibuat-buat dan terlihat seperti sungguhan. Ini yang selalu saya suka sama drama luar. Mereka, meskipun untuk opera sabun, akting dan proses produksinya nggak main-main. Sama-sama total baik dari kualitas akting sampai budget-nya. Kalau di Indonesia, banyak sekali yang disayangkan. Kadang, aktor layar lebar ketika terjun main sinetron malah aktingnya biasa aja. Sebaliknya, aktor atau aktris sinetron pas di layar lebar bagus-bagus. Itu kan tandanya sinetron kita masih nggak serius dalam penggarapannya. Belum kalau ditilik dari proses produksinya, hadeuh capek deh.

6. Wardrobe dan makeup oke
Suka banget sama drama ini karena wardrobe dan makeupnya oke baik cowo maupun cewenya. Semua sesuai dengan karakter mereka dan nggak berlebihan meskipun ceritanya orang kaya. terus untuk makeup disesuaikan, jika sedang mengalami stres dibuat kucel banget kayak nggak pakai makeup. Bahkan karakter ibu-ibu desa di sini nggak ada yang dimake-up. Seperti karakter Nuran yang ibu rumah tangga banget. Keliatan semua capeknya, kucelnya, kayak nggak pakai apa-apa. Nggak ada yang malu tampil jelek bahkan pemeran utamanya. Jadi memang disesuaikan banget. Wardrobenya keren. Suka sama gaya-gaya mereka di sini. Tapi emang udah cakep-cakep juga sih dari sananya :)

7. Pengambilan gambar bagus
Seperti yang saya bahas di atas, drama atau sinetron luar itu selalu niat dalam proses produksinya. Pengambilan gambarnya bagus-bagus sehingga penonton juga nggak bosen ngikutinnya. Misalnya, di O Hayat Benim ini memang disorot bagaimana lingkungan tempat tinggal orang biasa di sana. Juga tempat tinggal orang kayanya. Benar-benar dicari lokasi yang menggambarkan keadaan tersebut. Tak hanya itu, mereka juga nggak doyan main zoom in wajah karakternya satu-satu berkali-kali kalau lagi kaget kayak di Indonesia yang lama banget itu. Gambar yang diambil menunjukkan ekspresi, keindahan latar, sehingga tidak membosankan. Bahkan banyak lokasi outdoor yang bagus banget dan bikin mupeng pengen pergi ke sana. Itulah hebatnya kekuatan gambar.

Meskipun begitu, ada beberapa kekurangan dari drama ini. Pertama, episodenya cukup panjang dan nggak tahu sampai kapan. Saya sih merasa drama ini nggak perlu panjang banget agar tidak membuat penonton jenuh kayak di sini. Kedua, musik latar yang masih belum nyaman di telinga saya. Kayaknya musiknya hampir sama aja di telinga saya di setiap adegannya dan malah dengan drama lain. Atau emang musik Turki begitu semua? Entahlah. Overall sejauh ini masih enjoy sih nonton O Hayat Benim.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this