Sign in to follow this  
kyosash

Index Akomodasi (Hotel & Penginapan) di Australia

2 posts in this topic

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By vie asano
      Sudah tahu apa itu shukubo? Sudah tahu apa yang membuat shukubo menarik untuk dicoba oleh wisatawan? Kalau belum, baca disini dulu ya, karena tulisan ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya. Disini saya ingin berbagi aneka info dimana bisa melakukan shukubo, perkiraan harga, dan juga info lainnya yang masih berkaitan dengan kegiatan menginap di kuil tersebut.
      Sebelumnya, sudah dijelaskan jika tidak semua kuil menyediakan fasilitas untuk shukubo. Namun jumlah kuil yang menerima shukubo pun jumlahnya tak sedikit dan tersebar di berbagai penjuru Jepang. Biasanya, kuil-kuil yang menyediakan shukubo adalah kuil-kuil yang populer sebagai tempat tujuan wisata, terutama wisata religi. Bisa karena kuil tersebut menjadi pusat aliran tertentu, memiliki sejarah yang unik, dan sebagainya.
      Jika ditanya dimana tempat yang paling populer untuk melakukan shukubo, jawabannya tentu saja adalah Gunung Koya, atau Koyasan, yang terletak di prefektur Wakayama, Kansai. Koyasan sudah lama dikenal sebagai salah satu tempat wisata religi terbaik di Jepang, dan telah diakui oleh UNESCO sebagai World Heritage Sites "Sacred Sites and Pilgrimage Routes in the Kii Mountain Range" (bersama dengan 2 lokasi lain di Kii Peninsula). Kenapa? Karena gunung ini merupakan pusatnya dari aliran Shingon Buddhism, salah satu aliran Budha yang telah masuk ke Jepang sejak Periode Heian. Kobo Daishi (atau Kukai), tokoh penting yang membawa Shingon Buddhism ke Jepang, membangun kuil Garan di Gunung Koya pada tahun 826. Seiring dengan perkembangan aliran Shingon Buddhism, di sekitar kuil pusat itu kini terdapat lebih dari 100 kuil yang berada di sepanjang jalan di Gunung Koya. Menariknya, lebih dari 50 kuil menyediakan fasilitas shukubo yang dapat digunakan oleh para peziarah maupun wisatawan yang sekedar ingin merasakan shukubo.
      (1), (2), (3) Berbagai suasana di Koyasan [foto: Danirubioperez, crystalline radical, akuppa]
      Ada beberapa hal yang membuat shukubo di Gunung Koya ini menarik selain dari pengalaman ber-shukubo itu sendiri. Yang paling utama, tentu saja karena banyaknya kuil yang terdapat di gunung ini sehingga suasana religius sekaligus mistis sangat terasa disini. Suasana Gunung Koya yang dipenuhi oleh hutan yang masih asri menjadi daya tarik lain yang membuat wisatawan terus datang kesini. Selain itu, rata-rata kuil di Gunung Koya ini telah melengkapi shukubo-nya dengan fasilitas yang ramah untuk wisatawan asing. Bahkan mayoritas shukubo di Koyasan ini sudah dapat di booking melalui berbagai situs booking hotel.
      Selain Koyasan, masih banyak kuil di kota lain yang juga menerima shukubo. Berikut beberapa nama kuil yang menerima shukubo di beberapa kota besar di Jepang:
      1. Tokyo: kuil Komadori-sanso dan kuil Seizanso di Gunung Mitake (atau Mitake-san).
      2. Kyoto: kuil Ninna-ji memiliki fasilitas shukubo (di Omuro Kaikan Hall) yang menyediakan makanan non-vegetarian. Kuil lainnya di Kyoto yang menyediakan fasilitas shukubo antara lain Myoren-ji, Hiden-in, Roku-in, Myoshin-ji, Kosho-ji, Hokyo-in, Chion-in, Chishaku-in, Jyorengin, Hongan-ji , dan Cyoraku-ji.
      3. Osaka: kuil Jyokoenman-ji, Shippotaki-ji, dan Katsuou-ji.
      4. Nara: kuil Senko-ji, Shigisan (Senjyu-in, Gyokuzo-in, Jyohuku-in), Yoshinosan (Kizo-in, Tonan-in, Chikurin-in, Sakuramoto-bo)
      (4), (5), (6) Kuil Ninna-ji di Kyoto [foto: Carles Tomas Marti]
      Lalu, berapa biaya untuk melakukan shukubo?
      Biayanya bisa bervariasi, tergantung dari masing-masing kuil dan fasilitas apa saja yang ditawarkan oleh kuil tersebut. Biasanya tarifnya dimulai dari ¥3000, seperti yang terdapat di kuil Jyokoenman-ji di Osaka. Tarif tersebut berlaku jika menginap saja (tanpa makan), dan harganya akan menjadi ¥4500 jika ingin mendapat makan pagi dan makan malam. Harga shukubo di kuil Ninna-ji berbeda lagi, mulai dari ¥5200 (tanpa makan), ¥6000 (termasuk makan pagi), dan ¥9500 (termasuk makan pagi dan makan malam, ¥7500 untuk anak-anak). Kuil Shigisan (Gyokuzo-in) di Nara memiliki rate ¥8000-¥12000, dan jika ingin mengikuti Nun Experience Plan, tarifnya antara ¥8000-¥14000. Sedangkan untuk kuil-kuil di Koyasan, rate-nya kira-kira ¥9500-¥15000 per-orang per-malam, sudah termasuk makan pagi dan makan malam. Shukubo itu mahal? Tergantung dari persepsi dan deskripsi tentang kata mahal. Harganya memang lebih tinggi dari hostel maupun hotel kapsul. Tapi jika dilihat dari segi pengalaman, shukubo jelas menawarkan pengalaman lebih dari akomodasi lainnya.
      Tertarik melakukan shukubo? Walau saat ini sudah banyak fasilitas shukubo yang ramah terhadap wisatawan asing, ada beberapa hal yang perlu diketahui agar tidak terkena culture shock.
      1. Bagaimana pun, ingatlah selalu jika fasilitas shukubo merupakan bagian dari fasilitas kuil. Jadi jangan berharap ada pelayanan sekelas hotel saat melakukan shukubo.
      2. Kuil yang menerima shukubo mungkin saja memiliki website dalam bahasa Inggris yang dikelola dengan profesional. Namun perlu diketahui, staff yang dapat berbahasa Inggris tidak selalu ada di setiap kuil (terutama untuk kuil-kuil kecil). Solusinya, bicaralah lebih pelan dan gunakan bahasa tubuh setiap kali membutuhkan sesuatu.
      3. Menginap di ruangan bergaya Jepang juga memiliki konsekuensi tersendiri lho. Dinding pembatas antar kamar biasanya sangat tipis karena betul-betul terbuat dari dinding kertas, sehingga Anda bisa saja mendengar hela nafas dari kamar sebelah. Bagi Anda yang sangat mementingkan privasi, dinding tipis bisa jadi akan mengurangi kenyamanan tidur. Namun jangan khawatir soal kenyamanan kamar. Di luar masalah dinding yang ekstra tipis, kamar untuk shukubo rata-rata cukup nyaman untuk wisatawan.
      4. Program religi yang diadakan oleh kuil juga bisa menjadi salah satu faktor yang memicu culture shock. Terlebih karena aktifitas tersebut rata-rata dimulai sejak dini hari. Jadi jika memang hanya ingin menikmati suasana menginap di kuil, bisa memilih kuil yang hanya menyediakan akomodasi saja.
      5. Sebetulnya, siapa saja boleh melakukan shukubo. Namun jika Anda termasuk tipikal partygoers, suasana kuil yang tenang dan sepi (terutama di malam hari) bisa jadi akan terasa mengejutkan. Di kuil jelas tidak ada fasilitas hiburan, dan bahkan Anda diharapkan untuk ikut menjaga ketenangan dengan bersikap tenang. Belum lagi jika kuil yang Anda pilih hanya menyediakan menu vegetarian ala pendeta Budha. Jadi pertimbangkan juga kesiapan mental Anda sebelum memutuskan untuk melakukan shukubo.
      6. Terakhir dan yang paling penting, ada satu tips agar terhindar dari culture shock sewaktu melakukan shukubo. Nikmati saja suasana shukubo, dan bersikaplah open minded. Mungkin masih ada 1-2 hal yang membuat Anda kaget, tapi selama Anda bisa menikmati setiap kejutan tersebut, maka shukubo pasti tetap akan terasa menyenangkan. Ingat selalu bahwa inti dari shukubo bukanlah sekedar untuk berwisata, namun sekaligus menjadi momen untuk mengenal lebih dekat budaya setempat, serta mencari ketenangan setelah sehari-hari sibuk dengan suasana perkotaan.
      Selamat mencoba!
      * Seluruh foto diambil dari flickr via creative commons. Credit nama berdasarkan username flickr. Tidak ada perubahan dari foto aslinya.
      Baca juga:
      Siapa Bilang Akomodasi di Jepang Mahal?
      Capsule Hotel, Salah Satu Akomodasi Unik di Jepang
      Uniknya Love Hotel ala Jepang
      From A to Z Seputar Ryokan, Penginapan Tradisional Khas Jepang (bagian 1, bagian 2)
      Minshuku VS Pensions, Pilih Mana?
      Tertarik Melakukan Shukubo? Baca Dulu Ini.
    • By Putra Buana Wira
      Pernah ngelirik satu iklan di Google tentang Airy Rooms, mengklaim bahwa mereka punya banyak promo. Tertarik sih, tapi aku ngga pernah percaya dengan promo-promo online yang too good to be true. Trik marketing kan sama aja. Mereka akan menaikkan harga sebelum akhirnya dipotong dengan “diskon”. Sama juga dengan e-commerce online; belum tentu harga yang diberikan adalah benar-benar harga “promo”.
       
      Suatu hari, aku pernah lagi butuh banget tiket pesawat untuk urusan kerjaan, kira-kira bulan Januari lalu. Sempat panik cari tiket pesawat karena harus ada di venue keesokan harinya dan sudah sore. Karena kantorku pakai sistem reimburse, aku juga harus mikir harga tiketnya karena saat itu adalah tanggal tua. Panik karena tiket pesawat di beberapa platform terkenal sudah hampir habis dan menyisakan tiket yang harganya berjuta-juta. Duh!
       
      Akhirnya melirik ke Airy. Bisa dibilang Airy ini adalah pendatang baru dalam hal per-tiket-an, kan? Sebelumnya, Airy lebih dikenal sebagai penyedia kamar hotel yang murahnya ngga masuk akal, menurutku. Hahahahaha. Jadi ngga pernah pesan di sana, takut zonk.
       
      Anyway, balik ke tiket pesawat. Akhirnya aku melirik ke Airy dan melihat daftar tiket pesawatnya dengan hopeless. Hasilnya? Yaa, bener. Akhirnya benar-benar kecewa.
       
      Kecewa kok ngga dari awal aku melihat list tiket dari Airy! Kan jadinya ngga perlu panik! Harga tiket yang sama, penerbangan yang sama, bisa lebih murah di Airy! Kebetulan lagi, mereka punya promo yang iseng aku coba dan ternyata BERHASIL! Asli, aku girang banget! Logikanya, kalau harga mereka udah lebih rendah dari yang lain, pun dikasih promo jadi lebih murah, berarti mereka diskonnya ngga tipu-tipu! Wah. Salut banget sama Airy!
      Setelah booking dan bayar, tiket pesawatnya agak delay. Kira-kira setengah jam. Lumayan deg-degan tuh. Tapi positive thinking aja, mungkin sistemnya yang lagi heavy load. Setelah setengah jam, e-ticket masuk ke email, langsung ploooong! Kerjaan aman, kantong pun aman. Hehehehe.
      Langsung aja nih penampakannya :

      Sembari tadi menunggu e-ticket, aku sempat browsing-browsing kamar Airy. Kepo juga setelah disodori tiket pesawat murah. Kok banyak review yang bilang kamarnya bagus, memuaskan, dan lain-lain. Sepertinya lumayan nih untuk dicobain. Gimana-gimana, produk utamanya Airy Rooms kan kamar hotelnya ini. Bahkan ada beberapa hotel yang ada kolam renangnya! Bayangin, kamar hotel harga dua ratus ribuan, dapat fasilitas kolam renang! Wagelaseh!
       
      Buat yang lain, ngga usah mengulangi kepanikan yang aku alami kemarin, ya! Rugi waktu dan energi. Mending langsung cek harga di Airy. Udah jaminan paling murah dan banyak promo. Tapi aku tetep kecewa sih, kenapa baru ada sekarang-sekarang ini? Harusnya Airy ada dari dulu doong hiks.. Kan jadi bisa hemat dari dulu. Tapi yasudahlah, yang lalu biarlah berlalu, yang penting adalah melihat ke depan, semoga ke depannya harga Airy masih murah terus dan banyak promonya.
    • By Friesca Maryto
      Halo komunitas jalan2,
      perkenalkan saya Friesca Maryto domisili DKI Jakarta, sudah sering kepo ke sini dari 2016. tapi baru kali ini sign up sebagai anggota, karena kebutuhan.
      saat ini saya sedang menempuh pendidikan pascasarjana Magister Teknologi Informasi di Universitas Indonesia, dan sedang membutuhkan banyak responden untuk Tugas Akhir saya yang berjudul "Analisis Kualitas Website B2C: Studi Kasus Hotel Bintang 5". Jika teman2 di komunitas jalan2 pernah melakukan pemesanan kamar langsung melalui website hotel bintang 5 di Jakarta, atau mempunyai kenalan yang pernah, mohon berkenan mengisi kuesioner pada link berikut
      http://bit.ly/websiteB2C
      Ada hadiah pulsa total IDR 500,000,- untuk 10 orang yang beruntung. Pemenang akan diumumkan pada minggu ke 2 Juli. Jika ada hal yang ingin teman-teman tanyakan, jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email friesca.maryto@ui.ac.id. Terimakasih sebelumnya
       
      Cheers,
       
      Friesca
       
    • By vie asano
      Bagi traveler, menginap di hotel menjadi salah satu hal yang hampir selalu dilakukan saat traveling; walau kadang ada juga non-traveler yang rutin menginap di hotel karena alasan tertentu, salah satunya karena menyukai suasana hotel. Saya pribadi termasuk salah satu yang doyan banget menginap di hotel. Bukan karena faktor makanannya maupun fasilitas ekstra di hotel tersebut (seperti tempat fitness maupun spa), melainkan karena faktor suasananya, dan juga interior kamarnya. Dan satu lagi yang saya suka, adalah mengamati macam-macam karakter tamu yang menginap di hotel.
       
      Ya, bicara tentang hotel memang nggak lepas dari ngobrolin tentang tamu-tamu hotel. Terlepas dari apakah mereka termasuk tipe family (alias yang hanya bepergian bersama keluarga di akhir pekan), pebisnis (menginap hanya untuk keperluan bisnis), turis, maupun lansia; yang menarik untuk diamati adalah macam-macam karakter tamu hotel. Sebagai tempat bertemunya orang-orang yang memiliki kepribadian beragam, kadang ada saja karakter tamu hotel yang unik dan nyeleneh, sehingga menarik untuk diamati.
       
      Saya mengumpulkan beberapa karakter tamu yang lazim kita lihat setiap menginap di hotel. Sebagian saya dapat dari pengamatan pribadi, sebagian lainnya dengan mengamati tulisan dari mereka yang bekerja di industri hotel, serta hasil ngobrol-ngobrol dengan saudara yang pernah bekerja di hotel. Dari bermacam karakteristik tamu hotel berikut ini, manakah yang paling cocok dengan kalian?
       
      1. Tipe Ordinary
      Mungkin kebanyakan tamu hotel menganggap diri mereka biasa-biasa saja. Datang untuk check-in, istirahat di hotel maupun menikmati fasilitas didalamnya, dan check-out pada waktunya. Normalnya sih tamu hotel memang seperti itu, namun lihat dulu tipe-tipe tamu lainnya di bawah ini sebelum menganggap diri kalian adalah tamu biasa ya.
       
      *             *             *
       
      2. Tipe Selebriti
       

      Ilustrasi staff hotel sedang mencatat pesanan dari tamu, via gumtree 
       
      Maksud tipe selebritis disini maksudnya bukan selebriti sungguhan, namun para tamu yang terlalu ingin dilayani layaknya selebriti. Sebagian orang mungkin lebih suka menjuluki tamu jenis ini sebagai tamu manja. Tamu dengan tipe selebriti ini sangat suka diperhatikan, dan mereka maunya serba dilayani sebaik mungkin. Mereka suka dinomorsatukan, kadang nggak mentolelir kesalahan yang dibuat oleh pihak hotel maupun staff hotel, dan selalu menekankan jika “tamu adalah rajaâ€. Nggak sedikit staff hotel yang akan kesal dengan tipe tamu seperti ini.
       
      *             *             *
       
      3. Tipe Turis Sejati
       

      Spa di hotel, via hotels.1001tur 
       
      Tamu seperti ini datang ke hotel dengan tujuan untuk beristirahat. Mereka memilih hotel bukan karena faktor lokasi semata, melainkan karena fasilitas dan suasana yang ditawarkan oleh hotel tersebut. Karenanya, mereka suka menggunakan fasilitas hotel seperti spa dan fitness maupun berenang dan bersantai di tepi kolam renang; dan nggak sungkan membelanjakan uangnya untuk memesan makanan di hotel maupun mengikuti program tour yang diselenggarakan oleh hotel. Tamu jenis ini biasanya cenderung royal terhadap uang tip sehingga disukai oleh staff hotel.
       
      *             *             *
       
      4. Tipe Tukang Komplain
       

      Ilustrasi seorang tamu hotel yang sedang komplain, via bikashmohanty 
       
      Dari seluruh jenis tamu yang ada di daftar ini, mungkin tamu jenis ini yang paling membuat staff hotel mengelus dada. Segala macam dikeluhkan olehnya, mulai dari air kamar mandi yang lama panasnya, sampah yang telat dibersihkan, room service yang lambat merespon, dan banyak lagi komplain-an lainnya. Sebetulnya, tamu tukang komplain ini penyebabnya bermacam-macam. Ada yang memang sifat aslinya hobi mengeluh, namun ada juga yang berusaha mencari keuntungan dengan melakukan komplain ini-itu, seperti mengincar kompensasi dari hotel tersebut.
       
      *             *             *
       
      5. Tipe Kabayan
       

      Ilustrasi tamu yang bahagia, via hotelserena 
       
      Maksud dari tipe kabayan (diambil dari nama tokoh dalam cerita Sunda, Kabayan, yang dulu kerap diperankan oleh Didi Petet) disini adalah tamu yang kelihatan banget jarang menginap di hotel. Mereka selalu terpukau setiap kali masuk ke dalam hotel, selalu terlihat malu-malu, dan menganggap hotel (terutama hotel berbintang) merupakan dunia lain yang berbeda dengan dunia mereka sehari-hari. Biasanya, tamu jenis ini sangat ramah terhadap staff hotel maupun tamu lainnya, sehingga cukup menyenangkan untuk dijadikan tetangga kamar.
       
      *             *             *
       
      6. Tipe Kolektor
      Kalau tamu jenis ini murni berdasarkan pengamatan dan, uhuk, pengalaman pribadi. Mereka suka mengumpulkan barang-barang dari hotel, mulai dari barang-barang kecil seperti sampo, sabun, maupun toiletries; hingga barang-barang yang agak besar seperti sandal hotel, perlengkapan menulis, dan lain-lain. Asalkan barang tersebut ada logo hotelnya, maka barang tersebut bisa di embat untuk di koleksi. Adakah yang termasuk tipe ini?
       
      *             *             *
       
      7. Tipe Ogah Rugi
      Check-in jauh sebelum waktunya sehingga bisa masuk kamar tepat waktu, dan selalu check-out sesaat menjelang batas waktu yang ditentukan. Tujuannya supaya nggak rugi waktu selama menginap di hotel. Semua fasilitas gratisan selalu dimanfaatkan dengan maksimal, mulai dari sarapan gratis (semua menu dicoba, mulai dari semua jenis appetizer hingga dessert), toiletries, kolam renang; pokoknya tamu jenis ini selalu memaksimalkan waktu kunjungannya saat berada di hotel deh.
       
      *             *             *
       
      8. Tipe gratisan
      Nah, tamu jenis ini biasanya sering menginap di hotel, maupun mengetahui seluk beluk dunia perhotelan. Jadi mereka mengerti celah-celah untuk meminta diskon, dan malah terkadang minta gratisan.
       
      *             *             *
       
      10. Tipe Pebisnis
       

      Ilustrasi seorang pebisnis di kamar hotel, via themalaymailonline 
       
      Tamu tipe ini hanya menginap di hotel untuk keperluan bisnis. Jadi, mereka hanya menggunakan hotel sebagai tempat istirahat sementara dan jarang menggunakan fasilitas dalam hotel karena sibuk diluar. Kalaupun ada fasilitas yang sering digunakan, adalah area lounge untuk bertemu dengan tamu, serta fasilitas internet di hotel. Jika bicara, gaya bicaranya formal dan berwibawa.
       
      *             *             *
       
      11. Tipe Annoying
       

      Tetangga kamar yang hobi membuat keributan jelas menyebalkan, via motherswhowork 
       
      Nggak semua dinding hotel itu kedap suara, karena faktanya, banyak juga hotel yang memiliki dinding tipis dan berbahan non-bata. Sayangnya, nggak semua tamu hotel bisa bersikap tenang. Ada juga yang kerap menyetel TV keras-keras, ngobrol dengan keras, bahkan bertengkar tanpa malu-malu sehingga bisa didengar oleh tetangga sebelahnya maupun berpesta. Saya pernah bertetangga dengan tipe seperti ini (hobi ngobrol dengan suara keras), sehingga kami harus mengeraskan suara TV di kamar supaya suara obrolan di sebelah nggak kedengaran lagi.
       
      *             *             *
       
      12. Tipe Kombinasi
       
      Faktanya, bisa saja seorang tamu hotel memiliki kombinasi dari karakteristik yang sudah disebutkan di atas. Misalnya saja, jika menginap di hotel, saya termasuk tipe turis sejati (datang ke hotel untuk istirahat dan santai) dengan kombinasi tipe ogah rugi (check-in dan check-out tepat waktu supaya maksimal istirahat di hotelnya, haha). Dulu sih sempat jadi kolektor, untungnya sekarang sudah insyaf, hehe.  
       
      Nah, kira-kira teman-teman termasuk tipe yang mana? Jika kombinasi, kombinasi apa saja nih? Share dong! Feel free kalau mau menambahkan tipe tamu hotel lainnya yang belum ada dalam daftar ini.
       
    • By Riana Setiawan
      Halo ingin bertanya apakah ada yg menyewakan akomodasi untuk tgl 11-13 juni di new york untuk 3 orang. Terima kasih.
    • By Ronny.handoko
      Selamat malam,
      Mohon infonya ,sy rencana akan liburan keBali.berhubung saya berangkat sekeluarga dan sy tdk bawa kendaraan pribadi,tlg infonya hotel yg recomended bagi keluarga ,hotel yg nyaman dan sekitarnya cocok untuk jalan2 keluarga, kuliner,juga bersantai .
      Mohon infonya .
      Makasih 
    • By andiana
      Nginep di hotel di kota sendiri berasa aneh buat saya. Karena diminta menemani teman yang datang dari Jakarta, jadilah sekalian bikin blog post untuk salah satu hotel murah meriah berbintang tiga di Jalan Riau ini.
      Tebu Hotel (JANGAN TERTUKAR DENGAN GRAND TEBU HOTEL YA! ) nyempil banget lokasinya. Persis di sebelah de Pavilion dan Serela. Jadi, kalau dari arah Laswi, kamu bakalan ketemu dulu sama GRAND TEBU HOTEL sebelum akhirnya ke TEBU HOTEL. 
      Persis di seberang Jalan Cimanuk, setelah Jalan Lombok (yang ada KFC di pojokan jalan itu lho) kalau naik mobil, jangan ngebut yak. Pas lihat de Pavilion, pelan-pelan deh, karena setelah itu kamu bakalan nemu TEBU HOTEL yang nyempil itu.
      Udah ya, gak akan nyasar kan?  
      Baca ulasan santai saya di sini dan boleh komentar buat kamu yang pernah nginep di sana.
      Ke Hummingbird tinggal jalan kaki ke Jalan Progo (kagok lho kalo pake mobil atau motor. sekalian olahraga lah). Ke Giggle Box juga jalan kaki. Ke Masjid IStiqomah juga jalan kaki. 
      Gak jauh dari Pasar Cisangkuy. Kuy!
      Nyari Markobar Martabak? Jalan kaki aja, sekalian nongki di Bober Cafe yang suka jadi tempat gaul 24 jam. Asik deh kalo ke sana.