Sign in to follow this  
Followers 0
ikankering

Museum Benteng Heritage ~ Museum Sejarah Peranakan Tionghoa

10 posts in this topic

Rekan-rekan sekalian, apabila kita berjalan-jalan ke Tangerang, Banten, ada satu museum yang menarik untuk kita kunjungi. Namanya adalah Museum Benteng Heritage. Lokasinya berada di Jl Cilame No. 20, Pasar Lama, Tangerang. Tempatnya berada di jalan yang cukup ramai karena ada pasar, jadi katanya lebih enak ke sana kalau lagi sore hari. Posisi museum ini sendiri letaknya di belakang Kelenteng Boen Tek Bio. Jadi emang lokasinya juga lokasi yg chinese banget nich.

Di museum ini, rekan-rekan sekalian bisa liat berbagai macam cerita tentang perjalanan peranakan Chinese di Indonesia, mulai dari jamannya Cheng Ho. Selain itu, dapat juga dilihat berbagai macam artefak dan peninggalan dari jaman dulu.

Ada yang sudah pernah ke tempat ini?

384885_182371468528428_1056624069_n.jpg

377077_182371268528448_1588981691_n.jpg

382776_182371081861800_1342488368_n.jpg

Share this post


Link to post
Share on other sites

@ikankering @Nata Harianto minggu kemarin gue kesini, untuk lokasi karena dekat pasar ya jadi agak becek dan rada kotor...tapi ini museum bagus, waktu ke dalam kita akan dapet guide yang menjelaskan perkembangan dan benda2 cina yang ditemukan di sekitar tangerang, termasuk budaya cina.  

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa wah kalo share cerita udah banyak lupanya nih mod, wkwkwkwk.....

 

Tapi intinya mah, ke tempat ini worth banget untuk dikunjungi

 

1. ke Museum ini akan dapat pengetahuan tentang budaya cina (khususnya cina tangerang atau cina benteng) yang sangat menarik. Kalo ramean, kita bisa juga pesen makan siang ke pihak museum dan bisa makan siang didalam museum tsb.

2. Lokasinya di pasar lama, disini banyak banget jajanan enak, jadi kalo yang suka kulineran pasti terpuaskan disini, nah buat ibu-ibu, namanya juga pasar bisa sekalian belanja-belanja kebutuhan sehari-hari disini.

3. Dekat dengan klenteng Boen Tek Bio, nah bisa lihat deh tuh bangunan unik tempat ibadah dan pusat kegiatan Boen Tek Bio yang unik.

4. Coba datang menjelang imlek ataupun pada saat perayaan besar etnis tionghoa seperti Peh Cun (bulan 5 kalender imlek) dijamin ramai.

 

Minusnya cuman satu, lingkungan sekitar museum agak kotor karena ya lokasinya di pasar apalagi kalo ujan...

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa kalo banyak nggak nya sih aku ga tau mod, tapi memang kawasan pasar lama ini istilahnya kaya "kampung cina" gitu banyak keturunan tionghoa yang tinggal disini. kawasan ini juga terkenal sama jajanan nya, secara mereka terkenal masakan nya enak2 :D

 

@Mirza Fachrurrachman kemaren aku kesini mas pas ada event festival cisadane 10-14 juni trus mampir kesini bentar, pulangnya wisata kuliner di sepanjang jalan pasar lama kisamaun :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!


Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.


Sign In Now
Sign in to follow this  
Followers 0

  • Similar Content

    • Jalan Jalan ke Pulau Sangiang
      By min0ru
      18 Desember - 20 Desember lalu gw bersama keluarga SJCAM KASKUS mengadakan jalan-jalan ke Pulau Sangiang dalam rangka 1st Anniversary SJCAM KASKUS. Dimana sih Pulau Sangiang itu? Pulau ini terletak 45 menit dari Pelabuhan Paku dengan menggunakan perahu nelayan, jika dengan speed boat mungkin hanya 10 menit (dengan catatan cuaca baik).
      Apa aja sih yang bisa dilakukan di Pulau ini? Seperti pada umumnya kalo ke pulau-pulau kita bisa menikmati keindahan lautnya dengan snorkeling lalu bisa trekking ke goa kelelawar serta melihat hiu putih dari salah satu tebing di pulau ini.
       
         
      Penginapan yang kami pakai adalah homestay sederhana (rumah panggung) dan kami mendapatkan 3x makan yang cukup enak kok.
      Oia gw belum cerita perjalanan secara lengkap ya? Kira-kira gini nih.
      Sabtu, Dari Jakarta kita berangkat jam 2 pagi menuju pelabuhan Paku, Anyer dan tiba disana sekitar jam 04.30 pagi, karena ada rombongan lain yang menyusul maka kami ngobrol2 dan sarapan pagi dulu di pelabuhan sampai kira-kira jam 8 baru menyeberang menggunakan perahu. Sesampainya di Sangiang kami bersandar disalah satu pelabuhan kecil untuk ganti baju dan bersiap snorkeling. Ada 3 spot yang kami kunjungi untuk snorkeling.

      Sekitar jam 1 siangnya kita sudah berada di homestay untuk makan siang bersama dan karena hujan terus menerus akhirnya rencana trekking di batalkan dan diganti ke hari berikutnya. Menghabiskan hari, kami bersantai2 di saung yang memang ada di depan homestay, sebagian juga main dipantai menjelang sunset untuk snorkel di lepas pantai.

      Keesokan paginya gw udah bangun jam 6 untuk segera mandi karena udara dari semalam cukup membuat lengket badan, dan sebelum yang lainnya bangun dan harus mengantri hehe. FYI hanya ada 2 kamar mandi disini, airnya cukup bersih tapi beberapa kali pompa mati sehingga harus manual nimba air dari sumur hehehe but it was fun!
      Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi dan trekking pun dimulai rutenya adalah Goa Kelelawar, Saung Tungku dan Puncak Harapan.

      Trekkingnya sih ga seberapa rutenya hanya saja cuaca cerah dan terik membuat keringat tak henti menetes dan tak terasa trekking pun berujung selesai di warung kelapa muda dan dengan sigap gw ngantri buat pesen kelapa muda! sayangnya ga ada es batu! :(. Jam sudah menunjukkan pukul 3 siang dan akhirnya kita kembali ke dermaga untuk balik menuju jakarta, dan nasib kurang baik menimpa 4 perahu karena cuaca buruk waktu tempuh yang tadinya 45 menitan menjadi 90 menitan untunglah kami semua sampai dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun.
      Info tambahan bahwa di homestay susah sinyal, kalo mau dapet sinyal harus jalan dulu ke pinggir pantai. Sinyal Indosat H+ sedangkan XL dan Telkomsel 3G / Edge. Hehehe.
      Kiranya segitu dulu yang bisa gw tulis kali ini. Semoga bermanfaat.
    • Serunya Berkunjung ke Museum Balai Kirti, Istana Kepresidenan, Bogor
      By Hasdevi Agrippina Dradjat
      Kota Bogor memang terkenal dengan istana Bogor-nya yang menjadi salah satu icon kota Bogor. Namun, tahukah kamu bahwa ada museum bagus di Bogor yang tentunya dapat kamu jadikan sebagai referensi wisata untuk dikunjungi ketika kamu memiliki kesempatan menjelajahi Bogor.
      Museum ini adalah museum Balai Kirti yang terletak di dalam Istana Kepresidenan Bogor, sebelah Gereja Zebaoth. Letaknya memang agak ke dalam namun tentu saja keindahan yang dimilikinya tidak akan membuatmu menyesal karena pernah mengunjungi museum cantik yang satu ini.
      Penasaran dengan apa saja yang terdapat di museum ini? Pada kesempatan kali ini kita akan membahasnya dalam serunya berkunjung ke museum Balai Kirti, Istana Kepresidenan Bogor.
       
      Membuat Surat Permohonan Kunjungan untuk Persiapan Memasuki Museum
      Museum ini memiliki keunikan tersendiri dimana untuk memasukinya, kamu diharuskan membuat surat permohonan mengunjungi museum. Untuk mendapatkan balasan dalam membuat surat ini, kamu harus mengontak via email ke museumkepresidenanindonesia@gmail.com atau museum.balaikirti@gmail.com.
      Untuk membuat surat permohonan kunjungan museum, kamu dapat melakukan browsing dan mengambil contoh format permohonan kunjungan museum.
      Surat permohonan tersebut ditujukan kepada Kepala Museum Kepresidenan RI yang beralamat di Kompleks Istana Kepresidenan Bogor Jl. Ir. H. Juanda No. 1 Bogor. Surat permohonan ini penting untuk dibuat sebagai tanda bahwa tidak semua orang diperkenankan untuk memasuki museum ini (harus mengantongi izin terlebih dahulu).
      Pada surat permohonan tersebut, kamu juga diharuskan untuk mencantumkan nomor kontak (HP dan telepon) sebagai tanda pertanggungjawaban rombongan.
      Setelah itu, kamu juga diharapkan dapat melampirkan daftar nama peserta jika kamu datang mengunjungi museum ini dalam jumlah rombongan yang cukup banyak. Jika tidak cukup banyak, kamu bisa juga menaruh jumlah rombongan (misalnya dua orang).
      Surat ini dapat dikirimkan secara langsung atau melalui email. Nah, surat ini paling lambat diterima selama 7 hari sebelum waktu berkunjung. Respon dari pihak museum sendiri cenderung sangat ramah dan tidak menyulitkanmu sehingga kamu tidak akan merasa dipersulit untuk memasuki museum ini.
       
      Waktu Berkunjung ke Museum Kirti
      Museum ini dibuka setiap hari kecuali pada hari libur nasional. Pada hari Senin hingga hari Jumat, museum ini dibuka dari pukul 09.00 hingga pukul 15.00.
      Nah, pada hari Sabtu dan Minggu, museum ini dibuka dari pukul 09.00 hingga pukul 13.00. Yang paling menyenangkan adalah tidak ada biaya masuk yang dikenakan jika kamu ingin memasuki museum ini alias gratis.
       
      Tata Tertib Pengunjung Museum Kirti
      Jika mengunjungi Museum Kirti, kamu juga tidak diperkenankan untuk menggunakan sembarang pakaian. Ya, untuk tetap bersifat sopan dan menghormati berbagai barang milik presiden-presiden Indonesia, kamu memang diharuskan untuk mengenakan pakaian yang sopan yang rapi.
      Untuk pria, kamu diharuskan untuk mengenakan kemeja, celana panjang serta bersepatu. Sementara itu, untuk wanita, kamu diharuskan untuk mengenakan baju berlengan, celana panjang/rok panjang (di bawah lutut), gaun di bawah lutut dan bersepatu.
      Selain itu, kamu juga tidak diperkenankan untuk mengenakan kaos, baju tidak berlengan, celana pendek, rok mini, jeans, pakaian tipis/ketat dan sandal. Ya, kamu memang sangat diminta untuk mengenakan pakaian yang sopan dan rapi.
      Selain mengenai masalah pakaian, kamu juga diharuskan untuk hadir sesuai dengan daftar yang diajukan pada surat permohonan berkunjung.
      Ketika memasuki Balai Kirti, kamu dilarang untuk membawa tas, ransel dan sejenisnya ke dalam museum. Selain itu, kamu juga dilarang untuk berfoto di dalam ruangan tertentu yang ada di dalam museum.
      Kamu juga dilarang untuk menyentuh dan/atau memegang media/ koleksi yang ada di dalam museum. Nah, kamu juga dilarang untuk membawa senjata api, senjata tajam dan obat-obatan terlarang.
      Kamu juga tidak diperkenankan untuk membawa binatang ketika kamu sedang berada di Museum Kirti yang satu ini. Nah, surat izin masuk tersebut dapat dibatalkan atau ditunda sewaktu-waktu apabila terdapat acara di museum ini.
      Surat izin juga dapat ditunda jika pengunjung tidak mematuhi peraturan yang berlaku. Untuk itu, cobalah sebisa mungkin untuk menataati peraturan yang berlaku.
       
      Sekilas Tentang Museum Kirti
       
       
       
      Mengunjungi Museum Balai Kirti
      Museum Kirti ini terletak di kawasan Istana Kepresidenan Bogor. Museum ini merupakan ide dari presiden ke 6 Republik Indonesia, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono. Nah, dua hari menjelang akhir masa jabatannya, Bapak SBY meresmikan museum Balai Kirti yang satu ini. Museum ini diresmikan pada tanggal 18 Oktober 2014.
      Peresmian museum ini dihadiri oleh Wakil Presiden Boediono, sejumlah menteri dan wakil negara sahabat.
      ‘Kirti’ sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta. Kata ini berarti wadah kemasyhuran. Di dalam museum ini, terdapat kiprah dan prestasi yang sudah ditorehkan presiden-presiden Republik Indonesia.
      Presiden ketiga RI BJ Habibie hadir bersama keluarga. Ny Sinta Nuriyah Wahid (istri presiden keempat RI Abdurrahman Wahid) dan Siti Hediati Hariyadi (putri presiden kedua RI Soeharto) juga hadir.
      Keluarga presiden RI Soekarno dan Megawati Soekarnoputri juga disebutkan hadir untuk menyaksikan peresmian museum yang satu ini.
      Gagasan terhadap pembangunan museum ini telah ada sejak tahun 2012 dan baru akhirnya bisa rampung pada tahun 2014. Ide ini kemudian ditindaklanjuti. Kementrian Pekerjaan Umum bertugas untuk membuat desain dan membangun museum. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bertugas untuk menyediakan konten museum.
      Sementara itu, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi bertugas untuk menyediakan ruang cinderamata. Nah, Sekretariat Negara bertugas untuk mengelola museum.
      Luas Balai Kirti ini mencapai sekitar 3.211,6 meter persegi dan menyatu dengan Museum Istana Bogor. Museum Kepresidenan Balai Kirti memiliki tiga bagian utama, yakni bangsal kebangsaan, bangsal kepresidenan, dan taman terbuka.
      Nah, ketika kamu memasuki museum ini, ada bagian-bagian dari museum yang boleh kamu foto namun ada pula yang tidak boleh kamu foto. Semuanya sesuai dengan dimana kamu berada.
       
      Memasuki Museum Balai Kirti Lantai 1

      Ketika memasuki Museum Kirti, kamu diharuskan untuk menyerahkan surat izin yang telah kamu terima. Nah, setelah itu, kamu akan diminta untuk menyerahkan KTP-mu dan menukarnya dengan kartu tamu di bagian satpam.
      Ketika memasuki Museum Balai Kirti, kamu akan diharuskan untuk menitipkan tasmu dan hanya membawa handphone serta dompet. Ya, kamu tidak diperbolehkan untuk membawa tasmu.
      Setelah itu, akan ada seorang tour guide yang membantumu berkeliling mengelilingi museum. Pada bagian awal, kamu akan menyaksikan teks proklamasi serta teks pancasila pada dinding lobi utama. Di bawah teks-teks tersebut, terdapat terjemahan teks ini dalam bahasa Inggris.
      Hal ini tentu merupakan nilai tambah karena WNA juga dapat turut serta memahami maksud dari teks-teks sacral tersebut.
      Ketika memasuki bagian selanjutnya, kamu akan melihat partisi berbentuk fotografi presiden-presiden Republik Indonesia. Pada sayap kanan, kamu akan melihat partisi fotografi Presiden Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono.
      Pada bagian ini, kamu masih diperbolehkan untuk berfoto. Ya, bahkan tur guide akan dengan sangat baik hati menawarkan bantuan untuk memfotomu.
      Selanjutnya, pada bagian tengah museum terdapat taman terbuka. Taman tersebut adalah taman kering yang didominasi oleh batu-batu alam. Pada bagian tengah taman ini, terdapat patung-patung Presiden Republik Indonesia dari mulai Presiden Soekarno hingga Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.
      Nah, kamu juga diperbolehkan untuk mengambil foto di sini. Setelah itu, kamu diperbolehkan untuk berjalan menyusuri sayap kiri museum ini.
      Pada bagian sayap kiri museum, kamu akan dapat melihat partisi-partisi yang berisi fotografi Presiden Republik Indonesia dari mulai Soekarno hingga B. J. Habibie. Ya, kamu pun masih diperbolehkan untuk berfoto di tempat ini.
       
       
      Memasuki Museum Balai Kirti Lantai 2
       
       
       
      Selanjutnya, kamu diperbolehkan untuk menaiki lantai 2 museum Balai Kirti. Kamu akan menaiki lantai 2 dengan menggunakan escalator. Setibanya di lantai dua, kamu akan memasuki galeri kepresidenan. Diawali dengan presiden RI pertama yaitu Ir. Soekarno dan berakhir di presiden RI keenam yaitu Soesilo Bambang Yudhoyono. Namun, di galeri ini kamu tidak diperkenankan untuk berfoto.
       
      1. Galeri Ir. Soekarno

       
      Presiden Soekarno via http://www.beranda.co.id/wp-content/uploads/2015/09/Soekarno.jpg
       
      Pada bagian galeri ini, kamu akan menyaksikan kata-kata fenomenal milik Presiden Soekarno ditulis di bagian dindingnya, yaitu “Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Di sini, tersedia tiga buah televise yang akan memutar video singkat mengenai prestasi apa saja yang sudah ditorehkan oleh Presiden Soekarno selama menjadi presiden.
      Peristiwa hebat yang pernah terjadi pada masa pemerintahan Ir. Soekarno salah satunya yakni peristiwa Pembebasan Irian Barat. Proses pembebasan Irian Barat dilakukan oleh Presiden Soekarno dengan langkah-langkah yang mengagumkan.
      Langkah-langkah tersebut adalah jalur diplomatic untuk menggalang dukungan internasional dan mengadakan perundingan-perundingan Belanda, membangun solidaritas gerakan Non Blok yang terdiri dari negara bekas jajahan bangsa kolonial, dan menempuh jalur militer menggunakan pasukan Trikora dan operasi Jaya Wijaya.
      Langkah-langkah tersebut membuahkan hasil hingga saat ini Irian tetap menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada bagian galeri ini juga terdapat diorama berisi pakaian dinas sehari-hari presiden Soekarno.
       
      2. Galeri Soeharto
       

      Presiden Soeharto via http://www.kabarhukum.com/wp-content/uploads/2015/08/soeharto-presiden.jpg
       
      Ketika memasuki galeri Soeharto, kamu akan menemukan tiga televise berisi video yang memutarkan film documenter mengenai prestasi apa saja yang ditorehkan oleh Soeharto ketika menjadi presiden.
      Situasi dan kondisi saat Soeharto menjadi presiden juga sangat aman karena media masa dapat dikendalikan dalam mengolah berita. Setiap ada berita suara jarum jatuh yang dapat membuat ketidakstabilan bangsa ini maka langsung diredam.
      Sehingga saat itu suasana terekam dalam otak masyarakat dalam keadaan aman. Padahal saat itu juga banyak kerusuhan, korupsi, pemberontakan, dan berbagai tindak kriminal lainnya.
      Soeharto juga berhasil membawa keamanan bagi negara Indonesia karena setidaknya rakyat Indonesia dapat merasa lebih aman. Hal inilah yang menyebabkan presiden ini dapat bertahan menjadi presiden hingga berpuluh-puluh tahun lamanya.
      Soeharto berhasil membangun negara yang stabil dan mencapai kemajuan ekonomi dan infrastruktur. Pada bagian galeri Soeharto ini juga terdapat lemari kaca yang memajang pakaian dinas Soeharto dan lengkap dengan lencana-lencana militernya.
       
      3. Galeri B. J. Habibie
       

      B. J. Habibie via http://www.wartabuana.com/pictures/20121219070722_279-201508251338091.gif
       
      Pada bagian ketiga, kamu akan bertemu dengan galeri B. J. Habibie. Nah, pada galeri ini kamu juga akan menemukan tiga buah televise yang menceritakan tentang prestasi apa saja yang sudah berhasil ditorehkan oleh presiden B. J. Habibie.
      Meski tergolong singkat dalam menjadi presiden Republik Indonesia, tapi B. J. Habibie telah berhasil menciptakan sejumlah gebrakan bagi Indonesia.
      Ya, presiden ini menciptakan system desentralisasi dimana otonomi daerah mulai ditegakkan. Pemerintah pusat mulai memberikan wewenang kepada pemerintah daerah untuk membangun daerahnya masing-masing.
      Nah, hal inilah yang menyebabkan saat ini banyak daerah di Indonesia sudah mulai berusaha untuk mandiri dan berdiri di atas kakinya masing-masing.
      Presiden ini juga memulihkan rupiah dari 17.000 hingga mencapai 6.700 rupiah. Habibie juga berhasil menurunkan inflasi dari 54,54% jadi 13,3% pada waktu Soeharto sedang lengser. Suatu prestasi yang membanggakan, bukan?
      Kemudian, presiden yang merupakan presiden yang sangat jenius ini juga terkenal dengan prestasinya di bidang akademik. Presiden Habibie berhasil meraih gelar doctor ingenieur (doctor teknik) dengan predikat summa cumlaude pada tahun 1965 dari RWTH Aachen, Jerman.
      Beliau juga berhasil mendesain pesawat utuh. Satu diantara buah karyanya adalah prototype DO-31, pesawat tetap pertama yang mampu tinggal landas dan mendarat secara vertikal, yang dikembangkan HFB bersama industri Donier.
      Bahkan, pesawat dengan tipe Airbus A300 yang diproduksi oleh Konsorsium Eropa (European Aeronautic Defence and Space) juga tidak lepas dari sentuhan Habibie.
      Meski sangat singkat, kepemimpinan Presiden Habibie mampu membawa bangsa Indonesiadari jurang kehancuran akibat krisis. Presiden Habibie berhasil memimpin negara keluar dari dalam keadaan ultra-krisis, melaksanakan transisi dari negara otorian menjadi demokrasi.
      Sukses melaksanakan pemilu 1999 dengan multi parti (48 partai), sukses membawa perubahan signifikan pada stabilitas, demokratisasi dan reformasi di Indonesia.
       
      4. Galeri Abdurrahman Wahid
       

      Abdurrahman Wahid via http://static.guim.co.uk/sys-images/Admin/BkFill/Default_image_group/2010/1/3/1262538687883/WAHID-001.jpg
       
      Pada bagian keempat, kamu akan bertemu dengan galeri Abdurrahman Wahid. Nah, pada galeri ini kamu juga akan menemukan tiga buah televise yang menceritakan tentang prestasi apa saja yang sudah berhasil ditorehkan oleh presiden Abdurrahman Wahid.
      Abdurrahman Wahid terkenal sebagai tokoh yang gigih memperjuangkan pluralisme di Indonesia. Tokoh ini juga memperjuangkan perlindungan hak azasi masyarakat sipil dan kaum minoritas yang penting dilakukan untuk menjaga eksistensi Indonesia.
      Pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid juga presiden ini lebih menitikberatkan pada urusan Agama. Keberadaan agama Konghucu mulai diperhatikan dan perayaan Imlek mulai dimasukkan dalam hari libur nasional.
      Selama masa jabatannya, Gus Dur fokus dalam mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren sehingga dapat menandingi sekolah sekular. 
      Pada tahun 1987, Gus Dur juga mendirikan kelompok belajar di Probolinggo, Jawa Timur untuk menyediakan forum individu sependirian dalam NU untuk mendiskusikan dan menyediakan interpretasi teks Muslim. 
      Gus Dur pernah pula menghadapi kritik bahwa ia mengharapkan mengubah salam Muslim "assalamualaikum" menjadi salam sekular "selamat pagi”.
       
      5. Galeri Megawati Soekarnoputri
       

      Megawati Soekarnoputri via http://img.antaranews.com/new/2011/06/ori/2011060110344106.gif
       
      Terdapat beberapa prestasi yang ditorehkan Megawati Soekarnoputri selama menjadi presiden Republik Indonesia. Prestasi tersebut adalah mendirikan Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK. Hal ini karena Megawati melihat institusi Polri dan Jaksa sudah terlalu kotor namun sulit untuk dibubarkan.
      Selain itu, Megawati juga melakukan pembangunan infrastruktur yang vital setelah pembangunan berhenti sejak 1998. Diantaranya Tol Cipularang (Cikampek-Bandung) sekaligus dalam rangka peringatan KAA, Jembatan Surabaya Madura (Suramadu), Tol Cikunir, Rel ganda kereta api. Dimulainya membenahi sistem transportasi dengan Busway di Jakarta.        
      Nah, ketika memasuki galeri Megawati ini kamu juga dapat menyaksikan pakaian dinas yang selama ini digunakan oleh Megawati ketika menjabat menjadi presiden Republik Indonesia. Kamu juga dapat melihat fotografi-fotografi Ibu Megawati dan kehidupannya.
       
      6. Galeri Soesilo Bambang Yudhoyono
       

      Soesilo Bambang Yudhoyono via https://pbs.twimg.com/profile_images/449699574207115264/FDzxuwMw.png
       
      Pada bagian keenam, kamu akan bertemu dengan galeri Soesilo Bambang Yudhoyono. Nah, pada galeri ini kamu juga akan menemukan tiga buah televise yang menceritakan tentang prestasi apa saja yang sudah berhasil ditorehkan oleh presiden SBY.
      Prestasi yang ditorehkan oleh presiden SBY antara lain adalah meredam konflik di Aceh. Nah, ketika masih menjabat sebagai presiden dan berpasangan dengan Jusuf Kalla, SBY berhasil meredam konflik di Aceh.
      Pada waktu SBY menjadi presiden, juga terjadi pemberantasan terorisme yang efektif. Pada waktu tersebut, pemerintah SBY dan Polri menerapkan strategi yang tepat untuk memberantas terorisme.
       
      Nah, itulah dia pembahasan mengenai serunya berkunjung ke museum Balai Kirti. Semoga artikel ini dapat membantumu dalam mendapatkan referensi mengunjungi salah satu museum terbaik kepresidenan di Indonesia.
      Happy traveling!
    • Sensasi Tracking ke Baduy Dalam
      By Luxia
      Hi JJ-ers,
      Jumpa lagi disini… Apa kabar semua??
      Besok long weekend nih.. meskipun harpitnasnya 2 hari, yaaa.. mana tau teman-teman ada yang memutuskan refreshing aja sejenak, meninggalkan kepenatan pekerjaan yang tak akan pernah ada habisnya. Sebagian rombongan akan mengikuti acara gathering KJJI ke IX di Lombok… nah bagi anggota KJJI yang belum dapat tempat… kemana nih?? Apakah ada yang berencana ke Baduy Dalam? Apa sih yang menarik di Baduy Dalam? Bagaimana rasanya tracking ke Baduy Dalam dan Apa yang menjadi Icon Baduy?? Kebetulan Kami (Saya, @Eka Wibisono dan @Maria Kuntarti) baru saja menaklukkannya… meskipun setelahnya rata2 pada encok dan berjalan dengan “bumi yang tak rata” alias tertatih-tatih selama kurang lebih 2-3 hari (hahaha… gaya bener ya bahasanya “menaklukan”). Saya mau berbagi cerita sedikit nih… Yuk mari kita simak perjalanannya.
      Pagi yang cerah dihari sabtu tanggal 03 Oktober 2015 pukul 06.00 WIB kami ber-12 + 2 tour leader berkumpul di meeting point untuk bersama-sama berangkat menuju desa Ciboleger. Kebetulan kali ini paket yang kami pilih adalah paket yang sedikit berbeda, mengapa berbeda?? Karena bukan perjalanan backpacker yang kami pilih, mengingat rombongan kami dimulai dari usia 26 hingga 63 tahun… Bravo!! Dengan menumpang elf yang kami sewa berikut paket perjalanan 2 hari 1 malam ke Baduy Dalam, kami berangkat dengan menempuh perjalanan selama kurang lebih 5-6 jam dengan 1 kali berhenti di rest area selama 30 menit. Elf kami memilih jalur tol dalam kota, keluar di pintu tol Darmaga menuju ke arah Bogor (Gunung Salak) yang mana menurut supir elfnya, Pak Rudi (tapi bukan Rudi Hadi Sentosa lho yach… hahaha… Peace Rud), lewat jalur Bogor bisa menghemat waktu kurang lebih 3 jam dibandingkan lewat jalur Rangkas. Okay Pak. Kami manut aja dech, soalnya memang belum pernah tau “medan perangnya”.
      Tepat pukul 12.00 WIB kami tiba di desa Ciboleger dengan disambut oleh porter-porter kami yang notabene berasal dari Baduy Dalam (berbaju putih dengan ikat kepala putih) dan ada 4-5 orang porter yang berasal dari Baduy Luar (termasuk 3 orang anak-anak berusia antara 8 – 12 tahun) (berbaju hitam dengan ikat kepala biru) yang akan menemani kami nanti. Total porter kami ada 13 orang (karena semula ada 13 peserta tetapi 1 batal) yang akhirnya 12 porter membawa tas kami dan 1 orang membawa keperluan lainnya seperti air mineral yg sudah kami persiapkan untuk mengantisipasi perjalanan nanti, dll.

      Sambil menunggu menu makan siang yang sedang dipersiapkan, kami pun melihat-lihat sekitarnya dan mengobrol sedikit dengan porter-porter kami. Lihat punya lihat dan lirik punya lirik… eh ada seorang porter yang berseragam putih yang menarik perhatian kami, wajahnya berbeda dari yang lainnya… putih, bersih, hidungnya mancung… namanya Asmin. Kalau kita berandai-andai, Asmin ini mirip sekali dengan aktor dari Hongkong, tinggal didandani sedikit hehehe… banyak juga yang bilang mirip orang Jepang.

      Kang Asmin sempat bercerita kepada kami bahwa suku baduy dilarang menggunakan kendaraan untuk berjalan kemanapun mereka pergi, makanya waktu mereka ke Bandung, mereka menempuh perjalanan selama 7 hari dengan berjalan kaki...(WOW) dan 2 hari ke BSD (Bumi Serpong Damai) dengan menginap dirumah teman-teman mereka. Semua tamu yang pernah mereka antar masuk ke desa Baduy Dalam mereka anggap teman sehingga tidak jarang mereka akan meminta alamat dan nomor HP kepada kita. Bahasa asli suku Baduy adalah Sunda kasar tetapi beberapa dari mereka sudah mulai bisa mengerti Bahasa Indonesia meskipun ada yang masih menjawabnya dengan terbata-bata bahkan belum bisa lancar menangkap dan mengerti Bahasa Indonesia yang diucapkan dengan kecepatan tinggi (ibarat mobil itu gigi 4 hehehe).   
      Setelah kami beristirahat dan makan siang selama kurang lebih 1 jam kami pun bersiap-siap untuk memulai perjalanan kami. Sambil menunggu tour leader kami (Mas Anto) melapor ke Kepala Desa, kamipun berfoto-foto ria… masing-masing peserta berfoto dengan porternya untuk kenang-kenangan, termasuk saya dengan porter saya yang usianya 12 tahun tetapi tubuhnya seperti anak yang berusia 8 tahun, namanya Asda. Bocah lucu yang super energik tetapi cuek (bebek aja kalah cuek) ini lah yang menjadi hiburan saya dan teman-teman selama perjalanan pergi dan pulang.

      Baduy Dalam terbagi menjadi 3 Desa yaitu desa Cibeo, desa Cikartawana dan desa Cikeusik. Perjalanan kami kali ini adalah mengunjungi desa Cibeo, desa yang paling dekat dengan Baduy Luar. Desa Cibeo merupakan desa dari Baduy Dalam yang sudah sedikit terkontaminasi dengan dunia luar (stt… bahkan ada beberapa warganya yang sudah pake HP lho… caranya?? Nyolong2 dibawah meja pakainya…). Sebagian besar mata pencaharian warga Baduy baik Luar maupun Dalam adalah menenun dan berjualan gula aren. Kalau beras, mereka tidak menjualnya, di tanam hanya untuk dikonsumsi sendiri.
      Perjalanan diperkirakan akan ditempuh dalam waktu 4 jam. Untuk dapat mencapai desa Cibeo, rombongan harus melewati sekitar 5-6 desa Baduy Luar yang diantaranya Desa Balimbing, Marangu, Gajeboh dan juga harus melewati Jembatan bambu yang oleh warga setempat disebut Jembatan Temayang serta Tanjakan Cinta. Mendengar namanya pasti terbersit kisah-kisah manis didalamnya sehingga bisa disebut “Tanjakan Cinta”…hehehe… ternyata tidak ada yang tahu silsilah sebutan itu. Oke lah kalo begitu… Let’s Get started.

      Perjalanan dimulai dengan melewati perkampungan di luar Baduy (masih di wilayah Ciboleger) sampai dengan ada portal yang bertuliskan “SELAMAT DATANG DI BADUY”. Perjuangan dimulai. Semua wajah sumringah, ceria, perjalanan ini diisi dengan cerita dan senda gurau dari tiap-tiap peserta. Tamu-tamu yang notabene asli Indonesia diperbolehkan tracking hingga wilayah Baduy Dalam tetapi tidak demikian dengan tamu dari mancanegara. Mereka hanya boleh berjalan hingga Gajeboh saja atau maximum Jembatan Temayang saja. Tidak ada yang tahu alasan maupun cerita dibalik larangan tersebut. Mungkin porter kami kebanyakan anak-anak muda yang sebenarnya hanya mematuhi saja aturan dari kepala suku tanpa banyak bertanya mengenai sejarah-sejarah dan larangan-larangan yang diberlakukan selama ini kepada mereka atau memang dilarang untuk menjelaskan, Entah lah. Tidak ada yang bisa menjawabnya meskipun seniornya sekalipun yaitu Kang Naldi (yang telah banyak pengalaman menjemput dan mengantarkan tamu keluar masuk Baduy Dalam). Menurut Kang Naldi, saat ini jumlah keluarga yang ada di Baduy Dalam sekitar 140 keluarga saja, sisanya tinggal di Baduy Luar. Bukan karena adat yang membuat mereka keluar dari Baduy Dalam tetapi semua tergantung pilihan masing-masing orang. Contohnya Asda (porter saya), Ayah Asda, Kang Herman, yang merupakan penghubung porter dengan travel agent yang kami pakai jasanya saat itu, beliau baru 1 tahun keluar dari Baduy Dalam karena tidak tahan hidup terkukung dengan adat, sedangkan Asda masih tinggal bersama kakeknya di Baduy Dalam pada saat orang tuanya memutuskan tinggal di Baduy Luar. Sekitar 3 atau 4 bulan yang lalu Asda memutuskan ikut orang tuanya untuk tinggal di Baduy Luar. Alasannya simple banget, pindah ke luar karena tidak tahan dengan kakeknya, tiap kali minta uang jajan tidak dikasih… hahaha…. (lucu & polos banget). Semua warga Baduy Dalam taat pada seorang kepala suku yang mereka panggil PU-UN (jadi bukan seperti cerita orang-orang diluar sana bahwa orang Baduy Dalam menyembah Pohon… ngawur ya). Baduy Dalam pun ada periode puasanya tetapi beda dengan periode puasa Muslim.

      Semua peserta tidak ada yang tahu seperti apa tracking yang selama ini disebut-sebut oleh tour leader sedikit berat. Tidak ada yang bisa membayangkan pula seberapa curam bukit-bukit serta tanjakan-tanjakan yang akan dilalui dan dihadapi oleh kami… sejauh ini kami browsing, foto-foto yang diperoleh hanyalah foto-foto perjalanan biasa dengan sedikit bonus perbukitan. Tidak ada sama sekali terbersit dibenak kami bahwa yang menurut warga Baduy perjalanan datar itu adalah seperti berjalan diperbukitan. Tidak ada juga yang menyangka bahwa perjalanan menaiki bukit sedikit itu ternyata ibarat kita menaiki pegunungan… dan tidak ada yang menduga bahwa perjalanan menanjak itu ibarat kita mengarungi pegunungan dengan kemiringan 45 derajat dan bertanah kuning serta berbatu-batu.

      Untungnya saat kami berada di lokasi, keadaan sekitar sedang kering, cuaca tidak lembab dan sudah 4 bulan lamanya tidak turun hujan sama sekali sehingga tidak licin. Jadi kalau hendak mengunjungi Baduy Luar maupun Baduy Dalam amat sangat disarankan mengambil periode musin kemarau yaitu bulan Juni s/d September. Warga Baduy Dalam juga ada kalanya menutup pintu untuk tamu-tamu luar yang ingin berkunjung yaitu pada bulan Maret s/d Mei dikarenakan mereka sedang panen. Bentuk lahan sawah dan ladang orang Baduy cukup menakjubkan, mereka bercocok tanam bukan di tanah yang rata seperti kebanyakan sawah dan ladang yang kita temui didesa-desa pada umumnya. Mereka menanam padi dan lainnya di lahan tanjakan yang kemiringannya sekitar 70 s/d 80 derajat , sehingga pada waktu ada yang bertanya koq gak terlihat kerbau diladang? Jawabannya:  ya gak bisa lah yah… Satu-satunya hewan yang sering dan berkeliaran di Baduy Dalam hanya lah Ayam. Anjing ada yang pelihara tetapi tidak banyak dan mungkin keberadaannya di tengah-tengah desa, soalnya kita tidak melihatnya selama perjalanan hingga Baduy Dalam.

      Sepanjang perjalanan selama kurang lebih 1 jam ditempuh, semua baik-baik saja dan masih enjoy-enjoy saja, terlebih ketika melewati jembatan pertama… beberapa tamu dari rombongan lain bertanya dengan heran, apa benar bahwa kita hendak menuju Baduy Dalam? Jauh lho.. Masih jauh sekali lho.. apalagi ketika mereka melihat rombongan kami ada orang tuanya. Rata-rata rombongan yang kami temui hanya duduk-duduk di jembatan pertama saja, foto-foto, paling jauh mereka menempuh perjalanan sampai di Gajeboh (sekitar 25% dari total perjalanan menuju desa Cibeo), setelah puas akan memutuskan untuk kembali saja ke Ciboleger. Saya jadi berpikir, usia mereka masih pada muda-muda, tapi koq gampang sekali menyerah??

      Menyusuri jalan setapak demi setapak… kampung demi kampung… stamina kamipun mulai sedikit demi sedikit menurun. O iya, jangan lupa berbekal diri dengan tongkat kayu yang kokoh yach, karena itu sangat membantu memperingan langkah kaki. Rasa lelah, nafas tersengal-sengal, wajah lelah, perasaan galau bercampur aduk, karena sudah 4 jam perjalanan tetapi belum juga kami jumpai yang namanya Jembatan Temayang. 5 desa sudah dilewati, beristirahat di desa-desa dan diperkampungan. Turun naik perbukitan dan tanjakan kurang lebih 10 an kali.. Mantap bener…  Sambil terseok-seok kaki melangkah, tibalah di jembatan bambu yang disebut Jembatan Temayang yang kalau menurut saya itu merupakan jembatan terpanjang dan terkokoh selama perjalanan dari luar Baduy karena alas tempat kita berpijak itu terbuat dari batang bambu yang tersusun 2 lapis sehingga benar-benar kokoh dan panjangnya ada sekitar 10-15 meteran. Jika kita sudah melewati Jembatan Temayang, artinya kita sudah mulai meninggalkan kawasan Baduy Luar dan memasuki area Baduy Dalam.
      Nah tiba lah saatnya kita menyiapkan fisik untuk menghadapi medan terberat di hari pertama ini yaitu Tanjakan Cinta… Sungguh-sungguh luar biasa… panjangnya 500 meter dengan kemiringan 45 derajat, benar-benar butuh kesabaran, kekuatan kaki dan jantung, sepatu gunung yang masih bagus banget serta penuh doa agar jangan sampai tergelincir dan terkilir. Benar-benar harus dijaga lho staminanya disini. Dan 1 lagi prinsip yang selalu dikumandangkan oleh Kang Naldi… “Ayo… sedikit lagi… jalan 10 menit lagi medannya datar koq…” hah.. jangan percaya… datarnya hanya 5-10 langkah doank sisanya naik terussss…. Tetapi Tanjakan Cinta memang merupakan tanjakan tertinggi terakhir untuk tiba di desa Cibeo. Sisanya hanya tanjakan-tanjakan kecil saja meskipun kemiringannya tetap terjaga di “skala” 60-70 derajat…

      Karena medan perang yang begitu beratnya, rombongan kamipun terpisah menjadi 4 regu. Setelah Tanjakan Cinta kita akan melewati 4-5 jembatan kecil untuk tiba di desa Cibeo. Regu pertama tiba pada pukul 17.15 WIB, kemudian disusul regu kedua tiba pada pukul 17.30 WIB, regu ketiga 18.00 WIB dan yang terakhir pada pukul 22.15 WIB.
      Tiba di rumah salah satu porter kami yang memang disewa untuk kami beristirahat mengumpulkan tenaga buat tracking esok harinya, kami pun disambut dengan makanan khas suku Baduy. Rumah yang terbuat dari bahan bambu beratapkan daun ijuk atau daun kelapa kering, tanpa jendela dan hanya terdiri dari 1 ruangan untuk tidur sekaligus ruang tamu dan 1 dapur, simple dan sederhana sekali. Setelah bebersih diri ala kadarnya karena memang keadaan sungai sedang kering. Sebagian dari kami sudah mulai “berlayar ke Pulau Kapuk” alias tidur sedangkan ada beberapa yang masih ngobrol-ngobrol juga. Menjelang malam udara sudah tidak begitu gerah, semakin malam, menjelang pukul 01.00 malam, udara semakin dingin, perkiraan kita sekitar 10-14 derajat lah. So amat sangat disarankan membawa celana panjang, jaket dan kain selimut bahkan bila perlu kaos kaki dan sarung tangan untuk tidur. O iya, bagi yang tidak bisa tidur dalam keadaan terang, bisa membawa eye mask juga ya, karena kita tidur ditemani oleh obor yg bahan bakarnya dari minyak sayur. Sayang keadaan sekitarnya tidak bisa didokumentasikan karena memang terlarang, bukan dilarang lho ya… semua terserah kita, kalau nekad silahkan ambil foto, kalau gak ya jangan. Hukuman sesungguhnya sebenarnya bukan dari kepala suku atau penduduk local tetapi lebih tepatnya akan dihukum oleh alam, tahayul sih sebenarnya, tapi ya balik lagi, percaya atau tidak, kalau nekad ambil foto di Baduy Dalam akan menanggung akibatnya sendiri. So Not Recommended lah ya.
      Esok harinya pukul 05.30 WIB sebagian rombongan sudah ada yang bangun dan ke sungai, ada yang sekedar berkeliling-keliling daerah sekitarnya sambil menghirup udara pagi yang masih benar-benar fresh dan lembab karena dingin. Menjelang jam 06.30 WIB kami kedatangan “tamu-tamu” yang membawa dagangannya berupa kain tenun, baju khas Baduy, pernak-pernik, souvenir seperti gantungan kunci, dll. Mungkin memang sudah menjadi kebiasaan warga disana menjajakan barang dagangannya di pagi hari karena “para peserta tracking” tidak akan stay lama di desa mereka mengingat jauhnya perjalanan yang masih harus ditempuh sehingga rata-rata rombongan akan berangkat meninggalkan desa mereka sekitar pukul 08.00 WIB dan paling telat pukul 10.00 WIB. Sambil menantikan sarapan pagi, berbelanja dirumah, kita juga bisa memesan madu asli Baduy Dalam yang katanya enak itu dan Gula Aren.
      Tepat pukul 08.00 WIB rombongan kami mulai bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan, tidak lupa tongkat tetap dibawa ya karena medan yang akan ditempuhpun tidak kalah mengerikan karena kita akan melewati lereng bukit dan tanjakan dan banyak naik turunnya juga, sedikit licin karena bertanah kuning dan berbatu-batu. Jalur yang ditempuh untuk dapat kembali ke desa Ciboleger ada 2 yaitu lewat desa Cijahe dan Jembatan Akar (Icon Baduy Dalam). 2 peserta tracking yang sudah menyerah dengan ditemani oleh 2 porter dan 1 Tour Leader akhirnya memilih menggunakan jalur desa Cijahe, perjalanannya lebih manusiawi, trackingnya lebih landai, perjalanan santai cukup dengan 2-3 jam saja, melewati perbukitan kecil-kecil saja lalu dijemput elf dan diantar ke Ciboleger untuk bergabung dengan rombongan yang melalui jalur Jembatan Akar. Sisanya 10 orang penasaran seberapa jauh dan beratkah perjuangan untuk mencapai Iconnya Baduy itu.

      Kamipun berjalan santai karena masih pagi, dan masih segar meskipun kaki sedikit pegal linu akibat perjuangan kemarin, sambil bercengkerama, bercerita pengalaman semalam tidur di “bilik”, dingin, sunyi dan lain sebagainya. Lewat 1 jam perjalanan, masih santai, hanya naik turun bukit sedikit, itu pun penuh rumput masih belum terbayang nih. Menjelang 1,5 jam, sedikit demi sedikit perjalanan mulai sulit, karena turunannya lebih terjal dibandingkan kemarin dan kebanyakan tanah kuning dan batu kecil-kecil saja. Saya sih lebih memilih jongkok dulu sebelum turun ketimbang nyungsep di tanah nantinya… huff.. beratnya tidak kalah dengan kemarin malah terasa lebih berat karena turunannya cukup curam, ada yang 45 derajat malahan.

      Berjalan sekitar 2 jam akhirnya kita sampai juga pada tanjakan dan turunan berbatu dan bertanah merah lagi dengan jalur “Z” di beberapa titik, telaah punya telaah ternyata itu perjalanan turun sekaligus perjalanan menuju Jembatan Akar, Salah satu Icon yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Baduy karena keunikannya. Apa yang menyebabkan Jembatan ini begitu unik dan dicari oleh tamu-tamu dari luar Baduy meskipun untuk mencapai kesana perjalanannya cukup sulit dan penuh perjuangan serta menguras tenaga ini?

      Jembatan Akar, diberi nama tersebut karena memang jembatan ini terbuat dan terbentuk dengan sendirinya dari akar pohon yang menjulur memanjang dan membentuk anyaman-anyaman sehingga memperkokoh jembatan tersebut. Untuk alas berpijak, ada beberapa batang bambu yang tersusun memanjang dibawah agar kaki yang menginjak jembatan tidak terselip di lubang-lubang “anyaman”. Jembatan akar terbentuk secara alami 10 meter diatas sungai dengan panjang 25 meter ke seberang dan semuanya murni terbentuk dari akar 2 batang pohon yang berseberangan.

      Setibanya di Jembatan Akar semua lega… ada 2 diantara kami yang langsung nyemplung di sungai dibawah jembatan akar yang airnya cukup banyak dan mengalir, secara, dari pagi tidak bisa mandi dan gosok gigi dengan benar. 8 orang sisanya mulai mengeksplore Jembatan Akar untuk berfoto-foto dan bahkan ada yang menyeberang Jembatan tersebut untuk berfoto ria di seberang yang kategorinya mirip hutan dan sedikit rimbun, adem, ada yang hanya berbasuh diri saja karena debu yang menempel di lengan dan kaki.
      Setelah puas mandi, berbasuh diri dan foto-foto, perjalanan dilanjutkan lagi. Tadinya semua orang berpikir akan menyeberangi Jembatan Akar untuk perjalanan kembali ke desa Ciboleger, eh ternyata salah, kami harus berbalik arah dan mengambil jalur disebelah tebing dan menyusuri jalan tanah kuning berbatuan kecil yang lumayan licin meskipun tidak basah sama sekali karena kemiringannya yang cukup curam.

      Berjalan menyusuri tebing dan perbukitan dan lereng bukit kurang lebih 3 jam sampailah kita di desa Cilanggir, di desa Cilanggir ini jalanan sudah sedikit membaik, jalanan berbatuan yang tersusun rapi, sudah tidak ada lagi yang namanya rumput di jalan setapak, tidak ada lagi tanah kuning yang licin tetapi tanjakannya masih sama malahan jaraknya kurang lebih 300 meter dengan kemiringan 50 derajat.
      Nah, sampai disini ada 2 orang dari rombongan kami yang sudah menyerah dan memilih sewa ojek saja ke Ciboleger daripada pingsan dijalan dan di tandu. Ongkos dari desa Cilanggir ke Ciboleger kurang lebih Rp 20.000,- s/d Rp 30.000,-. Beberapa ojek yang dikendarai oleh anak muda bahkan sempat hampir tergelincir motornya karena memilih jalur motor yang tidak berbatuan tetapi berpasir putih kasar dan letaknya disamping lereng. Serem juga sih meskipun naik ojek.

      Tersisa 8 orang peserta + 1 tour leader yang ditemani oleh 10 orang porter (termasuk 3 orang bocah) yang masih meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Tak terbayangkan lelahnya mendaki jalan bebatuan tersebut, untuk mengangkatkan kaki saja rasanya sudah ogah-ogahan. Rasanya kalau diukur, tenaga kami hanya tersisa 25% saja. Tiba lah kami di sebuah warung yang cukup besar (toko terbesar yang pernah kami jumpai disepanjang perjalanan ke Baduy), sambil memutuskan untuk minta elf menjemput kami di warung itu saja, sudah tak sanggup lagi rasanya tuk berjalan. Padahal untuk mencapai desa Ciboleger, masih ada 2 km lagi. Tunggu punya tunggu, elf kami tak kunjung tiba karena masih blm turun dari Cijahe.

      Akhirnya setelah menanti sekitar 30 menit dan waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, atas saran Tour Leader kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki saja agar bisa tiba di desa Ciboleger dengan segera mengingat waktu makan siang sudah pasti terlewatkan. Yuk.. jalan lagi… Jalan… jalan… jalan… sekitar 500 meter mulai lah memasuki daerah beraspal dan disebelah kiri kanan terhampar sawah nan hijau, senangnyaaa… pertanda desa Ciboleger semakin dekat. Bagi kami orang kota yang terbiasa berjalan di jalan datar beraspal adalah suatu hal mudah meskipun jauhnya 2 km, tetapi bagi orang Baduy itu sangat menyiksa apalagi ditengah terik matahari dan mereka juga berjalan tanpa mengenakan alas kaki, tentunya terasa panas, lelah dan menjengkelkan (itu pengakuan salah satu porter kami). "Rasanya gak sampai-sampai ke tujuan Bu, Capek. Tapi kalau berjalan menanjak dan di tengah hutan itu rasanya adem dan tenaga kita seperti dipacu dan makin menanjak semangat kami makin bertambah ". Nah lho...??? Yaaa... mau gimana lagi ya??

      Selagi berjalan saya memperhatikan bukit di sebelah kiri kami dan melihat di atas bukit tersebut samar-samar terlihat rumah-rumah penduduk di atas bukit tersebut, kemudian saya bertanya ke salah satu Porter kami, "itu Baduy Dalam ya?" dan si Akang menjawab "bukan bu, itu baru Baduy Luar..." Seperti tak percaya saya tanyakan lagi sama Asda dan jawabannyapun sama, "Itu Baduy Luar" Astagaaa... Sampai terpana saya mendengarnya, ternyata dari kemarin kita sudah menaiki perbukitan setinggi itu dan bahkan Baduy Dalam lebih tinggi lagi letaknya. Amazing!!!

      Sampai sekitar 1,5km, jalanan mulai menanjak lagi, tapi kali ini adalah tanjakan terakhir yang panjangnya sekitar 300 meteran dengan tingkat kemiringan 50-55 derajat lah kira-kira. Ketika kami menjumpai bangunan sederhana berwarna hijau, dan berbentuk masjid, hati pun senang karena desa Ciboleger sudah didepan mata. Beberapa yang telah tiba dilokasi terlebih dahulu langsung menuju rumah dibelakang warung tempat kami makan siang, kemudian rebahan diteras rumah melepas lelah dan kemudian bersiap-siap mandi dan berangkat pulang ke Jakarta. Sebelum masuk elf, Kang Asmin memberikan ke salah satu anggota kita gula aren untuk oleh-oleh. Makasih Kang Asmin. (^_^)
      Berakhirlah sudah Perjuangan kami… Sedih, senang, susah telah kami lalui semuanya. Semuanya terasa indah selama perjalanan, pengalaman yang tak kan pernah terlupakan, Patut diacungi jempol kepada Bapak-Bapak yang usianya sudah lebih dari 50 tahun, tetap bersemangat meskipun sudah letih sekali. Semua rasa letih dan penasaran terbayar sudah. Terima kasih kami ucapkan tuk porter-porter kami khususnya Kang Naldi, Kang Asmin, Kang Ajun, Asda dan 9 porter lainnya yang tak sempat aku kenal. Keramahan, kesabaran dan semangat kalianlah yang menyemangati kami.
      Sedikit informasi penting untuk perjalanan ke Baduy Dalam:
      -          - Jangan mengambil foto, dilarang menggunakan sabun, detergen, pasta gigi dan lainnya yang mengandung bahan-bahan kimia yang bisa merusak alam.
      -          - Dilarang membuang sampah sembarangan, karena warga suku Baduy amat mencintai kebersihan dan keasrian alam. Jadi bawalah kantong sampah sendiri dari jakarta.
      -       - Jangan lupa bawa senter (karena jarang ada yang menjual senter diBaduy), tuk kebutuhan di jalan andaikan kemalaman dan apabila hendak ke Sungai di malam hari & air minum secukupnya saja, karena disetiap kampung atau desa pasti ada warung kecil yang menjual air mineral dan harganya Rp 3.000,- s/d Rp 5 000,- saja 1 botol yang ukurannya 600 ml.
      -       - Bagi yang tak terpisahkan dari HP silahkan, ternyata signal dari beberapa provider bisa menjangkau sampai ke Baduy Dalam, tapi pakai HP nya hati-hati ya, jangan sampai kepergok sesepuh Baduy Dalam.
      -          - Harga indomie semangkok Rp 5.000, kopi secangkir Rp 3.000,-
      -          - Harga baju  khas Baduy berkisar dari Rp 90.000 s/d 200.000,- (bahannya tebal dan bagus), celana pangsi (7/8) Rp 90.000,- selendang panjang kurang lebih 1.75 meter Rp 100.000,- kain 2x2 meter Rp 200.000 s/d 250.000,- semua asli tenunan penduduk local.
      -          - Harga Madu botol kecil Rp 50.000,- botol besar Rp 100.000,-
       
    • One Day Trip Pulau 345 Serang + Wiskul
      By Sari Suwito
      Beberapa waktu lalu saya ikutan trip bareng Komunitas Jalan2.com Regional Jabodetabek one day trip / island hopping ke pulau tiga, empat dan lima. Ketiga pulau ini terletak di teluk Banten. Sekitar jam 7 pagi kami bertemu di meeting point depan Rumah Sakit Harapan Kita, kami patungan menyewat mobil ukuran ELF untuk menuju Serang, ongkos 18ribu/orang. Untuk menuju Serang teman-teman juga bisa naik bus primajasa, turun di pintu keluar tol Serang. Perjalanan sekitar 1 jam, akhirnya kami sampai di meeting point berikutnya yaitu di pintu keluar tol Serang, kami sudah ditunggu mas Mustofa (salah satu member forum.Jalan2.com yang tinggal di Serang). Dari sini kami naik angkot menuju pelabuhan nelayan Karangantu, Kasemen, Serang - Banten dengan lama perjalanan sekitar 30 menitan kali ya. Sampai di pelabuhan kami istirahat sebentar sambil menunggu kapal motor yang akan membawa kami islands hopping.
      Sekitar jam setengah sepuluh, akhirnya kapal motor berangkat dengan tujuan pertama yaitu pulau Lima.
       
      Pulau Lima
      Lama perjalanan dari pelabuhan nelayan Karangantu ke pulau Lima memakan waktu sekitar 20 menit. Pulau Lima ini termasuk dalam jajaran kepulauan Mujan. Luas pulau Lima ini sekitar 3,5 hektar dan didominasi oleh hutan mangrove di bagian dalam. Pulau ini memiliki pantai dengan pasir putih yang halus. Tetapi untuk fasilitas di pulau ini masih terhitung minim, bahkan tak nampak toilet, mushola atau warung makan (atau karena saya kurang berkeliling area pulau ini ya). Walaupun demikian di pulau ini juga terdapat beberapa bungalow yang dilengkapi dengan AC.
      Berikut beberapa foto di Pulau Lima


       



      Kami hanya sebentar di pulau ini, tak sampai 1 jam kami sudah segera meninggalkan pulau ini untuk segera menuju ke pulau berikutnya yaitu pulau tiga.
       
      Pulau Tiga
      Pulau Tiga merupakan yang terjauh diantara ketiga pulau dalam itinerary one day trip kami. Secara teritorial, pulau Tiga berada di selat sunda, secara administratif masuk dalam wilayah kabupaten Serang. Luas pulau ini sekitar 4,2 hektar.
      Di bibir pantai pulau Tiga ini didominasi oleh bebatuan karang kecil-kecil, yang berasa tajam bila kita berjalan tanpa alas kaki. Di pulau ini terdapat fasilitas, gazebo, banana boat, perahu kano dan warung makan.




      Pulau ini terhitung unik lho, pulau ini memiliki dua lapis pulau, yang dihubungkan oleh jembatan asmara.


      Di bagian atas pulau terdapat satu bangungan yang lumayan besar, bangunan ini bisa juga untuk acara gathering bersama teman-teman dalam jumlah banyak.  Dari sini pula, teman-teman juga bisa berfoto dengan background laut serta gazebo-gazebo yang berderet di tepi pantai. Kereeeen bangett dech.


      Sudah memasuki tengah hari, perut pun sudah berasa lapar, akhirnya saya kembali ke gazebo lalu memesan mie rebus dan minta untuk dihantarkan ke gazebo yang sudah kami sewa. Oh ya, di dalam gazebo ini juga terdapat bed, jadi wisatawan yang berniat untuk menginap disini bisa menjadi pilihan untuk menyewa gazebonya.

      Setelah berfoto bersama teman-teman di depan gazebo, kami melanjutkan perjalanan menuju destinasi terakhir yaitu Pulau Empat. 
       
      Pulau Empat
      Pulau ini terletak di teluk Banten, pulau ini sudah kali lewati saat perjalanan menuju pulau tiga sebelumnya. Dahulu nelayan mengenalnya dengan nama Pulau Pamujan Kecil. Luas pulau ini sekitar 2 hektar. Di bagian belakang pulau ini terdapat hutan/semak, bahkan terlihat beberapa monyet berlarian dari arah hutan ke belakang gazebo-gazebo ini.

      Di pulau ini terdapat dermaga, di sisi jembatan ini tertulis Jembatan Kasih Sayang. Oh ya, kalau teman-teman berdiri di bagian ujung jembatan ini, dan melihat ke dalam air laut akan tampak sebuat spot hitam besar, begitu teman-teman lihat lebih seksama makan akan kelihatan spot hitam itu ternyata segerombolan ikan-ikan kecil. Saya sampai berdecak kagum, yaa ampuuun....ikannya banyak bangeet berasa pengen menjala mereka dech...hahaha...


      Semakin sore, air laut semakin pasang, bahkan terlihat ombak yang bertingkat-tingkat, sangat bagus untuk background foto lho.


      Di pulau Empat ini juga terdapat beberapa gazebo, mushola dan warung juga, tapi berhubung sudah sore sepertinya jadi tampak sepi. Saya melihat ada group lain yang sedang membakar jagung sambil bersantai di gazebo. 

      Sore menjelang, kami segera meninggalkan pulau Empat untuk kembali ke pelabuhan Karangantu, perjalanan terasa lama dan hari mulai gelap. Tapi begitu mendekati daratan, tampak pemandangan kelap kelip lampu dari rumah-rumah penduduk.

      Tim Sop Duren otw ke pelabuhan....sudah ga sabar pengen nyicipin Sop Duren ter-ENAK di kota Serang.
       
      Sekitar jam 6.15 kami mendarat di pelabuhan Karangantu. Sejak dalam perjalanan mone bercerita tentang enaknya sop duren di kota serang, jadilah saya dan yeni ikutan ngiler pengen nyobain sop duren. Jadilah, saya, yeni dan mone memutuskan untuk melanjutkan wisata kuliner sop duren seperti rencana kami selama di perjalanan tadi. 
      Kami naik motor menuju kedai sop duren warjok dengan mampir dulu sholat magrib di masjid. Ada kejadian lucu waktu di masjid, saking buru-buru ngejar waktu sholat magrib ternyata teman saya sampai lupa untuk cabut kunci motor. Begitu selesai salam, teman saya langsung lari ke halaman masjid untuk cek kunci motor, Alhamdulillah...ternyata kunci motor masih menggantung di motor. Kami masih melanjutkan perjalanan menuju kedai sop duren, aduuh rasanya lamaa banget ga nyampe-nyampe, apa karena efek sudah lelah seharian ya? 
      Sekitar jam setengah delapan kami sampai di kedai Sop Duren, berhubung malam minggu suasanya lumayan rame dan antri. Kami bertiga memesan 2 mangkuk sop duren ukuran jumbo, dan 2 mangkuk sop duren ukuran reguler dengan size order curly fries dan somay ikan. Sop Duren Jumbo harga 17ribu,  Sop Duren Reguler 11ribu, Somay 15ribu. 

       


      Sop Duren ini rasanya ajiiiib bangett apalagi ditambah dengan parutan keju di atasnya. Saking enaknya Mone dan Yeni cepet banget ngabisinnya, sementara saya minum pelan-pelan banget karena harus menyingkirkan potongan-potongan batu es dari sendok yang kecil ini. hihihi...

      Berhubung Mone ada acara dengan teman-temannya, jadilah kami harus segera meninggalkan Kedai Sop Duren, saya jadi buru-buru makan somaynya dech. hehehe... Mone mengantarkan kami sampai lampu merah dekat carefour kota serang, lalu kami lanjut naik angkot ke pintu tol serang. Dari sana kami naik bus Primajasa jurusan kampung rambutan, ongkos 28ribu/orang. Sekitar jam 10 saya sudah sampai Jakarta. 
      Demikian catatan one day trip kami ke kota Serang. Semoga bermanfaat untuk teman-teman yang ingin berwisata ke kota Serang.
       
       
    • Jalan-Jalan Saat Transit Di Kota Jogja
      By Sari Suwito
      Sedang transit di kota Jogja dan ingin jalan-jalan murah? Tentu bisa....bisa bangeet malah. Jadi gini, beberapa waktu lalu kami ada acara keluarga di Kulon Progo, berhubung ada anggota keluarga yang mempunyai jadwal terbang beda satu hari dengan keberangkatan saya, maka jadilah kami berangkat bareng dari Kulon Progo naik taksi tetangga saya. Itung-itung hemat tenaga dan uang daripada saya harus bolak-balik Jogja-Wates-Jogja, maka saya memilih untuk menginap saja di hotel dekat bandara Adisucipto. Setelah browsing nemulah saya alamat dan nomer telepon Hotel Bandara Asri (nanti saya tulis reviewnya dech). 
       
      Sebelum ke Bandara Adisucipto saya minta taksi untuk mengantar ke hotel dan taruh barang bawaan saya di hotel.  Karena setelah selesai urusan di bandara saya berniat untuk jalan-jalan sore di kawasan Malioboro sekalian wisata museum gitu. Begitu urusan di bandara selesai, saya langsung menuju Shelter Trans Jogja dari Bandara Adisucipto, naik bus Jalur 1A lalu turun di shelter Malioboro 3 (Pasar Beringharjo/Benteng Vrederburg), lalu saya jalan kaki menuju ke Museum Sonobudoyo, tapiii sayang sekali, ternyata museum sudah tutup jam setengah empat. Jadilah saya..lanjutkan jalan kaki ke arah Jalan Rotowijayan ke museum Kereta Karaton, dan ternyata sudah tutup juga. hihihihi... 
       
      Akhirnya saya jalan kaki ke kawasang cenderamata di jalan Rotowijayan, di kawasan ini berjejer toko yang menjual souvenier, batik dan kaos dagadu. Keluar masuk toko tapi ga nemu juga yang cocok, jadi yaa sekedar cuci mata aja dech. Tak lama kemudian saya memutuskan untuk balik aja ke hotel, takut kesorean dan bus Trans Jogja penuh. Dalam perjalanan menuju shelter Trans Jogja, ketika melewati alun-alun utara ternyata ada kuda yang sedang dilatih oleh pawangnya.  Skalian numpang selfie aah... hehehe...



      Sampai juga akhirnya ke shelter Trans Jogja, dan rupanya ga penumpang ga terlalu ramai, dan masih kebagian tempat duduk. Saya turun di Shelter Jl. Solo (Maguwo) lalu jalan kaki menuju hotel. Sampai hotel setelah mandi sambil nonton tv ternyata berasa dech laparnya, jadilah saya pesan di restaurant hotel mie rebus jawa seharga tujuh belas ribu lima ratus rupiah. hihihi...lumayan...daripada harus keluar hotel lagi. Akhirnya makanan dataang.....
       
      Selesai makan, sambil nonton TV langsung tidur sampe pagi... hihihi...
       
      Pagi hari setelah selesai sarapan saya langsung berangkat ke Shelter Trans Jogja di Bandara Adisucipto untuk menuju Malioboro yang akan dilanjutkan jalan kaki ke Museum Sonobudoyo dan Museum Kereta Karaton Yogyakarta.  
       
      Museum Sonobudoyo
       
      Sekitar jam 8.20 akhirnya sampailah saya di Museum Sonobudoyo, harga tiket masuk tiga ribu rupiah saja, setelah membayar tiket dan mengisi buku tamu, saya dihampiri mbak-mbak yang menawarkan menjadi guide untuk melihat-lihat koleksi museum tapi saya tolak dengan halus. Sepertinya enakan jalan sendiri aja dech, jadi lebih leluasa untuk melihat-lihat koleksi museumnya. 

      Museum Sonobudoyo adalah museum sejarah dan kebudayaan Jawa, termasuk bangunan arsitektur klasik Jawa. Museum ini menyimpan koleksi mengenai budaya dan sejarah Jawa yang dianggap paling lengkap setelah Museum Nasional Republik Indonesia di Jakarta (Museum Gajah).  Museum Sonobudoyo terdiri dari dua unit, unit 1 terletak di Jalan Trikora No. 6 (sebelah utara alun-alun keraton Yogyakarta), sedangkan unit 2 terletak di nDalem Condrokiranan, Wijilan, di sebelah timur alun-alun Keraton Yogyakarta.
       

       
      Museum Sonobudoyo didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda oleh Yayasan yang bernama Java Instituut. Yayasan ini bergerak di bidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok. Panitia pendirian museum yaitu IR. TH. Karsten, P.H.W. Sitsen dan S. Koperberg. Bangunan museum menggunakan tanah bekas "Schauten" atau tanah hadiah dari Sri Sultan HB VIII. Peresmian dilakukan oleh Sri Sultan HB VIII pada tanggal 6 November 1935.
       
      Koleksi Museum Sonobudoyo (unit 1 dan unit 2) terbagi menjadi 10 jenis, yaitu:
      Koleksi Numismatik dan Heraldika, obyek penelitiannya adalah mata uang/alat tukar yang sah, yang terdiri dari mata uang logam dan kertas. Heraldika adalah setiap tanda jasa, lambang dan pangkat resmi (termasuk cap dan stempel). Koleksi Filologi, benda koleksi yang menjadi obyek penelitian filologi, misalnya risalah kuno, tulisan tangan yang menguraikan sesuatu hal atau peristiwa.  Koleksi Keramologi adalah koleksi yang terbuat dari bahan tanah liat bakar berupa pecah belah, misalnya guci.  Koleksi seni rupa, koleksi seni yang mengekspresikan pengalaman artistik melalui obyek dua dimensi atau tiga dimensi.  Koleksi Teknologi. Benda atau kumpulan benda yang menggambarkan perkembangan teknologi. Koleksi Geologi, adalah benda yang menjadi obyek ilmu geologi, antara lain batuan, mineral, fosil dan benda-benda bentukan alam lainnya (permata, granit, andesit). Contoh: Batu Barit. Koleksi Biologi adalah benda yang menjadi objek penelitian ilmu biologi, antara lain tengkorak atau rangka manusia, tumbuh-tumbuhan dan hewan. Misalnya burung (obset) / dikeringkan. Koleksi Arkeologi adalah benda yang menjadi objek penelitian arkeologi. Benda tersebut merupakan hasil peninggalan manusia dari zaman prasejarah sampai dengan masuknya pengaruh kebudayaan barat misalnya : Cermin. Koleksi Etnografi adalah benda yang menjadi objek peneiitian ilmu etnografi, benda-benda tersebut merupakan hasil budaya atau menggambarkan identitas suatu etnis misalnya Kacip. Koleksi Historika adalah benda yang bernilai sejarah dan menjadi objek penelitian sejarah. Benda tersebut dari sejarah masuknya budaya barat sampai dengan sekarang, misalnya Senapan laras panjang, meriam.  Saya hanya mengunjungi Museum Sonobudoyo Unit 1, jadi unit 2 mungkin di lain kesempatan akan saya datangi lagi, sekalian makan gudeg di wijilan kali ya. hehehe...
       
      Oh ya, di depan bangunan Museum Sonobudoyo Unit 1 ini terdapat 2 buah meriam lho. Kedua koleksi meriam tersebut di atas berasal dari masa Sri Sultan Hamengku Buwana III. Sayangnya saya lupa untuk fotoin. hehehe...
       
      Selain meriam terdapat pula arca dan relief. Berikut beberapa koleksi yang berada di halaman pendapa : Arca Dewi Laksmi, arca Mahakala, dan Makara.



       
      Sedangkan di bagian dalam pendopo terdapat seperangkat gamelan.

      Museum ini memiliki beberapa ruang, diantaranya:
      Ruang Pengenalan
      Di atas pintu masuk menuju ke ruang pengenalan terdapat relief candrasengkala "Buta Ngrasa Esthining Lata". Ruang pengenalan berukuran 62,5 m2. Salah satu koleksi yang ada di ruang pengenalan yaitu pasren atau krobongan yang terdiri dari tempat tidur, bantal, guling, kasur, kelambu, sepasang patung loro blonyo, sepasang lampu robyong, dan sepasang lampu jlupak.

      Ruang Prasejarah
      Ruang ini menyajikan benda-benda peninggalan masa prasejarah yang menggambarkan cara hidup manusia pada masa itu meliputi berburu, mengumpulkan dan rneramu makanan. Pada tingkat selanjutnya manusia mulai bercocok tanam secara sederhana serta melakukan upacara- upacara yang berhubungan dengan religi (kepercayaan kepada roh nenek moyang, penguburan dan kesuburan).

       
      Ruang Klasik dan Peninggalan Islam
      Dalam penyajian koleksi dikelompokkan menjadi tujuh unsur kebudayaan universal yaitu:
      1. Sistem Kemasyarakatan
      2. Sistem Bahasa
      3. Sistem Religi
      4. Sistem Kesenian
      5. Sistem Ilmu Pengetahuan
      6. Sistem Peralatan Hidup
      7. Sistem Mata Pencaharian Hidup 

      Patung Kepala Dewa,  dibuat dari perunggu berlapis emas. Ditemukan di Pathuk, Gunung Kidul pada tahun 1956. sebagai lambang Dewa Budha,
      Ruang Batik 
      Di ruang ini memamerkan beberapa koleksi batik. Selain itu juga terdapat proses membatik yang dimulai dari pengerjaan pola sampai proses jadi sebuah batik. Di ruang ini saya suka sekali melihat aneka motif batiknya...bagus bagus banget...



       

       
      Ruang Wayang
      Sesuai namanya, di ruangan ini memamerkan aneka jenis koleksi wayang, diantaranya ada wayang kulit dan wayang golek serta gambar tata letak pementasan wayang kulit purwa klasik.



       
      Ruang Topeng
      Disini juga terdapat beberapa jenis topeng dari berbagai daerah. Topeng sudah mengalami sejarah perkembangan, bersamaan dengan nilai-nilai budaya dan nilai seni rupa. Topeng yang tampil dalam bentuk tradisional mempunyai fungsi sebagai sarana upacara dan pertunjukan.

       
      Ruang Jawa Tengah 
      Di ruang ini memamerkan ukiran kayu yang terkenal dari Jawa Tengah yaitu Jepara seperti gebyog patang aring. Selain itu terdapat keris dan senjata tajam lainnya dengan berbagai jenis.


      Ruang Emas
      Museum Sonobudoyo merupakan museum yang memiliki koleksi artefak emas tapi dengan beberapa alasan belum dapat dilihat oleh umum.
      Pada dasarnya artefak emas memiliki fungsi berbeda-beda, yaitu sebagai:
      1. Mata uang
      2. Perhiasan
      3. Wadah
      4. Senjata
      5. Simbol religius, dll.
      Di ruangan ini dipamerkan aneka koleksi perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari kuningan dan perak. Seperti: aneka bentuk ceret dan kendi, sendok makan, dll.




       
      Ruang Bali
      Diantara ruangan lain, ruangan ini paling istimewa, karena terdapat lampu warna biru yang byar pet gitu. hehehe...
      Koleksi ruang Bali berkaitan dengan kebudayaan Bali baik mengenai yadnya (upacara) maupun berbentuk seni lukis dan seni pahat. Di bagian terpisah terdapat Candi Bentar.
       


      Patung Penari Keris, posenya ini lho...agak-agak merinding...seperti orang mau bunuh diri yaa..

      Di bagian luar Ruang Bali terdapat Candi Bentar, di dalam komplek candi Bentar biasanya terdapat Bale Gede, yang berfungsi sebagai tempat upacara daur hidup dan untuk bermusyawarah.

       
      Ruang mainan
      Di sini dipamerkan koleksi aneka mainan tradisional dan foto-foto anak-anak yang sedang memaikan permainan tradisional.



      Setelah merasa cukup puas berkeliling museum Sonobudoyo, saya melanjutkan perjalanan berikutnya ke Museum Kereta Keraton Yogyakarta dengan berjalan kaki. Yuk, ikuti cerita selanjutnya.
       
      Museum Kereta Karaton Ngayogyakarta 
      Museum ini terletak di Jalan Rotowijayan, bisa ditempung dengan berjalan kaki dari Museum Sonobudoyo unit 1. Harga tiket masuk lima ribu rupiah, ditambah tiket ijin foto seharga seribu rupiah.

      Museum ini khusus menampung kereta-kereta kuda keraton pada masa Kerajaan Yogyakarta era Sri Sultan Hamengku Buwono ke-8. VIII.
       
       Museum kereta keraton ini memiliki 18 kereta, setiap kereta memiliki nama masing-masing, diantaranya:
      1. Kereta Nyai Jimat, 
      2. Kereta Kyai Garudayaksa, 
      3. Kereta Jaladara, 
      4. Kereta Kyai Ratapralaya, 
      5. Kereta Kyai Jetayu, 
      6. Kereta Kyai Wimanaputra, 
      7. Kereta Kyai Jongwiyat, 
      8. Kereta Kyai Harsunaba, 
      9. Kereta Bedaya Permili, 
      10. Kereta Kyai Manik Retno, 
      11. Kereta Kyai Kuthakaharjo, 
      12. Kereta Kyai Kapolitin, 
      13. Kereta Kyai Kus Gading, 
      14. Landower Kereta, 
      15. Kereta Surabaya Landower, 
      16. Wisman Landower Kereta, 
      17. Kereta Kyai Puspoko Manik 
      18. Kereta Kyai Mondrojuwolo. 
      Kereta-kereta tersebut mempunyai fungsi masing-masing, dan penggunaannya selalu dipilih berdasarkan acara yang akan diselenggarakan. Beberapa foto terpasang di dekat lokasi kereta Keraton. Jadi kita juga bisa lihat kereta ini dipakai di acara apa gitu.


      Oh ya, kereta-kereta ini buatan Eropa lho, diantaranya Jerman dan Belanda. Bahkan sebagian besar kereta-kereta ini masih asli, belum tersentuh modifikasi meski sebagian sudah mengalami modifikasi baik dalam warna cat maupun interiornya.
       
      Terdapat beberapa kereta yang dikeramatkan, karena keistimewaan bahannya yang terbuat dari emas dan merupakan kereta Raja yang disebut sebagai kereta Kencana, bahkan sebagian kereta mungkin memiliki cerita mistis, makanya jangan sembarangan ya saat berada di tempat ini. 
       
      Saya paling suka kereta ini nich...keren dan elegan banget... *abaikan penampakan yang separo ini. hehehe...

       
      Jenis-jenis kereta di Museum Kereta Keraton:
      1. Kereta atap terbuka dan beroda dua, contohnya:  Kereta Nyai Kapolitan

      2. Kereta atap terbuka dan beroda empat, contohnya: Kerata Kyai Jongwiyat dan Landower. Oh ya saya sempat dengar kalau Landower ini berasal dari istilah dalam bahasa Inggris Land Owner (Tuan Tanah/Raja).

      3. Kereta atap tertutup dan beroda empat. Kereta ini termasuk kereta yang mewah dan sakral, contohnya: Kereta Kanjeng Nyai Jimad, Kyai Garudayaksa dan Kyai Wimanaputra.

      Kereta Kanjeng Nyai Jimad ini merupakan kereta tertua, telah berada di sini sejak tahun 1750. Kereta ini merupakan buatan Belanda. Bentuknya unik dan sangat indah seperti layaknya kereta Cinderella. Di bagian depan bawah kereta ini terdapat patung wanita menyangga kereta ini dan terdapat untaian bunga yang mengalunginya.
       
      Ada juga kereta Premili, di dalam kereta ini terdapat 4 baris kursi yang saling berhadapan, kereta ini berfungsi untuk membawa para penari keraton yang berjumlah sekitar 16 orang.

      Di dalam museum ini juga terdapat beberapa patung kuda, koleksi pakaian dan perlengkapan kusir kereta.




      Di bagian luar museum di halaman sebelah utara juga terdapat kandang kuda yang dihuni beberapa ekor kuda. Berikut beberapa suasana di halaman museum..


      Sekitar jam setengah sebelas saya keluar dari Museum Kereta Keraton lalu jalan kaki ke shuttle Trans Jogja di jalan Malioboro. Seperti sebelumnya, saya turun di shelter Jl. Solo - Maguwo lalu mampir makan siang di warung padang dulu, baru lanjut jalan kaki ke toko oleh-oleh Bakpia 25. Nah, disini saya coba beli varian baru bakpia 25 yaitu bakpia isi ubi ungu, enak juga lho rasanya. Sampai di hotel sekitar jam 12an, saya beres-beres barang bawaan dan sekitar jam 12.30 saya ke front office untuk nyerahin kunci kamar, dan request pengantaran ke bandara diundur jadi jam 2 saja. Males kelamaan di bandara ga bingung mau ngapain secara flight saya masih jam 16.10. Akhirnya jam 2 tepat saya minta diantar ke bandara, rupanya counter Air Asia sudah buka, jadi langsung aja check in dan masuk ke boarding roam. Selamat tinggal Jogjakarta....ke Jakarta aku kan kembaliiii......
      Demikianlah...field report jalan-jalan saya saat transit di kota Jogja...mungkin bisa menjadi referensi buat teman-teman yang akan transit di kota Jogja.