Sign in to follow this  
ikankering

Museum Benteng Heritage ~ Museum Sejarah Peranakan Tionghoa

10 posts in this topic

Rekan-rekan sekalian, apabila kita berjalan-jalan ke Tangerang, Banten, ada satu museum yang menarik untuk kita kunjungi. Namanya adalah Museum Benteng Heritage. Lokasinya berada di Jl Cilame No. 20, Pasar Lama, Tangerang. Tempatnya berada di jalan yang cukup ramai karena ada pasar, jadi katanya lebih enak ke sana kalau lagi sore hari. Posisi museum ini sendiri letaknya di belakang Kelenteng Boen Tek Bio. Jadi emang lokasinya juga lokasi yg chinese banget nich.

Di museum ini, rekan-rekan sekalian bisa liat berbagai macam cerita tentang perjalanan peranakan Chinese di Indonesia, mulai dari jamannya Cheng Ho. Selain itu, dapat juga dilihat berbagai macam artefak dan peninggalan dari jaman dulu.

Ada yang sudah pernah ke tempat ini?

384885_182371468528428_1056624069_n.jpg

377077_182371268528448_1588981691_n.jpg

382776_182371081861800_1342488368_n.jpg

Share this post


Link to post
Share on other sites

@ikankering @Nata Harianto minggu kemarin gue kesini, untuk lokasi karena dekat pasar ya jadi agak becek dan rada kotor...tapi ini museum bagus, waktu ke dalam kita akan dapet guide yang menjelaskan perkembangan dan benda2 cina yang ditemukan di sekitar tangerang, termasuk budaya cina.  

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa wah kalo share cerita udah banyak lupanya nih mod, wkwkwkwk.....

 

Tapi intinya mah, ke tempat ini worth banget untuk dikunjungi

 

1. ke Museum ini akan dapat pengetahuan tentang budaya cina (khususnya cina tangerang atau cina benteng) yang sangat menarik. Kalo ramean, kita bisa juga pesen makan siang ke pihak museum dan bisa makan siang didalam museum tsb.

2. Lokasinya di pasar lama, disini banyak banget jajanan enak, jadi kalo yang suka kulineran pasti terpuaskan disini, nah buat ibu-ibu, namanya juga pasar bisa sekalian belanja-belanja kebutuhan sehari-hari disini.

3. Dekat dengan klenteng Boen Tek Bio, nah bisa lihat deh tuh bangunan unik tempat ibadah dan pusat kegiatan Boen Tek Bio yang unik.

4. Coba datang menjelang imlek ataupun pada saat perayaan besar etnis tionghoa seperti Peh Cun (bulan 5 kalender imlek) dijamin ramai.

 

Minusnya cuman satu, lingkungan sekitar museum agak kotor karena ya lokasinya di pasar apalagi kalo ujan...

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa kalo banyak nggak nya sih aku ga tau mod, tapi memang kawasan pasar lama ini istilahnya kaya "kampung cina" gitu banyak keturunan tionghoa yang tinggal disini. kawasan ini juga terkenal sama jajanan nya, secara mereka terkenal masakan nya enak2 :D

 

@Mirza Fachrurrachman kemaren aku kesini mas pas ada event festival cisadane 10-14 juni trus mampir kesini bentar, pulangnya wisata kuliner di sepanjang jalan pasar lama kisamaun :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By min0ru
      Apa yang terlintas di benak temen-temen semua ketika mendengar kata short getaway? Apakah kabur entah ke mana? ataukah kabur berlibur ke tempat yang keren? Menurut gue, short getaway adalah kabur sejenak dari kesibukan sehari-hari di pekerjaan ke tempat yang tidak jauh dari lingkungan asal gue. Yup! Ngga perlu jauh-jauh dari lingkungan kalian kok. Contohnya nih ya, beberapa minggu lalu gue short getaway ke daerah BSD sedangkan lingkungan gue tinggal di Jakarta yang jaraknya kurang lebih 20 menitan dari BSD, deket banget kan?
      Siapa bilang di BSD ngga ada tempat keren dan seru? Salah besar tuh! Oke langsung aja deh ya gue sharing beberapa lokasi yang menurut gue keren dan seru plus bisa banget didatengin buat short getaway kalian..
      1. Branchsto Equestrian Park
      Siapa yang sangka kalo di BSD ada peternakan kuda? Wong gue aja ngga nyangka. Maksud gue, tempat hiburan atau wisata yang ada kuda untuk dinaikin itu sudah biasa, tapi kalo peternakan sih baru pertama kali gue tau dan kunjungin. Tidak ada biaya apapun untuk masuk ke Branchsto tapi kalian harus bayar kalo mau naik wahana seperti ATV, naik kuda, naik kereta, main panah dan sebagainya.

      Menurut gue, yang bikin tempat ini berbeda dari tempat pada umumnya adalah kudanya besar-besar banget seperti kuda eropa kali ya dan semuanya terlihat sehat dan gemuk lalu kita boleh liat ke wilayah kandang kuda dan bisa liat kuda-kudanya dari jarak deket.
       
      Terus di Branchsto juga kita bisa belajar berkuda dengan biaya yang terbilang cukup murah yaitu 250ribu per kedatangan. Lapangan luar juga sudah disediakan jadi pengalaman berkuda bagi pengunjung sangat baik.
      Branchsto memiliki 1 buah restoran dan beberapa kafe untuk kita yang mau makan siang, FYI Branchsto sudah buka sejak pagi, tetapi biasanya mereka agak siang menuju sore untuk beroperasi penuh saat hari biasa.


      2. BSD Xtreme Park
      Satu lagi nih taman yang gue juga baru tau ternyata seru untuk dikunjungi, karena awalnya gue juga tau dari insta-story temen dan karena rasa penasaran untuk menyambangi tempat baru akhirnya gue masukkin list deh. BSD Xtreme Park ini rupanya dibangun untuk mengakomodir teman-teman yang suka dengan olahraga yang agak tidak biasa buktinya mereka punya bike park, skate park, paint ball field, lapangan untuk panahan, gokart, panjat tebing, dan beberapa lainnya. Salah dua yang gue coba tuh gokart dan panahan.


      Mirip dengan Branchsto, masuk ke BSD Xtreme Park ini GRATIS! kecuali kita mau main wahana di dalamnya. Bedanya kalau di Xtreme Park ini kita harus beli gelang dulu seharga 30.000 yang nantinya gelang itu bisa diisi saldo sesuai dengan keinginan kita. Kalo kemarin gue main panahan itu harganya 60.000 untuk 30 menit, kita dikasih anak panah sebanyak 10-12 lalu diajari memanah jika belum pernah sebelumnya, nah setelah memanah 10-12 anak panah, kita ambil sendiri deh tuh anak panahnya sendiri (ngga diambilin abangnya) saran gue, ga usah ngincer target yang jauh-jauh tar capek ngambilinnya apalagi kalo meleset kayak gue banyak meleset alhasil jauh ngambilnya.
      Permainan yang lain yang gue coba juga itu Gokart! 60.000 cuma 5 menit sebentar banget yak?! tapi seru banget kok apalagi kalo mainnya rame-rame. Untuk main ini kita diwajibkan untuk pake helm dan jaket yang sudah disediakan. Yang jarang olah raga siap-siap aja tangan agak pegel soalnya gokartnya ngga power steering
      3. Scientia Square Park
      Sebenernya gue sudah 2 kali main ke Summarecon Digital Center tempat Scientia Square Park ini, tapi baru kali ini gue masuk ke dalemnya. Gue kira cuma taman biasa aja, ngga taunya seru euy! Begitu masuk sudah disambut oleh ayunan dan jungkat-jungkit. Di sini juga bisa panjat pinang tebing tuh.

      Anyway untuk harga tiket masuk ke Scientia Square Park (SSQ Park) ini kita dikenakan 50.000 / orang lalu di dalamnya bayar lagi kalau mau main wahananya. Di dalam SSQ Park ini juga ada wahana trampolin yang akhir-akhir ini lagi cukup dicari orang, lalu ada juga track untuk main remote control, bahkan di sini ada kuda poni dan delman yang bisa disewa untuk keliling SSQ Park.
       
      Salah satu spot favorit di SSQ Park ini tuh ada tempat duduk di bawah pohon rindang, untuk yang mau leyeh-leyeh di bean bag atau pacaran atau bengong duduk di bawah pohon pun enak banget deh (saking enaknya sampe lupa banget foto lokasinya ).
      Spot utama yang menurut gue paling menarik itu taman bunga matahari! Jujurnya gue belom pernah liat langsung dan pegang bunga matahari. Beberapa minggu sebelumnya ada sahabat gue yang ke Jogja dan berfoto di kebun bunga matahari huff jadi kepengen, eh taunya di sini pun ada! Senang! Bunga matahari itu mekar 2 bulan sekali dan sekalinya mekar hanya 3 minggu.

      Kalau mau masuk ke taman bunga matahari, kita harus masuk dulu ke Arumdalu Farm dengan membayar / membeli Blue Pea Tea seharga 20.000 atau bisa juga beli paket Tempeh Burger with chips seharga 35.000. Gue sendiri coba yang Blue Pea Tea yang rasanya cukup unik dan bisa berubah warna kalau dicampur dengan jeruk nipis! How cool is that!
      Nah satu lagi yang menyenangkan kalau temen-temen bawa anak kecil, gue sangat merekomendasikan rumah kelinci. Ada 1 area kecil di mana banyak sekali kelinci dan kita bisa kasih makan wortel dengan hanya membayar 10.000. Gemes-gemes kelincinya.

      4. Wisata Kuliner
      Bagian yang paling gue suka ya kulineran . Boleh kan kalo kulineran gue sebut sebagai wisata? Wisata buat nyenengin perut . Gue yang doyan makan ini serasa dimanjakan dengan banyaknya pilihan makanan di Pasar Modern BSD dan Pasar 8 Alam Sutera. Gimana engga? Kalian sebut aja deh makanan yang biasanya nongol kalau malem hari, rata-rata di sana ada. Contohnya nih ya, nasi goreng gila gondrong obama yang terkenalnya di Menteng, seafood berlimpah, ketoprak, tahu krispi, soto betawi, bebek goreng, pecel lele, chinese food, martabak, dan masih buanyak lagi makanan lainnya yang kalo gw listing di sini nanti berabe ngga kelar-kelar.



      Sinar Garut (kedai yang menjual minuman). Favorit banget sama minuman di sini. Buah-buahan segar yang diracik dan disajikan bener-bener bikin haus hilang terutama di musim kemarau seperti sekarang ini. Kesukaan gue sih alpuket + kelapa atau alpuket + kopyor.
      Jadi? Minat weekend getaway ke BSD? 
    • By Sari Suwito
      Sedang transit di kota Jogja dan ingin jalan-jalan murah? Tentu bisa....bisa bangeet malah. Jadi gini, beberapa waktu lalu kami ada acara keluarga di Kulon Progo, berhubung ada anggota keluarga yang mempunyai jadwal terbang beda satu hari dengan keberangkatan saya, maka jadilah kami berangkat bareng dari Kulon Progo naik taksi tetangga saya. Itung-itung hemat tenaga dan uang daripada saya harus bolak-balik Jogja-Wates-Jogja, maka saya memilih untuk menginap saja di hotel dekat bandara Adisucipto. Setelah browsing nemulah saya alamat dan nomer telepon Hotel Bandara Asri (nanti saya tulis reviewnya dech). 
       
      Sebelum ke Bandara Adisucipto saya minta taksi untuk mengantar ke hotel dan taruh barang bawaan saya di hotel.  Karena setelah selesai urusan di bandara saya berniat untuk jalan-jalan sore di kawasan Malioboro sekalian wisata museum gitu. Begitu urusan di bandara selesai, saya langsung menuju Shelter Trans Jogja dari Bandara Adisucipto, naik bus Jalur 1A lalu turun di shelter Malioboro 3 (Pasar Beringharjo/Benteng Vrederburg), lalu saya jalan kaki menuju ke Museum Sonobudoyo, tapiii sayang sekali, ternyata museum sudah tutup jam setengah empat. Jadilah saya..lanjutkan jalan kaki ke arah Jalan Rotowijayan ke museum Kereta Karaton, dan ternyata sudah tutup juga. hihihihi... 
       
      Akhirnya saya jalan kaki ke kawasang cenderamata di jalan Rotowijayan, di kawasan ini berjejer toko yang menjual souvenier, batik dan kaos dagadu. Keluar masuk toko tapi ga nemu juga yang cocok, jadi yaa sekedar cuci mata aja dech. Tak lama kemudian saya memutuskan untuk balik aja ke hotel, takut kesorean dan bus Trans Jogja penuh. Dalam perjalanan menuju shelter Trans Jogja, ketika melewati alun-alun utara ternyata ada kuda yang sedang dilatih oleh pawangnya.  Skalian numpang selfie aah... hehehe...



      Sampai juga akhirnya ke shelter Trans Jogja, dan rupanya ga penumpang ga terlalu ramai, dan masih kebagian tempat duduk. Saya turun di Shelter Jl. Solo (Maguwo) lalu jalan kaki menuju hotel. Sampai hotel setelah mandi sambil nonton tv ternyata berasa dech laparnya, jadilah saya pesan di restaurant hotel mie rebus jawa seharga tujuh belas ribu lima ratus rupiah. hihihi...lumayan...daripada harus keluar hotel lagi. Akhirnya makanan dataang.....
       
      Selesai makan, sambil nonton TV langsung tidur sampe pagi... hihihi...
       
      Pagi hari setelah selesai sarapan saya langsung berangkat ke Shelter Trans Jogja di Bandara Adisucipto untuk menuju Malioboro yang akan dilanjutkan jalan kaki ke Museum Sonobudoyo dan Museum Kereta Karaton Yogyakarta.  
       
      Museum Sonobudoyo
       
      Sekitar jam 8.20 akhirnya sampailah saya di Museum Sonobudoyo, harga tiket masuk tiga ribu rupiah saja, setelah membayar tiket dan mengisi buku tamu, saya dihampiri mbak-mbak yang menawarkan menjadi guide untuk melihat-lihat koleksi museum tapi saya tolak dengan halus. Sepertinya enakan jalan sendiri aja dech, jadi lebih leluasa untuk melihat-lihat koleksi museumnya. 

      Museum Sonobudoyo adalah museum sejarah dan kebudayaan Jawa, termasuk bangunan arsitektur klasik Jawa. Museum ini menyimpan koleksi mengenai budaya dan sejarah Jawa yang dianggap paling lengkap setelah Museum Nasional Republik Indonesia di Jakarta (Museum Gajah).  Museum Sonobudoyo terdiri dari dua unit, unit 1 terletak di Jalan Trikora No. 6 (sebelah utara alun-alun keraton Yogyakarta), sedangkan unit 2 terletak di nDalem Condrokiranan, Wijilan, di sebelah timur alun-alun Keraton Yogyakarta.
       

       
      Museum Sonobudoyo didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda oleh Yayasan yang bernama Java Instituut. Yayasan ini bergerak di bidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok. Panitia pendirian museum yaitu IR. TH. Karsten, P.H.W. Sitsen dan S. Koperberg. Bangunan museum menggunakan tanah bekas "Schauten" atau tanah hadiah dari Sri Sultan HB VIII. Peresmian dilakukan oleh Sri Sultan HB VIII pada tanggal 6 November 1935.
       
      Koleksi Museum Sonobudoyo (unit 1 dan unit 2) terbagi menjadi 10 jenis, yaitu:
      Koleksi Numismatik dan Heraldika, obyek penelitiannya adalah mata uang/alat tukar yang sah, yang terdiri dari mata uang logam dan kertas. Heraldika adalah setiap tanda jasa, lambang dan pangkat resmi (termasuk cap dan stempel). Koleksi Filologi, benda koleksi yang menjadi obyek penelitian filologi, misalnya risalah kuno, tulisan tangan yang menguraikan sesuatu hal atau peristiwa.  Koleksi Keramologi adalah koleksi yang terbuat dari bahan tanah liat bakar berupa pecah belah, misalnya guci.  Koleksi seni rupa, koleksi seni yang mengekspresikan pengalaman artistik melalui obyek dua dimensi atau tiga dimensi.  Koleksi Teknologi. Benda atau kumpulan benda yang menggambarkan perkembangan teknologi. Koleksi Geologi, adalah benda yang menjadi obyek ilmu geologi, antara lain batuan, mineral, fosil dan benda-benda bentukan alam lainnya (permata, granit, andesit). Contoh: Batu Barit. Koleksi Biologi adalah benda yang menjadi objek penelitian ilmu biologi, antara lain tengkorak atau rangka manusia, tumbuh-tumbuhan dan hewan. Misalnya burung (obset) / dikeringkan. Koleksi Arkeologi adalah benda yang menjadi objek penelitian arkeologi. Benda tersebut merupakan hasil peninggalan manusia dari zaman prasejarah sampai dengan masuknya pengaruh kebudayaan barat misalnya : Cermin. Koleksi Etnografi adalah benda yang menjadi objek peneiitian ilmu etnografi, benda-benda tersebut merupakan hasil budaya atau menggambarkan identitas suatu etnis misalnya Kacip. Koleksi Historika adalah benda yang bernilai sejarah dan menjadi objek penelitian sejarah. Benda tersebut dari sejarah masuknya budaya barat sampai dengan sekarang, misalnya Senapan laras panjang, meriam.  Saya hanya mengunjungi Museum Sonobudoyo Unit 1, jadi unit 2 mungkin di lain kesempatan akan saya datangi lagi, sekalian makan gudeg di wijilan kali ya. hehehe...
       
      Oh ya, di depan bangunan Museum Sonobudoyo Unit 1 ini terdapat 2 buah meriam lho. Kedua koleksi meriam tersebut di atas berasal dari masa Sri Sultan Hamengku Buwana III. Sayangnya saya lupa untuk fotoin. hehehe...
       
      Selain meriam terdapat pula arca dan relief. Berikut beberapa koleksi yang berada di halaman pendapa : Arca Dewi Laksmi, arca Mahakala, dan Makara.



       
      Sedangkan di bagian dalam pendopo terdapat seperangkat gamelan.

      Museum ini memiliki beberapa ruang, diantaranya:
      Ruang Pengenalan
      Di atas pintu masuk menuju ke ruang pengenalan terdapat relief candrasengkala "Buta Ngrasa Esthining Lata". Ruang pengenalan berukuran 62,5 m2. Salah satu koleksi yang ada di ruang pengenalan yaitu pasren atau krobongan yang terdiri dari tempat tidur, bantal, guling, kasur, kelambu, sepasang patung loro blonyo, sepasang lampu robyong, dan sepasang lampu jlupak.

      Ruang Prasejarah
      Ruang ini menyajikan benda-benda peninggalan masa prasejarah yang menggambarkan cara hidup manusia pada masa itu meliputi berburu, mengumpulkan dan rneramu makanan. Pada tingkat selanjutnya manusia mulai bercocok tanam secara sederhana serta melakukan upacara- upacara yang berhubungan dengan religi (kepercayaan kepada roh nenek moyang, penguburan dan kesuburan).

       
      Ruang Klasik dan Peninggalan Islam
      Dalam penyajian koleksi dikelompokkan menjadi tujuh unsur kebudayaan universal yaitu:
      1. Sistem Kemasyarakatan
      2. Sistem Bahasa
      3. Sistem Religi
      4. Sistem Kesenian
      5. Sistem Ilmu Pengetahuan
      6. Sistem Peralatan Hidup
      7. Sistem Mata Pencaharian Hidup 

      Patung Kepala Dewa,  dibuat dari perunggu berlapis emas. Ditemukan di Pathuk, Gunung Kidul pada tahun 1956. sebagai lambang Dewa Budha,
      Ruang Batik 
      Di ruang ini memamerkan beberapa koleksi batik. Selain itu juga terdapat proses membatik yang dimulai dari pengerjaan pola sampai proses jadi sebuah batik. Di ruang ini saya suka sekali melihat aneka motif batiknya...bagus bagus banget...



       

       
      Ruang Wayang
      Sesuai namanya, di ruangan ini memamerkan aneka jenis koleksi wayang, diantaranya ada wayang kulit dan wayang golek serta gambar tata letak pementasan wayang kulit purwa klasik.



       
      Ruang Topeng
      Disini juga terdapat beberapa jenis topeng dari berbagai daerah. Topeng sudah mengalami sejarah perkembangan, bersamaan dengan nilai-nilai budaya dan nilai seni rupa. Topeng yang tampil dalam bentuk tradisional mempunyai fungsi sebagai sarana upacara dan pertunjukan.

       
      Ruang Jawa Tengah 
      Di ruang ini memamerkan ukiran kayu yang terkenal dari Jawa Tengah yaitu Jepara seperti gebyog patang aring. Selain itu terdapat keris dan senjata tajam lainnya dengan berbagai jenis.


      Ruang Emas
      Museum Sonobudoyo merupakan museum yang memiliki koleksi artefak emas tapi dengan beberapa alasan belum dapat dilihat oleh umum.
      Pada dasarnya artefak emas memiliki fungsi berbeda-beda, yaitu sebagai:
      1. Mata uang
      2. Perhiasan
      3. Wadah
      4. Senjata
      5. Simbol religius, dll.
      Di ruangan ini dipamerkan aneka koleksi perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari kuningan dan perak. Seperti: aneka bentuk ceret dan kendi, sendok makan, dll.




       
      Ruang Bali
      Diantara ruangan lain, ruangan ini paling istimewa, karena terdapat lampu warna biru yang byar pet gitu. hehehe...
      Koleksi ruang Bali berkaitan dengan kebudayaan Bali baik mengenai yadnya (upacara) maupun berbentuk seni lukis dan seni pahat. Di bagian terpisah terdapat Candi Bentar.
       


      Patung Penari Keris, posenya ini lho...agak-agak merinding...seperti orang mau bunuh diri yaa..

      Di bagian luar Ruang Bali terdapat Candi Bentar, di dalam komplek candi Bentar biasanya terdapat Bale Gede, yang berfungsi sebagai tempat upacara daur hidup dan untuk bermusyawarah.

       
      Ruang mainan
      Di sini dipamerkan koleksi aneka mainan tradisional dan foto-foto anak-anak yang sedang memaikan permainan tradisional.



      Setelah merasa cukup puas berkeliling museum Sonobudoyo, saya melanjutkan perjalanan berikutnya ke Museum Kereta Keraton Yogyakarta dengan berjalan kaki. Yuk, ikuti cerita selanjutnya.
       
      Museum Kereta Karaton Ngayogyakarta 
      Museum ini terletak di Jalan Rotowijayan, bisa ditempung dengan berjalan kaki dari Museum Sonobudoyo unit 1. Harga tiket masuk lima ribu rupiah, ditambah tiket ijin foto seharga seribu rupiah.

      Museum ini khusus menampung kereta-kereta kuda keraton pada masa Kerajaan Yogyakarta era Sri Sultan Hamengku Buwono ke-8. VIII.
       
        Museum kereta keraton ini memiliki 18 kereta, setiap kereta memiliki nama masing-masing, diantaranya:
      1. Kereta Nyai Jimat, 
      2. Kereta Kyai Garudayaksa, 
      3. Kereta Jaladara, 
      4. Kereta Kyai Ratapralaya, 
      5. Kereta Kyai Jetayu, 
      6. Kereta Kyai Wimanaputra, 
      7. Kereta Kyai Jongwiyat, 
      8. Kereta Kyai Harsunaba, 
      9. Kereta Bedaya Permili, 
      10. Kereta Kyai Manik Retno, 
      11. Kereta Kyai Kuthakaharjo, 
      12. Kereta Kyai Kapolitin, 
      13. Kereta Kyai Kus Gading, 
      14. Landower Kereta, 
      15. Kereta Surabaya Landower, 
      16. Wisman Landower Kereta, 
      17. Kereta Kyai Puspoko Manik 
      18. Kereta Kyai Mondrojuwolo. 
      Kereta-kereta tersebut mempunyai fungsi masing-masing, dan penggunaannya selalu dipilih berdasarkan acara yang akan diselenggarakan. Beberapa foto terpasang di dekat lokasi kereta Keraton. Jadi kita juga bisa lihat kereta ini dipakai di acara apa gitu.


      Oh ya, kereta-kereta ini buatan Eropa lho, diantaranya Jerman dan Belanda. Bahkan sebagian besar kereta-kereta ini masih asli, belum tersentuh modifikasi meski sebagian sudah mengalami modifikasi baik dalam warna cat maupun interiornya.
       
      Terdapat beberapa kereta yang dikeramatkan, karena keistimewaan bahannya yang terbuat dari emas dan merupakan kereta Raja yang disebut sebagai kereta Kencana, bahkan sebagian kereta mungkin memiliki cerita mistis, makanya jangan sembarangan ya saat berada di tempat ini. 
       
      Saya paling suka kereta ini nich...keren dan elegan banget... *abaikan penampakan yang separo ini. hehehe...

       
      Jenis-jenis kereta di Museum Kereta Keraton:
      1. Kereta atap terbuka dan beroda dua, contohnya:  Kereta Nyai Kapolitan

      2. Kereta atap terbuka dan beroda empat, contohnya: Kerata Kyai Jongwiyat dan Landower. Oh ya saya sempat dengar kalau Landower ini berasal dari istilah dalam bahasa Inggris Land Owner (Tuan Tanah/Raja).

      3. Kereta atap tertutup dan beroda empat. Kereta ini termasuk kereta yang mewah dan sakral, contohnya: Kereta Kanjeng Nyai Jimad, Kyai Garudayaksa dan Kyai Wimanaputra.

      Kereta Kanjeng Nyai Jimad ini merupakan kereta tertua, telah berada di sini sejak tahun 1750. Kereta ini merupakan buatan Belanda. Bentuknya unik dan sangat indah seperti layaknya kereta Cinderella. Di bagian depan bawah kereta ini terdapat patung wanita menyangga kereta ini dan terdapat untaian bunga yang mengalunginya.
       
      Ada juga kereta Premili, di dalam kereta ini terdapat 4 baris kursi yang saling berhadapan, kereta ini berfungsi untuk membawa para penari keraton yang berjumlah sekitar 16 orang.

      Di dalam museum ini juga terdapat beberapa patung kuda, koleksi pakaian dan perlengkapan kusir kereta.




      Di bagian luar museum di halaman sebelah utara juga terdapat kandang kuda yang dihuni beberapa ekor kuda. Berikut beberapa suasana di halaman museum..


      Sekitar jam setengah sebelas saya keluar dari Museum Kereta Keraton lalu jalan kaki ke shuttle Trans Jogja di jalan Malioboro. Seperti sebelumnya, saya turun di shelter Jl. Solo - Maguwo lalu mampir makan siang di warung padang dulu, baru lanjut jalan kaki ke toko oleh-oleh Bakpia 25. Nah, disini saya coba beli varian baru bakpia 25 yaitu bakpia isi ubi ungu, enak juga lho rasanya. Sampai di hotel sekitar jam 12an, saya beres-beres barang bawaan dan sekitar jam 12.30 saya ke front office untuk nyerahin kunci kamar, dan request pengantaran ke bandara diundur jadi jam 2 saja. Males kelamaan di bandara ga bingung mau ngapain secara flight saya masih jam 16.10. Akhirnya jam 2 tepat saya minta diantar ke bandara, rupanya counter Air Asia sudah buka, jadi langsung aja check in dan masuk ke boarding roam. Selamat tinggal Jogjakarta....ke Jakarta aku kan kembaliiii......
      Demikianlah...field report jalan-jalan saya saat transit di kota Jogja...mungkin bisa menjadi referensi buat teman-teman yang akan transit di kota Jogja.
       
       
       
       
    • By Hildree Takizawa
      Hai...hai..
       
      Ketemu lagi dengan gue Hildree ,,kali ini gue mau cerita tentang penemuan baru gue sama sebuah Resto di belakang komplek gue (sumpah kebanyakan di jakarta ngak tahu kalo Tangerang udah Rame)
       
      Tolol..banget dech gue ngak tahu kalo di belakang komplek rumah gue sekarang udah di bangun resto dan hotel yang cukup keren,padahal dulu belakang komplek itu jalanan sepi dan cuma alang-alang aja yang menempati
       

      Pintu masuk nya,unik banget dech
       
      kali ini gue akan cerita tentang OMAH SEMILIR  lucu yah nama nya,Gue sendiri sih menyimpulkan arti nama itu " Rumah semilir " karna konsep rumah makan ini adalah rumah terbuka dan banyak angin di mana-mana ..capcus kita mulai cerita nya :
       
      Bosan dengan suasana resto di mal ? Ingin mencicipi makanan tradisional Jawa dengan suasana yang tradisional pula ? Di seputaran Lippo Karawaci Tangerang, ada sebuah resto yang bernama Omah Semilir yang dapat memenuhi keinginan Anda tersebut. Lokasinya terletak di Jl Binong Raya No 7, bisa diakses melalui jalan di samping Vihara Atisa Dipamkara (seberang RS Siloam) maupun dari perempatan Taman Ubud.
       

      Design nya tradisional banget
       

      Ruang bawah resto
       

      kayu dimana-mana
       

      jajanan masa kecil ini mah :)
       

      Nasi gudeg
       

      daftar harga
       
      Dengan mengusung konsep sebagai Griya Dahar & Gallery (artinya tempat makan & galeri seni), Omah Semilir memang merupakan tempat yang pas untuk kita bersantap sambil bersantai ria menikmati suasana yang nyaman, sesuai dengan namanya yang berarti rumah yang sejuk. Dengan desain perabotan serba kayu bahkan ruangan nya pun terbuat dari kayu (yang dibawa langsung dari Jawa), sungguh terasa suasana tradisionalnya. Suasana cukup teduh walaupun tidak dilengkapi penyejuk udara, karena banyak pepohonan dengan ruangan serba terbuka.
       
      Makanan yang dihidangkan pun merupakan makanan tradisional seperti Nasi Gudeg, Nasi Liwet, Nasi Langgi, Nasi Pecel, Bakmoy, Ayam penyet, dan bahkan bandeng pindang, gulai kepala ikan dan Ayam betutu (untuk Ayam betutu harus special memesan sebelumnya).
       
      minumannya tersedia cendol (dawet), kacang hijau, kopi tubruk dan lainnya. Kita juga dapat menikmati kue tradisional seperti pisang goreng, bolu ketan hitam, kue cucur, dsb. Rasanya bisa dikatakan cukup enak, harganya pun relatif cukup bersahabat (gudeg komplit : Rp 25.000, ayam bakar : Rp 12.000, cah kangkung terasi : Rp 8.500). Dan kemarin ini masih ada discount soft opening sebesar 25% lho, lumayan kan. Tapi siapkan uang tunai, karna Omah Semilir Lom ada debit
       
      Buat yang mau adain acara seperti: reunian, rapat, arisan, ulang tahun, dsb dapat menggunakan ruang terpisah di halaman belakang, di lantai 2 yang terdapat ruangan yang cukup luas yang juga terbuat dari kayu-kayu.
       

      Tangga tuk naik ke lantai atas
       

      ini ruangan atas nya gak kalah keren dengan yang bawah
       

       
      Untuk anak-anak, sambil menunggu hidangan disajikan dapat melihat-lihat kolam ikan, rusa dan burung merak. Nantinya juga akan dibuka ruang galeri seni. Pengunjung juga dapat membeli batik, meubel (furniture) dan juga jamu tradisional.
       

      Jalan setapak menuju kolam ikan dan kebun binatang
       

       
      Tertarik mencoba ? “Maturnuwun rawuhipun†begitu tertulis di kartu namanya.
      silakan saja datang ke omah semilir
       
      Omah Semilir
      Jl Binong Raya No. 07
      Karawaci – Tangerang
      Telp : 021-59491127
       
       
    • By Hildree Takizawa
      Tidak banyak warga Tangerang yang mengetahui bahwa di kotanya terdapat sebuah museum sejarah kehidupan keturunan TIonghoa. Dan gue juga dulu suka kesini cuma mikirnya ini Bangunan nyatu ama Vihara jadi ngak pernah mikir ini museum.
       
      Museum ini bernama Benteng Heritage, terletak di Pasar Lama yang memang merupakan kawasan pecinan di kota Tangerang. Bangunan museum ini merupakan sebuah bangunan tua yang direstorasi oleh Bapak Udaya Halim seorang peranakan Tionghoa (sering disebut Cina Benteng) yang sangat peduli akan sejarah.
       

       
      ini pintu masuk yang dari samping pasar lama tangerang

      vihara yang terkenal di tangerang
       

      pelataran Vihara Boen Tek Bio
       
      Museum ini terletak di tengah pasar tradisional, sehingga saat pagi hari museum ini masih tertutup oleh para pedagang pasar. Jadi kalau pagi hari museum akan tertutup oleh pedagang di pasar. Beberapa rumah di sebelahnya terdapat klenteng & vihara Boen Tek Bio dan juga bangunan toko es Pasar Lama (saya dulu sering makan es di sini waktu masih sekolah). Namun saat saya kesana, terlihat bangunan bekas toko es Pasar Lama sedang dipugar, semoga tidak dibongkar dan dihancurkan, sangat disayangkan bangunan lama ini.
       

      loket nya
       

      pintu masuk ke museum
       
      Bangunan Museum ini diperkirakan didirikan pada abad ke 17. Di dalamnya terdapat koleksi sejarah diantaranya peninggalan yang melukiskan kedatangan armada Cheng Ho yang sebagian rombongannya mendarat di Teluk Naga yang dipimpin oleh Chen Ci Lung, yang diyakini sebagai nenek moyang penduduk Tionghoa Tangerang. Selain koleksi benda-benda sejarah, kita juga dapat melihat koleksi kamera kuno, pemutar lagu kuno dan masih banyak lagi.
       



      Untuk masuk kita perlu membeli tiket seharga Rp 20.000 / orang, namun itu sudah termasuk jasa pemandu yang siap menjelaskan benda-benda bersejarah tersebut. Tour akan berlangsung sekitar 45 menit. Kita tidak boleh mengambil foto atau video selama di dalam ruangan museum, jadi hanya bisa berfoto di ruangan depan saja. (Beberapa foto di postingan ini diambil dari website Benteng Heritage).
       
      Tuk Foto nya silakan liat disini aja ya.
       
      http://forum.jalan2.com/gallery/album/1194-museum-benteng-heritage/
    • By Luxia
      Hi JJ-ers,
      Jumpa lagi disini… Apa kabar semua??
      Besok long weekend nih.. meskipun harpitnasnya 2 hari, yaaa.. mana tau teman-teman ada yang memutuskan refreshing aja sejenak, meninggalkan kepenatan pekerjaan yang tak akan pernah ada habisnya. Sebagian rombongan akan mengikuti acara gathering KJJI ke IX di Lombok… nah bagi anggota KJJI yang belum dapat tempat… kemana nih?? Apakah ada yang berencana ke Baduy Dalam? Apa sih yang menarik di Baduy Dalam? Bagaimana rasanya tracking ke Baduy Dalam dan Apa yang menjadi Icon Baduy?? Kebetulan Kami (Saya, @Eka Wibisono dan @Maria Kuntarti) baru saja menaklukkannya… meskipun setelahnya rata2 pada encok dan berjalan dengan “bumi yang tak rata” alias tertatih-tatih selama kurang lebih 2-3 hari (hahaha… gaya bener ya bahasanya “menaklukan”). Saya mau berbagi cerita sedikit nih… Yuk mari kita simak perjalanannya.
      Pagi yang cerah dihari sabtu tanggal 03 Oktober 2015 pukul 06.00 WIB kami ber-12 + 2 tour leader berkumpul di meeting point untuk bersama-sama berangkat menuju desa Ciboleger. Kebetulan kali ini paket yang kami pilih adalah paket yang sedikit berbeda, mengapa berbeda?? Karena bukan perjalanan backpacker yang kami pilih, mengingat rombongan kami dimulai dari usia 26 hingga 63 tahun… Bravo!! Dengan menumpang elf yang kami sewa berikut paket perjalanan 2 hari 1 malam ke Baduy Dalam, kami berangkat dengan menempuh perjalanan selama kurang lebih 5-6 jam dengan 1 kali berhenti di rest area selama 30 menit. Elf kami memilih jalur tol dalam kota, keluar di pintu tol Darmaga menuju ke arah Bogor (Gunung Salak) yang mana menurut supir elfnya, Pak Rudi (tapi bukan Rudi Hadi Sentosa lho yach… hahaha… Peace Rud), lewat jalur Bogor bisa menghemat waktu kurang lebih 3 jam dibandingkan lewat jalur Rangkas. Okay Pak. Kami manut aja dech, soalnya memang belum pernah tau “medan perangnya”.
      Tepat pukul 12.00 WIB kami tiba di desa Ciboleger dengan disambut oleh porter-porter kami yang notabene berasal dari Baduy Dalam (berbaju putih dengan ikat kepala putih) dan ada 4-5 orang porter yang berasal dari Baduy Luar (termasuk 3 orang anak-anak berusia antara 8 – 12 tahun) (berbaju hitam dengan ikat kepala biru) yang akan menemani kami nanti. Total porter kami ada 13 orang (karena semula ada 13 peserta tetapi 1 batal) yang akhirnya 12 porter membawa tas kami dan 1 orang membawa keperluan lainnya seperti air mineral yg sudah kami persiapkan untuk mengantisipasi perjalanan nanti, dll.

      Sambil menunggu menu makan siang yang sedang dipersiapkan, kami pun melihat-lihat sekitarnya dan mengobrol sedikit dengan porter-porter kami. Lihat punya lihat dan lirik punya lirik… eh ada seorang porter yang berseragam putih yang menarik perhatian kami, wajahnya berbeda dari yang lainnya… putih, bersih, hidungnya mancung… namanya Asmin. Kalau kita berandai-andai, Asmin ini mirip sekali dengan aktor dari Hongkong, tinggal didandani sedikit hehehe… banyak juga yang bilang mirip orang Jepang.

      Kang Asmin sempat bercerita kepada kami bahwa suku baduy dilarang menggunakan kendaraan untuk berjalan kemanapun mereka pergi, makanya waktu mereka ke Bandung, mereka menempuh perjalanan selama 7 hari dengan berjalan kaki...(WOW) dan 2 hari ke BSD (Bumi Serpong Damai) dengan menginap dirumah teman-teman mereka. Semua tamu yang pernah mereka antar masuk ke desa Baduy Dalam mereka anggap teman sehingga tidak jarang mereka akan meminta alamat dan nomor HP kepada kita. Bahasa asli suku Baduy adalah Sunda kasar tetapi beberapa dari mereka sudah mulai bisa mengerti Bahasa Indonesia meskipun ada yang masih menjawabnya dengan terbata-bata bahkan belum bisa lancar menangkap dan mengerti Bahasa Indonesia yang diucapkan dengan kecepatan tinggi (ibarat mobil itu gigi 4 hehehe).   
      Setelah kami beristirahat dan makan siang selama kurang lebih 1 jam kami pun bersiap-siap untuk memulai perjalanan kami. Sambil menunggu tour leader kami (Mas Anto) melapor ke Kepala Desa, kamipun berfoto-foto ria… masing-masing peserta berfoto dengan porternya untuk kenang-kenangan, termasuk saya dengan porter saya yang usianya 12 tahun tetapi tubuhnya seperti anak yang berusia 8 tahun, namanya Asda. Bocah lucu yang super energik tetapi cuek (bebek aja kalah cuek) ini lah yang menjadi hiburan saya dan teman-teman selama perjalanan pergi dan pulang.

      Baduy Dalam terbagi menjadi 3 Desa yaitu desa Cibeo, desa Cikartawana dan desa Cikeusik. Perjalanan kami kali ini adalah mengunjungi desa Cibeo, desa yang paling dekat dengan Baduy Luar. Desa Cibeo merupakan desa dari Baduy Dalam yang sudah sedikit terkontaminasi dengan dunia luar (stt… bahkan ada beberapa warganya yang sudah pake HP lho… caranya?? Nyolong2 dibawah meja pakainya…). Sebagian besar mata pencaharian warga Baduy baik Luar maupun Dalam adalah menenun dan berjualan gula aren. Kalau beras, mereka tidak menjualnya, di tanam hanya untuk dikonsumsi sendiri.
      Perjalanan diperkirakan akan ditempuh dalam waktu 4 jam. Untuk dapat mencapai desa Cibeo, rombongan harus melewati sekitar 5-6 desa Baduy Luar yang diantaranya Desa Balimbing, Marangu, Gajeboh dan juga harus melewati Jembatan bambu yang oleh warga setempat disebut Jembatan Temayang serta Tanjakan Cinta. Mendengar namanya pasti terbersit kisah-kisah manis didalamnya sehingga bisa disebut “Tanjakan Cinta”…hehehe… ternyata tidak ada yang tahu silsilah sebutan itu. Oke lah kalo begitu… Let’s Get started.

      Perjalanan dimulai dengan melewati perkampungan di luar Baduy (masih di wilayah Ciboleger) sampai dengan ada portal yang bertuliskan “SELAMAT DATANG DI BADUY”. Perjuangan dimulai. Semua wajah sumringah, ceria, perjalanan ini diisi dengan cerita dan senda gurau dari tiap-tiap peserta. Tamu-tamu yang notabene asli Indonesia diperbolehkan tracking hingga wilayah Baduy Dalam tetapi tidak demikian dengan tamu dari mancanegara. Mereka hanya boleh berjalan hingga Gajeboh saja atau maximum Jembatan Temayang saja. Tidak ada yang tahu alasan maupun cerita dibalik larangan tersebut. Mungkin porter kami kebanyakan anak-anak muda yang sebenarnya hanya mematuhi saja aturan dari kepala suku tanpa banyak bertanya mengenai sejarah-sejarah dan larangan-larangan yang diberlakukan selama ini kepada mereka atau memang dilarang untuk menjelaskan, Entah lah. Tidak ada yang bisa menjawabnya meskipun seniornya sekalipun yaitu Kang Naldi (yang telah banyak pengalaman menjemput dan mengantarkan tamu keluar masuk Baduy Dalam). Menurut Kang Naldi, saat ini jumlah keluarga yang ada di Baduy Dalam sekitar 140 keluarga saja, sisanya tinggal di Baduy Luar. Bukan karena adat yang membuat mereka keluar dari Baduy Dalam tetapi semua tergantung pilihan masing-masing orang. Contohnya Asda (porter saya), Ayah Asda, Kang Herman, yang merupakan penghubung porter dengan travel agent yang kami pakai jasanya saat itu, beliau baru 1 tahun keluar dari Baduy Dalam karena tidak tahan hidup terkukung dengan adat, sedangkan Asda masih tinggal bersama kakeknya di Baduy Dalam pada saat orang tuanya memutuskan tinggal di Baduy Luar. Sekitar 3 atau 4 bulan yang lalu Asda memutuskan ikut orang tuanya untuk tinggal di Baduy Luar. Alasannya simple banget, pindah ke luar karena tidak tahan dengan kakeknya, tiap kali minta uang jajan tidak dikasih… hahaha…. (lucu & polos banget). Semua warga Baduy Dalam taat pada seorang kepala suku yang mereka panggil PU-UN (jadi bukan seperti cerita orang-orang diluar sana bahwa orang Baduy Dalam menyembah Pohon… ngawur ya). Baduy Dalam pun ada periode puasanya tetapi beda dengan periode puasa Muslim.

      Semua peserta tidak ada yang tahu seperti apa tracking yang selama ini disebut-sebut oleh tour leader sedikit berat. Tidak ada yang bisa membayangkan pula seberapa curam bukit-bukit serta tanjakan-tanjakan yang akan dilalui dan dihadapi oleh kami… sejauh ini kami browsing, foto-foto yang diperoleh hanyalah foto-foto perjalanan biasa dengan sedikit bonus perbukitan. Tidak ada sama sekali terbersit dibenak kami bahwa yang menurut warga Baduy perjalanan datar itu adalah seperti berjalan diperbukitan. Tidak ada juga yang menyangka bahwa perjalanan menaiki bukit sedikit itu ternyata ibarat kita menaiki pegunungan… dan tidak ada yang menduga bahwa perjalanan menanjak itu ibarat kita mengarungi pegunungan dengan kemiringan 45 derajat dan bertanah kuning serta berbatu-batu.

      Untungnya saat kami berada di lokasi, keadaan sekitar sedang kering, cuaca tidak lembab dan sudah 4 bulan lamanya tidak turun hujan sama sekali sehingga tidak licin. Jadi kalau hendak mengunjungi Baduy Luar maupun Baduy Dalam amat sangat disarankan mengambil periode musin kemarau yaitu bulan Juni s/d September. Warga Baduy Dalam juga ada kalanya menutup pintu untuk tamu-tamu luar yang ingin berkunjung yaitu pada bulan Maret s/d Mei dikarenakan mereka sedang panen. Bentuk lahan sawah dan ladang orang Baduy cukup menakjubkan, mereka bercocok tanam bukan di tanah yang rata seperti kebanyakan sawah dan ladang yang kita temui didesa-desa pada umumnya. Mereka menanam padi dan lainnya di lahan tanjakan yang kemiringannya sekitar 70 s/d 80 derajat , sehingga pada waktu ada yang bertanya koq gak terlihat kerbau diladang? Jawabannya:  ya gak bisa lah yah… Satu-satunya hewan yang sering dan berkeliaran di Baduy Dalam hanya lah Ayam. Anjing ada yang pelihara tetapi tidak banyak dan mungkin keberadaannya di tengah-tengah desa, soalnya kita tidak melihatnya selama perjalanan hingga Baduy Dalam.

      Sepanjang perjalanan selama kurang lebih 1 jam ditempuh, semua baik-baik saja dan masih enjoy-enjoy saja, terlebih ketika melewati jembatan pertama… beberapa tamu dari rombongan lain bertanya dengan heran, apa benar bahwa kita hendak menuju Baduy Dalam? Jauh lho.. Masih jauh sekali lho.. apalagi ketika mereka melihat rombongan kami ada orang tuanya. Rata-rata rombongan yang kami temui hanya duduk-duduk di jembatan pertama saja, foto-foto, paling jauh mereka menempuh perjalanan sampai di Gajeboh (sekitar 25% dari total perjalanan menuju desa Cibeo), setelah puas akan memutuskan untuk kembali saja ke Ciboleger. Saya jadi berpikir, usia mereka masih pada muda-muda, tapi koq gampang sekali menyerah??

      Menyusuri jalan setapak demi setapak… kampung demi kampung… stamina kamipun mulai sedikit demi sedikit menurun. O iya, jangan lupa berbekal diri dengan tongkat kayu yang kokoh yach, karena itu sangat membantu memperingan langkah kaki. Rasa lelah, nafas tersengal-sengal, wajah lelah, perasaan galau bercampur aduk, karena sudah 4 jam perjalanan tetapi belum juga kami jumpai yang namanya Jembatan Temayang. 5 desa sudah dilewati, beristirahat di desa-desa dan diperkampungan. Turun naik perbukitan dan tanjakan kurang lebih 10 an kali.. Mantap bener…  Sambil terseok-seok kaki melangkah, tibalah di jembatan bambu yang disebut Jembatan Temayang yang kalau menurut saya itu merupakan jembatan terpanjang dan terkokoh selama perjalanan dari luar Baduy karena alas tempat kita berpijak itu terbuat dari batang bambu yang tersusun 2 lapis sehingga benar-benar kokoh dan panjangnya ada sekitar 10-15 meteran. Jika kita sudah melewati Jembatan Temayang, artinya kita sudah mulai meninggalkan kawasan Baduy Luar dan memasuki area Baduy Dalam.
      Nah tiba lah saatnya kita menyiapkan fisik untuk menghadapi medan terberat di hari pertama ini yaitu Tanjakan Cinta… Sungguh-sungguh luar biasa… panjangnya 500 meter dengan kemiringan 45 derajat, benar-benar butuh kesabaran, kekuatan kaki dan jantung, sepatu gunung yang masih bagus banget serta penuh doa agar jangan sampai tergelincir dan terkilir. Benar-benar harus dijaga lho staminanya disini. Dan 1 lagi prinsip yang selalu dikumandangkan oleh Kang Naldi… “Ayo… sedikit lagi… jalan 10 menit lagi medannya datar koq…” hah.. jangan percaya… datarnya hanya 5-10 langkah doank sisanya naik terussss…. Tetapi Tanjakan Cinta memang merupakan tanjakan tertinggi terakhir untuk tiba di desa Cibeo. Sisanya hanya tanjakan-tanjakan kecil saja meskipun kemiringannya tetap terjaga di “skala” 60-70 derajat…

      Karena medan perang yang begitu beratnya, rombongan kamipun terpisah menjadi 4 regu. Setelah Tanjakan Cinta kita akan melewati 4-5 jembatan kecil untuk tiba di desa Cibeo. Regu pertama tiba pada pukul 17.15 WIB, kemudian disusul regu kedua tiba pada pukul 17.30 WIB, regu ketiga 18.00 WIB dan yang terakhir pada pukul 22.15 WIB.
      Tiba di rumah salah satu porter kami yang memang disewa untuk kami beristirahat mengumpulkan tenaga buat tracking esok harinya, kami pun disambut dengan makanan khas suku Baduy. Rumah yang terbuat dari bahan bambu beratapkan daun ijuk atau daun kelapa kering, tanpa jendela dan hanya terdiri dari 1 ruangan untuk tidur sekaligus ruang tamu dan 1 dapur, simple dan sederhana sekali. Setelah bebersih diri ala kadarnya karena memang keadaan sungai sedang kering. Sebagian dari kami sudah mulai “berlayar ke Pulau Kapuk” alias tidur sedangkan ada beberapa yang masih ngobrol-ngobrol juga. Menjelang malam udara sudah tidak begitu gerah, semakin malam, menjelang pukul 01.00 malam, udara semakin dingin, perkiraan kita sekitar 10-14 derajat lah. So amat sangat disarankan membawa celana panjang, jaket dan kain selimut bahkan bila perlu kaos kaki dan sarung tangan untuk tidur. O iya, bagi yang tidak bisa tidur dalam keadaan terang, bisa membawa eye mask juga ya, karena kita tidur ditemani oleh obor yg bahan bakarnya dari minyak sayur. Sayang keadaan sekitarnya tidak bisa didokumentasikan karena memang terlarang, bukan dilarang lho ya… semua terserah kita, kalau nekad silahkan ambil foto, kalau gak ya jangan. Hukuman sesungguhnya sebenarnya bukan dari kepala suku atau penduduk local tetapi lebih tepatnya akan dihukum oleh alam, tahayul sih sebenarnya, tapi ya balik lagi, percaya atau tidak, kalau nekad ambil foto di Baduy Dalam akan menanggung akibatnya sendiri. So Not Recommended lah ya.
      Esok harinya pukul 05.30 WIB sebagian rombongan sudah ada yang bangun dan ke sungai, ada yang sekedar berkeliling-keliling daerah sekitarnya sambil menghirup udara pagi yang masih benar-benar fresh dan lembab karena dingin. Menjelang jam 06.30 WIB kami kedatangan “tamu-tamu” yang membawa dagangannya berupa kain tenun, baju khas Baduy, pernak-pernik, souvenir seperti gantungan kunci, dll. Mungkin memang sudah menjadi kebiasaan warga disana menjajakan barang dagangannya di pagi hari karena “para peserta tracking” tidak akan stay lama di desa mereka mengingat jauhnya perjalanan yang masih harus ditempuh sehingga rata-rata rombongan akan berangkat meninggalkan desa mereka sekitar pukul 08.00 WIB dan paling telat pukul 10.00 WIB. Sambil menantikan sarapan pagi, berbelanja dirumah, kita juga bisa memesan madu asli Baduy Dalam yang katanya enak itu dan Gula Aren.
      Tepat pukul 08.00 WIB rombongan kami mulai bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan, tidak lupa tongkat tetap dibawa ya karena medan yang akan ditempuhpun tidak kalah mengerikan karena kita akan melewati lereng bukit dan tanjakan dan banyak naik turunnya juga, sedikit licin karena bertanah kuning dan berbatu-batu. Jalur yang ditempuh untuk dapat kembali ke desa Ciboleger ada 2 yaitu lewat desa Cijahe dan Jembatan Akar (Icon Baduy Dalam). 2 peserta tracking yang sudah menyerah dengan ditemani oleh 2 porter dan 1 Tour Leader akhirnya memilih menggunakan jalur desa Cijahe, perjalanannya lebih manusiawi, trackingnya lebih landai, perjalanan santai cukup dengan 2-3 jam saja, melewati perbukitan kecil-kecil saja lalu dijemput elf dan diantar ke Ciboleger untuk bergabung dengan rombongan yang melalui jalur Jembatan Akar. Sisanya 10 orang penasaran seberapa jauh dan beratkah perjuangan untuk mencapai Iconnya Baduy itu.

      Kamipun berjalan santai karena masih pagi, dan masih segar meskipun kaki sedikit pegal linu akibat perjuangan kemarin, sambil bercengkerama, bercerita pengalaman semalam tidur di “bilik”, dingin, sunyi dan lain sebagainya. Lewat 1 jam perjalanan, masih santai, hanya naik turun bukit sedikit, itu pun penuh rumput masih belum terbayang nih. Menjelang 1,5 jam, sedikit demi sedikit perjalanan mulai sulit, karena turunannya lebih terjal dibandingkan kemarin dan kebanyakan tanah kuning dan batu kecil-kecil saja. Saya sih lebih memilih jongkok dulu sebelum turun ketimbang nyungsep di tanah nantinya… huff.. beratnya tidak kalah dengan kemarin malah terasa lebih berat karena turunannya cukup curam, ada yang 45 derajat malahan.

      Berjalan sekitar 2 jam akhirnya kita sampai juga pada tanjakan dan turunan berbatu dan bertanah merah lagi dengan jalur “Z” di beberapa titik, telaah punya telaah ternyata itu perjalanan turun sekaligus perjalanan menuju Jembatan Akar, Salah satu Icon yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Baduy karena keunikannya. Apa yang menyebabkan Jembatan ini begitu unik dan dicari oleh tamu-tamu dari luar Baduy meskipun untuk mencapai kesana perjalanannya cukup sulit dan penuh perjuangan serta menguras tenaga ini?

      Jembatan Akar, diberi nama tersebut karena memang jembatan ini terbuat dan terbentuk dengan sendirinya dari akar pohon yang menjulur memanjang dan membentuk anyaman-anyaman sehingga memperkokoh jembatan tersebut. Untuk alas berpijak, ada beberapa batang bambu yang tersusun memanjang dibawah agar kaki yang menginjak jembatan tidak terselip di lubang-lubang “anyaman”. Jembatan akar terbentuk secara alami 10 meter diatas sungai dengan panjang 25 meter ke seberang dan semuanya murni terbentuk dari akar 2 batang pohon yang berseberangan.

      Setibanya di Jembatan Akar semua lega… ada 2 diantara kami yang langsung nyemplung di sungai dibawah jembatan akar yang airnya cukup banyak dan mengalir, secara, dari pagi tidak bisa mandi dan gosok gigi dengan benar. 8 orang sisanya mulai mengeksplore Jembatan Akar untuk berfoto-foto dan bahkan ada yang menyeberang Jembatan tersebut untuk berfoto ria di seberang yang kategorinya mirip hutan dan sedikit rimbun, adem, ada yang hanya berbasuh diri saja karena debu yang menempel di lengan dan kaki.
      Setelah puas mandi, berbasuh diri dan foto-foto, perjalanan dilanjutkan lagi. Tadinya semua orang berpikir akan menyeberangi Jembatan Akar untuk perjalanan kembali ke desa Ciboleger, eh ternyata salah, kami harus berbalik arah dan mengambil jalur disebelah tebing dan menyusuri jalan tanah kuning berbatuan kecil yang lumayan licin meskipun tidak basah sama sekali karena kemiringannya yang cukup curam.

      Berjalan menyusuri tebing dan perbukitan dan lereng bukit kurang lebih 3 jam sampailah kita di desa Cilanggir, di desa Cilanggir ini jalanan sudah sedikit membaik, jalanan berbatuan yang tersusun rapi, sudah tidak ada lagi yang namanya rumput di jalan setapak, tidak ada lagi tanah kuning yang licin tetapi tanjakannya masih sama malahan jaraknya kurang lebih 300 meter dengan kemiringan 50 derajat.
      Nah, sampai disini ada 2 orang dari rombongan kami yang sudah menyerah dan memilih sewa ojek saja ke Ciboleger daripada pingsan dijalan dan di tandu. Ongkos dari desa Cilanggir ke Ciboleger kurang lebih Rp 20.000,- s/d Rp 30.000,-. Beberapa ojek yang dikendarai oleh anak muda bahkan sempat hampir tergelincir motornya karena memilih jalur motor yang tidak berbatuan tetapi berpasir putih kasar dan letaknya disamping lereng. Serem juga sih meskipun naik ojek.

      Tersisa 8 orang peserta + 1 tour leader yang ditemani oleh 10 orang porter (termasuk 3 orang bocah) yang masih meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Tak terbayangkan lelahnya mendaki jalan bebatuan tersebut, untuk mengangkatkan kaki saja rasanya sudah ogah-ogahan. Rasanya kalau diukur, tenaga kami hanya tersisa 25% saja. Tiba lah kami di sebuah warung yang cukup besar (toko terbesar yang pernah kami jumpai disepanjang perjalanan ke Baduy), sambil memutuskan untuk minta elf menjemput kami di warung itu saja, sudah tak sanggup lagi rasanya tuk berjalan. Padahal untuk mencapai desa Ciboleger, masih ada 2 km lagi. Tunggu punya tunggu, elf kami tak kunjung tiba karena masih blm turun dari Cijahe.

      Akhirnya setelah menanti sekitar 30 menit dan waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, atas saran Tour Leader kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki saja agar bisa tiba di desa Ciboleger dengan segera mengingat waktu makan siang sudah pasti terlewatkan. Yuk.. jalan lagi… Jalan… jalan… jalan… sekitar 500 meter mulai lah memasuki daerah beraspal dan disebelah kiri kanan terhampar sawah nan hijau, senangnyaaa… pertanda desa Ciboleger semakin dekat. Bagi kami orang kota yang terbiasa berjalan di jalan datar beraspal adalah suatu hal mudah meskipun jauhnya 2 km, tetapi bagi orang Baduy itu sangat menyiksa apalagi ditengah terik matahari dan mereka juga berjalan tanpa mengenakan alas kaki, tentunya terasa panas, lelah dan menjengkelkan (itu pengakuan salah satu porter kami). "Rasanya gak sampai-sampai ke tujuan Bu, Capek. Tapi kalau berjalan menanjak dan di tengah hutan itu rasanya adem dan tenaga kita seperti dipacu dan makin menanjak semangat kami makin bertambah ". Nah lho...??? Yaaa... mau gimana lagi ya??

      Selagi berjalan saya memperhatikan bukit di sebelah kiri kami dan melihat di atas bukit tersebut samar-samar terlihat rumah-rumah penduduk di atas bukit tersebut, kemudian saya bertanya ke salah satu Porter kami, "itu Baduy Dalam ya?" dan si Akang menjawab "bukan bu, itu baru Baduy Luar..." Seperti tak percaya saya tanyakan lagi sama Asda dan jawabannyapun sama, "Itu Baduy Luar" Astagaaa... Sampai terpana saya mendengarnya, ternyata dari kemarin kita sudah menaiki perbukitan setinggi itu dan bahkan Baduy Dalam lebih tinggi lagi letaknya. Amazing!!!

      Sampai sekitar 1,5km, jalanan mulai menanjak lagi, tapi kali ini adalah tanjakan terakhir yang panjangnya sekitar 300 meteran dengan tingkat kemiringan 50-55 derajat lah kira-kira. Ketika kami menjumpai bangunan sederhana berwarna hijau, dan berbentuk masjid, hati pun senang karena desa Ciboleger sudah didepan mata. Beberapa yang telah tiba dilokasi terlebih dahulu langsung menuju rumah dibelakang warung tempat kami makan siang, kemudian rebahan diteras rumah melepas lelah dan kemudian bersiap-siap mandi dan berangkat pulang ke Jakarta. Sebelum masuk elf, Kang Asmin memberikan ke salah satu anggota kita gula aren untuk oleh-oleh. Makasih Kang Asmin. (^_^)
      Berakhirlah sudah Perjuangan kami… Sedih, senang, susah telah kami lalui semuanya. Semuanya terasa indah selama perjalanan, pengalaman yang tak kan pernah terlupakan, Patut diacungi jempol kepada Bapak-Bapak yang usianya sudah lebih dari 50 tahun, tetap bersemangat meskipun sudah letih sekali. Semua rasa letih dan penasaran terbayar sudah. Terima kasih kami ucapkan tuk porter-porter kami khususnya Kang Naldi, Kang Asmin, Kang Ajun, Asda dan 9 porter lainnya yang tak sempat aku kenal. Keramahan, kesabaran dan semangat kalianlah yang menyemangati kami.
      Sedikit informasi penting untuk perjalanan ke Baduy Dalam:
      -          - Jangan mengambil foto, dilarang menggunakan sabun, detergen, pasta gigi dan lainnya yang mengandung bahan-bahan kimia yang bisa merusak alam.
      -          - Dilarang membuang sampah sembarangan, karena warga suku Baduy amat mencintai kebersihan dan keasrian alam. Jadi bawalah kantong sampah sendiri dari jakarta.
      -       - Jangan lupa bawa senter (karena jarang ada yang menjual senter diBaduy), tuk kebutuhan di jalan andaikan kemalaman dan apabila hendak ke Sungai di malam hari & air minum secukupnya saja, karena disetiap kampung atau desa pasti ada warung kecil yang menjual air mineral dan harganya Rp 3.000,- s/d Rp 5 000,- saja 1 botol yang ukurannya 600 ml.
      -       - Bagi yang tak terpisahkan dari HP silahkan, ternyata signal dari beberapa provider bisa menjangkau sampai ke Baduy Dalam, tapi pakai HP nya hati-hati ya, jangan sampai kepergok sesepuh Baduy Dalam.
      -          - Harga indomie semangkok Rp 5.000, kopi secangkir Rp 3.000,-
      -          - Harga baju  khas Baduy berkisar dari Rp 90.000 s/d 200.000,- (bahannya tebal dan bagus), celana pangsi (7/8) Rp 90.000,- selendang panjang kurang lebih 1.75 meter Rp 100.000,- kain 2x2 meter Rp 200.000 s/d 250.000,- semua asli tenunan penduduk local.
      -          - Harga Madu botol kecil Rp 50.000,- botol besar Rp 100.000,-
       
    • By maipura
      Ada museum baru di Kota Solo, baru diresmikan oleh Bapak Presiden Jokowi pada tanggal 9 Agustus yang lalu. Namanya Museum Keris Nusantara. Kebetulan saya pas lagi ada di Solo minggu lalu, jadi deh kita sempatkan mampir mengunjungi Museum ini sebelum pulang kembali ke Sumatera.
      Lokasi Museum Keris ini ada di pusat kota, gak jauh dari taman Sriwedari, bersebelahan dengan stadion di Jalan Bhayangkara. Kalau lewat jln. Slamet Riyadi, pas pertigaan Sriwedari belok kiri, Museum nya ada di ujung jalan pas perempatan. Gak akan mungkin kelewatan lah. :)
      Harga tiket masuknya berapa? nah selama bulan Agustus ini, tiket masuk ke Museum Keris masih gratis, namun mulai september nanti katanya harga tiketnya Rp.6000 / orang.
      Museum ini merupakan gagasan pak Jokowi sewaktu beliau masih menjadi walikota Solo. Namun pembangunan gedung museum ini baru dimulai secara bertahap sejak tahun 2013. Gedung Museum Keris ini terdiri dari 1 basement yang dimanfaatkan sebagai tempat parkir, dan 4 lantai sebagai ruang pamer. Terdapat lift yang menyambungkan semua lantai-nya. Jadi kalau capek naek tangga, bisa naek lift.

      Lantai 1
      Di lantai ini fungsinya sebagai lobi, soale gak ada keris yang dipajang disini. Cuman ada ruang Audio Visual di sisi sebelah kanan dan kiri dari pintu masuk. Loket pengunjung juga ada disini, disebelah kanan dari pintu masuk kemudian bagian informasi ada di sebelah kiri dari pintu masuk.
      Lantai 2
      Di lantai 2 kita mulai bisa menikmati koleksi dari Museum Keris ini. Dan saya yang gak paham sema sekali soal keris. Di lantai 2 ini kita akan paham dan mengerti lebih dalam soal keris. Karena di lantai ini disuguhkan juga informasi tentang keris dan bagian-bagian keris, apa itu pamor, jejeran, luk dsb.
      Di lantai 2 ini juga ada tempat bermain untuk anak-anak dan perpustakaan. Koleksi buku-bukunya tidak jauh dari masalah keris dan budaya baik tentang kota Solo maupun kota-kota lain di Indonesia. Tapi sepertinya koleksi bukunya perlu diperbanyak, soale rak nya masih banyak yang kosong.



       
      Lantai 3
      Lantai ini selain memajang beberapa koleksi keris ada juga diorama-diorama. Antara lain diorama pembuatan keris dan  diorama ritual saat akan membuat keris. Selain itu di dinding  ada informasi proses pembuatan keris dan rangkaian sesaji ketika akan membuat keris.


       
      Lantai 4
      nah, lantai 4 ini merupakan ruang pamer utama, disini selain keris dari tanah jawa, ada juga keris dari bali, sulawesi dan sumatera. Selain keris ada juga beberapa koleksi tombang dan parang. Karna museum ini tidak mengkhusus kan keris dari Jawa saja, namanya kan Museum Keris Nusantara. walapun memang umumnya orang mengenal keris itu dari Jawa. Tapi ternyata ada juga keris dari Sulawesi dan Sumatera.

       

      Di lantai 4 ini saya ngobrol banyak dengan seorang bapak yang saya pikir petugas museum. Beliau berkata keris yang dipajang disini merupakan hibah dan pinjaman dari pribadi, tertulis di keterangan masing-masing keris yang dipamerkan. Dan katanya lagi masih ada sekitar 300-an lagi koleksi keris yang masih akan dipamerkan. Dan ada kabar bahwa pemerintah Belanda akan menyerahkan koleksi keris yang mereka miliki untuk kemudian disimpan dan dipamerkan di Museum Keris Nusantara ini.
      Ketika saya bertanya, koleksi yang paling tua dan mempunyai nilai sejarah paling tinggi yang mana, bapak petugas yang saya lupa tanya namanya itu menjawab.
      "semua koleksi kita disini berharga mas, baik usia maupun nilai sejarah-nya"
      "semua keris disini berusia lebih dari 100 tahun"
      "semuanya sudah di teliti terlebih dahulu oleh tim kurator kita sebelum kemudian bisa dipajang dimuseum ini"
       
      Lalu bapak itu membawa saya ke salah satu kotak tempat beberapa keris dipamerkan, lalu beliau mengatakan,
      "ini keris yang paling tua, ini diperkirakan dibuat pada jaman sebelum kerajaan Singosari"
      "pada waktu itu para pembuat keris belum mengenal cara mencampur besi untuk membentuk pamor (motif)"
      "ini bentuk awal daripada keris, masih sederhana, dan kemudian berkembang menjadi seperti sekarang ini"
       
       
      Ketika saya bertanya mana keris yang paling mahal, beliau pun mengajak saya kembali ke bagian tengah, dan mengatakan
      "ini semua keris yang mahal, semua keris-keris ini ditaksir harganya antara 3 - 15 milyar"

      Mendengar itu, gak ada komentar yang keluar dari mulut saya, cuman decak kagum yang ada.
      Obrolan santai pun terus berlanjut, kebetulan lantai 4 sudah agak sepi, sebelumnya rame dengan rombongan anak-anak SD. :). Sang bapak menjelaskan apapun yang saya tanyakan, baik itu soal keris maupun tentang Museum nya sendiri. Beliau pun sempat memperlihatkan foto nya ketika mendampingi pak Jokowi ketika pembukaan 9 Agustus yang lalu. Dan saya bener-bener bodoh gak nanya siapa namanya.
      Penasaran dengan koleksi-koleksi keris dari Museum Keris Nusantara? atau hobi dengan keris? Atau pengen dateng ke tempat Wisata yang sedikit berbeda waktu berkunjung ke Solo.
      Monggo, mampir ke Museum Keris Nusantara. :)

       
      foto-foto laen :)



       
    • By Hildree Takizawa
      holla.. semua nya
       
      saya kembali dan masih dengan report dan pengalaman ..hmm lebih tepat nya sih hoby saya makan di tempat ini (hehe..ehhe) abis makanan nya enak-enak dan bikin ketagihan kalo belom kenyang masih saja asyik menikmati jajan yg ada di sepanjang jl.kisamaun ini.

      salah satu sudut jajanan pasar
       
      Konon Pasar Lama Tangerang ini adalah salah satu daerah Pecinan di salah satu sudut kota tua Tangerang (Tapi emang bener karna di sini banyak cina bentengnya..termasuk saya juga cina benteng ).
       
      Tak heran memang saat saya berkunjung ke sana seringa ada sekelompok pemain barongsai kebetulan lewat. memang pekerjaan mereka sehari hari bermain barongsai, entahl! Saya sedang tidak meliput sisi budaya Tionghoanya, mungkin lain waktu saya akan kesana khusus untuk  itu.
       
      Saat ini saya ingin bercerita soal citarasa kuliner di Pasar Lama yang banyak ragamnya.  Kuliner pasar tradisonal tentunya dengan harga murah terjangkau. Di Pasar Lama ini sangat terkenal kuliner jajanan pasar yang walau makannya juga dipinggir jalan dengan modal kursi plastik saja. Tapi soal rasa kata pak Bondan maknyussss…dan beliau memang pernah berkunjung ke sana, konon ceritanya begitu yang saya dengar.
      Salah satu kuliner yang sempat saya nikmati adalah nasi ayam bakar disuir-suir..hmmm aroma daun pembungkus yang terbakar merangsang nafsu untuk segera melahap habis isi bungkusan tersebut. tetapi makanan favorite saya adalah asinan sewan dan siomay sewan,Sesudahnya biasa ditutup dengan desert es podeng yang membuat lidah tetap menjilat-jilat sendok untuk mendapatkan sisa tetes es podeng sampai yang terakhir…hmmm sslruuppp gleqk …
        Kuliner yang ada di sana antara lain nasi bakar, pempek, toge goreng, ketoprak, bakso, bubur ayam, otak-otak, bakso, martabak, asinan, juhi, laksa, es podeng bahkan gulali. Banyak sekali, saya tak terlalu hapal nama namanya (saking banyak nya). Kenikmatan kuliner di Pasar Lama ini sudah terkenal dari mulut ke mulut sebab yang namanya jajanan pasar pastilah tanpa iklan yang mempromosikan enaknya makanan.
       

      ini asinan kesukaan aku
       

      Setelah bumbu di aduk nich ..
       

      es podeng sebagai makanan penutup
       
      Iklan mulut ke mulut jauh lebih efektif dan terbukti sangat menggoda untuk datang segera ke Pasar Lama. Taruhlah saya juga sedang mempromosikan Pasar Lama ini sebagai salah satu lokasi yang wajib dikunjungi untuk berwisata kuliner jika kebetulan Anda datang dimari dijamin Anda tidak menyesal..suerrrr!
       
      Anggaplah ini salah satu ajakan untuk ikut melestarikan kuliner tradisional Nusantara dari serbuan makanan luar seperti fastfood yang junkfood. Kalau bukan kita yang mempopulerkan makanan tradisional Nusantara siapa lagi? Lihat saja para pewaralaba yang menggurita membuka outlet outlet mereka bahkan sampai ke kota kota kecil di daerah. Saya termasuk salah satu penggemar kuliner Nusantara dibandingkan fasfood manapun. Selain memang harganya yang tak menguras kantong, kuliner Nusantara sangat cocok di lidah saya.
        Dan makan disini selalu padat dan ramai baik siang atau pun malam hari dan skrg pedagang nya juga bertambah banyak dan ragam nnya.dari yg halal sampai non halal lengkap dech pokoknya.