Sign in to follow this  
Followers 0
ikankering

Museum Benteng Heritage ~ Museum Sejarah Peranakan Tionghoa

10 posts in this topic

Rekan-rekan sekalian, apabila kita berjalan-jalan ke Tangerang, Banten, ada satu museum yang menarik untuk kita kunjungi. Namanya adalah Museum Benteng Heritage. Lokasinya berada di Jl Cilame No. 20, Pasar Lama, Tangerang. Tempatnya berada di jalan yang cukup ramai karena ada pasar, jadi katanya lebih enak ke sana kalau lagi sore hari. Posisi museum ini sendiri letaknya di belakang Kelenteng Boen Tek Bio. Jadi emang lokasinya juga lokasi yg chinese banget nich.

Di museum ini, rekan-rekan sekalian bisa liat berbagai macam cerita tentang perjalanan peranakan Chinese di Indonesia, mulai dari jamannya Cheng Ho. Selain itu, dapat juga dilihat berbagai macam artefak dan peninggalan dari jaman dulu.

Ada yang sudah pernah ke tempat ini?

384885_182371468528428_1056624069_n.jpg

377077_182371268528448_1588981691_n.jpg

382776_182371081861800_1342488368_n.jpg

Share this post


Link to post
Share on other sites

@ikankering @Nata Harianto minggu kemarin gue kesini, untuk lokasi karena dekat pasar ya jadi agak becek dan rada kotor...tapi ini museum bagus, waktu ke dalam kita akan dapet guide yang menjelaskan perkembangan dan benda2 cina yang ditemukan di sekitar tangerang, termasuk budaya cina.  

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa wah kalo share cerita udah banyak lupanya nih mod, wkwkwkwk.....

 

Tapi intinya mah, ke tempat ini worth banget untuk dikunjungi

 

1. ke Museum ini akan dapat pengetahuan tentang budaya cina (khususnya cina tangerang atau cina benteng) yang sangat menarik. Kalo ramean, kita bisa juga pesen makan siang ke pihak museum dan bisa makan siang didalam museum tsb.

2. Lokasinya di pasar lama, disini banyak banget jajanan enak, jadi kalo yang suka kulineran pasti terpuaskan disini, nah buat ibu-ibu, namanya juga pasar bisa sekalian belanja-belanja kebutuhan sehari-hari disini.

3. Dekat dengan klenteng Boen Tek Bio, nah bisa lihat deh tuh bangunan unik tempat ibadah dan pusat kegiatan Boen Tek Bio yang unik.

4. Coba datang menjelang imlek ataupun pada saat perayaan besar etnis tionghoa seperti Peh Cun (bulan 5 kalender imlek) dijamin ramai.

 

Minusnya cuman satu, lingkungan sekitar museum agak kotor karena ya lokasinya di pasar apalagi kalo ujan...

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa kalo banyak nggak nya sih aku ga tau mod, tapi memang kawasan pasar lama ini istilahnya kaya "kampung cina" gitu banyak keturunan tionghoa yang tinggal disini. kawasan ini juga terkenal sama jajanan nya, secara mereka terkenal masakan nya enak2 :D

 

@Mirza Fachrurrachman kemaren aku kesini mas pas ada event festival cisadane 10-14 juni trus mampir kesini bentar, pulangnya wisata kuliner di sepanjang jalan pasar lama kisamaun :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!


Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.


Sign In Now
Sign in to follow this  
Followers 0

  • Similar Content

    • By Luxia
      Hi JJ-ers,
      Jumpa lagi disini… Apa kabar semua??
      Besok long weekend nih.. meskipun harpitnasnya 2 hari, yaaa.. mana tau teman-teman ada yang memutuskan refreshing aja sejenak, meninggalkan kepenatan pekerjaan yang tak akan pernah ada habisnya. Sebagian rombongan akan mengikuti acara gathering KJJI ke IX di Lombok… nah bagi anggota KJJI yang belum dapat tempat… kemana nih?? Apakah ada yang berencana ke Baduy Dalam? Apa sih yang menarik di Baduy Dalam? Bagaimana rasanya tracking ke Baduy Dalam dan Apa yang menjadi Icon Baduy?? Kebetulan Kami (Saya, @Eka Wibisono dan @Maria Kuntarti) baru saja menaklukkannya… meskipun setelahnya rata2 pada encok dan berjalan dengan “bumi yang tak rata” alias tertatih-tatih selama kurang lebih 2-3 hari (hahaha… gaya bener ya bahasanya “menaklukan”). Saya mau berbagi cerita sedikit nih… Yuk mari kita simak perjalanannya.
      Pagi yang cerah dihari sabtu tanggal 03 Oktober 2015 pukul 06.00 WIB kami ber-12 + 2 tour leader berkumpul di meeting point untuk bersama-sama berangkat menuju desa Ciboleger. Kebetulan kali ini paket yang kami pilih adalah paket yang sedikit berbeda, mengapa berbeda?? Karena bukan perjalanan backpacker yang kami pilih, mengingat rombongan kami dimulai dari usia 26 hingga 63 tahun… Bravo!! Dengan menumpang elf yang kami sewa berikut paket perjalanan 2 hari 1 malam ke Baduy Dalam, kami berangkat dengan menempuh perjalanan selama kurang lebih 5-6 jam dengan 1 kali berhenti di rest area selama 30 menit. Elf kami memilih jalur tol dalam kota, keluar di pintu tol Darmaga menuju ke arah Bogor (Gunung Salak) yang mana menurut supir elfnya, Pak Rudi (tapi bukan Rudi Hadi Sentosa lho yach… hahaha… Peace Rud), lewat jalur Bogor bisa menghemat waktu kurang lebih 3 jam dibandingkan lewat jalur Rangkas. Okay Pak. Kami manut aja dech, soalnya memang belum pernah tau “medan perangnya”.
      Tepat pukul 12.00 WIB kami tiba di desa Ciboleger dengan disambut oleh porter-porter kami yang notabene berasal dari Baduy Dalam (berbaju putih dengan ikat kepala putih) dan ada 4-5 orang porter yang berasal dari Baduy Luar (termasuk 3 orang anak-anak berusia antara 8 – 12 tahun) (berbaju hitam dengan ikat kepala biru) yang akan menemani kami nanti. Total porter kami ada 13 orang (karena semula ada 13 peserta tetapi 1 batal) yang akhirnya 12 porter membawa tas kami dan 1 orang membawa keperluan lainnya seperti air mineral yg sudah kami persiapkan untuk mengantisipasi perjalanan nanti, dll.

      Sambil menunggu menu makan siang yang sedang dipersiapkan, kami pun melihat-lihat sekitarnya dan mengobrol sedikit dengan porter-porter kami. Lihat punya lihat dan lirik punya lirik… eh ada seorang porter yang berseragam putih yang menarik perhatian kami, wajahnya berbeda dari yang lainnya… putih, bersih, hidungnya mancung… namanya Asmin. Kalau kita berandai-andai, Asmin ini mirip sekali dengan aktor dari Hongkong, tinggal didandani sedikit hehehe… banyak juga yang bilang mirip orang Jepang.

      Kang Asmin sempat bercerita kepada kami bahwa suku baduy dilarang menggunakan kendaraan untuk berjalan kemanapun mereka pergi, makanya waktu mereka ke Bandung, mereka menempuh perjalanan selama 7 hari dengan berjalan kaki...(WOW) dan 2 hari ke BSD (Bumi Serpong Damai) dengan menginap dirumah teman-teman mereka. Semua tamu yang pernah mereka antar masuk ke desa Baduy Dalam mereka anggap teman sehingga tidak jarang mereka akan meminta alamat dan nomor HP kepada kita. Bahasa asli suku Baduy adalah Sunda kasar tetapi beberapa dari mereka sudah mulai bisa mengerti Bahasa Indonesia meskipun ada yang masih menjawabnya dengan terbata-bata bahkan belum bisa lancar menangkap dan mengerti Bahasa Indonesia yang diucapkan dengan kecepatan tinggi (ibarat mobil itu gigi 4 hehehe).   
      Setelah kami beristirahat dan makan siang selama kurang lebih 1 jam kami pun bersiap-siap untuk memulai perjalanan kami. Sambil menunggu tour leader kami (Mas Anto) melapor ke Kepala Desa, kamipun berfoto-foto ria… masing-masing peserta berfoto dengan porternya untuk kenang-kenangan, termasuk saya dengan porter saya yang usianya 12 tahun tetapi tubuhnya seperti anak yang berusia 8 tahun, namanya Asda. Bocah lucu yang super energik tetapi cuek (bebek aja kalah cuek) ini lah yang menjadi hiburan saya dan teman-teman selama perjalanan pergi dan pulang.

      Baduy Dalam terbagi menjadi 3 Desa yaitu desa Cibeo, desa Cikartawana dan desa Cikeusik. Perjalanan kami kali ini adalah mengunjungi desa Cibeo, desa yang paling dekat dengan Baduy Luar. Desa Cibeo merupakan desa dari Baduy Dalam yang sudah sedikit terkontaminasi dengan dunia luar (stt… bahkan ada beberapa warganya yang sudah pake HP lho… caranya?? Nyolong2 dibawah meja pakainya…). Sebagian besar mata pencaharian warga Baduy baik Luar maupun Dalam adalah menenun dan berjualan gula aren. Kalau beras, mereka tidak menjualnya, di tanam hanya untuk dikonsumsi sendiri.
      Perjalanan diperkirakan akan ditempuh dalam waktu 4 jam. Untuk dapat mencapai desa Cibeo, rombongan harus melewati sekitar 5-6 desa Baduy Luar yang diantaranya Desa Balimbing, Marangu, Gajeboh dan juga harus melewati Jembatan bambu yang oleh warga setempat disebut Jembatan Temayang serta Tanjakan Cinta. Mendengar namanya pasti terbersit kisah-kisah manis didalamnya sehingga bisa disebut “Tanjakan Cinta”…hehehe… ternyata tidak ada yang tahu silsilah sebutan itu. Oke lah kalo begitu… Let’s Get started.

      Perjalanan dimulai dengan melewati perkampungan di luar Baduy (masih di wilayah Ciboleger) sampai dengan ada portal yang bertuliskan “SELAMAT DATANG DI BADUY”. Perjuangan dimulai. Semua wajah sumringah, ceria, perjalanan ini diisi dengan cerita dan senda gurau dari tiap-tiap peserta. Tamu-tamu yang notabene asli Indonesia diperbolehkan tracking hingga wilayah Baduy Dalam tetapi tidak demikian dengan tamu dari mancanegara. Mereka hanya boleh berjalan hingga Gajeboh saja atau maximum Jembatan Temayang saja. Tidak ada yang tahu alasan maupun cerita dibalik larangan tersebut. Mungkin porter kami kebanyakan anak-anak muda yang sebenarnya hanya mematuhi saja aturan dari kepala suku tanpa banyak bertanya mengenai sejarah-sejarah dan larangan-larangan yang diberlakukan selama ini kepada mereka atau memang dilarang untuk menjelaskan, Entah lah. Tidak ada yang bisa menjawabnya meskipun seniornya sekalipun yaitu Kang Naldi (yang telah banyak pengalaman menjemput dan mengantarkan tamu keluar masuk Baduy Dalam). Menurut Kang Naldi, saat ini jumlah keluarga yang ada di Baduy Dalam sekitar 140 keluarga saja, sisanya tinggal di Baduy Luar. Bukan karena adat yang membuat mereka keluar dari Baduy Dalam tetapi semua tergantung pilihan masing-masing orang. Contohnya Asda (porter saya), Ayah Asda, Kang Herman, yang merupakan penghubung porter dengan travel agent yang kami pakai jasanya saat itu, beliau baru 1 tahun keluar dari Baduy Dalam karena tidak tahan hidup terkukung dengan adat, sedangkan Asda masih tinggal bersama kakeknya di Baduy Dalam pada saat orang tuanya memutuskan tinggal di Baduy Luar. Sekitar 3 atau 4 bulan yang lalu Asda memutuskan ikut orang tuanya untuk tinggal di Baduy Luar. Alasannya simple banget, pindah ke luar karena tidak tahan dengan kakeknya, tiap kali minta uang jajan tidak dikasih… hahaha…. (lucu & polos banget). Semua warga Baduy Dalam taat pada seorang kepala suku yang mereka panggil PU-UN (jadi bukan seperti cerita orang-orang diluar sana bahwa orang Baduy Dalam menyembah Pohon… ngawur ya). Baduy Dalam pun ada periode puasanya tetapi beda dengan periode puasa Muslim.

      Semua peserta tidak ada yang tahu seperti apa tracking yang selama ini disebut-sebut oleh tour leader sedikit berat. Tidak ada yang bisa membayangkan pula seberapa curam bukit-bukit serta tanjakan-tanjakan yang akan dilalui dan dihadapi oleh kami… sejauh ini kami browsing, foto-foto yang diperoleh hanyalah foto-foto perjalanan biasa dengan sedikit bonus perbukitan. Tidak ada sama sekali terbersit dibenak kami bahwa yang menurut warga Baduy perjalanan datar itu adalah seperti berjalan diperbukitan. Tidak ada juga yang menyangka bahwa perjalanan menaiki bukit sedikit itu ternyata ibarat kita menaiki pegunungan… dan tidak ada yang menduga bahwa perjalanan menanjak itu ibarat kita mengarungi pegunungan dengan kemiringan 45 derajat dan bertanah kuning serta berbatu-batu.

      Untungnya saat kami berada di lokasi, keadaan sekitar sedang kering, cuaca tidak lembab dan sudah 4 bulan lamanya tidak turun hujan sama sekali sehingga tidak licin. Jadi kalau hendak mengunjungi Baduy Luar maupun Baduy Dalam amat sangat disarankan mengambil periode musin kemarau yaitu bulan Juni s/d September. Warga Baduy Dalam juga ada kalanya menutup pintu untuk tamu-tamu luar yang ingin berkunjung yaitu pada bulan Maret s/d Mei dikarenakan mereka sedang panen. Bentuk lahan sawah dan ladang orang Baduy cukup menakjubkan, mereka bercocok tanam bukan di tanah yang rata seperti kebanyakan sawah dan ladang yang kita temui didesa-desa pada umumnya. Mereka menanam padi dan lainnya di lahan tanjakan yang kemiringannya sekitar 70 s/d 80 derajat , sehingga pada waktu ada yang bertanya koq gak terlihat kerbau diladang? Jawabannya:  ya gak bisa lah yah… Satu-satunya hewan yang sering dan berkeliaran di Baduy Dalam hanya lah Ayam. Anjing ada yang pelihara tetapi tidak banyak dan mungkin keberadaannya di tengah-tengah desa, soalnya kita tidak melihatnya selama perjalanan hingga Baduy Dalam.

      Sepanjang perjalanan selama kurang lebih 1 jam ditempuh, semua baik-baik saja dan masih enjoy-enjoy saja, terlebih ketika melewati jembatan pertama… beberapa tamu dari rombongan lain bertanya dengan heran, apa benar bahwa kita hendak menuju Baduy Dalam? Jauh lho.. Masih jauh sekali lho.. apalagi ketika mereka melihat rombongan kami ada orang tuanya. Rata-rata rombongan yang kami temui hanya duduk-duduk di jembatan pertama saja, foto-foto, paling jauh mereka menempuh perjalanan sampai di Gajeboh (sekitar 25% dari total perjalanan menuju desa Cibeo), setelah puas akan memutuskan untuk kembali saja ke Ciboleger. Saya jadi berpikir, usia mereka masih pada muda-muda, tapi koq gampang sekali menyerah??

      Menyusuri jalan setapak demi setapak… kampung demi kampung… stamina kamipun mulai sedikit demi sedikit menurun. O iya, jangan lupa berbekal diri dengan tongkat kayu yang kokoh yach, karena itu sangat membantu memperingan langkah kaki. Rasa lelah, nafas tersengal-sengal, wajah lelah, perasaan galau bercampur aduk, karena sudah 4 jam perjalanan tetapi belum juga kami jumpai yang namanya Jembatan Temayang. 5 desa sudah dilewati, beristirahat di desa-desa dan diperkampungan. Turun naik perbukitan dan tanjakan kurang lebih 10 an kali.. Mantap bener…  Sambil terseok-seok kaki melangkah, tibalah di jembatan bambu yang disebut Jembatan Temayang yang kalau menurut saya itu merupakan jembatan terpanjang dan terkokoh selama perjalanan dari luar Baduy karena alas tempat kita berpijak itu terbuat dari batang bambu yang tersusun 2 lapis sehingga benar-benar kokoh dan panjangnya ada sekitar 10-15 meteran. Jika kita sudah melewati Jembatan Temayang, artinya kita sudah mulai meninggalkan kawasan Baduy Luar dan memasuki area Baduy Dalam.
      Nah tiba lah saatnya kita menyiapkan fisik untuk menghadapi medan terberat di hari pertama ini yaitu Tanjakan Cinta… Sungguh-sungguh luar biasa… panjangnya 500 meter dengan kemiringan 45 derajat, benar-benar butuh kesabaran, kekuatan kaki dan jantung, sepatu gunung yang masih bagus banget serta penuh doa agar jangan sampai tergelincir dan terkilir. Benar-benar harus dijaga lho staminanya disini. Dan 1 lagi prinsip yang selalu dikumandangkan oleh Kang Naldi… “Ayo… sedikit lagi… jalan 10 menit lagi medannya datar koq…” hah.. jangan percaya… datarnya hanya 5-10 langkah doank sisanya naik terussss…. Tetapi Tanjakan Cinta memang merupakan tanjakan tertinggi terakhir untuk tiba di desa Cibeo. Sisanya hanya tanjakan-tanjakan kecil saja meskipun kemiringannya tetap terjaga di “skala” 60-70 derajat…

      Karena medan perang yang begitu beratnya, rombongan kamipun terpisah menjadi 4 regu. Setelah Tanjakan Cinta kita akan melewati 4-5 jembatan kecil untuk tiba di desa Cibeo. Regu pertama tiba pada pukul 17.15 WIB, kemudian disusul regu kedua tiba pada pukul 17.30 WIB, regu ketiga 18.00 WIB dan yang terakhir pada pukul 22.15 WIB.
      Tiba di rumah salah satu porter kami yang memang disewa untuk kami beristirahat mengumpulkan tenaga buat tracking esok harinya, kami pun disambut dengan makanan khas suku Baduy. Rumah yang terbuat dari bahan bambu beratapkan daun ijuk atau daun kelapa kering, tanpa jendela dan hanya terdiri dari 1 ruangan untuk tidur sekaligus ruang tamu dan 1 dapur, simple dan sederhana sekali. Setelah bebersih diri ala kadarnya karena memang keadaan sungai sedang kering. Sebagian dari kami sudah mulai “berlayar ke Pulau Kapuk” alias tidur sedangkan ada beberapa yang masih ngobrol-ngobrol juga. Menjelang malam udara sudah tidak begitu gerah, semakin malam, menjelang pukul 01.00 malam, udara semakin dingin, perkiraan kita sekitar 10-14 derajat lah. So amat sangat disarankan membawa celana panjang, jaket dan kain selimut bahkan bila perlu kaos kaki dan sarung tangan untuk tidur. O iya, bagi yang tidak bisa tidur dalam keadaan terang, bisa membawa eye mask juga ya, karena kita tidur ditemani oleh obor yg bahan bakarnya dari minyak sayur. Sayang keadaan sekitarnya tidak bisa didokumentasikan karena memang terlarang, bukan dilarang lho ya… semua terserah kita, kalau nekad silahkan ambil foto, kalau gak ya jangan. Hukuman sesungguhnya sebenarnya bukan dari kepala suku atau penduduk local tetapi lebih tepatnya akan dihukum oleh alam, tahayul sih sebenarnya, tapi ya balik lagi, percaya atau tidak, kalau nekad ambil foto di Baduy Dalam akan menanggung akibatnya sendiri. So Not Recommended lah ya.
      Esok harinya pukul 05.30 WIB sebagian rombongan sudah ada yang bangun dan ke sungai, ada yang sekedar berkeliling-keliling daerah sekitarnya sambil menghirup udara pagi yang masih benar-benar fresh dan lembab karena dingin. Menjelang jam 06.30 WIB kami kedatangan “tamu-tamu” yang membawa dagangannya berupa kain tenun, baju khas Baduy, pernak-pernik, souvenir seperti gantungan kunci, dll. Mungkin memang sudah menjadi kebiasaan warga disana menjajakan barang dagangannya di pagi hari karena “para peserta tracking” tidak akan stay lama di desa mereka mengingat jauhnya perjalanan yang masih harus ditempuh sehingga rata-rata rombongan akan berangkat meninggalkan desa mereka sekitar pukul 08.00 WIB dan paling telat pukul 10.00 WIB. Sambil menantikan sarapan pagi, berbelanja dirumah, kita juga bisa memesan madu asli Baduy Dalam yang katanya enak itu dan Gula Aren.
      Tepat pukul 08.00 WIB rombongan kami mulai bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan, tidak lupa tongkat tetap dibawa ya karena medan yang akan ditempuhpun tidak kalah mengerikan karena kita akan melewati lereng bukit dan tanjakan dan banyak naik turunnya juga, sedikit licin karena bertanah kuning dan berbatu-batu. Jalur yang ditempuh untuk dapat kembali ke desa Ciboleger ada 2 yaitu lewat desa Cijahe dan Jembatan Akar (Icon Baduy Dalam). 2 peserta tracking yang sudah menyerah dengan ditemani oleh 2 porter dan 1 Tour Leader akhirnya memilih menggunakan jalur desa Cijahe, perjalanannya lebih manusiawi, trackingnya lebih landai, perjalanan santai cukup dengan 2-3 jam saja, melewati perbukitan kecil-kecil saja lalu dijemput elf dan diantar ke Ciboleger untuk bergabung dengan rombongan yang melalui jalur Jembatan Akar. Sisanya 10 orang penasaran seberapa jauh dan beratkah perjuangan untuk mencapai Iconnya Baduy itu.

      Kamipun berjalan santai karena masih pagi, dan masih segar meskipun kaki sedikit pegal linu akibat perjuangan kemarin, sambil bercengkerama, bercerita pengalaman semalam tidur di “bilik”, dingin, sunyi dan lain sebagainya. Lewat 1 jam perjalanan, masih santai, hanya naik turun bukit sedikit, itu pun penuh rumput masih belum terbayang nih. Menjelang 1,5 jam, sedikit demi sedikit perjalanan mulai sulit, karena turunannya lebih terjal dibandingkan kemarin dan kebanyakan tanah kuning dan batu kecil-kecil saja. Saya sih lebih memilih jongkok dulu sebelum turun ketimbang nyungsep di tanah nantinya… huff.. beratnya tidak kalah dengan kemarin malah terasa lebih berat karena turunannya cukup curam, ada yang 45 derajat malahan.

      Berjalan sekitar 2 jam akhirnya kita sampai juga pada tanjakan dan turunan berbatu dan bertanah merah lagi dengan jalur “Z” di beberapa titik, telaah punya telaah ternyata itu perjalanan turun sekaligus perjalanan menuju Jembatan Akar, Salah satu Icon yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Baduy karena keunikannya. Apa yang menyebabkan Jembatan ini begitu unik dan dicari oleh tamu-tamu dari luar Baduy meskipun untuk mencapai kesana perjalanannya cukup sulit dan penuh perjuangan serta menguras tenaga ini?

      Jembatan Akar, diberi nama tersebut karena memang jembatan ini terbuat dan terbentuk dengan sendirinya dari akar pohon yang menjulur memanjang dan membentuk anyaman-anyaman sehingga memperkokoh jembatan tersebut. Untuk alas berpijak, ada beberapa batang bambu yang tersusun memanjang dibawah agar kaki yang menginjak jembatan tidak terselip di lubang-lubang “anyaman”. Jembatan akar terbentuk secara alami 10 meter diatas sungai dengan panjang 25 meter ke seberang dan semuanya murni terbentuk dari akar 2 batang pohon yang berseberangan.

      Setibanya di Jembatan Akar semua lega… ada 2 diantara kami yang langsung nyemplung di sungai dibawah jembatan akar yang airnya cukup banyak dan mengalir, secara, dari pagi tidak bisa mandi dan gosok gigi dengan benar. 8 orang sisanya mulai mengeksplore Jembatan Akar untuk berfoto-foto dan bahkan ada yang menyeberang Jembatan tersebut untuk berfoto ria di seberang yang kategorinya mirip hutan dan sedikit rimbun, adem, ada yang hanya berbasuh diri saja karena debu yang menempel di lengan dan kaki.
      Setelah puas mandi, berbasuh diri dan foto-foto, perjalanan dilanjutkan lagi. Tadinya semua orang berpikir akan menyeberangi Jembatan Akar untuk perjalanan kembali ke desa Ciboleger, eh ternyata salah, kami harus berbalik arah dan mengambil jalur disebelah tebing dan menyusuri jalan tanah kuning berbatuan kecil yang lumayan licin meskipun tidak basah sama sekali karena kemiringannya yang cukup curam.

      Berjalan menyusuri tebing dan perbukitan dan lereng bukit kurang lebih 3 jam sampailah kita di desa Cilanggir, di desa Cilanggir ini jalanan sudah sedikit membaik, jalanan berbatuan yang tersusun rapi, sudah tidak ada lagi yang namanya rumput di jalan setapak, tidak ada lagi tanah kuning yang licin tetapi tanjakannya masih sama malahan jaraknya kurang lebih 300 meter dengan kemiringan 50 derajat.
      Nah, sampai disini ada 2 orang dari rombongan kami yang sudah menyerah dan memilih sewa ojek saja ke Ciboleger daripada pingsan dijalan dan di tandu. Ongkos dari desa Cilanggir ke Ciboleger kurang lebih Rp 20.000,- s/d Rp 30.000,-. Beberapa ojek yang dikendarai oleh anak muda bahkan sempat hampir tergelincir motornya karena memilih jalur motor yang tidak berbatuan tetapi berpasir putih kasar dan letaknya disamping lereng. Serem juga sih meskipun naik ojek.

      Tersisa 8 orang peserta + 1 tour leader yang ditemani oleh 10 orang porter (termasuk 3 orang bocah) yang masih meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Tak terbayangkan lelahnya mendaki jalan bebatuan tersebut, untuk mengangkatkan kaki saja rasanya sudah ogah-ogahan. Rasanya kalau diukur, tenaga kami hanya tersisa 25% saja. Tiba lah kami di sebuah warung yang cukup besar (toko terbesar yang pernah kami jumpai disepanjang perjalanan ke Baduy), sambil memutuskan untuk minta elf menjemput kami di warung itu saja, sudah tak sanggup lagi rasanya tuk berjalan. Padahal untuk mencapai desa Ciboleger, masih ada 2 km lagi. Tunggu punya tunggu, elf kami tak kunjung tiba karena masih blm turun dari Cijahe.

      Akhirnya setelah menanti sekitar 30 menit dan waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, atas saran Tour Leader kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki saja agar bisa tiba di desa Ciboleger dengan segera mengingat waktu makan siang sudah pasti terlewatkan. Yuk.. jalan lagi… Jalan… jalan… jalan… sekitar 500 meter mulai lah memasuki daerah beraspal dan disebelah kiri kanan terhampar sawah nan hijau, senangnyaaa… pertanda desa Ciboleger semakin dekat. Bagi kami orang kota yang terbiasa berjalan di jalan datar beraspal adalah suatu hal mudah meskipun jauhnya 2 km, tetapi bagi orang Baduy itu sangat menyiksa apalagi ditengah terik matahari dan mereka juga berjalan tanpa mengenakan alas kaki, tentunya terasa panas, lelah dan menjengkelkan (itu pengakuan salah satu porter kami). "Rasanya gak sampai-sampai ke tujuan Bu, Capek. Tapi kalau berjalan menanjak dan di tengah hutan itu rasanya adem dan tenaga kita seperti dipacu dan makin menanjak semangat kami makin bertambah ". Nah lho...??? Yaaa... mau gimana lagi ya??

      Selagi berjalan saya memperhatikan bukit di sebelah kiri kami dan melihat di atas bukit tersebut samar-samar terlihat rumah-rumah penduduk di atas bukit tersebut, kemudian saya bertanya ke salah satu Porter kami, "itu Baduy Dalam ya?" dan si Akang menjawab "bukan bu, itu baru Baduy Luar..." Seperti tak percaya saya tanyakan lagi sama Asda dan jawabannyapun sama, "Itu Baduy Luar" Astagaaa... Sampai terpana saya mendengarnya, ternyata dari kemarin kita sudah menaiki perbukitan setinggi itu dan bahkan Baduy Dalam lebih tinggi lagi letaknya. Amazing!!!

      Sampai sekitar 1,5km, jalanan mulai menanjak lagi, tapi kali ini adalah tanjakan terakhir yang panjangnya sekitar 300 meteran dengan tingkat kemiringan 50-55 derajat lah kira-kira. Ketika kami menjumpai bangunan sederhana berwarna hijau, dan berbentuk masjid, hati pun senang karena desa Ciboleger sudah didepan mata. Beberapa yang telah tiba dilokasi terlebih dahulu langsung menuju rumah dibelakang warung tempat kami makan siang, kemudian rebahan diteras rumah melepas lelah dan kemudian bersiap-siap mandi dan berangkat pulang ke Jakarta. Sebelum masuk elf, Kang Asmin memberikan ke salah satu anggota kita gula aren untuk oleh-oleh. Makasih Kang Asmin. (^_^)
      Berakhirlah sudah Perjuangan kami… Sedih, senang, susah telah kami lalui semuanya. Semuanya terasa indah selama perjalanan, pengalaman yang tak kan pernah terlupakan, Patut diacungi jempol kepada Bapak-Bapak yang usianya sudah lebih dari 50 tahun, tetap bersemangat meskipun sudah letih sekali. Semua rasa letih dan penasaran terbayar sudah. Terima kasih kami ucapkan tuk porter-porter kami khususnya Kang Naldi, Kang Asmin, Kang Ajun, Asda dan 9 porter lainnya yang tak sempat aku kenal. Keramahan, kesabaran dan semangat kalianlah yang menyemangati kami.
      Sedikit informasi penting untuk perjalanan ke Baduy Dalam:
      -          - Jangan mengambil foto, dilarang menggunakan sabun, detergen, pasta gigi dan lainnya yang mengandung bahan-bahan kimia yang bisa merusak alam.
      -          - Dilarang membuang sampah sembarangan, karena warga suku Baduy amat mencintai kebersihan dan keasrian alam. Jadi bawalah kantong sampah sendiri dari jakarta.
      -       - Jangan lupa bawa senter (karena jarang ada yang menjual senter diBaduy), tuk kebutuhan di jalan andaikan kemalaman dan apabila hendak ke Sungai di malam hari & air minum secukupnya saja, karena disetiap kampung atau desa pasti ada warung kecil yang menjual air mineral dan harganya Rp 3.000,- s/d Rp 5 000,- saja 1 botol yang ukurannya 600 ml.
      -       - Bagi yang tak terpisahkan dari HP silahkan, ternyata signal dari beberapa provider bisa menjangkau sampai ke Baduy Dalam, tapi pakai HP nya hati-hati ya, jangan sampai kepergok sesepuh Baduy Dalam.
      -          - Harga indomie semangkok Rp 5.000, kopi secangkir Rp 3.000,-
      -          - Harga baju  khas Baduy berkisar dari Rp 90.000 s/d 200.000,- (bahannya tebal dan bagus), celana pangsi (7/8) Rp 90.000,- selendang panjang kurang lebih 1.75 meter Rp 100.000,- kain 2x2 meter Rp 200.000 s/d 250.000,- semua asli tenunan penduduk local.
      -          - Harga Madu botol kecil Rp 50.000,- botol besar Rp 100.000,-
       
    • By Hildree Takizawa
      holla.. semua nya
       
      saya kembali dan masih dengan report dan pengalaman ..hmm lebih tepat nya sih hoby saya makan di tempat ini (hehe..ehhe) abis makanan nya enak-enak dan bikin ketagihan kalo belom kenyang masih saja asyik menikmati jajan yg ada di sepanjang jl.kisamaun ini.

      salah satu sudut jajanan pasar
       
      Konon Pasar Lama Tangerang ini adalah salah satu daerah Pecinan di salah satu sudut kota tua Tangerang (Tapi emang bener karna di sini banyak cina bentengnya..termasuk saya juga cina benteng ).
       
      Tak heran memang saat saya berkunjung ke sana seringa ada sekelompok pemain barongsai kebetulan lewat. memang pekerjaan mereka sehari hari bermain barongsai, entahl! Saya sedang tidak meliput sisi budaya Tionghoanya, mungkin lain waktu saya akan kesana khusus untuk  itu.
       
      Saat ini saya ingin bercerita soal citarasa kuliner di Pasar Lama yang banyak ragamnya.  Kuliner pasar tradisonal tentunya dengan harga murah terjangkau. Di Pasar Lama ini sangat terkenal kuliner jajanan pasar yang walau makannya juga dipinggir jalan dengan modal kursi plastik saja. Tapi soal rasa kata pak Bondan maknyussss…dan beliau memang pernah berkunjung ke sana, konon ceritanya begitu yang saya dengar.
      Salah satu kuliner yang sempat saya nikmati adalah nasi ayam bakar disuir-suir..hmmm aroma daun pembungkus yang terbakar merangsang nafsu untuk segera melahap habis isi bungkusan tersebut. tetapi makanan favorite saya adalah asinan sewan dan siomay sewan,Sesudahnya biasa ditutup dengan desert es podeng yang membuat lidah tetap menjilat-jilat sendok untuk mendapatkan sisa tetes es podeng sampai yang terakhir…hmmm sslruuppp gleqk …
        Kuliner yang ada di sana antara lain nasi bakar, pempek, toge goreng, ketoprak, bakso, bubur ayam, otak-otak, bakso, martabak, asinan, juhi, laksa, es podeng bahkan gulali. Banyak sekali, saya tak terlalu hapal nama namanya (saking banyak nya). Kenikmatan kuliner di Pasar Lama ini sudah terkenal dari mulut ke mulut sebab yang namanya jajanan pasar pastilah tanpa iklan yang mempromosikan enaknya makanan.
       

      ini asinan kesukaan aku
       

      Setelah bumbu di aduk nich ..
       

      es podeng sebagai makanan penutup
       
      Iklan mulut ke mulut jauh lebih efektif dan terbukti sangat menggoda untuk datang segera ke Pasar Lama. Taruhlah saya juga sedang mempromosikan Pasar Lama ini sebagai salah satu lokasi yang wajib dikunjungi untuk berwisata kuliner jika kebetulan Anda datang dimari dijamin Anda tidak menyesal..suerrrr!
       
      Anggaplah ini salah satu ajakan untuk ikut melestarikan kuliner tradisional Nusantara dari serbuan makanan luar seperti fastfood yang junkfood. Kalau bukan kita yang mempopulerkan makanan tradisional Nusantara siapa lagi? Lihat saja para pewaralaba yang menggurita membuka outlet outlet mereka bahkan sampai ke kota kota kecil di daerah. Saya termasuk salah satu penggemar kuliner Nusantara dibandingkan fasfood manapun. Selain memang harganya yang tak menguras kantong, kuliner Nusantara sangat cocok di lidah saya.
        Dan makan disini selalu padat dan ramai baik siang atau pun malam hari dan skrg pedagang nya juga bertambah banyak dan ragam nnya.dari yg halal sampai non halal lengkap dech pokoknya.  
    • By Titi Setianingsih
      Selamat siang JJ'er,,,!!
      Memenuhi permintaan seorang kawan, sebut saja Kang Mitro, yang kepingin ke Danau Cibiru Desa Cigaru Kecamatan Cisoka Kabupaten Tangerang Propinsi Banten, berikut ini tulisan saya ketika melakukan perjalanan ke sana.
      Danau Cibiru yang lagi ngetrend itu memang membuat penasaran teman2 saya, sehingga sudah sempat saya posting di facebook KJJI sekalian janjian siapa2 yang mau ikut kesana. Sebenarnya sudah dapat petunjuk jalan ke Danau Cibiru dari seorang teman, dan kami sudah berniat untuk order Grabcar, tapi ketika rombongan Ci Maya Sartika sudah duluan kesana, akhirnya kami ikutin cara dia mencapai Danau Cibiru yang ternyata lebih efisien.
      Ada 2 (dua) macam kereta yang bisa kita naiki untuk menuju Stasiun Tiga Raksa, sebagai stasiun akhir menuju Danau Cibiru :
      1. KRL dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun akhir Maja turun di Stasiun Tiga Raksa.
      2. Kereta Lokal dari Stasiun Duri menuju stasiun akhir Rangkas Bitung turun di Stasiun Tiga Raksa.
      Kedua kereta itu bisa stop di Stasiun Tanah Abang / Palmerah, jadi silahkan mau bikin meeting point dimana ?
      Tapi jangan keliru naik kereta ya ? Teman kami kemarin beli tiket kereta lokal naiknya KRL (karena teman2 lainnya naik KRL), jadi begitu keluar stasiun kena finalty Rp. 50.000,- nahh looo lumayan kan ? Bisa buat ke Danau Cibiru 2x deh,,??
      Nah sesampainya di Stasiun Tiga Raksa, kami sewa mobil angkot, PP Rp. 150.000,-. Ini nomor handphone Abang Supirnya 085313535857, namanya Bang Udin. Karena kami foto2nya lama maka Bang Udin kami kasih tambahan buat makan siang dan beli rokok. Begitu masuk Desa Cigaru, mobil kami dimintai retribusi Rp. 10.000,- dan parkir mobilnya Rp. 5.000,- Jadi share cost kemarin hanya Rp. 22.000,-

      Sangat murah jika kita menggunakan kendaraan umum ya ? Tapi kalau kesananya sendiri atau berdua, bisa juga dilakukan dengan menggunakan ojek dari depan Stasiun Tiga Raksa, menurut informasi teman, ongkos ojek menuju TKP Rp. 50.000 PP. Dan kalau mau naik kendaraan sendiri, patokan gang masuknya itu dari SMA N 8 Tangerang, kalau sudah disitu tinggal tanya arah menuju Cigaru Cisoka.
      Kaya apa siy penampilan Danau Cibiru yang sedang naik daun itu ? Ini beberapa foto yang berhasil saya ambil.


      Jumlah danau ada 3, foto di atas merupakan danau yang paling dangkal dan paling lebar, sehingga di danau ini disediakan juga perahu kayu untuk berselfie. Bahkan kemarin juga ada yang sedang melakukan pemotretan untuk pre wedding dengan naik perahu. Tapi berdasarkan info beberapa media, danau ini pernah diteliti tingkat keasamannya ternyata airnya sangat asam, jadi akan berbahaya jika kena kulit langsung. Kalaupun memaksa akan naik perahu, pastikan kita tidak terjatuh kedalam air. Kalau saya karena tidak bisa berenang ya pilih tidak usah naik perahu, cari amannya kan ? Warna air di danau ini hijau, beda dengan warna air danau yang ada di sebelah kanannya cenderung berwarna biru toska.



      Nah, yang di atas berwarna biru kan ? Disinyalir karena didalam danau tersebut terdapat algae yang jika kena sinar matahari akan memantulkan warna algaenya. Tapi menurut warga setempat kalau pagi hari air danau berwarna kecoklatan. Karena perubahan warna inilah, ada sebagian warga menganggap danau ini punya keajaiban, dan menganggap airnya bertuah sehingga ada beberapa orang yang suka mengambil air danau untuk tujuan pengobatan. Kalau ini sudah musyrik ya ? Saya tidak ikutan....

      Ini danau yang ketiga, yang berada di paling ujung, diperkirakan kedalamannya sekitar 20 meter, sangat dalam ya ? Jadi sangat berbahaya jika ada yang mau mencoba berenang, itulah sebabnya di depan danau ini sudah ada tulisan yang berisi larangan untuk berenang di danau. Cerita lainnya muncul dari Abang Supir, gundukan tanah yang ada di tengah danau tersebut katanya merupakan tempat berdirinya Dewi Kwan Im (ada2 saja?).  Bagi kami, tanpa ada cerita mitospun akan tetap hati2 dan menghargai alam kok.

      Kalau dari kejauhan danaunya akan nampak seperti ini, dengan berdampingan begini membuat makin nyata perbedaan airnya. Ini benar2 masih asli, belum ada fasilitas umumnya, hanya warung2 dari bambu sederhana sebagai tempat istirahat sambil melepas haus. Ya,,,,cuaca memang panas sekali disini, dan kami sengaja datang di siang hari karena supaya hasil foto2nya bagus dan cerah. 


      Di foto atas nampak kan kondisi warung2 tempat jualan makanannya ? bahkan nampak kumuh, tapi karena hanya itu yang ada maka kamipun menikmatinya dengan suka cita sajian ketoprak, gado2, mir goreng, bakso dll. Apalagi ketika tahu di warung itu ada colokan buat ngecharge handphone, maka kamipun saling berebut tempat, gak sabar mau upload foto2 kami....xixixixi


      Agak tidak masuk akal ketika kami tahu bahwa tempat yang cantik ini adalah bekas galian pasir yang ditinggalkan warga selama hampir 7 tahunan ini. Ternyata begitu turun hujan, airnya memenuhi lobang bekas galian dan tetap tinggal disitu. Sehingga ada yang mensinyalir kalau di tempat ini terdapat sumber airnya. Kemudian diperoleh keterangan kalau jaman dulunya, di tempat ini memang terdapat 3 buah sumur sebagai tempat mandi para Wali. Ketika Abang Sopir masih asyik bercerita, sampailah kami di stasiun Tiga Raksa kembali, sehingga cerita tadi menyisakan rasa penasaran kami.
      Hanya ini saja yang bisa disampaikan kawans, jangan lupa properti nya ya : payung, kacamata hitam, kain bagi yang akan duduk2 di pinggir danau, jika perlu masker karena banyak debu disana. Kalau masih punya waktu, bisa minta tolong Abang Supir untuk antarkan ke tempat lainnya di sekitar Cisoka, tentu saja dengan tambahan tipsnya dooong ?
      Selamat mencoba menikmati indahnya Danau Cibiru.
      Salam jalan2 Indonesia.....!!
    • By nichenk
      hai, saya anggota baru di komunitas ini. may tanya, rute dan budgetnya ke pulau 345 di banten gimana ya? kalau pake kereta.
    • By 3polxin
      Halo kawan2 jalan2.com

      Salam kenal dari Tangerang yah..... :)
    • By kimcheeGH
      Museum Seni Seoul ( Seoul Museum of Art , a.k.a SeMA) mempersembahkan "Pameran Special Animasi DreamWorks". Kesempatan untuk bertemu dengan Po dari Kung Fu Panda , bercanda dengan Shrek dan Donkey dari Shrek dan bahkan mungkin melatih naga  dari (how to train your dragon).

      Dengan pameran ini ,, SEMA memperkenalkan kepada pengunjung , dunia yang sering tidak terlihat . Kunjungi dan lihat lebih dalam proses kreatif dari Animasi DreamWorks. Menjadi pameran animasi terbesar di dunia , menampilkan seluruh proses kreatif dan behind the scene dari hit internasional tercinta seperti Shrek , Kung Fu Panda , Madagaskar , How to train your dragon , dan banyak lagi . Ada ratusan potongan gambar , dari konsep, untuk papan cerita , model karakter 3D , model set , lembaran musik untuk film, dan masker .

      Pameran Animasi Dreamworks memiliki pengalaman digital yang sangat interaktif, termasuk simulator di mana Anda dapat membuat gelombang dan poser wajah yang memungkinkan pengunjung untuk membuat ekspresi wajah dan mentransfernya ke karakter animasi . Puncak pameran besar mungkin saja apa yang akan Anda lihat di akhir pameran : simulasi naga. Perjalanan panorama interaktif di belakang Toothless , naga dari "How to train your dragon" , membawa Anda pada adrenalin berbahan bakar naik seolah-olah Anda benar-benar melaju melalui awan tinggi di langit , menghadap desa Viking Berk .

      Pameran ini berlangsung dari 30 April- Agustus 15 tahun 2016 ini. Walaupun pameran ini selalu ramai, tetapi jangan resah karena ada banyak waktu untuk mengunjunginnya sebelum pamerannya berakhir. Untuk informasi lebih lanjut bisa klik disni -> website. Websitenya hanya ada dalam bahasa korea , mempunyai teman korea dapat menolong anda akan sangat berguna untuk membaca informasi di website.
      Pameran bisa d lihat setiap hari Selasa- Jumat , pukul 10 pagi- 8 malam. Akhir pekan dan hari libur pukul 10 pagi- 7 malam. Hari Selasa di inggu ketiga bulan pameran terbuka dari 10 pagi- 10 malam, museum ini tutup pada hari Senin .Harga tiket adalah sebagai berikut : Regular ( 19 thn + ) ₩ 13.000 , Youth ( 18 yrs atau lebih muda ) 10.000 won, Anak ( 7 ~ 12 tahun ) 8.000 won .

      Untuk sampai ke Museum of Art tidak terlalu rumit jika Anda memiliki peta terpercaya . Naik kereta bawah tanah ke City Hall Station ( jalur kereta bawah tanah 1 , 2 ) dan keluar di pintu keluar 1 , 11 atau 12 adalah cara terbaik dan termudah untuk sampai ke sana . Stasiun Seodaemun ( subway line 5 ) keluar di pintu keluar 5 juga merupakan cara yang baik untuk sampai ke sana , tapi City Hall Station adalah lebih mudah untuk menavigasi ke museum ini.
    • By Endar
      Halo Bro/Sis,
      Saya mau share tentang pulau Tunda, pulau yang ada di utara Serang.
      Pintu gerbang pulau ini dermaga Karangantu, kondisinya ga jauh beda sama Muara Angke. Dari Karangantu ke Tunda sekitar 3 jam naik perahu nelayan. Ada juga perahu reguler. Kalau kesini mesti banyak orang karena sewa perahu cukup mahal atau ikut open trip.
      Kegiatan di pulau Tunda kita bisa snorkeling, tracking pulau tapi tidak ada pantai dengan pasir putih di sana, mancing, atau kalau lagi musim lumba-lumba bisa lihat langsung dari dermaganya. Disana banyak homestay, kadang rumah warga setempat dijadikan homestay. Listrik hanya malam saja, itu pun sampai jam 12.
      Berikut beberapa foto disana.
       

      Senja di dermaga utara

      Ketemu Dori

      Karang meja masih terjaga, lokasinya agak dalam jadi ga gampang keinjak.


       
      Malam di dermaga selatan, tempat warga sekitar kumpul.

      Mancing dengan layang-layang. Masih bisa dilihat disini,


       




       
      Terumbu karang di pulau Tunda, dominasi hardcoral

      Nemo + Anemon
      Salam lestari,
      Endar
       
      Mas @deffamoderator yang baik, postingan ini bisa dipindah dari Jawa Barat ke Banten ga?
      Sepertinya saya salah lokasi.. >.<