Jump to content
Forum Jalan2.com - Silahkan Berbagi & Bertanya Tentang Tujuan Wisata Anda
  • agoda-hemat.png

Sign in to follow this  
Vara Deliasani

Review : MEININGER HOTEL. Hotel Murah Tapi Ga Murahan di Eropa

Recommended Posts

Pada saat akan berlibur ke Eropa salah satu kekhawatiran bagi sebagian besar orang adalah masalah budget, terutama hotel. Banyak yang khawatir bahwa hotel yang nyaman dan full private di Eropa akan memakan biaya yang cukup besar. Ini juga yang menjadi concern gw pada saat berlibur ke beberapa negara di Eropa beberapa bulan lalu. Maklumlah gw salah satu traveller "manja" yang males jalan jauh dari hotel ke stasiun atau halte, males kalau harus butuh waktu lama ke tempat wisata, ga bisa sharing kamar mandi dan kamar dengan orang yang ga dikenal, dan berbagai kemanjaan lainnya :terharu (Yaaah gw emang traveller rempong)

Beruntunglah gw pada saat brwosing menemukan hotel yang sesuai dengan keinginan gw tapi dengan harga murah. Kamar dan kamar mandi privat, lokasi persis di depan stasiun kereta, deket kemana-mana, yang penting HARGANYA MURAH!!!!

Nama hotelnya MEININGER, logonya gampang banget dikenalin.. Huruf M dengan warna merah dan putih.

 unduhan.png

 

Usut punya usut ternyata Meininger ini ada di 10 kota di Eropa, antara lain Amsterdam, Berlin, Vienna, Brussels, Frankfurt, London, Munich, Salzburg, Munich dan London. Gw sendiri baru mencoba hotel di 2 kota, yaitu Berlin dan Vienna.

Di berlin terdapat 4 cabang Meininger, sedangkan di Vienna terdapat 3 cabang. Untuk di berlin gw memilih menginap di Meininger Alexanderplatz, untuk di Vienna di Meininger Hbf (Central Station). Pemilihan cabang gw sesuaikan dengan itinerary yang telah disusun sebelumnya.

 

1. Meininger Alexanderplatz (Berlin)

cita.jpg

niatnya mau foto tampak depan hotel tapi ternyata banyak model dadakan. hahaa

 

Meininger Alexanderplatz lokasinya persis di depan U Senefelderplatz (U-Bahn Station). begitu keluar ngeliat ke kanan langsung keliatan hotelnya.. cukup nyeberang 10 langkah udah sampai di lobbi hotel.

MEININGER_facebook_800x671px-alex.png

Gw ga sempet foto lobbi hotelnya jadi gw ambil fotonya dari website Meininger. Fotonya emang dari tahun 2008 tapi kondisinya masih persis sama dengan kondisi pada Maret 2016 kemarin. Jadi hotelnya benar-benar terjaga kebersihan dan perawatannya.

Karena gw jalan ber 4, akhirnya diputuskan untuk ambil Quadruple Room dengan Private Bathroom. Didalam kamar terdapat 2 tempat tidur tingkat, 1 buah meja dan 2 buah kursi, 1 lemari dan kamar mandi yang cukup luas. Peralatan mandi dan hair dryer juga disediakan. (tapi ga tersedia sikat gigi dan odol yaaa)

    berlin 3.jpg

berlin 4.jpg

20160305_160916.jpg

berlin 1.jpg

 

Gw booking sekitar 2 bulan sebelum berangkat. Kebetulan dapat harga yang cukup bersahabat, 60 Euro permalam buat ber 4. atau sekitar Rp 870.000 untuk kamar ber 4. Sehingga kita hanya membayar 218.000/orang. Lumayan bangeeeeeetttt kaaannn!!!!!!

Screenshot_2016-07-28-10-00-43.jpg

Harga tersebut di atas belum termasuk sarapan. Kalau mau sarapan di Hotel bisa tapi dikenakan biaya 6.9 Euro/Orang. Pilihan menu sarapan lumayan lengkap dan enak. kita sampe ngebekal buat di jalan. hahaha.

Butuh ngebekal buat lunch juga bisa... tinggal pesen di hotel seharga $,5 Euro/bungkus. Lumayanlah buat makan siang kalo harus nyambung jalan jauh.

berlin 5.jpg

 

2. Meininger Hbf (Vienna)

meininger-hotel-wien.jpg

Sama seperti di Berlin, untuk di Vienna gw booking Meininger juga. Kali ini memilih yang deket stasiun utama karena kita sampai di Vienna pagi banget dan langsung pengen menjelajah kota, mengingat besok paginya harus terbang ke Italy.

Sama seperti di Berlin, Meininger Hbf ini cuma selemparan dari stasiun kereta. Begitu keluar stasiun jalan sekitar 20 langkah udah sampai deh di hotel.

vienna 1.jpg

vienna 2.jpg

Gw booking Quadruple Room (karena kita ber4) dengan private bathroom. Bedanya kali ini tempat tidur terdiri dari 4 tempat tidur single (bukan bunk bed).

Peralatan mandi dan hair dryer juga disediakan. (ga tersedia sikat gigi dan odol yaaa)

vienna 4.jpg

berlin 2.jpg

Harga juga sama dengan di Berlin, yaitu 60 Euro semalam untuk ber 4. Sehingga kita hanya membayar 218.000/orang. 

 

Screenshot_2016-07-28-10-05-19.jpg

Harga segitu itu dapat private room di lokasi yang strategis banget. Cuma ga termasuk breakfast yaaa.. Kalau mau sarapan di Hotel bisa tapi dikenakan biaya 6.9 Euro/Orang. Ngebekal lunch? Bisa.. pesen di hotel seharga 4.5 Euro/bungkus.

Gw sih ngerasa puas banget selama nginep di Meininger ini.. dan pastinya kalo ke Eropa lagi bakalan booking di hotel yang sama. Harganya terjangkau tapi fasilitas nyaman dan lokasi strategis.

Buat yang mau jalan ke Eropa semoga review kali ini bisa membantu memberikan alternatif hotel selama disana. :kesengsem

 

Share this post


Link to post
Share on other sites
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By Putra Buana Wira
      Pernah ngelirik satu iklan di Google tentang Airy Rooms, mengklaim bahwa mereka punya banyak promo. Tertarik sih, tapi aku ngga pernah percaya dengan promo-promo online yang too good to be true. Trik marketing kan sama aja. Mereka akan menaikkan harga sebelum akhirnya dipotong dengan “diskon”. Sama juga dengan e-commerce online; belum tentu harga yang diberikan adalah benar-benar harga “promo”.
       
      Suatu hari, aku pernah lagi butuh banget tiket pesawat untuk urusan kerjaan, kira-kira bulan Januari lalu. Sempat panik cari tiket pesawat karena harus ada di venue keesokan harinya dan sudah sore. Karena kantorku pakai sistem reimburse, aku juga harus mikir harga tiketnya karena saat itu adalah tanggal tua. Panik karena tiket pesawat di beberapa platform terkenal sudah hampir habis dan menyisakan tiket yang harganya berjuta-juta. Duh!
       
      Akhirnya melirik ke Airy. Bisa dibilang Airy ini adalah pendatang baru dalam hal per-tiket-an, kan? Sebelumnya, Airy lebih dikenal sebagai penyedia kamar hotel yang murahnya ngga masuk akal, menurutku. Hahahahaha. Jadi ngga pernah pesan di sana, takut zonk.
       
      Anyway, balik ke tiket pesawat. Akhirnya aku melirik ke Airy dan melihat daftar tiket pesawatnya dengan hopeless. Hasilnya? Yaa, bener. Akhirnya benar-benar terkejut.
       
      Kecewa kok ngga dari awal aku melihat list tiket dari Airy! Kan jadinya ngga perlu panik! Harga tiket yang sama, penerbangan yang sama, bisa lebih murah di Airy! Kebetulan lagi, mereka punya promo yang iseng aku coba dan ternyata BERHASIL! Asli, aku girang banget! Logikanya, kalau harga mereka udah lebih rendah dari yang lain, pun dikasih promo jadi lebih murah, berarti mereka diskonnya ngga tipu-tipu! Wah. Salut banget sama Airy!
      Setelah booking dan bayar, tiket pesawatnya agak delay. Kira-kira setengah jam. Lumayan deg-degan tuh. Tapi positive thinking aja, mungkin sistemnya yang lagi heavy load. Setelah setengah jam, e-ticket masuk ke email, langsung ploooong! Kerjaan aman, kantong pun aman. Hehehehe.
      Langsung aja nih penampakannya :

      Sembari tadi menunggu e-ticket, aku sempat browsing-browsing kamar Airy. Kepo juga setelah disodori tiket pesawat murah. Kok banyak review pengalaman menginap dari blogger-blogger yang bilang kamarnya bagus, memuaskan, dan lain-lain. Sepertinya lumayan nih untuk dicobain. Gimana-gimana, produk utamanya Airy Rooms kan kamar hotelnya ini. Bahkan ada beberapa hotel yang ada kolam renangnya! Bayangin, kamar hotel harga dua ratus ribuan, dapat fasilitas kolam renang! Wagelaseh!
       
      Buat yang lain, ngga usah mengulangi kepanikan yang aku alami kemarin, ya! Rugi waktu dan energi. Mending langsung cek harga di Airy. Udah jaminan paling murah dan banyak promo, terus Airy nggak mengecewakan pula. Tapi aku tetep nyesel sih, kenapa aku baru tau ada Airy sekarang-sekarang ini? Harusnya tau Airy dari dulu doong hiks.. Kan jadi bisa hemat dari dulu. Tapi yasudahlah, yang lalu biarlah berlalu, yang penting adalah melihat ke depan, semoga ke depannya harga Airy masih murah terus dan banyak promonya.
    • By hanarai
      Halo, fellow traveler!
      Jadi aku dan temen-temen menjual reservasi Ketapang Indah Hotel, Banyuwangi pada tanggal 26-28 Februari 2019 (2 malam), free breakfast.
      Harga dijual di bawah 400.000, sedangkan di traveloka di jual 519.000.
      Kenapa kita jual tiket kita? Awalnya kami berniat untuk trip ke banyuwangi sebelum masuk kuliah di akhir februari ini. Tetapi ternyata liburan kami dimajukan menjadi di pertengahan februari sedangkan kami sudah membeli tiket hotel dan tiket kami unrefundable...
      Hotel ini memiliki akses langsung ke pantai dan dekat dengan stasiun banyuwangi baru. Tidak hanya itu, hotel ini memiliki rating yang sangat tinggi (8.9) di Traveloka. Sangat cocok menjadi penginapan Anda selama di Banyuwangi. Jika anda ingin mencari tahu lebih tentang hotel tersebut, bisa dilihat di www.ketapangindahhotel.com
      Bagi kalian yang berencana atau kenal orang yang akan pergi ke banyuwangi, sangat bisa mengambil penawaran dari kami. Dipastikan kami menawarkan harga yang terbaik. Jika kalian tertarik, bisa segera hubungi saya. Penawaran ini bagi orang-orang yang serius. Terima kasih atas perhatiannya, selamat berlibur! 
       
      Best Regards, 
      Hana.


    • By Inder
      Hi guys, Ada yang mau ikut join spring west europe april 2019. Saya rencana ingin jalan jalan ke eropa barat : belanda, prancis, spain, jerman, swiss mgkin kalau cukup bisa nambah italy dan praha di ceko. Mengapa harus bulan april? karena pada bulan ini pas bunga tulip lagi bermekaran di belanda dan suhu di eropa agak sejuk buat jalan jalan. Trip ini murni sharing cost. Penginapan bisa pakai airbnb/hostel tergantung mana yang lebih murah. flight landing di zurich swiss dan balik via zurich.
      Start berangkat 12 april, return 28 april 2019. Saya sdh beli tiket etihad 7,2 juta jkarta zurich pp
      Day 1 zurich tgl 13
      Day 2 milan
      Day 3 dan 4 naik psawta dr milan ke malaga spanyol. Terus explore granada dan cordoba
      Day 5 barcelona
      Day 6 paris
      Day 7-8 belanda
      Day 9 koln
      Day 10 strasborg dan colmar, lanjut praha
      Day 11 praha
      Day 12 praha
      Day 13 interlaken
      Day 14 luzern balik ke zurich
      Day 15 terbang ke tanah air
       
      yang minat bisa japri saya by WAG/LINE 085648698248
      Indra
      best regards.
    • By norma sofisa
      Halo Jalanerss,
      Ini lanjutan cerita saya kemarin di Polandia. Monggo disimak!
      Pernahkah kalian menginap di hostel?
      Pengalaman pertama tidur di hostel saya alami sewaktu mengunjungi Kraków.
      Sebagai traveler pemula, saya mempersilahkan Kim untuk memilih penginapan selama di Polandia. Tentu saja selanjutnya, kami akan mengecek bersama dan memutuskan apakah tempat itu cukup oke dari segi lokasi, fasilitas, dan harga.
      Hostel tersebut hanya memiliki dua atau tiga kamar yang masing - masing diisi 4 hingga 8 orang atau 2 sampai 4 tempat tidur bertingkat per kamar. Kami sampai pada pukul 11 malam dan ternyata seluruh tempat tidur terisi. Semua penghuni kamar ada yang sudah tidur dan posisi saat itu, lampu telah dimatikan. Saya dan Kim hampir tidak bisa melihat apapun karena beberapa orang keberatan jika kami harus menyalakan lampu.

      Bagian terlucu sekaligus terparah adalah sepanjang malam saya hampir tidak tidur karena masing - masing penghuni kamar (selain kami lho ya!) mulai mendengkur bersahut-sahutan hingga pagi. Menurut rencana awal kami akan menginap di hostel ini selama 2 malam, namun saat sarapan kami bertekad untuk pindah hostel. Kim menemukan sebuah hostel dengan fasilitas kamar pribadi untuk 2 orang dan dekat sekali dengan pusat kota di kawasan Old Town dengan tarif 20 Euro per malam. Saya dengan mantap mengiyakan karena lelah dengan suara orkes tenggorokan tanpa jeda sepanjang malam itu. Tak lupa kami pamit dengan penjaga hostel sebelum pergi. Agak percuma sebenarnya, karena dia tidak lancar juga berbahasa Inggris. Kelak, pengalaman hostel ini akan menjadi joke yang tidak akan tergantikan sepanjang masa antara Kim dan saya.

      Kami harus setengah berlari ke stasiun agar tidak terlambat mengejar kereta ke Auschwitz. Saya melirik tiket saya, menurut jadwal kereta akan berangkat pada pukul 09.10 pagi. Tepat pukul 9 kami sampai ke stasiun. Cobaan kedua kembali menghampiri karena tidak terdapat papan yang memuat tulisan nomer peron. Hanya ada list kereta dengan nama tujuan dan jam keberangkatan. Herannya, kami tidak menemukan kereta yang akan diberangkatkan pada pukul 09.10 di layar. Lagi - lagi tidak ada satu pun petugas yang bisa ditanya.
      Dengan langkah tergesa-gesa, saya memutuskan untuk naik ke salah satu peron dan mengecek kereta mana yang sekiranya siap berangkat. Saya melihat ada satu kereta di peron seberang. Spontan saya berkata kepada Kim untuk menuju ke arah kereta tersebut. Kemungkinan besar ini adalah kereta kami, meskipun jam keberangkatan yang tertera tidaklah cocok. Selain itu, ada beberapa petugas di dekat kereta yang bisa ditanya, pikir saya.
      Kami pun menghampiri kereta, berusaha untuk bertanya apakah kereta ini menuju ke Auschwitz. Petugas ini, sekali lagi tidak bisa berbahasa Inggris. Kami sudah cukup putus asa, bayangan ketinggalan kereta sudah pasti menjadi kenyataan, hingga akhirnya muncul seorang petugas perempuan yang meminta kami masuk ke kereta tersebut. Kami mengikutinya dan di dalam gerbong itu ada empat orang lainnya yang telah duduk disana.
      Petugas itu berbicara dengan  salah seorang penumpang perempuan berambut pirang. Perempuan ini ternyata orang Polandia juga yang puji syukur alhamdulillah, bisa berbahasa Inggris.
      "Kereta ini tidak menuju Auschwitz. Entah bagaimana, kereta Auschwitz yang terjadwal pada pukul 09.10 itu sebenarnya tidak ada. Ada kesalahan di bagian online sepertinya."
      Kim dan saya mengerutkan kening seketika. Kalau ini terjadi di Belanda, pasti kantor NS (perusahaan kereta di Belanda) sudah pasti bakal didemo seluruh penumpang.
      "Jadi nanti kita akan diturunkan di sebuah stasiun dan kereta yang menuju Auschwitz akan menunggu kita disana.", tambahnya lagi. Sejurus kemudian, kereta pun mulai bergerak menjauhi peron. Dalam hati saya berkata, "Keren banget nih! Baru kali ini kereta yang menunggu penumpang." Langsung saya merasa seperti orang penting.
      Sepanjang perjalanan, kami berkenalan dengan 4 orang penumpang lainnya, yang kebetulan sama-sama terjebak kereta fiktif ke Auschwitz. Perempuan pirang tadi sebut saja Amy. Ia asli dari Polandia. Dan di sebelahnya sang pacar, sebut saja Adam, lelaki berkulit cokelat berkewarganegaraan Jerman. Dua orang lainnya, panggil saja Josh dan Tom, dua remaja dari Amerika yang sedang melakukan perjalanan keliling Eropa. Entah dari mana mereka sebelumnya, keduanya membawa tas ransel besar dan papan besar seperti papan snowboarding. 
      Sepanjang perjalanan kami lebih banyak mengobrol dengan Amy dan Adam. Mereka bercerita baru saja pindah ke Singapura dikarenakan Amy mendapatkan promosi dari kantornya. Selain itu, Amy juga banyak berkisah tentang cerita -cerita perang dunia kedua, yang banyak berhubungan dengan Auschwitz.
      Kamp komsentrasi di desa Auschwitz adalah kamp konsentrasi NAZI yang terbesar saat perang dunia kedua. Saat perang dunia kedua berlangsung, NAZI melancarkan propaganda anti semit (anti yahudi) besar - besaran di hampir seluruh daratan Eropa. Tiap-tiap Yahudi diwajibkan untuk memasang simbol Bintang David di lengan mereka. Setelah itu, mereka merelokasi tempat tinggal orang Yahudi ke daerah tertentu yang dikenal dengan sebutan Ghetto. Para tentara NAZI kemudian memaksa orang Yahudi untuk keluar dari negara mereka. Dengan dalih akan dikembalikan ke negeri asal mereka, tentara NAZI memberangkatkan ribuan orang dengan puluhan kereta, tak lain dan tak bukan menuju kamp-kamp konsentrasi, salah satunya di Auschwitz. Orang - orang Yahudi tersebut tidak sadar bahwa perjalanan ini bisa jadi merupakan akhir dari kehidupan mereka. Mayoritas anak - anak, wanita, dan lansia akan langsung dibunuh secara massal di kamp ini dengan beberapa cara. Sementara pria yang masih kuat akan dijadikan budak, anak -anak kembar dan ratusan lainnya akan dijadikan kelinci percobaan para dokter NAZI. Peristiwa pemusnahan orang - orang Yahudi pada masa ini  disebut Holocaust.
      Saat mendengar cerita Amy, saya hampir menitikkan air mata. Saya tidak terlalu mengetahui detil peristiwa Holocaust. Ingatan saya kemudian terbang ke masa- masa SMP dan SMA. Buku sejarah hanya menyebutkan kata ini dalam satu kalimat. Tidak ada cerita lanjutan setelah itu. Mungkin ada alasan tertentu, mengapa topik ini tidak terlalu dimunculkan dalam buku sejarah sekolah saat itu.
      Pandangan saya kemudian kembali lagi ke pasangan di depan saya ini. Jika kami masih berada dalam masa perang, tidak mungkin seorang dari Polandia dan seorang dari Jerman bisa bersanding mesra di tempat umum begini. Saya berpikir bahwa perang tidak hanya memisahkan banyak orang namun juga mengikis rasa kemanusiaan.
      Saat sedang merenung, kereta mendadak berderit panjang sebelum berhenti. Petugas tadi datang lagi dan memberi tanda agar kami turun. Saatnya ganti kereta.
      Di peron sepi tak beratap itu seorang petugas menyambut kami. Dari bahasa tubuhnya ia menyuruh kami berlari. Saya penasaran dimana posisi kereta Auschwitz, sampai Amy menginstruksikan kami untuk melompat ke peron sebelah dan menerobos melalui pagar kawat berduri di bawahnya.
      "Oh really?!", batin saya. Saya merasa seperti preman. Terakhir saya menerobos pagar kawat itu sewaktu acara kemah SMP di belakang Candi Prambanan. Saya menoleh ke arah Kim dan kami tertawa geli.
      "Okay, everything could be happened here!", katanya sambil geleng-geleng kepala. Segala sesuatu bisa terjadi di tempat ini.
      Petugas kembali meminta kami untuk bergerak lebih cepat. Lewat Walkie Talkie miliknya, sayup sayup saya mendengar kata tourist. Mungkin ia meminta masinis kereta agar sedikit maklum karena kami ini turis.
      Setelah outbond tipis- tipis tadi, kami akhirnya naik ke kereta. Tanpa menunggu lama, kereta langsung berangkat. Menyisakan petugas yang melambaikan tangan dari jauh. Waktu perjalanan kami masih satu setengah jam lagi menuju Auschwitz.

      Perut yang kenyang setelah sebelumnya melahap beberapa potong roti membuat saya lama kelamaan mengantuk. Selesai mengobrol Kim tentang film yang menceritakan kisah seorang pianis pada masa perang dunia kedua, The Pianist, saya pun terlelap.
      Suara rem kereta yang kasar membangunkan saya. Seketika pandangan saya gelap. Apa yang terjadi dengan penerangan keretanya? Bagaimana mungkin di siang hari saya tidak bisa melihat apapun? Sedetik kemudian, saya merasakan udara dingin yang menusuk tulang, sesak, seakan tidak bisa bernapas, dan kelaparan yang amat sangat. Saya semakin panik berusaha meraba-raba sekitar. Seseorang kemudian membuka pintu dari luar. Di hadapan saya kemudian terhampar pemandangan puluhan orang, tua, muda, anak-anak yang menangis. Orang yang membuka pintu tadi berteriak dengan kencang, entah mengapa saya mengerti apa yang dikatakannya. Mereka menyuruh kami turun. Bagai berada di tengah-tengah konser musik, luapan manusia yang berebut turun keluar kereta membuat saya semakin terhimpit. Semakin sesak dan gelap. Kereta kemudian berderit panjang lagi.
      Saya terbangun. Kali ini Kim ada di samping saya, tertidur. Amy dan Adam juga tampak lelap. Dua pemuda dari Amerika terlihat meringkuk di kursi dengan sweater tebal mereka. Oh, saya kembali dari mimpi buruk! Ya, saya yakin, baru saja bermimpi tentang situasi saat orang-orang dibawa ke kamp konsentrasi Auschwitz kala itu.
      Jantung saya masih berdebar - debar jika mengingatnya. Mimpi tadi terasa begitu nyata. Meskipun begitu, saya mengurungkan niat untuk memberitahu Kim tentang mimpi barusan. Sambil menghela napas, saya melirik ke arah jam tangan. Kurang dari 30 menit kami akan sampai ke Auschwitz.
      Apa saja yang kami kunjungi di Aushwitz dan bagaimana kelanjutan perjalanan kami di Kraków? Sampai ketemu minggu depan ya!
      Bisa juga baca dari link berikut ini: https://sofiehurif.wordpress.com/2017/12/04/poland-and-a-once-in-a-lifetime-experience-auschwitz-2/
      Terima kasih dan semoga bermanfaat serta menginspirasi :)
    • By Friesca Maryto
      Halo komunitas jalan2,
      perkenalkan saya Friesca Maryto domisili DKI Jakarta, sudah sering kepo ke sini dari 2016. tapi baru kali ini sign up sebagai anggota, karena kebutuhan.
      saat ini saya sedang menempuh pendidikan pascasarjana Magister Teknologi Informasi di Universitas Indonesia, dan sedang membutuhkan banyak responden untuk Tugas Akhir saya yang berjudul "Analisis Kualitas Website B2C: Studi Kasus Hotel Bintang 5". Jika teman2 di komunitas jalan2 pernah melakukan pemesanan kamar langsung melalui website hotel bintang 5 di Jakarta, atau mempunyai kenalan yang pernah, mohon berkenan mengisi kuesioner pada link berikut
      http://bit.ly/websiteB2C
      Ada hadiah pulsa total IDR 500,000,- untuk 10 orang yang beruntung. Pemenang akan diumumkan pada minggu ke 2 Juli. Jika ada hal yang ingin teman-teman tanyakan, jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email friesca.maryto@ui.ac.id. Terimakasih sebelumnya
       
      Cheers,
       
      Friesca
       
    • By vie asano
      Bagi traveler, menginap di hotel menjadi salah satu hal yang hampir selalu dilakukan saat traveling; walau kadang ada juga non-traveler yang rutin menginap di hotel karena alasan tertentu, salah satunya karena menyukai suasana hotel. Saya pribadi termasuk salah satu yang doyan banget menginap di hotel. Bukan karena faktor makanannya maupun fasilitas ekstra di hotel tersebut (seperti tempat fitness maupun spa), melainkan karena faktor suasananya, dan juga interior kamarnya. Dan satu lagi yang saya suka, adalah mengamati macam-macam karakter tamu yang menginap di hotel.
       
      Ya, bicara tentang hotel memang nggak lepas dari ngobrolin tentang tamu-tamu hotel. Terlepas dari apakah mereka termasuk tipe family (alias yang hanya bepergian bersama keluarga di akhir pekan), pebisnis (menginap hanya untuk keperluan bisnis), turis, maupun lansia; yang menarik untuk diamati adalah macam-macam karakter tamu hotel. Sebagai tempat bertemunya orang-orang yang memiliki kepribadian beragam, kadang ada saja karakter tamu hotel yang unik dan nyeleneh, sehingga menarik untuk diamati.
       
      Saya mengumpulkan beberapa karakter tamu yang lazim kita lihat setiap menginap di hotel. Sebagian saya dapat dari pengamatan pribadi, sebagian lainnya dengan mengamati tulisan dari mereka yang bekerja di industri hotel, serta hasil ngobrol-ngobrol dengan saudara yang pernah bekerja di hotel. Dari bermacam karakteristik tamu hotel berikut ini, manakah yang paling cocok dengan kalian?
       
      1. Tipe Ordinary
      Mungkin kebanyakan tamu hotel menganggap diri mereka biasa-biasa saja. Datang untuk check-in, istirahat di hotel maupun menikmati fasilitas didalamnya, dan check-out pada waktunya. Normalnya sih tamu hotel memang seperti itu, namun lihat dulu tipe-tipe tamu lainnya di bawah ini sebelum menganggap diri kalian adalah tamu biasa ya.
       
      *             *             *
       
      2. Tipe Selebriti
       

      Ilustrasi staff hotel sedang mencatat pesanan dari tamu, via gumtree 
       
      Maksud tipe selebritis disini maksudnya bukan selebriti sungguhan, namun para tamu yang terlalu ingin dilayani layaknya selebriti. Sebagian orang mungkin lebih suka menjuluki tamu jenis ini sebagai tamu manja. Tamu dengan tipe selebriti ini sangat suka diperhatikan, dan mereka maunya serba dilayani sebaik mungkin. Mereka suka dinomorsatukan, kadang nggak mentolelir kesalahan yang dibuat oleh pihak hotel maupun staff hotel, dan selalu menekankan jika “tamu adalah rajaâ€. Nggak sedikit staff hotel yang akan kesal dengan tipe tamu seperti ini.
       
      *             *             *
       
      3. Tipe Turis Sejati
       

      Spa di hotel, via hotels.1001tur 
       
      Tamu seperti ini datang ke hotel dengan tujuan untuk beristirahat. Mereka memilih hotel bukan karena faktor lokasi semata, melainkan karena fasilitas dan suasana yang ditawarkan oleh hotel tersebut. Karenanya, mereka suka menggunakan fasilitas hotel seperti spa dan fitness maupun berenang dan bersantai di tepi kolam renang; dan nggak sungkan membelanjakan uangnya untuk memesan makanan di hotel maupun mengikuti program tour yang diselenggarakan oleh hotel. Tamu jenis ini biasanya cenderung royal terhadap uang tip sehingga disukai oleh staff hotel.
       
      *             *             *
       
      4. Tipe Tukang Komplain
       

      Ilustrasi seorang tamu hotel yang sedang komplain, via bikashmohanty 
       
      Dari seluruh jenis tamu yang ada di daftar ini, mungkin tamu jenis ini yang paling membuat staff hotel mengelus dada. Segala macam dikeluhkan olehnya, mulai dari air kamar mandi yang lama panasnya, sampah yang telat dibersihkan, room service yang lambat merespon, dan banyak lagi komplain-an lainnya. Sebetulnya, tamu tukang komplain ini penyebabnya bermacam-macam. Ada yang memang sifat aslinya hobi mengeluh, namun ada juga yang berusaha mencari keuntungan dengan melakukan komplain ini-itu, seperti mengincar kompensasi dari hotel tersebut.
       
      *             *             *
       
      5. Tipe Kabayan
       

      Ilustrasi tamu yang bahagia, via hotelserena 
       
      Maksud dari tipe kabayan (diambil dari nama tokoh dalam cerita Sunda, Kabayan, yang dulu kerap diperankan oleh Didi Petet) disini adalah tamu yang kelihatan banget jarang menginap di hotel. Mereka selalu terpukau setiap kali masuk ke dalam hotel, selalu terlihat malu-malu, dan menganggap hotel (terutama hotel berbintang) merupakan dunia lain yang berbeda dengan dunia mereka sehari-hari. Biasanya, tamu jenis ini sangat ramah terhadap staff hotel maupun tamu lainnya, sehingga cukup menyenangkan untuk dijadikan tetangga kamar.
       
      *             *             *
       
      6. Tipe Kolektor
      Kalau tamu jenis ini murni berdasarkan pengamatan dan, uhuk, pengalaman pribadi. Mereka suka mengumpulkan barang-barang dari hotel, mulai dari barang-barang kecil seperti sampo, sabun, maupun toiletries; hingga barang-barang yang agak besar seperti sandal hotel, perlengkapan menulis, dan lain-lain. Asalkan barang tersebut ada logo hotelnya, maka barang tersebut bisa di embat untuk di koleksi. Adakah yang termasuk tipe ini?
       
      *             *             *
       
      7. Tipe Ogah Rugi
      Check-in jauh sebelum waktunya sehingga bisa masuk kamar tepat waktu, dan selalu check-out sesaat menjelang batas waktu yang ditentukan. Tujuannya supaya nggak rugi waktu selama menginap di hotel. Semua fasilitas gratisan selalu dimanfaatkan dengan maksimal, mulai dari sarapan gratis (semua menu dicoba, mulai dari semua jenis appetizer hingga dessert), toiletries, kolam renang; pokoknya tamu jenis ini selalu memaksimalkan waktu kunjungannya saat berada di hotel deh.
       
      *             *             *
       
      8. Tipe gratisan
      Nah, tamu jenis ini biasanya sering menginap di hotel, maupun mengetahui seluk beluk dunia perhotelan. Jadi mereka mengerti celah-celah untuk meminta diskon, dan malah terkadang minta gratisan.
       
      *             *             *
       
      10. Tipe Pebisnis
       

      Ilustrasi seorang pebisnis di kamar hotel, via themalaymailonline 
       
      Tamu tipe ini hanya menginap di hotel untuk keperluan bisnis. Jadi, mereka hanya menggunakan hotel sebagai tempat istirahat sementara dan jarang menggunakan fasilitas dalam hotel karena sibuk diluar. Kalaupun ada fasilitas yang sering digunakan, adalah area lounge untuk bertemu dengan tamu, serta fasilitas internet di hotel. Jika bicara, gaya bicaranya formal dan berwibawa.
       
      *             *             *
       
      11. Tipe Annoying
       

      Tetangga kamar yang hobi membuat keributan jelas menyebalkan, via motherswhowork 
       
      Nggak semua dinding hotel itu kedap suara, karena faktanya, banyak juga hotel yang memiliki dinding tipis dan berbahan non-bata. Sayangnya, nggak semua tamu hotel bisa bersikap tenang. Ada juga yang kerap menyetel TV keras-keras, ngobrol dengan keras, bahkan bertengkar tanpa malu-malu sehingga bisa didengar oleh tetangga sebelahnya maupun berpesta. Saya pernah bertetangga dengan tipe seperti ini (hobi ngobrol dengan suara keras), sehingga kami harus mengeraskan suara TV di kamar supaya suara obrolan di sebelah nggak kedengaran lagi.
       
      *             *             *
       
      12. Tipe Kombinasi
       
      Faktanya, bisa saja seorang tamu hotel memiliki kombinasi dari karakteristik yang sudah disebutkan di atas. Misalnya saja, jika menginap di hotel, saya termasuk tipe turis sejati (datang ke hotel untuk istirahat dan santai) dengan kombinasi tipe ogah rugi (check-in dan check-out tepat waktu supaya maksimal istirahat di hotelnya, haha). Dulu sih sempat jadi kolektor, untungnya sekarang sudah insyaf, hehe.  
       
      Nah, kira-kira teman-teman termasuk tipe yang mana? Jika kombinasi, kombinasi apa saja nih? Share dong! Feel free kalau mau menambahkan tipe tamu hotel lainnya yang belum ada dalam daftar ini.
       
×
×
  • Create New...