• 0
Sign in to follow this  
citrariana

Maumere. Dimanakah itu?

Question

maumere1.jpg

Nama unik ini adalah sebuah kota yang merupakan ibukota Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Kota Maumere terbilang maju, jadi Anda tak perlu khawatir dengan fasilitas yang ditawarkan kota ini. Tentu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok Anda. Menurut sebuah sumber, Maumere adalah gabungan dari dua kata yaitu Ma’u yang diartikan pelabuhan dan Mere yang berarti besar. Maumere adalah kota wisata yang sangat layak untuk Anda kunjungi. Letaknya yang hanya dua jam dari Denpasar dengan naik pesawat KalStar. Apa saja yang dapat Anda jelajahi di Maumere? Berikut ulasannya.

Gunung Egon

maumere2.jpg

Terletak sekitar 30 km di sebelah timur Maumere, Anda dapat naik transportasi darat untuk menuju ke sana. Dengan ketinggian 1.710 mdpl, pemandangan di atas gunung sangat luar biasa. Perjalanan normal sekitar 3 jam saja untuk menuju puncak dari Desa Andalan. Gunung Egon termasuk gunung berapi yang masih aktif, Anda dapat mendengar aktifitas gunung berapi seperti suara sulfur yang mendidih. Bila ingin menikmati indahnya malam di sana Anda dapat membawa tenda untuk bermalam.

Air Panas Blidid

maumere3.jpg

Objek wisata ini berada di kaki Gunung Egon. Anda harus memasuki wilayah hutan untuk samapai ke sumber air panas. Perjalanan Anda tidak akan membosankan karena hutan di NTT sangatlah menarik mengingan NTT adalah wilayah peralihan antara garis wallacea dan weber. Tentu Anda akan menemui ragam flora fauna yang unik. Wisata air panas ini masih sangat alami karena letaknya yng cukup terisolasi. Sangat pas untuk merendam kaki di air panas setelah cukup jauh Anda berjalan menyusuri hutan. Kolam panas ini juga berdampingan dengan kolam air dingin dari pegunungan. Jika Anda ingin mengistirahatkan badan Anda dapat berendam di kolam air panas. Namun bila ingin menyegarkan badan Anda dapat berendam di kolam air dingin.

Bukit Nilo

maumere4.jpg

Ikon Bukit Nilo adalah Patung Bunda Maria dengan tinggi 28 meter yang diletakkan di atas pondasi  indah dengan tinggi 18 meter. Patung ini menghadap langsung ke arah Kota Maumere. Dari tempat ini Anda dapat melihat keindahan Kota Maumere yang membentang luas sepanjang tepi Laut Flores. Datanglah dini sebelum subuh. Karena pemandangan matahari terbit di tempat ini sayang untuk dilewatkan.

Pulau Pangabatang

maumere5.jpg

Bisa dibilang pulau ini adalah pulau perawan. Pulau ini jarang dikunjungi. Sangat cocok bangi Anda yang mendambakan ketenangan saat bepergian. Pulau yang sunyi dengan hembusan angin yang sejuk serta perpaduan antara awan dan warna laut yang biru sempurna membuat tempat ini sangat cocok untuk bersantai melepas penat. Untuk menuju pulau ini, Anda harus memulai perjalanan dari Maumere ke Watubaing. Di Watubaing Anda naik kapal nelayan menuju Pulau Pangabatang. Jarak tempuhnya hanya 45 menit.

Wisata Boat

Ada satu paket wisata menarik yang ditawarkan bagi pengunjung yaitu berwisata dengan boat. Dengan menyewa boat seharga Rp 500.000,00 wisatawan sudah mendapatkan paket untuk mengunjungi beberapa tempat sekaligus. Salah satu wisata unggulan yang ditawarkan adalah menyelam. Ada beberapa titik menarik untuk menyelam salah satunya di Pulau Pangabatang.

Share this post


Link to post
Share on other sites

1 answer to this question

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By eva.primita
      Hallo semua, maaf saya newbie baru bgt gabung disini hehe..
      Langsung aja ya 
      Saya lagi cari temen sharecost untuk trip sumba, berhubung saya baru sendiri dan kalau sendiri itu biayanya mahal bangetttt 
      jadi lagi cari 5 orang lagi biar muat 1 mobil (kalau ternyata yg mau ikut lebih dari 5 orang ya gpp, asal ga lebih dari 15 orang jd nyatuinnya ga ribet hhe). dengan berbekal itinerary daei google dan konsultasi pihak rental  
      Tanggal trip : 20-25 Desember 2018 (Cuti 2 hari 20-21)
      Mepo: Bandara Tambolaka, Sumba Barat            Tanggal: 20 Desember 2018
                 Pukul: 14.00 WIT
       
             2. Trip Berakhir di Bandara Waingapu, Sumba Timur
                  Tanggal : 25 Desember 2018
       
      Destinasi:
      1. Danau weekuri
      2. pantai mandorak
      3. pantai walakiri
      4. pantai batu cincin bawana
      5. kampung adat ranteggaro
      6. kampung adat Praiijing
      7. Pantai kita
      8. mata air waikelo
      9. Bukit warinding
      10. air terjun waimarang
      11. air terjun tenggedu
      12.  savana puru kambera
      13. bukit tana rara
      14. perbukitan mondu
      15. pantai walakiri
      16. kampung raja priliu
       
      Sharecost
      Rp 1.505.000/Orang
      Include :
      1. Transport mobil 6 hari (min. avanza)
      2. Home stay 2 malam di Tambolaka, 3 malam di waingapu.
      3. Breakfast
      4. HTM wisata + Donasi kampung adat
      5. Tip + Makan Sopir yang merangkap guide
      Exclude:
      1. Tiket ✈ JKT – Sumba
      (berangkat via Tambolaka
      pulang via Waingapu)
      2. Biaya pribadi
      3. Makan siang & malam
      4. Hal yg tdk disebutkan diatas.
      Biar tidak ada php diantara kita untuk semuanya wajib menyertakan Dp 500.000/Orang (fix) ketika mau gabung dan payment ke 2 (Rp 502.500) di tgl 31 Oktober 2018, pelunasan (Rp 502.500) ditunggu sampai 17 Desember 2018. kalau tiba2 cancel mohon maaf bgt uangnya ga bisa dikembalikan yaa karena bakal berdampak sharecost ke yg lain jg (jd mahal  ) ato bisa cari penggantinya kalau mau uangnya kembali. pembelian tiket bisa di issued masing2 tp jangan lupa kabarin ke group yaa, nanti saya buatkan group wanya. 
      Nb: Karena ini sifatnya sharecost jadi susah senang kita rasain sama-sama dan jika ada kekurangan biaya karena kenaikan harga disana kita patungan lagi yaa hehe karena biaya hidup di sumba tergolong mahal dibanding jakarta  . Ini bukan opentrip yaa. Untuk yang serius mau gabung bs wa saya, mumpung masih ada beberapa bulan untuk nabung  . daaaannn walaupun pesertanya lebih dari 6 orang harganya tetap segitu yaa soalnya mobil yg kita pakai sejenis avanza, dsb max 1 mobil isi 6 orang. ga muat jalannya kalau pakai bus  .
       
      Contact:
      Whatsapp: 081514298092 (No call)
      Line: talu.senja23
      Terima Kasih,
      Salam Eva.
       
       
    • By Dian Anggreini Herry
      Saya dan teman saya ingin berjalan ke Taman Nasional Komodo dan Desa Wae Rebo pada liburan paskah 2018.
      Kami berangkat tanggal 29 Maret 2018 dan kebetulan sudah booking boat tanggal 30 Maret -1 April 2018.
      Setelah itu pada 1 April jam 17.00 kami akan berangkat ke Wae Rebo, untuk sebelumnya bermalam di homestay sebelum naik ke Wae Rebo. 
      2 April pagi jam 08.00 akan mendaki Wae Rebo dan diperkirakan tiba sebelum makan siang. 
      3 April 2018 kita akan kembali menuju Labuan Bajo 
       
      Saya terbuka jika ada teman yang hanya ingin ikut untuk Sailing Komodo saja.
      Kita akan sharing cost dan anggaran akan dibuka se-transparan mungkin
      Hubungi saya di WA 081806269964 jika ingin bergabung
    • By Riohandoko21
      Hello Travelers,
      Saya ingin Cerita Pengalaman Saya, Istri dan Anak Saya.  Saat Ke SUMBA.
      Saya dan Istri janjian untuk bertemu di Bali.
      Saya berangkat dari timika ke Bali, Istri dan anak saya berangkat dari  Palembang ke Bali.
      Niat awalnya sehari kita mau Main ke Bali Marine Park. Tapi apa daya Flight istri saya dari Palembang to Jakarta Delay, Alhasil dia ketinggalan pesawat dari Jakarta ke Bali. Maskapai Plat Merah (Bukan Singa Merah). Jadilah dia tiba di bali Keesokan hari nya.
      Karena capek Istri saya gak kuat mau jalan-jalan ke bali marine Park (Next Time Kita bakal Kesini).
       
      Hari Pertama
      Tanggal 29 Juli 2017
      Terbang Ke Tambolaka dgn Wings Air
      Dijemput oleh Driver Lokal Asli Sumba (Kita Hanya Sewa Mobil Plus Driver)
      Tempat Pertama yang di Kunjungi - Kampung Ratenggaro , Lihat Sunset di Pantai Pero
      Kita menginap 2 Malam di Hotel Sinar Tambolaka
       
      Tanggal 30 Juli 2017
      Ke rumah Budaya Sumba - disini Ada semacam Homestay juga. Kita bisa menginap di sini. Mungkin saya dan Istri mau juga menginap disini jika kami belum bayar di Sinar Tambolaka.
      Setelah beranjak dari Rumah Budaya Sumba, Tujuan Selanjutnya adalah Pantai Mandorak .  
      Tujuan selanjutnya pada hari yang sama adalah Danau Weekuri
      Danau Weekuri - Danau Air laut sehingga air nya asin. Danau ini terbentuk karena ada batu karang di tepi lautnya. Yang saya ingat saat ke danau ini adalah saya hamper jatuh terpeleset saat di tangga mau turun ke danau dan saat itu saya menggendong anak saya.
      Perjalanan hari ini kami tutup dengan melihat sunset di Pantai Bawana dan Tanjung Mareeha.
      Sunset di Tanjung Mareeha membuat saya takjub akan keindahan alam sumba. Tidak salah jika istri saya membawa saya liburan kesini. Tempat nya Luar biasa.
      Tapi hati-hati yaa disini sumba barat kadang banyak warga yang suka minta uang.
       
       
      Tanggal 31 Juli 2017
      Tujuan pertama hari itu adalaha waikelo Sawah, Semacam irigasi untuk sawah. Pemandangan nya adalah hamparan sawah dengan padi yang menghijau.
       
      bergerak dari waikelo sawah tujuan selanjutnya adalah Air Terjun Lapopu. Air tejun ini adalah air terjun yang pertama anak saya lihat. Ekspresi nya bahagia sekali.
       
      Kita pun melanjutkan perjalanan ke sumba timur.
       
      Tanggal 1 Agustus 2017
      kita melanjutkan perjalanan ke waingapu.
      Tempat yang kita singgahi adalah bukit pasola, pantai watu bella dan pantai kerewei
       
      Tanggal 2 Agustus 2017
      Kampung Praijing
      Kampung Tarung - Beberapa bulan lalu kabarnya kampong ini terbakar
      Melihat pekerja melakukan pemotongan batu untuk rumah tinggal. Kalau di kota-kota di jawa dan sumatera biasa rumah dibuat dengan batu bata namun disumba rumah dibuat dengan batu alam.
      Bukit Warinding ya, daerah ini semua perbukitan sepanjang mata kita memandang.
       
      Saat di Waingapu kami menginap di Hotel Surya. hotel terbaik selama kami menginap di sumba
      Tanggal 3 Agustus 2017
      Air Terjun Tanggedu - Perjalanan ke lokasi ini cukup jauh namun pemandangan selama diperjalanan sangatlah indah. Air terjun ini berada diantara perbukitan.
      Setelah dari sini kami pun pulang
       
      Tanggal 4 Agustus 2017
      Kami bergerak setelah sholat jum'at. kami menuju pantai walakiri
       
      Tanggal 5 Agustus 2017
      Saat nya mencari oleh-oleh dan berfoto di bukit persaudaraan.
       
      Selama di Sumba banyak tempat yang terlewatkan dan tidak sempat dikunjungi. Di sumba ini terdapat banyak pantai yang bagus yang belum sempat kami kunjungi dan banyak air terjun yang tidak sempat kami kunjungi. serta ada lokasi kincir angina tempat tenaga listrik dengan kincir angin. 
       
       
       
       
       
       

       























    • By Berangan Trip Organizer
      Pulau Sumba yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur, adalah pulau yang menyajikan warna lebih memikat daripada sekadar tangkapan lensa kamera. Inilah tempat untuk Anda melihat perang lembing dengan berkuda (Pasola) yang memukau. Lebih dari itu pun pulau ini menyajikan rentetan rumah adat tradisional, kubur batu, air terjun, dan pantai-pantai berpasir putih yang indah.

      Date :
      07 – 10 Oktober 2017 13 – 16 Januari 2018 29 Maret – 1 April 2018 10 – 13 Mei 2018 07 – 10 Juli 2018 Itinerary :
      HARI 1 SUMBA BARAT DAYA (L, D) Bandara Tambolaka – Kampung Ratenggaro – Pantai Pero (sunset)  HARI 2 SUMBA BARAT DAYA (B, L, D) Tanjung Mareha – Pantai Bawana – Pantai Mandorak – Danau Weekuri  HARI 3 SUMBA BARAT – SUMBA TIMUR (B, L, D) Kampung Prai Ijing – Air Terjun Lapopu – Bukit Wairinding – Pantai Walakiri (sunset) – Waingapu  HARI 4 SUMBA TIMUR (B) Savanna Puru Kambera – Kampung Kalu (pengrajin kain tenun Sumba) – Bandara Waingapu  (B = Breakfast, L = Lunch, D = Dinner)
      Include :
      Airport transfer Transportasi darat (mobil AC) Tiket masuk objek wisata 2N hotel AC di Tambolaka 1N hotel AC di Waingapu Makan sesuai jadwal Air mineral Guide Parkir, donasi Exclude :
      Tiket pesawat Hal-hal yang tidak disebutkan di atas Rekomendasi flight :
      Jkt – Bali – Tambolaka              : Wings Air 10:20 – 11:45 Waingapu – Bali – Jkt                : Nam Air 14:05 – 15:20 Waingapu – Kupang – Jkt         : Nam Air 12.40 – 17.50 Terms and Conditions :
      Konfirmasi keikutsertaan dengan mengirimkan 50% DP. Harap konfirmasi setelah melakukan pembayaran. Pelunasan dilakukan paling lambat 1 minggu sebelum hari keberangkatan. Jika terjadi pembatalan dari pihak peserta setelah pembayaran, maka pembayaran dinyatakan hangus. Apabila destinasi tujuan tidak memungkinkan untuk dikunjungi karena bencana, cuaca yang tidak mendukung, penutupan tempat wisata, atau sebab lain di luar kendali kami, maka peserta tidak dapat meminta kompensasi atau pengembalian biaya yang telah dibayarkan. Apabila kuota trip tidak memenuhi kuota minimal, maka peserta trip tetap dapat mengikuti trip dengan biaya yang menyesuaikan, atau peserta trip dapat membatalkan keikutsertaan dengan pembayaran yang dikembalikan 100%. Apabila terjadi pembatalan dari pihak kami di luar sebab-sebab di atas, maka biaya yang telah dibayarkan oleh peserta akan dikembalikan 100%. Harga dan itinerary dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi setempat. Contact :
      Intan Primadewati
      Call/WhatsApp : +6281233843907
      Pin BB : 5368F674
      Indra Yulianto
      Call/WhatsApp : +6281286944675
      Pin BB : 5C661E17
      Email : marketing@berangan.com
      Facebook : Berangan Trip Organizer
      Twitter : @berangan_trip
      Instagram : @berangan_trip
    • By Endar
      Cerah berawan menyambut aku dan teman-temanku di bandara Tambolaka, Sumba Barat Daya. Bukan bandara besar jadi dengan cepat kami bisa bertemu Pak Harlan  yang sudah dua puluh tahun menjelajah jalan-jalan Sumba. Selama empat hari kedepan kami akan ditemani Pak Harlan di tanah Sumba.
       
      Sebelum ke tujuan pertama, kami mengisi perut terlebih dahulu. Kami tidak menemukan tempat makan khusus yang menjual makanan khas Sumba. Namun kami dapat memesan makanan spesial yang tidak ada di menu, sambal bunga pepaya tumis di Warungku tempat dimana kami santap siang.
      Jalan utama di Sumba sudah baik, tidak ada lubang-lubang. Hanya saja  jalan berliku-liku mengikuti kontur bukit. Untuk mencapai danau Weekuri sebagai tujuan pertama membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam dari Tambolaka karena jalan yang dilalui bukan jalan utama, jadi tidak semuanya mulus. Danau berair asin karena air laut yang terperangkap ini sungguh indah. Siang itu banyak pengunjung lokal karena hari libur nasional. Saya tidak mandi di danau tapi menikmati suasana danau dan deburan air laut yang menghantam dinding sebelah danau.

      Ke arah selatan kami pergi ke kampung adat Ratenggaro. Kubur-kubur batu seperti tugu selamat datang berbaris di pintu utama. Lestarinya agama adat Marapu juga menjadikan budaya megalitik ini tetap ada sampai sekarang. Kepercayaan akan roh orang yang sudah meninggal menjadi pengubung dengan Sang Pencipta menjadikan orang Sumba tidak bisa jauh dari kerabat yang telah meninggal maka dari itu kubur batu diletakkan di depan rumah atau perkampungan.

      Hari menjelang sore, bergegas kami melanjutkan perjalanan ke pantai Mawana atau Bawana. Setelah berjalan sepuluh menit di jalan setapak yang terjal kami diberikan keindahan alam yang luar biasa. Menikmati sunset di pantai Bawana bersama penduduk lokal yang memancing ikan.


      Besok pagi kami bertolak ke Sumba Timur. Jika di Sumba barat pohon hijau tinggi di pinggir jalan, Sumba Timur berbeda. Bukit-bukit dengan padang rumput berpohon perdu lebih mendominasi. Hal ini terlihat jelas di Bukit Wairinding. Walaupun matahari terik tapi udara tetap sejuk dan dengan gembiranya anak-anak sumba bermain di atas bukit segembira saya melihatnya. 

       
      Setelah melapor di hotel kami melanjutkan ke bukit Morinda. Di atas bukit itu ada rumah makan dan juga kamar jika ingin menginap. Pemandangan di bukit Morinda begitu memesona dengan bukit yang mengelilingi dan lembah subur di bawahnya, tidak mau pulang rasanya. Mama yang menjaga tempat makan sangat ramah dan dengan semangat mempelajari bahas Inggris sebagai penunjang berkomunikasi. 

      Belum puas sebenarnya bersantai di Morinda tapi karena waktu kami harus meninggalkan Morinda untuk mendapatkan pesona matahari terbenam di pantai Walakiri. Dalam perjalanan ke pantai Walakiri akan banyak kandang-kandang peternakan alam dengan pohon sebagai pagar. Kuda, sapi, babi, kerbau atau kambing tidak jarang kita temui di sepanjang jalan. Pantai Walakiri bukan pantai berpasir putih atau pantai dengan laut biru dengan banyak terumbu. Di pantai ini sedikit berlumpur dengan banyak pohon bakau tapi kondisi ini menjadikan pantai ini menjadi tempat yang tepat untuk menikmati matahari terbenam. 

      Waingapu bukan kota yang besar tapi lebih ramai di banding Tambolaka atau Waikabubak. Kota ini sudah memiliki bandara dan karena letaknya yang lebih dekat dengan Flores menjadikan pelabuhan di Waingapu lebih ramai. Malam itu dengan perut yang lapar kami mencoba makanan laut di pinggir pelabuhan. Bukan musim yang tepat memang sehingga hasil laut tidak begitu banyak. Hanya ada ikan dan cumi tapi kesegarannya tidak dapat dipungkiri. Bulan terang dengan sedikit awan mengurungkan niat kami untuk menikmati malam dengan langit penuh bintang di atas bukit pintu kedatangan kota Waingapu. Sebelum kembali ke hotel untuk beristirahat, kami berhenti di alun-alun Waingapu. Jangan lupa untuk menikmati STMJ disini.

      Pagi-pagi sebelum matahari terbit kami menuju ke Puru Kambera dimana padang rumput dan pantai berpadu bersama kuda-kuda yang dibiarkan bebas. Tidak ada matahari bulat pagi itu karena cuaca yang berawan tapi pemandangan di Puru Kambera sudah membuat suasana hatu kami pagi itu begitu bahagia. 

      Menjelang siang kami menuju pantai Tarimbang. Perjalanan ke Tarimbang memang agak lama karena jalan yang tidak bagus . Hal ini juga yang membuat pantai ini jarang dikunjungi. Tapi pemandangan dalam perjalanan seolah-olah menghilangkan waktu sehingga perjalanan tidak terasa lama. Hanya kami yang ada di pantai Tarimbang waktu itu. Sayangnya, indah pasir putih, deburan ombak dan birunya warna laut tidak dapat dibawa pulang. Hujan menemani kami dalam perjalanan kembali ke Tambolaka sehingga kami tidak bisa melihat matahari terbenam di bukit Lailara. 

      Hari terakhir di Sumba, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke pasar tradisional. Tidak ada penjual makanan jadi atau oleh-oleh. Hanya ada sayuran dan kebutuhan sehari-hari. Saya membeli cabai yang sangat pedas yang saya bawa ke Jakarta dan alpukat. Dibanding harga di Ibukota, harga kebutuhan sehari-hari yang dihasilkan sendiri dari tanah Sumba tidak mahal.
      Sayangnya siang itu saya harus meninggalkan Sumba, tempat dimana matahari tidak perlu malu untuk menyinari alam dengan bukit-bukit sabana indah. Masih banyak tempat yang sangat indah di Sumba dan tanah ini akan kurindukan.

       
    • By Benedictus Dennis
      Halo semua,
      saya dennis,24 tahun, mahasiswa kedokteran Jerman semester 10, lagi mau cari temen (bebas: wanita atau pria) yang mungkin juga mau jalan bareng. sejauh ini saya sendiri, belum ada temannya. Rencana saya akan memulai perjalanan dengan Sail Komodo 28 agustus 2017, senin (ambil yang paling murah ajah, dan ambil yang opentrip dan berangkat rutin setiap senin atau kamis itu), Harga estimasi 1,55 juta per orang 4d3n (all in, di luar hotel dan pesawat menuju sana. Harga ini, saya dapet dari salah satu agensi yang nawarin saya. Kalau ada temen2 yang tau tawarin lain yang lebih murah, akan lebih baik dan lebih baik! :) Sail Komodo akan berakhir pada 31 Agustus 2017, pagi di Pelabuhan Bangsal, Lombok. 
      berikut website ttg details perjalanannya:
      http://www.indonesiantrip.net/2015/08/live-on-board-sailing-komodo-trip-4d3n.html
      saya open dengan masukan dan bantuan dari temen2 juga.
      bisa kontek saya secara langsung di benedictusdennis@hotmail.com
      Terimakasih:)
      Hiduplah Indonesia Raya
    • By Usman KualaSimpang
      Sudah lewat tengah malam. Kopi tubruk tanpa gula disamping komputer ini masih tersisa seperempat gelas. Sudah dingin tentunya, tapi tak mengurangi kenikmatan setiap sruputannya. Masih teringat obrolan tadi sore di kedai kopi sepulang nguli. Beberapa sobat yang di meja sebelah terdengar sedang berdebat kecil. 3 orang lawan 1, membahas satu hal yang cukup mengusik keinginan untuk meluruskan sesuatu hal yang cukup menggelitik. Sumba dan Sumbawa adalah pulau yang sama ...   Secara geografis, Sumbawa adalah sebuah pulau besar yang berada di posisi paling ujung Timur provinsi Nusa Tenggara Barat, dan menjadi titik penyeberangan untuk memasuki provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau Sumba, adalah sebuah pulau besar di sisi Selatan pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Untuk menuju pulau Sumba, cukup banyak penerbangan dari Jakarta atau Bali yang menuju ke dua lokasi bandara di Pulau Sumba, yaitu Bandara Tambolaka di Waikelo / Sumba Barat dan Bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu, Sumba Timur.
      Tulisan ini sekedar berbagi pengalaman kami yang juga pernah menginjakkan kaki di Tanah Sumba, dengan menempuh jalan yang tak biasa.  bukan fiksi, dan cerita yang sama juga disampaikan oleh salah satu personel team yang berasal dari media partner dalam bentuk laporan perjalanan.
       


      Sore itu cukup cerah. Kami baru saja berhenti untuk mengabadikan keindahan matahari terbenam di pesisir pantai kota Bima. Perjalanan menuju Sape, pelabuhan paling ujung di pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat masih sekitar 30 menit lagi. Informasi mengenai kapal ferry RORO yang tidak terlalu akurat, membuat kami harus berpacu dengan waktu untuk bisa mencapai Sape secepatnya.
      Hari itu kami berkendara cukup jauh untuk ukuran sebuah perjalanan petualang bersama Team. Jarak lebih kurang 390 km ditempuh dalam waktu 9 jam, itupun termasuk berhenti di banyak titik untuk mengabadikan pemandangan dan spot indah disepanjang perjalanan. Dan tepat pukul 18.45, team tiba di pelabuhan Sape. Sebuah pelabuhan paling ujung di pulau Sumbawa yang menjadi gerbang untuk menuju Indonesia Timur. 

      Terlihat ada 2 kapal ferry RORO yang sedang sandar di dermaga. Informasi sementara, 1 buah kapal akan menuju Labuan Bajo, Flores yang tidak terlalu terpengaruh cuaca, dan satu lagi adalah kapal RORO yang akan menuju Waikelo, Sumba. Itu kapal yang akan kami pilih. Tapi, tidak semudah itu ternyata. Informasi kurang nyaman kami terima dari para penumpang yang juga menunggu untuk bisa naik kapal yang sama menuju Sumba hari itu. Terlihat cukup banyak kendaraan yang akan diseberangkan menuju Waikelo, Sumba, menanti kabar keberangkatan kapal yang akan membawa mereka.
      Kami coba menuju kantor ASDP untuk mencari informasi lanjutan. Di papan pengumuman terlihat bahwa Kapal hari itu akan berangkat setelah mendapat informasi akurat dari BMKG Kupang, bahwa Selat Sape aman untuk dilintasi. Dan sayangnya, saat ini angin bertiup cukup kencang. Artinya, ombak akan cukup tinggi di Selat Sape yang terkenal ganas

      Tak lama, kami didekati seseorang dan menanyakan identitas Team, dan bertanya tentang apa yang kami lakukan disini, Pak Zaenal. Ternyata beliau seorang anggota Kepolisian KP3, sebuah satuan yang bertugas di setiap pelabuhan. Beliau menyampaikan persis seperti dugaan kami, bahwa ombak di selat Sape sedang ganas. Tidak ada kapal yang berani menyeberang, terutama setelah peringatan itu dirilis secara resmi oleh BMKG Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kontras dengan apa yang kami dengar, ternyata ada beberapa kapal kayu kecil yang menuju Sumba, yang anak buah kapal-nya justru berusaha mencari penumpang yang sudah terbiasa menyeberang menggunakan jasa mereka.
      Pilihan jatuh ke sebuah kapal Phinisi berwarna putih, terlihat sandar di dermaga paling ujung. Beberapa kru, terlihat sedang mencari penumpang, dan tak butuh waktu lama untuk mereka menawarkan kepada kami untuk menyeberang menuju Waikelo dengan menggunakan kapal yang sama. Kami berpikir sejenak. Dari kami berempat, 3 orang personil dalam team belum terbiasa, bahkan belum pernah naik kapal Phinisi ini. Sebuah kapal dengan Tonase 40 Ton, dan kapasitas angkut penumpang hingga 60 orang. Komunikasi singkat dengan team kendali di Jakarta menyiratkan keraguan, dan mereka lebih suka kami menunda untuk menyeberang sampai kondisi cukup aman. Tapi keputusan ada di kami, Team lapangan. Tidak ada kata mundur, dan ini adalah pilihan.


      Pukul 21.00, 4 unit motor Team Indonesia Eastcapade Expedition mulai dinaikkan, dan kamipun ikut naik setelah semua barang selesai di muat ke lambung kapal. Isi lambung kapal adalah Beras, gula, sembako dan ikan. Entah berapa berat totalnya, yang jelas badan kapal yang ramping terlihat terendam hingga setengahnya. Kapal ini dinakhodai oleh Bapak Ibrahim, seorang pelaut asli suku Bajo. Sebuah nama yang telah ribuan tahun menjelajah laut nusantara, bahkan dunia. Pertanyaan singkat kepada beliau mengenai ganasnya ombak di selat Sape, hanya disambut oleh beliau dengan senyuman. Dan jawaban yang sangat menenangkan.
      “Kapal  besi itu baru beberapa tahun ada. Kapal kayu phinisi ini telah ratusan tahun mengangkut penumpang dan barang di lautan. lalu lalang dalam berbagai kondisi cuaca. Namanya laut, pasti berombak, dan kita terus belajar untuk bagaimana caranya, bukan melawan ombak,tapi menaklukkannya tanpa membuat celaka. Insya allah, ombak saat ini bukan yang paling buruk dari yang pernah kami lintasi, dan besok pagi kita akan tiba di Waikelo” …

       

       

      Dan disinilah kami, Team Indonesia Eastcapade expedition. Duduk diatas atap kapal yang bergerak cepat dengan 2 mesin utama dan 1 mesin cadangan meninggalkan Dermaga pelabuhan Sape, menuju Pelabuhan Waikelo, pulau Sumba. Sebuah tiang layar yang berdiri kokoh di haluan, dengan lampu di ujungnya menjadi penanda satu-satunya, bahwa kapal sedang bergerak maju dengan kecepatan lebih kurang 23 Knot. Cukup cepat untuk sebuah kapal laut berukuran sedang.

      Bintang bertaburan di langit Selat Sape. Awan gelap terlihat menggelayut didepan sana, yang entah berapa kilometer kedepan. Hembusan angin laut terasa kencang, agak dingin menusuk tulang dan Kapal mulai bergoyang kekiri dan kanan karenanya. Tak lama, ombak mulai mengganas, dan kapal mulai mengayun kiri - kanan dengan cukup kuat. Berkali-kali Haluan kapal terasa mengangkat cukup tinggi, lalu kemudian terhempas kembali dan menyisakan deburan ombak yang membasahi seluruh bagian kapal. Diatas atap, kami hanya 7 orang. 4 orang personil team, 2 orang penumpang dan 1 orang kru kapal sebagai navigator. Semua yang diatas atap masing-masing mengikatkan diri ke tiang pagar atap kapal dengan tali. Kami menggunakan webbing yang telah kami persiapkan sembari berdoa, semoga Badai ini tidak berlangsung lama. Ketika gerimis mulai menerpa, tiba-tiba kapal berguncang keras dan mulai oleng ke sisi kiri. Navigator kapal terdengar berteriak dalam bahasa yang tak kami mengerti, dan tak lama, terdengar mesin kapal seperti menambah kekuatannya. Sepertinya mesin cadangan mulai dipergunakan. Kami tidak tau persis apa yang terjadi, kami hanya diam berpegangan erat ke webbing yang mengikatkan diri kami erat ke tiang pagar kapal. Berdoa semoga badai ini segera mereda. Nyaris 4 jam di ayun dan dihempaskan ombak, kami yang di atas atap ini tak ada yang bisa memejamkan mata. Ayunan kapal dan kuatnya hempasan ombak yang menggempur kapal membuat semua ketenangan hilang. 
      Hingga akhirnya terlihat cahaya merekah di ufuk timur. Fajar menjelang meski angin masih bertiup cukup kencang, tapi ombak mulai mereda. Semakin cahaya mentari mulai menerangi permukaan laut, kami mulai melihat sebuah pulau di depan sana. Pulau Sumba. Dan itulah Waikelo, sebuah kota kecil di sisi barat daya pulau Sumba yang akan menjadi pintu masuk kami di Nusa Tenggara Timur. 
       
      'Melihat Indonesia sedikit lebih dekat ..."