Jump to content
Forum Jalan2.com - Silahkan Berbagi & Bertanya Tentang Tujuan Wisata Anda
  • agoda-hemat.png

  1. kyosash

    kyosash

  2. deffa

    deffa

  • Similar Content

    • By Reiko Shiwatari
      Hi everybody! Apa kabar? Ini saya hadir kembali, setelah sekian lama hiatus dari forum 
      Sudah kemana saja nih? Terus bawa oleh2 apa? Hehehe...
      Saya mau sedikit share tentang oleh2/kenang2an/souvenier dari beberapa perjalanan saya. So, mungkin ada yg berminat mau coba atau sekedar nambah informasi 
      Ada yg sudah pernah dengar Penny Collector? Apa itu? Ternyata uang logam yg kita punya bisa dijadikan koleksi loh! (bukan koleksi uang kuno ya). Tidak semua negara tujuan wisata memiliki Penny Collector. Terus, apa kelebihan/keunikannya? Kalau teman2 itu suka koleksi mata uang berbagai  negara, baik itu uang logam ataupun uang kertas, koleksi ini pun tidak kalah menarik. Yang membuatnya sangat menarik (menurut saya) itu kita bikin sendiri! 
      Dari uang logam, contohnya US Penny & Quarter, yaitu 1 cent Dollar ($0.1) & 25 cent Dollar ($0.25) kita bisa membuatnya menjadi sebuah koin dengan desain gambar landmark/tempat wisata yang ada di daerah tersebut. Bagaimana membuatnya? Ada mesinnya yang pasti! Kita tinggal masukkan koin uang logamnya & jumlahnya tergantung berapa yang diperlukan, rata2 di USA itu sekitar $0.51, jadi sediakan uang logam 1 Penny & 2 Quarter. Kalau diminta $1.01 jadinya 1 Penny & 4 Quarter.
             
      Kita masukkan koinnya di slot yang disediakan & pilih gambar/desain yg kita mau. Yang membuat saya tertarik adalah, ada beberapa mesin yg automatic, jadi setelah memilih design, makan mesin akan langsung berputar sendiri & jadilah uang logam sesuai yg kita pilih. Tapi masih ada banyak mesin2 yang tidak automatic, jadi setelah kita pilih designnya dengan cara memutar stick yang ada. Lalu setelah kita pilih designnya, kita tekan masuk slotnya sampai koinnnya masuk ke dalam & slot kembali seperti semula. Terus kita putar lagi sticknya, kita putar terus menerus sampai terasa berat (ya, sampai pakai tenaga muternya)  sampai kita lihat ada koin yang keluar, dan..., TADAAA!! Jadilah koin untuk kita koleksi. 


      Waktu saya ke Jepang beberapa tahun lalu, saya juga sempat membuat koin2 ini di beberapa tempat. Lumayan, buat kenang2an, jadi gak cuma gantungan kunci, magnet & kaos saja yg bisa dijadikan koleksi. Koin ini mempunyai suatu nilai tersendiri bagi saya (koinnya sih murah), yaitu bahwa  saya pernah menginjakkan kaki saya di tempat2 wisata tersebut, entah itu Disneyland, Universal Studio, Pantai, Gunung, Market, atau landmark2 lainnya. Saya pernah pergi kesana & membuat koin ini sendiri, gak sekedar nitip (bisa saja sih nitip, tapi bagi saya nilainya jadi berkurang karena bukan sayanya yg pergi). Saya pernah sih nitip sama teman, karena waktu saya pergi saya gak sempat bikin, ya dikasih memang tapi yg umum2 seperti nama Kota nya saja, karena teman saya bilang "Saya gak mau kasih, kamu aja yang pergi sendiri & bikin!" dan itulah yang memotivasi saya untuk travel & mengumpulkan 7 bola naga, eh maksudnya mengumpulkan koin2 tersebut. 
      Terus kumpulinnya pake apa? Taro dimana? Untuk pemula ya jangan lupa beli albumnya (jangan taro di celengan ya koinnya). Terus klo udah banyak nah kalian bisa kembangkan ide & kreatifitas kalian, bisa taro di bingkai etc. Ya, bisa kalian bikin sendiri yang bagus & berkesan.

        
      So, pesan saya, kalau mau travel ke luar negeri (di Indonesia belum ada soalnya), misal ke Jepang, kalian bisa tanya mbah Google, cari Penny Collection Locator. Pilih negaranya, pilih kota tujuan kalian & liat apa tempat yg mau kunjungin itu ada mesinnya ato gak (karena gak semua tempat ada). Biasanya mesinnya ada di gift shop, atau dekat ticket booth. And jangan lupa siapin uang receh, uang2 logam dari mata uang negara tersebut (saya pernah paksa Canada Dollar pake USD, jadi sih cuma ya gitu, MAKSA bgt mesinnya) 
      Ini sebagian koleksi2 saya, 
       


       
      Sekian,  info dari saya, semoga bermanfaat, happy travelling &  happy hunting  
       @deffa klo masih di Jepang, masih bisa cari koin ini (klo berminat)
       
    • By vie asano
      Saya sempat membaca di salah satu thread di forum Jalan2 yang membahas tentang Maldives. Kalau nggak salah, ada yang bertanya apa Maldives bisa dijelajahi ala backpacker nggak? Kurang lebih seperti itu pertanyaannya.
      Pertanyaan tersebut membuat saya sedikit berpikir. Mungkinkah Maldives dijelajahi ala backpacker? Untuk Jepang, Belanda, dan mayoritas negara lainnya, backpacking sudah sangat lazim dilakukan karena kondisi geografisnya mendukung untuk dijelajahi dengan cara hemat. Pilihan akomodasi dan transportasinya pun beragam mulai dari kelas sudra hingga kelas dewa. Namun Maldives? Hmm.. Image resort lepas pantai dengan pemandangan lautan berwarna tosca plus pasir putihnya yang berkilauan, kok kayaknya terlalu mewah untuk dijelajahi oleh backpacker yang identik dengan kata hemat, ya? Belum lagi kondisi geografis Maldives yang terdiri dari kepulauan, dan moda transportasi penghubung antar pulau bukannya jalan raya, melainkan seaplane dan kapal feri. Wah, bisa nggak tuh Maldives dijelajahi dengan cara backpacking? Jangan-jangan biaya transportasinya bikin kantong jebol.
      Ternyata, Maldives bisa kok dijelajahi ala backpacker. Minimal ala budget traveller deh. Tentunya backpacking ke Maldives pastinya tetap sedikit lebih mahal dibanding backpacking ke negara lain. Lho, kok gitu? Salah satu alasan utamanya sudah saya singgung di atas, yaitu perlu biaya transportasi ekstra jika ingin pindah-pindah dari satu pulau ke pulau lain (kecuali jika mau berenang antar pulau ya, hehe). Nah, bagi backpacker dan budget traveller yang berminat untuk berkunjung ke Maldives, berikut beberapa tips yang wajib diketahui.
      Waktu berkunjung
      - Sebetulnya, Maldives selalu disinari oleh matahari sepanjang tahun. Namun banyak yang berpendapat waktu paling tepat untuk berkunjung ke Maldives antara bulan Desember-April. Pada masa-masa tersebut, hujan mendadak termasuk jarang turun sehingga lebih lama disinari oleh matahari.
      - Perhatikan gejolak politik di Maldives saat ini berkunjung ke sana. Maldives termasuk negara yang rawan demonstrasi, terlebih saat mendekati momen-momen politik.
      Visa dan mata uang
      - Maldives bisa dikunjungi kapan saja karena negara ini menerapkan sistem visa on arrival dengan masa tinggal maksimal 30 hari.
      - Mata uang Maldives adalah Maldivian Rufiyaa (MRF) dengan pecahan 500, 100, 50, 20, 10, dan 5. 1 Rufiyaa = 100 Laari, dan 1 USD kira-kira setara dengan 15,42 Rufiyaa. Jadi 1 Rufiyaa itu berapa Rupiah? Hitung sendiri yah.
      - Saat berkunjung ke Maldives, sebaiknya siapkan uang dalam bentuk USD karena mayoritas hotel menerima pembayaran dalam USD. Sebagian saja yang ditukarkan dengan Rufiyaa dan Laari, karena untuk membayar transportasidan belanja di toko-toko kecil harus menggunakan mata uang lokal.
      Akomodasi
      - Lupakan cottage lepas pantai jika ingin wisata ala backpacker! Menginap di cottage maupun resort (apalagi resort ekslusif) setidaknya memiliki 3 konsekuensi yang tak bersahabat bagi backpacker, yaitu harga yang mahal (bisa lebih dari USD 600*/malam), biaya tambahan untuk mengakses ke resort (karena konsepnya satu resort untuk satu pulau), dan biaya makan yang ekstra pula (karena semua makanan harus dibeli di resort dan di sekitar resort pastinya nggak ada warung kaki lima, apalagi mini market).
      - Sebagai gantinya, pertimbangkan untuk menginap di hotel biasa, lodging house, maupun guest house. Jika pergi bersama rombongan, bisa juga mencari penduduk yang menyewakan rumahnya sehingga biaya sewa bisa ditanggung bersama. Dewasa ini makin banyak penginapan murah di Maldives, jadi jangan berhenti mencari alternatif akomodasi hingga mendapat yang betul-betul sesuai budget.
      - Jika tak ingin jauh-jauh dari pusat Maldives (terutama bagi partygoers), akomodasi di Hulhumale maupun Male bisa jadi pilihan. Selain karena memiliki beberapa opsi penginapan murah, dari kedua pulau tersebut cukup mudah untuk mengakses pulau lainnya karena banyaknya jam keberangkatan feri.
      - Seandainya tetep ngebet menginap di resort, selain harus pandai-pandai memilih budget resort, salah satu opsi untuk meminimalkan pengeluaran adalah dengan memesan “room only†alias nggak pakai makan. Konsekuensinya, kalau nggak mau puasa, ya harus berbekal makanan instan (ngenes banget nggak sih?).
      Transportasi
      - Sudah tahu kan jika moda transportasi penghubung antar pulau adalah pesawat domestik, seaplane, dan kapal fery? Jadi salah satu tips untuk menghemat biaya transportasi adalah dengan mempertimbangkan masak-masak itinerary wisata. Tentukan aktifitas wisata yang ingin dilakukan (misalnya: diving, snorkling, dan sebagainya) dan pilih lokasi yang saling berdekatan sehingga nggak perlu terlalu sering berpindah tempat.
      - Ini beberapa contoh tarif moda transportasi di Maldives:
      a. tarif taksi di Male dan Hulhumale ±MRF 25* (fixed rate).
      b. bus umum di Hulhumale ±MRF 3*.
      c. fery dari Male International Airport ke Male ±MRF 25-30*.
      d. fery dari Male ke Hulhumale ±MRF 5,5*.
      e. Untuk seaplane tarifnya bisa bervariasi tergantung destinasi tujuan di Maldives. Namun rata-rata bisa mencapai USD 350-500*/orang.
      - Untuk melihat jadwal keberangkatan kapal feri, bisa lihat disini.
      - Sedangkan untuk transportasi termurah menuju ke Maldives, selain harus rajin-rajin mencari tiket promo, sebaiknya pilih maskapai penerbangan murah seperti Tiger Airways. Sri Lanka Airlanes juga bisa jadi opsi menarik karena menyediakan jalur penerbangan dari Jakarta ke Maldives (via Srilangka).
      Tips lainnya
      - Saya sudah menjelaskan disini jika Maldives adalah negara Islam yang cukup ketat. Jadi sebaiknya jangan memakai pakaian yang terlalu terbuka saat berjalan-jalan di area publik dan jangan mengenakan bikini saat berjemur di pantai publik.
      - Di Maldives, sistem elektrik-nya 240 AC dan tipe colokan yang digunakan British Type.
      - Untuk berjaga-jaga, ketahui jam kerja pemerintah setempat yaitu mulai pukul 08.00-15.00 (Minggu-Kamis), dan jam kerja bank mulai pukul 09.00-15.00 (Minggu-Kamis). Nomor emergensi darurat adalah 119 (terhubung dengan kepolisian, ambulan, pemadam kebakaran).
      - Jika ngebet banget ingin menikmati pantai namun budget tak mencukupi untuk menginap di resort, siasati dengan menginap di penginapan yang lebih murah dan mengunjungi pantai maupun menjelajah pulau lain di siang hari.
      - Berencana liburan sambil membawa anak-anak? Berhubung di Maldives nggak ada Disneyland, pertimbangkan untuk memilih resort/hotel yang memiliki kids club. Pastinya perlu budget ekstra untuk itu, namun lumayan untuk menghindari rengekan si kecil saat bosan dengan aktifitas outdoor.
      - Tips terakhir ini bagi yang berniat untuk wisata ke Maldives sambil mencari pahala. Di Maldives banyak sekali lowongan untuk menjadi relawan dengan aktifitas beragam, mulai dari menyelamatkan kura-kura, menjadi guru, dan banyak lagi. Anda memang harus membayar sejumlah uang untuk dapat mengikuti program ini (bervariasi antara USD 1600*-1800*), namun sebagai gantinya para relawan akan mendapat akomodasi selama sebulan penuh (termasuk makan 3x sehari) dan menjalani berbagai pelatihan. Lumayan kan, bisa puas menikmati Maldives dengan biaya yang cukup terjangkau. Untuk detailnya, bisa lihat disini.
      Semoga bermanfaat.
    • By deffa
      Hola Deffa Here!
      Jadi, waktu saya dan istri babymoon ke Jepang bulan Februari lalu itu dalam kondisi cuaca yang musim dingin/salju. Nah, karena saya tidak punya Winter Coat dan kami akan menuju ke Shirakawago yang bersalju tebal, beli di Indonesia mahal dari 500 ribuan sampai jutaan, saya putuskan untuk beli di Kyoto saja, karena di Kyoto ada banyak Second Hand Stores yang bagus salah satu nya adalah Kyoto Recycling Kingdom.
      Untuk menuju ke toko nya kalian bisa menggunakan bus yang menuju ke Kyoto Gaidai-mae. Nah, karena kami dari Arashiyama, jadi menggunakan Bus no. 28 Arashiyama Station – Kyoto Gaidai-mae Bus Stop, lalu jalan kaki sekitar 5 menit ke arah selatan (ikuti Google Map). Ini website Kyoto Recycling Kingdom nya KLIK.
      Sayang, saya tidak sempat untuk poto-poto ketika di toko nya, namun bisa saya ceritakan gedung nya 2 lantai, dimana Lantai 1 berupa barang Elektronik dan Otomotif dari Handphone, Komputer, Laptop, Perkakas Mobil, dll. Lalu, di lantai 2 khusus produk Fashion seperti Pakaian, Topi, Dompet dll. Yang semua ini barang bekas.
      Tapi jangan salah, Jepang terkenal sangat apik dengan barang, bahkan barang bekas nya pun masih bagus banget kondisi nya. Saya mendapatkan Winter Coat + Windshield seharga 500 yen saja, sedangkan istri beli juga Winter Coat seharga 1000 yen. Kondisi nya tentu saja super bagus. Ini poto-poto Winter Coat yang kami beli.


      Cocok banget nih, bagi kalian yang doyan belanja tapi budget cekak, barang second tapi berkualitas banget di Kyoto Recycling Kingdom ini. Tapi, kalau untuk elektronik lebih baik di Sofmap, Akihabara - Tokyo, lebih banyak pilihan dan lebih murah.
      Semoga berguna. :) 
       
       
    • By vie asano
      Lanjut lagi soal aneka tips untuk muslim traveller yang akan pergi ke Korea Selatan. Bagi yang ingin kenalan dengan Islam di Korea Selatan dan Jepang, serta aneka Tips dan Info Penting untuk Muslim Traveller ke Korea Selatan, bisa langsung klik hyperlink-nya yah.
      Panduan mencari makanan halal di Korea Selatan
      Di antara berbagai tips untuk muslim traveller, saya rasa masalah mencari makanan halal termasuk salah satu yang paling ribet. Apalagi jika bepergian ke negara lain dimana Islam menjadi agama minoritas, dan lebih yahud lagi, negara tersebut memiliki huruf tradisional non-alphabetical yang membuat kita seolah-olah sedang melihat rangkaian bahasa sandi. Contohnya seperti Korea Selatan maupun Jepang. Saya pun pernah mengalami masalah yang sama saat berwisata ke Jepang 2 tahun lalu. Walau sudah berusaha menghindari produk makanan non-halal (yang paling mudah, cari yang nggak memasang kanji babi maupun alkohol), pada satu kesempatan tetap saja nggak sengaja memakan makanan instan yang ternyata mengandung perasa babi.
      Ada beberapa tips untuk mencari makanan halal saat berwisata ke Korea Selatan. Beberapa tips ini bisa diterapkan juga untuk negara lain seperti Jepang, Belanda, dan lainnya. Tips yang paling pertama, adalah dengan meminimalkan kemungkinan mengkonsumsi produk makanan non-halal. Caranya bagaimana?
      1.Mencari restoran/tempat makan yang memasang logo halal.
      Biasanya resto-restoran halal tersebut dikelola oleh muslim dari negara lain (seperti Pakistan dan Malaysia), atau minimal memiliki koki seorang muslim. Namun perlu diketahui dan diwaspadai, tidak semua restoran yang mengusung label halal ternyata betul-betul 100% halal. Misalnya saja, ada restoran yang tetap menjual minuman beralkohol namun menyediakan menu halal (biasanya alasannya agar bisnis bisa terus berjalan). Ada juga restoran yang menyediakan makanan halal dan non-halal sekaligus. Mengingat keterbatasan luas dapur (dan juga ketelitian dalam pencucian alat-alat), belum tentu makanan halal dan non-halal dimasak menggunakan alat yang berbeda. Di Jepang juga pernah dilaporkan ada restoran halal namun menampilkan hiburan non-halal seperti tari perut. Jadi intinya, memilih restoran berlabel halal menjadi salah satu solusi paling oke, namun tetap harus ekstra waspada terhadap konten lain di restoran tersebut.
      2.Mencari restoran vegetarian, minimal restoran yang vegetarian-friendly.
      Restoran vegetarian jelas hanya akan menyediakan menu-menu non-daging, dan jelas tidak akan menggunakan bumbu-bumbu berbahan dasar daging. Jadi restoran vegetarian relatif aman bagi muslim traveller. Namun jika tidak menemukan restoran vegetarian, minimal usahakan untuk mencari restoran yang vegetarian-friendly, yaitu resto biasa yang memiliki opsi menu vegetarian ataupun seafood.
      3.Makan di restoran seafood
      Bingung mencari restoran halal? Nggak ketemu sama restoran vegetarian maupun vegetarian-friendly? Ke resto seafood saja, karena seafood sudah pasti halal untuk di konsumsi.
      Begitu pendapat umum tentang seafood. Well, sebetulnya nggak sesederhana itu lho. Seafood-nya sih memang halal, tapi bumbu-bumbunya belum tentu lho, karena sudah jadi rahasia umum dalam masakan oriental pasti ada saja bumbu yang berasal dari sesuatu non-halal (seperti daging babi, darah, maupun alkohol). Berhubung nggak mungkin mewawancarai koki untuk bertanya tentang bumbu masakan setiap kali makan seafood, saya akan memberikan daftar menu seafood yang relatif aman (catat: relatif aman, bukan 100% aman yah) untuk dikonsumsi jika dilihat dari resepnya. Saya juga nggak menjamin menu-menu ini pasti halal, jadi feel free kalau mau kasih koreksi. Eh iya, daftarnya langsung dalam bentuk foto yah. Berikut foto-fotonya:
      Foto 01:
      (a.) Maeuntang (Spicy Fish Stew) [foto: Junho Jung/wikimedia], (b.) Sundubu Jjigae (Hot and Spicy Soft Tofu Stew) [foto: Avlxyz/wikimedia], (c.) Doenjang Jjigae (Vegetable and Seafood Stew) [foto: Koralex90/wikimedia], (d.) Saengseon Gui (Grilled Fish) [foto: Karendotcom127/wikimedia]
      Foto 02:
      (a.) Saengseon Jeon (Pan-fried Fish Fillets) [foto: å—å®®åšå£«/wikimedia], (b.) Tuna Kimbap (Tuna Roll Sushi) [foto: Jqn/wikimedia], (c.) Haemul Pajeon (Seafood Pancake) [foto: <==manji==>/wikimedia], (d.) Jjampong (Spicy Seafood Noodles) [foto: Alfpooh/wikimedia]
      Tambahan info, berikut beberapa menu lain (non-seafood) yang juga relatif aman untuk dikonsumsi:
      Foto 03:
      (a.) Bibimbap (mixed rice with vegetable and meat) [foto: Agnes Ly/wikimedia], (b.) Tteokbokki (rice cake) [foto: Adonis Chen/wikimedia], (c.) Kalguksu [foto: Jslander/wikimedia], (d.) Hobakjuk (Pumpkin Porridge) [foto: Nicole Cho/wikimedia]
      Itu sebagian menu yang bisa saya kumpulkan. Sebetulnya masih banyak sih, tapi sengaja nggak ditulis semuanya, soalnya tadi siang (waktu nulis ini) tiba-tiba jadi laparrrr (puasa, puasa..) haha..
      4.Makan di restoran fastfood
      Lho, kok resto fastfood? Bukannya menu daging di resto fastfood belum tentu halal? Maksudnya, belum tentu disembelih dengan cara yang halal. Yaps, memang betul menu daging di resto fastfood belum tentu disembelih dengan cara yang halal. Namun resto fastfood juga nggak melulu berisi daging, kan? Ada kentang goreng, burger non-daging, salad, dan banyak lagi. Jadi jika ragu dengan dagingnya, bisa memesan menu non-daging.
      Bagi yang masih meragukan kehalalan makanan di tempat-tempat yang sudah saya singgung di atas (biasanya mempertanyakan apakah dagingnya disembelih dengan cara halal, apakah peralatan makannya betul-betul bebas dari bahan non-halal, dan sejenisnya), ada tips kedua yang bisa dicoba, yaitu dengan memasak sendiri makanan yang akan disantap. Untuk memastikan kehalalan makanan, bisa membeli bahan makanan di toko halal, yaitu toko yang hanya menjual produk mentah yang halal. Misalnya saja, mie instan, roti, daging, dan sebagainya. Memang sih lebih repot karena harus menyiapkan sendiri makanan Anda, namun soal kehalalannya insya Allah lebih terjamin. Jika Seoul jadi salah satu kota tujuan wisata selama di Korea Selatan, daerah Itaewon bisa dilirik karena di area tersebut banyak terdapat restoran halal dan beberapa toko bahan makanan halal.
      Trus gimana kalau nggak yakin sama restoran halal, nggak nemu resto vegetarian/vegetarian friendly, nggak suka seafood, dan nggak bisa nyiapin makanan halal sendiri? Ada tips terakhir. Bawa saja makanan halal dari Indonesia, seperti mie instan, roti, nasi instan, dan lain-lain. Tapiiiiiii saya pribadi berpendapat kalau travelling nggak melulu soal menikmati obyek wisata, namun juga menikmati budaya setempat yang berarti juga menikmati produk kulinernya. Demi pengalaman wisata yang lebih lengkap, menurut saya nggak masalah jika harus repot-repot sedikit menyeleksi makanan halal. Masa sudah jauh-jauh pergi ke Korea Selatan, eh ujung-ujungnya makan Ind*mie juga? Hehe..
      Sebagai penutup, beberapa daftar kuliner halal di Korea Selatan bisa dilihat disini. Untuk informasi lebih lengkap tentang panduan makanan halal di Korea Selatan, bisa lihat ini.
      Semoga infonya bermanfaat yah!
      ***
      * Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
    • By vie asano
      Balik lagi ke Maldivessss! Tapi kali ini saya ingin berbagi info penting bagi yang suka gratisan, khususnya gratisan wisata.
      Saya sudah pernah menulis tentang cara makan dan tinggal gratis selama wisata di Jepang. Salah satunya adalah dengan mengikuti program WWOOF Japan, maupun mengikuti program sejenis lainnya. Sebetulnya, dan sejujur-jujurnya, kedua program tersebut nggak murni gratisan. Untuk dapat mengikuti program-program tersebut, member harus membayar sejumlah biaya pendaftaran yang sebetulnya nggak ada apa-apanya dibanding dengan pengalaman yang akan didapat. Info lebih lengkap sudah saya tulis dalam tulisan terpisah, tinggal klik link-nya saja.
      Trus apa hubungannya dengan Maldives? Nah, di Maldives juga ada beberapa program serupa dengan program makan dan tinggal gratis di Jepang. Tapi sama seperti program WWOOF Japan dan sejenisnya, makan dan tinggal gratis di Maldives pun ada nggak 100% gratis. Lho, jadi yang katanya gratis itu ternyata nggak gratis? Penipuan dong? Tenang. Sabar, boss. Kayaknya, di dunia ini yang benar-benar gratis tanpa syarat dan ketentuan itu cuma udara ya. Jadi jangan berharap ada fasilitas makan dan tinggal gratis yang tanpa syarat dan ketentuan berlaku yah. Untuk lebih jelasnya, stay tune terus aja dengan penjelasan saya.
      Sebetulnya, masalah ini sudah pernah saya singgung sekilas disini. Hayo baca dulu! Intinya, di Maldives ada program penerimaan relawan. Hanya saja di tulisan sebelumnya saya hanya menyinggung sekilas lalu dan hanya menyertakan contoh dari satu sumber saja. Jadi pada kesempatan kali ini saya akan membahas lebih detail mengenai program relawan ke Maldives yang disarikan dari berbagai penyelenggara program untuk gambaran yang lebih akurat.
      Apa itu program relawan ke Maldives?
      Program relawan ke Maldives merupakan sebuah program yang menawarkan kesempatan bagi siapa saja yang tertarik untuk melakukan berbagai kegiatan amal di Maldives. Program ini tak hanya diselenggarakan oleh Volunteer Maldives yang saya tulis sebelumnya. Ada banyak penyelenggara program relawan ke Maldives, dan biasanya penyelenggaranya adalah lembaga non-profit.
      Kenapa harus mempertimbangkan jadi relawan ke Maldives?
      Alasan yang paling klasik (dan sebetulnya wajib jadi alasan utama) tentu saja karena faktor kepedulian. Di Maldives banyak program menarik yang berkaitan dengan konservasi alam dan komunitas yang membutuhkan bantuan dari siapa saja yang punya kepedulian sosial. Namun tentu saja ada nilai plus lainnya jika memilih jadi relawan ke Maldives. Mari saya coba jabarkan satu persatu.
      Pertama, dengan menjadi relawan, kesempatan untuk menikmati Maldives sampai kenyang akan jauh lebih terbuka dibanding berwisata 1-2 malam saja. Biasanya, program untuk relawan berlangsung selama minimal 2 minggu hingga 12 minggu, tergantung paket mana yang akan dipilih. Mantap kan?
      Kedua, sudah tahu kan jika biaya akomodasi di Maldives terbilang mahal? Nah, jika menjadi relawan, masalah akomodasi akan ditanggung oleh penyelenggara program. Lengkap dengan makan dan minumnya lho, 3x sehari. Tentu saja jangan ngarep bisa menginap sepuasnya di resort lepas pantai ya. Biasanya, ada 2 opsi akomodasi dari penyelenggara, yaitu antara menginap di asrama (model sharing bedroom dan bathroom dengan pemisahan gender), maupun menginap di rumah penduduk lokal. Mirip dengan program WWOOF Japan, bukan?
      Ketiga, dengan menjadi relawan, kesempatan untuk mengenali budaya lokal akan sangat terbuka. Apalagi jika Anda termasuk beruntung mendapat akomodasi di rumah penduduk lokal.
      Trus kerjaan relawan tuh apa saja? Jam kerjanya bagaimana?
      Dalam program WWOOF Japan, wisatawan harus melakukan pekerjaan tertentu selama 4-6 jam/hari selama 5-6 hari/minggu sebagai ganti akomodasi yang diberikan oleh host. Program relawan di Maldives juga tak jauh beda. Bedanya, jika pada program WWOOF Japan wisatawan bekerja untuk pihak swasta, dalam program relawan Maldives hasil kerja relawan dinikmati oleh banyak pihak (khususnya penduduk lokal).
      Banyak opsi pekerjaan yang bisa dilakukan. Biasanya pilihan opsi tersebut dilakukan saat proses melakukan pendaftaran. Saya coba membuat list beberapa pekerjaan (yang biasanya disebut dengan program) yang bisa dilakukan oleh relawan asing di Maldives:
      - Mengajar, baik itu sebagai guru pra-sekolah, sebagai asisten pengajar, maupun sebagai pengajar di sekolah. Biasanya yang dibutuhkan adalah pengajar untuk bahasa Inggris, seni, maupun musik. Nggak bisa bahasa Inggris dan nggak punya jiwa seni? Masih banyak alternatif pekerjaan, eh program lainnya.
      - Pengembangan komunitas, dengan jenis pekerjaannya antara lain bercocok tanam, membantu menyelenggarakan berbagai acara, menjadi konselor bagi anak-anak muda, bekerja di bidang pembangunan, maupun menjadi penulis yang mempromosikan kegiatan dalam komunitas tertentu.
      - Olah raga. Biasanya sih sebagai pelatih untuk sebuah tim olah raga, maupun menjadi pengajar untuk olah raga tertentu seperti voli, renang, maupun fitness.
      - Relawan program konservasi, dengan jenis pekerjaannya mulai dari konservasi alam, konservasi laut, menanam coral, hingga konservasi penyu.
      - Relawan medis.
      Itu sebagian pekerjaan yang bisa saya kumpulkan. Untuk durasi kerjanya rata-rata 5 hari/minggu, sehingga relawan punya tetap punya waktu senggang untuk bersenang-senang. Sedangkan untuk jam kerja/harinya bervariasi, tergantung program mana yang dipilih.
      Seputar biaya
      Nah, ini bagian nggak gratisnya. Sebagai relawan, Anda memang tidak dibayar. Namun Anda harus membayar sejumlah biaya pendaftaran untuk bisa mengikuti program ini. Memang sih kesannya seperti Anda harus membeli untuk keluar tenaga (jadi relawan), namun sejatinya uang pendaftaran tersebut akan disalurkan sebagai donasi untuk komunitas setempat, maupun sebagai sumber dana untuk operasional penyelenggara program (yang adalah lembaga non-profit). Relawan pun akan mendapat sejumlah fasilitas dan kemudahan lainnya, seperti mendapat akomodasi, makan dan minum, hingga bebas biaya bepergian antar pulau dengan perahu lokal (jika ingin naik seaplane, bayar sendiri yah). Oya, biaya yang dikeluarkan itu belum termasuk ongkos dari dan menuju Maldives, maupun biaya visa dan asuransi.
      Besaran biayanya bisa sangat bervariasi antara satu penyelenggara dengan lainnya, dan sangat tergantung juga pada jenis pekerjaan yang dipilih plus durasinya. Sebagai contoh, program Volunteer Maldives mematok biaya $1600* untuk aktifitas mengajar, dan $1800* untuk relawan medis dan konservasi, dengan durasi waktu 4 minggu. Biaya tersebut akan bertambah $500* jika durasi waktunya bertambah setiap 2 minggu (6 minggu, 8 minggu, maksimal 12 minggu). Atoll Volunteers memiliki biaya dan sistem yang berbeda lagi. Relawan bisa memilih durasi waktu mulai dari 2 minggu, 3 minggu, 4 minggu, 6 minggu, dan maksimal 12 minggu. Untuk biayanya tergantung pada aktifitas yang dipilih. Misalnya saja, jika ingin menjadi pengajar seni, biayanya mulai dari $770* untuk paket 2 minggu, $1050* untuk 3 minggu, $1400* untuk 4 minggu, dan seterusnya. Sedangkan jika ingin melakukan konservasi laut, biayanya mulai dari $980* untuk 2 minggu, $1350* untuk 3 minggu, $1800* untuk 4 minggu, dan seterusnya. Lain lagi jika ingin menjadi pelatih fitness maupun tenaga medis. Sebagai pelengkap, saya akan melampirkan contoh tarif dari penyelenggara Antipodeans Abroad dan Maldives Whale Shark Research Programme (MWSRP). Silahkan klik link di masing-masing nama untuk info lebih lanjut.
      Penutup
      Kaget lihat biayanya? Jangan dulu shock yah. Sebetulnya biaya-biaya tersebut relatif ekonomis lho jika dibandingkan dengan masa tinggal di Maldives yang minimumnya 2 minggu. Bahkan jauh lebih ekonomis jika dibandingkan dengan menginap selama 1-2 malam di resort ekslusif, maupun wisata 4-5 hari ala backpacking. Lagipula, nggak ada salahnya kan melakukan wisata sambil beramal (atau beramal sambil wisata)? Semoga infonya bermanfaat!

    • By vie asano
      Sebetulnya, sudah cukup lama saya ngebet banget nulis tentang Maldives. Tempat honeymoon paling populer di dunia ini memang sudah lama bikin penasaran, dan rasa penasaran itu semakin bertambah setelah muncul video tentang Meldaifs (tahu kan maksudnya?). Gemes-gemes gimana gitu, kepingin tahu apa saja sih yang ada di negara bulan madu itu. Hanya saja, rencana menulis tentang Maldives terpaksa ditunda dulu selama beberapa waktu. Repot sih kalau disangka black champaign. Jadi lebih baik sabar dulu sampai waktunya tepat. Begitu pikir saya.
      Foto 01 (a-d):
      Maldives, a country with a glance [foto: KingKurt22/wikimedia, B166-er/wikimedia, Bruno de Giusti/wikimedia, Godot13/wikimedia]
      Nah, berhubung kemarin acara coblos mencoblos sudah selesai dan sekarang tinggal pada dag dig dug menunggu hasil perhitungan suara, boleh dong saya mulai bercerita tentang pulau tropis nan cantik ini. Saya lihat sebetulnya Maldives cukup sering dibicarakan di forum Jalan2, khususnya untuk topik diving. Beberapa thread tentang Maldives bisa dilihat disini, disini, dan disini. Untuk panduan singkat tentang Maldives, thread yang cukup lengkap bisa dilihat disini. Namun karena rata-rata masih berfokus pada aspek wisatanya saja, untuk kali ini saya fokus berbagi aneka fakta seru lainnya seputar Maldives yang mungkin saja belum diketahui banyak orang. Biar nggak campur aduk, disini saya tetap menggunakan nama Maldives dibanding Maladewa.
      - Sejarah asli Maldives masih simpang siur karena fakta sejarah dan legenda saling campur aduk. Menurut legenda, penguasa pertama di Maldives berasal dari India, yaitu Sri Soorudasaruna Adeettiya, putra raja Kalinga yang sengaja dibuang ke Maldives (dulunya bernama Dheeva Maari). Sebelum kedatangan sang pangeran ke Maldives, di kepulauan ini sudah ada komunitas lokal yang memuja matahari dan air yang sudah eksis sejak 3000 tahun yang lalu. Dalam perjalanan sejarahnya, negara ini sempat dikuasai oleh negara lain seperti Portugis, Belanda, dan Inggris.
      - Lokasi Maldives terletak di barat daya dari Srilangka. Waktu lokal di Maldives adalah GMT+5, yang berarti lebih lambat 2 jam dari Waktu Indonesia Bagian Barat. Cuaca di Maldives selalu hangat sepanjang tahun dengan temperatur kira-kira 29-32 derajat celcius, sehingga paling cocok berkunjung ke Maldives dengan menggunakan pakaian kasual berbahan kaos. Oya, dari Indonesia ke Maldives kurang lebih membutuhkan waktu 4-5 jam naik pesawat, itu belum termasuk transportasi dari bandara internasional ke pulau tujuan yang diinginkan.
      - Maldives merupakan negara yang menganut sistem presidensial. Negara ini terbagi dalam 7 provinsi dan 21 wilayah administratif. Ibu kota Maldives adalah Male, dan disinilah populasi terbanyak penduduk Maldives berada. Mata uangnya adalah Rufiyaa dan Laaree (1 Rufiya = 100 Laarees). Namun nggak perlu khawatir jika nggak punya Rufiya atau Laaree. US Dollar banyak digunakan, dan beberapa resort menerima pembayaran kartu kredit ternama seperti American Express, Visa, dan sebagainya.
      Foto 02:
      (a & b.) Male, ibukota Maldives [foto: Shahee Ilyas/wikimedia, Giogio Montersino], (c.) Presidential residence di Male [foto: A Robustus/wikimedia], (d.) Male International Airport [foto: DD/wikimedia]
      - Sudah pada tahu kan jika Maldives adalah negara kepulauan? Totalnya, negara ini memiliki 1190 pulau yang tersebar di area seluas 90000 kilometer persegi, sehingga Maldives sekaligus diakui sebagai negara yang wilayahnya paling tersebar satu sama lain. Dari sekian banyak pulau tersebut, hanya 200 yang dihuni. Itu pun hanya 185 pulau yang dihuni secara permanen dengan total populasi 350000 orang. 105 pulau sudah menjadi resort ekslusif, dan 31 area lainnya sudah masuk dalam kategori dilindungi.
      - Lalu bagaimana caranya jika ingin bepergian dari satu pulau ke pulau lainnya? Berhubung disini nggak ada jembatan penghubung antar pulau, ada 3 opsi yang bisa dipilih. Pertama, dengan menggunakan penerbangan domestik. Walau negaranya relatif kecil, Maldives memiliki 4 bandara internasional dan 6 bandara domestik, dengan bandara terbesarnya terletak di Male, yaitu Ibrahim Nasir International Airport. Kedua, dengan menggunakan sea plane. Sayangnya tidak semua pulau memiliki fasilitas ini sehingga alternatif ketiga, yaitu menggunakan perahu, menjadi transportasi andalan lainnya di Maldives.
      Foto 03:
      (a & b.) Sea plane [foto: DD/wikimedia], (c & d.) Perahu [foto: Lauren reich/wikiimedia, DD/wikimedia]
      - Selain diakui sebagai negara dengan luas wilayah yang paling berceceran, Maldives juga memegang rekor lain yaitu sebagai negara dengan ketinggian paling rendah. Daratan Maldives rata-rata hanya setinggi 1,5 - 2,4 meter saja! Jadi nggak heran jika beberapa pulau di Maldives ada yang mulai hilang akibat naiknya air laut.
      - Sekalipun pernah dikuasai oleh berbagai bangsa asing, Maldives adalah negara Islam yang cukup ketat. Saking ketatnya, segala tindakan yang menjurus ke penistaan agama akan cepat mendapat respon, dan mempraktekkan agama lain secara terang-terangan juga dilarang disini. Fakta lainnya, di Maldives minuman beralkohol juga dilarang (kecuali di area resort), begitu juga dengan berjemur sambil topless di pantai.
      - Bahasa nasional dari Maldives adalah Dhivehi, dan penduduk asli Maldives disebut Dravidian. Walau begitu, bahasa Inggris dikenal oleh mayoritas penduduk Maldives, jadi nggak perlu khawatir jika nggak kenal bahasa Dhivehi. Selain bahasa Inggris, bahasa asing lain yang cukup populer disini adalah Jerman, Italia, Jepang, dan Prancis.
      - Biasanya, citra tentang Maldives selalu ditampilkan melalui gambar-gambar resor tepi lautnya. Pariwisata memang menjadi daya tarik utama dari Maldives. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukan selama berwisata ke Maldives:
      1. Bulan madu. Sudah tahu kan jika Maldives populer sebagai negara tujuan bulan madu? Di Maldives memang banyak terdapat resort papan atas dengan pemandangan ciamik ke arah laut lepas maupun pantai berpasir putih. Beberapa resort menawarkan aktifitas tambahan yang pastinya akan membuat suasana bulan madu semakin mantap, seperti makan di tepi pantai, berenang bersama, dan sebagainya. Untuk harga resortnya termasuk bervariasi, tergantung apa ingin menginap di penginapan biasa atau di cottage lepas pantai. Yang pasti sih makin jauh ke laut, maka harga cottage-nya pun makin melambung.
      Foto 04 (a-d):
      Resort di Maldives [foto: Business slayer/wikimedia, huvavenfushi/wikimedia, Bruno de Giusti/wikimedia, B166-er/wikimedia]
      2. Melakukan berbagai olah raga air, seperti menyelam, berselancar, dan sebagainya. Walau Maldives terkenal sebagai salah satu negara terbaik untuk menyelam, beberapa teman dengan bangga menyatakan jika kekayaan alam bawah laut di Indonesia nggak kalah (dan bahkan lebih menarik) dari Maldives. Mungkin yang belum ada di Indonesia adalah restoran bawah air, jadi jika malas menyelam, bisa mempertimbangkan mampir ke resto ini.
      Foto 05:
      (a.) Ithaa Restaurant [foto: Alexey Potov - noblige/wikimedia], (b.) Windsurfing di Maldives [foto: eNil/wikimedia]
      3. Melakukan studi banding. Maldives memiliki banyak sekali pulau menarik yang masih menjunjung tinggi kearifan lokal. Beberapa pulau bahkan terbilang relatif perawan sehingga menantang untuk dijelajahi oleh para pecinta alam. Sebagian pulau lainnya menawarkan aktifitas seru seperti memancing di malam hari. Jadi jangan hanya mentok di resort saja, karena masih banyak pulau lain di Maldives yang bisa dikunjungi.
      Foto 06:
      (a.) Tari tradisional Maldives [foto: Xavier Romero-frias/wikimedia], (b.) Salah satu pulau tak berpenghuni di Maldives [foto: Nizam Ibrahim/wikimedia]
      4. Santai dan menikmati suasana. Pasir putih dan laut biru yang membentang luas selayang mata memandang. Apa lagi yang paling asyik untuk dilakukan selain menikmati suasana? Terlebih karena di Maldives satu pulau diperuntukkan untuk satu resort sehingga tingkat privasi-nya cukup tinggi.
      Foto 07 (a-d):
      Pulau resort di Maldives [foto: Giorgio Montersino/wikimedia, Adrian.benko/wikimedia, Patrick Verdier/wikimedia, MadMedea/wikimedia]
      5. Spa. Tak hanya Bali yang dikenal memiliki berbagai tempat spa kelas dunia. Di Maldives juga terdapat beberapa tempat spa yang menarik juga untuk dicoba.
      6. Menikmati sea plane. Bagi wisatawan yang baru berkunjung ke Maldives, naik sea plane bisa jadi aktifitas wisata tersendiri lho. Terlebih karena dari sea plane wisatawan bisa menikmati uniknya hamparan pulau di Maldives. Mau sambil foto-foto? Boleh juga.
      Demikian sekilas fakta tentang Maldives. Rencananya saya masih akan berbagi beberapa informasi tentang Maldives. Untuk detailnya, tunggu tulisan selanjutnya ya (promosi mode on).
      ***
      * Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username wikimedia.
×
×
  • Create New...