freaksthriller

field report [Catper] Menapaki Gunung Artapela Bandung Berdua Bersama Istri

13 posts in this topic

IMG_20161003_100236.jpg


Meski cuaca tak bersahabat saat itu, hampir 5 menit sekali Mendung Hujan reda berkabut silih berganti,
tapi tetap kindahanNya tidak pernah pudar...

Mungkin masih sedikit asing memang ditelinga para pendaki tentang keberadaan gunung yang satu ini.
Artapela merupakan Gunung tropis yang tidak aktif yang berada di daerah Kertasari yang berbatasan dengan kecamatan Pangalengan Bandung Jawa Barat. Dengan ketinggian sekitar 2194 mdpl, gunung Artapela kini menjadi salah satu gunung baru yang mulai popular dan mulai banyak didaki oleh para pendaki Indonesia.

Sebenarnya sudah beberapa bulan terakhir ini kita sudah merencakanan untuk pergi ketempat ini, tapi karena terhambat waktu akhirnya tanggal 1 Oktober 2016 kemarinlah kita bisa kesana, maklum salah satu dari kita seorang pekerja yang hanya mempunyai 2 hari libur dalam 1 minggu, maka dari itu gunung ini cocok untuk liburan akhir pekan dan tanpa harus mengambil cuti.

Perjalanan dimulai jam 07:00 pagi dari Kopo Bandung Selatan, kita menggunakan motor melalui Balaendah – Ciparay, dari situ kita lanjutkan ke arah Pacet Sukapura jaraknya -+17 km dari Ciparay. Setelah sampai di Desa Sukapura, ada pertigaan menuju kampong Argasari, disanalah pos pendakian Artapela berada. Sesampai di pos pendakian -+Jam 09:00 ternyata disana juga ada rombongan dari Jakarta, dan kitapun mengisi formulir registrasi & perijinan, dengan Retribusi jasa lingkungan Rp. 5.000 /orang, parkir motor Rp. 10.000 permotor/malam. Setelah istirahat sebentar di Pos sekitar jam 09:30 kitapun mulai berangkat, sebelum pergi kitapun di beri pengarahan seperti masalah sampah, api unggun dan lain sebagainya.

Oh ya untuk jalur yang bisa kita lalui ini ada 2, melalui jalur Seven Field (kebun 7) dan melalui Datar Jamuju, bedanya jalur seven field ini lumayan menanjak hampir tidak ada bonus (kata seorang petugas), dan jalur Jamuju relatif lebih landai, kitapun memutuskan naik lewat Datar Jamuju dan turun lewat Seven Field.
Jangan khawatir masalah arah, meski minim patok/tanda petunjuk, kita bisa menanyakan kepada petani sekitar di sepanjang perjalanan, karena jalur pendakian ini hampir sepenuhnya melewati bukit-bukit perkebunan sayuran, baru kali ini kita mendaki tapi hampir tidak memasuki hutan. :D
Kalau masih takut tersesat / atau ngedaki nya malam bisa sewa porter/guide, katanya sudah tersedia jasa porter.

DSCF1674.jpg

Disepanjang perjalanan kita disuguhkan oleh pemandangan perkebunan Petani yang menggarap lahan PTPN VIIIDSCF1670.jpg
Para Petani yang biasa mengangkut hasil kebun menggunakan motor

Dijalan kita pun melewati rombongan dari Jakarta tadi yang sedang beristirahat, dan yang kita temuin hanya 1-2 pendaki saja yang sedang turun. Hampir disepanjang perjalanan tidak ada pohon untuk berteduh dari teriknya matahari atau hujan, yang ada hanya saung-saung petani yang bisa kita jadikan tempat peristirahatan sejenak. Oh iya disini banyak sekali wortel dan kentang baik yang dikebun atau yang berserakan dijalan, mungkin berjatuhan dari motor pengangkut hasil kebun. Karena tergiur kitapun  meminta sedikit kentang dan wortel yang bersekaran dijalan itu kepada salah seorang petani, dan mereka sangat baik bahkan menawarkan yang lainnya, hehe
Ingat… jangan memetik sembarangan dan tanpa izin!
(Soalnya pas diatas puncak lumayan banyak juga sisa-sisa kentang & wortel.)

Ketika rasa lelah saat berjalan di tengah hujan dan kebun yang berada di ketinggian sembari ngemil  wortel yang rasanya manis, wuih…nikmatnya seperti makan buah-buahan yang dari kulkas, seolah memberi kesegaran kembali. haha…

IMG_20161003_013750.jpg

IMG_20161003_014844.jpg

Ketika terdiam sesaat terjatuh dlm rasa lelah setelah naik turun melewati beberapa bukit perkebunan, dgn cuaca yg mendung hujan reda silih berganti dan menyaksikan kabut tipis diikuti kabut pekat dari kejauhan, tiba2 seekor burung elang terbang di pohon yg ia hinggapi yg tidak terlalu jauh dri tempat kita terdiam, tak ingin ku sia-siakan untuk mengabadikan moment ini dengan alat ala kadarnya, meski burung itu hampir masuk kedalam kabut.
Moment itu cukup membuat kita kembali bersemangat utk menanti apa yg akan alam dan sang pencipta suguhkan...

Sebelum sampe dipuncak kita sedikit memasuki area hutan, meski pepohonan disana sudah hampir rata di tebang oleh warga sekitar, terlihat juga tempat pemotongan kayu, menurut info kerusakan kawasan hutan lindung petak 39 telah mencapai puncaknya sejak 2015, berawal dari kebakaran hutan yang terjadi pada musim kemarau kala itu bulan September 2015. Entah terbakar atau di bakar kondisinya semakin memprihatinkan.
Sekitar jam 13:00 kitapun sampai puncak dan disuguhkan kabut tebal, hujan dan badai angin, memaksa kita harus sesegara mungkin mendirikan tempat berlindung di dekat pepohonan, saat itu hampir tidak terlihat orang atau tenda lain, seolah-olah puncak itu hanya milik kita berdua. Hehe
Setelah itu kitapun mengisi perut  dengan oatmeal, memasak mie instan dan tidak lupa membuat  kopi untuk dinikmati ditengah cuaca seperti itu.

Setelah 30-60menitan badai itu berlalu, orang-orang mulai terlihat berdatangan, tak dikira akan sebanyak itu yang datang, mengingat perkataan petugas  di pos yang mengatakan kalau kemarin itu yang mendaki hanya dua orang. Tidak mau ketinggalan tempat yang strategis untuk melihat sunrise & citylights, kitapun bergegas pindah tempat.

IMG_20161002_063257_HDR.jpg


Sore hari setelah pindah tempat

Sore menjelang malam, berhubung cuaca tidak mendukung dengan kabut yang datang dan pergi hampir tiap beberapa menit sekali, saat itu kita habiskan di tenda, memasakpun hanya di vestibule saja.
Oatmeal pun dilahap, dan Kentang yang tadi dalam perjalanan minta ke petani kita goreng dengan sosis & cireng yang kita beli dipasar bawah, tentunya saos & mayonnaise sebagai pelengkap menjadi santapan kita dikala malam itu, sungguh nikmat rasanya.
Setelah itu kitapun bersantai sejenak didepan tenda menggelar matras, ditemani secangkir kopi dan susu menikmati keheningan malam dan memandang citylights yang selalu tertutup kabut yang membuat kita tidak puas dengan cuaca kala itu, akhirnya setelah beberapa menit tepat jam 21:00 kitapun bergegas tidur.

Jam 02:00 subuh saya terbangun dan melihat keluar, ternyata kabut sudah tidak ada, pemandangan citylights pun terlihat jelas dan hanya ada satu rombongan tenda di atas belakang tenda kita yang sedang asik pada bernyanyi diiringi suara gitar, Gila men bawa-bawa gitar ke atas gunung!  
Karena saat malam kurang puas dengan cuaca, akhirnya sayapun menggelar matrass di depan tenda sembari menunggu matahari terbit (meski masih lama hehe)

IMG_20161003_143429.jpg


Pemandangan Citylights dari tenda kami

Saat menikmati citylights dgn secangkir kopi dan sebatang rokok, dari kejauhan salah satu gunung tampak menyala, terpancar warna merah seperti bara api yg mengepulkan cahaya keatas, dalam hati kubertanya-tanya
"wahh apakah itu...?"
menurut salah satu warga sekitar, kepulan cahaya merah seperti bara api itu berasal dari kawah gunung papandayan…
Benarkah? entahlah...

Tidak lama kemudian ada 2 orang yang seperti sedang berpatroli melewati tenda kami, berhubung persediaan air yang kita bawa makin menipis hanya cukup untuk sarapan pagi saja, kitapun menanyakan pada mereka, ternyata mereka bukan petugas tapi warga sekitar yang berasal dari pangalengan, kata mereka ada sumber air dijalur via pangalengan yang tidak begitu jauh dari puncak, oh oke… sayapun menanyakan masalah jalur via pangalengan yang masih sangat minim info, orang-orang yang mendaki lewat pangalengan pun katanya mereka hanya menitipkan kendaraannya di Pos Satpam, tanpa ada perijinan yang legal.

Yup.. memang kemarin kita hanya membawa air cuman 3L karena menurut petugas pos disini tersedia air, memang agak sedikit bau karena air yang tidak terkena sinar matahari ceunah, tetapi kalau dipasak masih aman katanya.

Sekitar jam 05:00 pagi, langit mulai membiru diiringi sedikit demi sedikit cahaya matahari yang masih tersipu malu untuk menampakan dirinya, sebelum menikmati itu semua kitapun bergegas untuk sholat terlebih dahulu, setelah itu kitapun keluar tenda, ternyata diluar sudah banyak orang yang sedang mengabadikan moment dengan berfoto ria, kitapun bergegas mencari spot untuk menikmatinya.

IMG_20161006_080418.jpg


Kedamaian itu ada di Alam

IMG_20161002_222647.jpg


Ketika menyaksikan keagungan sang pencipta, ditemani orang tercinta

Setelah cukup puas berjalan-jalan menikmati pagi yang lumayan cerah saat itu kitapun kembali ke tenda untuk membuat sarapan, dan saya mencari air ke jalur pangalengan. Saat berjalan sedikit kebawah ternyata jalur pangalengan masih terlihat rimbun pepohonannya, ketika saya sedikit memasuki hutan ternyata ada orang disana memberi tahu kalo mau ngambil air ke belakang puncak saja tinggal ikutin jalur itu terus kebawah  dan sayapun kembali untuk kearah itu (ya…yang pasti-pasti aja deh hhe)
Setelah itu saya kembali ke tenda ternyata Nasi goreng, sosis + saos & mayonnaise nya sudah siap disantap untuk sarapan kala itu. Hmmm… yummi :D

Tak terasa waktu menunjukan pukul 10:00 dan kitapun mulai beres2 untuk pulang, tak lama kemudian tiba-tiba kabut pekat datang diikuti hujan, yang memaksa kita menunda kepulangan dan berteduh didalam tenda. Sekitar jam 11:30an hujanpun mulai reda dan kitapun kembali beres2 packing, setelah semua beres sekitar jam 12an kitapun turun meski kabut masih menyelimuti, beberapa lama kemudian hujan  kembali turun dan kitapun meneruskan perjalanan memakai jas hujan, diperjalanan kita bertanya ke salah satu petani yang akan segera pulang “kalau jalur Seven Field (kebun 7) itu kemana?” ternyata mereka tidak tahu dengan nama itu hehe, katanya ada juga jalur yang muter agak landai (mungkin yang dimaksud yang kemarin kita lewati jalur datar jamuju) dan jalur yang langsung turun terus tapi agak curam (mungkin yang dimaksud jalur Seven field) itu hehe kitapun bergegas ke jalur yang langsung turun agak curam itu.
Hampir disepanjang perjalanan kita di guyur hujan, dengan cuaca yang sedikit berkabut mendung hujan reda silih berganti membuat jalur sangat berbahaya, berjalan menurun di tengah-tengah ketinggian perkebunan dengan tanah merah/tanah gembur yang basah membuat jalur menjadi sangat licin sayapun hampir 4 kali terjatuh dibuatnya, kitapun kadang merayap ketika melewati turunan yang curam karena hampir tidak ada pegangan ditengah-tengah perkebunan seperti itu, tidak seperti di hutan meski licin banyak tepian dahan atau akar yang bisa dijadikan pegangan.
Kala itu kita berjalan hampir sangat lambat, menguras tenaga, memang semua gunung mempunyai rintangan yang berbeda-beda, masing-masing mempunyai ciri khas nya tersendiri.

Dipertengahan jalan ada seorang petani menggunakan motor berhenti seperti sedang menunggu seseorang, ketika kita hampiri dan menanyakan arah jalan, petani itu berkata “biar cepat ikuti saja pertengahan tiang listrik sutet itu yang berada di tengah-tengah perkebunan, jangan ikuti jalur motor ini, karena berputar jauh” dan setelah itu petani itu pergi… kitapun mengikuti petunjuk petani itu, beberapa saat kemudian ada lagi petani yang sedang duduk di saung seperti sedang menunggu seseorang, belum kita hampiri petani itu pergi, berhubung kondisi agak lelah kitapun meminta izin untuk berteduh dan beristirahat di saungnya sambil berteriak, dan petani itu mengatakan “Iya sok aja, itu disitu ada pisang, habiskan aja leubar” oke pak makasih, jawabku. Ternyata disaung itu ada dua ikat pisang, ahhaaa…. Dapet Rezeki nomplok, hehe… entah karena lelah, dingin atau apalah itu tapi ketika melahap pisang itu rasanya hmmm… nikmanya, kalau dibandingin nih sama pisang yang paling enak di supermarket, wah jauh…lebih enak pisang alami ini! Hehe
Dan sepertinya petani/warga sekitar terlihat sangat welcome, dengan sengaja mereka menunggu kita hanya untuk memberi petunjuk, mengingat ketika itu hampir semua petani sudah pulang.

Setelah beberapa saat beristirahat, kitapun melanjutkan perjalanan meski hujan rintik-rintik, sayangnya untuk perjalanan pulang kita tidak sempat untuk mengabadikan moment (foto) bahkan tidak sempat untuk memikirkannya, karena hampir sepanjang perjalanan kita diguyur hujan. Setelah beberapa saat akhirnya kitapun sampai di basecamp Sekitar pukul 15:30, hmm menghabiskan 3,5jam perjalanan, itu sama halnya ketika pergi kemarin (gubrag) ternyata sama saja.
Beres laporan, kitapun beristirahat sebentar menelonjorkan kaki di sebuah Sekolahan tempat diparkirnya kendaraan kita, tepat dibelakang basecamp itu, sambil jajan baso tahu dan ternyata si mang baso nya itu yang kemarin nongkrong dibasecamp nunjukin arah jalur, dan kitapun ngobrol ternyata Artapela ini mulai ramai didaki sejak 6 bulan yang lalu, bahkan surat perizinan resmi dari perhutani nya pun baru 3 bulan yang lalu.

Jam menunjukan pukul 16:00 hujan pun semakin deras, tidak mau berlama-lama disini, setelah berpamitan kitapun memutuskan untuk pulang ditengah dinginnya cuaca itu. Beberapa saat menjelang masuk ke Baleendah ternyata disana sudah banjir saat kita coba melewatinya ternyata banjir itu cukup dalam, diperkirakan hampir sepaha lebih orang dewasa, motor kitapun tenggelam hampir setengahnya, untung saja banjirnya tidak terlalu jauh dan kalau kita teruskan melewati jalan itu banyak daerah banjir yang lebih parah dari sini “kata warga sekitar”, kitapun memutuskan untuk kembali dan lewat jalur banjaran, meski cukup jauh memutar untuk sampai di Kopo, gara-gara itupun kita pulang kerumah kemaleman yang tadinya ingin cepat sampai dirumah…ehh malah kemaleman…
Tapi Alhamdulillah masih bisa diberi keselamatan sampai rumah.

Must to try dah gann....pokoknya!

 

:travel

IMG_20161003_221350.jpg

Sebenarnya sih disini terdapat juga Danau Aul yang melegenda, tapi sayang dikarenakan cuaca yang tidak mendukung dan entah dimana keberadaan Danau itu kurang jelas infonya, jadi kita tidak pergi kesana.

IMG_8967.JPG


Danau Aul, Pict by Google

 

Quote

 

Untuk Rincian biaya pengeluarannya :


Bensin Motor : Rp. 15.000
Retribusi Jasa Lingkungan Rp. 5.000,-/orang
Parkir motor Rp. 10.000,- permotor/malam 
Total : 30 Rebu sajah... (diluar logistik)

 

backpackermate


Instagram @backpackermate

 

deffa, kyosash and maipura like this

Share this post


Link to post
Share on other sites

Keren jg yah pemandangan nya.

Saya sendiri baru tau ini gunung, kakak saya istrinya orang kertasari .gak pernah bilang ada pendakian disana he he he.  Tp wajar jg karena baru mulai rame sekarang ini kan  

Danau Aul beda yah dgn situ cisanti ? 

BTW nice share 

Share this post


Link to post
Share on other sites

iya om baru rame 6bln terakhir ini katanya, danau aul kayanya beda sma situ cisanti, soalnya danau aul punya kisahnya sendiri yg katanya sudah melegenda.

lumayan buat perjalanan singkat akhir pekan...

Share this post


Link to post
Share on other sites

Tapi Dari namanya sendiri artapela  dan aul serasa dimana gitu padahal didataran sunda. Kalo ke daerah pacet nya saya sering tapi sampe Vila hampir hadapan dengan water boom . 

 

Iya sih kalo masyarakat kampung itu lebih welcomed gampang diminta pertolongan, saya waktu abg an mau ke kertasari naik umum, karena kesorean di turunin di lembur awi (yg katanya msh angker waktu itu ) antara mau pulang lg ato lanjut ahirnya lanjut , Dan itu jauhhhh... Bgt ke kertasari nya. Tiba2 ada Mobil buntung,saya stop ... Eh berrnti dan nanya mau kemana Dan knp malam2 disini. Setelah cerita ahirnya dianterin sampe depan Rumah , gak mau dibayar pula hehehe he .

Saya jg baru tau itu nama daerah angker,setelah sodara cerita . warga sana saja gak ada yg berani lewat magrib lewat Sana Hahahaha .

Tp sekarang udah gak ada bekasnya ITU lembur awi 

Share this post


Link to post
Share on other sites

karena ortu saya ada yang asli Pangalengan jadi saya pernah dengar tentang gunung ini

walaupun belum pernah mencoba kesana

kalau di lihat waktu pendakian nya start jam 09.30, tiba di puncak pukul 13.00 sama seperti mendaki Papandayan ya

dan nampak nya trek nya juga sudah ada berupa jalan yang di gunakan warga setempat ya, thx info nya @freaksthriller

Share this post


Link to post
Share on other sites
10 minutes ago, kyosash said:
20 hours ago, Rawoniste said:

Tapi Dari namanya sendiri artapela  dan aul serasa dimana gitu padahal didataran sunda. Kalo ke daerah pacet nya saya sering tapi sampe Vila hampir hadapan dengan water boom . 

 

Iya sih kalo masyarakat kampung itu lebih welcomed gampang diminta pertolongan, saya waktu abg an mau ke kertasari naik umum, karena kesorean di turunin di lembur awi (yg katanya msh angker waktu itu ) antara mau pulang lg ato lanjut ahirnya lanjut , Dan itu jauhhhh... Bgt ke kertasari nya. Tiba2 ada Mobil buntung,saya stop ... Eh berrnti dan nanya mau kemana Dan knp malam2 disini. Setelah cerita ahirnya dianterin sampe depan Rumah , gak mau dibayar pula hehehe he .

Saya jg baru tau itu nama daerah angker,setelah sodara cerita . warga sana saja gak ada yg berani lewat magrib lewat Sana Hahahaha .

Tp sekarang udah gak ada bekasnya ITU lembur awi 

wah kalo saya ini baru pertamakali ke ciparay-pacet, pdhal msh dibandung2 jg wkwkwkw... jd utk perjalanan ane pake gps utk sampe di pos pendakian artapelanya.

pengalaman seru tuh untung ga terjadi hal2 mistis yg anehkan ya? hehe, itu mksdnya udah ga ada bekasnya gmn? lembur awi?

iya memang hampir rata2, tapi entah perasaan sya warga kampung sini "sangat" welcomenya

 

27 minutes ago, deffa said:

karena ortu saya ada yang asli Pangalengan jadi saya pernah dengar tentang gunung ini

walaupun belum pernah mencoba kesana

kalau di lihat waktu pendakian nya start jam 09.30, tiba di puncak pukul 13.00 sama seperti mendaki Papandayan ya

dan nampak nya trek nya juga sudah ada berupa jalan yang di gunakan warga setempat ya, thx info nya @freaksthriller

saya jg hampir sering buat sekedar jalan2 ke daerah pangalengan apalagi kertasarinya udh jelas tau , tdinya mau pergi via pangalengan tpi berhubung info nya yg msh blom jelas jd saya ambil jalur pacet.

iya klo utk waktu perjalanan hampir samalah sama papandayan, yaa itung2 nyari suasana baru hehe 

11 minutes ago, kyosash said:

mantap nih view pegunungan-nya, nice share :salut 

ok om ;)

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

@freaksthriller dulu waktu lewat kebon awi itu horror bgt ,kiri kanan pohon awi (Bambu) tinggi2 mobil jarang lewat, rumah penduduk jauh, gelap gulita pokoknya. Dulu Blum ada angkot hanya Mobil elf butut yg jam2an sampe jam5 . sekarang area kebon awi nya itu udah di babat habis ,udah diambil alih manusia "kerajaan" cetan nya Hahahaha jd udah gak serem lg 

Share this post


Link to post
Share on other sites

wah... ada lagi gunung yang sepertinya menarik untuk di coba..
tapi kalau naek kendaraan umum ada gk ya?

Share this post


Link to post
Share on other sites
15 hours ago, maipura said:

wah... ada lagi gunung yang sepertinya menarik untuk di coba..
tapi kalau naek kendaraan umum ada gk ya?

Ada tapi gak tau sampe mana, angkot kuning naik di terminal ciparay 

On 10/10/2016 at 0:09 PM, Mulyati Asih said:

Viewnya bagus, kayaknya jarang yang ke sini atau saya aja yang baru tau.

Masih baru , Blum viral di medsos 

Share this post


Link to post
Share on other sites
On 10/10/2016 at 0:09 PM, Mulyati Asih said:

Viewnya bagus, kayaknya jarang yang ke sini atau saya aja yang baru tau.

udah mulai rame sejak Agustus kemarin jd hits :D, wktu sya kesana aja bnyak bgt yg ngecamp, cb aja cek di ig dgn hastag #artapela

On 10/21/2016 at 3:42 PM, maipura said:

wah... ada lagi gunung yang sepertinya menarik untuk di coba..
tapi kalau naek kendaraan umum ada gk ya?

must to try dah... :D

Naik kendaraan umum bisa deh sampe pasar sukapuranya, dari situ jalan kaki ke pos nya, 1-2km an klo ga salah

Share this post


Link to post
Share on other sites
On 12/20/2016 at 10:29 AM, freaksthriller said:

udah mulai rame sejak Agustus kemarin jd hits :D, wktu sya kesana aja bnyak bgt yg ngecamp, cb aja cek di ig dgn hastag #artapela

must to try dah... :D

Naik kendaraan umum bisa deh sampe pasar sukapuranya, dari situ jalan kaki ke pos nya, 1-2km an klo ga salah

hoo... okelah, ntar kalau ada kesempatan disamperin..
masukin ke dalam daftar dulu.. he

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!


Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.


Sign In Now

  • Similar Content

    • By kyosash
      Hii Jalan2ners lama tak berjumpa 
      Kali ini saya ingin coba sharing perjalanan saya ke Jepang.
      sebenarnya tujuan kali hanya ini hanya ingin membeli beberapa keperluan saja, tetapi setelah dipikir2 kenapa kgk sekalian refreshing aja yah dan akhirnya saya memutuskan untuk mampir ke Okinawa yg selama ini masuk dalam wishlist saya.
      Perjalanan kali ini adalah yang terboros dan juga sekaligus paling menyenangkan + berkesan selama ini.... (ada acara ketinggalan pesawat juga  )
      Mengenai persiapan visa + tiket JR Pass mungkin saya tdk perlu menjelaskan lagi, anda bisa lihat disini  (karena tidak terlalu beda langkah & caranya) http://jalan2.com/forum/topic/12515-1st-time-in-japanmengejar-sakura-^^/
      mengenai pengeluaran tiket pesawat, tempat tinggal kali ini saya akan pisah2 sesuai areanya.
       
      6 - 8 Oct  (Jakarta → klia2 (Kuala Lumpur) → KIX (Osaka) → Naha)
      Untuk tampilan Okinawa di peta seperti pada gambar dibawah ini

      source: http://wikitravel.org/en/Okinawa
       
      Spot2 wisata yang bisa dikunjungi disekitar Naha & Okinawa Honto

      source :http://www.japan-guide.com/
       
      Penerbangan saya menggunakan Air Asia PP  Rp. 3,2 jt  (kgk pakai bagasi + meal)
      Lalu dilanjutkan naik Peach Air dari KIX Osaka - Naha ¥ 5.630
      Waktu check-in di counter Peach Air sempat bermasalah, karena saya membawa koper kecil + 2 tas, dimana hanya diperbolehkan 1 koper kecil + 1 tas saja, lalu saya mencoba menggabungkan 2 tas itu jadi 1 walaupun hanya masuk sebagian + merayu dikit, akhirnya tas tsb diperbolehkan bawa masuk ke pesawat, karena kalau masuk dalam bagasi mesti tambah ¥ 4000  
       
      Setelah 2 jam  akhirnya tiba di Naha Airport
       
      Lalu saya langsung menuju ke tempat penginapan untuk check in + taruh barang
      mengenai transportasi untuk daerah Naha, Yui Rail (Naha City Monorail Okinawa) dan Bus

      http://www.okinawa-information.com/transport/naha_yui_monorail_japan.htm
      untuk Bus http://www.kotsu-okinawa.org/en/map_naha.html
       
      Naha Airport  → Kencho-mae (Yui Monorail) ¥260→  Minshuku Getto Waktu beli tiket Yui Rail ini, saya cukup terkejut melihat sistem lewat gatenya cek-nya pakai Barcode yg tertera pada tiket, keren euy lebih maju dari Tokyo  
      Suasana di Naha menuju Tempat menginap
      Lalu Tiba di Minshuku Getto (1 malam ¥3000, pesan lewat booking.com)
      ownernya sangat ramah, tempatnya cukup besar dan bersih
       
      btw, di tempat ini AC -nya sistemnya seperti telp coin, jadi masuk-an terlebih dahulu ¥100 untuk durasi 2 jam,  jadi kalau malam tidak ingin terbangun karena kepanasan, mesti masukin koin banyakan   
      ditempat ini anda dapat fasilitas sepeda gratis.
      Karena hari sudah mulai larut, saya hanya mengitari sekeliling Minshuku saja, dekat sini ada Kokusaidori Street dimana sepanjang jalan beraneka macam toko2 mulai dari souvenir, pernak-pernik.
      Lalu mampir ke salah satu tempat makan didaerah sini, Saya langsung pesan Goya (Pare) Chanpuru ¥980, salah satu makanan khas Okinawa.
      Setelah makan, saya lanjut mengitari pasar (Ichiba Hondori Street)   Setelah itu saya sempat melihat menu2 dikedai makan yang tercantum berbagai macam Chanpuru, ada So-men Chanpuru, Moyashi (Touge) Chanpuru, Papaya Chanpuru.
      karena yang selama ini yang saya tahu cuma Goya Chanpuru. Lalu saya coba pesan Moyashi (Touge) Chanpuru ¥650. 
      Lalu saya sempat bertanya apakah Chanpuru itu artinya Mix ?, jikalau iya berarti lafalnya mirip bahasa indonesia donk "campur" .
      kemudian setelah balik ke Minshuku, karena ada koneksi internet, saya coba search "Chanpuru" , ternyata kata tersebut memang diambil dari Bahasa Indonesia.
      wah kgk nyangka ada hubungan seperti ini antara Okinawa dengan Indonesia   .
       
      Lalu keesokan harinya saya mengunjungi Sefa-utaki, jadi check out dan menitipkan barang di Minshuku ini.
       
      Naha Bus Terminal (Kamiimizu)  → Sefa-utaki mae (Local Bus) ¥830 →  Sefa-utaki (斎場御嶽) ¥200 Perjalanan kurang lebih 60 menit, Sefa-utaki (斎場御嶽) yang termasuk UNESCO World Heritage Site ini merupakan sacred place (tempat suci) pada jaman kerajaan Ryukyu untuk beribadah. 
      tempat ini dibuka dari jam 9:00 - 18:00 ; tiket masuknya ¥200 (pastikan anda membeli tiket di counter dekat bus stop)
      Suasana cukup rindang karena tempatnya terletak didalam hutan. walaupun cuaca panas, udaranya terasa sejuk.
      Pada waktu balik, karena udah waktunya jam makan, saya melihat salah satu kafe yang menarik dengan pemandangan yg cukup bagus dan saya memutuskan makan disini, lalu pesan set Rice with mixed tomato, bacon & egg  ¥1300
      Setelah selesai makan, sambil menunggu Bus, saya coba2 explore daerah sini, suasana-nya seperti ini
      Sefa-utaki (斎場御嶽) Sefa-utaki mae →  Naha Bus Terminal (Kamiimizu) (Local Bus) ¥830 →   Explore sekitar Kokusaidori Street + Balik Hotel setelah balik ke Bus terminal, karena waktu sudah tidak banyak karena sore harinya harus kebandara, jadi saya hanya mengitari daerah sekitar tempat menginap, untuk melihat souvenir yang cuma ada diokinawa ini.
      Lalu saya coba mengitari Mall Riubou yang ada didekat Kokusaidori Street, lalu saya melewati stand exhibition "Art Aquarium", dan saya melihat posternya cukup menarik, tetapi karena keterbatasan waktu, saya jadi agak ragu untuk masuk, btw tiket masuknya harganya adalah ¥1000  ,
      tetapi setelah bertanya dengan staffnya, ternyata tidak terlalu makan waktu lama, jadi saya coba masuk. dan wow

      Setelah melihat Art Aquarium ini, saya langsung menuju ke Minshuku untuk mengambil koper dan langsung menuju ke bandara
       Minshuku Getto →  Kencho-mae (Yui Monorail) ¥260→  Naha Airport  
      Destinasi yang dituju adalah Miyakojima.
       
       
      Untuk Lanjutan-nya bisa klik link dibawah ini
      8 - 11 Oct Miyakojima
      11 - 16 Oct Yaeyama Islands (Ishigaki, Taketomi, Hateruma, Iriomote & Kohama)
      16 - 19 Oct  Northern Kyushu (Fukuoka, Beppu, Yufuin, Nagasaki [Gunkajima] & Kumamoto)
      19 - 21 Oct  Osaka & Uji
       
       
      Simak juga perjalanan saya lain-nya 
       
    • By kyosash
      Hii Jalan2-ners  
       
      kali ini saya mencoba melanjutkan sharing dari sedikit trip selama di Hokkaido.
       
      Awal bulan November sudah ditandai dengan turun-nya salju

       
      untuk mengisi hari libur, saya memutuskan jalan ke Aoi Ike (Blue Pond) , karena perjalanan agak jauh dan hanya punya waktu 1/2 hari saja dikarenakan ada jam malam di asrama, saya cari2 cara untuk kesana, akhirnya dapat rute yg sesuai.
       
      Rutenya adalah : 
       
      Kotoni JR → Sapporo (JR Hakodate Line) ¥210 → Asahikawa (Kousoku Bus)  ¥ 2.060  → Aoi ike / Blue Pond (Dohoku Bus No.42) ¥ 1.140 → Biei (Dohoku Bus No.42) ¥540 → Furano (JR Furano Line) ¥640 → Sapporo (Kousoku Bus) ¥2.260 → Kotoni ¥250
       
      1 hari sebelum berangkat, saya sempat ajak teman satu asrama, akhirnya dia memutuskan ikut juga, teman saya ini Orang Korea, karena begitu selesai belajar dia kembali ke negaranya untuk ikut wajib militer, jadi dia pengen puas2-in menikmati sisa waktunya.
       
      jadi pagi2 kami sudah bergegas pergi langsung menuju sapporo Bus Terminal, setelah sampai lalu membeli tiket one-way ticket ke Asahikawa. kurang lebih 2 jam didalam bis, akhirnya sampai di Asahikawa
       
      Suasana di Asahikawa
        
        


      rencana sih mau mampir ke Asahiyama Zoo, tapi hari pada hari kami pergi Asahiyama Zoo-nya tutup, jadi kami rubah  tujuan, dan karena waktu terbatas kami langsung menuju bus terminal untuk segera ke Aoi ike (Blue Pond). jika lewat bus yang satu ini, maka harus menunggu 3 jam untuk bus berikutnya Lalu kami naik Dohoku Bus No.42, waktu tempuh sampai ke Aoi ike (Blue Pond) adalah 1 jam 20 menit. dan dikarenakan keterlambatan bus-nya tiba di Aoi Ike ini, yg harusnya sekitar 30 menit untuk menikmati pemandangan, jadinya hanya sekitar 15 menit saja, karena klo kelewatan bus balik, harus menunggu di tengah hutan dalam cuaca dingin selama 3 jam.       Suasana di Aoi ike (Blue Pond)                           NOTE : Aoi ike (Blue Pond) ini karena adanya cair/lelehan tumpukan es dari gunung sekitarnya, sehingga tertampung disatu tempat ini. (terkadang terlihat berwarna biru / hijau) dan dijepang (biru dan hijau itu dapat disebut Aoi) access bus ke Aoi ike (Blue Pond) bisa lihat disite ini (japanese only)   Setelah dari sini kami langsung menuju ke Biei, Lalu kami naik Dohoku Bus No.42 , bus yg sama untuk menuju ke Biei Station, lama perjalanan sekitar 30 menit.   Suasana di Biei
        
         
           
          
        

      (jadi pengen mampir ke Biei lagi waktu summer   )
      kami hanya jalan disekitar station saja, sambil menunggu kereta ke Furano, kereta menuju ke Biei ini hanya 1 kali dalam 1 jam, dan hanya 1 gerbong saja. perjalanan sekitar 40 menit menuju ke Furano.    NOTE : Furano terkenal akan view perkebunan Lavender-nya di waktu summer, dan juga sayuran2-an yg segar & enak, terutama kentang-nya   Suasana di Furano                 
      karena kami ingin ke Cheese Koubou (Cheese Factory) , jadi sempat tanya aksesnya ke tourist information center yg berada didekat Furano Station. lalu petugasnya menganjurkan naik taksi atau bisa juga rental sepeda. 
      karena teman saya kgk mau naik sepeda, jadinya naik taksi. sekitar 10 menit akhirnya sampai.
       
      Suasana di Cheese Koubou (Cheese Factory) 

        

        
        NOTE : Jam Buka 09:00 - 17:00 (untuk bln November - Maret tutupnya jam 16:00) 
      disini anda bisa melihat proses pembuatan keju bahkan bisa melibatkan diri untuk membuat keju
      dikarenakan tiba terlambat tiba disini, jadi kami tidak kebagian lihat.
      disini juga tersedia ice cream dengan rasa keju, pumpkin, asparagus, dll
       
       
      tak terasa hari sudah mulai gelap, lalu kami jalan kaki untuk menuju Furanoya (Curry Restaurant) untuk makan siang!?. .
      Suasana di Furano
        

      karena selama perjalanan tidak ada kesempatan makan , setelah jalan kaki sekitar 30 menit akhirnya sampai juga.
      saya langsung pesan Ayam Kari + Sayur Lokal (Furano)  dengan level pedas sedang ¥1280
        

       
      kuah karinya rasanya mantap, temanku pun sangat menyukai makanan disini.
      setelah makan, kami jalan kembali menuju ke Furano Station untuk balik ke Sapporo.
       
      Suasana di Furano
        

        setelah sampai di Furano Bus Terminal, langsung beli tiket dan naik bus, perjalanan ke sapporo sekitar 2 1/2 jam.  setelah sampai sapporo, kami langsung menuju ke Kotoni untuk balik ke asrama.     Waktu saya iseng jalan2 sekitar kota Sapporo   Suasana di daerah Kota Sapporo       (Masjid di Sapporo)                     Next Trip   Dikarenakan dekat sekolah tempat saya belajar dekat dengan Zoo yg lumayan terkenal, jadinya saya coba sempatkan mampir setelah jam sekolah.   Tiket masuk ¥600 , tiket sepuasnya masuk untuk yg 1 tahun hanya ¥1000    Suasana di Maruyama Zoo
        
        
        
            
         
          

        
          Akhirnya tiba waktunya untuk merasakan nonton konser di Jepang  , band yang tampil adalah amazarashi. lagi Tour di Jepang, dan kebetulan mampir di Sapporo +karena saya suka sama lagu2 band ini dan saya penasaran sama mukanya vokalis. jadinya beli dech tiketnya. (sebenarnya temen sekelas saya Cewek Rusia pengen ikut juga, cuma hari H-nya dia ada kerja part time + harga tiketnya agak mahal.)     Suasana di Zepp Sapporo     


      Begitu masuk, Rock/Alternative Band yg tampil. kok duduk yah  + ada layar besar-nya, dan band-nya itu dibelakang layar. nonton konser, berasa masuk ke gedung bioskop + suasana nonton konser lagu klasik.
      tapi yg membuat saya cukup terkejut, banyaknya penonton yang berkursi roda, bahkan ada tempat khususnya 
      (sepertinya lyric2 band ini sangat mengena )
       
      contoh suasana konsernya
       
      NOTE : bagi yg ingin melihat image lengkapnya bisa lihat di Album 

       
       
      Untuk Lanjutan-nya bisa lihat disini  
       
      Simak juga perjalanan saya lain-nya 
       
    • By kyosash
      Hii Jalan2-ners
       
      Kali ini saya mencoba sharing sedikit perjalanan di Hokkaido.
       
      sebelum itu, berikut map Subway & JR di daerah Sapporo.


      NOTE : Sejak akhir bulan Oktober ini (2014) Hokkaido sudah memasuki musim dingin alias sering turun salju, jadi disarankan prepare stamina, jaket dan sepatu musim dingin (karena jalanan licin akibat tumpukan salju)
       
       
      New Chitose (JR Rapid Airport) → Kotoni  ¥1,210
       
      Dari bandara New Chitose Airport, saya langsung menuju ke Kotoni.
      begitu sampai JR Kotoni, saya naik taksi untuk ke asrama/tempat penginapan.
      Supirnya nyasar melulu, akhirnya yg menemukan tempatnya malah saya  , lalu saya bayar sekitar ¥1,070
      (gimana sih supir daerah sini kok kgk tau daerah sekitar sini ).
      begitu sampai di asrama, saya sempat tanya ke penjaga asrama-nya, dia bilang kok mahal amat ¥1,070 , harusnya sekitar ¥640-an, dia bilang supirnya sengaja diputer2-in. bahkan belakangan ini sering ada penodongan didalam taksi.
      "Ah yg benar saja?" celetuk saya.
      tidak lama kemudian ada polisi disekitar asrama, jadi kami keluar gedung untuk melihat situasi,
      ternyata supir taksi yg tadi, waktu keluar dari asrama nabrak tiang pintu gerbang masuk. Hehehe kena batunya tuh Supir taksi.
       
      didalam asrama ini sempat dipusingkan dengan peraturan buang sampah, jadwalnya seperti ini

      karena sudah lapar, jadinya keluar untuk mencari makan, lalu saya melihat ada Ramen Salad dimenu rumah makan itu, setelah makan, wah kok dingin yah..., diKota dingin makan-minumnya pun dingin.   tapi rasanya , harganya pun cukup masuk akal ¥499

       
      Suasana di Kotoni
        
        
      (wah masih ada aja yg maen Tamiya & Magic Card)
        
        
      Begitu lihat ada Chain-Family Resto Saizeriya, saya memutuskan untuk mencicipinya, karena waktu di Tokyo kemaren kgk sempat mampir. 
        
      (menu favorite saya Spaghetti Tarako)
       

       
      Kotoni  (JR Hakodate Line) → Sapporo ¥210
      seminggu kemudian saya memutuskan untuk jalan di sekitar Sapporo
       
      Suasana di Sapporo
        
        
        

        
       
      Suasana di Odori
       

        
        
        
        
        
       
      (Nijo Market)


       
      (celana harganya ¥65)

       
       
      Suasana di Sapporo Factory

        

       
      Suasana di Susukino

       
       
      Susukino (Subway Nanboku Line) → Odori (Subway Tozai Line) → Kotoni ¥210
       
      karena hari sudah gelap waktunya pulang
       
      Kotoni  (JR Hakodate Line) → Otaru ¥540
       
      seminggu kemudian saya memutuskan untuk jalan ke Otaru. dibutuhkan 35-40 menit dari Kotoni.
      disini sempat mencicipi Soft Cream (Ice Cone) dan kue sus, rasanya
      didaerah ini kebayakan jual pernak-pernik yang terbuat dari gelas, dan juga segala macam bentuk music box
       
      Suasana di Otaru
          
        
        
        
        
        

        
       
       
      Suasana di Otaru
       
        
          
          
          
          
          
        
       
      Suasana di Otaru
        
        
          
        
        
       
      Minami-Otaru (JRHakodate Line) → Kotoni ¥540
       
      setelah puas lihat2, lalu balik ke asrama.
       
       
      Kotoni (Subway Tozai Line) → Maruyama Koen ¥200
       
      seminggu kemudian saya memutuskan jalan2 santai di sekitar taman.
       
      Suasana di Maruyama Koen
        
        
        
       
      Maruyama Koen (Subway Tozai Line) → Kotoni ¥200
      karena udara makin dingin, jadinya buru2 balik
       
       
       
      NOTE : Untuk Pengambilan ATM BCA & Mandiri bisa lewat ATM Japan Post Bank (Yuucho Ginko), tidak dikenakan charge.
      hanya charge dari ATM Bank yg digunakan.
      untuk ATM BCA  Rp. 25ribu/Transaksi
      untuk ATM Mandiri  Rp. 20ribu/Transaksi
      (Untuk Rate-nya, Rate Bank yg bersangkutan.)

      ada menu english juga
       
      semoga informasinya dapat bermanfaat yang ingin mengunjugi tempat ini.  
       
       
      NOTE : bagi yg ingin melihat image lengkapnya bisa lihat di Album 
       
       
       
      Untuk Lanjutan-nya bisa lihat disini  
        Simak juga perjalanan saya lain-nya 
    • By kyosash
      Hi Jalan2-ners
      Kali ini saya mencoba sharing perjalanan 1 day trip di Kamakura, Enoshima & Chigasaki.
       
      Dikarenakan masih ada suasana musim panas jadi bawaan-nya pengen ke pingir laut/pantai, jadinya sekalian mampir ke Kamakura
      Perjalanan di Kamakura dan Enoshima ini cukup menguras stamina dikarenakan jalan-nya naik-turun + naik-turun tangga
       
      Asakusa (Toei Subway Asakusa Line) → Shimbashi (JR Yokosuka Line) ¥220 → Kita-Kamakura  ¥800 
       
      Suasana di Kita-Kamakura
        
          Suasana di Enkaku-ji Temple (biaya masuk ¥300)          (kebetulan ada acara olahraga yang diadakan di kuil ini)      (pemandangan yg cukup unik )                   
      Setelah dari Enkaku-ji Temple, perut sudah terasa lapar, lalu saya menemukan cafe, walaupun agak mahal, gpp dech karena udah bener2 lapar. dan saya pesan Japanese Omelet ¥1200 , setelah menghirup supnya  , sangat worth it untuk harga segini        setelah perut terisi sayapun melanjutkan perjalanan ke Jochi-ji Temple   Suasana di Jochi-ji Temple (biaya masuk ¥200)               Suasana di Kita-Kamakura   

       
      Suasana di Kenchou-ji Temple (biaya masuk ¥300)
        

      (di elus2 biar dapat rezeki  )
       
        
        
        

       
      Suasana di Tsurugaoka Hachimangu Shrine
        
        
        
        
       
      Setelah dari Tsurugaoka Hachimangu Shrine langsung ke Kamakura Station untuk menuju ke Enoshima 
       
      Suasana di Kamakura
        
        
       
      Kamakura (Enoden/Enoshima Electric Railway) → Enoshima ¥260
       
      Di Enoshima ini banyak sekali tangga naik-turun, anda akan digoda dengan fasilitas Elevator yg tidak gratis
      tapi demi diet saya memilih yg gratis
      Suasana di Enoshima
        
      (kok ada sakuragi disini )

        
        
        

           
        
      (Jalan menuju Love Bell)
        
          

        
        

       
      Setelah dari Enoshima, lalu ke Katase-Enoshima Station untuk menuju ke Chigasaki.
       
      Katase-Enoshima (Odakyu Enoshima) → Fujisawa (JR Shonan-Shinjuku Line) ¥160 → Chigasaki ¥200
       
      tujuan awal sih untuk melihat suasana pantai di Chigasaki, tapi karena sudah gelap, jadinya cuma cari makan di sini.
      setelah itu langsung ke Chigasaki Station.untuk kembali ke hostel di Asakusa.
       
      Chigasaki (JR Tokaido Line) → Shimbashi (Toei Subway Asakusa Line) ¥970 → Asakusa (TOBU/Subway) ¥220
       
      setelah sampai hostel, mandi lalu tidur
       
      semoga informasinya dapat bermanfaat yang ingin mengunjugi tempat ini.  
       
       
      NOTE : bagi yg ingin melihat image lengkapnya bisa lihat di Album 

       
       
      Untuk Lanjutan-nya bisa lihat disini  
       
       
      Simak juga perjalanan saya lain-nya 
       
    • By kyosash
      Hiii Jalan2ners ,
      Kali ini saya mau mencoba share pengalaman saya selama di Jepang dalam waktu yang singkat, sebelum itu saya mau minta maaf jika ada informasi yg kurang lengkap dan gambar2 yang kurang memuaskan, karena saya tidak terbiasa untuk jalan2 sambil foto2 dan catat2 data  .
       
      Persiapan2
       
      Karena sudah kepingin banget melihat bunga sakura langsung, akhirnya beli dech tiket, rencana awal sih mau pergi sendiri, ternyata keluarga juga mau ikut,  Itinerary berubah total dech, menyesuaikan selera keluarga ^^.  Ditambah kendala mencari jadwal yang cocok, akhirnya memutuskan tanggal 8 April untuk berangkatnya.
       
      Cukup pesimis sih dikarenakan average bloom untuk sakuranya disekitar akhir maret- awal april.
      (tiap hari sampai memaksa saya untuk mengecek forecast buat sakura, forecast buat weather aja kagak pernah ngecek ^^)
      Ya sudahlah, Seandai-nya sakura season-nya udah habis saya sudah siapkan back-up plan-nya, dikarenakan itinerary yang telah dibuat berdasarkan dimana sakura itu berada ^^.
          

      NOTE : untuk website sakura forecastnya bisa lihat disini (ENG) , dan disini (JPN) (biasanya prediksi dimulai bulan Februari disetiap tahun-nya) 
      Akhirnya di bulan Desember kami booking tiket AA @ Rp 4.750.000,- (Baggage 20kg [pergi] ; 25kg [pulang] ).
      Sebulan kemudian saya mencari hotel untuk dibooking yang kemudian dilampirkan untuk pengajuan visa.
      Untuk pencarian hotel cukup mengalami kesulitan dikarenakan harus memenuhi 2 syarat yaitu (dekat bandara/station + 1 room bisa buat bertiga). Cari2 di booking site , Cuma dapat untuk daerah Kyoto.
       
      Setelah 5 hari pencarian, akhirnya saya dapat juga tetapi tidak melalui booking site, jadi booking-nya langsung ke hotelnya,  begitu register , langsung dapat point yang bisa digunakan untuk pemotongan harga.
       
      Berikut Rincian Hotel-nya
      Tokyo : Arietta Hotel & Trattoria (¥34.640/2 malam) include breakfast
      Kyoto : Nishikiro Ryokan (¥44.000/2 malam) (room untuk 4 org) without breakfast
      Osaka : Arietta Hotel Osaka (¥49.200/3 malam) include breakfast
      Tokyo : Arietta Hotel & Trattoria (¥35.640/2 malam) include breakfast
       
      NOTE : di Jepang mulai 1 April 2014 , tax yang semula 5% menjadi 8%, jadi harga2 otomatis naik mulai dari hotel sampai tiket kereta.
       
      Thanks to @SylarConan, @vie asano, @ramii_risky & @Tira_dhis atas FR-nya.  Sehingga saya mendapatkan banyak info sebelum bepergian.
       
       
      Bagi yang kesulitan membuat itinerary, mungkin bisa lihat2 tips di thread Menyusun Itinenary ke Jepang
       
       
      Pengurusan Visa
       
      Hari Senin Pagi sekitar jam 09.30 saya menuju ke Kedutaan Besar Jepang yang berada di Jl. M.H. Thamrin No. 24, Jakarta Pusat (10350)  Tel: +62-21-31924308, di dekat Grand Indonesia Mall & eX Plaza.
       
      Jam Untuk Penyerahan Visa :  08:30-12:00 (Senin-Jumat)  ;  (Sabtu dan Minggu Libur)
       
      NOTE : disarankan datang untuk menyerahkan formulir jam 9 ke atas, dikarenakan para jasa/travel agent hanya diberikan waktu ½ jam saja mulai dari 08.30 - 09.00 pagi.
       
      Begitu masuk ke dalam ruangan, saya langsung mengambil tiket antri, lalu melihat papan nomor antrian,
      wah masih 25 orang lagi bakalan lama nih..,disini ada 3 counter untuk WNI  dan 1-2 counter untuk Warga  Jepang, tidak sampai 10 menit menunggu nomor antrian saya dipanggil, wah cepat juga ^^
       
      Saya menyerahkan formulir untuk kategori " Visa Kunjungan Sementara untuk Tujuan Wisata dengan Biaya Sendiri "
      Paspor. Formulir permohonan visa. [bisa download di webnya] dan Pasfoto terbaru (ukuran 4,5 X 4,5 cm, diambil 6 bulan terakhir dan tanpa latar, bukan hasil editing, dan jelas/tidak buram) Foto kopi KTP Bukti pemesanan tiket PP Jadwal Perjalanan [bisa download di webnya ](semua kegiatan sejak masuk hingga keluar Jepang) Fotokopi kartu keluarga, akta lahir (ini diperlukan karena saya hanya menyerahkan satu rekening saja untuk bertiga sebagai keluarga) Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan (Berkas2 Hotel booking selama di Jepang) Fotokopi bukti keuangan, rekening Koran atau buku tabungan 3 bulan terakhir  
      NOTE : sebisa mungkin waktu menyerahkan data dan formulir ini, sesuai dengan urutan-nya.
       
      Untuk syarat lengkapnya bisa lihat disini
       
      Contoh Itinerary yang saya lampirkan kemarin

      Setelah dicek berkas2nya oleh petugas lalu saya diberikan slip kertas untuk dibawa lagi 3 hari kemudian.
      Hari Kamis siang saya pergi ke Kedutaan Besar Jepang untuk mengetahui hasilnya,
      Jam Untuk Pengambilan Visa :  13:30-15:00 (Senin-Jumat)  ;  (Sabtu dan Minggu Libur)
       
      Setelah masuk kedalam ruangan dan mengambil nomor antrian,  setelah menunggu 10 menit nomor antrian saya dipanggil, lalu saya memberikan slip kertas ke petugas, kemudian langsung diserahkan paspor beserta visa yang tertera didalam-nya. Lalu membayar @ Rp 350.000,- untuk visa-nya.
       
      Jangka waktu masa berlaku Visa adalah 3 bulan, yang hanya bisa digunakan untuk 15 hari.
      Kesimpulan saya untuk membuat Visa adalah cukup mudah dan tidak memakan banyak waktu.
       
      beberapa hari kemudian saya pergi ke Jalan Tour salah satu agen resmi yang menjual Japan Rail Pass ¥28.300 (Ordinary/7 hari). (diperlukan fotokopi visa untuk membeli JR Pass)
      Japan Rail Pass adalah tiket pass yang bisa digunakan sepuasnya dalam jangka waktu tertentu untuk kereta Monorail/Express/Shinkansen, beberapa local Bus bahkan Ferry dibawah satu bendera JR.

      setelah mendapatkan bukti pembayaran-nya ,  nanti bisa ditukarkan ke JR Pass di Station2 kereta yang besar atau Airport di Jepang. 
      (Narita/Haneda/Kansai Airport, Tokyo/Ueno/Shinjuku/Shibuya/Shinagawa/Kyoto/Osaka/Sapporo Station, dll) 
      Informasi detailnya bisa lihat disini
       
      Alternatif lain-nya anda bisa juga membeli Japan Bus Pass
       
      Untuk informasi transportasi dari station ke station lengkap beserta jadwal dan biayanya bisa menggunakan hyperdia
       
       
      Untuk Lanjutan-nya bisa lihat disini  
      Day 1 (LCCT Airport + Haneda Airport)
      Day 2 (Asakusa, Ueno, Higashi-Jujo, Akihabara + Ikebukuro)
      Day 3 (Kyoto, Arashiyama)
      Day 4 Part I (Kinkakuji + Tetsugaku no Michi)
      Day 4 Part II (Kiyomizudera)
      Day 4 Part III (Higashiyama, Maruyama Kouen + Gion)
      Day 5 Part I (Fushimi Inari Taisha, Uji + Byoudouin)
      Day 5 Part II (Osaka + Namba)
      Day 6 (Osaka-jou + Tenjinbashi Suji)
      Day 7 Part I (Miyajima)
      Day 7 Part II (Hiroshima + Kobe)
      Day 8 (Zouheikyoku, Shinsekai + Yokohama)
      Day 9 (Shibuya, Harajuku + Shinjuku)
      Day 10 (Nakano, Akihabara, Ikebukuro + Haneda Airport)
       
      Simak juga perjalanan saya lain-nya 
       
    • By Nightrain
      suasana di Camp Nou (markas Barcelona)
      Bulan Mei umumnya merupakan waktu yang paling nyaman untuk mengunjungi sebagian besar negara Eropa karena mulai masuk puncak musim semi dengan suhu hangat yang sangat mirip dengan Indonesia. Kali ini kita memutuskan untuk mengunjungi Spanyol dengan tujuan 3 kota besar-nya yaitu Madrid, ibukota yang berada di tengah; Barcelona, kota pinggir laut yang terletak di timur Spanyol; dan Sevilla, yang merupakan ibukota wilayah Andalusia di selatan.
      Kita juga sempat mampir ke negara kecil Andorra yang terjepit antara Spanyol dan Perancis di area pegunungan Pyrenees karena mudah dijangkau dengan bus dari Barcelona. Lokasi Spanyol dan Maroko yang berdekatan juga membuat kita tidak melewatkan kesempatan untuk menginjakkan kaki pertama kali di benua Afrika dan menghabiskan waktu 3 hari melihat negara eksotis ini.
      Day 1 - Puerta del Sol, Madrid (Selasa, 5 Mei 2015)
      Kita tiba di airport Barajas Madrid sekitar pukul 2 siang waktu setempat atau kurang lebih jam 7 malam WIB. Suhu waktu itu masih sekitar 20 derajat dan setelah melalui proses cek imigrasi dan mengambil bagasi, kita menuju ke stand Lebara untuk mengganti SIM card lokal dengan unlimited internet. Biaya internet di Spanyol relatif murah, sebulan berkisar antara €10 - €15. Selain operator Lebara, disarankan untuk menggunakan Vodafone atau Movistar.
      Untuk menuju ke hotel, ada opsi bus dan subway, namun karena kita belum ada gambaran mengenai lokasi sekitar hotel, jadi daripada buang waktu nyasar, kita langsung menuju taxi stand dan di-charge flat rate €30 ke downtown. Tiba di hotel dan selesai check-in, kita langsung menuju stasiun subway untuk menuju lokasi pertama yaitu Puerta del Sol. Ini adalah titik 0 kota Madrid, alun-alun utama dan di sekeliling lokasi ini banyak sekali turis maupun orang lokal yang sering berkumpul. Artis jalanan juga memadati area sekitar patung kuda untuk mencari sesuap nasi, mulai dari penyanyi kwartet, badut dengan kostum lucu, 'patung statis', dan sebagainya.
       
      Puerta del Sol cocok menjadi starting point Anda untuk menjelajahi kota Madrid karena dari sini Anda bisa menjangkau beberapa landmark dengan berjalan kaki, dimulai dari Plaza Mayor, kemudian mampir sebentar ke Mercado de San Miguel dan sekitar 10 menit Anda akan tiba di Royal Palace of Madrid yang juga berhadapan dengan Catedral de la Almudena. Jangan lupa untuk memperhatikan jadwal buka istana apabila Anda ingin masuk ke dalam, tapi kalau hanya sekedar berfoto di luar saja, paling bagus ambil momen menjelang sunset.
         

      Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam namun hari masih terang karena bulan Mei sudah mendekati musim panas dan di Eropa biasanya sunset baru dimulai sekitar jam 8 malam. Siang hari terasa lebih panjang lagi menjelang Juni karena matahari baru terbenam sekitar jam 9.30 malam. Di Spanyol, kebanyakan orang baru mulai makan malam sekitar jam 9 malam namun restoran rata-rata sudah buka dari jam 5 atau 6 sore, jadi untuk menghindari peak hour sebaiknya jam 8 sudah selesai makan.
      Setelah selesai mengisi perut di salah satu resto terdekat, kita pun kembali ke hotel untuk beristirahat.

      Day 2 - Santiago Bernabeu dan Retiro Park, Madrid (Rabu, 6 Mei 2015)
      Tidak lengkap rasanya kalau ke Madrid tanpa mengunjungi markas klub sepakbola Real Madrid. Terlepas Anda suka atau tidak dengan klub ini, atau bahkan bukan penggemar sepakbola, Real Madrid (dan juga rival mereka, Barcelona) sudah menjadi icon penting negara Spanyol dan tergolong mudah untuk menjangkau stadion klub yang sudah berdiri lebih dari 100 tahun lalu ini.

      Lokasinya terletak sekitar 6km arah utara Puerta del Sol dan opsi termurah untuk menuju kesana yaitu lewat subway. Buat yang pengen nonton pertandingan, disarankan untuk beli dulu tiket via ticketmaster H-10 untuk menghindari antrian panjang dan kadang untuk big match, belum tentu tiket masih ada pas hari H, namun buat yang pengen liat stadion aja, sebaiknya datang persis jam 10 pagi supaya belum terlalu banyak turis yang datang.
      Tiket masuk untuk tur stadion sekitar €19 dan durasi tur biasanya sekitar 1 jam. Dengan tiket ini, Anda bisa naik ke lantai atas untuk melihat stadion dari tempat tinggi, kemudian lanjut ke dalam museum Madrid untuk melihat koleksi piala, sejarah dan rekor klub, tim inti beserta jersey-nya, dan berbagai macam pernak-pernik Real Madrid, kemudian Anda juga bisa mendapatkan kesempatan untuk berfoto dan ada petugas yang akan memilih pemain mana yang akan di-crop ke dalam foto tersebut, dan tentu Anda juga bisa mengitari stadion, mencoba duduk di kursi VIP, di bangku cadangan pemain, dan akhirnya membeli berbagai souvenir klub.
       
       
      Selesai dari Santiago Bernabeu, kami mampir ke salah satu restoran di seberang stadion untuk makan siang dan kemudian lanjut menuju pusat kota Madrid yaitu Gran Via. Lokasi Gran Via ini mungkin bisa dikatakan adalah 'Orchard Street'-nya Madrid buat yang familiar dengan kota Singapore. Di jalanan panjang ini berjejer berbagai bangunan tinggi, ada mall, toko, kantor, bahkan kasino. Tentu dengan aristektur bangunan yang juga bervariasi mulai dari klasik hingga modern sehingga nuansa Eropa masih terasa banget. Lokasinya kurang lebih satu blok dari area Malasana tempat hotel kita berada. Area ini bagus juga untuk dijadikan starting point apabila Anda ingin mencari hotel dengan best value, dekat dengan subway, dan cukup banyak restoran di sekitarnya.
       
      Kita menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk berkeliling di sekitar Gran Via dan apabila Anda terus berjalan ke arah timur, Anda akan tiba di Plaza de Cibeles. Di dekat bundaran ini ada Palacio de Cibeles (Cybele Palace) yang sekarang sudah dijadikan City Hall. Lokasi Plaza Cibeles ini juga selalu dijadikan tempat berkumpul fans Real Madrid apabila tim mereka juara dan juga menjadi tempat perayaan tahun baru buat warga kota Madrid. Tidak jauh dari Cibeles, Anda akan tiba di bundaran berikutnya, Puerta de Alcala dan dari lokasi tersebut, Anda akan menemukan pintu masuk ke salah satu taman terbesar Madrid yaitu Retiro Park.
      Buat yang senang art, lokasi taman ini pun tidak jauh dari Prado Museum yang juga merupakan salah satu attraction kota Madrid. Apabila cuaca bersahabat, Anda bisa berjalan santai menuju ke arah danau kecil dan Monument Alfonso XII. Banyak bangku taman berjejer di sana untuk sekedar beristirahat sambil menikmati udara sore dan juga ada beberapa penjual makanan ringan di sekitar situ apabila Anda ingin mencari snack atau minuman ringan. Terlihat banyak warga memadati taman, ada yang bersepeda santai, ada juga yang jogging sore, dan ada juga yang mengitari danau dengan kano.
       
      Waktu kurang lebih pukul 5 sore ketika kita memutuskan untuk kembali ke hotel dulu untuk sekedar rileks dulu. Menjelang jam 7.30, kita berjalan santai menuju restoran Bodega de la Ardosa, salah satu tapas bar di sekitar hotel untuk makan malam. Tiba di sana, baru sekitar 3-4 meja yang terisi karena memang jam restoran terpadat adalah jam 9 malam, apalagi kalau pas weekend dan ada siaran bola. Buat yang belum tahu apa itu tapas, jadi itu adalah sebutan untuk appetizer atau snack khas Spanyol, tersedia baik yang panas (daging/seafood/kentang/dll) maupun dingin (cheese/mixed olives/berbagai macam sayuran/dll). Namun warga Spanyol sering juga menjadikan tapas sebagai main course, bukan sekedar makanan pembuka, karena di satu meja, mereka bisa saja mengorder 6-7 piring tapas untuk 3-4 orang. Mungkin analogi yang agak mirip yaitu seperti sushi di Jepang dimana satu piring bisa terdapat banyak jenis menu untuk di-share.
      Restoran yang kita tuju tersebut merupakan rekomendasi dari resepsionis hotel dan kebetulan mendapatkan skor 4 bintang di tripadvisor. Review restoran di tripadvisor biasanya merupakan opini objektif dari turis berbagai negara sehingga kalau total rating sudah 4 bintang ke-atas, umumnya lumayan atau enak karena pernah juga kita hanya mengandalkan usulan dari salah satu orang lokal dan ternyata hasilnya sangat mengecewakan.
       
      Day 3 - Casa Batllo dan Passeig de Gracia, Barcelona (Kamis, 7 Mei 2015)
      Setelah kelar packing dan check-out, kita bergegas ke stasiun kereta Madrid Atocha dengan menggunakan taxi. Lokasi stasiun tidak jauh dan kurang lebih 15 menit kemudian kita sudah tiba. Tiket kereta cepat AVE dari Madrid menuju Barcelona sudah dipesan dari Indonesia sehingga waktu dan jam sudah fixed. Cara pemesanan tiket tersebut tidak sulit namun untuk menghindari kesalahan, silahkan baca petunjuk 'Buying Renfe Tickets Online' di : http://www.tripadvisor.com/Travel-g187514-c80518/Madrid:Spain:Buying.Renfe.Tickets.Online.html. Untuk harga tiket kereta, ada diskon lumayan apabila Anda booking sekitar 2 bulan sebelum keberangkatan. Kereta pun berangkat sesuai jadwal dan kurang lebih 3 jam kemudian kita sudah tiba di Barcelona. Opsi yang lebih murah bisa menggunakan kereta biasa dengan waktu perjalanan sekitar 6-7 jam dan ada juga yang overnight train untuk menghemat biaya hotel semalam, sekitar 10 jam sampai Barcelona.

      Dari stasiun, kita naik taxi menuju hotel yang ada di Carrer de Mallorca. Sama seperti Madrid, lokasi Mallorca ini cukup dekat dengan jalan protokol, Passeig de Gracia, namun harga penginapan relatif wajar, bahkan tergolong murah. Setelah check-in, kita mampir ke salah satu restoran di dekat hotel untuk makan siang. Impresi pertama cukup baik dan rasanya overall lebih enak dari hampir semua resto di Madrid yang kita coba. Lokasi pertama yang kita tuju adalah Passeig de Gracia karena memang paling dekat dari hotel. Ini adalah 'Gran Via'-nya Barcelona dan buat yang senang shopping, di sinilah surga-nya, mulai dari LV, Prada, Valentino sampai Zara, Mango, dan Puma tersebar di sepanjang jalan. Buat yang tidak senang shopping, jangan khawatir karena banyak juga kafe dan restoran tempat kongkow dan beberapa landmark terkenal seperti Casa Batllo dan La Pedrera.
        
      Untuk masuk ke Casa Batllo, Anda perlu membeli tiket dan dianjurkan untuk membeli tiket secara online karena Anda tidak perlu antri sampai satu jam pada saat mau masuk ke dalam. Bangunan ini adalah hasil karya dari arsitek legendaris Spanyol yaitu Antoni Gaudi. Beliau adalah sosok populer di balik megah-nya bangunan 'Modernista' seperti Sagrada Familia, Casa Mila, dan Casa Batllo tadi. Apabila Anda tertarik untuk mengetahui sejarah penghuni dan ruangan Casa Batllo, di dalam Anda akan dibekali dengan seperangkat alat yaitu tablet dan headphone dan dari lantai atas juga Anda bisa menikmati Passeig de Gracia yang padat dengan turis, warga lokal, maupun kendaraan yang lalu lalang. View bangunan ini juga akan lebih bagus pada saat menjelang malam hari karena lampu-lampu yang dinyalakan akan mempertegas struktur bangunan tersebut yang unik dan indah.
      Tidak terasa kita berjalan hingga pukul 9 malam dan karena di Indo sudah jam 3 pagi, tiba-tiba badan baru berasa lemes dan ngantuk, karena baru hari ketiga dan masih belum adaptasi penuh dengan perubahan jam. Kita pun kembali ke hotel untuk beristirahat.
       
      Day 4 - Palau de la Musica Catalana dan Montserrat (Jumat, 8 Mei 2015)
      Kita mengawali hari ke-empat dengan mengunjungi Palau de la Musica Catalana. Ini adalah tempat konser dengan arsitektur khas Modernista dan merupakan hasil karya Lluís Domènech i Montaner. Tempat ini juga merupakan UNESCO World Heritage Site sejak 1997 dan buat yang senang dengan bangunan unik khas Spanyol, tempat ini layak dikunjungi. Harga tiket masuk kurang lebih sekitar €17 / orang dan kita akan ditemani oleh seorang guide yang dengan senang hati akan menjelaskan mulai dari sejarah tempat ini, konser apa aja, dan cerita-cerita menarik di balik ukiran dan tatanan di dalam gedung tersebut.
       
      Persis di seberang gedung ini ada restoran yang bernama Tosca dan makanannya termasuk enak serta harga relatif wajar. Pelayannya ramah dan cukup fasih berbahasa Inggris, mungkin karena setiap hari banyak turis yang mampir setelah mengunjungi Palau. Salah satu menu andalannya adalah Jamon Iberico atau Iberian Ham, dan sebagian besar berasal dari daging babi yang digarami dan dikeringkan beberapa bulan. Mungkin karena terbiasa makan daging asin ini, banyak variasi makanan Spanyol lainnya malah jadi berasa terlalu asin untuk lidah kita. Untuk yang tidak mengkonsumsi babi, ada baiknya memesan kentang, seafood, dan sayur-sayuran karena selain ham, makanan lain di resto ini juga enak termasuk kentang goreng khas Spanyol.
      Setelah makan, kita menuju Plaza Catalunya, alun-alun utama kota Barcelona yang menjadi meeting point dari daytrip sore itu menuju Montserrat. Tempat wisata ini berasal dari kata 'serrated' karena beberapa puncak gunung yang berdempetan memiliki tinggi yang berbeda sehingga terlihat seperti gergaji dari kejauhan. Di sini terdapat biara Benedictine yang bernama Santa Maria de Montserrat dan seringkali merupakan tempat retreat untuk warga lokal Spanyol. Selain itu, para pecinta alam juga senang mendaki gunung ini dan termasuk populer di kalangan turis.
       
      Area gunung ini bisa dicapai dengan driving sekitar 1 jam dari kota Barcelona. Untuk yang waktunya terbatas, sebaiknya menggunakan local tour untuk ke Montserrat karena perbedaan biaya tidak terlalu banyak dan bisa dilakukan setengah hari saja, namun kalau punya waktu panjang, ada bagusnya berangkat dari pagi hari dan bisa menikmati Montserrat sekitar 3-4 jam sebelum turun dengan menggunakan kombinasi cable car dan kereta. Yang menarik dari Montserrat adalah indahnya pemandangan dari puncak gunung, uniknya gunung yang berwarna merah muda, arsitektur biara yang menawan baik di eksterior maupun interior-nya, serta banyak cerita menarik mengenai Black Madonna dan terbentuknya pegunungan ini. Biaya tur per orang sekitar €45 dengan durasi waktu sekitar 4-5 jam dan tidak menyangka tour guide kita yang asli orang Barcelona ternyata baru balik dari liburan ke Indonesia selama 3 minggu sekitar beberapa bulan sebelumnya.
       
      Tur berakhir sekitar pukul 7 malam namun suasana di Barcelona masih terang benderang karena memang bulan Mei sudah menjelang musim panas. Turis masih memadati area Plaza Catalunya dan kita berjalan santai menuju La Rambla. Ini adalah salah satu jalan terpadat dan mayoritas dijejali oleh turis jadi selalu waspada karena banyak copet beraksi dan rata-rata makanan serta minuman dipatok dengan harga tinggi padahal rasanya di bawah standar. Barang-barang souvenir, mainan, bunga, pernak pernik juga dijual dengan harga tinggi karena La Rambla sudah terkenal sebagai destinasi turis jadi banyak juga grup tour dari berbagai negara yang hanya mampir 1-2 malam di Barcelona pasti dibawa ke sini untuk berbelanja atau makan malam.
       
      Di dekat La Ramblas, ada satu pasar makanan yang juga terkenal yaitu Mercat de Sant Josep de la Boqueria. Berbagai macam jenis makanan mulai dari permen, buah-buahan, sayuran segar, ikan, dan sebagainya dijual di sini, namun karena salah satu destinasi turis juga, dipastikan hari apa pun pasti akan sangat padat dan terus terang tidak terlalu nyaman untuk shopping, namun untuk sekedar menyaksikan keramaian pasar ini sih oke juga. Kita sendiri tidak sampai masuk ke dalam dan memilih untuk makan malam di sekitar situ dan kembali ke hotel untuk beristirahat.
       
      Day 5 - Barri Gotic (Old Town) dan Camp Nou (Sabtu, 9 Mei 2015)
      Kalau di utara Jakarta, ada sepetak lokasi yang dinamakan Kota Tua yang sebagian berdiri bangunan peninggalan Belanda, maka di timur Barcelona pun terdapat satu lokasi yang mirip dan dinamakan Barri Gotic atau juga dikenal dengan Old Town. Mayoritas bangunan ini adalah peninggalan abad pertengahan, dan sebagian kecil malah dari jaman orang Romawi ketika mereka datang menetap di Spanyol. Yang paling terkenal di sini adalah Basilica of La Merce, namun kalau Anda punya banyak waktu untuk menjelajah jalan-jalan sempit Barri Gotic, banyak landmark yang bisa dikunjungi seperti Santa Maria del Pi Basilica, Palau Reial Major, City Hall, Placa Sant Jaume, dan Placa del Rei. Karena disain tempat ini seperti labyrinth, maka siap-siap untuk 'tersesat' namun tidak perlu takut karena selain bisa menggunakan patokan GPS untuk kembali ke jalan utama, banyak juga papan penunjuk jalan untuk mengarahkan kita ke La Ramblas atau pun ke pantai Barceloneta yang terletak tidak jauh dari sini.
       
      Banyak artis jalanan mencoba mengais rejeki di hampir setiap lorong Barri Gotic, mulai dari pemain cello, penyanyi bersuara ala Pavarotti, pengrajin bekas kaleng minuman, sampai badut-badut yang berkeliaran di sekitar Cathedral. Yang terakhir ini kadang yang agak mengganggu karena begitu kita kepengen foto sendiri, mereka suka mendekat untuk ikut berfoto bareng, maksudnya mungkin biar fotonya lucu dan unik, tapi kadang malah ngerusak, belum lagi persisten untuk minta tip dan seringnya mau lebih dari €2. Saran saya, kalau liat yang beginian, mending jauhi dan cari lokasi yang lebih aman, atau kalau masih nekad mendekat, jutekin saja.
      Kita menghabiskan waktu sekitar 4 jam untuk berkeliling santai di area ini dan kembali ke La Ramblas untuk rileks di salah satu resto sambil menunggu jam 4.30 sore. Hari itu kita akan menonton pertandingan antara Barcelona melawan Real Sociedad di Camp Nou, markas dari klub sepakbola Barcelona. Lokasi stadion ini kurang lebih 30 menit dari pusat kota dan pertandingan akan dimulai sekitar jam 6 sore waktu setempat. Di stasiun subway, baru kali ini kita melihat antrian tiket kereta MRT yang sangat panjang karena banyak warga lokal dan turis yang sudah memegang tiket siap menuju stadion. Teriakan yel-yel 'Barca .. Barca .. Barca' mulai menggema dimana-mana dan tidak sedikit yang mengenakan kostum kebanggaan mereka dengan tulisan punggung Messi, Neymar, maupun Suarez.
       
      Kalau Anda ingin menyaksikan pertandingan ini secara langsung, maka sebaiknya jangan lupa untuk membeli tiket via website (seperti ticketmaster) sekitar 10 hari sebelum hari H, karena tiket biasanya baru dijual setelah jadwal pertandingan ditetapkan oleh komite sepakbola mereka. Di stadion biasanya tidak ada ticketbox, kecuali Anda hunting tiket batal dari pemegang tiket musiman. Setiap pertandingan ada rating yang menentukan harga tiket, jadi untuk kali itu, Real Sociedad dianggap tim papan tengah dan harga tiket tidak terlalu mencekik, kurang lebih €130 dari seat yang bisa dibilang cukup pantas. Untuk harga tiket di bawah €80, posisinya terlalu jauh sehingga Anda harus siap binocular, dan kalau seat yang lebih dekat umumnya sudah sold out atau harga bisa €200 lebih. Kalau pertandingan papan atas, seperti El Clasico atau melawan tim tangguh, Atletico Madrid, atau pertandingan Liga Champion, bisa dipastikan harga tiket 2-3x lipat dan itu pun belum tentu masih available.
      Setelah menyiapkan dua tiket masuk, kita berjalan bareng bersama para suporter Barcelona ke dalam stadion dan di dalam, banyak petugas yang hilir mudik untuk membantu penonton menuju ke bangku masing-masing. Rata-rata para petugas bisa bahasa Inggris sedikit dan ramah dalam menghadapi berbagai macam turis yang kebingungan mencari seat mereka, dan biasanya kalau Anda kepengen minta tolong foto, para petugas tidak diijinkan untuk membantu mengambil foto karena itu memang peraturannya. Dari seat kita, terlihat jelas para pemain sudah melakukan pemanasan dan tepat jam 6 sore, pertandingan pun dimulai.

      Setelah ditinggalkan beberapa pemain bintang, Real Sociedad terlihat berbeda dibanding 3-4 tahun silam dan sore itu mereka hanya mampu bermain defensif dan setidaknya di paruh pertama, mereka masih berhasil menahan imbang Barcelona tanpa gol. Namun memasuki babak kedua, trio MSN terus membombardir mereka dan akhirnya Neymar berhasil mencetak gol pertama. Sekitar 5 menit sebelum usai, Pedro yang kini memperkuat Chelsea, melakukan bicycle kick yang indah dan memperlebar keunggulan Barcelona dan sore itu mereka berhasil meraih 3 poin penuh setelah menang 2-0.
      Mungkin banyak yang bertanya-tanya, apakah pantas mengeluarkan uang €130 untuk menonton 2 jam pertandingan bola ? Kalau Anda fans bola, tentu jawabannya sangat pantas karena bisa menyaksikan langsung para pemain bintang idola, namun kalau Anda tidak suka bola atau olahraga, saya tetap beranggapan ini adalah pengalaman yang boleh dicoba setidaknya sekali seumur hidup karena setidaknya Anda bisa merasakan atmosfir pertandingan kelas dunia, melihat stadion dari dalam maupun luar, berada di antara puluhan ribu suporter yang dengan antusias tinggi terus mendukung klub mereka selama 90 menit penuh, dan bisa membagikan cerita ini ke teman ataupun saudara yang sangat menyukai sepakbola.
       
      Day 6 - Andorra (Minggu, 10 Mei 2015)

      Andorra, negara kecil yang tidak memiliki airport dan terjepit antara Spanyol dan Perancis ini, bisa diakses dengan mudah melalui Barcelona. Ada banyak pilihan bus untuk menuju ke sana namun kalau Anda tidak punya agenda untuk melakukan hiking, maka ada bagusnya memilih opsi daytour seperti yang kita ambil, karena selain kita diberikan waktu cukup untuk mengitari pusat kota Andorra de la Vella, kita juga punya kesempatan untuk mampir di salah satu desa kecil, Baga dan juga Mont Louis, Perancis.
      Pagi hari sekitar jam 7 kita sudah hadir di tempat berkumpul dan karena Andorra bukan merupakan destinasi impian yang umum, maka kebetulan yang jadi peserta tur hari itu mayoritas manula yang ikut cruise dari Amerika. Yang menarik dari mereka ini ada sepasang traveler yang sudah berumur 70 tahun lebih yang sudah berkeliling ke lebih dari 100 negara dan fisik mereka masih terlihat segar dan kuat. Lucunya mereka belum pernah menginjak Indonesia, mungkin sedikit terintimidasi dengan berita-berita terorisme, entahlah, namun setelah kita cerita sebagian keindahan Indonesia, mereka tertarik untuk datang apabila ada kesempatan nanti.
       
      Sekitar 1 jam lebih, kita jalan menuju utara dan mampir sebentar di salah satu kafe kecil untuk sarapan singkat, sebelum lanjut menuju Baga. Pemandangan yang indah terbentang di sepanjang perjalanan, terlihat bukit dan lembah yang hijau, ada danau kecil, berbagai macam variasi tanaman dan juga banyak bangunan rumah yang bagus. Desa Baga ini kecil dan sangat sepi, penduduk lokal-nya sedikit, dan kita hanya butuh waktu 15 menit untuk mengitari Baga. Ada satu gereja tua yang sudah lama berdiri dan rupanya ini adalah salah satu attraction kota Baga, selain alun-alun yang dikelilingi oleh beberapa kafe kecil. Seperti kebanyakan tempat di Eropa, bangunan gereja memang sering menjadi objek wisata oleh mayoritas turis karena biasanya masing-masing memiliki eksterior dan interior yang unik dan sering kali berbeda antara satu dan lainnya. Di samping itu, sebagian juga memiliki cerita-cerita sejarah yang menarik.

      Dari Baga, kita meninggalkan Spanyol dan melintasi perbatasan menuju Mont Louis, Perancis. Sekitar pukul 10 pagi waktu setempat kita tiba dan mampir lagi ke satu restoran kecil untuk menikmati croissant khas Perancis. Mont Louis ini bisa dikatakan area administratif kecil, atau dalam istilah pemerintahan Perancis, disebut juga 'commune'. Desa ini dikelilingi oleh dinding tinggi sehingga terlihat seperti benteng kecil dan view di luar gerbang sangat bagus. Kalau Anda sempat mampir kesini, Anda bisa menikmati view yang lebih bagus dari atas bukit yang bisa diakses dari dalam. Jumlah penduduk tidak banyak berbeda dengan Baga dan banyak turis seperti kita hanya mampir sebentar saja.
       
       
      Tujuan berikut dan terakhir adalah Andorra. Negara ini bukan bagian dari Schengen namun untuk masuk tidak diwajibkan Visa, tapi perlu diingat ketika Anda keluar dari Schengen dan akan kembali lagi, pastikan Anda punya akses 'multiple entry'. Walaupun hampir tidak pernah ada yang diperiksa ketika kembali ke Spanyol (atau Perancis), tidak ada salahnya untuk dipersiapkan dari Indonesia.
      Kebanyakan traveler datang ke Andorra untuk hiking dan main ski namun hal tersebut tidak memungkinkan kalau Anda hanya daytrip karena minimal harus nginap semalam agar bisa mulai dari subuh dan kembali pas sunset. Di tambah lagi pada waktu kita kesana, akses jalan menuju ke hiking area masih ditutup karena ada perbaikan jadi waktu hanya bisa dialokasikan untuk explore kota Andorra de la Vella.
       
      Bank, grocery store, restoran, kafe, berbagai macam toko berjejer di jalan utama kota ini. Buat para traveler yang demen shopping biasanya cocok karena negara ini tax-free sehingga harga-harga minuman alkohol, parfum, baju, dan sebagainya kadang kalau dihitung bisa berbeda sampai 15-20% dibanding Spanyol atau Perancis. Banyak warga Spanyol juga sering mampir kesini juga untuk menghabiskan weekend karena relatif sepi sehingga suasana-nya terasa santai dan relaxing untuk keluarga.
       
      Namun, seperti juga di Spanyol, kultur orang sini ngga banyak berbeda dengan Spanyol jadi kalau Anda tiba sekitar pukul 2 siang, sebagian toko malah tutup untuk 'siesta' atau istirahat siang dan mulai buka lagi sekitar jam 5 sore. Tapi tentunya mayoritas restoran dan kafe tetap buka, dan toko-toko yang besar yang paling sering didatangi turis pun buka. Icon kota ini bisa dibilang adalah jam pahatan Salvador Dali yang dinamakan 'The Nobility of Time'. Tidak sulit untuk menemukan jam ini karena ada di Piazza Rotonda. Dari tempat parkir utama bus, kita cukup jalan sekitar 10 menit. Karena tidak terlalu luas, Anda cukup menghabiskan waktu 3 jam untuk berkeliling Andorra de la Vella.
      Dari kota ini, kita akan jalan kembali ke Barcelona namun sebelumnya, kita naik dulu ke salah satu puncak bukit dimana ada satu gereja tua Sant Miquel Engolasters berdiri, dan yang paling menarik dari spot ini adalah view kota Andorra de la Vella yang jelas terhimpit antara dua gunung tinggi. Panorama dari sini sangat indah dan menjadi klimaks dari kunjungan kita ke negara kecil ini.
       
      Dari pengalaman kita mengunjungi Andorra, kalau Anda tidak ada rencana hiking, bisa disimpulkan akan lebih baik mengambil daytour ketimbang pergi sendiri dengan bus karena Anda akan dibawa mampir ke Baga dan Mont Louis namun kalau dari awal Anda ingin untuk mengunjungi ski resort atau naik gunung, tentunya lebih baik menginap semalam atau dua malam disana.
      Day 7 - Park Guell dan Sagrada Familia (Senin, 11 Mei 2015)
      Hari ini agenda kita agak santai karena tujuan kita hanya dua landmark saja yaitu Park Guell dan Sagrada Familia karena sore hari sekitar jam 5 kita sudah harus menuju airport untuk terbang ke Marakkesh, Maroko. Dua tempat ini berdekatan dan dapat dijangkau dengan taxi kurang lebih 15 menit saja dan termasuk dua lokasi favorit para turis karena selain dianggap sebagai bagian dari icon kota Barcelona, juga masuk ke dalam UNESCO World Heritage Site.
       
      Park Guell terletak di Carmel Hill sehingga untuk mencapai tempat ini akan lebih baik menggunakan bus karena halte-nya sangat dekat dengan pintu masuk ketimbang harus naik subway dan 'mendaki bukit' yang menghabiskan stamina. Yang menarik dari Park Guell ini adalah kita bisa menyaksikan keunikan karya Antoni Gaudi yang menggabungkan kreativitas seni dia dengan alam dan lokasi di perbukitan ini juga menyuguhkan pemandangan indah kota Barcelona dari ketinggian.
       
      Untuk masuk ke dalam taman ini, dikenakan biaya kurang lebih €7 dan tiket sebaiknya dibeli online untuk menghindari antrian panjang di pintu masuk. Umumnya, kita cukup menghabiskan waktu 1.5 jam untuk mengelilingi seluruh kompleks ini, termasuk melihat ke dalam dua bangunan utama yang terletak di pintu masuk utama namun ada juga warga lokal yang memanfaatkan taman ini sebagai lokasi piknik keluarga dan bersantai sambil menikmati view kota.
      Lokasi berikut yang kita tuju adalah Sagrada Familia dan kita menggunakan taxi agar lebih nyaman dan cepat. Biaya kurang lebih €10-€13 tergantung traffic dan kalau Anda pergi berdua atau lebih, ada baiknya menggunakan taxi untuk hemat waktu dan tenaga karena nanti akan banyak jalan sekitar Sagrada dan juga untuk turun tangga dari menara.
       
      Seperti layaknya kebanyakan landmark di Spanyol, tentu untuk masuk ke Sagrada Familia harus memiliki tiket dan sangat disarankan untuk beli online dari 2-3 minggu sebelumnya karena kalau mau antri hari H, terkadang Anda bisa menunggu sampai 2 atau 3 jam, bahkan lebih kalau lagi peak season. Sebelum masuk ke Sagrada, kita berjalan ke taman yang ada di seberang gereja untuk bersantai dan berfoto, kemudian mampir ke salah satu resto untuk lunch dulu.
       
      Sekitar jam 2 siang, kita bergegas menuju Sagrada dan antri sebentar (sekitar 15 menit) untuk pemegang tiket online, dan tiba di dalam, kita langsung takjub melihat megahnya disain Gaudi ini. Interior gereja ini dipenuhi dengan jendela tinggi sehingga dikelilingi oleh banyak sinar matahari yang membentuk warna pelangi. Lokasi cukup padat dengan turis, baik yang berdoa maupun sekedar berfoto.
       
      Di Sagrada, ada dua menara tinggi yang dinamakan Passion dan Nativity dan untuk pemegang tiket, Anda diperbolehkan untuk memilih salah satu menara. Di forum, banyak diskusi mengenai tower mana yang lebih baik, namun prinsipnya dua tower ini menawarkan view yang mirip dan dari kedua puncak menara, pengunjung bisa melihat interior dan exterior yang sama, tapi ada juga yang mengatakan lebih baik Passion saja karena sedikit lebih tinggi sehingga view lebih baik dari atas. Kita sendiri memilih Nativity karena kebetulan antrian lift juga tidak terlalu panjang dan kita puas, jadi saran saya, pilih saja antrian yang lebih sepi karena waktu cukup berharga.
      Sagrada Familia ini adalah landmark terakhir yang kita kunjungi di Barcelona dan sore itu kita segera kembali ke hotel untuk melakukan packing terakhir dan taxi sudah siap untuk membawa kita ke bandara untuk meninggalkan Spanyol menuju Maroko.
      Day 8 - Marrakech (12 Mei 2015)
      Kita mendarat di bandara Menara sekitar pukul 8 malam waktu setempat. Suasana di dalam bandara sudah agak lengang dan hampir semua turis mulai memadati money changer untuk menukarkan uang mereka ke dirham. Sangat disarankan untuk membawa EUR atau USD dan ditukar langsung di Maroko karena selisih akan cukup besar kalau Anda membeli dirham di negara lain.
       
      Kota Marrakech ini adalah salah satu pusat pariwisata Maroko, sempat tercantum sebagai destinasi terbaik TripAdvisor tahun 2015 dan mengundang banyak sekali turis Eropa dan Amerika untuk menikmati perbedaan kebudayaan dan kuliner yang ekstrim, namun untuk kita orang Indonesia yang merupakan negara mayoritas beragama Islam, pasti akan merasakan suasana yang sangat familiar dengan Marrakech.
      Perkembangan kota dan negara ini tergolong lambat, ini disebabkan karena ekonomi mereka tidak mampu bertumbuh pesat seperti Indonesia yang ditunjang dengan derasnya investasi asing dan berbagai macam komoditi perdagangan yang melimpah ruah. Terhimpit oleh luasnya gurun pasir membuat mereka juga tidak leluasa mengembangkan agrikultur sehingga turis merupakan sumber devisa utama.
      Secara umum, Marakkesh dikelilingi tembok yang membentengi kota tua (yang juga sering disebut Medina) dan berbatasan dengan lingkungan baru yang kebanyakan dipadati oleh imigran dan investor Perancis (biasa disebut Gueliz). Di dalam Medina, bertebaran hotel-hotel khas Maroko yang dinamakan 'riad' dan sangat disarankan untuk menginap di 'riad' untuk menikmati suguhan interior otentik dan juga mendapatkan berbagai macam informasi penting dari owner maupun helper-nya.
       
      Mayoritas turis yang tidak mempunyai informasi banyak mengenai kota ini biasanya akan kaget ketika pertama kali menginjakkan kaki disini karena selain kesan kumuh terhampar di berbagai sudut kota, mayoritas orang lokal berasa terlalu 'friendly' ketika menghampiri turis baik menawarkan dagangan ataupun layanan mereka. Traveler wanita sebaiknya tidak jalan sendiri untuk menghindari hal yang tidak diinginkan jadi paling baik berdua atau bertiga dan memilih jalan yang ramai, atau ditemani guide lokal yang terpercaya.
      Malam itu, kita langsung beristirahat di riad karena besoknya jam 9 pagi, kita sudah janji untuk bertemu dengan Youssef yang bisa dikontak melalui Tripadvisor (Marrakech Tour Guide - Private Tours).
      Day 9 - Marrakech (13 Mei 2015)
      Setelah sarapan pagi, kita memulai hari dengan bertemu dengan Youssef yang sudah menunggu di ruang tamu riad kita. Sangat disarankan untuk memanfaatkan jasa tour guide lokal ketika Anda pertama kali datang ke Medina karena ada tiga faktor penting yaitu kita bisa mengetahui dan mengenal lebih dalam sejarah dan budaya dari orang lokal serta lingkungan sekitar; kita tidak akan tersesat dalam labirin Medina dan menghemat waktu untuk tahu tempat-tempat penting maupun yang rawan; kita bisa bertanya mengenai tempat makanan favorit orang lokal, kudapan ringan, juga meminta dia untuk membantu menawar barang/souvenir.

      Youssef mengajak kita untuk mencari taksi dan menuju ke Jardin Majorelle. Lokasi taman ini ada di Gueliz sehingga agak jauh dari Medina. Taman yang dimiliki oleh mendiang designer Yves Saint Laurent ini menyimpan berbagai macam koleksi kaktus dan tanaman, tersebar mengelilingi kolam kecil dan bangunan museum suku Berber dengan warna biru cerah. Lokasi ini termasuk salah satu favorit turis dan banyak spot menarik untuk berfoto.
      Setelah puas di sana, kita kembali ke Medina dan mulai berjalan menuju Bahia Palace. Bulan Mei sebenarnya sudah terlalu panas untuk berjalan karena menjelang jam 12 siang, suhu bisa mencapai 42 derajat dan menurut Youssef, waktu terbaik adalah awal Maret ketika suhu berkisar antara 20-25 derajat. Tiba di Bahia, Youssef membawa kita mengunjungi ruangan demi ruangan sambil bercerita mengenai sejarah dari istana ini.
       
      Tujuan berikut adalah melewati Koutobia Mosque dan mampir di Saadian Tombs. Mausoleum ini merupakan tempat peristirahatan keluarga dinasti Saadi yang hidup di abad ke-16 dan kita diperbolehkan untuk mengambil foto di sini. Karena tempat ini tidak terlalu luas, maka biasanya 15-20 menit sudah cukup dan kita mampir ke salah satu restoran untuk makan siang.
      Setelah makan siang, Youssef membawa kita menelusuri labirin Medina dari satu gang ke gang yang lain, dari satu souk ke souk yang lain. Dia mengatakan bahwa semua turis tanpa GPS yang datang ke sini sudah pasti akan tersesat dan banyak yang menghabiskan waktu ber-jam jam untuk bisa balik ke hotel mereka namun untuk mereka yang cuek, pengalaman tersesat ini memang yang di cari.
       
      Kita mending cari aman karena berabe kalau tersesat dan kecopetan sementara masih ada rencana ke Sevilla 4 hari dan kembali lagi ke Madrid. Youssef tinggal tidak terlalu jauh dari Medina dan hampir semua pedagang kenal dia. Ini keuntungan jalan bareng dia karena selain tidak akan ditipu dan diganggu, biasanya buat yang senang belanja barang macam-macam mulai dari souvenir, baju, sepatu Maroko, lampu, dan sebagainya bisa dapat harga terbaik. Kita diajak berputar mengunjungi tempat-tempat esensial di Medina termasuk pengolahan besi dan dapur pembuatan kue sebelum akhirnya kita diantar lagi ke riad untuk beristirahat.
       
      Persis jam 19.30, kita ditunjukkan jalan terdekat menuju Djemma El-Fna. Ini adalah alun-alun utama Medina, tempat yang paling tersohor di Marrakech dimana berbagai macam pedagang berkumpul, tukang makanan dan jajanan, pawang ular, pertunjukan topeng monyet, dan sebagainya. Bukan menjadi hal yang asing buat kita warga Indo yang sering melihat pasar malam, namun buat para bule, melihat 'organized chaos' seperti ini tentu menjadi atraksi yang tidak lazim.
      Untuk mendapatkan view yang maksimal, ada baiknya naik ke salah satu restoran terdekat dan pesan saja satu atau dua minuman ringan yang penting bisa nongkrong di salah satu meja, karena biasanya makanan di tempat 'touristic' seperti ini tidak enak dan mahal. Setelah puas mengambil foto, coba makan di salah satu stall yang ada di bawah. Jangan mengharapkan makanan senikmat di Indo namun perlu dicoba untuk sekedar pengalaman.

      Karena masih belum terlalu familiar sama jalan dan lingkungan sekitar, kita memutuskan untuk kembali ke hotel sekitar jam 9 malam karena jalanan masih relatif ramai sehingga tidak terlalurawan kalau tersesat. Walaupun menurut Youssef, tingkat kriminalitas di Marrakech sangat rendah, tetap lebih baik untuk menjaga kemungkinan terburuk dan hindari hal-hal yang bisa mengundang bahaya.
      Day 10 - Marrakech - Ouarzazate (14 Mei 2015)
      Pagi itu sekitar jam 07.00 kita sudah siap untuk berangkat karena perjalanan menuju Ouarzazate cukup jauh, sekitar 4 jam dari Marakkesh. Kita sudah booking daytrip service ke Ait-Ben-Haddou dari Indonesia melalui Youssef juga dan memang landmark tersebut merupakan salah satu highlight Maroko, selain sand dunes yang tersohor itu di dekat Merzouga. Supir-nya yang bernama Ali sudah tiba di riad dan satu hal yang mengecewakan yaitu Ali tidak bisa berbahasa Inggris dan hanya fasih bahasa Perancis dan Arab saja.
      Jadwal memang sudah ada di tangan dia tapi sayangnya kita tidak bisa ngobrol banyak untuk tanya hal-hal menarik yang kita lihat sepanjang perjalanan, namun karena tidak ada opsi lain, ya sudah kita tetap nekad saja jalan. Ali sendiri orangnya ramah dan terlihat friendly, terbukti dari antusiasme-nya untuk terus mengajak ngobrol dengan bahasa Perancis di selingi dengan 1-2 kata Inggris, namun apa daya, kita cuma bisa ketawa karena ngga ngerti.
      Jalanan menuju luar kota relatif sepi, mungkin karena hari kerja, dan di kiri kanan terlihat agak lengang dengan beberapa rumah ber-cat merah khas bangunan Marrakesh. Dua jam pertama, kita berhenti di salah satu spot dengan view landscape padang rumput berlatar belakang gunung yang bagus. Setelah itu, ada satu spot dengan pemandangan deretan rumah tradisional suku Berber yang di bangun di area perbukitan. Tidak lama kemudian, kita sudah memasuki 'Tizi Tichka Pass' - salah satu jalanan berkelok yang di anggap berbahaya karena tidak ada pembatas jalan dan biasanya di sarankan hanya untuk driver yang sangat berpengalaman.
       
      Separuh jalan, kita berhenti di salah satu puncak bukit untuk menikmati view yang spektakuler. Memang tidak salah apa yang di katakan Patrick, pemilik Riad yang kita tempatin, bahwa landscape menuju Ait Ben Haddou memang salah satu yang terbaik di Maroko dan jangan sampai di lewatkan apabila berkunjung ke Marrakesh. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan hampir 4 jam, kita tiba di kota Ouarzazate. Ada dua lokasi menarik di kota ini, yang pertama yaitu Atlas Film Studio - lokasi syuting yang sering dipakai sutradara Hollywood untuk film-film seperti Kingdom of Heaven, Alexander The Great, Lawrence of Arabia, dan sebagainya.
       
      Yang kedua adalah Taourirt Kasbah, semacam istana tua dengan arsitektur klasik suku Berber. Di tempat ini, sering sekali Anda ditawari jasa guide oleh orang lokal, yang mengesalkan kadang mereka sangat persisten walaupun sudah ditolak, namun apabila kita ingin tahu detail mengenai apa yang terjadi di setiap sudut ruangan ini, guide tersebut sangat membantu. Selain interior yang bagus, view ke luar yang bisa terlihat dari jendela-jendela kecil juga menawan.
       
      Selesai makan siang di restoran yang ada di dekat kasbah, kita pun lanjut menuju Ait Ben Haddou. Landmark ini pun sering di jadikan lokasi syuting film karena bentuk-nya seperti benteng kuno dengan exterior unik dan juga termasuk dalam daftar UNESCO World Heritage Site. Untuk menuju ke situs ini, dari parkiran yang berada di atas bukit, kita harus turun menuju ke bawah melalui anak tangga dan menyeberang sungai dangkal untuk sampai di kasbah. Karena suasana yang sangat terik dan juga kita sudah melihat bagian dalam kasbah Taourirt, kita memutuskan untuk tidak mengeksplorasi Ait Ben Haddou namun hanya berfoto dan menghabiskan waktu di sekitar lokasi saja.
       
      Setelah puas berfoto, kita pun kembali ke parkiran untuk pulang ke Marrakesh. Biasanya, untuk yang punya waktu 2-3 hari ekstra, dari sini bisa lanjut menuju Merzouga dengan waktu tempuh sekitar 5-6 jam dan menginap di sana untuk menikmati pemandangan sand dunes, namun karena kita harus berangkat menuju Sevilla besok hari, maka kita harus melewatkan kesempatan ini. Perjalanan pulang melewati 'Tizi Tichka Pass' menyuguhkan kita pemandangan bagus dari sisi yang berbeda dan pastikan jangan terlelap karena banyak spot menarik untuk diabadikan dengan kamera.
       
      Kita tiba di Marrakesh sekitar jam 8 malam, walaupun langit masih terang namun kita terlalu lelah untuk berkeliling Medina lagi jadi kita putuskan untuk istirahat di riad saja sambil packing santai agar besok pagi masih sempat jalan sebentar sebelum ke airport.
      Day 11 - Marrakech / Sevilla (15 Mei 2015)
      bersambung ...
    • By Daniear
      Sebelumnya mohon maaf, karena kisah ini terlambat dari jadwalnya. Mohon maklum, kerjaan padat menyergap seusai balik dari Jepang. Aaaah, jadi pingin liburan lagi, wkwkwwk
      Berbekal JR Pass nan sakti, gue pun menyusun perjalanan yang anti rugi. Maksudnya, selama bisa pakai JR Pass, ngapain musti bayar tiket lagi. Kalau bisa nyicip gratis, ngapain musti beli *Halah.
      Namun prinsip itu harus berhadapan dengan realitas yang cukup mencengangkan di Kyoto (apa pula bahasa gue barusan). Ya, intinya jalur yang di-cover JR Pass di Kyoto sangat terbatas. Tempat wisata utama yang dekat stasiun JR mungkin hanya Fushimi Inari (JR Inari) dan Arashiyama (JR Saga Arashiyama). Sementara penginapan yang kami pilih di Sanjo. Mau nggak mau kami musti beli tiket kereta di jalur Keihan dari Kyoto Station ke Sanjo Keihan untuk sampai di penginapan. Mungkin kalian penasaran, ngapain juga gue musti nginep di Sanjo.
      Ehem, beginilah ceritanya. Berbekal advice dari insidekyoto.com, salah satu wilayah yang nginep-able di Kyoto adalah Sanjo. Waii?? *Why. Karena banyak tujuan wisata yang dekat dari area ini. Sebut saja Gion, Kamo River, Sannen-zaka, Ninen-zaka, Kiyomizudera. Semua itu bisa ditempuh dengan jalan kaki. Ya, kecuali kalau kalian tipikal manjanya keterlaluan dan males jalan kaki, bus akan sedia menawarkan tumpangan berbayar.
      Karena dari Kyoto ke Sanjo nggak ada JR line, untuk menghemat perjalanan kami memutuskan langsung ke Fushimi Inari dari Kyoto Station pada hari pertama kedatangan kami di Kyoto.
       
      Kyoto Station  
       
      Jadi, begitu Shinkansen Hikari yang kami tumpangi tiba di Kyoto Station, hal pertama yang gue cari adalah coin locker. Berat cuy bawa carier 60 L kemana-mana. Setelah nekad memohon petunjuk ke petugas station (yang kebetulan kagak ngerti bahasa Inggris) dengan bahasa tubuh kami pun menemukan loker.
      Setelah beres kami segera meluncur ke platform di mana kereta JR Nara Line berada. Oh, iya, begitu dapat koneksi internet di Jepang, jangan lupa untuk install app Hyperdia (entah sejak kapan, app-nya hanya bisa di-instal di Jepang. Versi web-nya masih bisa dibuka di Indonesia, sih, buat cek-cek rute di itinerary).
      Kereta yang kami tumpangi ini akan melewati statsiun Tofukuji dan tiba di Inari. Perjalanan berlangsung sangat cepat. Hanya 5 menit. Begitu tiba di Inari station kami disambut masa yang cukup padat. Tak jauh di seberang jalan, gerbang utama Fushimi Inari sudah terlihat.
       
      Gate Fushimi Inari  

      Sabtu siang itu pengunjung cukup ramai. Sebelum memutuskan masuk, kami mencari makan siang dulu (ehem, rapelan sama sarapan sebenernya) di Daily Yamazaki, semacam convenience store. Karena nggak ada tempat duduk di sekitar situ, kami pun memilih makan di balik patung rubah di depan gerbang. Sungguh pilihan lokasi yang mencolok dan mengundang perhatian. 
       
      Makan di balik patung ini  
       
       
       
       
      Tak jauh dari lokasi inilah terjadi adegan salah grepe *eh! Adegan salah sapa oleh sekumpulan turis dari Thailand (denger bahasanya yang canggih luar biasa gue langsung mengenali kebangsaan mereka). Jadi ceritanya si Bobby dikira salah seorang teman dari mereka, karena emang agak mirip sih mukanya. Jadilah mereka cengar-cengir setiap ketemu kami.  *Dih
       
      Punten!  
       
      Sepertinya hari itu Fushimi Inari akan dipakai untuk upacara. Gue nebak begitu karena kuil utama udah rapi dan pendetanya juga kek lagi siap-siap, ditambah petugas-petugas yang beredar di sekitar kuil. Entah kenapa, ketika melihat penampakan pendeta dengan topi tingginya itu aura magis langsung terasa. Untuk mengalihkan rasa itu gue segera melihat arah lain.
       
      Wajahmu mengalihkan duniaku, Mbak :)  
       
      Sesuai rencana bersama, kami memutuskan untuk tidak mendaki hingga puncak. Jadilah kita foto-foto di antara tori-tori merah nan indah itu. 
       
       
      Tuh, rame, kan *nggak tahu diri ngganggu yang ngantri jalan  
      Tori  
      Foto ala ala dulu  
      Pose siapa yang lebih sukses?  
      Baru dapat beberapa meter kita milih jalur memutar. Dan balik. Ya, gitu doang sih.
       
      Inari Station  
      Timetable  
       
      Kami pun balik ke Kyoto Station. Selain Hyperdia, app yang sangat membantu tentu saja google map, Kyoto metro map. Tambahan bagi yang muslim, ada Halal Navi, Halal Gourmet Japan, yang bisa jadi navigator buat nyari rekomendasi tempat makan yang udah ada sertifikat halalnya.
      Setelah ngambil barang di loker, kami pindah ke kereta Keihan. Dari Kyoto Station ke Sanjo Keihan perlu transit sekali di Karasuma Oike. Harga tiket total 260 yen. Kejadian konyolnya adalah, gue salah memasukkan kertas receipt (bukan karcis) ke gate. Ya jelas nggak mau buka dong. Gue coba sekali lagi. Sama juga. Akhirnya munculah seorang kakek-kakek berhati malaikat yang memberitahu gue kalau yang gue masukin salah. Gue pun memasukkan kertas lain, yang mana lebih kecil dari kertas pertama. Dan berhasil. Yaelah, karcisnya ternyata yang kecil. Untung kagak gue buang.
      Sebelum naik kereta gue sempat bertanya pada seorang gadis Jepang, apakah kereta yang kami tumpangi benar ke arah Karasuma Oike (sebetulnya ini adalah modus nyepik).
      “Neng, ini kereta ke Karasuma Oike?” Tanya gue sambil merapikan sarung yang melingkar di pundak.
      Si eneng tampak kaget dengan pertanyaan gue. Diselipkannya anak rambutnya di belakang telinga. “Eh, iya, A’. Aa bade kemana?”
      “Ndak jauh, kok. Cuman ke Sanjo.” *berubah logat.
      “Ati-ati, ya, Mas.” *ikutan nggak konsisten.
      Ya, dialog di atas hanya rekaan belaka. Setelah gue Tanya beginilah reaksi sebenarnya:
      Si gadis yang cantik itu pun mengangguk. Bahkan dia masih melihat ke gue ketika dia turun duluan di stasiun Shijo. Entah apa maksud tatapan itu. Tatapan berat untuk berpisah, tatapan ingin meminta ID Line, atau yang paling masuk akal tatapan kasihan gue bakal salah stasiun.
      Tiba di Sanjo Keihan ternyata bukan sebuah kelegaan. Gue yang baca direction dari host Airbnb ngerasa lost banget karena gerbang keluar stasiun yang di foto dengan yang gue lalui kok beda. Gue sadar kalau salah keluar gerbang, tapi di mana gerbang yang di gambar lebih bikin gue bingung. Gue pun usul buat masuk ulang, cari jalan keluar lain. Tentunya pilihan ini sangat menyiksa Bobby, karena dia yang satu-satunya bawa koper harus nenteng naik turun tangga. Begitu gue nemu jalan keluar lain, kami ikuti, sampai keluar … zonk! Tetep beda. Malah pintu keluar itu cuman beberapa meter dari pintu keluar yang pertama.
      Sempet buntu sampai akhirnya kami berjalan ke Family Mart. Krysna yang menguasai bahasa Jepang dasar berusaha berkomunikasi dengan dua orang kakek-kakek. Dan jawaban sang kakek membuat Krysna menganga!
      Yaiyalah, si dua kakek itu menjawab dengan sanga cepat dan heboh, panjang. Krysna pun nggak mudeng sama sekali dengan apa yang dikatakan sang kakek.
      Gue akhirnya ikut nimbrung setelah gue inget lokasi penginepan di dekat studio dance.
      “Dansa! Dansa!” seru gue sambil membuat gerakan ala ala.
      Eh, si kakek ternyata nangkep. Dari omongannya gue nangkep kata “hoteru” yang mungkin artinya hotel. Dia juga nunjuk arah. Kami pun ngikutin arah itu dan … tara!!! Gambar yang ada di peta akhirnya tampak. Setelah jalan 5 menitan tibalah kami di rumah milik Madame Hanano.
       
      Tirai depan rumah yang menyambut kami  
      Secarik pesan dari sang host  
      Ruang tamu tempat Misae dan Shinchan bercengkerama  

       
      Area rumah yang kami sewa benar-benar bersih. Rumahnya kecil tapi bersih banget. Terdiri dari dua lantai. Lantai satu berupa ruang tamu, dapur, kamar mandi. Yang gue suka, pintu gesernya Jepang banget. Naik ke lantai dua ada 3 kasur yang udah disediain buat kami. Masih sisa satu ranjang tingkat sih sebenernya. Jadi kalau kebetulan trip ber-5, rumah ini keknya masih bisa, deh. Lebih hemat lagi pembagiannya. Gue yang nggak sabar liat futon langsung nyobain tidur. Gilak! Anget banget. Nyaman banget. Jadilah khayalan live as a Japanese untuk dua malam di Kyoto ini terkabul.
      Karena belum makan malem, kami segera beberes untuk berangkat ke Gion. Tujuan kami adalah Gion Naritaya Ramen Halal.
      Di tengah dinginnya malam kami menjelajah gang-gang di area Sanjo menuju Gion. Google map always on.
      Meski cuman jalan kaki, gue excited banget. Ngelihat rumah-rumah dan bangunan yang gue lalui. Pas-pasan sama masyarakat local yang keknya baru pulang kerja. Ngelewatin kedai dan bar-bar Jepang. It’s not a dream!
      Dulu waktu kecil gue punya mimpi buat ke Jepang. Begitu beranjank dewasa mimpi itu kek hilang, karena gue mulai realistis. Gimana caranya gue ke Jepang coba? Eh, hari itu mimpi gue ternyata bisa tercapai. Yeah, gue pun sadar, terkadang realistis dan pesimis itu beda tipis. Seharusnya gue tetapin niat yang kuat dan nyari cara gimana buat mencapai mimpi gue. *motivator mode on
      Tibalah kami di Gion Naritaya Ramen. Kedainya lucuk, Jepang banget (yaiyalah, di Jepang). Di sebelah Gion Naritaya Ramen ada Gion Naritaya Yakiniku (yang ini special jualan daging yakiniku gitu). Sesuai rencana kami milih makan ramen malam itu.
       
       

      Daftar Menu
       
      Begitu masuk kedai kami disajikan ruangan yang terbilang sempit. Tapi sempitnya justru membuat semakin nikmat. Ada beberapa pengunjung berhijab yang gue perkirakan berasal dari negeri tetangga, negeri jiran. Ada satu penjaga kedai, merangkap sebagai koki, mas-mas Jepang yang masih muda banget.
      Malm itu gue memesan shoyu ramen + fried chicken. Harganya 1000 yen.
      Sambil bergunjing tentang pengunjung lain di meja sebelah, karena gue melihat “penampakan”,*Mohon untuk tidak ditiru, pesanan yang kami tunggu pun datang. Waaahhh!
       
      Shoyu Ramen  
      Spicy Ramen Ramen Mamen  
      Enyak! Pas banget dingin-dingin musim dingin gini, makan yang anget-anget, berkuah anget, di kedai anget. Anget banget! *Wkwkwkwk
      Review makanannya, jujur ini pertama kali gue makan ramen di Jepang. Sensasi yang pertama yang gue rasain adalah fresh. Kenapa? Karena lidah gue sama sekali nggak mencap adanya rasa micin macam makan mie instan atau ramen yang dijual di beberapa kedai ala-ala Indonesia (mungkin mereka pakai ramen instan). Ramennya terasa lembut. Kuah shoyu nya juga sedap. Irisan ayam bakarnya pas banget. Mateng dan lembut. Dan yang jadi juara menurut gue adalah ayam gorengnya! Potongan kecil-kecil bikin bumbunya meresap, sedaaap! Sampai kami mutusin buat pesen lagi ayamnya, he he.
      Makan malam pertama kali kami di Jepang ditutup dengan secangkir green tea hangat khas Jepang. Ditambah air putih gratisan. Kami pun meninggalkan kedai dengan suka cita.
      “Hoi, bayar dulu!!!!” teriak si penjaga kedai.
      Mungkin itu yang terjadi seandainya kami terlalu menikmati suasana dan meninggalkan kedai tanpa bayar. Untungnya kami belum khilaf.
      Setelah menimbang-nimbang kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke Minna Kyoto Store. Si Bobby ngajak buat cek jaket winter. Doi belum sempet beli di Indonesia. Kami pun berjalan kaki menyusuri jalan-jalan Gion ke arah Kamo River.
      Udara malam itu dingin banget. Tapi suasana sekitar bikin gue tetap gigih berjalan. Gue bisa melihat Starbucks nan legendaris (karena sering mejeng di berbagai foto ketika searching tentang Kyoto). Starbucks itu berada pas di tepi Kamo River, terlihat klasik.
      Di Minna Store kami cek jaket di Uniqlo Jepang dan membandingkannya dengan harga di Indonesia. Emang iya, sih, di sana lebih murah disbanding di Indonesia untuk barang yang sama. Gue pun beli neck warmer yang cuman 500 yen, karena gue belum bawa syal.
      Usai dari Minna kami mampir ke minimarket kecil nggak jauh dari sana. Gue lupa apa nama minimarketnya. Yang pasti di situ gue nemu air mineral paling murah yang gue temuin selama di Jepang. Bayangin 52 yen udah dapet 2 liter?!
      Dan … malam itu harus ditutup dengan drama. Gue kebelet buang hajat! *Malu
      Dengan panik gue masuk lagi ke Minna Kyoto Store, nyari-nyari di mana toilet. Akhirnya nemu di saat yang tepat di lantai dasar. Fuuuuh.
      Malam itu kami mengakhiri petualangan hari pertama. Sebelum tidur gue sempet nyobain shower yang dinginnya naudzubillah. Kami nggak mungkin lupa nyalain pemanas ruangan. Kehangatan seketika menyeruak. 
       
      Kasur di lantai 2 yang menyajikan kehangatan  
      Sampai jumpa hari kedua :)
       
      Sebelumnya:
       
      Mention:
      @deffa
      @HarrisWang
      @kyosash
      @twindry
      @Vara Deliasani
      @Andrizki
      @Ikamarizka