min0ru

field report Liburan Hemat ke Lombok

19 posts in this topic

Akhir bulan lalu saya liburan hemat ke lombok. Yup hemat ala backpacker / flashpacker kali yah :p. Pada perjalanan ini saya dapat tiket promo dari citilink loh, tiketnya seharga Rp. 980.000 untuk pulang pergi dari Soekarno-Hatta Intl Airport. Kira-kira jam 06.00 WIB saya sudah sampai dibandara dan langsung check in tanpa bagasi karena cuma bawa ransel gendong aja. Sayangnya promo yang saya dapatkan ini transit selama 1 jam di Surabaya (gpplah yang penting promo :p) Keberangkatan ini lancar tanpa delay, ngga seperti perjalanan saya ke Malang yang delay hampir 3 jam :geram

Liburan Hemat ke Lombok

Kira-kira jam 11.30 itu saya sudah tiba di LOP (Lombok Airport) begitu turun pesawat langsung cari counter DAMRI yang berada persis setelah pintu otomatis keluar dari ruang kedatangan. Harga tiket DAMRI untuk sampai kota Mataram adalah Rp. 25.000 sedangkan jika mau sampai Senggigi Rp. 35.000. Berbeda dengan DAMRI di Jakarta yang dengan kondisi apa pun (penuh atau tidak penuh) tetap berangkat, DAMRI di Lombok nunggu sampai penuh! baru jalan dan saya menghabiskan 1 jam untuk nunggu bus itu penuh :(. Saya naik yang sampai Senggigi lalu makan siang di warung soto pinggir jalan karena darurat sudah kelaparan banget ; makan soto ayam 2 mangkok + es teh manis + aqua botol + krupuk 3 seharga Rp. 55.000 :D.

Liburan Hemat ke Lombok

Dari situ nyambung ke pelabuhan ferry bangsal yang berjarak kurang lebih 30-40 menit dari senggigi dengan menggunakan taksi burung biru alias bluebird seharga Rp. 80.000. Sebenarnya ada cara lebih hemat untuk ke pelabuhan bangsal dari kota mataram dengan naik semacam angkot gitu tetapi lama harus menunggu sampai penuh baru berangkat dan menurut saya sangat membuang waktu. Oh ya biasanya taksi tidak boleh masuk sampai kedalam pelabuhan tetapi beruntungnya waktu saya datang diperbolehkan untuk masuk sampai kedalam. Buat kalian yang nanti akan mengalami larangan masuk ini ga usah kuatir, jalan kaki cuma 6-10 menit aja dari depan gerbang pelabuhan kira-kira 300 meter atau naik delman yang disebut cidomo kalau di Lombok yang harganya Rp. 25.000 – 30.000 aja.

Well kira-kira jam 15.00 saya sampai di pelabuhan bangsal dan membeli tiket kapal umum Rp. 20.000 untuk sekali jalan menuju ke Gili Trawangan. Alternatif untuk ke Gili Trawangan bisa juga dengan kapal cepat seharga Rp. 80.000 cuma 15 menit katanya, tapi saya memilih kapal umum (nunggu penuh baru berangkat). Ngga sampai 5 menit nunggu sudah mau berangkat aja nih kapal yang saya tumpangi dan perjalanan ke Gili Trawangan hanya memakan waktu 40 menit aja.

Liburan Hemat ke Lombok

Sesampainya di Gili Trawangan saya pun langsung menuju ke penginapan karena badan sudah cukup lelah eh ternyata jalannya jauhhhh dan agak menanjak menuju penginapan :P kira-kira 15-20 menit jalan kaki dari pelabuhan GilTraw. Sampai penginapan mandi dan leyeh-leyeh dulu sebentar dan menjelang sunset baru keluar lagi naik sepeda.

Liburan Hemat ke LombokLiburan Hemat ke Lombok

Lokasi kekinian untuk melihat sunset adalah Ombak Sunset yang ada ayunannya itu loh tapi sayangnya hari itu saya kurang beruntung karena ada awan tebal yang menutupi matahari terbenam :(. Yoweslahhh lanjutkan muterin pulau dan akhirnya berhenti di The Exile Bar and Resto lanjut nikmatin sisaan sunset yang malah warna orangenya keluar dan bagus. Beer disini Rp. 30.000 / botol sedangkan snack kayak chicken wing Rp. 40.000-an ya harga yang standartlah ya. :makan

Liburan Hemat ke Lombok

Lanjut dari The Exile saya coba lanjut lagi gowes sepeda dan menemukan pasar malam yang isinya makanan semua! wah surgaaaa buat perut buncit saya ini :p. Bentuknya sih sederhana ya hanya gerobak-gerobak besar dengan pilihan makanan yang sangat bervariasi mulai dari ikan, ayam, udang, sate, martabak, pancake dan masih banyak lagi dengan harga yang relatif murah Rp. 10.000 – Rp. 50.000.

Liburan Hemat ke Lombok

Keesokan harinya saya sudah standby kembali didekat pelabuhan GilTraw karena ikutan island hopping 3 Gili (Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air) dengan snorkeling. Harga paketnya Rp. 100.000 per orang sudah termasuk kapal dan alat snorkeling. Paket 3 pulau ini dimulai jam 10.30 dan berakhir jam 15.00 dengan 3 spot snorkeling dan makan siang di Gili Air (kalau tidak salah jika dengan makan siang harganya menjadi Rp. 120.000).

liburan-hemat-ke-lombok10

Kondisi perairan di 3 Gili ini masih sangat bersih makanya ngga heran banyak sekali turis yang kesini untuk snorkeling bahkan diving. Banyak juga sekolah diving di Gili Trawangan ini. Dilokasi snorkeling terakhir, guide saya memberikan roti untuk makan ikan sehingga nanti ikan berkumpul disekitaran kita yang snorkeling dan bisa difoto-foto. Sore harinya saya coba mencari sunset tetapi masih juga ketemu awan yang tebal, alhasil melipir aja deh ke toko kebab, es krim gelato :P dan ditutup dengan makan malam dipasar malam.

Liburan Hemat ke LombokLiburan Hemat ke Lombok

Hari berikutnya setelah breakfast saya sudah bersiap menuju kembali ke Lombok dengan kapal umum yang kali ini tiketnya cukup Rp. 15.000 ga jelas kenapa lebih murah, mungkin yang lalu termasuk tiket wisata kali ya :p. Jam 10.00-an saya sudah merapat kembali ke pelabuhan bangsal dan naik siburung biru lagi menuju ke senggigi karena malam terakhir akan saya habiskan disenggigi. Dijalan menuju senggigi saya sempat mampir di 2 tempat yaitu warung ayam taliwang dan tempat oleh-oleh. Menurut saya pribadi, ayam taliwang yang begitu terkenal itu ternyata ngga seenak yang saya bayangkan atau mungkin saya makan diwarung yang kurang pas ya :). Oleh-oleh juga sama seperti diBali, Surabaya dan lainnya yang isinya cuma keripik, kacang, emping pedes, kerupuk dll dan menurut saya masih lebih murah belinya dicarrefour atau dihypermart ahahaha.:ngeledek

Hari terakhir ini saya habiskan hanya dihotel saja bersantai dan berenang plus mencoba spa 15 menit yang gratisan. :tersipu

Liburan Hemat ke Lombok

Hari keempat waktunya pulang kembali ke Jakarta, bawaan sudah banyak dan gamau repot jadinya langsung naik burung biru ke bandara dengan jarak tempuh 50 menit saja dan bayar Rp. 170.000 karena kalau naik damri mesti ke pool DAMRI Mataram lalu nunggu penuh lagi seperti membuang waktu dan tenaga. Sampai di Jakarta masih sore sekitar jam 15.00 dan tiba kembali dirumah masih jam 17.00, bisa istirahat dulu sebelum besoknya kerja lagi.

Estimasi pengeluaran selama dilombok:

  • Tiket Pesawat PP : Rp. 980.000
  • DAMRI LOP – Senggigi : Rp. 35.000
  • Taksi Senggigi – Bangsal : Rp. 80.000
  • Kapal Bangsal – Gili Trawangan : Rp. 20.000
  • Hotel di Gili Trawangan : Rp. 350.000 / 2 malam
  • Paket Snorkeling 3 Gili : Rp. 100.000
  • Kapal Gili Trawangan – Bangsal : Rp. 15.000
  • Taksi Bangsal – Senggigi : Rp. 150.000 (sudah termasuk mampir 2 tempat)
  • Hotel di Senggigi : Rp. 500.000 / malam
  • Taksi Senggigi – LOP : Rp. 170.000

Total : Rp. 2.400.000

Nahh kira-kira itu yang bisa saya sharing mengenai liburan hemat ke lombok versi saya. Pengeluaran untuk makan tidak saya sertakan karena tergantung selera tetapi ditulisan diatas sudah saya tuliskan perkiraan biaya untuk persekali makan. Pengeluaran diatas pun masih bisa ditekan lagi sehingga bisa lebih hemat seperti hotel dan transportasi. Silahkan disesuaikan dengan kantong masing-masing.

Cheers! :cintaindo

deffa and Dimaz like this

Share this post


Link to post
Share on other sites
1 minute ago, deffa said:

@min0ru

sedap itu hotel yang infinity pool di senggigi apa namanya bro?

Svarga Resort kalo ga salah deh. :senyum

Share this post


Link to post
Share on other sites
22 minutes ago, Vara Deliasani said:

waaahhh okok.. jauh ga dari mana2?

Ga begitu jauh lah. gili kan kecil kak. dipinjemin sepeda gratis pula. reviewnya lagi gw ketik. hihi

 

Share this post


Link to post
Share on other sites
58 minutes ago, min0ru said:

Svarga Resort kalo ga salah deh. :senyum

ok noted 

leh uga tuh :D 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Tiket pesawatnya murahhhhh... Normalnya 1x terbang  yah 

Ada sewaan motor disana ? 

Btw poto yg diayunan itu ngantri kah ? Soalnya suka ada wisatawan yg kurang peka pose lama2 di spot, sunset nya keburu habis :ngakak

Share this post


Link to post
Share on other sites
21 hours ago, Rawoniste said:

Tiket pesawatnya murahhhhh... Normalnya 1x terbang  yah 

Ada sewaan motor disana ? 

Btw poto yg diayunan itu ngantri kah ? Soalnya suka ada wisatawan yg kurang peka pose lama2 di spot, sunset nya keburu habis :ngakak

Normalnya 1.3 - 1.5 PP

Sewaaan motor ada beberapa pilihan kok, tapi kebetulan saya sama sekali ngga sewa motor di lombok. kalau di GilTra sih paling canggih sepeda listrik, motor ga ada.

Ayunan antri sih tapi paling 1-2 orang aja kok karena ayunannya ada banyak.

11 hours ago, Ari Iqbal Putra Nugraha said:

bisa recommend ini buat yang pengen / pemula ngetrip kesana bang @min0ru hehe :senyum

Bener, saya juga pemula. :salut

Rawoniste likes this

Share this post


Link to post
Share on other sites

terimakasih udah share pengalamannya... saya juga selalu menunggu tiket promo batam lombok... pengen banget kesana...

min0ru likes this

Share this post


Link to post
Share on other sites
4 hours ago, she sarah said:

terimakasih udah share pengalamannya... saya juga selalu menunggu tiket promo batam lombok... pengen banget kesana...

wah ada mba @she sarah apa kabar neh

emang nya ada Batam - Lombok direct? mending via Singapore aja mba banyak promo nya :D 

min0ru likes this

Share this post


Link to post
Share on other sites
11 hours ago, Rawoniste said:

@min0ru mas tiket island hoping nya beli ti tempat ato bookingan dulu ? 

Bisa beli on the spot kok mas. 

Share this post


Link to post
Share on other sites
16 hours ago, Rawoniste said:

@min0ru mas tiket island hoping nya beli ti tempat ato bookingan dulu ? 

banyak kok penyedia jasa island hoping di sepanjang Gili Trawangan ataupun di Lombok nya :D 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!


Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.


Sign In Now

  • Similar Content

    • By anna22
      Konnichiwaaaa minna-san (hihihi...lumayan beberapa hari di Jepang agak2 bisalah sapa menyapa pake bahasa Jepang)
      Makasih yaaa yg udah ngikutin FR ini dari hari pertama. Di hari ketiga, jadwalnya agak padat karena ini adalah hari terakhir kami ada di Hokkaido. Besoknya tgl 11 pagi udah harus ke daerah Gifu. Seperti yang udah gw kasih spoilernya di FR sebelumnya, ada musibah tak terduga yang cukup mengganggu perjalanan gw ke depannya hiks hiks
      Hari ini, salah satu temen gw, pindah ke GH temen gw yang 1 lagi. Dikarenakan gw baik hati (ciyeeh) dan kasian ngeliat dia harus geret2 2 koper (ga berat siiih) dengan menempuh perjalanan kaki selama sekitar 30 menit (jadinya 1 jam karena kita selalu berhenti untuk foto2 haha), maka gw ikutlah ke sana dan penasaran juga sama GH dia yang katanya mirip kamar Nobita dan Doraemon. Nah...sebelumnya gw selalu pake boots khusus winter (yg waterproof dan ada gerigi di bawahnya), tapi entah kenapa gw memutuskan pake sneakers. Disinilah musibah itu dimulai, sekitar 15 menit berjalan kaki dengan mengandalkan google maps, kami pun terseok-seok sambil menarik-narik koper dan sesekali berfoto seperti ini:

      ini temen jalan gw, oiya knp bukan foto gw, krn kurang okeh..krn menurut gw yg ini bagus

      Saat lagi asyik2nya jalan (asyiiiik??? padahal mah cape dan dingin), gw melihat orang jepang yang ada di depan (sekitar 5 meter) hampir kepeleset. Yaa mau ga mau gw sedikit ngetawain sambil berkata ke temen gw "ih liat deh itu orang hampir jatoh". Daaaaan ga lama dari itu, gw jatoh kepeleset beneran di jalanan yang lapisan saljunya sudah mengeras menjadi es. Itu bener2 jatuh terduduk dan sakiiiiiit banget. Sampai2 gw sulit untuk berdiri karena nyut2an gitu  Temen gw pun buru2 membantu gw berdiri dan pindah ke pinggir jalan. Setelah istirahat sebentar, gw pun memutuskan tetap berjalan meski nyut2annya masih kerasa. Dan buru2 lgsg nyari konbini untuk beli alas bergerigi untuk sepatu. Ga jauh dari situ gw nemu Lawson dan untungnya mereka jual, lgsg aja gw pasang daripada nanti gw jatoh lagi. Tapiiiii tetep yaaah meski dalam keadaan sakit, foto2 harus tetep ada hahaha
      Akhirnya sampailah gw ke GH temen yg satu lagi, dan numpang sarapan sama nempel koyo (yg selalu gw bawa kemana-mana lhooo hehe). Mungkin saat itu, sakitnya ga terlalu berasa, tapi di hari-hari berikutnya, sakitnya makin terasa apalagi kalo naik tangga, jongkok atau berbaring telentang. Jadilah selama tidur, gw hanya bisa miring kanan atau kiri. Dan untungnya eskalator dan lift di stasiun selalu berfungsi. Untung juga gw selalu dapet tempat tidur di bawah dan kalaupun kamarnya di lantai 2/3, ada liftnya. Mengingat hal ini, salah satu rencana hari ini dicoret, yaitu main2 di tsudome site (tube slider dll). Yaa next time lah ga papa daripada nanti tambah sakit. Okeh cukup sekian tentang cerita ini. Lanjut ke cerita jalan2nya yah.....
      Akhirnya kami lgsg ke Shiroi Koibito Park karena sudah semakin siang juga. Pada dasarnya ini adalah Ishiya Chocolate Factory yang membuat taman kecil di depannya. Jadi sebenarnya kamu bisa milih, hanya foto2 di tamannya aja (gratis), atau kalo pengen liat pabrik coklatnya dengan membayar 600 yen (dapet sample coklatnya juga loh cuman 1 biji tapi hehe). Aksesnya cukup mudah, bisa naik subway (Tozai line, naik dr Odori Station-Miyanosawa Stasion) atau Bus (bisa Chuo/JR Bus) dari JR Sapporo terminal bus (Otaru direction) to Nishimachi kita 20-chome bus stop. Dari sana jalan kaki sekitar 7 menit. Arah2annya jelass banget...bahkan dari turun kereta, udah ada tulisan Shiroi Koibito Park jadi ga akan bingung. Oiya kalo mau lebih tau ttg park ini bisa dibuka link ini yaaaa...
      Shiroi Koibito Park ini muslim friendly loh..jadi mereka menyediakan prayer room yang dipisah antara laki2 dan perempuan. Mmg produk coklatnya belum ada sertifikasi halal. Menurut gw sih masih bisa dimakan kok khususnya yg produk utamanya yah. Lesitin/Pengemulsi yang digunakan berbahan dasar tumbuhan. Tapi ini tergantung preferensi masing2 yah hehe..Disini juga mereka menjual produk2nya yang sebenarnya dijual juga di airport (New Chitose dan Kansai Airport). Tapi kalo kamu termasuk yang suka mepet2 ke airport, ga ada salahnya beli disini toh harganya sama aja.
      Hari sudah semakin sore, kami pun memutuskan kembali ke daerah Odori Park untuk keliling2 dan melihat festival terbesar disini sambil jajan2 hehe...disini gw hampir terpisah sama temen karena orang2 disini banyaaaaaak banget..jadi semacam lo kebawa arus kalo ga fokus. Untungnya masing2 dari kami membawa portable wifi (salah...maksudnya 2 diantara kami ber3) karena kan kami akan pisah di hari2 berikutnya). Setelah perut kenyang dan kedinginan, kami memutuskan masuk stasiun dan berjalan ke sapporo st. untuk menuju Otaru. Lumayan loh jalan dari Odori ke Sapporo st itu, meski begitu untungnya ini akses bawah tanah jadinya ga kedinginan dan banyak yang bisa dilihat (toko2 dan display mengenai sapporosnowfestival). Sekitar 20 menit jalan, kami sampai ke Sapporo St. Karena kereta yang akan membawa ke Otaru termasuk JR train, maka gw bisa menggunakan JR Pass gw. Nah tapi kedua temen gw harus membeli tiket dulu. Dari Sapporo-Otaru tiketnya sebesar 640 yen. Jd kalo PP sebesar 1280 yen. Nah tapi ada Otaru Welcome Pass dengan membayar 1700 yen (All JR Hokkaido trains between Sapporo and Otaru Station and all subway lines in Sapporo) valid for 1 day. Tapi entah kenapa kedua temen gw tiba2 ga terlalu tertarik ke Otaru dengan alasan mahal tiketnya. Salah satu temen pengen ke Sapporo Beer Museum karena doi pengen nyobain Sapporo beer. Karena gw emang pengen ke Otaru, ya udah kami memutuskan pisah sementara. Jadilah gw ke Otaru jalan sendirian (hmmmm), yang ternyata nanti gw malah dapet temen baru (yeaaay) :)
      Perjalanan Sapporo-Otaru sekitar 30 menit. Pemandangan selama 15 menit terakhir adalah laut. Ya karena Otaru adalah kota pelabuhan yang terkenal dengan kanal2nya yang indah. Di saat winter ini bersamaan dengan Sapporo Snow Festival, diadakan juga Otaru Snow Light Path Festival. Jadi menjelang malam, para penduduk dan volunteer mulai membentuk sesuatu dari salju dan es dan menyalakan lilin2 di sepanjang canal dan jalan tertentu. Jadinya romantis deh (sayang gw jalan sendiri hiks :p). Ini foto2nyaaaa :





      Tapi mmg yang namanya festival pastilah ramai dikunjungi orang. Jadi yaa siap2 aja rebutan posisi untuk dapet foto yg cakep. Kenapa? karena orang2 nunggu di ujung kanal untuk nangkep momen sunset atau dari sore menjelang malam. Semakin gelap, gw semakin lapar (yaa...udara dingin membuat lebih sering lapar). Menuju perjalanan kembali ke Otaru Station, gw menemukan kedai makanan yang menjual tempura. Setelah gw tilik2, ini kedai lebih banyak menjual seafood and vegetable tempura. Melihat bbrp orang antri dan kedai ini miniiiii banget, gw pun tertarik untuk makan disini. Setelah menunggu sekitar 10 menit, si ibu pemilik kedai pun menghampiri kami (kami ini gw dan satu orang cewek yg juga sedang antri), dan dengan bahasa jepang ngomong apa gitu yg gw nangkepnya "Ini kamu berdua ato sendiri2, ya udah masuk gih salah satu". Si ibu lgsg masuk ke dalam lg. Tapi si cewek sebut aja inisialnya yah (K), malah diem aja dan masih dengan sabar berdiri di depan pintu kedai yang tertutup. Ya udah dong gw bilang "mba..mba...itu disuruh masuk sama ibunya, kan mba duluan yang antri...gih sana", dan K membalas "oooh bukan itu maksudnya, si ibu cuman konfirmasi kalo kita itu sendiri2 dan mmg akan makan di kedai, katanya disuruh tunggu" (pake bahasa inggris yah tentunya). Nah berawal dari situlah kami kenalan, ternyata doi exchange student dr China di Osaka untuk belajar Japanese Language selama 1 tahun. Jadi wajar yaaa kalo doi cukup fasih bahasa jepangnya hehe...Selama makan kami mengobrol dan gw pun bisa bertanya2 ttg menu yang ada disana. Menu yang gw pilih adalah mixed seafood and vegetables tempura on rice. Harganya lumayan menguras tapiiii enaaaak parah dan porsinya banyak (1400 yen). Si ibu pun menyediakan ocha hangat gratis yang bisa refill berkali-kali. Tau ga sih makan disini tuh berasa impian karena gw tuh suka banget drama Jepang judulnya Kodoku No Gurume, yang menceritakan pengusaha yang suka pergi kemana2 untuk ketemu kliennya, nah di sepanjang dia ketemu klien dia suka nyobain resto2 yang ada di daerah tersebut. Pokoknya ini drama bikin ngilerrr hahaha

      Ternyata K ini juga akan kembali ke Sapporo. Jadilah kita bersama-sama menuju ke stasiun sambil ngobrol dan saking asiknya ngobrol, kami salah jalan. Si K ini pun sigap membuka google mapsnya dan ga lama kemudian kami sampai di stasiun. Berhubung gw pake JR pass, gw ga usah bingung2 dong beli tiket. Nah si K ini pergi ke Otaru pake bus, jadi doi juga bingung beli tiketnya. Pas gw mau bantu, entah kenapa gw juga jadi bingung ahaha...nanya deh ke petugas. Terus gw nanya "K...km punya ic card kayak pasmo atau suica gitu ga? Bisa kali pake itu", K"oooh gw punya tapi kayaknya ga cukup deh..gw isi dulu". Akhirnya si K pun punya solusinya. Di perjalanan pulang, kereta yang kami tumpangi penuuuuuh sekali sehingga kami ga dapet duduk. Tapi perjalanan 30 menit ini ga berasa karena sepanjang jalan kami ngobrol apapun. Begitu sampai di Sapporo, kami pun tukar menukar id line dan social media. Ga lupa juga berfoto...aaah senangnya dapet temen baru :))))

      Sehabis berpisah dan dadah2, gw melanjutkan perjalanan ke Susukino untuk ketemuan dengan dua temen jalan gw krn kunci gembok loker yg di GH sblmnya kebawa, jadi doi minta tolong gw untuk ngembaliin. Janjianlah kami di st.Susukino. Tapi karena ini adalah malam terakhir (hiiiks), gw sbnrnya pengen memaksimalkannya di Odori Site. Gw pun berencana untuk jalan kaki aja dari Sapporo ke Susukino sambil ngelewatin Odori SIte (kata google maps sih bisa). Sewaktu keluar Sapporo st, gw lihat ada Esta Mall yg menjual Uniqlo dan GU, yaaa gw melipir sebentar sekalian numpang ke toilet. Lumayan ada sekitar 45 menit, gw liat2 dan duduk sebentar di mall yang hangat ini. Berhubung temen gw udah pada mau pulang, jd gw diburu-buru jadinya gw hanya melihat 1 pertunjukkan di Odori SIte, yaitu final fantasy...

      Padahaaal masih banyak yg lainnya, tapi temen gw terus bertanya kapan gw sampai karena mereka kedinginan dan lapar (hmm sbnrnya pengen sih bilang, ya udah cari makan, numpang menghangatkan diri, beli minuman panas, beres toh). Tapi karena battery hp gw udah sekarat rasanya ribet juga sih. Jd akhirnya gw naik kereta dari Odori ke Susukino (padahal bisa jalan kaki). Akhirnya mmg rencana-rencana perjalanan ga semuanya mulus yah..yaaa lo harus siap2 aja. Mungkin akan ada kesempatan kedua dimana gw benar2 bisa explore Hokkaido dengan lebih leluasa dan ga terburu-buru.
      Tips: Pakailah sepatu yang sesuai dan cocok di jalanan bersalju dan berlapis es. Mmg di Indonesia pilihan ga banyak dan lumayan mahal. Kalo ada waktu, beli aja di Jepang, banyak kok modelnya dan murah2. Atau gunakan alat khusus yang bisa dilepas-pasang di sepatu biasa. Sepatu yang cocok sebaiknya yg bahannya waterproof karena kalau basah kena salju atau hujan bikin ga nyaman, bisa tumbuh jamur (hiiiy) atau cepet bau. Untuk pakaian, sesuaikan dengan kekuatan kamu terhadap suhu. Kalo gw di suhu minus pake 3-4 lapis. Biasanya lapisan pertama heatech uniqlo yg extrawarm, lapisan kedua kemeja flanel/sweater, lapisan ketiga jaket tebal yang waterproof. Atau lapisan 1= heatech biasa, lapisan 2=kaos/kemeja flanel, lapisan 3=jaket gunung/windbreaker, lapisan 4=jaket semi tebal. Oiya jangan lupa pakai sarung tangan yg cukup tebal yaa. Kalo pakai jilbab sih, gw ga perlu pake earmuff, syal, atau kupluk. Kalo masih kurang hangat, kamu bisa beli heating pad (dijual di lawson dsb), ada yg buat badan, kaki, dan tangan. Ini jangan lgsg ditempel di kulit yaa...tempel di lapisan baju atau jaket.
      Fyi: kalo mau lihat foto2 dan vlog super singkat dari perjalanan jepang kmrn bisa mampir ke ig yaa..ga  follow juga ga apa2 krn ga digembok kok hehe (ig: inni_anna dan uniqtripstory) 
      Tunggu FR selanjutnya yaa (next to Takayama-Shirakawa-go and Kanazawa)

    • By Ikamarizka
      Pilihan jatuh kepada macritchie reservoir. Karena saya ga mau ke daerah2 mainstream a k a shopping mall dkk nya. Cek cek ternyata perjalanan kesana agak jauh yaah. Singapur pass bener2 jadi penyelamat bgt. Dari pod tempat saya menginap, saya naik di line kuning nichole highway. Daaan 20 pemberhentian berikutnyaaa barulah sampai ahahaha. Turun di distrik Caldecot dan langsung jalan kaki dengan bermodalkan tanya sana sini sama petugas dan penduduk disini.
      Jalan kaki bisa ditempuh sekitar 1 km dr stasiun ke gerbang si reservoir ini. Dan bener aja sepanjang jalan kaki di menuju kesini saya melewati hamparan hijau rumput dan toko bunga dimana mana. Wuiiiiiii.
       

      Di Macritchie reservoir ini gratisssss ya man temaaaan. Saya sukak bgt dengan pemandangan air nya, taman tamannya, aahhhh semua nya… yg punya uang lebih bisa banget main kano disini. Cuman 15$. Malah ada promo juga kalo kita punya Singapore pass maka akan diberi discount tambahan. Sayangnya karena saya mengejar waktu untuk acara nanti malam, saya tdk mau terlalu lelah. Jadi hanya duduk2 di pinggiran nya yg cozyyyyy bgtttt  lalu siap2 untuk lanjut jalan kaki lagi di track area nya.
      windy but cozy

      udara disini super duper segeeeeer bangeeeet! 
      kebanyakan yg datang kesini keluarga keluarga kecil untuk berpiknik, wanita wanita berbadan aduhai yg asik joging dan yoga, yg cowo2 juga banyak yg latian lari disini dgn tanpa busana (harus ya??) (kan jadi susah fokus)

      saya menghabiskan waktu sekitar 1 jam disini untuk dengerin musik sambil baca buku sambil sesekali nyelupin kaki ke airnya yg dingin ini. hoooooo... (pencitraan) (padahal buku komik) ahahahahaha.

      okeh puas disini, lanjuuuuuut...
       
       
      kano ing yg bener2 bikin ngiri.


      mari berjalan kakiiii...
      JENG JENG… ternyata tracking ke atas harus menempuh 4,5km. Dan saya lagi pake sendal jepit sama rok ajah sodara sodara ahahhahhahahaa. Whoooops. But hey! Bukan tukang jalan jalan namanya kalo bgini doang udah ciut. Sikhaaaaat.. akhirnya nekat naik ke atas bukit dgn lahan yg lumayan bgt terjal, licin dan sempit bgt medannya.
       
      Perjalanan ke atas tree top hill ini saya tempuh sekitar 2jam jalan kaki. Kalo cape di setiap km pasti ada kaya pendopo gitu untuk istirahat. Cuman jangan berharap ada yg jualan minuman atau makanan yh disini. Gak adaaaaa. (untung tadi bekel somay sama pie dari hostel hohohohohoho)

      nih info penting ya. SENIN TUTUP. jalan ke tempat ini mendingan dari pagi supaya ga buru2 pas turunnya.
      baru 1,5 kilo udah mulai tepar ahahahahaa. nanjaaaaak vrooooh


      Di 3km pertama jujur kaki udah mulai senut2, karena daritadi yang warawiri memang pada pake sepatu layak. Saya aja nih yg blagu bgt pake sendal krik krik krik.
      Wuiiiiiiiih akhirnya sampe deh di gerbang. Kebetulan cuaca juga cerah hari itu, jadi seneng bgt bias lihat view bird eyes nya.
      YAY SAMPE!!!!

      Voilaaaaaaa…… cakep bgt di atas sini. Tinggi sekitar 25 meter dan lebar jembatan ini hanya cukup untuk per orangan. Yg fobia tinggi mah siap2 keringet dingin ahahhahaa, karena jembatannya pun bergoyang goyang. Jadi kalo lagi ada angin samping jyaaaaaaaah… uhuuuy bgt ahahahaha. (anaknya ga bisa diem maklum ya)

      cekrek cekrek cekreeeeeeeek nya lama bgt 
       
      Kira2 seperti ini pemandangannya si tree top.
       
      Okay selesai menikmati pemandangan di atas, siap2 meluncuuuuur trail ke bawah sejauh 4,5 km lagi ahahahaaha (salaaaah perhitungan nih brooo siiis) kakiiiiii he eh bgt kwkwkwkw.

      Di tengah jalan saya pun nyerah akhirnya memilih nyeker aja. Lebih enak ga pake sendal jadi ceritanya menyatu sama alam.. azeeek.
      Selama perjalanan turun saya disuguhi pemandangan aliran2 air kecil dan beberapa monyet liar. Nah ini nih himbauan untuk turis, tas sempet ditarik sama mereka karena sepertinya mereka bisa mencium bau bekas makanan saya tadi. Turis Malaysia di belakang saya malah bener2 di keroyok sama mereka karena mereka bawa nasi bungkus. Alhasil akhirnya kita rame2 bantuin ngusir ngusirin monyetnya. Plus kita juga bantuin makanin bekalnya…… ahhahhaahahahahaha. You wiiiiish!!! (modus) (udah kelaperan berat)

      Okeh… setelah jalan ke gerbang belakang yang notaben nya berbeda bgt dr gerbang depan, saya ga sanggup jalan kaki lagi ke mrt terdekat. Akhirnya saya memutuskan naik bus aja dari halte di depan mata. Bus yang saya naiki juga ternyata bisa digunakan untuk dating ke reservoir ini, tapi tentunya memakan waktu yang jauh lebih lama.
      Jadi buat kamu yg punya waktu lebih dan pgn bgt nyoba naik bis tingkat keliling2 kota sing, bisa menggunakan si bus no 855 atau 852. Bus ini akan mengantarkan kamu ke pusat kota. Nah kebetulan bus ini mengantarkan saya ke Little India. Tempat makan fav saya dari dulu selama di Singapore. Nyuuuuuum!
      Ada yg suka dgn makanan Nasi Briyani? disini nih juaranya “Mubarak”  dari stasiun halte little India hanya jalan sekitar 100 meter saja. harga 8$ 

       
      Ga pake lama langsung pesen si nasi briyani kambing. Oh may god! Saya butuh banget makan satu porsi kuli ini setelah jalan lebih dari 10kiloooooo. Yatalaaam…
      penampakannya bikin air liur kemana mana. 
      selesai makan lagi lagi saya gatel bgt ngeliat warna warni di little india ini. Jadilah saya muter2 dulu sekitar 1 jam sambil nunggu sunset di sekitaran sini.

      unsur tradisional dari kultur mereka memang kental bgt disini. Bau dupa, sesajen untuk sembahyang dan jamuan jamuan lainnya bertebaran dimana mana.
       
      okhayyy jangan keasikan ZkaneChaaan... cuzz lari ke mrt menuju hostel, mandi, merem 1 jam dan siap2 berangkat ke stadium untuk motret si sesepuh Metalica. Walaupun di Album baru nya banyak yg saya ga tau lagu lagu nya. tapi mata saya bener2 dimanjain sama permainan lampu lampu di panggung yg juara kerennya. Dan harus saya akuin, penampilan opa opa ini ga ada mati nya. Energic dan lompat sana lompat sini. hadeuuuh takut salah urat aja sih AHAHAHAHA. 
      ditambah ketemu idola juga, mayan bisa nonton bareng doi... ihiiiiy

       
      selesai menonton si opa2 ini, saya bersama temen2 memutuskan untuk jalan jalan sebentar di sekeliling Haji lane. Nuansa malamnya berbeda banget dgn nuansa siang. cocok deh buat yg susah tidur kaya saya ini ehehehe. 
      sampai ketemu di hari ke 3 yaaaah
       
       
       


    • By val_3373
      Hai Sobat Jalan2
      Setelah dapat Kaos dari momod @deffa dan disuruh terus ama @Maya Sartika, akhirnya nulis lagi deh tripku ke daeran Jawa Timur.
      Untuk sobat yang pengen merasakan sensasi gunung teteapi karena kondisi phisik yangtidak mendukung atau usia yang sdh tidak lagi muda, perjalanan kali ini cocok untuk kita2 karena aku juga ada cedera tulang punggung jadi tidak bisa menjadi. OK let's us begin
       
      Berawal dengan tugas kantor ke Surabaya, aku ingin sesekali mengeksplore daera Jawa Timur yang konon katanya banyak memiliki spot2 wisata yang keren2 abis dan keinginan untuk merasakan sensasi gunung maka aku browsing2 di internet akhirnya menemukan spot cantik di daerah Lumajang untuk menikmati sunrise dan bromo tanpa perlu mendaki namanya Puncak B29. ok ngga perlu mndaki? Karena untuk sampai ke Puncak B29, bisa ditempuh dengan naik Ojek hahahahhaa.. asyik kan.
      Akhirnya  menyusun jadwal kerja dan mencari2 info untuk menuju ke sana. Rencana awal solo travelling dengan menyewa mobil dari Surabaya sepulang semua aktivitas kerja telah selesai. Tiba di Sby senin dan lsg full kerja ampai Jumat siang, setelah itu baru waktu bebas untuk travelling. Semua rencana dan persiapan telah matang tinggal cuss kata kekiniannya. Ternyata rencana solo travelling buyar dikarenakan ada beberapa sobat di KJJI yang ingin ikut, mereka menyusul dai Jakarta, 2 orang naik kereta ke surabaya pada hr kamis siang dan 1 org naik pesawat ke surabaya hari jumat pagi, jadilah kami ber4 ke sana, setelah semua kerjaan beres dan kamipun berangkat ke Lumajang sekitar jam 2 siang, peserta bertambah lagi 1 org yang berasal dari KJJI regional Jawa Timur. Perjalanan tanpa itinerary dimulai....
      Day 1 : tgl 10 February 2017 Surabaya-Lumajang
      Setelah makan siang, kami memulai perjalanan sari surabaya menuju Lumajang tepatnya ke Senduro ber 5  plus 1 org supir mobil sewaan. Ternyata cuaca lagi tdak bersahabat, keberangkatan kami diringi denga hujan gerimis dan sempat terbesik waduh naik gunung hujan gini dapat sunrise ngga yaa... but the show must go on jadi dengan semangat 45 dan pede yang sangat tinggi kami tetap melanjutkan perjalanan ke Lumajang. Perjalanan Surabaya - Lumajang di temuh dalam waktu 5 jam an , kami tiba di senduro sekitar jam 7an setelah sbeelumnya mengisi peru dengan makan bakso. sesampai di senduro langsung menuju ke homestay yang sdh kami pesan terlebih dahulu melalui  tukang Ojek langganannya Arai yaitu Pak Slamet. Cuaca tidak terlalu dingin karena musim hujan. Kami mandi dan beristirahat untuk memulai kegiatan esok harinya.
      Homestay VIP Rp 150ribu/kamar  untuk 4 org cewek : Maya, Valent, Fu Cen dan Wulan, Homestay biasa Rp 100ribu : Arai dan Mas SUgeng (driver)
      Day 2 : 11 February 2017
      Jam 3 pagi kami beriap2 untuk menuju Pangkalan Ojek didesa Argosari yang terkenal dengan sebutan Desa di atas awannya. Jalanan dari senduro meuju desa argosari kurang lebih 1 jam dan sekali lagi cuaca juga tidak bersabat, hujan gerimis kembali menemani kami berangkat. Jika kita belum memesan ojek untuk naik ke Puncak B29, di sepanjang perjalanan kita dapat memesan ojek di pangkalan ojek yang kita lalui. Pintar2 dalam menawar yaa. Jam 4.30 tiba di pangkalan ojeknya Pak Slamet, modil avanza yang kami tumpangi sempat tidak bisa menanjak karena kondis jalan yang rusak. Kami sempat menunggu agak lama di pangkalan ojek karena hujan gerimis tapi akhirnya tetap naik ke atas. Modal nekat semua.. sdh jauh dtg kalau tidak ke sana rugi dong. Karena kondisi jalan yang licin karena hujan, ojek tidak sampai di puncak B29 tapi hanya di RestAreanya saja dan kami harus berjalan kaki menuju puncak, tetapi akses ke Puncak sudah dibuatkan tanggal dan pavlingblock.

      Cuaca sangat berkabut dan kami tidak mendapatkan sunrise sama sekali. Sehingga kaldera promo dan awan yang jadi daya tarik utama di B29 tidak bisa kami nikmati. Kita tidak bisamemprediksikan alam sehingga belum tentu moment2 alam yang fenomenal dapat kita nikmati sesuai dengan keinginan kita. Akhirnya kami hanya berphoto2 ria sambil jualan balon  (hahahaha bercanda doang)karena salah satu teman yang ikut membawa balon

       
      Jika cuaca cerah dari B29, kita bisa melihat Gunung Bromo dan Gunung Semeru serta pasir berbisik dari atas B29. Kita juga bisa camping disini untuk melihat setset dan milkyway. Menurut Pak Slamet dari puncak B29 pada malam hari sering terlihat bintang jatuh... keren bingit suatu hari pengen nge-camp di sini. Berikut photo2 cantik dari Pak Slamet jika cuaca cerah

       
      Ternyata kami belum beruntung untuk menikmati keindahan alam ini. dan akan k sana lagi untuk menikmatinya. setelah puas berphoto ria, kembali ke desa argosari untuk sarapan yang sudah disediakan oleh pak Slameet di Warungnya. Selesai sarapan kami turu ke senduro lagi untuk bersiap2  ke tujuan berikutnya yaitu Tumpak Sewu.
      Ternyata homestay kami tepat berada di depan Pura sehingga setelah mandi kami menyempatkan untuk berphoto sebentar di depan Pura SEmeru Agung


      Sekitar jam 11an kami melanjutkan perjalanan menuju Tumpakk Sewu. Tumpk Sewu adalah air terjun yang berda di dua Kabupaten yaitu Lumajang dan Malang, sehingga untuk masuk ke area ini ada 2 akses yaiyu memalui lumjang atai melalui Malang. Kami mencoba akses yang melalui malang. Di malang empat wisata ini dikenal dengan nama Coban Sewu. Dari senduro menuju Coban sewu memakan waktu 1 jam, pada saat kami tiba di coban sewu, hujan trun dengan derasnya sehingga kami harus berteduh di area parkir yang kebetulan juga ada warung makanannya. sambil menunggu  hujan reda kamipun makan siang. Setelah hujan reda kami pun berjalan menuju Coban sewu dari area parkir hanya perlu bberjalan 200m2 untuk menuju lokasi. Sudah dibuatkan tangga2 tapi masih tanah dan diberi pegangan dari bambu. Karena abis hujan jalanan agak licin dan kami tidak bisa sampai ke bawah air terjun, hanya melihat dai atas dan kabut juga sudah mulai turun.

      Kami tidak menghabiskan waktu agak lama di Coban sewu karena cuaca dan kabut makin menebal. Perjalanan kami lanjutkan kembali meuju Surabaya karena keesokan harinya kami sudah harus balik ke Jakarta dan takut dengan kondisi jalan yang sering macet kami memutuskan untuk kembali ke Surabaya hari itu juga padahal rencana awalnya menginap di Malang..
      Tiba di Surabayya sekitar jam 9 malam dan mulai mencari hotel di daerah Jenur Sari
      Perincian Biaya hr Ini :
      Ojek Rp 100.000/org sdh termasuk restribusi masuk B29
      Makan pagi Rp 10.000/org ( Nasi plus telo dada, tahu tempe + sambal)
      Makan siang Rp 15.000/org (Nasi, empal dan sayur lodeh)
      HTM Coban Sewu : Rp 5000/org
      Parkir : Rp 10.000/mobil
      Makan malam : Rp 15.000 ( nasi + ikan nila goreng)
      Hotel di Surabaya Rp 300.000 (utk 3 org)
       
      Day 3 : 12 Februari 2017
      Perjalanan ei mulai jam 7 pagi dari hotel menuju Madura terlebih dahulu kami sarapan Soto dan mampir sebentar di Kenjeran Park. Di Kenjeran Park terdapat satu tempat Ibadah agama Budha yang sering dijadikan tujuan wisata. Loasi tepat di pinggir pantai dan terdappat Patung Dewi Kwan Im 4 wajah. Sayang kami datang pagi hari dan cuaca agak mendug sehingga photo2nya kurang baik

      Kemudian perjalanan kami lanjutkan menuju Maduta, tempat yang kami tuju Arosbayan yang merupak pertambangan kapur di Surabaya dan berada di daerah Bangkalan. Perjalanan dari Sby Ke Srosbayan kurang lebih 1 jam. Arosbayan memiliki spot2 cantik yang unki untuk berphoto ria

       
      Setelah puas berphoto2 kami kembali ke surabaya untuk mengejar penerbangan di sore hari tak lupa sebelumnya mencicipi Bebek Sinjaynyang terkenal itu.
      Liburan tlah usah.. Bye2 Surabaya
      HTM Kenjeran Park :  maaf lupa
      HTM Arosbayan : Rp 5000/org
      Oarkir di arosbayan : Rp 20ribu/mobil
      Sewa mobil Rp 500ribu/hari termasuk supir dan bensin
       
      Sampai jumpa di FR berikutnya






    • By Ikamarizka
      Jalan Jalan, dua kata pengulangan ini sangat menempel di jidad saya.
      “si Tukang Jalan jalan” “Si Ga bisa Diem” “Si Petakilan” banyak bgt
      sebutan ini terlontar dari mulut teman2 saya kalo bertemu saya
      Ehehehehehe.

      Kali ini Judulnya Jalan2 tapi Dibayarin, Karena Mengurus Kerjaan juga.
      Yang sering baca fr saya pasti tau saya anaknya emang ga suka bgt ama
      yg namanya kota padat, banyak orang atau mall. Aduhh..
      Jadi ketika ditawarin kerjaan di Negeri yg isinya bangunan tinggi dan
      pusat perbelanjaan ini, langsung aga mules.
      Dimana sih? Yup SINGAPURA. Saya disuruh liput acara konser anak2 muda
      yg unyu2 plus konser metal disana selama 2 hari. Ga mau rugi dgn
      kesempatan, akhirnya saya memperpanjang stay saya menjadi 4 hari.
      Lho?? Kok malah jadi 4 hari? Karena saya bertekad bgt nih pgn blusukan
      ke pedalaman Singapore. Hasil2 tanya sana sini memang ada beberapa
      tempat yg sepertinya saya pasti suka. Cuman setelah hitung2 budget.
      Saya hanya bawa uang 1,5 jt aja untuk semua mua selama tinggal disana.
      Gak tau deh gimana ntar disana ahahahaha. Modal nekat aja. Yg penting
      jgn belanja.

      Jujur, saya paling ga suka ke Singapura. Udah beberapa kali kesini
      pasti ada aja pengalaman yg ga enak. Terutama mungkin karena saya muka
      melayu, jadi pasti ada aja drama dgn penduduk lokal. Kaya gimana
      contohnya? Ntar simak terus yah drama nya zzzzz.

      Yg pertama saya harus membeli Singapore pass dulu untuk 3 hari. Karena
      aakan wara wiri jauh2, si Singapore pass ini ternyata menghemat
      bangeeet. Mrt dan bus semua tercover dengan si kartu sakti ini. Untuk
      harga 20$ selama 3 hari dan 10$ sebagai depositnya (nanti akan
      dikembalikan di hari terakhir) total 30$.
      Ok transport udah beres. Untuk penginapan. Hostel pastinya. Hostel yg
      saya pilih lagi jadi perbincangan banyak orang karena hospitality nya
      yg bagus, rate yg ok dan tempatnya yg cozy. Dan Yup bener aja ketika
      sampai disana tempatnya enak bgt. Menyerupai capsul inn tapi lebih
      bernuansa rumah.

      Namanya The POD. Semalamnya sekitar 300rb an lengkap dgn
      1.      sarapan pagi yg berlimpah dan enak bgt
      2.      peralatan mandi sabun odol sikat gigi handuk sampoo hair dryer
      semua udah disediakan
      3.      baju kotor?? Jangan sedih, laundry gratisssss. Tiap hariii.
      Deterjen softener its all free
      4.      setrikaan disediain
      5.      bantal diberi 2 per orang plus selimut tebel hmmmm
      6.      internet kenceng bgt
      7.      kopi dan teh 24 hour silahkan diminum
      8.      air hangat tersedia
      9.      Kamar mandi tiap lantai ada  3 dan sangat amat sangat bersih.
      10.     Yang nginep sangat bersih dan cakep2 juga (eh…..)
      (bonus)

      sip!! Semua udah siap. Brangkat deh

      Day 1

      Flight subuh dan sampai disana sekitar jam 8 pagi. WUahhh bandaranya
      udah berubah banyak. Terakhir kesini masih banyak pembangunan di thn
      2014 silam. Kucluk2 ke imigrasi. Entah kenapa saya selalu ada adegan
      di imigrasi (dimanapun itu) kali ini…
      Kali ini kejadian agak norak jugak, krn byk bgt tentengan (maklum ga
      pake bagasi) jadi agak repot.

      Immigration man: miss, please open your hats.
      Me ; okay

      Immigration man; please look at me miss
      Me; he? Ooo…okhaay

      Immigration man ; your passport and your thumb miss
      Me ; (aneh bgt nih mas mas minta jempol) (yaudah sodorin passport plus
      2 jempol ke dia)

      Immigration man : I MEAN YOUR THUMB ON THE SCREEN MISS
      Me ……………. (pgn pulang rasanya) (BILANG DONK BUAT DI LAYAR) (kebanyakan
      bengong) taro jempol langsung minggat. Ahahahahahahaha

      Selesai semua urusan saya langsung menuju bugis street untuk makan
      siang dan taruh semua barang di penginapan.
      Buat yang bawa minim budget, Singapore food tergolong mahal. Tapi coba
      deh jalan ke belakang bugis junction, ada food hawker yg murah bgt.
      Plus enak bgt.
      Singapore food will never go wrong with Hainan rice. Satu porsi
      seharga $3.50. Kalo tidak salah nama stall nya Tong Fong Fatt Hainan rice
      chicken. Enak bgt. Murah. Tapi pake drama…
      Jangan tian tian Hainan rice (rasa hambar dan ngantri panjang bgt)

      Ini nih.. alasan kenapa saya ga suka bgt ke singapura. Tidak Ramah.
      Percaya atau ga, setiap kali saya pesen makanan di hawker singapur,
      karyawannya pasti entah marah2 dan sangat ga sopan.
      Yg ini kejadiannya ketika mesen saya nunjuk ke bagian paha ayam. Yang
      melayaninya si cici malah marah2 sambil ngelempar makanan saya ke tray. Dgn bahasa Chinese dia dan koki saling marah2.
      Saya ga ngerti mreka ngomong apaan. Jadi saya tanya baik2.
      “is something wrong?"
      Cici sang istri dari chefnya bilang dgn bahasa singlish yg saya terjemahin aja

      “ lain kali kalo kamu mau pesen paha ayam, bilang dari awal, suami
      saya sudah potongin dada ayam, jadi saya dimarahi. Karena saya
      dimarahi suami saya, jadi saya marahi kamu!”

      saya…… diem terkesima. Ini nih yg bikin saya paling males.
      The impoliteness of the local people.
      kalo dihitung, ini berarti udah kejadian ke 5 kali saya diginiin tiap ke Singapore. Usut2 saya tanya
      kmarin ke teman saya yg kebetulan penduduk di Singapore, kenapa mreka
      memperlakukan orang melayu seperti itu. Ternyataaaaa… kalo kata dia
      sih. Orang melayu yg datang ke daerah ini biasanya tkw tkw yg
      bekerja disana. Jadi ya muka muka kaya gw nih dipukul sama rata alias
      sama aja kaya pembantu atau kasta yg lebih rendah dr mreka.
      Hmmmmmm…. #$#@$% pantesan setiap ke sing ada aja perlakuan ga sopan dr
      mreka. Dr uang kembalian di lempar, piring masih ada isinya diambil,
      sampe berantem masalah menu. Grrrrrr… udah ah bayanginnya jadi emosi
      kwkwkwk lanjuuuuut…. (untung makanannya enak)

      Selesai makan, buat ngilangin bete, saya taruh barang dan keliling dulu sebentar di haji lane dan arab street. Buat yang suka art dan design, daerah ini bertaburan bgt dgn mural2  warna warni. surga banget buat yg doyan foto foto (sambil nunjuk diri sendiri kwkwkwkwk) apalagi buat update di medsos. ihihihihi
      (caption foto = masa tampilan kaya gini diomel omelin..... kwkwkwkwkw)

      coffee shop yg saya foto ini mempunyai rekomendasi yg sangat bagus dr berbagai medsos. plus coffee nya katanya enak juga. tiap hari selasa pun ada discount 30 persen untuk makanan dan minumannya. sempet tergiur sih, tapi ketika liat menunya... yaiks! penuh dgn pork menu dan harganya berkisar antara 25$ an. PASS DEH YAAAH.... (budget anak kost). 
      jam menunjukkan pukul 2, gate konser udah dibuka. bermodalkan tiket gratis hehehehehe, langsung menuju tkp tempat saya harus
      meliput acara konser ini. Acara konser ini bernama “Laneway”. genre musicnya lebih ke folk dan hip hop rnb. Bertempat di garden by the bay
      marina bay.


      Suka bgt dgn theme mereka yg open space dan nuansa rumput. Tapi sayang
      ga sampai 1 jam saya disana, arena konser diguyur hujan habis habisan.
      Alhasil saya hanya bisa menikmatinya selama 3 jam saja. Mengumpulkan
      bahan2 untuk kerjaan dan langsung pulang ke hostel. Ga mau ambil
      resiko sakit krn hujan2an.

      untung bawa jas hujan hihihi. tapi takjub dgn penonton disini. ga ada satupun yg ngomel2 karena hujan. dan semua acara berjalan seperti biasa, pengunjung malah asik nari ditengah hujan deras, belum lagi itu pakaian pada nyeplak jyahahahahaa. 

      buat penggemar tiger asix, mreka membuat booth disini. jadi kalo beli sepatunya disini didiskon sekitar 30 persen. hadeuuuh (kekeup dompet). 
      Selesai acara lineway. saya langsung mandi di hostel dan lanjut ke hawker di belakang hostel the "kampoeng glam"
      tempatnya bernuansa islamic bgt. makanannyapun halal dan murah meriah. saya betah bgt duduk2 disini. karena pemandangannya yg mirip2 turki sih kalo menurut saya. Restaurant dan penginapan yang bermacam mcam motif morocco. dan juga Sultan mosque yang megah bgt.
      makanan saya kali ini astaga enak bgt. chicken paprika dgn harga 5$ dan the tariknya yg aselik juara bgt. cuman 1.50$ ajah. 
      porsinya udah kaya porsi kuli. ga abis ini sendirian ehehehehee. fiuuuuh.... kenyang sudah.. mesti nyiapin badan nih buat perjalanan besok. 
      pulang tinggal jalan kaki 5 menit, nyelesaiin pekerjaan di ruangan the pod yg enak bgt. free coffee pula 24 jam wuihhhhh.. Satu kata "BetAH". .
      see you tomollow aaa

    • By anna22
      Melanjutkan perjalanan hari ke-2 di Sapporo, mau menceritakan sedikit tips saat lo pergi ke festival. Bookinglah penginapan jauh2 hari. Minimal 3 bulan sebelumnya. Beberapa guesthouse baru akan menerima reservation di web masing2 atau airbnb. Dan jangan kaget kalau harganya bisa 2x lipat lebih mahal dibandingkan hari biasa atau bukan festival. Sebagai contoh, gw menginap di Yuyu Guesthouse yang harga asli dormnya cuman 2500 yen/malam. Tapi karena lagi festival, mereka charge 2x lipat yaitu 5200 yen/malam. Uniknya, khusus saat festival mereka ngasih free breakfast (roti beserta teh atau kopi). Kalo teh dan kopi sih selalu tersedia yah sepanjang hari. Dan ga jarang mereka suka ngasih makanan kayak snack2 dan bahkan buah jeruk lokal. Oke informasi mengenai penginapan cukup sekian dulu yaaah...lanjut cerita jalan2nya hehe
      Hari ini gw bakal pergi ke daerah Asahikawa untuk menuju Asahiyama Zoo. Oiya GH gw berdua dan temen yg 1 lagi itu beda (karena doi agak telat mesennya), dan stasiun subway yang terdekat dan dirasa tengah-tengah adalah Stasiun Susukino (sekitar 10 menit jalan cepat dari GH gw). Gw pun janjian ketemuan untuk melanjutkan ke Sapporo JR Station yang hanya 2 stasiun dari Susukino. Kata google maps sih bisa jalan kaki 30 menit (ya kaliiii 30 menit jalan kaki), gw merasa harus menyimpan energi dulu karena masih awal perjalanan. Berhubung gw punya JR pass (kedua temen gw gak pake), gw harus ke kantor utama untuk menukar bukti pembelian dari Indonesia. Antrian lumayan ga banyak, jadi dalam 10 menit pun gw udah dapet JR pass-nya. Sedangkan kedua temen gw ke information center untuk beli Asahiyama Dobutsuen Kippu seharga 6.130 yen berisi set roundtrip ticket untuk limited express train (non-reserved ticket) dan tiket bus dan tiket Asahiyama Zoo. Jadi kalo ga pake JR pass, ini bisa jadi pilihan, jadi ga perlu repot2 lagi beli tiket kereta, bus dan tiket masuk zoo. Hanya ada 1 jenis kereta dari Sapporo-Asahikawa yaitu Ltd. Express Super Kamui. Lamanya waktu perjalanan adalah 85 menit. Jadi bisa sambil tidur atau sarapan atau ngemil2 cantik hehe. Untuk yg non-reserved, siap2 antri di depan pintu gerbong khusus non-reserved yaa..bisa liat di bawah atau nanya aja ke petugas yang lalu lalang kalo bingung. Semakin lo di depan semakin besar kesempatan dapet duduk, kalo engga yaa berdiri. ALhamdulillah gw dapet duduk

      Begitu sampai di Asahikawa St., gw menuju information center. Oiya fyi, rajin-rajinlah datang ke information center kalo lo baru dateng ke suatu tempat, misal stasiun atau terminal bus. Selain dapet informasi, kadang ada penawaran2 menarik loh misal tiket diskon atau voucher makanan. Bahkan lo bisa beli tiket Asahiyama Zoo disini jadi ga perlu antri lagi begitu disana. Tiketnya sebesar 800 yen. Untuk menuju asahiyama zoo, ada 2 cara, naik taksi atau bus. Tentu yg lebih murah adalah naik bus (440 yen-one way). Bayar langsung di bus pas turun. Lumayan loh perjalanannya ada sekitar 40 menit (lancar yaaah tanpa macet). Pemandangan sepanjang jalan apalagi kalo bukan saljuuuu.

      Sampailah di Asahiyama Zoo, karena gw udah punya tiket, tinggal nunjukkin ke petugasnya aja. Sedangkan temen gw yang pakai pass, harus nuker dulu. Hal pertama yang gw lakukan adalah mencari informasi jadwal penguin parade. Ternyata hanya ada 2x sehari. Jam pertama adalah jam 11 dan jam kedua adalah 14.30. Karena gw baru sampe zoo jam 12 siang, jadi gw baru bisa liat yg jam 14.30. Kami pun keliling2 melihat binatang khas winter, ada beruang kutub, singa laut, harimau, penguin, serigala, daaan lain2. Disini, ada kejadian kurang menyenangkan. Jadi gw bawa tripod karena nantinya beberapa hari terakhir akan jalan sendiri, sehingga tripod jadi andalan. Karena kami pengen foto bertiga yang keren2, jadilah dikeluarkan tripod ini. Nah gw termasuk orang yg tiga kali jepret udah puas karena masih ada lokasi yang belum dieksplor. Tapi mereka masih pengen foto2, ya udah gw tinggalin sebentar. Setelah bbrp lama, kok mereka ga nyusul2 yah, akhirnya gw samperin balik ke tempat semula daaaaan ternyata tripod gw patah sodara2 Ternyata kedua temen gw ga terlalu fasih menggunakan tripod. Jadi ketika mereka mau melipat tripodnya, salah arah dan terlalu kuat sehingga membuat salah satu kakinya patah. Mereka pun berjanji bakal menggantikannya begitu sampai sapporo (yg akhirnya digantikan sama tongsis karena gw lebih milih foto pake HP hehehe). Yaaah begitulah :((
      20170209_143346.mp4
      Oke lupakan tripod!!! Waktu sudah menunjukkan 15 menit lagi menuju Penguin Parade...yg merupakan hewan favorit gw semenjak nonton Happy Feet. Ternyata udah pada antri aja orang-orang. Untung gw masih dapet posisi lumayan karena di depan gw anak kecil. Ketika si penguin2 itu keluar dan berjalan seperti di catwalk, orang2 pun lgsg berseru "Kawaiiiii...sugoiiiii" atau "awww...cuteee", gw pun ikut2an sih tapi pake bahasa hehe. Sekitar 50 meter, gw ikutin penguin2 yg berjalan biar puas. Setelah itu pun kami memutuskan kembali ke Sapporo karena sudah semakin sore dan punya rencana menyusuri Susukino Site serta makan ramen halal di sekitarnya.
      Sekitar jam 6 sore (yang udah gelap banget krn winter), kami sampai di Susukino SIte. Di site ini ditampilkan ice sclupture di sepanjang jalannya..bermacam-macam bentuknya. jadi semacam lo liat beragam pahatan es yang biasanya ada di acara pernikahan gitu lho. Jujur gw sih biasa aja ngeliatnya (apa karena udah laper dan capek kali yaa). Sebenarnya ada bbrp foto, bahkan kami foto gratis gitu, tapi semuanya ada di temen gw. Tujuan utama kami ke Susukino ini adalah untuk makan ramen halal, namanya Houryu Ramen. Tempatnya ga terlalu besar tapi cukup ramai shingga kami harus menunggu sekitar 10 menit untuk masuk ke dalam. Untuk pelanggan muslim, mereka menyediakan 3 macam menu. Salah satunya adalah Genghis Khan Spicy Ramen. Gw dan satu orang teman memesan itu. Sedangkan yg satu lagi karena non muslim membeli yg pork ramen. Ramen shop ini sudah mendapatkan sertifikasi halal karena menggunakan bahan2 halal khusus dan juga alat masak serta alat makannya dipisah. Kalo di Jepang, ga usah khawatir dengan minuman karena biasanya mereka menyediakan ocha hangat atau air putih dingin yang bisa refill setiap saat (Gratisssss).

      Saran gw sih, kalo lo ga laper2 amat dan gak makan banyak, sebaiknya pesan 1 porsi berdua karena ini meski dibilang small serving, tapi isinya banyaaaaaak banget. Harganya juga lumayan sekitar 1000an yen. Kan lumayan bagi 2 sama temen lo. Ini juga gw masih menyisakan sedikit. Tambahan lagi kalo lo sangat suka pedas, ada baiknya bawa cabe sendiri misal bon cabe atau semacam sambel bu Rudi. Haha lebay sih tapi menurut gw, makanan jepang itu, meskipun di menunya dituliskan spicy, tapi rasa pedasnya tuh beda sama orang Indo. Dan menurut gw sih terlalu keasinan. Menurut gw, ramen ini kurang cocok. Tapi bukan berarti gw milih2 makanan, ini hanya soal selera...ya kaaaan hehe
      Perut kenyang, kedinginan, lelah, dan kantuk pun datang. Kami pun memutuskan untuk jalan2 di sekitar Tanukikoji Shopping Street yang ga jauh dari lokasi Susukino  dan juga bisa sekalian pulang ke GH. Kamu pun keluar masuk toko sambil lihat-lihat dan membeli beberapa barang. Temen gw pengen banget photobox ala2 Jepang gitu dan ternyata ada. Alhasil sekitar 45 menit kami pun menghabiskan waktu foto2 dan edit mengedit sama numpang ke toilet (oops).
      Yaaaa begitulah perjalanan hari kedua, kemanakah kami hari ketiga???? Menuju Odori Park dan Otaru. Di hari ketiga inilah gw mendapatkan musibah yang cukup mengganggu aktivitas perjalanan gw beberapa hari ke depan dan membuat bbrp itinerary berubah (spoiler)
    • By anna22
      Jepang lagi..jepang lagi..mungkin temen2 disini sedikit bosan dengan FR ttg jepang. Eits kali ini akan sedikit beda karena kepergian gw ke jepang untuk kedua kalinya ini adalah untuk mengejar salju tepatnya melihat festival besar di Hokkaido yaitu sapporo snow festival 2017. 
      Oiya gw beli tiket di garuda travel fair di bulan april. Padahal festivalnya sendiri belum memberikan pengumuman resmi kapan mulai diadakan. Tapi gw kira2 sendiri sih berdasarkan festival tahun 2016. Yo wis gw pun memutuskan beli tiket pp jakarta-osaka tgl 7-15 feb. Dan prediksi gw tepat, sapporo snow festival akan berlangsung tgl 6-12 feb 2017. Gw akan ada di sapporo tgl 8-11 feb. Sisanya menjelajahi Takayama, Shirakawa Go, Kanazawa, Hiroshima, Miyajima dan balik ke Osaka. 
      Awalnya gw berniat pergi sendiri. Tapi lama kelamaan kepikiran juga dan dapet ultimatum dr nyokap kalo gw ga boleh pergi sendirian. Akhirnya gw coba cari temen di forum backpackerindonesia dan forum jalan2 ini. Dan akhirnya selama di Sapporo gw dapet 2 org teman. Sisanya sih sendirian yaa krn kami beda keinginan..yg lain pengennya ke Tokyo. 
      Oke..selama menunggu keberangkatan gw mencoba buat itinerary dan memesan guesthouse, tiket bus dll. waktu yg ditunggu pun tiba..2 minggu sebelum berangkat gw kopdar dengan temen seperjalanan gw.
      Daaaaan tgl 7 menjelang tengah malam, pesawat garuda yg membawa gw lgsg ke osaka pun meluncur dengan mulus. Entah knp gw ga terlalu bisa tidur. Jam 8.30 waktu Jepang pun gw sampe. Buru2 lgsg ke imigrasi, ambil koper, cuci muka, gosok gigi, dandan(iya dooong) daan sambil menunggu pesawat gw yg akan membawa gw ke sapporo yg mana masih jam 2, Gw pun menghabiskan waktu ke rinku town (premium outlet) untuk cari2 jaket musim dingin krn gw cuman bawa 1 dan rasanya kurang tebal. Rinku town itu cuman 6 menit naik kereta loh dan banyak toko2 dengan merek2 premium menjual barang2 diskon. Abis itu, jam 12 gw balik ke kansai airport, check in dan makan siang udon. 
      Tepat jam 2, gw terbang ke Sapporo. Gw liat penerbangan ini full loh..bahkan banyak bule juga. Dalam hati gw..hmm bakalan rame banget nih Sapporo. Jam 4.30 pesawat pun mendarat di landasan bersalju. Wiih itu ada penampakan salju pertama gw..yg nantinya setelah hari ke 5 gw mulai bosan hahaha. 
      sehabis ambil koper gw pun buru2 ke bagian airport bus untuk beli tiket. Pas mau beli tiket, ternyata bisa otomatis kayak beli tiket kereta gitu. Tapi karena gw lama, si bapak petugas yg baik hati pun membantu gw memilah2 uang receh yg gw punya. Bahkan doi mengantarkan gw menuju halte yg sesuai (padahal deket haha). Emang baik2 deh petugas di jepang ini. Knp naik airport bus krn guesthouse yg gw tempatin cukup dekat dengan salah satu halte pemberhentian bus ini. Dan gw bawa 2 koper yg salah satunya adalah titipan temen yg naik AA (dia ga mau bayar bagasi). 
      selama 1 jam perjalanan, yg gw lihat hanyalah salju, putih, salju dan putih. Udara di luar pas nunggu bis dinginnya parah. Muka berasa ditampar2 krn berangin juga. Untungnya di bus ada penghangatnya. Di halte gw pun dijemput temen gw krn percayalah..menggeret koper di jalanan dengan penuh tumpukan salju adalah hal yg sulit dan berat hehehe. 

      Karena musim dingin itu gelapnya lebih cepat. Dan gw baru sampe GH jam 7an..belum beberes terus makan malem dll. Akhirnya kami memutuskan istirahat aja krn besok pagi2 harus mengejar kereta pagi menuju Asahiyama Zoo ketemu penguin2 lucu. 

       
      Untuk cerita hari ke2 tunggu di FR selanjutnya yaaa :)
    • By Nightrain
      suasana di Camp Nou (markas Barcelona)
      Bulan Mei umumnya merupakan waktu yang paling nyaman untuk mengunjungi sebagian besar negara Eropa karena mulai masuk puncak musim semi dengan suhu hangat yang sangat mirip dengan Indonesia. Kali ini kita memutuskan untuk mengunjungi Spanyol dengan tujuan 3 kota besar-nya yaitu Madrid, ibukota yang berada di tengah; Barcelona, kota pinggir laut yang terletak di timur Spanyol; dan Sevilla, yang merupakan ibukota wilayah Andalusia di selatan.
      Kita juga sempat mampir ke negara kecil Andorra yang terjepit antara Spanyol dan Perancis di area pegunungan Pyrenees karena mudah dijangkau dengan bus dari Barcelona. Lokasi Spanyol dan Maroko yang berdekatan juga membuat kita tidak melewatkan kesempatan untuk menginjakkan kaki pertama kali di benua Afrika dan menghabiskan waktu 3 hari melihat negara eksotis ini.
      Day 1 - Puerta del Sol, Madrid (Selasa, 5 Mei 2015)
      Kita tiba di airport Barajas Madrid sekitar pukul 2 siang waktu setempat atau kurang lebih jam 7 malam WIB. Suhu waktu itu masih sekitar 20 derajat dan setelah melalui proses cek imigrasi dan mengambil bagasi, kita menuju ke stand Lebara untuk mengganti SIM card lokal dengan unlimited internet. Biaya internet di Spanyol relatif murah, sebulan berkisar antara €10 - €15. Selain operator Lebara, disarankan untuk menggunakan Vodafone atau Movistar.
      Untuk menuju ke hotel, ada opsi bus dan subway, namun karena kita belum ada gambaran mengenai lokasi sekitar hotel, jadi daripada buang waktu nyasar, kita langsung menuju taxi stand dan di-charge flat rate €30 ke downtown. Tiba di hotel dan selesai check-in, kita langsung menuju stasiun subway untuk menuju lokasi pertama yaitu Puerta del Sol. Ini adalah titik 0 kota Madrid, alun-alun utama dan di sekeliling lokasi ini banyak sekali turis maupun orang lokal yang sering berkumpul. Artis jalanan juga memadati area sekitar patung kuda untuk mencari sesuap nasi, mulai dari penyanyi kwartet, badut dengan kostum lucu, 'patung statis', dan sebagainya.
       
      Puerta del Sol cocok menjadi starting point Anda untuk menjelajahi kota Madrid karena dari sini Anda bisa menjangkau beberapa landmark dengan berjalan kaki, dimulai dari Plaza Mayor, kemudian mampir sebentar ke Mercado de San Miguel dan sekitar 10 menit Anda akan tiba di Royal Palace of Madrid yang juga berhadapan dengan Catedral de la Almudena. Jangan lupa untuk memperhatikan jadwal buka istana apabila Anda ingin masuk ke dalam, tapi kalau hanya sekedar berfoto di luar saja, paling bagus ambil momen menjelang sunset.
         

      Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam namun hari masih terang karena bulan Mei sudah mendekati musim panas dan di Eropa biasanya sunset baru dimulai sekitar jam 8 malam. Siang hari terasa lebih panjang lagi menjelang Juni karena matahari baru terbenam sekitar jam 9.30 malam. Di Spanyol, kebanyakan orang baru mulai makan malam sekitar jam 9 malam namun restoran rata-rata sudah buka dari jam 5 atau 6 sore, jadi untuk menghindari peak hour sebaiknya jam 8 sudah selesai makan.
      Setelah selesai mengisi perut di salah satu resto terdekat, kita pun kembali ke hotel untuk beristirahat.

      Day 2 - Santiago Bernabeu dan Retiro Park, Madrid (Rabu, 6 Mei 2015)
      Tidak lengkap rasanya kalau ke Madrid tanpa mengunjungi markas klub sepakbola Real Madrid. Terlepas Anda suka atau tidak dengan klub ini, atau bahkan bukan penggemar sepakbola, Real Madrid (dan juga rival mereka, Barcelona) sudah menjadi icon penting negara Spanyol dan tergolong mudah untuk menjangkau stadion klub yang sudah berdiri lebih dari 100 tahun lalu ini.

      Lokasinya terletak sekitar 6km arah utara Puerta del Sol dan opsi termurah untuk menuju kesana yaitu lewat subway. Buat yang pengen nonton pertandingan, disarankan untuk beli dulu tiket via ticketmaster H-10 untuk menghindari antrian panjang dan kadang untuk big match, belum tentu tiket masih ada pas hari H, namun buat yang pengen liat stadion aja, sebaiknya datang persis jam 10 pagi supaya belum terlalu banyak turis yang datang.
      Tiket masuk untuk tur stadion sekitar €19 dan durasi tur biasanya sekitar 1 jam. Dengan tiket ini, Anda bisa naik ke lantai atas untuk melihat stadion dari tempat tinggi, kemudian lanjut ke dalam museum Madrid untuk melihat koleksi piala, sejarah dan rekor klub, tim inti beserta jersey-nya, dan berbagai macam pernak-pernik Real Madrid, kemudian Anda juga bisa mendapatkan kesempatan untuk berfoto dan ada petugas yang akan memilih pemain mana yang akan di-crop ke dalam foto tersebut, dan tentu Anda juga bisa mengitari stadion, mencoba duduk di kursi VIP, di bangku cadangan pemain, dan akhirnya membeli berbagai souvenir klub.
       
       
      Selesai dari Santiago Bernabeu, kami mampir ke salah satu restoran di seberang stadion untuk makan siang dan kemudian lanjut menuju pusat kota Madrid yaitu Gran Via. Lokasi Gran Via ini mungkin bisa dikatakan adalah 'Orchard Street'-nya Madrid buat yang familiar dengan kota Singapore. Di jalanan panjang ini berjejer berbagai bangunan tinggi, ada mall, toko, kantor, bahkan kasino. Tentu dengan aristektur bangunan yang juga bervariasi mulai dari klasik hingga modern sehingga nuansa Eropa masih terasa banget. Lokasinya kurang lebih satu blok dari area Malasana tempat hotel kita berada. Area ini bagus juga untuk dijadikan starting point apabila Anda ingin mencari hotel dengan best value, dekat dengan subway, dan cukup banyak restoran di sekitarnya.
       
      Kita menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk berkeliling di sekitar Gran Via dan apabila Anda terus berjalan ke arah timur, Anda akan tiba di Plaza de Cibeles. Di dekat bundaran ini ada Palacio de Cibeles (Cybele Palace) yang sekarang sudah dijadikan City Hall. Lokasi Plaza Cibeles ini juga selalu dijadikan tempat berkumpul fans Real Madrid apabila tim mereka juara dan juga menjadi tempat perayaan tahun baru buat warga kota Madrid. Tidak jauh dari Cibeles, Anda akan tiba di bundaran berikutnya, Puerta de Alcala dan dari lokasi tersebut, Anda akan menemukan pintu masuk ke salah satu taman terbesar Madrid yaitu Retiro Park.
      Buat yang senang art, lokasi taman ini pun tidak jauh dari Prado Museum yang juga merupakan salah satu attraction kota Madrid. Apabila cuaca bersahabat, Anda bisa berjalan santai menuju ke arah danau kecil dan Monument Alfonso XII. Banyak bangku taman berjejer di sana untuk sekedar beristirahat sambil menikmati udara sore dan juga ada beberapa penjual makanan ringan di sekitar situ apabila Anda ingin mencari snack atau minuman ringan. Terlihat banyak warga memadati taman, ada yang bersepeda santai, ada juga yang jogging sore, dan ada juga yang mengitari danau dengan kano.
       
      Waktu kurang lebih pukul 5 sore ketika kita memutuskan untuk kembali ke hotel dulu untuk sekedar rileks dulu. Menjelang jam 7.30, kita berjalan santai menuju restoran Bodega de la Ardosa, salah satu tapas bar di sekitar hotel untuk makan malam. Tiba di sana, baru sekitar 3-4 meja yang terisi karena memang jam restoran terpadat adalah jam 9 malam, apalagi kalau pas weekend dan ada siaran bola. Buat yang belum tahu apa itu tapas, jadi itu adalah sebutan untuk appetizer atau snack khas Spanyol, tersedia baik yang panas (daging/seafood/kentang/dll) maupun dingin (cheese/mixed olives/berbagai macam sayuran/dll). Namun warga Spanyol sering juga menjadikan tapas sebagai main course, bukan sekedar makanan pembuka, karena di satu meja, mereka bisa saja mengorder 6-7 piring tapas untuk 3-4 orang. Mungkin analogi yang agak mirip yaitu seperti sushi di Jepang dimana satu piring bisa terdapat banyak jenis menu untuk di-share.
      Restoran yang kita tuju tersebut merupakan rekomendasi dari resepsionis hotel dan kebetulan mendapatkan skor 4 bintang di tripadvisor. Review restoran di tripadvisor biasanya merupakan opini objektif dari turis berbagai negara sehingga kalau total rating sudah 4 bintang ke-atas, umumnya lumayan atau enak karena pernah juga kita hanya mengandalkan usulan dari salah satu orang lokal dan ternyata hasilnya sangat mengecewakan.
       
      Day 3 - Casa Batllo dan Passeig de Gracia, Barcelona (Kamis, 7 Mei 2015)
      Setelah kelar packing dan check-out, kita bergegas ke stasiun kereta Madrid Atocha dengan menggunakan taxi. Lokasi stasiun tidak jauh dan kurang lebih 15 menit kemudian kita sudah tiba. Tiket kereta cepat AVE dari Madrid menuju Barcelona sudah dipesan dari Indonesia sehingga waktu dan jam sudah fixed. Cara pemesanan tiket tersebut tidak sulit namun untuk menghindari kesalahan, silahkan baca petunjuk 'Buying Renfe Tickets Online' di : http://www.tripadvisor.com/Travel-g187514-c80518/Madrid:Spain:Buying.Renfe.Tickets.Online.html. Untuk harga tiket kereta, ada diskon lumayan apabila Anda booking sekitar 2 bulan sebelum keberangkatan. Kereta pun berangkat sesuai jadwal dan kurang lebih 3 jam kemudian kita sudah tiba di Barcelona. Opsi yang lebih murah bisa menggunakan kereta biasa dengan waktu perjalanan sekitar 6-7 jam dan ada juga yang overnight train untuk menghemat biaya hotel semalam, sekitar 10 jam sampai Barcelona.

      Dari stasiun, kita naik taxi menuju hotel yang ada di Carrer de Mallorca. Sama seperti Madrid, lokasi Mallorca ini cukup dekat dengan jalan protokol, Passeig de Gracia, namun harga penginapan relatif wajar, bahkan tergolong murah. Setelah check-in, kita mampir ke salah satu restoran di dekat hotel untuk makan siang. Impresi pertama cukup baik dan rasanya overall lebih enak dari hampir semua resto di Madrid yang kita coba. Lokasi pertama yang kita tuju adalah Passeig de Gracia karena memang paling dekat dari hotel. Ini adalah 'Gran Via'-nya Barcelona dan buat yang senang shopping, di sinilah surga-nya, mulai dari LV, Prada, Valentino sampai Zara, Mango, dan Puma tersebar di sepanjang jalan. Buat yang tidak senang shopping, jangan khawatir karena banyak juga kafe dan restoran tempat kongkow dan beberapa landmark terkenal seperti Casa Batllo dan La Pedrera.
        
      Untuk masuk ke Casa Batllo, Anda perlu membeli tiket dan dianjurkan untuk membeli tiket secara online karena Anda tidak perlu antri sampai satu jam pada saat mau masuk ke dalam. Bangunan ini adalah hasil karya dari arsitek legendaris Spanyol yaitu Antoni Gaudi. Beliau adalah sosok populer di balik megah-nya bangunan 'Modernista' seperti Sagrada Familia, Casa Mila, dan Casa Batllo tadi. Apabila Anda tertarik untuk mengetahui sejarah penghuni dan ruangan Casa Batllo, di dalam Anda akan dibekali dengan seperangkat alat yaitu tablet dan headphone dan dari lantai atas juga Anda bisa menikmati Passeig de Gracia yang padat dengan turis, warga lokal, maupun kendaraan yang lalu lalang. View bangunan ini juga akan lebih bagus pada saat menjelang malam hari karena lampu-lampu yang dinyalakan akan mempertegas struktur bangunan tersebut yang unik dan indah.
      Tidak terasa kita berjalan hingga pukul 9 malam dan karena di Indo sudah jam 3 pagi, tiba-tiba badan baru berasa lemes dan ngantuk, karena baru hari ketiga dan masih belum adaptasi penuh dengan perubahan jam. Kita pun kembali ke hotel untuk beristirahat.
       
      Day 4 - Palau de la Musica Catalana dan Montserrat (Jumat, 8 Mei 2015)
      Kita mengawali hari ke-empat dengan mengunjungi Palau de la Musica Catalana. Ini adalah tempat konser dengan arsitektur khas Modernista dan merupakan hasil karya Lluís Domènech i Montaner. Tempat ini juga merupakan UNESCO World Heritage Site sejak 1997 dan buat yang senang dengan bangunan unik khas Spanyol, tempat ini layak dikunjungi. Harga tiket masuk kurang lebih sekitar €17 / orang dan kita akan ditemani oleh seorang guide yang dengan senang hati akan menjelaskan mulai dari sejarah tempat ini, konser apa aja, dan cerita-cerita menarik di balik ukiran dan tatanan di dalam gedung tersebut.
       
      Persis di seberang gedung ini ada restoran yang bernama Tosca dan makanannya termasuk enak serta harga relatif wajar. Pelayannya ramah dan cukup fasih berbahasa Inggris, mungkin karena setiap hari banyak turis yang mampir setelah mengunjungi Palau. Salah satu menu andalannya adalah Jamon Iberico atau Iberian Ham, dan sebagian besar berasal dari daging babi yang digarami dan dikeringkan beberapa bulan. Mungkin karena terbiasa makan daging asin ini, banyak variasi makanan Spanyol lainnya malah jadi berasa terlalu asin untuk lidah kita. Untuk yang tidak mengkonsumsi babi, ada baiknya memesan kentang, seafood, dan sayur-sayuran karena selain ham, makanan lain di resto ini juga enak termasuk kentang goreng khas Spanyol.
      Setelah makan, kita menuju Plaza Catalunya, alun-alun utama kota Barcelona yang menjadi meeting point dari daytrip sore itu menuju Montserrat. Tempat wisata ini berasal dari kata 'serrated' karena beberapa puncak gunung yang berdempetan memiliki tinggi yang berbeda sehingga terlihat seperti gergaji dari kejauhan. Di sini terdapat biara Benedictine yang bernama Santa Maria de Montserrat dan seringkali merupakan tempat retreat untuk warga lokal Spanyol. Selain itu, para pecinta alam juga senang mendaki gunung ini dan termasuk populer di kalangan turis.
       
      Area gunung ini bisa dicapai dengan driving sekitar 1 jam dari kota Barcelona. Untuk yang waktunya terbatas, sebaiknya menggunakan local tour untuk ke Montserrat karena perbedaan biaya tidak terlalu banyak dan bisa dilakukan setengah hari saja, namun kalau punya waktu panjang, ada bagusnya berangkat dari pagi hari dan bisa menikmati Montserrat sekitar 3-4 jam sebelum turun dengan menggunakan kombinasi cable car dan kereta. Yang menarik dari Montserrat adalah indahnya pemandangan dari puncak gunung, uniknya gunung yang berwarna merah muda, arsitektur biara yang menawan baik di eksterior maupun interior-nya, serta banyak cerita menarik mengenai Black Madonna dan terbentuknya pegunungan ini. Biaya tur per orang sekitar €45 dengan durasi waktu sekitar 4-5 jam dan tidak menyangka tour guide kita yang asli orang Barcelona ternyata baru balik dari liburan ke Indonesia selama 3 minggu sekitar beberapa bulan sebelumnya.
       
      Tur berakhir sekitar pukul 7 malam namun suasana di Barcelona masih terang benderang karena memang bulan Mei sudah menjelang musim panas. Turis masih memadati area Plaza Catalunya dan kita berjalan santai menuju La Rambla. Ini adalah salah satu jalan terpadat dan mayoritas dijejali oleh turis jadi selalu waspada karena banyak copet beraksi dan rata-rata makanan serta minuman dipatok dengan harga tinggi padahal rasanya di bawah standar. Barang-barang souvenir, mainan, bunga, pernak pernik juga dijual dengan harga tinggi karena La Rambla sudah terkenal sebagai destinasi turis jadi banyak juga grup tour dari berbagai negara yang hanya mampir 1-2 malam di Barcelona pasti dibawa ke sini untuk berbelanja atau makan malam.
       
      Di dekat La Ramblas, ada satu pasar makanan yang juga terkenal yaitu Mercat de Sant Josep de la Boqueria. Berbagai macam jenis makanan mulai dari permen, buah-buahan, sayuran segar, ikan, dan sebagainya dijual di sini, namun karena salah satu destinasi turis juga, dipastikan hari apa pun pasti akan sangat padat dan terus terang tidak terlalu nyaman untuk shopping, namun untuk sekedar menyaksikan keramaian pasar ini sih oke juga. Kita sendiri tidak sampai masuk ke dalam dan memilih untuk makan malam di sekitar situ dan kembali ke hotel untuk beristirahat.
       
      Day 5 - Barri Gotic (Old Town) dan Camp Nou (Sabtu, 9 Mei 2015)
      Kalau di utara Jakarta, ada sepetak lokasi yang dinamakan Kota Tua yang sebagian berdiri bangunan peninggalan Belanda, maka di timur Barcelona pun terdapat satu lokasi yang mirip dan dinamakan Barri Gotic atau juga dikenal dengan Old Town. Mayoritas bangunan ini adalah peninggalan abad pertengahan, dan sebagian kecil malah dari jaman orang Romawi ketika mereka datang menetap di Spanyol. Yang paling terkenal di sini adalah Basilica of La Merce, namun kalau Anda punya banyak waktu untuk menjelajah jalan-jalan sempit Barri Gotic, banyak landmark yang bisa dikunjungi seperti Santa Maria del Pi Basilica, Palau Reial Major, City Hall, Placa Sant Jaume, dan Placa del Rei. Karena disain tempat ini seperti labyrinth, maka siap-siap untuk 'tersesat' namun tidak perlu takut karena selain bisa menggunakan patokan GPS untuk kembali ke jalan utama, banyak juga papan penunjuk jalan untuk mengarahkan kita ke La Ramblas atau pun ke pantai Barceloneta yang terletak tidak jauh dari sini.
       
      Banyak artis jalanan mencoba mengais rejeki di hampir setiap lorong Barri Gotic, mulai dari pemain cello, penyanyi bersuara ala Pavarotti, pengrajin bekas kaleng minuman, sampai badut-badut yang berkeliaran di sekitar Cathedral. Yang terakhir ini kadang yang agak mengganggu karena begitu kita kepengen foto sendiri, mereka suka mendekat untuk ikut berfoto bareng, maksudnya mungkin biar fotonya lucu dan unik, tapi kadang malah ngerusak, belum lagi persisten untuk minta tip dan seringnya mau lebih dari €2. Saran saya, kalau liat yang beginian, mending jauhi dan cari lokasi yang lebih aman, atau kalau masih nekad mendekat, jutekin saja.
      Kita menghabiskan waktu sekitar 4 jam untuk berkeliling santai di area ini dan kembali ke La Ramblas untuk rileks di salah satu resto sambil menunggu jam 4.30 sore. Hari itu kita akan menonton pertandingan antara Barcelona melawan Real Sociedad di Camp Nou, markas dari klub sepakbola Barcelona. Lokasi stadion ini kurang lebih 30 menit dari pusat kota dan pertandingan akan dimulai sekitar jam 6 sore waktu setempat. Di stasiun subway, baru kali ini kita melihat antrian tiket kereta MRT yang sangat panjang karena banyak warga lokal dan turis yang sudah memegang tiket siap menuju stadion. Teriakan yel-yel 'Barca .. Barca .. Barca' mulai menggema dimana-mana dan tidak sedikit yang mengenakan kostum kebanggaan mereka dengan tulisan punggung Messi, Neymar, maupun Suarez.
       
      Kalau Anda ingin menyaksikan pertandingan ini secara langsung, maka sebaiknya jangan lupa untuk membeli tiket via website (seperti ticketmaster) sekitar 10 hari sebelum hari H, karena tiket biasanya baru dijual setelah jadwal pertandingan ditetapkan oleh komite sepakbola mereka. Di stadion biasanya tidak ada ticketbox, kecuali Anda hunting tiket batal dari pemegang tiket musiman. Setiap pertandingan ada rating yang menentukan harga tiket, jadi untuk kali itu, Real Sociedad dianggap tim papan tengah dan harga tiket tidak terlalu mencekik, kurang lebih €130 dari seat yang bisa dibilang cukup pantas. Untuk harga tiket di bawah €80, posisinya terlalu jauh sehingga Anda harus siap binocular, dan kalau seat yang lebih dekat umumnya sudah sold out atau harga bisa €200 lebih. Kalau pertandingan papan atas, seperti El Clasico atau melawan tim tangguh, Atletico Madrid, atau pertandingan Liga Champion, bisa dipastikan harga tiket 2-3x lipat dan itu pun belum tentu masih available.
      Setelah menyiapkan dua tiket masuk, kita berjalan bareng bersama para suporter Barcelona ke dalam stadion dan di dalam, banyak petugas yang hilir mudik untuk membantu penonton menuju ke bangku masing-masing. Rata-rata para petugas bisa bahasa Inggris sedikit dan ramah dalam menghadapi berbagai macam turis yang kebingungan mencari seat mereka, dan biasanya kalau Anda kepengen minta tolong foto, para petugas tidak diijinkan untuk membantu mengambil foto karena itu memang peraturannya. Dari seat kita, terlihat jelas para pemain sudah melakukan pemanasan dan tepat jam 6 sore, pertandingan pun dimulai.

      Setelah ditinggalkan beberapa pemain bintang, Real Sociedad terlihat berbeda dibanding 3-4 tahun silam dan sore itu mereka hanya mampu bermain defensif dan setidaknya di paruh pertama, mereka masih berhasil menahan imbang Barcelona tanpa gol. Namun memasuki babak kedua, trio MSN terus membombardir mereka dan akhirnya Neymar berhasil mencetak gol pertama. Sekitar 5 menit sebelum usai, Pedro yang kini memperkuat Chelsea, melakukan bicycle kick yang indah dan memperlebar keunggulan Barcelona dan sore itu mereka berhasil meraih 3 poin penuh setelah menang 2-0.
      Mungkin banyak yang bertanya-tanya, apakah pantas mengeluarkan uang €130 untuk menonton 2 jam pertandingan bola ? Kalau Anda fans bola, tentu jawabannya sangat pantas karena bisa menyaksikan langsung para pemain bintang idola, namun kalau Anda tidak suka bola atau olahraga, saya tetap beranggapan ini adalah pengalaman yang boleh dicoba setidaknya sekali seumur hidup karena setidaknya Anda bisa merasakan atmosfir pertandingan kelas dunia, melihat stadion dari dalam maupun luar, berada di antara puluhan ribu suporter yang dengan antusias tinggi terus mendukung klub mereka selama 90 menit penuh, dan bisa membagikan cerita ini ke teman ataupun saudara yang sangat menyukai sepakbola.
       
      Day 6 - Andorra (Minggu, 10 Mei 2015)

      Andorra, negara kecil yang tidak memiliki airport dan terjepit antara Spanyol dan Perancis ini, bisa diakses dengan mudah melalui Barcelona. Ada banyak pilihan bus untuk menuju ke sana namun kalau Anda tidak punya agenda untuk melakukan hiking, maka ada bagusnya memilih opsi daytour seperti yang kita ambil, karena selain kita diberikan waktu cukup untuk mengitari pusat kota Andorra de la Vella, kita juga punya kesempatan untuk mampir di salah satu desa kecil, Baga dan juga Mont Louis, Perancis.
      Pagi hari sekitar jam 7 kita sudah hadir di tempat berkumpul dan karena Andorra bukan merupakan destinasi impian yang umum, maka kebetulan yang jadi peserta tur hari itu mayoritas manula yang ikut cruise dari Amerika. Yang menarik dari mereka ini ada sepasang traveler yang sudah berumur 70 tahun lebih yang sudah berkeliling ke lebih dari 100 negara dan fisik mereka masih terlihat segar dan kuat. Lucunya mereka belum pernah menginjak Indonesia, mungkin sedikit terintimidasi dengan berita-berita terorisme, entahlah, namun setelah kita cerita sebagian keindahan Indonesia, mereka tertarik untuk datang apabila ada kesempatan nanti.
       
      Sekitar 1 jam lebih, kita jalan menuju utara dan mampir sebentar di salah satu kafe kecil untuk sarapan singkat, sebelum lanjut menuju Baga. Pemandangan yang indah terbentang di sepanjang perjalanan, terlihat bukit dan lembah yang hijau, ada danau kecil, berbagai macam variasi tanaman dan juga banyak bangunan rumah yang bagus. Desa Baga ini kecil dan sangat sepi, penduduk lokal-nya sedikit, dan kita hanya butuh waktu 15 menit untuk mengitari Baga. Ada satu gereja tua yang sudah lama berdiri dan rupanya ini adalah salah satu attraction kota Baga, selain alun-alun yang dikelilingi oleh beberapa kafe kecil. Seperti kebanyakan tempat di Eropa, bangunan gereja memang sering menjadi objek wisata oleh mayoritas turis karena biasanya masing-masing memiliki eksterior dan interior yang unik dan sering kali berbeda antara satu dan lainnya. Di samping itu, sebagian juga memiliki cerita-cerita sejarah yang menarik.

      Dari Baga, kita meninggalkan Spanyol dan melintasi perbatasan menuju Mont Louis, Perancis. Sekitar pukul 10 pagi waktu setempat kita tiba dan mampir lagi ke satu restoran kecil untuk menikmati croissant khas Perancis. Mont Louis ini bisa dikatakan area administratif kecil, atau dalam istilah pemerintahan Perancis, disebut juga 'commune'. Desa ini dikelilingi oleh dinding tinggi sehingga terlihat seperti benteng kecil dan view di luar gerbang sangat bagus. Kalau Anda sempat mampir kesini, Anda bisa menikmati view yang lebih bagus dari atas bukit yang bisa diakses dari dalam. Jumlah penduduk tidak banyak berbeda dengan Baga dan banyak turis seperti kita hanya mampir sebentar saja.
       
       
      Tujuan berikut dan terakhir adalah Andorra. Negara ini bukan bagian dari Schengen namun untuk masuk tidak diwajibkan Visa, tapi perlu diingat ketika Anda keluar dari Schengen dan akan kembali lagi, pastikan Anda punya akses 'multiple entry'. Walaupun hampir tidak pernah ada yang diperiksa ketika kembali ke Spanyol (atau Perancis), tidak ada salahnya untuk dipersiapkan dari Indonesia.
      Kebanyakan traveler datang ke Andorra untuk hiking dan main ski namun hal tersebut tidak memungkinkan kalau Anda hanya daytrip karena minimal harus nginap semalam agar bisa mulai dari subuh dan kembali pas sunset. Di tambah lagi pada waktu kita kesana, akses jalan menuju ke hiking area masih ditutup karena ada perbaikan jadi waktu hanya bisa dialokasikan untuk explore kota Andorra de la Vella.
       
      Bank, grocery store, restoran, kafe, berbagai macam toko berjejer di jalan utama kota ini. Buat para traveler yang demen shopping biasanya cocok karena negara ini tax-free sehingga harga-harga minuman alkohol, parfum, baju, dan sebagainya kadang kalau dihitung bisa berbeda sampai 15-20% dibanding Spanyol atau Perancis. Banyak warga Spanyol juga sering mampir kesini juga untuk menghabiskan weekend karena relatif sepi sehingga suasana-nya terasa santai dan relaxing untuk keluarga.
       
      Namun, seperti juga di Spanyol, kultur orang sini ngga banyak berbeda dengan Spanyol jadi kalau Anda tiba sekitar pukul 2 siang, sebagian toko malah tutup untuk 'siesta' atau istirahat siang dan mulai buka lagi sekitar jam 5 sore. Tapi tentunya mayoritas restoran dan kafe tetap buka, dan toko-toko yang besar yang paling sering didatangi turis pun buka. Icon kota ini bisa dibilang adalah jam pahatan Salvador Dali yang dinamakan 'The Nobility of Time'. Tidak sulit untuk menemukan jam ini karena ada di Piazza Rotonda. Dari tempat parkir utama bus, kita cukup jalan sekitar 10 menit. Karena tidak terlalu luas, Anda cukup menghabiskan waktu 3 jam untuk berkeliling Andorra de la Vella.
      Dari kota ini, kita akan jalan kembali ke Barcelona namun sebelumnya, kita naik dulu ke salah satu puncak bukit dimana ada satu gereja tua Sant Miquel Engolasters berdiri, dan yang paling menarik dari spot ini adalah view kota Andorra de la Vella yang jelas terhimpit antara dua gunung tinggi. Panorama dari sini sangat indah dan menjadi klimaks dari kunjungan kita ke negara kecil ini.
       
      Dari pengalaman kita mengunjungi Andorra, kalau Anda tidak ada rencana hiking, bisa disimpulkan akan lebih baik mengambil daytour ketimbang pergi sendiri dengan bus karena Anda akan dibawa mampir ke Baga dan Mont Louis namun kalau dari awal Anda ingin untuk mengunjungi ski resort atau naik gunung, tentunya lebih baik menginap semalam atau dua malam disana.
      Day 7 - Park Guell dan Sagrada Familia (Senin, 11 Mei 2015)
      Hari ini agenda kita agak santai karena tujuan kita hanya dua landmark saja yaitu Park Guell dan Sagrada Familia karena sore hari sekitar jam 5 kita sudah harus menuju airport untuk terbang ke Marakkesh, Maroko. Dua tempat ini berdekatan dan dapat dijangkau dengan taxi kurang lebih 15 menit saja dan termasuk dua lokasi favorit para turis karena selain dianggap sebagai bagian dari icon kota Barcelona, juga masuk ke dalam UNESCO World Heritage Site.
       
      Park Guell terletak di Carmel Hill sehingga untuk mencapai tempat ini akan lebih baik menggunakan bus karena halte-nya sangat dekat dengan pintu masuk ketimbang harus naik subway dan 'mendaki bukit' yang menghabiskan stamina. Yang menarik dari Park Guell ini adalah kita bisa menyaksikan keunikan karya Antoni Gaudi yang menggabungkan kreativitas seni dia dengan alam dan lokasi di perbukitan ini juga menyuguhkan pemandangan indah kota Barcelona dari ketinggian.
       
      Untuk masuk ke dalam taman ini, dikenakan biaya kurang lebih €7 dan tiket sebaiknya dibeli online untuk menghindari antrian panjang di pintu masuk. Umumnya, kita cukup menghabiskan waktu 1.5 jam untuk mengelilingi seluruh kompleks ini, termasuk melihat ke dalam dua bangunan utama yang terletak di pintu masuk utama namun ada juga warga lokal yang memanfaatkan taman ini sebagai lokasi piknik keluarga dan bersantai sambil menikmati view kota.
      Lokasi berikut yang kita tuju adalah Sagrada Familia dan kita menggunakan taxi agar lebih nyaman dan cepat. Biaya kurang lebih €10-€13 tergantung traffic dan kalau Anda pergi berdua atau lebih, ada baiknya menggunakan taxi untuk hemat waktu dan tenaga karena nanti akan banyak jalan sekitar Sagrada dan juga untuk turun tangga dari menara.
       
      Seperti layaknya kebanyakan landmark di Spanyol, tentu untuk masuk ke Sagrada Familia harus memiliki tiket dan sangat disarankan untuk beli online dari 2-3 minggu sebelumnya karena kalau mau antri hari H, terkadang Anda bisa menunggu sampai 2 atau 3 jam, bahkan lebih kalau lagi peak season. Sebelum masuk ke Sagrada, kita berjalan ke taman yang ada di seberang gereja untuk bersantai dan berfoto, kemudian mampir ke salah satu resto untuk lunch dulu.
       
      Sekitar jam 2 siang, kita bergegas menuju Sagrada dan antri sebentar (sekitar 15 menit) untuk pemegang tiket online, dan tiba di dalam, kita langsung takjub melihat megahnya disain Gaudi ini. Interior gereja ini dipenuhi dengan jendela tinggi sehingga dikelilingi oleh banyak sinar matahari yang membentuk warna pelangi. Lokasi cukup padat dengan turis, baik yang berdoa maupun sekedar berfoto.
       
      Di Sagrada, ada dua menara tinggi yang dinamakan Passion dan Nativity dan untuk pemegang tiket, Anda diperbolehkan untuk memilih salah satu menara. Di forum, banyak diskusi mengenai tower mana yang lebih baik, namun prinsipnya dua tower ini menawarkan view yang mirip dan dari kedua puncak menara, pengunjung bisa melihat interior dan exterior yang sama, tapi ada juga yang mengatakan lebih baik Passion saja karena sedikit lebih tinggi sehingga view lebih baik dari atas. Kita sendiri memilih Nativity karena kebetulan antrian lift juga tidak terlalu panjang dan kita puas, jadi saran saya, pilih saja antrian yang lebih sepi karena waktu cukup berharga.
      Sagrada Familia ini adalah landmark terakhir yang kita kunjungi di Barcelona dan sore itu kita segera kembali ke hotel untuk melakukan packing terakhir dan taxi sudah siap untuk membawa kita ke bandara untuk meninggalkan Spanyol menuju Maroko.
      Day 8 - Marrakech (Selasa, 12 Mei 2015)
      Kita mendarat di bandara Menara sekitar pukul 8 malam waktu setempat. Suasana di dalam bandara sudah agak lengang dan hampir semua turis mulai memadati money changer untuk menukarkan uang mereka ke dirham. Sangat disarankan untuk membawa EUR atau USD dan ditukar langsung di Maroko karena selisih akan cukup besar kalau Anda membeli dirham di negara lain.
       
      Kota Marrakech ini adalah salah satu pusat pariwisata Maroko, sempat tercantum sebagai destinasi terbaik TripAdvisor tahun 2015 dan mengundang banyak sekali turis Eropa dan Amerika untuk menikmati perbedaan kebudayaan dan kuliner yang ekstrim, namun untuk kita orang Indonesia yang merupakan negara mayoritas beragama Islam, pasti akan merasakan suasana yang sangat familiar dengan Marrakech.
      Perkembangan kota dan negara ini tergolong lambat, ini disebabkan karena ekonomi mereka tidak mampu bertumbuh pesat seperti Indonesia yang ditunjang dengan derasnya investasi asing dan berbagai macam komoditi perdagangan yang melimpah ruah. Terhimpit oleh luasnya gurun pasir membuat mereka juga tidak leluasa mengembangkan agrikultur sehingga turis merupakan sumber devisa utama.
      Secara umum, Marakkesh dikelilingi tembok yang membentengi kota tua (yang juga sering disebut Medina) dan berbatasan dengan lingkungan baru yang kebanyakan dipadati oleh imigran dan investor Perancis (biasa disebut Gueliz). Di dalam Medina, bertebaran hotel-hotel khas Maroko yang dinamakan 'riad' dan sangat disarankan untuk menginap di 'riad' untuk menikmati suguhan interior otentik dan juga mendapatkan berbagai macam informasi penting dari owner maupun helper-nya.
       
      Mayoritas turis yang tidak mempunyai informasi banyak mengenai kota ini biasanya akan kaget ketika pertama kali menginjakkan kaki disini karena selain kesan kumuh terhampar di berbagai sudut kota, mayoritas orang lokal berasa terlalu 'friendly' ketika menghampiri turis baik menawarkan dagangan ataupun layanan mereka. Traveler wanita sebaiknya tidak jalan sendiri untuk menghindari hal yang tidak diinginkan jadi paling baik berdua atau bertiga dan memilih jalan yang ramai, atau ditemani guide lokal yang terpercaya.
      Malam itu, kita langsung beristirahat di riad karena besoknya jam 9 pagi, kita sudah janji untuk bertemu dengan Youssef yang bisa dikontak melalui Tripadvisor (Marrakech Tour Guide - Private Tours).
      Day 9 - Marrakech (Selasa, 12 Mei 2015)
      Setelah sarapan pagi, kita memulai hari dengan bertemu dengan Youssef yang sudah menunggu di ruang tamu riad kita. Sangat disarankan untuk memanfaatkan jasa tour guide lokal ketika Anda pertama kali datang ke Medina karena ada tiga faktor penting yaitu kita bisa mengetahui dan mengenal lebih dalam sejarah dan budaya dari orang lokal serta lingkungan sekitar; kita tidak akan tersesat dalam labirin Medina dan menghemat waktu untuk tahu tempat-tempat penting maupun yang rawan; kita bisa bertanya mengenai tempat makanan favorit orang lokal, kudapan ringan, juga meminta dia untuk membantu menawar barang/souvenir.

      Youssef mengajak kita untuk mencari taksi dan menuju ke Jardin Majorelle. Lokasi taman ini ada di Gueliz sehingga agak jauh dari Medina. Taman yang dimiliki oleh mendiang designer Yves Saint Laurent ini menyimpan berbagai macam koleksi kaktus dan tanaman, tersebar mengelilingi kolam kecil dan bangunan museum suku Berber dengan warna biru cerah. Lokasi ini termasuk salah satu favorit turis dan banyak spot menarik untuk berfoto.
      Setelah puas di sana, kita kembali ke Medina dan mulai berjalan menuju Bahia Palace. Bulan Mei sebenarnya sudah terlalu panas untuk berjalan karena menjelang jam 12 siang, suhu bisa mencapai 42 derajat dan menurut Youssef, waktu terbaik adalah awal Maret ketika suhu berkisar antara 20-25 derajat. Tiba di Bahia, Youssef membawa kita mengunjungi ruangan demi ruangan sambil bercerita mengenai sejarah dari istana ini.
       
      Tujuan berikut adalah melewati Koutobia Mosque dan mampir di Saadian Tombs. Mausoleum ini merupakan tempat peristirahatan keluarga dinasti Saadi yang hidup di abad ke-16 dan kita diperbolehkan untuk mengambil foto di sini. Karena tempat ini tidak terlalu luas, maka biasanya 15-20 menit sudah cukup dan kita mampir ke salah satu restoran untuk makan siang.
      Setelah makan siang, Youssef membawa kita menelusuri labirin Medina dari satu gang ke gang yang lain, dari satu souk ke souk yang lain. Dia mengatakan bahwa semua turis tanpa GPS yang datang ke sini sudah pasti akan tersesat dan banyak yang menghabiskan waktu ber-jam jam untuk bisa balik ke hotel mereka namun untuk mereka yang cuek, pengalaman tersesat ini memang yang di cari.
       
      Kita mending cari aman karena berabe kalau tersesat dan kecopetan sementara masih ada rencana ke Sevilla 4 hari dan kembali lagi ke Madrid. Youssef tinggal tidak terlalu jauh dari Medina dan hampir semua pedagang kenal dia. Ini keuntungan jalan bareng dia karena selain tidak akan ditipu dan diganggu, biasanya buat yang senang belanja barang macam-macam mulai dari souvenir, baju, sepatu Maroko, lampu, dan sebagainya bisa dapat harga terbaik. Kita diajak berputar mengunjungi tempat-tempat esensial di Medina termasuk pengolahan besi dan dapur pembuatan kue sebelum akhirnya kita diantar lagi ke riad untuk beristirahat.
       
      Persis jam 19.30, kita ditunjukkan jalan terdekat menuju Djemma El-Fna. Ini adalah alun-alun utama Medina, tempat yang paling tersohor di Marrakech dimana berbagai macam pedagang berkumpul, tukang makanan dan jajanan, pawang ular, pertunjukan topeng monyet, dan sebagainya. Bukan menjadi hal yang asing buat kita warga Indo yang sering melihat pasar malam, namun buat para bule, melihat 'organized chaos' seperti ini tentu menjadi atraksi yang tidak lazim.
      Untuk mendapatkan view yang maksimal, ada baiknya naik ke salah satu restoran terdekat dan pesan saja satu atau dua minuman ringan yang penting bisa nongkrong di salah satu meja, karena biasanya makanan di tempat 'touristic' seperti ini tidak enak dan mahal. Setelah puas mengambil foto, coba makan di salah satu stall yang ada di bawah. Jangan mengharapkan makanan senikmat di Indo namun perlu dicoba untuk sekedar pengalaman.

      Karena masih belum terlalu familiar sama jalan dan lingkungan sekitar, kita memutuskan untuk kembali ke hotel sekitar jam 9 malam karena jalanan masih relatif ramai sehingga tidak terlalurawan kalau tersesat. Walaupun menurut Youssef, tingkat kriminalitas di Marrakech sangat rendah, tetap lebih baik untuk menjaga kemungkinan terburuk dan hindari hal-hal yang bisa mengundang bahaya.
      Day 10 - Marrakech - Ouarzazate (Rabu, 13 Mei 2015)
      Pagi itu sekitar jam 07.00 kita sudah siap untuk berangkat karena perjalanan menuju Ouarzazate cukup jauh, sekitar 4 jam dari Marakkesh. Kita sudah booking daytrip service ke Ait-Ben-Haddou dari Indonesia melalui Youssef juga dan memang landmark tersebut merupakan salah satu highlight Maroko, selain sand dunes yang tersohor itu di dekat Merzouga. Supir-nya yang bernama Ali sudah tiba di riad dan satu hal yang mengecewakan yaitu Ali tidak bisa berbahasa Inggris dan hanya fasih bahasa Perancis dan Arab saja.
      Jadwal memang sudah ada di tangan dia tapi sayangnya kita tidak bisa ngobrol banyak untuk tanya hal-hal menarik yang kita lihat sepanjang perjalanan, namun karena tidak ada opsi lain, ya sudah kita tetap nekad saja jalan. Ali sendiri orangnya ramah dan terlihat friendly, terbukti dari antusiasme-nya untuk terus mengajak ngobrol dengan bahasa Perancis di selingi dengan 1-2 kata Inggris, namun apa daya, kita cuma bisa ketawa karena ngga ngerti.
      Jalanan menuju luar kota relatif sepi, mungkin karena hari kerja, dan di kiri kanan terlihat agak lengang dengan beberapa rumah ber-cat merah khas bangunan Marrakesh. Dua jam pertama, kita berhenti di salah satu spot dengan view landscape padang rumput berlatar belakang gunung yang bagus. Setelah itu, ada satu spot dengan pemandangan deretan rumah tradisional suku Berber yang di bangun di area perbukitan. Tidak lama kemudian, kita sudah memasuki 'Tizi Tichka Pass' - salah satu jalanan berkelok yang di anggap berbahaya karena tidak ada pembatas jalan dan biasanya di sarankan hanya untuk driver yang sangat berpengalaman.
       
      Separuh jalan, kita berhenti di salah satu puncak bukit untuk menikmati view yang spektakuler. Memang tidak salah apa yang di katakan Patrick, pemilik Riad yang kita tempatin, bahwa landscape menuju Ait Ben Haddou memang salah satu yang terbaik di Maroko dan jangan sampai di lewatkan apabila berkunjung ke Marrakesh. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan hampir 4 jam, kita tiba di kota Ouarzazate. Ada dua lokasi menarik di kota ini, yang pertama yaitu Atlas Film Studio - lokasi syuting yang sering dipakai sutradara Hollywood untuk film-film seperti Kingdom of Heaven, Alexander The Great, Lawrence of Arabia, dan sebagainya.
       
      Yang kedua adalah Taourirt Kasbah, semacam istana tua dengan arsitektur klasik suku Berber. Di tempat ini, sering sekali Anda ditawari jasa guide oleh orang lokal, yang mengesalkan kadang mereka sangat persisten walaupun sudah ditolak, namun apabila kita ingin tahu detail mengenai apa yang terjadi di setiap sudut ruangan ini, guide tersebut sangat membantu. Selain interior yang bagus, view ke luar yang bisa terlihat dari jendela-jendela kecil juga menawan.
       
      Selesai makan siang di restoran yang ada di dekat kasbah, kita pun lanjut menuju Ait Ben Haddou. Landmark ini pun sering di jadikan lokasi syuting film karena bentuk-nya seperti benteng kuno dengan exterior unik dan juga termasuk dalam daftar UNESCO World Heritage Site. Untuk menuju ke situs ini, dari parkiran yang berada di atas bukit, kita harus turun menuju ke bawah melalui anak tangga dan menyeberang sungai dangkal untuk sampai di kasbah. Karena suasana yang sangat terik dan juga kita sudah melihat bagian dalam kasbah Taourirt, kita memutuskan untuk tidak mengeksplorasi Ait Ben Haddou namun hanya berfoto dan menghabiskan waktu di sekitar lokasi saja.
       
      Setelah puas berfoto, kita pun kembali ke parkiran untuk pulang ke Marrakesh. Biasanya, untuk yang punya waktu 2-3 hari ekstra, dari sini bisa lanjut menuju Merzouga dengan waktu tempuh sekitar 5-6 jam dan menginap di sana untuk menikmati pemandangan sand dunes, namun karena kita harus berangkat menuju Sevilla besok hari, maka kita harus melewatkan kesempatan ini. Perjalanan pulang melewati 'Tizi Tichka Pass' menyuguhkan kita pemandangan bagus dari sisi yang berbeda dan pastikan jangan terlelap karena banyak spot menarik untuk diabadikan dengan kamera.
       
      Kita tiba di Marrakesh sekitar jam 8 malam, walaupun langit masih terang namun kita terlalu lelah untuk berkeliling Medina lagi jadi kita putuskan untuk istirahat di riad saja sambil packing santai agar besok pagi masih sempat jalan sebentar sebelum ke airport.
      Day 11 - Marrakech / Sevilla (Kamis, 14 Mei 2015)
      Setelah istirahat cukup, pagi hari sekitar pukul 8 kita sarapan dan kemudian menyempatkan diri untuk berkeliling sebentar di Medina karena masih ada waktu sekitar 3 jam sebelum kita ke airport. Saking ngebet dan 'nafsu' terhadap turis, terkadang untuk sebagian orang, Marrakesh menjadi berasa 'tidak aman' karena di sepanjang jalan, para pedagang maupun yang menawarkan jasa sering kali sangat agresif. Kita sempat ditawarin oleh salah satu pemandu wisata untuk mengantarkan kita ke tannery (atau tempat pengolahan kulit binatang untuk menjadi kulit yang bisa digunakan untuk industri) yang memang menjadi salah satu spot turis namun karena orang lokal tersebut terlihat sangat antusias untuk mengantarkan kita, kita malah memutuskan untuk batal karena selain kita khawatir di bawa ke tempat yang terlalu asing sehingga kita sulit untuk balik ke riad, kita juga khawatir kalau nanti dikerubutin oleh mereka dan dimintain uang (atau lebih apes lagi, dirampok). Di forum Tripadvisor, banyak yang ternyata mengeluh karena jadi korban 'tannery scam', jadi usahakan selalu waspada dan jangan lengah.
      Setelah membeli beberapa souvenir, kita mampir ke restoran Fatima Berbere yang direkomendasi Patrick untuk makan siang. Ternyata restoran ini juga mendapatkan rating yang cukup tinggi di Tripadvisor. Soal rasa, termasuk enak apabila dibandingkan dengan beberapa restoran yang pernah kita coba di Marrakesh, namun tentunya kalah dengan makanan Indonesia. Yang jadi masalah, owner-nya kesulitan berbahasa Inggris jadi kita tidak bisa bertanya banyak ke dia soal makanan dan lainnya. Setelah makan dan balik ke riad, kita pamit ke Patrick yang sudah menjadi friendly host dan segera ke airport untuk terbang menuju Sevilla.
       
      Perjalanan menuju Sevilla hanya memakan waktu sekitar 1.5 jam saja dan kita tiba di ibukota area Andalusia tersebut sekitar pukul 2 siang. Taxi mengantarkan kita ke hotel Monte Carmelo dan setelah check-in dan istirahat sebentar, kita bersiap untuk jalan santai menuju tujuan pertama, Plaza de Espana. Lokasi hotel ini tergolong strategis karena cukup dekat dengan subway dan berada tidak jauh dari sungai Guadalquivir sehingga hanya butuh sekitar 15-20 menit untuk berjalan menuju Plaza Espana.
      Cuaca di pertengahan Mei sudah bisa dibilang panas jadi kalau Anda berjalan kaki sekitar pukul 4 sore, suhu bisa mencapai 30-32 derajat dan walaupun udara kering, sinar matahari yang terik bisa cepat menguras tenaga. Lokasi Plaza Espana ini bersebelahan dengan taman Maria Luisa sehingga cocok banget untuk berjalan santai maupun jogging ringan. Banyak spot foto yang bagus di Plaza Espana dan menurut kita, termasuk salah satu plaza yang sangat bagus dengan berbagai ukiran indah.
       
       
      Sore itu kita menghabiskan waktu di sekitar plaza dan taman dan kemudian berjalan santai balik menuju hotel menyusuri jalan di pinggir sungai. View menjelang sunset di sekitar jembatan sangat indah dan di sepanjang jalan kita ketemu banyak orang yang sekedar olahraga sore maupun menikmati pemandangan sambil mengobrol, street artist yang nongkrong sambil melukis foto wajah, maupun keluarga yang lagi asik menikmati coffee break di kafe.
      Kota Sevilla ini memang sangat friendly untuk pejalan kaki dan dengan tata kota yang rapi dan tergolong bersih, kota ini wajib dikunjungi kalau Anda mempunyai kesempatan untuk berwisata ke Spanyol selatan.
      Day 12 - Sevilla (Jumat, 15 Mei 2015)
      Kita mengawali hari kedua di Sevilla dengan mengunjungi salah satu landmark terbaik kota ini yaitu Royal Alcazar of Seville. Konon banyak yang mengakui bahwa istana ini adalah salah satu yang terbaik di Spanyol dan juga masuk ke dalam daftar UNESCO World Heritage Site. Awalnya dibangun oleh raja Moor (dari Maroko) ketika mereka melakukan invasi ke Spanyol dan berhasil, dan kemudian dipugar oleh bangsa Spanyol ketika mereka berhasil mengusir bangsa Moor. Istana ini sangat bernuansa Arabic namun juga kental dengan influence Eropa sehingga menjadikan Alcazar sebagai satu kompleks bangunan yang unik. Selain film 'Kingdom of Heaven' yang mengambil salah satu pelataran sebagai lokasi syuting, beberapa episode 'Game of Thrones' juga pernah menjadikan Alcazar sebagai setting film tersebut.
       
      Dari Alcazar, kita berjalan sekitar 15 menit menuju lokasi berikutnya yaitu Catedral de Sevilla (Sevilla Cathedral) yang juga merupakan landmark UNESCO. Bangunan gereja di Eropa termasuk bagus dan layak untuk didatangi karena eksterior maupun interior-nya sangat mengagumkan. Detail pengerjaannya patut diacungi jempol dan umumnya kita bisa naik ke salah satu menara untuk menikmati pemandangan kota dari ketinggian.
       
      Setelah puas memotret kota Sevilla dari puncak menara Giralda, kita turun dan mampir ke salah satu restoran di sekitar Barrio Santa Cruz untuk makan siang dan kemudian melanjutkan eksplorasi area kota tua Sevilla. Ada satu landmark unik yaitu Metropol Parasol yang juga dikenal dengan nama Las Setas de la Encarnacion. Bangunan ini berbentuk seperti jamur dan Anda bisa naik ke atas untuk menikmati pemandangan kota Sevilla.
       
       
      Di sekitar lokasi ini juga ada satu jalan panjang yang dipenuhi dengan kafe, restoran, maupun toko, jadi buat yang seneng nongkrong ataupun shopping, cocok juga untuk melepas penat dengan bersantai di sini, sekedar ngopi, ngebir, ataupun menikmati nyanyian artis jalanan. Setiap sudut lorong di sekitar area ini sangat menarik untuk dijelajahi karena banyak toko kecil yang menawarkan souvenir unik, makanan ringan yang membuat kita penasaran untuk mencoba, maupun bangunan-bangunan kuno khas Eropa yang bagus untuk dijadikan latar belakang foto.

      Karena waktu masih menunjukkan pukul 6 sore, kita memutuskan untuk berjalan santai sekitar 30 menit menuju hotel sambil mampir di salah satu restoran fast food untuk makan malam. Di peta terlihat tidak jauh, namun karena kita sudah kehabisan tenaga dari pagi hari, perjalanan balik terasa sangat melelahkan. Setelah tiba di hotel dan selesai mandi, tidak lama pun kita langsung terlelap.
      Day 13 - Jerez de la Frontera (Sabtu, 16 Mei 2015)
      Awalnya pada waktu kita menyusun itinerary di Spanyol, kita tidak tahu mengenai adanya 'Horse Fair' yang setiap tahun diadakan di kota Jerez sampai saya membaca di forum Tripadvisor kalau ada traveller yang setiap tahun pasti menyempatkan waktu untuk menghadiri acara ini. Kebetulan tanggal-nya cocok jadi kita memutuskan untuk tidak melewatkan acara ini dan sekalian penasaran juga ingin melihat seberapa meriah sampai ada yang setiap tahun selalu balik.
         
      Festival ini dikenal juga dengan nama 'Feria de Caballo' dan ternyata menjadi satu festival penting untuk rakyat Spanyol dan biasanya diadakan setiap pertengahan bulan Mei dan berpusat di kota Jerez yang terletak sekitar 90km dari Sevilla. Selama seminggu penuh, rakyat akan berpesta di festival ini dan umumnya hampir seluruh pusat perbelanjaan dan kantor akan tutup, kecuali untuk beberapa minimarket yang biasanya masih buka di siang hari. Umumnya, pengunjung lokal akan mengenakan pakaian tradisional Spanyol dan yang paling terkenal adalah pakaian wanita yang disebut Flamenco dress. Banyak kereta kuda yang dihias dan mereka akan berkeliling mengitari area festival. Nuansa-nya terasa seperti berada di awal abad ke-19 dan di setiap restoran yang juga penuh dengan dekorasi, masyarakat lokal akan bernyanyi dan menari sambil menenggak berbagai macam cocktail.
       
      Sangat mudah apabila Anda ingin mengunjungi Jerez, cukup membeli tiket kereta secara online (sangat disarankan untuk mencegah kehabisan tiket) dan datang saja ke stasiun terdekat di Sevilla sesuai dengan yang tertera di tiket dan perjalanan hanya memakan waktu sekitar 1 jam. Dari stasiun Jerez, Anda bisa berjalan santai menuju lokasi festival sekitar 20-30 menit, namun jangan heran kalau suasana jalan sangat lengang dan banyak toko tutup karena biasanya warga sudah memadati festival dari pagi, bahkan ada yang tidak pulang dari malamnya.
      Bagi yang membawa anak kecil, di seberang lokasi ada theme park dadakan buat anak-anak. Cocok apabila anak-anak sudah bosan dengan parade kuda dan kostum dan ada juga beberapa kafe untuk melepas penat dengan beristirahat dan menghilangkan rasa haus dengan minuman dingin dan segar. Kota Jerez sendiri relatif kecil dan mungkin dalam 1 hari sudah cukup untuk dijelajahi namun buat yang penasaran ingin melihat bagaimana 'Feria de Caballo' di malam hari yang rasanya akan lebih meriah dengan variasi lampu yang berwarna-warni, boleh dipertimbangkan untuk menginap satu malam di sini.
      Kita sendiri merasa sudah puas menghabiskan waktu sekitar 4 jam di sana dan sore hari kita balik lagi ke Sevilla dengan menggunakan kereta terakhir. Apabila Anda kebetulan datang ke Sevilla pada waktu tidak ada festival ini, akan lebih baik tidak ke Jerez namun memilih tujuan daytrip lain seperti Cordoba, Malaga, ataupun Granada karena tidak ada yang menarik dari kota Jerez sehingga magnet utama-nya memang 'Horse Fair' saja.
      Day 14 - Sevilla (Minggu, 17 Mei 2015)
      Jadwal kita di hari terakhir di Sevilla sebetulnya agak longgar makanya kemarin sempat terpikir untuk mengambil satu daytrip dadakan tapi kita khawatir kecapean jadi kita putuskan untuk melihat beberapa tempat yang belum sempat didatangi, terutama di bagian utara kota. Tujuan pertama kita menuju ke kawasan Triana. Lokasi ini tidak begitu jauh dari Alcazar dan merupakan tempat kelahiran tarian Flamenco khas Spanyol. Tadinya kita berpikir mau mencari satu kafe kecil untuk sekedar lunch sambil menonton Flamenco tapi ternyata hari Minggu adalah hari istirahat untuk Spanyol (dan juga Portugal) jadi banyak kafe yang meniadakan pertunjukan.
       
      Sayang juga tapi memang nonton Flamenco bukan prioritas kita, jadi kita cukup mengeksplorasi area sekitar sana dan mampir ke salah satu pasar bersih untuk sekedar melihat kegiatan orang lokal di hari Minggu. Pasar saja termasuk sepi dan ada beberapa restoran kecil yang masih buka namun lebih banyak counter yang tutup. Di dekat pasar tersebut, ada satu toko unik yang menjual pernak pernik dan souvenir berbau Flamenco. Harga cukup tinggi namun kualitas produk memang terlihat sangat bagus.
      Menjelang makan siang, kita memutuskan untuk menuju ke Nervion Plaza. Alasannya karena kita pikir karena mall, pasti banyak toko dan restoran yang buka, di samping itu, lokasinya juga persis di depan Ramon Sanchez-Pizjuan Stadium, kandang klub sepakbola kebanggan kota Sevilla. Tiba disana, kita cukup kaget, ternyata mall saja toko semuanya pada tutup dan restoran pun hanya sebagian yang buka. Jadi memang berbekal pengalaman ini, ada baiknya jadwal hari Minggu diatur untuk daytrip ke luar kota atau nonton bola.
      Setelah makan siang, kita pun bengong karena kebingungan mau kemana lagi soalnya landmark kota banyak yang sudah didatangi. Setelah mengecek tripadvisor dan Google, akhirnya pilihan jatuh ke Basilica de la Macarena. Ini adalah salah satu gereja kecil yang juga cukup tersohor di sana, dan kita juga penasaran untuk melihat area neighbourhood sekitar Macarena ini. Tiba di sana, ternyata gereja baru akan dibuka untuk umum pada pukul 5 sore, jadi kita nongkrong dulu di salah satu kafe kecil untuk menikmati teh dan dessert.

      Interior dari Basilica ini memang termasuk cantik namun area sekeliling gereja ini termasuk 'gersang' jadi kalau waktu Anda terbatas di Sevilla, ada baiknya fokus di Cathedral saja. Sekitar pukul 7 malam, kita kembali ke hotel dan makan di salah satu restoran sekitar situ.
      Day 15 - Madrid (Senin, 18 Mei 2015)
      Berbekal tiket PP Jakarta - Madrid, kita pun harus kembali ke Madrid karena besok di pagi hari, kita sudah harus berangkat ke airport. Kita naik kereta cepat menuju stasiun Madrid dan perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam dengan tiket yang sudah kita pesan dari Jakarta. Pemandangan selama perjalanan tidak begitu bagus karena banyak area yang gersang jadi untuk yang tertarik mengambil opsi lebih murah, boleh dipikirkan kereta malam dengan waktu tempuh sekitar 6-8 jam.
      Tiba di Madrid, kita pun kembali ke hotel Ibis yang merupakan hotel yang kita tempati di 3 hari pertama. Setelah check in, kita menuju ke area Salamanca. Ini adalah kawasan perbelanjaan elite di Madrid. Bertebaran banyak branded stores dan bisa dibilang merupakan surga yang hobi shopping. Selain brand-brand terkenal, di area ini juga banyak toko-toko lokal yang cukup menarik untuk di-browse. Area Salamanca ini berdampingan dengan Retiro Park dan di dekat sini juga ada Plaza de Colon, satu square yang cukup luas dengan fountain yang dibangun sebagai monumen penghormatan kepada Christopher Columbus.
      Menjelang sore, kita memutuskan untuk mengunjungi Principe Pio, salah satu pusat perbelanjaan di Madrid untuk sekedar menghabiskan waktu dan mencari souvenir. Tidak banyak barang unik yang bisa Anda temukan disini namun dengan lokasinya yang tidak jauh dari Palacio Real de Madrid dan Anda bisa menemukan banyak restoran disini, mall kecil ini bisa menjadi alternatif untuk melepas lelah dan menikmati dinner.
      Day 16 - Madrid / Jakarta (Selasa, 19 Mei 2015)
      Setelah check out dari hotel, kita pun menuju ke airport untuk kembali ke Jakarta. Perjalanan 2 minggu ini buat kita sangat berkesan namun kita merasa akan lebih optimal lagi kalau kita bisa menghabiskan 2 hari terakhir di Lisbon, Portugal karena lokasi kota tersebut sebetulnya tidak terlalu jauh dari Sevilla namun sayang tiket yang kita beli adalah PP sehingga kita harus kembali ke Madrid. Selain itu, kita memang kesulitan untuk mengatur jadwal ke Portugal karena penerbangan dari Marrakesh ke Sevilla tidak setiap hari ada.
      Di antara ketiga kota di Spanyol yang kita datangi, Barcelona adalah kota yang terbaik dengan pilihan daytrip yang menarik, juga memungkinkan untuk menjadi lokasi awal Cruise Tour. Sevilla juga wajib dikunjungi walaupun sebetulnya cukup 2 hari saja untuk menikmati kota tersebut dan selebihnya untuk daytrip. Madrid adalah kota bisnis jadi sangat cocok untuk yang doyan shopping, clubbing, nongkrong, layaknya Anda menikmati Jakarta, Hongkong, ataupun Sydney.
      Dari Barcelona, usahakan mampir ke Andorra, karena selain menambah satu negara yang dikunjungi, tempat ini tidak jauh dari Barcelona dan banyak pemandangan yang indah selama perjalanan kesana. Akan lebih baik juga kalau bisa nginap satu malam dan hiking di pagi hari karena salah satu highlight utama Andorra adalah gunung.
      Maroko relatif kuno dan terkesan agak kumuh terutama di kawasan Old City namun tentu menyimpan banyak cerita sejarah, budaya, dan lokasi yang cantik, terutama Sahara desert. Untuk pemegang paspor Indonesia bebas masuk tanpa visa. Jangan dilewatkan kalau Anda punya waktu 3-4 hari karena tidak jauh dari Spanyol dan biaya hidup serta penginapan di sana pun tidak mahal. Selain Marrakesh, Anda juga bisa mengunjungi Casablanca, Fes, Essaouira, dan tentunya Merzouga untuk mencoba pengalaman nginap di padang pasir.
      * * *