• 0
Sign in to follow this  
anggabros

Fascination The Become Komodo Flores

Question

Indonesia with no small number of islands have a wealth of many things. For example, travel to the island of Komodo, Flores did not stop gripped the world. Komodo animal habitat make this area was never empty of tourists from foreign countries. Not only got super beautiful scenery, but also can indirectly acquainted with these animals. Already the last few years the government continues to raise one travel Indonesia Komodo Island travel. This makes many travel agencies offer a variety of deals to enjoy the area. Komodo Island is included in the National Park belongs to Indonesia that continue to be preserved. There are many rules that apply to the tourists to keep protecting these areas.

You who wish to visit or plan to visit this island do not forget to follow the regulations. As never far away from a companion or tour guide on the island of Komodo. To see the Komodo directly when Flores will be offered several options of trekking paths or walking paths. The difference there is in the distance and of course the views presented. A guide will accompany and explain some of the points of Komodo. Well, keep in mind, though guided, you shall have to remain cautious. Never approach or touch the animals under any circumstances.
Like when dragons were sleeping or anything. Komodo reptile is aggressive and toxic saliva. There is much better to visit in the time-komodo dragons have been fed so as not to be too aggressive. Keep a safe distance when they want to see and take pictures. Besides being able to visit or trip to Komodo Island, around the island is also a beach called Pink Beach is also a mainstay destination Flores and becomes a recommendation. Yes, the beach is located not far from the Park. Given the name of Pink Beach because the sand at the beach, has two colors: white and pink gradation. Actually, the color pink in sand arises not because the sand pink.

But because the chunks of shells made pasirterlihat pink when exposed to seawater. The beach is very beautiful and will spoil your eyes. What else because not too many who visit, the beach is classified into white sandy beaches are still clean. Seawater is crystal clear with shades of green and blue. After acquainted with dragons, playing water on the beach is an agenda that fits. Indonesia has always been rich in natural tourist destinations are mostly not much untouched by tourists. As Flores is rich in natural attractions. Love the country itself begins to enter the domestic tourist destinations into holiday list.

Komodo Island Park.PNG

Share this post


Link to post
Share on other sites

2 answers to this question

  • 0
1 hour ago, anggabros said:

Given the name of Pink Beach because the sand at the beach, has two colors: white and pink gradation. Actually, the color pink in sand arises not because the sand pink.

From my friend report, nowadays the Pink's Beach is not Pinkish anymore

but they found a new beach that the pink color still bright

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By Andri Wicaksono
       Hay teman. Saya mau share pengalaman liburan di labuan Bajo. Kalau ke Labuan Bajo pasti yang ada di benak kita adalah KOMODO. Dan benar sekali pas ke Pulau komodo kami bertemu dgn KOmODO Raksasa. Kata ranger nya rombongan kami beruntung karena bertemu dgn 5 komodo sekaligus. Bahkan ada 1 yang besar sekali. Oh iya Labuan Bajo tidak hanya Komodo aja tapi ada spot spot eksotis lainnya. Seperti Pulau Padar, Bukit Cinta, Gua Cermin dll. Cerita selengkapnya bisa di lihat di link di bawah ini : 
       
    • By Debi anwa
      Saya lagi nyari temen sebanyak-banyaknya untuk sharecost biaya sewa kapal untuk sailing komodo.
      Jadwalnya akhir agustus 2017, bisa kita sesuaikan dengan keputusan bersama.
      Line: debianwar
      Ig : khubiel
    • By Debi anwa
      Mau tanya dong, cara paling murah untuk sailing komodo gimana yah? Kalo bisa budget dibawah 1juta. Mungkin member disini pernah dapet sewa kapal yang murah atau punya cara sendiri.
       
    • By eka wibisono
      Setiap liat paket open trip ke Pulau Komodo, paket yg dijual selalu harus live on board alias nginep di kapal beberapa hari dgn pilihan start dari Labuan Bajo/Lombok dan finish di Lombok/Labuan Bajo.  Belum mulai aja, dah  bikin stress aja krn udah ngebayangin mesti tidur ky ikan pindang di ruangan kapal yg sempit, mabok laut,  urusan air yg terbates buat mandi dll hehehe.
      Waktu @Maya Sartika dan Ifan Padja ngumpulin massa buat open trip explore Pulau Komodo tgl. 5-7 Mei 2016,  aku liat itinnya eh ternyata itinnya beda lho, asiik… tidurnya gak di kapal tp di homestay  Kampung Komodo.  Ya udh deh cepet2 aku & the gengs langsung daftar & setor DP ke mereka. Peserta trip kali ini sebagian besar warga KJJI lho, ada yg dr Surabaya (alumni gatnas KJJI Malang), Riau @Afdhal A Syamsoe , Lombok @Dimaz. Rame deh pokoke.   Akhirnya dari 45 org yg daftar, menciut deh cuma  34 orang peserta yg confirm berangkat. Untuk open trip ini, rombongan kami menggunakan jasa TO “Indahnesia” (contact person :Rubi (HP 83820117990) dengan meeting point di Labuan Bajo tgl. 5 Mei pagi dan biaya yg harus dibayar adalah Rp. 700 rb/org.
      Untuk menuju Labuan Bajo, saya, @luxia, @dewi fu dan beberapa teman mengambil penerbangan malam hari dgn pesawat Garuda jam 10 malam, menuju Bali utk transit, dan esok hari jam 7.20 pagi terbang kembali dgn pesawat Garuda bermesin turboprop alias “baling2 bambu” menuju Labuan Bajo (jadi ngerasain deh tuh tidur ngemper di bandara Ngurah Rai hehehe) dan untuk rute pulang saya ambil penerbangan pagi jam. 8.40 dgn Wings Air bermesin baling2 jg (tumben gak ngaret lho) ke Bali & lanjut ke Jkt dng Sriwijaya jam 16.20. Untuk info teman-teman, semua penerbangan ke Labuan Bajo harus transit di Bali dulu, jadi jgn  resiko ya ambil penerbangan lanjutan yg terlalu mepet jamnya, jaga-jaga aja sih kalo pesawat delay (seperti yg kami alami waktu berangkat), bisa kacau schedule kita. Oh iya dr Bali ke Labuan Bajo ternyata udah ada  pesawat Kalstar atau NAM yg bermesin jet. Jd teman2 yg takut naik pesawat baling-baling bisa pilih ke 2 pesawat ini. Cuma jam penerbangannya kayanya lbh dikit dibanding Garuda atau Wings. Ini dia tampilan pesawatnya
       

      Akhirnya tgl. 5 Mei pagi, kami semua berkumpul di Labuan Bajo utk siap-siap berlayar mengexplore pulau Komodo dan sekitarnya. Berhubung kami berjumlah 34 orang terpaksa deh dibagi 2 kapal (maklum kapal yg dipake kapal kecil sih).
      Ayo kita mulai perjalanannya:
       


      Hari  Pertama :
      1.    Pulau Kanawa
      Setelah berlayar sekitar +/- 1 jam lebih dari Pelabuhan Labuan Bajo, sampe deh kita di tujuan pertama yaitu Pulau Kanawa (beda ya dgn Pulau Kenawa di NTB). Utk explore Pulau Kanawa ini ternyata kita harus membayar Rp. 70rb/org (diluar paket tour) krn yang mengelola pulau ini adalah pihak swasta (kata orang setempat, pemiliknya  orang Eropa). Setelah tawar menawar dgn penjaga pintu masuk, akhirnya harga tiket masuk Rp. 65 rb/org dan ada larangan bawa makanan & minuman dari luar (tapi kenyataannya sih boleh kok bw aqua sendiri asal gak mencolok)
      Acara di Pulau Kanawa : trekking ke bukit atau snorkling. Lautnya bersih bgt dan keliatan tuh ikan2nya. Rombongan kita sih pilih utk trekking aja krn kata pemandu kami, viewnya bagus dr puncak bukit. Jadi lah di tengah hari bolong ,kami berpanas2 ria mendaki hehehe… yg gak kuat silahkan deh menunggu di punggung bukit atau nunggu di bawah.  Ini viewnya dr puncak bukit, bagus kan.
       


      Setelah puas foto-foto siap2 deh lanjut berlayar lagi menuju Manta Point (salah satu spot snorkling atau diving yg terkenal di Taman Nasional Komodo ini)
      2.Pulau Sembilan
      Dlm perjalanan ke Manta Point, kami diajak singgah di Pulau Sembilan. Kenapa disebut Pulau Sembilan? Krn kalo dari jauh bentuknya mirip dgn angka 9. Pulau ini kecil bgt, gersang dan terdiri dari tumpukan karang kecil2. Jd jgn coba2 telanjang kaki ya, bisa abis deh kaki kita kegores2 karang.  Nah ada yg istimewa lho di Pulau 9 ini, di tengah2 pulau ada kolam yg berisi ubur2 yg unik banget, rumbai2nya berwarna ungu gt, gemes liatnya, tapi sebaiknya jgn pegang pake tangan deh kalo gak mau resiko disetrum ama ubur2 hehehe... ky di film spongebob itu lho. Tp ada jg sih peserta yg  nekad cobain nyemplung ke kolam itu, untungnya gak kenapa2.
       

      3.Manta Point
      Dari Pulau Sembilan, lsng lanjut berlayar menuju Manta Point. Kenapa disebut Manta Point? Oh ternyata di sini lah tempat ikan pari manta berkumpul. For info, ikan pari manta ini jenis ikan pari yg gede bgt. Harusnya disini kita bisa snorkeling utk liat ikan pari itu, tp ya ampun arus bawahnya deres bgt krn berbatasan langsung sama laut lepas sih. Waduh nyali lsng ciut deh. Dr kapal kami jd  cuma 3 org yg bernyali cobain snorkling di situ dan harus didampingi sama local guide dan kapten kapal kita. Bener aja, baru sebentar mereka nyemplung, udah nyerah krn gak kuat nahan arus bawahnya.  Kita sih cuma nontonin ikan parinya aja deh dr atas kapal, tp yg keliatan  bayangan ikan parinya doang (lihat tanda panah merah). Agak kecewa jg krn gak bisa liat langsung, tp dr pada nyawa jd taruhan. Gak lama-lama disini, kapal kami langsung lanjut ke Gili Lawa utk mengejar sunset
       

       
      4.Gili Lawa/Gili Laba
      Dari Manta Point, setelah berlayar +/-1 jam lagi, sampe deh kita di Gili Lawa. Pas  kita sampe, pas bgt lho krn sunsetnya dah mo mulai. Dr jauh aja dah keliatan tuh byk org pemburu sunset yg daki ke puncak bukit. Bikin penasaran bgt apa sih istimewanya sunset di tempat ini. Yook kita buktiin. Utk liat sunset, mau gak mau harus trekking lg naik ke bukit sekitar 20-30 menit ke puncak bukit. Yaah, baru daki setengah bukit, eh mataharinya dah mulai meluncur turun. Ya sudah lah kita foto2 aja deh di punggung bukit. Eh ternyata bagus kok view sunsetnya.
       

      Setelah menunggu teman2 turun dr atas bukit, hari udh lumayan malam juga dan kami harus lanjut berlayar sekitar 2 jam ke Kampung Komodo yg terletak di Pulau Komodo untuk bermalam. Lumayan capee...
      Hari Kedua:
      Berhubung acara hari ini lumayan padat jg, makanya dari Kampung Komodo, kami start jam 8 pagi spy dapet semua obyek wisata hari ini. Untung lah acara trekking hari ini di Pulau Padar aja.
      1.Pulau Padar
      Ini dia salah satu “bintang” dari  objek di Taman Nasional Komodo yg harus kita kunjungi. Hampir 2 jam berlayar, baru deh kita sampe di Pulau Padar. Dr pantai, kita harus trekking sekitar 45 menit (kalo jalan terus ya) untuk menuju atas bukit tempat kita bisa liat view yg spektakuler itu. Lumayan jg trekkingnya nih, mendaki dgn jalan yg berbatu-batu kerikil (harus berhati-hati waktu jalan turun, bisa kepeleset), hawanya yg mantap panasnya dan bonus debu di muka dan badan kita hehehe.  Tp rasa cape kita, sebanding deh dgn pemandangan alam yg  diliat dr atas bukit. Woow bgt.
       

      2.Pink Beach
      Pink Beach ini terkenal sama pasir pantainya yg berwarna merah muda. Sayang banget, kami gak bs snorkling sepuasnya krn lagi2 arus bawah lautnya kencang bgt. Yg jago berenang aja kewalahan tuh ngelawan arus pas berenang dari kapal menuju area pantai. Kita2 yg gak jago berenang penasaran jg lah kalo belum nginjek Pink Beach yg terkenal dng pasir pantai berwarna pink, untung ada kapal nelayan yg mau anter kami ke pantai dgn membayar Rp. 20 rb/orang pulang pergi. Kesampean jg deh nginjek tu pantai...tapiii...ternyata warna pasirnya sdh gak terlalu pink lg. Kata kapten kapal kami pasirnya sudah keinjek2 byk orang  jd terganggu deh proses alaminya  .... sayang bgt ya. Seperti info yg didapet, yg bikin warna pasir berwarna pink adalah pecahan koral  warna merah  yg tersapu ke pantai.

      Tp kapten kapal kami menghibur rasa kecewa kami dng ksh info kalo di pantai yg akan kami datangi berikutnya, pantainya lbh berwarna merah muda krn blum byk org yg pergi sana. Yuuk kita buktiin.
       
       3. Pantai Namo
      Nah ini dia Pantai Namo yg suka disebut Hidden Beach krn belum byk orang yg tau tentang pantai ini. Ternyata betul, pasirnya keliatan banget LEBIH berwarna merah muda dan suasananya gak seramai Pink Beach tp utk menuju pantainya kita tetep hrs berenang, dan lumayan jg kaki kita kebaret2 kena karang yg banyak  di pinggir pantai. Gak papa deh sakit..sakit dikit yg penting puas dah liat pasir pantai warna merah muda..hehehe..
       

       
      4.Pulau Kalong
      Dalam perjalanan pulang ke homestay, kapal kami melewati jg Pulau Kalong. Kenapa disebut Pulau Kalong? Krn di pulau ini memang tempat habitat kalong tinggal. Waktu matahari  mulai tenggelam, banyak kalong yg terbang keluar dari pulau tsb. Sayang waktu kami lewat tidak byk kalong yg terbang keluar, dan dgn cahaya yg sudah minim, dapet jg sih foto  moment yg kita semua liat.
       

       
      Hari Ketiga :
      Sampe jg deh di hari terakhir trip ini. Hari ini tujuan utamanya adalah
      -Melihat komodo di Loh Liang di Pulau Komodo dan Loh Buaya di Pulau Rinca (jika waktu mencukupi)
      -Pulau Kelor
      Oh iya, mo sedikit cerita dulu ya ttg Kampung Komodo yg kami inapi selama 2 malam. Kampung ini memang terletak di Pulau Komodo. Luasnya tidak begitu besar dan agak gersang krn gak ada pohon rimbun di jalanan kampung. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, penduduk harus mendatangkan dari kota Labuan Bajo dng menggunakan kapal selama 4 jam.  Jd gak heran deh, menu makan kami cuma 2 x disediain menu sayur sekedarnya.  Penduduk kalau mau berobat atau melanjutkan sekolah di SMA ya terpaksa harus ke Labuan Bajo, kota terdekat dr kampung ini. Jumlah penduduk yg mendiami kampung ini lumayan banyak jg sih mungkin +/- 200 KK. Pekerjaan utama warga kampung ini selain nelayan, ada  yg bikin souvenir patung komodo, ada  yg menjual suvenir khas komodo spt kaos dan patung komodo. Banyak jg penduduk yg menyewakan kamar di rumah mrk ke wisatawan dan ada beberapa yg buka toko kelontong. Toko mereka lumayan lengkap lho, ada minuman dingin pula. Untuk air kebutuhan sehari-hari mereka dpat bergiliran dari tempat penampungan air bersama penduduk kampung. Jd  irit2 deh pake air mandi hehehe.Untuk aliran listrik, hanya nyala dari jam 18.00-24.00 dgn menggunakan genset milik Kampung, kecuali penduduk yg agak kaya bisa punya genset pribadi. Kalo urusan signal HP, jgn ngarep bagus deh, kecuali harus ke pinggir dermaga tuh kalo mo dpt signal bagus. Rumah2 di sini berbentuk rumah panggung.Hal ini disebabkan krn dulu byk komodo yg berkeliaran di kampung ini, sekarang sih udh gak ada lg komodo berkeliaran di kampung ini. Rumah2 penduduk disini sederhana sekali, jd siap-siap ya tidur rame2 krn kamar yg disediakan terbatas. Contohnya rombongan kami cuma dikasi 2 homestay utk 34 orang. Padahal kamar yg disediakan cuma 2 kamar di tiap rumah. Jadilah kami gelar kasur di ruang tamu dan tidur rame2 ... hehehe lbh adem jg tidur di ruang tamu. Tempat konservasi komodo yg banyak dikunjungi wisatawan yaitu Loh Liang, terletak di balik bukit  kampung ini.
      Ini beberapa foto ttg suasana kampung Komodo.
       


      Sekarang kita balik bahas lg ya spot yg dikunjungi di hari terakhir.
       
      1.    Loh Liang
      Arti Loh Liang adalah Teluk Sang Komodo. Memang betul letak Loh Liang ini di teluk Pulau Komodo (liat ya peta yg di atas). Jarak dr Kampung Komodo ke Loh Liang ini deket bgt cuma sekitar 15 menit berlayar.

      Wah deg-deg an jg mo ketemu sama si Komodo yg selama ini cm kita baca dari berita2. Setelah berlabuh di dermaga, kita harus lsng lapor ke Kantor Pengelola Loh Liang ini dan kita akan diberi penjelasan ttg tempat ini oleh Pemandu Lokal yg disebut Ranger, mengenai lokasi yg akan dijelajahi, karakter Komodo dan petunjuk jika bertemu dgn Komodo. Menurut Ranger, Komodo di Loh Liang ini tidak seliar di Pulau Rinca. Sedikit cerita ya ttg si Komodo ini. Komodo ini senang ngumpet di semak2 dan ternyata yg berbahaya dari Komodo ini adalah air liurnya yg mengandung bakteri. Jd bakteri ini lah yg membuat korban gigitannya meninggal. Efek dr gigitannya gak lsng saat itu lho, tp beberapa hari kemudian. Di Loh Liang ini, makanan Komodo adalah rusa atau babi hutan yg masih byk ada di pulau ini. Hebatnya umur Komodo bisa mencapai 45-50 tahun. Jika kita lg apes nih sampe dikejar Komodo, inget-inget ya larinya harus zig zag (lari ke kanan kiri) jgn lari lurus krn Komodo lbh cepat mengejar mangsanya yg lari lurus.
       

       
      Ada 4 pilihan pilihin trekking di Loh Liang yaitu:
       -Pendek : 1,5 km, waktu yg diperlukan biasanya 45 mnt – 1 jam
       -Medium : 2,5 km, waktu yg diperlukan biasanya 1,5 jam
       -Panjang : 4 km, waktu yg dipelukan sekitar 2 jam lebih
       -Adventure : mendaki ke Gunung Ara, bisa seharian tuh jalan kakinya, tp wisatawan lokal gak ada sih yg ambil pilihan ini.
      Rombongan kami memilih trekking yg pendek aja deh daripada ntar gak keburu ke Pulau Rinca dan Pulau Kelor. Setelah dibagi menjadi beberapa regu dan didampingi 2 Ranger, mulai deh trekkingnya.

      Jalur yg dilewati adalah tempat Komodo berjemur sampai ke Regata Hill, jalan turun ke Kantor Pengelola lg.  Dari titik awal trekking, kami mulai berjalan kaki melewati hutan bersemak-semak, sambil waspada jg sih. Setelah beberapa menit jalan, sampe lah kami ke tempat teduh yg ada pohon besarnya. Eeh Puji Tuhan, ada tuh 3 Komodo sedang anteng berjemur (menurut Ranger sdng kekenyangan). Ya sudah ini dia saat yg tepat buat foto2.

      Setelah puas berfoto2, kami melanjutkan perjalanan lg. Lah ketemu lg sama si Komodo yg cuek aja jalan melintas di depan rombongan kami. Sempet berasa tegang jg sih tp untung gak napa2. Setelah berjalan sekitar 20 menit, sampe lah kita di Fregata Hill dimana kita akan melihat view dermaga Loh Liang dan sekitarnya.
       

       
       
      Setelah puas foto2, kami langsung jalan turun utk kembali ke kapal krn kami hrs kembali ke Kampung Komodo utk makan siang dan packing barang.
       
       
      Nah ini  beberapa info yg penting selama di Loh Liang:
      -selama ini kita kan selalu dpt info kalo wanita sedang menstruasi tidak boleh ikutan trekking liat Komodo krn Komodo bisa mencium bau darah dr jarak 5 km. Memang betul indra penciuman Komodo sangat tajam, tapi bisa kok kalau wanita yg sedang menstruasi ikutan trekking asal memberitahu Ranger dr awal dan berjalan dekat dgn Ranger utk mencegah hal-hal yg tidak diinginkan.
      -selama trekking jgn berisik ya krn si Komodo nanti berasa terganggu.
      -jgn lupa pakai autan krn nyamuk hutannya lumayan ganas.
       
       
      2.Pulau Kelor
      Setelah selesai packing barang, kami diberi pilihan mau ke Pulau Rinca atau Pulau Kelor dlm perjalanan kembali ke Labuan Bajo. Kami hrs pilih salah satu krn waktunya tidak cukup.Rombongan kami pilih ke Pulau Kelor krn toh sudah puas ketemu dgn Komodo di Loh Liang. Setelah berlayar beberapa jam, menjelang sunset sampai lah kami di Pulau Kelor ini. Pulau Kelor ini salah satu pulau kecil yg cantik dng bukit yg tidak terlalu tinggi tp terjal, utk melihat pemandangan sekitar.
       
       
      Berhubung rombongan kapal kami sdh pd kecapean, jadi cuma 4  orang yg mencoba naik ke bukit itu (termasuk saya krn penasaran pengin liat viewnya). Sayang, saya & 2 teman cm sanggup sampai di tengah bukit.  Untung 1 teman (fb@Victor Ismail) kami berhasil sampai ke puncak jd dpt deh foto pemandangan dr atas. Memang...bagus bgt. Ini fotonya.
       
       

      Setelah puas foto2 dan istirahat, lanjut lagi deh kapal kami berlayar. Setelah berlayar +/- 30 menit akhirnya sampailah kami di pelabuhan Labuan Bajo, dan ini lah akhir perjalanan rombongan kami menjelajahi Pulau Komodo dan sekitarnya. Udah pasti badan berasa cape bgt,tp sebanding lah dengan kepuasan batin yg kami  rasakan selama perjalanan ini. Salam Jalan-Jalan
       
      Catatan:
      Hal-hal penting yg harus diperhatikan selama trip:
      a. bawa kacamata hitam & topi (berguna bgt waktu trekking di siang hari bolong)
      b. jangan malas minum air yg banyak spy badan tdk dehidrasi
      c.tissue basah berbentuk sarung tangan (wash gloves tissue) atau tissue basah (berguna utk lap muka & badan kalo keabisan air mandi)

      d. lauk kering seperti abon, berguna utk teman makan nasi jika lauk yg disajikan tidak sesuai selera. (maklum deh lauknya dimasak ala kadarnya)
      e. lampu senter.
      f. kabel extension dgn beberapa lubang colokan listrik (spy bisa charge HP rame2 selama listrik menyala)
      g. Power Bank. 
      h. Sendal Gunung atau sepatu kets (utk trekking)
      i. Sun block SPF 50 (minimal)
       
       
    • By Agata Pinastika
      Halooo :) Aku Agata, mau cari teman buat open trip/share cost bareng buat bulan Desember 2016 untuk 3 hari 2 malam.
       Tujuannya adalah island hopping di pulau komodo dan sekitarnya. Itinerary udah ada dan bisa menyesuaikan. Yang jelas spot-spot kayak pulau padar-rinca-gili lawa darat-pulau komodo pasti ada :) 
      Meeting pointnya langsung dipelabuhan labuhan bajo :) Untuk tanggal pastinya masih menyesuaikan, yang jelas di bulan desember.
      For info, aku rencana pakai kapal yang ada fasilitas cabinnya + fan dan toilet. Jadi lebih nyaman.
      Untuk harga per orang, estimasi aku 2 juta-2,5 juta udah include semuaaa (makan pagi-siang-malam terjamin) kecuali beberapa hal, misalnya pesawat, alat snorkel, tiket masuk ke taman nasional dan kebutuhan pribadi.
       
      Tertarik? Mau tanya2 soal itinerary? monggo line aja ke agatapinastika. Terimakasih :)
       
       
    • By alsulamn
       
      Halo selamat siang, saya asulamn saya mau cari temen nih buat sharing cost kapal Labuan Bajo - Komodo 
      ---------------------------------------------------------------------------
      1.Tanggal & Waktu Berangkat ?
      Kita berangkat dengan kapal dari Labuan Bajo Rabu, 18 May sekitar siang-sore
       
      2. Sudah berapa orang yang fixed?
      Saya berdua dengan bokab nih, dan sudah beli tiket Jakarta-Bali-Labuan Bajo PP
       
      3. Mengapa mencari temen untuk Sharing Cost kapal?
      Saya nyari temen soalnya sudah nyari & lihat-lihat pilihan open trip dari labuan bajo ke komodo, nggak ada yang pas tanggalnya , terus bokab lebih prefer nginep di pulau ketimbang di kapal, jadi mau nggak mau kita nyewa kapal buat private trip
       
      4. Berapa Sharing Cost kapalnya?
      Dari trip yang kita cari, saya dapet Rp 1,850,000,- (perorang, dengan jumlah penumpang 2 orang), dan saya nyari temen buat sharing biar harga trip nya lebih murah -__- 
       
      5. Itenary ?
      Day 1 :
      Gili Lawa (include D)
      Day 2 :
      Pulau Padar, Pantai Namo, Pink Beach (+ snorkling) , Pulau kalong (include B,L,D)
      Day 3 :
      Pualu Komodo (Loh Liang), Pulau Rinca, Pulau Kelor (include B,L)
       
      6. Biaya segitu Include & Exclude apa aja?
      Include :
      - Kapal Sailing, 1 Cabin, Open Deck + Matras, Toilet
      - Homestay 2 Malam di Desa Komodo 
      - Tiket masuk Taman Nasional Komodo
      - Pelampung
      - Guide Lokal Komodo
      - Makan (Sesuai list itenary diatas)
      - Air Mineral, Kopi/ Teh selama trip
      - Tips tour leader
       
      Exclude :
      - TIket pesawat dari & ke meeting point di labuan bajo
      - Alat Snorkling
      - Transportasi Bandara/Hotel dari & ke meeting point
      - Keperluan pribadi di luar tanggungan trip
       
      7.Contact Person yang bisa dihubungi?
       
      email : ocean.wave@ymail.com
      line : alsulamnx
    • By Alfa Dolfin
      Tidak terbayang sepasang  kasih, John & Imelda, rela menempuh perjalanan ribuan kilometer dari negeranya, Norwegia, menuju ke Pulau Rinca dan Pulau Komodo. Mereka bukan peneliti. Seperti diriku juga, turis yang senang traveling. Rela mengeluarkan kocek tidak sedikit demi melihat langsung seperti apa sich hewan bernama Komodo. Mereka kerap mendengar informasi dari rekan-rekan di negaranya atau melalui media sosial, bahwa nun jauh di negera tropis di Indonesia, terdapat sisa hewan purba yang masih bertahan sampai sekarang. Infonya bisa melihat langsung tanpa di batasi tembok layaknya di kebon binatang. Bahkan dari dekat jika suasananya mirip film populer ‘JURASIC PARK”. Karenanya mereka merencanakan matang, menabung, tuk ke Indonesia. Sebuah perjalanan panjang yang belum pernah ia lakukan apalagi ke Indonesia. Ya, Indonesia identik dengan Bali. Ke Bali pun mereka lakukan tapi tujuan utama adalah ke Pulau Rinca dan Pulau Komodo untuk membuktikan langsung keberadaan komodo dengan mata kapalanya sendiri.
      Ck..ck..ck..mendengar penuturannya aku di buat kagum. Pastinya John n Imelda tidak sendiri. Bukan omong kosong, ternyata banyak turis-turis bule baik dari negaranya maupun negara lain yang penasaran dan ingin meihat langsung hewan purba yang masih liar ini.

      Suasana di Pulau Rinca. Cukup ramai, apalagi musim liburan baik turis asing atau lokal yang datang ke sini tuk melihat langsung seperti apa komodo. Ini baru spot permulaan, dekat tempat registrasi tamu. Belum masuk ke hutan...
      Puji Tuhan, September 2015 kemarin keinginan ku ke Labuan bajo, tentu ke P Rinca, yang kedua kalinya terkabul. Pesona dan keunikan “Ora”, demikian penduduk disana biasa menyebut, membuat aku terkagum-kagum saat pertama kali datang tahun 2010. Landscape Taman Nasional Komodo (TNK) ku nilai sebagai paling indah diantara beberapa tempat yang pernah aku datangi di negeri ini. 

      Pertama kali ke Pulau Rinca tahun 2010

      Twice.....2 kali....puji Tuhan aku bisa kesini lagi yang kedua kalinya. Kaos Komodo yang aku beli saat pertama kali datang kebetulan masih muat sengaja aku pake yang kedua kali ke sini. Ternyata kaos ini sudah tidak jual lagi. 
      Sayangnya tidak bisa sering datang ya. Alasannya klasik, jarak cukup jauh dari Jakarta. Meski tidak ada apa-apa-nya jarak negeri asal John n Imelda. Selain itu biayanya. Untuk ke Labuanbajo, sebagai gerbang masuk ke Pulau Rinca dan Pulau Komodo dari Jakarta biaya tiket pesawat sekitar 1.5 juta sekali jalan. ini harga Wings Air. Kemarin karena naik Garuda aku harus merogoh kocek 2.1 juta one way. Tidak ada yang direct, harus transit di Bali.
      Dari Labuanbajo harus sewa kapal ke Pulau Rinca atau Pulau Komodo sebagai habitat Ora. Untungnya sekarang ini sudah banyak paket wisata yang menawarkan trip kesana. Harganya bervariasi. Ada yang 1.5 juta per orang, 3 juta, tergantung lamanya. Tentu sekalian lihat-lihat pulau lain yang tidak kalah memikat di kawasan TNK. Aku memilih private trip bersama rekan ku, sewa kapal untuk 2 hari. Biayanya 4 juta. “beruntung” juga rekan ku tidak mau ke Pulau Komodo, yang jarak tempuh dari Labuanbajo lebih lama yaitu 4 jam. Sedangkan ke P Rinca cukup 2 jam. “kalau sudah bisa lihat Ora di Pulau Rinca ngapain ke Pulau Komodo. Mending ke tempat lain", katanya.  Padahal ngga rugi juga kalau kesana. Tapi dia ngga mau ke P Komodo ya wis. Akhirnya selama 2 hari itu kame mengujungi Pulau Padar, Pulau Kelor, Pulau Rinca, Pulau Kanawa.
      Langsung aja story serunya. Memasuki Loh Buaya di Pulau Rinca, yang di teruskan registrasi, tidak ada berubah selain lebih rapi dan tertata. Rekanku yang baru pertama kali tidak merasakan perbedaan itu. Seperti visit pertama, kami memilih short trek, sekitar 1 – 1.5 jam. Kalau mau medium atau long trek bisa aja. Lamanya bisa 2 – 4 jam. Satu lagi, khususnya wanita, jangan datang pas lagi haid ya. Meski ada tour operator yang membolehkan, namun risikonya berbahaya. Ora bisa mengendus bau darah dari jarak 4 kilo dan menejar mangsanya dengan speed 20 km/jam . Karenanya salah satu “syarat” tuk nyaman ke sini sesuaikan siklus haid.  Jauh-jauh hari aku sudah memastikan rekan ku, wanita, bahwa tanggal ke Rinca ia tidak sedang haid.
      Sebenarnya sejak registrasi di kantor TNK Pulau Rinca sudah bisa liht beberapa Ora yang sedang “tiduran”. Namun tetap waspada. Walau tidur hewan satu ini bisa tiba-tiba agresif. Tapi lebih seru lagi saat kita masuk ke hutan. Selama Trekking kami wajib di dampingi Guide atau Ranger yang selalu membawa tongkat yang ujungnya seperti “V”. Tujuannya mengatasi kemungkinan Ora yang tiba-tiba menyerang. Konon katanya sich Ora takut dengan galah ini.
      Benar saja. Sekitar 15 menit jalan tiba-tiba...ssstt....Ranger mengisyaratkan untuk diam dan tenang. Benar saja. Tiba-tiba seekor Ora yang panjang 3 meter mengendus dari balik semak-semak. Pandangan dan arah pergerakannya menuju kami berdiri. Tiba-tiba bulu kuduk merinding. Terlihat sang Ranger waspada, mata serius sambil mengamati pergerakan si Ora. Pelan-pelan ia berkata supaya tenang dan ikuti aba-aba jika semakin mendekat. Tegang.... !!! ya dalam ketegangan aku tetap mencoba tuk moto...
      \
      Dari semak-semak, seekor Ora mengendus-endus...

      Perlahan dan pasti sang Ora menampakan wajahnya. Jarak dari posisi kami berdiri sekitar 6-7 meter. Cukup dekat. Kami pun berusaha tenang walau tegang juga ya. Apalagi matanya melotot ke arah kami. Langkah kakinya mengarah ke kami....

      entah aba-aba apa yang diberikan sang Ranger apabila si Ora terus bergerak ke arah kami. Akhirnya kami lega saat langkahnya berbelok ke kanan menjauh dari kami. 
      Kami bertiga segera melanjutkan trekking saat kondisi sudah aman. Tapi.....spontan Ranger kembali menghentikan langkah kami, menaruh telunjuk di bibirnya tanda kami diam dan tenang. Ternyata ada lagi Ora yang sedang mengendus di samping kanan posisi kami berdiri. Kali ini jaraknya lebih dekat sekitar 3 meter dari kami. Matanya mengawasi kami....

      Tersamar di balik dahan pohon
      Akhirnya si Ora satu ini menampakan wajah utuhnya. Lagi-lagi kami 2 kali tegang.....!!!

      Yeaaaa.....itulah pengalaman seru dan menegangkan di Pulau Rinca. Tentunya bukan satu-satunya kami mengalami seperti ini. Sebuah ketegangan, ke-seru-an, yang memberikan kesan sangat berkesan. Tidak sia-sia jauh-jauh, dengan biaya tidak sedikit, kami kesini. Berharap Tuhan mengabulkan keinginan ku yang ketiga kalinya suatu hari kelak ke sini lagi. Cheers