Titi Setianingsih

Trip Medan – Samosir – Berastagi 3H2N (10-12 Desember 2016)

24 posts in this topic

Selamat sore JJ’er,,,siapa yang belum pernah dengar kemashuran Danau Toba dan Pulau Samosirnya ? Saya yakin tidak ada, karena tempat ini sudah sangat tenar hingga ke mancanegara. Sebagai wisatawan domestic, tempat ini sudah masuk dalam wishlist, tapi baru di penghujung 2016 akhirnya baru kesampaian mengunjunginya.

Alhamdulillah, dengan matangnya persiapan untuk menuju kesini, yakin akan lancarlah perjalanannya, tentu saja karena dibantu teman2 yang ada di Medan sana. Inilah kelebihannya jika punya banyak teman, kemanapun ada yang menolong.  Jadi kami jalan2 kali ini menggunakan sistem share cost plus bonus berupa free mobil dan penginapan di Berastagi, sehingga pengeluaran total selama 3 hari disana hanya Rp. 800.000,- belum termasuk tiket pesawat PP. Mau tahu cerita selengkapnya kan ? Begini ceritanya kawan….

Hari Pertama, 10 Desember 2016

Kami berangkat dari Jakarta jam 05.00 menggunakan pesawat dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta untuk menuju bandara Kuala Namo Medan. Kurang lebih sampai sana jam 7.15, dan teman saya yang nama panggilannya Uda sudah siap menunggu disana untuk menjemput dan mengantar kami berkeliling di Sumatera Utara.

20161210_072454.jpg

20161210_072743.jpg

IMG_6838.JPG\IMG_6833.JPG

Kali ini kami hanya ber5 : Saya, Nani, Mbak Anisa, Ami dan Mbak Okati,,,

Romance Bay

Saking paginya kami berangkat tentu saja perut sudah keroncongan, mau mencari sarapan pagi sepertinya susah, sudah tengak tengok sepanjang jalan kok tidak ada yang nyantol, akhirnya kami putuskan untuk makan di daerah Perbaungan Serdang Bedagai, sekalian mau singgah ke Romance Bay Pantai Cermin, sebuah pantai yang lagi ngehit. Tempat makannya seperti Warung Padang kalau di Jakarta, penyajiannya juga sama, jadi tidak terlalu special yang penting cukup untuk memenuhi kebutuhan sarapan paginya.

Jalan menuju pantai lumayan rusak dan sempit, tapi petunjuknya sangat mudah, dan disekitar area tersebut banyak terdapat pantai2 yang dikelola oleh masyarakat setempat. Ada beberapa pantai yang ditawarkan penduduk desa tapi tujuan kami tetap menuju Romance Bay. Setelah sampai, ternyata sesuai namanya, pantai tersebut dibuat dengan hiasan2 yang sangat romantic, terdapat kelambu2 warna pink dan bentuk2 love beraneka rupa, cucok buat spot foto2 kami.

IMG_6873.JPG

IMG_6886.JPG

IMG_6883.JPG

IMG_6897.JPG

Tiket masuk wisata ini sebenarnya Rp. 35.000 per orang, tetapi karena kami hanya perlu sebentar maka kami ber6 plus mobil hanya bayar Rp. 100.000,- (Ibu2 kalau tidak menawar tidak puas rasanya).

 

 Dan setelah foto2 sepuasnya kami melanjutkan perjalanan menuju Tebing Tinggi, disana sudah ada yang menunggu, teman KJJI Tebing Tinggi. Kenapa di setiap sudut kota ada saja teman yang mencegatnya ? Karena sebelum berangkat sudah saya umumkan di facebook yang saya tag satu2 teman2 yang lokasinya ada disepanjang perjalanan menuju Danau Toba.

 Restoran India

Berkali-kali teman saya telepon, menanyakan sudah sampai mana kok lama sekali tidak sampai2, ternyata kemacetan jalan bukan hanya milik Jakarta, di Tebing Tinggipun macet panjang, tetapi karena ada kendaraan mogok rupanya, dan hal ini sudah membuat kami gelisah karena perjalanan menuju Danau Toba masih sangatlah panjang. Dan ketika saatnya sampai di Restoran India yang beralamatkan di Jl Ahmad Yani no 46 Tebing Tinggi, tempat meet up kami, sebenernya sudah saatnya makan siang, tapi karena perut masih kenyang maka kami hanya dipesankan juz martabe dan martabak serta roti cane sebagai masakan khas restoran ini. Subhanallah, enak luar biasa, dalam kondisi cuaca yang panas disuguhi juz yang super dingin, cucok aja rasanya.

FB_IMG_1482056458359.jpg

FB_IMG_1482056490477.jpg

FB_IMG_1481386966306.jpg

FB_IMG_1482056417966.jpg

Selagi asyik2nya kami melepas kangen dengan teman kami, Mbak Ayu namanya, datang lagi telepon dari teman yang ada di Siantar, yang katanya hendak mencegak kami di Jl Asahan, olala,,,,,indah sekali persahabatan ini, di-mana ada kawan yang baek,,,,Alhamdulillah.

Akhirnya selepas shalat dzuhurpun kami buru2 meninggalkan Tebing Tinggi untuk menuju Siantar. Oh ya, satu lagi teman kami yang di Tebing Tinggi batal menemui kami karena ada salah satu keluarganya yang meninggal dunia di Pematang Siantar, dan betul rupanya, ketika kami sampai di Siantar terlihat karangan bunga tanda duka cita berjejer di sepanjang jalan.

 Kopi Massa Kok Tong

Sudah kurang lebih jam 15an ketika akhirnya kami sampai di Jalan Asahan, di bilangan Megaland Pematang Siantar, tempat dimana Kedai Kopi Massa Kok Tong berada. Teman kami sudah memesan tempat di ruang yang berAC, sangat oke menurut saya interior ruangannya, serba coklat dan banyak asesories bergaya jadul, teman2 langsung pada foto2 hampir di setiap sudut kedai kopi. Hhhhmmmm pesananpun special kopi dan mie gomak sebagai menu khas disini. Saya sebagai penikmat kopi sudah tahu dari aromanya yang mantap, sangat keras menusuk hidung, pasti nendang ini kopi. Benar deh,,,ajiiibbbb dan lekkeeerrr ini kopi,,,,!!

 Saking gak percaya dengan testimoni pribadi, akhirnya saya googling deh, dan ini beberapa kesaksian dari konsumen kopi massa kok tong :

 “Dari beberapa pilihan kopi Kok Tong, kami berangkat ke Kopi Kok Tong yang berada di Megaland. Lokasinya enak, parkir luas Kebetulan kami berkunjung sekitar jam 8 malam, ternyata masih sangat ramai. Pesan kopi hitam O, dan cemilan yang beraneka rupa. Kopinya cukup keras, buat yang gak biasa ngopi disarankan memilih menu kopi lain. Tempat yang asik buat ngobrol sampai larut...”

 “Sekalinya ke kota Siantar dibawa teman nongkrong di tempat ini. Tempatnya cukup nyaman dan lokasi di tempat strategis. Minumannya banyak pilihan. Demikian juga makanannya bisa bebas memilih. Tersedia juga mie gomak yang mantap rasanya. Bolehlah utk tempat santai”.

IMG_6918.JPG

IMG_6916.JPG

IMG_6928.JPG

IMG_6948.JPG

Benar kan ? Banyak yang suka dengan Kopi Kok Tong, terima kasih kawan sudah culik kami kesini. Untuk mengisi waktu, kamipun poto2 di Kompleks Megaland, sebuah kompleks elit yang punya landscape lumayan. Kebetulan teman kami kenal pada pemilik salah satu Rumah antic disini, jadi alas an untuk bis amasuk kedalam komplek, karena kalau tamu tak diundang tidak diijinkan masuk.

Villa Dorbon Village

Sehabis foto2 kami lanjutkan perjalanan menuju Danau Toba, sempat mau singgah ke vihara terbesar di Asia Tenggara yang lokasinya di Pematang Siantar tapi sesudah sampai TKP langsung diguyur hujan lebat, akhirnya kami urungkan untuk turun, terlebih lagi pintu gerbangnya sudah di tutup, jadi sudah benar2 tidak ada harapan untuk masuk. Sutralaaahhhhhh,,,

Kamipun lanjutkan perjalanan lagi, cukup panjang kali ini perjalanannya, Siantar-Parapat, rasanya badan kami hancur lebur, dari sore sekitar waktu Ashar hingga Maghrib kami baru sampai di Parapat, walau ucapan “Selamat Datang di Objek Wisata Danau Toba” sudah terbaca sejak entah di kota mana, tapi baru kurang lebih 4 jam  kami nyampai. Dan pertama kali yang kami cari tentu tempat penginapan yang sudah kami booking via Traveloka, view yang Nampak tepat di bibir Danau Toba, kami sudah bayangkan keindahannya, tapi,,,,,,lama sekali kami cari penginapan itu akhirnya baru dapat. Jalanpun sempit menuju penginapan, rupanya Pemda setempat belum menyentuh daerah sekitar Long Beach. Iyaa, kami menginap di Villa Dorbon Village di Jl Justin Sirait, Long Beach Ajibata Ujung, Parapat.

20161211_060810.jpg

20161211_063237_001.jpg

Sebenernya villanya baru sekitar 5 bulan dibangun, alat2nya masih baru dan masih bersih, tapi kalau malam ternyata sepi sekali, karena lokasinya ada diujung yang belum sempat tersentuh Pemda. Untuk yang menyukai kesunyian pastinya suka. Walau untuk keluar menuju pusat keramaian di Parapat agak jauh, tapi kami sempatkan keluar villa juga mengingat kami belum makan malam, dan kebetulan lagi ada Festival Danau Toba (semacam pemilihan Abang dan None kalau di Jakarta), jadi jalanan lumayan macet. Kami makan malam sekalian mencari oleh2 khas Parapat.

20161211_055506.jpg

20161211_055713.jpg

20161211_055522.jpg

20161211_055539.jpg

Oleh2 khas Parapat, apa ya yang enak ? Iseng2 kami beli mangga udang, katanya hanya ada di Parapat, mangganya kecil dan kulitnya kuning. Makannya di kupas pakai tangan dan langsung digigit saja daging buahnya. Cukup manis kalau makannya sudah benar2 masak.

Selain mangga udang ada juga kacang kulit jenis kacang garing SIHOBUK, kalau di Jawa Tengah ada yang namnya kacang kletik, dan kalau di Minahasa ada Kacang Kawangkoan,,,begitulah kira2 rasanya. Tapi kacang garing SIHOBUK Cuma ada di Parapat saja, jadi jangan di lewatkan yaaaa….

img1481643382557.jpg

 Selesai makan malam kami kembali ke penginapan dan tiduuurrrrr zzzzzzzz…..

 Hari Kedua, 11 Desember 2016

 Pulau Samosir

Menyeberangi danau Toba dengan menggunakan kapal ferry adalah tujuan utama kami ke Sumatera Utara. Kurang lebih jam 7.00 pagi kami check out dari penginapan untuk kemudian menuju dermaga penyeberangan di Ajibata menuju Tomok. Kami pilih kapal ferry biasa dengan tiket 8.000 per orang, mobil kami numpang parkir di saudaranya pemilik Villa supaya ngrasa aman. Kalu semisal nginapnya di Samosir maka mobil bisa kita bawa nyebrang pakai kapal ferry dengan biaya kurang lebih 110.000,-

20161211_060334.jpg

20161211_071025.jpg

20161211_070931.jpg

IMG_6974.JPG

IMG_7041.JPG

Untuk yang suka mabok kalau naik kapal bisa ambil seat yang di atas, jadi bisa leluasa menikmati alam sekitar dari atas kapal sehingga bisa mengurangi maboknya. Atau bisa di belakang nakhoda juga nyaman karena terbebas dari asap rokok penumpang lainnya. Saya ambil seat di atas supaya bisa foto2 sepuasnya, Cuma sayang agak panas jadi siap2 saja pakai topi lebar untuk menutupi wajah dari sengatan sinar matahari.

IMG_7035.JPG

20161211_082452.jpg

Setibanya di Dermaga Tomok kami langsung mencari sarapan pagi, ada lontong sayur khas Samosir yang menurut teman saya lontong sayur terenak yang pernah dimakannya, entah apa yang membedakannya, tapi dari tampilannya memang kelihatan enak.

IMG_6979.JPG

IMG_6982.JPG

IMG_6986.JPG

Begitu masuk lokasi wisata, yang terlihat duluan deretan toko2 souvenir khas Samosir, apa mau dikata, mata ini semakin hijau saja rasanya, secara gak sengaja akhirnya kami berpencar dan hilang dalam kerumunan orang2/pengunjung lainnya. Iyaaa karena hari libur jadi pengunjung lumayan banyak dan jalan setapak menuju lokasi wisata menjadi terasa sempit.

Patung Si Gale-Gale

Ini patung kayu yang sangat legendaries, dia adalah anak Raja Rahat yang pandai menari, nama lengkapnya Si Raja Manggale, sayang di usia muda meninggal dalam peperangan. Saking sayangnya Sang Raja kepada Putranya, sepeninggal Si Gale2 Sang Raja sakit, kmd dibuatlah patung kayu yang mirip Putranya dan kabarnya bisa menari sendiri, Sang Raja akhirnya bisa sembuh dari sakitnya. Sekarang Si Gale2 menjadi salah satu ikon Pulau Samosir, setiap pengunjung bisa menari bersama Si Gale2 dengan bayar Rp. 80.000 per pertunjukan, biasanya dibuat rombongan, kemudian disertai dengan pembacaan sejarah Si Gale2.  

IMG_6987.JPG

IMG_6995.JPG

IMG_6991.JPG

IMG_6990.JPG

Makam Raja Sidabutar

Habis lihat Si Gale2 kami melanjutkan perjalanan menuju Makam Raja Sidabutar, ada beberapa makam dalam satu komplek pemakaman ini, jika ingin tahu ceritanya maka masuklah ke komplek makam dan ikut duduk mendengarkan guide local menceritakan sejarah Raja Sidabutar. Raja Sidabutar adalah orang pertama yang menginjakkan kakinya di Pulau Samosir maka akhirnya beliaulah yang menjadi raja disini. Makamnya terbuat dari batu yang dipahat tanpa sambungan, makanya disebut juga sebagai peninggalan jaman Megalitikum.

IMG_7011.JPG

IMG_7013.JPG

IMG_7016.JPG

Untuk masuk kesini kami dipakiakan kain ulos, kemudian duduk di balai2 dan dengan khidmat menyimak penuturan guide local. Jika ingin meninggalkan acara ini bisa melalui pintu keluar, kemudian menyerahkan kain ulos yang kita pakai dan menaruh uang seikhlasnya ke kotak.

Museum Batak

Museum batak memiliki berbagai macam koleksi yang berkaitan dengan tanah Batak. Di tempat ini terdapat berbagai jenis kain ulos dengan fungsi pemakaian yang berbeda serta pakaian adat Batak, patung-patung yang terbuat dari kayu, pedang, berbagai macam peralatan pertanian, peralatan rumah tangga yang merupakan koleksi peninggalan Batak kuno, naskah kuno, gondang Batak, dan koleksi lainnya.

IMG_7020.JPG

IMG_7032.JPG

Berfoto-foto disini dengan latar belakang Rumah adat batak menjadi kepuasan tersendiri bagi kami. Tidak ada biaya tiket masuk untuk mengunjungi museum ini. Tapi pengunjung bisa mengisi kotak seikhlasnya.

Sehabis dari sini kami buru2 menyeberang lagi menuju Dermaga Ajibata untuk melanjutkan perjalanan menuju Berastagi. Jalur Simarjarunjung yang kami ambil, supaya bisa melihat Danau Toba dari sisi yang lain.

Gardu Pandang Simarjarunjung

Siapa sangka kalau pada akhirnya kami bisa mengelilingi Danau Toba yang termashur ini, berangkat lewat Pematang Siantar dan pulang lewat Simarjarunjung. Sepanjang perjalanan tampak Danau Toba disisi sebelah kiri jalan. Cuaca cerah siang itu menambah cantiknya Danau Toba, kaki rasa2nya mau turun saja untuk ambil foto, tapi teman kami bilang nanti saja ambil foto2nya di Gardu Pandang Simarjarunjung. Dan sementara kami hanya bisa menikmati dari kaca mobil pemandangan kiri kanan jalan yang aduhai, sebelah kanan perkebunan kopi dan sebelah kiri danau Toba. Sementara juga jalan di depan kami ber-kelok2, Nampak ada serombongan orang bersepeda tengah susah payah menaiki bukit.

IMG_7043.JPG

IMG_7046.JPG

IMG_7048.JPG

Lumayan lama kami berkendara hingga akhirnya ketemulah gardu pandang yang kami cari, kami lalu berhamburan menepi dan ambil handphone masing2 untuk mengabadikan Danau Toba dari ketinggian. Rupanya disini lagi ada event sepeda santai, Nampak masih ada air mineral dan buah2an teronggok di meja Panitia, dan rejeki mommy shaleh hingga kamipun ikut menikmati buah2an itu. Tak cukup sebuah 2 buah untuk dinikmati di tempat, kamipun angkut itu buah2an ke mobil,,,,olala

Okey,,,kami lanjutkan perjalanan lagi, masih ada destinasi yang menarik, namun karena lapar menghadang, akhirnya kamipun singgah di rest area yang pertama kami dapati.

Bar & Restorant Siantar Hotel Simarjarunjung

Ada makanan special disini, yaitu pisang goreng dipadu dengan wedang jahe, nikmatnya terasa ketika perut setengah lapar dan dalam suasana hawa dingin di puncak Simarjarunjung. Tempatnya siy biasa saja, mungkin karena bangunan sudah lama dan kurang terawat jadi Nampak kurang bersih. Tapi disinilah satu2nya rest area yang luas dan mungkin orang juga tahunya disini jika hendak beristirahat untuk makan dan minum. Ditambah nikmat lagi karena bisa sambil menikmati indahnya danau Toba, sehingga rasa pisangpun berubah entah menjadi rasa apa yang jelas makan 2 potong juga masih kurang. Harga secangkir jahe panas dan pisang goreng Rp. 20.000,-

Sebenarnya kami belum makan siang, tapi rasanya tidak mau menghabiskan waktu lama2 dijalan, mengingat perjalanan masih lumayan jauh, khawatir destinasi yang sudah direncanakan tidak terkejar.

IMG_7058.JPG

IMG_7056.JPG

IMG_7057.JPG

Sepanjang jalan kamipun ber-nyanyi2 supaya tidak terasa capainya, dan sambil menemani teman yang bawa kendaraan, kasihan kalau hanya dia yang menahan kantuk dan capai. Hati hampir tergoda ketika kami melewati kebun jeruk di Berastagi, pembeli jeruk bisa petik sendiri, jadi macam agrowisata, tapi kamipun tahan godaan, kami tidak turun, kami cukup menikmati pemandangan perbukitan di kanan kiri jalan yang menghijau.

Si Piso-Piso

Air terjun Sipiso-Piso berada di Desa Tongging Kecamatan Merek Kabupaten Karo Sumatera Utara. Papan petunjuk jalannya sangat mudah dicari, dan lokasi air terjun dari jalan tidak jauh, bahkan ketika mobil kita diparkirpun kita sudah bisa melihat keindahan air terjun. Lokasinya sudah bagus, tersedia jalan setapak menuju air terjun. Posisi air terjun ada di lembah, jadi kita kudu menuruni jalan setapak itu hingga ke bawah sekali, bisa dibayangkan berapa jarak ke bawahnya jika tinggi air terjunnya saja kurang lebih 120 meter ? Itulah sebabnya maka kami tidak lakukan itu, kami hanya menikmati dari atas. Dan inipun sudah puas kok, kita bisa menikmati air terjun sekaligus Danau Toba. Jadi berapa luas Danau Toba sebenernya ? Kok di-mana2 masih bisa melihat Danau Toba ?

20161211_144913.jpg

IMG_7060.JPG

IMG_7063.JPG

IMG_7074.JPG

IMG_7088.JPG

IMG_7080.JPG

Rumah Adat Karo

Hampir maghrib ketika kami sampai di Desa Lingga, ini merupakan desa budaya, masih masuk wilayah Kabupaten Karo Sumatera Utara. Kabarnya Rumah adat ini sudah berumur ratusan tahun tapi sampai sekarang masih kokoh berdiri. Bentuknya Rumah panggung, di ruangan dalam tidak ada sekat, atapnya terbuat dari ijuk dan ujung atap paling atas terdapat hiasan tanduk kerbau. Satu Rumah dihuni oleh beberapa keluarga, inilah adat yang turun temurun hingga sekarang.

Ada 2 rumah disini yaitu Rumah Gerga dan Rumah Belang Ayo yang tersisa, unik sekali bentuk rumahnya, dan yang bikin kami geleng2 kepala, Rumah ini dibangun tanpa paku tapi kuatnya luar biasa.

IMG_7105.JPG

IMG_7090.JPG

IMG_7099.JPG

Kesini gratis, tapi jika tidak keberatan bisa kasih tips kepada orang yang tinggal disitu. Jalan menuju Desa Lingga mudah dicari, kalau sudah di perempatan Tugu Kol (bentuknya seperti sayuran kol) belok kiri jika dari arah Siantar, kemudian ikuti papan petunjuk jalannya, tidak sampai 1 jam nanti akan sampai ke Desa Lingga.

Untuk mengetahui benda2 peninggalan Adat Karo bisa dilihat di Museum Karo Lingga yang letaknya ada di luar desa ini. Museum ini menyimpan 206 koleksi seperti peralatan dapur, topeng, kain, alat musik, alat berburu, alat pertanian, mata uang, dan berbagai benda bersejarah lainnya.

Hari Ketiga, 12 Desember 2016.

Berastagi ternyata dingin luar biasa, dan saya tidak membawa baju tebal, bisa dibayangkan apa yang terjadi ? Kedinginan,,,,

Kami menginap di Hotel Rudang di Jl. Djamin Ginting No. 15, Berastagi. Kebetulan salah satu teman kami punya teman di hotel ini, jadi kami dapat 2 kamar free, Alhamdulillah.

IMG_7120.JPG

IMG_7121.JPG

IMG_7126.JPG

Hotel tempat kami menginap berhadapan dengan Hotel Kubu, yang pernah menjadi tempat pengasingan Bung Karno, bangunannya masih asli, sangat asri dan bagus buat hunting foto. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Medan, kami sempatkan foto2 di sekitar hotel.

Taman Alam Lumbini

Disini berdiri kokoh Pagoda bernuansa sebagai tempat ibadah umat Budha, bentuknya menyerupai Pagoda Shwedagon di Myanmar. Jadi berada disini serasa berada di Myanmar, alamatnya ada di Barus Jahe, Brastagi, Dolat Rayat, Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Kalau dari hotel Rudang kita belok kanan, dan tidak berapa lama akan sampai setelah melewati Tempat Pengungsian.

Masuk kesini gratis, dan dibukanya jam 09.00 pagi, kami kepagian ketika itu jadi sempat menunggu beberapa menit, hamper saja kami meninggalkan tempat ini, untungnya teman2 pada sabar. Antrian cukup panjang karena disamping sebagai tempat ibadah juga dibuka untuk umum, jadi yang Non Budhistpun berwisata kesini.

Jika hari libur seperti ini biasanya ada ibadah, sehingga pengunjung yang Non Budhist dilarang masuk ke dalam, jadi kami hanya bisa ber-foto2 diluarnya saja dan menikmati hutan tropis yang ada di samping Pagoda. Berbagai macam jenis pepohonan ada di hutan ini.

Jika dituruti bisa ber-lama2 disini karena hutannya sangat sejuk dan hijau, tapi mengingat hari ini harus ke Jakarta maka kami buru2 tinggalkan tempat ini untuk menuju Medan.

IMG_7130.JPG

IMG_7141.JPG

IMG_7184.JPG

IMG_7152.JPG

Gereja Santa Maria Annai Velangkani

Begitu masuk Medan, kami janjian dengan teman yang tinggal di Medan untuk menjadi “guide” kami.

Penasaran sama gereja yang bangunannya mirip2 kuil India, kamipun cari dimana lokasinya, dan yang orang Medanpun bingung karena belum pernah tahu apalagi lihat gereja itu. Jadi dengan modal tanya2 akhirnya kami sampai juga, sangat mudah sebenernya dicari, sayangnya pas berangkat papan petunjuk jalannya tertutup daun2an di jalanan jadi gak sempat terlihat dan kami kebablasan. Tapi begitu putar balik langsung ketemu, alamat lengkapnya ada di Jalan Sakura III No. 7-10, Perumahan Taman Sakura Indah, Tanjung Selamat, Medan.

IMG_7201.JPG

IMG_7216.JPG

IMG_7205.JPG

IMG_7208.JPG

Graha Santa Maria Annai Velangkanni tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah namun juga menjadi tempat ziarah bagi umat Katolik. Tak heran jika gereja ini begitu ramai dikunjungi para peziarah. Selain itu tempat ini juga diramaikan oleh kehadiran wisatawan yang tertarik dengan arsitekturnya yang. Desain bangunan mengambil gaya arsitektur Indo-Mogul yang begitu indah dan megah.

Disini terdapat juga sejumlah taman yang semakin memperindah pemandangan di sekitar Graha Santa Maria Annai Velangkanni.

Penangkaran Buaya Asam Kumbang

Lokasinya searah dengan Gereja Graha Santa Maria Annai Velangkanni dengan alamat lengkap di Jl.Bunga Raya II No. 59  Sunggal , Kecamatan Medan Selayang  Kota Medan, Sumatera Utara

HTM 8.000 cukup murah, nyaman, unik, dan menarik. Dan ternyata tempat ini sudah ada sejak tahun 50an, jadi yang mengelola itu turun menurun. Selain ribuan koleksi buaya dari semua umur, penangkaran buaya ini memiliki koleksi hewan seperti kura-kura, ular dan beberapa hewan lainnya.

IMG_7188.JPG

IMG_7189.JPG

IMG_7191.JPG

IMG_7192.JPG

Buaya2nya ditempatkan di dalam kolam-kolam serta dalam danau buatan jadi aman bagi pengunjung, tapi tetap harus waspada karena bagaimanapun buaya adalah jenis binatang buas.

Akses menuju ke penangkaran buaya Asam Kumbang cukup mudah dan dapat dilalui oleh semua alat transportasi seperti angkot, becak maupun sepeda motor dan mobil.

Restoran Tip Top

Ternyata Medan macet juga, begitu ter-buru2nya ketika kami hendak menuju restoran legendaries Tip Top untuk makan siang dan ketemu teman yang lainnya di Medan, tetapi kondisi jalanan yang crowded memaksa kami untuk bersabar. Dan alhamdulillah berhubung yang bawa mobil orang Medan maka kamipun punya jalan alternative untuk menembus kemacetan itu.

Tak berapa lama kamipun sampailah ke Restoran Tip Top di kawasan Kesawan, Jalan Ahmad Yani, Medan. Restoran ini konsisten pada dekorasi tempat konsep kuno dan proses pemasakan menu makanannya juga masih menggunakan tungku kayu bakar sejak tahun 1930-an. 

IMG-20161212-WA0051.jpg

IMG-20161202-WA0057.jpg

IMG-20161212-WA0044.jpeg

IMG-20161212-WA0049.jpg

Yang paling banyak dicari adalah es krimnya yang dengan cita rasa tempo dulu menggunakan resep nenek moyang tapi masih bisa masuk ke lidah orang sekarang. Dari teksturnya siy terlihat sama dengan es krim kebanyakan, tapi rasanya yang beda, seperti es krim Ragusanya Jakarta.

Makanan berat yang tersedia kebanyakan Chinese Food, kamipun pilih2 yang tidak terlalu berat seperti I fu Mie dan sebangsanya. Sepertinya yang dicari hanya sensasinya, yang tak mau ketinggalan dengan turis2 lainnya.

Turis-turis manca negara khususnya warga negara asing dari Belanda paling menggemari tempat ini karena dekorasi interior Belanda yang banyak dipajang. Setelah teman kami yang ditunggu sudah datang, kamipun bergegas meninggalkan tempat ini dan menuju tempat lainnya.

Istana Maimun

Istana Maimun adalah istana  Kesultanan Deli yang merupakan salah satu ikon kota Medan juga, terletak di Jalan Brigadir Jenderal Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun.

Desainnya Italia, pada sisi depan terdapat bangunan Masjid Al-Mashun atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya Medan. Istana Maimun menjadi tujuan wisata bukan hanya karena usianya yang tua, namun juga desain interiornya yang unik, sayangnya kami tidak ber-lama2 disini, kami hanya foto2 di bagian luarnya saja, disamping karena sudah pernah kesini juga karena waktu terus mengejarnya.

IMG_7218.JPG

IMG_7221.JPG

IMG_7225.JPG

Durian Sibolang

Belum ke Medan rasanya kalau belum makan durian Ucok, dan lucunya, ada teman kami yang gak doyan makan durianpun kepeingin ke Durian Ucok saking penasarannya. Tapi karena waktu sudah mepet akhirnya kami pilih ke Durian Sibolang yang ada di Jalan Iskandar Muda No. 75 C-D Medan. Apalagi dengan adanya slogan makan sepuasnya hanya Rp. 40.000,- ? Siapa yang gak tergiur,,,,begitulah, walau perut masih kenyang akhirnya kami hanya mencicipi sedikit, gak bisa menikmati durian sepuasnya spt kata slogan tadi.

IMG_7227.JPG

IMG_7233.JPG

IMG_7240.JPG

Disini juga tersedia pancake durian. Harga masih standard, karena kalau makan durian disini dijamin duriannya bagus jadi gak perlu khawatir akan kecewa. Beda kalau di jalan2 di Jawa, biar sudah dicicipi tetap saja ada yang jelek kalau sudah dibuka, dan kita gak bisa tukar kalau sudah dibelah. Di Durian Sibolang yang dibuka pasti yang enak dan baik, ini bedanya.

Pusat Oleh2 Khas Medan

Waktu bagai angin topan, melesat begitu kencangnya, detik2 terakhir di Medan bikin deg2an, rasanya belum puas menikmati Medan hanya 3 hari. Saatnya kami ke took oleh2 khas Medan, bika Ambon, Bolu Meranti, kopi Sidikalang menjadi perhatian kami. Tak banyak yang kami bawa, tapi yang dirumah pasti menunggu oleh2. Toko Zulaikha Jl. Mojopahit, Petisah Tengah, Medan Petisah, Kota Medan, Sumatera Utara menjadi sasaran kami…

IMG_7241.JPG

Harga Bika Ambon kecil per kotak sekitar 55.000 – 65.000 tergantung rasanya, ada rasa original, pandan, mocca, keju dan durian.

Harga Bolu gulung juga beraneka rupa antara 95.000 – 100.000 dengan variasi rasa
Keju, Strawberry, Nanas, Mocca,Blueberry,Kacang,Capucino dan special paduan beberapa rasa.

Harga lapis legitnya antara 65.000 – 85.000

Menuju Bandara Kualanamo by kereta

Ke Jakarta kami kan kembali,,,,,,dengan menggunakan kereta cepat kami menuju bandara Kuala Namo, ketika kami nyampai stasiun kereta, waktu keberangkatan kereta tinggal 3 menit lagi, jadi kami setengah berlari meninggalkan teman2 kami dari Medan,,,maafkan kami yaaaa kawans,,,kebaikanmu tak kan pernah kulupakan. Dan jangan bosan2 kalau suatu saat kami akan kembali lagi ke Medan. Terima kasih DaMan, Mbak Anisa, Mbak Ayu, Eda Tetty Ambarita, Mbak Rifa,,,kalian baik semuanya, berkat kalian maka acara jalan2 kita lancar,,,,!!

IMG_7246.JPG

 

Salam Jalan2 Indonesia…!!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IMG_7127.JPG

Share this post


Link to post
Share on other sites
43 minutes ago, Dhistiraz said:

wah udah main2 ke danau toba ya bu @Titi Setianingsih, kapan-kapan kalo ke medan lagi kontek-kontek anak regional medan bu Titi, biar kita tunjuki sekeliling medan bu..:foto2

 

belum ada yg kenal mas Dhistiraz jd diam2 aja niihhhhh,,,kapan2 lagi deh kalau ke Medan sesi 2 yya...thanks sebelumnya

Share this post


Link to post
Share on other sites
15 minutes ago, kyosash said:

wah begitu sampai bandara udah eksis aja :senyum , sepertinya asyik tuh suasana di Taman Alam Lumbini, btw nice share :salut 

Iyaa mas Kyo...di hutan tropisnya enak, sejukk dan adem deeh...sebelumnya saya pernah kesini dan boleh masuk...jd lbh banyak koleksi foto2nya mas Kyo....

Thanks yaà...

Share this post


Link to post
Share on other sites
12 hours ago, Titi Setianingsih said:

Sudah kurang lebih jam 15an ketika akhirnya kami sampai di Jalan Asahan, di bilangan Megaland Pematang Siantar, tempat dimana Kedai Kopi Massa Kok Tong berada.

Rumah saya di Jalan Asahan (Sangnawaluh) :kesengsem

Trip nya banyak, yang saya belum pada pernah juga ada HAHAHA... Ketje lah rombongan ibu memang :D 

12 hours ago, Titi Setianingsih said:

Makanan berat yang tersedia kebanyakan Chinese Food, kamipun pilih2 yang tidak terlalu berat seperti I fu Mie dan sebangsanya. Sepertinya yang dicari hanya sensasinya, yang tak mau ketinggalan dengan turis2 lainnya.

Setuju :lol: Cuma karna rame aja gitu sensasinya yang di cari, mirip kayak ragusa. Cuma yang Tip Top lebih sopan owner/pelayannya wkwkwkwk

12 hours ago, Titi Setianingsih said:

Durian Sibolang

Belum ke Medan rasanya kalau belum makan durian Ucok, dan lucunya, ada teman kami yang gak doyan makan durianpun kepeingin ke Durian Ucok saking penasarannya. Tapi karena waktu sudah mepet akhirnya kami pilih ke Durian Sibolang yang ada di Jalan Iskandar Muda No. 75 C-D Medan. Apalagi dengan adanya slogan makan sepuasnya hanya Rp. 40.000,- ? Siapa yang gak tergiur,,,,begitulah, walau perut masih kenyang akhirnya kami hanya mencicipi sedikit, gak bisa menikmati durian sepuasnya spt kata slogan tadi.

Walah, ada yang all you can eat yah, baru tau wkwkwkwkwk

Share this post


Link to post
Share on other sites

@HarrisWang

walah,,,coba kalau pas mas Harris mudik,,kan bisa ketemu ya ?

kalau Ragusa galak ya mas Harris wwkkkk ??????

sekarang di Si Bolang ada lagi promonya, tp 49.000 mas Harris, dan diperpanjang sampai akhir Pebruari,,,mudik giiih buruaaaan:hiking

Iyaahhh emang RM pinginnya jalan2 yang kekinian, yang masih langka, biar itinnya bisa dipakai orang lain. Tahu gak mas Harris, itinku yg ke Kebumen diminta sama TL untuk dijual,,,,apakah aq minta komisi ? Ya tidaaakkkkk,,,malah senang kalau kampungqu jd ramai,,,:kesengsem

Share this post


Link to post
Share on other sites
6 hours ago, Titi Setianingsih said:

@HarrisWang

walah,,,coba kalau pas mas Harris mudik,,kan bisa ketemu ya ?

kalau Ragusa galak ya mas Harris wwkkkk ??????

sekarang di Si Bolang ada lagi promonya, tp 49.000 mas Harris, dan diperpanjang sampai akhir Pebruari,,,mudik giiih buruaaaan:hiking

Iyaahhh emang RM pinginnya jalan2 yang kekinian, yang masih langka, biar itinnya bisa dipakai orang lain. Tahu gak mas Harris, itinku yg ke Kebumen diminta sama TL untuk dijual,,,,apakah aq minta komisi ? Ya tidaaakkkkk,,,malah senang kalau kampungqu jd ramai,,,:kesengsem

Iya, si nci nya galak bu hahahaha... Udah ga minat lagi kesana, so so juga sih, cuma karna sensasinya doang wkwkwkwk...

Duuh, cuma sampe February yah, duuh, akhir bulan ke Jepang, ga kekejar buat mudik hahahahaha.

Wahhhh... keren. Iya bu, ikutan senang kalau kampung kita jadi ramean yah, sedikit banyak membantu warga disana. Duuh, sama nih pemikirannya :D 

Share this post


Link to post
Share on other sites
On Friday, February 03, 2017 at 3:21 PM, Titi Setianingsih said:

Sayangnya kita belum kenal, jadi gak janjian kemarin ya mbak ? Semoga next time bisa ketemu yaaaaa

Salam kenal bu.... sy di jakarta Bu cuma asli medan. Hehehe 

Share this post


Link to post
Share on other sites
On 7/2/2017 at 7:17 AM, deffa said:

wah ke berastagi bu @Titi Setianingsih ama bu handajani nani 

saya belum pernah neh, tapi kalau samosir nya udah heheh

villa nya asik juga tuh dapat harga berapa bu? 

Iyaa kami cuma ber5 mas Deffa, tp di sepanjang jalan ketemu tmn2 ber-ganti2an,,,kalau jalan jauh susah cari massa banyak,,,

hotelnya diharga 350.000an mas Deffa,,,lumayan bersih dan lagi dibangun kolam renang, nanti bakal tambah asyik kalau nginap disini

On 7/2/2017 at 7:57 AM, Rawoniste said:

Pantai nya cantiiiik @Titi Setianingsih, seperti nya ada properties yg kurang ,  payung raimbow nya kma ? :senyum

hahahhaha tks atas atensinya kepada RM mas,,,,payung dibawa tp lupa dikeluarin, tp sudah ada gantinya kan, bantal dan boneka RM,,,xixixixi

20161211_055506.jpg

Share this post


Link to post
Share on other sites
7 minutes ago, Titi Setianingsih said:

Iyaa kami cuma ber5 mas Deffa, tp di sepanjang jalan ketemu tmn2 ber-ganti2an,,,kalau jalan jauh susah cari massa banyak,,,

hotelnya diharga 350.000an mas Deffa,,,lumayan bersih dan lagi dibangun kolam renang, nanti bakal tambah asyik kalau nginap disini

350 ribu per kamar atau 1 villa itu bu @Titi Setianingsih

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

  • Similar Content

    • By Daniyah Isa
      Assalamualaikum 
      Salam kenal,
      Panggil saya, Nia
      Ini adalah pertama kalinya saya pergi ke LN dg mengurus semua keperluan sendiri. Biasanya, sdh terima beres dari kantor, karena memang ada urusan. Nah, destinasi yg saya pilih tdk jauh tp harus berkesan ! Melaka. Kota yg ditempuh dlm waktu 2 jam dari KLIA2. 
      Gimana caranya saya bisa sampai ke sana ? Inih dia, detailnya ;
      1. JKT-KLIA2
      Pesan tiket pesawat yg everyone can fly dari situs resmi. Lama waktu sekitar 2 jam, berangkat 10:10am sampai KLIA2 13:15pm.
      Di KLIA2, ikuti saja petunjuk arah yang ada, sambil ikuti arus kemana orang-orang pergi. Nanti, ada eskalator naik, lalu ada eskalator turun langsung ke tmpt imigrasi. Setelah keluar dari imigrasi, saya temukan mall dg counter-counter barang branded. Semacam Grand Indonesia, kalau di Jakarta.
      Buat yg terburu-buru sampai ke KL dg cepat, mgkn ada urusan meeting or apa, bisa lurus terus ke pintu keluar. Di samping pintu keluar ada loket pembelian tiket KL Ekspres, seharga 55RM dg waktu tempuh 33menit ke stasiun KL SENTRAL. Dari KL Sentral, bisa pilih kemana saja tujuan teman-teman yg mau dicapai. Ibarat di Jakarta nih, KL Sentral tuh Manggarai. 
      Tujuan wisata saya, dan teman saya adalah Melaka. Belajar dari blog dan bbrp artikel, butuh kendaraan bus utk sampai ke sana. Hanya bus saja, tdk ada kereta atau MRT yg menuju ke sana. Saya pun, turun lagi ke lantai G dg eskalator. Jangan takut kesasar ! Banyak petugas keamanan yg berjaga.
      Sampai di lantai paling dasar, ada sederet loket yang menjual tiket bus, taxi, sewa kereta (mobil). Langsung saja, membeli tiket bus Transnasional tujuan Melaka Sentral, seharga 24.10RM. Di tiket sudah tertera nomor tempat duduk, gate tempat menunggu. Wah, pokoknya tertib dan teratur! Meskipun busnya lebih bagusan DAMRI sih bagi saya, hehehe.
      2. Melaka dan Wisatanya 
      Selama 2 jam perjalanan dari KLIA2, sambil bengong-bengong liat pemandangan (apa bener gue di Malaysia? Ini mirip ke Ciawi yah ? Heheheh) yang membedakan tuh, sepanjang jalan lancar jaya. Mgkn supir bus kapalan nginjek gas, hehehe. Duh bahagia deh kalau Jakarta jalanannya kaya gini terus. Sampai tibalah saya di Melaka Sentral, ibaratnya Terminal Kp. Rambutan gituh. 
      Waduh, sepi banget ! Macam ga ada kehidupan. Bingung juga kan, mau ke hotel gimana ? Boro-boro kuota buat pesan taksi online, sinyal ajah ga dapat.
      Yaa, saya tanya ke petugas kebersihan, dan memang bus Panorama 17 tujuan Bangunan Merah, agak lama. Bukan karena macet yaa, ini karena jalanan di Melaka tuh Sehala (satu arah) jadi dia berputar dulu.
      Sejam menunggu, datanglah bus Panorama 17. Disinilah pengalaman dimulai, banyak yg Negor dan tanya "Indonesia ya ? Indonesianya mana ?" Agak bingung sih, ditanya begitu. Biasanya ditanya "Jawanya mana ?" Padahal sih, sama saja hehehe. 
      Saya menginap di hotel Hallmark Crown, 3H2M, seharga 147RM include Breakfest, free wifi. Wilayahnya dekat dengan mall Dataran Pahlawan, jalan kaki 10 menit lah. Jadi turun saja di Dataran Pahlawan, ongkos busnya 2RM saja. Hotelnya comfie banget ! Disetiap sudut ada galon. Jadi bisa refil sepuasnya, ditambah kulkasnya menyala dg sempurna. Wah, recomend deh!
      Saran utk teman-teman yg mau pesan hotel di Melaka, pesan di daerah sekitar Dataran Pahlawan (rate murah), Bangunan Merah, dan Jonker Street. Tiga tempat itu, sudah dekat banget kemana-mana. Jadi bisa jalan-jalan santai, foto-foto, interaksi sama penduduk lokal. Yg penting, rajin jalan kaki yaa, hehehe.
      Hari pertama saya mengunjungi Bangunan Merah, jalan kaki dari Hotel 15 menit. Melewati mall-mall Besar, dan rupanya ada carnaval becak hias, mobil hias dan barongsai. Jadi nggak berasa jauh dan capeknya.
      Di Melaka, ada yang saya lihat di maps Google itu jauh, ternyata dekatan. Menara Taming Sari, Bangunan Merah, Jonker Street dan River Cruise. Yang jauh, cuma Masjid Selat Melaka. Masjid Selat Melaka memang harus menggunakan taksi online, karena jaraknya terpisah dengan daratan Melaka kota dan masuk ke kompleks perumahan. 
      3.Kuliner dan Oleh-oleh Melaka
      Sempat bingung mau makan apa di Melaka. Hari pertama saya sampai di Melaka, sudah malam dan banyak yg tutup. Masa iyah sih, jauh-jauh ke Melaka, makanya McD? Nggak ada nasi lagi. Akhirnya mampir ke 7Eleven (horeee, Nemu 'sevel !) Beli nasi lemak instant dan mie instan. Lupa berapa harganya, tapi cukup menahan lapar. Serius deh, sebenarnya nggak lapar-lapar banget ! Cuma karena nggak mau masuk angin ajah.
      Terakhir perut diisi sama sandwich Subway yg beli di KLIA2. Hufh, gara-gara ngincer destinasi wisata jadinya lupa makan. 
      Hari kedua, masih hunting foto disekitar Bangunan Merah, Taming Sari, River Cruise. Cerah banget langit di Melaka, dan udaranya juga segar nggak ada polusi (kapan Jakarta begini ? Mungkin ga yah ?). Di samping Bangunan Merah, ada tangga menuju bukit. Diatasnya bangunan reruntuhan yang menghadap lautan lepas. Keren banget !!! Duduk-duduk saja sambil lihat pemandangan. 
      Oh Iyah, untuk beli oleh-oleh seperti gantungan kunci, kaos tulisan Melaka, tas Melaka, tempatnya di Medan Samudera. Tenang, ga jauh kok ! Ga perlu nyebrang. Dari Bangunan Merah, ambil sisi kanan dan lurus terus sampai lihat bangunan kapal pesiar. Nah di sana, yang paling murah ! Kaos dapat 10RM, gantungan kunci dapat 8RM, 6 gantungan kunci. Meski di Bangunan Merah juga ada lapak yang menjual, lebih baik beli di Medan Samudera, karena harganya lebih terjangkau. 
      Selain beli oleh-oleh, di tempat ini ada warteg Melayu loh ! Syukurlah, ada warteg juga. Awalnya sempat underestimate gitu. Makanannya mirip makanan warteg, dan ga lebih menarik dari warteg Jakarta. Karena Nggak enak sama Ibu penjualnya, yg tiba-tiba udah nyendokin nasi, mau ga mau dibeli. 
      Yaa sayur tumis kacang panjang dan ayam goreng jadi menu makan siang. Pas dimakan, enak ! Ini karena efek capek mungkin yaa. Minum air mineral, biar nggak makin haus. Tadinya sih mau makan nasi Briyani dan teh tarik, tapi dia hanya jual di hari Minggu. Seporsi makanan warteg Melayu cuma 6RM. Waah, amazing ! akhirnya bisa menghemat, heheheh.
      Lepas makan, lanjut belanja-belanja di sekitar Medan Samudera. Biasa, buat yang dirumah, mau dibeliin kaos dan gantungan kunci utk disebar, hehehe. Jalan lagi ke Bangunan Merah, baru ketemu kedai es cendol. Katanya sih, es cendol di Melaka itu khas banget. Yaudah, saya beli yang es cendol kacang merah. Rasanya ??? Waah, enak banget !!! Pass buat saya yang ga terlalu suka manis. Kuah santannya gurih, cendolnya segar dan kacang merahnya manis. 
      Wah, okeh banget lah ! Rencana kalau ngidam, maunya ngidam es cendol Melaka. Hahahah
      Menjelang sore, saya bersiap menuju Mesjid Selat Melaka. Menikmati sunset sambil menunggu waktu magrib. Magrib di Malaysia, setengah tujuh. Tapi langitnya seperti setengah enam, Jakarta. Waktu di Malaysia tuh cepat banget ! Mungkin ini planet Merkurius, satu menit tiga puluh detik. Semua terasa cepat.
      Saya dan teman-teman menuju Masjid Selat Melaka menggunakan taksi online. Sampai di sana, waah indah banget ! Lebih indah dari foto-foto Google. Garis cakrawala sudah menyapa di langit. Air laut biru bersih tanpa sampah. Saya berdiri di halaman belakang Masjid menatap langit sore. Diterpa angin laut, dan ada beberapa wisatawan lain berlalu-lalang. Sayang, lagi nggak sholat Magrib di sini. 
      Akhirnya cuma nunggu teman yang sholat Maghrib, sambil jaga sendal hahaha.
      Malam terakhir di Melaka, saya menuju rumah makan Eeji Ban Chicken, penjual makanan khas Melaka. Ada Rice Balls, Asam Pedas, Nasi Lemak, harganya pun terjangkau. Berkesan makan ditempat ini, karena rumah makan Eeji Ban recomend dari supir taksi online. 
      4. Check Out Melaka
      Hari terakhir di Melaka, saya merasa sedih banget ninggalin tempat ini. Padahal rumah ini kampung orang, negeri orang, huhuhu. Nggak mau repot karena tas udah beranak, jadinya saya dan teman-teman naik taksi online ke Melaka Sentral.
      Di Malaysia pada umumnya, jarang ada sirik-sirikan or persaingan. Contohnya di terminal Sentral Melaka. Tadinya mau naik bus Delima,  bus terkenal dikalangan blogger yg pernah kesana. Tapi sama kenek Delima, disuruh ke bus satunya lagi yg kurang eksis. But its OK ! Yg ptg sampai, heheheh.
      Dua jam perjalanan menuju terminal bus TBS (Terminal Bersepadu Selatan), amazing !!! Terminal Bus rasa Bandara Terminal 3. Bersih, tertib, rapi. Dibawahnya, ada stasiun menuju KL Sentral. 
      5. Sehari di Kuala Lumpur 
      Berhubung pesawat tengah malam, jadi siang masih bisa jalan-jalan sebentar di Kuala Lumpur. Hunting foto di KLCC, Dataran Merdeka dan jalan-jalan ke Mall *lagi. 
      Dari Terminal TBS, naik KL transit ke stasiun KL SENTRAL seharga 6.5RM. Dari KL SENTRAL, bisa ke Batu Caves, KLCC, Mesjid Jamek, KLIA2. Ada peta seperti peta yang ada di halte Transjakarta, di sana juga ada petugas yang membantu dan menanyakan "Can i help you ?" So, tak perlu takut tersesat. 
      Stamina udah low, meski cuma naik turun kendaraan umum tp cukup bikin lemas. Selain makan, kita juga butuh vitamin, kalau capek lebih baik istirahat.
      Di KL SENTRAL, ada loker penitipan dg kunci sensor wajah. Jadi kita ga perlu deh tengteng tas beranak kesana kemari. Harganya 20RM utk loker kecil dan 30RM utk loker besar. Sangat disarankan berpergian sama teman, biar segala biaya bisa ditanggung bersama. Tapi milih juga yaa, teman yang gimana buat diajak jalan jauh. Apalagi, ke LN yg jalan kakinya jauh-jauh.
      Baiklah, itu pengalaman pertama saya traveling ke Melaka, Malaysia. Saya sangat suka tempat itu, lebih indah dari yg saya bayangkan. Terutama yg hobi fotografi, ini banyak spot-spot bagus di Melaka. 
      Oh Iyah, makasih banyak buat Mba Vira. Mgkn dia jarang aktif di forum ini. Saya pun juga newbie. Ketemu jalan2.com karena random ajah, hehehe. Lagi bosen, drpd stalking sang EX atau baca berita hoaks, iseng-iseng cari soal Melaka. Tiba-tiba muncul situs ini, dan saya kenalan sama Mba Vira. Nggak ada sedikitpun curiga bakal gimana nnt disana, tinggal jalan ajah. Hehehe
      Nah buat teman-teman, semoga tulisan saya membantu dan jadi referensi kalau kalian mau ke sana. Ingat, No need bilang, barang ini murah atau mahal. Soalnya beda "Peradaban".
       








       
    • By seyakasamira
      Lalala-yeyeye..Setelah menunggu selama 7 Bulan lamanya, akhirnya nemu juga 5 orang korban lain (*eh?!) yang bersedia nge-trip bareng ke sini..uwowww jd terharu sayaa..  so, langsung saja..
      Day 1.
      Kita berangkat hari Jumat tgl 26 Sept'14, naik pesawat TriganaAir dari Jakarta menuju PangkalanBun. Sesampainya disana langsung dijemput oleh Tour Guide kami (Pak Andreas dari Yobel Tour), dan kita dicarterin taxi untuk menuju pelabuhan Kumai dengan jarak tempuh yg lumayan singkat yaitu 30 menit saja..Da..engingjrennggg... langsung terkesima dengan kapal yang akan kita kendarai selama 3 hari 2 malam mendatang..huhuhu..ga nyangka kapalnya oke banget,bersih dan ga se-prihatin yg saya bayangkan (mulai norak).
       
      Jadi awak kapal terdiri dari 1 orang kapten kapal, 1 orang crew kapal, 1 orang juru masak, dan Pak Andreas sbg Tour Leadernya. Kapal yg populer dinamakan kapal kelotok (karena bunyinya klotok..klotok..klotok) ini cukup luas buat kami ber 6 plus 4 orang awak kapal. Ada 2 dek, dek bawah itu untuk aktivitas awak kapal (buat nahkodanya, tempat menyimpan kasur2 tamu, tempat masak, dll). Dek atas disediakan untuk tamu. Fasilitasnya juga Ok bgt, kamar mandi pakai shower dan ada closet duduk, disediakan meja makan, ada balkon dengan 2 kursi leyeh2 untuk berjemur (what?berjemur??udah ky areng ginih -____- ! ) Oiya, jangan sedih..kita dapat 3x makan dan 2x snack dalam 1 hari. dan masakannya sungguhlah berlimpah dan super yummy..





       
      Di hari pertama ini kita langsung menuju Tanjung Harapan untuk lihat feeding time nya orangutan. Trekking masuk hutan sekitar 1 km dan sesampai di tempat feeding cuaca mulai mendung dan turunlah hujan. Eh, ternyata disana sudah menunggu beberapa rombongan tourist yg mau lihat proses feeding time ini. Dan dikarenakan wisata tanjung puting ini lebih populer atau diminati tourist luar, maka pemandangan disini adalah bule bule semua   . Disini kita menunggu ?-/+ 30 menit hingga orangutan yg masih ngumpet pada mau turun dari atas pohon menghampiri "panggung" yg berisi pisang2. Beruntung kita bisa melihat orangutan yg muncul dikarenakan kalau hujan biasanya mereka prefer leyeh2 di atas pohon (macam manusia yg kalo hujan lebih senang nedekem di rumah). Uwoww, beda lho rasanya ngelihat orangutan di ragunan/taman safari dengan orangutan disini. Kalo disini ada perasaan degdegan kalo mereka melintas dengan tubuh besarnya itu. Dikarenakan orangutan liar belum terbiasa disentuh oleh manusia (tdk sperti kbon binatang di jakarta), maka juga ada anjuran jangan sembarangan memberi makan orangutan, jangan berdiri diantara orangutan jantan dan betina, jangan bersuara terlalu keras/ribut yg akan mengganggu ketenangan orangutan dan beberapa rambu2 lainnya.







       
      Diperjalanan pulang, ketika melintasi sungai sekonyer kita bisa melihat sekawanan bekantan di kiri dan kanan pepohonan, kalau beruntung bisa melihat buaya pula. Dan saya beruntung melihat buaya dengan mata merahnya sedang mengincar mangsa.
      Malam harinya kita ber candle light dinner dengan lauk ikan nila bakar, tumis kangkung, tempe goreng, uhmm apa lagi ya lupa hehehe dan ditutup dengan dessert potongan buah mangga. Bener2 beruntung dapet chef yg jago masak.  Setelah kenyang, kapal menuju tempat dimana kita bisa melihat kunang2 dimana-mana..woww ga bisa dilukiskan dengan kata2 kita lihat pemandangan sejuta bintang dan kunang2 yg seprti pohon natal di kiri kanan kita..(sayang ga bisa ke photo). suasana malam hari disana sangat sunyi dan syahdu. Hanya ada suara jangkrik dan serangga2 lain yg bersahut2an dan Anyway kita tidur disediakan kasur beserta kelambu..Thanks God we had a marvellous momment and unforgettable experiences.
       
      Day2.
      Yang biasanya pagi2 di jakarta dibangunin sama kokok ayam, eh jangan sedihh disini kita subuh2 dibangunin sama suara bekantan jejeritan yg sedang bersendagurau..woww so sweet bgt ga sih dibangunin suara monyet.. hehehe..Setelah sarapan nasi goreng ikan asin yang banyaknya naujubilah (tapi abis dan kenyang) dan ngeteh2 cantik, maka berangkatlah kita menuju Pondok Tanggui dan dilanjutkan ke Camp Leakey. Di Pondok Tanggui trekkingnya seru, byk spot2 lucu buat foto2, nemu tumbuhan kantong semar, rayap, akar liana, dll tapi sayang setelah menunggu selama 1 jam, orangutannya ga ada yang mau turun di tempat feeding. Mungkin karena masih pagi dan byk bgt wisatawan yg berkunjung kesana jadi mereka malu-malu mau gitu kali ye..







       
      Perjalanan dilanjutkan ke Camp Leakey, pusat rehabilitasinya orangutan. Perjalanan lumayan jauh sekitar 8 km, namun pemandangannya mulai berubah, pohon2 lebih rindang, kiri kanan bisa lihat burung kingfisher, lihat buaya dan biawak berenang, pokoknya settingannya mirip film annaconda deh ngeri-ngeri sedap gitu heheheh.. dan air sungai berubah menjadi lebih jernih dan berwarna hitam. Warna hitam dikarenakan dasar tanahnya gambut namun bening sekali. Sampai bisa ngaca dan hasil fotonya mengagumkan bgt,krn pohon2 yg terpantul di air seperti ada reflection effectnya.  Begitu menginjakkan kaki disini, kita disambut oleh kedatangan Siswi, orangutan betina dewasa yang dari kecil sudah diasuh disini. Dikarenakan hujan, dia mulai ngumpet2 nyari tempat berlindung dan menutupi kepalanya dengan mencabut2 dahan2 yg ditumbuhi banyak daun. Uwoww lutunaaa.. Perjalanan ternyata masih panjang. Pak Andreas mengarahkan untuk ambil jalur masuk hutan sambil lihat2 tumbuhan endemik yang ada di hutan sini,jadi sekitar 1,5 km untuk sampai ke tempat feedingnya orang utan. Beruntung bisa lihat beberapa orangutan,uwa-uwak,squirel yg ke "atas panggung" buat ambil makanan. Yang menyenangkan lihat proses feeding ini adalah, kita jadi tahu gimana cara manggil orangutan supaya turun, gimana liat proses mereka bergelayutan dari pohon ke pohon, gimana cara mereka mengupas pisang dan memasukkan ke mulut, gimana cara ibu orangutan memberi makan anaknya, gimana mimik muka/ekspresi mereka mengendap2 atau mencuri makan lalu kabur, dan banyak lagi tingkah laku kocak lainnya. Adapula kedatangan babihutan yang ikut meramaikan suasana. Setelah sekitar 2 jam muncullah orangutan yg kita tunggu2 yaitu Tom, the king of Camp Leakey. Ya, si Tom ini penguasanya. Selayaknya raja, binatang lain akan mundur atau menyingkir ketika rajanya datang dan membiarkan si raja menghabiskan makanan yg disediakan. Jika ada orangutan dewasa disekitar sana yang dirasa mengancam kedudukannya, serta merta akan terjadi baku hantam disana. Hampir saja kami melihat proses baku hantam itu, yaitu ketika Ponorogo (salah satu orangutan dewasa ) terbirit2 dikejar oleh Tom karena lebih dahulu mengambil jatah makanannya. Namun sayang tidak terkejar dan Tom kembali duduk di singgasanannya sambil minum susu. Ya, makanan yg disediakan oleh Ranger hutan (petugas yg memberi makan orangutan) itu biasanya adalah pisang, tebu, dan susu dancow. wow. hehehe..Perjalanan trekking pulang, kita dihampiri juga oleh orangutan remaja bernama Gajah Mada. Serem ya namanya, tapi ternyata unyu2 gitu penampilannya hihihi..

      siswi

      the team
      Tom
      Gajah Mada
       
      Day 3.
      The Last Day, pagi2 seperti biasa kita dibangunkan oleh sekawanan bekantan, namun kali ini pemandangannya bekantan lagi pada lompat-lompat main air, ceritanya mau nyebrang pohon melintasi sungai, cuman ada aja jatoh2nya di sungai.. LUCU BGT, tapi ga sempet kefoto saking terseponanya. Oia, karena kita malam itu kapal berlabuh di pinggir rawa2 masih dekat Camp Leakey, maka paginya pun kita juga dibangunkan oleh kikikan burung kingfisher, iya kikikkan bukan kicauan karena ternyata suaranya macam kuntilanak yg lagi ngikik. hiiiii...
      Sepanjang perjalanan pulang ke pelabuhan kumai, puas2in berjemur (literally berjemur, panas sih untung byk angin dan hewan kece) demiii menikmati pemandangan yang sebentar lagi akan kami tinggalkan huhuhu..
      Jam 12 siang kami sampai di bandara pangkalan bun dan belum siap move on untuk menghadapi hiruk pikukknya jakarta
       
    • By silvia_win
      Penang, Hatyai family trip Jun 2018
      Liburan sekolah kali ini sebenarnya agak malas jalan2 berhubung dollar lagi mahal...
      Iseng browsing tiket, ketemu tiket air asia jakarta penang pp 500 rb (promo big poin) ada 3 seats (3 tiket jakarta penang pp seharga 1.5 jt), hmm lumayan lah,  lalu beli 2 tiket lagi sekitar 3 juta (sudah termasuk 1 bagasi 20 kg pp) . Kami sekeluarga berangkat ber5 dari jakarta + papa mama yang berangkat dari medan.
       
       
       
       
      Day 1 Jakarta-Penang
      Sampai di Penang booking airport taxi dari airport ke Hong Ping Hotel. (400 rb quad room)
      Setelah check in naik taxi ke mall di sekat hotel untuk lunch, di daerah komtar ada berapa mall, tapi umumnya mallnya tidak besar.
      Setelah makan siang pulang ke hotel untuk istirahat, lalu dengan petunjuk peta dari hotel saya berkeliling di objek wisata street art yang letaknya tidak jauh dari hotel. Street art berada pada jalanan kecil/ gang berupa gambar mural di dinding rumah warga yang kebanyakan adalah bangunan tua. Sepanjang jalan banyak toko2 souvenir, makanan, sewa sepeda, rumah makan, juga banyak rombongan turis. Selain gambar mural juga terdapat gambar art dari besi yang dijadikan nama jalan dengan gambar menarik. Saya menelusuri jalanan dengan mural art yang berujung ke dermaga kuno di chew jetty, dermaga yg sudah ada sejak pertengahan abad ke 19, ada beberapa jetty di sana yg masing2 mewakili marga warga yg tinggal di sana yang datang dari China. Jetty di sana dari kayu dan rumahnya adalah rumah panggung dari kayu.
      Malamnya kami makan di street food di depan hotel. Di depan hotel ada banyak street food yg buka dari sore hingga larut malam.
       
       
       
       
      Day 2 Penang tour.
      Hari ini sewa mobil untuk jalan2 di penang (rm 45/jam untuk yg 7 seats, sewa di travel dekat hotel, sebelumnya tanya di hotel katanya adanya yg 10 seats rm 60/jam), kami berangkat siang, karena paginya mama mau mcu ke rumah sakit.
      Siang saat berangkat turun hujan, supir rent car mulai promo toko souvenir, berhubung hujan saya iyain saja, mampir ke toko coklat, kopi, teh dll, yang harganya mahal... tentu saja tidak beli apa2, hanya cicip cicip saja, emang enak sih sebanding dengan harganya.
      Stop 1 : Sleeping Buddha temple, vihara ini letaknya di tengah kota.
      Stop2 : Kek Lok Si temple, vihara yang terletak di daerah perbukitan, kami di drop di bagian atas, di sini  ada tempat pemujaan dan terdapat patung besar dewi Kuan Yin, dari sini juga bisa dilihat pemandangan kota penang. Setelah menikmati pemandangan, kami naik sky lift (@rm2) untuk turun ke pertengahan kompleks bangunan vihara yang terdapat objek wisata pagoda sepuluh ribu Buddha. Dari sini naik sky lift lagi turun ke parkir bawah.
      Stop 3 : Batu Ferringhi, supir mengusulkan kita ke bukit bendera yang tidak jauh dari kek lok si, tapi saya tidak berminat, sebelumnya di kek lok si sudah cukup lama  melihat pemandangan kota dari atas bukit, memang objek wisata di bukit bendera mungkin akan berbeda dengan kek lok si, tapi berhubung tidak banyak waktu saya lebih memilih pergi melihat pantai. Batu Ferringhi letaknya cukup jauh dari Kek Lok Si, perjalanan satu jam lebih, kami sampai di sana menjelang sun set, main bentar di pantai dan menikmati sun set, saya merasa pantainya biasa2 saja, pasirnya terasa agak kasar.
       
      Day 3 Penang-Hatyai
      Hari ini kami berangkat ke hatyai,  kami memesan tiket van penang hatyai pp di hotel @rm70 (dijemput di hotel penang dan didrop di hotel di hatyai). Berangkat jam 9 pagi, berhubung kami pertama dijemput, tentunya kami memilih tempat yang nyaman sesuai selera masing2. Seatnya cukup lapang dan nyaman, tidak lama kemudian perjalanan kami melewati jembatan pulau penang, jembatan yang panjangnya 13.5 km merupakan land mark penang yang pemandangannya sangat indah. Jalan dari penang ke hatyai cukup mulus, sebelum sampai di imigrasi perbatasan malaysia, supir berhenti di satu pos untuk mengisi formulir, kami perlu membayar formulir @rm2, lalu perjalanan dilanjutkan ke imigrasi malaysia keluar lalu masuk ke imigrasi thailand, dari perbatasan thailand ke kota hatyai, kami singgah di kantor travel, untuk di data mau di drop di hotel apa, di sini saya menganti jadwal kepulangan kami, di mana 2 di antara kami ingin pulang besok sore. (staff travelnya tidak masalah ganti waktu dia mencatat perubahan jadwal di catatannya). Kami lalu di drop di hotel (Siam Hotel harga 300 ribu untuk kamar ber2). Hotel ini cukup besar dan punya banyak kamar. Kami mendapat kamar di tingkat 13, pemandangan dari kamar cukup indah dengan pemandangan gunung dan kota hatyai).
      Setelah check up keluar cari makan siang, jalan kaki ke lee garden plaza hotel di mana di sini byk toko, mall, pasar dll, mall di sini tidaklah besar, kami masuk ke mall ke food court cari makan dan ke supermarket lihat2. Makanan di mall harganya sekitar 50-60 bath, makanan thailand sangat sesuai dengan selera. Setelah makan ke supermarket belanja bumbu tom yam dll, saat bayar saya menanyakan kasir di mana ada money changer, seorang pengunjung berbaik hati mengantarkan kami ke money changer yang ada di dekat sana, money changernya cukup ramai dan di sampingnya ada travel, kebetulan lagi mau cari car rental, lalu saya rent car 10 seats seharga 2000 bath (+wajib asuransi 30 bath/orang), sebenarnya kami ber7, ada yang 7 seats seharga 1700 bath, tapi saya request yg chinese speaking driver, katanya supir yang 10 seats bisa, yg 7 seats ngga bisa.
      Setelahnya saya kembali ke hotel untuk isitirahat, sorenya kami keluar untuk dinner ke lee garden plaza hotel lantai 33 buffet resto. Harga makan buffet di sini tidak mahal, dewasa @169 bath, lansia@119bath, anak kecil @69 bath. Makanannya cukup banyak dan enak + aneka kue, buah, minum, es krim. Juga pemandangan yang indah dari lantai 33 membuat kami betah lama di sini. Dari pemandangan langit terang, sun set ke langit gelap dengan lampu di bangunan kota hatyai, sungguh merupakan dinner yang berkesan bagi saya.
      Selesai dinner kami mengitari sekeliling lee garden hotel plaza yang banyak terdapat toko2, kuliner, dll. Kulinernya cukup mengiurkan tapi perut sudah kenyang cuma lihat2 dan berpikir besok baru coba.
       
       
       
       
      Day 4 Hatyai Tour
      Berhubung tidak ada sarapan di hotel, pagi saya keluar mencari sarapan, ternyata di dekat hotel ada pasar pagi, pasarnya cukup besar dan ada aneka sarapan, pemandangan menarik di pasar ada bhikkhu2 melakukan pindapata (mengumpulkan sumbangan makanan dll). Rombongan bhikkhunya cukup banyak ada juga yang usia muda juga rombongan bhikkhuni, umat yang memberikan makanan juga cukup banyak, baik penjual maupun pengunjung pasar. Saya sangat tertarik untuk mengitar lama di pasar, banyak kue2 dan barang jualan lain yang memikat, tapi berhubung waktu tidak banyak, saya membeli aneka sarapan dan buah leci, lalu pulang ke hotel membagikan sarapan dan makan sarapan. Kue2 dan sarapan yang dibeli sangat enak, makanan thailand emang cocok di lidah dan harganya pun cukup murah. Lalu bersiap2 turun ke lobi menunggu car rental yang dipesan kemarin.
      Ternyata yang datang mobil 7 seats dengan driver yang hanya bisa berbahasa thailand, saya tel tanya ke travelnya katanya yg 10 seats lagi tidak available, ya sudahlah...
      Saatnya saya memakai keahlian bahasa isyarat... : ) , pertama saya minta supirnya berhenti di 7-11, mau beli air minum, saya malas beli di pasar tadi bawanya berat, lalu dia tanya kami mau ke mana, saya jawab wat (temple).
      Stop 1 : Sleeping Buddha temple : wat ini mempunyai satu patung buddha tidur di dalamnya. Setelah melihat2 saya duduk2 di kedai minum kelapa, supir mengeluarkan selembar brosur dengan foto2 tempat wisata dan menanyakan mau pergi ke mana, saya pun memilih beberapa tempat wisata yang kelihatannya besar. Berhubung mau kembali ke hotel sekitar jam 2 sebenarnya kami juga tidak berencana pergi ke banyak tempat.
      Stop 2 : Pantai samila (mermaid statue) : pantai ini terdapat patung putri duyung yang merupakan ikonnya, walau cuaca panas di sini terdapat kursi2 dan tempat teduh di bawah perpohonan di sepanjang pantai, pantainya bersih dan pasirnya halus.  Saya betah duduk agak lama dan berjalan di pasir di pantai.
      Stop 3 : 4 face Buddha (kalau tidak salah) : berhubung jalan ke sananya naik tangga, kami malas pergi, hanya singgah bentar.
      Stop 4 : Standing Buddha temple (Phraj Buddha Mongkol Maharaj) : vihara di atas bukit dengan patung besar Buddha berdiri. Di sini bisa melihat pemandangan dari atas bukit, di samping vihara ada halte cable car dan coffee shop, kami duduk2 ngopi dan melihat pemandangan kota.
      Stop 5 : Kuan Yin temple : vihara dewi kuan yin ini letaknya tidak jauh di bawah standing buddha temple, terdapat patung dewi kuan yin warna putih
      Berhubung waktu sudah siang, kami bersiap pulang ke hatyai.
      Diperjalanan ada melewati yang jual durian, saya tanya ke supir berapa harga durian di sana, katanya harganya 400 bath, cukup mahal juga harganya.
      (saya tertarik belajar bahasa thailand, sebelum pergi saya sempat belajar sedikit bahasa thai di youtube, tapi cuma bisa mencerna sedikit tentang angka dan greeting, lumayan juga bisa di pakai di pasar) 
      Ternyata perjalanan pulang ke hatyai cuma sekitar setengah jam, kami meminta supir mengantar kami makan siang, minta di antar makan tom yam kung, dia mengantarkan kami ke sebuah resto untuk makan siang, yang mana makanannya enak dan tidak mahal, yang paling berkesan tentu saja tong yam nya, juga ada lauk dari daging kelapa yang ditumis, yummy... (kalau teringat makanan thailand sering ingin balik ke thailand)
      Setelah makan siang kami kembali ke hotel, papa mama bersiap2 mau pulang ke penang duluan, berhubung mau wisata rumah sakit di penang katanya.
      Saya berjalan kaki ke travel tempat saya pesan sewa mobil, minta refund selisih harga mobil, lalu kembali ke hotel duduk2 di lobby temani ortu tunggu jemputan travel untuk kembali ke penang. Di Siam Hotel tempat kami tinggal, internetnya hanya ada di lobby, tidak ada di kamar.
       
       
       
      Saya ingat saat ini saya membaca sebuah berita ttg tim sepak bola remaja thailand yang hilang yang mana sampai saya pulangpun belum ditemukan, dan akhirnya mereka berhasil keluar dengan selamat. Sekalian saya post di sini sebuah dokumentasi ttg thai cave rescue sebagai note saya.
        https://www.youtube.com/watch?v=x_kiX0uUDNI
       
      Ada beberapa tuk-tuk (songthaew) yang stand by di hotel dan menawarin untuk mengantar jalan2, lagi malas jalan jauh, sore shopping ke mall dan toko sekitar hotel (lee garden plaza hotel) .
      Day 5 Hatyai-Penang
       Pagi mampir ke pasar pagi lagi, membeli sarapan, juga membeli pete kupas buat di bawa pulang.
      Lalu perjalanan hatyai kembali ke penang.
      Sampai di penang istirahat di hotel, sorenya jalan2 di sekitar hotel ke mural art street, chew jetty melihat sunset di sini lalu makan di food court di seberang chew jetty, food courtnya besar dan banyak makanannya.
      Day 6 Penang-Jakarta
      Pagi berangkat dari hotel ke airport, booking airport transfer dari hotel seharga rm 70 untuk mobil 10 seats. Supirnya membagikan kartu nama dan menawarkan car rental bisa dibooking untuk ke hatyai katanya, saya tanya harganya katanya tergantung hotelnya. Saya tanya harga kalau keliling penang, katanya rm30/jam... lumayanlah buat next time...
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       




    • By Hanzo Urang Ciwidey
      Izin Admin buat FR lagi meskipun ya ini perjalanan ane 3 bulan yang lalu 
       
      Berawal dari salah satu ajakan dari Hima kampus untuk menjadi petunjuk arah jalan-jalan one day trip menyelusuri cianjur selatan selama 1 hari full maka pada awal tahun 2015 ane sepakat berangkat bareng hima kampus untuk menelusuri cianjur selatan memakai motor dengan jarak yang di tempuh sekitar 200km pulang pergi.
       
      Berangkat : ciwidey-parigi-pantai jayanti-rancabuaya

       
      pulang : rancabuaya - cisewu - pangalengan - ciwidey

       
      07:00
       
      pagi2 ane langsung siap2 nyiapin motor untuk menunggu teman-teman Hima dari Bandung yang berangkat jam 5 shubuh dari sana "untuk menanggulangi macet di karenakan liburan tahun baru area ciwidey dan sekitarnya pasti macet parah".
       
      Ciwidey di pagi hari

       

       
      teman2 dari kampus sudah pada dateng

       
      Setengah jam kemudian setelah dari Hima kampus sampai di meet point dan mengecek persiapan kita dari bensin dan perlengkapan lainya kita pun berangkat, jarak yang dilalui memang termasuk unik awal-awal kita memasuki dataran tinggi melewati Perkebunan teh rancabali sampai ke perbatasan Kabupaten Bandung dan Cianjur lalu di lanjut melalui hutan-hutan kecil dan lembah2 yang di kelilingi oleh banyak air terjun sehingga kerap jalan yang kita lalui ini suka disebut jalan seribu air terjun.
       
      Armada + peralatan tempur   

       
      Kebun Teh Rancabali

       

       

       
      Pondok Datar  "pemandanganya lebih keren dari tebing keraton"   

       

       

       

       
      tugu perbatasan Kab Bandung dan Kab Cianjur "selamat datang ke jalur 1000 air terjun

       
      Air terjun dimana-mana     
       

       

       

       
      Curug Ceret "air terjun yang persis di pinggir jalan"   

       

       
       
       
      mungkin karena teman2 ane yang dari Hima kampus belum terbiasa perjalanan jauh maka kita pun beristirahat dahulu di salah satu warung baso di pinggir jalan sambil mengisi energi karena setelah jalur 1000 air terjun abis perjalanan berlanjut ke turunan hingga sampai pantai jayanti.
      Istirahat dlu bray 



       
      Perjalanan di lanjut banyak turunan bray

       
       
       
      Jam 11 pas akhirnya kita sampai juga di Cidaun kampung pesisir di cianjur selatan yang lebih terkenal dengan pantai Jayanti cuman sayang peran dari pemerintah sepertinya belum optimal sehingga fasilitas di pantai ini bisa disebut kurang memadai.
       
      Pantai Jayanti

       

       

       

       
       
       
      hanya 1 jam setengah kita di pantai jayanti ini karena tujuan utama ke rancabuaya maka perjalanan pun dilanjutan dengan menyulusuri pantai kita menuju rancabuaya , jalan yang lurus dengan disisi kanan jalan adalah pantai di sepanjang jalan menemani kita dengan jarak tempuh dari pantai jayanti ke rancabuaya selama 30 menit dan kita juga harus melintasi kabupaten cianjur karena rancabuaya masuk ke Kabupaten Garut
       

       

       

       
      Sampai juga di rancabuaya

       

       

       

       
      tidak terasa waktu sudah menunjukan sore hari.... supaya tidak kemalaman di jalan maka dengan berat hari kita pun harus berangkat pulang kali ini untuk pulang kita tidak mengambil jalan yang sama tapi jalan ke arah cisewu jam 4 kita sudah packing sudah siap2 sudah pulang.
       
      Perjalanan pulang

       

       
      Perbatasan Kab Garut - Kab Bandung "pangalengan"

       
      Kabut bray

       
      dan akhirnya setelah kurang lebih 9 jam berkendara (tidak termasuk berhenti dan main di lokasi) ane pun sampai kembali ke rumah pada jam 8 malam pengalaman yang tidak terlupakan karena dengan motor ane yang kapasitas tangki cuman 2 liter dan harus beberapa kali isi bensin tapi liburan di awal tahun 2015 sangat puas.
       
      kapan2 kalau ada yang mau one day trip lagi ane siap nemenin 
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       








    • By Mulyati Asih
      Sayup-sayup terdengar teriakan dari bangku depan mini bus yang kami tumpangi.
       
      “Sudah sampai jangan lupa ongkosnya sepuluh ribu ya,” suara mas Budi membangunkan tidur saya.
       
      Perjalanan satu jam dari Gombong ke desa Candirenggo sengaja saya manfaatkan untuk tidur, maklumlah di perjalanan sebelumnya dari Jakarta tidur saya sangat terbatas. Hujan rintik menyambut kedatangan kami ketika kaki kiri melangkah turun dari bus. Sejenak saya melihat ke sekeliling dan melirik jam tangan waktu menunjukkan pukul 06.45 pagi, kemudian berlari kecil menyusul rombongan menuju home stay.
       
      Caving atau susur goa akan dimulai pukul sepuluh, tidak hanya rombongan kami dalam kegiatan ini ada juga rombongan Patrapala (Pertamina Pecinta Alam) Cilacap. Sambil menunggu rombongan Patrapala kami duduk di teras home stay, masih cukup waktu untuk kami beristirahat dan santai. Hujan belum juga berhenti, pandangan saya tertuju pada sebuah bukit ditutupi rimbunan pohon yang kemudian baru saya ketahui di sanalah lokasi Goa Petruk. Goa Petruk dan Goa Liyah sendiri masuk dalam Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS) kabupaten Kebumen Jawa Tengah.
       
      Persiapan
       
      Ini adalah kali pertama saya, Elvi, Patricia, Louis, Mas Indar dan Apri mengikuti caving Goa Petruk dan Goa Liyah, sedangkan mas Budi justru sudah berkali-kali dan mas Budi lah yang mengajak kami sampai ke tempat ini. Masing-masing dari kami mengambil perlengkapan caving dan kini wearpack, boots sudah kami kenakan,helmet dan headlamp pun sudah menempel di kepala kami. Tidak ketinggalan kamera anti air siap mengabadikan perjalanan kami, caving diperkirakan akan berakhir pukul lima sore jadi makanan ringan dan minuman wajib dibawa dan siap memenuhi dry bag kami. Sebelum caving dimulai  mas Yos pemandu kami yang pernah bekerja sebagai crew Jejak Petualang salah satu program televisi swasta mengajak kami untuk berdoa dan menyampaikan beberapa etika yang harus dipegang teguh oleh para penelusur goa.
       
      “Baiklah sebelum caving dimulai ada etika-etika yang tidak boleh dilanggar yaitu jangan mengambil apapun kecuali foto, jangan membunuh apapun kecuali waktu dan jangan meninggalkan apapun kecuali jejak,” etika-etika yang disampaikan mas Yos sudah tidak asing lagi di telinga saya, karena etika-etika tersebut sudah menjadi motto bersama para pecinta alam.
       
      Dalam memandu kami mas Yos dibantu oleh seorang dari Mapala Trabas yang bertugas membawa perlengkapan keselamatan caving antara lain tali, tali webbing,seat harness, carabiner dan lain-lain. Semuanya sudah siap dan berjalanlah kami menuju pintu masuk Objek Wisata Goa Petruk, 21 orang dari rombongan Patrapala berjalan di depan kami.
       
      Caving Goa Petruk
       
      Di depan pintu masuk Objek Wisata Goa Petruk berdiri terbentang peta wisata Goa Petruk lengkap dengan keterangan aliran sendang (mata air), aliran sungai dan objek batu-batuan. Dari pintu masuk kami harus berjalan mengikuti tangga buatan, rindangnya pepohonan di kiri dan di kanan jalan menjadikan perjalanan terasa sejuk. Di kiri jalan terlihat air terjun kecil mengalir ke dasar jurang, di sepanjang jalan juga terdapat tempat-tempat istirahat. Lima belas menit yang melelahkan akhirnya sampai juga kami di mulut Goa Petruk.
       

      Mulut Gua Petruk
      Cahaya surya di mulut goa perlahan pudar sejauh langkah kaki kami menyusuri lorong-lorong goa. Goa  horizontal sedalam 644 meter yang secara administratif terletak di Dukuh Mandayana, Desa Candirenggo, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen Jawa Tengah ini masih sangat alami, tak ada penerangan sama sekali di dalamnya. Goa yang menyimpan banyak ornamen-ornamen berupa stalagtit,
       
      stalagmit dan flowstone yang akan terus dijaga kealamiannya. Penamaan Goa Petruk itu sendiri diambil dari nama tokoh pewayangan Petruk, konon di goa ini terdapat batu yang menyerupai hidung mancung tokoh wayang Petruk tapi karena ulah Belanda yang melakukan penambangan phosfat sehingga batu yang menyerupai hidung mancung Petruk itu patah dan sekarang sudah tidak terlihat lagi.
       
        Masuk sedikit ke dalam menelisik kegelapan kami disambut stalagtit Tirai Pintu, seolah menjadi pembatas antara dunia gelap dan dunia luar yang bercahaya. Di sini mas Yos mengajak kami untuk meresapi kegelapan, mematikan semua sumber cahaya yang kami bawa. Dalam gelap kami mensyukuri atas nikmat penglihatan dan panca indera mata yang Allah SWT berikan. Berjalan terus ke dalam melewati aliran sungai setinggi kurang lebih sepuluh sentimeter, di kanannya terdapat jalan yang sengaja ditutup oleh pagar besi. Awalnya saya mengira pagar besi itu sengaja dipasang untuk pegangan kita saat melewati aliran sungai tapi ternyata pagar besi itu sengaja untuk menutup jalan menuju lorong aliran sungai. Dalam sorotan headlamp saya terus mencari keindahan disetiap sudut goa, tak jauh dari saya berdiri ada papan bertuliskan cat merah dengan tulisan Sendang Katak. Diantara cekungan batu yang bertingkat-tingkat terdapat genangan mata air, konon dulu di tempat itu banyak kataknya sehingga dinamakan Sendang Katak.
       
      Semakin jauh berjalan, tak hanya suara gemericik aliran sungai ataupun tetesan air yang terdengar tapi bau pesing kotoran kelelawarpun mulai tercium. Di dinding goa anak-anak kelelawar bergelantungan dan beterbangan, saya berjalan cepat melewatinya. Di depan terlihat dua batu putih tinggi mencolok dalam sorotan lampu petromaks namanya batu Lukar Busono , di tengah-tengahnya dari atas mengalir air yang konon bagi yang mempercayainya air tersebut dapat membuat awet muda ataupun dapat menyembuhkan penyakit. Saat kami melewatinya ada empat orang duduk di depan batu Lukar Busono ditemani pemandu yang membawa petromaks, entahlah apa yang mereka lakukan.
       
      Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri lorong lebih dalam lebih masuk ke dalam perut bumi, aneka stalagtit, stalagmit dan flowstone mengisi setiap ruang goa. Mereka sambung menyambung tak berjedah menghiasi setiap sudut goa. Ada Flowstone Otak bentuknya bulat putih mirip sekali dengan otak, Flowstone Usus bentuknyapun eksotis sangat mirip dengan usus. Bergerak ke depan dan kami menemukan Flowstone Air Mancur. 

      Flowston otak
       
      Flowstone pada awalnya terbentuk melalui lapisan yang encer secara perlahan-lahan di dasar atau lantai gua, kemudian lapisan yang tipis tadi menebal melalui tetesan air yang membawah mineral penyusun (kalsit serta mineral karbonat lainnya) hingga menebal dan membentuk ornamen-ornamen seperti Flowstone Otak, Flowstone Usus dan Flowstone Air Mancur tadi. Sayapun harus berjalan hati-hati karena banyak stalagmit yang tumbuh di lantai goa, pertumbuhannyapun masih pendek sehingga saya tidak ingin sampai menginjaknya.
       
      Perjalanan tidak sampai di sini berikutnya kami harus berjalan melewati genangan air dari aliran sungai bawah tanah dengan ketinggian kurang dari lima puluh sentimeter. Berpegangan pada dinding goa kami harus menyeberanginya dengan hati-hati, berjalan sedikit merunduk karena atap goa yang dipenuhi stalagtit bisa mengenai kepala kita.

      Menyeberangi aliran sungai bawah laut
       
      Berjalan terus dan saya melewati papan bertuliskan Jangan Menyentuh Batu Payudara, stalagtit-stalagtit yang kami lewati maaf bentuknya mirip payudara. Sebenarnya tidak hanya Batu Payudara yang tidak boleh disentuh, semua stalagtit, stalagmit dan flowstone yang ada di dalam goa memang tidak boleh kita sentuh karena tangan kita yang didominasi oleh zat asam akan menghambat pertumbuhan stalagtit, stalagmit ataupun flowstone.  Butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk stalagtit, stalagmit dan flowstone tersebut tumbuh, menyentuhnya sama artinya kita menghancurkan karya indah Tuhan. Selanjutnya kami harus melewati dan menaiki celah lubang kecil untuk menuju ke tingkatan goa berikutnya, rasanya lega karena sudah tidak melewati genangan air lagi sudah bisa menghirup udara yang tidak pengap lagi. Ternyata saya keliru di depan jalan yang harus kami lewati adalah berjalan miring dan merunduk diapit antara dinding-dinding goa, celah diantara dinding-dindingnya pun sangat sempit sehingga kami harus antri untuk melewatinya.
       

      Batu Lonceng
      Tak terlihat lagi adanya stalagtit, stalagmit ataupun flowstone yang cantik, hanya ada dinding-dinding goa dengan batuan besar seolah-olah menghalangi langkah kami. Terus berjalan beriringan langkah kaki kami berikutnya menyusuri dinding goa di bawahnya ada aliran sungai mengalir.
       
      Sampai akhirnya kami menemukan genangan air atau aliran sungai yang cukup besar, di atasnya stalagtit-stalagtit menghiasi atap goa dan di sini kami harus berjalan jongkok  dengan ketinggian air kurang lebih lima puluh sentimeter. Stalagtit- stalagtit yang menggantung di atap goa bentuknya cantik-cantik dengan tetesan air menghiasi pada ujung-ujungnya dan berkilau bila tersorot lampu. Berjalan terus di ujung aliran air ini terdapat stalagtit berbentuk lonceng dengan kucuran air mengalir di pinggir-pinggirnya mirip seperti shower  dan kami cukup lama di sini untuk antri berfoto.
         
      Aliran sungai sudah kami lewati, di depan berikutnya kami harus berjalan merangkak melewati celah dinding dengan ketinggian kurang dari satu meter dan panjang kurang dari dua meter, beruntunglah medan yang ditempuh tak terlalu panjang. Pemandangan stalagtit dan stalagmit putih besar laksana pilar-pilar penyangga gedung bertingkat terbentang menyambut kami, dengan hati-hati kami melewati diantara celah-celahnya.

      Masuk dari mulut Gua Petruk dan keluar di mulut Gua Jemblongan
       
      Sorotan cahaya kini dapat kami tangkap dari kejauhan itu artinya mulut goa sudah ada di depan kami, puas berfoto-foto dalam sorotan cahaya surya berikutnya kami harus melewati atau menaiki batu-batuan besar menuju mulut Goa Jemblongan. Tak sabar rasanya ingin menghirup udara luar dan hembusan angin dari pepohonan di sekeliling mulut goa. Akhirnya bisa bernapas lega setelah satu setengah jam lamanya menyusuri lorong-lorong Goa Petruk dengan suguhan keindahan aneka stalagtit, stalagmit dan flowstone.
       
      Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Goa Liyah kami istirahat dulu di atas mulut Goa Jemblongan, meluruskan kaki sambil menikmati bekal makanan dan minuman yang kami bawa. Ramai terdengar obrolan dan candaan dari rombongan Patrapala, semuanya masih bersemangat melanjutkan perjalanan menuju Goa Liyah.
       
      Caving Goa Liyah
       
      Jarak tempuh kurang lebih satu jam dari mulut Goa Jemblongan ke Goa Liyah harus kami tempuh melewati semak belukar. Sampailah kami pada rumah penduduk dan ternyata jumlahnya hanya kurang lebih lima rumah. Beristirahat sejenak di teras salah satu rumah penduduk, di rumah yang lain pintu rumah mereka terbuka dan mereka menyediakan air minum untuk kami. Bahkan salah satu dari penduduk mempersilahkan kami memetik buah salak yang tumbuh di pekarangan rumah mereka. Dari rumah penduduk saya berjalan mengikuti sebagian rombongan belok ke kiri, rombongan yang lainnya berteriak karena kami salah jalan.
       
      “Heeey mau ke mana?” rombongan lain menegur kami yang salah jalan.
       
      Sadar bahwa kami salah jalan kemudian balik arah mengikuti langkah rombongan lainnya. Saat mencari jalan diantara rumah penduduk lagi-lagi rombongan di depan kami juga salah jalan, teriakan seorang ibu menyadarkan kami dan diikuti gelak tawa bahwa mereka pun salah jalan. Berikutnya jalanan lurus diantara semak-semak, sambil terus berjalan saya masih memikirkan rumah penduduk tadi sempat heran juga di tengah-tengah perkebunan bahkan seperti hutan jauh dari desa ada juga rumah penduduk, Patricia pun sempat kahwatir kalau anak-anak mereka sakit mereka harus jauh pergi ke desa untuk berobat.
       
      “Itu kalau malam ada anak mereka sakit gimana ya?” ujar Patricia penuh kahwatir dan tanda tanya.
       
      “Anak-anak mereka sekolahnya di mana ya?” tambah saya penasaran.
       
      Pertanyaan yang sama-sama tidak bisa kami jawab dan hanya menerka-nerka jawabannya. Di kiri jalan  terlihat bukit kars dengan batuan putih terlihat jelas, mungkin di sana ada goa tebak saya dalam hati. Terus berjalan di depan terlihat jalan setapak yang bisa dilalui motor dan mobil.

      Istirahat sebelum treking menuju mulut Gua Liyah
       
      Sambil menunggu rombongan yang tertinggal kami istirahat duduk di bawah pohon jati, kemudian melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak sejauh kurang lebih lima puluh meter. Di kanan jalan di antara semak-semak di sanalah mulut Goa Liyah. Dari jalan memang tak terlihat sama sekali mulut goa karena terhalang oleh semak-semak, lagi-lagi pertanyaan yang dilontarkan Patricia tidak bisa saya jawab.
       
      “Siapa sih yang pertama kali menemukan ada goa di tempat ini?” tanya Patricia kagum.
       
      Tak seperti Goa Petruk dengan mulut goanya yang terbuka lebar, mulut  Goa Liyah justru sangat kecil dan kami harus antri  untuk masuk. Berjalan terus masuk lebih ke dalam kami harus melewati celah kecil berjalan miring dalam himpitan diantara dinding-dinding goa dan batu-batuan besar.

      Mulut Gua Liyah 1
       
      Terus berjalan tak ada stalagtit, stalagmit ataupun flowstone berbentuk menyerupai simbol-simbol dalam kehidupan yang kami temui, hanya ada batu-batu besar seakan menghalangi langkah kami. Batu pualam berkilau indah menempel di dinding-dinding goa, ruang goanya pun besar tak terkesan pengap. Kami harus berjalan hati-hati karena masih banyak lubang-lubang sisa penambangan phosfat yang dibiarkan terbuka begitu saja. 
       
      Jalanan yang becek dan berlumpur semakin memperlambat langkah kami, jika tak hati-hati bisa terjerembab dan jatuh ke lumpur. Itulah yang saya alami, kaki kanan saya sulit untuk melangkah karena lengket dan pekatnya lumpur yang menempel di boots dan ketika saya berusaha mengangkat kaki kiri justru badan saya tak seimbang, untunglah dengan sigap kedua tangan saya tempelkan ke lantai goa untuk menahan badan supaya tak jatuh ke lumpur. Penuh hati-hati saya berusaha menyusul rombongan.
       
      Biasanya rombongan Patrapala berjalan sangat cepat tapi di depan terlihat semuanya berhenti, penasaran juga kenapa jadi macet di jalan. Sambil mencondongkan badan saya berusaha mencari tahu ada apa di depan dan ternyata semua harus antri untuk melewati lubang kecil dan berjalan tiarap seperti cicak, hanya cara itu yang bisa dilakukan untuk bisa melewatinya.

      Melewati celah kecil
       
      Tiba giliran saya untuk melewatinya, sambil merebahkan badan dengan posisi telungkup penuh hati-hati saya menggerakkan tangan dan badan. Tak lama kemudian kepala sudah dapat saya tengadahkan, ternyata panjangnya tak mencapai dua meter. Struktur Goa Liyah memang sangat berbeda dengan Goa Petruk, stalagtit-stalagtit menggantung bentuknya besar-besar, batu-batuan besar menjadikan dinding goa seperti lorong antara gedung-gedung bertingkat di perkotaan. Rasa takjub begitu kami melewatinya dan sayang kalau tak berfoto di sana dan mengabadikannya dalam jepretan lensa, ternyata kami sudah tertinggal jauh dari rombongan Patrapala  Pertamina Cilacap dan mas Yos menghampiri kami takut kalau kami tertinggal jauh dan tak tau jalan.
       
      “Ayo kalian sudah tertinggal jauh dari rombongan Pertamina, Budi mana?” ucap mas Yos melihat kami yang hanya diam berdiri dan tak melihat mas Budi diantara kami.
       
      “Sebentar mas masih ada dua orang tertinggal dibelakang, mas Budi lagi menyusul yang di belakang,” jawab salah satu dari kami.
       
      Setelah dipastikan jumlah rombongan kami lengkap tujuh orang bergegas kami menyusul rombongan Patrapala Pertamina Cilacap yang sudah berjalan jauh. Saat kami menemukannya, mereka sedang duduk-duduk dan ternyata antri untuk menuruni tebing. Caving Goa Liyah memang lebih menantang dibandingkan Goa Petruk, di sini diperlukan peralatan keselamatan caving serta pemandu yang berpengalaman. Sebagian dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap sudah ada di bawah dan kini giliran perempuan yang didahulukan untuk menuruninya. Saya pun beranjak dari duduk saya dan antri di barisan perempuan.
       
      “Perempuan-perempuan duluan yang turun,” teriak salah satu dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap.
       
      Sambil antri saya memperhatikan cara menuruni tebing itu, dan kini giliran saya yang harus turun. Ada tiga tingkatan tebing yang harus saya lalui, dengan serius saya mendengarkan arahan dari Instruktur supaya saya tak celaka dan bisa melaluinya dengan baik.

      Rapelling di dalam Gua Liyah
      ''Pegang tali webbingnya Mba trus turun sambil ulur talinya,” jelas salah satu instruktur dari Patrapala Pertamina Cilacap.
       
       
       
      Dengan kencang saya menggenggam tali webbing kemudian mengulurnya sambil turun, di sini saya sempat panik ketika melewati bagian tali webbing yang licin sedangkan saya tidak memakai sarung tangan, tapi tali webbing tetap saya genggam kencang. Suara-suara Instruktur terus mengarahkan gerak saya.
       
      “Liat terus ke bawah dan kaki cari injakan, ya terus turun jangan lepas talinya,” teriak Instruktur mengarahkan gerak saya.
       
      Kaki saya akhirnya bisa menyentuh lantai, satu tingkatan sudah saya lalui dengan ketingginan kurang lebih tiga meter dan sudah ada satu Instruktur yang berjaga di sini siap membantu dan mengarahkan untuk langkah berikutnya.
       
      “Turun terus jangan lepas talinya, pandangan terus ke bawah liat injakan,” jelas Instruktur.
       
      Dengan hati-hati saya menuruni tebing dengan tali webbing tetap saya genggam dan kaki terus mencari injakan, sampai akhirnya kaki ini bisa menyentuh lantai dan tali webbing sudah bisa saya lepaskan. Kemudian petugas yang lain menyuruh saya berjalan ke arah tebing berikutnya yang harus saya turuni tapi kali ini tanpa tali webbing karena tingginya hanya kurang lebih satu setengah meter. Di bawahnya sudah ada petugas yang siap membantu saya.
       
      “Duduk dulu Mba, kaki kanan injak yang ini dan pegang tangan saya,” jelas petugas siap membantu saya.
       

      Menuruni bebatuan
       
        Ikuti apa yang diarahkan petugas tersebut kemudian saya duduk, kaki kanan  berusaha menyentuh cekungan dinding dan menginjaknya untuk kemudian sambil dibantu petugas saya melompat untuk menyentuh lantai. Sebagian dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap yang telah berhasil menuruni tebing siap melanjutkan perjalanan, saya memilih duduk sambil menunggu rombongan yang masih di atas.
       
      Tak sampai di sini, medan yang harus kami lalui berikutnya juga tak kalah menantang dan memacu adrenalin. Berjalan menyusuri dinding-dinding goa di bawahnya ada jurang terbentang, untuk bisa sampai ke bawah kami harus melewati batu-batuan yang ada di pinggir dinding goa.

      Rapelling
       
      Turun dan harus menuruni tebing lagi, saya tak bisa melihat kedalamannya dan kini kami telah berada di dalam perut bumi. Mas Yos dan beberapa Instruktur dari Patrapala Pertamina Cilacap sedang mempersiapkan peralatan keselamatan caving, beberapa orang terlihat sedang memakai seat harness dan siap untuk turun. Seperti sebelumnya perempuan-perempuan didahulukan untuk turun dan kami harus memakai seat harness dan kaos tangan terlebih dahulu. Dua orang dari Patrapala Pertamina Cilacap membantu saya memakai  seat harness,  saya  sempat gugup ini lebih sulit dari menuruni tebing sebelumnya. Bismillah memberanikan diri maju ke depan dan siap turun dan kini seat harness sudah dikaitkan ke tali. Saya simak baik-baik setiap arahan dari para Instruktur sambil berusaha tenang.
       
      “Tangan kiri pegang tali ini Mba,  posisinya selalu di depan badan dan tangan kanan pegang tali tapi posisinya di samping badan. Sekarang badannya direbahkan ke belakang posisinya seperti tidur,” beberapa Instruktur mengajari saya cara turun.
       
      Saya ikuti apa yang dikatakan para Instruktur, dan tetap ikuti arahan berikutnya.
       
      “Ya sekarang turun pelan-pelan pandangan lihat ke bawah, ulur talinya posisi tangan kanan tetap di samping dan posisi badan tetap rebah,” ucap Instruktur berkutnya.
       
      Pelan-pelan kaki kanan saya turunkan, kedua tangan berusaha mengulur tali dengan posisi badan tetap rebah. Selanjutnya kaki saya mencari pijakan ke kanan, ternyata cara ini salah dan Instruktur yang di bawah teriak memberikan arahan.
       
      “Mba, kakinya tetap lurus dan tangan kanannya ke belakang,” teriakan suara dari Instruktur di bawah.
       
      Sadar apa yang saya lakukan adalah salah cepat-cepat saya perbaiki dengan mengikuti arahan dari Instruktur tadi. 
       

      Rapelling
      Ternyata sangat mudah dan saya berhasil menuruni tebing yang tingginya kurang lebih enam meter tadi sampai ke lantai dasar. Satu persatu dari kami terutama para perempuan  telah melewatinya. Salah satu dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap meminta kami melanjutkan perjalanan, di depan mulut goa sudah dekat. Tak perlu menunggu rombongan yang masih ada di atas, lagi pula hari sudah sore.
       
      “Ada yang tahu jalan? kalau ada ajak yang lainnya pulang duluan,” ucap salah satu dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap.
       
      Saya pun bangkit dari duduk  kemudian mengikuti langkah rombongan menuju mulut goa. Jalan yang  kami lewati sangat licin, becek dan berlumpur. Dari kejauhan dalam kegelapan ada batu putih mencolok berkilau, Particia menunjuknya penuh kagum.
       
      “Lihat itu batunya putih berkilau,” tunjuk Patricia.
       
      Sepanjang jalan menuju mulut goa kami menemukan batu-batuan putih menempel di dinding berkilau bila terkena sorotan lampu, namanya batu kristal. 

      Batu kristal
       
      Sebenarnya di akhir caving masih ada satu tempat lagi yang akan kami kunjungi yaitu air terjun dalam goa. Berhubung kami harus segera pulang maka jalan menuju air terjun tersebut kami lewati begitu saja dan belok ke kiri menuju mulut goa. Suasana masih terang ketika kami sampai di mulut goa, mulut goanya sangat sempit dengan pintu teralis besi terbuka. Kurang lebih empat jam lamanya kami menyusuri Goa Liyah, mulai dari  berjalan di lumpur, berjalan tiarap melewati lubang kecil, berjalan miring diantara himpitan dinding-dinding goa sampai harus menuruni tebing yang curam. 
       
      Anda tertarik untuk mencobanya? temukan keindahan aneka stalagtit, stalagmit dan flowstone serta rasakan sensasi petualangannya. (Mulyati Asih)
       
      Terima kasih
    • By ko Acong
      Terima Kasih Thien Qung telah menjaga kami semua sehingga dalam kedaan Sehat Semua. Yuk kita lanjut napak tilas Jalur Sutra sesi 2. Setelah kami menikmati keindahan Crescent Lake terutama adanya oase alami di Gurun Gobi, waktunya kami diantar ke stasiun Dun Huang untuk pindah kabupaten yang jaraknya kurang lebih 800 km, memakai kereta sleeper train.
      Kami sepakat pakai tidur lunak, sekamar 4 tidur susun. Untuk antisipasi kebiasaan yang kurang bersahabat bagi kita, bila tidur keras 1 row isi 6 tempat tidur dan tidak berpintu. Nah, kami pakai tidur lunak, diperjalanan kami pun jadi tidur dengan nyaman,  tak terasa alarm alam membangunkan kami. Lalu kami siap2 ke restroom. 1 jam kemudian sampailah kami di stasiun Turpan.

      Ternyata kami sudah mulai memasuki daerah istimewa Tiongkok. Lalu hal pertama yang kami hadapi adalah petugas imigrasi, dengan wajah yang khas dan penuh curiga kepada kami. Oh ya, penduduk Turpan sudah berbeda jauh wajahnya,  yang mana tidak oriental lagi. Beres urusan imigrasi, kami pun mencari sarapan, dengan berbagai menu yang lumayan bersahabat dengan lidah kita dan halal.
      Setelah keluar imigrasi, nah disini lah kami mulai dikerubuti oleh para driver dengan memegang gambar-gambar destinasi wisata, sementara kami abaikan dulu, ngudud dulu, cari sasaran driver yang sreg dengan kita. Setelah terpilih, kami panggil driver tersebut ke pinggiran, dan terjadilah tawar menawar. Sambil saya tunjuk saya mau ke destinasi wisata yang ada di brochure tersebut, satu paket 5 destinasi dengan harga 300 RMB (kalau tidak salah). Kami sewa 3 mobil, jadi per kepala kena charge 90 RMB, durasi tour 8 jam dengan jarak kurang lebih 180 km sampai kami diantar ke hotel. Oh ya, jarak stasiun ke downtown kurang lebih 40 km, dan bila memakai antaran taksi 120 RMB, jadi kami mending pilih langsung sekalian tour. Semua komunikasi kami mempergunakan google translate yang ada suaranya, jadi lebih mudah berkomunikasi dengan driver.
      Pertama, kami diantar ke hotel dulu untuk check in dan bersih-bersih karena cuaca Turpan sangat panas, namun dingin sekali anginnya.
      Kedua, kami tadinya mau ke benteng gurun center kota, Bazeli Ten Thousand Buddha Monastery, namun hanya ditunjukan dan lewat karena waktu tidak mencukupi.
      Ketiga, kami diantar ke gunung api (Flaming Mountain) dan itupun hanya dilewati karena kami masih belum move on.
      Keempat, kami diantar ke gurun pasir Turkistan Shansan Countri, nah disinilah kami baru move on, karena tantangan pemandangan di depan seperti layaknya paris dakar rally. Kami ber-10 memakai kendaraan gurun pasir langsung menuju puncak gurun pasir, ternyata kami hanya diantar sampai tengah dengan harga 250 RMB per mobil.
      Setelah sampai kami main di tengah puncak, mulailah modus mereka keluar, maukah kalian kami antar ke puncak teratas gurun pasir dengan harga 400 RMB/mobil. Tentu kami semua menolak. Tapi, khusus kendaraan yang dipake saya, saya nego sampai dapat harga 200 RMB.
      Kami diantar ke basecamp, nah disini lah tantangan adrenalin kami diuji ternyata kita turun dari puncak itu langsung melompat lurus ke bawah
      bagai mobil meluncur lurus jatuh ke dasar jurang, mungkin lebih menantang dibanding naik jet coster. Setelah sampai khusus kendaraan yang dipake saya langsung naik ke puncak teratas gurun pasir. Disinilah pemandangan yang paling aduhai. Kami semua dalam keadaan bersuka ria, mulai tuh keluar semangat kita.

      Kelima, kami diantar ke musem Gaochang, begitu buka pintu mobil kami semua terkejut karena sinar matahari sangat menyengat, tapi tetap kami berfoto dulu sebentar dan tidak sanggup melanjutkan menuju gedungnya.

      Setelah sampai mobil saya tanya destinasi apa ini sebenarnya, para driver menjelaskan bahwa disinilah tempatnya suhu Gaocheng. Dalam misi menuju barat hampir menyerah dalam melaksanakan misinya dan terlihat table temperature menunjukan 41 derajat celcius berarti kalau di air setengah mateng. Wah kata driver coba tadi kalau berhenti di gunung api lebih lengkap ini ceritanya, semangat kita jadi on fire lagi.
      Lalu kita minta datang ke gunung api yang tadi sudah kita lewati, ternyata setelah turun bener-bener ini daerah panasnya bagaikan kita dengan dapur pemanggangan. Banyak relief yang menggambarkan Sun Go Kong yang menuju langit untuk meminjam kipas sakti para dewa dan Flaming Mountain yang sedang membara sekali kipas langsung hilang apinya.
      Keenam, kota Turpan sepanjang kami lihat dari kereta api tadi mungkin juga ratusan kilometer hanya terlihat gurun pasir tak terbatas. Ternyata kota Turpan adalah salah satu yang penghasil anggur dan buah-buahan serta perternakan terbesar untuk Tiongkok mainland.
      Kami semua heran, dimana datangnya kehidupan kalau tanpa air dan semua terjawab di museum Turpan Karez Underground Water System, harga tiket masuk 40 RMB. Yang dengan hanya melihat teorinya pun sudah menjawab keheranan saya, si Bocah Tua Nakal kan pinter.

      Dan jawaban keheranan saya makin terjelaskan pada esok harinya di Heavenly Lake. Tur akan dilanjut ke Grand Bazarnya Turpan, namun teman 2 orang terserang Dehidrasi. Ibarat kataa kalau mau manggang roti dikota turpan tak perlu pake oven cukup ditempel didinding disinari matahari bisa mateng tuh.

      Kami semua ingin buru-buru masuk Hotel dan Mandi. Namun setelah segar, sebagian teman-teman kabur juga tuh menikmati barbeque dan sop kambing nan lezat. Pastinya gak lupa cuci mata lah, secara disini orang-orangnya cantik dan garanteng Uhuuuiiii Prikitiwww.
      Malam terus berlalu walau jam 22.00 masih terang benderang, tapi kami harus segera tidur, mengingat esok hari harus pindah kota lagi dengan jarak tempuh 180 km menuju Heavently Lake.
      Heavently lake adalah danau raksasa dipuncak gunung diketinggian 2200 Mpdl, yang mana sejauh perjalanan kami hanya disuguhi gurun pasir nan gersang sejak dari Turpan. Namun ketika sudah sampai puncaknya dan kami tembus tunnel Kaki Gunung Himalaya, baru pemandangan berubah drastis. Sepanjang mata dimanjakan oleh pohon-pohon nan indah dan udara yang tiba-tiba bisa berubah drastis menjadi dingin menusuk tulang. Danau Thian Shan benar-benar danau yang sangat indah.

      Setelah puas didanau kami turun gunung sejauh 602 km lagi menuju Hotel. Namun ada trouble, kita berganti Hotel dan malam sudah tiba kami semua tidur.
      Nah keesokan harinya teman-teman sudah tidak tahan untuk kabur menuju Grand Bazarnya Urumgi, secara Urumgi adalah kota modern dan wisata budaya dan juga surga kuliner, sangat perlu diekplor dengan agak santai.
      Sore telah tiba kami semua akan mengakhiri napak tilah Silk Road “Middle” ini dan akan dilanjut bonus trip petualangan ektra cepat menuju Asalamuaikum Beijing. Di tunggu yah Field Reportnya
      Mohon Maaf, pasti bacanya capek kepanjangan cerita namun itu lah ceritanya apa adanya.
       






































    • By siti uko
      Hallo…
      Siti Uko disini, mau sharing keseruan kita kemarin, bersama temen2 KJJI di rafting Cisadane "Al- Nassr Rafting", dua hari sebelum puasa tepatnya tgl 04 juni 2016. HTM 200rb/0rg sudah termasuk wellcome drink, makan siang lengkap dgn minuman dingin dan kelapa muda, asuransi perjalanan dan dokumentasi 2 buah memori card, satu buat HP satu lagi buat laptop. Cukup ramah dikantong kaaan.. hehe..
      Letaknya ada di jln.raya sukabumi KM 16, sebelum pasar caringin sebelah kiri.
      Dr jakarta, keluar tol jagorawi kira2 ditempuh 10 menit perjalanan klo ga macet. Klo naik angkot nomor 02 jurusan Cicurug, ongkosnya 4000 rupiah.
      Semoga bermanfaat buat info liburan habis lebaran yak.. selamat menunaikan ibadah puasa besok.
      Salam KJJI..

      pasukan KJJI sudah siiiiiiaaaaaap...lengkap dengan baju pelampung, helm, dan dayung. sebenernya ada tiga orang diantara kami yg takut arung jeram termasuk saya sendiri, hehe.. tapi setelah dibujuk2 akhirnya mereka mau juga turun ke sungai cisadane, dengan hati yg deg2an tentunya.
       

      Ketinggiannya mencapai 3 meter sodaraaaah, dan itu yg bikin sahabat saya meni, bu rina teriak2 kaya orang kesurupanan... ahahaha.. ampun dah!
       

      Ven ven....spt nya cuma dia doang yang exited dengan arung jeram, lihat aja gaya tangannya udah bak sang juara memenangkan pertandingan dengan wajahnya yg sumringah, sementara yang lain masih dengan muka mengkerut merengut masih takuuuuuuut.. LOL

      hahaa.. spt nya mba meni sudah mulai jatuh cinta dgn arung jeram.....lihat expresinya, girang banget dah ahh..
       

      huuaaaaaaaa..,,, jantung serasa mau copot,, tapi seeerruuuuuuu!!
       

      dan akhirnya saya dan bu rina tertawa bahagia, pdhal sebelumnya sangatttt takut arung jeram... takut air...wkwkwk
       

      pemandangan disekitar camp rafting, indah sejuk dan adeeeeem... nyeeesss
       

      tempat makan siang setelah berafting ria, ada gazebo unik yang terbuat dr bambu, didepannya terdapat kolam ikan yang sangat luas, menambah asri pemandangan disekitar camp rafting
       

      terakhir.... inilah sajian makan siang dengan menu yang sangat menarik dan komplit, terdiri dari nasi putih, irisan ketimun dan tomat segar, tempe goreng, ayam goreng kampung yang ditaburi sambel peedas yg super maknyus, es teh manis, dan yang special adalah buah kelapa muda....,,, segeeeeeeerrrrr
      see you on the next trip....,,, Hollaaaaa!