3 posts in this topic

Kudus, merupakan sebuah kota yang terletak di Jawa Tengah. Kota ini merupakan daerah yang banyak memproduksi juara-juara bulutangkis Indonesia.

Yuk intip apa saja hal menarik di kota ini. Di masa lalu kota Kudus terkenal karena menjadi pusat pengembangan islam di jawa.

Kudus juga merupakan kota tempat berdirinya pabrik rokok pertama pada awal abad 19. Konon kabarnya pabrik rokok inilah yang berjasa dalam mendirikan klub bulutangkis yang memproduksi jawara raket ini.

Daya tarik utama dari kota kudus adalah Menara Kudus. Menara ini terbentuk dari susunan batu bata merah yang terbilang cukup tua terletak di depan sebuah mesjid. Uniknya menara dan mesjid ini merupakan arsitektur Hindu.

Ternyata keduanya dibangun ketika Islam pertama kali dikenalkan di kerajaan Majapahit. Tak heran jika bentuk menara ini mirip dengan sebuah candi.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Kudus mempunyai atraksi wisata budaya berupa upacara dandangan. Sebuah tradisi dalam menyambut bulan suci Ramadhan yang sudah dilakukan selama ratusan tahun.

Perayaan ini mirip dengan pasar yang dibuka pda malam hari di sekitar menara kudus. Penduduk sekitar menjual alat-alat rumah tangga, pakaian, sepatu,keramik,mainan, makanan,minuman, hampir semuanya ada.

Di kudus juga terdapat air terjun Monthel, di Gunung Muria. Di dekat air terjun terdapat makam Sunan Muria.

Selain air terjun ada juga tempat wisata Taman Ria Colo. Taman yang terletak sekitar 700 m diatas pemukaan laut ini udaranya segar dan dan pengunjung bisa menyaksikan keindahan pemandangan pegunungan dan air terjun.

Apa oleh-oleh khas kota Kudus? Jenang kudus, makanan manis yang terbuat dari beras, dipotong-potong menjadi bagian kecil yang dibungkus dengan plastic atau kertas.

Jangan lupa bawa oleh-oleh jenang ya kalo jalan2ers berwisata ke kota kudus.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By Nofan
      Pantai Kartini adalah Pantai yang terletak di Pantai Utara Jawa, tepatnya di Desa Bulu, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara - Jawa Tengah. Pantai Kartini hanya berjarak 2 km dari pusat Kota Jepara. 
      Sengaja diberi nama Pantai Kartini karena daerah tersebut merupakan daerah di mana dulu RA. Kartini tinggal. Kota Jepara merupakan tempat kelahiran tokoh emansipasi wanita yaitu RA. Kartini.
      Pantai Kartini merupakan salah satu tempat wisata favorit yang terdapat di wilayah Jepara. Banyak wisatawan luar kota yang datang ke Pantai Kartini untuk menikmati keindahan yang disuguhkan oleh Sang Maha Kuasa.
      Di pantai ini, terkadang diadakan berbagai macam event dan kopdar dari komunitas-komunitas tertentu.
      Pantai Kartini merupakan pantai berpasir putih yang mempunyai pesona alam yang cukup indah. Di tempat ini juga terdapat Kura – kura Ocean Park (KOP) yang di dalamnya terdapat aquarium yang berisi berbagai macam ikan. Ada ikan pari, ikan kakap, ikan hiu, hingga ikan anemon dapat dijumpai di Kura - kura Ocean Park. 
      Kura - kura Ocean Park merupakan bangunan dua lantai dengan beberapa wahana di dalamnya. Di lantai dua, kamu bisa menikmati film 3D. Tiket masuk ke Kura - kura Ocean Park cukup terjangkau. Cukup dengan merogoh kocek Rp 5000, kamu bisa menikmati berbagai macam wahana yang ada didalamnya.
      Sanagt cocok untuk kamu yang membawa anak-anak. Di samping mengajak mereka berwisata, kamu juga dapat sekaligus mengedukasi mereka mengenai berbagai macam satwa laut. Di mana mereka akan lebih tahu, dan mencintai semua makhluk hidup yang ada disekitarnya.
      Di lantai dua juga terdapat tempat untuk berfoto ria dengan background Pantai Kartini yang terlihat lebih jelas. Tetapi kamu harus siap mengantri apabila hendak berpose untuk mendapatkan gambar terbaik. karena bukan hanya kamu yang ingin eksis untuk mendapatkan hasil kenang-kenangan terbaik di Pantai Kartini.
      Ketika hari libur, tentu saja antrian akan lebih banyak, karena Pantai Kartini akan dikunjungi oleh lebih banyak wisatawan, baik dari dalam, maupun dari luar kota Jepara.
      Tetapi itu untuk hari kerja ya, apabila hari libur, harganya melonjak menjadi Rp 17.500/ orangnya. Hehe… naiknya signifikan sekali ya, lebih dari 200%.
      Ada beberapa spot yang sangat sayang apabila dilewatkan ketika kamu menyambangi Pantai Kartini. Tepatnya di area sekitar tulisan Pantai Kartini, yang berdekatan dengan kolam renang dengan jarak tak begitu jauh dari lautan lepas.
      Apabila kamu dari luar kota dan turun di Terminal Bus kota Jepara, kamu tidak perlu khawatir, karena di sana sudah ada angkutan umum yang siap mengantarkan kamu ke Pantai Kartini dengan tarif yang cukup terjangkau, yaitu hanya Rp. 4000,-.
      Di sepanjang pantai, terdapat beberapa hotel yang bisa kamu jadikan tempat beristirahat. Fasilitasnya-pun tidak mengecewakan, kamu bisa istirahat di tempat yang nyaman dengan Background Pantai Kartini yang memanjakan mata.
      Di Pantai Kartini kamu juga dapat menikmati matahari terbenam (sunset), di mana langit jingga berhiaskan matahari yang mulai menyembunyikan sinarnya. Lautan yang tampak tenang di sebelah barat menambah kesyahduan di kala senja.
      Di pantai Kartini, kamu bisa menikmati semilir angin yang membuat suasana hati lebih rileks dan nyaman. Deburan ombak yang tidak terlalu besar kian menambah ceria.
      Pantai Kartini merupakan salah satu tempat yang paling tepat apabila kamu yang ingin melakukan liburan ke tempat yang indah dengan akses yang mudah. Jangan lupa ajak orang terdekat untuk ikut menikmati keindahan Pantai Kartini yang populer di wilayah Jepara.
      SUMBER
    • By Mulyati Asih
      Bermain-main dengan awan. Foto: Aldani
       

      Cuaca tampak cerah ketika mobil yang membawa kami dari stasiun Poncol Semarang, memasuki basecamp Mawar jalur pendakian Gunung Ungaran. Suasana tampak sepi, hanya beberapa orang terlihat di sekitar camping ground. Hal pertama yang kami cari adalah Riyan, kami janjian di sini untuk mendaki bersama. Saya dan Abdi mengurus SIMAKSI dan membayar biaya sebesar Rp.5.000 per orang. Kebetulan basecamp sepi, masih ada waktu untuk bersih-bersih. repacking dan membagi beban logistik.
       
      Kurang lebih pukul 11.00 kami bersembilan, saya, Dwi, Muly, Nur, Tio, Anis, Dani, Abdi dan Riyan mulai meninggalkan basecamp. Kami sepakat akan berjalan santai selama pendakian, kemudian berjalan mengikuti Riyan. Pohon pinus menghiasi sepanjang jalur pendakian,  20 menit berjalan sampailah kami di pos 1. Pos disediakan untuk beristirahat, kami pun tak menyia-nyiakannya meskipun hanya untuk makan cokelat. Melanjutkan perjalanan memasuki  hutan heterogen dengan trek masih landai.
       

      Istirahat bagian dari perjalanan yang menyenangkan, melemaskan otot-otot kaki sambil tarik napas
       
      Kami sampai di pos 2, sebuah bangunan beratap seng dan beristirahat di sini. Cepat sekali untuk menemukan pos 2 pikir saya, jaraknya kurang lebih 30 menit dari pos 1. Meninggalkan pos 2, trek masih landai. Suara gemuruh air dari pipa-pipa yang terpasang di pinggir jalan menggundang perhatian saya. Sampailah kami di area terbuka, sebuah pertigaan menuju perkebunan teh. Dari landai, trek berganti mulai menanjak dan berbatu kerikil. Jalannya lebar, beberapa kendaraan motor berseliweran. Petak-petak perkebunan teh menjadikan pemandangan yang menyejukkan mata, lumayan buat menghilangkan kebosanan. Beberapa orang mendirikan tenda di sini. Kami berjalan mengikuti papan petunjuk arah menuju puncak yang terpasang di pertigaan Promasan. Saya, Muly, Dwi dan Nur sempat tertinggal rombongan karena terlalu lama berfoto di sini.
       
       
      Jalan Terjal Menuju Puncak
       
      Meninggalkan perkebunan teh, jalanan semakin menanjak. Sesekali pandangan saya masih mengarah pada hamparan pucuk-pucuk daun teh. Bonus kali ini adalah hijaunya hamparan perkebunan teh. Treknya menanjak bukan pada tanah miring, tapi kami harus menaiki tangga-tangga dari batu. Dari batu ukuran kecil hingga berukuran besar.
       
      Bukan hal mudah untuk melewati trek berbatu. Beberapa kali saya harus meraih batang pohon untuk pegangan sebelum kaki menaiki batu atau pegangan erat pada akar pohon yang menjalar. Bahkan tangan mencengkeram erat batu dan kaki mulai menaiki batu lainnya. Baru satu jam berjalan rasanya sudah ngos-ngosan, saya lihat Nur mulai keletihan. Saya mengulurkan tangan membantu Nur menaiki batu. Riyan masih setia menemani yang tertinggal sedangkan Abdi berjalan di depan diikuti yang lain.
       
      Kami masuk ke hutan rapat tapi trek masih berbatu, sepertinya trek akan berbatu sampai puncak. Tio duduk di salah satu dahan pohon yang rendah, yang lainnya mengikuti cara Tio termasuk saya. “Buat video mannequin challenge bagus nih,” kata Tio. Akhirnya tidak jadi karena tidak ada yang mau mengambil video, tiga laki-laki Riyan, Abdi dan Dani sudah jalan duluan dan kami berenam mengikutinya. Kami berpapasan dengan rombongan yang habis turun dari puncak, sepertinya mereka tidak nge-camp di atas, terlihat dari daypack yang mereka bawa.
       
      Banyak yang bilang kalau gunung Ungaran sangat cocok untuk pemula, mungkin karena hanya memiliki ketinggian 2050 mdpl. Tapi meskipun hanya memiliki ketinggian 2050 mdpl, jangan pernah anggap remeh. Treknya  yang berbatu bukanlah hal mudah untuk pendaki pemula, karena benar-benar menguras tenaga. Kebetulan kami mengajak Anis yang baru pertama kali naik gunung. “Iya, main ke pantai aja naik gunung capek,” itulah komentar Anis ketika kami tanya apa rasanya naik gunung. Beberapa kali Muly membantu Anis melewati trek terjal, meskipun sering terpeleset dan jatuh tapi Anis tampak masih bersemangat.
       

      Semakin ke puncak jalur berbatu semakin sulit. Foto: Tiolas Melati
       
      Kami sampai di area terbuka, tak ada pohon yang menghalangi pandangan mata. Dari tempat kami berdiri, panca indera saya tertuju pada dasar lembah hijau seperti savana, puncak bukit dan petak-petak rumah penduduk. Tio mengarahkan telunjuknya sambil berkata “kita jalan sejauh itu dari bawah,” sedangkan Anis hanya berkomentar “belum sampai puncak, sedikit lagi”. Angin bertiup kencang suaranya bergemuruh, kabut mulai datang dan menghalangi pandangan mata. Abdi, Riyan dan Dani sudah tidak ada di antara kami, mereka sudah melanjutkan perjalanan. Nur berjalan duluan dan kami menyusulnya.
       
      Meskipun saya sudah tahu dari beberapa artikel yang saya baca bahwa trek gunung Ungaran berbatu, tapi sungguh saya tidak mengira bahwa trek berbatu ini akan dilalui sepanjang jalur pendakian.  Bongkahan batu besar seolah-olah menghalangi dan memperlambat langkah kami. Semakin ke puncak, batu-batu yang menghadang di depan ukurannya semakin besar. Kami berjalan di antara himpitan batu-batu besar ataupun merangkak menaiki batu. Jalurnya semakin terjal karena kemiringannya pun kurang lebih 45 derajat. Tak ada pemandangan selain batu-batu yang berserakan, sedangkan di atas kepala ada batu besar dan runcing tegak berdiri. Puncak sudah ada di atas pikir saya, tapi napas semakin ngos-ngosan, energi saya sudah mulai terkuras habis.
       

      Trekking melewati jalur berbatu, rasanya lutut mau copot
       
      Tertatih-tatih kami melewati jalan terjal berbatu, Dwi dan Nur berjalan di depan. Sesekali pandangannya menoleh ke belakang menunggu kami yang berjalan semakin pelan. Sampailah kami di atas dengan selamat, pekik Allahuakbar terdengar dari suara Muly. Dia terlalu senang akhirnya bisa sampai puncak dan melewati jalan terjal berbatu.
       
       
      Kehilangan Jejak
       
      Di puncak ini pemandangan indah yang kami lihat di bawah tadi justru semakin jelas terlihat. Puncak yang memiliki area cukup luas untuk mendirikan empat sampai lima buah tenda. Sekilas pemandangan batu-batu yang berserakan di atas puncak, mengingatkan saya pada Stone Garden yang ada di Padalarang Bandung. Kemudian pandangan saya tertuju pada pergerakan awan putih yang menggumpal di bawah. Lagi-lagi kami terlalu asik, sehingga tidak menyadari akan keberadaan tiga laki-laki dalam robongan kami.
       
      Angin bertiup semakin kencang, kabutpun sudah menghalangi pandangan mata. Ada rasa kahwatir dalam diri saya karena di puncak ini tidak ada tempat berlindung. Kami berenam berjalan ke tengah, hanya ada satu tenda kuning berdiri di sana. Dan kami sudah menebak itu bukan tenda milik Abdi, Riyan ataupun Dani. Lalu di mana mereka? cepat sekali mereka berjalan. Di bawah tadi Tio melihat Dani ada di puncak ini. Wajah-wajah cemas dan kesal mulai terlihat di antara kami. Dari angin yang bertiup kencang dan kabut yang mulai menyelimuti, kini butiran air mulai menetes mengenai tubuh saya. Saya mulai menggigil, buru-buru saya keluarkan jas hujan dan mengenakannya.
       

      Berdiri di puncak sambil menikmati panorama indah awan dan perbukitan. Foto: Aldani
       
      Kami masih berdiri penuh kebingungan sambil menebak di mana mereka mendirikan tenda. Teriakan panggilan nama Dani, Abdi dan Riyan sering kami pekikkan, tapi yang dipanggil tak pernah menyaut. Tio yakin kalau mereka ada di puncak sana di balik batu,  lalu pandangan saya tertuju pada batu besar yang ada di atas. Lagi-lagi puncak ditandai dengan berdirinya batu besar. Setelah berdiri di puncak tapi masih ada puncak lagi, sedangkan fisik mulai melemah. Mungkin ini yang namanya puncak Botak, sedangkan puncak yang di atas baru puncak Ungaran.
       
      Tio mulai berjalan ke arah puncak, saya menyuruh yang lainnya untuk naik supaya kami tidak terpisah lagi. Kabut mulai tebal dan menghalangi pandangan. Saya mengikuti langkah Tio tapi baru setengah perjalanan, samar-samar Tio meneriakkan sesuatu ke arah saya. Sayang suara itu hilang terbawa angin sebelum telinga ini berhasil menangkapnya. Entahlah apa yang ingin Tio sampaikan, tak lama Tio muncul di balik batu. Tio tidak berhasil menemukan mereka, kami berbalik arah hendak turun. Dalam kondisi angin seperti ini yang kami butuhkan adalah tenda untuk berlindung, celakanya semua tenda ada pada laki-laki. Kami berpapasan dengan pendaki lain yang akan ke puncak, kepada mereka kami titip pesan siapa tau mereka bertemu dengan Riyan, Abdi dan Dani bahwa kami ada di bawah.
       

      Puncak yang dipenuhi batu.
       
      Belum jauh kami melangkah ada suara Riyan memanggil, ada perasaan lega karena tak perlu terlunta-lunta mencari tempat berlindung. Seketika itu juga Riyan dikeroyok pertanyaan “ada di mana sih kalian?” mereka ada di puncak dan sudah mendirikan tenda, syukur-syukur sudah ada teh panas dan nasi yang matang. Camping Area letaknya ada di balik tugu, Riyan membantu membawakan keril milik Anis dan Nur. Saya bergegas melangkah melewati batu-batu besar, Alhamdulillah setelah kurang lebih 5 jam berjalan melewati trek terjal berbatu, akhirnya sampai juga di tugu puncak gunung Ungaran.
       
      Di balik tugu ada rimbunan pohon, saya bisa menarik napas lega akhirnya berhasil menemukan tenda kami setelah sebelumnya saya nyasar ke tenda rombongan lain. Saya menemukan Dani dan Abdi meringkuk di dalam tenda, yaa kami kira mereka sedang masak nasi atau membuat minuman hangat. Setelah sholat Ashar dijamak Djuhur kami mulai merebus air untuk membuat minuman hangat.
       
       
      Angin Bertiup Sepanjang Malam
       
      Angin terus bertiup kencang, tak mudah untuk menyalakan kompor. Hanya trangia yang mampu bertahan dengan api besar. Sudah ada teh, kopi, susu, sereal, cokelat panas siap untuk menghangatkan badan. Riyan bilang mendirikan tenda di sini aman saat angin kencang, tapi habislah kita klo hujan. Soalnya ini lembah tempat aliran air turun.
       
      Untungnya flysheet terpasang rendah, jadi mampu menghalang angin masuk ke tenda. Tio bilang “jago nih yang pasang flysheet, tapi tidak dengan yang pasang tenda karena masih ada air yang rembes ke dalam”. Senja mulai beranjak mengejar malam, suasana berganti gelap sedangkan angin terus berhembus. Daun-daun membawa tetesan air dari kabut mengenai tenda, suara gemericiknya seperti hujan turun. Malam semakin syahdu, kami sudah sibuk menyiapkan makan malam. Dinginpun mulai menyusup menembus tulang, buru-buru jaket saya pakai sebelum badan menggigil
       
      Tio, Riyan dan Dani duduk rapat membuat formasi untuk menghalangi angin mengenai kompor, di trangia ada nasi siap menunggu matang. Muly dan Dwi mengupas bawang, sedangkan saya dan Anis mengupas labu siam. Karena Nur sedang tidak fit, makanya dia hanya rebahan di tenda. Abdi hanya melihat aktifitas kami dari tenda, akhirnya kami panggil dengan sebutan Mandor.
       
      Dani menyerah tidak kuat menahan dingin, dia buru-buru masuk tenda dan posisinya digantikan Abdi untuk menggoreng ayam. Nasi sudah matang tapi harus menunggu sayur matang, setelah sayur matang harus menunggu ayam goreng matang. Benar kata Riyan setelah semuanya matang nanti sudah dingin, ya sudahlah akhirnya kami buru-buru untuk makan lagi pula jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
       

      Siap-siap masak untuk makan malam, yang lain keletihan di dalam tenda. Foto: Aldani
       
      Malam semakin larut, kami sudah berada di dalam tenda masing-masing. Saya menyusup di antara Nur dan Dwi, meringkuk di dalam sleeping bag mencari kehangatan. Tak ada malam yang sunyi, gemuruh suara angin terus berhembus, gemericik tetesan angin terus terdengar. Saya mulai memejamkan mata, berusaha tidur untuk menghilangkan letih.
       
      Menjelang subuh saya terbangun dan tak terdengar lagi suara angin ataupun tetesan air. Suasana berganti riuh karena satu persatu dari kami mulai terbangun. Tio menawarkan untuk melihat sunrise tapi tak ada yang tertarik karena cuaca mendung.
       
      Selamat pagi, kami keluar tenda untuk menghirup udara segar. Ketika terang saya bisa melihat dengan jelas di sekeliling saya. Kami seperti berada di hutan hujan tropis, dimana pohon-pohon ditumbuhi lumut dan udaranya lembab. Seperti berada di Bukit Raya yang ada di Kalimantan.
       

      Mari berdoa semoga turun selamat, lupakan treknya karena ada view cantik di depan. Foto: Aldani
       
       
      Turun Dengan Selamat
      Pukul sembilan pagi, setelah sarapan kami mulai meninggalkan puncak. Cuaca tampak cerah, puncak tugu sudah dipenuhi rombongan laki-laki. Akhirnya kami memilih tempat lain untuk berfoto. Berdirilah di dekat tebing, maka ada gumpalan awan putih yang indah di bawah. Saya buru-buru mengabadikannya dengan smartphone yang saya bawa sebelum awan gelap datang. Cuaca memang cepat sekali berubah dan anginpun mulai bertiup kencang. Di sudut lain, terlihat puncak gunung Andong, Merbabu dan Merapi di antara gumpalan awan putih.
      Nur dan Dwi turun duluan disusul Riyan dan Abdi, saya pun tak ingin berlama-lama di sini segera beranjak untuk menyusul mereka. Saat turun sama sulitnya saat mendaki, tidak ada pilihan selain melewati jalan terjal dan berbatu. Kabut semalam menyisakan batu-batu yang basah, tanah yang becek dan licin. Terkadang saya harus duduk dulu supaya kaki bisa menyentuh dasar.
       

      harus hati-hati karena keselamatan adalah hal utama. Foto: Aldani
       
      Anis mulai kepayahan menuruni batu dengan keril yang dia bawa, akhirnya Abdi membantu untuk membawanya. Meskipun sudah berjalan tanpa beban, nyatanya Anis masih sempoyongan. Entah sudah berapa kali dia harus terpeleset dan jatuh. Kami harus mengajarinya cara mencari pijakan kaki supaya tidak terpeleset. Hujan mulai turun dengan lebat, butiran-butiran airnya mengenai wajah dan kami harus mengenakan jas hujan supaya badan tidak terlalu basah. Nur, Dwi, Abdi dan Dani sudah terlalu jauh berjalan di depan. Saya masih menemani Anis menuruni batu, sedangkan di belakang masih ada Tio, Muly dan Riyan yang berjalan santai. Saat turun kami harus bergantian dengan rombongan lain yang akan naik. 
       
      Tiga jam berjalan sampailah saya di kawasan perkebunan teh. Ada yang aneh dengan sepatu yang saya pakai, ketika saya cek aaahh ternyata sepatu ini sudah tak mampu lagi diajak berjalan jauh. Saya menggantinya dengan sandal jepit yang saya bawa. Untungnya trek sudah landai, jadi saya bisa mempercepat langkah. Sambil lari-lari kecil saya mulai meninggalkan gunung Ungaran menuju basecamp Mawar. Selamat tinggal Ungaran, semoga suatu saat bisa kembali.
       
       

      Tak pernah ada jalan menurun jika tak pernah didaki
       

      Cara Menuju Gunung Ungaran:

      Gunung Ungaran di Semarang Jawa Tengah dapat ditempuh melalui tiga jalur yaitu jalur Jimbaran atau basecamp Mawar, jalur Gedong Songo dan Jalur Medini atau Promasan. Sedangkan kami memilih jalur basecamp Mawar.

      Jika Anda berasal dari Jakarta, bisa naik kereta api tujuan stasiun Poncol atau stasiun Tawang Semarang. Cara termudah menuju basecamp Mawar adalah dengan menyewa mobil. Kami menyewa untuk pulang pergi dengan biaya Rp. 700.000 sudah termasuk supir, BBM dan tiket tol, lokasi penjemputannya di stasiun Poncol Semarang. Di stasiun Poncol sendiri banyak yang menawarkan sewa mobil, pintar-pintarlah untuk menawar.

      Alternatif lainnya dari stasiun Poncol atau Tawang menuju terminal Terboyo naik mikrolet, dari Terboyo ganti bis tujuan Ambarawa atau Salatiga mintalah turun di daerah Tegal Panas atau Rumah Sakit Ken Saras atau Pasar Babadan. Kemudian bisa memilih moda trasportasi mikrolet menuju pasar Jimbaran. Dari Pasar jimbaran ke basecamp  Mawar bisa ditempuh dengan ojek.
    • By Rawoniste
      Yuhuuu....
      Ini liburan solo backpakeran saya yg ke3 di tahun 2016, ada "janji dalam diri sendiri" selama tahun 2016 saya musti liburan tiap bulan, mentok2nya yg dekat saja 
      Liburan bulan maret alias sudah basi hehehe tp gak apa2 yah saya RF sekarang.
      Perjalanan di mulai naik KA BDG-TAWANG. baru nyadar ternyata rutenya ke pantura beda dgn bdg-jogja.
      Nyampe statsiun tawang jam 4an, sholat istirahat sebentar nunggu jemputan mobil rentalan 400k all in one 12 jam.
      Mlipir keluar statsiun ternyata ada kolam gede dan kursi tempat duduknya, melamunlah disana sambil nunggu matahari terbit. 
      Nah sunrisrnya sudah datang
      Gak pake lama sebelum jam 6, driver dgn mobil agyanya tlp. Udah dilokasi. lets go...
      Sarapan dulu , meskipun saya tdk biasa sarapan tapi menghormati driver saya minta dianter ke ... Pokoknya makanan khas Semarang lah.
      Mobil pun meluncur ke pujasera jln kiayi saleh. Katanya yg ngetop2 ada disana 

      Ini penampakan nya, msh sepi yg beli jam 6 lebih dikit sih tp udah pada buka. 
      Saya masuk ke lapak bu nasimah spesialis mangut . penasaran dgn mangut welut (belut) nya hehehe. 
      Enak menurutku, kuahnya beda dgn yg di jual di bdg (ikan) habis 65k makan berdua dgn driver termasuk rokok 1 bungkus.
      Mobil pun melaju ke daerah unggaran, yup tujuan pertama adalah Candi gedong songo. 
      Baru buka pintu....Walah panas nya. Baru jam 9an padahal. Dgn semangat sayapun jalan menyusuri 9 candi tsb. Ada kuda kalo gak mau cape, tp saya lebih asik Jalan kaki . cukup rame jam segitu. 

      Mejeng dulu ninggalin jejak 

      Gak sampe ke 9 candi, hanya ketemu 7 Candi. Candi nya emng sama bentuknya hanya jaraknya saja yg berjauhan gak kira2 , yg pasti nanjak lah. Lumayan beruntung byk kabut dan awan, jd tdk terlalu panas waktu ada dipuncaknya.
      Disini jg ada kawah2 yg ketutup, hanya asap Dan baru blerang saja . buat rendaman jg Ada. Tp males bgt 

      Kepulan asap blerang.
      Puas main disini, saya pun turun lg. Ah making ke bawah makin panas saja.
      Tujuan ke2, umbul sidomulti. Cukup dekat jaraknys turun ke bawah belok kanan. Tp lumayan jauh kesana nya jln sempit Dan nanjak tanpa henti. Sepanjang jalan berjamur tempat karaoke berbagai nama. Banyak bgt ih ... 
      Nyampe disana, meskipun diatas bukit waduh meleleh deh kepalaku. 
      Inilah penampakan kolam umbul sidomukti nya yg terdiri dr 3 kolam bertingkat. 
      Awalnya pengen bgt nyamplung disini, tapi naluri saya bilang, jangan ! Jangan ! Bisa tumbeng ntar Hahaha.
      Ya sudah hanya bisa memandang Dan nyentuh air nya saja yg dingin 

      Rest dulu disini sambil pesen minuman dan tahu goreng. Karena niat ngafe di atas nya.
      Lanjut .... Mobil dinaikin ke atas lagi dan ketemu di kafenya. Penuh 
      Jalan2 dulu kesekitar, ada gua...eh bayar lg masuk sini (5k) udah di kasi penerangan ternyata gua tsb sengaja di jebol ke luar gawir. Lalu di bangun semacam balkon dan dikasi pagar. Spot buat poto2 dgn latar belakang jurang dan pucuk pohon mirip tebing keraton di bandung. Gak sempet di poto disini keburu muak ulah abg yg gak mau2 pindah sehabis poto2 malah ngobrol. Dlm hati sukurin deh kalo sampe jatuh hahahaha.
      Keluar gua , yaelah kafe masih penuh mulu. Ahirnya saya putuskan turun saja nyari  makan di luar. Setelah masuk jln unggaran lg mobil pun belok ke kiri. Dan saya makan tahu gimbal. Euih ngantri jg disini. TG nya enak bgt porsi banyak sampe saya kesusahan ngehabisinnya murah pula 13k ato 15k yah lupa lg , cuma 40k an makan berdua sama minum
      Beres makan driver nanya lg mau ke mana lg ? Pulangggg.... Kepala udah nyut2an bgt.
      Dan saya pun meluncur pulang, tp begitu lewat sam pho khong saya minta turun dulu. Panas gilak2an disini. Cekrek2
      Nyampe di hotel jam 4an, saya mandi dan tidur sebentar.
      Pas bangun udah merasa gak ok ini badan. Minum antangin lah.
      Selepas magrib, meskipun gak fit kluar lah lihat kehidupan malam semarang. Dan ternyata hotel dimana saya menginap itu byk psk nya hehehe (jl. Iman bonjol. Kirain siapa gitu nyapa sambil stanbye di motornya. Jualan toh mbak. hahahaha.
      Killing naik beca sampe pecinan cina yg terkenal dgn warung semawisnya. Gilak penuh bgt !! Mau jajal makanan gak ada tempat, jd pesen juice doang sambil manyun. Oya,disini byk bgt B2 nya jd hati2 bagi yg Muslim.
      Pulang ke hotel, ongkos naik beca 50k 
      Pagi2 saya sudah bangun Dan siap jalan2 lg, rental motor saja. Mulur 1 jam rentalnya. 
      Mumpung masih pagi saya ke Sam pho khong lg , horee msh sepi dan tdk panas. Tiket 15k.
      Sepiiii karena kepagian...
      Pulang dulu buat cek out Dan mandi 
      Lanjut ke mesjid raya Semarang yg konon paling megah. Tp baru seperempat perjalanan hati saya sudah ciut, pulang ! Pulang ! Kepala nyut2an lg, panas jgn ditanya. Ahirnya saya puter lg ke jln pandanaran buat beli oleh2. Waktu msh banyak, klayapan di siang hari sudah nyerah , jadwal KA jam 7an. Ngadem lah di Paragon mall sambil ngopi2 ringan. Setelah segeran Dan fit lg saya pun keluar Dr mall, grhhhh.... Ada ada arak2an yg entahlah acara apaan, motor tdk bisa keluar ...
      Drpd bete nikmati saja atraksi INI,cukup deg2an jg gimana kalo sampe jam 6an gak kluar2an. 
      Jam 17an mulai reda Dan byk motor yg maksa lewat, saya pun ikutan lewat.
      Lanjut lihat lawang sewu yg konon mistik tsb
      Canghih jg yah, tiketnya di scan masuk sini he he he.
      Lanjut kota tua...... 
      Sayang yah, bangunsn bagus2 tp terbengkalai . hantunya pasti banyak ... 
      Puas poto2 di kota tua, azdan magrib. Sayavpun mengahiri petualangan sendiri di Semarang yg super hot jeletot ini, balik lg ke bdg jam 7an.
      Nyampe di Bandung subuh, badan udah gak karuan. Ahirnya saya tumbeng. Badan panas dingin gak karuan. Langsung ke dokter sorenya Dan nambah istirahat seminggu di kasur 
      Kapok ? Gak, puas ? Gak 
      Ada yg kelewat setelah pulang Dr umbul sidomukti itu saya ke gua kreao dulu. Gak ada yg istimewa hanya lihat gua,bendungan Dan monyet2. 
      Super hot bgt.

    • By Hasdevi Agrippina Dradjat
      Dataran tinggi Dieng merupakan salah satu destinasi wisata favorit para wisatawan. Nah, dataran tinggi Dieng sendiri merupakan kawasan vulkanik aktif yang terletak di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo.
      Kawasan wisata ini berada kurang lebih sekitar 30 kilometer dari pusat kota Wonosobo. Dataran tinggi Dieng berada di sebelah barat Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
      Nah, apakah kamu penasaran dan ingin segera menjelajahi Dieng dan sekitarnya? Kali ini, kita akan membahasnya dalam menyambangi Dieng di Wonosobo dan sekitarnya berikut ini. Yuk, simak pembahasannya.
       
      Sekilas tentang Dieng


      Dieng via Tempat Wisata Daerah
       
      Menurut sejarah, dataran tinggi Dieng merupakan tempat para dewa dan dewi tinggal. Nama Dieng sendiri diambil dari bahasa Kawi: “di” yang artinya tempat atau gunung dan “Hyang” yang artinya dewa. Sehingga, secara bahasa Dieng berarti gunung tempat dewa dan dewi bersemayam.
      Sedangkan sejarah lain ada yang mengatakan jika nama Dieng berasal dari bahasa Sunda “di hyang”, karena diperkirakan pada abad ke-7 Masehi daerah ini berada dalam wilayah politik kerajaan Galuh.
      Nah, selain terkenal karena keindahan wisata alamnya yang cantik, kawasan ini juga terkenal karena terdapat banyak candi hindu di sini. Tempat ini juga termasuk kental dengan spiritual karena terdapat candi-candi kuno bercorak Hindu dengan arsitektur yang unik.
      Dataran tinggi Dieng ini berada pada ketinggian 2.093 mdpl. Selain itu, Dieng ini juga memiliki suhu udara yang sejuk lengkap dengan kabut saat matahari tidak muncul. Untuk masalah suhu, suhu di kawasan ini berkisar antara 15 hingga 20 derajat celcius sehingga cukup sejuk.
       
      Perjalanan Menuju ke Wonosobo


      Terminal Mendolo, Wonosobo via Rhaggil Duniaku
       
      Nah, salah satu alternative perjalanan dari Jakarta menuju Wonosobo yang dapat kamu tempuh adalah dengan menggunakan bus. Setelah sampai di Wonosobo, kamu akan langsung tiba di terminal Mendolo.
      Lama waktu perjalanan yang akan kamu tempuh adalah sekitar 12 jam. Jika ingin menghemat agar lebih terjangkau, kamu dapat memilih perjalanan malam hari agar tiba keesokan harinya di Wonosobo. Kamu bisa memilih bus AC dengan toilet dan juga makan.
      Selanjutnya, kamu dapat menaiki angkutan umum dari Mendolo ke terminal bus Dieng. Baru dari sana kamu dapat menaiki microbus menuju Dieng.
      Harga bus bervariasi mulai dari Rp.85.000 (ekonomi), Rp.110.000 (VIP), Rp.180.000 (executive). Biaya menaiki angkutan umum adalah sekitar Rp 4.000, sementara biaya untuk menaiki microbus adalah sekitar 10.000.


      Alternatif menaiki bus yaitu kereta via Seratus Negara
       
      Selain menaiki bus, kamu juga memiliki alternative moda transportasi lainnya untuk mencapai Dieng. Kamu dapat menaiki kereta. Kamu dapat mencoba untuk menaiki kereta ekonomi Progo dengan harga tiket 100.000 yang biasanya berangkat pukul 10 malam dari Stasiun Pasar Senen.
      Selain kereta ekonomi, kamu bisa juga memilih untuk menaiki kereta bisnis atau eksekutif dengan harga tiket sekitar 200.000 hingga 300.000. Perjalanan dengan kereta api ini akan memakan waktu sekitar 4 hingga 5 jam.
      Setibanya di Wonosobo, kamu dapat menaiki bus dengan rute Purwokerto-Wonosobo dengan biaya sekitar 20.000. Perjalanan akan ditempuh dengan waktu sekitar 2 jam.
      Selanjutnya, kamu dapat menaiki angkutan umum dari Mendolo ke terminal bus Dieng. Baru dari sana kamu dapat menaiki microbus menuju Dieng. Biaya menaiki angkutan umum adalah sekitar Rp 4.000, sementara biaya untuk menaiki microbus adalah sekitar 10.000.
       
      Memilih Penginapan Selama Berada di Dieng


      Penginapan di Dieng via Sikunir Dieng
       
      Setelah memilih moda transportasi terbaik untuk menuju Dieng, selanjutnya kamu dapat memilih penginapan selama berada di Dieng. Sebagai tujuan wisata yang tidak pernah sepi pengunjung, terdapat banyak homestay pula di sekitar kawasan ini yang tentu saja dapat kamu jadikan sebagai pilihan.
      Harga homestay dikelola oleh warga lokal dan sangat bervariasi. Untuk range harga sendiri berkisar antara 100 ribu hingga 250 ribu per malam dan dapat tergantung dengan fasilitas yang tersedia dan juga kenyamanannya.
      Nah, jika kamu pergi dalam rombongan yang besar, sebaiknya kamu memilih untuk menyewa rumah. Biaya yang akan kamu keluarkan jika kamu ingin menyewa satu homestay adalah sekitar 600 hingga 800 ribu per malam.
      Jika kamu pergi dalam jumlah yang besar, misalnya 10, biaya tersebut tentu dapat dibagi 10 sehingga satu orang membayar sekitar 60 hingga 80 ribu. Nah, sebagai tips sebaiknya kamu memastikan agar penginapan yang kamu sewa memiliki fasilitas air hangat sebab kondisi cuaca di Dieng sangat dingin.
       
      Kuliner di Dieng


      Kuliner di Dieng via Kompasiana
       
      Nah, setelah memilih penginapan selama berada di Dieng, selanjutnya kamu dapat memilih kuliner. Salah satu kuliner yang wajib kamu coba adalah kuliner khas Wonosobo yaitu mie ongklok.
      Mie ongklok merupakan mie dengan campuran kol disiram kuah dan juga ditambahkan dengan sate sapi. Untuk range harga makanan di sini adalah sekitar 10.000 hingga 15.000.
      Namun, kebanyakan restoran atau warung makan tidak menyediakan daftar harga. Agar kamu tidak terkena “getok” pastikan kamu bertanya terlebih dahulu mengenai harga makanan yang kamu pesan.
      Untuk masalah rasa, kamu tidak perlu khawatir. Wisatawan yang datang ke Dieng bukan hanya wisatawan lokal tetapi banyak juga wisatawan mancanegara. Sehingga, tentunya rasanya pun sudah disesuaikan agar menjadi semakin nikmat.
      Selain menikmati mie ongklok, kamu juga dapat menikmati nasi rames yang banyak tersedia di depan restoran atau warung makan. Range harga nasi rames adalah dimulai dari 2.500 (sudah mendapatkan sayur). Kamu dapat memilih sendiri jenis makanan apa yang akan kamu pilih.
       
      Melihat Sunrise di Bukit Sikunir


      Bukit Sikunir via bukitsikunirdieng
       
      Untuk mengawali perjalanan wisatamu selama berada di Dieng, ini dia salah satu objek wisatanya yang wajib kamu sambangi. Objek wisata ini adalah Bukit Sikunir dimana kamu dapat menikmati sunrise yang cantik dan indah.
      Ya, dari bukit ini kamu dapat mengabadikan keindahan matahari terbit dari sudut yang paling indah. Jika Jawa Timur memiliki Bromo sebagai spot terbaik untuk melihat sunrise, maka Jawa Tengah memiliki Bukit Sikunir yang satu ini.
      Keindahan Bukit Sikunir memang sudah sangat populer. Bahkan, karena keindahannya, banyak orang menamakan bukit ini dengan sebutan “Golden Sunrise”.
      Bukit Sikunir berada pada ketinggian 2.200 mdpl. Warna sinar matahari yang kekuningan seperti kunir membuat masyarakat setempat menamainya sikunir. Kunir adalah bahasa Jawa dari kunyit.
      Harga tiket masuk yang harus kamu bayar jika kamu ingin memasuki kawasan Bukit Sikunir ini adalah sekitar 5.000. Nah, jika kamu ingin melihat indahnya matahari terbit di Bukit Sikunir ini, maka sangat disarankan kamu untuk bangun sejak pukul 3 pagi.
      Selanjutnya, kamu dapat menyewa mobil atau ojek yang akan mengantarkanmu untuk mencapai kaki bukit Sikunir. Selanjutnya, kamu dapat melanjutkan perjalananmu dengan trekking menuju ke Bukit Sikunir.
       
      Menyambangi Telaga Menjer


      Telaga Menjer via Goresanlensa
       
      Setelah menyambangi Bukit Sikunir, kamu dapat melanjutkan perjalananmu dengan menyambangi Telaga Menjer yang satu ini. Keindahan alam yang ditawarkan oleh Telaga Menjer ini sangat cantik sehingga mampu membuat siapa saja terkesan.
      Ketika menyambangi telaga ini, kamu dapat melihat panorama alam yang indah berupa bukit-bukit hijau yang ditengahnya terdapat telaga. Keindahan alam ini menjadikan Telaga Menjer sebagai salah satu tempat yang paling sering disambangi oleh wisatawan.
      Biaya masuk yang harus kamu keluarkan jika kamu ingin memasuki Telaga Menjer ini adalah sekitar 3.000 rupiah. Sementara itu, jika kamu ingin mencoba sensasi menaiki perahu motor dan berkeliling telaga, biaya yang kamu keluarkan adalah sekitar 10.000 hingga 25.000.
       
      Melihat Telaga Warna Lebih Dekat


      Telaga Warna via Diengadventure
       
      Selanjutnya, inilah dia destinasi wisata di Dieng yang dapat kamu jadikan sebagai referensi. Destinasi wisata yang satu ini adalah Telaga Warna.
      Telaga Warna adalah salah satu objek wisata yang paling terkenal di Dieng. Telaga ini menjadi populer karena konon warna airnya dapat berubah-ubah kadang biru, hijau, kuning dan bahkan warna pelangi.
      Perubahan warna telaga ini konon terjadi karena kandungan sulfur yang sangat tinggi sehingga jika terkena sinar matahari, warnanya pun dapat berubah-ubah. Sementara menurut legenda warga sekitar, warna yang berubah-ubah itu terjadi karena pada zaman dahulu kala terdapat cincin milik seorang bangsawan yang jatuh ke dalam telaga ini.
      Dominasi warna dari telaga ini adalah hijau, biru laut dan putih kekuningan. Jika ingin melihat keindahan warna dari telaga, kamu dapat mendaki ke puncak bukit yang mengelilingi telaga tersebut.
      Nah, selain melihat warna yang cantik di telaga warna ini, kamu juga dapat menikmati pemandangan berupa pepohonan yang menjulang tinggi di sekitar telaga. Dengan demikian, kamu akan merasa nyaman karena suasana teduh dan membuatmu betah berlama-lama berada di sini.
       
      Menyambangi Candi Arjuna


      Candi Arjuna via Pegipegi
       
      Penasaran dan masih ingin menyambangi berbagai destinasi wisata menarik lainnya di sekitaran Dieng? Kali ini kamu dapat mencoba untuk menyambangi Candi Arjuna karena candi ini merupakan satu bukti bahwa Dieng juga memiliki magnet wisata berupa candi berarsitektur unik.
      Di sekitar Dieng, terdapat banyak candi agama Hindu yang masih eksis dan berdiri tegak hingga saat ini. Hal ini merupakan satu bukti napak tilas mengenai penyebaran agama pertama di Indonesia.
      Nah, salah satu candi yang masih eksis hingga saat ini adalah Candi Arjuna. Keberadaan candi ini sebagai objek wisata sukses membuat banyak pengunjung dan wisatawan baik lokal maupun mancanegara memilih datang dan berkunjung ke sini.
      Bagi kamu yang menyukai wisata sejarah, kamu dapat mencoba untuk menyambangi candi yang satu ini. Biaya masuk yang dikenakan jika kamu ingin memasuki candi ini adalah sekitar 5.000.
       
      Menyambangi Desa Sembungan


      Desa Sembungan via Ensiklopediindonesia
       
      Masih bersemangat ingin mengeksplor Dieng? Kali ini, jangan lupa untuk jejalkan kakimu di kawasan Desa Sembungan. Desa ini merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa. Jadi, jika kamu ingin menjajaki desa tertinggi di Pulau Jawa namun malas untuk mendaki gunung, jangan lupa untuk menyambangi Desa Sembungan yang satu ini.
      Desa ini berada di 2.306 meter di atas permukaan laut. Dan karena letaknya di Dataran Tinggi Dieng, praktis membuat desa ini juga menjadi salah satu desa yang tinggi—bahkan merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa.
      Bagi kamu yang tertarik ingin menyambangi desa yang satu ini, jangan lupa bekali diri dengan menggunakan jaket sebab suhu di desa ini tergolong sangat dingin. Dalam sepanjang perjalanan menuju Desa Sembungan kamu akan menemui penduduk asli Dieng yang menahan dingin dengan cara mengenakan sarung menutupi wajah dan badan mereka.
       
      Mengunjungi Kawah Sikidang


      Menyambangi Kawah Sikidang via Coretanpetualang
       
      Selanjutnya, inilah destinasi wisata di Dieng yang sayang untuk kamu lewatkan. Destinasi wisata ini adalah Kawah Sikidang.
      Kawah Sikidang merupakan salah satu kawah yang dijadikan sebagai andalan wisata di Dieng. Kawah ini berlokasi di bagian Dieng timur. Pemandangan di sekitar Kawah Sikidang ini juga tergolong sangat indah. Kamu dapat melihat perpaduan hamparan bukit hijau dan tanah kapur di sekitar kawah.
      Diberi nama Sikidang karena kolam magma di kawah ini sering berpindah-pindah seperti Kidang (bahasa Jawa untuk hewan Kijang). Gejolak magma di kawah ini juga cukup tinggi, antara setengah hingga satu meter.
      Nah, di Kawah Sikidang ini kamu dapat berfoto dengan pemandangan latar belakang berupa kepulan asap dari kawah dan putihnya pemandangan di sekeliling.
      Walaupun terlihat sangat eksotis, tetapi kamu tidak disarankan berada berlama-lama di Kawah Sikidang ini demi kesehatan pernapasanmu. Untuk menyambangi kawah Sikidang ini, biaya yang harus kamu keluarkan adalah sekitar 4.000 rupiah.
       
      Mengunjungi Dieng Plateau Theater


      Mengunjungi Dieng Plateau Theater via Indahnesia
       
      Selanjutnya, inilah dia destinasi wisata lainnya di kawasan Dieng yang tentu saja sayang untuk kamu lewatkan. Destinasi wisata yang satu ini adalah Dieng Plateau Theater.
      Nah, jika kamu ingin mengetahui lebih dalam tentang sejarah Dieng dalam bentuk film, kamu dapat mencoba untuk menyambangi tempat ini. Di sini akan diputarkan film mengenai sejarah Dieng dan juga berbagai hal seputar Dieng ini.
      Ketika menyambangi Dieng, jangan lupa untuk menyambangi teater yang satu ini dan menonton film mengenai Dieng. Biaya yang harus kamu keluarkan jika kamu memasuki teater ini adalah sekitar 5.000.
       
      Menyambangi Gardu Pandang Tieng


      Mengunjungi Gardu Pandang Tieng via Mutiakarima
       
      Kawasan Dieng memang terkenal dengan ketinggiannya. Nah, untuk melengkapi perjalanan wisatamu selama berada di Dieng, pastikan kamu tidak melewatkan kesempatan untuk menyambangi Gardu Pandang Tieng yang satu ini.
      Di tempat ini kamu dapat merasakan sensasi bagaimana rasanya berada sangat dekat dengan awan dan bahkan dapat merengkuhnya. Berfoto di sisi gumpalan awan seperti gula-gula kapas adalah kegiatan yang wajib kamu lakukan ketika kamu memiliki kesempatan untuk menyambangi tempat ini.
      Ya, kamu akan mendapatkan sebuah foto yang sangat ciamik. Dari sini, kamu juga dapat melihat Gunung Sindoro secara lebih dekat. Selain itu, kamu juga dapat menyaksikan kota Dieng seperti miniature kota dalam maket yang akan menjadi pelengkap keindahan memandang Dieng dari ketinggian.
      Sementara itu, tidak ada biaya yang dikenakan jika kamu ingin menyambangi tempat ini alias gratis. Untuk itu, jangan sampai lewatkan kesempatan untuk menyambangi tempat ini ketika kamu memiliki kesempatan untuk menyambangi kawasan Dieng.
       
      Nah, itulah dia penjelasan mengenai menyambangi Dieng. Dieng memang terkenal dengan pesona wisatanya yang tentu saja sangat sayang untuk kamu lewatkan.
      Happy traveling!
    • By Arif Irawan
      Ini adalah sebuah tempat yg belum ngehits, tapi instagramable hi hi..., awalnya gara - gara salah info tentang pelaksanaan MERON di sukolilo pati (mirip2 sekatenan di jogja). dapat info pelaksanaan  acara meron habis sholat jumat tapi sampai sana jam 1 siang ternyata sudah bubar acaranya, cuman dapet macetnya doang hi hi,, kan nyesek tuh.  sambil nunggu kemacetan terurai sempat ngobrol2 sama seorang pemuda disana ternyata orang kayen, pati. mendadak jadi inget pernah lihat foto di salah satu grup FB namanya prosotan semar. pas aku tanya kebetulan dia baru aja dari sana dapetlah info jalannya. pas aku tanya mobil bisa kesana ga dia bilang bisa banget karena TKP pinggir jalan cuman mesti jalan dikit nurunin lereng. 
       
      Fix akhirnya meluncur kesana, lokasi gampang dicari patokannya jelas. masuknya dari pertigaan di sebelah RSUD  kayen dekat alun2 kayen arah ke desa sumbersari. kemarin aku ukur dari pertigaan jaraknya 5,1 km. sempat nyasar keblablasan, karena belum tau lokasi pastinya dan ga ada papan petunjuk karena memang ini bukan tempat wisata. modalnya pake GPS (Gunakan Penduduk Setempat ).
      yang ga tau kayen letaknya kalau dari timur pati nanti ketemu simpang lima pati belok kiri ikuti petunjuk jalan arah ke purwodadi,  kalau dari barat pati. sampai pasar bareng kudus maju dikit ada lampu merah belok kanan  ikuti jalan sampai mentok nanti belok kiri sudah sampai daerah kayen.  letaknya di tengah jalur utama antara pati - purwodadi.

      pertigaan sebelah rsud, dari rsud belok kanan ikuti jalan sejauh 5,1 km

      kalau ketemu rumah di kiri jalan ini berarti sudah sampai ( panah = jalan turun ke TKP)

      jalan masuk ke tkp
       

      koordinat lokasi 
       
      Nah cukup jelas kan info TKPnya
       
      Mobil kemarin aku parkir di pinggir jalan, dari jalan raya kemudian jalan kaki cuman turun aja ga ada 5 menit sampai.
       

       
       

       

       
       
      sampai lokasi masih bersih tempatnya, sampah palingan cuman ranting2 yang hanyut namanya juga kali,  ga ada sampah rumah tangga karena memang rumah penduduk jauh dari TKP. jangan harap pula ketemu sampah mainstream seperti botol kemasan air mineral, kemasan mie instan etc. dan pas disini padahal hari libur panjang ga ada orang sama sekali ha ha bisa memuaskan hasrat untuk foto2 disini. sore itu hanya ada 1 warga lokal ke tkp cuman buat nyuci sepeda motornya hi hi..

       

       

       

       

       
      Oh iya lupa, kalau kesini jangan lupa bawa bekal, ga ada warung dekat2 sini, dan jangan lupa lagi "BAWA PULANG SAMPAHMU".
      Puas foto2 liat ke bawah seperti ada curug lagi cuman masalahnya kalau mau ke bawah mesti nyebrangin kedung sungainya. alias harus berenang. akhirnya nyari jalan lain mesti muter lewat hutan jati

       
      akhirnya sampai ke bawah  ada air terjun mininya lagi cuman yang ini ga begitu tinggi tapi kedungnya keliatannya dalam, kemarin nyoba masukin batang bambu yg dipinggir aja sekitar 2m dalemnya.
       

       
      ga kalah keren ma yang diatasnya kan. tapi weits ternyata di bawahnya ada curug lagi, total ada 3 tingkat ternyata curugnya.

      mancing sek ben ra edan!!

       
      karena dari siang kena macet di sukolilo pas acara meron,  lama di tkp bikin gerah juga akhirnya ga tahan godaan buat menceburkan diri hi hi...  keren berasa milik pribadi ga ada orang lain yang kesini

       

       

       
      kalau mau berenang disini hati2 jangan asal lompat dari atas curugnya, karena di dalam kedungnya beberapa titik ada batu besarnya. terkadang diantara batu ada celah sempit dan dalam bahaya kalau terperosok bisa kejepit.
       
    • By Orchidrasyid Sipit
      Berkunjung ke Kudus tidak mampir ke situs Patiayam kurang lengkap rasanya. Situs arkeologi Patiayam tersebut terdapat di Desa Terban, Jekulo, Kudus. Di Patiayam kita akan mendapat pengalaman perjalanan wisata menyusuri daerah di kawasan hutan Patiayam dengan berbagai panorama dan fosil – fosil ribuan tahun lalu.
      Saya adalah anak asli kelahiran Desa Terban, tepatnya di Dukuh Ngrangit Lama. Saya akan bercerita apa yang saya catat bail dari museum dan cerita yang berkembang di masyarakat dan menjadikannya sebuah narasi. Semoga bermanfaat dan berguna. Akan saya mulai dengan wisata alam yang ditawarkan.
      Perjalanan bisa diawali dari museum Situs Patiayam yang berada di bekas klinik desa (belum ada museum permanen) yang letaknya di Dukuh Kancilan Desa Terban. Setelah itu perjalanan bisa dilanjutkan menuju ke lokasi Sendang Pengilon arah utara menuju bekas Desa Ngrangit (lama).
      Perjalanan yang memerlukan waktu sekitar satu seperempat jam tersebut melewati kawasan ladang dan pepohonan yang sudah banyak tumbuh di bekas desa tersebut. Ditengan perjalanan kita bisa berhenti di gardu pandang yang di bangun oleh pemerintah sebagai wisata alam pelengkap Museum Patiayam. Gardu pandang atau gardu atraksi tersebut terletak di Gunung Nangka Pegunungan Slumprit petak 21 C Perhutani.
       

       
      Sekadar cerita sedikit tentang Patiayam
      Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Patiayam merupakan suatu kubah yang berada di kaki selatan gunung muria. Dahulu patiayam merupakan lautan yang berbentuk kubah. Menuru catatan yang berada di museum penemuan fosil purba pertama di situs patiayam dimulai sejak tahun 1979. Ditemukannya sebuah gigi geraham bawah dan tujuh pecahan tengkorak manusia ditemukan oleh Dr Yahdi Yaim dari Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB). Tapi sebelum itu Patiayam sudah diteliti sejak 1931 oleh peneliti Belanda bernama van Es.
      Lalu ditemukan pula sejumlah tulang belulang binatang purba, seperti Stegodon Trigono Chepalus (sejenis gajah purba), Elephas Sp (sejenis gajah), Cervus Zwaani dan Cervus Lydekkeri Martin (sejenis rusa), Rhinoceros Sondaicus (badak), Sus Brachygnatus Dubris ( sejenis babi), Felis Sp (macan), Bos Bubalus Palaeoharabau (kerbau), Bos Banteng Paleosondicus (banteng), dan Crocodilus Sp (buaya). Semua itu ditemukan dalam lapisan batu pasir tufoan (Tuffaceous Sandstones).

       
      Menurut badan arkeologi purbakala umur fosil diperkirakan 1 juta hingga 700.000 tahun lalu. Setelah itu pada tahun 1981, Tim Pusat Penelitian dan Penggalian Benda Purbakala Yogyakarta menemukan dua gading gajah purba berukuran panjang 2,5 meter dan berdiameter 15 sentimeter di Bukit Patiayam, di wilayah Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati.
      Fosil ini diperkirakan berumur 800.000 tahun. Selain itu, tim juga menemukan fosil kepala dan tanduk kerbau, dua gigi babi, banteng, kambing, rusa, badak, buaya, dan kura-kura. Dengan ditemukannya fosil-fosil itu, tim peneliti menyimpulkan Bukit Patiayam semula merupakan sebuah sungai dengan lebar 50 meter hingga 200 meter, sedikit rawa dan padang rumput. Selain itu ditemukannya dua gading gajah di Gunung Nangka (bagian dari Bukit Patiayam) berukuran 3,17 meter dan 1,44 meter. Kemudian disusul penemuan-penemuan lain bukit Patiayam.
      Jauh sebelum tim Geologi ITB menemukan fosil gajah purba, ketika Indonesia masih sebagai daerah jajahan Belanda, menurut cerita pegawai museum, Bukit patiayam sering dikunjungi oleh orang – orang Belanda. Mereka membawa fosil-fosil yang oleh penduduk sekitar disebut sebagai balung buto (tulang manusia raksasa dalam cerita pewayangan).
      Bagi penulis, Patiayam bisa disamakan dengan beberapa situs bersejarah di Indonesia. Bahkan jika di Kudus, Patiayam bisa di sejajarkan dengan Menara Kudus. Bagi yang tertarik bisa langsung berkunjung ke Patiayam. Selamat mencoba penjelajahan sejarah yang tidak seperti biasanya.

       
      Sebelum mengakhiri tulisan ini saya mempunyai unek – unek di pikiran ini. Patiayam sudah dikenal sejak puluhan ratus tahun silam, tapi Situs Patiayam belum sepopuler Sangiran. Sebagaimana diketahui, Situs Sangiran merupakan sebuah situs prasejarah di Kabupaten Sragen yang telah dikenal luas baik secara nasional maupun internasional karena temuannya yang banyak dan beragam.
      Padahal Patiayam bisa melebihi Sangiran, hal tersebut di karenakan Sangiran banyak diungkap dan di teliti untuk kepentingan akademik ataupun publikasi. Sebaliknya, Patiayam belum ada dan Cuma sebagian kecil saja. Padahal, jika dilihat dari temuannya selama ini Patiayam lebih banyak dan banyak cerita yang mengalir dari masyarakat

       
    • By depe
      Karena tidak dapat tiket kereta pemberangkatan tgl 4 sept 2015 menuju semarang, akhirnya kami terpaksa naik ELF start point plaza semanggi. Perjalanan mulai jam 21.00 dengan kondisi tol dalam kota & cikampek padat merayap. Kami baru memasuki tol cipali sekitar jam 12 malam. Kondisi tol cipali lengang namun setelah keluar palimanan kami di hadapkan kembali padat merayap karena pengecoran jalan, hanya 1 jalur yang bisa di lewati. Perkiraan kami jam 9 pagi sudah sampai semarang tetapi Jam 11 siang kami baru sampai Aji Barang dan beristrirahat sebentar untuk makan siang. Perjalanan kami lanjutkan kembali setelah mengisi perut dan sampai di pos pendakian wekas sekitar jam 3 sore
      Setelah packing ulang, makan & istrirahat sebentar walau kondisi belum fit banget karena kelelahan di halan hampir 18 jam, sekitar jam 6 malam kami mulai tracking dari basecamp ke pos 2 tempat kami nge camp. Perjalanan tidak seperti kami bayangkan sebelum nya, malam hari, debu yang sangat tebal, kondisi badan yang cape. Medan tracking nya mirip sekali dengan Prau tapi ini lebih sadis. Tapi kami tetap terus melangkah nanjak walau hanya setiap 10 langkah stop atur nafas.
      Sekitar jam 11 malam kami tiba di post 2, kami ngecamp di sini. Suasana cukup ramai dengan pendaki lain. Dari kejauhan kami melihat api di gunung Sindoro. Kebakaran gunung membuat kami prihatin, apalagi merbabu juga mengalami hal yang sama beberapa minggu yang lalu. Makanya kami berinisiatif membawa bibit pohon dari basecamp untuk di tanam di bekas lokasi kebakaran.
      Belum cukup kami memulihkan stamina tubuh yg kelelahan, jam 3 pagi kami sudah harus bersiap untuk summit attack. Kondisi track yang lebih sadis lagi dari basecamp ke pos 2 kami tempuh hampir 3 jam. Sampai di jembatan setan, sayup sayup matahari mulai menampakkan sinarnya. Sunrise yang tidak boleh kami lewatkan walaupun belum menuju puncak kenteng songo. Kamera segera kami keluarkan dari tas dengan tangan bergetar karena kedinginan dan badan basah keringatan. Tapi kami tidak boleh melewatkan moment penting ini untuk di abadikan.
      Semua kelelahan kami terbayar dengan indah nya ciptaan Allah
      "Nikmat Ku mana lagi yang kau dustakan"