Sign in to follow this  
anna22

Winter in Japan Next Day (Takayama-Shirakawa-go-Kanazawa)

17 posts in this topic

20170212_172356.jpg

Huaaaah…lumayan jauh yaa jarak antara FR yg sebelumnya dengan yg ini…maaafkan..maklum lg sibuk mencari pundi2 emas demi trip selanjutnya hahaha

Baiklah..next destination adalah daerah Gifu, yaitu Takayama, Shirakawa-Go, dan Kanazawa. Dari Sapporo menggunakan pesawat Skymark Airlines menuju Chubu Airport (Nagoya). Oiya Skymark ini merupakan pesawat LCC yg memberikan bagasi 20 kg lho dan harganya masuk akal. Jam 11 siang sampai di Chubu Airport, pengambilan bagasi termasuk cepat dan langsung naik kereta khusus Airport-Nagoya Station, yang nantinya jalan sedikit ke JR Nagoya Station untuk naik Wide View Hida Train (tercover JR Pass). Karena gw pengen cepet sampe Takayama, gw naik kereta tanpa reservasi karena sudah ga ada waktu lagi. Setengah berlari sambil geret koper, gw masuk gerbong apa aja yang penting masuk dulu dan pas banget, begitu masuk lgsg deh pintu keretanya tutup. Ternyata keretanya penuh, bahkan sudah ada bbrp orang yang berdiri, gw pun ikut berdiri selama berapa lama???? 2 jam..pegel2 deh..eh tapi sebenarnya gak terlalu kesel sih…kenapa??? karena gw bisa liat pemandangan yang baguuuuus banget selama perjalanan. Makanya kenapa kereta ini dinamakan Wide View Hida karena jendelanya terbilang besar sehingga penumpang bisa menikmati pemandangan yang sebagian besar masih asri dan berupa pedesaan serta hutan dan bukit. Karena musim salju, disinilah pertama kali gw melihat salju turun (karena di Sapporo sama sekali ga pernah kena hujan salju). Intinya ga kerasa deh selama 2 jam. Nah pas di Gero Station, orang2 banyak yang turun, gw pun kebagian tempat duduk. Lumayan 30 menit lagi bisa menekukkan lutut, walaupun tulang ekor gw agak gak nyaman kalo nyender :(

Menjelang sore, gw pun sampai Takayama disambut hujan salju yang makin lama makin deras. Sebelum menuju Guesthouse, menyempatkan diri ke terminal bus yang ada di sebelah stasiun untuk reservasi tiket bus besok ke shirakawa-go dan lusa dari shirakawa-go ke kanazawa. Petugasnya bilang kalo tiket bus ke shirakawa-go udah full untuk yang reservation. Tapi ada tiket open seating dimana kita bisa bebas naik yang jam berapa aja (dikasih jadwalnya, busnya ada per 2 jam) dan tinggal antri. Kalo penuh, berarti tunggu bis berikutnya. Abis beli tiket dan beli nasi instan sama cemilan, gw pun menuju J-Hoppers Takayama GH. Cuman jalan 5 menit sebenarnya kalau ga pake geret2 koper di atas tumpukan salju dan hujan2an salju. Begitu check-in, gw leyeh2 bentar dan memutuskan untuk ke kitchen karena laper. Masak mie instan deh, makan pakai nasi +abon ;p

Pas lagi makan, ada cewek Jepang gitu panggil saja dia Daisy (emang ini beneran english name-nya), tadinya dia ngobrol sama salah satu guest (cowok, entahlah dari mana). Tapi tiba-tiba si Daisy ini ngajak ngobrol dengan bilang kalau dia sering lihat beberapa tamu dari Indonesia bawa abon. Ternyata Daisy itu adalah part time staff di GH ini untuk belajar Bahasa Inggris. Aslinya dia Suster di Rumah Sakit Takayama. Pantas aja dia nongkrong di kitchen dan ngajak ngobrol orang-orang. Di akhir percakapan, gw tawarin lah yaa si abon, dan dia bilang enak. Gw tawarin pula sambel sachet, yang akhirnya Daisy ngasih gw matcha latte sachet :)

Oiya, pas check in, gw dikasih tau sama staf kalo ada winter illumination di Hida Folk Village. Akhirnya gw dan temen2 memutuskan kesana. Naik bus dari terminal bus yang sama dan disana sudah ada beberapa turis yang menunggu (dinginnya entah kenapa lebih dingin daripada Sapporo, rasanya pengen cepet2 naik ke dalam bus). Harga tiket bus one way adalah 210 yen. Sedangkan tiket masuk Hida Folk Villagenya 300 yen. Di dalam disediakan the panas dan sake panas. Gw nyoba teh panas karena kedinginan parah tapi rasanya aneh banget. Kami ga lama-lama disana karena takut ketinggalan bus terakhir dan temen2 gw pengen makan sedangkan resto2 gitu kebanyakan udah tutup jam 9. Apa sih Hida Folk Village itu, jadi ini semacam museum rumah-rumah tua (gassho-Zukuri House). Nah sewaktu winter, museum ini buka di malam hari dengan diberikan pencahayaan yang indah. Jadi kalo misalnya tidak sempat ke shirakawa-go, bisa deh kesini untuk mengetahui rumah2 gassho-zukuri yang memang khas banget.

20170211_161051.jpg

20170211_191855.jpg20170211_192241.jpg20170211_193156.jpg2017_0211_18000800.jpg

Malam ini adalah malam terakhir gw bersama teman-teman, karena besok kami punya rencana sendiri2. Besok dimulailah solo trip :)

Sebelum gw berangkat ke Shirakawa-Go, gw menyempatkan diri jalan-jalan sekitar Takayama. Ternyata hari itu, salju pun masih turun dan terpaksa gw beli payung yang akhirnya menjadi salah satu aksesoris dalam berfoto hehe. Tadinya gw masih pengen keluyuran karena Takayama ini indah banget dan banyak jajanan hahaha…tapi hari sudah semakin siang dan gw ga mau terlalu sore/malam sampai di shirakawa-go.

20170212_101357.jpg20170212_102005_HDR.jpg20170212_102443_HDR.jpg20170212_103137_HDR.jpg20170212_103727_HDR.jpg

collage.jpg20170212_112932.jpg20170212_114644.jpg20170212_115237.jpg

Akhirnya gw memutuskan naik bus jam 13.30. Sekitar jam 15.30 gw pun sampai di Shirakawa-go. Begitu turun lgsg menuju bagian informasi untuk lapor bahwa gw akan menginap di Furusato (salah satu gassho-zukuri house yang dijadikan penginapan) sambil bertanya arah jalannya. Ternyata rumahnya itu berada paling ujung desa ini, yang cukup jauh, kalo kata ibu petugasnya sih 15 menit jalan kaki hahaha. Si ibu ini berkali-kali bilang Ganbatte! yg artinya semangat yaa. Hari itu di shirakawa juga turun salju cukup lebat sehingga jalanan tertutup tumpukan salju dan menyulitkan gw saat menyeret koper jadi tambah berat. Sepanjang jalan gw diliatin sama turis2 karena mungkin jarang yang bawa koper dan menginap disana. Pantes aja si ibu petugas berkali-kali bilang ganbatte, karena Furusato ini lumayan jauh dan agak menanjak serta berada di jalan kecil. Akhirnya gw pun sampai dan disambut oleh bapak tua (ga tau namanya), yang ramah dan sedikit bisa berbahasa Inggris. Dia pun membantu mengangkat koper gw ke dalam kamar. Setelah itu, gw diajak berkeliling rumahnya dan memberitahu letak toilet (thanks god its modern toilet), kamar mandi, dan tempat minum tes/kopi. Sebenarnya, penginapan menyediakan makan malam dan sarapan. Namun karena di email reservasi gw menuliskan memiliki food restriction (halal, non alcohol, dll). Akhirnya penginapan memutuskan untuk tidak menyediakannya. Tentu saja harga yang diberikan hanya harga kamar (jadi sedikit lebih murah). Lalu, gw makan apa buat dinner, tentu saja pop mie+nasi instan+abon (lagi2).

20170212_154524.jpg20170212_164338.jpg20170212_164541.jpg

Setelah leyeh-leyeh 15 menit, gw memutuskan untuk keluar jalan-jalan. Padahal itu udah jam 5 sore dan sudah agak gelap serta udah sepi pengunjung. Rencananya gw mau ke shiroyama point untuk lihat pemandangan yang paling diari-cari orang kalau ke shirakawa-go. Sebenarnya ada shuttle bus, tapi karena sudah sore, saya pun terpaksa jalan kaki sekitar 20 menit (jalan lambat banget karena takut kepeleset). Jalan ini jalan setapak yang kiri kanannya pohon pinus tinggi serta agak menanjak. Walaupun dingin karena lumayan mendaki, gw sempet loh berasa keringetan dan gerah hahahaha. Akhirnya sampailah gw ke puncak ini, sayang karena udah sore menjelang malam dan juga hujan salju yang cukup deras, pemandangan desa shirakawa ini kurang terlihat jelas. Tapi gw cukup puas hehe. Setelah foto-foto dan selfie sana sini, gw pun memutuskan kembali turun karena sudah mulai gelap karena sepanjang jalan setapak itu tidak ada penerangan sama sekali dan juga karena gw jalan sendirian jadi takut kalau ada apa2. Di sepanjang jalan turun ternyata masih ada aja loh beberapa orang yang naik dan mereka selalu nanya “masih jauh ga sih???” Gw bilang aja “Deket kok..semangat yaaaah” padahal mah hmmm lumayan masih jauh hihiihi

20170212_165315.jpg20170212_170449.jpg20170212_172356.jpg20170212_175002.jpg

Sepanjang jalan pulang ke penginapan, gw cuman melihat beberapa orang yang sebagian besar penduduk desa. Memang bener yah..berasa beda ketika siang (banyak turis) dan malam (sepi tapi menyenangkan). Menurut gw sih ini pengalaman paling mantap selama di Jepang :)

Begitu gw sampe Furusato, host gw menawarkan untuk mulai mempersiapkan kasur. Gw iyain aja karena sudah lelah dan pengen tiduran. Sebelum ini gw makan malem dulu. Di kamar sebelah terdengar tamu lain sedang makan malam yang disediakan oleh penginapan (jadi mupeng huhuhuhu). Oiya tidur disini berasa banget kayak di film2 Jepang, beralaskan tatami, menggunakan kasur dan selimut tebal serta pakai kimono (disediakan lho). Sumpah tebel banget selimutnya dan berasa berat dan hangat banget. Peraturan penginapan ini adalah kalau malam, penghangat ruangan harus dimatikan (katanya sih biar ga terjadi kebakaran). Dan malam ini gw pun tidur dengan nyenyak, meski muka gw kedinginan parah hahaha

20170212_181116.jpg

Keesokan harinya, pagi2 gw udah bersiap menuju Kanazawa karena gw akan naik bus pertama jam 8 pagi. Ini karena sebelum gw kembali ke Osaka melalui Kanazawa, pengen banget jalan2 sebentar disini. Sekitar 1,5 jam perjalanan, sampailah di Kanazawa. Lgsg nyari locker untuk menyimpan koper karena repot juga jalan-jalan sambil geret koper. Setelah itu, seperti biasa ke bagian informasi untuk minta brosur dan beli tiket bus terusan. Oiya tempat wisata di Kanazawa ini bisa dicapai dengan bus lokal. Jadi belilah The Hokutetsu Bus One Day Pass seharga 500 yen. Tadinya gw berencana ke 21st Century Museum of Contemporary Art, tapi berhubung hari Senin, tutup deh yaa. Lgsg aja menuju Kenroku-en Garden. Setelah itu jalan kaki menuju Omicho Market sambil nyari makan siang.

20170213_104353.jpg20170213_111110.jpg20170213_113116.jpg20170213_114719.jpg20170213_121902.jpg20170213_123717.jpg20170213_124427.jpg20170213_124706.jpg20170213_124935.jpg20170213_130848.jpgcollage2.jpg20170214_082913_HDR.jpg

Berhubungan keterbatasan waktu, gw memutuskan kembali ke JR Kanazawa Stasiun karena jam 4 harus naik kereta menuju Osaka (sebelumnya udah reserve seat dan ini tercover JR pass). Yaaah selesailah sudah perjalanan gw disini..tinggal 2 hari lagi waktu gw di Jepang..hiks..next FR adalah Hiroshima dan Miyajima..see you :)

Share this post


Link to post
Share on other sites
2 hours ago, deffa said:

aih noted ini january - february mau winteran juga di shirakawago neh hehe @anna22 

oh ya kalau gak salah ada website yang live view Shirakawago buat liat apakah lagi snow atau gak tau gak ya web nya? 

Wajib itu kalo winter ke Shirakawa..kalo ga salah ini webnya http://ml.shirakawa-go.org/en/livecam/ atau bisa juga liat instagramnya walaupun ga tiap hari update sih https://www.instagram.com/shirakawa_go/ 

Oiya di akhir Januari dan awal Januari biasanya ada Shirakawa Go light up jadi malam2 bisa ngeliat shirakawa go. Cuman tiap tahun berbeda terus tanggalnya. Untuk yg ini harus ikut tour ada dr nouhi bus dll. Kmrn pengen ikutan ini tapi ternyata tanggalnya ga cocok :(

Share this post


Link to post
Share on other sites

Stunning banget view shirakawago dari atas :kesengsem pantesan bikin baperan pengen balik lagi ke sana.sayangnya ngak tunggu ampe lampu2 rumah penduduk idup y.kalo mampu tungguin sih mgkn viewnya kayak2 di wallpaper hp gitu y

@Vara Deliasani Sabar ya kaks.ntar kita balik lagi wkwkwk

Share this post


Link to post
Share on other sites
5 hours ago, twindry said:

Stunning banget view shirakawago dari atas :kesengsem pantesan bikin baperan pengen balik lagi ke sana.sayangnya ngak tunggu ampe lampu2 rumah penduduk idup y.kalo mampu tungguin sih mgkn viewnya kayak2 di wallpaper hp gitu y

@Vara Deliasani Sabar ya kaks.ntar kita balik lagi wkwkwk

iya tadinya mau nungguin sampe malem, tapi karena sendirian (walaupun ada kayak beberapa 'pemburu foto' yang disana) dan kondisi badan yang ga memungkinkan, jadi nyerah aja deh. Next time kali yaa..semoga bisa balik kesana lagi.

 

Share this post


Link to post
Share on other sites
3 hours ago, anna22 said:

iya tadinya mau nungguin sampe malem, tapi karena sendirian (walaupun ada kayak beberapa 'pemburu foto' yang disana) dan kondisi badan yang ga memungkinkan, jadi nyerah aja deh. Next time kali yaa..semoga bisa balik kesana lagi.

 

Iyaaaap..next time musti tungguin mba.biar kita melihat dengan mata kepala sendiri gambar2 yg ada di google :D

Share this post


Link to post
Share on other sites
On 3/17/2017 at 7:06 PM, anna22 said:

Wajib itu kalo winter ke Shirakawa..kalo ga salah ini webnya http://ml.shirakawa-go.org/en/livecam/ atau bisa juga liat instagramnya walaupun ga tiap hari update sih https://www.instagram.com/shirakawa_go/ 

Oiya di akhir Januari dan awal Januari biasanya ada Shirakawa Go light up jadi malam2 bisa ngeliat shirakawa go. Cuman tiap tahun berbeda terus tanggalnya. Untuk yg ini harus ikut tour ada dr nouhi bus dll. Kmrn pengen ikutan ini tapi ternyata tanggalnya ga cocok :(

ok noted thx untuk link nya

ah saya mah pagi2 aja liat shirakawago nya udah cukup heheh @anna22:D

Share this post


Link to post
Share on other sites
1 hour ago, betmen said:

dengan salju seperti itu, kira2 berapa derajat ya? @anna22

Kalo bulan feb agak lebih mending sih (kalo kata org Jepangnya, kata kita mah sama aja dinginnya)..sekitar -3 sampai 3 derajat. Semakin malam semakin drop suhunya. 

Share this post


Link to post
Share on other sites
On 17/3/2017 at 4:49 PM, deffa said:

aih noted ini january - february mau winteran juga di shirakawago neh hehe @anna22 

oh ya kalau gak salah ada website yang live view Shirakawago buat liat apakah lagi snow atau gak tau gak ya web nya? 

@deffa asik banget nh winteran ke shirakawa kyknya emang paling keren tuh tempat... kutunggu fr nya Deffa:kesengsem

keren ya illumination winter nya, duh blm kesampean winteran di shirakawa, mgkn 2x trip lg baru deh kesaa, sementara yg akan datang mau alpine route-an dulu sambil nabung lagi untuk autuman di sana

Share this post


Link to post
Share on other sites
2 hours ago, Yos said:

@deffa asik banget nh winteran ke shirakawa kyknya emang paling keren tuh tempat... kutunggu fr nya Deffa:kesengsem

keren ya illumination winter nya, duh blm kesampean winteran di shirakawa, mgkn 2x trip lg baru deh kesaa, sementara yg akan datang mau alpine route-an dulu sambil nabung lagi untuk autuman di sana

bukannya mba @Yos nanti mau ke Alpine Route, sekalian aja ke Shirakawago hehe :D 

Share this post


Link to post
Share on other sites
22 hours ago, deffa said:

bukannya mba @Yos nanti mau ke Alpine Route, sekalian aja ke Shirakawago hehe :D 

@deffa iya nanti sekalian ke shirakawa juga sih tapi kan ga sekeren pas winter gitu , ini ak attach ya iti selama alpine route nya, krn ak ambil land tour

ITINERARY ALPINE ROUTE.pdf

Share this post


Link to post
Share on other sites

Hi mba  Anna...  Bagus ya shirakawago. Saya mau Nanya dong kalo mau nginep di shirakawago melalui website  apa  ya  Tq ya mba. blog nya  sangat menarik dan bgs foto fotonya

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By Endar
      Flixbus dari Paris parkir dengan sempurna di area Sihlquai, dekat Zurich Central Station. Pagi itu udara masih dingin. Bagi orang Indonesia yang terbiasa dengan iklim tropis, udara dingin di Carparkplatz Sihlquai tetap menusuk tulang walaupun sudah memakai jaket tebal. Padahal sudah bulan Mei.
      Zurich, kota terbesar di Swiss yang berada di tepi danau Zurich dan dekat dengan pegunungan Alpen menjadikan Zurich kota yang memiliki panorama yang menakjubkan. Tidak heran dengan kondisi ekonomi, geografi dan tentunya fasilitas yang ada, Zurich dinobatkan menjadi kota dengan kualitas hidup terbaik di dunia tahun 2006 dan 2007.
      Satu hari di Zurich tidak menyurutkan semangat untuk menjelajah kota ini. Dengan waktu yang sempit maka hal yang dapat dilakukan adalah city tour. Banyak paket yang ditawarkan dengan berbagai variasi waktu, fasilitas dan tujuan. Transportasi yang digunakan untuk city tour adalah trolley wisata dengan design klasik ditunjang dengan audio dalam delapan bahasa. Ada Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Portugis, Rusia dan Spanyol.  Dalam waktu kurang lebih dua jam dengan biaya 35 – 40 franc, trolley akan melewati area bisnis, Bahnhofstrasse yang menjadi museum penting di Zurich, sudut kota tua Zurich, Fraumunster Church yang konon mulai dibangun tahun 1100 namun baru terlihat di abad 15 dan area perkotaan lainnya.
       

      Perjalanan city tour berhenti dua kali. Biasanya berhenti di area tepi danau Zurich di kawassan dermaga publik. Kedua di jalan Stadthausquai. Terdapat fasilitas toilet umum di setiap tempat pemberhentian, tempat makan atau penjualan souvenir. Di seberang jalan Stadthausquai dengan melewati jembatan di atas sungai Limmat terdapat jalan Limmatuquai yang banyak menjual souvernir di kios-kios kecil. Kawasan ini juga merupakan pusat bisnis dengan banyak bank, toko-toko eksklusif, restaurant dan pusat perbelanjaan.
      Bila tidak puas dengan city tour, terdapat tour dengan kapal pesiar yang akan berlayar di danau Zurich. Dengan kecantikannya, danau Zurich begitu menjadi daya pikat tersendiri. Tata kota dan pemanfaatan danau yang baik menambah nilai plus untuk kota Zurich. Di seputaran danau banyak terdapat pemukian yang menjadikan danau Zurich lebih hidup.  Pemanfaatan danau Zurich sebagai tempat berolahraga air seperti perahu layar, kano  didukung fasilitas yang memadai.
       

      Transportasi di Zurich sangatlah mudah. Banyak kereta dan trem yang menjangkau hampir seluruh sudut kota. Bagi yang tinggal di Zurich dalam waktu yang singkat terdapat ZurichCARD yang merupakan paket transportasi trem, bus, kapal, kereta api dan sarana transportasi lainnya. Terdapat juga potongan harga atau bahkan tiket gratis bagi yang memiliki ZurichCARD. Namun perlu diketahui  di Zurich berlaku zona tariff sehingga tidak perlu membeli paket pada zona yang tidak dilalui. Stasiun Hauptbahnhof  (Zurich HB) menjadi pintu gerbang jika kita menggunakan kereta. Stasiun terbesar di Swiss yang juga menjadi salah satu stasiun tersibuk di dunia ini sangat lengkap. Sudah seperti pusat perbelanjaan, hampir semua kebutuhan dapat ditemukan disini. Pada waktu tertentu sering diadakan bazar makanan yang menual street food dengan harga miring.
       

      Biaya hidup di Zurich termasuk tinggi dibanding kota-kota besar lainnya di Eropa. Dengan mata uang Franc yang memiliki nilai berbeda dengan Euro, harga-harga makanan di Zurich bisa 1.5 kali lipat jika di rupiahkan. Untuk akomodasi juga termasuk tinggi, harga penginapan super standar berkisar IDR 500.000 belum termasuk sarapan.
      Perlu kejelian dalam menyusun itinerary jika memasuki Zurich ke salah satu kota tujuan. Yang menyukai wisata kota dengan suasana yang sepi dan nyaman, Zurich dapat menjadi pilihan. Namun bagi yang menyukai suasana alam, Zurich dapat menjadi trip satu hari yang berkesan.
       



    • By Endar
      Berkunjung ke Raja Ampat sudah menjadi impian banyak orang. Alam yang indah dengan pemandangan menakjubkan dari atas hingga bawah lautnya menjadikan Raja Ampat surga tersendiri bagi para traveler, diver dan juga photographer alam.
      Dengan gugusuan kepulauan di sebelah barat Kepala Burung Pulau Papua, Raja Ampat memiliki banyak pulau yang dapat dijadikan tempat menginap bila berkunjung kesana. Salah satunya pulau Arborek. Pulau kecil nan cantik ini  dapat ditempuh  kurang lebih satu jam dari Waisai, ibukota Raja Ampat.
      Banyak homestay atau penginapan di Arborek yang hampir semuanya pondok kayu beratapkan daun rumbia. Sebuah konsep ramah lingkungan yang menyatu dengan alam. Bahkan, beberapa homestay memberikan pengalaman tinggal di atas air. Kamar di homestay hanya terdapat kasur dan kelambu. Tidak ada kamar mandi privat, semuanya terpisah dan digunakan bersama-sama.

      Fasilitas di pulau Arborek sudah cukup memadai. Listrik menyala dari pukul enam sore hingga enam pagi, cukup untuk mengisi daya gadget-gadget kebutuhan traveling. Air sedikit agak asin dan tidak ada sumber air bersih disini tapi dapat digunakan untuk MCK.  Untuk sinyal agak sulit, hanya dapat menggunakan layanan SMS atau telepon dan itu pun harus berada di area dermaga jika ingin sinyal yang kuat.
      Waktu saya kesana terdapat dua dermaga. Satu lagi ditutup karena sepertinya dipergunakan khusus untuk kebutuhan salah satu homestay di Arborek. Jika pergi sendiri jangan lupa untuk mengisi buku tamu dan membaca dengan jelas aturan-aturan saat berkunjung kesini. Salah satunya,  kita tidak boleh melompat dari atas jetty, bahasa warga Arborek menyebut dermaga,  jika ingin snorkeling di sekitar dermaga Arborek.

      Menikmati pesona bawah laut di Arborek menjadi hal yang istimewa. Saat boat kita bersandar di dermaga, kita bisa melihat ikan-ikan langsung dari atas dermaga. Tentunya, air yang jernih menambah rasa tidak sabar  untuk masuk ke air. Feasibility yang bagus menjadikan kita bisa melihat jelas ikan dan terumbu karang. Jika beruntung kita bisa bertemu dengan schooling fish yang bahkan tidak terganggu dengan kehadiran manusia. Kipas laut, lili laut atau spons laut dapat kita temukan hidup sehat di tiang-tiang dermaga. Cobalah untuk snorkeling di sore hari,  sinar matahari sore akan menambah warna biota-biota laut lebih bersinar.


      Pulau Arborek tidak terlalu luas, kita dapat menikmati pesona matahari terbit dan terbenam di pulau ini. Sayang waktu saya disana pagi hari selalu mendung jadi tidak bisa menikmati matahari terbit dengan sempurna. Namun matahari terbenamnya begitu memesona. Kita dapat dengan santainya duduk di dermaga setelah snorkeling dan menikmati matahari terbenam. Setelah matahari masuk ke peraduannya, cakrawala seolah-olah menaburkan warna-warna sihir. Biru, jingga, kuning, ungu, hitam semuanya berpadu menunjukkan indahnya karya Pencipta.

      Kearifan lokal menjadikan pulau Arborek ini begitu bersahaja. Warga Arborek sepakat untuk menjaga pulau Arborek dan perairan di sekitarnya tetap lestari. Dibuatnya dua zona Kawasan Konservasi Laut Daerah menjadi bukti bagaimana warga Arborek begitu menjaga perairan mereka. Pada zona ini siapapun dilarang mengambil hasil laut. Jika kita ingin memancing, terdapat aturan tidak tertulis yang disepakati yaitu memancing diijinkan minimal 200 meter dari pinggir pantai. Jadi jika ingin memancing silakan dengan boat atau bersama perahu nelayan sampai dengan batas yang diijinkan.

      Tertarik bermalam di Arborek dan menikmati keindahannya?  Beberapa paket tour Raja Ampat menjadikan Arborek tempat bermalam. Jika berpergian sendiri, dengan kisaran IDR 350ribu sampai IDR 450ribu per orang kita sudah dapat bermalam di Arborek ditambah tiga kali makan per hari. Selain itu kita sudah bisa menejelajah Arborek di darat dan bawah lautnya.



    • By Endar
      Dinginnya pagi kota Purwokerto dan rasa lelah karena perjalanan di  bus Tangerang – Purwokerto tidak menyurutkan antusias saya untuk mendaki atap Jawa Tengah, gunung Slamet. Dengan ketinggian 3.428 mdpl, gunung yang masih aktif ini terletak di lima kabupaten, Brebes, Banyumas, Purbalingga, Tegal dan Pemalang. Terdapat beberapa jalur untuk mendaki yang dimulai dari kabupaten-kabupaten disekitar kaki gunung Slamet. Ada Guci dan Kaliwadas yang dimulai dari Brebes, Baturraden yang dimulai dari Purwokerto dan Brambangan yang dimulai dari Purbalingga. Saya sendiri memilih jalur Brambangan karena  sudah resmi dan paling banyak direkomendasikan.
      Kondisi cuaca di basecamp Brambangan saat itu mendung dengan kabut tipis, cuaca yang tepat untuk mendaki asal saja tidak hujan. Setelah menyusun kembali keril agar lebih nyaman dibawa dan mendaftar di basecamp, saya dan teman-teman siap untuk memulai pendakian. Jam tangan saya menunjukkan pukul 10.21 pagi saat melewati gerbang pendakian gunung Slamet. Di awal pendakian, saya disambut dengan suburnya tanah vulkanis Jawa yang ditanami sayuran khas dataran tinggi oleh penduduk sekitar. Senyum dan sapa ramah penduduk yang sedang bekerja juga menjadi penyejuk. Jalur Brambangan dimulai dengan jalan perkebunan warga yang lama kelamaan menjadi jalur setapak dengan suasana hutan khas gunung. Walaupun gunung Slamet berada di Jawa Tengah, kondisi hutannya lebih mirip dengan gunung-gunung di Jawa Barat. Jika gunung-gunung di Jawa Tengah lebih banyak hutan dengan pohon-pohon pendek dan padang rumput, Slamet berbeda. Hutan disini lebih diisi dengan pohon yang besar dan rimbun dan hampir tidak ditemukan padang rumput. Saya harus lebih berhati-hati karena perjalanan sedikit agak licin dan basah  oleh hujan tadi malam sehingga jika tidak tepat melangkah dan tidak berhati-hati akan sangat mudah terpeleset.
      Mendekati pos 1, saya bertemu dengan seorang bapak yang membawa tabung gas hijau, karung berisi semangka dan bahan-bahan jualan lainnya. Tidak terbayangkan besarnya usaha bapak itu mencari rejeki membawa beban begitu berat naik dan turun gunung. Namun dengan berat yang dibawa, bapak itu tetap menjawab dengan ramah saat disapa, suatu budaya yang saya sukai saat mendaki. Tidak lama setelah itu, saya tiba di pos 1 yang terdapat banyak pondok-pondok jajanan yang menjual 
      Mendoan – olahan tempe yang digoreng dengan tepung tapi tidak sampai kering khas Purwokerto dan sekitarnya, semangka dan minuman-minuman. Jika dalam kondisi ramai pendaki seperti saat ini maka pondok-pondok di pos-pos pendakian Slamet akan diisi oleh penjual-penjual.  Harganya pun tidak terlalu mahal jika kita bandingkan dengan usaha membawa barang jualan dari bawah. Suasana ini terjadi di beberapa pos hingga pos 7. Entah karena tersihir oleh warna merah semangka dan aroma mendoan, pada setiap pos saya berhenti untuk beristirahat dan jajan.
      Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Saya hampir tiba di pos 4 menurut ucapan pendaki turun yang berpapasan dengan saya. Cuaca semakin mendung dan tidak lama setelah itu hujan datang, tidak deras. Saya bergegas menuju pos ke 4 dan memutuskan untuk bermalam disitu. Setelah tenda selesai didirikan saya beristirahat, memanjangkan kaki, melepas lelah sambil menikmati segarnya udara dan dingin hujan yang tidak terlalu deras. Setelah hujan reda saya menikmati secangkir teh hangat dan santap malam yang sederhana tapi terasa begitu nikmat. Damainya menikmati malam dengan suara serangga hutan dan batang pohon yang tertiup angin yang juga menjadi lagu pengantar tidur.

      Esok hari saya bangun pukul tiga pagi untuk melanjutkan perjalan ke puncak, masih ada empat pos lagi sebelum puncak. Saya membawa kamera, air minum dengan botol 1.5L, camilan pengganjal perut sebagai amunisi saya dan perlengkapan yang dibutuhkan agar beban tidak berat dan tidak cepat letih. Dalam perjalanan pagi itu saya tidak banyak istirahat begitu juga teman-teman lainnya. Menjelang pos 8 sudah mulai jarang pepohonan. Saya putuskan untuk menunggu matahari terbit sebelum pos 8. Setelah mendapatkan posisi nyaman, saya mempersiapkan kamera untuk mengabadikan suasana matahari terbit. Tidak beberapasihir yang mencipatkan keindahan yang menghipnotis itu muncul. Warna merah, jingga, ungu, kuning dan biru berpadu. Kota di kaki gunung Slamet yang ditutupi kabut dan jajaran gunung Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu dan Lawu menambah tegas suasana matahari terbit pagi itu. Sayang sekali awan agak tebal sehingga matahari hanya muncul sebentar lalu kembali bersembunyi di balik awan.

      Pos 8 adalah batas vegetasi. Dari pos 8 hingga puncak tidak akan ditemukan pohon-pohon hanya terdapat jalur pasir berbatu. Usaha untuk melangkah semakin besar sebanding dengan sudut kemiringan. Setelah terhenti beberapa kali, meghitung langkah satu demi satu lalu berhenti lagi, tibalah saya di puncak Slamet. Saya terduduk, bersyukur dan takjub dengan pemandangan yang begitu memesona. Ke arah barat  terlihat puncak Ciremai, ke arah timur akan terlihat deretan gunung-gunung di Jawa Tengah. Cuaca yang tadinya mendung menjadi cerah. Langit biru membalut alam menjadi batas pandangan dengan hitamnya dunia diluar bumi. Saya tidak turun ke area bibir kawah karena  perjalanan mendaki dan menurun yang cukup jauh.

      Perjalanan turun tidak semudah yang dibayangkan.  Dari puncak ke tenda tidak begitu sulit karena beban yang dibawa tidak begitu banyak. Namun setelah semua perlengkapan masuk ke keril saya harus  lebih menguatkan kaki dan menjaga keseimbangan. Saya tiba kembali di basecamp Brambangan sekitar pukul empat sore. Suasana basecamp tidak seramai kemarin. Seruput teh yang saya pesan menemani gemetarnya kaki. Saya berkata cukup untuk saat itu namun rindu muncul kembali esok harinya.
       
      Tambahan info biaya:
      - Transport Bus Tangerang-Purwokerto  vv  IDR 250.000
      - Sewa mobil Purwokerto - Brambangan vv IDR 600.000
      - SImaksi IDR 5.000 per orang
      - Logistik sesuai kebutuhan
       

    • By Apriyani Indrawati
      Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh penghuni forum jalan2.com hehe saya gabung udah setahun tapi baru buka lagi hari ini x_x
      Salam kenal untuk member baru semuanyaaa dan salam hormat untuk suhu yang ada di sini 
       
      Kembali ke judul.
      Awal bulan Juli, setelah lebaran tepatnya, saya dan keluarga jalan-jalan ke Batu, Malang, Jawa Timur. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah BNS (Batu Night Spectacular). Kami berangkat pukul 07.00 wib dari Semarang, dan sampai kira-kira pukul 19.00 wib. Karena sudah malam, akhirnya sebelum sampai penginapan, kita mampir dulu ke BNS. Awalnya nggak tahu apa itu BNS *kudet dan setelah masuk, ternyata semacam taman lampion.

       
      BNS tampak depan, tapi orang-orangnya tak nampak. Gapapaaah
      Dari depan aja udah kelihatan kan ya, banyak lampu-lampu lucu gitu.
      Untuk HTMnya per orang Rp 40.000,- untuk weekend dan Rp 30.000,- untuk weekday
      Jam buka:
      15.00 – 23.00 Senin – Kamis (Weekday)
      15.00 – 24.00 Jumat – Minggu (Weekend)



      Setelah masuk, beginilah sebagian potret tempatnya *abaikan orang-orangnya
      Lokasinya dekat dengan Jatim Park 1, Jatim Park 2, dan Museum Angkut. Mereka kayak bergerombol gituloh deket-deketan . Kalau mampir ke sana, jangan kaget dengan parkirannya semacam tempat hitz yang masih diserbu banyak pengunjung. Oya, selain lampion-lampion juga ada banyak permainan (tiket bayar sendiri, kecuali pakai tiket terusan) nggak lupa juga ada pertunjukan water dancing. Yang sayang anak, recomended deh tempatnya.  Yang lain juga boleh cobain hehe. Nggak makan banyak waktu kalau mau ke tempat-tempat itu. Tapi bagiku, jajanannya mahal-mahal wkwkw *kayakemak2rumpi* tapi udah biasa lah ya tempat wisata yang memang harga jajannya lebih mahal dari aslinya.
      Untuk lebih jelasnya, kalian bisa ke link ini http://www.batunightspectacular.co.id/
      Sekian.
      Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
       
       
    • By Liaalf
      Apakah ada yang tau cara mendapatkan tiket promo ANA (all nippon airways)  atau Japan airline (JAL) untuk keberangkatan 26 maret - 01 April 2018, boleh menghubungi saya di 0812-5954-2828 (WA) , terima Kasih sebelumnya 
    • By anna22

      Finally, FR terakhir mengenai perjalanan musim dingin di Jepang Feb 2017.
      Sewaktu menyusun itin, pertamanya ingin ke Izu, Kawazu karena sudah mulai Sakura Festival. Ini kotanya dekat dari Tokyo, sekitar 2,5 jam berkereta dan tercover JR pass. Tapi mengingat saya pulang dari Kansai Airport, kok kayaknya capek yah bolak-balik. Jadi berpikir lagi, kira-kira tempat apa yang dekat dari Osaka dan tercover JR Pass. Akhirnya terpilihlah Hiroshima dan Miyajima Island. Kenapa kesana? Pertama memang penasaran dengan kota Hiroshima yang pernah dijatohi bom atom dan adanya keterkaitan sejarah dengan Indonesa. Kalo Miyajima Island dipilih karena deket sama Hiroshima dan terkenal dengan floating tori (baca:gerbang kuil yang terlihat seperti mengapung).
      Salah satu pengalaman terbaik selama di Osaka adalah gw mendapatkan guesthouse yang oke banget hanya dengan 1500 yen/malam (female dorm). Namanya adalah Kintetsu Friendly Hostel yang dekat dengan Tennoji Subway dan JR station. Ini hostel bersih banget, modern, toilet dan shower room banyak, make up room luas dan sangat dekat dari stasiun dengan lingkungan yang nyaman karena berada di Tennoji Park dan Zoo. Sayang kurang punya waktu untuk eksplor...
      Oke back to topic, di tanggal 14 feb hari terakhir yang bertepatan dengan hari valentine (pantesan kok banyak jualan coklat yaaa di sekitaran stasiun, baru sadar haha), gw pun keluyuran sendirian ke Hiroshima dan Miyajima. Jam 6 udah keluar hostel biar lgsg menuju Shin-Osaka JR stasion dan naik kereta shinkansen pagi ke Hiroshima. Belum reserved seat karena mikirnya lgsg aja di stasiun toh cuman jalan sendiri jadi pasti ada seat lah. Dan bener aja kereta pagi itu ga rame2 amat dan lebih banyak turis asing yang rame-rame. Gw liat ada beberapa grup gitu. Bukannya geer yaaaa..tapi sepanjang jalan gw berasa diliatin karena pake jilbab dan jalan sendirian haha
      Selain naik shinkansen sebenarnya bisa juga menggunakan bus umum (seperti willer express dkk). Durasi perjalanan sekitar 1,5 jam tapi ga berasa sih. Pas nyampe Hiroshima Station (yang cukup luas juga), gw menyempatkan diri ke bagian reservasi untuk memilih tempat duduk kereta pulang. Setelah itu, langsung menuju information center buat nanya2 dan ngambil brosur. Oiya, kalo pakai JR pass, kamu bisa naik bus gratis lho untuk keliling Hiroshima. Ada dua rute, tinggal pilih mau yang mana. Pokoknya Hiroshima ga ribet lah. Kalo pakai JR pass, masuk bus dari pintu depan dan supir akan meminta kita menunjukkan jr pass kita lalu doi foto (iyaaa difoto pake pocket camera gitu).
      Destinasi pertama gw adalah Peace Memorial Park, ada beberapa hal yang bisa dilihat yaitu A-Bomb Dome. Jadi ini sisa-sisa reruntuhan salah satu gedung yang pas bom atom dijatuhkan masih berdiri sampai saat ini. Terus juga adalah Children’s peace monument, ini dibangun untuk mengenang anak-anak yang menjadi korban bom. Lanjut jalan ada Hiroshima Peace Memorial Museum. Biaya masuknya cuman 200 yen. Disini ada benda-benda peninggalan atau saksi bisu dari tragedy bom atom dan juga foto2 yang sebenarnya membuat perasaan campur aduk antara haru, sedih, dan ngeri. Serunya di beberapa bagian, ada volunteer yang kebanyakan sudah nenek2 kakek2 bertugas menjelaskan benda2 atau gambar2 yang ada disana. Di salah satu foto yang lumayan besar, saat gw membaca deskripsinya, seorang nenek volunteer bertanya “Japanase?” dan gw jawab “No…no”. Dia nanya lagi “Where are you come from?” (iya volunteer ini jago bahasa Inggris untuk sekedar menjelaskan dan bercakap2 sederhana) gw pun bilang “Indonesia”…Nenek “Oooh..Indonesia…” dan dia pun mulai menjelaskan tentang foto tersebut. Ceritanya sedih banget pokoknya dengan suara si nenek yg lirih dan tanpa sadar gw menitikkan air mata (sumpah beneran). Ini sebenarnya jadi pemikiran gw sendiri sih..pada intinya Indonesia kan bisa menyatakan kemerdekaannya saat kedua kota di Jepang yaitu Hiroshima dan Nagasaki dibom. Jepang yang sedang panik membuat pertahanan di Indonesia melemah. Peluang inilah yang diambil bangsa Indonesia untuk kuat dan berani memerdekakan diri dari penjajahan Jepang. Tapi di sisi lain, korban bom atom ini menyisakan penderitaan yang luar biasa. Meski Jepang dengan cepat bangkit dan justru menjadi salah satu Negara maju. Yaah begitulah...


      Kalo yang suka wisata sejarah, wajib deh kesini. Nah tadinya gw berencana ke Hiroshima Castle tapiiiii karena udah siang, gw memilih lanjut ke Miyajima Island. Balik lagi ke Hiroshima Station untuk menuju Miyajimaguchi dengan naik JR sanyo line selama 30 menit (tercover JR pass). Setelah sampe, jalan sedikit menuju pelabuhan untuk naik ferry selama. Kalau bingung ikuti saja orang-orang karena pasti sebagian besar akan ke Miyajima Island.  Ada dua ferry, satu yang JR, satu lagi non JR. Tentu saja gw pilih yang JR biar tercover. Harganya sih sebetulnya lumayan murah yaitu 180 yen sekali jalan. Lamanya ferry menyebrangi laut sekitar 10 menit .
      Selama ini disini, gw cuman sempet ke Itsukushima shrine dan melihat floating torii. Nah kalau lagi surut, kita bisa turun lho mendekati di gerbang kuil ini. Tapi sayang, pas gw kesana masih pasang lautnya. Apa yang gw lakukan disana menikmati pemandangan dan keluar masuk toko sama nyemil2. Ini surga jajan dan bahaya bagi pecinta jajan seperti gw hahaha… mana belom makan siang lagi. Sebenarnya masih banyak lho atraksi wisatanya di Miyajima tapi berhubung waktu terbatas dan kondisi fisik gw akibat jatoh masih belum baik, jadi gw pun memilih pulang kembali lagi ke Hiroshima Station.

      Masih ada waktu 1 jam menunggu Shinkansen kembali ke Osaka, gw pun makan sore onigiri dan lagi2 diliatin orang2 pas nunggu di ruang tunggu yang sebagian besar orang Jepang. Kayaknya jarang banget liat orang Indo atau yang pake jilbab kayak gw. Yaah gw mah cuek aja sambil ngabisin 2 biji Onigiri.
      Sehabis dari Osaka, gw lgsg ke Shinsaibashi Shopping street untuk nyari oleh2 dan juga belanja2 (hehe). Dan gw baru sadar kalo winter itu toko2 lebih cepet tutupnya jadi jam 9. Tapi ada juga sih yg 24 jam kayak Don Quixote (supermarket lengkap mirip Mustafa di Singapura) dan Matsumoto Kiyoshi (drug store lengkap). Tapi gilaaa yaa padahal udah jam 10 malam, itu di Don Quixote masih rame aja, mana gang2nya sempit banget lagi dengan orang2 belanjaannya segambreng. Padahal gw cuman beli beberapa jenis kopi aja huh..tapi yaa kapan lagi dan harganya murah kalo disini.

      Oiya gw ga sempet jalan2 di daerah namba dan dotonburi ini karena udah pernah pas tahun 2015 ke Jepang..bahkan sampe bolak balik 2 kali ke daerah ini..jadi cuman numpan lewat aja deh kali ini. Jam 11 malem pun gw baru balik menuju Hostel..udah sepiii banget dan untungnya masih dapet kereta. Begitu nyampe hostel, lgsg tepar dan tidur. Packing besok subuh aja karena udah ga sanggup hahaha..
      Yaaah sekian FR perjalanan Winter di Jepang ini…mohon maaf kalo ga seru atau kurang informatif atau fotonya2 ga bagus. Gw doakan teman2 yang niat ke Jepang semoga kesampaian dan teman2 yg ingin balik lagi ke Jepang juga tercapai hehe..
      Kalo butuh informasi bisa dm ato komen lgsg disini yaa :)
      “mata ne” (baca: sampai jumpa) ^^