Sign in to follow this  
Tarmizi Arl

AL-MUNAWAR, HERITAGE SITE DI PALEMBANG YANG TENGAH NAIK DAUN

3 posts in this topic

Kita tahu bersama bahwa Kementrian Pariwisata tengah gencar mempromosikan wisata dalam negeri, baik untuk turis mancanegara maupun untuk orang Indonesia sendiri. Tak mau ketinggalan, pemerintah Kota Palembang bersama Dinas Pariwisata Provinsi dan Tim Pesona Sriwijaya sejak 2016 lalu pun bergerak cepat membenahi tempat-tempat bernilai jual wisata di Kota Palembang. Hal ini juga sejalan dalam rangka mensukseskan Asian Games yang bakal dihelat tahun 2018 nanti dimana Palembang juga menjadi Tuan Rumah mendampingi Jakarta.

Satu lokasi yang mendapat perhatian untuk pembenahan itu ialah Kampung Arab Al Munawar yang berada di Kelurahan 13 Ulu, Palembang. Bagi orang Palembang sebenarnya nama kampung ini sudah sangat familiar sejak dulu, tapi banyak yang belum pernah datang, termasuk saya. Namun kondisi ini sudah berubah, sekarang kampung Al-Munawar selalu saja ramai dikunjungi wisatawan. Tak hanya weekend, tapi juga weekdays. Lantas apa yang membuat Kampung Arab ini menjadi begitu naik daun setidaknya bagi warga Palembang sendiri? Yuk ! ikuti perjalanan saya disana.

 

1.Lokasi Kampung Al-Munawar dan Cara Mencapainya

Kampung Al-Munawar beralamatkan di Kelurahan 13 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II, Kota Palembang, atau di sisi bagian Ulu (Selatan) Palembang. Kampung ini tepat berada di pesisir Sungai Musi, tak jauh dari Jembatan Ampera. Sebenarnya selain Kampung Arab di 13 Ulu ini, masih ada perkampungan Arab lainnya yang masih di Kecamatan yang sama dan juga persis di pesisir Sungai Musi seperti Lorong Al-Habsyi, Al-Hadad, dan Al Kaaf di 14 Ulu serta Komplek Assegaf di 16 Ulu. Namun memang dalam tahap awal ini, Kampung Al Munawar inilah yang dirombak.

1.thumb.jpg.0bd3387ed57328dee58f1373664d1f84.jpg

Lokasi Kampung Al-Munawar dalam Peta

Menuju lokasi kampung inipun sangatlah mudah. Tentunya yang pertama kalian harus sudah ada di Palembang terlebih dahulu. Nah, barulah setelahnya kita lanjutkan perjalanan. Cara pertama bisa dengan jalur darat. Kalian bisa langsung menyebrang Jembatan Ampera dari sisi Ilir menuju sisi Ulu Palembang. Bisa naik angkot, bus kota, atau Transmusi jurusan Plaju dan turun di pangkal Jembatan Ampera sisi Sebrang Ulu. Setelahnya berjalan kaki sedikit menuju Pasar 7 ulu dan naik angkot Tangga Takat berwarna biru. Berhentilah di Lorong Al-Munawar tepat di depan gedung Pos Pemadam Kebakaran yang tak begitu jauh dari pasar. Atau jika tidak mau repot gonta ganti angkutan, gunakan saja aplikasi angkutan online atau taksi.

1b.thumb.JPG.d89db04462b17118fe830c1eb35b8a7b.JPG

Lokasi Kampung Al-Munawar tepat di tepian Sungai Musi

Cara kedua yang lebih menarik ialah dengan jalur air alias mengarungi Sungai Musi. Kalian bisa naik ‘ketek’ –sebutan perahu kecil di Palembang- dari kawasan dermaga Benteng Kuto Besak. Tarif ketek sendiri tidak menentu karena berdasarkan tawar menawar. Standar yang bisa saya berikan ialah sekitar 50 ribu Pulang Pergi perperahu, jadi akan lebih murah kalau kamu pergi ramean. Nah, biasanya juga wisatawan yang datang dengan berperahu sekalian pergi ke Pulau Kemarau. Untuk yang satu ini, tentunya memiliki tarif yang berbeda karena jarak ke Pulau Kemarau lebih jauh. Jika naik ketek biasa tarif PP dengan rute Benteng Kuto Besak - Pulau Kemarau - Kampung Kapitan - Benteng Kuto Besak ialah sekitar 100-150 ribu perperahu ketek dan sekitar 150-200 ribu perperahu speedboat. Ya, ada dua jenis perahu yang bisa dipakai yaitu ketek dengan tenaga mesin biasa dan satu lagi perahu speedboat yang bisa melaju jauh lebih cepat.

 

2. Waktu Kunjungan dan Tiket Masuk

2a.thumb.JPG.93d593fdcb9503da311c616056aef3de.JPG

Loket tiket di Entrance via Sungai

Perlu diketahui bahwa untuk kegiatan wisata, Kampung Al-Munawar buka dari jam 7:30 pagi sampai 5 sore. Hari Jumat adalah hari libur di kampung ini sehingga kegiatan wisata juga sejauh ini tidak diizinkan.

Tidak seperti dulu yang bebas biaya bagi wisatawan, kini Kampung Al-Munawar sudah mematok tiket untuk bisa masuk kawasan sejarah ini. Tapi jangan kahwatir, tiketnya hanya sebesar Rp 2.000 rupiah saja perorangnya. Ya, harga yang sangat murah untuk sebuah Heritage Site. Tarif ini digunakan sebagai biaya perawatan kawasan itu sendiri yang tentu hasilnya bisa dirasakan oleh wisatawan. Buktinya, meskipun berada di tepian sungai tetapi kampung ini sangat bersih. Tak ada sampah yang berserakan karena tempat sampahpun tersedia di banyak titik.

2b.thumb.jpg.c4bbc999e26f62c862d1b5208fe2f3ee.jpg

Area Parkir

Jika kamu naik kendaraan pribadi, maka kamu bisa parkir di dalam kampung tepat di halaman luas di bagian tengah, tak jauh dari pintu masuk via darat. Untuk fasilitas parkir ini, pengunjung juga harus mengeluarkan biaya parkir namun lagi-lagi sangat murah yaitu Rp 2.000 untuk motor dan Rp 5.000 untuk mobil.

 

3. Peraturan Bagi Wisatawan

3.thumb.jpg.4d01881518ce35ecad4e7f19f606d98a.jpg

Sebagai sebuah perkampungan warga dari etnis Arab dan memiliki kebudayaan yang kuat, tentunya kita sebagai wisatawan juga harus menghargai tata kehidupan yang berlaku disana. Secara jelas, pengelola juga memasang petunjuk peraturan yang harus ditaati oleh wisatawan.

Sebenarnya peraturan ini adalah hal umum yang sama saja dengan norma-norma kesopanan yang Indonesia secara umum anut yaitu harus berpakaian sopan atau tertutup, baik pria atau wanita harus menggunakan celana panjang (jika kebetulan memakai celana pendek maka pihak pengelola sudah menyediakan kain untuk menutupi), tidak boleh duduk berduaan bagi lawan jenis, serta termasuk dilarang berfoto secara berpasangan bagi bukan muhrim.

Prewedding pun sebenarnya masih boleh dilakukan disini, tetapi tentu tidak boleh sampai ada kontak fisik antara kedua pasangan.

 

4.  Al-Munawar Sebagai Kampung Sejarah, Budaya, dan Religi

Dijadikan sebuah kampung wisata tentunya Al Munawar mempunyai keunggulan tersendiri. Kampung ini menjadi satu kampung Arab tertua di Palembang yang sudah ada sejak lebih dari 300 tahun lalu. Dinamakan Al-Munawar karena pendiri kampung ini ialah Syeikh Abdurrahman Al Munawar, tokoh Arab yang mendiami lokasi tersebut sejak tahun 1206 Hijriah.

4.thumb.jpg.6f7a4ff01dbc2845f2c10690a5091964.jpg

Salah satu rumah tertua di Al-Munawar

Ada sekitar 17 rumah tua di kampung ini dimana 8 diantaranya masuk dalam Bangunan Cagar Budaya. Rumah tertua berusia sekitar 350 tahun dan hingga kini masih kokoh berdiri bahkan semakin cantik setelah dipugar. Menariknya, dari sekitar 300 penduduk yang ada, semuanya memiliki garis kekerabatan yang erat. Hal ini karena tradisi disana yang tidak memperbolehkan anak perempuan menikah dengan orang diluar kampung. Untuk pria dibolehkan menikahi perempuan luar kampung tetapi tentu saja garis keturunan Ayah sebagai orang Arab tentu memiliki pengaruh lebih kental dalam silsilah. Intinya ketika datang ke kampung ini, kita seolah berada di Little Arab karena semua warganya adalah orang Arab dengan cirinya yang sangat khas.

Kembali karena merupakan kampungnya warga Arab, maka nilai-nilai Islam menjadi atmosfer utama. Jumat adalah hari libur, termasuk untuk anak sekolah. Uniknya di hari Minggu justru sekolah tetap berlangsung. Di moment-moment khusus seperti Tahun Baru Islam, Maulid Nabi, dan Ramadhan, maka ada berbagai acara budaya yang dilakukan di Al-Munawar seperti kesenian gambus. Inilah yang juga menjadikan Al-Munawar sebagai salah satu lokasi wisata religi terbaik di Palembang.

 

5. Menelusuri Al Munawar Heritage Site yang Instagramable

Saya menuju Kampung Al-Munawar melalui jalur sungai. Ketek akan langsung melabuhkan diri tepat di entrance area. Jangan khawatir nyasar karena kampung ini sangat nyentrik dimana tulisan ‘al munawar’ dan ‘logo pesona indonesia’ tepampang menghadap langsung ke Sungai Musi.

5a.thumb.JPG.5f88c68b2c5ce219726dbdf18f15af46.JPG

Bagian Tepi Sungai

Pijakan kayu dan pagar hitam menjadi penyambut wisatawan dari arah sungai ini. Penataan yang rapih dimana nuansa tradisional dibalut dengan sentuhan yang lebih modern menjadikan al-munawar di bagian tepi sungai terasa sangat nyaman dan cocok untuk latar berfoto. Bangku-bangku kayu bercat oranye kecoklatan bersanding dengan pot-pot bunga berbentuk kubus menjadi bagian yang juga langsung menarik perhatian.

 

5b.thumb.jpg.fde2d54dbb7ed6040597e8faa98cb74c.jpg

Musholla Tepi Sungai

Tepat di bagian tepi sungai ini juga ada sebuah Musholla yang lokasinya menjorok langsung ke permukaan sungai. Sensasi beribadah disini tentu sangat berbeda. Jika kamu ingat atau pernah menonton film berjudul ‘Ada Surga di Rumahmu’ yang diperankan oleh Husein Alatas, maka di sinilah lokasi shooting itu mengambil adegan.

Memasuki bagian lebih dalam, maka nuansa tradisional dan kota tua akan sangat kental terasa. Beruntungnya lorong-lorong yang ada sudah ditata sehingga tampak sangat mulus termasuk got-got kecil yang sudah diberi terali hitam sehingga nampak menjadi pemercantik kawasan.

Ciri khas rumah disini ialah rumah panggung dengan lantai bawah yang juga sudah dibangun baik dengan bahan kayu maupun yang sudah berbahan bata. Sayangnya saya belum sempat bertanya mana  rumah yang menjadi 8 cagar budaya seperti yang sudah diungkap sebelumnya. Namun nampaknya bisa dikira-kira bahwa rumah yang menjadi cagar budaya ialah rumah-rumah panggung dengan bahan kayu karena terlihat jauh lebih tua dan tradisional.

 

5c.thumb.jpg.b78fed77f381abe3b1c704a8bb52f432.jpg

Menyusuri tiap bagian kampung yang tidak begitu luas ini, ada banyak spot yang populer dijadikan tempat berfoto instagramable. Hal ini karena dinding rumah-rumah disini sudah di cat dengan warna yang menarik namun tetap menunjukkan nuansa kuno. Apalagi umumnya rumah-rumah tua yang ada memiliki jendela-jendela berukuran besar dan tinggi yang mengisyaratkan kemegahan sehingga semakin cantik saja untuk dipotret. Bangku-bangku, pot bunga, hingga lampu hias menjadi pelengkap lainnya.

 

5d.thumb.jpg.3ff589956a987b2f7ba754879803132e.jpg

Area Lapangan utama dengan madrasah yang bercat tosca (kanan bawah)

Di area lapangan kampung, terdapat sekolah madrasah dengan bentuk yang tak kalah menariknya. Madrasah ini sepintas tidak seperti sekolah karena bentuknya yang berupa rumah panggung. Didekatnya juga terdapat sebuah klinik yang nampaknya juga diurus langsung oleh warga setempat. Dari lapangan ini juga nampak beragam rumah-rumah panggung lainnya yang memiliki keunikan yang berbeda antara satu dan lainnya.

 

6. Menikmati Nasi Kebuli di Rumah Panggung

 

6.thumb.jpg.5cdadbded4048a791fb925d3260f3110.jpg

Khusus di hari Sabtu dan Minggu, datanglah ke salah satu rumah yang berada dekat dengan entrance area via sungai. Di rumah panggung inilah tersedia sajian nasi Kebuli atau orang Palembang umum mengenalnya dengan nama Nasi Minyak. Harganya sangat bersahabat yaitu 20 Ribu rupiah saja untuk Nasi Kebuli dengan lauk ayam goreng/kecap dan sambal khasnya. Yang lebih menarik lagi ialah karena sajian ini disuguhkan di dalam rumah dengan lesehan. Sensasi merasakan langsung bak penghuni rumah adalah pengalaman yang jauh lebih berkesan. Apalagi rumah panggung ini menghadap langsung ke sungai sehingga kalian bisa melihat pemandangan sungai dari dalam rumah.

 

7. Festival Kopi Al-Munawar

7.jpg.7e8b05064a01d67ace8a7882a2e012ea.jpg

Festival Kopi Al Munawar 2016 via Liputan6.com/Nefri Inge

Baru pertama kali diselenggarakan tahun lalu, Festival Kopi Al-Munawar ditetapkan menjadi event tahunan. Tahun 2017 ini rencananya Festival Kopi diselenggarakan pada akhir September nanti. Bagi warga Arab setempat, kopi memang sudah menjadi bagian kehidupan mereka. Karenanya Festival Kopi ini bisa menjadi ajang memperkenalkan Al-Munawar secara lebih beragam lagi.

Dalam Festival Kopi Al-Munawar yang berlangsung beberapa hari ini, ada banyak kegiatan yang  diselenggarakan mulai dari seni meracik kopi, melukis dengan kopi, workshop, bazaar, dan kegiatan pertunjukan seni lainnya.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this