• 0
reniway

[ASK] [TANYA] Tempat makan murah meriah di jogja

Question

Guuyss,:melambai

Semangat pagii,.
semoga sehat semua yah,.

Aku mau nanya yah,.

tgl 14-16 April 2017 ini aku ke jogja, dan paling full time jalan2nya di tanggal 15,.
Mohon info donk, tempat makan murah meriah yang recommended di mana ajh ya?
Sarapan aku nyari yang di sekitar Keraton Yogyakarta :makan
Siang aku nyari yang disekitar Goa Pindul
malam yang di daerah kota

yang ada info atau saran ditunggu yaah,.

makasih :kesengsem

Edited by reniway
penambahan keterangan tanya di depan judul

Share this post


Link to post
Share on other sites

9 answers to this question

  • 0

Jejamuran wajib di coba tapi di daerah Sleman, gak jauh seh dari Kota Jogja nya naik motor aja ini reviewnya: http://jalan2.com/forum/blogs/entry/577-petualangan-kuliner-jogja-part-2-jejamuran/

atau Brongkos Koyor di Alun-Alun Kidul Jogja murah juga: http://jalan2.com/forum/blogs/entry/615-petualangan-kuliner-jogja-part-5-brongkos-koyor/

 

Share this post


Link to post
Share on other sites
  • 0
Just now, HarrisWang said:

Buat saya pribadi semua tempat makan di Jogja murah murah :lol:

Murah bangat malah, ga perlu harus di sortir :D 

setuju ukuran jakarta-bandung mah jogja murah abis :P

Share this post


Link to post
Share on other sites
  • 0

makan di jogja enak-enak dan murah-murah, hampir setahun tinggal disana... kalo saya yang langganan :

  • Lesehan Aldan. suka disini karena sambelnya pas di lidah ane sebagai orang jawa timur
  • Nasgor Padmanaba (SMA 3 Jogja) ini cuma malem aja. agak mahal dikit tapi rasanya buat ane enak sih

Share this post


Link to post
Share on other sites
  • 0
3 hours ago, Dimas Alfarizi said:

makan di jogja enak-enak dan murah-murah, hampir setahun tinggal disana... kalo saya yang langganan :

  • Lesehan Aldan. suka disini karena sambelnya pas di lidah ane sebagai orang jawa timur
  • Nasgor Padmanaba (SMA 3 Jogja) ini cuma malem aja. agak mahal dikit tapi rasanya buat ane enak sih

Lesehan Aldan pernah denger daerah mana ya Jogja nya? @Dimas Alfarizi

Share this post


Link to post
Share on other sites
  • 0
13 hours ago, Dimas Alfarizi said:

banyak banget cabangnya.. ada di daerah godean, terus arah gedong kuning juga ada.. ada 7 kalo ga salah cabangnya..

mayan juga kalau gitu

saya pernah beberapa kali stay di area Godean :D

Share this post


Link to post
Share on other sites
  • 0
On 4/10/2017 at 2:48 PM, deffa said:

setuju ukuran jakarta-bandung mah jogja murah abis :P

Kecuali gudeg yujum .... Gak rela makan gudeg 45k :tersipu 

Kalo lihat2 di IG kulineran yogja meskipun byk yg Blum nyoba tapi murahhhhhh sekali gak perlu mikir bayar Mahal 

Share this post


Link to post
Share on other sites
  • 0
1 minute ago, Rawoniste said:

Kecuali gudeg yujum .... Gak rela makan gudeg 45k :tersipu 

Kalo lihat2 di IG kulineran yogja meskipun byk yg Blum nyoba tapi murahhhhhh sekali gak perlu mikir bayar Mahal 

belum pernah seh makan gudeg yujum

tapi kalau kafe2 nya harga nya sama kayak Jakarta @Rawoniste

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now


  • Similar Content

    • By Sari Suwito
      Sedang transit di kota Jogja dan ingin jalan-jalan murah? Tentu bisa....bisa bangeet malah. Jadi gini, beberapa waktu lalu kami ada acara keluarga di Kulon Progo, berhubung ada anggota keluarga yang mempunyai jadwal terbang beda satu hari dengan keberangkatan saya, maka jadilah kami berangkat bareng dari Kulon Progo naik taksi tetangga saya. Itung-itung hemat tenaga dan uang daripada saya harus bolak-balik Jogja-Wates-Jogja, maka saya memilih untuk menginap saja di hotel dekat bandara Adisucipto. Setelah browsing nemulah saya alamat dan nomer telepon Hotel Bandara Asri (nanti saya tulis reviewnya dech). 
       
      Sebelum ke Bandara Adisucipto saya minta taksi untuk mengantar ke hotel dan taruh barang bawaan saya di hotel.  Karena setelah selesai urusan di bandara saya berniat untuk jalan-jalan sore di kawasan Malioboro sekalian wisata museum gitu. Begitu urusan di bandara selesai, saya langsung menuju Shelter Trans Jogja dari Bandara Adisucipto, naik bus Jalur 1A lalu turun di shelter Malioboro 3 (Pasar Beringharjo/Benteng Vrederburg), lalu saya jalan kaki menuju ke Museum Sonobudoyo, tapiii sayang sekali, ternyata museum sudah tutup jam setengah empat. Jadilah saya..lanjutkan jalan kaki ke arah Jalan Rotowijayan ke museum Kereta Karaton, dan ternyata sudah tutup juga. hihihihi... 
       
      Akhirnya saya jalan kaki ke kawasang cenderamata di jalan Rotowijayan, di kawasan ini berjejer toko yang menjual souvenier, batik dan kaos dagadu. Keluar masuk toko tapi ga nemu juga yang cocok, jadi yaa sekedar cuci mata aja dech. Tak lama kemudian saya memutuskan untuk balik aja ke hotel, takut kesorean dan bus Trans Jogja penuh. Dalam perjalanan menuju shelter Trans Jogja, ketika melewati alun-alun utara ternyata ada kuda yang sedang dilatih oleh pawangnya.  Skalian numpang selfie aah... hehehe...



      Sampai juga akhirnya ke shelter Trans Jogja, dan rupanya ga penumpang ga terlalu ramai, dan masih kebagian tempat duduk. Saya turun di Shelter Jl. Solo (Maguwo) lalu jalan kaki menuju hotel. Sampai hotel setelah mandi sambil nonton tv ternyata berasa dech laparnya, jadilah saya pesan di restaurant hotel mie rebus jawa seharga tujuh belas ribu lima ratus rupiah. hihihi...lumayan...daripada harus keluar hotel lagi. Akhirnya makanan dataang.....
       
      Selesai makan, sambil nonton TV langsung tidur sampe pagi... hihihi...
       
      Pagi hari setelah selesai sarapan saya langsung berangkat ke Shelter Trans Jogja di Bandara Adisucipto untuk menuju Malioboro yang akan dilanjutkan jalan kaki ke Museum Sonobudoyo dan Museum Kereta Karaton Yogyakarta.  
       
      Museum Sonobudoyo
       
      Sekitar jam 8.20 akhirnya sampailah saya di Museum Sonobudoyo, harga tiket masuk tiga ribu rupiah saja, setelah membayar tiket dan mengisi buku tamu, saya dihampiri mbak-mbak yang menawarkan menjadi guide untuk melihat-lihat koleksi museum tapi saya tolak dengan halus. Sepertinya enakan jalan sendiri aja dech, jadi lebih leluasa untuk melihat-lihat koleksi museumnya. 

      Museum Sonobudoyo adalah museum sejarah dan kebudayaan Jawa, termasuk bangunan arsitektur klasik Jawa. Museum ini menyimpan koleksi mengenai budaya dan sejarah Jawa yang dianggap paling lengkap setelah Museum Nasional Republik Indonesia di Jakarta (Museum Gajah).  Museum Sonobudoyo terdiri dari dua unit, unit 1 terletak di Jalan Trikora No. 6 (sebelah utara alun-alun keraton Yogyakarta), sedangkan unit 2 terletak di nDalem Condrokiranan, Wijilan, di sebelah timur alun-alun Keraton Yogyakarta.
       

       
      Museum Sonobudoyo didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda oleh Yayasan yang bernama Java Instituut. Yayasan ini bergerak di bidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok. Panitia pendirian museum yaitu IR. TH. Karsten, P.H.W. Sitsen dan S. Koperberg. Bangunan museum menggunakan tanah bekas "Schauten" atau tanah hadiah dari Sri Sultan HB VIII. Peresmian dilakukan oleh Sri Sultan HB VIII pada tanggal 6 November 1935.
       
      Koleksi Museum Sonobudoyo (unit 1 dan unit 2) terbagi menjadi 10 jenis, yaitu:
      Koleksi Numismatik dan Heraldika, obyek penelitiannya adalah mata uang/alat tukar yang sah, yang terdiri dari mata uang logam dan kertas. Heraldika adalah setiap tanda jasa, lambang dan pangkat resmi (termasuk cap dan stempel). Koleksi Filologi, benda koleksi yang menjadi obyek penelitian filologi, misalnya risalah kuno, tulisan tangan yang menguraikan sesuatu hal atau peristiwa.  Koleksi Keramologi adalah koleksi yang terbuat dari bahan tanah liat bakar berupa pecah belah, misalnya guci.  Koleksi seni rupa, koleksi seni yang mengekspresikan pengalaman artistik melalui obyek dua dimensi atau tiga dimensi.  Koleksi Teknologi. Benda atau kumpulan benda yang menggambarkan perkembangan teknologi. Koleksi Geologi, adalah benda yang menjadi obyek ilmu geologi, antara lain batuan, mineral, fosil dan benda-benda bentukan alam lainnya (permata, granit, andesit). Contoh: Batu Barit. Koleksi Biologi adalah benda yang menjadi objek penelitian ilmu biologi, antara lain tengkorak atau rangka manusia, tumbuh-tumbuhan dan hewan. Misalnya burung (obset) / dikeringkan. Koleksi Arkeologi adalah benda yang menjadi objek penelitian arkeologi. Benda tersebut merupakan hasil peninggalan manusia dari zaman prasejarah sampai dengan masuknya pengaruh kebudayaan barat misalnya : Cermin. Koleksi Etnografi adalah benda yang menjadi objek peneiitian ilmu etnografi, benda-benda tersebut merupakan hasil budaya atau menggambarkan identitas suatu etnis misalnya Kacip. Koleksi Historika adalah benda yang bernilai sejarah dan menjadi objek penelitian sejarah. Benda tersebut dari sejarah masuknya budaya barat sampai dengan sekarang, misalnya Senapan laras panjang, meriam.  Saya hanya mengunjungi Museum Sonobudoyo Unit 1, jadi unit 2 mungkin di lain kesempatan akan saya datangi lagi, sekalian makan gudeg di wijilan kali ya. hehehe...
       
      Oh ya, di depan bangunan Museum Sonobudoyo Unit 1 ini terdapat 2 buah meriam lho. Kedua koleksi meriam tersebut di atas berasal dari masa Sri Sultan Hamengku Buwana III. Sayangnya saya lupa untuk fotoin. hehehe...
       
      Selain meriam terdapat pula arca dan relief. Berikut beberapa koleksi yang berada di halaman pendapa : Arca Dewi Laksmi, arca Mahakala, dan Makara.



       
      Sedangkan di bagian dalam pendopo terdapat seperangkat gamelan.

      Museum ini memiliki beberapa ruang, diantaranya:
      Ruang Pengenalan
      Di atas pintu masuk menuju ke ruang pengenalan terdapat relief candrasengkala "Buta Ngrasa Esthining Lata". Ruang pengenalan berukuran 62,5 m2. Salah satu koleksi yang ada di ruang pengenalan yaitu pasren atau krobongan yang terdiri dari tempat tidur, bantal, guling, kasur, kelambu, sepasang patung loro blonyo, sepasang lampu robyong, dan sepasang lampu jlupak.

      Ruang Prasejarah
      Ruang ini menyajikan benda-benda peninggalan masa prasejarah yang menggambarkan cara hidup manusia pada masa itu meliputi berburu, mengumpulkan dan rneramu makanan. Pada tingkat selanjutnya manusia mulai bercocok tanam secara sederhana serta melakukan upacara- upacara yang berhubungan dengan religi (kepercayaan kepada roh nenek moyang, penguburan dan kesuburan).

       
      Ruang Klasik dan Peninggalan Islam
      Dalam penyajian koleksi dikelompokkan menjadi tujuh unsur kebudayaan universal yaitu:
      1. Sistem Kemasyarakatan
      2. Sistem Bahasa
      3. Sistem Religi
      4. Sistem Kesenian
      5. Sistem Ilmu Pengetahuan
      6. Sistem Peralatan Hidup
      7. Sistem Mata Pencaharian Hidup 

      Patung Kepala Dewa,  dibuat dari perunggu berlapis emas. Ditemukan di Pathuk, Gunung Kidul pada tahun 1956. sebagai lambang Dewa Budha,
      Ruang Batik 
      Di ruang ini memamerkan beberapa koleksi batik. Selain itu juga terdapat proses membatik yang dimulai dari pengerjaan pola sampai proses jadi sebuah batik. Di ruang ini saya suka sekali melihat aneka motif batiknya...bagus bagus banget...



       

       
      Ruang Wayang
      Sesuai namanya, di ruangan ini memamerkan aneka jenis koleksi wayang, diantaranya ada wayang kulit dan wayang golek serta gambar tata letak pementasan wayang kulit purwa klasik.



       
      Ruang Topeng
      Disini juga terdapat beberapa jenis topeng dari berbagai daerah. Topeng sudah mengalami sejarah perkembangan, bersamaan dengan nilai-nilai budaya dan nilai seni rupa. Topeng yang tampil dalam bentuk tradisional mempunyai fungsi sebagai sarana upacara dan pertunjukan.

       
      Ruang Jawa Tengah 
      Di ruang ini memamerkan ukiran kayu yang terkenal dari Jawa Tengah yaitu Jepara seperti gebyog patang aring. Selain itu terdapat keris dan senjata tajam lainnya dengan berbagai jenis.


      Ruang Emas
      Museum Sonobudoyo merupakan museum yang memiliki koleksi artefak emas tapi dengan beberapa alasan belum dapat dilihat oleh umum.
      Pada dasarnya artefak emas memiliki fungsi berbeda-beda, yaitu sebagai:
      1. Mata uang
      2. Perhiasan
      3. Wadah
      4. Senjata
      5. Simbol religius, dll.
      Di ruangan ini dipamerkan aneka koleksi perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari kuningan dan perak. Seperti: aneka bentuk ceret dan kendi, sendok makan, dll.




       
      Ruang Bali
      Diantara ruangan lain, ruangan ini paling istimewa, karena terdapat lampu warna biru yang byar pet gitu. hehehe...
      Koleksi ruang Bali berkaitan dengan kebudayaan Bali baik mengenai yadnya (upacara) maupun berbentuk seni lukis dan seni pahat. Di bagian terpisah terdapat Candi Bentar.
       


      Patung Penari Keris, posenya ini lho...agak-agak merinding...seperti orang mau bunuh diri yaa..

      Di bagian luar Ruang Bali terdapat Candi Bentar, di dalam komplek candi Bentar biasanya terdapat Bale Gede, yang berfungsi sebagai tempat upacara daur hidup dan untuk bermusyawarah.

       
      Ruang mainan
      Di sini dipamerkan koleksi aneka mainan tradisional dan foto-foto anak-anak yang sedang memaikan permainan tradisional.



      Setelah merasa cukup puas berkeliling museum Sonobudoyo, saya melanjutkan perjalanan berikutnya ke Museum Kereta Keraton Yogyakarta dengan berjalan kaki. Yuk, ikuti cerita selanjutnya.
       
      Museum Kereta Karaton Ngayogyakarta 
      Museum ini terletak di Jalan Rotowijayan, bisa ditempung dengan berjalan kaki dari Museum Sonobudoyo unit 1. Harga tiket masuk lima ribu rupiah, ditambah tiket ijin foto seharga seribu rupiah.

      Museum ini khusus menampung kereta-kereta kuda keraton pada masa Kerajaan Yogyakarta era Sri Sultan Hamengku Buwono ke-8. VIII.
       
        Museum kereta keraton ini memiliki 18 kereta, setiap kereta memiliki nama masing-masing, diantaranya:
      1. Kereta Nyai Jimat, 
      2. Kereta Kyai Garudayaksa, 
      3. Kereta Jaladara, 
      4. Kereta Kyai Ratapralaya, 
      5. Kereta Kyai Jetayu, 
      6. Kereta Kyai Wimanaputra, 
      7. Kereta Kyai Jongwiyat, 
      8. Kereta Kyai Harsunaba, 
      9. Kereta Bedaya Permili, 
      10. Kereta Kyai Manik Retno, 
      11. Kereta Kyai Kuthakaharjo, 
      12. Kereta Kyai Kapolitin, 
      13. Kereta Kyai Kus Gading, 
      14. Landower Kereta, 
      15. Kereta Surabaya Landower, 
      16. Wisman Landower Kereta, 
      17. Kereta Kyai Puspoko Manik 
      18. Kereta Kyai Mondrojuwolo. 
      Kereta-kereta tersebut mempunyai fungsi masing-masing, dan penggunaannya selalu dipilih berdasarkan acara yang akan diselenggarakan. Beberapa foto terpasang di dekat lokasi kereta Keraton. Jadi kita juga bisa lihat kereta ini dipakai di acara apa gitu.


      Oh ya, kereta-kereta ini buatan Eropa lho, diantaranya Jerman dan Belanda. Bahkan sebagian besar kereta-kereta ini masih asli, belum tersentuh modifikasi meski sebagian sudah mengalami modifikasi baik dalam warna cat maupun interiornya.
       
      Terdapat beberapa kereta yang dikeramatkan, karena keistimewaan bahannya yang terbuat dari emas dan merupakan kereta Raja yang disebut sebagai kereta Kencana, bahkan sebagian kereta mungkin memiliki cerita mistis, makanya jangan sembarangan ya saat berada di tempat ini. 
       
      Saya paling suka kereta ini nich...keren dan elegan banget... *abaikan penampakan yang separo ini. hehehe...

       
      Jenis-jenis kereta di Museum Kereta Keraton:
      1. Kereta atap terbuka dan beroda dua, contohnya:  Kereta Nyai Kapolitan

      2. Kereta atap terbuka dan beroda empat, contohnya: Kerata Kyai Jongwiyat dan Landower. Oh ya saya sempat dengar kalau Landower ini berasal dari istilah dalam bahasa Inggris Land Owner (Tuan Tanah/Raja).

      3. Kereta atap tertutup dan beroda empat. Kereta ini termasuk kereta yang mewah dan sakral, contohnya: Kereta Kanjeng Nyai Jimad, Kyai Garudayaksa dan Kyai Wimanaputra.

      Kereta Kanjeng Nyai Jimad ini merupakan kereta tertua, telah berada di sini sejak tahun 1750. Kereta ini merupakan buatan Belanda. Bentuknya unik dan sangat indah seperti layaknya kereta Cinderella. Di bagian depan bawah kereta ini terdapat patung wanita menyangga kereta ini dan terdapat untaian bunga yang mengalunginya.
       
      Ada juga kereta Premili, di dalam kereta ini terdapat 4 baris kursi yang saling berhadapan, kereta ini berfungsi untuk membawa para penari keraton yang berjumlah sekitar 16 orang.

      Di dalam museum ini juga terdapat beberapa patung kuda, koleksi pakaian dan perlengkapan kusir kereta.




      Di bagian luar museum di halaman sebelah utara juga terdapat kandang kuda yang dihuni beberapa ekor kuda. Berikut beberapa suasana di halaman museum..


      Sekitar jam setengah sebelas saya keluar dari Museum Kereta Keraton lalu jalan kaki ke shuttle Trans Jogja di jalan Malioboro. Seperti sebelumnya, saya turun di shelter Jl. Solo - Maguwo lalu mampir makan siang di warung padang dulu, baru lanjut jalan kaki ke toko oleh-oleh Bakpia 25. Nah, disini saya coba beli varian baru bakpia 25 yaitu bakpia isi ubi ungu, enak juga lho rasanya. Sampai di hotel sekitar jam 12an, saya beres-beres barang bawaan dan sekitar jam 12.30 saya ke front office untuk nyerahin kunci kamar, dan request pengantaran ke bandara diundur jadi jam 2 saja. Males kelamaan di bandara ga bingung mau ngapain secara flight saya masih jam 16.10. Akhirnya jam 2 tepat saya minta diantar ke bandara, rupanya counter Air Asia sudah buka, jadi langsung aja check in dan masuk ke boarding roam. Selamat tinggal Jogjakarta....ke Jakarta aku kan kembaliiii......
      Demikianlah...field report jalan-jalan saya saat transit di kota Jogja...mungkin bisa menjadi referensi buat teman-teman yang akan transit di kota Jogja.
       
       
       
       
    • By amoy
      Jadwal 2018 :
      15-20 februari
      12-17 april
      4-9 juli
      8-13 september
      Destinasi :
      Savana bekol baluran
      Menara pandang
      Pantai bama
      Mangrove trail
      Kawah ijen
      Blue fire
      Sunrise bromo
      Kawah bromo
      Pasir berbisik
      Bukit teletubies
      Pura luhur bromo
      Coban rondo
      Musium angkut
      Taman langit
      Gunung banyak
      Alun alun batu
      Mangunan
      Puncak becici
      Tugu
      Malioboro
      Alun alun yogja
      Phuntuk setumbu
      Gereja ayam
      Borobudur
      Lava tour merapi
      Sentra bakpia
      Price :
      2700 idr
      Start surabaya & finish yogjakarta
      *start jkt/kota lain call us!!!
      Fasilitas :
      Transport ac
      Jeep bromo
      Jeep merapi
      Homestay ( max 3 orang/room )
      Makan 15x
      All tiket wisata
      Tour leader
      Day 1
      00:00-02:00 meeting point di stasiun/bandara surabaya
      02:00 menuju baluran
      10:00 explore baluran
      14:00 menuju homestay
      17:00 check in homestay, Makan malam & free time
      Day 2
      00:30 check out, menuju pos ijen paltuding
      01:30 treking kawah ijen
      04:30 explore blue fire
      05:30 explore kawah ijen
      06:30 kembali ke pos ijen
      09:30 start menuju bromo
      17:00 check in homestay bromo, makan malam & free time.
      Day 3
      03:00 start menuju spot sunrise bromo (penanjakan/bukit kingkong)
      04:00 explore sunrise
      06:00 explore kawah bromo, bukit teletubies, pasir berbisik
      10:00 kembali ke homestay
      12:00 start menuju batu malang
      15:00 check in homeatay dibatu
      16:30 explore gunung banyak & taman langit
      20:00 explore alun-alun
      22:00 istirahat & free time
      Day 4
      09:00 explore coban rondo
      12:00 check out homestay
      13:00 explore musium angkut
      16:00 agro wisata petik apel
      18:00 menuju yogyakarta
      Day 5
      05:00 tiba di yogja, explore mangunan, becici & breksi
      12:00 check in homestay
      14:00 city tour yogja. Alun-alun, malioboro, tugu.
      20:00 kembali ke homestay, istirahat.
      Day 6
      03:00 check out menuju phuntuk setumbu
      04:30 explore puntuk setumbu
      06:00 explore gereja ayam
      07:00 explore candi borobudur
      12:00 lava tour merapi
      15:00 kembali ke yogjakarta.
      17:00 drop di stasiun/bandara yogjakarta. Trip selesai. Thanks to all.
      Syarat dan Ketentuan :
      . DP sebesar Rp 500.000 ke rekening ( no rek by sms/wa/call )
      . Peserta dianggap Fix, jika sudah DP/Full transfer.
      . Konfirmasi Pembayaran Paling Lambat 1 X 24 jam
      . Sisa pelunasan dibayarkan pada H-5
      . Pembayaran DP dianggap hangus jika terjadi pembatalan keberangkatan dari pihak Peserta ( bisa di gantikan peserta lain ).
      . Jika terjadi Force Majeure, diselesaikan secara kekeluargaan.
      . Ittinerary dapat berubah sesuai situasi & kondisi.
      CP :
      travelinkcafe : ( 081318723881 ) Call/WA/SMS
      Email : travelinkcafe@gmail.com
    • By Karina Ayu Amalia
      hai.. gue mau solotrip ke jogja tgl 24-26 agustus 2017. kalau ada yg mo gabung atau ketemuan dijogja sekalian ngopi bareng  wa ke 08982387756 yaa
      ini fix berangkat, nyampe jogja jam 14.30wib tgl 24..
       
       
    • By gicong
      Halloo, 
      Salam kenal, aku Gits. 
      Aku rencana (eh bukan rencana sih) tapi sudah pasti akan ke Yogyakarta tanggal 23 April 2017 untuk ikut Mandiri Jogja Run (siapa tahu bisa marathon bareng Mbak Dian)
      Ada yang ikut jogja run ga disini? Siapa tahu bisa bareng disananya.
      Hari pertama, setelah lari cantik, lanjut ke Kalibiru.
      Hari kedua, rencananya mau ke Punthuk Setumbu lanjut Puncak Suroloyo
      Backup plan hari kedua akan ke daerah Gunung Kidul (Either Pantai atau Goa Jomblang)
       
      Yang mau ke liburan yogya juga, yuk bareng yuk. Kita share cost aja. Kalau mau nanya-nanya bisa ke hubungi ke line (id : gitchong)

      Terima kasih. 
         
    • By Alfa Dolfin
      Oleh seorang rekan aktif KJJI di Yogyakarta, saya di rekomenkan menginap di Greenhost. Kebetulan Kang Momod pernah menginap disini juga waktu ke Yogya. Oya...?  thanks rekomen-nya. Tidak langsung aku iya rekomen itu. Melihat dulu foto-fotonya di Agoda dan booking.com.

      tampak luar. sudah terlihat bernuansa eco green

      eee...ada becak unik dari Green House

      Numpang narsis dulu ya....
      Melihat lokasinya....hhhmmm Prawirotaman . Memang adalah lokasi turis asing. Salah satu saudara yang tinggal di Belanda waktu ke Yogya pernah menginap di daerah sini. Cukup jauh dari Malioboro. Tapi...yakin dan mantap memilih disini setelah lihat foto-foto-nya. Bahkan dua kali. Di kedatangan berikutnya juga menginap disini.


      Suasana kamar yang cukup artistik



      ruang utama yang eco-friendly. Memudahkan sirkulasi udara dan cahaya matahari masuk
      Baru tahu disini pernah di lakukan shooting AADC 2. Wah......coba kalau tahu dari kemarin, ngga perlu di rekomenkan sudah langsung pilih disini. AADC 2 fans gitu lho.
      Obyeknya saya suka konsepnya. Memang beda banget di banding hotel lainnya di Yogya. Ya harus beda. Bukan berkonsep modern, juga bukan tradisional. Pertama, bangunannya berkonsep Green Building, bangunan yang ramah lingkungan. Benar saja begitu kita datang, di sambut suasana eco-green. Like it.
      Kedua.Bagian tengah tampak terbuka. Jelas sekali sirkulasi udara bagus dan alami. Selain itu cahaya matahari bisa leluasa menembus bagian inti hotel. Ini salah satu wujud konsep eco friendly. Lagi-lagi...like it....

      buka notebook disini. duduk santai ngetik bikin tulisan atau edit foto, sambil dengar musik. Nikmaaaaatttnya......,


      Area untuk sarapan pagi. Baru tahu di sini pernah jadi lokasi shooting AADC 2
      Ketiga.  Ini hotel kesannya nyeni banget ya. Selain sarat dengan nuansa eco green friendly. Hampir di setiap sudut terdapat karya-karya seni. Saat kita tiba di sambut patung yang juga hasil karya seni. Dinding yang di dominasi nuansa semen, tidak banyak cat, ada maksudnya juga. Selain untuk efisiensi pemeliharaan, juga menjadi “kanvas” untuk menuangkan ekspresi kreativitas para seniman datau disainer.

      salah satu pilihan menu sarapan pagi saya saya suka. Soto taman sari
      Keempat. Jalan lah ke lantai paling atas. Kita akan menikmati kebon sayur hidroponik. Rupanya pihak manajemen ingin mengangkat tema khusus yaitu “City Farming”. Pihak hotel ingin perkenalkan “pertanian kota”  di dalam bangunan. Very good....

      di lantai paling atas bisa kita lihat Citi Farming, tanaman perkotaan  hidroponik, yang menjadi tema utama hotel ini
      Bagaimana menu breakfast? Biasa-nya menjadi tolak ukur cocok tidaknya menginap di suatu hotel dari sajian breakfast. Standard....cukup puas. Artinya ada menu lokal yang bisa kita nikmati. Memang jika ingin puas harus sudah datang jam 6-an. Saat sarapan sudah mulai tersedia dan belum ramai.
      Harga per-malam untuk weekend sekitar 600 ribu. Worthed lah terutama yang suka dengan konsep ini. Eee....pernah juga yang kedua kalinya dapat harga Cuma 500 ribu. Padahal weekend juga. Kog bisa?ya itu karena bukan musim liburan. Kedua, booking sebulan sebelumnya.
      Saking sukanya disini, dari pagi sampai batas check out sengaja di hotel terus. Jalan ke lantai atas. Duduk di cafe sambil foto-foto tentunya.
      Suasana di sekeliling hotel oke juga. Karena daerah turis, cukup banyak pilihan cafe, resto, jika ingin menikmati sendiri atau bersama pasangan. Kami pun agak ngotot juga ber-kuli-ner di sekitar hotel. Setelah dinner di salah satu cafe, lanjut ke cafe khusus es krim yang juga di kawasan Prawirotaman. Tidak jauh dari hotel cukup jalan kaki saja. Ternyata cafe es krim-nya asyik banget. Hanya saja terlalu rame....mungkin karena weekend ya.

      Sebelum check out, foto dulu di depan resepsionis.....
      Dua kali nginap disini cuma 1 komplainnya. Suasana pesta atau apalah di cafe cukup membuat bising sampai ke kamar. Mungkin karena malam minggu banyak yang booking disini untuk merayakan pesta. Mencoba maklum dech....

      Salah satu karya seni yang banyak di tampilkan disini
      Ngga kapok nginap disini. Suatu saat pasti yang ketiga kalinya. Duduk di salah satu cafe, sambil buka notebook, nulis atau edit foto, sambil mendengar musik favorit. Asyik...syik...banget dech....hahaha....
    • By Alfa Dolfin
      Pendatang baru spot wisata di Yogyakarta. Di prediksi tahun 2017 ini menjadi trend dan akan semakin di minati. Di perkirakan peminatnya bukan hanya warga Yogyakarta saja. Pasti banyak dari kota-kota lain yang ingin ke sini. Rasa penasaran, kepingin tahu, lalu datang.


      Ibu Riyadi bersama Bapak Riyadi, sebagai pengelola wisata anyar di Yogya

      Pertama kali kesini Januari 2017
      Awal Januari 2017 kemarin ke Yogya dengan satu tujuan utama yaitu ke spot Riyadi. Setelah keluar bandara Adisuctipto Sabtu pagi, dengan driver ojek langgan setelah sarapan langsung menuju ke sana. Sayangnya driver ojek tidak paham alias belum pernah. Padahal dia tinggalnya masih radius 5 kilo dari lokasi. Baiklah tidak masalah. Info petunjuk jalan bisa dapat dari kawan-kawan di medsos.
      Jika dibilang pendatang baru, “ya” sekaligus “tidak”. Obrolan singkat dengan Ibu Riyadi saat berada di sana, mengatakan baru buka sekitar November 2015. Namun pengakuan beberapa rekan fotografer, tahun 2007 sudah ada yang kesini untuk motret. Waktu itu tahunya dusun Dawangsari, sesuai nama dusunya. Memang kondisinya belum sebagus sekarang. Rekan dari komunitas pencinta sepeda merasa tidak asing lagi disini. Bersama kawan-kawannya tahun 2010 sudah kesini.
      Mengenai akses jalan, tidak lah sulit. Lokasinya berada di Dusun Dawangsari, kecamatan Sambi Rejo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Adanya sekitar 3 sampai 4 kilo selatan Candi Prambanan. Jika dari arah Yogya, tiba di depan Candi Prambanan ada lampur merah, belok ke kanan. Setelah melewati pasar Prambanan dan perlintasan kereta, ikuti jalan terus sampai ada petunjuk jalan Restoran Abhayagiri. Setelah ketemu belok kiri, ikuti jalan sampai Resto Abhyagiri. Jika sudah ketemu ada akses jalan yang menanjak. Itulah jalan menuju lokasi. Patokannya resto Abhayagiri. Jika bingung bertanyalah kepada penduduk setempat. Umumnya sudah paham.

      Jika sudah ketemu kafe Abhayagiri (kiri atas), ada portal (kanan atas), ikuti saja jalan (kanan bawah). Sudah tidak jauh dari sini. Mobil pun bisa lewat juga.
      Sayangnya belum ada angkot. Untuk kesana bisa naik kendaraan umum sampai Prambanan lanjut naik ojek. Atau sewa kendaraan atau taksi. Idealnya sich jika ingin menghemat dana, jika tidak lama ber-lama disana, sewalah ojek untuk beberapa jam. Dengan cara ini perkiraan biaya sekitar 150 ribuan.
      View Andalan
      Terlepas perbedaan pendapat di atas, di perkirakan tahun 2017 akan lebih ramai lagi yang ke sini. Pasti banyak suka. Alasannya, pemandangannya indah, aksesnya gampang. Pokoknya asyik dech tempatnya.
      Iya lah, saya sudah membuktikan sendiri setelah berada disini. Tempatnya sangat…sangat…sangat…asyik. Letaknya di pinggir tebing. Bisa langsung lihat hamparan sawah, jalan, dan….Candi Prambanan yang menjadi “primadona”. Selain itu kemegahan Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Sindoro, Sumbing. Dengan catatan jika cuaca cerah.

      View andalan Spot Riyadi Candi Prambanan.....

      bersama bu guru Diyan, dan Bapak Riyadi, sang owner. Kali ini yang kedua kalinya kesini. Berhasil ngomporin bu guru ke sini

      dari kejauhan bisa lihat kereta melintas. Menambah indah pemandangan.
      Yang paling diminati pengunjung adalah saat matahari terbit (Sunrise). Bagi penggemar sunrise, demi mendapatkan momen bagus, rela tinggal semalam di sini. Atau datang subuh sekitar jam 5 sudah di sini. Dulu belum ada sarana menginap, sekarang bapak Riyadi telah menyediakan lahan untuk camping dan tenda yang bisa di sewa dengan harga terjangkau.

      Areal camping. Wuaaaa....jadi kepingin. Iya. Rencana Mei akan camping disini

      ngga perlu repot-repot kalau mau camping. Tinggal sewa aja. Harganya pun terjangkau
      Datang bersama pasangan, kenapa tidak. Suasana romantis juga bisa dirasakan saat berada disini. Duduk bersama di kursi kayu sudah tersedia di pinggir tebing, menikmati pemandangan indah di depannya. Kalau malam saat cerah bisa melihat Candi Prambanan yang di sorot lampu setempat. Atau ingin mencoba spot untuk foto romantis bernama “jembatan cinta”. Pasti romantis. Ada juga pasangan yang melamar disini. Ooo so sweet….

      Bisa juga foto disini sendiri atau bersama pasangan

      mungkin kalau galau lalu datang kesini bisa terhibur juga

      duduk santai sambil menikmati pemandangan indah. ini mah gue banget.....

      Kalau bu guru Diyan mah memang seneng duduk di pinggir begini

      oppssss....di pinggir jurang masih berani ya loncat begini.....
      Itu yang lagi kasmaran. Yang lagi galau gimana? Kalau melihat kondisinya, di spot Riyadi cocok juga untuk mereka yang lagi galau. Duduk menyepi sendiri, mata menerawang ke depan, sementara hembusan angin menyapu dirinya, barangkali bisa lebih me-rileks-kan pikirannya. Asal jangan nekad aja terjung ke tebing ya…hahaha…
      Laper? Oo tenang, jangan panik. Bapak & ibu Riyadi juga mengelola warung sederhana. Menu seperti nasi goreng, soto, dan lain-lain siap di sajikan dengan harga tidak mahal. Cuma ingin snack aja seperti tempe atau pisang goreng, kopi atau teh hangat, juga mampu disediakan. Ngga heran karena sehari-hari kalau ngga di rumah, ibu Riyadi bekerja di salah satu restoran di sekitar Candi Prambanan.

      ini yang aku suka. Kudapan pisang goreng....nikmat banget.....

      Pilihan menu jika mau makan disini
      Saya langsung suka banget disini.  Tidak hanya suguhan harmoni alam yang mempesona, lebih dari itu. Suasana pedesaan yang masih terasa alami, ke-sederhana-an dan keramahan bapak Riyadi, sangat terasa selama berada disini. Makanan ringan semisal pisang goreng yang masih panas, teh atau kopi hangat, spontan enggan beranjak dari sini.
      Merasakan dan membuktikan langsung suasana seperti ini, terbayang di tahun 2017 akan lebih banyak yang tertarik datang ke sini. Yang datang pun di perkirakan akan senang dan puas. Cerita berantai di media sosial, bloger, akan terus berlanjut. Akhirnya tidak lupa rasa terima kasih dan apresiasi atas peran Bapak Riyadi yang membuka pekarangannya, usahanya menata rapi, menyediakan warung makan sederhana, dan sarana lain. Selamat datang di Spot Riyadi.


      Cakep khan view-nya. Saat itu lagi berawan. Kalau cuaca cerah akan lebih cakep lagi....
    • By Alfa Dolfin
      Terjadilah dialog singkat dengan kawanku, sbb

      “Eee.... tahu ngga itu hotel levelnya apa?”, tanya ku kepada kawan di meja kerja seberang

      Ngga tahu, jawabnya
      “Gue info aja ya, itu hotel bintang 5, you know...”

      Ooo asyik dong...
      “Apa yang asyik kalau Cuma taruh badan doang...rugi malah udah bayar malah”, kata-ku sambil menggrutu
      Ya...gimana dong. Masa harus cancel lagi.


       

      Yeaaa…. Itu dialog kecil dengan rekan kerjaku bernama Suliana sebelum kami merencanakan ke Yogya beberapa waktu lalu. Kami ber-6, rekan satu kantor tapi tidak semua satu gedung sudah lama merencanakan traveling ke Yogya dan Magelang. Tiket pesawat, hotel, itineray mau kemana saja selama 4 hari 3 malam.

      Lobby Melia Purosani


      tampak depan

      Obrolan yang berbau kesal tadi berawal pembatalan hotel yang sudah di pilih sebelumnya di jalan Sosrowijayan, Yogya. Hotel menengah dengan harga sekitar 250 ribu per malam. Masalah terjadi. H-2 tiba-tiba salah satu rekan yang akan berangkat, menurut ku melakukan provokasi yang bikin panik semua, kecuali aku. Sayangnya aku ngga berdaya meredakan kepanikan serentak tadi. Ia mengatakan di group WA bahwa hotel di Sosrowijayan termasuk “red zone”. Apa itu itu “red zone”…? Ya sulit menjawab di forum umum ini. Kira-kira begitulah…Ya tahu sendiri lah maksudnya.
      Galau

      Aku sendiri heran dia dapat informasi dari mana. Setahu ku yang sudah pernah tinggal 8 tahun lebih, dan sering bolak-balik ke Yogya, daerah Sosrwijayan fine-fine aja. Daerah lain memang pernah dengar rawan di isu-kan “red zone”. Karena sudah terjadi kepanikan, ada di antara teman-teman yang langsung membatalkan dan memilih hotel yang lain. Karena sudah mepet waktu, di pilih lah hotel yang masih available. Singkat kata terjadilah sepakat untuk tidak sepakt di Hotel Melia Purosani, yang beralamat di jalan Mayor Suryotomo, Ngupasan, Yogyakarta. Langsung 2 malam. Semalam lagi di Magelang.

      Woouwwww…. Melia Puro…booooo…. Terbayang semasa kuliah doeloe sering melewati hotel ini saat di bangun. Kelihatan megah. Saat baru di buka, masih soft opening, sempat merasakan mengingikuti salah satu workshop disini. Kesannya MEWAH….pasti NYAMAN…. Ngga terpikir kalau suatu saat akan nginap disini. Minta budget ortu, ngga tega juga. Hehehe…waktu masih mahasiswa masih andalin dompet ortu. Jadilah tuk nginap disini, Mimpi kaleeeee….



      Saat sunrise dari kamar hotel

      tuk ku pribadi suasana kamar sangat mewah. Sayang cuma semalam

      kamar mandinya pun termasuk mewah. 

      lorong kamar di lantai 5. Ngga terpikir sama sekali akan merasakan kemewahan salah satu hotel di Yogya
      Bahwa sekarang akan nginap di sini….hhhmmm….mimpi yang terkabul? Wah…kayaknya jauh dari harapan. Cuma kalau hanya taruh badan doang, apa ngga rugi tuch ngorbanin 750 ribu per malam, 2 malam jadinya 1.5 juta per kamar. Maksudnya, pagi-pagi sudah jalan sampai malam baru kembali lagi ke hotel. Bagi-ku termasuk pemborosan. Beda kalau memang ingin menikmati fasilitas hotel, tentu ngga perlu pergi lama siangnya.

      Bersama-sama kawan-kawan setelah check in. Inilah trip terakhir bersama mereka, setelah 2 kali sebelumnya trip bareng di kota lain.

      lorong lantai dasar terdiri ruangan yang biasa dipakai untuk meeting, seminar, dan lain-lain
      Namun karena sudah di book dan status oke, mau tidak mau ya aku harus ikut mereka. Pernah bilang juga, pisah hotel aja ya. Aku berkehendak cari hotel lain yang lebih murah tapi nyaman di sekitar jalan Dagen atau Sosrowijayan. Karena sebagai dianggap sebagai team leader teman-teman keberatan. “Kalau alasan kemahalan, kami aja yang bayari dech”. 
      Duch sampai ada yang bilang gitu. Ya tengsin lah. Akhirnya ngalah dan ikut mereka. Inilah kurang asyik-nya jika trip rame-rame. Sebenarnya sich ngga rame Cuma ber-6 dan ngga sepakat perihal pilihan hotel. Ngalah pun ngga ikhlasnya juga.

      Bersama "penerima tamu" yang berpakaian ala prajurit keraton
      Memang benar. Sesuai itinerary akhirnya kami di hotel Cuma malam saja. Total 2 malam. Siangnya jalan. Memang nyaman banget ini hotel. Hanya sayang mood waktu kurang asyik. Padahal aslinya oke lah disini. Sesuai harga.... Makanya sempat kan moto-moto dulu suasana hotel tuk ngobatin galau...


      Areal sarapan pagi. Menarik juga, meski berkonsep mewah masih menyajikan sarapan lokal. Tapi...tetap aja lebih nikmat gudeg Wijilan atau mbah Lindu.