• 0
Sign in to follow this  
Followers 0
penulis ngapak

Hukum Memakai Jubah atau Gamis dalam Islam

Question


Type baju di masa saat ini makin bermacam jenisnya. Hal semacam ini bikin orang-orang makin menginginkan ikuti perubahannya, terlebih untuk kaum hawa yang umumnya suka pada dunia fashion. Semakin mengembangnya jaringan internet, jadi makin gampang kita mencari info tentang perubahan fashion saat ini. 

Perkembanga itu juga dihadapi oleh type baju untuk beberapa wanita muslimah, termasuk juga pakaian jubah. Jubah sesungguhnya yaitu pakaian kebesaran untuk kiai yang biasanya telah pernah pergi ke tanah suci serta adalah pakaian khas orang Timur Tengah. Pastor serta pendeta Kristen Koptik di Mesir juga menggunakan jubah yang sama. 

Jenis  baju jubah terbaru wanita memanglah sudah penuhi ketetapan berbakaian dalam islam, yakni jenisnya yang tertutup serta longgar. Bila kita tengok kembali, mungkin saja pakaian jubah muslim untuk wanita memanglah berkesan kurang modis. Jenisnya umumnya berbentuk satu baju yang berupa terusan longgar, yg tidak demikian menarik untuk diliat. 

Diluar itu, pakaian jubah muslim untuk wanita umumnya berbentuk terusan yang memiliki bahan basic kain panas berwarna gelap, namun pada sekarang ini sudah di desain dengan jenis yang cantik serta stylish hingga bisa mendukung tampilan seseorang muslimah. Tetapi pada sekarang ini, tren fashion telah berkembang jadi beragam jenis pakaian muslim yang disulap jadi baju muslim yang anggun serta menarik untuk dipakai oleh wanita saat saat ini. 


Pakaian jubah muslim saat saat ini sudah banyak jenisnya serta alami pergantian yang cukup penting. Kita saksikan saja, saat ini pakaian muslim gamis bisa dipakai dalam kegiatan keseharian, bekerja, pesta, serta bahkan juga sebagai baju pernikahan. Tetapi terang, terkecuali segi modern serta modis, jubah muslim mesti tetaplah memprioritaskan segi membuat perlindungan aurat. 


Pakaian jubah untuk kesibukan keseharian umumya tidaklah terlalu banyak ornamen. Hal semacam ini pasti lantaran pakaian jubah ini dipakai dalam bekerja keseharian. Tidak sama dengan pakaian jubah yang dipakai untuk kerja dikantor. Pasti untuk bekerja dikantor dibutuhkan jenis yang lebih resmi. Seperti yang diterangkan terlebih dulu, sekarang ini pakaian gamis juga dapat juga digunkan untuk kepentingan pesta. Jadi, untuk kepentingan pesta itu pasti tidak sama dengan jenis casual serta resmi. Dibutuhkan sentuhan glamour dengan beragam ornamen yang menarik supaya lebih ‘wah’ digunakan ketika menghadiri pesta. Tetapi yang butuh diingat, pasti mesti dalam batas lumrah sebagai baju muslimah yang penuhi ketetapan kenakan pakaian dalam Islam. 


Yang lebih menarik lagi, sekarang ini juga jubah dapat juga digunakan untuk pakaian pengantin. Misalnya saja sebagian artis muslimah Indonesia yang pilih menggunakan pakaian gamis dalam pernikahannya. Nyatanya penggunaan jubah ini juga tak kurangi keanggunan penggunanya. Jadi menaikkan kesan menawan serta cantik. 

Dengan lihat perubahan jubah yang mengagumkan, sangkanya tak perlu sangsi untuk seseorang muslimah untuk tetaplah kenakan pakaian menurut syariat Islam tanpa ada kurangi kesan modis serta modern pada Jenis pakaian jubah. 


Bila anda kerap pergi menghadiri satu acara resmi, sebaiknya anda juga mempunyai pakaian hem. Pakaian hem adalah satu diantara jenis pakaian yang kerap digunakan untuk acara resmi. Sebagian koleksinya silakan diliat pada contoh gambar jenis pakaian hem paling baru paling tren th. ini

Tutup aurat adalah keharusan untuk tiap-tiap muslim, baik itu lelaki ataupun wanita. Beberapa ulama madzhab Syafi’i memiliki pendapat kalau aurat untuk golongan pria yaitu yang di antara pusar serta lututnya. Sedang untuk wanita, semua badan terkecuali muka serta telapak tangan.

Pada umumnya, kenakan semua type baju (terkecuali dari beberapa bahan yang diharamkan) yaitu diijinkan sepanjang ia tutup aurat. Tetapi, kenakan beberapa baju yang digunakan atau disenangi oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam nyatanya mempunyai keutamaan sendiri di banding baju umum.

Walau demikian, beberapa kecil ulama memiliki pendapat kalau kenakan pakaian yang dipakai oleh Nabi hanya adalah budaya dari bangsa Arab. Hingga dari pendapat ini, gamis, umpamanya, tidaklah termasuk juga sunnah.

Lepas dari pendapat itu, sebagian besar ulama tetaplah memiliki pendapat, jika seorang kenakan pakaian ‘sunnah’ itu dengan basic kecintaannya pada Nabi, jadi ia tetaplah memperoleh pahala atas cintanya itu.

Pada saat ini, mari kita ulas sedikit bagaimana sunnah-sunnah Rasulullah dalam kenakan pakaian keseharian.

Peci dan ‘Imamah

Pada pembahasan dalam sunnah berpakaian ini, kita mulai dari bagian kepala, bagaimana Rasulullah dan para sahabat.

“Dahulu (pada hari-hari di musim panas), kaum itu (Rasul dan para sahabat) bersujud pada surban, dan songkok (peci), sedang kedua tangannya pada lengan bajunya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Ash-Sholah: Bab As-Sujud ala Ats-Tsaub fi Syiddah Al-Harr (1/150)]

Rasulullah mengenakan imamah/sorban yang dililit di kepala. Hal ini berdasarkan riwayat dari sahabat ‘Amr bin Harits -semoga Allah meridhoinya- pernah menyatakan:

أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ خطب الناسَ وعليه عمامةٌ سوداءُ

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah berkhutbah di hadapan orang-orang dengan memakai sorban hitam di kepalanya” (HR. Muslim 1359)

Gamis dan Jubah

Rasulullah sangat suka mengenakan gamis. Dikatakan, beliau suka mengenakan gamis karena ia lebih menutup sekujur tubuh.

Dari Ummu Salamah -semoga Allah meridhoinya-, ia berkata,

كَانَ أَحَبَّ الثِّيَابِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْقَمِيصُ

“Pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah gamis.” (HR. Tirmidzi no. 1762)

KH Mushthofa Bisri menafsirkan hadits tentang pakaian yang paling disuka oleh Nabi ini dengan pakaian daerah masing-masing (yang menutup aurat, semisal batik). Sehingga, apabila kita mengenakan batik dengan niat mengikut Nabi (yang mencintai pakaian daerahnya, yaitu gamis), maka ia akan mendapat pahala.

Selain gamis, Nabi juga suka mengenakan pakaian luaran (jubah). Ada beberapa riwayat yang menjelaskan tentang hal ini, namun kita ambil satu saja.

Dari Abu Rimtsah Rifaah At-Taymiy -semoga Allah meridhoinya-: “Saya pernah melihat Rasulullah memakai dua baju yang hijau”. (HR Tirmidzi dan Abu Daud)

“Dua baju” yang dimaksud pada hadits ini adalah baju dalam (gamis) serta baju luar (jubah). Contohnya bisa lihat pada gambar di bawah.


Sarung

Sarung (izaar) telah ada dan banyak digunakan semenjak zaman Nabi. Pada dasarnya, sarung yang ada pada zaman tersebut kurang lebih sama dengan apa yang ada di zaman sekarang.

Hanya saja, pada zaman jahiliyyah, sebagian orang sengaja memanjangkan kain sarung atau gamisnya hingga melebihi mata kaki untuk menunjukkan bahwa mereka adalah orang mampu alias ingin menyombongkan dirinya.

Sehingga, Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam kemudian melarang untuk memanjangkan kain sarung/gamis melebihi mata kaki.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar -semoga Allah meridhoi keduanya-, ia berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

‘Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya di hari Kiamat kelak.’”

Dari Abu Hurairah -semoga ALlah meridhoinya- dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Kain sarung yang berada di bawah mata kaki tempatnya di Neraka.”

Ulama menyimpulkan dari hadits ini, bahwasannya haram hukumnya memanjangkan kain celana/sarung/gamis melebihi mata kaki dengan bermaksud sombong. Adapun apabila tidak ada maksud sombong, maka ulama berbeda pendapat, sebagian berpendapat makruh, sedangkan yang lainnya berpendapat mubah.

Share this post


Link to post
Share on other sites

1 answer to this question

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!


Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.


Sign In Now
Sign in to follow this  
Followers 0