Question

halo pejalan....adakah yang punya plan ke Siem reap awal (minggu depan) 2-5 Mei ? kalo ada bisalah kita bareng atau ketemu sekalian sharing ost biar bisa lebih murah

Share this post


Link to post
Share on other sites

1 answer to this question

  • 0
On 4/24/2017 at 7:19 AM, MyRiotworld said:

halo pejalan....adakah yang punya plan ke Siem reap awal (minggu depan) 2-5 Mei ? kalo ada bisalah kita bareng atau ketemu sekalian sharing ost biar bisa lebih murah

@MyRiotworld

mungkin bisa sertakan juga kontak (boleh berupa apapun) dan itinerary mas

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now


  • Similar Content

    • By Lusy Ps
      Cari teman backpacker ke belitung 21-23 november 2017
      Bisa berangkat bareng dari jakarta atau ketemu di bandara tanjung pandan 
      Penginapan 250rb twin bed/ malam, sebelum bagi cost
      Sewa motor 70rb an per hari
      Itenary : 
      Danau kaolin 
      Island hopping + snorkeling 
      Pantai Tanjung tinggi 
      Pulau leebong (ini yang baru ngehits di sosmed.  Beda dengan pantai yang biasa tempat island hopping) 
      Pantai yang ada batu besar seperti topi. Saya lupa namanya. Nanti dicek di laptop
       
      Karena saya suka banget pantai jadi lebih utamain ke pantai pantai/danau dibandingkan ke museum, vihara, rumah ahok. 
      Estimasi budget kalau berangkat dari Jakarta 2jt termasuk pesawat, exclude makan. 
       
      Yang serius minat join boleh email ke kejumolen2@gmail.com. Saya selalu cek email di hp. 
       
      Thank you 
       
       
       
       
       
       
    • By MyRiotworld
      halo pejalan....adakah yang punya plan ke Siem reap awal (minggu depan) 2-5 Mei ? kalo ada bisalah kita bareng atau ketemu sekalian sharing cost biar bisa lebih murah
    • By lie-lie
      Hai semua, Kenalkan saya lily, saya punya rencana untuk backpacker ke Labuan Bajo sekitar 5 hari, saya mencari info kapal atau sailing trip.  apakah ada yang punya info untuk sharing cost buat kapalnya ? atau mungkin, jika ada yang ingin kesana pada tanggal segitu, bisa bersama menyewa kapal untuk sailing tripnya. terima kasih..
    • By Cut Zaitun Safcha
      Halo semua... semoga dalam keadaan sehat wal afiat ya... Aku rencana bln agustus mau backpacker ke Bangkok, terus ada rencana mau ke Siem Reap dari bangkok via darat, terus balik lagi ke bangkok via darat. Ada yang punya saran bagaimana cara ke Siem Reap dari Bangkok via darat? Kira2 bisa ga cuma sehari aja di Siem Reap (seperti KL-Singapur)? Soalnya di Siem Reap pake dollar, pasti mahal. Jadi untuk penghematan pengennya bisa PP. Tolong info dan sarannya ya... pengen banget ke Angkor Wat sekaligus cap paspor Kamboja (Hahahaha). Terima kasih sebelumnya :)
    • By dnaldo
      Hi All,
      Saya mau weekend escape ke Bali 5-7 May 2016, cari temen 1 orang (cowo, soalnya sekamar sama saya) yang mau sharing cost kamar hotel di Ibis Style Benoa. Total 400rb untuk 2 malam, tempat tidur twin, udah termasuk breakfast.
      Itinerary ga ada, bener2 cuma sharing cost kamar hotel. Jadi bebas mau kemana aja. Saya pribadi wiken escape ke Bali so far rencananya cuma mau nikmatin hotel dan sekitarnya.
      Fyi, deket hotel ada banyak watersport facilities yang within walking distance.
      Kalo minat please contact me / send your wasap number to pakpahanrd@gmail.com
      See you!
      Regards,
      Dodo
    • By Octobrian Panjaitan
      Hola jalan-jalaners, ini sambungan FR saya dari Bangkok, sori kelamaan banget lanjutannya
      Day 4
      Bangkok - Siem Reap
      Menurut tiket pesawat yang kami pegang, seharusnya kami tiba pada pukul 11.10 artinya perjalanan hanya 1 jam tapi sepertinya lebih cepat mungkin hanya sekitar 40-45 menit saja, bahkan saya ga sempat mengisi Arrival/Departure Card yang telah dibagi kan oleh pramugari. Dari atas pesawat tidak tampak gedung apapun yang menjulang di Siem Reap, yang terlihat kebanyakan adalah hutan-hutan, tanah gersang dan rumah-rumah penduduk. Mendaratlah kami di Siem Reap International Airport, Kamboja dengan selamat, sekali lagi terima kasih Tuhan. Keluar dari pesawat wuohhh.. mantep pol panasnya, sampe harus memicingkan mata untuk melihat, dari luar tampak sederhana airport ini dan sepertinya dalam tahap perbaikan atau perluasan. Proses imigrasinya cepet, petugasnya ga banyak ngomong dan antrian turis yang datang pun ga panjang. Ceplok, nempel deh stempel Kamboja di passport saya :)

      Tadinya mau beli sim card Kamboja di kota tapi ternyata sebelum pintu keluar bandara ada beberapa booth sim card berjejer, dengan suara nyaring masing-masing penjaga booth memanggil kami agar datang membeli tetapi pilihan kami jatuh ke Cellcard karena yang jaga cewe cantik :D. Dengan harga $5 sudah dapat data 3,5GB untuk 7 hari. Tinggal menyerahkan Smartphone dan passport ke penjaga boothnya, terima beres pokoknya :)
      Speed internetnya mantep, tidak mengecewakan sama sekali, update aplikasi pun lancar. Cuma klo di kompleks Angkor mati, ya iyalah pasti, lampu aja gak ada di sana
      Di pintu keluar sudah ada yang menunggu kami dengan memegang papan nama saya. Lah kok bisa? Bisa donk :) karena beberapa minggu sebelumnya saya sudah berkomunikasi dan booking jasa tuk-tuk driver di Siem Reap bernama Seng Vantha, reviewnya saya tulis di Angkor Friendly Driver.
      Tapi ternyata yang menunggu saya bukan Vantha melainkan temannya yang bernama Norin (baca Noren). Norin menjelaskan bahwa “Vantha minta maaf tidak bisa menjemput kalian karena dia masih mengantarkan tamu lainnya berkeliling, dan mungkin akan bergabung nanti saat makan siang”. “Owh oke, no problem” kata saya.
      Setelah semua smartphone kami selesai di-setting dengan Cellcard Cambodia berangkatlah kami ke kota Siem Reap dengan menggunakan tuk-tuk, yupp dijemput di bandara dengan tuk-tuk aseeekkk….
      Karena kami berlima jadi harus sewa 2 tuk-tuk, yang satu isi 3 orang, yang satu lagi isi 2 orang.
      Tujuan pertama adalah membeli Angkor Pass, kami beli 3 Day Pass seharga $40, mahal yak, namanya juga turis. Ke Borobudur atau Prambanan pun harga tiket untuk turis harganya mahal. Tapi sebelumnya tiap orang harus difoto terlebih dahulu, yang akan dipasang di Angkor Pass, unik  yak, jadi bisa buat kenang-kenangan juga :) Angkor Pass ini ga boleh hilang karena harus menunjukkan kepada petugas yang berjaga ketika memasuki kompleks Angkor dan juga ketika akan memasuki tiap-tiap temple yang dikunjungi.
       

      Lanjut ke hotel untuk check in, di Siem Reap kami menginap di The Unique Angkor Villa selama 2 hari. Kami ambil family room supaya muat berlima, yang kami dapat yaitu kamar yang cukup luas, private kitchen, 3 buah ranjang double bed, 1 kamar mandi kecil dengan hot/cold shower dan balkon yang lengkap dengan meja, kursi dan kipas angin.
       
      Selesai check-in, beres-beres dan ganti baju, kami berangkat untuk makan siang di dekat Angkor Wat. Tempatnya sederhana, semi permanent dan Angkor Wat bisa langsung terlihat dari sini. Lmyn harga makanannya kisarannya antara 6-12 USD berasa banget yak apalagi USD 13.000. Di warung ini hanya ada kami dan beberapa monk di depan kami. Sedangkan warung di sebelah kami diisi oleh banyak turis bule, gat au juga apa bedanya atau mungkin hanya kebetulan saja. Saya langsung pesan Fish Amok, makanan khas Kamboja, air mineral dan pepsi cola. Selagi kami menunggu makanannya datang tiba-tiba pundak saya ditepuk dari belakang oleh seseorang, ketika saya menoleh ke samping, “Hello my friend” ucapnya. Ternyata si Vantha yang menpuk pundak saya barusan “Hey Vantha you here” jawab saya setengah terkejut. “Hey guys this Vantha” kataku memperkenalkan ke teman-teman yang lain. “I’m sory I cant pick you guys up at the airport cause I still have a guess to finish the tour, so I send my friend Norin to pick you guys. So now I’ll let you guys enjoy your lunch first and then we will go around” ujarnya dengan fasih dan jelas “Alright then Vantha” jawab saya.
      Fish Amok yang ditunggu akhirnya datang, disajikan di dalam kelapa muda dan nasi putih hangat. Amok itu sejenis makanan kari, jadi cocok lah untuk lidah Indonesia, dan buat saya ini enak walaupun jadi cepet eneg karena buah kelapa mudanya masih ada dagingnya, tidak dikerok habis tapi overall, mantabbb..
      Perut udah kenyang sekarang waktunya menjelajah kompleks Angkor, sesuai dengan itinerary dari Vantha hari ini kami ke Angkor Thom, Bayon temple dan Ta Phrom temple.
      Tujuan pertama adalah Angkor Thom, pokoknya terima beres tinggal duduk aje di tuk-tuk sambil menikmati hembusan udara Siem Reap. Tuk-tuk Vantha dan Norin akan berhenti ketika sampai tujuan.
       
      Angkor Thom Southern Gate
      Ketika sampai di Angkor Thom southern gate (gerbang selatan) Vantha memberikan penjelasan sedikit mengenai Angkor Thom dan vantha melakukan hal ini juga di setiap tempat yang kami kunjungi.
      Angkor Thom artinya Great City, dan ini memang bukan temple melainkan sebuah kota. Di bangun oleh King Jayavarman VII pada sekitar akhir abad ke-12 dan merupakan ibukota Kerajaan Angkor (Khmer) pada waktu itu. King Jayavarman VII sering disebut sebagai raja terbaik dalam sejarah Kerajaan Khmer. Jayavarman VII berhasil mengembalikan kejayaan Khmer setelah mengalahkan Kerajaan Champa, kemudian ia mendirikan Angkor Thom dan banyak temple lainnya. Angkor Thom memiliki bentuk bujur sangkar dengan luas 9km², dikelilingi tembok setinggi 8m, moat selebar 100m dan 5 gerbang. Setiap gerbang memiliki motif The Four Faces Avalokiteshvara di bagian atasnya. Kemudian di jembatan jalan masuk gerbang yang melewati moat dihiasi oleh barisan 54 patung Deva (Dewa) di sisi kiri dan 54 patung Asura (Iblis) di sisi kanan yang sedang memegang Naga (Ular) berkepala 7 dalam posisi tarik menarik. Ini merepresentasikan mitos Hindu yang populer di zaman Angkor yaitu Churning of the Sea of Milk.  
      Vantha membawa kami ke southern gate dan tidak ke gerbang yang lainnya karena southern gate (gerbang selatan) lah yang paling terawatt dan bentuk arca nya paling utuh, di gate yang lain, hampir semua kepala patung Deva dan Asura sudah hilang dicuri atau hancur.
      Puas foto-foto dan nyebrang melewati Southern gate, kami kembali naik tuk-tuk vantha ke tujuan yang kedua yaitu The Bayon Temple.
       
      Prasat Bayon
      Prasat Bayon berada di dalam area Angkor Thom, posisinya berada persis di tengah-tengah Angkor Thom. 1,5 km dari tiap gerbang utama. Dibangun oleh King Jayavarman VII pada akhir abad ke-12. The Bayon adalah Mahayana Buddha temple.
      Yang menjadi ciri khas dari Bayon adalah banyaknya dan besarnya patung wajah setengah tersenyum di bagian atas temple ini. Wajah ini adalah wajah Bodhisattva Avalokiteshvara tapi ada juga beberapa peneliti yang mengatakan bahwa ini adalah gambar wajah dari King Jayavarman VII sendiri.
      Tapi sebelum sampai di atas kami disambut oleh relief yang memanjang di samping kiri kanan pintu masuk. Relief ini menceritakan tentang kehidupan masyarakat Khmer dan juga mengenai pertempuran pasukan Khmer.
      Vantha mengatakan bahwa dulunya Bayon juga terkenal dengan sebutan Golden temple, kenapa? Karena hampir seluruh bagian Bayon temple dilapisi emas. Hahhh..??!!  Ketika kami hampir sampai di jalan keluar, petugas yang kami mintai tolong untuk mengambil foto kami pun berkata demikian, bahkan dia memegang foto Bayon temple yang berlapis emas tapi itu hanya foto editan, dan saya juga blom menemukan tulisan mengenai Bayon temple dulunya terlapisi emas. Tidak berlapis emas dan sudah berumur ratusan tahun pun kuil ini terlihat megah dan unik apalagi klo benar dilapisi emas.
       
      Baphuon
      Dari Bayon, kami langsung ke Baphuon, jaraknya hanya 5 menit dengan berjalan kaki dari Bayon.
      Baphuon dibangun oleh King Udayadityavarman II pada pertengahan abad ke-11. Merupakan kuil Hindu yang didedikasikan untuk Dewa Shiva.
      Baphuon berada di area yang cukup luas tapi hampir tidak ada bangunan yang utuh disini.
      Konon katanya Baphuon adalah temple dengan 3 lantai/tingkat dengan ketinggian 50m, lebih tinggi dari Bayon dan juga memiliki patung Reclining Buddha yang besar, tetapi itu semua sudah tidak terlihat lagi, butuh imajinasi yang kuat untuk mendapatkan visualisasinya.
       
      Selain Bayon dan Baphuon ada beberapa tempat lagi yang bisa dinikmati di area Angkor Thom, yaitu The Terrace Of The Elephant, The Terrace of The Leper King dan Phimeanakas Temple.
       
      Ta Prohm
      Tujuan kami selanjutnya adalah Ta Prohm atau lebih terkenal dengan sebutan Tomb Rider temple karena dijadikan background dalam film ini. Sebenarnya Angelina Jolie tidak benar2 syuting disini, tapi dia memang datang berkunjung ke Kamboja dan siem reap sementara kru film yang lain mengambil gambar yang nanti akan digunakan untuk editing film. Bayangkan jika mereka benar2 melakukan syuting film di Ta Phrom, mungkin bisa hancur ambruk lagi temple ini. Tetapi berkat film tersebut Ta prohm menjadi salah satu temple di Ankor kompleks dengan jumlah pengunjung terbanyak.
      Ta Phrom dibangun oleh King Jayavarman VII pada tahun 1186 dengan nama awal Rajavihara (Biara Raja). Dibangun sebagai biara dan universitas Mahayana Buddha, temple ini didedikasikan untuk ibunda dari King Jayavarman VII yaitu Sri Jayarajacudamani.. Rajavihara atau sekarang lebih dkenal dengan nama Ta Prohm (Leluhur Brahma) merupakan temple pertama yang dibangun dalam rangka program pembangunan temple dan monument besar-besaran setelah sang raja berhasil mengalahkan Champa.
      Sebuah prasasti yang ditemukan di Ta Phrom menyebutkan bahwa sekitar 12,640 orang tinggal di area temple ini. 3,140 desa dan 79,365 orang terlibat untuk melayani segala kebutuhan temple ini. Dan terutama disebutkan juga adanya 5 ton emas, 512 ranjang sutra dan 523 payung kerajaan.
      Jalan masuk dari jalan utama ke Ta Phrom agak jauh dan dikelilingi oleh rimbunnya pepohonan. Di bagian depan temple ini hanya reruntuhan, di samping kiri kanan ada bangunan kecil dan puing-puing batu, di bagian tengah dan belakang temple lah yang masih berbentuk tetapi seperti bersatu dengan alam karena akar dan batang pohon-pohon menjalar, melingkupi dan bahkan menembus atap temple ini, luar biasa. Di beberapa pintu masuk dan dinding di tambahkan peyanggah dari besi untuk menopang beratnya akar yang melingkupinya. Para peneliti  yang bertugas mengkonservasi Angkor kompleks mengatakan bahwa Ta Prohm merupakan salah satu temple yang yang paling mengagumkan dan perpaduan terbaik antara temple dengan hutan. Kondisi Ta Prohm sekarang tidak berbeda jauh dengan ketika pertama kali ditemukan.
      Mata dan kamera saya tak hentinya menangkap keindahan Ta Phrom, dan akhirnya batere kamera saya habis. Tanpa terasa sudah hampir jam 6 sore, kami baru sadar setelah ditegur oleh petugas yang berkeliling mengingatkan para turis agar segera menyudahi kunjungan di Ta prohm dan keluar karena kompleks Angkor akan ditutup.
      Setelah kembalike tuk-tuk vantha. Ada banyak anak-anak kecil kamboja yang menawarkan souvenir maupun meminta uang a.k.a one dollar kid. Wan dalla sir please…ujarnya meminta.
       
      Apsara Dance Perfomance with Dinner
      Dari Ta Phrom vantha mengusulkan kami untuk makan malam sambil menonton Apsara dance show, biayanya $12/orang. OK deal, kemudian di antarlah kami ke Koulen Restaurant. Banyak bus, minivan dan mobil dengan spanduk tur mampir ke tempat ini.  Ruang makannya besar, mungkin ada lebih dari 15 baris dan setiap baris memanjang sampai 30 meja mungkin, dan kayanya penuh terisi semuanya. Makanannya buffet tapi minuman blom include di $12 tadi, yoweislah, saya pesen jus mangga $1,5. Pilihan makanannya beragam, dari yang kering, berkuah, bbq, khas kamboja, dessert, buah dan bolu2 kecil juga ada. Pilihan minuman pun banyak dari air mineral, jus, beer bahkan wine tapi seperti yang saya bilang tadi untuk minuman harus beli.
      Apsara dance performance dimulai jam 19.30 berdurasi 1 jam. Beragam tarian dipertunjukkan oleh para penari baik pria maupun wanita. Para penari wanitanya sangat gemulai. Kami semua menikmatinya sambil makan. Saya ambil makanan lagi alias ronde 2, gak mau rugi ud bayar $12 hahaha…  Overall saya menikmati pertunjukkan dan makanannya.
       
      Perjalanan pulang ke hotel kembali diantar oleh vantha dan norin. Sebelum berpisah untuk hari ini, kami meminta agar besok pagi diawali dengan Angkor National Museum, setelah menyelesaikan perdebatan diantara kami ber-5 mengenai sunrise Angkor Wat. (Sunrise Angkor Wat diundur jadi di hari 3 dan sebelumnya Angkor museum ini tidak ada dlm itinerary yang telah kami sepakati) dan vantha meng OK kan permintaan kami ini.
      Setelah selesai mandi, waktunya mengitari Pub street dan sekitarnya. Jaraknya hanya sekitar 10 menit berjalan kaki dari hotel kami. Dari Pub Street ke Night Market ke Old Market, tempat ini bersambung. Penuh dengan beragam penjual souvenir, restoran, café, pub, massage, dll. Ada kaki lima yang menjual rokok, buah2an, juice bahkan liquor dengan harga murah $1.5 saja. Saya ga berani nyobain liqournya takut oplosan tapi kami nyobain beli fresh juice $1 dapat segelas besar ukuran Large, puas :) Kemudian kami beli gantungan kunci dan magnet 24 biji seharga $9 murah banget yak hahahaa.. Puas berkeliling lsg balik ke hotel ngorokk..

       
      Day 5
      Angkor National Museum, Pre Rup, Ta Som, Neak Pean, Preah Khan, War Museum Cambodia
      Seperti yang telah kami bicarakan sehari sebelumnya, tujuan pertama hari ini adalah Angkor National museum, kami terlebih dahulu membeli tiket di agen seharga $12/orang. Di agen tur ini vantha menyarankan saya untuk sekalian membeli tiket night bus ke Phnom Penh tapi saya bilang saya ga jadi pake night bus, saya berangkat siang hari setelah check out hotel besok. Owh klo begitu biar saya aja yang belikan karena saya juga staf dari bus Phnom Penh Sorya bus, begitu kata vantha. "Ahh.. that’s great" jawab saya.
      Dari luar arsitektur museum ini sepertinya mngadopsi gaya Angkor Wat. Angkor National Museum beroperasi dari 08.30 – 18.00. Setelah masuk ke dalam tas berukuran besar harus dititipkan, tas selempang yang kecil boleh dibawa masuk dan di ingatkan untuk tidak mngambil gambar atau video apapun ketika sudah masuk ke dalam. Oke bos.
      Melangkah ke dalam, ikuti saja petunjuk yang ada yang di mulai dari:
      Briefing Hall
      Gallery of 1,000 Buddha Images
      Gallery A: Khmer Civilization
      Gallery B: Religion and Beliefs
      Gallery C: The Great Khmer Kings
      Gallery D: Angkor Wat
      Gallery E: Angkor Thom
      Gallery F: Story from Stones
      Gallery G: Ancient Costume
      The Museum Shop dan Café
      Setiap Hall dan Gallery ber-AC, juga dilengkapi dengan teknologi audio visual yang tersedia dalam 7 bahasa. Jadi klo malas baca setiap informasi di dinding dan artefak, bisa juga duduk sambil nonton video yang disediakan di setiap Gallery.
      Yang cukup mengagetkan bahwa ternyata museum ini di miliki dan dioperasikan oleh perusahaan Thailand, tapi hampir semua objek arkelologi disini dipinjam dari National Museum di Phnom Penh.
      Menurut saya museum ini wajib dikunjungi sebelum mulai mengeksplor kompleks Angkor, banyak sekali pengetahuan sejarah mengenai Kerajaan Khmer, Temple, artefak dan lain sebagainya mengenai Khmer yang bisa diserap dari museum ini, recommended.
       

      Selesai dari sini kami makan siang dulu, vantha mengantarkan kami ke sebuah resto, Angkor Flower restaurant namanya. Saya pesan pork Lok Lak dan Ice Tea, total $9 klo ga salah.
      Perut udah kenyang, waktunya kembali mengelilingi kompleks Angkor, tujuan kami kali ini ke Pre Rup.
      Perut kenyang ditambah hembusan angin Siem Reap selama perjalanan ke Pre Rup membuat saya mengantuk :)
       
      Pre Rup
      Pre Rup dibangun oleh King Rajendravarman pada tahun 961, Hindu temple yang didedikasikan untuk dewa Shiva. Temple ini dibangun dari kombinasi bata, batu pasir dan laterite. Temple ini adalah crematorium (bakar mayat). Di bagian paling atas ada 5 menara klo tidak salah, hanya beberapa yang bisa dimasuki. Di dalamnya berlubang cukup dalam ke bawah sedangkan bagian atas menaranya bolong, mungkin di tempat ini lah mereka melakukan ritual kremasi, itu hanya dugaan saya aja sih   Panas banget disini, ya jelas aja jam 12.30, mateng banget dah tapi langitnya cakep, cerah bingits.
       
      Ta Som
      Ta Som dibangun oleh King Jayavarman VII pada akhir abad ke-12. Temple ini kecil saja, hanya terdiri dari 2 pintu gerbang dan satu bangunan utama di tengahnya, di kelilingi oleh didinding yang tidak terlalu tinggi dan juga moat walaupun sudah kering tapi masih terlihat bekasnya. Dan seperti temple lainnya yang dibangun oleh King Jayavarman VII, gerbangnya pasti berhiaskan The Four Faces Avalokiteshvara di bagian atasnya.
      Tidak banyak yang bisa dilihat di temple ini, ukiran2 disekitar temple pun sudah hampir hilang. Highlights nya pintu gerbang keluar temple ini yang tampak bersatu dengan pohon Bodhi/sacred fig yang melingkupinya, cakep..
       
      Neak Pean
      Neak Pean dibangun oleh King Jayavarman VII pada pertengahan abad ke-12. Neak Pean artinya The Entwined/Coiled Serpents. Untuk sampai ke tempat ini, dari jalan utama tempat vantha menurunkan kami, kami harus berjalan cukup jauh ke dalam melalui jalan setapak dan jembatan buatan melewati rawa atau lahan gambut yang sebagian besar sudah terbakar, setidaknya itu pikiran pertama saya, tapi setelah saya membaca dan melihat peta ternyata Neak Pean berada di tengah-tengah Jayatataka baray (waduk/reservoir) yang berukuran 3500 x 900 meter tetapi sekarang sudah mengering. Disini lagi-lagi ketemu wan dalla (one dollar) kid, kemudian juga ada grup musik yang beranggotakan korban perang di pinggir jembatan meminta sumbangan seikhlasnya sambil mereka bermain musik tradisional kamboja,

      Neak Pean berupa 5 buah kolam buatan berbentuk persegi. 1 kolam yang paling besar berada di bagian tengah di kelilingi 4 kolam dengan ukuran yang lebih kecil. Setiap pinggiran kolam dibatasi dengan tangga. Di bagian tengah kolam yang paling besar ada sebuah kuil kecil, bagian dasar dari kuil ini dikelilingi oleh 2 patung ular berkepala tujuh yang ekornya saling melilit. Kemudian didepan kuil ini ada sebuah patung berbentuk kuda yang sudah tidak utuh, bentuk utuhnya bisa dilihat dari icon Siem Reap Int’l Airport, yaitu the Horse Balaha.
      Tidak banyak yang bisa dilihat karena sedang ada renovasi dan airnya pun sedang surut, hanya 1 kolam kecil tempat kami masuk dan kolam tengah yang bisa dilihat dari dekat, selebihnya sudah dibatasi oleh pagar. Konon katanya air di kolam ini punya energi untuk menyembuhkan.
      Melihat bentuknya dan letaknya yang berada di tengah-tengah waduk, kemungkinan besar pada masa jayanya Neak Pean ini sangat cantik dan tenang dengan berbagai macam ornament disekitarnya, tapi itu hanya perasaan saya aja sih :)
       
      Preah Khan
      Preah Khan mempunyai arti “The sacred Sword”. Dibangun oleh King Jayavarman VII pada sekitar tahun 1191 dan didedikasikan untuk ayahnya King Dharanindravarman II. Nama awalnya adalah Nagara Jayasri, berdasarkan sebuah prasasti dituliskan bahwa ditempat ini lah King Jayavarman VII mendapatkan kemenangannya atas kerajaan Chams.
      Kami diturunkan oleh vantha di bagian timur dan kami harus berjalan cukup jauh untuk sampai ke Preah Khan. Melewati jalan berpasir yang cukup lebar di tengah hutan yang dipinggirnya dihiasi oleh monumen2 berukuran sedang. Saya membayangkan prosesi kerajaan masuknya King Jayavarman VII dari sini,
      “When the king goes out, troops lead the escort; then come flags, banners and music. Palace women, numbering from three to five hundred, wearing clothes decorated with flowers, with flowers in their hair, hold candles in their hands, and form a troupe. Even in broad daylight, the candles are lit. Then come other palace women, carrying lances and shields; then the king's private guards; then carts drawn by goats and horses, all in gold. After that ministers and princes mounted on elephants, and in front of them one can see, from afar, their innumerable red umbrellas. After them come the wives and concubines of the king, in palanquins, carriages, on horseback and on elephants. They have more than one hundred parasols, flecked with gold. Behind them comes the sovereign, standing on an elephant, holding his sacred sword in his hand. The elephant's tusks are encased in gold”
      Ini saya kutip dari tulisan Zhou Daguan, seorang diplomat China dari bukunya “The Customs of Cambodia” menggambarkan prosesinya kerjaan dari King Indravarman III sambil membawa pedang suci kerajaan. Bukunya ini merupakan sumber yang sangat penting dalam memahami sejarah Angkor dan Kerajaan Khmer, juga memberikan informasi detail mengenai kehidupan sehari-hari dan kebiasaan penduduk local di Angkor.
      Kemudian sampailah kami di depan gerbang masuk Preah Khan. Preah Khan juga dilindungi dengan moat yang lebar dan tembok setinggi 5meter dan dihiasi dengan patung Garuda sedang mencengkram Naga. Dan sama seperti Angkor Thom, Preah Khan juga memiliki gerbang dengan hiasan Avaloketishvara dan jembatan masuk dengan Deva dan Asura yang sedang memegang Naga di bagian kiri kanan jembatan. Setelah masuk, kondisinya hampir sama dengan Ta Phrom, banyak pohon dan akar-akarnya bersatu dengan temple ini. Konstruksi bangunannya kebanyakan sudah hancur, batu-batu berserakan tapi masih banyak juga ukiran-ukiran dan lintel yang masih dlm kondisi cukup bagus dan detail salah satunya lintel Apsara dancer. Area Preah Khan cukup luas, banyak reruntuhan2 dan lorong yang bisa jadi obyek foto yang bagus. Setelah puas berkeliling kami berjalan keluar menuju Gerbang barat, jalannya juga cukup jauh. Sepertinya ini salah satu ciri khas bangunan pada masa King Jayavarman VII, sama seperti Ta Phrom yang mempunyai jalan masuk yang lumayan jauh.
      Setelah dari sini kami bingung, sebenarnya pada awalnya kami ingin mengunjungi Kompong Phluk dan Tonle Sap tetapi vantha tidak merekomendasikan karena masih musim panas dan debit airnya sedikit jadi viewnya jelek. Okelah klo begitu, kemudian kami meminta Vantha untuk mengantarkan kami ke War Museum Cambodia.
       
       
      War Museum Cambodia
      Biaya masuk museum ini sebesar $5/orang. Museum ini tidak terlalu besar dan sederhana. Berisi peralatan yang digunakan selama perang Kamboja melawan pemberontak Khmer (Khmer Rouge) pada rezim Pol Pot. Ada senjata, tank, truk, pelontar mortir, ranjau, bazooka, dll. Selain itu juga ada foto-foto korban perang, terutama korban dari ranjau darat. Pada masa rejim Pol Pot, pasukan pemberontak Khmer (Khmer Merah) menyebar banyak sekali ranjau darat di wilayah Kamboja.
      Senjata-senjata disini bisa dengan bebas digunakan untuk action foto-foto Ada juga tanah bekas ledakan ranjau darat, lumayan besar dan dalam, ngeri juga liatnya.  Kemudian di dekat pintu masuk ada berbagai kaos dan souvenir yang bisa dibeli.


      Setelah puas kami kembali ke hotel, tapi sebelumnya kami minta Vantha untuk mengantarkan kami ke tempat massage. Lalu diantarlah kami ke S.O Massage & Spa. Tempatnya besar dan pijatannya mantap, selama 1 jam seluruh badan dari kaki sampai kepala diputer2. Tapi hasil akhirnya puas banget, badan bener2 jadi enteng, siap untuk jalan lagi. 
      Ternyata diluar sudah mulai hujan ketika kami mau kembali ke hotel, jadi neduh dulu deh dan hujannya tambah deras, Wahhh… lumayan banget jadi ademm…
      Sampe ketiduran di tuk-tuk selama perjalanan ke hotel. Sampai hotel langsung mandi trus jalan lagi ke Pub Street nyari makan malam, nge beer dan beli souvenir lagi. Sekitar jam 12 balik ke hotel dan packing baju karena besok pagi-pagi buta ud harus langsung jalan ke Angkor wat dan siang nya check out hotel dan ke bandara.

      Day 6
      Angkor Wat, Banteay Srei, Phnom Penh
       
      Angkor Wat
      Rasanya baru memejamkan mata sebentar doank, tp jam 5 pagi ud harus bangun lagi mengejar sunrise di Angkor Wat. Diluar hotel terlihat Vantha dan Norin sudah menunggu kami. Gak pake mandi, cuma cuci muka plus gosok gigi, sarapan pun hanya air mineral dan beberapa batang rokok, meluncur lah kami ke Angkor Wat. Dan memang benar, sudah ada ratusan turis yang datang menantikan matahari terbit dari balik Angkor Wat.
      Tapi sayang sepertinya hari ini sunrise tidak terlihat, awan menutupinya. Menunggu dan menunggu berharap bisa nongol matharinya tapi ternyata gak juga. Gak dapet deh foto Angkor Wat sunrise yang  keren itu. Lanjut lah, menelusuri Angkor Wat yang guede ini.
      Angkor Wat di bangun pada awal abad ke-12 oleh King Suryavarman II, berbentuk persegi dengan ukuran 1,500x1,300 meter. Dan bila dihitung dengan moat nya selebar 190 meter, maka total luas Angkor Wat adalah hampir 200 hektar. Woww.. Didedikasikan untuk Dewa Vishnu dan dibangun sebagai reprresentasi dari Mount Meru, rumah para dewa-dewi. Angkor Wat juga adalah bangunan terbesar dan paling terawat yang ada di Angkor kompleks dan klo tidak salah juga merupakan bangunan untuk ritual keagamaan terbesar di dunia. Menjadikannya tujuan wisata utama di Kamboja, tercatat ada lebih dari 2 juta turis mengunjungi Angkor Wat selama tahun 2013.
      Saya benar-benar terpesona oleh Angkor Wat, dengan ukurannya yang besar, luas, detil bangunannya, sepertinya setiap dinding bahkan pilar yang ada di bagian dalam Angkor Wat berhiaskan sesuatu entah itu ukiran-ukiran, patung atau prasasti. Saya tidak bisa mendeskripsikannya dengan baik melalui kata-kata, you need to look it by yourself 
       

       
      Gambar di bawah ini saya ambil dari laman Facebook nya Vantha, keterangannya ini merupakan foto pada sekitar tahun 1930-an, masih cakep ya.

      Banteay Srei
      Tujuan terakhir kami di Siem Reap yaitu Banteay Srei (Citadel of the women) berjarak sekitar 40 menit dari Angkor Wat.
      Banteay Srei merupakan satu-satunya templebesar yang tidak dibangun oleh keluarga Kerajaan. Dibangun oleh seorang Penasehat Kerajaan bernama Yajnavaraha pada masa pemerintahan King Rajendravarman II dan Jayavarman V. Banteay Srei awalnya memiliki nama Tribhuvanamaheśvara (Great Lord of the Threefold World) pada pertengahan abad ke-10 dan didedikasikan untuk Dewa Shiva.
      Kami sampai di Banteay Srei sekitar jam 9 dan sinar matahari pagi seperti membuat warna templeini semakin menyala.  Banteay Srei mempunyai ukuran yang tidak terlalu luas tetapi warnanya yang oranye-pink dan penuh dengan ukiran-ukiran rumit dan dalam yang hampir masih sempurna membuatnya tampak sangat cantik dan sangat layak dikunjungi jika berkunjung ke Siem Reap. Setelah selesai mengelilingi kuil cantik ini Vantha menawarkan kami untuk mampir ke Banteay Samre karena searah jalan pulang tapi karena takut terlambat boarding pesawat kami menolak tawaran itu dan langsung pulang ke hotel.
       


      Selesai beres-beres kemudian check out hotel, saya berpisah dengan teman-teman saya karena mereka harus terbang kembali ke Jakarta. Vantha mengantarkan saya ke kantor Phnom Penh Sorya Bus kemudian kembali lagi ke hotel untuk mengantarkan teman-teman saya ke bandara Siem Reap.
      Phnom Penh
      Dari jalan bareng ber-5 trus tiba-tiba cuma sendirian rasanya sepiiiii bangetttttt…. Hahahaa… Oiya tiket bus saya seharga 7 USD, berangkat jam 13.30. Bus yang saya naikin ini baru mulai jalan keluar dari terminal bus jam 14.00 dengan isi penumpang yang mungkin hanya 10 orang termasuk supirnya, kondisi busnya lumayan lah, AC-nya berasa tapi kursinya ada yang bisa di sandarin ada yang ud rusak. Bus berjalan lambat dan kadang ngetem juga, sambil nyari penumpang buat mengisi kursi yang kosong. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 8 jam dengan 2x perhentian di warung makan local yang tidak recommended sm sekali karena tempatnya kotor dan lalatnya banyak banget. Sepanjang perjalanan pemandangannya biasa saja, ga banyak yang bisa dinikmati dan juga banyak perbaikan dan pengaspalan jalan, seingat saya ga ada jalan yang rusak. Sekitar jam 10 kurang, akhirnya sampai juga di Phnom Penh, ibukota Kamboja. Turun dari stasiun bus langsung dikerubungin lalat, eh.. supir tuk-tuk maksudnya Akhirnya saya deal dengan salah satu supir tuk-tuk untuk mengantarkan saya ke hostel dan Independent Palace, mungkin karena ud capek pas ditawarin $7, langsung saya OK in tapi ternyata setelah ngobrol sama penjaga hostelnya biayanya palingan $4 doank. Haiyahhh…. Tapi yoweislah, ud saya bayar ini.
      Oiya saya menginap di Packer Choices Hostel, lokasinya berada di belakang Royal Palace. Setelah check-in hotel dan simpan tas di loker, saya langsung keluar keliling sebentar ke RoyalPalace. Sepi banget, cuma saya sendiri ud gitu rada gelap, serem juga sih, apalagi banyak pohon-pohon yang tinggi di jalan samping Royal Palace tapi setelah sampai di bagian depan mulai tampak keramaian, banyak anak muda sedang bercengkrama di sekitar taman depan Royal Palace. Tapi ada banyak juga gelandangan yang tidur di area taman ini, pemandangan yg sangat kontras dengan kemegahan bangunan di depannya.
      Setelah itu saya kembali ke hostel, booking bus untuk perjalanan besok ke Ho Chi Minh City tapi karena sudah terlalu malam jadi besok pagi baru bisa di booking. Sebenarnya pilihan busnya kurang bagus tapi saya pikir untuk pegangan saja, sambil besok mencari tiket Mekong Express bus yang banyak direkomendasikan oleh para traveler.
       
       
       
       
      Day 7
      Royal Palace, Silver Pagoda, Tuol Sleng (S21), Saigon
       
      Rencana pagi-pagi banget mau lsg jalan, tapi apa daya jam 7.30 baru bangun   Setelah mandi, beres-beres, sarapan, naro tas di resepsionis dan nerima tiket bus PP – HCMC dari resepsionis barulah saya mulai jalan eksplor Phnom Penh. Di pagi yang sangat cerah ini tujuan saya pertama adalah RoyalPalace, hanya 5 menit jalan kaki saja dari hostel. Tapi pintu masuknya yang mana saya blom tahu, sampai saya melihat rombongan turis memasuki suatu pintu sambil foto-foto di ujung jalan, nah ud ga salah pasti itu pintu masuknya. Setelah saya sampai di pintu tersebut, rombongan turis itu msh foto2 hahahahaa.. And guess what, mereka dari Indonesia. Saya tau nya ketika saya berjalan melewati mereka, ada seorang ibu-ibu yang nyeletuk dalam bahasa Jawa yang artinya kira-kira “Ehh lihat tuh dia, berani yah sendirian aja jalan-jalan”. Dalam hati, lah buseddd orang Jawa ternyata hahahaa… Kirain saya ga bakal ketemu orang Indonesia di Kamboja ternyata ketemu serombongan ibu-ibu dengan logat Jawa Tengah yang medok.
      Saya langsung berjalan menuju loket tiket masuk dan banyak juga yang sudah mengantri. Biaya masuknya 25,000 Riel (USD 6.25), buka setiap hari 07.30-11.00 / 14.00-17.00
       
       

       
      Hampir mirip seperti Grand Palace Bangkok, terdiri dari banyak bangunan dan monumen megah tersebar di sekitar kompleks ini, taman2nya pun terawat dan indah. Bedanya jumlah pengunjungnya tidak seramai Bangkok, atau mungkin juga karena saya datangnya pagi-pagi sekitar jam 8an sudah sampai.
      Royal Palace masih digunakan sebagai tempat untuk menerima tamu-tamu penting dari berbagai Negara, beberapa bangunan pun masih digunakan sebagai tempat tinggal anggota keluarga kerajaan dan tidak bisa diakses oleh turis.
       

       
      Silver Pagoda ada di kompleks ini. Kirain warna templenya silver, ternyata saya salah warnanya putih dengan berbagai ornamen bangunan berwarna merah dan emas. Trus kenapa namanya Silver Pagoda?? Ternyata ehh.. ternyata, karena seluruh lantai dari bangunan ini terbuat dari perak, yupp benar sekali seluruh lantainya ruarr biasaaa..!!!
      Di dalam pagoda ini dilarang menggunakan kamera dalam bentuk apapun. Isinya sangat indah banyak patung-patung Budha dari emas, perak, dan koleksi souvenir atau hadiah dari Negara dan Kerajaan tetangga untuk keluarga kerajaan, banyak sekali memenuhi seluruh bangunan ini.
       

       
      Setelah dari sini saya keluar kemudian tawar menawar dengan supir tuk-tuk untuk mengantarkan saya ke S21 (Tuol Sleng).