Titi Setianingsih

PESONA RAJA AMPAT, 12-16 APRIL 2017

30 posts in this topic

 

Selamat siang JJ’er,,,duh kangen nulis niiihhhh, banyak banget yang mau ditulis, tapi kalau sudah lama berhenti kok mau memulainya luar biasa beratnya. Hhhmmmm,,,seperti ada sesuatu yang bikin malas, tapi sungguh sayang 1000x kali sayang kalau keindahan alam Indonesia tidak saya bagi ke teman2 semua,,,,nanti bakal sepi dunia pariwisata kita.

Okey,,,saya mulai dengan cerita seputar Raja Ampat, walau sudah banyak yang kesana, tapi segei ketertarikannya biasanya beda2 ya ?

Sebenarnya sudah lama pingin ke Raja Ampat, tp kok imagenya Raja Ampat itu wisata mahal siy ? Jadi beberapa lamanya keinginan kesana dipending terus, hingga suatu ketika dapat tawaran murah dari seorang teman facebook yang orang Sorong, iseng2 mencoba mencari informasi sekaligus mencari teman untuk kesana. Awalnya sudah dapet teman 15 orang, eeee lama2 rontok karena tergiur trip ke tempat lain (maklum Indonesia itu semuanya indah), akhirnya yang masih bertahan tinggal 9 orang, ya sudah,,,jalanlah dengan 9 orang ini, bismillah saja karena teman yang di Sorong juga belum pernah ketemu.

12 APRIL 2017

MAKASSAR

Setelah deal dengan tanggal keberangkatan, akhirnya saya buking pesawat ke Sorong via Makassar menggunakan Sriwijaya Air. Berangkat dari Bandara Soekarno Hatta jam 21. 45 dan tiba di Bandara Hasanuddin Makassar jam 01.00 esok harinya. Berhubung penerbangan ke Sorong masih kurang 2 jam lagi, maka di dini hari itu kami sempatkan untuk sarapan pagi di bandara.

13 April 2017

SORONG

Masih dengan pesawat yang sama, melanjutkan pererbangan ke Sorong jam 03.15 dari Bandara Hasanuddin Makassar, tiba di Bandara Domine Eduard Osok Sorong jam 06.30. Alhamdulillah cuaca begitu cerahnya, sehingga kami dapat menikmati pagi yang cerah di Kota Sorong.

Apa yang pertama dicari di Kota Sorong ? Signaaaalllll handphone tentunya,,,iyaaa handphone saya dengan simcard XL gak bisa menangkap signal dengan baik, disana yang paling bagus Telkomsel, mau gak mau kami kudu ganti simcard dengan Telkomsel, tapi berhubung masih pagi, tokopun belum ada yang buka, terpaksa nanti di Waisai baru nyari simcard.

Kapal ferry  yang menuju Waisai berangkat jam 09.00 kurang lebih 2 jam sampai di Pelabuhan Waisai. Kamipun menunggu sambil ber-panas2an dan ber-foto2 di sekitar Pelabuhan Rakyat Sorong. Air laut yang biru dan cerahnya langit di atas sana, menyadarkan kami kalau kami sudah berada di Indonesia Bagian Timur. Subhanallah,,,,,

FB_IMG_1495011617368.jpg.6625e7d113c014d337aec493e3180ec4.jpg

FB_IMG_1495011611751.jpg.3b7103710c094ccc0214386f49e8ba9a.jpg

Saudara kita di Papua sudah hilir mudik di sekitar pelabuhan, ada yang berjualan di pinggir jalan, ada yang bekerja sebagai porter pelabuhan dan anak2pun bersuka ria di sepanjang jalanan itu. Kami mengikuti porter menuju pelabuhan, dan mengambil tempat duduk di belakang supaya bisa melihat laut lepas, sehingga benar2 merasakan petualangan terpanjang dalam sejarah jalan2 kami.

FB_IMG_1495016576113.jpg.35bb2a5bef14fd430fc9864981558520.jpg

Dua jam didalam kapal ferry terasa cukup lama, kebetulan saya ambil tempat duduk  sesuai nomornya pas didepan televisi, sehingga suasana kejenuhan terhibur sedikit oleh film yang ada di televisi. Sesekali layar televisi terputus, kemudian nyala lagi, begitulah kondisi persignalan di atas kapal.

 Di sela2 kantuk yang melanda, mata saya tertuju pada layar televise, dan begitu rasa haru menyelimuti hati manakala terdengar percakapan dua insan yang saling mencintai akhirnya bertemu dalam detik2 akhir hayatnya,,,

 “I knew you’d come for me”

Nothing would ever keep me away from you”

“I will search for you in a thousand worlds and ten thousand lifetimes until I find you”

“I will wait for you in all of them” Mika dan Kai,,,,lambang cinta sejati dalam 47 Ronin.

Busyeeettt daah,,,saya terbawa arus kisah film itu, hingga ketika sudah terdengar hingar bingar penumpang ferry untuk ber-siap2 turun dari kapal, rasa2nya saya sebaliknya, masih ingin duduk ber-lama2 menikmati film itu,,,lagi.

WAISAI

Hups,,,,Kakak Esau (guide kami) sudah teriak2 panggil porter untuk turunkan barang2 kami, ya sudahlah, move on dari 47 Ronin, saatnya menikmati kota Waisai.

Panas terik sungguh2 menyapa kami, di tengah2 perut yang sudah keroncongan pula, akhirnya sesudah mobil jemputan datang, kamipun melesat ke Rumah Makan Sederhana untuk makan siang, kabarnya Bapak Jokowi pernah makan juga disini, ada fotonya looh,,,

FB_IMG_1495011605429.jpg.2aecfa5db40e98248f7edc5f23cdb3f8.jpg

Perbedaan harga mulai dirasakan, makan sederhana dengan sayur dan udang sekitar 40.000an. Jadi untuk tmn2 yang mau ke Raja Ampat siapkan uang yang lebih ya,,

Sehabis makan kami citytour terlebih dahulu ke pantai WTC, Waisai Torang Cinta, tempat ini seperti Taman Hiburan Rakyat, kalau sore hari anak2 dan remaja berkumpul disini, menikmati sore yang indah, bermain sepeda dan berenang di laut. Tapi karena kami datang di siang bolong maka tak satupun orang kami dapatkan disini.

FB_IMG_1495011588150.thumb.jpg.536823e04a73082be3274cebdeb96000.jpg

FB_IMG_1495011596239.jpg.419c752cca540dee422f0bea544f7f7b.jpg

FB_IMG_1495011602231.jpg.42b7e20b1b8da82ce9ee7b9c5488e7c8.jpg

Dari pelabuhan Waisai kami lanjutkan pelayaran menuju Arborek tempat kami menginap dengan menggunakan speed boat kurang lebih 2jam lagi. Dan kali ini uji adrenalin benar2 dimulai, speed boat di laut lepas, terbayang kan ? Kami akan menyatu dengan alam, dengan samudra luas dan angin serta ombak,,,,,indahnya alam Papua,,,!!

FB_IMG_1495016595457.jpg.9a2f69845ef51175a3938a15d896c162.jpg

FB_IMG_1495011580376.thumb.jpg.b1c312462544e60b93fe72361799ffee.jpg

FB_IMG_1495011584824.jpg.7c9e6c4db34a1ef3a06289cc61691389.jpg

Sesekali kapal kami kena dentuman ombak yang besar, dan tubuh kami terlempar ke atas, air lautpun menimpa kami, basah semuanya,,,,begitupun masih ada tawa menambah serunya candaan kami dengan alam.

ARBOREK

Alhamdulillah kami tiba dengan selamat di Arborek, sebuah pulau kecil di Raja Ampat, pulau indah yang merupakan spot snorkeling dan diving, karena disini banyak sekali jenis2 ikannya, walau di pinggir lautpun ikan ber-warna warni sangat banyak, bagi yang pintar berenang tentu akan gatal sekali kalau tidak turun ke laut. Sabaaar kawan,,,,kita mesti ke homestay dulu, untuk ganti baju dan bersnorkling serta menikmati sunset.

FB_IMG_1495011532524.thumb.jpg.dfc97cebddd7bc817b656a877fa64711.jpg

FB_IMG_1495011529194.jpg.e236ca756b97e5b9674111bb97bc525e.jpg

FB_IMG_1495011514745.jpg.5768c50d9d595dd8c56ef5acd7587657.jpg

FB_IMG_1495011414973.jpg.7240b948c5b4b923dd9fd29a3da7bcce.jpg

FB_IMG_1495011510260.jpg.9b4d09e5d01fa1382914499f437ae9b8.jpg

FB_IMG_1495011504304.jpg.68dd44523e961b7984a443b31ae049c3.jpg

FB_IMG_1495016702858.thumb.jpg.9fb7b80ccf43568a27fcad573f01f4d5.jpg

Sore itu pantai Arborek ramai, banyak juga wisatawan asing yang sedang menikmati snorkeling, anak2 kampung juga banyak, rupanya kalau senja tiba, masyarakat sekitar Arborek pada berkumpul di tepi pantai menikmati indahnya sunset, mereka bercanda dan bermain serta bernyanyi, sangat ramah mereka, dalam waktu singkat kamipun sudah akrab dengan mereka.

FB_IMG_1495016699941.thumb.jpg.11f7f3ec1620d190950c401c674482e2.jpg

FB_IMG_1495011497405.jpg.638aad9767afc4edc234af523587a077.jpg

Setiap kami melewati Rumah penduduk dan berpapasan dengan warga, selalu ada sapa ramah dari mereka,,,,akhirnya kamipun ikuti adat mereka,,,,sapa dan senyum terlebi dahulu kepada semua warga yang berpapasan.

Malamnya kami bersantap special, ikan cakalang bakar, sayur kangkung dan bunga papaya, terong balado dan kerupuk. Masakan Mama homestay luar biasa enak. 

Malam ini kami bermalam di homestay Arborek dengan ditemani bintang dan bulan,,,sungguh romantis, seandainya kantuk belum menyerang, ingin rasanya saya duduk di depan homestay ber-lama2, menjuntaikan kaki hingga menyentuh air laut,,,,

14 APRIL 2017

Pagi ini kami menikmati sarapan sederhana, nasi goreng doang,,, tak banyak yang kami makan, karena pagi ini kami hendak memulai petualangan yang cukup jauh, mengarungi laut, menuju pulau2 kecil di Raja Ampat, pulau yang menjadi salah satu icon Raja Ampat, Piaynemo.

Foto selfie di Piaynemo menjadi idaman kebanyakan para JJ’er, hhmmmm pastinya, baru lihat gambarnya di kalender saja sudah bikin sakau, dan mungkin menjadi urutan pertama di wishlist teman2 ???

Di speed boat menuju ke Piaynemo, kami seperti gak percaya, sepanjang jalan hanya air yang terlihat, gunung2 batu yang Nampak artistic, sepertinya pemandangan seperti ini ya baru kali ini saya lihat, decak kagum gak henti2nya terdengar dari mulut kami,,,,entah mau diungkapkan dengan apa untuk memuji keindahan alam Papua ini ?   

SELPELE

Angin yang menerpa wajah kami tidak kami pedulikan, masing2 dari kami kepingin berfoto dengan latar laut biru dan gunung2 batu yang menjulang dengan cantiknya,,,ditambah lagi di kejauhan sana sudah Nampak anak2 kampung sedang memancing di dermaga, rupanya itu Desa Selpele yang merupakan pintu gerbang untuk masuk ke Wilayah Raja Ampat / sekitar Piaynemo.

FB_IMG_1495011455450.jpg.2ffed0dce3d61f8df05ed39021b3df65.jpg

Perkampungannya cukup ramai, banyak Rumah penduduk disini, anak2 juga banyak yang masih kecil2, kita bisa minum kopi dan makan pisang goring disini. Anak2pun Nampak senang menyambut kedatangan kami, ingin rasanya ngobrol lebih lama dengan mereka, tapi waktu terus memburu kami,,,

FB_IMG_1495016617611.jpg.aa295c134673188c948a85807a443cf8.jpg

FB_IMG_1495016621003.jpg.f0ff54d4410befddfe6186ce8ad3ba72.jpg

Ketika boat kami sudah di area Piaynemo, dermaganya Nampak beberapa boat lainnya, pertanda masih banyak wisatawan di area ini, kamipun melanjutkan perjalanan untuk menuju Telaga Bintang terlebih dahulu. 

TELAGA BINTANG

Untuk menikmati keindahan Raja Ampat, ternyata kita harus berada di ketinggian, gugusan pulau2nya akan Nampak jelas terlihat, itulah sebabnya terlebih dahulu kita harus tracking menuju ketinggian, diantara batu2 karst yang terjal, sehingga sarung tangan menjadi alat bantu kita supaya tangan kita tidak terantuk batu karst.

FB_IMG_1495016532997.jpg.fd3a7711e7b65cec12a76e6ef2a74164.jpg

Untuk Telaga Bintang, tempat pijakan kaki kita sudah di semen, jadi sudah aman dari terjalnya batu karst, walau begitu tempat kita pegangan masih merupakan batuan2 yang lancip2, ke-hati2an sangat diperlukan. Dan jalan menuju ke atas merupakan jalan setapak, sehingga kita harus antri untuk menuju ke atasnya.

FB_IMG_1495016507799.thumb.jpg.b2c6978766e91402c5414bc478d72d25.jpg

FB_IMG_1495016517061.thumb.jpg.9b4aa4e07e5e7498ca8915f791e049d7.jpg

Sungguh, jalan setapak ini tidak bisa buat papasan, jadi jangan memaksa naik kalau yang di atas belum pada turun, ikuti perintah guide local yang tentu lebih berpengalam ya,,,

FB_IMG_1495011484642.jpg.b45a3409b866d6a1728ab104f49b6bd0.jpg

FB_IMG_1495011491419.jpg.8be0c1f5c5bf3eeb21515ff88c2f79b7.jpg

Dan,,,,taraaaaa,,,Telaga Bintang memang seperti bintang bentuknya, sebuah telaga yang tepiannya membentuk segilima seperti bintang, airnya ke-hijau2an, bening dan sangat menawan. Panas yang menyengat tidak menjadi halangan bagi kami untuk menikmati keindahannya,,,

Satu persatu dipersilahkan foto2 selfie untuk kemudian turun kembali karena dibawah sudah ada yang berteriak kalau sudah ada yang antri untuk menuju ke atas. Begitulah caranya menikmati keindahan Telaga Bintang,,,,

PIAYNEMO

Apa yang kita bayangkan tentang Piaynemo ? Gugusan pulau2 kecil ditengah laut, yang kalau dilihat dari ketinggian seperti onggokan batu2 hijau bertebaran bagai noktah besar.

FB_IMG_1495016455422.thumb.jpg.3d3fd514c7af62890738c5c94d01123d.jpg

FB_IMG_1495016465361.jpg.108a341077f9d98c2e53e1b708dbd603.jpg

Piaynemo terletak di Desa Pam, Kecamatan Waigeo Barat Kepulauan, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.  Dari Arborek kurang lebih 2 jam lewat laut, lokasinya berdekatan dengan Telaga Bintang. Untuk bisa menikmati gugusan pulau2 di Piaynemo kita harus naik tangga yang terbuat dari kayu kurang lebih 320 anak tangga. Jangan dibayangkan banyaknya/ tingginya, kalaupun capai kita bisa istirahat sejenak, karena disekitar tangga banyak ditumbuhi pohon2an jadi suasana rindang tidak terlampau panas. Rumah2an untuk istirahatpun ada disekitar tangga.

FB_IMG_1495011624237.jpg.e3441b3630cd74e0428abd5cf1f8b02c.jpg

Mungkin ada 3 kali saya istirahat, dan gak nyangka setelah istirahat ketiga akhirnya gak berapa lama sampai di puncak, Subhanallah, ini yang saya impikan, Wayag Mini alias Piaynemo, selama ini hanya dengar dari orang lain seperti apa keindahannya, sekarang sudah terbukti, saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri,,,waktupun tidak ter-sia2kan, tongsis mulai bekerja dan cekrak cekrek sepuasnya.

Memang mau apalagi selain foto sepuasnya ? Ketika mata sudah puas memandang, dan mengabadikannya, kamipun turun kembali. Jika turun rasanya sebentar, walau begitu, tak apalah singgah minum air kelapa muda dan jajanan di tepi dermaga, hitung2 kasih penglaris buat Bapa dan Mama penjaja makanan disitu. Tapi kaget sekali ketika beli kacang tanah goreng yang harganya 10.000 sementara kalau di Jakarta hanya 2.000,,,olala ???

FB_IMG_1495011640555.jpg.3a30a090e07c763f1285a04fe32db608.jpg

TELUK KABUI

Baru saja boat kami berlayar, perut serasa ada yang bergelinjang di dalamnya, rupanya lapar melanda. Akhirnya bekal nasi kotak kami buka, dan ternyata kami makan siang di atas Teluk Kabui. Teluk yang sangat diminati para diver karena pemandangan alam bawah lautnya luar biasa indah, dari atas boatpun Nampak jernih sekali airnya dan sesekali Nampak terumbu karang di permukaan, jika akan menikmatinya boat harus dimatikan mesinnya, tp yang di atas kapal tdk boleh terlalu goyang karena dikhawatirkan boat akan oleng.

FB_IMG_1495011424228.jpg.334c2a59c1308e527e1c7fef96a1b3bc.jpg

FB_IMG_1495016657191.jpg.13b99f39fc63f75efa0892605e5ce127.jpg

FB_IMG_1495016661335.jpg.e49ac01a9329a488888a25a84de94c16.jpg

FB_IMG_1495016666162.jpg.9d1bf974c4aab48f32d44423b30ee086.jpg

Teluk Kabui masih di desa Pam Kecamatan Waigeo, kami yang bukan diver hanya bisa menikmati batu2 karst yang bertebaran disana sini dan hijaunya pohon2 di atas bebatuan. Mata kami hamper tak berkedip,,,jika dilihat dari ketinggian, Teluk Kabuipun katanya seperti Wayag. Jadi memang Wayang itu icon utama Raja 4, pulau2 lainnya hanya mirip dengan Wayag.

PASIR TIMBUL

Pasir Timbul hampir ada di setiap pulau jika kondisi air laut sedang surut, kondisi inipun ada di Pulau Mansuar Raja Ampat. Lokasinya sebenernya lebih dekat dengan Waisai, tapi karena kami berangkat dari Arborek lalu menuju Telaga Bintang – Piaynemo – Teluk Kabui jadinya gak berasa jauh, Cuma nanti pulangnya yang terasa agak lama, tapi keindahan yang tiada habis2nya inilah yang menyebabkan perjalanan singkat2 saja, tahu2 senja sudah menyapa nanti.

Ketika berada di Pasir Timbul inipun mentari sudah condong ke barat, tapi teriknya masih terasa. Begitu lihat warna ke-putih2an timbul di kejauhan kamipun gak sabar,,,,segera lompat ke air dan berlari menuju pasir. Sungguh, halus sekali pasir itu, putih dan bersih tanpa adanya sampah. Sayangnya di pasir ini kami tidak ketemu dengan bintang laut, tidak seperti ketika di Lombok, Belitung dan Karimun Jawa kami bertemu dengan komunitas Bintang Laut yang terdampar di atas pasir. 

FB_IMG_1495016471759.thumb.jpg.726c337615afc7152e0df3ed6ae30fdc.jpg

FB_IMG_1495016475850.jpg.15a6a66f9a283bb48624af639a35a882.jpg

FB_IMG_1495016479014.jpg.04665bd4c1f49109094bf7c990cf9b31.jpg

FB_IMG_1495016482856.jpg.3abbad63acc075e53803cec2a2b29cff.jpg

FB_IMG_1495016489918.jpg.1192692e22b7b91603f92ebffca73d34.jpg

Kami hanya bisa bersendau gurau disini, kebetulan Tour Leader kami baru saja married, jadi kami kerjain saja dia, kami giring ke tengah laut untuk kemudian kami basahin dengan air laut,,,,xixixixi,,,sebuah kerja sama team yang kompak,,,siapa sangka kalau mau dikerjain gini ???

Maap yaaaa Kakak Desy,,,itu tanda sayang dari kami,,,!

TELAGA MANTA

Salah satu makhluk di lautan tropis itu manta atau ikan Pari, Raja Ampat merupakan salah satu  Rumah mereka, tapi kemunculan ikan Pari ini tidak setiap saat, biasanya pagi atau sore hari. Inipun tidak setiap hari, bagi para diver kalau sudah sampai di Telaga Manta akan menunggu sampai Ikan Pari ini muncul. Lha kalau kita yang hanya lewat dan tak bergeming dari atas boat apa yang mau dilihat ? Paling2 kapten akan bilang, itu disebelah sana yang airnya bergerak-gerak dan berombak pertanda ada ikan besar dibawahnya, bisa ikan Pari atau Ikan Paus. Nah bagi yang kepengin berenang bersama Ikan Pari tentu saja harus berani nyebur ke laut dan prepare diri karena biasanya Ikan Pari berada di laut yang dalam.

 Jadi kami hanya bisa lewat saja sambil menuju pulang ke Arborek, karena memang lokasi Telaga Manta tidak jauh dari Arborek, bisa ditempuh kurang lebih 10 menitan.

FB_IMG_1495011539241.jpg.72423404ba3090dec0fb29858a38743a.jpg

FB_IMG_1495011543884.jpg.ea3ad686501a6c2c0f5b3a58fd024f36.jpg

FB_IMG_1495011547026.jpg.d853eddd4a3a0df0878ecd921480f053.jpg

FB_IMG_1495011552242.jpg.f9779c3e741267d6f67353169d3db8a7.jpg

Senja kembali menyambut kami di dermaga Arborek, teriakan anak2 kampung menyambut kami pulang, keceriaan di wajahnya masih seperti kemarin, serasa duka enggan mendekat. Kami suka kalian,,,,mari kita menari bersama sebelum malam tiba.

Yamko Rambe Yamko

Hee yamko rambe yamko
aronawa kombe
Hee yamko rambe yamko
aronawa kombe

Temino kibe kubano ko bombe ko
Yuma no bungo awa ade
Temino kibe kubano ko bombe ko
Yuma no bungo awa ade

Hongke hongke hongke riro
Hongke jombe jombe riro
Hongke hongke hongke riro
Hongke jombe jombe riro
 

15 APRIL 2017

WAYAG 1

Inilah icon Raja Ampat yang paling terkenal, Kepulauan Wayag, ada Wayag 1 dan Wayag 2. Saking terkenalnya sehingga hamp1r di tiap pulau ada tempat2 yang dibilang mirip Wayag, seperti di Sulawesi Tenggara ada Pulau Labengki yang disebut sebagai Wayagnya Sulawesi, ada Pulau Painan yang disebut sebagai Wayagnya Sumatra Barat dan mungkin ada masih banyak lagi.

Untuk menuju Wayag 1 dari Arborek kurang lebih ditempuh selama 4 jam dengan menggunakan speedboat, sehingga pagi2 sekali kita kudu siap2 dan kurang lebih jam 06.00 start menuju Wayag.

Namun sungguh diluar dugaan kalau dini hari itu hujan turun, sehingga diluar homestay Nampak berkabut, pelayaran agak terhambat karena areanya yang akan dilalui penuh kabut, pandangan nakhoda terbatas. Dan ketika keberangkatan kami tunda 1 jam kemudian, Alhamdulillah, sinar mentari berhasil menghalau kabut hingga terang dan cerah yang kami dapatkan. Hatipun menjadi lega dan tenang menjalani petualangan ke pulau terujung dari Raja Ampat.

Sepanjang jalan, seperti hari2 kemarin, yang Nampak batu2 karst yang menjulang, bukit2 menghijau menambah terbelalaknya mata ini dan sekaligus mengucap syukur atas nikmat Allah yang kami rasakan.

FB_IMG_1495011792748.jpg.40a49d52590586386c408a93cacad01c.jpg

FB_IMG_1495011431502.jpg.47117f863b71771b06ffdb966932d3e2.jpg

FB_IMG_1495011759295.jpg.b6192360e5f4386dbc85675956b140a6.jpg

FB_IMG_1495011775940.jpg.a69f62ddbbf159905e898e77c8ccd329.jpg

Batu2 karst ini akan Nampak unik dan artistic jika dilihat dari ketinggian, meski untuk menuju ke atas kita butuh stamina yang luar biasa. Bayangkan jika yang mau kita daki itu batu karst yang runcing2 dan terjal, belum ada alat bantu sehingga murni masih alami. Tangan2 kita berpegangan pada pohon yang ada maupun pada dinding batu karst yang masih asli.

FB_IMG_1495011712422.thumb.jpg.22c581955ede7139d280da1da53e5385.jpg

FB_IMG_1495011719404.jpg.8d69aef90355db900efed9150f5a030c.jpg

Tapi sesulit apapun karena ada pemandunya, akhirnya kamipun sampai juga ke atas, dalam suasana panas terik matahari yang menyengat. Alhamdulillah,,,terbayar sudah jerih payah kami. Mungkin selama 1 jam kita mendaki bahkan lebih karena beberapa kali istirahat, dan bayangkan jika yang kami duduki itu juga batu karst yang runcing, bagaimana rasanya ? Sakiiiiiittttttt,,,,

FB_IMG_1495011728165.jpg.bc9cc0f9b5049f6b9f87ec1962764392.jpg

FB_IMG_1495011646459.jpg.76c039abadb1b69b2b6bd18b3969cb7e.jpg

FB_IMG_1495011665605.jpg.51a7bdf146b59fcecd60c5a467592bb9.jpg

FB_IMG_1495011694499.jpg.d0120c43a6c8673050fd301ee07895a4.jpg

Ketika Guide menawarkan untuk lanjut ke puncak tertinggi dimana disitu bendera Merah Putih ditambatkan, menyerahlah saya,,,,,,tanjakannya begitu tinggi dengan sudut kemiringan yang runcing dan tanpa bantuan apapun, tak mungkin rasanya kami bisa menggapai tempat itu,,,,,,hiks

Hanya sampai sini, dibatas inilah kami temui kepuasan, dan apa kata orang selama ini bahwa “belum ke Raja Ampat namanya kalau belum ke Wayag”, de facto kami sudah mencapainya.

Di Wayag 1 pun kita tidak bisa terlalu ramai di perjalanan mendakinya, jadi ketika kita tahu ada kapal yang sandar di sekitar dermaga Wayag maka kita sebaiknya menunggu sampai mereka turun, atau jika terpaksanya papasan, maka sebaiknya antri untuk secara bergantian mendaki / menuruni bukit.

Sambil menunggu, kita bisa ber-main2 di pantai sambil bercanda dengan anak2 ikan hiu. Mereka sudah jinak dan tidak terlalu besar, jadi kita tidak usah takut, tapi namanya ikan liar maka tidak mudah untuk memegangnya, begitu kita terlalu bergerak merekapun akan lari.

TO BE CONTINUOS

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Total habis sekitar berapaan ya bu? hahahaha.... selama ini kepikiran dengar Raja Ampat pasti mahal bangat wkwkwkwkwk...

Berarti ambil tour nya pas start dari bandara Sorong yah?

Si mas nya itu yang guide nya sekalian sopir kah?

16 hours ago, Titi Setianingsih said:

FB_IMG_1495016479014.jpg.04665bd4c1f49109094bf7c990cf9b31.jpg

:kesengsem

Share this post


Link to post
Share on other sites
18 hours ago, kyosash said:

wah mantap nih airnya jernih banget :wub: , asyik juga tuh bisa maen payung sama balon di pantai :D , as always nice share :salut 

Iyaaaa Mas Kyo....pas cuacanya bagus...thanks yaaaa

4 hours ago, HarrisWang said:

Total habis sekitar berapaan ya bu? hahahaha.... selama ini kepikiran dengar Raja Ampat pasti mahal bangat wkwkwkwkwk...

Berarti ambil tour nya pas start dari bandara Sorong yah?

Si mas nya itu yang guide nya sekalian sopir kah?

:kesengsem

Total 8 jutaan mas Harris...belum sama oleh2 yaàaa...

Guidenya beda sama sopir...

4 hours ago, twindry said:

wuih mantaaaap :kesengsem kayak di kalender ya potonya

Mau buat bikin kalender 2018 Twindry

@HarrisWang

Betuuullll....start Sorong mulai paketnya

Share this post


Link to post
Share on other sites
1 minute ago, twindry said:

Cius ini bu? Udh include tiket pp?

gak percaya kaan krn lbh murah dibanding yang lainnya ?

kami naik Sriwijaya berangkatnya, pulangnya naik Batik, jd kurleb hanya 3,2 juta pesawatnya. Kalau naik Garuda baru mahal Twindry,,,

Share this post


Link to post
Share on other sites
2 minutes ago, deffa said:

oh pakai TL aja ya

kalau trip nya di urusin mba Desy juga?

Iya mas deffa..ada nama tournya aq lupa ...ada di foto aq di album

@deffa

Dia buka paket macem2 siy, tergantung fasilitasnya, kalau pakai resort ada yg 11 jutaan mas....aq pakai homestay

Share this post


Link to post
Share on other sites
4 hours ago, Titi Setianingsih said:

gak percaya kaan krn lbh murah dibanding yang lainnya ?

kami naik Sriwijaya berangkatnya, pulangnya naik Batik, jd kurleb hanya 3,2 juta pesawatnya. Kalau naik Garuda baru mahal Twindry,,,

Yee kalo harga segitu mah masih bisa lah masuk whistlist :D anggap aja perbedaan harga nya itu kita tuker mata uang asing hahaha

Share this post


Link to post
Share on other sites
13 hours ago, Titi Setianingsih said:

Iya mas deffa..ada nama tournya aq lupa ...ada di foto aq di album

@deffa

Dia buka paket macem2 siy, tergantung fasilitasnya, kalau pakai resort ada yg 11 jutaan mas....aq pakai homestay

i see ya yang penting hemat aja :D 

Share this post


Link to post
Share on other sites
On 6/5/2017 at 9:40 AM, betmen said:

aaaaaaah tempat yang sedang berusaha dimasukkan ke wishlist, mahal juga kesana

ya sama dengan mungkin lebih mahal dari ke Jepang om hehe @betmen

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now


  • Similar Content

    • By Apriyani Indrawati
      Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
      Bukit Bantir ini saya pikir hanya sebatas bukit biasa. Tapi, kata teman-temanku, bukit ini lagi hits di Semarang. Saya nggak tahu kenapa, ya, karena di pikiran saya hanya bukit biasa wkwk.
      Jalan-jalan ke sana sama temen-temen ini nggak ada rencana sebelumnya. Main kumpul aja trus berangkat.
      Letaknya di Desa Losari, Kec. Sumowono, Kabupaten Semarang. Dari lokasi wisata Candi Gedong Songo, masih lurus terus, tapi kita nggak masuk ke gapura candi, ya.
      Awalnya karena sudah siang, mau ke tempat biasa untuk sekedar ngobrol. Tapi ternyata, kita diajak ke Bukit Bantir.
      Jalan ke sana sudah beraspal, tapi jalannya menanjak (yaiyalah namanya juga mau ke bukit). Hal yang paling nggak enak adalah, waktu di pasar jimbaran sampai ke daerah bandungan, jalanannya padat. Nah, ini naik motor aja udah badmood gitu kan, mikir mau nyelip dari sisi mana. Apalagi kalau naik mobil, duuuh. Kalau saran saya, sih, lebih baik naik motor, karena selain bisa nyelip-nyelip, juga bisa menikmati udara pegunungan (maklum lah ya, Semarang panas). Tapi, kalau memang nggak ada alternatif lain selain mobil, bolehlah. Cuma saran aja pake motor.
      Selain menanjak juga jalannya menukik (?) tapi nggak tajam, kok. Sampai di lokasi, kita diarahin tukang parkir untuk markirin motor. Bayangan saya di rumah, ketika sampai parkiran, kita sudah sampai di tempat.
      Ternyata.....
      Dari parkiran motor, kita masih harus naik dengan berjalan kaki, mendaki bukit. Sempat di tengah jalan, teman saya nggak kuat dan minta turun. Yaaahh....
           
      Tapi akhirnya kita mutusin buat istirahat di bawah pohon besar beberapa menit. Lalu lanjut perjalanan lagi, kalau ngap, istirahat lagi, begitu seterusnya hihi.
      Dari perjalanan menuju puncak bukit, kita banyak ngelewatin tulisan-tulisan dan juga beberapa spot yang mungkin dianggap “hits” sama orang-orang.
           
      Sampailah di atas bukit. Amazeeee seumur-umur saya belum pernah naik bukit wkwkwk. Pemandangannya bagus, banyak yang diriin tenda di sana, katanya juga biasa buat kemah. Yah, kita cuma nikmatin bentar aja. Bukan nikmatin, sih, lebih tepatnya numpang duduk, numpang istirahat, kita bawa 6 air mineral dan itu habis semua saking keringnya kerongkongan hahaha.
       
       

      Saatnya turun ke bawah, di tengah perjalanan yang masih mayan jauh, hujaaaaaannnn ya Allah pengen nangis jadinya hahaha. Kita neduh di salah satu tempat kayak gazebo gitu, memang sengaja disediain karena saya lihat ada beberapa di sana, walaupun udah basah kuyup karena semua tempat yang buat neduh udah dipenuhi sama pengunjung lain. Hal yang saya nggak suka habis hujan dan posisi di atas bukit adalah, jalannya jadi licin, susah buat jalan, takut kepleset, dan kaki harus bener-bener bisa ngerem.
       
      Tiket parkir : Rp 2.000,-
      Tiket masuk : Rp 5.000,-
       
      -Sekian-
      Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
    • By epinami
      Hai,

      sebenernya trip ini udah sejak April kemarin, tapi karena tugas negara dan gw harus berpindah-pindah tempat beberapa bulan terakhir, jadi baru sempat bikin field report-nya.
      Langsung aja kali yaaa... Berikut adalah highlight itinerary kemarin (Part 1 - Selcuk, Pamukkale, Cappadocia, nanti yang Istanbul akan dibahas di Part 2):
      Day 0  21 April 2017 CGK-KUL
      Day 1  22 April 2017 KUL-IST
                                           IST-ADB (Izmir)
                                           Izmir-Selcuk (Urkmez Hotel)
      Day 2  23 April 2017 Ephesus Archeological Museum
                                           Celsus Library
                                           Sirince
                                           Isa Bey Mosque
                                           St. John's Basilica
                                           Selcuk Pidecisi (makan pide)
      Day 3  24 April 2017 Selcuk-Denizli
                                           Denizli-Pamukkale
                                           Pamukkale Traverten
                                           Denizli-Goreme
      Day 4 25 April 2017 Goreme Otobus terminal-Cozy Villa Cappadocia
                                          Uchisar Castle
                                          Huzur Pide Salonu (makan pide)
      Day 5 26 April 2017 Hot Air Ballon
                                          Red Tour Cappadocia
                                          Sunset
       
      21 April 2017
      Gw berangkat dari Bandara Soetta (bareng Mba Nesa) pakai AA ke KLIA2 (lagi-lagi dapat gate E4) pukul 18.55. Awalnya sempat takut delay, karena flight sebelumnya yang ke Singapore kena delay hampir 2 jam, kan berabe kalo kita yang ke KL ikutan delay. Bayangan ribetnya ambil bagasi yang biasanya lama, pindah dari KLIA2 ke Main Terminal (KLIA1), belum antrian imigrasinya. Tapi alhamdulillah semuanya lancar. Sampai di KLIA2 pukul 22.00 waktu setempat, imigrasi lancar, antriannya pendek kok (mungkin karena memang sudah malam), bagasi juga cepet. Setelah ambil bagasi kita langsung cari stasiun kereta untuk transfer ke KLIA1, letaknya setelah dari baggage claim ke arah luar ikutin jalan aja terus, kemudian belok kanan (perhatikan baik-baik papan petunjuk, nggak susah kok nemunya) nanti gate dan loket tiketnya ada di situ. Setelah bayar RM2, kita masuk dan turun pakai eskalator. Di bawah akan ada dua jalur (KLIA Transit dan KLIA Ekspres), karena kita cuma mau ke KLIA1 naik yang mana aja sama. Jarak tempuh antar dua terminal ini nggak sampai 5 menit.
      ==================================================================================================================================
      22 April 2017

      Dari Main Terminal, kami lanjut check-in di counter Etihad. Semua lancar, paling diledek bapak2 petugas counter karena kami pakai E-visa. Nggak kebanyakan ba-bi-bu, kami langsung masuk imigrasi dan nunggu pesawat di boarding room.
       
      Perjalanan ke Atarurk total flight-nya sekitar 12 jam (7 jam Kuala Lumpu-Abu Dhabi, dan 5 jam Abu Dhabi-Istanbul), ditambah 3 jam transit.




      Kita sampai di bandara Ataturk tengah hari dengan mata ngantuk.

      Sampai di imigrasi...amburadul
      Antrian ga jelas, tapi ada petugas yang ngatur kita masuk loket berapa. Tapi imigrasi di Ataturk ini relatif lancar kok.
      Dan tiba-tiba ada yang manggil kita sambil nanya "Orang Indonesia ya?" 
      Ternyata itu Mba Ika yang janjian sama kita untuk ketemu di Istanbul. Katanya karena kita keliatan beda di antara yang lain makanya dia langsung ngenalin kita. Hahaha...
      Setelah ambil bagasi, kita cari ATM, karena sesungguhnya gw ga bawa uang cash Lira sepeser pun! Susah nyari money changer di Jakarta yang punya Lira. Ternyata bisa kok, dengan rate yang fair dari bank provider ATM kita dan biaya tarik tunai debit 25,000 IDR untuk sekali tarik. Gw sendiri pakai BNI, Mba Nesa dan Mba Ika pakai Mandiri.
      Lanjuuut kita keluar International Terminal, gw langsung ambil wi-fi pocket dari All Day Wifi (60USD untuk 10hari), bisa dipesan di mari: https://alldaywifi.com
      Kemudian kita lurus ke Domestic Terminal (keluar pintu belok kiri) untuk langsung melanjutkan perjalanan ke Izmir. Dipikir-pikir capek juga itu, hampir 24 jam sejak meninggalkan Jakarta.
      Dari Istanbul ke Izmir, kita pakai Pegasus Airlines (web-nya bisa di-cek di sini https://www.flypgs.com/en/). Sebenarnya banyak pilihan maskapai lain juga, tapi yang harganya terjangkau menurut gw bisa pilih antara Pegasus Airlines ini atau Onu Air. Dari Istanbul ke Izmir kita dapat harga 13GBP atau sekitar 190,000IDR (muraaah banget kaaan). Pesawat kita pun on time, take off pukul 16.40 dan landing 17.45 di bandara Adnan Menderes, Izmir. 


       

       
      Dari bandara (atau dalam bahasa Turki: havalimani), kita lanjut naik kereta menuju Selcuk. Stasiun kereta letaknya ada di seberang bandara, kita beli tiket kereta ke Selcuk seharga 5TYR dengan lama perjalanan sekitar 45menit.


      Awalnya kita bingung harus naik kereta yang mana, sampai akhirnya ada kakek-kakek yang kayaknya kasihan liat kita kebingungan dan kebetulan tujuan kita sama, jadi beliau nemenin kita sampai kereta tujuan akhir Denizli (kereta ini yang lewat Selcuk Gari; Gari artinya stasiun) ini lewat. Di dalam kereta ternyata cukup penuh, jadi kita duduk misah-misah.

      Gw sendiri duduk di sebelah bapak-bapak sama anaknya. Terharu banget waktu di tengah jalan si anak cowok yang masih balita ini ngasi kuenya.

      Sampai di stasiun Selcuk, hari mulai gelap (sekitar pukul 20.00 waktu itu), si kakek bahkan nganterin kita ke pintu hostel yang untungnya gak sampai 5menit jalan kaki dari stasiun. Kita menginap di Urkmez Hostel, dan disambut abang-abang resepsionis yang gantengnya ga sopan (maap ga berani ambil fotonya, belakangan kita baru tahu kalau ternyata dia masih SMA dan lagi magang di situ).
      Kita dapat kamar di lantai 3, dan ternyata hostel kita persis di depan bangunan Selcuk Efes Kent Bellegi dan semacam alun-alun pusat kotanya.



      Kita udah ga kuat ngapa-ngapain, setelah mandi dan bongkar bawaan masing-masing, kita bertiga langsung ambruk di kasur.
      ==================================================================================================================================
      23 April 2017
      Paginya, selain disuguhi sarapan, kita juga disuguhi pemandangan luar biasa dari ruang makan hostel yang terletak di lantai 6. Dari segala macam makanan yang disediakan, gw cuma berani makan kentang, keju, telur, dan buah-buahannya.



      Perut kenyang, kita langsung ke resepsionis untuk menanyakan taksi ke Celsus Library, karena dari hasil riset untuk sampai di pintu masuk yang di atas (supaya nggak bolak balik), lebih baik berangkat pakai taksi, pulangnya baru naik dolmus (sejenis angkot di sana) saat keluar pintu yang di bawah. Ternyata di resepsionis ada tiga mahasiswa asal Taiwan yang kuliah di Turki, juga sedang menunggu taksi ke arah Celsus Library. Akhirnya, kita bertiga nebeng mereka deh, lumayan biaya taksi 20TYR jadi bisa dibagi 6. Perjalanan dari pusat kota ke Ephesus paling cuma 10 menit.

      Di pintu masuk kita disambut deretan toko souvernir dan... puluhan kucing. Banyak banget kucing mondar-mandir di sini. Gw pun ngantri tiket untuk kita bertiga, sementara Mba Ika dan Mba Nesa foto-foto di pintu masuk. Harga tiket masuk Ephesus Archeological Site ini (termasuk si Celsus Library adalah 40TYR). Satu lagi yang gw sendiri kesel dan bingung: pelayanan di loket pembelian tiket ini lamanyaaaaa minta ampun (loket di tempat wisata di mana pun di Turki lho, tadinya gw kira di Ephesus ini aja, tapi bahkan nantinya di Istanbul juga begitu). Tapi mau beli Museum Pass pun masih lebih mahal dari ngeteng (kalau untuk area Ephesus dan sekitarnya), jadi yasudahlah.


      Setelah masuk gate, kita langsung disambut reruntuhan (yang mana gw sendiri nggak bisa bedain, ini lebih ke Yunani atau Romawi), dan...amphitheater. Kita foto-foto di sini, bahkan ketemu rombongan keluarga dari Indonesia yang sedang mengunjungi saudaranya yang menetap di Turki.



      Dari amphitheater ini bisa kelihatan jalan ke bawah yang ujungnya adalah Celsus Library. Jadi, setengah jam di sekitar amphitheater, kita melanjutkan foto di sepanjang 100meter jalanan yang masih juga diisi reruntuhan, dan berakhir di Celsus Library. Kita benar-benar takjub dengan arsitekturnya dan pemandangan bukit-bukit hijau di sekelilingnya juga nggak kalah bikin melongo. Jadi, sebelum kita keluar lewat jalan yang dikeliling pohon-pohon rindang, ternyata di sana ada dua amphitheater (yang di dekat pintu keluar bawah, amphitheater-nya lebih besar).









      Sebelum tengah hari kita harus kembali ke pusat kota, karena ingin mengunjungi Sirince. Rencana naik dolmus kembali ke kota pun gagal karena kita bingung naik dolmus yang mana, akhirnya kita putuskan naik taksi lagi ke terminal Selcuk (Selcuk Otogari), tarifnya sama: 20TYR.

      Turun di depan terminal Selcuk, kita ditawari para supir untuk naik dolmus ke berbagai macam jurusan. Pas gw bilang "Selcuk" salah satu dari mereka langsung menggiring kita untuk naik ke dolmus dengan tulisan Sirince di kaca depannya. Tarif dolmus dari Selcuk ke Sirince: 3.5TYR/orang. Nantinya kita akan diturunkan di tengah-tengah pasar di Sirince ini.



      Gw sendiri kurang tahu sebenernya Sirince ini seluas apa, karena kita cuma jalan-jalan di pasarnya aja. Jualannya macam-macam, dari souvernir, buah-buahan, sayuran, bunga, baju, sabun, body lotion, dan berbagai macam kafe.


      Kita bertiga ngiler waktu lihat ada yang jual buah strawberry yang gedhe-gedhe, jadilah kita patungan beli sekilo dan harganya cuma 6TYR (24rebu rupiah!!! strawberry? sekilo? manis dan gedhe-gedhe banget pula?!).

      Buat oleh-oleh gw pun beli beberapa sabun handmade dan body lotion yang terbuat dari extract buah zaitun (zaitun ini ga pernah ketinggalan kalo kita makan di manapun di Turki). Harganya per buah cuma 2TYR, borooong dah!
      Puas foto-foto dan belanja, kita naik dolmus untuk kembali ke Selcuk. Kali ini isi dolmusnya cuma kita bertiga, jadi gw sama mba Nesa pede aja makan bekal nasi pake lauk gepuk daging sapi di dalam dolmus. Sampai saat itu, kita masih menyimpan uangnya buat makan malam aja, makan siang gausah keluar duit dulu.

      Tujuan kita selanjutnya adalah Ephesus Archeological Museum, dengan harga tiket masuk 10TYR. Isi museum ini sebagian besar adalah pindahan dari Ephesus Archeological Site (mungkin diamankan biar ga diambil atau dirusak orang). Di dekat museum ini ada deretan restoran yang menjual Pide (pizza ala Turki) dan sederet toko souvernir. Gw sempat beli gelang (harganya 3TYR) dan beberapa bookmar (1TYR/pcs).




      Kemudian kita lanjut jalan kaki ke Isa Bey Mosque.
      Di Isa Bey Mosque ini masih berfungsi sebagai masjid. Tadinya Mba Nesa mau nyoba sholat di situ, tapi karena gw sama Mba Ika gak mau ikutan (abis ribet tepat wudlu-nya, dan gw ngerasa awkward diliatin orang-orang), akhirnya dia gajadi. Setelah cuma numpang foto-foto sebentar di sini, kita lanjut ke St John's Basilica yang nggak terlalu jauh dari situ.






      Tiket masuk St John's Basilica: 10TYR. Suasananya masih mirip kayak di Celsus Library, tapi jauh lebih sepi. Sepiii bangetttt.





      Gw memutuskan buat naik sampai ke atas, ke dekat benteng-bentengnya, tapi Mba Nesa dan Mba Ika ngeluh capek jadi mereka milih nunggu di bawah. Ternyata memang bikin megap-megap buat nyampe ke atas, tapi dibayar lunas sama pemandangannya. Terus tiba-tiba Mba Ika nongol, ternyata dia pengen liat juga pemandangan kota Selcuk dari atas.

      Pas kita turun, ternyata Mba Nesa udah dapet kenalan cowok lokal (gw lupa namanya), mungkin dia kesepian ditinggal gw sama Mba Ika naik sampai ke atas. Kita berdua cuma sempat ngobrol sebentar sebelum kembali ke hostel berjalan kaki.



      Gw suka banget sama tata kota Selcuk ini, rapiii banget. Nyaman deh buat jalan kaki, apalagi dengan pemandangan di sekelilingnya.
      Kita memutuskan buat istirahat di hotel sebentar sebelum malamnya kita berencana makan pide di restoran dekat museum yang gw sebut tadi, namanya Selcuk Pidecisi (gw dapet info dari tripadvisor). Dan review-nya benar; harganya murah, pide-nya enak, pelayanannya ramah banget, bahkan kita dikasih bonus semacam kue kacang (kalau gw bilang, rasanya mirip ting-ting khas kita). Sejujurnya gw benci banget sama makanan yang namanya pizza, tapi buat pide ini pengecualian deh. Ini enak banget, karena adonannya lebih mirip tortilla, jadi bukan roti tebel kayak pizza gitu.

      Total 2 pide daging ukuran besar (harusnya cukup buat 4 orang), teh, kopi, air mineral: 28TYR
      Kita pun balik ke hostel setengah lari-lari karena kedinginan, kemudian re-packing untuk besoknya lanjut ke Pamukkale, Denizli.
      ==================================================================================================================================
      24 April 2017
      Pukul 08.00 kita udah mulai sarapan karena ngejar kereta jam 09.00. Catatan: kereta api di sini masih kayak di Indonesia, ngaret. Dari stasiun Selcuk harusnya kita berangkat jam 09.10, tapi kereta baru datang sekitan 09.30. Ditambah waktu tempuh ke Denizli 3 jam, kita sampai pukul 12.30. Harga tiket kereta Selcuk-Denizli: 16.5TYR/orang.



      Dari stasiun Denizli ke terminal Denizli, kita harus nyebrang dulu dan jalan kaki sekitar 300meter.




       
      Di terminal ini, pertama kita taruh koper di tempat penitipan barang dengan tarif 5TYR/bag. Tempat penitipan koper ini ada di lower ground, satu lantai dengan terminal dolmus (terminal bus besar ada di lantai ground). Enteng sudah bawaan kita, dan bersiap lanjut naik dolmus ke Pamukkale.

      Dari terminal Denizli ini kita naik dolmus ke North Entrance (bilang aja ke supirnya) dengan tarif 4TYR.

      Sampai di North Entrance, lanjut aja ke dalam terus nanti akan ketemu loket penjualan tiket masuk). Harga tiket masuk: 35TYR.






      Setelah beli tiket, kita masuk gate dan kemudian di situ ada dolmus lagi (ini shuttle buat yang males jalan jauh ke travertine-nya, itu lho si Cotton Castle yang tersohor itu). Sayangnya nggak gratis, tarifnya 3TYR. Shuttle ini akan berhenti di depan Ancient Pool.


      Kita bertiga memutuskan buat makan siang dulu di dalam Ancient Pool ini. Harganya lumayan, gw menghabiskan 19TYR untuk burger+french fries, yang gw makan sambil nontonin  bule-bule berenang.


      Perut kenyang, semangat deh kita jalan ke Travertenleri. Gw langsung melongo waktu ngeliat pemandangan serba putih dari kejauhan. Kita harus copot sepatu kalau mau turun ke traverten ini. Awalnya ragu-ragu takut kepleset, tapi ternyata permukaannya keset (tips: dasar yang warna putih teksturnya keset, jadi nggak akan kepleset; justru hindari dasar yang warna cokelat, itu licin, kayaknya si itu lumut)

      Kayaknya ada satu jam kita di situ, bener-bener terpesona oleh si Cotton Castle. Tapi di sini mataharinya terik banget, jangan lupa pakai sunblock. Rasanya terik (matahari), tapi dingin (angin), tapi anget (waktu kaki kita berendam di kolamnya), campur-campur deh...
      Sudah puas, kita kembali ke terminal Denizli dengan rute yang sama dengan saat berangkat. Gw nggak berani bereksperimen nyari jalan lain, karena kita udah punya tiket bus ke terminal Goreme (Cappadocia), kan nggak lucu kalau sampai ketinggalan. Dan untung banget kita masih agak sore sampai di terminal Denizli lagi, jadi gw sama Mba Ika memutuskan buat jalan-jalan di sekitar terminal (Mba Nesa nggak mau ikut, capek katanya).

      Malamnya, kita menunggu bus ke Goreme di peron 14. Bus-nya sendiri kita pakai dari agen Suha, harga tiketnya 60TYR (bisa cek di mari: http://www.suhaturizm.com.tr/). Banyak kok pilihan bus menuju Goreme (ada Metro, Kamilkoc, Pamukkale, dll). Di perjalanan, kita diberi snack berupa kue bolu dan ditawari minum 2x (malam saat mulai berangkat, dan pagi saat hampir sampai). Waktu tempuh Denizli-Goreme ini hampir 10jam, lumayan bikin pantat tepos.



      ==================================================================================================================================
      25 April 2017
      Jadi, kita sampai di terminal Goreme pukul 08.00 dan langsung disambut oleh Yasar, si empunya guesthouse yang akan kita tempati selama 2 malam di Cappadocia. Kaget juga si Yasar ini lumayan lancar bahasa Indonesia, yang ternyata dia pernah kuliah setahun di Jakarta. Kita dijemput dari terminal pakai mobil pribadi dia, gratissss (ya ampuuuun, baik bangettttt). 
      Sampai di rumahnya (yang awalnya gw heran, kok kayak rumah-rumah di drama korea, padahal ini kan di Turki), kamar belum siap (karena kita memang kepagian), jadi kita istirahat dulu di living room yang cozy banget. Dan muncul deh bininya Yasar, namanya Eva yang ternyata orang Korea. Ooookeeee, terjawab sudah kenapa ini rumah interior & eskteriornya kayak di drakor-drakor yang sering ditonton temen-temen kantor.


      Namanya guest house-nya: Cozy Villa Cappadocia. Di booking.com ada kok, atau mau hubungi langsung si Yasar bisa ke nomer WA berikut: +905437681309, dia akan meladeni dengan sangaaaaatttt ramah.

      Kita bertiga dapat dua kamar, Mba Ika+Mba Nesa satu kamar, gw sendirian dapat kamar loteng yang lucu banget macem di film-film (meskipun kamar mandinya di luar), tapi pengalaman tidur di kamar loteng gitu bener-bener unik.


      Setelah istirahat dan bongkar barang bawaan, kita bertiga berangkat ke Uchisar Castle yang masih seperjalanan kaki. Kawasan Uchisar ini nggak seramai Selcuk. Jalanannya lebih lebar tapi jarang ada mobil lewat .

      Kita foto-foto aja di sekitar Uchisar, dan cuma gw yang masuk ke dalam castle-nya dan naik sampai ke atas (yang lain ga mau, capek katanya). Emang megap-megap si pas sampai di puncak. Harga tiket masuknya 7TYR.


      Mba Ika & Mba Nesa menunggu gw dengan setia di bawah. Setelah gw turun, kita beli oleh-oleh tempelan kulkas di sekitar castle. Kemudian kita makan pide (lagi, ini jadi favorit gw banget selama di sana) di restoran yang namanya Huzur Pide Salonu. Kita diantar pake mobilnya si Yasar (di mobil ada anaknya, namanya Cinar, ngguanteng banget campuran Turki+Korea gitu), dia pun bilang ke yang punya resto kalo kita saudaranya, mungkin biar dilayani dengan baik atau dikasih diskon kali ya?


      Untuk 2 porsi besar pide dan 3 jenis minuman totalnya 38TYR. 
      Sisa hari kita habiskan dengan tiduuuuurrr, siap-siap besok subuh naik balon.
      ==================================================================================================================================
      26 April 2017
      Gw udah bangun dari pukul 3 pagi. Mandi dan siap-siap segala macem, tinggal nunggu subuh dan dijemput.

      Dan gilaaak luar biasa itu dinginnya subuh-subuh gitu. Gw gabisa diem waktu di tanah terbuka nunggu naik balon, kalau diem bawaannya menggigil. Si Yasar sampai meminjamkan syal-nya ke Mba Nesa, karena dia yang paling kedinginan (bener2 full service deh ni tuan rumah)
      Di lokasi disediakan easy breakfast macam kopi, teh, dan berbagai macam roti. Kita juga bayar tiket naik hot air balloon-nya di situ sebesar 80EUR dan akan dikasih bon tanda terima gitu.

      Sekitar pukul 5 akhirnya kita naik balon. Gw sempet deg-degan karena sejujurnya gw orang yang takut ketinggian (banget, biasanya kaki gemeteran dan bawaannya kayak ada hasrat pengen loncat kalo pas lagi di ketinggian gitu, entah kenapa).

      Tapi gw juga nggak tau kenapa, rasanya biasa aja pas balon-nya mulai take off. Beneran deh, take off-nya smooth banget, pas udah di atas juga gw ngerasa biasa aja, terpesona sama pemandangannya kali ya...
      Oh iya, di dalem balon dibagi 4 sekat, satu sekat isi 4 orang, jadi total 16 orang dalam satu balon. 



      Dalam satu balon ini kita ketemu dua orang Indonesia lain, namanya Rere dan Eka. Jadi pede dong minta-minta difotoin 
      Total penerbangan 1-1.5jam, dan ketika mendarat (justru ternyata proses landing ini yg bikin deg-degan), kita dikasih celebration (sok-sokan buka botol wine gitu deeh) dan dikasih medali.

      Pulang dari naik balon, kita lanjut ikut tour. Karena di Cappadocia ini hampir nggak ada kendaraan umum, jadi pilihannya ya sewa mobil atau ikut tour.
      Kita bertiga memilih ikut Red Tour (selain itu ada Green, Blue, dan Yellow yang biasanya dimulai dari pukul 09.00-09.30 sampai sore). Red Tour ini sendiri itinerary-nya adalah sebagai berikut: Uchisar Panorama, Goreme Open Air Museum, Cavusin Village, Avanos, Pasabag Monks Valley, Devrent Valley, Urgup Fairy Chimney, dan Avanos Pottery Workshop.
      Jeleknya gw adalah kurang memperhatikan apa yg dikasih tahu sama tour guide kalo lagi ikut tour gini, jadiii gw sendiri lupa foto ini lagi di spot yang mana...gomeeen

      Mba Nesa dan Mba Ika pun tergeletak di kamar usai tour (iyalah, udah bangun dari jam 4). Tapi entah dapat energi dari mana, gw pengen ikut rombongan 14 orang dari Indonesia yang baru datang sore itu. Mereka mau liat sunset katanya. 
      Hajarr bleeh!!! (modal SKSD, tapi yang namanya sama-sama jauh dari rumah, ketemu sodara setanah air biarpun baru kenal rasanya kok kayak udah kenal lama ya?)

      ==================================================================================================================================
      27 April 2017
      Hari ini kita akan balik ke Istanbul (kali ini ke Sabiha Gokcen) pake Pegasus lagi, penerbangan pukul 13.05. Jadi kita minta shuttle yang 10.00 untuk diantar ke bandara Nevsehir (karena letak bandara militer ini cukup jauh, jadinya nggak mungkin kita minta tolong Yasar untuk anterin lagi). Tarif shuttle ke bandara Nevsehir adal TYR25/orang.
      Tapi sebelumnya kita diantar Eva untuk beli oleh2 khas Cappadocia di toko langganan dia. Lumayan ngeborong juga kita di sana.


      Sediiih banget waktu mau pisah sama Yasar & Eva ini  
      Pengen gituuu sebulan lagi numpang di rumah mereka #ngareppppp

      Yak, lanjutan Part 2 yang Istanbul nanti gw share di lain kesempatan ya
      Owari...
    • By Endar
      Flixbus dari Paris parkir dengan sempurna di area Sihlquai, dekat Zurich Central Station. Pagi itu udara masih dingin. Bagi orang Indonesia yang terbiasa dengan iklim tropis, udara dingin di Carparkplatz Sihlquai tetap menusuk tulang walaupun sudah memakai jaket tebal. Padahal sudah bulan Mei.
      Zurich, kota terbesar di Swiss yang berada di tepi danau Zurich dan dekat dengan pegunungan Alpen menjadikan Zurich kota yang memiliki panorama yang menakjubkan. Tidak heran dengan kondisi ekonomi, geografi dan tentunya fasilitas yang ada, Zurich dinobatkan menjadi kota dengan kualitas hidup terbaik di dunia tahun 2006 dan 2007.
      Satu hari di Zurich tidak menyurutkan semangat untuk menjelajah kota ini. Dengan waktu yang sempit maka hal yang dapat dilakukan adalah city tour. Banyak paket yang ditawarkan dengan berbagai variasi waktu, fasilitas dan tujuan. Transportasi yang digunakan untuk city tour adalah trolley wisata dengan design klasik ditunjang dengan audio dalam delapan bahasa. Ada Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Portugis, Rusia dan Spanyol.  Dalam waktu kurang lebih dua jam dengan biaya 35 – 40 franc, trolley akan melewati area bisnis, Bahnhofstrasse yang menjadi museum penting di Zurich, sudut kota tua Zurich, Fraumunster Church yang konon mulai dibangun tahun 1100 namun baru terlihat di abad 15 dan area perkotaan lainnya.
       

      Perjalanan city tour berhenti dua kali. Biasanya berhenti di area tepi danau Zurich di kawassan dermaga publik. Kedua di jalan Stadthausquai. Terdapat fasilitas toilet umum di setiap tempat pemberhentian, tempat makan atau penjualan souvenir. Di seberang jalan Stadthausquai dengan melewati jembatan di atas sungai Limmat terdapat jalan Limmatuquai yang banyak menjual souvernir di kios-kios kecil. Kawasan ini juga merupakan pusat bisnis dengan banyak bank, toko-toko eksklusif, restaurant dan pusat perbelanjaan.
      Bila tidak puas dengan city tour, terdapat tour dengan kapal pesiar yang akan berlayar di danau Zurich. Dengan kecantikannya, danau Zurich begitu menjadi daya pikat tersendiri. Tata kota dan pemanfaatan danau yang baik menambah nilai plus untuk kota Zurich. Di seputaran danau banyak terdapat pemukian yang menjadikan danau Zurich lebih hidup.  Pemanfaatan danau Zurich sebagai tempat berolahraga air seperti perahu layar, kano  didukung fasilitas yang memadai.
       

      Transportasi di Zurich sangatlah mudah. Banyak kereta dan trem yang menjangkau hampir seluruh sudut kota. Bagi yang tinggal di Zurich dalam waktu yang singkat terdapat ZurichCARD yang merupakan paket transportasi trem, bus, kapal, kereta api dan sarana transportasi lainnya. Terdapat juga potongan harga atau bahkan tiket gratis bagi yang memiliki ZurichCARD. Namun perlu diketahui  di Zurich berlaku zona tariff sehingga tidak perlu membeli paket pada zona yang tidak dilalui. Stasiun Hauptbahnhof  (Zurich HB) menjadi pintu gerbang jika kita menggunakan kereta. Stasiun terbesar di Swiss yang juga menjadi salah satu stasiun tersibuk di dunia ini sangat lengkap. Sudah seperti pusat perbelanjaan, hampir semua kebutuhan dapat ditemukan disini. Pada waktu tertentu sering diadakan bazar makanan yang menual street food dengan harga miring.
       

      Biaya hidup di Zurich termasuk tinggi dibanding kota-kota besar lainnya di Eropa. Dengan mata uang Franc yang memiliki nilai berbeda dengan Euro, harga-harga makanan di Zurich bisa 1.5 kali lipat jika di rupiahkan. Untuk akomodasi juga termasuk tinggi, harga penginapan super standar berkisar IDR 500.000 belum termasuk sarapan.
      Perlu kejelian dalam menyusun itinerary jika memasuki Zurich ke salah satu kota tujuan. Yang menyukai wisata kota dengan suasana yang sepi dan nyaman, Zurich dapat menjadi pilihan. Namun bagi yang menyukai suasana alam, Zurich dapat menjadi trip satu hari yang berkesan.
       



    • By Endar
      Berkunjung ke Raja Ampat sudah menjadi impian banyak orang. Alam yang indah dengan pemandangan menakjubkan dari atas hingga bawah lautnya menjadikan Raja Ampat surga tersendiri bagi para traveler, diver dan juga photographer alam.
      Dengan gugusuan kepulauan di sebelah barat Kepala Burung Pulau Papua, Raja Ampat memiliki banyak pulau yang dapat dijadikan tempat menginap bila berkunjung kesana. Salah satunya pulau Arborek. Pulau kecil nan cantik ini  dapat ditempuh  kurang lebih satu jam dari Waisai, ibukota Raja Ampat.
      Banyak homestay atau penginapan di Arborek yang hampir semuanya pondok kayu beratapkan daun rumbia. Sebuah konsep ramah lingkungan yang menyatu dengan alam. Bahkan, beberapa homestay memberikan pengalaman tinggal di atas air. Kamar di homestay hanya terdapat kasur dan kelambu. Tidak ada kamar mandi privat, semuanya terpisah dan digunakan bersama-sama.

      Fasilitas di pulau Arborek sudah cukup memadai. Listrik menyala dari pukul enam sore hingga enam pagi, cukup untuk mengisi daya gadget-gadget kebutuhan traveling. Air sedikit agak asin dan tidak ada sumber air bersih disini tapi dapat digunakan untuk MCK.  Untuk sinyal agak sulit, hanya dapat menggunakan layanan SMS atau telepon dan itu pun harus berada di area dermaga jika ingin sinyal yang kuat.
      Waktu saya kesana terdapat dua dermaga. Satu lagi ditutup karena sepertinya dipergunakan khusus untuk kebutuhan salah satu homestay di Arborek. Jika pergi sendiri jangan lupa untuk mengisi buku tamu dan membaca dengan jelas aturan-aturan saat berkunjung kesini. Salah satunya,  kita tidak boleh melompat dari atas jetty, bahasa warga Arborek menyebut dermaga,  jika ingin snorkeling di sekitar dermaga Arborek.

      Menikmati pesona bawah laut di Arborek menjadi hal yang istimewa. Saat boat kita bersandar di dermaga, kita bisa melihat ikan-ikan langsung dari atas dermaga. Tentunya, air yang jernih menambah rasa tidak sabar  untuk masuk ke air. Feasibility yang bagus menjadikan kita bisa melihat jelas ikan dan terumbu karang. Jika beruntung kita bisa bertemu dengan schooling fish yang bahkan tidak terganggu dengan kehadiran manusia. Kipas laut, lili laut atau spons laut dapat kita temukan hidup sehat di tiang-tiang dermaga. Cobalah untuk snorkeling di sore hari,  sinar matahari sore akan menambah warna biota-biota laut lebih bersinar.


      Pulau Arborek tidak terlalu luas, kita dapat menikmati pesona matahari terbit dan terbenam di pulau ini. Sayang waktu saya disana pagi hari selalu mendung jadi tidak bisa menikmati matahari terbit dengan sempurna. Namun matahari terbenamnya begitu memesona. Kita dapat dengan santainya duduk di dermaga setelah snorkeling dan menikmati matahari terbenam. Setelah matahari masuk ke peraduannya, cakrawala seolah-olah menaburkan warna-warna sihir. Biru, jingga, kuning, ungu, hitam semuanya berpadu menunjukkan indahnya karya Pencipta.

      Kearifan lokal menjadikan pulau Arborek ini begitu bersahaja. Warga Arborek sepakat untuk menjaga pulau Arborek dan perairan di sekitarnya tetap lestari. Dibuatnya dua zona Kawasan Konservasi Laut Daerah menjadi bukti bagaimana warga Arborek begitu menjaga perairan mereka. Pada zona ini siapapun dilarang mengambil hasil laut. Jika kita ingin memancing, terdapat aturan tidak tertulis yang disepakati yaitu memancing diijinkan minimal 200 meter dari pinggir pantai. Jadi jika ingin memancing silakan dengan boat atau bersama perahu nelayan sampai dengan batas yang diijinkan.

      Tertarik bermalam di Arborek dan menikmati keindahannya?  Beberapa paket tour Raja Ampat menjadikan Arborek tempat bermalam. Jika berpergian sendiri, dengan kisaran IDR 350ribu sampai IDR 450ribu per orang kita sudah dapat bermalam di Arborek ditambah tiga kali makan per hari. Selain itu kita sudah bisa menejelajah Arborek di darat dan bawah lautnya.



    • By Endar
      Dinginnya pagi kota Purwokerto dan rasa lelah karena perjalanan di  bus Tangerang – Purwokerto tidak menyurutkan antusias saya untuk mendaki atap Jawa Tengah, gunung Slamet. Dengan ketinggian 3.428 mdpl, gunung yang masih aktif ini terletak di lima kabupaten, Brebes, Banyumas, Purbalingga, Tegal dan Pemalang. Terdapat beberapa jalur untuk mendaki yang dimulai dari kabupaten-kabupaten disekitar kaki gunung Slamet. Ada Guci dan Kaliwadas yang dimulai dari Brebes, Baturraden yang dimulai dari Purwokerto dan Brambangan yang dimulai dari Purbalingga. Saya sendiri memilih jalur Brambangan karena  sudah resmi dan paling banyak direkomendasikan.
      Kondisi cuaca di basecamp Brambangan saat itu mendung dengan kabut tipis, cuaca yang tepat untuk mendaki asal saja tidak hujan. Setelah menyusun kembali keril agar lebih nyaman dibawa dan mendaftar di basecamp, saya dan teman-teman siap untuk memulai pendakian. Jam tangan saya menunjukkan pukul 10.21 pagi saat melewati gerbang pendakian gunung Slamet. Di awal pendakian, saya disambut dengan suburnya tanah vulkanis Jawa yang ditanami sayuran khas dataran tinggi oleh penduduk sekitar. Senyum dan sapa ramah penduduk yang sedang bekerja juga menjadi penyejuk. Jalur Brambangan dimulai dengan jalan perkebunan warga yang lama kelamaan menjadi jalur setapak dengan suasana hutan khas gunung. Walaupun gunung Slamet berada di Jawa Tengah, kondisi hutannya lebih mirip dengan gunung-gunung di Jawa Barat. Jika gunung-gunung di Jawa Tengah lebih banyak hutan dengan pohon-pohon pendek dan padang rumput, Slamet berbeda. Hutan disini lebih diisi dengan pohon yang besar dan rimbun dan hampir tidak ditemukan padang rumput. Saya harus lebih berhati-hati karena perjalanan sedikit agak licin dan basah  oleh hujan tadi malam sehingga jika tidak tepat melangkah dan tidak berhati-hati akan sangat mudah terpeleset.
      Mendekati pos 1, saya bertemu dengan seorang bapak yang membawa tabung gas hijau, karung berisi semangka dan bahan-bahan jualan lainnya. Tidak terbayangkan besarnya usaha bapak itu mencari rejeki membawa beban begitu berat naik dan turun gunung. Namun dengan berat yang dibawa, bapak itu tetap menjawab dengan ramah saat disapa, suatu budaya yang saya sukai saat mendaki. Tidak lama setelah itu, saya tiba di pos 1 yang terdapat banyak pondok-pondok jajanan yang menjual 
      Mendoan – olahan tempe yang digoreng dengan tepung tapi tidak sampai kering khas Purwokerto dan sekitarnya, semangka dan minuman-minuman. Jika dalam kondisi ramai pendaki seperti saat ini maka pondok-pondok di pos-pos pendakian Slamet akan diisi oleh penjual-penjual.  Harganya pun tidak terlalu mahal jika kita bandingkan dengan usaha membawa barang jualan dari bawah. Suasana ini terjadi di beberapa pos hingga pos 7. Entah karena tersihir oleh warna merah semangka dan aroma mendoan, pada setiap pos saya berhenti untuk beristirahat dan jajan.
      Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Saya hampir tiba di pos 4 menurut ucapan pendaki turun yang berpapasan dengan saya. Cuaca semakin mendung dan tidak lama setelah itu hujan datang, tidak deras. Saya bergegas menuju pos ke 4 dan memutuskan untuk bermalam disitu. Setelah tenda selesai didirikan saya beristirahat, memanjangkan kaki, melepas lelah sambil menikmati segarnya udara dan dingin hujan yang tidak terlalu deras. Setelah hujan reda saya menikmati secangkir teh hangat dan santap malam yang sederhana tapi terasa begitu nikmat. Damainya menikmati malam dengan suara serangga hutan dan batang pohon yang tertiup angin yang juga menjadi lagu pengantar tidur.

      Esok hari saya bangun pukul tiga pagi untuk melanjutkan perjalan ke puncak, masih ada empat pos lagi sebelum puncak. Saya membawa kamera, air minum dengan botol 1.5L, camilan pengganjal perut sebagai amunisi saya dan perlengkapan yang dibutuhkan agar beban tidak berat dan tidak cepat letih. Dalam perjalanan pagi itu saya tidak banyak istirahat begitu juga teman-teman lainnya. Menjelang pos 8 sudah mulai jarang pepohonan. Saya putuskan untuk menunggu matahari terbit sebelum pos 8. Setelah mendapatkan posisi nyaman, saya mempersiapkan kamera untuk mengabadikan suasana matahari terbit. Tidak beberapasihir yang mencipatkan keindahan yang menghipnotis itu muncul. Warna merah, jingga, ungu, kuning dan biru berpadu. Kota di kaki gunung Slamet yang ditutupi kabut dan jajaran gunung Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu dan Lawu menambah tegas suasana matahari terbit pagi itu. Sayang sekali awan agak tebal sehingga matahari hanya muncul sebentar lalu kembali bersembunyi di balik awan.

      Pos 8 adalah batas vegetasi. Dari pos 8 hingga puncak tidak akan ditemukan pohon-pohon hanya terdapat jalur pasir berbatu. Usaha untuk melangkah semakin besar sebanding dengan sudut kemiringan. Setelah terhenti beberapa kali, meghitung langkah satu demi satu lalu berhenti lagi, tibalah saya di puncak Slamet. Saya terduduk, bersyukur dan takjub dengan pemandangan yang begitu memesona. Ke arah barat  terlihat puncak Ciremai, ke arah timur akan terlihat deretan gunung-gunung di Jawa Tengah. Cuaca yang tadinya mendung menjadi cerah. Langit biru membalut alam menjadi batas pandangan dengan hitamnya dunia diluar bumi. Saya tidak turun ke area bibir kawah karena  perjalanan mendaki dan menurun yang cukup jauh.

      Perjalanan turun tidak semudah yang dibayangkan.  Dari puncak ke tenda tidak begitu sulit karena beban yang dibawa tidak begitu banyak. Namun setelah semua perlengkapan masuk ke keril saya harus  lebih menguatkan kaki dan menjaga keseimbangan. Saya tiba kembali di basecamp Brambangan sekitar pukul empat sore. Suasana basecamp tidak seramai kemarin. Seruput teh yang saya pesan menemani gemetarnya kaki. Saya berkata cukup untuk saat itu namun rindu muncul kembali esok harinya.
       
      Tambahan info biaya:
      - Transport Bus Tangerang-Purwokerto  vv  IDR 250.000
      - Sewa mobil Purwokerto - Brambangan vv IDR 600.000
      - SImaksi IDR 5.000 per orang
      - Logistik sesuai kebutuhan
       

    • By Apriyani Indrawati
      Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh penghuni forum jalan2.com hehe saya gabung udah setahun tapi baru buka lagi hari ini x_x
      Salam kenal untuk member baru semuanyaaa dan salam hormat untuk suhu yang ada di sini 
       
      Kembali ke judul.
      Awal bulan Juli, setelah lebaran tepatnya, saya dan keluarga jalan-jalan ke Batu, Malang, Jawa Timur. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah BNS (Batu Night Spectacular). Kami berangkat pukul 07.00 wib dari Semarang, dan sampai kira-kira pukul 19.00 wib. Karena sudah malam, akhirnya sebelum sampai penginapan, kita mampir dulu ke BNS. Awalnya nggak tahu apa itu BNS *kudet dan setelah masuk, ternyata semacam taman lampion.

       
      BNS tampak depan, tapi orang-orangnya tak nampak. Gapapaaah
      Dari depan aja udah kelihatan kan ya, banyak lampu-lampu lucu gitu.
      Untuk HTMnya per orang Rp 40.000,- untuk weekend dan Rp 30.000,- untuk weekday
      Jam buka:
      15.00 – 23.00 Senin – Kamis (Weekday)
      15.00 – 24.00 Jumat – Minggu (Weekend)



      Setelah masuk, beginilah sebagian potret tempatnya *abaikan orang-orangnya
      Lokasinya dekat dengan Jatim Park 1, Jatim Park 2, dan Museum Angkut. Mereka kayak bergerombol gituloh deket-deketan . Kalau mampir ke sana, jangan kaget dengan parkirannya semacam tempat hitz yang masih diserbu banyak pengunjung. Oya, selain lampion-lampion juga ada banyak permainan (tiket bayar sendiri, kecuali pakai tiket terusan) nggak lupa juga ada pertunjukan water dancing. Yang sayang anak, recomended deh tempatnya.  Yang lain juga boleh cobain hehe. Nggak makan banyak waktu kalau mau ke tempat-tempat itu. Tapi bagiku, jajanannya mahal-mahal wkwkw *kayakemak2rumpi* tapi udah biasa lah ya tempat wisata yang memang harga jajannya lebih mahal dari aslinya.
      Untuk lebih jelasnya, kalian bisa ke link ini http://www.batunightspectacular.co.id/
      Sekian.
      Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
       
       
    • By anna22

      Finally, FR terakhir mengenai perjalanan musim dingin di Jepang Feb 2017.
      Sewaktu menyusun itin, pertamanya ingin ke Izu, Kawazu karena sudah mulai Sakura Festival. Ini kotanya dekat dari Tokyo, sekitar 2,5 jam berkereta dan tercover JR pass. Tapi mengingat saya pulang dari Kansai Airport, kok kayaknya capek yah bolak-balik. Jadi berpikir lagi, kira-kira tempat apa yang dekat dari Osaka dan tercover JR Pass. Akhirnya terpilihlah Hiroshima dan Miyajima Island. Kenapa kesana? Pertama memang penasaran dengan kota Hiroshima yang pernah dijatohi bom atom dan adanya keterkaitan sejarah dengan Indonesa. Kalo Miyajima Island dipilih karena deket sama Hiroshima dan terkenal dengan floating tori (baca:gerbang kuil yang terlihat seperti mengapung).
      Salah satu pengalaman terbaik selama di Osaka adalah gw mendapatkan guesthouse yang oke banget hanya dengan 1500 yen/malam (female dorm). Namanya adalah Kintetsu Friendly Hostel yang dekat dengan Tennoji Subway dan JR station. Ini hostel bersih banget, modern, toilet dan shower room banyak, make up room luas dan sangat dekat dari stasiun dengan lingkungan yang nyaman karena berada di Tennoji Park dan Zoo. Sayang kurang punya waktu untuk eksplor...
      Oke back to topic, di tanggal 14 feb hari terakhir yang bertepatan dengan hari valentine (pantesan kok banyak jualan coklat yaaa di sekitaran stasiun, baru sadar haha), gw pun keluyuran sendirian ke Hiroshima dan Miyajima. Jam 6 udah keluar hostel biar lgsg menuju Shin-Osaka JR stasion dan naik kereta shinkansen pagi ke Hiroshima. Belum reserved seat karena mikirnya lgsg aja di stasiun toh cuman jalan sendiri jadi pasti ada seat lah. Dan bener aja kereta pagi itu ga rame2 amat dan lebih banyak turis asing yang rame-rame. Gw liat ada beberapa grup gitu. Bukannya geer yaaaa..tapi sepanjang jalan gw berasa diliatin karena pake jilbab dan jalan sendirian haha
      Selain naik shinkansen sebenarnya bisa juga menggunakan bus umum (seperti willer express dkk). Durasi perjalanan sekitar 1,5 jam tapi ga berasa sih. Pas nyampe Hiroshima Station (yang cukup luas juga), gw menyempatkan diri ke bagian reservasi untuk memilih tempat duduk kereta pulang. Setelah itu, langsung menuju information center buat nanya2 dan ngambil brosur. Oiya, kalo pakai JR pass, kamu bisa naik bus gratis lho untuk keliling Hiroshima. Ada dua rute, tinggal pilih mau yang mana. Pokoknya Hiroshima ga ribet lah. Kalo pakai JR pass, masuk bus dari pintu depan dan supir akan meminta kita menunjukkan jr pass kita lalu doi foto (iyaaa difoto pake pocket camera gitu).
      Destinasi pertama gw adalah Peace Memorial Park, ada beberapa hal yang bisa dilihat yaitu A-Bomb Dome. Jadi ini sisa-sisa reruntuhan salah satu gedung yang pas bom atom dijatuhkan masih berdiri sampai saat ini. Terus juga adalah Children’s peace monument, ini dibangun untuk mengenang anak-anak yang menjadi korban bom. Lanjut jalan ada Hiroshima Peace Memorial Museum. Biaya masuknya cuman 200 yen. Disini ada benda-benda peninggalan atau saksi bisu dari tragedy bom atom dan juga foto2 yang sebenarnya membuat perasaan campur aduk antara haru, sedih, dan ngeri. Serunya di beberapa bagian, ada volunteer yang kebanyakan sudah nenek2 kakek2 bertugas menjelaskan benda2 atau gambar2 yang ada disana. Di salah satu foto yang lumayan besar, saat gw membaca deskripsinya, seorang nenek volunteer bertanya “Japanase?” dan gw jawab “No…no”. Dia nanya lagi “Where are you come from?” (iya volunteer ini jago bahasa Inggris untuk sekedar menjelaskan dan bercakap2 sederhana) gw pun bilang “Indonesia”…Nenek “Oooh..Indonesia…” dan dia pun mulai menjelaskan tentang foto tersebut. Ceritanya sedih banget pokoknya dengan suara si nenek yg lirih dan tanpa sadar gw menitikkan air mata (sumpah beneran). Ini sebenarnya jadi pemikiran gw sendiri sih..pada intinya Indonesia kan bisa menyatakan kemerdekaannya saat kedua kota di Jepang yaitu Hiroshima dan Nagasaki dibom. Jepang yang sedang panik membuat pertahanan di Indonesia melemah. Peluang inilah yang diambil bangsa Indonesia untuk kuat dan berani memerdekakan diri dari penjajahan Jepang. Tapi di sisi lain, korban bom atom ini menyisakan penderitaan yang luar biasa. Meski Jepang dengan cepat bangkit dan justru menjadi salah satu Negara maju. Yaah begitulah...


      Kalo yang suka wisata sejarah, wajib deh kesini. Nah tadinya gw berencana ke Hiroshima Castle tapiiiii karena udah siang, gw memilih lanjut ke Miyajima Island. Balik lagi ke Hiroshima Station untuk menuju Miyajimaguchi dengan naik JR sanyo line selama 30 menit (tercover JR pass). Setelah sampe, jalan sedikit menuju pelabuhan untuk naik ferry selama. Kalau bingung ikuti saja orang-orang karena pasti sebagian besar akan ke Miyajima Island.  Ada dua ferry, satu yang JR, satu lagi non JR. Tentu saja gw pilih yang JR biar tercover. Harganya sih sebetulnya lumayan murah yaitu 180 yen sekali jalan. Lamanya ferry menyebrangi laut sekitar 10 menit .
      Selama ini disini, gw cuman sempet ke Itsukushima shrine dan melihat floating torii. Nah kalau lagi surut, kita bisa turun lho mendekati di gerbang kuil ini. Tapi sayang, pas gw kesana masih pasang lautnya. Apa yang gw lakukan disana menikmati pemandangan dan keluar masuk toko sama nyemil2. Ini surga jajan dan bahaya bagi pecinta jajan seperti gw hahaha… mana belom makan siang lagi. Sebenarnya masih banyak lho atraksi wisatanya di Miyajima tapi berhubung waktu terbatas dan kondisi fisik gw akibat jatoh masih belum baik, jadi gw pun memilih pulang kembali lagi ke Hiroshima Station.

      Masih ada waktu 1 jam menunggu Shinkansen kembali ke Osaka, gw pun makan sore onigiri dan lagi2 diliatin orang2 pas nunggu di ruang tunggu yang sebagian besar orang Jepang. Kayaknya jarang banget liat orang Indo atau yang pake jilbab kayak gw. Yaah gw mah cuek aja sambil ngabisin 2 biji Onigiri.
      Sehabis dari Osaka, gw lgsg ke Shinsaibashi Shopping street untuk nyari oleh2 dan juga belanja2 (hehe). Dan gw baru sadar kalo winter itu toko2 lebih cepet tutupnya jadi jam 9. Tapi ada juga sih yg 24 jam kayak Don Quixote (supermarket lengkap mirip Mustafa di Singapura) dan Matsumoto Kiyoshi (drug store lengkap). Tapi gilaaa yaa padahal udah jam 10 malam, itu di Don Quixote masih rame aja, mana gang2nya sempit banget lagi dengan orang2 belanjaannya segambreng. Padahal gw cuman beli beberapa jenis kopi aja huh..tapi yaa kapan lagi dan harganya murah kalo disini.

      Oiya gw ga sempet jalan2 di daerah namba dan dotonburi ini karena udah pernah pas tahun 2015 ke Jepang..bahkan sampe bolak balik 2 kali ke daerah ini..jadi cuman numpan lewat aja deh kali ini. Jam 11 malem pun gw baru balik menuju Hostel..udah sepiii banget dan untungnya masih dapet kereta. Begitu nyampe hostel, lgsg tepar dan tidur. Packing besok subuh aja karena udah ga sanggup hahaha..
      Yaaah sekian FR perjalanan Winter di Jepang ini…mohon maaf kalo ga seru atau kurang informatif atau fotonya2 ga bagus. Gw doakan teman2 yang niat ke Jepang semoga kesampaian dan teman2 yg ingin balik lagi ke Jepang juga tercapai hehe..
      Kalo butuh informasi bisa dm ato komen lgsg disini yaa :)
      “mata ne” (baca: sampai jumpa) ^^