Nofan

Pantai Kartini Desinasi Wisata Pantai Utara Jawa

3 posts in this topic

sunset-pantai-kartini-jepara4-by-fampictPantai Kartini adalah Pantai yang terletak di Pantai Utara Jawa, tepatnya di Desa Bulu, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara - Jawa Tengah. Pantai Kartini hanya berjarak 2 km dari pusat Kota Jepara. 

Sengaja diberi nama Pantai Kartini karena daerah tersebut merupakan daerah di mana dulu RA. Kartini tinggal. Kota Jepara merupakan tempat kelahiran tokoh emansipasi wanita yaitu RA. Kartini.

Pantai Kartini merupakan salah satu tempat wisata favorit yang terdapat di wilayah Jepara. Banyak wisatawan luar kota yang datang ke Pantai Kartini untuk menikmati keindahan yang disuguhkan oleh Sang Maha Kuasa.

Di pantai ini, terkadang diadakan berbagai macam event dan kopdar dari komunitas-komunitas tertentu.

Pantai Kartini merupakan pantai berpasir putih yang mempunyai pesona alam yang cukup indah. Di tempat ini juga terdapat Kura – kura Ocean Park (KOP) yang di dalamnya terdapat aquarium yang berisi berbagai macam ikan. Ada ikan pari, ikan kakap, ikan hiu, hingga ikan anemon dapat dijumpai di Kura - kura Ocean Park. 

Kura - kura Ocean Park merupakan bangunan dua lantai dengan beberapa wahana di dalamnya. Di lantai dua, kamu bisa menikmati film 3D. Tiket masuk ke Kura - kura Ocean Park cukup terjangkau. Cukup dengan merogoh kocek Rp 5000, kamu bisa menikmati berbagai macam wahana yang ada didalamnya.

Sanagt cocok untuk kamu yang membawa anak-anak. Di samping mengajak mereka berwisata, kamu juga dapat sekaligus mengedukasi mereka mengenai berbagai macam satwa laut. Di mana mereka akan lebih tahu, dan mencintai semua makhluk hidup yang ada disekitarnya.

Di lantai dua juga terdapat tempat untuk berfoto ria dengan background Pantai Kartini yang terlihat lebih jelas. Tetapi kamu harus siap mengantri apabila hendak berpose untuk mendapatkan gambar terbaik. karena bukan hanya kamu yang ingin eksis untuk mendapatkan hasil kenang-kenangan terbaik di Pantai Kartini.

Ketika hari libur, tentu saja antrian akan lebih banyak, karena Pantai Kartini akan dikunjungi oleh lebih banyak wisatawan, baik dari dalam, maupun dari luar kota Jepara.

Tetapi itu untuk hari kerja ya, apabila hari libur, harganya melonjak menjadi Rp 17.500/ orangnya. Hehe… naiknya signifikan sekali ya, lebih dari 200%.

Ada beberapa spot yang sangat sayang apabila dilewatkan ketika kamu menyambangi Pantai Kartini. Tepatnya di area sekitar tulisan Pantai Kartini, yang berdekatan dengan kolam renang dengan jarak tak begitu jauh dari lautan lepas.

Apabila kamu dari luar kota dan turun di Terminal Bus kota Jepara, kamu tidak perlu khawatir, karena di sana sudah ada angkutan umum yang siap mengantarkan kamu ke Pantai Kartini dengan tarif yang cukup terjangkau, yaitu hanya Rp. 4000,-.

Di sepanjang pantai, terdapat beberapa hotel yang bisa kamu jadikan tempat beristirahat. Fasilitasnya-pun tidak mengecewakan, kamu bisa istirahat di tempat yang nyaman dengan Background Pantai Kartini yang memanjakan mata.

Di Pantai Kartini kamu juga dapat menikmati matahari terbenam (sunset), di mana langit jingga berhiaskan matahari yang mulai menyembunyikan sinarnya. Lautan yang tampak tenang di sebelah barat menambah kesyahduan di kala senja.

Di pantai Kartini, kamu bisa menikmati semilir angin yang membuat suasana hati lebih rileks dan nyaman. Deburan ombak yang tidak terlalu besar kian menambah ceria.

Pantai Kartini merupakan salah satu tempat yang paling tepat apabila kamu yang ingin melakukan liburan ke tempat yang indah dengan akses yang mudah. Jangan lupa ajak orang terdekat untuk ikut menikmati keindahan Pantai Kartini yang populer di wilayah Jepara.

SUMBER

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now


  • Similar Content

    • By Mulyati Asih

      Bermain-main dengan awan. Foto: Aldani
       

      Cuaca tampak cerah ketika mobil yang membawa kami dari stasiun Poncol Semarang, memasuki basecamp Mawar jalur pendakian Gunung Ungaran. Suasana tampak sepi, hanya beberapa orang terlihat di sekitar camping ground. Hal pertama yang kami cari adalah Riyan, kami janjian di sini untuk mendaki bersama. Saya dan Abdi mengurus SIMAKSI dan membayar biaya sebesar Rp.5.000 per orang. Kebetulan basecamp sepi, masih ada waktu untuk bersih-bersih. repacking dan membagi beban logistik.
       
      Kurang lebih pukul 11.00 kami bersembilan, saya, Dwi, Muly, Nur, Tio, Anis, Dani, Abdi dan Riyan mulai meninggalkan basecamp. Kami sepakat akan berjalan santai selama pendakian, kemudian berjalan mengikuti Riyan. Pohon pinus menghiasi sepanjang jalur pendakian,  20 menit berjalan sampailah kami di pos 1. Pos disediakan untuk beristirahat, kami pun tak menyia-nyiakannya meskipun hanya untuk makan cokelat. Melanjutkan perjalanan memasuki  hutan heterogen dengan trek masih landai.
       

      Istirahat bagian dari perjalanan yang menyenangkan, melemaskan otot-otot kaki sambil tarik napas
       
      Kami sampai di pos 2, sebuah bangunan beratap seng dan beristirahat di sini. Cepat sekali untuk menemukan pos 2 pikir saya, jaraknya kurang lebih 30 menit dari pos 1. Meninggalkan pos 2, trek masih landai. Suara gemuruh air dari pipa-pipa yang terpasang di pinggir jalan menggundang perhatian saya. Sampailah kami di area terbuka, sebuah pertigaan menuju perkebunan teh. Dari landai, trek berganti mulai menanjak dan berbatu kerikil. Jalannya lebar, beberapa kendaraan motor berseliweran. Petak-petak perkebunan teh menjadikan pemandangan yang menyejukkan mata, lumayan buat menghilangkan kebosanan. Beberapa orang mendirikan tenda di sini. Kami berjalan mengikuti papan petunjuk arah menuju puncak yang terpasang di pertigaan Promasan. Saya, Muly, Dwi dan Nur sempat tertinggal rombongan karena terlalu lama berfoto di sini.
       
       
      Jalan Terjal Menuju Puncak
       
      Meninggalkan perkebunan teh, jalanan semakin menanjak. Sesekali pandangan saya masih mengarah pada hamparan pucuk-pucuk daun teh. Bonus kali ini adalah hijaunya hamparan perkebunan teh. Treknya menanjak bukan pada tanah miring, tapi kami harus menaiki tangga-tangga dari batu. Dari batu ukuran kecil hingga berukuran besar.
       
      Bukan hal mudah untuk melewati trek berbatu. Beberapa kali saya harus meraih batang pohon untuk pegangan sebelum kaki menaiki batu atau pegangan erat pada akar pohon yang menjalar. Bahkan tangan mencengkeram erat batu dan kaki mulai menaiki batu lainnya. Baru satu jam berjalan rasanya sudah ngos-ngosan, saya lihat Nur mulai keletihan. Saya mengulurkan tangan membantu Nur menaiki batu. Riyan masih setia menemani yang tertinggal sedangkan Abdi berjalan di depan diikuti yang lain.
       
      Kami masuk ke hutan rapat tapi trek masih berbatu, sepertinya trek akan berbatu sampai puncak. Tio duduk di salah satu dahan pohon yang rendah, yang lainnya mengikuti cara Tio termasuk saya. “Buat video mannequin challenge bagus nih,” kata Tio. Akhirnya tidak jadi karena tidak ada yang mau mengambil video, tiga laki-laki Riyan, Abdi dan Dani sudah jalan duluan dan kami berenam mengikutinya. Kami berpapasan dengan rombongan yang habis turun dari puncak, sepertinya mereka tidak nge-camp di atas, terlihat dari daypack yang mereka bawa.
       
      Banyak yang bilang kalau gunung Ungaran sangat cocok untuk pemula, mungkin karena hanya memiliki ketinggian 2050 mdpl. Tapi meskipun hanya memiliki ketinggian 2050 mdpl, jangan pernah anggap remeh. Treknya  yang berbatu bukanlah hal mudah untuk pendaki pemula, karena benar-benar menguras tenaga. Kebetulan kami mengajak Anis yang baru pertama kali naik gunung. “Iya, main ke pantai aja naik gunung capek,” itulah komentar Anis ketika kami tanya apa rasanya naik gunung. Beberapa kali Muly membantu Anis melewati trek terjal, meskipun sering terpeleset dan jatuh tapi Anis tampak masih bersemangat.
       

      Semakin ke puncak jalur berbatu semakin sulit. Foto: Tiolas Melati
       
      Kami sampai di area terbuka, tak ada pohon yang menghalangi pandangan mata. Dari tempat kami berdiri, panca indera saya tertuju pada dasar lembah hijau seperti savana, puncak bukit dan petak-petak rumah penduduk. Tio mengarahkan telunjuknya sambil berkata “kita jalan sejauh itu dari bawah,” sedangkan Anis hanya berkomentar “belum sampai puncak, sedikit lagi”. Angin bertiup kencang suaranya bergemuruh, kabut mulai datang dan menghalangi pandangan mata. Abdi, Riyan dan Dani sudah tidak ada di antara kami, mereka sudah melanjutkan perjalanan. Nur berjalan duluan dan kami menyusulnya.
       
      Meskipun saya sudah tahu dari beberapa artikel yang saya baca bahwa trek gunung Ungaran berbatu, tapi sungguh saya tidak mengira bahwa trek berbatu ini akan dilalui sepanjang jalur pendakian.  Bongkahan batu besar seolah-olah menghalangi dan memperlambat langkah kami. Semakin ke puncak, batu-batu yang menghadang di depan ukurannya semakin besar. Kami berjalan di antara himpitan batu-batu besar ataupun merangkak menaiki batu. Jalurnya semakin terjal karena kemiringannya pun kurang lebih 45 derajat. Tak ada pemandangan selain batu-batu yang berserakan, sedangkan di atas kepala ada batu besar dan runcing tegak berdiri. Puncak sudah ada di atas pikir saya, tapi napas semakin ngos-ngosan, energi saya sudah mulai terkuras habis.
       

      Trekking melewati jalur berbatu, rasanya lutut mau copot
       
      Tertatih-tatih kami melewati jalan terjal berbatu, Dwi dan Nur berjalan di depan. Sesekali pandangannya menoleh ke belakang menunggu kami yang berjalan semakin pelan. Sampailah kami di atas dengan selamat, pekik Allahuakbar terdengar dari suara Muly. Dia terlalu senang akhirnya bisa sampai puncak dan melewati jalan terjal berbatu.
       
       
      Kehilangan Jejak
       
      Di puncak ini pemandangan indah yang kami lihat di bawah tadi justru semakin jelas terlihat. Puncak yang memiliki area cukup luas untuk mendirikan empat sampai lima buah tenda. Sekilas pemandangan batu-batu yang berserakan di atas puncak, mengingatkan saya pada Stone Garden yang ada di Padalarang Bandung. Kemudian pandangan saya tertuju pada pergerakan awan putih yang menggumpal di bawah. Lagi-lagi kami terlalu asik, sehingga tidak menyadari akan keberadaan tiga laki-laki dalam robongan kami.
       
      Angin bertiup semakin kencang, kabutpun sudah menghalangi pandangan mata. Ada rasa kahwatir dalam diri saya karena di puncak ini tidak ada tempat berlindung. Kami berenam berjalan ke tengah, hanya ada satu tenda kuning berdiri di sana. Dan kami sudah menebak itu bukan tenda milik Abdi, Riyan ataupun Dani. Lalu di mana mereka? cepat sekali mereka berjalan. Di bawah tadi Tio melihat Dani ada di puncak ini. Wajah-wajah cemas dan kesal mulai terlihat di antara kami. Dari angin yang bertiup kencang dan kabut yang mulai menyelimuti, kini butiran air mulai menetes mengenai tubuh saya. Saya mulai menggigil, buru-buru saya keluarkan jas hujan dan mengenakannya.
       

      Berdiri di puncak sambil menikmati panorama indah awan dan perbukitan. Foto: Aldani
       
      Kami masih berdiri penuh kebingungan sambil menebak di mana mereka mendirikan tenda. Teriakan panggilan nama Dani, Abdi dan Riyan sering kami pekikkan, tapi yang dipanggil tak pernah menyaut. Tio yakin kalau mereka ada di puncak sana di balik batu,  lalu pandangan saya tertuju pada batu besar yang ada di atas. Lagi-lagi puncak ditandai dengan berdirinya batu besar. Setelah berdiri di puncak tapi masih ada puncak lagi, sedangkan fisik mulai melemah. Mungkin ini yang namanya puncak Botak, sedangkan puncak yang di atas baru puncak Ungaran.
       
      Tio mulai berjalan ke arah puncak, saya menyuruh yang lainnya untuk naik supaya kami tidak terpisah lagi. Kabut mulai tebal dan menghalangi pandangan. Saya mengikuti langkah Tio tapi baru setengah perjalanan, samar-samar Tio meneriakkan sesuatu ke arah saya. Sayang suara itu hilang terbawa angin sebelum telinga ini berhasil menangkapnya. Entahlah apa yang ingin Tio sampaikan, tak lama Tio muncul di balik batu. Tio tidak berhasil menemukan mereka, kami berbalik arah hendak turun. Dalam kondisi angin seperti ini yang kami butuhkan adalah tenda untuk berlindung, celakanya semua tenda ada pada laki-laki. Kami berpapasan dengan pendaki lain yang akan ke puncak, kepada mereka kami titip pesan siapa tau mereka bertemu dengan Riyan, Abdi dan Dani bahwa kami ada di bawah.
       

      Puncak yang dipenuhi batu.
       
      Belum jauh kami melangkah ada suara Riyan memanggil, ada perasaan lega karena tak perlu terlunta-lunta mencari tempat berlindung. Seketika itu juga Riyan dikeroyok pertanyaan “ada di mana sih kalian?” mereka ada di puncak dan sudah mendirikan tenda, syukur-syukur sudah ada teh panas dan nasi yang matang. Camping Area letaknya ada di balik tugu, Riyan membantu membawakan keril milik Anis dan Nur. Saya bergegas melangkah melewati batu-batu besar, Alhamdulillah setelah kurang lebih 5 jam berjalan melewati trek terjal berbatu, akhirnya sampai juga di tugu puncak gunung Ungaran.
       
      Di balik tugu ada rimbunan pohon, saya bisa menarik napas lega akhirnya berhasil menemukan tenda kami setelah sebelumnya saya nyasar ke tenda rombongan lain. Saya menemukan Dani dan Abdi meringkuk di dalam tenda, yaa kami kira mereka sedang masak nasi atau membuat minuman hangat. Setelah sholat Ashar dijamak Djuhur kami mulai merebus air untuk membuat minuman hangat.
       
       
      Angin Bertiup Sepanjang Malam
       
      Angin terus bertiup kencang, tak mudah untuk menyalakan kompor. Hanya trangia yang mampu bertahan dengan api besar. Sudah ada teh, kopi, susu, sereal, cokelat panas siap untuk menghangatkan badan. Riyan bilang mendirikan tenda di sini aman saat angin kencang, tapi habislah kita klo hujan. Soalnya ini lembah tempat aliran air turun.
       
      Untungnya flysheet terpasang rendah, jadi mampu menghalang angin masuk ke tenda. Tio bilang “jago nih yang pasang flysheet, tapi tidak dengan yang pasang tenda karena masih ada air yang rembes ke dalam”. Senja mulai beranjak mengejar malam, suasana berganti gelap sedangkan angin terus berhembus. Daun-daun membawa tetesan air dari kabut mengenai tenda, suara gemericiknya seperti hujan turun. Malam semakin syahdu, kami sudah sibuk menyiapkan makan malam. Dinginpun mulai menyusup menembus tulang, buru-buru jaket saya pakai sebelum badan menggigil
       
      Tio, Riyan dan Dani duduk rapat membuat formasi untuk menghalangi angin mengenai kompor, di trangia ada nasi siap menunggu matang. Muly dan Dwi mengupas bawang, sedangkan saya dan Anis mengupas labu siam. Karena Nur sedang tidak fit, makanya dia hanya rebahan di tenda. Abdi hanya melihat aktifitas kami dari tenda, akhirnya kami panggil dengan sebutan Mandor.
       
      Dani menyerah tidak kuat menahan dingin, dia buru-buru masuk tenda dan posisinya digantikan Abdi untuk menggoreng ayam. Nasi sudah matang tapi harus menunggu sayur matang, setelah sayur matang harus menunggu ayam goreng matang. Benar kata Riyan setelah semuanya matang nanti sudah dingin, ya sudahlah akhirnya kami buru-buru untuk makan lagi pula jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
       

      Siap-siap masak untuk makan malam, yang lain keletihan di dalam tenda. Foto: Aldani
       
      Malam semakin larut, kami sudah berada di dalam tenda masing-masing. Saya menyusup di antara Nur dan Dwi, meringkuk di dalam sleeping bag mencari kehangatan. Tak ada malam yang sunyi, gemuruh suara angin terus berhembus, gemericik tetesan angin terus terdengar. Saya mulai memejamkan mata, berusaha tidur untuk menghilangkan letih.
       
      Menjelang subuh saya terbangun dan tak terdengar lagi suara angin ataupun tetesan air. Suasana berganti riuh karena satu persatu dari kami mulai terbangun. Tio menawarkan untuk melihat sunrise tapi tak ada yang tertarik karena cuaca mendung.
       
      Selamat pagi, kami keluar tenda untuk menghirup udara segar. Ketika terang saya bisa melihat dengan jelas di sekeliling saya. Kami seperti berada di hutan hujan tropis, dimana pohon-pohon ditumbuhi lumut dan udaranya lembab. Seperti berada di Bukit Raya yang ada di Kalimantan.
       

      Mari berdoa semoga turun selamat, lupakan treknya karena ada view cantik di depan. Foto: Aldani
       
       
      Turun Dengan Selamat
      Pukul sembilan pagi, setelah sarapan kami mulai meninggalkan puncak. Cuaca tampak cerah, puncak tugu sudah dipenuhi rombongan laki-laki. Akhirnya kami memilih tempat lain untuk berfoto. Berdirilah di dekat tebing, maka ada gumpalan awan putih yang indah di bawah. Saya buru-buru mengabadikannya dengan smartphone yang saya bawa sebelum awan gelap datang. Cuaca memang cepat sekali berubah dan anginpun mulai bertiup kencang. Di sudut lain, terlihat puncak gunung Andong, Merbabu dan Merapi di antara gumpalan awan putih.
      Nur dan Dwi turun duluan disusul Riyan dan Abdi, saya pun tak ingin berlama-lama di sini segera beranjak untuk menyusul mereka. Saat turun sama sulitnya saat mendaki, tidak ada pilihan selain melewati jalan terjal dan berbatu. Kabut semalam menyisakan batu-batu yang basah, tanah yang becek dan licin. Terkadang saya harus duduk dulu supaya kaki bisa menyentuh dasar.
       

      harus hati-hati karena keselamatan adalah hal utama. Foto: Aldani
       
      Anis mulai kepayahan menuruni batu dengan keril yang dia bawa, akhirnya Abdi membantu untuk membawanya. Meskipun sudah berjalan tanpa beban, nyatanya Anis masih sempoyongan. Entah sudah berapa kali dia harus terpeleset dan jatuh. Kami harus mengajarinya cara mencari pijakan kaki supaya tidak terpeleset. Hujan mulai turun dengan lebat, butiran-butiran airnya mengenai wajah dan kami harus mengenakan jas hujan supaya badan tidak terlalu basah. Nur, Dwi, Abdi dan Dani sudah terlalu jauh berjalan di depan. Saya masih menemani Anis menuruni batu, sedangkan di belakang masih ada Tio, Muly dan Riyan yang berjalan santai. Saat turun kami harus bergantian dengan rombongan lain yang akan naik. 
       
      Tiga jam berjalan sampailah saya di kawasan perkebunan teh. Ada yang aneh dengan sepatu yang saya pakai, ketika saya cek aaahh ternyata sepatu ini sudah tak mampu lagi diajak berjalan jauh. Saya menggantinya dengan sandal jepit yang saya bawa. Untungnya trek sudah landai, jadi saya bisa mempercepat langkah. Sambil lari-lari kecil saya mulai meninggalkan gunung Ungaran menuju basecamp Mawar. Selamat tinggal Ungaran, semoga suatu saat bisa kembali.
       
       

      Tak pernah ada jalan menurun jika tak pernah didaki
       

      Cara Menuju Gunung Ungaran:

      Gunung Ungaran di Semarang Jawa Tengah dapat ditempuh melalui tiga jalur yaitu jalur Jimbaran atau basecamp Mawar, jalur Gedong Songo dan Jalur Medini atau Promasan. Sedangkan kami memilih jalur basecamp Mawar.

      Jika Anda berasal dari Jakarta, bisa naik kereta api tujuan stasiun Poncol atau stasiun Tawang Semarang. Cara termudah menuju basecamp Mawar adalah dengan menyewa mobil. Kami menyewa untuk pulang pergi dengan biaya Rp. 700.000 sudah termasuk supir, BBM dan tiket tol, lokasi penjemputannya di stasiun Poncol Semarang. Di stasiun Poncol sendiri banyak yang menawarkan sewa mobil, pintar-pintarlah untuk menawar.

      Alternatif lainnya dari stasiun Poncol atau Tawang menuju terminal Terboyo naik mikrolet, dari Terboyo ganti bis tujuan Ambarawa atau Salatiga mintalah turun di daerah Tegal Panas atau Rumah Sakit Ken Saras atau Pasar Babadan. Kemudian bisa memilih moda trasportasi mikrolet menuju pasar Jimbaran. Dari Pasar jimbaran ke basecamp  Mawar bisa ditempuh dengan ojek.
    • By Luxia
      Halo... Apa kabar semuaaa…???    Kemana saja melancongnya long weekend kemarin? Oh ya.. Selamat merayakan Hari Raya Idul Adha 1437H bagi yang merayakannya ya…    9-11September kemarin ini kebetulan aku punya rombongan yang nganggur dan bela-belain banget untuk mengisi waktu sibuknya dengan sedikit rekreasi meskipun dibutuhkan perjuangan dan cuti dari kantor. Moto kami “Yang Penting Happy” maka kami pilih lah traveling ke daerah Jawa Tengah, ke salah satu lokasi yang sangat sangat terkenal dan diimpikan oleh banyak local traveler maupun mancanegara. Bukan hanya tempatnya yang Indah, pemandangan lautnya yang biru tetapi juga tempat untuk beraktifitas water sport yang cukup mendukung serta penduduknya yang ramah-tamah. Yuk.. mari kita simak liputan kali ni.   Karimunjawa, ya benar, kalau orang bicara mengenai Jepara pasti langsung nyebut Furniture, memang Jepara sangat terkenal dengan hasil hutannya yaitu Pohon Jati yang banyak digunakan untuk furniture dirumah-rumah maupun di restoran-restoran, dll. Tapi itu bagi masyarakat umum, kalau bagi traveler... pasti yang teringat dan terkenang (bagi yang sudah pernah) langsung nyebut “Pulau Karimunjawa”, bagi yang belum pernah pasti ngiler-ngiler sambil menunjukkan wajah “mupeng” (alias muka pengen) pake bingitz.. hahaha.. Sama donk kek kita-kita sebelum kesana.   Karimunjawa terdiri dari 27 pulau dengan pembagian 16 pulau di Sebelah Barat dan 9 pulau di Sebelah Timur + 1 Pulau Menjangan Besar (tempat penangkaran hiu) + 1 Pulau Kemujan (tempat dimana Dewadaru Airport, airportnya Karimun Jawa, berada). Pesawat yang mendarat di Dewadaru ada Airfast, Susi Air dan Perintis Air yang berkapasitas antara 10-15 penumpang/flight dan startnya dari Semarang atau Surabaya. Sumber : Google   Sedangkan kapal ferry yang berangkat dari Pelabuhan Kartini ke Pelabuhan Karimunjawa ada 2 yaitu, Kapal Ferry Siginjai dengan waktu tempuh 5-6 jam Sumber : Google   dan Express Bahari dengan waktu tempuh 1-1,5 jam. Sumber : Google   Selain Jepara, rute terbaru bisa via Kendal ya... tapi menurut Guide kita belum recomended lah karena jalan dari semarang menuju ke Kendalnya masih belum begitu bagus. Bagi yang mau backpackeran ke sana mohon diperhatikan baik-baik ya jadwal penerbangan maupun kapal ferry nya karena memang tiap hari tidak sama dan tidak setiap hari terbang. Juga jangan lupa untuk memantau terus info dari BMKG ya, karena gelombang lautpun bisa berubah-ubah haluannya… (Ombaknya galau mungkin.. hahaha…)   Berikut share jadwal kapal penyeberangannya: Sumber : Google   Kali ini kami memilih pergi lebih awal dan balik ke Jakarta juga lebih awal dikarenakan tidak ingin berdesak-desakan dengan warga Jawa Tengah yaitu Semarang dan sekitarnya yang hendak pulang kampung berlebaran dan juga warga yang juga ingin menikmati wisata laut disekitarnya. Jadilah kami berangkat pada hari Kamis malam dan kembali ke Jakarta hari Senin pagi buta. Kebetulan salah satu diantara kami ada yang muslim sehingga masih bisa mengikuti ritual Idul Adha pada pagi harinya.   Team kali ini sedikit berbeda karena banyak teman-teman baru yang bergabung dan semua belum pernah pergi ke Karimun Jawa, jadi berbekal informasi dari Pakde @FB Eko Agus kamipun mengambil paket dari Karimunjawaonline travel. Pilihan paket untuk 3D2N sebagai berikut: 1.     Hotel/Homestay Non AC + Kapal Siginjay = Rp 700.000,-/orang 2.     Hotel/Homestay Non AC + Express Bahari = Rp 850.000,-/orang 3.     Hotel/Homestay AC + Express Bahari = Rp 1.300.000,-/orang (kap. 10-14 orang) Harga sudah termasuk : 1.     Tiket (Executive) Kapal Jepara-Karimun Jawa Island (PP) 2.     Penginapan sesuai pilihan 3.     Antar jemput local 4.     Kapal tour selama tour (2 hari) – Private Boat 5.     Alat snorkeling lengkap + life jacket 6.     Kamera underwater 7.     Guide dari HPI 8.     6 x makan menu prasmanan 9.     Retribusi deramga, Bea sandar kapal 10.  BBQ di Pulau 11.  Air mineral saat tour 12.  PPPK Harga belum termasuk : Tiket masuk ke penangkaran Hiu = Rp 40.000,-/orang (optional).   Meeting Point kami adalah Stasiun Pasar Senen, dengan menumpang Kereta Api Menoreh kelas Ekonomi pukul 19.45 kamipun berangkat menuju ke Stasiun Tawang, Semarang. Kali ini aku bersama @Dewi Fu, @FB Eka Johana, @FB Shanty San dan 9 orang teman lainnya memberanikan diri meskipun kita semua wanita (wanita-wanita perkakassss… eh.. perkasa…). Tiada aktifitas lain selain tidur lah yach karena memang kami-kami ini adalah masih karyawan sehingga setibanya didalam gerbong lelah, letih dan kantuk pun melanda.   Kereta kami tiba di Stasiun Tawang, Kota Semarang, pada pukul 02.15 dini hari. Kami memang sudah mempersiapkan armada berupa elf berkapasitas 15 s/d 17 orang yang akan mengantarkan kami ke Pelabuhan Kartini, Jepara untuk menyeberang ke Pulau Karimunjawa. Harga sewa untuk drop off dari Stasiun Tawang, Semarang ke Pelabuhan Kartini, Jepara adalah Rp 1.700.000,0 /unit (termasuk BBM + supir). Tepat pukul 02.30 elf berangkat. Perjalanan daratpun kami tempuh selama kurang lebih 2 jam karena memang jalanan sepi sekali saat itu sehingga elf-nya-pun meluncur dengan lancar dan cepat. Setibanya di Pelabuhan Kartini, waktu sudah menunjukan pukul  04.20 WIB (tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dengan Semarang maupun Jepara).   Karena memang perjanjiannya elf hanya kami sewa untuk drop off Stasiun Tawang, Semarang ke Pelabuhan Kartini, Jepara (PP) saja, maka kamipun setelah tiba di Pelabuhan sudah harus menurunkan semua tas ransel dan koper-koper kami. Udara tidak begitu dingin saat itu. Setelah ditinggal pergi oleh elf, kamipun langsung berjalan menuju sebuah warung yang cukup besar didepan kami (letaknya persis berseberangan dengan pintu masuk area dermaga Pelabuhan Kartini), sudah ada beberapa pengunjung sih pada saat itu, tetapi bangku-bangku dan meja-meja panjang masih pada kosong (ada sekitar 11 meja + 22 kursi panjang serta 5 meja bundar dgn 4 kursi di masing2 meja), sehingga kami dengan leluasa dapat memilih lokasi strategis untuk melanjutkan tidur kami yang terpotong tadi.. hehehe..   Ada yang memilih lanjut tidur tetapi kebanyakan dari kami lebih memilih ritual rutin, yaitu cuci muka, dan memesan sarapan di warung tersebut. Tersedia menu Nasi Rames dengan berbagai pilihan dari sayur tumis hingga gorengan, ayam goreng, tempe, telor balado, dll. Harganya pun standard saja. Selesai makan, waktu sudah menunjukan pukul 06.30 WIB yang artinya kami sudah harus bersiap-siap “menyambut”  kapal Ferry yang sudah sejak jam 06.00 pagi ber”teriak-teriak” memanggil-manggil dengan klakson nya yang nyaring… Semua terbangun dan menanti dengan penuh semangat, meskipun kapal kami jadwal berangkatnya jam 09.00 pagi. Tapi kami sudah tidak sabar ingin melihat pulau yang hendak kami tuju itu. Apalagi ada beberapa anggota kami yang memang seharusnya tahun lalu berangkat tetapi terpaksa batal karena gelombang laut yang tidak mengijinkan dan akhirnya uangnya dikembalikan lagi oleh travel agentnya. Nassiiibbb… emang nasibnya kudu jalan sama aku keknya…hahaha…   Tepat pukul 08.00 WIB kami pun dijemput oleh Mas Junet (perwakilan dari Karimun Jawa Online travel) untuk bersama-sama berangkat ke Pulau dengan menumpang kapal Express Bahari. Memasuki area keberangkatan kami harus melakukan “boarding” terlebih dahulu dengan menunjukkan Kartu Identitas diri, dapat berupa KTP/SIM (WNI) atau Passport (WNA), setelah proses boarding selesai kami berjalan menuju kapal, sebelum menginjakkan kaki di dermaga kami masih harus dicek lagi tiketnya serta membayar retribusi sebesar Rp 5.000,-/orang (tambahan di luar paket, karena biaya ini baru ada belum lama ini. TO nya pun malah tidak tahu bahwa ada tambahan ini…) dan pengecekan terakhir dilakukan dipintu masuk kapal tetapi tanpa identitas diri. XiaoYing_Video_1473937087073.mp4   Perjalanan laut pun kami tempuh dalam waktu kurang lebih 1-1,5 jam ke Pulau Karimunjawa, semua baik-baik saja sampai dengan pertengahan jalan, ombaknya mulai besar dan “tarian kapal” pun mulai terasa mengguncang-guncang perut sebagian penumpang, dari kiri-kanan depan hingga belakang bangkuku ada beberapa penumpang yang asyik “jekpot” membuat aku jadi parno dan hampirrrr saja ikutan mual…   hayaahhh… Beruntung gak jadi mual…. Hehehe   Sekitar pukul 11.25 WIB kapal pun bersandar ditepian dermaga Pulau Karimunjawa… Memang gak salah kata orang-orang, air lautnya yang ditepian dermaga saja beniiingggg sekali, rumput laut, ikan-ikan kecil beserta penghuni laut dangkal lainnyapun terlihat me-“nari-nari” di bawah sana menyambut kedatangan kami… (asyiikkk…. bahasanya pujangga nih, hahaha). Setelah rombongan berkumpul kamipun dijemput oleh 2 mobil avanza untuk menuju ke penginapan untuk makan siang serta beristirahat sejenak sambil menunggu waktunya berlayar ke tujuan pertama. Jarak antara Pelabuhan Karimunjawa dengan homestay kami tidak lah jauh, kalau ditempuh dengan berjalan kaki hanya menghabiskan waktu 5-10 menit saja ternyata. Pemandangan di kanan dan kiri kami penuh dengan rumah-rumah penduduk sekitar yang sebagian diperuntukan bagi pengunjung, bersih, rapi tata bangunannya, warna-warni bangunannya. Di Pulau ini sudah ada sekolah SMK, Kantor Polisi, Pom bensin kecil (hny 1 mesin yg diletakkan didepan rumah salah satu warga) untuk warga mengisi bahan bakar kendaraannya. Rata-rata penduduk Pulau menggunakan motor sebagai armada pendukung aktifitas mereka sehari-hari. Mata pencaharian penduduk Pulau adalah nelayan tetapi apabila sedang musim liburan baik local maupun internasional maka fungsi nelayanpun sebagian berubah menjadi Guide atau sebatas ABK (anak buah kapal) saja karena memang kapal-kapalnya dijadikan kapal tour ke pulau-pulau tujuan wisata. Selama kami 3 hari 2 malam di Pulau Karimunjawa tidak terlihat ada yg memelihara anjing atau ada anjing yang berkeliaran, yang banyak adalah kucing. Untuk lauk kami disuguhkan Ikan setiap hari, ketika ditanya ke warga sekitar, “disini gak ada yang pelihara ayam ya?” jawabannya ‘ada, tapi dikandangi” (padahal kami tidak melihat ada kandang ayam disana, pagi-pagi pun tidak mendengar suara ayam berkokok tuh). Kepo aja nih…. Hihihi…   O yah, nama hotel kami adalah “Hotel Nemo” (hahay… persis seperti ikan favorit aku) Berikut penampakan hotel kami beserta salah satu menu makan siang kami di hotel.   Selesai menikmati hidangan seadanya kami pun masuk ke kamar masing-masing untuk berganti pakaian renang dan bersiap-siap untuk berbasah-basah ria. Oh yah, di Karimun Jawa ini sangat jarang bahkan hampir tidak ada penginapan yang isinya 1 rumah or 1 ruang tidurnya ramai-ramai padahal namanya “Homestay” lho. Rata-rata 1 rumah terdiri dari beberapa kamar yang diperuntukkan 2 orang saja dalam 1 kamarnya atau ada juga yang agak besar sedikit bisa diisi ber-4 (sebagian anak kecil).   Tepat pukul 13.30 WIB kami pun dijemput oleh Bapak Rofiun (owner dari Karimun Jawa Online Travel) didampingi oleh salah satu Guide kami, Mas Yonies. Dengan berjalan kaki melewati alun-alun sampailah kami di Pelabuhan Karimunjawa, sisi sebelah kanan dari dermaga tempat dimana kami mendarat beberapa jam yang lalu. (pesawaaattt kali… mendarattt.. hahaha).   Tak lupa kami berfoto-foto ria terlebih dahulu sebelum berangkat, tepat posenya dibawah sebuah Merk yg dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai “payung monument”… hahaha.. lumayanlah berteduh sejenak dibawah panasnya terik matahari. Kalau bukan ingat rasa penasaran lebih besar daripada rasa kantuk dan kepanasan…mungkin kami sudah mundur teratur deh, gak jadi ke laut… hehehe… Untungnya tidak yah…Semangat Kawan!! Bertambah lagi semangat kami ketika kami melihat bahwa kami didampingi oleh 3 orang local lagi (1 Guide,Mas Yono namanya, 1 pengarah gaya saat berfoto dan 1 lagi ABK). Ok lah,,, berarti aman lah yach selama di laut. Yuk mari.. kita laksanakan niat kita..!! Day 1 : Pulau Menjangan Kecil & Tanjung Gelam Spot 1.1 : Pulau Menjangan Kecil Merupakan salah satu pulau yang terletak di sebelah Barat Pulau Karimunjawa. Nama lainnya adalah Maer, merupakan salah satu pot  terumbu karang dengan berbagai jenisnya, spot snorkeling yang bagus, ikannyapun banyak dan ramah (kapal baru berenti, mesin belum dimatiin ikan-ikan kecil sudah berdatangan… membuat aku yang memang takut ikan jadi bergidik…. Tapi jangan khawatirrrr… Ikannya baik-baik koq… dikejar malah malu-malu menghindar… hahaha…) dan tidak terlalu landai sehingga bagi yang snorkeling tanpa sepatu or fin bisa aman tanpa khawatir akan terluka karena tersentuh karang dan bagi yang sudah jago menyelam juga tidak khawatir akan tersentuh karang pada saat hendak meluncur ke dalam laut untuk mengambil foto or video. Perjalanan dari Pelabuhan Karimun Jawa ke Pulau Menjangan Kecil ini ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit saja. Kurang lebih sekitar 1,5 jam lamanya kita di laut, tak terasa sama sekali, menikmati pemandangan bawah laut dan ikan-ikan kecilnya serta tak lupa juga mengabadikan momen berharga ini dengan berfoto di bawah laut. Dari yang pandai berenang sampai yang tidak bisa berenang dan tidak berani masuk ke dalam airpun semua kebagian.   Spot 1.2. Pulau Tanjung Gelam Rute kami selanjutnya adalah hunting sunset di Pulau Tanjung Gelam. Dari Pulau Menjangan Kecil ke Tanjung Gelam cukup dekat, hanya sekitar 10-15 menit saja. Sebuah Pulau yang cukup ramai pengunjung dan banyak yang berjualan di sini, sehingga pas banget dengan kondisi perut kami yang memang sudah sedikit lapar dan membayangkan gorengan dan mie instant pakai telorrr… Jadi sambil menunggu saatnya sunset kami berfoto-foto lagi, makan gorengan yang kebetulan baru diangkat dari kuali, jadi inget lagu jadul berjudul “Malioboro” deh, “Panas-panas goreng pisang…”, ada tempe juga, ada bakwannya yg enak itu, cabe rawitnya yg pedas nampol sembari menunggu mie instant dengan telornya yg sedang dimasak… wohohoho…. Nikmatnya itu lho… Abis itu kami bergegas ke arah paling Barat Tanjung Gelam untuk hunting sunset, emang Guide kami pandai sekali mencari spot sunset, karena memang tidak banyak yang tau tempat ini, letaknya sedikit pojokan dan banyak pohon-pohon gitu deh. Beruntunggnyaaa kamiii yahh…. Sunset @Tanjung Gelam Makasih Mas Guide kita Double Yon… hahaha…. Setelah puas bersunset ria, kamipun kembali ke kapal untuk segera kembali ke Pelabuhan Karimunjawa agar tidak terlalu gelap setibanya di sana.   Selesailah acara hari pertama kami ini, perut ini ditutup dengan makan malam berupa lauk Ikan goreng dan tempe tahu oseng2 pake potongan cumi-cumi dan tumis sayur-sayuran.   Malam harinya kami keliling pulau dengan berjalan kaki menuju ke alun-alun. Banyak yang jualan makanan, seperti seafood, roti bakar, kelapa bakar (karena kekenyangan jadi gak sempat cicipin semua), Juice buah, Pempek, Siomay, Baso dan juga kaos-kaos serta souvenir-souvenir cantik disana. Harga kaos-kaosnya tidak begitu mahal, sekitar 30.000 s/d 35.000 saja per potongnya. @Alun2 Pulau Karimunjawa Oh yah, kalo menurut Guide kita, Mas Yonies, kalo pingin nyobain seafood, coba aja pesan Udang Topeng dan Ikan Kerapu Bebek. Udang Topeng katanya lebih enak daripada Lobster tapi harganya lebih murah dan bersahabat. Baiklah, kami akan mencobanya besok malam, hari ni sudah kekenyangan Mas. Hahaha…   Day 2 : Pulau Tengah, Pulau Cilik, Pulau Gosong dan Pulau Menjangan Besar Tujuan hari ke-2 ini adalah beberapa pulau yang terletak di sebelah Timur Pulau Karimunjawa. Sekita pukul 08.00 WIB pagi hari, setelah sarapan, rombongan kamipun dijemput oleh Pak Rofiun untuk bergegas ke pelabuhan. Yuk mari lanjutkan!!   Spot 2.1. Pulau Tengah Merupakan pulau yang wajib di kunjungi apabila kita ke Karimunjawa. Berjarak waktu tempuh kurang lebih hampir sekitar 30-45 menit dari Pelabuhan Karimunjawa, kami ditunjukkan Pulaunya oleh Mas Yono tapi sayangnya saat ini telah dibeli dan dimiliki oleh seseorang secara pribadi sehingga pulau tersebut tertutup untuk umum. Pulau ini sangat cocok sekali buat wisata keluarga dan juga bisa untuk belajar snorkling karena terdapat 2 buah spot snorkling didekat pulau ini. Luasnya sekitar 4 hektar dengan pantai berpasir putih dan sedikit ke tengah merupakan karang berpasir. Bagi yang suka snorkling ada spot terumbu karang di depan dan di belakang pulau, spot terumbu karangnya landai dengan arus sedikit besar didasar lautnya. Di sini merupakan tempat yang sangat cocok sekali untuk berfoto dengan Ikan Nemo dan ikan2 kecil di daerah spot snorkling dekat Pulau Tengah. Di pulau ini juga terdapat penangkaran hiu tapi masih dalam proses pengembangan. Keadaan daratan Pulau Tengah datar dengan mayoritas ditumbuhin pohon kelapa. Di pulau ini sudah dibangun dermaga kecil dari kayu sehingga (sebelumnya) kapal-kapal kecil/kapal nelayan bisa bersandar di pulau ini. Sayang yah!!   Spot 2.2. Pulau Cilik Letaknya lebih ke arah Timurnya Pulau Tengah, dengan jarak tempuh kurang lebih sekitar 15-20 menit. Pulau Cilik merupakan salah satu dari 8 pulau yang digunakan untuk daerah wisata bahari dan nelayan. Sesuai dengan namanya, Pulau ini kecil ukurannya, luas sekitar 2 ha saja. Terdapat dermaga cantik, ayunan dengan tali maupun hammock serta pemandangan Bukit Seruni sebagai spot foto-foto cantik. XiaoYing_Video_1473941066894.mp4   Sebelum singgah di Pulau Cilik terlebih dahulu kami snorkeling di dekat situ selama kurang lebih 1-1,5 jam. @Pulau Cilik Disini pantainya bersih sekali dari karang-karang tajam, yang ada hanyalah rumput laut, jadi aman buat sekedar berfoto ataupun duduk2 berendam di air laut. Setelah puas foto-foto dan berendam, selanjutnya acara kami adalah menikmati barbeque-an berupa ikan yang langsung dibakar dilokasi, sehingga memang berasa fresh sekali ikannya. Bagi yang menginginkan minuman selain air mineral yang memang disediakan oleh TO, kita juga bisa memesan minuman lainnya di sebuah warung kecil yang juga menjual mie instant dan sedikit snack. Kami pun melahap ikan barbeque tersebut sambil memesan mie instant goreng…  mmm.. Yummyy…. View Bukit Seruni Lunch Barbeque Fish @ P.Cilik Kami di pulau Cilik kurang lebih sekitar 2 jam lamanya. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Pulau Gosong.   Spot 2.3. Pulau Gosong Seperti biasa, setiap ada rute jalan-jalan yang mengunjungi pulau-pulau, pastilah ada 1 pulau yang merupakan icon dari perjalanan itu, yang artinya pemandangannya paling top dari semuanya. Nah, kali ni kita dibawa ke Pulau Gosong, yang mana sebenarnya pulau ini bukanlah merupakan bagian dari 27 pulau di Karimunjawa, mengapa demikian? Karena pulau ini terkadang terlihat terkadang tidak, lho koq gitu? Iya.. karena pada saat air pasang pulau ini akan tenggelam. Beruntung pada hari itu rombongan kami masih bisa menikmati keindahannya meskipun pulaunya sekitar 95% terendam air laut, tetapi tidak terlalu dalam koq dan masih tersisa secuil harapan dan asa… untuk berfoto dengan gaya extreme… hahaha… Berdiri @Pantai Gosong Setelah berfoto-foto kami juga masih bisa bersnorkeling ria di daerah sekitar pantai Pulau Gosong ini dan memang viewnya bagus banget lho. Berikut penampakannya. @Pantai Gosong (saat air pasang) Dipulau ini kami menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam.   Spot 2.4. Pulau Menjangan Besar (Penangkaran Hiu) Merupakan tujuan akhir dari perjalanan kami di Karimunjawa. Pulau Menjangan Besar merupakan Pulau terbesar kedua setelah Pulau Karimun Jawa dimana terdapat lokasi penangkaran hiu yang biasa diabadikan wisatawan untuk berfoto dengan hiu-hiu kecil disana. Letaknya ternyata dekat sekali dengan Pelabuhan Karimunjawa. Dari tempat kami berdiri juga sudah kelihatan dermaga Karimunjawa dimana tempat para wisatawan menginap termasuk kami. Jaraknya hanya sekitar 5-7 menit saja dari Pelabuhan. Rombongan kami tidak ada seorangpun yang berminat untuk berfoto dengan hiu-hiu yang di penangkaran seperti pada umumnya wisatawan yang berkunjung. Tidak berminat…?? Mmm… tepatnya sih Tidak berani… hihihi… takut disergap Hiu. “Wujud” tempat Penangkaran Hiu lebih ke sebuah pondokan besar dengan kantin kecil disamping kirinya. Tersedia 2 buat “kolam“ yang cukup besar bagi peserta tour yang berani masuk air untuk foto dengan Hiu. Pulau ini juga sudah dibeli oleh pihak swasta sehingga harga tiket masuk yang semula sekitar Rp 10.000 sd/ 15.000 per orang sudah naik menjadi Rp 40.000,-/orang. Dan amazingnya lagi, tariff tersebut bukan hanya tariff berfoto lho, tetapi tariff sejak kita menginjakkan kaki di kayu pijakan pertama. Guide kami sempat memberikan trik-trik apabila di antara kami ada yang berminat untuk foto dengan hiu-hiu tersebut. Meskipun ukurannya kecil tetap saja tidak menutup kemungkinan kita bisa digigit lho. Gimana caranya agar tidak digigit? Caranya… Jangan pernah memasukkan tangan maupun jari-jari tangan ke dalam air tempat kita berfoto dengan hiu karena akan dikira ikan-ikan kecil. Lho koq bisa? Jadi biasanya kita sebagai manusia tentunya tidak akan luput dari dosa… eh salah… tidak akan luput dari human error dan lupa. Lupa bahwa ikan itu akan terpancing menghampiri dan tertarik untuk menggigit apabila ada gerakan2 yang timbul di dalam air. Nah untuk mengantisipasi hal tersebut maka disarankan dengan sangat untuk tidak memasukkan tangan dan jari2nya ke dalam air, tetap lah di atas udara. Terus ada yang bertanya.. apa pernah ada kejadian? Yup. Pernah. Ada yang pernah dicaplok tangan dan jarinya karena lupa untuk mengangkat tangannya begitu nyemplung, untung hiunya belum besar-besar banget sehingga yang digigit tidak sampe putus, hanya luka-luka saja. Amiiinn….   Makanyaaaa… akhirnya rombongan kami hanya nontonin orang yg foto aja dari kapal, dan akhirnya 5 orang dari kami malah tertarik untuk main water sportnya… hahaha.. nyasar yach… yah begitu lah yang terjadi…!! @Pulau Menjangan Besar  Setelah puas menonton yg main water sport yg diputarin ke tengah laut sebanyak 4x putaran, akhirnya kami memutuskan kembali ke Pelabuhan untuk istirahat saja, haripun sudah sore, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB.   Malam harinya kami benar-benar berniat untuk mencicipi menu seafood yang namanya Udang Topeng… sayang sekali kami terlambat, udang topengnya sudah habis, yang tersisa lobsternya doank. Padahal saat itu baru pukul 07.00WBI malam lho. Yaaa… gak jadi lagi deh. Ternyata memang udang topeng favorit di sana. Puas berkeliling, kamipun kembali lagi ke hotel untuk beristirahat atau sekedar nonton TV dan ngobrol-ngobrol ngolar-ngidul.   Day 3 : Karimun Jawa – Semarang Setelah sarapan, rombongan pun bersiap-siap untuk berangkat ke Pelabuhan  untuk kembali ke Jepara dan melanjutkan perjalanan menuju Semarang dengan Kereta Gumarang jam 20.05 WIB menuju Jakarta. Jadwal kapal Express Bahari yang semula berangkat dari Pelabuhan Karimunjawa ke Pelabuhan Kartini, Jepara adalah pukul  11.00WIB tetapi sekitar pukul 09.30WIB kami diinfokan jadwal keberangkatan kapal dimajukan menjadi pukul 10.00WIB dikarenakan ada info dari BMKG akan ada ombak. Jadilah kami yang tadinya santai-santai ngobrol-ngobrol langsung bubarrr jalan dan bergegas berkemas… takut gak bisa balik Jakarta tepat waktu. Selesai sudah acara kami kali ini. Semua kenangan indah kami bawa bersama kami kembali ke Jakarta berikut foto-foto dan cerita kami selama perjalanan. Benar memang kata orang-orang di luar sana, Karimunjawa memang tempat yang bagus bagi traveler yang mencintai aktifitas laut. Meskipun perjalanan pergi dan pulangnya disertai perasaan deg-degan takut kapalnya terbalik karena terhempas ombak dan gak bisa pulang tepat waktu, tetapi semuanya terbayarkan sudah dengan segala yang kami dapatkan di sana… Bye Karimunjawaaaa…!!! Nantikan kami di lain kesempatan yaaahhh…. Kami kan kembaliii lagiiii…!!! PS. Special thanks to karimunjawaonline tour & travel, thanks to our guide especially double Yon (Mas Yono & Mas Yonies). Thanks juga buat Pakde Eko Agus atas rekomendasinya!!   Info tambahan: 1.   Harga Popmie = Rp 10.000,-/cup 2. Harga Indomie kuah/goreng + telor (Pulau Karimunjawa & pulau2 sekitarnya) = Rp 10.000,-/bungkus 3. Harga Indomie kuah/goreng + telor (Warung Pelabuhan Kartini) = Rp 13.000,-/bungkus 4. Perlengkapan tambahan selain untuk bermain air adalah Autan, Soffel atau sejenisnya (nyamuknya di pulau karimunjawa gede-gede) XiaoYing_Video_1473591203249.mp4
    • By Rawoniste

      Yuhuuu....
      Ini liburan solo backpakeran saya yg ke3 di tahun 2016, ada "janji dalam diri sendiri" selama tahun 2016 saya musti liburan tiap bulan, mentok2nya yg dekat saja 
      Liburan bulan maret alias sudah basi hehehe tp gak apa2 yah saya RF sekarang.
      Perjalanan di mulai naik KA BDG-TAWANG. baru nyadar ternyata rutenya ke pantura beda dgn bdg-jogja.
      Nyampe statsiun tawang jam 4an, sholat istirahat sebentar nunggu jemputan mobil rentalan 400k all in one 12 jam.
      Mlipir keluar statsiun ternyata ada kolam gede dan kursi tempat duduknya, melamunlah disana sambil nunggu matahari terbit. 
      Nah sunrisrnya sudah datang
      Gak pake lama sebelum jam 6, driver dgn mobil agyanya tlp. Udah dilokasi. lets go...
      Sarapan dulu , meskipun saya tdk biasa sarapan tapi menghormati driver saya minta dianter ke ... Pokoknya makanan khas Semarang lah.
      Mobil pun meluncur ke pujasera jln kiayi saleh. Katanya yg ngetop2 ada disana 

      Ini penampakan nya, msh sepi yg beli jam 6 lebih dikit sih tp udah pada buka. 
      Saya masuk ke lapak bu nasimah spesialis mangut . penasaran dgn mangut welut (belut) nya hehehe. 
      Enak menurutku, kuahnya beda dgn yg di jual di bdg (ikan) habis 65k makan berdua dgn driver termasuk rokok 1 bungkus.
      Mobil pun melaju ke daerah unggaran, yup tujuan pertama adalah Candi gedong songo. 
      Baru buka pintu....Walah panas nya. Baru jam 9an padahal. Dgn semangat sayapun jalan menyusuri 9 candi tsb. Ada kuda kalo gak mau cape, tp saya lebih asik Jalan kaki . cukup rame jam segitu. 

      Mejeng dulu ninggalin jejak 

      Gak sampe ke 9 candi, hanya ketemu 7 Candi. Candi nya emng sama bentuknya hanya jaraknya saja yg berjauhan gak kira2 , yg pasti nanjak lah. Lumayan beruntung byk kabut dan awan, jd tdk terlalu panas waktu ada dipuncaknya.
      Disini jg ada kawah2 yg ketutup, hanya asap Dan baru blerang saja . buat rendaman jg Ada. Tp males bgt 

      Kepulan asap blerang.
      Puas main disini, saya pun turun lg. Ah making ke bawah makin panas saja.
      Tujuan ke2, umbul sidomulti. Cukup dekat jaraknys turun ke bawah belok kanan. Tp lumayan jauh kesana nya jln sempit Dan nanjak tanpa henti. Sepanjang jalan berjamur tempat karaoke berbagai nama. Banyak bgt ih ... 
      Nyampe disana, meskipun diatas bukit waduh meleleh deh kepalaku. 
      Inilah penampakan kolam umbul sidomukti nya yg terdiri dr 3 kolam bertingkat. 
      Awalnya pengen bgt nyamplung disini, tapi naluri saya bilang, jangan ! Jangan ! Bisa tumbeng ntar Hahaha.
      Ya sudah hanya bisa memandang Dan nyentuh air nya saja yg dingin 

      Rest dulu disini sambil pesen minuman dan tahu goreng. Karena niat ngafe di atas nya.
      Lanjut .... Mobil dinaikin ke atas lagi dan ketemu di kafenya. Penuh 
      Jalan2 dulu kesekitar, ada gua...eh bayar lg masuk sini (5k) udah di kasi penerangan ternyata gua tsb sengaja di jebol ke luar gawir. Lalu di bangun semacam balkon dan dikasi pagar. Spot buat poto2 dgn latar belakang jurang dan pucuk pohon mirip tebing keraton di bandung. Gak sempet di poto disini keburu muak ulah abg yg gak mau2 pindah sehabis poto2 malah ngobrol. Dlm hati sukurin deh kalo sampe jatuh hahahaha.
      Keluar gua , yaelah kafe masih penuh mulu. Ahirnya saya putuskan turun saja nyari  makan di luar. Setelah masuk jln unggaran lg mobil pun belok ke kiri. Dan saya makan tahu gimbal. Euih ngantri jg disini. TG nya enak bgt porsi banyak sampe saya kesusahan ngehabisinnya murah pula 13k ato 15k yah lupa lg , cuma 40k an makan berdua sama minum
      Beres makan driver nanya lg mau ke mana lg ? Pulangggg.... Kepala udah nyut2an bgt.
      Dan saya pun meluncur pulang, tp begitu lewat sam pho khong saya minta turun dulu. Panas gilak2an disini. Cekrek2
      Nyampe di hotel jam 4an, saya mandi dan tidur sebentar.
      Pas bangun udah merasa gak ok ini badan. Minum antangin lah.
      Selepas magrib, meskipun gak fit kluar lah lihat kehidupan malam semarang. Dan ternyata hotel dimana saya menginap itu byk psk nya hehehe (jl. Iman bonjol. Kirain siapa gitu nyapa sambil stanbye di motornya. Jualan toh mbak. hahahaha.
      Killing naik beca sampe pecinan cina yg terkenal dgn warung semawisnya. Gilak penuh bgt !! Mau jajal makanan gak ada tempat, jd pesen juice doang sambil manyun. Oya,disini byk bgt B2 nya jd hati2 bagi yg Muslim.
      Pulang ke hotel, ongkos naik beca 50k 
      Pagi2 saya sudah bangun Dan siap jalan2 lg, rental motor saja. Mulur 1 jam rentalnya. 
      Mumpung masih pagi saya ke Sam pho khong lg , horee msh sepi dan tdk panas. Tiket 15k.
      Sepiiii karena kepagian...
      Pulang dulu buat cek out Dan mandi 
      Lanjut ke mesjid raya Semarang yg konon paling megah. Tp baru seperempat perjalanan hati saya sudah ciut, pulang ! Pulang ! Kepala nyut2an lg, panas jgn ditanya. Ahirnya saya puter lg ke jln pandanaran buat beli oleh2. Waktu msh banyak, klayapan di siang hari sudah nyerah , jadwal KA jam 7an. Ngadem lah di Paragon mall sambil ngopi2 ringan. Setelah segeran Dan fit lg saya pun keluar Dr mall, grhhhh.... Ada ada arak2an yg entahlah acara apaan, motor tdk bisa keluar ...
      Drpd bete nikmati saja atraksi INI,cukup deg2an jg gimana kalo sampe jam 6an gak kluar2an. 
      Jam 17an mulai reda Dan byk motor yg maksa lewat, saya pun ikutan lewat.
      Lanjut lihat lawang sewu yg konon mistik tsb
      Canghih jg yah, tiketnya di scan masuk sini he he he.
      Lanjut kota tua...... 
      Sayang yah, bangunsn bagus2 tp terbengkalai . hantunya pasti banyak ... 
      Puas poto2 di kota tua, azdan magrib. Sayavpun mengahiri petualangan sendiri di Semarang yg super hot jeletot ini, balik lg ke bdg jam 7an.
      Nyampe di Bandung subuh, badan udah gak karuan. Ahirnya saya tumbeng. Badan panas dingin gak karuan. Langsung ke dokter sorenya Dan nambah istirahat seminggu di kasur 
      Kapok ? Gak, puas ? Gak 
      Ada yg kelewat setelah pulang Dr umbul sidomukti itu saya ke gua kreao dulu. Gak ada yg istimewa hanya lihat gua,bendungan Dan monyet2. 
      Super hot bgt.

    • By Hasdevi Agrippina Dradjat
      Dataran tinggi Dieng merupakan salah satu destinasi wisata favorit para wisatawan. Nah, dataran tinggi Dieng sendiri merupakan kawasan vulkanik aktif yang terletak di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo.
      Kawasan wisata ini berada kurang lebih sekitar 30 kilometer dari pusat kota Wonosobo. Dataran tinggi Dieng berada di sebelah barat Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
      Nah, apakah kamu penasaran dan ingin segera menjelajahi Dieng dan sekitarnya? Kali ini, kita akan membahasnya dalam menyambangi Dieng di Wonosobo dan sekitarnya berikut ini. Yuk, simak pembahasannya.
       
      Sekilas tentang Dieng


      Dieng via Tempat Wisata Daerah
       
      Menurut sejarah, dataran tinggi Dieng merupakan tempat para dewa dan dewi tinggal. Nama Dieng sendiri diambil dari bahasa Kawi: “di” yang artinya tempat atau gunung dan “Hyang” yang artinya dewa. Sehingga, secara bahasa Dieng berarti gunung tempat dewa dan dewi bersemayam.
      Sedangkan sejarah lain ada yang mengatakan jika nama Dieng berasal dari bahasa Sunda “di hyang”, karena diperkirakan pada abad ke-7 Masehi daerah ini berada dalam wilayah politik kerajaan Galuh.
      Nah, selain terkenal karena keindahan wisata alamnya yang cantik, kawasan ini juga terkenal karena terdapat banyak candi hindu di sini. Tempat ini juga termasuk kental dengan spiritual karena terdapat candi-candi kuno bercorak Hindu dengan arsitektur yang unik.
      Dataran tinggi Dieng ini berada pada ketinggian 2.093 mdpl. Selain itu, Dieng ini juga memiliki suhu udara yang sejuk lengkap dengan kabut saat matahari tidak muncul. Untuk masalah suhu, suhu di kawasan ini berkisar antara 15 hingga 20 derajat celcius sehingga cukup sejuk.
       
      Perjalanan Menuju ke Wonosobo


      Terminal Mendolo, Wonosobo via Rhaggil Duniaku
       
      Nah, salah satu alternative perjalanan dari Jakarta menuju Wonosobo yang dapat kamu tempuh adalah dengan menggunakan bus. Setelah sampai di Wonosobo, kamu akan langsung tiba di terminal Mendolo.
      Lama waktu perjalanan yang akan kamu tempuh adalah sekitar 12 jam. Jika ingin menghemat agar lebih terjangkau, kamu dapat memilih perjalanan malam hari agar tiba keesokan harinya di Wonosobo. Kamu bisa memilih bus AC dengan toilet dan juga makan.
      Selanjutnya, kamu dapat menaiki angkutan umum dari Mendolo ke terminal bus Dieng. Baru dari sana kamu dapat menaiki microbus menuju Dieng.
      Harga bus bervariasi mulai dari Rp.85.000 (ekonomi), Rp.110.000 (VIP), Rp.180.000 (executive). Biaya menaiki angkutan umum adalah sekitar Rp 4.000, sementara biaya untuk menaiki microbus adalah sekitar 10.000.


      Alternatif menaiki bus yaitu kereta via Seratus Negara
       
      Selain menaiki bus, kamu juga memiliki alternative moda transportasi lainnya untuk mencapai Dieng. Kamu dapat menaiki kereta. Kamu dapat mencoba untuk menaiki kereta ekonomi Progo dengan harga tiket 100.000 yang biasanya berangkat pukul 10 malam dari Stasiun Pasar Senen.
      Selain kereta ekonomi, kamu bisa juga memilih untuk menaiki kereta bisnis atau eksekutif dengan harga tiket sekitar 200.000 hingga 300.000. Perjalanan dengan kereta api ini akan memakan waktu sekitar 4 hingga 5 jam.
      Setibanya di Wonosobo, kamu dapat menaiki bus dengan rute Purwokerto-Wonosobo dengan biaya sekitar 20.000. Perjalanan akan ditempuh dengan waktu sekitar 2 jam.
      Selanjutnya, kamu dapat menaiki angkutan umum dari Mendolo ke terminal bus Dieng. Baru dari sana kamu dapat menaiki microbus menuju Dieng. Biaya menaiki angkutan umum adalah sekitar Rp 4.000, sementara biaya untuk menaiki microbus adalah sekitar 10.000.
       
      Memilih Penginapan Selama Berada di Dieng


      Penginapan di Dieng via Sikunir Dieng
       
      Setelah memilih moda transportasi terbaik untuk menuju Dieng, selanjutnya kamu dapat memilih penginapan selama berada di Dieng. Sebagai tujuan wisata yang tidak pernah sepi pengunjung, terdapat banyak homestay pula di sekitar kawasan ini yang tentu saja dapat kamu jadikan sebagai pilihan.
      Harga homestay dikelola oleh warga lokal dan sangat bervariasi. Untuk range harga sendiri berkisar antara 100 ribu hingga 250 ribu per malam dan dapat tergantung dengan fasilitas yang tersedia dan juga kenyamanannya.
      Nah, jika kamu pergi dalam rombongan yang besar, sebaiknya kamu memilih untuk menyewa rumah. Biaya yang akan kamu keluarkan jika kamu ingin menyewa satu homestay adalah sekitar 600 hingga 800 ribu per malam.
      Jika kamu pergi dalam jumlah yang besar, misalnya 10, biaya tersebut tentu dapat dibagi 10 sehingga satu orang membayar sekitar 60 hingga 80 ribu. Nah, sebagai tips sebaiknya kamu memastikan agar penginapan yang kamu sewa memiliki fasilitas air hangat sebab kondisi cuaca di Dieng sangat dingin.
       
      Kuliner di Dieng


      Kuliner di Dieng via Kompasiana
       
      Nah, setelah memilih penginapan selama berada di Dieng, selanjutnya kamu dapat memilih kuliner. Salah satu kuliner yang wajib kamu coba adalah kuliner khas Wonosobo yaitu mie ongklok.
      Mie ongklok merupakan mie dengan campuran kol disiram kuah dan juga ditambahkan dengan sate sapi. Untuk range harga makanan di sini adalah sekitar 10.000 hingga 15.000.
      Namun, kebanyakan restoran atau warung makan tidak menyediakan daftar harga. Agar kamu tidak terkena “getok” pastikan kamu bertanya terlebih dahulu mengenai harga makanan yang kamu pesan.
      Untuk masalah rasa, kamu tidak perlu khawatir. Wisatawan yang datang ke Dieng bukan hanya wisatawan lokal tetapi banyak juga wisatawan mancanegara. Sehingga, tentunya rasanya pun sudah disesuaikan agar menjadi semakin nikmat.
      Selain menikmati mie ongklok, kamu juga dapat menikmati nasi rames yang banyak tersedia di depan restoran atau warung makan. Range harga nasi rames adalah dimulai dari 2.500 (sudah mendapatkan sayur). Kamu dapat memilih sendiri jenis makanan apa yang akan kamu pilih.
       
      Melihat Sunrise di Bukit Sikunir


      Bukit Sikunir via bukitsikunirdieng
       
      Untuk mengawali perjalanan wisatamu selama berada di Dieng, ini dia salah satu objek wisatanya yang wajib kamu sambangi. Objek wisata ini adalah Bukit Sikunir dimana kamu dapat menikmati sunrise yang cantik dan indah.
      Ya, dari bukit ini kamu dapat mengabadikan keindahan matahari terbit dari sudut yang paling indah. Jika Jawa Timur memiliki Bromo sebagai spot terbaik untuk melihat sunrise, maka Jawa Tengah memiliki Bukit Sikunir yang satu ini.
      Keindahan Bukit Sikunir memang sudah sangat populer. Bahkan, karena keindahannya, banyak orang menamakan bukit ini dengan sebutan “Golden Sunrise”.
      Bukit Sikunir berada pada ketinggian 2.200 mdpl. Warna sinar matahari yang kekuningan seperti kunir membuat masyarakat setempat menamainya sikunir. Kunir adalah bahasa Jawa dari kunyit.
      Harga tiket masuk yang harus kamu bayar jika kamu ingin memasuki kawasan Bukit Sikunir ini adalah sekitar 5.000. Nah, jika kamu ingin melihat indahnya matahari terbit di Bukit Sikunir ini, maka sangat disarankan kamu untuk bangun sejak pukul 3 pagi.
      Selanjutnya, kamu dapat menyewa mobil atau ojek yang akan mengantarkanmu untuk mencapai kaki bukit Sikunir. Selanjutnya, kamu dapat melanjutkan perjalananmu dengan trekking menuju ke Bukit Sikunir.
       
      Menyambangi Telaga Menjer


      Telaga Menjer via Goresanlensa
       
      Setelah menyambangi Bukit Sikunir, kamu dapat melanjutkan perjalananmu dengan menyambangi Telaga Menjer yang satu ini. Keindahan alam yang ditawarkan oleh Telaga Menjer ini sangat cantik sehingga mampu membuat siapa saja terkesan.
      Ketika menyambangi telaga ini, kamu dapat melihat panorama alam yang indah berupa bukit-bukit hijau yang ditengahnya terdapat telaga. Keindahan alam ini menjadikan Telaga Menjer sebagai salah satu tempat yang paling sering disambangi oleh wisatawan.
      Biaya masuk yang harus kamu keluarkan jika kamu ingin memasuki Telaga Menjer ini adalah sekitar 3.000 rupiah. Sementara itu, jika kamu ingin mencoba sensasi menaiki perahu motor dan berkeliling telaga, biaya yang kamu keluarkan adalah sekitar 10.000 hingga 25.000.
       
      Melihat Telaga Warna Lebih Dekat


      Telaga Warna via Diengadventure
       
      Selanjutnya, inilah dia destinasi wisata di Dieng yang dapat kamu jadikan sebagai referensi. Destinasi wisata yang satu ini adalah Telaga Warna.
      Telaga Warna adalah salah satu objek wisata yang paling terkenal di Dieng. Telaga ini menjadi populer karena konon warna airnya dapat berubah-ubah kadang biru, hijau, kuning dan bahkan warna pelangi.
      Perubahan warna telaga ini konon terjadi karena kandungan sulfur yang sangat tinggi sehingga jika terkena sinar matahari, warnanya pun dapat berubah-ubah. Sementara menurut legenda warga sekitar, warna yang berubah-ubah itu terjadi karena pada zaman dahulu kala terdapat cincin milik seorang bangsawan yang jatuh ke dalam telaga ini.
      Dominasi warna dari telaga ini adalah hijau, biru laut dan putih kekuningan. Jika ingin melihat keindahan warna dari telaga, kamu dapat mendaki ke puncak bukit yang mengelilingi telaga tersebut.
      Nah, selain melihat warna yang cantik di telaga warna ini, kamu juga dapat menikmati pemandangan berupa pepohonan yang menjulang tinggi di sekitar telaga. Dengan demikian, kamu akan merasa nyaman karena suasana teduh dan membuatmu betah berlama-lama berada di sini.
       
      Menyambangi Candi Arjuna


      Candi Arjuna via Pegipegi
       
      Penasaran dan masih ingin menyambangi berbagai destinasi wisata menarik lainnya di sekitaran Dieng? Kali ini kamu dapat mencoba untuk menyambangi Candi Arjuna karena candi ini merupakan satu bukti bahwa Dieng juga memiliki magnet wisata berupa candi berarsitektur unik.
      Di sekitar Dieng, terdapat banyak candi agama Hindu yang masih eksis dan berdiri tegak hingga saat ini. Hal ini merupakan satu bukti napak tilas mengenai penyebaran agama pertama di Indonesia.
      Nah, salah satu candi yang masih eksis hingga saat ini adalah Candi Arjuna. Keberadaan candi ini sebagai objek wisata sukses membuat banyak pengunjung dan wisatawan baik lokal maupun mancanegara memilih datang dan berkunjung ke sini.
      Bagi kamu yang menyukai wisata sejarah, kamu dapat mencoba untuk menyambangi candi yang satu ini. Biaya masuk yang dikenakan jika kamu ingin memasuki candi ini adalah sekitar 5.000.
       
      Menyambangi Desa Sembungan


      Desa Sembungan via Ensiklopediindonesia
       
      Masih bersemangat ingin mengeksplor Dieng? Kali ini, jangan lupa untuk jejalkan kakimu di kawasan Desa Sembungan. Desa ini merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa. Jadi, jika kamu ingin menjajaki desa tertinggi di Pulau Jawa namun malas untuk mendaki gunung, jangan lupa untuk menyambangi Desa Sembungan yang satu ini.
      Desa ini berada di 2.306 meter di atas permukaan laut. Dan karena letaknya di Dataran Tinggi Dieng, praktis membuat desa ini juga menjadi salah satu desa yang tinggi—bahkan merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa.
      Bagi kamu yang tertarik ingin menyambangi desa yang satu ini, jangan lupa bekali diri dengan menggunakan jaket sebab suhu di desa ini tergolong sangat dingin. Dalam sepanjang perjalanan menuju Desa Sembungan kamu akan menemui penduduk asli Dieng yang menahan dingin dengan cara mengenakan sarung menutupi wajah dan badan mereka.
       
      Mengunjungi Kawah Sikidang


      Menyambangi Kawah Sikidang via Coretanpetualang
       
      Selanjutnya, inilah destinasi wisata di Dieng yang sayang untuk kamu lewatkan. Destinasi wisata ini adalah Kawah Sikidang.
      Kawah Sikidang merupakan salah satu kawah yang dijadikan sebagai andalan wisata di Dieng. Kawah ini berlokasi di bagian Dieng timur. Pemandangan di sekitar Kawah Sikidang ini juga tergolong sangat indah. Kamu dapat melihat perpaduan hamparan bukit hijau dan tanah kapur di sekitar kawah.
      Diberi nama Sikidang karena kolam magma di kawah ini sering berpindah-pindah seperti Kidang (bahasa Jawa untuk hewan Kijang). Gejolak magma di kawah ini juga cukup tinggi, antara setengah hingga satu meter.
      Nah, di Kawah Sikidang ini kamu dapat berfoto dengan pemandangan latar belakang berupa kepulan asap dari kawah dan putihnya pemandangan di sekeliling.
      Walaupun terlihat sangat eksotis, tetapi kamu tidak disarankan berada berlama-lama di Kawah Sikidang ini demi kesehatan pernapasanmu. Untuk menyambangi kawah Sikidang ini, biaya yang harus kamu keluarkan adalah sekitar 4.000 rupiah.
       
      Mengunjungi Dieng Plateau Theater


      Mengunjungi Dieng Plateau Theater via Indahnesia
       
      Selanjutnya, inilah dia destinasi wisata lainnya di kawasan Dieng yang tentu saja sayang untuk kamu lewatkan. Destinasi wisata yang satu ini adalah Dieng Plateau Theater.
      Nah, jika kamu ingin mengetahui lebih dalam tentang sejarah Dieng dalam bentuk film, kamu dapat mencoba untuk menyambangi tempat ini. Di sini akan diputarkan film mengenai sejarah Dieng dan juga berbagai hal seputar Dieng ini.
      Ketika menyambangi Dieng, jangan lupa untuk menyambangi teater yang satu ini dan menonton film mengenai Dieng. Biaya yang harus kamu keluarkan jika kamu memasuki teater ini adalah sekitar 5.000.
       
      Menyambangi Gardu Pandang Tieng


      Mengunjungi Gardu Pandang Tieng via Mutiakarima
       
      Kawasan Dieng memang terkenal dengan ketinggiannya. Nah, untuk melengkapi perjalanan wisatamu selama berada di Dieng, pastikan kamu tidak melewatkan kesempatan untuk menyambangi Gardu Pandang Tieng yang satu ini.
      Di tempat ini kamu dapat merasakan sensasi bagaimana rasanya berada sangat dekat dengan awan dan bahkan dapat merengkuhnya. Berfoto di sisi gumpalan awan seperti gula-gula kapas adalah kegiatan yang wajib kamu lakukan ketika kamu memiliki kesempatan untuk menyambangi tempat ini.
      Ya, kamu akan mendapatkan sebuah foto yang sangat ciamik. Dari sini, kamu juga dapat melihat Gunung Sindoro secara lebih dekat. Selain itu, kamu juga dapat menyaksikan kota Dieng seperti miniature kota dalam maket yang akan menjadi pelengkap keindahan memandang Dieng dari ketinggian.
      Sementara itu, tidak ada biaya yang dikenakan jika kamu ingin menyambangi tempat ini alias gratis. Untuk itu, jangan sampai lewatkan kesempatan untuk menyambangi tempat ini ketika kamu memiliki kesempatan untuk menyambangi kawasan Dieng.
       
      Nah, itulah dia penjelasan mengenai menyambangi Dieng. Dieng memang terkenal dengan pesona wisatanya yang tentu saja sangat sayang untuk kamu lewatkan.
      Happy traveling!
    • By Barajiwa Patria Soedarmo
      Hallo gan ketemu lagi dengan ane Bara si traveller super sejati alami :cool . Di trit kali ini ane mau ngajak agan dan aganwati jalan-jalan melihat keindahan alam di Pulau Karimunjawa tepatnya di Pulau Krakal Besar. Pulau ini merupakan Pulau tempat kami Camping sambil menikmati malam dalam 1 hari. Oiya gan kita juga akan snorkling ria di Pulau Krakal Kecil dan Pulau Galeang :2thumbup .Mungkin kalian bingung dimana sih letak pulau Krakal Besar, Krakal Kecil, dan Pulau Galeang di Karimunjawa , nyok kita liat petanya

      Jadi sudah jelas kalau Pulau Krakal Besar, Krakal Kecil, dan Pulau Galeang adalah pulau yang berada di Barat Karimunjawa. :hn Pulau-Pulau tersebut merupakan pulau yang termasuk jarang dikunjungi wasatawan, maka dari itu kami mencoba meng-eksplor wilayah tersebut dengan harapan lewat trit ini semakin banyak orang yang ingin ke Karimunjawa :matabelo . Banyak kegiatan yang akan kami lakukan di Pulau-Pulau tersebut jadi stay tune di Treat ini gan dijamin agan bakal ngiler liat view dan pemandangannya . Oiya gan sebelum ane cerita dan berbagi cerita kepada kalian semua ane mau memperlihatkan aktor dan aktris dalam perjalanan ini . Inilah artis-artisnya:
      1. Bara sebagai TS dan Mpunya Trit ini

      2. Arif a.k.a Capcus a.k.a Coki sebagai pemecah, peramai suasana dan juga :betty

      3. Made sebagai bos mancing mania

      4. Daqta sebagai manusia pelampung

      5. Chandra a.k.a C.K sebagai pemandu perjalanan

      6. Akil sebagai coki partner

      7. Nuren sebagai master chef

      8. Mas Arif sebagai Nuren's :angel

      9. Linda sebagai Mas Arif's little sister

      Dan juga tidak lupa orang yang selalu menemani kita selama di Karimunjawa
      10. Mas Jey, Mas Jojo, dan Mas DJ sebagai tour guide lokal yang gokil

      11. Bapak sopir kapal yang kreen

      Nah itulah orang-orang yang akan menjelajah Pulau Krakal Besar, Krakal Kecil dan Pulau Galeangan. Daripada berlama-lama langsung ke cerita dan kegiatan apa aja yang kami lakukan di Karimunjawa jadi stay tune di Treat ini :ngacir2 :iloveindonesia :2thumbup
      Day 1, 5 November 2015
      Perjalanan ane dimulai dari jam 7 malam ketika Coki, Akil, dan C.K menjemput ane, Made, dan Daqta di rumah yang berada di Tembalang Semarang. Pada perjalanan kali ane carrier ane full oleh makanan biar teman-temen semua tidak kelaparan saat di perjalanan :cendolbig . Ane berangkat dengan menggunakan mobil C.K menuju start point ketemuan kita di Semarang Indah untuk melanjutkan perjalanan menggunakan travel dan juga sekalian tempat pertemuan dengan Nuren, Mas Arif, dan Linda :salaman . :shakehand2 . Perjalanan langsung kami lanjutkan kembali ketika semua sudah lengkap 9 orang dalam mobil. Perjalanan dari Semarang menuju Jepara kami tempuh dalam 2 jam dan kami tidak langsung ke Pelabuhan Kartini karena tidak ada kapal pada pukul 23.00 jadi kami memutuskan untuk menginap terlebih dahulu di Lembaga Pengembangan Wilayah Pantai (LPWP) yang merupakan milik Universitas Diponegoro yang juga  merupakan tempat ane menimba ilmu :malu . Kami disana bisa Sholat Isya, makan, dan juga main kartu untuk mengisi waktu. Oiya ada juga gan penampakan tempat kami tidur yang sangat nyaman menurut ane

      Day 2, 6 November 2015
      Di hari kedua ini ane sudah mulai siap-siap ke Pulau Karimunjawa. Kapal KMP Siginjai adalah nama kapal yang akan kami gunakan untuk menyebrangi Laut Jawa menuju pulau Karimunjawa. Kapal kami berangkat jam 7 pagi dan beginilah penampakannya di pagi hari:2thumbup

      Lama perjalanan menuju Pulau Karimunjawa itu sekita 4,5 jam dan karena lamanya perjalanan terjadilah hal seperti ini

      Setalah lama menunggu akhirnya Pulau Karimunjawa terlihat juga dan ini penampakannya

      Sesudah turun dari kapal kami disambut oleh salah satu tour guide kami yaitu Mas DJ :shakehand2 . Kami diajak untuk pergi ke tempat stay sementara namanya Ethnic and Go dan ketemu tour guide kami yang kedua yaitu Mas Jojo:salaman . Dan ini kira-kira picturenya

      Sesudah stay bentar di Ethnic and Go kami lanjut makan siang dan nego biaya dengan tour guide di Rumah Makan Asri dengan menu hari itu adalah cumi yang pastinya bikin ane nafsu makan :recsel .

      Perut kenyang hatipun gembira karena sudah makan saatnya melanjutkan perjalanan ke rumah tour guide ke-3 kami namanya Mas Jey. Di rumah Mas Jey kami bisa santai dan juga rental alat Snorkling seperti Snorkel, Fin, dan Sepatu Katak yang merupkan alat standar buat snorkling :recsel .

      Alat sudah ada, tenaga pun sudah full saatnya pergi menuju ke Pulau Krakal Besar dari dermaga di Karimunjawa :ngacir2

      Di kapal kami bisa melakukan apapun seperti canda gurau, latihan photo (seperti TS lakukan), ataupun tidur lagi

      Akhirnya setelah 2 jam kami sampai di Pulau Krakal Besar.

      Pulau tersebut merupakan pulau tidak berpenghuni jadi benar-benar yang tinggal di pulau tersebut hanyalah kami ber-13. Pulau ini merupakan pulau yang jarang menjadi destinasi para wisatawan saat itu kami ke pulau tersebut tidak ada orang sedikitpun :takut . Alam di pulau tersebut masi sangat alami karena jarang dijamah manusia namun masi ada sampah di pulau maka dari itu salah satu tujuan kami adalah membersihkan pulau tersebut dari sampah terutama sampah botol plastik :matabelo . Sebelum itu semua dilakukan sebaiknya kita mulai memindahkan barang-barang ke spot buat tenda. Setelah spot tenda ditemukan barulah kami membuat tenda dan melakukan kegiatan lain seperti memasak dll.

      Malam pun tiba untuk menembah cemilan malam ane, C.K dan Made memutuskan untuk mencari kepiting untuk direbus
       
    • By Apriyani Indrawati
       

       
       
       
      Berunding mau ke Pulau Panjang itu kita sebulan sebelum UAS. Kenapa? Ga tau! hahaha
      Jadi, sebelumnya kita udah pernah ada rencana buat jalan-jalan bareng, cuma waktu itu belum pada minat. Ga tau kena angin apaan, tiba-tiba aja pada ngadain. Alasannya karena kita udah semester 5, takutnya nanti udah nggak bisa main bareng. Oke, pilihannya ke Jepara. Setelah seluncuran di google nyari obyek wisata, nemu deh akhirnya Pulau Panjang. 
       
      Skip
      Kita sepakat untuk berangkat sehabis UAS. Waktu itu jadwal belum keluar, setelah keluar kita tetapin pergi hari Jum'at (29 Januari 2016). Kenapa Jum'at? Selain buat hindarin hari libur, juga biar enakan gitu nggak terlalu rame. Hari Kamis setelah UAS kumpul kan, janjian jam 7 sudah sampai tempat kumpul.
      Ini saya bilang sekali lagi, jangan percaya sama temen sendiri soal waktu! wkwk.
       
      Singkatnya, janjian pukul 7 ternyata baru 4 orang dan itupun yang perempuan. Laki-laki? Lanjutin ceritanya ajadeh. Kita nunggu di Alfama*rt deket kampus sambil berjemur di pagi hari. Udah agak gosongan, baru deh pada muncul sepasang demi sepasang.
       
      Kita jalan jam setengah 8 pagi. Karena saya dan satu teman saya yang namanya Dwi adalah wonder women, dari 7 pasang sepeda motor cuma kita yang berboncengan perempuan. Tapi itu nggak jadi masalah, kok! Kita ini berangkat dari Semarang, tepatnya di Jl. Wolter monginsidi, Pedurungan, Semarang.
       
      Ivan. Kepala kelompok (karena dia paling besar, kita jadikan mangsa wkwkwk) bukan.. bukan.. karena dia yang pertama kali mencetuskan ide buat jalan-jalan hingga akhirnya kami semua meng-iya-kan ajakannya yang memimpin perjalanan. Saking ngebutnya, cuma tiga motor yang tetep berurutan: Ivan, Zaky, Saya dengan pasangan masing-masing. Kita kepisah, berasa lagi lomba ada regu-reguan gitu.
       
      Sampai Demak, kita bertiga ke rumah salah satu teman sekelas (dulu) namanya Andi. Regu motor yang tertinggal tadi sudah menunggu di Alun-Alun Demak, iya, di depan Masjid Agung Demak. Kita langsung nyusulin ke sana dan kembali melanjutkan perjalanan.
       
      Yang perlu diperhatikan : Jika anda ingin pergi ke suatu tempat, ada baiknya anda pahami terlebih dahulu rute yang dilalui. Kalau perlu catat lokasi-lokasi penting yang bisa dijadikan patokan jalan.
       
      Nggak kayak gini, udah masuk di kawasan Jepara, eh si doi lupa jalan ke Pantai Bandengan, saya mah nggak tau jalan, ngikut ajaaa (ini salah juga!). Akhirnya, ada satu teman kita yang berlapang hati untuk membuka google maps, namanya Roro. Kita ikutin dari belakang sementara dia ngikutin mapsnya.
       
      Sampailah... sampailah... tepat pukul 10.10 sampai di resort. Tepatnya di Sunset Beach Resort, lokasinya sebelum masuk ke Pantai Bandengan. Kita parkir, FYI kita nggak boleh sama sekali bawa makanan/minuman dari luar, kalau ketahuan.. siap-siap di denda 100ribu hihihi padahal dari Semarang udah bawa jajan buanyak banget. Alhasil, kita umpetin di dalem ransel! ehehe. Kita masuk nggak bayar sepeser pun tetapi waktu milih tempat buat duduk, datanglah pelayan di cafe resort itu nyodorin buku menu. Setelah lama memilih pesanan, kita akhirnya pesan es teh manis yang harganya 8 ribu/gelas, pisang goreng keju, sama tempe mendoan, dua makanan ini nggak tahu harganya berapa, kisaran 10-15ribu per porsi.
       
      Kebiasaan kalau jalan-jalan harussssss? foto-foto! Betul! Sambil nunggu pesanan datang kita habisin waktu dengan berfoto. Kita nggak langsung nyemplung! Laah? Terus Ngapaiinnnn?
      Karena pergi pas hari Jum'at otomatis kita nungguin kaum adam untuk menjalankan ibadah salat Jum'at dan kaum hawa menunggu giliran salat dzuhur setelah laki-lakinya selesai. Nggak lama kok nunggu pesanannya datang, cuma berapa menit gitu.
       
      Kira-kira pukul 1 siang kita lanjut jalan-jalan di Pantai Bandengan, nah, ini enaknya masuk ke resort, kita bisa jalan-jalan ke pantai tanpa bayar di loket hehehe tapi kalau pengunjung pantai dilarang masuk resort loh. Setelah jalan sambil mikir mau kemana, akhirnya kita cari makan. Kita makan di warung soto Mbak Sri. Makanan dateng sedep banget karena laper, pas diaduk-aduk, laaah punya saya ada lalatnya! Bingung kan musti komplain tapi nggak enak hati, mau makan juga nggak pengen, tapi lapeerrrrr. Akhirnya, saya makan juga tapi nggak sampai habis, hanya berapa sendok buat ganjel perut. Jam setengah 2 kita masih di warung soto, nunggu temen yang mau nyusulin ke sini tapi nyasar nggak tahu kemana. Lamaaa udah hampir sore takutnya pas nyebrang nanti air lautnya keburu pasang. Jam 2 dateng akhirnya, nunggu dia makan sampai jam setengah 3.
       
      Let's go! Kita jalan jam setengah 3 sore menuju tempat pemberhentian perahunya. Tarif pulang-pergi 15ribu per orang. Di dalam perahu, dasarnya cerewet, perahu kita rameee sendiri hahaha! Seru sih, perahu lain diem aja. Banyak banyolan yang tiba-tiba nyetus gitu aja sampai sakit perut ketawa terusss. Pas udah sampai, ada berita yang tidak mengenakkan, nih. Si bapak pengemudinya bilang kalau kita hanya dikasih waktu setengah jam alasannya karena udah sore. Yaaahh sedih nggak sih, kita nyebrang 45 menit loh, jadinya cuma setengah jam di Pulau Panjang huft kezel.
       
      Ada apa sih di Pulau Panjang? Sempet penasaran banget gara-gara testimoni dari pengunjung yang bikin ngiler, pengen tahu ada apaan. Turun dari perahu kita bayar tiket masuk kira-kira 3rb-5rb per orang. Barulah bisa bener-bener ada di Pulau Panjang. Kita masuk gapura banyak peziarah yang hendak pulang. Di situ ada makam Syeikh Abu Bakar bin Yahya Ba'Alawy, yang mau ziarah? bisa banget! Kita lurus ke jalan setapak, di samping kanan dan kiri kita banyak pohon-pohon, jadi berasa di hutan, banyak nyamuknya juga. Untuk kalian yang mau ke sini, jangan lupa tutupi badan kalian, ya! biar nggak digigitin nyamuk hehehe.
       
      Baru seperempat jalan, kita udah ngos-ngosan karena jalan sambil bicara terus-terusan. Kata temen, jalannya masih jauh akhirnya kita putuskan untuk muter balik! hahahaha faktor U nih kayaknya xixi.
       
      Kita mejeng!

      Sunset Resort Beach

      Sunset Resort Beach

      Pantainya resort

      Gapura masuk Pulau Panjang

      Taman kecil pinggir pantai di Pulau Panjang
       
       

      Jalan-jalan di hutannya Pulau Panjang
       
       
      Okey setelah pukul 4 kita bergegas menuju ke perahu yang tadi kita tumpangi (molor setengah jam dari waktu yang ditentukan). Perjalanan pulang ke Pantai Bandengan ombaknya gedee banget! Maklum sudah sore, kita juga nakal tadi hihihi. Udah pada capek, jam setengah 5 kita sampai di Pantai Bandengan dan kembali lagi ke resort. Apesnya, kita lagi-lagi disodori buku menu oleh pelayannya huft...
       
      Sembari menunggu sunset, saya, Vira, Dwi, Ulfa, dan Ida bermain air di pantai resortnya. Ombaknya udah gede jadi kita hanya main-main di pinggir pantai. Yang lain? duduk santai, menikmati angin sepoi-sepoi di meja bundar. Udah kayak mau konferensi bapak-bapak wkwkwk.
       
      Keuntungan masuk resort, habis bermain di pantai, kita diperbolehkan mandi di kamar mandi dekat kolam renang. Jadi, hanya antre dengan pengunjung resort saja...
       
      Hampir magrib kita pulang, kira-kira setengah 6 kita keluar dari resort (gak bayar parkir dan tiket masuk).
      Sampai di Demak jam 9 malam kita mampir makan malam di warung pecel, katanya paling enak di Demak. Memang enak, porsinya juga buanyak banget sampai para srikandi nggak kuat menghabiskan. Kita buang-buang makanan gaes...
      Asyik bercengkrama, setengah 10 kita lanjut perjalanan lagi sampai Semarang.... But... Wait...
      Motor temanku stangnya nggak bisa balik, masih dalam keadaan terkunci tapi sebenernya udah nggak terkunci. Bingung? Yang jelasin apalagi hahahaha.
      So, mau nggak mau para lelaki jadi montir magang dadakan, bongkar motor duluuu huhu kasihan motor si Ulfa... Ini dikarenakan nggak dengerin kata bapaknya si Ulfa, motornya nggak boleh dibawa eh kita paksain karena kekurangan motor..
      Beres sekitar jam 10an, dari Demak lanjut perjalanan langsung berpencar ke rumah masing-masing. Berhubung rumah saya jauh dan nggak memungkinkan buat balik, akhirnya saya nginep di kos Dwi. Kita sampai pukul 11 malam.
      Lah hubungannya sama judul di atas? Iya, kapes-kapes adalah nama kelas pagi angkatan kita yang dicetuskan oleh Roro *prokprokprok* bukan kita yang basah kuyup di Pulau Panjang tapi kelas kapes-kapes berkunjung ke Pulau Panjang.
       
      Pengalaman yang menyenangkan? Betul... setiap pergi berlibur bersama teman-teman adalah hal yang menyenangkan.
       
      Sedih? Kurang persiapan kelengkapan sampai terjadi insiden di Demak.
      Total kita pergi dari Semarang ke Jepara sekitar 100ribu. Semuanya sudah dihitung.
      Tips?
      Persiapkan betul-betul mau pergi kemana, lewatnya mana, akomodasi, dan perlengkapan yang harus dibawa. Kalau mau ke Pulau Panjang jangan sore-sore karena waktunya berkurang, yang tadinya sejam jadi dikurangin berapa menit, gak enak. Cek kelengkapan kendaraan. Siap mental lahir batin. Pamit sama orang tua nggak boleh bohong. Cerita lain? mau share link? Komen-komen gak jelas? di sini
    • By Arif Irawan

       
      Ini adalah sebuah tempat yg belum ngehits, tapi instagramable hi hi..., awalnya gara - gara salah info tentang pelaksanaan MERON di sukolilo pati (mirip2 sekatenan di jogja). dapat info pelaksanaan  acara meron habis sholat jumat tapi sampai sana jam 1 siang ternyata sudah bubar acaranya, cuman dapet macetnya doang hi hi,, kan nyesek tuh.  sambil nunggu kemacetan terurai sempat ngobrol2 sama seorang pemuda disana ternyata orang kayen, pati. mendadak jadi inget pernah lihat foto di salah satu grup FB namanya prosotan semar. pas aku tanya kebetulan dia baru aja dari sana dapetlah info jalannya. pas aku tanya mobil bisa kesana ga dia bilang bisa banget karena TKP pinggir jalan cuman mesti jalan dikit nurunin lereng. 
       
      Fix akhirnya meluncur kesana, lokasi gampang dicari patokannya jelas. masuknya dari pertigaan di sebelah RSUD  kayen dekat alun2 kayen arah ke desa sumbersari. kemarin aku ukur dari pertigaan jaraknya 5,1 km. sempat nyasar keblablasan, karena belum tau lokasi pastinya dan ga ada papan petunjuk karena memang ini bukan tempat wisata. modalnya pake GPS (Gunakan Penduduk Setempat ).
      yang ga tau kayen letaknya kalau dari timur pati nanti ketemu simpang lima pati belok kiri ikuti petunjuk jalan arah ke purwodadi,  kalau dari barat pati. sampai pasar bareng kudus maju dikit ada lampu merah belok kanan  ikuti jalan sampai mentok nanti belok kiri sudah sampai daerah kayen.  letaknya di tengah jalur utama antara pati - purwodadi.

      pertigaan sebelah rsud, dari rsud belok kanan ikuti jalan sejauh 5,1 km

      kalau ketemu rumah di kiri jalan ini berarti sudah sampai ( panah = jalan turun ke TKP)

      jalan masuk ke tkp
       

      koordinat lokasi 
       
      Nah cukup jelas kan info TKPnya
       
      Mobil kemarin aku parkir di pinggir jalan, dari jalan raya kemudian jalan kaki cuman turun aja ga ada 5 menit sampai.
       

       
       

       

       
       
      sampai lokasi masih bersih tempatnya, sampah palingan cuman ranting2 yang hanyut namanya juga kali,  ga ada sampah rumah tangga karena memang rumah penduduk jauh dari TKP. jangan harap pula ketemu sampah mainstream seperti botol kemasan air mineral, kemasan mie instan etc. dan pas disini padahal hari libur panjang ga ada orang sama sekali ha ha bisa memuaskan hasrat untuk foto2 disini. sore itu hanya ada 1 warga lokal ke tkp cuman buat nyuci sepeda motornya hi hi..

       

       

       

       

       
      Oh iya lupa, kalau kesini jangan lupa bawa bekal, ga ada warung dekat2 sini, dan jangan lupa lagi "BAWA PULANG SAMPAHMU".
      Puas foto2 liat ke bawah seperti ada curug lagi cuman masalahnya kalau mau ke bawah mesti nyebrangin kedung sungainya. alias harus berenang. akhirnya nyari jalan lain mesti muter lewat hutan jati

       
      akhirnya sampai ke bawah  ada air terjun mininya lagi cuman yang ini ga begitu tinggi tapi kedungnya keliatannya dalam, kemarin nyoba masukin batang bambu yg dipinggir aja sekitar 2m dalemnya.
       

       
      ga kalah keren ma yang diatasnya kan. tapi weits ternyata di bawahnya ada curug lagi, total ada 3 tingkat ternyata curugnya.

      mancing sek ben ra edan!!

       
      karena dari siang kena macet di sukolilo pas acara meron,  lama di tkp bikin gerah juga akhirnya ga tahan godaan buat menceburkan diri hi hi...  keren berasa milik pribadi ga ada orang lain yang kesini

       

       

       
      kalau mau berenang disini hati2 jangan asal lompat dari atas curugnya, karena di dalam kedungnya beberapa titik ada batu besarnya. terkadang diantara batu ada celah sempit dan dalam bahaya kalau terperosok bisa kejepit.