Sign in to follow this  
syuhadaali

Aktivitas Masyarakat Cianjur Pedesaan dan Perkotaan di Sore Hari

2 posts in this topic

 

Cianjur adalah sebuah kabupaten yang berada di anatar Bandung, Sukabumi, dan Puncak. Banyak sekali keunikan yang tidak dapat kita temukan kecuali di Cianjur. Budaya Sunda yang masih kental dengan ciri khas cengkok saat percakapan dilakukan sudah jarang kita jumpai di daerah lain yang sama-sama menggunakan babasan Sunda, peribahasa Sunda, dan dialek bahasa Sunda, seperti Bogor contohnya.

Saya berkesempatan untuk mengunjungi dan mengeksplorasi seluruh daerah Cianjur. Mulai dari Cianjur Selatan hingga daerah Cipanas yang merupakan daerah Cianjur dengan nuansa yang unik.

Berikut ini beberapa kebiasaan masyarakat Cianjur yang saya saksikan ketika disana. Saya membandinhkan kebiasaan masyarak Cianjur di daerah desa denga daerah kota yang mempunyai keunikan tersendiri.

 

1. Ngurek (memancing belut)

Daerah Cianjur kita kenal sebagai salah satu sentra tanaman padi. Salah satu jenis padi yang merupakan ciri khas dari Cianjur adalah beras pandan wangi yang mempunyai tekstur dan aroma padi berkualitas yang sangat khas.

Di hamparan luasnya sawah Cianjur, banyak ditemukan orang-orang yang mencari belut setiap sore hari. Hal ini biasa disebut ngurek dalam bahasa Sunda. Berbekal tali nilon yang sudah dililit dan diberi kail, masyarakat Cianjur biasa berburu belut pada sore setelah ashar hingga menjelang magrib.

Menurut warga sekitar, saat ini belut yang mereka dapatkan jumlahnya berbeda jauh dengan waktu tahun 90-an hingga 2000. Saat itu, warga dapat mendapatkan hingga puluhan belut sehari. Sedangkan saat ini, 5 belut saja sudah susah di dapatkan.

Menurut mereka, alasan utamanya adalah penggunaan pupuk kimia yang membuat berkurangnya jumlah belut. Selain itu, masa panen yang lebih pendek membuat umur belut untuk bertahan di sawah juga berkurang. Karena jika sudah dipanen, biasanya rumah belut akan tercungkil ketika sawah mulai di traktor untuk penanaman padi selanjutnya.

 

2. Mosong

Mosong adalah aktivitas dengan tujuan yang sama dengan ngurek, yaitu untuk mencari belut. Bedanya, ngurek dilakukan pada sore hari dengan ara memancing belut menggunakan umpan, lalu umpan digerakkan memutar menggunakan nilon supaya terlihat bergerak.

Hal ini akan membuat belut tertarik dan memakan umpan tersebut yang sebenarnya sudah diberi kail. Bedanya dengan ngurek, mosong biasanya dilaksanakan dengan bantuan alat berbentuk jebakan.

Waktu penjebakan biasanya dilakukan pada siang hari ketika belut belum terbangun, jebakan diisi oleh cacing, anak katak, atau ikan kecil. Selanjutnya posong (alat jebakan) ditaruh di dekat lubang belut dan ditutupi oleh jerami (rumput kering) supaya jebakan tidak terlihat oleh target.

Setelah ditaruh pada siang hari, posong biasanya diambil pada waktu pagi (setelah shubuh). Diperlukan ingatan yang tajam untuk mengetahui di mana posisi menaruh jebakan. Luasnya sawah dan kemampuan kuatnya ingatan akan memaksimalkan hasil yang di dapat.

Karena jika yang menyimpan jebakan lupa, maka terkadang banyak jebakan yang tidak ditemukan sehingga justru mengalami kerugian. Akan tetapi, serta orang Cianjur yang melakukan aktifitas mosong ini mempunyai daya ingat yang luar biasa. Pak Ahmad, salah satu masyarakat Cianjur di Kecamatan Cibeber yang saya temui bahkan mengetahui dengan pasti di sawah siapa ia menyimpan jebakan belutnya.

Dalam sebuah sebuah jebakan, terkadang terdapat lebih dari satu belut yang masuk. Bahkan sering kali masyarakat mendapatkan korban tak terduga seperti ular. Oleh karena itu, diperlukan kehati-hatian ketika mengeluarkan hewan yang terjebak. Karena mungkin saja ada ular yang masih hidup terjebak di dalam posong.

Dalam sehari, pak Ahmad mengklaim dapat membawa pulang setengah hingga 1,5 kg belut dengan bermodalkan ratusan posong yang ia bawa.

 

3. Balapan Motor di Jalan Baru Cianjur

Beda di daerah pedesaannya, beda pula di daerah perkotaannya. Jika di daerah pedesaan tadi saya melihat banyak aktifitas yang sangat kental dengan budaya dan kesederhanaan, di daerah Kota Cianjur yaitu di dekat Terminal Pasir Hayam banyak aktifitas yang kurang lebih sama dengan di kota-kota besar.

Salah satunya adalah perlombaan balapan motor drag. Uniknya, perlombaan disini merupakan sebuah acara resmi yang biasanya diadakan pada setiap akhir pekan dan hari libur. bahkan, meskipun dilakukan di jalan umum, pihak polisi Cianjur sendiri yang menutup jalan sementara untuk dilakukan balapan motor.

Tujuan dari kegiatan tersebut menurut salah satu anggota polisi polres Cianjur adalah untuk meminimalisasi tindakan kriminal. Salah satunya dengan memfasilitasi hobi anak muda yang jika tidak diselenggarakan dan diawasi oleh polisi berpotensi terjadi keributan. Dengan diadakannya balapan motor yang dikawal langsung oleh polisi, maka otomatis peserta dan penonton akan segan jika terjadi keributan.

Alasan tersebut menurut saya unik dan tepat untuk meminimalisasi terjadinya keributan antar geng atau kelompok pemuda. Sehingga dengan diadakannya event semacam itu, maka hobi para bikers juga dapat tersalurkan. Hal ini juga bertujuan meminimalkan acara balapan liar di Cianjur.

 

Itulah beberapa hal yang saya alami ketika berkunjung ke Cianjur untuk sedikit mengenal kebudayaan dan kebiasaan masyarakat di sana. Sebuah daerah yang menurut saya mempunyai keunikan tersendiri. Pasalnya, ada daerah di selatan Cianjur yang merupakan daerah yang budayanya masih kental dengan teknologi yang terbatas. Sedangkan di daerah kota terdapat masyarakat dengan kebudayaan modern yang masih tertata oleh pemerintahannya.

SUMBER

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By Eko Carbon Prasetyo
      Walaupun lahir,gede,makan,minum,tidur dan hidup di boyolali..
      Ini kali pertama saya melihat yang namanya kirab budaya sebaran apem..
      Boro-boro yaqowiyu yang di jatinom,lihat yang di penggng aja baru kali ini...
      dan menurut informasi temen saya yang orang situ,setahun ada sekitar 3 kali event budaya seperti ini diadakan di pengging.Mungkin masih kalah jauh animonya dengan event serupa yang diadain di Jatinom,next time saya pengen bikin video kirab padusannya karena biasanya pas padusan itu eventnya lebih gede.O ya,padusan adalah prosesi pen sucian diri yang dilakukan orang jawa,khususnya jawa tengah,yang diakuin menjelang memasuki bulan puasa yang tujuannya agar di bulan tersebut kami mampu menjalani ibadah ramadhan secaa lahir dan batin.
      Apa aja yang saya lihat?
      lihat aja disini
    • By Penempuh Rimba
      MACCERANG MANURUNG
      Adalah salah satu tradisi budaya yang ada di Kabupaten Enrekang. Perhelatan budaya ini diadakan sekali dalam 8 tahun di Desa Mata Kali, Kecamatan Maiwa, kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, sekitar 9 km dari ibukota kabupaten.

      Maccerang Manurung banyak dikunjungi orang, bukan hanya pengunjung lokal tetapi juga dari luar propinsi bahkan perantauan yang pulang dari Malaysia.
      Maccerang Manurung dilaksanakan dengan maksud memohon keselmatan dan Rezeki dalam menjalani kehidupan sekarang dan masa yang akan datang.

      Maccera adalah mendarah, yaitu menyembelih binatang untuk dipersembahkan bagi penguasa alam.
      Manurung berasal dari bahasa Bugis yang dalam terjemahan bebasnya berarti “orang yang turun dari ketinggian/kayangan” dengan sifat-sifat khusus seperti:
      Tumanurung tidak dikuburkan apabila meninggal dunia karena tubuhnya menghilang tinggal kapaian atau kerisnya,
      Tumanurung dapat dengan tiba-tiba tidak bisa dilihat, kadang berada di dekat kita,
      Tumanurung memiliki rasa kemanusiaan yang mendalam atau menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,
      Tumanurung cakap dan mempunyai wibawa pemimpin dan pembimbing masyarakat, sangat bijaksana, banyak mengajar masyarakat bercocok tanam, dan berternak dengan baik,
      Tumanurung banyak tahu, terbukti bimbingannya kepada masyarakat untuk memuja dan menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

       
    • By onesecond
      Kenalan dengan Batik Nusantara Yuk!

      Batik, seni melukis yang menggunakan canting ini semakin hari semakain di kenal dunia. Setelah sempat diributkan siapa pemilik aslinya, Indonesia atau Malaysia, UNESCO pun menetapkan batik sebagai warisan budaya negeri kita. Seni membatik banyak diaplikasikan di berbagai kerajinan tangan, termasuk di item fashion, pakaian yang paling popular.

      Warisan nenek moyang kita ini memang tak pernah usang di makan waktu seiring kreativitas anak bangsa yang semakin berkembang. Tapi, tahukah kamu jika Presiden Soeharto adalah orang yang pertama kali memperkenalkan batik kepada dunia? Yap, presiden kedua Indonesia itu memakai batik saat konferensi PBB berlangsung.

      Nilai batik semakin hari semakin tinggi karena nilai budaya yang juga terkandung di dalamnya. Di Indonesia, di berbagai wilayah punya motif batik masing-masing yang melambangkan ciri khas dan budaya daerah itu sendiri. Sebagian besar batik yang banyak diminati adalah batik yang berasal dari Pulau Jawa, karena itulah sebagian besar daerah di Pulau Jawa memproduksi batik. Seperti Pekalongan, Solo, Yogyakarta, Cirebon, dan Banten. Walaupun demikian, daerah yang berada di luar Pulau Jawa juga banyak yang memproduksi batik.

      Yuk kita kenalan sama jenis-jenis batik di berbagai daerah. Nggak Cuma bisa dipakai sendiri, batik bisa jadi oleh-oleh kalau kita berkunjung ke daerah-daerah pengrajin batik, lho.

      Berikut ini adalah batik yang berdasarkan daerah dari Pulau Jawa :

      ·         Batik Pekalongan
      Daerah ini terkenal dengan produksi kerajinan batiknya. Jenis motif batik pekalongan ini diantaranya adalah jlamprang, terang bulan, sekar jagad, lung-lungan, dan pisan bali. Yang paling menonjol atau menjadi cirri khas dari batik pekalongan ini adalah motif bunga dan dedaunannya.

      ·         Batik Yogyakarta
      Bicara tentang Jogja memang nggak pernah ada habisnya. Selain sebagai kota pelajar, Jogja adalah kota budaya dan salah satu kekayaan budayanya adalah batik Jogja. Pada zaman dahulu batik hanya dipakai oleh orang-orang terkemuka seperti keluarga keraton. Namun berbeda dengan sekarang, saat ini siapa pun bisa menggunakan batik walaupun sebagian dari mereka masih ada yang mengkhususkan batik yang hanya bisa dipakai oleh keluarga bangsawan.

      Motif yang dimiliki batik Jogja ini antara lain, motif Parangkususmo, motif Truntum, motif Liris, motif Parang, motif Kawung, motif Udan Nitik, dan motif Tambal. Pola besar dan simetris menjadi ciri khas dari motif batik Jogja ini. Mendapatkan batik di Jogja sebagai oleh-oleh sangatlah muda. Kamu hanya tinggal mengunjungi kawasan malioboro karena di sana, kamu bisa menemukan berbagai lokasi khusus batik, dari mulai jalan malioboronya sendiri, pasarnya, hingga di dalam mallnya.

      ·         Batik Madura
      Kota yang satu ini punya banyak sekali motif menarik untuk batiknya. Biasaya, jenis motif yang berasal dari Madura ini antara lain adalah motif bunga, burung, serat kayu, dan juga tanjung bumi.


      Nah, untuk lebih mudah lagi mengenal ciri batik Madura, kita bisa mengenalinya dengan warna-warna yang berani atau warna-warna yang mencolok. Misalnya, ada yang berwarna merah, biru, kuning, dan hijau. Warna yang dihasilkan pada batik ini menggunakan bahan pewarna alami, sepeti ting, mengkudu dan kulit mundu. Motif pada batik Madura ini antara lain motif binatang dan tumbuhan. Uniknya, desain yang terdapat pada batik ini memiliki cerita tentang kehidupan sehari-hari warga Madura.

      ·         Batik Solo
      Solo, kota yang masih menjunjung tinggi adat jawa yang kental. Batik Solo merupakan batik yang banyak dikenal, karena di kota ini terdapat lokasi yang menjadi pusat pengrajin batik. Jika kamu mengunjungi Solo, kamu bisa mengungjungi kampung Laweyan dan kampung Kauman yang banyak memproduksi batik. Motif batik yang terkenal di Solo adalah motif Raturatih, Sidoluruh dan Sidomukti. Warna yang menjadi ciri khas pada batik ini adalah coklat. Dan kayanya lagi, setiap motif punya makna masing-masing.

      ·         Batik Cirebon
      Cirebon, kota ini juga merupakan penghasil batik lho. Kamu pasti bisa membedakannya karena batik Cirebon banyak juga beredar di pasar dan cukup diminati. Motif yang terkenal adalah mega mendung di mana motif ini memiliki dua warna yaitu warna biru muda dan tua. Masing-masing dari warna tersebut memiliki makna. Warna biru muda melambangkan kehidupan yang semakin cerah. Sedangkan warna biru tua menggambarkan awan yang gelap dan memiliki curah hujan yang tinggi.

      Selain warna biru, batik ini juga berwarna merah, kuning, dan hitam. Bentuk pola pada motif ini ialah lancip, lonjong, dan segitiga. Motif Mega Mendung sebagian besar dipengaruhi oleh perpaduan budaya Islam dan Cina.


      Selain motif Mega Mendung, batik Cirebon juga memiliki motif Naga Silam. Pola yang dimiliki pada motif ini sama dengan pola Mega Mendung. Motif ini dipengaruhi oleh budaya India dan makna yang dimiliki dari motif ini adalah perang kebaikan melawan kejahatan untuk mencapai kemakmuran. Daerah penghasil batik Cirebon berpusat di desa Trusmi. Jangan lupa untuk mampir ke desa yang juga disebut sebagai kampung batik Cirebon ini.

      Nah, itu tadi batik yang berasal dari Pulau Jawa. Kini, kita beranjak ke pulau lain, karena sebenarnya tidak hanya Pulau Jawa yang terkenal dalam produksi batiknya. Di luar pulau tersebut juga demikian. Berikut sejumlah wilayah di luar pulau Jawa yang juga dikenal sebagai pengrajin batik:

      ·         Batik Bali
      Batik bali berdiri pada tahun 1970, maka batik ini terbilang masih muda. Tapi meski begitu, batik Bali dengan cepat bisa dikenal luas dan banyak diminati turis. Alat yang digunakan untuk menenun kain batik ini adalah ATBM atau Alat Tenun Bukan Mesin. Jadi kain ini ditenun secara manual.

      Orang-orang bali menggunakan batik pada saat menghadiri proses upacara. Hal inilah yang menyebabkan batik Bali berkembang pesat. Motif pada batik ini adalah perpaduan antara motif asli pulau dewata dengan motif batik yang berada di luar Bali seperti motif batik pekalongan, solo, dan papua. Motif asli pulau dewata ini  antara lain burung bangau, rusa, naga, dan kura-kura.

      ·         Batik Minangkabau
      Yap, Sumatra Barat ini ternyata juga terkenal dalam kerajinan batiknya. Batik ini memiliki keunikan dalam cara pembuatannya, yaitu dengan menggunakan tanah liat. Proses pembuatannya pertama-tama kain dan tanah liat bersamaan direndam dalam jangka waktu seminggu, lalu dicuci dan diberi pewarna sesuai dengan motif yang dibuat. Motif yang terkenal pada batik ini adalah kaluak paru, batuang kayu, dan tari piring.

      ·         Batik Papua
      Pernah mendengar Batik Papua? Mungkin belum sepopuler batik lainnya, tapi Papua juga punya batik yang nggak kalah cantiknya. Karena keindahan alam yang masih asli dan juga burung cendrawasihnya, motif Batik Papua ini kebanyakan adalah motif burung cendrawasih, kanoro, sentani, tifa, honai, dan lain sebagainya. Oya, motif asmat juga menjadi motif yang terkenal dari Batik Papua ini.

      Uniknya lagi, proses pembuatan batik di Papua ini dibagi ke dalam dua bagian. Ada proses pembuatan yang dialkukan oleh kaum wanita, yaitu batik tulis dan ada juga yang dikerjakan oleh para pria, yakni batik cap.

      Sebenarnya selain batik yang sudah disebutkan di atas, masih banyak lagi lho batik-batik yang ada di Indonesia. Setiap daerah punya ciri khas masing-masing yang tentunya selalu menarik dan gak kalah cantiknya juga. Ayo lestarikan batik dan budaya kita lainnya biar nggak rebutan klaim mulu sama tetangga. J

    • By Debi anwa
      Situs Gunung Padang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Lokasi dapat dicapai 20 kilometer dari persimpangan kota kecamatan Warungkondang, dijalan antara Kota Kabupaten Cianjur dan Sukabumi. Luas kompleks utamanya kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara. sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Situs_Gunung_Padang
      perjalanan ini sebenarnya dari sebuah keisengan ketika saya kembali ke Bandung menggunakan motor dari Tangerang.
      saya berangkat jam 10 pagi dari Tangerang, sekitar jam satu siang saya memilih untuk beristirahat di puncak bogor. karena waktu masih siang, saya memutuskan untuk mencari destinasi menarik di daerah puncak bogor. ketika browsing-browsing munculah sebuah artikel yang membahas Gunung Padang. untuk menghilangkan rasa penasaran saya, akhirnya saya bulatkan tekad untuk ke Gunung Padang dahulu sebelum kembali ke Bandung.
      perjalanannya cukup gampang, namun jika dari puncak bogor membutuhkan waktu sekitar dua jam.
      dari puncak bogor, kamu tinggal ambil arah ke Cianjur, ikuti jalan saja sampai ketemu perempatan bundaran cianjur, ambil kanan ke arah warung kondang, Sukabumi. nanti akan melewati pasar warung kondang, dari pasar tersebut kita lurus saja mengikuti jalan, sekitar -/+ 1km nanti kita akan melihat plang arah ke Gunung Padang. Plangnya berada di sebelah kiri jalan dan tidak terlalu besar, jadi jangan sampai terlewat gaes.
      setelah masuk ke gang / jalan yang menuju Gunung Padang, kamu hanya tinggal mengikuti jalan saja. jalanya cukup jauh, jika naik motor sekitar 45menit. nanti ada plang arah lagi yang akan menuntun kamu menuju Gunung Padang. nanti kamu akan menemukan kebun teh, dari kebun teh, Gunung padang tidak jauh lagi. jangan takut tidak ada parkir, karena pemerintah sudah menyiapkan lahan parkir yang cukup. dari tempat parkir kita harus menaiki sekitar 600 anak tangga untuk sampai puncak Gunung Padang.
      sekitar Gunung Padang masih ada Destinasi menarik lainya, seperti Terowongan Lampegan dan Air Terjun Cikondang. karena sudah sudah sore dan saya harus kembali ke Bandung, jadi saya tidak bisa menikmati kedua destinasi tersebut, saya hanya menikmati Gunung Padang saja.
      biaya
      - tiket masuk Rp.2500 satu orang (harga bulan Desember 2014)
      - tiket parkir Rp.2000
      tips buat kamu yang menggunakan motor.
      - isi penuh bensin kamu, ketika masih di jalan raya Sukabumi
      - bawa cemilan atau makanan dan minum
      ouh iyah gaes mohon baca dan taati aturan yang berlaku disana yah. jangan vandalisme.
       
      sekian dari saya. terima kasih. mohon maaf kalo ada kesalah kata dan kurang detailnya cerita.
       
       






    • By Titi Setianingsih
      Hallow Jalan2er Indonesia,,,,,!!
      Rasa2nya kalau libur tidak jalan2 kaki ini protes, kalender selalu terpampang di depan meja, di buka2 dan dilihat kapan ada kalender merahnya ? Tanggal 2 Juni 2015 bertepatan dengan Hari Raya Waisyak,,,hhhmmmm teman2 sudah ramai menanyakan kemana kita ??? Dengan berbekal referensi di Forum ini, jadilah kami ke Situs Gunung Padang Cianjur.
      Dari Jakarta kami ber 14, supaya muat 1 mobil elf. Dari 14 orang tersebut banyak yang pada belum kenal, kami hanya kenal lewat facebook di Komunitas Jalan2 Indonesia (KJJI). Beruntung ada grup KJJI sehingga kami bertambah teman jalan2, terima kasih Mas Rudy dan Mas Deffa yang sudah mempertemukan kami, sejak ketemu di Trip Gunung Padang inilah, kami menjadi team yang solid, kompak, bersahabat dan bahkan bersaudara. Mereka adalah Bu Rina Dwi Cahyani, Mbak Kristina, mbak Dama Yanti, Mbak Nikmah, Mbak Ermaya, Mbak Rina, Mas Windhu, Mas Tohir Raden Mochamad, Mas Herru Jatmiko, mas Dimas Ario Bimo, anak saya Fitria, anak Bu Rina, mbak Yenni Zulkrida dan saya sendiri.
      Untuk menentukan meeting point pun awalnya agak sulit, karena ada peserta yang tempat tinggalnya jauh, bahkan ada juga yang akhirnya membatalkannya. Dan setelah deal meeting point di UKI Cawang Jakarta, kembali kami khawatir akan sulit mencari masing2 peserta karena belum saling kenal / bertatap muka, akhirnya kami putuskan untuk membuat kaos seragam. Jadi mudah kami menangkap basah setiap orang yang pakai kaos yang sama, apalagi sebelumnya kami sudah saling komunikasi melalui Wathsapp,,,jadi tinggal gunakan feeling saja. Begitulah awal persahabatan kami, dan setelah ketemu, keraguan itupun musnah seketika, karena kami ternyata baik2 semua, satu visi, suka menikmati jalan2. Yuhuuuyyyyyy,,,bahkan ketika mobil elf kami mogokpun tidak kami jadikan kendala, sambil menunggu di bengkel, kami gunakan moment itu untuk saling mengenal dan foto2,,,,,,,

      Gara2 ban mobil kami kena paku inilah, mendadak kami jadi salesgirl ban mobil hahahhaha,,,! Tak apalah, walau komen teman2 di facebook pada protes karena antara judul album foto dengan isinya beda, judulnya album Gunung Padang tapi kok fotonya ban mobil ????? xixixixixi,,
      Sebelum sampai Gunung Padang, terlebih dahulu kami singgah di Stasiun Lampegan, karena memang arahnya satu arah. Jalanannya sempit dan berjurang, sebenarnya lebih enak menggunakan sepeda motor. Untungnya sopir kami sudah berpengalaman jadi kami sampai juga ke lokasi ini walau sedikit terlambat.

      Stasiun Lampegan ini terletak di jalur KA Manggarai-Padalarang, terletak di Desa Cimenteng, Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur. Kenapa para travellers pada tertarik untuk singgah disini ? Lihat, stasiunnya unik, stasiun yang dibangun oleh Belanda sekitar abad 18 itu hingga saat ini masih kokoh berdiri dan terawat bersih, dengan ciri khas adanya terowongan yang panjang kurang lebih 600 meteran, membuat orang jadi penasaran untuk melihat dalamnya terowongan bahkan ada yang kepingin menaiki terowongan itu. 

      Ada kisah tersendiri dari nama terowongan Lampegan ini. Lampegan itu bukan nama desa, tapi nama terowongan ini. Dan asal kata Lampegan juga orang desat tersebut yang menamainya / menyebutnya walau berasal dari pendengaran yang salah. Ya, kata orang2 setempat, dahulu ketika sedang dilakukan pembangunan terowongan ini, Sang Belanda sering berteriak2 "Lamp,,,pegang" yang artinya tolong lampu dipegang. Namun sampai ke telinga masyarakat lokal menjadi Lampegan. Nama Lampegan pun dijadikan nama terowongan dan stasiunnya, sampai sekarang. Lucu ya ? Saya kira masih banyak kata2 yang diucapkan orang Belanda dulu yang saat ini dijadikan sebagai nama tempat ataupun nama permainan, misalnya permainan Sunda Manda / Engklek berasal dari "zondag-maandag" yang berasal dari Belanda dan menyebar ke Indonesia pada zaman kolonial. Ada juga permainan Ular Naga atau Slepdur yang asal kata bahasa Belandanya Sluip Door.......ah sutralaaah.....!!

      Tinggi terowongan lumayan tinggi kan ? Tapi Ibu2 gak mau kalah dengan bapak2nya, kami ikutan juga naik ke atas, walau agak kesulitan menaikinya karena memang tidak ada jalan khusus untuk naik, melainkan harus merayap ke tebing2 jalan yang licin.

      Kalau mau naik ke puncak terowongan harus hati2, karena ternyata lantai atas terowongan ini tidak rata, dan di atas terowongan sudah ditumbuhi rumput, begitu tahu kondisinya seperti itu, kami buru2 turun, beruntung ketika itu kami tidak "kejeglong", nah bahasa Jawa itu, silahkan  diterjemahkan sendiri ke bahasa Indonesia. 
      Stasiun Lampegan hanya berjarak sekitar 8 km dari Situs Megalitik Gunung Padang, yang merupakan cagar budaya nasional. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, masih satu Kecamatan dengan Stasiun Lampegan yaitu Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur.  Luas kompleks utamanya kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 mdpl, dan areal situs ini sekitar 3ha. Dari parkiran mobil menuju papan nama ini naik ojek Rp. 5,000,-, sebenarnya jalan kaki juga bisa, tapi karena kami kesiangan datangnya sehingga memanfaatkan jasa ojek saja, baru pulangnya nanti bisa jalan kaki.

      Yaaaaaa,,,walau tidak terlalu tinggi lokasinya, tapi cukup menyita energi juga, karena jalanan berundak yang merupakan peninggalan aslinya lumayan curam. Disebelahnya siy sudah dibuat tanjakan yang landai, namun jalurnya menjadi lebih panjang. Nah saya dan beberapa teman ambil jalur yang landai, walau begitu beberapa kali berhenti istirahat, mungkin karena masih kurang latihan.

      Bagi anak muda mungkin bisa dicapai dalam waktu 20 menit melalui jalur tanjakan yang curam, tapi bagi saya hampir 45 menit baru sampai ke atas. Yah pelan2 saja, sambil menikmati pemandangan sekeliling Gunung Padang yang berbukit-bukit, walau curam dan sulit dijangkau tapi mengasyikan. Kompleksnya memanjang, menutupi permukaan sebuah bukit yang dibatasi oleh jejeran batu andesit besar berbentuk persegi.

      Tempat ini sebelumnya memang telah dikeramatkan oleh warga setempat. Penduduk menganggapnya sebagai tempat Prabu Siliwangi bertapa. Saat inipun masih ada yang suka melakukan tapa di malam hari terutama kalau sedang waktunya bulan purnama, tentu saja harus seijin Pengelola Gunung Padang.

      Kata pengelola Situs Gunung Padang, jika gundukan batu2 ini di gali terus, maka besarnya akan menjadi 3x lebih besar dari Candi Borobudur. Subhanallah, kadang pekerjaan orang jaman dulu masih menjadi teka teki orang masa kini. Bangunan yang tua dan masih kuat hingga sekarang itu terbuat dari apa siy ? Katanya, situs Gunung Padang ini murni merupakan buatan manusia, tapi sejak kapan dibangunnya ? Ada yang bilang situs ini lebih tua dari Piramida di Mesir ? Terbukti diantara batu2 yang disusun itu terdapat semen purba. Yaahhhh,,,kita tunggu saja hasil penelitian dari para ahli. Namun sepertinya penelitian itu terhenti, dan cagar budaya ini terbengkalai begitu saja. Kami para travellers yang penasaran dengan situs ini tidak mendapat jawaban yang pasti.

      Susunan batu2 ini masih asli seperti ketika pertama kali ditemukan, makanya pengunjung dilarang untuk melewati tali pengaman yang ada tulisan larangannya. Dikhawatirkan akan longsor. Batu2 yang ada di sekitar Gunung Padang bentuknya hampir seragam, katanya ini jenis batu andesit, namun jika dipukul berbunyi nyaring. Katanya jaman dulu ketika masyarakat melakukan pemujaan disini disertai dengan musik yang berasal dari batu2an ini. 

      Terlihat di gambar atas, bapak pengelola Situs Gunung Padang sedang memperagakan bunyi2an yang berasal dari batu itu. Yaaa batu itu berbunyi sangat nyaring meski hanya dibunyikan dengan tangan di kepal. 

      Memang luas sekali lokasi ini, jika sudah sampai di atas akan sangat lega dan suasana semilirnya angir pegunungan merangsang mata kita untuk mengantuk, jika memungkinkan kamipun mau juga untuk merebahkan badan dan tidur disana.

      Pohon2 rindang yang ada di sini membuat asri pemandangan di sekitar Gunung Padang. Lihatlah tumpukan batu itu, kabarnya ada diantara batu itu yang bertuah, dan membawa keberuntungan, namun di rahasiakan oleh pengelola ada dimana tepatnya, karena dikhawatirkan nantinya akan dicuri oleh pengunjung maupun masyarakat sekitar. Namun bagi muslim tentu tidak percaya hal ini kan ?

      Baiklah,,,berhubung hari sudah sore, akhirnya kami putuskan untuk pulang dan berjalan kaki hingga ke tempat parkir mobil. Oh yaaa,,,tempat makan di sekitar lokasi wisata sangat sederhana, kebanyakan hanya menyediakan nasi rames saja, jadi ketika pulang kami sempatkan untuk mampir ke Sate Meranggi yang ada di sekitar Puncak Bogor.
      Sepanjang perjalanan pulang, kami sibuk dengan pertanyaan2 yang sulit dijawab, karena diantara kami tidak ada ahli purbakalanya,,,,,yang jelas kami puas bisa menyaksikan dari dekat sebuah cagar budaya yang sangat termashur ini. 
      Indonesia itu luas banget yaaaaa,,,,,mari kita nikmati keindahannya dengan jalan2 asyeeekkkkkkk,,,,,,,!!!!
       
       
    • By Mulyati Asih
      Ini cerita wisata hijau saya bersama teman-teman kantor awal Maret lalu.
       
      Memiliki pimpinan di kantor seorang pecinta dan peduli lingkungan merupakan kebanggan tersendiri buat saya, tapi jangan heran jika acara employee gathering nya pun harus berbau alam. "Malam terang bulan biasa aja emang, tapi coba nikmati di atas gunung pasti gak biasa," itulah kutipan kalimat dari email yang saya terima. Employee gathering akan diadakan di camping ground Sarongge, acara ini wajib diikuti oleh seluruh karyawan. Meskipun wajib pada kenyataannya banyak karyawan yang tidak bisa ikut, wajar sih karena kegiatan mendaki gunung memang tidak bisa dilakukan semua orang.
       
      Kurang lebih pukul tiga sore, Jumat awal Maret 2015 kami tiba di Desa Sarongge Cianjur Jawa Barat. Udara segar menghampiri kami yang baru turun dari mobil. Setelah beristirahat sejenak di Saung Sarongge kami melanjutkan trekking sejauh kurang lebih 2 kilometer menuju camping ground. Hijaunya perkebunan sayur milik warga menjadi pemandangan yang menyejukkan mata. Sesampainya di camping ground kami disuguhi teh sereh hangat dan kudapan kacang, ubi dan pisang rebus yang disediakan oleh pengelola. Lupakan sesaat kehidupan perkotaan mari nikmati apa yang diberikan oleh alam.
       

      Keseruan di camping ground
       
       
      Saatnya makan malam, sinar rembulan terang menyinari camping ground. Panasnya api unggun cukup menghangatkan dinginnya udara di ketinggian 1.560 mdpl. Kami duduk mengelilinginya sambil menyantap menu makan malam dan acara dilanjutkan dengan game. Aika menyalakan senter dan menyorotkannya ke salah satu peserta, bagi peserta yang ditunjuk harus menyebutkan 3 poin mengenai Aika yang diketahuinya. Game ini berlanjut sampai ke semua peserta, tujuannya adalah supaya saling mengenal. Karena kesibukan di kantor, banyak di antara kami yang tidak saling mengenal. Malam mulai larut diisi dengan acara bebas, Edgar memainkan gitarnya diiringi nyayian dari teman-teman membuat suasana semakin sahdu sebagai pengantar tidur buat saya yang telah meringkuk di tenda. 
       
       

       
      Di hari kedua gathering acara diisi dengan kegiatan tanam pohon dan edukasi hutan, trekking masuk ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Sarongge merupakan kawasan penyangga TNGGP, dulunya area camping ground ini digunakan oleh penduduk lokal sebagai lahan pertanian, melalui pendekatan dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Kementerian Kehutanan aktifitas pertanian di kawasan TNGGP mulai ditinggalkan oleh Warga. Sekitar tahun  2003 Green Radio bekerjasama dengan Balai Besar TNGGP melalui program Adopsi Pohon melakukan pembinaan dan pemberdayaan kepada penduduk setempat untuk menyadarkan akan pentingnya menanam dan merawat hutan yang ada. Adopsi pohon penting untuk menyelamatkan kawasan TNGGP yang mulai gundul.
       

      Foto by Danang DKW
       
      Dari camping ground Sarongge peserta terbagi menjadi dua kelompok, saya bersama 13 teman masuk kelompok yang memilih trek panjang sampai ke air terjun Ciheulang. Dibutuhkan waktu dua sampai tiga jam untuk mencapai air terjun. Dipandu Pak Dadan, Pak Wawan dan Pak Sapri kami meninggalkan camping ground. Di area adopsi pohon Hutan Sahabat Green kami menanam bibit pohon rasamala dan puspa. Satu pohon yang kami tanam bisa menyelamatkan dua jiwa. Pak Dadan bilang sebelum ditanam sebaiknya berdoa dulu supaya pohonnya bisa tumbuh. Kita juga bisa menamai pohon kita, suatu waktu kita bisa minta pengelola Sarongge untuk mengecek pohon kita jika mati akan diganti dengan pohon yang baru. 
       

       Satu pohon yang kami tanam menyelamatkan 2 jiwa
       
       
      Trekking akan melewati tiga lembah dan sungai, menerobos hutan primer TNGP yang kaya akan vegetasi dan fauna. Melewati semak perdu kami menemukan tanaman buah arbei (rubus reflexus ker) berwarna merah rasanya manis  asam dan segar kami diperbolehkan untuk memakannya. Tak hanya itu tumbuhan perdu lainnya yang kami temui adalah cecenet (physallis peruviana) buah yang dikenal dengan ciplukan ini bisa mengatasi pegal linu dan sakit pinggang. Kami terus berjalan di antara semak berbunga, hamparan taman bunga ungu yang cantik ini memberi warna dalam perjalanan kami. Namanya bunga pacar tere (Impatiens platypetala lindl) yang berkahsiat sebagai obat penurun panas. 
       

       
      Menembus lebatnya hutan primer TNGGP menghirup oksigen gratis yang segar, Pak Dadan mengenalkan pohon teter (solanum verbasifolium) yang bisa dipakai sebagai pestisida alami, terutama di bagian daun dan bunganya jadi jangan coba-coba untuk memakannya. Berjalan ke dalam gelapnya hutan Pak Wawan berhenti di salah satu pohon yang tinggi, ini adalah pohon saninten (castanopsis argentea) tinggi pohonnya bisa mencapai 15 meter menjadi tempat sarang burung. Pohon dan daunnya mirip pohon rambutan tapi rasanya seperti kelapa. Buahnya menjadi kegemaran primata, tanaman ini langka dan bibitnya sulit dicari.
       
       

      Pak Wawan pemandu kami menjelaskan tentang pohon Saninten
       
      Di lereng yang kami lewati di kemiringan kurang lebih 35 derajat, sekitar tahun 1975 area ini dulunya telah beralih fungsi menjadi perkebunan warga tapi kini pohon-pohon rasamala tumbuh tinggi di sini. Akarnya yang kuat bisa mencegah tanah longsor. Kami berjalan melewati sungai yang jernih dan menerobos semak-semak tinggi jalur ini sepertinya jarang dilewati, sampai lah kami pada area terbuka perkebunan milik warga. Dari sini air terjun Ciheulang sudah dekat, jaraknya kurang lebih 200 meter lagi. 
       
       
      Suasana di air terjun Ciheulang sepi pengunjung, hanya ada 4 orang pemuda sedang duduk di balai bambu. Air yang jatuh jernih sekali dari mata air pegunungan, tingginya kurang lebih 15 meter. Hanya Jay dan Rebeca yang berani mandi merasakan dingin dan segarnya di bawah kucuran air terjun. 
       

       
       
       
       
      Kami memilih jalur berbeda untuk kembali ke camping ground, masuk ke kawasan hutan rapat TNGGP. Selama trekking dilarang untuk membuang sampah, cukup tinggalkan jejak kaki sebagai kenangan.
       
                  ****



      Catatan:
      Di Sarongge kita bisa memilih wisata hijau mulai dari menelusuri hutan tropis, tanam pohon, tea walk, belajar soal sayur organik sampai cara membuat sabun sereh.

      Sarongge terletak di desa Ciputri, kecamatan Pacet, Cianjur Jawa Barat. Untuk menuju ke sana jika melalu Jakarta dan bawa kendaraan sendiri bisa melalui jalur puncak. Jika naik kendaraan umum dari Jakarta bisa naik kereta tujuan Bogor, dari stasiun naik angkot jurusan Terminal Baranangsiang lanjut jalan ke arah pintu tol dan naik mobil L-300 (warna putih) jurusan Bogor - Cianjur turun di SPBU Ciherang yang ada di sebelah kiri, nyeberang jalan ke arah pangkalan ojek lanjut naik ojek menuju Saung Sarongge.

      http://greeninitiativefoundation.org/indonesia
    • By Hanzo Urang Ciwidey
      Izin Admin buat FR lagi meskipun ya ini perjalanan ane 3 bulan yang lalu 
       
      Berawal dari salah satu ajakan dari Hima kampus untuk menjadi petunjuk arah jalan-jalan one day trip menyelusuri cianjur selatan selama 1 hari full maka pada awal tahun 2015 ane sepakat berangkat bareng hima kampus untuk menelusuri cianjur selatan memakai motor dengan jarak yang di tempuh sekitar 200km pulang pergi.
       
      Berangkat : ciwidey-parigi-pantai jayanti-rancabuaya

       
      pulang : rancabuaya - cisewu - pangalengan - ciwidey

       
      07:00
       
      pagi2 ane langsung siap2 nyiapin motor untuk menunggu teman-teman Hima dari Bandung yang berangkat jam 5 shubuh dari sana "untuk menanggulangi macet di karenakan liburan tahun baru area ciwidey dan sekitarnya pasti macet parah".
       
      Ciwidey di pagi hari

       

       
      teman2 dari kampus sudah pada dateng

       
      Setengah jam kemudian setelah dari Hima kampus sampai di meet point dan mengecek persiapan kita dari bensin dan perlengkapan lainya kita pun berangkat, jarak yang dilalui memang termasuk unik awal-awal kita memasuki dataran tinggi melewati Perkebunan teh rancabali sampai ke perbatasan Kabupaten Bandung dan Cianjur lalu di lanjut melalui hutan-hutan kecil dan lembah2 yang di kelilingi oleh banyak air terjun sehingga kerap jalan yang kita lalui ini suka disebut jalan seribu air terjun.
       
      Armada + peralatan tempur   

       
      Kebun Teh Rancabali

       

       

       
      Pondok Datar  "pemandanganya lebih keren dari tebing keraton"   

       

       

       

       
      tugu perbatasan Kab Bandung dan Kab Cianjur "selamat datang ke jalur 1000 air terjun

       
      Air terjun dimana-mana     
       

       

       

       
      Curug Ceret "air terjun yang persis di pinggir jalan"   

       

       
       
       
      mungkin karena teman2 ane yang dari Hima kampus belum terbiasa perjalanan jauh maka kita pun beristirahat dahulu di salah satu warung baso di pinggir jalan sambil mengisi energi karena setelah jalur 1000 air terjun abis perjalanan berlanjut ke turunan hingga sampai pantai jayanti.
      Istirahat dlu bray 



       
      Perjalanan di lanjut banyak turunan bray

       
       
       
      Jam 11 pas akhirnya kita sampai juga di Cidaun kampung pesisir di cianjur selatan yang lebih terkenal dengan pantai Jayanti cuman sayang peran dari pemerintah sepertinya belum optimal sehingga fasilitas di pantai ini bisa disebut kurang memadai.
       
      Pantai Jayanti

       

       

       

       
       
       
      hanya 1 jam setengah kita di pantai jayanti ini karena tujuan utama ke rancabuaya maka perjalanan pun dilanjutan dengan menyulusuri pantai kita menuju rancabuaya , jalan yang lurus dengan disisi kanan jalan adalah pantai di sepanjang jalan menemani kita dengan jarak tempuh dari pantai jayanti ke rancabuaya selama 30 menit dan kita juga harus melintasi kabupaten cianjur karena rancabuaya masuk ke Kabupaten Garut
       

       

       

       
      Sampai juga di rancabuaya

       

       

       

       
      tidak terasa waktu sudah menunjukan sore hari.... supaya tidak kemalaman di jalan maka dengan berat hari kita pun harus berangkat pulang kali ini untuk pulang kita tidak mengambil jalan yang sama tapi jalan ke arah cisewu jam 4 kita sudah packing sudah siap2 sudah pulang.
       
      Perjalanan pulang

       

       
      Perbatasan Kab Garut - Kab Bandung "pangalengan"

       
      Kabut bray

       
      dan akhirnya setelah kurang lebih 9 jam berkendara (tidak termasuk berhenti dan main di lokasi) ane pun sampai kembali ke rumah pada jam 8 malam pengalaman yang tidak terlupakan karena dengan motor ane yang kapasitas tangki cuman 2 liter dan harus beberapa kali isi bensin tapi liburan di awal tahun 2015 sangat puas.
       
      kapan2 kalau ada yang mau one day trip lagi ane siap nemenin