• 0
depe

Tanya Homestay murah di Pangalengan

Question

4 answers to this question

  • 0
1 hour ago, depe said:

Dear Teman2
Mohon info nya homestay murah di pangalengan 

 

 

TErima kasih

Pernah ke sana tahun lalu, nginapnya di Cileunca Resort nama nya mba :D  @depe

Mungkin bisa di cari di googling aja.

Resortnya sih luas dan banyak pondokannya, tapi ngga bagus bagus amat.. Karena perginya rombongan, jadi asik asik aja.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

  • Similar Content

    • By Tarmizi Arl
      Hallo Traveler yang berbahagia dimanapun berada...
       
      Beberapa waktu lalu kita dikagetkan dengan bencana tanah longsor yang terjadi di Pangalengan, Kab.Bandung. Saya jadi teringat tentang keindahan Pangalengan yang pernah saya kunjungi awal tahun 2014 lalu. Keindahan alam kawasan Bandung selatan ini tidak usah diragukan, bahkan dalam catatan, seorang kolonial Belanda pernah menyatakan ‘Parahyangan diciptakan Tuhan dalam keadaan tersenyum’ .
      Ya... Pangalengan ini jadi salah satu bukti ‘senyum’ Tuhan di Bumi Parahyangan. Tidak hanya keindahana alam khas dataran tinggi, disini juga ada objek wisata sejarah yaitu Rumah dan makam Boscha. Berikut ini sedikit field report saya di pangalengan.
       
      Hari 1
       
      Berangkat jam 8 pagi dari Bogor dengan Bus ke Leuwi Panjang, Bandung.
      Dalam sehari, bus keberangkatan Bogor-Bandung atau Jakarta-Bandung cukup banyak dan dengan intensitas cukup sering.
      Jam 11 siang sampai di Terminal Leuwi Panjang, Bandung. Selanjutnya kalian bisa naik bus sedang dengan tarif Rp30.000 yang akan mengantarkan kalian langsung ke Pangalengan. Jarak Bandung ke Pangalengan ialah sekitar 40 km atau sekitar 2 jam perjalanan, dan jalan yang akan kalian lalui ialah jalanan berliku dan menanjak. Suasana dingin-sejuk juga akan mulai merasuk pori pori tubuh kalian ketika mulai memasuki kawasan Pangalengan.
       
      Sesampainya di Pangalengan kalian bisa mencari penginapan terlebih dahulu. Susah tidak susah sebetulnya mencari penginapan di Pangelengan, tapi saya coba kasih beberapa list penginapan yaitu Citere Resort di Jl.Raya Pintu, Pangalengan (Cp 022-5979423 ) dengan tarif kamar standar Rp275.000. Kemudian ada juga Hotel Damanaka di Jl.Raya Pangalengan.
      Sedangkan jika kalian ingin menginap di daerah perkebunan teh, salah satu penginapan yang tersedia ialah Wisma Malabar, lokasinya dekat dengan Objek Wisata Perkebunan Teh Malabar dan berdampingan dengan Rumah Bosscha. Untuk kamar di lantai 2 tarif weekdays nya Rp275.000, weekend Rp385.000, dan hari raya Rp495.000. Sedangkan kamar di lantai bawah Rp220.000 weekdays, Rp 330.000 weekend, dan Rp385.000 untuk hari raya.
      Nah, untuk kalian yang datang berombongan juga banyak wisma dan villa di sekitaran kebun teh dengan tarif Rp700.000-Rp1,2 juta per rumahnya.
       
      Penginapan sudah didapat, kalian bisa mencari sewa kendaraan agar perjalanan lebih nyaman. Kalian bisa tanyakan ke pihak penginapan atau tukang ojek disekitar sana, biasanya mereka memberikan rekomendasi penyewaaan motor/mobil.
      Jika semua sudah aman, mari lanjutkan perjalanan di tempat wisata pertama yaitu Situ Cileunca
       
      1. Situ Cileunca
       
      Situ Cileunca merupakan danau buatan (dibuat tahun 1918) yang digunakan untuk menampung air guna keperluan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Jaraknya sekitar 5 km dari Terminal dan jika kalian mau naik kendaraan umum, kalian bisa naik angkot dari terminal dengan tarif Rp3500,-
      Keindahan situ ini juga didukung oleh panorama lanskap nya yang juga indah berdampingan dan menjadi satu kesatuan. Dengan tiket masuk Rp10.000,- kalian tidak hanya bisa menikmati suasana danau, tapi juga bisa menyusuri danaunya dengan perahu. Tiket perahunya hanya Rp5.000/orang atau sekitar Rp30.000/perahu. Kalian akan dibawa mengelilingi danau dan menuju ke sebuah perkebunan arbei di salah satu sisi situ.
       

      Situ Cileunca
      (sumber gambar : www.wisatakebandung.com)
       
      Memasuki perkebunan arbei, kalian lagi lagi harus bayar Rp5000. Kalau mau petik dan makan arbei sepuasnya di kebun serta bawa pulang dengan satu keranjang kecil yang disediakan, kalian harus bayar lagi Rp5000.
       

      Naik Perahu ke Kebun Arbei
       

      Kebun Arbei
      (sumber gambar : www.gusharis.net)
       

      Buah Arbei Hasil Petikan
       
      Karena hari sudah mulai sore akhirnya kami berencana untuk kembali ke Penginapan, tapi sebelumnya kami ingin mencoba menikmati kopi luwak di Desa Margamulya.
      Oh iya,  untuk kalian yang belum dapet penginapan, ternyata di sekitar Situ ini juga ada beberapa penginapan/bungalow untuk disewakan per malam. Harganya juga relatif murah, antara Rp150.000-200.000/malam nya. Kalau mau yang sedkit berbeda, di hari libur dan banyak pengunjung, pengelola juga mengizinkan kalian untuk camping di sekitar situ.
       
      2. Ngopi Luwak Malabar
       
      Berada di Pasirmulya, Desa Margamulya, Pangalengan yang berjarak 7 km dari Situ Cileunca. Kopi luwak Malabar ini cukup menarik perhatian apalagi saat itu nama kopi luwak sedang naik daun.
      Untuk menuju lokasi bisa dibilang susah susah gampang. Di jalan Raya Pangalengan kalian bisa melihat ada petunjuk bertuliskan ‘Kopi Malabar’ 2km lagi. Tapi ketika sudah sampai perkampungan, maka kalian bisa bertanya tanya saja ke warga karena sudah tidak ada lagi papan petunjuk.
       
      Di warung kopi luwak itu, kalian bisa melihat papan bertuliskan ‘Kopi Luwak Malabar’.
      Mencicipi kopi disini, kalian akan melihat langsung proses penyeduhan kopinya. Kopinya masih dalam bentuk biji yang kemudian dimasukkan didalam mesin untuk kemudian diolah menjadi serbuk lalu diseduh.
      Secangkir kopi hangat pun sudah tersedia didepan kalian.
       

      Lokasi Kopi Luwak Malabar
      (sumber gambar : www.borealis7.wordpress.com)
       

      Kopi Luwak Malabar
      (sumber gambar : www.wisata.kompasiana.com)
       
      Ternyata Kopi disini ialah kopi arabica yang memang berasal dari kotoran luwak. Untuk satu cup kopi luwak seduhan dijual dengan harga Rp25.000 (kalo di cafe harganya bisa 200ribuan), sedangkan untuk harga 1 kg bubuk kopinya ialah 1,75 juta rupah.
      Bagaimana? Tertarik menyeruput Kopi Luwak super murah ini?
       
      Hari 2
       
      Cuaca yang sejuk mungkin akan menerlenakan kalian hingga enggan untuk memulai petualangan terlalu pagi. Tapi mengingat bahwa akan semakin nikmat menjelajahi Kebun teh di pagi hari, maka singkirkan semua rasa malas itu.
       
      3. Kebun Teh Malabar
       
      Berada sekitar 10 km dari Terminal Pangalengan, untuk menuju gerbang pekebunan kalian bisa naik angkot. Tapi untuk berkeliling dengan puas, maka sewa motor adalah pilihan paling tepat.
      Memasuki kawasan kalian harus membayar tiket Rp5000.
      Disepanjang kebun teh ini kalian bisa puas memandangi hamparan kebun teh yang begitu luas terbentang.
      Dahulunya, Perkebunan teh ini milik pemerintahan kolonialisme belanda, tapi sekarang tentunya sudah tidak lagi. Sekarang Perkebunan teh ini dikelola oleh PT.Perkebunan Nusantara VIII.
       

      Kebun Teh Pangalengan
      (sumber gambar : www.picture.maleber.net)
       
      Untuk menikmati pemandangan yang lebih memukau, cobalah naik ke arah perbukitan yang bisa kalian lalui dengan motor. Meskpin begitu, kalian harus hati- hati karena jalanan yang berkelok, berbatu, atau bahkan lumpur becek.
      Tapi sesampainya diatas bukit yang juga sudah tersedia saung/garda pandang ini, kalian bisa puas menikmati pemandangan dari atas.
      Untuk parkir motor kalian akan di tagih Rp5000,- dan hati hati juga karena bisa jadi ada saja orang yang usil minta tambahan ini itu.
       

      Memandang Perkebunan dari atas bukit
       
      Karena pemandangannya yang super indah dari atas bukit ini, kalian mungkin akan lupa waktu. Jadi mungkin agar bisa lebih nikmat, kalian bisa membawa bekal dan menikmati bersama teman-teman. Tapi jangan lupa untuk menjaga kebersihan.
       
      Kembali turun dari bukit, kalian bisa mengunjungi tempat bersejarah yaitu Makam Sir Boscha. Lokasinya dekat sekali dengan parkiran kalo kalian parkir di perkebunan teh, tinggal tanya penjaga parkirnya saja.
       
      4. Makam Sir.Bosscha
       
      Makam Bosscha ini masih berada di dalam kawasan perkebunan teh Malabar. Lantas apa keterkaitan Sir Bosscha dengan Malabar? Ternyata beliau adalah pendiri perkebunan ini.
      Menurut sejarah, beliau dilahirkan di Den Hagg, Belanda pada 15 Mei 1865 dan beliau sendirilah yang berwasiat agar dimakamkan di sini.
       

      Makam Bosscha
      (sumber gambar : www.wordpress.com)
       
      Biar kita makin pinter dan gak salah informasi, kalian bisa minta bantu penjaga makam buat ceritain sejarah Sir.Boscha atau juga pekebunan Malabar itu sendiri. Dan berdasar infomasi-infomasi yang didapat ternyata Bosscha ini ialah seorang konglomerat Belnada yang memang banyak berdedikasi di tanah parahyangan, salah satunya ya perkebunan teh Malabar ini buktinya.
       
      Kalau sudah berziarah, kalian bisa mencoba menapak tilas kembali kehidupan Bosscha di Kediamannya. Tapi sebelumnya, jika kalian yang penasaran melihat pohon teh yang sudah berumur 100 tahun alias tidak pendek seperti umumnya pohon teh yang kita lihat, kalian bisa menuju ke kawasan pohon teh yang lokasinya dekat dengan makam, kalian bisa tanya ke penjaga makam.
       
      5. Rumah Bosscha
       
      Rumah Bosscha masih berada di kawasan perkebunan teh. Kalan bisa menggunakan motor/mobil dari makam Bosscha ke rumah nya ini.
      Tidak ada tiket masuk untuk sekedar berfoto di luar rumah, tapi jika kalian ingin masuk ke dalam, maka kalian bisa memberi tip kepada guide yang akan membantu kalian.
       
      Sedikit informasi sejarah yang saya dapatkan, ternyata  peran Bosscha di Bandung nampaknya tidak bisa dianggap sepele. Beliau dikenal sebagai sosok dermawan dan berpengaruh. Bahkan Technische Hooge School (ITB saat ini) juga dibangun oleh beliau, termasuk fasilitas laboratoriumnya tak lepas dari peran beliau. Tak lepas juga yang sudah sangat kita kenal yaitu Sterrenwacht (peneropongan bintang) Bosscha di Lembang yang juga dibangun oleh beliau.
       

      Rumah Bosscha
      (sumber gambar : www.blog.maleber.net)
       
      Bosscha yang bernama lengkap Karel Albert Rudolf Bosscha ini, semasa hidupnya tinggal di Malabar hingga sedikit demi sedikit ia membangun perkebunan teh. Rumah tinggal Bosscha di Malabar inilah yang hingga sekarang masih berdiri kokoh.
      Saat ini, rumah Bosscha dijadikan sebagai Museum Bosscha yang banyak menyimpan sejarah tentang keberadaan Bosscha serta perkebunan teh yang dikelolanya.
      Arsitektur rumahnya pun sangat kental dengan nuansa kolonial, dan keberadaanya cukup menarik perhatian diantara perkebunan teh yang menghijau.
       
      Selepas menikmati keindahan lukisan Tuhan di Perkebunan Teh dan belajar banyak tentang sejarah Sor.Bosscha, tak ada salahnya untuk kalian menuju objek wisata berikutnya yang bernuansa alami-buatan yaitu Pemandian Air Panas Cibolang.
       
      6. Pemandian Air Panas Cibolang
      Pemandian air panas ini berada di Desa Wanasuka, 11 km arah tenggara pangalengan.
      Pemandian air panas yang berada di ketinggian 1400 mdpl ini akan sangat ramai dikunjungi oleh para wisatawan di hari-hari libur nasional. Jadi jika kalian datang di hari libur ke Pangalengan, mungkin tidak akan sebegitu nikmat dan nyaman datang ke pemandian ini.
      Namun, tak mengherankan jika banyak wisatawan yang datang karena memang selain kolam pemandian air panas, pengunjung akan dimanjakan oleh pemandangan alam yang sangat indah.
       

      Pemandian Air Panas Cibolang
      (sumber gambar : www.bandung.panduanwisata.com)
       
      Selanjutnya, jika kalian memiliki waktu lebih untuk berlibur, objek wisata satu ini juga tak salah untuk dicoba, namun lokasinya berada cukup jauh dari kota kabupaten pangalengan, apalagi dari Cibolang karena kalo cibolang di arah selatan, maka objek wisata ini berada di arah utara. Objk wisata yang saya maksud ialah Kampung Adat Cikondang.
       
      7. Kampung Adat Cikondang
       
      Kampung adat ini berada di Desa Lamajang, Pangelangan pastinya. Lokasinya cukup jauh dari Kota Kabupaten Pangalengan, yaitu 11 km ke arah utara.
      Tempatnya yang cukup jauh membuat kampung adat yang masih sangat memegang teguh nilai nilai adat ini tidak begitu ramai oleh pengunjung. Kebanyakan orang yang datang ialah mereka yang ingin meneliti atau memang memiliki ketertarikan tinggi terhadap kebudayaan.
      Di kampung ini kalian bisa melihat secara langsung bagaimana kehidupan masyarakat sunda, sangat menarik apalagi warganya yang sangat ramah menyapa.
       

      Kampung Cikondang
      (sumber gambar : www.wordpress.com)
       
      Bangunan fisik dan arsitektural rumah-rumah di sini sangat kental dengan nuansa permukiman sunda. Namun ternyata, bangunan asli di kampung ini telah lenyap karena kebakaran besar tahun 1942. Jejak peninggalan hanya tersisa di satu rumah adat yang kini disebut Bumi Adat. Di Bumi Adat inilah peninggalan leluhur dijaga dan dilestarikan.
      Nilai-nilai adat yang masih terus dijaga disini diantaranya ialah dilarang berbicara keras dan buang air sembarangan. Jadi buat kalian yang datang sangat penting menjaga sopan santun disini.
       
      Nampaknya Pangalengan menyimpan lebih banyak lagi keindahan yang sayang untuk dilewatkan. Tak berlebihan bukan jika saya anggap disini juga menjadi bukti senyum Tuhan di Parahyangan? Seperti catatan sang kolonial Belanda ‘Parahyangan diciptakan Tuhan dalam keadaan tersenyum’
    • By freaksthriller
      Meski cuaca tak bersahabat saat itu, hampir 5 menit sekali Mendung Hujan reda berkabut silih berganti,
      tapi tetap kindahanNya tidak pernah pudar... Mungkin masih sedikit asing memang ditelinga para pendaki tentang keberadaan gunung yang satu ini.
      Artapela merupakan Gunung tropis yang tidak aktif yang berada di daerah Kertasari yang berbatasan dengan kecamatan Pangalengan Bandung Jawa Barat. Dengan ketinggian sekitar 2194 mdpl, gunung Artapela kini menjadi salah satu gunung baru yang mulai popular dan mulai banyak didaki oleh para pendaki Indonesia.
      Sebenarnya sudah beberapa bulan terakhir ini kita sudah merencakanan untuk pergi ketempat ini, tapi karena terhambat waktu akhirnya tanggal 1 Oktober 2016 kemarinlah kita bisa kesana, maklum salah satu dari kita seorang pekerja yang hanya mempunyai 2 hari libur dalam 1 minggu, maka dari itu gunung ini cocok untuk liburan akhir pekan dan tanpa harus mengambil cuti.
      Perjalanan dimulai jam 07:00 pagi dari Kopo Bandung Selatan, kita menggunakan motor melalui Balaendah – Ciparay, dari situ kita lanjutkan ke arah Pacet Sukapura jaraknya -+17 km dari Ciparay. Setelah sampai di Desa Sukapura, ada pertigaan menuju kampong Argasari, disanalah pos pendakian Artapela berada. Sesampai di pos pendakian -+Jam 09:00 ternyata disana juga ada rombongan dari Jakarta, dan kitapun mengisi formulir registrasi & perijinan, dengan Retribusi jasa lingkungan Rp. 5.000 /orang, parkir motor Rp. 10.000 permotor/malam. Setelah istirahat sebentar di Pos sekitar jam 09:30 kitapun mulai berangkat, sebelum pergi kitapun di beri pengarahan seperti masalah sampah, api unggun dan lain sebagainya.
      Oh ya untuk jalur yang bisa kita lalui ini ada 2, melalui jalur Seven Field (kebun 7) dan melalui Datar Jamuju, bedanya jalur seven field ini lumayan menanjak hampir tidak ada bonus (kata seorang petugas), dan jalur Jamuju relatif lebih landai, kitapun memutuskan naik lewat Datar Jamuju dan turun lewat Seven Field.
      Jangan khawatir masalah arah, meski minim patok/tanda petunjuk, kita bisa menanyakan kepada petani sekitar di sepanjang perjalanan, karena jalur pendakian ini hampir sepenuhnya melewati bukit-bukit perkebunan sayuran, baru kali ini kita mendaki tapi hampir tidak memasuki hutan.
      Kalau masih takut tersesat / atau ngedaki nya malam bisa sewa porter/guide, katanya sudah tersedia jasa porter.

      Disepanjang perjalanan kita disuguhkan oleh pemandangan perkebunan Petani yang menggarap lahan PTPN VIII
      Para Petani yang biasa mengangkut hasil kebun menggunakan motor
      Dijalan kita pun melewati rombongan dari Jakarta tadi yang sedang beristirahat, dan yang kita temuin hanya 1-2 pendaki saja yang sedang turun. Hampir disepanjang perjalanan tidak ada pohon untuk berteduh dari teriknya matahari atau hujan, yang ada hanya saung-saung petani yang bisa kita jadikan tempat peristirahatan sejenak. Oh iya disini banyak sekali wortel dan kentang baik yang dikebun atau yang berserakan dijalan, mungkin berjatuhan dari motor pengangkut hasil kebun. Karena tergiur kitapun  meminta sedikit kentang dan wortel yang bersekaran dijalan itu kepada salah seorang petani, dan mereka sangat baik bahkan menawarkan yang lainnya, hehe
      Ingat… jangan memetik sembarangan dan tanpa izin!
      (Soalnya pas diatas puncak lumayan banyak juga sisa-sisa kentang & wortel.)
      Ketika rasa lelah saat berjalan di tengah hujan dan kebun yang berada di ketinggian sembari ngemil  wortel yang rasanya manis, wuih…nikmatnya seperti makan buah-buahan yang dari kulkas, seolah memberi kesegaran kembali. haha…


      Ketika terdiam sesaat terjatuh dlm rasa lelah setelah naik turun melewati beberapa bukit perkebunan, dgn cuaca yg mendung hujan reda silih berganti dan menyaksikan kabut tipis diikuti kabut pekat dari kejauhan, tiba2 seekor burung elang terbang di pohon yg ia hinggapi yg tidak terlalu jauh dri tempat kita terdiam, tak ingin ku sia-siakan untuk mengabadikan moment ini dengan alat ala kadarnya, meski burung itu hampir masuk kedalam kabut.
      Moment itu cukup membuat kita kembali bersemangat utk menanti apa yg akan alam dan sang pencipta suguhkan...
      Sebelum sampe dipuncak kita sedikit memasuki area hutan, meski pepohonan disana sudah hampir rata di tebang oleh warga sekitar, terlihat juga tempat pemotongan kayu, menurut info kerusakan kawasan hutan lindung petak 39 telah mencapai puncaknya sejak 2015, berawal dari kebakaran hutan yang terjadi pada musim kemarau kala itu bulan September 2015. Entah terbakar atau di bakar kondisinya semakin memprihatinkan.
      Sekitar jam 13:00 kitapun sampai puncak dan disuguhkan kabut tebal, hujan dan badai angin, memaksa kita harus sesegara mungkin mendirikan tempat berlindung di dekat pepohonan, saat itu hampir tidak terlihat orang atau tenda lain, seolah-olah puncak itu hanya milik kita berdua. Hehe
      Setelah itu kitapun mengisi perut  dengan oatmeal, memasak mie instan dan tidak lupa membuat  kopi untuk dinikmati ditengah cuaca seperti itu.
      Setelah 30-60menitan badai itu berlalu, orang-orang mulai terlihat berdatangan, tak dikira akan sebanyak itu yang datang, mengingat perkataan petugas  di pos yang mengatakan kalau kemarin itu yang mendaki hanya dua orang. Tidak mau ketinggalan tempat yang strategis untuk melihat sunrise & citylights, kitapun bergegas pindah tempat.


      Sore hari setelah pindah tempat Sore menjelang malam, berhubung cuaca tidak mendukung dengan kabut yang datang dan pergi hampir tiap beberapa menit sekali, saat itu kita habiskan di tenda, memasakpun hanya di vestibule saja.
      Oatmeal pun dilahap, dan Kentang yang tadi dalam perjalanan minta ke petani kita goreng dengan sosis & cireng yang kita beli dipasar bawah, tentunya saos & mayonnaise sebagai pelengkap menjadi santapan kita dikala malam itu, sungguh nikmat rasanya.
      Setelah itu kitapun bersantai sejenak didepan tenda menggelar matras, ditemani secangkir kopi dan susu menikmati keheningan malam dan memandang citylights yang selalu tertutup kabut yang membuat kita tidak puas dengan cuaca kala itu, akhirnya setelah beberapa menit tepat jam 21:00 kitapun bergegas tidur.
      Jam 02:00 subuh saya terbangun dan melihat keluar, ternyata kabut sudah tidak ada, pemandangan citylights pun terlihat jelas dan hanya ada satu rombongan tenda di atas belakang tenda kita yang sedang asik pada bernyanyi diiringi suara gitar, Gila men bawa-bawa gitar ke atas gunung!  
      Karena saat malam kurang puas dengan cuaca, akhirnya sayapun menggelar matrass di depan tenda sembari menunggu matahari terbit (meski masih lama hehe)


      Pemandangan Citylights dari tenda kami Saat menikmati citylights dgn secangkir kopi dan sebatang rokok, dari kejauhan salah satu gunung tampak menyala, terpancar warna merah seperti bara api yg mengepulkan cahaya keatas, dalam hati kubertanya-tanya
      "wahh apakah itu...?"
      menurut salah satu warga sekitar, kepulan cahaya merah seperti bara api itu berasal dari kawah gunung papandayan…
      Benarkah? entahlah...
      Tidak lama kemudian ada 2 orang yang seperti sedang berpatroli melewati tenda kami, berhubung persediaan air yang kita bawa makin menipis hanya cukup untuk sarapan pagi saja, kitapun menanyakan pada mereka, ternyata mereka bukan petugas tapi warga sekitar yang berasal dari pangalengan, kata mereka ada sumber air dijalur via pangalengan yang tidak begitu jauh dari puncak, oh oke… sayapun menanyakan masalah jalur via pangalengan yang masih sangat minim info, orang-orang yang mendaki lewat pangalengan pun katanya mereka hanya menitipkan kendaraannya di Pos Satpam, tanpa ada perijinan yang legal.
      Yup.. memang kemarin kita hanya membawa air cuman 3L karena menurut petugas pos disini tersedia air, memang agak sedikit bau karena air yang tidak terkena sinar matahari ceunah, tetapi kalau dipasak masih aman katanya.
      Sekitar jam 05:00 pagi, langit mulai membiru diiringi sedikit demi sedikit cahaya matahari yang masih tersipu malu untuk menampakan dirinya, sebelum menikmati itu semua kitapun bergegas untuk sholat terlebih dahulu, setelah itu kitapun keluar tenda, ternyata diluar sudah banyak orang yang sedang mengabadikan moment dengan berfoto ria, kitapun bergegas mencari spot untuk menikmatinya.


      Kedamaian itu ada di Alam

      Ketika menyaksikan keagungan sang pencipta, ditemani orang tercinta Setelah cukup puas berjalan-jalan menikmati pagi yang lumayan cerah saat itu kitapun kembali ke tenda untuk membuat sarapan, dan saya mencari air ke jalur pangalengan. Saat berjalan sedikit kebawah ternyata jalur pangalengan masih terlihat rimbun pepohonannya, ketika saya sedikit memasuki hutan ternyata ada orang disana memberi tahu kalo mau ngambil air ke belakang puncak saja tinggal ikutin jalur itu terus kebawah  dan sayapun kembali untuk kearah itu (ya…yang pasti-pasti aja deh hhe)
      Setelah itu saya kembali ke tenda ternyata Nasi goreng, sosis + saos & mayonnaise nya sudah siap disantap untuk sarapan kala itu. Hmmm… yummi
      Tak terasa waktu menunjukan pukul 10:00 dan kitapun mulai beres2 untuk pulang, tak lama kemudian tiba-tiba kabut pekat datang diikuti hujan, yang memaksa kita menunda kepulangan dan berteduh didalam tenda. Sekitar jam 11:30an hujanpun mulai reda dan kitapun kembali beres2 packing, setelah semua beres sekitar jam 12an kitapun turun meski kabut masih menyelimuti, beberapa lama kemudian hujan  kembali turun dan kitapun meneruskan perjalanan memakai jas hujan, diperjalanan kita bertanya ke salah satu petani yang akan segera pulang “kalau jalur Seven Field (kebun 7) itu kemana?” ternyata mereka tidak tahu dengan nama itu hehe, katanya ada juga jalur yang muter agak landai (mungkin yang dimaksud yang kemarin kita lewati jalur datar jamuju) dan jalur yang langsung turun terus tapi agak curam (mungkin yang dimaksud jalur Seven field) itu hehe kitapun bergegas ke jalur yang langsung turun agak curam itu.
      Hampir disepanjang perjalanan kita di guyur hujan, dengan cuaca yang sedikit berkabut mendung hujan reda silih berganti membuat jalur sangat berbahaya, berjalan menurun di tengah-tengah ketinggian perkebunan dengan tanah merah/tanah gembur yang basah membuat jalur menjadi sangat licin sayapun hampir 4 kali terjatuh dibuatnya, kitapun kadang merayap ketika melewati turunan yang curam karena hampir tidak ada pegangan ditengah-tengah perkebunan seperti itu, tidak seperti di hutan meski licin banyak tepian dahan atau akar yang bisa dijadikan pegangan.
      Kala itu kita berjalan hampir sangat lambat, menguras tenaga, memang semua gunung mempunyai rintangan yang berbeda-beda, masing-masing mempunyai ciri khas nya tersendiri.
      Dipertengahan jalan ada seorang petani menggunakan motor berhenti seperti sedang menunggu seseorang, ketika kita hampiri dan menanyakan arah jalan, petani itu berkata “biar cepat ikuti saja pertengahan tiang listrik sutet itu yang berada di tengah-tengah perkebunan, jangan ikuti jalur motor ini, karena berputar jauh” dan setelah itu petani itu pergi… kitapun mengikuti petunjuk petani itu, beberapa saat kemudian ada lagi petani yang sedang duduk di saung seperti sedang menunggu seseorang, belum kita hampiri petani itu pergi, berhubung kondisi agak lelah kitapun meminta izin untuk berteduh dan beristirahat di saungnya sambil berteriak, dan petani itu mengatakan “Iya sok aja, itu disitu ada pisang, habiskan aja leubar” oke pak makasih, jawabku. Ternyata disaung itu ada dua ikat pisang, ahhaaa…. Dapet Rezeki nomplok, hehe… entah karena lelah, dingin atau apalah itu tapi ketika melahap pisang itu rasanya hmmm… nikmanya, kalau dibandingin nih sama pisang yang paling enak di supermarket, wah jauh…lebih enak pisang alami ini! Hehe
      Dan sepertinya petani/warga sekitar terlihat sangat welcome, dengan sengaja mereka menunggu kita hanya untuk memberi petunjuk, mengingat ketika itu hampir semua petani sudah pulang.
      Setelah beberapa saat beristirahat, kitapun melanjutkan perjalanan meski hujan rintik-rintik, sayangnya untuk perjalanan pulang kita tidak sempat untuk mengabadikan moment (foto) bahkan tidak sempat untuk memikirkannya, karena hampir sepanjang perjalanan kita diguyur hujan. Setelah beberapa saat akhirnya kitapun sampai di basecamp Sekitar pukul 15:30, hmm menghabiskan 3,5jam perjalanan, itu sama halnya ketika pergi kemarin (gubrag) ternyata sama saja.
      Beres laporan, kitapun beristirahat sebentar menelonjorkan kaki di sebuah Sekolahan tempat diparkirnya kendaraan kita, tepat dibelakang basecamp itu, sambil jajan baso tahu dan ternyata si mang baso nya itu yang kemarin nongkrong dibasecamp nunjukin arah jalur, dan kitapun ngobrol ternyata Artapela ini mulai ramai didaki sejak 6 bulan yang lalu, bahkan surat perizinan resmi dari perhutani nya pun baru 3 bulan yang lalu.
      Jam menunjukan pukul 16:00 hujan pun semakin deras, tidak mau berlama-lama disini, setelah berpamitan kitapun memutuskan untuk pulang ditengah dinginnya cuaca itu. Beberapa saat menjelang masuk ke Baleendah ternyata disana sudah banjir saat kita coba melewatinya ternyata banjir itu cukup dalam, diperkirakan hampir sepaha lebih orang dewasa, motor kitapun tenggelam hampir setengahnya, untung saja banjirnya tidak terlalu jauh dan kalau kita teruskan melewati jalan itu banyak daerah banjir yang lebih parah dari sini “kata warga sekitar”, kitapun memutuskan untuk kembali dan lewat jalur banjaran, meski cukup jauh memutar untuk sampai di Kopo, gara-gara itupun kita pulang kerumah kemaleman yang tadinya ingin cepat sampai dirumah…ehh malah kemaleman…
      Tapi Alhamdulillah masih bisa diberi keselamatan sampai rumah.
      Must to try dah gann....pokoknya!
       
      :travel

      Sebenarnya sih disini terdapat juga Danau Aul yang melegenda, tapi sayang dikarenakan cuaca yang tidak mendukung dan entah dimana keberadaan Danau itu kurang jelas infonya, jadi kita tidak pergi kesana.


      Danau Aul, Pict by Google  
       
      backpackermate

      Instagram @backpackermate  
    • By Carol Laurent
      Di penghujung bulan Mei 2015, kantor kami mengadakan acara kebersaman (Outing) ke Bandung, selama 3 hari 2 malam kami berada di sana, mengikuti itinerary yang sudah disusun oleh Panitia yang bekerjasama dengan Mata Angin Adventure sebagai E.O kami semua enjoy dan happy. Ada beberapa destinasi yang akan kami tuju namun di forum ini aku mau berbagi cerita tentang kegiatan rafting/arung jeram di sungai  Palayangan Pangalengan.
       

       
      Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam dari Sentul-Bogor akhirnya kami tiba di Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung. Pangalengan terletak di sebelah selatan Kota Bandung dan terkenal akan beberapa objek wisata, seperti Situ Cileunca, perkebunan teh dan Kolam pemandian air panas Cibolang.  Pangalengan juga dikenal sebagai daerah pertanian dan perkebunan. Terdapat beberapa perkebunan teh yang dikelola oleh PTPN tak heran disepanjang perjalanan menuju ke Pangalengan mata kami disegarkan dengan pemandangan bentangan alam yang indah dan perkebunan sayur yang tertata rapi.  Pangalengan juga merupakan daerah penghasil susu sapi.
       

       
      Setalah menikmati makan siang kami langsung siap-siap untuk kegiatan Rafting, di bagi kelompok masing-masing 5 orang untuk 1 perahu ditambah 1 orang guide, aku, @Gindo Parlin , Intan, Evan dan Kiki dengan serius kami mendengarkan pengarahan singkat dari guide mengenai bagaimana cara menggunakan perlengkapan rafting baik itu pelampung, helm dan dayung, juga aba-aba dari guide apa yang harus dilakukan bila perahu melawati jeram yang menantang dan apa yang harus dilakukan apabila terjadi hal yang tidak diinginkan contoh perahu terbalik.
       

       
      Rafting ini dimulai dari Situ Cileunca kemudian dilanjutkan ke sungai palayangan, sungai ini terhubung dengan Situ Cileunca, danau buatan yang sangat besar di Pangalengan. Sungai Palayangan mungkin tidak se-ekstrim sungai-sungai lain, karena air yang mengalir di sungai ini bukan berasal dari air pegunungan langsung melainkan berasal dari bendungan (Situ Cileunca) yang dialirkan sehingga debit air dapat diatur.
       
      Jarak tempuh yang akan kami lalui dari mulai hulu menuju hilir sekitar kurang lebih 4-5 km, diawali dengan mendayung santai dari situ cileunca hingga harus menyeberang jembatan dengan menggotong perahu karet, di 20 meter pertama kami langsung melintasi jeram yang cukup tinggi itu memacu adrenalin kami semua yang ada di perahu.
       

       
      'Boom Boom..!!!' terdengar suara guide kami, artinya kami disuruh duduk di dasar perahu dengan kepala menunduk dan siap-siap melewati jeram domba, Jeram Domba merupakan jeram paling ekstrim di sungai palayangan, yihaaaa… dan kami berhasil melewati tanpa terjatuh dari perahu…
       

       
      Setelah itu kami santai menikmati alam di sepanjang sungai sesekali melawati jeram dan sampai lokasi finish di hulu sungai Palayangan yang berarus tenang. Untuk pemula aman dan nagih asal tetap patuh pada instruksi/aba-aba dari guide.
       
      Informasi dari guide kami biaya rafting di sungai Palayangan Rp. 150.000/orang sudah plus makan siang minimal 5 orang.
    • By Teja Ma'ruf
      ok,, salam kenal semuanya
       
      Sebelumnya saya belum pernah post nie,,, hehehe
      disini sya kadang merasa bingung
      SELAMAT MEMBACA

      Baik kita mulai saja,
      Pengalaman sy kali ini dimulai sekitar maret 2014 ( lama banget yh )  gpp dehhh , lanjuttttttt
      Acara ini terbentuk krena ucapan rasa syukur saya kepada rekan2 MTC PT GS Battery karawang plant, dimana sy diberitanggung jawab yg lebih besar dimana sy yg tadinya hanya karyawan kontrak di angkat menjadi karyawan tetap,, alhamdulillah
      sebenarnya bukan sy aja , disini kita ada 5 orang.
      awalnya kita bingung nie, mau bikin acara apa yg, makan2 di restauran, apa kita bikin jaket dan dibagikan kesemua rekan2 kita di MTC, belajar dari pengalaman, klo cuma makan2 aj kaya,a kurang terkesan, paling lama sehari aja terkesanya, kalo jaket,,,,, ???? mungkin bisa, tapi semua org kayanya udh pada punya jaket dan belum tentu jaket yg kita kasih di pakai, belajar dari yg sudah2   hhee.....
      setelah berdiskusi, adu debat gitu dehhh, akhirnya kita sepakat, untuk membuat sebuah acara GATHRING, kebetulan sy menjadi ketua.a   . disini sy bingung lagi ( bingung mulu ) . kemana yh tempat yg asyik dan bisa buat acara keluarga, ok kita cari2 , browsing2 gitu ala ala anak komplek wkwkwk,,,,  akhirnya ditemukan sebuah tempat yg bagus dan indah SITU CILEUNCA-PANGALENGAN BANDUNG-JABAR , bukan cuma bagus dan indah ini tempat, tpi macam2 wisatanya banyakkkkk, ada wisata danau, petik strawberry dan blue berry, wisata kebun teh, flying fox, outbound, paint ball, dan juga wisata utamanya yaitu RAFTING sungai palayangan,, 
       
      ok kita lanjut lagi, stelah menentukan tempat dan kontak EO disana, akhirnya kita mulai menyepakati harga, tentunya disini kita harus saling percaya, biasanya uang bisa buat org menjadi tidak saling mempercayai, ahamdulillah sih kita saling percaya.
      ok fix kita patungan 4 juta per org, dan terkumpul 20 juta,, masih ada sisa lohhhhh
       
      berikut perincianya
       
      1. paket Full day adventure 40 org x Rp. 250.000 = Rp. 10.000.000
      2. Paket wisata danau 10 org x Rp. 75.000 = Rp. 750.000
      3. sewa bus 59 seat = Rp. 3.200.000
      4. snack 60x Rp.7000 = Rp. 420.000
      5. tips supir, tol, parkir = Rp. 300.000
      6. lain-lain = Rp. 400.000
      7. End total = Rp. 5.070.000 tuhhh liat masih sisa kannnn
       
      apa aja sih paket full day adventure :
      Rafting Sungai Palayangan 4,5 km, Paint Ball, Flying Fox, Makan Siang 1x, Snack 2x, Perlengkapan Arung Jeram, Guide, Rescue, P3K, Lokal Transport, Tiket Objek Wisata Situ Cileunca, Asuransi.
      Rp 250.000,- / pax
       
      apa aja sih paket wisata danau :
      sebenarnya ini g ad di menu paket pada EO disana, tp kita berunding kpd EO krenayg ikut paket ini ialah ibu2 dan anak2
      Paket wisata danau, kapal keliling situ cileunca, wisata kebun strawberry dan blue berry, makan dan snack.
       
      Berikut kontak yg pernah sy pakai :
      http://elhaqiadventure.com/
      Bpk. Haris
      Jl. Siliwangi Komplek Matahari Asri Blok 66E Manggahang Bale endah 022-87773603 - 0852 9502 8440 Bandung
      Base camp : Jl Situ Cileunca Komplek Wisata Situ Cileunca Pangalengan Bandung.
       
      dannnnnnnnn ini foto2nya



       
       
      ok dehhhhh, demikian post ini sy buat, mohon dimaklumi yh kata-katanya klo ngak jelas dan banyak yg salah
       
      Terima kasihhhhhhh