• 0
JasmineK

How should I explore Sydney?

Question

Hi,

I've read lots of guides on exploring Sydney general, like this one: What, Where And How To Visit Sydney: The Things You Might Not Know. But then I'm also wondering if there're other ways to explore Sydney. What kind of places should I visit? I don't have a long time - 2-3 days, a week max. Where do you think I should go, and what do you think I should eat?

Share this post


Link to post
Share on other sites

1 answer to this question

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now


  • Similar Content

    • By norma sofisa
       

       
      Pulau Santorini adalah salah satu destinasi wisata yang populer bagi traveler di seluruh penjuru dunia. Terletak di Laut Aegean, berjarak kurang lebih 200 km dari di selatan  Yunani daratan. Sebelumnya, Pulau Santorini disebut Thera atau Thira (sumber: Wikipedia). Menurut sensus yang dilakukan tahun 2011, Santorini memiliki luas daratan sebesar 90.623 km2 dengan jumlah penduduk permanen sebesar 15.550 jiwa (sumber: www.thira.gov.gr). Dengan ukuran pulau yang cukup luas, perkiraan saya sedikit meleset. Tadinya, saya membayangkan bisa mengelilingi pulau ini dengan naik dokar atau menyewa sepeda.
      Penerbangan ke Santorini, khususnya dari Eropa barat, biasanya melalui transit di Bandara Athena. Sewaktu berkunjung kesana pada Juli, musim panas lalu, kami memang mengunjungi beberapa tempat dahulu sebelumnya, termasuk Athena. Dari Athena, kami naik pesawat tengah malam dan sampai dini hari di Bandara Thira.
      Perlu dipertimbangkan pula, jika bepergian saat musim panas, rate penerbangan biasanya melonjak naik secara signifikan. Sebagai contoh, dari Amsterdam - Santorini pada Juli kemarin bisa mencapai lebih dari 200an Euro pulang pergi. Anggaplah 1 Euro setara dengan Rp 15000, biaya pesawat saja dapat menyentuh angka lebih dari 3 juta rupiah. Cukup mahal juga untuk ukuran backpaker seperti saya.
      Dikarenakan niat dan tekad kami begitu kuat pengin mencicipi keindahan Santorini, kami pun memutar otak. Akhirnya, setelah mempertimbangkan plus minusnya, kami memutuskan rute terbang Roma-Athena-Santorini. Tentu saja, dengan rute tersebut kami menghabiskan biaya pesawat yang kurang lebih sama, namun kami dapat sekaligus berkunjung ke kedua kota lainnya.
      Ada beberapa landmark terkenal yang wajib dikunjungi disini. Fira dan Oia, dua "kota" yang terkenal dengan rumah-rumah bercat putih biru di atas tebingnya. Di tempat ini, keindahan dan orisinilitas Santorini banyak diekploitasi oleh fotografer baik amatir maupun professional. Tak ketinggalan, selebriti tanah air dan internasional beberapa kali mengabadikan momen spesial mereka seperti foto pre-wedding atau saat berbulan madu di spot-spot cantik yang ada di Fira maupun Oia sehingga menginspirasi banyak orang untuk datang.
      Di bawah tebing Fira, terdapat Old Port Fira yang sayang juga dilewatkan. Jika kamu cukup kuat, kamu bisa menuruni tangga langsung menuju kesana. Namun jika ingin merasakan sensasi yang berbeda, kamu bisa menyewa keledai yang banyak dijajakan di pinggiran tangga. Tarif untuk naik keledai cukup fluktuatif. Jika sepi, kamu bisa mendapatkan harga yang cukup murah sekitaran 7.5 Euro pulang pergi. Alternatif lainnya yang cukup menarik adalah dengan naik cable car. Tarif menaiki wahana ini sekitar 5 Euro sekali jalan. Kami awalnya mencoba untuk turun ke bawah dengan berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit (kadang berhenti sejenak  karena panas dan lelah), setelah menghabiskan waktu beberapa saat di tepi pelabuhan, kami kembali ke atas dengan cable car.

      Di Oia, jangan sampai absen untuk menikmati indahnya matahari yang terbenam. Satu tempat ideal untuk memotret sunset ada di semacam bukit kecil yang dekat dengan laut. Pada saat kami berada disana, ribuan orang berusaha mengabadikan momen sehingga cukup sulit untuk menuju ke tempat tersebut. Akhirnya, sehari setelahnya kami memutuskan untuk mengejar sunset di Fira. Yang jelas, pemandangannya tak kalah luar biasa.

      Perissa dengan pantai pasir hitam dan airnya yang jernih tidak boleh untuk dilewatkan. Kami mengunjungi tempat ini pada hari terakhir. Laut Aegean sangat tenang, airnya jernih dan segar. Pada musim panas, banyak sekali turis yang berenang atau sekedar main air. Tidak mau bermain air karena hitam tapi tetap ingin nongkrong di Pantai? Bisa juga! Seperti saya yang saat itu lupa membawa baju renang yang sudah dipersiapkan di hotel. Di sepanjang Pantai Perissa terdapat banyak restoran yang menyediakan payung payung beratapkan daun rumbia dan dilengkapi dengan kursi panjang di bawahnya, sehingga kamu bisa berlama-lama disana tanpa takut kepanasan. Dengan biaya sewanya 6 Euro saja, kamu bisa bersantai, tidur, membaca buku, maupun berfoto rio sepanjang hari disitu. Saat itu, kami sengaja berlama - lama di tempat ini sambil menunggu waktu pergi ke Bandara di sore hari.
      Kawasan wisata lainnya yang bisa masuk list kamu adalah Pyrgos dan Emporio. Di desa yang masuk kawasan Traditional area ini, cukup populer dengan rumah rumah kunonya. Pyrgos letaknya dekat dengan Fira, sedang Emporio berada beberapa kilometer sebelum Pantai Perissa. Jika kamu menggunakan bus untuk berkeliling Santorini, dua desa ini masuk dalam rute bus, sehingga cukup mudah dijangkau.
      Red beach, Black beach, Hot Spring Volcano, dan Wine Tasting juga bisa kamu agendakan lho saat kemari. Menurut pengalaman kami, jika kamu tidak mau repot merencanakan, kamu bisa ikut tur yang diselenggarakan para agen travel lokal. Biasanya tur dimulai pagi hari, sekitar pukul 8.00 dan kamu juga bisa memilih tempat wisata mana saja yang ingin kami kunjungi. Saat itu kami berencana mengikuti tur Hot Spring Volcano. Dengan fasilitas antar jemput dan juga sewa kapal ke sumber mata air panas, biaya yang harus dikeluarkan sekitar 30 Euro. Tentu saja, harga bisa sedikit bervariasi antar agen travel. Namun karena kami terlambat mendaftar dan waktu yang mepet dengan jadwal pulang, akhirnya kami pun mengurungkan niat.

      Pengalaman saya dan rekan di Santorini bisa dibilang seperti nano nano yang rame rasanya. Tentu saja, fasilitas dan kehidupan di pulau amat berbeda dengan Eropa daratan. Untuk lebih mengerti situasi kondisi saat berwisata ke pulau ini, berikut tips yang perlu diketahui:

      1. MEMILIH HOTEL
      Saat peak season di Bulan Juli hingga akhir Agustus, rate hotel di Santorini melonjak tajam. Jika di Bulan Mei, hotel pinggir pantai Perissa berkisar 25 Eur per malam, pada periode ini bisa naik sampai 100 hingga 200 Eur per malam. Jikalau ingin dekat dengan pusat keramaian dan landmark populer, sebaiknya memilih hotel atau penginapan di sekitar Fira atau Oia. Namun yang jelas ratenya pasti akan lebih mahal daripada penginapan di Emporio atau jalan besar menuju Perissa. Kami kebetulan menginap di daerah dekat Emporio yang kira - kira membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai ke Fira dengan bus. Hotel yang kami tinggali tergolong lumayan. Fasilitasnya pun cukup oke, terdapat pula kolam renang di belakang hotel yang bebas digunakan oleh tamu hotel. Untuk kamar dengan double single beds, kamar mandi privat, handuk, dan dapur kecil, kami menghabiskan kira-kira 40 Eur per malam.

       
      2. TRANSPORTASI
      Perlu digarisbawahi, pusat keramaian Santorini berada di Fira, sehingga jalur transportasi publik seperti bus lokal dan taksi, terpusat disana. Rute semua bus lokal adalah dari dan ke Fira, berangkat setiap 15 hingga 30 menit sekali dengan tarif 1.8-2.4 Euro satu kali jalan. Beberapa desa dan tempat yang dijangkau oleh bus adalah Perissa, Kamari, Oia, Red Beach, dan Airport. Perlu diketahui bahwa bus di Pulau ini mirip dengan Bus Mira Ekonomi AC, yang selama kelihatannya ada tempat, penumpang boleh masuk. Jadi jangan kaget jika bus dengan rute dari Fira ke Oia biasanya penuh hingga berdesak-desakkan. Malangnya, saya termasuk gampang mabuk darat. Karena jalanan dari Fira ke Oia penuh liku -liku naik dan turun,  saya selalu berusaha mencari waktu - waktu tertentu dimana bus sedang tidak terlalu padat sehingga saya bisa mendapatkan tempat duduk.
      Pilihan lainnya yang lebih mudah dan easy going adalah menyewa mobil, motor, atau ATV per hari. Hal ini banyak dilakukan oleh turis karena memang mobilitas di Pulau akan cukup tinggi. Dengan kendaraan sewa, wisatawan dapat lebih fleksibel dan santai.
      Saat disini, kami menggunakan bus lokal karena kami lupa membawa SIM Internasional. Jadi bagi yang ingin menyewa kendaraan jangan lupakan SIM Internasional dan juga CREDIT CARD. Saya tidak terlalu paham aturan pada penyewaan mobil lokal, namun untuk rental mobil yang cukup bonafit seperti SIXT memberlakukan aturan, pengemudi wajib memiliki SIM dan Credit Card. Jadi harus dipastikan bahwa pengemudi memiliki SIM dan credit card dengan nama yang sama sebagai penjamin.

      3. MAKANAN
      Feta cheese dan Greek Yogurt adalah ikon makanan dari Yunani yang telah mendunia. Karena aromanya yang tidak terlalu kuat, Feta biasanya dihidangkan sebagai toping dalam salad sayur. Yang jadi favorit saya selama disana adalah Frozen Greek Yogurt! Rasanya 'nyess' banget apalagi jika dinikmati saat udara sedang panas-panasnya. Saat membeli yogurt di kafe biasanya kamu dihadapkan pada dua pilihan rasa yaitu plain yogurt alias yogurt tawar atau yogurt yang sudah diberi perisa buah. Favorit saya rasa mangga dengan toping buah-buahan. Pilihan toping lainnya juga tidak kalah seru seperti bubbles, jelly, hingga selai cokelat atau stroberi. Harganya bervariasi mulai 2.5 Euro ke atas tergantung banyaknya yogurt  dan jumlah serta variasi topingnya (dihitung dalam gram).
      Untuk main dishes atau makanan besar khas Yunani biasanya berbahan dasar ikan atau daging. Menurut saya pribadi, masakan disini bukan yang terbaik. Ada beberapa makanan yang terasa kurang cocok di lidah seperti sajian ayam dengan madu, atau ikan bakar yang terkesan terlalu kering. Kurangnya menu sayur di dalam komposisi makanan khas Yunani adalah salah satu hal yang "membuat kurang pas di hati. Mungkin karena saya suka juga masakan yang menyajikan banyak sayur di dalamnya. Namun jika ingin merasakan makanan lokal, ada baiknya mencari restoran yang agak masuk ke dalam dan tidak terlalu dekat dengan pusat keramaian.

       
      4. PAKAIAN
      Bagi pengunjung yang merencanakan datang saat musim panas atau Summer, siap siap menghadapi cuaca panas ekstrem dengan suhu berkisar antara 30 - 40 derajat celcius. Berbeda dengan udara di Indonesia, panas dan kering khas Mediterrania sangat mendominasi udara pada sekitar Bulan Juni hingga Agustus akhir. Saya sendiri tidak cukup tahan dengan panas yang menyengat ini. Mulai pukul 8 pagi, matahari sudah tinggi dan badan sudah berkeringat. Di musim panas, hampir semua turis mengenakan pakaian dengan bahan kaus yang tipis dan menyerap keringat. Topi dan kacamata hitam adalah asesoris wajib yang harus dikenakan untuk perlindungan, bukan hanya sekedar gaya.
      Jika kebetulan kamu tidak membawa baju yang tepat, jangan khawatir! Salah satu komoditi yang terkenal dari Yunani adalah katun. Nah, di Santorini banyak toko yang menjual baju - baju katun baik katun murni 100% maupun campuran. Yang spesial di Santorini, kamu bisa dengan mudah menemukan baju - baju dan gaun berwarna putih. Toko - toko pakaian yang dimiliki pengusaha lokal akan banyak kamu temukan di Fira. Harga yang dipatok untuk sehelai atasan atau gaun mulai 20 Euro hingga 100 Euro. Hal ini tentu saja dikarenakan kualitas kain dan presentasi katun yang dimiliki.

       
      5. TIPS BONUS...
      Santorini adalah salah satu tempat ini sangat romantis yang pernah saya kunjungi. Saran saya, ajak pasangan masing - masing untuk mengunjungi tempat ini, menikmati Froyo sembari berburu pemandangan saat matahari tenggelam. Syahdu sekali pastinya! Untuk saya, ini adalah salah satu mimpi yang masih tertunda (curcol :D).
      Demikian, beberapa tips dan informasi yang semoga dapat bermanfaat bagi kamu yang akan atau sedang merencanakan liburan ke Santorini.
      Satu hal yang kurang saya sukai dari Santorini adalah hampir semua spot strategis di Fira dan Oia telah dikomersialisasi menjadi restoran, resort, atau apartement sehingga wisatawan yang tidak menginap atau tidak ingin makan disana tidak bisa mengaksesnya. Hal ini tentu saja memiliki imbas dalam memilih makanan dan juga keleluasaan saat mengambil foto. Jika kita ingin duduk di tempat strategis untuk menikmati sunset yang masuk dalam area restoran, otomatis kita harus membeli makanan yang tentunya dipatok dengan harga yang kurang rasional. Begitu juga dengan spot berfoto. Sebagai contoh, Three Bells Fira berada satu area dengan sebuah hotel sehingga akses masuk kesana hanya diperuntukkan bagi tamu hotel. Yang melanggar tidak akan segan - segan untuk diusir keluar.
      Bagi kamu yang sudah pernah berkunjung ke Santorini, bisa share juga pengalamannya di bagian komentar di bawah ya!
      Kamu juga bisa baca artikel ini di link berikut: https://sofiehurif.wordpress.com/2017/12/11/santorini-dreams-tips-and-things-you-should-know/
      Terima kasih dan sampai bertemu di artikel selanjutnya
       
    • By norma sofisa
      Halo Jalanerss,
      Ini lanjutan cerita saya kemarin di Polandia. Monggo disimak!
      Pernahkah kalian menginap di hostel?
      Pengalaman pertama tidur di hostel saya alami sewaktu mengunjungi Kraków.
      Sebagai traveler pemula, saya mempersilahkan Kim untuk memilih penginapan selama di Polandia. Tentu saja selanjutnya, kami akan mengecek bersama dan memutuskan apakah tempat itu cukup oke dari segi lokasi, fasilitas, dan harga.
      Hostel tersebut hanya memiliki dua atau tiga kamar yang masing - masing diisi 4 hingga 8 orang atau 2 sampai 4 tempat tidur bertingkat per kamar. Kami sampai pada pukul 11 malam dan ternyata seluruh tempat tidur terisi. Semua penghuni kamar ada yang sudah tidur dan posisi saat itu, lampu telah dimatikan. Saya dan Kim hampir tidak bisa melihat apapun karena beberapa orang keberatan jika kami harus menyalakan lampu.

      Bagian terlucu sekaligus terparah adalah sepanjang malam saya hampir tidak tidur karena masing - masing penghuni kamar (selain kami lho ya!) mulai mendengkur bersahut-sahutan hingga pagi. Menurut rencana awal kami akan menginap di hostel ini selama 2 malam, namun saat sarapan kami bertekad untuk pindah hostel. Kim menemukan sebuah hostel dengan fasilitas kamar pribadi untuk 2 orang dan dekat sekali dengan pusat kota di kawasan Old Town dengan tarif 20 Euro per malam. Saya dengan mantap mengiyakan karena lelah dengan suara orkes tenggorokan tanpa jeda sepanjang malam itu. Tak lupa kami pamit dengan penjaga hostel sebelum pergi. Agak percuma sebenarnya, karena dia tidak lancar juga berbahasa Inggris. Kelak, pengalaman hostel ini akan menjadi joke yang tidak akan tergantikan sepanjang masa antara Kim dan saya.

      Kami harus setengah berlari ke stasiun agar tidak terlambat mengejar kereta ke Auschwitz. Saya melirik tiket saya, menurut jadwal kereta akan berangkat pada pukul 09.10 pagi. Tepat pukul 9 kami sampai ke stasiun. Cobaan kedua kembali menghampiri karena tidak terdapat papan yang memuat tulisan nomer peron. Hanya ada list kereta dengan nama tujuan dan jam keberangkatan. Herannya, kami tidak menemukan kereta yang akan diberangkatkan pada pukul 09.10 di layar. Lagi - lagi tidak ada satu pun petugas yang bisa ditanya.
      Dengan langkah tergesa-gesa, saya memutuskan untuk naik ke salah satu peron dan mengecek kereta mana yang sekiranya siap berangkat. Saya melihat ada satu kereta di peron seberang. Spontan saya berkata kepada Kim untuk menuju ke arah kereta tersebut. Kemungkinan besar ini adalah kereta kami, meskipun jam keberangkatan yang tertera tidaklah cocok. Selain itu, ada beberapa petugas di dekat kereta yang bisa ditanya, pikir saya.
      Kami pun menghampiri kereta, berusaha untuk bertanya apakah kereta ini menuju ke Auschwitz. Petugas ini, sekali lagi tidak bisa berbahasa Inggris. Kami sudah cukup putus asa, bayangan ketinggalan kereta sudah pasti menjadi kenyataan, hingga akhirnya muncul seorang petugas perempuan yang meminta kami masuk ke kereta tersebut. Kami mengikutinya dan di dalam gerbong itu ada empat orang lainnya yang telah duduk disana.
      Petugas itu berbicara dengan  salah seorang penumpang perempuan berambut pirang. Perempuan ini ternyata orang Polandia juga yang puji syukur alhamdulillah, bisa berbahasa Inggris.
      "Kereta ini tidak menuju Auschwitz. Entah bagaimana, kereta Auschwitz yang terjadwal pada pukul 09.10 itu sebenarnya tidak ada. Ada kesalahan di bagian online sepertinya."
      Kim dan saya mengerutkan kening seketika. Kalau ini terjadi di Belanda, pasti kantor NS (perusahaan kereta di Belanda) sudah pasti bakal didemo seluruh penumpang.
      "Jadi nanti kita akan diturunkan di sebuah stasiun dan kereta yang menuju Auschwitz akan menunggu kita disana.", tambahnya lagi. Sejurus kemudian, kereta pun mulai bergerak menjauhi peron. Dalam hati saya berkata, "Keren banget nih! Baru kali ini kereta yang menunggu penumpang." Langsung saya merasa seperti orang penting.
      Sepanjang perjalanan, kami berkenalan dengan 4 orang penumpang lainnya, yang kebetulan sama-sama terjebak kereta fiktif ke Auschwitz. Perempuan pirang tadi sebut saja Amy. Ia asli dari Polandia. Dan di sebelahnya sang pacar, sebut saja Adam, lelaki berkulit cokelat berkewarganegaraan Jerman. Dua orang lainnya, panggil saja Josh dan Tom, dua remaja dari Amerika yang sedang melakukan perjalanan keliling Eropa. Entah dari mana mereka sebelumnya, keduanya membawa tas ransel besar dan papan besar seperti papan snowboarding. 
      Sepanjang perjalanan kami lebih banyak mengobrol dengan Amy dan Adam. Mereka bercerita baru saja pindah ke Singapura dikarenakan Amy mendapatkan promosi dari kantornya. Selain itu, Amy juga banyak berkisah tentang cerita -cerita perang dunia kedua, yang banyak berhubungan dengan Auschwitz.
      Kamp komsentrasi di desa Auschwitz adalah kamp konsentrasi NAZI yang terbesar saat perang dunia kedua. Saat perang dunia kedua berlangsung, NAZI melancarkan propaganda anti semit (anti yahudi) besar - besaran di hampir seluruh daratan Eropa. Tiap-tiap Yahudi diwajibkan untuk memasang simbol Bintang David di lengan mereka. Setelah itu, mereka merelokasi tempat tinggal orang Yahudi ke daerah tertentu yang dikenal dengan sebutan Ghetto. Para tentara NAZI kemudian memaksa orang Yahudi untuk keluar dari negara mereka. Dengan dalih akan dikembalikan ke negeri asal mereka, tentara NAZI memberangkatkan ribuan orang dengan puluhan kereta, tak lain dan tak bukan menuju kamp-kamp konsentrasi, salah satunya di Auschwitz. Orang - orang Yahudi tersebut tidak sadar bahwa perjalanan ini bisa jadi merupakan akhir dari kehidupan mereka. Mayoritas anak - anak, wanita, dan lansia akan langsung dibunuh secara massal di kamp ini dengan beberapa cara. Sementara pria yang masih kuat akan dijadikan budak, anak -anak kembar dan ratusan lainnya akan dijadikan kelinci percobaan para dokter NAZI. Peristiwa pemusnahan orang - orang Yahudi pada masa ini  disebut Holocaust.
      Saat mendengar cerita Amy, saya hampir menitikkan air mata. Saya tidak terlalu mengetahui detil peristiwa Holocaust. Ingatan saya kemudian terbang ke masa- masa SMP dan SMA. Buku sejarah hanya menyebutkan kata ini dalam satu kalimat. Tidak ada cerita lanjutan setelah itu. Mungkin ada alasan tertentu, mengapa topik ini tidak terlalu dimunculkan dalam buku sejarah sekolah saat itu.
      Pandangan saya kemudian kembali lagi ke pasangan di depan saya ini. Jika kami masih berada dalam masa perang, tidak mungkin seorang dari Polandia dan seorang dari Jerman bisa bersanding mesra di tempat umum begini. Saya berpikir bahwa perang tidak hanya memisahkan banyak orang namun juga mengikis rasa kemanusiaan.
      Saat sedang merenung, kereta mendadak berderit panjang sebelum berhenti. Petugas tadi datang lagi dan memberi tanda agar kami turun. Saatnya ganti kereta.
      Di peron sepi tak beratap itu seorang petugas menyambut kami. Dari bahasa tubuhnya ia menyuruh kami berlari. Saya penasaran dimana posisi kereta Auschwitz, sampai Amy menginstruksikan kami untuk melompat ke peron sebelah dan menerobos melalui pagar kawat berduri di bawahnya.
      "Oh really?!", batin saya. Saya merasa seperti preman. Terakhir saya menerobos pagar kawat itu sewaktu acara kemah SMP di belakang Candi Prambanan. Saya menoleh ke arah Kim dan kami tertawa geli.
      "Okay, everything could be happened here!", katanya sambil geleng-geleng kepala. Segala sesuatu bisa terjadi di tempat ini.
      Petugas kembali meminta kami untuk bergerak lebih cepat. Lewat Walkie Talkie miliknya, sayup sayup saya mendengar kata tourist. Mungkin ia meminta masinis kereta agar sedikit maklum karena kami ini turis.
      Setelah outbond tipis- tipis tadi, kami akhirnya naik ke kereta. Tanpa menunggu lama, kereta langsung berangkat. Menyisakan petugas yang melambaikan tangan dari jauh. Waktu perjalanan kami masih satu setengah jam lagi menuju Auschwitz.

      Perut yang kenyang setelah sebelumnya melahap beberapa potong roti membuat saya lama kelamaan mengantuk. Selesai mengobrol Kim tentang film yang menceritakan kisah seorang pianis pada masa perang dunia kedua, The Pianist, saya pun terlelap.
      Suara rem kereta yang kasar membangunkan saya. Seketika pandangan saya gelap. Apa yang terjadi dengan penerangan keretanya? Bagaimana mungkin di siang hari saya tidak bisa melihat apapun? Sedetik kemudian, saya merasakan udara dingin yang menusuk tulang, sesak, seakan tidak bisa bernapas, dan kelaparan yang amat sangat. Saya semakin panik berusaha meraba-raba sekitar. Seseorang kemudian membuka pintu dari luar. Di hadapan saya kemudian terhampar pemandangan puluhan orang, tua, muda, anak-anak yang menangis. Orang yang membuka pintu tadi berteriak dengan kencang, entah mengapa saya mengerti apa yang dikatakannya. Mereka menyuruh kami turun. Bagai berada di tengah-tengah konser musik, luapan manusia yang berebut turun keluar kereta membuat saya semakin terhimpit. Semakin sesak dan gelap. Kereta kemudian berderit panjang lagi.
      Saya terbangun. Kali ini Kim ada di samping saya, tertidur. Amy dan Adam juga tampak lelap. Dua pemuda dari Amerika terlihat meringkuk di kursi dengan sweater tebal mereka. Oh, saya kembali dari mimpi buruk! Ya, saya yakin, baru saja bermimpi tentang situasi saat orang-orang dibawa ke kamp konsentrasi Auschwitz kala itu.
      Jantung saya masih berdebar - debar jika mengingatnya. Mimpi tadi terasa begitu nyata. Meskipun begitu, saya mengurungkan niat untuk memberitahu Kim tentang mimpi barusan. Sambil menghela napas, saya melirik ke arah jam tangan. Kurang dari 30 menit kami akan sampai ke Auschwitz.
      Apa saja yang kami kunjungi di Aushwitz dan bagaimana kelanjutan perjalanan kami di Kraków? Sampai ketemu minggu depan ya!
      Bisa juga baca dari link berikut ini: https://sofiehurif.wordpress.com/2017/12/04/poland-and-a-once-in-a-lifetime-experience-auschwitz-2/
      Terima kasih dan semoga bermanfaat serta menginspirasi :)
    • By norma sofisa
      Halo semuanya,
      Pernahkah kalian mendengar Polandia?
      Yup, Polandia adalah salah satu negara yang terletak di daratan Eropa sebelah timur. Polandia memang tidak sepopuler Belanda, Inggris, Perancis, atau Italia namun para penggemar sejarah perang dunia pasti tidak asing lagi dengan negara ini. Tidak lain karena awal dari perang dunia kedua dimulai dari Polandia.
      Desember 2015 lalu, saya dan sahabat saya, Kim, mempertaruhkan liburan musim dingin kami dengan bertandang kesana. Kenapa mempertaruhkan? Berbekal tiket pesawat pp 17 Euro saja, kami memutuskan untuk mendarat di sebuah kota bernama Katowice yang sebelumnya bahkan belum pernah kami dengar.
      Kim menyusun rencana dan tempat-tempat apa saja yang akan kami kunjungi, termasuk hostel dan penginapan di Polandia. Salah satu kota yang akan kami kunjungi adalah Kraków, yang merupakan kota kedua terbesar dan pusat kebudayaan tertua di Polandia. Tak heran jika beberapa lokasi historis di Kraków seperti Old Town, Kazimiers (Area Yahudi), dan Kastil Wawel masuk dalam list UNESCO World Heritage Sites pada tahun 1978 (sumber: Wikipedia).
      Pengalaman kami di kota ini merupakan salah satu yang tidak akan terlupakan dalam hidup. Selain karena ini adalah kali pertama saya bepergian jauh keluar Belanda, cerita dan orang - orang yang kami temui selama perjalanan membuat saya terkesan.
       

      Beberapa menit setelah mendarat di Bandara Katowice, kami berdua kebingungan. Dalam bayangan kami, transportasi dari Bandara ke pusat kota dapat dijangkau dengan mudah dan terorganisir dengan baik. Ternyata, bahkan petugas bandara pun main lempar dan tidak dapat menjelaskan dengan baik. Kami pun baru sadar, penduduk di Polandia mayoritas tidak dapat berbahasa Inggris dengan baik. Lebih lagi, pelafalan nama kota atau wilayah di Polandia tidak sama dengan tulisannya karena ditulis dalam Polish Alphabet. Setelah bertanya kesana kemari dengan pemuda pemudi desa yang lewat, dengan Bahasa Inggris seadanya, akhirnya kami dapat melalui cobaan yang pertama dan menemukan tempat menunggu bus.
      Perjalanan ke pusat kota Katowice ditempuh dalam waktu kurang lebih 1,5 jam. Kami sempat tidur di perjalanan hingga bus yang kami tumpangi berhenti di stasiun kereta. Dari sini kami langsung membeli tiket kereta menuju Kraków. Kami memilih kereta yang biasa dengan estimasi perjalanan 2,5 jam dengan pertimbangan harga yang lebih murah. Dan mulailah petualangan kami ke Kraków.

      Kereta yang kami naiki ternyata sedikit ajaib. Gerbongnya terlihat cukup tua dan banyak coretan di sebagian besar dindingnya. Hari itu sudah gelap dan lampu di kereta tidak berfungsi dengan baik. Byar pet, kalau kata orang Jawa. Saat kami sedang duduk, tiba-tiba lewat seorang pria dengan sebotol besar minuman beralkohol di tangannya. Wajah saya pun terlihat agak panik, namun Kim berusaha menenangkan. Tidak ada tanda-tanda petugas kereta yang lalu lalang, untungnya pria tadi juga tidak bereaksi apa-apa. Ia duduk agak jauh dari kami. Saya perhatikan, dia hanya memeluk botol itu dan tidak meminumnya. Kami pun lega saat ia turun di stasiun sebelum Kraków.
      Sepanjang perjalanan saat memperhatikan, stasiun - stasiun yang kami lewati membuat bergidik. Tak jarang tidak ada lampu penerangan maupun tempat duduk di stasiun. Peronnya pun sangat kecil dan kelihatan kumuh. Satu pelajaran yang saya dapatkan adalah jangan menganggap seluruh negara di daratan Eropa itu seragam tingkat ekonomi dan sosialnya. Jika boleh membandingkan, kereta api di Polandia kalah jauh dari kereta api yang ada di Indonesia. Bravo PT KAI!
      Tepat pukul 10 malam, kami sampai di Kraków. Kami memutuskan untuk membeli tiket ke Auschwitz dulu sebelum menuju hostel. Sempat agak bingung menemukan loket yang tepat, kami berusaha bertanya pada sekuriti di stasiun. Ternyata sodara -sodara, bapak sekuriti ini tidak bisa berbahasa Inggris. Lucunya, dia masih saja berusaha menjelaskan dengan memperkeras suaranya tapi tetap dalam Bahasa Polandia.
      Sedikit gemas, pengen tertawa, campur sebal sih! Tapi tidak bisa disalahkan juga niat baik seseorang. Dalam suasana kegamangan itulah, tiba-tiba muncul seorang pemuda berkacamata yang menjawil si Bapak. Sejurus kemudian, dia bertanya pada kami dengan Bahasa Inggris. Raut wajah kami langsung sumringah mendengarnya. Pemuda yang baik itu kemudian menjelaskan dimana letak loket untuk membeli tiket. Akhirnya tiket terbeli dan kami pun menuju keluar stasiun dan berjalan ke arah hostel kami. Kami berdua sudah sangat kelelahan dan berharap untuk segera mendarat di kasur. Petualangan esok pagi sangat kami nantikan.
      Penasaran dengan pengalaman tak terlupakan di Auschwitz? Sabar ya, akan disambung minggu depan!
      Bisa juga baca disini: https://sofiehurif.wordpress.com/2017/12/01/poland-and-a-once-in-a-lifetime-experience-auschwitz-1/
      Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi.
      Terima kasih.
      Salam,
      Sofie
    • By Aang Kunaefi

      Traveloby.com adalah travel marketplace Indonesia yang saat ini memiliki ratusan pilihan paket wisata yang disediakan oleh lebih dari 250 agen yang terdaftar sebagai mitra kami.
      Dalam hitungan menit, kamu bisa mencari, membandingkan, dan membeli paket wisata yang sesuai dengan keinginan. Traveloby punya 31 pilihan destinasi wisata dan 9 kategori wisata untuk memudahkan kamu menemukan yang kamu cari! Dengan adanya Traveloby SafePay, kami menjamin keamanan transaksi kamu. Tujuan utama Traveloby adalah agar semua orang dapat menjalani liburan dengan tenang, tanpa khawatir soal penipuan.
      Selamat merencanakan perjalanan wisata, dan selamat berlibur!
    • By Daniel Obernando Simandalahi
      Saya berencana ke Perth tanggal 27 November sampai 3 Desember 2017 (solo trip). Barangkali ada yang mau gabung, bisa berkabar ke [email protected] . Terimakasih :)
    • By Sahat
      Selamak pagi rekan-rekan jalan2ers, apa kabarnye? Ada yang sudah plan rencana jalan-jalannya tahun depan? Mungkin sudah pada banyak kali ya plan nya.
      SEBENARNYA INI MASIH TERLALU AWAL KALI YA, tapi Kebetulan saya ada plan untuk menghabiskan masa liburan hari raya idul fitri 2018 tahun depan di bali. Saya rencana berangkat ke bali tanggal 12 Juni 2018 dan balik ke Jakarta tanggal 23 Juni 2018 which is itu kira-kira 12 hari (tiket sudah issued). Tetapi setelah mikir-mikir menghabiskan 12 hari dibali sepertinya terlalu lama karena sebelumnya udah beberapa kali juga ke Bali. SO ane memutuskan kenapa gak pergi aja explore tempat lain. Setelah mikir-mikir berhari-hari wkwkwkkwkwkwkwkwkwkkwkwkwkw Akhirnya ane memutuskan untuk mencoba explore daerah yang rada dekat dengan bali. taraaaaaaaaa. Ane issued tiket Bali-Perth Australia PP 15 Juni 2018-21 Juni 2018.
      So buat teman teman yang sekiranya punya jadwal sama atau yang tertarik mau join. Bisa kontak saya ya. Untuk daerah australia nya saya masih berfikir untuk explore Perth nya, jika nanti plan nya berubah mungkin bisa sekalian depart lagi ke Melbourne atau ke Sydney.
      Untuk Itinerary kasarnya sih kira2 seperti berikut:
      - Visiting Perth Bell Tower
      - Sunset at Perth Kings Park
      - Roadtrip From Perth to Kalbarri
      - The Nature's Window at Kalbarri National Park
      - E Shed Markets: Cheap Souvenirs in Perth
      - Kailis Fremantle: The Best Seafood and Fish Market in Town
      - Free walking city tours
      - Explore Fremantle by bike
      - Free movies and yoga in Northbridge
      - See Perth's Cultural side 
      - Cottesloe beach
      - Lunch with a view
      - Sample some of Perth’s fine craft beer
      - Little Creatures Brewery (cited by David Gower as one of the best places to go in the city) is set inside a massive converted boat shed right on Fishing Boat Harbour. Get an insider’s look at the process with free tours of the brewery at 1pm, 2pm and 3pm.
      - Taste the Swan Valley. Lets chillin here
      - Explore the city for free (You can get around the city using the free CAT (Central Area Transit) bus.
      - The Pinnacles 
       
      BTW, untuk itin dapat berubah, dan itin diatas hanya gambaran saja. Jika nanti memutuskan untuk terbang lagi ke melbourne/sydney. Itin akan di buat ulang.
       
      Bisa contact saya di line/hp/WA : 081397839967
       
      Hatur Nuhun
    • By Shah Rafilzan
      Hallo salam kenal, Nama saya Shah Rafilzan, bisa dipanggil Rafil.
      Saya berasal dari Kota Bandung, hobby saya memang traveling. Saya baru mulai membuat vlog, bisa langsung cek di youtube channel saya. https://www.youtube.com/channel/UC1ASnsi9TYd3N6VC_AWQeAg
      Barang kali ada yang berminat untuk bikin vlog bareng ?