Sign in to follow this  
Monfi

Japan Spring 2017 Travelogue: Kansai Edition

16 posts in this topic

59be74088c5e1_LightIllumination.jpg.4be66dc2132bd6a5f236bc9ebceffc07.jpg

 

Hallo semuanya..

Setelah sukses solo travelling kemarin ke Jepang tahun 2016 yang lalu, bisa dibilang tahun 2017 ini jadi part 2 nya.. Kali ini aku nggak sendiri, tapi bareng sama temen kantor, Mba Poppy (btw sekarang dia udah pindah ke perusahaan lain). Gimana ceritanya bisa barengan? Jadi sebenernya Mba Poppy udah beli tiket duluan untuk berangkat awal tahun 2017, terus karena denger dari temennya klo aku pasti mau berangkat bulan Maret, akhirnya tiketnya di-refund dan beli tiket baru. Jadi deh kita berangkat bareng tanggal 24 Maret. Bedanya, Mba Poppy pulang di tanggal 2 April 2017, sedangkan aku lanjut sendiri sampai tanggal 7 April.

 

Overall itinerarynya ialah :

Tanggal 24 Maret 2017 : Berangkat dari Jakarta menuju Kansai Airport via Hongkong

Tanggal 25 Maret 2017 : Osaka

Tanggal 26-27 Maret 2017 : Kyoto

Tanggal 28 Maret 2017 : Kyoto, day trip ke Uji dan Kobe

Tanggal 29 Maret 2017 : Kyoto

Tanggal 30 Maret 2017 : Nara

Tanggal 31 Maret 2017 : Nagoya, day trip ke Inuyama dan Kuwana

Tanggal 1 April 2017 : Nagoya, day trip ke Ogaki dan Kakamigahara

Tanggal 2 April 2017 : Suzuka dan Nagoya

Tanggal 3 April 2017 : Amanohashidate

Tanggal 4 April 2017 : Kinosaki Onsen

Tanggal 5 April 2017 : Hikone

Tanggal 6 April 2017 : Himeji

Tanggal 7 April 2017 : Pulang dari Kansai Airport ke Jakarta via Hongkong

 

Prologue

Persiapan kurang lebih sama seperti tahun 2016, bedanya sekarang pake e-paspor jadinya lebih mudah. Untuk itinerary, perhitungan biaya, beli tiket dan lain-lain, aku yang urus, sedangkan Mba Poppy bagian booking akomodasi. Untuk kurs kurang lebih dapetnya sekitar 119 yen. Btw, kita masing-masing sewa pocket wifi, klo Mba Poppy dari Jakarta pake wi2fly, aku pake Sakura Mobile yang diambil di Jepang. Kenapa nggak sewa satu pocket wifi aja biar hemat? Mba Poppy ada rencana di tanggal 27 Maret 2017 ke Tokyo bareng temennya selama 3 hari 2 malem, sedangkan aku stay di Kyoto.

 

Day 1, 24 Maret 2017

Ok, balik lagi ke cerita waktu berangkat. Kita pulang pergi menggunakan pesawat Cathay Pacific dengan transit di Hongkong. Beli tiket sudah dari tahun 2016, dengan total biaya pulang pergi Rp 4.9 juta. Sampai di Kansai Airport, proses imigrasinya ternyata cepet banget. Sempet khawatir karena beberapa akomodasi kita pesan dari Airbnb tapi ternyata nggak ada masalah. Kita cuman cantumin salah satu alamat penginapan yang dipesan di booking.com.

Selesai urusan imigrasi, kita langsung ke Kansai Airport Tourist Information Center untuk beli beberapa travel pass, yaitu:

  1. Keihan Kyoto Sightseeing Pass 1 Day (500 yen) : untuk ke Uji
  2. Hankyu Tourist Pass 1 Day (800 yen) : untuk ke Kobe
  3. Kintetsu Rail Pass 5 Days (3,800 yen): untuk ke Nagoya dan Suzuka

Sedangkan travel pass yang dibeli di Indonesia antara lain:

  1. Osaka Amazing Pass 1 Day (2,300 yen): untuk explore Osaka. Beli di H.I.S. Tours & Travel Indonesia. Dapetnya tiket fisik yang langsung bisa dipakai di Jepang.
  2. JR Pass 7 Days Ordinary (29,110 yen): untuk Mba Poppy pake ke Tokyo. Kayaknya beli vouchernya di Tripvisto.
  3. JR Kansai Wide Area Pass 5 Days (8,500 yen): untuk aku pake ke Amanohashidate, Kinosaki Onsen, Hikone, dan Himeji. Beli voucher di JTB Indonesia.

Untuk voucher JR Pass dan JR Kansai Wide Area Pass kita tuker di Stasiun Osaka, karena pas di Kansai Airport antriannya udah panjang mengular, takut bakal ngabisin waktu.

Selain travel pass diatas kita juga beli di vending machine yaitu:

  1. ICOCA (IC Card) untuk Mba Poppy (500 yen deposit).
  2. SUICA (IC Card) yang aku beli tahun lalu bisa digunakan juga di Kansai area, jadi diisi ulang aja

Tujuan berikutnya ialah langsung ke apartemen di daerah Kami Shinjo, Osaka. Dari Kansai Airport naik kereta Nankai Line sampai Stasiun Tengachaya (920 yen), lanjut naik kereta Subway Sakaisuji Line sampai Stasiun Tenjimbashisujirokuchome (280 yen), abis itu naik kereta Hankyu Line sampai Stasiun Kami Shinjo (190 yen). Waktu perjalanan kurang lebih 1 jam 15 menit. Nyari gedung apartemennya susah banget, sampe kurang lebih 1 jam kita muter-muter, mana yang punya juga susah dihubungin. Tapi pada akhirnya ketemu juga gedung apartemennya setelah kita tanya-tanya sama penduduk sekitar. Overall apartemennya oke dan kita puas menginap disana.

 

59be764cebd4d_HongkongInternationalAirport.jpg.c7872ddeff71e001cd832be2769a7fdf.jpg

Hongkong International Airport

 

59be767f4849b_MoslemMeal.jpg.2a3938115ce70450f6813afac170c500.jpg

Cathay Pacific Moslem Meal

 

59be76c406b86_TravelPass.jpg.14e0a381d0fcf6a91a313b55157c189c.jpg

Koleksi Travel Pass

 

Apartment.jpg.90f2ff0b7d12a50bafe0a2dc9f2a5890.jpg

Apartemen Airbnb

 

Day 2, 25 Maret 2017

Hari kedua di Jepang kita habiskan seharian di Osaka. Travel pass yang kita gunakan ialah Osaka Amazing Pass, dimana dengan menggunakan pass ini untuk transportasi dan beberapa admission fee tempat wisata sudah di-cover. Untuk lebih lengkapnya bisa dilihat di web. Tempat wisata yang kita kunjungin yaitu:

  1. Osaka Castle (600 yen, open 09.00-17.00). Stasiun terdekat : Stasiun Tanimachi 4-chrome (Tanimachi / Chuo Subway Line) atau Stasiun Osakajokoen (JR Line). Koleksinya lengkap tapi klo udah pernah berkunjung ke kastil original kayaknya ada sesuatu yang kurang.
  2. Shinsekai Area & Tsutenkaku Tower (700 yen, open 09.00-21.00, untuk open air deck 10.00-18.00). Stasiun terdekat : Stasiun Shin-Imamiya (JR Line), Stasiun Dobutsuen-mae (Midosuji / Sakaisuji Subway Line), atau Stasiun Ebisucho (Sakaisuji Subway Line). Kita nggak sempet naik ke atas Tsutenkaku Tower karena ngantrinya panjang banget, waiting time-nya sampai 1 jam.
  3. Shinsaibashi Shopping Street & Dotonbori, tempatnya papan Glico Running Man dan Kani Doraku Crab. Karena letaknya di daerah Namba, aksesnya gampang karena banyak banget kereta yang lewat ke sini. Ada JR Line, Nankai Line, Kintetsu Line, Midosuji Subway Line, Yotsubashi Subway Line, dan Sennichimae Subway Line. Disini kita belanja macem-macem. Beberapa toko yang kita datangi antara lain Daiso, Daimaru Shinsaibashi Sanrio Gallery, dan Matsumoto Kiyoshi. Jam buka toko di sini kurang lebih jam 10.00-21.00.
  4. Tempozan Ferris Wheel (800 yen, open 10.00-22.00). Stasiun terdekat : Stasiun Osakako (Chuo Subway Line). Bianglala ini merupakan yang terbesar di Osaka. Pemadangan Osaka Bay Area di malam hari dari ketinggian 112.5 meter nya keren banget. Recommended. Btw ada dua jenis gondola, yang pertama gondola biasa dan yang kedua “see through cabin” dimana dasar gondola dibuat transparan. Antrian “see through cabin” lebih panjang, jadinya kita naik yang biasa aja.
  5. Umeda Sky Building (1,000 yen, open 10.00-22.30). Akses ke sini juga gampang karena banyak banget kereta yang lewat ke sini. Ada JR Line, Hankyu Line, Hanshin Line, Midosuji Subway Line, Yotsubashi Subway Line, dan Tanimachi Subway Line. Tujuan utama ke gedung yang terdiri dari dua tower ini ialah untuk melihat pemandangan kota Osaka dari Floating Garden Observatory yang berada di lantai 39. Sampai di sana antriannya cukup panjang, tapi waiting time-nya nggak sampai 1 jam. Pemandangan kota Osaka di malam hari juga cukup bagus.

Tadinya kita mau makan ramen halal di daerah Namba, nama restorannya Ramen Honolu, cuman karena timing-nya nggak tepat kedainya udah tutup duluan untuk break siang (jam 14.30, buka lagi jam 17.00). Overall waktu yang dihabiskan di Osaka sangat menarik, hanya saja pada saat itu bunga Sakura belum mekar. Sepertinya tahun ini ada keterlambatan akibat cuaca yang tidak menentu. Jadinya terpaksa beberapa itinerary ada yang aku modifikasi atau kadang jalan saja spontan tanpa itinerary.

 

Osaka.jpg.8182c4c8741885f46c15c780fe08b67a.jpg

59be79b554f21_DayandNight.jpg.1187e34e9b47e4500d2b7f1e0c47f1db.jpg

One Day in Osaka

 

Sekian untuk saat ini.. Lanjutannya bisa dilihat di link berikut:

Day 3-4, 26-27 Maret 2017 : Kyoto

 

Untuk perjalananku ke Jepang (mainly Tokyo, Takayama, Toyama, Matsumoto) di tahun 2016 bisa dilihat di link ini

Terima kasih semuanya..

Share this post


Link to post
Share on other sites
1 hour ago, twindry said:

wuiiiih pulkam lagi :D mantaaaap. ditunggu kelanjutannya

@twindry Alhamdulillah ada rezeki..

19 minutes ago, kyosash said:

wah bagus tuh Illumination-nya, ada dimana tuh ?:huh:

btw nice share :salut 

@kyosash Kmaren mampir ke nabana no sato di Kuwana, Prefektur Mie.. Bagus banget.. Recommended..

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 3, 26 Maret 2017

Pagi hari kita siap-siap untuk meninggalkan Osaka menuju ke Kyoto. Dari Stasiun Kami Shinjo kita naik kereta Hankyu Line menuju Stasiun Kawaramachi (370 yen), kemudian lanjut jalan kaki sampai Stasiun Gion-Shijo untuk naik kereta Keihan Line sampai Stasiun Shichijo (150 yen). Waktu perjalanan kurang lebih 1 jam. Sampai di Stasiun Shichijo kita langsung menuju penginapan untuk taruh barang dan check in. Dari penginapan kita jalan kaki kurang lebih 15 menit menuju Stasiun Kyoto. Di stasiun ini kita janjian dengan temennya Mba Poppy, Mba Dyah, yang travelling bareng suami dan anaknya. Travel Pass yang kita gunakan ialah Kyoto Sightseeing 1 Day Pass (1,200 yen) yang bisa digunakan untuk naik kereta Subway dan Bus di Kyoto.

Tujuan kita yang pertama yaitu Kinkakuji atau yang sering disebut dengan Golden Pavillion (400 yen, open 09.00-17.00). Sebenernya dari Stasiun Kyoto bisa langsung naik bus no. 101 atau 205, tapi kita pilih naik kereta Subway Karasuma Line dulu sampai Stasiun Kitaoji abis itu baru naik bus no. 101, 102, 204 atau 205 dari Terminal Bus Kitaoji sampai ke Bus Stop Kinkakuji Michi supaya hemat waktu.

Tujuan kita yang kedua ialah ke Kiyomizudera Temple (400 yen, open 06.00-18.00, spring / fall ilumination pada jam 18.00-21.00). Kebetulan waktu sampai di sana sudah malam hari pas spring illumination, jadi kita bisa melihat pada saat lampu-lampu dinyalakan. Mba Dyah sekeluarga nggak ikut kita kesini karena anaknya mulai rewel sehingga harus segera balik ke Hotel. FYI, pada saat itu Main Hall-nya Kuil Kiyomizudera sedang dalam proses renovasi atap, dan diperkirakan selesai pengerjaannya pada bulan Maret 2020. Walaupun sudah malam hari dan dalam kondisi hujan, cukup banyak turis yang berkunjung ke kuil ini..

 

59c7e3e69d479_KyotoTower.jpg.a351b006a79c80e1f880c2ae9e1acec3.jpg

Kyoto Tower

 

Kinkakuji.jpg.b24d8d7829106e2d3dc746f104e03df5.jpg

Kinkakuji

 

Kiyomizudera.jpg.5c66e8d723541a10eb4e0e0df243b92b.jpg

Kiyomizudera Temple

 

Day 4, 27 Maret 2017

Hari kedua di Kyoto, pastinya harus mengunjungi itenerary wajib klo orang jalan-jalan di sini, apalagi klo bukan Fushimi Inari Shrine (free, always open, stasiun terdekat : Stasiun JR Inari atau Stasiun Keihan Fushimi Inari). Pasti temen-temen udah pada tahu tentang senbon torii, gerbang berwarna merah oranye yang jumlahnya mencapai ribuan yang berjejer hingga sampai ke atas Gunung Inari. Sekilas mengenai Fushimi Inari Shrine, kuil Shinto ini dibangun untuk memuja Dewa Inari, dewa beras yang membawa kesuburan, kemakmuran, dan kesuksesan, sehingga dianggap sebagai salah satu dewa penting dalam pemujaan Shinto. Dewa Inari juga berperan sebagai pelindung usaha pertanian, perdagangan, dan perindustrian. Torii yang berdiri di kuil ini merupakan sumbangan dari para pemujanya, dimana nominalnya pun nggak sedikit, dari sekitar ratusan ribu sampai jutaan yen. Di kuil ini kita akan sering melihat patung rubah, yang konon katanya merupakan perantara Dewa Inari. Sayangnya aku nggak sempet naik sampai ke atas karena itinerary yang lumayan padat. Mungkin kapan-kapan jika ada kesempatan bisa ke sini lagi supaya bisa naik sampai puncak.

Lanjut ke destinasi kedua yang sering dikunjungin orang waktu ke Kyoto, yaitu Arashiyama Bamboo Forest (free, always open, stasiun terdekat : Stasiun JR Saga-Arashiyama, Stasiun Randen Arashiyama, atau Stasiun Hankyu Arashiyama). Selain jalan-jalan di hutan bambu, banyak kegiatan yang bisa dilakukan di daerah Arashiyama. Kira-kira jam 12.00 siang, aku dan Mba Poppy berpisah disini, karena Mba Poppy akan ke Tokyo sedangkan aku masih di Kyoto. Kegiatan pertama yang aku lakukan ialah beli tiket Sagano Romantic Train, dari Stasiun Saga Torokko sampai Stasiun Kameoka Torokko (one way perjalanan 620 yen selama 25 menit, beroperasi dari tanggal 1 Maret sampai 29 Desember, libur di hari Rabu kecuali hari-hari tertentu). Stasiun Saga Torokko buka jam 08.35, dan kereta pertama yang berangkat dari Stasiun Saga Torokko ialah jam 09.01. Untuk lengkapnya bisa dilihat di web ini..

Akhirnya berhasil dapet tiket untuk keberangkatan jam 14.01. Karena masih ada waktu satu setengah jam, aku berkunjung ke salah satu kuil yang ada di Arashiyama, yaitu Tenryuji Temple (500 yen untuk taman, tambahan 300 yen klo masuk ke dalam kuil, open 08.30-17.30). Di dalam kuil yang termasuk ke dalam UNESCO World Cultural Heritage Site ini terdapat taman yang dikenal dengan nama Sogenchi Garden, salah satu taman tertua di Jepang yang masih dipertahankan keasliannya seperti abad ke 14. Bagi temen-temen yang suka Japanese Zen Garden recommended untuk mampir ke sini.

Setelah puas jalan-jalan di Tenryuji Temple, saatnya kembali ke Stasiun Saga Torokko untuk naik kereta Sagano Romantic Train sampai ke pemberhentian terakhir di Stasiun Kameoka Torokko. Kemudian kita harus berjalan kaki sedikit sampai Stasiun Umahori untuk naik kereta JR Sagano Line sampai Stasiun Saga-Arashiyama (200 yen).

Tujuan selanjutnya ialah menuju ke salah satu UNESCO World Cultural Heritage Site, yaitu Ninnaji Temple (500 yen, open 09.00-17.00). Untuk menuju ke kuil ini, aku naik kereta Randen Keifuku Arashiyama Line dari Stasiun Randen-Saga, transit di Stasiun Katabiranotsuji untuk ganti kereta Randen Keifuku Kitano Line menuju ke Stasiun Omuro Ninnaji (210 yen). Kereta ini cukup unik dimana cuman ada satu gerbong, saat masuk dan mengendarai kereta terasa sekali suasana zaman dahulu, karena memang kereta ini adalah satu-satunya tram line yang masih berfungsi. Banyak hal menarik yang ada di Ninnaji Temple, seperti struktur kuil yang menawan serta taman yang indah. Namun salah satu keunikan kuil ini ialah tumbuhnya Omuro Sakura, salah satu spesies sakura yang mekarnya lebih lambat dibandingkan pohon sakura biasa (biasanya mekar pada pertengahan April). Selain itu pohonnya juga tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 2 meter. Pada saat mekar dengan sempurna, biasanya ada biaya tambahan 600 yen untuk menikmati indahnya Omuro Sakura.

Perjalanan aku lanjutkan dengan kembali menaiki kereta Randen Keifuku Kitano Line dari Stasiun Omuro Ninnaji, transit di Stasiun Katabiranotsuji untuk ganti kereta Randen Keifuku Arashiyama Line menuju ke Stasiun Randen Arashiyama. Tujuan utama aku ke sini ialah untuk menikmati indahnya Kimono Forest (free, always open) karya Yasumichi Morita, seorang interior designer. Di stasiun ini terdapat sekitar 600 pilar akrilik berhiaskan motif kimono dengan teknik kyo-yuzen sebagai bagian dari renovasi stasiun kereta yang selesai dikerjakan pada tahun 2013. Suasana menjadi lebih dramatis saat malam tiba, dimana pilar-pilar ini akan menyala dengan indahnya. Sampai di ujung, kita akan melihat kolam kecil yaitu Ryu no Atago-ike, dimana katanya banyak orang yang memanjatkan doa di sini.

Sampai disini dulu semuanya.. Semoga bermanfaat yaa..

 

59c7e5d096161_FushimiInari.jpg.c3108bf6ace3d80f73ffa6697b0e3a3f.jpg

Fushimi Inari Shrine

 

Arashiyama.jpg.e43170207ebca9adcf57ce70f430bd27.jpg

Arashiyama Bamboo Forest

 

59c7e666f2add_TenryujiTemple.jpg.eef917685548cdb701911aa14614fc02.jpg

Tenryuji Temple

 

59c7e618c9cba_SaganoRomanticTrain1.jpg.bcc6e11cfd68017aaf61437f52361c1c.jpg

59c7e64845189_SaganoRomanticTrain2.jpg.637318ba81e9b3fcde8d545a5f54f101.jpg

Sagano Romantic Train

 

59c7e696ec732_NinnajiTemple.jpg.d94ef02c7298e41e12909f07f6db2f54.jpg

Ninnaji Temple

 

59c7e6bc6fe4c_TogetsukyoBridge.jpg.a79d5b2fbbedbff25f53956218dcc1b6.jpg

Togetsukyo Bridge

 

59c7e6d743f67_KimonoForest.jpg.65581500241b46301a9ea264271ac051.jpg

59c7e6ef529ec_KimonoForest2.jpg.2ce6989dc20bdfa1dd8a2c3b34f5280b.jpg

Kimono Forest

Share this post


Link to post
Share on other sites

Wah kyoto kimono forest masuk listku. Tapi kayaknya bakal kena siangnya dari pada malemnya. Pengen rasain 2-2nya tapi. Mesti rombak nih kayaknya wakaka. Thanks @Monfi Review kyotonya. 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By pejalankaki
      Halo Jalan2.com! 
      Siapa yang tidak tahu dengan Universal Studio Jepang? Tempat yang satu ini wajib kamu kunjungi saat liburan ke Jepang. Di lokasi wisata yang ikonik ini, Travel Mates akan bertemu banyak karakter film yang pasti sudah nggak asing lagi deh! Tapi kalau kamu masih bingung mau ke mengunjungi spot yang mana dulu, Artikel HIS Travel rekomendasikan kamu ke spot Harry Potter yang super duper fantastis dulu, Travel Mates.
      Karena tempat yang satu ini menjadi para incaran para wisatawan manca negara yang ingin melihat langsung kastil atau bangunan yang mirip seperti di film Harry Potter.
      Setelah puas mengunjungi spot-spot yang seru, pastinya perut kamu butuh asupan kan? Selain karakter dan filmnya yang terkenal, Universal Studio Jepang juga memiliki menu kuliner yang wajib kamu cicipi ketika mengunjunginya. Pasti Travel Mates penasaran kan apa aja sih kuliner yang wajib dicicipi ketika mengunjungi Universal Studio Jepang?
      Yuk simak di bawah ini!
      Restoran The Three Broomsticks

      Sumber gambar: squarespace.com
      Buat kamu pecinta buku atau film Harry Potter pasti sering mendengar nama restoran yang satu ini. Ternyata beneran ada di dunia nyata lho, Travel Mates. Kalau kamu sedang mengunjungi Universal Studio Jepang, restoran ini ada di pintu Hogsmeade dengan tanda tulisan "Please Respect the Spell Limits". Dari pintu masuknya aja udah keren dan Harry Potter banget ya, Travel Mates?
      Kalau kamu belum tau, dalam buku-buku dan film Harry Potter, Three Broomsticks ini adalah penginapan dan restoran yang berada di Hogsmeade yang biasa dikunjungi oleh murid Hogwarts, termasuk Harry Potter dan teman-temannya.
      Untuk menu-menu makanan di sini juga mirip seperti yang ada di buku dan film Harry Potter, lho. Seperti Butterbeer, Fire Whisky, Gilly Water, dll. Untuk harganya sendiri mulai dari $2 - $9 per tiap menunya.
      Delicious Me! & POP-A-NANA

      Sumber gambar: https://idntimes.com
      Kalau baca nama restoran di atas, kira-kira menggambarkan karakter apa ya, Travel Mates? Dari logonya sih dominan warna kuning. Betul, apa lagi kalau bukan Minion! Di dua restoran ini kamu bisa cobain cemilan yang seru. Delicious Me! memiliki menu sandwich snack dengan rasa fruits and cream. Dan ketika memakannya Travel Mates akan menemukan rasa beberapa buah seperti stroberi, pisang, dan anggur yang dicampur dengan cream. Kamu akan diajak merasakan perpaduan biskuit yang manis dan buah yang segar dalam sekali gigit. Penasaran 'kan?
      Karena tempat ini berada di satu tempat, yaitu kawasan Minion Park, selanjutnya kamu harus mencoba mengunjungi restoran POP-A-NANA yang ada disebelahnya. Hayoo, apa makanan favorit Minion? Betul, jawabannya adalah banana atau pisang. Terinspirasi dari makanan favorit minion, restoran ini memiliki menu serba pisang, lho. Salah satu menu yang paling sering dipesan adalah popcorn rasa pisang cokelat.
       Amity Landing Restaurant, Teror Hiu Jaws

      Sumber gambar: https://tdrexplorer.com
      Jaws, pasti kamu pernah melihat film yang satu ini. Teror hiu yang satu ini ternyata tidak hanya di film, tapi juga ada di Universal Studio Japan, Travel Mates. Tenang, teror yang satu ini bisa kamu serang balik kok, caranya dengan memakannya langsung. Seperti di filmnya, Universal Studio Jepang memiliki area Amity Village atau biasa dikenal dengan rumahnya habitat atau rumah Jaws. 
      Pulau yang dikelilingi oleh laut ini memiliki restoran yang unik, yaitu Amity Landing Restaurant. Siapa yang tau kalau Travel Mates bisa memakan Jaws dalam bentuk dessert yang menggemaskan di restoran satu ini? Dengan harga $4 kamu bisa mendapatkan menu Jaws Cake yang dibentuk swiss roll dan dilengkapi dengan cream soda. Kalo terornya seperti ini, pasti Travel Mates maunya di teror mulu. Betul?
      Discovery Restaurant, Restoran bertema Jurassic Park

      Sumber gambar: https://www.usj.co.jp
      Travel Mates ingin merasakan langsung dunia Jurassic Park? Restoran ini sangat cocok untuk mewujudkannya. Dengan membuat konsep interior yang sama seperti di film dan pilihan menu bertema hutan Jurassic Park, para pengunjung akan merasakan atmosfer langsung seperti apa kehidupan di dunia Jurassic Park. 
      Tapi kamu harus berhati-hati Travel Mates, karena di restoran ini akan ada dinosaurus yang tiba-tiba muncul dihadapan kamu ketika kamu sedang makan. Jadi sebelum kamu ke sini, lebih baik kamu berlatih dulu seperti Owen Grady di film Jurassic Park saat mengendalikan Velociraptor, ya!
       
      SUMBER
    • By Clemenz Cave
      Hi,
      I'm just looking for mates to travel with to Japan through Xmas till New Year's Eve, so about 5 days give or take. Anyone is welcomed! 
      For now its only me and myself, haven't got the itinerary written down yet much less the exact dates to go and back. 
      You can invite your friends along if you want, THE MORE THE MERRIER! :D
    • By Daniyah Isa
      Assalamualaikum 
      Salam kenal,
      Panggil saya, Nia
      Ini adalah pertama kalinya saya pergi ke LN dg mengurus semua keperluan sendiri. Biasanya, sdh terima beres dari kantor, karena memang ada urusan. Nah, destinasi yg saya pilih tdk jauh tp harus berkesan ! Melaka. Kota yg ditempuh dlm waktu 2 jam dari KLIA2. 
      Gimana caranya saya bisa sampai ke sana ? Inih dia, detailnya ;
      1. JKT-KLIA2
      Pesan tiket pesawat yg everyone can fly dari situs resmi. Lama waktu sekitar 2 jam, berangkat 10:10am sampai KLIA2 13:15pm.
      Di KLIA2, ikuti saja petunjuk arah yang ada, sambil ikuti arus kemana orang-orang pergi. Nanti, ada eskalator naik, lalu ada eskalator turun langsung ke tmpt imigrasi. Setelah keluar dari imigrasi, saya temukan mall dg counter-counter barang branded. Semacam Grand Indonesia, kalau di Jakarta.
      Buat yg terburu-buru sampai ke KL dg cepat, mgkn ada urusan meeting or apa, bisa lurus terus ke pintu keluar. Di samping pintu keluar ada loket pembelian tiket KL Ekspres, seharga 55RM dg waktu tempuh 33menit ke stasiun KL SENTRAL. Dari KL Sentral, bisa pilih kemana saja tujuan teman-teman yg mau dicapai. Ibarat di Jakarta nih, KL Sentral tuh Manggarai. 
      Tujuan wisata saya, dan teman saya adalah Melaka. Belajar dari blog dan bbrp artikel, butuh kendaraan bus utk sampai ke sana. Hanya bus saja, tdk ada kereta atau MRT yg menuju ke sana. Saya pun, turun lagi ke lantai G dg eskalator. Jangan takut kesasar ! Banyak petugas keamanan yg berjaga.
      Sampai di lantai paling dasar, ada sederet loket yang menjual tiket bus, taxi, sewa kereta (mobil). Langsung saja, membeli tiket bus Transnasional tujuan Melaka Sentral, seharga 24.10RM. Di tiket sudah tertera nomor tempat duduk, gate tempat menunggu. Wah, pokoknya tertib dan teratur! Meskipun busnya lebih bagusan DAMRI sih bagi saya, hehehe.
      2. Melaka dan Wisatanya 
      Selama 2 jam perjalanan dari KLIA2, sambil bengong-bengong liat pemandangan (apa bener gue di Malaysia? Ini mirip ke Ciawi yah ? Heheheh) yang membedakan tuh, sepanjang jalan lancar jaya. Mgkn supir bus kapalan nginjek gas, hehehe. Duh bahagia deh kalau Jakarta jalanannya kaya gini terus. Sampai tibalah saya di Melaka Sentral, ibaratnya Terminal Kp. Rambutan gituh. 
      Waduh, sepi banget ! Macam ga ada kehidupan. Bingung juga kan, mau ke hotel gimana ? Boro-boro kuota buat pesan taksi online, sinyal ajah ga dapat.
      Yaa, saya tanya ke petugas kebersihan, dan memang bus Panorama 17 tujuan Bangunan Merah, agak lama. Bukan karena macet yaa, ini karena jalanan di Melaka tuh Sehala (satu arah) jadi dia berputar dulu.
      Sejam menunggu, datanglah bus Panorama 17. Disinilah pengalaman dimulai, banyak yg Negor dan tanya "Indonesia ya ? Indonesianya mana ?" Agak bingung sih, ditanya begitu. Biasanya ditanya "Jawanya mana ?" Padahal sih, sama saja hehehe. 
      Saya menginap di hotel Hallmark Crown, 3H2M, seharga 147RM include Breakfest, free wifi. Wilayahnya dekat dengan mall Dataran Pahlawan, jalan kaki 10 menit lah. Jadi turun saja di Dataran Pahlawan, ongkos busnya 2RM saja. Hotelnya comfie banget ! Disetiap sudut ada galon. Jadi bisa refil sepuasnya, ditambah kulkasnya menyala dg sempurna. Wah, recomend deh!
      Saran utk teman-teman yg mau pesan hotel di Melaka, pesan di daerah sekitar Dataran Pahlawan (rate murah), Bangunan Merah, dan Jonker Street. Tiga tempat itu, sudah dekat banget kemana-mana. Jadi bisa jalan-jalan santai, foto-foto, interaksi sama penduduk lokal. Yg penting, rajin jalan kaki yaa, hehehe.
      Hari pertama saya mengunjungi Bangunan Merah, jalan kaki dari Hotel 15 menit. Melewati mall-mall Besar, dan rupanya ada carnaval becak hias, mobil hias dan barongsai. Jadi nggak berasa jauh dan capeknya.
      Di Melaka, ada yang saya lihat di maps Google itu jauh, ternyata dekatan. Menara Taming Sari, Bangunan Merah, Jonker Street dan River Cruise. Yang jauh, cuma Masjid Selat Melaka. Masjid Selat Melaka memang harus menggunakan taksi online, karena jaraknya terpisah dengan daratan Melaka kota dan masuk ke kompleks perumahan. 
      3.Kuliner dan Oleh-oleh Melaka
      Sempat bingung mau makan apa di Melaka. Hari pertama saya sampai di Melaka, sudah malam dan banyak yg tutup. Masa iyah sih, jauh-jauh ke Melaka, makanya McD? Nggak ada nasi lagi. Akhirnya mampir ke 7Eleven (horeee, Nemu 'sevel !) Beli nasi lemak instant dan mie instan. Lupa berapa harganya, tapi cukup menahan lapar. Serius deh, sebenarnya nggak lapar-lapar banget ! Cuma karena nggak mau masuk angin ajah.
      Terakhir perut diisi sama sandwich Subway yg beli di KLIA2. Hufh, gara-gara ngincer destinasi wisata jadinya lupa makan. 
      Hari kedua, masih hunting foto disekitar Bangunan Merah, Taming Sari, River Cruise. Cerah banget langit di Melaka, dan udaranya juga segar nggak ada polusi (kapan Jakarta begini ? Mungkin ga yah ?). Di samping Bangunan Merah, ada tangga menuju bukit. Diatasnya bangunan reruntuhan yang menghadap lautan lepas. Keren banget !!! Duduk-duduk saja sambil lihat pemandangan. 
      Oh Iyah, untuk beli oleh-oleh seperti gantungan kunci, kaos tulisan Melaka, tas Melaka, tempatnya di Medan Samudera. Tenang, ga jauh kok ! Ga perlu nyebrang. Dari Bangunan Merah, ambil sisi kanan dan lurus terus sampai lihat bangunan kapal pesiar. Nah di sana, yang paling murah ! Kaos dapat 10RM, gantungan kunci dapat 8RM, 6 gantungan kunci. Meski di Bangunan Merah juga ada lapak yang menjual, lebih baik beli di Medan Samudera, karena harganya lebih terjangkau. 
      Selain beli oleh-oleh, di tempat ini ada warteg Melayu loh ! Syukurlah, ada warteg juga. Awalnya sempat underestimate gitu. Makanannya mirip makanan warteg, dan ga lebih menarik dari warteg Jakarta. Karena Nggak enak sama Ibu penjualnya, yg tiba-tiba udah nyendokin nasi, mau ga mau dibeli. 
      Yaa sayur tumis kacang panjang dan ayam goreng jadi menu makan siang. Pas dimakan, enak ! Ini karena efek capek mungkin yaa. Minum air mineral, biar nggak makin haus. Tadinya sih mau makan nasi Briyani dan teh tarik, tapi dia hanya jual di hari Minggu. Seporsi makanan warteg Melayu cuma 6RM. Waah, amazing ! akhirnya bisa menghemat, heheheh.
      Lepas makan, lanjut belanja-belanja di sekitar Medan Samudera. Biasa, buat yang dirumah, mau dibeliin kaos dan gantungan kunci utk disebar, hehehe. Jalan lagi ke Bangunan Merah, baru ketemu kedai es cendol. Katanya sih, es cendol di Melaka itu khas banget. Yaudah, saya beli yang es cendol kacang merah. Rasanya ??? Waah, enak banget !!! Pass buat saya yang ga terlalu suka manis. Kuah santannya gurih, cendolnya segar dan kacang merahnya manis. 
      Wah, okeh banget lah ! Rencana kalau ngidam, maunya ngidam es cendol Melaka. Hahahah
      Menjelang sore, saya bersiap menuju Mesjid Selat Melaka. Menikmati sunset sambil menunggu waktu magrib. Magrib di Malaysia, setengah tujuh. Tapi langitnya seperti setengah enam, Jakarta. Waktu di Malaysia tuh cepat banget ! Mungkin ini planet Merkurius, satu menit tiga puluh detik. Semua terasa cepat.
      Saya dan teman-teman menuju Masjid Selat Melaka menggunakan taksi online. Sampai di sana, waah indah banget ! Lebih indah dari foto-foto Google. Garis cakrawala sudah menyapa di langit. Air laut biru bersih tanpa sampah. Saya berdiri di halaman belakang Masjid menatap langit sore. Diterpa angin laut, dan ada beberapa wisatawan lain berlalu-lalang. Sayang, lagi nggak sholat Magrib di sini. 
      Akhirnya cuma nunggu teman yang sholat Maghrib, sambil jaga sendal hahaha.
      Malam terakhir di Melaka, saya menuju rumah makan Eeji Ban Chicken, penjual makanan khas Melaka. Ada Rice Balls, Asam Pedas, Nasi Lemak, harganya pun terjangkau. Berkesan makan ditempat ini, karena rumah makan Eeji Ban recomend dari supir taksi online. 
      4. Check Out Melaka
      Hari terakhir di Melaka, saya merasa sedih banget ninggalin tempat ini. Padahal rumah ini kampung orang, negeri orang, huhuhu. Nggak mau repot karena tas udah beranak, jadinya saya dan teman-teman naik taksi online ke Melaka Sentral.
      Di Malaysia pada umumnya, jarang ada sirik-sirikan or persaingan. Contohnya di terminal Sentral Melaka. Tadinya mau naik bus Delima,  bus terkenal dikalangan blogger yg pernah kesana. Tapi sama kenek Delima, disuruh ke bus satunya lagi yg kurang eksis. But its OK ! Yg ptg sampai, heheheh.
      Dua jam perjalanan menuju terminal bus TBS (Terminal Bersepadu Selatan), amazing !!! Terminal Bus rasa Bandara Terminal 3. Bersih, tertib, rapi. Dibawahnya, ada stasiun menuju KL Sentral. 
      5. Sehari di Kuala Lumpur 
      Berhubung pesawat tengah malam, jadi siang masih bisa jalan-jalan sebentar di Kuala Lumpur. Hunting foto di KLCC, Dataran Merdeka dan jalan-jalan ke Mall *lagi. 
      Dari Terminal TBS, naik KL transit ke stasiun KL SENTRAL seharga 6.5RM. Dari KL SENTRAL, bisa ke Batu Caves, KLCC, Mesjid Jamek, KLIA2. Ada peta seperti peta yang ada di halte Transjakarta, di sana juga ada petugas yang membantu dan menanyakan "Can i help you ?" So, tak perlu takut tersesat. 
      Stamina udah low, meski cuma naik turun kendaraan umum tp cukup bikin lemas. Selain makan, kita juga butuh vitamin, kalau capek lebih baik istirahat.
      Di KL SENTRAL, ada loker penitipan dg kunci sensor wajah. Jadi kita ga perlu deh tengteng tas beranak kesana kemari. Harganya 20RM utk loker kecil dan 30RM utk loker besar. Sangat disarankan berpergian sama teman, biar segala biaya bisa ditanggung bersama. Tapi milih juga yaa, teman yang gimana buat diajak jalan jauh. Apalagi, ke LN yg jalan kakinya jauh-jauh.
      Baiklah, itu pengalaman pertama saya traveling ke Melaka, Malaysia. Saya sangat suka tempat itu, lebih indah dari yg saya bayangkan. Terutama yg hobi fotografi, ini banyak spot-spot bagus di Melaka. 
      Oh Iyah, makasih banyak buat Mba Vira. Mgkn dia jarang aktif di forum ini. Saya pun juga newbie. Ketemu jalan2.com karena random ajah, hehehe. Lagi bosen, drpd stalking sang EX atau baca berita hoaks, iseng-iseng cari soal Melaka. Tiba-tiba muncul situs ini, dan saya kenalan sama Mba Vira. Nggak ada sedikitpun curiga bakal gimana nnt disana, tinggal jalan ajah. Hehehe
      Nah buat teman-teman, semoga tulisan saya membantu dan jadi referensi kalau kalian mau ke sana. Ingat, No need bilang, barang ini murah atau mahal. Soalnya beda "Peradaban".
       








       
    • By vie asano
      Masih tentang Hiroshima. Pada tulisan Hiroshima's Guide for Travellers (1), saya sudah menyinggung tentang moda transportasi publik dan juga beberapa bangunan lain yang tersisa paska serangan bom atom 6 Agustus 1945 yang menghancurkan hampir seluruh kota Hiroshima. Tapi Hiroshima nggak melulu berisi cerita tentang bom atom lho. Kota ini sudah lama move on dari kehancuran paska serangan bom dengan kode nama little boy tersebut, dan kini memiliki banyak obyek wisata yang menarik. Misalnya saja, untuk kategori wisata sejarah. Di Hiroshima terdapat 2 kastil yang cukup populer. Kastil pertama, Hiroshima Castle, aslinya dibangun oleh Terumoto Mori pada tahun 1590. Sayangnya kastil ini hancur oleh bom atom Hirosohima dan hanya menyisakan sedikit struktur aslinya. Kini Hiroshima Castle sudah selesai di rekonstruksi dan difungsikan sebagai museum yang mengangkat budaya samurai.
      Foto 01:
      Hiroshima Castle [foto: Fg2/wikimedia]
      Sedangkan kastil kedua adalah Fukuyama Castle yang terdapat di Fukuyama, Hiroshima. Sama seperti Hiroshima Catle, Fukuyama Castle ini bukanlah kastil asli, karena di Jepang kastil asli hanya berjumlah 12 saja (baca disini: Tahu Nggak, Hanya Ada 12 Kastil Original di Seluruh Jepang Lho!).
      Foto 02:
      Fukuyama Castle [foto: Jnn/wikimedia]
      Dari spot bersejarah, lanjut ke museum. Selain memiliki museum keren di Hiroshima Peace Memorial Park, Hiroshima juga punya stok museum bertema lain yang tak kalah kerennya. Contohnya adalah Mazda Museum. Dari namanya sudah bisa ditebak jika museum ini berkaitan dengan Mazda, dan memang benar adanya. Mazda memang salah satu produsen mobil yang memiliki peran penting dalam perekonomian Hiroshima, dan di Mazda museum ini wisatawan dapat melihat-lihat berbagai hal yang berkaitan dengan Mazda, mulai dari sejarah, proses perakitan mesin, dan lain-lain. Untuk bisa masuk ke museum ini sama sekali tidak dikenakan biaya. Hanya saja wisatawan wajib melakukan reservasi terlebih dulu.
      Foto 03:
      Salah satu display di Mazda Museum [foto: Taisyo/wikimedia]
      Hiroshima memiliki beberapa museum seni dengan koleksi yang sangat baik, antara lain Hiroshima City Museum of Contemporary Art yang memiliki berbagai koleksi seni dari beberapa seniman Barat ternama seperti Andy Warhol. Museum seni lainnya, Hiroshima Prefectural Museum of Art, juga memiliki koleksi seni yang sangat baik mulai dari seni klasik hingga modern. Begitu juga dengan Hiroshima Museum of Art dengan koleksi andalannya adalah karya seni bergaya Eropa.
      Foto 04:
      Hiroshima Prefectural Museum of Art [foto: Taisyo/wikimedia]
      Namun jika tak tertarik dengan museum seni maupun jika membawa anak-anak, masih banyak jenis museum lainnya seperti Hiroshima Children's Museum yang memiliki aneka eksibisi yang akan disukai oleh si kecil; Hiroshima City Transportation Museum, dan lain-lain.
      Foto 05:
      Hiroshima Children's Museum [foto: Taisyo/wikimedia]
      Dari museum, mari mengunjungi aneka kuil di Hiroshima. Ya, wisata kuil memang selalu menjadi salah satu aktifitas favorit untuk dilakukan di Jepang. Sayangnya, untuk kota Hiroshima sendiri minim kuil yang betul-betul menawarkan keunikan khas untuk wisatawan. Mungkin yang bisa masuk dalam kategori cukup unik adalah Mitaki-dera, kuil Budha yang memiliki pemandangan indah saat musim gugur. Tapi nggak perlu kecewa. Jika masih ingin melakukan wisata kuil, sekalian saja berkunjung ke Miyajima, karena disana ada kuil Itsukushima yang diakui sebagai salah satu dari Japan's 3 top scenic sight (2 lainnya adalah pine-clad island di Matsushima dan Amanohashidate. Untuk Amanohashidate, bisa dibaca disini: Amanohashidate part 1, Amanohashidate part 2). Info tentang Miyajima menyusul yah.
      Foto 06:
      Mitaki-dera [foto: Binabik155/wikimedia]
      Festival di Hiroshima
      Ada beberapa festival besar di Hiroshima, tapi saya hanya akan menyinggung yang paling populer saja. Salah satu festival terbesar dan terpopuler di Hiroshima adalah Hiroshima Flower Festival yang diadakan setiap tanggal 3-5 Mei setiap tahunnya (bertepatan dengan liburan Golden Week). Festival yang digelar di Hiroshima Peace Memorial Park ini dipenuhi dengan aneka pertunjukan meriah, mulai dari tari, nyanyi, parade, hingga pasar kaget. Tak heran jika setiap kali festival ini dilangsungkan, jumlah pengunjungnya bisa mencapai lebih dari 1 juta orang.
      Foto 07:
      Hiroshima Flower Festival [foto: Taisyo/wikimedia]
      Festival lain yang selalu mencuri perhatian wisatawan tentu saja adalah Hiroshima Lantern Festival, yang diselenggarakan di Hiroshima Peace Memorial Park setiap diperingatinya tanggal jatuhnya bom atom Hiroshima, yaitu 6 Agustus. Saya pernah menyinggung sedikit tentang festival tersebut pada tulisan Hiroshima Peace Memorial Park dan Sepenggal Cerita Bom Atom 1945 (3-end).
      Foto 08:
      Hiroshima Lantern Festival [foto: w00kie/flickr]
      Kuliner khas Hiroshima
      Akhirnyaaaa, sampai juga di bagian kuliner! Dan kuliner pertama ala Hiroshima yang akan saya ulas adalah Okonomiyaki.
      Lho, kok okonomiyaki? Bukannya okonomiyaki berasal dari Osaka?
      Ya, okonomiyaki memang populer sebagai kuliner khas Osaka. Saking populernya, Tokyo tak mau kalah dan akhirnya membuat versi tandingan dari okonomiyaki yaitu monjayaki (tempat paling populer untuk mencicipi kuliner ini ada di Tsukishima). Untuk Hiroshima, daerah ini memiliki okonomiyaki yang dibuat dengan gaya yang khas. Jika okonomiyaki khas Osaka dibuat dengan mencampuradukkan seluruh bahan ke dalam larutan tepung dan di goreng di wajan datar, okonomiyaki ala Hiroshima dibuat berlayer. Campurannya pun bervariasi, tak hanya sekedar kubis, telur, dan daging. Namun bisa dicampur juga dengan seafood (biasanya cumi maupun gurita), keju, dan juga mie (baik soba maupun udon). Kuantitas kubisnya pun jauh lebih banyak dibanding versi Osaka. Penampakan okonomiyaki ala Hiroshima kira-kira seperti berikut.
      Foto 09:
      Okonomiyaki ala Hiroshima, tahap persiapan. Kubisnya segunung! [foto: J. Miers/wikimedia]
      Foto 10:
      Hasil jadi okonomiyaki ala Hiroshima. Mie menjadi salah satu bahan dasarnya[foto: Daderot/wikimedia]
      Dan bandingkan dengan okonomiyaki versi Osaka.
      Foto 11:
      Okonomiyaki ala Osaka tahap setengah jadi [foto: Marcel Montes/wikimedia]
      Foto 12:
      Okonomiyaki ala Osaka [foto: Marcel Montes/wikimedia]
      Kuliner khas Hiroshima lainnya adalah momiji manju. Kue ini berbentuk seperti daun momiji (atau maple) dan diisi dengan pasta kacang merah. Nggak suka kacang merah? Jangan khawatir. Saat ini sudah banyak varian isian lain dari momiji manju, seperti coklat, keju, matcha, dan lain-lain.
      Foto 13:
      Momiji manju [foto: Daderot/wikimedia]
      Tiram merupakan kuliner khas lainnya dari Hiroshima. Tak sulit untuk menemukan tiram, karena aneka kuliner yang menggunakan tiram sebagai bahan dasarnya mudah ditemukan di berbagai restoran, ryokan, hingga stand pinggir jalan di Hiroshima. Tiram ini enak juga lho disantap mentah dengan dicocolkan ke dalam soy sauce. Bisa juga disantap setelah dibakar, seperti pada gambar berikut ini.
      Foto 14:
      Tiram bakar [foto: Daderot/wikimedia]
      ***
      Semoga informasinya bermanfaat!
      ***
      * Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
      ***
      Baca juga:
      Hiroshima: Dulu dan Sekarang
      Hiroshima Peace Memorial Park dan Sepenggal Cerita Bom Atom 1945 (1)
      Hiroshima Peace Memorial Park dan Sepenggal Cerita Bom Atom 1945 (2)
      Hiroshima Peace Memorial Park dan Sepenggal Cerita Bom Atom 1945 (3-end)
      Hiroshima's Guide for Travellers (1)
    • By seyakasamira
      Lalala-yeyeye..Setelah menunggu selama 7 Bulan lamanya, akhirnya nemu juga 5 orang korban lain (*eh?!) yang bersedia nge-trip bareng ke sini..uwowww jd terharu sayaa..  so, langsung saja..
      Day 1.
      Kita berangkat hari Jumat tgl 26 Sept'14, naik pesawat TriganaAir dari Jakarta menuju PangkalanBun. Sesampainya disana langsung dijemput oleh Tour Guide kami (Pak Andreas dari Yobel Tour), dan kita dicarterin taxi untuk menuju pelabuhan Kumai dengan jarak tempuh yg lumayan singkat yaitu 30 menit saja..Da..engingjrennggg... langsung terkesima dengan kapal yang akan kita kendarai selama 3 hari 2 malam mendatang..huhuhu..ga nyangka kapalnya oke banget,bersih dan ga se-prihatin yg saya bayangkan (mulai norak).
       
      Jadi awak kapal terdiri dari 1 orang kapten kapal, 1 orang crew kapal, 1 orang juru masak, dan Pak Andreas sbg Tour Leadernya. Kapal yg populer dinamakan kapal kelotok (karena bunyinya klotok..klotok..klotok) ini cukup luas buat kami ber 6 plus 4 orang awak kapal. Ada 2 dek, dek bawah itu untuk aktivitas awak kapal (buat nahkodanya, tempat menyimpan kasur2 tamu, tempat masak, dll). Dek atas disediakan untuk tamu. Fasilitasnya juga Ok bgt, kamar mandi pakai shower dan ada closet duduk, disediakan meja makan, ada balkon dengan 2 kursi leyeh2 untuk berjemur (what?berjemur??udah ky areng ginih -____- ! ) Oiya, jangan sedih..kita dapat 3x makan dan 2x snack dalam 1 hari. dan masakannya sungguhlah berlimpah dan super yummy..





       
      Di hari pertama ini kita langsung menuju Tanjung Harapan untuk lihat feeding time nya orangutan. Trekking masuk hutan sekitar 1 km dan sesampai di tempat feeding cuaca mulai mendung dan turunlah hujan. Eh, ternyata disana sudah menunggu beberapa rombongan tourist yg mau lihat proses feeding time ini. Dan dikarenakan wisata tanjung puting ini lebih populer atau diminati tourist luar, maka pemandangan disini adalah bule bule semua   . Disini kita menunggu ?-/+ 30 menit hingga orangutan yg masih ngumpet pada mau turun dari atas pohon menghampiri "panggung" yg berisi pisang2. Beruntung kita bisa melihat orangutan yg muncul dikarenakan kalau hujan biasanya mereka prefer leyeh2 di atas pohon (macam manusia yg kalo hujan lebih senang nedekem di rumah). Uwoww, beda lho rasanya ngelihat orangutan di ragunan/taman safari dengan orangutan disini. Kalo disini ada perasaan degdegan kalo mereka melintas dengan tubuh besarnya itu. Dikarenakan orangutan liar belum terbiasa disentuh oleh manusia (tdk sperti kbon binatang di jakarta), maka juga ada anjuran jangan sembarangan memberi makan orangutan, jangan berdiri diantara orangutan jantan dan betina, jangan bersuara terlalu keras/ribut yg akan mengganggu ketenangan orangutan dan beberapa rambu2 lainnya.







       
      Diperjalanan pulang, ketika melintasi sungai sekonyer kita bisa melihat sekawanan bekantan di kiri dan kanan pepohonan, kalau beruntung bisa melihat buaya pula. Dan saya beruntung melihat buaya dengan mata merahnya sedang mengincar mangsa.
      Malam harinya kita ber candle light dinner dengan lauk ikan nila bakar, tumis kangkung, tempe goreng, uhmm apa lagi ya lupa hehehe dan ditutup dengan dessert potongan buah mangga. Bener2 beruntung dapet chef yg jago masak.  Setelah kenyang, kapal menuju tempat dimana kita bisa melihat kunang2 dimana-mana..woww ga bisa dilukiskan dengan kata2 kita lihat pemandangan sejuta bintang dan kunang2 yg seprti pohon natal di kiri kanan kita..(sayang ga bisa ke photo). suasana malam hari disana sangat sunyi dan syahdu. Hanya ada suara jangkrik dan serangga2 lain yg bersahut2an dan Anyway kita tidur disediakan kasur beserta kelambu..Thanks God we had a marvellous momment and unforgettable experiences.
       
      Day2.
      Yang biasanya pagi2 di jakarta dibangunin sama kokok ayam, eh jangan sedihh disini kita subuh2 dibangunin sama suara bekantan jejeritan yg sedang bersendagurau..woww so sweet bgt ga sih dibangunin suara monyet.. hehehe..Setelah sarapan nasi goreng ikan asin yang banyaknya naujubilah (tapi abis dan kenyang) dan ngeteh2 cantik, maka berangkatlah kita menuju Pondok Tanggui dan dilanjutkan ke Camp Leakey. Di Pondok Tanggui trekkingnya seru, byk spot2 lucu buat foto2, nemu tumbuhan kantong semar, rayap, akar liana, dll tapi sayang setelah menunggu selama 1 jam, orangutannya ga ada yang mau turun di tempat feeding. Mungkin karena masih pagi dan byk bgt wisatawan yg berkunjung kesana jadi mereka malu-malu mau gitu kali ye..







       
      Perjalanan dilanjutkan ke Camp Leakey, pusat rehabilitasinya orangutan. Perjalanan lumayan jauh sekitar 8 km, namun pemandangannya mulai berubah, pohon2 lebih rindang, kiri kanan bisa lihat burung kingfisher, lihat buaya dan biawak berenang, pokoknya settingannya mirip film annaconda deh ngeri-ngeri sedap gitu heheheh.. dan air sungai berubah menjadi lebih jernih dan berwarna hitam. Warna hitam dikarenakan dasar tanahnya gambut namun bening sekali. Sampai bisa ngaca dan hasil fotonya mengagumkan bgt,krn pohon2 yg terpantul di air seperti ada reflection effectnya.  Begitu menginjakkan kaki disini, kita disambut oleh kedatangan Siswi, orangutan betina dewasa yang dari kecil sudah diasuh disini. Dikarenakan hujan, dia mulai ngumpet2 nyari tempat berlindung dan menutupi kepalanya dengan mencabut2 dahan2 yg ditumbuhi banyak daun. Uwoww lutunaaa.. Perjalanan ternyata masih panjang. Pak Andreas mengarahkan untuk ambil jalur masuk hutan sambil lihat2 tumbuhan endemik yang ada di hutan sini,jadi sekitar 1,5 km untuk sampai ke tempat feedingnya orang utan. Beruntung bisa lihat beberapa orangutan,uwa-uwak,squirel yg ke "atas panggung" buat ambil makanan. Yang menyenangkan lihat proses feeding ini adalah, kita jadi tahu gimana cara manggil orangutan supaya turun, gimana liat proses mereka bergelayutan dari pohon ke pohon, gimana cara mereka mengupas pisang dan memasukkan ke mulut, gimana cara ibu orangutan memberi makan anaknya, gimana mimik muka/ekspresi mereka mengendap2 atau mencuri makan lalu kabur, dan banyak lagi tingkah laku kocak lainnya. Adapula kedatangan babihutan yang ikut meramaikan suasana. Setelah sekitar 2 jam muncullah orangutan yg kita tunggu2 yaitu Tom, the king of Camp Leakey. Ya, si Tom ini penguasanya. Selayaknya raja, binatang lain akan mundur atau menyingkir ketika rajanya datang dan membiarkan si raja menghabiskan makanan yg disediakan. Jika ada orangutan dewasa disekitar sana yang dirasa mengancam kedudukannya, serta merta akan terjadi baku hantam disana. Hampir saja kami melihat proses baku hantam itu, yaitu ketika Ponorogo (salah satu orangutan dewasa ) terbirit2 dikejar oleh Tom karena lebih dahulu mengambil jatah makanannya. Namun sayang tidak terkejar dan Tom kembali duduk di singgasanannya sambil minum susu. Ya, makanan yg disediakan oleh Ranger hutan (petugas yg memberi makan orangutan) itu biasanya adalah pisang, tebu, dan susu dancow. wow. hehehe..Perjalanan trekking pulang, kita dihampiri juga oleh orangutan remaja bernama Gajah Mada. Serem ya namanya, tapi ternyata unyu2 gitu penampilannya hihihi..

      siswi

      the team
      Tom
      Gajah Mada
       
      Day 3.
      The Last Day, pagi2 seperti biasa kita dibangunkan oleh sekawanan bekantan, namun kali ini pemandangannya bekantan lagi pada lompat-lompat main air, ceritanya mau nyebrang pohon melintasi sungai, cuman ada aja jatoh2nya di sungai.. LUCU BGT, tapi ga sempet kefoto saking terseponanya. Oia, karena kita malam itu kapal berlabuh di pinggir rawa2 masih dekat Camp Leakey, maka paginya pun kita juga dibangunkan oleh kikikan burung kingfisher, iya kikikkan bukan kicauan karena ternyata suaranya macam kuntilanak yg lagi ngikik. hiiiii...
      Sepanjang perjalanan pulang ke pelabuhan kumai, puas2in berjemur (literally berjemur, panas sih untung byk angin dan hewan kece) demiii menikmati pemandangan yang sebentar lagi akan kami tinggalkan huhuhu..
      Jam 12 siang kami sampai di bandara pangkalan bun dan belum siap move on untuk menghadapi hiruk pikukknya jakarta
       
    • By vie asano
      Nagasaki sudah selesai dikupas dan dikuliti dalam seri tulisan Nagasaki's Short Guide for Travellers (1) dan Nagasaki's Short Guide for Travellers (2-end). Saya juga sudah mengulik tentang Gunkanjima, salah satu pulau tak berpenghuni paling populer di dunia, yang bisa dibaca disini: Gunkanjima, Pulau Kapal Perang Berhantu di Nagasaki (1) dan Gunkanjima, Pulau Kapal Perang Berhantu di Nagasaki (2-end). Supaya adil dengan Hiroshima yang sama-sama jadi korban bom atom 1945, kali ini giliran Hiroshima yang akan dikupas dalam bentuk panduan (yang mudah-mudahan cukup) singkat untuk wisatawan.
      Mengapa saya masih ingin mengupas tentang Hiroshima sementara bahasan tentang Nagasaki sudah selesai? Kok nggak move on aja ke topik lainnya? Sejak saya mengenal Hiroshima saat membantu menyusun itinerary wisata (sudah disinggung pada tulisan [sharing] Itinerary Wisata Jepang 23-31 Mei 2014 2-end), saya berpendapat Hiroshima termasuk kota yang cukup asyik. Jika dilihat aksesnya dari Tokyo, jarak Tokyo-Hiroshima pun nggak sejauh Tokyo-Nagasaki (±8,5 jam via shinkansen), yaitu hanya kira-kira 4-5 jam saja menggunakan shinkansen. Jadi jika Nagasaki saya ulik cukup mendalam, kenapa nggak dengan Hiroshima? Bukankah Hiroshima juga memiliki daya tarik yang nggak kalah dengan Nagasaki, dan bahkan lebih cepat di akses dari Tokyo.
      Saya nggak akan panjang lebar membahas tentang hal-hal basic seputar Hiroshima, apalagi dari segi sejarah, karena sudah saya singgung pada tulisan Hiroshima: Dulu dan Sekarang. Jadi saya akan langsung mulai dengan moda transportasi publik di Hiroshima, aneka obyek wisata yang menarik, beberapa festival penting, dan tentu saja kulineran. Selamat menikmati.
      Moda transportasi publik di Hiroshima
      Hiroshima memiliki moda transportasi publik yang sedikit berbeda dengan Tokyo dan Kyoto. Jika Tokyo punya jaringan kereta dan subway yang rumit, serta Kyoto memiliki jaringan bus yang menjangkau berbagai sudut kota, maka Hiroshima memiliki jaringan tram yang sangat baik. Hampir sama dengan Nagasaki yang juga memiliki tram sebagai moda transportasi andalan. Bedanya, jaringan tram di Hiroshima lebih besar, dan populer dengan nickname Hiroden (singkatan dari Hiroshima Dentetsu Kabushiki-gaisha). Terdapat 8 line tram yang menghubungkan stasiun terbesar di Hiroshima, yaitu Stasiun Hiroshima, dengan berbagai area di kota tersebut. Tak heran jika Hiroshima disebut-sebut sebagai kota dengan jaringan tram terbesar di Jepang.
      Foto 01:
      Hiroden [foto: Taisyo/wikimedia]
      Tak sulit untuk naik hiroden di Hiroshima. Pada prinsipnya, naik hiroden tak berbeda dengan naik kereta. Wisatawan tinggal memilih jalur mana yang akan melewati obyek wisata yang diinginkan. Tarifnya flat, yaitu ¥160* untuk seluruh area di pusat kota, dan naik secara bertahap saat pergi keluar dari pusat kota. Bagi yang ingin praktis menjelajah kota, tinggal membeli tiket terusan yang berlaku selama 1 hari kalender. Harganya hanya ¥600* saja. Namun jika membayar ekstra ¥240*, bisa sekaligus mendapat tiket ferry pulang-pergi ke Miyajima. Miyajima merupakan salah satu side trip favorit dari Hiroshima, dan termasuk salah satu obyek wisata favorit di Jepang lho. Kalau mood nggak berubah, mudah-mudahan sempat mengulik tentang Miyajima.
      Foto 02:
      Hiroden [foto: Flyingbear/wikimedia]
      Pertanyaan selanjutnya yang biasa muncul adalah, apakah JR Pass berlaku untuk naik tram? Jawabannya tidak. Tapi jangan dulu kecewa, karena wisatawan bisa naik Maple-oop, sebuah bus wisata untuk turis yang dikelola oleh JR. Bus wisata ini akan menghubungkan Stasiun Hiroshima dengan berbagai obyek wisata favorit, dan asyiknya, naik Maple-oop ini dicover oleh JR Pass.
      Foto 03:
      Familiar dengan pemandangan ini? Lokasinya di Miyajima lho. Tunggu ulasan tentang Miyajima yah [foto: Jordy Meow/wikimedia]
      Obyek wisata populer di Hiroshima
      Khusus untuk obyek wisata, walau saya telah mengupas tentang Hiroshima Peace Memorial Park (baca disini: Hiroshima Peace Memorial Park dan Sepengal Cerita Bom Atom 1945 1, Hiroshima Peace Memorial Park dan Sepenggal Cerita Bom Atom 1945 2, Hiroshima Peace Memorial Park dan Sepenggal Cerita Bom Atom 1945 3-end), namun ternyata masih ada beberapa obyek lain yang menjadi saksi hidup peristiwa bom atom Hiroshima. Maksudnya, A-Bomb Dome dan Rest House yang ada di Hiroshima Peace Memorial Park bukan satu-satunya, eh dua-duanya bangunan yang selamat paska bom atom Hiroshima. Masih ada lho beberapa bangunan lain di sekitar taman tersebut yang merupakan hasil renovasi bangunan yang selamat paska peristiwa tersebut. Misalnya saja bangunan bekas gedung Bank of Japan yang hanya berjarak 380 meter dari Hypocenter, atau titik pusat ledakan, termasuk salah satu yang relatif utuh karena strukturnya yang memang kuat. Kini bangunan ini dijadikan pusat aktifitas seni budaya dan dibuka untuk umum.
      Foto 04:
      Bekas gedung Bank of Japan [foto: Fg2/wikimedia]
      Bangunan lain yang relatif utuh paska ledakan bom atom adalah Fukuromachi Elementary School yang sebagian areanya kini difungsikan sebagai museum. Lalu ada juga bangunan bekas Hiroshima Mitsui Bank (kini jadi Andersen Bakery), dan banyak lagi. Intinya sih, jika memang alasan utama berkunjung ke Hiroshima karena tertarik dengan peristiwa bom atom Hiroshima, jangan terpaku dengan Hiroshima Peace Memorial Park. Cobalah berjalan-jalan di sekitar taman, siapa tahu Anda bisa menemukan harta karun peninggalan peristiwa 6 Agustus 1945 lainnya.
      Foto 05:
      Fukuromachi Elementary School [foto: Laika Ac/wikimedia]
      Dari Hiroshima Peace Memorial Park, saya ingin mengajak teman-teman untuk mengenal aneka taman indah lainnya yang dimiliki oleh kota Hiroshima. Shukkeien Garden termasuk salah satu taman tertua yang ada di Hiroshima (dibangun tahun 1620) dan dulunya dimiliki oleh Asano Nagaakira, penguasa Hiroshima. Taman bergaya Jepang ini termasuk salah satu yang wajib dikunjungi oleh para pecinta taman. Selain karena jaraknya yang tak begitu jauh dari Stasiun Hiroshima, juga karena harga tiketnya relatif murah (Â¥250* untuk pengunjung dewasa).
      Foto 06:
      Shukkeien Garden [foto: Jakob Halun/wikimedia]
      Taman lain yang menarik untuk dikunjungi adalah National Bihoku Hills Park atau Bihoku-kyuryo Park. Sesuai namanya, tempat ini merupakan sebuah taman nasional, tepatnya taman nasional ke-11 di Jepang (dan pertama di wilayah Chugoku). Fasilitas di taman ini cukup lengkap, mulai dari taman bunga, rumah kaca, hingga lapangan golf.
      Foto 07:
      National Bihoku Hills Park [foto: OS6/wikimedia]
      Lanjut lagi tentang aneka obyek wisata menarik di Hiroshima pada tulisan berikutnya yah.
      ***
      * Harga sewaktu-waktu dapat berubah.
      ** Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
    • By vie asano
      Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H buat Jalan2ers yang merayakan! Taqoballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, minal aidzin wal faidzin Mohon maaf lahir dan bathin jika selama ini ada salah-salah kata, baik yang disengaja maupun tidak.
      Setelah beberapa hari absen menulis karena mudik, saya kangen sharing-sharing info lagi di blog sederhana ini. Berhubung masih dalam suasana mudik, kali ini saya ingin sharing info festival khas Jepang yang melibatkan tradisi mudik. Eits, jangan salah. Di Jepang juga ada tradisi mudik lho. Jika di Korea tradisi mudik biasa dilakukan saat perayaan Chuseok (bisa dibaca disini: Mengenal Chuseok, Thanksgiving ala Korea Selatan) dan Seollal (Lunar New Year), maka di Jepang tradisi mudik biasa dilakukan menjelang perayaan Obon atau Obon Festival. Apakah Obon Festival itu?
      Sekilas tentang Obon Festival
      Obon Festival, biasa disebut Obon atau Bon saja, merupakan salah satu festival khas agama Budha yang bertujuan untuk menghormati arwah leluhur. Perayaan ini diangkat dari kisah Maha Maudgalyayana (Mokuren), salah seorang murid Budha yang telah kehilangan ibunya untuk selamanya. Mokuren memiliki penglihatan jika arwah sang ibu menderita, dan dia pun akhirnya bertanya pada Budha bagaimana caranya menolong sang ibu. Budha kemudian memerintahkannya melakukan beberapa ritual melalui pendeta Budha yang telah selesai menjalankan retret musim panas mereka. Mokuren menuruti perintah tersebut, dan dia lalu melihat arwah ibunya kini jauh lebih bahagia. Ritual tersebut kemudian disebarluaskan dan dilakukan oleh banyak orang, dan dikenal dengan nama Obon.
      Kapan perayaan Obon itu?
      Obon dirayakan pada tanggal yang berbeda-beda di seluruh Jepang, walau biasanya berkisar antara bulan Juli dan Agustus. Perbedaan tersebut terjadi karena adanya perubahan sistem penanggalan Jepang. Semula Jepang menganut kalender Bulan, namun pada periode Meiji berganti mengikuti kalender Gregorian. Akibatnya, perayaan Obon yang biasanya jatuh pada bulan ke-7 mengalami pergeseran tanggal. Ada yang tetap merayakan Obon pada tanggal ke-15 pada bulan ke-7 berdasarkan kalender bulan (disebut Kyu Bon); ada yang merayakan pada tanggal ke-15 bulan ke-7 pada kalender Matahari (disebut Shichigatsu Bon); dan ada juga yang merayakan berdasarkan pada kalender Bulan, namun perayaannya mengambil waktu tanggal 15 Agustus (disebut Hachigatsu Bon). Bon yang terakhir ini yang banyak dirayakan di seluruh Jepang, sementara Kyu Bon masih dirayakan di daerah tertentu seperti wilayah Utara area Kanto, Shikoku, Chugoku, dan Okinawa.
      Apa yang dilakukan saat perayaan Obon?
      Inti dari perayaan Obon adalah menghormati arwah leluhur. Secara singkatnya sih orang Jepang percaya jika arwah leluhur akan mengunjungi mereka pada periode perayaan Obon. Karenanya, pada perayaan Obon orang-orang akan menggantungkan lentera di depan rumah mereka untuk memandu arwah leluhur agar bisa menemukan jalan kembali ke rumah.
      Foto 01:
      Lentera di depan rumah saat perayaan Obon [foto: Katorisi/wikimedia]
      Selain menggantungkan lentera, orang Jepang juga akan mempersembahkan makanan bagi para leluhur tersebut. Makanan persembahan tersebut akan disajikan di altar rumah, maupun di kuil. Ritual lainnya adalah mengunjungi makam para leluhur untuk berdoa dan membersihkan makam. Selain itu, mereka akan menarikan bon odori (lihat pada bagian tentang bon odori). Barulah pada akhir periode Obon lentera-lentera tersebut akan dihanyutkan di sungai untuk menuntun kembali para arwah kembali ke alamnya.
      Foto 02:
      Menghanyutkan lentera pada akhir perayaan Obon [foto: JamesAlexanderJack/wikimedia]
      Tentang Bon Odori
      Perayaan Obon tak bisa dipisahkan dari Bon Odori, alias Bon Dance. Tarian ini juga relatif populer ditampilkan di berbagai matsuri yang ada di Indonesia lho. Biasanya sih salah satu lagu favorit untuk mengiringi Bon Odori ini adalah soundtrack-nya anime Chibi Maruko-chan (lupa judulnya apa). Tentunya itu untuk Bon Odori versi Indonesia yah.
      Foto 03:
      Bon Odori [foto: Jiang Dong-Qin/wikimedia]
      Bagi yang masih bingung, Bon Odori merupakan tarian yang ditampilkan pada perayaan Obon. Tarian ini terinspirasi dari luapan kegembiraan yang ditunjukkan oleh Mokuren saat mengetahui jika arwah sang ibu sudah terbebas dari penderitaan. Koreografi dan lagu yang biasa digunakan saat Bon Odori berbeda untuk setiap daerah di Jepang, namun tipikalnya tarian ini dilakukan sambil mengitari sebuah pusat (biasanya yang menjadi pusat adalah yagura/panggung kayu khusus untuk festival). Para penari (biasanya pengunjung yang akan diajak berpartisipasi) akan melakukan serangkaian gerakan sambil bergerak mengitari pusat tersebut.
      Dampak perayaan Obon bagi pariwisata Jepang
      Sampai disini mungkin ada yang bingung yah. Katanya Obon berhubungan dengan mudik? Trus mana nih bagian mudiknya?
      Nah, info ini salah satu yang wajib diketahui oleh wisatawan yang akan berkunjung ke Jepang pada periode Obon (kira-kira 13-15 Agustus). Periode Obon merupakan salah satu periode liburan populer di Jepang. Pada perayaan Obon, orang-orang akan kembali pulang ke kampung halaman untuk ikut menyambut arwah leluhur, maupun sekedar meluangkan waktu untuk kumpul bersama keluarga besar. Bahasa Indonesia-nya sih, mudik!
      Lalu apa dampaknya aktifitas mudik tersebut pada pariwisata Jepang? Tentu saja ada, karena pada masa liburan Obon dianggap sebagai peak season. Harga tiket dan akomodasi akan jauh lebih mahal dibanding low season. Dan tak heran juga jika pada masa tersebut berbagai tempat wisata akan penuh sesak, toko banyak yang tutup, dan jalanan juga lebih ramai dari biasanya. Jadi, jika ingin lebih menikmati suasana liburan, hindari pergi ke Jepang pada periode Obon yah! Sebagai penutup, untuk tahun 2014 ini traffic di Jepang diperkirakan akan mulai meningkat pada tanggal 9 Agustus (saat orang-orang mulai meninggalkan kota besar untuk kembali ke kampung halaman) dan baru berakhir pada tanggal 16-17 Agustus (saat pemudik kembali pulang ke kota besar). Namun jika sudah terlanjur ada rencana liburan ke Jepang saat periode Obon, sekalian saja nikmati suasana festival. Berkunjunglah ke berbagai kuil karena selalu ada kemeriahan pada periode Obon.
      Semoga informasinya bermanfaat!
      ***
      * Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.