Gulali56

FR: Merasakan Akhir Musim Panas di Russia (17-26 Agustus 2017) - part 2- St.Petersburg

8 posts in this topic

Hei ho, part 1 nya silahkan cek dulu disini ya : :melambai

 

Day 4: Minggu, 20 Agustus 2017 Ke St.Petersburg

Dari Moscow ke St.Petersburg ini ada bbrp cara: naik pesawat, naik kereta malam dan naik kereta cepat.

Dari segi harga, kalau kita beli jauh2 hari , naik pesawat itu relative lbh murah. Tp berhubung kita parnoan soal visa. Kami end up PP naik kereta cepat Sapsan. Visa baru jadi 2minggu sblm hari brgkt.

Utk book tiket Sapsan, tiket dibuka 45hari sblm hari keberangkatan. Saya sarankan menggunakan situs local http://pass.rzd.ru/  dan sangat saya sarankan, saat booking menggunakan menu bhs Rusia ketimbang menu bhs Inggris. Entah krn situs nya masih zonk bgt krn baru perpindahan sistem (per April 2017) atau memang males2an maintenance menu Inggris nya.

Ada byk situs agen kereta yang menggunakan bhs Inggris yg mudah dimengerti tp mematok hrg 2x lipat, apalagi kalo beli mepet2. Sedangkan pake web RZD yg ajaib ini, harga relative stabil. Dr pengalaman saya, pas coba book pake menu Inggris, saat mo pilih seat maupun gerbong, kursor stuck gak bisa pilih apapun. Dan saat pakai menu Russia, saya pusing pilih kelas seat dan gerbong2nya. Akhirnya sahabat saya yg book pake CC Indonesia (BNI card).

In summary, tiket Sapsan ada bbrp kelas:

gerbong 1: kelas conference dan premium,

gerbong 2 :kelas business,

gerbong 3-9: kelas ekonomi,

gerbong 10 kelas ekonomi plus.

Saya pilih kelas ekonomi yg paling murah di gerbong 4. Bedanya dgn ekonomi plus, dpt snack. Cek juga kondisi gerbong saat pilih, krn ada pilihan gerbong yg memperbolehkan bawa binatang. Berhubung saya gak minat 4jam bersama anjing/kucing, ya saya pilih gerbong khusus penumpang aja.

Tiketnya berupa e-ticket yg tetep saya print takut kenapa2. Utk masuk gerbong masing2 ada petugas yg akan mengecek passport kita utk verify e- tiket kita.

1.thumb.jpg.22f8b7e529ea5716f5a29e9d3a9faeda.jpg

Harga tiket ekonomi PP adlh RUB 5,262 atau sekitar Rp 1.25jt. Saya belinya 20hari seblm hari H.

Train Sapsan : 07.40-11.40 ~ 3h50m (Moscow Leningradsky - St. Peterburg Moscovsky).

Metro terdekat dgn stasiun Sapsan Leningradsky adalah Metro Komsomolskaya (jalur coklat) kebetulan Cuma beda 1 stop-an dari apt teman saya. Tp tetep saja saya brgkt dari apt sejam sebelumnya.

Di Stasiun Komsomolskaya ini ada 3 gedung railways stasiun, untungnya Leningradsky station ini hanya gedung pas sblh kanan gedung metro.

2b.jpg.a256a638e58687c815271240cde265ec.jpg

Utk kelas termurah , dari segi leg room , mnrt saya jarak kursi di Sapsan ini cukup lega buat ukuran Asia kali ya.. haha. Naro koper besar bisa di ujung2 gerbong maupun tengah gerbong. Beda sama kereta german ICE yg banyakan hrs stuck taro koper segede2 bagong diatas kursi krn kurangnya tempat.

2.thumb.jpg.9964d6b5a510f6dcc6956f5ab26fe9a5.jpg

Utk kelas termurah , gak dpt Wifi, pdhal Beeline saya, byk blank spot nya sepanjang perjalanan. Wifi hy bisa mengakses souvenir/snack shop website Sapsan.lol

Tp berhubung udh bawa bekal dari supermarket dkt apt, kita gak butuh juga.

Mostly perjalanan 4 jam saya habiskan utk tidur. Krn view juga biasa2 aja.

Jam 12kurang sampailah kami di St.Petersburg dan eng ing eng…dari Moscow yg suhu nya 29-30 derajat langsung drop ke suhu 16 derajat dan berangin. Dan mostly jaket dan longjohn saya tinggal di Moscow. Saya jadi teringat kata suami sahabat saya, St.Petersburgs  waktu masih winter, lbh dingin lagi krn lbh dekat ke Kutub Utara. Tp saya termakan kata2 istrinya yg bilang pas dia kesana kemarin Juni, St Peter malah lbh panas.

Hostel kami di St.Petersburg berjarak 1.5km dari St. Peterburg Moscovsky railway station. Knp jauh gt, karena pas saya book, saya terinspirasi pas kemari itu pas summer , jd kriteria hostel hrs ada AC nya,sedangkan search2 hostel murmer pake AC di St.Peters itu langka. NOW WE KNOW WHY.:terharu

Hostel kami yg kalo dari booking.com terlihat lucu modern dan byk sinar matahari dan bilangnya di lt.1 ternyata nyempil di gedung tua yg harus naik tangga yg bau,gelap, apek dan kumuh. Tp kalo dari cerita org2 yg ber hostel ,rata2 hostel di Russia ya begini penampakannya. Masuk ke gedung2 tua, yg kadang luarannya enggak bgt, tp kalo sudah masuk baru keliatan cantiknya interior.

Kami sampai keliling gedungnya saking gak percaya kalo tangga gelap nan kumuh ini pintu masuknya. Lol

Selesai proses check in, bayar tourist register RUB 250 (bbrp hotel gratis), dan titip koper krn wkt check in msh 2jam lagi, kami memutuskan keliling2 . Tadinya mo beli St.Petersburg card paketan 3hari (RUB 5,800), krn teman saya orgnya gak mau repot. Mendadak saya grumpy dan nolak, krn pake card ini mostly di summer tetep harus byr2 additional fee juga jadinya gak pay off.

Krn sama2 grumpy, akhirnya temen saya ogah ngeluarin google map. Dan sayalah yg ambil alih jalan.

Satu hal yg mencolok dari St.Petersburg dari Moscow ,selain dropnya suhu, disini  byk bhs Inggrisnya. If you can survive public transportation in Singapore, you definitely can survive here!

Pemberhentian pertama kami adlh St.Isaac Cathedral yg mnrt ingatan saya, dkt Metro Admiralteyskaya, tp kata mbah google map, krn lokasi hostel kami di Nevsky Prospect, lbh cepet naik bis sekali.

Naik bis di St.Peter ini ternyata gampang. Krn ada konduktor nya. Jadi bisa kasi kembalian. Biasanya konduktor nya dpt tmpt duduk khusus dkt pintu tengah (manusiawi deh gak kyk di Indo). Model bis nya kyk model bus Transjkt. Hrg satu kali naik jauh dkt adl RUB 40. Stlh kasi duit, dia akan kasi kita kertas tiket, disimpen aja, takutnya si mbak2nya lupa dan tagih 2x itu bisa jadi bukti byr.

So far naik bis di St.Peters sll berhenti di setiap halte bus, jadi misal kedapetan bis yg layar/announcementnya gak ada bhs inggrisnya pun asal udh itung brp stop-an, bakalan survive. Jgn ngarepin dibantu supir/konduktor soal arah ya,walo disini byk tulisan inggris, bukan berarti mrk bisa bhs inggris. Google maps is a must here in Russia.

St Isaac's Cathedral

3.thumb.JPG.c57117d42f582648bd5a507627a3e776.JPG

Katedral ini sempat menjadi gereja utama dan terbesar di Rusia seblm akhirnya dibangun Gereja Christ the Savior di Moscow yg saya skip datengin krn kebykn gereja. Dari semua gereja di Moscow dan St.Peters, dari sisi interior yg paling saya suka ya gereja ini. Well kalo kalian suka bling2 ya. Mostly gereja di Rusia, serba impressive dan extravagant. Later on dari segi interior, 11-12 lah interiornya dengan kemewahan palace2. Katedral sini sudah berubah fungsi jadi museum,jadi byr masuknya RUB 250. Bisa foto2 didlmnya.

4.thumb.jpg.df1bc52c364b6436fe21875df9d111d6.jpg

4a.thumb.JPG.cca177c81713cfb4d5a652da0924925f.JPG4b.thumb.JPG.6f09f50cd2b73910ed484f8d02eba7b1.JPG

How to go to St Isaac's Cathedral : Metro: Admiralteiskaya

Open: 10.30 - 18.00, tickets till 17.30. Closed: Wednesday. Fee: RUB 250 + RUB 150 (tower)

5.thumb.JPG.9918e1fa33f525a406bf7ec5e3907f98.JPG

Dari St.Isaac, kami cari makan siang seputar sini dan ketemu Teremok (Tepemok) , franchise russian fast food, hrgnya maupun rasa masih masuk lidah dan kantong Asia. Plus ada menu bhs Inggrisnya. Kita pesen Borsch (sup bit merah dimix dgn sour cream dan daging cincang) dan tentunya grechka alias nasi buckwheat pake potongan ayam.

5c.thumb.JPG.da41c5eee098c75e00abe7f352fc7195.JPG

Selesai late lunch kami jalan kaki ke Kazan Cathedral, gereja Orthodox yang design nya terinspirasi dari gereja2 di Itali.

5b.thumb.jpg.f89123d30b2fbacbf0bd50f2c6635aa0.jpg

.: Kazan Cathedral :.

6.thumb.JPG.43aa5827e30ec2bb53d28157b2108868.JPG

7.thumb.jpg.c1fcac9bad0b443f9829291afd7556d5.jpg

 

Disini satu2nya gereja yg saya datangin yg masih aktif sebagai gereja,sehingga masuknya free dan bisa liat warga local sini berbaris utk melakukan ritual mencium relik2 santo2 suci mereka.

8.thumb.JPG.6347de877d00f0e477fd4b3ea0184154.JPG

Seberang Kazan ini ada gedung toko buku Dom Knigi yg layak utk difoto krn gedungnya unik. Kalo mo cari magnet yg imut2 bisa kemari. Hrgnya dengan toko souvenir diluaran tidak tll beda jauh. Misal diluar RUB 50 disini hrgnya RUB 65. Kurleb begitulah.

How to go to Kazan Cathedral: Metro Nevsky Prospect

Open: 7.30am-8pm

.: The Church of Our Savior on the Spilled Blood :.

Dari arah sini bisa keliatan the most iconic The Church of Our Savior on the Spilled Blood, yg sepintas mirip Cathedral St. Basil di Moscow cuman lebih besar, lbh cantik dng interior yg lbh wah.

9a.thumb.jpg.124a86ccc9f917b4e330834d37d9e7ff.jpg9.thumb.jpg.329ed75793a4cb3f7674a7e447806611.jpg

Interior dlm Spilled blood ini penuh lukisan, relic, mosaic, kyknya semua sudut penuh ornament warna warni yg rada gothic krn sedikit gelap krn termakan usia. Worth it bayar RUB 250 nya.

10.thumb.jpg.7b1decc9dee63d92f10f4f2be8c0a159.jpg

Dinamai Spilled Blood sendiri krn disini adalah lokasi dimana Kaisar Alexander II mati dibunuh.

How to go to The Church of Our Savior on the Spilled Blood : Metro: Nevsky Prospect

Open:   Daily 10.30 am to 6 pm. Last admission is at 5.30 pm. Evening openings of the Cathedral in the summer only (May 1 - September 30): 6 pm to 10.30 pm. Closed: Wednesday

Admission: Adult: RUB 250.00.

Dari sini saya akhirnya nyerah, alias penyakit sudah diambang batas kambuh, jadinya balik ke hostel naik bis sekali.

Selesai mandi sore, pake baju dobel2 baru deh cari makan dkt hostel.End up makan di Tepemok lagi yg cabangnya  ada dkt hostel kami.

Day 5: Senin, 21 Agustus 2017 Tsarskoe Selo – Catherine Palace

Hari ini kami ke Catherine Palace yg terletak di kota Tsarkoe Selo, sedikit luar kota St.Petersburg.Salah satu tempat wisata wajib datang di St.Petersburg selain Peterhof. Istana ini dinamai berdasarkan Catherine I istri kedua dari Peter the Great yang merupakan wanita pertama yang menjadi penguasa kekaisaran Rusia. Org local sini dan terutama bus2nya nulisnya Pushkin Palace.

Catherine Palace terkenal dengan Amber room nya.Satu2nya ruangan yg gak boleh difoto. Seluruh dindingnya dihiasi batu amber. Entah bhs indo nya apa.:bingung

Ada 2cara ke istana ini dari kota St.Petersburg:

1.Naik kereta antar kota terus lanjut bus

2.Naik Metro jalur biru terus lanjut bus.

Berhubung opsi pertama rada ribet , jadi kami pilih opsi 2. Opsi 2 pun bisa dari 3 metro station yaitu Moskovskaya, Zvezdnaya dan Kupchino. Berhubung yg terdekat dari station metro hostel adalah Moskovskaya, maka itu yg kami pilih plus paling byk advise nya di blog-blog.

Di St.Petersburg, harga sekali train ride adlh RUB 45 (jauh/dkt), berhubung temen saya kolektor metro card. Akhirnya kami malah beli Metro pass. Mesin metro card ini terpisah dari single ride coin.

11.thumb.jpg.b57c1dfdf4aa3213cb4ce324348e8fb6.jpg

Utk beli metro pass ada bhs inggrisnya dan terima kembalian jg. Hrg card RUB 65. Krn no idea how to top up via machine yg bener, yg ada kita malah beli 7day pass utk 10ride RUB 355. Later on dari 10hy kepake 5x krn lbh simple naik bis. Anggep aja hrg koleksi kartu.. *ngehibur diri.:tersipu

Keluar dari kereta di station Moskovskaya, kita akan dihadapi exit kiri ato kanan. No worries ada bhs inggrisnya. Cari aja exit yang menuju “Tipanova street” .

12.thumb.jpg.21009e93e48e10ec903a3fd4f11db7e8.jpg

Dari exit tsb cari gedung kuning dikejauhan yg dpn nya ada patung Lenin. Diantara gedung kuning dan patung itu, ada kumpulan bis2 ngetem di halte2 dan rata2 menuju Catherine Palace.

13.thumb.jpg.a29f0b82762e859b7b4c2c938e91fb8f.jpg

Nomer bus nya:K- 347, K-545, 287, 342. Pilih aja yg siap brgkt. Oiya tiap nomer bus rata2 beda halte. Cari aja yg siap brgkt. Basically disana ada org2 yg nongkrong2 dan ngasi tau bus itu ke Pushkin Palace right away. Ati2 ya kalo ada org2 nempel2 /pepet2. Mertua sahabat saya sempet dipepet pas naik ke bus nya, nyaris kecopetan.Untung nya beliau pake kantong model restleting.

14.thumb.jpg.fa2db374c49722e857abc237953b9b55.jpg

Perjalanannya memakan waktu sekitar 45menit bayar bis nya RUB 40. Jadi total dgn naik metro hampir 1.5jam utk ke istana ini.

Pemberhentian halte terdekat dgn istana ini kurleb 200meter dari pintu masuk taman.

Model nya kita harus byr entrance fee buat ke taman dulu baru nanti entar antri pas stlh masuk taman utk entrance  palace.

15.thumb.jpg.cdee1e9fa4a03883a4f9061c5340acd6.jpg

Disini kami mengalami namanya antri panjang pas summer. Alias total antri 2jam dari udara masih sejuk sepoi2 sampai dingin berangin, sampai hujan gerimis. Klop sudah.

16.thumb.jpg.f4b04a0c6d2eda9626b69ba244efbfd3.jpg

Stlh sampai didlm, ternyata hrs titip tas, krn tas yg boleh masuk hanya ukuran 15x25x35cm. Disini kita gak beli audio guide. Jadi hanya mengikuti arus dan sibuk foto kanan kiri selama dibolehkan. Mostly disini boleh foto2 kok, cuman krn padet bgt , rata2 dianjurin gak boleh lama2. Dan memang hy dibatasin sejam. Kadang kalo mo ngerti dikit, dengerin tour guide yg bhs Inggris (which is jarang) ato utk saya ,sotoy dengerin tour guide bhs german.:tersipu

17.thumb.jpg.23a48a4383bfa747bfa6819412d734b7.jpg18.thumb.jpg.ecf0c7f9b7254d635d32737d9f8b453d.jpg

19.thumb.jpg.4c4c0478a69f4a2c1acf4ce32f07b07c.jpg20.thumb.jpg.c3ed9c9241c37f6d904d348edc9960d2.jpg

21.thumb.jpg.82e63585cbfc295152fd60cd954edfd7.jpg22.thumb.jpg.7018be3c6dc69ead6eac4074f3fbf99d.jpg

Kelar dari sini kita cari tempat makan terdekat halte utk pulang. Kebetulan kata tripadvisor yg ada fitur “near me” ada resto Italy “il Fortuna” dkt halte yg jualan beff stroganoff. Disini total dgn minum sepoci teh panas adl RUB 610. Rasa stroganoff nya enak, kyk makan di Pancious (lho).

23.thumb.jpg.0878c5653ee3fbf6da1aadcfe5e1812a.jpg

How to go to Catherine Palace: From Metro Moskovskaya  , catch the bus K-342, K-545, 347, 287 (bigger).

Open: Jun - Aug: Wed to Sun 12.00-19.00; Mondays: 12.00-20.00. Closed: Tuesdays. 13.00-16.00

Adults - RUB 1,000. Park RUB 120 (harga summer).

Berhubung badan udh mo rontok, dan saya mulai kambuh, akhirnya segera pulang ke hostel stlh mampir minimarket 24jam dkt hostel, utk beli buah dan sarapan utk besok ke Peterhof.

 

Day 6: Selasa, 22 Agustus 2017 – Peterhof

Peterhof sering disebut the Russian Versailles saking extravagant mewahnya. Katanya. Berhubung saya gak masuk ke dalam Grand Palace nya. Berkat Catherine Palace saya udh kapok liat antrian panjang. Dan kata temen saya di Peterhof ini gak boleh foto2 didlmnya. So..bhayy … Skip…

Utk ke Peterhof ada banyak cara. Cara yg awam biasanya:

1.Naik Hydrofoil boat seharga RUB 750. Start daily from 10am-6pm. RUB 750. Travel time 30menit dari dermaga Admiralteyskaya dkt Museum Hermitage melintasi sungai Neva langsung ke Lower park di Petergof.

2.Naik Metro ke station Avtovo (red line) sambung minibus marshrutskas yg modelnya kyk mikrolet ala sini seharga RUB 70/one way, turun di 500mtr dari entrance upper park.

Krn kami kmrn tidur awal, hr ini kami sudah siap brgkt dari jam 9pagi.

Keluar dari station Avtovo, cari penyebrangan jalan kebawah (underground passage) di sebelah kanan exit metro. Basically kita sih disini ngikutin rombongan tur dpn kami. Intinya sih marshrutskas ini pada ngetem di sebrang jalan. Nomer nya K300,K424, K424A.

24a.thumb.jpg.62a07b65a1ef4a007c84def2d2794532.jpg

Or cari tulisan di mikrolet2 ini “Фонтанты “ yg artinya Fountains. Again disini byk org kongkow ngomong Peterhof2 .Nah kalo naik marshrutskas ini cara bayarnya lgsg ke supirnya diawal.Byr nya RUB 70. Dan mostly sopirnya udh ngeh kok muka turis itu rata2 kesana. Muka Asia disini keliatan bgt turis. Beda kalo muka Caucasian yg 11-12 sama org local. Jadi walo cara kerjanya kyk gimana, in the end si supir bakal ngingetin kalo udh sampai. Traveling time 30-35menit.

24b.thumb.jpg.7d4aae63c98e1a04541c1fd709d2175f.jpg

Kalo udh liat tembok yg warna kuning ijo,artinya kamu udh sampai kok. Tinggal jalan kaki ke entrance upper park 600meteran di stop-an. Upper park ini gratis. Krn yg canggih dan kece nan iconic itu di Lower park tempat hydrofoil berlabuh.

Tiket masuk lower park yg ada Samson fountain yg serba keemasan itu adlah RUB 750. Fantastis utk taman doank. Liat antrian Peterhof Grand Palace, saya memutuskan skip, plus hari itu seharian gerimis terus, jadi udh gak minat antri pas ujan2.

24.thumb.jpg.d23fb7f85f018e42aff4dc7d0d4f318b.jpg

 

26.thumb.JPG.89a96c93b38882287160a7c2d36d62fb.JPG

Stlh puas motoin Samson fountain dari semua sisi diantara ratusan turis lainnya. Baru deh kita muterin area taman ini. Walaupun gak seheboh Samson fountain, masih ada fountain kecil lainnya diseputaran taman yg mayan buat foto2 plus biar worth it ngabisin 170rb buat taman doank.

27.thumb.jpg.66b346c0e69005299b0ebfe37f1e359e.jpg

Krn capek kedinginan keujanan, kita sempetin mampir di café The Grand Orangery di dlm taman buat minum teh anget sepoci kecil.

P_20170822_121702_vHDR_On.thumb.jpg.058e0bdcc20a9eb398ec48b95f333dc0.jpgP_20170822_122657_vHDR_On.thumb.jpg.638abb7925d46a058d859b245a3341d8.jpg

P_20170822_124123_vHDR_On.thumb.jpg.98343a2b0f9796157e69e445d53f03ef.jpg

 

Krn baru jam 2 kurang, akhirnya kita putusin pulang via Hydrofoil biar lengkap semua akses dicoba .

28.thumb.jpg.eaec3768f5f5b956eee46220788fd9da.jpg

Dermaga Hydrofoil ini terletak di Lower park, didermaga nya ada sekitar 6perusahaan boat yg menawarkan hrg , dan jam keberangkatan yg bersamaan. Krn gak keburu yg jam 2, kita ambil yg jam 2.30 dan pilih perush yg kedua dari kanan,krn di loketnya ada peta lokasi dia berlabuh di blkg Hermitage. Boarding ternyata bisa 15menit sblmnya, jadi jam 2.15 kita udh ke dermaga yg dituju dan masuk ke boat.

Grand Palace ~ daily :10:30 am to 7 pm. Closed Monday. Price RUB 550.

Lower Park ~ Samson fountain. Open:  daily 09.00 — 20.00. Price: RUB 750

Hydrofoil ~ Departure St. Petersburg - Peterhof: daily from 10.00 to 18.00, every 30 minutes.Departure Peterhof - St. Petersburg: daily from 11.00 to 19.00, every 30 minutes. RUB 750/one way.

 

.: Peter & Paul Fotress :.

Berhubung baru jam 3sore jadi kami melanjutkan ke Peter&Paul Fotress. Kami udh mencapai titik,bosen liat istana dan taman. Tp berhubung lokasi dermaga Hydrofoil gak tll jauh lagi (+/- 2km) akhirnya disekaliankan aja kemari.

Mo naik metro/bus nanggung, deket tp hrs ganti2 jadinya jalan kakilah kami di terpaan angin kencang di suhu 15 derajat ini.

29.thumb.jpg.e07310bd1903b57494e9405881a3c994.jpg

30.thumb.jpg.1f1ff83536c0dc1809f8d0f8c609130d.jpg

Lokasi benteng ini terletak di pulau kecil di sungai Neva, dibangun di jaman Peter the Great utk mencegah serangan tentara Swedia dan serangan dari laut.Later on benteng ini dipakai sebagai penjara utk tahanan politik. Yang jadi highlight tempat ini (buat saya) adalah Cathedral Peter & Paul tempat dikebumikannya para kaisar dari jaman Peter the Great sampai kaisar terakhir Nicholas II. Liat nama Anastasia dideretan list yg dimakamkan rasanya seperti mematikan semua harapan tt teori konspirasi kalau Anastasia berhasil lolos dari eksekusi keluarga kaisar terakhir ini. Sebagai pecinta makam2 kuno, saya nyesel gak sewa audio guide.

31.thumb.JPG.700051fc291185ec880e1955e95abca8.JPG

Kalau gak sempet beli audio guide, ada peta yg menuliskan nama2 kaisar yg dikebumikan disitu.

29a.thumb.JPG.ef667354b7a0dbe4965a368274d13ad0.JPG29b.thumb.JPG.6bbf0a0093b0e40e4f602a3aa7b4cd95.JPG

But imo, mending sewa audio guide sih disini. Daripada bengong or bolak balik baca peta.

Berhubung sudah disitu akhirnya kami sekalian naik ke panoramic view disitu. Byr lagi RUB 300. Kalo cuacanya cerah view nya kyknya bagus. Sayangnya pas kami kesana, lagi mendung dan berangin berasa cari penyakit.

32.thumb.JPG.58aa5c8ce5779bcf88c680e4c0ff5c58.JPG34.thumb.JPG.a72804d99212ddc599124eedb33c46f9.JPG

34a.thumb.JPG.3c5f4b85133892f7560e0ab73f61d365.JPG34c.thumb.JPG.e55a22fb77cd3ccb2d4c46bd90e5d1f9.JPG

How to go to Peter and Paul Fortress : Metro: Gorkovskaya

Open:Mon-Fr 10.00-18.00, Sat 10.00-16.45, Sun 11.00-18.10 Closed: Wednesday.

Admision Fee: RUB 450. Bisa foto2 didlm.

Nevskaya Panorama.Normal price RUB 300

Selesai berangin2, kami mencari metro station terdekat di google map (Gorkovskaya) dan balik ke hostel cari makan malam (Tepemok again) dan beli tumbler Starbucks dkt hostel RUB 750.

 

Day 7: Rabu, 23 Agustus 2017 – Hermitage

Hari ini hari terakhir di St.Petersburg. Krn mlm terakhir ini mau nonton Ballet di Hermitage, sepanjang pagi kami putuskan packing2 biar pas mlm tinggal tidur dan bsk nya pulang ke Moskow.

Kami maksain nonton ballet di Hermitage krn gak ada show di mid Agustus di Bolshoi (Moscow) dan Mariinsky Theater (St.Petersburg).

Beli stlh dpt visa di online https://hermitagetheater.com/

Dpt di harga RUB 7,775. Cukup fantastik utk ukuran balet di teater sekecil Hermitage. Kata sahabat saya yg udh 3x nonton ballet harga segitu setara tiket Bolshoi di balkon. Tp yah..kapan lagi .Belum tentu bisa balik ke Rusia lagi.

35b.thumb.jpg.55a15a6dab0eca82c507cb731ea49a75.jpg

35c.thumb.jpg.fd29303e24add5253ccc774545713647.jpg

Pas jam makan siang kami baru keluar hostel, skalian kePassage shopping mall tua di St.Petersburg. Dkt Metro Gostiny Dor stn. Baru makan siang di resto Itali, dpn halte bis .Il Natno. Entah bacanya gimana. Pesennya menu asia ala2 Rusia. Vegetarian rice RUB 252. Porsinya cukup byk (buat saya).

35d.thumb.jpg.ebd5e8d188ddb14e4105441f77a66514.jpg35e.thumb.jpg.33d0002f7085b99ffb73be6ca13c47d4.jpg

Baru deh ke Hermitage Museum.

35a.thumb.jpg.1650a6b49b5cc859c0dc086a4a36d1c6.jpg

Disini lagi2 terkena antrian panjang.Mendadak liat semacam mesin atm jualan karcis. Ternyata utk tiket terusan, bisa beli disini. Daripada buang wkt, sok2 murmer tp habis waktu di antri, kami lgsg beli disini RUB 700, terima credit card dan bisa kasi kembalian kalo kasi uang kertas. 

36a.thumb.jpg.3b2817c148b8414d9dda43e493a9b31a.jpg

Tips utk ke Hermitage. Bawa tas kecil ya.. bawa minum dan hrs ke wc dulu.
Karena saya terjebak, bawa ransel, jadi harus titip di cloak room, air minum jadi gak kebawa dan terjebak di dlm museum selama 3jam , keausan tp jg kebelet ke wc. DERITA!!!:terharu

36.thumb.jpg.53c22942f062d4935136302861ce8b2c.jpg

37.thumb.jpg.feff5e5d5ad1c47818745b70df9e0562.jpg+

38.thumb.jpg.a020e1f2b349a6a5105ef7210e651c9b.jpg

Hermitage ini dibangun di thn 1764 oleh Catherine the Great utk menyimpan koleksi pribadi istana dari semua penjuru karya terbaik dari Leonardo da Vinci , Rembrandt, Van Gogh , Picasso dkk semua ada disini.

Jujur sih, saya bukan pecinta seni, gak ngerti juga. Lha wong Louvre di Paris aja pas temen saya mampir, saya malah jalan2 ditamannya. ENtah kenapa di Rusia ini krn hrg tiket nya yg gak semahal di negara2 Eropa barat, saya jadi terbujuk masuk ke museum2 kyk gini.

39.thumb.jpg.8a543ede149296d06aa54489c038fbc9.jpg

39a.thumb.JPG.73361d83da4807bffeec56be0e5a0682.JPG

Liat Bunda Maria, Yesus dan semua santo suci lainnya karya berbagai pelukis terkenal selama 3jam lama2 bosen dan bikin frustasi juga. Belum saya kepisah sama temen saya. Mau nangis rasanya.

39b.thumb.JPG.e6c2b4c452220a30f1c61d9746d137a0.JPG

In the end saya lbh takjub dgn interior tiap ruangan di Hermitage ini yg sama heboh nya dengan langka ,tua dan berharganya karya seni yg dipajang ditiap ruangan.

Basically Hermitage museum adlah titik kulminasi kami enek liat palace.

Sktr jam 5an, akhirnya keluar juga dari museum ini, krn balet nya baru mulai jam 8mlm, kami pikir cari tempat dulu biar nanti tau lokasinya dimana. Dari google sih Hermitage theater tempat balet ini ada di gedung sebelah, ternyata titik google nya dimana pintunya , dimana. Dan pikir2 pas saya tadi nyasar di museum memang ada akses masuk ke theater ini.

Akhirnya stlh uji lokasi, akhirnya kami early dinner deket situ. Namanya Rapustin café. Sejujurnya bukan ini yg kita tuju, dari fitur near me dari Tripadvisor masih hrs nyebrang , berhubung kaki udh mo copot nengok kiri kanan cari café terdekat, adanya café ini.

41.thumb.jpg.b1be6f7f20934615a0bef023927473ea.jpg

40.thumb.jpg.19b49090e3ded3900ba906c8aadc79c2.jpg

Tempatnya cukup unik, kyk di bawah tanah gitu, vintage remang2 dengan dihiasi foto2 Rapustin didindingnya.  Anyway pesen semacam nasi entah bhs rusia nya apa, dgn dada ayam saus jamur RUB 550, teh RUB 130 dan café latte krn ngantuk luar biasa RUB 150. Rasa cukup oke kok. So far rata2 taste masakan Rusia cukup cocok di lidah saya. Harga jg masih reasonable hrg resto di mall Jkt. Akhirnya kita nongkrong disini sampai 30menit sblm show balet dimulai.

42.thumb.jpg.606d21af2a5ebc461cd66a307cb5e4a2.jpg

Ternyata 30menit itu udh rame krn ruang teater nya kecil, dan kedptn duduk yg agak depan yg resiko ketutupan org. Kami nontonnya Swan Lake, saya juga ngertinya krn dulu pernah baca komik Jepang Mari-chan. Tp disarankan baca Wikipedia dulu biar ngerti dikit alur critanya.

Swan Lake ini dibagi menjadi 4babak. Di babak 1-2 byk penonton yg sibuk meng-abadikan pake kamera dan hp dgn suara yg cukup gengges. Akhirnya dibabak selanjutnya ditegor tiap kali ada yg ambil foto. Wkwkwk.. kata sahabat saya yg nonton di Bolshoi, justru lbh strict lagi. Nonton ballet ternyata menarik juga, cuman krn show nya cukup malam dan siangnya yg kecapean, nahan kantuk itu yg cukup susah.hahaha

Pulangnya kami naik bis ke hostel diterpaan angin yg makin menggila.:terharu

The Hermitage (Эрмитаж ~ Ermitazh). Daily 10.30am-6pm.Closed Monday.

Winter Palace RUB 300. All entry : RUB 700.

Audio guide RUB 500

Bersambung ke part 3 - Kembali ke Moscow ya :melambai

 

Share this post


Link to post
Share on other sites
20 hours ago, kyosash said:

Teremok-nya kelihatan-nya enak tuh,

unik2 yah bangunan-nya, repot juga keliling museum 3 jam-an dalam keadaan kebelet jadi kurang bisa dinikmati dunk explore museumnya -_-

Iya, cukup tasty utk ukuran lidah org indonesia :senyum 

hehehe...mungkin krn saya baru kali itu masuk museum jadi kurang preparation, kt temen saya yg wkt itu ke Louvre di sana jg WC cuma ada sblm pintu masuk..  tp dia orgnya gak sebeser saya sih, yg dimana pun hrs ke wc even wc berbayar sekalipun kyk di Eropa Barat.:bete

 

15 hours ago, deffa said:

@Gulali56 so far yang gue tangkep Moscow dan St. Petersburg rata2 wisatanya Gereja dan Museum ya. Oh ya kalau jam matahari terbenam nya jam berapa ya di Russia?

Kyknya negara2 Eropa, yg dijual memang bangunan tua nya ya. :rolleyes:

Pas summer yg Agustus kmrn sih matahari udh terbit dari jam 5pagi , terbenam jam 8mlm. Yg paling terang itu pas akhir juni terbit jam 4pagi terbenam jam 9an mlm.  Makanya sampai mlm dijalan2 rame terus. 

Share this post


Link to post
Share on other sites
1 hour ago, Gulali56 said:

Kyknya negara2 Eropa, yg dijual memang bangunan tua nya ya. :rolleyes:

Pas summer yg Agustus kmrn sih matahari udh terbit dari jam 5pagi , terbenam jam 8mlm. Yg paling terang itu pas akhir juni terbit jam 4pagi terbenam jam 9an mlm.  Makanya sampai mlm dijalan2 rame terus. 

I see terbenam nya lebih lama dari jakarta ya, taman nya juga gak terlalu banyak ya disini @Gulali56

Share this post


Link to post
Share on other sites
1 hour ago, deffa said:

I see terbenam nya lebih lama dari jakarta ya, taman nya juga gak terlalu banyak ya disini @Gulali56

Taman di St.Petersburg byk jg kok. Semua palace pasti py taman raksasa. Di tengah kota St.Peters kyk di Nevsky Prospect jg ada bbrp, cuman saya udh gak kuat aja sih.. tempat wisata yg  wajib2 aja udh ngabisin tenaga dan waktu...:huh:

Di Moscow, taman yg cukup terkenal ya Gorky Park. 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now


  • Similar Content

    • By Sari Suwito
      Kalau tidak salah ini kali ketiga saya mengunjungi Hatyai (pertama kali ke Hatyai tahun 2012 lalu yang kedua tahun 2013 hanya singgah sebentar sepulang dari Phuket). Di dua kali kunjungan sebelumnya saya belum sempat mengunjungi obyek wisatanya. Makanya kali ini sepulang dari Brunei Darussalam dan Kota Kinabalu, saya lanjut ke Hatyai selama dua hari. Hari pertama sampai sudah tengah hari jadi cuma istirahat di hotel dan keluar untuk makan siang dan malam saja. Hari kedua baru deh mau jalan-jalan half day tour Hatyai dan Songkhla.
      Untuk menuju obyek wisata di Hatyai dan Songkhla kita bisa menggunakan songthaew. Bagi yang pernah berkunjung ke Thailand pasti tidak asing dengan kendaran ini, sejenis pickup yang dimodifikasi dengan kursi panjang berhadapan. Untuk songthaew wisata terdapat gambar-gambar obyek wisata di bagian body mobilnya. Jadi ketika kita akan memesan kita tinggal tunjuk aja mau ke destinasi yang mana aja. Waktu itu saya naik songthaew dari depan Lee Garden Plaza, setelah nego dengan drivernya akhirnya dapat harga THB 600/orang.  
      Destinasi pertama adalah Samila Beach di Songkhla. Menempuh perjalanan sekitar 53 menit kalau lihat di google sih jaraknya sekitar 33,6 km. Dalam perjalanan menuju Songkhla saya perhatikan sedang berlangsung pembangunan jalan raya dan flyover di tepi kota Hatyai. Rupanya sejak terakhir kali saya ke Hatyai beberapa tahun lalu sekarang Hatyai sudah berbenah. Bahkan untuk imigrasi di perbatasan Malaysia - Hatyai pun sudah berubah lebih bagus. Dulu hanya seperti melewati pagar besi saja.

      Sekitar jam setengah sembilan sampailah saya di destinasi pertama di Samila Beach. Pantai dengan hamparan pasir putih dan deretan pohon cemara di pinggirnya. Di pantai ini terdapat patung putri duyung yang sedang duduk di atas batu di tepi pantai. Pagi itu tidak terlalu ramai jadi saya langsung aja deh berfoto dengan icon Golden mermaid. 

      Setelah itu saya berjalan ke arah taman yang berada di pinggir pantai. Disini terdapat patung kucing besar dan tikus. Cerita tentang patung tikus dan kucing ini bisa dibaca di batu prasasti di samping patung.

       
      Oh ya disini juga ada fasilitas kuda tunggang. Bagi yang ingin mencoba menunggang kuda, bisa menyewa kuda, harga kalau ga salah ingat THB 50/100 gitu dech.
      Di pantai ini juga terdapat kedai souvenier dan makanan/minuman. Bisa mampir sebentar untuk membeli minuman dingin dan cenderamata. Waktu itu sih saya beli air minum dan magnet kulkas. 
      Selanjutkan kami menuju destinasi berikutnya yaitu patung naga. Jaraknya tidak begitu jauh dari pantai samila, sekitar 15 menitan kali ya. Dalam perjalanan menuju lokasi saya sempat melihat ada seperti patung badan naga gitu deh. Entah apa maksudnya...mungkin ini nyambung ke kepala naga gitu ya. 


      Nah akhirnya sampailah saya di lokasi patung kepala naga. Kalau di batu prasasti sih ditulisnya The Great Serpent "Nag". Setting patungnya mirip seperti patung merlion di Singapura gitu. Dari dalam mulut naga keluar air mancur yang menyembur ke arah air laut. 

      Berdasarkan tulisan di batu prasasti ternyata patung naga ini di desain dibagi menjadi tiga bagian, bagian kepala naga sebagai simbol kecerdasan dan kebijaksanaan warga terdapat di Laem Son Orn, Suan Song Tale. Bagian perut naga simbol kekayaan kota terletak di Lan Chom Doaw, Sabua Laem Samila. Sedangkan bagian ekornya simbol karisma dan kekuatan masyarakatnya terdapat di area Samila Beach, Chalatad Road.
      Dalam perjalanan pulang dari lokasi patung kepala naga saya mampir ke Songkhla aquarium. Lokasi berada di antara patung naga dan pantai Samila. Harga tiket untuk orang asing, THB 200 untuk anak dan THB 300 untuk dewasa.

       
      Memasuki ruangan aquarium masih sepi, ya mungkin karena masih pagi banget bahkan sebagian lampu pun belum dihidupkan. Di bagian depan terdapat keterangan ekosistem di Thailand selatan, lalu di dinding terdapat entah replika atau asli ikan yang diawetkan gitu, antara lain leopard shark, spotted guitarfish, udang berukuran besar dan ikan pari. 
       
       
      Akuarium ini dibagi menjadi beberapa zona, antara lain zona A Freshwater fish, zona B Brackish fish, C marine fish dan terdapat satu tangki besar yang berisi aneka ikan (seperti di Sea World Ancol gitu dech). Kita bisa berjalan di bawah akuarium besar ini. Di jam-jam tertentu kita bisa nonton pertunjukan The Unseen Show.


      Dari Songkhla aquarium kami kembali ke Hatyai, nah dalam perjalanan kami singgah di beberapa spot wisata di kota Songkhla.
       
      Songkhla city wall 
      Saat ini hanya tersisa tembok sepanjang 114 meter, tinggi 5.5 meter dengan ketebalan 4 meter. Sebagian besar bata dan batu dinding pun sudah digunakan untuk paving jalanan kota Songkhla. 

       
      Di seberang Songkhla city wall ini terdapat Songkhla National Museum. Bangunan museum bergaya Chinese dengan dominasi warna putih dan merah. Sayangnya saat saya kesana museumnya sedang tutup. Jadi saya cuma berfoto-foto di depannya saja. Di bagian depan museum terdapat koleksi beberapa meriam tua, jangkar dan tiang kapal kali ya.

      Sebetulnya saya sempat googling kalau di Songkhla old town tedapat street art sejenis mural art gitu dech. Lalu sewaktu di pantai Samila saya sempat bilang ke driver songthaew (sambil nunjukin gambar dari google) untuk diantar ke lokasi street art di old town Songkhla. Drivernya bilang iya bisa nanti kita mampir dalam perjalanan menuju Hatyai. Tapi begitu pulang dari Songkhla city wall koq mobilnya jalan terus  tau-tau sudah masuk jalan besar arah Hatyai. Gagal deh foto-foto di mural artnya
      Dalam cuaca panas terik songthaew menuju ke arah Hatyai Municipal Park. Hatyai municipal Park ini lokasinya sekitar 5 km di pinggiran kota Hatyai. Areanya luas banget berada di perbukitan gitu. Selain lokasi wisata juga merupakan tempat ibadah para pemeluk agama Budha. 
      Saya tidak sempat main di lokasi taman-tamannya, jadi kami langsung menuju ke bagian paling atas bukit, ke kuil Four Faces Budha. 
       
      Four Faces Budha Temple (San Phra Phrom)
      Begitu memasuki area ini dekat tempat parkir songthaew terdapat dua patung gajah berwarna emas di kiri dan kanan jalan. 

      Naik sedikit ke bagian atas, terdapat patung gajah berkepala tiga disampingnya terdapat tangga dengan deretan lonceng besar di kiri kanannya.

       
      Memasuki area kuil, di bagian luar kuil four faces Budha terdapat banyak banget patung gajah berwarna emas. Di dalam kuil inilah terdapat patung four faces Budha, beberapa pemeluk agama Budha menyempatkan diri beribadah, bahkan disini terdapat para penari dan musik yang mengiringi selama ibadah. 


      Di pelataran kuil terdapat patung dewa, tempat pembakaran kertas-kertas perlengkapan ibadah gitu dech (saya ga tau apa itu namanya), lalu ada juga penjual burung-burung kecil. Sepertinya burung-burung kecil ini dibeli untuk kemudian didoakan dan kemudian dilepaskan sebagai rangkaian ibadah. 
      Oh ya disini terdapat stasiun cable car juga. Cable car ini menghubungkan antara kuil four faces Budha dengan kuil standing Budha. Bagi yang pengen nyoba bisa naik, tapi kalau saya sih kan sudah nyewa songthaew sih ga perlu lah, sayang duitnya. hahaha...
       

      Dari four faces Budha saya naik songthaew menuju ke kuil standing Budha. Nah sebelum sampai di Standing Budha Temple kami melewati bangunan Hatyai Planetarium. 

       
      Standing Budha Temple (Phra Budha Mongkol Maharaj) 
      Songthaew parkir di bagian depan kuil, lalu saya jalan kaki menuju ke bangunan kuil. Nah di samping kuil ini terdapat stasiun cable car yang terusan dari kuil Four Faces Budha tadi. 
      Saya kemudian menuju ke halaman depan kuil, di area bagian tengah kuil terdapat patung Budha berdiri berwarna emas dengan ketinggian sekitar 20 meter. Berat patung ini sekitar 200 ton. 

       
      Dari depan kuil ini kita bisa memandangi kota Hatyai, bahkan kita bisa melihat masjid besar Songkhla di sebelah kanan. 

      Di depan kuil Standing Budha ini terdapat tangga turun menuju ke area Laughing Budha dan Patung Dewi Kuan Yin. Lumayan capek juga menuruni tangga lalu disambung jalan kaki di jalanan pavingblock gitu deh saya nggah ngeh, tapi karena menuruni bukit jadi jalan agak melingkar jadi saya pun ambil jalan pintas dengan menuruni tanah yang lumayan licin sambil pegangan pepohonan.  

       
       
      Fat Laughing Budha
      Di sebelah kanan terdapat kuil pemujaan, lalu di bagian kiri terdapat patung Dewa dan diorama bergambar naga. Nah pas di ujung jalan terdapat patung Fat Laughing Budha. 

       
      Berjalan agak ke depan akan tampak mulut naga raksasa yang sekaligus berfungsi sebagai jalan untuk menuju ke area Bodhisattva Kuan Yin.  

       
      Di area ini terdapat beberapa patung disekitar bangungan utama. Sedangkan patung Dewi Kuan Yin berdiri di atas bangunan utama. Patung Dewi Kuan Yin berwarna putih menjulang setinggi 20 meter. Di sekeliling patung terdapat patung kecil-kecil berwarna putih juga. 

      Setelah merasa cukup melihat-lihat saya kembali menuju kuil Standing Budha, dan kali ini harus menaiki anak tangga yang lumayan menguras tenaga. Entah berapa kali saya berhenti karena kelelahan.  Ini efek karena penasaran dan ga baca review tentang lokasi tujuan.
      Tips: untuk lebih hemat tenaga tidak perlu menuruni/naik tangga yang di depan Standing Budha, kita bisa naik kendaraan sewaan kita untuk menuju ke area Patung Dewi Kuan Yin.  Jadi setelah foto-foto di sekeliling Standing Budha, kita kembali ke kendaraan kemudian kendaraan akan menuruni bukit menuju area patung Dewi Kuan Yin. Hemat tenaga dech. 
      Dari area Dewi Kuan Yin, kami menuju kota Hatyai. Siang itu udara lumayan panas membuat tenggorokan ikutan berasa kering dan haus. Sampai di kota Hatyai saya minta diturunkan di dekat Clock Tower. 

       
      Ini dia Songthaew yang membawa kami half day tour Hatyai + Songkhla.

       
      Di dekat Clock Tower ini terdapat pasar dan saya pun sekalian mampir untuk makan siang.
      Tadaaa menu makan siangnya....yummyyyy

       

       
      Setelah selesai makan baru deh saya berkeliling di pasar sambil beli oleh-oleh kemudian naik tuktuk untuk pulang ke hotel. Sekitar jam 3 sore saya check out dari hotel kemudian menuju ke agen bus yang tak jauh dari hotel untuk menuju ke Kuala Lumpur.
       
    • By Sari Suwito
      Kota Kinabalu atau biasa disebut KK dulunya dikenal dengan nama Jesselton. Maka tak heran jika pelabuhan tempat kami mendarat dari Labuan bernama Jesselton Point. Jesselton diambil dari nama gubernur dari Inggris yang pernah berkuasa disini yaitu Sir Charles Jessel. Oh ya, sewakatu kapal sudah mendekati pelabuhan dari dari atas kapal sudah tampak pemandangan yang menggugah selera, yaitu deretan tempat makan sea food di tepi laut. Hmmmm...jadi lapar.
      Meninggalkan pelabuhan Jesselton Point, bus berjalan melalui jalan yang berada di tepi pantai dimana sedang berlangsung pembangunan entah resort/mall. Tak lama kemudian kami memasuki wilayah Kota Kinabalu mulai tampak kemacetan di sepanjang jalan menuju ke hotel Winner, tempat kami menginap di daerah Jalan Pasar Baru – Kampung Air.  Di bawah ini view dari hotel tempat saya menginap.

       
      Setelah check ini dan beberes, sekitar jam 7 malam kami keluar untuk makan malam di Pasar Malam Sinsuran.  
       

       
      Pasar malam Sinsuran ini dekat dari penginapan kami jadi cukup berjalan kaki saja. Suasana pasar malam Sinsuran lumayan ramai pengunjung apalagi di jam makan malam seperti ini. Kedai makan lumayan berjubel. Aneka makanan bisa kita temukan disini, seperti: nasi campur, sea food, ayam panggang, ikan panggang, aneka camilan dan aneka minuman. Di Kota Kinabalu merasa sedikit lega karena makanan lumayan lebih murah dibandingkan di Brunei Darussalam.  Beli cendol di Brunei Darussalam harganya $1, di Kota Kinabalu cendol harganya RM 1. Kalo di kurs rupiah harga cendol di Brunei 3x lipat harga cendol di Kota Kinabalu. Hahaha...

      Salah satu gerai tempat kami makan malam

       
      Sudah selesai makan, tapi masih lapar mata, jadi jajan chicken wing dulu deh.

      Bagi yang mau shopping di sepanjang perjalanan dari Pasar Malam Sinsuran menuju hotel tempat kami menginap juga ada pasar malam yang menjual pakaian, aksesories dll.
                                                                                                   
      Hari kedua
      Setelah sarapan pagi kami pun berangkat menuju obyek wisata di kawasan luar Kota Kinabalu. Sekitar 1,5 jam perjalanan melintasi jalan yang menanjak, sampailah kami di Pekan Nabalu, Kota Belud. Ini merupakan salah satu spot untuk melihat gunung Kinabalu. Tapi sayang sekali sewaktu kami sampai lokasi ternyata gunung Kinabalu tertutup kabut yang lumayan tebal. Belum rejeki dech…

       

      Seperti obyek wisata pada umumnya, disini terdapat banyak gerai yang menjual aneka camilan, buah-buahan dan cenderamata. 
      Setelah menunggu beberapa saat ternyata kabutnya tak kunjung hilang. Jadi kami pun memilih untuk  melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya.
       
      Fish Spa di Sungai Moroli
      Tagal Sungai Moroli, Kampung Luanti Baru, Ranau ini merupakan pemenang  Malaysia River Care Award 2006. Tagal dalam Bahasa  Kadazan Dusun berarti “dilarang memancing” di aliran sungai Moroli. Sungai sepanjang 54 km ini dihuni oleh banyak ikan yang ukurannya lumayan besar. Untuk menjaga ekosistem sungai, maka penduduk dilarang memancing, menjala ataupun menangkap ikan sepanjang tahun. Hanya di bulan Mei penduduk diberi kesempatan untuk mengambil ikan dari sungai Moroli. 
       

       
      Di lokasi ini kita bisa fish spa langsung masuk ke dalam aliran sungai. Tetapi sayangnya saat itu air sungai sedang keruh karena tadi malam hujan. Untuk keselamatan pengunjung, aliran sungai dikasih pita pembatas agar pengunjung tetap berada di tepian sungai.
      Sebelum masuk ke aliran sungai kita bisa membeli pakan ikan terlebih dahulu. Jadi nanti begitu masuk ke dalam air sungai kita bisa taburkan pakan ikan di dekat kaki kita, maka ikan akan bergerombol di sekitar kaki. Nah disaat itu ikan juga akan mematuk kaki…hiiii geliii….
       

      Satu hal yang perlu diperhatikan adalah kita dilarang memegang ikan ataupun mengangkat ikan keluar dari air. 
      Sudah cukup ber-fish spa? Saatnya istirahat dengan menikmati camilan cempedak goreng,pisang goreng ataupun aneka durian yang di jual di kedai bagian depan fish spa. Harga durian mulai dari RM 6/kg.

      Dari Tagal, Kampung Luanti Baru kami melanjutkan perjalanan menuju Dataran Sayur Kundasang.

      Dataran Sayur Kundasang
      Kundasang adalah sebuah kota di distrik Ranau, Sabah. Kawasan ini dihuni oleh suku dusun asli yang merupakan salah satu kelompok penduduk asli Sabah. Daerah ini meliputi daerah pegunungan dan lembah dengan panorama yang indah. Selain itu Kundasang juga merupakan penghasil sayuran dan buah-buahan. Kita bisa membeli hasil pertanian warga Kundasang di Dataran Sayur Kundasang. Dataran sayur Kundasang ini kalau di Indonesia mirip lah seperti pasar buah dan sayur Brastagi. 

       

      Dataran sayur Kundasang terletak di pertigaan jalan, menempati area yang lumayan luas. Disini terdapat ratusan gerai yang menjual aneka sayuran dan buah-buahan. Jadi jangan heran kalau kita bakalan lapar mata ketika melihat aneka buah-buahan disini. Saya pun membeli aneka buah potong dan durian mini yang dalamnya berwarna kuning agak orens gitu.
       

      Di pertigaan jalan dan jalan lingkar yang tak jauh dari dataran sayur Kundasang terdapat dua icon sawi putih dan kol bulat sebagai symbol daerah ini merupakan daerah penghasil sayuran. Mirip di Brastagi juga sih ini. Hehehe…
       

      Sebetulanya di daerah Mesilau, Kundasang  juga terdapat Desa Dairy Farm (peternakan sapi perah), tapi kami saat itu tidak berkunjung kesana. 
      Dari Dataran Sayur Kundasang kami langsung kembali menuju Kota Kinabalu dan ternyata sepanjang perjalanan menuruni pegunungan Kinabalu cuaca hujan lebat. Kami akhirnya sampai di Kota Kinabalu sudah menjelang malam. 
       
      Hari ketiga
      Setelah sarapan pagi, merupakan waktunya free and easy. Saya berjalan-jalan di Sunday morning market lorong Pasar Baru yang berada di belakang hotel Winner, isinya ya para pelapak yang berjualan pakaian bekas / baru dan aneka aksesories. Dari sini saya berjalan menuju daerah Pasar Besar Kinabalu, saya masuk ke mall yang berlokasi di seberang Pasar Besar Kinabalu, karena masih pagi jadi belum banyak kedai yang buka, disini saya pun hanya melihat-lihat ke salah satu kedai yang menjual produk aksesories mutiara laut. Harganya lumayan mahal sih, jadi saya pun cuma melihat-lihat saja. 
      Keluar dari mall ini saya berjalan menuju ke food court Pasar Besar Kota Kinabalu, food court terletak di lantai 2. Pasar ini merupakan pasar basah (seperti pasar inpres gitu kalau di Indonesia) menjual aneka sayuran dan kebutuhan sehari-hari. Dan di bagian belakang pasar ini juga pasar ikan jadi jangan heran kalau disini suasananya ya bau amis ikan. Hehehe… 

      Walaupun begitu saya sempat memesan ABC (air buah campur) semacam es buah gitu deh. Ya ampun satu mangkuk isinya banyak banget, saya sampe ga habis.  

      Dari Pasar Besar Kinabalu kita bisa berjalan ke arah kiri, disini terdapat Philipino Market. Di pasar ini dijual aneka ikan asin, garam dan produk hasil laut lainnya. Walaupun begitu ada yang jual pakaian dan cendera mata juga koq. 
      Dari Philpino Market saya langsung kembali ke hotel untuk bersiap-siap check out.
      Setelah check out dari hotel kami makan siang di salah satu restaurant dalam perjalanan menuju ke Masjid Negeri Sabah untuk sholat Dzuhur. 
       
      Masjid Negeri Sabah
      Masjid ini terletak di Jalan Tunku Abdul Rahman, Sembulan, Kota Kinabalu. Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1970 dan selesai sepenuhnya pada tahun 1975.
      Struktur bangunan masjid ini merupakan perpaduan konsep timur tengah dan modern. Kubahnya yang megah berdesain pola sarang lebah berwarna keemasan menandakan kecemerlangan Islam di negeri Sabah. Di bagian kiri dan kanan terdapat 16 tiang berkubah kecil berwarna emas. Di lilitan setiap tiang ini dihiasi dengan potongan ayat suci Al Quran dengan tinta warna emas. Masjid ini memiliki satu menara setingi 215 kaki yang konsepnya diilhami oleh masjid di Istanbul dan Isfahan, melambangkan ketinggian dan kemuliaan Islam.   

      Masjid Negeri Sabah
      Masjid ini mempunyai serambi yang luas sehingga mampu memuat sekitar lima ribu jamaah. Tempat sholat perempuan terletak di lantai dua, bisa memuat hingga lima ratus jamaah. Masjid ini juga menyediakan ruangan untuk memandikan jenazah (masih jarang kita temui di Indonesia). 
      Masjid Negeri Sabah ini memiliki halaman dan area parkir yang luas, dan ketika saya berkunjung kesana di bagian belakang masjid sedang ada pembangunan (mungkin) sarana pendukung masjid.
      Setelah selesai sholat Dzhuhur di Masjid Negeri Sabah untuk mengisi waktu sebelum menuju Bandara Kota Kinabalu, kami mampir ke Imago. 
       
      IMAGO Shopping Mall
      Imago the mall terletak di  KK Times Square, merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Kota Kinabalu. Disini terdapat outlet produk-produk fashion branded dan restaurant franchise. Makanya tak heran jika banyak warga Brunei Darussalam yang datang ke Kota Kinabalu untuk shopping, khususnya di musim liburan sekolah atau ketika mall-mall mengadakan great sale karena tentu saja harganya lebih murah dibandingkan di Brunei. Disini juga terdapat kedai yang menjual oleh-oleh dan cenderamata. Waktu itu saya membeli magnet kulkas harga RM 4/pcs. Di lantai lower ground juga terdapat foodcourt, harganya lumayan ramah di kantong.

      Ketika saya kesini, sedang ada pertunjukan Kulintangan. Para penari juga mengajak pengunjung untuk memainkan kulintangan. 

       
      Saya menonton sampai pertunjukan selesai, kemudian di akhir pertunjukan ikut berfoto dengan salah satu penarinya.

       
      Sekitar jam empat sore kami meninggalkan imago untuk kemudian menuju ke Bandara Kota Kinabalu. Oh ya, kalau cuaca cerah Gunung Kinabalu bisa terlihat dari bagian depan Bandara lho. 

      Flight saya sebetulnya jam 8 malam, tetapi akhirnya pesawat kena delay sampai jam setengah sebelas malam, sepertinya dikarekan terjadi masalah teknis dengan pesawatnya. Jadi kami tiba di Kuala Lumpur sekitar jam setengah satu pagi.
       
      PS: Sebetulnya masih banyak lagi obyek wisata di Kota Kinabalu, tapi sayang karena keterbatasan waktu jadi belum sempat expolore pulau-pulau cantiknya. Bahkan saya pun belum sempat explore kotanya. Semoga suatu saat nanti ada kesempatan untuk kembali ke Kota Kinabalu.
       
    • By norma sofisa
      Halo apa kabar?
      Sudah lama nih, tidak menulis di Forum Jalan2.com.
      Kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman berkunjung ke Lisbon, Portugal.
      Merasa 'gerah' dengan udara dingin yang melanda Rotterdam pada akhir winter tahun ini, merupakan alasan yang tepat untuk melarikan diri sejenak ke Eropa Selatan. Kali ini pilihan saya jatuh ke Lisbon, satu kota yang cukup populer, ibukota dari negara Portugal.
      Berbekal tiket dari maskapai low cost (non) kesayangan, saya pun mendarat di Lisbon. Sayangnya, hari pertama tidak seindah bayangan. Awan gelap memayungi kota dengan suhu berkisar di angka 7 hingga 15 derajat. Tidak cukup hangat, mengingat Lisbon letaknya dekat dengan sungai yang muaranya mengarah ke Samudera Atlantik. Angin yang berhembus kencang mengharuskan saya untuk tetap berjaket agar badan tetap hangat.
      Saya cukup beruntung, beberapa jam setelah itu udara kian menghangat. Saya dan travelmate pun berjalan menyusuri jalan besar menuju pusat kota. Hotel yang kami tempati cukup dekat letaknya dengan sentral Lisbon. Jika berjalan kaki, kira - kira butuh waktu 10 hingga 15 menit.
      ]
      Sesuai dengan rekomendasi pamflet wisata Lisbon, tujuan pertama saya adalah Castelo S. Jorge, sebuah kastil Moor yang dibangun di puncak bukit São Jorge, yang merupakan salah satu tujuan turis di kota Lisbon (Sumber: Wikipedia). Matahari yang bersinar cerah, menaikkan semangat saya untuk naik menyusuri tangga ke arah kastil.
      Capek?
      Pastinya! Saya cukup kaget dengan anak tangga pertama yang cukup menukik. Tak ingin kalah dengan beberapa nenek di belakang, saya pun mempercepat langkah sambil berharap anak tangga ini segera berakhir.
      Bukit São Jorge merupakan kawasan pemukiman yang padat. Setelah anak tangga tadi, saya menyusuri jalanan dengan rumah - rumah penduduk di kanan dan kirinya. Beberapa hotel dan restoran kecil pun saya jumpai. Satu hal yang menggelitik adalah banyaknya jemuran pakaian yang tergantung di balkon - balkon rumah. Geli juga ketika mendapati beberapa pakaian dalam ikut terpajang disana.

      Pemandangan mengagumkan dari Kastil São Jorge
      Tak butuh lama dan perjuangan berat untuk sampai ke atas bukit. Tangga awal tadi adalah bagian terberat, selanjutnya hanya jalanan yang menanjak hingga pintu masuk kastil.
      Sesampainya di kastil, saya langsung mengantri untuk membeli tiket. Awalnya, antrian terlihat mengular panjang dan sempat membuat malas, namun ternyata ada tiga petugas loket, sehingga waktu antri pun lumayan cepat.
      Masuk ke kastil, hampir seluruh pengunjung langsung menghambur ke arah halaman. Dari titik ini, saya dapat melihat pemandangan kota Lisbon yang cantik dari atas bukit yang mengarah ke Sungai Tagus. Tampak dari jauh, rumah bercat warna - warni dan beberapa titik yang penuh dengan orang.
      Saya menduga bahwa kastil ini dahulu dipakai juga sebagai benteng pertahanan untuk mengawasi pergerakan musuh yang datang dari arah sungai. Di beberapa titik juga ditemukan meriam - meriam tua yang tampak masih kokoh.
      Karena cuaca yang tidak terlalu panas, saya pun naik ke benteng kastil. Tangga naik cukup curam dan licin, membuat saya harus berhati - hati. Ada beberapa bagian jalan yang hanya bisa dilewati satu arah sehingga saya harus berhenti dan memberikan kesempatan pengunjung dari arah berlawanan untuk lewat.
      Pemandangan dari beberapa titik di puncak benteng kastil memang tidak diragukan lagi. Bahkan patung Jesus di seberang sungai pun bisa dilihat semakin jelas. Beberapa bangunan dari bukit sebelah pun tampak lebih dekat.
      Uniknya lagi, kastil ini memelihara beberapa ekor burung merak jantan yang bulunya sangat indah. Mereka sering berlalu lalang di dekat pengunjung. Meskipun begitu, mereka ini tidak dapat dielus atau dipegang dengan mudah. Bahkan, jika mereka sadar sedang difoto langsung deh cepat - cepat kabur. Para pengunjung tentu saja tak mau kalah. Sebelum mendapatkan foto yang bagus, mereka tidak akan menyerah untuk mengejar. Saya pun termasuk di dalamnya. Lucu kalau diingat - ingat lagi.

      Dikarenakan topografi permukaan Lisbon yang cukup bergelombang, sebagai turis kita harus siap untuk berjalan naik turun bukit. Nah, bagi kamu yang memiliki keterbatasan fisik dan tenaga, ada alternatif lain jika tidak ingin berjalan kaki mengunjungi spot - spot wisata di Lisbon, yaitu dengan membayar paket transportasi khusus dengan tram, bus, maupun tuk-tuk yang tarifnya mulai dari 12 Euro hingga 26 Euro. Dengan membayar paket tersebut, kamu bisa dengan bebas menaiki tram klasik tipikal Lisbon, yang warnanya kuning atau merah. Jika kamu memilih paket lengkap pun, kamu bisa dengan bebas menaiki tuk-tuk atau ojek bemo yang juga terafiliasi dengan penyedia jasa transportasi.
      Oh ya, berdasarkan pengalaman, jika ingin pergi suatu tempat ke tempat lain di Lisbon, sebaiknya mengikuti arahan dari Google maps. Satu pengalaman saya, karena merasa tahu jalan, tidak mengikuti Gmaps dan malah berimprovisasi. Alhasil, kami harus naik bukit lagi dan berjalan lebih jauh. Beberapa jalanan di Lisbon memang sedikit rumit, namun sangat menantang nan menarik untuk ditelusuri. Kami menyebutnya treking di tengah kota hehe..
      Lalu gimana sih kuliner dan makanan khas di Lisbon?
      Tunggu di bagian kedua ya..
      Terima kasih dan semoga bermanfaat.
      Tulisan ini bisa dibaca juga di https://wp.me/p7BvKH-6T
    • By Sari Suwito
      Melanjutkan tulisan sebelumnya setelah dua hari di Brunei, kami akan melanjutkan perjalanan ke Kota Kinabalu (Malaysia).
      Pagi-pagi kami sudah bersiap-siap untuk check out hotel kemudian kami menuju ke Terminal Feri Serasa di Muara. Jarak  menuju ke Terminal Feri Serasa sekitar 25 km, ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Oh ya,selain terminal ferry penumpang disini juga terdapat terminal peti kemas, jadi selama perjalanan kita akan sering berpapasan dengan truck container sehingga perjalanan jadi agak lambat.
      Ketika kami sampai terminal feri Serasa karena bus yang kami sewa ukuran besar jadi tidak bisa masuk ke halaman terminal, terpaksa deh kami turun di depan pintu gerbang dan membawa koper masing-masing. 
       

      Karena tidak sempat sarapan di hotel maka kami pun akhirnya sarapan di cafe yang berada di sebelah pintu kedatangan terminal feri Serasa. 
      Note: Kalau mau  naik transportasi umum /bus dari Bandar Seri Begawan bisa naik bus nomer 39 menuju ke Terminal Muara, lalu dari Terminal Muara lanjut naik bus nomer 33 menuju Terminal Feri Serasa. Ongkos bus $1 per trip.
      Sekitar jam 9 kami bersiap untuk masuk ke dalam ferry. Oh ya untuk masuk ke dalam ferry ini kita melewati imigrasi Brunei secara kami akan melakukan perjalanan menuju ke Labuan (Malaysia) yang kemudian dilanjutkan ke Kota Kinabalu. Saat itu imigrasi lengang karena hanya ada satu ferry yang akan berangkat. Setiap penumpang disuruh buka koper untuk dilihat isinya satu persatu, segala tempat kosmetik, underware organizer, handbag, semua diperiksa. Mungkin juga dikarenakan disini tidak ada mesin x-ray. 
      Setelah selesai proses imigrasi kami pun menuju ke dermaga ferry. Kami menaiki Ferry Shuttle Hope untuk menuju Labuan. Awak kapal akan menyambut kita dan menanyakan barang bawaan akan dibawa naik atau ditinggal di bawah saja? Kalau di tinggal dibawah makan petugas akan menempatkan koper kita di bagian ujung kapal dekat pintu turun dari kapal ferry. Setelah menyerahkan koper, saya naik ke lantai dua ferry.

       
      Harga ket ferry Shuttle Hope adalah $15/orang dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 40 menit. Saya memilih duduk di dalam ruangan ber-AC di lantai 2 dan ternyata ACnya dinginnya minta ampun. Oh ya sebelum ferry berlayar, di TV ditayangkan doa naik kapal terlebih dahulu. Mungkin ini sudah menjadi SOP Brunei Ferry ya, biar perjalanannya aman dan lancar.

       
      Begitu ferry sudah berlayar dari atas ferry kita bisa menikmnati angin sepoi-sepoi di geladak atau bisa juga duduk manis di ruang utama sambil nonton film box office yang diputar di TV. Di dalam ferry juga terdapai kedai makanan, kalau lapar bisa beli snack dan minuman. Di kapal ini juga terdapat toilet yang lumayan bersih, di lantai dua bagian belakang kapal.
      Seteleh beberapa saat kapal berlayar kita akan menyaksikan pemandangan begitu banyak kilang minyak di lautan Brunei, gimana negara ini ga kaya ya, itu kilang minyak di laut banyak bangeett. 
      Saya juga melihat beberapa kapal besar yang dilengkapi dengan alat berat atau crane serta helipad. Baru kali ini saya lihat kapal segede itu. Hahaha…
       
       

       
      Sekitar jam 11an, kapal ferry sudah mendekati dermaga Labuan. Dari atas ferry sudah kelihatan deh gedung terminal ferry wilayah persekutuan Labuan. 
       

       
      Setelah turun dari kapal ferry kami langsung menuju ke gedung terminal ferry lalu menuju ke mesin x-ray untuk scan barang bawaan kita kemudian menuju counter imigrasi Malaysia untuk chop paspor. Setelah selesai chop paspor kami berjalan menuju ke rumah makan untuk makan siang. Kami makan di rumah makan yang berada di depan Terminal Feri Antarbangsa Labuan sekitar 300 meter kali kami berjalan di bawah  rintik hujan.

       
      Setelah selesai makan kami segera menuju ke Terminal Feri Antarbangsa Labuan. Terminal ferry Labuan ini lumayan ramai, di bagian depan terdapat banyak stand yang menjual aneka barang dan souvenier. Karena sudah dekat dengan jadwal keberangkatan kapal, jadi kami tak perlu menunggu di boarding room, kami langsung menuju ke kapal yang sudah bersandar di dermaga. 

       
      Kami naik kapal LBN Express Tiga untuk tujuan ke Kota Kinabalu, kapal ini mempunyai dua kelas, yaitu kelas ekonomi dan kelas eksekutif. Untuk kelas eksekutif harga tiket RM 44/orang. Perjalanan menuju Kota Kinabalu memakan waktu sekitar 3,5 jam. Jadi bisa tidur dulu deh di dalam kapal, karena ini kapalnya seperti speed boat jadi kita ga bisa berdiri di geladak kapal, cukup menikmati pemandangan dari balik jendela saja. Tapi kalau kita duduk di kelas ekonomi, ga bisa deh lihat pemandangan luar karena posisi berada di lantai bawah.
      Sekitar jam setengah lima, akhirnya sampailah kami di terminal ferry Jesselton Point. Setelah semua peserta sudah turun dari kapal ferry kami pun segera keluar terminal. Rupanya bus sudah menunggu kami di sebelah kanan pintu keluar Jesselton point, setelah semua peserta naik bus, kami pun berangkat untuk menuju hotel tempat kami menginap di kawasan Lorong Pasar Baru, Kampung Air. 
       

       
      **Sebetulnya bisa juga naik bus dari Bandar Seri Begawan menuju Kota Kinabalu, tetapi jadwal keberangkatannya hanya  satu kali setiap harinya yaitu sekitar jam 8 pagi. Lama perjalanan sekitar 8 jam (kalau ga salah ya).  Kalau ada budget lebih ya paling cepat naik pesawat. Hehehe...
       
       
    • By Sari Suwito
      Hai...haiii..haiiiiii
      Widiiiih lama banget saya ga nongol di forum...
      Ok, baiklah saya akan share FR saya beberapa bulan lalu ketika melawat Brunei Darussalam. Mungkin sudah agak basi kali ya, tapi semoga bermanfaat buat teman2
      .
      Brunei Darusalam adalah sudah masuk dalam wishlist trip saya, tapi baru kesampaian di tahun 2018 ini. Brunei Darussalam merupakan negara ASEAN ke-5 yang saya kunjungi (Indonesia tidak termasuk hitungan ya).  Berhubung saya tinggal di Yogyakarta jadi saya memilih untuk terbang dengan Air Asia ke Brunei melalui Bandara Soekarno Hatta kemudian transit di Kuala Lumpur. Saya tiba di Brunei sekitar jam 8 pagi waktu setempat. Dari airport kami langsung menuju obyek wisata di kota Bandar Seri Begawan.
       

       
      Obyek wisata apa saja yang saya kunjungi selama di Brunei Darussalam? Yuk, simak catatan perjalanan saya selama di Brunei Darussalam.
      Hari Pertama
      1.The Royal Regalia Building 
      The Royal Regalia Museum atau Museum Alat Kebesaran Diraja terletak di Jalan Sultan Omar Ali Saifuddien, Bandar Seri Begawan. Bangunan museum berbentuk kubah besar yang dilengkapi dengan mozaik yang cantik dan bagian dalamnya menggunakan marmer dan karpet yang mewah. Pengunjung diwajibkan menanggalkan sepatu di luar dan hanya diperbolehkan memakai sandal yang sudah disediakan ataupun tanpa alas kaki saja kalau tidak kebagian jatah sandal. Pengunjung diwajibkan meletakkan tas, handphone, kamera dan barang bawaan lainya di loker yang sudah disediakan di bagian depan museum. Setelah itu baru kita diperbolehkan masuk ke ruangan pamer museum. 
       

       
      Museum ini memiliki beberapa galeri, antara lain;
       Royal Regalia Exhibition  Royal Exhibition Hall  Silver Jubilee Exhibition Hall   Jubilee Theatre  Constitutional Exhibition Hall  Royal Lounge  Souvenier / Refreshment Lounge           Memasuki ruangan galeri museum kita bisa melihat foto silsilah keluarga Sultan Brunei, dan di dinding tercantum nama lengkap dan gelar untuk Sultan Hassanal Bolkiah, panjang banget lho. Lalu kita berjalan menuju ke bagian koleksi pribadi Sultan Brunei yang berupa pakaian kebesaran Sultan, perhiasan, cendera mata dari negara sahabat.  
      Selanjutkan kita akan menuju ruang pamer peringatan perayaan 25 tahun pemerintahan Sultan Hassanal Bolkiah. Di ruangan ini terdapat replika kemegahan acara perayaan Silver Jubilee dengan patung manekin tanpa kepala yang menggambarkan pasukan yang mengiringi kereta yang dinaiki Sultan Hassanal Bolkiah dan di sekelilingnya terdapat poster bergambar rakyat yang menonton iringan perayaan 25 taun pemerintahan Sultan.

       
       
      2. Masjid Omar Ali Saifuddien 
      Masjid Omar Ali Saifuddien merupakan masjid kerajaan Kesultanan Brunei yang terletak di Bandar Seri Begawan, tak jauh dari The Royal Regalia Building.  Arsitektur masjid ini memadukan arsitektur Mughal Islam dan Italia, membuat masjid ini menjadi salah satu masjid yang paling mengagumkan di Asia Pasifik. 
       

      Masjid ini memiliki menara marmer dengan kubah emas, dilengkapi dengan taman yang indah dan air mancur. Di samping masjid terdapat replika perahu Mahligai Kerajaan milik Sultan yang memerintah pada abad ke-16. Bangunan ini juga digunakan sebagai panggung Musabaqah Tilawatil Quran pada akhir tahun 1960 hingga awal tahun 1970.
      Di bagian kiri masjid terdapat Perpuspaan main gate 1968, disini juga terdapat taman dan air mancur yang cocok juga untuk berfoto.
       

      Sayang sekali waktu itu kami hanya foto stop di luar masjid dan cuaca yang panas membuat kami tidak bisa berlama-lama karena kami akan melanjutkan untuk makan siang.
      Kami makan siang di restoran yang terletak di kawasan Tarindak D’Seni yang berseberangan dengan Kampong Ayer. Dari restoran  tempat kami makan siang kami bisa melihat pemandangan Kampong Ayer dan Jembatan Raja Isteri Pengiran Anak Hajah Saleha. Jembatan ini disebut juga Jembatan Sungai Kebun. Jembatan ini  menghubungkan Bandar Seri Begawan dan Kampung Sungai Kebun.
       

      Setelah selesai makan siang kami melanjutkan ke destinasi berikutnya yaitu Istana Nurul Iman.
       
      3. Istana Nurul Iman
      Istana Nurul Iman terletak di tepi sungai dengan bukit yang hijau di tepi sungai Brunei, beberapa kilometer selatan Bandar Seri Begawan. Istana Nurul Iman merupakan kediaman resmi Sultan Brunei dan keluarganya serta merupakan pusat pemerintahan Brunei. Istana Nurul Iman merupakan istana terbesar di dunia, memiliki 1.788 ruangan, termasuk 257 kamar mandi. Dan di dalamnya terdapat ballroom yang mampu menampung hingga lima ribu tamu. Di dalam istana ini juga terdapat garasi yang berisi ratusan mobil koleksi Sultan Brunei.  
       

      Istana hanya dibuka untuk umum pada hari Raya Idul Fitri, dimana Sultan akan mengadakan open house selama 3 hari.  Jadi kami hanya bisa photo stop di depan Istana saja.

       
      4. Mercu Dirgahayu 60
      Mercu Dirgahayu 60 (dalam angka arab) berwarna emas ini merupakan monument untuk memperingati hari ulang Sultan Hassanal Bolkiah ke 60 tahun. Mercu Dirgahayu 60 terletak di waterfront Kampung Ayer. 

       
      Tak jauh dari Mercu ini terdapat dermaga taxi air untuk menuju ke Kampong Ayer. Wisatawan pun bisa naik taxi air dari sini untuk berkeliling di Kampong Ayer.
       

       
      Kampong Ayer adalah perkampungan terapung yang merupakan cikal bakal Bandar Seri Begawan.  Kampong Ayer merupakan perkampungan terapung yang terbesar di dunia, luasnya sekitar 10 km persegi, terdiri 42 kampung dan dihuni oleh 20ribu orang penduduk. Kampong Ayer juga memiliki fasilitas yang lengkap seperti: air bersih, listrik, sekolah, masjid, klinik, dan fasilitas lainnya. Bagi penduduk Kampong Ayer yang memiliki mobil, mereka akan memarkir mobil mereka di tepi jalanan seberang Kampong Ayer, kemudian mereka pulang ke rumah menggunakan taxi air.
      Sebetulnya di dekat kawasan Mercu Dirgahayu 60 juga terdapat beberapa perahu yang menawarkan wisata ke kampung ayer, tapi menurut guide  harus hati-hati supaya tidak kena scam. Guide sempat menawarkan siapa yang mau keliling kampung ayer bisa dikoordinasikan.  Tapi kami memutuskan untuk segera menuju hotel supaya bisa istirahat, secara kami sudah lelah setelah perjalanan panjang dan flight di awal pagi.
    • By Sari Suwito
      Melanjutkan tulisan sebelumnya, pada hari kedua di Brunei kami mengunjungi berbagai obyek wisata di Kota Bandar Seri Begawan dan Brunei Muara.
      Setelah sarapan kami langsung menuju ke obyek wisata pertama yaitu Masjid Jame’ Asr Hassanil Bolkiah.
       
      1.Masjid Jame’ Asr  Hassanil Bolkiah
      Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah merupakan satu dari dua masjid besar di Bandar Seri Begawan. Masjid besar satunya yaitu Masjid Omar Ali Saifuddien yang sudah saya kunjungi pada hari pertama di Brunei. Masjid Jame’ Asr Hassanil Bolkiah merupakan wakaf dari Sultan Hassanal Bolkiah dan menurut guide kami tidak diketahui berapa total biaya yang digelontorkan untuk membangun masjid ini karena semua biaya ditanggung oleh Sultan Brunei.  Masjid ini memiliki 29 kubah emas, 2 kubah emas besar dan 27 buah kecil. Dua puluh Sembilan kubah mengandung arti Sultan Hassanal Bolkiah yang membangun masjid ini merupakan Sultan Brunei yang ke-29. Masjid ini juga memiliki 4 menara dengan ketinggian 58 meter.

      Hari Kamis dan Jumat masjid tidak menerima kunjungan turis, jadi kami pun masuk ke masjid dengan tujuan untuk sholat dhuha. Kan setelah sholat juga bisa sambal melihat-lihat bagian dalam masjid. Oh ya di masjid ini terdapat larangan berfoto/memotret bagian dalam masjid. Jadi ya saya pun cukup menikmati keindahan bagian dalam masjid dengan lensa mata saja. 

      Tempat wudhu wanita lumayan luas dan tersedia banyak kran untuk wudhu, jadi tak perlu lah sampe antri untuk ambil wudhu. Ruang sholat wanita terletak di lantai dua, ruangannya luas dan nyaman berAC. Bahkan karpetnya tebal dan nyaman, ternyata menurut guide karpet masjid ini terbuat dari kapas berkualitas tinggi dari New Zealand dan karpetnya diproduksi di Thailand. Di dinding masjid bagian atas terdapat kaligrafi berwarna emas. Juga terdapat lampu gantung Kristal yang dilapisi emas berasal dari Austria.
      Setelah selesai sholat saya melanjutkan melihat-lihat dan berfoto di bagian luar masjid. Di bagian depan masjid terdapat pilar-pilar yang terbuat dari Blue Marble dan lmapu gantung yang cantik.  
       

      Di bagian kanan  masjid terdapat tangga melingkar berwarna putih dan terdapat escalator di bagian tengah.
      Masjid ini mempunyai taman dan tempat parkir yang luas.  Di bagian depan taman terdapat deretan pohon palem dan air mancur. 
       
      2.Darul ‘Ifta Building – Gedung Galeri Islam Brunei
      Kami hanya photo stop disini, jadi tidak masuk ke dalam gedungnya. Disini terdapat dua gedung, di gedung lama yang juga masih aktif terdapat perpustakaan Islam Brunei. Perpustakaan ini juga mengkoleksi mushaf Al Quran ukuran mini.
       

      Sedangkan gedung yang baru lebih megah dan besar masih dalam tahap penyelesaian. Rencana gedung ini akan menjadi Gedung Galeri Islam Brunei.
       

       
      3. Masjid Hassanal Bolkiah Kampung Mentiri
      Masjid Hassanal Bolkiah Kampung Mentiri terletak di Kampung Mentiri, Brunei Muara. Masjid ini dibangun atas perintah langsung dari Sultan Hassanal Bolkiah pada 10 April 2017 untuk menggantikan Masjid Rancangan Perumahan Negara Kampung Mentiri yang habis terbakar pada 5 April 2017. Pelaksanaan pembangunan Masjid Hassanal Bolkiah Kampung Mentiri dimulai pada 2 Mei 2017 dan selesai sepenuhnya pada 19 Juni 2017, jadi masa pengerjaan masjid hanya 49 hari saja. Amazing yaaa…
       

       
      Masjid Hassanal Bolkiah diresmikan oleh Sultan Hassanal Bolkiah dan sekaligus dipakai untuk sholat jumat pada tanggal 23 Juni 2017. Masjid ini bisa menampung sekitar 3500 jamaah. Masjid ini juga merupakan pusat kegiatan keagamaan, jadi di masjid ini terdapat banyak ruangan sesuai untuk peruntukannya, seperti ruang meeting/menerima tamu, ruang makan/untuk menjamu tamu, pantry dan lain-lain.
      Disini kami diijinkan berfoto/memfoto bagian dalam masjid.

       

                               
       
      4. Malay Technology Museum / Museum Teknologi Melayu
      Museum Teknologi Melayu terletak di Simpang 482, Kampung Kota Btu, Brunei Darusalam. Bangunan museum ini merupakan sumbangan dari perusahaan Royal Dutch/Shell Group pada saat kemerdekaan Negara ini pada tahun1984. Museum ini dibuka secara resmi pada tanggal 29 Februari 1988. Untuk masuk ke museum ini tidak dipungut biaya alias gratis. 
       

      Malay Technology Museum menampilkan teknologi dan diorama sejarah peradaban masyarakat melayu Brunei pada jaman dahulu.
       
      Display museum terbagi dalam galeri utama yaitu:
      1   1. Ruangan yang berisi diorama miniature bentuk rumah di Kampong Ayer pada akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20. Selain itu juga terdapat beberapa jenis perahu seperti perahu layar yang digunakan untuk pengangkutan  jarak jauh, dan menangkap ikan di pesisir laut, serta perahu gubang yang digunakan untuk transportasi antar rumah, serta perahu yang dipakai untuk menjual barang dagangan.  
          
       
           2. Ruangan yang berisi diorama teknologi tradisi masyarakat di Kampong Ayer pada jaman dahulu, seperti, menjala ikan, membuat perahu, pasar terapung, membuat perkakas rumah, menenun kain,  pandai besi tembaga, emas dan perak.
       

       
           3. Ruangan yang berada di lantai atas, berisi diorama miniatur rumah dan aktifitas masyarakat yang tinggal di daratan seperti suku Dayak dan Kadasan Dusun. Aktifitasnya antara lain: menganyam rotan, membuat gula dan mengolah sagu.

       
      Salah satu keunikan dari tangga spiral menuju ke lantai dua ini juga terdapat art work berbentuk seperti rencengan lampu.

       
      Setelah selesai berkeliling museum, kami pun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kota Bandar Seri Begawan. Oh ya tak jauh dari Museum Teknologi Melayu ini terdapat Museum Brunei, tapi saat itu sedang renovasi jadi kami hanya lewat saja.

      Setelah sampai di kota Bandar Seri Begawan sudah sore hari, kami menuju ke Pasar Pelbagai Barangan Gadong.
       
      5. Pasar Pelbagai Barangan Gadong
      Pasar ini seperti night market, buka mulai jam 4 sore sampai jam 8 atau 10 malam gitu. Bangunan Pasar Gadong lumayan besar, terdiri dari 3 blok dengan . Di seberang pasar ini juga terdapat seperti open air market gitu tapi sepi kalau sore. Nah disini terdapat mushola jadi kalau tiba waktu sholat maghrib pengunjung Pasar Gadong bisa sholat disini.

      Di Pasar Gadong kita bisa menemukan aneka makanan dan minuman, buah-buahan dan ada beberapa stand yang menjual pakaian. Bangunan pasar lumayan luas, bersih dan nyaman. Selain itu juga tersedia meja dan kursi jika kita ingin duduk menikmati makanan/minuman yang sudah kita beli. Kebanyakan warga Brunei yang bekerja akan mampir ke pasar ini membeli makanan untuk makan malam di rumah.

       
      Disini saya membeli aneka buah-buahan dan durian kupas. Ketika saya sedang makan buah di meja dekat penjual durian, ada sepasang suami istri yang sedang membeli durian lalu mereka numpang di meja saya untuk membuka dan meletakkan durian ke dalam kotak makanan yang sudah dibawanya. Nah sambil meletakkan durian ke kotak si bapak dan ibunya mengajak kami ngobrol, bertanya kami datang dari mana? sudah berapa lama di Brunei? Eeh, tak lama kemudian si ibunya membagi kami separuh durian (sepertinya durian musang king), kami pun berterima kasih plus  basa-basi kok banyak banget kasih duriannya. Kemudian sebelum mereka pulang mereka pun memberi kami 1 pack durian kuning. Ya Allah…rejeki nomplok nich.

       
       
      6. Shopping time di  Happy Star and The Mall
      Tujuan pertama saya yaitu mencari magnet kulkas, nah saya akhirnya menuju ke toko Happy Star, berada di deretan ruko yang tak jauh dari The Mall. 
       

       
       
      Di toko ini saya membeli magnet kulkas harga $ 10 dapat 3 pcs dan kaos I Love Brunei seharga $ 12.90. Gileee mahal banget, padahal mah bahannya juga biasa aja. Setelah selesai membeli souvenier saya pun menuju The Mall, karena memang penduduk Brunei tidak banyak jadi mall pun tidak terlalu ramai pengunjung. Saya pun cuma melihat-lihat saja, tak membeli apapun, secara harga di Brunei lumayan mahal jadi sayang uangnya lah kalau mau belanja.  
      Dari The Mall kami pun menuju ke restoaran untuk makan malam kemudian kembali ke hotel untuk beristirahat.
      Oh iya, kebetulan kami menginap di Hotel Jubilee, nah di dekat hotel terdapat Teng Yun Temple. Seperti pada umumnya kelenteng ini berwarna merah, kontras dengan bangunan di sekitarnya, bahkan di bagian belakang dan samping Teng Yun temple berdiri bangunan gedung yang megah dan tinggi. 

       
    • By Burhan Abdillah Sanjaya
      Objek wisata alam merupakan destinasi paling diminati ketika memasuki musim liburan, namun seiring memasuki era globalisasi di kota-kota besar, maka wisata alam pun mulai tersisihkan. Namun tetap saja manusia memerlukan tempat hiburan guna menjernihkan pikiran mereka setelah dibuat lelah oleh rutinitas pekerjaan maupun berbagai kegiatan sekolah. Oleh sebab itu di jaman modern seperti sekarang, pihak pemerintah telah bekerja sama bareng swasta mendirikan berbagai objek wisata buatan mengusung konsep theme park di kota-kota besar salah satu nya di kota Tangerang Banten. Tempat rekreasi Citra Raya World Of Wonders Tangerang Banten mungkin bisa dijadikan referensi wisata menyenangkan bersama keluarga maupun kerabat. Objek Wisata Tangerang ini menyediakan berbagai sarana hiburan berupa permainan seru yang dapat menghibur wisatawan.

      Selain menjadi arena bermain menyenangkan, sepertinya pihak pengelola juga menyisipkan nilai-nilai pendidikan disana. Terlihat dari sejumlah miniatur keajaiban dunia, misal disana ada miniatur candi Borobudur, Menara Pisa, Piramida, Candi Prambanan, Colloseum, Spinx, gerbang Ishtar, kuil Karnak-Ziggurat dan Mercusuar Iskandariyah. Dari miniatur tersebut setidaknya pengunjung diharapkan menyaksikan langsung bangunan-bangunan bersejarah serta budaya-budaya didalamnya.
      Terdapat juga banyak wahana permainan di Citra Raya World of Wonder Tangerang seperti Taman Satwa, Kincir Jurrasic, Cangkir Puntir, Kuda Ria, Arena Tangkas, Katak Kejut, Outdoor Playground, Perahu Tembah, Paralayang, Perahu Liberty, Rumah Angker, Sepeda Layang, Keliling Dunia, Kebat Kebit, Mobil Gladiator, Ayunan Kaisar, Kereta Minoan, Gasing Alexandria, Cinema Phartenon dan masih banyak wahana permainan lainnya.

      Keberadaan wahana permainan serta wahana edukasi yang disediakan tentu menjadi daya tarik utama wisata Banten ini, belum lagi tersedianya sejumlah fasilitas wisata disediakan untuk pengunjung yang diharapkan semakin memberikan rasa aman dan nyaman, sehingga mereka betah berlama-lama ditempat wisata. Fasilitas umum tersedia disana antara lain area parkir luas, kamar mandi umum, tempat-tempat istirahat, berbagai spot-spot foto corner kekinian dan peta lokasi wisata yang tertera di depan pembayaran tiket masuk.
      Nah, bagaimana kawan-kawan jalan2.com dari informasi diatas sudah dapat gambaran dari destinasi wisata Tangerang ini kan. Supaya bisa mencoba berbagai wahana permainan dan berswafoto disana, tentunya kawan wajib mengeluarkan biaya tiket masuk terlebih dulu. Tiket masuk Citra Raya World Of Wonders Tangerang Banten dibagi menjadi dua yakni hari selasa hingga jum'at(weekday) sebesar Rp. 65.000 sedangkan tiket weekend dan musim liburan dikenakan biaya sebesar Rp. 75.000 per wisatawan.
      Jam buka Citra Raya World Of Wonders mulai buka pada pukul 10.00 WIB hingga tutup kembali pada pukul 18.00 WIB untuk weekday sedangkan weekend buka mulai pukul 09.00 WIB dan tutup kembali pada pukul 18.00 WIB. Theme park Tangerang ini berada di perumahan Citra Raya Blok KH 01Sektor 3.1, Kawasan Wisata Mardigrass Citra Raya, Cikupa, Mekar Bakti, Panongan, Kota Tangerang, Banten.