• agoda-hemat.png

norma sofisa

Pengalaman yang tak terlupakan mengunjungi Krakow dan Auschwitz, Polandia

6 posts in this topic

Halo semuanya,

Pernahkah kalian mendengar Polandia?

Yup, Polandia adalah salah satu negara yang terletak di daratan Eropa sebelah timur. Polandia memang tidak sepopuler Belanda, Inggris, Perancis, atau Italia namun para penggemar sejarah perang dunia pasti tidak asing lagi dengan negara ini. Tidak lain karena awal dari perang dunia kedua dimulai dari Polandia.

Desember 2015 lalu, saya dan sahabat saya, Kim, mempertaruhkan liburan musim dingin kami dengan bertandang kesana. Kenapa mempertaruhkan? Berbekal tiket pesawat pp 17 Euro saja, kami memutuskan untuk mendarat di sebuah kota bernama Katowice yang sebelumnya bahkan belum pernah kami dengar.

Kim menyusun rencana dan tempat-tempat apa saja yang akan kami kunjungi, termasuk hostel dan penginapan di Polandia. Salah satu kota yang akan kami kunjungi adalah Kraków, yang merupakan kota kedua terbesar dan pusat kebudayaan tertua di Polandia. Tak heran jika beberapa lokasi historis di Kraków seperti Old Town, Kazimiers (Area Yahudi), dan Kastil Wawel masuk dalam list UNESCO World Heritage Sites pada tahun 1978 (sumber: Wikipedia).

Pengalaman kami di kota ini merupakan salah satu yang tidak akan terlupakan dalam hidup. Selain karena ini adalah kali pertama saya bepergian jauh keluar Belanda, cerita dan orang - orang yang kami temui selama perjalanan membuat saya terkesan.

Quote

Jangan bayangkan seluruh daratan Eropa itu seragam! Dibandingkan dengan Indonesia, kereta api di Polandia kalah jauh!

 

10277412_10206535075474106_6684248248722886615_n

Beberapa menit setelah mendarat di Bandara Katowice, kami berdua kebingungan. Dalam bayangan kami, transportasi dari Bandara ke pusat kota dapat dijangkau dengan mudah dan terorganisir dengan baik. Ternyata, bahkan petugas bandara pun main lempar dan tidak dapat menjelaskan dengan baik. Kami pun baru sadar, penduduk di Polandia mayoritas tidak dapat berbahasa Inggris dengan baik. Lebih lagi, pelafalan nama kota atau wilayah di Polandia tidak sama dengan tulisannya karena ditulis dalam Polish Alphabet. Setelah bertanya kesana kemari dengan pemuda pemudi desa yang lewat, dengan Bahasa Inggris seadanya, akhirnya kami dapat melalui cobaan yang pertama dan menemukan tempat menunggu bus.

Perjalanan ke pusat kota Katowice ditempuh dalam waktu kurang lebih 1,5 jam. Kami sempat tidur di perjalanan hingga bus yang kami tumpangi berhenti di stasiun kereta. Dari sini kami langsung membeli tiket kereta menuju Kraków. Kami memilih kereta yang biasa dengan estimasi perjalanan 2,5 jam dengan pertimbangan harga yang lebih murah. Dan mulailah petualangan kami ke Kraków.

12391854_10206513027722926_8146124842397172330_n

Kereta yang kami naiki ternyata sedikit ajaib. Gerbongnya terlihat cukup tua dan banyak coretan di sebagian besar dindingnya. Hari itu sudah gelap dan lampu di kereta tidak berfungsi dengan baik. Byar pet, kalau kata orang Jawa. Saat kami sedang duduk, tiba-tiba lewat seorang pria dengan sebotol besar minuman beralkohol di tangannya. Wajah saya pun terlihat agak panik, namun Kim berusaha menenangkan. Tidak ada tanda-tanda petugas kereta yang lalu lalang, untungnya pria tadi juga tidak bereaksi apa-apa. Ia duduk agak jauh dari kami. Saya perhatikan, dia hanya memeluk botol itu dan tidak meminumnya. Kami pun lega saat ia turun di stasiun sebelum Kraków.

Sepanjang perjalanan saat memperhatikan, stasiun - stasiun yang kami lewati membuat bergidik. Tak jarang tidak ada lampu penerangan maupun tempat duduk di stasiun. Peronnya pun sangat kecil dan kelihatan kumuh. Satu pelajaran yang saya dapatkan adalah jangan menganggap seluruh negara di daratan Eropa itu seragam tingkat ekonomi dan sosialnya. Jika boleh membandingkan, kereta api di Polandia kalah jauh dari kereta api yang ada di Indonesia. Bravo PT KAI!

Tepat pukul 10 malam, kami sampai di Kraków. Kami memutuskan untuk membeli tiket ke Auschwitz dulu sebelum menuju hostel. Sempat agak bingung menemukan loket yang tepat, kami berusaha bertanya pada sekuriti di stasiun. Ternyata sodara -sodara, bapak sekuriti ini tidak bisa berbahasa Inggris. Lucunya, dia masih saja berusaha menjelaskan dengan memperkeras suaranya tapi tetap dalam Bahasa Polandia.

Sedikit gemas, pengen tertawa, campur sebal sih! Tapi tidak bisa disalahkan juga niat baik seseorang. Dalam suasana kegamangan itulah, tiba-tiba muncul seorang pemuda berkacamata yang menjawil si Bapak. Sejurus kemudian, dia bertanya pada kami dengan Bahasa Inggris. Raut wajah kami langsung sumringah mendengarnya. Pemuda yang baik itu kemudian menjelaskan dimana letak loket untuk membeli tiket. Akhirnya tiket terbeli dan kami pun menuju keluar stasiun dan berjalan ke arah hostel kami. Kami berdua sudah sangat kelelahan dan berharap untuk segera mendarat di kasur. Petualangan esok pagi sangat kami nantikan.

Penasaran dengan pengalaman tak terlupakan di Auschwitz? Sabar ya, akan disambung minggu depan!

Bisa juga baca disini: https://sofiehurif.wordpress.com/2017/12/01/poland-and-a-once-in-a-lifetime-experience-auschwitz-1/

Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi.

Terima kasih.

Salam,

Sofie

Share this post


Link to post
Share on other sites
19 hours ago, norma sofisa said:

Halo semuanya,

 

Pernahkah mendengar sebuah negara bernama Polandia?

Apa yang teman-teman ketahui tentang Polandia?

Simak perjalanan saya ke Polandia dengan sahabat saya dari Belanda di blog pribadi saya. Klik link di bawah ini ya...

https://sofiehurif.wordpress.com/2017/12/01/poland-and-a-once-in-a-lifetime-experience-auschwitz-1/

https://sofiehurif.wordpress.com/2017/12/04/poland-and-a-once-in-a-lifetime-experience-auschwitz-2/

Ceritanya masih bersambung juga! Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi.

Terima kasih.

Salam,

Sofie

Tulisannya di Copas aja ke forum ini dan di bagian paling bawah di cantumkan Link ke Sumbernya, karena banyak yang mungkin kurang ngerti jadi cuma bisa baca doank :)
@norma sofisa

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

  • Similar Content

    • By viona8800
      Detik Akurat  – Di Jepang, berbagai jenis kuil dan tempat ibadah dapat dengan mudah ditemukan dan digunakan sebagai lokasi wisata. Beberapa kuil bahkan terlalu unik, seperti kuil kucing dan kuil sushi.
      Namun, itu berbeda dengan candi yang berbentuk bukit. Didirikan sejak abad keenam belas, apa yang ada di kuil ini dapat membuat Anda bergidik dan merasakan sakit.
      Disebut Mimizuka Mound, bukit yang terletak di Kyoto ini tampaknya adalah lubang hidung manusia yang berasal dari abad keenam belas.
      Dilansir dari Amusing Planet, Mimizuka adalah tempat yang Toyotomi Hideyoshi gunakan untuk mengubur bukti serangan Jepang di Korea dan Cina.
      Pada saat itu, para prajurit perang memiliki kebiasaan memotong dan mengirim pulang kepala musuh yang berhasil mereka bunuh.
      Ini dilakukan untuk menghitung seberapa banyak setiap prajurit mencapai dan menentukan berapa banyak yang sesuai.
      Namun, seiring waktu, jumlah kepala suku yang terbunuh oleh pasukan Hideyoshi tumbuh dengan cepat dan tidak dapat dikirim ke Jepang. Jadi, alih-alih, mereka hanya mengirim cuplikan.
      Hideyoshi sendiri diperintahkan untuk membunuh semua orang, tua dan muda, pria dan wanita, kaya dan miskin.
      Tidak sia-sia, banyak yang menjadi korban kekejaman Hideyoshi saat itu.
      Diyakini bahwa Mimizuka Mound adalah makam 38.000 hidung milik pria, wanita dan anak-anak.
      Meski begitu, jumlah pasti korban perang tidak diketahui. Dari 38.000 hidung, banyak diambil dari mereka yang masih hidup.
      Sementara itu, konstruksi Mimyuka Mound Hideyoshi sendiri dilakukan untuk “menghormati para korban perang dan menunjukkan kebesaran mereka”.
      Tidak sia-sia, lokasi ini pernah menjadi kontroversi antara pihak Korea dan Jepang. Bahkan, Korea juga pernah menuntut agar Jepang memindahkan batu Mimizuka Mound ke negaranya
    • By Pande Putu
      anda mau tinggal di rumah adat Bali dengan suasana pedesaannya  coba saja tinggal di Rumah Tu7u . Rumah tu7u terletak 3 kilometer dari Danau Beratan dan Kebun Raya bedugul .
      15 menit dari Wisata Jatiluwih, 30 menit dari wisata Ubud .kami memiliki 6 kamar yang dimana 2 kamar king suite ( Bale daja) , 2 standard Room ( Bale Delod) , 2 Singel Room ( Bale Delod ) dengan Fasilitas yang lengkap seperti Ac , Air Panas dan Dingin , Lemari, Eletric kettel serta peralatan mandi.rasakan keramah tamahan kami selama anda tinggal di rumah kami 
      motto kami adalah anda datang seperti tamu pulang seperti Keluarga.
       







    • By Bastian Rental
      Bastian Rental – secara khusus bergerak di bidang otomotif tepatnya sewa mobil bandung per jam, harian, mingguan, bulanan dan tahunan sesuai dengan keinginan klien. Pangsa pasar kami perorangan dan perusahaan. Mode penyewaan bisa lepas kunci atau dengan supir – Sewa mobil lepas kunci bandung. Member kami sudah berjumlah ribuan yang tersebar di sekitar Bandung Raya. Jenis mobil yang kami sewakan bermacam-macam, diantaranya MPV, SUV, City Car, Premium Car hingga Minibus dan juga Bus. Layanan kami didukung oleh tenaga-tenaga ahli 24 jam penuh. Untuk mendukung layanan kami, kami juga mempunyai bengkel mandiri bernama Bastian Service Center (BSC) dan Bastian Security Tracking untuk monitoring GPS Unit Kendaraan Kami.
      Hubungi Kami Kapanpun Anda Membutuhkan Jasa Rental Mobil Kami:
      WA/SMS: 0811-2070-376
      TELPON: 022-720-2947
      EMAIL: bastianrentalpusat@gmail.com
      WEBSITE: www.bastianrental.com
      ALAMAT: Jl. Muararajeun Lama No.1, Depan Pasar Suci, Bandung
       


    • By Giovanni Andrea
      Zaman sekarang banyak sekali kejahatan dengan model yang baru. Yang paling baru adalah dengan mengambil data-data kartu kredit Anda menggunakan alat RFID Scanner.
      Dengan meletakkan alat RFID Scanner dekat dengan kartu kredit Anda, maka otomatis data-data di kartu Anda terambil dan bisa digunakan untuk transaksi secara online.
      Oleh karena itu Tru Virtu sangat cocok untuk Anda yang ingin berpergian keluar negri.
      Tru Virtu adalah dompet yang terbuat dari bahan alumunium yang anti RFID Scanner.
      Tru Virtu memiliki 7 buah type yakni pearl, razor, oyster, beluga, ray, click&slide; card, dan click&slide wallet.
      Semua tipe dijual dengan spesifikasi masing-masing. Pearl, Razor, dan click&slide card hanya bisa untuk menyimpan kartu.
      Sedangkan Oyster, Beluga, Ray, dan click&slide; wallet bisa menyimpan uang dan kartu kredit.
      Untuk pembelian tru virtu bisa ke www.kawanlamainovasi.com. PT. Kawan Lama Inovasi merupakan distributor produk Tru Virtu di Indonesia. Tru Virtu bisa didapatkan dengan harga Rp 299.000 - Rp 1.129.000



    • By Inder
      Hi guys, Ada yang mau ikut join spring west europe april 2019. Saya rencana ingin jalan jalan ke eropa barat : belanda, prancis, spain, jerman, swiss mgkin kalau cukup bisa nambah italy dan praha di ceko. Mengapa harus bulan april? karena pada bulan ini pas bunga tulip lagi bermekaran di belanda dan suhu di eropa agak sejuk buat jalan jalan. Trip ini murni sharing cost. Penginapan bisa pakai airbnb/hostel tergantung mana yang lebih murah. flight landing di zurich swiss dan balik via zurich.
      Start berangkat 12 april, return 28 april 2019. Saya sdh beli tiket etihad 7,2 juta jkarta zurich pp
      Day 1 zurich tgl 13
      Day 2 milan
      Day 3 dan 4 naik psawta dr milan ke malaga spanyol. Terus explore granada dan cordoba
      Day 5 barcelona
      Day 6 paris
      Day 7-8 belanda
      Day 9 koln
      Day 10 strasborg dan colmar, lanjut praha
      Day 11 praha
      Day 12 praha
      Day 13 interlaken
      Day 14 luzern balik ke zurich
      Day 15 terbang ke tanah air
       
      yang minat bisa japri saya by WAG/LINE 085648698248
      Indra
      best regards.
    • By enda28
      hello guys, 
      finally setelah tahun kemarin gagal buat trip ke Jepang dan Alhamdulillah akhirnya bisa mengunjungi Jepang dan unlocked my bucket list trip hehhe. 
      anyway sesuai sama judulnya kali ini saya mau kasih informasi tentang alternatif lain untuk menuju Kyoto dari Tokyo. Kebetulan trip kmren itu karena ada tiket promo airasia rute baru CGK - Narita direct flight, karena dirasa ngunjungin Jepang ga akan puas kalo cuma kunjungin 1 kota aja jadi saya memutuskan buat explore Kyoto dan Osaka juga. 
      begitu sampai di Narita airport kalau kalian travel with budget kaya saya mungkin bisa pake bus menuju Tokyo station dengan tiket 1.000 Yen karena yang saya mau jelaskan sekarang ini adalah menuju Kyoto pake seishun 18 kippu (baca: seishun juu hachi kippu), ada yang pernah denger ga? jadi basicly seishun 18 kippu ini adalah seasonal train tiket yang disediakan oleh pemerintah Jepang buat orang yang mau berpergian baik itu domestik atau wisman menggunakan kereta atau train. Tiket nya itu tersedia hanya  pada tanggal tertentu di musim2 Jepang. misalkan musim panas kemarin pas saya kesana tiket nya hanya dijual per tanggal 1 juli smpe 31 agustus tapi bisa valid sampai tanggal 30 September. tiket ini bisa digunakan ga cuma buat 1 orang tapi bisa lebih dari 1 orang, jadi dengan harga tiket 11.850 Yen kalian bisa pake itu buat sendiri buat 5 hari atau waktu itu saya pake untuk ber 2 dengan perhitungan 2 tiket untuk 2 orang pada saat dari Tokyo menuju Kyoto (untuk pergi) dan 2 Tiket untuk 2 orang buat dari Kyoto menuju ke Tokyo (perjalanan balik ke Tokyo). Perjalanan dari Tokyo ke Kyoto itu kalo pake sishun 18 kippu memang terasa lamaa banget sekitar 11 jam karena seishun 18 kippu ini pake JR yang local line jadi mostly berhenti disetiap station, jadi tips nya siapin energi dan waktu aja yah, siapin batrai gadget kalian biar ga mati gaya. Train nya bener2 kaya KRL yang ada di Jakarta tapi dengan umur yang masih muda dan terawat pastinya. Buat rute nya kalian bisa check disini : 
      www.hyperdia.com
       

      waktu saya ke Kyoto yang saya inget itu kita harus ganti train sekitar 4-5 kali, kita pake JR tokaido line. kalo dibilang mirip kereta KRL kebayang dong kereta nya bukan yang kaya kereta di Indonesia yng buat ke luar kota yah jadi sebenernya ga tau kita dibolehin makan atau enggak jadi diusahain aja kalian bawa persiapan makanan buat dimakan pas diluar kereta pas harus ganti kereta yah. 
      saya juga mau ngasih tips nih buat temen2 yang pertama kali ngunjungin negara 4 musim kaya Jepang harus bener2 check perkiraan cuaca soalnya saya pun menjadi korban nya, jadi pada saat saya dengan teman saya udah mau setengah perjalanan dari Kyoto menuju Tokyo, tiba2 di station yang harusnya saya ganti kereta tiba2 udah ga ada kereta lagi padahal pas di check di time table hyperdia itu masih ada kereta, jadi karena typhoon (badai) yang menghantam Jepang semua train itu ga boleh beroperasi (kecuali shinkansen) dan harga shinaknsen per 1 kali trip itu sekitar 1,7 juta , kebayang dong saya itu bukan di kota tujuan dan tiba2 udah ga ada kereta, mau pake bus pun ga ada trus akhirnya kita harus mengeluarkan uang lagi buat cari penginapan di deket stastion itu, untung nya kita berhenti di station yang lumayan besar yaitu Hamamatsu dan kami pun menginap dulu  di 365base hotel dan melanjutkan perjalanan di hari berikut nya. 
      Sekian cerita dari saya, maaf ga ada actual foto nya karena pas lagi nulis ini lagi kerja dan ga tau mau ngapain jadi mungkin di thread selanjutnya foto nya akan menyusul. 
      semoga informasi nya bermanfaat ya...
       
       
    • By norma sofisa
      Halo Jalanerss,
      Ini lanjutan cerita saya kemarin di Polandia. Monggo disimak!
      Pernahkah kalian menginap di hostel?
      Pengalaman pertama tidur di hostel saya alami sewaktu mengunjungi Kraków.
      Sebagai traveler pemula, saya mempersilahkan Kim untuk memilih penginapan selama di Polandia. Tentu saja selanjutnya, kami akan mengecek bersama dan memutuskan apakah tempat itu cukup oke dari segi lokasi, fasilitas, dan harga.
      Hostel tersebut hanya memiliki dua atau tiga kamar yang masing - masing diisi 4 hingga 8 orang atau 2 sampai 4 tempat tidur bertingkat per kamar. Kami sampai pada pukul 11 malam dan ternyata seluruh tempat tidur terisi. Semua penghuni kamar ada yang sudah tidur dan posisi saat itu, lampu telah dimatikan. Saya dan Kim hampir tidak bisa melihat apapun karena beberapa orang keberatan jika kami harus menyalakan lampu.

      Bagian terlucu sekaligus terparah adalah sepanjang malam saya hampir tidak tidur karena masing - masing penghuni kamar (selain kami lho ya!) mulai mendengkur bersahut-sahutan hingga pagi. Menurut rencana awal kami akan menginap di hostel ini selama 2 malam, namun saat sarapan kami bertekad untuk pindah hostel. Kim menemukan sebuah hostel dengan fasilitas kamar pribadi untuk 2 orang dan dekat sekali dengan pusat kota di kawasan Old Town dengan tarif 20 Euro per malam. Saya dengan mantap mengiyakan karena lelah dengan suara orkes tenggorokan tanpa jeda sepanjang malam itu. Tak lupa kami pamit dengan penjaga hostel sebelum pergi. Agak percuma sebenarnya, karena dia tidak lancar juga berbahasa Inggris. Kelak, pengalaman hostel ini akan menjadi joke yang tidak akan tergantikan sepanjang masa antara Kim dan saya.

      Kami harus setengah berlari ke stasiun agar tidak terlambat mengejar kereta ke Auschwitz. Saya melirik tiket saya, menurut jadwal kereta akan berangkat pada pukul 09.10 pagi. Tepat pukul 9 kami sampai ke stasiun. Cobaan kedua kembali menghampiri karena tidak terdapat papan yang memuat tulisan nomer peron. Hanya ada list kereta dengan nama tujuan dan jam keberangkatan. Herannya, kami tidak menemukan kereta yang akan diberangkatkan pada pukul 09.10 di layar. Lagi - lagi tidak ada satu pun petugas yang bisa ditanya.
      Dengan langkah tergesa-gesa, saya memutuskan untuk naik ke salah satu peron dan mengecek kereta mana yang sekiranya siap berangkat. Saya melihat ada satu kereta di peron seberang. Spontan saya berkata kepada Kim untuk menuju ke arah kereta tersebut. Kemungkinan besar ini adalah kereta kami, meskipun jam keberangkatan yang tertera tidaklah cocok. Selain itu, ada beberapa petugas di dekat kereta yang bisa ditanya, pikir saya.
      Kami pun menghampiri kereta, berusaha untuk bertanya apakah kereta ini menuju ke Auschwitz. Petugas ini, sekali lagi tidak bisa berbahasa Inggris. Kami sudah cukup putus asa, bayangan ketinggalan kereta sudah pasti menjadi kenyataan, hingga akhirnya muncul seorang petugas perempuan yang meminta kami masuk ke kereta tersebut. Kami mengikutinya dan di dalam gerbong itu ada empat orang lainnya yang telah duduk disana.
      Petugas itu berbicara dengan  salah seorang penumpang perempuan berambut pirang. Perempuan ini ternyata orang Polandia juga yang puji syukur alhamdulillah, bisa berbahasa Inggris.
      "Kereta ini tidak menuju Auschwitz. Entah bagaimana, kereta Auschwitz yang terjadwal pada pukul 09.10 itu sebenarnya tidak ada. Ada kesalahan di bagian online sepertinya."
      Kim dan saya mengerutkan kening seketika. Kalau ini terjadi di Belanda, pasti kantor NS (perusahaan kereta di Belanda) sudah pasti bakal didemo seluruh penumpang.
      "Jadi nanti kita akan diturunkan di sebuah stasiun dan kereta yang menuju Auschwitz akan menunggu kita disana.", tambahnya lagi. Sejurus kemudian, kereta pun mulai bergerak menjauhi peron. Dalam hati saya berkata, "Keren banget nih! Baru kali ini kereta yang menunggu penumpang." Langsung saya merasa seperti orang penting.
      Sepanjang perjalanan, kami berkenalan dengan 4 orang penumpang lainnya, yang kebetulan sama-sama terjebak kereta fiktif ke Auschwitz. Perempuan pirang tadi sebut saja Amy. Ia asli dari Polandia. Dan di sebelahnya sang pacar, sebut saja Adam, lelaki berkulit cokelat berkewarganegaraan Jerman. Dua orang lainnya, panggil saja Josh dan Tom, dua remaja dari Amerika yang sedang melakukan perjalanan keliling Eropa. Entah dari mana mereka sebelumnya, keduanya membawa tas ransel besar dan papan besar seperti papan snowboarding. 
      Sepanjang perjalanan kami lebih banyak mengobrol dengan Amy dan Adam. Mereka bercerita baru saja pindah ke Singapura dikarenakan Amy mendapatkan promosi dari kantornya. Selain itu, Amy juga banyak berkisah tentang cerita -cerita perang dunia kedua, yang banyak berhubungan dengan Auschwitz.
      Kamp komsentrasi di desa Auschwitz adalah kamp konsentrasi NAZI yang terbesar saat perang dunia kedua. Saat perang dunia kedua berlangsung, NAZI melancarkan propaganda anti semit (anti yahudi) besar - besaran di hampir seluruh daratan Eropa. Tiap-tiap Yahudi diwajibkan untuk memasang simbol Bintang David di lengan mereka. Setelah itu, mereka merelokasi tempat tinggal orang Yahudi ke daerah tertentu yang dikenal dengan sebutan Ghetto. Para tentara NAZI kemudian memaksa orang Yahudi untuk keluar dari negara mereka. Dengan dalih akan dikembalikan ke negeri asal mereka, tentara NAZI memberangkatkan ribuan orang dengan puluhan kereta, tak lain dan tak bukan menuju kamp-kamp konsentrasi, salah satunya di Auschwitz. Orang - orang Yahudi tersebut tidak sadar bahwa perjalanan ini bisa jadi merupakan akhir dari kehidupan mereka. Mayoritas anak - anak, wanita, dan lansia akan langsung dibunuh secara massal di kamp ini dengan beberapa cara. Sementara pria yang masih kuat akan dijadikan budak, anak -anak kembar dan ratusan lainnya akan dijadikan kelinci percobaan para dokter NAZI. Peristiwa pemusnahan orang - orang Yahudi pada masa ini  disebut Holocaust.
      Saat mendengar cerita Amy, saya hampir menitikkan air mata. Saya tidak terlalu mengetahui detil peristiwa Holocaust. Ingatan saya kemudian terbang ke masa- masa SMP dan SMA. Buku sejarah hanya menyebutkan kata ini dalam satu kalimat. Tidak ada cerita lanjutan setelah itu. Mungkin ada alasan tertentu, mengapa topik ini tidak terlalu dimunculkan dalam buku sejarah sekolah saat itu.
      Pandangan saya kemudian kembali lagi ke pasangan di depan saya ini. Jika kami masih berada dalam masa perang, tidak mungkin seorang dari Polandia dan seorang dari Jerman bisa bersanding mesra di tempat umum begini. Saya berpikir bahwa perang tidak hanya memisahkan banyak orang namun juga mengikis rasa kemanusiaan.
      Saat sedang merenung, kereta mendadak berderit panjang sebelum berhenti. Petugas tadi datang lagi dan memberi tanda agar kami turun. Saatnya ganti kereta.
      Di peron sepi tak beratap itu seorang petugas menyambut kami. Dari bahasa tubuhnya ia menyuruh kami berlari. Saya penasaran dimana posisi kereta Auschwitz, sampai Amy menginstruksikan kami untuk melompat ke peron sebelah dan menerobos melalui pagar kawat berduri di bawahnya.
      "Oh really?!", batin saya. Saya merasa seperti preman. Terakhir saya menerobos pagar kawat itu sewaktu acara kemah SMP di belakang Candi Prambanan. Saya menoleh ke arah Kim dan kami tertawa geli.
      "Okay, everything could be happened here!", katanya sambil geleng-geleng kepala. Segala sesuatu bisa terjadi di tempat ini.
      Petugas kembali meminta kami untuk bergerak lebih cepat. Lewat Walkie Talkie miliknya, sayup sayup saya mendengar kata tourist. Mungkin ia meminta masinis kereta agar sedikit maklum karena kami ini turis.
      Setelah outbond tipis- tipis tadi, kami akhirnya naik ke kereta. Tanpa menunggu lama, kereta langsung berangkat. Menyisakan petugas yang melambaikan tangan dari jauh. Waktu perjalanan kami masih satu setengah jam lagi menuju Auschwitz.

      Perut yang kenyang setelah sebelumnya melahap beberapa potong roti membuat saya lama kelamaan mengantuk. Selesai mengobrol Kim tentang film yang menceritakan kisah seorang pianis pada masa perang dunia kedua, The Pianist, saya pun terlelap.
      Suara rem kereta yang kasar membangunkan saya. Seketika pandangan saya gelap. Apa yang terjadi dengan penerangan keretanya? Bagaimana mungkin di siang hari saya tidak bisa melihat apapun? Sedetik kemudian, saya merasakan udara dingin yang menusuk tulang, sesak, seakan tidak bisa bernapas, dan kelaparan yang amat sangat. Saya semakin panik berusaha meraba-raba sekitar. Seseorang kemudian membuka pintu dari luar. Di hadapan saya kemudian terhampar pemandangan puluhan orang, tua, muda, anak-anak yang menangis. Orang yang membuka pintu tadi berteriak dengan kencang, entah mengapa saya mengerti apa yang dikatakannya. Mereka menyuruh kami turun. Bagai berada di tengah-tengah konser musik, luapan manusia yang berebut turun keluar kereta membuat saya semakin terhimpit. Semakin sesak dan gelap. Kereta kemudian berderit panjang lagi.
      Saya terbangun. Kali ini Kim ada di samping saya, tertidur. Amy dan Adam juga tampak lelap. Dua pemuda dari Amerika terlihat meringkuk di kursi dengan sweater tebal mereka. Oh, saya kembali dari mimpi buruk! Ya, saya yakin, baru saja bermimpi tentang situasi saat orang-orang dibawa ke kamp konsentrasi Auschwitz kala itu.
      Jantung saya masih berdebar - debar jika mengingatnya. Mimpi tadi terasa begitu nyata. Meskipun begitu, saya mengurungkan niat untuk memberitahu Kim tentang mimpi barusan. Sambil menghela napas, saya melirik ke arah jam tangan. Kurang dari 30 menit kami akan sampai ke Auschwitz.
      Apa saja yang kami kunjungi di Aushwitz dan bagaimana kelanjutan perjalanan kami di Kraków? Sampai ketemu minggu depan ya!
      Bisa juga baca dari link berikut ini: https://sofiehurif.wordpress.com/2017/12/04/poland-and-a-once-in-a-lifetime-experience-auschwitz-2/
      Terima kasih dan semoga bermanfaat serta menginspirasi :)