• 0
Yogiwhom

Rencana ke Bhutan Apr-Mei 18

Question

3 answers to this question

  • 0
6 hours ago, Yogiwhom said:

Mohon info jika ada yg sdh punya rencana ke Bhutan akhir Apr-awal Mei 18 jika diperkenankan gabung jika waktu dan syarat ketentuan cocok. Thanks

wow Bhutan kayak nya belum pernah baca nih, ya semoga dapat teman nya mas @Yogiwhom

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now


  • Similar Content

    • By Yones deliyandra
      Mengunjungi mahkota bumi ini! Himalaya!
      Annapurna Base Camp 4.130 mdpl Amazing Landscape to ABC Aku selalu bermimpi dan membayangkan untuk bisa datang melihat agungnya pegunungan ini, membayangkan setiap langkah melalui jalan-jalan setapak naik dan turun gunung, menyinggahi setiap desa-desa kuno, menyelami mistisnya Himalaya dan bersatu bersama kesunyian alam.
      Selama ini itu semua ada dibayanganku, setiap kali membaca buku-buku tentang perjalanan orang-orang dalam mencari tujuannya masing-masing ke tempat ini selalu membuatku merinding dan penasaran. Mereka selalu menggambarkan betapa indahnya jalur pendakian ini, betapa indahnya suara deru angina malam ketika udara dingin dan salju menghantam, betapa indahknya melihat gunung-gunung tertinggi dunia yang berselimut salju putih. Dan 23 April 2017 aku benar-benar melakukan perjalanan ini. Perjalanan yang semula hanya sebuah mimpi dan impian. Perjalanan yang rata-rata bagi kebanyakan orang di Indonesia, adalah perjalanan yang beresiko dan sedikit nekat, atau malah terlalu nekat. Kadang aku masih tidak percaya kalau akan melakukan ini. Tapi ya disinilah aku sekarang, aku telah melakukannya. Pada tulisan pertama ini, aku akan menjelaskan secara ringkas tentang perjalanan ini beserta intinerary perjalanan ini. Untuk cerita seru lainnya selama perjalanan ini, akan aku jelaskan di tulisan berikutnya. Annapurna Base Camp 4.130 mdpl Annapurna Base Camp (ABC) 4.130 mdpl adalah salah satu jalur treking yang sangat populer bagi kebanyakan turis yang datang untuk menikmati keindahan Himalaya Nepal. Annapurna Base Camp sering menjadi tujuan para turis, selain banyak lagi jalur treking lainnya seperti Everest Base Camp (EBC), Annapurna Sircuit dan masih banyak lainnya. Annapurna Base Camp ini bisa ditempuh dalam 7-8 hari perjalanan naik dan turun, dan bisa ditempuh  secara independen yaitu tanpa menggunakan jasa tour travel ataupun guide. Aku dan temanku melakukan perjalanan treking ini secara independen ini, tanpa tour, guide dan porter. Tour adalah pihak yang menjual paket treking ini, biasanya lengkap dengan guide dan porter. Guide adalah pemandu atau penunjuk arah selama treking ini, guide bisa didapat bersamaan dengan tour atau bisa di sewa secara independen. Porter adalah pihak yang menjual jasanya untuk membawakan semua barang-barang kita selama treking. Biaya untuk guide dan porter berbeda-beda, tergantung negosiasi yang kita lakukan. Nah, berikut ringkasan perjalanan kami selama 15 hari di Nepal, termasuk treking mandiri ke Annapurna Base Camp.
        Day 1,  23 April 2017 Jakarta - Kathmandu Berangkat dari Jakarta dengan maskapai Malindo Air, kebetulan kami dapat harga promo 2.8 juta Rupiah untuk Pulang-Pergi Jakarta-Kathmandu, murah kan… hehe   Namaste Nepal dan VISA Setelah delay sekitar 2 jam, akhirnya pesawat kami berangkat dan sampai di Kathmandu pukul 11 malam. Sesampai di bandara Kathmandu kami lansung mengurus Visa, imigrasi dan bagasi. Beruntung kami sudah melakukan registrasi untuk Visa ini secara online di web imigrasi Nepal (https://www.nepalimmigration.gov.np/). Jadi kami hanya membawa kertas printout bukti kita sudah apply online, langsung melakukan pembayaran sebesar $25 USD tanpa lagi mengisi form. Setelah dapat bukti bayar, langsung ke imigrasi gate untuk mendapatkan striker Visa, dan Namaste.... Welcome to Nepal, have a nice trip, ucap petugas imigrasinya. Visa Nepal     Menuju Thamel Dari bandara menuju daerah Thamel kami menggunakan taxi dengan ongkos 500RN, harus nego dulu ya, karena biasanya mereka menawarkan sampai 800RN   Penginapan di Thamel. Karena kami sampai di Kathmandu sudah tengah malam, jadi penginapan di Thamel sudah pada tutup. Setelah menggedor salah satu pintu hostel, dapatlah kami kamar yg lumayan nyaman dengan membayar 1000Rn. Hotel Sun Way Inn di Thamel Kathmandu Day 2,  24 April 2017 Menuju Pokhara Treking Annapurna Base Camp ini di mulai di kota Pokhara, itu sekitar 8 jam perjalanan dengan bus dari Kathmandu. Kami naik bus tourist dari Thamel dengan ongkos 700Rn, bus berada di sepanjang jalan Kantipath, dan semua bus akan berangkat jam 7 pagi. Tidak masalah kita beli tiket lansung di tempat, karena kami beli tiket lansung di tempat. Tourist Bus   Interior Tourist Bus Permit ACAP dan TIMS Ini adalah izin yang wajib dimiliki oleh setiap treker, kedua Permit ini bisa di urus di Kathmandu atau Pokhara, kebetulan kami mengurusnya di Pokhara yaitu di Pokhara Tourist Service Center. Kantornya tidak jauh dari terminal bus dekat dengan kantor polisi. Jika bingung, bisa tanyakan dengan supir taxi, dan mereka akan lansung mengantarkan kita ke kantor ini.   Jenis Permit Biaya Syarat TIMS 2000 Rn Foto copy passport dan pas photo 2 lembar ACAP 2000 Rn Foto copy passport dan pas photo 2 lembar     Pokhara Tourist Service Center   Pokhara Tourist Service Center TIMS & ACAP permit for treking advice     Menginap di Pokhara Malam ini sebelum treking esok hari, kami istirahat dan menginap di daerah Lakeside. Disini juga kami memilah barang bawaan yang akan dibawa. Barang-barang yang tidak diperlukan, kami titipkan di hotel. Ini sangat penting, karena treking mandiri tanpa guide or porter itu, artinya kita akan membawa barang kita sendiri selama pendakian, jadi jangan sampai ini menyusahkan diri sendiri. Bawalah barang seminim mungkin dan cukup untung mendukung selama pendakian.   Day 3 - 9,  25 April 2017 – 1 May 2017 7 days Treking to Annapurna Base Camp Annapurna Base Camp Treking Map Tanggal Jalur Treking Day 1. 25 April 2017 Nayapul – Kimmrong Day 2. 26 April 2017 Kimmrong – Chommrong Day 3. 27 April 2017 Chommrong – Himalaya Day 4. 28 April 2017 Himalaya – MBC Day 5. 29 April 2017 MBC – ABC – Deurali Day 6. 30 April 2017 Deurali – Chommrong Day 7. 1 May 2017 Chommrong – Siwai   Untuk lama treking ini sebenarnya tergantung kecepatan trek yaa, jadi bisa saja lebih cepat atau lebih lama. Itu adalah trek yang kami yang lalui menyesuikan dengan kondisi dan semangat per harinya, jadi ada yang lumayan jauh, tapi ada juga yang tidak begitu jauh. Treking day 1. Nayapul – Kimmrong Dari Pokhara ke Nayapul bisa menggunakan taxi, lama perjalanan sekitar 1,5 jam dengan ongkos 1600Rn (tergantung nego yaa). Dari Nayapul ke Gandruk, info dari teman bisa menggunakan local bus atau jeeb/taxi. Rencana kami menggunakan bus, tapi karena jadwal nya tidak tentu, akhirnya kami memutuskan untuk naik jeep. Sebenarnya treking sudah bisa dimulai dari sini, tapi demi menghemat waktu dan energy, kami memilih untuk menggunakan jeep. Lama menggunakan jeep dari Nayapul ke Gandruk 1,5 jam dengan hasil tawar menawar ongkos 1300RN untuk 2 orang. 
      Disini nanti akan ada pengecekan untuk permit yang sudah kita buat.  TIMS Check Post   ACAP Check Post Dari Grandruk kami mulai treking, lumayan cape hari pertama ini, dan kami memutuskan untuk menginap di penginapan pertama di daerah Kimmrong     Treking day 2. Kimmrong – Chommrong Kimmrong menuju Chommrong jalurnya terlihat seperti jalur trekking Gunung-gunung di Indonesia, hutan-hutan dan jalan yang naik turun bukit. Tapi view nya indah banget. Hari ke dua ini bagiku sangat melelahkan walaupun sebenarnya kami bisa lebih jauh lagi, tapi karena kondisi fisik yang sudah tidak memungkinkan, akhirnya kami menginap di tempat ini Chommrong.     Treking day 3. Chommrong – Himalaya
      Chommrong sudah cukup dingin, bahkan sore hari sudah turun hujan es disini. Pemandangan dari lodge kami sangat indah dan kereeen. Pegunungan Himalaya bersalju tampak luar biasa dari jendela kaca jendela kamar. Di Chommrong kami meninggalkan beberapa barang lagi, karena menurutku ransel carrier kami makin berat ajaaa. Chomrong ke Himalaya dengan jalur yang terus naik dan sudah sering hujan, jas hujan sangaat membantu.
        Treking day 4. Himalaya – MBC Dingin bangeeet. Jalur ini sudah berhadapan dengan jurang-jurang salju curam membuat kita harus extra hati-hati. Jalur sedikit landai dan naik lagi dan terus naik. Berjalan berdampingan dengan sungai deras dan gunung bersalju menbuat aku diam seribu bahasa, hanya ada pandangan takjub, suara nafas terengah-engah dan deru sungai, sesekali suara burung gagak.    

            Treking day 5. MBC – ABC – Deurali Amazing Landscape to ABC Today is big day. Hari ini aku akan sampai di peraduan mu Annapurna Base Camp. Setelah sarapan yang cukup kami bergegas untuk segera naik menuju ABC. Jalur ini benar-benar jalur terindah dan luar biasa bagi ku, seakan tak percaya aku disini sekarang. Begitu dekat dikelilingi gunung-gunung Himalaya putih bersalju, langit biru yang benar-benar bersih dilengkapi dengan cahaya matahari pagi yang menghangatkan tubuh. Allahuakbar, tak ada yang seindah ini. Terus naik perlahan, bertemu teman-teman sependakian yang bergerak turun, sementara kami terus naik naik. Semangat dari mereka terus menyemangati ku.   Aku sampai… ya aku sampai… impian aku sudah menjadi nyataa.. Berdiri disini.  Annapurna Base Camp 4.130 mdpl   Annapurna Mountain  
      Setelah puas di ABC kami mulai berjalan turun, target 2 desa di bawah untuk menginap malam ini. Cuaca di atas  jam 11 sudah mulai tidak bagus, hujan badai menemani perjalanan turun kami.   Treking day 6. Deurali – Chommrong Deurali – Himalaya – Dovan – Bamboo – Sinuwa – Chommrong. Hari ini benar-benar menguras energi bagi ku. Di Chommrong kami menginap di lodge yang sama dengan waktu kami naik. Treking day 7. Chommrong – siwai Chommrong – Jhinu – New Bridge – Kymi – Siwai. Siwai – Phokara bisa menggunakan jeep atau local bus.   Day 10, 2 May 2017 Phokara. Setelah pendakian beberapa hari, hari ini kami habiskan untuk istirahat dan membersihkan barang-barang selama pendakian.   Day 11, 3 May 2017 Phokara, disini kita menghabiskan waktu untuk jalan-jalan explore Phokara   Day 12, 4 May 2017 Phokara - Kathmandu   Day 13, 5 May 2017 Explore Kathmandu   Day 14, 6 May 2017 Explore Kathmandu   Day 15, 7 May 2017 Kathmandu - Jakarta

      Begitulah penjelasanku secara ringkas tentang perjalanan ini beserta intinerary perjalanan ini. Untuk cerita seru lainnya selama perjalanan ini, akan aku jelaskan di tulisan berikutnya ya.

      Bersambung...
      Silakan berkunjung di blog aku juga https://yonesfd.blogspot.co.id/2017/11/nepal-dream-come-true.html hehehehe
    • By singgihfuadi13
      Selamat pagi rekans Backpacker Internasional, kali ini mau sharing perjalanan liburan musim semi kami di negeri Sakura Jepang yang semuanya diurus sendiri modal searching2 dan ga malu banyak tanya (maap yg merasa direpotkan kmrin2 ya...)
      Bermodal tiket promo Garuda Indonesia dari T*******a, akhirnya kesampaian ke Jepang utk melihat sakura, tidak hanya itu, kami juga dapet bonus bisa ngliat salju di Takayama dan Shirakawago...
      Untuk transportasi selama di Jepang, kami menggunakan JR Pass, Tokyo Subway Metro Pass dan Donichi Eco Kippu utk one day pass di Nagoya..
      Berikut rincian perjalana kami dan nanti detailnya bisa dibaca di blog amatiran saya ya rekans :
      Day 1 : - CGK - DPS 
      Day 2 : - DPS - NRT
      - NRT - Shinjuku
      - Apartemen 
      - Shinjuku Gyoen 
      - Jeonji Temple 
      Day 3 : - Tokyo - Nagoya 
      - Hotel utk check in
      - Nagoya Castle 
      - Osu Cannon Temple 
      - Tsuruma Park 
      - Yamazaki River 
      Day 4 : - Nagoya - Kyoto 
      - Fushimi Inari 
      - Arashiyama Bamboo Forest 
      - Kyoto - Osaka (Kemasakuaranomiya Park)
      - Dotonburi 
      Day 5 : - Nagoya - Takayama
      - Shirakawago
      Day 6 : - Takayama - Nagoya - Shibuya 
      - Nakameguro River park
      - Omotesando, Harajuku 
      Day 7 : - Chidorigafuchi canal 
      - Shinjuku Gyoen 
      - Liberty Statue at Odaiba 
      Day 8 : - Sensoji Temple 
      - Sumida River Park 
      - Akihabara 
      Day 9 : - Shibuya - Narita 
      - NRT - DPS - CGK
      *Semoga bisa memberi gambaran destinasi rekans yg ingin merencanakan musim semi di Jepang.
      selengkapnya rekans bisa baca di http://singgihusman.blogspot.co.id/2017/05/liburan-musim-semi-di-negeri-sakura.html
      ketemu sama mbak @Monfi .. semoga bisa gabung lagi kami di lain kesempatan ..





    • By misocapnist
      Hi all
      Saya akan share pengalaman ke Jepang tahun 2014 kemarin (27 maret - 4 april).. atas rekues dari momod.
      Sebenernya tulisan ini saya bikin untuk blog pribadi yang link-nya tidak bisa saya share, jadi saya copy paste saja ke sini yaa.. maap, kebetulan dalam bahasa inggris, dan terlalu malas untuk translate ke bahasa indonesia. ga ada aturan soal bahasa kan?
      Sebelumnya, tulisan ini tidak detail dan mungkin tidak akan banyak membantu. Just sharing pengalaman.
      ============================================
      Day 0
      Arrived at Haneda airport around 10.30 pm. Enough time to catch the free shuttle bus to the hotel. It took sometime for me to get to the right shuttle bus parking spot. Met an Indonesian family in the waiting room, who also going to the same hotel. Yup, finally I got a room in Toyoko Inn Haneda, after a struggle. When I first booked it via booking dot com, my credit card got rejected. So I changed my plan and thought I would just sleep at the airport until the next morning. But thinking again, nooo, I’d rather spend the night at a hotel. Tried to book again like a month later, got rejected again. I didn’t give up, and tried to book from the hotel website. Alhamdulillah, gak ditolak lagi.
      It only takes 5 minutes to reach the hotel. Happiness bursting out of my chest. Oh my, I’m in Tokyo!! So happy I couldn’t sleep right away.
      Day 1: Harajuku – Shibuya

      I had a good sleep which I desperately need after the long flight. I just love this hotel. The free shuttle bus, free simple breakfast, modern and simple interior with a window, located next to the station.
      After feeling fresh, decided to have a walk. It’s raining and cold. Colder that last night. Challenge accepted! The station nearby which is Ootori Station is just few steps away. Next challenge is learning how to buy a ticket from the machine. I asked an officer in a magazine stall. So first we need to know how much the ticket cost to get to the station we want to go. Insert the money, choose the amount of cost, done. When I want to transfer to JR line at Shinagawa station, the door rejected my ticket. It turned out that I had to change the ticket first.
      First stop, Harajuku. First thing to do, lunch! Sooo hungry!! There’s a Yoshinoya right in front of the station. It was full so I had to wait a while. I kinda forgot the system of eating here, so I watched the people. It’s the simple traditional way, no need to buy a ticket from the machine. Just sit, choose from the menu, pay after you eat.
      After the late lunch, did some walking through the famous Takeshita dori. It was slightly raining but still crowded. Enter some shops just to find out that I wouldn’t buy it. I mean, so many cute stuff, but it’s just not for me hahaha. Little shopping in Daiso. Spotted some Endless Shock tickets in a ticket shop. Interested to watch but considering that tomorrow I meet up with A, so maybe I couldn’t watch it. Then headed to Shibuya for some sightseeing. Before going back to hotel, I did some random walk outside Shinagawa station. Saw some Sakura in a park, still waiting to bloom.
      Day 2: Endless Shock
      Checked out of Toyoko Inn, took the train to go to my next hotel, Shin Okubo Sekitei in Shinjuku. Couldn’t checkin yet but I’m allowed to keep my luggage there. Headed to Shibuya again to get the JR Pass, then to Tokyo Tower to meet up with A and Y. But when I got there, they already left for Odaiba with their friend. Hmm, maybe I should just go on with my original plan which is watching Endless Shock. Running back to Harajuku, hoping so bad that there’s a ticket left for me. Luckyyyyy, there’s ONE ticket left!! Pheww. Jadi juga ketemu sama bang Koichi. Hihihi. Before going to the Imperial Theatre, had lunch in a Kebab shop. The shopkeeper who is from middle-east I think asked me where I come from. I answered Jakarta, Indonesia. Then he said few words in Indonesian hahaha. Nice try, man.
      Reached Tokyo Station, the sun almost set and windy. When I stepped out of the station, the feeling is like, natsukashii.. I just love the atmosphere of this central city of Tokyo. The modern highrise building, the streets, the people in suit. So sophisticated. Passing by some people in suit, probably back from work. How nice. Daydreaming I could be one of them. Also passed by the Tokyo Forum. Hisashiburiii. Was inside that building 8 years ago, having the time of my life. After 20 minutes of slow walking, finally found the Imperial Theatre.
      The Imperial Theatre not much different from the Nissay Theatre. First time watching a musical. Anyway, I feel lucky to be able to catch this show during my short stay here. But if only I understand Japanese. There are times when people laugh and I was just, what? By the way, the old woman next to me seems to be a huge fan. She clapped her hand very excitedly. Btw, Koichi tuh gak berubah yaaa. Still look the same after 10 years. Even the same haircut.
      Back to the hotel it’s already 10 pm. Checked in, hmm… yappari a very simple traditional hotel. At first sight I was not impressed. I guess I was too spoiled with the Toyoko Inn. But later I found comfort. I had very good sleep even with a single futon. The toilet is heated. The shower feels like home.
      Day 3: Shibuya – Asakusa
      Finally meetup with A and Y at the hotel in the morning.  We planned to go to DisneySea that day, but first we have to reserve the tickets first and we can do that by going to Disney Store in Shibuya. Unfortunately the Starlight pass we wanted was sold out, so must do some change of plans. We managed to get the After-6 pass for April 1.
      Walking around, I craved for shrimp tempura but couldn’t find a shop. So hungry, so just had lunch at Makudonarudo nearby. Since DisneySea is postponed, I decided to go to Tokyo Skytree.
      Walking from Asakusa station, on the way to the Skytree we got to see some nice views. So many times we had to stop for picture takings. When we finally reached the Tokyo Skytree building it was very very crowded. Queue lines everywhere. When I found out about the long complicated procedures, I lost my mood to go the top. It’s not worth it. Instead, we spent the times laying on the ground and taking pictures. Before going back to the hotel, I still want to go to that famous Nakamise street and the temple. Done. While the legs are screaming for rest.
      Day 4: Osaka
      The next day is scheduled for Osaka. Took the shinkansen Hikari 509 with reserved seats. Had Ekiben for lunch. Ekiben is japanese bento sold on the train. I once saw it in Kokoronotomo show and thought I had to try one of those,  just for the experience. Checked.
      The Shinkansen ride is 3 hours, but still need more time to reach our hotel which is Hotel Monterey Le Seour located in Osaka Business park. There’s a link bridge from the station to the hotel so it’s convenient. However the station is a little bit different. There’s no officer standing by. We need the officer to allow us enter by showing our JR pass. How to pass the gate then? There’s a speaker that connects us to the officer. We talked to them using the speaker and showed our JR pass through the speaker. Agak merepotkan memang.
      Lucky, we were able to check-in even it’s not the checkin time yet. You can tell that this is a high-class hotel, but good thing I got good deal for booking it like 4 months earlier. Such a big upgrade from our traditional ryokan-style hotel in Tokyo. Mayaannn.. bisa ngerasain tinggal di hotel mahal di Jepang. We got the highest floor with a very good view, we could see the Osaka-jou Hall and the rest of Osaka from our room.
      After a little rest we went to our next destination which is Umeda Sky Building which took a long walk from the Osaka station. The sky is cloudy but it’s pretty clear. When we were on the floating garden, the wind was sooo strong! Then we had some snacks at the cafe. I enjoyed my maccha latte very much while enjoying the view. We only had this night to taste Osaka, so we continued the journey to Dotonbori in Namba, which is known to be a famous spot in Osaka. We were kinda lost, we had to walk long to finally reach it. As expected it was very crowded spot. Even to buy a single takoyaki, you had wait in a long queue.

      Day 5: Kyoto
      Kyoto is about 30 minutes ride from Osaka. First spot, Fushimi Inari. A 10-minute train ride from Kyoto station. What a nice weather. The red shrine gate so matched with the blue sky, invited us to take lots of pictures. I think we stopped every 2 minutes to take pictures. Here we tried a cute delicious snack, forgot the name.
      Next destination, Arashiyama. About 30 minutes from Kyoto station. Got to see that famous bamboo forest garden I once saw in NHK. Here we enjoyed street food for lunch. Then, the Togetsu bridge and Arashiyama park. Going back to the station, I bought a maccha ice cream. Yummyyy.



      It’s an ambitious schedule I know, but I thought we had enough time to go to both Kinkakuji temple and Kiyomizedera. But on our way by bus to Kinkakuji I read on the website that it’s closed at 5 pm. I thought we wouldn’t be able to make it. So, I suggested us to catch Kiyomizudera which is closed at 6 pm. Back to Kyoto station to get different bus. On the way I read another info that it’s closed at 5 pm but will be open again at 6.30 pm. So, we’re heading first to Gion, the famous Geisha district. We spotted a Maiko walking on the street. I didn’t spot any Geisha, but A and Y did.
      We were tired so we cancelled Kiyomizudera and went back to our hotel in Osaka. But before that we had nice proper dinner in an udon restaurant in Kyoto station.
      Day 6: DisneySea
      Osaka-jou castle is only 10 minutes walk from our hotel, so it’s a must visit. We paid a short visit and enter the castle. The weather is perfect. I had to take off my jacket and didn’t feel cold at all with only a shirt. During the exit, we took the wrong path, so we had walk looooong way back to the hotel.

      Back to Tokyo. Had some sleep in Shinkansen which is very much needed since we still have DisneySea to go. It’s dark already but DisneySea is still crazy crowded. The information board says we need to wait like 1-2 hour to get into the play. People queuing everywhere. We only managed to watch a Disney show, take monorail, and watch the fountaine show. Oh well, at least I got to see Donald Duck and experience a little taste of Disney.
      Day 7: Kawaguchiko
      Day 7 is scheduled for Kawaguchiko, a spot to see Mount Fuji upclose. Another long ride. One hour ride from Shinjuku to Otsuki, then another one hour ride to Kawaguchiko. Still had to walk like 20 minutes to reach the lake. Then a cable car ride to go to the top to see Fuji-san. Long long journey. When we got back to the Kawaguchiko station, we found that we actually could see Fuji clear enough from the station. Jiaahh..
      In between we stopped by some souvenir shops and traditional restaurants.


      Back to Tokyo, I realized I haven’t made it to Chidorigafuchi. It says that the view there at night is a must. When we finally found it, we saw many crowds taking pictures of it. Japanese people are so unbelievable. They took pictures of the moat as if it’s a celebrity. Shouldn’t they get used to it?
      It was raining so couldn’t walk further, unfortunately.
      Day 8
      The forecast said it’s going to be raining the whole day. But it didn’t stop me from enjoying Tokyo. In my itinerary, I still had Shinjuku park and Odaiba to go. Went to the park which should be crowded with people if it’s not raining. But today it’s almost empty. Good thing, I feel like the park is dedicated just for me hehehe. Enjoyed walking and viewing Sakura. Since it’s raining, the Sakura petals keep falling to the ground, like snow. Sooo pretty!
      Next, went to the observatory at the Metropolitan Government Building to see the Tokyo view. It’s free. Met this group of Chinese tourists shared the same elevator with them. Oh my, they’re so loud! Unfortunately it’s very cloudy. Couldn’t see the city view very well.
      Earlier that day, had a chat in WA with Ling and made an appointment to meet up in Odaiba station. Before heading to Odaiba, I went back to hotel to pick up my luggage and then go to Hamamatsucho station to put my things in the locker, so I can easily access it before going to Haneda airport.
      Already late for the appointment due to some problems with the locker, I was worried that Ling has already left. So relieved that she’s still there. What a nice coincidence that she went to Japan at the same time. Walked down the park in the rain, taking pictures, chit chat. Continued our chat over a hot maccha latte in Starbucks. Next time you know, it’s time to go the airport. Three hours just flew away just like that.
      Reached the airport I still had to fight to find the post office to return the rental pocket wifi. Couldn’t find any. After asking some officer I was suggested to drop it at Lawson. Phew, there is a a dropbox big enough for the package. If not, I would be in trouble. My credit card to be specific.
      I just realized that 8 days too short to enjoy Japan. Should’ve extended it. Hiks. It’s okay, maybe it’s meant to be so I should go back again hehehe.
      Mata ikimashou..

       
       
    • By vie asano
      “Spring in Koreaâ€. Sekilas judulnya seperti film bertema roman yah. Namun saya jamin tulisan ini nggak ada hubungannya dengan romantisme. Lebih tepatnya, saya ingin mengajak teman-teman untuk wisata virtual ke Korea saat musim semi tiba.

      Sudah jadi rahasia umum jika Korea Selatan merupakan salah satu negara yang memiliki 4 musim, mulai dari musim semi, panas, gugur, hingga musim dingin. Masing-masing musim tersebut memiliki karakteristik dan keunikan yang berbeda satu sama lain, yang mungkin akan mengagetkan para first time traveller yang berasal dari negara tropis seperti Indonesia. Terlebih karena di setiap musim tersebut terdapat beberapa perubahan aktifitas dan gaya busana yang cukup signifikan.

      Untuk membantu teman-teman yang berminat berwisata ke negeri Ginseng tersebut, mulai dari tulisan ini saya akan mengulas lebih dalam mengenai aneka musim di negara Korea, yang akan dimulai dari musim semi. Kenapa? Karena pada bulan ini (Mei) Korea Selatan masih dalam periode musim semi, jadi momennya pas aja gitu. Nah, berhubung rencananya saya ingin mengupas tuntas detail apa saja yang ada di masing-masing musim, mulai dari karakteristik, pakaian yang bisa dikenakan di musim tersebut, aktifitas, hingga tempat terbaik untuk dikunjungi di masing-masing musim; kemungkinan untuk setiap musimnya akan ada beberapa seri tulisan. Jadi, dinikmati saja ya. Dan inilah aneka informasi dasar tentang musim semi di Korea Selatan.

      Periode waktu dan suhu rata-rata

      Hampir sama seperti negara Jepang (karena letak kedua negara ini memang nggak begitu jauh), periode musim semi di Korea Selatan jatuh kira-kira pada bulan Maret hingga bulan Mei. Area yang berada di paling selatan, seperti pulau Jeju, akan mengalami musim semi lebih cepat dari daerah lainnya; sementara wilayah utara mengalami musim semi yang sedikit lebih lambat.

      Perkiraan suhu udara

      Musim semi menandai akhir kekuasaan musim dingin dan mulai berkuasanya cuaca hangat. Walau begitu, pada awal musim semi biasanya suhu udara masih relatif dingin. Normalnya, suhu udara rata-rata antara 7,1 hingga 17,8 derajat celcius. Namun khusus pada awal musim semi, suhu di daerah pegunungan seperti Gangwon-do bisa mencapai -2 derajat celcius di pagi hari dan 17-18 derajat celcius di tengah hari. Baru pada bulan April cuaca sudah mulai menghangat sepenuhnya, sehingga tak sedikit juga yang berpendapat jika musim semi di Korea Selatan dimulai pada bulan April.

      What to wear

      Lupakan jaket atau mantel tebal, kecuali jika akan bepergian ke daerah pegunungan di awal musim semi. Itu karena suhu di awal musim semi, apalagi di daerah pegunungan, temperaturnya masih cukup dingin. Sedangkan untuk daerah lainnya, jaket yang cukup ringan maupun sweater bisa menjadi pilihan jika berwisata di awal musim semi, terutama karena suhu udara cenderung semakin dingin setelah matahari terbenam. Baru pada pertengahan bulan April dan Mei outerwear yang lebih ringan seperti cardigan cocok untuk dikenakan karena cuaca semakin hangat. Kombinasi antara cardigan dan aksesoris seperti scarf, topi, dan kacamata hitam selalu menjadi aksesoris favorit di setiap musim semi di Korea.

      Yang harus diperhatikan

      - Pada awal musim semi, waspadai penyakit pilek karena suhu udara yang sering naik dan turun secara signifikan, ditambah dengan hembusan angin kencang yang membawa udara dingin masih cukup sering terjadi.
      - Udara musim semi di Korea masih cukup kering, walau tidak sekering saat musim dingin. Jadi jangan lupa siapkan peralatan pendukung untuk mencegah kulit kering seperti lipbalm dan body lotion.
      - Terkadang ada hembusan angin yang disertai dengan debu pasir yang berasal dari Gurun Gobi dan terbawa hingga Korea Selatan. Untuk mencegah iritasi mata dan saluran pernafasan, sebaiknya bersiaplah membawa masker saat liburan musim semi di Korea Selatan.

      Aktifitas musim semi

      Musim semi identik dengan aktifitas menikmati keindahan bunga yang mulai bermekaran setelah ‘tidur’ di musim dingin. Namun bunga apa yang harus dinikmati keindahannya saat berada di Korea Selatan? Apakah aktifitas musim semi hanya sebatas menikmati bunga? Berikut beberapa bocoran aktifitas yang dapat dicoba saat berwisata musim semi ke Korea Selatan.

      1. Melihat bunga Cheri
      Bunga Cheri? Maksudnya bunga Sakura? Yes, betul. Walau dianggap sebagai bunga khas Jepang, bunga Sakura bisa dilihat di berbagai negara yang memiliki 4 musim. Dan bukan hanya bangsa Jepang yang memiliki tradisi hanami, karena mengamati bunga Cheri yang bermekaran juga menjadi salah satu aktifitas musim semi favorit di Korea. Bagi yang ingin tahu spot terbaik menikmati bunga Cheri di Korea Selatan, akan saya tulis terpisah ya.








      Foto 01 (a-d):



      Bunga Cheri di Korea Selatan [foto: Travel Oriented/flickr, Channy Yun from South Korea/wikimedia, HunkinElvis/wikimedia, Piotrus/wikimedia]


      2. Menikmati keindahan bunga Forsythia dan Azalea
      Di Jepang, bunga Sakura melambangkan kebahagiaan karena musim semi telah tiba. Di Korea Selatan, penanda musim semi tersebut adalah bunga Forsythia dan Azalea. Keduanya memiliki keindahan yang tak kalah dari bunga Sakura/bunga Cheri dan waktu mekarnya pun sangat dinanti-nanti oleh masyarakat Korea. Forsythia dan Azalea mulai mekar pada pertengahan bulan Maret yang dimulai dari pulau Jeju, dan pada awal April di daerah Chuncheon, Gangwon-do.








      Foto 02:



      (a & b.) Forsythia [foto: Korea.net – the official page of the republic of Korea/flickr], (c & d.) Azalea [foto: Caroline Knox/wikimedia, Korea.net – the official page of the republic of Korea/flickr]


      3. Memetik stroberi
      Stroberi Korea terkenal sebagai salah satu yang terbaik di Asia. Berhubung musim stroberi dimulai kira-kira pada pertengahan Maret dan April, kenapa tidak sekalian mencicipi stroberi Korea? Salah satu tempat terbaik untuk menikmati stroberi Korea adalah Geoje di Gyeongsangnam-do, Nonsan di Chungcheongnam-do, dan Damyang di Jeollanam-do.

      4. Makan kepiting
      Pada awal musim semi, King Crabs mulai banyak ditangkap terutama di daerah pesisir timur. Jadi tak ada salahnya berwisata sambil menikmati King Crab dan Snow Crab, sekaligus menikmati keindahan laut dan pantai di Korea. Tapi jangan berenang ya, karena seperti yang sudah disinggung sebelumnya, suhu di awal-pertengahan musim semi masih relatif dingin.

      5. Menghadiri berbagai festival tradisional
      Selain musim gugur, musim semi dikenal sebagai salah satu musim yang memiliki banyak festival, mulai dari yang berskala lokal hingga nasional. Rencananya aneka festival musim semi akan saya tulis terpisah, jadi tunggu tulisan selanjutnya ya.








      Foto 03: Sebagian festival musim semi di Korea Selatan



      (a.) Andong Hahoe Mask Festival [foto: Caroline Knox/wikimedia], (b.) Gurye Sansuyu Flower Festival [foto: Korea.net/wikimedia], (c.) Gwangyang Maehwa Festival [foto: Korea.net/wikimedia], (d.) Hangan Yeouido spring flower festival [foto: Korea.net/wikimedia]




      ***


      Demikian sekilas info tentang musim semi di Korea Selatan. Untuk aneka festival musim semi beserta rekomendasi tempat yang wajib dikunjungi saat musim semi, tunggu tulisan selanjutnya ya.



      ***


      * Seluruh foto diambil dari creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.



      ***


      Baca seri lengkap Spring in Korea:
      Spring in Korea: Aneka Informasi Dasar
      Spring in Korea: Kalender Festival Bulan Maret
      Spring in Korea: Kalender Festival Bulan April
      Spring in Korea: Kalender Festival Bulan Mei
      Spring in Korea, Wisata Kemana Ya?
    • By ameryudha
      Kemaren TS baca-baca sebuah tulisan tentang Bhutan, TS baru inget ada negara namanya Bhutan. Katanya Bhutan ini negara yang paling bahagia di dunia, ko bisa ya ?! Menurut situs Business week Bhutan adalah negara paling bahagia ke 8 di dunia. Nomor 1 nya Norwegia dan nomor 2 nya Denmark. Tapi Bhutan ini suatu fenomena, karena bukan termasuk negara-negara tenar gitu. Iya ga sih ?! Terus Indonesia ga ada dalam daftar L ih sedih ya.
       
      Bhutan ini negara kecil dengan populasi manusia yang ga jelas, mereka ga pernah ngadain sensus penduduk secara serius, jumlah penduduknya diperkirakan 700.000 hingga 1.500.000 orang. Data terahir dari U.N sih 2,3 juta orang.  Menurut Wikipedia, Bhutan ini dibatasi 2 negara atau “ landlocked†berbatasan langsung dengan India dan China. Berada di kaki pegunungan Himalaya, menjadikan Bhutan negara yang berbukit-bukit, kamu pasti bisa bayangin kalo tempat yang ada di kaki gunung itu kaya apa.

      GDP per kapitanya hanya $1.400 dimana nilainya lebih rendah dari negara-negara lain yang ada di dalam daftar, tapi Bhutan bisa membuktikan bahwa kebahagiaan ga berasal dari uang. Sebenarnya apa yang membuat Bhutan ada di dalam daftar tersebut ?
       
      The Last Shangri-La yang tidak mau dikunjungi
      TS baca satu artikel dari www.oneworldeducation.org/bhutan-worlds-happiest-country‎ yang ditulis oleh Lukas Canan dimana dia adalah salah satu penulis di web tersebut, dimana dia tinggal 1 bulan di Bhutan bersama keluarganya dalam rangka tugas ayahnya yang diundang Chief Of Justice nya Bhutan.

      Menurut Canan, Bhutan adalah negara yang indah dengan penduduk yang hidup secara sederhana, dimana penduduk dan pemerintahannya sama-sama memliki visi yang sama. Mereka berkomitmen untuk menjaga nilai-nilai budaya walaupun digempur gencarnya efek negative dari globalisasi. Menurut Canan juga, tampaknya hal tersebut berhasil karena dalam waktu 10 tahun masuknya globalisasi, mereka masih hidup dengan layak dan bahagia.
       
       Bhutan merupakan negara yang memiliki Kerajaan Budha satu-satunya du dunia, sejak abad 17 menolak globalisasi, dan kamu tahu ga bahwa untuk tinggal disana seengganya kita mengeluarkan $200 untuk visa aja, menurut si Canan sih $200 per hari, TS ga tahu deh yang bener yang mana. Tapi intinya, untuk menjaga kestabilan negaranya , pemerintahnya bener-bener memlih siapa aja yang bisa datang ke negaranya, karena itulah Bhutan ini ga terkenal di antara traveler.

       
      Kenapa Bisa Jadi Negara Yang Bahagia ?
       
      Kegiatan untuk agama Budha disana sangat didukung oleh pemerintah, mereka mensuport kuil-kuil, kegiatan keagamaan, dan juga membiayai para biarawan budha disana. Selain itu Budhist sangat berpengaruh terhadap pemerintahan di Bhutan. Hampir 2/3 orang yang tinggal di Bhutan ini beragama Budha, tetapi katanya sih mereka tetap menjaga kerukunan umat beragama dengan cara menjaga kebebasan berpendapat dan saling menghormati antar umat beragama.
       
      TS lihat-lihat sih, kebahagiaan menurut negara Bhutan itu adalah ‘ bersyukur’ dan ‘ membatasi diri’. Menurut blog yang TS baca haxims.blogspot.com , dia mensintesis apa yang membuat Bhutan menjadi negara bahagia nomor 8 di dunia tetapi dengan segala keterbatasannya , dan memiliki kesimpulan bahwa kebahagiaan menurut mereka adalah bukan nya kebahagiaan yang berasal dari pemuasan nafsu dunia fana, melainkan berasal dari iman dan konsep tahu-cukup. Menurut penduduk Bhutan asalkan punya rumah dan sawah, mereka sudah cukup puas.Orang Bhutan beranggapan kemiskinan yang sesungguhnya adalah apabila tak mampu beramal kepada orang lain.

      Pemenuhan kebutuhan sehari-harinya memang berasal dari Impor dikarenakan mereka adalah umat Budha, maka mereka tidak membunuh makhluk berjiwa, itulah sebabnya mereka mengimpor daging dari India. Tetapi, impor yang dilakukan pemerintahnya hanya sedikit saja, ga sampai ribuan ton malah, karena mereka memiliki konsep ‘ membatasi diri dan bersyukur  â€˜, menurut Canan yang tinggal satu bulan di Bhutan, di atas meja makan jarang terlihat makanan jenis daging, melainkan makan sayur-sayuran atau produk dari susu sudah membuat mereka puas. Bahkan, selama Canan tinggal disana para penduduk Bhutan ini jarang banget nonton TV, mereka memilih untuk berdoa dan berolahraga di waktu senggangnya. Mereka membatasi diri untuk tidak makan enak berlebihan, dan membatasi diri agar tidak terkena dampak negative dan selalu bersyukur atas apa yang dimiliki saat ini. 
    • By chandra
      Tau gak apa negara yang dianggap paling bahagia di dunia? Negara itu adalah Bhutan. Bhutan terletak di bawah pegunungan himalaya, pendapatan warganya sedikit, tanahnya gak subur, hasil tambangnya juga sedikit, tapi negara ini termasuk sebagai negara yang paling bahagia di dunia. Kok bisa? Jadi sekitar 97% masyarakatnya menyatakan mereka bahagia. Bukan karena konsep alam fana, tapi karena imannya.

      Mereka menganggap kemiskinan yang sebenarnya dalah pas saat gak bisa beramal untuk orang lain, mereka juga sangat puas apabila mereka hanya memiliki sawah dan rumah. Rata-rata masyarakatnya juga puas hanya makan sayur dan susu karena mereka adalah umat Buddha mereka tidak membunuh makhluk berjiwa. Walau ada yang makan daging mereka mengimpornya dari India. Bhutan bahagia sejak mantan rajanya tidak mementingkan perkembangan ekonomi tapi lebih fokus untuk mendirikan Bhutan sebagai negara yang bahagia dengan kesetaraan, kepedulian dan konsep ekologi.

      Di Bhutan larangan merokok di berlakukan si seluruh negeri, impor kantong plastik di larang, dan setiap tahun setiap orang minimal harus menanam 10 pohon. Angka cangkupan hutan belantara di Bhutan mencapai 72%, tertinggi di dunia. 26% tanahnya di jadikan taman nasional. Untuk melindungi lingkungan hidup bahkan rajanya rela mengurangi profit dengan punya pertambangan tapi tidak di buka.

      Musim pariwisata Bhutan bulan Maret hingga November, tapi jumlah pelancong dibatasi untuk tetap menjaga keindahan alamnya. Maka dari itu walau ada beberapa tempat menarik yang dapat dikunjungi di Bhutan, mereka tidak memiliki banyak atraksi untuk menyambut pelancong.