anna22

Edisi Vietnam - 12 hari 4 negara Asean

32 posts in this topic

9642A95C-1936-4F49-9AB0-16D38AE0148F.thumb.jpeg.6f320adb661aacc471c0ada5eb2ae4e4.jpeg

18/8/2017 
Flight Malam Jkt-KL. Karena kami menggunakan Lion Air, mendarat di KLIA 1, padahal besoknya kami ada flight dengan AA dari KLIA 2. Beruntungnya ada shuttle bus gratis antara KLIA 1 ke KLIA 2 yang beroperasi 24 jam. Begitu sampai di KLIA 2, kami mencari tempat untuk mengisi baterai HP sambil selonjoran. 
 
19/8/20 
Flight pagi jam 6 kami sudah check in jam 4 dan melewati imigrasi lalu menuju gate yang tertera di boarding pass. Saya dan salah satu teman yang muslim juga menuju musholla untuk melaksanakan solat Subuh sekitar jam 5. Ternyata kami baru sadar ada perbedaan waktu sehingga waktu solat Subuh baru sekitar jam 6. Tepat ketika adzan subuh berkumandang, salah satu teman menyusul dan mengatakan bahwa kami harus pindah gate. Kami pun buru-buru solat dan langsung berusaha berlari karena waktu boarding tinggal 10 menit lagi. Sedangkan kepindahan gate itu dari ujung ke ujung (paraaaah jauhnya). Gara-gara inilah, salah satu teman kami yang memang dari awal keberangkatan sedang tidak enak badan, mendadak drop begitu sampai Hanoi. Beruntungnya kami sampai tepat waktu di gate sehingga masih bisa naik pesawat walaupun ngos2an...
 
Sampai Hanoi Airport sekitar jam 9 (tidak ada perbedaan waktu dengan Indonesia). Begitu sampai, kami membagi tugas, ada yang membeli simcard (12 usd/7 hr utk paket data internet saja) dan mengambil uang di atm (ya, kami memang tidak menukar rupiah ke vnd di Indonesia, biaya tarik tunai sekitar 20rb rupiah). Sebelumnya saya sudah membaca kalau ada express bus dan public bus dari airport ke pusat kota. Tapi begitu kami tanya ke pusat informasi (yang anehnya, tidak ada satupun pusat informasi resmi, artinya pusat informasi yang tersebar di arrival hall adalah kepunyaan tour&travel, taxi/car rental, dan perusahaan simcard), mereka malah nawarin naik taxi. Karena kami ingin ngirit apalagi baru di awal-awal perjalanan, kami pun mencoba browsing lagi. 
Ada bus no. 7 dan 17 dengan biaya 5000 vnd (sekitar Rp. 3000). Bus ini akan berhenti di setiap halte sehingga dipastikan memakan waktu lebih lama. Nah dari pintu keluar Kedatangan, kamu jalan ke arah kiri paling ujung nanti akan ketemu semacam terminal bus umum. 
 
Pilihan lainnya adalah Express Bus 86 dengan biaya 30.000 vnd (sekitar Rp. 15.000). Dinamakan express bus dan lebih mahal karena hanya berhenti di beberapa halte di pusat kota Hanoi. Nah kalau penginapan kamu di sekitar Old Quarter, bisa pilih bus ini. Begitu keluar pintu kedatangan, ke arah kiri juga kemudian nyebrang dan ketika kamu berjalan, kamu akan ditawarkan untuk naik taxi, bilang saja dengan sopan kalau kamu mau naik bus 86. Mereka dengan senang hati akan menunjukkan kamu ke arah petugasnya. Bayarnya pas di bus aja, nanti kondekturnya akan nanya mau berhenti di halte apa. Sebelum berhenti, dia bakal ngasih tau kamu untuk segera siap-siap turun.

Ternyata salah satu teman, sebut aja M, kondisi tubuhnya makin drop dan memutuskan untuk mencari klinik atau rumah sakit. Ceritanya cukup panjang, yang intinya adalah sore dan malam ini kami berputar-putar mencari klinik, rumah sakit, dan apotek. Untungnya ada Grab di Hanoi sehingga memudahkan mobilisasi kami. Terus bagaimana komunikasinya secara hampir sebagian besar driver kurang bisa berbahasa inggris? Kami selalu menyebutkan posisi melalui pesan dan menghafal jenis mobil serta plat nomornya. Kadang jika driver mengirim pesan dengan bahasa vietnam, kami menggunakan google translate untuk mengartikan dan membuat balasan (hahahaha). Ada kejadian lucu, salah satu teman saya sering disangka orang lokal karena penampilannya yang mirip, jadilah suka diajak ngobrol bahasa vietnam. Dan alhasil temen saya cuman bengong sambil bilang “I’m not vietnamnese”.

Hari pun sudah menjelang malam dan kami lapar. Karena saya punya pantangan dalam makan dan beruntungnya saya punya teman yang pengertian, kami memutuskan mencari vegan restaurant terdekat. Ketemulah Loving Hut (ini sepertinya ada di mana-mana deh) yang menyediakan makanan khas vietnam dengan menu vegan. Dengan 3 jenis lauk dengan 4 nasi dan 4 minuman hanya habis skeitar 200.000 vnd (atau Rp. 100.000). Kenyang parah tapi ngerasa sehat (ya iyalah vegan food).
 
Setelah dari RS dan mengantarkan teman kami yang sakit ke GH untuk istirahat, sekitar jam 9 malam, kami bertiga memutuskan keluar menuju Old Quarter karena hari itu adalah malam minggu sehingga kawasan pinggir Hoan Kiem Lake ditutup untuk kendaraan (car free day). Niatnya mau mencoba egg coffee yang terkenal di Hanoi tapi cafe yang kami incar sudah tutup sehingga kami jalan kaki sambil melihat aktivitas warga lokal di malam minggu. Begitu sampai Old Quarter, kami menemukan sebuah cafe yang masih buka dan ada menu egg coffee. Penasaran kami memesan 1 cup (77.000 vnd inc.tax), sampai si pelayan bingung karena kami hanya memesan 1 cup kecil untuk bertiga.

E696A7A2-9768-46FE-BF71-6D53A08D71C0.thumb.jpeg.c002c2ed53d792707806ce7f17adaf4f.jpeg2E55578E-16EB-4D0B-A021-8B3B04471A48.thumb.jpeg.5cacc77f9e5dcd301a65ceaf9a569650.jpeg

Karena sudah jam 11 malam, dan besok pagi ada halong bay tour, kami memutuskan kembali ke GH. Oiya kami memesan 1 day Halong Bay Tour dengan harga 42 USD/orang melalui staf GH saat kedatangan. Teman kami yang sakit memutuskan tidak jadi ikut karena dalam masa recovery. Karena pemberitahuannya mendadak, biaya hanya dikembalikan setengahnya. 
 
20/8/2017
Tepat jam 7.30 pagi, guide datang menjempat kami di GH. Ada sekitar 21 peserta hari itu dari berbagai negara. Ternyata kami bertemu 4 kakak beradik asal Aceh. Perjalanan menuju Halong Bay cukup panjang sekitar 4 jam dengan berhenti 1 kali di tempat penjualan souvenir. Tenang aja toiletnya gratis dan cukup bersih kok dan kalian tidak diharuskan membeli souvenirnya. Sekitar jam 12 siang kami sampai pelabuhan. Sebelumnya di bus, guide kami membagi peserta ke beberapa meja di kapal. Kami kebagian meja 3 bareng sepasang turis asal Italia (yang ramah dan baik). Begitu duduk di kapal, awal kapal langsung menyuguhkan makan siang (kebanyakan seafood dan sayuran). Nah untuk minum tidak disediakan alias beli kalau gak bawa. Kapal pun berlayar sambil kami menikmati makan siang. Rasanya pun lumayan cocoklah dan porsinya banyak. Itinerary 1 day tour ini adalah menuju Surprise Cave dan Ti Top Island. 
 
Untuk bisa mengikuti rangkaian kegiatan tour ini diperlukan stamina yang baik dan cukup minum karena harus menaiki anak tangga yang cukup banyak. Kami saja sampai kekurangan minum dan membeli disana (walaupun lebih mahal sih). Selain itu juga panas banget. Saya yg kurang cocok dgn cuaca panas bbrp kali harus berhenti saat menaiki tangga  ke puncak Ti top island. Bahkan setelah 3/4 perjalanan, saya menyerah dan memilih duduk istirahat. Sedangkan 2 teman saya lanjut. Setelah merasa cukup pulih, saya pun lanjut naik ke atas krn mikir2 sayang juga kalo ga sampai atas. 

70415D66-07B1-4F14-A4B4-904E55539BCA.thumb.jpeg.c4dedc3d224536d7eabc4c58cb6803a4.jpeg

9DCD9B2B-C7C1-49A3-AFB5-BFD11B19A0AA.thumb.jpeg.b549023d02c2063aaad3fbda15d7dda0.jpeg0A1700CB-3D0A-4E03-B57D-3A7DD4EF1AC7.thumb.jpeg.e70d63139bc7ab865ca2f9a0b7af7e9d.jpegF797CD44-9569-4EA7-BB97-EB46565A2640.jpeg.60ba5a93e0d83a3a7273e9820932068d.jpeg6EC07C88-A224-4C5C-B9BA-B4BC9AFB04DA.thumb.jpeg.33b61244367d5497d59dabb380ce0f66.jpeg0C7B01AA-ECF3-4DA2-B406-D8FF0F280C76.thumb.jpeg.326740ae21643acbec4a2fcc6ad75fa0.jpegCF365804-6241-4D30-930D-7905AEF0A474.thumb.jpeg.db9192394bf9e090394972686b10d59a.jpeg

 

 

Kembali ke pelabuhan sekitar jam 5 sore dan sampai lagi di Hanoi jam 9 malam. Hari itu kami merasa lelah sekali sehingga tidak sanggup utk jalan2 malam lagi. Mana besoknya harus siap-siap ke airport untuk flight ke Ho Chi Minh. 
 
21/8/2017
Penerbangan Hanoi-Ho chi minh dengan Jetstar jam 10 pagi. Kami sempat sarapan dulu. Seperti biasa pakai grabcar menuju airport. Baru kali ini di airport (domestic) kami harus melepas alas kaki saat pemeriksaan masuk ruang tunggu. Saya kira hanya khusus bagi warga asing tapi ternyata warga lokal pun membuka alas kakinya walau hanya menggunakan sendal jepit...
 
Sampailah di Ho chi minh airport jam 12 siang. Lgsg pesan uber menuju penginapan. Kali ini kami pesan Supe Homestay yg harganya 650rb/2 malam 4 bed dorm room. Kalau melihay review dan photo, hostel ini cukup bagus. Tapi ternyata kami kecewa karena kenyataannya berbeda. Begitu sampai, kami terkejut ketika staf mengatakan bahwa kamar penuh. Nah lhooo??? Tapi ternyata Supe ini punya cabang lain yg jaraknya 5 menit berkendara. Kenapa ga dikasih tau di awal..kan bisa email ato bgmn gitu ya..yg kedua begitu kami sampai, kayaknya ini penginapan jadi gudang barang2 jualan krn begitu banyak barang berserakan di lobi. Kamarnya pun berdebu seperti sudah tidak ditinggali lama. Kamar mandinya pun kurang bersih. Kecewa deh pokoknya. 
 
Oke cukup curhatnya. Setelah check in, kami keluar mencari makan siang. Kami cari yg dekat bisa jalan kaki, cek2 di google, ketemulah resto india halal di daerah Bui Vien. Setelah makan dan kenyang, kami menuju Konsulat Indonesia. Wah ada apa yaa? Ternyata teman saya yg sakit itu belum puas dgn dokter di rs hanoi, jadi dia ingin meminta saran dan rujukan dari pihak konsulat yg mungkin lebih paham dgn kota ho chi minh. Yaaa jadi lagi2 hari ini dihabiskan dengan pencarian klinik dan rs. Beruntungnya ada Klinik international yg menerima turis dan berbahasa inggris di dekat konsulat. Setelah menunggu, periksa, tebus obat, sekitar jam 6 sore. 
 
Hasil konsultasi dgn dokter, teman saya memutuskan utk lgsg ke bangkok (kebetulan ada temannya disana) tanpa ikut kami ke siem reap agar cepat pulih. Malam itu kami pun lgsg berembuk memesan tiket2 yg belum terbeli. Kami pun memutuskan utk ke cafe sekalian mencicip kopi vietnam. Cari2 di google yg reviewnya oke yaitu Bang Khuang Cafe. Dan ini adalah keputusan yg tepat, selain menu kopinya bervariasi, tempatnya juga nyaman dan cantik. Urusan memesan tiket bus ho chi minch-siem reap, tiket sleeper train bangkok-penang, dan tiket pesawat Ho Chi Minh-bangkok pun beres. Sedangkan utk tiket bus siem reap-bangkok rencananya akan kami pesan on the spot. 
 
22/8/2017
Hari ini kami hanya keliling kota saja. Awalnya ingin ke cu chi tunnel tapi krn kondisi teman saya yg masih sakit, rasanya tidak mungkin pergi jauh2. Pertama kami ke Ben Tanh Market utk cari oleh2 dan brunch (krn disini banyak jual makanan). Setelah kenyang dan beli bbrp oleh2, kami menuju kantor pos, gereja, museum dan taman yg bisa dikelilingi dgn berjalan kaki. Karena lelah, kami kembali ke penginapan utk istirahat (yaa lagi2 kami tidur siang hahaha) kemudian malamnya keluar lagi utk cari makan. Ada 1 makanan yg khas vietnam tapi saya mau cari yg halal. Eh ketemulah Pho Muslim. Rasanya enak dan agak beda dengan pho yg pernah saya coba di jakarta. Rempah2 dan kaldu dagingnya lebih berasa plus terdapat potongan bakso homemade (hasil nanya2 yg punya). Warung Pho ini baru buka sore menjelang malam ya...

FB5FE4E0-FF8F-45D9-B993-315F8E7402B7.thumb.jpeg.6b3920aeb51ba18b4c881b7157adde7b.jpeg15769C33-97B0-4EE7-A5F8-574B91BE635D.thumb.jpeg.d2bc3a1a4a8ab98992b2e6b5f8d47fb9.jpeg0A2207DE-39ED-4BCD-9FE5-5B31B5B0F6C7.thumb.jpeg.c055943ffa7281ab2714226fdd092591.jpegB8C02139-79C6-43ED-8862-E1C3AACDDE94.thumb.jpeg.28ea7f3c5abad46e4947c31a429e3c1b.jpegB0F6C7E5-0B4A-47E9-9F31-8A8BB0CC7015.thumb.jpeg.4d3632c9ff534bdc173fbf92960550d7.jpegA4275451-D134-4B6F-AE68-D914CE8121C2.jpeg.7638adff38ec97410fb5aaf49dd8c4db.jpeg88F2C985-FFCD-4FE9-AC32-7B6441B9CD6A.thumb.jpeg.e2fd01e115ca7d3fc5ae7b82ec72e96a.jpeg

 
Yaaaa sekian cerita edisi vietnam dari rangkaian 12 hari trip negara Asean. Masih ada 3 negara lagi...enjoy and happy reading!!!

A585BCC5-C128-493D-AD27-1E35C8749A41.jpeg

Share this post


Link to post
Share on other sites
2 hours ago, deffa said:

@anna22 udah saya pindahin ke bagian Field Report Luar Negeri ya :D 

Waaah makasiiiiih mod @deffa tdnya udah desperate aja nih bingung mau diapain lagi..akhirnya trial &error posting foto2nya dulu baru abis itu edit nambah cerita hahaha

 

2 hours ago, kyosash said:

wah asyik tuh suasana si Halong Bay-nya, btw mantap tuh KFC disana ada lalapan-nya :D , nice share :rate 

Hahaha iyah lumayan bagi kami2 yg hanya bisa makan sayuran ato vegetarian 

Share this post


Link to post
Share on other sites
23 minutes ago, anna22 said:

Waaah makasiiiiih mod @deffa tdnya udah desperate aja nih bingung mau diapain lagi..akhirnya trial &error posting foto2nya dulu baru abis itu edit nambah cerita hahaha

 

website nya lagi di update jadi mungkin ada sedikit kendala, tar kalau ada error gak bisa posting lagi di bagian field report, coba di posting di bagian lain aja dulu, tar saya pindahin :)

@anna22

Share this post


Link to post
Share on other sites
On 1/16/2018 at 7:27 PM, deffa said:

website nya lagi di update jadi mungkin ada sedikit kendala, tar kalau ada error gak bisa posting lagi di bagian field report, coba di posting di bagian lain aja dulu, tar saya pindahin :)

@anna22

Siiiip..makasiih yaaa

 

On 1/17/2018 at 10:53 AM, twindry said:

buat dapetin foto ini yg musti mendaki itu ya? :terpesona btw kasian ya temannya itu. pas jalan malah stamina drop

Iyaa..menaiki tangga tepatnya (menurut aku lebih cape naik tangga sih haha) dan juga cuaca panas ngaruh jadinya lebih mudah cape 

Share this post


Link to post
Share on other sites
21 hours ago, anna22 said:

Siiiip..makasiih yaaa

 

Iyaa..menaiki tangga tepatnya (menurut aku lebih cape naik tangga sih haha) dan juga cuaca panas ngaruh jadinya lebih mudah cape 

aduh butuh berapa lama ya sampe puncak? :bingung 

Share this post


Link to post
Share on other sites
2 hours ago, twindry said:

aduh butuh berapa lama ya sampe puncak? :bingung 

Katanya sih 400 anak tangga bisa dalam 15 menit tapi saya sih lebih ya krn banyak berhentinya utk narik nafas :terharu

Share this post


Link to post
Share on other sites
1 hour ago, anna22 said:

Katanya sih 400 anak tangga bisa dalam 15 menit tapi saya sih lebih ya krn banyak berhentinya utk narik nafas :terharu

15 menit cepat banget sih kalau emang bener segitu 

Share this post


Link to post
Share on other sites
20 hours ago, anna22 said:

Katanya sih 400 anak tangga bisa dalam 15 menit tapi saya sih lebih ya krn banyak berhentinya utk narik nafas :terharu

400? 400? 400? kayak ke chureito pagoda ngak ya :bingung nanjak banget ya tangganya?

Share this post


Link to post
Share on other sites
2 hours ago, twindry said:

400? 400? 400? kayak ke chureito pagoda ngak ya :bingung nanjak banget ya tangganya?

Wah saya belum pernah ke chureito pagoda jadi ga bisa bandingin. Lumayan nanjak dan jarak tangganya juga lumayan tinggi..saya bisa bandingin sm tangga di gunung padang (yg di cianjur) nah mirip gitu

Share this post


Link to post
Share on other sites

@anna22 keren, bisa men grab ke mana2 di vietnam (kalau saya tipe lambai tangan stop taxi saja, berhubung gadgetnya ngga terlalu cangih, juga ngga pernah beli paket data saat jalan2, biar ngga terganggu sama wa, email dll, mau pakai paket data numpang di resto atau hotel saja).

Itinerarynya padat juga ya, mana ada peserta yang kurang sehat di awal perjalanan lagi. (kalau saya lagi capek/lemas saat travel cepat2 dropping pakai vitamin C / chicken essence sedikit membantu memulihkan tenaga).

Hanoi dan sekitarnya banyak wisata alam yang indah dan memikat membuat saya pingin balik lagi, biaya tour usd 42 ke halong bay booking online atau booking di hotel (sepertinya sedikit mahal, sebelumnya saya pernah ke sana booking di hotel usd 28).

Ternyata perlu lepas sepatu di airport ya..., sepertinya sebelumnya ngga usah...

asyik perjalanannya 12 hari lintas negara lewat darat, apa kopernya membengkak... :)

 

 

Share this post


Link to post
Share on other sites
5 hours ago, silvia_win said:

@anna22 keren, bisa men grab ke mana2 di vietnam (kalau saya tipe lambai tangan stop taxi saja, berhubung gadgetnya ngga terlalu cangih, juga ngga pernah beli paket data saat jalan2, biar ngga terganggu sama wa, email dll, mau pakai paket data numpang di resto atau hotel saja).

Itinerarynya padat juga ya, mana ada peserta yang kurang sehat di awal perjalanan lagi. (kalau saya lagi capek/lemas saat travel cepat2 dropping pakai vitamin C / chicken essence sedikit membantu memulihkan tenaga).

Hanoi dan sekitarnya banyak wisata alam yang indah dan memikat membuat saya pingin balik lagi, biaya tour usd 42 ke halong bay booking online atau booking di hotel (sepertinya sedikit mahal, sebelumnya saya pernah ke sana booking di hotel usd 28).

Ternyata perlu lepas sepatu di airport ya..., sepertinya sebelumnya ngga usah...

asyik perjalanannya 12 hari lintas negara lewat darat, apa kopernya membengkak... :)

 

 

Mumpung ada yg bisa pakai jadi bisa dimanfaatkan dan memudahkan selama perjalanan. Tapi pas di bangkok kami lebih sering pakai taxi berargo kok hehe (krn taxi di bangkok buanyak berseliweran). 

Akhirnya temen saya istirahat di bangkok 2 hari dan ternyata ampuh keliatan banget bersemangat dan makannya pun lebih lahap pas kita ketemu kemudian jalan brg lagi di bangkok dan penang. 

Utk tur halong bay mungkin 42 usd agak mahal. Saya patokannya ke informasi yg saya baca di blog2 orang antara 20-50 usd utk 1 day trip. Mungkin yg membedakan adalah tujuan dan aktivitas disana, service, makanan, kapal dll. Tadinya kami ditawarkan 2 tipe antara surprise cave+kayaking (ini lebih murah tapi lupa berapa kayaknya 30 usd) atau surprise cave+ti top island (ini yg 42 usd). Krn ngeliat blog yg ke ti top island keren banget, jd kami putuskan ambil yg kedua. 

Tapii ya mungkin kalau kami lebih rajin lagi dan mau survey ke tour&travel yg ada di luar bisa jadi lebih murah 

Bawaan akhir sudah pasti membengkak tapi kita ga pakai koper cuman pakai ransel yg berat awal sekitar 5 kg-an (ceritanya sok backpackeran gitu hehe) Untuk pulang mmg beli bagasi 15 kg dibagi berempat. 

Share this post


Link to post
Share on other sites
On 1/19/2018 at 2:49 PM, deffa said:

15 menit cepat banget sih kalau emang bener segitu 

Bisa Latihan dulu di curug pelangi yg hampir 500 anak tangga deff :tersipu 

@anna22 teman yang sakit pada ahirnya bisa gabung lagi di negara lain ? 

Share this post


Link to post
Share on other sites
47 minutes ago, Rawoniste said:

Bisa Latihan dulu di curug pelangi yg hampir 500 anak tangga deff :tersipu 

@anna22 teman yang sakit pada ahirnya bisa gabung lagi di negara lain ? 

wah kalau curug pelangi emang 500 cuma tangga nya curam kayak di kali 2 aja itu naik nya wkwkwkwk @Rawoniste

Share this post


Link to post
Share on other sites
4 hours ago, deffa said:

wah kalau curug pelangi emang 500 cuma tangga nya curam kayak di kali 2 aja itu naik nya wkwkwkwk @Rawoniste

Lebih enakan nanjak dulu liat pemandangan bagus, pulang baru turun yah. Gempor banget kalo seperti curug pelangi. :ngakak, Saya kasian waktu itu lihat bapak2 pada ngejoprak di pojokan 

Share this post


Link to post
Share on other sites
15 minutes ago, Rawoniste said:

Lebih enakan nanjak dulu liat pemandangan bagus, pulang baru turun yah. Gempor banget kalo seperti curug pelangi. :ngakak, Saya kasian waktu itu lihat bapak2 pada ngejoprak di pojokan 

wkwkwk iya 

Tangga Curug Pelangi itu kayak nya perhitungan yang bikin buat Bule kayak nya soal nya curam :P 

Share this post


Link to post
Share on other sites
7 hours ago, Rawoniste said:

Bisa Latihan dulu di curug pelangi yg hampir 500 anak tangga deff :tersipu 

@anna22 teman yang sakit pada ahirnya bisa gabung lagi di negara lain ? 

Temen bisa gabung lagi setelah istirahat di bangkok 2 hari. Jadi bisa jalan lagi pas di bangkok dan selanjutnya penang. 

Share this post


Link to post
Share on other sites
16 hours ago, deffa said:

wkwkwk iya 

Tangga Curug Pelangi itu kayak nya perhitungan yang bikin buat Bule kayak nya soal nya curam :P 

Hahahaha... @deffa kaos nya udah datang. Hatur Nuhun. Yeee... Untung di kasi size L , kalo M sepertinya kekecilan. Yg ini saja fit di body :senyum

Share this post


Link to post
Share on other sites
2 hours ago, Rawoniste said:

Hahahaha... @deffa kaos nya udah datang. Hatur Nuhun. Yeee... Untung di kasi size L , kalo M sepertinya kekecilan. Yg ini saja fit di body :senyum

hahay pas kalau gitu :D 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now


  • Similar Content

    • By Titi Setianingsih
      Jumpa lagi gaaeesss,,para JJ'er yang ruar biasa loyal sama KJJI

      Tangan sudah gatel nih, lama gak nulis, semoga report saya kali ini menarik. Pingin share info jalan2 kami (baca : Moms RM) di seputar Jawa Timur tepatnya Pulau Madura dan Probolinggo. Kami kesana tanggal 15 - 18 Pebruari 2018 kemarin, berangkat dari Jakarta dengan menggunakan kereta api Ekonomi AC dari Stasiun Senen, ambil yang jam 14.00 dan sampai di Stasiun Surabaya Pasar Turi kurang lebih jam 01.40. Hampir 12 jam di kereta, pasti cape ya ? Tapi karena kami tidur di kereta jadi rasa2nya gak cape, bahkan mobil rental sudah siap menanti dan kami langsung cuzz ke Pulau Madura, di stasiun hanya cuci muka dan sikat gigi saja.

      Begitu sampai Sampang madura, kami singgah shalat Subuh sekalian janjian sama teman JJ'er yang ada disana, dia sengaja nyegat kami dijalan krn tdk bisa ikutan jalan2 sehingga cukup ketemu sebentar dan tak lupa kasih bekal buat kami. Sarapan pagi masih di Sampang, di pinggir jalan yang kebetulan banyak perahu2 nelayan tertambat, jadi sambil sarapan sambil ambil foto keren, sinar mentari pagi itu sungguh cetar, sementara di Jakarta sana lagi dilanda banjir. Sungguh misteri alam yang masih menjadi rahasia Sang Maha Pencipta.


      HARI PERTAMA, 16 PEBRUARI 2018
      Tujuan kami ke Gili Labak, lokasinya masuk ke wilayah Kabupaten Sumenep, Kabupaten tertimur di Pulau Madura. Sebagai gambaran, di Madura itu ada 4 kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Kalau dari Jembatan Suramadu, kekiri itu ke Kab. Bangkalan, kalau mau ke Sumenep ke kanan. Lumayan lama dari Jembatan Suramadu ke Sumenep, kurang lebih 4 jam dengan menggunakan kendaraan roda 4. Jadi kurang lebih jam 9an kami sampai di pelabuhan kalianget, yang merupakan salah satu penyeberangan menuju Gili Labak. Kami go show aja jadi nyar kapalpun dadakan, yang ternyata juga ketemu calo, sehingga harga sewa kapal lumayan mahal, kami dikenai Rp. 800.000,- PP, itupun sudah ditawar terlebih dahulu.



      Perjalanan menuju Gili Labak kurang lebih 2jam, mentari sudah panas menyengat, tapi cuaca seperti itulah yang cucok buat foto2 di pantai, foto jadi cerah dan keren. Ini sesuatu banged kan ?



      Menurut bapak pengemudi kapal, bermain di Gili Labak cocoknya bulan Maret-April, kalau bulan Pebruari angin sedang besar, jadi dikhawatirkan ombak akan besar. Dan nyatanya, kapal2 besar banyak yang bersandar di kalianget karena dilarang berlayar oleh Kepala Pelabuhan. Entah kenapa kapal kecil macam yang kami naiki masih boleh berlayar ke Gili Labak, cuma pesannya gak boleh pulang sore2, maksimal jam 15.00 harus sudah balik ke dermaga kalianget.


      Tapi namanya Mommy2 kalau udah deket air laut dan pasir mana mau cepat pulang ? Gak ada puas2nya foto dengan berbagai gaya, walau kami gak snorkling krn waktunya yg kurang tepat, cukup puaslah kami menikmati indahnya Gili Labak, pasirnya yg putih, airnya yang jernih, cemara buaya berjejer dengan anggunnya, dan perahu2 kecil berseliweran kesana kemari, juga masih ada yang berani main banana boat, semua perlu keberanian pastinya.


      Dan begitu sudah mendekati jam 15.00 kamipun sudah berada kembali di kapal, apa yang terjadi ? Beberapa kali kapal balik ke pantai, angin sudah lumayan kencang, kami semua was2, tapi bapak pengemudi kapal memang sangat cakap dan pemberani, ombak yang bergulung-gulung itupun diterjangnya (memang arah pulang itu melawan arus ombak), dan yang ada di kapal hanya bisa bantu dengan doa, semoga kami semua selamat sampai dermaga kembali.

      Alhamdulillah, kurang lebih jam 17 kami mendarat kembali di pelabuhan Kalianget, salut utk si Bapak, dentuman kapalnya yang keras tertabrak ombak masih terngiang di telinga, kami semua menatap penuh harap kepengin mendapat jawaban yang melegakan dari si Bapak,,,Bapak itu bilang tidak apa2, dan kamipun kasih kode jempol buat si Bapak.
      Di pojok dermaga ada kamar mandi untuk bilas, dengan tarif Rp. 5.000,-. Sesudah mandi kami mencari makan di sekitar alun2 Sumenep. Dan mata kami tertuju pada sebuah rumah makan yang lumayan bagus, yaitu Rumah Makan kartini, alamatnya di Jl Diponegoro No. 83 Sumenep. Begitu masuk memang lumayan bagus tempatnya, menunya juga lumayan banyak, ada rawon, sate, sop buntut dll, dan ada yang aneh menurut kami yaitu cakee, akhirnya kamipun coba menu yang lain daripada yang lainnya. Rupanya setelah dirasa-rasa mirip2 dengan capcay cuma beda bumbunya, tentu saja kurang nendang bagi yang belum makan nasi. Sambil makan kami browsing2 hotel buat menginap malam ini, maklum ketika di Jakarta browsing via Traveloka tak ada satupun yang muncul nama hotel di Sumenep. Begitu di Sumenep kok muncul ?


      Selesai makan malam, kami singgah ke masjid Jamik atau sekarang disebut sebagai Masjid Agung Sumenep, yang merupakan icon Pulau Madura juga. Masjid ini sudah berumur ratusan tahun, dididirikan tahun 1.779, dengan arsitektur China dan India menjadikan masjid ini menjadi terkenal dan bahkan merupakan 10 besar masjid tertua di Indonesia, jika wisata religi ke wilayah Madura pasti mampir ke Masjid ini. Beruntung kamipun disempatkan singgah, lokasi ada di depan alun2 Kota Sumenep. 


      Selesai foto2 kami langsung menuju hotel untuk istirahat, kami menginap di Hotel Surabaya yang berlokasi di Jalan Mustika No. 1 Sumenep, lokasinya masuk gang, kami kebagian yang per kamarnya Rp. 140.000 single bed, jika menggunakan extra bed nambah Rp. 40.000 lagi, lumayan murah ya ?

      HARI KEDUA, 17 PEBRUARI 2018
      Pagi hari kurang lebih jam 06.00 kami check out dari hotel, dan mencari bekal sarapan untuk menuju Pulau Gili Iyang, disebut juga Pulau Oksigen karena di daerah ini memiliki kadar Oksigen tertinggi di dunia (ini menurut hasil penelitian dari Balai Besar Teknis Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jawa Timur), hal ini juga yang membuat kami mendatangi pulau ini saking penasarannya. 



      Kami terlebih dahulu menuju Pelabuhan Dungkek supaya bisa menyeberang ke Pulau Gili Iyang, dengan menyewa perahu kayu seharga Rp. 500.000,- PP. Waktu menyeberang kurang lebih hanya 45 menit jadi terasa singkat dan tidak was2. Begitu sampai di Gili Iyang sudah ada odong2 yang menunggu kami, okelah kami naik odong2 karena kalau jalan kaki akan lama dan cape tentunya. Sewa odong2 untuk keliling pulau seharga Rp. 150.000,- dan kami sewa 2 buah odong2. Ternyata ada beberapa tempat wisata yang ditawarkan di Pulau Gili Iyang, bukan hanya Titik Oksigen saja, tapi masih banyak yg lainnya seperti pantai, goa dan batu2an unik.


      Per-tama2 kami singgah ke Titik Oksigen, di titik inilah posisi kadar Oksigen tertingginya, dan kebetulan ada sebuah rumah yang dihuni oleh pasangan suami istri yang usianya sudah diatas 100 tahun tapi masih nampak muda dan sehat, sayangnya mereka tidak mempunyai keturunan sehingga kami tidak bisa membandingkan dengan anak2nya ? Sedikit keraguan muncul, jika ada anaknya maka kami akan bisa membuktikan seusia berapakah anaknya tersebut ? Juga cucunya dan cicitnya barangkali ? Tapi faktanya, di pulau ini banyak sekali orang tua, dan ibu2nya juga kuat2 karena terlihat mereka bisa angkat kayu ataupun galon di kepalanya, sementara suaminya hanya membantu menaikkan barang itu ke kepalanya,,,,(tergetar hati melihat pemandangan seperti ini)


      Sesudah ngobrol dengan pasangan suami istri tersebut, perjalanan kami lanjutkan ke Batu Cangga, tidak jauh jika dicapai dengan odong2, namun untuk menuju ke lokasi kita tetap harus melewati tahapan jalan kaki. Tapi tak usah khawatir, berjalan diantara kebun2 yang berdaun hijau dan rimbun bisa menjadi terapi awet muda, bukankah ini Pulau Oksigen ?

      Oh ya, di lokasi ini kami dipungut biaya masuk Rp. 3.000,- katanya untuk perbaikan fasilitas. Dan nyatanya betul, ketika kami browsing tempat ini awalnya tidak ada bambu pengaman sama sekali, jadi kita kudu merambat seperti cicak ke tebing2 batu itu untuk mencapai Batu Cangganya, sangat berbahaya. kalau sekarang, sepanjang tebing dipagari dengan bambu untuk pengaman, supaya kita tidak kecebur ke laut,,,,na'udzubillah, jangan lah yaaaa,,,makanya kudu hati2 dan waspada lihat jalanan, karena jalanannya licin dan sempit.




      Begitu sampai Batu Cangga, mata kita terbelalak dan mulut kita berdecak kagum, batu unik di tebing lautan luas, pastinya tidak semua orang bisa sampai sini ? benar2 emejing,,,


      Untuk yang pobia ketinggian disarankan tidak usah kesini, karena didepan kita bener2 laut yang dalam, takutnya lompat, jika perlu bawa pendamping yang benar2 tahu kondisi kita.
      Setelah puas foto2 di Batu Cangga, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Ropet, Madura kaya akan pantai, namun setiap pantai mempunya keindahan yang berbeda. Kalau di pantai Ropet merupakan spot sunrise yang indah (katanya) karena kami pas sampai sininya sudah siang. Tapi dengan datang di siang hari juga tidak akan menyesal, karena pantainya benar2 cantek, paduan airnya antara hijau dan biru, juga batu2annya unik2.





      Jangan bosan gaeesssss,,,perjalanan masih panjang, kami malam ini targetnya nginap di Surabaya karena besoknya harus melakukan perjalanan lagi ke Probolinggo, jadi hari kedua ini benar2 padat acara, full time di jalan. Dan supaya Pulau Madura benar2 terkelilingi, maka kami ambil jalan pulang lewat Pantai Utara Pulau jawa, pantainya jangan ditanya, pasti indah dan mengagumkan. Salah satu pantai yang kami singgahi yaitu Pantai Slopeng masih di Sumenep. Kabarnya disini terdapat gundukan pasir yang unik, yang saya bayangkan seperti Gumuk Pasir atau apalah, tapi ini sudah menjadi tanah yang padat menyerupai bukit jadi sudah tidak seperti pasir yang asli lagi. Alhasil kami hanya main2 di pantainya saja, masih dengan pasir putihnya yang menawan.



      Kami hanya singgah sebentar di pantai ini karena waktu sudah menunjukkan jam 16.00, dan masih ada satu lagi yang menjadi target kami yaitu air terjun Toroan. Konon, air terjun ini merupakan air terjun satu2nya di Madura, dan air terjun yang sangat unik krn airnya langsung menuju ke laut. disamping itu jika datang sore hari akan bertepatan dengan matahari tenggelam / sunset, keindahannya sangat langka, dan ini view yang sangat kami idamkan. Ketika di sepanjang jalan terlihat air laut pasang, kami sudah ber-debar2 jangan sampai nanti tidak bisa turun ke air terjun. Nampaknya keberuntungan masih berada dipihak kami, meski air laut pasang, tapi kami masih bisa menikmatinya, hanya saja tidak bisa dekat2 dengan air karena ombaknya lumayan gede. Subhanallah, ini kali pertama saya lihat pemandangan yang luar biasa indah ini.



      Alhamdulillah, hari ini tercapainya semua spot yang dituju, cuaca mendukung sekali, terima kasih Ya Allah atas karuniaMU kepada kami semua. Makan malam kami singgah ke Bebek Songkem, karena kalau ke Bebek Sinjai sudah dipastikan tutup. 
      Perjalanan berikutnya menuju Surabaya dan cuzz ke Hotel Walisongo di Jl Petukangan sekitar Ampel, hotel murah yang per malamnya hanya Rp. 100.000an, jika nambah extra bed nambah Rp. 85.000,- (kalau ada yang murah kenapa pilih yang mahal to ?).
      HARI KETIGA, 18 PEBRUARI 2018.
      Jam 05.00 kami bergegas keluar hotel untuk menuju Probolinggo, tujuan kami adalah ke Gili Ketapang, spot snorkling yang lagi ramai pengunjung, kabarnya karena murah dan tidak harus menyeberang terlalu lama. Dan nyatanya kami hanya menyeberang sekitar 45 menit dari pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo. Dengan paket sebesar Rp. 100.000,- kita sudah bisa menikmati snorkling, foto underwater, dan makan siang termasuk ongkos kapal PP. Bagi kami Mommy2 yang jarang2 mainan underwater, snorkling di Gili Ketapang sudah cukup menghibur, hitung2 buat latihan. Dan dengan adanya snorkling ini maka jalan2 kami menjadi lengkap, semua terlihat puas dan biaya juga hemat karena kami sharecost.





      Sekian cerita jalan2 kami ya Gaeeesssss,,,semoga bermanfaat untuk referensi jalan2, dan terima kasih untuk yang sudah membaca sampai tuntas tas tas...!! Terima kasih juga yang sudah berkontribusi di jalan2 ini
      SALAM JALAN2 INDONESIA,,,,,!!
       
       
       





    • By freaksthriller

      Bertemu Korban yang Meninggal, Hipotermia dan Kesurupan Saat Mendaki Gunung Gede Pangrango via Jalur Putri dan Turun lewat Jalur Cibodas
      Pendakian kali ini menjadi pengalaman yg teramat berharga untuk kami, perjalanan  yang mengajarkan kami apa itu makna hidup , terutama menghadapi "Hipotermia, Kesurupan dan Kematian" yang sampai saat ini menjadi momok menakutkan bagi para pendaki gunung. Tidak sedikit kita mendengar berita meninggalnya seorang pendaki yang diakibatkan oleh Hipotermia.
      Tahun 2015 silam tepatnya tanggal 2 Juni, saya dan 5 orang teman lainnya mendaki gunung ini, sehari sebelumnya kita berenam berangkat dari Bandung menggunakan motor, sesampai di Cibodas kamipun menuju kantor TNGP dan mengurus SIMAKSI untuk pendakian esoknya, setelah itu kamipun melanjutkan perjalanan ke rumah temannya teman salah satu dari kita untuk beristirahat setelah lelah perjalanan dari Bandung.
      Singkat cerita, setelah semua siap sekitar pukul 7.30 pagi setelah packing ulang dan cek ulang perlengkapan kitapun menitipkan motor, mulai berjalan dan mencarter angkot untuk menuju ke basecamp yang terletak di Desa gunung putri, sesampai disana kitapun memulai perjalanan , setelah melewati pemukiman warga dan perkebunan  dengan medan yang menanjak, tidak lama kita sampai di Pos Perizinan, sekitar pukul 10.00 setelah pengecekan Simaksi dan pemeriksaan kamipun melanjutkan perjalanan, disinilah perjalanan sesungguhnya dimulai.
      Masih dengan medan yang sama melewati ladang perkebunan penduduk yang semakin menanjak dengan trek yang di dominasi oleh tanah merah, kitapun tidak luput beberapa kali istirahat, menyesuaikan dengan salah satu dari kita yang baru pertamakali mendaki, jadi kami berjalan cukup santai menikmati  perjalanan tanpa buru-buru.
      Sekitar pukul 10:45 kitapun mulai memasuki hutan tropis yang dipenuhi pepohonan dan sampai di Pos 1 Legok Leunca sekitar pukul 11.22 kitapun beristirahat. Ketika itu ada beberapa petugas yang lewat dan salah satunya duduk beristirahat bersama kami setelah sedikit berbincang beliau memberitahukan bahwa di alun-alun Surya Kencana ada korban meninggal sejak kemarin sore yang katanya terkena Hipotermia, dan hari ini sedang di evakuasi . Beliau bercerita kalau disini memang cukup banyak korban yang meninggal, tapi yang dipublikasikan hanya beberapa. Beliau mengingatkan kami utk berhati-hati karena cuaca saat itu bisa mencapai 0 derajat celcius. Saat pertama mendengar diatas ada korban meninggal, tidak bisa dipungkiri ada sedikit perasaan gak karuan, “dalam hati: wah….ada korban meninggal?”
      Setelah beristirahat kitapun melanjutkan perjalanan, disini trek perjalanan semakin terjal menanjak, jarang sekali menemukan landainya. Disepanjang perjalanan entah kenapa suasana terasa hening, sepi, saat itu jarang sekali menjumpai pendaki lain, bisa dibilang hanya 1-2 tim pendaki yang turun, di pos 3 pun tidak ada yang berjualan, semakin kesini medan jalan semakin terjal dan curam, cukup menguras tenaga, kitapun semakin sering beristirahat bahkan waktu itu teman yang baru pertama kali naik gunung tadipun meminta kita berhenti hampir stiap 10 menit sekali, beruntungnya kita saling memahami kalau perjalanan ini memang untuk dinikmati.
      Sekitar pukul 13:40 dari atas terdengar suara banyak orang yang sedang turun, kamipun menduga-duga jika itu tim evakuasi yang sedang membawa korban, beberapa saat kemudian ternyata benar 4 orang yang sedang menandu korban dan 4 orang lainnya yang saling membantu berjibaku melewati medan turun yang sangat curam, sesaat kamipun terdiam hanya bisa melihat sesosok mayat melewat tepat didepan mata dan berucap “Innalillahi Wainna Ilaihi Roji'un”…
      Setelah itu kamipun melanjutkan perjalanan, suasana semakin hening meski kami tidak saling membicarakan seolah tidak terjadi apa-apa, tapi seolah pula kami mengerti perasaan masing-masing.
      Berjalannya waktu kamipun sesekali bercanda untuk memecah keheningan itu, membuat kopi dari botol termos yg kami bawa dan nongkrong ditengah jalan sembari istirahat, karena memang sepi hampir tidak ada lagi pendaki yang kita temui. Sekitar 15 menit sebelum Surya Kencana hujan turun memaksa kita untuk memakai jas hujan, dan kebetulan trek sedikit landai kitapun mempercepat langkah, sekitar pukul 16:24 kitapun sampai di Surya Kencana.
      Tidak lama saat ditengah savanna  hujan semakin deras bahkan sangat lebat disertai angin yang kencang, dan kamipun berlari ketepian utk mencari tempat berteduh dan membuat shelter dari ponco. Meski demikian hampir smua pakaian yg kita pakai sekejap basah kuyup, sayapun hanya sempat mengganti  baju saja, kitapun mulai kedinginan dan sedikit mengigil ditambah perut sudah mulai terasa lapar,  Setelah -+40-50menitan hujanpun mulai reda, dan kamipun bergegas untuk melanjutkan perjalanan karena sudah tidak sabar ingin sesegera mungkin mendirikan tenda.
      Baru saja keluar dari tepian tiba-tiba jauh ditengah savana ada seorang wanita  menggunakan payung berteriak dgn sangat keras meminta tolong, kamipun terkejut dan segera berlari menghampirinya. Ketika akan berlari menghampirinya, salah satu dari kita ada yang bercanda mengatakan “wah…kita juga ini butuh pertolongan, hehe” Yaaa…mengingat kita baru saja tiba sudah di guyur hujan yang sangat lebat, berjibaku membuat shelter, sebagian pakaian basah kuyup, kedinginan, ditambah kelaparan”
      Sesampai ditengah savana itu ternyata mereka mendirikan 2 tenda terlihat 3 orang perempuan yg sedang histeris melihat 1 teman cowonya yg sedang mengalami kejang-kejang terkena hipotermia.  Kamipun bergegas utk membantu, saat itu mereka semua panik, terlihat kacau karena tenda dan hampir semua perlengkapan mereka basah. Kondisi korban saat itu terlihat sangat menggigil, susah bernafas, mata selalu melihat keatas serta anggota tubuhnya seperti mati rasa dan sering mengigau menyebut nama ayahnya yang sudah meninggal, sontak kakaknya pun histeris berteriak ketakutan, sambil menangis yang membuat suasana semakin panik pacar korban yang ikutan menangis mereka berdua sudah berfikir terlalu jauh membayangkan korban akan meninggal. Pertama kitapun mencoba utk menenangkan, tanpa disadari dengan inisiatifnya masing-masing kitapun terbagi menjadi 3 kelompok, dua orang dari kita mencoba utk menenangkan, dua orang lagi mendirikan tenda membuat air hangat dan mie instan untuk korban, dan dua orang lagi mencari bantuan, bilamana terjadi hal-hal yg diluar kehendak.
      Menurut dua orang yang sedang mencari  bantuan : Setelah berjalan cukup jauh akhirnya kita menemukan lokasi para pendaki yang mendirikan tenda, ketika kita menceritakan kejadiannya, kemudian salah satu dari mereka meneriakan “MAYDAY...! MAYDAY…! Serentak penghuni lain saling menyahut ada apa? Ada apa? Dia bilang ada yang terkena Hipo, kemudian terlihat beberapa orang menghampiri, tidak lama kitapun bergegas kembali membawa beberapa orang, saat itu langit mulai gelap dan setibanya di tkp terdengar dari dalam tenda bacaan doa-doa seperti yang sedang tahlilan, saya  pikir korban meninggal, dalam hati "Astagfirullah ya Allah... masa saya harus melihat ada korban jiwa lagi tepat didepan mata dalam satu waktu" dengan rasa gundah kitapun masuk kedalam tenda dan ternyata korban masih hidup bahkan membaik, malah sekarang kaka korban yang menjadi korban kesurupan.
      Sebelum kesurupan kakak korban sering menangis histeris melihat kondisi adiknya, dan dua wanita lainnya meminta izin untuk mengganti pembalut di tenda kita dan kembali keluar, tidak lama kemudian terdengar teriakan histeris aneh dari kakak korban sembari tertawa-tawa dan dua wanita tadipun kembali ke tenda kita sambil menangis ketakutan, salah satu dari wanita itu berkata ada yang mengikuti mereka, dan wanita satunya lagi memberitahu bahwa dia memang bisa melihat makhluk halus.
      Suasana semakin menegang karena kakak korban yang kesurupan itu semakin histeris menjerit-jerit, tertawa-tawa tidak karuan.  Untungnya salah satu dari kita ada yang bisa mengatasi kesurupan tersebut dibantu dengan teman-teman lainnya, setelah beberapa saat Syukur Alhamdulillah suasana semakin terkendali, kedua korban itu semakin membaik.
      Saat kita sedang menarik nafas sembari santai dan ngopi, disekitar tenda mereka terlihat beberapa pembalut yg dibuang sembarangan. Mungkin itu salah satu penyebabnya "Wallahu A'lam"
      Sayangnya kami tidak sempat mendokumentasikan kejadian itu. Jangankan utk memikirikannya, malah kitapun lupa untuk makan, padahal kita belum makan dari siang.
      Setelah beberapa saat semua kembali normal, kita semua pindah ke lokasi tempat para pendaki lainnya mendirikan tenda, dan akhirnya kitapun dapat beristirahat total, meskipun salah satu dari kita masih ada yang terlihat pucat mukanya, dan sudah tidak betah ingin segera pulang.
       
      Esoknya sekitar pukul 5.30 kitapun bangun sholat dan menikmati setiap keindahan alam yang Tuhan suguhkan, tidak henti-hentinya dalam hati berucap syukur. Ketika kita sedang duduk-duduk didepan tenda dan memasak terlihat dua orang cwo dan cwe dengan dingin lewat di depan kami, bukannya itu korban yang semalam terkena hipotermia dengan pacarnya? Kata salah seorang dari kita, dan kamipun saling memandang dengan tersenyum.
      Setelah puas bersantai kitapun bergegas beres-beres dan packing untuk melanjutkan perjalanan pulang lewat jalur Cibodas, sekitar pukul 10.30 kita memulai perjalanan menuju Puncak Gunung Gede dengan trek yang di dominasi tanjakan curam kitapun sedikit menghelakan nafas , makin keatas medan yang ditempun semakin extrim, sekitar pukul 11:30 kitapun sampai di Puncak dan beristirahat.
      Setelah puas waktupun menunjukan pukul 12.00 dan kami melanjutkan perjalanan menuju Kandang Badak, kitapun mengambil jalur disisi kanan untuk menghindari jalur terjalnya tanjakan setan. Saya akui jalur cibodas ini banyak destinasi wisata indah yang dilewati, ramai, dan tentunya lebih landai dibanding jalur gunung putri, tapi entah kenapa saya merasa jenuh, perjalanan menuju Cibodas ini terasa sangat amat lama.  Sekitar pukul 17.18 kitapun sampai di Pos Panyancangan, setelah istirahat sejenak kitapun melanjutkan perjalanan.
       
      Dari sini jelanan mulai sepi… terasa hening ketika waktu menunjukan tepat pukul 18.00 ditengah perjalanan salah satu dari kita menyuruh kita semua untuk berhenti sejenak dan dia berkata "nanti jalannya berdua-dua jangan sampai melamun, dan terus fokus" setelah 5-10 menit kemudian kitapun melanjutkan perjalanan, hari sudah semakin gelap sementara kami belum sampai-sampai, mana jalanan sepi dan terasa hening dengan aroma mistis yang sedikit menyelimuti, entah hanya perasaan saja. Singkat cerita sekitar pukul 19.00/19.30an kitapun sampai di Terminal Cibodas dan perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan angkot menuju rumah temannya teman kita, sesampai disana kita beristirahat duduk-duduk diteras ngobrol-ngobrol, dan membahas banyak cerita mistis tentang Gunung Gede, termasuk yang tadi ketika kita berhenti tepat pukul 18.00 teng itu…ternyata oh ternyata… pantas saja!
      Oh ya kebetulan temannya teman kita yang punya rumah memang tahu betul seluk-beluk Gunung Gede (toh rumah nya jg daerah situ) hehe… meski dia tidak ikut mendaki bersama kami. Setelah ngobrol dilanjutkan dengan makan bersama dan tidak lama setelah itu kami memutuskan untuk pulang ke Bandung pastinya menggunakan sepeda motor, tengah malam itu! Wow… Perfecto!
      Syukur Alhamdulillah kita semua sampai kerumah masing-masing dengan selamat, dan itulah tujuan utama kita mendaki adalah bisa kembali ke rumah dengan selamat.
      yang mau liat Videonya...
      DISINI 
      Semoga amal ibadah diterima disisiNYA! "Amin"
      -02/06/15-
      Sedikit beban yg harus kita syukuri...
      1. Kematian
      Perjalanan kemarin adlh perjalanan yg
      mengajarkan kita apa itu makna kehidupan.
      2. Hipotermia & Kesurupan
      Sebaik2 manusia adalah org yg bermanfaat bagi org lain.
       
      backpackermate
      Instagram @backpackermate  
    • By desi asiah
      Ass. Mualaikum Wr.Wb
      Halloo teman Jalanâ€ners..udh tau donk sebelumnya tentang “Curug Malela†yang letak nya di Kabupaten Bandung Barat Org†sebut ntu Curug Litle Niagara….Curug Malela adalah Curug yg paling besar dan panjang dri sekian Curug yg pernah saya kunjungin….
       
      sedikit penampakan,
       

       
      Awal mula dari keinginan yg sudah lama terpendam hhahaha…saya  dan Teman saya sebut aja Kiki yg sama†mojang Bandung (Ehemmm) Janjian Pas Pulkam lebaran H+3 untk pergi kecurug Malela sebenrnya pengen banyakan cuman ngajakin teman sana sini pada gak mau katanya Jalannya OFF Road Banget,trs mlz lah,kapok lah, ada acara ini itu lah,dll…
      Dengan Modal Seadanya alias modal google map krna blom prnh kesana pukul 8.30 sya ktmu Kiki di cimohaii alias cimahi tepatnya depan alfamart setelah masjid alunâ€nya cimahi…kami putuskan untuk sarapan bubur  dlu..
      Setelah sarapan kmi melanjutkan perjalanan, krna disini kami menggunakan Motor dan masing†membawa motor ceritanya mau offroad nihh…TAPI…..(kita bahas nnti yaa..) lanjut, kami menuju arah padalarang nnti ada pertigaan ketemu jalan Cimareme belok kiri arah mau ke Cililin. Sya pikir jalannya ssh buat ke curug malela ternyata disetiap persimpangan ada tanda yg menunjukan tujuan ke curug malela…ya udh lbh gampang perjalanan kami ( tapi tak semudah yg dipikirkan pemirsa)…setelah mengikuti ptujuk jalan belok Kiri dan Kanan maka kmi memasuki desa Gunung Halu tak lama kmi mengisi bensin eceran dlu, krna disana gak ada SPBU. Buat klian yg lupa isi bensin jngn khawatir hampir di sepanjang jalan ada aja yg jualan bensin eceran…..Sya liat jam bru jm 10 kurng klo gak salah, trs saya nanya sama ibu yg jual bensin :â€sabaraha lami deui bu upami ka curug malela??â€, Ibu : “nya tebih keneh lah,sekitar jm 12 lah smpe ka curug.â€â€¦sya :â€elehhh elehhh geuningan meuni tebihh nyaaâ€. alias jauhh pisann euyy…hahahaha (dalam hati bisa tepos Pantat ini mah)…
      Lanjut perjalanan, awal†si jalan masi bagus mulus beraspal dan betony a walopun jln nya bolak belok seperti mau ke Puncak is ok lah….tp Lama kelamaan kmi melewati beberapa desa dan kiri kanan hutan,sawah, kebun tehh dan smpe akhirnya bertmulah dengan jalan yg LUMAYAN  JELEK, JELEK,  JELEK SEKALI, JELEK JELEK SEKALI SEKALI hahaha…

       
      smpe lah qt di gerbang menuju Curug tersebut, oia nnti ada dua jalan yg mau ke arh gerbangny curug sma jalan besar. Sebrnya Sblm gerbang qt kan ngelewati kebun tehh tuhh nahh nnti qt ktmu dengan sekawanan ojeg yg menawarkan/menanyakan kea rah Curug, kta mereka si ada dua jalan bisa Lurus terus Bisa kearah yg lain yg entah kemana jalan itu menuju yg jelas yg tau cuman para ojeg tersebut hehehe..tp kata si akangnya bisa aja lurus cuman jalannya JELEK JELEK SEKALI SEKALI…..Bukn JELEK SEKALI ya pemirsa…pdhl sblom smpe gerbang aja udh jelek bgt klo mnrt sya…tu jalan isinya Cuman batu kali yg gede sma tanah liat aja mana jalannya nanjak sma turunan kebayang lah klo ujan psti licin banget…

       

       
      Lanjut setelah Melewati gerbang kata penjaganya masi 2 kilo lagi neng trs sya nanya jalannya gmn a’??
      Katanya jelek lebih jelek dri sebelumnya…haha bener†Offroad ini mahh selama perjalanan gak nemu jalan yg bagus aslinyaa tah……tp pas pergi gak kerasa capenya, soalnya pengen cepet†sampe setelah beberapa menit jam menunjukan pukul 12.00 tepat sampe juga di curug…
      Alhamdulillah sampe juga…
       
      Ternyata sebelum qt sdh ada bnyak org yg berkndraan motor disana ada tmpat parkir dan 3 saung dri kayu yg 2 adalah warung yg 1 saung buat istrirahat kayanya si sengaja disediain buat pengunjung awalnya gak ngehh dipikir tu saung cuman buat duduk aja hehe tp setalh kembali dari curug baru sadar itu saung disediain buat apa…hahahaha (buat Geletakan setelah naik alias balik dri curug krna kecapean setengah matee)
       
      Sampe di sana langsung qt meluncur ke curugnya bertempat dibawah, jdi qt hrus jalan kebawah dulu buat smpe ke lokasi,,,lumayan lah sekitar 30 mnt prjalanan jalan smpe curug …turunnya si gak cpe tp pulangnya  baru kerasa setengah matii….cuuaaappeeee pake Buanget….Kapok Gakan Kesana kesana lagii…tp semuanya terbayar setelah smpe di curugnya hehe tapi sayang disana gak bisa terjun mandi coz alirannya ckup deras...kecuali yg nekad boleh" aja...
       

      perjalanan menuju curug,,,
       


      Curug Malela dilihat dari jauh,
       

      Curug Malela dilihat dari dekat...
       
       
      Rincian :
       
      Sarapan Bubur                       Rp. 10.000
      Bensin motor Pool tangki        Rp. 20.000
      Tiket masuk                            Rp. 5.000
      mineral + pocari                      Rp. 12.000
      Gorengan                               Rp. 1.500
      Makan Siang&sore (dirapel)   Rp. 15.000
      Bayar Toilet                            Rp.4.000
       
       TOTAL                                   Rp.67.500
       
       
    • By eka wibisono
      Gak kerasa udh hampir 1 tahun mengikuti Gatnas KJJI ke 9 di Lombok bln Oktober 2015, dan timbul perasaan kangen  pingin kumpul2 dgn teman-teman ex Gatnas Lombok. Akhirnya pas bulan Juni 2016, beberapa dari kami @luxia, @siti uko, @menie ketemuan di rumah @sitiuko di Ciawi. Nah disitulah tercetus ide utk ajakin reuni teman2 ex Gatnas Lombok, pergi bersama-sama ke Lombok tgl. 18-20  November 2016, pastinya dgn rute yg berbeda  dengan thn 2015. Eh ternyata ngumpulin teman2 ex Gatnas Lombok utk jalan bareng2 lg susah-susah gampang lho hehehe.... ada yg udh daftar...tiba2 cancel. Akhirnya dari teman2 yg sudah daftar,  ini lah yg terkumpul:
       1.  saya 
         2. @titisetianingsih 
         3 . @luxia 
        4.   @sitiuko
              5. @menie  
               6. @dimaz
                       7. @dhan doank 
                     8. [email protected] 
                     9.    [email protected] 
                10.  [email protected]
                11. [email protected]
      Berhubung peserta reuni ex Gatnas Lombok sedikit, akhirnya diputuskan kami boleh ajak teman2 kami yg lain. Jadilah bertambah 4 orang yg salah satunya [email protected] Zein (ex Gatnas KJII 8 di Padang). Jadi total peserta 15 orang. Walaupun ada peserta baru, tapi gak kalah seru  suasana reuni kami ini hehehe... maklum biang gokilnya jd nambah. 
      Untuk acara kami ini, kami minta tolong ke Dimas untuk atur transportasi dan itinerary selama di sana. 
      Yuk kita mulai perjalanan reuni kami. 
      Hari 1: tgl. 18 November 2016:
      Gili Petelu, Pantai Tangsi (Pink Beach), Gili Segui (Pink Beach 2),  dan Gili Pasir (Lombok Timur)
      Kami berangkat dari M Hotel di kota Cakranegara sekitar jam 7.00 pagi WITA menuju Pelabuhan Tanjung Luar di daerah Lombok Timur  yg memakan waktu perjalanan sekitar +/- 1,5 jam. Dalam perjalanan sempet tuh kami mampir ke daerah Puyung (Lombok Tengah) utk cobain Nasi Balap Inaq Esun yg terkenal di Lombok. Utk menuju tempat makan ini, dr jalan raya kita harus jalan kaki 150 meter memasuki gang rumah penduduk. Gak nyangka, di rumah yg sederhana ini nasi balap yg terkenal itu dijual. Utk teman-teman yg belum tau nasi balap, nih sedikit info ya. Nasi balap yaitu nasi dgn lauk ayam suwir crispy bumbu pedes, ikan asin crispy, sambal dan kacang kedele goreng.

      Yg terkenal dari nasi balap ini ya pedesnya itu yg super (dijamin perut langsung panas & mules kalo yg gak tahan pedes hahaha...), tp buat yg gak doyan pedes bisa minta kok nasi balap yg tidak pedes dan pedes sedeng. Nasi balap Inaq Esun ini harganya Rp.15 ribu per porsi, enak, murah dan kenyang jg lho. Setelah kenyang, lanjutlah perjalanan kami ke pelabuhan Tanjung Luar.
      Setelah tiba di pelabuhan Tanjung Luar, gak buang waktu lg kami langsung dibagi menjadi 2 kapal utk explore  ke gili-gili.
       
       
      1.        Gili Petelu.
      Di Gili Petelu ini airnya bening dan keliatan tuh karang-karang yg di bawah laut. Sayang kami gak bisa main lama-lama disini karena arus bawah lautnya tiba-tiba makin kuat.
       

       
      Diputuskan langsung kami lanjut ke Pantai Tangsi (Pink Beach).
       
      2.        Pantai Tangsi/Pink Beach.
      Nah ini lah dia Pink Beachnya Lombok. Warna pasirnya ternyata udah gak terlalu pink lho senasib dgn pink beach di Pulau Komodo, mungkin krn udah byk orang yg berkunjung ya jd plankton pinknya berkurang. Pantai Tangsi ini bagus lho viewnya tp sayang kebersihan di pantai ini kurang terjaga, jd kita mau main air di sini jadi males. Setelah makan siang, krn gak pada mau main air, kita semua pergi ke bukit di Pantai Tangsi utk foto-foto aja deh.
       

       
      Setelah puas foto-foto, lanjut lah perjalanan kami menuju Gili Segui.
       
      3.        Gili Segui.
      Letak Gili Segui ini gak terlalu jauh dari Pantai Tangsi, dan Gili Segui ini dijuluki Pink Beach 2. Hmm...benar lho pantainya msh bersih krn belum banyak dikunjungi orang. Dan pasirnya memang lebih keliatan pinknya dr pada di Pantai Tangsi. Mana tahan deh gak main air di sini.
       

       
      4.        Gili Semangkuk.
      Dalam perjalanan dari Gili Segui ke Gili Pasir, kami diajak mampir sebentar utk snorkling di Gili Semangkuk ini.

       
      Airnya masih bersih dan karang-karangnya juga masih bagus.
       

      Nah istimewanya dr Gili Semangkuk yaitu ada sumur di dasar laut. So pasti bikin kita penasaran pingin tau. Ini dia tampilan sumurnya.
       

       
      Bagus kan?  Krn airnya msh bening, gak usah susah-susah nyelem dalam-dalam, dgn  modal alat snorkling dan ngapung-ngapung santai aja kita udah bisa liat tuh sumur.
       
      5.        Gili Pasir.
      Akhirnya tiba juga kita di Gili terakhir yg dikunjungi yaitu Gili Pasir. Gili Pasir ini akan muncul jika air laut surut menjelang sore hari.
       

      Bagus bgt Gili Pasir ini karena selain bentuk pulaunya,bintang lautnya unik lho krn  ada berwarna kuning dan pasirnya beralur-alur seperti pasir berbisik di Bromo.
       

       
       
      Kami semua menghabiskan waktu agak lama di Gili Pasir ini sambil menikmati sunset.
       
       

       
      Akhirnya lewat magrib kami baru mendarat lagi di Tanjung Luar. Satu hal yg disayangkan nih, fasilitas kamar kecil utk bilas kurang  banget krn jumlah kamar kecil cuma 2 dan air bersih utk bilas kurang. Jd terpaksa deh kami bilas sekedarnya...hehehe...lumayan bawa “oleh-oleh” pasir yg nempel di badan dan rambut.
      Dari gili-gili yg kami kunjungi hari ini, kesan aku sih bagus-bagus kecuali Pantai Tangsi/Pink Beach yg kurang memuaskan, ya itu krn kurang bersih.
       
      Hari 2: tgl 19 November 2016:  Pulau Paserang dan Pulau Kenawa di Sumbawa Barat.
      Terinspirasi dgn kunjungan Deffa dan Dimas ke 2 Pulau ini setelah selesai Gatnas Lombok 2015,  kami semua penasaran jg pingin liat keindahan Pulau Paserang dan Pulau Kenawa. Makanya 2 Pulau ini kami masukkan ke kunjungan utama kami. Perjalanan dari kota Cakranegara ke Pelabuhan Kayangan yg terletak di Lombok Timur ditempuh +/- 2 jam. Di Pelabuhan Kayangan ini banyak bgt penjual nanas krn Lombok Timur (daerah Masbagik) memang  terkenal dgn nanasnya. Sambil nunggu Dimas beli tiket, dr pada penasaran kami beli deh 2 ikat nanas. 1 ikat nanas (5 buah) dihargai Rp. 15 rb (incl. ongkos kupas & potong) murah kan. Wah ternyata enak lho nanasnya,seger dan gak asem. Kalau teman-teman nyebrang ke Pototano via pelabuhan Kayangan jgn lupa cobain nanasnya ya, oh iya  sebaiknya membeli jg bekal makan siang  di rumah makan yg ada di sini sebelum menyeberang krn lebih higienis.

      Kapal ferry dari pelabuhan Kayangan ke Pototano (Sumbawa Barat) berangkat setiap 1 jam sekali, beroperasi 24 jam dan perjalanan penyebrangan sekitar 2 jam. Setelah kapal keluar dari pelabuhan Kayangan kita  akan disuguhi pemandangan yg bagus bgt.

      Suasana di kapal ferry ini cukup bersih dan ada hiburan musik organ tunggal tuh. Siapa aja boleh minta lagu, mau joget atau mau nyanyi jg boleh asal nyawer ke pemain organ tunggal.  Nah disini lah Netty, Menie, Onya, Ven-Ven dan Abdy (adik Lenny Zein) unjuk kebolehan mereka berjoget hehehe..... pokoke heboh deh.

      Lumayan sih bikin perjalanan gak bosen.
      Setelah sampai di pelabuhan Pototano, kami berjalan kaki sebentar menuju ke dermaga kecil utk naik kapal yang akan antar kami ke Pulau Paserang dan Pulau Kenawa. Jgn kaget ya liat dermaganya, hehehe....ya a la kadarnya gitu deh.

      1.    Pulau Paserang.
      Dari dermaga ini, kita akan berlayar sekitar 30 menit sudah sampai di Pulau Paserang.

      Kesannya..... ya ampun ternyata sepi dan gersang bgt ya Pulau Paserang. Sebaiknya bawa bekal makan dan minum deh krn gak ada orang yg jualan di pulau ini. Setelah makan siang, gak buang waktu, langsung deh kami berjalan menuju puncak bukit.

      Untuk yg gak kuat jalan, gak usah kawatir trekkingnya gak jauh  dan gak berat kok... enaknya udah ada jalur trekking yg disemen, tapi.....siap-siap  kaki kebaret-baret dengan tanaman liar putri malu yg berduri itu...hehehe... yg minta ampun banyak banget.

      Setelah sampai puncak bukit, rasa perih di kaki gak berasa lagi krn kita udah terpesona dengan viewnya.

      Setelah puas foto-foto, cusss.... kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Kenawa.
       
      2.    Pulau Kenawa
      Dari Pulau Paserang cuma berlayar sekitar 15 menit  udah sampe deh kita  di Pulau Kenawa. 

      Apa yg istimewa dari Pulau Kenawa ini? Selain view dari atas bukit,  uniknya rumput savananya bergerombol sendiri-sendiri seperti tanaman padi gitu deh.  Sambil menunggu panas matahari berkurang, kami santai-santai dulu di warung yg dekat dermaga, ada juga teman2 yg snorkling krn memang lautnya masih bersih dan bagus. Untuk toilet, jgn ngarep toilet yg bagus ya, adanya toilet darurat gitu . Sayang ya, fasilitas umum belum dibikin yg bagus padahal pengunjungnya  sudah banyak lho  dan ada yg kemping jg.
      Setelah sinar matahari gak terlalu ngejreng, kami semua memulai trekking ke puncak bukitnya. Sepanjang jalan, mata adem rasanya liat padang rumputnya yg mulai keliatan warna hijaunya.

      Setelah melewati padang rumput, siap-siap trekking ke atas bukit, gak terlalu tinggi kok, paling cuma 10 menit, asal jangan buru-buru dan harus hati-hati krn selain menanjak byk batu krikil kecil2 yg bisa bikin kepleset.

      Semua rasa cape dan panas terbayar lho dengan pemandangan yg terhampar di depan kita. Ini buktinya.


      Gak kerasa, duduk2 sambil menikmati pemandangan, tiba lah waktu sunset di bukit ini. Baguus.....banget sunsetnya. Emang Pulau Kenawa top deh.

      Udah posisi PW gini males rasanya mo jalan turun lg, tp dr pada kemaleman di atas dan susah turunnya krn gak ada lampu senter, cepet2  kami jalan turun lagi menuju pinggir pantai. Pas sampe di pantai, hari udah lumayan malam dan akhirnya sekitar jam 19.30 WITA kami meninggalkan Pulau Kenawa untuk menuju dermaga asal. 
      Akhirnya kami sampai kembali di Cakranegara sekitar jam 12.30  dinihari.
       
      Hari 3: tgl.20 November 2016: Air Terjun Benang Stokel, Air Terjun Benang kelambu dan Bukit Merese di Tanjung Aan. 
      Baru tidur sekitar 3 jam, mau gak mau mata harus melek pagi2 lagi. Waktunya packing! Ini lah hari terakhir perjalanan reuni kami dan kami semua cepat-cepat sarapan dan check out dari Hotel karena gak sabaran pingin liat keindahan Air Terjun Benang Kelambu. 
       

      Air terjun yg akan kami kunjungi ini termasuk kawasan hutan  di kaki Gunung Rinjani tepatnya di Desa Aik Berik, Lombok Tengah. Dari Kota Cakranegara,  lama perjalanan sekitar 1 jam, kita  bisa menempuh jalur Mataram-Narmada-Sedau-Pancor Dau-Teratak-Desa Aik Berik.Ke 2 air terjun ini belum setenar air terjun Tiu Kelep di kalangan wisatawan, jadi gak heran pengunjungnya sebagian besar orang lokal Lombok.
       

      Oh iya kalo teman-teman merasa gak sanggup jalan kaki menuju air terjun, byk ojek motor yg sudah standby di gerbang masuk kawasan air terjun. Ada jg beberapa teman kami yg lsng sewa ojek motor seharga Rp.30.000,- pulang pergi, tp nyesel lho kalo naik ojek motor krn kita gak bisa liat Air Terjun Benang Stokel.Jalan kendaraan bermotor dan mobil ternyata langsung menuju ke lokasi Air Terjun Benang Kelambu.
       
      1.    Air terjun Benang Stokel.
      Setelah kita melewati gerbang masuk, kita mulai berjalan melewati kawasan  pepohonan yang rindang dan hiruplah udara segar yg belum kena polusi. Jalur menuju ke lokasi air terjun sudah dibangun undakan2, sehingga kita berjalan menuju ke air terjun dengan cukup nyaman sih. Dari pintu gerbang, kita akan berjalan sekitar 1 km untuk menuju air terjun Benang Stokel.
       
       

      Dr kejauhan kita udah bisa liat tuh  Air Terjun Benang Stokel. Di air terjun ini ternyata ada dua air terjun dan nama air terjun ini yaitu “Benang Stokel” dalam bahasa lokal memiliki arti “seikat benang”. Dinamai demikian karena bentuknya yang menyerupai ikatan benang. Air terjun ini memiliki dua air terjun, dengan ketinggian masing-masing sekitar 20 Meter. Airnya sangat jernih dan segar.
       
       

       
       
      2.    Air terjun  Benang Kelambu.
      Setelah puas foto-foto di Air Terjun Benang Setokel, lanjutlah perjalanan kami menuju Air Terjun Benang Kelambu. Jalur trekkingnya cukup nyaman sih, gak yg curam banget (lebih gempor trekking di Air Terjun Tiu Kelep hehehe...).
       

      Santai aja jalannya supaya gak terlalu capek.Kalo haus atau lapar, gak usah takut, sepanjang jalan setapak ada beberapa warung yg standby jual makanan dan minuman.
       
       
      Taraaa... dari jauh udh keliatan tuh air terjunnya. Baguss kan air terjunnya dan kita cuma bisa bilang memang ciptaan Tuhan indah .
       
       

      Air terjun ini dinamai Air Terjun Benang Kelambu karena terjunan airnya yang berbentuk seperti kelambu. Air terjun ini memiliki 3 tingkat. Tingkat yang paling atas berasal langsung dari mata air, dan memiliki ketinggian sekitar 30 Meter. Tingkat yang kedua merupakan lanjutan dari tingkat pertama, dengan ketinggian sekitar 10 Meter. Tingkat yang ketiga memiliki ketinggian hanya 5 Meter.

      Gak seperti Air Terjun Benang Setokel, Air Terjun Benang Kelambu tidak memiliki kolam, jadi cuma bisa basah-basahan di bawah terjun. Kalo mau berenang bisa juga sih, dibawah ada tuh kolam buatan utk pengunjung berenang.
       
       

      Nah utk jalan pulang kami cobain lewat jalur kendaraan bermotor, dan ternyata jalannya lebih landai dan gak usah menderita melewati jalan menanjak dan anak tangga yg bikin kaki pegel hehehe... 
       
      3.    Bukit Merese, Kuta, Lombok
       
      Setelah istirahat makan siang, langsung cuss... kita mampir dulu beli oleh-oleh di toko oleh-oleh Gandrung (jual kaos, baju dgn kualitas dr yg biasa sampai yg bagus) dan toko Lestari (jual oleh-oleh makanan lokal). Sebelum menuju ke Bukit Merese, kami antar teman kami bang Duty Nath ke Bandara dulu krn pesawat dia lbh cepat dr pd kita semua.
      Dr bandara ke Bukit Merese gak terlalu jauh sih... sekitar 45 menit lah. Arah menuju ke Bukit Merese, ternyata melewati Pantai Kuta dulu dan melewati Pantai Tanjung Aan.
      Bukit Merese ini menarik lho krn ada padang rumputnya yg bagus utk foto-foto dan kita bisa melihat Pantai Tanjung Aan dan Batu Payung di kejauhan.
      Ini lah dia, view Bukit Merese. Bagus kan teman-teman.
       
       

      Nah karena terlalu menikmati suasana di Bukit Merese ini, jd lupa waktu deh, gak berasa udh jam 18, waah..langsung kami semua panik takut telat sampai di Bandara. Untung sopir mobil Elf kami cepet tuh nyupirnya... pas jam 19 malam sampe di Bandara (pesawat kami sekitar jam 20 malam). Puji Tuhan gak telat.
      Nah teman-teman demikian sedikit cerita dari reuni ex Gatnas IX.  Semoga kami semua tetap kompak deh. Salam jalan-jalan!
       
       

       
       
       
    • By noped
      Sedikit Review naik KA MALABAR Bandung - Malang minggu lalu 
      Buat yang suka naik umum, kereta ini sangat cocok dan di rekomendasikan untuk menempuh perjalanan yang cukup panjang dari Bandung – Malang dan sebaliknya. Harga tiket untuk kelas Eksekutif 465k, bisnis 270k, Ekonomi 225k. Untuk menghindari kehabisan tiket, sayapun memesan 3 minggu sebelum keberangkatan menggunakan aplikasi favorite pegipegi
      Nama kereta api Malabar diambil dari nama gunung berapi yaitu Gunung Malabar. Gunung ini terletak di bagian selatan Kabupaten Bandung dengan titik tertinggi 2.343 meter di atas permukaan air laut. Namun sebagian orang mengatakan nama Malabar tersebut berasal dari singkatan dari jurusan akhir kereta ini, yakni Malang-Bandung Raya (sumber wikipedia) atau lelucon dalam bahasa pejalan Malabar (Mantan Tak Lagi Berkabar).
      Kelebihan, sudah dilengkapi AC pada semua bagian kelas serta pengisian baterai. Tersedia TV hanya di bagian depan (kelas Eksekutif), Majalah “Rel” yang isinya ringan2 seperti kuliner,obyek wisata (kelas Eksekutif), Bantal mini yang telah tersedia di kursi sejak keberangkatan (kelas Eksekutif), untuk selimut disediakan saat mendekati jam tidur (kelas Eksekutif), AC sentral, bukan split seperti di kelas bisnis/ekonomi, menyewakan bantal tambahan dengan harga 7k
      Kekurangan kereta ini belum menyediakan wifi gratis, ruang khusus ibadah (mushola) dan AVOD di setiap bangku (kelas Eksekutif)
      Oh ya saran buat yang akan menggunakan kereta ini, di karenakan perjalanan malam hari dan kondisi suhu di dalam gerbong sangat dingin, gunakan pelindung kaki, jaket yang cukup tebal, pentup mulut dan telinga atau buff masker serta sarung tangan.
      saya post juga di noped.net
       
       



    • By adriepn
      Tanggal trip : 17-20 April 2014 (4 Hari 3 Malam)
      Destinasi trip : Maratua - Sangalaki - Kakaban - Derawan - Nabucco
      Peserta trip : 6 orang termasuk saya
      Travel : Kakaban Tour (www.kakaban.co.id)
      Biaya trip : Silahkan kontek saya untuk sekedar info 0818986510 atau bisa langsung kontek Kakaban Tour.

      All picture taken by iPhone 5S, not a pro camera. So perhaps some picture is not too sharp.
      Except for underwater photo, is taken by Nikon Powershot G12 with underwater casing.


      Setelah berdebat panjang tentang tujuan liburan kami di bulan April, akhirnya kami memutuskan untuk liburan ke Derawan. Berhubung ini perjalanan pertama kami ke Derawan, kami memutuskan memakai jasa travel supaya semua lancar. Travel yang kami pilih adalah Kakaban Tour.

      And now is the story

      DAY 1 : 17 April 2014

      Kami ber 6 berangkat dari Jakarta dengan pesawat Lion Air jam 5 pagi. Bisa dikatakan ini penerbangan paling pagi menuju Tarakan. Iya, kami memutuskan untuk mengambil jalur Jakarta – Tarakan – Derawan.

      Jalur lainnya sebagai alternatif adalah Jakarta – Balikpapan – Berau – Derawan. Namun, jalur alternatif ini terlalu panjang dan berpotensi membuat kita lelah di jalan. Tapi tergantung Anda lagi mau pilih jalur mana.

      Perjalanan ditempuh kurang lebih 3,5 jam dan kami tiba di Tarakan sekitar jam 9 pagi. Sesampainya di Tarakan, kami disambut oleh Guide kami, Mas Ryan. Dari bandara, Mas Ryan mengajak kami untuk sarapan dulu sebelum menyeberang ke Derawan karena perjalanan ke Derawan akan menempuh waktu selama 3 jam.


      Bandara Internasional Juwata Tarakan, Kalimantan Utara (KalTara)

      Usai sarapan, kami pun memutuskan mengisi perbekalan selama disana. Cemilan, minuman, peralatan mandi, dsb, yang kami pikir akan sulit didapatkan disana. Pukul 11 siang, kami tiba di Pelabuhan Tengkayu Tarakan untuk menyeberang ke Derawan. Kapal yang kami gunakan untuk menyeberang adalah speedboat fiber bermesin tunggal dengan kapasitas 250 HP.

       

      Berhubung kami menggunakan jasa travel, maka speedboat kami pun telah dicarter hanya untuk kami saja. Saya tidak tahu dengan prosedur travel lainnya, tapi travel yang kami pakai mencarter speedboat hanya untuk kami.

      Tepat pukul 11.30 WITA kami berangkat menuju Derawan menggunakan speedboat. Keadaan laut saat itu cukup tenang sehingga kapal dapat dilaju cukup kencang, kurang lebih sekitar 70-80 km/jam. Namun karena laju kapal yang cepat, membuat hentakan badan speedboat dengan permuakaan air, menjadi lebih keras. Untung saya sudah minum Anti*o, sehingga tinggal pasrah dengan efek biusnya.. 



      Walaupun trip kami ini ke Derawan, namun kami menginap di Pulau Maratua. Kurang lebih sekitar 1 jam dari Pulau Derawan. Tarakan – Derawan = 2,5 jam + 1 jam ke Maratua = 3,5 jam.

      Jam tangan saya menunjukan pukul 16.00 WITA saat kami tiba di Maratua. Sebagai info, Maratua dikhususkan kepada para tamu yang hobi diving. Sehingga saat Anda ke Maratua, mereka memiliki diving set yang lengkap untuk disewa oleh para tamu seperti snorkel, masker, fin, BCD, Nitrox, dll. Namun jika Anda hanya sekedar snorkeling, membawa set snorkeling Anda sendiri sangat disarankan agar Anda lebih puas & tenang liburannya.

         
       
      Di Maratua hanya ada 1 penginapan yaitu Maratua Paradise Resort. Kelebihan resort ini adalah vila penginapannya berada di atas laut. Ada juga vila yang berada di tepi pantai, namun hanya ada 8 unit saja. Bagi Anda yang ingin mendapatkan “perfect runawayâ€, tempat ini sangat direkomendasikan.

       

      Setibanya kami di resort, kami langsung menuju vila masing-masing untuk beristirahat. Khusus buat saya, saya perlu menyadarkan diri dari bius Anti*o.

      Pukul 17.30 WITA kami sudah siap-siap untuk menyambut sunset pertama kami di Maratua. Sepanjang garis horizon, kami hanya melihat hamparan laut yang jernih dan tenang. Tidak ada ombak yang menggulung.

      Dan sang Mentari Senja pun tiba dengan anggunnya di Maratua.

          
      Tidak ada dari kami yang mampu menyimpan hp di kantong. Selama 1 jam, kami semua begitu damai dalam posisi seperti tripod. Kami baru beranjak darI spot kami, setelah Mas Ryan (guide) kami mengundang kami untuk bersiap makan malam di resto apung.



      Semua di Maratua Paradise Resort, berada di atas laut, termasuk restorannya. Sebuah pengalaman yang seru saat kita menyantap ikan bakar sambil diliatin oleh si ikan yang asik berenang. Mungkin dalam hatinya sang ikan, “Titip sodara gw di perut lo yeee…â€

      Meminjam slogan Cherrybelle, hari pertama di Maratua, kami lalui dengan ISTIMEWAAAAA.. 

      DAY 2 : 18 April 2014

      Hari itu kami bangun sangat pagi. Bukan untuk mengejar sunrise, tapi untuk mengejar Pari Manta. Ya, hari itu kami menuju Pulau Sangalaki dimana disekitar pulau tersebut adalah tempat favorit para Pari Manta untuk muncul ke permukaan.
       
      Start pukul 8 pagi dari resort, speedboat kami mulai melaju kearah Sangalaki. Baru setengah perjalanan, kapten kapal melambatkan laju speedboatnya. Kami pikir kami akan snorkeling di tengah laut, namun teriakan semangat sang kapten membuat kami mengeluarkan seluruh perlengkapan foto.

      Lumba-lumba arah kiri 

      Benar saja. Terlihat kawanan lumba-lumba dari kejauhan. Sirip punggung mereka, bergantian muncul di permukaan. Lalu menghilang. Harapan bertemu lumba-lumba dari jarak dekat pupus sudah.

      Namun, tak lama kemudian, terdengar seperti orang bersiul yang lambat laun mendekat ke arah speedboat kami. Ternyata kawanan lumba-lumba tersebut berenang kearah kami, lalu mensejajarkan diri dengan kecepatan speedboat.

      Saya hitung ada sekitar 10-15 ekor lumba-lumba pagi itu yang menyambut kami. Mereka pun tak malu-malu menampakan diri. Dari berenang hanya sejarak 1 lengan saja dari speedboat hingga loncat akrobatik di atas permukaan air. Mereka seperti bisa membaca perasaan kami yang ingin melihat mereka lebih dekat.

       

      Hampir selama 30 menit lamanya, para kawanan lumba-lumba berenang di segala penjuru kapal, hingga akhirnya menghilang. Tak apalah, akhirnya kami melihat lumba-lumba dari jarak yang sangat dekat untuk beberapa waktu lamanya. Membuat semangat pagi itu semakin bergelora.

      Namun sayang, kami tidak bertemu sang Pari Manta karena kondisi laut saat itu sedang surut. It was not our lucky day.

      Tak lama kemudian, kami tiba di Pulau Sangalaki. Sekedar informasi, Sangalaki adalah pusat penetasan tukik penyu. Menetas pada pagi dini hari dan dilepaskan sore harinya. Tujuannya jelas, menjaga penyu dari kepunahan, dari mangsa predator (musang & biawak), serta dari pencurian telur. Saat ini telur penyu sudah dilindungi oleh undang-undang sehingga perlu tindakan nyata untuk menjaga telur-telur ini dari tangan jahil. Dan mereka di Sangalaki, sudah memulainya dari bertahun lamanya.

         

      Tapi narsis tetap wajib hukumnya..

      Setelah selesai berjumpa dengan para tukik, kami melanjutkan perjalanan ke spot diving pertama. Namun, karena kami semua belum menjadi Diver berlisensi, maka kami hanya melakukan snorkeling saja.

      Spot pertama di Sangalaki sungguh menawan. Ditunjang oleh cuaca cerah saat itu, jarak pandang ke dalam air sangat jelas. Kami bisa melihat dasar karang yang berjarak sekitar 5-7 meteran. 

      Berhubung ini adalah kali kami pertama nyemplung di perairan Derawan, maka 15 menit pertama lebih kepada penyesuaian diri terlebih dahulu. Arah arus, kuat arus, arah angin, menjadi salah satu pertimbangan kami saat itu. Kami beruntung dipandu guide professional yang juga seorang Diver Berlisensi AOW (Advanced Open Water), sehingga kami lebih merasa aman. Walau sertifikasi Mas Ryan "baru" sampai AOW, tapi jumlah dive-log nya sudah banyak. Ditambah Mas Ryan adalah orang asli Maratua.

      Kadar garam di perairan Derawan, termasuk tinggi. Sehingga untuk sekedar melakukan freedive, cukup membutuhkan usaha ektra. Tapi itu semua terbayar dengan pemandangan bawah laut yang menakjubkan.

         

      Setelah 1 jam kami snorkeling disana, naga di perut meraung-raung meminta jatah makan. Jadilah kita mlipir ke Pulau Derawan. Di Derawan kami hanya sekedar makan siang dan istirahat, setelah itu lanjut snorkeling di Pulau Derawan.

      Di Derawan, rencananya kami akan bermain bersama penyu. Jika melihat penyu saat di darat atau sedang bertelur, kami sudah sering melihatnya. Berenang bareng penyu ? That would be awesome!

       

      Selesai bermain bersama penyu, kami lanjut ke Pulau Pasir. Dikatakan Pulau Pasir karena sebenarnya ini adalah dasar laut saat air pasang. Saat air surut, maka timbullah si pasir ini sehingga seperti pulau.

      Pulau Pasir salah 1 spot keren untuk foto-foto. Pasir putih, air jernih kebiruan, view sekitar yang OK, jadilah 1 paket foto keren.

           

      Setelah puas bermain di Pulau Pasir, kami kembali ke Maratua untuk mandi, beristirahat dan siap menyambut sunset kembali. Oleh-oleh hari kedua adalah.. gosong!

      DAY 3 : 19 April 2014

      Inilah hari yang paling kami tunggu karena hari ini kami mengunjungi Pulau Kakaban. Pulau atol yang terkenal karena penghuni ajaibnya, yang tak lain tak bukan adalah Ubur-Ubur Tak Berbahaya.

      Ubur-ubur pada umumnya akan menyebabkan gatal dan panas pada kulit, apabila sulurnya terkena kulit kita. Namun, di Pulau Kakaban, mereka tidak menularkan gatalnya.

      Setelah speedboat merapat di dermaga, kami masih harus trekking sekitar 5 menit berjalan kaki. Trek nya adalah tangga kayu berkontur. Ada bagian yang menanjak, datar, dan turunan.

      Kami begitu tak sabaran untuk nyemplung bersama para ubur-ubur, begitu kami tiba di tepian danau Kakaban. Dari atas dermaga di pinggir danau, kita bahkan sudah bisa melihat rombongan ubur-ubur yang sedang berenang santai. Sepertinya hidup mereka begitu indah, tanpa perlu memikirkan meeting proyek..

      Perlu dipatuhi peraturan snorkeling di Danau Kakaban : Pertama, tidak boleh menggunakan fin karena ubur-ubur termasuk hewan yang fragile & kalau pakai fin, ubur-ubur akan tersapu kibasan fin kita. 

      Kedua, tidak boleh nyemplung masuk danau dengan loncat. Itu semua demi kelangsungan hidup para ubur-ubur & agar danau tidak menjadi keruh. Ketiga, berenanglah dengan sesantai mungkin. Ya, santai saja seperti ubur-ubur.

      Sekarang, mari kita nyemplung.
       

       
      Sungguh beda rasanya berenang bersama ubur-ubur. Terakhir saya berenang bersama ubur-ubur, saya harus pake salep kulit sekujur badan setelah berenang…

      Ada 3 jenis ubur-ubur di Danau Kakaban. Jenis ubur-ubur berukuran normal (sekepalan tangan) berwarna oranye cerah, jenis ubur-ubur mini, dan jenis ubur-ubur transparan.

         

      Snorkling semakin ke tengan danau, akan semakin banyak ubur-ubur yang kita jumpai. Pada umumnya, pengunjung hanya nyemplung di pinggiran danau saja sehingga area tersebut menjadi sangat keruh.

      Bermain bersama ubur-ubur ramah, sungguh damai. Waktu seolah berhenti. Saya sampai perlu dipanggil untuk diingatkan bahwa sudah waktunya lanjut ke spot berikutnya.

      Guide kami bilang kepada kami bahwa spot snorkeling berikutnya adalah yang the best dari Kakaban. Tempat itu disebutnya Wall Point. Ternyata spot nya hanya berjarak 100 meter dari dermaga Pulau Kakaban.

      Setibanya di spot, kami melihat coral yang cantik dari atas speedboat. Kondisi cuaca saat itu memang sedang cerah sehingga kami bisa melihat hingga ke dasar.

      Kejutan tiba saat kami semua sudah nyemplung. Saat sedang asik menelusuri jalur coral, kami dikejutkan oleh kontur coral yang semakin turun ke dalam. Namun, karena rasa penasaran kami lebih besar, kami terus maju. Dan kami pun tersadar kenapa itu disebut Wall Point.

      Wall Point adalah istilah untuk coral yang berjejer secara vertikal hingga membentuk seperti dinding besar. Ditambah dengan warna coral yang terang dan ikan berwarna cerah yang hilir mudik di depan masker kami, membuat Wall Point mendapat 4 jempol dari kami. 

      Bisa dikatakan Wall Point seperti palung di samudra. Namun sebenarnya ini adalah “kaki†dari si pulau atol Kakaban.
       
             
       
      Memang benar trip ke Derawan ini adalah pengalaman yang luar biasa. Kami selalu disuguhi pemandangan bawah laut yang memang luar biasa. Saya belum bisa membandingkan dengan Raja Ampat, Wakatobi, atau Bunaken, karena saya belum pernah ke 3 tempat yang disebutkan tadi. 

      Kurang lebih kami menghabiskan waktu 2 jam di Wall Point karena its so stunning! Ada rasa belum puas saat harus menyudahi petualangan di Wall Point. Namun, time is up dan siap lanjut ke spot 3, yaitu Kakaban Lagoon.

      Kakaban Lagoon adalah seperti sungai yang terjebak di dalam pulau karang. Terjebak karena kondisi surut & baru mengalir kembali saat pasang. Untuk mencapai Kakaban Lagoon, kita harus memanjat karang secara vertikal dengan tangga kayu & sedikit rock climbing. Betul-betul rock climbing! 



      Setibanya di atas, kami disuguhi lokasi yang super-duper-keren. Biru air, pasir putih, hijaunya pohon, dan kesunyian. It's a perfect a place to hide! 
      Namun, tak berarti tak ada gangguan. Nyamuknya cukup banyak. Ga ada pilihan selain pasrah..

        

      Dari Kakaban, kami kembali menuju Maratua untuk makan siang dan beristirahat. Tepat pukul 2 siang, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Nabucco.

      Sebagai informasi, Pulau Nabucco adalah pulau resort yang diperuntukan bagi wisatawan berkantong tebal. Kantong kami pun tak kalah tebal, hanya saja tebal oleh bon

      Pulau Nabucco terletak berjarak 30 menit dengan speedboat dari Maratua. Secara administrasi, Nabucco masih 1 kelurahan dengan Maratua. Ke Nabucco pun, hanya mengitari Maratua saja.

      Setelah menerjang ombak yang cukup tinggi untuk menuju Nabucco, akhirnya kami pun tiba disana. Kondisi nya sungguh terpencil dan jauh dari keramaian. Untuk yang mengincar suasana sepi, Nabucco bisa menjadi pilihan tempat menginap. Bagi kami, Nabucco terlalu sepi. Dan terlalu mahal...

      Untuk view, Nabucco punya nilai tawar yang tinggi untuk itu. Air sebening kaca dan pasir putih, menjadi latar foto kami. Ya, yang kami lakukan hanya berfoto disana. Foto, foto, foto, dan foto. Disini wajib narsis, atau menyesal telah tidak menjadi narsis.

            

      Kami hanya menghabiskan waktu selama 1 jam saja di Nabucco karena kami ingin bermain air di pantai Maratua. Jadilah sore itu kami kembali ke Maratua, snorkelng santai dan bersiap mengabadikan sunset terakhir sebelum esok hari kembali ke dunia nyata.
       
      DAY 4 : 20 April 2014

      Inilah hari tergalau. Galau karena kami tidak mau kembali ke Jakarta. Tapi kalau tidak kembali, mau makan apa besok…

      Berfoto dulu di dermaga Maratua sambil mengucap dalam hati bahwa ini bukan perjalanan terakhir ke Derawan. Ini hanya awal dari trip Derawan berikutnya.



      Speedboat pun perlahan meninggalkan dermaga Maratua. Tidak ada satu pun dari kami yang melepaskan pandangannya dari Maratua. Tempat kami berenam menghitamkan kulit.

      Semua terdiam.

      Sekitar pukul 12 siang, kami tiba di Pelabuhan Tengkayu, Tarakan. Menaiki bus penjemput pun dengan badan lemas. Lemas karena masih ingin liburan.

      Mas Ryan sebagai guide kami, membaca air muka kami. Tanpa sepengetahuan kami, Mas Ryan memerintahkan sang sopir menuju Hutan Bakau Kota di tengah kota Tarakan.

      Kondisi bakaunya sangat terjaga dan semangat kami mulai kembali. Kenarsisan kami mulai datang lagi. Bahkan kami pun bertemu para rombongan Bekantan. Tau Bekantan ? Monyet berhidung panjang yang dijadikan maskot oleh Dufan.

       

      Akhirnya jam menunjukan pukul 1.30 siang. Waktunya kami menuju bandara karena pesawat kami akan berangkat pukul 3 sore.

      Berpamitan di bandara pun terasa berat bagi Mas Ryan. Walau dia mencoba tegar, terlihat bahwa matanya berkaca-kaca. Semoga kami meninggalkan kesan yang baik kepadanya, agar kalau kami kembali ke Derawan, Mas Ryan mau menemani kami lagi.

      Kami pun sangat berterima kasih kepada Mas Ryan karena telah begitu perhatian, sabar, dan telaten kepada kami selama di Derawan.

      Kami menaiki pesawat Lion Air. Walau duduk kami pada 1 deret yang sama, kami hanya bisa tersenyum kepada 1 sama lain. Bahkan kami cuma bisa termenung saat mentari senja mengiringi perjalanan pulang kami. 
       
      "Kenapa liburannya harus usai sedemikian cepatnya.. "

       




      Derawan, we will meet again
       
      cc @deffa @Jalan2 @d_iis @astinsoekanto
    • By petrus.sitepu
      Keindahan 3 Gili dan pantai kuta mandalika di bagian barat dari pulau Nusa Tenggara ibarat mutiara yang tersimpan baik dan rapi yang sangat disukai oleh wisatawan asing.
      Kota lombok atau yang lebih terkenal dengan sebutan pulau dengan seribu masjid ini memiliki spot wisata yang tidak kalah menarik dengan pulau dewata. Tapi sayangnya keindahannya ini tidak dinikmati baik oleh wisatawan domestik.
      Apakah ada pernah nama pantai kuta mandalika, pantai yang belakang ini menjadi trending topik di sosial media. Pantai kuta mandalika adalah pantai yang baru ini diresmikan presiden Joko Widodo, pantai ini diprediksi akan menyaingi kesuksesan dari pantai kuta di pulau dewata. Pantai ini sudah dilengkapi oleh tempat makan dan juga penginapan yang tentunya akan memudahkan wisatawan yang akan menikmati pantai kuta madalika. Jarak  yang perlu ditempuh dari kota lombok menuju pantai kuta mandalika sejauh + 39KM. Anda tidak perlu kuatir karena jalan yang akan ditempuh sudah cukup baik dan anda akan merasa nyaman untuk menuju pantai kuta mandalika.
      Menunggu matahari terbenam sambil membaca buku dan menikmati segelas es kopi bisa menjadi salah satu pilihan aktivitas anda. Bentangan pasir putih dan juga arus ombak yang tidak terlalu deras akan membuat anda betah untuk bermalas-malasan disini.
      Tentunya tidak hanya pantai kuta mandalika, ada pula 3 gili yang bisa  anda kunjungi ketika berada di kota lombok. Gili trawangan, gili meno dan gili air merupakan nama dari 3 gili yang eksotik tersebut. Gili sendiri diartikan dengan pulau kecil.

      Gili Trawangan menjadi salah satu pulau yang paling sering dijadikan base ketika ingin meng-explore keeksotisan 3 gili tersebut. Anda tidak perlu kuatir untuk masalah penginapan ketika anda ingin meng-explore 3 gili karena di gili trawangan banyak pilihan hotel ataupun hostel (guest house) yang bisa anda pilih yang  dikelola baik oleh warga lokal atau turis asing. Ada beberapa hotel yang dikelola oleh turis asing menyediakan juga jasa untuk diving dengan harga yang bervariasi tergantung pilihan anda.
      Apabila anda ingin snorkeling di gili trawangan terdapat juga penawarkan paket untuk snorkeling di gili trawangan, gili air dan gili meno. Anda hanya cukup membayar Rp 100,000 anda sudah mendapatkan perlengkapan untuk snorkeling. Paket ini cukup menarik khususnya untuk backpacker yang ingin sekali  mengexplore keindahan bawah laut dari gili trawangan, gili meno dan gili air.
      Aktivitas lain yang ada harus lakukan ketika anda berada di gili trawangan yaitu menikmati matahari terbenam, karena gili trawangan merupakan spot yang terbaik untuk melihat matahari terbenam. Ada 2 cara anda untuk menikmati matahari terbenam yaitu dengan bersepeda mengelilingi gili trawangan ataupun duduk santai di sebuah cafe yang tersebar rapi dan cantik di sepanjang pinggir pantai gili trawangan.
      Cafe -cafe pinggir pantai tersebut juga memutarkan musik dan menyediakan spot foto yang menarik untuk mengabadikan memori anda selama di gili trawangan atau mensharing keberadaan anda di sosial media
      Selamat menikmati pantai kuta mandalika dan 3 gili, karena Indonesia lebih baik. 
      (www.jelajahtanpajejak.com)