• 0
Sign in to follow this  
Anggraeni Srihartati

Jeju 24 - 25 April 2018 for Sharing Rent Car Cost :)

Question

Halo rekan2,

Saya dan teman saya akan ke Seoul dan mau lanjut ke Jeju pada tanggal 24-25 April, untuk menghemat waktu rencananya kami mau sewa mobil/taksi saja untuk perharinya 10 jam dengan range harga kisaran 150.000 krw/day.

Mungkin ada teman2 yg ada di Jeju atau berencana ke Jeju juga pada 2 hari itu? Aku dan temenku berdua, jadi kami butuh 2 orang rekan lagi sehingga cost rental mobil/taksi bisa lebih murah

jika berminat bisa dm atau wa ya ke 08978281201.

terima kasih :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

4 answers to this question

  • 0

Hallo Jalan2ers

saya mau ke jeju island tgl 5 agust bersama anak2 saya

saya mencoba menyewa mobil dan driver nya sekalian

mohon bantuan unt merekomendasikan rental car yg baik dwn tidak terlalu mahal

terimakasih

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By vie asano

      Lho, kok sunrise festival? Bukannya kemarin sudah menulis tentang festival bulan Desember? Harusnya sekarang festival bulan Januari dong?
      Kalau mengikuti alur yang biasa, ya, harusnya saat ini giliran kalender festival di bulan Januari. Tapi tunggu, jangan buru-buru pindah bulan dulu. Sebetulnya, di bulan Desember masih ada event menarik selain yang sudah saya tulis disini. Hanya saja, karena event tersebut berlangsung di beberapa tempat namun memiliki tema yang mirip-mirip satu dengan lainnya, akan lebih baik jika saya ulas dalam sebuah rangkuman tersendiri.
      Sunrise festival. Sudah bisa ditebak ya jika festival tersebut pasti ada hubungannya dengan sunrise, a.k.a matahari terbit. Tentunya bukan sembarang matahari terbit, karena Sunrise Festival ini merupakan kegiatan untuk menikmati terbitnya matahari pertama di tahun baru. Dengan kata lain, sunrise festival ini merupakan salah satu cara lain untuk merayakan tahun baru. Sunrise festival ini rata-rata dilangsungkan mulai tanggal 31 Desember, dan baru berakhir pada tanggal 1 Januari. Dimana saja lokasi sunrise festival tersebut? Berikut bocorannya:
      Ulsan Ganjeolgot Sunrise Festival
      Lokasi: Daesong-ri Ganjeolgot
      Alamat: 39-2, Ganjeolgot 1-gil, Seosaeng-myeon, Ulju-gun, Ulsan
      Akses: dari Ulsan Intercity Express Bus Terminal, naik bus 715 ke Ganjeolgot
      Lokasi festival ini adalah di Ganjeolgot Cape yang sudah sangat dikenal sebagai salah satu tempat terbaik untuk menikmati sunrise. Ada berbagai acara menarik yang digelar mulai matahari terbenam pada tanggal 31 Desember, seperti aneka pertunjukan hiburan, pertunjukan kembang api, dan lain-lain. Wisatawan juga bisa menikmati tteokguk, hidangan khas tahun baru ala Korea.
      Homigot Sunrise Festival
      Lokasi: Homigot Sunrise Square
      Alamat: Daebo-ri, Daebo-myeon, Nam-gu, Pohang-si, Gyeongsangbuk-do
      Akses: dari Pohang Intercity Bus Terminal, naik Bus 200 dan turun di Guryongpo. Dari sana, naik bus menuju Homigot.
      Daerah Homigot merupakan daerah paling timur dari Korean Peninsula, sehingga otomatis area ini menjadi salah satu yang pertama kali mendapat matahari terbit di Korea Selatan. Ada banyak acara menarik yang digelar pada festival ini, seperti menikmati tteokguk, menerbangkan layang-layang, menerbangkan balon, dan lain-lain.
      Maryangpo Sunset & Sunrise Festival
      Lokasi: Maryangpo Port
      Alamat: 56, Seoin-ro, Seo-myeon, Seocheon-gun, Chungcheongnam-do
      Akses: dari Stasiun Yongsan, naik kereta ke Stasiun Seocheon
      Daerah Maryang-ri ini merupakan salah satu tempat terbaik untuk menikmati matahari terbit dan terbenam sekaligus, terutama sejak 60 hari sebelum dan sesudah tanggal 22 Desember. Itu karena pada hari tersebut, matahari akan terlihat terbit dan tenggelam di tempat yang sama. Bagi yang ingin menyaksikan fenomena unik tersebut, bisa langsung meluncur ke Maryangpo Sunset & Sunrise Festival.
      Jeongdongjin Sunrise Festival
      Lokasi: Jeongdongjin Sandglass Park
      Alamat: Jeongdongjin2-ri, Gangdong-myeon, Gangneung-si, Gangwon-do
      Akses: dari Gangneung Express Bus Terminal, naik bus 109 ke Jeongdongjin.
      Jeongdongjin populer karena pernah menjadi lokasi shooting drama populer berjudul Sandglass. Diluar fakta tersebut, tak heran jika Jeongdongjin menarik untuk dikunjungi karena tempat ini memang sangat indah: pohon pinus, lautan berwarna biru, serta karang yang indah. Karenanya, tak heran jika tiket ‘Sunrise Train’ menuju Jeongdongjin selalu ludes jauh-jauh hari sebelum periode festival.
      Seongsan Sunrise Festival
      Lokasi: Seongsan Ilchulbong area
      Alamat: Jeju Special Self-governing Province Seogwipo-si Seongsan-eup
      Akses: dari Jeju International Airport, naik bus 100 ke Jeju Intercity Bus Terminal. Dari sana, naik intercity bus menuju Ilju Road (east). Turun di pintu masuk Seongsan Ilchulbong.
      Festival ini diselenggarakan di pulau tropis paling populer di Korea Selatan, yaitu pulau Jeju. Tepatnya, festival ini diadakan di Seongsan Ilchulbong yang populer dengan sebutan Sunrise Peak, karena tempat ini memang menjadi tempat paling favorit untuk menikmati matahari terbit di pulau Jeju. Ada banyak aktifitas seru selama periode festival, seperti pertunjukan hiburan yang disisipi dengan acara hitung mundur ke detik-detik tahun baru, festival kembang api, aneka permainan tradisional, dan lain-lain.
      Yeosu Hyangiram Sunrise Festival
      Lokasi: Impo Village (Hyangiram) area
      Alamat: Yullim-ri, Dolsan-eup, Yeosu-si, Jeollanam-do
      Akses: dari Yeosu Intercity Bus Terminal, naik bus 111 atau 113 ke Hyangiram Hermitage.
      Ada yang istimewa dari sunrise festival yang satu ini. Lokasi festivalnya berada tepat di kawasan bersejarah Hyangiram Hermitage (dibangun tahun 644), membuat suasana festival yang digelar semalam suntuk ini terasa lebih berkesan. Lebih istimewa lagi karena Hyangiram sendiri memang memiliki makna “pertapaan yang menghadap matahariâ€, sehingga wisatawan betul-betul diajak untuk meresapi suasana di Hyangiram Hermitage yang sebenarnya.
      Gyeongpo Sunrise Festival
      Lokasi: Gyeongpodae Beach
      Alamat: Gangwon-do Gangneung-si Jeo-dong
      Akses: dari Gangneung Bus Terminal/Stasiun Gangneung, naik Bus 202 ke Gyeongpodae
      Festival ini termasuk festival tahunan yang rutin digelar di kota Gangneung. Tepatnya di Gyeongpodae, yang mana di tempat ini wisatawan bisa menikmati keindahan matahari terbit. Untuk memeriahkan suasana, festival ini juga dimeriahkan dengan berbagai acara lainnya, seperti festival kebudayaan, kembang api, dan tentu saja hitung mundur menuju pergantian tahun.
      ***
      Kurang lebih itulah aneka sunrise festival yang bisa saya kumpulkan. Oya, sebetulnya tidak hanya Korea yang memiliki tradisi menikmati terbitnya matahari pertama, lho. Bangsa Jepang juga memiliki tradisi serupa, dan mungkin malah lebih heboh karena matahari dan dewa penguasa matahari pada kedudukan yang tinggi dalam kepercayaan mereka. Untuk versi budaya tahun baru ala bangsa Jepang (termasuk aktifitas menikmati sunrise pertama), bisa baca tulisan saya disini. Semoga bermanfaat!
      ***
      PS: foto-foto menyusul yah, karena koneksi lagi super selow.. >_<
      ***
      Baca juga:
      Winter in Korea: Apa, Kenapa, dan Bagaimana
      Winter in Korea: Kalender Festival Desember
      Winter in Korea: Sunrise Festival
      Winter in Korea: Kalender Festival Januari + Februari
      Winter in Korea, Saatnya Main Salju!
      Winter in Korea dan Serunya Wisata Hot Spring
      Winter in Korea, Kulineran Yuk!

    • By vie asano

      Sejauh yang saya ingat, saya sudah menulis tentang negara Jepang, Belanda, Maldives, dan saat ini lagi enjoy jalan-jalan ke Korea Selatan. Dari seluruh negara tersebut, selain Belanda, saya sudah berbagi info beberapa alternatif agar travelling lebih berkesan. Maksudnya, travelling-nya nggak sekedar pergi ke suatu tempat, jalan-jalan, lalu pulang; namun sekaligus memungkinkan untuk kontak langsung secara lebih intensif dengan penduduk setempat dengan cara tinggal bersama mereka. Contohnya, saya sudah berbagi tentang WWOOF Japan dan program homestay sejenis lainnya. Program-program tersebut menawarkan kesempatan untuk kerja part time sekaligus homestay di rumah host. Sedangkan untuk Maldives saya sudah sharing info bagaimana caranya menjadi relawan di Maldives. Dan saat ini saya ingin berbagi tentang sebuah program bernama Koreastay.
      Apa itu Koreastay?
      Koreastay merupakan program homestay resmi yang dikelola oleh Korea Tourism Organization (KTO). Pada intinya, program ini bertujuan untuk memfasilitasi wisatawan asing yang ingin merasakan hidup bersama keluarga Korea (selanjutnya disebut host), sehingga wisatawan dapat mengenal dan mempelajari langsung kehidupan ala Korea yang sebenarnya.
      Apa keuntungan mengikuti program Koreastay?
      Jika travelling dengan cara biasa, paling-paling yang akan di dapat adalah pengalaman melihat-lihat tempat wisata baru. Mengingat Koreastay merupakan program homestay, ada beberapa keuntungan tersendiri jika mengikuti program ini.
      1.Ada kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan keluarga asli Korea, sehingga terbuka kesempatan yang sangat luas untuk belajar bahasa dan budaya khas Korea dalam praktek kehidupan sehari-hari.
      2.Kesempatan untuk merasakan kuliner ala rumahan dalam lingkungan keluarga.
      3.Kesempatan untuk menjalin persahabatan dengan orang baru (khususnya keluarga host), sesuatu yang belum tentu bisa didapat jika menginap di hotel.
      4.Keuntungan lainnya adalah faktor pengalaman ekstra. Kapan lagi Anda bisa tinggal di rumah keluarga Korea kalau tidak melalui aktifitas homestay, dengan pengecualian jika punya teman/saudara di Korea yah.
      Cara mengikuti Koreastay?
      Tertarik ingin mencoba program ini? Berikut beberapa langkah yang harus ditempuh:
      1.Memilih host yang diinginkan. Caranya dengan masuk ke website resmi Korea Stay dan gunakan fasilitas pencarian host. Sebelumnya, daftar dulu jadi member di website tersebut yah.
      2.Prosedur pencarian host bisa menggunakan wilayah, maupun pencarian yang lebih mutakhir. Secara garis besar, berikut beberapa hal yang harus dipikirkan sebelum memilih host:
      a.Pilih daerah yang diinginkan. Dalam hal ini, saya beri contoh provinsi Gyeonggi, khususnya di kota Seoul.
      b.Pilih host yang lokasinya berada di daerah yang diminati. Misalnya saja, jika suka belanja, maka bisa memilih host yang berlokasi di daerah Myeongdong, Jongno, maupun Itaewon. Sedangkan jika lebih suka berada di dekat sungai Han, bisa memilih host yang berada di daerah Gangnam, Mapo, Yangcheon, Seongdong, dan sebagainya.
      c.Saring lagi nama host dengan melihat penawaran yang diajukan oleh host. Misalnya saja, apakah jenis rumahnya apartemen, hanok (rumah tradisional), rumah biasa, dan sebagainya.
      d.Teliti lagi fasilitas yang ditawarkan oleh host, misalnya dari tipe kamar yang ditawarkan oleh host (apakah jenis tradisional dengan lantai yang menggunakan sistem pemanas, single room, twin room, dan sebagainya) serta adanya fasilitas tambahan seperti Wi-Fi. Oya, perhatikan juga detail jumlah anggota keluarga dan jumlah anak yang dimiliki oleh host, karena tidak semua wisatawan menyukai anak-anak.
      2.Setelah cocok, cek tersedianya kamar pada tanggal yang diinginkan. Jika ada, Anda bisa langsung melakukan reservasi.
      3.Jika host menyetujui, lakukan konfirmasi reservasi dengan menyertakan nomor passport. Jika diperlukan, lampirkan juga copy tiket pesawat terbang.
      4.Setelah prosedur konfirmasi selesai dilakukan, jalin kontak dengan host (pada saat ini jelaskan jika Anda tidak bisa mengkonsumsi makanan tertentu atau jika ada detail lainnya). Tentukan waktu dan tempat dimana akan bertemu dengan host untuk pertama kalinya (biasanya di Stasiun maupun dijemput di bandara). Oya, jangan lupa minta nomor telepon host agar tidak menyulitkan saat waktu ketemuan.
      5.Pada waktu yang ditentukan, bertemu dengan host dan lakukan pembayaran.
      Berapa biaya yang harus dibayarkan?
      Biaya antara satu host dengan lainnya bervariasi, namun untuk range harga kira-kira kisaran KRW30000*-60000*/kamar/malam. Biaya ini sudah termasuk dengan sarapan pagi. Namun jika diinginkan, Anda bisa meminta fasilitas tambahan seperti makan malam atau bantuan untuk menjadi guide ke tempat-tempat tertentu. Tentunya ada biaya ekstra yang dibutuhkan, dan semua kembali lagi pada host masing-masing.
      Apakah range harga untuk homestay tersebut terbilang mahal? Silahkan bandingkan sendiri dengan tipe Akomodasi Hemat di Korea Selatan lainnya (klik hyperlink). Jika dibandingkan dengan Jjimbang, jelas homestay lebih mahal. Namun jika dilihat dari faktor kenyamanan dan keuntungan lain yang bisa didapat, rasanya biaya tersebut sangat reasonable.
      Aman nggak host-nya?
      KTO menjamin setiap host yang terdaftar sudah melalui serangkaian prosedur verifikasi yang ketat. Host tidak boleh memiliki catatan kriminal, bukan penginapan komersial, dan tidak memiliki anggota keluarga yang sudah tua. Host juga dipilih yang memiliki fasilitas rumah yang cukup baik dan memenuhi syarat, tempat tinggal di area perumahan, peduli akan kebersihan, tidak begitu jauh dari transportasi publik, dan memiliki toleransi dengan budaya lain. Host juga wajib menguasai minimal bahasa Inggris (setidaknya satu anggota keluarganya), dan beberapa host malah menguasai multi bahasa seperti Cina dan Jepang. Tak hanya sebatas mem-verifikasi, KTO juga menjamin adanya prosedur monitoring yang cukup ketat dan teratur untuk menjamin kualitas para host.
      Etika yang wajib diketahui
      Berikut beberapa etika standar yang perlu diketahui saat menginap di rumah host.
      1.Saat makan, usahakan untuk makan bersama keluarga host karena budaya setempat memang memiliki tradisi makan bersama. Jika tidak bisa ikut makan bersama, selalulah memberi kabar terlebih dulu.
      2.Sebisa mungkin bersihkan sendiri tempat tidur, bekas mandi, maupun bekas makan Anda, sekalipun host akan melakukannya untuk Anda.
      3.Hormatilah privasi dan aturan yang berlaku di rumah host. Misalnya saja jangan masuk ke kamar lain tanpa ijin, jangan menggunakan sepatu di dalam rumah, jangan mengajak teman lain untuk menginap tanpa seijin host, dan lain-lain. Hormati juga jam malam yang berlaku di rumah host.
      4.Jika ada yang masih kurang jelas dalam hal peraturan, budaya setempat, dan lain-lain, jangan ragu untuk bertanya pada host. Tidak usah sungkan atau malu, karena mereka yang menjadi host adalah orang-orang yang suka berbagi budaya setempat dengan orang lain.
      Sebetulnya masih ada beberapa etiket lainnya, namun kapan-kapan saya bahas lebih detail lagi dalam tulisan terpisah. Mudah-mudahan informasinya bermanfaat.
      Tambahan informasi
      Jika membutuhkan informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kontak berikut ini:
      Tourism Quality Improvement Team/Koreastay
      Telp: +82-2-729-9640
      Email: koreastay@knto.or.kr
    • By vie asano
      Seri tulisan tentang Autumn in Korea sudah saya selesaikan disini. Namun saya ingin berbagi sedikit cerita yang tersisa tentang musim gugur di Korea Selatan yang sengaja nggak saya masukkan ke dalam seri tulisan tersebut. Kenapa? Karena temanya lebih banyak ke arah budaya khas Korea Selatan, jadi sengaja saya tulis terpisah supaya lebih leluasa saja menulisnya. Lagipula, nggak ada salahnya sesekali membahas tentang budaya tradisional supaya nggak bosan ber-travelling ria.
      Chuseok. Pernah dengar istilah tersebut? Saya kurang tahu apakah istilah Chuseok pernah disebut dalam drama khas Korea atau tidak. Bagi yang belum tahu, Chuseok adalah festival panen khas Korea. Konsepnya kurang lebih sama dengan perayaan Thanksgiving yang populer di Amerika dan negara barat lainnya, namun tentu saja ada perbedaan antara Chuseok dan Thanksgiving karena Chuseok kental dengan nilai-nilai tradisi khas Korea. Mau tahu seperti apa perayaan Chuseok tersebut? Monggo disimak tulisan saya berikut ini.
      Sejarah singkat
      Tidak jelas kapan perayaan Chuseok ini pertama kali dirayakan. Konon, tradisi Chuseok ini berawal dari tradisi gabae yang dimulai sejak masa pemerintahan raja ketiga dari kerajaan Silla (tahun 57 SM- tahun 935 masehi). Gabae sendiri merupakan kontes menenun yang melibatkan 2 tim, dan pihak pemenang akan ditraktir makan oleh pihak yang kalah. Namun ada juga yang berpendapat jika Chuseok berawal dari tradisi perdukunan saat musim panen.
      Foto 01 (a-d.):
      Ilustrasi Chuseok [foto: Korea.net/wikimedia]
      Walau sejarahnya sendiri tidak jelas, Chuseok (yang juga populer disebut sebagai Hangawi atau the great middle of autumn) kini menjadi salah satu dari 3 festival besar di Korea Selatan (2 festival lainnya adalah Seollal atau Lunar New Year's Day dan Dano atau tanggal ke-5 bulan ke-5 di tahun bulan). Jadi bagi yang memang suka dengan per-Korea-an, nggak ada salahnya mengenal lebih detail tentang tradisi Chuseok.
      Kapan perayaan Chuseok dilakukan
      Chuseok dirayakan pada tanggal 15 Agustus menurut kalender tahun bulan. Walau begitu, total hari libur pada perayaan Chuseok adalah 3 hari. Pada tahun 2014, perayaan Chuseok jatuh pada tanggal 8-10 September, dan pada tahun 2015 pada tanggal 27-29 September 2015.
      Seperti apa perayaan Chuseok itu?
      Tak jauh beda dengan Thanksgiving, inti dari perayaan Chuseok adalah mensyukuri keberhasilan panen tahun ini, dan membagi kebahagiaan tersebut pada seluruh anggota keluarga serta teman dekat. Jadi jangan heran jika menjelang perayaan Chuseok tiket transportasi umum di Korea akan habis dan kepadatan lalu lintas meningkat karena banyak yang melakukan tradisi pulang kampung agar bisa berkumpul bersama keluarga besar.
      Gambaran aktifitas pada perayaan Chuseok kurang lebih sebagai berikut: di pagi hari para anggota keluarga akan berkumpul untuk melakukan doa menghormati leluhur (biasanya maksimal hingga 4 generasi diatasnya) yang disebut dengan ritual Charye. Setelah acara ritual selesai, seluruh anggota keluarga akan bercengkrama sambil menikmati aneka sajian khas Chuseok seperti Songpyeon dan sake ala Korea, lalu bertukar hadiah dengan anggota keluarga lainnya (atau memberi amplop pada orang tua). Detail kuliner khas Chuseok lihat di bagian bawah ya.
      Foto 02 (a-d.):
      Meja persembahan untuk leluhur [foto: Namwon030/wikimedia, Nesnad/wikimedia, Joseph Steinberg (Baltimoron in Korea)/wikimedia, Joseph Steinberg (Baltimoron in Korea)/wikimedia]
      Setelah selesai melakukan charye, biasanya anggota keluarga bersama-sama melakukan beolcho dan seongmyo. Kalau dalam bahasa kita, kedua aktifitas tersebut dikenal dengan istilah ziarah kubur. Beolcho merupakan kegiatan membersihkan rumput liar dari makam, sedangkan seongmyo merupakan aktifitas mengunjungi makam leluhur. Aktifitas bersih-bersih dan berkunjung ke makam biasanya sudah dimulai sejak sebulan sebelum perayaan Chuseok, namun tak sedikit yang kembali berkunjung pada hari H.
      Beres melakukan ziarah kubur, tak sedikit yang melanjutkan aktifitasnya dengan mengunjungi berbagai tempat yang menggelar berbagai event khusus saat Chuseok. Ada beberapa pertunjukan khas yang biasa digelar saat moment perayaan Chuseok, seperti Ssireum (gulat khas Korea), dan Ganggangsullae (tarian melingkar khas Korea). Beberapa tempat yang menarik dikunjungi saat perayaan Chuseok antara lain Gyengbokgung Palace, Changdeokgung Palace and Huwon, Changgyeonggung Palace (part 1, part 2), dan Deoksugung Palace (part 1, part 2). Tempat menarik lainnya yang memiliki program khusus saat Chuseok adalah Korean Folk Village dan Namsangol Hanok Village, Cheonggyecheon Plaza, dan Children's Grand Park.
      Foto 03 (a-d.):
      Kemeriahan perayaan Chuseok [foto: Korea.net/wikimedia]
      Setelah selesai melakukan berbagai aktifitas di atas, biasanya satu hari tersebut ditutup dengan nonton film bersama anggota keluarga, mampir ke bar untuk minum-minum, atau sekedar jalan-jalan menikmati suasana malam.
      Kuliner khas Chuseok
      Bicara tentang festival tradisional tanpa menyebut sisi kulinernya ibarat bicara tentang dangdut tanpa goyang. Nggak seru dan nggak lengkap. Saya sudah memberi sedikit contekan tentang kuliner khas pada perayaan Chuseok. Berikut deskripsi lengkapnya:
      -Songpyeon, adalah sejenis mochi atau dango (kue beras) khas Korea yang berukuran lebih kecil dari bola golf dan bentuknya mirip bulan setengah. Songpyeon biasanya diisi dengan berbagai isian seperti wijen, kacang merah, kacang, dan lain-lain. Perayaan Seollal, atau Lunar New Year's Day juga dimeriahkan dengan kue beras. Bedanya, kue beras ini disajikan bersama sup dan disebut Tteokguk.
      Foto 04 (a-d.):
      Songpyeon [foto: Republic of Korea/wikimedia, by Speculando/wikimedia, Republic of Korea/wikimedia, Travel Oriented/flickr]
      -Sake ala Korea. Biasanya minuman ini disantap oleh seluruh anggota keluarga saat momen kumpul bersama.
      -Kuliner lain yang biasa disajikan saat Chuseok adalah: buah-buahan segar, pancake, japchae (sweet potato noodles), bulgogi (Korean barbeque), dan beras yang baru saja dipanen.
      Tips seputar Chuseok
      Bagi yang rencana wisatanya mendekati atau malah bertepatan dengan periode Chuseok, ada beberapa tips yang harus diperhatikan.
      -Selalu double atau triple check jadwal jam operasional tempat wisata yang akan dikunjungi pada perayaan Chuseok. Beberapa tempat wisata memilih untuk tutup, sementara sisanya tetap buka dan menawarkan program khusus Chuseok.
      -Punya teman orang Korea yang akan dikunjungi pada periode Chuseok? Tak ada salahnya menyiapkan sedikit buah tangan untuk oleh-oleh, sekedar menunjukkan jika Anda menghargai budaya setempat.
      -Perlu diperhatikan, tiket transportasi di Korea Selatan akan sulit didapat menjelang dan setelah periode Chuseok. Bahkan bisa jadi lalu lintas akan lebih padat dari biasanya. Solusinya, bepergianlah tepat pada perayaan Chuseok. Pada hari H, kepadatan lalu lintas jauh berkurang karena orang-orang memilih berkumpul bersama anggota keluarganya.
      ***
      * Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
    • By vie asano
      Beres menulis tentang kalender festival di bulan Desember, Januari dan Februari, serta aneka sunrise festival di seluruh Korea, kali ini saya ingin mengajak teman-teman untuk jalan-jalan musim dingin ke Korea Selatan.
      Bagi mereka yang tinggal di negeri tropis seperti Indonesia, musim dingin terasa seperti sesuatu yang Mr.Iyus. Maksudnya, misterius. Karena di Indonesia memang nggak ada musim dingin, otomatis ada fantasi berlebih tentang musim dingin yang sedikit banyak dipengaruhi oleh film-film dari luar (termasuk film Frozen yang memang sedang booming di tahun ini). Tapi disisi lain, muncul tanda tanya lainnya. Musim dingin enaknya main kemana ya? Dan apa yang bisa dilihat di musim dingin, mengingat pada musim itu pohon-pohon meranggas dan bunga-bunga nggak ada yang mekar. Main ke pantai pun percuma, karena nggak akan bisa berjemur apalagi berenang saat suhu udara berada dibawah titik nol derajat celcius.
      Sebetulnya, banyak kok tempat di Korea Selatan yang menarik dikunjungi saat musim dingin. Beberapa bahkan terasa lebih menggoda justru pada saat udara sedang dingin-dinginnya. Yang saya maksud tentu saja aneka ski resort yang berada di Korea Selatan. Ya, main ski termasuk salah satu aktifitas musim dingin yang saya rekomendasikan disini. Selain karena faktor salju hanya ada di musim dingin, alasan lainnya karena Korea Selatan memiliki beberapa ski resort dengan fasilitas menarik. Mayoritas ski resort tersebut berada di sebelah utara, yang merupakan wilayah terdingin di Korea Selatan.
      Trus, dimana saja ski resort terbaik di Korea Selatan? Saya akan mulai dulu dari provinsi Gangwon-do yang berada di paling utara Korea Selatan. Sebagai salah satu provinsi yang memiliki suhu rata-rata terendah saat musim dingin tiba, disini terdapat beberapa ski resort. Yang pertama, Alpensia Ski Resort atau Alps Resort, merupakan ski resort yang posisinya tak jauh dari gunung Seoraksan (dan tak begitu jauh dari Sorak Aquaworld dan Seorak Waterpia). Tepatnya ski resort ini berada di Pyeongchang-gun, dan memimliki ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Ski resort ini pernah dijadikan lokasi shooting film Korea berjudul Take Off (2009), dan menjadi venue utama untuk Pyeongchang Winter Olympics tahun 2018.
      Ski resort lainnya, Elysian Gangchon di Chuncheon-si, relatif mudah di akses dari Seoul. Daemyung Vivaldi Park Ski World di Hongcheon-gun, dan Oak Valley Snow Park di Wonju-si, posisinya juga relatif berdekatan dengan provinsi Gyeonggi-do, tempatnya ibukota Korea Selatan berada. Berbeda dengan O2 Ski & Resort di Taebaek-gun, yang posisinya lebih dekat dengan provinsi Gyeongsangbuk-do. Tempat ini memiliki 12 slopes dengan berbagai tingkat kesulitan.
      Masih ada beberapa ski resort lain di provinsi Gangwon-do. Salah satu yang paling populer adalah Bogwang Phoenix Park Ski Resort (atau Phoenix Park) di Pyeongchang-gun yang memiliki jalur snowboarding yang lengkap dan ekstrim. Pemandangan disini pun luar biasa indahnya, dan ski resort ini semakin menarik karena adanya fasilitas tambahan seperti gondola berkapasitas 8 orang. Lalu ada Welli Hilli Park (dulunya bernama Sungwoo Resort) di Hoengseong-gun yang terkenal akan ukuran dan keamanannya. High1 Ski Resort di Jeongseon-gun juga termasuk salah satu ski resort populer di Gangwon-do karena memiliki 18 slope dengan tingkat kesulitan bervariasi dan dilengkapi dengan aneka fasilitas bagi penyandang disabilitas. Terakhir, Yongpyong Ski Resort di Pyeongchang-gun, termasuk salah satu ski resort pertama yang dilengkapi dengan peralatan modern. Lokasinya pun cukup menantang karena berada di ketinggian 700-1500 di atas permukaan air laut.
      Foto 01 (a-d):
      Phoenix Park [foto: Sellyourseoul/flickr]
      Itu baru ski resort yang ada di provinsi Gangwon-do saja. Provinsi Gyeonggi-do, tempatnya ibukota Korea Selatan berada, juga memiliki beberapa ski resort. Rata-rata jaraknya tak begitu jauh dari Seoul, minimal mudah di akses dari sana, sehingga menarik juga untuk dilirik saat berwisata ke Seoul. Yang pertama saya tulis addalah Bears Town Ski Resort di Pocheon-si. Tempat ini hanya berjarak 50 menit dari Seoul, dan punya jalur dengan tingkat kesulitan bervariasi mulai dari pemula hingga master. Star Hill Resort di Namyangju-si juga tak begitu jauh dari Seoul, kurang lebih jaraknya hanya 32 kilometer saja. Cocok untuk dikunjungi pulang-pergi dari Seoul. Begitu juga dengan Jisan Forest Resort, lokasinya hanya 40 menit dari area Gangnam di Seoul.
      2 lokasi ski resort lainnya, yaitu Konjiam Resort di Gwangju-si dan Yangji Pine Resort Ski Valley di Yongin-si juga terbilang menarik. Konjiam Resort disebut-sebut sebagai salah satu ski resort terbesar di Korea Selatan dan memiliki 11 jalur ski untuk pemula, menengah, ahli, dan master. Sedangkan Yangji Pine Resort Ski Valley populer sebagai tempat untuk ski malam hari. Bagi yang penasaran main ski di malam hari, boleh nih mampir ke ski resort yang satu ini.
      Selain provinsi Gangwon-do dan Gyeonggi-do, ski resort yang tersisa berada di provinsi Chungcheongbuk-do. Disini terdapat sebuah ski resort bernama Sajo Resort, yang berlokasi di Suanbo Hot Spring Complex di Chungju. Tempatnya relatif kecil, namun menarik karena setelah puas main salju wisatawan bisa mencoba berendam di air panas alami. Provinsi Jeollabuk-do juga memiliki sebuah ski resort bernama Muju Deogyusan Ski Resort, yang salah satu jalur skinya, yaitu Silk Road Slope, terletak di ketinggian 1520 meter di atas permukaan laut. Alhasil jalur sepanjang 6,1 kilometer ini tak hanya menjadi jalur terpanjang di Korea Selatan, namun juga menjadi jalur dengan pemandangan yang indah. Provinsi lain yang memiliki ski resort adalah Gyeongsannam-do, dengan Eden Valley Resort satu-satunya ski resort di daerah tersebut.
      Itu baru aneka ski resortnya saja. Masih banyak tempat menarik lain di Korea Selatan yang patut dilirik saat musim dingin tiba. Tapi tunggu tulisan selanjutnya yah. Semoga bermanfaat.
      ***
      * Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr.
      ***
      Baca juga:
      Winter in Korea: Apa, Kenapa, dan Bagaimana
      Winter in Korea: Kalender Festival Desember
      Winter in Korea: Sunrise Festival
      Winter in Korea: Kalender Festival Januari + Februari
      Winter in Korea, Saatnya Main Salju!
      Winter in Korea dan Serunya Wisata Hot Spring
      Winter in Korea, Kulineran Yuk!
    • By vie asano
      Lanjut lagi soal aneka tips untuk muslim traveller yang akan pergi ke Korea Selatan. Bagi yang ingin kenalan dengan Islam di Korea Selatan dan Jepang, serta aneka Tips dan Info Penting untuk Muslim Traveller ke Korea Selatan, bisa langsung klik hyperlink-nya yah.
      Panduan mencari makanan halal di Korea Selatan
      Di antara berbagai tips untuk muslim traveller, saya rasa masalah mencari makanan halal termasuk salah satu yang paling ribet. Apalagi jika bepergian ke negara lain dimana Islam menjadi agama minoritas, dan lebih yahud lagi, negara tersebut memiliki huruf tradisional non-alphabetical yang membuat kita seolah-olah sedang melihat rangkaian bahasa sandi. Contohnya seperti Korea Selatan maupun Jepang. Saya pun pernah mengalami masalah yang sama saat berwisata ke Jepang 2 tahun lalu. Walau sudah berusaha menghindari produk makanan non-halal (yang paling mudah, cari yang nggak memasang kanji babi maupun alkohol), pada satu kesempatan tetap saja nggak sengaja memakan makanan instan yang ternyata mengandung perasa babi.
      Ada beberapa tips untuk mencari makanan halal saat berwisata ke Korea Selatan. Beberapa tips ini bisa diterapkan juga untuk negara lain seperti Jepang, Belanda, dan lainnya. Tips yang paling pertama, adalah dengan meminimalkan kemungkinan mengkonsumsi produk makanan non-halal. Caranya bagaimana?
      1.Mencari restoran/tempat makan yang memasang logo halal.
      Biasanya resto-restoran halal tersebut dikelola oleh muslim dari negara lain (seperti Pakistan dan Malaysia), atau minimal memiliki koki seorang muslim. Namun perlu diketahui dan diwaspadai, tidak semua restoran yang mengusung label halal ternyata betul-betul 100% halal. Misalnya saja, ada restoran yang tetap menjual minuman beralkohol namun menyediakan menu halal (biasanya alasannya agar bisnis bisa terus berjalan). Ada juga restoran yang menyediakan makanan halal dan non-halal sekaligus. Mengingat keterbatasan luas dapur (dan juga ketelitian dalam pencucian alat-alat), belum tentu makanan halal dan non-halal dimasak menggunakan alat yang berbeda. Di Jepang juga pernah dilaporkan ada restoran halal namun menampilkan hiburan non-halal seperti tari perut. Jadi intinya, memilih restoran berlabel halal menjadi salah satu solusi paling oke, namun tetap harus ekstra waspada terhadap konten lain di restoran tersebut.
      2.Mencari restoran vegetarian, minimal restoran yang vegetarian-friendly.
      Restoran vegetarian jelas hanya akan menyediakan menu-menu non-daging, dan jelas tidak akan menggunakan bumbu-bumbu berbahan dasar daging. Jadi restoran vegetarian relatif aman bagi muslim traveller. Namun jika tidak menemukan restoran vegetarian, minimal usahakan untuk mencari restoran yang vegetarian-friendly, yaitu resto biasa yang memiliki opsi menu vegetarian ataupun seafood.
      3.Makan di restoran seafood
      Bingung mencari restoran halal? Nggak ketemu sama restoran vegetarian maupun vegetarian-friendly? Ke resto seafood saja, karena seafood sudah pasti halal untuk di konsumsi.
      Begitu pendapat umum tentang seafood. Well, sebetulnya nggak sesederhana itu lho. Seafood-nya sih memang halal, tapi bumbu-bumbunya belum tentu lho, karena sudah jadi rahasia umum dalam masakan oriental pasti ada saja bumbu yang berasal dari sesuatu non-halal (seperti daging babi, darah, maupun alkohol). Berhubung nggak mungkin mewawancarai koki untuk bertanya tentang bumbu masakan setiap kali makan seafood, saya akan memberikan daftar menu seafood yang relatif aman (catat: relatif aman, bukan 100% aman yah) untuk dikonsumsi jika dilihat dari resepnya. Saya juga nggak menjamin menu-menu ini pasti halal, jadi feel free kalau mau kasih koreksi. Eh iya, daftarnya langsung dalam bentuk foto yah. Berikut foto-fotonya:
      Foto 01:
      (a.) Maeuntang (Spicy Fish Stew) [foto: Junho Jung/wikimedia], (b.) Sundubu Jjigae (Hot and Spicy Soft Tofu Stew) [foto: Avlxyz/wikimedia], (c.) Doenjang Jjigae (Vegetable and Seafood Stew) [foto: Koralex90/wikimedia], (d.) Saengseon Gui (Grilled Fish) [foto: Karendotcom127/wikimedia]
      Foto 02:
      (a.) Saengseon Jeon (Pan-fried Fish Fillets) [foto: å—å®®åšå£«/wikimedia], (b.) Tuna Kimbap (Tuna Roll Sushi) [foto: Jqn/wikimedia], (c.) Haemul Pajeon (Seafood Pancake) [foto: <==manji==>/wikimedia], (d.) Jjampong (Spicy Seafood Noodles) [foto: Alfpooh/wikimedia]
      Tambahan info, berikut beberapa menu lain (non-seafood) yang juga relatif aman untuk dikonsumsi:
      Foto 03:
      (a.) Bibimbap (mixed rice with vegetable and meat) [foto: Agnes Ly/wikimedia], (b.) Tteokbokki (rice cake) [foto: Adonis Chen/wikimedia], (c.) Kalguksu [foto: Jslander/wikimedia], (d.) Hobakjuk (Pumpkin Porridge) [foto: Nicole Cho/wikimedia]
      Itu sebagian menu yang bisa saya kumpulkan. Sebetulnya masih banyak sih, tapi sengaja nggak ditulis semuanya, soalnya tadi siang (waktu nulis ini) tiba-tiba jadi laparrrr (puasa, puasa..) haha..
      4.Makan di restoran fastfood
      Lho, kok resto fastfood? Bukannya menu daging di resto fastfood belum tentu halal? Maksudnya, belum tentu disembelih dengan cara yang halal. Yaps, memang betul menu daging di resto fastfood belum tentu disembelih dengan cara yang halal. Namun resto fastfood juga nggak melulu berisi daging, kan? Ada kentang goreng, burger non-daging, salad, dan banyak lagi. Jadi jika ragu dengan dagingnya, bisa memesan menu non-daging.
      Bagi yang masih meragukan kehalalan makanan di tempat-tempat yang sudah saya singgung di atas (biasanya mempertanyakan apakah dagingnya disembelih dengan cara halal, apakah peralatan makannya betul-betul bebas dari bahan non-halal, dan sejenisnya), ada tips kedua yang bisa dicoba, yaitu dengan memasak sendiri makanan yang akan disantap. Untuk memastikan kehalalan makanan, bisa membeli bahan makanan di toko halal, yaitu toko yang hanya menjual produk mentah yang halal. Misalnya saja, mie instan, roti, daging, dan sebagainya. Memang sih lebih repot karena harus menyiapkan sendiri makanan Anda, namun soal kehalalannya insya Allah lebih terjamin. Jika Seoul jadi salah satu kota tujuan wisata selama di Korea Selatan, daerah Itaewon bisa dilirik karena di area tersebut banyak terdapat restoran halal dan beberapa toko bahan makanan halal.
      Trus gimana kalau nggak yakin sama restoran halal, nggak nemu resto vegetarian/vegetarian friendly, nggak suka seafood, dan nggak bisa nyiapin makanan halal sendiri? Ada tips terakhir. Bawa saja makanan halal dari Indonesia, seperti mie instan, roti, nasi instan, dan lain-lain. Tapiiiiiii saya pribadi berpendapat kalau travelling nggak melulu soal menikmati obyek wisata, namun juga menikmati budaya setempat yang berarti juga menikmati produk kulinernya. Demi pengalaman wisata yang lebih lengkap, menurut saya nggak masalah jika harus repot-repot sedikit menyeleksi makanan halal. Masa sudah jauh-jauh pergi ke Korea Selatan, eh ujung-ujungnya makan Ind*mie juga? Hehe..
      Sebagai penutup, beberapa daftar kuliner halal di Korea Selatan bisa dilihat disini. Untuk informasi lebih lengkap tentang panduan makanan halal di Korea Selatan, bisa lihat ini.
      Semoga infonya bermanfaat yah!
      ***
      * Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
    • By itsmeu
      안녕하세요~~ (Annyeong haseyo, Hello)
       
      Pertama-tama,Alhamdulillah, finally, akhirnya meu menjejakkan kakinya di Korea Selatan. Setelah nabung nabung, momok visa yang menakutkan akhirnya guys, aku berangkat juga ke salah satu country goals akooh, secara basicnya ak emang anak yg doyan korea-an baik kpop/drama dr jaman full house.
      Tanpa banyak curcol lagi...FR yg sudah aku janjikan pas nulis thread malaka...check it out...
       Jadinya tanggal 28 April – 5 Mei 2018 kemarin aku dan 2 tmnku berangkat ke negeri gingseng.
      Tiket pesawat Air Asia: PP 3.78jt + bagasi 1 (20kg) = 4.28 jt
      Lokasi penginapan: BB Hostel Hongdaeline (KW hongdaeline) : 380000 won/seminggu (private bathroom,kamar isi ber3 aja)
      Sebelumnya ak kasih dulu summary itin 1 minggu di Seoul:
      28/04: Nginep di Incheon T2 (done)
      29/04: Gyeongbokgung Palace, Bukchon Hanok Village (done)
      30/04: Ewha University dan sekitarnya, Namdaemun Market, Namsan Tower (done)
      01/05: Nami Island, King sejong statue, kyobo bookstore, cheonggyecheon stream, Myeongdong (done)
      02/05: Itaewon, Myeongdong dst (done)
      03/05: Napak tilas Kpop lol (Entertainment company,kroad star, Gangnam), seoul national univ (SNUFestival) (done)
      04/05: Pendakian gunung Acha (Achasan), DDP, Lotte mart pusat, Seullo, Hongdae street, Hangang river (done)
      05/05: Jimjilbang/Sauna, BT21 Hongdae store dan sekitarnya, ewha lagi, siap siap perjalanan pulang (done)
      Jujur ini itin sebenernya full banget hahaha karena ternyata jalan kaki di korea itu jauh-jauh dan di indo kebiasaan dimanjain abang ojol...kaki bengkak tapi hati bahagia no problemo
      to be continue~~
    • By vie asano
      Di antara Jalan2ers yang kebetulan nyangkut di lounge sederhana ini, adakah yang terkena dahsyatnya dampak badai bernama Korean Wave? Hayo ngaku Ya, beberapa tahun belakangan ini demam Korea memang sedang gencar menyapu ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Nggak sulit untuk menemukan hal-hal yang berbau Korea di negeri kita tercinta ini, mulai dari loper koran di pinggir jalan, hingga drama Korea yang rutin tayang hampir setiap hari. Audisi untuk mencari bintang-bintang K-pop dari berbagai negara pun kini rutin digelar, menegaskan jika badai ala Korea itu betul-betul nyata sedang memperluas ekspansinya ke mana-mana.
      Sejujurnya, saya pribadi bukan penggemar K-pop dan sampai saat ini cukup imun terhadap dampak Korea Wave. Yaaaa, memang sih ada masanya saya ngefans dengan Bae Yong Jun, menikmati serial Winter Sonata, dan mengagumi lenggak-lenggok SNSD saat menyanyikan lagi Mr.Taxy. Saya juga sempat menjadi pengagumnya Dae Jang Geum dalam seri Jewel in the Palace, dan ngebet kepingin berkunjung ke lokasi shooting yang konon kini sudah menjadi sebuah tempat wisata (hmm, mungkin kapan-kapan bisa saya ulik lagi tentang itu). Pernah juga sih mereview beberapa manhwa (=komik Korea) untuk sebuah majalah. Diluar hal-hal itu, saya cukup buta tentang Korean Wave masa kini. Bukan karena antipati terhadap kecantikan natural ala Korea (yang ternyata nggak natural juga), namun lebih pada masalah selera dan usia yang (nggak begitu) jauh dari usia ABG. Dan sudah jadi rahasia umum juga kan jika saya memang lebih tertarik dengan Le Arc-en-Ciel dan SID (a.k.a Shido) dibanding Super Junior (sekali lagi, ini masalah selera yaa).
      Walau nggak ngefans-ngefans banget dengan Korean Wave, jujur saya mengagumi dampaknya yang signifikan terhadap perkembangan turisme di negara tersebut. Sepanjang yang saya tahu, Korean Wave berhasil meningkatkan minat wisatawan untuk mampir ke negeri ginseng itu, termasuk meningkatkan minat untuk mempelajari kebudayaan korea (mulai dari bahasa hingga seni tradisionalnya). Berhubung saya rasa banyak di antara Jalan2ers yang tertarik menjadikan Korea sebagai salah satu tujuan wisatanya, mulai saat ini saya akan memperluas ekspansi tulisan dari Jepang, (sesekali) Belanda, dan Korea. Sebagai prolog, saya ingin membagikan dulu aneka fakta seputar Korea yang mungkin nggak berhubungan dengan budaya pop-nya.
      - Jujur saya agak terharu (alias miris) sewaktu mengetahui fakta bahwa nggak sedikit penggemar boysband dan girlsband Korea yang menganggap Korea itu ya Korea saja. Padahal, ada 2 negara yang menyematkan nama Korea sebagai nama negaranya: Korea Utara (alias Democratic People's Republic of Korea) dan Korea Selatan (alias Republic of Korea). Keduanya sama-sama terletak di area Korea Peninsula.
      Foto 01: Korea dalam peta
      (a.) Posisi Korea dalam peta dunia [foto: Ksiom/wikimedia], (b.) Korea Selatan [foto: Maproom/wikimedia], (c.) Provinsi di Korea Selatan [foto: Ksiom/wikimedia], (d.) Korea Utara dan Korea Selatan [foto: A-heun/wikimedia]
      - Apa bedanya Korea Utara dan Korea Selatan? Korea Utara menganut paham komunis dan dikuasai oleh kekuasaan absolut (alias diktator). Negara ini memiliki serangkaian aturan ketat yang mengatur setiap warganya (termasuk mengatur gaya potongan rambut untuk pria dan wanita), berbanding terbalik dengan Korea Selatan-lah yang dikenal dengan Korean Wave-nya. Jadi friends, jika next time menyebutkan frase ingin cowok/cewek seperti cowok/cewek Korea, perjelas lagi maksudnya Korea Utara atau Korea Selatan ya! (PS: untuk selanjutnya, hanya Korea Selatan yang saya bahas ya.)
      - Mau tahu asal nama Korea? Nama tersebut berasal dari kata Goryeo atau Koryo, yang merujuk pada kerajaan Goguryeo yang menguasai wilayah Korea pada abad ke-5. Saat kerajaan Goguryeo runtuh dan penguasanya berganti, wilayah Koryo sempat berganti nama menjadi Joseon (note: nama ini kadang-kadang masih digunakan hingga saat ini). Baru setelah Jepang menginvasi Korea, pelafalan “Korea†(yang sering ditulis sebagai Corea) mulai diresmikan dan digunakan hingga saat ini.
      - Mayoritas pecinta Korean Wave hanya tahu tentang hal-hal berikut ini: artis Korea, kota-kota besar seperti Seoul dan Incheon, dan operasi plastik. Tak sedikit yang nggak tahu jika Korea adalah negara kepulauan. Kurang lebih terdapat 3000 pulau yang mayoritas berbentuk pulau kecil dan tak berpenghuni. Pulau terbesarnya adalah pulau Jeju yang juga populer sebagai salah satu tempat tujuan wisata di Korea.
      - Untuk fakta geografis lainnya, Korea Selatan dalam 4 bagian kasar: timur, barat, barat daya, dan tenggara. Bagian timur terdiri dari pegunungan dan area pantai yang sempit. Wilayah barat memiliki wilayah berbukit dan pantai yang lebih luas. Bagian barat daya terdiri dari pegunungan dan lembah, sementara daerah tenggara memiliki banyak cekungan. Sedangkan untuk iklim, negara ini merupakan negara 4 musim yang suhunya bervariasi mulai dari -20 hingga 30 derajat Celcius.
      Foto 02: Aneka lanskap di Korea Selatan
      (a.) Nakdong River di Andong City [foto: Robert/wikimedia], (b.) Bukhansan [foto: Robert/wikimedia], (c.) Gyeongju [foto: Johannes Barre/wikimedia], (d.) Seoraksan National Park [foto: Steve46814/wikimedia]
      - Seperti apa kehidupan religi di Korea? Bagi yang pernah berkunjung ke Korea mungkin sudah bisa menebak jika Budha menjadi agama mayoritas disana. Namun berdasarkan penelitian, 46% penduduk Korea tidak menganut agama apapun. Budha menjadi agama terbesar dengan perkiraan jumlah penganutnya 23% dari total populasi, disusul dengan Protestan (18%), Katolik (11%), agama tradisional (1%), dan lain-lain (1%).
      - Saat ini Korea Selatan dikenal sebagai negara dengan standar hidup yang tinggi (urutan ke-12 di dunia). Adapun beberapa kota terbesar dan terpopuler di Korea Selatan antara lain sebagai berikut: Seoul, Busan, Daegu, Incheon, Gwangju, Daejeon, dan Ulsan.
      Foto 03:
      (a.) Seoul [foto: Kayakorea (Brandon Butler)/wikimedia], (b.) Busan [foto: By by tom jervis/wikimedia], (c.) Daegu [foto: Namoroka/wikimedia], (d.) Incheon [foto: Francisco Anzola/wikimedia]
      - Moda transportasi utama di Korea adalah kereta dan bus. Namun bus lebih menjangkau berbagai pelosok negeri karena kereta belum meng-cover area pedesaan. Masih ada beberapa jenis moda transportasi lainnya, seperti transportasi air dan tram.
      Foto 04: Aneka transportasi di Korea Selatan
      (a.) Korean Rail KTX [foto: Calflier001/wikimedia], (b.) Bus di Incheon [foto: Dalgial/wikimedia], (c.) Kereta [foto: Saegunghwa1001/wikimedia], (d.) Tram di Busan [foto: Hyolee2/wikimedia]
      - Untuk masalah wisata, mayoritas wisatawan asing masuk ke Korea melalui Incheon International Airport. Destinasi wisata favorit di Korea adalah ibu kota Korea Selatan, yaitu Seoul. Beberapa destinasi populer lainnya adalah aneka taman nasionalnya, kota bersejarah seperti Gyeongju dan Buyeo, pulau Jeju, serta pulau Dokdo yang hingga kini masih jadi sengketa antara Jepang dan Korea Selatan. Beberapa tahun belakangan muncul trend baru, yaitu wisata kecantikan, yang aktifitasnya adalah melakukan tour ke berbagai bengkel kecantikan di Korea Selatan.
      Demikian prolog singkat tentang Korea Selatan. Besok rencananya saya ingin mengulas berbagai hal menarik lainnya dari Korea Selatan, terutama aneka info yang wajib diketahui oleh wisatawan. Stay tune terus yah!
      ***
      * Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.