Titi Setianingsih

JENEPONTO, BANTAENG, BULUKUMBA, MALINO (23 – 26 DESEMBER 2017)

42 posts in this topic

Makassar, Kota asal my hubby, gak heran kalau saya selalu penasaran dengan keindahan alamnya. Sudah beberapa kali saya ke Sulawesi Selatan, tapi saking luasnya wilayah itu, sepertinya gak habis2 di explore. Kali ini saya dan teman2 mencoba explore Bulukumba. Kita semua tahu kalau dari Makassar ke Bulukumba akan melewati beberapa Kabupaten, gak ada salahnya jika kamipun ikut menikmati keindahan kota2 yang dilewati.

HARI PERTAMA, 23 DESEMBER 2017

 

Dari Jakarta kami menumpang pesawat Garuda dengan flight jam 01.20 sampai Makassar jam 04.55, cuaca kebetulan hujan sehingga tanah Makassar basah. Alhamdulillah walau hujan tapi penerbangan lancer tidak terganggu apapun. Driver sudah menunggu kami, dan seperti biasanya untuk menghemat waktu kamipun langsung jalan menuju TKP. Kami ber5 dari Jakarta, dan dari Makassar ada 2 orang jadi total ber7. Jelang waktu sarapan kami singgah di Warung Coto Canggu 1 di Sungguminasa, makanan khas Makassar yang tidak boleh dilewatkan, hitung2 wisata kuliner juga kan ?

bandara.thumb.jpg.50b197b313610b5ba005cfaba59dcde3.jpg

Lupa harga per mangkoknya, yang jelas masih terjangkau oleh kita, biasanya teman makan Coto itu burasa dan krupuk. Kenapa rasa masakannya lain karena dimasaknya di tungku tradisional, jadi wangi2 asap kayu bakarnya masih tercium. Dengan dihidangkan panas2 akan menambah sedapnya ini makanan, dan untuk ukuran wanita 1 mangkok sudah cukup kenyang.

coto6.thumb.jpg.5880cddae349e713e1fe460d57997164.jpgcoto4.thumb.jpg.ffab27266c224410a04aa840cfc82d56.jpg

coto1.thumb.jpg.b3d6a9ff791212cf8686a42a162ffb36.jpgcoto3.thumb.jpg.7adae63e9c64314fee5e792c3934a192.jpg

Sesudah sarapan, perjalananpun kami lanjutkan menuju arah Gowa dan Takalar. Btw, dapat info dari teman kalau di Makassar sedang banjir, kamipun was2 ketika tiba2 di jalan hujan lebat. Bismillah, pelan2 tetap kami lanjutkan perjalanan, sehingga waktu tempuh lebih lama dari biasanya. Pas waktu dzuhur kami sampai di Jeneponto, dan sempat singgah shalat di sebuah warung sekalian besi nasi buat makan siang di TKP nanti, karena kata driver di sana tidak ada resto untuk makan siang, adanya hanya warung2 kecil penjual snack2 kecil dan minuman. So, kami masing2 beli menu maksi sesuai selera, ada nasi goreng, nasi ayam, nasi bebek, mie goreng dll.

1.       Air Terjun Tama’lulua

 

Yang kami tuju di Jeneponto adalah Air Terjun Tama’lulua, lokasinya ada di desa Ramba Kec Rumbia Kab Jeneponto, pas lihat di google fotonya sungguh keren, siapa yang gak penasaran to ? Dan memang kudu berani ambil tantangan jika mau merasakan cipratan air terjunnya, karena lokasinya ada di bawah, jadi kita menuruni lembah terlebih dulu kurang lebih 45 menitan dan baliknya juga bisa lebih lama karena menanjak. Mommy2 pada terima tantangan jalan, ya sudah kami cari batang pohon kering untuk alat bantu jalan, karena jalanan lumayan licin dan terjal.

tama2.thumb.jpg.6bb19374c05caa140564dd81e80552f1.jpg

Hhhmmmm,,,baru beberapa langkah dari tempat parkiranpun sudah terlihat di kejauhan keindahan air terjun Tama’lulua, seperti air terjun Si Piso2 Berastagi, tp ini ada 3 cabang jadi lebih lebar, pelan2 kami tapaki jalan setapak itu, walau badan rasanya masih lemas, tetap kudu semangat,,,!!

tama8.thumb.JPG.3cc7af476103b7192da3725208a12ff5.JPG

Dan taraaaaang,,,,,sampai juga, huffttt cipratan airnya sungguh kencang, dan deburan airnya juga keras dan deras, gak berani kami turun sampai bisa menyentuh airnya, licin pula tanah yang kami pijak, bekas2 kaki pengunjung yang sempat ke bawah menyisakan becek dan basah di tempat kami berdiri, dan untuk turun ke tempat yang terdekatpun musti satu2 sambil dipegangin teman kita yang sudah duluan turun, must be carefull off course.

tama4.thumb.JPG.521924e485a55db0159d473f296dd22d.JPG

Setelah puas kamipun meninggalkan tempat ini dengan puas, dan senang karena sudah berhasil menuju kesini dengan sukses, capai sudah biasa. Ketika sampai atas, kami diajak lagi untuk melihat air terjun dari Bukit Bossolo yang tidak jauh juga dari parkiran, jadi hanya jalan barangkali 100 meteran menuju ke atas sudah sampai di Bukit Bossolo, dari sini Nampak air terjun Tama’lulua dari kejauhan, bahkan lebih indah jika dilihat dari jauh, Subhanallah,,,super indah dan keren. Disekitarnya tumbuh tanaman jagung yang sangat luas, bunganya Nampak indah me-lambai2 keputihan, pantas kalau disini banyak dijual jagung goreng yang kalau di Jawa disebut marning, tapi jagung disini lebih manis dan renyah dan karenanya disebut jagung pulut.

tama6.thumb.JPG.c7b6ae61c5ce4190f5c73e40b11c8041.JPG

tama7.thumb.JPG.1b236187d2751a9b630a1943f5e7f937.JPG

tama11.thumb.JPG.3e3a7ccf4d650af4138cfb2816dbde77.JPG

tama3.thumb.jpg.fa8c1e1db6788800e9dfd5ebf71b4a3c.jpg

tama12.thumb.JPG.4ee5073de529e7ec6f856ade543768c5.JPG

Siapa yang mau meninggalkan area seperti ini cepat2 ? Rasanya dengan hanya duduk memandang air terjun ini sudah cukup betah, hanya memandangi, dan merasakan anginnya yg juga semilir, rasanya dunia hanya milik kami,,,

tama1.thumb.jpg.89311e6498cf663104591de71201a02e.jpg

2.       Mini Showfarm

Rupanya taman bunga ini sudah masuk ke wilayah kab Bantaeng, tepatnya di desa Bonto Marannu Kec Ulu Ere. Dan lokasinya sudah di ketinggian, terasa dinginnya menusuk tulang. Sebenernya ada beberapa spot lagi di Bantaeng ini, tapi karena sebelumnya kelamaan di Air terjun, sepertinya hanya bisa menikmati taman bunganya saja. Namanya juga Mini Showfarm, tentu tidak seluas taman bunga Nusantara di Cipanas, sekilas mata memandang hanya ada yang di hadapan kita saja nampaknya. Dan kebetulan di musim ini banyak tanaman yang sedang tidak berbunga, hanya ada bunga Masamba dan bunga Lily yang Nampak mekar. Rumah kaca sebagai tempat pembiakan anggrekpun sedang tidak ada bunganya, tidak apa, yang penting kami sudah tidak penasaran lagi dengan tempat ini.

mini1.thumb.jpg.4d79f7dc3fd7bbb5d34607981eb9c34a.jpg

mini5.thumb.JPG.b044ec9c2d92fb7449c039cc5ae1894c.JPG

mini4.thumb.JPG.a0e0baadc41eb26de47f30f51ae90e4e.JPG

mini7.thumb.JPG.55c60d0626689d37a66cf9a4376616da.JPG

Senjapun turun, warna jingga sudah Nampak di langit barat, kamipun beranjak turun menuju Bulukumba sebagai tempat tujuan utama kami. Yang terbayang Tanjung Biranya kan ?? Lumayan jauh perjalanan kami kali ini, alhamdulillah tidak ada hujan, sehingga perjalanan di malam hari tidak membahayakan kami.

Sampai di Bulukumba sudah dilanda lapar, jadilah kami singgah ke tempat makan di pinggir laut, Resto Kampoeng Nelayan di Bonto Bahari Bulukumba, tapi karena sudah malam maka kami hanya bisa menikmati deburan ombaknya. Padahal kalau siang atau sore hari tempat ini akan indah sekali, sambil menikmati ikan bakar kita bisa memandang laut lepas yang membiru. Tips untuk teman2 kalau mau kesini, usahakan sore hari sudah sampai Resto ini yaaa…

resto1.thumb.JPG.91ede4320de136567277ba6f1457db6b.JPG

resto2.thumb.jpg.50309df43f017370448b386e2a56c332.jpg

Sebelum sampai tujuan kami sempatkan singgah di Masjid Islamic Center Bulukumba, yang merupakan icon utama Kab Bulukumba, atau disebut juga Masjid Dato Tiro yang diambil dari nama penyebar Agama Islam di daerah Bulukumba, berlokasi di Jl Sultan Hasanuddin Kec  Ujung Bulu Muda yang merupakan jalan poros antara Sinjai-Bulukumba-Makassar.

masjid1.thumb.JPG.09cb026c312e83bc58608c982baa8b25.JPG

masjid2.thumb.JPG.1efa446cd0dc871ba357bc8dc9386b02.JPG

Di depan masjid terdapat monument berbentuk Al Qur’an terbuka, lagi2 merasa kurang puas berfoto di malam hari, hasil foto jadi kurang maksimal, hanya rasa puas yang bisa maksimal karena bisa sekalian berwisata religi di kota ini.

3.  Ridha Vila Samboang Beach

Setting menginapnya kami buat bervariasi, semalam ini nginap di pinggir pantai yang bisa menikmati sunrise yaitu di Pantai Samboang tepatnya di Desa Eka Tiro Kecamatan Bonto Tiro Kabupaten Bulukumba, kurang lebih 25 km dari Tanjung Bira. Jika kepengin cemilan di malam hari plus kopi bisa request, kami pesan pisang goreng dan kopi untuk ber8 dihargai Rp. 150.000,- Villa satu rumah ada 3 kamar plus breakfast seharga Rp. 650.000,- per malamnya.

home1.thumb.JPG.f9fec523ab06b50711dd38fa59929ee8.JPG

Malam ini, barulah puas merasakan tidur nyenyak. ZzzZzZZzzzzz…

 

HARI KEDUA, 24 DESEMBER 2017

1.       Sunrise Pantai Samboang

Mata masih kantuk rasanya, badanpun pegal2, bayangkan kemarin seharian dari ujung ke ujung mengitari Sulsel. Tapi ketika mengintip dari jendela kaca sudah ada tanda2 terangnya pagi, maka kami paksa bangun, sunrise yang cantek di pantai ini gak akan kami lewatkan. Temaram di ujung timur sana sudah terlihat cahaya tipis, berbalut awan jingga yang menawan, pertanda mentari bakal hadir memancarkan keindahannya. Segera kami ketuk pintu2 kamar lainnya, supaya sama2 bisa menikmati keindahan pagi ini. Dan ternyata diluar sana sudah ada beberapa penikmat keindahan tengah menanti Sang Surya bangun dari peraduan. “Bakal bagus nih sunrisenya” celetuk mereka, nampaknya happy banged, sama seperti kami.

home2.thumb.JPG.cd6a5efa7939c41a88493e7c510d2696.JPG

home4.thumb.jpg.74c0aaf1cd97acab239fd1e6a5ca84ec.jpg

Angin semilir, mengantarkan ombak ke bibir pantai yang berpasir putih, sayangnya kami hanya singgah disini, sehingga hanya bisa menikmati pagimu sejenak saja, tapi sungguh, bercengkerama dengan sinar mentari di pantaimu sangat berkesan, atau karena ada gelak tawa kami semua sehingga keceriaan sangat jelas terasa.

home5.thumb.jpg.042df5c511cec1e7692ee0551111c3fa.jpg

home6.thumb.jpg.eaefc4027daef22891c617e9de5ed6f3.jpg

Dan, ketika ingat perjalanan masih panjang untuk hari ini, akhirnya kami bergegas masuk kamar untuk bersih2 dan packing untuk melanjutkan perjalanan. Sesudah sarapan kami langsung angkat barang dan cuzz menuju Kampung Adat Ammatoa di Desa Kajang Bulukumba.

Ketika baru sepenginang sirih kami duduk manis di mobil, tiba2 nampak sebuah pemandangan unik, tanah bekas galian yang meninggalkan bongkahan2 besar dan bentuknya unik, sayang jika harus dilewatkan begitu saja, kamipun berfoto2 sebentar. Bapak2 yang berada didepan lokasi kami ber-foto2 nampak heran, dan mengajak kami ngobrol, untungnya Driver kami asli Bulukumba jadi tahu Bahasa mereka.

bonto1.thumb.jpg.e3c0b0ce1707fe762bd05ab197b30401.jpg

bonto4.thumb.JPG.0540ebfdd60b2ffa629a6701730cdd5c.JPG

bonto3.thumb.JPG.a8a233241768ff833c7aa575d1e249a6.JPG

 

2.       Kampung Adat Ammatoa Kajang

Apa yang terlintas pertama kali di pikiran kita ketika mendengar nama Kampung Adat Ammatoa Kajang ? Sedikit cerita tentang Kajang setidaknya sudah pernah saya dengar dari My Hubby, biasanya yang ditonjolkan tentang kesaktiannya, juga tentang keahliannya mengirim “doti” yaitu semacam bacaan2 yang kalau dikirim ke seseorang bisa menyebabkan orang tersebut meninggal. Mungkin kalau di Jawa disebut “tenung” ya ? Akibatnya kita menjadi takut untuk menginjakkan kaki ke wilayah ini, takut kena tenung, begitu secara vulgarnya. Tapi, nyatanya kalau kita tidak berbuat jahat, mengikuti aturan yang ada di desa itu maka kita juga akan selamat. Peribahasa dari Sumatra Barat “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” kurang lebih seperti itulah.

Dengan berbekal peribahasa itu, maka kami bertekad bulat untuk mengunjungi kampung adat ini, salah satu aturan yang harus diikuti bahwa kita harus berpakaian serba hitam, tidak membawa apapun ke dalam kampungnya misalnya segala macam alat elektronik, tidak boleh foto2, dan tidak memakai alas kaki.

Bismillah, kamipun segera minta ijin ke Kepala Desa untuk masuk ke desa Tana Toa (Kajang dalam), dan saya dipinjami baju dan kain hitam karena baju saya masih ada kombinasi birunya.

ama1.thumb.jpg.74de4ce205ac26c1979bf4ae7853a3a7.jpg

ama3.thumb.JPG.923db9ca552661c9e999a057350faf7c.JPG

ama2.thumb.JPG.9c025231c06be4811aea50a491a38ba8.JPG

Sesampainya di batas desa, alas kaki kami di lepas, kacamata hitam juga di lepas, dan dengan berlenggang tangan kami berjalan kurang lebih 1 km ke kampung adat Ammatoa. Jalanan berbatu dan panas terik mentari tidak menghalangi semangat kami untuk bertemu dengan Kepala Sukunya. Ammatoa, begitu sebutan Kepala Suku, orang nomor satu yang paling disegani dan dihormati di kampung Tana Toa. Ketika kami sampai ke rumah Ammatoa sedang ada musyawarah, pasalnya ada sengketa antara Kepala Desa dan warga, hanya Ammatoa sebagai Kepala Adat yang bisa menyelesaikan pertikaian ini. Menurut driver kami, perseteruannya lumayan keras, sama2 gak mau ngalah, sampai kami takut, karena dari dialeknya dan suaranya yang kencang sambal mengacungkan senjata sakit marahnya. Jangan sampai kami yg lagi jalan2 ikut jadi korban nantinya, dan biasanya kalau ada musyawarah gini orang lain gak boleh masuk, rupanya kami disangka pengikut Kepala Desa jadi diijinkan masuk.

ama5.thumb.jpg.dc3971ef93d35d3059f1e341077ddcee.jpg

ama6.thumb.jpg.eda31f4ed5dee801c6f324920dacf9b9.jpg

Dan musyawarah belum clear ketika akhirnya datang lagi rombongan mahasiswa dari Makassar, banyak pertanyaan dari mahasiswa terkait dengan adat dan budaya Suku Kajang ini, akhirnya kami pamitan pulang ber-sama2 dengan rombongan mahasiswa.

Sebelum melanjutkan perjalanan panjang lagi, kami mampir makan siang di Bonto Bahari, di sini masih ketemu nasi pecel plus ayam goreng, jangan2 orang Jawa yang jualan ya ?

 

3.       Tebing Apparalang, Tebing Marumasa, Pantai Kalibata Bulukumba

Ketiga tempat ini ada di satu lokasi, dan satu pintu masuk, tapi tiap spot tiketnya beda2, masing2 Rp. 5.000,- per orang. Tapi kita bisa pilih tempat mana yang mau kita masukin, gak harus semuanya. Pantai ini masuk dalam wilayah Bonto Bahari Bulukumba. Yang unik di tempat ini tebingnya, batu2annya dan karang2nya juga indah, airnya terlihat jernih dari atas tebing. Banyak yang berenang dan menangkap ikan di pantai ini. Situasi alamnya mirip dengan Raja4, sehingga dijuluki Raja4nya Bulukumba. Memang kalau Indonesia bagian Timur keren tiada tandingannya kalau urusan pantai, laut dan underwaternya ya ?

apa1.thumb.jpg.62719a8c036c5a489253930e067534ed.jpg

apa2.thumb.jpg.111c634d30a59d210c39143c6bcaf979.jpg

apa3.thumb.jpg.eadef3d73bf424c5734f58ab93371c6d.jpg

apa4.thumb.jpg.d4b0391f2bef7ae9f724d095019a6404.jpg

Spot foto banyak tersedia disini, sampai kami lupa waktu, sedangkan rencananya kami hendak melihat sunset di Pantai Lemo2, tapi ketika kami buru kesana sudah tidak kebagian, akhirnya langsung cuz ke villa tempat kami menginap, yang lokasinya persis di bibir pantai Lemo2.

maru1.thumb.jpg.7f3f63f89ca104b9a0682a7f54f81a30.jpg

maru3.thumb.jpg.d9a331534c09ad1a8c58874b9d3fa436.jpg

maru6.thumb.jpg.5727f978ef5270d31f928c961eebb63b.jpg

Makan malam di villa lumayan enak, ikan bakar dan sayur asem, atau barangkali karena lapar melanda ?

HARI KETIGA, 25 DESEMBER 2015.

1.       Tanjung Bira

Inilah salah satu pulau yang sudah sangat terkenal, Tanjung Bira Bulukumba. Pantainya bersih, bawah lautnya indah, surganya snorkeling dan diving katanya. Tapi begitulah, setiap saya ke Makassar pasti selalu ditanyakan ke Tanjung Bira gak ? Baru sekarang kesampaian, tapi kata orang saat ini kebersihannya sudah menurun, entah apa yang jadi penyebabnya, nyatanya memang sampah sudah terlihat di mana2. 

bira1.thumb.JPG.86622330f476615ea56226b6ad48e739.JPG

bira2.thumb.JPG.523bd1a8f8dcd70bc05b9a6fd43166ca.JPG

bira3.thumb.jpg.617fc52116e9c0319f1d72b0d36115bb.jpg

Tapi kalau air lautnya mah memang keren luar biasa, paduan warna hijau dan birunya kontras, dipadu dengan langit yang biru cerah membuat Tanjung Bira top.

 

2.       Pulau Liukang Loe

Jika mau ke pulau Liukang Loe, kita menyewa kapal dari Tanjung Bira, kemarin karena lagi long wiken kami dikena sewa Rp. 500.000,- PP, biasanya bisa Rp. 300.000,- katanya. Di pulau ini kita bisa menikmati snorkeling, sayangnya kemarin ombak agak besar jadi ketika turun ke laut rasanya terbawa ombak, kecuali yang sudah pandai berenang akan bisa menguasai keadaan.

bira5.thumb.jpg.c29b519917731fb1c93f4cd2c0b2f934.jpg

Selain ikan, di pulau ini juga banyak terdapat ubur2, warnanya putih bening, biasanya kan ada yang cokelat ya seperti yang ada di danau Kakaban ubur2nya berwarna cokelat. Kami sempatkan main ubur2, tapi gak lama karena kalau lama2 di udara dia bisa mati.

bira7.thumb.jpg.0db66b88f6e6feb64006ac9b72cd9dae.jpg

bira6.thumb.jpg.1acc78e448adbfe8a5fa93b182600781.jpgbira8.thumb.jpg.3d859c6a608b0c1201bb9a54ec11d438.jpgbira9.thumb.jpg.45679ddf7a6f1b6504830f77ebeb2732.jpg

Setelah puas bermain air, kami lanjutkan menuju penangkaran penyu masih di Pulau Liukang Loe. Penyunya sudah berumur kurang lebih 10 tahunan katanya. Jika mau berenang Bersama penyu kita dikena tiket Rp. 10.000,- per orangnya. Selain bermain penyu, kita juga bisa menikmati makan siang disini. 

liu1.thumb.JPG.8773a16c0b8f8ba346a775abf056213d.JPGliu3.thumb.JPG.a541369b40ba35af70a27dd5f889d001.JPGliu4.thumb.JPG.5c6443e7c22cdfcad21998f2ba887302.JPG

Daratan pulau Sulawesi terlihat jelas dari Pulau Liukang, pertanda kalau posisi pulau tidak jauh dari Pulau Sulawesi.

liu2.thumb.JPG.917ebbde5bc85e0118209bafd54dc521.JPG

Alhamdulillah cuaca mendukung, masih punya utang sunset nih, buru2 kami meninggalkan pulau Liukang untuk melanjutkan berburu sunset.

Kamar mandi bilas tersedia di sekitar Tanjung Bira, per orang dikena tarif Rp. 5.000,-. Selesai bilas lanjut makan dan shalat disebuah rumah makan di sekitar Tanjung Bira.

3.       Sunset di Pantai Lemo2

Masih di kawasan Bonto Bahari, pantai Lemo2 merupakan spot sunset yang indah, pantainya juga mempunyai ciri khas tersendiri yaitu banyaknya pohon kelapa di pinggiran pantai. Entah kenapa, pohon kelapa menjadi sangat indah jika dipasukan dengan pantai dan laut.

lemo3.thumb.JPG.724d3e79a684f213357891c292285328.JPG

lemo1.thumb.jpg.ffaa028be82f5796e176cff2e1234575.jpg

Di sekitar pantai Lemo2 juga banyak orang memancing, walau sudah senja mereka masih saja bertahan disitu, katanya sampai malam baru mereka beranjak pulang. Melewatkan mentari tenggelam begitu saja amat disayangkan, membuat foto lucu sambal bercanda ria menjadi kebiasaan kami dalam menghantar Sang Mentari tidur ke pelukan malam. Dan ini menjadi suasana yang amat indah untuk dikenang dan diabadikan.

lemo4.thumb.JPG.acd156815f25c1d5b0b1d670fd4130b4.JPGlemo5.thumb.JPG.1d8e76d7ceb5fb90743b932d4b2d9f55.JPG

Selesai menghantar Mentari tenggelam, kami lanjutkan perjalanan menuju Makassar, jalan yang kami lewati sama dengan ketika hendak berangkat. Dan malam itu kami bermalam di Sungguminasa Kab Gowa. Kami browsing2 dapatlah Homestay Discovery Sungguminasa, berlokasi di Jl Lapangan Syech Yusuf Sungguminasa, Perum Taman Discovery Blok B no 4 Somba Opu Gowa. Tak disangka nemu homestay murah dan bersih walau jalan menuju masuk awalnya meragukan, tapi begitu ketemu tempatnya lumayan bersih dan murah. Tinggal sisa 3 kamar dengan harga yang bervariasi mulai dari Rp. 100.000, 150.000 dan 200.000. Alhamdulillah…!

HARI KEEMPAT, 26 DESEMBER 2018

1.       Air Terjun  Takapala

Air terjun Takapala terletak di desa Bulu’tana kec Tinggimoncong Gowa, perjalanan kesini lumayan berisiko, jalanannya menanjak karena memang kea rah puncak Gunung Bawakaraeng, gunung yang dianggap suci dan keramat oleh warga sekitar. Seperti daerah2 lainnya, maka hawa pegunungan sudah terasa disini, adanya tanaman2 bunga tropis, pohon pinus, kebun the, air terjun sudah menjadi ciri khas daerah pegunungan. Air terjun Takapala merupakan air terjun yang mudah dijangkau, mobil bisa langsung parkir di TKP jadi tidak perlu trecking.

Jalannya lumayan sempit jadi keahlian driver nomor satu, alhamdulillah kendaraan kami tidak terkendala, dan ketika sampai di parkiran deburan air terjun terdengar sangat keras dan cipratan airnya seperti gerimis, jadi siap2 mantel supaya baju tidak basah ya..

taka1.thumb.jpg.9ed9de49ea9b88546ac579e619dfe718.jpgtaka2.thumb.JPG.2e0fcedaa82a55f0c6495b6f91568dd1.JPG

Jika tidak bawa mantel, di sekitar lokasi juga ada persewaan payung. Hanya diperlukan jalan beberapa menit kami sudah sampai di lokasi, Subhanallah, airnya begitu deras dan lumayan tinggi air terjunnya. Ck ck ck ck…sangat kagum kami dibuatnya.

Di sekitar air terjun banyak terdapat warung2 yang menyediakan cemilan panas seperti pisang goreng, mie rebus dan kopi, sangat cocok dengan udara siang itu. Mari kita nikmati kopi panas sambil memandangi jatuhnya air terjun.

 

2.       Hutan Pinus Malino

mali1.thumb.JPG.1b58f7220556151c579d5f601e715e16.JPG

Berikutnya kami sempatkan singgah di Hutan Pinus Malino,  kebanyakan wahana yang ada disini untuk anak2 seperti Kuda Tunggang, flying fox dll. Kami manfaatkan hanya untuk ber-foto2 saja, mengabadikan kebahagiaan Bersama sahabat itu penting. Dan rupanya hari ini serasa lebih pendek dari biasanya, karena hati kami diburu rasa was2, khawatir terlambat sampai ke Bandara Hasanuddin karena hari ini adalah hari terakhir kami di Sulsel. Sehingga ketika dirasa sudah cukup menikmati Malino, kami segera meluncur ke Makassar.

pinus1.thumb.JPG.e374a0dea10445c0746d860efc5f4296.JPG

pinus4.thumb.JPG.d6c71a29db41bff1133c17dbdf394c16.JPG

 

3.       Wiskul Pallubasa Serigala dan Hunting Oleh2 Khas Makassar.

Wiskul tidak pernah ketinggalan mengisi agenda kami, kali ini Pallubasa Serigala menjadi sasarannya, dan kami singgah di Cabang Jl. Hertasning Sungguminasa. Disini tidak terlalu mengantri seperti di pusatnya, soal rasa sama, bagi anak2 kami merupakan sesuatu yang baru karena di menu ini ada terdapat kuning telor mentah dimana cara makannya langsung di-leb dan pecah dimulut, bayangkan saja ? Sepertinya tidak semua orang bisa menikmati hidangan ini, ada yang cara makannya di aduk sehingga kuning telornya tercampur dikuahnya.

wiskul1.thumb.JPG.9e7a0dbc6166bba1e092d44c44b5e540.JPG

Hunting oleh2 khas Makassar masih di sekitaran Somba Opu, belum ke Makassar namanya kalau belum beli markisa dan kacang disko.

wiskul2.thumb.jpg.7d27e0f43c44561d966bf5c7c6632388.jpg

Kiranya sudah selesai jalan2 kami di Sulsel JJ’er, hanya kepuasan yang tersisa di hati kami, terima kasih semua teman2 yang sudah jadi travelmate, kalian sangat menyenangkan, semoga lain waktu bisa kembali lagi ke Sulsel dengan destinasi yang berbeda.

wiskul3.thumb.jpg.67bf734fc9db65441ba5970427de8831.jpg

Kami kembali ke Jakarta dengan menggunakan Batik Air jam 20.15, dan sampai Jakarta jam 21.35 WIB.

 

Salam Jalan2 Indonesia….!!

  :melambai

maru4.jpg

Share this post


Link to post
Share on other sites
31 minutes ago, kyosash said:

wah keren nih view Air Terjun Tama’lulua-nya :salut , as always nice share :rate 

terima kasih mas Kyosah, bagus banged memang,,gak nyesel sdh jalan kaki jauh, yg sebenernya bisa dinikmati tanpa hrs turun ke lembah

Share this post


Link to post
Share on other sites
11 hours ago, deffa said:

jadi kangen coto

tiap ke Makassar makan nya coto nusantara aja, tapi tar cobain Coto Sunggu juga ah. @Titi Setianingsih

Kalau bukan orang Makassar rasa Coto seperti sama Mas Deffa, tp kalau suamiqu udah paham, krn per kabupaten rasanya / bumbunya beda2, ada yang pakai santan ada yang tidak, ada yang pakai air cucian beras ada yang tdk,,,,,,di Bandung juga ada coto ya ? pernah kulihat di deket2 stasiun

Share this post


Link to post
Share on other sites
On 3/2/2018 at 6:19 PM, Titi Setianingsih said:

Kalau bukan orang Makassar rasa Coto seperti sama Mas Deffa, tp kalau suamiqu udah paham, krn per kabupaten rasanya / bumbunya beda2, ada yang pakai santan ada yang tidak, ada yang pakai air cucian beras ada yang tdk,,,,,,di Bandung juga ada coto ya ? pernah kulihat di deket2 stasiun

wah saya malah belum liat Coto yang di Stasiun bu ehheheh

@Titi Setianingsih

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Titi Setianingsih mba disana coto tidak Ada tulisan makasarnya yah ? :senyum  

Bener gak yah bedanya coto Makasar sama palubasa itu , coto pake kacang tanah yg dihaluskan kuahnya, palubasa pake kelapa sangrai yg dihaluskan hihihihi 

 

On 3/2/2018 at 6:19 PM, Titi Setianingsih said:

Kalau bukan orang Makassar rasa Coto seperti sama Mas Deffa, tp kalau suamiqu udah paham, krn per kabupaten rasanya / bumbunya beda2, ada yang pakai santan ada yang tidak, ada yang pakai air cucian beras ada yang tdk,,,,,,di Bandung juga ada coto ya ? pernah kulihat di deket2 stasiun

Yang di dalam foodcourt hypersquare yah ? Kayanya udah tidak Ada lagi. Di Bandung seperti kurang peminat coto,sop konro . Di jln lodaya Ada coto sop konro karebosi tapi sekarang sudah tutup. Yg warungan dekat jln. Aceh juga udag tutup. Tinggal sop konro maranu di jln.riau yang masih buka. 

Share this post


Link to post
Share on other sites
17 hours ago, Rawoniste said:

@Titi Setianingsih mba disana coto tidak Ada tulisan makasarnya yah ? :senyum  

Bener gak yah bedanya coto Makasar sama palubasa itu , coto pake kacang tanah yg dihaluskan kuahnya, palubasa pake kelapa sangrai yg dihaluskan hihihihi 

 

Yang di dalam foodcourt hypersquare yah ? Kayanya udah tidak Ada lagi. Di Bandung seperti kurang peminat coto,sop konro . Di jln lodaya Ada coto sop konro karebosi tapi sekarang sudah tutup. Yg warungan dekat jln. Aceh juga udag tutup. Tinggal sop konro maranu di jln.riau yang masih buka. 

gak ada laah mas Roawinsite, seperti warung padang di SUmbar juga tdk ada tulisan RM Padangnya:ngakak

Tuuh tau banyak tentang Coto di bandung malahan,,,mas @deffa ini info masnya valid kayaknya. Karena aq dulu gak singgah jadi lupa namanya.

7 hours ago, deffa said:

I see, inget namanya gak?

kagak ingeettt blas soalnya tdk mampir jd tdk terdokumentasi mas Deffa

Share this post


Link to post
Share on other sites
20 hours ago, Titi Setianingsih said:

gak ada laah mas Roawinsite, seperti warung padang di SUmbar juga tdk ada tulisan RM Padangnya:ngakak

Tuuh tau banyak tentang Coto di bandung malahan,,,mas @deffa ini info masnya valid kayaknya. Karena aq dulu gak singgah jadi lupa namanya.

kagak ingeettt blas soalnya tdk mampir jd tdk terdokumentasi mas Deffa

Berarti cuma Bandung Saja yang punya Soto dengan embel2 daerahnya dibawa2 meskipun di Bandung sendiri lokasi nya. :ngakak. Soto bandung . Karena kalo tulisannya Soto saja yg kebayang soto2 ala jawa yang kuning  hihihihi

Share this post


Link to post
Share on other sites
55 minutes ago, Rawoniste said:

Berarti cuma Bandung Saja yang punya Soto dengan embel2 daerahnya dibawa2 meskipun di Bandung sendiri lokasi nya. :ngakak. Soto bandung . Karena kalo tulisannya Soto saja yg kebayang soto2 ala jawa yang kuning  hihihihi

kereeeen Bandung euy :salut

Share this post


Link to post
Share on other sites
1 hour ago, Rawoniste said:

Berarti cuma Bandung Saja yang punya Soto dengan embel2 daerahnya dibawa2 meskipun di Bandung sendiri lokasi nya. :ngakak. Soto bandung . Karena kalo tulisannya Soto saja yg kebayang soto2 ala jawa yang kuning  hihihihi

@Titi Setianingsih @Rawoniste

Jangan lupa ada Es Bandung di Malaysia

gue sendiri bingung mereka dapat nama itu dari mana wkwkwkwk :P 

Share this post


Link to post
Share on other sites
7 hours ago, Titi Setianingsih said:

Seperti di Jeju ada warung Indonesia, dikiranya orang Indonesia yg jualan ternyata org Korea tp cinta sama Indonesia mas Deffa

Wih saking banyak nya orang Indonesia kesana, mereka bisa membaca peluang, mantap :D 

Share this post


Link to post
Share on other sites
1 hour ago, deffa said:

Wih saking banyak nya orang Indonesia kesana, mereka bisa membaca peluang, mantap :D 

Pintar ya mereka ? Dan pasti dicari walau lokasinya agak masuk, namanya Warung Pelangi....aq gak sempat kesana kmrn mas Deffa, pdhl penasaran banged dg Pelanginya...Rainbow☂☂

Share this post


Link to post
Share on other sites
1 hour ago, Titi Setianingsih said:

Pintar ya mereka ? Dan pasti dicari walau lokasinya agak masuk, namanya Warung Pelangi....aq gak sempat kesana kmrn mas Deffa, pdhl penasaran banged dg Pelanginya...Rainbow☂☂

sip nanti saya coba cek deh kalau kesana bu :D 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

  • Similar Content

    • By ko Acong
      Bagi yang bosan di Kuala Lumpur boleh melipir ke Melaka cuma 2 jam perjalanan loh.
      Berapa uang yang saya habiskan selama main ke Malaka? Normalnya tiket pesawat PP 1 jutaan. Yang pasti tiket PP Indonesia-Kuala Lumpur kemarin saya dapat Rp 169.000 saja Malaysia Airlines Business Class (Promo).
      Mari kita hitung pengeluaran saya selama 2 malam 3 hari di Melaka:
      Tiket Bus, via Terminal BTS (Bandar Tasik Selatan) cukup 24 x 2 = 48 RM
      Jika langsung bus PP harganya 70 Rm, perbedaan waktu hanya 1 jam. Kelebihan transit di  BTS setiap 30 menit ada Bus. Kekurangannya, jika ketingalan jadwal bus harus buang waktu selama 3 jam.
      Hotel Saya Pake Hotel Hong https://goo.gl/maps/fhwLNd6fmzp
      yang terkenal buat Backpackers, karena serasa Hotel Keluarga ada di antar jemput di terminal bus dan ketika diantar mereka melepas kita satu persatu, sampai aman di terminal bus dan mengarahkan ke platform yang seharusnya. Terima kasih Ci Amey dan karyawan hotelnya yang bersih. Harga selama 2 malam kisaran Rp 550.000. 
      Tranportasi di Melaka semua ditempuh dengan berjalan kaki. Estimasi makan minum, cukup Rp. 100000 perhari, di tiap menu makanan perhari ada daging nya lumayan wah juga sih.
      Tinggal kita hitung oleh2 jajan yang aneh-aneh dan lainnya, jadi estimasi main di Melaka selama 2 hari:
      Bus 48 Rm = Rp 175.000 Hotel 2 malam = Rp 550.000 Biaya makan minum = Rp. 300000 Jumlah Rp 1.025.000.- sesuai Hitungan awal budget cukup 1 jutaan.
      Hehehe namun belum termasuk Cendol Musang King dan oleh-oleh Durian Jam San Shu Gong yang legenda, Wueeenak lembut banget. Nah bila mau lanjut main di Kuala Lumpur, cuma tinggal nambah hotelnya sekitar Rp 500.000 per malam.
      ____________________________________________________________________________________________________________











    • By Daniyah Isa
      Assalamualaikum 
      Salam kenal,
      Panggil saya, Nia
      Ini adalah pertama kalinya saya pergi ke LN dg mengurus semua keperluan sendiri. Biasanya, sdh terima beres dari kantor, karena memang ada urusan. Nah, destinasi yg saya pilih tdk jauh tp harus berkesan ! Melaka. Kota yg ditempuh dlm waktu 2 jam dari KLIA2. 
      Gimana caranya saya bisa sampai ke sana ? Inih dia, detailnya ;
      1. JKT-KLIA2
      Pesan tiket pesawat yg everyone can fly dari situs resmi. Lama waktu sekitar 2 jam, berangkat 10:10am sampai KLIA2 13:15pm.
      Di KLIA2, ikuti saja petunjuk arah yang ada, sambil ikuti arus kemana orang-orang pergi. Nanti, ada eskalator naik, lalu ada eskalator turun langsung ke tmpt imigrasi. Setelah keluar dari imigrasi, saya temukan mall dg counter-counter barang branded. Semacam Grand Indonesia, kalau di Jakarta.
      Buat yg terburu-buru sampai ke KL dg cepat, mgkn ada urusan meeting or apa, bisa lurus terus ke pintu keluar. Di samping pintu keluar ada loket pembelian tiket KL Ekspres, seharga 55RM dg waktu tempuh 33menit ke stasiun KL SENTRAL. Dari KL Sentral, bisa pilih kemana saja tujuan teman-teman yg mau dicapai. Ibarat di Jakarta nih, KL Sentral tuh Manggarai. 
      Tujuan wisata saya, dan teman saya adalah Melaka. Belajar dari blog dan bbrp artikel, butuh kendaraan bus utk sampai ke sana. Hanya bus saja, tdk ada kereta atau MRT yg menuju ke sana. Saya pun, turun lagi ke lantai G dg eskalator. Jangan takut kesasar ! Banyak petugas keamanan yg berjaga.
      Sampai di lantai paling dasar, ada sederet loket yang menjual tiket bus, taxi, sewa kereta (mobil). Langsung saja, membeli tiket bus Transnasional tujuan Melaka Sentral, seharga 24.10RM. Di tiket sudah tertera nomor tempat duduk, gate tempat menunggu. Wah, pokoknya tertib dan teratur! Meskipun busnya lebih bagusan DAMRI sih bagi saya, hehehe.
      2. Melaka dan Wisatanya 
      Selama 2 jam perjalanan dari KLIA2, sambil bengong-bengong liat pemandangan (apa bener gue di Malaysia? Ini mirip ke Ciawi yah ? Heheheh) yang membedakan tuh, sepanjang jalan lancar jaya. Mgkn supir bus kapalan nginjek gas, hehehe. Duh bahagia deh kalau Jakarta jalanannya kaya gini terus. Sampai tibalah saya di Melaka Sentral, ibaratnya Terminal Kp. Rambutan gituh. 
      Waduh, sepi banget ! Macam ga ada kehidupan. Bingung juga kan, mau ke hotel gimana ? Boro-boro kuota buat pesan taksi online, sinyal ajah ga dapat.
      Yaa, saya tanya ke petugas kebersihan, dan memang bus Panorama 17 tujuan Bangunan Merah, agak lama. Bukan karena macet yaa, ini karena jalanan di Melaka tuh Sehala (satu arah) jadi dia berputar dulu.
      Sejam menunggu, datanglah bus Panorama 17. Disinilah pengalaman dimulai, banyak yg Negor dan tanya "Indonesia ya ? Indonesianya mana ?" Agak bingung sih, ditanya begitu. Biasanya ditanya "Jawanya mana ?" Padahal sih, sama saja hehehe. 
      Saya menginap di hotel Hallmark Crown, 3H2M, seharga 147RM include Breakfest, free wifi. Wilayahnya dekat dengan mall Dataran Pahlawan, jalan kaki 10 menit lah. Jadi turun saja di Dataran Pahlawan, ongkos busnya 2RM saja. Hotelnya comfie banget ! Disetiap sudut ada galon. Jadi bisa refil sepuasnya, ditambah kulkasnya menyala dg sempurna. Wah, recomend deh!
      Saran utk teman-teman yg mau pesan hotel di Melaka, pesan di daerah sekitar Dataran Pahlawan (rate murah), Bangunan Merah, dan Jonker Street. Tiga tempat itu, sudah dekat banget kemana-mana. Jadi bisa jalan-jalan santai, foto-foto, interaksi sama penduduk lokal. Yg penting, rajin jalan kaki yaa, hehehe.
      Hari pertama saya mengunjungi Bangunan Merah, jalan kaki dari Hotel 15 menit. Melewati mall-mall Besar, dan rupanya ada carnaval becak hias, mobil hias dan barongsai. Jadi nggak berasa jauh dan capeknya.
      Di Melaka, ada yang saya lihat di maps Google itu jauh, ternyata dekatan. Menara Taming Sari, Bangunan Merah, Jonker Street dan River Cruise. Yang jauh, cuma Masjid Selat Melaka. Masjid Selat Melaka memang harus menggunakan taksi online, karena jaraknya terpisah dengan daratan Melaka kota dan masuk ke kompleks perumahan. 
      3.Kuliner dan Oleh-oleh Melaka
      Sempat bingung mau makan apa di Melaka. Hari pertama saya sampai di Melaka, sudah malam dan banyak yg tutup. Masa iyah sih, jauh-jauh ke Melaka, makanya McD? Nggak ada nasi lagi. Akhirnya mampir ke 7Eleven (horeee, Nemu 'sevel !) Beli nasi lemak instant dan mie instan. Lupa berapa harganya, tapi cukup menahan lapar. Serius deh, sebenarnya nggak lapar-lapar banget ! Cuma karena nggak mau masuk angin ajah.
      Terakhir perut diisi sama sandwich Subway yg beli di KLIA2. Hufh, gara-gara ngincer destinasi wisata jadinya lupa makan. 
      Hari kedua, masih hunting foto disekitar Bangunan Merah, Taming Sari, River Cruise. Cerah banget langit di Melaka, dan udaranya juga segar nggak ada polusi (kapan Jakarta begini ? Mungkin ga yah ?). Di samping Bangunan Merah, ada tangga menuju bukit. Diatasnya bangunan reruntuhan yang menghadap lautan lepas. Keren banget !!! Duduk-duduk saja sambil lihat pemandangan. 
      Oh Iyah, untuk beli oleh-oleh seperti gantungan kunci, kaos tulisan Melaka, tas Melaka, tempatnya di Medan Samudera. Tenang, ga jauh kok ! Ga perlu nyebrang. Dari Bangunan Merah, ambil sisi kanan dan lurus terus sampai lihat bangunan kapal pesiar. Nah di sana, yang paling murah ! Kaos dapat 10RM, gantungan kunci dapat 8RM, 6 gantungan kunci. Meski di Bangunan Merah juga ada lapak yang menjual, lebih baik beli di Medan Samudera, karena harganya lebih terjangkau. 
      Selain beli oleh-oleh, di tempat ini ada warteg Melayu loh ! Syukurlah, ada warteg juga. Awalnya sempat underestimate gitu. Makanannya mirip makanan warteg, dan ga lebih menarik dari warteg Jakarta. Karena Nggak enak sama Ibu penjualnya, yg tiba-tiba udah nyendokin nasi, mau ga mau dibeli. 
      Yaa sayur tumis kacang panjang dan ayam goreng jadi menu makan siang. Pas dimakan, enak ! Ini karena efek capek mungkin yaa. Minum air mineral, biar nggak makin haus. Tadinya sih mau makan nasi Briyani dan teh tarik, tapi dia hanya jual di hari Minggu. Seporsi makanan warteg Melayu cuma 6RM. Waah, amazing ! akhirnya bisa menghemat, heheheh.
      Lepas makan, lanjut belanja-belanja di sekitar Medan Samudera. Biasa, buat yang dirumah, mau dibeliin kaos dan gantungan kunci utk disebar, hehehe. Jalan lagi ke Bangunan Merah, baru ketemu kedai es cendol. Katanya sih, es cendol di Melaka itu khas banget. Yaudah, saya beli yang es cendol kacang merah. Rasanya ??? Waah, enak banget !!! Pass buat saya yang ga terlalu suka manis. Kuah santannya gurih, cendolnya segar dan kacang merahnya manis. 
      Wah, okeh banget lah ! Rencana kalau ngidam, maunya ngidam es cendol Melaka. Hahahah
      Menjelang sore, saya bersiap menuju Mesjid Selat Melaka. Menikmati sunset sambil menunggu waktu magrib. Magrib di Malaysia, setengah tujuh. Tapi langitnya seperti setengah enam, Jakarta. Waktu di Malaysia tuh cepat banget ! Mungkin ini planet Merkurius, satu menit tiga puluh detik. Semua terasa cepat.
      Saya dan teman-teman menuju Masjid Selat Melaka menggunakan taksi online. Sampai di sana, waah indah banget ! Lebih indah dari foto-foto Google. Garis cakrawala sudah menyapa di langit. Air laut biru bersih tanpa sampah. Saya berdiri di halaman belakang Masjid menatap langit sore. Diterpa angin laut, dan ada beberapa wisatawan lain berlalu-lalang. Sayang, lagi nggak sholat Magrib di sini. 
      Akhirnya cuma nunggu teman yang sholat Maghrib, sambil jaga sendal hahaha.
      Malam terakhir di Melaka, saya menuju rumah makan Eeji Ban Chicken, penjual makanan khas Melaka. Ada Rice Balls, Asam Pedas, Nasi Lemak, harganya pun terjangkau. Berkesan makan ditempat ini, karena rumah makan Eeji Ban recomend dari supir taksi online. 
      4. Check Out Melaka
      Hari terakhir di Melaka, saya merasa sedih banget ninggalin tempat ini. Padahal rumah ini kampung orang, negeri orang, huhuhu. Nggak mau repot karena tas udah beranak, jadinya saya dan teman-teman naik taksi online ke Melaka Sentral.
      Di Malaysia pada umumnya, jarang ada sirik-sirikan or persaingan. Contohnya di terminal Sentral Melaka. Tadinya mau naik bus Delima,  bus terkenal dikalangan blogger yg pernah kesana. Tapi sama kenek Delima, disuruh ke bus satunya lagi yg kurang eksis. But its OK ! Yg ptg sampai, heheheh.
      Dua jam perjalanan menuju terminal bus TBS (Terminal Bersepadu Selatan), amazing !!! Terminal Bus rasa Bandara Terminal 3. Bersih, tertib, rapi. Dibawahnya, ada stasiun menuju KL Sentral. 
      5. Sehari di Kuala Lumpur 
      Berhubung pesawat tengah malam, jadi siang masih bisa jalan-jalan sebentar di Kuala Lumpur. Hunting foto di KLCC, Dataran Merdeka dan jalan-jalan ke Mall *lagi. 
      Dari Terminal TBS, naik KL transit ke stasiun KL SENTRAL seharga 6.5RM. Dari KL SENTRAL, bisa ke Batu Caves, KLCC, Mesjid Jamek, KLIA2. Ada peta seperti peta yang ada di halte Transjakarta, di sana juga ada petugas yang membantu dan menanyakan "Can i help you ?" So, tak perlu takut tersesat. 
      Stamina udah low, meski cuma naik turun kendaraan umum tp cukup bikin lemas. Selain makan, kita juga butuh vitamin, kalau capek lebih baik istirahat.
      Di KL SENTRAL, ada loker penitipan dg kunci sensor wajah. Jadi kita ga perlu deh tengteng tas beranak kesana kemari. Harganya 20RM utk loker kecil dan 30RM utk loker besar. Sangat disarankan berpergian sama teman, biar segala biaya bisa ditanggung bersama. Tapi milih juga yaa, teman yang gimana buat diajak jalan jauh. Apalagi, ke LN yg jalan kakinya jauh-jauh.
      Baiklah, itu pengalaman pertama saya traveling ke Melaka, Malaysia. Saya sangat suka tempat itu, lebih indah dari yg saya bayangkan. Terutama yg hobi fotografi, ini banyak spot-spot bagus di Melaka. 
      Oh Iyah, makasih banyak buat Mba Vira. Mgkn dia jarang aktif di forum ini. Saya pun juga newbie. Ketemu jalan2.com karena random ajah, hehehe. Lagi bosen, drpd stalking sang EX atau baca berita hoaks, iseng-iseng cari soal Melaka. Tiba-tiba muncul situs ini, dan saya kenalan sama Mba Vira. Nggak ada sedikitpun curiga bakal gimana nnt disana, tinggal jalan ajah. Hehehe
      Nah buat teman-teman, semoga tulisan saya membantu dan jadi referensi kalau kalian mau ke sana. Ingat, No need bilang, barang ini murah atau mahal. Soalnya beda "Peradaban".
       








       
    • By seyakasamira
      Lalala-yeyeye..Setelah menunggu selama 7 Bulan lamanya, akhirnya nemu juga 5 orang korban lain (*eh?!) yang bersedia nge-trip bareng ke sini..uwowww jd terharu sayaa..  so, langsung saja..
      Day 1.
      Kita berangkat hari Jumat tgl 26 Sept'14, naik pesawat TriganaAir dari Jakarta menuju PangkalanBun. Sesampainya disana langsung dijemput oleh Tour Guide kami (Pak Andreas dari Yobel Tour), dan kita dicarterin taxi untuk menuju pelabuhan Kumai dengan jarak tempuh yg lumayan singkat yaitu 30 menit saja..Da..engingjrennggg... langsung terkesima dengan kapal yang akan kita kendarai selama 3 hari 2 malam mendatang..huhuhu..ga nyangka kapalnya oke banget,bersih dan ga se-prihatin yg saya bayangkan (mulai norak).
       
      Jadi awak kapal terdiri dari 1 orang kapten kapal, 1 orang crew kapal, 1 orang juru masak, dan Pak Andreas sbg Tour Leadernya. Kapal yg populer dinamakan kapal kelotok (karena bunyinya klotok..klotok..klotok) ini cukup luas buat kami ber 6 plus 4 orang awak kapal. Ada 2 dek, dek bawah itu untuk aktivitas awak kapal (buat nahkodanya, tempat menyimpan kasur2 tamu, tempat masak, dll). Dek atas disediakan untuk tamu. Fasilitasnya juga Ok bgt, kamar mandi pakai shower dan ada closet duduk, disediakan meja makan, ada balkon dengan 2 kursi leyeh2 untuk berjemur (what?berjemur??udah ky areng ginih -____- ! ) Oiya, jangan sedih..kita dapat 3x makan dan 2x snack dalam 1 hari. dan masakannya sungguhlah berlimpah dan super yummy..





       
      Di hari pertama ini kita langsung menuju Tanjung Harapan untuk lihat feeding time nya orangutan. Trekking masuk hutan sekitar 1 km dan sesampai di tempat feeding cuaca mulai mendung dan turunlah hujan. Eh, ternyata disana sudah menunggu beberapa rombongan tourist yg mau lihat proses feeding time ini. Dan dikarenakan wisata tanjung puting ini lebih populer atau diminati tourist luar, maka pemandangan disini adalah bule bule semua   . Disini kita menunggu ?-/+ 30 menit hingga orangutan yg masih ngumpet pada mau turun dari atas pohon menghampiri "panggung" yg berisi pisang2. Beruntung kita bisa melihat orangutan yg muncul dikarenakan kalau hujan biasanya mereka prefer leyeh2 di atas pohon (macam manusia yg kalo hujan lebih senang nedekem di rumah). Uwoww, beda lho rasanya ngelihat orangutan di ragunan/taman safari dengan orangutan disini. Kalo disini ada perasaan degdegan kalo mereka melintas dengan tubuh besarnya itu. Dikarenakan orangutan liar belum terbiasa disentuh oleh manusia (tdk sperti kbon binatang di jakarta), maka juga ada anjuran jangan sembarangan memberi makan orangutan, jangan berdiri diantara orangutan jantan dan betina, jangan bersuara terlalu keras/ribut yg akan mengganggu ketenangan orangutan dan beberapa rambu2 lainnya.







       
      Diperjalanan pulang, ketika melintasi sungai sekonyer kita bisa melihat sekawanan bekantan di kiri dan kanan pepohonan, kalau beruntung bisa melihat buaya pula. Dan saya beruntung melihat buaya dengan mata merahnya sedang mengincar mangsa.
      Malam harinya kita ber candle light dinner dengan lauk ikan nila bakar, tumis kangkung, tempe goreng, uhmm apa lagi ya lupa hehehe dan ditutup dengan dessert potongan buah mangga. Bener2 beruntung dapet chef yg jago masak.  Setelah kenyang, kapal menuju tempat dimana kita bisa melihat kunang2 dimana-mana..woww ga bisa dilukiskan dengan kata2 kita lihat pemandangan sejuta bintang dan kunang2 yg seprti pohon natal di kiri kanan kita..(sayang ga bisa ke photo). suasana malam hari disana sangat sunyi dan syahdu. Hanya ada suara jangkrik dan serangga2 lain yg bersahut2an dan Anyway kita tidur disediakan kasur beserta kelambu..Thanks God we had a marvellous momment and unforgettable experiences.
       
      Day2.
      Yang biasanya pagi2 di jakarta dibangunin sama kokok ayam, eh jangan sedihh disini kita subuh2 dibangunin sama suara bekantan jejeritan yg sedang bersendagurau..woww so sweet bgt ga sih dibangunin suara monyet.. hehehe..Setelah sarapan nasi goreng ikan asin yang banyaknya naujubilah (tapi abis dan kenyang) dan ngeteh2 cantik, maka berangkatlah kita menuju Pondok Tanggui dan dilanjutkan ke Camp Leakey. Di Pondok Tanggui trekkingnya seru, byk spot2 lucu buat foto2, nemu tumbuhan kantong semar, rayap, akar liana, dll tapi sayang setelah menunggu selama 1 jam, orangutannya ga ada yang mau turun di tempat feeding. Mungkin karena masih pagi dan byk bgt wisatawan yg berkunjung kesana jadi mereka malu-malu mau gitu kali ye..







       
      Perjalanan dilanjutkan ke Camp Leakey, pusat rehabilitasinya orangutan. Perjalanan lumayan jauh sekitar 8 km, namun pemandangannya mulai berubah, pohon2 lebih rindang, kiri kanan bisa lihat burung kingfisher, lihat buaya dan biawak berenang, pokoknya settingannya mirip film annaconda deh ngeri-ngeri sedap gitu heheheh.. dan air sungai berubah menjadi lebih jernih dan berwarna hitam. Warna hitam dikarenakan dasar tanahnya gambut namun bening sekali. Sampai bisa ngaca dan hasil fotonya mengagumkan bgt,krn pohon2 yg terpantul di air seperti ada reflection effectnya.  Begitu menginjakkan kaki disini, kita disambut oleh kedatangan Siswi, orangutan betina dewasa yang dari kecil sudah diasuh disini. Dikarenakan hujan, dia mulai ngumpet2 nyari tempat berlindung dan menutupi kepalanya dengan mencabut2 dahan2 yg ditumbuhi banyak daun. Uwoww lutunaaa.. Perjalanan ternyata masih panjang. Pak Andreas mengarahkan untuk ambil jalur masuk hutan sambil lihat2 tumbuhan endemik yang ada di hutan sini,jadi sekitar 1,5 km untuk sampai ke tempat feedingnya orang utan. Beruntung bisa lihat beberapa orangutan,uwa-uwak,squirel yg ke "atas panggung" buat ambil makanan. Yang menyenangkan lihat proses feeding ini adalah, kita jadi tahu gimana cara manggil orangutan supaya turun, gimana liat proses mereka bergelayutan dari pohon ke pohon, gimana cara mereka mengupas pisang dan memasukkan ke mulut, gimana cara ibu orangutan memberi makan anaknya, gimana mimik muka/ekspresi mereka mengendap2 atau mencuri makan lalu kabur, dan banyak lagi tingkah laku kocak lainnya. Adapula kedatangan babihutan yang ikut meramaikan suasana. Setelah sekitar 2 jam muncullah orangutan yg kita tunggu2 yaitu Tom, the king of Camp Leakey. Ya, si Tom ini penguasanya. Selayaknya raja, binatang lain akan mundur atau menyingkir ketika rajanya datang dan membiarkan si raja menghabiskan makanan yg disediakan. Jika ada orangutan dewasa disekitar sana yang dirasa mengancam kedudukannya, serta merta akan terjadi baku hantam disana. Hampir saja kami melihat proses baku hantam itu, yaitu ketika Ponorogo (salah satu orangutan dewasa ) terbirit2 dikejar oleh Tom karena lebih dahulu mengambil jatah makanannya. Namun sayang tidak terkejar dan Tom kembali duduk di singgasanannya sambil minum susu. Ya, makanan yg disediakan oleh Ranger hutan (petugas yg memberi makan orangutan) itu biasanya adalah pisang, tebu, dan susu dancow. wow. hehehe..Perjalanan trekking pulang, kita dihampiri juga oleh orangutan remaja bernama Gajah Mada. Serem ya namanya, tapi ternyata unyu2 gitu penampilannya hihihi..

      siswi

      the team
      Tom
      Gajah Mada
       
      Day 3.
      The Last Day, pagi2 seperti biasa kita dibangunkan oleh sekawanan bekantan, namun kali ini pemandangannya bekantan lagi pada lompat-lompat main air, ceritanya mau nyebrang pohon melintasi sungai, cuman ada aja jatoh2nya di sungai.. LUCU BGT, tapi ga sempet kefoto saking terseponanya. Oia, karena kita malam itu kapal berlabuh di pinggir rawa2 masih dekat Camp Leakey, maka paginya pun kita juga dibangunkan oleh kikikan burung kingfisher, iya kikikkan bukan kicauan karena ternyata suaranya macam kuntilanak yg lagi ngikik. hiiiii...
      Sepanjang perjalanan pulang ke pelabuhan kumai, puas2in berjemur (literally berjemur, panas sih untung byk angin dan hewan kece) demiii menikmati pemandangan yang sebentar lagi akan kami tinggalkan huhuhu..
      Jam 12 siang kami sampai di bandara pangkalan bun dan belum siap move on untuk menghadapi hiruk pikukknya jakarta
       
    • By silvia_win
      Penang, Hatyai family trip Jun 2018
      Liburan sekolah kali ini sebenarnya agak malas jalan2 berhubung dollar lagi mahal...
      Iseng browsing tiket, ketemu tiket air asia jakarta penang pp 500 rb (promo big poin) ada 3 seats (3 tiket jakarta penang pp seharga 1.5 jt), hmm lumayan lah,  lalu beli 2 tiket lagi sekitar 3 juta (sudah termasuk 1 bagasi 20 kg pp) . Kami sekeluarga berangkat ber5 dari jakarta + papa mama yang berangkat dari medan.
       
       
       
       
      Day 1 Jakarta-Penang
      Sampai di Penang booking airport taxi dari airport ke Hong Ping Hotel. (400 rb quad room)
      Setelah check in naik taxi ke mall di sekat hotel untuk lunch, di daerah komtar ada berapa mall, tapi umumnya mallnya tidak besar.
      Setelah makan siang pulang ke hotel untuk istirahat, lalu dengan petunjuk peta dari hotel saya berkeliling di objek wisata street art yang letaknya tidak jauh dari hotel. Street art berada pada jalanan kecil/ gang berupa gambar mural di dinding rumah warga yang kebanyakan adalah bangunan tua. Sepanjang jalan banyak toko2 souvenir, makanan, sewa sepeda, rumah makan, juga banyak rombongan turis. Selain gambar mural juga terdapat gambar art dari besi yang dijadikan nama jalan dengan gambar menarik. Saya menelusuri jalanan dengan mural art yang berujung ke dermaga kuno di chew jetty, dermaga yg sudah ada sejak pertengahan abad ke 19, ada beberapa jetty di sana yg masing2 mewakili marga warga yg tinggal di sana yang datang dari China. Jetty di sana dari kayu dan rumahnya adalah rumah panggung dari kayu.
      Malamnya kami makan di street food di depan hotel. Di depan hotel ada banyak street food yg buka dari sore hingga larut malam.
       
       
       
       
      Day 2 Penang tour.
      Hari ini sewa mobil untuk jalan2 di penang (rm 45/jam untuk yg 7 seats, sewa di travel dekat hotel, sebelumnya tanya di hotel katanya adanya yg 10 seats rm 60/jam), kami berangkat siang, karena paginya mama mau mcu ke rumah sakit.
      Siang saat berangkat turun hujan, supir rent car mulai promo toko souvenir, berhubung hujan saya iyain saja, mampir ke toko coklat, kopi, teh dll, yang harganya mahal... tentu saja tidak beli apa2, hanya cicip cicip saja, emang enak sih sebanding dengan harganya.
      Stop 1 : Sleeping Buddha temple, vihara ini letaknya di tengah kota.
      Stop2 : Kek Lok Si temple, vihara yang terletak di daerah perbukitan, kami di drop di bagian atas, di sini  ada tempat pemujaan dan terdapat patung besar dewi Kuan Yin, dari sini juga bisa dilihat pemandangan kota penang. Setelah menikmati pemandangan, kami naik sky lift (@rm2) untuk turun ke pertengahan kompleks bangunan vihara yang terdapat objek wisata pagoda sepuluh ribu Buddha. Dari sini naik sky lift lagi turun ke parkir bawah.
      Stop 3 : Batu Ferringhi, supir mengusulkan kita ke bukit bendera yang tidak jauh dari kek lok si, tapi saya tidak berminat, sebelumnya di kek lok si sudah cukup lama  melihat pemandangan kota dari atas bukit, memang objek wisata di bukit bendera mungkin akan berbeda dengan kek lok si, tapi berhubung tidak banyak waktu saya lebih memilih pergi melihat pantai. Batu Ferringhi letaknya cukup jauh dari Kek Lok Si, perjalanan satu jam lebih, kami sampai di sana menjelang sun set, main bentar di pantai dan menikmati sun set, saya merasa pantainya biasa2 saja, pasirnya terasa agak kasar.
       
      Day 3 Penang-Hatyai
      Hari ini kami berangkat ke hatyai,  kami memesan tiket van penang hatyai pp di hotel @rm70 (dijemput di hotel penang dan didrop di hotel di hatyai). Berangkat jam 9 pagi, berhubung kami pertama dijemput, tentunya kami memilih tempat yang nyaman sesuai selera masing2. Seatnya cukup lapang dan nyaman, tidak lama kemudian perjalanan kami melewati jembatan pulau penang, jembatan yang panjangnya 13.5 km merupakan land mark penang yang pemandangannya sangat indah. Jalan dari penang ke hatyai cukup mulus, sebelum sampai di imigrasi perbatasan malaysia, supir berhenti di satu pos untuk mengisi formulir, kami perlu membayar formulir @rm2, lalu perjalanan dilanjutkan ke imigrasi malaysia keluar lalu masuk ke imigrasi thailand, dari perbatasan thailand ke kota hatyai, kami singgah di kantor travel, untuk di data mau di drop di hotel apa, di sini saya menganti jadwal kepulangan kami, di mana 2 di antara kami ingin pulang besok sore. (staff travelnya tidak masalah ganti waktu dia mencatat perubahan jadwal di catatannya). Kami lalu di drop di hotel (Siam Hotel harga 300 ribu untuk kamar ber2). Hotel ini cukup besar dan punya banyak kamar. Kami mendapat kamar di tingkat 13, pemandangan dari kamar cukup indah dengan pemandangan gunung dan kota hatyai).
      Setelah check up keluar cari makan siang, jalan kaki ke lee garden plaza hotel di mana di sini byk toko, mall, pasar dll, mall di sini tidaklah besar, kami masuk ke mall ke food court cari makan dan ke supermarket lihat2. Makanan di mall harganya sekitar 50-60 bath, makanan thailand sangat sesuai dengan selera. Setelah makan ke supermarket belanja bumbu tom yam dll, saat bayar saya menanyakan kasir di mana ada money changer, seorang pengunjung berbaik hati mengantarkan kami ke money changer yang ada di dekat sana, money changernya cukup ramai dan di sampingnya ada travel, kebetulan lagi mau cari car rental, lalu saya rent car 10 seats seharga 2000 bath (+wajib asuransi 30 bath/orang), sebenarnya kami ber7, ada yang 7 seats seharga 1700 bath, tapi saya request yg chinese speaking driver, katanya supir yang 10 seats bisa, yg 7 seats ngga bisa.
      Setelahnya saya kembali ke hotel untuk isitirahat, sorenya kami keluar untuk dinner ke lee garden plaza hotel lantai 33 buffet resto. Harga makan buffet di sini tidak mahal, dewasa @169 bath, lansia@119bath, anak kecil @69 bath. Makanannya cukup banyak dan enak + aneka kue, buah, minum, es krim. Juga pemandangan yang indah dari lantai 33 membuat kami betah lama di sini. Dari pemandangan langit terang, sun set ke langit gelap dengan lampu di bangunan kota hatyai, sungguh merupakan dinner yang berkesan bagi saya.
      Selesai dinner kami mengitari sekeliling lee garden hotel plaza yang banyak terdapat toko2, kuliner, dll. Kulinernya cukup mengiurkan tapi perut sudah kenyang cuma lihat2 dan berpikir besok baru coba.
       
       
       
       
      Day 4 Hatyai Tour
      Berhubung tidak ada sarapan di hotel, pagi saya keluar mencari sarapan, ternyata di dekat hotel ada pasar pagi, pasarnya cukup besar dan ada aneka sarapan, pemandangan menarik di pasar ada bhikkhu2 melakukan pindapata (mengumpulkan sumbangan makanan dll). Rombongan bhikkhunya cukup banyak ada juga yang usia muda juga rombongan bhikkhuni, umat yang memberikan makanan juga cukup banyak, baik penjual maupun pengunjung pasar. Saya sangat tertarik untuk mengitar lama di pasar, banyak kue2 dan barang jualan lain yang memikat, tapi berhubung waktu tidak banyak, saya membeli aneka sarapan dan buah leci, lalu pulang ke hotel membagikan sarapan dan makan sarapan. Kue2 dan sarapan yang dibeli sangat enak, makanan thailand emang cocok di lidah dan harganya pun cukup murah. Lalu bersiap2 turun ke lobi menunggu car rental yang dipesan kemarin.
      Ternyata yang datang mobil 7 seats dengan driver yang hanya bisa berbahasa thailand, saya tel tanya ke travelnya katanya yg 10 seats lagi tidak available, ya sudahlah...
      Saatnya saya memakai keahlian bahasa isyarat... : ) , pertama saya minta supirnya berhenti di 7-11, mau beli air minum, saya malas beli di pasar tadi bawanya berat, lalu dia tanya kami mau ke mana, saya jawab wat (temple).
      Stop 1 : Sleeping Buddha temple : wat ini mempunyai satu patung buddha tidur di dalamnya. Setelah melihat2 saya duduk2 di kedai minum kelapa, supir mengeluarkan selembar brosur dengan foto2 tempat wisata dan menanyakan mau pergi ke mana, saya pun memilih beberapa tempat wisata yang kelihatannya besar. Berhubung mau kembali ke hotel sekitar jam 2 sebenarnya kami juga tidak berencana pergi ke banyak tempat.
      Stop 2 : Pantai samila (mermaid statue) : pantai ini terdapat patung putri duyung yang merupakan ikonnya, walau cuaca panas di sini terdapat kursi2 dan tempat teduh di bawah perpohonan di sepanjang pantai, pantainya bersih dan pasirnya halus.  Saya betah duduk agak lama dan berjalan di pasir di pantai.
      Stop 3 : 4 face Buddha (kalau tidak salah) : berhubung jalan ke sananya naik tangga, kami malas pergi, hanya singgah bentar.
      Stop 4 : Standing Buddha temple (Phraj Buddha Mongkol Maharaj) : vihara di atas bukit dengan patung besar Buddha berdiri. Di sini bisa melihat pemandangan dari atas bukit, di samping vihara ada halte cable car dan coffee shop, kami duduk2 ngopi dan melihat pemandangan kota.
      Stop 5 : Kuan Yin temple : vihara dewi kuan yin ini letaknya tidak jauh di bawah standing buddha temple, terdapat patung dewi kuan yin warna putih
      Berhubung waktu sudah siang, kami bersiap pulang ke hatyai.
      Diperjalanan ada melewati yang jual durian, saya tanya ke supir berapa harga durian di sana, katanya harganya 400 bath, cukup mahal juga harganya.
      (saya tertarik belajar bahasa thailand, sebelum pergi saya sempat belajar sedikit bahasa thai di youtube, tapi cuma bisa mencerna sedikit tentang angka dan greeting, lumayan juga bisa di pakai di pasar) 
      Ternyata perjalanan pulang ke hatyai cuma sekitar setengah jam, kami meminta supir mengantar kami makan siang, minta di antar makan tom yam kung, dia mengantarkan kami ke sebuah resto untuk makan siang, yang mana makanannya enak dan tidak mahal, yang paling berkesan tentu saja tong yam nya, juga ada lauk dari daging kelapa yang ditumis, yummy... (kalau teringat makanan thailand sering ingin balik ke thailand)
      Setelah makan siang kami kembali ke hotel, papa mama bersiap2 mau pulang ke penang duluan, berhubung mau wisata rumah sakit di penang katanya.
      Saya berjalan kaki ke travel tempat saya pesan sewa mobil, minta refund selisih harga mobil, lalu kembali ke hotel duduk2 di lobby temani ortu tunggu jemputan travel untuk kembali ke penang. Di Siam Hotel tempat kami tinggal, internetnya hanya ada di lobby, tidak ada di kamar.
       
       
       
      Saya ingat saat ini saya membaca sebuah berita ttg tim sepak bola remaja thailand yang hilang yang mana sampai saya pulangpun belum ditemukan, dan akhirnya mereka berhasil keluar dengan selamat. Sekalian saya post di sini sebuah dokumentasi ttg thai cave rescue sebagai note saya.
        https://www.youtube.com/watch?v=x_kiX0uUDNI
       
      Ada beberapa tuk-tuk (songthaew) yang stand by di hotel dan menawarin untuk mengantar jalan2, lagi malas jalan jauh, sore shopping ke mall dan toko sekitar hotel (lee garden plaza hotel) .
      Day 5 Hatyai-Penang
       Pagi mampir ke pasar pagi lagi, membeli sarapan, juga membeli pete kupas buat di bawa pulang.
      Lalu perjalanan hatyai kembali ke penang.
      Sampai di penang istirahat di hotel, sorenya jalan2 di sekitar hotel ke mural art street, chew jetty melihat sunset di sini lalu makan di food court di seberang chew jetty, food courtnya besar dan banyak makanannya.
      Day 6 Penang-Jakarta
      Pagi berangkat dari hotel ke airport, booking airport transfer dari hotel seharga rm 70 untuk mobil 10 seats. Supirnya membagikan kartu nama dan menawarkan car rental bisa dibooking untuk ke hatyai katanya, saya tanya harganya katanya tergantung hotelnya. Saya tanya harga kalau keliling penang, katanya rm30/jam... lumayanlah buat next time...
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       




    • By Hanzo Urang Ciwidey
      Izin Admin buat FR lagi meskipun ya ini perjalanan ane 3 bulan yang lalu 
       
      Berawal dari salah satu ajakan dari Hima kampus untuk menjadi petunjuk arah jalan-jalan one day trip menyelusuri cianjur selatan selama 1 hari full maka pada awal tahun 2015 ane sepakat berangkat bareng hima kampus untuk menelusuri cianjur selatan memakai motor dengan jarak yang di tempuh sekitar 200km pulang pergi.
       
      Berangkat : ciwidey-parigi-pantai jayanti-rancabuaya

       
      pulang : rancabuaya - cisewu - pangalengan - ciwidey

       
      07:00
       
      pagi2 ane langsung siap2 nyiapin motor untuk menunggu teman-teman Hima dari Bandung yang berangkat jam 5 shubuh dari sana "untuk menanggulangi macet di karenakan liburan tahun baru area ciwidey dan sekitarnya pasti macet parah".
       
      Ciwidey di pagi hari

       

       
      teman2 dari kampus sudah pada dateng

       
      Setengah jam kemudian setelah dari Hima kampus sampai di meet point dan mengecek persiapan kita dari bensin dan perlengkapan lainya kita pun berangkat, jarak yang dilalui memang termasuk unik awal-awal kita memasuki dataran tinggi melewati Perkebunan teh rancabali sampai ke perbatasan Kabupaten Bandung dan Cianjur lalu di lanjut melalui hutan-hutan kecil dan lembah2 yang di kelilingi oleh banyak air terjun sehingga kerap jalan yang kita lalui ini suka disebut jalan seribu air terjun.
       
      Armada + peralatan tempur   

       
      Kebun Teh Rancabali

       

       

       
      Pondok Datar  "pemandanganya lebih keren dari tebing keraton"   

       

       

       

       
      tugu perbatasan Kab Bandung dan Kab Cianjur "selamat datang ke jalur 1000 air terjun

       
      Air terjun dimana-mana     
       

       

       

       
      Curug Ceret "air terjun yang persis di pinggir jalan"   

       

       
       
       
      mungkin karena teman2 ane yang dari Hima kampus belum terbiasa perjalanan jauh maka kita pun beristirahat dahulu di salah satu warung baso di pinggir jalan sambil mengisi energi karena setelah jalur 1000 air terjun abis perjalanan berlanjut ke turunan hingga sampai pantai jayanti.
      Istirahat dlu bray 



       
      Perjalanan di lanjut banyak turunan bray

       
       
       
      Jam 11 pas akhirnya kita sampai juga di Cidaun kampung pesisir di cianjur selatan yang lebih terkenal dengan pantai Jayanti cuman sayang peran dari pemerintah sepertinya belum optimal sehingga fasilitas di pantai ini bisa disebut kurang memadai.
       
      Pantai Jayanti

       

       

       

       
       
       
      hanya 1 jam setengah kita di pantai jayanti ini karena tujuan utama ke rancabuaya maka perjalanan pun dilanjutan dengan menyulusuri pantai kita menuju rancabuaya , jalan yang lurus dengan disisi kanan jalan adalah pantai di sepanjang jalan menemani kita dengan jarak tempuh dari pantai jayanti ke rancabuaya selama 30 menit dan kita juga harus melintasi kabupaten cianjur karena rancabuaya masuk ke Kabupaten Garut
       

       

       

       
      Sampai juga di rancabuaya

       

       

       

       
      tidak terasa waktu sudah menunjukan sore hari.... supaya tidak kemalaman di jalan maka dengan berat hari kita pun harus berangkat pulang kali ini untuk pulang kita tidak mengambil jalan yang sama tapi jalan ke arah cisewu jam 4 kita sudah packing sudah siap2 sudah pulang.
       
      Perjalanan pulang

       

       
      Perbatasan Kab Garut - Kab Bandung "pangalengan"

       
      Kabut bray

       
      dan akhirnya setelah kurang lebih 9 jam berkendara (tidak termasuk berhenti dan main di lokasi) ane pun sampai kembali ke rumah pada jam 8 malam pengalaman yang tidak terlupakan karena dengan motor ane yang kapasitas tangki cuman 2 liter dan harus beberapa kali isi bensin tapi liburan di awal tahun 2015 sangat puas.
       
      kapan2 kalau ada yang mau one day trip lagi ane siap nemenin 
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       








    • By Mulyati Asih
      Sayup-sayup terdengar teriakan dari bangku depan mini bus yang kami tumpangi.
       
      “Sudah sampai jangan lupa ongkosnya sepuluh ribu ya,” suara mas Budi membangunkan tidur saya.
       
      Perjalanan satu jam dari Gombong ke desa Candirenggo sengaja saya manfaatkan untuk tidur, maklumlah di perjalanan sebelumnya dari Jakarta tidur saya sangat terbatas. Hujan rintik menyambut kedatangan kami ketika kaki kiri melangkah turun dari bus. Sejenak saya melihat ke sekeliling dan melirik jam tangan waktu menunjukkan pukul 06.45 pagi, kemudian berlari kecil menyusul rombongan menuju home stay.
       
      Caving atau susur goa akan dimulai pukul sepuluh, tidak hanya rombongan kami dalam kegiatan ini ada juga rombongan Patrapala (Pertamina Pecinta Alam) Cilacap. Sambil menunggu rombongan Patrapala kami duduk di teras home stay, masih cukup waktu untuk kami beristirahat dan santai. Hujan belum juga berhenti, pandangan saya tertuju pada sebuah bukit ditutupi rimbunan pohon yang kemudian baru saya ketahui di sanalah lokasi Goa Petruk. Goa Petruk dan Goa Liyah sendiri masuk dalam Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS) kabupaten Kebumen Jawa Tengah.
       
      Persiapan
       
      Ini adalah kali pertama saya, Elvi, Patricia, Louis, Mas Indar dan Apri mengikuti caving Goa Petruk dan Goa Liyah, sedangkan mas Budi justru sudah berkali-kali dan mas Budi lah yang mengajak kami sampai ke tempat ini. Masing-masing dari kami mengambil perlengkapan caving dan kini wearpack, boots sudah kami kenakan,helmet dan headlamp pun sudah menempel di kepala kami. Tidak ketinggalan kamera anti air siap mengabadikan perjalanan kami, caving diperkirakan akan berakhir pukul lima sore jadi makanan ringan dan minuman wajib dibawa dan siap memenuhi dry bag kami. Sebelum caving dimulai  mas Yos pemandu kami yang pernah bekerja sebagai crew Jejak Petualang salah satu program televisi swasta mengajak kami untuk berdoa dan menyampaikan beberapa etika yang harus dipegang teguh oleh para penelusur goa.
       
      “Baiklah sebelum caving dimulai ada etika-etika yang tidak boleh dilanggar yaitu jangan mengambil apapun kecuali foto, jangan membunuh apapun kecuali waktu dan jangan meninggalkan apapun kecuali jejak,” etika-etika yang disampaikan mas Yos sudah tidak asing lagi di telinga saya, karena etika-etika tersebut sudah menjadi motto bersama para pecinta alam.
       
      Dalam memandu kami mas Yos dibantu oleh seorang dari Mapala Trabas yang bertugas membawa perlengkapan keselamatan caving antara lain tali, tali webbing,seat harness, carabiner dan lain-lain. Semuanya sudah siap dan berjalanlah kami menuju pintu masuk Objek Wisata Goa Petruk, 21 orang dari rombongan Patrapala berjalan di depan kami.
       
      Caving Goa Petruk
       
      Di depan pintu masuk Objek Wisata Goa Petruk berdiri terbentang peta wisata Goa Petruk lengkap dengan keterangan aliran sendang (mata air), aliran sungai dan objek batu-batuan. Dari pintu masuk kami harus berjalan mengikuti tangga buatan, rindangnya pepohonan di kiri dan di kanan jalan menjadikan perjalanan terasa sejuk. Di kiri jalan terlihat air terjun kecil mengalir ke dasar jurang, di sepanjang jalan juga terdapat tempat-tempat istirahat. Lima belas menit yang melelahkan akhirnya sampai juga kami di mulut Goa Petruk.
       

      Mulut Gua Petruk
      Cahaya surya di mulut goa perlahan pudar sejauh langkah kaki kami menyusuri lorong-lorong goa. Goa  horizontal sedalam 644 meter yang secara administratif terletak di Dukuh Mandayana, Desa Candirenggo, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen Jawa Tengah ini masih sangat alami, tak ada penerangan sama sekali di dalamnya. Goa yang menyimpan banyak ornamen-ornamen berupa stalagtit,
       
      stalagmit dan flowstone yang akan terus dijaga kealamiannya. Penamaan Goa Petruk itu sendiri diambil dari nama tokoh pewayangan Petruk, konon di goa ini terdapat batu yang menyerupai hidung mancung tokoh wayang Petruk tapi karena ulah Belanda yang melakukan penambangan phosfat sehingga batu yang menyerupai hidung mancung Petruk itu patah dan sekarang sudah tidak terlihat lagi.
       
        Masuk sedikit ke dalam menelisik kegelapan kami disambut stalagtit Tirai Pintu, seolah menjadi pembatas antara dunia gelap dan dunia luar yang bercahaya. Di sini mas Yos mengajak kami untuk meresapi kegelapan, mematikan semua sumber cahaya yang kami bawa. Dalam gelap kami mensyukuri atas nikmat penglihatan dan panca indera mata yang Allah SWT berikan. Berjalan terus ke dalam melewati aliran sungai setinggi kurang lebih sepuluh sentimeter, di kanannya terdapat jalan yang sengaja ditutup oleh pagar besi. Awalnya saya mengira pagar besi itu sengaja dipasang untuk pegangan kita saat melewati aliran sungai tapi ternyata pagar besi itu sengaja untuk menutup jalan menuju lorong aliran sungai. Dalam sorotan headlamp saya terus mencari keindahan disetiap sudut goa, tak jauh dari saya berdiri ada papan bertuliskan cat merah dengan tulisan Sendang Katak. Diantara cekungan batu yang bertingkat-tingkat terdapat genangan mata air, konon dulu di tempat itu banyak kataknya sehingga dinamakan Sendang Katak.
       
      Semakin jauh berjalan, tak hanya suara gemericik aliran sungai ataupun tetesan air yang terdengar tapi bau pesing kotoran kelelawarpun mulai tercium. Di dinding goa anak-anak kelelawar bergelantungan dan beterbangan, saya berjalan cepat melewatinya. Di depan terlihat dua batu putih tinggi mencolok dalam sorotan lampu petromaks namanya batu Lukar Busono , di tengah-tengahnya dari atas mengalir air yang konon bagi yang mempercayainya air tersebut dapat membuat awet muda ataupun dapat menyembuhkan penyakit. Saat kami melewatinya ada empat orang duduk di depan batu Lukar Busono ditemani pemandu yang membawa petromaks, entahlah apa yang mereka lakukan.
       
      Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri lorong lebih dalam lebih masuk ke dalam perut bumi, aneka stalagtit, stalagmit dan flowstone mengisi setiap ruang goa. Mereka sambung menyambung tak berjedah menghiasi setiap sudut goa. Ada Flowstone Otak bentuknya bulat putih mirip sekali dengan otak, Flowstone Usus bentuknyapun eksotis sangat mirip dengan usus. Bergerak ke depan dan kami menemukan Flowstone Air Mancur. 

      Flowston otak
       
      Flowstone pada awalnya terbentuk melalui lapisan yang encer secara perlahan-lahan di dasar atau lantai gua, kemudian lapisan yang tipis tadi menebal melalui tetesan air yang membawah mineral penyusun (kalsit serta mineral karbonat lainnya) hingga menebal dan membentuk ornamen-ornamen seperti Flowstone Otak, Flowstone Usus dan Flowstone Air Mancur tadi. Sayapun harus berjalan hati-hati karena banyak stalagmit yang tumbuh di lantai goa, pertumbuhannyapun masih pendek sehingga saya tidak ingin sampai menginjaknya.
       
      Perjalanan tidak sampai di sini berikutnya kami harus berjalan melewati genangan air dari aliran sungai bawah tanah dengan ketinggian kurang dari lima puluh sentimeter. Berpegangan pada dinding goa kami harus menyeberanginya dengan hati-hati, berjalan sedikit merunduk karena atap goa yang dipenuhi stalagtit bisa mengenai kepala kita.

      Menyeberangi aliran sungai bawah laut
       
      Berjalan terus dan saya melewati papan bertuliskan Jangan Menyentuh Batu Payudara, stalagtit-stalagtit yang kami lewati maaf bentuknya mirip payudara. Sebenarnya tidak hanya Batu Payudara yang tidak boleh disentuh, semua stalagtit, stalagmit dan flowstone yang ada di dalam goa memang tidak boleh kita sentuh karena tangan kita yang didominasi oleh zat asam akan menghambat pertumbuhan stalagtit, stalagmit ataupun flowstone.  Butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk stalagtit, stalagmit dan flowstone tersebut tumbuh, menyentuhnya sama artinya kita menghancurkan karya indah Tuhan. Selanjutnya kami harus melewati dan menaiki celah lubang kecil untuk menuju ke tingkatan goa berikutnya, rasanya lega karena sudah tidak melewati genangan air lagi sudah bisa menghirup udara yang tidak pengap lagi. Ternyata saya keliru di depan jalan yang harus kami lewati adalah berjalan miring dan merunduk diapit antara dinding-dinding goa, celah diantara dinding-dindingnya pun sangat sempit sehingga kami harus antri untuk melewatinya.
       

      Batu Lonceng
      Tak terlihat lagi adanya stalagtit, stalagmit ataupun flowstone yang cantik, hanya ada dinding-dinding goa dengan batuan besar seolah-olah menghalangi langkah kami. Terus berjalan beriringan langkah kaki kami berikutnya menyusuri dinding goa di bawahnya ada aliran sungai mengalir.
       
      Sampai akhirnya kami menemukan genangan air atau aliran sungai yang cukup besar, di atasnya stalagtit-stalagtit menghiasi atap goa dan di sini kami harus berjalan jongkok  dengan ketinggian air kurang lebih lima puluh sentimeter. Stalagtit- stalagtit yang menggantung di atap goa bentuknya cantik-cantik dengan tetesan air menghiasi pada ujung-ujungnya dan berkilau bila tersorot lampu. Berjalan terus di ujung aliran air ini terdapat stalagtit berbentuk lonceng dengan kucuran air mengalir di pinggir-pinggirnya mirip seperti shower  dan kami cukup lama di sini untuk antri berfoto.
         
      Aliran sungai sudah kami lewati, di depan berikutnya kami harus berjalan merangkak melewati celah dinding dengan ketinggian kurang dari satu meter dan panjang kurang dari dua meter, beruntunglah medan yang ditempuh tak terlalu panjang. Pemandangan stalagtit dan stalagmit putih besar laksana pilar-pilar penyangga gedung bertingkat terbentang menyambut kami, dengan hati-hati kami melewati diantara celah-celahnya.

      Masuk dari mulut Gua Petruk dan keluar di mulut Gua Jemblongan
       
      Sorotan cahaya kini dapat kami tangkap dari kejauhan itu artinya mulut goa sudah ada di depan kami, puas berfoto-foto dalam sorotan cahaya surya berikutnya kami harus melewati atau menaiki batu-batuan besar menuju mulut Goa Jemblongan. Tak sabar rasanya ingin menghirup udara luar dan hembusan angin dari pepohonan di sekeliling mulut goa. Akhirnya bisa bernapas lega setelah satu setengah jam lamanya menyusuri lorong-lorong Goa Petruk dengan suguhan keindahan aneka stalagtit, stalagmit dan flowstone.
       
      Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Goa Liyah kami istirahat dulu di atas mulut Goa Jemblongan, meluruskan kaki sambil menikmati bekal makanan dan minuman yang kami bawa. Ramai terdengar obrolan dan candaan dari rombongan Patrapala, semuanya masih bersemangat melanjutkan perjalanan menuju Goa Liyah.
       
      Caving Goa Liyah
       
      Jarak tempuh kurang lebih satu jam dari mulut Goa Jemblongan ke Goa Liyah harus kami tempuh melewati semak belukar. Sampailah kami pada rumah penduduk dan ternyata jumlahnya hanya kurang lebih lima rumah. Beristirahat sejenak di teras salah satu rumah penduduk, di rumah yang lain pintu rumah mereka terbuka dan mereka menyediakan air minum untuk kami. Bahkan salah satu dari penduduk mempersilahkan kami memetik buah salak yang tumbuh di pekarangan rumah mereka. Dari rumah penduduk saya berjalan mengikuti sebagian rombongan belok ke kiri, rombongan yang lainnya berteriak karena kami salah jalan.
       
      “Heeey mau ke mana?” rombongan lain menegur kami yang salah jalan.
       
      Sadar bahwa kami salah jalan kemudian balik arah mengikuti langkah rombongan lainnya. Saat mencari jalan diantara rumah penduduk lagi-lagi rombongan di depan kami juga salah jalan, teriakan seorang ibu menyadarkan kami dan diikuti gelak tawa bahwa mereka pun salah jalan. Berikutnya jalanan lurus diantara semak-semak, sambil terus berjalan saya masih memikirkan rumah penduduk tadi sempat heran juga di tengah-tengah perkebunan bahkan seperti hutan jauh dari desa ada juga rumah penduduk, Patricia pun sempat kahwatir kalau anak-anak mereka sakit mereka harus jauh pergi ke desa untuk berobat.
       
      “Itu kalau malam ada anak mereka sakit gimana ya?” ujar Patricia penuh kahwatir dan tanda tanya.
       
      “Anak-anak mereka sekolahnya di mana ya?” tambah saya penasaran.
       
      Pertanyaan yang sama-sama tidak bisa kami jawab dan hanya menerka-nerka jawabannya. Di kiri jalan  terlihat bukit kars dengan batuan putih terlihat jelas, mungkin di sana ada goa tebak saya dalam hati. Terus berjalan di depan terlihat jalan setapak yang bisa dilalui motor dan mobil.

      Istirahat sebelum treking menuju mulut Gua Liyah
       
      Sambil menunggu rombongan yang tertinggal kami istirahat duduk di bawah pohon jati, kemudian melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak sejauh kurang lebih lima puluh meter. Di kanan jalan di antara semak-semak di sanalah mulut Goa Liyah. Dari jalan memang tak terlihat sama sekali mulut goa karena terhalang oleh semak-semak, lagi-lagi pertanyaan yang dilontarkan Patricia tidak bisa saya jawab.
       
      “Siapa sih yang pertama kali menemukan ada goa di tempat ini?” tanya Patricia kagum.
       
      Tak seperti Goa Petruk dengan mulut goanya yang terbuka lebar, mulut  Goa Liyah justru sangat kecil dan kami harus antri  untuk masuk. Berjalan terus masuk lebih ke dalam kami harus melewati celah kecil berjalan miring dalam himpitan diantara dinding-dinding goa dan batu-batuan besar.

      Mulut Gua Liyah 1
       
      Terus berjalan tak ada stalagtit, stalagmit ataupun flowstone berbentuk menyerupai simbol-simbol dalam kehidupan yang kami temui, hanya ada batu-batu besar seakan menghalangi langkah kami. Batu pualam berkilau indah menempel di dinding-dinding goa, ruang goanya pun besar tak terkesan pengap. Kami harus berjalan hati-hati karena masih banyak lubang-lubang sisa penambangan phosfat yang dibiarkan terbuka begitu saja. 
       
      Jalanan yang becek dan berlumpur semakin memperlambat langkah kami, jika tak hati-hati bisa terjerembab dan jatuh ke lumpur. Itulah yang saya alami, kaki kanan saya sulit untuk melangkah karena lengket dan pekatnya lumpur yang menempel di boots dan ketika saya berusaha mengangkat kaki kiri justru badan saya tak seimbang, untunglah dengan sigap kedua tangan saya tempelkan ke lantai goa untuk menahan badan supaya tak jatuh ke lumpur. Penuh hati-hati saya berusaha menyusul rombongan.
       
      Biasanya rombongan Patrapala berjalan sangat cepat tapi di depan terlihat semuanya berhenti, penasaran juga kenapa jadi macet di jalan. Sambil mencondongkan badan saya berusaha mencari tahu ada apa di depan dan ternyata semua harus antri untuk melewati lubang kecil dan berjalan tiarap seperti cicak, hanya cara itu yang bisa dilakukan untuk bisa melewatinya.

      Melewati celah kecil
       
      Tiba giliran saya untuk melewatinya, sambil merebahkan badan dengan posisi telungkup penuh hati-hati saya menggerakkan tangan dan badan. Tak lama kemudian kepala sudah dapat saya tengadahkan, ternyata panjangnya tak mencapai dua meter. Struktur Goa Liyah memang sangat berbeda dengan Goa Petruk, stalagtit-stalagtit menggantung bentuknya besar-besar, batu-batuan besar menjadikan dinding goa seperti lorong antara gedung-gedung bertingkat di perkotaan. Rasa takjub begitu kami melewatinya dan sayang kalau tak berfoto di sana dan mengabadikannya dalam jepretan lensa, ternyata kami sudah tertinggal jauh dari rombongan Patrapala  Pertamina Cilacap dan mas Yos menghampiri kami takut kalau kami tertinggal jauh dan tak tau jalan.
       
      “Ayo kalian sudah tertinggal jauh dari rombongan Pertamina, Budi mana?” ucap mas Yos melihat kami yang hanya diam berdiri dan tak melihat mas Budi diantara kami.
       
      “Sebentar mas masih ada dua orang tertinggal dibelakang, mas Budi lagi menyusul yang di belakang,” jawab salah satu dari kami.
       
      Setelah dipastikan jumlah rombongan kami lengkap tujuh orang bergegas kami menyusul rombongan Patrapala Pertamina Cilacap yang sudah berjalan jauh. Saat kami menemukannya, mereka sedang duduk-duduk dan ternyata antri untuk menuruni tebing. Caving Goa Liyah memang lebih menantang dibandingkan Goa Petruk, di sini diperlukan peralatan keselamatan caving serta pemandu yang berpengalaman. Sebagian dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap sudah ada di bawah dan kini giliran perempuan yang didahulukan untuk menuruninya. Saya pun beranjak dari duduk saya dan antri di barisan perempuan.
       
      “Perempuan-perempuan duluan yang turun,” teriak salah satu dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap.
       
      Sambil antri saya memperhatikan cara menuruni tebing itu, dan kini giliran saya yang harus turun. Ada tiga tingkatan tebing yang harus saya lalui, dengan serius saya mendengarkan arahan dari Instruktur supaya saya tak celaka dan bisa melaluinya dengan baik.

      Rapelling di dalam Gua Liyah
      ''Pegang tali webbingnya Mba trus turun sambil ulur talinya,” jelas salah satu instruktur dari Patrapala Pertamina Cilacap.
       
       
       
      Dengan kencang saya menggenggam tali webbing kemudian mengulurnya sambil turun, di sini saya sempat panik ketika melewati bagian tali webbing yang licin sedangkan saya tidak memakai sarung tangan, tapi tali webbing tetap saya genggam kencang. Suara-suara Instruktur terus mengarahkan gerak saya.
       
      “Liat terus ke bawah dan kaki cari injakan, ya terus turun jangan lepas talinya,” teriak Instruktur mengarahkan gerak saya.
       
      Kaki saya akhirnya bisa menyentuh lantai, satu tingkatan sudah saya lalui dengan ketingginan kurang lebih tiga meter dan sudah ada satu Instruktur yang berjaga di sini siap membantu dan mengarahkan untuk langkah berikutnya.
       
      “Turun terus jangan lepas talinya, pandangan terus ke bawah liat injakan,” jelas Instruktur.
       
      Dengan hati-hati saya menuruni tebing dengan tali webbing tetap saya genggam dan kaki terus mencari injakan, sampai akhirnya kaki ini bisa menyentuh lantai dan tali webbing sudah bisa saya lepaskan. Kemudian petugas yang lain menyuruh saya berjalan ke arah tebing berikutnya yang harus saya turuni tapi kali ini tanpa tali webbing karena tingginya hanya kurang lebih satu setengah meter. Di bawahnya sudah ada petugas yang siap membantu saya.
       
      “Duduk dulu Mba, kaki kanan injak yang ini dan pegang tangan saya,” jelas petugas siap membantu saya.
       

      Menuruni bebatuan
       
        Ikuti apa yang diarahkan petugas tersebut kemudian saya duduk, kaki kanan  berusaha menyentuh cekungan dinding dan menginjaknya untuk kemudian sambil dibantu petugas saya melompat untuk menyentuh lantai. Sebagian dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap yang telah berhasil menuruni tebing siap melanjutkan perjalanan, saya memilih duduk sambil menunggu rombongan yang masih di atas.
       
      Tak sampai di sini, medan yang harus kami lalui berikutnya juga tak kalah menantang dan memacu adrenalin. Berjalan menyusuri dinding-dinding goa di bawahnya ada jurang terbentang, untuk bisa sampai ke bawah kami harus melewati batu-batuan yang ada di pinggir dinding goa.

      Rapelling
       
      Turun dan harus menuruni tebing lagi, saya tak bisa melihat kedalamannya dan kini kami telah berada di dalam perut bumi. Mas Yos dan beberapa Instruktur dari Patrapala Pertamina Cilacap sedang mempersiapkan peralatan keselamatan caving, beberapa orang terlihat sedang memakai seat harness dan siap untuk turun. Seperti sebelumnya perempuan-perempuan didahulukan untuk turun dan kami harus memakai seat harness dan kaos tangan terlebih dahulu. Dua orang dari Patrapala Pertamina Cilacap membantu saya memakai  seat harness,  saya  sempat gugup ini lebih sulit dari menuruni tebing sebelumnya. Bismillah memberanikan diri maju ke depan dan siap turun dan kini seat harness sudah dikaitkan ke tali. Saya simak baik-baik setiap arahan dari para Instruktur sambil berusaha tenang.
       
      “Tangan kiri pegang tali ini Mba,  posisinya selalu di depan badan dan tangan kanan pegang tali tapi posisinya di samping badan. Sekarang badannya direbahkan ke belakang posisinya seperti tidur,” beberapa Instruktur mengajari saya cara turun.
       
      Saya ikuti apa yang dikatakan para Instruktur, dan tetap ikuti arahan berikutnya.
       
      “Ya sekarang turun pelan-pelan pandangan lihat ke bawah, ulur talinya posisi tangan kanan tetap di samping dan posisi badan tetap rebah,” ucap Instruktur berkutnya.
       
      Pelan-pelan kaki kanan saya turunkan, kedua tangan berusaha mengulur tali dengan posisi badan tetap rebah. Selanjutnya kaki saya mencari pijakan ke kanan, ternyata cara ini salah dan Instruktur yang di bawah teriak memberikan arahan.
       
      “Mba, kakinya tetap lurus dan tangan kanannya ke belakang,” teriakan suara dari Instruktur di bawah.
       
      Sadar apa yang saya lakukan adalah salah cepat-cepat saya perbaiki dengan mengikuti arahan dari Instruktur tadi. 
       

      Rapelling
      Ternyata sangat mudah dan saya berhasil menuruni tebing yang tingginya kurang lebih enam meter tadi sampai ke lantai dasar. Satu persatu dari kami terutama para perempuan  telah melewatinya. Salah satu dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap meminta kami melanjutkan perjalanan, di depan mulut goa sudah dekat. Tak perlu menunggu rombongan yang masih ada di atas, lagi pula hari sudah sore.
       
      “Ada yang tahu jalan? kalau ada ajak yang lainnya pulang duluan,” ucap salah satu dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap.
       
      Saya pun bangkit dari duduk  kemudian mengikuti langkah rombongan menuju mulut goa. Jalan yang  kami lewati sangat licin, becek dan berlumpur. Dari kejauhan dalam kegelapan ada batu putih mencolok berkilau, Particia menunjuknya penuh kagum.
       
      “Lihat itu batunya putih berkilau,” tunjuk Patricia.
       
      Sepanjang jalan menuju mulut goa kami menemukan batu-batuan putih menempel di dinding berkilau bila terkena sorotan lampu, namanya batu kristal. 

      Batu kristal
       
      Sebenarnya di akhir caving masih ada satu tempat lagi yang akan kami kunjungi yaitu air terjun dalam goa. Berhubung kami harus segera pulang maka jalan menuju air terjun tersebut kami lewati begitu saja dan belok ke kiri menuju mulut goa. Suasana masih terang ketika kami sampai di mulut goa, mulut goanya sangat sempit dengan pintu teralis besi terbuka. Kurang lebih empat jam lamanya kami menyusuri Goa Liyah, mulai dari  berjalan di lumpur, berjalan tiarap melewati lubang kecil, berjalan miring diantara himpitan dinding-dinding goa sampai harus menuruni tebing yang curam. 
       
      Anda tertarik untuk mencobanya? temukan keindahan aneka stalagtit, stalagmit dan flowstone serta rasakan sensasi petualangannya. (Mulyati Asih)
       
      Terima kasih
    • By ko Acong
      Terima Kasih Thien Qung telah menjaga kami semua sehingga dalam kedaan Sehat Semua. Yuk kita lanjut napak tilas Jalur Sutra sesi 2. Setelah kami menikmati keindahan Crescent Lake terutama adanya oase alami di Gurun Gobi, waktunya kami diantar ke stasiun Dun Huang untuk pindah kabupaten yang jaraknya kurang lebih 800 km, memakai kereta sleeper train.
      Kami sepakat pakai tidur lunak, sekamar 4 tidur susun. Untuk antisipasi kebiasaan yang kurang bersahabat bagi kita, bila tidur keras 1 row isi 6 tempat tidur dan tidak berpintu. Nah, kami pakai tidur lunak, diperjalanan kami pun jadi tidur dengan nyaman,  tak terasa alarm alam membangunkan kami. Lalu kami siap2 ke restroom. 1 jam kemudian sampailah kami di stasiun Turpan.

      Ternyata kami sudah mulai memasuki daerah istimewa Tiongkok. Lalu hal pertama yang kami hadapi adalah petugas imigrasi, dengan wajah yang khas dan penuh curiga kepada kami. Oh ya, penduduk Turpan sudah berbeda jauh wajahnya,  yang mana tidak oriental lagi. Beres urusan imigrasi, kami pun mencari sarapan, dengan berbagai menu yang lumayan bersahabat dengan lidah kita dan halal.
      Setelah keluar imigrasi, nah disini lah kami mulai dikerubuti oleh para driver dengan memegang gambar-gambar destinasi wisata, sementara kami abaikan dulu, ngudud dulu, cari sasaran driver yang sreg dengan kita. Setelah terpilih, kami panggil driver tersebut ke pinggiran, dan terjadilah tawar menawar. Sambil saya tunjuk saya mau ke destinasi wisata yang ada di brochure tersebut, satu paket 5 destinasi dengan harga 300 RMB (kalau tidak salah). Kami sewa 3 mobil, jadi per kepala kena charge 90 RMB, durasi tour 8 jam dengan jarak kurang lebih 180 km sampai kami diantar ke hotel. Oh ya, jarak stasiun ke downtown kurang lebih 40 km, dan bila memakai antaran taksi 120 RMB, jadi kami mending pilih langsung sekalian tour. Semua komunikasi kami mempergunakan google translate yang ada suaranya, jadi lebih mudah berkomunikasi dengan driver.
      Pertama, kami diantar ke hotel dulu untuk check in dan bersih-bersih karena cuaca Turpan sangat panas, namun dingin sekali anginnya.
      Kedua, kami tadinya mau ke benteng gurun center kota, Bazeli Ten Thousand Buddha Monastery, namun hanya ditunjukan dan lewat karena waktu tidak mencukupi.
      Ketiga, kami diantar ke gunung api (Flaming Mountain) dan itupun hanya dilewati karena kami masih belum move on.
      Keempat, kami diantar ke gurun pasir Turkistan Shansan Countri, nah disinilah kami baru move on, karena tantangan pemandangan di depan seperti layaknya paris dakar rally. Kami ber-10 memakai kendaraan gurun pasir langsung menuju puncak gurun pasir, ternyata kami hanya diantar sampai tengah dengan harga 250 RMB per mobil.
      Setelah sampai kami main di tengah puncak, mulailah modus mereka keluar, maukah kalian kami antar ke puncak teratas gurun pasir dengan harga 400 RMB/mobil. Tentu kami semua menolak. Tapi, khusus kendaraan yang dipake saya, saya nego sampai dapat harga 200 RMB.
      Kami diantar ke basecamp, nah disini lah tantangan adrenalin kami diuji ternyata kita turun dari puncak itu langsung melompat lurus ke bawah
      bagai mobil meluncur lurus jatuh ke dasar jurang, mungkin lebih menantang dibanding naik jet coster. Setelah sampai khusus kendaraan yang dipake saya langsung naik ke puncak teratas gurun pasir. Disinilah pemandangan yang paling aduhai. Kami semua dalam keadaan bersuka ria, mulai tuh keluar semangat kita.

      Kelima, kami diantar ke musem Gaochang, begitu buka pintu mobil kami semua terkejut karena sinar matahari sangat menyengat, tapi tetap kami berfoto dulu sebentar dan tidak sanggup melanjutkan menuju gedungnya.

      Setelah sampai mobil saya tanya destinasi apa ini sebenarnya, para driver menjelaskan bahwa disinilah tempatnya suhu Gaocheng. Dalam misi menuju barat hampir menyerah dalam melaksanakan misinya dan terlihat table temperature menunjukan 41 derajat celcius berarti kalau di air setengah mateng. Wah kata driver coba tadi kalau berhenti di gunung api lebih lengkap ini ceritanya, semangat kita jadi on fire lagi.
      Lalu kita minta datang ke gunung api yang tadi sudah kita lewati, ternyata setelah turun bener-bener ini daerah panasnya bagaikan kita dengan dapur pemanggangan. Banyak relief yang menggambarkan Sun Go Kong yang menuju langit untuk meminjam kipas sakti para dewa dan Flaming Mountain yang sedang membara sekali kipas langsung hilang apinya.
      Keenam, kota Turpan sepanjang kami lihat dari kereta api tadi mungkin juga ratusan kilometer hanya terlihat gurun pasir tak terbatas. Ternyata kota Turpan adalah salah satu yang penghasil anggur dan buah-buahan serta perternakan terbesar untuk Tiongkok mainland.
      Kami semua heran, dimana datangnya kehidupan kalau tanpa air dan semua terjawab di museum Turpan Karez Underground Water System, harga tiket masuk 40 RMB. Yang dengan hanya melihat teorinya pun sudah menjawab keheranan saya, si Bocah Tua Nakal kan pinter.

      Dan jawaban keheranan saya makin terjelaskan pada esok harinya di Heavenly Lake. Tur akan dilanjut ke Grand Bazarnya Turpan, namun teman 2 orang terserang Dehidrasi. Ibarat kataa kalau mau manggang roti dikota turpan tak perlu pake oven cukup ditempel didinding disinari matahari bisa mateng tuh.

      Kami semua ingin buru-buru masuk Hotel dan Mandi. Namun setelah segar, sebagian teman-teman kabur juga tuh menikmati barbeque dan sop kambing nan lezat. Pastinya gak lupa cuci mata lah, secara disini orang-orangnya cantik dan garanteng Uhuuuiiii Prikitiwww.
      Malam terus berlalu walau jam 22.00 masih terang benderang, tapi kami harus segera tidur, mengingat esok hari harus pindah kota lagi dengan jarak tempuh 180 km menuju Heavently Lake.
      Heavently lake adalah danau raksasa dipuncak gunung diketinggian 2200 Mpdl, yang mana sejauh perjalanan kami hanya disuguhi gurun pasir nan gersang sejak dari Turpan. Namun ketika sudah sampai puncaknya dan kami tembus tunnel Kaki Gunung Himalaya, baru pemandangan berubah drastis. Sepanjang mata dimanjakan oleh pohon-pohon nan indah dan udara yang tiba-tiba bisa berubah drastis menjadi dingin menusuk tulang. Danau Thian Shan benar-benar danau yang sangat indah.

      Setelah puas didanau kami turun gunung sejauh 602 km lagi menuju Hotel. Namun ada trouble, kita berganti Hotel dan malam sudah tiba kami semua tidur.
      Nah keesokan harinya teman-teman sudah tidak tahan untuk kabur menuju Grand Bazarnya Urumgi, secara Urumgi adalah kota modern dan wisata budaya dan juga surga kuliner, sangat perlu diekplor dengan agak santai.
      Sore telah tiba kami semua akan mengakhiri napak tilah Silk Road “Middle” ini dan akan dilanjut bonus trip petualangan ektra cepat menuju Asalamuaikum Beijing. Di tunggu yah Field Reportnya
      Mohon Maaf, pasti bacanya capek kepanjangan cerita namun itu lah ceritanya apa adanya.