• agoda-hemat.png

Sign in to follow this  
Ahook_

Jalan- Jalan Ke Okinawa,Jepang.

10 posts in this topic

Tanggal 22 September 2017.

Ke Okinawa kali memang seperti sedang melakukan pertukaran pelajar gitu. Hahahha. Kosuke, si Jepang yang aku kenal saat ngetrip ke Taiwan akhir tahun 2016 lalu, beberapa kali mengundangku ke Okinawa setelah dia sendiri sudah pernah ke Jakarta. Kebetulan, pertengahan September 2017, aku ada trip ke Hongkong, tidak ada salahnya, dari Hongkong aku terbang ke Okinawa yang butuh 2 jam 10 menit perjalanan. Harga tiket sekitar Rp 2.500.000,- ( pp ) dengan menggunakan Hongkong Airlines.

IMG_20170924_100742_694.jpg

Nago Beach

Okinawa terletak di paling bawah dari Jepang. Laut China Timur menjadi pemandangan kesehariannya. Okinawa sendiri punya banyak pulau- pulau kecil. Salah satu pulau terluarnya, bahkan bisa melihat Taiwan. Ngetrip ke Okinawa tidak terlepas dari wisata pantai dan air. Karena banyak pulau- pulau itu, aku rasa, kamu yang memang pecinta alam dan air, suka pantai dan semacamnya, ada baiknya kamu habiskan minimal 7 hari deh. Itupun, masih kurang puas.

 

IMG_20170922_225153_903.jpg

 

Terbang dari mana pun, kamu akan mendarat di Naha International Airport di kota Naha, yang menjadi kota terbesar Okinawa. Bandara yang menjadi pintu masuk buat kamu untuk menikmati alam indah Okinawa ini tidak terlalu besar. Walaupun begitu, cukup ribet. Dari antrian imigrasi yang panjang karena ada proses perekaman foto diri kamu dan paspor, kemudian antri lagi untuk imigrasi. Tahun 2016 lalu, pas ke Japan Mainland, tidak ada foto diri dan paspor seperti itu, tapi aku masuk melalui Nagoya, entahlah sekarang atau dari kota lainnya. Bea cukainya juga ketat. Aku masuk pakai visa Waiver.

IMG_20170924_143605_562.jpg

Jembatan nyebrang ke Kouri Beach.

Dari bandara ke kota Naha-nya, kamu bisa naik bus ataupun monorail. Yups, untuk Naha, termasuk kota modern yang cukup maju. Sistem transportasi termasuk bagus walaupun periode kedatangan bus dan kereta monorail agak lama. Karena aku dijemput Kosuke, jadi aku tidak ada pengalaman naik transportasi umum ke kota Naha-nya. Monorail sendiri hanya ada 1 line. Ada 15 stop dimulai dari airport sampai ke Shuri castle. Tapi, saat terbang kembali ke Hongkong, dari hostel aku naik monorail ke airport. Cuma waktu 15 menit untuk bisa sampai bandara, yang buat lama, karena aku berangkat pagi jam 8- an, aku harus rela beberapa kali tidak naik kereta karena padatnya orang lokal berangkat kerja.

IMG_20170926_083939_902.jpg

Taman, dekat Nago Beach.

Setelah dijemput Kosuke, aku langsung dibawa ke Nago, kota tempat dia tinggal dan menjadi kota terbesar kedua dari Okinawa. Dari Naha ke Nago itu butuh perjalanan 1,5 jam kalau lancar dan lewat jalan tol. Buat kamu yang mau ngetrip ke Okinawa, butuh diperhatikan, di Naha memang sistem transportasi sudah bagus, tapi tidak untuk ke kota lainnya. Monorail hanya ada di Naha, bus antar kota itu bisa 1 jam sekali, bahkan pengalamanku di Nago, hanya sekali saja melihat bus.

IMG_20170925_191911_325.jpg

Kouri Beach

Jadi, di Nago, penduduk lokalnya rata- rata punya mobil, entah itu mobil pribadi ataupun sewa. Kalau tidak, ya motor. Sedangkan untuk turis, yang ingin sampai ke Nago, harus sewa mobil sendiri. Itupun buat turis yang ingin explore Nago, kebanyakan sih datangnya ke Nago pakai travel, karena biasanya hanya mengunjungi Okinawa Aquarium saja.

 

IMG_20170930_135940_734.jpg

Untuk bisa makan disini, harus sabar berdiri, antri berjam- jam...

Nago itu sepi banget. Hostel aku menginap saja, hanya ada 2 orang. Menurut pemilik hostelnya, aku orang pertama Indonesia yang menginap di tempat dia, ntah dia tidak ingat atau memang begitu adanya. Dibanding dengan Naha, jalanan lebih sepi. Untuk urusan makan sih gampang, banyak restoran enak yang bertebaran dimana- mana. Aeon Mall sepertinya menjadi satu- satunya mall keren disana.

Selama aku di Okinawa, cuacanya panas banget, hawanya panas, udara yang berhembus juga terasa panas. Padahal di Japan mainland lainnya sudah mulai memasukin musim gugur. Suhu sekitar 31 derajat, tapi panasnya bisa terasa 35-an gitu. Ya, namanya juga pulau kecil yang dikelilingi laut, yang ada hanya pantai, pantai dan pantai.

IMG_20170925_162356_396.jpg

Nago view

Begitupun, walau hanya pulau kecil, Okinawa tergolong maju dalam hal pembangunan. Infrakstuktur yang bagus. Dari Naha sampai ke Nago, termasuk di Ginowan, Chatan sampai ke Khin. Berikut juga banyak disediakan taman buat bersantai dan berkumpul bersama keluarga. Oh ya, jika kamu mau sewa taman buat party, boleh saja. Kabarnya 2.000 Yen untuk sepetak bisa pakai seharian.

 

IMG_20171004_115818_552.jpg

Acara keluarga di Nago Park.

Senangnya jalan- jalan ke Jepang, termasuk Okinawa, orangnya disiplin banget, jaga kebersihan, bersih dimana- mana, ramah dan teratur. Teringat malam itu, aku diajak Kosuke bersama beberapa teman dia lainnya untuk menonton Festival Traditional Dance yang diadakan sekali setahun itu. Yang hadir ke acara itu, mungkin bisa sebagian besar orang Nago, kata Kosuke, orang dari luar kota juga datang nonton. Yang mau aku ceritakan disini adalah, begitu acara itu kelar dan bubar, tidak ada satu pun sampah yang tersisa. Mereka masing- masing bawa kantongan plastik untuk menyimpan sampah bekas makan dan minum.

20170923_185903.jpg

Traditional Dance Festival.

Yang aku suka dari Okinawa, mau makan dimanapun, pasti disediakan air minum gratis, ada juga yang sediakan ocha. Hemat dong. Nah, aku kan bawa botol minum, bisa isi lagi. Untuk biaya makan, aku merasa di Nago lebih murah dibanding dari Naha. Tapi, secara umum, Okinawa, biaya hidupnya lebih murah dibanding dengan Japan mainland lainnya.

 

IMG_20170928_075743_994.jpg

 

Kalau mau ke Okinawa, pilih-lah bulan yang tepat. Jangan sampai keliru menentukan bulan, pas bulannya hujan lebat dan badai kan berabe. Tidak ada salju yang berarti, cenderung tidak ada. Adapun, itu diatas gunung dan hanya sedikit.

IMG_20170930_152029_658.jpg

Kosuke and friends...

Tidak banyak yang bisa dilakukan di Nago. Setelah hari pertama, aku hanya punya waktu malam hari saja, itupun dipakai buat makan malam kemudian ke penginapan. Hari kedua, setelah sarapan, Kosuke bawa aku ke Nago Beach, dekat dengan taman Nago, dekat dengan lapangan Baseball, tempat terciptanya pemain baseball terkenal di dunia. Pantainya tidak terlalu ramai. Ya itu, bukan season-nya.

Untuk pantainya sih okey- lah. Bersih dengan pasir putih yang lembut. Tidak ada sampah yang bertebaran. Buat aku, terkesan sih. Di semua pantai di Okinawa selalu ada jaring yang membatasi para penikmat pantai untuk berenang. Tujuannya untuk mencegah ikan beracun yang bisa membahayakan. Satu lagi, pasti ada 1 orang yang memantau pantai, semacam Baywatch gitu. Walaupun hanya 1 orang saja yang main di pantai.

IMG_20171002_141015_918.jpg

Nago Beach.

Dari Nago Beach, kami lanjut ke Kouri Island. Di sini lebih ramai. Ramai karena turis. Ngomongin tentang turis Okinawa, kebanyakan dari Taiwan. Hanya 1 jam penerbangan saja. Selanjutnya, Hongkong, China baru Korea Selatan dan Thailand. Sepertinya begitu, menurutku. Sesuai dengan pendengaranku terhadap Bahasa yang dipakai. Kalau bule, ada juga, tapi tidak banyak.

IMG_20171005_085000_760.jpg

Kouri Beach.

Di Kouri Beach, sama seperti di pantai lainnya, ya berjemur, berenang dan bermain. Salutnya, walaupun panasnya parah, banyak orangtua yang mengajak serta anaknya. Oh ya, kalau kamu ingin watersport juga bisa. Harganya tidak tahu. Kami disana sekitar 1 jam. Termasuk menikmati pemandangan alamnya dari atas jembatan.

 

IMG_20170925_192925_386.jpg

Kouri Beach

Setelah dari Kouri Beach, kami bersantai di café di daerah yang agak tinggi, jauh dari pantai. Aku tidak tahu pula nama café-nya. Nah, dulunya, Haruka, pernah kerja disini. Hasilnya, tempatnya kece, duduk dibagian teras itu sangat menyenangkan. Angin sepoi dengan pemandangan laut lepas tanpa ada apapun yang membatasi sudut pandangmu. Disini, kami banyak ngobrol tentang traveling dan banyak hal. Haruka, cewe Jepang yang punya hobi luar biasa, mencium wewangian dari kayu, terutama yang suda diolah, seperti dupa/hio. Katanya, batinnya sangat tenang jika menghirup wewangian itu.

 

20170923_163131.jpg

Nago View

Aku juga dibawa menikmati alam dari perkebunan teh. Dari sana, kamu bisa melihat beberapa pulau terdekatnya. Kami tidak terlalu lama disana. Karena kudu segera kembali ke taman kota untuk menikmati Traditional Dance Festival.

 

IMG_20171006_123539_378.jpg

 

Total 4 hari aku ada di Nago. Aku dibawa Kosuke keliling sampai ke Kin, ada markas tentara Amerika. Ya, ngomongin tentang Amerika, kamu bisa google deh, sejarah Okinawa sampai ada American yang menetap di Okinawa. Makan siang di restoran yang katanya paling ramai di Kin. Kemudian, memang menjadi hari yang beruntung, hari itu, menjadi hari dimana, markas tentara Amerika dibuka untuk umum. Jadi, ceritanya, sebulan hanya 2 kali. Awalnya sempat bingung, apa sih yang dilihat? Museum? Tentaranya? Sejarahnya?

20170924_131317.jpg

Antrian masuk ke mall didalam markas Amerika.

Eh buset, begitu sampai di dalam. Mall… Yups, pada berebut masuk ke mall pakai antri pula. Katanya, harganya cukup murah dibanding dengan mall lainnya. Selain American, kalau mau masuk ke super market yang ada di dalam mall wajib antri. Rasanya tidak adil ya?

 

IMG_20171008_104636_648.jpg

Komplek markas Amerika.

Kemudian, aku dibawa sampai ke Chatan juga, American Village, yang terletak di tengah Okinawa. Aku diajak makan eskrim Blue Seal. Restoran ini menjadi paling terkenal se- Okinawa. Dimana- mana ada. Sudah ada di Okinawa, rasanya kurang sreg kalau tidak mampir ke Okinawa Aquarium yang dulunya pernah menjadi yang terbesar didunia sebelum dikalahkan Singapore.

 

IMG_20171008_154424_512.jpg

 

Buru- buru dari Okinawa Aquarium, kami ke pulau seberang untuk menikmati sunset sebelum akhirnya makan malam dan pulang ke hostel. Walaupun, tidak mendapatkan sunset yang sempurna, tapi, alam yang disajikan benar- benar indah dan menyenangkan menutup hidupku hari itu.

IMG_20171008_141818_043.jpg

Okinawa Aquarium..

With Love,

@ranselahok

www.ranselahok.com

---Semoga semua mahluk hidup berbahagia---

 

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

wah staynya di Nago, asyik juga suasana-nya cuma sepertinya padat pengunjung yah, bte Churaumi Aquarium-nya jadi dekat tuh untuk dikunjungi klo dari Nago :D , as always nice share :rate 

Share this post


Link to post
Share on other sites
18 hours ago, kyosash said:

wah staynya di Nago, asyik juga suasana-nya cuma sepertinya padat pengunjung yah, bte Churaumi Aquarium-nya jadi dekat tuh untuk dikunjungi klo dari Nago :D , as always nice share :rate 

Iya, adanya di Nago sih... 

3 hours ago, deffa said:

wah apa kabar @Ahook_ dah lama gak baca tulisannya

abis dari Okinawa ya, wah ini salah satu wishlist saya. Ternyata di Nago wisata nya kurang banyak ya

tapi menarik juga pantai nya bersih2.

Uda trip September 2017 lalu bro @deffa hahaha... banyak trip yang skip tulisannya... uda gak kuat lagi buat sharing...hahahaa

 

Share this post


Link to post
Share on other sites
3 hours ago, twindry said:

asik :salut jepang selalu mantap ya viewnya mau dimanapun itu

iyaa.... 

 

6 hours ago, deffa said:

hahay sama saya juga masih banyak trip yang belum ditulis nih wkwkwk

@Ahook_

ya nih bang @deffa mulai dari trip Jepang 2 tahun lalu... aku pun belum .. merasa bersalah...

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By Fykka
      Salam kenal teman teman.
      Saya Fika, dari Medan tapi besar di Bekasi.
      Sekarang lagi kuliah di Osaka, Jepang.
      Buat teman-teman yang mau tau tentang Jepang atau makanan halal bisa tanyakan langsung di instagram: fykka.
      Inshallah di jawab.
      Terima kasih :)
    • By braska
      Foto diambil dari Tokyo Tower - (k)
      Hallo semua,
      Tahun ini saya berkesempatan mengunjungi Tokyo beberapa kali. Kebanyakan bersama teman2 (thx untuk teman2 II dan IV) dan beberapa kali dengan partner. Banyak yang bertanya ke saya tentang itinerary selama di Tokyo, jadi saya pikir lebih baik saya buatkan dalam satu Thread yang nantinya tinggal di share URL nya.
      Thread ini akan saya buat dalam beberapa tahap, dan diharapkan sudah bisa selesai sebelum bulan Desember 2018 berakhir.
      Beberapa pokok bahasan yang akan diulas dalam Thread ini antara lain
      I Persiapan
      II Itinerary
      III Kereta di Tokyo
      IV Shopping
      V Tempat Wisata Gratis
      VI Tempat Wisata Berbayar
      VII FAQ
      PERNYATAAN :
      FOTO
      Semua Foto yang tidak ada tanda dalam Thread ini berarti di ambil dari Google dan Screenshot, sedangkan foto yang bertanda merupakan hasil jepretan dari 
      (i) I Edy S
      (a) Adhitya A W
      (k) R CJatmiko
      WEBSITE
      Saya tidak memiliki kepentingan apapun dengan website yang ada dalam thread ini. Moderator dapat menghapus link jika di perlukan
      MUSIM
      Yang di bahas dalam Thread ini hanya untuk keberangkatan pada Musim Dingin di Tokyo dan sekitarnya, anda dapat tetap membaca thread ini dengan melakukan beberapa penyesuaian jika ingin bepergian di Musim lain.
      STYLE
      Khusus Perjalanan ke Tokyo, perjalanan saya bukan perjalanan Backpacker, saya selalu membawa Koper, naik penerbangan Full Service, Tinggal di Hotel, tetapi mencari harga paling murah yang bisa di dapatkan  
       
      I Persiapan
      Saya selalu menikmati Tokyo (sama halnya dengan saya menyukai Bangkok) Kota ini sangat hidup, penuh dengan budaya Jepang yang kental di satu sisi dan teknologi modern di sisi lain. Khusus untuk Musim dingin, saya menyukainya karena
      1. Musim dingin tidak ada di Indonesia, 2. Tidak terlalu berkeringat, 3. Ada banyak foto indah yang bisa di peroleh di musim dingin, 4. Salju, 5. Harga Tiket dan Hotel lebih murah...(ya, bandingkan jika anda pergi ke Jepang untuk melihat Sakura mekar) Jika kalian ingin mencoba musim dingin di Tokyo ayo kita mulai persiapannya.
      1. Passport dan Visa
      Untuk keluar negeri tentu saja kita harus mempunyai Passport dan untuk bisa ke Jepang kita juga harus mempunyai Visa. Ada banyak cara membuat passport yang bisa di temui di Google karena itu saya tidak akan mengulas lebih lanjut. Silakan masuk ke www.google.co.id lalu ketikkan "cara membuat e paspor" dan kalian akan menemukan lebih dari 100.000 tautan.
      Yang ingin saya sampaikan disini adalah BUATLAH E-PASSPORT, jangan membuat Passport biasa. Membuat passport biasa untuk bepergian ke Jepang sangatlah menyusahkan, karena artinya kita harus mengurus Visa. Sedangkan jika menggunakan E Passport kita tinggal mengurus Visa Waiver.
      Berikut saya tunjukkan perbandingannya :

      Dari perbandingan di atas terlihat kan, mempunyai E Passport berarti anda mengurangi keribetan mengurus Visa, jika visa di tolak anda terpaksa harus merelakan tiket pesawat PP dan (mungkin) hotel yang hangus. Sebaliknya jika anda mempunyai E Passport anda tinggal mengurus Visa Waiver terlebih dahulu baru melakukan pemesanan tiket pesawat, hotel, dll sesudah Visa Waiver di kabulkan. Anda juga bisa melewatkan ketakutan yang paling banyak di bicarakan orang saat membuat Visa "HARUS PUNYA DUIT MINIMAL SEKIAN PULUH JUTA", karena penguruan Visa Waiver hanya memerlukan E Passport anda. 
      Peluang untuk mendapatkan Visa Waiver juga sangat besar, jika anda orang baik2 tidak punya catatan kriminal, tidak pernah ditangkap di Jepang, maka saya bisa bilang Anda pasti dapat Visa Waiver.
      Cara mengurus visa waiver Jepang bisa di dapatkan dengan mengetikkan "cara membuat visa waiver jepang" di Google.
       
      2. Tiket
      Saya bukan orang yang anti dengan penerbangan Low Cost, pada dasarnya saya malah lebih sering menggunakan Maskapai Low Cost ketimbang Full Service, tapi mari saya tunjukkan kenapa saya lebih memilih penerbangan Full Service untuk pergi ke Tokyo
      Maskapai Low Cost hampir selalu menggunakan transit flight dari Jakarta ke Tokyo. Efeknya sangat berbahaya, saya sudah 2x mengalami kejadian tidak mengenakkan. Waktu transit biasanya hanya 1,5 - 2 jam. Akibatnya jika penerbangan dari Jakarta delay maka (hampir) dapat dipastikan (walaupun kita tidak ketinggalan pesawat menuju Tokyo) tidak cukup waktu untuk memindahkan bagasi kita. Kejadian paling parah yang saya alami adalah berada di musim dingin tanpa jaket tebal (yang tertinggal di Kuala Lumpur). Saat itu perlu 2 hari untuk bagasi saya sampai di hotel. Alhasil liburan sudah tidak lagi menyenangkan, dan saya harus rela kehilangan suara selama 2 minggu karena terkena radang tenggorokan (kupluk, syal dan semua baju ganti ada dalam koper di bagasi). Sekarang  bagaimana jika waktu transitnya lama, misal 16 jam. Anda mau tidak mau harus mengeluarkan uang lagi untuk membayar hotel di lokasi transit. Tentu saja ada pilihan untuk tidur di bandara. Tapi sebagaimana telah saya tuliskan di atas style perjalanan saya bukan backpacker. Jam kedatangan dan keberangkatan Maskapai Low Cost sering mengakibatkan anda kehilangan 1 hari di Hotel. Begini contohnya : Jika anda Tiba di Tokyo Pukul 23.00 maka sesudah proses imigrasi, pengambilan bagasi, transportasi dll maka kemungkinan anda akan tiba di hotel Pukul 01.00. Waktu Check in hotel biasanya adalah pukul 14.00 sehingga mau tidak mau anda telah kehilangan 1 hari di hotel yang telah anda bayar. Selain itu waktu keberangkatan juga seringkali jadi masalah. Maskapai Low Cost sering berangkat di jam-jam malam seperti 23.50, padahal waktu Check Out hotel Tokyo adalah 11.00 akibatnya ada waktu lebih dari 12 jam luntang lantung tanpa tempat istirahat. Ada biaya tambahan untuk bagasi di penerbangan Low Cost. Biasanya berkisar 400 - 700 ribu tergantung beratnya. Berarti kalau PP bawa bagasi maka ada tambahan biaya sekitar 1 juta dari harga tiket. Penerbangan ke Tokyo memakan waktu lama, direct flight saja bisa lebih dari 7 jam. Lalu di pesawat kita mau ngapain? duduk, diem, merenung dan tidur? jika anda memilih untuk mengisi perut maka ada biaya lagi yang harus di keluarkan untuk pemesanan makanan.  Ok, jadi kita akan memilih penerbangan full service yang menyediakan makanan dan minuman, entertainment flight, jarak antar kursi yang lapang, jam penerbangan yang tepat dengan kebutuhan, free bagasi, dan semua fasilitas lain yang tidak di dapatkan di penerbangan low cost. Mahal dong? Jawabnya TERGANTUNG. 
      Ini contoh penawaran maskapai low cost

      Dan ini tiket yang saya beli 

       
      Saya terbang menggunakan JAL yang masuk dalam daftar 5 Star Airlines. Bagasi 46 kg FREE, Full Service, dengan Jam kedatangan 15.45 dan Jam keberangkatan 17.45. Harga yang saya dapatkan lebih murah daripada maskapai Low Cost.
      Jadi bagaimana caranya? Saya menggunakan SkyScanner (silakan Googling). Dengan SkyScanner kita dapat melihat kapan, maskapai mana, dan website mana yang memberikan tiket paling murah. Tentu saja jika kita membeli dari jauh2 hari kita memiliki lebih banyak pilihan harga yang mungkin dapat berubah. Oh ya, sekali kita melakukan pencarian lewat SkyScanner maka saat membuka email, googling dan menggunakan media sosial iklan yang ditampilkan biasanya adalah iklan harga tiket yang paling murah. Rajin2lah mengecek harga tiket lewat SkyScanner karena FYI, harga tiket JAL biasanya 16juta sekali jalan. Harga 7,3juta PP saya dapatkan menggunakan Fasilitas "Dapatkan Info Harga" yang ada di situs SkyScanner. Fasilitas ini memungkinkan kita mendapatkan harga terbaru dari rute yang kita tuju.
      Sekedar tambahan, Tiket penerbangan dari Jakarta - Paris PP untuk Maret 2019 saya dapatkan dengan harga lebih murah daripada tiket ke Jepang. Lagi2 dengan SkyScanner.
       
      3. Hotel
      Rata-rata hotel di Jepang memiliki kamar yang kecil tapi harga yang "besar". Tokyo pun termasuk. Harga properti di Tokyo yang sangat mahal membuat Tarif Hotel juga tinggi untuk ukuran Indonesia. Walaupun demikian tetap saja jika bersedia susah sedikit masih ada kamar2 kapsul dan dormitory yang berharga di bawah 500ribu permalam. 
      Menyesuaikan style jalan-jalan, saya memberikan beberapa kriteria untuk memilih Hotel di Tokyo.
      Carilah hotel yang dekat dengan stasiun kereta. Kereta adalah transportasi nomor 1 di Tokyo. Dalam kondisi cuaca yang dingin akan lebih baik jika Hotel dekat dengan stasiun kereta sehingga kita tidak perlu berlama2 diluar. Hotel yang dekat dengan stasiun kereta juga memudahkan anda untuk menepati jadwal itinerary. Bawaan anda cenderung banyak, karena musim dingin membuat pakaian yang harus disiapkan berlapis2. Jika mendapatkan kamar hotel yang terlalu kecil maka anda akan kesulitan sendiri dalam meletakkan koper dan barang belanjaan Pastikan hotel anda memiliki sistem penghangat ruangan yang baik dan air panas yang mengalir 24 jam non stop. Saya tidak bisa membayangkan jika di tengah suhu 0 derajat lalu harus mandi pagi dengan air yang tidak terlalu panas karena sistem air panas dipakai beramai-ramai. Akan lebih baik jika Hotel menyediakan sarapan pagi. Buat anda yang terbiasa mengisi perut di pagi hari, tentu akan runyam jika harus jalan dulu mencari sarapan di tengah udara dingin. Hotel di sekitaran Tokyo memang lebih mahal daripada yang mengarah ke luar kota. Tetapi anda akan lebih mudah menentukan jalur tujuan jika berada di dalam kota. Dalam beberapa kesempatan, saya selalu memilih hotel yang sama untuk tempat menginap. Hotel Villa Fontaine Hatchobori. Hotel ini merupakan salah satu hotel dari jaringan Villa Fontaine yang tersebar di seantero Jepang. Saya memilih hotel ini karena semua kriteria yang saya sebutkan di atas dapat diakomodir. Harganya pun menurut saya termasuk murah. Sekitar 1,2 juta permalam, yang kalau di share bersama teman sekitar 600 ribuan permalam (sudah include sarapan), ukuran kamarnya juga sedikit lebih besar dari ukuran kamar di daerah Shinjuku dengan harga yang lebih mahal.
      Hotel ini hanya sekitar 1 menit jalan kaki dari Stasiun Kayabacho (uniknya Hotel Villa Fontaine Kayabacho justru sedikit lebih jauh dari stasiun Kayabacho, jadi jangan sampai salah hotel). Stasiun Kayabacho hanya berjarak 3 stasiun dari Ginza, 2 stasiun dari Otemachi, 3 stasiun dari Akihabara, bahkan hanya 5 stasiun dari Ueno dimana kita bisa melanjutkan perjalanan dengan Shinkansen. Posisinya sangat strategis.

      Suasana luar hotel - (a)

      Lobby - (a)

      Lift - (a)

       
      4. Pakaian
      Tidak bisa dielakkan Pakaian Musim Dingin pasti lebih tebal dan berlapis dibandingkan jika kita ke Jepang di musim panas. Suhu udara di Tokyo sepanjang musim dingin berkisar di angka -2 sampai 7 derajat celcius. Demi kenyamanan anda saya menyarankan untuk menggunakan 3-5 lapis baju. Tentu saja hal ini bergantung dari ketahanan tubuh anda terhadap udara dingin. Berikut list pakaian yang perlu dibawa :
      Kupluk Syal Long John Jaket / Sweater / Vest Mantel / Jaket Salju Celana Panjang (bahan cordoray lebih bagus) / Celana Insulated Sarung tangan Jika ada rencana untuk bermain salju saya sarankan dari awal bawalah celana insulated, celana ini memiliki beberapa lapisan, bagian paling luar memiliki jenis parasut sehingga tidak mudah kemasukan air, dan bagian paling dalam merupakan lapisan yang menghangatkan kaki. Hindari bermain salju dengan celana jeans, karena dapat merembes dan membasahi kaki. Oh ya, harga barang2 di atas sangat bervariasi tetapi ada beberapa lapak di tokopedia yang menjual Perlengkapan musim dingin dengan harga sangat murah tetapi kualitasnya bagus. Sebagai contoh saya mendapatkan mantel dengan harga 400 ribuan dan celana insulated dengan harga 100 ribuan. Nyaman saat di gunakan. Coba saja di searching.

       
      5. Komunikasi
      Sebenarnya Tokyo adalah kota yang ramah Wifi, kira-kira kalau diterjemahkan banyak Free Wifi bertebaran dimana-mana, di dalam bus, di tempat2 wisata, di stasiun kereta, dan pastinya di hotel. Hal ini memudahkan anda untuk berkomunikasi baik via media sosial maupun aplikasi chatting. Fasilitas free wifi ini dapat di peroleh dengan melakukan sign in ke salah satu jaringan wifi yang akan meminta anda untuk mengklik tautan yang di kirimkan ke email anda. Biasanya anda akan mendapat kesempatan 5 menit free yang dapat digunakan untuk membuka email dan mengklik tautan untuk mengkonfirmasi penggunaan free wifi.
      Walaupun demikian saya tidak menyarankan anda untuk bergantung pada fasilitas Free Wifi. Saya tetap menyarankan untuk mempergunakan jaringan komunikasi sendiri. Ada beberapa alternatif yang bisa anda lakukan :
      Beli SIM Card di Jepang  Beli SIM Card dari Indonesia Sewa Paket Wifi Bagi yang berangkat dalam rombongan, saya lebih menganjurkan untuk menyewa paket Wifi. Dalam 1 router biasanya bisa dikoneksikan untuk 6-8 alat. Sehingga jika di share biaya sewanya jadi lebih murah. Contoh untuk router unlimited 4G yang saya sewa dari QL Liner (via Klook.com) saya hanya perlu membayar Rp 115.000 per hari. Alat ini dapat dipergunakan untuk 14 alat sekaligus. Sehingga jika di share biaya ke 7 orang (masing2 mempergunakan 2 alat), 1 orang hanya perlu membayar Rp 16.500 per hari. Harga ini jauh lebih murah daripada membeli SIM Card dari Indonesia atau membeli di Jepang. Tetapi wajib diingat, kelemahan Wifi adalah jika pembawa router terpisah lebih dari 10 meter maka teman2nya yang lain tidak lagi mendapat sinyal. Kemudian jika alat hilang atau rusak ada denda yang lumayan besar sekitar 42.000 yen. Selain itu jangan lupa untuk membawa Power Bank sebab jika router kehabisan batrei maka komunikasi anda juga akan terputus.
       
      Jika anda memilih menggunakan SIM Card maka anda akan terhindar dari keribetan menenteng router kemana2. Selain itu anda tidak perlu harus selalu berada di dekat router untuk melakukan komunikasi. Kapan saja anda ingin menghubungi teman, atau upload instagram dapat dilakukan langsung.
      Untuk SIM card tidak ada salahnya anda melihat2 di website GlobalKomunika, mereka memberikan banyak pilihan paket SIM Card (Paket Data SAJA). Dengan membeli SIM Card langsung dari Indonesia anda bisa langsung mengaktifkan HP Anda saat berada di Bandara Narita / Haneda. Sayangnya ada batasan Quota 4G yang harus anda perhatikan saat memilih menggunakan SIM Card. Untuk SIM Card seharga Rp 195.000 anda bisa mendapatkan Quota 4G sebanyak 3GB untuk waktu 8 hari. Setelah itu jika Quota habis maka kecepatan akan turun menjadi 2G. Jadi jangan terlalu sering melakukan Video Call atau berselancar di Youtube jika anda menggunakan SIM Card. Jika anda memutuskan menggunakan SIM Card harap di baca baik2 petunjuk penggunaannya (sudah disertakan bersama SIM Card), karena tidak semua HP secara otomatis melakukan pengaturan APN.

       
      6. Tiket Wisata
      Kepada siapapun yang ingin ke Jepang saya selalu menyarankan untuk mempersiapkan Itinerary dengan sebaik-baiknya. Sejak awal pastikan tempat-tempat yang ingin anda tuju. Lalu lakukan survey untuk melihat apakah tempat2 tersebut membutuhkan tiket masuk. Kenapa hal ini penting : karena banyak tempat wisata di Tokyo yang memberikan Harga Tiket lebih murah saat pemesanan di lakukan di awal ketimbang saat anda datang dan membeli langsung di loket. Selain itu anda dapat menghemat waktu untuk melewatkan antrian orang2 yang ingin membeli tiket pada waktu bersamaan.
      Beberapa tempat wisata bahkan TIDAK MENJUAL TIKET DI TEMPAT. Jika anda ingin mengunjungi Fujiko F Fujio Museum, atau Ghibli Museum maka anda harus melakukan pemesanan dari sebulan sebelumnya. Karena jika anda langsung datang ke tempat tersebut tanpa memiliki tiket maka bersiaplah untuk kecewa. Anda tidak akan bisa masuk.
      Ada banyak situs yang menjual tiket wisata secara online, saya secara pribadi lebih sering memesan lewat Klook. Silakan lakukan pengecekan apakah Tiket tempat wisata yang ingin anda tuju tersedia di website mereka. Tapi sekali lagi lebih baik anda membeli tiket lewat online karena harga yang di dapat sering lebih murah daripada membeli langsung, sekaligus memastikan rencana liburan anda tidak berantakan karena gagal mendapat tiket.
       
       
    • By min0ru
      Pagi itu, saya dan keluarga mendarat di Kansai International Airport (Osaka) pukul 08.30 waktu setempat. Ini kali kedua saya mengunjungi negara yang kawaii ini dan kota pertama yang akan saya kunjungi adalah Takayama. Seusai mengambil bagasi, saya bergegas menuju ke JR Office untuk menukarkan JR Pass (Japan Railway Pass). Antrian ternyata cukup panjang mengular dan menghabiskan waktu lebih dari 30 menit sampai akhirnya saya mendapatkan JR Pass.
      Cara Menuju ke Takayama
      Karena saya menggunakan JR Pass, jadinya kami bisa langsung naik ke Shinkansen (kereta cepat). Dari Kansai International Airport (KIX) kami mengarah ke Shin-Osaka Station dahulu baru nyambung kereta lagi ke Nagoya Station sebelum akhirnya menggunakan Hida Train (JR) dan turun di Takayama Station.
      Jalan Sore di Takayama

      Sesampainya di Takayama, saya langsung bergegas menuju hotel karena memang sudah waktunya check-in, lagipula repot rasanya jika harus berjalan-jalan menggeret koper. Kami menginap di J-Hoppers Takayama yang jaraknya hanya 10 menit berjalan kaki dari Takayama Station.
      Saya bertanya kepada resepsionis hostel mengenai apa saja yang bisa dilihat di Takayama ini dan dijawab dengan sangat ramah olehnya. Jadi di Takayama ini ada bagian kota tuanya yang cukup ramai tapi hanya di akhir pekan dan banyak street food. Karena kami datang di hari biasa, jadi kami cukup manyun dan memutuskan untuk eksplorasi saja jalan-jalan di Takayama.
      Sebelumnya kami makan dulu di restoran ramen yang dipilih secara random karena cukup ramai. Rasanya pun cukup enak dan menghangatkan. Saat itu cuaca cukup dingin kalau tidak salah sekitar 5-10°C. Sayang banget karena kalap saya ngga sempet mengabadikan foto makanan maupun restorannya. 
      Berseberangan dengan restoran rame, ada sebuah jembatan kecil  untuk menyeberang sungai dan ada jalanan kecil di sisi sungai tersebut yang cukup cantik untuk berfoto. Jadilah ambil beberapa frame dulu ☺️. Ngga kerasa hari cepet banget gelap, suasana lampu bangunan tua satu persatu mulai menyalah membuat suasana malam itu makin cantik. Kebayang ngga sih bangunan tua yang kebanyakan berbahan kayu dihiasin lampu berwarna kuning atau lampion berwarna merah? 
      Malam itu kami kembali lebih cepat ke hostel, karena ngga banyak lagi tempat yang bisa dilihat dan memang tujuan ke Takayama ini hanya persinggahan untuk menuju ke Shirakawa-Go.
      Keindahan Desa Sejarah Shirakawa-Go (UNESCO's World Heritage Sites).

      Cara yang saya gunakan untuk menuju ke Shirakawa-Go dari Takayama adalah menggunakan tur yang di arrange oleh J-Hoppers Hostel. Kenapa saya memilih tur dari J-Hoppers? Karena harganya lebih murah ¥500 untuk orang yang menginap di J-Hoppers, kan lumayan 4 orang sudah jadi semangkok ramen. 

      Bus melaju dengan santai ke Shirakawa-Go, dalam waktu kurang dari 1 jam kami sudah tiba di situs bersejarah ini. Kami diberikan waktu bebas selama 2 jam di desa ini. Ngga pake lama, saya langsung ngacir turun dari bus dan cari spot buat pepotoan.


      Rumah-rumah di desa ini disebut Gasshō-style atau bebentuk seperti tangan sedang berdoa. Atapnya terbuat dari susunan jerami yang sangat kuat dari berbagai cuaca. Walaupun hanya terbuat dari jerami tetapi pada musim dingin tetap dapat menghangatkan dan sejuk saat musim panas.


      Senangnya saya liat sisaan salju yang masih terhampar luas dan tebal, pengen rasanya tambahin duren sama cendol trus sirup tjampolay~ *eh. 
    • By Dennis.Rio
      TOKYO 東京.....
      day 3
       
       
       
       
       
       
       
    • By Dennis.Rio
      POCKET WIFI di Jepang......
       
       
       
    • By ko Acong
      Bagi yang bosan di Kuala Lumpur boleh melipir ke Melaka cuma 2 jam perjalanan loh.
      Berapa uang yang saya habiskan selama main ke Malaka? Normalnya tiket pesawat PP 1 jutaan. Yang pasti tiket PP Indonesia-Kuala Lumpur kemarin saya dapat Rp 169.000 saja Malaysia Airlines Business Class (Promo).
      Mari kita hitung pengeluaran saya selama 2 malam 3 hari di Melaka:
      Tiket Bus, via Terminal BTS (Bandar Tasik Selatan) cukup 24 x 2 = 48 RM
      Jika langsung bus PP harganya 70 Rm, perbedaan waktu hanya 1 jam. Kelebihan transit di  BTS setiap 30 menit ada Bus. Kekurangannya, jika ketingalan jadwal bus harus buang waktu selama 3 jam.
      Hotel Saya Pake Hotel Hong https://goo.gl/maps/fhwLNd6fmzp
      yang terkenal buat Backpackers, karena serasa Hotel Keluarga ada di antar jemput di terminal bus dan ketika diantar mereka melepas kita satu persatu, sampai aman di terminal bus dan mengarahkan ke platform yang seharusnya. Terima kasih Ci Amey dan karyawan hotelnya yang bersih. Harga selama 2 malam kisaran Rp 550.000. 
      Tranportasi di Melaka semua ditempuh dengan berjalan kaki. Estimasi makan minum, cukup Rp. 100000 perhari, di tiap menu makanan perhari ada daging nya lumayan wah juga sih.
      Tinggal kita hitung oleh2 jajan yang aneh-aneh dan lainnya, jadi estimasi main di Melaka selama 2 hari:
      Bus 48 Rm = Rp 175.000 Hotel 2 malam = Rp 550.000 Biaya makan minum = Rp. 300000 Jumlah Rp 1.025.000.- sesuai Hitungan awal budget cukup 1 jutaan.
      Hehehe namun belum termasuk Cendol Musang King dan oleh-oleh Durian Jam San Shu Gong yang legenda, Wueeenak lembut banget. Nah bila mau lanjut main di Kuala Lumpur, cuma tinggal nambah hotelnya sekitar Rp 500.000 per malam.
      ____________________________________________________________________________________________________________