Sign in to follow this  
Ezot

Pantai Bingin yang Memesona

2 posts in this topic

Pantai Bingin memang baru dikenal wisatawan karena terkendala oleh akses jalan yang kurang baik (terjal). Namun soal keindahannya, pantai ini dijamin tak kalah dengan pantai-pantai lainnya gan.

Suasana pantainya masih sepi dan sunyi karena memang jarang dikunjungi oleh kalangan wisatawan. Ombak di pantai ini bertipe regional classic yang mana ketinggiannya bisa mencapai 8 meter gan. Woow serem juga ya! Makanya karena ketinggian ombaknya itulah pantai ini sering dijadikan ajang pembuktian para surfer untuk menunjukkan kebolehannya dalam memainkan papan selancarnya.

Tak hanya surfing yang bisa dilakukan di Pantai Bingin ini, agan juga bisa snorkeling untuk menikmati keindahan alam bawah lautnya. Namun yang harus agan perhatikan ialah lokasi penyimpanan kendaraan yang cukup jauh dari pantai membuat agan harus berwaspada ya.

Lokasinya di Desa Pecatu, Kuta Selatan, Badung, Bali. Kalau dari Denpasar jaraknya sekitar 32 km.

post-48-0-11403500-1356256382_thumb.jpg

post-48-0-58387900-1356256386_thumb.jpg

post-48-0-06785000-1356256388_thumb.jpg

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By deftones12
      DAY 6
      Karena menjadi hari terakhir liburan, agenda hari ini super santai. Biasanya jam 9 udah check out dari hotel, kali ini saya minta driver datang jam 12.
      Tapi jam 9 saya tetap keluar hotel, karena kita gak dapat sarapan gratis di hotel. Saya menyusuri Jalan Petitenget sambil mengagumi kafe-kafe dan butik lucu di kiri-kanan jalan. Oya, buat tambahan informasi, si Dash Hotel Seminyak ini dekat banget sama Deus Ex Machina dan Biku yang suka masuk daftar tempat makan wajib di Seminyak.
      Tapii….tujuan utama saya buat sarapan adalah….Revolver Espresso.
      Jatuh cinta banget sejak pertama kali nyobain kopi di sini waktu liburan tahun lalu. Revolver ini emang termasuk salah satu coffee shop terhits di Bali, simply because kopinya emang enak, IMO. Harga makanan dan minumannya juga masih standar, malah banyak kafe di Jakarta yang lebih mahal. Menu rekomendasi saya sih Silencer, yaitu granola dengan frozen yogurt blueberry atau acai berry dan potongan buah. Segaarrr dan kenyang!


       
      La Joya Biubiu
       
      Sebenarnya agenda utama kita di hari terakhir ini ya di La Joya Biubiu ini. Gak lain dan gak bukan adalah untuk SPA!
      Penasaran aja sih, udah beberapa kali ke Bali tapi belum pernah ngerasain spa cantik macam di majalah-majalah
      La Joya Biubiu sendiri merupakan resort dekat Pantai Balangan. Jadi perjalanan ke sini lumayan jauh dan macet ya, secara aksesnya emang cuma satu jalan doang. Apalagi waktu itu jatuhnya di hari Sabtu, makin banyak lah mobil dan bus wisata yang melewati jalan itu.
      Lokasi La Joya Biubiu lumayan ngajak blusukan sih….tapi view-nya emang keren banget!


      Hanya, yang bikin kita kaget adalah tempat spanya yang lumayan terbuka. Jadi area spa itu ada di dekat kolam renang. Walaupun berada di dalam gazebo tertutup, tapi orang-orang bebas berkeliaran di dekat situ sih, jadi bisa liat kita yang lagi pasrah di atas meja pijat.
      Tapi, overall, spanya oke. Gak sampai mind-blowing, tapi tetap lebih worth it dibandingkan spa di tempat-tempat spa biasa. Apalagi, ternyata rate Balinese message nya juga gak sampai Rp 200.000, sama dengan rate di beberapa hotel bintang 3 di Seminyak. Padahal pemandangan yang ditawarkan itu mahal banget
       
      Pantai Gunung Payung


      Setelah segar dipijat, kita pun beranjak ke tujuan berikutnya, yaitu Pantai Gunung Payung. Pantai ini letaknya tetanggaan sama Pantai Pandawa yang lebih dulu populer. Tapi, karena belum terlalu banyak yang tau soal pantai ini (yang jelas lebih sedikit daripada yang tau soal Pantai Pandawa), jadi suasananya masih sepi dan tenang.
      Tapi mungkin tahun depan bakal lain ceritanya. Karena waktu kita ke sana, udah mulai terlihat pembangunan yang sepertinya proyek hotel atau lapangan golf. Akses ke Pantai Gunung Payung juga terus diperbaiki supaya pengunjung bisa mencapai pantai dengan lebih mudah. Biaya retribusinya sendiri sekitar Rp 13 ribu per wisatawan lokal.
      Agak salah sih mengunjungi pantai ini setelah spa. Karena kita harus turun naik tangga yang jumlahnya lumayan lah bikin ngos-ngosan jadi pegel lagi deh….
      Tapi, gak masalah, karena pemandangan pantainya cantik banget. Kebalikan dengan tempat-tempat wisata lain yang kami kunjungi sebelumnya, di Pantai Gunung Payung ini hampir semua pengunjungnya adalah wisatawan lokal, walaupun jumlahnya gak banyak. Mereka udah ambil posisi untuk santai sambil nunggu sunset.
      Karena tadinya kita sempat berencana rendezvous dengan teman yang lagi di Finn’s Beach Club, kita gak lama-lama di Pantai Gunung Payung. Ternyata rencana itu gagal. Jadi nyesel gak nungguin sunset di pantai
       
      Yah, demikian pengalaman liburan 6 hari saya ke Bali Utara dan Timur kemarin. Semoga bisa menambah rekomendasi tempat-tempat menarik buat yang lagi rencana liburan ke sana yaaa ^^
    • By Girltripever
      Ini trip itinerary saya di bali nanti. Mohon dikoreksi yaaaa untuk itinerary nya. Dan boleh bagi info tempat penyewaan motor :)) thanks
      Saya sampai canggu jam 2 siang. Sebaiknya kemana ya nantinya setelah tiba di hotel? Apakah menikmati sore hari ke sanur sma kuta? 
       
      trip bali 2018.docx
    • By awanthedie
      Pagi kaka2 ama abang2 yg ganteng jg cantik2.. Mau tanya neh secara pengalaman pertama. Rencana mau trip ke bali ama mantan pacar (istri) edisi bulan madu yg tertunda episode ke-6. Rencana pergi tgl 9-11 juli ini. Kira2 sampe bali jam 8 pagi.. Pulang nya mlm di tgl 11 dan udh pesen hotel d kuta (kutabex).. Mohon interary yg paling efektif nya buat dapet bali selatan, utara, sama timur kalo bisa.. Terutama 
      - Pantai pandawa, padang2, dreamland, tanah lot, gwk, bedugul, monkey forest..
       
      Mohon pencerahannya para mastaahh.. Makasihh
    • By bukubiruku
      Terletak di sebelah timur Pulau Jawa, Bali adalah primadona pariwisata Indonesia yang sudah terkenal di seluruh dunia. Selain terkenal dengan keindahan alamnya, terutama pantainya, Bali juga terkenal dengan kesenian dan budayanya yang unik dan menarik.
      Bali sebagai tempat tujuan wisata yang lengkap dan terpadu memiliki banyak sekali tempat wisata menarik, apa saja tempat wisata di Bali yang wajib dikunjungi? 1. Pantai Kuta
      Pantai Kuta
      Pantai Kuta adalah tempat wisata di Bali yang paling terkenal dan paling banyak dikunjungi wisatawan karena lokasinya yang dekat dengan bandara, pantainya yang indah, biaya yang murah, dan ombaknya yang cocok untuk peselancar pemula.Pantai Kuta juga terkenal dengan panorama matahari tenggelamnya yang sangat indah. Fakta unik dari Pantai Kuta adalah sebelum Pantai Kuta menjadi sebuah tempat wisata di Bali yang wajib dikunjungi seperti sekarang ini, Pantai Kuta merupakan sebuah pelabuhan besar, pusat perdagangan di Bali. Dengan pasir putih dan laut birunya, dilengkapi dengan fasilitas pendukung yang sangat lengkap, Pantai Kuta adalah primadona wisata Bali.
       
      baca juga : 50 ikan hias air tawar terindah
       
      2. Pura Tanah Lot
      Pura Tanah Lot
      Pura Tanah Lot adalah salah satu tempat wisata di Bali yang terkenal dengan keindahannya, terutama pada saat matahari terbenam. Pura Tanah Lot yang terdiri dari 2 buah pura merupakan pura tempat memuja dewa laut. Keunikan dari Pura Tanah Lotadalah pura ini berada di atas sebuah batu karang besar di pinggir laut. Pada saat air laut pasang, anda tidak dapat mendekat ke Pura Tanah Lot karena di sekitar batu karang penyangga Pura Tanah Lot akan digenangi air laut. Pada saat air surut anda dapat melihat beberapa ular laut jinak yang menurut penduduk setempat merupakan penjaga Pura Tanah Lot. Selain itu, di lokasi ini anda juga dapat memegang ular suci yang jinak dan tidak berbahaya.
      3. Pantai Padang Padang
      Pantai Padang Padang
      Pantai Padang Padang mungkin kurang begitu terkenal bila dibandingkan dengan Pantai Kuta, namun Pantai Padang Padang adalah pantai yang sangat indah dan unik. Pada saat saya pertama datang ke Pantai Padang Padang juga saya mengira bahwa pantai ini adalah pantai yang tidak menarik karena kurang terkenal, namun ternyata saya salah. Pantai Padang Padang adalah pantai kecil yang tersembunyi dibalik sebuah tebing di kawasan Pecatu, dekat Uluwatu. Untuk dapat mencapai Pantai Padang Padang, anda harus melewati sebuah tangga yang membelah tebing. Pantai Padang Padang tidak besar dan luas, namun sangat indah dan menarik untuk dikunjungi. Sebagian besar pengunjung Pantai Padang Padang adalah wisatawan asing karena Pantai Padang Padang kurang terkenal dikalangan wisatawan dalam negeri.
      4. Danau Beratan Bedugul
      Danau Beratan Bedugul
      Danau Beratan Bedugul adalah sebuah danau yang berlokasi di daerah pegunungan dengan suasana alam yang asri. Keunikan dari Danau Beratan Bedugul adalah keberadaan pura yang bernama Pura Ulun Danu. Pura Ulun Danu terletak di pinggir Danau Beratan Bedugul dan merupakan salah satu daya tarik utama Danau Beratan Bedugul. Selain itu wisatawan juga dapat menikmati permainan air dan menyewa perahu di Danau Beratan Bedugul.
      5. Garuda Wisnu Kencana (GWK)
      Garuda Wisnu Kencana
      Garuda Wisnu Kencana atau biasa disingkat GWK adalah sebuah taman wisata budaya yang berlokasi di Bali Selatan. Garuda Wisnu Kencana adalah sebuah patung yang sangat besar karya I Nyoman Nuarta. Saat ini, patung Garuda Wisnu Kencana belum sepenuhnya selesai dibuat, hanya sebagian saja yang telah selesai, namun walau begitu anda tetap dapat menikmati kemegahan Garuda Wisnu Kencana. Selain patung, anda juga dapat melihat keindahan bukit kapur yang di potong menjadi balok-balok kapur besar. Balok-balok kapur ini nantinya akan penuh dengan pahatan. Selain itu di kawasan Garuda Wisnu Kencana juga terdapat teater seni, anda dapat menikmati berbagai jenis tari dan kesenian Bali di teater ini setiap harinya.
       
      6. Pantai Lovina
      Pantai Lovina
      Pantai Lovina mungkin tidak terlalu sering terdengar di kalangan wisatawan. Pantai Lovina adalah salah satu tempat wisata di Bali yang paling saya sukai karena di Pantai Lovina kita dapat melihat lumba-lumba berenang dan meloncat di habitat aslinya. Terletak di Bali Utara dekat dengan Kota Singaraja, anda akan pergi ke tengah laut dan melihat lumba-lumba dengan menggunakan perahu nelayan. Lumba-lumba Pantai Lovina bermain di tepi pantai pada pagi hari, oleh karena itu biasanya wisatawan berangkat dari pinggir pantai mulai dari jam 6 pagi.
      7. Pura Besakih
      Pura Besakih
      Pura Besakih adalah sebuah pura yang berlokasi di kaki Gunung Agung, dan merupakan pura terbesar di Bali. Di Pura Besakih sering diadakan acara keagamaan Hindu karena Pura Besakih dipercaya sebagai tempat suci dan merupakan induk dari seluruh pura yang ada di Bali. Pura Besakih dibangun dengan konsep keseimbangan Tuhan, manusia, dan alam atau sering disebut dengan sebutan Tri Hita Karana. Untuk dapat memasuki area Pura Besakih, anda harus menggunakan sarung yang dapat dipinjam di sekitar lokasi Pura Besakih.
      8. Pura Uluwatu
      Pura Uluwatu
      Pura Uluwatu adalah salah satu tempat wisata di Bali yang berada di atas sebuah tebing yang menjorok ke laut. Pura Uluwatu tidak hanya menawarkan suasana religius khas Bali, namun juga menawarkan keindahan panoramanya, terutama keindahan matahari tenggelamnya yang sudah sangat terkenal. Di Pura Uluwatu anda akan berjumpa dengan sejumlah kera yang dipercaya berfungsi menjaga kesucian Pura Uluwatu. Untuk memasuki area Pura Uluwatu, anda harus menggunakan sarung dan selendang yang merupakan simbol hormat kepada kesucian Pura Uluwatu.
        9. Pantai Jimbaran
      Pantai Jimbaran
      Pantai Jimbaran adalah salah satu tempat wisata di Bali yang paling terkenal. Pada saat anda datang ke Pantai Jimbaran, yang pertama kali akan anda lihat adalah deretan meja dan kursi makan di atas pasir putih yang indah. Pantai Jimbaran terkenal dengan kuliner pinggir pantainya, terutama hidangan lautnya. Pantai Jimbaran untuk anda yang inginberwisata ke pantai sekaligus menikmati wisata kuliner khas Bali. Tidak perlu kuatir menyantap makanan di Pantai Jimbaran karena ombak di Pantai Jimbaran sangatlah tenang, tidak membahayakan anda yang sedang makan di pinggir pantai.
       
      10. Monkey Forest
      Sangeh
      Monkey Forest adalah tempat wisata di Bali yang akan membawa anda menyatu dengan alam. Terletak di Ubud, Bali, Monkey Forest adalah sebuah hutan yang dihuni oleh banyak kera liar. Kera-kera ini dianggap keramat oleh penduduk setempat sehingga tidak boleh diganggu dan dibiarkan hidup di hutan. Kera di Monkey Forest sangat menyukai makanan, mereka akan berusaha mendapatkan makanan yang anda bawa, walaupun makanan tersebut ada di dalam tas anda. Di tempat ini anda akan menyaksikan kehidupan ratusan kera yang unik dan 
    • By deftones12
      DAY 5
      Agenda hari kelima ini gak terlalu banyak, karena udah diborong di hari keempat Overall, hari  kelima sih sebenernya hanya perjalanan dari Amed balik ke Seminyak, sambil berhenti di beberapa tempat.
      Oya, pagi-pagi kita sempat liat sunrise dulu sih di Pantai Jemeluk, yang letaknya sekitar 10 menit jalan kaki dari hotel.

       
      Desa Tenganan
       
       

       
      Salah satu Desa Bali Aga alias desa tradisional tertua di Bali. Bayangan saya bakal melihat banyak warga desa yang berlalu-lalang dengan pakaian tradisional mereka. Tapi ternyata udah lebih modern ya hehehe
      Untuk masuk ke area Desa Tenganan, kita cuma diminta memberikan donasi seikhlasnya. Karena waktu itu saya tiba sekitar jam 9.30, suasananya masih sepi…. Paling ada 1-2 rombongan wisatawan asing yang ada di sana selain kita.
      Intermezzo sedikit. Saya sempat menggunakan fasilitas toilet umum yang ada di tempat parkir di depan desa. Cukup kaget dan kagum karena toiletnya sudah modern dan sangat, sangat bersih! Fasilitas toilet bersih ini saya temukan hampir di semua tempat-tempat wisata yang saya kunjungi di Bali lho. Bahkan di Indomaret juga! (duh ketauan deh anaknya beser hahahaha) Jadi, berasa ga rugi banget bayar Rp 2.000 untuk menggunakan toilet umum.
      Anyway, begitu memasuki perkampungannya, saya agak underwhelmed sih. Sempat berpikir “Oh, gini doang ya?” Mungkin karena, lagi-lagi, kita gak punya guide yang menjelaskan sejarah tempat ini, dan gimana budaya mereka. Jadi, kita cuma liat-liat sebentar, menyusuri jalanan desa dari ujung ke ujung. Sempat mau masuk ke salah satu rumah warga yang menawarkan demo pembuatan tenun ikat, tapi kok kayaknya sepi banget, gak ada orang, jadinya kita segan hihihihi
      Akhirnya setelah hanya sekitar 40 menit, kita memutuskan lanjut ke destinasi berikutnya.
       
      Pura Goa Lawah
       
      Destinasi ini sebenarnya diputuskan dadakan berkat tawaran driver kami. Karena searah, jadilah kita mampir. Beruntung karena waktu kita datang sedang ada upacara Nyegar Gunung, salah satu rangkaian dari upacara Ngaben. Jadi lumayan rame dan meriah suasananya.


      Tiket masuk ke Pura Goa Lawah adalah Rp 7.000, gak dibedakan wisatawan lokal dan asing. Tapi, kalau kita gak punya kain untuk memasuki wilayah pura, kita harus menyewa dengan harga Rp 3.000, jadi total harga tiket yang kami bayarkan adalah Rp 10.000 per orang.
      Setelah menyaksikan upacara, saya sempat tanya-tanya ke petugas administrasi pura soal upacara yang baru saja dilaksanakan (insting mantan wartawan belum hilang ternyata :p). Mereka sangat welcome dan senang banget meladeni pertanyaan-pertanyaan wisatawan seputar budaya Bali. Jadi, gak usah segan-segan bertanya, lumayan nambah wawasan baru.
       
      Sidemen
      Tujuan utama saya datang ke Sidemen adalah melihat demo pembuatan tenun ikat, sekalian beli salah satu produknya. Ngebayanginnya sih kayak Desa Sade di Lombok gitu. Tapi kayaknya driver kami kurang nangkap maunya saya, jadi kita cuma dibawa ke salah satu toko yang menjual kain-kain tenun.
      Tapi, karena kita juga udah lumayan capek dan mau cepet-cepet istirahat di hotel (maaf, mental nyonyah-nya keluar :p), kita gak banyak protes sih.
      Tenun yang dijual di toko ini (maaf saya lupa namanya, tapi tokonya lumayan gede dan ada tulisan Garuda Indonesia-nya….entah apa maksudnya) lumayan banyak variannya. Produk khasnya sih tenun songket dengan motif dari Sidemen ya, walaupun si ibu penjualnya gak bisa jelasin perbedaan motif Sidemen dengan daerah lain apa.
      Saya sempat beli satu kainnya, sayangnya bukan yang songket, karena budget terbatas kakaak
      Kalau baca dari beberapa blog, selain dikenal dengan produk tenunnya, Sidemen juga populer dengan pemandangan sawah-sawahnya yang cantik. Tapi karena dari kemaren kita udah beberapa kali mampir di sawah jadi kayaknya gak perlu lagi deh ke sana heheheh
       
      Dash Hotel Seminyak
      Inilah hotel terbagus yang kami tempati selama liburan di Bali. Sengaja emang, save the best for last heheheh
      Dash Hotel Seminyak ini posisinya di Jalan Petitenget, pas banget di seberangnya Potato Head. Sayangnya, karena letaknya yang strategis itu, akses masuk ke Petitenget jadi maceeettt banget. Ini kali pertama saya merasakan macet parah di Seminyak, walaupun kata drivernya sih ini emang selalu macet. Tapi, entah kenapa, pengalaman saya nginap di Seminyak 2x sebelumnya, gak pernah nemu macet sih.
      Dash Hotel ini konsep desainnya urban kontemporer, agak beda dengan selera saya yang biasanya suka vintage dan klasik. Tapi, saya suka banget sama hotel ini karena, selain lokasinya yang strategis, servisnya juga oke banget! Gak lama begitu kita sampai di kamar, resepsionis menelepon ke kamar sekedar untuk nanya “Gimana mbak kamarnya? Apa ada masalah?” *tepok tangan*



      Awalnya kita mau kongkow-kongkow liat sunset di W Retreat yang terletak gak jauh dari hotel. Tapi, saking udah mager, kita akhirnya memutuskan untuk liat sunset di rooftop lounge hotel aja. Gak kalah kece juga ternyata :) 

       

    • By deftones12
      Akhirnya update juga….setelah ‘sok sibuk’ beberapa hari Tapi sebelumnya mohon maaf nih, karena nulisnya colongan di tengah jam kerja, mungkin gak bisa detil-detil banget….
       
      DAY 4
      Hari ini agendanya padat merayap kakaak….tapi kita tetap berangkat santai sih, start jam setengah 9 pagi. Sebenernya tadinya jam 9, tapi dicepetin 30 menit soalnya kita mau nyicip Nasi Bali Men Weti yang termasuk legendaris di Bali
      Nasi Bali Men Weti ini letaknya pas banget di tepi Pantai Segara. Konon, saking larisnya, hanya dalam hitungan jam setelah beroperasi pukul 9 pagi (atau 9.30 ya, maaf saya lupa), nasinya langsung habis diserbu pengunjung. Beruntung, waktu itu kita tiba pukul 10 kurang dan gak terlalu antri, walaupun kursi-kursinya sudah penuh.
      Rasanya gimana? Yaa, saya tetap lebih suka sama soto betawi yang dimakan malam sebelumnya sih Kalau mau perbandingan apple to apple, saya kok lebih cocok sama Nasi Ayam Kedewatan Bu Mangku ya…. Mungkin karena Nasi Men Weti ini sambalnya ampun-ampunan pedesnya. Saya kan Padang palsu, gak bisa yang terlalu pedas
      Tapi buat referensi sarapan, okelah. Harganya juga masih lumayan terjangkau. Per porsi Rp 20 ribu sajah.
      Setelah kenyang, kita pun melanjutkan perjalanan ke arah timur Bali dan berhenti di perhentian pertama yaitu…..
       
      Pantai Candidasa

      Sebenarnya ini gak ada di itinerary kita. Tapi karena kebetulan lewat, ya mampirin ajalah.
      Kesannya? Hmm….gak terlalu banyak yang bisa dilakuin sih Jadi saya dan teman saya di sini cuma foto-foto sebentar sebelum melanjutkan perjalanan lagi.
       
      Virgin Beach

      Gak terlalu jauh dari Desa Candidasa, tepatnya di Desa Perasi, kita bisa menemukan Virgin Beach yang relatif masih sepi dari turis. Pantai ini lokasinya memang lumayan tersembunyi, sehingga belum banyak wisatawan yang datang kemari. Biarpun tersembunyi, sebenarnya petunjuk arah ke pantai ini udah lumayan banyak kok, hanya mungkin gak gede-gedean ya.
      Seperti biasa, sudah ada petugas yang memungut retribusi ketika memasuki area Virgin Beach. Biayanya sekitar Rp 10 ribu untuk wisatawan lokal. Buat yang bawa kendaraan, kendaraannya bisa diparkir di area yang tersedia sebelum jalan kaki sejauh 500 meter (kira-kira yaa) sampai ke pantai.
      Virgin Beach sendiri ternyata gak se-perawan yang saya kira. Sudah cukup banyak warung yang berjejer di pinggir pantai. Wisatawan yang datang pun lumayan banyak, walaupun gak sampai padat kayak di Pantai Kuta atau Pantai Pandawa.
      Sukaa banget sama air lautnya yang biruuu… Pasirnya juga halus banget, walaupun gak seputih yang saya kira. Tapi, overall, pantainya masih bersih. Hampir semua wisatawan yang datang pada berjemur sambil santai membaca atau bermain dengan keluarga tercinta. Saya dan teman saya? Seperti biasa, cuma jeprat-jepret sebentar, setelah itu cuusss lagi (maklum, jalan-jalannya kejar setoran).
       
      Bali Chocolate Factory
      Hanya sekitar 10 menit dari Virgin Beach, kita bisa menemukan Bali Chocolate Factory yang unik. Saya sendiri tau tempat ini dari web referensi tripcanvas. Sebenernya kalau liat di Instagram udah lumayan banyak ya wisatawan yang datang ke sana, tapi kebetulan waktu saya datang tempatnya sepi-sepi aja tuh.
      Walaupun namanya Bali Chocolate Factory, ternyata pembuatan cokelatnya gak dilakukan setiap hari. Kebetulan waktu saya datang memang lagi gak ada pembuatan cokelat. Jadi kita Cuma bisa liat-liat tempatnya yang unik dan Instagrammable itu. Kenapa Instagrammable? Karena bangunan-bangunannya mirip rumah Hobbit di cerita epic The Lord of The Rings. Jadi saya gak perlu ke Farmhouse Lembang yang padat itu buat foto di depan rumah hobbit kan


      Untuk masuk ke Bali Chocolate Factory, wisatawan diwajibkan membeli sabun seharga Rp 10 ribu. Gak akan rugi kok, sabunnya wangii….lumayan buat dibawa-bawa kalo lagi backpacking.
      Selain mencicipi minuman cokelatnya (kurang kental sih menurut saya), kita juga bisa beli produk cokelatnya. Ada yang dark chocolate 85%, pasta cokelat macam Nutella (dengan merk yang mirip juga) atau cokelat dengan campuran gojiberry yang bercitarasa asam manis. Saya sendiri suka yang dark chocolate dan memutuskan untuk membeli satu bungkus yang dihargai Rp 65 ribu.

      Karena sepi (palingan ada 1-2 wisatawan lain selain kami berdua), tempatnya jadi tenaaangg dan damaaii banget. Betah deh lama-lama di sini….
       
      Taman Ujung Sukasada

      Sayangnya kita harus melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya: Taman Ujung Sukasada. Saya udah naksir sama tempat ini sejak pertama kali baca artikelnya beberapa tahun lalu.
      Biaya masuk ke Taman Ujung juga masih standar, Rp 10 ribu per orang. Waktu masih di tempat parkir, saya sempat melihat ada calo yang coba menjual tiket ke wisatawan asing. Gak tau sih dia jual berapa, tapi ngapain juga pake calo ya, kan harga tiketnya masih terjangkau.
      Yah, enivei, Taman Ujung ini memang cantik banget tempatnya. Hanya saja, saya gak bisa tau banyak informasi karena gak ada guide-nya. Paling bisa baca informasi di lukisan-lukisan keluarga Kerajaan Karangasem yang ada di dalam bangunan sih. Tapi, saya mendambakan adanya guide-guide profesional seperti yang ditawarkan di Kraton Jogja atau Museum Ullen Sentalu
       
      Tirta Gangga

      Hanya berjarak 20 menit-an, dari Taman Ujung kita bergeser ke Tirta Gangga. Sekilas pemandangan yang ditawarkan hampir mirip sih, tapi kalau di Tirta Gangga kita bisa berenang karena disediakan kolam khususnya. Saya dan teman saya sih gak minat berenang, jadi kita menikmati suasana tamannya aja (sambil foto-foto narsis tentunya).
      Di sini juga ada beberapa restoran dengan menu internasional. Karena udah lapar banget, kita coba salah satunya. Hmm….agak nyesel sih, karena harganya mahal dan porsinya dikit. Rasanya juga standar. Tapi namanya lapar, ya disyukuri aja karena bisa mengenyangkan perut.
       
      Pura Lempuyang Luhur

      Awalnya, kita mengagendakan lihat sunrise di Pura Lempuyang Luhur. Tapi, setelah berbagai pertimbangan, akhirnya kita borong aja di agenda hari ini.
      Kalau kata driver saya, untuk mengeksplorasi pura yang terletak di Kecamatan Abang ini dibutuhkan waktu minimal 5 jam. Karena pura ini ternyata terdiri dari 7 buah pura dan terletak di titik tertinggi di Bali. Beneran lho, Pura Lempuyang Luhur ini posisinya tinggi banget, untuk mencapai gerbangnnya aja kita harus melewati jalanan berkelok-kelok yang lumayan terjal. Jadi, kalau bawa mobil ke sini, pastikan punya driving skill yang kece ya, lumayan bikin deg-degan soalnya.
      Karena kita datang sudah pukul 5 sore, staf pura sama sekali gak menyarankan kita untuk eksplor sampai ke puncak. Cukup sampai pura pertama aja. Itu juga naiknya udah lumayan ngos-ngosan kok Untuk masuk ke pura kita cukup memberikan donasi seikhlasnya (tapi ya jangan pelit-pelit juga sih heheheh). Nanti kita akan dipinjami kain supaya bisa memasuki pura.
      Pura pertama itu kalau gak salah namanya Pura Khayangan, pura terbesar dari komplek Pura Lempuyang. Kalau yang paling puncak itu ya Pura Lempuyang Luhur yang konon salah satu pura paling penting bagi masyarakat Bali. Menurut driver saya, kalau ada yang niat sampai ke puncak, jangan pernah mengeluh, karena nantinya malah gak bakalan sampai.
      Walaupun cuma bisa sampai di pura pertama, pemandangannya juga indah banget kok. Saat itu baru ada upacara, jadi kita masih bisa melihat beberapa orang hilir mudik di area pura. Oya, untuk masuk ke pura ini ada 3 buah tangga. Kita diwanti-wanti jangan menggunakan tangga yang tengah karena tangga itu hanya digunakan untuk hari raya.
      Pokoknya, kalau ada agenda ke Bali lagi, cobain deh eksplor Pura Lempuyang Luhur sampai ke puncak. Kata teman saya yang pernah ke sana, pemandangannya waaarrbiasyaakk
       
      Amed
      Selepas dari Pura Lempuyang Luhur, kita langsung menuju Amed yang emang menjadi tempat kita nginap malam itu. Ternyata jarak Amed dan pura ini hanya sekitar 20 menit.
      Saya baru pertama kali menginjakkan kaki di Amed. Dan saya langsung sukaaa banget sama desa yang tenang ini. Walaupun namanya desa nelayan, di Amed udah banyak banget penginapan, mulai dari yang murah meriah sampai yang mewah (walaupun jangan berharap ada yang kayak resort di Nusa Dua ya :p). Mungkin suasananya mirip Kuta jaman dulu ya, ramai restoran dan toko, tapi belum sampai heboh dan lebay kayak sekarang.
      Saya dan teman saya nginap di Bali Sari Homestay. Karena lokasinya agak masuk ke gang, lumayan susah nyarinya, sampai harus bolak-balik. Tapi tempatnya recommended banget. Kamarnya luas, bisa buat bertiga kayaknya. Kamar mandi dalamnya juga luas, walaupun harus sedia perlengkapan mandi sendiri. Ada pilihan kamar dengan kipas angin dan AC yang bedanya hanya sekitar 20rb.
      Dengan rate sekitar Rp 250 ribu (kipas angin), saya dan teman saya juga bisa menikmati sarapan pagi yang enaaakkk banget! Banana pancake, buah dan pilihan kopi/teh.
       

    • By deftones12
      DAY 3
       
      Setelah dua hari pertama bertualang ria, hari ini tujuan wisatanya lebih santai, yaitu ke Tegallalang, pemandian air panas Toya Devasya di Kintamani dan Desa Adat Penglipuran di Bangli.
      Sebelum meluncur ke Tegallalang, saya minta driver untuk mengarahkan mobil ke Sanur demi menikmati seporsi Nasi Men Weti. Katanya nasi campur Bali ini termasuk legend di Bali jadi wajib buat dicobain. Letaknya tepat di sebelah Pantai Segara Sanur. Konon, kalo mau nyobain nasi ini harus datang pagi-pagi jam 9, gak lama setelah dia buka. Soalnya jam makan siang kadang udah abis diserbu pembeli.
      Perut kenyang, perjalanan pun dilanjutkan…..
       
      Tegallalang Rice Terrace

      Sebenernya kemaren udah puas main-main di sawah di Desa Sekumpul sih. Tapi biar gak bengong kalo diajak ngomong soal Tegallalang, ya kita mampir aja sekalian.
      Sayangnya, karena saat itu lagi libur 17 Agustus-an, jadi Tegallalang lagi rameeee banget! Jalanan sampe macet dipenuhi mobil-mobil yang parkir. Selain itu, matahari juga lagi terik-teriknya. Jadi, saya dan temen saya langsung ilfil. Biasa kemaren nikmatin tempat wisata sepi, sekarang tiba-tiba rame. Yaudahlah, kita cuma foto-foto bentar trus balik lagi ke mobil.
      Tips kalo mau ke Tegallalang kayaknya sih datang pagi ya, supaya sinar mataharinya gak terlalu menyengat. Kita juga bisa turun sampai ke tengah sawah tanpa diganggu banyak orang.
       
      Agrowisata kopi
      Sepanjang Ubud sampai Bangli ada banyak banget tempat agrowisata kopi. Hampir semuanya punya konsep sama sih, kita bakal dikenalkan dengan pohon-pohon kopi yang ada di kebun mereka beserta tanaman-tanaman lainnya, dijelasin cara membuat kopi secara singkat termasuk perbedaannya dengan kopi luwak, sampai akhirnya diajak mencicipi beberapa jenis kopi yang mereka hasilkan.


      Saya agak lupa nama tempat agrowisatanya, yang jelas tempatnya homey banget. Sejuk dan rindang. Kopi dan teh yang disajikan juga enak, terutama kopi ginseng yang dicampur krim kelapa sehingga rasa manisnya agak beda dengan manis gula.
      Untuk menikmati agrowisata ini gak dipungut bayaran sama sekali, kecuali kalo kita pesan kopi luwaknya. Saat itu karena penasaran saya coba pesan secangkir kopi luwak seharga Rp 50 ribu. Rasanya? Jujur aja, saya sih lebih suka kopi ginseng yang saya coba sebelumnya. Tapi kata temen saya enak banget. Yah, balik ke selera masing-masing sih.

      Toya Devasya Hotspring

      Perjalanan menuju Toya Devasya Hotspring lumayan lama, sekitar 1 jam. Kita akan diajak menikmati keindahan dan kesejukan Kintamani yang terkenal dengan Danau serta Gunung Batur-nya. Tapi, walaupun sama-sama terletak di dataran tinggi, suasana Kintamani agak beda ya sama Bedugul yang buat saya lebih ‘hijau’ dan lebih ramai.
      Untuk menuju Toya Devasya perjalanannya lumayan berliku dengan tikungan-tikungan dan turunan tajam. Saya jadi bersyukur gak pilih nyetir sendiri karena lumayan deg-degan juga ya nyetir di medan yang kayak gini heuheuheu
      Tiket masuk ke Toya Devasya Hotspring adalah Rp 60 ribu per orang. Kalau mau sewa loker tambah Rp 20 ribu lagi, plus deposit Rp 20 ribu yang akan dikembalikan waktu kita pulang. Toya Devasya Hotspring menawarkan view ke Danau Batur yang indah, jadi kita bisa berendam air panas sambil memandangi pemandangan yang cantik. Tapi, lagi-lagi karena libur 17 Agustus-an, tempatnya lagi lumayan rame dengan wisatawan lokal yang datang bersama keluarga.
      Di daerah Kintamani sendiri kayaknya lumayan banyak tempat pemandian air panas, tapi yang cukup terkenal ya Toya Devasya ini. Di sini juga ada arena camping dan outbound lho, jadi bisa jadi pilihan juga buat outing kantor.
      Walaupun tempatnya lumayan atraktif buat liburan keluarga, agak disayangkan perawatan fasilitas umumnya (terutama tempat Mandi dan toilet umum) rada kurang. Gak sampai kotor banget sih, tapi kurang nyaman aja.
      Oya, setelah pulang dari Toya Devasya, saya sempat cari makan dulu di salah satu restoran di Kintamani. Hampir semua restoran di sana menggunakan sistem prasmanan. Saya dan teman saya dapat rate Rp 77 ribu per orang, katanya sih itu rate untuk wisatawan lokal. Tapi, gak usah mengharapkan rasa luar biasa ya, karena di sini yang jadi nilai jual utama adalah pemandangannya.
       
      Desa Adat Penglipuran

      Popularitas Desa Adat Penglipuran emang terus menanjak ya, apalagi setelah ditampilkan di salah satu episode FTV. Tapi emang tempatnya adem banget sih, jadi bawaannya juga tenang. Gak banyak yang bisa saya ceritakan di sini, karena desanya sendiri memang gak gede-gede banget. Yang jelas, untuk masuk ke desa ini kita harus merogoh kocek Rp 10 ribu per orang.
      Kalo lagi main ke Desa Adat Penglipuran, jangan lupa masuk ke salah satu rumahnya untuk beli minuman tradisional loloh cemcem (terbuat dari daun cemcem, yang saya juga gak tau bentuknya gimana). Rasanya asem manis segaarr…. Selain itu, ada juga kue tradisional klepon, tapi beda dengan klepon yang biasa dijual di Jakarta, klepon ini warnanya ungu. Rasanya sih yaa tetap enak laah
       
      Warung Bu Umi
      Malam ini saya menginap di daerah Seminyak dan kebetulan janjian dengan teman yang kerja di Bali. Saya diajak makan di tempat makan temannya di Jalan Dewi Sri, tepatnya seberang Pepito Express. Wah, kayaknya ini makanan paling lezat yang saya cicipi selama di Bali!
      Warung makan ini halal, jadi wisatawan muslim gak perlu takut. Harganya juga terjangkau banget (nasi campur lauk lengkap dan porsi besar Rp 20 ribu). Dan, yang terpenting, rasanyaa enaaakkkk!! Sampai sekarang saya masih ‘ngidam’ soto betawi yang saya pesan malam itu.
      Mudah-mudahan info ini bisa jadi referensi buat teman-teman muslim yang kesulitan cari makanan halal di Bali ^^