Sign in to follow this  
nafariza

Jalan2 ke Pandawa Water World, Solo

4 posts in this topic

Terletak 4km dari kota Solo, persisnya di Komplek Pandawa Solo Baru, Sukoharjo. Water world bernama Pandawa ini merupakan objek wisata bertema air yang selalu ramai dikunjungi pengunjung. Didirikan sejak Desember 2007, water world ini dibangun dalam taraf water world internasional. Tapi dalam desainnya, sesuai dengan namanya, water world ini dibuat dalam bentuk tokoh pewayangan Jawa, Pandawa.

 

wkresna1.jpg

Sumber Gambar

 

Terdapat 27 wahana bermain dalam water world ini. Mulai dari Action River, Fantastic Slide, Warm Spa, Sight Tower, Bima Slide, Raft Slide, sampai ke Gatotkaca Bungy Tower. Kresna Wave Pool menjadi favorit pengunjung karena air kolam dibuat berombak, sehingga saat jalan2ers berenang di kolam ini, akan menikmati sensai berenang di pantai. Wahana bermain Black Hole Slide juga banyak dicari pengunjung. Pada wahana ini, adrenalin jalan2ers ditantang dengan meluncur di sepanjang lorong yang gelap gulita hingga ke dasar.

 

pandawa_map_web.jpg

Sumber Gambar

 

Capek bermain air, jalan2ers bisa menikmati santapan makanan di Drupadi Food Servery, yaitu food court yang menyediakan beraneka macam makan dan minuman yang bisa jalan2ers pesan. Untuk bisa bermain di water world ini, jalan2ers cukup mengeluarkan uang sebesar 50rb saja di hari senin-jumat. Kalau jalan2ers datang di hari sabtu, minggu, atau hari libur lainnya, jangan lupa menyiapkan uang sebesar 100rb ya.

 

Ada tujuan lain ke Solo selain wisata kuliner nya kan. :)

 

Sumber: Utiket

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By satria11
      Kali ini ada video ttg perjalanan saya hihihi, ada 4 part sisanya bisa kunjungi channel sayaa....
       
       
      Soon Medan - Malaysia :>
    • By Titi Setianingsih
      Hay sahabat2 tercinta, para JJ’er apa kabar ? Sebenarnya apa siy yang jadi tujuan kita jalan2 ? Pasti bukan karena mau saingan kan ? Terus terang sejak masuk komunitas jalan2 saya jadi makin sering jalan2, tentu saja karena banyak informasi tentang tempat2 wisata di Indonesia dan Luar Negeri yang diposting para membernya jadi keinginan untuk berkunjung ke tempat itu makin menggebu. Nah sejak tahu bahwa postingan temen2 sangat bermanfaat / bisa dijadikan referensi jalan2 bagi pembaca, akhirnya saya punya keinginan lain, salah satunya kepengin posting hal2 baru yang bisa dijadikan referensi juga oleh orang lain. Hal2 baru bukan berarti tempat wisata baru, tapi bisa juga itinerary ke suatu tempat. Kebetulan saya beberapa kali dapat japri dari temen2, perihal itinerary ini, jadi kalau dia mau jalan di hari libur selalu nanya ke saya, pingin kearah Bandung sama anak2 cocoknya kemana ya ? Ada juga yang mau ke Bogor sehari bisanya kemana saja ya ? Bahkan ada yang nanya destinasi di luar Pulau Jawa, tentu saja saya hanya bisa jawab kota2 yang sudah pernah disinggahi saja. So, dengan hobby menulis ini, semoga bisa bermanfaat bagi teman2 travellers.
      Nah ide gila kali ini adalah kepengin jalan2 ke 3 propinsi di libur wiken bisa gak ya ? Jarak antar kota tentu saja sangat menentukan bisa / tidaknya. Pikir2, kalau untuk seputar Jawa masih bisa lah, dan melihat request temen2 banyak yang kepengin ke arah Jogya akhirnya saya buatlah itinerary ke 3 propinsi di tanggal 19-21 Januari 2018 dengan destinasi sekitar Solo, Pacitan dan Jogyakarta.
      HARI PERTAMA, 19 JANUARI 2018. 

      Hari pertama kami berpetualang didalam Kereta Api Brantas, dari Stasiun Senen jam 17.00 menuju Stasiun Solo Jebres jam 02.47, tiketnya murah meriah hanya Rp. 84.000 sudah sampai Solo. Kalau ada yang murah kenapa beli yang mahal to ?
      Alhamdulillah selama di kereta tidak ada kendala, berangkatnya tepat waktu sampainya juga tepat waktu, alhamdulillah. Sepanjang jalan masih disempatkan bercanda meski kereta full seat, tapi begitulah, Ibu2 kalau sudah ngumpul gak bisa diam.

       
      HARI KEDUA, 20 JANUARI 2018.
      1.       Sarapan Gudeg Ceker

      Ini kali yang kedua saya sarapan disini, gudeg ceker Bu Kasno yang berlokasi di Mertoyudan / dekat gereja Kristen Jawa di Jl Monginsidi, atau dekat SMA Negeri I Surakarta. Yang khas dari gudeg Bu Kasno adalah lauknya / daging ayamnya dari ayam kampung. Beraneka macam lauk bisa dipesan mulai dari daging yang di suwir2, kepala ayam dan ceker ayam, jeroan (ati rempelo)  juga telor ayamnya. Sedang asesories lainnya ada gudeg nangka, sayur kerecek, tahu tempe bacem dan  sambal. Kalau saya yang terbayang cekernya, dan jika belum sempat makan ceker di TKP maka bisa dibungkus. Beberapa teman sempat kaget karena ternyata 1 porsi ceker yang isi 10 buah harganya Rp. 40.000,-. Cekernya siy enak tapi ketika ingat harganya jadi ter-kaget2. Xixixixi
      Sehabis sarapan singgah di Masjid Karanganyar Solo untuk Shalat Subuh dan bersih2 badan serta ganti baju.
      2.       Curug Jumog

      Lokasi curug ada di desa Berjo, Kec Ngargoyoso Kab Karanganyar Jawa Tengah. Kalau bicara Karanganyar pasti banyak yang familier karena disitulah tempatnya wisata2 yang manarik mulai dari wisata alam dan wisata sejarah, yaitu banyak ditemukannya curug/air terjun beaneka dari yang sudah termashur seperti Tawangmangu juga sampai yang belum terkenal seperti Jumog ini. Tapi sekarang Curug Jumog sudah menjadi incaran para wisatawan dan menjadi pilihan wisatawan juga karena begitu sampai ke parkiran mobil tinggal jalan beberapa menit sudah sampai ke curug, jadi tidak perlu capai2 untuk mendapatkan spot yang cantik ini.

      Sepanjang jalan menuju curug juga disuguhi pemadangan yang indah, kali kali tempat mengalirnya air yang jatuh dari Curug Jumog. Begitu sampai ke atas, wow, emejing banged, tumpahan airnya lebar / bercabang 2 kemudian air yang turun ke kali juga menyerupai curug kecil, jadi kalau dari jauh curugnya terlihat bertingkat.
      Airnya jernih dan bersih jadi sangat cocok untuk ber-mandi2 disini, jika yang tidak mau bermain air maka bisa memakai mantel karena cipratan airnya cukup deras dan bisa membuat baju kita masah walau kita tanpa mendekati pusat pancuran air.

      Salah satu teman yang maniac banged sama air terjun langsung nyemplung dan membasahi rambutnya, walau sebenernya air pagi itu sangat dingin karena kami sampainya paling pagi, loketpun belum buka sebenernya.

      Ketika dirasa sudah puas mandi2, kami lanjutkan perjalanan menuju Pacitan, waktu tempuh Solo-Pacitan diperkirakan 4 jam.
      3.       Soto batok

      Suasana pagi itu agak mendung, gerimispun datang, tapi kami tetap menjalankan rencananya. Walau hujan tetap cuzz menuju Pacitan. Teman2 berkesempatan istirahat / tidur karena waktunya yang lumayan lama di perjalanan.
      Kurang lebih jam 9 kami meninggalkan Curug Jumog, ke Pacitan via Sukoharjo. Sepanjang jalan disuguhi pemandangan alam persawahan yang menghijau, asri sekali, hampir2 tergoda hati ini untuk turun dan berfoto, tapi ketika ingat tujuan masih jauh maka hati menjadi tak tergoda sedikitpun. Tapi menjadi  tergoda lagi ketika didepan mata kami ada sebuah warung yang bertuliskan Soto Batok, penasaran dong dengan namanya.  Lokasi tepatnya di Jl Karanganyar Km 2 Jumowono Sukarasa, masih di Sukoharjo ini. Tapi biasa kalau urusan perut gak bisa ditunda, jadilah kami serbu kuliner yang namanya unik ini.

      Dan memang tempatnya yang unik ternyata, sebuah mangkok yang terbuat dari batok kelapa. Kalau sotonya berkuah bening, dengan daging ayam di suwir2 dengan asesories beraneka sate seperti sate usus, sate telor puyuh, goreng2an dan kerupuk. Layaknya Soto Solo ada tambahan toge rebusnya. Harganya lumayan murah, per mangkok Rp. 6.000,- dan goreng2annya Rp. 500,- ber bijinya.
      Sudah hilang rasa penasarannya ketika sudah selesai makan Soto Batok. Memang pintar pemilik Soto Batok dalam menjaring pembeli, keunikan namanya yang punya nilai jual.

       
      4.       Goa Gong
      Secara administratif, Gua Gong berada di Dusun Pule, Desa Bomo, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Gua ini berjarak sekitar 37 km dari pusat kota Pacitan ke arah barat (arah Wonogiri). Jadi kalau kami yang masuk ke Pacitan via Solo maka Kota Pacitan belum terlewati. Jalanan menuju Goa Gong berkelok-kelok dan naik turun, tapi jalanan sudah halus di aspal jadi nyaman.
      Mobil wisatawan mempunyai tempat parkir khusus, dan menuju goa disediakan ojek wisata dengan sewa Rp. 5.000,- tapi jika pulang / kembali ke tempat parkir tidak boleh naik ojek.

      Tiket masuk wisata seharga Rp. 15.000,- untuk orang dewasa dan Rp. 5.000,- untuk anak2,  kemudian jika hendak menyewa senter juga Rp. 5.000,- per buah, ada juga jasa guidenya sebesar Rp. 30.000,-
      Tidak seperti kebanyakan goa, di Goa Gong banyak terdapat sumber airnya atau dalam Bahasa Jawa disebut sendang. Namanya ber-macam2 sesuai dengan manfaatnya (menurut keyakinan masyarakat setempat, siapa saja yang meminum air sendang akan memperoleh manfaat masing2 sesuai nama sendang itu, ada yang awet muda juga ada yang mendapatkan kemuliaan hidup). Tapi ini mythos ya, jadi kita tidak wajib melakukannya.
      Memasuki seluruh ruangan goa bisa menghabiskan waktu sekitar 2 jam, apalagi Ibu2 yang maunya disetiap sudutnya maunya berfoto, bisa lebih 2 jam. Itulah sebabnya dari awal emmasuki gua diingatkan tentang waktunya ini, jangan sampai rencana selanjutnya menjadi kacau balau.

       
      5.      Sungai Maron
      Ketika saya menghubungi basecamp Sungai Maron via telepon, operatornya bilang bahwa waktu yang tepat untuk caving Sungai Maron itu pagi hari, supaya airnya masih jernih sehingga viewnya bagus, juga agar terhindar dari hujan yang biasanya turunnya di sore hari.
      Tapi kata driver, berhubung lokasinya satu arah dengan Goa Gong alangkah baiknya untuk dicoba, itulah sebabnya maka ketika didalam goa diusahakan disiplin waktu.
      Dan memang dekat jarak antara Goa Gong dan Sungai Maron, kurang lebih 45 menit sampai ke Sungai Maron setelah menempuh jalanan yang menanjak extreme, kami sempat berdoa jangan sampai mesin mobil mati ketika pas menanjak itu. Deg2an sudah pasti, tapi alhamdulillah Driver kami luar biasa.
      Lokasi Sungai Maron ada di desa Darsono, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, memang benar, ketika kami dating sore2 air sungai berwarna cokelat, nampaknya sisa banjir Pacitan masih terlihat dengan adanya lumpur2 di ranting2 pohon disepanjang sungai. Bisa dibayangkan banjir Pacitan lumayan tinggi, dan banyak rumah2 warga yang dekat sungai pada kemasukan air bah.
      Kami sewa 3 perahu, masing2 perahu isi 4 penumpang dan 1 pengemudi / pemilik perahu. Sewa per perahu Rp. 100.000,- PP kurang lebih menyusuri sungai dalam waktu 45 menit hingga menuju Pantai Ngiroboyo. Jika akan bersandar di pantai untuk ber-foto2 maka nambah biaya tiket Rp. 5.000,- per orangnya.
      Tiada detik tanpa berfoto, karena hanya itulah bukti dari jalan2 kami. Cuaca lagi kurang bersahabat gaees, mendung bergelayut di langit, ngeri jika tiba2 hujan sementara kami masih dipinggir pantai dan harus pulang menyusuri sungai,,,ah pasti akan sangat mencekam. Kamipun buru2 pulang, dan alhamdulillah, gerimis mengundang, kamipun cepat2 masuk mobil untuk kemudian cuzz meninggalkan desa Darsono.
      6.      Pantai Klayar

      Pantai klayar ini berada di desa Kalak, Kecamatan Donorejo, Kab Pacitan. Sebenernya kami berencana mau kejar sunset disini, krn kalau lihat foto2 sunset Pantai Klayar cukup bagus, tapi apa daya karena cuaca mendung jadi gak kebagian sunset. Masih gerimis kecil ketika sampai sini, tapi teman2 masih sempat guling2an di pasir, mungkin gemas lihat pasirnya yang putih kecoklatan.
      Ditawari bonceng motor beroda 3 untuk menuju air mancur di tengah laut juga tidak berani, karena dalam kondisi gerimis dan gelap karena mendung suasana di lokasi sangat sepi. (Takut dibawa lari xixixixi).
      Padahal air mancur di antara batu2 karang merupakan keunikan alam tersendiri, saying moment itu dilewatkan begitu saja, semoga lain waktu bisa kesini lagi, yang penting kali ini terpuaskan dengan hanya ber-main2 air dan pasir pantai.
      Gerimis itupun akhirnya berubah menjadi hujan, pelan2 kami menuju hotel tempat kami menginap yang lokasinya dekat kota, ternyata tempatnya lumayan jauh kalau mau menuju kota. Sempat juga kami melintasi perkebunan, sepi, ditambah lagi karena ternyata seluruh Pacitan sedang mati lampu. Gelap gulita menemani perjalanan kami, driver dengan sabarnya berkendara dan sepertinya dengan lapang dada menghadapi suasana malam yang mencekam ini.
      Begitu sampai di hotel apa daya, mati listrik membuat segala yang kami angan2kan menjadi buyar seketika, gelap dan tanpa air menyala di kamar mandi merupakan sesuatu yang menyiksa, kamipun akhirnya meninggalkan hotel untuk kemudian bali menuju Jogya.
      Keputusan inipun dirundingkan dengan alot, karena hotel sudah kami bayar, dan uang tidak kembali. Di malam itupun (sambil makan malam), kami hunting homestay via traveloka dan dapat homestay disekitar Pekuncen Jogyakarta. Dalam gerimis kami mencari lokasi homestay yang ternyata tidak mudah. Lagi2 driver yang baik itu masih terlihat legowo mengantar kami dan menemani kami hingga dini hari.
      HARI KETIGA, 21 JANUARI 2018.

      1.       Soto Kadipiro

      Pagi ini kami ada di Propinsi DI Jogyakarta, apa yang terlintas di otak kita ketika bangun tidur dan tiba2 ada di Jogya ? Yang per-tama2 terpikir adalah kuliner, itulah sebabnya maka kami memutuskan untuk sarapan di Soto Kadipiro. Bayangan ayam kampung dan jeroannya yang menggoda. Dengan suasana pagi yang masih gerimis, pastilah akan pas jika sarapannya panas2 gini. Cuzz lah kami ke Soto Kadipiro yang ada di Jl Wates No 33 Jogyakarta. Sudah beberapa kali kami kesini tapi gak ada bosan2nya, enak, legit dan mengeyangkan tentunya.  
      2.       Persawahan Songgo Langit
      Selesai sarapan kami menuju Desa Dlingo yaitu mengejar spot foto yang lagi kekinian yaitu sebuah  persawahan. Lokasinya ada di Songgolangit Sukarame Dlingo Mangunan, termasuk wisata baru karena pas kami kesini masih gratis tapi boleh isi kotak seikhlasnya untuk tujuan pengembangan, yang mbangun mahasiswa KKN. Terdapat persewaan caping bagi yang mau berfoto ala2 petani. Ketika kami sampai sini, situasi sawah lagi cantik2nya, daunnya menghijau bak permadani jadi pas banged buat selfie. Gerimis kecil tak menghalangi kami untuk tetap menuju lokasi, toh tempat berfotonya gak becek karena kita bediri di atas jembatan bamboo yang sengaja dibangun di atas persawahan dengan bentuk LOVE. Cukup istagramable kalau mau pinjam istilah anak muda. Dan ternyata pagi2 juga sudah banyak yang dating di lokasi ini. Gak akan bosan2 memandangi hamparan hijau yang cantek ini, jika belum Lelah ingin rasanya berbaring di jembatan bambu sambil memandang matahari….(lebay ya ?)

      3.       Kebun Buah Mangunan

      Masih di desa Mangunan / berdekatan dengan lokasi persawahan terdapat Kebun Buah Mangunan, awal dibangun memang merupakan Kebuh Buah, banyak terdapat jenis buah2an yang ditanam, namun belakangan banyak sekali spot2 gardu pandang yang dibangun dikarenakan area ini mempunyai keindahan tersendiri ketika sunrise dan sunset. Iya..kita bisa menikmati keduanya di lokasi yang sama. Paduan antara pegunungan, awan, pepohonan, sungai dan kabut di pagi hari sangat memanjakan para wisatawan. Itulah sebabnya akhirnya tempat ini dijuluki Negeri Di atas Awan, meski ketinggiannya hanya 200 mdpl.
      Banyak sekali spot foto disini, silahkan pilih se-puasnya. Kalau kami karena hari ini juga harus kembali ke Jakarta, maka tidak bisa lama2 disini, setelah puas foto2 dan makan siang mie2an (karena tdk ada menu maski yg nendang) kamipun melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Lempuyangan sekalian mencari makan siang di sekitar stasiun.
      Puas rasanya hanya 2 hari bisa berkeliling di 3 propinsi, dan badan ini terasa Lelah. Walau bagi kami merupakan trip yang dipaksakan tapi kami puas bisa melaluinya dengan sukses. Ya dipaksakan, 3 propinsi loh, jarang2 kan ? Kalau teman2 ada yang pingin ikutin itinerary ini silahkan, total cost hanya sekita Rp. 700.000an sudah termasuk tiket kereta api PP dari Jakarta Jogya, sewa mobil Hi Ace, tiket wisata, homestay, makan masing2. Cukup efisien kan ?
       
      Terima kasih untuk yang sudah meramaikan acara kita kali ini, Salam Jalan2 Indonesia !
    • By Dewi Calico
      안녕하세요... Haaaiii, aku muncul lagi dan membawa cerita.
      Kali ini tentang sebuah Villa & Spa di Solo.
      Meskipun bukan di Solo Kota,
      Karena ini sudah masuk Kabupaten sukoharjo.
      Tetapi lebih di kenal dengan Solo Baru.
      Meskipun bukan di Solo kota, tapi disini itu aku merasa bahwa sangat nyaman.
      Tidak terlalu padat gedung-gedung, tetapi masih dekat dengan Mall-Mall.
      Jadi kalo pengen hangout di Mall gitu gampang.
      Ada The Park, Hartono Mall, serta dekat juga dengan Rumah Sakit Dokter Oen.


      Namanya adalah RUMAH BATU VILLA & SPA.

       
      Hal pertama kali yang aku rasakan saat sampai disini adalah.
      Aku sangat senang, melebihi expectations aku sebelum tiba disini.
      Nyaman banget.
      Nuansa Traditional tapi ga kuno banget, ada campuran unsur modern yang bikin keren.
      Tenang dan teduh banyak pepohonan.
      Aduh gillaakk ini seru banget, tempat untuk melepas penat & stress.
      Dan tentu saja banyak spot keren untik berfoto.

               
      Namanya Rumah Batu, that's why banyak batu-batu untuk jalan setapak dan exterior building nya.
      Meski banyak pohon,
      Tapi tetap yaaa terjaga banget kebersihan dan kerapian pohonnya.
           

      Disini itu seru banget Pool nya.
      Memang awalnya terasa aneh karena air nya asin, persis dengan air laut.
      Why ??
      Padahal kan jauh dari laut.
      And finally aku menemukan jawabannya.
      Memang sengaja dikonsep seperti air laut yang mengandung garam.
      Biar apa ??
      Supaya orang yang abis berenang itu badannya segar.
      Karena garam kan mengandung mineral dan segala macamnya yang bikin badan lebih segar.

           

      Menu breakfast nya enak, aku suka.
      Sebelum disajikan Bfast menu.
      Akan disajikan Tea or Coffee.
      Aku memilih untuk Tea time dahulu, sambil menunggu makanan utama selesai dimasak.
      Waktu itu aku memilih Continental meal.
          Menu Continental meal yang aku pilih terdiri dari:
      - Sunny side up, French Fries, Sausage.
      - Toast Bread or French Toast.
      - Jam & Butter.
      - Slice Fruit or Fresh Juice.
      - Bubur Kacang Ijo / Sweet Mung Bead Porridge.
         
      Untuk kamar hotel.
      Kamarnya luas, fasilitas lengkap.
      Bed nya juga enak banget.
      Maaf yaaa ga banyak foto kamarnya.
      Room nya ada di lantai satu dan lantai dua.
      Pas itu aku pilih yang di depan kolam renang, double bed.
       

      Waktu aku chek-in itu prosesnya cepat dan ga ribet.
      Dan ga perlu pake uang deposit.
      Oiya disini selain ada SPA, juga ada SHOP.
      Shop menjual merchandise semacam baju, tas, dompet, topi sampai barang antik.
       
      Untuk rate per night.
      Aku kemarin dapat harga 400 Ribu lebih sedikit.
      Ga sampai 500 Ribu.
      Dengan rate segitu tuh sangat luar biasa banget karena pelayanan memuaskan, staff ramah, kamar nyaman, fasilitas bagus dan terawat, tempat nyamam dan bersih, Bfast menu juga enak.


      Dan inilah alamatnya:

      RUMAH BATU VILLA & SPA.
      Jl. Ovensari Raya No.8, Kadilangu, Baki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah 57556
           
    • By maipura
      Ada museum baru di Kota Solo, baru diresmikan oleh Bapak Presiden Jokowi pada tanggal 9 Agustus yang lalu. Namanya Museum Keris Nusantara. Kebetulan saya pas lagi ada di Solo minggu lalu, jadi deh kita sempatkan mampir mengunjungi Museum ini sebelum pulang kembali ke Sumatera.
      Lokasi Museum Keris ini ada di pusat kota, gak jauh dari taman Sriwedari, bersebelahan dengan stadion di Jalan Bhayangkara. Kalau lewat jln. Slamet Riyadi, pas pertigaan Sriwedari belok kiri, Museum nya ada di ujung jalan pas perempatan. Gak akan mungkin kelewatan lah. :)
      Harga tiket masuknya berapa? nah selama bulan Agustus ini, tiket masuk ke Museum Keris masih gratis, namun mulai september nanti katanya harga tiketnya Rp.6000 / orang.
      Museum ini merupakan gagasan pak Jokowi sewaktu beliau masih menjadi walikota Solo. Namun pembangunan gedung museum ini baru dimulai secara bertahap sejak tahun 2013. Gedung Museum Keris ini terdiri dari 1 basement yang dimanfaatkan sebagai tempat parkir, dan 4 lantai sebagai ruang pamer. Terdapat lift yang menyambungkan semua lantai-nya. Jadi kalau capek naek tangga, bisa naek lift.

      Lantai 1
      Di lantai ini fungsinya sebagai lobi, soale gak ada keris yang dipajang disini. Cuman ada ruang Audio Visual di sisi sebelah kanan dan kiri dari pintu masuk. Loket pengunjung juga ada disini, disebelah kanan dari pintu masuk kemudian bagian informasi ada di sebelah kiri dari pintu masuk.
      Lantai 2
      Di lantai 2 kita mulai bisa menikmati koleksi dari Museum Keris ini. Dan saya yang gak paham sema sekali soal keris. Di lantai 2 ini kita akan paham dan mengerti lebih dalam soal keris. Karena di lantai ini disuguhkan juga informasi tentang keris dan bagian-bagian keris, apa itu pamor, jejeran, luk dsb.
      Di lantai 2 ini juga ada tempat bermain untuk anak-anak dan perpustakaan. Koleksi buku-bukunya tidak jauh dari masalah keris dan budaya baik tentang kota Solo maupun kota-kota lain di Indonesia. Tapi sepertinya koleksi bukunya perlu diperbanyak, soale rak nya masih banyak yang kosong.



       
      Lantai 3
      Lantai ini selain memajang beberapa koleksi keris ada juga diorama-diorama. Antara lain diorama pembuatan keris dan  diorama ritual saat akan membuat keris. Selain itu di dinding  ada informasi proses pembuatan keris dan rangkaian sesaji ketika akan membuat keris.


       
      Lantai 4
      nah, lantai 4 ini merupakan ruang pamer utama, disini selain keris dari tanah jawa, ada juga keris dari bali, sulawesi dan sumatera. Selain keris ada juga beberapa koleksi tombang dan parang. Karna museum ini tidak mengkhusus kan keris dari Jawa saja, namanya kan Museum Keris Nusantara. walapun memang umumnya orang mengenal keris itu dari Jawa. Tapi ternyata ada juga keris dari Sulawesi dan Sumatera.

       

      Di lantai 4 ini saya ngobrol banyak dengan seorang bapak yang saya pikir petugas museum. Beliau berkata keris yang dipajang disini merupakan hibah dan pinjaman dari pribadi, tertulis di keterangan masing-masing keris yang dipamerkan. Dan katanya lagi masih ada sekitar 300-an lagi koleksi keris yang masih akan dipamerkan. Dan ada kabar bahwa pemerintah Belanda akan menyerahkan koleksi keris yang mereka miliki untuk kemudian disimpan dan dipamerkan di Museum Keris Nusantara ini.
      Ketika saya bertanya, koleksi yang paling tua dan mempunyai nilai sejarah paling tinggi yang mana, bapak petugas yang saya lupa tanya namanya itu menjawab.
      "semua koleksi kita disini berharga mas, baik usia maupun nilai sejarah-nya"
      "semua keris disini berusia lebih dari 100 tahun"
      "semuanya sudah di teliti terlebih dahulu oleh tim kurator kita sebelum kemudian bisa dipajang dimuseum ini"
       
      Lalu bapak itu membawa saya ke salah satu kotak tempat beberapa keris dipamerkan, lalu beliau mengatakan,
      "ini keris yang paling tua, ini diperkirakan dibuat pada jaman sebelum kerajaan Singosari"
      "pada waktu itu para pembuat keris belum mengenal cara mencampur besi untuk membentuk pamor (motif)"
      "ini bentuk awal daripada keris, masih sederhana, dan kemudian berkembang menjadi seperti sekarang ini"
       
       
      Ketika saya bertanya mana keris yang paling mahal, beliau pun mengajak saya kembali ke bagian tengah, dan mengatakan
      "ini semua keris yang mahal, semua keris-keris ini ditaksir harganya antara 3 - 15 milyar"

      Mendengar itu, gak ada komentar yang keluar dari mulut saya, cuman decak kagum yang ada.
      Obrolan santai pun terus berlanjut, kebetulan lantai 4 sudah agak sepi, sebelumnya rame dengan rombongan anak-anak SD. :). Sang bapak menjelaskan apapun yang saya tanyakan, baik itu soal keris maupun tentang Museum nya sendiri. Beliau pun sempat memperlihatkan foto nya ketika mendampingi pak Jokowi ketika pembukaan 9 Agustus yang lalu. Dan saya bener-bener bodoh gak nanya siapa namanya.
      Penasaran dengan koleksi-koleksi keris dari Museum Keris Nusantara? atau hobi dengan keris? Atau pengen dateng ke tempat Wisata yang sedikit berbeda waktu berkunjung ke Solo.
      Monggo, mampir ke Museum Keris Nusantara. :)

       
      foto-foto laen :)



       
    • By Alfa Dolfin
      "ntar ke Solo, gw kepingin cari Markobar", kata ku ke seorang rekan yang juga doyan jalan
      "jiaaaa...ngapain jauh-jauh ke Solo. Loe jalan ke Cikini juga ada. Ngga jauh khan dari rumah loe...", sahutnya. 
      "Ooo...beda dong kalau makan di tempat aslinya... Lagi pula gw penasaran aja..."

      Markobar, singkatan Martabak Kota Baru, menjadi target utama saat transit singkat di kota Solo sebelum melanjutkan ke kota lain. Harus kesana!! Penasaran berat…!! Fans berat martabak ya? Secara selera ngga terlalu fanatik untuk kudapan satu ini. Namun ada sesuatu yang lain yang membuat sengaja ngotot ingin ke sinil

      Keinginan yang tak tertahankan berawal secara tidak sengaja membaca salah satu tulisan di Kompasiana : “Surat Terbuka Untuk Gibran Rakabuming”, yang di tulis Ryo Kusimo. Setelah membaca secara tersirat hhhhmmm berarti saya harus siap kecewa jika mengharapkan sesuatu yang “wah”, untuk salah satu usaha bisnis milik Gibran Rakabuming, putra Presiden RI sekarang.

      Doeloe pernah berteman dengan anak-anak pejabat meski si pejabat bukan di level menteri apalagi sampai RI-1. Sudah biasa ngeliat gaya hidup yang "wah". Pertanyaannya, masa iya sich Gibran ngga “wah”, khan anak pejabat?bukan Cuma anak pejabat, tapi RI-1 lho. Jangan main-main. Ah semakin penasaran. Seperti apa sich bisnis kuliner mas Gibran. Seperti apa sich rasa dari Martabak yang di jual. Terakhir, apakah benar saya akan “kecewa” seperti kesan setelah membaca tulisan Ryo Kusimo.

      Tempat Aslinya

      Driver mobil rental membawa kami ke sebuah Mall. Kalau tidak salah Solo Grand Mall. Dari pinggir jalan sudah terpampang tulisan besar “MARKOBAR”. Ooo disini. Namun masih ada rasa kurang puas. Apakah di sini termasuk wilayah Kota Baru?tanya ku ke driver. Di jawab, kalau di Kota Baru masih di sana, tidak jauh dari hotel, sahutnya. Maksudnya hotel tempat saya menginap. Disana pertama kali ada, katanya lagi. Oke kalau begitu kita ke sana, balas ku menutup percakapan.

       Astaga....!!! tidak salah nich disini, spontan ku berucap kepada driver di sebelah saya saat mobil parkir di Jalan Moewardi. Sang Driver meyakinkan saya saat terkejut tadi, “Benar pak disini. Ini yang pertama kali ada. Ini di Kota Baru” Lah gimana ngga terkejut melihat warung makan dengan tenda besar bertuliskan “MARKOBAR”. Letaknya di pinggir jalan. Sepintas tidak ada bedanya dengan warung-warung kuliner di kiri-kanannya. Tidak ada yang spesial dari segi fisik. Tidak ada yang meng-ciri-khas bahwa pemiliknya anak penguasa.

      Saat terpana melihat tempatnya, lagi-lagi saya harus yakin ini tempat jualan anak RI-1. Spontan Terkejut, berucap : Astaga…, mungkin sesuatu yang lebay. Mungkin juga wajar.. Ya saya merasa wajar dengan keterkejutan ini. Masih terbayang seperti apa bayangan anak-anak pejabat pada umumnya. Mewah, elite, eksklusif…

      Menilik asal usul Markobar, pertama kali ada mulai tahun 1996. Pemilik awal seorang warga Solo. Warga biasa. Ngga terkenal. Bukan pengusaha besar di kota Solo. Kemudian usahanya diteruskan anaknya. Hadirlah mas Gibran yang tertarik bermitra sekaligus  untuk membesarkan usaha ini. Visi mas Gibran sederhana aja, ingin memajukan jajanan lokal agar dapat meningkatkan baik dari sisi bisnis maupun selera rasa. Maunya Martabak semakin di sukai dan menjangkau banyak kalangan. Lokasinya tidak Cuma di kota Solo aja tetap juga bisa membuka cabang di kota-kota lain di Indonesia.


      Oke, tadi terkejut dengan rupa fisik. Sekarang bicara seperti apa sich martabak yang di jual di Markobar. Yang menjadi ciri khas apa? Manis sudah pasti. Lalu ? Variasi dan cara penyajian yang berbeda.

      Umumnya martabak yang banyak di jual, racikan di letakan di loyang berbentuk lingkaran yang bawahnya ada kompor. Setelah matang dan panas, berturut-turut di olesi mentega, di taburi coklat meses, kacang, keju, wijen dan susu. Variasinya bisa pilih coklat atau keju, atau coklat-keju, yang lebih komplit coklat-keju-kacang-wijen. Setelah di taburi lalu di potong 2, dilipat. Setelah itu di potong kecil dan di masukan ke kotak dus kecil baru diserahkan ke konsumen.

      Saya termasuk suka meski tidak sering beli. Belinya pun kebanyakan di “gerai” sederhana pinggir jalan. Sangat nikmat di makan masih panas. Pinggirnya yang garing salah satu favorit. Biasanya selagi masih garing mengambil yang di pinggirnya dulu baru inti-nya. 

      Yang membedakan Markobar dengan yang lain, pertama penyajiannya tidak dilipat 2 melainkan utuh bundar lingkaran seperti pizza. Kedua, pilihan rasa lebih variasi. Bisa memilih 6 atau 8 rasa yang berbeda. Pilihannya : coklat meses ceres, kacang cokelat, keju polos, keju cokelat, keju kacang, cokelat, Delfi, Oreo, Silverqueen, Cadburry, Nutella, Kit Kat, Van Houten. Kondisinya tidak di campur seperti martabak pada umumnya. Khan tidak dilipat. Sudah di pisah-pisah menjadi 6 atau 8 sesuai pesanan. Terakhir di masukkan dalam kemasan dus seperti Pizza baru diserahkan ke konsumen. Kira-kira begitu. Harganya berkisar 60 – 80 rbu.



      Sederhana

      Tidak mengecewakan setelah menikmati di kamar hotel. Sebenarnya bisa saja santap di tempat. Sekalian menikmati menu lain seperti Martabak telur dan variasi minuman lain. Kebetulan termasuk suka nongkrong berkuliner di warung-warung pinggir jalan. Cuma saat tiba disana perut sudah kenyang terisi kuliner yang lain. Selain itu hujan deras mengguyur saat tiba di lokasi. Lebih baik bawa dan makan di hotel saja.

      Bagi saya sebenarnya yang lebih dari ke-terkejut-an dari Markobar adalah kesederhanaan. Tidak terbayangkan putra Presiden masih mengelola usaha yang boleh di bilang sederhana. Di bandingkan bisnis milik artis, keluarga pejabat-pejabat lain,rasanya tidak level. Padahal seperti salah satu yang di tulis mas Ryo Kusimo,

      “Anda kan anak Presiden, seharusnya anda lebih cocok ada di deretan pemegang saham BUMN, deretan pemegang saham Indofood, Astra, berkolaborasi dengan pengusaha Singapura, atau tentunya duduk bersama dengan para Emir Kerajaan Arab untuk membahas proyek Petrochemical di Indonesia, dengan saham terbesar adalah trah keluarga anda”.


      Saya pun terbawa suasana kutipan di atas. Saya tidak kecewa namun masih terbayang warung yang sangat sederhana, yang di kelola bukan warga sembarangan. Sungguh sangat kontras dengan bayangan saya perihal bisnis anak pejabat. Apalagi saat menunggu pesanan tadi hujan deras turun. Cipratan air hujan sempat masuk menerobos tenda yang terpasang.

      Teringat seorang netizen yang pernah menyindir usaha jualan Martabak sebagai sesuatu yang kampungan. “Apa susahnya sebagai anak Presiden mendapat soft loan milyaran untuk membangun dinasti kerajaan bisnis kuliner besar. Ngga sulit membangun sebuah resto kaliber internasional yang tamu-tamunya dari kalangan elite”. Ini sich bukan nyindir tapi cemohan kasar. Sempat heboh di dunia maya. Nekad bener ya nulis begitu.

      Bukannya tersinggung eee malah mendapat tanggapan santai dari adiknya, Kaesang.  “Gapapa, yang penting dari jualan martabak bisa untuk bayar sekolah di Singapore. Saya hepi, Markobar juga hepi,” tulis Kaesang.

      Gara-gara Markobar saya jadi tertampar manakala menilik salah satu kehidupan pribadi saya. Menyadari meski bukan dari keluarga pejabat, kepingin sekali menjadi orang elit seperti anak-anak pejabat. Meski sehari-hari sudah akrab dengan kesederhanaan, kepingin sekali keluar dari zona ini. Melepas kesederhanaan beranjak ke status yang lebih oke.

      Pelajaran berharga dari jalan-jalan singkat dan mampir di warung Markobar : Sederhana itu indah. Sederhana itu bukan aib yang harus di tinggalkan. Sederhana itu tidak menutup untuk menjadikan hidup berguna. Tuhan bisa memakai manusia yang sederhana menjadi manusia yang memberikan manfaat bagi orang lain minimal di sekitar kita.

    • By Alfa Dolfin
      Spontan memberikan nilai SEMPURNA di angka "10" saat di minta untuk memberikan penilaian di web online khusus pemesanan hotel.  Saat mengisi kekurangannya, saya isi : "hanya menginap semalam". Inilah penilaian Rumah Batu Villa & Spa di kota Solo.

      tampak dari pinggir jalan

      tampak depan
      Sebenarnya sich sudah masuk solo pinggiran. Tanpa bermaksud promosi lho. Hanya berbagi cerita betapa enjoy stay disini yang beralamat : jalan Ovensari Raya No 8, Baki Solo Baru, Jawa Tengah. Driver mobil yang kami sewa mengatakan letaknya sudah di luar kota Solo. Tapi meski letaknya cukup jauh waktu tempuh tempuh Cuma 15 menit saja ke pusat kota. Tega nian kondisi kalau bandingkan dengan Jakarta ya.
      Suasana di sekeliling hotel masih ada areal per-sawah-an. Untuk yang sudah kadung bosan suasana metropolis macam saya ini, pasti senang dengan melihat sawah. Norak ya….? Hahaha….
      Tempatnya sendiri, mungkin kebayang akan di dominan dengan bebatuan. Serasa kembali ke jaman batu dulu ya. Konsepnya Villa. Perihal nama ini sering saya kurang peduli. Mau villa, hotel, puri, homestay, atau…?ya apa pun, yang penting bisa booking 1 kamar, suasana kamar cocok, suasana di sekelilingnya juga oke, dan harga terjangkau.

      dari teras kamar. suasananya asyik

      lemari baju di kamar. Unik ya dengan model kayu begini
      Rumah Batu yang memiliki total 18 kamar dari berbagai tipe, pertama kali ketemu waktu browsing hotel sekitar 3 minggu sebelum ke Solo. Dari sekitar 5 pilihan, setelah diskusi dengan pasangan lalu melihat foto-fotonya, akhirnya sepakat untuk menginap disini.

      teras kamar. Suasananya asri n klasik. Suka banget
      Heritage
      Meskipun memakai nama “Batu”, tidak lantas semua yang serba batu akan mendominan. Faktanya ngga begitu. Di web bilangnya menawarkan kamar dengan perpaduan unsur tradisional dan kontemporer. Yang saya rasakan suasananya Javanesse Heritage. Suasana keseharian masyarakat Jawa tempo doeloe.



      Loby hotel bernuansa Java Heritage. 

      banyak patung bernuansa tempo doeloe seperti di loby ini

      salah satu kursi menunggu di lobby....jauh dari nuansa modern.....

      suasana resto-nya. Kental banget nuansa Javanesse Heritage
      Astaga….!!!dalam hati terperanjat,  justru disini aku berjumpa lagi yang lama tidak bertemu. Seakan saya di bawa kembali ke jaman- kecil dan remaja doeloe, saat masih tinggal di kampung. Tidak seperti sekarang tinggal di kota metropolis, masa kecil sampai remaja akrab dengan kesederhanaan di salah satu kampung di Cimahi, Jawa Barat. Tinggal di rumah nenek yang ber-dinding kayu, berlantai ubin. Lalu nenek dan kakek punya burung tekukur, yang di jam-jam tertentu bunyi.

      woooouuww....entah sudah berapa tahun ngga lihat burung tekukur begini
       

      yeaaa....suka nuansa begini. 

      ini jam tempo doeloe. sudah jarang melihat seperti ini
      Jika ada penilaian tamu lain yang mengatakan, meski berada di pinggir jalan raya namun tidaklah ramai dan bising, saya akui iya. Ini juga yang menurut saya menambah kenyamanan.
      Special Request
      Jika saya merasa langsung betah dan nyaman, tidak lepas dari kecocokan dan selera aja. Tetap suka hotel bernuansa modern seperti Swissbell, Aston, Favehotel, dan sejenisnya. Namun jika berada di daerah seperti Solo, Bali, Yogya, sebisa mungkin memilih hotel yang menyajikan nuansa setempat. Di Surabaya yang cenderung kota metropolis, lebih tepat berada di hotel ber-gaya modern itu.

      salah satu nuansa Villa...hhhmmm....like it....

      Rumah Batu Villa & Spa, rasanya lebih cocok untuk keluarga yang memiliki selera klasik, menyukai nuansa tempo doeloe, bernuansa heritage. Sayangnya sejauh saya perhatikan, kurang lengkap sarana bermain untuk anak-anak. Bukankah usia anak-anak belum familiar dengan nuansa tempo doloe. Cuma ada kolam renang.
      Mengusung nuansa tempo dulu yang bercorak Jawa, staff ramah, wuiii….harganya per malam Cuma 425 ribu, weekend, include sarapan…wuiii….sayang Cuma semalam.

      Yang berkesan karena datang bersama pasangan yang ber-ulang tahun, ada permintaan khusus untuk mendekor kamar dengan kembang, dan menyajikan buah kesukaannya. Maksudnya ingin memberikan kejutan kepadanya. Permintaan khusus ini diperhatikan. Saat check in dan masuk kamar, wooouuwww…..

    • By Sarwanti
      Yang ke Solo mampir ke TW yaw bnyk tempat wisata disana, icon TW  Grojokan Sewu 
      kalau difoto ini "Bukit Sekipan" 
      lokasinya dari Terminal Tawangmangu naik lagi di kanan jalan, ada papan namanya juga kok
      Jika mau suasana lebih dingin lagi bisa naik terus sampai di jalan tembus (perbatasan dengan magetan jawa timur)